Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Rabu, 30 Nopember 2016

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . . . .

Sedikit saja membuat gerakan, Hinata bisa mati di tempat kurang dari satu detik. Sungguh, Hinata tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.

"Kuserahkan wanita itu pada kalian bertiga." ucap Azazel pada Gabriel, Sahariel, dan Serafall.

Sang Gubernur Malaikat Jatuh menghampiri Sirzech lalu mengajaknya berjalan keluar ruangan.

"Jadi ini rencanamu?"

"Yah, begitulah. Aku juga tidak menyangka ternyata rencananya berjalan lebih mulus dari yang kukira." Sirzech menjawab pertanyaan Azazel dengan santai. Nampak terlihat ekpresi senang dan puas di wajahnya.

Azazel tertawa pelan dengan ekspresi senang. "Kesimpulannya, kau mengadu mereka?"

Mengangguk, Sirzech lalu berkata, "Apapun hasilnya, pasti menguntungkan kita."

.

To The End of The World

Author: Si Hitam

.

Chapter 63: Perangkap.

.

-Gremory's Territory-

Srizech dan Azazel masih melanjutkan obrolan. Kini mereka ada di balkon yang menghadap lantai pesta luas dibawahnya. Hanya ada mereka berdua. Azazel berdiri dengan menyandarkan punggung ke dinding tepat disamping pembatas balkon. Sedangkan Sirzech berdiri sambil memandangi keseluruhan tamu pesta yang datang ke istananya. Satu tangannya menggengam pembatas balkon, sedangkan tangan lainnya memegang segelas minuman beralkohol.

Azazel tertawa pelan dengan ekspresi senang. "Kesimpulannya, kau mengadu mereka?" tanyanya pada bahu kanan Sirzech.

"Apapun hasilnya, pasti menguntungkan kita." Sang Maou Lucifer menjawab tanpa menoleh.

"Tapi perbuatanmu melukai muridku tahu."

Sirzech tak mempedulikan protesan Azazel, "Tidak ada orang lain lagi yang bisa dimanfaatkan. Kalau bukan Sekiryutei, pasti sudah tewas."

"Kau juga membuat adikmu bersedih."

"Itu pengorbanan kecil untuk hal besar."

"Dasar kau, iblis licik!"

Sirzech menyeringai keji, "Katakan saja semaumu, Azazel. Dengan begini, tiga musuh remuk dalam sekali tepuk."

"Hm, apa maksudnya? Aku sudah mengerti dengan rencanamu sehingga berhasil mengundang dua dewa pemimpin itu ke pesta ini, tapi apa kau masih memiliki rencana lagi?" Azazel bertanya setelah menegakkan punggungnya, tak lagi bersandar di dinding.

Menjawab tanpa menatap lawan bicara, "Awalnya aku sengaja mengundang mereka berdua agar bisa membunuhnya. Terus terang, kekuatanku sendiri belum bisa dibandingkan dengan kedua dewa superior itu, namun jika aku melakukannya dengan penuh persiapan di rumahku sendiri, aku yakin pasti bisa. Melakukannya secara rahasia tanpa diketahui siapapun. Jika berhasil, golongan Olympus dan Hindu-Buddha pasti akan heboh besar akibat kehilangan dewa pemimpin masing-masing. Dalam situasi itu, situasi politik internal yang sudah bergejolak sejak awal akan benar-benar berakhir dengan peperangan antar mereka sendiri. Begitu hal tersebut benar-benar terjadi, baik Gunung Olympus maupun Dunia Langit Svargaloka dapat dengan mudah kita runtuhkan."

Azazel geleng kepala, Sirzech benar-benar jauh memikirkan rencananya. "Lalu Sirzech, kau mengadu si bocah pirang Konoha dengan dua dewa itu untuk tujuan ini?"

Sirzech mengangguk sekali setelah ia menyesap likuid merah dari gelas di tangan kirinya. "Tepat sekali. Melihat situasinya, Zeus maupun Brahma tidak berencana untuk bicara dengan Naruto, tapi untuk membunuh. Pertarungan pasti terjadi. Andaikan Zeus dan Brahma menang, pasti tidak dengan mudah. Naruto yang sudah kita rasakan seberapa besar kekuatannya pasti memberikan perlawanan sengit. Ketika Zeus dan Brahma kembali ke tempat ini, aku sudah mempersiapkan segala sesuatu dengan matang untuk membunuh keduanya yang sudah melemah dan lelah setelah bertarung."

Azazel mengerti isi pikiran Sirzech. Rencana itu kedengarannya saja simpel, namun melakukannya tidak segampang yang dipikirkan karena targetnya adalah dewa. Semua itu harus dipikirkan dan diperhitungkan dengan tepat.

"Lalu meskipun peluangnya kecil, bagaimana jika Naruto yang menang melawan Zeus dan Brahma?"

"Akan tetap sama kan?"

"Hm?" satu alis Azazel terangkat.

"Berarti Naruto yang akan mati di tanganku."

Yah, misalnya Zeus dan Brahma yang mati, Naruto berhasil menang, tapi kondisi Naruto pasti melemah setelah pertarungan itu. Akan sangat mudah bagi Sirzech membunuh Naruto pada kondisi itu.

Inilah maksud ucapan Sirzech tadi, tiga musuh remuk dalam satu kali tepuk, tiga penghalang disingkirkan dengan satu rencana. Titel iblis licik jenius mungkin kini tak hanya digenggam oleh keturunan Lucifer sejati, Rizevim, namun Sirzech pun berhak menyandangnya.

Azazel bertepuk tangan sambil tertawa pelan.

"Baiklah. Kita anggap kalau tiga orang yang kita bicarakan tadi sudah mati, lalu bagaimana dengan wanita poni rata itu?"

"Dia kah?" Sirzech berpikir sejenak, matanya menerawang ke langit-langit aula pesta. Tampaknya Hinata belum masuk dalam rencananya. "Aaaah, dia bisa kita jadikan tawanan perang, jadikan alat negosiasi untuk menundukkan Konoha. Para manusia itu jelas-jelas sudah mendeklarasikan perang pada kita secara implisit sejak persekutuan mereka dan Bangsa Vampir ditunjukkan secara terang-terangan."

"Yakin?"

Sirzech menatap lurus pada Azazel yang berdiri di sampingnya. "Coba saja dulu. Tidak ada salahnya kan?"

Azazel mengendikkan bahu, "Benar juga."

Kembali menatap semua tamu pesta yang kini sedang ramai berdansa, Sirzech mengatakan isi pikirannya lagi. "Kalaupun Hinata tidak bisa kita gunakan, ya kita bunuh saja dia. Gampang kan?"

Azazel menghembuskan nafas, tak lagi menyahut. Perfect Plan.

.

Issei yang tak sadarkan diri sampai sekarang terbaring lemah di ruang perawatan. Semua anggota kelompok Gremory selain Koneko lengkap ada disana, mengkhawatirkan kondisi Issei yang terluka parah. Luka luarnya memang sudah sembuh berkat sihir penyembuhan milik Asia, namun trauma mental yang dialami Issei membuatnya belum sadar sampai sekarang.

Mereka semua pun sudah tahu kronologis kejadian. Issei memang mesum, dan tindak pelecehan yang dilakukannya pada Hinata pasti membuat Naruto marah besar. Hanya saja tak satupun yang menyangka kalau kemarahan Naruto berakibat sefatal ini.

Rias menatap sendu ke arah Issei yang hampir seluruh tubuhnya dibalut perban. Matanya mengerling ke arah sahabatnya,

"Sona, sekarang aku sadar kalau kau menyembunyikan banyak hal dariku. Pasangan suami istri itu, aku tak bisa mengira bagaimana kau mendapatkan budak seperti mereka, bahkan sekarang aku meragukan apakah mereka berdua benar-benar budakmu atau hanya bohong. Apa ada yang ingin kau katakan?"

Sona hanya berdua dengan Tsubaki di ruangan itu, budak-budak Sitri yang lainnya sudah dipulangkan sejak kehebohan tadi demi keamanan mereka.

Setelah berpikir sejenak, Sona menjawab pertanyaan sahabatnya. "Maaf Rias. Aku tidak akan mengatakan apapun. Tapi kalau kau bersikeras, kalahkan timku di pertandingan Rating Game nanti. Aku yakin, meski lawan bertanding ditentukan secara acak, tapi akan ada petinggi yang menyabotase dan membuat tim kita beradu dalam permainan demi meraih minat penonton dan keuntungan sebesar-besarnya."

Itu adalah kata-kata terbaik yang bisa Sona ucapkan saat ini. Dia sadar, hubungannya dengan Rias kini merenggang, tak lagi seperti sebelumnya. Walau sudah bersahabat sangat lama, tapi ia tidak bisa berterus terang tentang semua rahasianya sekarang.

Sejak saat ini, Sona dan Rias sebagai sahabat akan mengambil jalan yang berbeda.

Tanpa menatap kearah Sona, Rias mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Aku terima tantanganmu."

Sona tak mengucapkan sepatah katapun lagi. Ini adalah resiko. Sejak ia memutuskan untuk membantu misi Naruto dan Hinata menyelamatkan Cardinal System, ia sudah membulatkan tekad. Meskipun harus berada di sisi yang berseberangan bahkan melawan keluarga dan sahabat sendiri, Sona siap menanggungnya.

Tok tok tok.

Krieeett.

Pintu ruang perawatan terbuka setelah tiga kali ketukan pintu. Yang masuk adalah pelayan pria yang memakai nametag panitia Turnamen Rating Game. Setelah membungkuk sekali lalu berdiri tegap kembali, dia menyampaikan maksud kedatangannya.

"Maaf kalau saya menganggu, Gremory-sama, Sitri-sama. Anda berdua diharapkan kehadirannya di aula briefing peserta Turnamen Rating Game, segera. Pengarahan aturan permainan secara detail akan langsung dijelaskan kepada setiap King pada Technical Meeting tersebut."

"Terima kasih. Kami akan segera kesana."

Sona memecah keheningan dengan menjawab permintaan panitia tersebut.

"Kalau begitu, saya mohon undur diri."

"Ya." ucap Sona seraya mengangguk.

Pelayan pria tersebut pun pergi dari ruang perawatan Issei.

Suasana di dalam ruangan itu kembali tak mengenakkan antara Rias dan Sona. Setiap budak hanya bisa diam, tak berani berkata-kata.

Tak lama kemudian, setelah menghirup nafas sekali Sona meminta ijin pergi. "Rias, aku duluan."

Hanya dengan ucapan singkat saja tanpa menunggu jawaban dari Rias, Sona langsung meninggalkan ruangan, sendirian.

