Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Selasa, 14 Maret 2017

Happy reading . . . . .

To The End of The World

Writed by Si Hitam

.

Chapter 71. Penghianatan.

-Kota Auros-

Rizevim sudah menutup mata pasrah.

Namun...

Piiinnnn...!

Sosok tubuh lain menerima serangan langsung dari Issei setelah dia mendorong tubuh Rizevim ke samping hingga hampir jatuh ke tanah.

Tembakan massif yang terdiri dari campuran kekuatan naga-PoD-cahaya, pecah berhamburan kemana-mana seperti air yang disiramkan pada batu yang keras. Tembakan Issei terbagi-bagi menjadi kecil, meluncur ke berbagai arah, lalu.

DDHUUUUAAAAAAARRRRR!

Semuanya meledak saat aura itu jatuh ke tanah, ledakan besar mengurung seluruh wilayah Kota Auros. Langit ungu pun berubah menjadi merah crimson sampai ke ufuk setiap penjuru arah mata angin.

Ketika pandangan difokuskan pada sosok yang menerima serangan tadi, semua orang terkejut karena sangat mengenal siapa sosok itu. Dia, wanita yang sangat dikenal oleh mereka. Wanita yang kini memperlihatkan iris mata indah namun menjanjikan hal mengerikan pada siapapun yang melihatnya, The True Tenseigan.

"Kau belum saatnya mati, Rizevim!" ucap wanita itu dengan tatapan sinis dan tajam.

"Okke okke, aku mengerti. Terima kasih sudah menyelamatkanku."

Kemudian, sesosok tubuh pria muda bersurai pirang mendarat pelan di samping wanita tadi. "Yang tadi memang sangat tak terduga. Tapi kau baik-baik saja kan, Hime?"

Wanita bersurai indigo itu mengangguk, "Ha'i. Aku tidak apa-apa."

Si Pria itu pun mengalihkan tatapannya, menatap angkuh dengan dagu terangkat pada semua iblis, dari Yondai Maou yang memimpin hingga ribuan pasukan di belakangnya.

"Saaa Minna, apa yang akan kita lakukan setelah ini, ttebayou?"

Fix, semua orang sungguh tidak menduga sedikitpun akan hal ini. Tidak ada yang tidak terkejut. Terlebih bagi mereka yang sangat mengenal dua sosok itu. Rias dan peerage-peeragenya hampir lupa bernafas saking terkejutnya, iris mata mereka membulat lebar.

Dan yang paling terkejut adalah Tsubaki dan anggota OSIS lainnya. Mereka menutup mulut, bahkan ada yang jatuh terlutut. Mereka sungguh tidak sanggup melihat kenyataan. Mereka tidak percaya kalau orang yang sangat dipercaya, ternyata telah mengkhianati mereka.

Namun di atas semua itu, Sirzech tersenyum tipis. Keinginannya membongkar identitas dua orang itu, kini telah terwujudkan. Tidak ada yang lebih melegakan dari hari ini baginya.

"Tak kusangka, kalian berdua berani menunjukkan jati diri terang-terangan begini di depan kami semua."

"Ini kan yang kau mau sejal lama kan, Sirzech-sama?" Naruto membalas ucapan Sirzech tanpa rasa takut.

"Ya. Walaupun kehilangan Agreas, tapi aku cukup puas dengan hal ini. Setidaknya kehilangan kami sedikit terbayarkan."

"Lalu?"

"Sudah jelas sekarang, setelah semua yang terjadi hari ini, kau adalah musuh. Konoha pun, tempat asal kalian, adalah musuh Aliansi karena keterlibatan kalian dengan Khaos Brigade yang notabene musuh semua golongan."

Kalimat yang baru saja Sirzech ucapkan, terdengar seperti sugesti yang mencuci otak semua kaum iblis di sana. Memang, Naruto dan Hinata tidak terlalu terkenal sebagai peerage cadangan Sona Sitri, tetapi beberapa orang penting menaruh atensi besar semenjak insiden saat pesta pembukaan Rating Game. Mereka mengenal Naruto dan Hinata sebagai budak yang loyal pada tuannya.

Akan tetapi kenyataan yang terjadi sekarang, apalagi ditambah pernyataan Sirzech yang tak terbantahkan, membuat semua orang meyakini kalau dua orang itu adalah musuh yang harus dihabisi. Sungguh, insiden barusan telah menjungkir balikkan pemikiran ribuan orang dalam sekejap.

Semua orang tampaknya sepakat akan hal itu.

Ini lah kebenaran yang diinginkan oleh Sirzech. Meski dia tahu Konoha sudah mulai mengumpulkan sekutu dan melakukan penguatan militer, tetapi sampai sekarang dia sebagai salah satu petinggi Aliansi tidak bisa menyerang Konoha karena belum ada alasan, bahkan Konoha masih saja pasif tanpa melakukan konfrontasi dengan pihak manapun. Namun dengan terbongkarnya identitas Naruto dan Hinata sebagai penyusup dari Konoha, maka Sirzech mempunyai alasan kuat untuk mengumumkan perang dengan pendatang dari dunia lain itu.

Sederhananya, kalau api peperangan belum menyala maka harus ada orang yang dengan sengaja menyulut apinya.

Sirzech pun selesai dengan sukses, tak perlu bicara panjang lebar karena insiden yang terpampang jelas di depan mata sudah lebih dari cukup untuk membuka mata semua orang.

Namun masih ada beberapa orang yang belum bisa berkompromi dengan pikirannya sendiri.

Selain keterkejutan luar biasa yang dialami oleh semua anggota kelompok Sona Sitri, masih ada bergunung-gunung perasaan lain yang berkecamuk dan tak terdeskripsikan. Otak dan pikiran mereka tidak bisa memungkiri pengkhianatan yang dilakukan Naruto dan Hinata.

Ya, yang tadi benar-benar sebuah pengkhianatan. Rizevim adalah musuh besar, lalu Naruto dan Hinata membantu orang itu seolah sudah berteman lama dan sangat dekat. Bahkan Naruto menunjukkan dengan jelas wajah lain yang dia miliki, wajah seorang penjahat yang tak memiliki penyesalan sedikitpun meski telah melakukan pengkhianatan besar.

Meski otak tak bisa memungkiri, tapi hati mereka masih tidak bisa menerima kenyataan ini. Kenangan tentang kebersamaan sebagai satu tim, yang meskipun singkat, tetapi sangat membekas. Naruto maupun Hinata memang tidak banyak meninggalkan kenangan, tetapi setiap momen kebersamaan yang mereka alami terpatri kuat dalam memori masing-masing. Tentu saja itu karena kepribadian hangat Naruto yang tak mungkin ditemukan pada orang lain serta Hinata yang begitu lembut pada siapa saja tanpa pilih kasih. Mereka berdua seperti lebih baik dan terhormat dibanding malaikat asli.

Tapi sekarang?

Sekarang apa?

Kenyataan yang menghantam sampai tak memberikan ruang sedikipun bagi setiap anggota OSIS hanya untuk mengucapkan satu patah kata.

Tsubaki, yang wajahnya kelihatan paling terkejut, sampai kesusahan berdiri karena kaki gemetar.

"N-naruto-san, i... i-ini tidak nyata kan?" iris mata Tsubaki melebar dengan tatapan kosong. "K-katakan padaku kalau ini tidak nyata! Katakannnn!"

Kata-kata yang keluar dari mulut Tsubaki dan ekspresinya, menunjukkan seberapa besar kepercayaannya untuk Naruto dan Hinata yang kini dikhianati.

"Hhhhh." Naruto mendesah. "Ini nyata. Terima lah."

"Ta-tapi... Tapi bagaimana dengan rencana besar kita?"

Hinata menggeleng dan menjawab. "Tujuan rencana itu jauh lebih mudah dicapai jika kami bekerjasama dengan Rizevim dibanding bersamamu."

Tsubaki terhenyak, ia sadar betul bahwa apa yang dikatakan Hinata benar adanya. Membangkitkan makhluk itu, jauh lebih simpel jika ikut Rizevim ketimbang menjalankan rencana panjang yang telah mereka susun.

"Tidak mungkin! Kalian?" Tsubaki mengepalkan tangan.

"Tsubaki!"

Suara tegas itu keluar dari mulut Falbium. Akibatnya, semua orang menatap ke arah Tsubaki, bahkan anggota OSIS lainnya. Mereka menuntut jawaban dari Tsubaki akan apa maksud pertanyaannya tadi.

Sebuah rencana besar?

Itulah kata yang terlontar dari mulut Si Wakil Ketua OSIS

Tiga kata itu saja, sudah membuktikan bahwa Tsubaki mengetahui apa yang tidak ketahui orang lain. Menurut pemikiran mereka, Tsubaki mungkin mengetahui sejak awal siapa Naruto dan Hinata sebenarnya sebelum akhirnya dikhianati, bahkan mungkin memiliki sebuah tujuan tertentu dengan kesepakatan antara mereka.

Ditatap semua orang, apalagi tatapan tajam dari para Maou membuat Tsubaki kehilangan kata-kata. Dirinya memang terkejut karena insiden ini, tapi dia tidak bermaksud membongkar semuanya sekarang.

"Tsubaki!"

Kali ini Sirzech yang bersuara.

"Aaaa-..."

"Katakan semua yang kau tahu!"

"..."

"Katakanlah." nada bicara Sirzech melembut. Ia tidak ingin membuat Tsubaki tertekan sehingga mau mengakui semuanya.

