Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya
Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .
Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance
Rate : M
Setting : AU (Alternate Universe)
Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.
Pair : Semua Pair Canon
Selasa, 31 Januari 2017
Happy reading . . . . .
Sebelumnya . . . . .
Boil Release: Mutually Multiplying Explosive Bubble Steam
BAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANGGGGGG!
Kekkai yang mulanya berbentuk kubus, menggembung akibat kuatnya ledakan dari gelembung-gelembung uap panas.
Ledakan tidak berhenti dalam sekejap, namun terus terjadi selama beberapa saat. Gelembung pertama yang meledak, akan memicu ledakan dari gelembung uap yang lainnya, begitu seterusnya hingga semuanya habis. Ada jutaan gelembung yang menunggu antrian untuk giliran meledak, maka perlu waktu lebih dari satu menit hingga ledakan usai. Kekkai yang mengurung target, membuat efek ledakan tidak keluar sia-sia dan merusak lingkungan, namun terpusat hanya di dalam saja sehingga kerusakannya semakin hebat.
Ketika ledakan berhenti, terdengar suara pengumuman terakhir.
'Kekalahan telah dikonfirmasi. Kemenangan dengan raihan double-score bagi Sona Sitri-sama.'
.
To The End of The World
Author: Si Hitam
.
Chapter 68. Selangkah Menuju Akhir.
-Underworld, Aamon's Territory-
'Kekalahan telah dikonfirmasi. Kemenangan dengan raihan double-score bagi Sona Sitri-sama.'
Rating Game perdana fase grup secara resmi telah selesai dengan keluarnya pengumuman pemenang barusan. Di ruang penonton Super-VIP ini, masih ada Serafall Leviathan dan Sirzech Lucifer.
Ajuka Beelzebub baru saja keluar, dia sebagai peletak pondasi rating game terpaksa harus membenahi sistem arena pertarungan yang baru saja ditemukan kelemahan baru dari pertandingan Sona dan Rias. Yah, itu berkaitan dengan pencegahan trauma mental hebat kepada peserta yang mendapat serangan psikis agar bisa dikeluarkan segera dari arena jika telah mencapai level bahaya meskipun luka di tubuh peserta itu belum begitu parah. Ini telah terjadi pada Rias, dan tidak boleh sampai berlanjut pada pertandingan berikutnya sebab akan mempengaruhi nilai jual Rating Game di masa depan.
Azazel sudah lebih dulu pergi karena ada kerjaan, tidak lama berselang dari kepergian Naruto dan Hinata yang mulanya juga menonton dari tempat ini. Sedangkan Michael dan Gabriel sudah pulang ke Surga karena tidak bisa berlama-lama di Underworld.
Serafall menyunggingkan senyum kecil melihat kemenangan adiknya. Terlepas dari semua masalah yang ada dan siapapun orang di baliknya, ia sebagai seorang kakak tahu dengan pasti bahwa Sona sudah berusaha keras, dan ia senang. Mungkin orang yang melihat pertandingan tadi akan menilai bahwa Sona memang hebat sehingga sanggup mencetak kemenangan besar seperti itu. Tetapi Serafall tahu apa yang tidak di ketahui orang lain. Sona kecilnya yang lemah, kini tumbuh menjadi kuat bersama bidak-bidaknya pasti dengan perjuangan berat. Sihir elemen didih yang baru pertama kali ia lihat telah cukup membuktikan itu.
Formula sihir yang begitu rumit untuk menggabungkan sihir air dengan sihir api yang sifatnya berlawanan dari sihir Keluarga Sitri, kemudian perlu teknik kompleks untuk membuatnya menjadi ledakan uap panas. Melakukan hal itu, tentu saja butuh penguasaan teknik sihir tingkat tinggi. Serafall tahu seberapa sulitnya itu karena ia juga melakukannya dengan sihir es, sihir turunan dari air yang dikombinasikan dengan elemen angin.
Tidak jauh dari Serafall, Sirzech terduduk diam. Sebelum pergi, Naruto telah mengatakan kalau Sona pasti menang dan itu terbukti sekarang. Hanya saja ia tak menyangka kekalahan adiknya akan seperti ini. Bukan berarti Sirzech marah setelah melihat adiknya terluka, karena luka dan trauma mental yang didapat Rias itu sudah resiko ikut Rating Game. Meski seorang iblis yang jahat, tapi ia masih memiliki rasa sayang kepada adik perempuannya.
Lalu seorang laki-laki tua dengan jenggot putih yang panjang dan memegang tongkat masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu.
"Pertandingan yang hebat." ucapnya sambil berjalan mendekat ke sisi Sirzech.
"Benar, Odin-dono." sahut Maou berambut merah.
"Sirzechs."
"Ya."
"Tentang anak itu, yang memiliki Sacred Gear Naga."
"Maksud anda Sekiryuutei Hyodou Issei-kun?"
Namun, kata-kata Odin berikutnya cukup tak terduga.
"Tidak, maksudku adalah [Pion] dari keluarga Sitri." Rupanya Odin lebih memperhatikan Genshirou Saji. "Sungguh Iblis yang hebat. Kau harus mengurus baik-baik yang satu itu. Dia akan menjadi kuat. Pencapaian dari mengalahkan Sekiryuutei itu sangat besar. Menyaksikan Rating Game para Iblis menyenangkan karena adanya hal ini. Si lemah berubah di tengah-tengah pertandingan. Inilah yang disebut pertandingan sejati."
Odin menyampaikan pujian terbesarnya pada seorang bocah yang eksistensinya bahkan tak ia kenali sama sekali beberapa jam yang lalu. Odin saja mengatakan ini, jadi pasti penilaian banyak orang terhadap Saji melebihi Issei pada pertandingan yang baru selesai ini.
"Benar sekali, benar sekali! Odin Ojii-chan ternyata sangat memahaminya." Serafall memuji kelompok adik perempuannya dengan raut muka ceria. Lalu sejurus kemudian dia menunjukkan wajah serius. "Jadi, maksud anda mengatakan itu adalah..."
Odin tertawa sinis lalu melanjutkan ucapan Serafall yang tak habis, "Yaaa. Dia budak berharga, dia kunci kemenangan pada perang nanti untuk Aliansi selain Sekiryutei."
Sirzech tak menyahut, ia lebih memilih untuk menyesap segelas vodka yang tersaji di meja. Sejak awal melihat Saji mengeluarkan kekuatannya, serta bagaimana tekad pantang menyerah yang dimilikinya, Sirzech sudah tahu kalau keberadaan Genshirou Saji untuk kaum iblis sangat berharga. Harus di gunakan sebaik-baiknya nanti, termasuk dengan kelompoknya yaitu kelompok Sitri yang telah memenangkan pertandingan. Sirzech akan melakukan apapun agar bisa menggerakkan kelompok Sona dan kelompok Rias sebagai boneka perang.
Namun berlainan dengan Serafall. Ia sudah bisa menduga apa yang kini di pikirkan rekannya, Sirzech, akan tetapi ia tahu kalau adiknya bergerak bebas atas kepentingannya sendiri. Semua ini tidak lepas dari keberadaan Naruto dan Hinata yang menjadi akar permasalahan.
Odin berbicara lagi, "Oh iya, bocah manusia pirang dari kelompok Sitri yang kau jebak saat pesta pembukaan Rating Game."
"Ya."
"Bagaimana dengannya, Sirzech?"
"Seperti yang telah saya beritahukan pada anda, memang benar dia eksistensi yang dicari-cari selama ini. Anda sudah membaca semua detail laporannya kan?"
"Hm, aku heran kenapa Zeus dan Brahma melepas dia begitu saja."
"Saya tidak tahu jawabannya, Odin-dono."
"Oke. Katakan padaku kalau ada informasi baru tentangnya."
Hoooo, rupanya Sirzech berani merahasiakan sesuatu dari Dewa-Ketua Norse Odin. Apa ini suatu pertanda?
Hahhhh, persoalan yang sungguh rumit. Entah bagaimana nanti semua ini akan selesai.
.
Sudah berjam-jam Issei bersama budak Gremory lainnya berada di ruang perawatan. Mereka semua diam dalam keheningan, tak ada lagi yang bisa dilakukan selain itu setelah menerima kenyataan pahit bahwa mereka yang jauh diunggulkan oleh banyak orang bisa kalah telak pada pertandingan pertama Turnamen Rating Game.
Secara komposisi pemain, tim Gremory memiliki sususan lengkap dari semua tipe petarung, dan setiap petarungnya mempunyai kelebihan masing-masing serta kekuatan yang besar dan terlatih. Namun itu semua menjadi tidak berguna sama sekali dihadapan kejeniusan Sona Sitri. Padahal komposisi tim Sitri tidak memiliki sesuatu yang dapat diunggulkan, pengecualian untuk Saji yang menunjukkan bentuk barunya bersama Raja Naga Vritra.
Rias, satu-satunya orang yang mendapat luka dalam tim, terpaksa dirawat intensif akibat luka luar yang sangat parah. Teknik gelembung uap panas peledak beruntun tak terbatas yang digunakan Sona, sanggup mengelupaskan seluruh kulit yang membungkus tubuh Rias sehingga hanya menyisakan daging dan tulang saja.
