Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Jum'at, 13 Januari 2017

Happy reading . . . . .

Sebelumnya . . . . . .

Cao Cao tak peduli lagi dengan impiannya yang dulu. Sekarang, ia hanya ingin melihat akhir dari perseteruan ini, akhir yang akan membawa semua orang ke penghujung jaman...

Armageddon...

Kiamat!

"Hei, kau mau kutinggal disini huh?"

Cao Cao berkedip, membebasan diri dari lamunannya. Urusan di tempat ini sudah selesai. Lalu ia pun memasang tampang sebal, "Tch, jadi kau mengajakku ikut denganmu hari ini hanya untuk melihat aksi sok hebatmu, sedangkan aku hanya kebagian tugas merusak segel dan mengaktifkan Holy Grail saja?"

Sasuke terkekeh, "Apa kau pikir kita sudah selesai?"

"Heh, masih ada lagi?"

"Ya. Masih ada tujuh lagi roh monster berekor yang tersebar di seluruh Jepang. Kita akan menghidupkan mereka semua dan menjadikan mereka bagian dari kita."

"Hm, dari siapa ide ini berawal?"

"Kyubi no Yokou Yasakaa-himesama lah yang memberitahukannya padaku. Dia ingin melihat kelanjutan dari cerita The Ancient War of Nine Gods."

"Aku mengerti."

"Sembilan Youkai terkuat dari tanah matahari terbit akan berkumpul sekali lagi dan menunjukkan kekuatannya. Shukaku, Nekomata, Isonade, Sokou, Hokou, Raijuu, dan Kaku. Bersiaplah, kalian semua akan bangkit kembali. Dan kau, Cao Cao! Buat dirimu dan tombakmu itu berguna dihadapanku!"

"Tentu saja."

.

To The End of The World

Author: Si Hitam

.

Chapter 66: Battle Rating Game Gremory's Team Vs Sitri's Team Part 1.

-Underworld, Aamon's Territory-

Kini turnamen rating game sudah satu minggu berlangsung dan telah melewati beberapa tahapan. Fase Play Off selesai dalam satu hari, lalu lima hari berikutnya adalah masa tenang untuk memikirkan stategi, dan itu pun sudah terlewat. Fase Grup Turnamen Rating Game akan segera dimulai. Dan yang menjadi pertandingan pembuka pada fase ini adalah dua tim kelas rokie yang telah berhasil melakoni debutnya hingga sampai ke pertandingan pro.

Gremory's Team Vs Sitri's Team.

Bertempat di sebuah ballroom yang luas dan megah di dalam hotel bintang enam yang terdapat di ibukota wilayah kekuasaan Keluarga Iblis Aamon, salah satu yang tersisa dari 72 pilar, yang menempati urutan ke-7. Disana telah terkumpul banyak iblis dan tamu-tamu penting lain yang ingin menonton pertandingan rating game perdana untuk event ini.

Azazel berjalan menuju ruang ganti tim Rias, di sampingnya adalah Sirzech yang ingin memberikan kata-kata pembangkit semangat untuk adiknya.

"Azazel, bisakah aku menanyakan satu hal sebelum Game dimulai?"

"Apa itu?"

"Kalau kau menghadapi Rias sebagai lawanmu, siapa yang pasti akan kau cabut lebih dahulu?"

"Issei, tentu saja. Semua orang di dalam kelompok Rias pasti juga merasakan hal itu. Dia adalah orang yang mempertahankan ketegangan dan semangat dari kelompok, penyangga mental seluruh tim."

Ketegangan pasti ada dalam pertarungan. Sering terjadi keadaan dimana keseimbangan akan runtuh hanya karena sedikit perubahan ketegangan, bahkan jika penyangga mental tim telah roboh, dapat dipastikan satu pihak akan kalah dengan cepat. Kebalikannya juga mungkin terjadi, jika yang menjadi pusat ketegangan itu menaikkan semangat dan tekad tim, kemenangan pasti mudah diraih.

Issei adalah pilar emosional bagi Rias dan yang lainnya. Alasannya mudah dipahami. Dia selalu maju menyerbu lawan tanpa menyerah, tak peduli apa atau dimana itu. Kebiasaannya itu juga menjadi energi dinamis bagi para budak iblis lainnya. Bahkan majikannya, Rias, sangat bergantung pada Issei.

Lumrah bagi Naga untuk menarik banyak orang. Issei bukan pengecualian, itu merupakan hasil orang-orang tertarik pada Naga yang bersemayam dalam tubuhnya.

Sirzechs mengatupkan kedua tangannya bersama dan berbicara dengan ekspresi serius.

"Sona akan mengincar itu."

Tampak roman kekhawatiran yang terpahat pada wajah rupawan Sirzech.

Hingga sampai lah dua orang penting tersebut di ruang ganti. Nampak seluruh tim sudah siap dengan kostum masing-masing. Rias, Akeno, Kiba, Gasper, Koneko, dan Issei mengenakan seragam sekolah Kuoh Gakuen, Asia memakai pakaian biarawati, Xenovia mengenakan pakaian tempur exorcise perempuan, sedangkan Rossweisse memakai armor tempur valkirie.

"Onii-sama."

Rias berdiri menyambut kakaknya.

Yang lainnya pun berdiri lalu membungkuk sekali.

Sirzech berjalan ke depan Rias, lalu mengusap rambut adiknya. "Jangan gugup! Kau harus bisa mengontrol emosimu, atau kau akan kalah."

"Ta-tapi Onii-sama. A-ada dia..." Rias menatap lurus kearah dua bola mata kakaknya.

Sirzech tersenyum lembut, "Hm, dua budak cadangan itu? Tak ada yang perlu ditakutkan, iya kan?"

Mata Rias bergerak ke kiri dan kanan, tergambar jelas keraguannya disana. "B-bagaimana aku tidak takut, dia... dia pernah membuat Issei hampir mati."

Kejadian saat pesta pembukaan masih terngiang di benak semua orang. Saat itu Issei mengggunakan armor pertahanan terkuatnya, namun nyatanya Issei tetap menerima luka fatal hanya dengan sekali pukul.

Jika ada Naruto, tim Rias akan kalah hanya dengan sekali pukul, One Punch. Dan kalaupun bisa menghindari itu, Sona masih memiliki ribuan taktik jitu karena pada dasarnya tim OSIS adalah tim tipe teknik.

"Emm, bagaimana aku mengatakannya yaa. Pokoknya kendalikan dirimu, sekarang mungkin belum namun saat pertandingan dimulai kau akan melihat peluang kemenanganmu, Rias. Bersemangatlah!"

Rias mengangguk, nafas dan detak jantungnya lebih teratur daripada beberapa saat lalu.

"Baiklah, aku tidak bisa lama-lama disini. Ada beberapa tamu penting yang harus kusapa. Jadi aku duluan."

Semua orang mengangguk.

Sirzech pun pergi setelah menguntai beberapa kata untuk adik kesayangannya.

Hening sejenak hingga suasana mencair. Saatnya giliran Azazel yang berbicara sebagai penasehat sekaligus pembimbing tim.

"Rias, Sona Sitri memahami kelompok Gremory sampai derajat tertentu, kan?"

Rias mengangguk. "Ya, dia memahaminya secara garis besar. Ah bukan, tapi dia memahami hampir semua tentang kami."

Itu kenyataan. Debut tim Gremory serta perkembangan tim dan setiap anggotanya telah menjadi sorotan dunia bawah, apalagi dengan adanya Sekiryutei didalamnya. Bahkan karena beberapa kali terjun langsung dalam pertarungan nyata melawan banyak orang kuat dan teroris, mereka jadi sangat terkenal dari kalangan tim kelas Rokie. Apalagi sekarang, walau masih kelas Rokie tapi sudah berhasil masuk ke fase grup Turnamen rating game bersama para pemain top.

"Yah, anggap saja dia memahami kalian semua. Jadi, apa yang kau ketahui tentang mereka?"

"Aku tahu kemampuan Sona, Queen-nya, dan beberapa budaknya yang lain. Tapi beberapa kemampuan mereka masih belum terkonfirmasi."

"Kesimpulannya, kau dalam posisi tidak diuntungkan. Yah, hal semacam ini sudah wajar, bahkan sering terjadi baik di Game dan pertarungan nyata. Ada juga kasus dimana Sacred Gear berevolusi dan bertransformasi sepanjang pertarungan. Kau harus lebih memperhatikan dengan seksama."

Percakapan terus berlanjut antara Rias dengan Azazel, sementara para budak hanya memperhatikan.

Kemudian Azazel menulis sesuatu di papan tulis yang dia persiapkan.

"Rating Game mengklasifikasikan para pemain ke dalam tipe-tipe petarung tertentu. Kekuatan, Teknik, Wizard, dan Support. Dari semua ini, Rias adalah tipe Wizard, tipe yang handal dalam sihir secara umum. Akeno dan Rossweisse juga sama. Kiba adalah tipe Teknik. Dia bertarung dengan kecepatan dan teknik. Xenovia adalah tipe Kekuatan yang handal di area kecepatan, pemain yang mengincar satu serangan pembunuh mematikan. Asia dan Gasper adalah tipe Support. Tapi, kalau diklasifikasikan lebih rinci, Asia lebih mendekati tipe-Wizard, sedangkan Gasper lebih mendekati tipe-Teknik. Koneko adalah tipe Kekuatan. Dan terakhir Issei, kau juga tipe-Kekuatan. Namun, kau juga bagus untuk menjadi tipe Support dengan kekuatan Gift-mu."

Azazel menulis garis membentuk palang yang membagi dalam empat kuadran dan menulis nama tipe di dalam tiap kuadran sehingga membuat sebuah karta. Nama setiap anggota tim ditulis pada karta kuadran tipe. Nampak dalam sekali lihat bahwa komposisi tim Rias cukup seimbang, yang mana memiliki semua tipe petarung dengan jumlah merata.

Azazel melingkari nama Issei, Xenovia, dan Koneko di tipe-Kekuatan. "Apa yang tipe Kekuatan harus waspadai adalah serangan balik. Kelas paling merepotkan diantara tipe Teknik, yakni pemilik kemampuan serangan balik. Jika berhadapan dengan tipe lawan seperti ini, tipe Kekuatan seperti Issei, Koneko, dan Xenovia bisa dibuat kelimpungan hanya dengan satu serangan. Itu karena serangan balik membalikkan kekuatan lawan kembali pada mereka, plus kekuatan dari serangan balik."

