Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya
Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .
Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance
Rate : M
Setting : AU (Alternate Universe)
Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.
Pair : Semua Pair Canon
Ahad, 20 Nopember 2016
Happy reading . . . . .
Sebelumnya. . . . . .
Kakashi tersenyum tipis walau tak terlihat karena tertutup maskernya. "Ya. Terima kasih atas pujian anda, Yasaka-himesama."
Tak ada lagi yang perlu diperbincangkan, mungkin sebentar lagi Yasaka akan pulang ke Kyoto. Ia menggulirkan matanya sejenak untuk sekali lagi memandang panorama indah dimensi ruang yang diciptakan dengan teknik Amenominaka. Namun tiba-tiba berhenti dan menyipitkan mata kala menangkap sosok yang cukup ia kenal. Seorang pemuda berambut hitam lurus yang memegang sebilah tombak. Dia tampak berbicara serius dengan lima orang temannya, tidak, tapi mungkin kelompoknya.
Yasaka menatap Kakashi dengan wajah penasaran yang menuntut jawaban, "Dia kan?"
"Ya, benar. Dia adalah ..."
.
To The End of The World
Author: Si Hitam
.
Chapter 62: Perangkap.
.
-Kuoh Gakuen-
Tsubaki baru saja kembali dari ruang klub milik Rias, ia berjalan di koridor sekolah Akademi Kuoh. Siang ini benar-benar lengang, tak ada kejadian menghebohkan. Dia kembali dengan kesibukannya sebagai wakil ketua OSIS.
Hanya saja, barusan ia dipanggil oleh Sirzech ke ruang klub penelitian ilmu ghaib. Sebenarnya Sona lah yang dipanggil. Namun karena tidak ingin mengambil resiko ketahuan bahwa Sona yang saat ini di Kuoh adalah bunshin Naruto yang melakukan henge jika berhadapan langsung dengan Sirzech secara empat mata, maka Tsubaki memutuskan bahwa dirinya lah yang harus memenuhi panggilan itu. Terserang flu bisa dia jadikan alasan sehingga Kaichou-nya berhalangan hadir.
Sona yang asli masih belum pulang sejak berangkat ke Rumania. Entah apa yang dilakukannya bertiga bersama Naruto dan Hinata? Sampai sekarang, Tsubaki belum mendapat khabar apapun.
Ternyata Sirzech hanya menyerahkan undangan pesta pembukaan Turnamen Rating Game padanya yang akan di laksanakan di Istana Gremory lima hari lagi. Entah apa sebabnya sehingga Sirzech menyerahkannya secara langsung tanpa perwakilan, mungkin sekalian menjenguk Rias.
Selain menerima undangan, ia juga diberitahu beberapa aturan khusus untuk kelompoknya karena hanya kelompok Sona Sitri saja lah yang memiliki perage ekstra. Akan tidak adil jika suatu kelompok punya kelebihan bidak dibanding kelompok lainnya.
Tsubaki kini telah berada di depan pintu ruang OSIS. Dia pun membukanya tanpa mengetuk, kemudian masuk kedalam.
Saat melihat siapa di dalam, ia langsung menyadari ada yang berbeda. Tidak ada anggota OSIS lain selain Sona, Naruto, dan Hinata. Ketika melihat raut kelelahan dari wajah tiga orang itu, yang kini sedang duduk di sofa, Tsubaki yakin bahwa mereka bukanlah bunshin melainkan orang yang asli sudah pulang.
Sona menoleh ke arah Tsubaki yang mematung setelah menutup pintu. "Habis darimana, Tsubaki?"
"Tadi ada panggilan dari Sirzech-sama, Kaichou. Beliau menyerahkan undangan pesta pembukaan Turnamen Rating Game yang akan digelar di Istana Gremory. Selain itu, beliau juga mengatakan aturan khusus untuk kelompok kita yang memiliki peerage ekstra."
"Oh."
Sona merespon singkat. Dia kelelahan, jadi tak ingin memikirkan apapun sekarang.
Bahkan Naruto sudah tertidur di sofa, mendengkur halus. Sedangkan Hinata mengusap-ngusap surai pirang Naruto agar tidur suaminya semakin nyenyak.
Tsubaki memakluminya, ini hari keenam sejak Sona, Naruto, dan Hinata pergi dari Kuoh. Hampir satu minggu melakukan pekerjaan berat, tentu membuat tubuh kelelahan.
Tak lama kemudian, Sona menyusul Naruto ke alam mimpi, tertidur bersandar di sofa yang letaknya berseberangan dengan Naruto. Pasti Sona bekerja sangat keras selama seminggu ini.
Tsubaki menatap Hinata yang dengan telaten sambil tersenyum senang mengelus rambut Naruto. Dia iri, ingin juga dirinya bisa melakukan hal itu pada orang yang ia sukai, seorang iblis cassanova dari kelompok Rias. Tak ingin membayangkan hal itu lebih jauh, ia pun menggeleng sekali lalu menyapa sang indigo.
"Hinata-san, lebih baik kau bawa suamimu ke kamar. Biar aku yang mengurus Kaichou."
Hinata sedikit tersentak karena suara Tsubaki, ia tadi seperti keasyikan dengan dunianya. Setelah menatap si Wakil Ketua OSIS, Hinata mengangguk. Dia mengalungkan lengan Naruto ke bahunya sendiri.
"Ayo Naruto-kun. Tidurnya di kamar saja ya."
"Ennggggh. Ruuaammeennn, nyam nyam."
Hinata terkekeh pelan mendapati suaminya yang mengigau. Bahkan Tsubaki juga ikut tersenyum.
"Iya, ramennya ada di kamar." Hinata menyahut igauan suaminya. Dia memapah Naruto berjalan menuju kamar khusus yang tersedia di balik ruang OSIS.
"Nyammm, suapin!"
"Iya, aku suapin."
"Ugggh, dari mulutmu, Hime." muncul seringaian nakal di bibir Naruto.
gtokkk...
"Awwnggghh..."
Hinata memukul pelan kepala suaminya. Ada-ada saja, mengigau pun masih saja mesum. Membuatnya malu karena dilihat Tsubaki. Untung saja tidak ada anggota OSIS yang lain.
Setelah membawa Naruto ke kamar, Hinata yang mengantuk sekalian ikut tidur juga, di kasur yang sama. Tak ada yang melarang kan?
Tsubaki mengambil selimut untuk dipakaikan pada Sona yang tidur di sofa dengan posisi duduk. Setelah itu, dia mengerjakan dokumen-dokumen kepengurusan OSIS yang masih belum selesai.
~~Lima jam kemudian~~
Saat hari sudah mulai senja, barulah Sona terbangun. Menggeliat selama tiga menit untuk menyamankan badannya yang terasa pegal karena tidur dalam posisi kurang nyaman, diakhiri dengan menguap sekali. Dia mengambil kacamata yang berada di atas meja depan sofa lalu memakainya. Matanya berkeliling menyusur tiap sudut ruangan OSIS, ada Tsubaki yang ternyata masih belum pulang, sedang mengerjakan dokumen di mejanya.
Sona memijit-mijit pelipisnya karena kepalaya terasa sedikit pusing.
"Kaichou, minumlah."
Tsubaki yang langsung sadar King-nya sudah terbangun, langsung bergegas mengambilkan air minum.
Sona minum dengan pelan. Satu gelas penuh berukuran sedang tandas sampai tetes terakhir. Benar-benar kelelahan rupanya. Dia pun menyandarkan punggungnya, matanya dipejamkan untuk mengumpulkan seluruh kesadaran dan pikirannya kembali.
Setelah membuka mata, Sona melirik Tsubaki yang berdiri di sebelah kirinya, "Apa ada hal penting yang terjadi selama aku tidak ada disini?"
Pertanyaan yang sudah bisa ditebak.
"Ada. Tim Anti-Teror DxD sudah dibentuk sejak kemarin siang."
"Oh, yang itu ya? Aku sudah tahu, Naruto-san yang memberitahukannya ketika kami bertiga baru sampai di sini. Ingatan dari bunshinnya yang berada disini selama seminggu kembali ke tubuh asli saat bunshinnya dilepas."
Tsubaki mengangguk, jutsu ninja memang ada-ada saja kelebihannya, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh iblis bahkan makhluk supranatural manapun.
Sona menggeliatkan lagi badannya yang masih terasa pegal, mungkin efek bangun tidur masih terasa. "Tim DxD huh? Aku yakin itu ide bermula dari Azazel-sensei. Kelihatannya saja untuk menghentikan teroris, tapi aku yakin ada maksud terselubung di balik itu."
"Eh. Apa maksudmu, Kaichou?" tanya Tsubaki penasaran.
"Selama di Rumania, kami terus menerus mengawasi pergerakan Rizevim secara sembunyi-sembunyi. Saat Azazel bertanya tentang Ophis, pak tua itu menjawab bahwa sekelompok anak muda yang memberikan Ophis rusak padanya, meski tidak menyebutkan identitas kami."
"Mungkin kah Azazel-sensei penasaran tentang kelompok kita yang bergerak di belakang Rizevim?"
Sona menatap lurus ke arah Tsubaki yang berdiri di sampingnya. "Pastinya. Dia pasti memberitahukan hal ini pada petinggi Aliansi yang lain. Aku curiga, tujuan terselubung di balik pembentukan Tim DxD adalah untuk mencari tahu, menemukan, lalu menghentikan tim kita."
"Kemungkinan besar memang begitu, Kaichou. Tapi..."
"Tapi mereka salah langkah karena memasukkan kita kedalam Tim DxD itu sendiri. Khukhukhuuu.."
Melihat Sona yang tertawa mengerikan, Tsubaki jadi pangling, benar-benar OOC. Ia merasa yang di depannya bukanlah Sona yang ia kenal, bukan Sona si perpeksionis perwaris tahta keluarga Sitri. Ternyata terlalu banyak bergaul dengan Naruto dan Hinata membuat Sona berubah. Tsubaki meratapi itu.