Sona benar-benar serius. Dia bertarung dengan niat membunuh.
Adalah yang dikatakan Sona kepada Rias sebelum mereka memulai Duel King.
'Rias, apa yang akan kamu pertaruhkan dalam pertarungan ini? Aku berniat mempertaruhkan nyawaku. Impianku sangatlah sulit. Kalau aku tak menghancurkan rintangan satu demi satu, aku tak akan bisa membuka jalan untuk meraihnya.'
Saat itu Rias tak punya jawaban. Ia hanya memikirkan impiannya, tanpa tahu ap yang harus ia pertaruhkan untuk meraih impiannya itu.
'Rias, sekarang aku akan menghancurkan kebanggaan dan perkiraanmu.'
Akibat kalimat itu, Rias memasang ekspresi masam seolah dia baru mengunyah serangga pahit. Dia pasti sangat malu. Tentu, Rias lebih unggul dalam pertarungan ini, keunggulan yang nampak sangat hebat sampai sangat wajar kalau Rias yang akan menang. Akan tetapi, keunggulan itu ibarat gelas kosong. Tak ada isi, tak tekad, tak ada pengorbanan yang menjadi taruhannya. Berbeda dengan Sona yang mempertaruhkan nyawanya, bahkan sampai mempertaruhkan nyawa semua budak-budaknya.
Dan Sona, ternyata telah membuktikan apa yang dia katakan, dengan membuat Rias tak berdaya sedikitpun. Itu pun dia lakukan tanpa mengikutsertakan budak barunya yang sangat fenomenal di Dunia Bawah, Uzumaki Naruto yang telah meremukkan armor terkuat Sekiryutei dengan sekali pukul.
Untung saja, sistem Game segera mentransfer Rias saat lukanya sudah mencapai level kritis. Penanganan dengan cepat dilakukan, air mata phoenix diberikan sehingga dengan segera kulit Rias beregenerasi. Kini penampilannya telah kembali seperti semula, tanpa bekas luka sama sekali, putih mulus lembut, kecantikannya tak berkurang sedikitpun.
Hanya saja dia masih tidak sadarkan diri. Tentu ini akibat trauma dari rasa sakit luar biasa karena siksaan dari uap-uap panas yang suhunya luar biasa tinggi.
Secara umum dari penilaian para penonton, serta pemerhati dan pengamat Rating Game, terhadap peringkat Tim Sona Sitri melejit ke atas. Kemampuan baru Saji dengan Irreguler Balance Breaker Malebolge Vrita mampu menambah cukup banyak nilai timnya, tetapi yang sangat signifikan menaikkan peringkat tim adalah kejeniusan Sona dalam mengakomodir semua budaknya yang tidak diunggulkan kedalam satu strategi jitu untuk meraih kemenangan mutlak dan sempurna.
Meskipun penilaian yang kurang baik untuk Tim Gremory, tetapi tak sampai membuat peringkatnya jatuh bebas. Hasil resmi masih belum keluar karena evaluasi dari para petinggi sangat keras. Intinya yang membuat buruk penilaian untuk Tim Gremory adalah sudah kalah, telak, juga memalukan karena jelas-jelas memiliki keunggulan dalam kekuatan bahkan menguasai lebih dari 80% jalannya pertandingan, namun hasilnya malah berbalik 180 derajat. Mungkin akan lain cerita jika Naruto ikut serta.
Ada sebuah simulasi kecil yang sederhana dan sangat logis untuk bagian akhir pertandingan hari ini. Tim Gremory pasti akan menang sempurna dengan raihan full-score 40 point, jika saja seandainya Rias sebagai King tidak bertindak gegabah. Sona memang memberikan kejutan yang spektakuler dengan teknik sihir elemen didih, sihir yang pertama kali ada dalam dunia iblis. Namun itu tak akan menjadi masalah kalau semua anggota Tim Gremory turun langsung untuk menghadapi Sona yang hanya tersisa seorang diri, Sona pasti kalah. Memang akan kurang bagus dilihat jika main keroyokan, apalagi semua budak Rias sudah terbukti kekuatannya, terlebih Sekiryutei. Sona yang jenius pun tahu itu, tak ada satupun strategi yang bisa ia pikirkan untuk menang kalau simulasi itu benar-benar terjadi.
Namun kenyataannya, Rias lah yang membuat timnya kalah. Ego dan harga diri tinggi membuatnya merasa malu kalau melawan Sona dengan seluruh kekuatan tim. Rias memiliki penguasaan tingkat tinggi terhadap Power of Destruction, meski tidak sehebat kakaknya tapi itu sejajar dengan para petinggi dari keluarga dimana kekuatan itu berasal, Great King Bael. Namun kepercayaan diri dan optimisme tinggi akan kekuatannya sendiri yang tanpa perhitungan membuatnya buta sehingga tidak bisa melihat kedepan. Lalu dengan sedikit kalimat dan tindakan provokatif yang dilakukan Sona, lengkap sudah takdir kekalahan Tim Gremory.
Semua analisis itu terlihat begitu gamblang sehingga sangat mudah dimengerti, meskipun kau adalah orang yang tidak terlalu pandai dalam berpikir.
Sungguh, ini membuat tim Gremory tampak sangat bodoh, padahal sudah memiliki semua keunggulan untuk menang. Dan ini menjadi pelajaran berharga untuk Issei, Akeno, Rias, dan yang lainnya. Untung saja ini hanya Game, bukan pertarungan yang sesungguhnya. Kalau tidak begitu?, entahlah...!
"Aku ingin keluar sebentar."
Issei memecah keheningan.
Teman-temannya menoleh sebentar kemudian menunduk lagi. Memikirkan nasib Raja mereka, serta merenungi kekalahan yang mereka dapatkan.
Setelah meminta ijin, Issei pun langsung beranjak dari ruang perawatan.
"Aku ikut, Senpai."
Koneko turut serta meminta ijin. Dia menyusul sang Sekiryutei dan berjalan di sampingnya.
Sepanjang berjalan di Koridor, mata Issei menatap lurus ke depan.
"Senpai."
"Hm, ada apa Koneko-chan?"
"Kita memang kalah, tapi jangan sampai itu membuatmu depresi."
Koneko berusaha menyemangati Issei. Baginya, kalah dari Sona bukan berarti mereka gagal. Itu hanya batu yang membuat tersandung, seharusnya mereka bangkit lagi, terus berjalan dan berlari, hingga sampai pada impian dan tujuan akan hidup yang dianugerahkan Kami-sama pada mereka.
"Tidak, bukan tentang itu, ini tentang..."
"Saji-senpai ya?"
Issei mengangguk setelah membuang nafas, "Aku menang darinya, tapi aku tidak sedikitpun merasa menang."
Ada beberapa kalimat yang Saji lontarkan saat mereka bertarung kini terngiang kembali di kepala Issei.
Saat itu terdengar suara deru nafas Saji yang terengah-engah akibat menghajar Issei dari balik kobaran api hitam nan gelap sehingga berhasil menyudutkan sang Sekiryutei. Meski Saji berada pada titik yang lebih unggul, namun nampaknya Saji menerima efek buruk dari kekuatannya sendiri, mungkin itu lah harga yang harus dibayar Saji untuk menggunakan Balance Breaker Promosi Malebolge Vritra.
Dengan niat membunuh tertuju pada Issei, Saji berteriak dengan kalimat yang membawa seluruh perasaannya.
'Aku sangat iri padamu. Kebanggaan dari majikan dan senpaimu. Sang Sekiryuutei. Semua orang mengenal tentangmu. Tapi, meski aku [Pion] yang sama denganmu, aku tak punya apa apa! Tak punya apa apa! Karena itulah, aku memakai seluruh kebanggaan dan kepercayaan diriku. Aku akan membunuhmu saat ini, Sekiryuutei!'
Saji dan Issei bertarung dengan niat saling membunuh. Bukan membunuh untuk menghilangkan nyawa, tapi bertarung dengan saling membenturkan impian dan ideologi masing-masing. Berjuang keras untuk membunuh, menghentikan tekad lawan demi sebuah kemenangan agar impian sendiri bisa diraih.
Pertarungan terus berlangsung hingga saatnya situasi berbalik. Saji yang kemudian tersudutkan, berada para titik dimana ia hampir dikalahkan oleh Issei.
'Issei, bukan payudara yang paling kuinginkan. Aku tidak bermimpi menjadi raja harem sepertimu. Tapi menjadi guru! Seorang guru! Aku akan menjadi guru!'
Saji mengatakan impiannya dengan sungguh-sungguh. Itu bukan impian yang dikatakan oleh anak kecil ketika ditanya guru apa cita-citanya, namun itu adalah impian yang dikatakan oleh pemuda berisi tekad membara dan telah mengetahui untuk tujuan apa dia hidup di dunia. Sesuatu yang sangat sulit dimiliki oleh orang lain.
'Tak bisakah aku menjadi guru!? Kenapa kami harus ditertawakan!? Kenapa impian kami dianggap seperti tak ada!?"
Saji meneriakkannya sambil menangis pada Issei. Tidak, tangisannya diarahkan pada semua orang yang menyaksikan pertandingan mereka.
