Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya
Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .
Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance
Rate : M
Setting : AU (Alternate Universe)
Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.
Pair : Semua Pair Canon
Jum'at, 7 Oktober 2016
Happy reading . . . . .
Sebelumnya. . . . . .
Shiiingggg...
Xenovia. Dia yang sudah tak bisa menahan diri lagi, mengacungkan Ex-Durandal yang terhunus tajam ke arah wajah Gaara.
Gaara tak takut sedikitpun, "Maaf Nona, bukan hal bagus menghunuskan senjatamu pada orang yang belum kau tahu. Kau tentu masih ingat akibat perbuatan kalian menyerangku tanpa berpikir lebih dahulu, iya kan?"
Ucapan Gaara hampir persis sama dengan yang diucapkannya pada Xenovia, Rias, Akeno dan Kiba yang dia sandera dengan pasirnya beberapa bulan lalu saat di Kuoh.
Xenovia yang masih ingat hal itu menurunkan Ex-Durandalnya, apalagi ketika melihat tangan kiri gara yang membuka gentong kecil di pinggangnya dan keluarnya serpihan pasir dari gentong itu hingga berterbangan pelan di sekitar tubuh Gaara. Dia tidak mau tulangnya remuk lagi.
Tenten dan Lee masih berdiri dengan tenang, tak sedikitpun terganggu dengan gerakan yang dibuat oleh iblis muda.
"Kurasa tidak ada yang perlu kita perdebatkan, akan buruk kalau kita membuang waktu disini untuk menyelamatkan Valerie. Jadi, ayo kita jalan!"
Azazel mengucapkannya dan mulai melangkah keluar ruangan, disampingnya Rossweisse yang juga seorang guru di Kuoh. Rias serta budak-budaknya mengikuti dibelakang, lalu ada Bennia dan Rugal setelahnya. Sedangkan Gaara, Lee, dan Tenten, mengikuti paling belakang dengan membuat sedikit jarak.
.
To The End of The World
Author: Si Hitam
Chapter 57: Rumania's Disaster Part 3.
.
-Tepes Territory, Rumania-
BommmBooommBooommmm. . . .
Dhuuaarrrrrr...
KABOOOMMM..
Suara riuh teriakan dan ledakan yang memekakkan telinga mengoncang seisi kastil Tepes bahkan menggetarkan bangunannya. Semua itu dapat dirasakan oleh enam belas sosok tubuh yang berlari kecil di sepanjang lorong kastil. Rombongan itu di pimpin oleh Azazel yang berada paling depan.
"Serangan gabungan pasukan pro-pemerintahan Tepes lama dan Faksi Carmilla sudah dimulai. Aku yakin musuh akan memusatkan pasukannya untuk itu. Tapi kita tetap harus waspada."
Seperti yang dirasakan semua orang, tak ada hawa keberadaan satupun vampire di sepanjang perjalanan.
"Azazel-dono!" panggil Gaara yang berjalan di belakang.
Semua orang berhenti sejenak.
"Hm?"
"Kau sudah berada di dalam kastil ini dua hari kan? Kau pasti tahu letak tempat yang akan kita tuju. Bukannya apa, tapi menurutku akan lebih baik kalau kau berterus terang kita akan kemana, daripada mengikutimu tanpa tahu apa-apa. Barangkali ada diantara muridmu yang bisa memberi masukan."
Azazel bungkam. Dia tidak bisa membantah argumen Gaara kalau tidak ingin muridnya berpikir buruk padanya, meskipun Rias dan lainnya percaya penuh pada dirinya. Dia harus menunjukkan sosoknya sebagai leader yang membimbing dan mengajari, bukan boss yang memerintah dan harus diikuti. Dia tidak mau kharismanya direndahkan oleh Gaara.
Dengan terpaksa, Azazel mengeluarkan sebuah peta dan menggelarnya di atas lantai lorong. Itu buatan tangan.
"Ini peta yang aku buat diam-diam. Lihatlah yang ini." Azazel menunjuk satu titik di peta. "Ada sebuah area luas yang terletak jauh di dalam kastil. Ruang bawah tanahnya cukup dalam, terdiri ada empat lantai utama. Paling bawah adalah area ritual. Sejak kekkai cahaya diluar diaktifkan dengan menjadikan kastil ini sebagai titik tengah, aku tidak ragu sedikitpun kalau mereka melaksanakan pemisahan Holy Grail pada lantai paling bawah."
"Sensei, bolehkah?"
Azazel memberikan ijin pada Kiba yang memegang sebilah pulpen.
Kiba mulai meletakan tanda diatas peta. "Aku sudah cukup memahami jangkauan kerja para pasukan didalam kastil selama dua hari kita berada disini. Aku yakin bisa menyiapkan rute untuk turun ke basement tanpa berhadapan dengan banyak pasukan penjaga."
"Kerja bagus, Kiba." puji Azazel.
Selama dua hari, sembari mengawal Rias dan Akeno berbicara dengan Ayah Gasper, Kiba juga mencuri-curi kesempatan untuk mengamati formasi pasukan penjaga yang mengamankan seisi kastil. Dengan kecepatan bergeraknya yang luar biasa, mudah baginya melakukan itu tanpa ketahuan.
"Terima kasih, Sensei. Tapi biar bagaimanapun, tujuan kita ada basement dan ditempat itu pasti berkumpul banyak orang kuat. Suka atau tidak, kita pasti akan melawan mereka." Kiba tersenyum tanpa ragu.
Azazel pun mulai menjelaskan rencananya sambil menatap kearah semua orang, "Tujuan akhir kita adalah mencegah Holy Grail dikeluarkan dari tubuh Valerie. Ini memang terdengar kejam, tapi dalam situasi terparah kita akan tetap menangkap Marius bahkan setelah Holy Grail telah dikeluarkan. Para Vampir lain selain Marius yang menduduki posisi tinggi, cobalah untuk menjaga mereka tetap hidup sebisa mungkin. Tapi, kalian bisa menghabisi teroris tanpa ampun. Aku akan mengijinkannya. Jika kalian berada dalam situasi berbahaya diserang oleh Naga-Jahat, maka melarikan diri dengan Valerie dan Holy Grail juga merupakan pilihan. Jangan memaksakan diri untuk mengalahkannya."
Rias dan budak-budaknya mengangguk setuju. Azazel menyorotkan matanya ke arah Gaara yang belum memberikan respon apa-apa.
"Bagaimana dengan kalian bertiga?"
"Aku juga sependapat." Gaara yang menjawab. "Aku sudah mendapat informasi kalau Naga Jahat yang berada dipihak musuh adalah Crom Cruach. Mengetahui namanya, jujur dengan kekuatanku, aku tak punya pilihan lain selain lari agar bisa tetap hidup setelah bertemu dengannya. Dan kudengar disana juga ada Rizevim dan Ophis 'kan?"
Tentu saja, semua orang dalam kelompok itu sudah merasakan seberapa besar tekanan yang dirasakan ketika Crom Cruach melepaskan hawa keberadaannya. Membuat tubuh merinding. Belum lagi ada Rizevim yang ditemani oleh Ophis kemana-mana.
"Cih!" Xenovia merespon ucapan Gaara dengan cibiran. "Kukira kau psikopat sombong yang hanya tau bertindak keji dan tak takut apapun!"
"Hei Nona. Aku bukan takut, tapi aku menggunakan logikaku. Tidak sepertimu."
"Brengsek kau!"
"Berhenti lah Xenovia!" Teguran Azazel menyurutkan emosi Xenovia. "Dan kau Gaara-san, kuharap kau benar-benar bisa diajak bekerjasama."
Gaara tersenyum, "Aku bisa menjanjikan padamu kalau timku bisa bekerjasama dan memberikan peran yang bagus. Tapi yaa berhubung kita musuh, kita mungkin langsung berpisah dengan rute pelarian yang berbeda saat misi selesai."
"Heii!" Rias menunjuk wajah Gaara, "Kau tidak berpikir untuk melakukan hal yang tidak-tidak kan?"
"Emm, entahlah Ojou-sama."
"Tidak perlu ribut lagi. Kalau tidak segera bergerak, kita akan kehilangan waktu mencegah Holy Grail diekstrak, mengerti!"
Setelah seruan tegas Azazel, rombongan enam belas orang itu pun melanjutkan perjalanan di lorong kastil. Sesuai rute yang dibuat Kiba, setelah belok kanan, mereka menemukan tangga menuju basement.
Seperti yang dijanjikan Kiba, selama menuju basement tidak banyak mereka menemukan pasukan penjaga. Kalaupun bertemu, semuanya bisa diatasi dengan mudah.
Suara ledakan dan teriakan dari luar masih terdengar. Pertempuran masih berlangsung sengit, hingga menyebabkan beberapa bagian kastil mulai roboh. Tak ada satupun yang berharap kalau kerusakan mencapai basement, meski mereka semua merasakan jelas getaran seperti sedang terjadi gempa bumi.
Setelah menuruni tangga beberapa kali, sampai lah di sebuah ruangan besar dilantai pertama. Ruangan ini mungkin tidak akan bermasalah jika membuat keributan besar. Cahaya yang menyinari ruangan itu tidak terlalu terang, namun masih bisa untuk melihat dengan jelas.
Tiba-tiba ada jejeran bayangan dari sekelompok orang yang bergerak cepat. Ada banyak sekali pasukan Vampir yang mengenakan armor yang sudah memenuhi separuh ruangan. Masing-masing memiliki senjata dan mata merah yang tampak bersinar.
Jumlahnya mungkin lebih dari seratus. Mereka adalah Vampir yang awalnya seorang manusia. Meskipun kekuatan mereka sebagai seorang Vampir dikatakan lemah jika dibandingkan dengan darah murni, tapi tetap saja kemampuan fisik mereka sangat tangguh jika dibandingkan dengan manusia biasa.
Azazel menciptakan sebilah tombak cahaya di tangannya. "Siapa yang mau menghadapi mereka? Mengingat akan ada lawan yang sangat kuat menunggu di lantai paling bawah, aku tidak ingin membuang tenaga percuma disini."
"Biar kami saja, Sensei." Ucap Akeno. "Kau punya tugas yang hanya bisa dilakukan olehmu ketika kita mencapai Holy Grail, kita akan kesulitan jika kita kau membuang tenaga disini."
Ucapan Akeno sangat tepat. Sudah seharusnya Azazel berdiri paling belakang selama pertempuran dan memberikan perintah, walaupun kenyataanya dia berada di garis depan.
Xenovia mengeluarkan Ex-Durandal dan memanggulnya di bahu.
Rias menaikkan dagunya, berusaha bersikap seperti peminpin yang seharusnya. "Kalau begitu ayo!, mungkin akan lebih bijaksana jika kita semua menghadapi mereka."
Lalu dua orang melangkah maju ke depan.
