Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Ahad, 19 Februari 2017

Happy reading . . . . .

Sebelumnya . . . . .

Akan tertapi berbeda dengan tim Sona Sitri. Sebagai tim yang mengandalkan taktik dan teknik, ia tidak akan melakukan hal yang sama seperti Rias.

"Sebenarnya strategi ini aku siapkan untuk melawan tipe petarung kekuatan seperti Sairaorg-san. Tetapi karena tidak berada dalam satu grup dengan timnya, jadi tak masalah kuperlihatkan sekarang."

Sona mengatakannya dengan tenang meski sahabatnya sudah mulai bertarung habis-habisan. Semua anggota timnya pun belum ada yang bergerak.

"Tomoe!, Ruruko! Aku mengijinkan kalian menggunakan senjata dan teknik baru. Yang lain bertarung seperti biasa. Sekarang bentuk formasi!"

"Ha'i."

Segera setelah perintah terucap, setiap budak mengambil posisi masing-masing.

Sona paling belakang, sebagai pusat komando. Disisi kiri dan kanannya ada Momo dan Reya. Dua meter didepannya ada Naruto dan Hinata. Naruto dalam posisi jongkok namun siaga bertarung. Sebagai Attacker Frontliner adalah Saji, Ruruko, Bennia, Tomoe, Rugal, Tsubasa dan Tsubaki sang Ratu.

"Naruto-san, maaf merepotkan. Tapi sekarang teknikmu sangat dibutuhkan."

"No problem."

"Kau sudah tahu detailnya kan?"

"Yosshh!"

Naruto mengambil sebilah kunai lalu melemparnya ke atas. Ia pun mulai meneriakkan semangatnya,

"Ayooo semuanya, siapkan diri kalian untuk pembantaian massal."

Kemudian Naruto merangkai handseal lalu merapal sebuah jutsu.

.

To The End of The World

Writed by Si Hitam

.

Chapter 70. Si Biang Kerok, Rizevim.

.

-Kota Auros-

Kelompok Rias sudah pergi mengamuk, membunuh siapapun iblis pemberontak yang ada di depan mata. Setiap anggota kelompok bertarung sendiri-sendiri dengan kemampuan terbaiknya. Sedangkan Gasper yang berwujud monster hitam berada tak jauh dari Asia, melindungi bidak penyembuh luka yang merupakan esensi penting dalam kelompoknya sambil mendatangkan berbagai makhluk hitam berbentuk aneh untuk membabat iblis-iblis dalam jangkauan serangnya. Inilah formasi terkuat kelompok Rias, meski formasinya standar saja tapi sangat sulit dihancurkan.

Di lain sudut.

Tajuu Shuriken Kagebunshin no Jutsu

Sebilah kunai yang Naruto lempar ke atas jatuh kembali ke dataran namun dalam jumlah tak terkira.

Meski tampak seperti hujan senjata, tapi para iblis menanggapi dengan kekehan sombong. Sebagian dari mereka yang menjadi sasaran jatuhnya kunai, menepis senjata itu hingga terlempar ke samping. Kecepatannya tidak tinggi dan arahnya pun mudah dibaca karena kunai tidak dilempar langsung, tetapi jatuh akibat tarikan gravitasi saja.

Jumlah kunai yang sangat banyak tersebut jatuh tersebar merata hingga mencapai area yang sangat luas, lebih dari 25 hektar, di mana pasukan iblis pemberontak berjumlah ribuan berdiri siaga tempur.

Sona mengatakan intruksinya, "Momo! Reya! Ciptakan barrier sekuat yang kalian mampu untuk melindungi titik ini!"

"Laksanakan!"

"Roger, Kaichou!"

Momo Hanakai dan Reya Kusaka adalah bishop Sona yang memiliki spesialisasi dalam sihir, terutama sihir pertahanan. Tidak lebih dari tiga detik, kedua orang ini sudah menyelesaikan barrier berwarna biru cyan berbentuk kubah setengah bola yang melingkupi semua anggota OSIS.

Barrier atau penghalang itu tidak seperti penghalang biasa. Terdiri dari dua lapis yang masing-masing dibuat menggunakan kombinasi energi sihir Momo dan Reya. Kemudian barrier itu diperkuat lagi menggunakan kemampuan Sacred Gear Applause Wall, Sacred Gear buatan yang diberikan oleh Grigori kepada Momo.

"Seraaanggg!"

Salah satu iblis pemberontak yang penampilannya seperti pemimpin menyuarakan komandonya sebagai tanggapan atas barrier yang diciptakan kelompok OSIS. Barrier itu mereka anggap sebagai pertanda untuk memulai peperangan.

Berpuluh-puluh iblis kelas menengah menyerang dengan menembakkan sihir, namun barrier yang diciptakan oleh kedua bishop itu mampu menahannya, bukti bahwa barrier berbentuk kubah itu sangat kuat.

Ada iblis kelas tinggi yang menembakkan sihir dalam jumlah besar. Khusus untuk bagian ini, Reya menggunakan kemampuan Sacred Gear buatan yang juga diperoleh dari Grigori, Scoutting Persona. Reya memanggil topeng-topeng dari ketiadaan. Setiap topeng bergerak dengan perintah otak dari Reya, menyusun berbentuk barisan lurus sesuai arah datangnya serangan. Salah satu kemampuan topeng tersebut adalah sebagai pertahanan. Setiap kali melewati topeng dan menghancurkannya, maka tembakan energi sihir berkurang kekuatannya sehingga ketika mencapai barrier telah melemah dan sanggup ditahan. Trik ini Reya tiru dari cara Issei menggunakan wyvern-wyvernnya.

Dengan begitu, tidak ada yang perlu Sona khawatirkan selama berada di dalam barrier.

Saatnya menyerang.

"Yosh, dengarkan aku!" Naruto mengambil alih komando yang ditujukan kepada penyerang barisan depan.

Saji dan yang lain memasang telinganya baik-baik.

"Keluarkan kemampuan menyerang terbaik kalian!"

"Oke!" jawab mereka.

"Promosi ke Ratu!"

Sesuai perintah, Saji kini telah berpromosi. Dia merilis armor hitam Malebolge Vritra. Namun karena hanya untuk menyerang, dia merilis armor cukup pada bagian kaki dan tangan saja untuk pertarungan hand-to-hand combat. Ini juga demi mengurangi efek samping kekuatan Vritra yang akibatnya sangat parah pada nyawanya sendiri jika merilis keseluruhan armor.

Ruruko juga melakukan promosi menjadi Ratu. Ia pun juga mendapatkan Sacred Gear buatan dari Azazel, Procellarum Phantom. Sacred gear ini memberikan armor terbatas pada penggunanya. Ruruko mendapatkan sepatu baja di kaki dan gauntlet di kedua tangan.

Tsubaki pun telah memegang senjata miliknya, sebuah Naginata atau pedang samurai dengan gagang panjang. Bennia sudah siap dari awal dengan sebilah sabit hitam khas para Grim Reaper. Rugal pun telah bertransformasi menjadi serigala raksasa berbulu abu-abu perak. Tsubasa baru selesai melakukan pemanasan, siap untuk pertarungan fisik dengan tubuh yang telah ditingkatkan kekuatan dan pertahanannya dengan bidak Rook.

Sedikit berbeda dengan Tomoe, "Lihat aku, Naruto-senpai. Aku pasti akan membuatmu kagum padaku."

"Buktikan dulu, Tomoe-chan!"

Bidak Knight periang itu membuat lingkaran sihir yang menampilkan gambar bermacam-macam pedang dalam setiap slotnya.

Equipment Selection: Executioner's Blade

"Kubikiribochou, Trace on!"

Tomoe telah memilih. Dia memasukkan tangan kanannya ke dalam salah satu slot lingkaran sihir. Kemudian dia tarik lagi bersama sebuah pedang berukuran besar, tampak seperti pisau pemotong daging raksasa.

Traankk!

Suara logam berdenting keras saat Tomoe menjatuhkan ujung pisau ke tanah, bukan tidak mungkin pedang besar itu terasa berat bagi gadis remaja seperti dirinya.

Naruto tersenyum tipis, itu hadiah yang dia berikan pada kouhai imut yang paling dekat dengannya ini. Dia kembali fokus ke pertarungan.

"Kalian semua, fokus serang saja ke depan. Tak perlu memperhatikan samping dan belakang, aku akan mengurus yang berbahaya dengan Hiraishin. Percayalah, aku yang menjamin nyawa kalian!"

"Baik!"

"Sebelum itu, kamarilah!"

Naruto mengangkat tangan ke depan dan mengepalkan sebuah tinju.

Mengerti hal itu, setiap peerage Sona mendekat ke arah Naruto lalu saling beradu kepalan tangan, tanda bahwa mereka semua adalah satu.

Masih dengan kepalan tinju saling tertaut, Naruto menatap satu persatu semua orang. Kelopak matanya sejak tadi telah berubah warna menjadi jingga, pun pupil mata menjadi garis datar seperti mata katak, ia telah masuk ke Mode Sage.

"Sekarang, kita mulai!"

Zzzssshhttt.

Semua attacker kelompok Sona lenyap dari dalam kubah.

Beralih ke luar kubah, seorang iblis dari Fraksi Maou Lama yang berdiri tenang tiba-tiba merasakan tepukan tangan di bahunya.

Saat menoleh ke belakang, ternyata tepukan itu dari Saji, dari tangannya yang memakai armor hitam.

"Pergilah ke Neraka!"

"Ha?"

Belum sempat iblis tadi menyuarakan kebingungan, seluruh tubuhnya berubah menjadi abu dan hilang tersapu angin akibat kutukan jahat Vritra.

Baaangggg!

Iblis lain yang ada di dekat kajadian tadi menembakkan sihir hingga membuat tanah berguncang, menelan Saji dalam ledakan.

Saat efek ledakan selesai dan asap telah hilang, tidak ada lagi sosok Saji di tempat itu.

Zssshhtt!

Iblis yang tadi menyerang Saji terpaksa membelalakkan matanya. Kini Saji berada tepat di depan wajahnya.

Saji menyeringai, "Kau juga harus pergi ke Neraka!"

Buaaagh.

Tinju Saji mengenai ulu hati iblis tadi. Perlahan iblis itu pun berubah menjadi abu dan mati.

Saji memutar kepalanya pelan, menatap tajam satu persatu iblis yang melihat dirinya. "Sebentar lagi kalian juga akan mendapat giliran."

Zsshhtt.

Tanpa sempat mata berkedip, tubuh Saji hilang dari pandangan mata.

Berikutnya, satu persatu pasukan iblis mati dan lenyap setelah tubuhnya menjadi abu akibat kutukan Vritra. Tiga musuh dalam satu detik, sehingga cukup satu menit saja Saji telah memusnahkan seratus lebih pemberontak. Saji menyerang dalam kesunyian.

Ada salah satu iblis dari pasukan Maou Lama yang terbang cukup tinggi di udara. Ia tak mengerti melihat rekan-rekannya satu persatu mati dengan cepat. Sampai ia menyadari bahwa Saji selalu muncul di dekat kunai yang disebarkan oleh Naruto.

Itu kunai khusus, kunai dengan tanda segel Hiraishin. Naruto mengirim Saji ke area musuh lewat tanda-tanda itu, lalu memindahkan lagi ke tempat lain sebelum diserang.

Menepuk, meninju, menendang, bahkan cukup dengan menyetuh saja, Saji mampu menanamkan kutukan jahat Vritra kepada setiap iblis yang ada di depannya tatkala ia dipindahkan dengan Hiraishin ke titik-titik berbeda oleh Naruto. Membuat para iblis pemberontak itu mati sesaat kemudian.

