Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Jum'at, 20 Januari 2017

Happy reading . . . . .

.

To The End of The World

Author: Si Hitam

.

Chapter 67: Battle Rating Game, Gremory's Team Vs Sitri's Team Part 2.

-Underworld, Aamon's Territory. At Rating Game's Arena-

"Issei, aku serius! Kami benar-benar akan mengalahkan kalian, Sekiryuutei."

Mata Saji terisi penuh oleh keyakinan kuat, bukti bahwa keseriusannya sangat besar.

Dengan satu kali tarikan nafas dalam, bagian dada armor Saji menggembung untuk sesaat dikeluarkan kembali dalam bentuk embusan api hitam yang besar.

Mata Issei terbelalak, api hitam Vritra bukan hanya untuk membakar, tapi juga menyegel targetnya dalam kutukan jahat. Itu lebih berbahaya.

Menggunakan cara yang sama, Issei menghadapi serangan Saji. Ia mengembuskan nafas api yang tak kalah besar.

Swwooosshh...

Dua gelombang api berbeda warna saling beradu, saling hantam di tengah-tengah hingga merembes ke samping dan membakar sebagian area sekolah.

Dari balik api yang membara itu, tiba-tiba melesat peluru sihir berbagai atribut yang menerobos kobaran api.

Namun bagi Issei, serangan seperti itu tidak cukup untuk menjatuhkannya.

Don!

Issei menepisnya dengan mudah, armor crimsonnya bahkan tak mendapat goresan.

Moment ketika kobaran api menipis, Issei dibuat terkejut dengan apa yang ia lihat. Ada tiga untai tentakel dari armor hitam Vritra yang terhubung ke area dada, tepatnya ke jantung.

Bisa dipastikan, serangan sihir yang tadi berasal dari inti kehidupan.

"Saji! Kau!?"

"Itu benar. Dengan kemampuanku yang payah, hanya ini cara bagiku untuk menembakkan serangan sihir. Lagipula aku tidak bisa mengandalkan Vritra saja untuk mengalahkan Sekiryutei. Aku mengubah energi kehidupanku menjadi energi sihir memakai kemampuan Sacred Gearku. Seperti yang kau lihat, aku 'Mengorbankan Nyawaku' disini."

"Apa kau benar-benar berniat mati...!?"

Saji tersenyum dengan ekspresi serius.

"Ya, aku berniat untuk mati. Aku ingin mengalahkanmu dengan niat mati. Apa kau memahami frustasi kami, dimana impian kami ditertawakan!? Apa kau paham betapa kerasnya kami mempercayai impian kami!? Pertarungan ini tengah disiarkan di seluruh Underworld. Kami harus menunjukkan keseriusan kelompok Sitri di depan orang-orang yang menertawakan kami. Camkan itu di dalam hatimu!"

Issei dipaksa bungkam. Melawan orang jahat yang sangat kuat ia pasti sanggup, tetapi melawan orang yang lebih lemah namun dengan didasari tekad kuat, apalagi teman sendiri, itu lain cerita. Ini bukan lagi perihal menang atau kalah, tetapi demi menunjukkan impian siapa yang lebih pantas diwujudkan.

"HAAAAAAAAA/HAAAAAAAAA!"

Zssshhhtt.

Saji dan Issei melesat bersamaan diantara suara teriakan.

Buuuaaaagghh!

Dua kepalan tinju saling beradu, menciptakan getaran besar di permukaan tanah. Saking kuatnya tinju itu, bangunan sekolah Kuoh Gakuen yang tidak jauh dari posisi mereka bahkan mengalami retak pada dindingnya.

Issei dibuat terkejut. "Sejak kapan?"

Saji menjawab saat kepalan tinjunya masih saling adu dengan Issei. "Kau pikir hanya kekuatan dan staminamu saja yang meningkat tajam setelah enam minggu mengikuti latihan ekstrim dengan mantan Raja Naga Tannin huh?"

Selama selang waktu tersebut, bertepatan dengan libur musim panas Kuoh Gakuen, Issei bersama seluruh budak Gremory berlatih sendiri-sendiri di Underworld teritori keluarga Gremory. Sebagai hasilnya, Issei bersama Vali sanggup mengalahkan Dewa Jahat Loki.

Saji melanjutkan ucapannya, "Belum lama ini aku juga berlatih keras. Tiga minggu lamanya aku dilatih secara ekstrim oleh monster gurita berbadan banteng, Paman Gyuki. Dan dapat kau rasakan kan sekarang?, kekuatan serangku sanggup menyamaimu dalam mode Cardinal Crimson."

Rupa-rupanya ada kesalahan prediksi oleh Rias. Dia mengatakan kalau kekuatan tim Sona jauh tertinggal dari timnya, alasannya mengacu pada fakta bahwa saat Rias dan budak-budaknya mendapat latihan dan bimbingan dari Azazel dan orang hebat lainnya, Sona dan timnya malah sibuk dengan urusan OSIS serta terkesan menjaga jarak dan menutup diri.

Nyatanya, Tim Sona juga melatih diri secara maksimal. Malebolge Vritra Promotion yang ditunjukkan Saji adalah buktinya. Dia dilatih oleh salah satu bijuu milik Naruto. Pun dengan budak-budak Sona lainnya, pasti mereka juga berlatih sehingga mencapai hasil yang memuaskan. Namun kenapa tidak ditunjukkan, malah kalah cepat dari semua budak Rias? Katakanlah ini strategi yang dibuat Sona. Cukup satu Saji saja yang menunjukkan hasil, tidak perlu yang lainnya. Akan lebih bagus disimpan untuk pertandingan selanjutnya.

Issei tersenyum di balik helm armornya, "Aku mengerti, kita seimbang. Tapi aku tahu kalau Vritra hampir tidak memiliki serangan langsung, bagaimana kau akan menahan ini, Sajiiiii?"

Solid Impact Booster

Aura kekuatan dalam jumlah besar dirilis kedalam armor Cardinal Crimson hingga menjadikannya lebih tebal. Bagian lengan bahkan berubah bentuk menjadi seperti palu.

Issei menarik tangannya yang menyatu dengan Saji, ia tekuk untuk melayangkan tinju sekali lagi, jauh lebih kuat daripada yang tadi.

"Haaaaaaa!"

Duaaakkkk.

Saji harus merelakan tubuhnya terpental ke belakang, menabrak dua pohon di tepi halaman sekolah hingga roboh, lalu berhenti setelah terseret di tanah beberapa puluh meter.

Issei berdiri tegap, "Kheh, itu perbedaan nyata antara Naga Langit Ddraig dengan Raja Naga Vritra."

Saji menyeka darah yang mengalir di bibirnya seraya berusaha untuk berdiri. Meski terluka, namun tampak bahwa tubuhnya masih bisa bertahan. Itu juga hasil dari latihan fisik yang ia jalani sebelum Turnamen Rating Game dimulai.

"Kau benar, Issei. Vritra hampir tak memiliki serangan langsung, juga kekuatannya jauh di bawah Ddraig. Tapi, lihat tangan kananmu."

Issei melirik tangan yang tadi ia gunakan untuk memukul Saji. Ekspresinya berubah shock karena armor bagian itu telah kehilangan warna crimson, berubah menjadi abu-abu. Sesaat kemudia retak, merapuh hingga lenyap menjadi debu.

"Ke-kenapa?"

Saji menjawab kebingungan Issei, "Dengan promosi ini, aku sanggup mengeluarkan kemampuan spesial Vritra sebagai Naga Jahat secara maksimal. Hanya dengan menyentuhku saja, kau akan menerima kutukan yang menghisap kekuatanmu dan merubahmu menjadi abu."

Sontak badan Issei bergetar, ia merasaka takut yang luar biasa. Matanya dapat melihat jelas begitu banyak kutukan jahat yang muncul di sekitar tubuh Saji yang dilapisi armor hitam. Semua kutukan itu menyebar ke seluruh penjuru atmosfer.

"Tapi jangan khawatir, Issei. Kemampuanku ini sudah didata oleh pihak panitia Game. Mereka membatasi kekuatanku dengan alat buatan Grigori berupa cincin yang terpasang di jariku, sehingga didalam Game ini kutukan jahat hanya akan mengenai benda tak hidup, termasuk juga sihir dan meterial energi lainnya. Makhluk bernyawa tak akan kena efek apapun. Ini sama halnya dengan batasan yang diberlakukan pada Gasper, jadi kedua tim adil, iya kan?"

Issei mendesah nafas lega, "Huuuftt, aku khawatir kalau kita akan saling bunuh di sini." Ia melihat kalau hanya armor bagian lengannya saja yang rontok, tapi tangannya sendiri tidak apa-apa.

Meski menguras cukup banyak stamina, Issei merekonstruksi kembali armornya seperti semula. Ia sadar kalau dirinya tidak bisa menyerang saji dengan gegabah. Serangan langsung dicoret dari daftar karena hanya akan merugikannya. Irreguler Balance Breaker Saji memiliki begitu banyak kutukan, dan siapapun akan dikutuk meski hanya mendekat saja.

Memang benar, Vritra mungkin yang terlemah diantara para Dragon King, apalagi jika dibandingkan dengan dua Heavenly Dragon. Namun dari segi jumlah dan variasi teknik, dia adalah yang terbaik.

Issei mengangkat lengan kirinya ke arah Saji, "Kalau aku tidak bisa menyentuhmu, maka aku akan menyerangmu dengan ini."

[BoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostExplosion!]

Dragon Shot

Blllaaaaaaaaaaassssttt...

Aura hijau di tembakkan lurus menuju target, namun dengan begitu mudahnya ditepis oleh Saji.

Issei heran. Bukan karena Saji yang sanggup menepis dragon shot miliknya, tetapi karena auranya yang tiba-tiba menjadi lemah padahal sudah digandakan berkali-kali.

Lalu keheranan Issei terjawab saat melihat adanya tali hitam seperti tentakel di tangan kanannya yang tersambung ke Saji. Itu kemampuan Vritra, Absorption Line.

"Tapi, ka-kapan?"