'Kami tak menyatakan impian kami hanya untuk ditertawakan, apalagi dilupakan!'
Lalu meskipun sudah jelas kekalahan di depan mata, namun Saji masih sanggup mengatakan sesuatu yang menembus armor Cardinal Crimson, memukul keras semangat Issei saat itu.
'Hari ini! Aku pasti! Aku pasti akan melampauimu!'
"...-pai!"
"-npaaaaiiii!"
"Senpai!"
Panggilan keras Koneko menarik Issei ke kenyataan. Nampak senyum sumringah yang tulus Koneko berikan untuk Issei. Ia melihat senpai yang selalu berjuang mati-matian untuk kelompok mereka, kini tak hanya memikirkan hasrat duniawi saja, tetapi juga mampu merasakan tekad dan semangat lawannya.
"Ahahaaaa..." Issei tertawa hambar. "Maaf Koneko-chan kalau aku melupakanmu tadi. Tapi hei, aneh sekali melihatmu tersenyum begitu kepadaku."
Koneko memalingkan muka menatap lurus kedepan, masih dengan senyuman. Bagi dirinya, ini sangat lah penting dan berharga dalam setiap pertarungan. Naruto mengajarkan kepadanya untuk peka akan perasaan lawan ketika bertarung, rasakan setiap dentuman tekad dan semangat mereka, lalu kalahkan dengan satu 'pukulan keras'. Pukulan yang terisi penuh dengan impian dan jiwa. Pukulan yang tak bisa diungkapkan dengan pengetahuan apapun, yang dampaknya mampu menembus dan mencapai inti kehidupan, tak perduli sekuat apapun pertahanan yang dipakai. Pukulan yang mampu menghantarkan segenap perasaan kedalam palung terdalam hati lawan, sekeras apapun hati mereka. Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan, jagan pernah melakukan sesuatu yang merendahkan lawan, apalagi merasa menang dan meremehkannya.
Itulah prinsip pertarungan yang sesungguhnya, yang hanya dipahami oleh para petarung sejati.
Koneko kini mengerti, Issei telah belajar akan hal itu. Belajar sendiri, dan pengalaman lah yang mengajarkannya. Saji juga pasti telah diajarkan tentang hal itu. Dan sekali lagi, semua itu tak lepas dari peran pemuda dengan senyum secerah mentari, Uzumaki Naruto.
Mengingat hal ini, Koneko jadi meridukan senpainya yang berambut pirang itu. Ia tahu rasa rindu ini salah, orang itu sudah memiliki istri yang sempurna di sisinya, tapi tak ada yang salah kan dari orang yang merindu?
Aaaaahhh~~~!
Kesampingkan sedikit tentang Koneko yang mulai larut dalam dunianya sendiri, kembali perhatikan Issei.
Sekiryutei masa kini ini rupanya kembali memikirkan Rating Game yang telah lewat. Saji telah kalah, rivalnya itu dikeluarkan secara paksa dari arena rating Game. Namun situasi kembali sulit saat Sona berhasil membalik keadaan dan menjebak Rias.
Issei berkali-kali menghantam kekkai yang dibuat Sona namun setiap pukulannya telah kehilangan kekuatan. Penjelasannya adalah perkataan Sona kepadanya.
'Armormu memang padat, bahkan segenap kekuatan kamipun mungkin belum cukup untuk menembusnya. Kekuatan seranganmu juga kuat. Namun, saat aku mencari cara mengalahkanmu, ada banyak cara. Tetapi Saji..., Saji lah yang melakukannya dengan caranya sendiri, ia berhasil.'
Kutukan jahat Vritra mampu mencapai inti Boosted Gear, sehingga Issei kehilangan kontak dengan Ddraig, beserta kekuatannya sebagai Sekiryutei.
'Saji, dia selalu berkata kalau dia akan melampauimu. Bagi Saji, kau adalah sesama [Pion], teman, dan rival, yang sangat ingin dia kalahkan.'
Mengingat ucapan Sona itu, Issei menjadi puas. Semangat bertarung dan cita-cita Saji tunjukkan telah membekas di hatinya. Jika Saji menganggap dirinya seperti itu, maka begitu juga seharusnya, ia harus menganggap Saji sebagai sesama pion, teman, dan rival, yang sangat ingin dikalahkan jika diberi kesempatan untuk bertarung sekali lagi.
'Namun Issei, kau memiliki Naga Surgawi yang Legendaris di dalam dirimu. Akibatnya, Saji memiliki rasa rendah diri terhadapmu. Aku menyampaikan pada anak itu bahwa dia boleh bertarung sembari menangisi rasa irinya, tapi itu bukan penghalang untuk menang. Jadi akan kukatakan ini padamu, Sekiryutei! Ketika kau hanya mengincar posisi top, Saji terus mengejar tujuan untuk bisa mengalahkanmu. Kau bukanlah satu-satunya [Pion] yang memiliki impian dan tujuan utama. Seorang yang telah mengalahkanmu adalah Genshirou Saji!'
Issei berjalan dengan kepala menunduk dalam. Tak ada satupun kesalahan dari setiap kata yang dihujamkan Sona ke jantungnya.
'Hari ini! Aku pasti! Aku pasti akan melampauimu!'
Issei kembali mengingat kata-kata Saji dalam pikirannya. Dia mendongak, pikirannya kembali jernih. Saji telah berjuang dan berlatih keras agar bisa mengalahkannya.
Dalam benaknya, Issei mengatakan sesuatu kepada Saji, 'Sial! Kau sialan, Saji!Kau sungguh hebat. Bahkan saat seranganku terus mengantam dan menghantammu, kau hanya berpikir untuk mengalahkanku. Biarpun kau tak mengalahkanku secara langsung, kau percaya bahwaakan ada temanmu yang akan mengalahkanku walau kau hanya meninggalkan sebuah goresan pada armorku.'
"Issei-senpai."
"Hm, apa Koneko-chan?"
Koneko berhenti berjalan, menatap lurus ke wajah Issei, sorot tajam dari iris mata kuning yang menembus hingga ke relung pikiran pemuda bersurai coklat tersebut. "Tampaknya kau sudah mengerti."
"Ya. Aku kalah dari Saji. Aku kalah. Aku akui itu. Tapi..., tapi sangat salah jika aku terpuruk. Aku akan bangkit. Tidak ada sejarahnya Sekiryutei tenggelam hanya karena satu kali kekalahan. Aku bersumpah, pertarungan selanjutnya aku tidak akan mengecewakan Buchou lagi, tidak hanya Rating Game saja tapi semua pertarungan untuk membawa Buchou ke puncak dan meraih impian kita, itu pasti!"
"Ufufufuuuuuu." Koneko tertawa kecil hingga matanya menyipit dengan punggung tangan menutupi mulut kecilnya.
Issei terheran, "Se-sejak kapan kau meniru Akeno-san!" katanya sambil menunjuk wajah Koneko.
"Tidak. Aku tidak meniru siapapun. Hanya saja aku senang, kau telah kembali seperti biasa, Issei-senpai."
Issei dan Koneko melanjutkan langkah kakinya di koridor. Obrolan kecil tadi membuat mereka saling memahami sebagai teman.
Koneko menyadari, dan mungkin orang lain di luar juga ada yang menyadari, bahwasanya Tim Gremory telah berubah banyak bahkan 'jatuh' sejak insiden pemukulan Uzumaki Naruto terhadap Sekiryutei pada pesta pembukaan Turnamen Rating Game. Di mulai dari Issei yang lebih pendiam, pukulan yang hampir saja membuat nyawanya melayang itu tentu menggoncang jiwanya. Rias pun juga terseret hingga membuat hubungannya dengan Sona merenggang, padahal mereka adalah sahabat dekat sejak sejak kecil, sebut saja sahabat sepopok. Akeno, Xenovia, dan Kiba yang disadari atau tidak sudah menjalin hubungan lumayan dekat dengan Naruto maupun Hinata, terpaksa harus rela memutus komunikasi. Gasper dan Asia menjadi murung karena mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk hal itu. Bahkan Rossweisse pun sebagai guru, tak sanggup memberikan nasehat.
Tim Gremory menjadi kacau. Namun setelah pertandingan ini, suasana tim telah berubah. Pertama adalah Issei, dia mendapatkan hasil tak terduga setelah pertarungannya dengan Saji. Semoga ketika siuman nanti, Rias segera menyusul, begitupula dengan anggota klub lainnya.
Itulah yang Koneko harapkan. Ia tidak bisa mengatakan banyak hal walau otaknya telah mengantongi sebuah rahasia besar. Koneko yakin, perlahan tapi pasti kelompoknya akan berjalan di langkah yang benar. Ah tidak, mungkin ada sedikit hal yang bisa Koneko katakan sekarang.
"Nee Senpai, bagaimana menurut pandanganmu terhadap Naruto-senpai dan Hinata-senpai setelah kelompok kita kalah bertanding?"
"Uhhuh, hampir saja aku melupakan mereka berdua." Issei menerawang ke atas. "Mereka... aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi firasatku mengatakan kalau mereka bukan orang jahat."
"Heh?" Kening Koneko mengkerut, "Memangnya siapa yang pernah mengatakan padamu kalau mereka orang jahat?"