Tsubaki yang tadi datang bersama Sona masih bersama kelompok Rias. Sebagai wakil dari Sona, pemimpin dari kelompok tempat Naruto dan Hinata bernaung, sudah menjadi tanggung jawabnya apabila terjadi sesuatu yang tak diinginkan akibat perbuatan dua peerage tersebut. Tsubaki harus memastikan korban amukan Naruto selamat dan kembali pulih, walau ia yakin untuk saat ini setelah melihat kondisi Issei, paling cepat perlu waktu 5 hari sampai pemilik kekuatan Kaisar Naga Merah tersebut kembali seperti sedia kala.

Itu semua adalah tanggung jawab Tsubaki, namun ...

"Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas kejadian yang menimpa bidak pion anda, Rias-sama. Kami semua sungguh menyesalkan kejadian diluar dugaan ini."

Rias mendesah panjang. Hubungannya dengan Sona memang merenggang, namun dengan Tsubaki lain urusannya. "Tak apa, Tsubaki. Aku juga ingin meminta maaf atas nama Issei. Kalau saja dia bisa menahan nafsunya, kejadian seperti ini tak akan pernah ada. Aku pun sama sekali tidak menyalahkan perbuatan Naruto-san. Wajar kalau dia marah karena istrinya dilecehkan."

"Terima kasih atas pengertian anda. Lalu bukannya saya ingin menghindar dari tanggung jawab, tapi untuk saat ini ada sesuatu yang penting yang harus saya kerjakan. Jadi saya mohon ijin pergi."

"Hu'um, pergilah. Kami bisa mengurus Issei, jadi kau tak perlu khawatir."

Setelah itu pun, Tsubaki pergi untuk suatu urusan. Dia tidak perlu mengikuti Sona sebab Technical Meeting (TM) itu diperuntukkan hanya untuk pemegang bidak King.

Rias sendiri masih berada di ruang perawatan. Kekhawatirannya terhadap Issei sangat dalam. Ia sadar pukulan Naruto tadi sangat kuat, Issei bisa saja kehilangan nyawa kalau luka-lukanya tidak ditangani dengan cepat dan benar.

Pandangan sendu dari Rias tertuju pada wajah Issei yang diperban setengahnya. Hanya mulut, hidung, dan pipi kanan yang terlihat. Kelopak matanya pun tertutup rapat.

Rias menunduk setelah menyeka sudut matanya yang berair.

"Buchou, aku yakin Issei pasti sembuh."

Akeno menepuk pundak Rias sekali dan memberi kata-kata penyemangat. Meski sebenarnya hatinya pun tidak karuan sekarang. Ia tidak menyangka, Naruto yang sering ia kerjai, yang sering dia goda, Naruto yang selalu riang dan hangat pada orang lain, seringkali melucu dan menjadi moodbooster, kadang ramah dan berwibawa, bisa menjadi sangat mengerikan seperti tadi saat ada yang melecehkan Hinata.

Pun begitu dengan budak-budak Rias lainnya. Mereka kenal baik dengan Naruto. Namun setelah kejadian hari ini, tak satu pun tahu harus bersikap seperti apa jika bertemu Naruto dan Hinata lagi nanti.

Rias mendongak, menatap peeragenya satu persatu. Ia senang timnya solid, satu yang sakit dan menderita, maka yang lain akan merasakannya pula. Lalu ia pun menyadari sesuatu. Ada yang kurang.

"Kemana Koneko-chan?"

Dan tampaknya semuanya memang melupakan keberadaan Koneko hingga menyadarinya sekarang.

Setiap peerage Rias saling pandang, tak ada yang bisa berkata-kata.

"Siapa yang terakhir kali bersama Koneko?" tanya Rias lagi.

Gasper dan Asia maju selangkah sambil mengangkat tangan.

"Sebelum kejadian yang dialami Issei-san, aku, Gasper, dan Koneko-chan sedang menikmati makanan."

"Kami tak sadar kalau Koneko sudah tidak bersama kami lagi."

Gasper menyambung ucapan Asia.

"Ya ampun. Apa lagi sekarang?" Rias makin frustasi, setelah Issei, sekarang Koneko. "Apa dia diculik?"

Kiba langsung menjawab agar King-nya bisa tetap tenang, "Kurasa itu tidak mungkin, Buchou. Pesta ini dihadiri orang-orang besar, mana mungkin ada orang jahat yang berani menyusup kemari dan melakukan penculikan."

Akeno menambahkan, "Benar, Buchou. Mungkin dia pergi sendiri karena suatu hal?"

Rias memijit pelipisnya, "Kemana? Karena apa?! Dan kalau dia memang pergi sendiri, kenapa belum juga kembali setelah kejadian heboh tadi? Tidak mungkin kan dia tidak tahu? Apa urusannya lebih penting dari kelompok kita?"

Tak ada yang bisa menjawab.

"Gh." Rias mengerang frustasi.

Dengan nada takut-takut, Rossweisse bicara. "Rias, kau tidak lupa kalau sebentar lagi ada TM kan?"

Rossweisse memanggil Rias dengan nama depan tanpa embel-embel apapun. Di sekolah dia adalah guru, dan dia juga lebih tua dari Rias.

"Terima kasih sudah mengingatkan, Sensei. Kalau begitu aku pergi dulu."

Rias beranjak dari kursi tempat ia duduk persis disamping ranjang perawatan Issei.

Akeno, Xenovia, dan Kiba berdiri menyusul Rias.

"Buchou!, Kau fokus saja dengan TM. Biar kami bertiga yang mencari Koneko." ucap Akeno.

"Ya. Aku, Gasper, dan Asia-chan yang akan menjaga Issei disini." sambung Rossweisee.

Rias mengangguk, lalu mereka semua pun berpisah.

.

Di ruang tempat diadakannya Technical Meeting (TM), Sona duduk tidak tenang. Acara belum mulai.

Sona tahu akan menunggu cukup lama disini, tapi itu jauh lebih baik daripada harus satu ruangan dengan Rias setelah masalah tadi. Ia ingin menghindari Rias, setidaknya untuk saat ini, entah sampai kapan.

Namun keputusan Sona untuk menunggu di ruang TM ternyata salah. Kenapa begitu?, karena saat ini semua hawa permusuhan tertuju pada dirinya.

Sudah sekitar 100 King dari setiap kelompok yang ikut rating game berada di dalam ruang TM. King dari tim peringkat atas, ternyata sebagian besar sudah datang. Setiap dari mereka pasti sudah merasakan bagaimana tekanan kekuatan Naruto saat pesta tadi, lalu mereka pun sudah tahu kalau Naruto adalah peserta yang merupakan bidak Sona. Hasrat bertarung mereka semua bangkit, mereka sangat tertarik menantang Naruto dalam duel.

Menurut mereka, jika bisa menang melawan Naruto, pasti akan sangat membanggakan mengingat akibat kejadian di aula pesta itu juga menarik banyak atensi dari para petinggi bahkan dewa.

Popularitas Sona sebagai peserta rating game kelas Rokie melejit keatas sangat cepat di kalangan para peserta kelas profesional berkat hal 'kecil' yang Naruto lakukan. Bahkan kini jauh melebihi popularitas kelompok Rias dan Sairaorg yang masing-masing memiliki satu Sacred Gear kelas Longinus. Boosted Gear milik Issei dan Regulus Nemea yang dipegang oleh Sairaorg.

Begitulah. Di kalangan para maniak pertarungan, ajang rating game merupakan tempat satu-satunya untuk menunjukkan kedigjayaan sejak perang sudah tidak ada lagi. Berhasil mengalahkan lawan yang sangat kuat, tentu menjadi obsesi setiap peserta.

Sudah sebelas kali Sona disambangi oleh King yang termasuk dalam jajaran 25 besar. Semuanya sangat berharap bisa menantang Sona bertarung di Rating Game nanti. Kebanyakan menunjukkan iktikadnya dengan baik dan sopan, akan tetapi beberapa diantaranya datang dengan sombong dan arogan. Sebut saja si peringkat satu Diehauser Bellial, bersama Roygun dan Bedeze yang merupakan teman sepermainannya, dengan terang-terangan mengintimidasi Sona.

Inilah yang membuat Sona jengkel luar biasa meski dia hanya diam acuh tak menanggapi. Untung raut wajah datarnya bisa menyembunyikan suasana hatinya. Jika tidak, sudah pasti akan timbul keributan.

Ruangan TM bisa dikatakan sangat luas, didekorasi dengan mewah. Semakin dekat dengan waktu dimulainya TM, semakin banyak pula peserta yang hadir, yaitu King dari setiap tim.

Sebenarnya TM ini hanyalah formalitas. Para peserta cenderung malas menghadirinya, bahkan sepeduli apapun mereka, paling hanya mengirimkan wakil. Karena itulah, panitia mengadakan TM bertepatan dengan waktu acara pesta dengan harapan banyak yang peserta yang bisa hadir.

TM bukan sekedar untuk menjelaskan aturan-aturan saat event nanti, tapi juga ajang untuk para peserta lebih mengenal. Membuat mereka lebih menjunjung sportifitas.

Namun dibalik itu, saat TM secara rahasia para panitia juga melakukan penilaian seksama mengenai tim mana yang menjadi favorit juara. Lalu mencari tim-tim mana saja yang memiliki potensi bagus dan nilai jual tinggi jika dipertemukan dalam pertandingan sehingga panitia bisa mendapatkan untung sebesar-besarnya. Ya, begitulah yang namanya bisnis.

Tiga menit sebelum TM dimulai, Rias memasuki ruangan. Dia datang terakhir bersama beberapa peserta lainnya.

Setiap peserta kini duduk di tempatnya masing-masing, kursi yang bisa dibilang mewah, tersusun rapi menghadap podium dan layar lebar yang ada di depan.

Karena hanya menyisakan satu kursi kosong di samping tempat duduk Sona, dengan sedikit terpaksa Rias duduk disana. Tak ada sepatah katapun yang keluar antara keduanya. Perkara tentang Hinata dan Naruto dengan Issei bisa dikesampingkan oleh dua orang yang sebenarnya bersahabat sejak kecil. Konflik utamanya terletak pada bagaimana kelanjutan hubungan kedua orang itu sekarang.

Bagi Sona, ini adalah masalahnya sendiri. Ada misi besar yang harus ia tuntaskan dan ia tidak ingin melibatkan sahabatnya yang berambut merah. Namun untuk Rias sendiri, ia sungguh tidak suka saat seorang sahabat yang sangat ia sayangi ternyata menyimpan rahasia besar darinya, bahkan telah berbohong padanya.

Lupakan sedikit tentang konflik antara Rias dan Sona. Seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas mewah kini sudah berada di podium. Ia membenarkan letak mic agar lebih nyaman. Lalu ia pun mulai bicara.

"Selamat malam para peserta Turname Rating Game ..."

Tak perlu dengarkan ucapan orang itu.