"Kau lupa Issei, tadi kan kita beradu tinju?"

Issei paham. Teknik Absorption Line perlu untuk melakukan kontak fisik dengan targetnya agar tali tersambung. Setelah tersambung, tali itu tidak akan bisa diputus kecuali ditebas dengan Pedang Suci. Dengan tali itulah, kekuatan dalam dirinya ditransfer menjadi kekuatan vritra, sehingga tembakan dragon shot melemah.

Ini perbedaan Saji dan Issei. Meski Saji itu bodoh, tapi rupanya Issei lebih bodoh lagi. Issei tahu kemampuan Vritra yang itu, tapi kenapa bisa lupa?

"Cih" Issei mendengus. "Melawan orang sepertimu sungguh merepotkan."

Begitulah, Issei sebagai petarung tipe kekuatan tentu tidak diuntungkan jika melawan petarung tipe teknik.

"Hei, kenapa kau tidak menggunakan Pedang Pembantai Naga? Kau akan diuntungkan jika memakainya, iya kan?" tanya Saji.

"Errr, i-itu..."

Issei tampak malu-malu dan enggan menjawab. Timnya menduga kalau Sona sudah mempersiapkan suatu serangan balik tak terduga untuk menangkal Sword of Dragon Slayer Ascalon jika digunakan Issei untuk melawan Saji dan Vritra, sehingga pedang itu dicabut dari slot di tangan kirinya dan diserahkan kepada Xenovia yang lebih pandai dalam hal teknik dibanding Issei. Namun kenyataannya, Sona malah menggunakan strategi pertarungan frontal. Ascalon yang dipegang Xenovia jadi tidak berguna karena hanya Saji lah satu-satunya pemegang kekuatan naga dalam tim Sona.

"Sudah kuduga."

Saji tampak tenang saat mengatakannya, ia sudah memperkirakan ini sebelum pertandingan jika timnya menggunakan strategi yang sama sekali berbeda dengan ciri mereka selama ini.

Untuk Issei, meski dalam mode terkuat, tapi ia hanya bisa bertarung dengan gaya standar. Solid Impact Booster tidak bisa digunakan karena perlu melakukan kontak dengan tubuh Saji, yang malah akan mengutuknya secara perlahan. Star Sonic Booster juga sama, meski kecepatannya tinggi tapi juga termasuk serangan langsung. Menggunakan Fang Blast Booster untuk menembakkan aura masif Crimson Blaster juga tidak mungkin. Kerusakannya pada lingkungan terlalu besar, bisa saja merusak arena Rating Game hingga tepiannya yang membuat ia akan didiskualifikasi. Andai saja arena lebih luas, ia bisa bertarung lebih leluasa.

Hanya sedikit pilihan yang bisa digunakan Issei yaitu menembakkan Dragon Shot dan menyemburkan api. Itu pun dalam jumlah terbatas karena tali Absorption Line Vritra yang menjerat dirinya.

Sementara Issei termenung, suara Saji kembali terdengar, mengingatkan kembali bahwa mereka sedang dalam pertarungan.

"Kurasa kau sudah mengerti semua situasinya. Jadi ayo kita lanjutkan..., Sekiryutei!"

Issei menjawab dengan aksi. Dadanya menggembung setelah menarik nafas dalam-dalam. Semuanya ia hembuskan kembali menjadi semburan api yang sangat panas.

Saji bergeming, ia sama sekali tidak ketakutan meski merasakan betapa panasnya api tersebut.

Si pemilik kekuatan Vritra berniat menghadapi serangan Sekiryutei dengan cara yang sama, "Ini!, Kukembalikan milikmu lagiiii!"

Swooossshhhh...

Saji menyemburkan api hitam. Panasnya sama dengan yang diembuskan Issei, namun dalam volume sepuluh kali lebih banyak.

Sang Sekiryutei tak berkutik, kekuatan yang tadi dia boost dan diserap oleh Saji, kini kembali padanya.

Api merah dari Issei lenyap ditelan gelombang raksasa dari api hitam.

Tidak hanya membakar seluruh area sekolah, api hitam Vritra bahkan mencakup area yang cukup luas hingga memenuhi seperempat arena Rating Game bagian tengah. Jumlah api yang sangat besar tidak lepas dari kekuatan Sekiryutei yang Saji serap dan keluarkan kembali.

Sekiryutei pun terkurung dalam kobaran api hitam yang membumbung tinggi.

Hal ini sudah memperhitungkan oleh Saji. Walaupun membakar seperempat arena Rating Game, tapi tidak akan mengenai pemain lain. Sona sudah mengatur agar bidak-bidak menyebar ke setiap sisi arena agar Saji dan Issei bisa bertarung sepuasnya tanpa khawatir keadaan teman.

Tanpa pikir panjang, Saji dalam mode irreguler balance breaker Malebolge Vritra Promotion terjun masuk ke dalam kobaran api. Didalam api miliknya sendiri, ia tak akan terbakar.

Duuaaagg...

Pukulan keras mendarat di tubuh Issei. Pukulannya tidak terlalu kuat, tapi berkat kutukan api hitam, armor Cardinal Crimson mulai rontok.

Buuagggh.

Pukulan berikutnya, tubuh Issei juga terkena dampak pukulan secara langsung.

Buuughh.

Duukkh.

Baanggg...

"Bagaimana perasaanmu sekarang, Issei? Dibuat tak berdaya oleh orang yang lebih lemah darimu?"

"Ak... akuuuu tidak akan, tidak akan menyerah." suara Issei terdengar serak.

"Bagus. Itu yang aku suka darimu. Tapi, aku juga tidak akan berhenti sebelum mengalahkanmuuuu!"

Duuuakkk...

Duaaaggg

"Guhaaa!"

Bugg...

"Ohhokkk...!"

Issei tak bisa berbuat apa-apa. Dia harus merelakan tubuhnya dihajar habis-habisan oleh Saji. Armornya semakin banyak yang rontok dan berubah menjadi abu akibat kontak langsung dengan armor hitam Saji yang membawa kutukan jahat, sesuatu yang mengutuk kedalam keabadian dengan kekuatan negatif.

Luka lebam dan memar memenuhi setiap inci permukaan tubuh Issei. 78% armornya telah lepas hingga menampakkan tubuhnya yang tanpa perlindungan. Beberapa kali dia merekonstruksi kembali armornya, namun pecuma karena setiap kali mendapat pukulan dari Saji, armor itu akan rontok kembali seperti abu.

Untung saja panitia Rating Game memasang limiter untuk balance breaker Saji. Jika tidak, bukan hanya armor crimson saja, tapi juga tubuh dan nyawa Issei yang dikutuk sampai habis dan mati didalam keabadian.

Didalam gelapnya kobaran api hitam, Issei coba membalas pukulan Saji.

"Haaaa..."

Greeebbb...

Saji menangkap kepalan tangan Issei. Dengan mudah ia menahan tinju itu.

"Mana kekuatanmu, Issei? Ayoooo, berikan aku tinjumu yang berisi tekad pantang menyerah yang aku kagumi itu."

Saji memprovokasi Issei. Meski saat ini ia unggul, tapi yang ia inginkan adalah semangat dari Sekiryutei. Saji tidak akan senang kalau tidak mengalahkan Sekiryutei yang penuh semangat juang tinggi dan tekad melindungi teman.

"Ghh!"

Issei berhenti bergerak. Ia merasakan tubuhnya lemas dan sulit bergerak. Tenaga dan staminanya juga hampir habis. Ia sadar, inilah akibat terkena multiple special skill dari Vritra.

Selain membakar apapun dengan panasnya, api hitam yang berkobar mempunyai banyak kemampuan spesial sekaligus.

Blaze Black Flare, dengan kemampuan ini, api hitam Vritra akan mengutuk setiap makhluk yang terkena kobarannya dalam keabadian. Nyawa dari makhluk itu akan dikikis hingga habis dan tubuhnya menjadi abu.

Delete Field, kemampuan untuk menekan kekuatan lawan. Akibatnya, siapapun yang terkurung dalam api hitam akan kehilangan kemampuan untuk mengeluarkan semua kekuatannya secara penuh.

Selain itu, ada juga kemampuan Shadow Prison yang mampu mengekang pergerakan lawan, membelit dengan kuat layaknya ular phyton. Target yang terkurung dalam api hitam akan kesulitan bergerak. Itu tergantung siapa targetnya, jika lemah maka pasti tidak akan bisa bergerak sama sekali. Dan meskipun targetnya sangat kuat, tetapi tetap akan mendapat kesulitan.

Selain itu, masih ada Absorption Line yakni teknik menguras kekuatan lawan melalui tentakel yang terhubung ke tubuh target, menyerap kekuatannya untuk digunakan sendiri atau ditransfer pada orang lain. Karena itu lah, semakin lama target terkurung dalam api hitam, maka akan semakin lemah hingga kehabisan tenaga.

Prison Dragon Vritra memang tidak mempunyai serangan langsung yang berbahaya, dia juga lemah, namun kemampuan spesialnya lah yang membuat dia mampu sejajar dengan empat Dragon King lainnya. Berkat kemampuan-kemampuan itulah, Sekiryutei dengan armor crimson yang jauh superior dari armor hitam Malebolge Vritra menjadi tak berdaya.

Duuuaaakkkk...

Issei terjatuh setelah mendapat tendangan keras dari Saji di perutnya.

Sekiryutei berusaha bangkit kembali, ia berhasil berdiri meski tidak bisa tegap. Badannya condong kekiri karena lutuh kirinya yang terluka.

"Saji, aku senang bisa bertarung denganmu sampai seperti ini."

"Ya, aku juga. Aku sangat senang, aku bahagia. Dan aku akan lebih bahagia lagi jika aku berhasil mengalahkanmu. Aku akan menunjukkan pada semua orang bahwa impianku berharga. Ah tidak hanya itu, tapi juga impian Kaichou dan impian kami semua, pantas untuk diperjuangkan."

"Begitu kah? Tapi maaf Saji, aku juga punya impian, dan masih ada impian Buchou yang kupikul di pundakku. Jadi aku tidak akan kalah."