"Kalau ada serangan balik, aku hanya perlu melawannya dengan kekuatan."

Xenovia mengatakan itu dengan berani. Namun, Azazel menggeleng kepalanya.

"Memang mungkin untuk melakukan itu, tapi lain ceritanya kalau lawanmu adalah jenius. Hindarilah serangan sebisa mungkin. Lebih baik melawan pengguna serangan balik dengan pengguna sihir Akeno, pengguna teknik Kiba, atau Gasper dengan kekuatan Vampir spesialnya. Semua ini hanya masalah kompatibilitas. Tipe-Kekuatan itu memang kuat, namun resikonya tinggi saat harus berhadapan dengan tipe Teknik."

Xenovia terdiam oleh penjelasan Azazel.

Misal Koneko yang unggul dari segi kekuatan diharuskan melawan pengguna teknik tipe kecepatan seperti Kiba, apakah mungkin Koneko bisa menang?Meskipun setiap tinju yang dilancarkan Koneko sangat kuat dan merusak, tapi jika tidak mengenai Kiba yang sanggup berlarian kesana-kemari dengan cepat, apa gunanya? Apalagi kalau Kiba melepaskan serangan balik, Koneko bisa apa?

Itulah arti dari kompatibilitas pertarungan.

Azazel berbicara lagi, "Rias, kalau ada tipe serangan balik pada kelompok Sona Sitri, mereka pasti akan mengincar Issei, tahu? Kalau tipe penyerang balik memangsa kekuatannya, maka habislah sudah. Kau harus memikirkan dan mengasah sejumlah taktik untuk menanggulangi itu."

"Tapi, kalau lawannya perempuan, kemungkinan itu terjadi akan rendah."

Semua terdiam sejenak akan apa maksud Rias.

"Dress Break. Karena dia adalah musuh perempuan, kukira takkan ada satupun dari mereka yang mau melawannya."

Kata-kata tajam itu keluar dari lidah Koneko. Rupanya masih ada budak Rias yang sama sekali tak bisa mentolerir sifat mesum Issei. Bukan apa-apa, Issei sudah menanggung akibat dari perbuatannya itu. Ya, Issei hampir mati karena coba berbuat hal tidak senonoh pada Hinata, istri Uzumaki Naruto.

Azazel memasang wajah cemas, "Sekarang asumsikan kalau hanya laki-laki yang mau melawan Issei, maka lawannya hanyalah ..."

"Genshirou Saji." Rias melanjutkan ucapan Azazel yang menggantung.

Bagi Issei, ini kesempatan bagus. Ia akan bertarung melawan orang yang ia anggap sahabat, teman seperjuangan sebagai sesama budak pion. Apalagi rumor mengatakan kalau Saji kini telah mencapai Balance Break dengan Sacred Gearnya. Tentu menjadi pertarungan yang dinantikan.

Atau...

"Uzumaki Naruto."

Azazel menyebut nama itu dengan dramatis. Ia tahu pasti bagaimana level kekuatan pemuda berambut pirang itu, seseorang yang sanggup bertarung imbang melawan Sirzech bahkan setelah kelelahan menghadapi dua dewa superior.

Namun meski Rias dan budak-budaknya tidak tahu apa-apa, tetap saja mereka...

Glekk!

meneguk ludah kasar. Terutama Issei yang telah merasakan dekatnya kematian akibat mengusik ketenangan Uzumaki Naruto.

.

Nyatanya apa yang terjadi saat ini sungguh diluar dugaan.

Tim Sona dan Tim Rias yang akan bertanding sudah berdiri di panggung pada posisi berhadap-hadapan. Sebentar lagi mereka semua akan ditransfer menuju Arena Game.

"Sona, kau!" Rias menatap sahabatnya tajam dengan perasaan tak terima.

"Ada apa, Rias?" tanya Sona seolah tak mengerti apapun.

"Kau meremehkanku?"

"Hm?"

"Kenapa dua budak cadanganmu itu tidak ikut?"

"Oh."

Sona merespon santai, membuat Rias semakin kesal. Naruto dan Hinata tidak ikut bertanding dalam rating game, mereka tetap di bangku cadangan. Rias bukannya senang meski peluang kemenangannya meningkat tajam, tapi ini masalah harga diri.

"Begini Rias, ada aturan khusus untuk tim kami sebagai satu-satunya tim yang memiliki pemain cadangan yang berhasil mengkonsumsi bidak Pion Ekstra. Agar permainan tetap adil, jumlah pemain yang ikut maksimal harus setara dengan nilai 16 bidak catur. Dalam Game pertama ini, semua budak utamaku ikut sedangkan Naruto-san dan Hinata-san terpaksa harus menonton dari bangku cadangan."

"Kau pasti punya hak menentukan siapa yang ikut dalam Game dan siapa yang dicadangkan, iya kan? Tapi kenapa kau tak memilih mereka?"

"Ada batasan tentang bagaimana aku mengganti komposisi tim. Hanya boleh dilakukan setelah tiga pertandingan berturut-turut. Karena itulah, aku memilih menyimpan mereka untuk pertandingan Fase Knocked-Out nanti."

Apa yang dikatakan Sona ada benarnya. Budak kuat yang menjadi kartu truff memang harus disimpan untuk nanti, untuk lawan yang sangat hebat, tim-tim profesional yang sudah sejak lama merajai Rating Game.

"Tapi apa kau yakin bisa lolos fase grup hanya dengan budak utamamu?"

"Rias, kau akan tahu jawabannya setelah bertanding denganku. Jangan berpikir hanya karena kekuatan timmu meningkat pesat, kau bisa meremehkanku."

"A-akuu... Aku tidak berpikir seperti itu, Sona."

Di sisi lain, para budak yang berdiri dibelakang masing-masing King hanya bisa menutup mulut. Percakapan ini hanya antara sepasang sahabat sejak kecil, tentang pertengkaran mereka.

"Hm, benarkah?" Sona menangkap adanya keraguan dari wajah Rias. "Kau tahu dengan pasti kan? Impianku adalah membangun sekolah rating game untuk semua kalangan, tidak peduli itu dari bangsawan maupun hanya kelas bawah. Aku ingin kesetaraan. Tapi semua orang menertawakanku. Kau pasti tahu bagaimana rasanya itu karena kita awalnya sama, kau mempunyai mimpi ingin menjadi pemain rating game nomor satu. Kita sama-sama ditertawakan oleh orang-orang, hanya dianggap bocah yang bermain dibalik nama besar kakaknya, Maou."

Rias tidak bisa untuk tidak melebarkan iris matanya. Meski mereka sedang berseteru, tapi Sona, sabahatnya, tidak sedikitpun melupakan apa yang pernah sama-sama mereka rasakan.

"Tapi kini semua itu telah berubah, sedikit demi sedikit kau dan timmu berhasil menarik atensi banyak orang. Telah banyak orang-orang yang serius memandang timmu. Kebangkitan Sekiryutei, memiliki vampir yang merupakan perwujudan salah satu dewa dari mitologi Irish, Dewa Balor, lalu ada prajurit pemegang pedang suci di sisimu, dan lain-lainnya. Kau telah mampu menjanjikan secara pasti pada semua orang yang mulanya menertawakanmu bahwa impianmu akan terwujud suatu saat nanti. Sedangkan aku masih dibelakang, tak bergerak selangkahpun. Ketika impianku ditertawakan, aku masih bisa tersenyum. Itu artinya mereka masih memberikan sedikit perhatian meskipun rasanya agak pahit. Tapi sekarang, impianku itu telah dilupakan, dianggap seolah tak ada. Apa kau tahu bagaimana rasanya, Rias?"

"A..."

Rias benar-benar tak bisa menjawab apapun. Ternyata dirinya lah yang gagal sebagai sahabat, ia tidak mengerti bagaimana perasaan Sona.

"Lalu hal yang paling kubenci sekarang, semua orang memperhatikanku kembali namun bukan pada impianku tapi karena keberuntunganku memiliki budak cadangan yang tak terduga sama sekali, budak yang sanggup membuat Sekiryutei dalam kondisi terbaik sekarat hanya dengan sekali pukul. Usaha kerasku seolah tak dihargai sama sekali. Saat ini, namaku menjadi besar dan diperbicangkan hanya karena keberuntungan. Kau paham itu, Rias?"

Sejak awal, Sona mengatakan semuanya dengan ekspresi datar. Namun Rias mampu menangkap bagaimana perasaan menyakitkan dibalik ekspresi itu. Rias tahu bahwa Sona tidak iri padanya, sahabatnya itu bukan tipe orang yang punya waktu untuk memikirkan rasa iri. Sona sudah berusaha keras, ia berhasil melangkah maju walau hanya selangkah, namun seolah tak terlihat dan sama sekali tak dihargai karena langkahnya lebih lamban dari Rias.

Sona melanjutkan ucapannya, "Jadi, moment ini sangat penting bagiku. Aku akan menunjukkan bahwa aku bisa meraih kemenangan dari timmu yang dielu-elukan banyak orang, tanpa mengandalkan kartu keberuntunganku."

Rias mengangguk lemah, "Aku mengerti."

"Lagipula Rias, kau masih ingat kan tentang perjanjian kita?"

~Flashback, Chapter 62~

Rias menatap sendu ke arah Issei yang hampir seluruh tubuhnya dibalut perban. Luka diterima oleh budaknya karena coba berbuat asusila pada Hinata. Matanya mengerling ke arah sahabatnya, yang juga ada dalam satu ruangan.

"Sona, sekarang aku sadar kalau kau menyembunyikan banyak hal dariku. Pasangan suami istri itu, aku tak bisa mengira bagaimana kau mendapatkan budak seperti mereka, bahkan sekarang aku meragukan apakah mereka berdua benar-benar budakmu atau hanya bohong. Apa ada yang ingin kau katakan?"

Sona hanya berdua dengan Tsubaki di ruangan itu, budak-budak Sitri yang lainnya sudah dipulangkan sejak kehebohan tadi demi keamanan mereka.

Setelah berpikir sejenak, Sona menjawab pertanyaan sahabatnya. "Maaf Rias. Aku tidak akan mengatakan apapun. Tapi kalau kau bersikeras, kalahkan timku di pertandingan Rating Game nanti."

Sejak saat ini, Sona dan Rias sebagai sahabat akan mengambil jalan yang berbeda.