Dengan takut-takut, Tsubaki menyela tawa Sona. "A-anoo Ka-kaichou, lalu setelah itu apa yang kita lakukan?"
"Ekkhem." Sona kembali ke sifat asalnya. "Tetap pada rencana awal. Lagipula progres rencana yang kita jalankan sudah 35%, dan akan kita percepat mulai sekarang. Aku juga sudah mendiskusikan ini dengan Hinata-san. Tak perlu mengkhawatirkan rencana Azazel-sensei."
"Tapi, tetap saja kan? Takutnya Azazel-sensei bertindak diluar dugaan. Kita tahu sendiri dia itu ilmuan jenius."
"Kau meragukan kejeniusanku huh?" ekspresi Sona berubah sinis dengan mata menatap tajam pada Tsubaki.
"Eh, maaf. Bukan itu. Tapi..."
Sona duduk menyandar kembali, "Iya, aku paham. Aku serahkan hal itu pada Rugal dan Bennia-chan. Azazel-sensei dan orang-orang lainnya tidak terlalu mengenal dan tahu kemampuan dua budakku yang paling baru itu, jadi mereka pasti bisa bergerak lebih leluasa secara rahasia dan menyabotase Tim DxD."
"Aku mengerti, Kaichou."
"Huufft. Kalau begitu, kau yang jelaskan detail tugasnya pada Rugal dan Bennia-chan ya. Aku yakin di kepalamu sudah ada rencana."
Tsubaki mengangguk. Ini perintah mutlak dari Sona yang harus ia laksanakan. Begini-begini sebagai wakil ketua OSIS, otak Tsubaki hanya sedikit lebih tumpul jika dibandingkan dengan Sona. Tentu sangat mengerikan dan amat tajam kalau dibandingkan orang biasa.
Ekspresi Sona tampak seperti orang yang melupakan sesuatu hingga kemudian dia berceletuk, "Oh iya, apa Naruto-san dan Hinata-san sudah pulang? Seingatku, tadi sebelum aku tertidur mereka masih disini."
"Tidak, Kaichou. Mereka juga kelelahan, jadi mereka berdua kusuruh tidur bersama di kamar sebelah."
"Tch.!"
Sona mendecih. Pasangan suami istri itu seenaknya memakai ruangannya, tanpa memikirkan hatinya yang ngejleb bagai ditusuk paku. Apalagi membayangkan mereka tidur bersama, euuuhhh, paku yang menusuk dan menghujam jantung terasa ratusan kali lebih banyak.
Melupakan hal itu, ada suatu hal yang membuat Tsubaki penasaran, "Emm, Kaichou. Kenapa kalian bertiga pulang terlambat? Padahal Azazel-sensei, Rias dan lainnya sudah pulang duluan. Kasus di Rumania sudah selesai empat hari lalu, tapi kenapa kalian baru pulang hari ini?"
"Oh, ini gara-gara si pak tua Rizevim yang bodoh itu."
Tsubaki tidak mengerti. Mana mungkin Rizevim itu orang bodoh, tak mungkin orang bodoh bisa memimpin Khaos Brigade dan berencana membangkitkan Trihexa.
"Maksudku dia jenius, hanya saja kelakuannya seperti anak-anak. Bahkan dia sendiri mengakui kalau dirinya adalah orang tua pengidap sindrom chuunibyou."
"Aku masih belum mengerti, Kaichou?" tanya Tsubaki karena semakin tidak paham.
"Huuuuuufft..." Sona mendesahkan nafas panjang. "Rizevim itu tipe penjahat mainstream. Coba kau pikirkan, Tsubaki! Dengan entengnya dia menunjukkan Ophis yang kami memberikan padanya dihadapan musuh, padahal kami memberikannya untuk mensupport rencana dia saat situasi khusus. Selain itu, dia juga seenaknya membeberkan impiannya untuk membangkitkan Trihxa kepada semua orang. Apa itu tidak bodoh namanya? Perbuatannya itu membuat banyak golongan semakin mewaspadai gerakannya, akibatnya rencana pasti terhambat. Lihat sekarang hasilnya, Tim Anti-Teror DxD sudah dibentuk untuk melawan rencana Rizevim."
Kalimat-kalimat itu dikeluarkan Sona dengan nada kesal. Bagaimana tidak kesal? Gara-gara hal itu, dia terpaksa melakukan pekerjaan tambahan.
"Apa hubungannya hal itu dengan kau terlambat pulang?"
"Karena hal itu lah, aku, Naruto-san, dan Hinata-san harus berkeliling dunia ke berbagai tempat mitologis yang tersisa diseluruh dunia ini untuk menyebarluaskan berita hoax tentang insiden di Rumania.?"
"Huh?" Tsubaki sama sekali tidak tahu apa-apa tentang hal ini.
Sona menata lurus mata Tsubaki yang menuntut jawaban jelas darinya. "Kau pasti sudah diberitahu oleh para petinggi tentang situasi politik dunia yang terbelah karena masalah yang dibuat utusan Konoha, Rizevim, dan Azazel-sensei yang berebut Holy Grail kan?"
"Iya." ucap Tsubaki sambil mengangguk.
"Itu karena kami bertiga memutar balik fakta dan membuat berita-berita bohong lalu menyebarkan ke seluruh dunia. Tujuannya agar semua mitologi tidak bersatu melawan Rizevim dengan memanfaatkan permusuhan antara Konoha dengan Aliansi. Jika situasi politik memanas, perhatian yang ditujukan pada aksi teror Rizevim akan berkurang. Dengan begitu, rencana akan lebih mudah dijalankan."
Tsubaki paham sekarang. Bagaimanapun caranya, impian Rizevim membangkitkan Trihexa tidak boleh tersendat, bahkan kalau perlu harus dipercepat karena kiamat keruntuhan Cardinal System tidak bisa menunggu. Sona sudah bekerja keras dalam mempermainkan panggung dunia. Ia tidak segan membiarkan kaumnya sendiri dalam bahaya. Yang menjadi prioritas adalah menyelamatkan dunia dengan membantu misi Naruto dan Hinata. Hal ini dia lakukan juga demi mewujudkan impiannya dimasa depan untuk membangun sekolah Rating Game bagi semua golongan dari iblis kelas rendah sampai kelas tinggi, dari yang tidak berbakat sampai keturunan keluarga bangsawan. Tentu ia sudah sangat mengerti kalau tidak akan ada masa depan jika misi Naruto dan Hinata gagal.
Dalam hal ini pun, tampaknya Naruto, Hinata, Sasuke, dan Sakura yang termasuk ke dalam tim juga tak segan membiarkan Konoha yang merupakan tempat mereka berasal, berperang melawan ras supranatural dan mitologi-mitologi superior. Tsubaki sekarang yakin, kekuatan Desa Ninja Konoha tak main-main jika memang berani melakukannya.
Selesai dengan pikirannya, Tsubaki kembali bertanya. "Oh iya, Kaichou. Bagaimana caranya kalian bertiga menyebarkan berita-berita palsu itu?"
"Dengan bekal pengetahuanku tentang lokasi semua tempat mitologis, kami berpindah ke setiap tempat menggunakan Cube milik Hinata-san. Menyusup kesana dengan Naruto-san menyamarkan diri sebagai makhluk dari tempat-tempat itu menggunakan teknik Henge-Spesial agar bisa meniru aura keberadaan dari setiap jenis makhluk supranatural. Ada puluhan tempat yang harus kami datangi, makanya empat hari baru selesai."
Tsubaki mengangguk lagi. Ia tidak tahu ingin membicarakan apalagi sampai Sona yang bertanya lebih dulu.
"Tsubaki, kau bilang tadi kau dipanggil Sirzech-sama kan?"
"Iya. Beliau memanggil kelompok kita karena ada aturan khusus untuk tim kita yang memiliki bidak evil piece lebih banyak dari yang lain."
"Apa katanya?"
"Aturannya normal seperti rating game yang sudah-sudah. Tipe permainan akan diumumkan sesaat sebelum permainan dimulai. Tapi khusus untuk kita, Sirzech-sama meminta kita mendaftarkan pemain penuh satu set bidak yang ikut rating game setiap tiga pertandingan berturut-turut. Jadi selama tiga pertandingan, yang bermain totalnya sama dengan nilai 16 bidak sedangkan bidak ekstra tidak diijinkan ikut, sehingga tidak ada pergantian pemain. Setelah tiga pertandingan itu, kita diberikan hak untuk mengatur ulang formasi tim dengan memasukkan pemain cadangan dan mengeluarkan pemain yang terluka atau tidak bisa ikut bermain lagi untuk tiga pertandingan berikutnya. Begitu seterusnya, pergantian pemain hanya boleh dilakukan setiap tiga pertandingan."
"Itu saja?"
Tsubaki mengangguk, "Iya, Kaichou."
"Lalu, undangan pesta pembukaan?"
"Pesta pembukaan digelar di wilayah Gremory, didalam kompleks istana karena sebagai penanggung jawab event turnamen rating game, Sirzech-sama lah yang menjadi tuan rumah."
"Ada hal lain lagi?"
"Tidak ada, Kaichou."
"Baiklah, sampaikan pada semua anggota kelompok OSIS untuk bersiap-siap."
"Eh?" Tsubaki tampak tidak mengerti.
Sona tersenyum tipis, "Maksudku, siapkan gaun kalian, beli yang terbaik. Tentu kalian ingin tampil cantik dan menawan di pesta nanti kan?"
Tsubaki mengangguk. Dia cukup senang karena sang Kaichou memahami keinginan alamiah mereka sebagai perempuan.
.
.
.
-Gremory's Territory-
Malam ini adalah malam yang sudah lama dinantikan oleh hampir seluruh penduduk Underworld. Bertempat di salah satu wilayah keluarga bangsawan yang termasuk dalam 72 pilar Iblis, Istana Gremory, digelar pesta terbesar sepanjang sejarah Dunia Bawah, pesta pembukaan Turnamen Rating Game.