"..."

Namun Tsubaki masih enggan bersuara.

Rencana besar itu, rencana mereka, harus tetap dijalankan sebagaimana mestinya. Yah, Tsubaki memang sudah dikhianati tetapi dalam hatinya dia masih mempercayai kalau bencana akhir jaman itu benar-benar akan terjadi.

Dengan ataupun tanpa adanya Tim 7 orang, rencana itu harus tetap diselesaikan, apapun caranya. Karena kesuksesan misi itu adalah untuk semua orang, tanpa terkecuali.

"Apa lagi yang kau pikirkan, Tsubaki?"

Sirzech kembali bersuara dengan nada yang jauh lebih lembut, dia menunjukkan sosoknya sebagai pemimpin yang melindungi.

Tsubaki menggelang. Dadanya turun setelah menghela nafas.

"Kau lihat sendiri kan? Mereka berdua mengkhianatimu, untuk apa kau melindungi mereka?" Sirzech coba membujuk.

Namun Tsubaki tetap pada pendiriannnya.

"Maaf, Lucifer-sama."

Ajuka nampak berang, tidak tahan lagi dengan situasi ini. Dengan tegas dia berkata, "Baiklah, setelah ini selesai kau akan diinterogasi, anak muda. Kalau perlu sekalian dengan mengorek ingatanmu."

"Itu tidak akan kubiarkan."

Hinata dari sisi yang berseberangan menyahut ucapan Ajuka. Akibatnya semua orang menatap dirinya dengan pandangan siaga. Mereka berpikir, apa Hinata akan menyandera Tsubaki sebagai tahanannya?

Setiap anggota OSIS masih belum bereaksi apa-apa karena masih tenggelam dalam penolakan akan kenyataan. Namun beberapa petinggi sudah menunjukkan niat bertarung, bahkan Sairaorg telah melepaskan touki putih dalam jumlah besar disekitar tubuhnya. Sekali perintah dikatakan, maka Sairaorg akan langsung mengeksekusinya.

"Memangnya kau bisa apa huh?"

Azazel berkata sinis. Posisi kedua kubu ini mungkin sama kuat, Rizevim-Ophis-Tiga Naga Jahat terkuat-Naruto-Hinata Vs Empat Maou-Azazel-puluhan Tim Evil Piece profesional-ribuan prajurit iblis, tapi kalau pertarungan besar-besaran hanya untuk memperebutkan Tsubaki, Azazel meragukannya.

Memangnya seberarti apa informasi yang Tsubaki ketahui sampai harus diperebutkan dengan peperangan yang mampu melenyapkan sebagian wilayah Underworld?

Hinata menjawab bersama seringaian keji, "Aku bisa melakukan ini."

Tangan kiri Hinata terangkat, lalu sebuah segel satu tangan yang sederhana mulai dibentuk.

Serafall sangat ingat apa itu, "Itu! Hyuga no Juinjutsu. A-apa maumu hah!?"

"Kau pasti tahu kan, Leviathan-sama?"

Hinata pun melakukan perintah pengaktifan tanda segel kutukan, "Metsu!"

"Arrkh... Arrgghh, AAAAAAAAARRRKKHHHHH!"

Tsubaki menjerit kencang sekeras-kerasnya. Kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri sambil tetap mengerang nyaring dengan mata melotot hampir keluar. Kacamatanya terlempat ke tanah.

Siapapun tahu dengan hanya melihatnya saja, Tsubaki mungkin sedang meregang nyawa dengan rasa sakit yang luar biasa. Rasa sakit sepuluh kali lebih hebat dari yang dirasakan oleh wanita yang sedang melahirkan.

Setelah hampir satu menit meraung-raung kesakitan, Tsubaki pun ambruk jatuh ke tanah lalu pingsan.

Hinata tersenyum tanpa dosa, "Hyuga no Juinjutsu, aku menanamkan segel ghaib kutukan di dalam otak Tsubaki. Selain untuk menyiksa dan membuatnya patuh terhadapku, segel ini juga telah kumodifikasi sehingga mampu mengunci ingatan seseorang yang tak akan bisa dibuka oleh siapapun dan dengan cara apapun, kecuali aku. Jika kalian memaksa membukanya, tidak ada jaminan Tsubaki selamat. Lebih buruk, mungkin akan kehilangan memori permanen atau bahkan mati."

"Kurang ajar!"

Ajuka marah besar. Kesampingkan pertarungannya dengan Hinata tempo hari, nyatanya menurut Maou Beelzebub itu, entitas Uzumaki Hinata benar-benar membuatnya sulit, sangat merepotkan.

Kesempatan untuk mengetahui informasi rahasia dari Naruto dan Hinata, bahkan mungkin tentang Rizevim yang bersekutu dengan mereka telah hilang.

Ah, tidak.

Belum benar-benar hilang.

Ada satu sosok lagi yang mungkin memegang kunci dari semua kejadian ini.

Sona Sitri.

Berbeda dengan seluruh anggota OSIS yang terkejut, pun dengan kelompok Rias, Sona Sitri malah berdiri tanpa ekspresi apapun. Dia tidak terkejut sama sekali, bahkan cenderung bersikap tenang, seperti sedang menganalisis semua kemungkinan yang ada di depan matanya.

Raut muka dan gestur tubuh Sona tak terdefinisi. Entah keputusan apa yang akan ia ambil setelah ini, tidak ada orang lain yang bisa memperkirakannya.

Semua orang, terutama para petinggi dan teman terdekat kompak menatap ke arah Sona, seakan meminta petunjuk untuk menentukan langkah selanjutnya.

Hening sesaat sampai akhirnya Sona buka suara.

"Hhhhhh," ternyata Sona menghela nafas terlebih dahulu. "Ada beberapa kemungkinan yang kupikirkan. Tapi aku tidak dalam posisi untuk memutuskan."

Rias, Serafall, dan semua iblis disana kebingungan. Tak tahu apa maksud Sona.

Apa mungkin Sona akan mengkhianati rasnya sendiri?

Tapi itu terdengar tidak mungkin mengingat bagaimana integritas Sona kepada ras iblis dan dedikasinya untuk iblis-iblis kalangan bawah, serta impiannya membangun sekolah Rating Game.

"Baiklah." Hinata merespon pernyataan Sona. "Kalau begitu, biarkan aku yang mengambil keputusan."

Sona mengangguk sekali.

Dalam benaknya, sang pewaris tahta Keluarga Sitri itu sudah menyadari bahwa insiden ini telah jauh keluar jalur dari rencana awal yang disusun. Tidak ada acara menunjukkan jati diri sampai Trihexa yang menjadi tujuan mereka muncul saat perang nanti. Entah bagaimana menyebutnya, dikhianati atau dibuang, keduanya sama-sama terdengar buruk untuk Sona.

Nyatanya, dirinya bukan apa-apa jika dibandingkan Rizevim untuk misi besar ini. Memang Sona lah yang berperan besar dalam menyusun rencana, tetapi jika ada rencana lain dengan peluang keberhasilan lebih tinggi, kenapa tidak? Ada atau tidak adanya Sona, bukan suatu masalah.

Kembali ke awal ketika rencana disusun, yang sebenarnya adalah Sona sendiri yang meminta dirinya dilibatkan dalam misi berat Naruto dan Hinata.

Waktu itu, Naruto tidak memaksa siapapun membantunya. Akan tetapi karena tujuan dari misi ini untuk semua orang, termasuk demi impian Sona di masa depan juga, maka dengan tulus gadis berkacamata itu ikut dalam misi, bahkan dengan sedikit memaksa.

Kesimpulannya, untuk saat ini Sona akan membiarkan Naruto dan Hinata melakukan apapun sesukanya.

Dirinya dibuang? Dikhianati? Dicampakkan? Kerja kerasnya selama ini tak dihargai?

No problem.

Sona berpikir asal misi Naruto dan Hinata sukses dan keruntuhan Cardinal System bisa dihindarkan, itu sudah lebih dari cukup.

Pertanyaan terakhir, apakah sepak terjang Sona akan berhenti sampai disini saja? Apa jalannya sudah berakhir?

Dan sekali lagi, Hinata lah yang menjawabnya.

"Kurasa kita sepemikiran, Sona-san. Kau cukup sampai di sini."

"Ummu." Sona mengangguk santai.

Naruto menyela, "Aku ingin minta maaf sebelumnya, Sona-san. Tapi hal ini harus tetap dilakukan."

"Aku mengerti."

"Terima kasih atas semua yang telah kau berikan pada kami."

"Sama-sama. Semoga sukses dengan tujuan kalian, Naruto-san, Hinata-san."

Sona tersenyum simpul. Tampak seperti pundaknya menjadi ringan seolah dia telah melepas semua beban berat yang ia tanggung.

Tik tik tik tik tik.

Tapi?

Tapi, apa-apaan itu? Heeii! Ini bukan perpisahan mengharukan, iya kan? Ini pengkhianatan.

Baru saja Naruto dan Hinata membelot bersama kelompok teroris, mengkhianati orang-orang terdekat yang sudah sangat mempercayainya.

Tapi... itu?

Sona bertindak seperti ia telah selesai dengan pekerjaannya, menerima dengan tulus ikhlas kalau peranannya dalam cerita ini telah habis.

Lagi, Hinata mengangkat tangan kirinya. Berniat melakukan sesuatu seperti tadi.

"Hentikan! Apa maumu hah?" Serafall berteriak.

