Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Jum'at, 9 September 2016

Happy reading . . . . .

.

To The End of The World

Author By Si Hitam

Beta Reader By Papan Oujia (Trio Nica)

Chapter 54. Konoha's Red Monster.

.

-Kuoh International Airport-

Tenzou Yamato si ninja berwajah suram baru saja melewati pintu keluar Bandara International Kuoh. Dia mendorong kursi roda yang ada seseorang duduk diatasnya, Maito Gai. Perempuan yang berjalan beriringan disamping kirinya, Shizune Kato, perempuan yang beberapa tahun lebih tua darinya.

Tampak dari setelan pakaian, mereka bertiga sepertinya habis berlibur dari luar negri. Ada sebuah ransel besar di punggung Yamato, di pangkuan Gai juga ada, dan Shizune sedang menarik koper berukuran sedang.

Yamato kelihatannya masih belum sembuh dari efek mabuk perjalanan, padahal mereka bertiga sudah tiba di bandara sejak 25 menit yang lalu. Dia memijit pelipisnya untuk mengurangi pusing yang masih terasa, "Gai-senpai, apa kau ingin mampir dulu?"

"Whuhuuuu, iya jelas dong. Kita ke Gym dulu, aku ingin fitness untuk meregangkan otot-ototku yang kaku karena kelamaan duduk di dalam burung besi tadi."

"Emmmm, tapi setelah itu kita cari tempat makan ya." pinta Yamato merayu. Mungkin perutnya benar-benar kosong akibat mabuk kendaraan.

"Tidak tidak tidak!" Shizune menggeleng cepat. "Kita harus segera pulang ke Konoha dan melaporkan hasil misi kita di Amerika pada Rokudaime-sama."

"Yaaahhh, terus kemana dong aku menyalurkan semangat masa mudaku yang membara ini kalau tidak ke Gym?"

"Iya, aku kelaparan tahu."

Namun Shizune bukan tipe orang yang gampang berbelas kasih, apalagi pada dua pria jomblo yang masa depannya suram seperti Yamato dan Gai.

"Aku tidak peduli. Kalian berdua tunggu disini, aku akan mencari taksi!"

"Ett, jangan! jangan!"

"Ha? Apa maksudmu Gai?" tanya Shizune heran.

Gai tidak menjawab pertanyaan rekan seangkatannya. Kedua bola matanya tertuju pada satu kendaraan yang terparkir dibelakang sebuah bis, itu kendaraan yang sudah dikenal manusia sejak jaman purba.

Shizune mengernyit karena mengerti, ini pasti akan sangat memalukan.

"Nah, Yamato. Kuberi kau waktu 5 menit untuk mencari makan."

"Errrr, kurasa tidak perlu." Yamato berpikir sia-sia saja kalau ia makan sekarang.

Shizune sudah membuka mulutnya hendak protes keras. Namun...

Gai sudah berada di kendaraan yang ia tatap tadi, dan melakukan hal memalukan disana.

Shizune tidak jadi menolak. Apapun yang terpikirkan di kepalanya, hanya akan menambah malu, akan lebih baik baginya kalau segera meninggalkan bandara, sekarang juga.

Gai itu umurnya saja yang tua, tapi otaknya lebih gila dengan anak-anak.

.

.

.

-35 km sebelah timur Kota Kuoh-

"Persiapan sudah selesai, Ares-sama."

Seseorang yang berpakaian prajurit bawahan undur diri setelah mengatakan itu.

Dia yang disebut Ares-sama, laki-laki gagah rupawan dengan pakaian kebesaran yang menunjukkan tingginya derajat yang ia miliki. Ares sang Dewa Perang dari Gunung Olympus. Salah satu Dewa dari kelas Excelsior, terkuat diantara yang kuat. Dewa jahat yang terkenal licik dalam jajaran Dewa-Dewa Yunani. Kini dia bersama 300 orang prajuritnya, prajurit Legenda Manusia Super yang disebut Pasukan Sparta, berniat menggempur Konoha.

"Tak perlu kau meminta pun, aku dengan senang hati melakukannya karena sudah lama aku tak merasakan betapa nikmatnya irama genderang perang. Sesuai permintaanmu Sakra-dono, Konoha akan kuhabisi sebentar lagi!. Phuhahahahahaaaaaa..."

Ares tertawa pongak, suara tawanya terdengar keras hingga telinga prajuritnya yang berbaris paling belakang.

"Uhhuk...uhuuukkk!"

Ares menutup mulut karena batuk yang mengganggu monolognya, tak ingin mempermalukan diri sendiri karena saat batuk selalu saja air liurnya muncrat kemana-mana.

"Bah sialan! Aku lupa membawa obat pelega tenggorokan."

"Ares-sama."

Salah seorang prajurit berbadan kekar yang hanya memakai cawat sebagai satu-satunya penutup tubuh memberikan sapu tangan gambar bunga-bunga.

"Hn. Arigatou"

Ares mengambil sapu tangan itu dengan tetap menjaga image-nya. Lalu digunakan untuk mengelap tangannya yang basah berlendir.

Mari lebih serius, saat ini menjelang sore hari, Ares dan pasukan yang ia bawa sudah siap tempur, berbaris disalah satu lembah lapang diantara gunung-gunung, terletak 35 km sebelah timur Kota Kouh yang masih berupa hutan belantara tak terjamah manusia.

Seperti kata salah satu prajurit, persiapan sudah selesai. Maksudnya ialah kekkai berbentuk segidelapan yang menjulang tinggi ke langit sejauh radius 20 km. Jarak itu melingkupi 17 buah gunung, 8 lembah, 31 bukit dan 3 aliran sungai. Kekkai ini berguna agar aktifitas mereka tidak diketahui manusia luar. Mereka ingin melakukan pembantaian tanpa membuat dunia panik.

Tepat di tengah kekkai, pada ketinggian 3 kilometer, yang jika dilihat mata biasa hanyalah langit cerah dengan bergulung-gulung awan, namun sebenarnya diyakini sebagai lokasi tersembunyi Pulau Melayang Konoha.

Konoha tak selamanya bisa menyembunyikan diri. Para makhluk supranatural tentu punya teknologi dan cara untuk menemukannya. Dimulai dari Aliansi Tiga Fraksi, sebuah tim khusus yang dipimpin Dulio Gesualdo dengan trik kecil berhasil menemukan lokasi Konoha. Disusul Sun Wukong sang youkai monyet legendaris yang entah dengan cara bagaimana dia bisa menemukannya. Kemudian ada lagi Alucard, vampire yang ditakuti oleh para dewa.

Sejauh ini yang bisa masuk ke Konoha hanya Alucard saja, tapi dia datang dengan sebuah permintaan misi. Namun Ares, datang untuk keperluan lain.

"Ares-sama, bisakah kita mulai sekarang. Kami para Prajurit Sparta sudah tidak sabar untuk berperang."

"Haaaah, kau pikir aku tidak? Aku juga sangat bernafsu memulainya tahu."

Ares merentangkan tangannya ke langit. Ia berniat menggunakan kekuatan sihirnya untuk membuat anomali fenomena alam.

Ares tidak tahu caranya masuk ke Konoha, dan tak punya kemampuan untuk itu. Sebab itulah, Ares berpikir jika tidak bisa masuk ke Konoha, maka berarti orang-orang Konoha lah yang harus dipaksa keluar lalu dibantai.

Selama dua hari melakukan penelitian, Ares berhasil memahami sedikit tentang bagaimana cara kerja Konoha menyembunyikan diri. Konoha seperti berada dalam sebuah dimensi lain yang tak tersentuh namun lokasinya tetap di dunia manusia, lebih tepatnya melayang di langit, bagaikan tersembunyi dibalik cermin. Konoha tidak bisa dilihat dan dirasakan dari luar. Apapun yang melewati Konoha hanya akan berlalu begitu saja. Namun tetap saja ada celah yang bisa dimanfaatkan dari itu. Ares menemukan fakta bahwa cahaya matahari, udara dan gravitasi adalah sedikit dari yang mampu masuk kedalam dimensi ruang persembunyian Konoha. Hal ini wajar karena cahaya matahari, udara, dan gravitasi sangat essensial untuk bertahan hidup.

Ares tak punya kemampuan memanipulasi gravitasi bumi, sedangkan cahaya yang mampu tembus hanyalah cahaya matahari saja. Jadi yang tersisa untuk dimanfaatkan adalah udara.

Sang Dewa Perang licik dari Olympus berencana membuat badai topan penghancur di langit lalu diarahkan ke koordinat Konoha. Cara ini pasti akan memaksa orang-orang Konoha keluar dari persembunyiannya. Meski bisa bertahan, tapi jika badai topan terus berlangsung berhari-hari, maka pada akhirnya manusia dari Konoha akan menyerah. Ares akan bersabar menunggu detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam saat manusia Konoha menampakkan diri untuk dia lenyapkan dengan tangannya sendiri.

Seringaian di bibir Ares makin lebar setelah berhasil membuat badai topan raksasa yang bergulung-gulung, berputar bagai tornado yang menarik awan hitam, petir-petir menggelegar dan bongkahan-bongkahan batu es. Jika badai ini jatuh di Kuoh selama lima belas menit saja, maka dapat dipastikan kota wisata itu akan hancur. Inilah yang akan dia kirim ke Konoha.

Namun...

"Gyahahahahaaaa... Bersiaplah Shizune, Yamato, aku akan lebih cepat lagiiiiiiii..."

Sebuah teriakan yang terdengar dari tempat jauh menghentikan apa yang sedang dilakukan Ares, konsentrasinya buyar.

Ares membuat isyarat dengan kepalanya agar salah satu prajuritnya mendekat. "Hei, kenapa ada manusia yang bisa masuk ke sini? Apa kalian tidak becus mengurus kekkai dan membersihkan wilayah ini hah?"

"Maaf Ares-sama, kami juga tidak tahu. Ini diluar prediksi."

"Dasar bodoh kalian semua!"

Ares mengutuk prajuritnya sendiri.

Brummmm...Bruuummmmmmm...

Dari pelupuk matanya, Ares bisa melihat ada orang gila berpakaian serba hijau dari bahan spandex ketat duduk di kursi roda dan mengemudikannya dengan kecepatan tinggi seperti mengendarai mobil sport, melintasi jalan setapak yang berbatu. Lebih gila lagi, kursi roda itu terikat dengan sebuah gerobak yang ditarik dibelakangnya. Didalam gerobak itu ada perempuan berambut hitam pendek berdada rata yang tampak marah-marah dan laki-laki berwajah suram dengan surai coklat yang nampak menahan muntah karena mabuk perjalanan.

Yah, itulah kegilaan yang dilakukan Gai. Tempat ini 35 km jauhnya dari kota Kouh, dan dia sampai dengan hanya sebuah kursi roda, bahkan sambil menarik gerobak berpenumpang dibelakangnya. Walau tidak jadi ke Gym, tapi Gai tidak kehabisan ide untuk menyalurkan semangat jiwa mudanya.

Ckiiiiiiitttt...

Akhirnya kursi roda berkecepatan tinggi itu berhenti 25 meter didepan Ares dan para prajuritnya.

Dua orang yang tadinya didalam gerobak langsung membuat posisi siaga bertarung. Tampak kalau Yamato dan Shizune tak menduga akan ada banyak orang lain lebih dulu di tempat ini, terlebih lagi seperti pasukan yang hendak pergi berperang.

