Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya
Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .
Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance
Rate : M
Setting : AU (Alternate Universe)
Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.
Pair : Semua Pair Canon
Selasa, 3 Januari 2017
Happy reading . . . . .
.
To The End of The World
Author: Si Hitam
.
Chapter 65: Uchiha Sasuke dan Cao Cao.
.
Flashback, Kerak Neraka-
Sebuah portal hitam muncul dari ketiadaan.
Seorang pemuda berjubah melangkah keluar dari portal, berjalan cepat tanpa suara di antara lorong yang sangat gelap, seolah semuanya dilukiskan oleh tinta yang hitam pekat.
Pemuda itu berjalan menembus kegelapan tanpa sedikitpun keraguan. Tatapannya begitu tajam hingga sanggup menghujam jantung. Mata kanannya merah menyala dan memiliki pola kompleks, bukti bahwa dia memiliki garis keturunan tertentu, yang menguasai sebuah doujutsu. Sedangkan mata kirinya, tersembunyi dibalik rambut hitam legam yang menjuntai.
Pemuda itu, si tangan satu, Uchiha Sasuke.
Drop drop drop
Suara tetesan air menjadi satu-satunya dendang indah yang terlantun.
Senyap. Gelap.
Sasuke terus melangkahkan kakinya.
Hingga tibalah di ruangan yang penuh dengan alat-alat penyiksaan.
Obor yang menyala kecil menjadi satu-satunya temaram pemberi cercah-cercah cahaya.
"S-siapa... kau?"
Pria yang kaki dan tangannya terbelenggu oleh rantai berduri tajam mengeluarkan suaranya, serak. Kondisi tubuhnya menggenaskan, tanpa busana, luka dan darah yang masih basah, buku-buku tulang yang remuk dan patah, kulit terkoyak, gigi tanggal, wajah lebam serta mata terpejam. Wajahnya tertunduk, tak bisa menatap tamu yang menjenguknya.
"Kau ingin lepas, Cao Cao?"
"Khu...!"
Tawa singkat pria bernama Cao Cao itu membuat siapapun yang mendengarnya merasakan perih.
"A-apa... Guh! Apa maumu?"
"Kau ingin lepas, Cao Cao?"
Pertanyaan yang sama terulang dari mulut Sasuke.
"Apa... ini permainan yang lainnya lagi?"
"Kau akan tahu sebentar lagi, jadi mari bebaskan dirimu"
Cao Cao tersenyum tipis.
Clang!
Sekejap mata, hampir tak ada jeda antara pedang dicabut lalu kembali ke sarungnya.
Brakkk.
Semua rantai berduri yang membelenggu Cao Cao putus dan jatuh terhempas ke lantai.
"Gunakan ini!"
Sasuke melempar sebuah botol kecil, jatuh menggelinding dan berhenti tepat di dekat tangan Cao Cao yang digunakan untuk menyangga tubuh.
"Air Mata Phoenix?"
"Tidak sulit aku mendapatkannya, tapi aku bukan dari golongan mereka."
"Hm?"
Cao Cao mendengus ambigu, tapi tangannya bergerak mengambil benda yang diberikan untuknya. Meminum isinya.
Asap mengepul dari sekujur kulit. Perlahan setiap luka mengering dan menutup, tulang-tulang kembali tersambung, kulit tumbuh, dan bagian yang hilang telah diganti yang baru. Tak menyisakan bekas sedikitpun. Kurang dari satu menit, tubuhnya kembali bugar, staminanya kembali, persis seperti orang sehat yang baru makan.
Cao Cao berdiri tegap, kelopak matanya dibuka lebar-lebar untuk mengenali sosok laki-laki dihadapannya.
Meski ruangan minim cahaya, kurang dari lima detik otak Cao Cao sudah mengetahui identitas orang yang membebaskannya.
"Uchiha Sasuke kah?, Konoha?. Sama sekali tak kuduga eksistensi baru punya urusan denganku. Kejadian apa saja yang kulewatkan di seluruh dunia selama aku terkurung di Kerak Neraka ini?"
Ucapan yang keluar dari mulut Cao Cao terdengar sangat lancar, bahkan seperti tak mengalami trauma mental padahal sebelumnya dia menerima siksaan berat.
"Kau akan tahu semua itu nanti. Tapi kau masih ingin mencoba bereksperimen kan, sampai sejauh mana manusia mampu melangkah dibawah kuasa dewa?"
"Ya. Itu adalah tujuanku sebelum berakhir di sini. Ada apa dengan itu huh?"
"Kalau kau ingin melihat akhir dari impianmu, kau harus ikut bersamaku."
"Begitu ya. Hmm, sedikit banyaknya aku mengerti."
Dua pria yang saling berbicara ini dianugerahi kepintaran jauh diatas rata-rata. Mereka bisa saling mengerti isi pikiran masing-masing meski hanya dengan sedikit kata-kata.
"Jadi... Terima kasih, Uchiha Sasuke."
"Kau adalah yang pertama."
"Aku, pertama? Ouuhhh, artinya kau membutuhkan timku, benar kan?"
"Hn."
Dengusan yang keluar dari hidung Sasuke menjadi pembenaran akan tebakan Cao Cao
"Tapi aku penasaran, apa yang membuat kalian membutuhkanku? Setelah apa yang dilakukan oleh salah satu dari kalian pada kami. Hahaa, aku ingat sekali, bagaimana aku dihancur leburkan oleh seseorang, seseorang dari kalian. Dewa gundul itu juga telah membuangku dan aku tidak punya apa-apa lagi sekarang. Aku hanya manusia biasa, pahlawan yang terbuang, tak diinginkan, musuh semua golongan, bahkan manusia pun juga membenciku."
"Ck, berhentilah mengoceh. Kenakan ini!"
Sasuke melempar satu set pakaian.
Cao Cao terkekeh, "Memerintahku seperti jagoan, huh?"
Tatapan dingin Sasuke tidak berubah, tetap tajam bak mata elang.
Tapi tak sedikitpun membuat Cao Cao tertekan, "Biar kuperjelas! Kau menyelamatkanku dan mengembalikan ideologiku, tapi bukan berarti aku akan mengikutimu. Aku bisa dengan mudah membebaskan diriku sendiri dari tempat ini dan aku sudah merencanakannya, tapi ternyata kau datang lebih dulu. Yah, intinya sekarang aku bebas, jadi aku akan melakukan apapun yang menyenangkan."
"Begitu kah?, sayang sekali."
"Huftt, kau tidak bisa diajak bercanda ternyata." Bagi Cao Cao, ia tidak memiliki pilihan apapun sekarang. Hal ini memang tak terduga baginya, tapi firasatnya mengatakan kalau hal menyenangkan akan menghampiri jika ia mengikuti Sasuke. "Leonardo dan Georg ada disisi lain ruangan ini." ucapnya seraya memakai pakaian khas china yang diberikan padaya.
Empat kaki pun melangkah.
Dua tahanan lain dibebaskan.
Hanya saja, Cao Cao heran "Hei, katanya kau bisa mendapatkan air mata phoenix dengan mudah, tapi kenapa kau hanya memberikannya padaku?"
Sasuke tak mengindahkan. Doujutsu Rinne-sharingan di rongga mata kiri hampir melotot keluar karena memfokuskan banyak chakra. Kurang dari tiga detik, dua tubuh laki-laki lenyap ditelah pusaran distorsi ruang kamui.
"Kemana kau mengirim mereka?"
Acuh, Sasuke melangkah keluar dari ruangan tempat mereka berada. Berjalan di lorong gelap seperti pertama kali ia tiba. Cao Cao mengikuti di sampingnya.
Dua pasang bola mata tampak bersinar dari balik kegelapan.
"Haaah, kau tipe orang irit bicara ya. Setidaknya katakanlah sesuatu agar aku tidak kelihatan seperti orang tak waras yang berbicara sendiri."
Walaupun ingin kesal, nyatanya Cao Cao tidak bisa melakukannya.
"Akan kemana kita sekarang?"