30 menit berlalu, TM selesai. Sungguh hal tidak penting yang disampaikan. Informasi seperti itu bisa dimengerti dengan mudah, bahkan tanpa ikut TM sekalipun tidak akan menjadi masalah.

Acara pesta di aula utama masih belum selesai. Para petinggi, orang-orang penting, bahkan dewa-dewa yang berasal dari mitologi lain pun masih ada yang berada di ruang pesta. Setiap King yang ikut TM sudah bubar. Ada yang pulang karena bosan, namun sebagian besar kembali ke aula pesta. Pembukaan Turnamen Rating Game secara resmi akan dilakukan oleh Empat Maou saat ini. Setelah sesi itu selesai, barula pesta pembukaan berakhir.

Namun Sona lebih memilih mengasingkan diri di ruang TM, melamun duduk sendiri di kursi yang ia tempati sejak ia masuk sampai akhirnya ...

"Maaf Nona, sebaiknya anda kembali ke aula pesta. Sebentar lagi puncak pesta akan berlangsung."

... seorang pelayan menegur Sona. Ia pelayan perempuan berumur 20an dengan seragam maid resmi.

"Terima kasih. Aku akan pergi sekarang."

Sona berdiri lalu beranjak dari ruang TM. Ia tidak sedang ingin berdebat dengan siapapun apalagi pelayan tadi yang sepertinya ingin segera membersihkan ruang TM.

Selama berjalan kaki tak tentu arah, ia kembali melamun.

Tidak. Sebenarnya Sona tidak melamun. Ia memikirkan bagaimana nasib Naruto dan Hinata. Meski saat ini ia percaya sepenuhnya pada kedua budak palsunya itu untuk mengatasi masalah, tapi ia tidak ingin berpangku tangan saja. Setidaknya ada hal yang bisa dilakukan.

Ada secarik rencana di dalam kepalanya, tapi masih belum komplit. Ia membutuhkan sedikit informasi lagi, hingga akhirnya ...

"Kaichou!"

... Sona menyipitkan mata kearah datangnya suara yang memanggilnya. Tampak Tsubaki yang berjalan cepat ke arahnya.

"Hosh hosh hossshh..."

Nafas Tsubaki terdengar putus-putus ketika sudah berdiri di dekat Sona.

Kedua gadis iblis muda tersebut sedang berada di koridor yang sepi. Bangunan istana Gremory teramat sangat luas, sehingga hingar-bingar pesta di aula utama tidak terdengar sampai ke tempat mereka.

"Kenapa kau, Tsubaki?" tanya Sona heran. "Aku tidak menyuruhmu melakukan apa-apa kan?"

"Aku berhasil mendapatkan informasi."

"Eh? Bukannya tadi aku menyuruhmu tetap bersama kelompok Rias untuk menghindarkanmu dari orang-orang yang ingin mengorek informasi dari kita?"

Ya, Sona memerintahkan itu pada Tsubaki lewat isyarat ketika berada di kamar perawatan Issei. Semua budaknya sudah pulang kecuali Tsubaki, Sona masih butuh pendamping di acara pesta sampai selesai. Namun karena panggilan TM tadi, ia terpaksa harus berpisah dengan Tsubaki. Meninggalkan Tsubaki di ruangan itu adalah pilihan tepat agar bidak Queen-nya tetap aman.

"Maaf, tapi aku tidak bisa berdiam diri saja, Kaichou."

"Huuuufft, kau ini keras kepala juga rupanya." Sona tak ingin memperpanjang basa-basi, "Jadi informasi apa yang kau dapat?"

"Aku menghipnotis salah seorang pelayan yang melayani tamu-tamu terhormat dan para dewa. Naruto-san dan Hinata-san sedang ditahan. Mereka berdua dipisahkan. Naruto-san dibawa oleh Dewa Brahma dan Dewa Zeus ke suatu tempat dengan sihir teleportasi instan level S, sedangkan Hinata-san ditawan di ruang tamu VIP. Dia dijaga ketat oleh tiga petinggi sekaligus, Gabriel-sama, Sahariel-sama, dan ..."

"Dan siapa?"

"Kakakmu, Kaichou. Serafall-sama."

"Astagaaaaaa. Aku tidak menduga kalau mereka harus menghadapi petinggi dan dewa-dewa seperti itu, bahkan Onee-sama juga ikutan. Mereka takkan bisa keluar dari sana hidup-hidup kalau kita tidak melakukan sesuatu."

"Iya, makanya Kaichou. Apa ada sesuatu yang bisa kita lakukan.?"

Sona menghembuskan nafas seraya menurunkan bahunya. Ia kemudian berdiri tegak lagi ketika rencana panjang sudah selesai tersusun di otak jeniusnya.

"Aku akan menemui seseorang dan meminta bantuannya. Kau pergi dari sini dan cari si kucing hitam. Sampaikan pesanku padanya."

"Pesan apa?"

Sona membuat isyarat dengan jari agar Tsubaki mendekatkan telinganya. Lalu ia pun berbisik pelan.

". . . . . . . . . . ."

.

Koneko kini berada di hutan semak yang terletak di samping kiri pagar terluar Istana Gremory. Dia meninggalkan pesta atas kemauannya sendiri mengikuti instingnya akan apa yang ia rasakan saat tengah menyantap makanan-makanan bersama Asia dan Gasper. Di dalam hutan semak yang tidak terlalu rimbun inilah, Koneko nampak berdiri dengan gelisah. Wajahnya ia tolehkan kedepan dan kebelakang, lalu kekiri dan kekanan seperti sedang mencari sesuatu.

Ah, tidak, bukan mencari. Lebih tepatnya dia menunggu.

Saat merasakan adanya hawa keberadaan yang datang, Koneko menatap waspada kearah itu.

"Lama tak jumpa ya, adikku tersayang."

Sosok yang muncul adalah wanita berbusana kimono hitam. Wajahnya sangat mirip dengan Koneko, dalam wujud lebih dewasa dan surai panjang berwarna hitam legam. Ada telinga kucing di kepalanya.

"..."

Koneko tak menjawab. Dari gestur tubuh dan ekspresi wajahnya, dia tampak tak terkejut sama sekali. Sejak awal dia ke tempat ini mengikuti instingnya, hatinya sudah mengatakan kalau ia akan bertemu dengan sosok yang sudah cukup lama tak ia jumpai. Terakhir kali bertemu, saat Kelompok Rias dan Sona serta Tim Vali bekerja sama mengalahkan Loki dan Fenrir, itu pun ia dan Kuroka tidak banyak bicara, bahkan bertegur sapa pun enggan.

"Hallo, Shirone. Ini aku, Onee-chanmu."

"Kuroka-neesama."

Suara Koneko terdengar serak mengucapkan nama itu.

Kuroka, iblis buangan, salah satu penjahat kelas SS yang diburu oleh dunia internasional. Itulah identitas wanita yang ditemui Koneko, alias kakaknya sendiri.

Dahulu, mereka adalah kakak adik yang begitu akur, hidup dalam luapan kebahagiaan. Mereka selalu bersama saat bermain, makan, bahkan tidur. Hingga suatu saat orang tua mereka meninggal dunia. Mereka masih kecil saat kejadian itu.

Semenjak itulah, kedua kakak adik ini hidup dalam kesulitan tanpa ada rumah tempat kembali, tak ada orang yang dapat diandalkan. Yatim piatu, sepasang saudara ini berjuang keras menyambung hidup hari demi hari dengan saling bergantung satu sama lain.

Kemudian suatu hari, keduanya dipungut oleh seorang iblis. Si kakak direinkarnasi menjadi iblis sebagai bagian dari kelompok iblis itu dengan kompensasi si adik juga ikut hidup bersama mereka. Akhirnya mereka mendapatkan kehidupan yang layak.

Lalu hal mengerikan terjadi. Sang kakak membangunkan kekuatan hebat dalam dirinya setelah direinkarnasi, bahkan melampaui majikannya sendiri. Dia lepas kendali hingga berakhir membunuh sang majikan, iblis yang mengambilnya. Ia pun menjadi 'iblis buangan', yang paling berbahaya diantara para iblis buangan.

Si adik, Koneko, tetap pada tempatnya bersama para iblis. Namun akibat kejadian mengerikan itu, dia mengalami kehidupan yang sulit. Koneko hidup di bawah tekanan para iblis yang takut dengan anggapan bahwa ia juga menyimpan bakat mengerikan seperti kakaknya. Selain itu dia juga sering mendapat ancaman pembunuhan. Itulah hari-hari yang Koneko lewati setelah kepergian kakaknya.

Koneko dikhianati oleh kakaknya sendiri yang sangat dipercayai, ia pun selalu disiksa oleh para iblis yang membenci dirinya. Semua itu membuat mental dan semangat hidup Koneko benar-benar jatuh ke tempat paling bawah, sampai pada akhirnya Rias mengambilnya masuk kedalam kelompok, lalu menjadi Koneko yang sekarang.

Itu cerita masa lalu. Entah bagaimana perasaan sebenarnya Kuroka pada Koneko saat ini? Bagi Koneko, kakaknya telah mengkhianatinya. Walaupun ia belum mendengarkan apa alasan kakaknya melakukan itu, tapi akibat hari-hari sulit yang dia lalui, Koneko punya alasan cukup untuk membenci Kuroka.

Ada seekor kucing berbulu hitam yang bergerak menggeliat di kaki Kuroka.

"Onee-chan sangat terkesan kamu datang kesini dengan mengikuti kucing hitam milikku yang menyelinap ke dalam pesta."

Jadi, apa yang dirasakan Koneko, insting yang menuntunnya kemari adalah akibat aksi penyusupan seekor kucing hitam ke dalam pesta, yang merupakan familiar milik Kuroka. Karena hawa itu terasa begitu familiar, maka Koneko memutuskan untuk mengikutinya sendiri tanpa memberitahu siapapun.

"Nee-sama. Apa-apaan ini?"

Terselip kemarahan dalam suara Koneko. Namun Kuroka merespon dengan tersenyum.

"Jangan buat wajah seram begitu, Nyaaan~~ . Padahal aku sengaja datang kemari, menyelinap ke dalam pesta hanya untuk melepas rindu dan menemuimu."

"Jangan bercanda!" Koneko membentak, raut wajahnya mengeras.

"Euhh. Onee-chan jadi takut nih."

"Kuroka Nee-sama!" hardikan Koneko semakin kencang, ia sedang tak ingin dipermainkan.

"Baiklah, baiklaaaah. Aku akan mengatakan tujuanku kesini."

"Hm?"

"Shirone, ikutlah bersamaku?"

"Hah?"

Koneko terkejut, ia benar-benar tak menduga kata itu keluar dari mulut kakaknya.

"Ikutlah bersama Onee-chanmu ini, Shirone."