'Ratu dari Gremory berhasil mengalahkan Ratu Sitri dalam pertandingan kekuatan murni satu lawan satu.'

Terdengar suara pengumuman yang diucakan oleh wasit pertandingan, Grayfia. Itu adalah suara pengumuman yang kesekian karena sebelum ini, selama Issei tak berdaya didalam kobaran api hitam dan dihajar habis-habisan oleh Saji sudah terdengar beberapa kali pengumuman yang isinya sama.

Saji terdiam sedangkan Issei sedikit tertawa renyah.

"Kau dengar itu, Saji. Semua teman-temanku sudah mengalahkan semua teman setimmu. Jadi ini saatnya giliranku untuk mengalahkanmu. Jika kekuatan Ddraig saja tidak cukup, maka aku akan menggunakan ini!"

Issei kembali merekonstruksi armornya hingga kembali seperti semula.

"Kau hanya membuang-buang staminamu, Issei. Aku bisa membuat armormu menjadi abu dengan mudah seperti tadi."

"Lihat ini! Ayooo keluarlah, naga-naga kecilkuuuu!"

Kristal hijau yang ada di setiap bagian armor crimson bercayaha putih keperakan. Aura kekuatan Hakuryuukou memancar dari sana. Saat cahaya yang menutupi tubuh Sekiryutei menghilang, sebuah objek muncul dari setiap bola kristal hijau.

Sesuatu berukuran kecil berwarna putih terbang dari sana. Ukurannya seperti telapak tangan manusia dan berbentuk naga kecil. Itu bukan makhluk hidup, namun lebih terlihat seperti benda anorganik.

"Itu kan pecahan kekuatan Hakuryuukou?" Saji berbicara sambil menunjuk beberapa naga kecil berwarna putih yang terbang berputar di sekitar tubuh Issei. "Itu pasti kekuatan yang kau serap saat bertarung melawan Vali ketika pertemuan tiga Fraksi di akademi Kuoh diganggu oleh kudeta, benar kan?"

"Ya, kau benar Saji. Semenjak itu aku memiliki kemampuan pembagi dua dari Albion, namun aku tidak bisa sembarangan menggunakannya. Setiap aku menggunakan kekuatan itu, tidak hanya menguras staminaku tapi juga beresiko memperpendek umurku, makanya aku tidak pernah menggunakannya. Tapi aku tidak ingin menyia-nyiakan usahaku menggabungkan kekuatan Albion kedalam Sekiryutei dengan taruhan nyawa saat itu, sehingga aku memikirkan sebuah cara menggunakannya tanpa membahayakan nyawaku lagi. Dan inilah hasilnya..., Dividing Wyvern Fairy. Ayoooo, menyebarlah naga-naga kecilku!"

Atas perintah Issei, semua naga kecil yang jumlahnya ada sepuluh menyebar ke segala arah didalam kobaran api hitam. Issei menggerakkan benda-benda itu melalui gelombang otaknya.

Ketika mencapai posisi tertentu, setiap naga kecil mengeluarkan suara mekanik.

[DivideDivideDivideDivideDivideDivideDivideDivideDivideDivide]

Kekuatan pembagi dua bekerja, kobaran api hitam dari Vritra yang membakar area dalam skala luas langsung mengecil. Dibagi berkali-kali hingga hanya tersisa sebagian kecil, menyisakan tanah lapang yang telah hangus terbakar.

Saji terkejut sembari terbang mengudara untuk mengambil jarak aman. Ini di luar dugaannya. Sama sekali tidak dia prediksi dalam rencananya, bahkan Sona pun juga tak memperkirakan hal ini. Kemampuan baru Issei sangat menakjubkan dan ia yakin kalau masih ada kegunaan lain dari para wyvern itu. Dia berpikir untuk mengeluarkan api hitamnya sekali lagi, namun urung dia lakukan karena hanya akan sia-sia. Api miliknya akan dibagi sampai habis oleh Issei dengan kemampuan Albion. Jika melakukan itu, ia hanya akan membuang-buang tenaga.

"Tenagamu sudah terkuras hingga hampir habis, Issei. Kau bisa apa, jadi aku pasti memang."

Lingkaran sihir berukuran besar Saji ciptakan di depan telapak tangannya, lalu diarahkan pada Sekiryutei yang berdiri di permukaan tanah. Ia memanfaatkan energi kehidupannya untuk diubah menjadi sihir, ditambah dengan kekuatan Sekiryutei yang ia serap lewat tali Absorption Line, suatu serangan sihir elemen dengan daya rusak tinggi berskala besar tercipta.

Blaaaasssstt

Saji melepaskan serangannya.

Para naga kecil terbang lincah di udara atas perintah Issei. Mereka berkumpul lalu membentuk barisan lurus dengan arah datangnya serangan.

[DivideDivideDivideDivideDivideDivideDivideDivideDivideDivide]

Lagi, suara-suara mekanik bergema bersamaan dengan sebuah kekuatan yang secara signifikan diseparuhkan. Hasilnya tembakan sihir dari Saji dikurangi secara langsung. Kekuatannya berkurang setengahnya setiap kali melewati Naga kecil. Dan saat mencapai Issei, serangannya telah dikurangi sampai pada kondisi dimana Issei bisa mementalkannya hanya dengan sentikan jari.

Disaat Saji dalam kondisi tidak punya apa-apa lagi untuk menyerang, pada saat bersamaan Issei mendapatkan mental dan semangatnya kembali penuh.

"Serangan terakhir ini akan membawaku pada kemenangan, bersiaplah Saji!"

Semua naga kecil, para wyvern yang tercipta dari kekuatan Hakuryuuko, kembali bergerak lincah dan terbang mengelilingi Issei. Warnanya pun kini berubah menjadi merah.

"Mustahil! Jangan bilang kalau kau mengubah kekuatan Hakuryuukou menjadi kekuatan Sekiryutei, Issei!"

"Seharusnya kau tidak lupa bagaimana aku, Saji? Tidak ada yang mustahil bagiku, apapun yang kuimpikan, pasti menjadi kenyataan."

[BoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoost]

Wyvern berwarna merah menggandakan kekuatannya, lalu...

[TransferTransferTransferTransferTransferTransferTransferTransfer]

Setiap wyvern mengirimkan semua kekuatan yang telah digandakan ke tubuh Sekiryutei. Kekuatan Issei yang telah teruras hingga hampir habis akibat api hitam kini kembali pada kondisi maksimal.

Namun lagi-lagi separuh kekuatan itu hilang dan dikirim ke tubuh Saji. Tentakel hitam masih menempel, tak akan bisa diputus kecuali oleh pedang suci.

"Sebanyak apapun kau menyerap kekuatanku, itu tidak ada artinya bagi Sekiryutei yang sanggup menggandakan kekuatan hingga tanpa batas. Rasakan ini!"

Wyvern merah terbang dan menyusun diri di depan Issei membentuk suatu garis lurus.

Dragon Shot

Issei menembakkan aura hijau dalam jumlah besar.

Pada saat bersamaan, Saji juga menembakkan aura demonic dalam jumlah sama, seperti dragon shot namun versi hitam. Ia mengembalikan semua kekuatan yang ia curi tadi.

Sesaat sebelum kedua tembakan itu bertemu, dragon shot hijau dari Issei melewati beberapa wyvern merah yang telah menyusun diri dalam jalur lurus tembakan.

[BoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoost]

Serangan Issei yang telah melewati wyvern meningkat daya rusaknya, dilipat gandakan setiap melewati wyvern merah. Dragon Shot pun berubah menjadi begitu besar.

DON!

Dragon shot hitam dari Saji pecah begitu saja setelah digilas dragon shot hijau dari Sekiryutei.

Syuuuttt.

Saji terbang cepat di udara sehingga berhasil menghindari dragon shot.

"Berbelok lah!"

Bersama teriakan Issei, tembakan dragon shot yang telah melewati saji bergerak melengkung dan kembali menuju targetnya.

Saji terbang akrobatik untuk menghindari laju dragon shot, ia berhasil meski sangat menyusahkan. Kecepatannya terbang tidak terlalu tinggi sehingga sulit lolos dari kejaran Dragon shot.

Sekali dragon shot menyasar dan berhasil dihindari saji dengan memutar tubuhnya, namun...

[Reflect]

Suatu suara dikeluarkan ketika Dragon Shot mengenai wyvern berwarna putih. Lalu memantulkan dragon shot yang Issei tembakan sembari menciptakan sebuah dinding cahaya.

Pyaarrrr...

Dan tembakan yang dipantulkan itu berhasil mengenai Saji. Meski hanya menyerempet bahunya, tapi cukup untuk menghancurkan armor hitam pada bagian itu.

Itulah semua kemampuan dari wyvern yang diciptakan Issei. Dua kemampuan dari Ddraig yaitu Boost dan Transfer, serta dua kemampuan dari Albion yakni Divide dan Reflect.

Itulah teknik baru yang Issei ciptakan dari kekuatan Albion yang telah ia serap, teknik yang hanya dimiliki olehnya sebagai pemilik kekuatan dari Kaisar Naga Merah, Sekiryutei masa kini yang tak dimiliki oleh seorangpun Sekiryutei dari masa lalu.

Namun itu belum selesai.

Dragon shot yang menyerempat Saji tadi masih melaju lurus. Bersamaan dengan itu, ada banyak wyvern berwarna putih yang terbang lincah mengelilingi Saji pada jarak dekat.

[ReflectReflectReflectReflectReflectReflectReflectReflect]

Dragon shot mengenai salah satu wyvern. Dipantulkan lalu mengenai wyvern putih lainnya untuk dipantulkan lagi sehingga mengurung Saji dalam lintasan dragon shot berbentuk bola. Saji dipastikan tidak bisa kabur lagi, dan ia akan menerima serangan Issei secara telak.

Sebelum serangan menghancurkan targetnya, Issei berucap dengan nada lirih. "Maafkan aku Saji. Aku mengerti perasaanmu, tapi bagaimanapun juga aku mempunyai impian sendiri yang harus aku wujudkan."