Kenapa Naruto bisa memindahkan Saji sesuka hati ke dekat kunai-kunainya? Karena saat beradu kepalan tangan sebelum menyerang tadi, Naruto telah mentransfer chakranya pada setiap peerage Sona. Dengan cara itu, mereka terhubung ke diri Naruto dan bisa sesuka hati dipindahkan dengan Hiraishin.

Cara ini pernah digunakan oleh Hokage Kedua Tobirama Senju dan Hokage Keempat Namikaze Minato saat Perang Dunia Shinobi Keempat. Mereka berdua bekerja sama memindahkan setiap pasukan aliansi yang terancam bahaya akibat akar-akar pohon Shinju yang hendak menghisap chakra. Bedanya, Naruto kali ini menggunakan trik itu bukan untuk menghindari serangan, tetapi untuk menyerang.

Naruto dalam mode Sage, juga mampu merasakan setiap bahaya yang mengincar Saji karena terhubung oleh chakra dengan dirinya. Jadi dia akan langsung memindahkan Saji dengan Hiraishin begitu merasakan bahaya yang mengancam.

Hal yang sama juga berlaku pada peerage Sona yang lain. Mereka semua telah terhubung dengan Naruto lewat chakra yang ditransfer.

"Jangan memaksakan dirimu, Anata."

Hinata yang berdiri di dekat Naruto, di dalam barrier, mengusap pundak suaminya. Ia tahu benar, trik tadi sangat sulit dilakukan karena membutuhkan konsentrasi luar biasa juga memaksa otak bekerja keras untuk mengingat setiap lokasi setiap tanda segel Hiraishin.

"Tak apa, aku masih sanggup kok Hime."

"Baiklah."

Hinata memaklumi sifat keras kepala suaminya.

Di tempat lain, Tsubaki sang Ratu telah memenggal puluhan kepala. Setiap kali ia diteleport dengan Hiraishin, ia akan mengayunkan Naginata ke depan bahkan sebelum matanya melihat target. Tak tahu dan tak peduli apapun yang akan ia tebas. Nyatanya banyak leher dan tubuh yang telah penggal karena ayunan senjata miliknya.

Bennia pun tidak jauh berbeda. Ia memiliki kecepatan sejak awal, jadi ia tidak terlalu mengandalkan teleportasi Hiraishin dari Naruto. Sekali teleport, ia langsung melaju dan menebaskan sabit hitamnya berkali-kali hingga musuh kehabisan umur lalu mati. Bennia akan diteleport oleh Naruto ke titik lain hanya ketika ada bahaya saja.

Di tempat lainnya lagi, puluhan bahkan ratusan pasukan iblis tak bisa apa-apa dan hanya mendapati tulang-tulang mereka remuk karena tinju yang sangat keras. Rugal maupun Tsubasa, muncul, meninju, lalu lenyap tanpa sempat diserang.

Benar apa kata Naruto di awal, mereka melakukan pembantaian tanpa memberi kesempatan pada musuh untuk membalas sedikitpun.

Strategi yang dilakukan tim Sona ini, sudah memakan banyak sekali korban. Jumlah iblis yang mati terus bertambah dengan cepat, bahkan lebih banyak dari yang berhasil dibunuh oleh Tim Rias dengan kekuatan penuh. Apa yang dilakukan kelompok Sona bukan tentang kekuatan, tetapi efektifitas serangan. Kalau peerage Rias melakukan serangan pemusnah massal dalam skala besar, maka peerage Sona melakukan serangan jitu tepat langsung ke sasaran tanpa perlu banyak membuang kekuatan.

Itulah perbedaan mencolok kedua kelompok tersebut.

Rias menghentikan pertarungannya sejenak, ia menatap ngeri ke wilayah pertarungan sahabatnya. "Kupikir lebih baik kalau aku tidak bertarung lagi dengan tim Sona. Mereka mengerikan." gumamnya.

Akeno terbang ke dekat Rias, istirahat sejenak setelah membantai banyak musuh.

"Aku setuju denganmu, Buchou." ucap Akeno menyahut gumaman Rias. "Aku tadi mendengar kalau strategi itu awalnya dibuat Sona-Kaichou untuk melawan Sairaorg-san. Kalau kupikir-pikir, trik itu tidak hanya untuk pembantaian massal tapi juga bisa digunakan pada satu lawan berkekuatan monster. Serangan mereka walaupun kecil, tapi jika dilakukan dengan cepat dan kontinyu tanpa memberi musuh kesempatan untuk membalas, maka Issei pun dalam mode terkuat tidak akan bisa berbuat apa-apa."

"Ya, benar Akeno. Satu-satunya cara mengalahkan trik itu adalah dengan menyerang Naruto-san yang menjadi pengatur serangan, tapi itu tak mudah karena dia dilindungi dengan baik oleh Sona."

"Hu'um."

"Aku yakin Naruto-san dan Sona akan memperlihatkan trik yang lebih kejam lagi."

Akeno mengangguk, "Kupikir juga begitu."

"Sudahlah. Ayo kita serang para pemberontak itu lagi. Mereka tidak akan habis kalau kita diam saja."

"Baik, Buchou!"

Kembali pada arena pertarungan tim Sona.

Kaaaaaaaaaaaaaaa!

Gelombang kejut yang cukup kuat menghempas para iblis pemberontak, membuat mereka terpaksa mundur.

Mata mereka terbelalak, menatap horor seorang gadis SMA tingkat kedua yang berteriak seperti orang mengamuk.

Bukan teriakan itu yang jadi masalah, meksi hawa kekuatannya sangat lemah tetapi gadis itu mampu mengirimkan getar-getar rasa takut ke dalam sanubari setiap iblis yang melihatnya.

Namun pasukan iblis dari Fraksi Maou lama bergeming. Mereka tetap mempertahankan kesombongan, tak mau mengakui kelemahan sendiri.

Ruruko Nimura, nama gadis itu. Gadis polos dengan rambut panjang berwarna coklat yang diikat twintail. Kini telah bertransformasi menjadi gadis yang sangat menakutkan.

Bentuk tubuhnya tetap sama, kulitnya pun tidak berubah. Yang berbeda adalah rambutnya yang berubah warna menjadi pirang, ikat rambutnya putus sehingga helaian surainya tergerai dan sedikit terangkat ke atas melawan gravitasi. Iris matanya yang semula hijau kini menjadi kuning. Bahkan armor berupa sepatu dan gauntlet di kaki dan tangan, realisasi dari pengaktifan Sacred Gear Procellarum Phantom miliknya, juga ikut berubah warna menjadi dominan kuning.

Ada aura kuning tipis yang bersinar di sekeliling tubuhnya. Disertai percikan-percikan listrik statis.

Tatapan tajam Ruruko arahkan pada iblis-iblis congak yang memandanginya.

"Super Human Mode, bentuk terkuatku saat ini."

Ruruko membiarkan sebentar rasa penasaran menghinggapi pikiran musuh-musuhnya, lalu melanjutkan kalimatnya lagi.

"Dengan kemampuan sihir tipe Body Magic yang jarang digunakan para iblis, aku mengubah semua kekuatan spiritual dalam tubuhku menjadi kekuatan fisik murni. Saat ini aku sama sekali tidak bisa menembakkan sihir, tapi aku bisa melakukan ini..."

Zssshhhpp!

"Apa!"

Salah satu iblis begitu terkejut melihat wajah Ruruko kini telah ada tepat di depan matanya.

"K-kapan!?"

"Aku sudah berpromosi menjadi bidak Ratu, jadi aku memiliki kecepatan sebaik bidak Knight. Ditambah teknik Magic Enhanced Speed pada kakiku, aku mampu mendapatkan kecepatan dewa yang setara dengan Yuuto Kiba."

"Mus-mustahil."

"Sekarang bagaimana dengan ini!?"

BUUURRGGHH!

Ruruko menyarangkan kepalan tinjunya di perut si iblis tanpa menahan kekuatannya.

Sreeettt...

Buk buakkk buuakkkk.

Si iblis terseret di tanah berpuluh-puluh meter, menghantam beberapa rekannya sesama iblis. Dan baru berhenti...

Brakkkk!

... setelah menghantam dinding kokoh bangunan kincir angin raksasa. Nyawa iblis itu melayang seketika, meninggalkan tubuh yang telah hancur.

"Magic Enhanced Strength. Aku memfokuskan aliran energi spiritual ke tangan untuk memperoleh pukulan super."

Baaattss!

Ruruko menolehkan kepala ke belakang untuk mencari pelaku yang telah menembak punggungnya dengan peluru demonic.

Gadit itu pun memberikan senyumannya. "Tubuhku kebal terhadap senjata dan sihir sampai tingkat yang lumayan tinggi seperti iblis keluarga Balam berkat teknik Magic Enhanced Defense."

Pasukan iblis yang berniat mengeroyok Ruruko kebingungan ingin berkata apa. Sosok gadis didepan mereka tak ubahnya seekor monser.

"Haaaaaaaaaaaa...!"

Ruruko memulainya dengan teriakan lalu.

Zssshhhpp!

Buuggg.

Duuakk.

"Ohhok."

"Guhha."

Baaaaannngggg!

Blllaaaarrrr

Ruruko mengamuk membabi buta, perbuatannya telah mengakhiri embusan nafas berpuluh-puluh pasukan Maou Lama yang terdiri dari iblis kelas menengah. Sejatinya Ruruko lebih lemah karena dia masih tergolong iblis kelas bawah, tetapi teknik sihir uniknya telah membawa kekuatannya ke strata yang lebih tinggi.

Sekarang giliran Issei yang terdiam di sela-sela pertarungannya. Ia tidak bisa mengabaikan fakta kekuatan baru anggota OSIS bidak pion Sona.

"Dia hebat." puji Issei, jujur.

"Ya. Aku tidak menyangka teknik itu benar-benar ada." sahut Kiba yang hela sejenak dari pertarungan di dekat Issei.

Bukan karena kekuatan Ruruko, tetapi karena efektifitas tekniknya yang sangat tinggi. Issei sebelum memiliki Promosi True-Queen Cardinal Crimson, seringkali menggunakan mode Illegal Move Triaina, dimana ia bisa sesuka hati berpindah promosi antara Rook-Knight-Bishop.

Magic Enhanced Speed yang digunakan Ruruko sama levelnya dengan mode Welsh Sonic Boost Knight. Kemudian Magic Enhanced Strength and Defense membuat Ruruko sekuat mode Welsh Dragonic Rook.

Abaikan Ruruko yang tidak bisa menggunakan sihir sehingga Illegal Move Triaina unggul karena ada mode Wlesh Blaster Bishop. Akan tetapi ciri yang sangat jauh berbeda adalah konsumsi staminanya.

Ya. Issei menghabiskan banyak sekali stamina selama menggunakan mode itu dan setiap kali berganti promosi. Tetapi Ruruko menggunakannya seolah tanpa beban.

"Kiba, apa kau tahu sesuatu?" tanya Issei.

"Aku pernah mendengar tentang Body Magic, kemampuan untuk mengubah bentuk energi sprititual menjadi energi fisik murni. Pancaran energi dari tubuh penggunanya akan turun sampai tingkat terendah seolah dia tidak punya energi sihir, tetapi kekuatan fisiknya meningkat puluhan kali. Di Underworld, sihir jenis Body Magic sangat langka. Para iblis cenderung kurang suka dengan teknik itu yang terlalu mengandalkan pertarungan fisik. Iblis lebih suka mejadi petarung tipe Wizard dengan menembakkan bermacam-macam sihir. Lagipula untuk menguasainya sangat sulit."

"Kenapa?"

"Jenis sihir itu memerlukan kontrol tingkat tinggi terhadap aliran energi spiritual di dalam tubuh. Selain itu juga perlu melakukan pengaturan aliran ki sebelum memulai latihannya. Sihir jenis ini tidak diwariskan dalam darah keturunan tertentu, tidak juga ditentukan oleh bakat. Tapi diperoleh dengan kemauan dan latihan keras."