Hinata seolah tak mendengarnya, segel khusus sebentar lagi akan ia aktifkan.

"Berhentiiiiiiii!" Maou Leviathan nampak murka, wajahnya berang penuh amarah. "Berani kau menyakiti adikku, kau kubunuh!"

"Apa kau lupa, Leviathan-sama? Kau tidak bisa membunuhku, yang ada kau lah yang hampir dua kali kubunuh. Seandainya aku tidak berbaik hati, di dunia ini kau pasti hanya tinggal nama."

Serafall mengepalkan kedua genggaman tangannya erat, hingga buku-buku jari memutih. Bahkan kuku lancipnya, telah menggores telapak tangan hingga mengucurkan darah. Apa yang dikatakan Hinata, tidak diragukan lagi kebenarannya.

Setelah segel diaktifkan, Sona mengerang kesakitan lalu jatuh pingsan, persis di samping Tsubaki.

Menjatuhkan dua orang yang menghalangi adalah perkara mudah bagi Hinata, tanpa perlu ia mengayunkan lengan, apalagi meneteskan sebulir keringat.

Serafall menunduk dalam. Adiknya terbaring tak berdaya dan ia tak bisa melakukan apapun. Ia mengangkat kepala adiknya yang pingsan dan memangkunya di pahanya.

Mau menangis, tapi itu tak akan merubah apapun. Ia bukanlah anak-anak yang bisa sesukanya meluapkan emosi.

"Serafall!"

Seruan Azazel menarik kembali Maou perempuan itu ke kenyataan.

"Aku akui aku sudah mengetahuinya cukup lama. Maaf karena aku merahasiakannya dari kalian."

Tak perlu berpikir keras, semua orang akan langsung tahu alasan Serafall. Dia pasti diancam oleh Hinata akan berbuat buruk pada Sona jika tidak menutup mulut rapat-rapat.

Tapi sekarang semua itu tak ada gunanya lagi. Semuanya telah terjadi dan tak ada yang perlu Serafall sembunyikan lagi.

Masih dengan menunduk demi menatap wajah sang adik, Serafall mengatakan apa yang ia ketahui. "Tidak banyak informasi yang kutahu sejak aku dipaksa tutup mulut selama dia menyusup di antara kita. Tapi ada satu yang bisa kupastikan, Sona pernah membahas tentang Trihexa jauh sebelum Rizevim muncul. Kupikir itu ada kaitannya dengan mereka berdua. Dan setelah melihat apa yang terjadi sekarang, aku yakin mereka bekerjasama dengan Rizevim demi membangkitkan Trihexa."

Sirzech mengalihkan matanya dari Serafall ke kubu lawan yang terdiri dari enam makhluk. "Jadi kalian sudah merencanakan ini sejak awal. Pantas kalau Agreas dengan mudah dicuri kalau ada penyusup dan pengkhianat diantara kami."

Falbium menyambung, "Penyusupnya sudah jelas, tinggal identitas siapa orang yang berkhianat."

"Itu bisa kita urus nanti." sahut Azazel.

Prok prok prok prok

"Hoorrraaaaaa... Sudah selesai dengan drama tak bermutu ini?" Rizevim yang cukup lama tak dipedulikan, tiba-tiba berteriak mencari perhatian sambil bertepuk tangan. "Berkhianat dan dikhianati adalah hal biasa. Tak ada orang yang sepenuhnya jujur di dunia ini. Ayolaaaaaahh, lebih baik kita bersenang-senang. Uhyohyohyohyohyohyooo!"

"..."

Tak ditanggapi, Rizevim melanjutkan ucapannya. "Yah, kalau kalian tidak mau yaa tidak apa-apa sih. Tapi biarkan kami pergi, hihiiii."

"TIDAK AKAN!"

Issei berteriak keras. Ekspresinya penuh dengan amarah. Sungguh, melihat wajah Rizevim saja sudah membuatnya muak dan sekarang rentetan kejadian di depan matanya ini, benar-benar meniup bara amarah dan kebencian di hatinya.

Hal yang sama juga berlaku pada semua anggota klub penelitian ilmu ghaib.

Apa ada yang bisa membuat mereka lebih marah selain dari ini?

Tentu tidak ada.

Rizevim adalah sosok yang sangat mereka benci semenjak insiden di Rumania. Melihat tingkahnya saja sudah membuat muak, apalagi perbuatannya yang tanpa rasa bersalah mengambil Holy Grail dari tubuh Valerie sebagai orang paling berharga bagi salah satu dari mereka, Gasper Vladi. Seenaknya menghidupkan makhluk yang seharusnya sudah mati untuk melakukan pengrusakan. Membunuh orang-orang tak bersalah. Dan terakhir, berniat membangkitkan Trihexa hanya untuk bersenang-senang. Trihexa bukan makhluk biasa, keberadaannya hanya akan membawa bencana.

Rizevim saja, sudah benar-benar bencana.

Dan sekarang?

Sekarang!

Naruto dan Hinata yang sudah mereka percayai, kagumi, dan sosok yang dijadikan panutan, ternyata adalah pengkhianat, pembohong besar, penipu ulung. Dua manusia keji yang dengan tanpa perasaan membohongi semua orang, menarik kepercayaan orang-orang didekatnya dan dibawa naik sampai ke langit hanya untuk dihempaskan kembali ke bumi.

Itu... Itu sangat menyakitkan.

Siapa yang bisa membayangkan?

Ada seorang anak kecil yang baru saja ditinggal mati oleh ibu kandung yang sangat ia cintai. Beberapa lama kemudian, ayahnya membawakan ibu baru ke rumah. Ibu tirinya itu selalu berlaku baik padanya. Menyayanginya, mencintainya sepenuh hati, dan membesarkannya dengan penuh kasih. Akhirnya sang anak mampu mengikhlaskan kepergian ibu kandungnya, dan ia pun sekarang sangat sayang dan percaya pada sang ibu tiri.

Lalu saat dewasa, anak itu mengetahui fakta bahwa ibu tiri itulah yang membunuh ibu kandungnya sendiri.

Bagaimana perasaan anak itu? Apa ada yang lebih menyakitkan darinya? Sebuah pengkhianatan terencana, kebohongan yang sangat besar.

Nah, mungkin apa yang dirasakan Rias dan peeragenya sekarang lebih sakit dari itu.

Memang, Naruto maupun Hinata bukan siapa-siapa. Tapi selama waktu yang tidak terlalu lama itulah, suami istri itu membolak-balikkan hati mereka.

Pertama, Naruto dan Hinata bagai sosok misterius. Pendatang baru di antara mereka yang tidak diketahui asal rimbanya.

Lalu setelah semakin dekat, ternyata menjadi teman yang sangat cepat akrab. Naruto begitu hangat dan ceria pada semua orang, supel, dan suka menolong. Sedangkan Hinata sangat ramah dan lembut tutur kata dan perilakunya pada siapa saja.

Saat Issei berbuat salah, ternyata Naruto bisa sangat mengerikan kalau dibuat marah.

Tapi ternyata di balik itu semua, Naruto hanya menunjukkan sikap tegasnya.

Naruto dan Hinata tipe orang pemaaf, tidak mau memperpanjang masalah.

Selama bertarung bersama, Naruto menunjukkan kharismanya sebagai pemimpin yang melindungi orang-orang berharga baginya.

Namun nyatanya, itu semua hanyalah topeng.

Topeng yang menutupi kebohongan besar.

Naruto dan Hinata berkhianat tanpa sedikitpun memikirkan perasaan mereka.

Pengkhianatan yang mungkin terencana sejak awal. Terlebih lagi, dua orang itu berkhianat dari mereka demi bekerja sama dengan Rizevim, sosok yang amat sangat mereka benci.

Mereka lalu melihat kenyataan bahwa ternyata Tsubaki dan Sona terlibat jauh dengan Naruto dan Hinata.

Tapi apa?

Tsubaki ditumbangkan secara keji tanpa belas kasih.

Dan Sona dibuang begitu saja bak butiran debu yang tak ada harganya.

Ibarat peribahasa, habis manis sepah dibuang.

Tentu saja, hal itu membuat Rias amat sangat murka. Baginya, Sona adalah sahabat terbaik yang ia miliki. Dan ia tak akan memberikan ampun pada orang yang telah menyakiti sahabatnya itu.

Tak akan pernah.

Tak akan diampuni.

Tapi itu belum semua. Masih ada satu hal lagi.

Tadi Sirzech mengatakan bahwa Naruto dan Hinata berasal dari Konoha. Dan tidak disangkal oleh tertuduh.

Konoha.

Konoha adalah sekumpulan manusia jahat yang memulai permusuhan dengan mereka, khususnya kelompok Rias. Konoha lah yang pertama kali mencari masalah dengan menyakiti teman-temannya.

Saat kemunculan eksistensi Konoha pada pertemuan Tiga Fraksi di Kuoh, Gaara membuat Rias, Akeno, Kiba, dan Xenovia meregang nyawa dan hampir mati walau pada akhirnya masih bernafas hidup tapi dengan tulang kaki remuk. Perlu seminggu lebih untuk keempatnya memulihkan diri. Belum cukup disitu, Gaara berbuat curang dan mempermainkan mereka saat misi penyelamatan Valerie di kastil Vampir Tepes. Menawarkan kerja sama namun nyatanya ada rencana busuk terselubung di balik itu. Gaara merampas Holy Grail, Sacred Gear Longinus yang menjadi intisari kehidupan Valerie. Sebelum Holy Grail itu dikembalikan, Valerie tidak akan pernah sadar dari komanya.

