Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Selasa, 1 Nopember 2016

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . . . .

Bersamaan dengan persetujuan Gaara, tubuh raksasa dari si bijuu berekor satu mulai runtuh. Sebagian serpihan pasir serta semua chakranya yang tersisa bergabung dengan tubuh Gaara.

Untuk pertama kalinya, Gaara dan Shukaku, bertarung sebagai partner dalam satu tubuh.

Belum cukup sampai disana, Gaara memunculkan empat buah gentong kecil dari segel penyimpanan yang terlukis di ujung jari tangan kirinya. Setiap gentong terbuka dan mengeluarkan serpihan pasir yang berbeda warna.

Gaara akan menunjukkan bentuk tertinggi dari kekuatannya saat ini. Jangan membayangkan dia bergabung dengan Shukaku lalu membentuk sosok monster mengerikan bertubuh gempal dan berekor satu yang muncul saat ia mengacaukan ujian Chunin di Konoha dulu. Sekarang Gaara tampil jauh lebih elegan. Tubuh dan penampilannya masih tetap sama, hanya saja disekelilingnya ada banyak serpihan pasir lima warna yang bergerak seolah punya pikiran sendiri. Jika tubuh Issei tertutup armor padat berwarna crimson, maka tubuh Gaara diselimuti oleh armor dinamis transparan yang partikelnya selalu bergerak.

Seringaian di bibir Gaara tampak jelas walau sedikit buram karena serpihan pasir tipis lima warna yang selalu bergerak disekitar tubuhnya, "Saaaa, Ayo Sekiryutei! Beri aku tinju yang terisi dendam dan amarahmu padaku..."

.

To The End of The World

Author: Si Hitam

.

Chapter 60: Rumania's Disaster Part 6.

Swooossshhhhh...

Suara angin menderu pelan, kristal-kristal salju dari gumpalan kapas abu-abu di langit pagi turun perlahan, bergerak kesana kemari terbawa angin yang berhembus pelan.

Hening dan tenang nampak terasa dari luar, namun dalamnya jauh berbeda. Situasinya benar-benar genting, darurat perang, antara dua kubu yang saling berhadapan di sebelah kiri dan kanan halaman kastil.

Sekiryutei di balik armor terkuatnya, Cardinal Crimson Full Drive dalam promosi bidak True-Queen, sedang tenggelam dalam luapan amarah. Satu lagi pemuda berambut merah, si pengendali pasir dari dunia lain, membuat ekspresi menjengkelkan bagi Sekiryutei yang menjadikannya semakin marah dan ingin segera bertarung habis-habisan sampai mati saat ini juga.

Tapi tak perlu khawatir, keinginan Issei Sang Sekiryutei akan terkabul sebentar lagi. Ia bersumpah akan menang.

Issei tak akan marah tanpa alasan. Dia memang manusia yang direinkarnasi menjadi iblis namun masih punya setitik nurani. Bagi Issei, Gaara lah yang memulai permusuhan dengannya, Gaara yang pertama kali mencari masalah dengan menyakiti teman-temannya.

Saat kemunculan eksistensi Konoha pada pertemuan Tiga Fraksi di Kuoh, Gaara membuat Rias, Akeno, Kiba, dan Xenovia meregang nyawa dan hampir mati walau pada akhirnya masih bernafas hidup tapi dengan tulang kaki remuk. Perlu seminggu lebih untuk keempat temannya memulihkan diri. Belum cukup disitu, baru saja Gaara berbuat curang dan mempermainkannya. Menawarkan kerja sama namun nyatanya ada rencana busuk terselubung di balik itu. Gaara merampas Holy Grail, Sacred Gear Longinus yang menjadi intisari kehidupan Valerie, perempuan paling berarti bagi salah satu temannya yaitu Gasper Vladi. Sebelum Holy Grail itu dikembalikan, Valerie tidak akan pernah sadar dari komanya.

Semua itu lebih dari cukup bagi Issei untuk menyimpan dendam kesumat pada Gaara, alasan yang membuatnya merasa berhak untuk membunuh si pemuda berambut merah.

Berbeda lagi dengan Gaara. Bagi dia, Issei hanyalah salah satu dari sekian banyak penghalang jalannya. Dia tidak tahu apa isi hati dan pikiran Issei serta bagaimana kemauannya, bahkan dia tidak mempedulikan itu sama sekali. Selama Issei menjadi bagian dari Aliansi Tiga Fraksi Injil, maka Issei adalah musuh Konoha, musuhnya. Sesuatu yang simpel untuk diputuskan.

Gaara sudah tahu dan mengerti banyak tentang Sekiryutei, pemilik kekuatan salah satu Naga Surgawi. Kekuatan Sekiryutei dalam kondisi maksimal adalah masalah besar baginya jika menjadi musuh. Sekiryutei adalah salah satu eksistensi besar bersama pemilik-pemilik Sacred Gear Longinus lain. Maka dari itulah, bisa membunuh Issei saat ini jadi hal bagus sebelum dia mencapai kekuatan penuh dan menyebabkan masalah bagi Konoha.

Yah, membunuh Issei memang hal bagus tapi Gaara harus menahan diri. Jika membunuh Issei sekarang yang notabene di bawah naungan keluarga Iblis Gremory, maka itu akan jadi pemicu peperangan antara Konoha dan Aliansi Tiga Fraksi. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Tidak boleh sama sekali karena Konoha masih belum siap untuk perang. Ada beberapa hal lagi yang harus disiapkan sebelum Konoha bersama sekutu-sekutunya punya kekuatan cukup untuk menandingi Koalisi Reliji Injil dan Mitologi Norse serta semua mitologi superior di dunia ini.

Sampai disini, sudah cukup mendeskripsikan apa yang mendasari pertarungan antara keduanya. Dua orang yang berdiri berhadap-hadapan di halaman kastil Tepes. Gaara sendirian, dan Issei sudah mengkonfirmasi akan bertarung sendirian pula tanpa melibatkan teman-temannya.

"Dengar keparat! Aku tidak peduli kau siapa dan darimana, atau apapun akibat yang akan terjadi nanti." Issei buka suara memecah keheningan. "Yang jelas sekarang, aku akan merebut kembali Holy Grail yang kau rampas, bahkan membunuhmu kalau perlu."

Issei menguatkan kepalan tinjunya, ia siap bertarung sekarang, ia ingin sekali menghancurkan kepala yang didahinya tertulis tatto 'cinta'. Suara gesekan benda mekanik terdengar cukup jelas saat Issei melangkahkan kakinya. Dalam promosi bidak True-Queen ini, armor Cardinal Crimson Full Drive yang tampak tebal dan berat membuat impresi kuat dan kokoh. Meski begitu, gerakannya terlihat ringan yang menunjukkan kalau kecepatannya pasti luar biasa.

"Ahhh~~, buktikan omonganmu, Sekiryutei!" Gaara menyeringai congak. "Kalau tinjumu sanggup menembus pasirku, kau boleh berbuat apapun padaku."

Gaara tidak gentar sedikitpun dengan intimidasi hawa kekuatan Issei. Ia cukup tahu dan bisa merasakan seberapa besar kekuatan Sekiryutei dihadapannya saat ini, namun ia juga yakin dengan kekuatannya sekarang.

Jutaan bahkan mungkin milyaran partikel pasir bergerak dinamis disekitar tubuh Gaara. Pasir-pasir itu bergerak tanpa diperintah oleh Gaara seakan punya kemauan dan nyawanya sendiri. Ada lima warna berbeda dari partikel-partikel pasir yang menandakan bahwa setiap jenisnya punya kemampuan spesifik yang berbeda dan terspesialisasi namun saling menguatkan dan melengkapi.

Pertarungan dimulai.

"Majulah! Serang aku, Sekiryutei!"

Gaara membuat isyarat dengan tangan dan langsung disambut gerakan cepat dari Issei.

"Haaaaaaaaaaaaaaaaa!"

Solid Impact Booster

Issei memfokuskan semua kekuatannya pada lengan kiri. Energi iblis yang diboost berkali-kali hingga jumlahnya maksimal dia alirkan ke tangan kiri lalu diubah menjadi serangan fisik. Akibatnya gauntlet di lengan kiri menebal.

Tinju ini pastilah sangat kuat, tak akan bisa ditahan secara langsung kecuali tubuh dan pertahanan lawannya benar-benar kuat. Issei sudah melatihnya dan ketika dicoba, itu cukup untuk meruntuhkan sebuah tebing batu yang tinggi dan besar.

Issel melesat maju untuk menyarangkan tinjunya pada Gaara.

Jika terkena, Gaara pasti akan mati seketika. Bagaimanapun Gaara hanyalah manusia biasa.

Tapi nampaknya tidak ada ketakutan sedikitpun yang tersirat dari ekspresi sang Kazekage. Ia yakin dengan pertahanan pasir miliknya.

Gaara tidak menghindar, tapi memilih untuk menahan serangan Issei. Keputusan ini pasti sudah dia pikirkan matang-matang. Dia bahkan tidak bergerak satu centipun dari posisinya berdiri.

Yang terlihat berubah adalah gerakan serpihan pasir di sekeliling tubuh Gaara. Seolah gerakan itu sebagai respon langsung akan datangnya serangan Issei yang muncul dengan sendirinya tanpa perlu kehendak Gaara. Serpihan pasir berwarna kuning emas bergerak kedepan hingga konsentrasinya meningkat drastis ditengah-tengah antara Gaara dan Issei. Tidak membentuk benda padat, tapi masih berupa gumpalan serpihan pasir yang berterbangan.

Issei yakin dengan pukulannya, ia tidak perlu mengubah arah gerakan. Yang ada di pikirannya adalah menembus gumpalan pasir lalu mendaratkan tinjunya di wajah Gaara.

Namun yang terjadi, saat Issei sudah memasuki area berpasir secara perlahan gerakan tubuhnya melambat. Lengan kiri Issei yang berisi kekuatan penuh pun ikut melambat. Bahkan kepalan tinjunya berhenti pada jarak sepuluh centimeter didepan wajah Gaara.

Issei terkejut. Pukulan terkuatnya, pukulan yang sanggup meruntuhkan tebing batu yang sangat kokoh ditahan hanya dengan pasir. Ia pun terpaksa melompat mundur dengan segudang pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya.

"Kau terkejut?" tanya Gaara santai, seolah serangan mematikan Issei barusan tadi bukanlah apa-apa.

"..."

"Itu tadi pasir emas. Jujur, pukulanmu sangat kuat. Jika aku terkena langsung aku pasti mati, jika kutahan dengan pasir biasa pun pasti akan berlubang. Tapi hasilnya berbeda jika dengan pasir emas."

"Kau mau mengatakan kau lebih kuat dariku ha?" teriak Issei dari balik armornya.

"Tidak, bukan begitu. Sekali lihat saja, harusnya kau sudah tahu bahwa pasir yang kau lewati ini adalah pasir emas. Emas adalah logam dengan massa jenis terbesar dibanding logam lainnya, 19,6 kali lebih berat dari air. Sifatnya yang lentur efektif untuk mengurangi momentum tinjumu sehingga berkurang drastis secara eksponensial, selain itu daya serap geratannya juga tinggi. Jadi tidak sulit meredam pukulanmu dengan pasir emas. Bahkan lebih kuat dari itupun masih bisa kutahan. Kau paham?"

"Kheh, tentu saja." ucap Issei. "Kau bilang tadi pasirmu itu berat kan?, maka bagaimana dengan iniiiiiiiii!"

Star Sonic Booster

Armor Cardinal Crimson menipis. Sayap di punggungnya menyemburkan booster dalam jumlah besar. Layaknya kilat, Issei lenyap dari tempatnya berdiri. Dalam mode ini, ia mendapatkan kecepatan dewa sama seperti Kiba.

Gaara mengatakan kalau pasir emas itu berat, maka kecepatan pasir itu pasti lambat. Dengan kecepatan ini, Issei yakin bisa mendaratkan pukulan di tubuh Gaara. Kalau pun tidak mati dalam sekali pukul, maka Issei akan memukulnya berkali-kali.

Dalam visualisasi slow motion, nampak tinju Issei bergerak lurus menuju punggung Gaara yang diam.

Splasshh...

Arah tinju Issei berbelok sebelum mengenai target.

Issei memutar arah geraknya, lalu berusaha menyarangkan tinjunya lagi. Kali ini menuju pelipis Gaara.

Splasshhh...

Lagi, pukulan Issei berbelok. Berbelok karena ada sesuatu yang menepisnya.

Sampai 18 kali tinju, tak ada satupun yang berhasil didaratkan Issei. Dia pun terpaksa mundur pada jarak aman.

Issei heran, Gaara tidak bergerak sedikitpun tapi tinjunya tidak pernah kena. Bahkan selalu berbelok.

"Jangan terkejut begitu, Sekiryutei!" kata Gaara. "Aku memiliki pasir jenis lain. Yang tadi menepis semua tinjumu, yang berwarna putih keperakan adalah pasir alumunium. Logam dengan massa jenis ringan namun kokoh, karena ringan aku bisa membuatnya bergerak sangat cepat menandingi kecepatanmu."

"Sigh..." Issei membuang nafas jengkel. Dua serangannya tidak bekerja sama sekali, padahal serangan itu adalah favoritnya.

Tak ada pilihan lain, Issei menggunakan cara yang lebih kasar.

Crimson Blaster

Pada bagian punggung di dekat pangkal sayap, tumbuh sepasang canon. Moncong canon mengatur diri di bahu armor Cadrinal Crimson lalu mengunci targetnya. Issei mengumpulkan kekuatan naga, menggandakannya berkali-kali hingga terkumpul sangat banyak.

