Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya
Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .
Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance
Rate : M
Setting : AU (Alternate Universe)
Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.
Pair : Semua Pair Canon
Rabu, 1 Maret 2017
Happy reading . . . . .
Sebelumnya . . . . .
Gerakan tangan Ino tiba-tiba terhenti.
Terhenti manakala melihat bagaimana tetesan tinta menodai tempat jatuhnya.
Sebuah pot bunga, yang Ino sendiri lupa kapan meletakannya persis di sisi bawah etalase.
Pot tempat tumbuhnya setangkai bunga mawar.
Mawar merah yang kini tengah mekar.
Kata orang, mawar merah melambangkan banyak hal.
Manusia dilahirkan bersama dengan takdirnya. Terikat satu sama lain dengan benang yang tak kasat mata. Berbagi kasih, memberi cinta, serta menerima sayang satu sama lain. Mawar merah menjadi perantara atas semua itu.
Lalu, hitamnya tinta dengan berani telah menodai kelopak demi kelopak indah itu, merubahnya dari kecantikan menjadi sesuatu yang mengerikan.
Mawar hitam, bunga fiktif yang hanya tertulis dalam rangkaian cerita, tak pernah benar-benar ada di alam nyata. Kemunculannya di depan mata, seperti membawa sebuah pertanda.
Takut.
Kehilangan.
Penderitaan.
Tragedi.
Akhir cinta yang tragis.
Dan...
Kematian.
Ino adalah seorang floris yang mengetahui banyak makna bunga. Ia mengerti apa artinya ini. Tapi hatinya berontak keras menolak kenyataan. Pikirannya berkecamuk.
Likuid bening yang hangat, tak tertahan hingga akhirnya mengalir di pipi, sampai ke dagu lalu meneteas dan membasahi lantai.
"Are, Hikssss. K-kenapa aku menangis?"
Rintihan Ino mengambang di udara, memenuhi seluruh sudut ruang kosong, membaur dengan sakitnya kesendirian.
.
To The End of The World
Writed by Si Hitam
.
Chapter 71. A Twist, Why Not?.
.
-Markas Persekutuan Penentang Imperium of Bible-
Sebuah tanah lapang yang permukaannya ditumbuhi oleh suburnya rerumputan setinggi mata kaki, ada beberapa orang berkumpul. Di angkasa, tampak langit senja dengan gradasi warna jingga dan ungu, sebuah kombinasi warna indah dari dua sosok penting bagi orang-orang di sana meski sekarang tengah melakukan tugasnya.
Tempat ini hanya sekedar dimensi buatan, sehingga dapat dimaklumi sekarang yang nampak adalah langit senja walau diluar sana masih pagi, siang, atau dini hari sekalipun. Semua ini adalah settingan belaka dengan teknik Amenominaka oleh penciptanya.
Di hamparan rerumputan, ada gambar lingkaran sihir terbuat dari garis-garis cahaya dengan aksara yang cukup rumit. Bagian dalam lingkaran terdapat simbol trigram yang di setiap sudutnya berdiri satu orang. Ini adalah gerbang teleportasi khusus yang digunakan untuk pergi ke tempat rahasia yang hampir mustahil dijangkau dengan cara apapun. Tapi berkat kerjasama tiga orang hal tersebut bisa terjadi. Uchiha Sasuke pemilik doujutsu Rinne-sharingan, Georg si pemegang Longinus Dimension Lost, dan Yasaka sang Ratu Rubah dari Kyoto.
Yasaka yang telah hidup sangat lama, lebih dari beribu-ribu tahun memiliki pengetahuan yang sangat luas tentang teknik teleportasi kuno. Georg dengan mengandalkan Dimension Lost sebagai pondasi formula sihir berhasil menciptakan gerbangnya, meski ia perlu suplai energi yang sangat banyak tapi itu tertutupi berkat energi youjutsu milik Yasaka yang sangat melimpah. Sementara itu, Sasuke dengan Rinne-sharingan lah yang melakukan pelacakan jejak-jejak sisa kehidupan Valerie hingga berhasil menemukan tempat rahasia gadis itu diculik.
Namun sebab sistem keamanan tujuh lapis paling mutakhir dari teknologi milik kaum malaikat yang melindungi tempat rahasia itu, lingkaran sihir teleportasi hanya bisa diaktifkan selama batas waktu singkat, 30 menit. Oleh karena itulah, Kakashi memutuskan untuk mengirim sebuah tim kecil yang tujuannya hanya untuk menyelamatkan Valerie.
Hal itu mungkin akan mudah bagi Alucard sang vampir legendaris yang entitasnya merupakan anomali dan tidak terikat dimensi ruang fisik, ia bisa berada di tempat manapun yang ia inginkan, termasuk datang ke laboraturium rahasia tersebut.
Alucard memang hebat dengan kemampuan khususnya, bisa ada dimanapun bahkan didalam pikiran seseorang. Namun ia sendiri tak bisa melakukan apapun pada dunia ini meski hanya memindahkan gelas sejauh satu centimeter. Itu karena anomali entitasnya membuat dia bukan bagian dari dunia ini, dia ada namun juga tiada, tidak terikat dengan dimensi ruang fisik. Kalau seluruh dunia dianggap satu sebagai alam nyata, maka Alucard berada di alam roh. Roh tidak bisa mengubah apapun yang ada di dunia nyata.
Walau kelemahan Alucard sebegitu parahnya, tapi dia tidak bisa dianggap enteng. Vampir abadi itu pasti punya sesuatu yang mengerikan.
Lingkaran sihir gerbang teleportasi di atas rerumputan nampak bersinar makin terang, tanda bahwa akan ada orang yang melewatinya.
Benar saja. Ada tiga sosok berseragam ANBU Konoha yang muncul. Empat dengan seorang gadis yang tengah di gendong oleh ANBU yang tak mengenakan topeng, laki-laki berumur 30n dengan rambut berwarna coklat serta raut muka tak bersemangat.
Tenzou Yamato.
Tapi ada yang kurang...
"Dimana Sai?"
Kakashi bertanya dengan nada serius. Tampak kalau ia terkejut mendapati tim yang ia kirim, pulang dengan anggota tak lengkap.
Rupa-rupanya selain tiga orang yang mengurus gerbang teleportasi, masih ada orang lain yang berkepentingan di sana.
Yamato dan dua ANBU lain berjalan keluar dari lingkaran sihir.
"Sai memisahkan diri atas keputusannya sendiri."
Kakashi langsung mengerti. Sederhananya, Sai ingin melakukan sesuatu di luar tugas yang ia berikan. Ia terkejut, tak menduga kalau anggota pengganti tim 7 didikannya akan melakukan hal ini.
Yamato menyerahkan Valerie kepada Lord Tepes. Pemimpin bangsa Vampire dari Fraksi Tepes ini menyambut kepulangan putri tercintanya dengan suka cita.
"Terima kasih atas bantuan kalian. Sekali lagi, arigatou."
Ekspresi Lord Tepes cukup datar, tapi ia tak sedikitpun mampu menutupi perasaan haru yang menyeruak.
Ratu Carmilla menepuk pundak sahabatnya, "Ini, milik putrimu." ucapnya seraya menyerahkan sebuah relic suci berbentuk cawan yang berwarna emas.
Itu Holy Grail, satu dari tiga bagian Sacred Gear Longinus Sephiroth Graal milik Valerie.
Kakashi sudah lama mengembalikannya kepada pihak vampir setelah Gaara maupun Sasuke selesai menggunakan relic itu untuk kepentingan militer, kepentingan mereka bersama. Perjanjian itulah yang menjadi dasar kerjasama antara Konoha dengan Bangsa Vampir Rumania.
Lord Tepes merebahkan putrinya di atas hamparan rumput, menjadikan pangkuannya untuk meletakkan kepala Valerie. Ia pun memulai ritual kecil untuk memasukkan kembali apa yang seharusnya ada didalam tubuh putri tercintanya.
Tidak perlu waktu lama, ritual pun selesai. Cawan suci emas sudah masuk ke dada Valerie.
Namun, Valerie tak menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Gadis cantik berambut pirang itu masih tak menampakkan iris mata merahnya.
"Agar kesadaran Valerie kembali utuh, kita perlu mengembalikan semua Holy Grail miliknya." ucap Kakashi.
Ayah Valerie mengangguk, ia tahu dan ia hanya harus bersabar sedikit lagi.
"Holy Grail terakhir kita serahkan pada Naruto." ucap Sasuke tiba-tiba. "Relic itu dibutuhkan untuk melakukan sesuatu. Tapi jika sudah selesai, ia berjanji pasti akan merebutnya dari Rizevim."
"Percayakan saja pada Naruto." kata gadis bersurai pink menyambungi, "Anak itu tidak akan pernah mengingkari janjinya."
Nampaknya Sakura juga tidak mau ketinggalan berada di sana. Selain untuk urusan ini, dia juga tak ingin terlalu lama jauh dari lelaki pujaannya.
"Aku percaya." angguk Lord Tepes. "Karena itulah, bangsa kami mau bekerja sama dengan Konoha. Aku yakin kalian orang jujur."
"Terima kasih atas kepercayaan kalian berikan kepada kami." ucap Kakashi penuh hormat.
"..."
"..."
"Hooooi, kalian melupakan aku?"
Tik tik tik tik.
Itu suara Yasaka, si ratu periang penuh canda yang suka berbuat usil, yang sejak tadi diam saja. Tapi nada bicaranya dan ekspresi wajahnya nampak seperti anak kecil yang tidak suka sesuatu.
"Errrr. Bukan maksudku begitu." sanggah Kakashi.
"Lalu?"
Kakashi membuang nafas pasrah, kenapa bisa ada ratu yang suka merajuk?
"Maaf." ujar Kakashi tak ikhlas.
"Tidak."
"...?"
"Tidak. Tidak sebelum kau..."
Yasaka mengatakannya dengan wajah dibuat imut, pipi digembungkan, dan ditunjuk-tunjuk dengan jari.
Sebuah isyarat untuk...
Yah, itulah. Hihiii.
Kakashi menggeleng, tidak mau, ah lebih tepatnya malu.
Sakura ingin sekali menjerit histeris melihat apa yang dilihatnya sekarang. Jarang-jarang ia melihat gurunya digoda perempuan sampai wajahnya memerah begitu.
Ah, dasar Yasaka. Ibu satu anak yang sudah berumur ini rupanya tak ingat akan umur sendiri.
Alihkan dari hal tadi. Sudah cukup lama mereka berbincang, sampai mengobrolkan hal tak penting sekalipun, tapi tidak ada tanda-tanda Sai akan muncul. Batas waktu pengaktifan gerbang sihir sudah mendekati menit-menit akhir, dan semua orang disana terutama orang Konoha mulai dirundung perasaan khawatir.
Persaan mereka menjadi tidak enak. Semua kompak merasakan sesuatu yang tidak nyaman di hati.
Mereka menunggu namun yang ditunggu tak kunjung muncul.
"Tiga menit lagi." ucap Yasaka memperingatkan. Raut mukanya benar-benar serius, ia tahu ini bukan waktunya bercanda.
Yasaka lah yang mensuplai energi untuk mempertahankan gerbang teleportasi tetap aktif. Jumlah youjutsu atau energi spiritual ras youkai yang ia miliki memang melimpah, tetapi gerbang teleportasi yang sangat sensitif akan rusak kalau terlalu lama terpapar energi youjutsu dalam jumlah banyak. Jika rusak, tentu tidak bisa berfungsi dengan baik.
"Kita tunggu sampai waktu habis." kata Kakashi memutuskan.