"Aku tidak terlalu mengerti." Issei memang bukan orang berotak encer. "Tapi kalau ada dikelompok kita yang menguasai teknik itu, kita pasti tak terkalahkan."

"Ya."

Setelah mengobrol singkat, Issei dan Kiba melanjutkan pertarungan masing-masing.

Tentang latihan yang dijalani Ruruko, sedikit saja orang yang tahu.

Faktanya, orang yang mengatur ulang aliran ki di dalam tubuh Ruruko, menutup titik-titik tertentu dan membuka titik lain serta memperlancar alirannya adalah Hinata. Byakugan adalah kunci untuk melihat titik-titik akupuntur itu, dan teknik pukulan lembut jyuken untuk mengatur ulang aliran ki pada setiap titik.

Ruruko adalah master ilmu beladiri sejak ia masih manusia, sebelum di reinkarnasi menjadi iblis oleh Sona. Dengan tambahan porsi latihan olah tubuh serta olah batin, dia berhasil menguasai teknik body magic dengan sangat baik. Ditambah Sacred Gear Procellarum Phantom sebagai armor di kaki dan tangan, serta promosi ke bidak Ratu, sempurna sudah kemampuan bertarungnya.

Untuk Ruruko, Naruto tidak perlu bersusah payah. Ia hanya perlu menteleport anak itu dengan Hiraishin sekali atau dua kali saja jika benar-benar gawat.

Selanjutnya inilah anggota tim Sona yang lain, yang membuat formasi pasukan iblis Maou Lama kalang kabut.

Bagaimana tidak? Sebelum tubuh para iblis itu bergerak menyerang ataupun bereaksi untuk menghindar, sudah lebih dulu terbelah menjadi dua. Bukan hanya tubuh, tetapi juga jiwanya.

"Rasakan! Heyyaaaaaaaaaaaaa...!"

Slice!

Satu iblis lagi-lagi terbelah dua, vertikal dari kepala sampai kaki, simetris bagian kanan dan kiri.

Tomoe Meguri, menatap nyalang ke arah lain, pada para iblis yang akan dia jagal sebentar lagi.

Dikira berat, tapi ternyata pedang besar Kubikiribuchou di tangan kanannya sanggup dia ayunkan seringan mengayunkan belati.

"Horraaaaa, kenapa mundur heh?" tanya Tomoe melihat musuh-musuhnya yang mengambil jarak.

Slapp...

Si gadis OSIS berambut coklat kemerahan itu mengayunkan pedangnya beberapa kali lalu meletakkan di bahu, gayanya persis seperti algojo.

"Mati kau!"

Salah satu iblis yang nampak lebih kuat menyerang dari jarak jauh. Dia menembakkan aura iblis yang cukup kuat ke arah Tomoe.

Booommmm!

Tomoe melindungi diri mengunakan Kubikiribochou. Alhasil, bilah pedang besar itu hilang setengah.

Si iblis yang tadi menyerang mengeluarkan tawa sombong, "Sekarang kau tidak punya senjata lagi?"

"Benarkah?" tanya Tomoe menantang.

Hisenken

Hap!

Tomoe melemparkan pedangnya ke samping. Kubikiribochou yang tinggal setengah terbang di udara sambil berputar cepat. Arah gerakannya tidak lurus namun melengkung seperti bumerang.

Cruussshh

Cruussshh

Cruussshh

Cruussshh

Beberapa iblis yang tidak sempat menghindar mau tidak mau merelakan tubuhnya terpenggal.

Iblis yang menyerang Tomoe tadi mulai panik saat jalur lemparan pedang menuju ke arahnya.

Dan berubah menjadi keterkejutan saat Tomoe muncul di depannya lalu menangkap pedang yang berputar di udara.

"Hihihiiii"

Tomoe tertawa mengerikan. Dia mengangkat pedangnya ke atas, siap menebaskannya pada si iblis sombong tadi.

"Bagaimana b-bisa?"

Si iblis terkejut melihat pedang di tangan Tomoe kembali utuh seperti semula, padahal tadi dia sudah menghancurkannya.

"Pedangku ini memiliki kemampuan unik. Jika rusak, dia bisa meregenerasi dirinya sendiri ke bentuk semula setelah terkena percikan darah."

Kubikiribochou mampu menyerap zat besi yang terkandung dalam darah makhluk hidup, menyatukannya secara instan dengan bilah pedang yang rusak sehingga kembali kebentuk aslinya.

"Haaaaaa!"

Craaaackkkk!

Tebasan pedang Tomoe berhasil dihentikan oleh si iblis dengan lingkaran sihir pertahanan.

"Hahahahaaaaaa. Kau pikir pedang saja cukup untuk melawanku huh?"

Tomoe tersenyum meski ditertawakan, "Aku masih punya ini. Blazer Shining Aura Darkness Blade."

Aura campuran hitam dan putih, cahaya dan kegelapan, mengalir dari tubuh Tomoe melewati tangan dan melapisi bilah pedang Kubikiribochou.

"Kau!" eksrepsi si iblis seperti melihat hal mustahil. "K-kau memiliki Sacred Gear?"

"Oh, benar sekali. Hahaaa. Yang kugunakan ini adalah Sacred Gear buatan Grigori. Selain meningkatkan kekuatan penghancur pedangku, Sacred Gear ini memiliki kemampuan memotong jiwa tanpa memberikan luka fisik."

Pyaarrrr...

Lingkaran sihir pertahanan si iblis hancur berkeping-keping karena tak sanggup menahan Kubikiribochou yang diperkuat dengan Sacred Gear.

Slug!

Pedang besar itupun melewati tubuh si iblis tanpa hambatan. Ada bekas sayatan membujur dari kepala ke bawah namun tak ada darah memancar.

Tubuh si iblis pun jatuh terkapar ke tanah, tubuh kosong yang telah ditinggalkan oleh jiwanya.

Tomoe berbalik badan dan memandang lurus ke depan. Ada berpuluh-puluh iblis Fraksi Maou Lama yang tertangkap dalam pandangan matanya. Nampak dari aura yang terpancar, iblis-iblis itu lebih lemah dari yang baru saja ia bunuh, namun jumlahnya sangat banyak.

"Kubikiribochou tidak cocok untuk situasi ini. Lebih baik kugunakan yang lain saja." kata Tomoe mendesah.

Gadis iblis anggota OSIS Kuoh Gakuen menciptakan lingkaran sihir di dekatnya, lingkaran sihir besar dengan tujuh slot pada sisinya. Setiap slotnya berisi sebuah simbol tertentu.

Equipment Selection: Lightning Fangs Twinsword

"Kiba, Trace on!"

Tomoe telah memilih. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam slot lalu menariknya kembali.

Di tangannya kini terdapat sepasang pedang kembar. Bentuknya ramping dan lurus, bermata dua, serta memiliki cabang melengkung di dekat ujung dan pangkalnya.

Briiicckkk

Zrrsstt!

Ada kilatan-kilatan listrik di sekitar pedang itu. Sepertinya kedua pedang tersebut dijiwai oleh petir.

Melihat bentuknya dan elemennya, pedang ini jelas dikhususkan untuk gerakan cepat dan sayatan-sayatan tajam.

Tak lupa Tomoe menggunakan kemampuan sacred gearnya, Blazer Shining Aura Darkness Blade, untuk melapisisi bilah pedang demi meningkatkan kemampuannya.

Tomoe membuat kuda-kuda lalu menyilangkan kedua pedangnya di depan sehingga menciptakan kilatan-kilatan petir biru yang sangat banyak.

"Bersiaplah kalian semua!"

Raiga

Flaaaasshh!

Bllaarrrr!

Tomoe meluncur cepat kedepan seperti rudal. Dia berputar di udara sambil melepaskan sihir elemen petir ke area sekitar yang dilaluinya.

Belasan bahkan puluhan musuh langsung hangus disambar petir.

Serangan tipe splash damage yang dilakukan Tomoe berhasil menekan jumlah pasukan Fraksi Maou Lama secara signifikan karena luasnya area yang dicapai menggunakan teknik tadi.

Traangggg!

"Cukup sampai di sini, Nona!"

Tomoe mendongak demi melihat siapa yang berhasil menahan serangannya. Di depan mata, sesosok iblis bertubuh besar seperti ogre menangkap kedua pedangnya. Sekilas melihat saja, Tomoe langsung tahu kalau iblis yang sanggup mengehentikannya adalah iblis tipe kekuatan dan pertahanan. Serangan seperti tadi tak akan mampu melukainya.

Srreeettt!

Tomoe melepaskan pedangnya dan melompat mundur.

"Menyerah huh?" tanya iblis ogre itu setelah membuang pedang Tomoe ke samping.

"Aku masih punya yang lain lagi." balas Tomoe tidak terima. Dia kembali menciptakan lingkaran sihir tempat penyimpanan pedang-pedangnya.

Equipment Selection: Helmet Splitter

"Kabutowari, Trace on!"

Tomoe mengganti pedangnya lagi. Kali ini pedang dengan penampilan yang sangat jauh berbeda dengan pedang pada umumnya. Wujudnya lebih terlihat seperti kapak raksasa dan martil besar yang dihubungkan dengan tali pada ujung gagangnya. Tipe senjata macam ini disebut dengan nama bluntsword. Lagi-lagi Tomoe melapisi pedang yang dia pegang dengan kemampuan Sacred Gear buatan.

"Majulah! Aku pasti sanggup menahannya." ucap si iblis ogre menantang.

Swwwiifft

Tomoe melompat tinggi, dia menyerang si ogre dari depan. Lalu mengayunkan pedangnya kuat-kuat secara vertikal ke bawah

"Haaaaaa!"

Pin!

"Sudah kubilang kan? Aku pasti bisa menahan pedangmu." kata si ogre. Ia menghentikan pedang Tomoe dengan cara mengapitnya menggunakan kedua telapak tangan, tepat tepat sebelum membelah kepalanya

"Memangnya aku sudah selesai huh?"

Tomoe mengangkat martilnya tinggi-tinggi.

"Rasakan ini, bakaaaa!"

KAAABOOOOMMM...!

Entah bagaimana nasib iblis ogre tadi. Cukup dengan membayangkan bahwa tubuhnya telah hancur berkeping-keping.

"Iblis bodoh! Apa otakmu sebegitu kecilnya sehingga tidak bisa memperkirakan bagaimana aku akan menggunakan pedang tipe penghancur ini hah? Lah ini malah ditahan di depan wajah, dasar idiot!" kata Tomoe sarkastik.

Ekpresi Tomoe berubah sekejap menjadi riang kembali, ia melompat-lompat seperti anak keci dengan tangan melambai.

"Naruto-senpai. Kau melihatnya tadi kan? Aku hebat kan? Ayo ayoooo, puji akuuuuuu!"

Tomoe berteriak ke arah kubah yang melindungi anggota OSIS lainnya, yang tidak menyerang secara langsung.

Naruto yang keringatan akibat memaksakan otaknya bekerja keras menggunakan Hiraishin untuk memindahkan orang lain, hanya bisa menepuk jidatnya sendiri melihat kelakuan aneh kouhainya yang satu ini.

Hinata pun ikut-ikutan tertawa kecil. Melupakan bahwa saat ini adalah situasi perang.

"Ne Anata, sepertinya Tomoe-chan sangat senang dengan hadiah darimu."

Naruto mengangguk, "Uhm. Akan kuberikan apapun asal dia senang, ttebayou."

"..."

"..."

"..."

"Hinata?"

Naruto menatap bingung ke arah istrinya yang tiba-tiba diam.

"Hn!"

"Hickkk!"

Naruto kesusahan menelan ludah, seperti sedang kena sindrom cegukan tiba-tiba akibat melihat death glare Hinata yang begitu menyeramkan plus Byakugan aktif.

"Errr, Hinata. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Jangan langsung cemburu, kumohon."