Lagi, tak mau menjawab. Sasuke membawa dirinya melewati portal yang ia pakai untuk datang ke Kerak Neraka ini.
Pasrah, Cao Cao ikut melewati portal itu. Dia tahu, Sasuke tak akan mencelakakannya karena ia dibutuhkan.
Setelah melewati portal, Cao Cao terpaksa menyipitkan mata karena betapa silaunya tepat yang ia pijak sekarang.
Beberapa detik membiasakan, mata Cao Cao akhirnya menangkap pemandangan dari tempat yang kini ia pijak.
Ada banyak pulau melayang di atas awan, yang hampir setiap pulaunya mempunyai istana yang indah dan artistik dengan gaya khas arsitektur China kuno Era Dinasti Tang. Atap-atap bangunannya berwarna emas yang tersusun bertingkat-tingkat seperti Pagoda.
Tak perlu waktu lama bagi Cao Cao untuk mengetahui dimana dia berada sekarang.
Svargaloka, tempat tinggal para dewa di Negeri Kahyangan atau Nirvana.
"Ini?"
Cao Cao tampak terkejut, lupakan bagaimana cara Sasuke membuat jalan ke sini, nyatanya tempat yang ia pijak adalah daerah kekuasaan dewa yang telah membuangnya kedalam Neraka, Nirvana terbesar tempat tinggal Sakra atau yang dikenal sebagai Dewa Indra.
Pemilik Sacred Gear Longinus terkuat ini pun langsung mengerti.
"Ooooo, kau membawaku kemari untuk mengambil kembali apa yang seharusnya milik kami, iya kan?"
Mata Sasuke menatap lurus ke depan.
"Katakan padaku! rencana apa yang kau punya, Uchiha Sasuke?"
"Sakra sedang tidak ada disini."
"Bagaimana dengan monyet cebol itu?"
"Dia ikut bersama tuannya."
"Tetap saja, ada banyak dewa yang berada di tempat ini."
"Hentikan ocehanmu, ayo!"
Sasuke berjalan lebih dulu. Nampak kalau dia telah menentukan rute menuju tempat tujuan.
Mau tak mau, Cao Cao harus kagum dengan kelihaian manusia bernama Sasuke yang baru pertama kali ia temui ini. Kurang dari satu jam saja, ada banyak hal telah terjadi yang ia sendiri hampir mustahil melakukannya.
Terpikir di kepalanya, wajar kalau Konoha tak takut berperang dengan golongan manapun bahkan para dewa jika Konoha memiliki intel hebat seperti orang yang dia ikuti sekarang.
Kecerdasan melebihi manusia jenius yang membuatnya mampu membaca visi jauh kedepan, serta dibekali kemampuan hebat untuk menyusup ke berbagai tempat mitologis. Cao Cao penasaran, seperti apa kekuatan Uchiha Sasuke yang sesungguhnya. Apakah dia manusia yang mampu melebihi kekuatan seorang dewa?
Singkat cerita, di tangan kanan Cao Cao telah tergenggam erat sebilah tombak berwarna emas yang berkilau terang. Tombak suci pembantai tuhan, The True Longinus. Sesuatu yang sejatinya adalah miliknya.
Relic yang merupakan perwujudan dari Annihilation Maker dan Dimension Lost milik Leonardo dan Georg juga telah ia kantongi. Ketiga Sacred Gear Longinus peringkat top itu disita oleh Sakra semenjak kehancuran Hero Faction di Venesia dan tiga pemiliknya di lempar ke Kerak Neraka.
Cao Cao memutar-mutar tombaknya, seperti ia sangat rindu pada senjata berharga yang sudah berasamanya sejak lahir.
Hup.
Syiiuuuu!
Angin berhembus pelan dari belakang Sasuke, namun ia diam saja, berdiri dengan tenang meskipun belakang kepalanya di todong oleh tajamnya tombak suci pembantai tuhan.
"Aku penasaran, apa senjataku ini bisa membunuhmu?" ucap Cao Cao, berdiri persis di belakang Sasuke.
Sasuke tetap diam.
"Pasti bisa."
Helaan nafas terdengar dari mulut sang Uchiha terakhir.
"..."
Keadaan benar-benar sunyi dan mencekam. Tempat yang mereka pijak sekarang adalah pulau di atas angin yang tak berpenghuni, persis di perkarangan sebuah bangunan yang sangat mirip dengan kuil.
"Haaaaahh..." Cao Cao mendesah, "Apa kau tidak punya rasa takut sama sekali?" tanyanya seraya menurunkan tombaknya dari kepala Sasuke, lalu mengetuk-ngetukkannya di bahunya sendiri.
"Kalau kau mau mencoba senjatamu, cobalah pada bishounen yang menghalangi jalan pulang kita di depan sana."
"Ahahahaaa. Benar juga."
Cao Cao berjalan ke depan hingga membelakangi Sasuke. Tatapannya tak lepas dari seseorang yang sejak satu menit lalu sudah menghadang perjalanannya
"Suatu kehormatan bertemu langsung dengan anda, Yang Mulia Soma Sang Dewa Chandra. Salah satu dari delapan Wasu."
Dalam ajaran Hindu, Chandra adalah dewa bulan. Sosok aslinya berwujud seorang laki-laki yang berparas muda dan tampan. Senjatanya berupa gada yang digenggam di tangan kanan, sedang tangan kirinya memegang setangkai bunga teratai. Dia menguasai embun, selain itu sebagai dewa kesuburan dia mampu mengendalikan segala tanaman yang hidup.
Termaktub dalam kitab Mahabrata, delapan Wasu adalah dewa-dewa yang menguasai delapan aspek alam semesta. Ada Dewa Agni (api), Bayu (angin), Surya (matahari), Chandra (bulan), Dhruwa (bintang), Dyayus (langit), Sawitra dan Dhara. Kedelapan Wasu ini di pimpin oleh Sang Dewa Perang Indra. Kekuatan setiap Wasu telah diakui oleh banyak dewa lainnya. Tidak ada satupun dari mereka yang tidak termasuk dalam 50 top makhluk terkuat di seluruh dunia, bersanding dengan dewa-dewa hebat dan terkenal dari berbagai reliji dan mitologi serta monster-monster legendaris.
Chandra yang sekarang menghadang Cao Cao dan Sasuke menunjukkan wujud aslinya, seukuran manusia normal dengan pakaian khas dewa yang berhias emas dan intan permata. Tidak jauh di belakang dia berdiri, terdapat kendaraan pribadinya yang ditarik oleh seekor antelop.
"Hei kau laki-laki berjubah, aku tidak mengenalmu tapi aku pastikan setelah urusanku dengan Cao Cao selesai, kau yang berikutnya."
Acuh, Sasuke berbalik badan, berjalan menuju pohon rindang lalu duduk bersandar di dahannya. Ia pun mengeluarkan kotak bekal berisi onigiri dan sebotol air minum. Tanpa mempedulikan apapun, ia menyantap makan siangnya di sana.
"Tch, manusia sombong." Chandra mengalihkan sorot matanya yang teduh tapi memakutkan pada Cao Cao, "Sakra-sama pasti tidak senang mendengar kejadian ini, jadi kalau kau mau kooperatif dan menyerahkan tombak itu padaku, masalahnya akan kuanggap selesai."
"Nehi nehi." Cao Cao menggeleng sambil mengggerakkan jari telunjuk ke kiri dan ke kanan di depan wajah, "Aku sudah menginjakkan kaki disini setelah dilempar ke Neraka, jadi aku siap mati. Lagipula errr... kupikir anda tidak berniat membiarkanku hidup walaupun aku menyerah tombak ini cuma-cuma."
"Memang benar sih. Tapi huh, apa kau lupa kalau sejak dipungut Sakra-sama saat kecil, lalu berlajar bertarung dan meneliti Sacred Gearmu disini, aku sering mengamatimu. Aku tahu semua kemampuanmu dengan detail sebaik kau memahaminya sendiri."