"Tidak! Ti-tidak perlu menunggu! A-aku..."
"Katakan Sasuke!" perintah Kakashi setelah melihat keraguan dari mata Sasuke yang menggantungkan kalimatnya.
Tidak, itu bukan bentuk keragu-raguan karena keturunan Uchiha terakhir tidak pernah meragukan apa yang ada di pikirannya.
"Aku tidak merasakan tanda-tanda kehidupan Sai dari seberang sana. Chakranya hilang."
"Apa!?"
Kakashi terkejut.
Apalagi Sakura. Ia shok berat. Sai itu teman satu tim dengannya, dan semua teman yang ia miliki sangatlah berharga. Ninja medis memegang prinsip bahwa dirinya tidak boleh mati duluan, akan tetapi yang paling penting adalah tidak membiarkan temannya mati.
Terdengar suara dengung lemah. Tempat yang semula cukup terang kini telah semakin gelap seiring dengan makin hitamnya langit malam. Lingkaran sihir gerbang teleportasi telah dinonaktifkan, semakin membuat seketika suasananya suram.
Semuanya menatap ke satu arah.
Georg.
Dia yang menonaktifkan gerbang sihir, karena dia lah yang memegang kendali atas gerbang teleportasi itu.
"Hei! Apa maksudmu hah!?" Sakura langsung mengcengkram kerah baju Georg, mengintimidasinya dengan wajah bengis bak iblis.
Georg tidak menunjukkan wajah takut walau ujung kakinya sekarang tidak lagi menapak di tanah. Dia yakin tindakannya benar. "Aku melakukan sesuatu yang sudah seharusnya kulakukan."
"Apa katamu. Kau meninggalkan temanku di tempat berbahaya tahu!?"
"Terlalu lama membiarkan gerbang teleportasi menghubungkan tempat ini dengan laboratorium mereka, kemungkinan akan membuat mereka mengetahui koordinat maskas kita ini. Paham?"
Sakura terdiam.
"Lagipula temanmu itu..."
Tangan Sakura semakin kuat mencengkram leher Georg.
"Temanmu itu sudah... Aaaaarrkkkkhhh."
"Hentikan Sakura!" bentak Kakashi. " Tindakan Georg sudah tepat."
"Tenangkan dirimu." ucap Sasuke.
Kalau yang tadi dibiarkan, bukan tidak mungkin Georg akan kehilangan nyawa.
Sakura melepas cengkeramannya. Dia jatuh terduduk di atas rumput.
Matanya menatap kosong, memancarkan kesedihan yang begitu kental. Sakura mulai bercerita, "Tadi siang, Ino merasa badannya tidak enak. Dia memeriksakannya padaku, lalu dia sangat gembira saat kuberitahu kalau dia sedang mengandung. Saking bahagianya, sampai aku juga ikut merasakannya."
Tak mampu ditahan, likuid bening menganak sungai di pipi Sakura.
"Lalu dia bergegas pulang ke rumahnya, ke Konoha. Katanya dia ingin membuat kejutan pada Sai. Tapi..."
Sakura menghapus jejak air matanya.
"Tapi sekarang? Hiksss... Bagaimana mungkin aku mengatakan berita ini padanya."
Siapa orang yang sanggup membawakan khabar duka pada sahabat yang tengah dipenuhi oleh kebahagiaan dan tega menghancurkannya? Kalau ada, orang itu mungkin tidak bisa disebut sahabat.
Terlebih, Sakura tidak ingin Ino tertekan sampai berdampak buruk pada janin dalam rahimnya.
Sakura dan Ino adalah teman yang sangat dekat. Mereka sudah saling kenal sejak bisa berjalan dengan kaki sendiri. Sejak masih kanak-kanak dan selama sekolah di akademi ninja, mereka sudah bersahabat. Setelah lulus pun, hubungan keduanya tak pernah renggang. Memang, tampak di luar Sakura dan Ino seringkali bertengkar dan meributkan hal-hal sepele, selalu bersaing untuk menunjukkan siapa yang lebih baik, mereka adalah rival sejati. Namun semakin kuat persaingan di antara mereka, semakin kuat pula ikatan persahabatannya.
.
-Kota Auros-
Duuuaaakkkk!
Baaaaaanggggggg...!
Naruto tampaknya tak menahan diri untuk memusnahkan satu persatu pasukan naga jahat yang dikirim oleh Rizevim. Dia melompat tinggi atau menggunakan perpanjangan lengan chakra kyubi untuk memukul setiap naga jahat berwarna hitam yang terbang di udara.
Sementara Naruto sendirian beraksi, yang lainnya mengistirahatkan diri demi memulihkan tenaga di permukaan tanah. Semua iblis itu memandang kagum akan apa yang Naruto perbuat.
Menghabisi berpuluh-puluh naga jahat seorang diri.
Bukan, bukan seorang diri sebenarnya karena Naruto menggunakan teknik pengganda tubuh.
"Orryaaaaa!"
Salah satu bunshin Naruto berteriak keras sembari meluncurkan kepalan tinju yang cukup besar. Kepala tinju dari lengan chakra kyubi.
Duuuaaaakkk.
Seekor naga jahat berukuran sedang terlempar jauh karena hantaman yang begitu keras.
"Lemparkan aku!" perintah bunshin Naruto kepada bunshinnya yang lain.
Bunshin yang diperintahkan tadi juga membuat lengan chara yang panjang. Dia gunakan untuk menggengam tubuh bunshin yang memerintahnya tadi, mengayunkan dan memutarnya di udara lalu dilemparkan jauh ke atas.
Buugghh...
Seekor naga jahat langsung oleng dan jatuh ke tanah akibat kepalanya terkena tinju.
Tap.
Shuuuu...
Naga jahat yang jatuh tadi, bunshin Naruto gunakan sebagai pijakan untuk melompat ke arah naga lainnya.
Dia menyiapkan sepasang bola biru di kedua telapak tangannya.
"Enyahlah!"
Rasenrengan
Kubaaannn!
Naga jahat yang terbang kearah Naruto, terpental jauh setelah sepasang rasengan bersarang di dadanya.
Bunshin Naruto pun jatuh kembali ke daratan.
Ada naga jahat yang memiliki kekuatan lumayan besar. Akan tetapi Naruto dengan rasengan biasa saja sudah cukup untuk mengembalikan mereka ke alam kubur karena rasengan itu diperkuat dengan chakra kyubi.
Dari arah lain,
Craaccckkkk...
Tampak ada bunshin Naruto yang cukup sadis dan brutal. Dia tak segan-segan merobek kulit naga jahat yang dilawannya bahkan mengoyak isi perutnya.
Gun gun gun
Sementara itu, bunshin lainnya menembakkan bola-bola biru dari daratan. Setiap naga jahat di udara yang terkena serangan ini, paling tidak mendapati sayap mereka berlubang hingga memaksa mereka jatuh ke tanah.
Di tanah, bunshin Naruto lainnya menunggu, siap menghajar dengan pukulan dan tendangan membabi buta.
Permukaan tanah tak lagi rata, banyak sekali lubang-lubang dan bongkahan tanah yang berhamburan akibat puluhan naga jahat yang dihempaskan oleh bunshin Naruto ke tanah.
Para naga jahat itu tidak Naruto berikan kesempatan untuk menyerang lebih dulu.
Tapi karena banyaknya jumlah mereka, ada satu yang berhasil mendekat lalu membuka mulutnya lebar-lebar. Dia bersiap menyemburkan api.
Merasa bahaya mendekat, satu bunshin yang menyadari itu membalikkan badannya.
"Kau pikir aku takut huh?"
Si bunshin mengulurkan telapak tangannya ke depan. Dia membuat pusaran bola biru tetapi dengan ukuran yang jauh lebih besar. Dia pun melompat menuju naga jahat mulai menyemburkan api.
"Rasakan iniiiiiiii!"
Chou Oodama Rasengan
Naruto meluncur lurus, bahkan masuk ke dalam mulut naga jahat yang terbuka lebar dan mengeluarkan api.
Otomatis, naga itu menutup mulutnya seperti tersedak. Api yang hendak ia hembuskan tertahan di tenggorokan.
Lalu tubuh naga itu menggelembung dan...
KABOOOOMMMMM.
meledak serta melemparkan semua bagian tubuhnya ke segala arah. Bersamaan dengan lenyapnya bunshin Naruto.
Api naga yang panas, bercampur dengan rasengan berelemen angin, berpadu dan terkompresi didalam perut naga jahat, hingga akhirnya karena tak bisa ditahan lagi, tercipta lah ledakan hebat yang sanggup menggetarkan permukaan tanah.
Para iblis muda yang melihat, tercengang dibuatnya.
Bagi mereka, itu bisa menjadi serangan bunuh diri yang sangat hebat. Serangan bunuh diri yang hampir tidak mungkin mereka lakukan. Tapi Naruto berbeda, mudah saja ia mengorbankan satu bunshinnya untuk melakukan hal tadi.
Sosok Naruto yang mereka lihat sekarang, benar-benar brutal. Tak disangka sama sekali bahwa Naruto yang selama ini selalu berdiri di belakang yang lainnya, tidak pernah menonjolkan diri selama bersekolah di Kuoh Gakuen, dan membaur dengan para iblis, ternyata bisa semengerikan ini saat menunjukkan kekuatannya.
Pernah sekali iblis-iblis muda itu melihat bagaimana brutalnya seorang Naruto jika marah, yaitu saat meninju Issei sampai hampir tewas. Tapi dibanding dengan situasi perang pada saat ini, sangat berbeda sekali. Naruto tampak seperti petarung sejati yang tak sedikitpun menahan kekuatannya, emosinya terkontrol dan stabil, serta jelas terlihat kalau dia menikmati pertarungannya.
Menit-menit terlewati dengan banyak sekali naga jahat yang berjatuhan ke tanah. Ada yang terluka parah, bahkan mati. Jumlah naga jahat yang awalnya beratus-ratus kini hanya tinggal puluhan yang masih tersisa.
Untuk melakukan itu, tentu tidak sedikit yang Naruto korbankan. Dari lima belas bunshin, kini hanya ada tiga bunshin saja yang tersisa di sisinya.
PoooffttPoooffttPooofftt
Ketiga bunshin itupun lenyap sendirinya karena kehabisan chakra, chakra yang dibagikan oleh Naruto.
Sekarang hanya tersisa Naruto asli. Tubuhnya masih bersinar kuning tanda bahwa kekuatan kyubi yang dia pinjam masih cukup banyak.
Kyubi Chakura Mode, yang mana Naruto tidak perlu bekerja sama dengan Kurama untuk membangkitkannya. Dia hanya perlu meminjam sebagian kecil kekuatan bijuu berekor sembilan itu dan membiarkannya tetap tertidur lelap di alam bawah sadar.
"Haaaaaahhhh..."
Nafas Naruto terdengar berat dan cukup cepat. Tentu saja, menghabisi ratusan naga jahat sendirian cukup membuatnya lelah. Bagaimanapun dia adalah manusia yang punya batasan, terlebih menggunakan bunshin yang masing-masing juga menggunakan Kyubi Chakura Mode tentu saja menambah beban mental dan tingkat kelelahannya.
"Perlu kami bantu, Naruto-san?" ucap Rias menawarkan.
Naruto menggeleng, "Ini bagianku, jadi aku sendiri lah yang harus menyelesaikannya. Kalian cukup duduk saja di sana dan menonton. Sambil makan popcorn kalau ada. Hahaaa."