Tanpa menatap kearah Sona, Rias mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Aku terima tantanganmu."

~Flashback End~

"Tentu aku ingat. Kau akan berterus terang tentang semuanya jika aku menang darimu, iya kan?"

"Benar, Rias. Itulah alasan lain kenapa aku tidak mengikutsertakan Naruto-san dan Hinata-san. Aku menghargai kesepakatan kita, karena itulah aku memberikan kalian peluang untuk menang. Sebab jika dua budak cadanganku ikut bertarung, kalian semua tak memiliki kesempatan menang sama sekali."

Dalam hati, Rias membenarkan perkataan Sona. Dan sekarang ia paham maksud ucapan kakaknya di ruang ganti tadi kalau dirinya akan melihat peluang kemenangan ketika sudah melihat lawannya. Sirzech mengatakan itu karena sejak awal sudah tahu kalau Naruto dan Hinata tidak ikut bertanding.

Aaaaahhh~~~, kesampingkan cerita sentimentil antara dua sahabat itu. Si Merah mungkin serius dengan apa yang dia rasakan, namun Si Biru entahlah. Entah dia benar merasakan itu, atau hanya sebatas lakon sandiwara. Sona memang masih memegang impiannya, namun ia memiliki pekerjaan yang lebih utama dari impian itu.

Yah, meski lumayan banyak penonton yang kecewa karena Uzumaki Naruto yang baru saja menjadi viral di dunia iblis setelah menghajar Sekiryutei tanpa ampun tidak ikut dalam Game, tapi tetap saja perhatian yang diberikan penonton tak berkurang. Sudah diduga, karena ini adalah pertarungan antara dua iblis muda yang menjanjikan, pertarungan antara dua adik perempuan Maou saat ini.

Perasaan tegang mengambang di udara, lingkaran sihir yang akan memindahkan semua peserta ke arena bertarung tanpa ampun mulai bersinar.

Game start!...

.

Ini ruangan VIP tempat para petinggi menonton jalannya pertandingan rating game.

Serafall mendudukkan di sofa, mengambil posisi di samping Sirzech yang sudah disana lebih dulu. Mereka menghadap layar hologram besar yang menampilkan arena rating game.

"Bagaimana?" tanya Sirzech tanpa menoleh.

"Aku baik-baik saja, sudah pulih."

Ya, seminggu yang lalu Serafall sekarat. Hal itu akibat sedikit saja kelengahannya saat mengawasi Hinata. Namun itu dirahasiakan dari publik, hanya para petinggi saja yang tahu. Hal yang sama juga terjadi pada Seraphim Surga, Gabriel. Namun nasib malang menimpa Sahariel, dia tewas.

Meski satu orang telah tewas, tapi tak ada yang menaruh dendam. Mereka terhubung bukan oleh ikatan emosional seperti keluarga, tetapi karena ambisi yang sama. Rencana harus tetap berlanjut tidak peduli berapapun orang yang harus tumbang dan dikorbankan.

"Maksudku, bagaimana dengan tim adikmu?"

Sirzech tahu kalau Serafall juga menghampiri adiknya sebelum bertanding.

"Biasa saja, tanpa perlu banyak kata-kata dariku, mereka yakin menang. Mungkin sejak awal mereka sudah memiliki strategi untuk merobohkan adikmu. Jadi, seharusnya kau mengkhawatirkan adikmu saja, Sirzech."

"Ah, kau benar. Sebenarnya peluang menang tim adikku itu nol besar. Bahkan mungkin tak ada satupun tim evil piece dari Underworld yang sanggup melawan dua orang manusia yang telah berhasil membunuh dua dewa superior dan menyudutkan Maou hingga ada yang sekarat."

"Yup, itu juga alasan kenapa aku tidak bersikap kekanak-kanakan dan bermain cosplay lagi seperti biasa. Aku harus serius mulai sekarang."

"Tapi yaa syukurlah, mereka berdua tidak ikut. Jadi kita bisa menikmati pertandingan antara adik kita secara murni. Rias dan Sona akan menunjukkan penampilan terbaik mereka."

"Hoi hoooiiii, kalian berdua ngomong apa sih, ttebayou?"

Seorang pemuda berambut pirang seenaknya masuk kedalam obrolan orang lain. Dia duduk di sofa yang letaknya tidak jauh disebelah kanan Sirzech dan Serafall.

Sayangnya, ocehannya tidak ditanggapi sama sekali.

Sementara perempuan dengan style poni rata disampingnya, hanya bisa memasang senyum aneh. Ini kan ruang VIP khusus para petinggi aliansi, kenapa mereka yang tidak ada sangkut pautnya harus diundang kemari dan menonton dari sini?

Satu-satunya jawaban yang paling mungkin hanyalah agar mereka tidak bisa melakukan sesuatu yang merugikan pihak aliansi. Mereka berdua sedang dalam pengawasan.

Karena bagaimanapun, mereka tidak mempunyai ikatan perjanjian. Hanya dua pihak yang berkumpul dalam satu ruangan, yang mana di masa depan nanti bisa menjadi teman dan bisa menjadi musuh.

Waktu berikutnya, Ajuka, Azazel, Michael, Gabriel menyusul kedalam ruangan. Menonton bersama-sama. Ketegangan sangat kental terasa, melekat kuat disetiap molekul oksigen yang dihirup.

.

Tempat dimana peserta Game tiba setelah dikirim dengan lingkaran sihir teleportasi adalah tempat yang sangat familiar bagi tim Rias. Bahkan Issei, salah satu anggotanya serasa seperti berada di rumah sendiri.

Asia berjalan ke arah jendela, menengok keluar melihat pemandangan cerah siang hari dari suatu kota tak berpenghuni.

Ini adalah arena Rating Game, semuanya replika. Tapi, seluruh iblis Tim Gremory sangat mengenal betul dimana mereka berada sekarang.

Bagimana tidak?

"Aku tak menduga kalau seluruh kota Kuoh adalah arena bermainnya. Terlebih lagi, kamar Issei alias kediaman Hyudou adalah markas tim kita." Rias berkata sambil berjalan ke samping Issei.

Hampir tanpa jeda dari ucapan Rias, terdengar pengumuman.

'Semua hadirin dan peserta, mohon perhatiannya. Saya, sang [Ratu] dari kelompok Lucifer, Grayfia, akan memegang peran sebagai wasit "Rating Game" antara kelompok Gremory dan kelompok Sitri pada kesempatan ini.'

'Dengan nama Majikan saya, Sirzechs Lucifer, saya akan mengawasi pertarungan diantara kedua peserta. Mohon kerjasamanya. Mari kembali pada topik, arena pertarungan adalah replika sebuah kota kecil seluas 8 kilometer persegi, yakni Kota Kuoh tempat kedua tim bersekolah di dunia manusia.'

Bagi Rias dan budak-budaknya, karena arena Game dibuat menyerupai lokasi yang familiar, maka tentu akan membuat mereka lebih nyaman. Namun hal yang sama juga berlaku untuk kelompok Sitri.

'Kedua kelompok telah dipindahkan ke "Markas" mereka masing masing. Markas Rias-sama berada di kompleks perumahanHyoudou Residence di sisi utara, sedangkan Markas Sona-sama berada di kompleks apartemen Levia-tan Regency di sisi selatan. [Pion] yang inginmelakukan promosi bidak, mohon menuju ke Markas lawan.'

Markas tim Rias dan tim Sona berada pada sisi berlawanan dalam kota Kuoh. Jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 2,5 km atau 50 menit berjalan kaki. Untuk dua titik berlawanan dalam sebuah kota, jarak ini cukup dekat. Mengingat kota Kuoh hanyalah kota kecil yang memprioritaskan aspek pariwisata dan pendidikan, belum lagi area untuk rating game hanya dibatasi berbentuk lingkaran seluas 8 kilometer persegi.

Pusat dari arena adalah Akademi Kouh, tempat semua peserta bersekolah. Titik ini adalah titik tengah yang jaraknya sama kesemua tepian batas arena pada setiap arah penjuru mata angin.

Sesuai aslinya, dimensi ruang buatan replika ini juga meniru sama persis setiap infrastruktur dan properti kota, seperti area perkantoran, pusat perbelanjaan, ruang hijau bermain, taman kota, seluruh jalan raya, perumahan hingga tempat-tempat hiburan.

Untuk menuju ke area musuh, tentu harus melewati jalan-jalan yang sudah sangat mereka hafal. Simpel dan jelas, namun tidak semudah yang dibayangkan karena kedua tim sama-sama mengetahui seluk beluk kota dengan sangat baik, sehingga perlu mengoptimalkan pemilihan strategi yang tepat agar bisa meringkus lawan secara efektif.

'Meski menggunakan aturan standar Rating Game, tapi akan ada aturan ekstra. Dokumen tentang hal-hal tersebut telah dikirim ke setiap kelompok, jadi mohon dicek kembali. Satu botol berisi "Air mata Phoenix" telah disediakan pada masing-masing tim. Kemudian, waktu menyusun strategi sebelum pertarungan adalah tiga puluh menit. Kontak dengan lawan sepanjang waktu tersebut dilarang, pelanggar akan dikenakan sanksi hingga diskualifikasi. Game ini dijadwalkan selesai dalam waktu 150 menit. Kalau begitu, silahkan memulai waktu menyusun strategi. Permainan dimulai!'

Setelah pengumuman terakhir itu, semua anggota Tim Gremory langsung merapat untuk membahas strategi. Duduk melingkar di lantai.

Rias berkata sambil melihat peta panduan area kota yang dijadikan arena bertarung, "Medan tempur diciptakan menyerupai sebuah kota. Jadi ini adalah pertempuran luar ruangan."

Seluruh anggota tim masih berada di Hyoudou Residence, tepatnya di dalam kamar Issei.

"Aturan kali ini menyatakan 'Diperkenankan bertarung sesuka hati dengan mengeluarkan kekuatan penuh dan menghancurkan apapun, namun tidak bolah sampai mengenai batas tepi arena. Wujud dimensi ruang sesungguhnya dari arena Game ini adalah bola berongga dimana kota Kuoh berada didalamnya, sehingga selain batas tepi disetiap sisi kota, juga ada batas langit berbentuk kubah setengah bola dan batas kedalam tanah berbentuk cekungan setengah bola."