"Itu tidak bisa kusangkal, Chandra-sama. Aku pasti tidak akan bertahan lebih dari sepuluh detik bertarung denganmu. Tapi itu sebelum aku di lempar ke Neraka. Sekarang semuanya berbeda, siksaan Neraka tak ada apa-apanya karena aku mampu mentolerasi rasa sakit yang sangat ekstrim. Masa-masa itu kulalui dengan berpikir, mengambangkan kemampuanku untuk bekal saat aku bangkit kembali. Dan sekarang adalah titik kebangkitanku, meski aku hanya sebentar men-setting tombakku ini karena aku baru saja memegangnya, tapi aku pastikan bahwa aku telah melampauimu."
"Buktikan!"
Cao Cao menghentakkan pangkal tombaknya ke tanah.
"Lihatlah! Perfect Balance Break...!"
Mengatakan itu, sesuatu pada tubuh Cao Cao berubah. Cincin cahaya yang memunculkan cahaya terang tercipta, di belakangnya bola-bola cahaya seukuran bola bowling mengapung di udara. Itu adalah Balance Breaker yang sunyi, balance breaker yang terlihat begitu tenang dan simpel. Bahkan tombaknya masih nampak sama, tubuhnya pun tidak ada yang berubah selain munculnya cincin dan bola cahaya.
Mata Dewa Chandra menyipit, "Bolanya bertambah dua?"
"Seperti yang anda lihat. Aku terinspirasi dari seseorang."
Bola cahaya tidak lagi berjumlah tujuh seperti sebelumnya, kini Cao Cao membuatnya sembilah buah. Sekarang, teknik itu tidak lagi dinamakan Seven Treasure namun Nine Treasure yang mana memiliki sembilan kemampuan Sacred Gear berbeda pada setiap bolanya.
Sasuke yang bersandar di pohon dengan mata terpejam mengulas senyum tipis. Sembilan bola? persis seperti godoudama Naruto, hanya berbeda warna saja. Rupanya setelah kalah, Cao Cao menjadikan itu sebagai pelajaran berharga.
"Kemampuan apa yang kau tambahkan?"
"Kalau anda ingin tahu, anda harus merasakannya secara langsung."
Chandra menyeringai sombong, tampak ia meremehkan kemampuan baru Cao Cao sebab tidak ada peningkatan sama sekali dari segi power. Ia tahu teknik Cao Cao mungkin meningkat signifikan, jadi ia hanya harus sangat berhati-hati dalam bertarung.
Cao Cao bergerak selangkah kedepan. Di saat yang sama, sembilan bola cahaya disekitarnya juga bergerak. "Ini adalah bentuk sempurna Balance Breaker dari True Longinus-ku, Second Shift of Polar Night Longinus Chakra Valdine. Ini penyempurnaan dari yang pertama, meski mungkin nanti aku akan melakukan setting tambahan agar aku lebih nyaman menggunakannya. Aku tidak bisa menggunakan kemampuan tertinggi True Longinus sesukaku, jadi penyempurnaan ini kuciptakan sebagai jalan lain dari Truth Idea."
Seperti kata Cao Cao, balance breaker barunya adalah jalan lain dari Truth Idea. Ini dapat dianalogikan dengan Cardinal Crimson Fulldrive dan Empireo Juggernaut Overdrive milik Sekiryutei dan Hakuryuukou masa kini.
"Ayo kita buktikan, Cao Cao. Apa kemampuan barumu itu bisa menyelamatkan dirimu dari sini?"
"Terbalik, Chandra-sama. Seharusnya adalah apakah kau bisa bertahan dari kemampuan baruku?"
"Sombong!"
Cao Cao menghunuskan ujung tajam tombaknya ke depan. "Gandakan semuanya, Chaaya Ratana!"
Sang pemegang tombak suci True Longinus langsung menunjukkan kemampuan bola kedelapan. Bola itu mampu menggandakan diri dan setiap bola lainnya menjadi sebelas. Jika dihitung, sekarang ada 99 bola harta karun yang menyebar di seluruh halaman kuil di pulau melayang tempat mereka bertarung, lebih dari setengahnya terkonsentrasi besar di sekitar posisi Cao Cao berdiri. Ninty Nine Treasure.
Chandra langsung terbang mundur, menjaga jarak dari bola-bola cahaya milik Cao Cao.
Cao Cao tertawa senang, "Hahahahaaaa, baru segini dan kau sudah mundur. Dewa macam apa anda ini, Chandra-sama?"
"Kurang ajar!"
"Kuberitahu pada anda, setiap bola yang digandakan memiliki kemampuan sama seperti bola aslinya. Bola kedelapan adalah bola yang kukhususkan untuk pertarungan skala luas, menutupi kekuranganku sebagai petarung tipe teknik yang cenderung bertarung efektif dengan usaha minimal."
Sasuke yang menonton bergumam sendiri, "Kheh, Kagebunshin?"
Fokus ke pertarungan, Dewa Chandra mencengkramkan kedua telapak tangannya. Dia adalah pengendali tumbuhan dan embun. Seketika, disekitar Cao Cao berdiri tumbuh batang-batang kayu persegi yang membentuk sebuah jeruji.
Cao Cao terkurung di dalamnya.
Slice!
Penjara itupun terbelah menjadi dua akibat sabetan bilah energi cahaya yang sangat kuat tajam.
"Jangan berharap bisa menangkapku semudah itu, Chandra-sama."
Dewa Chandra membangun penjara itu sangat kokoh, sebagai manusia biasa Cao Cao tidak mungkin bisa merusaknya, tapi Tombak Suci True Longinus mampu melakukan itu. Jika tidak bisa melakukannya, jangan sebut True Longinus sebagai Sacred Gear peringkat satu.
Cao Cao tidak mengubah kemampuan dari Itsutei Ratana yakni bola yang mampu melenyapkan esensi supranatural dan kemampuan sihir dari makhluk berjenis perempuan untuk sementara waktu. Alasannya karena dia tahu bahwa perempuan itu merepotkan. Walaupun sekarang lawannya adalah Dewa Chandra, tapi bola-bola Itsutei Ratana yang telah digandakan tetap bisa digunakan, sebagai pengecoh.
"Kalau begitu, aku akan merubah seluruh pulau ini menjadi arena bertarungku." Chandra mengangkat tangannya ke atas, telapak tangan ia buka, "Heiyyyaaaaaa...!"
Diiringi suara gemuruh dan goncangan tanah seperti terjadi gempa, setiap centi tanah menumbuhkan tanaman yang tumbuh dengan sangat cepat, meninggi dan membesar hingga akhirnya menjadi pohon yang lebat.
"Ayo terbang, Hatsutei Ratana!"
Satu bola cahaya bergerak ke kaki Cao Cao lalu berubah menjadi pijakan untuk terbang naik keatas,
Kini seluruh pulau melayang telah berubah menjadi hutam rimbun.
Sasuke berdiri di salah satu dahan pohon, acara santap makan siangnya sedikit terganggu.
Dengan pengendalian jarak jauh, Dewa Chandra membuat setiap pohon menjadi hidup dan bergerak secara aktif layaknya binatang. Ada yang lari, ada yang menggunakan dahan dan rantingnya sebagai anggota gerak untuk menyerang.
Cao Cao terbang meliuk-liuk menghindari setiap serangan yang mengejarnya.
Dua, tiga, empat,... sebelas. Sebelas bola cahaya menempel di setiap anggota gerak tubuh Cao Cao.
"Dengan begini, aku akan terbang lebih cepat dan melampaui kecepatan dewa."
Seperti ucapannya, Cao Cao sanggup terbang secepat kilat sehingga gerakannya sulit tertangkap mata.
Rupanya, sebelas bola tadi semuanya adalah Hatsutei Ratana. Bola yang menyokong tubuhnya agar bisa terbang, sebelas bola artinya kecepatan sebelas kali lipat. Satu bola saja sudah cepat, bagaimana jika sebelas.
Dalam hitungan detik, Cao Cao telah berhasil mengejar posisi Chandra.
Baakkk.
Swoosshh.
Slice.
Bangggg!