Untuk saat ini, Rias tidak mau keras kepala. Kekhawatirannya pada Naruto sama sekali tidak diperlukan karena pemuda berambut pirang itu tampaknya masih menyimpan banyak sekali kekuatan.
Naruto menatap puluhan naga jahat yang tersisa. "Walau sebanyak apapun kalian, tidak mungkin bisa merobohkanku. Jadi, ayyooo kemariiii!"
Naga jahat yang tersisa meluncur cepat dengan bergerombol, terbang dengan ketinggian rendah. Naga yang terbang paling depan memajukan kakinya, berniat menginjak Naruto sampai rata.
Shinobi terbaik Konoha itu tak tinggal diam. Dia pun melesat maju. Sebuah lengan chakra berayun dibelakangnya dan menciptakan banyak sekali bola-bola biru.
Rasenrangan
Baaangggg!
Semua naga jahat terlempar ke berbagai arah saat Naruto mengibaskan lengan charka yang di penuhi dengan bola-bola rasengan. Apalagi naga jahat yang paling depan dan ingin menginjak Naruto tadi, kakinya putus dan terlempar jauh karena digilas oleh pusaran rasengan.
Belum cukup sampai di sana, Naruto kini membungkukkan badan. Dia lagi-lagi membuat rasengan, namun dengan ukuran raksasa di atas punggungnya. Diameternya mencapai angka 10 meter.
Sementara itu, sembilan buah lengan chakra kyubi berwarna kuning menyebar dan memanjang seperti tentakel, menangkap semua naga jahat yang tadi dia hempaskan.
Rasenkyugan
Crusshh Crusshh Crusshh!
Crusshh Crusshh Crusshh!
Tak satupun ada naga jahat yang dibiarkan hidup. Mereka semuanya Naruto tarik dan dilemparkan ke rasengan raksasa di atas tubuhnya.
Naga-naga itu tidak mendapatkan apa-apa selain kulit dan daging yang terkoyak. Pusaran angin rasengan yang berputar sangat cepat bekerja seperti gerinda yang akan mengikis permukaan baja sekeras apapun. Sisik mereka yang tebal dan keras tak cukup untuk melindungi badannya walau hanya sedikit.
Hingga akhirnya, semua naga jahat yang menyerang area dimana tim Sona dan Rias berada, habis tak bersisa.
Naruto mengembuskan nafas panjang lalu meluruskan anggota badannya. Bertarung seperti tadi, sudah cukup lama tidak ia lakukan semenjak Konoha tiba di DxD Universe. Tak diketahui banyak orang, Naruto memang pernah bertarung habis-habisan melawan makhluk-makhluk kuat sekelas dewa, tetapi dia bertarung bersama semua biju didalam tubuhnya. Sedangkan bertarung seorang diri saja melawan satu pasukan hanya dengan kekuatannya sendiri ditambah sedikit tambahan chakra dari kyubi, baru tadi ia lakukan.
Tak ada yang lain selain pandangan takjub oleh para iblis muda.
Prok prok prok prok.
Akeno bahkan bertepuk tangan saking senangnya melihat pertarungan tadi.
"Sugooooiii, Naruto-san. Harusnya dari awal kau menunjukkan kekuatanmu ini didepan kami semua."
"Mana mungkin Akeno-san. Aku ninja, dan ninja tidak akan pernah menunjukkan kekuatannya kalau tidak diperlukan."
"Artinya kau masih menyimpan kekuatan lainnya, iya kan? Ufufufuuuu, benar-benar meranik. Ahahahaaaa, ufufufuuu, hihiiiiiiiii." kata Akeno diakhiri dengan tawa tidak jelas.
Entah pikiran ajaib macam apa yang ada di dalam kepala Akeno. Jelas Naruto heran dibuatnya.
Issei mengangkat tangan kanannya dengan penuh antusias, "Nee Naruto-senpai. Bisa ajarkan aku membuat bola-bola biru yang kau sebut rasengan tadi? Kupikir konsep dan cara kerjanya sederhana saja, hanya dengan mengeluarkan energi spiritual ke telapak tangan lalu membuatnya berputar stabil berupa pusaran. Tapi ternyata kau menunjukkan bahwa teknik itu bisa digunakan dengan berbagai macam cara. Aku ingin memiliki teknik sepertimu."
Ah, tumben otak si Sekiryutei mesum itu bisa berpikir normal. Bahkan Rias dan lainnya dibuat heran dengan kalimat yang baru saja Issei ucapkan.
Naruto tersenyum lebar, "Kurasa itu tak diperlukan, Issei. Kau harusnya sadar kalau dirimu punya bakat tersendiri dalam menggunakan Sacred Gearmu, tak perlu melihat orang lain dan ingin menjadi seperti mereka. Armor crimsonmu itu buktinya. Belum ada kan sepanjang sejarah Sekiryutei, dari yang pertama hingga sebelummu yang memiliki warna crimson? Teruslah berjuang, pupuk terus tekadmu sampai kau mencapai apa yang menjadi tujuan hidupmu."
Issei terdiam, namun dengan segera ia mengerti. Ia mengangguk mantap, "Itu pasti, senpai."
"Horrraaaaa." Tomoe berseru keras, "Sudah lihat langsung kan? Itulah anggota tim kami. Kalau bukan karena Naruto-senpai, kami tidak akan menjadi seperti sekarang, dia yang membuat kami semua bisa seperti ini."
Tomoe mengatakannya dengan lantang, menunjukkan betapa bangganya ia memiliki Naruto sebagai teman satu tim. Raut muka bangga itu tidak hanya dari Tomoe saja, tapi juga dari anggota OSIS lainnya.
Naruto tidak hanya kuat dalam hal bertarung saja, tapi dia juga memiliki ideologi sendiri. Sebuah prinsip yang selalu ia pegang teguh dan tak pernah dilepaskan, jalan ninja Naruto. Itulah hal unik dalam diri Naruto yang akan menarik orang-orang disekitarnya untuk mengikutinya.
Bagi kelompok Gremory, melihat pribadi Naruto yang seperti tadi adalah yang pertama kalinya bagi mereka. Tidak hanya hangat dan membuat nyaman saat berada di dekatnya, tapi juga punya kharisma melindungi dan mengayomi, suatu bakat alami seorang calon pemimpin hebat. Sesuatu yang tak pernah mereka temukan selama hidup sebagai seorang iblis.
Tiba-tiba Koneko merasakaan perasaan panik, ia mendeteksi datangnya bahaya. Saat menoleh ke kiri, ada seekor naga berbadan ramping yang terbang dengan kecepatan tinggi layaknya sebuah misil.
"Awaaaassss!"
Koneko berteriak memperingatkan yang lain.
Ini berbahaya, mereka sedang istiharat dan belum siap bertarung, pasti akan ada yang terluka kalau ada serangan kejutan seperti ini.
Naga tadi memotong jarak dalam waktu sangat singkat.
"Aku takkan menyisakan mereka satupun!" kata Naruto dingin, satu pusaran bola biru tercipta di genggaman tangannya.
Fuu!
Futon: Rasengan
DHHUUUUAAAAARRR!
Naga jahat itupun terhenti seketika setelah tubuhnya dihempaskan ke bawah hingga terperosok ke dalam tanah. Rasengan Naruto yang mengenai punggung Naga itu, membuat badannya berlubang seperti habis dibor.
Semua orang terkecuali Hinata, Sona, dan Tsubaki, begitu shock melihat Naruto yang bergerak sangat cepat. Itu bukan teleportasi Hiraishin karena Naruto tidak menggunakan kunainya, itu jelas-jelas sebuah gerakan. Kiba sebagai bidak Kuda tercepat disana pun tak sanggup mencapai kecepatan itu meski ia memiliki apa yang dinamakan 'kecepatan dewa'.
Hiraishin atau dapat diartikan sebagai Teknik Terbang Dewa Guntur membuat penggunanya mampu berpindah secara instan dengan memangkas jarak menggunakan konsep jikukan ninjutsu atau jutsu ruang-waktu sebagai dasar teleportasi. Namun yang barusan Naruto lakukan adalah sebuah gerakan super cepat yang lebih tinggi satu tingkat di atas kecepatan dewa. Itu nampak seperti langkah kilat.
Ya, langkah kilat.
Gerakan kilat yang meninggalkan jejak bayangan berwarna kuning. Yellow Flash 2nd jika boleh dikata.
Naruto memang memiliki kecepatan itu. Bahkan kecepatan yang ia miliki ini mampu mengalahkan Raikage A dari Kumogakura yang didapuk sebagai shinobi tercepat setelah kematian Yondaime Hokage. Walaupun A sudah menggunakan teknik Raiton no Yoroi level tertinggi, tapi Naruto sanggup melampauinya.
Keadaan menjadi tenang kembali setelah naga jahat yang terperosok kedalam tanah sudah dipastikan benar-benar mati. Naruto, dengan tubuh yang masih memancarkan aura kuning dari Kyubi Chakura Mode, melompat dari atas tubuh naga tadi, berkumpul bersama yang lainnya.
"Kau..., kau cepat sekali, Senpai."
Pujian tadi terlontar begitu saja dari mulut Kiba. Jujur, ia sendiri belum mampu mencapai kecepatan seperti itu.
"Ah, biasa saja." balas Naruto nyengir. Ia tidak ingin berjumawa untuk dirinya sendiri.
Bagi semua anggota kelompok Gremory yang baru melihatnya, bahkan bagi sebagian anggota OSIS, Naruto benar-benar luar biasa di mata mereka. Naruto memiliki kekuatan yang sangat besar, satu pukulannya saja sudah sangat kuat. Kemudian ditambah lagi jumlah energi spiritual yang sangat banyak, sanggup membuat bola-bola rasengan seolah tanpa batas. Lalu kecepatan yang dimilikinya pun tak main-main. Dan terakhir, stamins bak tiada habisnya. Buktinya, sampai sekarang mode Kyubi Chakura Mode masih aktif.
Situasi di tempat itu telah tenang, namun ketenangan rupanya tidak bertahan lama.
Ada orang yang datang.
Seseorang muncul dari lingkaran sihir.
Orang yang muncul adalah seorang wanita muda yang mengenakan sebuah pakaian gothic-lolita berwarna dominan ungu. Seorang wanita yang memutar-mutar payung ungu bercorak gothic. Penampilan seperti perempuan usia 20an awal, dan kecantikannya tampak seperti boneka mahakarya ciptaan tangan-tangan terampil seniman hebat.
Kecantikannya terasa misterius. Semua yang berada disana tidak merasakan apapun selain aura jahat hanya dengan melihatnya saja.
Perempuan itu memperkenalkan dirinya sendiri setelah tersenyum.
"Bagaimana kabar kalian, Iblis. Namaku adalah Walburga. Aku salah seorang pemimpin kelompok sihir "Hexennacht". Senang berkenalan dengan kalian."
Beberapa orang nampak biasa, namun bagi yang tahu betul tentangnya menunjukkan ekspresi serius ketika mendengar nama itu.
Rias berkata dengan yakin, "Walburga si Api Ungu. Pemilik Longinus Incinerate Anthem"
Terdiam, kini mereka semua telah melihat langsung si pemilik Holy Cross yang dirumorkan, pelaku yang menciptakan pilar-pilarapi ungu di sekeliling kota Auros
Sambil tersenyum Walburga melanjutkan, "Aku datang kesini dengan para Naga Jahat untuk membakar kalian semua dibawah komando Rizevim-ojisama. Tapi ternyata naga jahat disini sudah habis. Tak apa lah, akan semakin bagus membakar kalian semua jika kalian tergila-gila denganku."