Saji yang tak bisa melakukan apa-apa lagi, terpaksa membiarkan dirinya terkurung dalam serangan massal, "Begitu yaaa? sepertinya memang mustahil bagiku dan Vritra menang dari Naga Surgawi. Tapi kalah darimu tidak membuatku sedih, malah aku bahagia bisa bertarung melawanmu sampai seperti ini." Ia mengatakannya sambil tersenyum dengan wajah frustasi, pasrah menerima serangan Issei.

Apakah memang impian Genshirou Saji hanya sampai disini?

Sekejap kemudian, Saji bersama armor hitamnya ditelan oleh ledakan dahsyat berwarna merah crimson. Warna langit cerah siang haripun berubah menjadi crimson selama setengah menit akibat saking kuatnya ledakan yang tercipta.

Tubuh Saji yang penuh luka, tanpa armor hitam dan hanya menyisakan pakaian sobek, jatuh bebas ke tanah. Disaat ia hampir kehilangan kesadarannya, bibirnya bergerak seperti mengatakan sesuatu. Sebuah pesan untuk Issei.

Sebelum mencapai tanah, tubuh itupun berubah menjadi serpihan cahaya, ditransfer keluar arena Rating Game.

'Pion kedua Sona Sitri-sama, Genshirou Saji pemilik kekuatan Raja Naga Vritra, telah dikalahkan oleh pion dari Rias Gremory-sama, Sekiryutei Hyoudou Issei.'

.

Seorang gadis muda berkacamata duduk tenang membaca buku di gazebo samping perpustakaan kota. Letaknya persis di bawah rimbunnya dedaunan dari dahan pohon besar. Saat siang terik begini, memang paling nyaman bagi seorang kutu buku menghabiskan waktu bersama setumpuk buku tebal di perpustakaan Kota Kuoh.

Berkali-kali ia mendengar suara ledakan dan robohnya bangunan, suara kencang bertalu-talu saling menyahut seolah tanpa henti, hasil dari pertarungan para iblis di sudut lain kota. Namun itu sama sekali tak menganggu aktifitasnya. Hal itu berkat sebuah benda ajaib yang sangat hebat, berwarna putih kecil dan tersambung dengan benda berbentuk segi empat. Benda yang membuat setiap kepala bergoyang dengan irama khas. Benda itu terpasang di telinga, dan disebut dengan nama ...

Earphone!?

Gadis kecil tadi adalah pewaris tahta keluarga bangsawan Sitri. Nama lengkapnya Sona Sitri.

Sona melepas earphone yang menempel di kupingnya manakala suasana sudah tenang dari getaran dan suara gaduh pertarungan, namun ia merasakan jelas hawa kedatangan sembilan orang makhluk berjenis iblis menuju tempatnya bersantai. Sembilan orang itu berhenti pada jarak sepuluh meter darinya.

Sona melirik dari ekor matanya, sedangkan wajahnya tetap fokus pada buku.

"Ahaaaaa, kukira akan lebih lama, tapi ternyata dugaanku salah. Selamat telah mengalahkan semua budak-budakku, Rias."

"Terima kasih. Langsung saja, aku ingin menagih janjimu. Ceritakan tentang semua yang kau rahasiakan padaku sehingga kita bisa seperti dahulu lagi."

Yah, maksud Rias tentang kesepakatan antar mereka. Sona harus menceritakan semua yang ia sembunyikan dari Rias, terutama tentang identitas Naruto dan Hinata serta apa yang sebenarnya sedang ia kerjakan.

Sona meletakkan buku yang ia baca lalu membetulkan letak kacamatanya yang sedikit turun. Ia menghadap ke arah posisi Rias berdiri. "Itu kalau kau menang 'kan?"

"Sona, lihat kondisimu. Kau hanya tersisa sendirian. Apa dengan kekuatanmu saja, kau berpikir bisa mengalahkan kami bersembilan, atau setidaknya mengalahkan diriku agar kau memang?"

Sona mendesahkan nafas panjang. Wajahnya yang biasa datar kini tampak ekspresif, namun menunjukkan ekpresi lelah dan malas. "Kau masih seperti dulu. Begitu mudahnya kau terseret arus taktik yang kubuat, padahal taktik yang kugunakan sangat sederhana."

"Hah?" alis Rias tertaut.

Akeno menepuk pundak Raja-nya. "Buchou, kau terlalu terbawa perasaan karena tantangan pertarungan langsung dari Kaichou sehingga melupakan aturan dasar permainan catur."

"Memangnya apa yang kulupakan?"

"Ini situasi remis."

"Apa?" Rias memekik. Dia menoleh pada Sona sebentar dan langsung tersadar bahwa sebenarnya dia sama sekali tidak menggenggam kemenangan.

Permainan akan berakhir seri.

Sona hanya tersisa sendiri, ia tak memiliki satupun bidak lagi untuk digerakkan. Selain itu ia dalam posisi stalemate dimana dia tak punya apa-apa untuk melawan, dan ia sendiripun juga tidak bisa melakukan gerakan. Tim lawannya lengkap semua bidak tanpa kurang satupun, sedang mengancamnya dengan serangan masing-masing yang bisa mendepak dirinya dari arena Rating Game dengan mudah.

Rias mungkin seimbang dengan Sona, tapi bagaimana dengan Sekiryutei? Pedang Suci Ex-Durandal, Pedang Suci Iblis milik Kiba beserta replika pedang legenda iblis lainnya, senjutsu api putih pemurnian, Raikou atau halilintar suci, dan lain-lainnya. Apa mungkin Sona bisa lolos dari semua itu?

Dalam keadaan seperti itu, Sona mengulas senyum simpul di bibirnya, "Jadi sudah berakhir kan? Kurasa kita harus puas dengan hasil seri. Masing-masing tim kita akan mendapat point sepuluh dari pertandingan ini."

Rias pun sontak menjadi gusar. Tidak terpikir sedikitpun olehnya akan hasil ini.

Padahal bagi banyak orang hasil pertarungan ini akan sangat mudah diprediksi. Pertarungan langsung antar setiap pemain, yang jelas-jelas secara statistik, setiap pemain dari Tim Gremory unggul dari segi kekuatan, kecepatan, stamina, dan pengalaman dari pertarungan nyata melawan orang jahat. Semua itu hampir tidak memberikan peluang sedikitpun bagi Tim Sitri untuk menang.

Pada akhirnya, jika setiap anggota maju terlebih dahulu, maka satu persatu akan tumbang hingga menyisakan Sona seorang diri sebagai King.

Kelanjutan permainan pada kondisi remis tergantung pada kesepakatan. Apakah kedua tim sepakat membawa pulang hasil imbang, dengan capaian masing-masing 10 point untuk setiap tim? Ini sudah menjadi aturan dalam permainan catur sebagai pondasi pertarungan Rating Game.

Rias menunduk lesu. Timnya diunggulkan secara statistik, namun terpaksa harus pulang dengan hasil imbang. Dimata orang-orang diluar sana, ini sama saja artinya dia kalah dari Sona.

"Baiklah, mau bagaimana lagi? Aku setu-"

Sedikit lagi permainan benar-benar akan berakhir seri, andai saja Sona tak memotong ucapan Rias.

"Kalau kau mau, Rias. Sebagai pihak yang dalam posisi stalemate, aku memberimu pilihan lain. Kalau sepakat, permainan ini mungkin tidak akan berakhir seri."

"Apa maumu, Sona? Apa kau ingin kita bertarung satu lawan satu." kata Rias menerka.

"Begitulah. Tapi tidak sepenuhnya begitu."

"Tunggu!" Rossweisse tiba-tiba menyela pembicaraan antara Sona dengan Rias. Ia menatap lurus tepat ke mata Sona, "Kau, apa kau berencana untuk menang dengan double-score?

"Aku tidak mengerti, Sensei." Issei bertanya dengan wajah penuh penasaran.

"Aturan tambahan ini hanya dijelaskan pada Technical Meeting ketika pesta pembukaan. Aku mendengar dari tim lain kalau seorang King yang telah kehilangan semua bidak berada pada kondisi stalemate yang mana bidak lawannya masih lengkap satu set, maka akan mendapat double-score 80 point jika sanggup membalik keadaan, menjatuhkan King lawan, dan menang."

"Ya, itu benar." Rias berhasil menyusun kepingan-kepingan ingatannya. Pada saat TM ia memang kurang memperhatikan, itu disebabkan pikirannya penuh karena kondisi Issei yang sekarat akibat tindak asusila yang diperbuatnya.

Sona melanjutkan penjelasan Rossweisse. "Aturan tambahan ini hanya berlaku untuk fase grup yang memakai sistem point. Dan hanya diberlakukan untuk pertandingan pertama yang mencapai kondisi remis dari total enam pertandingan dalam setiap grup. Dengan aturan itu, jika aku berhasil mendapat double-score maka aku akan diuntungkan pada pertandingan fase grup selanjutnya melawan tim lain karena lebih leluasa mengorbankan bidak agar menang, aku tidak perlu lagi menang dengan point besar untuk mendapatkan posisi aman. Untuk tim tipe teknik sepertiku yang seringkali mengorbankan bidak dalam menjalankan taktik, ini hal yang sangat penting."

Sekarang semua sudah mengerti situasinya. Permainan tidak akan berakhir draw, tapi di tentukan oleh pertarungan antar Raja.

Rias menatap Sona dengan ekspresi serius lalu berkata dengan tegas, "Apa kau berpikir bisa menang melawanku satu lawan satu, Sona? Kalau aku yang menang, maka dengan masih adanya satu set bidak lengkap, aku akan meraih full-score 40 point."

"Aku tidak masalah dengan itu. Sebenarnya kalau kau ingin memastikan kemenanganmu, Rias, kau bisa mengerahkan semua bidak-bidakmu juga untuk mengalahkanku."

"Mau ditaruh dimana mukaku kalau kami mengeroyokmu? Aku sendirian saja sudah cukup." Rias lalu menoleh kearah pada budaknya yang berdiri di belakangnya, "Kalian semua, tunggu di belakang saja!"

