Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Jum'at, 30 September 2016

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . . . .

"Sensei, Lucifer yang kau maksud–?"

"Ya, tanpa diragukan lagi Issei. Dia adalah anak sebenarnya yang lahir dari Lucifer sebelumnya dan "Lilith" yang dikatakan sebagai Ibu dari awal mula seluruh Iblis. Orang yang terekam dalam Al-Kitab sebagai "Lilin". Dan juga kakek sebenarnya dari Vali yang disebut sebagai Hakuryuukou terkuat sepanjang masa. Dia adalah boss Khaos Brigade saat ini. Jadi itulah sebutan "orang itu" yang terus kukatakan selama ini sampai kita tiba di sini. Nama aslinya, Rizevim Livan Lucifer"

.

To The End of The World

Author: Si Hitam

Beta Reader: Papan Oujia (Trio Nica)

Chapter 56: Rumania's Disaster Part 2.

.

-Tepes Territory, Rumania-

Entah darimana, sebuah bayangan kecil muncul di belakang Rizevim tanpa adanya hawa keberadaan. Seorang gadis pendek seperti anak kelas 1 SMP, mengenakan gaun gothic lolita hitam.

DEGGGG!

"Ini...!?"

Perasaan berat langsung menerpa membuat mata terbelalak, seolah gravitasi yang menarik tubuh meningkat seratus kali lipat lebih kuat. Itu terjadi saat si gadis kecil melepaskan hawa keberadaannya.

Siapapun menyadari tekanan ini luar biasa kuat. Ketika berjumpa dengan Crom Cruach saja sudah sangat berat dan ini lebih berat lagi, jauh teramat berat hingga tubuh terasa kepayahan seperti kehabisan nafas. Aura naga yang terpancar dari gadis itu jauh melebihi level kekuatan asli seekor Naga Surgawi maupun Naga Jahat Brutal.

Rizevim meletakan tangannya di atas kepala gadis itu.

"Gadis ini adalah maskot dari organisasi kupimpin saat ini. Perkenalkan, namanya adalah Lilith."

". . . . . . ."

"Oy! Biar lebih manis, mari kita panggil dia Lilith-chan." Rizevim tersenyum bangga menyebutkan nama itu.

". . . . . . ."

"Hummm, aku memberi dia nama seperti nama ibuku. Cocok kan? Ahh, aku merasa sangat bahagia mengatakannya, seperti berkumpul dengan keluargaku lagi."

". . . . . . ."

"Paman Azazeeellll~~~, kenapa kau diam? Ayolaaaah. Aku sedang berbahagia, jadi setidaknya kau harus ikut tertawa bersamaku."

"Apa-apaan ini hah?" Azazel berteriak murka. Emosi dan amarahnya meluap-luap.

"Wuiih, seram. Mwahahahahaaaaa..."

DEG!?

Tekanan luar biasa yang tidak dapat dijelaskan keluar lagi dari gadis itu. Dia melepaskan atmosfer yang harus ditakuti. Saat ini, Issei dan semua bagian dari Kelompok Gremory jelas merasa kalau diri mereka hanyalah bayi tikus kecil baru lahir yang dipelototi singa jantan buas kelaparan.

"A-ku. A-kan. Melindungi. Tuan. .vim."

Kata per kata meluncur seperti suara kaset rusak dari mulut gadis maskot yang dipanggil Lilith. Sunyi dan tak ada ekspresi sama sekali namun kental akan ancaman membunuh. Dia seolah diprogram untuk membunuh tanpa ampun siapa saja yang bertindak berlawanan dengan ucapannya.

"Horaaaa, Lilith-chan. Jangan membuat mereka takut! Kasihan mereka tahu."

Atmosfer terasa sedikit lebih ringan, namun tekanan luar biasa masih tetap dirasakan Azazel dan murid-muridnya.

"Rizevim, apa yang kau lakukan pada Ophis sampai dia jadi begini?"

Azazel yang paling lama hidup diantara semua orang jelas sangat mengenal siapa gadis kecil itu.

"Sensei?"

"Ya benar, Issei. Dialah Dewi Naga Ophis, The Uroboros Dragon yang dijuluki Sang Ketidakbatasan. Tidak salah lagi, aku sudah mengkonfirmasi kebenarannya. Aura mengerikan tak berdasar yang tak bisa kita deskripsikan yang mengalir dari tubuhnya, aku sangat ingat. Itu baru sebagian kecil kekuatan Ophis. Aku yakin Ddraig dalam tubuhmu tidak menyangkal hal ini."

Issei mengangguk takut. Ekspresinya mungkin sama dengan apa yang ditunjukkan oleh Ddraig, tangan kiri Issei dimana gauntlet Boosted Gear berada bergetar kuat saking ketakutannya akibat merasakan tekanan dari Ophis. Itulah yang dirasakan Ddraig, kekuatan aslinya sebagai Naga Surgawi tak akan berarti apa-apa jika dihadapkan pada kekuatan sejati Ophis.

"Terakhir kali aku menemuinya, dia dalam wujud orang tua. Tapi sekarang penampilannya berwujud seorang Bishoujo. Itu tak masalah, bagi dia penampilan hanyalah dekorasi, dia bisa berubah menjadi apapun yang dia mau. Namun seperti apapun penampilannya, aku tetap mengenalinya sebagai Ophis."

Azazel menjelaskan semua itu dibawah tekanan kuat yang bisa saja membisukan dan mengambil semua suaranya. Biar bagaimanapun kuatnya dia sebagai Gubernur Malaikat Jatuh, tetap saja dia hanyalah seekor lalat yang langsung mati begitu tekena kibasan ekor Ophis.

Bagi Rias dan semua budak-budaknya, ini adalah pertama kalinya mereka bertemu langsung dengan Ophis, bertemu dengan eksistensi yang dijuluki Ketidakbatasan. Tekanan yang mereka terima seperti menghadapi kematian padahal Ophis belum melakukan apa-apa.

Rizevim mengusapkan telapak tangannya di kepala Lilith sambil menatap kearah Azazel. "Aku memujimu untuk itu, Paman Azazel. Yah seperti katamu, benar sekali kalau anak kecil ini adalah Dewi Naga Ophis. Tak diragukan lagi, kita semua bisa merasakan sebagian kecil dari aura kekuatan sejati Ketidakbatasan."

"Tapi, bagaimana bisa?"

Azazel sama sekali tak mengerti. Sejak lama dia mengenal Ophis, yang ia tahu Dewi Naga tak akan mau diperlakukan seperti ini dan tak mungkin juga ada yang sanggup membuatnya menjadi seperti sekarang ini.

Sejauh yang Azazel tahu, Ophis dan kekuatannya adalah eksistensi yang tak ada makhluk manapun yang bisa mencapainya. Dia makhluk yang tak mempedulikan apapun selain apa yang dia inginkan. Tak tertarik sama sekali dengan situasi seperti apapun yang melanda seluruh dunia.

Keinginan Ophis hanya satu, yaitu dunia tenang. Maksudnya adalah ia ingin mendapatkan kembali ketenangannya dengan kembali ke Celah Dimensi yang merupakan kampung halamannya tempat ia terlahir dari ketiadaan. Namun di Celah Dimensi ada eksistensi bernama Great Red. Selama makhluk itu ada, Ophis tak akan bisa kembali ke Celah Dimensi. Tak ada istilahnya dua naga terkuat mau berbagi tempat yang sama.

Hal inilah yang memaklumi keberadaan Ophis sebagai pemimpin Khaos Brigade. Dengan menempatkan dirinya di tempat tertinggi dalam organisasi teroris itu dan mengumpulkan kekuatan, Ophis berkesempatan kembali ke Celah Dimensi. Walau hal ini diragukan oleh orang-orang penting dari setiap golongan. Selama Ophis memimpin, Khaos Brigade tidak lebih sebagai tempat berkumpulnya orang-orang buangan yang tidak diterima dimanapun, sehingga mereka lebih mudah dikontrol ketimbang keberadaanya tak jelas.

Itu keadaan sebelumnya, namun semenjak Ophis diketahui turun jabatan, bahkan diculik oleh Tim Vali dengan tujuan konyol seperti yang diberitakan oleh media permainan politik, semuanya berubah. Ophis tidak diketahui lagi keberadaannya dan apa yang dia lakukan semenjak operasi Cao Cao dan pasukan Hades berakhir dengan kegagalan.

Kenyataan yang diterima Azazel kalau Rizevim lah sekarang yang menjadi pemimpin Khaos Brigade saja sudah membuatnya terkejut, dan lebih terkejut lagi ketika melihat kondisi Ophis sekarang.

Ophis itu pasif dan tak punya hasrat bertarung selain kepada Great Red, tapi dia cerdas. Itu yang Azazel tahu, dan dia dibuat bingung tak percaya dengan apa yang ada saat ini.

Pertama, Ophis tak mungkin dimanipulasi sampai sebegininya. Walaupun dia akan memberikan ular-ularnya kepada siapa saja yang mau tunduk padanya, walaupun Ophis netral dan gampang dimanfaatkan oleh pihak manapun asal mau mengikutinya menurunkan Great Red dari singasananya, tapi kalau sampai Ophis dibuat jadi boneka seperti ini, itu mustahil.

Kedua, terakhir kali diketahui keberadaan Ophis bersama Vali. Vali punya hubungan luar biasa buruk dengan Rizevim. Jadi mana mungkin Vali menyerahkan Ophis begitu saja, terlebih lagi dalam kondisi begitu.

Ketiga, Vali menginginkan sesuatu dari Ophis seperti yang diberitakan media saat itu bahwa Vali ingin meningkatkan kekuatannya dengan bantuan kekuatan Ophis. Namun Azazel tahu pasti bahwa berita itu bohong besar. Dia tahu bagaimana dan apa tujuan Vali karena dia lah yang mendidik dan membesarkannya, meski saat ini Vali ia anggap telah berkhianat. Vali ingin menantang Great Red karena itulah dia memutuskan masuk kedalam Khaos Brigade, juga ingin lebih dekat dengan seseorang yang sangat ingin dia bunuh yaitu Rizevim, kakeknya. Hal yang bisa Azazel duga dari insiden di Venesia adalah Vali berusaha mengamankan Ophis dari suatu hal yang dia anggap buruk.

Namun kenyataan sekarang memukul telak semua pemikirannya sebagai orang yang mengetahui banyak hal tentang situasi dunia saat ini selama ratusan bahkan ribuan tahun ia hidup. Ophis yang awalnya begitu, tiba-tiba saja jadi begini. Semuanya terasa sangat tak masuk akal. Azazel merasa dia telah mengamati jalan hidup panjang yang dilintasi Ophis, namun begitu melewati terowongan pendek, lalu bommb, segalanya berubah. Ada benang yang putus dari Ophis yang tak diketahuinya, dan itu bagian yang sangat penting.

"Hei, Ophis."

Azazel mencoba berkomunikasi dengan Sang Dewi Naga, tapi sepertinya gagal karena tak ada respon apapun. Namun Gubernur Malaikat Jatuh ini tak ingin menyerah.

"Suatu kehormatan bagiku bertemu denganmu dalam wujud bishoujo. Jadi bisakah kau memberitahuku apa yang kau rencanakan, Ophis?"

"A-ku. A-kan. Melindungi. Tuan. .vim."

Lagi, suara kaset rusak kembali terdengar dari mulut Ophis yang dipanggil Lilith oleh Rizevim.

Sudah cukup. Azazel sadar tak akan ada hasilnya berbicara dengan Ophis saat ini. Padahal ia tahu pasti bahwa Ophis yang sebenarnya akan bersikap terbuka pada siapapun, mudah diajak mengobrol dan tak akan menunjukkan hasrat bertarung kepada selain Great Red. Lagipula, Ophis juga mengenal dirinya sebagai Azazel si Gubernur Malaikat jatuh. Apa selain jadi boneka, Ophis juga amnesia?

Sementara itu, tak ada satupun dari kelompok Gremory yang paham akan situasi ini. Mereka melihat Azazel memijit pelipisnya.