Singkat kata, semua orang sudah mampu menilai bagaimana kepribadian Walburga, tipe-tipe wanita Sadistic. Berbeda dengan Akeno yang disebut Sadistic berkelas dengan harga diri tinggi, Walburga terkesan lebih biadab dan menjijikkan. Walburga adalah perempuan yang sanggup membunuh orang lain tanpa berpikir dua kali.
"Ayo kita mulai pertarungannya, jadi apakah kalian semua sudah siap?"
Semua yang ada disana menatap tajam pada Walburga.
Walburga bertingkah ketakutan yang dibuat-buat. "Iyaaannn, kalian semua sungguh menakutiku. Mood para iblis sedang jelek, Ufufuuu, sepertinya ini akan sangat menjadi menarik."
Walburga terbang rendah di udara, dia membuka telapak tangannya lalu mengarahkannya pada para OSIS dan anggota klub penelitian ilmu ghaib.
Ciiuuuu...
Seketika, tembakan api ungu berbentuk salip dilesakkan.
Api ungu itu sangat berbahaya. Tiada hal lain selain kematian bagi iblis yang menyentuhnya meski hanya seujung jari.
Tapi.
Paattchhi!
Api Walburga ditepis hingga terlempar ke arah lain, lalu api itu pun padam dan lenyap.
Walburga sangat terkejut serangannya dimentahkan dengan begitu mudah, seolah api hebat yang dia tembakkan tak ubahnya api lilin yang akan padam begitu tertiup sedikit angin.
Hei, dia pemeran antagonis. Tidakkah dia diberi kesempatan untuk menekan musuh pada permulaan pertarungan sebagaimana pemeran-pemeran karakter jahat pada umumnya?
Apalagi itu, api ungu yang suci, api peninggalan The God of Bible yang tersegel dalam pusakan salib keramat. Sebagai pengguna api itu, tentu karakter Walburga harusnya sangat ditakuti.
"Maaf Nona, kau akan berurusan denganku kalau berbuat tidak menyenangkan di tempat ini."
Naruto mengatakannya dengan tegas. Dia lah pelaku yang mementalkan serangan Walburga tadi.
Ya, api ungu itu memang sangat hebat. Sangat berbahaya bagi iblis. Tapi itu jika mengenai tubuh targetnya. Tidak akan menjadi apa-apa kalau api tadi tidak mengenai tubuh.
Naruto menggunakan lengan chakra kyubi untuk menepis api itu sampai padam dan lenyap. Itu mudah baginya. Terhadap api amaterasu yang pernah Sasuke kirimkan padanya pun, Naruto juga melakukan hal yang sama.
Chakra kyubi memang sangat berguna.
Sekejap pula keadaan berbalik. Para iblis berhasil mengembalikan mentalnya. Kini walburga lah yang berada pada kondisi terdesak. Semua itu berkat Naruto.
Naruto maju selangkah, Walburga mundur tiga langkah.
"Jadi kau mau bertarung denganku eh?" tanya Naruto dengan satu alis terangkat naik turun. Tidak masalah kan sedikit menggoda musuhnya meksi harus mendapat pelototan dari sang istri, Hinata, karena musuhnya berjenis perempuan.
"Err, anooo... Itu. Maafkan aku, tampan."
Walburga adalah pemilik Sacred Gear Incinerate Anthem dengan Api Ungu Suci. Kalau itu tak berguna, Walburga bisa apa? Memang dia penyihir, tapi sihirnya hanya akan jadi biasa saja tanpa adanya api ungu itu.
"Oh iya, tak apa-apa. Terima kasih juga untuk pujiannya." kata Naruto malu-malu.
"Ekhhemm."
Naruto merasakan perasaan tidak enak mendengar istrinya berdehem kecil, segera ia menegapkan badannya dan menatap tajam pada Walburga. "Kalau begitu, bisakah kau pergi dari sini sekarang?"
"Tapi... tapi aku harus membunuh para iblis. Aku bisa dimarahi Rizevim-ojisama kalau gagal melakukannya. Kasihani akuuuu..."
Wajah Walburga tampak seperti pengemis yang memelas. Pergi kemana kesombongannya yang tadi?
Saji berjalan ke depan dan membelakangi Naruto. Nampak kalau murid kelas XI Kuoh Gakuen ini punya solusi di kepalanya.
Semua orang memandang bingung akan tindakan Saji.
"He? Apa maumu, anak kecil?" tanya Walburga saat ada yang berdiri antara dirinya dan Naruto.
Saji memasang muka masam. Ia remaja, dan merasa umurnya tak jauh berbeda dengan Walburga. Kenapa diejek anak-anak?
"Aku hanya ingin membuktikan pada semuanya kalau aku sanggup melampaui pengguna Longinus."
Keinginan Saji sederhana. Sacred Gear Vritra yang bersemayam dalam tubuhnya memang termasuk Sacred Gear peringkat atas, tapi tidak termasuk kedalam 13 Longinus. Jika Saji bisa mengalahkan Walburga, tentu namanya dan Vritra akan melejit ke atas. Bukan tidak mungkin komposisi Longinus yang semenjak tewasnya The God of Bible sampai sekarang terus bertahan, akan bergeser pada jaman ini.
Seiring munculnya api hitam, di samping Saji seekor ular raksasa hitam muncul.
Itu Raja Naga Vritra. Dia melolong, "Pengguna pusaka Holy Cross, jangan meremehkan api hitamku!"
Aura hitam kian padat membungkus tubuh Saji dan Vritra hingga tak bisa dilihat oleh orang di luarnya. Itu aura yang muncul ketika seseorang akan mengaktifkan Sacred Gear, persis seperti ketika Issei ingin mengenakan armor Boosted Gear Scale Mail.
Irregular Balance Break!
Aura hitam memadat mengambil bentuk seperti bola. Beberapa saat kemudian meledak. Sosok yang muncul adalah Saji yang berselimutkan armor berwarna hitam pekat. Ia memiliki tentakel yang tumbuh keluar dari armornya dan padanya terdapat api hitam pekat yang membara. Saji dan Vritra telah bergabung menjadi satu.
Suara Saji yang bercampur dengan suara Vritra menggema diseluruh udara kota Auros.
"Fusion, Malebolge Vritra Promotion!"
Suara Saji bercampur dengan Vritra. Mereka berdua bergabung. Hal itu dapat dicapai karena pikiran keduanya menjadi satu. Ini adalah tipe Balance Breaker lain yang terjadi ketika kesadaran pengguna dan Sacred Gearnya bergabung menjadi satu, Irreguler Balance Breaker.
"Kami adalah apinya Neraka. Mana yang lebih kuat antara api hitam kami dan api ungu penyucianmu? Ayo bertarung untuk menentukannya!"
Saji mengucapkan tantangannya yang langsung di balas Walburga dengan tembakan salib api ungu.
Namun Saji membuat salib api ungu lenyap dengan mudah, lalu ia pun melesat ke arah Walburga
"Api ungumu dan api hitamku! Ayo putuskan yang mana yang lebih superior!"
"Menarik, benar-benar menarik!"
Saji dan Walburga yang tampak senang menerima tantangannya mulai melakukan pertarungan api melawan api di udara.
Sementara membiarkan udara dipenuhi campuran api ungu dan hitam yang saling beradu, dibawah, para iblis lainnya tengah memikirkan cara keluar dari pilar-pilar api ungu yang mengurung mereka, yang membuat banyak pasukan terkotak-kota di berbagai penjuru kota Auros. Kalau bisa sekalian keluar dari penghalang yang dibuat oleh Naga Jahat Laddon.
Tempat mereka sekarang sudah aman, dan mereka ingin menuju tempat lain yang sedang kesulitan. Tidak semua bagian dari pasukan fraksi iblis yang sanggup bertahan dari serangan beruntun oleh Fraksi Maou Lama dan Qlippoth yang membawa pasukan Naga Jahat.
Semuanya menatap Naruto.
Yang ditatap mengerti dan menjawab. "Aku bisa saja melubangi pilar api itu, tapi hanya untuk diriku sendiri."
Xenovia menghunuskan pedangnya, Ex-Durandal. Gabungan enam pecahan Excalibur dan Durandal.
"Heeyyaaaa!"
Xenovia berteriak menebaskan pedangnya secara vertikal. Aura suci yang sangat besar dilesakkan menuju pilar api. Pilar api itu berlubang, namun dalam waktu singkat tertutup kembali. Pilar api itu bisa memperbaiki dirinya sendiri, sehingga tidak memberikan cukup waktu untuk mereka semua menyebranginya.
"Bagaimana kalau ini?"
Rosseweisse menggunakan sihir penyerang yang mampu membatalkan kemampuan sihir lain. Tapi itu juga tidak berguna. Kejadiannya sama saja seperti yang dilakukan Xenovia.
Setelah mengamati jejak parit raksasa hasil tebasan aura suci Ex-Durandal di tanah, ternyata pilar api ungu juga mencapai ke dalam tanah.
Terbang ke atas juga sangat berbahaya. Pilar api ungu itu sangat tinggi, dan pada puncaknya tampak lidah-lidah api yang menjulur kesana kemari. Jika melewati rute itu, tidak ada jaminan akan selamat.
Hinata menatap suaminya, "Anata."
"Hm, ada apa Hime."
Sepasang suami istri itu saling panggil dengan panggilan kesayangan.
Adduuuhhh. Kasihan iblis-iblis muda disana yang semuanya jomblo. Apalagi Rossweisse yang paling tua.
"Kau bisa gunakan kunaimu kan?"
Ada lampu imajiner yang menyala terang di samping kepala Naruto. "Ahhaaa, betul juga."
Naruto mengambil satu kunai Hiraishin lalu melemparkannya melewati pilar api ungu.
Kunai itu tidak terbakar, itu hanya benda. Lagipula benda itu hanyalah benda biasa bagi makhluk supranatural, jadi tidak akan dilalap api suci. Sangat berbeda jika api itu mengenai entitas makhluk jahat.
Naruto mengulurkan lengan chakra kyubi untuk menyentuh semua orang. Lalu dengan Hiraishin, mereka semua lenyap dari tempat itu.
.
Maou Falbium Asmodeus dan Maou Ajuka Beelzebub bertemu di titik yang telah mereka tetapkan sebelumnya. Mereka sudah menyelesaikan tugas masing-masing, menyingkirkan nama-nama lama yang seharusnya memang tak perlu lagi ada di dunia ini.
Apa yang mereka berdua lakukan sudah direncanakan sejak awal, yakni membasmi sisa-sisa Fraksi Maou Lama hingga ke akar-akarnya. Informasi yang diberikan Naruto tentang rencana kudeta Fraksi itu dimanfaatkan dengan baik. Tetapi serangan gelombang kedua oleh pasukan Naga Jahat yang dihidupkan oleh Rizevim sungguh di luar perkiraan. Ditambah lagi dengan penghalang yang Naga Jahat Laddon ciptakan serta sihir pengekang Aži Dahāka yang mengakibatkan banyak iblis tidak bisa menggunakan kekuatan sihir sehingga melemahkan kekuatan para iblis pendukung pemerintahan Yondai Maou saat ini. Belum habis sampai disana, Walburga si api ungu Holy Cross membuat semuanya makin kacau
Sirzech pernah mengatakan pasti akan ada yang memanfaatkan kudeta ini, nama yang sangat patut dicurigai adalah Rizevim. Tetapi tidak terpikir kalau kakek tua itu malah membuat serangan gelombang kedua yang lebih besar dari serangan pengkudeta Fraksi Maou Lama. Karenanya, mereka harus bekerja lebih keras menyingkirkan semua naga jahat lalu menyusul Sirzech untuk meringkus Rizevim.