Masih dengan kepala mendongak, kini kedua tangannya disanggakan di belakang kepala. Issei mengulas senyum setelah berpikir sejenak.
"Bukan begitu, Koneko-chan. Setelah kita menyusun strategi di arena Rating Game, pada detik terakhir sebelum kita melangkah ke pertarungan, kau sempat mengatakan bahwa mungkin Naruto-senpai dan Hinata-senpai memiliki suatu tujuan terselubung. Meski kau berkilah bahwa itu hanya firasatmu saja, tapi pikiranku mengiyakannya. Apalagi memangnya kalau bukan karena seorang teman periang, murah senyum, dan hangat yang kita kenal selama ini ternyata adalah orang yang sangat kuat dan misterius. Wajar kalau aku juga berpikir mereka memiliki tujuan tertentu. Bahkan sampai sekarang aku meragukan apakan mereka budak asli Sona-kaichou atau hanya kebohongan belaka."
"Terus?"
"Yaaa, pokoknya aku sekarang yakin walaupun mereka berdua memiliki tujuan tertentu tapi mereka sama sekali tidak berniat jahat."
"Kenapa?" Koneko menatap dengan wajah penasaran. Ia ingin tahu apa yang Issei pikirkan tentang Naruto dan Hinata saat ini.
"Karena Saji, Sona-kaichou, serta anggota OSIS lainnya telah menunjukkannya padaku. Menunjukkan semangat pantang menyerah, tak akan kalah, selalu bangkit berapa kalipun terjatuh, tidak takut mencoba walau tahu sampai mana batasan diri dan telah melihat betapa kokohnya dinding yang menghalangi, serta tetap memegang teguh impiannya meskipun impian itu ditertawakan bahkan dilupakan oleh orang-orang. Aku tidak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya dari OSIS. Hal seperti itu pasti ada karena keberadaan Naruto-senpai di antara mereka. Aku tahu dan yakin karena pukulan keras penuh tekad yang memikul impian besar, yang Saji hempaskan ke armorku, rasanya sama persis dengan pukulan Naruto-senpai saat pesta itu. Yah, pukulan Naruto-senpai padaku memang dipenuhi amarah, tapi itu tak sedikitpun mengurangi nilai dan wibawa pemiliknya."
"Errrrr..." Koneko sepertinya bingung mau berkomentar apa.
"Eh, kenapa huh?" mata Issei memicing pada Koneko.
"Kau lebay, Senpai!"
"Tch." Issei mendelik ke arah lain.
Koneko tertawa lagi. Memang sangat aneh mendapati Issei yang hanya memikirkan payudara, hasrat duniawi, dan bertarung, tiba-tiba sanggup mengeluarkan kata-kata luar biasa seperti tadi.
Yah, untuk sekarang Koneko bisa sedikit lega. Ia senang, meski hanya sedikit tapi ia berhasil menghilangkan pandangan negatif Issei pada Naruto dan Hinata. Semoga anggota klub lainnya juga seperti itu.
Kemudian, Koneko sedikit terkejut begitu mengetahui dimana mereka sekarang berada, tepat di depan pintu sebuah ruangan. Ia menoleh ke arah Issei yang memasang ekspresi cerah.
"Senpai, kenapa kau membawaku kesini?"
"Pertanyaan macam apa itu, Koneko-chan?" Issei melontarkan pertanyaan yang nadanya sedikit mengejek. "Aku tidak mengajakmu. Kau sendiri yang mengikutiku."
"..."
Koneko tak menyahut apapun lagi, meski ia sendiri masih cukup terkejut saat tahu bahwa dirinya dan Issei berada di depan ruang perawatan anggota Tim Sitri. Berbeda dengan Tim Gremory yang hanya Rias saja yang terluka, di Tim OSIS, selain Sona semuanya terluka, dari yang sedang sampai yang parah.
"Ayo masuk." ajak Issei.
Kriiieeett.
Pintu berderit meskipun Issei mendorongnya perlahan. Ia hanya tidak ingin mengganggu ketenangan orang-orang di dalam ruangan.
"Yoohallooo, Issei-san, Koneko-chan."
Baru saja masuk, sudah ada yang menyapa dengan suara cempreng. Tidak lain adalah Tomoe Meguri, bidak [Knight] dari anggota OSIS, budak paling periang di antara yang lainnya.
Issei dan Koneko langsung mendekat ke ranjang dimana Tomoe berbaring dan mendapat perawatan, sebelah kiri paling dekat dengan pintu. Beberapa bagian tubuh Tomoe, terutama pada tangan dan kaki terbungkus perban. Tomoe bertarung melawan Kiba sebagai sesama bidak kuda. Dia pasti mendapat luka sayatan yang sangat banyak di tubuhnya, sampai akhirnya dia kalah.
"Bagaimana keadaanmu, Meguri-senpai?"
Koneko yang bertanya.
"Yah, seperti yang kalian lihat. Aku baik-baik saja. Ahahaaaa." jawab Tomoe seraya tertawa.
"Syukurlah." Issei menghembuskan nafas lega. "Kau terluka Meguri-san, tapi tampaknya kau sangat senang."
"Ya iya dong. Kami menang gitu loh." Tomoe tersenyum girang dengan dagu terangkat setelah menyentil hidungnya dengan ibu jari. Tampak sekali binar kebanggaan yang terpancar dari ekspresinya.
Issei langsung dipenuhi aura-aura kelam di sekitar tubuhnya. Mungkin Issei belum bisa menerima kenyataan kalau timnya kalah.
Koneko tampak biasa saja. Ia menatap ke sekeliling ruangan. Ada banyak ranjang perawatan ternyata, dan masing-masing ada orangnya.
Bennia, Momo Hanakai, Reya Kusaka, dan Rugal menempati ranjang yang tersusun berderet dari arah jendela. Mereka berempat sedang tidur nyenyak, tak sedikitpun terganggu oleh suara nyaring Tomoe barusan. Mungkin mereka sudah biasa dengan suara kencang Tomoe.
Bennia kelihatan paling sedikit menerima luka, karena saat di arena dia mengatakan menyerah sebelum dihajar habis-habisan oleh semua anggota klub penelitian ilmu ghaib. Meski dia hanya gadis kecil seumuran anak SMP, tapi dia berhasil menerobos ke wilayah markas tim Gremory sendirian. Itu prestasi yang tidak bisa diremehkan.
Pada barisan ranjang yang bersebrangan, ada wakil ketua OSIS Tsubaki Shinra. Didekat jendela membaca buku dengan tenang. Selanjutnya ada Tsubasa Yura dan Ruruko Nimura yang ranjangnya bersebelahan. Dua gadis ini nampaknya baru saja terbangun dari tidur tenangnya.
Koneko langsung mendekati keduanya, berdiri diantara ranjang perawanan Tsubasa dan Ruruko.
"Nnngghh." Tsubasa sedikit merintih saat mulai membuka mata. Mungkin badannya masih sakit karena tinju-tinju kasar yang ia terima dengan tubuhnya saat bertarung.
Sedangkan Ruruko menguap panjang sekali.
"Maaf. Apa aku mengganggu kalian, Yura-senpai, Ruruko-san?" ucap Koneko dengan nada menyesal. "Istirahatlah lagi."
"Ohh, ternyata kau Koneko-san." Ruruko menyandarkan dirinya di pinggiran ranjang. "Aku kira suara siapa."
"Menjenguk kami?" tanya Tsubasa.
Koneko tersenyum kikuk. "Y-ya." katanya sambil mengangguk pelan.
Bagaimana mungkin Koneko tidak bisa bersikap seperti itu. Pasalnya, Koneko lah sendirian yang menghajar habis-habisan Tsubasa dan Ruruko sekaligus hingga bebak belur dan dikeluarkan dari arena. Bidak Benteng dan Pion milik Sona tak sedikitpun mampu menggoyahkan kekuatan bidak benteng Rias yang imut itu. Wajar saja hasilnya begitu karena Tsubasa dan Ruruko mulanya adalah manusia biasa yang direinkarnasi menjadi iblis, berbeda dengan Koneko yang aslinya adalah seorang youkai nekomata dengan bakat alami yang sangat hebat.
"Terima kasih." ucap Tsubasa.
"Eh. Tidak. Harusnya aku yang minta maaf."
"Tidak!" Ruruko berkata dengan nada tegas. "Koneko-san, kalau kau meminta maaf maka perjuangan kami bertarung melawanmu akan sia-sia, meskipun kami kalah, kau tahu!"
"A-..."
Koneko jadi bingung sendiri mau berkata apa lagi. Ia merasa serba salah.
"Sudah lah, jangan pikirkan itu lagi." ucap Tsubasa dengan nada lembut.
Yah, di antara mereka bertiga Tsubasa adalah yang paling tua, siswa tingkat kedua sedangkan Koneko dan Ruruko masih di tingkat pertama. Jadi Tsubasa sebisa mungkin bertindak dewasa.
Kembali ke Issei. Ia memperhatikan satu persatu anggota OSIS yang terluka. Satu hal yang langsung dapat ia pahami. Luka-luka yang mereka terima membuktikan bahwa setiap dari mereka bertarung dengan serius.