Kali ini kalimat yang keluar dari mulut Kuroka terdengar tegas, lebih mirip perintah.

Koneko sontak emosi. "Tak akan! Setelah kau mengkhianatiku, membuangku, meninggalkanku dalam kesulitan, sekarang kau ingin aku kembali padamu. Bahkan sekalipun tidak pernah kau mengatakan maaf."

Tubuh kecil Koneko seperti berguncang saat mengatakannya, namun bersama segumpal keberanian. Ia tak lagi lemah seperti dulu, Koneko yakin dengan kekuatannya yang sekarang.

Kuroka terkekeh pelan, lalu ia menatap lurus mata Koneko dengan serius. "Aku tahu aku terlambat. Kalaupun Onee-chan mengatakannya sekarang, kau pasti tidak akan percaya."

"Apa maksudmu huh?"

"Sebentar lagi akan ada kejadian besar, dan aku tidak ingin kau berada di tempat yang salah. Aku ingin kau bersamaku, Onee-chan ingin bersamamu saat itu tiba, Shirone."

"Kau bicara apa? Jangan mengatakan sesuatu yang tak kumengerti!"

"Ikutlah dengan Onee-chan, dan kau akan mengetahuinya sendiri."

"Tidak! Aku tidak akan percaya padamu lagi, Nee-sama." Koneko mengatakannya dengan keras, terselip kebencian yang besar dari kata-katanya.

Kuroka menundukkan kepalanya, bahunya yang semula tegang kini turun. Perbuatannya di masa lalu lah yang membuat adiknya menjadi seperti ini, semua ini salahnya. Tapi bagaimanapun sebagai kakak, ia ingin memperbaikinya. Ia tak punya waktu lagi, dan mungkin tak akan ada kesempatan lain lagi. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau tidak dengan kata-kata, maka dengan ...

Sorot dari iris emas mata Kuroka yang tajam bak menusuk kesadaran Koneko kala dia menaikkan kembali wajahnya. Koneko membalas dengan ekspresi arogan. Mereka saling memelototi satu sama lain hingga tercipta suasana menegangkan.

... Ya, Kuroka berpikir akan menyelesaikan ini dengan sedikit kekerasan. Sedikit?, mungkin tidak.

Kuroka berhenti melotot lebih dulu, dan sekejap menyeringai lebar.

Seketika, Koneko diserang oleh perasaan tak terjelaskan. Seolah dirinya di pindahkan ke dimensi ruang lain. Pemandangan hutan semak di sekitar tak berubah sedikitpun, namun jelas terasa bahwa udara yang dia hirup tidak lagi sama.

"Nee-sama, ini kah kemampuanmu mengendalikan ruang?"

Sebagai Youkai, Kuroka terlahir dengan bakat besar dalam youjutsu. Dia juga dianugerahi penguasaan tinggi akan senjutsu. Bahkan dengan kecerdasannya, dia sanggup mempelajari sihir iblis dan jenis sihir-sihir lain dari seluruh dunia.

Kemampuan dasar mengendalikan sihir ruang merupakan salah satu teknik sihir level A, satu tingkat dibawah sihir pengendalian waktu yang pada tahap dasarnya saja sudah masuk kategori level S. Namun kemampuan mengendalikan ruang jika diimprovisasi dan dikembangkan dengan lebih hebat lagi, bukan tidak mungkin dimasukkan kedalam kategori teknik sihir level S atau bahkan S+.

"Ya. Kita bisa melakukan apapun dan berbuat kehebohan disini tanpa ketahuan orang luar. Seluruh hutan semak ini sudah kututupi dengan perisai ruang dan mengisolirnya dari dunia luar."

Koneko merilekskan badannya, ia sudah membuat keputusan. "Baiklah kalau itu maumu, Nee-sama. Akan kita selesaikan di tempat ini, saat ini juga."

Cahaya putih mulai bersinar di sekeliling tubuh Koneko. Itu adalah touki atau chakra senjutsu yang dikumpulkan dalam tubuh lalu dikeluarkan kembali. Cahaya semakin terang hingga menutupi seluruh tubuh Koneko.

Saat cahaya memudar, terbentuk sebuah wujud. Sesosok wanita dewasa mengenakan kimono putih, punya telinga kucing dan dua ekor.

Itulah kekuatan Koneko yang sekarang, Koneko Shirone Mode. Dalam mode ini, dia memiliki kemampuan mengendalikan Api Putih Pemurnian. Api yang sanggup memurnikan dan menghilangkan eksistensi yang punya niat jahat dengan kekuatan positif.

Kekuatan Koneko dalam mode ini sudah lengkap dalam semua aspek pertarungan berkat latihan bersama Naruto. Pada serangan jarak dekat, setiap tinju kasar yang dilepaskannya selalu meninggalkan api putih permunian pada target. Serangan jarak jauh pun bisa dilakukan dengan melepaskan senjutsu api itu dari kepalan tangannya. Dalam bertahan, tubuhnya adalah api pemurnian itu sendiri sehingga eksistensi jahat yang menyentuhnya barang seujung kuku akan langsung dimurnikan dan dilenyapkan. Selain itu, jika musuhnya melakukan dengan serangan jarak jauh, ia punya refleks hebat yang seolah punya nyawa sendiri sebagai manifestasi dari sistem deteksi dini ancaman bahaya dan keberadaan musuh dari seluruh permukaan kulit tanpa melihat sedikitpun.

Itulah Koneko yang sekarang, petarung dengan aspek lengkap. Selama musuhnya memiliki niat jahat di dalam hati, selama musuhnya memegang prinsip yang salah, selama musuhnya tidak merubah alasan keberadaannya, maka sekuat apapun musuh itu, pasti akan dimurnikan.

Kuroka, biarpun menguasai youjutsu, senjutsu, bahkan bermacam-macam jenis teknik sihir, dalam situasi ini ia tak punya kesempatan menang. Setiap aspek kekuatannya sebagai petarung menjadi kelemahan terhadap kekuatan pemurnian milik Koneko.

Namun, Kuroka tidak menjadi iblis buangan yang menjadi buronan dunia internasional kelas SS dengan kemampuan-kemampuan tadi. Sosok Kuroka menjadi sangat mengerikan karena kemampuan asli miliknya sendiri yang telah ada sejak lahir, yang hanya miliknya seorang.

Sang Kucing Hitam mengeluarkan banyak chakra senjutsu dari dalam tubuhnya seperti Koneko namun dengan suasana yang sangat berlawanan. Chakra itu menciptakan aura hitam keunguan yang kelam disekeliling tubuh Kuroka. Dua ekornya tumbuh, persis seperti Koneko namun berwarna hitam.

Inilah wujudnya sebagai Nekoshou, kekuatan aslinya sebagai iblis buangan kelas SS.

Jika aura putih milik Koneko adalah kekuatan pemurnian, maka aura hitam dari tubuh Kuroka adalah kekuatan pencemar, pembusuk, pengotor, atau kata-kata berkonotasi buruk lainnya. Itulah Shouki, racun rawa. Wujudnya berupa asap yang berwarna hitam keunguan, secara fisik bersifat sangat korosif dan beracun, dan secara spiritual akan menggerogoti, melahap, mengkikis secara perlahan jiwa-jiwa setiap yang hidup karena bercampur dengan senjutsu jahat.

Buktinya saja, makhluk-makhluk disekitar tempat Kuroka berdiri langsung mati, serangga-serangga berjatuhan, mengering, keropos hingga bangkainya lenyap tersapu angin. Tumbuhan layu dan menghitam, kayu-kayu dan dedaunan langsung membusuk. Tanah yang dia pijak pun menjadi gersang dan hitam.

Itu adalah kekuatan perusak yang prinsipnya berlawanan dengan kekuatan pemurnian milik Koneko.

Jelas kalau sepasang kakak-adik itu diberkahi kekuatan luar biasa.

Kuroka adalah petarung yang handal. Mengingat pengalamannya selama ini, bukan tidak mungkin dia menguasai Shouki sebaik Koneko menguasai api pemurnian dengan segala aspek pertarungan baik menyerang, bertahan, dan refleks dalam jarak jauh maupun jarak dekat.

Siapa yang lebih kuat, apakah kekuatan pemurnian atau racun? Apakah Koneko yang tercemar racun terlebih dahulu, ataukah Kuroka yang akan dimurnikan? Dua kekuatan yang berlawanan akan saling diadu, dan yang menang tergantung pada seberapa besar stamina dan seberapa lama tubuh mereka menahan beban dan efek samping dari kekuatan mereka sendiri.

Namun pada situasi ini, Kuroka pasti lebih baik dari Koneko karena si kucing hitam memiliki pengalaman lebih banyak dan penguasaan sihir lebih tinggi dari si kucing putih.

Koneko benar-benar siap untuk bertarung. Ia akan menyelesaikan semua urusannya dengan kakaknya disini.

Kuroka maju selangkah, rerumputan yang dia pijak langsung menghitam, layu, lalu mati.

Zsssshtt.

Keduanya lenyap dari posisi masing-masing, mereka yakin dengan pertarungan fisik, hand to hand combat. Tapi ...

Slice...

Tanah terbelah akibat sabetan energi sangat sangat kuat, cepat, dan tajam.

Kuroka dan Koneko berhenti pada sisi yang bersebrangan diantara bekas sabetan tadi.

"Untung aku sudah berada di dalam hutan ini ketika perisai ruang diciptakan. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kalian berdua."

Suara barusan terdengar dari atas.

Melayang di udara, seorang gadis berkacamata yang mengenakan gaun pesta. Dia terbang dengan sayap kelelawar, yang artinya ia adalah iblis. Sebilah Naginata tergenggam kuat di tangan kanannya.

"Fuko-Kaichou!"

"Tsubaki-kun?"

Koneko dan Kuroka menyebut nama sosok itu bersamaan.

Tsubaki Shinra, meskipun hanya dikategorikan iblis kelas rendah, namun sebagai pemegang bidak Queen, ia memiliki kekuatan dan kecepatan yang tak bisa dianggap remeh, lalu kejeniusannya adalah yang paling berbahaya.

"Sebaiknya kalian hentikan ini!" ucap Tsubaki seraya terbang merendah lalu mendarat di sisi Kuroka.

Mendengar ujaran serius itu, Kuroka menurunkan kekuatannya, kembali ke mode normal.

Melihat kakaknya yang kehilangan hasrat bertarung, Koneko melepas Shirone Mode dan kembali normal. Ia menatap tak percaya pada Tsubaki yang berada di sisi Kuroka, bahkan kedua orang itu tampak dekat dimatanya.

Sejak kapan Tsubaki, -wakil dari Sona, -sahabat Rias, -majikannya, bisa dekat dengan musuh, -anggota Tim Vali?

"Fuko-Kaichou. Apa maksudnya ini? Apa hubunganmu dengan Nee-sama?"