Kemudian, kenyataan yang jauh lebih pahit menampar keras wajah mereka. Usaha keras mereka menolong Valerie dan mengusir Rizevim dari Rumania dibayar dengan drama penuh tipu muslihat dan kemunafikan. Sebuah konspirasi politik kotor antara Konoha dan Bangsa Vampire Rumania.

Sungguh, kombinasi Konoha, Rizevim, dengan Pengkhianatan Naruto dan Hinata. Semua ini terlalu kejam untuk iblis-iblis muda seperti mereka.

Semua itu lebih dari cukup bagi Rias, Issei, dan yang lainnya untuk menyimpan kebencian paling dalam dan dendam kesumat pada orang-orang itu. Alasan yang membuat mereka merasa berhak untuk membunuh mereka semua.

Itulah yang memenuhi seluruh relung otak setiap anggota klub penelitian ilmu ghaib saat ini.

Tidak ada yang lain. Yang ada hanyalah..., 'mereka yang munafik dan berkhinat harus dibunuh'.

"Kalian tidak akan kubiarkan pergi dari sini setelah apa yang kalian perbuat. Tak ada ampun untuk kalian!"

Rias berujar, dan apa yang dia katakan mewakili amarah dari setiap peeragenya.

"Memangnya kalian bisa apa huh?" Rizevim tersenyum mengejek. "Coba lihat diri kalian! Tidakkah kalian menyadari kelemahan diri sendiri?"

"DIIIAAAAMMMM!"

Rias berteriak, nafasnya terengah-engah hingga dadanya naik turun.

Sirzech dan Azazel mengerti sedalam apa kebencian yang tertumpuk di dalam hati kelompok Sekiryutei itu. Meski begitu, mereka tersenyum senang dalam hati. Ini adalah apa yang mereka inginkan, karena sudah mereka berdua rencanakan sejak awal. Tim Rias adalah boneka sekaligus mata tombak dalam semua permainan yang mereka jalankan. Hanya tekad dan ambisi Sekiryutei lah yang mampu menarik atensi seluruh ras iblis kepadanya, yang mungkin bahkan melebihi wibawa Maou itu sendiri.

Anggap saja Sekiryutei adalah maskot yang berperan penting sebagai penyangga mental dan pembakar semangaj juang seluruh pasukan Aliansi Injil. Keberadaannya sangat penting dalam perang yang akan datang tidak lama lagi. Apalagi potensi Sekiryutei sangat luar biasa dan masih bisa berkembang jauh lebih kuat dari saat ini.

Semua yang terjadi hari ini sudah cukup untuk memanipulasi pikiran para iblis muda itu. Tinggal menunggu hasilnya saja.

Walau sebesar apapun amarah dan keinginan Rias dan lainnya, tapi sekarang bukan waktunya. Belum saatnya. Kekuatan kelompok itu belum cukup, terlalu berharga untuk digunakan sekarang.

"Tenanglah, Rias." ucap Sirzech pada adiknya. "Ini adalah urusan orang dewasa, biarkan aku yang mengurusnya."

"Tidak!"

"Rias, dengarkan kakakmu."

"Tapi..., Onii-sama. Aku... Aku tidak tahan lagi. Mereka semua tidak bisa dibiarkan!"

"Kau harus bisa menahan diri."

"Ta..."

Kalimat Rias dipotong oleh suara laki-laki dari kubu seberang.

"Heeiiii, mau mencoba sesuatu, ttebayou?" Naruto Uzumaki, si pengkhianat berjalan santai ke depan. Lalu berhenti setelah sepuluh langkah. Nampak kalau laki-laki bersurai pirang murah senyum itu ingin menantang seluruh kaum iblis sendirian.

Rizevim yang memandang punggung Naruto mengernyit heran, "Hoooi bocah, apa yang kau mau?"

"Kau ingin cepat pulang kan, Pak Tua? Tunggu saja disitu sebentar, biarkan aku yang mengurusnya." jawab Naruto tanpa menoleh.

"Haaaiyaah, terserahmu saja lah. Kalau bisa jangan pakai lama." ucap Rizevim sembari mengibas-ngibaskan tangan.

"Okke okeee." Naruto lalu menoleh sedikit pada istrinya, "Hime, tolong bersabar sebentar ya. Ada anak-anak yang harus kuberi pelajaran."

"Ha'i, Anata,"

Mungkin benar apa yang ada di pikiran Naruto. Ada anak-anak yang harus diajari sesuatu agar mengerti. Seluas-luasnya pengetahuan mereka, kenyataan di dunia jauh lebih luas lagi.

Kretak kretak...

Naruto melemaskan jari-jemarinya,

"Kuramaaaaa, kau tidak tidur kan?"

"Gh, baka gaki! Semaumu saja lah"

Wuuusssshhhh!

lalu mengaktifkan mode bertarung, Senjutsu Bijuu Mode. Seluruh tubuhnya bersinar dan dipenuhi aura jingga. Ada jubah chakra yang melambai-lambai di belakangnya dengan ornamen garis-garis hitam. Kelopak matanya berwarna merah dengan iris mata membentuk pola (+).

Aura kekuatan yang dilepaskannya tidak main-main besarnya. Namun terasa tenang, tidak menekan maupun mengintimidasi orang disekitarnya malah membawa ketenangan dan perlindungan seakan ia adalah orang baik yang bersih dari dosa, padahal ia orang munafik yang baru saja berkhianat.

Benar-benar.

Kelakuan Naruto benar-benar tak bisa ditolerir oleh Rias dan peeragenya.

Setelah berkhianat, sekarang malah dengan sombongnya menantang bertarung.

Sirzech menutup mata sambil geleng-geleng. Ia masih memikirkan kondisi adiknya, tapi ia tahu seberapa keras kepala adiknya itu. Kalau sudah begini, ia tidak mungkin menghalangi Rias lagi, jadi ia pasrah saja.

"Kauuu! Benar-benar menjijikkan!" Rias memandang Naruto penuh amarah. Tak ada hal lain selain keinginan melampiaskan amarahnya.

Rias mungkin sadar ada perbedaan jauh antara dirinya dan kelompoknya dengan Uzumaki Naruto. Tapi sejauh apapun perbedaan itu, sama sekali tak terlihat karena hatinya telah dibutakan oleh amarah, dendam, dan kebencian.

Bagi Rias, sosok Naruto, serta Hinata dan Rizevim, adalah sosok yang sungguh-sungguh ingin ia lenyapkan dengan tangannya sendiri. Kalau perlu Gaara dan seluruh orang Konoha juga sekalian.

Shhiiinggg!

Xenovia dan Kiba menghunuskan pedang terkuat masing-masing. Ex-Durandal dan Pedang Suci Iblis.

Menoleh pada Raja mereka seperti minta ijin yang langsung dijawab anggukan oleh Rias.

Swiiiffft!

Kiba dan Xenovia meluncur dengan kecepatan tinggi. Kiba di sebelah kiri sedangkan Xenovia di sebelah kanan. Menyerang dari depan dengan tebasan pedang horisontal ke arah perut Naruto.

Naruto tampak berdiam diri, tak menghindar atau melakukan manuver apapun meski ia diserang oleh dua bidak knight terbaik sekaligus. Salah satunya bahkan bergerak dengan kecepatan dewa. Naruto menyeringai tipis manakala moment singkat sesaat sebelum tebasan pedang mengenainya.

Buummpp!

"Ha!?"

Xenovia shock. Ex-Durandal yang ia tebaskan seraya melepaskan aura suci dalam jumlah besar ditahan hanya dengan jari telunjuk oleh Narut0.

Bagaimana mungkin?

Di sebelah kiri, Pedang Suci Iblis juga ditahan dengan satu jari.

Naruto yang tak mundur dari posisinya, tersenyum arogan memandang remeh ke bawah pada kedua budak Rias yang memasang kuda-kuda lebih rendah dari tubuhnya.

"Kalian berdua penuh dengan kekurangan! Terlalu bergantung pada pedang saja, tak akan pernah bisa menggoresku. Hanya karena di tangan kalian ada pedang suci hebat dan legendaris, tak serta merta membuat kalian kuat. Kekuatan sebuah senjata, hanya akan muncul secara nyata saat penggunanya benar-benar kuat baik tekad, keinginan, maupun fisiknya."

"Hentikan omong kosongmu!"

"Kau orang tidak tahu diri!"

Kiba dan Xenovia yang meledak karena amarah, mengeluarkan umpatannya.

"Kalian yang tidak tahu diri!"

Naruto menjepit bilah pedang yang tertahan di jari telunjuk menggunakan ibu jarinya. Dan...

Krakk kraakk.

Pyyaaarrrr.

Kedua pedang itu patah di saat bersamaan.

Kiba dan Xenovia menganga saking terkejutnya.

Momen itu dimanfaatkan Naruto membuat dua lengan chakra dari bahunya lalu menggencet kedua iblis itu ke tanah.

Dhuuuaaarr...!

Baru beberapa saat kemudian, lengan chakra berwarna jingga dari bahu Naruto mengangkat tubuh Xenovia dan Kiba yang tak sadarkan diri dengan menjepit kepalanya saja, seolah memegang bungkus permen.

"Nih, Rias. Kukembalikan budakmu."

Buurrgghh.

Tubuh Kiba dan Xenovia mendarat persis di depan ujung kaki Rias. Membuat amarah Rias makin memuncak.