"Aku tak tahu lagi harus mengatakan apa. Tapi Rizevim, aku ingin tanya satu hal padamu. Apa yang terjadi dengan Ophis?"

"Aku juga tidak tahu, Paman Azazel."

Jawaban yang terkesan santai dan jujur itu mau tidak mau membuat Azazel makin tidak mengerti.

Seakan tahu isi kepala Azazel, Rizevim meneruskan ucapannya, "Satu jam lalu, ada sekelompok anak muda yang datang kepadaku dan memberikan Ophis yang sudah dalam kondisi begini secara cuma-cuma."

"Hah?"

"Yah, tidak bisa dikatakan cuma-cuma juga sih. Mereka mengincar sesuatu dari hasil akhir apa yang kukerjakan, jadi mereka memberikan bantuan. Itu saja."

Azazel memasang ekspresi yang menuntut penjelasan.

"Kau tak akan menduga siapa anak-anak muda itu, pasti kau kenal, bahkan aku saja awalnya sangat terkejut dengan mereka. Mereka muncul begitu saja dan mempermainkan orang dewasa ini." Rizevim menunjuk dirinya sendiri dengan jempol. "Melakukan serah terima Ophis seakan Dewi Naga itu hanyalah sebuah permen, huhuuuuuuu. Aku merasa minder memikirkan rencana mereka."

"Rizevim!"

Azazel sadar ini masalah besar dan berujung rumit suatu saat nanti. Ada kelompok baru lagi yang muncul dan bermain-main dengan situasi dunia. Pasti akan menyebabkan masalah untuk rencana membangun Imperium of Bible. Dan apa kata Rizevim tadi?, Azazel mengenal mereka. Ini buruk. Azazel berpikir ada pengkhianat dari kalangannya. Siapapun orang itu, pasti mereka kuat.

"Yeaaahh, Paman. Aku tak bisa memberitahukan identitas mereka, bisa-bisa leherku dipenggal. Dan kalau tentang tujuanku, kau akan tahu sebentar lagi."

"Tck!"

"Kalau begitu, ijinkan aku lewat. Ada sesuatu untuk didiskusikan dengan Marius-kun. Ayo berdamai disini~. Rumah ini milik Vampir~, Berkelahi tidak baik~. Sebuah negara yang tertutup dengan harga diri yang tinggi sungguhlah indah . Ugyahahahahhaaaaaaa..."

Rizevim yang tertawa senang sampai ke dasar hatinya melewati Azazel dan yang lain sambil membawa Ophis yang bersamanya.

Issei dan lainnya tampak marah, marah pada diri sendiri karena hanya bisa melihat Rizevim melewati mereka tanpa melakukan apapun.

Azazel mengatakan sesuatu kepada Rizevim sebelum dia menghilang, "Rizevim, Vali mengincarmu."

Rizevim berhenti. "Oh iya. Aku ingat sekarang, Grigori mengambil dan membesarkan cucuku." Rizevim berbalik badan dan bertanya pada Azazel. "Apakah dia bertambah sedikit kuat? Meskipun kupikir dia lebih kuat daripada putraku yang bodoh yang merupakan ayahnya."

". . . . ."

"Oh, aku lupa. Dia kan mengkhianatimu kan Paman Azazel?. Gyahahahaaaa..."

Bagi Azazel, Vali memang mengkhianatinya tapi itu tak perlu dipikirkan. Ia kenal Vali sebagai iblis muda maniak bertarung. Selain menantang Great Red dan membunuh Rizevim, Vali tak akan menghalangi rencana besarnya sebab bagi Sang Hakuryuukou terkuat itu mau dunia damai ataupun perang sama saja, yang penting ada lawan untuk diajak bertarung.

"Dia akan memenggal kepalamu suatu hari nanti, dan dia sudah berada di kawasan ini."

Mendengar itu, Rizevim tersenyum lebar. "Whoaaaah...! Sebagai kakeknya, itu membuatku senang sampai-sampai aku ingin menangis."

Rizevim melanjutkan langkahnya melalui koridor sambil meninggalkan tawanya yang menakutkan. Dia juga melambai-lambaikan tangannya.

Tak dapat dipungkiri, kastil utama Tepes telah berubah menjadi sarang monster. Bukan hanya Rizevim, Crom Cruach, dan Ophis saja, tapi juga sekelompok anak muda misterius. Meski tidak diketahui dimana mereka berada, tapi kelompok itu pasti mengamati dari sudut tergelap yang tak mungkin terlihat. Mampu membuat Ophis menjadi seperti sekarang adalah bukti bahwa kekuatan kelompok itu tak ternalar akal.

.

Beberapa jam sudah berlalu sejak pertemuan tak terduga dengan Rizevim. Masih berada didalam Kastil Vampir Tepes, Issei dan Koneko sedang berjalan mengiringi pelayan kastil untuk menemui Valerie. Di sana sudah ada Gasper dan Rias. Sedangkan Azazel pergi bersama bawahan Marius. Tidak tahu untuk apa, bagi Issei dan lainnya itu adalah urusan orang dewasa. Yang bisa diduga mungkin berhubungan dengan Sacred Gear, khususnya Holy Grail.

Issei dan Koneko langsung dipanggil begitu mereka menyelesaikan obrolannya dengan Kepala Keluarga Vladi, ayah dari Gasper. Ayah Gasper yang Pro Pemerintahan Tepes sebelum kudeta.

Obrolan itu antara Ayah Gasper dengan semua budak Rias kecuali Gasper. Cukup banyak hal yang dibahas, diantaranya tentang Ibu Gasper yang telah tiada. Meninggal tidak lama setelah melahirkan Gasper. Proses persalinannya memang sulit, tapi penyebab utama dia meninggal akibat shock berat.

Gasper ketika lahir tidak lah berbentuk suatu makhluk hidup, bahkan tidak ada kemiripan sama sekali dengan vampir. Gasper lahir sebagai sesuatu yang terbungkus dalam aura menakutkan. Benda hitam yang menakutkan dan menggeliat keluar dari perut ibunya, tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata, bahkan melihatnya saja seperti kau akan kena kutukan. Itulah yang membuat mental Ibu Gasper begitu terpukul hingga membawanya ke alam kematian. Tidak hanya itu, perawat dan pelayan yang berada pada kejadian itu juga meninggal satu persatu dengan cara yang aneh, mereka semua seperti dikutuk oleh sesuatu.

Secara tak sadar, Gasper lah yang membunuh ibunya sendiri dan semua orang yang terlibat. Dia menggunakan kekuatan kutukan tanpa ia sadari. Gasper berubah menjadi wujud bayi normal beberapa jam setelah lahir, tapi saat itu ibunya sudah meninggal, jadi Gasper sama sekali tak pernah mendapatkan ASI.

Namun sampai sekarang, Gasper tidak pernah tahu tentang kejadian itu. Dia juga tidak dibolehkan tahu, sebab itulah Gasper tidak diajak menemui ayahnya.

Mengingat sesuatu yang mengerikan itu, sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada Sacred Gear penghenti waktunya, Gasper dianggap bukan vampire, bukan manusia, bukan pula darah setengah. Dia tidak dianggap di wilayahnya sendiri. Karena itulah, Gasper di berikan pada keluarga Gremory. Gasper lebih baik menjadi iblis ketimbang berada di wilayah vampire. Dia bisa hidup normal disana. Dan pada akhirnya, kesimpulan dari obrolan itu serta kesepakatan antara Ayah Gasper dengan Rias pada pembicaraan sebelumnya adalah tentang serah terima Gasper dimana Keluarga Gremory mengambil seluruh tanggung jawab akan hak asuh Gasper secara resmi.

Sekarang, Issei dan Koneko telah sampai di taman indoor yang terletak di lantai atas kastil. Ini adalah undangan langsung dari Valerie. Si penyelamat Gasper itulah yang memintanya.

Tempat mereka semua berada sekarang adalah tempat tertutup tanpa ada satupun jendela dan satu-satunya hal yang bisa`dilihat dan didengar adalah cahaya lampu, berbagai macam bunga, dan air yang mengalir tenang.

Ada sebuah meja yang terletak ditengah taman dimana Rias, Gasper, dan Valerie telah duduk disana.

Koneko dan Issei menempati kursi yang masih kosong setelah pelayan yang mengantar mereka pergi.

Tidak hanya lima orang saja yang ada disana, ada laki-laki dengan pakaian serba hitam yang berdiri menyandarkan punggung ke tembok di sudut taman. Masih ingat di kepala Issei dan lainnya, Naga Lingkaran Sabit Crom Cruach, naga jahat terkuat dalam wujud humanoid.

"…"

Issei yang baru datang dibuat tak bisa berkata-kata karena keberadaan Crom Cruach. Sebagai sesama naga yang tak pernah akur, hawa permusuhan tak mungkin bisa dihilangkan.

Crom Cruach menatap sekali pada Issei dan Koneko yang baru datang dalam diam, dan langsung menutup matanya lagi setelah itu.

Valerie tertawa kecil, "Orang disana itu adalah pengawalku. Namanya adalah Crom Cruach-san."

Valerie mengatakannya tanpa tahu siapa jati diri pengawalnya itu. Crom Cruach mengawal Valerie bukan saja untuk melindunginya, tapi lebih tepat dikatakan kalau Crom Cruach bertugas mencegah siapapun membawa kabur Valerie dari Kastil Tepes.

Akhirnya pembicaraan lima orang itu, tanpa menghiraukan keberadaan Crom Cruach, hanya berputar pada topik kehidupan Gasper di Jepang bersama Kelompok Gremory, lalu tentang impian Valerie ingin melihat matahari dan berjalan di bawahnya. Valerie juga ingin tinggal di Jepang bersama Gasper dan teman-temannya, katanya.

Obrolan mereka dipenuhi suasana kegembiraan, hingga suara lain muncul dan mengganggu semuanya.

"Aku bertanya-tanya apa yang membuat kalian gembira?"

Dia, yang bertanya, yang baru masuk kedalam taman indoor adalah Marius Tepes. Dia berjalan mendekat sambil mengulas senyum palsu. Keberadaanya bisa dianggap sebagai kumpulan niat jahat yang mengenakan pakaian.

Valerie yang awalnya bicara dengan bahagia, langsung kehilangan cahaya di matanya. Dia menjawab dengan senyum tak biasa, "Marius-oniisama. Aku hanya berbicara pada Gasper dan Rias-sama."

Marius beralih menyapa Rias dan budak-budaknya. "Halo semuanya. Maaf kalau aku mengganggu. Sejak aku dengar Valerie bertemu dengan tamu, aku pikir aku haruslah menunjukkan diriku juga. Apa aku mengganggu?"

Tampak Marius sengaja bertanya, dia datang untuk memastikan Rias tidak berbuat yang macam-macam pada Valerie.

Rias menanggapi dengan padangan kecut walau masih tersenyum, "Tidak, anda tidak mengganggu kok. Aku juga menimbulkan banyak masalah pada anda karena pengikut [Kesatria]-ku."

Rias meminta maaf akan tindakan Xenovia sebelumnya, saat dia hampir saja mengeluarkan Durandal dan menghunuskannya pada Marius.

"Hm. Tidak, tidak, tak masalah." Marius mengangkat bahunya, tidak ingin mempermasalahkan hal itu.

"P-Permisi!"

"Ada apa, Gasper Vladi?"

Gasper tidak bisa lagi menahan diri dan bertanya sangat terang-terangan, "Bisakah kau melepaskan Valerie? Aku akan melakukan apapun jika itu adalah sesuatu yang bisa aku lalukan. Jadi tolong! Tolong jangan buat Valerie menderita lebih dari ini."

Marius mulai berpikir sambil meletakan tangan dibawah dagunya. Sejenak kemudian dia tersenyum, "Baiklah. Aku akan melepaskannya."

Jawaban tak terduga itu meluncur begitu saja, perasaan Gasper membuncah diliputi kebahagiaan.