Rias menyipitkan matanya saat membaca dokumen panduan. Dia sepertinya tengah memikirkan aturan ini.

"Begitu, jadi bagi aku, Akeno senpai, Rossweisse sensei dan Issei, ini medan tempur yang kurang menguntungkan. Kita tak bisa melakukan serangan yang mempengaruhi area luas dengan sembrono."

Seperti yang Xenovia katakan. Meski pertarungan diluar ruangan, namun kota kecil seluas 8 kilometer persegi kurang memiliki kecocokan dengan kekuatan dan formasi Tim Rias yang sekarang. Issei dalam kekuatan penuh, Xenovia dengan Ex Durandal, Akeno dengan halilintar suci dari awan petir raksasa, serta bombardir meriam-meriam sihir yang dilepaskan Rossweisse dari jarak jauh tentu memberikan kerusakan yang sangat besar. Selain mencapai tepi batas arena, juga bukan tidak mungkin teman sendiri akan terkena damagenya pula. Dibutuhkan kota metropolitan seluar Tokyo agar Tim Gremory bisa bertarung leluasa, karena pertarungan skala besar adalah ciri khas mereka.

Mungkin sedikit pengecualian untuk Rossweisse yang mampu mengendalikan cakupan damage serangannya, berbeda dengan Issei, Akeno, dan Xenovia yang hanya serang lalu hancurkan semua.

"Ini benar-benar merepotkan. Pertarungan dengan serangan berskala besar sudah tersegel." Akeno meletakkan tangannya di pipinya dengan wajah resah. Dia menyampaikan opininya sambil mendesah.

Rias melanjutkan, "Tapi jika dipikir-pikir, aturan ini cukup seimbang untuk kedua belah pihak. Tim Sona lebih ke tipe teknik, mereka pasti akan kesulitan jika bertarung melawan kita yang tipe kekuatan dalam arena seluas satu kota, meskipun hanya kota kecil. Karena itu, kupikir mereka akan memanfaatkan setiap bangunan untuk memancing kita melakukan pertarungan dalam ruangan yang lebih menguntungkan mereka."

"Kau benar, Buchou." Kiba membenarkan pendapat Rias sembari mengangguk.

"Mata Gasper-kun juga tak akan efektif. Seluruh kota direplika secara sempurna, areanya yang cukup luas dengan beragam bangunan menjadi objek yang merintangi penglihatannya. Belum lagi pertandingan berlatar siang hari yang cerah, kerugian bagi Gasper-kun yang seorang vampir."

Rias menggelengkan kepala sebagai respon ucapan Akeno barusan.

"Tidak, sejak awal mata Gasper tak bisa digunakan. Mereka menulis pembatasan itu disini. 'Pemakaian Sacred Gear Gasper Vladi dilarang'. Alasannya jelas dan simpel, karena penggunaan Sacred Gear Forbidden Balor View akan menghentikan waktu dalam cakupan sama dengan luas seluruh arena game ini. Pertarungan akan langsung berakhir hanya dengan itu, tidak ada dari Tim Sona yang mampu bebas karena didalam kelompok itu tidak ada pemilik kekuatan besar yang mampu melawan efek penghenti waktu, tidak ada pemilik kekuatan naga Surgawi dan tidak ada pemilik artefak suci. Hasil seperti itu tidak akan menarik. Dan yang paling penting, 'Gasper Vladi' yang lain, tidak boleh keluar. Pecahan kekuatan dewa jahat Balor itu belum bisa dikontrol, dan penggunaan Forbidden Invade Balor The Beast akan sangat berbahaya. Untuk masalah ini, pihak panitia membuatkan kacamata khusus untuk Gasper. Tapi dia boleh diberikan darah Issei untuk meningkatkan kekuatan."

Tambahan aturan lagi yang merugikan untuk Tim Rias. Tapi aturan itu memang sangat tepat diberlakukan demi keamanan.

"Berarti, Gasper hanya akan bertarung memakai sihir dan kekuatan vampirnya?"

Rias mengangguk oleh pertanyaan Issei. Dia lalu melanjutkan,

"Kita memang jauh unggul dari segi kekuatan, tapi kekuatan kita yang sangat besar juga menjadi kerugian hebat karena tim Sona memiliki beragam tipe serangan balik. Belum lagi Saji-kun, dia dengan Sacred Gear Vritra bisa menyerap kemampuan orang lain, jadi kita tak tahu serangan balik seperti apa yang mereka akan gunakan. Seperti menekan dengan genjutsu atau teknik lain untuk membutakan pandangan. Yang pasti ada banyak serangan balik tipe teknik yang mereka kuasai."

Setelah Gasper mengenakan kacamatanya, Rias berkata lagi.

"Rating Game bukan sesuatu yang bisa dimenangkan hanya dengan kekuatan besar. Situasi akan berubah total tergantung medan tempur dan aturan. Karena ini adalah arena dimana bahkan Iblis yang berkekuatan rendah bisa bergantung pada kebijaksanaannya dan naik lebih tinggi. Hal ini sudah populer di Underworld dan diantara golongan yang lain. Aturan kali ini mungkin tak terlalu menguntungkan bagi kita, tapi kurasa sama berlaku untuk Tim Sona juga. Kalau kita bisa melewati ini, kita akan menang dan terus maju ke Game berikutnya. 'Pion' menjatuhkan 'Raja', memang ini hanya aturan dasar dalam catur, namun juga diaplikasikan dalam Rating Game. Dengan kata lain, siapa saja bisa menang asal memakai metode yang tepat."

Semuanya setuju dengan ucapan Rias, dan mengangguk.

Rias pun melanjutkan diskusinya membahas strategi yang akan mereka gunakan.

Ditengah-tengah diskusi, Kiba mengangkat tangannya dan memberi usul. "Buchou, biarkan aku pergi ke area perkantoran disebelah barat sekolah kita. Itu area yang paling tidak menguntungkan bagi kita jika bertarung karena padat akan bangunan-bangunan tinggi. Aku bisa menggunakan kecepatanku untuk mengecek keadaan disana dan kembali lagi kesini sebelum kontak dengan lawan diperbolehkan"

Rias mengangguk. "Lakukanlah, Yuuto."

Kiba segera pergi keluar dengan langkah cepat.

Rias kemudian memberi instruksi pada bida peluncurnya. "Gasper, tolong berubah menjadi kelelawar dan terbang ke tiap lokasi. Saat Game akan dimulai, kau akan memberitahu kami situasinya secara terperinci."

"P-Paham!"

Segera, Gasper mengubah tubuhnya menjadi berpuluh-puluh kelelawar dan berpencar ke setiap penjuru. Gasper tidak akan difungsikan untuk bertarung, tetapi sebagai pengumpul informasi.

Topik selanjutnya, membahas informasi yang sudah mereka kantongi tentang Tim Sona. Meski hanya sedikit, tapi tetap sangat berguna.

Rias mengatakan apa yang ia ketahui lebih dulu. "Dari pandangan pengamat diluar pertandingan ini, tim kita sudah unggul sejak awal. Issei sudah mencapai bentuk yang melebihi balance breaker yakni Promosi True Queen Cardinal Crimson Full Drive. Ditambah lagi Ascalon, Excalibur-Durandal, dan kemampuan Kiba menciptakan Pedang Suci Iblis dan mereplika Pedang Iblis legendaris sebaik aslinya. Lalu ada seorang tentara valkirie, pengguna senjutsu, dan pemilik halilintar suci, lalu Sacred Gear penyembuh yang sangat langka."

Issei lagi-lagi mengangguk paham, "Intinya tim kita komplit."

"Tapi tidak sedikit pengamat diluar sana yang berpandangan bahwa Tim Sona akan memberikan kejutan besar. Jika saja Naruto-san ikut, kita mungkin tak akan menang. Tapi ketiadaannya sebagai peserta tidak mengurangi harapan penonton akan kejutan dari Tim Sona. Belakangan ini, beredar rumor bahwa Saji-kun berhasil mencapai balance breaker dengan kekuatan Dragon King Vritra setelah semua pecahan rohnya disinkronkan. Kekuatan Vritra jauh dibawah Ddraig, bahkan terlemah diantara lima raja Naga. Namun dari segi variasi teknik, naga hitam itu paling unggul. Kecocokannya yang sangat tinggi dengan kejeniusan Sona dan kemampuannya yang masih misteri, tentu sangat memberatkan kita. Meski informasi ini belum dikonfirmasi kebenarannya, tapi tetap saja harus kita diwaspadai?"

Vritra tidak memiliki serangan besar sebagai pembunuh, tapi serangannya akan menuju langsung pada aspek sampingan yang dapat menurunkan pondasi kekuatan utama lawannya. Ibarat kata, ada sebuah bangunan pencakar langit, Ddraig mempunyai kekuatan untuk merobohkan tiang utama sehingga bangunan kokoh itu akan hancur dalam sekali serang. Sedangkan Vritra tidak memiliki kekuatan itu, tapi mampu mencari dan menemukan suatu tiang yang tidak termasuk tiang utama namun perannya cukup vital, lalu merusaknya sehingga keseimbangan bangunan akan terganggu. Meski bangunan tidak langsung roboh, namun ketika dihantam oleh angin, maka bangunan itu akan roboh juga pada akhirnya.

Begitulah perbedaan aspek antara Ddraig dan Vritra.

Xenovia bertopang dagu, mengingat lagi kenangannya yang telah lampau. "Saat itu, ketika orang bernama Euclid menyerang sekolah dan membawa pasukan penyihir, Sona kaichou lah yang memimpin kami. Kepiawannya memimpin dan mengatur bawahan dalam pertarungan sangat hebat, belum lagi kontrol emosi serta level ketenangannya yang sangat stabil. Seolah dia mampu melihat kemenangan sejak pertarungan dimulai."

Rias menatap Xenovia lekat namun sejurus kemudian dia mengangguk. Benar apa yang dikatakan budaknya. Tapi...

"Tapi kau juga hebat, Buchou. Jika situasinya terdesak, dan selalu tak terduga hasilnya." Xenovia berkata dengan canggung.

Itu tidak dapat di pungkiri, memang begitulah ciri khas tim Gremory.

Akeno mengemukakan pendapatnya, "Hal buruknya, Sona kaichou pasti mengetahui detail bagaimana kemampuan tim kita. Kekuatan baru Issei, serta kekuatan kita semua. Jadi pasti dia sudah melakukan analis hingga menemukan strategi jitu. Sona kaichou juga pasti merencanakan sesuatu untuk mengatasi Ascalon dan replika Pedang Iblis Gram yang merugikan Saji-kun sebagai pemilik kekuatan naga."