"Ini tak masalah untukku."
"Yah, kalau begitu aku juga"
Itu Rugal dan Bennia.
"Bennia-chan! Rugal-san! Tidakkah ini akan sulit jika hanya kalian berdua?" tanya Rias.
"Ahh~~, hitung aku juga, dengan begini jadi tiga orang. Akan terlihat tidak bagus kalau tim kami berdiam diri saja dan tidak memberikan kontribusi." Tenten mengatakannya sambil berjalan maju sejajar dengan Rugal dan Bennia.
Rias dan Issei menyerngit tidak suka, walau begitu tetap saja tak mungkin menolak tawaran Tenten.
Bennia menciptakan sebuah sabit yang lebih besar daripada tinggi badannya di tangannya.
"Aku duluan!"
Setelah menyerukan itu, Bennia melompat kedepan.
Fuu...
Seorang diri, Bennia meluncur kearah sekolompok Vampir. Ciri khas Grim Reaper, dia bergerak dengan meninggalkan bayangan hitam hasil dari kecepatannya yang begitu tinggi.
Belum cukup disana, bayangan itu menggandakan diri, berduplikasi menjadi banyak bayangan. Tak satupun vampir yang mampu mematahkah gerakan Bennia, apalagi menebaskan pedangnya. Namun dengan entengnya Bennia menyabet tubuh mereka dengan sabit hitam.
Setiap sabetan dari sabit Bennia tidak melukai target, tapi yang tertebas akan roboh tanpa terkecuali. Mereka roboh dan berhenti bergerak seperti roh mereka diambil.
Itu adalah kemampuan senjata Bennia, Sabit Kematian. Sebenarnya yang terjadi adalah roh para vampir itu yang tertebas. Kerusakan yang diterima roh bergantung pada kekuatan pemakai senjatanya. Matinya setiap vampir yang telah diperkuat dengan Holy Grail hanya dengan satu tebasan, bukti bahwa kekuatan Bennia patut diperhitungkan. Bisa dikatakan, kekuatan Bennia levelnya lebih hebat dibanding iblis kelas menengah (Middle Class Devil).
Beralih dari Bennia yang sibuk menebas sekumpulan vampir, Rugal melepas jaket dan menjatuhkannya ke lantai. Tanpak otot-otot yang kekar di balik kaos ketat yang ia pakai.
"Aku tak akan mempermalukan nama Sona-dono."
Setelah mengatakan loyalitasnya, berbagai bagian tubuh Rugal berkedut dan mulai membesar. Kaos yang ia kenakan sobek. Ada taring tajam tumbuh keluar dari mulutnya dan rahangnya memanjang. Kukunya mencuat tajam dan ada bulu berwarna abu-abu keluar dari seluruh permukaan tubuhnya
Ooooooooooooooooooooooooooo…..!
Suara raungan binatang menggema. Raungan yang terdengar seperti longlongan serigala.
Itulah wujud sebenarnya dari Rugal, seorang Werewolf.
Rugal yang baru saja berubah menekukan lehernya.
Ada banyak vampir yang langsung panik begitu melihat wujud asli Rugal. Wajar karena mereka mendapati musul alaminya. Tapi tatapan mereka menunjukkan kebencian yang sangat dalam.
"Aku cukup terbiasa bertarung melawan Vampir. Jadi Aku tidak akan mengurangi tenaga."
Rugal pun menerjang ke depan dan mulai mencabik-cabik vampire seolah mereka adalah kertas. Itulah werewolf, mahkluk mitos yang peringkatnya paling atas diantara para makhluk campuran manusia-binatang.
Meskipun pasukan vampir menyerang balik dengan pedang dan tombak, tapi Rugal tak sedikitpun menerima cedera di tubuhnya, malahan pedang mereka pecah berkeping-keping.
"Kak Rugal bukanlah Werewolf biasa." sambil tetap menyerang, Bennia masih bisa mengeluarkan ucapannya.
Di kedua tangan Rugal, terbentuk sebuah tanda yang persis seperti rumus sihir. Api muncul dari tanda itu. Rugal menghantamkannya pada setiap vampir sebagai tinju api. Sihir api itu sangat kuat sehinga melelehkan armor yang dikenakan para vampire, bahkan membakar seluruh tubuh meski tinju tadi hanya mengenai wajah saja.
Bennia berkata pada semua orang yang tampak terkejut, "Kak Rugal aslinya adalah seorang campuran yang lahir dari laki-laki werewolf dengan seorang penyihir wanita terkenal"
Pada dasarnya, Rugal adalah makhluk yang hebat dalam menyerang dan bertahan serta mahir menggunakan sihir.
Sona memiliki dua budak misterius yang sangat hebat. Putri dari Grim Reaper Kelas ultimate bernama Orcus dan Werewolf ahli sihir.
"Aku tak ingin kalah dari iblis macam kalian semua, atau aku akan mempermalukan Desa Konoha tempatku berasal."
Tenten yang terakhir mengambil giliran maju, membuka gulungan perkamen besar yang sejak awal ia bawa di punggung lalu melemparnya keatas.
BoofffttBoofffttBoofffttBooffftt
BoofffttBoofffttBoofffttBooffftt
Ratusan, bahkan ribuan senjata tajam meluncur cepat seolah tanpa henti dari dalam kertas perkamen.
Bagi Rias dan iblis lainnya, itu tampak seperti lingkaran sihir tempat menyimpan barang namun dengan modofikasi agar mampu meluncurkan isinya seperti sebuah pelontar.
Benda tajam berbagai jenis menghujani sekumpulan pasukan vampir. Namun itu tak membuat para vampire takut. Mereka yakin tubuh mereka kuat, bahkan tubuh mereka dilindungi baju zirah.
Bunyi dentingan logam terdengar hampir tanpa jeda akibat bertemunya senjata dengan baju jirah.
Para vampire tertawa akan hal itu.
Tenten tersenyum menakutkan, "Jangan meremehkanku! Meski aku hanya manusia yang fisiknya tidak kuat, kemampuan beladiriku standar, tidak mahir ninjutsu dan genjutsu, tapi aku masih sanggup membunuh kalian semua dengan ini."
Tenten membuat segel dengan satu tangan, lalu "KAI!"
KABOOOOOOOOOOOOMMMMM...
Awalnya hanya satu ledakan kecil, namun dalam sekejap tanpa sempat berkedip menjadi ledakan yang sangat besar, hingga mampu menggetarkan seisi ruangan. Bahkan dinding saja retak-retak hendak roboh. Layaknya detonator, dengan satu handseal untuk meledakkan satu bom, dan memicu ledakan bom-bom lainnya secara berantai. Dari jumlah ribuan senjata yang ditempeli kertas peledak, kerusakan yang timbul sangggup mementalkan banyak pasukan vampir bahkan meremukkan tubuhnya.
Azazel membuka matanya lagi setelah ia tutup saat ledakan hebat terjadi. "Hei!, Kau bodoh ha?"
Azazel protes, bukan karena kehebatan dan kerusakan yang sanggup membunuh banyak vampire, tapi karena dampak perbuatan Tenten malah memperburuk keadaan.
Rias dan budak-budaknya kagum, mereka masih ingat dengan apa yang dilakukan Naruto pada salah satu anak Fenrir saat insiden serangan Dewa Jahat Loki. Ledakan berantai tanpa henti. Namun langsung berubah marah dan protes setelah melihat situasinya sekarang.
Akibat ledakan besar, bukan hanya bangunan kastil yang hampir runtuh, tapi juga lebih banyak pasukan vampire yang datang, bahkan kini jumlahnya sudah lebih dari tiga ratus.
"Maafkan temanku, Azazel-dono. Tapi kurasa tindakannya benar. Lihatlah!" ucap Gaara.
Memang semakin banyak vampire yang datang, tapi semua pasukan itu fokus pada Bennia, Rugal, dan Tenten. Menciptakan jalan lewat yang lebih lapang untuk menuju Basement lantai selanjutnya.
Bennia tidak berhenti menyabetkan sabitnya, hingga puluhan vampir jatuh dan mati. Sementara itu, Rugal mencabik tubuh para vampir lebih banyak dari Bennia.
Tenten tampak tenang berdiri di tengah, "Kurasa ini saatnya menguji coba senjata baru. Mereka objek eksperimen yang tepat."
Tenten melempar sebuah gulungan kecil ke lantai, dan langsung terbuka. Dengan segel kunci, muncul lah sebuah koper hitam berukuran sedang di atasnya. Dia membuka koper itu. Isinya sepasang sarung tangan terbuat dari serat karbon yang mampu menahan irisan benda setajam apapun. Tenten memakainya, kuku dan ujung jarinya muncul keluar dari balik lubang jari sarung tangan. Dia lalu melemaskan jari-jemarinya.
Ada satu vampir yang menghunuskan pedang pada Tenten, tampak ia lebih kuat dari yang lainnya. "Kau mangsaku, manusia.! Haaaaa..."
Slapp...
Si vampir bergerak sangat cepat sambil melayangkan satu tebasan, dia berhasil melewati Tenten.
Tenten bergeming, tak berpindah sedikitpun dari posisinya.
"Apa yang terjadi?" Issei yang melihat itu kebingungan. Matanya masih bisa menangkap gerakan dari vampire tadi karena bagi dia vampir itu masih kalah cepat dibanding Kiba. Dia melihat tebasan pedang tadi mengenai Tenten namun tidak terjadi apa-apa seolah lewat begitu saja.
Si vampir yang selesai menebaskan pedang membuat seringaian senang, "Mati kau!"
Tenten membalas ucapan itu tanpa menoleh kebelakang, "Aku tidak mati, kau yang mati!"
Pyaarrrr...
Baju zirah vampir itu rontok dalam bentuk kecil-kecil seperti bekas dipotong dan ditebas puluhan kali, bahkan pedang di tangannya juga remuk berkeping-keping.
Jrraasssshhhh...
Darah segar menyebur deras dari tubuh sang vampir. Muncul irisan di seluruh tubuh, lalu perlahan memisah hingga menjadi bagian kecil, dari jari tangannya yang potong-potong, tangannya yang putus hingga bagian kaki, badan menjadi potongan dadu, serta leher yang penggal. Kepala vampir itu jatuh ke lantai, memantul sekali lalu hancur menjadi potongan kecil.
Darah serta potongan daging dan tulang berhamburan.
"Hoooeeekkkk!"
Asia muntah ditempat menyaksikan pemandangan keji itu.
Rias dan lainnya, dibalik ekspresi terkejut, tak bisa menyembunyikan getaran ketakutan. Sudah cukup mereka merasakan perlakuan Gaara pada mereka, dan sekarang melihat Tenten tanpa ampun memutilasi tubuh vampir sampai potongan terkecil.
Azazel juga tak kalah terkejut, ia masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Serang bersamaannnn!"