Gai yang masih duduk di kursi roda mengelap peluh yang mengucur deras di dahinya. Dia membuang nafas panjang, "Neee, disini kan lokasinya? Ahhh, tapi sepertinya semangat masa mudaku membawa kita terlalu cepat sampai ke sini." Gai melihat jam tangan merk terkenal yang menghiasi pergelangan tangan kirinya. "Hmmm, masih 25 menit lagi sampai portal pintu masuk ke Konoha buatan Sasuke-kun terbuka. Mari kita istirahatkan semangat masa muda kita sebentar."

Ucapan Gai direspon masa bodoh oleh orang lain. Tak ada yang peduli dengan semangat masa muda dari orang tua yang cacat fisik. Terlebih saat ini situasinya tidak mendukung untuk bercanda.

300 Prajurit Sparta langsung siaga dengan pedang dan tameng masing-masing. Ares bergumam, "Mereka orang bodoh. Tapi firasatku mengatakan ini akan menarik."

"Gai!." Shizune berseru kencang, di tangannya sudah siap puluhan jarum beracun.

"Ha?"

Gai memutar kepala pelan. Selain Shizune, ia juga melihat Yamato yang menyiapkan segel tangan ninjutsu mokuton. Sampai akhirnya Gai menyadari bagaimana posisi mereka bertiga saat ini.

"Siapa dia?"

Pertanyaan itu keluar dengan enteng dari mulut Gai yang membuat ekspresi bingung sembari menunjuk ke arah Ares. Dia tampaknya benar-benar tidak tahu tentang orang atau lebih tepatnya dewa yang berdiri tak jauh darinya.

Meski rasanya berat, Shizune masih sanggup mengeluarkan suaranya. "Ares, Dewa Perang dari Gunung Olympus, salah satu dari dewa-dewa yang dipercaya rakyat Yunani. Aku sudah membaca profilnya dari laporan berisi informasi semua orang kuat yang dikumpulkan Sasuke. Meskipun dia bukan dewa superior seperti Zeus, Sakra atau Odin, tapi level kekuatan bertarungnya masuk dalam kategori Dewa kelas Excelsior, klasifikasi tertinggi dalam pengelompokan kasta para Dewa."

Yamato mengangguk, menguatkan fakta yang diucapkan Shizune.

"Oh."

Respon singkat itu keluar dari mulut Gai. Diantara tiga veteran perang ini, hanya Gai yang tampaknya sangat tenang, entah dia tidak mengerti apa maksud istilah Dewa kelas Excelsior atau dia sama sekali tidak merasakan kekuatan dan keagungan dari Ares yang berdiri dihadapannya.

Ares selesai mengidentifikasi orang yang datang, ia hanya merasakan aura manusia biasa. Meskipun memiliki penguasaan energi spiritual namun tidak besar. Hanya sekelas pasukan perangnya dari kelas bawah.

"Hanya kerikil. Baiklah, kalian bertiga akan menjadi orang Konoha pertama yang kubantai. Kalian tak bisa berbuat apa-apa, apalagi salah satunya hanya orang tua cacat. Phuhahahahaaaaaa."

Gai menyeringai, dia paling senang kalau ada orang sombong untuk dipermalukan. "Kerikil katamu? Nah sekarang, lihat apa yang kerikil ini bisa lakukan pada semua pasukanmu! Haaaaaaaaaaaaa...!"

Hachimon Tonkou no Jin

Sixth Gate, Keimon. Open!

Swwoossshhhh...

Gai terselimuti aura hijau yang membentuk pusaran di sekeliling tubuhnya. Pembukaan gerbang batin nomor enam, Gerbang Penglihatan, memberikan Gai kekuasaan untuk melepaskan sejumlah besar chakra dari dalam tubuhnya.

Slabbb...

Gai menghilang dari kursi roda secepat kilat,

Diatas!.

Gai melayang di udara. Dari posisi itu, dia memukulkan tinjunya berkali-kali pada udara kearah bawah.

Asa Kujaku

Udara yang dipukul Gai memadat lalu dilesakkan seakan itu adalah peluru meriam. Gesekan yang dihasilkan dengan udara diam membentuk panas yang memunculkan warna merah seperti api. Hingga ratusan pukulan beruntun yang dilepaskan dengan intensitas tinggi seolah membentuk ekor merak yang menawan.

Blaassssttt.

KABOBOBOBOBOOOMMMMMMM...

Serangan pembuka dari Gai mencakup area yang sangat luas. Semua tinju dijatuhkan pada 300 pasukan sparta yang berdiri gagah dalam barisan. Serangan kejutan yang tanpa aba-aba itu, ditambah kecepatan Gai yang melewati ambang batas kecepatan manusia, mengakibatkan pasukan sparta tidak sempat membuat posisi bertahan bahkan hanya untuk mengangkat tameng.

300 pasukan sparta yang berdiri di belakang Ares terpental kesembarang arah dengan tubuh penuh luka.

Gai cukup ingat dengan pengetahuan baru di dunia ini kalau seorang Sparta punya kekuatan fisik jauh diatas manusia biasa. Mereka bukan manusia, tapi makhluk supranatural yang bangkit dari legenda dengan membawa kekuatan dahsyat. Dan untuk menghabisinya dalam satu serangan agar tidak membuat repot di lain waktu, Gai tak ragu mengambil keputusan untuk membuat serangan kejutan dengan membuka Gerbang Keenam dan melepaskan teknik pukulan Asa Kujaku 'Morning Peacock' atau Merak Pagi.

Shooommmm...

Baakkk...

Gai jatuh dan telah duduk seperti awal di kursi rodanya. Dia tampak terengah-engah hanya karena melancarkan satu serangan tadi. Aura hijau disekitar tubuhnya masih berkibar, menandakan kalau gerbang keenam masih terbuka. Artinya pertarungan belum usai, bahkan baru saja akan dimulai.

"Bagaimana?" tanya Gai pada Ares.

Nampak dewa perang Yunani itu tak terkejut walau 300 prajurit yang ia bawa baru saja luluh lantak dalam sekejap.

Ares mengerucutkan bibir, tak mempedulikan prajurit sparta yang ia bawa.

"Kheh, itu tak akan mengubah keadaan, aku masih sanggup meratakan Konoha sendirian. Pasukan tadi kubawa hanya sebagai formalitas. Aku kan dewa perang?, jadi wajar kalau aku membawa pasukan. Mana ada perang sendirian, iya kan?"

"I-iyiya sih." Yamato magut-magut tanda setuju.

"Heiiii!" Shizune berseru protes. "Gai, apa-apaan yang kau lakukan tadi? Harusnya kita mengkonfirmasi ini dulu pada Hokage-sama untuk memikirkan tindakan yang harus diambil. Kenapa kau asal bertindak sendiri hah?"

Apa yang dikatakan Shizune memang benar. Meski Ares datang membawa pasukan, tapi mereka belum melakukan apa-apa pada Konoha dan tak ada pernyataan perang dari mulut Ares. Artinya tindakan Gai yang menyerang duluan, bisa dikatakan sebagai pemicu peperangan, Konoha akan dituduh memulai perang dengan kubu Mitologi Yunani.

Gai tak mempedulikan ocehan Shizune. Padahal mereka veteran perang, seharusnya pasti saling mengerti tindakan masing-masing, bukannya bertengkar seperti anak remaja.

"Anoooo..." Gai menatap sang dewa perang Yunani dengan pandangan yang tak dapat diartikan.

"Ha?"

"Emmm, siapa namamu tadi?"

Oh, ternyata Gai lupa namanya. Padahal sudah diberitahu Shizune.

"Ares. Namaku adalah Ares Sang Dewa Perang terhebat dari Olympus." Ares berjumawa memperkenalkan dirinya.

"Hajimemashite. Aku Maito Gai, shinobi berpangkat jounin dari Konoha."

clinggg...

Kilatan menyilaukan terpantul dari gigi Gai saat dia dengan kepercayaan dirinya tersenyum memperkenalkan diri.

Euuuhhh. Ares menganggap itu menjijikkan.

"Jadi?"

"Apa?" Ares tak mengerti maksud ucapan Gai.

"Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu pulang?"

Pertanyaan tegas dari Gai mengundang senyum di bibir Ares. "Kau tak cukup bodoh untuk tahu hal itu kan? Aku dewa perang, aku suka peperangan, aku senang dengan pertarungan."

"Hmmm, bagus. Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?"

Shizune dan Yamato mengernyit heran. Apa Gai kali ini berniat menggunakan otaknya, biasanya kan si monster hijau ini hanya menggunakan otot dan semangat masa muda saja untuk menyelesaikan masalah?

"Baiklah, karena aku dewa yang baik aku akan mendengarkan usulanmu."

Bohong!, Ares itu sebenarnya dewa licik. Tak pernah dia berbuat baik pada siapapun.

"Kita bertarung satu lawan satu."

"Oh, oke, baiklah, tentu saja." Ares menerima tawaran Gai tanpa berpikir, ia yakin dengan kekuatannya. Dia adalah dewa, dan Gai hanya manusia. Walaupun dia telah melihat Gai melepas gerbang keenam lalu mengalahkan 300 pasukan sparta yang ia bawa, tapi itu bukan hal besar. Bagi Ares, hal itu hanya seperti kelakuan seorang manusia biasa yang membakar sarang semut.

Gai mengangkat kaki kanannya, memperlihatkan kekurangannya dibanding manusia normal. Ya, disitulah kecacatannya. Dia tidak memiliki kaki asli, namun menggunakan alat pengganti kaki dari lutut ke bawah. Kaki pengganti buatan itu terbuat dari bahan logam berwarna putih mengkilap. Ada sebuah tulisan kecil tercetak pada kaki buatan itu, tertulis 'Adamantium, Made in USA'. Ternyata selain mengerjakan misi di Amerika, Gai juga mengikuti program terapi pengganti anggota tubuh.

Gai mulai bernegosiasi, "Semangat masa mudaku terkurung dalam tubuh seorang pria tua cacat. Yaa, ini sangat memalukan untukku yang sangat menjunjung sportifitas. Tapi agar adil, ijinkan aku memakai sesuatu."

"Sesukamu saja lah." Ares nampak tak peduli.

Gai menatap Shizune, "Tolong, berikan aku serumnya!"

"Ha?" rahang Shizune menggantung, matanya melotot. "Jangan mengada-ada, Gai!"

Shizune tidak akan memberikan serum yang diminta Gai. Seperangkat serum yang dia bawa dari Amerika saat ini hanya contoh, belum teruji pada shinobi-shinobi Konoha. Lagipula pusat riset di Amerika yang membuat serum ini sama sekali belum pernah mempublikasikan keamanannya.

"Please." Gai membuat puppy eyes no jutsu.

"Nih!"

Shizune langsung memberikannya, bukannya karena luluh tapi karena tak sanggup melihat wajah menjijikkan Gai.

Gai menerima serum itu lengkap dalam alat suntik berbentuk seperti pistol. Dia kembali menatap Ares, "Aku lupa semua penjelasan detailnya, tapi katanya salah satu kegunaan serum ini adalah meningkatkan ketahanan tubuh terhadap beban yang melewati ambang batas maksimal yang sanggup ditahan manusia biasa." Matanya balik menatap Shizune, "Apa tadi nama serumnya?"

"Namanya Super Soldier Serum." jawab si perempuan berdada rata.

Wajah ceria Gai yang penuh semangat kembali menoleh pada Ares, "Nah itu namanya. Tapi aku lebih senang menyebutnya, Obat Amerika."

Stabb...