Mungkin memang sudah strategi Sona dari awal agar semua budaknya kalah dalam pertarungan melawan budak Rias demi meraih kemenangan dengan double-score itu. Akan tetapi Issei sadar bahwa hati setiap bidak menolak kalau mereka kalah tanpa usaha apa-apa. Mereka tetap berjuang keras meskipun tahu pasti akan kalah, mereka bertarung sekuat tenaga untuk membuktikan pada orang-orang yang menonton bahwa mereka benar-benar memperjuangkan impiannya.
"Hyoudou-kun."
Issei menoleh kepada Tsubaki yang kini telah menurunkan buku yang ia baca, menatapnya serius.
"Iya, Fukokaichou."
"Kau mau menjenguk Saji kan? Dia ada ada di ruang perawatan sebelah."
Issei ingat kalau Saji terluka paling parah dibanding anggota OSIS yang lain.
Yah, Issei lah yang membuat Saji seperti itu. Issei menembakkan dragon shot tanpa menahannya sedikitpun, dengan kekuatan baru Dividing Wyvern Fairy yang memiliki kekuatan campuran Hakuryuukou dan Sekiryutei. Issei melakukannya karena ia tahu Saji tak akan terima kalau diserang dengan serangan setengah-setengah dan ragu-ragu. Pertarungan mereka serius, Saji bahkan bertarung dengan niat mati mempertaruhkan nyawa demi membuktikan kepada semua orang bahwa impiannya berharga.
Setelah serangan berhasil pun, Issei terus melihat bagaimana Saji yang terluka jatuh bebas ke tanah tanpa sekalipun berkedip, meskipun itu sangat memilukan, hingga ditransfer keluar karena karena Issei tahu bahwa saji pasti akan bangkit kembali kalau ia memalingkan pandangan.
"Terima kasih, Fukokaichou. Kalau begitu aku pamit."
"Hm."
Tsubaki fokus membaca bukunya kembali, sementara Issei berjalan menuju pintu ruangan dimana para anggota OSIS dirawat. Koneko masih di dalam bersama Tsubasa dan Ruruko, tampak kalau hubungan pertemanan mereka bertiga semakin erat setelah pertarungan Rating Game hari ini. Koneko mungkin masih ingin berlama-lama.
Sebelum Issei menghilang di balik pintu, suara Tsubaki kembali terdengar.
"Selain lukanya yang parah, sebagian tubuhnya juga tercemar kutukan jahat Vritra bahkan sampai ke jantungnya. Itu efek buruk karena ia baru pertama kali menggunakan Balance Breaker Malebolge dan melakukan fusion dengan roh Raja Naga Vritra"
Itu membuat Issei sekali lagi merasakan sesuatu yang lain di hatinya. Tapi...
"Aku tahu."
tapi Issei sudah menyadarinya sejak awal melihat promosi itu, Saji benar-benar bertarung melawannya dengan niat mati.
Ini lah tujuan Issei sebenarnya sehingga meninggalkan ruangan Rias dirawat, ia ingin mengubah suasana hati dengan pergi menjenguk Saji. Katanya luka Saji sudah hampir sembuh, bahkan sudah sadar dan bisa bicara. Dalam Game, mereka memang musuh tetapi setelah berakhir, mereka adalah teman, seperti biasanya.
"Tolong ambil lah ini, Saji-kun."
Terdengar suara riang Serafall Leviathan dari dalam ruangan Saji dirawat. Issei melihatnya dari celah pintu yang terbuka sedikit. Selain Serafall, ada Sona serta seorang lagi, pria paruh baya dengan rambut hitam ubanan yang gondrong. Saji duduk bersandar pada tepian ranjang perawatannya.
Pria paruh baya itu cukup terkenal meski ia bukan petinggi, juga bukan seorang pemimpin yang dihormati seperti Maou, bahkan bukan iblis petarung. Dia hanyalah pebisnis dari Underworld yang hobi menonton pertarungan. Bahkan dia lah orang yang paling antusias dengan Rating Game, menjadi donatur terbesar untuk penelitian Maou Ajuka demi mengembangkan Rating Game menjadi lebih baik lagi.
Meskipun bukan iblis petarung, tapi pria itu adalah seorang pengamat Rating Game yang dihormati dan disegani, penilaian darinya dipegang dan menjadi rujukan banyak orang.
Saji menerima sesuatu dari tangan Serafall. Sebuah kotak kecil yang nampak mahal.
"U-Umm. I-ini!?"
Saji gemetar dan gugup.
"Itu hadiah kepada seseorang yang unggul dan bertarung paling mengesankan dalam Rating Game."
Pria paruh baya itu mengatakannya dengan senyuman.
Namun...
"A-Akuuu... Aku kalah dari Sekiryutei. A-aku tidak layak menerima ini."
Saji menggenggam seprai ranjangnya dengan wajah frustasi dan penyesalan yang nampak jelas.
"Itu memang benar." pengamat Rating Game itu nampaknya paham bagaimana perasaan Saji. "Namun konsekuensinya, Sekiryuutei kehilangan kekuatannya sehingga timmu bisa menang. Artinya kau mengalahkan Sekiryutei yang jauh lebih unggul darimu. Aku dan teman-temanku menyaksikan pertarunganmu dengan senang dari bangku penonton. Bahkan kudengar Dewa Ketua Odin-sama dari Norse sampai memuji aksimu."
Serafall mengeluarkan medali dari kotak kecil di tangan Saji, lalu meletakkannya di dada pemilik kekuatan Vritra itu.
"Kau tak perlu merendahkan dirimu, Saji-kun. Bukan hal mustahil Iblis sepertimu bisa mencapai posisi top. Aku senang bisa melihat para Iblis muda menjanjikan masa depan. Curahkanlah dirimu lebih tinggi lagi. Aku memiliki harapan besar untukmu demi Sona-tan."
Maou Leviathan menepuk-nepuk kepala Saji sambil tersenyum jahil ke arah Sona.
Sona mendengus, memalingkan muka. Ia pasti senang budaknya memiliki tekad pantang menyerah sekuat itu. Paling tidak dengan hasil ini, satu beban pikirannya berkurang, ia tak perlu terlalu mengkhawatirkan budak-budaknya lagi. Sona bisa fokus dengan masalah didepannya sekarang, membantu Naruto dan Hinata.
"Tak apa-apa. Tak peduli berapa tahun atau berapa dekade yang diperlukan, teruslah bercita-cita menjadi guru Rating Game. Jangan pernah melupakannya karena itulah yang membuatmu hidup."
Pengamat Rating Game menyambung pesan yang disampaikan Serafall. "Juga jangan bersedih lagi. Aku pastikan padamu, mulai saat ini tidak akan ada lagi yang menertawakan impiamu dan impian timmu. Kau paham?"
Saji mengangguk, menangis dengan sunyi. Air matanya mengalir tanpa henti, dan wajahnya menjadi kusut.
"Saji, kau telah menampilkan sosok yang hebat di depan banyak orang. Kau bertarung dengan luar biasa."
Akhirnya Sona memberikan pujiannya juga. Dia menatap saji dengan penuh kebanggaan dari matanya. Untuk saat ini, tidak ada yang membuatnya lebih senang selain karena karena budak kebanggaannya telah mendapat penilaian setinggi itu.
Saji menggenggam medali di dadanya, kemudian menyeka air matanya dengan tangannya dan mengangguk dengan kuat.
"Ya. Terima kasih banyak!"
Issei yang berada di luar ruangan juga merasakan bangga yang begitu besar untuk Saji sebagai seorang teman. Merasa kalau tak akan sopan untuk mendengar lebih jauh lagi, ia meninggalkan tempat itu kemanapun langkah kaki membawanya.
Sang sekiryutei mengucapkan banyak kata-kata dalam otaknya.
Saji, selamat.
Aku hanya menganggap Vali sebagai rivalku. Aku terus percaya tanpa ragu bahwa Vali adalah satu-satunya rival yang harus kukalahkan dengan takdir Sekiryutei-Hakuryuuku hingga hari ini. Tapi ternyata aku salah besar, ada kau dan ada banyak orang lain lagi yang harus kukalahkan sebagai Sekiryutei.
Karena itulah, akan kukatakan padamu secara langsung nanti.
Itu..., akuuu... aku minta maaf.
Hei, Saji. Siapakah di antara kita yang berhasil menjadi Iblis Kelas Tinggi lebih dulu dan mewujudkan impian kita?
Aku takkan kalah darimu! Pasti. Dan aku pasti akan menang kalau kita bertarung lagi!
Jadi, sampai jumpa nanti.
Rivalku, Saji Genshirou.
.
.
.
-Waikhunta-
Tempat yang seperti luasnya jagad raya alam semesta ini adalah tempat dimana salah seorang dewa tertinggi dalam ajaran Hindu mewujudkan entitasnya sebagai sesuatu yang ada.
Sang Hyang Batara Wisnu atau yang dikenal sebagai Sri Mahadewa Vhisnu, dia lah yang menempati Waikhunta seorang diri. Sosoknya ghaib dan berada dimana-mana. Para penganut Hindu melukiskan dalam kitab-kitab Purana wujud Mahadewa Vhisnu sebagai dewa yang berkulit kebiruan dan berlengan empat yang masing-masing memegang benda pusaka yaitu Gada, Teratai, Sangkala, dan Chakra.