"Tapi Buchou." Akeno menyuarakan protes, bukannya ia tidak percaya pada Rias tapi kemenangan sudah didepan mata, dan ia tak ingin mempertaruhkannya begitu saja.

"Mengertilah, Akeno."

Rias adalah tipe orang keras kepala yang tak akan berhenti biarpun diperingatkan.

"Buchou, kalau aku merasakan kau dalam bahaya, maka aku akan maju untuk membantumu. Aku tak akan mendengarkan keegoisanmu. Menjadi juara Rating Game bukan hanya impianmu, tapi juga impian kita semua. Apapun yang terjadi, tim kita harus memang."

"..."

Rias tak merespon kata-kata tegas dari Issei. Semua budak Rias tak bersuara lagi, sepenuhnya menyerahkan keputusan ini pada Raja mereka.

Akeno, Kiba, Xenovia, Asia, Gasper, Rossweisse, Koneko, dan Issei berjalan mundur. Mengambil tempat di depan pintu masuk perpustakaan. Sedangkan Sona dan Rias yang akan bertarung mengambil posisi berhadapan di halaman perpustakaan.

Sona nampak tenang, begitu pula dengan Rias. Pertarungan antara dua teman baik segera dimulai.

Air berkumpul di sekitar Sona dan perlahan membentuk sesuatu. Ini bukan jumlah air yang wajar. Melihat lebih cermat, air sepertinya terkumpul dari bawah tanah yang penuh dengan saluran pipa air ledeng. Keluarga Sitri memang terkenal akan spesialisasinya pada sihir air.

Sedangkan Rias menciptakan peluru sihir Power of Destruction. Serangan yang menghancurkan lawan. Tanpa ragu ragu, Rias menembakkan peluru-peluru sihir ke arah Sona. Jumlah pelurunya nyaris seperti senapan mesin.

Peluru-peluru itu hanya seukuran bola pingpong, namun sangat terasa sihir dengan kemurnian tinggi di setiap tembakannya.

Zabun, Zabaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan.

Sona memanipulasi air dan membentuknya menjadi dinding, menghentikan serangan Rias. Air milik Sona lenyap ketika bersentuhan dengan Power of Destruction. Namun masih ada banyak air yang Sona miliki karena dia mengumpulkannya dari pipa-pipa ledeng seluruh kota Kuoh.

Tepat ketika dinding air sudah turun, nampak Sona mengacungkan kedua tangannya dengan pose menembak menggunakan jari telunjuk.

"Baiklah, Rias. Akan kutunjukkan teknik airku padamu."

Water Style: Double Automatic Pistol Technique

Ratatatatatatatatatatatatatatatata...

Sona menembakkan peluru-peluru air bertekanan tinggi secara beruntun tanpa henti. Intensitasnya jauh lebih tinggi daripada tembakan power of destruction yang dilakukan Rias tadi.

Rias berhasil bertahan dengan lingkaran sihir tipe barrier. Namun beberapa peluru air yang meleset terus melaju hingga mengenai batang pohon maupun dinding bangunan di belakang Rias. Ada banyak lubang kecil yang sangat dalam tercipta di tempat-tempat itu. Sungguh mengerikan, jika terkena kepala maka siapapun akan mati karena kepadatan peluru air sama proyektil peluru asli dari senjata api.

Merasa serangannya belum cukup, Sona menggunakan sebagian besar air yang ia kumpulkan.

Water Style: Animal Transformation Technique

Sona mentransformasi semua air tersebut dengan sihir, mengubahnya menjadi banyak elang yang terbang di udara, ular yang melata di tanah, singa ganas, para serigala yang berkumpul bersama, dan beberapa naga raksasa. Semua hewan itu menyerang dari berbagai sisi, seolah mereka memiliki pikiran sendiri seperti sedang memburu mangsa.

Tersenyum dengan berani, Rias melakukan kompresi tingkat tinggi pada Power of Destruction-nya dan membuat peluru peluru sihir tak terhitung banyaknya di udara. Apapun yang tak punya kekuatan akan lenyap seketika oleh satu tembakan itu. Sampai bisa mengkompresi semua itu, sepertinya level Rias dalam menggunakan kekuatan Power of Destruction sudah mampu disejajarkan dengan para iblis berdarah murni pemuka keluarga Great King Bael.

Kedua teman itu handal dari segi kualitas sihir. Mereka sama-sama petarung Tipe-Wizard murni. Namun melihat lebih seksama, Rias unggul dalam aspek kekuatan sedangkan Sona unggul dalam teknik.

BAAAAANNGGG!

Ledakan hebat tercipta ketika serangan Sona dan Rias bertemu. Asap dari uap mengepul-ngepul di udara.

Karena mulai mendapati kesulitan bergerak di darat akibat hilangnya jarak pandang, Rias membuka sayap iblisnya lebar-lebar. Dengan satu kali kepakan, dia langsung meluncur ke udara. Namun...

Water Sealing Chains Technique

Brakkk!

Rias terpaksa harus merelakan tubuhnya terhempas ke daratan karena di tarik oleh air yang membentuk rantai.

Asap memudar hingga menyisakan pemandangan memilukan dimana Rias terbelenggu oleh rantai yang terbuat dari air. Kaki, tangan, perut, dada hingga leher dibelit oleh rantai. Meski terbuat dari air, namun karena dikendalikan oleh sihir, air itu menjadi kuat layaknya kawat baja. Tubuh Rias dipaksa berdiri dan menempel pada tiang berbentuk salib yang juga terbuat dari air. Rias seperti seseorang yang hendak dieksekusi mati.

Rupanya, saling hantam kekuatan sihir tadi hanyalah pengalihan Sona untuk menciptakan ledakan yang menghalangi jarak pandang, sehingga dia memiliki waktu menyiapkan teknik pengekang untuk memerangkap Rias.

Suasana menjadi lebih tenang.

Rias tidak terluka karena belum menerima serangan langsung, akan tetapi tubuhnya tidak bisa digerakkan. Dia merasa kekuatannya secara perlahan dihisap oleh rantai-rantai yang membelenggunya. Hingga sampai dimana dirinya tak bisa lagi melepaskan kekuatan sihir. Fungsi rantai ciptaan Sona, Rias rasakan efeknya persis seperti rantai Gleipnir yang pernah timnya gunakan untuk mengekang Serigala Fenrir.

Karena fungsi pengekang dari rantai yang cukup kompleks, Sona perlu waktu untuk merumuskan formula sihirnya yang sangat rumit. Makaya sebelum teknik ini digunakan, harus melakukan pengalihan dahulu.

"Kurasa sudah berakhir, Rias. Lebih baik kau menyerah."

"Tidak akan. Tidak ada kata menyerah yang akan keluar dari mulutku selama aku hidup."

Rias berusaha berontak meski itu sia-sia, yang ada malah rantai semakin kuat membelenggu dan membelit tubuhnya.

Sona menggeleng, "Pilihan yang kurang bijak."

Ctek.

Setelah Sona menjentikkan jari, di permukaan tanah basah dekat Rias berada muncul lingkaran sihir kecil yang mengeluarkan beberapa buah gelembung, mirip seperti gelembung sabun seukuran bola tenis. Terbang ke atas dengan pelan disekitar tubuh Rias. Kemudian gelembung-gelembung itu menempel di kulit Sang Heiress Keluarga Gremory.

Boil Release: Bubble Steam Technique

PlopPlopPlopPlopPlop.

"AAAAAAAAAAARRRKKKKKHHHHH...!"

Gelembung-gelembung itu pecah dan mengeluarkan uap air yang luar biasa panas diiringi dengan suara teriakan memilukan yang nyaring hingga memekakkan telinga. Tergambar derita yang sarat akan rasa sakit bersama suara itu, suara raungan Rias.

Kulit Rias dimana gelembung tadi pecah melepuh hingga berdarah seperti bekas luka bakar. Di tangan, kaki, leher, bahkan wajah, semua bagian tubuh itu melepuh seperti terkena zat asam yang sangat korosif.

Sebuah serangan yang sungguh sangat menyakitkan. Meskipun luka yang ditimbulkan tidak fatal pun tidak menyerang organ vital, akan tetapi kesadaran otak Rias diserang oleh rasa sakit yang luar biasa sehingga meninggalkan trauma mental yang sangat berat. Itu tipe serangan yang sangat sesuai untuk spesifikasi Sona Sitri sebagai petarung Tipe Wizard yang condong ke Teknik.

Bubble steam atau gelembung uap panas adalah derivatisasi sihir air yang dikembangkan oleh Sona sendiri menjadi teknik original miliknya. Keluarga Sitri adalah iblis-iblis yang ahli dalam spesialisasi sihir elemen air, namun ada beberapa orang yang mampu mengembangkan sihir khusus tingkat lanjut sebagai turunan dari sihir utama berbasis elemen air tersebut. Serafall Leviathan salah satunya, ia adalah pengguna sihir elemen es terbaik dan terhebat di Underworld hingga menjadikannya sebagai salah satu Maou. Lalu saat ini, telah lahir teknik sihir elemen terbaru yang belum pernah ada sebelumnya, yakni sihir elemen didih.

Sepasang kakak adik yang sangat hebat, yang diberkahi dengan sihir tingkat lanjut yang berlawanan. Sang kakak dengan sihir elemen es, sedangkan sang adik dengan sihir elemen didih. Meski keduanya berlawanan, tetapi tetap berasal dari elemen pokok yang sama yaitu air.

"Sepertinya seranganku tadi belum cukup untuk mengeluarkanmu paksa dari arena Rating Game ini, Rias."

Meski sangat menyakitkan, serangan Sona tadi tidaklah menimbulkan kerusakan fisik yang parah sehingga mempengaruhi fungsi faal tubuh.

"Kalau begitu, aku bisa menciptakan lebih banyak gelembung seperti tadi."

Para budak Rias yang berkumpul di depan perpustakaan menjadi sangat panik. Tidak ada satupun dari mereka yang akan diam saja melihat Raja-nya disiksa seperti itu.