Rating Game itu sendiri biasanya dilangsungkan dalam beberapa kasta atau tingkatan yang membagi-bagi peserta kedalam keluarga bangsawan dan non-bangsawan, lalu peserta iblis kelas tinggi, menengah, hingga bawah. Namun pada hari ini, momen yang hanya berlangsung setiap 50 tahun sekali, diselenggarakankan event terbesar Turnamen Rating Game yang mengikutsertakan sampai 200 peserta dari berbagai golongan dan level iblis tanpa membeda-bendakan kasta.
Menilik pada salah satu elevator yang disediakan untuk mengantarkan tamu menuju aula pesta yang terletak di lantai atas.
Ukuran elevator sangat besar, sesuai untuk Istana Gremory yang begitu megah, dan lagi elevator ini memang disediakan khusus untuk setiap tamu undangan. Jumlah maksimal yang dapat ditampung elevator mencapai 25 orang, itupun tidak membuat elevator menjadi sesak karena saking luasnya bilik elevator tersebut.
Ada dua tamu yang menggunakan elevator itu bersama menuju ruang pesta, Tim Sona dan Tim Rias. Kedua tim sampai didepan bangunan pesta pada waktu bersamaan. Mereka masing-masing diantar dengan sebuah limosin mewah. Tim Rias sendiri datang dari residen yang menjadi tempat tinggal Rias Gremory, sedangkan Sona dijemput oleh panitia di tempat khusus kedatangan tamu yang dibangun lebih mewah dari bandara terbesar di dunia manusia.
Rias dan Sona berdiri berdampingan di depan, tepat menghadap pintu elevator. Tak ada obrolan penting, hanya sebatas ucapan saling menyemangati agar memenangkan setiap pertandingan nanti. Selain itu, juga keluhan Rias yang sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan pesta ini. Sona sendiri lebih banyak mendengarkan.
Dibelakang mereka, tampak hampir setiap budak yang menunjukkan ekpresi gugup di wajah. Mau bagaimana lagi?, ini pesta besar pertama yang mereka hadiri dimana akan ada banyak orang penting dan terhormat didalamnya. Yang paling gugup adalah Issei, dia yang berlatar belakang manusia biasa yang hidup sederhana di perumahan biasa di salah satu perfektur Kota Kuoh, kini menghadiri pesta besar yang dihadiri para raja dan dewa.
Jangan lupakan penampilan mereka yang sangat berbeda dari biasanya. Mengenakan baju mewah merk ternama yang didesain khusus untuk menghadiri pesta kalangan atas. Para pemuda yang begitu gagah dan tampan, juga para gadis yang tampil cantik dan anggun sampai siapapun akan pangling melihatnya karena jauh sekali berbeda dengan penampilan mereka yang biasa. Para gadis tak satupun yang tak mengenakan gaun, gaun indah yang glamour dan seksi.
Salah satunya Uzumaki Hinata, mengenakan gaun pesta dengan desain simpel namun tidak mengurangi kesan anggun dan elegan, berbahan kain sutra mahal agak mengkilap berwarna ungu gelap dengan bagian punggung terbuka sehingga menampakkan kulit putih dan mulusnya yang lebih indah dari porselin terbaik sekalipun. Begitu halnya pula dengan gadis-gadis lain, tak ada satupun yang tak tampil menarik dan menawan.
Pintu elevator terbuka, semuanya melangkah keluar melewati koridor lebar yang didekorasi dengan mewah.
Mereka semua, 12 orang dari Tim Sona dan 9 orang dari Tim Rias dituntun ke dalam sebuah aula mewah dimana semua tamu pesta berkumpul. Di lantai yang amat sangat luas ini terdapat kerumunan Iblis, Malaikat, bahkan Dewa. Tak ketinggalan makanan-makanan yang kelihatan sangat lezat. Langit-langit aula seperti pada ruang pesta kebanyakan, dihias dengan chandelier besar.
Sebagian tamu pesta berhenti berbicara manakala kedua tim itu memasuki ruang pesta. Sorot mata terpesona dan kata-kata kekaguman terlontar dari mereka.
Berbagai pujian ditujukan secara langsung pada Rias.
"Tuan Putri Rias, anda menjadi semakin dan semakin cantik."
"Sirzechs-sama pasti sangat bangga."
Hal itu sebenarnya wajar, tak bisa dicegah karena selain sebagai seorang putri dari salah satu Keluarga 72 pilar Iblis, Rias juga adik seorang Maou terkuat dan disegani, kemudian Rias juga seorang selebriti di Underworld. Tak ada satupun yang tak mengenalnya.
"Uuu, banyak sekali orangnya." Gasper berbicara takut-takut dengan badan merinding. Dia yang pada dasarnya hikkikomori pasti tidak terbiasa berkumpul dengan banyak orang.
Sona tersenyum tipis. Ia tidak tampak iri dengan sambutan dan pujian yang ditujukan untuk sahabatnya.
"Rias, kita berpisah disini. Ada beberapa orang yang ingin aku sapa." ucap Sona.
"Ya, silahkan saja. Kami juga harus menyapa beberapa kenalan." sahut Rias.
Kedua tuan putri ini tentu memiliki kenalan penting yang berbeda, yang juga hadir dalam pesta megah malam ini. Lagipula sisi popularitas mereka berbeda sehingga memiliki basis penggemar sendiri-sendiri, dan mereka juga harus disapa.
Sona berjalan ke arah kiri, diiringi oleh semua peeragenya.
Selama didalam aula pesta, para peerage yang biasanya ribut, suka bercanda dan bermain-main, malam ini tampak lebih banyak diam, tenang, dan bersikap layaknya seorang tamu pesta sungguhan. Tentu saja harus menga sikap agar tidak mempermalukan King mereka dihadapan orang banyak. Rias dikenal sebagai selebriti, sedangkan Sona populer sebagai iblis muda jenius.
Mari kita sebutkan siapa saja tamu undangan pesta ini sehingga disebut sebagai pesta terbesar dan termegah sepanjang sejarah Underworld.
Sejak berbagai masalah yang menerpa dunia supranatural dari masa lalu hingga sekarang, arah dan hubungan antar setiap ras pun berubah. Mereka yang dulunya mengisolasi diri bahkan cenderung bermusuhan kini mulai terbuka. Event yang sebenarnya hanya untuk ras Iblis, juga dihadiri oleh orang luar. Ada mitra-mitra yang menjalin kerjasama dengan Underwolrd, bahkan dewa-dewa dari berbagai tempat mitologi juga berhadir. Meski situasi politik tengah memanas akibat teror yang dilakukan oleh Khaos Brigade, namun malam ini mereka ingin melupakan masalah itu sejenak dan menikmati pesta.
Sebagai tuan rumah, adalah Sirzech Gremory Lucifer. Dia adalah penanggung jawab Turnamen Rating Game dan memutuskan untuk membuat pesta pembukaan di istananya sendiri. Selain dia, tentu saja ada tiga Maou lainnya. Ajuka Beelzebub dan Falbium Asmodeus, serta Serafall sebagai Maou perempuan bergelar Leviathan yang malam ini tampil menawan dengan gaun glamour dan berkerlap-kerlip. Dia tidak memakai pakaian cosplay agar tidak ingin mempermalukan diri sendiri.
Sebagai mitra utama Underworld, banyak petinggi-petinggi dan orang penting dari Grigori dan Surga yang hadir. Sebut saja Gubernur Malaikat Jatuh, Azazel. Dia didampingi wakilnya, Shemhazai. Ada juga petinggi Malaikat jatuh yang lain seperti Baraqiel, bahkan para peneliti di institut Grigori yaitu Sahariel dan Tamiel. Slah Dog Tubio Ikuse datang sendirian tanpa anggota timnya sebagai ajudan Azazel.
Kemudian dari Surga berhadir Four Great Seraph, yakni Gabriel, Raphael, dan Uriel, serta Sang Archangel tangan kanan The God of Bible, Michael. Pertama kali sejak ribuan tahun lalu mereka meninggalkan Surga dan menginjakkan kaki lagi di Dunia Bawah.
Pesta ini juga mengundang dewa-dewa dari berbagai tempat mitologis. Meski tidak semua yang diundang dapat berhadir, namun yang hadir cukup untuk mewakili golongan masing-masing.
Ada Zeus dari gunung Olympus, dia mewakili mitologinya. Padahal ada dewa dan dewi yang lain yang juga diundang, tapi mungkin enggan berhadir karena hubungan Olympus dengan Surga sebagai mitra utama ras Iblis sedang renggang akibat ulah Hades yang mengirim ribuan pasukan Grim Reaper ke Venesia tanpa meminta ijin pada Surga. Venesia yang letaknya berdekatan dengan Vatikan termasuk salah satu teritori Surga di dunia manusia. Namun ada satu dewa dari Olympus yang ternyata juga hadir, dia adalah Ares sang Dewa Perang. Mungkin karena rating game ini mengadu kekuatan tempur setiap peserta, maka dari itulah dia tertarik.
Dari Reliji Hindu-Budhha. Hanya diwakili oleh salah satu Dewa Trimurti yaitu Dewa Brahma. Sebenarnya ia pun punya masalah sendiri ditempat asalnya, namun demi menghormati pihak pengundang, ia menyempatkan diri berhadir tapi sudah memberitahu kepada panitia bahwa akan pulang sebelum pesta pembukaan selesai. Saat ini, internal Reliji Hindu-Buddha tengah bergejolak akibat perbedaan ideologi yang memecah banyak dewa-dewi menjadi dua kubu. Meski masih terjadi perang urat saraf, namun tidak menutup kemungkinan dalam waktu dekat akan terjadi bentrok. Akan tetapi, Dewa yang katanya memicu konflik disana dan berperan besar membuat suasana jadi panas, ternyata dengan ekspresi senang tanpa beban hadir pula di pesta ini. Dia, Indra Sang Dewa Perang atau yang lebih di kenal sebagai Sakra. Dia tak sendiri, tapi dikawal oleh pelayannya, seorang Youkai legendaris, Victorious Fighting Buddha Sun Wukong Generasi Pertama.