Marius melanjutkan, "Tapi tolong beri aku waktu. Kekuatan politik vampir baru saja berubah. Jika Valerie yang baru saja memimpin sebagai seorang Ratu tiba-tiba turun jabatan, itu tidak baik dilihat. Jadi kami ingin sedikit waktu, baru kemudian aku akan menyerahkan Valerie kepada kalian semua."

Marius menatap Valerie. "Valerie, kau boleh pergi ke Jepang. Kau boleh tinggal disana dengan damai bersama Gasper Vladi."

"Tapi Holy Grail, …..?"

Marius tersenyum sambil meletakan tangannya pada pundak Valerie yang menunjukan pandangan kebingungan. "Kau tidak perlu khawatir. Kau tidak perlu menggunakannya lagi. Kau sudah menyelesaikan banyak tugasmu. Jadi kau mungkin bisa 'dibebaskan' dari Holy Grail."

"B-Benarkah itu? Ya ampun. Gasper, sepertinya aku bisa pergi ke Jepang." Ada banyak binar kebahagiaan dimata Valerie saat mengungkapkannya kepada Gasper.

"Yaa! Aku juga senang! I-Ini benar-benar sebuah berita bagus!"

Gasper menyahut. Kedua teman masa kecil saling menggenggam tangan satu sama lain dalam kegembiraan.

Gasper membungkukkan kepalanya pada Marius. "Terima kasih banyak! Terima kasih banyak!"

"Tidak, Tidak masalah. Fufufu." Marius tersenyum penuh arti, yang ditujukan pada Rias, Issei, dan Koneko yang hanya bisa mejaga mulut agar tetap tertutup.

Tiga iblis itu tahu pasti, itu sesuatu yang hampir mustahil, tidak mungkin segampang itu Marius membiarkan Valerie dan Holy Grail pergi. Itu terlalu mencurigakan.

Gasper dan Valerie yang sederhananya dalam kegembiraan, tak sedikitpun mencurigai kata-kata Marius.

'Dibebaskan', satu kata sarat makna. Kata yang dipenuhi perasaan buruk. Pesta teh di taman itupun berakhir tidak lama setelah Marius pergi.

.

.

.

-Pulau Melayang Konoha-

Saat ini sudah larut malam, Kakashi baru saja hendak berniat pulang ke rumahnya, meninggalkan ruangan kerja hokage sebelum sebuah ketukan pintu menghentikan niatnya.

Yang datang adalah sababat karib sekalibus rivalnya, Maito Gai. Kalau Gai datang dalam keadaan biasa mungkin bisa ditunda sampai besok hari, tapi kenyataan kalau Gai datang dengan tubuh 'tidak baik' memaksa Kakashi harus menyelesaikan urusannya sekarang juga.

Kejadian itu sebenarnya sudah lewat lebih dari enam jam, sejak sore hari tadi. Namun Gai yang harus mendapat perawatan dini dari Shizune, memaksanya sampai di kantor pusat pemerintahan Konoha ketika sudah larut malam.

Lima belas menit menunggu setelah menyuruh beberapa ANBU membuat panggilan darurat, akhirnya orang-orang yang berkepentingan telah dihadirkan. Yakni orang-orang yang bertanggung jawab penuh akan keamanan Konoha dan persiapan perang melawan makhluk supranatural.

Tidak banyak, hanya beberapa orang-orang militer saja yakni Tsunade, Shikamaru dan istrinya, Temari. Kemudian ada Sai yang lebih dikenal sebagai ANBU Hawk, yaitu Kapten ANBU Divisi I yang merupakan Divisi Kesatuan Elite Tokubetsu ANBU (ANBU Khusus) yang memiliki spesialisasi tugas untuk menangani dan menyingkirkan bahkan melenyapkan orang ataupun lembaga yang mengancam keutuhan Konoha dari dalam dan dari luar.

Tsunade baru saja memeriksa keadaan Gai, memastikannya lagi setelah sebelumnya ditangani oleh Shizune. Hadir juga Yamato yang terlibat dalam insiden itu secara langsung.

Yamato sudah menyelesaikan cerita tentang apa yang baru saja mereka alami pada semua orang, sedangkan Gai masih belum bisa banyak bicara karena efek samping penggunaan jutsu hingga membuka Gerbang Kedelapan walaupun tubuhnya sudah diperkuat dengan Super Soldier Serum.

Sang Rokudaime Hokage duduk di kursinya, sementara yang lain ada yang berdiri ada pula duduk di sofa.

Kakashi membuang nafas panjang, tampak dia sedang frustasi dibalik meja kerjanya. "Tak kusangka lokasi persembunyian kita akan diketahui oleh musuh secepat ini. Padahal kupikir hanya Alucard-dono saja dengan kemampuan spesialnya yang mampu menemukan kita, tapi ternyata golongan supranatural punya teknologi yang sangat hebat."

"Ini situasi genting, Kakashi. Bagaimanapun, kita harus mengambil tindakan secepatnya." kata Tsunade yang bersidekap dada, menanggapi desah frustasi dari penerusnya.

"Ya, aku mengerti. Mulai saat ini, aku umumkan status Konoha siaga perang level S."

Tak ada yang memprotes keputusan Kakashi. Semuanya mengangguk setuju.

Kakashi mendesah dan melanjutkan ucapannya. "Gai saja sampai dibuat seperti ini oleh Ares, untung saja otaknya jalan kali ini. Jika nanti ada Dewa lain yang datang, aku tidak yakin Konoha bisa selamat. Yang pasti dengan kejadian hari ini, musuh kita bertambah. Selain Aliansi Tiga Fraksi dengan Imperium of Bible-nya, sekarang kita juga bermusuhan dengan kubu mitologi Olympus."

Temari mengemukakan usulnya, "Bagaimana tindakan nyata kita dengan status baru ini? Apa kita harus mencari dan memaksa Naruto pulang untuk memindahkan lokasi kita ke tempat lain agar lebih aman?"

Suami dari putri padang pasir, Shikamaru, menguap sebentar lalu membuat sanggahan,"Tidak, ku rasa itu bukan ide bagus. Kita tidak bisa kabur dari mereka semua. Pertama kali kita kecolongan, itu jadi sebuah keberuntungan karena Alucard-dono tidak punya niat buruk, bahkan meminta bantuan dari kita. Tapi yang kedua, Ares dan pasukannya, datang untuk menghabisi Konoha. Walaupun posisi kita berpindah, aku tidak yakin mereka tidak akan menemukan kita lagi. Sekali kita ketahuan, berarti kita tak punya tempat bersembunyi lagi. Berharap saja yang ketiga nanti tidak lebih buruk dari Ares dan masih lama."

Sai tampak lebih suka diam, berdiri di pojok ruangan dengan wajah tertutup topeng elang.

Shikamaru melanjutkan ucapannya lagi, "Prioritas utama kita adalah penduduk Konoha. Kita harus mempercepat proses pemindahan warga kita ke bumi."

"Kau benar Shikamaru." sahut Kakashi. "Meski ini agak sulit karena Badan Kependudukan Pemerintah Jepang sangat ketat dalam mengatur dan mengawasi pertumbuhan penduduknya, tapi akan ku usahakan."

"Ku rasa akan lebih baik kalau memindahkan warga kita ke kota yang jauh, yang netral atau ke pedalaman Hokkaido. Kalau Kota Kuoh jelas-jelas teritori iblis. Aku khawatir nanti kota itu akan jadi medan perang." ucap Temari.

"Yah, tentang itu juga sudah dimasukkan dalam rencana."

Tsunade ambil giliran bersuara, "Bagus lah kalau begitu. Sekarang yang tersisa adalah bagaimana kita sebagai shinobi Konoha menghadapi semua ancaman itu?"

Kakashi menumpukan kedua siku di mejanya, menautkan jari-jari tangan untuk menopang dagu, pose yang selalu ia buat saat berpikir mencari keputusan. "Seperti yang sudah-sudah. Satu-satunya antisipasi yang bisa kita lakukan saat ini hanya dengan penguatan militer."

Shizune telah selesai dengan perawatan terakhir untuk Gai. Kaki pengganti dari bahan adamantium itu dilepas karena sudah rusak dan kehilangan beberapa pin dan mur. Gai pun tampak tertidur lelap di sofa karena kelelahan.

Shizune berdiri lalu menyerahkan sebuah dokumen. "Ini surat kesepakatan kita dengan Lembaga Riset Fenomena Supranatural di Amerika. Mereka bersedia menghubungkan kita dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Senjata Militer dan menfasilitasi pengadaan senjata secara besar-besaran untuk kita. Super Soldier Serum dan kaki pengganti berbahan adamantium untuk Gai adalah pertukaran awal untuk itu."

Semenjak berhasil membuat hubungan militer dengan Kaum Youkai dari Kyoto, Kakashi semakin intensif menugaskan banyak shinobi dari Divisi Intel ke dunia luar untuk mencari informasi tentang eksistensi maupun kelompok yang berguna untuk membangun kekuatan militer bersama Konoha. Salah satu shinobi yang sampai ke Amerika berhasil menyusup ke dalam lembaga rahasia negara itu hingga menemukan sekelompok orang yang bisa diajak bekerja sama. Lembaga Riset Fenomena Supernatural, itulah yang dimaksud. Kemudian Shizune yang dikawal oleh Gai dan Yamato pergi ke Amerika untuk membuat perjanjian kerja sama dengan lembaga itu.

Kakashi menerima dokumen yang dari tangan Shizune, dia membaca isinya sebentar. "Lalu apa yang mereka inginkan dari kita?"

"Mereka hanya sekelompok peneliti, tak sedikitpun tertarik dengan pertikaian yang terjadi. Jadi kutawari mereka jalan untuk masuk lebih dalam ke dunia supranatural dan meneliti sesukanya, lalu mereka setuju dengan begitu mudahnya setelah kuberikan beberapa bukti."

"Apa kau tahu tujuan lembaga riset di Amerika itu, Shizune? Mereka mendapatkan uang dari donatur untuk biaya melakukan penelitian, pasti ada keuntungan yang diinginkan oleh para donatur sebagai hasilnya, iya kan?" tanya Kakashi, kembali dengan pose yang sama seperti tadi setelah meletakkan dokumen di meja.

"Sejauh yang kutahu, mereka menginginkan teknologi milik makhluk supranatural yang nantinya akan digunakan untuk kepentingan manusia yang pasti punya nilai jual tinggi. Salah satu contohnya adalah pengkajian teknik sihir teleportasi sebagai konsep dasar pembuatan alat untuk berpindah secara instan, mungkin semacam 'Pintu Kemana Saja' yang sangat populer dalam salah satu film fiksi ilmiah. Aku juga menawarkan kepada mereka tubuh asli makhluk supranatural untuk diteliti dan dibedah. Ada iblis liar, malaikat jatuh, hewan dari Neraka dan makhluk lainnya yang telah dijinakkan. Mereka dengan senang hati menerimanya dan berjanji akan memediasi kita secara penuh dengan badan militer negara adidaya itu dalam pengadaan senjata."

Temari terketuk untuk bertanya, "Menurutku masih ada hal yang mengganjal. Kita membutuhkan logistik senjata mereka, pasti mereka akan bertanya-tanya tentang itu? Untuk apa kita perlu senjata, iya kan?"

"Aku berterus terang mengatakan pada mereka bahwa saat ini hubungan antar golongan makhluk supranatural sedang panas dan akan timbul perang."

"Tapi bagaimana bisa mereka menanggapinya seolah tidak peduli?"

"Ehmm." Shikamaru berdehem pelan untuk mengambil perhatian. "Manusia-manusia dalam lembaga riset itu pasti bukan lah orang bodoh. Mereka memulai penelitian tentu dengan di dasarkan pada kitab-kitab maupun bukti-bukti arkeolog yang ada. Dari sana mereka bisa tahu bagaimana esensi atau hakikat makhluk supranatural sebenarnya. Apapun jenisnya, setiap makhluk supranatural membutuhkan manusia untuk terus ada, lebih tepatnya kepercayaan di hati manusia. Wajar jika suatu saat terjadi perang antar makhluk supranatural atas dasar prinsip dominasi.

