Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya
Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .
Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance
Rate : M
Setting : AU (Alternate Universe)
Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.
Pair : Semua Pair Canon
Senin, 10 April 2017
Happy reading . . . . .
Sebelumnya.
Kita jawab pernyataan mereka. Selama bangsa kita masih memiliki darah yang mengalir dalam nadi untuk menodai bendera putih, maka selama itu pula lah tidak akan ada kata menyerah.
Kita tunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang benar-benar menginginkan kemerdekaan. Untuk kita semua, lebih baik hancur lebur mati berkalang tanah daripada hidup di kaki mereka. Semboyan kita adalah..."
Gaara menarik nafas panjang lalu dia meneriakkan,
"MERDEKA... atau... MATI!"
Sang Komandan perang berjalan lebih maju lagi seraya merentangkan kedua tangannya. Seluruh pasukan menyambutnya dengan gemuruh sorakan penuh api tekad dan semangat.
"Barang siapa yang merasakan hal sama, ikuti Aku! Kita akan bersatu dan bertarung sampai nafas terakhir, demi teman, demi keluarga, dan demi kemerdekaan. Perang Dunia ini, kita akan menang. Pasti!"
~The Armageddon War has just begin~
.
To The End of The World
Writed by Si Hitam
.
Chapter 74. First Attack.
-Lilith City, Gremory's Territory-
Kota Lilith, salah satu kota di Underworld yang merupakan ibukota pemerintahan Maou Lucifer, hari ini begitu ramai. Bukan keramaian kota yang biasa, tapi ramai akan ketegangan.
Penduduk sipil yang terdiri dari iblis-iblis non-petarung sudah dievakuasi ke area aman, sementara itu pusat kota dipenuhi dengan prajurit-prajurit militer.
Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Hal tersebut dipicu oleh ultimatum yang diumumkan juru bicara Aliansi Tiga Fraksi Injil, Michael, yang tak kunjung ditanggapi sampai hari ketiga ini. Batas waktu tiga hari yang telah ditentukan sudah hampir habis, karenanya pilihan untuk berperang mungkin akan benar-benar terjadi.
Untuk perang lah, semua bala tentara iblis berkumpul. Jumlahnya sangat banyak, bukan hanya pasukan yang mengabdi di bawah pemerintahan Maou Sirzech Lucifer saja, namun pasukan dari Ajuka Beelzebub, Falbium Asmodeus, dan Serafall Leviathan juga telah sampai di kota ini.
Selain pasukan, persenjataan pun telah lengkap berikut dengan stok amunisinya. Lalu masih ada banyak hal-hal lain lagi yang sewajarnya ada pada sekumpulan besar pasukan yang hendak pergi bertempur.
Fraksi iblis, benar-benar telah siap untuk berperang.
Berpindah dari hiruk pikuk keramaian di pusat kota menuju sebuah gang kecil dan gelap yang diapit oleh dua bangunan apartemen yang cukup besar.
Ada dua orang di dalam gang. Laki-laki dan perempuan. Kedua orang tersebut tampak sangat waspada, dan kewaspadaan mereka meningkat saat secara tiba-tiba muncul pergerakan tidak biasa di sekitar gang.
"Ini aku."
Suara bass tak bertuan, entah siapa laki-laki yang mengucapkannya karena tak tampak di mata.
"Aku juga di sini."
Suara yang kedua muncul bersamaan dengan seratus lebih kelelawar bermata merah yang terbang berkumpul, lalu membentuk sesosok tubuh humanoid. Laki-laki berambut hitam dengan iris mata merah menyala.
"Huuuffft, kami kira siapa! Kalian membuat kami takut tahu!"
Satu-satunya perempuan tercantik di gang gelap bersungut kesal. Wajahnya yang terbingkai surai putih tertekuk masam, matanya pun menyipit menyembunyikan kelereng sebiru permata. Kewaspadaannya sia-sia.
"Jangan begitu, Shanon-san." Laki-laki berambut coklat panjang mencoba bijak.
"Huh! Salah mereka sendiri, Kazuho. Untung saja aku belum merapal mantra sihir."
Dua orang itu adalah anggota tim recon yang dikirim ke wilayah musuh, menjadi mata-mata untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Informasi yang sangat berharga demi Pasukan Persekutuan.