Kemudian mitologi yang menyatakan dukungan penuh terhadap pakta perdamaian Aliansi Tiga Fraksi yang dideklarasikan di Kuoh, Mitologi Norse, menghadirkan dua dewa tertinggi. Odin sang dewa ketua bersama putranya, dewa terkuat dari Norse, Thor.
Nampak setiap petinggi bercengkrama di ruangan lantai dua yang kelihatan seperti balkon dari lantai dasar aula pesta, itu terlihat seperti tempat berkumpul tamu-tamu Super-VIP. Mereka adalah orang hebat dari berbagai fraksi. Hanya saja kalau diperhatikan dengan teliti, suasananya terasa kaku dan agak mencekam. Wajar saja karena setiap dari mereka tidak bisa melepaskan diri dari kepentingan masing-masing meski diluarnya ingin menikmati pesta.
Beralih ke salah satu sudut aula pesta yang lain, berkumpul para orang tua. Bercengkrama lepas dan saling bernostalgia. Mereka kebanyakan adalah para kepala keluarga dari setiap pilar keluarga iblis Underworld. Beberapa di antaranya yang cukup terkenal yaitu Zeoticus dan Venelena Gremory. Mereka bedua membawa cucu mereka, Milicas Gremory. Kemudian ada Lord Phenex dan Lady Phenex, bersama putrinya Ravel Phenex. Ada pula kepala Keluarga Great King, yakni Zekram Bael. Tidak jauh dari mereka, ternyata ada seorang tamu yang terlihat menyendiri. Dia adalah pemimpin dari Shinsengumi sekaligus salah satu peerage Sirzech Lucifer yang mengkonsumsi dua bidak Knight, Shouji Okita.
Beralih lagi, ada pula tempat para tamu bukan petinggi namun punya kedudukan yang disegani dan dihormati dikalangan para tamu pesta. Ada Tannin, mantan Dragon-King yang bereinkarnasi menjadi iblis. Dia kini menggunakan wujud mini, terbang didekat seorang paruh baya yang juga dikenal banyak orang. Mephistopheles, ketua Asosiasi Penyihir yang sudah bekerja sama dengan ras iblis sejak dahulu kala. Sudah jadi tradisi setiap penyihir melakukan kontrak dengan iblis. Mephistopheles punya hubungan dekat dengan Tannin, dalam satu kesatuan peerage, Mephistopheles adalah King sedangkan Tannin mengkonsumsi bidak Queen. Namun selain itu, Tannin juga menggunakan evil piece sendiri sebagai King, hanya saja dia independen tanpa satupun peerage. Meski begitu, dia termasuk top 10 ranking Rating Game sedunia.
Yasaka, Ratu Kaum Youkai Kyoto juga diundang. Karena tak ada teman bicara, dia memilih untuk mendekati para Brave Saint muda reinkarnasi malaikat. Mengakrabkan diri karena sebelumnya tidak saling kenal dan bertemu. Ada Joker Dulio yang kelihatan sibuk makan-makan dan ditegur oleh Griselda. Hanya Irina yang menyambut Yasaka dengan tangan terbuka.
Lalu titik inilah yang sebenarnya paling panas, tempat berkumpulnya peserta-peserta kehormatan yang diundang pada acara pesta pembukaan. Mereka adalah peserta rating game yang menduduki posisi puncak sejak lama. Pertama yang dijuluki sebagai Emperor Bellial diperingkat nomor satu, Diehauser, berbicara sombong pada peserta lain. Ruval yang masuk Top10 hanya melirik sekilas dengan tatapan tidak suka. Berbeda dengan Roygun Belphegor di posisi kedua dan Bedeze Abaddon di posisi ketiga yang dengan senang hati membalas ucapan Diehauser. Tampak tiga orang itu sedang perang urat saraf dan beradu kesombongan.
Semua orang itulah, orang-orang penting, terkenal, terhormat, dan disegani dari berbagai tempat dan golongan berkumpul sehingga menjadikan pesta ini begitu luar biasa.
Selain mereka, ada juga sudut ruangan yang kini digunakan oleh para peserta muda unggulan dan favorit penonton untuk berkumpul meski mereka tidak terlalu terkenal dikalangan masyarakat kelas atas. Ada empat tim yang dijuluki sebagai Rokie Four, mereka adalah Tim Sairaorg, Seekvaira, Rias, dan Sona. Keempat King dari peerage masing-masing itu berdiri didekat sebuah banquet yang menyajikan makanan lezat dan sebuah meja tempat meletakkan gelas-gelas minuman. Sona dan Rias belum lama berkumpul di tempat ini setelah masing-masing menyapa beberapa kenalan sebelumnya.
Mereka berempat berbicara santai karena hubungan mereka yang memang cukup dekat. Rias dan Sairaorg adalah saudara sepupu. Sona dan Rias sahabat dekat sejak kecil. Seekvaira pun punya hubungan yang cukup dekat dengan Sairaorg sebab mereka sering bertemu. Sairaorg adalah pewaris keluarga Great-King Bael yang posisinya secara eksekutif satu tingkat dibawah Maou sedangkan Seekvaira adalah pewaris tahta keluarga Agares yang berperingkat Archduke, juru bicara sekaligus agen dari Maou. Jadi, misalkan Maou disebut sebagai presiden sebuah perusahaan, maka Bael sebagai wakilnya dan Agares adalah direktur eksekutif
Saat mereka tengah asyik mengobrol, berempat saja tanpa ditemani peerage masing-masing, datang seorang pemuda dengan senyum yang nampak ramah namun menyiratkan hawa permusuhan. Dia adalah keturunan keluarga Astaroth, tempat Maou Falbium Asmodeus berasal. Namanya Diodora Astaroth.
"Selamat malam, Rias-ojousama." sapanya pada sang putri Gremory sembari membungkukkan badan. Tanpa ijin dia meraih tangan Rias dan menciumnya singkat. Sebuah perlakuan romantis namun Rias sama sekali tak menyukainya.
"Selamat malam juga Bael, Onee-san Agares, dan Megane-onna."
Sama seperti Rias, tiga orang ini juga sama sekali tak menyukai Diodora. Mereka cukup mengetahui bagaimana kelainan orientasi seksual Diodora, penyuka biarawati-biarawati perawan. Karena hal itulah, Rias akan sangat protektif pada Asia jika di dekat mereka ada Diodora.
Diodora membuka mulutnya lagi, "Kalau berkenan, mari berdan- ..."
"Rias-Ojousama."
Seorang pelayan kepercayaan keluarga Gremory menyebutkan nama tuannya dengan badan membungkuk, persis disamping kiri Diodora.
"Tch, pelayan rendahan tak tahu diri."
Diodora mendecih kesal karena ajakan dansa darinya dipotong, namun Rias sama sekali tak mempedulikannya.
"Ada apa?"
"Anda dipanggil oleh Sirzech-sama. Beliau ingin memperkenalkan anda dan pion anda, Naga Legendaris, kepada beberapa tamu kehormatan."
"Baiklah." Rias meletakkan gelas minuman yang dia pegang ke meja di dekatnya, kemudian bergantian menatap Sairaorg, Seekvaira, dan Sona. "Aku pergi dulu."
Rias berjalan lebih dulu dari pelayan, dia harus mencari Issei dulu baru kemudian menemui kakaknya.
"Sairaorg-san, Agares-san. Kurasa sekarang aku harus ke tempat lain juga, ada yang ingin kulakukan."
Sairaorg dan Seekvaira menatap Sona sebentar kemudian mengangguk, tak ingin bertanya untuk alasan apa Sona pergi.
Sona berjalan menjauh diantara kerumunan tamu pesta.
Tidak ada pembicaraan lagi sampai punggung Sona benar-benar lenyap dari pandangan mata.
Seekvaira menyesap segelas wine dari gelas di tangannya secara perlahan. Setelah sekali tegukan, dia membuka topik obrolan baru.
"Kudengar keluargamu memulai bisnis otomotif di dunia manusia?"
Sairaorg yang ditanya mengangguk sekali. "Begitulah. Selama ini keluargaku hanya menjadi promotor pertandingan gulat dan tinju profesional, tapi sekarang kami ingin memperluas segmen bisnis."
Seekvaira dan Sairaorg menggeser posisi berdiri mendekati meja yang menghidangkan dessert, mengambilnya lalu memakannya sambil meneruskan obrolan.
"Pilihan bagus menurutku. Belum ada keluarga iblis lain yang melakukan bisnis bidang itu di dunia manusia. Jadi kau tak ada saingan."
"Ya, mau bagaimana lagi. Namanya juga baru mulai, tidak mungkin kami mampu bersaing hebat seperti bisnis perhotelan dan pariwisata yang digeluti oleh Serafall-sama dan Sirzech-sama."
"Hu'um. Lalu..."
Dua iblis muda pewaris tahta kepala keluarga masing-masing terus melanjutkan obrolannya tanpa memikirkan keadaan sekitar.
"Oh, jadi aku dikacangin?"
Diodora menggerutu kesal. Rias pergi, Sona pergi, sedangkan Sairaorg dan Seekvaira mengobrolkan topik yang tak ada hubungannya dengannya. Tak mau berlama-lama diperlakukan seperti itu, ia pun melenggang pergi mencari kesenangan sendiri, menggoda tamu-tamu perempuan misalnya.
Acara pesta pembukaan terus berlanjut dengan meriah. Pada salah satu sudut, didendangkan permainan musik salsa. Beberapa tamu yang datang berpasangan dengan bangga mempertontonkan kebolehannya dalam berdansa, dansa Salsa yang berasal dari Spanyol dan sangat populer di Amerika Latin.
Ke sudut pesta yang lain lagi, area pesta yang disediakan khusus untuk tamu kehormatan. Sebuah ruangan untuk orang-orang dalam daftar Super-VIP, terletak di lantai dua aula, ke tempat inilah Rias membawa bidak pionnya, Hyoudou Issei.