"Ya, itu benar." ujar Rias menimpali. "Tapi selain Saji-kun, tidak ada lagi budak Sona yang mengalami peningkatan kekuatan. Tsubaki Shinra, Momo Hanakai, Reya Kusaka, Tomoe Meguri, Tsubasa Yura, dan Ruruko Nimura. Tidak ada perkembangan signifikan dari enam orang itu. Mungkin saja kekuatan mereka meningkat dari sebelumnya hasil dari latihan, tapi tidak menunjukkan adanya bentuk kekuatan baru. Loup Garou alias Rugal-san, peranakan campuran antara manusia serigala dengan wanita penyihir, serta Bennia si demigod putri Orcus Sang Grim Reaper kelas tinggi di Neraka. Kekuatan keduanya sudah pernah kita lihat saat di Rumania. Yang jelas, Saji-kun lah yang harus kita waspadai. Mungkin dia kartu truff Sona untuk menang."

"Bagaimana dengan Sona-kaichou sendiri, Buchou?" tanya Issei.

"Entahlah. Aku tidak yakin dia sama seperti dulu. Dia iblis pengendali air biasa, tak mungkin dia memiliki pengendalian es seperti Serafall-sama. Tapi juga tak menutup kemungkinan dia menyimpan serangan pamungkas, seperti kekuatan Bintang Pemusnah milikku."

Sebenarnya jika ditilik ke belakang, ada alasan simpel kenapa perkembangan kekuatan Tim Sona dan Tim Rias berbeda jauh selama empat bulan ini. Itu disebabkan sejak terbentuk Aliansi Tiga Fraksi dan Pakta Kuoh ditanda tangani, Azazel menjadikan dirinya sebagai penasehat tim Rias. Dia yang seorang ilmuan dibidang Sacred Gear, tentu mampu meningkatkan output tim Rias. Sedangkan tim Sona, tampak menjaga jarak dengan Azazel, bahkan terkesan menutup diri dengan keluarga sendiri semenjak memiliki dua budak cadangan, Naruto dan Hinata.

Kesimpulannya, dua tim itu sudah berbeda jalan sejak lama, bukan hanya sejak insiden pemukulan Issei oleh Naruto.

Rencana strategi berlanjut, menit demi menit terlewati dengan banyak taktik yang diperoleh.

Selesai membahas strategi, suasana tim tiba-tiba menjadi canggung.

Rias yakin mereka semua memikirkan hal yang sama. Dia mulai berjalan melangkah keluar dari kamar Issei, "Apa kalian masih memikirkan Naruto-san?"

Tidak ada jawaban maupun anggukan. Diam tanda setuju.

Rias berhenti ketika tangannya menyentuh knop pintu. Tanpa berbalik badan ia melanjutkan ucapannya, "Aku tidak tahu apa alasan dia pribadi sehingga tidak ikut. Tadi, Sona hanya mengatakan apa yang ada dikepalanya. Issei, apa kau ingin bertarung melawannya?"

"Ya, Buchou." Issei menjawab dengan bersemangat. "Saat itu, aku akui kalau aku yang salah. Tapi aku ingin memiliki kesempatan melawannya tanpa perasaan lain selain hasrat bertarung."

"Hu'um. Aku juga, aku ingin melawan tim Sona lengkap dengan kedua budak cadangannya itu tanpa ada masalah yang membayangi. Tapi..."

"Kupikir Naruto senpai dan Hinata senpai memiliki suatu tujuan terselubung."

Ucapan yang keluar dari mulut Koneko sontak membuat semua orang menatapnya. Tak terduga sama sekali kalau kalimat itu akan keluar disaat-saat seperti ini. Apa Uzumaki Naruto dan istrinya itu sepasang penjahat?

Koneko jadi bingung sendiri lalu menatap ke langit-langit kamar. "Hanya firasatku saja."

Tak ada yang bicara lagi, setiap orang di sana merasakan perasaan campur aduk dalam hati. Sesaat kemudian mereka pun keluar ruangan, bersiap untuk pertarungan yang telah menunggu di depan mata.

Yang jelas, bagi Koneko yang telah mengetahui identitas asli dari Naruto dan Hinata, mungkin terdapat maksud tertentu di balik apa yang dia katakan barusan pada teman-temannya.

.

Pertandingan sudah dimulai sejak tiga menit lalu. Tim Rias sudah keluar dari markas, kini mereka berada dihalaman depan Hyoudou Residence.

Inilah yang direncanakan Rias.

Penyerang akan dibagi menjadi tiga bagian, jalur tengah, sayap kiri dan sayap kanan. Issei akan melaju di jalur tengah sendirian, ia dipercaya melakukan ini. Mungkin akan berbahaya meski menggunakan balance breaker, tetapi Issei dibekali bidak pion berkemampuan khusus yang pernah disetting langsung oleh Maou Ajuka, Illegal Move Triaina, yakni metode promosi khusus tanpa perlu mencapai wilayah musuh dan ijin dari King. Dia akan merengsek pelan sambil menghancurkan apapun dengan mode Welsh Dragonic Rook, mode untuk serangan frontal. Tak satupun dari tim Sona yang memiliki serangan untuk menembus pertahanan Issei dalam mode ini. Issei harus berjalan sampai ke tengah arena, Akademi Kuoh.

Sayap kanan akan diisi oleh Koneko dan Kiba. Koneko sebagai penyerang utama, dengan Kiba sebagai tipe teknik untuk mengantisipasi serangan balik yang membahayakan Koneko. Sedangkan sayap kiri oleh Xenovia dan Rossweisse. Xenovia didepan sebagai tipe kekuatan berkecepatan tinggi dan Rossweisse sebagai support serangan jarak jauh dengan sihir berbagai atribut.

Selain sebagai penyerang, kedua sayap ini juga untuk memecah konsentrasi Tim Sona. Jika berhasil, Issei yang sudah berada di tengah arena, akan melakukan perubahan mode promosi menjadi Welsh Sonic Boost Knight. Armor akan menjadi sangat tipis, namun kecepatan meningkat tajam. Dengan kecepatan yang tak satupun dari tim Sona yang mampu mengejar, Issei akan melaju lurus ke area musuh, melakukan promosi menjadi Ratu lalu kembali secepat guntur ke tengah arena, Akademi Kuoh.

Gasper masih ditugaskan sebagai pengintai untuk mengecek setiap area yang tak tercapai jalur serangan agar tidak ada yang lolos ke wilayahnya. Rias, dibantu Akeno dan Asia akan berjaga di depan markas sebagai garis paling belakang yang akan menahan jika Saji atau Ruruko berhasil menembus garis depan untuk melakukan promisi. Akan semakin berbahaya jika Saji dengan balance breakernya melakukan promosi.

Jika Issei sudah berpromosi menjadi Ratu, lalu bertransformasi ke mode True Queen Cardinal Crimson Full Drive, maka garis belakang akan maju menyusul ke titik Issei berada. Untuk kemudian semua anggota tim bersama-sama melakukan serangan penghabisan. Tidak ada lagi yang perlu ditakutkan dari serangan balik Tim Sona jika Issei sudah berpromosi menjadi ratu.

Sebut saja itu taktik menyisir, yang mana setiap area tak akan terlewatkan oleh kelompok Gremory. Dengan strategi ini, tim Sona dipaksa untuk berkumpul kedalam satu titik agar bisa dihabisi dengan satu serangan gabungan.

Strategi sempurna. Ya, saking sempurnanya sehingga sangat mudah terbaca.

Pasti Sona sudah memperkirakan itu sebagai strategi yang paling mungkin digunakan oleh Rias.

Namun disini, Rias melakukan pertaruhan. Tim Sona adalah tim tipe teknik dengan serangan balik terkoordinir, sedangkan Tim Rias memiliki ciri menyerang frontal, terobos kedepan dengan optimisme tinggi. Rias bertaruh akan keunggulan timnya.

Pertanyaannya adalah ...

Apakah Sona memiliki strategi jitu dengan serangan balik untuk menggagalkan taktik Rias?

Semuanya dipertaruhkan pada satu pertanyaan itu.

Namun kenyataannya.

Kenyataan di lapangan sangat jauh berbeda.

Sangat sangat sangaaaaat jauh berbeda.

Belum seberapa menit, bahkan belum sampai penyerang garis depan Tim Rias melangkahkan kaki keluar dari markas, sebuah serangan sudah datang di depan mata.

Sesosok tubuh kecil bergerak dengan kecepatan tinggi, meninggalkan bayangan hitam dengan outline biru. Melaju di jalan kota yang sangat lebar, lurus menuju titik dimana markas tim Rias berada.

Jaraknya mungkin masih lebih dari satu kilometer. Namun bisa terlihat jelas karena mereka semua iblis dengan indra penglihatan melebihi manusia biasa.

Rias panik.

Panik.

Sama sekali tak terduga.

Semua dugaan Rias patah hanya dengan ini, Tim Sona yang terspesialisasi dalam hal teknik dan serangan balik, malah melakukan serangan frontal di menit-menit awal. Sesuatu yang mustahil menurut logikanya.

"Itu Bennia-chan." seru Akeno.

Issei tidak bisa berdiam saja, "Welsh Dragon Balance Break! Boosted Gear Scale Mail"

Ia langsung merilis armor balance breaker biasa. Tanpa perlu promosi, ia bisa sesukanya bertranformasi seperti ini.

Dragon Shot

Issei langsung menembakkan aura naga berwarna hijau dari tangan kiri. Dia berniat menjatuhkan Bennia sebelum mencapai tempat mereka berada.

Semuanya tahu, tindakan yang diambil Issei sangat tepat. Suatu keajaiban otak siputnya bekerja cepat.

Blaasssstt..

Dragon shot dari Issei terbalah menjadi dua akibat tebasan dari sabit hitam Bennia. Kekuatannya sebagai mid-level Grim Reaper cukup untuk membuat sabitnya tajam sehingga mampu membelah dragon shot. Si gadis SMP itu terus melaju dengan kecepatan yang tak berkurang sedikitpun.