Shanon Ravenclaw. Darah yang mengalir di dalam nadinya adalah warisan penyihir wanita terkenal jaman dulu yang berasal dari Skotlandia, Rowena Ravenclaw. Meski tak seterkenal Morgiana Pendragon yang sejaman dengannya, tapi di tempat asalnya dia penyihir yang cukup diakui ketangguhannya.
Kazuho Hyuga hanyalah anggota keluarga cabang Hyuga, meski begitu bakatnya lumayan hebat. Sebagai pelacak, area jangkauan penglihatan Byakugan miliknya nyaris mencapai 8 km, sedikit lebih pendek dibanding putri pewaris, Hinata Hyuga, yang mencapai radius 10 km. Bakat ini saja sudah sangat hebat karena umumnya Byakugan hanya memiliki jangkauan 800 meter sampai 3 km. Pengecualian untuk almarhum Neji, yang meski jarak jangkauannya hanya 300 meter tapi dia sangat terspesialisasi dalam pertarungan jarak dekat.
"Maa maaa, maafkan aku. Hihiii." si vampir perwujudan dari ratusan kelelawar tertawa cengengesan.
Yah, mereka semua tahu ini situasi yang amat menegangkan. Namun sedikit bercanda dan tertawa tetap dibutuhkan untuk mencairkan suasana.
Liviu Strigoi. Vampir berdarah campuran kelas menengah yang berasal dari keluarga Strigoi. Keluarga ini hanyalah keluarga kecil yang menjadi pelayan kerajaan di Kastil Tepes. Namun dedikasi dan loyalitasnya tak usah diragukan lagi.
"Yayayaaaa, aku maafkan." Ekpresi Shanon nampak tak ikhlas saat mengatakannya, bahkan matanya mengerling ke arah lain. Dia seperti mencari-cari sesuatu. "Hei, tunjukkan dirimu kalau kau tidak mau nama aslimu kukatakan di sini!"
"Sialan! Oke, baiklaaahh."
Sosok keempat pun menampakkan diri. Seorang laki-laki berekor tebal muncul begitu saja dari ketiadaan. Wajahnya memberengut kesal, pastinya karena ancaman Shanon yang sangat membahayakan eksistensinya.
"Kalian berdua, kerja bagus." ucap Kazuho bertata krama.
"Ya." si orang keempat mengangguk. "Aku cukup banyak mendapatkan informasi, bagaimana dengan kalian?"
"Aku juga." jawab Liviu.
"Mmm, sama."
"Huuufft!" Shanon mendengus. "Apa aku saja yang tidak punya kerjaan disini heh?"
"Tidak begitu, Shanon-san. Kapten Georg sudah memilih orang terbaik sesuai kriterianya untuk masuk ke dalam tim recon ini. Pastinya kau juga punya tugas yang tak kalah penting."
"Iya iyaaaaa." Shanon menghela nafas panjang mendengar nasehat Kazuho. Yah, dia bukannya tidak ingin menghargai tapi kalau terus-menerus begitu telinganya bisa panas juga.
Sekali lagi, tim empat orang ini adalah tim recon yang tugasnya melakukan infiltrasi atau menyusup ke dalam wilayah musuh untuk mengumpulkan informasi. Mereka dipilih tentu karena kemampuannya yang sangat dibutuhkan.
Orang yang keempat, sebenarnya adalah setengah siluman yang masih berkerabat dengan keturunan Prabu Siliwangi. Ekor tebal berwarna putih dan coklat di pantatnya menandakan bahwa dia hasil perkawinan silang ras siluman tupai dan manusia. Kenapa tadi dia tidak terlihat? Karena dia memiliki ajian sakti Halimunan, sebuah ilmu kanuragan yang membuat raga tak nampak kasat mata. Dengan ajian ini, dia bebas berkeliaran di tengah-tengah kerumunan musuh tanpa ketahuan.
Seorang vampir yang mampu merubah diri menjadi banyak kelelawar juga efektif dalam melakukan pengintaian. Lalu seorang Hyuga yang bahkan tak perlu bergerak dari tempatnya untuk mengintai dan mengamati musuh berkat Byakugan.
Satunya lagi adalah gadis penyihir. Kualifikasinya bukan sebagai pelacak, namun skillnya dalam menciptakan trik-trik hebat untuk mengirimkan informasi sangat dibutuhkan jika kondisi terburuk benar-benar terjadi.