"Onii-sama."
Rias langsung menyapa sang kakak begitu sampai di tempat yang dituju. Issei mengikutinya dibelakang.
Sirzech menoleh dan melambaikan tangannya, "Kemarilah, Rias."
Sirzech duduk bersama delapan orang lainnya di sofa yang tersusun melingkar yang mengelilingi sebuah meja berukuran sedang. Dari pakaian yang mereka kenakan, jelas akan langsung diketahui bahwa mereka adalah orang berpengaruh dari bermacam-macam golongan.
Berputar berlawanan arah dengan jarum jam dari samping kiri Sirzech, secara berurutan nama-nama tamu kehormatan tersebut adalah Michael, Gabriel, Ajuka Beelzebub, Dewa Ketua Odin, Dewa Thor, Azazel, Sahariel, dan Serafall Leviathan.
Rias dan Issei sudah bertemu dengan beberapa diantaranya, namun mereka berdua belum berkenalan langsung dengan Gabriel, Sahariel, dan Thor.
Gabriel memiliki perawakan langsing dengan badan tinggi semampai serta bentuk tubuh ideal. Rambutnya panjang berwarna pirang terang yang bergelombang. Kulitnya putih mulus dan bersih tanpa cela. Dia mengenakan gaun pesta mewah sama halnya seperti tamu-tamu perempuan lainnya, tak memakai sedikitpun aksesoris kebesaran dari seorang malaikat berpangkat Seraph. Dia lah malaikat yang dijuluki sebagai perempuan tercantik dan terindah ciptaan Kami-sama. Buktinya saja, Issei tak berkedip sekalipun selama bermenit-menit menatap Gabriel sampai Rias yang menyadari kelakuan tidak sopan itu menyikut perut budaknya.
Sahariel berwujud seorang pemuda dua puluh tahun dengan rambut berwarna biru keperakan sebahu dengan model belah tengah. Tubuhnya tidak terlalu besar untuk ukuran laki-laki, bahkan dianggap pendek karena tinggi badannya hanya 150 cm. Ia adalah salah satu peneliti muda di institut Grigori yang namanya cukup dikenal banyak orang.
Dewa Thor datang mengenakan setelah tuxedo sebagaimana tamu-tamu pesta yang lain. Modelnya standar dengan warna hitam kebiruan. Rambutnya berwarna coklat, panjangnya hingga bahu dan diikat menjadi satu, kelihatan mengkilap berkat pomade mahal yang melapisi setiap helainya. Jambang tipis menghiasi wajahnya sehingga ketampanannya bertambah sekaligus menciptakan kesan tegas dan berwibawa.
Dewa Ketua Odin, mengenakan jas model lama. Tongkat yang membantunya berdiri tak pernah lepas dari tangan meksipun sekarang ia sedang duduk. Janggutnya yang berwarna putih abu-abu tergantung panjang hingga sampai ke kaki. Ada penutup mata yang menutupi mata kirinya. Saat kasus Dewa-Jahat Loki dahulu, Odin sudah pernah ke Jepang dan berjumpa Kelompok Gremory.
Yang lainnya tampil seperti biasa, hanya saja dengan balutan busana pesta ala barat.
Adapun perkumpulan ini, hanya antara petinggi Aliansi Tiga Fraksi dan Dewa Norse yang memang memiliki hubungan sangat dekat dan kerjasama rahasia. Sedangkan tamu lain, dewa-dewa yang diundang dari berbagai mitologi memilih untuk membaur dengan para tamu pesta dari berbagai kalangan di lantai aula.
Rias membungkukkan badan dengan sopan ketika sudah berada di dekat perkumpulan para petinggi tersebut. Issei juga melakukan hal yang sama.
"Nah, para tamu sekalian." Azazel menunjuk Issei dengan tangan yang memegang gelas berisi vodka. Ia menatap semua orang di sekitarnya bergiliran. "Dialah pemilik kekuatan dari Naga Legendaris. Sekiryutei generasi paling fenomenal yang pernah ada. Sebagai gurunya, aku dengan bangga menyebut dia si kemungkinan tak terbatas dengan perkembangan abnormal dan tak biasa dari para sekiryutei masa lalu. Aku bisa janjikan, dia akan menjadi sekiryutei terkuat sepanjang masa. Sama seperti aku mendidik Vali Lucifer, dia yang juga telah disebut-sebut sebagai Hakuryuukou terkuat dari masa lalu hingga masa depan."
Issei menjadi kikuk diperkenalkan seperti itu. Ia sendiri tidak pernah merasa memiliki potensi seperti yang dikatakan Azazel.
Thor tersenyum tipis. Dia nampak tak ingin menanggapi berlebihan.
Berbeda sekali dengan Odin, dia tertawa cukup keras. "Yah, aku akui kehebatanmu, Azazel. Kau memang ilmuan jenius hingga sanggup melahirkan dua pemilik kekuatan Naga Legendaris paling luar biasa."
Gabriel terketuk untuk bertanya, "Emm, ngomong-ngomong Azazel-dono. Bagaimana dengan Hakuryuukou itu? Dia kan murid anda juga, jadi tindakan apa yang akan anda lakukan terhadapnya karena perbuatan yang dia lakukan sehingga menjadi buronan internasional?"
Azazel jadi malu sendiri karena Gabriel menyinggung masalah Vali. "Yah, mungkin karena dia masih muda, jadi dia bertindak sendiri untuk menemukan jati diri. Tapi yakin saja, aku mengenal Vali sangat baik. Dia tidak akan berbuat hal yang merugikan orang lain, selain bertarung dengan orang-orang yang dia anggap kuat. Begitulah." jawabnya santai. Meski dahulu Azazel pernah bermasalah dengan Gabriel, tapi itu masalah lama. Kejadian yang membuat Azazel yang mulanya seorang malaikat yang dihormati menjadi malaikat jatuh, ketika dia dikuasai nafsu dan berani mengintip Gabriel yang sedang mandi. Sekarang antara Azazel dan Gabriel seperti tak pernah terjadi apa-apa.
Ucapan Azazel cukup bisa dipercaya, sehingga orang lain tidak menanggapi masalah itu dengan serius.
Rias merasa bosan berada di tempat ini. Kalau dia dipanggil hanya untuk mendengar ucapan para orang tua, dia lebih senang menikmati pesta bersama teman dan budak-budaknya.
Issei tak berkata apa-apa, hanya berdiri seperti patung hingga dua orang maid datang membawa nampan berisi satu gelas minuman.
"Minumlah, Rias, Issei." ucap Sirzech. Kedua maid itu pun menyerahkan minumannya pada Rias dan Issei.
Rias tampak enggan. Sirzech yang paham itu melanjutkan ucapannya, "Kalian berdua boleh meninggalkan tempat ini setelah meminum minumannya."
Ucapan Sirzech terdengar pelan. Walaupun tamu lain mendengarnya, tapi mereka tak memperdulikan dan terus melanjutkan obrolan tak penting antar mereka.
Azazel dan Odin kelihatan tertawa bersama. Dua orang tua ini sama-sama mesum akut gila, dan jika obrolan mereka sudah membahas tubuh perempuan, sampai pagi pun tak akan berhenti.
Gabriel tak ikut bicara banyak, sedangkan petinggi lain hanya mengobrol ringan membicarakan topik tentang keindahan dan budaya kampung halaman masing-masing.
Rias menggulirkan mata bosan, dengan cepat ia mengambil gelas minum dan menyesap isinya.
Sementara Issei tampak ragu.
Lagi-lagi Sirzech mengerti. "Jangan ragu, memang itu minuman beralkohol. Tapi tidak ada yang membatasi umur peminumnya di pesta ini. Minum saja, Issei."
Meski mesum, Issei orang yang taat aturan. Kedua orang tuanya melarangnya minum alkohol hingga usianya lewat 18 tahun. Namun karena Sirzech yang meminta, ia tak bisa menolak.
Issei menelan minuman dari gelas yang diberikan maid untuknya. Dia meminumnya pelan, dari ekspresi yang terlihat di wajahnya, jelas ketahuan dia bukan peminum. Mungkin sekarang lidah dan kerongkongannya serasa terbakar setelah cairan beralkohol melewatinya menuju lambung.
Issei memejamkan mata sekali setelah menghabiskan minuman, lalu mengembalikan gelasnya ke nampan yang dipegang maid.
Baik Rias maupun Issei masih bertahan beberapa lama bersama perkumpulan itu, hingga akhirnya mereka pun pergi setelah diberi ijin Sirzech dan berpamitan.
Pada tempat lainnya, masih di dalam aula pesta yang sama. Terlihat Sakra yang saling ejek dengan Ares. Sejak meninggalkan ruang Super-VIP, mereka berdua terus bercengkarama membaur dengan tamu pesta lainnya di lantai aula. Sun Wukong si kecil kera berbulu emas tak terlihat lagi bersama Sakra.
Sementara mendengarkan Ares yang tertawa bersama tiga orang wanita yang menggelayut manja padanya, Sakra melirikkan matanya ke kiri, menyeringai senang karena seseorang yang ia nantikan sedari tadi kini berjalan mendekat padanya.
"Yooo." Sakra menyapa dengan riang tanpa beban sedikitpun.
Naruto, yang disapa membungkukkan badan dengan sopan. "Kiranya anda tidak menyapa saya seperti itu, Sakra-sama. Saya hanya seorang budak."
Sakra tertawa sinis menanggapinya.
Sejak awal, sejak berada didalam ruangan yang sama, mereka berdua sudah menyadari keberadaan masing-masing. Mau bagaimanapun, karena berada di pesta yang sama mereka pasti akan bertemu, jadi ini momen yang memang dinantikan, saat keduanya tengah senggang.
Ares tampaknya membiarkan saja Sakra yang menyapa Naruto. Dia mungkin sudah tahu banyak, namun memilih untuk tidak peduli. Lagipula bukan urusannya. Ia ingin bersenang-senang bersama tiga wanitanya.