Tsubaki tak mau menjawab pertanyaan Koneko. "Lebih baik kau kembali, Koneko-chan. Hyoudou-kun mendapat musibah dan tak sadarkan diri sekarang."

Tak banyak orang yang menyadari perubahan sikap Koneko, tapi Tsubaki adalah salah satu dari sedikit orang itu. Karena itulah, Tsubaki tak segan menunjukkan diri seperti sekarang ini. Meskipun Koneko akan berpikir yang tidak-tidak tentangnya, tapi Koneko pasti akan tutup mulut. Ucapannya tadi pun, hanya agar Koneko berhenti meributkan masalah dengan Kuroka.

Tanpa menghiraukan Koneko lagi, Tsubaki menoleh kearah Kuroka yang menunggu atensinya. "Ada pesan untukmu, Kuroka-san. Sesuatu yang hanya kau dan bossmu yang bisa melakukannya."

"Hm? Apa?" respon Kuroka bertanya.

"Ada seseorang yang butuh bantuan kita."

Mengerti, Kuroka pun lantas mengangguk.

Ctek.

Dalam satu jentikan jari dari si kucing hitam, Kuroka dan Tsubaki lenyap dari pandangan Koneko.

Bukan.

Dua orang tadi bukan kabur, tapi Koneko lah yang didepak secara paksa dari perisai ruang yang dimanipulasi oleh Kuroka.

Koneko mendesah panjang. Tak ada yang bisa dilakukannya lagi sekarang. Teringat kata-kata dari Tsubaki, dia langsung bergegas ke tempat pesta.

Pesta masih berlangsung, sebentar lagi acara puncak.

Tujuannya adalah mencari Issei, dan mencari tahu kejadian apa yang telah dia lewatkan.

Di tengah jalan, ia bertemu dengan Akeno, yang ternyata sedang mencarinya.

Koneko tak mengatakan apapun yang baru saja dia alami, ia beralasan kalau hormonnya mendadak tidak stabil sehingga memicu hasrat kawinnya. Yah, seekor Nekoshou atau Youkai Nekomata memang seringkali memasuki musim kawin tanpa tanda-tanda terlebih dahulu. Dengan alasan itulah, Koneko berkata bahwa tadi, selama beberapa waktu ia menyembunyikan diri di toilet.

Akeno mempercayai itu, lalu mengirim pesan kepada Kiba dan Xenovia yang juga berpencar mencari Koneko.

Koneko pun di ajak ke ruang dimana Issei di rawat.

Disana, Rias yang mengikuti TM sudah kembali, juga anggota kelompok lain telah lengkap semuanya.

Koneko segera bertindak. Ia mengalirkan senjutsu penyembuh melalui kontak fisik antara kedua telapak tangannya dengan tubuh Issei. Gunanya agar mempercepat regenerasi sel-sel tubuh Issei setelah lukanya disembuhkan oleh Asia.

Setelah setengah jam melakukan itu, stamina Koneko terkuras cukup banyak. Dia beristirahat di pojok ruangan, duduk di atas sebuah single sofa. Dari mulut Asia, ia mendengar semua kronologis kejadian, membungkam mulut tak berkomentar apapun atas cerita yang dilantunkan Asia.

Kini pikiran Koneko berkecamuk.

Ia paham, mengerti kalau Naruto pasti akan marah dan mengamuk atas tindak pelecehan yang dilakukan Issei. Itu sesuatu yang logis, akalnya tak menolaknya. Pikirannya kembali tentang Naruto dan Hinata yang sejak di Rumania ia ketahui berasal dari Konoha, musuh kelompok mereka yang dideklarasikan oleh Rias sendiri. Itu adalah polemik yang sampai sekarang belum ia putuskan harus bersikap bagaimana. Naruto baginya adalah orang baik, sedangkan Rias adalah majikannnya. Sangat sulit memilih

Sekarang ditambah lagi dengan kejadian tadi, masalah dengan kakaknya-Kuroka- bisa dikesampingkan, namun kemunculan Tsubaki yang tiba-tiba sama sekali tidak terduga oleh Koneko.

Seperti yang dikatakan Rias pada Sona, kelompok Sitri menyembunyikan banyak hal, dan kejadian di hutan semak memperjelasnya. Koneko masih tidak mengatakan apapun sebab jika berterus terang, hubungan Rias dan Sona yang sudah renggan mungkin akan benar-benar putus.

Dalam benak Koneko, ia memikirkan kemungkinan kalau kelompok Sitri bersekongkol dengan Konoha (musuh), tapi motifnya tak terindetifikasi. Kemungkinan yang lebih baik adalah kelompok Sitri bersama Naruto dan Hinata membentuk kelompok rahasia yang bergerak dengan tujuan tertentu. Sekarang ditambah keterlibatan Kuroka, bisa diduga kalau seluruh kelompok Vali punya keterkaitan juga.

Ia masih ingat dengan ucapan Tsubaki sebelum didepak dari perisai manipulasi ruang Kuroka. Tsubaki meminta Kuroka untuk membantu seseorang. Lalu fakta yang baru saja diucapkan Rias kalau saat ini kakaknya, Sirzech, sedang menindaklanjuti perbuatan Naruto akibat kasus pemukulan tadi. Dari hal ini, Koneko menyimpulkan bahwa Kuroka dibutuhkan sebagai bantuan untuk menyelamatkan Naruto.

Kuroka dan Naruto. Ya, kedua orang itu pasti sudah saling kenal dan memiliki hubungan dekat. Karena hal itu, Koneko jadi terpikir kalau selama ini Naruto melatihnya senjutsu atas permintaan Kuroka. Membayangkan saja sudah membuat hatinya nyeri bak ditusuk paku meski kebenarannya belum pasti. Membayangkan kalau kakak yang selama ini ia benci, ternyata selalu memperhatikan dirinya dari bayangan. Koneko ingin meratapi dirinya.

Singkirkan pemikiran dramatic tadi, kini Koneko semakin dekat dengan sebuah rahasia besar yang tidak ia ketahui. Ia tidak ingin mengikuti Kuroka, seperti yang diinginkan oleh kakaknya itu. Ia akan tetap berjalan pada takdirnya sebagai bagian dari kelompok Gremory, berjalan hingga menemukan kebenaran yang sesungguhnya.

Koneko bertekad, ia akan menentukan jalan yang akan ia pilih setelah mengetahui semua kebenarannya.

Pasti!

.

Hinata sungguh tidak menduga akan apa yang dialaminya sekarang. Dia sendirian, sudah hampir satu jam dia dipisahkan dari suaminya, Naruto.

Dijebak dalam perangkap yang direncanakan dengan benar-benar matang sejak awal. Itulah yang Hinata alami.

Masih di dalam ruangan yang sama, diawasi tanpa lengah oleh tiga orang petinggi yang kedudukannya jelas bukan main-main.

Sahariel, ilmuan laki-laki jenius dan seorang malaikat jatuh dari Grigori. Melihat jumlah sayap gagak hitamnya yang mencapai lima pasang, setingkat dibawah Azazel, tentu kekuatan tempurnya bukan hal sepele. Jika dibandingkan dengan Kokabiel yang punya jumlah sayap sama pun, Sahariel pasti lebih unggul karena dia jenius.

Kemudian, Gabriel. Malaikat wanita yang kedudukkannya paling tinggi di antara seluruh malaikat wanita. Sebagai salah satu dari empat Seraphim yang merupakan poros utama kekuatan Surga, tak bisa ditampik kepiawaiannya dalam bertarung.

Yang ketiga, Serafall. Iblis wanita terkuat, salah satu dari empat Yondai Maou yang berkuasa atas Underworld saat ini.

Diawasi seperti itu, tentu saja Hinata tidak bisa berbuat apa-apa.

Sirzech dan Azazel masih belum kembali sejak mereka berdua keluar dan mengobrol.

Sejak berada disini, Hinata masih belum berbuat apa-apa meski otaknya sudah memikirkan berbagai macam cara untuk keluar dari situasi sulit yang menimpanya.

Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut empat orang yang ada di dalam ruangan.

Hinata berdiri diam sedangkan tiga petinggi dari tiga ras berbeda itu dalam posisi siaga mengawasinya. Seolah tiga orang itu adalah patung yang tak berkedip dan tak bosan melakukan hal yang sama dalam waktu lama.

Hinata mengatur kepekaannya terhadap sekitar sampai batas tertinggi. Tanpa melihat pun, ia sadar kalau Gabriel, Sahariel, bahkan Serafall benar-benar tak melepaskan pandangan darinya, setiap inchi gerak tubuhnya diamati bahkan peningkatan energi spiritual sekecil apapun tak tertinggal.

Jika Hinata nekat mengaktifkan Byakugan, pasti akan ada peningkatan jumlah aliran chakra ke mata. Sensitifitas ketiga petinggi itu pasti mampu merasakannya dengan mudah, lalu membuat respon kilat dengan tepat. Kalau pengaktifan Byakugan dinilai sebagai bentuk tindakan non-kooperatif, maka Hinata pasti akan dibunuh sebelum Byakugan selesai diaktifkan.

Tapi Byakugan saja tentu tidak cukup untuk melawan tiga petinggi sekaligus kan?

Bagaimana dengan doujutsu The True Tenseigan?

Itu juga pilihan buruk. Proses pengaktifan True Tenseigan lebih lama dan rumit dibanding dengan mengaktifkan Byakugan. Itu sama saja memberi peluang lebih tinggi bagi Hinata untuk terbunuh.

Hinata pun selalu dalam mode Limited Activation selama berada di acara pesta pembukaan. Itu adalah bentuk pengaktifan True Tenseigan secara terbatas dalam lingkup kecil hanya untuk kemampuan tingkat pertama dan kedua. Ini memang cukup efektif sebagai tindakan preventif terhadap ancaman bahaya yang tiba-tiba, namun jika dihadapkan pada tiga orang petinggi yang siap tempur, The True Tenseigan Limited Activation sama sekali tidak berguna.

Sekarang buat asumsi.

Hinata punya kuasa pada Serafall setelah pertarungan mereka berdua di Kyoto. Apalagi tanpa seorang pun tahu selain mereka berdua, di dalam otak Sona tertanam segel kutukan Hyuga no Juinjutsu yang sengaja dibuat Hinata untuk mendikte Serafall.

Andaikan, andaikata Hinata memiliki kesempatan kecil, misalnya dengan memberikan isyarat kode pada Serafall untuk menciptakan peluang melawan balik. Itu sama sekali bukan hal tepat untuk dilakukan.