Keempatnya tergabung dalam Unit Pengintai & Infiltrator yang di ketuai oleh Georg si pemilik Sacred Gear Longinus Dimension Lost. Georg lah yang mengantar tim kecil ini ke kota Lilith dengan sihir teleportasi. Akan tetapi check point koordinat Georg mengantar mereka cukup jauh dari pusat kota Lilith, sekitar 12 km dari tembok terluar pelindung kota. Jadi tim tersebut benar-benar berusaha sendiri agar bisa masuk.
Bisa saja Georg mengantar mereka langsung ke dalam kota Lilith, tapi akan sangat beresiko. Petinggi Fraksi Iblis pasti sudah memperkirakan akan datangnya penyusup. Kalau begini, kemungkinan terbesar jika mereka diketahui maka mereka akan dibiarkan. Mereka digiring untuk mendapatkan informasi yang salah sehingga berakibat fatal pada saat perang. Cara tersebut adalah satu dari sekian banyak strategi peperangan yakni dengan sengaja membiarkan mata-mata musuh masuk ke wilayah sendiri dan diberi informasi palsu sebagai perangkap.
Selain itu pula jika ketahuan, jalur teleportasi yang Georg ciptakan akan ditelusuri oleh unit pelacak pasukan Fraksi Iblis yang berakibat ditemukannya letak Maskar Besar Pasukan Persekutuan. Tentu saja hal ini sangat berbahaya. Resikonya terlalu besar.
Berusaha dengan kemampuan sendiri melakukan penyusupan merupakan cara terbaik untuk mengumpulkan informasi sebanyak dan seakurat mungkin.
Beberapa saat saling diam, Shanon merasa prihatin dengan Kazuho. Dia terlalu lama memaksakan penggunaan Byakugan untuk memindai seisi Kota Lilith dari dalam gang sehingga matanya sedikit bengkak dan berair.
"Kazuho, istirahat saja dulu. Kau sudah bekerja tanpa henti."
"Perang semakin dekat. Jadi kita harus secepatnya mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Apalagi informasi ini bisa menyelamatkan nyawa teman-teman kita."
Bahu Shanon sedikit turun, "Ya, aku juga tahu hal itu." ucapnya sambil mendesahkan nafas. "Baiklah, kalau begitu sini kemarikan tangan kalian bertiga. Aku akan menggunakan teknik sihirku untuk mengekstrak informasi yang telah dikumpulkan dari otak kalian. Dengan begini, pengiriman informasi ke markas besar akan lebih praktis."
Tanpa banyak bicara, keempatnya mulai melakukan ritual sihir mengekstrak informasi dari dalam otak lalu diarchivekan kedalam sebuah paket data untuk kemudian dikirim. Keempat orang itu dikelilingi lingkaran sihir yang berpendar biru.
Ritual berlangsung cukup lama, sudah lima menit berjalan.
Tiba-tiba Liviu menjadi panik dan berteriak cukup keras. Selain mengumpulkan informasi, Liviu adalah satu dari sedikit vampir tipe sensor yang cukup langka.
"Sial! Kita ketahuan."
"Fokuslah!" perintah Shanon. "Kita harus selesaikan ini dulu."
Akhirnya satu menit kemudian, ritual selesai.
Kazuho mengaktifkan byakugan. "Ada satu tim yang sedang bergerak cepat menuju kemari. Dari jumlahnya, mungkin mereka tim Evil Piece."
"Aura kekuatan yang kurasakan, pasti mereka tim pro yang masuk peringkat 20 besar. Sangat berbahaya melawan mereka." sambung Liviu.
"Kita harus selamat. Informasi yang kita kumpulkan sangat penting. Teman-teman kita akan dalam bahaya kalau informasi ini tidak sampai." Shanon juga mulai tampak panik. "Aku perlu sedikit waktu untuk mengirim informasi langsung ke markas."
Si siluman tupai angkat bicara, "Kalau begitu, kita harus bergerak sekarang. Ayooo!"
"Ya."
"Uhmm."
Semuanya langsung bergegas.
Berusaha bergerak cepat namun masih dalam kesenyapan. Berlari melintasi jalan-jalan kecil yang ramai dengan atribut-atribut wilayah pertokoan. Tidak ada satupun warga sipil di daerah ini tapi paling tidak padatnya area pertokoan bisa sedikit menyulitkan musuh menemukan mereka berempat.