Salah satu vampir mengkomando, ada dua puluh lima vampir yang menerjang cepat ke arah Tenten.
Di sekitar tubuh Tenten, nampak kemilau cahaya biru pantulan dari cahaya obor di dinding membentuk garis-garis abstrak yang bergerak-gerak.
Tenten memainkan jari-jari tangannya,
"Happ!"
Krieetttt...
Bersamaan dengan bunyi yang mirip deritan pintu, para vampir tadi berhenti bergerak. Tubuh mereka mengkerut seperti dibelit ular.
"Itu...!? Benang baja."
"Sasuga, mata iblis memang hebat sehingga mampu melihatnya." ucap Tenten menjawab dugaan Kiba.
"Senjata macam apa itu?"
"Senjata buatan manusia biasa." Tenten menjawab pertanyaan Azazel. Posisinya berada ditengah para vampir yang tak bisa bergerak. "Logam vibranium yang terkenal lentur namun sangat kuat, dibuat sangat tipis setipis rambut yang dibelah tujuh puluh sehingga mata manusia biasa tak akan mampu melihatnya. Ketajamannya mampu memotong apa saja, bahkan tiang beton bangunan setebal 5 meter"
Itulah senjata khusus yang dibelikan Gai untuk Tenten. Kalangan militer Amerika menertawakan ilmuan pembuatnya karena tak mungkin ada manusia yang bisa menggunakan benda itu. Namun di tangan Tenten, akan lain ceritanya. Semua shinobi punya keterampilan dasar menggunakan benang baja, namun skill milik Tenten jauh diatas semua shinobi. Dia ahli senjata terhebat di Konoha.
Tenten sanggup mengendalikan benang vibranium itu untuk membelah apapun targetnya dengan sedikit gerakan tangan. Ia memegang benang itu diantara ruas jari-jarinya yang terlindung sarung tangan khusus agar tidak melukai dirinya sendiri.
Meski senjata ini bukan senjata khas ninja, tapi sangat bagus digunakan untuk pertarungan anti-personal ataupun melawan sekumpulan pasukan pada pertempuran jarak dekat.
"Saaa... Kalian tahu apa yang akan terjadi dengan tubuh kalian setelah tertangkap benangku, iya kan?"
Sontak dua puluh lima vampir itu ketakutan dengan mata terbelalak. Baru saja tadi mereka semua menyaksikan salah satu rekannya mati menjadi potongan-potongan dadu.
Issei menggunakan telapak tangannya untuk menutup mata Asia agar si mantan biarawati tidak mengalami trauma lebih dalam.
Tenten mengulas seringaian keji. Dengan sekali hentakan tangan,
JRRAAAASSHHHH...
Semua vampir itu mati dengan tubuh yang terpotong-potong.
"Biadab!"
Azazel bergumam.
Lee langsung membela, "Sebenarnya temanku Tenten tidak seperti itu, dia hanya senang dengan senjata barunya, itu saja!"
Lalu dari belakang, semua orang bisa mendengar langkah kaki dari tangga yang menuju ke permukaan. Semuanya menyadari itu. Aura jahat, bala bantuan musuh!
"Pergilah, kalian semua. Bennia dan Aku akan mengatasi ini." Rugal mengucapkannya sambil mencabik-cabik pasukan vampir.
"Lee, tak usah khawatir! Walaupun vampir itu pemangsa ras kita, aku bisa menanganinya." Ucap Tenten.
Lee menunjukkan senyum lebar sehingga memperlihatkan deretan giginya seraya mengacungkan jempol.
"Kalau begitu, ayooo terus maju!"
Mengikuti komando Azazel, dua belas orang melanjutkan perjalanan menuju ruang ritual vampir di dasar basement.
Baru saja mereka melewati lorong, terdengar lagi suara rintihan para vampir sebelum akhirnya tubuh mereka terpotong-potong.
Asia menggeleng untuk menghilangkan nyeri di kepalanya. Mengingat apa yang dilakukan Tenten membuatnya mual.
Sambil berjalan cepat, Azazel bersuara pelan.
"Issei, Kiba, dengar!"
Issei menolah, Kiba ikut penasaran namanya disebut.
"Jangan bertarung dengan perempuan tadi dalam pertempuran jarak dekat. Kalian hanya akan mengantar nyawa. Benang baja itu, kata dia sanggup memotong tiang beton setebal 5 meter, tapi aku yakin itu juga sanggup memotong bangunan utuh. Kalau kalian punya tubuh atau armor yang sangat kuat ataupun kecepatan super, mungkin ada kesempatan menang. Satu-satunya cara melawan dia untuk saat ini hanyalah pertarungan jarak jauh dengan serangan berdamage besar dalam cakupan luas."
Gaara ternyata mendengar bisikan Azazel, "Hei Azazel-dono, kurasa temanku juga menyadari kelemahannya, jadi kupastikan dia punya sesuatu untuk menutupi itu."
Azazel tak bicara lagi setelah disela Gaara.
Setelah menuruni tangga, kelompok itu sampai pada sebuah tempat yang cukup luas, seperti sebelumnya. Ada empat lantai luas termasuk lantai terdasar didalam basement di kastil ini. Ini yang kedua.
Ada banyak sosok yang menghadang, mereka adalah para vampir yang telah diperkuat dengan Holy Grail. Atmosfer yang terasa lebih berat daripada di lantai sebelumnya. Mereka tidak mengenakan baju zirah, namun tekanan kekuatannya lebih tinggi dengan pasukan yang di lawan oleh Bennia, Rugal, dan Tenten.
"Mereka pasti bawahan langsung dari pengkudeta. Mereka bukanlah darah-murni, tapi mereka adalah prajurit yang memiliki sifat Vampir yang kuat." ungkap Azazel setelah mengamati sebentar.
Kiba mensummon pedang holy demonic sedangkan Xenovia mengeratkan genggaman tangannya pada Ex-Durandal.
"Tolong serahkan ini padaku!"
Ucapan itu bukan keluar dari mulut Kiba atau Xenovia, melainkan Koneko yang maju melangkah ke depan.
"Aku bisa menghadapi mereka. Kekuatan kalian semua sangat dibutuhkan di lantai paling bawah. Ada Crom Cruach, Rizevim, dan Ophis, jadi jangan sampai membuang tenaga sia-sia."
"Kau yakin, Koneko?" tanya Rias dengan ekspresi khawatir.
"Aku akan menggunakan semuanya, semua yang Naruto-senpai ajarkan padaku. Aku seperti merasakan semangat dan kasih sayang Nee-sama dari Naruto-senpai sama seperti waktu aku kecil, walau aku membenci dia."
Cahaya putih mulai bersinar di sekeliling tubuh Koneko. Itu adalah touki atau energi senjutsu yang dikumpulkan dalam tubuh lalu dikeluarkan kembali untuk digunakan. Cahaya semakin terang hingga menutupi seluruh tubuh Koneko.
Saat cahaya memudar, terbentuk sebuah wujud. Sesosok wanita dewasa mengenakan kimono putih, punya telinga kucing dan dua ekor.
"Ki-senjutsu yang kukumpulkan membuatku mengalami pertumbuhan paksa saat kukeluarkan kembali."
Rias menyambung, "Itu adalah teknik senjutsu yang mengijinkan Koneko mengalami pertumbuhan sementara untuk menaikkan batas maksimal kekuatannya dan memberinya sebuah kemampuan khusus. Itu hasil latihannya bersama Naruto. Sebut saja itu Shirone Mode."
Dari posisinya, Koneko menekuk tubuh kebelakang hingga terbentuk kuda-kuda. Sekajap, dia melayangkan tinju kosong di udara.
Tinju itu diarahkan pada sekumpulan vampir. Tidak ada yang terjadi tapi sesaat kemudian dinding di belakang para vampire berlubang. Ada lesatan energi senjutsu tak terlihat yang merambat dalam jalur lurus di udara seperti pukulan hantu.
Kalau Naruto yang melakukannya, maka target akan mengalami luka dalam tapi Koneko membuat vampir yang terkena rambatan tinju pada jalur lurus itu terbakar api putih.
Para vampire yang terkena berteriak kesakitan, "Tidak mungkin! Api tidak akan membakar tubuh kita yang sudah diperkuat Holy Grail."
Tapi nyatanya, api itu malah semakin besar hingga melalap habis tubuh vampir sampai menjadi abu.
Koneko menjawab ketidakmengertian para vampir, "Percuma. Apiku akan membakar habis mereka yang hidup. Aku mengubah energi alam menjadi sebuah kekuatan pemurnian. Ini bukan tentang kelemahan. Selama tidak mengubah alasan dan prinsip dari keberadaan kalian saat ini, api tersebut akan terus membakar kalian semua."
"Itulah kekuatan pemurnian. Teknik khusus yang hanya dimiliki Koneko-chan sebagai nekomata pengguna senjutsu. Prinsipnya berbanding terbalik dengan api hitam kutukan Dragon King Vritra dalam tubuh Saji."
Azazel menyambung ucapan Rias, "Api Hitam Vritra mengutuk seseorang kedalam keabadian dengan menggunakan kekuatan negatif sedangkan Api Putih Koneko adalah memurnikan dan menghilangkan eksistensi jahat dengan kekuatan positif."
Ada seorang vampir melesat kearah Koneko dari samping. Tanpa mengalihkan tatapan mata, Koneko membuat sikutan disertai pelepasan senjutsu. Vampire itu pun terbakar menjadi abu sebelum ia berhasil mendaratkan pukulan pada Koneko.
Koneko tersenyum bangga, "Seperti Naruto-senpai, aku kini juga bisa merasakan keberadaan musuh tanpa melihat jauh lebih baik daripada sebelumnya sehingga membuat refleksku meningkat signifikan."
Kebanyakan dari mereka cukup terkejut, selain Rias sebagai King yang memantau, tidak ada yang tahu bagaimana latihan senjutsu yang dilakukan Koneko bersama Naruto.
Disudut belakang, Gaara dan Lee yang sudah tahu kalau Naruto bersama para iblis sejak pertemuan di Kuoh hanya bisa diam. Namun dalam hati, mereka sama-sama berpikir apa yang membuat Naruto mau mengajari iblis yang jelas-jelas adalah musuh mereka? Oke, wajar kalau itu demi pekerjaan penting yang dilakukan Naruto, namun kalau sampai punya hubungan sedekat itu? Well, mungkin tidak akan aneh mengingat begitulah sifat dasar Naruto.
Tiba-tiba ada seorang vampir berbadan ramping muncul didepan Koneko dengan tangan terkepal siap dipukulkan.
Koneko diam.
Moment saat pukulan vampir itu mengenai aura putih disekitar badan Koneko, si vampir langsung terbakar api putih hingga menjadi abu.