Jika ini ditembakkan, seluruh halaman kastil Tepes bahkan sebagian bangunan istana yang masih berdiri akan hancur, rata dengan tanah. Tapi Issei tidak peduli. Yang ada dipikirannya hanyalah membunuh Gaara, hanya itu saja.

Kekuatan sudah terkumpul, Issei mengalirkannya kedalam canon di punggungnya. Tergetnya adalah Gaara yang berdiri diam.

Fang Blast Booster

Segenap kekuatan naga yang terfokus pada canon ditembakkan menuju Gaara.

Issei yakin, serangannya yang satu ini tidak mungkin bisa ditahan. Aura pemusnah yang sangat besar dari canon miliknya akan meledakkan target tanpa ampun sampai tak bersisa.

Masih tak bergerak, tampaknya Gaara akan menerima lagi serangan Issei. Kali ini yang bergerak adalah serpihan pasir yang berkilau. Semuanya berkumpul dan membentuk sebuah bangun tiga dimensi yang cukup rumit. Hasilnya nampak seperti kaca berbentuk prisma yang permukaannya tidak rata.

Moment saat aura berwarna merah crimson dari tembakan canon Issei mengenai pertahanan pasir berkilau, arahnya berbelok seperti cahaya yang dibiaskan oleh kaca prisma.

Tembakan aura crimson berbelok dan naik ke atas menuju langit. Jika diamati dari jauh, akan nampak seperti pilar cahaya merah yang tinggi menjulang. Ketika mencapai ketinggian tertentu, aura itupun menciptakan ledakan yang sangat hebat. Awan-awan terhempas gelombang kejut dari ledakan hingga radius sejauh 5 kilometer. Cayaha matahari pagi digantikan oleh cahaya merah crimson selama beberapa detik.

Jika saja, jika saja ledakannya terjadi di daratan, pastilah sebagian besar kota Tepes akan hancur.

Sekali lagi, Issei dibuat tak bisa berkata apa-apa.

Gaara menyeringai. "Pertahanan tadi kuciptakan dengan pasir kuarsa. Pasir yang terbuat dari batu permata yang lebih bening dari kaca. Dengan serangkaian rumus dan perhitungan rumit untuk menentukan sudut pembiasan, aku bisa membelokkan serangan tipe energi yang diarahkan padaku sebagaimana membiaskan cahaya."

"Sialan!"

"Apa? Kau marah padaku huh? Ayo serang lagi...!" ucap Gaara memprovokasi.

"Keparat!"

Fang Blast Booster

Sekali lagi Issei menembakkan canonnya, ia menggunakan seluruh sisa energinya untuk serangan ini.

Gaara menghadapi serangan Issei dengan cara yang sama. Prisma yang dibentuk dari pasir kuarsa ia posisikan pada arah datangnya serangan Issei.

Issei menyeringai, "Kena kau! Berbeloklah!"

Issei tidak akan menyerang dengan cara yang sama dua kali. Ia membelokkan jalur tembakan dengan kehendaknya, sesaat sebelum mengenai prisma kuarsa. Tembakan aura crimson berbelok kekiri lalu dengan gerakan memutar kembali menuju Gaara dari samping.

Shinggg...

Tepat sebelum mengenai Gaara, sebuah bangun prisma terbentuk lagi di sisi kiri Gaara dari pasir kuarsa yang tersisa.

Aura crimson lagi-lagi dibiaskan ke langit.

"Belum selesai!"

Issei berteriak, aura crimson dia belokkan lagi kebawah menuju Gaara.

"Menyebarlah!"

Aura crimson pecah menjadi bagian-bagian kecil. Ada puluhan tembakan kecil yang menyebar ke berbagai penjuru lalu menuju Gaara dari berbagai sisi.

Prisma pasir kuarsa hanya ada dua, tak mungkin memebelokkan seluruh aura crimson yang ditembakkan secara bersamaan.

Tapi Gaara tak kehabisan akal.

Dua prisma itu dipecah menjadi serpihan pasir kuarsa kembali, kemudian semuanya menyusun ulang membentuk sebuah bangun tiga dimensi berbentuk bola bersegi banyak yang mengurung tubuh Gaara di dalamnya. Bentuknya persis seperti bola permata atau mustika berukuran raksasa.

Aura crimson dari berbagai arah masuk ke dalam bola permata, semuanya dibiaskan berkali-kali tapi tak satupun yang mencapai intinya, tempat dimana tubuh Gaara berada. Sesaat kemudian, aura crimson yang dibiaskan keluar dari permukaan bola permata menuju ke segala arah. Setiap tembakan aura itu melesat keluar kota Tepes lalu menimbulkan ledakan besar dimanapun dia jatuh.

Karena hal ini, karena serangannya gagal lagi, Issei frustasi.

"Sekarang kau mengerti kan, Sekiryutei? Ini lah yang kusebut sebagai Pasir Pertahanan Mutlak Tak Terbatas, Infinite Absolute Sand Protection. Tak ada satupun seranganmu yang mampu mengenaiku, meski aku hanya berdiam saja tanpa melakukan apa-apa."

Semua yang menonton tahu dengan jelas bahwa Sekiryutei jauh lebih unggul. Promosi True-Queen Cardinal Crimson Full Drive sebenarya bukan tandingan Gaara. Namun berkat kesadaran Shukaku si Bijuu Ekor Satu dengan Prinsip Pertahanan Mutlak yang seakan menjadi nyawa dan pikiran dari setiap butiran pasir, Gaara memiliki pertahanan tak terkalahkan. Bahkan karena Shukaku pula, Gaara tidak perlu mengeluarkan chakranya sendiri sedikitpun. Ia bertahan tanpa mengurangi staminanya.

Pertahanan baru ini merupakan upgrade dari pertahanan lama, menyesuaikan ragam kemampuan lawan di dunia baru penuh makhluk supranatural yang berbeda dengan dunia Shinobi yang kini tak ada lagi. Pada awalnya, pertahanan pasir biasa milik Gaara ditujukan untuk menahan semua jenis tipe serangan, baik itu jarak jauh mapun dekat, ninjutsu elemantal maupun serangan fisik. Tapi untuk di dunia baru ini, Gaara melakukan upgrade kemampuan dengan ragam spesialisasi.

Yang pertama adalah sabaku atau pasir biasa yang berwarna coklat. Ini sama saja dengan kemampuan lama untuk menahan serangan fisik maupun ninjutsu atau sihir elemental dari berbagai atribut sepeti api, angin, petir, dan lainnya dalam batas normal.

Kedua adalah pasir emas atau sakin, jenis pasir yang sangat berat namun lentur. Ini adalah teknik pasir original milik ayahnya, Rasa sang Kazekage Keempat. Namun Gaara hanya menggunakan pasir emas untuk spesialisasi pertahanan dari serangan fisik yang sangat kuat yang tidak mampu ditahan pasir biasa, seperti ia menahan pukulan Solid Impact Booster dari Issei tadi. Prinsip pertahanan ini diperoleh dari massa jenis pasir yang jauh lebih berat dari pasir biasa namun memiliki kelenturan tinggi sehingga secara efektif akan mengurangi momentum pukulan secara eksponensial.

Yang ketiga adalah pasir alumunium yang berwarna putih keperakan. Jenis logam paling ringan sehingga ketika dalam bentuk pasir, akan lebih mudah dikendalikan dan kecepatannya pun jauh lebih tinggi dari pasir biasa. Pasir yang memiliki spesialisasi untuk kecepatan. Bahkan kecepatannya cukup untuk mengimbangi kecepatan dewa dari Star Sonic Booster

Keempat adalah pasir kuarsa yang berkilau seperti permata. Pasir jenis ini punya kemampuan membelokkan serangan tipe energi non-atribut seperti Fang Blast Booster tanpa menerima kerusakan. Prinsipnya cukup sederhana, tidak berbeda dengan hukum pembiasan cahaya dalam ilmu fisika.

Jadi, alasan kenapa Gaara mampu bertahan dari serangan Issei yang jelas-jelas dari segi power lebih kuat darinya adalah karena Gaara memiliki teknik bertahan terspesialisasi pada bermacam-macam tipe serangan. Jika pertahanan diciptakan dengan cara yang benar dan efektif walau hanya dengan usaha dan tenaga minimal, maka serangan sebesar dan sekuat apapun tidak akan mampu menembusnya.

Issei benar-benar dibuat frustasi. Tidak ada satupun serangannya yang bekerja pada Gaara. Apalagi ketika melihat Gaara hanya berdiri diam seperti tak melakukan apa-apa.

Gaara menyeringai makin lebar. "Nah, sekarang giliranku menyerang. Bersiaplah!"

Gaara mengumpulkan pasir biasa dalam jumlah besar. Hanya pasir ini yang bisa ia gunakan sesukanya karena bisa diperoleh dari permukaan tanah dan reruntuhan bangunan yang dikikis. Sedangkan empat pasir spesial hanya ia bawa dalam jumlah secukupnya, yang tersimpan dalam fuin penyimpanan di ujung jari.

Suatu sosok raksasa seperti tubuh perempuan yang dibangun dari massa pasir yang sangat banyak terbentuk di belakang tubuh Gaara. Itu adalah pencitraan dari ibunya, Karura yang meninggal setelah melahirkan Gaara, perwujudan roh seorang ibu yang akan selalu melindungi anaknya.

Namun karena Gaara sudah mempunyai pertahanan mutlak spesial miliknya sendiri, sosok pencitraan itu berubah menjadi ibu yang marah ketika ada yang menyakiti anaknya.

Lengan pasir terayun sangat cepat, telapak tangannya terbuka dan dihempaskan dengan kuat ke arah Issei.

"Aku tidak akan kalah hanya karena itu!" walaupun tertekan, Issei masih sadar kalau pertarungannya belum selesai.

Jet...

Blaammmmmm...

Hantaman telapak tangan pasir mengguncang halaman kastil Tepes. Hampir semua hamparan salju terangkat.

Issei yang berhasil menghindar ternyata belum aman. Sebagian pasir membentuk tentakel panjang yang mengejarnya. Dia terbang zigzag agar tidak tertangkap.

Selama satu menit, Issei terus menerus terbang melewati bangunan kastil yang telah runtuh. Sesekali menabrakkan diri pada dinding bangunan hingga berlubang lalu keluar di sisi lainnya. Tapi itu tak menghentikan lengan pasir yang mengejarnya.

Aksi kejar-kejaran terus terjadi. Issei berhasil lari dengan mulus. Dia tidak menggunakan kecepatan penuh, hanya kecepatan standar balance breaker biasa saja, tapi karena sudah cukup lama melatih diri terbang akrobatik akibatnya belum ada satu butir pun pasir yang berhasil menangkapnya.

Gaara hanya menggunakan pasir biasa yang bobotnya sedang untuk menangkap Issei. Ia tidak menggunakan pasir alumunium karena jumlahnya sedikit sehingga tidak efektif untuk menyerang Issei yang seluruh tubuhnya dilapisi armor tebal. Selain itu, karena bobot yang ringan maka damage serangan pasir alumunium juga rendah.

Pasir biasa memang tak mampu mengejar kecepatan Issei, tapi Gaara yang punya segundang pengalaman bertarung, apalagi dia pernah menjadi Kazekage, tentu saja sudah menyimpan rencana.

Tanpa Issei sadari, Gaara telah membuat perangkap dengan pasirnya. Sebagian pasir yang mengejar Issei tadi hanyalah cara untuk membuat sang sekiryutei melewati jalur yang telah ia buat.

Dan akhirnya...

Tepat saat Issei melintasi udara di tengah halaman kastil Tepes, gelombang pasir menerjang dari kanan dan kiri. Hendak kabur melewati jalur lain, tetapi ternyata telah tertutup dari arah depan dan belakang. Saat melihat ke atas, hasilnya sama saja. Ada lebih banyak pasir yang membentuk kubah setengah bola jatuh kebawah.

Sesaat, Issei melihat celah untuk kabur.

Star Sonic Booster

Ia pikir pasti berhasil lolos jika menggunakan kecepatan penuh.

Grepppp...

Terlambat.

Issei terlambat.

Dari arah bawah, ternyata ada lengan pasir yang menjerat kakinya. Buruknya lagi, ia dalam mode kecepatan dewa sehingga aspek pertahanannya menurun.

Gaara menyeringai, Issei tertipu celah kabur yang sengaja ia buat.

Dhuuarrrr...

"Gh...!"

Nafas Issei di balik helm armor terdengar berat akibat tubuhnya dibanting ke tanah.

Tapi serangan Gaara belum selesai. Ia membuat pijakan pasir untuk terbang melayang beberapa meter diatas tanah.

Kemudian pasir-pasir lain segera berdatangan dari segala arah. Jumlahnya luar biasa banyak, bergulung-gulung seperti ombak tsunami.

Ryusa Bakuryu

Karena kaki masih terjerat cengkraman pasir, Issei terpaksa harus merelakan dirinya diterjang pasir.

Azazel, Rias dan yang lainnya terpaksa menggunakan sayap mereka untuk terbang agar tidak ikut terkena tsunami pasir.

Saat gerakan pasir mulai melambat, nampak halaman depan kastil Tepes tidak lagi berwarna putih salju namun berwarna coklat akibat timbunan pasir, pasir yang dibuat Gaara dengan mengikis batu dan reruntuhan bangunan disekitarnya.

"Issei...!"

"Jangan khawatir." Azazel menahan Rias yang hendak turun setelah berteriak. "Serangan seperti itu mustahil bisa mengalahkan Issei."