Di udara, tujuh iblis bersayap kelelawar tengah terbang cukup tinggi dengan kecepatan sedang.
"Ketemu! Akan kubuat mereka berakhir di sini." Salah satu iblis menyeringai lebar.
"Ternyata prediksi Ajuka-sama benar. Pasti ada penyusup yang datang. Untung saja kita sudah dilatih sebagai tim anti-infiltrator."
"Ya." Iblis lain mengangguk sependapat, matanya menyisir ke bawah sampai dia memenukan sesuatu. "Arah jam dua, 850 meter. Aku melihat mereka."
"Okeh. Kita mulai perburuan."
Dapat dipastikan, yang bicara paling akhir adalah King dalam tim itu.
Kembali ke bawah.
Dari empat orang yang berlarian di tanah, salah satunya tiba-tiba berhenti.
"Kazuho, ada apa?" tanya Shanon bingung.
"Kalian bertiga, cepatlah! Informasi harus sampai ke markas, aku akan berusaha sebisa mungkin menghambat mereka di sini."
Terdiam sejenak. Kuat rasa ingin menolak, tapi...
"Baiklah!" Shanon mengangguk lemah. "Syaratnya kau harus pulang dengan selamat selamat."
"Pasti."
Kazuho berbalik, byakugannya yang aktif memandang pada musuh di udara sementara punggungnya membiarkan temannya pergi dengan aman.
Ia pun melesat maju.
Di udara, suasana ketujuh iblis yang tiba-tiba tenang sedikit berubah saat merasakan adanya bahaya.
"Awas!"
Salah satu memperingatkan.
Lainnya maju ke depan sembari menyilangkan tangan.
Bhuuu!
Terdengar suara angin bertekanan yang pecah akibat menghantam tubuh.
"Kheh, serangan lemah seperti itu tak akan mempan padaku."
Dia pengkonsumsi bidak Rook, sehingga ketahanan fisiknya sangat kuat. Pukulan Hakke Kushou jarak menengah tak banyak memberi dampak.
King bergender perempuan itu pun membuat isyarat jari. "Kau dan kau. Hadapi orang itu! Aku yakin dia sengaja memisahkan diri untuk memperlambat kita. Mengerti!"
"Yes, Madam!"
"Ouushh!"
"Hujani orang itu dengan serangan dari jarak jauh menggunakan sihir kalian. Entah kenapa firasatku mengatakan kalau dia petarung jarak dekat yang cukup berbahaya."
"Roger."
"Sisanya, kita lanjutkan perburuan. Ayoo!"
Menit demi menit terus berlalu. Shanon, Liviu, dan si siluman tupai sudah berlari cukup jauh. Mereka sudah sampai di area pemukiman. Untung saja area pemukiman ini cukup banyak ditumbuhi pohon rindang, sehingga mereka bisa berlari lebih aman di bawah dedaunan.
Boooommmm!
Kabobobobobobommmmm...!
Shanon berhenti diikuti dua orang lainnya. Suara ledakan keras beruntun yang seolah tanpa henti membuat hati mereka dilanda kecemasan.
"Kuharap Kazuho selamat."
"Iya, Shanon-san. Kita harus yakin padanya."
"Ayo! Kita tak boleh berhenti di sini, jangan sia-siakan pengorbanan Kazuho." ucap siluman tupai dengan tegas.
Baaannnnggg!
Sebuah peluru sihir berwarna hijau tiba-tiba jatuh dan meledak di antara mereka.
Untung saja ketiganya sempat menghindar.
Musuh yang mengejar ternyata sangat dekat di belakang.
"Hei kau, pergilah bersama Shanon-san!"
Kali ini Liviu yang memutuskan. Memutuskan untuk tinggal.
Tanpa berkata apa-apa, si siluman tupai menarik paksa pergelangan tangan Shanon untuk pergi.
Tinggal lah Liviu seorang diri.
Selain demi perang ini, demi sampainya informasi ke markas, Liviu juga ingin membuktikan diri bahwa dia bukanlah vampir lemah yang tak bisa apa-apa.
"Khuu, apa kalian pikir bisa melewatiku begitu saja hah?"
Pemimpin tim iblis berhenti diikuti oleh budak-budaknya.
"Tch. Memang kau siapa huh? Tidak usah berlagak sombong. Kau pasti mati sebentar lagi."