Sakra berjalan mendekati Naruto. Si Dewa Gundul ini mendarat tangan di bahu Si Pirang. Sambil tersenyum sumringah dia berkata, "Aku tak menyangka kau bisa ada di tempat ini."
"Ya, sejujurnya saya juga tidak menyangka anda diundang ke pesta ini."
Keduanya memang sama sekali tidak menduga kalau akan diundang ke pesta yang sama.
"Kau tidak berubah sejak saat itu. Apa kita lanjutkan?" Sakra berbicara dengan nada persuasif sambil menggerak-gerakkan alisnya.
Naruto terkekeh kecil, Sakra masih ingat tentang pertarungan yang belum selesai itu rupanya. "Mungkin, tapi nanti. Emm, anda tidak bersama naga hijau dan kera kecil?"
"Lupakan itu. Aku belum melihat wanitamu? Dia istrimu kan?"
Sakra tentu masih ingat dengan perempuan yang tiba-tiba datang ke sisi Naruto saat mereka sedang bertarung. Sosok perempuan yang membuatnya memutuskan untuk mundur karena ke misteriusannya yang harus diwaspadai.
"Iya. Dia istriku, dan datang bersamaku ke pesta ini. Untuk apa anda menanyakannya?" Naruto tidak bisa menyembunyikan ekspresi penasaran ketika Sakra menyebut tentang Hinata.
Sakra menepuk-nepuk bahu Naruto dengan pelan, wajahnya mendekat, lalu membisikkan sesuatu di telinga Naruto. Sakra mengatakannya dengan pelan, "Firasatku mengatakan kalau ada seseorang yang ingin berbuat macam-macam dengan istrimu. Kusarankan agar kau mencarinya sekarang kalau kau tidak mau terjadi hal yang tidak-tidak padanya."
Naruto terdiam. Sedangkan Sakra menarik wajahnya kembali hanya untuk melihat bagaimana ekspresi Naruto sekarang.
Wajah Naruto mengeras dengan eksrepsi tak terbaca. Sakra senang melihat itu.
"Saya rasa sudah cukup. Jadi saya mohon pamit." ucap Naruto dengan mempertahankan nada sopan karena bagaimanapun ia dilihat banyak orang sedang berbicara dengan dewa. Naruto membungkukkan badan setelah mendapat anggukan dari Sakra, lalu pun pergi.
Sebelum Naruto tak telihat lagi, Sakra mengucapkan pesannya. "Semoga kalian berdua bisa keluar hidup-hidup dari sini. Hahahahaaa."
Namun nampaknya Naruto tak mendengar. Kalaupun mendengar, Naruto tidak mau mempedulikannya.
Koneko saat ini sedang bersama Gasper dan Asia tengah menikmati kudapan-kudapan yang terlihat begitu lezat tersaji didalam banquet yang tersusu berjejer didepan mata. Tiga budak Rias ini memisahkan diri dari yang lain. Mereka bertiga tampil sangat menawan dengan pesona gadis kecil yang memikat hati siapapun. Gasper juga termasuk, hobinya mengenakan crossdresser sampai ia lakukan pada pesta ini. Ia tidak mengenakan pakaian laki-laki, namun mengenakan gaun seperti tamu perempuan lain.
Ketika Asia dan Gasper tengah asik memilih makanan, Koneko berhenti dengan aktifitasnya akibat suatu perasaan yang tiba-tiba datang menggangu pikirannya. Sepotong cake yang hendak ia suap berhenti begitu saja didepan mulutnya yang sudah terbuka. Tanpa mengatakan apa-apa, ia pun pergi sendirian mengikuti instingnya. Keberadaan koneko seperti lenyap begitu saja tanpa disadari oleh siapapun.
Sona tampaknya tidak menikmati acara pesta. Sepertinya ada hal sangat penting yang sedang ia pikirkan. Sekarang dia duduk seorang diri di pojokan aula yang terdapat kursi dan meja bundar kecil, mengucilkan diri dari keramaian pesta. Pesona kecantikannya mampu menarik minat tamu laki-laki manapun yang melihatnya, gaun pesta berwarna hitam legam dengan sedikit aksesoris yang berkilau terbuat dari permata mahal membuat Sona tampak seperti putri sungguhan. Namun karena ekspresi datar dan hawa tidak mengenakkan yang terpancar dari tubuhnya, mengakibatkan tak ada satupun tamu laki-laki yang berani menyapa. Ekspresi Sona saat ini seolah berkata 'Menjauh dariku makhluk-makhluk kotor' kepada siapapun yang melihatnya.
Tak lama kemudian, Tsubaki berjalan mendekati Sona. Rambut hitamnya yang panjang sangat kontras dengan gaun pesta berwarna hijau toska yang ia kenakan.
"Kaichou, sudah beres."
"Bagus. Terima kasih, Tsubaki. Gara-gara permintaan aneh Si Kucing Hitam itu, kita sampai harus repot-repot begini."
"Selanjutnya, apa ada lagi yang harus kita lakukan?"
Sona menggeleng, "Kita nikmati saja pestanya sampai selesai, setelah itu kita pulang dan menunggu pemberitahuan jadwal pertandingan dari panitia."
"Baiklah. Kalau begitu, apa kita sebaiknya berkumpul dengan Tomoe-chan dan yang lainnya?"
"Hm, benar juga" Sona mengangkat bahu seraya tersenyum ringan. "Mereka baru pertama kali datang ke pesta seperti ini, bisa saja nanti ada yang memanfaatkan kepolosan mereka. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan peerage-peerageku."
Sona berjalan menjauhi tempatnya duduk tadi. Diiringi oleh Tsubaki, mereka mencari anggota OSIS yang lain, khususnya yang perempuan.
Hati Tsubaki menghangat, hanya didepannya saja lah Sona akan menunjukkan kepedulian dan kekhawatiran terhadap budak-budaknya. "Bagaimana dengan Naruto-san dan Hinata-san?"
Sona berhenti sesaat, "Mereka berdua ya?". Kakinya pun melangkah lagi dan melanjutkan ucapannya. "Memang sih, mereka bukan bagian dari peerageku tapi..."
Tsubaki tidak menuntut karena Sona yang terlihat enggan memberi jawabaan.
"Ah sudahlah, mereka berdua pasti bisa menjaga diri. Semoga saja Naruto-san tidak berbuat ceroboh."
Itulah harapan yang terlontar dari mulut Sona, namun sepertinya tidak terkabul karena...
DEEEEGGGGG...
Sona dan Tsubaki merasakan tekanan kekuatan yang amat berat. Ini terasa seperti gravitasi meningkat pulukan kali. Jika bidang penglihatan diperluas, maka akan terlihat jika hampir semua tamu pesta juga merasakan hal yang sama. Bahkan tamu-tamu yang mempunyai kedudukan tinggi dan kekuatan hebat pun terpaksa menghentikan aktifitas mereka sejenak hanya untuk mengetahui siapa yang mengusik ketenangan mereka.
"JANGAN PERNAH MENYENTUH ISTRIKU!"
Suara teriakan nyaring itu disusul dengan...
BUAAGGGHH.
suara hantaman tinju yang mengenai tubuh seseorang. Lalu.
Dhuuarrr...
Dhuarrr..Dhuarrr..Dhuarrr..Dhuarrr..Dhuarrr..Dhuarrr..
Aula pesta bergetar hebat akibat dindingnya ditabrak sesuatu hingga hancur dan berlubang. Padahal dinding ruangan terbuat dari beton padat setebal lebih dari satu meter. Itupun berlapis-lapis dinding yang hancur hingga menembus keluar bangunan istana.
Sesuatu itu kedengarannya masih belum berhenti. Dia masih bergerak, terseret dan memantul-mantul di tanah hingga tercipta parit sejauh ratusan meter, menabrak patung air mancur berukuran besar di tengah kolam taman hingga roboh dan akhirnya berhenti.
Braaakkkk.
Berhenti setelah terpesorok cukup dalam di tembok raksasa pembatas istana setebal 10 meter yang tinggi menjulang. Tercipta retakan besar di tembok itu.
Harapan Sona ternyata sama sekali tidak terkabul, memang beginilah hasilnya jika iblis berdo'a dan berharap. Jelas Sona mengetahui kalau yang barusan ia rasakan adalah luapan kekuatan serta emosi Naruto.
Suasana langsung ricuh. Banyak orang yang panik dan bertanya-tanya apa yang terjadi setelah tekanan dari kekuatan luar biasa tadi tidak terasa lagi.
Ares datang dan menyenggol perut Sakra yang berdiri sendiri agak jauh dari kerumunan tamu pesta yang sedang panik, "Jadi ini tujuan perbuatanmu pada bocah pirang tadi?"
Mereka berdua terlihat tenang, mungkin karena sudah mengetahui hal ini akan terjadi.
"Yup. Aku hanya sedikit membantu orang-orang disini membuka matanya, agar bisa melihat apa yang tidak mereka lihat."
"Tch, dasar dewa gundul licik." ucap Ares dengan nada mencibir.
"Bwahahahahaaa. Ayo kita pergi sekarang, situasi sudah panas. Kita tunggu saja sampai seluruh dunia benar-benar ramai."
Ares melengkungkan bibirnya ke bawah. "Oke, ayo."
Dua dewa perang itu pun lenyap dari tempat pesta tanpa seorangpun menyadarinya.
Beberapa saat sebelumnya.
Issei berjalan agak sempoyongan, sendirian. Dia berpisah dari Rias setelah keluar dari ruangan perkumpulan para petinggi. Entah karena sebab apa, kepalanya terasa berat hingga kesadarannya berkurang. Dia juga merasa kegerahan padahal suhu udara di aula pesta dibawah 18 derajat celcius.