Falbium dan Ajuka melihat ke kejauhan dimana sebagian pasukan mereka yang masih sanggup berdiri, tengah bertarung mati-matian melawan pasukan naga jahat. Kalah jumlah tentu saja sangat merepotkan mereka, meskipun kekuatan personal setiap naga jahat itu tidak bisa dibilang hebat.
"Apa rencanamu sekarang, Falbium?" tanya Ajuka tanpa memandang ke arah rekannya.
Sebagai pengatur strategi, Falbium harus memiliki jawaban dan keputusan cepat.
"Sirzech belum mengkonfirmasi kalau dia telah menyelesaikan bagiannya, artinya dia dalam situasi tidak bisa apa-apa."
Ajuka mengangguk setuju. Falbium dan dirinya sudah melenyapkan Cruzerey dan Shalba, tetapi yang tersisa yakni Rizevim sangat jauh berbeda dengan dua nama sebelumnya. Jika Sirzech dan peeragenya yang merupakan tim khusus untuk melawan kakek tua itu belum mengkonfirmasi, maka situasinya sedang tidak baik.
Falbium mendengarkan setiap laporan yang ia terima dari berbagai titik pertempuran dari alat komunikasi yang sengaja ia bagikan pada semua pasukannya. Beberapa titik sedang dalam kondisi tidak baik karena serangan naga jahat dalam jumlah yang sangat banyak. Menggunakan alat komunikasi itu pula, tadi dia sempat mengintruksikan perintahnya pada semua pasukan sebelum akhirnya dipotong oleh siaran langsung dari Rizevim yang muncul tiba-tiba.
"Kita harus melakukan sesuatu." ungkap Falbium. "Sihir pengekang yang diciptakan Aži Dahāka meliputi skala yang cukup luas. Banyak orang-orang terbaik kita yang kehilangan kemampuan sihirnya akibat hal itu, dan hampir dari mereka semua terkonsentrasi di Pulau Langit Agreas. Medan perang di titik itu sedang gawat akibat kurangnya kekuatan pasukan kita."
"Sebagai Maou kita tidak bisa secara langsung turun ke medan perang. Jadi apa keputusanmu?"
"Aku akan menghubungi Azazel yang berada di luar penghalang. Meminta dia membawa pasukan bantuan untuk menggantikan pasukan yang berada di Agreas."
"Caranya?"
Seluruh kota Auros dan seisinya serta Agreas terkurung oleh sebuah penghalang raksasa. Orang dari luar tak bisa masuk seenaknya.
"Lingkaran sihir teleportasi. Mereka yang masih bisa menggunakan sihir di pulau itu akan kuperintahkan bekerjasama membuat lingkaran sihir skala besar untuk menukarkan pasukan kita yang kehilangan kemampuan bertarung dengan pasukan bantuan dari luar. Dengan begitu, kehilangan korban dalam jumlah banyak di pihak kita bisa di cegah."
"Ya. Keputusan yang bagus. Aku setuju."
"Ayoo Ajuka, sebaiknya sekarang kita menuju ke tempat Sirzech. Mungkin dia membutuhkan bantuan kita."
"Baiklah. Aku juga akan menghubungi Serafall dan memintanya kesana. Rizevim tidak akan bisa kabur kalau kita berempat sekaligus yang meringkusnya."
"Tepat sekali." Falbium tersenyum optimis.
.
Peperangan terus bergulir sepanjang waktu yang belum jelas kapan berakhirnya. Akan tetapi sekarang sudah mulai terlihat kemana arah kemenangan berpihak.
Berkat Naruto yang mampu melewati pilar api ungu Incinerate Anthem dengan serta merta membawa dua tim tangguh, bagian-bagian lain dari kota Auros yang terisolir oleh api itu dimana pasukan iblis terdesak akibat diserang sekawanan naga jahat, sekarang mampu membalas serangan. Sudah tak terhitung lagi berapa naga jahat yang berhasil dijatuhkan.
Yang tersisa hanya lah Pulau Langit Agreas. Pasukan yang sudah menyelesaikan perang di titik masing-masing sudah bergerak ke Agreas kalau saja Maou Falbium Asmodeus tidak mengumumkan lewat saluran komunikasi bahwa akan ada pasukan bantuan dari luar penghalang yang mengurung mereka yang akan langsung ditransfer ke Agreas dengan lingkaran sihir teleportasi skala besar untuk menghabisi semua naga jahat di sana. Mereka semua baru saja mendapat instruksi untuk bergerak menuju ke satu titik. Falbium tidak memberitahukan ada apa di titik itu, tapi hanya mengatakan bahwa disanalah akhir perang hari ini dan tempat mereka memastikan kemenangan.
Tempat yang Falbium maksud adalah...
Titik dimana Rizevim berada.
Titik dimana Sirzech dan semua peeragenya, sebagai kelompok Evil Piece terkuat di Underworld, sedang menghadang kakek tua si biang kerok itu.
"Jiiiiiiiiii..."
Rizevim menatap bodoh pada laki-laki tampan berambut merah yang menahannya di tempat ini, tak membiarkan dirinya pergi kemanapun.
"Hoooooi, kau yang sekarang memakai nama papaku! Apa kau tidak bosan berada disini eh?"
"..."
"Arrrkkkhh..." Tidak mendapat respon dari lawan bicara membuat Rizevim berang.
Bukan hanya Sirzech saja yang diam tanpa suara, tapi peeragenya juga. Grayfia, Shouji Okita, Mac Gregor dan lainnya.
Hei, keturunan pertama Satan Lucifer sejati ini tipe orang humoris, mana tahan dia didiamkan begitu kan?
Mungkin Sirzech sengaja mendiamkan Rizevim karena sudah tahu tak ada gunanya berbacot ria dengan iblis bermulut sampah di depannya ini.
"Errrhh, syialannnd!" kutuk Rizevim.
"..."
"Kenapa aku mau-maunya ditahan oleh patung di tempat ini sih?"
Rizevim mulai bertingkah tidak jelas. Kadang melompat, kadang berjongkok. Saat berjongkok, dia mencabut satu helai rumput sampai tertarik batangnya yang berwarna hijau muda. Kemudian memasukkannya ke lubang kecil yang ada di tanah.
Diamkan sejenak. Lalu saat daun rumputnya mulai bergerak-gerak, Rizevim angkat kembali. Betapa bahagianya dia saat mendapatkan tiga ekor serangga kecil bernama undur-undur yang menempel di batang rumput yang tadi dia masukkan ke lubang. Raut wajahnya yang senang tampak sangat natural seakan dia adalah anak-anak yang baru mendapatkan mainan baru.
Rizevim menggoyangkan batang rumput sehingga undur-undur tadi jatuh ke tanah. Serangga itupun berjalan kembali ke sarangnya. Anehnya, undur-undur di Underworld berbeda sekali dengan undur-undur di dunia manusia walau ukuran dan bentuk tubuh mereka sangat mirip. Kalau undur-undur di dunia manusia berjalan mundur, kalau di Underworld jalannya maju. Rizevim tertawa sendiri saat pertanyaan kecil melintas di benaknya. Seharusnya kan serangga itu dinamakan maju-maju? Begitu pikir Rizevim.
Dasar!, orang tua gila!
Andai saja bukan musuh besar yang sangat berbahaya, ingin sekali Sirzech serta peerage-peeragenya tertawa. Tapi mengingat bagaimana reputasi Rizevim dan nama besarnya sebagai tokoh jahat, tak ada waktu bagi mereka untuk tertawa, bahkan hanya untuk sekali tawa sekedar mengeluarkan suara 'Ha' saja.
Rizevim berdiri kembali. Nampaknya dia mendapatkan ide kecil yang mampu membuatnya senang.
"Emm, Sirzech! Apa jadinya ya kalau kalian semua bertarung dengan Lilith-chan?" usul Rizevim sambil mengusap-ngusap kepala Sang Ketidakbatasan.
DEG!
Sontak mereka melangkah mundur karena tekanan kekuatan yang begitu berat. Ini bukan sekedar berat biasa karena yang merasakan adalah orang sekelas Sirzech. Kalau Sirzech saja sampai tertekan dibuatnya, maka tekanan itu sudah tak bisa dideskripsikan lagi kekuatannya.
Sungguh, tekanan dan aura membunuh yang dipancarkan Uroboros sang Dewi Naga sama sekali tak ternalar akal, berada pada level yang sama sekali berbeda seakan dia berasal dari dimensi lain yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Itu baru hawa intimidasinya saja. Kalau sampai Ophis melepaskan tekanan kekuatannya ke lingkungan sekitar, sudah pasti kota seluruh Auros yang sangat luas akan berguncang hebat.
"Emmmm. Kenapa? Kalian takut?"
Sirzech menggeleng, "Aku yakin kau tak akan melakukannya, Rizevim. Kau mengincar sesuatu dari perbuatanmu di sini kan? Tak mungkin kau membiarkan Ophis melepas semua kekuatannya karena hanya akan menghancurkan seluruh tempat ini termasuk sesuatu yang kau incar itu."
"Ah, iya. Benar sih."
Sirzech tahu hal itu, meski tidak tahu spesifik apa yang sebenarnya Rizevim incar. Tapi walau begitu, Maou Lucifer ini juga tidak bisa menyerang Rizevim begitu saja. Rizevim akan tetap menjadikan Ophis sebagai tameng karena keselamatan nyawa pak tua itu lebih penting dari incarannya. Rencana satu gagal, masih ada rencana lain walau harus menunggu lebih lama.
Lagipula masih ada Naga Jahat Crom Cruach, Laddon, dan Aži Dahāka di belakang Rizevim yang siap disuruh bertarung kapan saja.
"Hei, kalian tahu?"
Rizevim tiba-tiba berujar setelah hening cukup lama. Lilith yang ada di dekatnya sudah tenang kembali, tak lagi memancarkan hawa permusuhan.
Kakek tua yang nampak santai itu coba membuka topik, "Si Shalba dan Cruzerey sangat senang saat mereka kuberikan ular-ular dari Lilith-chanku ini. Mereka begitu bahagia seakan rencana kudeta mereka dan semua pasukannya barusan tadi akan berhasil. Eeeeeeh, nyatanya mereka gagal. Ya, aku tahu sejak awal akan seperti itu kejadiannya. Biarpun mereka mendapat tambahan kekuatan dari ular Lilith-chan, mereka mustahil bisa menang. Tapi tetap saja kuberikan. Kan lumayan, aksi mereka bisa sedikit melemahkan kekuatan tempur disini sehingga peluang keberhasilan rencanaku meningkat beberapa persen. Hihiiiiii."
Sirzech tidak ingin menanggapi cerita itu karena Fraksi Maou Lama sudah dinyatakan berakhir. Tidak akan ada lagi cerita tentang iblis yang tidak puas dengan pemerintahan Yondai Maou saat ini. Tapi Sirzech paham, ia paham bahwa Rizevim bukanlah orang yang akan berpikir dua kali untuk memanfaatkan atau membunuh orang lain. Siapapun yang berguna untuk kepentingannya akan dia gunakan dan yang menghalangi segera disingkirkan.
Waktu pun terus berlalu tanpa ada obrolan. Namun Sirzech dan peerage-peeragenya tetap waspada.
tik tok tik tok
tik tok tik tok
tik tok tik tok
Keheningan ini membuat Rizevim muak, nampak jelas dari raut mukanya seperti babu yang disuruh-suruh majikannya melakukan pekerjaaan konyol tanpa henti dan tanpa istirahat seharian penuh.