Asia langsung memberikan pertolongan dengan sihir penyembuh.

Lalu dari arah atas.

Koneko menukik dengan tangan terkepal.

grep.

Naruto menangkap tinju Koneko yang menyasar kepalanya menggunakan tangan kiri tanpa melihat sedikitpun.

"Serangan yang bagus, Koneko-chan! Tapi kau tahu sendiri kan, aku bisa merasakan arah datangnya bahaya tanpa perlu melihat?"

Koneko menjatuhkan diri tidak jauh di depan Naruto, lalu menolakkan kakinya untuk menyerang dari depan dengan tinju yang lebih kuat dari sebelumnya.

Grepp...

"Tinjumu sudah lebih kuat dari saat ini, tapi masih belum cukup tahu."

"Bagaimana kalau kutambahkan dengan ini?"

Koneko melepaskan touki dalam bentuk api putih. Itu api putih pemurnian, yang akan memurnikan setiap eksistensi jahat tak peduli sekuat apapun itu.

Namun...

"Kenapa? Terkejut eh?"

"Tidak mungkin!" Koneko menganga.

"Yah, aku tahu apimu ini bisa memurnikan musuhmu. Tapi dalam mode ini, aku sama sekali tidak merasakan adanya bahaya dari apimu, api yang memurnikan ini sama sekali tidak mempan padaku. Kau tahu apa artinya, Koneko-chan?"

"Apa?"

"Artinya aku bukan eksistensi jahat. Sesederhana itulah jawabannya."

Semua iblis yang mendengarnya benar-benar dibuat tak habis pikir. Musuh macam apa Naruto itu?

Pembohong, pengkhianat, melukai orang lain tanpa rasa bersalah. Dia munafik.

Tapi nyatanya, dalam diri Naruto tidak ada niat jahat sama sekali.

Apakah mungkin ada manusia yang telah mencapai tingkat spiritual tertinggi sehingga mampu mengendalikan hatinya agar selalu bersih? Yang mana hal ini sangat sulit dilakukan walaupun oleh seorang dewa.

Manusia macam apa Naruto itu?

"Ennggghhh!"

Koneko berontak berusaha menarik tangannya yang digenggam Naruto.

"Nee, Koneko-chan. Kau sudah bisa sepertiku kan? Sudah menguasai mode pertapa dan merasakan bahaya yang mengancam dirimu? Itu bagus, sangat berguna dalam pertarungan jarak dekat tapi masih ada kekurangannya."

"Eh, kekurangan apa?"

"Kemampuan itu menjadi tidak berguna kalau kau sudah tertangkap oleh musuhmu."

"Ha?"

"Seperti ini!"

Naruto menarik tangan Koneko sehingga tubuh kecil gadis itu kehilangan jarak dari dirinya. Lalu...

Buggg

"Guhha!"

Koneko muntah darah akibat Naruto yang menyarangkan pukulan keras penuh energi senjutsu di perutnya. Gadis itu pun jatuh terduduk.

Naruto membuat bunshin lalu menggendong gadis itu ala bridal untuk menjauh.

Koneko berusaha berontak, meronta-ronta dalam gendongan bunshin Naruto.

"Gh, a-apa maumu sebenarnya, N-naruto-senpai?" tanyanya sembari merintih kesakitan.

Naruto menjawabnya tanpa beban, "Seperti yang kau lihat, aku mengkhianati kalian ttebayou. Kenapa memang?"

"Tidak, aku merasa kau aneh. Maksudku... yaa jika kau dan Hinata-senpai memang musuh kami sejak awal, kenapa kau sampai repot-repot membantu kami sampai sejauh ini huh? Kauuu... K-kau menyakiti hatiku tahu."

Koneko mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan dalam hatinya saat ini. Sungguh, ia masih belum bisa menerima semua yang terjadi.

Berhenti berontak, Koneko menyembunyikan wajah sedihnya di dada bunshin Naruto.

"Maaf."

Sedangkan Naruto asli, "Jadi sekarang siapa lagi?" tanyanya lantang pada para iblis.

Rossweisse langsung merespon. Dia terbang rendah, dan tanpa mengucapkan apa-apa, langsung membuat lingkaran sihir untuk melepaskan serangan massal berbagai macam atribut alam.

Peluru-peluru sihir menghujani Naruto seolah tanpa henti selama satu menit.

Saat serangan berhenti dan asap-asap hasil ledakan tersapu angin, terlihatlah Naruto yang tak sedikitpun beranjak dari posisinya bahkan tanpa luka sedikitpun.

Laki-laki itu, dilindungi oleh kubah chakra berwarna jingga yang berbentuk kepala rubah.

"Rasakan ini! Raikou"

Flasshh.

Rumblerumblerumblerumlerumble.

Dhuuuuaaaarrrr!

Halilintar suci berwujud naga panjang yang sangat besar turun dari langit beserta suara menggelegar lalu menghantam Naruto di tanah. Akeno melakukannya dari udara, persis di bawah gumpalan awan-awan hitam yang ia kumpulkan.

Masih belum berhasil, Naruto tetap berdiri tenang di dalam lindungan kubah chakra kepala rubah.

Kesempatan beberapa saat sejak serangan Rossweisse hingga Akeno, ternyata Rias pergunakan untuk menyiapkan serangan terkuat yang ia miliki.

Rias menciptakan bola hitam besar di atas tubuhnya, memiliki aura crimson yang berputar mengelilinginya. Jurus Bintang Pemusnah yang dimodifikasi dari Power of Destruction. Bola itu memiliki kekuatan penarik atau gravitasi yang luar biasa, dan akan membawa kehancuran massal yang melenyapkan semua dan tidak memiliki atribut apapun atau kelemahan.

Setelah siap, bola itu Rias lemparkan ke arah Naruto.

Akankah berhasil? Mungkin iya karena perlahan tubuh Naruto mulai tertarik ke depan akibat kuatnya gaya gravitasi dari serangan Rias.

Tapi...

Naruto terkekeh.

"Chibaku Tensei kah?"

lalu menggeleng.

"Bodoh! Dengar, aku pernah menghancurkan teknik seperti itu yang jauh lebih kuat saat masih di duniaku dahulu."

Naruto mengangkat kedua tangannya, telapak tangan dibuka mengarah ke depan. Dari mulut kepala rubah kyubi yang menganga, terbentuk bola hitam seukuran bola voli di depannya.

Bijuudama

Bola hitam Naruto lepaskan, tak perlu di tembak karena tertarik sendiri oleh gravitasi Bintang Pemusnah milik Rias. Tarikan gravitasi membuat serangan Naruto langsung sampai pada intinya.

Seketika itu, bola hitam Rias menjadi tidak stabil, aura crimsonnya bergejolak dan bentuknya menjadi tidak karuan, hingga akhirnya...

Kaboooommmm!

hancur dan meledak sebelum merusak apapun.

"Tidak mungkin!" Rias berteriak dengan kepala menggeleng kekiri dan kekanan. Apa yang ia lihat terasa sangat mustahil. Serangan terbaiknya, disapu bersih dengan begitu mudah oleh Naruto.

Naruto tertawa remeh, "Khuh, benar-benar ciri khas kelompokmu, Rias-ojousama. Serangan jarak jauh berskala besar dan berdamage tinggi. Saranku, sebaiknya kau buat serangan kalian dengan cara lebih efektif agar tidak disapu oleh lawan, ttebayou."

Pewaris tahta keluarga Gremory jatuh terlutut di tanah.

Mengesampingkan trauma yang di alami Rajanya, Gasper yang dipenuhi amarah berhasil mengumpulkan segenap keberanian yang ia miliki.

Ia menggunakan Sacred Gearnya, Forbidden Invade Balor The Beast dan bertransformasi menjadi makhluk raksasa berwarna hitam. Dia pun memanggil monster-monster lain seperti dirinya, ada berpuluh-puluh dan mulai bergerak ke arah Naruto.

Naruto membuang nafas panjang, "Iniiiii lagi? Tidak adakah yang lebih baik, atau hal baru?" katanya sambil menggeleng.

Dia berteriak, "Kuramaaaaa!"

"Berisik, Gaki! Kau mengangguku!"

"Oh ayolaaah, jangan keseringan marah."

"Gh!"

"Tuh lihat, makhluk-makhluk hitam itu berani menggangguku, huhuuuuuu."

Naruto bertingkah seperti anak manja yang mengadu-ngadu kepada ibunya karena dijahili anak lain. Untung saja hal ini hanya terjadi di dalam alam bawah sadar Naruto, jika tidak, pasti akan sangat memalukan.

Kembali ke kenyataan, kubah chakra berbentuk kepala kyubi yang melindungi Naruto membuka mulutnya lebar-lebar lalu mengaum kencang.

"GRROOOOOOAAAAARRRRRRRR!"

Tanpa di komando, semua monster hitam ciptaan Gasper mundur perlahan karena ketakutan.

Tentu saja karena Kurama menunjukkan superioritasnya sebagai bijuu terkuat.

Gasper, tak bisa berbuat apa-apa.

"Yah, butuh lebih dari itu untuk menakut-nakutiku, Gasper-kun. Hahahaaaa."

Eksistensi Naruto benar-benar di luar nalar kelompok Rias.

Bayangkan saja, tanpa melangkahkan kaki secentipun, hanya berdiri di tempat saja, tapi sanggup mementalkan semua serangan terkuat setiap iblis dari kelompok Rias dengan begitu mudah.

Ah, belum semua. Masih ada sekiryutei yang belum bergerak menyerang.