Langkah kakinya yang tak tentu arah berhenti ketika ia berjarak 10 meter dari seorang perempuan cantik yang sangat menawan. Perempuan itu tidak terlalu tinggi, namun lekuk-lekuk tubuhnya, wajahnya, rambutnya, etikanya, dan apapun yang melekat padanya sangat indah, bahkan seindah malaikat dan bidadari. Rambutnya yang berwarna indigo diikat keatas sehingga mengekspos leher jenjang yang putih mulus. Poni rambut terpotong rata hingga alis sehingga menutupi dahinya. Gaun malam berwarna ungu gelap yang terbuka di bagian punggung menciptakan kesan seksi dan menggairahkan.
Tanpa disadari, Issei sudah berdiri di belakang perempuan itu.
Si perempuan berbalik badan dan cukup terkejut melihat Issei berdiri tidak stabil di belakangnya.
"Issei-san. Ada apa?"
"Hinata-senpai. Ak-... Akuuu..."
Kalimat yang keluar dari mulut Issei terdengar tidak jelas. Tanpa diperintah otak, tangannya bergerak sendiri menuju dada Hinata. Tak seorangpun bisa menampik keindahan bagian tubuh Hinata yang itu.
Hinata mundur selangkah, raut wajahnya kental dengan kebingungan karena kouhai yang biasanya masih bisa menahan diri tiba-tiba bisa bersikap tidak sopan padanya. "Issei-san!"
Seperti orang tak tahu diri, Issei makin berani. Tangannya sama sekali tak berhenti, malah semakin dekat.
Sebelum menyentuh sesuatu,
Plakkk...
tangan Issei lebih dulu ditepis keras oleh seorang laki-laki.
Naruto yang emosinya meluap-luap menatap Issei dengan mata melotot tajam beserta segenap amarahnya.
Issei langsung tersadar, nyalinya turun sampai titik terbawah karena mata Naruto yang begitu mengintimidasi. Irisnya tidak lagi berwarna biru, namun merah, merah darah yang menyeramkan. Pupilnya pun tidak bulat, tetapi vertikal seperti mata monster rubah. Sosok Naruto yang terlihat di mata Issei begitu mengerikan dan menyeramkan hingga membuatnya ketakutan seolah dia berada ditarik kedalam tempat paling gelap tanpa seorangpun didekatnya, hingga ia hampir pipis saat ini juga.
"Naruto-senpai, tunggu. Ini tidak seperti yang kau pikirkan."
"DIAM!" Naruto membentak dan mengepalkan tinju di lengan kanannya. Lengan itu bercahaya terang berwarna jingga kekuningan. Aliran energi yang luar biasa besar terfokus pada bagian itu.
"Senp-..."
Issei bisa merasakan tekanan kekuatan Naruto yang amat besar ditujukan untuknya, ditujukan dengan hawa membunuh pekat yang sarat kebencian. Tak sempat memikirkan apa-apa lagi, dia yang dalam posisi hidup mati terpaksa mengaktifkan promosi True-Queen secepat yang ia biasa.
"JANGAN PERNAH MENYENTUH ISTRIKU!"
Buaaaghhh...
Insiden itulah yang membuat Issei terluka parah. Tubuhnya terperosok kedalam tembok terluar istana. Hanya satu pukulan saja dari Naruto yang marah besar dan mengamuk, ia sampai menjadi seperti ini. Untung saja, armor Cardinal Crimson Full Drive yang dipertebal dengan Solid Impact Booster menyelamatkan nyawanya. Meski armor itu harus remuk. Bagian lengan hancur, menyisakan lengan telanjang Issei yang mungkin tulangnya patah setelah menahan pukulan Naruto dengan menyilang kedua lengan di depan dada. Belum cukup sampai disitu, bagian dada dari armor juga hancur dan berlubang.
Belum pernah armor Cardinal Crimson milik Issei rusak sampai separah ini. Itulah efek tinju fisik dan energi yang dilepaskan secara bersamaan dengan kekuatan luar biasa besar.
Naruto benar-benar tak menahan kekuatannya. Ia tak akan mengampuni siapapun yang berani berbuat asusila pada istrinya.
Dan kini, Naruto berdiri di tengah-tengah para tamu pesta yang menjaga jarak darinya, tentu saja semua tamu itu ketakutan karena kekuatan mengerikan yang dirasakan kulit mereka. Naruto berada di tengah, bersama Hinata yang berdiri tenang di dekatnya. Mereka berdua sekarang jadi pusat perhatian.
Setelah berhenti terengah-engah, Naruto menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya. Dia meredam emosi yang tadi menguasai pikirannya.
"Maaf, Hinata. Sepertinya aku melakukan kesalahan fatal."
Naruto sadar dirinya tadi dikuasai emosi sehingga pikirannya tidak lagi ditempatnya. Padahal hal tadi hanyalah hal sepele, Hinata bisa saja dengan mudahnya melindungi diri.
"Tidak apa-apa. Apa ada seseorang yang memprovokasimu, Naruto-kun?" Hinata bertanya dengan suara pelan.
"Ada. Dewa itu."
"Aku mengerti." Hinata berpikir cepat menganalisis situasi saat ini. "Kita tidak bisa pergi sekarang. Aku yakin hampir semua orang di pesta ini masih belum tahu identitas kita, tapi para petinggi dan orang penting pasti sudah mengetahuinya. Lagipula kalau kita memaksakan diri pergi, rencana yang kita susun bersama Sona-san dan sudah berjalan hampir setengah akan berantakan."
Naruto mengangguk. "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Mungkin ini sudah direncakan sejak awal oleh seseorang untuk menjebak kita. Pasti ada yang sudah mencurigai keberadaan kita berdua didalam kelompok Sona-san. Mau tak mau kita harus ikuti permainannya."
Naruto tak bicara lagi.
Setengah menit kemudian, sepuluh orang prajurit langsung mendatangi Naruto dan Hinata.
Satu prajurit yang pangkatnya lebih tinggi dari yang lain angkat bicara, "Kami harap kalian berdua tidak melawan. Pertanggung jawabkan perbuatan kalian kepada yang berwenang atas tempat dan acara ini."
Tak bisa menolak, Naruto dan Hinata ikut saja kemanapun para prajurit itu membawa mereka berdua pergi. Mungkin mereka harus menemui Sirzech, tuan rumah pesta sekaligus penanggung jawab event Turnamen Rating Game.
Sepuluh menit kemudian, Issei yang tak sadarkan diri sampai sekarang terbaring lemah di ruang perawatan. Semua anggota kelompok Gremory lengkap ada disana, mengkhawatirkan kondisi Issei yang terluka parah. Mereka semua pun sudah tahu kronologis kejadian. Issei memang mesum, dan tindak pelecehan yang dilakukannya pada Hinata pasti membuat Naruto marah besar. Hanya saja tak satupun yang menyangka kalau kemarahan Naruto berakibat sefatal ini.
Rias menatap sendu ke arah Issei yang hampir seluruh tubuhnya dibalut perban. Matanya mengerling ke arah sahabatnya, "Sona, sekarang aku sadar kalau kau menyembunyikan banyak hal dariku. Pasangan suami istri itu, aku tak bisa mengira bagaimana kau mendapatkan budak seperti mereka, bahkan sekarang aku meragukan apakah mereka berdua benar-benar budakmu atau hanya bohong. Apa ada yang ingin kau katakan?"
Sona hanya didampingi oleh Tsubaki di dalam ruang perawatan ini, sedangkan semua budaknya sudah dia suruh pulang untuk menghindari pertanyaan dari orang-orang. Bukan pulang ke Kuoh, tapi di pulangkan ke Istana Keluarga Sitri agar mendapat perlindungan. Ia tidak ingin ada satupun peeragenya diinterogasi dan membocorkan informasi.
Ekspresi Sona tampak sangat menyesalkan kejadian ini, sungguh sangat di luar ekspektasinya. Dia yakin kalau kejadian tadi adalah perangkap. Sona sudah memikirkan kemungkinan kalau lambat laun identitas Naruto dan Hinata sebagai penyusup pasti akan ketahuan oleh petinggi Aliansi, namun ia sama sekali tak menduga kalau akan terbongkar secepat ini.
Sona sekarang hanya bisa berharap sepenuhnya pada Naruto dan Hinata yang sedang di interogasi untuk berbuat sesuatu. Apapun itu, yang penting tidak menghentikan misi mencegah keruntuhan Cardinal System. Dan satu lagi, ia tidak berharap kalau namanya dan Tsubaki akan diseret karena kejadian ini, atau rencananya akan semakin sulit dilakukan. Untuk sekarang, identitas dan keberadaan tim rahasia mereka harus tetap menjadi rahasia.
Selain itu, hal yang juga tidak Sona inginkan tapi terjadi sekarang adalah ketertarikan yang sangat kuat dari peserta-peserta Rating Game peringkat top. Pasti setiap tim dari pemain peringkat satu sampai peringkat sepuluh sangat menginginkan bertarung dengan timnya, untuk mengetahui sampai mana batas kekuatan Naruto yang sudah mereka rasakan dan membangunkan hasrat bertarung mereka saat insiden tadi.
Setelah berpikir sejenak, Sona menjawab pertanyaan tadi. "Maaf Rias. Aku tidak akan mengatakan apapun. Tapi kalau kau bersikeras, kalahkan timku di pertandingan Rating Game nanti. Aku yakin, meski lawan bertanding ditentukan secara acak, tapi akan ada petinggi yang menyabotase dan membuat tim kita beradu dalam permainan demi meraih minat penonton dan keuntungan sebesar-besarnya."
Itulah kata-kata terbaik yang bisa dia ucapkan saat ini. Sona sadar, hubungannya dengan Rias kini merenggang, tak lagi seperti sebelumnya. Walau sudah bersahabat sangat lama, tapi ia tidak bisa berterus terang sekarang.
Sejak saat ini, Sona dan Rias sebagai sahabat akan mengambil jalan yang berbeda.
Rias mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku terima tantanganmu."