Gai menancapkan jarum suntik di lehernya, isi serum masuk kedalam pembuluh darah leher.

"Che, dasar manusia rendahan. Kalian ingin mencapai hasil instan dengan doping."

"Emmm, menurutku tak apa. Doping juga hasil kerja keras manusia yang menggunakan otaknya. Itu suatu hal yang sangat patut dihargai."

Argumen Gai tidak salah, walau tidak sepenuhnya benar juga.

"Bagaimana kalau kutambahkan? Jika kau bisa membuat wajahku mencium tanah, maka kau menang dan aku akan pulang."

Tawaran Ares langsung disambut cengiran oleh Gai. "Yakin nih?"

Beaaammmm...

KABOOOOMMMMM. . . . . .

Satu buah gunung yang mulanya tinggi menjulang, kina hanya menyisakan kawah raksasa di permukaan bumi.

Tubuh Shizune dan Yamato bergetar hebat karena ketakutan. Ingatan Shizune kembali ke saat perang dahulu, saat bijuudama menjadi barang obral.

Gai membuang nafas lega. Beruntung lesatan laser sihir pemusnah yang keluar dari jari telunjuk Ares tepat menuju ke kepalanya, berhasil dia hindari.

Itu baru serangan permulaan dari Ares dan satu gunung sudah lenyap tanpa sisa. Bagaimana kalau kekuatan penuhnya?

Ares bersungut, serangan tadi hanya sebuah gertakan karena ia tak terima diremehkan. "Iya atau tidak hah?"

"Ya." Tak ada pilihan lain bagi Gai selain menjawab begitu.

Sang monster hijau saat ini menanggung beban keselamatan Konoha di pundaknya sendirian. Gai jenius dengan caranya sendiri, dia mengerti kalau lawannya seorang Dewa. Kalau boleh berasumsi, Gai menyamakan kekuatan dari Ares dengan Rikudou Madara setelah menjadi jinchuriki Juubi yang pernah ia lawan sampai hampir mengorbankan nyawanya. Ia akan mengorbankan nyawanya lagi demi melindungi Konoha berserta para daun muda. Namun karena di dunia baru ini ada banyak dewa seperti Ares, maka Gai tidak ingin sebodoh dahulu mempertaruhkan nyawa secara sembarangan.

Sssshhhhh...

Aura hijau disekeliling tubuh Gai menguar-nguar membentuk pusaran yang berputar makin cepat. Tampaknya efek serum yang digunakan Gai mulai bekerja.

Seventh Gate, Kyoumon. Open!

Blassssshhhh...

Aura disekeliling tubuh Gai berubah menjadi warna biru. Pupil matanya menghilang. Otot-otot diseluruh tubuhnya menegang. Kulitnya pun menggelap. Gelombang energi yang keluar menghempaskan udara, bahkan bongkahan-bongkahan tanah di sekitar Gai mulai terangkat.

Yamato merangkul pinggang Shizune, lalu membawanya melompat untuk mencari tempat aman. Mereka berdua mau tidak mau harus mempercayakan hal ini pada Gai yang sekali lagi akan mengamuk sebagai monster taijutsu dari Konoha.

Ares menyipitkan matanya agar hempasan angin yang membawa debu-debut berterbangan tidak membuatnya kelilipan.

Zssshhttt...

"!" mata Ares melotot, Gai sudah tidak duduk dikursi roda lagi dan dalam sekejap sudah memotong jarak dengannya, "Cepat!"

Gai membuat simpul jari dengan kedua tangannya.

"Terima ini!"

Ares sadar kalau serangan ini akan sangat merusak jika terkena langsung. Dia menyiapkan lingkaran sihir pertahanan yang mampu menahan serangan fisik yang sangat kuat, tepat antara dia dan Gai.

Hirudora

BAAAAAAAAANNNNNNNGGGGGGGG!

Sejauh lima kilometer, hutan menggundul karena pepohonannya tercabut dari tanah. Efek serangan Hiduroda atau Harimau Siang mencakup areal yang luas.

Teknik ini memanfaatkan pukulan cepat bertenaga super untuk membuat gelombang tekanan udara penghancur yang difokuskan pada satu titik. Gelombang serangan tampak membentuk sesosok harimau putih yang mengaum. Pelepasan serangan ini akan menciptakan gelombang kejut yang sangat merusak, seperti ledakan sebuah bom bijuu.

Ketika asap dan debu yang berterbangan mulai memudar, tampak Ares yang pakaiannya sudah compang camping. Tubuhnya tidak teluka sedikitpun, kulitnya tak menerima lecet, namun ekspresi diwajahnya tak bisa dibaca. Hatinya mungkin sedang kesal.

Baakkk...

Gai kembali terduduk di kursi rodanya setelah satu lompatan jauh ke belakang. Tubuhnya tampak sedikit lunglai, memang inilah efek samping penggunaan Hirudora 'Midday Tiger' atau Harimau Siang dengan membuka gerbang ketujuh yaitu Gerbang Keajaiban.

"Untuk ukuran manusia, aku mengakui kekuatanmu." Pujian bernada ikhlas terlontar begitu saja dari mulut Ares. "Kau terlalu menarik, jadi aku tidak ingin menyelesaikannya degan cepat. Haaaaaaaaaaaaaa...!"

Ares menfokuskan semua energi yang ia miliki untuk fisiknya. Sekarang ia tahu kalau manusia yang menjadi lawannya hanya akan menggunakan tinju, jadi ia ingin melawan dengan cara yang sama. Bukan dengan sihir yang sekali tembak, 'baaannnngggg', lalu selesai.

Serum yang disuntikkan Gai ke tubuhnya sendiri tampaknya bukan hal yang sepele. Harusnya setelah melakukan teknik Hirudora dengan membuka gerbang ketujuh, tubuh Gai akan langsung terkapar tak berdaya selama beberapa menit, bahkan mengakibatkan beberapa ruas tulangnya patah. Namun efek itu tidak terjadi. Serum Super Soldier membuat tubuhnya sanggup menahan beban maksimal yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya.

Entah lembaga penelitian atau perusaan apa yang menjadi mitra Konoha di Amerika, yang pasti manusia saat ini juga berkembang pesat dan berpotensi menandingi makhluk supranatural.

Zwiiifffttt...

Ares hilang dari posisinya, dia sangat cepat. Gai juga sama.

Buaaggggg...

Dua kepalan tinju beradu.

Gai tampak membuat ekspresi terkejut, padahal itu pukulan terkuatnya dalam mode ini, namun dapat ditahan oleh Ares dengan mudah. Sebagai manusia, dia kini menyadari apa makna dibalik julukan seorang Dewa.

Ares mengulas seringaian, "Ayoo, buktikan kalau kau bisa lebih menyenangkan dari ini, manusia Konoha!"

Zsshhhttt...

Buaaggggg...Buaaggggg...Buaaggggg...Buaaggggg...

Gerakan mereka berdua tak dapat dilihat. Yang ada hanyalah puluhan kali hentakan keras diudara, setiap adu tinju menciptakan suara nyaring dan gelombang kejut yang menggetarkan permukaan tanah bagai terjadi gempa.

Cukup lama beradu tinju, Gai mengambil posisi yang cukup jauh dari Ares. Dia melayang di udara. Tidak tepat kalau Gai disebut terbang, setiap beberapa saat dia menendang udara sebagai pijakannya, itulah yang membuatnya bisa melayang. Berbeda dengan Ares yang notabene adalah Dewa, dia bisa terbang sesukanya.

"Tampaknya tak ada pilihan lain selain menggunakan ini!"

Gai berkata pada dirinya sendiri.

Zrcchh...

Gai menggunakan jempol tangan kanan menusuk dada kiri, dia membuka limiter aliran chakra menuju titik yang terletak di jantung.

Shooommmmm...

"Terbukalah sampai maaaaaaaxxx, Hachimon Tonkou!"

Eighth Gate, The Gate of Death. Shimon, Open!

Tubuh Gai memancarkan aura merah yang tercipta dari uap darah. Kulit Gai menggelap sempurna, pupil matanya tak nampak. Dia bangkit untuk menjadi Monster Merah dari Konoha sekali lagi dengan membuka gerbang kedelapan, Gerbang Kematian.

"Bhuahahahahaaaaaa... Seperti yang kuharapkan darimu, manusia terkuat pertama yang pernah kutemui selama ribuan tahun aku hidup."

Ares menyiapkan kepalan tangan, dia berniat menyerang pertama kali.

Zsshhttt...

Secepat kilat menyambar, secepat itu pulalah Ares lenyap dari posisinya.

Phuuu...

Tinju Ares hanya mengenai udara kosong. Matanya melotot ketika menyadari Gai berada 10 meter diatasnya.

Sekizo...

Issoku!

Gai menggunakan tangan kirinya untuk meninju udara ke bawah, tepat menuju Ares.

Splasshhhh...

Dhuuaarrrrrr...

Ares terseret hentakan angin yang luar biasa hingga membuat tubuhnya terbenam kedalam tanah.

Tercipta lubang sedalam 50 meter, Ares terbaring didasarnya. Tapi ia belum kalah, punggungnya yang tergeletak ditanah, bukan wajahnya, begitu kesepakatan kan?.

Nisoku

Craackk...

"Ouuucchh!"

Gai mengaduh, dia membatalkan pukulan tahap kedua dari tekniknya, tulang lengannya patah membuatnya tak bisa melakukan teknik itu. Padahal sudah di topang serum doping buatan Amerika, tapi tetap saja tulangnya patah. Ini bukti kalau teknik yang digunakan Gai luar biasa berbahaya bagi dirinya sendiri.

Shooooo...

Ares melayang lagi diudara, sejajar dengan Gai. "Pukulanmu luar biasa, menekan udara sampai batas tertinggi lalu menembakkanya seperti sebuah meriam angin. Jika aku terkena pukulan itu lagi, pasti aku akan pulang dengan beberapa tulang patah. Baiklah, mulai saat ini aku akan serius melawanmu."

Ternyata sejak awal, Sang Dewa Perang Olympus belum serius dengan pertarungannya. Kini si maniak perang gila bertarung ini akan menunjukkan semua yang ia punya.

". . . . ."

"Maito Gai. Itu kan namamu? Aku akan mengingatnya sampai penghujung jaman."

Sungguh suatu kehormatan bagi seorang manusia ketika namanya telah terpatri kuat dalam ingatan seorang dewa.

Flare...RumbleRumbleRumble...

Ares melapisi seluruh permukaan tubuhnya dengan petir merah panas membara. Dia memfokuskan semua energi sihirnya untuk fisik dan materialiasi sihir api yang suhunya sama dengan suhu permukaan matahari yaitu 6000 derajat celcius. Dengan begini, tak ada yang bisa menyentuh tubuhnya, dan yang ia sentuh akan terbakar menjadi abu.

Gai di posisi yang sulit, dia tidak bisa lagi menggunakan tangannya untuk melancarkan tinju Sekizo 'Evening Elephant' atau Gajah Senja. Tapi dia punya sesuatu yang lebih baik sebagai pengganti, ada pada kaki kanannya. Tak sulit untuk mengubah Teknik Gajah Senja dari sebuah tinju menjadi tendangan. Apalagi kaki kanannya yang sekarang adalah kaki pengganti yang terbuat dari logam adamantium, logam paling keras yang pernah ada dalam sejarah manusia bumi. Ini hal yang sangat menguntungkan, kerena suhu permukaan tubuh Ares menyamai suhu permukaan matahari, ia tak mungkin bisa membuat kontak fisik dengan bagian tubuh aslinya, tapi adamantium pasti sanggup menahan panas itu.