Pemilik bidak King membuat lingkaran sihir kecil di ujung telunjuknya. Seketika laser hijau ditembakkan.
Bllaaasst.
Kabooommm..
"Mampus kau!" ucapnya menyumpah.
Si King lalu menatap bawahannya bergiliran, "Ayoo pergi!"
ciiit ciiitt ciiittt
Mau tidak mau lima orang iblis menghentikan pergerakannya. Ratusan kelewalar berkerumun mengerubuti dan berusaha menggigit mereka.
"Sialan, dasar vampir brengsek!" Lagi, si King mengumpat kasar. Ia paham kalau seperti ini dia tidak bisa membagi timnya untuk melakukan pengejaran. Jadi... "Kita habisi orang ini secepatnya bersama-sama."
Tinggalkan pertarungan tak seimbang barusan, masih dengan tim recon yang hanya menyisakan dua orang saja. Mereka terus berlari hingga mencapai batas terluar kota Lilith yang masih terdapat bangunan-bangunan. Sekitar 2 km lagi akan sampai ke dinding pembatas kota.
Shanon telah membuat lingkaran sihir khusus yang mampu melubangi kekkai dan dinding beton. Hanya saja karena proses pembuatan dan perapalan manteranya cukup lama, Shanon membiarkan lingkaran sihir tetap ada selama menyusup ke dalam agar rute pelarian tetap terbuka. Tanda lingkaran sihir yang menempel di dinding pembatas kota hanya ditutupi dengan ranting dan dedaunan untuk menyamarkannya.
"Mereka masih saja mengejar kita." ucap laki-laki si siluman tupai.
"Ya. Makanya, kita tidak boleh berhenti." jawab Shanon sembari terus berlari.
Alasan kenapa sejak awal mereka berlari sangat sederhana. Terbang hanya memudahkan mereka diketahui musuh, apalagi iblis yang notabene punya sayap memiliki kemampuan terbang yang lebih baik.
tap.
"Aku punya ide."
"Eh, apa?" Shanon heran karena rekannya tiba-tiba berhenti, bahkan berjongkok dan memberikan punggung kepadanya.
"Naiklah."
"Aku masih bisa lari tahu, menggendongku hanya akan memperlambat kita."
"Tidak. Bukan itu maksudku. Kita akan lebih aman kalau bergerak tanpa terlihat. Aji Halimunan membuat tubuhku tak terlihat, jika kau kusentuh tanpa kau menapakkan kaki ke tanah, tubuhmu juga tak akan terlihat."
Shanon langsung mengerti.
Greepp...
"Kau lumayan berat juga yaa, Nona."
Tuk..
Shanon menjitak kepala si siluman tupai.
"Tak perlu berkomentar."
"Hahaaaa."
Kembali ke udara, nampak tiga iblis yang sedang terbang dilanda kebingungan. Dua lainnya pasti ditinggalkan dan sibuk menahan perlawanan Liviu.
"Kemana mereka? Tidak mungkin hilang begitu saja kan?"
Salah satu iblis bawahan mengutarakan pendapatnya, "Pasti mereka menggunakan teknik khusus yang membuat mereka tak terlihat."
"Telingaku juga tak mendengar apa-apa." sahut iblis yang lain.
Padahal telinga iblis sangat peka, kalau sampai tak mendengar apapun maka artinya orang itu bergerak sangat hati-hati atau tidak bergerak sama sekali.
Si pemimpin tersenyum tipis, "Yah harus kuakui, mereka cukup hebat sebagai tim pengintai dan penyusup. Tapi..."
"Hm?"
"Tapi mereka tidak akan bisa lari dari ini."
King dalam kelompok itupun menciptakan lingkaran sihir untuk mensummon familiarnya. Wujudnya seekor tikus, bukan hanya satu namun ada banyak seperti tak henti-hentinya keluar dari dalam lingkaran sihir.
"Tikus-tikusku ini memiliki indera penciuman yang sangat sensitif. Mereka pasti tahu mana bau-bauan asing yang bukan dari Underworld dan dengan cepat menemukan penyusup itu."
Berkat tikus-tikus pelacak, belum sampai tujuh menit target telah di temukan.
Laki-laki berbadan tinggi tegap dengan kulit kecoklatan sudah menunggu tepat di dekat dinding pembatas kota. Laki-laki dengan wajah khas serta memiliki ekor tampak tak menunjukkan tanda-tanda gemetar walau musuh yang dia hadapi jelas jauh lebih kuat darinya.