Demi kebangkitan Trihexa, dan demi membela Konoha yang jelas-jelas akan berperang dengan Aliansi Tiga Fraksi Injil dan Norse, maka posisi Serafall sebagai seroang Maou masih dibutuhkan. Terlalu dini bagi Hinata untuk menggunakan Maou yang sudah menjadi bidaknya itu kalau hanya untuk masalah sekarang ini yang tentunya dianggap sepele jika dibandingkan masalah besar nanti. Jadi Serafall tak perlu dilibatkan agar kepercayaan semua petinggi Aliansi terhadapnya tidak rusak.

Kemudian, jikapun Hinata mampu membuat tindakan perlawanan tanpa melibatkan Serafall, apalagi sampai melukai petinggi yang tengah mengawasinya bahkan sampai membunuh mereka, lalu kemudian kabur begitu saja, malah akan berujung buruk nanti. Ia pasti akan menjadi buruan semua golongan yang paling dicari dan harus dieksekusi mati. Lalu posisi Sona didalam kalangan iblis pun menjadi sangat terancam. Itu sedikit banyak akan menyulitkannya dalam menjalankan misi besar bersama Naruto.

Intinya, melawan secara frontal para petinggi Aliansi tanpa memikirkannya dengan matang sama dengan merusak rencana yang sudah susah payah disusun.

Misalkan Hinata berhasil kabur tanpa melakukan konfrontasi langsung, kemudian mencari Naruto yang dibawa oleh Dewa Brahma menggunakan Cube, lalu setelahnya apa? Kabur dengan indentitas sudah diketahui semua petinggi?

Jika melakukan itu, bukan tidak mungkin rencana besarnya akan berantakan. Kalaupun mau kabur, pasti sudah dilakukan sejak masih di aula pesta sebelum dibawa ke tempat ini, sebelum ditangkap oleh petinggi.

Misalnya kabur lalu menyusun ulang rencana. Itu sama sekali tidak mungkin karena waktu yang tersisa semakin sedikit. Keruntuhan DxD Universe menurut hitungan waktu universal Cardinal System hanya menghitung minggu dengan jari dari satu tangan. Tidak ada waktu membuat rencana lagi.

Oh, mengenai Naruto. Hinata percaya penuh kalau suaminya itu sanggup menyelesaikan urusan dengan kedua dewa superior pemimpin masing-masing mitologi tadi.

Kesimpulan akhir yang didapat Hinata setelah berpikir keras dan lama adalah berdiam di ruangan ini mengikuti permainan yang menjebak ia dan suaminya. Diam dibawah pengawasan tiga orang berbeda ras sambil menunggu bantuan. Kalau perlu bantuan tersebut sekalian dengan rencana untuk membuat serangan balik agar posisinya dan suaminya, serta posisi kelompok Sona, tetap aman tanpa ada yang mengusik.

.

-Unknown Place-

Ini adalah tempat yang sulit dideskripsi dengan kata-kata. Tak dapat di bedakan mana daratan dan mana langit, mana atas dan mana bawah, bahkan ambigu apakah sekarang siang atau malam. Sama sekali tidak terasa adanya gaya gravitasi disana. Gedung-gedung yang seharusnya tinggi menjulang tidak hanya terdapat dibawah, tapi juga di atas dalam posisi terbalik. Bahkan karena arah tidak bisa diidentifikasi, gedung-gedung itu kadang serasa mengapit dari sisi kiri dan kanan. Selain itu, pijakan kaki terasa seperti diatas permukaan air sebab muncul riak ketika bergerak, namun tidak jelas mana batasnya, bahkan dengan sudut-sudut yang berbeda.

Benar-benar dimensi ruang yang tak terdeskripsi, namun direkonstruksi dengan sangat kokoh. Arsiteknya adalah Dewa Brahma, sosok yang disebut-sebut sebagai Sang Pencipta dalam ajaran Hindu. Julukannya adalah Visvakarma pencipta alam semesta, menciptakan apapun dari ketiadaan dengan kehendaknya.

Ada tiga sosok yang berada di dimensi ruang tak jelas itu. Dua orang dewa dan satu manusia. Ketiganya melayang tak tentu arah pada posisi yang cukup berjauhan.

Naruto, si manusia, tak lagi bersikap layaknya budak rendahan seperti ketika di pesta sebelum ia dibawa paksa kesini. Ia bersikap seperti biasa apa adanya dirinya.

"Untuk ukuran manusia yang sedang terpojok, kau tampak sangat arogan, anak muda."

Brahma Sang Pencipta yang merupakan simbolisasi kebijaksanaan memberikan komentar untuk sikap tak sopan yang ditunjukkan oleh Naruto.

"Sudah lah, hei dewa-dewa yang terhormat. Aku punya banyak urusan tahu. Lebih baik kalian berdua segera katakan apa yang kalian inginkan, kita selesaikan, lalu kita pulang sama-sama."

Meski Naruto mengatakannya dengan nada santai sambil mengibaskan tangan seolah sedang bercengkrama biasa, namun terdapat negosiasi disana. Bagi Naruto, kalau suatu masalah bisa diselesaikan dengan kata-kata, kenapa tidak? Lebih baik begitu kan?

Namun respon yang didapat Naruto adalah ...

Zrrrsstt...

Sesuatu yang sangat tipis hampir tak terlihat melintas sangat cepat di dekat telinga Naruto.

Ciuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu.

Melewati si ninja pirang, dan ...

Rumblerumblerumblerumblerumble

KABOOOOOOOOOOMMMMM.

Ledakan mahadahsyat tercipta di ujung dimensi ruang, meluluhlantakkan semua benda yang ada. Untung saja sang Dewa Brahma merekonstruksi dimensi ini dengan sangat kokoh. Jika hanya sebatas arena rating game, pasti sudah lenyap menjadi debu atomik.

Zeus menepuk-nepukkan tombak petir yang ia pegang. "Memangnya kau siapa huh? Berani-beraninya berbicara seperti itu."

Glekkk.

Naruto menelan ludah kasar, untung saja refleks dan sistem deteksi bahaya dalam tubuhnya berkerja optimal. Jika tidak sempat menggeser kepalanya, maka pasti dia sudah mati disambar petir dari tombak sakti milik Zeus.

Naruto kini sadar, untuk makhluk arogan macam dua orang dewa di hadapannya, tidak mungkin urusan bisa diselesaikan hanya dengan kata-kata.

Zeus mengangkat dagu, sebagai dewa pemimpin dari Gunung Olympus tingkahnya luar biasa sombong. Sesuai untuk penampilannya yang memiliki perawakan tinggi tegap, wajahnya pun memberi kesan tegas dan kuat. Iris matanya kuning seperti emas. Berkumis dan berjambang.

Para dewa Olympus lainnya yang dipercayai bangsa Yunani, kebanyakannya adalah dewa-dewa licik, bejat, egois, dan akan melakukan cara apapun demi mendapatkan yang diinginkan. Zeus pun sama, semenjak keberhasilannya mengalahkan bangsa Titan dalam Perang Titanomachy dan diangkat menjadi dewa pemimpin, ada banyak skandal keji yang ia lakukan.

Zeus menyukai saudarinya sendiri, Dewi Hera. Dewi Hera menolak, namun Zeus dengan licik menyamar sebagai burung tekukur yang disukai oleh Hera, lalu dia pun mengambil kesempatan memperkosa Hera. Sebagai korban, Hera merasa malu sehingga memutuskan menerima pinangan Zeus untuk menutupinya. Belum cukup sampai disana, Zeus masih memiliki banyak selingkuhan baik dari kalangan dewi maupun manusia biasa sehingga dia memiliki banyak sekali keturunan. Selain cerita itu, Zeus akan selalu membunuh siapapun yang berselisih paham dengannya.

Berbeda sekali dengan Dewa Brahma yang dikenal bersih dari bermacam-macam perbuatan jahat. Dia dikenal sebagai simbol kebijaksanaan, mampu memilah mana yang baik dan yang buruk.

Namun begitu, sebagai dewa pencipta ia bersikap netral. Ah, tidak, tapi ia akan bersikap baik kepada siapapun yang memuja dan menyembahnya. Di dalam epos pewayangan Mahabrata dan Ramayana yang mana diceritakan bahwa terjadi perang antara dua golongan. Dalam cerita itu disebutkan kalau Brahma tidak segan memberikan senjata sakti ciptaannya bagi siapapun manusia yang bertapa dan memujanya. Oleh karena itulah, banyak bukti arkeolog yang menyebutkan bahwa pada kedua perang yang terjadi di tanah India itu, yang seharusnya hanya perang antar manusia dengan senjata dan teknologi perang tradisional, ternyata malah menimbulkan akibat yang sangat dahsyat bak perang nuklir. Selain dari bukti Arkeolog, hal itu juga dilukiskan oleh Sloka-Sloka yang ada di dalam Srimad Bhagavatam dan Srimad Prabhupada.

Fokus pada situasi sekarang, Naruto merasa sangat aneh karena dua dewa itu bekerjasama menangkapnya. Meskipun tidak penting baginya, tapi ia penasaran alasan dibalik itu.

"Sebelum kita mulai, bisakah kalian memberitahuku kenapa kalian memperlakukanku seperti ini? Bahkan sampai mau dilibatkan oleh sisa-sisa dari Reliji Injil."

Naruto tahu, bagi dewa yang sudah ada sejak sangat lama, bagi Mitologi Olympus maupun Reliji Hindu-Buddha, Fraksi dari Reliji Injil yang sekarang hanya Fraksi kecil. Apalagi setelah The God of Bible dan Satan Lucifer yang mendirikannya mati sejak beratus-ratus tahun silam dengan menyisakan Sirzech dan kawan-kawan, yang hanya dianggap sebagai anak muda oleh para dewa.

Zeus pertama kali menjawab, "Jika aku berhasil memenggal leher seseorang yang kemunculannya menghebohkan seluruh dunia empat bulan lalu, superioritasku di Gunung Olympus sebagai dewa tertinggi tak akan tergoyahkan."

Naruto mendecih dalam hati. Konyol! Hanya untuk alasan kekanak-kanakan seperti itu rupanya. Tapi memang wajar jika disematkan kepada dewa peminpin dari Olympus yang terkenal menyimpan banyak tabit buruk.

Sang Pahlawan Perang Dunia Shinobi mengalihkan sorot matanya pada Dewa Brahma yang tampil dalam wujud laki-laki tua dengan rambutnya putih bersih, begitu pula kumis dan janggutnya yang menyatu dan tebal sehingga bibirnya tidak lagi kelihatan. Ditengah dahinya ada tanda bulatan merah seperti para dewa-dewi hindu umumnya.

Merasa ditatap, Brahma langsung menjawab dengan jujur. "Kau tahu anak muda, kemunculanmu empat bulan lalu menghebohkan Svargaloka. Lalu sejak pemimpin Konoha muncul dengan begitu sombong di Kuoh dan mendeklarasikan kedaulatan eksistensinya, timbul dua paham dalam kalangan kami yang memecah kesatuan para dewa. Satu golongan ingin menghancurkan Konoha karena terusik, sedangkan satu lagi memilih tidak menanggapi karena menganggap Konoha hanya lalat banyak cakap. Perpecahan itu diperpanas oleh salah seorang dewa hingga kini Dunia Kahyangan Svargaloka bergejolak."