Sang Hyang Batara Wisnu pun membuka matanya setelah lama terpejam dalam meditasi, hingga membuat seorang pemuda berkulit gelap-biru dengan mahkota berhias bulu ekor merak yang memegang suling di sampingnya keheranan.
"Apa ada yang mengganggumu, Yang Mulia Paduka?"
"Iya, Kresna."
Kresna adalah awatara atau inkarnasi kedelapan dari sepuluh awatara Mahadewa Vhisnu. Jadi Kresna dan Vhisnu sesungguhnya adalah satu dan sama. Kresna adalah manifestasi sifat kedewaan Vhisnu yang turun ke muka bumi ribuan tahun lalu sebagai manusia suci dan mulia untuk menyelamatkan dataran India dari kehancuran, menegakkan dharma, dan menyelamatkan orang-orang yang melaksanakan dharma atau kebenaran itu.
Vhisnu melanjutkan ucapannya, "Ayahanda Sri Batara Mahadewa Brahma telah mangkat. Itulah yang membuatku terbangun."
"Apa Yang Mulia Paduka bersedih?"
Vhisnu tersenyum, "Tentu saja. Sekarang siklus reinkarnasi umat Hindu telah berhenti karena ketiadaannya. Jika dibiarkan dunia akan binasa. Aku harus melakukan sesuatu, yang pertama mungkin sebaiknya aku berbicara dengan Ananda Mahadewa Shiva."
"Saya setuju. Tapi nampaknya masih ada hal yang mengganggu hati Paduka?"
"Ini mengenai saudara angkatku, Adinda Svargapati Dewa Indra."
Hubungan Vhisnu dan Indra sangat dekat hingga di sebut-sebut sebagai saudara. Dalam Kitab Weda, namanya mereka seringkali muncul bersama dalam cerita bahkan meminum soma.
"Dia tidak seperti dahulu lagi. Aku tidak mengerti kenapa dia berubah dan terjadi hal seperti ini. Aku bertugas memelihara dan melindungi segala ciptaan Brahman, apapun akan kulakukan demi tugas itu."
"Kalau begitu, mohon ijinkan saya menyelidiki apa sebenarnya keinginan Batara Indra."
"Pergilah, Kresna!"
.
.
.
-Kastil Hades, Neraka-
Ketenangan Hades, sosok dewa dengan wujud tengkorak tanpa segumpal pun daging yang terselimuti dengan selembar jubah hitam, kini terganggu dengan kedatangan seorang rekan, ah lebih tepatnya seorang teman sepermainan.
Suasana ruangan terasa suram dan gelap-gelap remang karena hanya ada satu lilin kecil yang menyala. Tanpa berdiri dari kursi goyang yang diduduki, Hades menolehkan sedikit kepalanya kepada orang yang baru datang, sinar merah dari rongga matanya yang kosong nampak begitu menakutkan, membuat manusia manapun melihatnya akan merinding walaupun dia buta.
"Ares. Kenapa kau bersembunyi di tempatku hah?"
Dewa tampan itu menjawab dengan santai, "Mau kemana lagi memang, disini tempat yang paling pas."
"Ck, awas saja kalau namaku ikut terseret. Kepalamu akan kupenggal."
"Hallaaaaaahh, seperti kau bisa saja." cibir Ares, tak ada takut sedikitpun dengan dewa penguasa alam neraka. Wajar, karena dia dewa perang.
Hades menggoyangkan lagi kursinya, duduk seperti orang tua yang menunggu kematian di atas kursi goyang yang berayun pelan. "Aku sudah mendapat informasi tentang situasi sekarang. Jadi bisa ceritakan padaku apa yang sebenarnya kau lakukan hingga situasinya menjadi begini?"
"Mwahahahaaaa..." Ares tiba-tiba tertawa kencang dengan senyum tidak jelas.
"Katakan woy! Jangan ketawa!" lama-lama karakter Hades bisa OOC kalau menghadapi orang gila macam Dewa Perang Ares ini.
"Ah sabar dikit napa. Biarkan aku tertawa dulu sampai puas."
Okeh, Hades orangnya memang penyabar.
Tapi...
Tapi!
Tapi tidak seperti ini juga kan!? Sudah lebih dari 15 menit Ares tertawa tidak jelas dengan senyum aneh seperti laki-laki bejat yang mengintip perempuan mandi. Hades akan segera berdiri dan mengangkat sabit sakti miliknya kalau saja Ares tidak langsung berbicara.
"Kau kenal bagaimana tabiat Zeus kan?"
"Ya. Dia dewa sombong, sok kuat, sok berkuasa. Juga nafsuan, punya banyak kekasih gelap dimana-mana, seperti kau penjahat kelamin yang korban perkosaanmu ada diseluruh dunia."
"Gahahahaaaa. Bagian akhir memang benar sih. Jadi hal ini aku manfaatkan."
"Hm?"
"Begini ceritanya. Hampir tidak ada satu orangpun di dunia ini yang tahu sebuah rahasia besar. Sebuah rahasia yang tak seorangpun menyangka. Apa kau penasaran, huh?"
Hades jadi makin kesal. "Cerita saja! Tak usah mendramatisir!"
"Zeus mempunyai hubungan yang lebih dari sekedar kenalan dengan Freya, dewi kesuburan dari Norse."
"Oh, kalau itu aku sudah tahu dari lama." sahut Hades, merasa seperti orang bodoh yang sempat termakan omongan Ares. Ia menyamankan kembali punggungnya di sandaran kursi. "Zeus si bejat itu kan memang tukang selingkuh. Aku jadi kasihan dengan saudarinya sendiri yang kini jadi istrinya, Dewi Hera."
"Dari mana kau tahu?" tanya Ares memicing.
"Itu urusanku."
"Tch. Dasar tengkorak bejat tukang intip."
"Kau! Penjahat kelamin!"
"Biarin!"
"Cukup!" suara Hades terdengar membentak, membuat Ares berhenti tertawa. "Jadi kau melakukan apa dengan rahasia itu?"
Ares menghirup nafas panjang lalu mulai bercerita. "Aku menyamar menjadi Zeus, lalu menghabiskan tiga malam panjang yang sangat indah dengan Freya, dewi paling cantik dari Norse. Hihiiiii." senyum yang tercetak di wajah Ares kini tidak bisa dideskripsikan lagi.
"Lewati! Aku tak ingin dengar cerita mesummu."
Yah, itu bukan hal yang mustahil.
Freya The Vanadis yang dijuluki sebagai dewi kesuburan, cinta, dan kecantikan, sebenarnya memiliki catatan gelap. Dewi yang digambarkan luar biasa cantik dengan rambut pirang dan iris mata biru itu awalnya dewi yang setia pada suaminya, yaitu Dewa Od, dan telah memiliki dua anak perempuan, Nossa dan Gersimi. Lalu suatu ketika, Dewa Od menghilang dari dunia secara misterius. Ratusan tahun Freya mencari suaminya tanpa seharipun tidak menitikkan air mata.
Lama kemudian, ada khabar beredar bahwa Dewa Od sebenarnya telah disingkirkan oleh dewa lain yang iri pada suami Freya itu. Hal wajar, mengingat bagaimana luar biasa cantiknya Freya, membuat dewa manapun iri dengan Od.
Sejak saat itu, Freya berubah menjadi dewi yang 'tidak pilih-pilih' di antara semua dewi Norse. Ia kemudian dikenal sebagai dewi seks di kalangan para dewa penduduk Asgard, walau manusia di Midgard atau dunia manusia para dari benua Eropa Utara tetap mengenalnya sebagai dewi kesuburan, dewi cinta, dan kecantikan. Freya pun dengan cepat memiliki banyak love affairs, dari kalangan dewa, manusia, elf, bahkan kurcaci. Ada berita kalau Freya adalah istri simpanan Odin. Dewa Loki pun tak segan mengatakan bahwa Freya telah tidur dengan semua dewa di Asgard, makna tersiratnya bahwa Loki juga pernah merasakan tubuh mulus Freya.
Ares melanjutkan ucapannya. "Lalu pada malam terakhir, aku sedikit menyiksa dia hingga pingsan dan kutinggalkan setelah mengambil kalung Brisingamen, kalung yang paling disukai Freya dan sangat berharga baginya."
Cerita yang belum tentu kebenarannya mengatakan bahwa Freya mendapatkan kalung Brisingamen, perhiasan paling mahal dan mulia di Asgard, sebagai hadiah setelah dia tidur dengan empat kurcaci pematri perhiasan yang disebut para Brissing, yaitu Alfrigg, Berling, Dvallin, dan Grerr.
"Dan Boooommm!" Ares memperagakan simulasi ledakan dengan kedua tangannya. "Lalu jadilah situasi seperti sekarang ini, Hades."
Hades mengangguk. Cerita yang didengarnya dari mulut Ares sangat sesuai jika dihubungkan dengan situasi saat ini.