Mau tidak mau, ketiga iblis itu berhenti lagi.
"Errr, lagi-lagi seperti ini. Kapan kalian berhenti membuatku kesal huh?" perempuan iblis berteriak kesal kepada si laki-laki siluman tupai.
Si laki-laki tidak menjawab.
"Okeee, baiklah kalau itu maumu. Budak-budakku, kita habisi dia!"
Pertarungan pun tak terelakkan.
Melihat situasinya, tampak kalau iblis-iblis mengalami kesulitan menghadapi lawan yang satu ini dibanding yang sebelumnya.
Meskipun para iblis sanggup terbang, tapi siluman tupai rupanya memiliki kekuatan fisik yang sangat besar. Lompatannya tinggi-tinggi, sekali melompat dua tiga bangunan terlampaui. Terlebih lagi, iblis yang lebih mengandalkan sihir tidak terbiasa dengan pertarungan fisik.
Namun akhirnya, perbedaan kekuatan yang sejak awal sangat jauh pada akhirnya nampak jua. Main keroyokan dan tingkat intelegensia tinggi serta jam terbang pertarungan ketiga iblis yang lebih banyak, nyatanya mampu membuat si siluman terpojok.
Dia kini di kepung dari tiga arah, yang mana ketiga iblis sudah menyiapkan serangan sihir tipe area (splash damage) yang cukup dekstruktif. Dia tidak punya jalan kabur karena kemanapun pergi, pasti akan terkena dampak serangan.
"Hei kau, siluman tupai. Sebelum mati, aku akan berbaik hati memberimu kesempatan untuk memperkenalkan diri."
Sang siluman yang tengah tersudut menarik sudut bibirnya, nampak kalau dia sudah siap dengan segala resiko yang ia tanggung sejak memberanikan diri mengambil misi ini.
"Ah tak kusangka, rupanya iblis macam kalian masih punya sifat baik."
"Katakan saja! Tak usah banyak bicara lagi!"
"Iyaaa." si siluman jadi kesal. "Aku hanyalah ras setengah siluman tupai dan manusia. Tidak ada yang dapat dibanggakan dari hal itu. Tapi kalian harus tahu kalau aku masih berkerabat dengan keturunan keenam Gusti Prabu Siliwangi yang telah moksa, lepas dari urusan dan huru-hara duniawi lalu berubah menjadi harimau putih. Beliau sangat terkenal di tanah kelahiranku."
"Ya, aku pernah mendengar legenda nama itu. Lalu, namamu?"
"Namaku?"
"Hm."
"Aaaaaa..."
"Cepat katakan!"
"Kurasa aku tidak ingin mengatakan namaku pada kalian."
-Flashback, beberapa saat sebelumnya-
Shanon yang berada dalam gendongan mengernyit heran saat laki-laki yang menggengongnya berhenti.
"Ada apa lagi?"
"Kurasa kau harus pergi sendirian."
"Apa? Jangan bercanda!" Shanon begitu terkejut.
"Kita memang tak terlihat, tapi mereka pasti punya cara untuk menemukan kita."
"Ya, tapi..."
"Dengar, informasi harus sampai ke markas apapun caranya."
Shanon menapakkan kakinya lagi di tanah saat ia diturunkan paksa dari gendongan punggung sang laki-laki dan ia pun langsung terlihat mata. Begitu pula dengan si siluman tupai juga telah terlihat setelah ia melepas tali berupa kain putih yang melilit pinggangnya.
"Pakai lah!" si siluman menyerahkan kain tersebut pada Shanon.
"Apa ini?"
"Ini akan membuatmu tak terlihat. Sementara aku disini akan memberimu waktu untuk sampai ke check point yang dibuat Kapten Georg dengan selamat."
"Iya, tapi..."
"Cukup ikatkan kain ini di pinggangmu, maka kau akan aman. Ini tali pocong gadis perawan yang meninggal pada malam jum'at kliwon, syarat utama untuk mendapatkan kesaktian aji halimunan."
Shanon menunduk, ia enggan menerima tapi tangannya juwa menggapai kain itu.
"Teruslah lari ke depan dan jangan melihat ke belakang."
"Uhm." Shanon mengangguk.
"Gih sana!"
Shanon mulai berlari setelah bahunya ditepuk lumayan keras.