Seperti yang dia ucapkan tadi, Issei pertama kali maju untuk membantu Rias lepas dari Sona.

Baru selangkah Issei bergerak, Sona lebih dulu mengantisipasi.

Multiple Water Clone Technique

Sona menggunakan massa air untuk menduplikasi dirinya sendiri. Empat tubuh kloningan persis sama dengan Sona yang asli tercipta. Keempatnya bergerak cepat menuju posisi masing-masing, lalu membuat lingkaran sihir yang menghubungkan keempatnya dalam bidang berbentuk persegi dimana satu kloning di setiap sudutnya.

Barrier: Four Oceanblue Boiling Water Formation

Sebuah penghalang berbentuk kubus tercipta di tengah halaman perpustakaan kota, setiap rusuk kubus panjangnya 25 meter. Ukuran yang cukup untuk memuat Sona dan Rias leluasa melakukan apapun di dalamnya. Kekkainya berwarna biru laut, terdiri dari satu lapis dimana kloning Sona yang mempertahankan kepadatan kekkai berada dibagian dalam sehingga aman terhadap serangan musuh dari luar.

Namun kekkai itu tidak menghentikan langkah Issei. Dirinya yang masih menggunakan armor crimson mengalirkan kekuatan dalam jumlah besar ke tangan kanan.

Solid Impact Booster

Buuuaaaggg.

Suara debam dari tinju kasar terdengar cukup keras. Tapi itu tak sedikitpun meruntuhkan kekkai yang begitu kuat tersebut. Entah dengan formula sihir apa Sona menciptakannya.

Buuuggg.

Buuumpp

Duuuaakkk.

Berkali-kali Issei meninju kekkai ciptaan Sona, namun sama sekali tak membuahkan hasil. Solid Impact Booster tampak sangat lemah, jauh berbeda dengan yang biasanya.

"Ddraig, pinjamkan aku kekuatanmuuuu!"

Issei berteriak, namun sama sekali tak ada jawaban.

"Ddraaaaaiig!"

"Ddraig? K-kau, kau dimana?"

Selain dipenuhi rasa khawatir akan kondisi Rias, Issei juga kebingungan karena kehilangan kontak dengan Ddraig.

"K-kenapa?" Issei bertanya pada dirinya sendiri, meski ia tahu tak akan mendapat jawaban apapun.

Sona yang berada didalam Kekkai menjawab pertanyaan Issei dengan tenang. "Saji melakukan tugasnya dengan sangat baik."

"Huh?"

"Coba lihat bola kristal hijau di armormu!"

Issei menatap bola kristal di gauntlet lengan kirinya. Perlu waktu beberapa saat sampai ia menyadari bahwa bola kristal itu dikotori oleh noda-noda hitam pada bagian intinya.

"Apa ini?"

"Dengar Issei! Strategiku ini sudah direncakan sejak awal. Kau dan Saji sengaja kuberikan kesempatan bertarung sampai puas, tapi tujuan utama Saji menempelkan tentakel hitam Absorption Line bukan untuk menyerap kekuatanmu melainkan untuk menyalurkan kutukan api hitam ke dalam inti Boosted Gear. Untuk Naga Surgawi macam Ddraig hal itu tak akan berarti apa-apa, dia bisa menyingkirkannya dengan mudah, tapi perlu sedikit waktu. Dan selama waktu itu, kau tidak bisa menggunakan kekuatan Sekiryutei, begitu pula dengan kekuatan Hakuryuukou yang telah kau serap. Armor cirmsonmu yang sekarang, tak lebih dari sekedar kostum belaka. Pun dengan kekuatanmu, tidak ada bedanya dengan iblis kelas bawah. Jadi jangan harap kau bisa menembus kekkai milikku."

Issei sekarang mengerti. Sona menjelaskannya dengan detail, dan ia ingat apa pesan Saji saat jatuh bebas ke tanah sebelum ditransfer keluar arena.

'Aku tidak bisa bohong kalau aku kecewa karena kekalahan ini, tapi aku senang bisa mengantarkan kemenangan untuk Kaichou. Sejak awal, kekalahan Tim Gremory telah ditentukan.'

"Oooouuuchh!"

Issei sontak mundur, kostum armor crimson berasap pada bagian lengan yang ia gunakan untuk meninju kekkai. Setelah melepas armornya, ia mendapati bahwa kulit tangannya melepuh akibat terkena suhu tinggi. Hal itu karena kekkai yang diciptakan Sona terbuat dari air mendidih yang sangat panas, yang akan merebus benda organik dan makhluk hidup hingga matang dalam sekejap. Nampak jelas terlihat adanya uap-uap air yang dilepas dari permukaan kekkai. Efeknya tidak jauh berbeda dengan kekkai api yang menghanguskan apapun yang menyentuhnya.

Mungkin, emosi dan kekhawatiran Issei terhadap Rias tadi membuatnya lupa akan rasa sakit itu.

Akeno, Xenovia, dan budak-budak lainnya merengsek maju demi menyelamatkan Rias.

"Stop!"

Sona mengeluarkan suara peringatan, membuat pada budak Rias berhenti.

"Tidak perlu melakukan hal yang sia-sia, apalagi membahayakan diri sendiri dan Raja kalian."

Para budak Rias berhenti bukan karena peringatan Sona. Mereka semua adalah orang keras kepala yang tidak bisa diperingatkan. Akan tetapi karena ucapan Sona yang memang benar adanya.

Kekkai tidak akan bisa dihancurkan dengan serangan biasa. Perlu suatu serangan yang sangat kuat untuk menghancurkannya, namun itu mungkin akan membahayakan Rias yang ada didalamnya. Raikou atau halilintar suci milik Akeno dan meriam sihir Rossweisse terlalu berbahaya jika digunakan.

Selain itu, kekkai yang terbuat dari air tersebut punya kemampuan untuk membiaskan cahaya, sehingga orang diluar tidak akan dapat menentukan posisi orang didalamnya secara pasti. Sekarang saja, tubuh Sona dan Rias nampak terbalik dengan kepala dibawah dan kaki diatas dari sudut pandang Kiba dan lainnya. Menggunakan pedang suci Ex-Durandal maupun pedang Iblis oleh Xenovia dan Kiba untuk membelah kekkai sangat beresiko karena bisa saja mengenai Rias.

Dan satu lagi, kekkai terbuat dari air mendidih yang sangat panas. Serangan fisik secara langsung hanya akan membuat pelakunya mati seperti kepiting yang direbus hidup-hidup. Koneko, tidak bisa melakukan sesuatu. Pun dengan Gasper dan Asia yang hanya berguna sebagai support.

Sona, memang telak. Kekuatan barunya, sihir elemen didih mengejutkan semua orang.

"Aaaaarrrrrkkkhh...!"

Lagi-lagi terdengar raungan teriakan kesakitan yang dialami Rias.

Sona mungkin menggunakan gelembung-gelembung uap panas untuk menyiksa Rias lagi, membuat kulitnya melepuh dan berlubang. Anggap saja ini permainan kecil, untuk menunjukkan siapa yang di atas.

Ini lah Sona yang sekarang. Dia berkembang sama baiknya dengan Rias. Jika hand to hand saling menyerang dengan sihir, bisa dipastikan Rias dengan Power of Destruction-nya yang akan menang. Namun kemenangan tidak hanya tentang kekuatan, tapi juga taktik dan teknik. Serangan sihir Sona lebih inferior dibanding Power of Destruction, namun karena Sona memiliki lebih banyak variasi serangan dan teknik, ia mampu membuat Rias tak berdaya.

Secara fisik, luka yang dialami Rias tidaklah parah. Cukup dengan sihir penyembuh Sacred Gear Twillight Healling Asia apalagi Air Mata Phoenix, maka akan langsung sembuh. Hanya saja rasa sakit akibat uap panas itu lah yang membuat Rias meraung-raung kesakitan.

Sistem Game tidak akan mengeluarkan Rias dari arena sampai luka yang diterima tubuhnya mencapai level bahaya. Buktinya, Sona masih bisa sesuka hati menyerang psikis Rias.

Semua budak Rias pun juga tak berdaya, frustasi karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolong Raja mereka. Sona melakukan serangan yang tidak hanya melukai tubuh lawannya tetapi juga menekan mental hingga meninggalkan trauma psikis.

Tidak ada alat ukur kesehatan mental dalam sistem Rating Game. Sampai kapanpun, tidak akan ada pemain yang dikeluarkan dari arena selama tidak mendapat luka fisik serius, meski mereka menjadi gila sekalipun akibat serangan psikis. Bagi Maou Ajuka Beelzebub, ini merupakan pukulan telak untuknya sebagai pencipta Rating Game. Sistem keamanan Rating Game bagi banyak orang masih kurang. Pada Rating Game di masa depan, tentu ini akan menjadi topik bahasan utama.

Sona menghembuskan nafas panjang, "Sudah cukup, aku buka orang sadis. Akan kuselesaikan dengan ini."

Sang Heiress Keluarga Sitri menciptakan banyak sekali lingkaran sihir di permukaan tanah di dalam kekkai buatannya. Setiap lingkaran sihir secara kontinyu mengeluarkan gelembung-gelembung uap panas bertekanan super-tinggi. Jika gelembung pecah, tidak hanya mengeluarkan percikap uap panas tetapi juga menciptakan gelombang kejut dari ledakan yang mampu merusak struktur tulang.

Jumlah gelembung yang muncul luar biasa banyak. Sona bahkan keluar dari dalam kekkai meninggalkan Rias bersama jutaan gelembung uap panas yang siap meledak.

Boil Release: Mutually Multiplying Explosive Bubble Steam

BAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANGGGGGG!

Kekkai yang mulanya berbentuk kubus, menggembung akibat kuatnya ledakan dari gelembung-gelembung uap panas.

Ledakan tidak berhenti dalam sekejap, namun terus terjadi selama beberapa saat. Gelembung pertama yang meledak, akan memicu ledakan dari gelembung uap yang lainnya, begitu seterusnya hingga semuanya habis. Ada jutaan gelembung yang menunggu antrian untuk giliran, maka perlu waktu lebih dari satu menit hingga ledakan usai. Kekkai yang mengurung target, membuat efek ledakan tidak keluar sia-sia dan merusak lingkungan, namun terpusat hanya di dalam saja sehingga kerusakannya semakin hebat.