Gaara tampaknya belum selesai dengan serangannya, terlihat dari tangan kanannya yang masih bergerak.

Gokusa Maiso

Akhirnya tidak ada lagi pasir yang bergerak, suasana menjadi tenang.

Ya, tenang setelah Issei terkubur hidup-hidup.

Gaara membuang nafas pelan, "Huuuft. Sekiryutei, kau mungkin bisa bertahan dari seranganku. Tapi kita lihat, seberapa lama kau bisa bertahan didalam sana? Tubuhmu kini terkubur sejauh 200 meter dibawah tanah. Pada kedalaman ekstrim itu, jika kau tak melakukan apa-apa, perlahan tubuhmu akan lemas hingga akhirnya remuk karena tekanan tinggi perut bumi."

Tidak lama kemudian, tanah nampak bergetar hebat. Getarannya jadi lebih kuat seperti digoncang gempa. Sekiryutei tidak akan berakhir dengan cara seperti itu.

Solid Impact Booster

Didalam tanah, Issei memfokuskan banyak kekuatan naga untuk meningkatkan ketebalan dan kekuatan bertahan armornya. Sebagian kekuatan lain ia alirkan ke canon di bahunya. Kemudian...

Fang Blast Booster

Blaaaaaassttttt...

KAABOOOOMMMM...

Langit kembali didominasi warna crimson.

Pilar cahaya yang muncul dari dalam tanah melesat ke langit lalu menciptakan ledakan besar.

Bekas pilar cahaya crimson menyisakan lubang yang dalam ke dasar tanah. Melewati lubang itulah, Issei keluar dari perangkap serangan Gaara.

Burst...

Hanya dengan sekali suara mekanik dari gauntlet di lengan kiri, kekuatan Issei kembali pada kondisi maksimal berkat Ddraig.

Issei terbang di udara, sejajar dengan Gaara yang berdiri di atas pijakan pasirnya.

Suara Issei terdengar sombong, "Aku tahu sekarang. Meski pertahananmu tak bisa kutembus, tapi kau tidak punya serangan yang mampu melukaiku dengan armor ini. Aku yakin yang tadi adalah serangan terbaikmu, iya kan?"

"Kalau memang begitu, kenapa?"

"Itu berarti kemenangan di tanganku. Kau tak bisa mengalahkanku karena seranganmu tak ada yang mempan padaku. Walau pertahananmu tidak bisa ku tembus, tapi dengan kekuatan yang diboost oleh Ddraig, aku bisa menyerangmu berkali-kali tanpa henti sampai kau kehabisan staminamu."

"Begitu?"

"Ya. Kau kalah, dan aku pasti akan membunuhmu."

Mendengar ancaman Issei, Gaara malah terkekeh. "Khukhuu, kau terlalu naif, Sekiryutei. Otakmu berjalan lambat dan kau pasti tidak banyak memiliki pengalaman bertarung."

"Jangan menghinaku, keparat! Setelah ini, kupastikan kau tidak bisa bicara lagi."

"Benarkah?" tanya Gaara menantang.

"Brengsek! Aku tak suka direndahkan."

"Hohoooo. Kau kira aku bodoh eh? Aku tahu kekuatanmu lebih superior dariku, makanya aku tidak berniat bertarung terlalu lama denganmu. Dengar ya! Cukup sampai disini saja, kau itu sudah kalah."

"Apa maksud ucapanmu?"

"Lihat badanmu sendiri!"

Issei mengikuti instruksi Gaara. Ia melihat ada sedikit serpihan pasir hitam yang melekat di permukaan armornya. Itu pasir kelima milik Gaara.

"Apa ini?"

"Itu pasir besi atau Satetsu" jawab Gaara singkat.

"Tch! Kau kira ini berefek padaku ha. Biarpun pasir besi, tapi dalam jumlah segini, menggores armorku pun kau tak akan bisa."

"Ini tidak akan seperti yang kau pikirkan, Sekiryutei. Saat kau kukubur didalam tanah tadi, aku memasukkan sejumlah pasir besi melewati celah persendian armormu. Kini ada lebih banyak pasir besi yang menempel di kulitmu. Pasirku yang terspesialisasi untuk menyerang point kritis. Yah, itulah petarung tipe armor. Kelemahannya terlalu mudah untuk dianalisis."

"Apa?"

Issei tak bisa untuk tidak terkejut. Armornya memang sangat kuat, tapi dalamnya tetap saja tubuh iblis biasa yang lemah. Ibarat cangkang kura-kura yang melindungi isinya.

Sang Sekiryutei mulai takut. "K-kau... Kau mau meremukkan tubuhku."

Gaara tertawa, "Hahaaa, itu cara kuno. Aku memang tak sehebat pendahuluku menggunakan kekuatan elemen magnet, tapi dengan spesialisasi serangan ini, aku bisa memaksimalkannya."

Issei tak mengerti.

Seringaian di bibir Gaara jadi sangat menakutkan. "Bagaimana jika butiran pasir besi dipermukaan kulitmu berpenetrasi menembus kedalam dagingmu. Lalu dengan chakra elemen magnet, aku mengacaukan medan magnet disekitar tubuhmu sehingga butiran-butiran pasir besi akan bergetar hebat seperti gergaji mesin. Bagaimanakah rasanya?"

"Ha?" mulut Issei terbuka lebar, tubuhnya bergetar hebat.

Gaara benar-benar gila, itu namanya bukan menyerang tapi menyiksa. Kepribadian lamanya, jiwa psikopatnya, ternyata belum benar-benar hilang. Dia mulai mengangkat lengan kirinya ke depan dengan telapak tangan terbuka.

Sudut bibir Gaara terangkat makin tinggi sehingga seringaiannya makin lebar, "Hahahahaaaa... Rasakannnn! Rasakan siksaan yang datang dari dasar jurang nerakaaaaaaaa!"

grep.

Gaara mencengkram tangannya, dan...

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA..."

Teriakan nyaring dari sang Sekiryutei menggema sepanjang tanah kastil Tepes. Jeritannya yang sangat dalam menunjukkan betapa hebat rasa sakit yang dia alami. Banyak sekali darah yang mengucur keluar dari setiap celah persendian armor Cardinal Crimson. Darah itu menetes jatuh kebawah, saking banyaknya seperti tetesan air hujan.

Memang benar kalau armor Cardinal Crimson itu sangat kuat, tapi tidak akan berarti apa-apa jika sebuah serangan ditujukan secara langsung pada seseorang di dalamnya.

"Ghuhahahaaaa..." Gaara malah tertawa menyaksikannya.

Sementara itu, teman-teman Issei tidak tahan untuk tidak mengumpat. Gaara benar-benar biadab.

Inilah tipikal pertarungan Gaara. Ciri khasnya adalah bertahan sampai musuh frustasi dan tertekan, lalu menyerang dengan serangan satu kali skakmat bahkan kalau perlu disertai siksaan mengerikan.

Perlahan, Issei yang semula melayang di udara jatuh ke bawah.

Brakkkk...

Terdengar hantaman keras ketika menyentuh tanah.

"Isseeeeeeiiii!"

Rias yang berteriak paling nyaring. Ia langsung berlari dan mendekap tubuh Issei.

Issei terbaring di tanah. Hanya menerima satu kali serangan saja, dia sudah dibuat tak berdaya. Armornya memang tak mendapat goresan, tapi badannya, kulitnya, dagingnya yang ada didalam pakaian armor terasa seperti dibakar, diiris ribuan kali, dan dikoyak sekaligus. Rasanya benar-benar menyakitkan. Walau tak ada darah yang dimuntahkan dari mulutnya, yang menunjukkan tak ada organ dalam yang terluka, tapi luka luar pada hampir semua permukaan tubuhnya mengeluarkan jauh lebih banyak darah dari yang dikira. Jika dibiarkan tanpa penanganan, dalam beberapa menit saja Issei bisa dipastikan akan mati kehabisan darah.

Semua anggota kelompok Gremory bahkan Azazel dibuat tak percaya. Hanya Bennia dan Rugal yang nampak masih tenang, mereka bersikap sebagaimana King mereka, Sona Sitri.

"Heal!."

Asia mengirimkan aura hijau penyembuh. Dengan begini, luka di sekujur tubuh Issei berangsur sembuh, nyawanya terselamatkan. Meski begitu, Issei tak mungkin bisa langsung bertarung lagi. Tekanan mental akibat rasa sakit luar biasa yang baru saja ia alami membuat kesadarannya hampir hilang, trauma yang timbul cukup untuk membuat Issei tak bisa lagi menggerakkan tubuhnya untuk saat ini.

Armor mode Cardinal Crimson Full Drive terlepas secara otomatis. Issei kembali ke mode normal dengan tubuh aslinya.

Xenovia tidak tahan lagi untuk tidak bergerak.

Slice...

Aura energi suci dari Ex-Durandal berkekuatan max dikirimkan pada Gaara. Tanah terbelah sepanjang jalur lurus yang dilewatinya.

Gaara tak merubah ekspresinya, dengan tenang dia menyambut serangan itu. Berdiri di posisisnya tanpa melakukan gerakan apapun, serpihan partikel pasir berkilau dengan cepat menyusun diri membentuk bangun ruang tiga dimensi berukuran besar. Kali ini bentuknya lebih rumit seperti batu permata yang diasah oleh pengrajin batu mulia profesional.

Aura suci Ex-Durandal masuk kedalam bangun itu, massanya yang terbentuk dari pasir kuarsa mampu membiaskan aura suci, membelokkannya sesuai perhitungan sudut pembiasan dari setiap sisinya.

Dan hasilnya ...

Aura suci Ex-Durandal terpecah menjadi banyak bagian kecil dan dikirimkan kembali ke arah kelompok Gremory.

Gaara menyeringai, apa karena dikuasi amarah yang menyebabkan Xenovia lupa akan kemampuan khusus pasir kuarsa miliknya? Tembakan Crimson Blaster dari Sekiryutei mode terkuat saja mampu dibelokkan, jadi hal yang sama juga akan berlaku pada aura suci Ex-Durandal.

Yah, kedua-duanya sama-sama berbentuk energi yang merambat mengikuti hukum mekanika radiasi gelombang elektromagnet sehingga bisa dibelokkan dengan prinsip pembiasan. Ternyata walaupun kekuatan sihir atau apapun berasal dari dunia supranatural, tapi masih saja tidak lepas sepenuhnya dari hukum fisika dunia manusia.

Tidak ada waktu untuk panik, sedikit lagi ratusan pecahan aura suci dari Ex-Durandal yang merupakan kelemahan dan berakibat sangat fatal bagi para iblis akan menghujani semua anggota kelompok Gremory. Rias membuat lingkaran sihir berbentuk kubah untuk menahan serangan balik dari Gaara. Ia dibantu Akeno.

Blllarrrrrrr...

Selamat, kekuatan gabungan mereka berdua cukup.

Tidak, tidak cukup sebenarnya. Rias dan Akeno adalah iblis. Aura suci menjadi momok bagi mereka.

Beruntung Azazel juga membuat kekkai cahaya untuk membuat satu lapisan pertahanan lagi sehingga mereka semua selamat.

Sword Birth

Kiba langsung maju menyerang. Dia tidak akan tinggal diam. Dari tempatnya berdiri tumbuh berbagai macam pedang dari dalam tanah. Semua pedang itu tumbuh semakin banyak, menuju ke tempat Gaara berdiri.

PyarrPyarrPyarrPyarrPyarrPyarr

Crrusshhhh...

Tak ada satupun pedang ciptaan Kiba yang tersisa. Semuanya remuk dan pecah berkeping-keping ketika badai pasir hitam menghantamnya. Itu semua pasir besi. Pasir yang partikelnya bergetar cepat dan kuat secara molekuler, yang akan membuat ikatan antar molekul benda padat akan rusak dan hancur berkeping-keping. Menghancurkan bilah pedang jadi hal mudah bagi Gaara.

Tak habis serangan, kini Rossweisse yang ambil giliran. Dia membuat banyak lingkaran sihir di udara dan semuanya menghadap kearah Gaara yang berdiri tenang sebagai targetnya.

Lesatan hujan sihir semua atribut menghujani Gaara. Diserang secara massal dalam lingkup luas dengan serangan berdamage besar membuat Gaara hanya punya satu pilihan yaitu bertahan dengan membentuk kubah dari pasir biasa yang mengurung tubuhnya. Kubah itu berbentuk bola berwarna coklat, seperti cangkang telur yang melindungi isinya.

Serangan Rossweisse gagal. Akibatnya, kini semua iblis dalam kelompok Gremory jadi semakin frustasi dan depresi.

Tapi tidak dengan Azazel. Ia berhasil mendapatkan sesuatu setelah menganalis serangan-serangan yang dilancarkan anak muridnya. "Rossweisse-san, lihat! Seranganmu membuahkan hasil."

"Ah?" Rossweisse menyerngit tak mengerti.

"Sebelah kiri atas bola pasir yang mengurung tubuhnya."

Rossweisse mengikuti arah yang ditunjukkan Azazel.

Iblis mantan Valkirie inipun langsung menyadarinya. Ada bagian dari pasir yang perlahan jatuh karena ikatannya hancur. Pasir di bagian itu tampak basah dan Rossweisse ingat kalau ia menyerang bagian itu dengan sihir beratribut elemen air.

"Tch, jadi begitu rupanya." Ekspresi Rossweisse jadi lebih tenang. "Hei, semuanya. Siapkan serangan terkuat kalian dari sekarang!"

Rias, Kiba, Xenovia, dan Akeno menoleh ke arah Rossweisse.