Hubungan Olympus dan Norse sekarang bagai telur di ujung tanduk. Pasti sebentar lagi akan berperang. Masalah yang diributkan di permukaan adalah tuntutan para Dewa Asgard untuk membela Freya, yang mengaku kalau kalung Brissingamen milikinya dicuri oleh salah seorang dewa dari Olympus. Freya tidak menyebutkan siapa nama dewa itu. Namun tuntutan para Dewa Asgard tidak dipenuhi oleh pihak Olympus dengan alasan bahwa tidak satupun dari mereka yang mencuri kalung itu.
Dua hari kemudian, Freya memberikan bukti bahwa Zeus yang mengambilnya. Para Dewa Olympus terdiam, mamun pada situasi saat ini, Zeus malah tidak diketahui keberadaannya. Terakhir kali diketahui kalau Zeus datang untuk memenuhi undangan pembukaan Turnamen Rating Game di Underworld. Lalu pihak Iblis mengkonfirmasi kepulangan Zeus dari sana sebelum pesta usai. Namun nyatanya, Zeus tak pernah sampai ke istananya di Gunung Olympus.
Kubu Dewa-Dewa Asgard menuntut untuk menyerahkan Zeus kepada mereka, tak peduli apapun alasannya. Kalau Olympus tak menyanggupi, maka Norse siap berperang.
Olympus pun tak bisa berbuat apa-apa, ketiadaan tampuk kepemimpinan yang diduduki Zeus untuk sementara di pegang oleh Poseidon, tapi Poseidon sendiri tak sanggup memperbaiki keadaan. Lalu perseteruan pun makin rumit, perang urat saraf dan tuntutan yang belum terpenuhi seolah tak ada ujung.
Tapi satu hal yang mungkin hanya mampu dilihat oleh orang-orang yang lebih mengerti akan dunia saat ini. Semua permasalahan itu sebenarnya bukan hal besar, hanya kalung perhiasan saja kan?
Akan tetapi mereka sadar memang ada keinginan dari dasar hati untuk berperang sehingga masalahnya dibesar-besarkan oleh oknum tertentu hingga menjadi seperti sekarang ini.
Benar, ada orang yang benar-benar mengerti bahwa masing-masing kubu memang menginginkan sebuah peperangan, bukan penyelesaian.
Itu lah yang terjadi.
Dan apa yang telah diperbuat Ares adalah memicu terjadinya hal tersebut. Sedikit lagi pelatuk ditarik, makan senapan akan meletus, dan perang benar-benar akan dimulai.
Hades kembali memperhatikan Ares yang masih berimajinasi menanti perang seperti apa yang akan terjadi, yah Ares memang suka berperang. Tidak salah Hades menilai Ares, seorang yang benar-benar licik, kejahatannya keterlaluan, sudah itu mendapat kesempatan pula tidur dengan dewi tercandik dari Norse, Freya.
Bolehkah Hades iri?, tapi ah Hades tidak peduli. Tubuhnya hanya tengkorak, tidak ada organ 'itu' untuk menuntaskan hasrat seksualnya. Ahahaaa, bercanda. Hades bisa saja mengubah dirinya menjadi seperti sosok manusia normal lalu melakukan ini itu pada wanita manapun.
Okeh, lupakan masalah tadi, tak perlu dipikiran. Yang harus dilakukan adalah bersiap-siap untuk perang.
Hades mengeluarkan suaranya lagi, meksi ia tak memiliki lidah. "Oh iya, ngomong-ngomon tentang Zeus, kau tahu dimana dia?"
"Mana kutahu. Sudah mati mungkin."
"Hoi hoiii, aku serius."
"Ini aku serius. Itu bisa saja kan? Sebenarnya aku juga hadir di pesta itu, tempat terakhir kali Zeus terlihat. Aku sedang bersama Si Gundul Sakra. Entah dapat informasi dari mana, Sakra tiba-tiba mendapat ide kecil untuk mempermainkan seorang anak manusia yang sekarang kita ketahui bahwa dialah dalang datangnya Konoha dari dunia lain, dia manusia terkuat. Sakra hanya memanasinya sedikit tentang pelecehan seksual pada istri pemuda itu, dan terjadi kehebohan besar seperti yang sudah kau ketahui. Lalu hal terakhir yang kutahu sebelum pulang dari pesta itu, ada yang mengatakan bahwa pihak penyelenggara pesta menyerahkan urusan tentang pemuda manusia tadi kepada Zeus dan Brahma."
"Hemm.."
"Yah, ceritanya habis sampai di sana. Kau perkirakan saja sendiri kelanjutannya, Hades! Tapi yang jelas, walau Zeus menghilang, tetapi anak manusia itu masih hidup dan berkeliaran bebas sampai sekarang."
"Jadi pihak Iblis berbohong? Zeus menghilang sebelum pulang dari pesta, bukan setelah pulang dari pesta seperti yang dikatakan mereka?"
"Mungkin. Gahahahahaaaa."
"Ya sudah lah. Tak perlu memikirkan itu, yang penting tujuan kita tercapai. Dunia menyenangkan yang penuh dengan perang dan tangisan kematian akan segera tiba."
"Huuuuaaaaahhh..."
Ares tiba-tiba menguap, ia menyamankan diri di sofa ruangan pribadi Hades di dalam kastil.
"Hoi, jangan tidur dulu!" Hades berseru, "Bagaimana dengan Sakra-dono."
"Emmhh," Ares bersuara tak karuan dengan mata tertutup. Ia bicara sekenanya. "Si Gundul itu katanya juga sudah berhasil memanaskan situasi di Svargaloka. Para Dewa Hindu-Buddha pecah jadi dua kubu dan mungkin akan berperang sebentar lagi."
"Oh. La-..."
"Sudah ya! Aku numpang tidur di sini. Badanku masih lelah setelah bergumul tiga hari tiga malam dengan Freya cantikku. Muehheheheheee... Err,, ahahaha... Hiyaaah, Oooh Freya jangan di situ sayang, kecup basah yang ini saja. Issshhhh, auuuuwww."
Ares pun terlelap, dengan senyum yang ah sudahlah. Pasti dia mimpi indah.
"KAMBING!"
Hades mengumpat kasar. Lalu geleng-geleng kepala.
Setidaknya ini berita bagus untuk Hades.
Yah, Hades bersama Sakra dan Ares membuat sebuah permainan besar untuk menciptakan perang. Hampir semua entitas-entitas dewa yang kuat telah terseret ke dalam arus. Ares sudah melakukan tugasnya, pun begitu dengan Sakra yang sebentar lagi siap. Inilah yang mereka inginkan.
Tinggal menunggu waktu saja, seluruh dunia akan hancur. Ragnarok, perang Armageddon, kiamat atau apapun istilahnya, kini sudah di depan mata.
.
.
.
-Markas Persekutuan penentang Imperium of Bible-
Tempat ini adalah dimensi ruang buatan yang diciptakan oleh Uchiha Sasuke menggunakan doujutsu Ultimate Rinne-sharinggan dengan teknik Amenominaka. Dimensi ini berupa dataran padang rumput savana yang sangat luas, terdapat sebuah aliran sungai besar dan beberapa anak-anak sungai kecil, serta pohon-pohon rindang besar yang menyelingi di antara luasnya padang rumput.
Dimensi yang dulunya hanya di tempati beberapa kelompok orang, kini berubah menjadi sangat ramai dengan keberadaan lebih dari seratus ribu prajurit militer. Yah, ini adalah sebuah markas untuk persiapan perang.
Masuk ke dalam sebuah tenda megah di pusat keramaian. Nampak meja bundar yang di sekelilingnya telah duduk orang-orang penting dari berbagai penjuru dunia.
Sebagai pemimpin pertemuan, Rokudaime Hokage Hatake Kakashi membuka suara. "Selamat datang semua pemimpin sekalian. Juga terima kasih atas kepercayaan kalian kepada Konoha sebagai pemimpin persekutuan."
"Hei, Kakashi-san. Jangan gugup begitu, apa perlu kugenggam tanganmu hemm?."
Yasaka himesama mengatakan hal tadi blak-blakan, bukan bermaksud menyinggung. Tetapi karena satu kalimatnya saja, suasana formal dan serius yang ada sejak awal para peserta berkumpul langsung hancur. Padahal baru pertemuan saja dimulai.
Beberapa hadirin tertawa kecil, sebagian bermuka kecut karena menahan tawa. Yah, ini hal baru untuk dilihat. Mereka semua sudah saling terbuka, dan tahu benar kalau Kakashi adalah manusia pendatang baru dari dunia lain akan tetapi sudah langsung diangkat menjadi pemimpin persekutuan untuk mencegah dominasi Aliansi Injil-Norse.
Oke, absen dulu siapa-siapa saja yang hadir pada pertemuan ini.
Setiap dari mereka adalah pemimpin dari daerah masing-masing, atau setidaknya utusan yang mendapat mandat oleh pemimpin yang tidak bisa berhadir pada saat ini.
Ada Yasaka, pemimpin tertinggi kaum youkai Kyoto. Mereka adalah sekutu pertama Konoha. Dia bersama pendampingnya, si Karasu Tengu.