Bahu Hinata turun seraya mengembuskan nafas panjang.

"Yah, kau tahu sendiri sebelum menikah denganmu aku tak punya keluarga satupun. Melihat tingkah manja Tomoe-chan, aku merasa seperti memiliki adik perempuan."

"Sama. Aku tiba-tiba jadi merindukan Hanabi."

Mengenai hadiah tadi, itu berawal dari kesadaran Naruto akan perasaan iri di hati Tomoe melihat rekannya sesama Knight dari kelompok sebelah. Yuuto Kiba yang bisa menciptakan pedang sendiri dan mempunyai teknik pedang original, dan Xenovia yang memiliki pedang suci legendaris Ex-calibur dan Durandal. Sedangkan Tomoe, hanya menggunakan katana biasa yang gampang dibeli di toko pinggir jalan. Tidak memiliki senjata unik, bukan pula senjata legendaris.

Karena itulah, Naruto berinisiatif memberikan hadiah tepat saat ulang tahun Tomoe lima minggu lalu. Satu set pedang unik yang digunakan oleh Tujuh Pendekar Pedang Legendaris dari Kirigakure di masa lampau.

Yang diberikan Naruto bukan pedang asli dari dunia shinobi. Pedang-pedang itu tidak diketahui keberadaannya setelah Perang Dunia Shinobi. Sebagian yang jelas siapa pemilik barunya, seperti Kubikiribochou di tangan Suigetsu, Samehada pada Killer Bee, dan Pedang Kiba yang ada pada Omoi, juga hilang karena orang-orang tersebut menjadi korban kiamat.

Naruto meminta Sasuke mengambilkan data tentang pedang-pedang itu dari arsip perpustakaan Konoha. Mendiskusikannya dengan Sona, lalu menyerahkannya proses pembuatannya pada penempa pedang terbaik dari Niddhavellir, tempat tinggal para kurcaci pematri dalam mitologi Norse. Tentu saja dengan akses khusus dan link rahasia agar bisa memesannya.

Hasilnya, satu set berisi tujuh macam pedang sesuai dengan kemampuan aslinya. Itu bukan hal mustahil karena setiap pedang tidak hanya ditempa menggunakan material-material pilihan berkualitas, tetapi juga dilengkapi ritual-ritual sihir tertentu untuk menambahkan kemampuan unik pada setiap pedang tersebut.

Tomoe, hari ini sudah menampilkan tiga dari tujuh pedang yang dia punyai. Ditunjang dengan keahliannya yang cukup mumpuni sebagai swordman, tidak sulit baginya menguasai keterampilan menggunakan ketujuh pedang hebat itu.

Secara keseluruhan, tim Sona sangat mendominasi jalannya pertempuran melawan seribu lebih pasukan iblis dari Fraksi Old Maou. Mereka tidak melawan dengan kekuatan, juga tidak dengan sihir skala besar untuk membalas serangan para iblis yang rata-rata adalah petarung tipe Wizard. Tim Sona menggunakan taktik jitu untuk membuat serangan yang efektif dan efisien.

Kemampuan Naruto memteleport secara instan setiap attacker timnya benar-benar membuat musuh tak berkutik. Ini seperti mengulang sejarah, dimana pada jaman dahulu saat masa Perang Dunia Shinobi Ketiga, Yondaime Hokage Namikaze Minato seorang diri berhasil membantai 1000 pasukan Iwagakure menggunakan teknik Hiraishin.

"Hei kalian semua!" salah satu iblis berteriak keras pada rekan-rekannya. "Terbang ke udara, jangan ada lagi yang di daratan."

Atas intruksi itu, semua iblis mengeluarkan sayapnya dan terbang melayang di udara cukup tinggi.

Rupa-rupanya, ada dari mereka yang menyadari kelemahan trik Naruto. Kunai dengan tanda segel Hiraishin tersebar merata di permukaan tanah dalam area luas. Jika mereka semua terbang di udara, maka tak satupun penyerang dari tim Sona yang akan diteleport dan menyerang tiba-tiba.

"Itu tak akan mengubah keadaan!" ucap Sona tegas, membantah.

Dari moment ini, Sona ikut beraksi. Dia menengadahkan kedua telapak tangannya ke langit. Saat itu pula, dari dalam tanah bermunculan gelembung-gelembung air. Tidak sulit bagi Sona menggunakan sihirnya di tempat ini, Kota Auros adalah kota agrikultur yang subur dan tanah dibawahnya menyimpan banyak sekali debit air.

Setiap gelembung air menelan kunai-kunai Hiraishin milik Naruto, membawanya terbang ke udara. Jumlahnya ada banyak dan gerakannya cukup cepat. Terbang melayang di antara para iblis.

Pasukan iblis Maou Lama terpaksa dibuat meradang, ingin marah membalas namun mereka tidak tahu harus bagaimana.

"Ayoooo, Naruto-san. Lakukan serangan penghabisan!"

Kagebunshin no Jutsu.

BoooftBoooftBoooftBoooftBoooftBoooft

Naruto membuat enam bunshin. Bertujuh dengan dirinya yang asli, berbagi tugas untuk menteleport masing-masing satu peerage Sona dengan Hiraishin. Dengan ini, serangan penghabisan tujuh kali lebih cepat.

"Minna!" teriak Naruto semangat. "Lepaskan semua kekuatan kalian, hancurkan apapun di depan mata!"

.

[~~skip~~]

.

Tidak sampai lima belas menit, semua iblis pemberontak dari Fraksi Maou Lama yang menyerbu Kota Auros telah di bersihkan tanpa menyisakan satupun. Sebagian yang mencoba lari dengan lingkaran sihir teleportasi berhasil digagalkan, ditangkap, dan sebentar lagi pasti akan dieksekusi mati.

Pun begitu dengan pasukan yang menyerbu Pulau Langit Agreas. Sekeliling udara pulau tersebut berhasil diamankan oleh Maou Serafall Leviathan sendirian. Sedangkan yang menyerbu ke dalam kota, dikalahkan berkat kerjasama para kesatria-kesatria yang sengaja diundang untuk menghadapi serangan pengkudeta. Didalam arena Rating Game sendiri, Tim Sairaorg Bael sudah menyelesaikan tugasnya.

Dua pemimpin tertingginya, Shalba Beelzebub dan Cruzerey Asmodeus telah dilenyapkan oleh Maou saat ini, dan pasukannya pun berhasil ditumpas. Fraksi Maou Lama pun, dinyatakan telah tamat.

Tap.

Brukk

"Ugghh."

Issei mendarat di tanah, dan pantatnya langsung ambruk karena staminanya yang terkuras hingga hampir habis. Armornya pun sudah dilepas, dia kembali ke mode normal.

"Kerja bagus semuanya." ucap Sona.

Rias mengangguk. "Sama, kalian juga berusaha keras."

Sona tersenyum tipis. Lalu dia melihat satu persatu peeragenya. Perasaan bahagia memenuhi rongga hatinya, senang karena tidak melihat ada satupun keluarganya yang terluka.

Kini semua anggota kelompok Sona dan Rias sedang berkumpul di daratan. Tak jauh dari gudang mesin pertanian yang telah hancur.

"Senpai, senpai, senpaaiiii? Bagaimana aku tadi, hebat kan?"

Tomoe bergelayut manja di badan Naruto, curi-curi kesempatan ketika suasana hati Hinata sedang bagus.

Naruto memberi tatapan risih, "Kau belum puas juga, Tomoe-chan? Harus berapa kali aku memujimu huh?"

"Tidak!" Tomoe menggeleng cepat. "Aku tidak akan pernah puas berapa kalipun kau memujiku, Naruto-senpai. Aku tak akan berhenti sampai kiamat sekalipun." katanya tepat di depan wajah Naruto.

Naruto mendorong dahi Tomoe dengan telunjuknya, "Jauhkan wajahmu dari wajahku, anak nakal!"

"Mwuuuu." bibir Tomoe mengerucut sebal.

Bosan bertengkar dengan Tomoe, Naruto mengalihkan tatapannya pada kelompok Rias.

"Aku kagum, kekuatan tim kalian sangat hebat. Tidak pernah aku menemukan sebuah tim yang isinya orang-orang gila kekuatan seperti kalian."

Akeno terseyum nakal, "Ufufufuuu, jadi kau mulai tertarik pada kami, Naruto-san?"

Naruto jawdrop, apa-apaan maksud Akeno tadi?

Kiba menanggapi serius, "Kalian juga sangat hebat. Kalau kelompok kita bertanding lagi, kami mungkin tak bisa apa-apa menghadapi strategi kalian."

"Ya." Rias mau tak mau harus mengakuinya.

Hinata yang sedari awal lebih banyak diam, mencoba bijak. "Tak perlu dipermasalahkan. Kelompok kita masing-masing sudah mengalahkan musuh sama banyak, iya kan?"

Koneko mengangguk, "Uhm, itu benar. Meski Issei senpai harus berusaha keras pada saat terakhir untuk menyamai jumlahnya dengan kalian."

Sebagai serangan teakhir, Issei menembakkan aura crimson masif yang sangat kuat dari sepasang canon di bahunya. Kerusakan lingkungan yang sangat hebat menjadi akibatnya, layaknya hasil dari ledakan bijuudama yang sangat besar. Kumpulan iblis Maou Lama yang terakhir pun lenyap tak bersisa.

Selagi asyik-asyiknya bersenda gurau demi melepas penat. Tiba-tiba muncul sebuah perasaan asing.

Perasaan dingin menyeramkan yang mengalir kedalam sanubari, menstimulasi indra keemam setiap orang.

Tepat setelah merasakan sensasi misterius itu, langit ungu khas Underworld mengalami sebuah fenomena aneh dimana langitnya berubah menjadi putih.

Semua orang bertanya-tanya apa yang terjadi?

Setiap anggota dari kelompok Sona dan Rias, begitupula dengan prajurit pemerintahan Yondai Maou saat ini, melihat ke langit dari permukaan tanah Kota Auros demi menyaksikan apa yang sedang terjadi.

Semua orang mulai panik pada fenomena yang tiba-tiba ini.

Tidak lama kemudian, terdengar suara dari alat komunikasi.

Semua yang ikut berperang melawan Fraksi Maou Lama, sedari awal diberi alat komunikasi untuk memudahkan penyebaran informasi paling update tentang situasi di medan perang.

Suara itu diyakini adalah suara milik Maou Falbium Asmodeus.

'Aku menduga ada sebuah lapisan pelindung yang diaktifkan. Setelah menerima laporan dari orang-orang di pusat komando, aku memperkirakan kalau saat ini seluruh wilayah Auros beserta Pulau Langit Agreas telah terkurung dalam lapisan pelindung. Yang paling parah adalah, seluruh unit pasukan kita yang berada di Agreas kehilangan kemampuan sihir mereka.'

Seluruh wilayah? Serius, itu skala yang teramat besar.

Sampai menyegel kemampuan sihir orang-orang yang berada di Agreas? Itu mustahil.

Beruntung hanya yang di Agreas saja yang disegel kekuatan sihirnya. Buktinya, Rias dan lainnya yang berada di Auros masih bisa menggunakan kekuatan masing-masing.

Tapi...

"Tapi siapa yang sanggup melakukan hal ini?" tanya Issei. Seumur-umur yang dia ketahui, belum pernah mendengar cerita ada makhluk yang sanggup membuat pelindung seluas ini, bahkan menyegel kemampuan sihir orang lain.

Falbium melanjutkan kata-katanya.

'Ada seseorang yang bisa. Naga Jahat Legendaris yang dikatakan dapat mengendalikan lebih dari seribu sihir, "Diabolism Thousand Dragon" Naga Seribu Kultus Iblis Aži Dahāka. Jika itu benar dia, maka hal ini tidak mustahil.'

Khaos Brigade.