"Aku sudah tahu cara untuk menghancurkan pertahanan mutlaknya" guru perempuan berambut putih itu menjawab kebingungan muridnya. "Pasir lemah terhadap air. Aku juga heran dengan diriku sendiri karena terlambat menyadarinya. Kalian pasti tahu kan? Sekokoh dan sebesar apapun istana pasir di pantai, pasti akan roboh jika dihempas ombak pasang dari lautan."

"Kami mengerti." ucap Rias.

"Jadi, langsung serang dengan semua kekuatan kalian begitu pertahanannya hancur."

Rossweisse pun menciptakan banyak lingkaran sihir, ukurannya tiga kali lebih besar dari yang tadi. Dari dalam lingkaran sihir itu, dimuntahkan ribuan kubik air. Semuanya di arahkan menuju bola pasir yang melindungi Gaara.

Akibarnya bola pasir itupun luntur, menyisakan tubuh Gaara yang tanpa perlindungan.

"Apa kalian kira pasirku hanya segini ha?"

Gaara mengumpulkan pasir lagi dalam jumlah besar dari tanah yang ia pijak. Pasir itu bergulung-gulung seperti ombak menuju Tim Gremory.

Rossweisse tak kalah. Dia mengirimkan ribuan kubik air lagi sebagai tandingan.

Hasilnya, jelas kemenangan ada di tangan Rossweisse.

Pasir yang bisa diambil Gaara dari dalam tanah terbatas dari daerah sekitar saja, sedangkan air yang dikirimkan Rossweisse seolah tak terbatas selama stamina dan jumlah energi sihirnya masih ada. Lagipula, pasir yang sudah basah karena air tidak bisa lagi dipakai oleh Gaara.

Tubuh Gaara pun basah kuyup karena diterjang air. Ia masih bisa berdiri. Kini hanya tersisa pasir lima warna dalam jumlah sedikit yang mengelilingi tubuhnya. Jika pasir ini habis, maka habis lah sudah. Tamat bagi Gaara.

Belum cukup sampai disana, tiba-tiba intensitas chakra yang terpancar dari tubuh Gaara turun drastis hingga berada pada level normal, level shinobi biasa. Hal ini pasti karena kesadaran dan chakra Shukaku si bijuu ekor satu telah kembali ke tempat asalnya, ditransfer secara otomatis karena waktu habis. Tadi Shukaku mengatakan masih tersisa waktu 15 menit kan? Dan waktu itu sudah selesai.

Gaara tidak lagi dalam kondisi maksimal.

Para iblis muda yang menyadari penurunan level kekuatan Gaara merasa di atas angin.

"Jadi bagaimana?" Rias berbicara sebelum melempar bola hitam Bintang Pemusnah yang merupakan serangan terkuatnya. Jika itu mengenai Gaara, bisa dipastikan dia akan mati. "Pilih! Apa kau mau mengembalikan Holy Grail atau merasakan tubuhmu lenyap tanpa sisa bahkan sampai jiwamu.?"

"Huh?" Walaupun dalam kondisi tidak menguntungkan, namun Gaara sama sekali tidak menunjukkan raut wajah kekalahannya. "Aku tidak akan memilih salah satu ataupun keduanya karena aku masih bisa melawan."

"Pasirmu hanya tersisa sedikit. Dengan apa kau akan melawan ha?"

Giliran Azazel yang mengancam.

"Apa kalian semua lupa kalau aku tidak sendiri?"

"A-..."

Dhuarrr...

Belum sempat Xenovia melontarkan kata-katanya, lebih dahulu dipotong oleh benda jatuh di dekat Gaara yang menimbulkan suara keras dan kawah kecil di tanah.

Dilihat seksama, itu bukan benda. Itu manusia. Manusia berpakaian serba hijau dengan aura hijau yang menyelimutinya. Kulitnya berwarna lebih gelap dari normal dan pupil matanya tidak ada.

"Butuh bantuan, Kazekage-sama?"

"Seperti yang kau lihat, Lee."

Azazel yang paling banyak memiliki pengetahuan dan pengalaman, mengamati tubuh Lee dengan teliti. Dia bergumam, "Berapa? Berapa gerbang batin yang sudah dia buka?"

Ya, Azazel cukup ingat dengan kejadian sebelumnya. Saat mereka dihalangi oleh pasukan vampir, lalu Lee yang dalam sekejap menaikan kekuatannya secara drastis hanya dengan membuka gerbang batin yang pertama. Azazel cukup tahu banyak tentang seni bela diri cina dan penguasaan konsep spiritualnya, karena itu dia harus memperhitungkannya.

"Gerbang Kelima, Tomon."

Lee menjawab pertanyaan Azazel dengan ringkas, telinganya cukup peka untuk mendengar gumaman tadi.

Azazel terdiam, gerbang kelima? Jangan bercanda. Itu jadi masalah besar untuknya dan anak-anak didiknya. Melihat gerbang pertama saja saat Lee melenyapkan pasukan vampir sudah sangat mengerikan, bagaimana dengan gerbang kelima?

Sebagai guru dan pembimbing tim Gremory, ia cukup sadar diri untuk tidak berhadapan dengan Lee yang sekarang. Kecepatan Lee mungkin seimbang dengan kecepatan Kiba, budak tercepat dalam kelompoknya. Masalahnya adalah fisik Kiba lemah, dan dalam kecepatan itu Lee sanggup melancarkan tinju maupun tendangan dengan kerusakan tinggi pada siapapun. Yang cocok untuk melawan Lee hanyalah Issei, keduanya sama-sama mengedepankan aspek serangan fisik dan tinju. Tapi Issei masih terluka, belum bisa bertarung lagi.

Azazel juga masih ingat, saat pertama datang ke Rumania dan menekan Ratu Carmilla agar tunduk pada Aliansi, tiba-tiba saja Gaara datang tanpa diundang. Lalu saat dia hendak menyerang Gaara dengan kecepatan penuh beserta niat membunuh, serangannya digagalkan dengan mudah oleh Lee dalam mode gerbang kelima. Andai refleknya saat itu terlambat sedikit saja, tubuhnya mungkin akan mendapat luka fatal akibat tendangan Lee.

Berharap pada Bennia dan Rugal bukan hal tepat. Ini masalah internal kelompok Gremory yang tak bisa dengan gampang dicampuri oleh budak Sitri tanpa ijin dari Sona.

Nampak Rias pun mengerti hal itu, begitupula dengan iblis lainnya. Mereka sudah berniat membatalkan serangannya pada Gaara.

Namun sebelum menyimpan kembali serangan masing-masing, iblis-iblis muda dikejutkan dengan satu suara lagi.

"Heiiiii!, Tidak ada yang melupakanku kan?"

Tenten terbang di langit. Ia menunggangi seekor naga jahat jelmaan vampir yang tersisa semudah memacu kuda. Jelas sekali terlihat dari caranya, Tenten mengendalikan naga itu dengan benang-benang baja di tangannya. Naga itu meliuk-liuk lalu terbang rendah.

Tenten pun terjun,

Tapp

dan mendarat di tanah. Lalu sesaat kemudian,

Jrasssshhh...

naga jahat tunggangannya terpotong berkeping-keping saat ia menghentakkan jari-jari tangannya. Potongan daging dan tulang berjauhan ke tanah, begitupula darahnya yang seperti tumpahan air hujan. Rupanya itu adalah naga jahat terakhir yang tersisa dan Tenten tak membiarkannya hidup.

Tenten tersenyum seolah menganggap pertunjukkannya tadi hanya hal biasa. "Apa aku terlambat?"

"Tidak, kau tepat waktu, Tenten-san." ucap Gaara

"Oke. Terima kasih, Gaara-kun." sahut Tenten dengan nada manis.

Lee sontak terkejut, dia memutar kepalanya patah-patah. "S-sejak k-kapan kalian jadi mesra begitu?"

Gaara tidak menjawab, sedangkan Tenten merespon dengan tawa kecil serta jari tangan dan telunjuk teracung.

Okeh, lupakan hal tidak penting itu sejenak.

Gaara menoleh ke arah Azazel, "Masih mau dilanjutkan?"

Azazel tak bisa langsung menjawab. Saat ini mungkin kondisi timnya dan tim Gaara sejajar jika dipaksa melakukan pertarungan, katakan lah seimbang. Kelemahan Gaara sudah diketahui, yaitu air, dan Gaara memang sudah melemah karena monster pasir tidak lagi bersamanya. Lalu melawan Lee dan Tenten mungkin bisa dilakukan jika punya strategi jitu dengan memanfaatkan keuntungan jumlah personel dalam timnya, serta memaksimalkan formasi tim sebagai penyerang Super-offensive.

Nyatanya bukan itu yang jadi pertimbangan utama Azazel menahan diri. Ketika melihat ke sekeliling, dia sadar kalau melanjutkan pertarungan bukanlah hal tepat. Apalagi ketika saat ini banyak vampir dari pasukan biasa sampai bangsawan darah murni pro-pemerintahan yang menonton, bahkan Ratu Carmilla dan Lord Tepes yang diberitakan hilang juga telah datang lengkap dengan pengawal pribadinya. Padahal beberapa saat lalu, di halaman kastil Tepes hanya diisi pasukan vampir kelas bawah.

Ini bukan lagi masalah pribadi antara Tim Gremory dan Tim Gaara, tapi juga menyangkut urusan politik dengan bangsa Vampir.

Rias dan budak-budaknya pun tampak mengerti hal itu. Setelah menyimpan kembali serangan yang hendak dilepas kepada Gaara tadi, dia memilih diam bersama dengan Akeno, Rossweisse, Kiba, Irina, dan Xenovia yang masih siaga tempur. Gasper masih pingsan dan sekarang digendong Koneko. Asia sibuk menyembuhkan Issei. Issei tetap sadar dan bisa bicara walau hanya bisa terduduk saja. Irina membawa Valerie di gendongannya, lalu Rugal dan Bennia berdiri disamping Irina.

"Bisa jelaskan, ada apa ini?"

Lord Tepes dengan wibawanya sebagai pemimpin mempertanyakan ada masalah apa? Itu hak dia karena tanah tempat mereka semua berpijak saat ini adalah wilayah yang menjadi tanggung jawabnya. Pertarungan di luar hal yang diijinkan oleh pihak yang berwenang jelas dilarang.

Ratu Carmilla berdiri tidak jauh dari Lord Tepes. Ada pula Elmenhilde disampingnya, si pelayan kecil kesayangan ratu yang menunjukkan ekspresi benci pada para iblis.

Kini suasananya seperti sidang. Azazel dan muridnya sebagai perwakilan dari Aliansi berkumpul disebelah kiri halaman kastil yang telah porak-poranda sedangkan kubu tim Gaara sebagai tamu dari Konoha disebelah kanan. Lord Tepes, Ratu Carmilla, dan bangsawan vampir berdarah murni hingga pasukannya berkumpul di sudut lain sehingga semua posisi kubu membentuk tiga sudut.

"Bukannya masalah sudah selesai, semua pengkudeta sudah dilenyapkan kan?"

Ratu Carmilla menambahkan pernyataan yang mempertanyakan apa kepentingan pertarungan antara tim Gaara dengan murid-murid Azazel. Sudah diketahui oleh semua orang di tanah Rumania bahwa ada bantuan dari kerjasama perwakilan Aliansi Tiga Fraksi Injil dengan utusan dari Konoha. Bantuan untuk menyerang pihak pengkudeta dari dalam dan menyelesaikan akar masalah yang disebabkan oleh kelompok teroris Khaos Brigade, sementara pasukan utama menyerang dari luar untuk mengeksekusi para penkudeta.

Kesepakatan itu diumumkan oleh Ratu Carmilla sendiri tengah malam tadi sesaat sebelum dimulainya penyerangan terhadap Kote Tepes. Pengumuman itu memang diluar kebiasaan karena bangsa Vampir menutup diri dan menolak bantuan dari dunia luar. Namun sebab masalahnya genting dan pelik, jadi keputusan itu bisa diterima oleh semua pihak didalam internal Bangsa Vampir.

"Maaf yang mulia Ratu, masalah belum selesai." ungkap Rias dengan tegas. Dia coba menonjolkan kedudukannya sebagai bangsawan pewaris tahta keluarga Gremory.

Elmenhilde merespon dengan nada tidak suka. "Dengar ya! Perang telah selesai dan para pengkudeta telah dinyatakan kalah. Berita itu sudah diumumkan beberapa saat lalu kepada semua pasukan diseluruh sudut kota sejak para naga jahat hitam jelmaan vampir dibersihkan berkat bantuan dari Gaara-sama dan timnya."

"Ap-..."

Rias tidak menyangka hal ini. Apa-apaan? Batinnya berteriak tak terima. Mungkin benar apa yang dikatakan Elmen, tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau selama pertarungan Issei melawan Gaara ternyata pernyataan menang telah diumumkan tanpa ia sadari. Bisa jadi ia yang salah karena tidak menyadarinya, tapi itu karena sibuk berurusan dengan Gaara. Lagipula sebagai tamu penting, dia merasa bahwa seharusnya hal itu diberitahukan secara khusus padanya.

Dengan semua kenyataan ini, Rias merasa dirugikan.

Xenovia lagi-lagi tersulut emosi. "Dia merampas Holy Grail milik Valerie. Kalian tidak apa-apa dengan hal itu hah? Valerie itu vampir, bagian dari kalian semua." ucapnya sambil menunjuk wajah Gaara tanpa sedikitpun sopan santun.

Hening.