Issei perlu kekuatan ekstra untuk merobohkan Bennia, tapi itu tidak bisa dilakukan dengan mode balance breaker biasa, harus mode lebih tinggi atau perlu boost beberapa kali sebelum dragon shot ditembakkan. Namun perlu waktu melakukan boost, Bennia keburu sampai diposisi mereka kalau memilih opsi itu.

Rias dan lainnya, tak satupun bisa menebak apa rencana Sona dengan melakukan serangan pembukaan secara terang-terangan oleh Bennia ini.

Giliran Xenovia dan Kiba yang menghadang. Kiba merilis Pedang Suci Iblis, sedangkan Xenovia mengeluarkan Ex-Durandal dari sarungnya.

Shinggg...

Secara bersamaan, mereka melepaskan sabetan aura suci berenergi tinggi menuju Bennia. Kekuatannya besar, pasti cukup untuk mematahkan sabit hitam itu, tapi diatur agar jangkauan serang tidak terlalu jauh.

Shuu!

Bennia membelah diri menjadi dua sehingga serangan Kiba dan Xenovia lewat ditengahnya sembari meninggalkan parit dalam di aspal jalan. Bukan membelah diri, tapi itu adalah kemampuannya untuk menciptakan bayangan sehingga lawan akan sulit menargetkan dirinya yang asli.

"Aku juga tidak akan diam!"

Rossweisse berkata setelah ia menciptakan lima lingkaran sihir di udara. Peluru-peluru sihir dari lima macam atribut dilesakkan dan menghujani area yang dilalui Bennia.

Namun serangan Rossweisse tidak memberikan hasil. Bennia menduplikasi diri berkali-kali menjadi lebih banyak lagi hingga jumlahnya ada puluhan. Membuat Rossweisse kesulitan menentukan target.

Beberapa bayangan hancur, tapi diganti dengan bayangan baru. Tampak kalau Bennia yang asli sangat pandai menyembunyikan diri diantara bayangan.

"Kalau tidak bisa dari jauh, aku akan melawannya secara langsung."

"Aku ikut!" Xenovia berseru setelah Kiba.

Dua bidak Knight Rias melaju cepat untuk memblok laju Bennia.

"Hati-hati! jangan sampai terkena sabitnya."

Rias masih ingat betapa bahayanya sabit Grim Reaper. Itu tak akan melukai, namun akan mengikis umur setiap orang yang ditebasnya sampai habis.

2 Knights Vs 1 Knight

Tim Rias menang jumlah. Dari segi kecepatan dan teknik, Kiba mengungguli Bennia. Xenovia pun dalam hal kekuatan juga lebih hebat dari Bennia.

Bennia sangat dirugikan, tapi ia terus melaju.

Ini adalah tugasnya, dan ia akan melaksanakan sampai selesai.

Prankk!

Clash clang!

Terdengar riuh dentingan logam yang saling beradu. Satu persatu bayangan Bennia berhasil dilenyapkan oleh Kiba dan Xenovia.

Namun Bennia terus menduplikasi dirinya seolah tak berkesudahan.

Perlahan namun pasti, meski gerakan Bennia melambat, tapi ia masih merengsek maju ke dalam wilayah Tim Rias.

"Dia yang asli!"

Akeno berteriak sembari menunjuk satu sosok tubuh yang berlari di tembok sisi jalan.

Bennia yang asli semakin dekat dengan posisi Rias.

Kiba dan Xenovia berbalik mundur untuk mengejar, sedangkan Akeno mempersiapkan serangan halilintarnya.

Sungguh, Game baru mulai tapi tim Rias sudah dibuat kocar-kacir, bahkan hanya dengan satu orang dari Tim Sona.

Bennia bergerak semakin cepat.

Issei bergerak maju, memunggungi Rias. Ya, karena Bennia bergerak menuju Rias.

Apa Bennia berniat menjatuhkan Rias dengan satu serangan? Itu mungkin saja, sebab jika Rias roboh, artinya kekalahan mutlak bagi Tim Gremory.

Issei mempersiapkan tinju di tangan kiri. Lengan ditekuk kebelakang sementara kaki membentuk kuda-kuda.

Tapi...

Sesaat sebelum mencapai Issei, Bennia berbelok ke samping, melewati Issei dan Rias lalu...

Pyaarrrrr

...menabrakkan dirinya pada pintu depan Hyoudou Residen yang terbuat dari kaca.

Rias dan semua budaknya terdiam dengan mulut menganga.

Apa maksudnya tadi?

Apa Bennia datang menyerang hanya untuk menabrakkan diri ke pintu?

Bennia berdiri dan membersihkan puing-puing serta debu yang menempel dipakaiannya. Dia menerima cukup banyak luka, bukan hanya akibat menabrakkan diri, tapi juga akibat serangan beruntun dari budak Rias saat dia melaju sendirian tadi.

Si gadis SMP itu tertawa sambil senyum cengengesan, "Eheheeee, maaf mengejutkan kalian."

Belum sempat Rias dan lainnya menutup mulut karena terkejut, Bennia berseru.

"Change position!"

Dibawah kaki Bennia bersinar sebuah lingkaran sihir berwarna biru.

Dalam sekejap dari cahaya meyilaukan, Bennia telah bertukar dengan sesosok laki-laki.

"Saji!" Issei sedikit berteriak manakala membuka mata dan mengetahui teman seperjuangannya telah bertukar dengan Bennia.

Yang tadi adalah teknik sihir teleportasi pertukaran. Dua tubuh yang terpisah jarak berjauhan bertukar posisi secara instan, kemampuan khusus yang dimiliki Grim Reaper Bennia.

"Maaf Issei, tapi aku harus melakukan ini." Saji berkata ramah. "Promosi ke Ratu + Balance Break!"

Persyaratan terpenuhi, promosi bidak pion tim Sona menjadi Ratu telah dikonfirmasi.

Terdengar suara pengumunan di seluruh arena.

Jadi tujuan Bennia melaju kedepan bukan untuk menyerang, tetapi agar Saji mendapatkan kesempatan melakukan promosi.

Taktik Sona memang tak bisa diduga.

Namun nyatanya, tidak ada perubahan sama sekali pada Saji. Dia masih berwujud manusia dengan seragam sekolah. Juga ada pita di pergelangan tangan tanda bahwa dia anggota OSIS.

"Saji, kau?" Issei nampak kebingungan.

"Yah, ini sama seperti kau dulu, Issei. Aku masih baru dalam Balance Breaker, jadi perlu hitungan waktu agar bisa bertransformasi. Transromasiku kedalam bentuk armor perlu waktu 90 detik."

"Ini kesempatan kita! Serang dia sebelum bertransformasi!" Rias berseru lantang setelah menyadari kelemahan Saji.

"Maaf, Rias-sama. Aku menunggu pertarungan dengan Issei satu lawan satu. Aku tunggu di halaman depan sekolah. Sampai jumpa..."

Dan sekejap, Saji pun di transfer kembali ke belakang, bertukar lagi dengan Bennia.

Sambil tertawa senang, Bennia berkata "Tugasku selesai. Saji senpai sudah melakukan promosi."

Rias mengerti, Sona mengorbankan bidak Kuda-nya yang berharga hanya agar Saji bertransformasi menjadi Ratu. Sungguh keputusan yang berani, apalagi mengingat sistem penilaian Fase Grup Rating Game yang didasarkan pada point tersisa sebagai penentu lolos tidaknya fase ini. Mengorbankan bidak itu harus dipikirkan dengan matang, tidak bisa sembarangan. Kehilangan satu kuda, artinya Sona sudah membuang 3 point.

Rias mengangkat wajah dengan ekspresi angkuh, "Siapapun, habisi gadis nakal itu!"

Atas perintah itu, Issei, Kiba, Xenovia, Rossweisse, dan Akeno mempersiapkan serangan masing-masing.

"Opss, tunggu dulu. Aku tidak mau badanku terluka, jadi aku menyerah. Bye bye!"

Tubuh Bennia pun berubah menjadi serpihan cahaya putih, ia ditransfer keluar arena.

Satu Bidak Knight Sona Sitri-sama, telah gugur dari Game.

Pengumunan yang diucapkan Grayfia, menandakan bahwa permainan benar-benar dimulai.

Strategi yang dipikirkan Rias dan lainnya dengan susah payah, nyatanya menjadi tak berguna setelah dihempas oleh kejutan yang diberikan Sona.

Issei mengangkat tangannya, bersuara pertama kali memecah kebuntuan tim. "Buchou, kurasa aku harus ke area sekolah sekarang. Saji menungguku disana. Aku mengerti dari tatapan matanya, dia sungguh-sungguh ingin bertarung denganku. Aku yakin Sona kaichou juga menyiapkan kesempatan ini sebaik-baiknya demi Saji dan dia tak akan menggunakan dengan taktik licik. Ini murni urusanku dengan Saji. Jadi..."

"Pergilah!." ucap Rias.

Issei pun melangkah pergi sendirian setelah mendapat ijin dari Rias. Butuh waktu sekitar 90 detik lebih terbang dengan armor Scale Mail. Saat tiba disana, Saji pasti sudah siap tempur dengan kekuatan barunya.

Sesaat kemudian, puluhan kelelawar berkumpul menjadi satu lalu berubah menjadi sesosok tubuh. Itu Gasper.

"Buchou, aku ingin menyampaikan laporan. Semua anggota budak Sona Kaichou telah menyebar ke berbagai tempat. Mereka bergerak terang-terangan. Aku bisa memberikan informasi lokasi mereka semua secara tepat."

Atas laporan Gasper, Rias positif dengan keputusan barunya.

"Stretegi diubah. Batalkan strategi menyisir, gunakan strategi berburu. Kita yang akan berburu, dan mereka buruan kita. Aku tak menduga sama sekali, Sona akan menantangku dengan pertarungan frontal terang-terangan."

Akeno coba menegur, "Buchou, apa ini tidak apa-apa? Bisa saja ini tipuan kan? Kau jangan terbawa emosi."

"Tidak Akeno!" bantah Rias. "Sona lah yang menginginkannya. Mereka jual, kita beli!"

.

Kuoh Gakuen, Issei telah sampai di sana.

Didepan matanya, Saji telah menunggu sambil duduk santai ditepian air mancur halaman depan sekolah.

Saji berdiri dan aura hitam mulai tampak menguar dari tubuhnya. Tampaknya hitung mundur pengaktifan Balance Breaker akan segera habis.

Issei mendarat di tanah tanpa melepaskan armor Boosted Gear Scale Mail.