Sekarang adalah giliran Issei. Ia sudah menumpuk semua amarah dan kebenciannya melihat teman-temannya dibuat tak berdaya di hadapan Naruto sendirian.

"Kau! Sungguh, aku tidak akan membiarkanmu keluar hidup-hidup dari sini."

"Gh, jangan omong kosong, Issei. Ayoo kemari, tunjukkan padaku kalau perkataanmu itu benar."

Issei mengepalkan tangan erat-erat. Ia sudah memakai Armor Cardinal Crimson promosi True-Queen sejak tadi.

Star Sonic Booster

Issei melesat dengan kecepatan super.

Saat sampai di depan kubah chakra Naruto, dia mengaktifkan kemampuan Ddraig.

Penetrate

Issei berhasil menembus pelindung chakra jingga tanpa hambatan. Kemampuan Penetrate tidak hanya bisa diaplikasiakn pada tembakan sihir, tapi juga pada tubuhnya sendiri. Sekiryutei terus mengembangkan potensinya begitu cepat.

Solid Impact Booster

Mode diubah ke serangan fisik, armornya menebal, lalu melakukan...

BoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoost

Kekuatan naga yang sangat besar dan di gandakan berkali-kali lalu di alirkan ke tangan kiri.

"Mati kau, Bedebah!"

Dalam gerakan slow motion, kepalan tinju Issei sudah hampir mengenai wajah Naruto.

Sedikit lagi.

Kurang dari 5 centimeter lagi.

Jika Naruto terkena, bukan tidak mungkin Naruto akan terluka parah.

Namun...

Naruto mengulas senyum simpul.

Zwiifftt.

Issei kehilangan targetnya seketika, sesaat sebelum tinjunya mengenai wajah orang itu. Ia sangat terkejut.

Hiraishin kah? atau Langkah Kilat?

Yang manapun sama saja.

Dimana Naruto sekarang?

Issei mencari-cari keberadaan orang itu, namun sebelum sempat menemukannya, punggungnya merasakan rasa sakit yang luar biasa. Armor di bagian itu berlubang seakan baru saja dihantam batu meteor.

Dhuuaaarrr!

Tubuh Issei terbenam di tanah.

Naruto menepuk-nepukkan kedua tangan, "Huuuuaaah. Nyaris saja aku kena, ttebayou." ia medesahkan nafas panjang, berdiri dengan kaki yang belum dia angkat dari punggung Issei setelah meberikan tendangan keras dari belakang.

"Kh-khuh, ohhok!" Issei muntah darah.

"Yah, aku sadar tadi itu sangat berbahaya. Kemampuan Penetrate milik Ddraig itu sangat merepotkan, pertahanan apapun yang kubuat pasti tidak berguna. Tapi... tapi itu bukan masalah. Kalau aku tak bisa bertahan, maka aku hanya harus lari lebih cepat darimu, iya kan? Dengan begitu, seranganmu tidak akan pernah sampai padaku. Atau sekalian saja aku membuat serangan balik seperti tadi. Ghahahahaaaa."

"Si-siapa kau sebenarnya?"

"Aku? Aku bukan siapa-siapa."

Duuuaakkk.

Naruto menendang Issei, dikembalikan ke arah teman-temannya.

Kini, Shinobi nomor 1 satu di Konoha menatap seluruh iblis yang ada di hadapannya.

"Bagaimana? Masih ada yang berani kami pergi dari sini?"

Pertanyaan itu dilayangkan khusunya kepada Sirzech, Maou nomor satu yang memerintah Underwolrd.

Sirzech memang sangat menyangkan kondisi kelompok adiknya. Dirinya saja bertarung imbang dengan Naruto, bagaimana mungkin adiknya yang baru saja memulai debut bisa mengalahkan manusia pirang itu?

Tapi kesampingkan itu, harga dirinya sebagai Maou tidak akan membiarkan Sirzech mengatakan rasahianya. Karena kalau diketahui banyak orang, itu hanya akan melemahkan mental seluruh pasukan iblis. Ia tidak menginginkannya.

Jadi...

Sirzech maju sepuluh langkah agar orang-orang dibelakangnya tetap aman. Dirinya lah yang akan turun tangan langsung kalau sudah seperti ini.

"Hooo, jadi kau selanjutnya, Lucifer-sama?"

Sang Maou Lucifer meningkatkan output kekuatan iblisnya secara signifikan hingga maksimum. Gelombang Power of Destruction memancar kuat, dan tubuhnya mulai dikelilingi aura merah. Selama proses itu, tanah diseluruh penjuru Kota Auros berguncang keras. Retakan-retakan kecil mulai timbul di tempat dia berdiri, semakin besar lalu terangkat. Setiap bongkahannya yang terbang dalam radius beberapa meter dari Sirzech musnah tanpa menyisakan debu secuilpun. Aura berwarna crimson yang menyelimuti Sirzech semakin pekat.

Goncangan berhenti sehingga menciptakan kesunyian. Yang ada didepan mata adalah Power of Destruction dalam wujud human-form.

Bentuk terkuat Power of Destruction adalah Sirzech sendiri, teknik yang diberi nama Human-Shaped Aura of Destruction.

Hal yang sama juga dilakukan Naruto. Dia menaikkan level kekuatannya hingga menyamai Sirzech.

Dalam alam bawah sadar, Naruto memanggil kesembilan bijuu yang mendiami tubuhnya.

Tapi mereka hanya memberi kekuatan tanpa menghiraukan. Membuat Naruto rada jengkel.

"Cepat selesaikan ya, bocah!"

Hooo, nampaknya hanya satu bijuu yang merespon baik. Itu Gyuki si Ekor Delapan.

"Pasti."

Di luar, Naruto telah memasuki Senjutsu Rikudou Mode. Sembilan buah Godoudama melayang di belakang punggungnya.

Apa perlu sekalian menggunakan The Truth Seeking Armor?

Naruto berpikir itu tidak perlu karena ia tidak ingin bertarung melawan Sirzech saat ini.

"Lucifer-sama. Kuharap kau memutuskan dengan bijak langkahmu selanjutnya. Tapi kau harus melihat ini dulu."

Naruto terbang cukup tinggi di udara lalu menengadahkan kedua telapak tangannya ke langit.

Senpou: Chou Oodama Dai Rasenringu

Perlahan kumpulan gelembung-gelembung energi bergabung menjadi satu membentuk bola hitam di atas awan. Bola hitam dengan outline ungu itu berputar cepat hingga menimbulkan suara bising. Masih belum cukup, perlahan muncul tambahan beberapa buah cincin putih yang berlapis-lapis dan mengelilinginya. Cincin yang berputar cepat sehingga menciptakan suara dengungan yang menyakitkan telinga.

Sirzech diam menatap itu.

Ukuran bola hitam terus membesar hingga sekarang ukurannya sepuluh kali lebih besar dari stadion sepak bola. Tubuh Naruto tampak sangat kecil dibandingkan dengan bola hitam raksasa yang dia buat dilangit. Selain itu, petir-petir hitam serta jilatan api berwarna ungu diseluruh permukaan bola menciptakan kesan yang sangat mengerikan. Cincin putih berlapis-lapis tak henti-hentinya membuat suara keras yang mengoncangkan daratan.

Itu adalah kekuatan penuh Naruto. Jika ia benar-benar menjatuhkan jutsunya ke tanah, pasti kota Auros dan seluruh wilayah territori Keluarga Iblis Archduke Agares akan lenyap tanpa sisa. Padahal luas wilayahnya lebih luas dari Negara Jepang di bumi.

Ini sangat mengerikan.

Hampir semua pasukan iblis di belakang Sirzech kesulitan menegakkan badannya saking ketakutan. Beberapa yang masih sanggup bertahan, yang cukup kuat, masih tetap dibuat berkeringat dingin karenanya.

Di tengah suasana mencekam itu, Rizevim tiba-tiba tertarik untuk ikut bermain.

"Whoooaaaa, sunggung menarik. Tak kusangka kau bisa membangkitkan kekuatan sebesar itu, bocah."

"Baru tahu kau kheh?" sahut Naruto dari udara.

"Yah. Aku tidak mau membahasnya. Hanya saja aku penasaran jika aku menambahkan sesuatu."

"Hmmm?"

Rizevim mengusap-usap rambut Lilith alias Ophis yang sudah rusak, lalu menyamakan tinggi badannya dengan gadis kecil perwujudan Naga Ketidakbatasan itu.

"Horraaaa, Lilith-chan yang imut. Ayooo, tambahkan ular-ularmu kedalam bola hitam yang ada dilangit sana. Tambahkan saja sebanyak yang kau bisa."

"Pe-rin-tah-mu... Adalah tu-tuju-an hi-dup-ku, Ri-Rizevim-sama."

Kata per kata meluncur seperti suara kaset rusak dari mulut gadis kecil yang dipanggil Lilith. Sunyi dan tak ada ekspresi sama sekali namun sarat akan kekuatan.

Gadis itu menengadahkan kepalanya lalu membuka mulutnya lebar-lebar. Dari sana keluarlah beberapa ular-ular hitam kecil yang membawa kekuatan luar biasa. Semua ular itu meluncur ke langit dan bergabung dengan bola pemusnah yang Naruto ciptakan.

Akibatnya, bola itu berkedut hebat. Berdetak seperti hidup. Kemudian massa dan volumenya meningkat tajam hingga puluhan kali lipat semula. Seluruh langit Auros hampir sepenuhnya tertutupi gelapnya bola hitam di langit.