PakPakPakPakPakPak

Gai berlari di udara, menendang udara hingga menciptakan tenaga dorong yang kuat layaknya sebuah jet. Dia berlari dalam lintasan melingkar mengeliling Ares.

"Sekali lagi. Kaaaaaaaaaaaa!"

Sekizo...

Issoku!

"Dia terlalu cepat!" mata Ares yang mengamati arah lari Gai menangkap tendangan kaki logam pengganti Sang Monster Merah datang dari kanan.

Shinnngggg...

Ares membuat lingkaran sihir pertahanan. Walau ia tahu ini belum cukup, tapi paling tidak bisa mengurangi dampak pukulan meriam angin Gajah Senja yang mengenai tubuhnya.

Bammmmmmmm...

Nisoku!

Tendangan kedua dari kaki pengganti Gai datang dari sebelah kiri.

Meski Ares sempat membuat lingkaran sihir pertahanan, tapi itu belum cukup. Tubuhnya seakan dihimpit kuat oleh dua meriam angin yang ditembakkan dari arah belawanan.

Sansoku!

Yonsoku!

Tendangan Sekizo tahap ketiga dan keempat datang dari arah depan dan belakang.

"Guhhhaaa! Ak-akku tak bisa bergerakkkk."

Gai sama sekali tak memberi kesempatan untuk Ares. Tendangan ketiga dan keempat punya tingkatan dan daya hancur yang lebih tinggi dari pertama dan kedua. Ditambah lagi Ares tak sempat membuat pertahanan dan merelakan tubuhnya terkena langsung. Semua sendinya bergemelatuk, tulangnya hampir remuk, seakan seluruh tubuhnya dihimpit keras oleh empat kaki gajah raksasa dari empat arah.

"Ini yang terakhir!"

Gai berteriak, dia datang dari atas dengan tendangan lurus menukik ke bawah.

Gosoku!

"Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...!"

Yang terakhir tendangan langsung, bukan lagi hempasan meriam angin. Kaki palsu berbahan logam adamantium yang sangat keras dan memancarkan aura merah seperti kaki gajah yang terbakar api membara mengantam puncak kepala Ares.

Syiiiuuuuu...

DHHUUUAAAAAARRRRRR...

Tubuh Ares terperosok kedalam tanah. Saking kuatnya dia terhempas hingga menciptakan lubang raksasa sedalam 250 meter. Lebar lubang itu saking besarnya hingga menyamai kawah gunung berapi.

Tap...

Gai mendaratkan kakinya di permukaan tanah. Posisinya tidak jauh dari Ares. Terlihat nafas Gai yang sepertinya akan segera habis. Aura merah dari tubuhnya perlahan mulai menipis. Jika saja dia tidak memakai serum, mungkin tubuhnya benar-benar hancur akibat menahan beban dari pembukaan gerbang kedelapan. Apalagi ini kedua kalinya dia menggunakan teknik Sekizo, yang artinya ada penurunan daya tahan asli tubuhnya dibanding pertama kali menggunakannya saat perang dunia shinobi keempat.

Ares kini sudah bangkit lagi, walau tubuhnya tidak tegak sempurna. Dia mengelap darah yang keluar dari hidung dan mulutnya menggunakan punggung tangan. "Kau tahu, Gai? Perang antar dewa adalah terakhir kalinya aku merasa senang, dan sekarang kau memberikanku lagi kesenangan itu."

Ucapan Ares tidak direspon oleh Gai. Bukan karena dia tidak bisa, tapi karena Sang Monster Merah Konoha saat ini sedang menahan rasa sakit luar biasa sebagai efek samping pembukaan gerbang batin tertinggi. Hal inilah yang tak memungkinkannya untuk bersuara.

"Kau masih bisa bertarung lagi hah? Ayo, keluarkan teknikmu yang lain! Jangan sampai kesenangan kita berakhir sampai disini."

"..."

"Aku belum kalah, wajahku belum mencium tanah. Kau ingin melindungi kaummu kan? Buktikan kalau kau bisa melakukannya. Ghuhahahahahaaaa"

Ares berusaha memprovokasi Gai. Walau dia mengalami cedera cukup parah hingga merusak 45% tulang dan organ tubuhnya, namun berkat sihir penyembuhan, perlahan luka-luka itu membaik walaupun perlu waktu agak lama. Itu lebih baik dari tidak sama sekali.

pantpantpantpant...

Suara-suara kecil terdengar ketika Gai menggerakkan tubuhnya, terutama berasal dari kaki buatan. Dia berusaha mengais-ngais oksigen disela nafasnya yang pendek dan cepat. Ini sudah batasnya, efek doping dari serum buatan Amerika yang dia gunakan akan segera habis. Jika gerbang kedelapan masih terbuka saat efek obat itu habis, maka bisa dipastikan Gai akan kehilangan nyawa.

Gai membuat kuda-kuda spesial.

Ares menyadari kalau ini akan menjadi serangan terakhir Gai.

"Seki!"

Setelah ucapan itu, Gai mengumpulkan sisa-sisa chakra yang ia miliki. Ledakan aura merah darah menyembur deras keluar dari tubuhnya.

"Gai!"

Aura merah menyusun diri membentuk sosok kepala naga.

Disudut sana, Ares membuka matanya lebar-lebar. Dia membuat ekspresi seperti orang yang menemukan hal yang paling menyenangkan dalam hidupnya, "Sekarang aku benar-benar mengakuimu sebagai lawanku, tak pernah aku menemukan lawan bertarung yang sehebat dirimu, Maito Gai."

"Ryuu!"

Itu ucapan yang keluar dari mulut Gai sesaat sebelum ia berpindah.

'Cepat! Mustahil, tidak mungkin!' Ares tak bisa untuk tidak terkejut ketika mendapati Gai sudah memotong jarak dengannya hampir tanpa jeda waktu. 'Kecepatannya seolah merobek batas-batas dimensi ruang.'

Apa yang terpikirkan Ares benar adanya, kecepatan Gai benar-benar luar biasa, makhluk tercepat yang pernah dilihat oleh Sang Dewa Perang Olympus.

Saat bergerak, sosok kepala naga juga ikut bergerak mengikuti tubuh Gai. Bentuknya memanjang seperti naga langsing Asia yang ekornya tetap pada posisi awal dia berdiri.

Yagai

Ujung kaki logam adamantium menghantam telak perut Ares. Sang dewa perang ini seolah digigit mulut naga. Tubuh Ares terdorong ke belakang, menghantam tanah tanpa bisa terhentikan hingga menciptakan parit besar. Belum cukup sampai disitu, tiga buah gunung yang tersusun dalam jalur lurus hantaman tendangan Yagai 'Night Moth' atau Ngengat Malam berlobang pada bagian dasarnya, membentuk terowongan yang menembus ketiga gunung itu. Hingga akhirnya berhenti saat...

Bruaacckk. . . . . .

...punggung Ares menabrak kekkai yang dibuat oleh anak buahnya. Kekkai itu retak dan hampir berlubang.

Ares menerima luka parah, perutnya berlubang, organ dalam serta seluruh rusuknya remuk tanpa sisa. Namun dia masih hidup.

Bammm...

Tubuh tak berdaya Gai jatuh dan terkapar di tanah, tak jauh dari posisi Ares. Dia seperti kehabisan nafas. Aura merah tak lagi keluar dari tubuhnya. Semua gerbang batin tertutup kembali, bersamaan dengan itu efek serum Super Soldier pun habis.

Meskipun Gai menerima luka parah akibat memaksakan tubuhnya menggunakan teknik tertinggi, meskipun nyawanya hampir lepas dari raga, tapi Gai dipastikan masih bisa bertahan hidup. Jantungnya mulai berdetak normal kembali setelah sebelumnya bekerja memompa darah jauh melebihi ambang batas maksimum saat membuka Gerbang Kedelapan. Kesadarannya pun kembali pulih ketika rasa sakit luar biasa akibat membuka gerbang batin mulai berkurang.

Jika dulu Gai terpaksa merelakan kaki kanannya untuk teknik terkuatnya, kali ini dia tak perlu melakukannya. Kaki buatan berbahan logam adamantium lebih dari cukup untuk menahan beban dari teknik Yagai, dibandingkan kaki asli yang pasti menyisakan tulang yang telah remuk. Namun sekarang kaki buatan itu tak terpasang dengan benar lagi, beberapa mur dan pin yang menguatkan posisi benda itu pada pangkal kaki Gai telah lepas dari tempatnya.

"Gh..." Ares telah berdiri kembali dengan bertumpu pada tangan kiri. "Hahahaaa, kau hampir saja membunuhku, sialan!"

sssshhhhh...

Nampak tubuh Ares memulihkan diri dengan sendirinya. Entah sihir jenis apa yang ia miliki, namun setiap sel tubuhnya beregenerasi dengan cepat untuk mengganti sel yang telah rusak dan mati.

Gai sudah selesai sedangkan Ares masih memiliki tubuh dan separuh kekuatannya.

"Phuahahahahaaaa. Kau lihat kan? Aku yang memang. Jadi setelah membunuhmu maka seluruh Konoha selanjutnya."

"Salah, kau yang kalah!"

"Eh?" Ares merasa salah mendengar. Namun sesaat kemudian dia...

Puk

...mengerti.

Ya, dia kalah. Baru saja sebongkah tanah seukuran kepalan tangan entah datang dari mana melayang jatuh dan mendarat di wajah Ares. Sang Dewa perang tidak menyadarinya, tak juga bisa menghindar saat tubuhnya masih memulihkan diri.

Selama beberapa saat, Ares mencium tanah, hingga lima detik kemudian tanah itu jatuh sendiri dari wajahnya karena tarikan gravitasi.

Kini tersisa Ares dengan raut wajah masam sekecut asam lemon yang memerah menahan kesal dan amarah.

Gai kini sudah bisa duduk. Dia dibantu oleh Yamato yang sudah berada disisinya dan menahan punggungnya. Ada pula Shizune yang curi-curi kesempatan memeriksa kondisi tubuh Gai.

"Sesuai kesepakatan, kau kalah. Jadi kau harus pulang." ucap Gai tanpa ragu.

TwitchTwitchTwitchTwitch

Ares mana mungkin terima dikalahkan dengan cara seperti ini, apalagi dia masih punya separuh kekuatannya sedangkan lawannya sudah tidak apa-apa.

"Kau pikir aku mau mengikuti ucapanmu hah? Jelas-jelas kalian yang kalah dan tak bisa apa-apa lagi."

"Kau, dewa licik bedebah!" ini pertama kalinya Gai mengeluarkan umpatan kasar. "Ternyata informan kami tidak salah menyebutkan tabiat burukmu."

"Kau katakan aku licik, aku tidak peduli. Aku suka bertarung dan berperang, dan lebih suka lagi saat aku memang, apapun caranya."

Flare...

Ares membuat bola api di tangannya, bola api yang mengeluarkan jilatan-jilatan lidah api yang sangat panas. Gai, Yamato, dan Shizune dapat merasakan panas api itu walau jaraknya dari ares sekitar 50 meter, bukti kalau api itu benar-benar panas, sepanas permukaan matahari.

Shizune dan Yamato berdiri dan membuat posisi siaga bertarung membelakangi Gai, meski mereka berdua tahu akan sia-sia. Tadi Gai sudah berusaha keras, sekarang giliran mereka walaupun mati akan menjadi akhirnya.