Suatu ras makhluk supranatural tertentu dari satu reliji atau mitologi berniat menjadi dominator dan menginginkan seluruh manusia bumi menjadi penganutnya. Yang jelas, para peneliti itu pasti sudah mencapai kesimpulan bahwa apapun pertikaian yang terjadi, manusia biasa tak akan pernah terlibat didalamnya sebagai peserta perang karena manusia adalah apa yang diperebutkan dalam perang itu. Mau seperti apapun jalannya perang antar makhluk supranatural, wilayah manusia akan seminimal mungkin terkena dampak perang. Terserah nanti manusia akan menjadi budak reliji atau mitologi mana, itu sama saja bagi mereka, tapi yang jelas dengan mendapatkan teknologi milik makhluk supranatural, tentu peradaban manusia akan berkembang pesat."

Semua orang mengangguk, mengerti bagaimana pendapat yang di utarakan Shikamaru.

"Kesimpulannya, kita beruntung karena kita yang pertama kali membuka diri pada peneliti-peneliti di Amerika itu, iya kan Shikamaru?"

"Itu benar, Rokudaime-sama."

"Kalau seperti itu, mungkin ada satu hal yang menjadi masalah nantinya, Hokage-sama?"

"Katakan apa maksudmu, Temari!"

Mata Temari melirik ke arah Yamato lalu sebentar lalu kembali menatap semua orang. "Begini, tadi Yamato-taichou mengatakan kalau Gai sempat memperlihatkan kaki pengganti dari Adamantium yang bertuliskan 'Made in USA' bahkan dengan entengnya menyebut Super Soldier Serum sebagai obat amerika. Dari situ, Ares dan mereka yang berkaitan dengan kejadian sore tadi pasti sadar kalau kita menjalin hubungan militer dengan Amerika."

Shizune angkat bicara, "Kalau tentang itu, kurasa tak usah terlalu dikhawatirkan. Lembara riset itu berjalan sangat rahasia, jadi tidak mudah menemukan mereka dan fasilitasnya, bahkan oleh makhluk supranatural sekalipun."

"Tapi..."

"Cukup! Shizune, Temari." Kakashi mencoba menengahi, "Begini saja, kita akan mengirimkan beberapa shinobi elite kita untuk membantu pengamanan fasilitas riset itu dan para penelitinya. Mereka juga harus kita peringatkan untuk waspada. Kalaupun misalnya nanti tiba-tiba ada kejadian tak terduga oleh kubu Olympus, yang harus diprioritaskan adalah keselamatan orang-orang penting dan ilmuan-ilmuan disana."

"Keputusan yang bagus, Kakashi. Itu sudah lebih dari cukup untuk melindungi mereka sebagai mitra kita." ucap Tsunade.

Kakashi mengangguk. "Oh iya, Tsunede-sama. Dua jam lalu, Sasuke yang kutugaskan untuk mengintai dan mengawasi semua hal yang terjadi dengan Bangsa Vampire di Rumania mengirimkan informasi. Aku sebenarnya ingin mengatakannya besok saja, tapi kurasa sekarang waktu yang tepat."

Arus informasi antar shinobi Konoha tak lagi memanfaatkan burung elang, itu sudah jauh ketinggalan jaman jika dibandingkan dengan peradaban di dunia baru ini. Dengan cepat mereka semua belajar hal baru lalu memanfaatkan teknologi apapun yang bisa dimanfaatkan. Beberapa shinobi muda yang memiliki kemampuan otak mumpuni dikirim kedunia luar untuk belajar teknologi informasi dan komunikasi. Dalam dua bulan saja, Konoha sudah memiliki jaringan informasi rahasia dan server sendiri meski masih memanfaatkan satelit milik manusia bumi.

Mata hazel Tsunade memicing, menuntut keingintahuannya hilang segera. "Informasi apa, Kakashi?"

"Ada banyak pasukan Fraksi Iblis yang mengepung wilayah Rumania."

"Bukannya Gaara sudah melaporkan hal itu ya tadi sore? Si mata panda itu mendengar langsung ancaman Azazel pada Ratu Vampire Carmilla, iya kan?"

"Yang dilaporkan Sasuke bukan hanya itu saja. Dia tidak sengaja menemukan ada beberapa orang dari golongan lain yang bergerak secara rahasia di Rumania. Tidak ikut terlibat, tapi sepertinya mereka juga melakukan pengintaian disana, entah untuk kepentingan apa. Setelah diidentifikasi, ternyata orang-orang itu adalah makhluk yang berasal dari legenda Reliji Hindu-Buddha, para siluman."

"Ya ampun, ini semua bertambah rumit." keluh Temari, tangannya bergerak memijit pelipis kirinya.

"Bagaimana analisismu dengan semua hal ini, Shikamaru?" tanya Kakashi.

Shikamaru mengusap janggutnya yang mulai tumbuh lebat, matanya melirik sebentar ke arah tiga orang lain yang juga ada didalam ruangan itu, berdiri di arah yang berseberangan dengannya. Tak tahu kenapa mereka dihadirkan, mungkin Kakashi memiliki firasat kalau tiga orang itu juga ada kaitan dengan insiden serangan Ares.

Shikamaru menghirup nafas dalam lalu mulai menjelaskan, "Berdasarkan semua informasi yang dikumpulkan Sasuke, aku masih belum bisa mengetahui banyak hal. Pertama tentang Sakra yang pernah bentrok dengan Naruto saat insiden di Kyoto, artinya dewa itu ada kepentingan di sana entah apa. Yang kedua adalah kejadian di Venesia, Cao Cao bersama ribuan pasukan Grim Reaper milik Hades ingin menangkap Ophis menggunakan Samael tapi digagalkan Naruto, dan sejauh yang kita tahu kalau Cao Cao pernah dididik oleh Sakra. Kemudian yang terakhir adalah serangan Ares hari ini. Aku menduga kalau Sakra dan Hades membuat persekutuan lalu mengajak Ares, aahh tidak, tapi bisa jadi dewa-dewa dari Mitologi Olympus dan Reliji Hindu-Buddha lah yang membuat persekutuan besar, siapa yang tahu kan? Hal ini diperkuat dengan fakta kalau dua golongan itu sampai sekarang belum menerima ajakan perdamaian dari Aliansi Tiga Fraksi dan Mitologi Norse. Namun ini semua hanya asumsiku, tak 100% benar. Malah bisa juga salah."

Setelah mendengar penjelasan Shikamaru, mata Kakashi beralih menatap tiga orang lain itu, "Bagaiman menurut kalian, seharusnya kalian tahu tentang hal ini kan? Mengingat sepak terjang kalian sebelum ini ada kaitannya dengan mereka."

Tiga orang yang dimaksud itu bukan lah orang asli Konoha, mereka bukan shinobi. Satu diantaranya adalah perempuan berambut blonde. Lainnya laki-laki berbadan ramping dengan rambut berwarna perak dan lurus serta satu lagi laki-laki berbadan besar dan berotot kekar.

Si laki-laki berambut menutup mata sejenak dan membukanya lagi sebelum menjawab mewakili temannya. "Kami sama sekali tidak tahu tentang hal itu. Kami bertarung hanya dengan idealisme yang dibawa pemimpin kami, tidak lebih. Dan walaupun kami tahu sesuatu, kami tak akan bicara diluar wewenang pemimpin kami."

Tsunade membuat ekspresi kesal. "Sudah untung kalian bertiga kami selamatkan, dasar tak berguna!. Kalian harusnya ingat kalau saat ini kalian adalah tawanan kami."

Si wanita berambut pirang memberanikan diri untuk bicara. "Kami berterima kasih untuk itu. Tapi maaf, kami tak akan membalas budi mengingat kami jadi begini akibat skenario yang dibuat oleh kalian."

"Che!" Tsunade mendecih, tak lagi menghiraukan ketiga orang itu. "Untuk saat ini, aku berani berasumsi kalau ada beberapa dewa-dewa Olympus dan Hindu-Buddha yang sudah membuat persekutuan sebagai tandingan Aliansi Tiga Fraksi dan mitologi Norse."

"Aku setuju dengan Tsunade-sama." kata Shikamaru. "Bisa jadi dewa-dewa Olympus dan Hindu-Buddha sudah tahu tentang Imperium of Bible sehingga membuat persekutuan, atau mungkin mereka punya tujuan tersendiri yang ingin dicapai. Yang manapun, situasi dunia supranatural saat ini benar-benar genting, perang besar bisa pecah kapan saja. Aliansi Tiga Fraksi Reliji Injil dan Mitologi Norse semakin aktif membuat gerakan, bahkan semakin nyata kalau mereka bertindak diluar Pakta Perdamaian yang mereka buat sendiri, contohnya barikade pasukan yang pernah mereka pasang di Kyoto waktu itu dan di Rumania saat ini.

Kubu Olympus dan Hindu-Buddha juga membuat persekutuan dan mulai bergerak, bahkan serangan Ares pada kita hari ini adalah bentuk nyata dari pernyataan perang mereka untuk kita. Konoha tidak hanya punya satu musuh, tapi dua. Jangan lupakan organisasi teroris Khaos Brigade yang memperparah situasi. Jika perang benar-benar pecah, maka ini akan jadi peperangan terbesar sepanjang sejarah yang bisa saja menjadi cerita penghujung jaman."

"Ya, benar. Hal buruknya dalam hal ini, semua kubu adalah musuh Konoha. Dengan bertemunya Gaara dan Azazel di Rumania, sudah pasti Azazel akan memberitahu aliansinya tentang keinginan Konoha merangkul Bangsa Vampire, mereka bisa saja menganggap hal ini pemicu perang. Lalu tentang Ares dengan Gai dan tentang Sakra dengan Naruto, sudah jelas ini akan berhujung konflik besar antara Konoha dengan kubu Olympus dan Hindu-Budha. Kalau Khaos Brigade, tak sudah ditanya! Organisasi itu musuh semua golongan." Kakashi geleng-geleng kepala melampiaskan depresi yang menekan mentalnya, "Yang benar saja,!" Bahkan Kakashi mengerang, "Mengingat setiap kubu itu memiliki makhluk-makhluk berkekuatan superior, Konoha seperti kucing yang terkurung bersama kawanan singa, serigala, dan beruang."

"Hei Kakashi, jangan pesimis begitu." Tsunade menegur penerus jabatannya yang tampak sangat tertekan, "Kita sudah beberapa kali merasakan kerasnya peperangan. Aku yakin perang kali ini kita pasti menang lagi. Kuakui militer kita saat ini masih belum cukup, tapi kita sudah punya sekutu dan punya persenjataan baru. Bagaimana dengan Kaum Youkai Kyoto?"

"Dari yang aku dengar, Yasaka-himesama saat ini masih menjaga hubungan baik dengan Aliansi Tiga Fraksi Injil agar tidak timbul kecurigaan. Namun secara rahasia, dia berhasil meningkatkan kekuatan pasukan militer kaumnya secara signifikan. Dia juga mulai bergerak atas inisiatif sendiri untuk menarik dukungan dari Dewa-Dewa Shinto Jepang yang telah didikte oleh Dewa Ketua Norse Odin semenjak insiden penyerangan Dewa Jahat Loki. Dari informasi yang dikirimkan pelayan Yasaka-himesama, katanya Dewa Kemiskinan Yato, Dewi Perang Bishamon, dan Dewi Kesialan Kofuku, menyatakan tertarik bergabung dengan persekutuan militer kita.

Jika Yasaka-himesama nanti berhasil membujuk empat dewa utama reliji Shinto yaitu Ratu dari semua dewa Sang Dewi Matahari Amaterasu, ayah ibunya yakni Dewa Izanagi dan Dewi Izanami, serta adiknya Dewa Susano'o, maka pasti seluruh dewa-dewa di Jepang akan mengangkat senjata berbalik melawan Odin dan Aliansi serta menyatakan dukungannya pada persekutuan kita."