Hanya ada suara lembut desiran angin yang berhembus pelan yang mengisi suasana.

Karena tak mendapatkan respon, Xenovia bersuara lagi dengan ekspresi bingung. "H-hei, a-ada apa dengan kalian? Katakan sesuatu!"

"Ekhkhemm." Gaara seperti sengaja membuat suara batuk. "Maaf Nona, tolong untuk tidak mengatakan sesuatu yang tidak-tidak atau hal yang bisa menimbulkan konflik." ucap Gaara dengan sopan.

"Apa?!"

Rias sedikit memekik. Drama macam apa ini? Opera sabun? Tanya Rias dibenaknya, begitupula dengan budak-budaknya.

Gaara menyunggingkan senyum. "Baiklah. Aku akui antara kita pernah terlibat masalah saat pertemuan di Kuoh beberapa bulan lalu. Kalian mungkin dendam padaku karena melukai kalian. Tapi tolong, kita berada di tanah bangsa Vampir. Kita adalah tamu dan harus menghargai tuan rumah. Tidak perlu membuat tuduhan kalau aku merampas Holy Grail, kita bisa selesaikan urusan antara kita pada tempat dan waktu yang lain."

Ucapan Gaara terdengar sangat bijak tapi senyumannya nampak seperti senyum licik di mata Rias dan yang lain.

Ratu Carmilla mencoba menengahi, "Kuharap kita selesaikan hal ini dengan kepala dingin. Tak perlu pertarungan." Perkataannya terdengar lembut dan tegas diwaktu bersamaan, menunjukkan betapa tinggi wibawanya sebagai seorang ratu.

"Ya, aku setuju dengan usul Ratu." sambung Lord Tepes.

Tampak tubuh raja pemimpin Faksi Tepes kurang sehat. Dia pasti masih belum sembuh benar dari lukanya. Khabar yang tenar beredar mengatakan bahwa Lord Tepes diserang oleh Marius menggunakan pengawalnya yang merupakan Naga Jahat terkuat dari Khaos Brigade, Crom Cruach. Wajar kalau Lord Tepes kalah dan keberadaannya menghilang. Namun dia berhasil selamat berkat orang dari Konoha. Gaara lah yang menemukannya. Semua orang dari Faksi Tepes berterima kasih pada Gaara.

Untuk alasan itulah, Lord Tepes baru bisa menunjukkan dirinya setelah perang melawan pengkudeta selesai.

"Terima kasih atas dukungan anda, Yang Mulia Raja Tepes."

Karena ini tanah para Vampir, terpaksa harus mengikuti aturan vampir. Rias mau tidak mau mengikuti penyelesaian dengan jalan perundingan. Bagaimanapun, dirinyalah yang benar, Gaara yang merampas Holy Grail, dan berhubung Holy Grail itu milik Valerie yang jelas-jelas putri Lord Tepes, ia merasa diuntungkan. Gaara pasti akan didepak dari tempat ini bahkan dihukum kalau perlu. Bukan perlu, tapi harus.

Meski ini adalah tempat terbuka, di halaman depan Kastil Tepes yang telah hancur, tapi karena masalah harus segera diselesaikan sehingga perundingan pun langsung dilaksanakan di tempat ini, saat ini juga.

Elmenhilde Galnstein yang memulai. "Rias Oujo-sama. Bisakah anda membuktikan tuduhan kepada Gaara-sama yang dikatakan oleh salah satu budak anda tadi?"

Terdiam.

Rias terpaksa diam.

Ya. Meski melihat jelas bagaimana perbuatan Gaara merampas Holy Grail, tapi ia tidak punya bukti fisik. Ditambah lagi, saksi yang melihat kejadian itu adalah budak-budaknya sendiri. Jelas kesaksian mereka akan dinilai subjektif dan tak bisa diterima.

Rossweisse ternyata punya jawaban. "Untuk hal itu, kalian bisa lihat sendiri kondisi Valerie-san." Dia menunjuk Valerie yang digendong Irina. "Dia tak sadarkan diri karena Holy Grail di ekstrak dari tubuhnya."

Salah satu bangsawan vampir bergumam cukup keras. "Bukannya kalau Sacred Gear di ekstrak, maka pemiliknya akan mati? Valerie disana masih hidup kan? Dia hanya pingsan. Pasti itu disebabkan karena dia terlalu banyak menggunakan Holy Grail sehingga tubuhnya terus melemah."

Gumanan itu ternyata di dengar oleh oleh banyak orang. Dan itu terdengar logis sebab tidak bertentangan dengan pengetahuan umum tentang Sacred Gear.

Akeno mengangkat tangannya. "Holy Grail dalam tubuh Valerie ada tiga. Sekarang hanya tersisa satu saja , karena itulah dia tidak sadarkan diri"

"Tiga?" ucapan Ratu Carmilla menyiratkan kebingungan. "Bagaimana bisa? Selama ratusan tahun, teori mengatakan kalau Longinus hanya mungkin ada satu dalam satu waktu bersamaan. Kumohon agar kalian tidak mengatakan sesuatu yang tak berdasar. Kami mengerti, Azazel-dono adalah pemimpin Grigori yang mengkhususkan diri dalam penelitian Sacred Gear, tapi tidak sampai seperti ini juga kan memutarbalikkan fakta."

Elmenhilde menyambung ucapan Ratu-nya, "Tapi kalau benar apa yang kalian katakan, harusnya kalian bisa membuktikan kalau Holy Grail berjumlah tiga kan?"

Lagi.

Sekali lagi Rias dan budak-budaknya terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada cara untuk menjelaskan ataupun membuktikan bahwa Holy Grail Valerie ada tiga dalam satu paket. Itu masih hipotesis yang harus diteliti lagi di Grigori.

Walaupun mereka semua sudah melihat dengan mata kepala sendiri ada dua cawan suci Sephiroth Graal yang dikeluarkan dari dalam tubuh Valerie dan satu lagi masih didalamnya, tapi saat ini tidak ada yang bisa ditunjukkan. Satu Holy Grail telah dirampas dan disembunyikan Gaara, satu lagi dibawa pergi oleh Rizevim. Dengan hanya satu Holy Grail saja yang tersisa didalam tubuh Valerie, tak akan cukup untuk menunjukkan kalau Holy Grail tidak hanya satu, apalagi tiga. Karena hal ini, tuduhan pada Gaara jadi tidak berdasar dan tak ada bukti.

Elmenhilde melanjutkan pertanyaannya dengan nada mengejek, "Tidak punya bukti huh?"

Tak ada satupun budak Gremory yang tak menggeram marah karena tersulut emosi oleh pertanyaan sinis dari mulut pedas Elmen.

Elmenhilde berkata lagi, "Oh iya. Salah satu tim pasukan kami berhasil menangkap hidup-hidup seorang bangsawan yang kabur dari basement Kastil Tepes. Dia mengakui perbuatan Marius yang mengekstrak Holy Grail agar bisa digunakan untuk mengubahnya menjadi vampir tanpa kelemahan. Marius dan bangsawan lainnya telah lenyap ditelan kegelapan dari Gasper Vladi lalu Holy Grail pun dikembalikan kedalam tubuh Valerie. Hanya dia satu-satunya yang berhasil keluar dari basement Kastil Tepes. Dia memberi kesaksian bahwa tidak ada satupun anggota teroris Khaos Brigade yang muncul didalam basement, dan Tim Gaara-sama pergi duluan ke permukaan lebih dahulu dari kalian untuk melawan naga jahat jelmaan. Setengah jam lalu, dia telah di eksekusi mati karena perbuatannya melakukan kudeta."

Wajah Azazel sontak mengeras karena mendengar ucapan Elmenhilde.

Glek...

Apa-apaan semua kebohongan ini? Konyol! Cerita macam apa itu? Hei, tak adakah satupun orang disini yang melihat kejadian sebenarnya? Azazel meneriakkan semua pertanyaan itu dalam benaknya.

Azazel muak, emosinya naik sampai ke ubun-ubun. Ia tahu persis semua kejadiannya, tapi kenapa fakta malah diputar balik dan memojokkan dirinya? Ia marah besar. Dia merasa sangat dirugikan. Kedudukannya dipermainkan saat ini.

"Cukup! Hentikan omong kosong ini!"

Suara bernada tegas disertai hentakan kaki dari Azazel plus luapan emosi membuat tak satupun ada orang yang berani bicara lagi. Azazel adalah Gubernur Malaikat Jatuh, salah satu Fraksi besar dalam dunia supranatural. Nama besarnya yang tercatat dalam Injil punya pengaruh kuat sampai ke berbagai mitologi.

"Kita semua sudah jelas mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kan?"

Pertanyaan Azazel lebih khusus ditujukan kepada semua orang terlibat termasuk didalamnya petinggi dari bangsa Vampir, yaitu Lord Tepes, Ratu Carmilla, dan Elmenhilde Galstein, yang Azazel yakin tahu persis kejadiannya tapi malah bermain-main. Meski hampir semua bangsawan dan pejuang vampir yang ada disini tidak mengerti dan tak tahu apa-apa, tapi Azazel tak peduli.

Tak ada yang menjawab pertanyaan Azazel karena jawabannya sudah pasti iya.

"Baiklah kalau itu mau kalian." Karena pemimpin bangsa Vampir tidak menjawab, maka Azazel membuat keputusan berani saat ini juga. "Kami atas nama Aliansi Damai Tiga Fraksi Injil memiliki hal yang harus diselesaikan dengan tiga orang utusan Konoha. Apa yang telah mereka bertiga lakukan dengan mencuri salah satu Holy Grail, telah memicu konflik sehingga kami harus segera mengambil tindakan. Untuk kalian bangsa vampir, jika melindungi utusan Konoha maka kalian juga akan dianggap melawan perdamaian. Jadi apa keputusan kalian, Yang Terhormat Lord Tepes dan Ratu Carmilla?"

"Apa-apaan ini?" Elmenhilde naik pitam. "Kami hanya mencoba memfasilitasi perundingan antara kalian dengan utusan Konoha karena hal yang kalian ributkan adalah Valerie dan Holy Grail yang jelas-jelas bagian dari kami. Tapi kenapa sekarang anda malah mengancam kami, Tuan Gubernur?"

"Cukup main-mainnya! Aku berkata serius!" bentak Azazel. Ia tak mau dipermainkan.

Rias dan lainnya merasa lebih tenang mengetahui guru pembimbing kelompok mereka telah mengambil tindakan nyata.

"Kalian tahu? Ada ribuan pasukan dari Aliansi yang membuat barikade di perbatasan wilayah Vampir. Pasukan itu dipimpin oleh beberapa iblis kelas tinggi dan para Brave Saint dari Surga. Awalnya barikade itu diciptakan untuk mencegah kaburnya para pengkudeta dan teroris Khaos Brigade, tapi melihat kondisi saat ini aku bisa saja memerintahkan semua pasukan itu untuk menyerbu masuk kedalam wilayah Vampir, mengerti!?" Azazel melanjutkan ancamannya.

"Apa?" nampak getar ketakutan dari tubuh Lord Tepes. Begitu pula halnya dengan petinggi vampir yang lain.

Jika Azazel serius akan melakukannya, wilayah vampir akan rata dengan tanah. Aapalagi pasukan vampir baru saja berjuang melenyapkan pengkudeta, mereka kelelahan dan kekuatan pun tidak cukup jika harus berperang lagi.

Gaara masih diam tanpa mengucapkan apa-apa. Dia tampak menunggu sesuatu.

"Kutanya sekali lagi, apa keputusan kalian?"

". . . . ." terdengar bisik-bisik ketakutan dari para vampir. Meski pemimpin mereka Lord Tepes dan Ratu Carmila belum mengambil keputusan apa-apa, nampaknya sudah banyak suara agar menyerahkan utusan Konoha kepada Azazel. Tentu mereka tak ingin diserbu pasukan Aliansi.

Nasib seluruh bangsa Vampir ditentukan dari keputusan saat ini. Salah mengambil keputusan, maka kehancuran adalah ujungnya.

Azazel mengalihkan tatapannya pada Gaara, "Apa yang kau pilih? Serahkan Holy Grail itu padaku sekarang atau kau akan melihat seluruh vampir dimusnahkan?"

Gaara nampak masih menunjukkan ekspresi tenang, "Kurasa aku tak perlu menjawabnya, Azazel-dono."

"Hm?" Azazel mengikuti arah jari telunjuk Gaara.

Di langit pagi kota Tepes, berkas siluet hitam sesosok tubuh bergerak cepat meninggalkan bayangan merah yang sangat panjang. Bayangan itu membentuk garis lurus patah-patah akibat gerakan zig-zag yang sangat cepat. Turun ke bawah, dan ...

Dhuuaarrr...

Asap mengepul dari lubang kecil di permukaan tanah yang tertutup hamparan salju tipis. Lokasi jatuhnya orang itu masih di halaman kastil Tepes, tidak jauh dari orang-orang yang berkumpul disana.

"Itteeeeiiii..." sosok itu meringis kesakitan. Dia perempuan yang tampak masih muda dengan seragam militer Inggris seksi yang terbuka dibagian-bagian tertentu. Dia menggerutu sebal pada dirinya sendiri, "Kenapa sih pendaratanku tidak pernah mulus?"

"Jadi ini keputusan kalian? Baiklah, aku tidak akan segan lagi sekarang."

Azazel mengerti kalau kedatangan sosok itu adalah tanda perlawanan dari pihak vampir.

Asap memudar, Issei yang sudah bisa bicara dengan benar bertanya pada Azazel, "Sensei, orang itu?"