Tapi...

"Shizune, Yamato. Tolong minggir, aku belum selesai."

"Ha?" Shizune hendak menyangkal namun saat ini raut wajah Gai sedang tak bisa didebat.

Perlahan Shizune dan Yamato membuka jalan agar Gai dan Ares bisa saling tatap.

Otot Gai memang sudah selesai, tapi otaknya belum.

"Ares-dono. Sebelum kau membunuh kami, aku punya satu pertanyaan."

"Katakan!"

"Apa yang akan kau lakukan setelah mayat kami menjadi abu?"

Ares sebenarnya tak bisa menebak kemana arah pembicaraan Gai. "Sudah jelas kan? Tentu saja aku akan membakar seluruh Konoha dan orang-orangnya."

"Heh? Kau yakin?"

Gai membuat ekspresi meremehkan dan itu menjadikan Ares ditelan luapan emosi.

"Ck. Akan lebih baik kalau kalian bertiga mati sekarang juga!"

Ares mengangkat tangannya yang memegang bola api, dia berniat melemparkannya, tapi...

"Hei, tunggu!"

Seruan Gai menghentikan gerakan Ares.

"Apa lagi ha?"

"Sebagai dewa perang, apa kau tidak malu membunuh pria tua cacat yang sudah tak berdaya ini."

"Kheh, memangnya aku peduli?"

Yah. Sebagai dewa licik, Ares tak mempedulikan hal itu. Dia kini hampir saja melemparkan bola api, namun...

"Stop!"

Lagi-lagi Gai berhasil menghentikannya.

"Kau membuatku muaaakkk!"

"Bagaimana kau akan meratakan Konoha kalau ada 100 pemuda seperti aku didalam sana?"

"Whattt...? Katakan sekali lagi"

Ares menghilangkan bola api pemusnah miliknya. Dia membuat ekspresi seolah barusan telinganya tuli.

"Ada 100 pemuda sepertiku di Konoha."

Ucapan bernada tegas itu keluar tanpa halangan dari mulut Gai.

Meski Ares sedang emosi, tapi otaknya masih jalan. 100? Jangan gila! Melawan seorang Gai saja dia hampir tewas, bagaimana kalau 100?

"Kau bohong!"

Ares menunjuk wajah Gai sambil memasang ekspresi tak percaya.

"Apa yang membuatmu tidak percaya ha?" tantang Gai.

Sementara itu, Shizune dan Yamato diam saja. Merasa bahwa saat ini mereka lebih baik diam dan mengikuti alur buatan Gai.

Ares tak bisa menjawab. Ia sama sekali tak punya bukti untuk menyangkal, terlebih ia sendiri belum bisa ke Konoha untuk memastikannya. Tapi jika benar, tentu saja dirinya hanya akan jadi bulan-bulanan orang Konoha dan berakhir dengan kematian tragis.

"Apa kau punya bukti kalau ucapanku bohong?" tanya Gai sekali lagi.

"Tap-..."

"Lihat kondisiku sekarang!" dengan lantang Gai memotong ucapan Ares. "Aku ini pria tua, lebih buruk lagi aku cacat. Meski begitu, aku sanggup memojokkanmu. Bagaimana dengan pemuda-pemuda Konoha yang masih segar dan fisik sempurna? Dan mereka semua ada 100 orang. Apa yang akan kau lakukan dengan itu? 'Membuat Konoha menjadi abu', itu hanya akan jadi angan-anganmu di siang bolong yang tak pernah menjadi nyata. Bahkan nyawamu akan melayang sebelum kau sempat berkedip."

Telak! Kalah telak! Ares tak punya argumen untuk membantah ucapan Gai. Tentu saja dia masih ingin hidup lebih lama. Kalau dia nekat ke Konoha, dia hanya akan berakhir mengantar nyawa, itu kalau perkataan Gai benar.

Misalnya perkataan itu bohong? Tetap saja jika dipikirkan masak-masak, Ares merasa situasi tak akan berubah banyak. Ia sudah mendengar desas-desus tentang sepak terjang Konoha sejak kemunculannya pertama kali didepan umum. Pertama adalah saat Konoha dengan sombongnya muncul di tengah-tengah Pertemuan Tiga Fraksi Reliji Injil dan membuat kekacauan besar. Lalu sebuah informasi rahasia kelas S telah bocor ke telinganya, yaitu insiden di Kyoto saat Sakra dan Sun Wukong yang jelas-jelas diakui kekuatannya oleh semua dewa, terpaksa mundur oleh sepasang remaja yang katanya mengaku berasal dari Konoha. Kemudian pernyataan langsung dari mulut Hades yang ia curi dengar bahwa Samael Sang Pemakan Naga mati dibunuh oleh monster berekor sembilan dari Konoha, bahkan Cao Cao beserta seluruh golongan Hero Faction dan ribuan pasukan Grim Reaper yang dipimpin Pluto sang Grim Reaper Legendaris, yang hampir saja berhasil menangkap Ophis, malah berakhir tanpa ada yang selamat maupun kembali pulang satupun, kecuali Cao Cao, Georg, dan Leonardo, itupun dalam kondisi menggenaskan dan sekarang dikurung di kedalaman Neraka, Cocytus.

Sekarang ia mengerti kenapa Sakra menyuruhnya kesini. Dirinya hanyalah objek percobaan serikat dua kubu mitologi besar Olympus dan Hindu-Buddha untuk mengukur sampai mana batas kekuatan militer Konoha.

Tapi insting Ares masih tidak ingin mempercayai Gai.

"Aku memang tidak punya bukti kalau kau bohong, tapi apa kau bisa membuktikan kalau kau berkata jujur."

Sekarang Ares balas menyerang dalam perdebatan. Jika Gai tidak bisa membuktikan kebenarannya, maka jelas Ares akan membunuh Gai, Shizune, dan Yamato sekarang juga, lalu pergi dan meratakan Konoha. Meski pada posisi yang kurang baik, tapi dengan sedikit resiko Ares bisa meraih keuntungan besar.

Tapi yang namanya Gai tak habis akal. Dia memang dikenal selalu menyelesaikan masalah dengan otot, pelupa dan tak pernah berpikir rumit untuk membuat tindakan. Namun untuk kali ini saja, sebagai veteran perang dia ingin menggunakan sisi lain dalam dirinya, walaupun itu akan membuatnya out of character. Sebut saja dia jenius dengan caranya sendiri.

"Ares-dono, apa kau berharap aku berbaik hati memberikanmu bukti dengan cara mengajakmu ke Konoha sebagai tamu, lalu menunjukkan 100 pemuda yang kukatakan tadi, kemudian kau berkenalan dengan mereka satu persatu? Dan akhirnya kau pulang dengan aman setelah tahu apa yang ada di Konoha dan bagaimana cara pergi kesana? Begitukah? JANGAN BERCANDA...!"

". . . . . ." Ares tak bisa buka suara untuk membalas bentakan Gai diakhir kalimat tadi.

"Dengar! Kami bertiga tak perlu membuktikan apapun padamu."

Seperti ucapan Gai, tak ada yang perlu ia buktikan. Bagaimanapun, Ares tidak akan mendapatkan apa-apa meski ia menang taruhan, sedangkan Gai tak akan dapat resiko apapun jika kalah karena tak ada yang dia pertaruhkan dalam debat ini. Setidaknya itulah yang tampak diluar.

Penyelesaian masalah tergantung pada bagaimana Ares membuat keputusan yang menurutnya terbaik. Ares itu dewa licik, tentu dia akan mempertimbangkan banyak hal, termasuk resiko dan keuntungan serta untung ruginya. Ares bukan orang gegabah.

"Huuufffft." Ares membuang nafas panjang, tampaknya dia memilih menyerah. Tubuhnya yang luka kini sepenuhnya pulih setelah beberapa lama beregenerasi sendiri berkat kekuatan sihirnya. "Ya, baiklah. Aku akan pulang. Tapi..."

"Tapi apa lagi?"

Ares membuat bola api pemusnah seperti tadi, bola api yang jika meledak sanggup membakar apapun menjadi abu hingga radius 10 km. "Tapi aku tidak akan pulang dengan tangan kosong, minimal aku telah membunuh kalian bertiga."

"Hehhh?" Gai membuat ekspresi menghina, "Kau masih belum mengerti juga ya, Ares-dono?"

"Katakan apa maksudmu, keparat!"

"Tadi kan sudah kukatakan. Sebagai dewa perang, apa kau tidak malu mengambil nyawa pria tua cacat yang sudah tak berdaya ini? Ditambah dua manusia lemah lainnya?"

"Aku tadi juga sudah mengatakannya dengan jelas kan? Aku tidak peduli hal seperti itu!"

"Che, bodoh! Dengar ya, semua penduduk Konoha mempunyai solidaritas tinggi, kami akan melakukan apapun sampai dendam salah satu dari kami terbalaskan. Jika kau membunuh kami bertiga disini, maka 100 pemuda Konoha akan mengejarmu meskipun kau bersembunyi di ujung akhirat. Dan kalaupun kau berhasil bersembunyi, kau hanya akan mempermalukan diri sendiri dan membuang harga dirimu. Apa kata dunia?, Seorang Dewa Perang Olympus Ares yang Maha Agung lari dari kejaran 100 pemuda manusia karena telah membunuh pria tua lemah tak berdaya dan cacat. Jika kau melakukan itu, namamu hanya akan jadi bahan tertawaan anak-anak, Dasar PE-CUN-DANG!"

Emosi luapan amarah Ares naik sampai ke ubun-ubun. Baru pertama kali ini dia benar-benar kalah. Terlebih sebagai dewa, dia dikalahkan, dihina, dan dipecundangi oleh seorang manusia. Seumur hidup, ia akan mengingat ini dan pasti akan membalaskannya.

"Aku akan membalas kalian, para manusia bangsattttt!"

Shuummm...

Itu adalah suara terakhir yang keluar dari mulut Ares.

Kini sang dewa perang yunani telah pulang ke tempatnya dengan melewati portal dimensi langsung menuju Olympus.

Swiiissshhh...

Portal hitam terbentuk tidak jauh dari posisi tiga orang elit veteran perang dari Konoha. 25 menit waktu menunggu terbukanya portal kamui buatan Sasuke kini telah usai.

"Kau benar-benar luar biasa, Senpai. Aku tidak tahu kau bisa main curang dan berbohong seperti tadi." pujian tulus itu keluar dari mulut Yamato.

"Osssh, semangat masa mudaku tak akan pernah tak akan pernah lekang oleh waktu dan keterbatasan. Jika ototku tak sanggup lagi, maka otakku yang melanjutkannya."

Shizune mengulas senyum tipis, kali ini dia bisa melihat secara langsung aksi heroik rekan seperjuangnnya. "Terima kasih atas kerja kerasmu, Gai. Ayo kita pulang sekarang."

Mereka bertiga pun melangkahi portal kamui, saatnya beristirahat setelah bekerja keras.

Gai memang sudah tua, dia seorang veteran perang. Seharusnya, saat ini dia duduk santai di kursi roda sembari menikmati secangkir ocha hangat di sore hari dengan ditemani sepiring biskuit. Namun jiwa mudanya tak akan pernah menua, semangatnya yang selalu membara tak akan pernah memudar. Kapanpun dibutuhkan, Gai selalu siap sedia, demi daun-daun muda Konoha.

.

.

.