"Saat ini, aku adalah kekuatan pemurnian itu sendiri. Kalian akan menghilang hanya dengan menyentuhku."
Nampak ada satu vampir yang pakaiannya seperti pemimpin, dia selesai menganalisis situasi. Dia berkata pada teman-temannya, "Aku paham. Kalau begitu kita hanya tak boleh bersentuhan dengannya saja. Jadi serang dengan senjata."
Buaaagggg...
DHUUUAARRRRR...
Baru saja selesai dengan ucapannya, vampir itu telah terperosok kedalam dinding hingga tubuhnya hancur.
Kaki Lee masih bersarang di perut vampire itu. "Kalau kau menggunakan senjata, maka aku yang melawanmu."
Sekumpulan vampir meningkatkan kewaspadaanya akan sosok Lee. Mereka semua jelas tahu kalau orang berbaju hijau itu manusia biasa, tapi yang mustahil adalah kenapa bisa mempunyai kecepatan dan kekuatan semengerikan itu? Lee yang awalnya berdiri bersama anggota tim yang lain, tiba-tiba sudah membunuh satu vampir sebelum sempat berkedip.
Lee menatap semua orang sembari dia melepas aksesoris yang terpasang di pergelangan tangan dan kakinya. "Lanjutkan saja perjalanannya, aku akan menemani Koneko-san di sini. Percayakan padaku!"
Ketika selesai mengatakannya, selesai pula Lee melepas aksesorisnya.
Braakkk...
Suara keras dari benda yang terhempas jatuh.
Azazel memicingkan mata pada aksesoris yang baru saja dijatuhkan Lee. "Dari suara hentakan tadi, kuperkirakan total berat benda itu sampai 250kg."
"Apa? Sensei, yang benar saja?" Issei menyuarakan keterkejutannya. Dirinya sendiri yang sudah jadi iblis masih kesusahan menahan beban seberat itu, tapi si makhluk hijau dengan enteng bergerak kesana kemari tanpa terpengaruh sedikitpun, bahkan tadi baru saja menyerang salah satu vampir dengan beringas.
Azazel tak bicara lagi. Dalam benaknya, dia tak menyangka manusia dari Konoha semengejutkan ini. Sama sekali tak terduga kemampuannya. Dirinya harus semakin waspada, Konoha bukan eksistensi yang bisa diangap enteng.
"Itu sama seperti yang selalu dipakai Sairaorg-niisama." gumam Rias saat dia teringat dengan sepupunya.
Kiba dan lainnya menengok kearah Rias. Mereka semua mengenal Sairaorg sebagai iblis muda terkuat dengan modal tubuh saja tanpa bakat Power of Destruction. Terlebih Issei, dia masih ingat pernah sparring melawan Sairaorg kondisi normal dan dia kalah telak walau sudah menggunakan Balance Breaker Scale Mail.
Koneko Shirone Mode mengayunkan tangan kanannya kearah samping, "Hinata-senpai pernah berkata padaku, menjadi perempuan bukan berarti harus selalu dilindungi. Jadi aku tak akan berhenti sebelum selesai."
Apa yang muncul di ujung tangan Koneko adalah sebuah roda besar. Roda yang terselubungi oleh api putih. "Kasha. Ini adalah satu dari teknik khusus nekomata. Teknik khusus untuk mengirim orang yang telah mati kembali ke alam kematian."
Mata para vampir membola, itu teknik yang di khususkan untuk mereka karena vampire adalah eksistensi yang melawan hukum kematian. Ya, pada dasarnya mereka adalah manusia yang mati lalu bangkit sebagai vampir.
Koneko menggandakan jumlah Kasha. Semuanya berputar sangat cepat di udara dan melesat terbang.
Kawanan pasukan vampir kocar kacir menghindari Kasha itu, namun karena kecepatannya, beberapa vampir terkena dan menjadi abu. Yang berhasil menghindar tetap tidak aman karena Kasha mampu berbelok dan mengejar targetnya.
"Aku juga, dengan semangat masa mudaku, semua pasukan vampire yang ada disini akan kuhabisiiiiiiiiii...!" Lee berteriak kelebihan semangat.
Hachimon Tonkou no Jin
First Gate, Kaimon. Open!
Otot-otot tubuh Lee menegang. Aura hijau yang cukup tipis menyelimutinya. Walau tipis tapi masih bisa dilihat oleh mata biasa.
Zwwiifft..
Lee lenyap dari posisinya berdiri.
Duaaaggg
Bugg...
Duaarrrr...
Bammm
Kraackk..
"Guhaaa!"
"Ohhokkk...!"
Azazel dan muridnya kembali dibuat mangap-mangap. Bukan karena keberingasan Lee, mereka juga bisa melakukan hal itu kalau mau. Masalahnya adalah Lee hanya manusia tapi fisiknya bisa menyamai iblis seperti mereka. Entah bagaimana, yang terpikir hanyalah Lee menjalani latihan super ekstrim seperti yang dilakukan Sairaorg Bael.
"Ayo. Kita tinggalkan tempat ini!" perintah Azazel. Melihat apa yang ada didepannya saja, ia sangat yakin kalau tak akan ada masalah. Seberapa banyak pun pasukan vampire yang datang, semuanya pasti bisa diatasi Koneko dan Lee.
Tanpa ragu, Rias dan kelompoknya meninggalkan Koneko seorang diri bersama Lee. Menyelamatkan Valerie adalah prioritas utama, jadi harus secepatnya dilakukan.
Selama perjalanan menuruni tangga, Azazel mengucapkan sesuatu. "Itu tadi gerbang batin kan? Aku pernah mendengar dalam legenda ilmu beladiri China, seorang pendekar manusia yang sanggup membuka sampai kedelapan gerbang batin akan diberkahi kekuatan yang setara dengan Dewa. Namun setelah itu si pendekar akan mati sebagai efek samping kerusakan tubuh yang diterimanya."
Gaara yang berjalan paling belakang berhenti dan menyahut, "Aku pernah melihat sendiri kejadian itu dengan mata kepalaku, dan orang itu benar-benar sanggup memojokkan seorang Dewa." Masih ingat dikepalanya, bagaimana seorang Maito Gai membuat Rikudou Madara terluka parah dengan teknik itu.
Azazel berhenti, berbalik menatap Gaara. Begitu pula dengan Rias dan lainnya.
"Maka dari itu, kusarankan padamu Azazel-dono, jangan pernah meremehkan manusia dari Konoha." ucap Gaara lagi.
Rias tersulut emosi, "Kau sendirian disini, aku yakin kami semua pasti sanggup membunuhmu."
Gaara menggeleng pelan disertai senyum sinis, "Kurasa itu bukan keputusan yang baik, setidaknya untuk saat ini. Yah, meskipun mungkin kalian mampu melakukannya."
Xenovia mendesis tidak suka sedangkan Issei semakin tersulut amarah.
"Sudahlah!"
Azazel mendinginkan suasana lalu melanjutkan perjalanan.
Kini sampai lah didepan pintu ruang basemen lantai ketiga.
Issei berhenti bergerak, badannya kelihatan merinding.
"Ada apa Issei?" tanya Rias.
Issei tak menjawab apapun.
Saat pintu ruang itu dibuka sepenuhnya oleh Xenovia, terdengar tawa menjijikkan.
"Guhahahahahaha! Ternyata tidak perlu menunggu lama, Ddraig-chaaaaaaan!"
Sisik hitam dan mata perak. Seekor Naga raksasa.
"Grendel!"
Issei menyebut nama itu. Dia pernah bertarung sengit dengan Naga Jahat ini di Kuoh. Makanya sebelum pintu dibuka, dia sudah merasakannya. Mengingat bagaimana kuatnya Grendel dan bagaimana susahnya dia melawan naga itu, mengakibatkan tubuhnya merinding takut sebagai manifestasi dari gelombang aura jahat yang terasa berat dan menempel lekat di kulitnya.
"Itu benar, ini Grendel-sama yang tidak bisa apa-apa selain mencincang kalian semua!"
Grendel mengeluarkan keinginan jahatnya yang tidak berubah dari pertemuan pertama dengan kelompok Issei.
"Sejak mereka mengatakan aku bisa sedikit berbuat bodoh, aku datang kesini untuk melanjutkan apa yang terakhir kita tinggalkan! Guhahahahahaha!"
Tidak ada pilihan lain, Issei melangkah maju dan membuka mulut.
"Issei, sekarang belum saatnya menggunakan wujud [Ratu]-sesungguhnya."
Rias menghentikan Issei tepat sebelum dia mengucapkan mantera.
"Tapi, Buchou! Aku tahu benar bagaimana kuatnya dia. Tidak mungkin aku bisa menghadapinya tanpa menggunakan wujud itu!"
"Kau harus menggunakan kekuatanmu melawan Crom Cruach atau Rizevim Livan Lucifer yang mungkin menunggu kita setelah dari sini. Kita tak punya pilihan lain selain melawannya sebagai sebuah kelompok."
"Baiklah." ucap Issei. Tak mungkin dia membantah.
"Dimengerti!" Kiba dan Xenovia maju setelah mengatakannya.
Balance Break! Boosted Gear Scale Mail
Jetttt...
Issei melaju dengan armor mode balance breaker biasa. Diiringi oleh Kiba yang punya kecepatan setara. Dibelakangnya ada Irina dan Xenovia.
Namun serangan itu sia-sia, Grendel bahkan menerimanya sambil tertawa senang meski tubuhnya terluka walaupun sedikit.
Ascalon pedang pembunuh Naga tidak terlalu berpengaruh pada Grendel. Bahkan aura offensive kuat dari Ex-Durandal pun sama.
"Walaupun ini replika, tapi rasakan ini!"
Kiba menemukan titik buta Grendel dan menyerang dari sana. Ada yang berbeda dengan pedang yang digunakannya, baru pertama kali dia keluarkan.
"Replika dari Pedang Iblis Gram, pedang pembantai naga terkuat yang pernah membunuh Raja Naga Fafnir. Walaupun replika, tapi kekuatannya setara dengan yang asli. Bagaimana kau menerima itu Grendel?" ucap Azazel.
Sang Gubernur Malaikat Jatuh menyadari seberapa besar potensi Kiba. Kemampuan Sword Birth milik muridnya mampu menciptakan pedang apapun dari berbabai jenis atribut, bahkan setelah dia kembangkan dan melatih Kiba secara langsung, pedang Legendaris pun juga bisa diciptakan replikanya.
Seperti itulah peningkatan kekuatan Kiba sekarang.
Tapi luka yang keluar dari tubuh Grendel tidak bisa disebut kritikal. Cukup banyak darah biru dari bekas tebasan Replika Gram, namun keluar asap dan lukanya menutup sendiri. Bahkan Grendel tertawa lebih kencang tanpa rasa takut.