Chandra dan Cao Cao melakukan pertarungan jarak dekat. Mereka menggunakan senjata masing-masing. Cao Cao dengan tombak sedangkan Chandra menggunakan palu gada yang baru saja ia panggil.
Pyaarrrr...
Lengah, Dewa Chandra telah kehilangan senjata miliknya.
Cao Cao memanfaatkan margin tipis saat Chandra berusaha memukul kepalanya dengan gada dari arah kiri yang ia gantikan dengan bola Chatsuka Ratana, bola penghancur senjata musuh. Saat keduanya bersentuhan, hancur lah palu gada Chandra.
Sreetttt.
Sementara itu, bola Chatsuka ratana yang lainnya berubah menjadi sebilah golok dan berhasil menyerempet pergelangan tangan Chandra hingga mengeluarkan banyak darah.
Chandra mundur mengambil jarak aman. "Kau berhasil membuatku serius."
Sang Dewa Bulan mengeluarkan energi Ki-nya dalam jumlah sangat besar. Ledakan energi itu begitu kuat dan membentuk aura hijau toska disekitar tubuhnya seperti uap. Hutan rimbun di permukaan pulau bereaksi dan tumbuh semakin lebat.
Aura kekuatan yang dipancarkannya sungguh luar biasa. Tidak mengherankan karena Chandra adalah dewa. Dia siap bertarung serius sekarang.
"Yang tidak serius, dia lah yang akan mati. Bersinarlah, Kahabatei Ratana!" Cao Cao membalas ucapan Chandra dengan mengaktifkan kemampuannya.
Flasssshhhh...!
Kemampuan asli Kahabatei Ratana adalah membuat pasukan bersenjata yang wujudnya persis seperti Cao Cao. Teknik ini mirip dengan Balance Breaker Blade Blacksmith milik Yuuto Kiba budak Rias Gremory. Namun...
Ketika cahaya memudar, bukannya sebuah pasukan yang tampak didepan mata, tapi sebelas Cao Cao yang sangat identik dari segi penampilan. Pancaran kekuatannya pun tampak persis sama sehingga suliti dibedakan mana yang asli.
Salah satu Cao Cao berucap, "Aku melakukan improvisasi. Pemuda berambut pirang yang pernah mengalahkanku mengatakan kalau kemampuan Kahabatei Ratana banyak kekurangan. Selain tiruannya sangat lemah, juga sama sekali tidak mencerminkan diriku yang asli. Dan lihat sekarang, meski jumlahnya jauh lebih sedikit, tapi kualitas semua tiruan diriku ini sama persis dengan yang asli. Aku bisa saja membuatnya lebih banyak, tapi sepuluh adalah jumlah maksimal yang bisa kubuat saat ini."
Bola-bola dari Nine Treasure bergerak menuju punggung Cao Cao. Setiap satu orang mendapatkan sembilan bola sehingga bisa di katakan ada sebelas Cao Cao yang asli sekarang.
Karena kelemahan teknik kloning ini cukup berat dan memberikan beban yang besar pada Cao Cao, dia hanya bisa membuatnya dalam jumlah sangat terbatas. Berbeda dengan pemilik asli teknik ini yang sekarang entah sedang melakukan apa.
Sasuke yang setia menonton menggelengkan kepalanya, "Itu bukan improvisasi, tapi itu plagiat. Dasar sok pintar!" ejeknya.
"Ayo, maju semuanya!"
Satu Cao Cao mengkomando, lainnya merespon cepat.
Main keroyokan, Dewa Chandra dihajar oleh sebelas Cao Cao. Meski kecepatan Cao Cao turun drastis sebab masing-masing hanya ditopang oleh satu bola Hatsutei Ratana, tapi kalau dikeroyok pasti membuat Chandra sangat kerepotan.
Apalagi Cao Cao kadang menggunakan kemampuan bola Atsusa Ratana untuk berteleport sehingga sanggup melancarkan serangan tak terduga.
Perlu waktu lima menit bagi Chandra untuk menghabisi delapan Cao Cao yang ternyata semuanya tiruan.
Masih tersisa tiga lagi.
Chandra terbang mundur. Setelah merasa posisinya aman, dia menjentikan jari.
Syutsyutsyutsyuuut!
Ribuan, tidak. Mungkin ratusan ribu tombak-tombak kayu ditembakkan dari pohon-pohon di hutan yang ada dibawah.
Dua tubuh Cao Cao tertembus dan langsung lenyap. Sedangkan satu lagi yang tersisa dan terakhir menggunakan tombak True Longinus untuk menciptkan sebuah perisai yang kuat. Ia berhasil bertahan didalamnya.
"Hahahaaaa." Chandra tertawa sombong, ia berhasil menyudutkan Cao Cao. "Memang benar, sepuluh tiruanmu tadi hebat karena bisa melakukan teknik sebaik dirimu yang asli, Cao Cao. Tapi... tapi True Longinus hanya ada satu. Jadi hanya satu yang asli yang bisa bertahan dari serangan yang sangat kuat."
Ya, Cao Cao yang menciptakan perisai kuat itulah yang asli, yang memegang Tombak True Longinus.
"Khukhuuu, tapi aku belum kalah."
"Omong kosong!"
Chandra membuat lingkara sihir di depan tubuhnya. Ada sepuluh lapis lingkaran yang bertuliskan aksara-aksara dalam bahasa sansakerta. Ia tidak lagi menggunakan kemampuan mengendalikan tumbuhan, tapi.
BLAAAAAASSTTT...!
Sang Dewa Bulan memembakkan pancaran energi yang sangat kuat, lurus menuju posisi Cao Cao yang sedang melayang di udara.
Cao Cao tak berusaha mengelak. Bilah tajam dari tombak suci miliknya terbuka sehingga menampakkan bilah cahaya suci yang sangat kuat didalamnya. Cahaya dari The God of Bible yang bercampur dengan darah Sang Messiah, The Christ.
Menggunakan True Longinus, Cao Cao berhasil membelah tembakan energi dari Chandra.
"Masih ada!" Chandra berteriak. Dia sekali lagi melayangkan serangan yang sama tanpa jeda.
"Pindahkan, Mala Ratana!"
Serangan kedua Chandra di blok oleh salah satu bola cahaya. Mala Ratana, bola yang memiliki kemampuan memindahkan serangan lawan dan mengubah arahnya.
KABOOOMMMM...
Setengah pulau melayang langsung lenyap ditelan ledakan dahsyat, padahal pulau yang terletak di Nirvana atau Kahyangan ini termasuk yang terbesar. Ini membuktikan betapa kuat serangan Cao Cao.
"Rasakan ini!"
Memanfaatkan moment ketika Cao Cao lengah, Chandra menciptakan pilar-pilar kayu yang tumbuh dari dalam tanah di delapan arah penjuru mata angin yang mana Cao Cao sebagai pusatnya. Masing-masing pilar mengeluarkan ratusan tangan-tangan berukuran raksasa yang melesakkan tinju dengan telapak tangan terbuka.
Mala Ratana tidak bisa digunakan untuk menahan serangan dalam kuantitas tinggi. Cao Cao hanya memiliki sebelas Mala Ratana setelah digandakan sedangkan serangan Chandra mungkin lebih dari seribu.
Namun, Cao Cao tidak panik, "Hancurkan semuanya, Balinayaka Ratana!"
Grekgrekgrekkkkk
BAAAAAAANNNNNGGGGGG...!
Semua tangan-tangan kayu raksasa terpental kesegala arah.
Sebelas bola Balinayaka Ratana disebar Cao Cao disekitar tubuhnya, lalu menciptakan serangan penghancur masiv dengan menggetarkan udara. Satu bola saja sudah sangat kuat, dan sekarang Cao Cao menggunakan kesebelasnya sekaligus. Ini seperti sebelas bom TNT kelas berat yang diledakkan secara bersamaan.
Tapi..., tapi ternyata serangan Dewa Chandra belum selesai. Seekor naga kayu raksasa terbang dari langit, menukik tajam dengan cepat menuju Cao Cao.