Tak terbayangkan sedikitpun, kekuatan pemusnah macam apa yang terkandung didalamnya.

Mungkin masih ada satu kalimat yang bisa sedikit mendeskripsikannya.

Jika bola itu jatuh, seluruh Dunia Bawah, Underworld beserta Grigori yang luasnya sepuluh kali lebih luas dari permukaan bumi tempat manusia tinggal, akan musnah tanpa sisa. Ras iblis akan lenyap selamanya.

Pengecualian untuk Maou dan beberapa iblis kuat yang mungkin sempat kabur dan menyelamatkan diri, tetapi bagaimana dengan ratusan ribu sisanya? Mati dibiarkan begitu saja?

Sirzech masih bisa berpikir jernih, mau tidak mau dia harus menurunkan kekuatannya. Bagaimanapun ia tidak akan membiarkan rasnya dihancurkan terlebih dahulu sebelum rencana besar Imperium of Bible benar-benar di mulai. Dan Sirzech merasa, tak akan ada satupun dari rekan-rekan dan bawahannya yang meragukan keputusannya ini.

"Keputusan yang tepat."

Naruto turun kembali ke sisi Hinata. Bersama Rizevim dan lainnya. Ia merasa sudah cukup menunjukkan superioritasnya di hadapan publik. Lagipula, pulang dengan tanpa pertarungan lebih baik baginya.

Jutsu Naruto yang diperkuat oleh Dewi Naga Ophis itupun lenyap seakan itu hanyalah imajinasi yang dihempas kenyataan, padahal beberapa saat lalu hal mengerikan itu benar-benar nyata.

Naruto kembali ke wujud normal sebagai manusia. Ular-ular yang dilepaskan Ophis tadipun kembali ke tubuh pemiliknya. Ophis juga dalam kondisi normal.

Itu semua sudah cukup.

Bagi Sirzech dan yang lain pun, rasanya hari ini sudah berakhir. Mungkin mereka merasa kalah, tapi selanjutnya mereka akan membalas perbuatan Rizevim, Naruto, dan Hinata.

Membalas mereka,

Itu pasti.

Sebuah robekan dimensi tercipta tiba-tiba di langit. Robekan yang sangat lebar sehingga bisa dilewati oleh naga sebesar Great Red sekalipun.

Rizevim, Naruto, Hinata, Lilith, Crom Cruach, Laddon, dan Aži Dahāka. Perlahan mengudara terbang menuju robekan dimensi. Saatnya mereka pergi.

Rizevim yang memimpin, "Ya sudah, kurasa sudah cukup sampai di sini. Di pertemuan selanjutnya, ayoo kita betarung sampai mati. Okeh."

Tak ada satupun iblis yang menyahut, bahkan jika itu pemimpin mereka.

Sirzech tak punya pilihan lain selain mengiyakan.

Tapi tampaknya masih ada satu orang yang masih tak bisa menerima.

Issei dengan tubuh luka-luka bangkit berdiri, dia mengarahkan moncong meriam di punggungnya untuk menembakkan sisa-sisa kekuatannya kepada Rizevim dkk sebelum hilang.

Ia tahu itu tak akan berhasil. Naruto sungguh memiliki kekuatan di luar nalar. Tetapi Issei tidak bisa membiarkan mereka pergi sebelum dirinya bisa berbuat sesuatu. Setidaknya ia ingin meninggalkan bekas walau sedikit.

"Huh? Ap-apa ini? Bagaimana bisa?"

Issei dibuat kebingungan. Tembakan telah siap namun ia tak bisa mengunci targetnya. Dia melihat jelas Rizevim yang tertawa mengejek, tetapi kenapa meriamnya tidak bisa mengunci target. Semua musuhnya ada tetapi seperti tidak ada pada saat bersamaan.

Selama waktu itu, akhirnya Rizevim dan lainnya benar-benar pergi.

Sesaat sebelum robekan dimensi tertutup kembali, Rizevim yang hanya tampak terlihat wajahnya mengucapkan salam perpisahan.

"Sampai jumpa lagi. Kuharap kalian masih hidup sampai saat itu tiba."

Sreeetttttttt.

Lenyap, Rizevim benar-benar telah pergi, bersama para naga jahat, Ophis, serta Naruto dan Hinata.

Issei kehilangan kesempatannya. Ia tidak bisa mengunci target karena kemampuan Penetrate untuk menembus penghalang agar serangannya langsung mengenai target menjadi kacau. Dengan kemampuan Penetrate, malah tak ada yang terlihat, jadi bagaimana mungkin ia menembakkan serangan langsung kalau targetnya tidak ada?

"Tak perlu heran, Issei. Yang tadi terjadi karena kemampuan barumu sama sekali tak berguna di mata Hinata."

Serafall memecah keheningan setelah cukup lama mereka semua terdiam sejak Rizevim pergi.

"Kau mengetahui sesuatu, Serafall?" tanya Azazel.

Setelah beberapa saat, sementara para pasukan diperintahkan oleh Ajuka untuk membersihkan sisa-sisa pertarungan di Kota Auros melawan Fraksi Maou Lama dan pasukan naga jahat, para petinggi dan orang-orang penting mendiskusikan sesuatu. Sebentar saja untuk mendengar apa yang Serafall ketahui.

Semua peerage Sona Sitri yang tersisa, Saji dan yang lainnya, kini telah di karantina oleh petinggi. Mereka dikurung sampai batas waktu yang belum di tentukan. Akan ada introgasi lanjutan pada mereka, namun nampaknya itu hanya akan sia-sia karena mereka mungkin tak tahu apa-apa. Kunci informasi ada pada Sona dan Tsubaki yang tak sadarkan diri dengan ingatan yang terkunci rapat.

Mereka semua masih belum beranjak dari tempat semula.

Serafall memulai kisah singkatnya, "Waktu itu, saat insiden penculikan Yasaka-himesama di Kyoto aku bertarung mati-matian melawan Hinata. Dan... aku kalah telak."

"Huh?" banyak orang terperangah tidak percaya.

Ajuka akhirnya mengakui sesuatu, "Ya, aku juga pernah bertarung melawan wanita itu. Dia berhasil memojokkanku."

Ini sungguh diluar dugaan mereka. Dua orang Maou tak berkutik melawan seorang gadis manusia.

Serafall melanjutkan, "Wanita itu, jauh lebih berbahaya daripada Uzumaki Naruto. Dia tidak akan berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu setelah ia memutuskannya. Suaminya itu mungkin sangat kuat, tapi Hinata benar-benar makhluk yang tak bisa diterima akal sehat."

"Maksudmu?" Falbium dibuat penasaran. Pun dengan iblis-iblis muda macam Sairaorg dan Rias yang masih ada di sana.

"Dia tidak seperti kita semua. Kalau kita terbatas sebagai makhluk tiga dimensi, maka Hinata bisa naik level menjadi makhluk empat dimensi sementara saat ia mengaktifkan kekuatan matanya. Sekuat-kuatnya makhluk tiga dimensi, tak akan pernah mencapai posisi yang sama dengan makhluk empat dimensi."

Semuanya mendengarkan seksama, penjelasan dan teori yang Serafall katakan terdengar seperti cerita sains-fiksi yang menjadi kenyataan. Sungguh mengejutkan.

"Makhluk empat dimensi tidak terikat dengan dimensi ruang fisik. Itulah sebabnya, Issei-kun tidak bisa menargetkan Hinata sebagai sasaran tembak. Yah, pakai logika saja, tidak mungkin sesuatu yang tak terikat dimensi ruang fisik bisa di targetkan selayaknya sebuah benda, iya kan?"

Issei menyaadari sekarang, ternyata kekuatan Penetrate yang baru saja ia keluarkan hari ini, yang bahkan mampu memojokkan Rizevim, dipatahkan dua kali dengan mudah oleh sepasang suami istri itu. Naruto dengan kecepatannya, dan Hinata dengan esensi kehidupannya sebagai makhluk empat dimensi.

"Apa dia sama dengan Alucard?" tanya Issei.

Serafall menggeleng. "Tidak. Meski Hinata menjadi makhluk empat dimensi hanya sementara, tapi ia menjadi eksistensi yang sempurna. Tidak seperti Alucard yang eksistensi keberadaannya cacat sehingga tidak bisa menyentuh benang takdir dunia nyata. Kesempurnaan itu lah yang membuaku tak berdaya didepannya."

"Apa kau tahu kemampuan terbaiknya, Serafall?"

Maou Leviathan langsung menjawab pertanyaan dari Ajuka Beelzebub. "The Time Extra. Kemampuan untuk memanipulasi dimensi keempat, yaitu waktu. Kemampuannya sama sekali tidak bisa disamakan dengan Time Freeze dari Sacred Gear Gasper-kun ataupun kemampuan khusus Keluarga Agares. Kemampuan itu memberikan penggunanya waktu tambahan untuk dirinya sendiri dan melepaskan diri dari jerat waktu universal."

"..."

Semua masih belum terlalu mengerti penjelasan Serafall.

"Wanita itu, sederhananya memiliki kemampuan untuk melakukan apapun yang dia mau saat orang lain tidak bisa melakukan apa-apa. Seperti hanya dia sendirian yang terjaga saat seluruh makhluk di dunia sedang tertidur. Seolah-olah dia mampu melihat waktu dunia ini berhenti secara universal."