Ahh, karena terlalu fokus dengan serangan yang dilakukan oleh Fraksi Maou Lama, mereka semua seakan melupakan siapa bos sebenarnya organisasi teroris itu.

Rizevim Livan Lucifer.

Nama itu belum menunjukkan batang hidungnya. Dia yang memegang Holy Grail sembari membangkitkan para naga jahat selama perjalanannya.

Sebuah kelompok terpisah dari Maou Lama di dalam Khaos Brigade yang menggunakan Holy Grail, Qlippoth. Mereka membangkitkan Evil Dragon Aži Dahāka. Bahkan lebih jauh lagi dengan menciptakan Naga Jahat-yang diproduksi massal.

"Tapi ukuran sekaliber ini? Bahkan jika itu adalah Naga Jahat legendaris, aku masih tidak bisa mempercayai dia bisa menyegel wilayah seluas ini berikut dengan kemampuan sihir semua orang di Agreas."

Rossweisse berbicara tentang keraguannya. Itu terasa masih mustahil bahkan jika dilakukan oleh Naga Jahat yang diperkuat dengan Holy Grail.

Sona mengatakannya sambil memegang dagu.

"Tapi itu akan lain ceritanya jika manteranya diperkuat oleh sebuah efek."

"Euclid, Replica Boosted Gear."

Hanya itulah yang terpikirkan oleh Issei. Jika Euclid mentransfer kekuatan yang telah diboost kepada Naga Jahat Legendaris, akan sangat wajar jika daya jangkaunya mampu menutupi seluruh kota yang sangat luas.

Tentang Euclid, Azazel telah mendapatkan informasi kalau orang itu berhasil mereplika Boosted Gear. Meski hanya tiruan, tapi orang itu menggunakannya lebih baik dari pemilik asli.

"Pertama-tama, kita harus mengetahui apa tujuan musuh sebenarnya."

'Masih belum jelas. Selama orang yang mengendalikan situasi ini belum muncul, kita tidak bisa melakukan apa-apa. Yang bisa kita simpulkan sekarang, serangan Fraksi Maou Lama hanyalah pengalihan, tujuannya untuk melemahkan kekuatan kita sebelum mereka melakukan aksi yang sebenarnya, mungkin juga untuk membagikan kita pada posisi tertentu yang mereka inginkan tanpa kita sadari.'

"Oh iya, teknologi dari Era Maou Lama." Guman Tsubaki. Sona mengangguk setuju.

"Ada semacam teknologi kuno yang berasal dari era Maou-Lama yang digunakan di Pulau Langit Agreas. Di pulau itu, ada sebuah area yang masih belum dapat dipecahkan misterinya oleh institusi penelitian milik Maou Ajuka Beelzebub yang sampai saat ini masih melakukan investigasi mendalam pada pulau tersebut. Rizevim Livan Lucifer yang merupakan putra dari Lucifer sebelumnya pastinya mengincar sesuatu dari pulau tersebut."

'Peluang kemungkinan itu sangat besar. Pasti ada hubungannya dengan Trihexa [666].'

Tak lama berselang, muncul layar hologram raksasa di langit. Sungguh besar hingga semua orang bisa menyaksikannya dimanapun berada selama masih di dalam kota Auros.

Ada simbol iblis tertulis di layar, dibaca dengan arti, "Loading, Please wait a minute."

Konyol! Apaa-apaan maksudnya itu, memangnya ini game huh?

Sembari semua orang membuat kuda-kuda hendak bertarung, yang datang selanjutnya adalah suara mengejek dari langit.

'Eh? Pengumumannya telah dimulai? Serius? Tunggu sebentar. Orang tua ini masih belum selesai memakan makanannya. Tapi kalian masih menyuruhku untuk muncul? Oke okeeee. Baiklah, baiklah.'

Yah, itu benar-benar ejekan.

Ejekan dari suara yang sangat dikenal.

Si iblis biang kerok akhirnya menampakkan wajahnya.

Semua orang menatap penuh kebencian.

Terutama dari kelompok Rias Gremory.

Orang tua itu memakai jubah, dengan rambut perak dan perawakan laki-laki berusia paruh baya.

Rizevim Livan Lucifer.

Dia mulai berbicara setelah megedipkan mata.

'Ncha. Uhyahyahyahyahyahya! Kembali lagi dengan idola semua orang, si kakek tua Rizevim. Hallooo kalian semua di sana, atau lama tidak berjumpa! Aku rasa hal buruk sedang terjadi kepada kalian semua, jadi aku memutuskan untuk menjelaskan sendiri situasinya. Tahukah kalian bagaimana sebuah kejadian dimana musuh menjelaskan rencananya adalah klise yang sangat umum?'

Belum apa-apa, Rizevim sudah membuat banyak orang geram dengan tingkahnya yang kekanak-kanakan. Sederhananya, semua orang mampu menumpuk kebencian mendalam hanya dengan mendengarnya berbicara saja.

"Aku yakin kalian semua telah menyadarinya, iya kan? Kami menutupi seluruh wilayah dengan sebuah lapisan pelindung! Oh ya ampun, maafkan diriku ini yang telah mengejutkan kalian padahal masih lelah sehabis bertempur melawan orang-orang idiot dengan idealisme kelas cacing seperti rekan-rekanku. Hahahahaaaaa.'

Rizevim tidak menunjukkan raut penyesalan saat mengatakannya, padahal Fraksi Maou Lama adalah sekutunya.

'Nah lihatlah di belakangku ini,' Ada seekor naga berwujud seperti pohon yang sedang bermain bola benang di belakang Rizevim, layaknya anak kucing. "Dia sekutu kami, Laddon-san dari pasukan Naga Jahat. Ia adalah penjaga apel emas yang telah dibunuh oleh Heracles generasi pertama.'

Sungguh tak ada satupun yang menyangka kalau Laddon benar-benar dibangkitkan. Hanya dengan melihat saja, siapapun akan tahu seberapa mengerikan naga jahat itu.

Selanjutnya gambar beralih pada seekor naga yang sedang tidur-tiduran. Kepalanya ada tiga dan memiliki enam sayap raksasa. Sisiknya dominan dipenuhi warna ungu kehitaman. Seekor naga jahat yang kekuatannya setara Crom Cruach. Dia lah yang ditunggu-tunggu, Aži Dahāka.

"Nah kalau dia, mungkin kalian sudah mengenalnya. Ayoo ucapkan selamat pagi pada Aži Dahāka-kun. Unchahyahyahyahyaaaa..."

'Uhhuuukk uhuk!' Rizevim terbatuk karena tertawa terlalu keras. Setelah itu dia kembali ke pose semula seolah hal memalukan tadi tidak pernah terjadi. 'Yah, seperti yang lain, kami membangkitkan mereka berdua menggunakan kunci utama kita, "HolyGrail". Dinding pelindung yang Laddon-san ciptakan juga sebagai pertahanan. Dan dengan bantuan Longinus replika Boosted Gear milik Euclid-kun, kita dapat menutupi seluruh wilayah! Terima kasih kepada Aži Dahāka-kun, karenanya pekerjaan kami jadi lebih mudah.'

Selanjutnya, Euclid yang berada disamping Rizevim muncul di layar virtual raksasa di langit. Ia membawa Holy Grail di tangannya.

"….!"

Gasper yang berdiri disamping Akeno menggigit keras giginya sambil matanya mengeluarkan sebuah kilauan yang berbahaya. Apa yang dilihatnya sekarang ini, pasti adalah sesuatu yang sulit untuk ditahan baginya.

'Intinya adalah, tempat ini tertutup sepenuhnya dari luar, keberadaannya seolah hilang dari Underworld. Tak seorangpun diluar sana yang akan menemukannya. Gabungan kekuatan dua Naga Jahat dan Longinus sungguh sangat mengagumkan!'

'By the way, kenapa aku melakukan ini? Kalau kalian bertanya, alasannya sederhana. Aku ingin mencuri sedikit teknologi Agreas! Itu karena papaku, Lucifer pertama, adalah arsitek utama Agreas. Tidakkah kalian berpikir wajar kalau aku seharusnya mewarisi Agreas karena aku adalah putranya? Hei, Tidakkah kau berpikir demikian?'

Rizevim menyipitkan matanya dan menunjukan jarinya di depan layar.

'Ughyahyahyahya, Aku yakin tim D×D yang dibentuk untuk mengalahkan kami juga ada disana, benar? Oh, kita telah menerima informasi tentang itu sebelumnya. Itu pasti akan menarik, jadi haruskah kita melakukan sebuah pertandingan kecil? Pasukan Naga Jahat yang diproduksi massal akan pergi menuju kesana, begitu pula ke Pulau Langit, dengan tujuan untuk menghancurkannya. Jadi cobalah untuk menghentikan mereka. Hei, sungguhan, cobalah untuk menghentikan mereka. Okey'

Rizevim menjentikkan jarinya, siaran live itupun otomatis selesai.

Sungguh, ini berita buruk bagi setiap orang. Jadi penyerangan yang sebenarnya akan segera dimulai?

Belum selesai keterkejutan, tiba-tiba pilar api ungu berbentuk salib yang sangat besar dan cukup banyak mulai keluar dari dalam tanah di sekeliling Kota Auros.

Issei yang masih lelah sama sekali tak tahu. Kenapa ada banyak sekali pilar-pilar api yang muncul?

"Api ungu. Seorang lawan yang sulit untuk dihadapi pastinya telah muncul."

Kalimat yang di ucapkan Sona, kontan membuat suasana lebih mencekam.

"Itu adalah Incinerate Anthem!" lanjut Sona.

Rias berteriak sambil ia melihat keatas pada pilar api. "Sacred Gear Incinerate Anthem!? Pemilik Longinus yang tergabung pada kelompok Penyihir Hitam, Hexennacht."

Xenovia, mantan exorcise yang tahu banyak tentang salah satu relic pusaka tuhan, Holy Cross atau Salib Suci. "Pilar api itu sangat berbahaya. Tidak ada hal lain selain kematian bagi iblis yang menyentuhnya meski hanya seujung jari. Penyihir pun akan berubah menjadi abu begitu mengenainya."

Saatnya pun telah tiba. Seperti yang telah di katakan oleh Rizevim, serbuan pasukan Naga Jahat akan segera dimulai.

Langit putih yang cerah kini menunjukkan sebuah penampakan berwarna hitam. Akibatnya kota mulai gelap seperti sedang terjadi gernaha matahari.

Penampakan berwarna hitam di langit, darimanapun melihatnya, mereka adalah sekumpulan Naga Jahat. Ada banyak jumlah mereka, seratus, dua ratus, tidak, mungkin mencapai seribu ekor. Itu pasukan naga jahat yang di produksi massal.

Mereka mulai berpisah menjadi beberapa kelompok yang lebih kecil. Tiga kelompok bergerak menuju Pulau Langit Agreas. Orang-orang disana pasti sudah bersiap akan serangan.

Sisa empat kelompok kawanan naga itu mulai turun ke Kota Auros, berpencar ke masing-masing penjuru mata angin. Pilar-pilar api ungu dari relic suci Holy Cross membagi wilayah kota Auros menjadi empat bagian. Setiap orang yang berada di masing-masing bagian tidak akan bisa berpindah ke bagian lain karena terhalang pilar-pilar api ungu berbentuk salib itu. Selainnya, masih ada banyak lagi pilar api yang terpasang disisi pelindung yang melingkupi seluruh kota. Jadi untuk keluar dari pelindung yang dibuat Naga Jahat Laddon, terlebih dahulu harus melewati api ungu yang akan mensucikan iblis sekuat apapun sampai mati.

Setiap bagian dari kota tadi, di kepung oleh satu kawanan naga jahat yang sedang mengudara. Setiap kawanan terdiri dari dua ratus lebih naga jahat. Mereka siap menukik turun dan menyerang kapan saja.

"Anata?"