Tak bisa mengelak, juga tak bisa bertahan sebab tombak True Longinus baru saja digunakan untuk menahan serangan besar. Sedangkan bola Balinayaka Ratana juga memerlikan cooldown beberapa detik agar bisa digunakan lagi, dan Cao Cao telah menggunakannya sekaligus.
Akhirnya Cao Cao harus merelakan tubuhnya di tabrak oleh Naga itu, lalu dibanting keras ke permukaan tanah hingga tubuhnya terperosok dalam kawan raksasa.
Karena serangan mengerikan itu juga, tubuh Cao Cao menderita luka parah, bahkan sekarat dan hampir mati.
Chandra mendekat dalam jarak sepuluh meter, "Kheh, harusnya kau tahu diri. Tak pernah ada ceritanya manusia yang sanggup mengalahkan dewa."
Tak dapat berbicara, Cao Cao akhirnya kehabisan nafas.
Chandra menurunkan bahunya, pertarungan sudah selesai.
Selesai?
Tidak!
Flasssshhh.
Chandra begitu terkejut, tubuh Cao Cao yang seharusnya telah mati bercahaya terang lalu seketika berubah menjadi bola, serupa dengan bola-bola Nine Treasure yang lainnya.
Ini...?
Ini berarti Cao Cao belum mati.
Pemilik Tombak True Longinus masih hidup.
Dewa Chandra begitu panik, matanya bergerak liar mencari keberadaan Cao Cao.
Depan, belakang, kiri, kanan, atas, bawah. Tak ada dimanapun.
Lalu tiba-tiba...,
Jlebbbb...!
"Guhhaaa..!"
Chandra tidak bisa lagi merasakan nafasnya karena muntah darah.
Tombak tajam telah menghujam batang lehernya dari belakang hingga tembus ke depan.
Itu True Longinus.
Sekali saja tombak suci itu melukai tuhan maupun dewa, maka luka fatal hingga kematian adalah akibatnya.
"T-tidak mu-mungkin!"
Meski tidak bisa bernafas lagi, Chandra masih sanggup mengeluarkan suaranya.
"Khe! Kau melupakan kemampuan bola cahayaku yang kesembilan ya?"
Pertanyaan itu terlontar dari mulut Cao Cao yang berdiri tegap di belakang Chandra, tubuhnya tak nampak luka sedikitpun.
Memang benar, Cao Cao belum mengeluarkan kemampuan kesembilan dari bola Nine Treasure. Kemampuan bola kedelapan Chaaya Ratana telah ia gunakan pertama kali, lalu berturut-turut Cao Cao menggunakan tujuh bola lain yang sudah lama ada.
"Parivata Ratana. Itulah nama bola kesembilan. Kemampuannya adalah meniru. Bola yang mampu merubah dirinya menjadi bentuk apapun yang aku inginkan, juga mampu merubah diriku menjadi benda mati, bahkan sampai menekan sinyal kehidupanku sehingga keberandaanku tak akan terasa."
Apa yang Cao Cao lakukan tidak rumit. Sesaat sebelum naga kayu menghantam dirinya, ia menteleporkan tubuhnya ke titik aman dengan kemampuan Atsusa Ratana, lalu tubuhnya digantikan oleh salah satu bola Parivarta Ratana sehingga ia dikira telah mati dan Chandra menjadi lengah. Sementara Cao Cao sendiri merubah tubuhnya menjadi batu yang dikirim ke posisi Chandra berada. Bersamaan dengan tubuh palsunya yang ketahuan, ia pun berubah kembali ke wujud asli dan memanfaatkan momen kritis itu untuk menyerang Dewa Chandra dari belakang.
Cao Cao telah menambahkan dua kemampuan bola cahaya yang sangat berguna. Meskit tidak unguk menyerang, tapi sangat efektif meningkatkan jumlah kemungkinan strategi yang sanggup ia lakukan. Kemampuan yang sangat cocok dimiliki oleh petarung tipe teknik-taktik seperti Cao Cao.
"K-ke-eparat!" Chandra masih sempat mengumpat.
"Sekarang sejarah baru telah terukir, untuk pertama kalinya seorang manusia berhasil membunuh dewa. Selamat tinggal, Chandra-sama. Ini serangan pamungkasku. Bersinarlah! Tombak yang memusnahkan tuhaaaannn!"
PIIIIIIIINNNNNNN...!
Ujung tombak True Longinus yang tertancap di batang leher Dewa Chandra mulai bersinar. Perlahan sinarnya semakin terang hingga akhirnya seluruh bidang penglihatan tertutup cahaya. Cahaya suci dari tombak terkuat yang diciptakan oleh The God of Bible dan mengalir darah The Christ didalamnya. Cahaya yang mampu memberikan kerusakan fatal pada makhluk apapun, apalagi iblis yang sejatinya lemah terhadap cahaya suci.
Sasuke bahkan harus mengaktifkan rangka Susano'o tebal untuk melapisi seluruh permukaan tubuhnya agar tidak ikut mendapatkan damage.
Ketika cahaya terang itu hilang, yang tersisa hanyalah kehengingan. Tak ada lagi Dewa Chandra, bahkan sisa-sisa kehidupannya pun lenyap bak debu yang tertiup angin.
Sasuke berjalan mendekati Cao Cao yang berdiri membelakanginya sehingga kini posisi mereka sejajar.
"Saaaaa. Kemana tujuan kita selanjutnya, Uchiha Sasuke?"
Tak ingin menjawab, Sasuke malah menggunakan Rinne-sharingan di mata kirinya untuk menciptakan portal menuju suatu tempat.
"Ayo ikuti aku!" ucap Sasuke. Ia berjalan duluan memasuki portal.
Sesaat sebelum melewati portal itu, sudut bibir Sasuke sedikit terangkat hingga tercipta seringaian tipis. Pola unik dari iris doujutsu Eternal Mangekyou Sharingan yang kompleks di mata kanannya kembali normal hingga akhirnya berubah menjadi hitam legam bak permata onyx.
Ia bergumam pelan, "Kotoamatsukami, sukses."
Rupa-rupanya, sejak awal Sasuke lah yang mengendalikan permainan.
~Flashback End~
-Osaka, Jepang-
Fatarmorgana nampak jelas di setiap permukaan aspal manapun yang terlihat. Suhu di kota Osaka terasa cukup tinggi akibat teriknya matahari walau sekarang baru saja memasuki musim panas.
Kenangan masa lampau yang telah lewat dua minggu itu tergambar jelas di iris mata kiri pemuda berjubah, seakan itu adalah film yang diputar di layar bioskop. Dia berjalan lurus dengan kecepatan tetap, disampingnya ada pemuda berambut hitam lurus yang mengenakan pakaian khas Cina.
"Ngomong-ngomong, dia temanmu kan? Orang yang mengalahkan timku dan semua pasukan Grim Reaper di Venesia. Atau lebih tepatnya, rival. Satu-satunya orang yang memiliki kekuatan setara denganmu."
"Hn."
Si pemuda berjubah berhenti sepersekian detik, lalu lanjut melangkahkan kaki lagi.
"Haaaahhh." Cao Cao mendesah, "Sok cool. Bisakah kau bersikap sedikit lebih hangat padaku?"
"Aku bukan homo."
"Astaga, siapa pula yang bilang begitu?"
"..."
"Emm, apa mungkin kau punya banyak pengalaman dengan kata homo?"
"..."
"Pasti sebelum ini kau juga pernah disangka memiliki hubungan terlarang dengan laki-laki."
"..."
Sasuke bungkam. Tudingan miring yang dilontarkan Cao Cao mungkin benar. Sejak kecil ia sudah memiliki ikatan aneh dengan laki-laki. Dengan Naruto bahkan pernah berciuman, ciuman pertama, meski itu tak sengaja. Lalu yang paling baru, Bikou seenak jidat menyebut diri berpasangan dengan Vali, padahal waktu itu mereka baru sekali bertemu.
"Kau beneran homo ya?"
Shiiinnng...
Pedang kusanagi yang tersembunyi dibalik jubah ditarik keluar, satu-satunya tangan yang dimiliki Sasuke, tangan kanan, menarik pedang itu keluar lima centi dari sarungnya.