Kakashi tampak lebih bersemangat saat mengatakan itu. Bagaimanapun tertekannya dia sekarang, tapi berkat dukungan rekan dan hasil kerja keras mereka semua membuat persiapan, titik cahaya harapan kemenangan semakin terlihat.

Tsunade tersenyum kembali melihat kondisi Kakashi yang membaik. "Itu hal bagus, jika kita juga berhasil menarik dukungan militer dari seluruh bangsa Vampir ditambah keikutserataan Alucard-dono yang disegani oleh para dewa karena kekuatannya yang setara Seraphim dari Surga, pasti kita punya kekuatan untuk mengimbangi musuh-musuh kita."

"Ya, kita serahkan hal itu pada Kazekage-sama. Juga Lee dan Tenten."

Shizune mengangkat tangannya meminta perhatian, "Ah sebentar, aku baru ingat. Sebenarnya aku membawa spesimen senjata, tapi bukan dari hasil kerjasama dengan orang Amerika."

"Hm?"

"Gai sendiri yang membelinya dari ilmuan Jerman." Shizune meletakkan sebuah koper hitam berukuran sedang di meja kerja Kakashi. "Senjata ini sebenarnya tidak laku, bahkan ilmuan yang menciptakannya dicibir banyak kalangan militer saat dia mempresentasikannya di New York. Tapi kata Gai, Tenten akan sangat senang menerimanya."

"Begitu ya." Kakashi membuka koper yang diserahkan Shizune, melihat isinya sebentar lalu membaca kertas berisi petunjuk dan spesifikasi senjata itu. Kakashi tersenyum simpul, "Gai benar-benar tahu apa yang diperlukan muridnya... Leopard!"

Sedetik setelah seruan Kakashi, datanglah ANBU bertopeng macan tutul.

"Urus pengiriman senjata baru ini ke Rumania. Pastikan sampai pada Tenten kurang dari satu hari."

Si ANBU mengambil koper, menutupnya kembali, lalu hendak beranjak pergi. Tapi ...

"Tunggu!"

"Ada apa lagi Shizune?" tanya Kakashi.

"Serum Super Soldier masih tersisa satu tube lagi. Apa sekalian dikirimkan untuk Lee juga?"

"Kurasa tak perlu kalau sekarang. Lee pasti enggan menggunakannya walaupun kita menceritakan padanya kalau Gai yang ia idolakan sudah menggunakan itu untuk melawan Dewa. Fisik Lee masih sempurna dan dia menjunjung tinggi sportifitas. Tapi jika sudah untuk melindungi teman-teman dan Konoha, ia pasti tak segan menggunakannya nanti bahkan mengorbankan nyawanya sendiri."

Shizune mengangguk mengerti. ANBU Leopard pun langsung pergi setelah pamit pada pada Hokage.

Tiba-tiba Tsunade teringat sesuatu, "Oh iya, kalau tak salah kau memberi misi khusus pada Gaara di Rumania, itu benar?"

Kakashi mengangguk, "Ya, kita hanya harus menunggu hasilnya. Itu juga demi meningkatkan kekuatan militer shinobi Konoha. Kazekage-sama menemukan sesuatu yang menarik di padang pasir Gurun Sahara ketika ia jalan-jalan keluar Konoha, dan untuk memanfaatkannya dia butuh sesuatu yang menjadi target misi khususnya di Rumania."

Tidak ada yang bertanya tentang apa misi khusus Gaara, cukup dengan percaya kalau mantan Kazekage Sunagakure yang desanya telah tiada punya integritas penuh pada Konoha.

Kakashi melanjutkan ucapannya lagi, "Terakhir, tolong jangan menanyakan tentang Naruto dan Hinata! Sasuke menginformasikan kalau kedua anak itu sedang ada pekerjaan yang tak kalah penting. Kita tidak usah melibatkan mereka dalam perang nanti, cukup dengan percaya kalau mereka tidak melupakan kita dan senantiasa melindungi Konoha dari tempat manapun."

Tentang Naruto dan Hinata, tak satupun dari sahabat maupun teman terdekat yang tahu apa yang sebenarnya sedang dikerjakan oleh pasangan suami istri itu. Hening sejenak tanpa ada pembicaraan lagi hingga setelah nafas panjang yang ketiga. "Baiklah, pembicaraan kita cukupkan sampai disini." ucap Kakashi.

Tsunade, Shikamaru, Temari, Shizune, Yamato, dan Sai mengangguk. Kakashi mengalihkan pandangannya pada tiga orang asing, "Bagaimana dengan kalian bertiga, apa hanya akan diam dan menonton?"

"Kami hanya akan bergerak jika ada perintah dari pemimpin kelompok kami, iya kan?"

Ucapan si pemuda berambut perak di jawab anggukan oleh dua temannya.

Kakashi membuat seringaian, "Tunggu saja nanti! Pemimpin kalian akan kembali dan pasti dia mendukung ideologi kami. Untuk sekarang biarkan dulu dia disana, menunggu otaknya selesai dicuci, baru kami bebaskan."

.

.

.

Ini sudah hari kedua Azazel dan Kelompok Gremory berada di wilayah Bangsa Vampire. Malam hari, mereka semua berkumpul setelah berpisah karena urusan masing-masing.

Rias, Akeno, dan Kiba selama seharian ini meneruskan pembicaraan dengan Kepala Keluarga Vladi, pembicaraan berjalan bagus hingga dicapai kesepakatan akhir bahwa Gasper kini telah sepenuhnya menjadi tanggung jawab Keluarga Gremory. Apapun yang terjadi pada Gasper atau apapun yang dilakukannya, maka Vladi tidak ada sangkut pautnya lagi.

Azazel bergerak sendiri, dia menemui para ilmuan vampire yang meneliti Sacred Gear. Sudah jelas teknologi Grigori yang dia pimpin jauh meninggalkan teknologi milik para vampire. Dia berbaik hati mengajari beberapa hal, namun terlihat dari ekspresinya Azazel sedang kesal. Dia diijinkan menemui para vampire darah setengah pemilik sacred gear, namun tidak dibolehkan bertemu dengan Valerie yang memiliki Sacred Gear Holy Grail. Itulah penyebab kekesalannya. Ditambah lagi dia tidak menemukan keberadaan Rizevim sejak pertemuan tak sengaja kemarin.

Koneko dan Gasper lebih banyak menghabiskan waktu bersama Valerie di tempat khusus, bermain dan membuat pesta kecil-kecilan.

Sedangkan sisanya, yaitu Issei, Xenovia, Irina, Rossweisse, dan Asia, mereka berlima disuruh oleh Azazel berjalan-jalan di kota Tepes, mengamati semua hal yang berkaitan dengan kudeta, sekecil apapun.

Sekarang mereka semua, sebelas orang, berkumpul kembali di sebuah kamar besar tempat mereka di inapkan selama berada kota ini.

Azazel yang terakhir datang langsung saja menyapa, "Oh, kalian. Aku baru saja kembali. Jadi bagaimana keadaan diluar?"

"Keadaannya biasa. Seperti yang kau katakan Sensei, para penduduk sepertinya tidak tahu apa-apa tentang kudeta."

Azazel langsung menyahut ucapan Issei, "Seperti yang sudah kuduga".

Kudeta yang dilakukan Marius dan bangsawan vampire lainnya terhadap Lord Tepes sebelumnya dilakukan dengan sangat hati-hati tanpa melibatkan penduduk. Lord Tepes dikalahkan dengan adanya Crom Cruach di pihak pengkudeta hingga keberadaannya tidak diketahui lagi. Kudeta berhasil, lalu Valerie diangkat menjadi Pemimpin Faksi Tepes yang baru. Begitulah yang terjadi dikalangan pemerintahan, namun tak satupun penduduk yang menyadarinya.

Issei yang tampak ragu-ragu memberanikan diri bertanya. "Underworld. Rencana apa yang akan Sirzechs-sama lakukan terhadap kejadian ini? Sensei, kau telah melaporkan ini padanya, kan?"

Maksud Issei adalah kemunculan Rizevim. Dia juga pemegang Nama Lucifer, sama seperti Sirzech dan Vali. Hal itu tidak bisa diabaikan dan pasti akan menimbulkan masalah kalau tidak ditanggapi segera. Apalagi keberadaan Ophis yang sangat fenomenal.

"Aku sudah memberitahukan padanya tentang Rizevim untuk berjaga-jaga, tapi aku masih belum mendapatkan balasan apapun dari para pertinggi Iblis. Mereka sudah kebingunan dengan berita Euclid yang masih hidup, di tambah lagi sekarang Rizevim, juga tentang sekelompok anak muda misterius yang mampu mengubah Ophis. Belum lagi ada pekerjaan besar yang harus para petinggi urus."

Semuanya benar-benar terdiam pada kata-kata Azazel.

Irina yang penasaran dengan kalimat terakhir Azazel mengacungkan tangan, "Anoo Sensei, kalau boleh kutahu, pekerjaan besar apa yang Sensei maksud?"

Azazel tersentak, walaupun gestur tubuhnya tidak menunjukkan hal itu sehingga murid-muridnya tidak ada yang menyadari. Belum saatnya mereka tahu tentang rencana besar Aliansi. "Yah, itu berhubungan dengan situasi politik dunia yang makin panas. Kalian tak perlu memikirkannya, ini urusan petinggi!" elak Azazel.

Tiba-tiba Gasper yang menampakkan ekspresi senang bicara pada Azazel dengan senyum penuh makna, "Azazel-sensei, tolong dengarkan aku. Marius-san berjanji padaku kalau dia akan melepaskan Valerie. Aku sungguh senang. Dengan ini, Aku bisa membawa Valerie ke Jepang!"

Azazel menyerngit tak paham, dahinya yang berkerut dia tunjukkan ke arah Issei dan lainnya seolah ingin bertanya apa maksud semua ini.

Issei yang berada di tempat kejadian pun menceritakan apa yang terjadi di taman ketika mereka melakukan pesta minum teh. Tentang kedatangan Marius yang mengatakan bahwa Valerie boleh meninggalkan Rumania dan tinggal di Jepang bersama Gasper karena sudah menyelesaikan banyak tugasnya dan dibebaskan dari Holy Grail.

Azazel diam sebentar, dia terlihat tengah berpikir, hingga seulas seringaian yang sangat tipis muncul di sudut bibirnya. Ini tanda kalau Azazel sudah merencanakan sesuatu demi keuntungannya.

Azazel menarik nafas sekali lalu berkata, "Aku yakin mungkin sebagian dari kalian sudah paham, tapi apa maksudnya dengan membebaskan Valerie adalah ... "

Tidak ada yang menyahut hingga Gasper yang masih diliputi rasa senang membuka mulutnya, namun suaranya didahului oleh Xenovia.

"Apapun itu, pasti bukan sesuatu yang baik."

Xenovia memang pribadi yang blak-blakan dan tidak bisa menahan diri. Dia mengatakan hal yang buruk di tengah rasa senang yang dirasakan oleh Gasper, meski perkataan itu benar.

Benar saja, Gasper tiba-tiba menjadi bingung.

"Marius pasti berencana untuk mengambil, Holy Grail. Maksudnya dari dalam tubuh Valerie menggunakan teknologi Fallen Angel yang telah bocor keluar. Jadi ini tidaklah aneh jika mereka memiliki teknik untuk melakukannya disini. Apapun itu, dalang yang berada dibaliknya adalah Khaos Brigade."

Hanya dengan pancingan itu, semua anggota Gremory mengingat kembali kejadian yang telah lampau. Asia pernah diambil Sacred Gear Twilight Healingnya oleh Raynare.

Apa yang terjadi pada Asia? Mati.

"Kalian tahu apa yang akan terjadi jika hal itu benar-benar dilakukan kan?"

Sekali lagi Azazel mengirim sugestinya. Kali ini lebih kuat dari yang tadi.

Apa dampaknya?