Hinata dibuat heran karena suaminya tiba-tiba berdiri, melakukan sedikit peregangan, seperti bersiap hendak bertarung.

"Kalian semua sudah kelelahan kan?" tanya Naruto menatap satu persatu wajah iblis-iblis muda dari kelompok Sona dan Rias. "Jadi, serahkan bagian ini padaku." ucapnya dengan jempol menunjuk ke dada sambil nyengir selebar yang ia bisa.

Tak dapat dipungkiri, setelah membantai pasukan iblis Fraksi Maou Lama, mereka semua kelelahan. Terutama kelompok Rias yang bertarung habis-habisan.

Karena tak ada yang protes, Naruto maju lima langkah.

"Tak ada yang perlu kalian cemaskan. Bagi aku yang pernah memukul Sekiryutei dalam armor terkuat sampai hampir tewas...,"

Mendengar hal itu, Issei dibuat merinding. Ia tak ingin mengingat lagi saat-saat dimana ia meregang nyawa.

"... menjatuhkan semua naga jahat itu adalah hal mudah." kata Naruto dengan sangat yakin. "Tak ada lagi yang perlu kututup-tutupi, dari sini aku akan menunjukkan kekuatanku."

Artinya, Naruto akan terang-terangan. Tidak lagi merahasiakan jati diri dan kekuatannya.

Swwooosssshhhh...

Tubuh naruto diselimuti aura berwarna kuning, bahkan kulitnya pun bercahaya.

Kyubi Chakura Mode

Mode bertarung ketika Naruto menggunakan sebagian chakra kyubi, seperti yang pernah ia gunakan untuk membasmi zetsu putih selama Perang Dunia Shinobi Keempat.

Ini saja, sudah lebih dari cukup untuk membantai naga-naga jahat itu seorang diri.

Rias, Issei, dan lainnya, baru pertama kali merasakan aura kekuatan yang sangat berbeda dari kekuatan asli Naruto. Seperti ada kekuatan lain dari seekor makhluk mengerikan yang tersegel didalam tubuh si pirang. Perasaan dan tekanan kuat yang mereka rasakan, hampir sama dengan yang dirasakan ketika Naruto mengamuk dan memukul Issei saat pesta pembukaan Rating Game.

Naruto membuat segel tangan dengan menyilangkan jari.

Kagebunshin no Jutsu

BooffftBooffftBooffftBooffftBooffftBooffft

BooffftBooffftBooffftBooffftBooffftBooffft

Sekali lagi, Naruto memperlihatkan teknik yang hampir selalu ia gunakan ketika bertarung.

Naruto membuat 15 tiruan dirinya.

Sekalian menyiapkan sebuah ninjutsu.

Shiiiinnnggg.

Suara dengung dari angin yang bergesekan seperti hendak merobek gendang telinga.

Naruto dan tiruannya, akan melemparkan masing-masing satu jutsu yang sama.

Futon: Rasenshuriken

Shyyuuuuuu...

KABOOOMMMMM!

Ledakan-ledakan yang begitu dahsyat terjadi bersamaan di udara, getarannya bahkan sampai ke tanah tempat orang-orang berpijak. Langit yang semula gelap karena tertutup kawanan Naga jahat, kini menjadi terang dan menyilaukan oleh cahaya putih kebiruan, efek dari jutsu yang Naruto lemparkan.

Saat mata kembali mendapatkan pandangannya, separuh dari semua Naga Jahat telah gugur berjatuhan ke tanah. Sisanya yang masih hidup sengaja menukik ke bawah, masing-masing bersiap menyemburkan nafas api dari mulutnya.

Naruto berniat melawan dengan pertarungan langsung.

"Ayo semuanya, seraaaaaaaanggggg!"

Bak mengkomando sebuah pasukan, Naruto berteriak menyuruh semua tiruannya maju. Semuanya melompat ke atas tinggi-tinggi. Lalu menghantamkan tinju raksasa menggunakan perpanjangan lengan chakra kyubi.

Duuuaaakkkk!

Baaaaaanggggggg...!

Itu tontonan menakjubkan bagi orang yang menyaksikan dari bawah. Mereka perlu satu tim penuh untuk melakukannya, tapi Naruto cukup seorang diri. Asal kesampingkan fakta tentang Naruto yang mampu menggandakan diri menjadi satu batalion pasukan.

Yuuto Kiba berhenti mendongak. Dia menatap lurus pada sosok perempuan bersurai indigo panjang yang berdiri sendiri agak jauh dari yang lain.

Kiba pun mendekati sosok itu, lalu menyapanya. "Hinata-senpai?"

"Uhm, ada apa Kiba-san?" tanya Hinata setelah balas menatap lawan bicara. Ekspresinya sangat tenang, tidak ada setitikpun ketakutan. Tatapan matanya yang lembut dan teduh membuat laki-laki manapun pasti terpesona.

"Ettoh..., kau tidak ikut bertarung?"

"Eh?"

"Ah maaf. Bukan maksudku menyuruhmu ikut. Hanya saja apa tidak masalah membiarkan suamimu bertarung sendirian?"

"Ooooh. Tidak apa. Aku yakin Naruto-kun pasti berhasil menyelesaikan tugasnya." tukas Hinata dibarengi wajah penuh keyakinan.

Setelahnya, Kiba tidak bicara apa-apa lagi.

Sesungguhnya, Kiba penasaran bagaimana kalau Hinata bertarung sungguhan di medan tempur. Ia ingin menyaksikan langsung seberapa mematikan wanita yang menurutnya sangat misterius ini. Apakah memang benar ada sisi mengerikan yang tersimpan rapat dibalik sikap sopan, santun, dan lembut yang selalu menjadi perilaku Hinata sehari-hari.

Sebenarnya bukan hanya Kiba saja, tetapi Rias, Akeno, Issei, semua orang, bahkan termasuk Sona, Tsubaki, dan Koneko yang mengetahui identitas asli Hinata, sangat penasaran bagaimana kemampuan asli Hinata jika dia bertarung sungguh-sungguh.

Selama ini, sejak pertama bertemu sampai sekarang, Hinata selalu menutup-nutupinya. Jika bertarung, Hinata selalu memposisikan dirinya di belakang, berlindung dibalik punggung sang suami. Hinata bukan sosok yang pandai berbohong, setiap orang pasti berpikir kalau wanita keturunan Hyuga ini menyimpan kekuatan yang sangat mengerikan, melebihi teknik beladiri taijutsu Hyuga yang selama ini selalu ia perlihatkan.

Itulah yang mereka semua ingin tahu, hal yang membuat penasaran sampai terbawa ke dalam mimpi.

.

Latar tempat sekarang ini masih di dalam wilayah Kota Auros. Namun di sisi ini terlihat sepi dan lengang karena serangan pasukan Iblis Maou Lama tidak sampai kesini, begitupula dengan serbuan Naga Jahat yang tengah berlangsung. Hal itu disebabkan karena areal ini dimensi ruangnya terditraksi oleh sebuah dinding penghalang.

Namun bagi Maou sekaliber Sirzech, hal aneh ini tak mungkin ia lewatkan.

Sirzech sudah sangat yakin kalau rencana yang ia susun akan berjalan sempurna.

Ya, saking sempurnanya sampai ia tak perlu berusaha keras untuk menemukan target buruannya.

Rizevim Livan Lucifer.

Keturunan pertama Maou Lucifer sejati.

Rizevim memang sangat lah kuat, ia tergolong iblis super, Super Devil seperti dirinya dan Ajuka. Namun Sirzech sudah mempersiapkan segalanya untuk menghabisi orang tua gila itu. Segala yang ia punya hanyalah untuk melenyapkan Rizevim.

Sirzech kini bersama seluruh peeragenya, lengkap tanpa kurang satupun. Yang mana semuanya adalah pemilik nama dan penyandang gelar-gelar terhormat dan legendaris.

Sang Ratu Grayfia Lucifuge, ratu terkuat di Underworld yang kekuatannya setara dengan Maou, iblis darah murni yang termasuk peringkat Satan-class Devil dari keluarga Extra Demon.

Shouji Okita, pengkonsumsi 2 bidak Knight, kapten skuad pertama Shinsengumi. Mac Gregor Mather dengan 2 bidak Bishop, seorang master penyihir yang menjadi pendiri organisasi Hermetic Order of The Golden Dawn.

Surtr Second, raksasa api yang diciptakan oleh seorang dewa dari mitologi Norse. Dia dikatakan sebagai Rook terkuat nomor 1 di Underworld setelah mengkonsumsi mutation evil piece. Lalu Bahamuth, Rook yang direinkarnasi oleh Sirzech dari monster Glowing Fish yang berasal dari kedalaman samudra.

Kemudian ada Enku, salah satu pion yang direinkarnasi dari binatang legendaris Kirin (Qilin) dari dataran china. Dan terakhir adalah Beowulf, seseorang manusia yang sanggup membantai salah satu naga jahat legendaris seorang diri.

Dan Sirzech sendiri, adalah iblis terkuat di Underworld saat ini.

Tak ada satupun pengguna Sacred Gear di dalam kelompok Sirzech, itu untuk membuat kemampuan Sacred Gear Canceller milik Rizevim menjadi tidak berguna. Sebuah kelompok yang diciptakan khusus hanya untuk membunuh Rizevim.

Kelihatan sekali, bahwa Rizevim bisa dimusnahkan kapan saja dengan mudah oleh kelompok Sirzech.

Akan tetapi, Sirzech tak mungkin melakukannya.

Situasi yang dialaminya berbeda 180 derajat dengan Serafall, Ajuka, maupun Falbium di titik lain medan perang. Saat ini dia lah dalam posisi yang tidak diuntungkan.

Rizevim tertawa gila karenanya.

"Ghahahahahaaaaa. Bagaimana rasanya Sirzech? Kau memiliki semuanya namun tak bisa melakukan apa-apa."

Sirzech tak bisa bicara. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Aku yang memegang kendali saat ini, jadi kusarankan kau diam dan melihat saja dari sini. Uhyohyohyohyoooo..."

Awal cerita sebelum ke tempat ini, Sirzech sudah memperkirakan kalau Rizevim pasti akan memanfaatkan kudeta yang dilakukan oleh Fraksi Maou Lama. Jadi Sirzech menunggu, bersama peerage-peeragenya, dia berniat untuk menangkap Rizevim.

Saat menemukan orang yang dia cari, ternyata orang itu baru saja menyelesaikan siarannya kepada semua orang. Sirzech sudah menduga kalau Rizevim pasti memiliki rencana sendiri dengan memanfaatkan kudeta. Tapi yang tak dia duga adalah Rizevim merencanakannya dengan sangat matang.

Ini bukan tentang Ophis rusak yang dinamakan Lilith oleh Rizevim. Memang benar kalau memenangkan pertarungan dari sang ketidakbatasan itu peluangnya hampir nol, tetapi Sirzech sudah menyiapkan rencana untuk memisahkan Rizevim dengan penjaganya itu sejak ia mendengar khabar dari Azazel ketika di Rumania bahwa Ophis telah dirusak. Sebuah perangkap sihir dimensi ruang-waktu. Jika Lilith berhasil dipisahkan dari Rizevim, menangkap orang tua itu menjadi hal mudah.

Nyatanya, rencana besar Rizevim telah mematahkan perkiraan Sirzech.

Kemampuan penghalang dari Naga Jahat Laddon serta akibat segel sihir dari Aži Dahāka, membuat perangkap yang Sirzech siapkan untuk Lilith jadi tidak berguna.

Sirzech bisa saja memulai pertarungan dengan Rizevim kalau dia mau. Tapi itu terlalu berbahaya. Rizevim pasti akan menggunakan Lilith sebagai tameng. Jika sampai Sang Ketidakbatasan mengeluarkan kekuatan penuhnya di tempat ini, sudah dapat dipastikan seluruh wilayah yang terkurung dalam pelindung beserta segenap isinya akan musnah tak bersisa.