-Area Pemukiman Kota Kouh-

Terletak di lantai paling atas, ruang VIP kediaman Hyoudou yang kini direnovasi menjadi bangunan megah oleh Rias Gremory, ada pertemuan penting. Cukup banyak orang yang berkumpul di sana. Semua anggota Klub Penelitian Ilmu Ghaib kecuali Rias dan Kiba yang sedang berada di Rumania. Ada Akeno, Rossweisse, Koneko, Xenovia, Asia, Gasper, dan Issei. Dari kelompok Sitri ada Ketua OSIS Sona Sitri dan Wakilnya Tsubaki Shinra. Kemudian dari pihak Surga, ada Griselda Quarta dan Sang Joker Dulio Gesualdo.

Pertemuan bukan hanya antara mereka saja, tapi juga dengan Azazel di Rumania, tepatnya di kantor pusat Faksi Carmilla melalui saluran komunikasi khusus. Hologram tubuh Azazel berdiri tegak diatas sebuah lingkaran sihir, seolah Sang Gubernur Malaikat Jatuh sedang ada bersama mereka.

Semua orang di kediaman Hyoudou cukup terkejut setelah mendengar situasi di Rumania dari Azazel.

"Rias dan Kiba!?"

Azazel mengangguk atas pertanyaan Issei yang penuh keterkejutan. "Ya, sepertinya ada sebuah gerakan besar dari Faksi Tepes. Garis perbatasan antara wilayah Tepes dan Carmilla dalam situasi yang membingungkan. Katanya Tepes melakukan kudeta dengan melintasi wilayah Carmilla. Ada kemungkinan kalau Rias dan Kiba tertarik kedalamnya. Mereka sepertinya tertangkap. Aku tidak bisa menghubungi Rias dari sini. Dari sana juga samakah?"

Semuanya terdiam. Akeno mencoba berkomunikasi dengan Rias dengan menggunakan lingkaran-sihir kecil, tapi tidak terdapat tanggapan.

"Kudeta…..?"

Koneko bergumam, ia tak menyangka akan separah ini.

"Auuuu, t-tidak….."

Gasper yang berada disamping Issei menunjukan mukanya yang menjadi kaku. Baginya, Rumania adalah kampung halaman yang sangat berharga. Dia pasti merasa tidak nyaman.

Azazel melanjutkan ucapannya. "Menurut petinggi dari sisi Carmilla, sepertinya orang yang menduduki kursi pemimpin Faksi Tepes telah berganti setelah kudeta terjadi."

Ekspresi semua orang berubah setelah mendengarnya. Kalau pemimpin Tepes berganti, maka artinya semua telah berakhir atau malah jadi lebih buruk.

"Sekarang ini sepertinya Kepala Keluarga Tepes yang merupakan raja dari Faksi Tepes melarikan diri dari ibukotanya."

"Lord Tepes melarikan diri? Itu membuktikan ada sesuatu yang mendasarinya melakukan tindakan itu." Akeno bergumam sambil menggerakan alisnya.

Sona meletakan tangannya didagunya. "Kemungkinan besar ada Intervensi dari Khaos Brigade akibat peristiwa yang berhubungan dengan Holy Grail. Kita bisa berasumsi kalau Faksi Tepes dalam kendali Khaos Brigade dari balik bayangan."

Tak ada yang tak setuju dengan penuturan Sona. Baru saja kemarin ada kejadian berkaitan dengan Naga Jahat punah yang dibangkitkan kembali Khaos Brigade yang dikerjakan Euclid Lucifuge. Dan setiap kebangkitan, pasti memiliki hubungan erat dengan Holy Grail milik Faksi Tepes yang merupakan simbolisasi prinsip kehidupan.

Hologram Azazel bersuara lagi, "Ya, Khaos Brigade pasti membantu mereka dari balik layar. Fraksi Carmilla juga sependapat mengenai hal ini. Kita semua tahu bahwa pada awalnya para vampire baik sisi Tepes dan Carmilla menghindari bersinggungan dengan golongan luar dan memiliki kepentingan intern sendiri-sendiri. Dari situ, ada sedikit celah terbuka untuk organisasi teroris Khaos Brigade masuk kedalamnya tanpa ketahuan dunia internasional. Kupikir, pasti ada salah satu dari semua fraksi yang ada, yang anti-pemerintahan melakukan tindakan ekstrimis, secara sengaja membukakan celah pada Khaos Brigade untuk terlibat."

"Bagaimana mungkin?" Issei membuat ekspresi tidak percaya. "Para vampire itu sudah tahu kalau teroris terlibat, tapi kenapa tidak meminta bantuan dari luar?"

"Ini pasti hasil kerjaan mereka yang menempati posisi tinggi dan menempatkan gengsi sebagai prioritas. Mereka tidak mau meminta bantuan walaupun mereka akan mati, atau mereka tidak mau keberadaan Holy Grail tersebar keluar. Tapi bisa juga karena hal lain. Aku sendiri disini masih belum bisa memastikannya."

Mata dari sosok hologram Azazel melihat kearah semua orang.

"Karena situasi diluar dugaan ini, aku memutuskan untuk memanggil kalian semua kemari. Kekuatan kalian sangat diperlukan. Bagaimanapun caranya kita harus menemukan Rias dan Kiba."

Issei saling menghantamkan kepalan tangan kiri dan kanan, "Tentu saja. Sebagai budak sudah jadi kewajiban untuk melindungi Buchou, benar kan?"

"Pasti!"

Semua anggota Klub Penelitian Ilmu Ghaib menjawab serentak dengan lantang.

Azazel berucap lagi, "Tapi kita tidak bisa memusatkan kekuatan kita disini. Kalian telah diserang disana sekali. Jadi cukup hanya kelompok Gremory dan Irina yang datang kesini. Kelompok Sitri, Griselda, Joker, dan 'Slash Dog' Tobio Ikuse tetap tinggal berjaga-jaga di Kuoh."

Suster Griselda mengangguk setuju atas perintah Azazel. "Dimengerti. Dulio, maafkan aku karena menyuruhmu melakukan ini saat kau tiba, tapi kita akan memintamu untuk pergi ke sisi pertahanan."

Dulio tersenyum dan mengangkat tangannya, "Ya ya yaaaa. Aku tahu tugasku."

Tidak ada yang tahu bagaimana perangai Dulio sebenarnya, tapi hanya dengan melihat sikapnya, dia seperti orang yang sangat berpengalaman menghadapi berbagai macam situasi. Dia sebenarnya adalah orang penting dalam proyek New World Order demi mewujudkan Imperium of Bible.

"Dengarkan aku!" suara tegas Azazel menarik perhatian penuh semua orang. "Aku menerima informasi kalau Vali menyelinap masuk kedalam wilayah Vampire."

"Apa?"

Issei kembali dikejutkan dengan berita ini. Baginya Vali adalah rival sekaligus musuh terbesarnya yang harus ia kalahkan. Meskipun pernah bekerja sama saat mengalahkan Loki, tapi itu tidak mengubah fakta kalau Tim Vali adalah buronan internasional.

Semenjak kehebohan dunia internasional tiga minggu lalu, tentang Vali dan anggota timnya yang menculik Sang Dewi Naga Ophis, bahkan membantai habis operasi gabungan Hero Faction dan Hades yang ingin menyelamatkan Ophis. Sejak saat itu, harga untuk kepala Vali meningkat sepuluh kali lipat. Dia semakin dicari dan dibenci semua golongan, bahkan oleh Khaos Brigade sendiri yang telah ia tinggalkan.

Saat ini tidak ada yang tahu tentang keberadaan Vali dan semua kroconya. Kemunculannya di Rumania, tentu akan menjadi hal besar. Tidak ada yang bisa menduga untuk tujuan apa dia disana, dan bagaimana nasib Ophis ditangannya. Apa dia telah membangkitkan kekuatan baru dengan menggunakan Ophis dan menguji kekuatannya disana? Tidak ada yang tahu.

Sudah rumit dengan adanya ekstrimis dipihak internal vampire yang membuat kekacauan, dan sekarang bertambah dengan keberadaan Vali.

Itulah apa yang ada dipikiran dan diketahui Issei.

"Satu lagi."

"Ha?" mulut Xenovia terbuka tapi tak ada kata-kata lagi yang keluar.

"Apa ada yang lebih buruk lagi?" tanya Akeno.

"Informanku juga menemukan bahwa orang-orang dari Konoha mengambil keuntungan dalam masalah ini."

"Apa?" tampak dari wajah Rossweisse bahwa ia sangat terkejut.

"Apa kalian masih ingat dengan manusia pengendali pasir berambut merah?"

Iris mata Asia melebar, badannya bergetar karena takut. Sosok mengerikan bak psikopat haus darah dari pemuda berambut merah muncul diingatannya.

"Kurang ajar! Bedebah keparat! Aku pasti akan membunuhnya."

Issei tiba-tiba saja memgeluarkan hawa permusuhan yang sangat kental. Emosi dan amarahnya memuncak. Dia tak akan melupakan perbuatan pemuda berambut merah dari Konoha pada Rias dan teman-temannya, serta ketidakberdayaannya saat pertemuan Aliansi Tiga Fraksi dahulu di Kuoh.

Rias, Akeno, Kiba, dan Xenovia, terpaksa dirawat intensif selama seminggu di rumah sakit karena cedera tulang hebat akibat cengkraman pasir.

~Flashback Chapter 25~

"Sudah ku katakan tadi, aku datang dengan damai. Tapi jika kalian tidak ingin cara damai, aku tidak akan segan-segan menggunakan cara kasar." kata Kakashi tanpa ragu.

BoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostDragonShoot...

Issei tidak suka keadaan ini, dia langsung menembakkan laser hijau setelah mengandakan kekuatannya berkali-kali.

Serangan Issei hanya lewat saja, menembus Susano'o Emas milik Kakashi, dan,,,

Dhuaarrrr..

Satu bangunan besar yang berada dalam lintasan serangan Issei langsung roboh tak bersisa.

"Pengganggu bertambah." gumam Kakashi.

"Biarkan aku yang mengurusnya kali ini, Hokage-sama" sahut Gaara.

"Silahkan saja, Kazekage-sama"

Gaara maju selangkah.

"Ayoo, kita bantu Issei" seru Rias pada anggota keluarganya.

Tampaknya Rias sudah tidak bisa menahan diri, dia satu-satunya iblis muda yang mengambil tindakan tanpa memikirkan siapa yang sebenarnya mereka lawan. Keberanian Rias memang harus di acungi jempol, tapi orang seperti itulah yang cepat mati pada sebuah pertempuran yang sesungguhnya.

Sedangkan Sona masih diam dan tidak membiarkan tiga peeragenya melakukan apapun. Begitu pula Irina yang sepertinya masih menunggu perintah dari Michael.

"Ha'i, Buchou." sahut semua peerage Rias.

Akeno sudah siap terbang setelah mengeluarkan sayap kelelawarnya, begitu pula Rias. Kiba sudah mensummon pedang suci iblis miliknya, begitupula xenovia sudah bersiap dengan Durendal. Hanya Asia yang tidak ikut bertarung sebab dia sedang mengobati luka Koneko karena serangan para penyihir yang menggunakan kekuatan Gasper secara paksa sebelumnya.

Namun belum seberapa meter empat iblis muda itu bergerak, gerakan mereka sudah terhenti. Penyebabnya tidak lain karena tangan dan kaki mereka digenggam oleh tangan-tangan pasir. Mereka berempat jatuh ketanah dan tersungkur dengan posisi tiarap. Pasir-pasir masih mengekang tangan dan kaki mereka.