Rias terbakar dalam amarah. Issei mengepalkan tangan kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dan yang paling parah, Gasper. Aura hitam yang membawa kutukan mengerikan keluar meluap-luap dari tubuhnya. Iris mata Gasper pun berubah menjadi merah menyala dengan pola khas.

"Kalian tahu apa yang harus kita lakukan kan?"

"Aku pasti akan menyelamatkan Valerie, mengeluarkannya dari tanah terkutuk ini, apapun resikonya."

Azazel senang dengan respon cepat dan tegas dan Gasper, lebih senang lagi saat semua anggota kelompok Gremory punya keinginan kuat yang sama.

Jelas sekali dalam hal ini, Azazel menginginkan Valerie. Tidak, lebih tepatnya, Azazel membutuhkan apa yang ada di dalam tubuh Valerie. Dia tidak ada beda dengan Marius. Ini kenyataan yang tak banyak orang tahu.

.

Sementara itu, ditempat lain, tempat paling tinggi di wilayah Tepes, sebuah menara kastil yang puncaknya terdapat ruangan berukuran sedang, seperti sebuah kamar penjara. Ada lima orang berkumpul disana. Tiga orang memasang ekspresi serius namun satu orang sedang uring-uringan karena kebosanan, sedangkan satu lagi tersenyum dan terkikik pelan mengamati orang yang kebosanan itu. Dia yang kebosanan adalah ...

"Hei, ayo keluar dari sini! Kemana kek, makan kek, atau main ski misalnya. Aku bosan berada di sini terus bersama kalian seharian, Dttebayou."

... Naruto yang menggerutu tak jelas. Dia duduk bersila di lantai dengan kedua tangan ditautkan di belakang kepala.

Tak ada yang menanggapi, terutama Sona Sitri si wajah datar berkacamata, bahkan Hinata juga. Dua perempuan ini sedang mengamati suasana diluar lewat jendela. Hinata mengaktifkan Byakugan, memindai setiap kejadian kecil dalam jangkauannya sejauh radius 10 km. Sona juga memfokuskan telinga iblisnya untuk mendengar suara sekecil apapun yang bisa ditangkap. Sekarang ini bukan waktunya bercanda, mereka ada pekerjaan penting.

"Atau kalau tak mau juga, kita main lempar bola salju saja." pinta Naruto, saking bosannya bahkan dia ingin bermain permainan anak-anak.

Masih tak ada tanggapan.

"Kalau begitu, kita pulang saja yuk. Plissss..."

"Naruto-san, tolong diamlah!" kata Sona tegas tanpa membalik badan. "Kita bukannya tidak ada pekerjaan di sini. Kita harus pastikan semuanya berjalan lancar, baru kita bisa pulang ke Kuoh."

Hinata menatap suaminya setelah menonaktifkan Byakugannya, mengistirahatkan matanya sebentar karena jika digunakan terlalu lama akan berefek buruk. "Iya, Naruto-kun. Bersabarlah sedikit."

Naruto langsung diam setelah ditegur istrinya. Bagaimanapun, ini bagian dari misi besarnya bersama Hinata. Tak ada kata gagal, kesempatan hanya satu kali, dan segala hal jadi pertaruhan.

Tadi disebutkan ada lima orang kan?

Di sudut ruangan, pria mengenakan topi berdiri menyender di dinding dengan kepala menunduk. Itu Loup Garou atau yang sering dipanggil dengan nama Rugal. Dia sangat tenang, menunggu perintah dari King-nya.

Ada juga Bennia si Grim Reaper berdarah setengah yang sedang berdiri terbalik di langit-langit seperti kelelawar sambil memegang sabit hitam. Dia sedang tersenyum memperhatikan tingkah Naruto. Bennia itu masih anak-anak, seumuran anak SMP. Sudah sifatnya sebagai pribadi yang suka bercanda dan bermain-main.

"Naruto-senpai. Aku sepertinya paham maksudmu."

"Heh, kalau begitu ayo kita main di luar, Bennia-chan." ajak Naruto dengan suara riang.

"Bukan itu. Tadi senpai berkata kalau bosan berada disini bersama kami seharian kan? Itu artinya pasti senpai ingin berdua saja dengan Hinata-senpai lalu melakukan hal begini dan begitu. Eheheheee."

"Nah itu paham!" sahut Naruto cepat, jujur, tak mengelak, dan tanpa malu-malu. "Lalu kenapa kalian tidak pergi sekarang dan meninggalkan kami berdua?"

Bennia cukup terkejut dengan respon jujur Naruto. Ia kira Naruto akan membantah dengan wajah malu-malu. Kan lucu jika bisa melihat Naruto bersikap malu-malu begitu.

Sona yang merasa kegiatannya mengamati keadaan di luar terganggu, ikut mengeluarkan suaranya. "Naruto-san, tolong tahan nafsumu sebentar. Hanya tempat ini satu-satunya yang paling tepat untuk mengamati situasi."

"Ya sudah. Kalau begitu kita berdua saja yang pergi, Hinata" ucap Naruto pada istrinya.

Sona langsung balik badan menatap tak percaya kearah Naruto dengan mata melotot. "Kau mau meninggalkanku sendirian huh? Tega!"

"Kan ada Bennia-chan dan Rugal?"

"Mereka berdua ada tugas sebentar lagi."

Naruto tidak lagi bersuara. Dia diam karena tak mau membuat Sona lebih kesal dari ini. Salahnya juga sih, ia sudah tahu kalau Sona menaruh perasaan padanya sejak kejadian salah paham diruang OSIS tempo hari, tapi sekarang malah dia ingin bersenang-senang sendiri dan menyerahkan tanggung jawab pada Sona. Bagi Naruto, urusan perasaan dengan perempuan itu sangat rumit jadi ia tak ingin memikirkannya lagi. Yang ia tahu cinta sama dengan Hinata, Hinata adalah cinta, sudah titik, tak ada koma.

Hinata sendiri masih diam sambil mengamati keadaan di luar. Bukannya dia tidak tertarik dengan ajakan suaminya. Ia sangat ingin malah, apalagi Rumania wilayah pegunungan bersalju yang sangat dingin, jadi berbagi kehangatan tubuh pasti menyenangkan. Hanya saja Hinata itu pribadi yang pandai menutupi hasratnya didepan orang lain, dia juga tahu caranya agar tidak menyinggung perasaan orang lain.

Lama terdiam hingga Naruto yang merasa makin bosan bersuara lagi, "Bennia-chan! Lebih baik kau turun dari atas sana. Rokmu tersingkap dan aku bisa melihat celana dalammu dari sini."

Teguran Naruto tak dihiraukan sedikitpun oleh si gadis kecil. Malah dia tampak senang mempertontonkan tubuhnya.

"Emmm, kau tertarik Naruto-senpai?"

"Tidak! Aku tak tertarik dengan anak kecil." bantah Naruto.

"Terus apaan itu tadi? Kau menegurku artinya kau terganggu karena melihat celana dalamku kan? Itu bukti kalau kau tertarik padaku, Senpai."

"Tch, aku tak menyangka anak kecil sepertimu bisa berpikiran seperti itu."

"Yeiy, biarin. Lagian walaupun kecil tapi aku sudah puber, aku sudah mens loh."

"Tidak ada yang tanya."

"Whahahaaa, ternyata kau benar-benar kebosanan ya, Senpai."

"Kan sudah kubilang sejak tadi!" ucap Naruto ketus.

Bennia masih senang berdiri terbalik di langit-langit ruangan. Karena kehabisan topik obrolan, dia mulai menggoda Naruto lagi.

"Naruto-senpai, coba lihat sini! Celana dalamku ada gambar beruangnya loh."

Naruto enggan menatap Bennia, "Aku tak suka beruang, lebih bagus kalau gambarnya kelinci."

"Begitu ya. Apa senpai punya celana dalam bergambar kelinci?"

"Hu'umm." Naruto mengangguk lalu merebahkan tubuhnya di lantai. Matanya tertuju pada Bennia yang berdiri terbalik tepat diatas wajahnya. Dari posisi ini dia hanya bisa melihat wajah Bennia yang sebagian tertutupi rambut, tidak melihat roknya yang tersingkap.

"Pinjam dong."

"Boleh, sekalian nanti kupakaikan."

"Kyaaaaaaa..." Tiba-tiba Bennia berteriak histeris. "Hinata-senpai, suamimu mau mengganti celana dalamku, tolooooonngg!"

"Wooii. Apa-apaan kau?" Naruto berteriak marah lalu bangun dari rebahan. Dia tadi cuma bercanda.

"Tidaaaaaaaaaakkkkk!" Bennia masih saja berteriak histeris seperti orang ketakutan sambil memeluk protektif tubuhnya sendiri.

Naruto jadi panik, apalagi ketika melihat istrinya yang sejak tadi mengamati situasi dengan Byakugan aktif berbalik menatap dirinya tanpa menonaktifkan doujutsu itu.

"Hime, percaya lah. Ini tidak seperti yang kau pikirkan."

"Hn."

Hinata mendengus dan membuat Naruto makin panik.

"Aku tidak melakukan apapun, sumpah!"

"Na-ru-to-kun!"

"Hiieeee..." Naruto merinding takut. Jiwa sadistik Hinata mulai keluar.

"Aku percaya kau tidak melakukan apapun pada Bennia-chan, tapi yang kau sebut ada gambar kelincinya tadi... itu celana celana dalamku. Aku tak mau meminjamkan celana dalam pada orang lain."

"Oh, kalau begitu maaf." kata Naruto dengan telapak tangan disatukan didepan wajah. Tak dia sangka kalau istrinya marah karena celana dalam, bukan cemburu.

"Tidak apa. Lagipula tidak mungkin pas kalau dipakai Bennia-chan, lihat saja pantatku." kata Hinata sambil menepuk-nepuk pantatnya.

"Pffftt..."

Ucapan Hinata sukses membuat Naruto menahan tawa.

Bennia langsung cemberut. Niatnya mengerjai Naruto, malah dia yang diejek. Ya iya lah, Bennia masih anak-anak, mana mungkin bisa disamakan dengan pantat Hinata yang begitu sintal, pinggulnya pun tak selebar pinggul Hinata.

Dan, sejak kapan Hinata mencandai orang seperti ini?

Ah, kesampingkan itu. Sona kembali merasa terganggu dengan guyonan tadi. Dia tidak lagi fokus mengamati situasi di luar. Terlebih dengan datangnya sosok lain tanpa pemberitahuan apa-apa. Sosok seorang gadis kecil berambut hitam panjang dengan iris mata ungu. Pakaian yang dia kenakan serba hitam dan sedang duduk di kursi goyang dekat jendela yang lain

"Ophis? Ada apa kau kemari?"

"Bosan."

Ophis menjawab singkat pertanyaan Sona, tanpa mengeluarkan ekpresi di wajahnya.

Aneh saja melihat Ophis muncul tiba-tiba. Tapi mengingat dia seorang naga mantan penjaga celah dimensi, mudah saja ia muncul dimanapun ia mau. Dalam tim pencegah kiamat, Ophis hanya punya satu tugas yaitu saat Trihexa berhasil dibangkitkan nanti. Ketika Trihexa bangkit, Great Red akan datang dan mereka berdua sebagai satu paket ayat pengkiamat akan berduel hingga mengancurkan dunia seisinya. Ophis lah yang akan menghadang Great Red sementara Naruto menangkap Trihexa. Jadi dia tidak perlu muncul sekarang kan? Akan lebih baik kalau dia bersembunyi.

Dalam hati, Sona meringis. Kelompok dimana ia menjadi bagian didalamnya benar-benar menggelikan, kumpulan orang-orang aneh yang anehnya diberkahi kekuatan hebat dengan tanggung jawab besar.

Belum semenit Ophis muncul, kini ada orang lain lagi yang datang. Dia muncul dari balik pusaran distorsi ruang Kamui. Sesosok laki-laki tampan rupawan berjubah hitam.

"Teme! Kenapa kau bisa kemari?"

"Hn. Aku bosan."