Parahnya lagi, ada tiga ekor Naga Jahat legendaris terkuat di belakang Rizevim, meski mereka nampak cuek. Crom Cruach yang kekuatannya setara dengan Naga peringkat Surgawi, Ddraig maupun Albion pada kondisi prima. Tak ketinggalan Laddon yang sedang bermain dan Aži Dahāka yang lagi asyik tiduran.

Jika memaksa untuk melawan Laddon dan Aži Dahāka agar perangkap khusus untuk Lilith bisa bekerja, Rizevim pasti tidak akan tinggal diam. Orang tua itu mungkin tidak tahu tentang perangkap yang Sirzech siapkan, tetapi kedua naga jahat itu adalah kunci rencana Rizevim saat ini. Mustahil Putra Sang Bintang Fajar ini membiarkan rencananya diganggu.

Jikapun Sirzech memilih pergi dari tempat ini, mustahil juga Rizevim mau menunggu. Lebih buruk lagi, Rizevim mungkin saja akan melakukan hal yang lebih mengerikan kalau ditinggalkan.

Akhirnya, Sirzech bersama semua peeragenya, memutuskan untuk diam dan terus mengawasi gerak gerik Rizevim. Berharap ada kesempatan bagus yang berpihak kepadanya.

.

-A Laboratory at A Secret Place-

Derap langkah kaki terdengar halus dan senyap namun dengan frekuensi hentakan yang lumayan cepat. Bagi orang bertelinga peka, suara itu pasti terdengar jelas. Hanya dengan sedikit berpikir, siapapun akan langsung menyadari bahwa langkah itu berasal dari penyusup yang tengah berlari sebab hanya penyusup saja yang lari dengan menghindari keributan.

Tak ada orang lain selain para penyusup itu, tanda bahwa laboratorium yang mereka masuki dioperasikan tanpa melibatkan makhluk hidup. Hanya ada beberapa robot di sudut-sudut tertentu. Suasana pun tampak sangat tenang, tak ada aktifitas atau pekerjaan yang dilakukan. Laboratorium ini seperti tengah libur bekerja.

Lokasi laboratorium ini pun sangat sulit diakses, tanda bahwa fasilitas ini sangat penting dan rahasia. Namun anehnya tanpa ada pengamanan, tidak nampak ada penjaga ataupun kamera-kamera pengintai di sepanjang fasilitas. Sebuah pemikiran sederhana seketika tercipta, pemilik ataupun orang yang berkepentingan dengan laboratorium ini dan isi didalamnya sangat yakin bahwa lokasinya benar-benar tak terjangkau siapapun dan sangat rahasia.

Nyatanya pemikiran itu salah. Ada empat orang penyusup, pakaian mereka serba hitam. Dua yang paling belakang mengenakan topeng, salah satunya berambut biru navy panjang dengan lekukan tubuh perempuan. Hitai ate dengan gambar spiral yang terikat di lengan atas tangan kanan menandakan bahwa mereka berasal dari Konoha. Ya, mereka adalah anggota kesatuan ANBU.

ANBU yang berlari di tengah tidak mengenakan topeng, terlihat jelas raut wajahnya yang kurang bersemangat dan berkarakter melow meski sekarang tengah dalam misi penting. Laki-laki berambut coklat pendek itu berlari sambil membawa seorang gadis di bahunya. Gadis berambut pirang yang sangat cantik, namun tak sadarkan diri.

Paling depan, si ANBU berkulit pucat. Melihat posisinya dapat dipastikan bahwa ia adalah pemimpin tim ini.

"Yamato-taichou!"

"Jangan panggil aku begitu, Sai. Saat ini kau kapten timnya."

"Uhm."

Mereka bicara sambil tetap berlari waspada.

"Ada apa tiba-tiba huh?"

"Kita berpisah di sini."

"Apa!?"

Raut wajah Yamato nampak tak terima. Sontak mereka berhenti berlari. Dua ANBU bertopeng paling belakang bersiaga dengan senjata kalau-kalau ada hal tak terduga meski mereka sudah memastikan tidak ada orang lain di dalam fasilitas ini.

"Ada sesuatu yang ingin kulakukan."

"Ya sudah, kita lakukan bersama."

"Tidak!" bantah Sai tegas. "Kalian teruskan perjalanan ke gerbang teleportasi. Prioritas kita adalah misi penyelamatan Valerie-san."

Valeria Tepes telah diculik empat hari lalu dari kediamannya di Rumania. Pihak vampir, lebih tepatnya Lord Tepes meyakini betul bahwa penculiknya adalah Azazel. Walau dia belum tahu apa motif dibalik kasus penculikan itu.

Khabar genting tersebut langsung disampaikan kepada sekutu Bangsa Vampir, yaitu Konoha. Tidak perlu berpikir keras bagi Shikamaru untuk mengidentifikasi tujuan penculikan Valerie adalah tentang Sacred Gear Longinus Sephiroth Graal atau Holy Grail di dalam tubuh vampir berdarah setengah itu, yang kemungkinan besar digunakan untuk kebangkitan para malaikat kloning dan mengeleminasi kelemahannya.

Kakashi sebagai Hokage keeman memutuskan untuk mengambil tanggung jawab penyelamatan Valerie dengan mengirimkan sebuah tim terdiri dari empat ANBU pilihan.

Sebenarnya hampir mustahil menemukan laboratorium tempat keempat ANBU ini berada sekarang. Pertama kali Sasuke pergi ke Surga dengan teknik perpindahan dimensi Rinne-sharingan, dia menemukan laborarotium raksasa di Lantai Kelima tempat memproduksi satu juta malaikat kloning dan meretas beberapa informasi dari sana. Sasuke tidak melakukan apapun, cukup dengan membawa pulang sebongkah informasi.

Setelah disampaikan kepada Hokage dan mendapati kenyataan bahwa tujuan produksi massal malaikat itu untuk perang, Sasuke mencoba pergi kembali ke Surga, ke laboratorium itu. Tujuannya untuk mencegah kebangkitan massal para malaikat. Namun hasilnya nihil. Pihak Surga telah menyadari bahwa laboratorium mereka disusupi sehingga memindahkan seluruh proyek ke tempat lain yang sangat rahasia.

Lalu sekarang, tempat baru proyek itu telah ditemukan. Sasuke berhasil melacak jejak-jejak sisa kehidupan Valerie sampai ke tempat ini, laboratorium dimana tahap akhir kebangkitan massal satu juta malaikat kloning.

Namun Sasuke tidak bisa menggunakan Rinne-sharingannya untuk melakukan teleportasi. Sistem keamanan ruang-waktu laboratorium ini sangat mutakhir. Tetapi berkat bekerjasama dengan Georg si pemilik Longinus Dimension Lost dan pengetahuan kuno tentang ruang-waktu dari Yasaka-himesama, akhirnya berhasil ditemukan sebuah formula lingkaran sihir teleportasi kompleks mirip Gerbang Naga untuk pergi ke lokasi Valerie berada. Sebuah gerbang teleportasi yang hanya mampu memindahkan maksimal empat orang.

Sasuke dengan Rinne-sharingan, Georg dengan Dimension Lost, dan Yasaka-hime sama dengan teknik sihir Jepang kuno, bertiga bekerjasama dari markas untuk mempertahankan Gerbang teleportasi tetap terbuka selama 30 menit. Selama waktu itu pula Tim yang dipimpin Sai harus menyelesaikan misinya menyelamatkan Valerie.

Walau sudah berusaha keras menyesuaikan koordinatnya, tetapi gerbang teleportasi yang menjadi jalan penghubung itu letaknya terpaut jarak 850 meter di luar laboratorium raksasa. Jarak yang lumayan jauh.

Kemudian hari ini dipilih oleh Kakashi sebagai waktu pelaksanaan misi karena di Underworld sedang berlangsung Turnamen Rating Game, bahkan lebih dari itu sedang terjadi kudeta. Tentu perhatian dan keamanan gedung laboratorium akan berada pada titik terendah.

Dua ANBU bertopeng tampak tidak berani ikut perdebatan. Sedangkan Yamato masih keras kepala.

"Memangnya apa yang mau kau lakukan huh? Waktu kita tidak banyak."

Bukan apa-apa, Yamato hanya ingin mengikuti rencana awal. Tidak ada pekerjaan tambahan selain menyelamatkan Valerie.

"Tolong, Yamato-taichou. Mungkin hanya kali ini kesempatan langka ada di depan mata. Aku tidak ingin melewatkannya."

Tak ada senyum palsu yang tersungging di bibir Sai. Raut mukanya sangat serius.

"Tapi...!?"

"Satu juta malaikat kloning, pasukan yang luar biasa dahsyat. Pasukan persekutuan kita hanya 125 ribu saja, seperdelapan dari mereka. Tidak kah itu terlampau mengerikan? Dan bukan hanya tentang kuantitas saja, dari segi kualitas setiap malaikat kloning katanya sepuluh kali lebih kuat dibanding Zetsu putih yang pernah kita lawan saat Perang Dunia Shinobi dahulu."

Sai bersikeras dengan pemikirannya. Ia tidak seperti sifatnya yang biasa. Emosi yang dia miliki ditunjukkan secara natural dari setiap ekspresi wajahnya, tidak lagi kaku seperti dia dahulu. Ino berhasil mengubah mantan ANBU root didikan Danzo Shimura ini menjadi shinobi normal seperti yang lainnya.

Yamato mengerti hal itu. Dia dan semua orang dalam persekutuan selalu bersikap optimis, tetapi realita logis mengerikan seperti yang Sai katakan tadi selalu membayangi di belakang.

"Jadi?" Yamato menatap lurus pada Sai.

Sorot mata Yamato mencari setitik pun keraguan, namun urung didapat. Sai benar-benar sudah yakin dengan keputusannya.

"Kalian bertiga pergilah duluan. Selamatkan Valerie-san. Misi kita harus tuntas. Aku sudah punya rencana untuk mencegah kebangkitan massal malaikat kloning itu."

Tidak ada respon yang keluar dari mulut Yamato. Bahunya turun, pasrah menerima keputusan yang diambil Sai, pemimpin tim dalam misi ini. Ia pun menatap dua ANBU bertopeng bergantian, memberi isyarat untuk melanjutkan perjalanan.

Sebelum benar-benar berpisah, Sai mengatakan sesuatu.

"Tolong sampaikan pada Ino, aku ingin makan Nabe malam ini."

"Eh...!?" Yamato sontak berbalik, menatap Sai yang sedang tersenyum kepadanya. Ia juga mantan ANBU root, dan ia sadar bahwa senyum Sai kali ini benar-benar tulus.

"Percayalah, aku pasti akan kembali."

Mereka pun berpisah setelah Yamato meangguk sekali. Tak ada yang perlu dikatakan lagi, keberhasilan misi adalah prioritas.

Yamato membawa tubuh Valerie yang sedang koma, tidak lagi dipanggul di bahu, tetapi digendong di depan. Sedangkan kedua ANBU lain senantiasa waspada mengiringi.

Sai pun melangkahkan kakinya melewati koridor yang lain. Sendirian.

Menit-menit singkat berlalu. Tiba lah shinobi berkulit pucat itu di sebuah ruangan yang penuh dengan alat-alat canggih serta banyak monitor yang menampilkan grafik berbagai macam informasi. Ini ruangan tempat mengendalikan semua aktifitas di dalam laboratorium raksasa.

"Pasti ini tempatnya."

Gumaman Sai melayang di udara lalu ditelan kesunyian.

Matanya menyisir ke setiap inchi ruangan. Dan akhirnya ia menemukannya. Sai mendekat ke tempat dimana ada papan input lebar dengan berpuluh-puluh tombol virtual.

"Baiklah, aku mulai sekarang."