Rias dan budaknya yang lain pun tampaknya tak kenal dengan perempuan yang baru saja datang. Perempuan itu cantik, matanya merah seperti vampir pada umumnya. Rambutnya pirang pendek dan dikuncir dua.

"Seras Victoria. Dia berbeda dengan vampir lainnya. Seperti halnya strata iblis, ada levelisasi vampir dalam hal kekuatan. Kalian sudah tahu kan ada vampir darah murni dan darah setengah?, lalu kelas dari rendah sampai tinggi? Lord Tepes dan Ratu Carmilla adalah vampir darah murni yang menempati kelas tertinggi. Namun ada pengecualian, ada hal berbeda dari vampir. Seras Victoria, satu-satunya yang dikategorikan vampir super atau Super-Vampire, dia seolah diragukan apa dia benar-benar vampir atau bukan. Sama halnya dengan Ajuka dan Sirzech serta Rizevim yang juga disebut-sebut sebagai Super-Devil."

Meski Azazel menjelaskannya dengan tenang, namun itu tak bisa untuk tak membuat Rias dan budak-budaknya gentar. Vampir kelas tinggi saja sudah lawan yang sulit untuk mereka, bagaimana dengan Super-Vampire?

Azezel melanjutkan, "Super-Vampire, dia eksistensi dari bangsa vampir yang punya tubuh terkuat, kecepatan diluar nalar, regenerasi lebih baik dari Iblis Phoenix, abadi, stamina dan sihir yang luar biasa banyak dan skill serta teknik bertarung yang hebat. Melawannya akan sangat sulit."

"Y-yang be-benar, Ssensei?" tanya Rias terbata-bata.

"Tapi tenang saja, Rias. Meski begitu, jika dibandingkan dengan Super-Devil seperti kakakmu, dia bukan apa-apa. Itulah perbedaan jauh antara bangsa iblis dengan vampir."

"Kheh, jangan sombong!"

Suara bernada mencemoh itu tiba-tiba terdengar. Itu bukan suara orang yang ada di halaman kastil. Itu suara dari orang lain yang baru saja datang tanpa dapat dirasakan hawa keberadaannya.

Semuanya menoleh ke arah tiang lampu di depan pintu kastil. Tiang lampu itu besar, dan sosok yang bicara sedang berdiri di atasnya, seorang vampir.

Dia seorang wanita berumur 25-an. Penampilannya modis, pakaiannya nampak seksi dan terbuka dengan gaun berwarna merah darah menantang, tak sedikitpun terlihat kedinginan di tengah tempat bersalju ini. Rambutnya panjang hingga melewati paha, warnanya pirang menyala. Iris matanya berbeda dengan vampir manapun, mata itu berwarna dan bersinar seperti emas yang menunjukkan bahwa dia istimewa, dia spesial.

"Kau?"

Azazel menyipitkan mata pada perempuan itu, ia tampak mengenalnya.

"Sebagai orang yang sudah lama hidup, anda mungkin mengenal wajahku dan ingat namaku kan, Tuan Gubernur?"

Kedatangan satu sosok ini membuat Azazel lebih waspada karena yang datang bukan lah sosok sembarangan.

Dia, seorang legenda vampir.

Legenda.

Sebelum ditanya oleh muridnya, Azazel langsung bicara. "Putri Rola. Aku yakin aku tidak salah mengenali orang."

"Ya. Suatu kehormatan anda mengenal namaku."

"Mana mungkin aku tidak tahu, Putri Rola yang dikutuk kemudian mengganti namanya menjadi Acerola. Setelah bertemu dengan Sang Vampir Pertama, kau diubah menjadi vampir yang sangat kuat dan namamu pun menjadi Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade. Sejak 400 tahun lalu, kau menghilang dari dunia. Informasi yang masih diragukan kebenarannya menyebutkan bahwa kau menyembunyikan diri di Jepang, memakai nama samaran Shinobu."

"Khehee, tak kusangka anda tahu sejauh itu."

Azazel menatap murid-murid bimbingannya sesaat, "Mungkin di antara kalian belum mengetahui apapun tentangnya. Acerola, dia adalah manusia yang diubah oleh vampir darah murni pertama, vampir pertama yang pernah ada didunia sebelum eksistensi vampir menjadi sebuah bangsa. Pertarungan biasa tanpa persiapan matang tidak akan bisa mengalahkannya, dia disebut sebagai 'Pemakan Keganjilan'. Apapun yang berhubungan dengan hal supranatural, segala yang tidak bersesuaian dengan hukum fisika dunia nyata, akan dimakan sampai habis. Dia tipe vampire langka yang mampu menghisap energi inti spiritual dari makhluk jenis apapun selama itu makhluk supranarutal, baik itu iblis, malaikat, monster, bahkan dewa sekalipun. Karena kekuatan itulah, dia terkenal."

"La la laaaa~~~" Seras bersenandung curi-curi perhatian. "Ooooiii, Tidak ada yang melupakanku kan?"

Semua pasang mata tertuju pada Seras. Termasuk Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade, atau yang lebih mudah dipanggil Shinobu. Si vampir legendaris ini menatap Seras dengan sinis. "Tch, dasar pelayan tukang cari muka."

Seras balas menatap Shinobu dengan tatapa benci, "Horraaaa! Kalau saja kau bukan tuan putri, mulut kasarmu itu sudah kujahit sejak kau masih bayi dulu."

Billttzzz...

Nampak ada petir imajiner dari saling adu tatap diantara Shinobu dan Seras. Setelah melihat hal ini, pastinya kedua vampir perempuan ini mempunyai hubungan yang sangat 'baik' sejak pertama mereka saling kenal.

Bosan menghadapi Shinobu yang seperti bocah, Seras mengalihkan tatapannya pada Azazel. Sambil berjalan menuju sisi vampir dan utusan Konoha, dia berkata, "Tuan Gubernur, kau tadi menanyakan apa keputusan kami kan? Bagaimana kalau kau melihat ini dulu, lalu kau pikirkan ulang tindakanmu."

"Hm?" Azazel jadi penasaran.

Seras mengubah lengan kirinya menjadi tentakel tajam berwarna hitam-merah. Itu adalah kekuatannya, darah vampir yang mampu dibentuk menjadi apapun, menyerang ataupun bertahan, membunuh dan membuat sihir.

Tentakel itu membentuk suatu bidang persegi panjang yang sesaat kemudian menampilkan gambar. Layaknya televisi, gambar yang ditampilkan adalah siaran langsung dari suatu tempat.

Azazel mengepalkan tangannya tatkala melihat apa isi siaran langsung itu. Benar kata Seras, dia memang harus memikirkan kembali tindakannya.

Di tempat lain, tempat yang disiarkan langsung ke halaman depan Kastil Tepes. Sebuah lokasi yang terpisah oleh jurang yang sangat dalam dan panjang. Tempat perbatasan antara teritori bangsa vampir dengan dunia luar.

Bukan itu yang menjadi fokus perhatian. Nampak ada ribuan tentara disalah satu sisi jurang, terdiri dari iblis, malaikat, dan malaikat jatuh dengan persenjataan lengkap. Nampak juga beberapa orang penting dari kalangan iblis kelas tinggi maupun para Brave Saint yang memimpin pasukan. Mereka semua kini siaga tempur. Siap berperang kapan saja ketika perintah dari atasan sudah turun.

Disisi yang bersebarangan yang menjadi teritori bangsa vampir, ada makhluk astral raksasa setinggi 50 meter. Rupanya berwarna ungu transparan yang membentuk sosok Raja Tengu berhidung panjang lengkap dengan baju zirah dan sepasang sayap. Ada busur panah raksasa di tangan kirinya, sedangkan tangan kanan memegang tiga bilah anak panah. Makhluk itu berdiri tegap, tak menunjukkan rasa gentar sedikitpun pada ribuan pasukan yang menjadi lawannya.

Sedikit saja pemicu ditarik, maka pertempuran besar antara satu orang pemuda yang menciptakan sosok Tengu melawan ribuan pasukan aliansi akan benar-benar terjadi. Kehancuran besar tak mungkin bisa dielakkan.

Kembali pada Azazel. Ia tak menyangka situasi sudah sampai seperti ini, tentu saja ia ingat siapa dan darimana asal sosok astral Raja Tengu itu, orang yang datang mengganggu pertemuan di Kuoh Gakuen, melenyapkan separuh para penyihir yang melakukan kudeta, dan pergi begitu saja setelah memaksa pengakuan kedaulatan.

"Kapan? Kapan persekutuan kalian dimulai?"

Ratu Carmilla telah mengatakan kalau bangsa vampir akan berdiri disisi manapun yang berhasil membantu menyelesaikan masalah internal bangsanya. Menurut pemikiran Azazel, masalah belum selesai. Sehingga kenyataan kalau Bangsa Vampir sudah membentuk persekutuan dengan Konoha membuatnya merasa dikhianati. Ya, Ratu Carmilla melanggar ucapannya ketika ia mendatangi Kastil Faksi Carmilla yang diganggu kemunculan Gaara waktu itu.

Azazel dikhianati, tapi ia tidak akan membahas ini karena hanya ia sendiri saja yang mengetahuinya. Rias dan yang lain tidak perlu tahu urusan ini.

"Bukan aku. Mungkin seperti yang kau duga Azazel-dono, persekutuan disepakati oleh orang yang kedudukannya lebih tinggi dariku." Ratu Carmilla yang menjawab karena merasa dirinyalah yang ditanya oleh Azazel.

Azazel menggeleng pasrah. Ia mengerti sepenuhnya sekarang. Pembelaan Ratu Carmilla dan Lord Tepes pada Gaara yang dituduh merampas Holy Grail dapat diartikan sebagai tindakan pengusiran dirinya secara halus dari tanah bangsa vampir.

Usaha yang dilakukan Azazel gagal total. Tak pernah selama ia hidup, ia mendapatkan kegagalan separah ini. Nama besarnya sebagai pemimpin ras Malaikat Jatuh tercoreng. Seluruh dunia luar akan mencap dirinya sebagai pembuat keributan di Rumania, dan bantuannya pun sebagai perwakilan aliansi perdamaian untuk mengusir teroris tidak menunjukkan hasil apa-apa. Sementara itu, Konoha mendapatkan reputasi baik. Berhasil membersihkan Faksi Carmilla dari para pengkhianat yang ingin melakukan kudeta, mengusir Terorir Khaos Brigade, melenyapkan semua naga jahat jelmaan, dan menyelamatkan kehancuran bangsa Vampir dengan hanya tiga orang saja. Meski kejadian sebenarnya tidak seperti itu dan fakta diputar balikkan, tapi tetap saja ia kalah. Inilah yang namanya permainan politik.

Politik benar-benar kejam, tak pandang bulu. Siapa yang cerdas membuat rencana dan strategi serta pandai memanfaatkan situasi, dialah yang menang. Azazel mengerti itu, dan ia terpaksa mengakui kekalahannya dalam hati.

Diantara para iblis muda, nampak Rias yang paling memahami keadaan. "Sensei, bagaimana sekarang. Apaaaa, apa kita akan pulang?"

"Tidak ada pilihan lain kan?"

Melihat wajah frustasi Azazel, Gaara menyeringai penuh kemenangan. Itu membuat Rias dan semua peeragenya muak, marah, benci, dan dendam namun tak bisa berbuat apa-apa.

"Tapi aku tidak akan pulang sebelum bertemu seseorang."

"Sensei?" sontak Rias menoleh lagi pada Azazel dengan wajah penuh tanda tanya.

Azazel berusaha menyunggingkan senyum, dia masih belum kalah sepenuhnya. "Yang kukatakan tadi hanya gertakan saja. Yang kuinginkan sebenarnya adalah melihat kemunculan kembali para vampire legendaris dan menunggu..."

"Kau menungguku kan, Azazel?"

"Lama tak jumpa, Alucard."

Azazel membalas sapaan dari sosok yang memotong ucapannya, sosok yang datang bersama aura menakutkan tak berdasar yang kini berdiri ditengah-tengah semua orang, antara sisi Azazel dan sisi vampir. Sosok itu datang tanpa terasa sama sekali, tiba-tiba saja ada diantara mereka, seolah dia adalah ilusi yang menjadi kenyataan.

Sosok yang muncul adalah seorang laki-laki paruh baya berambut hitam panjang dengan mata merah yang sangat mengerikan. Mata merah itu jelas berbeda dengan mata merah vampir lain, merah yang lebih pekat dari merahnya darah. Semua giginya yang terlihat ketika dia tersenyum tampak sangat runcing dan tajam. Orang itu memakai setelan jas panjang selutut berwarna merah dengan sebuah topi koboy dikepalanya.

Di sedikit sisa ruang pikirannya yang dipenuhi rasa takut, Issei menyimpan rasa penasaran. "Sensei, dia?"

Pertanyaan yang sama pun keluar lagi dari mulutnya. Issei masih orang baru di dunia supranatural yang belum tahu banyak hal.

"Alucard. Kalau kau membaca sejarah, kau pasti tahu. Dia adalah vampire legendaris, vampire terkuat yang pernah ada, yang ditakuti oleh para dewa. Tak diragukan lagi kalau kekuatannya setara seorang Seraph dari Surga."

Dari ucapan Azazel, jelas kedudukan Alucard begitu tinggi. Apalagi saat mereka berdua saling panggil nama depan tanpa imbuhan kehormatan.

Seluruh vampir kini bisa tenang. Sosok yang menjadi simbol pemersatu seluruh bangsa vampir telah berdiri dihadapan mereka. Tak ada satupun vampir yang tak tahu nama Alucard.