Selanjutnya, panah-panah sihir berbagai jenis atribut dari api, petir, air, dan lainnya berdatangan dari belakang. Panah-panah itu datang seperti tetesan hujan deras yang jatuh. Pelakunya adalah Rossweisse yang membuat banyak lingkaran sihir di udara.
Walau begitu, tetap saja belum cukup untuk membuat kerusakan besar di tubuh Grendel.
"Ada yang salah, Ddraig!? Ayo datang padaku dengan kekuatan penuh! Berubahlah menjadi wujud crimson-mu ituuuuuu! Atau kalau tidak, kau tidak akan bisa melawankuuuuuuuu!]
Grendel rupanya sangat mengharapkan Issei menggunakan mode bertarung True Queen Cardinal Crimson seperti pada pertarungan mereka sebelumnya.
Issei sekali lagi hendak mengucapkan mantra, namun dicegah oleh Rias.
"Aku punya teknik yang bisa membuat kerusakan kritis pada Naga itu."
Akeno langsung menanggapinya, "Buchou, jangan-jangan kau berniat menggunakan itu?"
"Ya, Akeno. Aku yakin kalau itu adalah satu-satunya jalan. Aku tidak ingin terlihat berdiam ditempat sedangkan budak-budakku berkembang semakin kuat. Akan tetapi, aku perlu waktu untuk menyiapkannya. Kesempatan menang meningkat jika kita punya waktu agar aku dapat mengumpulkan kekuatan demonicku."
Peerage Rias langsung paham. Mereka memang belum tahu apa itu, tapi pernah mendengar kalau Rias melatih sesuatu tentang bola besar yang memiliki kekuatan penghancuran luar biasa.
"Itu bisa diatur Buchou."
Issei menanggapinya dan Kiba berdiri sejajar dengannya.
Setelah semua setuju dengan rencana Rias, adik dari Maou Lucifer mengaktifkan lingkaran-sihir dibawah kakinya dan mulai mengumpulkan kekuatan demonic. Disaat bersamaan, kekuatan kehancuran mulai berkumpul diatas kepalanya. Terus tumbuh dari kecil lalu membesar. Jika Rias punya cukup waktu, maka itu akan menjadi sesuatu yang sangat mengerikan.
Issei, Kiba, Xenovia, dan Irina melesat maju sebagai penyerang garis depan. Rossweisse membuat serangan-serangan besar dengan sihir Norse dari belakang. Asia bersiap dengan Twiligh Healling, kapanpun dia akan mengirimkan aura hijau penyembuh dari jauh kalau ada yang cedera. Gasper mengambil peran untuk melindungi Asia kalau ada hal diluar dugaan terjadi.
Akeno diam di samping Rias, mungkin putri dari Baraqiel juga punya sebuah rencana sendiri.
Azazel mengerlingkan matanya ke arah Gaara yang berdiri tenang, "Kau akan diam saja atau membuat dirimu berguna seperti dua temanmu itu huh?"
"Heh, kau tunggu saja. Aku juga menyiapkan sesuatu." sahut Gaara.
Azazel melepaskan jaket dan berdiri disamping murid-muridnya yang menyerang di garis depan.
Semuanya akan bertarung.
Xenovia dan Irina melakukan sebuah combo-attack dari sisi kiri dan kanan. Issei menyerang dari depan secara langsung sedangkan Kiba melepaskan serangan dari titik buta Grendel. Rossweisse beberapa kali menembakkan sihirnya ketika ia menemukan sebuah kesempatan.
"[Menariiiiiiiik! Tunjukan semua kekuatan kalian,Tunjukkaaan!]"
Grendel tampak amat sangat senang menerima serangan massal dari kelompok Gremory.
Si Naga Jahat tak diam saja. Meski badannya besar, tapi gerakannya sangat lincah. Dia membalas dengan serangan bertubi-tubi menggunakan ekornya. Berusaha mengigit siapapun dalam jangkauan serangnya atau mengibaskan sayap untuk menciptakan angin besar sehingga menghambat gerakan kelompok Gremory. Sesekali dia menghembuskan nafas api yang sangat panas menuju siapapun yang ia lihat.
Grendel banyak menerima serangan, tapi ketahanan fisiknya luar biasa sehingga tak ada satupun serangan kritis yang sampai padanya. Ia adalah naga jahat yang dibangkitkan kembali dengan Holy Grail, tapi tidak hanya itu, tubuhnya juga diperkuat sehingga dia sanggup bertarung seberingas ini.
Pada moment tertentu, Issei memboosting energinya. Setelah digandakan, ia kirimkan pada Kiba dan Xenovia.
Saatnya menunjukkan tarian dua pengguna pedang kelompok Gremory.
Kiba meluncur maju sangat cepat. Dalam kelompok, Kiba lah pemilik kecepatan tertinggi. Xenovia meluncur bersamaan. Aslinya kecepatan Xenovia dibawah Kiba, namun berkat kemampuan pedang Excalibur Rapidly yang ia cabut dari slot Ex-Durandal, dia mendapatkan kecepatan super.
Kedua orang itu bergerak lincah, membuat Grendel tampak frustasi karena serangannya selalu berhasil dihindari oleh Kiba dan Xenovia.
Muak dengan semua itu, Grendel melompat jauh kebelakang lalu menghirup nafas dalam hingga perutnya menggembung. Dia berniat menciptakan semburan api berdamage besar dalam cakupan luas. Itu pasti kena seberapa cepat pun bergerak.
Kiba dan Xenovia berhenti bergerak dan berdiri berdampingan.
"Ayo lalukan ini, Xenovia."
"Yeah, ini adalah waktu dimana kita perlu menggunakan kekuatan penghancur kita!"
Mata pedang replika dari Pedang Kaisar Demonic Gram dan Ex-Durandal berselimutkan aura kekuatan yang luar biasa.
Kiba dan Xenovia mengayunkan pedang kebawah disaat bersamaan dengan Grendel menyemburkan keluar apinya!
Gelombang yang diciptakan dari dua pedang legendaris dan sebuah bola api besar yang diciptakan oleh Naga Jahat saling mengenai satu sama lain. Saat dimana kedua serangan bertabrakan, udara bergetar yang menyebabkan sebuah kejutan keras yang tersebar keseluruh penjuru ruangan.
Semburan api Grendel terbelah, sedangkan serangan combo Kiba-Xenovia terus melaju.
"Guoooooooooooooooooooooo!"
Grendel meraung keras. Seluruh tubuhnya berasap.
Namun, sang Naga Jahat masih berdiri.
Ketahanan fisik dari Naga Jahat benar-benar tangguh meski dia sudah menerima serangan besar dari dua pedang pembantai naga terkuat.
Lalu perlahan Grendel jatuh terlutut hingga menimbulkan suara bedebam keras. Ternyata serangan tadi mampu memberikan hasil meskipun tidak memuaskan.
"Tolong menyingkir!"
Mengerti akan intruksi Akeno, semua orang menjauh dari Grendel untuk membuat jarak aman.
Secepat kilat, tiga cahaya halilintar suci yang berbentuk naga panjang menyambar Grendel dan menyetrum seluruh tubuhnya.
Serangan Akeno berhasil membuat Grendel lumpuh. Walau pun hanya sedikit menambah luka, namun atribut petir mampu merusak sistem kerja saraf si Naga Jahat.
"Sekarang, kau makan ini!"
Azazel yang tadi bertarung digaris depan sebagai pemecah setiap serangan Grendel yang ditujukan pada muridnya, kini menciptakan sebuah tombak cahaya raksasa dan melepaskannya dengan mengarahkan kearah perut Grendel.
Serangan Azazel sukses membuat luka Grendel makin parah. Naga itu, meski kuat, kini tak bisa berbuat banyak melawan Kelompok Gremory lengkap.
Beberapa menit waktu berlalu habis untuk jual beli serangan selanjutnya. Meski kelompok Gremory unggul, namun dalam pertarungan jangka lama hanya akan merugikan mereka. Ketahanan fisik Grendel masih sanggup menerima serangan kelompok Gremory, apalagi sifat Grendel yang beringas menyerang tanpa memikirkan lukanya sendiri membuat semuanya tambah sulit.
"Terima kasih. Sekarang tidak apa-apa. Teknikku telah selesai."
Itu suara Rias dari arah belakang. Di atas tubuhnya terdapat bola kehancuran raksasa.
"Menjauh! Pindah kebelakang Buchou!"
Semuanya bergerak menjauh dari Grendel atas perintah Akeno.
"Hancurlah!"
Rias melepaskan bola kehancuran raksasa kedepan.
Bola tersebut bergerak perlahan sembari menunjukan aura hitam dan crimson yang berputar didalamnya. Efeknya, tubuh Grendel tertarik menuju inti dari bola itu.
Grendel berusahan menahan dengan menancapkan kuku-kukunya di lantai, namun nihil.
Itu adalah kekuatan penarik gravitasi luar biasa.
Gaara yang tak melakukan apapun sejak tadi, berguman pada dirinya sendiri, "Chibaku Tensei kah?"
Momen ketika sebagian tubuh Grendel bersentuhan dengan bola hitam, bagian tubuh itu lenyap tanpa bekas.
"Guohooooooooooooooooooooooooooo!"
Grendel berteriak keras. Bola itu menelannya hidup-hidup.
Rias membuka mulutnya, "Itu hal yang prinsip dasarnya sama dengan power of destrcution milik keluarga Bael yang kuwarisi dari Okaa-sama. Namun aku membuatnya terspesialiasi menjadi original milikku sendiri. Aku juga menamainya sebagai "Bintang pemusnah". Itu adalah kehancuran massal yang melenyapkan semua dan tidak memiliki atribut apapun atau kelemahan. Kalau kau mengetahui tentang astronomi, kau bisa menyamakannya dengan lubang hitam dari bintang mati."
Setelah bola itu hilang, yang tampak adalah Grendel yang hanya tersisa separuh badan. Jika saja bola itu lebih besar lagi, maka Grendel mungkin benar-benar lenyap. Tapi itu lah batas kekuatan Rias.
Namun tetap saja mengerikan. Grendel masih hidup bahkan ketika dia kehilangan sebagian tubuhnya. Dia bahkan menunjukan senyum menjijikan meski hanya memiliki separuh kepala.
"Ini persis seperti yang si brengsek Euclid katakan. Demonic power yang dibawa oleh sanak saudara Keluarga Bael mampu mengikis habis kesadaran dan jiwa Naga Jahat. Ini benar benar bekerja padaku" Grendel tertawa keras. "Tapi tidak masalah karena aku bisa mendapatkan tubuh baru lagi! Selama jiwaku selamat, tidak mustahil bagiku untuk mengubah tubuhku tak peduli berapa kalipun! Holy Grail sungguh benda yang mantap!"