Sai menancapkan sebuah chip memori pada port yang terletak dibagian atas papan tombol virtual. Lalu mulai mengoperasikan sebuah program didalam komputer disana.

Nampak sekali, bahwa Sai sudah merencanakan hal ini sejak awal dia diutus dalam misi menyelamatkan Valerie. Sai sudah menyiapkannya, dia pun sudah mempelajari cukup banyak hal tentang teknologi milik Fraksi malaikat.

"Kuharap virus ini berhasil membuat semua malaikat kloning itu bangkit prematur nantinya."

Beberapa kali terdengar embusan nafas keluar dari mulut Sai. Ia sedang menunggu hasil, tak ada niat di dalam hatinya untuk pergi ke gerbang teleportasi menyusul Yamato. Ia ingin memastikan sendiri pekerjaannya selesai dan berhasil.

Bar berwarna merah di layar monitor berjalan pelan ke kanan mengikuti pertumbuhan angka yang kini menunjukkan nilai 25%. Artinya 25% dari total satu juta tubuh malaikat kloning tanpa jiwa telah terkontaminasi virus.

DEG!

Tiba-tiba Sai merasakan bulu kuduknya menegang, diserang perasaan mencekam tak berdasar yang membuatnya seperti beridiri di tepi jurang neraka. Tubuhnya bergetar, namun tak sedikitpun bisa di gerakkan.

"Cukup sampai disana, wahai pemuda. Harusnya kau mengikuti teman-temanmu pulang. Aaaahh, tetapi kelancanganmu kemari dengan secercah keberanian itu patut mendapatkan penghargaan."

Suara lembut nan menyejukkan kalbu itu bukannya membuat Sai tenang, malah ia mendapati sekujur tubuhnya kaku. Sekeras apapun mencoba, dia tak mampu menggerakkan kaki walau selangkah, bahkan hanya membalik badan untuk melihat siapa pemilik suara tadi pun Sai tak mampu.

Akhirnya dengan segenap kekuatan yang dia punya, Sai mampu menegakkan kepala. Pada layar monitor, matanya menangkap pantulan sosok yang bersinar terang dengan pakaian glamour yang menunjukkan keagungannya. Sosok itu memiliki dua belas sayap merpati berwarna emas.

Sai tahu siapa dia. Namun sama sekali tak terlintas sedikitpun di benaknya akan seperti ini.

Orang itu adalah...

"Michael...!"

.

-Pulau Melayang Konoha-

Satu-satunya tempat yang tersisa dari dunia shinobi saat ini tampak sangat lengang dan sepi, hanya beberapa orang yang hilir mudik melakukan aktifitas seperlunya. Hal seperti ini pernah terjadi dua setengah tahun lalu, ketika masih di dunia Shinobi. Konoha sepi karena ditinggal ribuan ninja untuk pergi berperang, melawan Madara dan idealismenya.

Sekarang, lebih sepi lagi. Sekali lagi ninja-ninja terbaik Konoha harus pergi berperang, memperjuangkan hak hidup dan hak kemerdekaan akan diri mereka sendiri. Tidak hanya itu, proyek migrasi massal warga sipil Konoha ke dunia manusia yang sudah terealisasi 85%, menjadi penyumbang terbesar penyebab lengangnya suasana Konohagakure.

Kakashi sukses mempercepat rencana jangka panjang tersebut selama masa pemerintahannya. Meski sebentar lagi akan ada perang, tapi ia yakin bumi tempat para manusia hidup adalah tempat teraman karena perang antar makhluk supranatural pada hakikatnya adalah memperebutkan iman dan keyakinan para manusia itu. Tidak sulit bagi warga sipil Konoha membaur dengan manusia bumi di dunia baru ini.

Ke salah satu sudut kota Konoha, pada sebuah toko bunga. Pintu kacanya terbuka hingga membunyikan bel tanda pelanggan datang. Namun bukan pelanggan, tapi dia adalah pemilik toko bunga itu sendiri.

Yamanaka Ino.

Bibirnya yang mengulas senyum sumringah, pekikannya yang tak tertahan, serta kelakuannya yang berjingkrak-jingkrak seperti anak-anak menandakan bahwa perasaan bahagia meluap-luap di hatinya.

"Ufufuuuu, aku jadi tidak sabar melihat si senyum menyebalkan itu mendengar berita ini."

Ino berputar-putar di tempat sembari mengelus-ngelus perutnya yang terbuka. Rata, langsing, dan so pasti... seksi.

Namun akan berbeda dalam beberapa bulan lagi.

Lelah melompat, ia beranjak ke balik etalase kaca yang di dalamnya tersusun rapi buket-buket bunga yang indah, persis di belakang mesin kasir.

Ino menopang dagu dengan kedua tangannya, siku bertumpu di atas etalase kaca.

"Aku jadi tidak sabar menunggu Sai-kun pulang."

Gadis..., aah wanita ini, tak sendiri lagi. Ia sudah memiliki pendamping hidup yang sah sejak sebulan lalu.

Ino sudah menikah.

Pernikahan ketiga di angkatannya setelah Naruto-Hinata dan Shikamaru-Temari.

Kepala Ino bergoyang ke kiri dan ke kanan sambil bersiul-siul melantunkan nada kebahagiaan.

Lamunannya, imajinasi yang ada di otaknya, hanya tentang bagaimana reaksi sang suami kala mendengar berita membahagiakan dari bibirnya.

Saking senangnya, Ino sampai tak menyadari telah menyenggol vas kaca berbentuk tabung.

Vas itu berguling di sepanjang etalase hingga ke ujung sembari menimbulkan suara decitan khas antara dua bidang kaca yang bergesekan.

tukkk..

Vas berhenti bergulir kala terhantam sebuah botol di ujung etalase. Botol itu bergoyang dan kehilangan keseimbangan, akhirnya menumpahkan semua isinya. Cairan hitam legam yang lebih pekat daripada arang. Itu...

Tinta.

"Astaga!"

Ino tersentak begitu menyadari suara-suara tetesan cairan.

Bukan cairan biasa, Ino tahu pasti itu adalah tinta milik suaminya. Tinta yang selalu Sai gunakan untuk melukis, maupun menciptakan sebuah jutsu. Wanita bersurai pirang panjang itu ingat, Sai melupakan tinta itu saat berpamitan pergi untuk misi.

Secepat yang ia bisa, Ino mengambil lap untuk membersihkan noda-noda tinta yang tumpah.

Mengelap permukaan atas etalase hingga ke sisinya. Ia berjongkok untuk membersihkan bagian bawah.

Lalu gerakan tangan Ino tiba-tiba terhenti.

Terhenti manakala melihat bagaimana tetesan tinta itu menodai tempat jatuhnya.

Sebuah pot bunga, yang Ino sendiri lupa kapan meletakannya persis di sisi bawah etalase.

Pot tempat tumbuhnya setangkai bunga mawar.

Mawar merah yang kini tengah mekar.

Kata orang, mawar merah melambangkan banyak hal.

Manusia dilahirkan bersama dengan takdirnya. Terikat satu sama lain dengan benang yang tak kasat mata. Berbagi kasih, memberi cinta, serta menerima sayang satu sama lain. Mawar merah menjadi perantara atas semua itu.

Lalu, hitamnya tinta dengan berani menodai kelopak demi kelopak indah itu, merubahnya dari kecantikan menjadi sesuatu yang mengerikan.

Mawar hitam, bunga fiktif yang hanya tertulis dalam rangkaian cerita, tak pernah benar-benar ada di alam nyata. Kemunculannya di depan mata, seperti membawa sebuah pertanda.

Takut.

Kehilangan.

Penderitaan.

Tragedi.

Akhir cinta yang tragis.

Dan...

Kematian.

Ino adalah seorang floris yang mengetahui banyak makna bunga. Ia mengerti apa artinya ini. Tapi hatinya berontak keras menolak kenyataan. Pikirannya berkecamuk.

Likuid bening yang hangat, tak tertahan hingga akhirnya mengalir di pipi, sampai ke dagu lalu membasahi lantai.

"Are, Hikssss. K-kenapa aku menangis?"

Rintihan Ino mengambang di udara, memenuhi seluruh sudut ruang kosong, membaur dengan sakitnya kesendirian.

.

.

To be Continued...

.

Note :Tidak ada banyak kata untuk mengulas chapter ini. Baca saja sendiri, semuanya sudah cukup jelas kan? Termasuk tentang trik pembantaian Naruto menggunakan Hiraishin, power up Ruruko Nimura yang dibantu oleh Hinata, dan power up Tomoe berkat hadiah yang dipesankan oleh Naruto. Serta tentang rencana sebenarnya Khaos Brigade.

Kalau tentang Sai...?

Ehm, maaf. Itu sudah takdir yang digariskan oleh penulis.

Dan horrraaaa! Ayooo, siapa yang mau MahMud (Mamah Muda)? Tuh Ino sedang sendiri, :v. Padahal baru sebulan menikah, tepatnya di chapter 41.

Dan nih, di chapter ini NaruHina cukup dominan dibanding chapter-chapter sebelumnya. Chapter-chapter nanti, pastinya akan kembali dominan. Begitu pula dengan Konoha. Kenapa selama Arc Rating Game cerita ini terlalu fokus pada Fraksi Iblis? Alasannya simpel, karena Rating Game milik para iblis, jadi wajar kan?

Ulasan Review:

Tentang bagaimana tak berkutiknya Sirzech karena Rizevim, aku pending dulu yah detail ceritanya ke chapter depan. Udah kebanyakan word. Enggak nyangka juga sih, Next Preview kemarin pas banget sama ujung chapter ini. :v

Holy Spear dan Holy Grail udah muncul dari lama kan? Nah, disini aku tampilin Holy Cross. Banyak yang penasaran nungguin ini kan? Walau baru nyempil sedikit sih, next chap lah kita bahas lagi.

Kemana Mitologi Egypt (Mesir)? Lihat saja nanti. Kalau Mitologi Celtik dan Mesopotamia/Babylon, rasanya udah pernah aku singgung di chapter 55.

Jelas saja, mana mau Sona segampang itu membeberkan rahasia kepada Rias. Tetapi, unjuk kekuatan yang dilakukan Naruto kali ini dengan melawan Naga jahat, pastinya sudah cukup untuk menutupi rasa penarasan Rias tentang rahasia mereka.

Golongan Maou Lama dapat ular Ophis dari mana? Ya dari Ophis lah. Kan Ophisnya ikut Rizevim, Rizevim yang mengompori Fraksi Maou Lama, jadi sekalian aja tuh Si Pak Tua memberikan ular-ular Ophis pada mereka. Dan ga ada tuh cerita ular dari Ophis asli jauh lebih kuat? Memangnya yang bersama Rizevim itu Ophisnya palsu? Atau setengah saja eksistensinya seperti di LN DxD? Enggak seperti itu, aku tidak membuat eksistensi Ophis berhasil dibagi dua oleh Samael karena rencana itu sudah digagalkan oleh Naruto pada chapter 45.

Untuk scene dari pihak Konoha, kurasa chapter depan. Ini serius. Siapa yang akan jadi panglima perang pasukan sekutu juga akan ditampilkan disana. Yah, asal ceritanya tidak kepanjangan saja. Hihiiiii.

Eh ada yang bilang, bingung dengan strategi sebenarnya NaruHina? Errr ahahahaaa, aku sendiri sebenarnya juga bingung. Piiissss, santai aja, memangnya rencana NaruHina dan Sona udah pernah kujabarkan secara gamblang? Baru garis besarnya saja kan? Tunggu saja nanti kelanjutannya.

Dan apa-apaan pertanyaan itu? 'Bagaimana jika ada muridmu yang membaca FF milikmu, Si Hitam?'. Hussh, jauhkan bala!. Kagak mungkin lah, akun ini dirahasiakan kok identitasnya. :v

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita, sebagian lainnya kubalas lewat PM.

Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.

.

.

.

.