"Aku ingin menjadi sepertimu, Issei."

"Apa maksud ucapanmu, Saji?"

"Kau dan aku adalah prajurit. Kita memulai dari tempat yang sama, menjadi iblis diwaktu yang bersamaan."

Aura hitam yang menyelimuti tubuh Saji semakin pekat hingga lebih menyerupai api.

Saji melanjutkan kata-katanya, "Aku ingin menjadi seorang laki-laki sepertimu yang kuat dan yang menjadi tumpuan banyak orang. Kau terus melangkah maju dan semakin kuat sedangkan aku tertinggal di belakang. Aku bisa maju meski hanya selangkah, tapi kau telah maju sepuluh dan seratus langkah didepanku. Hingga aku mulai berpikir kalau aku tidak akan pernah dapat melebihimu, Issei. Aku menjadi frustasi akan diriku sendiri."

Semangat bertarung yang berapi-api mulai tampak jelas di mata Saji.

"Aku benar-benar tidak bisa menjadi seperti dirimu. Tapi ada sesuatu yang bisa aku lakukan. Aku menemukan sesuatu yang dapat aku lakukan dengan diriku."

Saji berteriak dari hatinya yang paling dalam.

"Aku…..! Aku akan menjadi seorang guru. Aku ingin terus berada disamping Kaichou, meski impian kami ditertawakan bahkan dianggap tidak ada."

Issei mengerti. Apa yang dirasakan Saji, sama dengan bagaimana perasaan Sona ketika berbicara dengan Rias sebelum Game dimulai.

Tim Sitri, berniat membuktikan bahwa mereka tidak bisa dipandang sebelah mata lagi, sejak saat ini. Bagaimanapun, impian mereka akan menjadi nyata.

Tapi Issei juga memikul impian Rias di pundaknya. Rias bermimpi menjadi juara Rating Game, dan pada moment inilah impian itu akan diwujudkan.

Ketika dua impian beradu, yang menentukan impian siapa yang akan terus melangkah bukanlah kekuatan, akan tetapi seberapa besar api yang membakar tekad dan semangat pemiliknya.

Disamping Saji, seekor ular raksasa hitam muncul.

Itu Raja Naga Vritra.

"Maaf kau harus menunggu, separuh diriku yang lain."

"Tak masalah Vritra. Untuk transformasi kita yang pertama kali, wajar kalau kau membutuhkan waktu lama mempersiapkan diri di dalam inti kesadaran Sacred Gear.

Vritra tersenyum tanpa rasa takut sambil mendapati matanya bersinar pada kata-kata Saji.

"Sepertinya kau telah tumbuh dewasa cukup banyak ketika aku sedang pergi jauh sebentar. Saran yang diucapkan rubah dari dunia lain itu sangat membantu."

"Ya, kita harus berterima kasih pada Naruto-senpai. Ini terasa seperti aku bisa melakukannya sekarang."

Aura hitam kian padat membungkus tubuh Saji dan Vritra hingga tak bisa dilihat oleh orang diluarnya. Itu aura yang muncul ketika seseorang akan mengaktifkan Sacred Gear, persis seperti ketika Issei ingin mengenakan armor Boosted Gear Scale Mail.

Vritra melolong.

"Ddraaaaaaaiiiigg!, Buktikan kalau dirimu pantas disebut Naga Surgawi dengan mengalahkanku!"

"Ya. Ayo kita lakukan bersama, Vritra! Aku yakin telah membuang waktu dalam mencapainya, tapi aku bisa melakukannya sekarang.Issei, inilah perwujudan nyata dari impianku. Bisakah kau meruntuhkannya?"

"Sekarang, ayo tunjukkan padaSekiryutei! Kekuatan api kejamku yang membuatku disebut sebagai Prison Dragon!"

Aura hitam memadat mengambil bentuk seperti bola.

Irregular Balance Break!

Aura hitam meledak. Sosok yang muncul adalah Saji yang berselimutkan armor berwarna hitam pekat. Ia memiliki tentakel yang tumbuh keluar dari armornya dan padanya terdapat api hitam pekat yang membara. Saji dan Vritra telah bergabung menjadi satu.

Suara Saji yang bercampur dengan suara Vritra menggema sepanjang kompleks sekolah.

"Fusion, Malebolge Vritra Promotion".

Malebolge. Itu adalah nama lantai, satu lantai dibawah lantai terdalam di dasar Neraka. Tempat itu dikatakan sebagai tempat dimana mereka yang memiliki pikiran jahat dan memutuskan untuk berbuat dosa dikirimkan kesana.

"Ddraig, bagaimana denganmu?" Issei bicara dengan mutiara di gauntlet tangan kirinya.

"Memangnya apa lagi, partner? Tentu saja kan, kita akan menerobos kedepan dan menjatuhkan Vritra."

"Itu lah kita, Sekiryutei. Naga Surgawi tidak mungkin kalah dari Raja Naga."

Sebelum Issei merengsek maju untuk menyerang, langkahnya dihentikan oleh suara Saji.

"Sekiryutei, kau yakin bisa mengalahkanku hanya dengan wujud itu?"

"Eh, kita sama-sama dalam mode balance breaker. Jadi dimana salahnya?"

"Bukan kau yang salah, aku ingin melawanmu dalam kekuatan penuh."

Saji mengangkat tangannya lurus ke arah selatan seperti sedang mempersilahkan orang lain untuk lewat.

"Markas kami kosong, kesana lah dulu. Lakukan promosi ke bentuk crimson, lalu kembali kemari, dan kita bertarung sampai puas. Oke!"

Errr, ini sedikit lucu. Jadi Issei singgah sesaat halaman Kuoh Gakuen hanya untuk melihat proses transformasi Balance Breaker Saji?

Issei tersenyum senang, "Baiklah. Mari kita lakukan sepuasnya, jadi tunggu aku sebentar."

Issei pun terbang lagi dengan armor balance breaker Scale Mailnya menuju markas Tim Sona di selatan Kota Kuoh. Disana ia berpromosi ke bidak Ratu, bertransformasi menjadi mode True Queen.

Ketika kembali ke tempat Saji menunggu, Issei sudah siap tempur dengan Armor Cardinal Crimson Full Drive.

Setelah mendarat, Issei disuguhi pemandangan dimana Saji sudah menyiapkan serangannya.

"Issei, aku serius. Kami benar-benar akan mengalahkan kalian, Sekiryuutei."

Mata Saji terisi penuh oleh keyakinan kuat, bukti bahwa keseriusannya sangat besar.

Dalam satu kali tarikan nafas dalam, bagian dada menggembung untuk sesaat dikeluarkan kembali dalam bentuk hebusan api hitam yang besar.

Mata Issei terbelalak, api hitam Vritra bukan untuk membakar, tapi menyegel targetnya dalam kutukan jahat. Itu lebih berbahaya.

Dengan cara yang sama, Issei menghadapi serangan Saji. Ia menghembuskan nafas api yang tak kalah besar.

Swwooosshh...

Dua gelombang api berbeda warna beradu, saling hantam di tengah-tengah hingga merembes ke samping dan membakar sebagian area sekolah.

Dari balik api yang membara itu, tiba-tiba melesat peluru sihir berbagai atribut yang menerobos kobaran api.

Namun bagi Issei, serangan seperti itu tidak cukup untuk menjatuhkannya.

Don!

Issei menepisnya dengan mudah, armor crimsonnya bahkan tak mendapat goresan.

Hanya saja, Issei sangat heran. Saji sama buruk dengan dirinya dalam hal sihir. Akan wajar kalau serangan yang diluncurkan adalah serangan tipe naga seperti menghembuskan nafas api, namun bagaimana bisa Saji meluncurkan serangan sihir macam tadi?

Moment ketika kobaran api menipis, Issei dibuat terkejut dengan apa yang ia lihat. Ada tiga untai tentakel dari armor hitam Vritra yang terhubung ke area dada, tepatnya ke jantung.

Bisa dipastikan, serangan sihir yang tadi berasal dari inti kehidupannya.

"Saji! Kau!? Apa kau mengubah energi kehidupanmu sendiri menjadi kekuatan sihir!?"

"Itu benar. Dengan kemampuanku yang payah, hanya ini cara bagiku untuk menembakkan serangan sihir. Lagipula aku tidak bisa mengandalkan Vritra saja untuk mengalahkan Sekiryutei. Aku mengubah energi kehidupanku menjadi energi sihir memakai kemampuan Sacred Gearku. Seperti yang kau lihat, aku 'Mengorbankan Nyawaku' disini."

"Apa kau benar benar berniat mati...!?"

Saji tersenyum dengan ekspresi serius.

"Ya, aku berniat untuk mati. Aku berniat mengalahkanmu dengan niat mati. Apa kau memahami frustasi kami, dimana impian kami ditertawakan!? Apa kau paham betapa kerasnya kami mempercayai impian kami!? Pertarungan ini tengah disiarkan di seluruh Underworld. Kami harus menunjukkan keseriusan kelompok Sitri di depan orang-orang yang mentertawakan kami. Camkan itu didalam hatimu!"

Issei dipaksa bungkam. Melawan orang jahat yang sangat kuat ia pasti sanggup, tetapi melawan orang yang lebih lemah namun dengan didasari tekad kuat, apalagi teman sendiri, itu lain ceritanya. Ini bukan lagi perihal menang atau kalah, tetapi demi menunjukkan impian siapa yang lebih pantas diwujudkan.

.

Kembali ke ruang VIP, tempat berkumpul para petinggi Aliansi untuk menonton pertandingan. Ada Sirzech Lucifer, Serafall Leviathan, Ajuka Beelzebub, Azazel, Michael dan Gabriel. Plus keberadaan Uzumaki Naruto dan Uzumaki Hinata disana, tentu dengan alasan khusus.

Pertandingan sudah berlangsung cukup lama. Semua orang disana menonton dengan khusu', duduk di tempat masing-masing yang nyaman dan mewah. Tiga pelayan baru saja pergi setelah mengantarkan minuman.

Sudah tiga bidak Sona Sitri yang dijatuhkan. Pertama Kuda Bennia si Grim Reaper, lalu Pion Ruruko Nimura, dan Peluncur Momo Hanakai.

Kemudian terdengar lagi pengumuman yang diucapkan Grayfia selaku wasit.

'Dua Benteng Sona Sitri-sama tidak bisa melanjutkan pertandingan.'