"OOOOOOIIIII!. Lucifer kepala tomat busuuukkkk!"
Rizevim terengah-engah, dadanya naik turun.
Meski si biang kerok itu begitu gusar, tapi Sirzech bertahan pada sikap acuhnya sejak awal.
"Kau kesulitan di sini, Sirzech?"
Suara yang muncul tiba-tiba itu terdengar bersamaan dengan munculnya sebuah lingkaran sihir yang membawa dua orang pria.
"Tak juga. Setidaknya aku berhasil menahan pak tua itu di tempat ini agar tak berbuat sesukanya." jawab Sirzech tanpa menoleh. Ia tahu kalau yang datang adalah rekannya, Maou Ajuka Beelzebub dan Falbium Asmodeus.
"Bagus. Jadi..."
Ucapan Falbium terhenti saat sesesok tubuh meluncur cepat turun dari langit.
Tap.
Sosok yang ternyata perempuan itu mendarat tidak jauh dari tiga Maou laki-laki tadi.
"... Aku tidak terlambat kan?"
Lengkap sudah. Lucifer-Beelzebub-Asmodeus-Leviathan. Empat Maou yang memegang kekuasaan tertinggi pemerintahan Underworld saat ini.
Prok prok prok prokk...
Rizevim bertepuk tangan lalu tertawa, "Huuuuuhyahyahyahyaaaaaa. Aku begitu tersanjung. Kalian semua, anak-anak muda terkuat masa kini berkumpul hanya demi aku, kakek tua yang mengidap sindrom chunibyou ini. Huwaaaaa, rasanya aku ingin menangis terharu."
Semua tatapan tajam ditujukan pada Rizevim.
"Apakah sekarang saatnya aku ditangkap? Whuhuuuu, takuuutttt." Rizevim malah bertingkah seperti anak-anak yang dipalak preman pasar. "Aku tak punya uang, Bang."
Rizevim benar-benar membuat semua orang gregetan. Gemas sekali ingin menangkapnya sekarang. Tapi...
Tapi itu tidak bisa dilakukan.
Sebabnya?
Karena Naga Jahat Laddon berhenti bermain-main dan mulai merangkak mendekati Rizevim. Tiga pasang mata dari tiga buah kepala milik seekor naga hitam keunguan yang sejak tadi tidur, kini telah terbuka. Kepala-kepala itu terangkat, Aži Dahāka merasa terpanggil oleh hawa pertarungan. Lalu, Crom Cruach yang dalam wujud humanoidnya pun telah mengangkat dagu. Belum lagi Ophis yang sejak awal berdiri persis di depan Rizevim, kembali memancarkan hawa tidak menyenangkan.
Putra Sang Bintang Fajar dikelilingi oleh para naga. Satu naga ketidakbatasan dan tiga naga jahat terkuat.
Empat Maou dan peerage-peerage Sirzech Lucifer yang merupakan kelompok evil piece terkuat, belum bisa menjamin kemenangan 100% bagi Fraksi Iblis kalau lawannya seperti itu.
Lagipula tempat ini, Kota Auros, tidak akan sanggup menampung pertarungan dahsyat seandainya benar-benar terjadi.
"Apa situasinya akan terus seperti ini saja?" tanya Ajuka.
Siapapun tahu pihak mana yang akan dirugikan kalau Rizevim hanya diawasi begini saja. Dia orang licik.
"Aku menyesal tidak membawa peerageku." sambung Falbium.
"Mau bagaimana lagi kan?" sahut Serafall. Karena penghalang ini, kita jadi susah memanggil mereka kemari.
Jika saja..., jika seandainya setiap Maou yang ada disini bersama peerage-peeragenya lengkap, maka situasi pasti akan lebih berpihak kepada Sirzech dan lainnya. Bukan tidak mungkin Rizevim dan naga-naganya bisa diringkus dengan main keroyokan sambil mencegah kerusakan hebat pada lingkungan sekitar.
Situasi terus berlangsung seperti tadi sampai seseorang menyadari suatu hal.
Yah, sesuatu.
Grayfia sang Ratu Lucifer, sadar ada yang kurang.
"Dimana dia? Bukankah dia mengikutimu?"
"Siapa?" tanya balik Rizevim.
"Adikku. Euclid."
"Oh. Emmm... Anoooo..."
Rizevim menggantung ucapannya lalu tiba-tiba sebuah fenomena terjadi.
Pulau Langit Agreas. Secara keseluruhan pulau melayang itu mulai bercahaya.
"... Nah, adikmu berada di atas sana, Ojou-sama." Rizevim menunjuk Agreas yang melayang di langit.
"Apa katamu?"
"Yah, awalnya dia ingin di sini agar bisa bertemu dengan kakaknya yang manis. Tapi perintahku memaksanya harus berada di sana saat ini."
Falbium seketika mengingat sesuatu. "Itu..." sambil tetap menatap Agreas yang melayang tinggi di udara, "Itu cahaya dari lingkaran sihir skala besar yang dibuat untuk menteleport pasukan bantuan."
Rencana Falbium memang begitu.
Lalu.
"Nah, semua yang terjadi hari ini, hanya untuk itu."
Rizevim mengatakannya dengan santai tanpa beban. Dia tampak senang, meyakini bahwa rencananya hari ini sukses besar.
Falbium lalu berkata, "Aku sekarang yakin. Jadi apa yang sebenarnya kau incar adalah Agreas itu sendiri, benar? Pulau melayang yang telah ada semenjak era Maou Lama."
"Ohohoooo. Baru nyadar eh?" ejek Rizevim. "Katanya kau Maou jenius strategi perang tapi tak bisa menebak apa tujuanku. Dasar payah! Uhyohyohyohyohyooooohohoooo...!" Rizevim mengacungkan kepalan tangan dengan jempol mengarah ke bawah.
Wajah falbium mengeras, dia marah besar. "Jadi rencanamu adalah... Serangan Fraksi Maou Lama hanya untuk memecah konsentrasi kekuatan kami dan sedikit melemahkannya. Lalu penghalang yang melingkupi seluruh kota, api ungu dan pasukan naga jahat untuk memaksaku memerintahkan pembuatan lingkaran sihir teleportasi skala besar. Ada pengkhianat di antara kami yang berpihak padamu untuk mengatur ulang formula dan koordinat lingkaran sihir teleportasi tadi pada saat terakhir sebelum diaktifkan agar menargetkan Agreas. Dan terakhir, Euclid menggunakan replika boosted gear agar teleportasi bisa dilakukan pada seluruh Pulau Agreas."
Falbium sekarang mengerti. Dan ia marah besar karena ada pengkhianat dalam kaumnya.
Sirzech membuang nafas panjang, berusaha meredam emosinya. Nyatanya ia telah dipermainkan dengan hanya berdiam diri di sini sejak hampir satu jam yang lalu. Jika tahu akan begini, ia pasti bisa melakukan pencegahan. Ia mengira ada sesuatu dari Agreas yang di inginkan Rizevim, tapi ternyata Putra Lucifer itu telah mengambil semua.
"Jadi kau telah merencanakan ini sejak awal? Serangan kudeta sampai pengepungan, hanya persiapan untuk menteleport Agreas keluar."
Rizevim mengangguk cepat seperti anak kecil yang ditawari permen.
Rizevim bahkan dengan semua anak buahnya, tidak akan dapat mencuri Agreas jika melakukan dengan cara biasa. Rizevim membuat rencana untuk menciptakan situasi yang pada akhirnya memberikan dia kesempatan untuk mencuri Agreas.
Rizevim bukan penjahat biasa. Kata seorang napi (narapidana), kejahatan tidak hanya timbul karena ada niat pelaku tapi juga karena ada kesempatan. Namun siapapun tahu bahwa kesempatan itu tidak akan datang tiba-tiba dengan cuma-cuma. Hanya penjahat bodoh yang menunggu kesempatan untuk berbuat jahat. Yang benar adalah, kesempatan itu diciptakan oleh tangan kita sendiri.
Ciptakan kesempatan! Dan jika kesempatan sudah dalam genggaman, maka kesuksesan akan menjadi nyata.
Rizevim mendapatkan kesempatan mencuri Agreas saat ada lingkaran sihir teleportasi skala besar yang ada cuma-cuma untuknya. Ia dan anak buahnya tidak mungkin bisa membuat itu, dan membuatnya pun perlu waktu. Jadi Rizevim menunggunya sampai hampir siap, lalu mengambil alihnya ketika akan aktif.
Keberadaan sosok Rizevim di titik ini, tidak lain adalah untuk memancing keluar empat Maou. Kenyataan yang sebenarnya, bukan Sirzech dan lainnya lah yang menahan Rizevim agar berdiam diri, tetapi sebaliknya Rizevim lah yang menahan Sirzech dan yang lain tetap bersamanya. Ini demi memastikan proses pengambil alihan Agreas tidak terganggu, walau proses itu tidak memakan waktu lebih dari satu menit.
Dilihat dari kejauhan, Pulau Langit Agreas sudah sepenuhnya tertutupi cahaya teleportasi yang menyilaukan.
Sirzech memejamkan mata, menyadari satu hal yang luput dari perhatiannya. "Masih ada banyak Iblis yang mendukung Maou sebelumnya. Terutama nama Lucifer pertama masih begitu hebat. Jika putra dari Maou Lucifer pertama muncul, maka takkan aneh bagi seseorang yang akan membantunya tanpa berpikir dua kali."
Serafall memicinkan mata, "Apa yang kau rencanakan dengan pulau itu? Tidak, apa yang sebenarnya ada di Agreas itu?"
Rizevim melihat ke arah Agreas.
Cahaya teleportasi yang menyelimuti seluruh Agreas bersinar makin menyilaukan. Saat cahaya memudar, perlahan Agreas pun menghilang.
Hanya perlu menunggu waktu tiga detik. Seluruh Agreas telah lenyap dari Underworld. Dipindahkan ke suatu tempat entah dimana.
"Begitulah. Hahaaaa." Wajah Rizevim masih mendongak ke langit yang dipenuhi sisa-sisa cahaya teleportasi, tetapi matanya melirik ke depan. "Kalian tahu tujuan akhirku kan? Agreas adalah sesuatu yang kubutuhkan untuk tujuanku itu."
Okeh. Sekarang berikan waktu pada Rizevim merasakan kebahagiaan atas kesuksesannya. Dia senang, sungguh sangat senang. Saking senangnya, sampai dia melupakan satu hal.
Satu hal yang terlupa.
Satu hal.
Yaitu...
Rute pelarian.
Yah. Agreas sudah di tangan. Yang Rizevim harus lakukan sekarang adalah...
Lari.
Itu mutlak.
Apa gunanya jika seorang penjahat berhasil mencuri sesuatu tapi dia tidak bisa menikmati barang curiannya?
Kalau ada, itu sungguh bodoh kan? Konyol sekali.
"Rizevim!"
Sirzech menyuarakannya dengan tegas.
Kakek tua itu tampaknya sadar akan situasi. Mana mungkin dia dibiarkan kabur begitu saja setelah berbuat jahat. Terlebih lagi dia dikepung oleh anak-anak terkuat Underworld saat ini.
"Menyerah atau kita bertarung?"
Sirzech hanya memberi dua pilihan saja. Dia juga meminta keputusan cepat. Ia telah kehilangan Agreas. Tidak ada lagi yang berharga di tempat ini. Jadi bertarung melawan Rizevim dan empat naga jahat di sisinya, walaupun menghancurkan seluruh kota Auros, itu menjadi harga murah.