Cao Cao jadi merinding, "Errr, yah. Kau normal kok."
Bruukkk!
"Perhatikan langkahmu, idiot!"
Seorang pemuda tak dikenal berpakaian preman menyenggol bahu Cao Cao. Dia mengeluarkan umpatan sambil berjalan.
Grepp!
Sasuke sigap menangkap pergelangan tangan Cao Cao yang hendak mengeluarkan Tombak True Longinus yang terbungkus kain perban, tergantung di punggungnya. Menghentikan aksi Cao Cao yang memasang tampang marah.
Si preman berhenti lalu berbalik, matanya melotot menatap Cao Cao dan Sasuke yang memunggunginya, "Hah? Oi ooi, kau ada masalah bro?"
Sasuke sedikit memutar kepalanya.
"Apa kalian ingin kita selesaikan ini di belakang gu-... Glek!"
Si preman tak bisa meneruskan kata-katanya. Ia meneguk ludak sesak mana kala melihat sorot mata tajam menyeramkan yang menjanjikan penderitaan tiada ujung dari lirikan mata Sasuke.
"Ah, terserahlah." akhirnya si preman pun meneruskan perjalannannya tanpa ingin memperpanjang nasalah. "Berhati-hati saja lah di jalan."
Cao Cao menarik tangannya yang dipegang Sasuke ketika si preman tak terlihat lagi, "Kau sangat baik ya, Uchiha Sasuke."
"..."
Tombak True Longinus yang tadi sempat hendak dikeluarkan, Cao Cao sembunyikan lagi di punggung. "Kheh. Selama aku memiliki tombak ini, aku tidak akan kalah darimu..., mungkin."
"..."
"Tch, baiklah. Aku kini mengerti, kau itu seperti apa orangnya."
Sasuke sama sekali tak menyahut, paling hanya sesekali melirikkan matanya pada Cao Cao yang terus mengoceh.
"Kau persis seperti yang aku bayangkan saat pertama melihatmu. Lagipula karena kau telah membantuku mendapatkan kembali True Longinus-ku, aku akan membantumu."
"..."
"Jadi, sebenarnya kita akan kemana?"
"Sudah sampai."
"Eh?"
Sasuke berhenti, sehingga Cao Cao pun juga menghentikan langkahnya.
Mereka berdua kini berada di depan kuil dengan arsitek khas jepang yang dominan berwarna merah, Kuil Sumiyoshi Taisha. Kuil yang seringkali dikunjungi wisatawan maupun penganut Agama Shinto saat tahun baru.
Siang hari ada lumayan banyak orang-orang yang berlalu lalang. Sasuke mengaktifkan Sharingan untuk menciptakan genjutsu tipe area disekitar kuil. Dengan begitu, ia pun bisa bergerak bebas tanpa di sadari manusia biasa.
Sasuke melangkahkan kakinya lagi, melewati gerbang masuk kuil lalu ke arah perkarangan sebelah timur.
Cao Cao mengikuti saja tanpa banyak bicara lagi, percuma menurutnya.
Poni rambut Sasuke terangkat sehingga menampakkan doujutsu Ultimate Rinne-Sharinggan. Ia membuka portal dimensi di batang pohon besar yang ada disana.
"Ayo!"
Masuk kedalam portal di ikuti oleh Cao Cao.
Apa yang nampak setelah melewati portal adalah masih di area kuil, namun cahayanya lebih redup seperti akan senja, suasananya sangat mencekam seperti tempat tinggal para makhluk jahat. Tempat-tempat lain pun masih sama, persis seperti Kota Osaka, hanya saja tanpa ada satupun manusia. Ini seperti dimensi cermin dari dunia manusia.
Sasuke menarik nafas dalam sembari merangkai handseal.
Katon: Gokakyu no Jutsu
Hembusan api besar sekejap membakar seluruh kuil Sumiyoshi Taisha. Hingga seluruh kuil roboh, tersisa sebuah batu di tengah-tengah reruntuhan kuil yang terbakar.
Cao Cao menyipitkan mata mengamati batu yang mengeluarkan aura ungu kelam. "Itu kan relic tempat salah satu roh naga jahat di segel?"
"Hn. Sekarang kau gunakan tombakmu untuk menghancurkan segelnya."
Tak bisa menolak, Cao Cao melakukan perintah Sasuke. Lagipula ia penasaran akan apa yang hendak Sasuke perbuat. Ia melempar lurus tombak True Longinus hingga menancap di batu. Seketikan segel itu hancur. Tombak pun terbang kembali ke tangan pemiliknya.
Sasuke melempar sebuah cawan emas bersinar ke arah Cao Cao.
Refleks Cao Cao menangkapnya. Ia terkejut, "Holy Grail? Sejak kapan kau memilikinya?"
"Gaara yang mendapatkan itu. Dia sudah selesai menggunakannya untuk sesuatu di tengah Gurun Pasir Sahara, jadi daripada tidak terpakai aku meminjamnya seharian penuh."
"Jadi, kau ingin menyuruhku menggunakan Holy Grail ini untuk menghidupkan kembali roh naga jahat itu?
"Kalau bukan karena alasan itu, aku tak akan mengajakmu, Cao Cao."
Sebenarnya Sasuke tidak bisa menggunakan Holy Grail sebab tidak tahu caranya, sehingga dia butuh orang yang mahir dengan Sacred Gear untuk misinya kali ini.
"Yosh. Aku tak keberatan karena aku pun penasaran apa yang akan kau lakukan dengan makhluk itu kalau dia hidup kembali."
"..."
Tak mendapat respon dari Sasuke, Cao Cao memutuskan untuk melakukan ritual pembangkitan makhluk yang sudah fana. Sebagai peneliti Sacred Gear, tidak sulit baginya menggunakan Holy Grail meski baru pertama kali.
Tidak perlu waktu lama, sesosok monster berukuran kolosan bangkit. Ukurannya melebihi setengah kota Osaka.
Wujudnya berupa ular, namun tidak seperti ular pada umumnya. Dia memiliki delapan kepala dan delapan ekor. Matanya merah menyala bak lentera china.
Dia adalah monster legendaris, salah satu dari sembilan youkai terkuat dalam mitologi Jepang, naga jahat yang bernama Yamata no Orochi.
Monster pemilik kekuatan dari dunia para roh jahat. Simbol dari kejahatan itu sendiri. Kekuatannya sangat besar, satu tingkat dibawah Kyubi no Yokou yang dikatakan memiliki kekuatan tak terbatas.
"Nah, Uchiha Sasuke. Apa yang ingin kau lakukan dengan makhluk itu?"
"Menjadikan dia hewan peliharaanku, menggantikan Aoda yang tertinggal di dunia tempatku berasal."
"Hm?"
"Haaaaaaaaaaaaaaaaaa...!"
Sasuke melesat maju, membangkitkan Susano'o terkuatnya.
Teknik Susano'o yang dicapai setelah mendapatkan Magekyou Sharingan ada beberapa tingkatan. Semakin tinggi tingkatannya, semakin besar kekuatannya. Tingkat pertama adalah Skeleton Susano'o yang hanya berwujud tengkorak. Tingkat kedua akan dilapisi dengan daging sehingga membentuk wujud Humanoid Susano'o. Lebih tinggi lagi tingkatannya, humanoid susano'o akan dilengkapi pakaian berupa jubah serta senjata tertentu. Susano'o Sasuke bersenjatakan panah. Terus ditingkatkan lagi, Sasuke mampu membuat Susano'o miliknya seperti Madara Uchiha berwujud Raja Tenguu berhidung panjang yang memakai baju perang dengan sepasang katana raksasa sebagai senjata ditambah sepasang sayap.
Dan yang sekarang ini, Sasuke mempertebal rangka dan kulit Sunano'o, ditambah pula dengan baju zirah lengkap yang khas seperti Samurai pada Era Sengoku. Bentuk yang disebut sebagai The Great Full Armored Susano'o.