Artinya Sona telah kehilangan Rugal dan Tsubasa Yura.

Sirzech berkomentar, "Hasil ini sudah diprediksi jika Sona melakukan pertempuran langsung."

Azazel menimpali, "Ya, itu pasti. Tapi aku masih belum bisa memahami tujuan Sona. Apa yang sebenarnya ingin dia capai dengan taktik ini. Ini sama sekali bukan mereka."

Belum seberapa lama, ada lagi pengumuman yang diperdengarkan keseluruh arena pertandingan dan para penonton.

"Peluncur kedua Sona Sitri sama keluar arena. Selanjutnya kuda kedua Sona Sitri juga ditransfer keluar akibat luka fatal."

Itu Reya Kusaka dan Tomoe Meguri. Budak Sona dijatuhkan satu persatu dengan cepat.

"Emmm, aku tidak mengerti kenapa Sona-tan membiarkan timnya dijadikan buruan begitu?" gumam Serafall.

Lagi, Grayfia mengumumkan hasil pertarungan. Kali ini yang gugur adalah ...

"Ratu dari Gremory berhasil mengalahkan Ratu Sitri dalam pertandingan kekuatan murni satu lawan satu.'

Tsubaki Shinra telah di kalahkan. Artinya hanya menyisakan Saji yang masih bertarung habis-habisan dengan Issei. Serta Sona, King Sitri yang entah menunggu di lokasi mana.

Naruto berdiri dari duduknya lalu menggeliat sekali. Ia menoleh ke arah istrinya. "Euuuh, sudah selesai. Saatnya kita pergi, ayo Hinata.!"

"Ha'i, Naruto-kun."

Hinata menyambut uluran tangan suaminya lalu ikut berdiri.

"Mau kemana kalian? Pertandingan belum selesai." seru Ajuka.

" Tidak, pemenangnya sudah pasti." sahut Naruto.

Sebenarnya suasana didalam ruangan ini sulit dideskripsikan. Bagaimana tidak? Hubungan antar mereka sama sekali tidak jelas, dimulut mungkin mereka sepakat berdamai setelah Naruto mengajukan diri sebagai mediator agar Aliansi dan Konoha bisa melakukan negosiasi. Namun dalam pikiran masing-masing, sama sekali tidak ada kepercayaan yang bisa di pegang.

Serafall lebih banyak diam, sekarang pun dia fokus pada pertandingan Rating Game yang masih berlangsung. Gabriel tampak menaruh rasa penasaran yang sangat besar pada sosok Hinata, ia masih belum percaya dirinya dikalahkan dengan begitu mudah. Sementara itu empat petinggi laki-laki yang tersisa, menunjukkan sikap yang lebih menerima akan keberadaan Naruto didekat mereka.

"Pasti? Rias?" Sirzech membeo.

"Bukan, kemenangan untuk Sona-san." sanggah Naruto.

Serafall tampak sedikit terkejut, seperti baru saja menyadari sesuatu. "Jangan bilang kalau..."

"Ya, sejak awal Sona-san mengincar itu." ucap Hinata.

"Mustahil!" pekik Serafall.

"Tidak ada yang mustahil, Sefarall-sama. Kami mengajari adikmu keberanian untuk bertaruh dengan resiko besar. Terlalu berpangku pada perhitungan rumit tidak akan memberi hasil memuaskan."

Tim Rias adalah tim yang sulit diprediksi, dan nyatanya sekarang tim sitri yang selama ini sangat penuh perhitungan sehingga bisa dibaca, sekarang jadi sangat tak terduga. Anggap saja itu adalah pengaruh akibat terlalu banyak bergaul dengan seorang ninja paling mengejutkan dan tak bisa diprediksi nomor satu di Konoha.

"Huh, mengajari?" Sirzech memalingkan muka menatap Hinata yang baru saja menyebutkan kata-kata janggal dipikirannya.

Naruto tersenyum ramah, "Begitulah cara kami menyusup ke fraksi iblis. Kalian semua pasti sudah tahu kalau tidak ada yang namanya bidak cadangan Pion Ekstra dalam Evil Piece. Sona-san membohongi kalian. Motifnya hanya untuk mendapat kekuatan tambahan dalam tim. Tapi dia masih bocah polos yang tak tahu apa-apa, keegoisannya akan kekuatan membuatnya buta untuk menyadari siapa kami sebenarnya. Kepercayaan yang dia berikan, kami manfaatkan untuk kepentingan pribadi."

Naruto sedikit mendramatisir kebohongannya sebagai penyusup. Dia mengatakan ini agar posisi Sona seperti orang bodoh yang tak perlu dicurigai. Meski kecil kemungkinan para petinggi berpikiran bahwa Sona berkhianat, tapi ini dia lakukan untuk lebih memperkecil kemungkinan itu.

Naruto menghela nafas, lalu melanjutkan ucapannya.

"Sudahlah. Ada sesuatu yang harus kami urus. Kami mohon pamit."

Tanpa menunggu jawaban, Naruto melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dengan menggandeng Hinata. Ia merasa bisa seenaknya di sini. Tak ada yang perlu ia takutkan. Semua petinggi sudah mengakui kekuatannya dan istrinya.

"Berhenti!" seruan Sirzech memaksa Naruto menghentikan langkahnya.

"Selama kalian berada disini, kalian dalam pengawasan kami."

"Huuuffft." Naruto membuang nafas lelah. "Apa kalian berpikir bisa memaksa kami huh?"

Pertanyaan balik Naruto tak bisa dijawab oleh Sirzech.

Naruto mencoba bersikap kooperatif, "Oke, aku paham kalau kalian masih belum bisa mempercayai kami. Begini saja, aku berikan sesuatu untuk meyakinkan kalian. Aku mendapat informasi bahwa Rizevim menunjukkan tanda-tanda pergerakannya di Underworld setelah terakhir kali menunjukkan diri di Rumania. Jadi aku ingin segera mengejarnya."

Azazel mencoba bernegosiasi, "Rizevim dan tujuannya juga urusan kami, aku ingin mengutus beberapa orang dari Tim DxD untuk ikut."

"Tidak. Membawa banyak orang akan memperlambatku. Lagipula kalian punya hal lain yang lebih penting untuk di urus."

"Apa maksudmu?"

Pertanyaan barusan meluncur mulus dari mulut Serafall.

Hinata yang menjawab, "Selain informasi tentang Rizevim, kami juga mengantongi informasi bahwa golongan Maou Lama dari Khaos Brigade berencana melakukan kudeta saat selama turnamen Rating Game masih berlangsung."

"Jangan bercanda!"

"Aku tidak bohong, kalian tarlalu terlena dengan ambisi membangun Imperium of Bible sehingga melupakan duri didalam daging sendiri. Shalba Beelzebub dan Cruzerey Asmodeus, mereka berdua yang memimpin."

Berita tadi bukan hal baru bagi para petinggi, golongan Maou Lama yang anti pemerintahan saat ini memang masih menyisakan banyak orang dan harus segera dibersihkan. Catherea Leviathan dan pasukannya yang sudah dilenyapkan oleh Azazel saat pertemuan di Kuoh ternyata hanya sebagian saja. Dan informasi kalau golongan itu berencana melakukan kudeta dalam waktu dekat, mau tidak mau harus diberikan tindakan penanganan komprehensif. Urusan dengan Konoha dan Imperium of Bible bisa dikesampingkan sedikit.

Karena tak ada yang menghalangi lagi, Naruto dan Hinata pun melenggang pergi.

Ouuuhh, pasangan suami istru itu ternyata lihai bersilat lidah dan piawai mempermainkan orang lain dalam panggung sandiwara.

.

.

To be Continued...

.

Note :Uh, sudah 66 chapter terlewati yah. Udah lama juga nih FF.

Hm, rating game pertama Sona Vs Rias. Bagaimana menurut kalian?

Aku sebutkan beberapa point penting saja.

Tentang Balance Breaker Saji yang pertama kali di wujudkan. Didalam FF ini, dia bisa mencapai Balance Breaker tidak lepas dari bantuan Naruto. Sama halnya dengan yang Naruto lakukan pada Vali. Mereka sama-sama menyegel monster didalam tubuh. Jadi wajar saja kan?

Kata Naruto, kemenangan ada di tangan Sona. Ada yang bisa memperkirakan taktik apa yang sebenarnya dia jalankan untuk meraih kemenangan, padahal timnya hanya tersisa dua orang saja? Apakah maskud ucapan Serafall bahwa adiknya mengincar 'itu'?

Nah nah nah, kalau kemarin kita melihat pergerakan Konoha dan sekutunya, yang kali ini dibumbui dengan sedikit ancaman teror dari Khaos Brigade. Rating Game tidak akan berjalan semulus yang dibayangkan. Ahahahaaa.

Ulasan Review:

Tentang cerita mitologi dari negeri kita sendiri, Indonesia? Emm, sudah aku pikirkan sih. Rencananya emang mau aku masukkan nanti.

Oke, yang kemarin menyangka kalau NaruHina bakal ikut rating game, sorry ga sesuai harapanmu. Ada pekerjaan penting yang membuat mereka tak bisa ikut dulu. Tapi pasti, NaruHina akan ikut dalam Rating Game saat Tim Sona mendapat lawan yang sangat tangguh.

Ekor 10? Bangkitin ga yaaaa? Ahahaaaa. Lihat saja nanti, Konoha yang sekarang punya dua set bijuu (monster berekor). Satu set ada didalam tubuh Naruto, satu set lagi ada di Konoha yang mana satu hidup bebas (Kyubi Yasaka) dan delapan lainnya di genggaman Sasuke.

Cao Cao, juga Georh dan Leonardo. Mereka belum mati sebab Sacred Gearnya hanya disita oleh Sakra dalam bentuk relic, bukannya di ekstrak seperti si Valerie.

Iya, Reliji Hindu dan Buddha didalam FF ini aku gabungin. Memang lebih menonjolkan bagian Hindu, tapi karena keduanya diceritakan di LN DxD berasal dari akar yang sama makanya aku gabungin biar lebih mudah dikonsep.

Ada yang nanya aku ngambil referensi dari mana aja. Utamanya sih dari LN DxD, sisanya dari database profil chara Naruto dan cerita-cerita mitos dan epos yang kubaca di internet.

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita, sebagian lainnya kubalas lewat PM.

Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.

.

.

.

.