Suasana pesta kembali kondusif setelah insiden tak terduga tadi. Para panitia dengan cepat merehab kerusakan bangunan menggunakan sihir. Dekorasi interior ruang pesta yang sempat berantakan juga sudah dikembalikan seperti semula.
Sementara itu, Naruto dan Hinata berjalan mengikuti prajurit di depannya. Di belakang mereka, ada lebih banyak prajurit lagi. Rasanya sudah seperti tahanan yang digiring polisi, namun tak ada borgol atau semacamnya. Selama bersikap kooperatif, maka dari luar akan nampak seperti tidak terjadi apa-apa.
Sampai lah Naruto dan Hinata didepan pintu sebuah ruangan setelah melewati koridor yang cukup panjang dan luas.
Prajurit paling depan yang menggiring mereka berhenti. "Kalian masuklah!" perintahnya.
Naruto dan Hinata melangkah ke dalam, masuk setelah pintu dibukakan. Masih tidak mengetahui, siapa yang akan menginterogasi mereka didalam sana.
Setelah masuk, apa yang mereka lihat sungguh diluar dugaan. Mereka kira hanya akan dihadapakan pada Sirzech. Nyatanya, ada banyak tamu penting berada didalam ruangan itu.
Sebut satu persatu. Ada Dewa Zeus dan Dewa Brahma yang sedang duduk di Sofa. Sirzech, Azazel, Gabriel, Sahariel, dan Serafall berdiri tidak jauh dari dua dewa itu. Meski tidak semuanya ada didalam ruangan ini, tapi nama-nama tadi saja sudah cukup untuk membuat siapapun merinding. Satu ruangan bersama makhluk-makhluk yang memiliki kekuatan superior.
Dewa Zeus berdiri dari duduknya. Dia memiliki perawakan tinggi tegap. Wajahnya memberi kesan tegas dan kuat. Rambut pirangnya panjang sebahu yang bergelombang tertata klimis dan mengkilap. Iris matanya kuning seperti emas.
"Hei, kau anak muda yang membuat keributan tadi. Kemari!"
Naruto mendekat karena merasa dia lah yang dipanggil, meninggalkan Hinata beberapa meter di belakang.
Dewa Brahma juga ikut berdiri. Sosoknya seperti orang tua seumuran Dewa Odin. Rambutnya putih bersih, begitu pula kumis dan janggutnya yang menyatu dan tebal sehingga bibirnya tidak lagi kelihatan. Ditengah dahinya ada tanda bulatan merah seperti para dewa-dewi hindu umumnya. Semua orang tahu kalau Dewa Brahma memiliki empat wajah yang menghadap semua penjuru mata angin, namun didalam ruangan ini, ia hanya menunjukkan satu wajah saja agar tampak normal.
Tanpa berkata apa-apa, Dewa Brahma menjentikkan jari lalu secepat mata berkedip dalam sinar cahaya lingkaran sihir, tiga tubuh lenyap dari pandangan.
Naruto dibawa oleh Brahma dan Zeus ke suatu tempat entah kemana. Interogasi secara personal dimulai. Entah akan bagaimana jadinya. Bisa saja kan berakhir dengan pertarungan?
Hinata sungguh tidak menduga hal ini. Dia sekarang sendirian.
Mereka berdua sudah dijebak. Penjebakan pun tampaknya sudah direncanakan matang-matang sejak awal, pesta pembukaan rating game ini tidak lebih dari sebuah perangkap bagi mereka.
Hal yang paling buruk ialah, Hinata dan Naruto dipisahkan. Pasti ada alasan untuk itu.
Hinata telah memikirkan berbagai macam tindakan yang akan ia ambil, namun belum satupun bisa dilakukan. Ia saat ini sedang diawasi banyak orang. Sirzech, Azazel, Gabriel, Sahariel, dan Serafall belum melepaskan pandangan mata mereka pada dirinya.
Sedikit saja membuat gerakan, Hinata bisa mati ditempat kurang dari satu detik. Sungguh, Hinata tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.
"Kuserahkan wanita itu pada kalian bertiga." ucap Azazel pada Gabriel, Sahariel, dan Serafall.
Sang Gubernur Malaikat Jatuh menghampiri Sirzech lalu mengajaknya berjalan keluar ruangan.
Sambil berjalan melewati koridor menuju aula pesta, mereka berdua bicara.
"Jadi ini rencanamu?"
"Yah, begitulah. Aku juga tidak menyangka ternyata rencananya berjalan lebih mulus dari yang kukira." Sirzech menjawab pertanyaan Azazel dengan santai. Nampak terlihat ekpresi senang dan puas di wajahnya.
"Oh iya, aku mau tanya. Apa ini yang kau gunakan untuk mengundang Zeus dan Brahma kemari? Mereka berdua pasti tidak akan mau memenuhi undangan pesta membosankan macam ini kalau tidak diiming-imingi sesuatu, iya kan?."
Tentu saja, orang yang memangku kepentingan dan memikul tanggung jawab besar tidak akan mau dengan begitu mudahnya datang ke wilayah orang yang tak mereka percaya. Apalagi bagi Zeus, mitologi mereka sedang bersitegang dengan Surga. Bahkan ada rumor yang menyatakan kalau Olympus dan Norse terlibat bentrok akibat tindakan sembrono yang dilakukan Hades. Tadi saja selama berkumpul, Zeus tak sekalipun menyapa Michael dan Odin.
Namun semua itu akan jadi cerita berbeda kalau ada sesuatu yang mereka inginkan.
"Ya. Aku menjanjikan kalau di pestaku akan ada penyusup yang sudah sejak lama mereka incar. Pancaran kekuatan yang kita rasakan berbulan-bulan lalu, pasti juga dirasakan oleh Zeus dan Brahma. Kedatangan Konoha pertama kali di dunia ini terlalu mencolok, karena itulah para Dewa mengincarnya."
Azazel tertawa pelan dengan ekspresi senang. "Kesimpulannya, kau mengadu mereka?"
"Begitulah. Apapun hasilnya, pasti menguntungkan kita."
"Tapi perbuatanmu melukai muridku tahu."
Sirzech tak mempedulikan protesan Azazel, "Tidak ada orang lain lagi yang bisa dimanfaatkan. Kalau bukan Sekiryutei, pasti sudah mati karena pukulan laki-laki pirang tadi."
"Kau juga membuat adikmu bersedih."
"Itu perngorbanan kecil untuk hal besar."
"Dasar kau, iblis licik."
Sirzech menyeringai keji, "Katakan saja semaumu, Azazel. Dengan begini, tiga musuh remuk dalam sekali tepuk."
.
.
.
TBC...
.
Note :Uwowowoooww, chapter ini udah sangat panas nih. Hahaaaa.
Bagi yang di chapter lawas menanyakan tentang apa kepentingan NaruHinaSona di Rumania yang terlihat seperti kurang kerjaan. Sudah terjawab, mereka tidak hanya mengamati saja, tapi memang perannya dibutuhkan untuk menetapkan situasi dunia seperti yang di rencanakan. Itu karena kelakuan Rizevim penuh kejutan.
Lagi-lagi Koneko. Dia punya urusan kecilnya sendiri tuh.
Sakra dan Naruto bertemu lagi, dan pastinya ada sesuatu dibalik ucapan Sakra sebelum pergi dari tempat pesta. Hihiiii...
Lalu, jajajajaaaaang. Karena satu insiden kecil, situasi menjadi sangat heboh, benar-benar heboh.
Sejak saat ini, Sona dan Rias sebagai sahabat akan mengambil jalan yang berbeda. Permusuhan antar keduanya dimulai dari sekarang.
Kemudian, peserta-peserta rating game yang masuk Peringkat Top mulai menunjukkan ketertarikannya pada Tim Sona.
Bagian yang paling penting, Naruto disergap oleh dua dewa kelas Excelsior yang masuk Top 10 terkuat di dunia. Hinata pun sendirian dan benar-benar dibuat tidak berkutik.
Entah seperti apa cerita selanjutnya.
Ulasan Review:
Yang pertama dulu, ternyata ada banyak yang menyinggung tentang mitologi Jawa. Jadi yah, kalau mengambil referensi hanya dari LN DxD, cuma ada tujuh mitologi yang disebutkan. Namun karena di FF ini aku ingin ada perang besar penghujung jaman, jadi aku tambahkan berbagai mitologi lain dari seluruh dunia agar benar-benar ramai. Untuk Mitologi Jawa, nama siapa yang akan muncul? tunggu saja. Ada banyak kan cerita epos pewayangan yang tenar di masyarakat Jawa?
Lalu juga yang bikin heboh, identitas pemuda bertombak yang dilihat Yasaka. Aku jawab sekarang, ga masalah kalau kuberitahukan, hehee. Dia adalah Cao Cao, bersama kelompoknya tentu saja. Apa masih ingat di chap 56 tentang munculnya tiga orang luar Konoha di ruang kerja Hokage? Ada satu orang yang menjawab betul, mereka adalah anak buah Cao Cao. Identitasnya tebak saja sendiri. Lalu, bagaimana Cao Cao bisa berada di dalam camp pasukan persekutuan Konoha? Untuk apa dia disana? Nantikan kelanjutan ceritanya.
Yang nanya Gaara mau makai Holy Grail buat apa, entar juga kejawab sendiri.
Untuk Reliji Shinto Jepang dan Dewa-Dewanya. Benar, aku mengambil referensi banyak dari anime Noragami.
Untuk yang menyinggung nama Alucard, chapter kemarin aku ada membuat batasan kekuatannya. Ga ada karakter yang sempurna di FF ini ya, bahkan protagonis hero dan heroinnya sekalipun.
Hoorrraaaa, semuanya yang nungguin Naruto bertarung. Chapter depan yaaa. Hinata juga mungkin akan unjuk kekuatan.
NaruHina ga bakal pulang ke Konoha sebelum misi besar selesai. Hal ini sudah mereka tetapkan sejak awal.
Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita dan review lainnya kubalas lewat PM. Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.
Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.
.
.
.
.