Rizevim membuat isyarat pada Naga Jahat yang menyerupai pohon, Laddon.
"Yah yah, baiklah.!" naga itu hanya bisa pasrah. Diapun membatalkan penghalang yang ia ciptakan untuk mengurung seluruh kota Auros. Langit tidak lagi putih, kini telah kembali berwarna ungu sebagaimana warna khas langit underworld sejak jaman penciptaan.
Apa artinya itu?
Rizevim bermaksud mengatakan kalau jika ingin bertarung, maka Sirzech harus membayar sedikit lebih mahal.
Penghalang yang melingkupi kota Auros telah di lepas. Maka jika bertarung, dampak pertarungan pasti akan lebih luas lagi.
Ajuka, Falbium, Serafall. Tiga Maou itu kompak menatap Sirzech. Menyerahkan keputusan di tangan Maou Lucifer.
Sirzech mengepalkan tangan, aura Power of Destruction meningkat pesat.
Itulah jawabannya.
Sebuah pertarungan.
Saling tatap tajam dengan hawa permusuhan luar biasa kental terjadi antara dua kubu yang berhadapan.
Waktu terus bergulir untuk itu, untuk tahap prapertarungan.
Selama waktu itu, jumlah kekuatan di kubu Fraksi Iblis terus bertambah. Bala bantuan datang silihberganti tanpa henti. Kini ribuan pasukan sudah berdiri di belakang punggung Yondai Maou, pimpinan mereka.
"Sirzech-sama, maaf kami sedikit terlambat."
Sairaorg dan peeragenya mengisi ruang kosong tidak jauh di belakang Yondai Maou.
"Hollaaaa, kita berjumpa lagi Paman Azazel." Rizevim berteriak kegirangan saat Azazel datang membawa pasukan bantuan yang di pesan Falbium.
Azazel dan pasukannya seharusnya di teleport ke Agreas. Tapi terjadi masalah akibat pengaturan ulang lingkaran sihir teleportasi sebelum diaktifkan. Jadinya Azazel batal masuk ke dalam arena perang. Akan tetapi, saat penghalang Laddon dibatalkan oleh naga itu sendiri, ia langsung menyusul kesini, tempat dimana titik berkumpulnya kekuatan yang sangat besar.
"Onii-sama."
Rias pun datang menyusul, dia mengambil posisi di belakang kakaknya.
"Kau baik-baik saja, Sou-tan?" Serafall menampakkan raut khawatir saat adiknya baru saja tiba. Tapi kekhawatirannya hilang saat melihat Sona tidak terluka, bahkan tanpa lecet sedikitpun.
Seluruh peerage Rias dan Sona juga ada. Terakhir datang adalah Saji. Dia sudah tidak mengenakan armor hitam lagi. Dilihat dari sikapnya, pertarungannya melawan Walburga pasti imbang. Walburga sendiri mungkin sudah kabur bersamaan dengan diteleportnya Agreas ke tempat lain.
Kekuatan kubu Sirzech dan lainnya sudah berkumpul dalam jumlah yang sangat besar. Ini seperti akan berangkat perang. Seperti hendak mengulang sejarah Civil War antara Maou Lama dan Anti-Maou di Underworld beratus-ratus tahun silam.
Namun itu belum semuanya. Angkatan perang, pasukan militer, dan persenjataan Fraksi Iblis yang di pimpin Yondai Maou saat ini jauh lebih besar lagi.
Tentu itu ada untuk satu tujuan besar.
"Ugghhh..." Rizevim mengusap-ngusap tengkuknya. "Aku jadi tidak yakin bisa kabur tanpa luka dari sini."
Keragu-raguan mulai muncul dari guratan wajah Rizevim. Tapi itu tipis sekali. Dia dikawal oleh empat ekor naga. Salah satunya adalah Ophis. Dari segi kekuatan, ia jelas unggul karena Sang Ketidakbatasan bersamanya. Tapi peluang kemenangannya tipis karena lawannya memiliki komposisi komplit untuk membuat strategi jitu yang mampu memojokkannnya. Sedangkan Rizevim hanya memiliki pilihan strategi terbatas dengan empat orang anggota.
Menit demi menit terus bergulir, namun tak menunjukkan tanda-tanda akan memulai pertarungan.
Ini terasa ada yang mengganjal.
"Kepala tomat busuuugg, hoooi! Jadi tidak nih?" Rizevim mulai kesal.
Sirzech tidak menunjukkan raut wajah emosi karena ejekan itu, tapi karena ejekan tadi sifatnya untuk dua orang, ada dua orang yang berambut merah, maka Rias lah yang mewakili kekesalan kakaknya atas ejekan tadi.
"Bertarung ya bertarung, tidak ya tidak. Kalau tidak, biarkan aku pulang, bakayarou!"
Entah apa mau Rizevim. Lebih baik baginya tidak bertarung, tapi mulutnya malah memprovokasi.
Sirzech, tampak menahan diri.
Tidak, bagi yang jeli akan tahu apa yang sebenarnya. Apa isi pikiran Maou Lucifer itu.
Sirzech tidak menahan diri, tetapi menunggu.
Yah, menunggu.
Sirzech ingin melihat apa yang akan terjadi jika dirinya diam saja.
Fokusnya, pikirannya, apa yang diinginkan Sirzech adalah...
Mengetahui tindakan Naruto dan Hinata.
Naruto dan Hinata. Dua penyusup yang bernaung didalam kelompok Sona Sitri.
Yup. Inilah alasan utama Sirzech menahan diri untuk tidak menyerang Rizevim.
Pertarungan antara Sirzech dengan Naruto di ruang dimensi khusus saat berlangsung pesta pembukaan Rating Game, berakhir dengan sebuah kesepakatan.
Naruto dan Hinata mengatakan bahwa mereka mengejar Rizevim.
Pada hari ini, waktu yang Sirzech yakini bahwa Rizevim akan muncul, dengan sengaja ia menarik seluruh tim Sitri ke dalam arena perang kota Auros. Tentu saja digabungkan dengan tim adiknya, Rias, untuk menghilangkan kecurigaan.
Dan yang ingin Sirzech ketahui adalah...
Apa tindakan Naruto dan Hinata saat Rizevim sudah di depan mata.
Semuanya, akan dibongkar hari ini, di tempat ini.
Sirzech menginginkan terbongkarnya identitas asli Naruto dan Hinata di depan publik, di depan semua orang.
Ini penting untuknya menentukan langkah ke depan, juga bagaimana menempatkan Konoha, apakah benar-benar akan diposisikan sebagai musuh?
Akan tetapi, penantian Sirzech sia-sia.
Lima menit menunggu sejak Naruto dan Hinata sampai di tempat ini bersama Sona dan yang lain, tidak terjadi apa-apa. Dua manusia itu bahkan diam di tempat, bersikap sebagai bawahan yang penurut, dan tak menunjukkan tingkah mencurigakan sedikitpun.
Jika begini takkan ada akhirnya, jadi Sirzech ingin memancing.
"Hei, pak tua brengsek!"
Ah, baru saja Sirzech ingin membuka mulut, suara lain sudah mendahuluinya. Tak apa, biarkan saja Issei yang melakukan tugas kotor itu untuknya, tanpa Issei sadari.
"Nyahahahaaa, ada bocah Sekiryutei. Sadarilah, apa hakmu hingga mulutmu berani bicara begitu? Lihat sekelilingmu! Ada banyak orang tua disini, harusnya sebagai anak muda kau bersikap sopan."
Eerrrr, apa pantas seorang kakek tua tidak tahu sopan santun menegur anak muda tentang etika?
"Tutup mulutmu! Kembalikan Holy Grail Valerie!"
Ini tentang kelanjutan cerita di Rumania. Rizevim mengambil satu Holy Grail Valerie. Issei berkata begitu untuk mewakili temannya, Gasper. Bagi Gasper, Valerie adalah orang yang sangat berharga.
"Ini?"
Rizevim memunculkan sebuah benda yang tampak melayang di udara, tepat di atas telapak tangannya yang terbuka. Benda berbentuk cawan terbuat dari emas, Holy Grail.
Rizevim tidak menyentuhnya secara langsung karena benda itu akan hancur jika ia sentuh. Sacred Gear Canceller dalam dirinya akan menghapus semua efek Sacred Gear lain yang bersentuhan dengan tubuhnya.
"Grrrrr..." Issei geram, begitupula Gasper sampai-sampai taringnya mencuat keluar.
"Ambil sendiri dong, bwueeee..." ejek Rizevim sambil memeletkan lidah.
Dasar, orang tua otak anak-anak.
"Partner, sekarang harusnya kau sudah bisa menggunakan kemampuanku yang ini?"
Suara Ddraig menggema dari gauntlet di tangan kiri Issei. Bola permata hijau di sana berpendar berkedip-kedip.
"Kemampuan apa?"
"Boost dan Transfer. Dua kemampuanku itu sudah kau kuasai dengan baik, sekarang saatnya kau menggunakan yang ketiga."
Issei mempercayai itu, seketika ia membangkitkan aromor crimson. Ia mengaktifkan mode True-Queen.
Melihat itu, Rizevim tertawa keras.
"Hahahahahaha, itu lagiiii itu lagi! Aku telah memberitahumu kalau itu percuma, percuma, percuma! Dasar anak idiot!"
"Crimson Blaster!"
Issei membentuk sepasang meriam di punggungnya, lalu mengisinya sampai max.
Nampaknya tak seorangpun yang melarang niat Issei. Ddraig mengatakan kekuatan baru, jadi semua orang ingin melihatnya.
"Apapun kekuatanmu selama itu ada kaitannya dengan Sacred Gear, itu akan percuma!" Rizevim makin keras mengejek.
Fang Blast Booster
Issei menembakkan aura naga dalam jumlah maksimum. Kekuatan tembakan ini dipastikan sanggup melenyapkan sebuah gunung besar. Jika orang yang terkena, tidak mungkin orang itu akan selamat.
Rizevim menyeringai sombong.
Ia mengangkat telapak tangannya seperti ingin mengibaskan aura tembakan Issei. Ada lembaran penghalang tipis yang mulai terlihat mengelilingi tubuh Rizevim.
Itu penghalang Sacred Gear Canceller. Apapun yang mengenai itu, jika berasal dari Sacred Gear, maka akan diubah menjadi tidak berarti.
Lalu sebuah suara mekanik baru terdengar dari gauntlet Issei.
Penetrate
Aura tembakan crimson Issei melewati penghalang Sacred Gear Canceller begitu saja.
Ya, melewati. Penetrate adalah kemampuan untuk melewati penghalang jenis apapun tanpa terkecuali selama penggunanya memfokuskan kemampuan ini pada penghalang yang akan dilalui.
"Bagaimana bisa? Tidak mungkin." Rizevim sangat terkejut karena kemampuan Sacred Gearnya tidak bekerja. "Tidak mungkin ada Sacred Gear yang mampu menyentuku."
Akibatnya sudah jelas.
KAAABBOOOOMMMMM...
Rizevim harus merelakan dirinya di telan ledakan yang sangat hebat.
Para Naga jahat bahkan Lilith sekalipun tak sempat melakukan tindakan pertahanan. Mereka juga dikejutkan dengan hal ini.
Meski ledakan begitu hebat, namun orang di dalamnya malah tertawa.
"Ghahahahahaaaaaa! Ghahahahahaaaaaa! Ghahahahahaaaaaa!"
Orang itu tertawa terus tanpa henti lalu di tengah ledakan muncul dua belas pilar hitam. Pilar-pilar itu melebar lalu menekuk, membentuk enam pasang sayap hitam raksasa.
Itu...