"Buchou..!" Issei yang tidak terkena cengkraman pasir Gaara berlari mendekat kearah Rias dan mencoba melepaskan pasir-pasir yang menjerat Rias dengan tangannya, tapi nihil. Cengkraman pasir itu terlalu kuat.

srkkk...

Ternyata ada seorang penyihir perempuan yang terbaring karena serangan Vali, belum mati dan mencoba lari, namun,,,

Greppp..

Pasir dalam jumlah banyak mengurung penyihir itu dalam kurungan berbentuk bola. Gaara menggerakkan pasir berisi penyihir tadi ke tengah-tengah arena.

"A-ampuni ak-aku,..." penyihir yang hanya tersisa bagian wajah dari dalam gumpalan pasir, memohon untuk dibiarkan hidup.

Gaara tersenyum, seperti psikopat, memunculkan kembali sisi kelamnya saat kecil.

Penyihir itu sudah terkurung seutuhnya dalam bola pasir. Gaara tampak mencengkram telapak tangannya dan,,,

swusshhh...

Bola pasir itu pecah, tidak ada darah, tidak ada daging, tidak ada tulang dan tidak ada apapun yang tersisa dari jasad penyihir tadi.

"Seperti itulah nasib yang akan menimpa kalian berempat jika menyerang tanpa berpikir, menyerang tanpa mengetahui siapa yang jadi lawan kalian." kata Gaara dengan seulas seringaian sadis.

Semuanya menatap tak percaya, mereka sangat ketakutan. Rias dan tiga peeragenya tidak bisa memikirkan apa-apa lagi, mereka benar-benar berada di ambang kematian untuk pertama kalinya, ketakutan yang lebih kelam dan dalam dibandingkan saat melawan Kokabiel.

Issei seperti orang linglung, ia tak bisa berbuat apa-apa untuk orang yang sangat berharga baginya. Jari-jemarinya terus berusaha mengais-ngais pasir yang mencengkram kaki Rias tidak tapi menghasilkan apa-apa. Yang ada malah kukunya mengeluarkan darah segar.

Sementara itu, Gaara makin kelihatan senang. Dia menggenggam telapak tangannya, lalu...

Kraakkkk..

"Aaaaaaaarrrkkh..." raungan kesakitan yang sangat keras keluar dari mulut empat iblis muda, Rias, Akeno, Kiba, dan Xenovia. Bisa dipastikan ada beberapa tulang yang retak atau bahkan patah.

~Flashback End~

Walaupun tidak ada yang melihat karena fokus akan amarah Issei, tapi Azazel tak bisa menyembunyikan senyum misteriusnya. Tentu ada rencana yang telah tersusun di otaknya jahatnya sekarang.

Tapi Sona sebagai satu-satunya yang menganggap Azazel sebagai orang yang harus diwaspadai menyadari itu, "Azazel-sensei, bisakah kau mengikutsertakan dua pengikutku ke Rumania?"

"Eh?"

Issei menurunkan amarahnya. Perhatian semua orang kini beralih pada Sona. Tak mengerti kenapa Si Ketua OSIS membuat permintaan itu disituasi begini.

"Maksudmu pasangan suami istri si pirang dan si poni rata itu?"

Pertanyaan Azazel membuat Sona berpikir dalam benaknya kalau Sang Gubernur Malaikat jatuh yang menjadi suksesor Imperium of Bible di Rumania mengharapkan Naruto dan Hinata ke wilayah Vampire. Dengan asumsi kalau Azazel menaruh kecurigaan besar pada peerage palsunya, ada kemungkinan dia ingin mengadu Naruto dan Hinata dengan orang Konoha yang sudah berada di Rumania. Kemungkinan terburuk adalah identitas sebenarnya Naruto dan Hinata akan dibongkar Azazel disana.

Sona tidak akan bertindak gegabah dan termakan omongan Azazel.

"Tidak." jawab Sona cepat. "Tapi dua budakku yang bukan anggota OSIS sekolah kita."

"Rugal-san dan Bennia-chan?" tanya Akeno yang di jawab anggukan oleh Sona.

"Ya, aku ingin mereka berdua mendapat pengalaman berharga di Rumania."

Kedua budak Sona ini sangat jarang menampakkan wajahnya di Kuoh Gakuen, bahkan dalam tugas-tugas iblis. Memang pernah beberapa kali terlihat. Jadi budak-budak Rias tidak kenal akrab dengan mereka berdua. Hanya Akeno saja yang cukup banyak tahu karena Akeno paling lama bersama Rias.

Laki-laki yang dipanggil Rugal-san oleh Akeno adalah seorang mahasiswa yang terdaftar di Universitas Kuoh. Dia mengkonsumsi bidak benteng [Rook]. Nama aslinya Loup Garou.

Lalu perempuan yang disebut Bennia-chan sebenarnya adalah siswi SMP. Dia seorang demigod atau ras campuran antara Grim Reaper dengan manusia. Cukup panggil dia Bennia si mantan Grim Reaper. Ayahnya bernama Orcus, salah satu Grim Reaper tingkat ultimate. Dia memilih menjadi budak Sona dan meninggalkan ayahnya karena suatu alasan.

Seperti yang dikatakan Sona, dua budaknya ini bukan anggota OSIS dan sangat jarang ikut dalam tugas sehingga minim pengalaman bertarung sebagai iblis. Untuk alasan itulah, Sona ingin mengikutsertakan Bennia dan Rugal ke Rumania.

Azazel meletakan tangannya dibawah dagunya, menunjukan tanda persetujuan dengan menganggukan kepalanya. "Kau benar tentang itu, Sona. Terutama Rugal, sepertinya dia akan menjadi kekuatan tambahan jika sesuatu yang buruk terjadi."

"Kalau begitu tolong ajak mereka, Sensei."

Sona mengatakan itu sambil tersenyum tipis. Tampaknya ada maksud lain dibalik itu. Dia sudah punya rencana sendiri bersama Naruto dan Hinata di Rumania dengan melibatkan diri bersama pemimpin Khaos Brigade lewat pesan yang dititipkan pada Euclid kemarin. Kemungkinan besar, Bennia dan Rugal ikut untuk sebuah tugas rahasia yang direncakanan Sona.

Telah dikonfirmasi, yang akan pergi ke Rumania adalah semua anggota Klub Penelitian Ilmu Ghaib termasuk Irina, Bennia, serta Rugal.

Azazel melihat kearah semua orang untuk terkahir kalinya. "Aku akan berbicara hal yang lebih detail setelah kalian tiba disini. Baiklah, persiapkan diri kalian, satu jam lagi teleport lah ke sini. Aku yang akan mengurus lingkaran sihir teleportasi untuk kedatangan kalian ke kantor pusat Faksi Carmilla. Mulailah bergerak!"

"Ha'i, Sensei."

.

.

.

-Rumania, Kamar Tamu Kantor Pusat Faksi Carmilla-

Lingkaran sihir komunikasi memudar. Azazel menyelesaikan panggilan daruratnya pada semua anak asuhnya di Kuoh.

Brakkk...

Dinding kamar berlubang akibat tinju yang menjadi pelampiasan kekesalan Azazel. Dia tampak murka, dan itu pasti ada sebabnya.

Sesaat kemudian, bibirnya menunjukkan senyum optimis. "Tak akan ada yang bisa menghalangi kami, apalagi kalian manusia-manusia Konoha."

~Flashback, Azazel PoV~

Aku, Azazel, sedikit lagi menyelesaikan urusanku dengan Ratu Vampir Carmilla. Dia menginginkan anak asuhku, maka ada hal yang harus dia bayar padaku sebagai imbalannya.

"Aku menyesal meminta bantuan kalian." Sang Ratu Vampire mengatakannya dengan ekspresi marah.

"Maafkan aku, Yang Mulia."

"Kau tak bersalah, Elmen. Aku saja yang gegabah membuat keputusan."

Kulihat Si Ratu Carmilla berusaha menenangkan kaki tangannya, Elmenhilde Galstein.

Dasar bocah itu, kemarin saja sok berkuasa datang ke Kuoh, tapi lihat dirimu sekarang! Hahaaaa...

Di ruanga ini, ruangan pribadi Ratu Carmilla, hanya ada kami bertiga.

Aku datang kesini bukan atas keinginanku saja, tapi sebagai salah satu suksesor Proyek New World Order aliansi Reliji Injil, demi mewujudkan Imperium of Bible.

Seorang vampire datang pada kami menginginkan Gasper Vladi, setengah vampire potensial pemilik Sacred Gear Forbidden Balor View. Kalian yang membuangnya, kami yang mengembangkan potensinya, tak semudah itu kalian mendapatkan kembali apa yang telah kalian buang.

Gasper diinginkan untuk menyelesaikan masalah internal antar vampir. Faksi Carmilla menginginkan kekuatan Gasper untuk mengatasi kudeta Faksi Tepes tanpa ada jaminan bahwa dia akan selamat.

Lalu aku datang kesini sendirian, membuat kesepakatan dengan Ratu Carmilla, meminjamkan Gasper dengan syarat mereka ikut dalam persekutuan damai Aliansi Tiga Fraksi. Tapi aku juga berkata jujur, mengatakan bahwa aliansi punya impian besar membangun Imperium of Bible dan ingin Bangsa Vampir tunduk pada kami.

Hal itu membuat Ratu Carmilla shock berat, begitupula dengan Elmenhilde yang ikut dalam pembicaraan kami.

Aku senang melihat ekspresi terkejut Ratu Carmilla saat aku mengatakannya. Raut penyesalan tercetak jelas di wajahnya saat aku mengatakan dia tidak punya pilihan lain. Carmilla akan habis dibantai Faksi Tepes yang melakukan kudeta kalau tidak melibatkan orang luar.

Aku katakan padanya satu opini kuat yang tak bisa disangkal, yaitu Khaos Brigade melakukan intervensi pada kudeta yang dilakukan Faksi Tepes. Aku punya bukti, yaitu tentang percobaan uji tarung Naga Jahat yang dibangkitkan dari kematian, Grendel Vs Sekiryutei di Kuoh. Grendel sudah lama mati, tapi kini dia hidup lagi, dibangkitkan oleh seseorang. Dan satu hal yang pasti, membangkitkan eksistensi yang telah mati dan memanggil roh dari alam lain, pasti berhubungan dengan kekuatan spesial dari Holy Grail yang merupakan prinsip simbolisasi kehidupan. Sacred Gear yang kini berada di pihak Tepes.

Faksi Carmilla sangat dirugikan dengan keberadaan Khaos Brigade di pihak Tepes. Jika tak menerima bantuan luar, Carmilla pasti runtuh.

Lalu dengan situasi saat ini, dimana Rias dan Kiba yang notabenenya orang terdekat salah satu Maou dilibatkan secara paksa dalam masalah internal Vampire dan tak diketahui keberadaannya sekarang. Jika tak ada jaminan Rias dan Kiba selamat, maka Fraksi Iblis punya alasan untuk menuntut seluruh bangsa Vampir. Sekarang saja ribuan pasukan iblis sudah disiapkan sebagai barikade yang mengepung wilayah Rumania dari semua sisi.

Informasi tentang kondisi intenal bangsa Vampire pun sengaja ku bocorkan ke wilayah Rusia bagian utara, tempat dimana Bangsa Werewolf hidup, makhluk yang menjadi musuh alami para Vampire.