Secara terus menerus, Susano'o Sasuke memembakkan panah-panah yang disulut api hitam amaterasu dari udara. Youkai berukuran kolosal, Yamata no Orochi membalasnya dengan semburan api yang sangat panas dan banyak.
Sasuke berhasil menghindar dengan manuver hebat dan cepat di udara. Tubuh Yamata no Orochi yang ukurannya sangat besar menjadi target empuk serangan, namun itu tak menjadikannya kalah sebab monster ini memiliki kekuatan regenerasi yang sangat hebat. Bahkan beberapa kali panah Susano'o Sasuke berhasil menembus dan memotong kepalanya, namun kepala itu tumbuh kembali seolah tak ada habisnya.
Bercerita tentang legenda lama, di Negri Matahari Terbit hiduplah sembilan monster berekor terkuat yang pernah ada, dari ekor satu hingga ekor sembilan. Mereka tumbuh kuat dengan cerita masing-masing sebagai youkai dengan kekuatan luar biasa yang disebut-sebut sebagai makhluk setengah dewa.
Hingga suatu ketika, terjadi perang besar antar youkai-youkai itu. Peperangan itu dikenal dengan nama The Ancient War of Nine Gods. Mereka saling berperang, saling membunuh. Beberapa di antaranya bekerja sama untuk menjatuhkan yang lain.
Monster berekor satu sampai tujuh tewas semuanya. Mereka kalah karena berani menantang Kyubi no Yokou sang monster terkuat berekor sembilan. Sebagian lagi mati karena akibat bertarung dengan Yamata no Orochi sebagai terkuat kedua yang memiliki delapan ekor. Aslinya Yamata no Orochi lebih lemah dari Nekomata si ekor dua, tapi dia menjadi kuat sejak menyerap kekuatan Kusanagi no Tsurugi atau Pedang Kusanagi akibat kecerobohan seorang ksatria dari Klan Kusanagi.
Pertarungan terakhir berlangsung selama 100 tahun lebih antara Kyubi no Yokou dengan Yamata no Orochi.
Kyubi menang karena dia lah yang tak terbatas diantara lainnya, lalu dia mengasingkan diri. Entah bagaimana cerita selanjutnya, Kyubi no Yokou kini menjelma menjadi Ratu Rubah yang memimpin seluruh Youkai di Kyoto, namanya yang diagungkan, Yasaka himesama. Dia yang sekarang masihlah sangat kuat, dewa-dewa dari mitologi luar jepang mensejajarkan dia dengan para naga dari kelas Dragon King.
Yamata no Orochi sendiri, setelah kalah pergi ke selatan. Disana dia masih senang berbuat jahat. Sebuah legenda mengatakan kalau dia selalu meminta tumbal manusia setiap tahun. Pasangan tua, Ashinazuchi dan Tenazuchi telah mengorbankan tujuh anaknya, dan tersisa anak terakhir seorang perempuan bernama Kushi Inada hime. Saat itulah, Dewa Susano'o yang terusir dari Takamagahara (dunia langit tempat tinggal para dewa), secara tak sengaja tiba disana. Dewa Susano'o yang iba membantu pasangan tua itu untuk menyelamatkan putri mereka dengan syarat jika berhasil maka Kushi Inada hime harus menjadi istrinya. Syarat itu disetujui, Dewa Susano'o memerintahkan membuat perangkap untuk memancing Yamata no Orochi keluar. Akhirnya, Yamata no Orochi berhasil di bunuh. Pedang Kusanagi yang ada didalamnya dibawa oleh Dewa Susano'o lalu diserahkan kepada kakaknya, Dewi Amaterasu, agar ia bisa tinggal kembali di Takamagahara dan hidup disana selamanya.
Sekaranga, Yamata no Orochi hidup lagi berkat kekuatan Holy Grail. Dan sekali lagi harus berhadapan dengan Susano'o. Namun kali ini bukan sosok Dewa Susano'o yang asli dari mitologi Jepang, melainkan Uchiha Sasuke yang datang dari dunia lain.
Selama bermenit-menit mereka saling jual beli serangan, tak ada yang mau mengalah.
Hingga tibalah saatnya, Uchiha Sasuke memperlihatkan sesuatu yang tak pernah ia perlihatkan kepada siapapun sebelumnya.
Sosok astral Susano'o berubah bentuk lagi, levelnya ditingkatkan lebih tinggi lagi. Ukurannya tetap sama, namun tampil dalam wujud yang sangat berbeda. Tidak ada lagi hidung panjang khas Raja Tenguu, tidak ada pula baju zirah dan senjata.
Wujud Susano'o yang sekarang berbentuk manusia berambut panjang yang mengenakan berlapis-lapis kain indah seperti pakaian para dewa. Pada tangan kanannya digenggam sebuah kuas bernama Kotonoha sebagai senjatanya, benda yang mampu mewujudkan imajinasi menjadi kenyataan, kuas yang didapat dari Dewi Izanami yang tinggal di Yomi atau Dunia Bawah. Itu hanya cerita perumpamaan, belum ada yang tahu apakah Sasuke memang benar memiliki benda sakti itu atau hanya sekedar aksesoris.
Dibelakang punggungnya, tercipta sebuah cincin raksasa yang memiliki bilah-bilah tajam di setiap sisinya. Cincin itu berwarna hitam dan bergerak dinamis seperti kobaran api. Dilihat dari jauh, itu melambangkan simbol matahari, perwujudan dari Dewi Amaterasu.
Itulah bentuk terakhir dari Susano'o yang dibangkitkan dengan doujutsu Eternal Mangekyou Sharingan dan Ultimate Rinne-sharingan.
Susano'o God Form.
Pertarungan antar monster langsung berhenti.
Yamata no Orochi sedikitpun tak bisa bergerak lagi. Instingnya mengatakan bahwa untuk kedua kalinya dia melawan Dewa Susano'o, namun yang kedua ini jauh lebih mengerikan. Bukan karena kekuatannya, namun karena sesuatu yang sangat mengerikan dibalik mata sang Uchiha.
Uchiha Sasuke memasang wajah arogan, angkuh, serta kesombongan yang tak akan pernah terkalahkan.
"Yamata no Orochi. Kehidupanmu sementara dan keberadaanmu hanyalah gumpalan energi sesaat. Kau hanya entitas bodoh yang tidak stabil. Kau perlu penuntun dan penuntunmu adalah Uchiha. Makhluk sepertimu hanyalah budak bagi kami yang matanya diberkati. Tunduklah pada Uchiha!"
Sekeketika, iris pasang mata pada setiap kepala Yamata no Orochi berubah, yang berwarna merah menyala seperti lentera kini dihiasi pola yang kompleks. Tetap berwarna merah namun dengan tambahan pola riak air dan sembilan simbol magatama.
Sang monster pun terpaksa menundukkan kepalanya. Dia telah terperangkap dalam genjutsu tingkat tinggi.
"Kontrak selesai. Mulai sekarang, aku akan memanggilmu dengan Kuchiyose saat aku membutuhkanmu, Yamata no Orochi."
"Sesuai titah anda, Sasuke-sama."
Pertama kalinya, Yamata no Orochi mengeluarkan suaranya sejak ia dihidupkan kembali. Lalu...
Booffftt.
dia pun menghilang dalam kepulan asap.
Sasuke turun kembali ke tanah setelah menghilangkan sosok astral Susano'o. Eternal Mangekyou Sharingan di mata kanannya telah dinonaktifkan. Ia tak perlu susah-susah bertarung, cukup hanya dengan menunjukkan seberapa kuat kharismanya, maka makhluk manapun akan tunduk padanya.
Cao Cao yang berdiri sepuluh meter di belakang Sasuke, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lidahnya serasa kelu karena ditelan akan kekaguman terhadap wibawa yang dimiliki Uchiha terakhir. Sederet kalimat terucap meski hanya dibenaknya.
'Uchiha Sasuke. Aku mengakuimu. Aku yang sekarang memang sanggup mengalahkan dewa, namun kau lebih dari entitas dewa itu sendiri.