Mari sedikit merenung. Saji berkata kalau ia dilatih secara ekstrim oleh monster gurita berbadan banteng, bijuu ekor delapan. Artinya Naruto lah yang yang bertanggung jawab atas kekuatan Tim Sitri. Maka hal yang sama pasti juga berlaku untuk Sona. Teknik-teknik yang digunakan Sona untuk melawan Rias adalah teknik umum yang digunakan oleh para shinobi. Jelas Sona tidak sedikitpun menggunakan teknik ninja selama pertarungan, tetapi Sona yang jenius sanggup menciptakan formula sihir rumit untuk mengkonversi ide dan konsep ninjutsu menjadi sihir iblis.

Ketika ledakan berhenti, terdengar suara pengumuman terakhir.

'Kekalahan telah dikonfirmasi. Kemenangan dengan raihan double-score bagi Sona Sitri-sama.'

.

-A Hidden Place at Underworld-

Entah di manapun tempat ini berada, yang dapat diketahui bahwa sekarang masih siang hari. Langit ungu kelam dari Underworld bersih dari gumpalan-gumpana kapas putih raksasa.

Seorang gadis mungil berkacamata dengan potongan tambut sebahu, yang dikawal oleh sepasang suami istri, baru saja tiba di tempat ini. Tujuannya untuk menemui seseorang, orang tua legenda yang paling dicari-cari di seluruh dunia. Mereka berdiri menghadap orang tua yang sedang duduk di sofa sambil mengangkat gelas berisi minuman beralkohol.

Orang tua itu, Rizevim Livan Lucifer.

Ada seorang gadis kecil yang duduk tenang di pangkuan Rizevim. Penampilannya seperti anak kelas 1 SMP, mengenakan pakaian serba hitam ala gothic lolita. Dia lah perwujudan dari Sang Ketidakbatasan, Uroboros Dragon, Ophis.

"Hei, bisakah kalian pergi! Siangku yang indah ini terganggu oleh nafas kalian, tahu." kata Rizevim dengan tangan dikibaskan seperti tengah mengusir lalat.

"Kurasa tidak, ttebayou!"

"Baiklah baiklaaaaah. Jadi apa mau kalian tiba-tiba kemari?"

"Kami kangen padamu, Pak Tua pedofil." jawabnya dengan senyum miring.

Ctakk.

Ejekan itu menciptakan urat kekesalan di dahi Rizevim yang tampan.

Tapi ejekan itu sangat lah tepat, sebab sangat menjengkelkan melihat ada orang tua yang memangku gadis kecil sambil memasang ekspresi aneh.

"Katakan itu lagi, maka aku pensiun. Kalian lakukan saja sendiri rencananya!"

Sementara wanita berambut indigo panjang nampak santai, si gadis berkacama malah menepuk jidatnya.

"Ya ampun, kalian! Kita ini bukan teman, jangan berkelakar seperti tadi!"

"Unyohohohohooo~~~." Rizevim tertawa lepas, ""Oke. Aku hanya heran karena kau langsung ke sini begitu Rating Game selesai. Dan kita sudah sepakat kan, bahwa aku yang menjalankan rencana dan kalian membantu dengan memberikan Lilith-chan ini padaku, jadi percayakan semuanya padaku dan kalian tunggu hasilnya saja."

"Terserahku mau apa." jawab si gadis enteng tanpa ekspresi. "Kami kesini karena dari informasi yang kami dapat mengatakan kalau kau ingin merampas sesuatu yang sangat besar."

"Ah, itu benar, Ojou-chan."

"Kau bisa melakukannya tanpa bantuan kami?" tanya si wanita berambut panjang to the point.

Ya, ini lah alasan sebenarnya tiga anak muda ini datang kemari. Tujuan Rizevim adalah apa yang mereka inginkan, jadi mereka ingin memastikan kalau proyek pak tua Lucifer itu berjalan lancar.

"Tidak. Aku memiliki orang lain yang lebih baik dari kalian untuk memuluskan rencanaku."

"Hm?" alis si gadis berkacamata mengkerut.

Lalu sebuah suara terdengar dari arah belakangnya, terdengar serta merta dengan hawa kehadiran yang sangat tipis.

"Halooooo, maaf menganggu."

Ketika berbalik, dia mendapati sosok yang sangat ia kenal. "K-kau!"

"Terkejut, eh?"

Cukup hanya tiga detik dan si gadis berkacamata kembali mendapatkan ketenangannya, "Sang Juara. Jadi kau pengkhianat huh?"

"Ah, sebagai sesama pengkhianat, tidak sepantasnya kita saling ejek, Sona Sitri-sama. Tapi aku tidak suka disebut pengkhianat, aku hanya ingin melayani 'Lucifer' yang sebenarnya. Bagi iblis sejati, nama Lucifer adalah mutlak."

"Tch."

Sona kembali menghadap Rizevim. "Apa kau akan melaksanakan rencana itu saat pertandingan Rating Game empat hari lagi?"

"Ya."

"Hm, itu kan bertepatan dengan pertandingan Rating Game dari Grup G? Tim Diodora Astaroth Vs Sairaorg Bael. Seluruh Fraksi Maou Lama yang tersisa akan melakukan kudeta pada hari itu, artinya kau akan bergerak di balik kehebohan orang lain, benar kan?"

"Ya, begitulah. Teman-teman sejawatku yang kolot itu hanya memikirkan impian mereka yang tidak jelas, jadi tak masalah kalau mereka kumanfaatkan. Ohyohyohyohyohyoooo..."

.

.

.

-Tepes Territory, Rumania-

Sebuah berkas siluet hitam dari sesosok tubuh bergerak dengan kecepatan tinggi meninggalkan bayangan merah yang sangat panjang. Bayangan itu membentuk garis lurus patah-patah akibat gerakan zig-zag menuju sebuah bangunan kastil.

Pyaaarrrrr.

Kaca jendela yang terletak di lantai 4 disamping koridor pecah akibat dihantam sesuatu yang bergerak cepat tadi.

Rupanya itu sesosok tubuh, dan tampak kalau pendaratannya tidak mulus. Entah sengaja atau memang dia tidak mahir menlakukan proses landing yang benar dan tepat.

Bayangan hitam-merah berbentuk sayap, perwujudan nyata dari darah makhluk itu, kembali kedalam tubuh pemiliknya, seseorang bergender wanita.

Dia... Seras Victoria.

Vampire super yang mengabdikan dirinya sebagai pelayan Alucard Sang Vampir Legendaris, vampire terkuat yang pernah ada.

"Itteeeeiiii."

Seras mengaduh sambil berusaha berdiri. Kedua tangannya ia gunakan untuk menepuk pakaiannya yang kotor akibat pendaratan yang tidak mulus tadi.

"Seras!"

Terdengar pekikan seorang dari ujung koridor tempat Seras mendarat. Dia mendekat perlahan.

Seras menatap orang itu sejenak. Ia sangat kenal sosok itu, orang yang sangat dihormati di kalangan Vampir.

"Ah, Yang Mulia Ratu. Maaf kalau saya mengejutkan anda." ucap Seras sambil membungkuk hormat.

Di belakang Ratu Carmilla, berdiri pelayan setianya. Elmenhilde Galnstein.

"Tak apa, kebetulan kau ada disini. Ayo ikut bersamaku." Ratu Carmilla melanjutkan jalannya. Elmenhilde serta merta mengikuti dibelakang.

Seras yang mendapat perintah itu, juga ikut berjalan. Dia heran melihat wajah Ratu Carmilla yang nampak panik dan khawatir. Apalagi cukup aneh bagi seorang Ratu dari wilayah Carmilla bertandang ke kastil Tepes di luar acara resmi.

"Maaf, apa ada sesuatu yang terjadi?"

"Kau akan tahu jawabannya sebentar lagi, Seras."

"Ngomong-ngomong, untuk urusan apa anda kemari, Seras-sama?" Elmen yang penasaran tidak tahan untuk bertanya.

"Aku membawakan ini."

Seras menunjukkan sebuah benda berupa cawan emas yang bersinar.

"I-itu... Holy Grail?" Elmen nampak terkejut, mungkin baru pertama kali melihat benda yang ditunjukkan Seras.

"Ya. Kakashi-kun menyerahkan ini padaku untuk dikembalikan pada Valerie-sama. Pihak Konoha menetapi janjinya akan kesepakatan yang kita buat dengan mereka."

Ratu Carmilla mengatakan komentarnya, "Orang-orang Konoha itu memang bisa dipercaya. Aku mampu menyadari itu hanya dengan sekali melihat mereka. Manusia-manusia dari dunia lain itu memang baik, berbeda sekali dengan para iblis dan makhluk supranatural lainnya."

Elmen mengangguk setuju.

Tiga orang perempuan itupun terus berjalan tanpa bersuara lagi.

Bercerita tentang bagaimana hubungan Konoha dan Bangsa Vampir Rumania terbentuk, itu tidak lepas dari keberadaan Holy Grail sebagai pusaka suci peninggalan The God of Bible yang telah mati.

Bermula dari kedatangan Alucard yang tak disangka-sangka untuk meminta bantuan dari Konoha demi mendamaikan dua Faksi Vampir yang bersitegang. Kakashi meminta bayaran emas sebagai imbalan, itupun untuk pembiayaan pengadaan senjata militer untuk persiapan perang.

Kemudian pembahasan MoU dilanjutkan antara Konoha yang diwakili oleh Sabaku no Gaara, Lord Tepes yang diselamatkan dari serangan Naga Jahat Crom Cruach, dan Ratu Carmilla sebagai tuan rumah. Topik utamanya adalah Valerie Tepes dan Holy Grail. Pembicaraan ini dilakukan secara rahasia hanya antara mereka bertiga, ditambah Elmen sebagai notulen, bertempat di Istana Vampir Faksi Carmilla, satu malam sebelum kudeta Faksi Tepes Baru yang dibacking oleh teroris Khaos Brigade mencapai puncaknya.