Para Dewa Norse dari Eropa Utara yang bersekutu dengan Aliansi Tiga Fraksi, sudah lama membuat bangsa werewolf tunduk. Bisa dikatakan kalau Werewolf juga bagian dari kami.

Dengan semua ini, tak ada pilihan lain bagi Ratu Carmilla untuk menolak tunduk pada Aliansi dan menjadi bagian dari Imperium of Bible.

Itu semua akan berhasil kalau seandainya sesuatu tak terduga tidak muncul dihadapanku.

"Hisashiburidana, Azazel-dono."

Tak ada ekspresi selain terkejut yang tercetak diwajahku.

Dia, pemuda berambut merah dengan tato didahinya, seseorang yang katanya pemimpin kedua Konoha setelah Hatake Kakashi muncul dan membentuk tubuhnya dari serpihan pasir yang berterbangan di antara aku dan Ratu Carmilla.

Wajahnya tampak tenang, aku yakin dia datang kesini dengan persiapan matang yang tak kusangka, seperti kedatangannya yang mengacaukan pertemuan kami di Kuoh.

"Kau kan? Kazeka-..."

Aku tak terlalu ingat panggilan apa yang diucapkan Hatake Kakashi padanya.

"Perkenalkan, namaku Sabaku no Gaara."

Aku menciptakan sepasang Light Spear di kedua tanganku, tombak yang kuciptakan dari cahaya dengan kepadatan tinggi. Pilihanku hanyalah melenyapkan dia saat masih bisa. Meski aku tahu dia jauh lebih lemah dariku, tapi manusia Konoha itu merepotkan. Aku tidak ingin mereka mengganggu urusanku disini, jadi aku tidak bisa menunda untuk melenyapkannya sekarang.

Zwiifftt...

Aku melesat cepat, memotong jarak dengannya.

Hachimon Tonkou no Jin. Fifht Gate Tomon, Open!

Dinamic Entry

Shoooo.

Dhuuuaarrrrr...

Lantai hancur dan berlubang.

Aku berhasil mundur sebelum terkena tendangan tadi. Untung saja refleksku masih lebih cepat dari manusia hijau yang kini membuat pose mengajakku bertarung. Aku berdiri disisi ruangan sendirian. Di ujung sana Ratu Carmilla memasang wajah bingung, aku yakin ia juga tidak tahu dan sama sekali tidak menyangka kalau dua orang telah dengan mudahnya menyusup masuk ke ruangan pribadinya.

Aku menghilangkan Light Spear milikku. Percuma bertarung, meskipun mungkin aku bisa menang tapi mengingat ini didalam kantor pusat Faksi Carmilla, aku tidak bisa sembarangan. Bisa-bisa apa yang kurencakanan disini hancur berantakan kalau aku bertindak frontal.

Si manusia hijau menurunkan kesiagaannya. Kemudian berjalan mundur ke sisi kiri pemuda berambut merah yang tadi memperkenalkan namanya, Gaara. Tak kutahu kapan datangnya, ada lagi seorang gadis mengenakan setelan pakaian Cina dengan rambut coklat bercepol dua sudah berdiri disamping kanan Gaara. Gadis itu membawa beberapa gulungan kertas perkamen yang terikat dipunggungnya.

Sekarang ada enam orang didalam ruang pribadi Ratu Carmilla yang sudah seperti kapal pecah.

Aku yakin, mereka hanya datang bertiga. "Jadi apa mau kalian, manusia dari Konoha?"

"Kami ingin seluruh bangsa vampir di sisi kami."

Pria berambut merah menjawab pertanyaanku dengan tegas, singkat, dan tanpa basa-basi, langsung pada intinya.

"Kheh, jangan bermimpi! Memangnya kalian punya apa?" Aku menatap tepat ke kedua bola mata Ratu Carmilla. "Maaf, Yang Mulia Ratu. Kurasa anda sudah tahu kan harus mengambil keputusan apa?"

Ya, kedatangan orang Konoha tak mengubah situasi apapun. Bangsa vampire dibawah tekanan kami, mau tidak mau dia harus tunduk pada Aliansi jika masih ingin selamat.

"Tunggu, Yang Mulia Ratu Carmilla. Sebelum anda memutuskan sesuatu, ada baiknya melihat ini dulu."

Gaara bersuara lebih dulu sebelum Ratu Carmilla membuka mulutnya.

Aku melihat serpihan pasir berterbangan ditengah ruangan, berkumpul dan memadat membentuk sebuah benda berbentu persegi panjang dengan aksara unik disekelilingnya seperti sebuah segel.

Pasir bagian depannya meluruh, menyisakan ukiran dari sebuah papan. Lebih tepatnya, didalam pasir itu ada peti mayat. Ya, pasti-pasir itu digunakan untuk menyegel peti mayat.

Saat tutup peti mayat bergeser, aku sangat terkejut melihat eksistensi yang berada didalamnya.

Ketika mataku melihat Ratu Carmilla, dia nampak jauh lebih terkejut dari aku. Dia membuat aura permusuhan kuat pada orang didalam peti mati, namun tatapan matanya menyiratkan makna lain yang sama sekali aku tidak mengerti.

Kembali mataku melihat isi peti mayat. Tak salah lagi, di dalamnya adalah Lord Tepes. Pemimpin tertinggi Faksi Tepes sebelum melakukan kudeta pada Faksi Carmilla. Dia diberitakan kabur karena suatu alasan yang tak seorangpun tahu, kini dia seperti tertidur nyaman dengan senyum indah yang terukir di wajah rupawannya.

"Bba-bagaimana bisa!?" suaraku tercekak.

Gaara tersenyum mengejek yang ditujukan padaku. "Kami para Ninja selalu datang dengan kejutan." Kemudian dia mengalihkan wajahnya pada Ratu Carmilla, "Bagaimana Yang Mulia Ratu, apa keputusan anda sekarang?"

Ratu Carmila membuang nafas panjang, ekspresinya kembali tenang dan tubuhnya juga sudah rileks.

"Faksi Carmilla dan semua dari kami yang masih menjunjung tinggi aturan hidup Vampire, akan ada disisi pihak manapun yang berhasil menyelesaikan masalah internal kami."

Sudah kuduga akan seperti ini akhirnya setelah kejadian barusan. Ucapan Ratu Carmilla sudah final.

Gara dan dua ajudannya serta peti mayat Lord Tepes lenyap dari pandangan begitu saja setelah mendengar keputusan tadi. Aku tahu kalau keberadaanku di ruangan ini juga sudah selesai. Akupun pergi dengan meninggalkan sebuah ucapan pada Ratu, "Kuharap kau tidak melibatkan masa lalumu dalam hal ini, atau bangsa vampire tidak akan pernah mendapatkan kedamaian. Ini bukan tentang intervensi dari pihak diluar vampir, tapi ini masalahmu sendiri. Camkan itu!"

Aku berjalan menyusuri koridor untuk kembali ke ruanganku. Benar-benar, sungguh aku tak menyangka akan jadi begini, semuanya diluar rencanaku. Pertama aku harus menghubungi Sirzech dan yang lain dahulu untuk melaporkan situasi.

Orang Konoha adalah ninja, dan tipe seperti mereka biasanya bekerja dalam sebuah tim. Anggap kalau hanya ada tiga orang dari mereka. Aku tidak bisa mengerjakan ini sendirian, jadi aku harus memasukkan sebuah tim kemari. Yah, lebih baik aku memanggil Issei dan budak Rrias yang lainnya kemari. Lagipula aku tidak bisa memerintahkan pasukan iblis yang membuat barikade untuk bergerak masuk kedalam wilayah Vampire, masih terlalu dini untuk itu. Dengan adanya keterlibatan konoha, jika gegabah bertindak, bisa saja nama aliansi akan menjadi buruk dimata dunia karena mengintervensi paksa urusan para vampire. Jika ini terjadi, Imperium of Bible akan semakin susah diwujudkan.

Satu hal yang kuyakini, pasti ada orang dalam yang membawa keterlibatan kubu Konoha di sini, salah satu petinggi vampire yang punya maksud tertentu. Mengingat kalau Konoha bukan eksistensi sembarangan, pasti vampire yang memanggilnya kemari punya posisi penting. Ada kemungkinan kecil dia tahu tentang Imperium of Bible, dan berpotensi menghalangi rencana besar Aliansi. Siapa sebenarnya yang mengundang Konoha kemari, ini harus kuprioritaskan dalam pekerjaanku, siapa vampire itu?

~Flashback END~

.

.

.

TBC...

.

Note : Jum'at berkah. Alhamdulillah, kali ini bisa update hari Jum'at.

Pertama tentang Gai Vs Ares. Tak perlu dibahas banyak, ambil aspek luarnya saja. Seorang Gai dengan kekuatan penuh tak sanggup membunuh Ares. Padahal Ares hanya satu dari sekian banyak dewa, dan ada beberapa dewa yang memiliki kekuatan jauh lebih mengerikan dari Ares. Singkatnya ini berarti bahwa Konoha jika dibandingkan dengan kubu mitologi-mitologi besar seperti Olympus, Norse, Aliansi Tiga Frakasi Reliji Injil dan Reliji Hindu-Buddaa, maka Konoha tak ada apa-apanya meskipun telah beberapa kali menyombongkan diri dan membuat golongan supranatural terkejut. Oleh karena itulah, Konoha tak mungkin sendirian. Terus mencari sekutu, melakukan pembaruan militer, dan tak segan membuka diri dengan teknologi manusia dari Amerika. Hanya dengan bekal inilah Konoha bisa melawan.

Ingat satu hal, shinobi-shinobi Konoha hanya manusia, standar fisiknya jauh dibawah para makhluk supranatural, apalagi jika membandingkan dengan dewa. Antara Gai dengan Ares saja sudah beda jauh, bagaimana dengan Sakra, Zeus, Odin, para Maou dan Seraph, Naga-Naga level atas, serta makhluk superior lainnya? Maka dari itu lah, FF ini tidak hanya menceritakan tentang kekuatan, tapi bagaimana memaksimalkan potensi diri, kemampuan, skill, otak, serta tentang bagaimana 'memanfaatkan orang lain'.

Gai menang debat dari Ares. Azazel tak segan memanfaatkan anak asuhnya, buda-budak Gremory. Vali punya urusannya sendiri di Rumania. Tim Gaara yang menerima misi dari Alucard menambah heboh situasi. Issei punya dendam kesumat pada Gaara. Khaos Brigade di pihak Tepes. Ratu Carmilla membawa masalah dari masa lalu. Dan Sona bersama Naruto dan Hinata yang juga punya rencana sendiri. Semua berkumpul dan makin rumit di tanah para Vampire, Rumania.

Ulasan Review:

Ada yang nyinggung kalimat ini. "Ares sang Dewa Perang dari Gunung Olympus. Salah satu Dewa dari kelas Excelsior, terkuat diantara yang kuat. Dewa jahat yang terkenal licik dalam jajaran Dewa-Dewa Yunani." Jadi disini apa Ares lebih kuat dari Zeus? Ya enggak juga sih. Itu hanya pernyataan klise untuk mengangungkan Ares. Lagipula Zeus dan Ares berada di golongan berbeda, Zeus itu masuk jajaran Dewa Superior Top 10 Being Strongest in The World.

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita dan review lainnya ku balas lewat PM. Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.

Satu lagi, masih ingat ga chapter pertama FF ini dipublish pas kapan? Yap, saat suasana Hari Raya Idul Adha tahun lalu. Kecepetan dikit gpp kan?, jadi...

Saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1437 H kepada semua reader yang merayakannya.

...

.