Shinobu melompat dan mendarat di permukaan tanah. "Kau terlambat, Paman." katanya sambil berjalan mendekati Alucard.

"Masteeeeerrrr!"

Seras memekik, tangannya berusaha menggapai tubuh Alucard untuk dipeluk, namun tak kesampaian karena tangan kiri Alucar menahan kepalanya.

Seringaian di wajah Alucard yang ditujukan pada Azazel tak berubah sedikitpun meski diganggu keponakan dan pelayannya.

Azazel mendesah, "Jadi ini jawaban pasti untuk kecurigaanku selama berada disini? Sudah kuduga sejak beberapa hari lalu, keberadaan utusan Konoha di sini tidak mungkin terjadi tanpa ada konspirasi di baliknya. Hanya kau lah yang kupikirkan sebagai satu-satunya orang yang menyeret keterlibatan Konoha kedalam semua masalah ini, Alucard."

"Anggap saja pemikiranmu itu benar, Azazel."

Alucard nampaknya tipe orang yang sedikit bicara, tapi selalu membuat senyum mengerikan dengan deretan gigi taring tajam yang tampak putih mengkilat.

"Sensei, kau sepertinya sangat mengenal dia."

"Kau benar, Rias. Kami memang saling kenal, sangat kenal malah. Tapi bukan teman, tepatnya musuh." Azazel pun mulai bercerita, "Dulu sebelum aku 'Jatuh', saat aku masih bagian dari Surga dan The God of Bible masih hidup, Faksi malaikat seringkali mendapat masalah akibat perbuatan Alucard yang menyerang manusia. Aku salah satu diantara banyak malaikat yang ditugaskan untuk menangani masalah itu. Banyak upaya yang kulakukan, aku bahkan tidak jarang berhadapan langsung dengan Alucard, tapi dia tak pernah bisa ditangkap. Terkahir kali kami bertemu adalah beberapa puluh tahun setelah Great War. Dia menghilang dengan sebuah pesan bahwa dia pensiun dari urusan dunia, tak ada khabar apapun tentangnya sejak saat itu."

"Karena dunia kembali ramai, aku memutuskan untuk kembali." kata Alucard setelah Azazel selesai bercerita.

"Kau!?" Azazel menatap tajam ke arah Alucard, "Apa kau sudah mengetahui semuanya."

"Begitulah. Aku tahu semuanya, makaya aku tertarik. Kalau aku tidak tahu, mana mungkin aku berdiri disini, iya kan?"

Azazel sudah mengira hal ini, dalam benaknya dia yakin kalau Alucard tahu persis tentang rencana Aliansi membangun Imperium of Bible. Walau ia sendiri sudah membeberkan hal ini pada Ratu Carmilla untuk menundukkan bangsa Vampir dengan kata-kata, tapi ternyata Alucard mengetahuinya lebih dulu. Ini sangat mungkin terjadi mengingat bagaimana anomali entitas atau keberadaan Alucard itu sendiri.

"Dengarkan aku!" Azazel menarik perhatian murid-muridnya padanya. "Alucard adalah eksistensi yang berbeda dari eksistensi manapun di dunia ini. Entitasnya sebagai makhluk hidup adalah anomali, suatu keanehan yang tak bisa dijelaskan dengan teori apapun. Keberadaannya tidak terikat dimensi ruang fisik. Alucard ada dimana saja dan tidak ada dimana saja pada saat yang bersamaan, dia bahkan bisa berada didalam pikiran setiap orang. Tubuhnya yang sekarang nampak di depan mata kalian tidak lebih dari sekedar proyeksi entitasnya yang diciptakan oleh otak kalian. Tak ada pertarungan yang bisa dilakukan untuk mengalahkannya. Lagipula dia dikatakan memiliki satu juta nyawa, nyawa yang dia makan dari korban kejahatannya dimasa lalu."

Itulah kemampuan khusus Alucard. Dengan kemampuan itu, jadi tidak mengherankan kalau Alucard bisa muncul di Konoha tanpa hambatan. Bisa ada dimana saja, selama ada orang yang memikirkan namanya, maka Alucard bisa muncul ditempat itu.

Dengan kemampuan itu pula, sangat wajar kalau Alucard sudah tahu rencana besar Imperium of Bible. Kemudian memutuskan untuk turut serta didalamnya sebagai penantang, lalu membuat kesepakatan dengan Konoha. Tentu saja karena semua hal itu membuatnya tertarik.

Situasi sekarang benar-benar buruk, buruk untuk perwakilan dari pihak Aliansi. Mereka dipaksa pulang tanpa syarat dan tanpa membawa hasil apapun.

"Sepertinya sudah selesai. Akeno, siapkan lingkaran sihir teleportasi langsung menuju Kuoh! Kita akan pulang, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan disini."

Keputusan itu adalah keputusan terbaik yang bisa diambil oleh Azazel saat ini.

"Ha'i, sensei."

Meski Akeno maupun yang lainnya tidak bisa menerima hal ini, tapi mereka bisa apa?

Koneko sejak awal hanya diam. Dia tidak mengeluarkan suaranya karena otaknya masih belum bisa memutuskan apapun. Ia tidak bisa meninggalkan teman-temannya. Rias, Akeno, Kiba, Issei, Asia dan yang lain adalah keluarga baginya, tempat dia pulang. Tapi disisi lain, ia juga sangat mempercayai Naruto. Hatinya tak bisa berpaling dari sosok pria pirang itu meski telah ditampar kenyataan bahwa Naruto berasal dari Konoha, Konoha yang telah membuat teman-temannya jadi seperti ini.

Saat inipun Koneko tidak berani memandang Lee. Ia pun sama sekali tidak mengenal bagaimana pria berambut model mangkok itu. Tapi melihat kenyataan sekarang, walau Lee sudah bersikap baik padanya saat bersama-sama saling bantu membasmi pasukan vampir, tapi tetap saja baginya Lee tidak berbeda dengan Gaara yang telah berbuat jahat dan curang.

Semua hal ini benar-benar membuat Koneko depresi.

Lingkaran sihir buatan Akeno telah selesai, melingkupi area yang dipijak oleh Azazel, seluruh Tim Gremory serta Rugal dan Bennia. Mereka sudah siap pulang.

"Tunggu!" suara Lord Tepes terdengar menyentak. "Kalian tidak berpikir untuk membawa putriku kan?"

Ya, Valerie yang tidak sadarkan diri berada di gendongan Irina.

"Kukira kau akan membuangnya mengingat Valerie adalah darah setengah yang dianggap memalukan oleh vampir darah murni sepertimu." jawab Azazel.

"Bagamanapun kondisinya, dia tetap putriku."

Ucapan Lord Tepes penuh keyakinan. Dia tidak sedikitpun merasa malu mengakui Valerie sebagai putrinya di depan orang banyak, meski kebanyakan vampir selalu memandang rendah jenis yang berdarah setengah.

Sungguh, hari ini menjadi kegagalan terbesar bagi Azazel. Alasannya datang ke Rumania adalah untuk menundukkan bangsa Vampir dibawah kekuasaan Aliansi, tapi yang paling utama ia menginginkan Holy Grail. Azazel membutuhkannya untuk melengkapi pekerjaan besarnya di tempat lain. Saat Gaara merampas satu Holy Grail dan Rizevim membawa satu lagi, Azazel masih bisa tenang karena masih tersisa satu Holy Grail lagi di tubuh Valerie. Tapi ternyata ia malah tidak mendapatkan apa-apa.

Meski begitu, Azazel tidak bisa berkata apapun. Tujuannya akan Holy Grail adalah pekerjaan rahasia yang tak boleh diketahui orang lain, termasuk anak-anak didikannya.

Irina menatap Azazel. Melihat anggukan dari sang gubernur, dia berjalan kedepan lalu menyerahkan Valerie.

Tapi sebelum Lord Tepes menerima putrinya kembali, suara berat penuh kemarahan keluar dari mulut Issei.

"Tidak. Aku tidak akan menyerahkan Valerie pada kalian! Tidak akan!"

Mana mungkin Issei terima begitu saja.

Oke, dia mungkin bisa terima kenyataan bahwa dia dan kelompoknya ditipu dan direndahkan sampai seperti ini, dia masih terima kalau dirinya belum bisa membalas dendam pada Gaara bahkan malah dikalahkan, tapi dia punya janji yang harus di tepati. Issei sudah berjanji pada Gasper untuk menyelamatkan Valerie, dan dia akan menepati janji itu bagaimanapun caranya. Apalagi melihat kondisi Gasper yang masih tak sadarkan diri digendongan Koneko, ia merasa harus membuat dirinya berguna dengan menyelamatkan Valerie.

"Issei!"

Rias tidak habis pikir dengan ucapan bidak pionnya.

Issei mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Benda itu berupa kotak kayu kecil dengan gambar salib yang dililit akar berduri.

Mata Azazel terbelalak. Ia sangat tahu benda itu karena dia lah yang memberikannya pada Issei.

Suara Issei penuh dengan amarah, "Aku akan menggunakan ini. Jika kalian tidak memberikan Valerie, jangan salahkan aku kalau seluruh wilayah vampir kuratakan dengan tanah."

Tap...

Azazel bergerak cepat dan menangkap pergelangan tangan Issei yang memegang kotak kayu. "Hentikan bocah bodoh! Jangan berbuat gila! Kau mungkin bisa melenyapkan mereka semua dengan menggunakan benda yang jadi kartu-As ini, tapi masih terlalu awal menggunakannya."

"Tapi, Sensei!"

"Dengarkan ucapanku! Aku janji kita akan mendapatkan Valerie kembali, tapi tidak sekarang. Oke!"

Cengkraman tangan Azazel pada lengan Issei melemah. Issei pun menurunkan tangannya dan menyimpan kembali kotak kayu kecil itu.

Issei mengalihkan wajahnya ke arah lain. Ia nampak sama sekali tidak rela melihat Irina yang kini menyerahkan Valerie kepada Lord Tepes.

Irina berjalan kembali kedalam lingkaran sihir.

Tanpa mengatakan apapun lagi dengan wajah penuh penyesalan tidak menerima kenyataan, perwakilan dari Aliansi pergi dari tanah Rumania.

Azazel yang pergi terakhir. Saat masih menyisakan separuh bagian atas tubuh dari lingkarah sihir, ia sempat mengucapkan pesan perpisahan dengan senyum sombong. "Kalian jangan senang dulu! Permainan belum berakhir, bahkan permainan yang sebenarnya baru akan di mulai."

Perkataan Azazel bukan candaan. Itu pasti akan benar-benar terjadi. Imperium of Bible akan menundukkan seluruh dunia, termasuk didalamnya Bangsa Vampir Rumania. Jika tidak dengan jalan damai, berarti dengan peperangan.

Suasana tenang pun benar-benar dapat dirasakan setelah kepergian Azazel. Para pejuang vampir yang pro-pemerintahan bereuforia menikmati kemenangan mereka, apalagi dengan kembalinya Alucard yang menjadi simbol pemersatu. Alucard dimasa lalu bagi golongan luar memang dianggap sebagai penjahat, tapi tidak oleh bangsa vampir itu sendiri.

Alucard berjalan kearah Gaara diiringi pelayan dan keponakannya.

"Terima kasih, hasil pekerjaan kalian benar-benar memuaskan. Tidak sia-sia aku minta bantuan pada Konoha."

"Sama-sama, Alucard-dono. Kita saling membantu, dan mulai sekarang kita adalah sekutu. Yah, dengan catatan bahwa kami adalah manusia dan kalian ras vampir penghisap darah dikesampingkan."

"Hahahaaaa." Alucard tertawa santai lalu tangannya terangkat untuk mengajak Gaara berjabat tangan. "Tentu, itu bukan masalah. Tidak perlu takut, karena vampir bisa puasa."

Gaara menyambut jabat tangan Alucard. Sudut bibirnya sedikit terangkat, ini senyuman tulus. "Tapi masalah sebenarnya baru dimulai. Mereka yang mengusung perdamaian palsu itu sebentar lagi pasti akan mulai menyerang. Perbuatan kita tadi, akan membuat mereka memasukkan persekutuan kita sebagai musuh yang diprioritaskan dan dihadapi dengan jalan peperangan."

"Tenang saja. Kita pasti sudah siap jika saat itu tiba."

Gaara mengangguk pelan.

Lord Tepes dan Ratu Carmilla sebagai pemimpin bangsa vampir cukup mengerti tentang pembicaraan itu. Mereka berdua yang berdiri berdekatan cukup yakin dengan keutusan yang diambil oleh legenda bangsa mereka.

Ratu Carmilla memperhatikan bagaimana protektifnya Lord Tepes menggendong putrinya, Valerie yang masih tak sadarkan diri.

"Hei, tak kusangka kau mempertahankan putrimu. Kukira kau akan membuangnya." ucapnya sambil tersenyum lembut.

"Hn, kenapa memang? Kau mau protes?" sahut Lord Tepes. Yah, memang memalukan punya keturunan berdarah setengah bagi bangsawan seperti dirinya.

"Tidak. Bukan begitu. Jangan berpikir kalau aku sama seperti yang lain. Malah menurutku, kau kelihatan gentel tadi. Ufufufuu..." Ratu Carmilla tertawa pelan dengan punggung tangan menutupi mulutnya. Wibawa dan keanggunannya sebagai seorang ratu tampak jelas di mata siapapun yang melihatnya.

"Che!" Lord Tepes memalingkan muka, dia sepertinya malu, persis seperti anak remaja perempuan tipe tsundere.