Kini semua anggota kelompok Gremory paham alasan kenapa Grendel berani bertarung tanpa mempedulikan kondisi tubuhnya.
"Baiklah, pertempuran sebenarnya kita mulai dari sini, Ayo Ddraiiiiiigg-chaaannnn, Kemariiiiiiii!"
Semuanya mundur saat melihat Grendel yang tidak menunjukan tanda-tanda kehilangan ketertarikannya untuk bertarung walau tubuhnya sudah setengah musnah. Grendel itu gila, tidak waras, sama sekali tidak normal.
Rias berniat mengeluarkan semua kemampuan demonicnya, "Tidak masalah kalau kau ingin melanjutkan pertarungan ini. Kekuatanku akan melenyapkan jiwamu sampai habis hingga kau tidak bisa bangkit lagi."
Rias mencoba melepas serangan lagi, namun.
Gaara berjalan pelan menempati posisi paling depan sambil menyeringai, "Sudah cukup!, Simpan tenagamu untuk pertarungan selanjutnya, Nona Gremory. Aku yang akan menyelesaikannya."
Tangan Gaara terangkat dengan telapak terbuka. Bersamaan dengan itu, datanglah gumpalan pasir bergulung-gulung di seluruh ruangan.
Grendel heran tak mengerti apa yang akan terjadi. Dia sudah mengira pasir-pasir itu akan menyerangnya, tapi tubuhnya masih belum bisa digerakkan. Selain itu, ia juga yakin tubuhnya akan bertahan. Tadi saja dia sudah berkali-kali menerima serangan kritis dari Combo Dragon Slayer Replika Pedang Kaisar Iblis Gram dan Ex-Durandal, lalu tombak cahaya Azazel, halilintar suci Akeno dan serangan sihir Norse dari Rossweisse. Terakhir bintang pemusnah dari Rias. Kalau hanya pasir?
Gelombang pasir bergerak menuju Grendel, membentuk bujur sangkar yang mengelilingi si naga jahat. Pasir itu bertambah banyak, meninggi, sementara Grendel tak melakukan apa-apa.
Kiba berpikir itu akan sia-sia. Mungkin kah Gaara berniat meremukkan tubuh Grendel? Itu mustahil. Memang tulangnya sendiri remuk saat terkena itu, tapi Grendel lain cerita. Bahkan bola penghancur Rias saja hanya mampu melenyapkan setengah.
Namun tindakan meremehkan itu berubah jadi kebingungan saat ada aksara-aksara aneh yang muncul bersamaan dengan semakin meningginya gundukan pasir membentuk sebuah piramid.
Momen ketika tubuh Grendel terkurung sepenuhnya dalam piramida pasir raksasa, saat aksara segel terkunci, Gaara mencengkeram telapak tangan, "Inilah akhir riwayatmu, Grendel!"
Sabaku Sotaisou Fuin
Hening.
Tak ada apapun yang terjadi setelah itu.
Rias tak mengerti, apalagi Issei. Mereka semua berpikir Gaara akan meremukkan tubuh Grendel hingga tak bersisa seperti yang ditunjukkan saat pertemuan di Kuoh, namun malah berhenti sampai disini.
Azazel berhasil mencerna kata terakhir dari nama teknik yang diucapkan Gaara. "Fuin? Kau menyegelnya?"
"Tepat sekali, Azazel-dono."
"Tapi, bagaimana bisa kau memperoleh pasir sebanyak itu?" ruangan mereka sekarang berada didalam kastil, bahkan diluar yang ada hanyalah hamparan salju. Tidak ada pasir di sekitar sini.
"Lihat sekelilingmu!"
Azazel dan semua anak muridnya, baru menyadari kalau dinding ruangan tempat mereka berada sekarang berubah total. Mereka tidak sadar karena sibuk bertarung tadi.
Dinding-dinding itu, yang semuanya terbuat dari batu dan beton kini hanya tersisa permukaan kasar bekas terkikis.
Sekarang mereka semua mengerti, Gaara memang hanya membawa satu gentong kecil pasir, namun sejak awal Grendel muncul, Gaara telah menggunakan pasirnya untuk mengikis dinding sehingga menciptakan serpihan pasir baru. Waktu cukup lama memberikan kesempatan pada Gaara untuk mengumpulkan pasir sebanyak-banyaknya.
"Kau Licik!" Xenovia menggeram.
"Ternyata kau memanfaatkan kami!" Sambung Issei yang emosinya tersulut.
Gaara menatap dua orang tadi dengan sinis, "Kheh. Kalau tidak begitu, Grendel tak akan berhenti."
Azazel membuat tawa hambar yang miris, dia merasa kecolongan. "Lebih dari itu, tak kusangka kau punya teknik segel yang sanggup menghentikan Naga Jahat."
"Teknik segel itu aslinya bukan milikku, itu milik seekor bijuu yang sanggup menyegel makhluk sekuat apapun. Sulit melakukannya karena prosesnya lambat, tapi terima kasih untuk kalian yang sudah membuat Grendel melemah sehingga aku bisa dengan mudah menyegelnya."
"Cih! Brengsek."
Rias tak tahan untuk mengumpat.
Diantara suasana menegangkan itu, ada seorang yang datang.
Semua yang menyadari kehadiran dan tekanannya, berhenti berdebat dan mengumpat.
Orang yang berpakaian serba hitam berdiri disana, Crom Cruach dalam wujud humanoid. Yang terkuat diantara semua Naga Jahat.
"Tak kusangka Grendel akan kalah secepat ini." ucapnya.
Semua anggota kelompok Gremory bersiap kembali untuk pertarungan selanjutnya.
"Tapi tak masalah, kurasa aku bisa membebaskannya."
"Tak ada yang bisa melepas segel itu selain aku." sahut Gaara cepat.
Tanpa perubahan ekspresi berarti, Crom Cruach mengangkat tangannya dan menciptakan aura energi padat di tangannya. Itu sangat kuat meski hanya dengan melihatnya.
"Kalau aku tidak bisa membuka segelnya, tinggal hancurkan saja kan?"
Blaaaaaaaaassssttttt...
Crom Cruach melepaskan tembakan laser pemusnah.
Swisshh...
Piramida pasir itu pun lenyap tanpa sisa.
"Jiwanya telah bebas. Dengan begini Grendel bisa kami bangkitkan kembali dengan Holy Grail"
"Tidak tidak tidak! Kau salah tuan Naga Jahat terkuat." ucap Gaara setelah menggeleng sekali. "Dulu segel itu pernah dihancurkan dari dalam oleh seseorang yang menganggap dirinya dewa, dan tadi Grendel berkata bahwa dia bisa bangkit kapanpun dengan Holy Grail. Karena dua alasan itu aku mengubah sususan formula fuinku sebelum proses penyegelan selesai. Aku tidak hanya mengegel tubuh dan jiwa Grendel, tapi juga menyegel seluruh esensi kehidupannya dari alam ini. Menghancurkan piramida itu tak ada gunanya karena segel Sabaku Sotaisou Fuin yang telah dimodifikasi terletak di alam lain yang tak bisa dijangkau oleh siapapun. Jadi, Grendel benar-benar sudah tamat."
Crom Cruach nampak tidak terlalu peduli.
Ada perasaan senang di kelompok Rias mengetahui bahwa Naga jahat menyusahkan yang maniak bertarung itu sudah di atasi sampai tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
"Lalu karena esensinya sudah lenyap, maka dalam beberapa saat lagi selain dalam ingatanku, nama Grendel akan hilang selamanya dari memori semua orang yang pernah tahu namanya, kenal dengannya, bertemu dengan dia, bahkan catatan tentangnya yang tertulis dalam cerita epos atau legenda manapun akan terhapus." ucap Gaara lagi.
Semua pasang mata langsung tertuju pada Gaara.
Yang ditatap menyeringai, "Kenapa dengan kalian eh?"
Azazel dan semua muridnya melompat mundur, membuat jarak aman dengan Gaara.
"Tak tahu malu, setelah kubantu bukannya berterima kasih malah kalian menjauhiku. Aaahh~~~~, aku jadi merasa bernostalgia dengan masa kecilku."
Gaara mengatakannya dengan sinis, namun aslinya bukan bermaksud seperti itu. Dalam hati dia memang mengingat kenangan itu, tapi kini dia sudah tahu apa yang dia impikan dan perjuangkan. Semua itu berkat teman pertamanya, Uzumaki Naruto.
Crom Cruach menunjuk wajah Gaara, dia sadar situasi sekarang. "Kau lah monster sesungguhnya disini! Azazel, kurasa kau pasti setuju denganku 'kan?."
"Hm." Azazel mengangguk.
Rias dan budak-budaknya pun sependapat. Nyatanya, Gaara jauh lebih berbahaya dibanding Lee dan Tenten. Teknik segel yang barusan bisa melenyapkan siapapun dari sejarah dunia.
"Khuhahahaaa. Bagus! Sekarang aku kah yang menjadi musuh kalian semua?" Gaara sendirian sedangkan Azazel dan Kelompok Gremory sepaham dengan Crom Cruach. "Aku bisa melenyapkan esensi siapapun disini, tentu jika aku punya kesempatan."
Xenovia mengacungkan Ex-Durandal pada Gaara, "Maka kami tak akan membiarkan kau mendapatkan kesempatan itu."
Meksi di ancam, Gaara masih tampak sangat tenang, "Kalian bodoh!"
...
Ruangan lantai pertama basement sudah bersih dari pasukan Vampir, namun ceceran darah, tulang dan daging berserakan. Rugal memakai pakaian baru karena pakaian sebelumnya robek saat dia merubah diri menjadi serigala. Bennia duduk di atas salah satu tubuh vampir yang tak terluka namun tak bernyawa, hasil karyanya sendiri. Tenten sendiri sibuk menyimpan kembali gulungan perkamen senjata-senjata miliknya.
"Ne." Tenten selesai dengan aktifitasnya. "Kudengar Naruto bersama kalian?"
"Aha, Naruto-senpai kah?" Bennia langsung tanggap.
"Siapa lagi selain bocah bodoh hiperaktif berambut pirang yang memakai nama itu? Jadi, apa yang sekarang dia kerjakan?"
"Whoaaaa, jadi kau kangen dengan Naruto-senpai?" tanya Bennia dengan mata berbinar. Ada latar bunga-bunga keshoujo-shoujoan di belakangnya. "Padahal dia sudah punya istri loh."
Tenten mendecih sebal, "Bukan itu maksudku, Baka! Istrinya itu adalah sepupu yang sangat disayangi oleh sahabatku yang sudah meninggal. Aku ingin tahu khabar Hinata, sudah lama tak bertemu dengannya."
"Mereka berdua tampak baik-baik saja. Dan untuk pertanyaanmu tadi, aku tidak bisa menjawab."
"Hah?"