"Lalu apa urusannya denganku?" tanya Naruto.

Naruto miris dengan cara berpikir para dewa Hindu-Buddha. Hanya karena Konoha muncul saja, wilayahnya sampai bergejolak begitu. Apa memang pengaruh Konoha begitu besar?, atau ada satu atau beberapa dewa yang ingin mengambil keuntungan atau mencari kesenangan dari gejolak itu?

Apapun jawabannya, Naruto merasa dirinya tidak ada sangkut paut apapun.

Dengan sikap tenang dan berwibawa, Brahma menjawab. "Kupikir dengan membawa kepalamu pulang ke Svargaloka, gejolak akan reda dengan sendirinya."

Oh ya ampun! Naruto meringis dalam hati. Nasib sial darimana sehingga dia harus berurusan dengan dua orang Dewa yang pemikirannya sempit seperti itu. Naruto yakin kalau sebenarnya kedua dewa didepannya pasti jenius, hanya saja kehormatan dan kedudukannya lah yang mengunci otak mereka di dalam kerangkeng sehingga tidak bisa berfikir dengan fleksibel.

Zeus berkata lagi, "Alasan itu saja sudah cukup bagiku untuk dilibatkan oleh anak-anak yang ditinggalkan ayahnya."

Maksud Zeus adalah para petinggi Aliansi Tiga Fraksi yang sekarang.

Brahma menyambung dengan anggukan.

Terlintas ide kecil di kepala Naruto untuk mengadu dua orang dewa dihadapannya. Kalau tidak dengan kata-kata, maka lawanlah dengan cara licik.

"Emm, kalau begitu kenapa kalian berdua bisa bekerja sama? Padahal kan kalian sama-sama menginginkan kematianku untuk diri kalian sendiri?"

Brahma terkekeh pelan, kilau giginya sedikit tampak dari kumis dan janggutnya yang lebat. "Kau lupa ya? Meski keinginan kami sama, tapi outpun yang kami harapkan berbeda."

"Hah?" Naruto membeo kebingungan.

Zeus menjawab dengan enteng, "Demi superioritasku, cukup sebuah aksi kalau aku lah yang mengalahkanmu." ibu jarinya kemudian diarahkan kepada Dewa Brahma. "Lalu Pak Tua ini yang akan membawa kepalamu pulang untuk mendamaikan rumahnya."

Tch, mampus sudah. Naruto habis akal. Walaupun egois, ternyata kedua dewa superior ini tetap punya sisi realisitis. Sudah seperti pedagang licik yang hanya mencari keuntungan semata dengan menghalalkan segala cara.

Menghadapi kenyataan seperti ini, Naruto menyesal pernah beriman pada dewa dan tuhan. Lebih baik menjadi seorang Atheis.

Naruto memantapkan hati, tak ada pilihan lain lagi. Jalan terakhir adalah pertarungan. Bagaimanapun, ia harus menang kalau ingin keluar dari sini hidup-hidup. Istrinya, Hinata pasti sedang menunggu. Selain itu masih ada pekerjaan besar yang harus ia tuntaskan sebelum ia mati.

"Sudah bisa kita mulai huh?" Zeus bertanya seperti orang tak sabaran.

Tanpa berkata apapun lagi, Naruto membangkitkan semua kekuatannya sampai batas tertinggi. Selama obrolan tadi, ia sudah berdiskusi dengan semua bijuu didalam tubuhnya bahwa mereka akan bertarung bersama-sama dengan seluruh kekuatan yang dimiliki. Zeus dan Brahma adalah dewa kelas excelsior yang termasuk kedalam Top 10 Strongest Being in The World, tak mungkin bisa dikalahkan dengan niat dan hati yang setengah-setengah. Buruk lagi, Naruto harus menghadapi keduanya sekaligus.

Senjutsu Rikudou Mode atau Sage of The Six Paths menjadi pilihan satu-satunya. Tubuh Naruto kini sudah bersinar oleh aura emas dengan sembilan godoudama melayang di belakang punggungnya.

Namun karena ini juga pertarungan antar monster, ia tak berpikri dua kali untuk membentuk sosok raksasa Kyubi.

Groooooaaarrrr...

Kyubi telah bangkit, wujud ini diambil karena bijuu berekor sembilan lah yang terkuat dibanding lainnya. Zeus dan Brahma mundur untuk mengambil jarak pandang yang nyaman, menunggu Naruto selesai menuju puncak kekuatannya.

Tapi itu masih belum cukup. Naruto melempar dua buah gulungan ke udara yang terbuka dengan sendirinya.

.

Dua sosok Kyubi dengan ukuran dan kekuatan sama muncul dari gulungan itu.

Dengan teknik fuinjutsu tertentu, Naruto menyimpan Bunshin Bijuu Mode yang telah mengumpulkan chakra senjutsu dari alam sampai batas maksimal. Ini sama persis seperti ketika pertarungannya melawan Sasuke yang sanggup menyatukan sembilan inti chakra yang terpecah kedalam rangka Susano'o.

Dua sosok bunshin itupun bergabung dengan yang asli membentuk wujud Tri-Head Kyubi Mode. Mode ini tiga kali lebih kuat dari yang Naruto bangkitkan ketika melawan Sasuke sebab digabungkan dari kekuatan aslinya pada kondisi penuh dan dua Bunshin Biju yang telah mengumpulkan chakra alam sampai batas maksimal.

Dari segi power, Naruto yang sekarang tiga kali lebih kuat dibandingkan saat bertarung dengan Sasuke di Lembah Kematian.

Meski begitu, karena semua chakra ini melebihi ambang batas kekuatan yang sanggup ditampung tubuhnya, maka Naruto tidak bisa menggunakannya dalam waktu lama. Jika terlalu lama, Naruto akan seperti mesin yang mengalami Overheat atau kelebihan panas.

Ada banyak chakra yang keluar merembes dari sosok astral Kyubi berkepala tiga. Namun naruto tahu cara mengatasinya agar tidak ada chakra yang terbuang percuma. Sosok itu dibentuk ulang menjadi wujud yang memiliki nilai estetis lebih tinggi, yakni sosok Ashura yang mengenakan busana kebesaran ala dewa, tiga wajah dengan ekspresi berbeda dengan tiga pasang tangan.

Semua itu berkat Naruto berhasil melatih kontrol chakra hingga mencapai tingkatan expert. Bayangkan!, Naruto dengan chakra sembilan bijuu yang dikatakan tak terbatas, yang sekarang dalam jumlah tiga kali lipat, juga memiliki memiliki kontrol chakra mumpuni layaknya seorang jenius Hyuga. Anggap saja ini adalah nilai plus memiliki Hinata sebagai istrinya.

Inilah bentuk akhir mode bertarung terkuat yang Naruto miliki, The Perfect Final Form Bijuu Mode dalam wujud Dewa Ashura.

Wujud ini pernah Naruto gunakan dalam duel melawan Ophis. Yah, meski Naruto harus mengakui kekalahannya waktu itu. Bagaimana tidak?, lawannya adalah Ophis dalam bentuk Naga Sejati, satu tadi tiga produk ciptaan langsung Cardinal System selain Great Red dan Trihexa, eksistensi yang menempati posisi tiga teratas dalam urutan makhluk terkuat di DxD Universe.

Masih belum, masih belum, masih belum selesai!

Untuk hari ini, Naruto sekali lagi berimprovisasi dengan kekuatannya. Dia pernah menyusun ulang godoudama sebagai armor tempur untuk menyelimuti tubuhnya seperti pemilik kekuatan Naga Surgawi, dinamakan The Truth Seeking Armor. Sekarang bagaimana kalau Godoudama dijadikan senjata dan zirah untuk wujud akhir mode bijuu ini?

Naruto memiliki sedikit kemampuan dari teknik Banbutsu Souzou milik Rikudou Sennin Hagoromo Ootsutsuki, teknik yang dia dapatkan setelah menguasai senjutsu pertapa enam jalur dan menjadi jinchuriki dari sembilan bijuu. Dengan memanfaatkan Elemen Yin dan Yang, -Naruto satu-satunya shinobi yang mampu menguasai pengendalian kedua elemen itu saat ini, dia mengeskpansi volume godoudama. Menggunakan kemampuan Banbutsu Sozou lah, bola hitam yang mulanya seukoran bola takraw, Naruto perbesar sehingga diameternya mencapai 5 meter. Kesembilan bola itu menjauh dari punggung naruto dan melayang mengitari bentuk akhir bijuu mode dalam wujud Dewa Ashura.

Enam buah godoudama raksasa membentuk ulang menjadi senjata berupa pedang. Semuanya menjadi pedang raksasa yang masing-masing digenggam oleh setiap tangan. Ini adalah modifikasi bentuk dari Pedang Nunoboko, pedang yang katanya digunakan oleh Rikudou Sennin untuk menciptakan dunia shinobi. Pedang yang mulanya berbentuk doble-helix itu kini dimodifikasi menjadi enam bilah katana agar lebih mudah digunakan. Sedangkan tiga godoudama sisanya lagi, membentuk armor yang melindungi bagian dada hingga perut, bahu, lengan, paha dan betis.

The Perfect Final Form Bijuu Ashura Mode + The Truth Seeking Armor

Sudah cukup mendeskripsikan, tidak perlu banyak kata lagi, Naruto sudah siap tempur sekarang.

Meski Naruto telah memperlihatkan bentuk kekuatan tertingginya, Zeus maupun Brahma tak sedikitpun gentar. Mereka berdua adalah dewa pemimpin dari mitologi masing-masing, tak diragukan lagi kekuatan mereka menempati posisi teratas makhluk terkuat di dunia.

Zeus melemaskan kepalanya, "Hohoooooo, ini menarik. Tak kuduga kekuatan aslimu melebihi ekspekstasiku."

Ucapan Zeus terdengar riang. Sekarang ia sadar kalau pancaran kekuatan Naruto yang dia rasakan empat bulan lalu hanyalah sebagian kecil dari kekuatan yang sesungguhnya.

Sambil tersenyum arogan, Zeus melemparkan senjata terkuat miliknya ke atas, Tombak Petir, yang dibuatkan oleh para Cyclopss yang ia bebaskan saat perang Titanomachy antara para Dewa Olympus melawan para Titan. Selain tombak petir, para Cyclopss itu juga lah yang membuat sejata Trishula atau Triden milik Poseidon dan Armor Kegelapan milik Hades.