Kemudian Ratu Vampir Carmilla yang datang bersama Lord Tepes. Ada Elmenhilde Galnstein dan Seras Victioria yang mendampingi. Alucard dengan suatu alasan tidak bisa hadir. Sebelum pertemuan, secara pribadi pihak Vampir Rumania telah membicarakan kasus penculikan Valerie dengan Kakashi. Untuk hal ini, dibentuk sebuah tim ANBU khusus yang akan melakukan misi penyelamatan, dipimpin oleh Kapten Divisi I Tokubetsu ANBU, Sai.
Dewa Perang Bishamon mewakili seluruh Takamagahara. Sejak beberapa hari lalu, semua dewa-dewa Reliji Shinto sudah mencapai kesepakatan untuk angkat senjata melawan penjajah. Dia didampingi salah satu senjata suci miliknya, yaitu Kazuma. Sementara Dewi Kesialan Kufoku yang sudah lama di dimensi ini, juga Dewa Kemiskinan Yato yang baru saja tiba, terlalu malas untuk ikut pertemuan.
Cao Cao juga ada. Dia membawa kelompok baru yang dinamakan New Hero Faction. Hanya Georg dari kelompok itu yang menemani sang pemegang tombak suci True Longinus.
Dari dua mitologi lagi yang tergabung dalam persekutuan telah mengirimkan perwakilan masing-masing. Ada salah satu dewa dari mitologi amerika kuno, yaitu Dewa Kinich Ahau yang dipercaya oleh peradaban Suku Aztec, Inca, dan Maya di masa lampau. Lalu ada seorang utusan dari Ratu penguasa laut selatan dalam mitologi Tanah Jawa.
"Ekhhem. Tolong tenang."
Kakashi berusaha mengembalikan wibawanya di hadapan para pemimpin yang lain. Setelah suasana sedikit tenang, Kakashi melanjutkan.
"Aku telah mendapatkan laporan jumlah pasukan kita saat ini, sekitar orang dari berbagai jenis makhluk. Hal yang lebih dulu akan kita bahas dalam pertemuan pertama ini adalah ..."
"..."
"..."
"..."
"..."
Kakashi mengantung ucapannya, membuat semua orang menunggu dengan wajah bengong.
"... memilih seorang Panglima Perang."
.
.
.
-Pulau Langit, Agreas-
Fase Grup Rating Game sudah 6 hari terlewat. Beberapa grup sudah memastikan diri lolos ke fase terakhir yaitu fase eliminasi Knocked Out. Ada Sang Juara bertahan, tim Emperor Bellial yang dipimpin oleh Diehauser. Berikutnya juga nama-nama lama seperti kelompok Roygun Belphegor dan Bedeze Abadon. Ruval Phoenix juga telah menempati posisi aman untuk fase berikutnya. Ada nama-nama lainnya lagi yang sebenarnya adalah pemain lama. Jadi tidak mengherankan untuk mereka.
Ada kelompok yang tidak beruntung dan sudah di pastikan tidak akan lulus ke fase berikutnya. Salah satu diantaranya adalah tim Seekvaira Agares, wajar karena mereka adalah kelompok muda. Akan tetapi ada juga kelompok muda yang mencetak rekor dan sanggup meneruskan turnamen, yaitu kelompok Sona Sitri. Sungguh ini suatu keajaiban, menakjubkan. Ada satu lagi kelompok muda yang masih mungkin untuk lolos ke fase Knocked Out, yaitu tim Rias Gremory. Hanya saja mereka harus berjuang keras pada pertandingan fase grup yang terakhir tiga hari lagi demi mendapatkan tiket itu.
Dan inilah peserta pertandingan hari ini, dari Grup G. Tim Sairaorg Bael Vs Tim Diodora Astaroth.
Pertandingan ini sebenarnya tak terlalu menarik bagi kebanyakan penonton, mereka jelas tahu siapa yang lebih unggul, yakni pemilik singa emas Sacred Gear Longinus Regulus Nemea.
Pertandingan sudah dimulai dan setiap peserta telah di transfer ke arena.
Sairaorg nampak berdiri gagah didepan musuhnya.
"Kau ingin langsung kalah, atau kita bermain-main dulu?" ucapnya dengan penuh percaya diri.
Diodora tak menunjukkan ekspresi terintimidasi, "Kheh, sombong! Kau yang akan kalah hari ini."
"Buktikan kalau kau bisa. Kau membawa benda itu kan di sakumu, cepat gunakan dan kita mulai pertarungan."
.
.
To be Continued...
.
Note :Oke, langsung saja aku beri analisis sedikit untuk chapter ini biar mudah ditangkap isinya.
Ada adegan pembicaraan Odin dengan Sirzech. Bagaimana nantinya hayooo?
Lalu tentang Issei dan Tim Gremory. Sudah mulai terlihat bagaimana situasi dan arah gerakan tim mereka kan? Koneko memang sudah lebih dulu tahu, tapi bagaimana dengan yang lain. Ini akan menentukan jalan cerita juga.
Nah tuh, dewa kuat yang lain telah muncul, Mahadewa Vhisnu. Dia akan mulai bergerak juga. Merespon perbuatan yang telah dilakukan Sakra, juga karena situasi dunia yang semakin kacau.
Ares malah lebih parah lagi. Permainan kecilnya bersama Hades sudah memperlihatkan hasil.
Kemudian telah jelas dari dua gerakan berbeda diatas, misteri hilangnya Brahma dan Zeus sudah diketahui. Sebab tak mungkin Aliansi bisa menyembunyikannya terus menerus.
Lalu, xixixixixi. Konoha sudah siap tempur. Ada New Hero Faction dan mitologi lain, pastinya dengan menyimpan senjata rahasia. Sebentar lagi akan menunjukkan kekuatan. Meski jumlah pasukan sedikit, 125 ribu saja, yang sebenarnya tak sebanding dengan 1 juta malaikat kloning + ratusan ribu malaikat, malaikat jatuh, dan iblis yang telah lebih dahulu ada serta para tentara dari Norse. :v
Tapi..., hahahahaaaa. Hayooo tebak siapa yang akan jadi panglima perang?
Dan, masalah berikutnya. Akan ada dua konflik dalam satu tempat bersamaan dengan pertandingan Tim Sairaog melawan Tim Diodora.
Oh iya, sedikit tentang Dewi dari Norse, Freya. Visualisasinya ada kok di SAO2 pas misi mengambil Excalibur oleh kelompok Kirito. Jadi kalau ga tahu bagaimana rupanya, cari aja gambar Freya SAO di google.
Ulasan Review:
Chapter dahulu aku akui, emang sedikit berantakan, banyak sekali typo dan lainnya. Maklum, aku kerjain ngebut dua hari. Chapter 68 ini juga mungkin sama, aku kerjain cuma dua hari. So, terima kasih atas koreksinya.
Yang Velerie kemarin, bukan di Grigori sih. Jawabannya ada di chap 32 klo ga salah. Tapi kalau siapa pelakunya, mungkin benar.
Yah, bukan cuma penculikan Valerie sih pemicu perangnya, tapi juga banyak hal lain seperti sedikit kuterangkan di atas. Terjadi rantai peristiwa yang terus bersambung hingga akhirnya kiamat.
Lalu untuk apa orang itu menculik Valerie? ada yang sudah bisa jawab, walau tak sepenuhnya terjawab karena aku juga kasih sedikit kejutan kecil dari sana.
Kedai Ichiraku? Masih ada kok, di Pulau Melayang Konoha.
Tolong maklumi kalau peran Naruto dan Hinata agak berkurang, bahkan di chapter ini ga muncul. Yah, kan namanya perang, semua orang punya peran sama. Tapi nanti pasti kok Naruto dan istrinya akan mendominasi lagi. Sasuke, sudah pasti akan jadi raja perang. Jika Konoha tidak memiliki Naruto sebagai ujung tombak kekuatan, maka pasti lah ada yang menggantikannya. Pokoknya sabar, aku berusaha membagikan peran yang sesuai untuk setiap karakter. Jadi tunggu saja.
Untuk latihan Sona serta timnya di bawah bimbingan Naruto dan Hinata, serta para bijuu. Ga terlalu penting, bayangin sendiri aja lah. Yang penting, cukup mengetahui kalau mereka juga berjuang dan berlatih keras.
Oh, artefak dan produk Cardinal System. Yah benda-benda itu memang dianggap sangat hebat. Hanya saja kupikir tidak akan bagus digunakan sebagai alat perang, lebih fokus untuk meraih tujuan NaruHina saja, yakni menuju inti Cardinal Sytem Awal Mula Penciptaan.
Tim Sona terlalu over? Enggak lah. Tuh diatas ada analisis sederhana kalau sebenarnya tim Sona itu lemah. Tapi mereka menang strategi.
Ya. Naruto masih memiliki racun Samael. Nanti mungkin akan keluar lagi benda itu.
Iya, gw guru baru. Masih muda. Dan yah, karena gw guru, jadi musti mengasyikkan. Kalau enggak, murid gw pada tidur di kelas.
Dan sini elu! Yang rasis, sini!, gw jitak. Kampret beuh, apaan sebut-sebut warna kulit. Penname sama warna kulit gw ga ada hubungannya kali. Hadehhh... :v :v :v
Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita, sebagian lainnya kubalas lewat PM.
Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.
Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.
.
.
.
.