"Selamat tinggal." ucap laki-laki tadi.
Tanpa berbalik Shanon menyahut. "Bukan selamat tinggal, tapi sampai jumpa."
"Yah, sampai jumpa."
"Sampai jumpa lagi..." ucapan Shanon terhenti.
"Kali ini kau kuijinkan mengatakan namaku, Nona Shanon."
Shanon mengangguk dan berlari menjauh makin cepat.
"Sampai jumpa..., Sutedjo."
-Flashback End-
Shanon akhirnya berhasil berlari cukup jauh. Ia sudah 5 km dari dinding terluar kota Lilith. Langkah kakinya memelan karena kepayahan. Ia sekarang berjalan diantara semak, lebih baik lambat begini daripada ia terbang dan membuat dirinya mudah ditemukan.
Shanon tahu kalau dirinya masih belum aman.
Dan nyatanya, Shanon benar-benar tidak aman sama sekali.
"Hei jalang, ketemu juga kau akhirnya."
Raga Shanon sudah terlihat mata. Tali pocong perawan tidak lagi memberikan efek kesaktian aji Halimunan. Dia sendiri tidak mengerti, yang ada dipikirkannya hanyalah pasti telah terjadi hal buruk pada pemilik benda aneh menjijikkan ini.
Kehabisan tenaga akibat berlari membuat Shanon tidak berniat melakukan perlawanan. Dia menatap perempuan yang berhasil memburu dirinya.
"Kau! Ooooo, aku cukup tahu namamu, Eneely Vassago. Kandidat pewaris tahta keluarga iblis Vassago yang menempati urutan ketiga setelah Great King Bael dan Archduke Agares dari 72 pilar."
Hanya ada satu iblis, rupanya si King mengejar Shanon seorang diri.
"Bagus lah kalau kau mengenalku. Dengan begitu kau mati tidak membawa penyesalan akan rasa penarasan tentang identitas orang yang membunuhmu."
"Tch, aku sama sekali tidak akan menyesalkan itu. Satu-satunya yang kusesalkan jika aku mati adalah..."
'Teman-teman, maafkan aku. Kazuho, Liviu, dan... emmhh ahahahaa ufufuuuu, Sutedjo. Maaf karena aku tidak bisa memenuhi harapan kalian untuk terus hidup. Tapi aku pastikan pada kalian, informasi yang kita kumpulkan dengan susah payah akan sampai ke markas besar. Demi nyawa semua teman-teman kita.'
.
Berkilo-kilo meter jaraknya dari kota Lilith, di padang rumput, Sesorang muncul dari lingkaran sihir teleportasi yang berpendar kuning.
Georg, nama orang itu. Dia si pemegang Sacred Gear Longinus Dimension Lost.
"Ini sudah waktunya, dan kalian belum juga datang. Berarti..."
Kaaaa kaaaa kaaaa.
Georg mendongak ke atas. Tertangkap matanya seekor elang yang terbang menukik turun kearahnya. Ia pun mengangkat pergelangan tangan hingga elang berbulu perak kebiruan hinggap.
"Hm, elang dari keluarga Ravenclaw."
Elang itu pasti telah di lepaskan Shanon sebelum ia berhasil di temukan oleh Eneely Vassago.
Georg menyentuh simbol sihir yang terdapat di ujung cakar burung elang. Munculah saksara sihir tak beraturan.
"Kode?"
Mengerti hal itu, Georg pun memasukkan serangkaian kode untuk aktivasi sihir penyimpanan. Kemudian benda berbentuk permata keluar dari aksara sihir, sebuah paket informasi yang telah dimaterialisasi dengan teknik sihir tingkat tinggi.
Georg memhela nafas sendu. "Kerja bagus, kalian berempat. Saat pulang ke markas dan setelah perang usai, aku pasti akan menceritakan tentang kepahlawanan dan pengorbanan kalian. Aku janji. Dan... Selamat jalan, kawan."
Sang Kapten unit Recon dan Infiltrasi pun, pulang ke markas dengan membawakan sesuatu yang sangat berharga.
.
.
.
-Markas Persekutuan Penentang Imperium of Bible-
Di hamparan padang yang luas, di tengah-tengah deretan barak tempat pasukan beristirahat serta gudang-gudang penyimpanan logistik, senjata dan amunisi, terdapat tenda yang sangat berbeda dari lainnya. Paling besar, paling tinggi, paling lengkap fasilitasnya, nyaman, dan juga paling indah.