Tombak petir yang dilempar Zeus keatas membesar sembari menimbulkan suara guntur yang menggelegar dan kilat-kilat yang menyambar. Hingga ketika selesai bertransformasi, yang nampak sekarang adalah monster petir raksasa berbadan singa berkepala elang dengan sepayang sayap raksasa. Ukurannya menyamai bentuk bijuu yang dibangkitkan Naruto.

Lightning Griffin, itulah bentuk kedua senjata Zeus The God of Thunder yang menguasai seluruh langit. Dikatakan bahwa jumlah energi petir yang terkumpul dalam sosok Griffin sama dengan jumlah petir yang ditembakkan langit ke seluruh permukaan bumi selama 100 tahun. Bayangkan!, di seluruh dunia, selama 100 tahun, dalam setiap cuaca buruk dan badai, ada berapa kali petir ditembakkan? Mungkin milyaran, atau bahkan tak terhitung.

Zeus menaiki kepala Griffin petir raksasa. Ia juga sudah siap tempur.

Tak mau tertinggal, Sang Dewa Pencipta dari Svargaloka juga menunjukkan bentuk sejatinya. Dewa Brahma bertransformasi menjadi sosok setinggi 100 meter yang berdiri diatas singasana berupa bunga lotus (teratai) merah berukuran raksasa yang sedang mekar. Dia memiliki empat tangan, serta empat wajah yang menghadap keempat penjuru mata angin, sesuai dengan julukannya sebagai Caturmukha. Pakaian yang dia kenakan melambangkan kebesaran dan kehormatan dari para pertapa yang dijunjung penganut Agama Hindu.

Jika dalam kepercayaan umat Hindu, keempat tangan Dewa Brahma harusnya memegang empat macam benda pusaka yang menunjukkan perlambang tertentu, maka sekarang dalam situasi pertarungan, dia memegang empat buah senjata berupa panah yang bernama Brahmastra. Senjata ini adalah salah satu dari sekian banyak senjata yang diciptakan oleh Dewa Brahma.

Brahmastra adalah senjata panah yang terdapat dalam Epos Pewayangan Ramayana dan Mahabrata. Dalam Epos Ramayana, Senjata Brahmastra digunakan oleh Maharaja Sri Rama untuk membunuh Rahwana serta membumihanguskan kerajaan Alengka. Sedangkan dalam cerita Perang Mahabrata, Arjuna dari golongan Pandawa melawan Asvatthama yang memihak Kurawa, sama-sama menggunakan senjata Brahmastra yang dipinjamkan Dewa Brahma, diadu untuk mengakhiri perang. Namun sebelum kedua senjata itu dilesakkan, Begawan Byasa meminta kedua ksatria tersebut menarik senjatanya kembali karena khawatir seluruh daratan India akan hancur.

Anak panah Brahmastra dikatakan memiliki daya hancur setara bom nuklir saat digunakan oleh kesatria manusia dalam cerita-cerita itu. Bagaimana kalau sekarang senjata itu di gunakan oleh penciptanya sendiri, Dewa Brahma? Bahkan empat buah Brahmastra sekaligus? Tak terbayangkan kehancuran seperti apa sebagai akibatnya. Apalagi anak panah Brahmastra pasti akan mengenai target apapun ketika sudah dilepaskan dari busurnya, baik individu maupun ribuan pasukan.

Pertandingan paling mengerikan sepanjang sejarah para dewa sebentar lagi dimulai.

Apakah Naruto dengan The Perfect Final Form Bijuu Ashura Mode + The Truth Seeking Armor akan keluar dari dimensi ruang ini hidup-hidup?

Ataukah Zeus dengan Lightning Griffin yang setara tembakan petir seluruh dunia selama 100 tahun dan Brahma pemegang empat panah Brahmastra bak puluhah ribu misil berhulu ledak nuklir, yang akan mencapai tujuannya?

Jawabannya ditentukan oleh pertarungan hari ini.

"HAAAAAAAAAAAAAAAAAAA...!"

Dengan teriakan nyaring, Naruto menyerang lebih dulu.

Flaaaaaaaaaaasssssshh...

BAAAAAAAAAAAANNNNGGGGGGG!

TeBeCeeeeeeeeeeee... :v

.

.

.

.

.

.

Note :Em, singkat aja ya. Dari chapter ini, meski keadaan sedang gawat untuk Naruto dan Hinata. Tapi yah, pasti ada bantuan kok. Sona sedang merencanakannya. Walaupun Sona sendiri juga dalam kondisi sulit karena dia menjadi incaran tim peserta rating game kelas Pro.

Horaaaaaa, sesuai keinginan kalian sejak lama, chapter ini pertama kalinya Naruto menunjukkan kekuatan secara Fullpower. Pokoknya di FF ini batas maksimal kekuatan tertinggi Naruto sampai disitu saja. Aku juga menyertakan cerita bagaimana Naruto mendapatkan kekuatan sampai seperti itu dengan jelas. Lebih tinggi powernya dari itu menurutku akan tidak logis lagi, jadi jangan meminta lebih, okey!. Namun jangan salah, Naruto masih bisa lebih hebat lagi dengan variasi teknik-teknik baru dan pengembangan teknik lama. Naruto kan selalu memberi kejutan?

Kenapa Naruto harus mengeluarkan semua kekuatannya, jelas saja karena lawannya sepadan. Boleh dikata kalau secara power tiga orang itu sama kuat, namun Naruto dirugikan karena harus melawan dua dewa sekaligus.

Selanjutnya, tinggal menunggu tanggal main kapan Sasuke akan menunjukkan kekuatan tertingginya.

Kalau Hinata, dia masih diam menunggu tuh. Heheee. Apa nanti akan ada kejutan dari teknik doujutsu The True Tenseigan lagi? Tebak aja sendiri.

Cerita tentang Kuroka dan Koneko. Lihat saja diatas!, lumayan memberi pengaruh pada konflik ke depannya. Shouki/Racun Rawa -Vs- White Flame Purification/Api Putih Pemurnian.

Hal-hal yang disampaikan saat Techical Meeting TM, tentang aturan pertandingan, chapter depan aja yaa. Kalau ada usul, boleh deh. Aku dengan senang hati mempertimbangkannya.

Ulasan Review:

Pertama, kok untuk chapter 63 aku merasa kek diburu hantu. Ini ga lama-lama amat loh ngaretnya. Kalau yang terjadwal kan seminggu sekali?, kadang aku bisa ngaret lewat beberapa hari dari jadwal. Dan yang ini, aku cuma ngaret tiga hari dari jadwal biasa, cuma tiga hari loh, tapi rasanya udah kek dikejar-kejar debt colector. Enggak di kolom review, di PM dan FB juga sama aja. :v, bercanda ah...

Kemudian, banyak yang menuliskan isi pikirannya di kolom review tentang situasi sebenarnya yang di hadapi Hinata. Enggak ada yang salah, semua benar kok, mengingat bagaimana mengerikannya The True Tenseigan itu apalagi dengan posisi Sona dan Serafall di genggamannya. Namun dalam FF ini, situasinya bukan hanya tentang saat itu saja tapi juga tentang kedepannya, jadi harus dipikirkan matang-matang sebelum bertindak.

Oh, aku tidak menuliskan isi pikiran Serafall dalam chapter di atas, namun anggap saja begini, Serafall memiliki pemikiran yang sama dengan Hinata, dia juga terkejut atas aksi penjebakan yang disusun Sirzech. Karena itu, dia memutuskan ikut permainan saja tanpa berbuat sesuatu diluar batas wajar.

Selanjutnya, maaf banget nih. Mungkin karena kurang 'Aqua', aku jadi salah tulis nama. Aku tahu persis kok, kalau Diodora Astaroth itu satu keluarga dengan Maou Ajuka Beelzebub - Ajuka Astaroth. Kalau Falbium Asmodeus itu pamannya si Zefordol dari keluarga Glaysha-Labolas yang telah mati.

Masih ada yang menyinggung tentang Alucard nih. Oke, aku jawab. Dia belum bisa dikategorikan sebagai makhluk empat dimensi karena masih terikat dalam aturan waktu Universal. Namun entitasnya jauh diatas makhluk tiga dimensi lainnya.

Gaya tulisanku kemarin berbeda yaa? Emm, aku ga tahu tuh. Ga sadar mungkin akunya. Hehee.

Oh iya, banyak yang menyarankan NaruHina perlu bantuan. Emang begitu. Tuh Sona sedang membuat rencana, Kuroka diikutkan, entah siapa lagi.

Yang mengatakan kalau terlalu banyak word itu bikin bosan akibat banyak pemborosan kata-kata. Emang benar sih, aku juga ngusahain memperbaiki itu. Tapi rada susah sebenarnya, mungkin emang sudah akunya yang kebiasaan men-deskrip panjang dan detail.

Terakhir, untuk reviewer iseng yang kurang kerjaan menghitung jumlah review 3k+, makasih deh. Aku terhibur, hahahahaaaaaa. :v

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita dan review lainnya kubalas lewat PM. Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.

...

Oh iya, untuk yang kemarin berpikiran kalau Zeus dan Brahma malah membuat kesepakatan dengan Naruto dan membantunya, Nih liat Next Preview dibawah! Logikanya, Main Hero tak mungkin mati kan? Jadi yang terjadi adalah ...

Next Preview...

Sirzech, Ajuka, Michael, dan Azazel dipaksa berkumpul dalam situasi tak terduga.

Benar-benar tak terduga, tertama bagi Sirzech.

Rencana yang disusun oleh Sang Maou Lucifer berbelok jalur 180 derajat. Mereka berempat kini dihadapkan pada dua sosok yang seharusnya sudah mereka enyahkan.

Naruto, walaupun dengan pakaian compang camping, ternyata masih hidup setelah berurusan dengan dua Dewa Superior, Zeus dan Brahma. Lalu, Hinata yang masih mengenakan gaun pesta, tampak tak berubah sedikitpun sejak ia datang. Entah bagaimana caranya Hinata lepas dari pengawasan tiga orang petinggi di ruang Super-VIP?

"Terkejut eh?"

Meski dengan nafas sedikit terengah, Naruto masih bisa berkata dengan nada mengejek pada empat sosok yang membuatnya jadi begini.

Tak dapat balasan, Naruto melemparkan dua buah kepala. Kedua kepala dengan surai berbeda warna menggelinding di lantai.

Sontak empat pasang mata itu terbelalak. Tampak dari ekspresinya kalau mereka tak sanggup menerima fakta bahwa Zeus dan Brahma telah tewas.

Seolah masih belum cukup.

Buugg...

Seonggok tubuh dilempar oleh Hinata dari balik punggungnya.

Tubuh itu terbilang kecil, namun sekejap dikenali. Sahariel, malaikat jauh sekaligus ilmuan jenius di institut Grigori kini tergeletak di lantai dalam kondisi tak bernyawa.

.

.

.

.