Karena Alucard yang merupakan legenda vampir telah menaruh kepercayaan kepada pihak Konoha, Lord Tepes dan Ratu Carmilla tidak segan untuk memberikan kepercayaan pula. Lord Tepes mengajukan permintaan kepada Gaara untuk menyelamatkan putrinya, Valerie, dan dibawa ke Konoha agar lebih aman.

Gaara menyetujui dengan syarat bahwa pihak Konoha diijinkan menggunakan Holy Grail yang ada didalam tubuh Valerie untuk menambah armada militer perang yang mau tak mau akan mereka hadapi nanti. Sang Kazekage Kelima berjanji bahwa Konoha tidak akan memaksakan penggunaan Holy Grail dan menjamin nyawa Valerie. Lord Tepes setuju, kemudian MoU ditanda tangani oleh tiga petinggi tersebut.

Pada kenyataannya, saat aksi penyelamatan Valerie oleh tim Konoha, muncul fakta tak terduga bahwa Holy Grail di dalam tubuh Valerie ada tiga buah. Tiga Cawan sebagai satu set. Satu berhasil diekstrak oleh Marius, dan sebelumnya lagi Rizevim juga mengambil satu. Tersisa satu Holy Grail didalam tubuh Valerie, sehingga vampir berdarah setengah itu masih hidup meski dalam keadaan koma.

Saat kejadian itu, Gaara berada ditempat. Ia pun membuat keputusan sendiri, yakni merampas satu Holy Grail yang diekstrak oleh Marius dari tangan Azazel setelah kudeta selesai dan membiarkan satu Holy Grail lagi dibawa pergi oleh Rizevim.

Konflik selesai setelah utusan dari Aliansi Reliji Injil yang dipimpin Azazel pulang. Valerie yang masih memiliki satu Holy Grail tetap ditempatkan di Rumania, dijaga oleh Lord Tepes sebagai ayahnya karena merasa Rumania sudah aman setelah kudeta digagalkan.

MoU dokumen kerjasama antara Konoha dan Bangsa Vampir direvisi sehari setelah kejadian itu.

Pihak Konoha menyatakan keinginannya untuk membawa satu Holy Grail agar bisa digunakan untuk meningkatkan kekuatan militer karena di Konoha sudah dibentuk organisasi peneliti Sacred Gear dadakan berbekal informasi curian yang dikumpulkan Sasuke. Gaara berjanji akan langsung mengembalikan Holy Grail tersebut kepada bangsa Vampir begitu selesai digunakan, juga berjanji akan membawakan kembali Holy Grail yang berada di tangan Rizevim. Untuk hal ini, Sasuke langsung yang menjamin, juga mengatakan keterlibatan Naruto pada bagian itu.

Mendengar tawarantersebut, Lord Tepes tidak menunjukkan penolakan, malah menerima dengan senang hati iktikad baik dari Konoha. Dengan cara itu lah, Valerie bisa siuman dan sehat kembali.

Itulah yang menjadi pondasi hubungan bilateral antara Konoha dan Bangsa Vampir sampai saat ini.

Hingga akhirnya, tiga perempuan tadi tiba di ujung koridor, tepat di depan pintu kamar.

Dua prajurit yang menjaga di depan pintu mempersilahkan mereka masuk karena tahu benar siapa yang bertamu.

Setelah masuk ke dalam, tidak ada sesuatu pun. Hanya sebuah ranjang mewah berukuran besar yang terletak di tengah kamar.

Ratu Carmilla, Elmen, dan Seras mendekat. Cukup sekilas melihat saja, mereka langsung tahu kalau kasurnya masih sedikit hangat, menyisakan bekas keberadaan seseorag di tempat itu beberapa saat sebelumnya.

"Putriku telah diculik."

Suara bass bernada datar berisi perasaan khawatir dan takut terdengar dari arah jendela, dari seorang laki-laki dewasa serupa manusia berumur 40-an. Rupanya sejak awal dia sudah berada di sana, menatap pemandangan kota dari tempatnya berdiri.

Dia adalah Lord Tepes.

Dan yang diculik adalah putrinya, Valerie Tepes.

"Aku turut berduka." Ratu Carmila mengucapkan rasa belasungkawanya. "Apa motif penculik sudah diketahui?"

"Holy Grail, apa lagi memang kalau bukan itu."

"Ya, aku mengerti. Emm...?"

Lord Tepes memotong ucapan Ratu Carmilla, "Ini murni kesalahanku. Aku kecolongan sehingga tidak menyadari ada sesuatu yang ditempatkan pelakunya di tubuh Valeri, sesuatu yang dia gunakan sebagai media transfer paksa."

"Hm, jadi pelakunya adalah ..."

"Ya, siapa lagi kalau bukan orang itu?"

Seras yang biasanya periang kali ini menunjukkan wajah serius. "Kalau begitu, aku ijin pamit sekarang. Aku akan memberitahukan informasi ini pada Kakashi-kun. Kurasa mereka bisa melakukan sesuatu untuk putri anda, Yang Mulia Raja."

"Ya, terima kasih Seras. Maaf merepotkanmu."

"Tak masalah, ini memang sudah tugasku sebagai pelayan Master."

.

-A Laboratory-

Suatu sosok misterius sedang sibuk berulat dengan alat-alat canggih dan formula-formula sihir yang begitu rumit. Sebulir keringat mengucur dari pelipisnya. Dia sibuk sendirian tanpa ada seorang pun yang menemani.

Tidak jauh darinya, pada sebuah ranjang terdapat sesosok gadis muda berambut pirang yang terbaring tak sadarkan diri. Terdapat beberapa lingkaran sihir rumit di setiap sisi ranjang, lalu satu lingkaran sihir berukuran besar dibawah ranjang.

Ada untaian cahaya seperti tali yang tersambung dari lingkaran sihir disekitar gadis itu menuju ruangan lain yang bersebelahan.

Si sosok misterius mengulas seringaian lebar manakala melihat banyak sekali tabung-tabung kriogenik yang bersusun rata di ruangan sebelah lewat dinding kaca lebar. Tabung-tabung itu menyimpan gumpalan daging hidup yang berbentuk humanoid.

"Kheh!, satu minggu lagi mereka semua akan siap. Tinggal menunggu waktu saja, maka perang terbesar sepanjang jaman akan dimulai."

.

.

To be Continued...

.

Note :Yooo, update lagi. Sesuai jadwal, eheheheheeee.

Saji Vs Issei. Meski sudah dengan kekuatan penuh, Saji tetap kalah. Sorry, itu lah takdir. Tapi tetap saja, Saji memberikan sesuatu sebelum ia kalah. Sesuatu yang menjadi penentu kemenangan timnya.

Sona Vs Rias. Lebih mirip adegan penyiksaan ya dibanding pertarungan? Biarlah, seperti itulah pertarungan yang akan terjadi jika salah satu pihak memiliki strategi mutlak yang pasti meraih kemenangan, tak perlu ada drama muluk-muluk.

Dan bagian akhir, aku sisipkan lagi spoiler-spoiler untuk konflik lanjutannya. Apalagi yang paling bawah, konflik yang benar-benar akan menjadi awal mula perang akhir jaman. Nyahahahahaaaa...

Ulasan Review:

Dewa-dewa lain pasti muncul kok, nanti. :v

Ya iya lah Naruto dan Hinata tidak ikut. Klo NaruHina ikut, 'kan ga adil?. Secara, mereka udah ngalahin petinggi, massa ngelawan tim kelas Rokie?

Oh, Shukaku dari DxD Universe dipasangkan dengan Gaara? Enggak deh kayaknya, kan itu udah jadi milik Sasuke. Jadi maaf. Lagipula sebelum Sasuke, Gaara sudah lebih dulu menggunakan Holy Grail untuk membangkitkan piaraannya dari padang gurun.

Yang nebak Duel King Vs King, terus ada kondisi remisnya. Bener banget. Tapi remis disini menggunakan kesepakatan, yang pada akhirnya pertandingan diteruskan dengan meninggalkan hasil Draw. Tapi tetap aja, ga ada yang bisa menebak 'itu' yang diincar Sona dari chapter kemarin.

Rias yah? Dia memang kuat, bisa menang dari Sona andaikata dirinya tidak lebih dulu dikekang dengan rantai penyerap energi sihir. Dan jelas hasilnya kalau dibandingkan, Power of Destruction lebih kuat dibandingkan gelembung uap panas peledak dari elemen didih milik Sona

Hohooo, yang mengira Sona tidak mungkin sanggup bertarung One by One dengan Rias? Anda salah besar, wkwkwkwkwk. Rias memang dari sananya lebih kuat dari Sona, tapi di FF ini, karena lain cerita dengan LN DxD, terserah aku dong untuk upgrade kekuatan chara, termasuk juga Sona. Ahahahaaa.

NaruHina jadi pemeran jahat? Suka-suka gw dong, :v. Tapi ah, itu cuma sandiwara kan?

Meski di dalam tubuh naruto ada 9 bijuu asli, tapi secara teoritis ga bisa menjadi Juubi. Kan cangkangnya, Gedo Mazou, ga ada. Makanya Naruto hanya menjadi Jinchuriki dari sembilan bijuu. Ini sama aja seperti Naruto di canon dengan mode Sage of Sixth Path.

Kemarin, saat Sasuke menggunakan kotoamatsukami, itu hanya pada Cao Cao dan Dewa Chandra saja, jadi tidak ada hubungannya dengan seluruh dewa Hindu yang lain.

Ada yang nyinggung tentang prediksi jumlah chapter lagi. Auk ah, aku sendiri aja bingung. Semua alur dan konfliknya udah kukonsepkan sampai End, jadi penulisannya aja lagi yang entah menghabiskan berapa chapter. Pengennya sih ga lebih dari 100 chapter. Udah cape gw, kalau lebih aku discontinou mungkin, :v

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita, sebagian lainnya kubalas lewat PM.

Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.

.

.

.

.