Ajuka mengangguk. Dia mengerti sekarang, serangan telak yang ia terima hingga membuatnya muntah darah saat pertarungannya dengan Hinata, dikarenakan wanita itu menyerangnya dengan teknik Time Extra. Ibaratnya dia sedang tidur ketika ada orang yang meninju perutnya, lalu saat terbangun dirinya sudah luka parah.

Tapi nyatanya Ajuka malah semakin bersemangat. Informasi ini sudah cukup.

"Jika nanti bertemu lagi dengan wanita itu, biarkan aku yang mengurusnya."

Semuanya menatap Ajuka. Ragu, tapi akhirnya mereka mempercayakan hal ini pada Maou jenius itu.

Mulai saat ini bagi para iblis, sosok Naruto dan Hinata dianggap sebagai sepasang sosok paling fenomenal, dan mungkin akan melampaui ketenaran Rizevim itu sendiri. Mereka berdua lah yang menjadi titik pusat semua rentetan kejadian hari ini.

"Nah, Serafall. Apa kau mengetahui apa tujuan sebenarnya Hinata dan Naruto?"

Pertanyaan barusan keluar dari mulut Sirzech.

"Ya, aku tahu. Tapi maaf kalau baru sekarang aku bisa mengatakannya."

Yang lain mengerti. Itu karena Serafall sangat menyayangi Sona.

"Jadi apa tujuan mereka berdua? Keterlibatan mereka dengan Rizevim pasti bukan untuk Trihexa. Itu bukan tujuan akhir mereka kan?"

Serafall menatap semua orang bergantian, "Memang benar. Tujuan akhir mereka adalah menjadi entitas tertinggi, Makhluk Lima Dimensi."

Apa!?

Makhluk lima dimensi?

Apa lagi sekarang?

.

.

.

-Penghianat yang sebenarnya, Emperor Bellial-

"Uhyahyahyahyaaaa. Berkat kau, kita berhasil mendapat memperoleh seluruh kota langit di tangan kita."

"Bagi para Iblis, nama "Lucifer" itu mutlak."

"Jika ada yang memiliki pikiran tajam di antara mereka, maka mereka pasti sudah menyadari kalau ada seorang penghianat diantara para Iblis yang terlibat didalam kejadian kali ini. Tapi ini benar-benar sebuah cerita yang sangat menggelikan. Seorang penghianat yang tidak lain adalah seorang pemain yang sangat populer sekali, "Emperor" Belial! Bwahahahaaaaaa."

"Saya, sesungguhnya hanya ingin mengabulkan keinginan Rajaku, Lucifer yang sebenarnya."

"Hmm, bagus-bagus. Aku suka orang sepertimu." Rizevim mengalihkan matanya pada dua sosok orang lain yang kini ada bersama mereka.

"Hei, kalian. Semakin kesini aku semakin tidak mengerti apa yang kalian inginkan."

Helaan nafas keluar dari mulut si pirang, dia balas menatap dengan raut muka jengkel. "Kau tidak perlu mencampuri urusanku, Pak Tua."

"Ya, sudah. Hanya saja kupikir kalian berdua orang yang setia, tapi nyatanya bisa berkhianat dan berbuat keji seperti kemarin."

"Tutup mulutmu kalau kau masih ingin hidup, brengsek!" ancam Naruto. Rupanya dia benar-benar marah.

"Yayayaaaaa." Rizevim menangguk dengan bibir mengerucut. Dia kesal.

Tepukan di bahu pria itu datang bersamaan dengan suara lembut, "Tenanglah, Anata. Ini yang terbaik, tak ada yang perlu disesalkan. Kita berdua bisa menyelesaikannya sendiri dari sini."

"Yah, Arigatou, Hime."

.

.

To be Continued...

.

Note :Tolong jangan ada yang berkomentar kenapa baru sekarang bisa update. Hampir dua minggu yaa. Kalau penasaran, perkirakan aja sendiri. Pokoknya, aku minta maaf membuat kalian agak lama menunggu. Sampai-sampai kolom review mulai jadi tempat keributan. Hihiii.

Okeh, karena banyak yang ngebet pengen minta update, yaaa sudah aku cukupkan sampai disini saja dulu untuk chapter ini. Segini saja yang di update. Padahal niatku awalnya chapter ini sampai scene untuk Konoha dan sekutu-sekutunya serta tentang pengumuman Panglima Perang Persekutuan, tapi itu kupotong untuk chapter depan saja. Jadi sabarlah sedikit lagi.

Chapter depan aku beri judul, 'Pengumuman Perang'

Tentang Olympus, Norse, Mitology Hindu-Buddha, kumunculkan semua di chapter depan. So, tunggu ya. Semoga ga lama.

Sebelum itu, aku ada pertanyaan. Apa kalian bisa mengerti alasan kenapa Naruto dan Hinata membelokkan jalur sejauh ini?

Ulasan Review:

Tentang terbongkarnya identitas asli NaruHina, udah ga perlu dipermasalahkan. Ada yang bilang kecepetan, tapi kurasa ini masuk belakangan loh. Kan dari dulu-dulu kalian minta NaruHina unjuk gigi di depan semua orang. Dan di chapter 72 inilah saatnya.

Loh Tsubaki terkejut? Ya jelas lah terkejut, dia dikhianati. Dia beneran terkejut, ga pura-pura. Sona pun sama sebenarnya. Kejadian chapter 72 ini tidak ada dalam rencana besar tim 7 orang. Konsekuensinya, Tim 7 orang pencegah runtuhnya sistem Multiuniverse, mungkin akan bubar. Hahahaaaaa.

Kota Kuoh kah? Entahlah, aku belum pernah cek di peta Jepang. Mungkin bener itu kota fiksi.

Kalau bagian drama yang ngefeel, emang bener sih aku bukan author yang kompeten dalam hal itu. Jadi yaa seadanya saja.

Urusan Sai gimana dia mokad, emmm kasih tahu ga yaa? Bisa saja dia sudah selesai, bisa saja masih ada.

Yang merasa ga enak tentang Hinata, tuh dia dibicarain lagi oleh Serafall. Sebagai orang yang paling diwaspadai.

Gedo Mazou kah? Lihat saja nanti, hihiiii.

Alucard beneran bahaya kok, nanti juga ketahuan.

Yang ngebicarain Sasuke, ga mungkin lah dia tiba-tiba nongol di chapter ini. Enggak ada urusan woy, hahaaa. Perang yaa perang, urusan Rizevim dan Trihexa lain lagi ceritanya.

Jadi yang menunggu peran Sasuke, Shikamaru, dan lainnya. Arc selanjutnya mereka dapat peran besar-besaran.

Rizevim punya Sacred Gear karena dia iblis berdarah setengah. Ayahnya Maou Lucifer pertama dan ibunya bernama Lilith yang aslinya adalah manusia. Lilith, menurut salah satu versi menyebutkan bahwa dia adalah istri Adam si manusia pertama di Surga/Eden sebelum dilemparkan ke Bumi. Sehingga karena Rizevim punya darah manusia, dia bisa punya Sacred Gear.

Kankuro? Entar pikirin lagi kok.

Vali and Team? Chap depan deh muncul lagi.

Kloning Malaikat? Munculin chap depan juga deh.

Kemampuan baru Issei, Penetrate, walau hebat, nyatanya secara hukum fisika masih belum sanggup memecahkan kemampuan Tenseigan sejati milik Hinata. Bahkan melawan Naruto aja masih belum cukup.

Terima kasih untuk yang mengingatkan. Tentang komposisi kekuatan setiap kubu aku simpan kok. Jadi pas ngeluarin, sebisanya aku buat logic.

Oh iya, Ophis mengatakan itu di chapter 40 klo ga salah. Wokeh, di chapter ini kelihatan kan seberapa kuat Naruto dan Hinata. Nah, bayangin aja sendiri bagaimana kalau mereka berdua gabungin kekuatan. Tapi hei, di atas ada sedikit kuperlihatkan bagaimana mengerikannya jika Ophis memberikan kekuatannya pada Naruto. Mengerikan kan? Huuuaaaaaaa...

Tenang aja deh buat reviewer anonym. Draf yang kususun sudah memuat jalan peperangan selogic mungkin kok. Jadi ga perlu kau mengkhawatirkan jalan cerita FF ini kedepannya.

Ada dua Uroboros Dragon? Emang iya, coba deh pikirin lagi! Hihiii.

Whaaaa, ada lagi yang coba nebak kelemahan Time Extra, bener sih tapi jawaban itu berlaku umum. Maksudku, semua teknik punya batasan penggunaan kan, ada cooldown, isi ulang energi dulu, dan macam-macam batasan lain lah. Tidak hanya Time Extra saja. Yang aku mau, tebak bagaimana cara mematahkan kemampuan Hinata itu hingga menjadi tidak berarti.

Raiton Rasengan? Bentar, aku belum bisa bayangin bentuk dan dampak kerusakannya.

65 chapter dalam 4 hari? Kau mendekam dikamar seharian huh? Gileeee. ckckckck

Gimana kelanjutan Rating Game? Chap depan kujawab.

Jutsu Hinata? Dia emang bisa mindahin apa aja kan? Udah aku terangkan sejak awal. Jadi mindahin atom, molekul, atau sel, tetap bisa kok. Tapi, makasih udah ngingetin.

Oh ya, kasih selamat dong. Fanfic ini sudah lebih dari setengah juta kata, wkwkwkwk.

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita, sebagian lainnya kubalas lewat PM.

Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.

.

.

.

.