Uzumaki Naruto yang telah mengalahkanku sangatlah hebat, kekuatannya mendekati Ophis maupun Great Red, dia adalah jenius pertarungan yang mampu mendatangkan keajaiban. Dia memiliki kharisma kuat untuk merangkul semua orang agar dengan sukarela percaya dan mendukungnya.
Dan kau, Uchiha Sasuke. Kau setara dengannya. Kau mengagumkan, kau hebat dengan caramu sendiri. Kau memiliki wibawa seorang dewa, wibawa yang mampu menekan siapapun untuk tunduk secara paksa kepadamu. Kau terlahir dan menjalani takdir sebagai sang penakluk.
Jadi ini kah dua pilar utama kekuatan militer Konoha? Dua pilar yang sejajar dengan Dewa Kelas Excelsior yang termasuk dalam Top 10 terkuat di seluruh dunia. Pantas saja, Rokudaime Hokage Hatake Kakashi tak takut sedikitpun berhadapan dengan Aliansi bahkan semua golongan besar para makhluk supranatural.'
Cao Cao menghentikan pemikirannya. Cukup sampai disitu karena ia sekarang mengerti bahwa manusia adalah makhluk dengan potensi paling luar biasa di muka bumi. Manusia dari Konoha telah membuktikan itu padanya. Ia tidak perlu lagi mencoba bereksperimen untuk melihat sejauh mana manusia sanggup melaju dibawah kuasa para dewa sebab didepan matanya, sudah ditunjukkan secara jelas perwujudan manusia yang sanggup melangkahi dewa.
Cao Cao tak peduli lagi dengan impiannya yang dulu. Sekarang, ia hanya ingin melihat akhir dari perseteruan ini, akhir yang akan membawa semua orang ke penghujung jaman...
Armageddon...
Kiamat!
"Hei, kau mau kutinggal disini huh?"
Cao Cao berkedip, membebasan diri dari lamunannya. Urusan di tempat ini sudah selesai. Lalu ia pun memasang tampang sebal, "Tch, jadi kau mengajakku ikut denganmu hari ini hanya untuk melihat aksi sok hebatmu, sedangkan aku hanya kebagian tugas merusak segel dan mengaktifkan Holy Grail saja?"
Sasuke terkekeh, "Apa kau pikir kita sudah selesai?"
"Heh, masih ada lagi?"
"Ya. Masih ada tujuh lagi roh monster berekor yang tersebar di seluruh Jepang. Kita akan menghidupkan mereka semua dan menjadikan mereka bagian dari kita."
"Hm, dari siapa ide ini berawal?"
"Kyubi no Yokou Yasakaa-himesama lah yang memberitahukannya padaku. Dia ingin melihat kelanjutan dari cerita The Ancient War of Nine Gods."
"Aku mengerti."
"Sembilan Youkai terkuat dari tanah matahari terbit akan berkumpul sekali lagi dan menunjukkan kekuatannya. Shukaku, Nekomata, Isonade, Sokou, Hokou, Raijuu, dan Kaku. Bersiaplah kalian semua untuk bangkit kembali."
"Kau terbawa perasaan, Sasuke."
Sindiran Cao Cao membuat Uchiha terakhir bungkam. Ia terbawa perasaan arogan, meski dirinya tidak berubah tapi caranya bicara sudah seperti Madara Uchiha yang dia benci.
"Ahahahahaaaa." Cao Cao tertawa kecil, candaan yang dia buat akhirnya berhasil.
"Tch. Kau boleh ikut bertarung untuk yang selanjutnya. Jadi, buat dirimu dan tombakmu itu berguna dihadapanku, Cao Cao!"
"Tentu saja."
.
To be Continued...
.
.
.
Note :Yooo, jumpa lagi setelah libur tiga minggu. Hihiiii. Ah, tapi yang penting akhirnya bisa update juga. Awalnya aku mau up tanggal 1 Januari, bersamaan dengan FF yang aku update kemarin sore, tapi karena hapeku bermasalah, jadi ngaret lagi. Ini tidak bohong loh. Sebab aku perlu hape itu untuk cari-cari materi dan referensi, demi menulis FF ini juga. Tapi tenang aja, udh gpp lagi kok. Udah kuganti hapenya dengan yang baru.
Oke, seperti yang kukatan kemarin. Arc Rating Game akan lumayan banyak, sebab tidak hanya fokus dengan rating game saja. Alurnya akan diselingi dengan cerita tentang pergerakan golongan-golongan di luar Aliansi Tiga Fraksi. Yang ini Konoha dan sekutunya dulu, nanti akan ada cerita tentang mitologi Olympus dan Reliji Hindu-Buddha terutama tentang Sakra dan Hades, serta Khaos Brigade.
Pada chapter ini, aku mengupgrade kemampuan Cao Cao. Kan tidak adil kalau hanya shinobi dari Konoha saja yang upgrade kemampuan? Makanya chara-chara DxD pun aku upgrade. Perfect Balance Breaker, Second Shift of Polar Night Longinus Chakra Valdine. Errrr, namanya kepanjangan kah? Bagus tidak?
Tapi tapi tapi..., aku masih punya sedikit ide untuk bentuk paling tinggi dari kemampuan tertinggi Cao Cao, tunggu saja di akhir nanti. Hihiiii.
Untuk Sasuke, hhhmmm... Aku masih menyimpan kemampuan serta teknik-teknik mematikan yang dia miliki, tapi di chapter ini aku menunjukkan bentuk terbarunya yang jauh lebih hebat dari Susano'o yang selama ini ia miliki. Susano'o God Form.
Misi yang Sasuke lakukan, dibantu Cao Cao, atas wewenang resmi dari petinggi Konoha dan sekutu-sekutunya. Berniat mengumpulkan sembilan bijuu (monster berekor dari DxD Universe), apakah rencana selanjutnya setelah itu? Tebak saja sendiri.
Ulasan Review:
Sekali lagi kuberitahu, FF ini kubuat sedikit berbeda dengan konsep LN DxD aslinya. Aku membuat bahwa yang mati akan meninggalkan jasad, tidak hancur menjadi debu, cahaya atau bulu kalau matinya secara wajar, tidak ditembak serangan pemusnah seperti Power of Destruction Sirzech.
Tentang bagaimana nasib Sona setelah budak palsunya, NaruHina ketahuan petinggi Aliansi? nantikan di chaper depan aja.
Untuk yang menantikan bagaimana Ajuka menghadapi kekuatan tertinggi dari The True Tenseigannya Hinata, nanti deh yaa. Aku siapkan cara logis kok, berkaitan juga dengan kelemahan teknik Hinata itu. Ga ada yang sempurna pokoknya.
Yang curhat panjang lebar di kolom review. Makasih ya, aku baca kok. :v
Great Red pasti muncul kok nanti.
Kalau membandingkan Kaguya dengan Trihexa [666], bayangin sendiri aja yaa.
Dewa Vishnu kah? Tunggu nanti ya. Untuk chap ini, Dewa Chandra sebagai bawahan dri Sakra/Dewa Indra aku bikin antagonis dulu. Lalu bagaimana nasib umat hindu di FF ini kalau Dewa Brahma yang mengatur reinkarnasi mati? Ahahahaa, misteri.
Satu pertanyaan yang mungkin bersarang dibenak banyak orang. Apa profesiku guru? jawabnya iya. Sains atau matematika? Enggak keduanya sih, tapi basic keilmuanku sangat erat hubungannya dengan itu. Dan dimana domisiliku? Pulau Kalimantan.
Oh iya, untuk yang lalu. Ga jadi aku sumpahin jadi kodok deh, jadi kambing aja. :v
Aku minta maaf kepada reviewer yang permintaannya diluar isi cerita tapi belum bisa aku kabulkan. Apalagi yang merequest FF baru. Hihiiii
Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita. Maaf juga untuk dua bulan ini aku ga ada lagi balas review dari reviewer yang log in dengan akun. Aku ga bisa sesering dulu ngecek kolom review dan membalasnya satu-satu lewat PM. Mungkin mulai chapter ini kuusahakan lagi membalas di PM.
Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.
Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.
.
.
.
.