Ucapan itu, membuat Sona tambah meringis. Ini saat-saat penting, tapi orang-orangnya malah begitu.

"Kau sudah berikan gulungan hadiah dariku untuk Gaara?"

"Sudah, Dobe."

"Ya, terima kasih. Terus tugasmu yang lainnya?"

"Beres. Siluman-siluman yang masuk kewilayah ini dan memata-matai sudah kuberi genjutsu. Laporannya sudah keberikan pada Kakashi-sensei."

"Oh."

Naruto merespon singkat, tak tahu lagi harus bicara apa. Begitulah Sasuke, kalau bicara dengannya, selalu dia mengeluarkan kata yang membuat lawan bicara kehabisan kata-kata tak tahu harus bicara apa lagi. Mencari topik lain pun percuma.

"Ekhhem,,," Sona berdehem sekali menarik atensi semua orang. "Lihatlah keluar!"

Ucapan Sona walaupun tanpa ada nada perintah, langsung direspon cepat oleh yang lainnya. Dari tempat mereka berdiri, yang menghadap Kastil Tepes tempat Valerie saat ini berada, terasa menyilaukan akibat munculnya cahaya terang. Cahaya yang masuk kedalam ruangan mereka berada hingga membuat tempat persembunyian mereka terang benderang. Itu bukan cahaya matahari karena pagi masih sangat lama. Saat mata sudah mulai beradaptasi, ternyata sinar itu berasal dari kekkai cahaya yang menutupi seisi kastil Tepes.

"Tirai panggung sudah dibuka. Bennia, Rugal, kalian berdua bergabung lah lagi dengan kelompok Rias! Lakuan tugas kalian dengan hati-hati!"

Bennia turun dari langit-langit dan berdiri dengan benar di lantai, "Dimengerti."

Rugal menarik punggungnya dari dinding, "Laksanakan."

Dalam sepersekian detik, mereka berdua pergi menggunakan sihir teleportasi yang dibuat oleh Bennia.

.

Kembali ke tempat sebelumnya, Azazel tampak senang melihat atmosfer menegangkan akibat anak-anak muridnya yang tersulut emosi. Rias dan Issei melakukan apapun untuk menahan amarah, sedangkan Gasper yang paling parah, hampir saja berubah menjadi monster hitam menakutkan seandainya tidak terjadi hal terduga.

Cahaya terang dari luar yang masuk lewat jendela mengalihkan emosi mereka. Ketika mereka semua melihat keluar lewat jendela, yang nampak adalah cahaya berbentuk kubah yang mengurung kastil tempat mereka berada sekarang. Mereka semua ikut terkurung didalamnya.

Azazel berdecak sekali lalu bicara lagi, "Kalian lihat apa itu kan? Marius dan para pengkudeta sudah melakukan langkah pertama. Mereka berencana untuk memulai ritual pengeluaran Holy Grail saat ini!"

Rias yang pikirannya masih jernih merespon cepat ucapan Azazel, "Kita semua harus bergerak sekarang. Jika kita tidak cepat-cepat, kita tidak akan sempat menyelamatkan Valerie."

Dengan anggukan Azazel, semuanya mulai melangkah keluar dari ruangan tempat mereka berkumpul. Namun baru selangkah, mereka terhenti karena munculnya sensasi misterius. Sensasi yang mana ruangan mereka berada terbungkus oleh lapisan pelindung yang memblokir pengaruh dari kekkai besar diluar kastil.

Tapi tak satupun yang membuat posisi siaga karena sudah mengenal sensasi itu.

Di dinding ruangan, muncul sebuah lingkaran sihir dengan aksara khas Iblis Sitri. Lalu sebuah kepala menyembul keluar hingga akhirnya menampakkan tubuh utuh dari Grim Reaper Bennia yang berdiri di dinding dengan posisi mendatar seolah dia membuat aturan gravitasinya sendiri.

Bennia tersenyum manis, "Halo. Maaf baru muncul sekarang. Aku butuh waktu cukup lama untuk menghubungkan tempat ini dengan tempat luar, tapi aku senang berhasil menyelesaikannya."

"Bennia-chan, apa ini rute pelarian kita yang Sona katakan padaku?" tanya Rias.

Bennia menggeser posisinya berdiri keluar dari lingkaran sihir di dinding, "Iyap, Sona-sama yang memberikanku tugas khusus ini."

Dengan rute pelarian ini, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi jika berhasil merebut Valerie. Tak ada seorangpun vampir di dalam kastil yang mengetahuinya.

Melewati lingkaran sihir yang sama, sesosok tubuh gadis kecil berambut pirang muncul. Semuanya mengenal orang itu, Elmenhilde.

Berikutnya yang keluar adalah Rugal.

Bennia turun dari dinding lalu bersama Rugal bergabung dengan Kelompok Gremory. Tersisa Elmenhilde sendiri berdiri berhadapan dengan semuanya.

"Tak kusangka kalian semua baik-baik saja."

Kalimat pertama yang keluar dari Elmenhilde berupa cibiran keras.

Rias berusaha menahan emosinya yang meluap-luap sejak tadi. "Elmen, jadi kau menyusup kedalam wilayah ini."

Elmenhilde mengangguk. "Aku bertemu dengan Bennia-san ketika aku dan kelompokku mencari jalan masuk ke wilayah Tepes. Karena tujuan sama, jadi kami bergabung."

Bennia mengangguk membenarkan ucapan Elmenhilde ketika Rias menatapnya meminta kepastian.

Elmenhilde membuat ekspresi kebencian tak berdasar diwajahnya, terutama diarahkan pada Azazel. "Kurasa kita semua sudah tahu apa yang sedang terjadi. Fase terakhir dari kudeta sudah dimulai. Mereka berencana untuk mengekstrak Holy Grail keluar dari tubuh Valerie Tepes dengan tujuan untuk mengambil kontrol sempurna negara ini. Dengan meningkatkan kekuatan Holy Grail, mereka mencoba merekonstruksi ulang seluruh penduduk yang hidup di kota ini."

Semua Iblis Gremory paham tentang mengekstrak Holy Grail, juga dampaknya, suatu hal yang tidak mereka inginkan. Tapi kalimat terakhir?

"Apa maksudmu merekonstruksi ulang penduduk?"

Pertanyaan Rias dijawab oleh Azazel. "Aku telah memprediksi tentang Holy Grail sejak awal. Selama sehari ini aku juga mendapatkan informasi lain. Mereka berencana mengubah seluruh penduduk menggunakan Holy Grail menjadi Vampir yang tidak memiliki kelemahan? Apakah itu sesuatu yang bisa kau sebut sebagai seorang Vampir?"

Elmenhilde menunjukan ekspresi wajah penuh kejijikan. "Tidak, itu sama sekali bukan Vampire. Itu adalah makhluk lain dengan sifat vampire. Mereka menjijikkan dan tidak boleh ada. Siapapun yang menolak aturan hidup vampire harus dibasmi. Karena itulah, seluruh Faksi Carmilla sudah mengepung wilayah ini bersama orang-orang dari Pemerintahan Tepes sebelum dikudeta yang masih menjunjung aturan hidup vampir. Kami semua akan mengalahkan mereka."

Elmenhilde berjalan menuju lingkaran sihir yang Bennia ciptakan untuk menghubungkan tempat ini dengan daerah luar kastil ini. "Aku akan menjalankan rencanaku bersama dengan kelompokku dari luar. Jadi yang kalian semua perlukan adalah melarikan diri dari sini secepatnya."

Azazel menghela nafas sebelum menyahut kata-kata Elmenhilde. "Apa kau masih mencoba menghindari keterlibatan kami bahkan dalam situasi macam ini? Ada teroris yang bersekongkol dengan musuh dan tak perlu diragukan lagi keberadaan Naga Jahat terkuat yang akan muncul, kau tahu?"

"Ya, vampir akan menyelesaikan masalah vampir ... " Elmenhilde menutup matanya, "Itulah apa yang aku ingin katakan, tapi Ratu Carmilla menyetujui bantuan kalian ... " lagi, Elmenhilde menggantung ucapannya sejenak membuat semuanya penasaran hingga matanya terbuka kembali, "Dan juga menyetujui bantuan dari orang-orang ini."

Melewati lingkaran sihir buatan Bennia yang masih terhubung ke dunia luar, satu persatu sosok tubuh manusia keluar. Ada tiga orang, yang pertama adalah sosok pria tampan yang tampak seumuran dengan Issei, berambut merah tanpa alis dengan eyeliner hitam tebal dengan tato 'Ai' di dahi kiri. Lalu yang kedua adalah perempuan dengan rambut dicepol dua seperti telinga panda serta satu kunciran rambut yang cukup dibelakang, dia dengan setelan pakaian khas Cina yang membawa gulungan perkamen di punggung. Terakhir laki-laki berpakaian ketat serba hijau dengan model rambut seperti mangkok.

Tiga orang yang baru datang berdiri tak jauh dari Elmenhilde. Si pria berambut merah menyapa dengan senyuman, "Hisashiburidana, Minna. Senang bertemu kalian lagi, meski pada tempat dan waktu yang tidak seharusnya."

"KAUUU...!?" Issei menggeram dan menunjuk wajah orang yang menyapanya dengan luapan amarah.

"Tahan dirimu, Issei! Jangan bertindak gegabah!"

Azazel menegur muridnya sebelum terjadi hal yang tidak-tidak.

Senyum menawan ala psikopath yang disunggingkan pria berambut merah makin lebar. "Sambutan yang baik. Aaah~~~, lebih baik aku perkenalkan diriku dulu. Namaku Sabaku no Gaara, Hajimemashita."

Tidak ada yang tidak kenal dengan Gaara. Semua anggota Gremory kecuali Rossweisse sudah pernah bertemu dengan Gaara, meski pertemuan itu adalah insiden mengerikan bagi Rias dan budak-budaknya.

Ya, saat itu Rias, Akeno, Xenovia, dan Kiba menjadi sandera orang-orang Konoha untuk membungkam Sirzech saat Pertemuan Tiga Fraksi di Kuoh. Mereka berempat hampir saja tewas, walau pada akhirnya mereka berakhir dengan cedera tulang hebat. Issei yang saat itu tak bisa apa-apa, menyimpan dendam kesumat pada Gaara yang kian dalam hingga saat ini.

Gaara melanjutkan acara perkenalannya, "Perempuan di sebelah kiriku ini, namanya Tenten. Dan yang di sebelah kananku, panggil saja Lee. Kami bertiga, bantuan yang dikirim Konoha untuk Bangsa Vampir."

Tenten dan Lee membungkuk hormat saat Gaara memperkenalkan nama mereka pada para iblis.

"Elmen! Apa maksudnya ini?"

Pertanyaan bernada mengancam dari Azazel di jawab Elmenhilde dengan tenang, "Mereka bertiga membuktikan diri dengan membersihkan semua pengkhianat di internal Faksi Carmilla. Kalian tahu, tidak hanya vampir Tepes saja yang melakukan kudeta, tapi beberapa bangsawan vampir Carmilla juga ada yang tertarik dengan kekuatan Holy Grail dan berniat menyerbu kastil Carmilla. Karena keberhasilan Gaara-sama dan teman-temannya menggagalkan rencana kudeta terhadap pemerintahan Carmilla sebelum terjadi, maka Ratu Carmilla memberikan kepercayaan dan menyediakan jalur masuk ke dalam wilayah Tepes."

Azazel mendecih. Dia kecolongan. Dia kira Gaara akan kesusahan masuk ke wilayah Tepes yang menjadi tempat sumber masalah, sementara ia sendiri bisa masuk dengan mudah karena adanya Rias dan keluarga Vladi tempat Gasper berasal. Azazel merasa unggul satu langkah.

Tapi nyatanya, Gaara lebih cerdik dari yang ia duga. Dia memprediksi adanya pengkhianat di internal Faksi Carmilla lalu membersihkannya sehingga mendapat kepercayaan dari Ratu Carmilla. Dengan cara itu, Gaara mendapat keuntungan yakni akses jalan masuk ke wilayah Tepes tepat pada saat yang dibutuhkan, yaitu saat ini ketika dimulainya fase terakhir rencana Marius.