Itu adalah sayap sang Lucifer sejati. Kekuatan warisan dari Lucifer pertama.
Selama ini Rizevim mengandalkan Sacred Gear Canceller karena musuh-musuhnya banyak menggunakan Sacred Gear. Jadi ini saatnya dia menunjukkan kekuatannya sebagai Sang Putra Bintang Fajar yang sesungguhnya.
Rizevim menepuk bahunya yang sedikit berdebu. "Ya, tak apa-apa. Aku tidak marah kok. Ummm bagaimana ya aku mengatakannya? Pokoknya maafkan aku, maaf karena meremehkanmu, Sekiryutei. Tapi hei, beginilah akibatnya kalau aku selama ribuan tahun hanya duduk sambil minum wine saja. Karena kurang olahraga, pundakku jadi sedikit nyeri. Hihihiiiii..."
Kakek tua itu menghela nafasnya lalu melayangkan sebuah tatapan yang belum pernah ia tunjukkan pada siapapun.
Nada bicaranya, tekanan berat yang dia lepaskan, dia benar-benar berbeda. Tubuhnya, ketiadaan ekspresi bersalah diwajahnya, kesannya dan bahkan atmosfernya telah berubah.
Semuanya berubah. Rizevim akan serius mulai dari sekarang.
"Oke, aku anggap tadi sebagai permulaan pertarungan antara kita semua." Rizevim melirik empat naga yang bersamanya. "Kalian semua, ayoooo kita bersenang-senang."
Bagi naga jahat, bertarung adalah hal yang sangat menyenangkan. Mereka menyukainya. Sedangkan Lilith akan menuruti perintah apapun yang di katakan Rizevim.
Sirzech menepuk pundak kiri Issei. "Lakukan hal tadi sekali lagi, arahkan kebencianmu pada Rizevim. Aku akan membantumu."
"Ayooo bocah. Kita kalahkan orang tua itu di sini!" Azazel menepuk baru kiri Issei.
Issei meangguk, lalu mengisi amunisi kedua meriam di bahunya.
Setelah terkumpul...
"Fire!"
Kali ini, tembakan aura naga yang Issei lepaskan jauh lebih kuat. Aura itu bercampur dengan kekuatan Power of Destruction yang sangat padat dan murni. Ada juga disisipi cahaya-cahaya kuning dari kekuatan malaikat. Sirzech dan Azazel memberikan kekuatan mereka pada Issei.
Itu berbahaya.
Sacred Gear Canceller tidak berguna lagi. Jika Rizevim melindungi diri dengan sayapnya, maka kekuatan Power of Destruction akan menghapusnya. Kekuatan cahaya akan melukai tubuhnya sampai parah, cahaya adalah kelemahan bagi iblis, dan pastinya kekuatan Sekiryutei akan melenyapkan Rizevim sampai tak menyisakan setetes darah pun.
Sekali lagi, itu berbahaya bagi Rizevim.
"Lilith!"
Rizevim menggunakan tamengnya. Sekuat apapun tembakan itu, Sang Ketidakbatasan pasti mampu mementalkannya.
Namun...
Penetrate
Tembakan itu melawati Lilith begitu saja. Ternyata tidak hanya mampu melalui penghalang tapi juga tubuh makhluk hidup.
Kalau begitu...
Rizevim tersenyum. Issei sudah menggunakan kemampuan penetrate, maka ia hanya perlu membuat penghalang Sacred Gear Canceller untuk membatalkannya.
Namun sekali lagi...
Penetrate
Issei menggukanan kemampuan itu dua kali secara beruntun. Ia makin pandai menggunakan Sacred Gearnya. Seperti yang dikatakan Naruto, dirinya memiliki bakat tersendiri menggunakan Sacred Gear. Ucapan Naruto itu, Issei buktikan sekarang. Dua kali penetrate adalah hal mudah. Semudah dia melakukan Boost berkali-kali untuk menggandakan kekuatannya. Artinya, sebanyak apapun lapisan pertahanan, itu tidak berarti bagi Sekiryutei. Issei hanya perlu fokus pada penghalang yang dilihatnya, maka serangan yang ia kirimkan akan melewatinya begitu saja.
Senyuman Rizevim seketika berubah menjadi kepanikan. Jika terkena, sudah dapat di pastikan ia akan terluka parah, atau bahkan mati.
Rizevim sudah menutup mata pasrah.
Namun...
Piiinnnn...!
Sosok tubuh lain menerima serangan langsung dari Issei setelah dia mendorong tubuh Rizevim ke samping hingga hampir jatuh ke tanah.
Tembakan massif yang terdiri dari campuran kekuatan naga-PoD-cahaya, pecah berhamburan kemana-mana seperti air yang disiramkan pada batu yang keras. Tembakan Issei terbagi-bagi menjadi kecil, meluncur ke berbagai arah, lalu.
DDHUUUUAAAAAAARRRRR!
Semuanya meledak saat aura itu jatuh ke tanah, ledakan mahadahsyat mengurung seluruh wilayah Kota Auros. Langit ungu pun berubah menjadi merah crimson sampai ke ufuk setiap penjuru arah mata angin.
Ketika pandangan di fokuskan pada sosok yang menerima serangan tadi, semua orang terkejut karena sangat mengenal siapa sosok itu. Dia, wanita yang sangat dikenal oleh mereka. Wanita yang kini memperlihatkan iris mata indah namun menjanjikan hal mengerikan pada siapapun yang melihatnya. The True Tenseigan.
"Kau belum saatnya mati, Rizevim!" ucap wanita itu dengan tatapan sinis dan tajam.
"Okke okke, aku mengerti. Terima kasih sudah menyelamatkanku."
Kemudian, sesosok tubuh pria muda bersurai pirang mendarat pelan di samping wanita tadi. "Kheh, yang tadi memang sangat tak terduga. Tapi kau baik-baik saja kan, Hime?"
Wanita bersurai indigo itu mengangguk, "Ha'i. Aku tidak apa-apa."
Si Pria itupun mengalihkan tatapannya, menatap angkuh dengan dagu terangkat pada semua iblis, dari Yondai Maou yang memimpin hingga ribuan pasukan di belakangnya.
"Saaa Minna, apa yang akan kita lakukan setelah ini, ttebayou?"
Fix, semua orang sungguh tidak menduga sedikitpun akan hal ini. Tidak ada yang tidak terkejut. Terlebih bagi mereka yang sangat mengenal dua sosok itu. Rias dan peerage-peeragenya hampir lupa bernafas sakit terkejutnya, iris mata mereka membulat lebar.
Dan yang paling terkejut adalah Tsubaki dan anggota OSIS lainnya. Mereka menutup mulut, bahkan ada yang jatuh terlutut. Mereka sungguh tidak sanggup melihat kenyataan. Mereka tidak percaya kalau orang yang sangat dipercaya, ternyata mengkhianati mereka.
Namun di atas semua itu, Sirzech tersenyum tipis. Keinginannya membongkar identitas dua orang itu, kini telah terwujudkan. Tidak ada yang lebih melegakan dari hari ini baginya.
Mulai saat ini arah cerita tak akan tertebak, kejutan demi kejutan mengantri untuk menunjukkan diri. Siapa yang baik dan siapa yang jahat, bukan lah persoalan. Hanya satu yang akan bertahan sampai akhir, dia lah yang paling kuat tekadnya dan paling keras berusaha mewujudkan tujuannya.
Sungguh, ini akan menjadi titik balik dari semua rangkaian kejadian sejak cerita ini bermula.
.
.
To be Continued...
.
Note :Ahaaa, kali ini tumben-tumbenan aku update malam hari. Sebenarnya mau update selasa sore, tapi ini lah itu lah, mohon dimengerti. Kalau isinya kurang berkenan, maklumi juga. Aku ngerjainnya ngebut.
Untuk chapter ini, sudah jelas sejelas-jelasnya kan? Aku hanya menyoroti bagian akhir sebelum TBC. Emm, itu sungguhan loh, beneran terjadi bukan mimpi. Apakah jalan cerita akan benar-benar berubah arah seperti judul chapter ini?, nantikan aja cerita selanjutnya.
Ulasan Review:
Yang pertama paling ingin kujawab, Sai udah mati. Titik. Jangan ada yang protes, keputusanku tidak bisa diganggu gugat. Dan tuh, di awal chapter ini, kuperjelas berita kematian Sai. Bagi anda yang memfavoritkan Sai, mohon maklumi. Ini sudah disesuaikan dengan kepentingan cerita. Satu lagi, kalau kasihan sama Ino, kalian kawinin aja dia. Ahahahahaaaa.
Untuk yang reviewer guest juga lainnya. Hihiiii, oke tenang aja. Aku abaikan semua flame tak berbobot kok. Lalu kalau ditanya tentang perbandingan kekuatan naru dkk dengan dewa A B atau C atau Trihexa. Jawabannya cukup ikuti cerita ini, nanti juga ada kok. Mana mungkin aku jawab sekarang kan?
Satu atau dua, atau setidaknya ada malaikat atau iblis yang baik. Ehhmm lihat saja nanti. :v
Lalu untuk Tomoe, ya dia make semua pedang dari Tujuh Ninja Pendekar Pedang Legendaris Kirigakure. Tapi itu tempaan baru yang dibuat di DxD Universe yak, kagak asli. Walau begitu kekuatannya tetap sama kok. Dan untuk Ruruko, kok salah semua nebaknya? padahal gampang. Ruruko itu kalau dimirip-miripkan lebih condong ke Super Seiya loh. Kan warna rambutnya berubah menjadi kuning. Hanya saja aku tidak membuat otot-ototnya menggembung, kan tidak cocok untuk cewe? Tapi agar balance, aku make konsep dengan menghilangkan aspek sihirnya.
Oh ya, yang masih bahas Zeus dan Brahma. Semuanya mungkin terjadi, dan lagi dibandingkan dengan Naruto saat melawan Kaguya, Naruto di FF ini jauh lebih kuat, lebih jenius, dan tekniknya juga sangat variatif, ditambah dia master fuinjutsu.
Udah mau habis cerita FF ini, tinggal satu Arc saja lagi. Jadi ga ada lagi cerita-cerita fanservice Naruto dengan chara cewe lain selain Hinata. Ini ceritanya udah serius.
Apophis? Nanti bakal bangkit juga kok. Sekarang belum saatnya.
Sasuke kah? Banyak banget ya yang nanyain aktifitas dia setelah sekali muncul pas naklukkin Yamata no Orochi. Aku cuma bilang, kejutan chara ini aku simpan untuk nanti. Lagipula porsi peranan dia banyak di Arc terakhir nanti bersama orang-orang penting Konoha.
Crom Cruach masih hidup. Yang sudah disegel Gaara itu Grendel, jadi jangan salah ingat lagi ya.
Dari Yu-Gi-Oh. Ehhmmm, Good. :v
Bagaimana kalau Naruto tahu tentang Sai mati? Ya pasti sedih lah. Tapi udah ah, itu ga usah dipikirkan karena Naruto punya misi lebih penting. Lagipula cukup Ino saja, sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan betapa sakitnya kehilangan Sai. Ino adalah istri Sai, jadi dia yang lebih pantas dibanding Naruto mendapatkan scene itu.
Shiva? Dalam waktu dekat ini.
Yang ngasih saran dari Kratos, Kronos, Hercules, sampai Pandawa dan lain-lain. Pokoknya terima kasih, aku pikirkan dulu dan sesuaikan sama kebutuhan jalan cerita.
Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita, sebagian lainnya kubalas lewat PM.
Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.
Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.
.
.
.
.