Tiba-tiba Ratu Carmilla merasakan ada yang menyenggol pinggangnya. "Ada apa sih, Elmen?" tanyanya pada si pelayan yang tersenyum tidak jelas.

"Enggak. Ahihihiiiii..." si pelayan malah tertawa cengengesan.

Mungkin hanya sedikit orang yang tahu. Ini adalah cerita roman picisan masa lalu antara Ratu Carmilla dan Lord Tepes. Saat muda, hal yang wajar jika tumbuh benih-benih cinta antara dua makhluk berlawanan jenis. Masa itu adalah masa yang indah, namun sayang semuanya harus dilepaskan karena ada tanggung jawab yang harus dipikul masing-masing.

Satu pihak harus menjadi pemimpin Faksi yang menjunjung garis keturunan patrilineal yang menjadikan laki-laki sebagai pemimpin, dan pihak lainnya pun juga harus menjalani takdir menjadi pemimpin Faksi yang mengutamakan garis keturunan matrilineal atau perempuan berkuasa atas laki-laki. Kenyataan inilah yang membuat mereka berdua tidak mungkin bersatu. Akhirnya mereka pun terpaksa harus berkorban perasaan demi keutuhan keluarga masing-masing.

Untuk saat ini, cerita itu menjadi sesuatu hal sentimentil jika dibahas.

Inilah alasan kenapa Ratu Carmilla mau mempertimbangkan tawaran Gaara saat Azazel datang dan mengancam dirinya dengan rencana proyek Imperium of Bible. Ia sudah pasrah dengan kemauan Azazel, jika menolak bantuan Aliansi maka bangsa vampir akan hancur oleh pengkudeta dan teroris. Lebih baik menerimanya, karena walaupun kekuasaannya didikte oleh Aliansi tapi setidaknya bangsanya masih bisa hidup. Namun harapannya muncul kembali saat Gaara membawakan peti mati Lord Tepes yang dinyatakan hilang, apalagi melihat senyum yang terukir diwajah Sang Raja. Itu artinya, Lord Tepes aman dan berada di tangan orang yang tepat. Maka dari itulah, ia sebagai Ratu Vampir mengatakan kalau ia akan berada disisi manapun yang berhasil menyelesaikan masalah internal vampir. Hanya perkataan dari mulut, sebab dalam hati ia sudah tahu kepada siapa ia menjatuhkan pilihan.

"Ck. Daripada itu, lebih baik kau sapa pemuda berambut merah yang disana." Ratu Carmilla balas menggoda.

Elmenhilde Galnstein sontak menunduk dengan wajah tersipu malu. Sangat langka menemukan si pelayan bermulut pedas bisa jadi seperti ini.

"Ayo sana gih! Sebelum dia pulang."

Elmen mati kutu.

Entah sejak kapan perasaan itu muncul, Elmen juga tidak tahu. Lagipula baru pertama kali ini dia merasakannya. Cinta? Mungkin iya mungkin juga tidak, dia cukup sadar kalau pemuda itu dan dirinya berbeda ras, manusia dan vampir. Tapi masalahnya, debaran itu selalu terasa di dalam dada jika berdekatan.

Setelah mengumpulkan segenap keberanian, akhirnya ia pun berjalan mendekati Gaara.

"Aa-anoooooo."

"Eh?" Gaara yang sedang berbicara dengan Tenten dan Lee menoleh ke arah si gadis kecil dengan tatapan penasaran. "Kau ada sesuatu urusan denganku?"

Elmen mengangguk dengan kikuk. "Gaara-sama. Ettto, anooo..."

"Hm?"

"Emmm, B-begini"

Elmen merutuk dalam hati kenapa dia bisa jadi gagap begini. Biasanya berhadapan dengan siapapun selalu percaya diri.

"Panggil Gaara saja." Gaara merasa gadis kecil didepannya merasa segan padanya, makanya dia minta seperti itu agar kesannya jadi lebih santai.

"Iya, Gaara-san. Jadi be-"

"Hoooooo..." suara ketus dari perempuan yang rambutnya dicepol dua memotong ucapan Elmen. "Mentang-mentang statusnya masih available, sesukanya tebar pesona sana-sini."

"Tenten!" Lee menegur rekan satu timnya. "Tidak baik mengganggu pembicaraan orang lain."

"Apaan sih kau Lee? Kau sendiri yang bilang padaku supaya tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan melupakan dia, tapi kenapa kau menggangguku?"

"Iya, tapi bukan begini juga kan?" Lee protes.

"Aisshh! Daripada mengurusi ini, lebih baik kau urus semangat masa mudamu yang sejak tadi tidak kedengaran lagi."

"Kalian itu bicara apa sih?" tanya Gaara. Tampak ia tak mengerti sama sekali apa yang dibahas Lee dan Tenten.

"Bukan apa-apa." jawab Tenten cepat dan singkat.

Gaara menyerngit bingung, sedangkan Lee memijit pelipisnya pasrah. Elmen pun tidak tahu harus berbuat apa, bahkan ia sendiri bertanya-tanya dalam hati apakah dirinya yang menyebabkan masalah?

"Dasar tidak peka!" gumaman Tenten dari bibirnya yang mengkerucut langsung ditelan oleh angin, tak sampai ke telinga seorangpun.

Ahhhh~, hari yang indah dibawah langit pagi pergunungan bersalju Rumania.

.

.

.

-Underworld, Astaroth's Territory-

Sirzech sedang berkunjung ke kediaman sahabatnya, rekan sesama Maou, Ajuka Beelzebub. Hanya kunjungan biasa, tapi tak lama kemudian dia terpaksa masuk ke ruang pribadi Ajuka. Mereka berdua mendapat panggilan darurat dari Azazel.

Jadilah sekarang, di dalam ruangan khusus, Ajuka dan Sirzech duduk dengan ekspresi serius di kursi dengan meja bundar kecil di tengahnya. Dua cangkir teh harum tersaji di meja itu. Satu lagi, ada sosok hologram dari Azazel yang berdiri tidak jauh dari mereka.

"Ada banyak hal yang ingin kusampaikan pada kalian berdua. Ophis yang rusak, Holy Grail, Kemunculan Rizevim, konspirasi Konoha dengan Alucard dan hal lainnya lagi. Tapi sebelum itu, aku ingin tahu bagaimana dengan file yang kukirimkan padamu dua hari lalu, Ajuka?"

"Oh, file berisi foto dan profil dua orang itu? Sudah kuperiksa. Mereka berdua bukan iblis. Meski tersamar dalam bentuk anting dan tindikan, tapi aku bisa langsung mengenali alat konverter aura iblis ciptaanku sendiri hanya dengan melihat fotonya saja. Lagipula dari semua bidak evil piece extra yang kusebarkan pada beberapa iblis kelas tinggi, tidak ada yang menyebutkan keberhasilan percobaannya. Semua prototype itu gagal. Jadi sangat aneh kalau ada yang berhasil melakukannya, dan lebih aneh lagi dia tidak memberikan laporan padaku."

"Sudah kuduga."

"Kalian membahas apa?" tanya Sirzech.

Hologram tubuh Azazel menatap ke arah Maou berambut merah, "Kau pasti ingat dengan budak cadangan Sona Sitri kan?"

Sirzech mengangguk. Ia masih ingat jelas wajah si pirang dan si poni rata yang merupakan budak cadangan yang direinkarnasi oleh Sona Sitri menggunakan Bidak Pion Extra. "Jadi apa yang kau pikirkan sekarang, Azazel?"

"Uzumaki Naruto, aku yakin dia lah entitas yang pancaran kekuatannya kita rasakan empat bulan lalu, pancaran energi aneh yang sangat besar yang datang dari 'dunia lain' yang tak kita ketahui. Dan pasti, dialah yang membawa Konoha ke dunia kita."

Ajuka mendesah panjang, "Khuh, artinya kita kecolongan ya? Mereka telah menyusup kedalam wilayah kita. Apa harus kita tangkap mereka sekarang?"

"Tidak, lebih baik jangan sekarang!" sanggah Azazel. "Aku sebenarnya juga curiga pada Sona. Loyalitasnya pada Aliansi memang harus harus diakui, tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa kalau tindakannya aneh. Apa kita harus memberitahu hal ini pada Serafall?"

Sirzech menggeleng, "Serafall tidak boleh tahu dulu. Aku khawatir dia bertindak gegabah karena ini melibatkan adiknya. Aku punya rencana kecil, kita akan membongkar kedok Naruto dan Hinata saat event besar dua minggu lagi, Turnamen Rating Game."

Azazel mengangguk setuju.

"Kurasa itu ide bagus." ucap Ajuka.

.

.

TBC...

.

Note :Muehheheeee. Sebenarnya sih mau up senin kemarin, tapi ga sempet jadi ya sekarang. Gpp kan?

Oh iya, chapter ini panjang. Aku ingin menyelesaikan semua masalah di Rumania disini, makanya agak lama update. Hehehee.

Oh iya, gimana dengan battle Gaara Vs Sekiryutei? Hmmm, Sekiryutei memang unggul dalam serangan namun belum cukup untuk menembus teknik yang terspesialisasi pertahanan Gaara, Infinite Absolute Sand Protection dari lima jenis pasir.

Lalu, Ekhhem. Apa kalian mengerti bagaimana Azazel dipecundangi di Rumania oleh Gaara? Hihiii. Tidak semua hal diselesaikan dengan pertarungan, bisa juga diselesaikan dengan tipu muslihat. Inilah bagian yang aku suka. Ayooo, jadi siapakah yang jahat disini, Gaara atau Azazel?

Fix, karakter tambahan untuk bangsa Vampir sebagai sekutu Konoha telah keluar semua, dijelaskan pula profilnya. Mereka diperlukan sebab bangsa vampir sendiri tidak punya orang kuat dari cerita LN DxD sendiri, karena itulah aku memasukkannya. Lagipula vampir terkuat dari LN DxD yaitu Gasper Vladi sudah menjadi bagian kelompok Gremory kan?

Kemudian, sudah kuterangkan pula kenapa dan asal mula bisa terbentuk hubungan antara Konoha dan Bangsa Vampir. Bisa dilihat di atas, semua itu karena Alucard yang menginginkannya. Karena Alucard ingin ikut serta dalam perang sekalian menyelesaikan konflik panjang yang dialami bangsanya.

Selanjutnya, benda macam apa yang dipegang Issei hingga dia bisa mendapatkan kekuatan untuk membumihanguskan satu negara sebagai Kartu As-nya? Misteri, Eheeee.

At Last, Bagaimana kelanjutan cerita Naruto dan Hinata yang telah terbongkar rahasianya? Greget ga bagian ini?

Ulasan Review:

Shinobi yang ada di Konoha bervariasi, ga hanya tipe api saja, tapi tanah, air, dll. Tenang aja, nanti akan keluar banyak jutsu-jutsu superior kok.

Yang dimaksud Rizevim kalau Qlippoth tidak bersinggungan dengan rencana Aliansi yaitu tentang Rencana Rizevim untuk Trihexa dan Aliansi untuk Imperium of Bible. Ga ada sangkutnya kan? Meski pada beberapa point akan terjadi bentrok.

Rusia? Keknya Amerika aja cukup deh, tempat asal fiksi hero marvel. Lagian aku ga mau terlalu banyak melibatkan manusia biasa.

Pembebasan Reliji Shinto yah? Emm, keknya enggak deh. Bakal panjang kalau dibikin itu, nambah satu Arc lagi dong. Tapi tenang saja, secara sekilas tapi mendetail akan diceritakan kok bagaimana peran Reliji asli Jepang itu. Kemarin udah ada kan di chap 56 diceritakan sedikit tentang mereka oleh Kakashi?

Kakek Rizevim memang unik kelakuannya, udah dari sananya begitu. Dia orang tua pengidap sindrom kelas delapan.

Kalau tentang pertarungan siapa Vs siapa, entar aja pas perang. Aka banyak scene Fight kok. Pertarungan tipe kecepatan, pertahanan, fisik, bahkan teknik.

Yang diceritakan mendapat peningkatan kekuatan memang hanya fokus pada Naruto dan orang terdekatnya saja, tapi jounin dan chuunin Konoha juga dapat peningkatan kok, bukan individual tapi sebagai pasukan perang. Kalau Genin?, mereka ikut dengan warga sipil nyebar dan membaur di dunia manusia. Genin tidak diperlukan untuk perang melawan makhluk supranatural. Hanya akan membebani pasukan atau paling buruk cuma sekedar cari mati.

Mengenai Azazel. Ia memang yang paling sering muncul, sebab dia sebagai pemegang peran kunci dari pihak Aliansi. Tapi santai aja, saat perang nanti semua petinggi dan orang-orang kuat akan turun langsung kok, meski saat ini mereka masih bekerja dari balik meja.

Aku udah selesai mengonsep dan merencanakan kekuatan militer Konoha dan sekutu-sekutunya sejak lama. Tak perlu tambahan sekutu lagi karena sudah disesuaikan dengan alur cerita, dan kupastikan udah logis. Sedikit terlihat dari persekutuan Konoha-Rumania di chap ini. Tiga legenda vampir udah muncul. Lagipula sembarang menambahkan karakter lain tanpa mempertimbangkan pembagian perannya akan membuat konflik melebar sehingga ditakutkan ada yang lupa mengeksekusinya.

Shino sama Kiba? Hmm, entar yah. Nanti.

Yang minta update FF ini tiga hari sekali kek awal-awal dulu? Boleh, tapi jumlah wordnya sekitaran 2-3k kek dulu juga, eheheheheeee.

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita dan review lainnya kubalas lewat PM. Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.

.

.

.

.