"Begini, errr boleh kupanggil Tenten-senpai?"
Tenten mengangguk sekali.
"Aku dan Kak Rugal adalah budak Sona-sama. Kami hanya mengikuti perintah tanpa tahu rencana mereka. Mungkin yang tahu hanya Sona-sama, Naruto-senpai, juga Hinata-senpai saja."
Tenten membuat senyum kecut, "Begitu ya."
"Iyap."
Hening tak ada obrolan lagi hingga mulut Bennia terbuka seperti dia baru saja mengingat sesuatu.
"Oh iya, tuan tampan berjubah yang baru pertama kali kulihat sebelum kesini, yang saling panggil Dobe-Teme dengan Naruto-senpai itu siapa ya? Kukira dia dari Konoha juga. Boleh aku tahu namanya?"
Tenten bangkit berdiri setelah puas beristirahat sejenak, "Lebih baik kau tidak usah mengenalnya. Dia hanya bocah sok cool berlumur dosa yang baru tobat."
Bennia memberengut. Sedangkan Tenten berjalan menjauh.
"Kita berpisah di sini ya. Kita masih punya tugas masing-masing kan?"
"Baiklah. Byebye, Tenten-senpai." ucap Bennia sambil melambai.
...
"Arrrrhhhh..."
Teriakan vampire terakhir itu berakhir saat tubuhnya menjadi abu.
Koneko mengeluarkan nafas panjang. Dia tampak sudah kelelahan. Tentu saja efek memaksa pendewasaan tubuh berakibat kurang baik.
Cahaya putih disekelilingnya menghilang dan tubuhnya kembali ke wujud semula, wujud loli.
Meski hampir kehabisan tenaga, tapi dia masih memiliki kesadarannya dan sanggup berdiri.
"Kerja bagus, Koneko-san." ucap Lee bersemangat seraya memberi acungan jempol. Aura hijau ditubuhnya menghilang ketika dia menutup kembali Gerbang Batin yang pertama. Lee juga tampak lelah karena tubuhnya dipaksa bekerja keras.
Nampak ruangan basement lantai dua hancur seperti kapal pecah.
Lee mendudukkan dirinya di lantai, "Fyuuuhhh. Kau akan kemana setelah ini?"
"Aku ingin menyusul Bochou dan yang lain."
"Terserahmu kalau ingin menyusul. Tapi lebih baik istirahatkan dulu tubuhmu disini sebentar. Kalau ada vampir yang bertemu denganmu dalam kondisi seperti itu, bisa gawat."
"Eh? Jadi Lee-san tidak ingin menyusul mereka, begitu?"
"Ah, ettoh." Lee jadi kikuk, dia salah bicara.
Koneko menatap Lee curiga.
"Anoooo..." Lee manggaruk tengkuk.
Tuh kan, Koneko merasa Lee maupun Gaara dan Tenten punya rencana lain dibalik kesepakatan kerjasama sementara.
"Huuuh." Lee merasa lebih baik jujur. "Sebenarnya ini rencana kami sejak awal. Kami bertiga berbagi tugas masing-masing."
"Katakan padaku, apa rencana kalian!"
"Ah, maaf Koneko-san. Yang itu aku tidak bisa mengatakannya. Tapi aku yakin kau orang baik."
Ekspresi kebingungan tercetak di wajah Koneko. "Apa maksudmu, Lee-san?"
"Kau tadi mengatakan kalau kau di ajari oleh Naruto kan? Bahkan kau tampak kagum padanya. Pasti kau berteman dan dekat dengannya."
"Iya memang. Tapi apa hubungannya hal ini dengan Naruto-senpai?" Koneko tiba-tiba membuat ekspresi terkejut, "Eh, Ap-appa kau mengenalnya?"
"Ya, dia teman terbaikku."
Iris mata Koneko melebar. Jadi, selama ini Naruto dan Hinata adalah orang Konoha, musuh yang menyusup kedalam sekolahnya, bahkan dalam kehidupannya. Fakta ini, kenyataan ini, membuat Koneko merasa kepalanya pusing.
Lee bingung harus berbuat apa, dia mengatakan hal yang tidak seharusnya. "Dengarkan aku, Koneko-san! Aku sangat mengenal Naruto sebagai orang baik. Kalau dia begitu baik dengamu maka kau pasti orang baik juga. Aku yakin itu. Aku percaya padamu."
Koneko tak tahu harus menjawab apa. Dia bingung.
...
Kembali ke dalam ruangan berukuran sedang dalam sebuah menara kastil di salah satu sudut Kota Tepes.
Nampak Ophis masih bersantai di kursi, sedang minum teh. Entah darimana dia mendapatkan itu padahal tidak ada yang menyuguhkan teh di tempat ini.
Sasuke duduk di jendela. Dia mengasah pedang Kusanagi no Tsurugi miliknya untuk membunuh waktu daripada tidak ada kerjaan. Tapi dia agak heran karena, "Dobe, sudah bosan mengocehnya?"
"Enggak kok Teme. Hanya saja aku bisa merasakan kekuatan Koneko-chan dari sini."
"Koneko?" Sasuke membeo, tidak mengenal nama itu.
Sona dan Hinata memberikan sedikit perhatian suara Naruto meski mereka masih fokus mengamati jalannya perang diluar. Ya, diluar sana sedang terjadi pertempuran besar-besaran antara pasukan pengkudeta dengan persatuan Vampire Carmilla dan Tepes lama.
Naruto tersenyum simpul, "Dengan begini tugasku selesai. Karena suatu hal, Kuroka-san masih belum bisa menemui Koneko sekarang. Sebab aku menguasai senjutsu, jadi dia meminta padaku menjadi perantara mengajari adiknya teknik khusus senjutsu nekomata untuk mengembangkan bakat alami Koneko tanpa diketahuinya. Aku melakukannya dengan senang hati. Koneko berbeda dengan iblis lain di kelompoknya. Entah itu karena kemampuan pemurnian atau memang dari dasar hatinya, aku merasa kalau Koneko benar-benar orang baik dan tulus."
Semua kembali pada kesibukan masing-masing. Hanya dengan cerita singkat itu saja, mereka merasa cukup. Naruto itu paling bisa menilai baik buruk hati orang lain, bahkan mampu mengubah orang jahat menjadi baik.
...
Xenovia mengacungkan Durandal pada Gaara, "Maka kami tak akan membiarkan kau mendapatkan kesempatan itu."
Meksi di ancam, Gaara masih tampak sangat tenang, "Kalian bodoh!"
Rias makin marah, tidak terima dia dan peeragenya diejek begitu. "Apa maksudmu mengatai kami bodoh ha?"
Gaara memijit pelipisnya, "Apalagi memangnya? Untuk sementara kita ini kawan, dan musuh kita sekarang ada dibelakang kalian."
Seolah menyadari sesuatu, mereka merasa aneh. Ada sedikit rasa nyeri dikepala. Saat berbalik ternyata ada Crom Cruach dibelakang mereka. Terkejut pasti. Seketika mereka mengubah formasi. Azazel dan semua muridnya mengambil jarak aman dari Crom Cruach.
Xenovia paling bingung. Dia tidak mengerti kenapa dirinya menghunuskan pedang pada Gaara.
Diujung sana tampak Crom Cruach juga bingung. Saat melihat sekeliling, ruangan besar lantai 3 basement sudah porak poranda padahal dia merasa belum mengeluarkan tenaga sedikitpun, dia merasa belum bertarung.
Rias menatap telapak tangannya dan bergumam, "Aneh. Aku tak ingat mengeluarkan serangan pamungkas, tapi kenapa staminaku seperti habis setengah?"
Pada masa kebingungan itu, Gaara melemaskan lehernya hingga menimbulkan suara gemertak. "Ayo kita lanjutkan pertarungannya. Crom Cruach harus disingkirkan agar bisa menyematkan Valerie."
"Hah?" Akeno tak tahu kenapa dirinya jadi bingung.
"Ayoooo! Jangan bilang kalian lupa ingatan karena beristirahat sebentar setelah pertarungan tadi?" ucap Gaara.
Masih banyak hal yang tak bisa dimengerti, namun setelah kondisi ruangan yang hampir hancur membuktikan bahwa pertarungan sengit sudah terjadi. Mengesampingkan semua kebingungan itu, keselamatan Valerie dan Holy Grail harus diutamakan.
Azazel maupun Rias dan budak-budaknya membuat posisi bertempur pada Crom Cruach.
Sementara itu, Gaara menyembunyikan seringaiannya. Tepat seperti yang ia katakan beberapa saat lalu, nama Grendel sudah lenyap dari ingatan semua orang bahkan catatan sejarah. Hanya dirinya saja yang ingat, dan mungkin suatu saat dapat dia gunakan kembali.
Melawan Crom Cruach, tak ada pilihan lain selain menggunakan wujud True Queen Cardinal Crimson Full Drive. Ketika Issei hendak melafalkan mantra, muncul hawa kehadiran yang sangat kuat bergerak cepat ke arah tempat mereka berada.
"Dia disini, Partner."
Ddraig bereaksi. Hawa ini begitu kental dan familiar.
Cahaya putih kebiruan melesat cepat setelah menghancurkan pintu lalu mendarat disamping Issei. Ketika cahaya memudar, orang yang muncul ternyata Vali. Vali yang telah mengenakan armor Balance Breaker-nya.
"Kau pasti Crom Cruach!"
"Ya, benar. Hakuryuukou masa kini."
Mereka berdua menatap satu sama lain tanpa berkata-kata. Aura bertarung yang tidak dapat dijelaskan keluar dari tubuh mereka, bahkan semakin tebal.
Azazel mengeluarkan suaranya, ""Vali, kau terlambat!"
Meski Vali dianggap berkhianat pada Aliansi Tiga Fraksi setelah dia mendeklarasikan diri sebagai bagian dari Khaos Brigade di bawah Ophis saat mengacaukan pertemuan di Kuoh, namun ikatan antara Vali dan Azazel masih ada. Azazel adalah ayah angkat yang membesarkan Vali setelah dibuang oleh ayah kandungnya atas perbuatan keji sang kakek, Rizevim.
"Aku bertemu Euclid."
Jelas karena Euclid bagian dari Khaos Brigade dibawah Rizevim, maka itu pasti. Euclid bukan orang lemah.
Azazel bertanya sekali lagi. "Bukannya kau bergerak dalam tim? Dimana mereka?"
"Kelompok penyihir jahat Hexennacht. Aku tertangkap oleh pemegang Holy Cross yang berhubungan dengan mereka. Jadi mereka menghadapi wanita pemegang Longinus itu."
"Walburga kah? Jadi Pemilik Holy Cross, Sacred Gear kelas Longinus Incinerate Anthem, bekerja dibawah naungan Khaos Brigade. Ini benar-benar buruk. Sekarang semua benda pusaka didalam Longinus berhubungan dengan Khaos Brigade."