Sedangkan Azazel, meski sudah hampir tiga hari berada didalam wilayah Tepes, tapi ia belum mendapat kemajuan berarti, bahkan makin rumit karena munculnya Rizevim dan Ophis serta Crom Cruach. Jelas sekali terpampang dari ekspresinya, Azazel menyesali langkah yang ia buat.

Azazel menatap Gaara dengan sorot mata tajam, "Jadi apa yang mau kalian kesini?"

"Yah, sederhana saja. Tujuan kita sama, mencegah Holy Grail diekstrak dari Tubuh Valerie Tepes agar seluruh penduduk kota ini tidak direkontruksi ulang. Jadi, mohon kerjasamanya."

Ucapan Gaara membuat Azazel menggeram dalam hati. Semua kelompok Gremory menampakkan ekspresi muak. Tapi ...

"Baiklah, kita bisa bekerja sama mulai dari sini."

... Azazel tak punya pilihan menolak. Ini situasi darurat, bukan saatnya untuk berkelahi. Masalah dengan Konoha harus dikesampingkan dulu, yang harus diprioritaskan adalah Holy Grail. Rias dan budak-budaknya pun tampak sepaham dengan guru mereka. Tak bisa menolak meski mereka menaruh curiga pada Gaara yang mungkin menginginkan hal lain.

Sebelum pergi, Elmenhilde melihat kearah Gasper.

"Gasper Vladi, apa kau ingin merebut kembali pemilik Holy Grail, Valerie Tepes?"

"Tentu saja!"

Gasper menjawab tanpa adanya jeda.

Elmenhilde mengangguk sekali. "Kalau begitu lakukanlah sebaik yang kau bisa. Jangan sampai ada penyesalan." Senyum sinis terukir di wajah Elmenhilde, "Selamat tinggal. Kuharap kita tidak perlu lagi bertemu setelah ini."

Lingkaran sihir buatan Bennia tertutup lagi tepat setelah Elmenhilde melewatinya. Gadis vampir itu telah kembali ke luar kota Tepes dan bergabung dengan kelompoknya untuk menyerbu dari luar kota.

Tersisa orang-orang yang akan menggagalkan rencana Marius dari dalam, meski situasi mereka kurang menyenangkan karena kerjasama ini berasal dari dua kubu yang bermusuhan.

Untuk menurunkan ketegangan, Gaara buka suara, "Silahkan Azazel-dono berjalan di depan. Kau layak mendapatkan kehormatan itu. Lagipula aku sampai disini belakangan, jadi tak apa bagiku berjalan di belakang kalian."

"Tch.!" Azazel cukup muak dengan kepandaian Gaara berbicara hingga menyulut emosinya. Sudah begitu, wajah Gaara persis seperti psikopath yang suka membunuh korbannya secara keji. Orang seperti Gaara harusnya dieksekusi mati, itu menurut pemikiran Azazel dan ...

Shiiingggg...

Xenovia. Dia yang sudah tak bisa menahan diri lagi, mengacungkan Ex-Durandal yang terhunus tajam ke arah wajah Gaara.

Gaara tak takut sedikitpun, "Maaf Nona, bukan hal bagus menghunuskan senjatamu pada orang yang belum kau tahu. Kau tentu masih ingat akibat perbuatan kalian menyerangku tanpa berpikir lebih dahulu, iya kan?"

Ucapan Gaara hampir persis sama dengan yang diucapkannya pada Xenovia, Rias, Akeno dan Kiba yang dia sandera dengan pasirnya beberapa bulan lalu saat di Kuoh.

Xenovia yang masih ingat hal itu menurunkan Ex-Durandalnya, apalagi ketika melihat tangan kiri gara yang membuka gentong kecil di pinggangnya dan keluarnya serpihan pasir dari gentong itu hingga berterbangan pelan di sekitar tubuh Gaara. Dia tidak mau tulangnya remuk lagi.

Tenten dan Lee masih berdiri dengan tenang, tak sedikitpun terganggu dengan gerakan yang dibuat oleh iblis muda.

"Kurasa tidak ada yang perlu kita perdebatkan, akan buruk kalau kita membuang waktu disini untuk menyelamatkan Valerie. Jadi, ayo kita jalan!"

Azazel mengucapkannya dan mulai melangkah keluar ruangan, disampingnya Rossweisse yang juga seorang guru di Kuoh. Rias serta budak-budaknya mengikuti dibelakang, lalu ada Bennia dan Rugal setelahnya. Sedangkan Gaara, Lee, dan Tenten, mengikuti paling belakang dengan membuat sedikit jarak.

.

.

TBC...

.

Note :Pertama dulu. Boleh minta tolong? Ada tidak dari kalian yang bisa membantu membukakan akun FFN yang kelupaan password? Akun FFN dengan Penname Papa Haise The Centipede. Dia temenku, author juga, pasti banyak yang udah tahu kan? Dia lupa sandi jadi ga bisa log in. Kalau ada yang bisa bantu, PM aja ke aku atau langsung ke akun FB-nya (Alfan El-Rukh).

Nah, lalu kita ulas sedikit tentang Chapter ini.

Siapa yang dibawa Rizevim? Itu Ophis. Ophis fullpower. Di FF ini tidak ada ceritanya Ophis dibagi dua, kan Samael sudah mati dibunuh Kurama. Tapi kenapa Ophisnya jadi begitu? Misteri untuk nanti. Hahaaa.

Dengan begini, kekuatan tempur Khaos Brigade bisa bersaing. Didalamnya ada Qlippoth, Fraksi Maou Lama, pasukan Naga Jahat, para Penyihir jahat, serta kelompok buangan lainnya, ditambah sekarang Ophis kekuatan penuh. Kalau Hero Faction udah habis dibantai Kurama saat di Venesia kan?

Konoha sudah Siaga Perang Level S. Ada tiga nama baru yakni Yato, Bishamon dan Kofuku. Yang nonton Noragami pasti tahu. Ini agar adil dengan yang kemarin, kan Kubu Aliansi-Norse dan Sakra-Ares membawa pahlawan dari cerita Fate Series? Konoha sudah punya suplier senjata, juga sekutu yang makin banyak termasuk tiga orang tawanan itu. Bahkan ada tambahan sesuatu lagi untuk memperkuat militer Konoha yang sedang diusahakan oleh Gaara. Tunggu saja.

Untuk Tim Konoha yang pergi ke Rumania yaitu Gaara, Lee dan Tenten. Kuberitahu dulu biar bikin penasaran, mereka bertiga akan Power Up. Gaara dapat hadiah dari Naruto, lalu Lee sama aja kayak Gai yang sanggup memukul mundur Dewa Perang Ares. Sedangkan Tenten punya senjata baru.

NaruHina, Sona, dan Sasu, mengamati dari sudut tergelap. Kelompok Gremory dan Tim Gaara bekerja sama, entah bagaimana nanti jadinya.

Ulasan Review:

Tebak-tebakan si gadis kecil, kayaknya ga ada yang bener-bener tepat deh. Ophis, Lilith, atau apa?. Pikirin lagi gih. Hahaaaaa.

Yang ngeluh suasana pertemuan di Surga berasa flat. Biarin lah, namanya juga pertemuan resmi yang membawa ambisi besar. Beda ama yang di Neraka, mereka bertiga bisa dibilang sahabatan, tak segan saling ejek.

Gabungan 3 Fraksi dan Asgard (Dewa-Dewa Norse) memang Arogan. Kan mereka yang bener-bener nyiapin diri buat perang dengan ambisi besar. Konoha masih dalam tahap persiapan, NaruHina dan Sasu punya pekerjaan penting lain, sedangkan Olympus dan Hindu-Buddha main seret-seretan aja walaupun banyak dewa-dewa kuatnya.

Masalah Top 10 chara DxD, terserah mana yang benar tapi ane bikin sendiri untuk FF ini. Ingat! untuk FF ini, menyesuaikan alur yang telah aku buat sejak lama. Aku tidak membuat urutan, langsung aku sebutin saja ya. Ayat Pengkiamat Great Red dan Trihexa, tambah Ophis. Dari Reliji Hindu-Budha ada Dewa Trimurti, yaitu Brahma, Vishnu, dan Shiva ditambah Sakra. Dari Olympus, dua dari Dewa Trinity yakni Zeus dan Poseidon. Lalu yang terakhir dari Norse ada Dewa Thor. Nah, sudah sepuluh nama tuh, pas.

Betul kalau Kubu Hindu-Buddha yang terkuat. Ada empat dewa kuat disana. Makanya saat pertemuan di Surga kemarin, disebutin kalau reliji itu musuh terberat Aliansi.

Untuk Naru dan Sasu, secara teknik dan power setingkat dengan Top 10. Tapi tidak aku masukkan. Top 10 tadi hanya untuk eksistensi asli dari DxD Universe sebelum kedatangan Konoha. Hinata juga bisa bersaing dengan Top 10 dalam hal teknik.

Lalu kemana Ddraig & Albion, tidak masuk? Yep, kan disegel kedalam Sacred Gear, tidak hidup lagi dengan kekuatan penuh. Tuhan dalam Al-Kitab, ayah semua malaikat, udah mati juga. Hades tidak aku masukkan sebab di LN DxD Vol 12 diceritakan kalau Hades kalah dari kekuatan sejati Power of Destruction Sirzech, sedangkan Sirzech sendiri dari literatur manapun tidak memasukkan Sirzech dalam top 10.

Tapi begini, tiga Superdevil yakni Sirzech, Ajuka, dan Rizevim, lalu Naga Jahat Crom Cruach, serta Hades berada tepat dibawah Top 10. Kemudian beberapa nama dewa-dewa dari berbagai reliji dan mitologi. Vali fullpower setelah maoufikasi dalam mode Diabolos Lucifer dan Issei Mode terkuat DxD, diakhir bakal muncul, bersaing juga dengan eksistensi superior.

Lainnya cuma mitologi minor kan? Ga perlu masuk. Ada juga mitologi superior lain seperti Mitologi Mesir (Egypt) dan Mitologi Persia (Babylon). Namun baik di LN DxD dan FF ini, diceritakan sudah punah sebagai Dewa-Dewa Kuno (Ancient God). Tapi yaaaah khusus untuk FF ini, tak menutup kemungkinan kalau Dewa-Dewa Kuno itu muncul lagi dengan kekuatan yang sanggup menggeser Top 10. Heheee. Tunggu saja nanti.

Lalu, jangan sebut Aliansi Tiga Fraksi Injil lemah. Mereka punya satu juta malaikat kloning yang semuanya setara 1000 Archangel Michael. Itupun masih bisa diperkuat lagi mengingat Azazel dan Ajuka seorang ilmuan. Makanya Sirzech optimis bisa menundukkan kubu Hindu-Buddha.

Sekali lagi, tentang Edo Tensei. Aku katakan tidak ada. Sudah lama kuputuskan dan aku tidak merubah keputusanku karena aku sudah menyiapkan hal lain yang jauh lebih baddas sebagai penggantinya. Perhatikan aja detail pembicaraan di ruang Hokage tadi! Tentang persenjataan lengkap plus Gaara yang punya misi khusus. Belum lagi sekutu-sekutunya.

Kekuatan Hero Marvell, Ga ada. Aku ga mau terlalu melebar bahasannya, bikin pusing.

Rias nyadar atau enggak dijadiin boneka? Tuh lihat scene di atas.

Apakah ada korban mati? Ya tentu dong, namanya juga perang. Setiap kubu ada yang mati kok. Dari pihak Aliansi, Hindu-Buddha dan lain-lain bahkan shinobi-shinobi penting dari Konoha juga bakal ada yang mati.

Gai masih hidup, masih bisa buka Gerbang Ke-8 asal pakai super soldier serum.

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita dan review lainnya kubalas lewat PM. Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.

.

.

.

.