Holy Spear, tombak suci True Longinus yang dipegang Cao Cao. Holy Grail, cawan suci Sephiroth Graal yang ada dalam tubuh Valerie. Lalu sekarang Holy Cross, salib suci Incinerate Anthem yang dimiliki Walburga. Semua benda pusaka ciptaan Tuhan dalam Injil disalahgunakan.
Tanpa memalingkan muka, Vali berseru pada orang yang paling belakang, "Namamu Gaara kan? Apa setelah ini kita akan bertarung?"
"Kheh, mungkin. Kalau urusanku disini sudah selesai."
Vali merasa puas dengan itu. Dia disini atas keinginannya sendiri, tidak ada kaitannya dengan timnya sebagai partner Tim Naruto maupun orang-orang Konoha, tempat asal Naruto. Masing-masing punya kepentingan, selama tidak bersinggungan, maka akan terus jalan.
Vali lalu mengerlingkan mata pada Issei disampingnya, "Sekiryutei, apa kau percaya diri untuk mengalahkan Crom Cruach?"
"Aku sadar kalau dia sangat kuat."
"Baiklah, kali ini kita lakukan lagi seperti saat menghabisi Loki. Ada seseorang yang kukejar didalam sana, jadi sebisa mungkin aku tidak ingin membuang tenaga."
Issei tahu itu, Azazel sudah sedikit bercerita. Vali mengejar Rizevim. Itulah alasan dia berada di Rumania. Setidaknya itu yang dia tahu.
Issei pun tidak ingin membuang banyak tenaga di stage ini. Dia harus menyelamatkan Valerie yang ada dibalik punggung Crom Cruach.
"Sepakat!"
"Nah Rias!" Azazel melangkah mundur. "Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang. Serahkan dia pada dua Heavenly Dragon."
Rias mengangguk setuju dengan ekspresi malas-malasan. Dia berpikir ikut bertarung hanya akan akan memperlambat.
Azazel kini berjarak beberapa langkah dari hadapan Gaara yang berdiri dengan mata terpejam, "Hei, kau akan menonton juga?"
Gaara menjawab tanpa membuka mata, "Ini urusan antar naga. Sama sepertimu, kurasa tak baik jika aku ikut campur. Aku akan menunggu, kita pasti bisa lewat setelah itu."
Sudah dipastikan pertarungan selanjutnya. Issei mulai merapal mantra.
"Aku, orang yang bangkit sebagai Sekiryuutei yang memegang kebenaran Raja yang agung. Memiliki harapan tanpa batas, mimpi yang tidak dapat hancur, dan berjalan dijalan kebenaran. Aku akan menjadi Kaisar Naga Crimson. Dan aku akan memimpinmu kejalan surga yang bersinar dalam cahaya Crimson!"
Cardinal Crimson Full Drive!
Armor Issei berubah merah crimson dan berlimpah dengan kekuatan.
Sekali lagi, ada suara mantra yang dirapal. Itu Vali.
"Aku, seorang yang akan bangkit. Adalah Hakuryuukou yang akan menjatuhkan hukum menuju kegelapan. Aku menapaki jalan dominasi dengan kehancuran tak terbatas dan dengan menembus impian penuh imajinasi. Aku akan menjadi Kaisar Naga murni. Aku akan membuatmu mematuhi ilusi putih-perak dan jalan kejahatan sempurna."
Empireo Juggernaut Overdrive!
Vali tertutupi dalam armor putih-perak, memancarkan aura yang begitu dahsyat sampai seolah dia datang dari dunia yang sama sekali berbeda, jauh lebih kuat dibanding Balance Breaker biasa.
Issei, terlebih lagi teman-temannya bahkan Azazel, mau tak mau dibuat terkejut. Aura kekuatan dari tubuh Vali sungguh tak main-main. Itu setara dengan wujud True Queen Issei, namun mengingat Vali adalah iblis yang jauh lebih berbakat dibanding Issei, pastilah Vali dalam wujud ini sangat berbahaya jika menjadi musuh.
Tidak! Bagi mereka, Vali saat ini memang musuh, orang yang berkhianat.
Issei berusaha tenang walau tubuhnya tak bisa menyembunyikan gemetar, sudah ditekan oleh kekuatan Crom Cruach, sekarang di tambah kekuatan Vali. "Hei, katanya tadi kau ingin menghemat kekuatanmu. Apa mungkin kau ingin menyelesaikan ini secepatnya?"
"Kukira otakmu tak akan berkembang, maniak payudara."
"Tch." Issei mendecih kesal karena ejekan itu.
Namun ini bukan saat bertengkar, ada seseorang yang harus dikalahkan agar bisa sampai di tempat tujuan.
Faktanya, kekuatan gabungan dua Heavenly Dragon yang ada saat ini jauh meningkat pesat dibanding saat melawan Loki.
Crom Cruach tersenyum senang melihat Issei dan Vali berdiri berdampingan satu sama lain.
"Mengagumkan. Untuk Dua Heavenly Dragon yang selalu bertarung satu sama lain, kini berdiri bersama didepanku. Aku tidak akan mendapatkan kesempatan lebih baik daripada ini. Jadi aku akan membuat diriku menikmatinya."
"HAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
[[[[[[[[[[~~SKIP~~]]]]]]]]]]
Tidak ada yang berubah banyak pada kondisi ruangan lantai 3 basement setelah Vali datang lalu pertarungan antara dua Heavenly Dragon melawan Naga Jahat Lingkaran Sabit Crom Cruach. Ruangan itu memang sudah berantakan sejak awal, tapi itu akibat dari sebuah pertarungan yang lenyap dari ingatan dan sejarah.
Hal itu cukup membuktikan bahwa pertarungan yang terjadi tidak membuang tenaga sia-sia. Semua serangan dilancarkan seefektif mungkin untuk mengenai lawan tanpa membuat kerusakan tak penting pada lingkungan.
Bahkan beberapa saat sebelumnya, Azazel memerintahkan Asia yang kini membuat kontrak dengan Fafnir untuk meminjam harta karun dari salah satu Raja Naga itu. Sebuah replika dari item legendaris bernama Tathlum. Benda itu berbentuk seperti basoka yang berasal dari mitologi yang sama dengan Crom Cruach. Azazel yakin itu mampu memberikan efek pada si Naga Jahat seperti cerita yang pernah ia dengar. Namun ternyata sia-sia, Crom Cruach saat ini lebih kuat daripada yang dulu.
Nampak Crom Cruach menarik nafas. "Sepertinya sudah saatnya." Dia berbalik badan dan menyenderkannya ke tembok didekatnya. Motivasinya untuk bertarung hilang sepenuhnya.
Vali yang penasaran bertanya padanya. "Apa kau ingin berhenti?"
"Aku hanya diminta memberi waktu setidaknya sepuluh menit. Aku pastinya ingin bertarung dengan serius di pertemuan kita berikutnya."
Setelah itu, Crom Cruach berhenti berbicara dan diam. Pertarungan ketat yang mereka lakukan berakhir dengan tiba-tiba seolah itu tidak pernah terjadi.
Azazel berdiri dan melirik kearah Gaara, "Dari perkataanmu yang kuingat tadi, kau sepertinya sudah tahu sejak awal akan begini?"
"Kheh. Hanya firasat, lagipula aku tidak ingin membuang tenaga untuk hal yang tidak perlu."
Satu lagi hal yang kini disimpan Azazel dalam otaknya, Gaara punya kemampuan hebat membaca situasi. Azazel menanamkan dalam hatinya, Gaara harus di waspadai, Konoha bisa jadi ancaman terberat untuk impian ras-nya.
Setelah melihat satu sama lain, sebelas orang meninggalkan basement lantai tiga secepatnya.
Crom Cruach bahkan tidak mengejar.
.
.
TBC...
.
Note :Seperti yang kukatakan kemarin, Tim Gaara di Rumania power up biar samaan dengan Naruto maupun Hinata yang power up sejak awal FF. Bukan berarti powernya aja yang nambah ya, tapi lebih kepada teknik. Itu ciri khas ninja.
Gaara semakin menampakkan kalau ia punya rencana sendiri, tentang misi rahasianya tentunya.
Internal kelompok Gremory pun, mungkin akan timbul masalah. Bagaimana takdir Koneko nanti?
Battle Crom Cruach Vs Combo Sekiryutei-Hakuryuukou mode terkuat saat ini aku skip yah, sorry. Kalau Vali kan udah ada pas batle di Venesia melawan Naruto, nah untuk Issei kita simpan dulu kekuatannya untuk rating game nanti.
Ulasan Review:
Sekali lagi tentang Ophis, di FF ini dia tidak terbagi dua. Dan coba lihat chapter kemarin, memangnya Ophis yang muncul ada dua ya? Bisa aja kan Ophis yang bersama Rizevim dan tim Naruto itu orang yang sama. Cek lagi deh. Tapi mungkin juga itu hanyalah tipu daya. Hahahaaaaa.
Tentang Bennia dan Rugal, di atas sudah dijelaskan kalau mereka bukan bagian dari Tim 7 orang pencegah kiamat. Mereka hanya budak suruhan Sona, termasuk Saji dan peerage lainnya juga, kecuali Tsubaki.
Apa rencana Tim Naruto bakal ketahuan? Entah lah. Tapi untuk saat ini, hanya Rizevim yang sudah tahu kalau tim itu mengincar Trihexa walau tidak tahu untuk apa.
Spin off peserta tambahan itu ya? Yang dari Fate Series dan Noragami. Aku ga bisa janji, tapi entahlah. Bisa aja nanti, atau mungkin tidak. Eheeee.
Siapa tiga orang di kantor Hokage kemarin? Siapa yang dicuci otaknya? Pikir aja lagi. Hahaaaa.
Kenapa tim Naruto tidak ketahuan sama sekali bersembunyi di menara kastil? Anggap saja Naruto membuat kekkai sementara disana, sama seperti ia menyembunyikan Konoha.
Tokoh baru dari Naruverse? Ga ada deh. Kita pakai yang udah ada aja ya.
Terima kasih buat yang udah mengkoreksi. Aku ga tahu kalau Zeus dan Poseidon bener-bener muncul di LN DxD Vol 5. Maklum, belum baca dan materi dari bagian ini ane simpan untuk arc nanti. Kan kemarin alurnya setelah pertemuan tiga fraksi Vol 4 langsung ane lompat ke Vol 7 tentang Loki.
Pasukan mumi? Huaaaa, makasih sarannya. Kita cocokkan nanti dengan plot dari awal apakah memang mungkin bisa ikut nambahin kekuatan militer Konoha. Kalau cocok dan ga membuat plothole, berarti bakal muncul.
Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita dan review lainnya kubalas lewat PM. Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.
Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.
.
.
.
.