Tenda bukan sembarang tenda, karena tenda ini adalah tempat dewan perang persekutuan penentang Imperium of Bible berkumpul untuk memutuskan segala sesuatu.
Mereka yang berkepentingan duduk di balik meja berbentuk lengkung agar mudah saling menatap satu sama lain. Rapat sudah berlangsung sejak 25 menit yang lalu dan satu keputusan akan segera dimufakati bersama.
"Sudah saatnya kita memutuskan."
Rokudaime Hokage Hatake Kakashi sebagai ketua dewan meminta anggota dewan untuk segera memutuskan.
"Aku ingin suara kita benar-benar bulat." ucap Kakashi lagi sebelum anggota dewan lain berbicara.
"Moouu, Kakashi-san. Tak perlu lah kau tanyakan itu lagi, sudah jelas jawabannya kan?"
Bibir Yasaka mengerucut. Wajah eloknya yang dimahkotai surai kuning jingga menunjukkan ekspresi ogah-ogahan ikut rapat ini. Kenapa lagi memangnya, kalau sudah sampai sini memang bisa mundur eh?
"Bukan begitu maksudku, Yasaka-himesama. Aku ingin memastikan tak ada satupun dari kita yang menyesal. Tidak hanya tentang kita saja, tapi orang-orang yang menjadi tanggung jawab kita juga."
"Kakashi benar." sambung Tsunade Senju, si mantan Godaime Hokage. "Jika kalian benar-benar angkat senjata, tempat kalian masing-masing sangat riskan dijadikan target seranganan musuh."
"Iya. Kalau Konoha, aku yakin wargaku aman karena 90% nya telah bergabung dan membaur dengan manusia-manusia di bumi, khususnya Jepang, jadi pasti terhindar dari dampak peperangan. Kan sudah jelas perang ini untuk memperebutkan semua manusia sebagai pengikut. 10% sisanya masih tetap di Pulau Melayang Konoha, tapi aku yakin kampung halamanku tidak akan tersentuh sedikitpun."
Dewi Amaterasu perwakilan dari Takamagahara yang merupakan tempat tinggal dewa-dewi Shinto menggebrak meja dengan pelan.
"Kami sangat tahu resiko itu, tapi mau bagaimana lagi? Seperti kata anak muda berambut merah, lebih baik begitu daripada dijajah. Aku setuju sekali dengan dia. Memang mau dikemanakan harga diriku? Cukup sekali saat Pak Tua Odin datang ke Jepang, kali ini aku tidak ingin tunduk begitu saja."
"Ya, ta-..."
"Sudah lah, Tuan Masker. Selain dewa-dewi dan ribuan pasukan perang terbaik yang kubawa kemari, masih ada adikku Dewi Tsukyomi dan Dewa Susano'o berserta setengah penduduk Negri Langit yang siap mempertahankan Takamagahara jika perang sampai meluas kesana. Fokus saja dengan yang disini." potong Dewi Amaterasu tegas.
Melihat dari ekspresi dan cara bicaranya, jelas sekali dia benar-benar serius dengan perang ini.
Ke kursi lainnya, sesosok dewa yang berwujud pria tua berhidung panjang dengan kulit berwarna kemerahan angkat bicara. Dia sama seperti Amaterasu, dipuja sebagai dewa matahari oleh Suku Maya dari Benua Amerika. Dewa Kinich Ahau.
"Kalau aku, tak perlu dipikirkan. Tempatku asalku sudah kosong, tidak ada yang berharga untuk dihancurkan. Kami semua, dewa-dewa beserta pelayan-pelayannya yang tersisa sudah bergabung dengan Korps Utama pasukan perang."
Dibanding mitologi lainnya, Mitologi dari Amerika ini terbilang sangat kecil. Penghuni kerajaan mereka berjumlah kurang 100 entitas hidup termasuk beberapa dewanya. Karena itu lah, dengan keyakinan kuat dan tekad berani mati, mereka semua maju ke medan perang dan meninggalkan kampung halaman.
Jika kalah maka ya sudah, tapi jika menang Kinich Ahau dan rombongannya berniat mencari tempat tinggal baru.
Pandangan kemudian tertuju pada sepasang makhluk bertaring penghisap darah.
Ah, tapi mereka tidak semenyeramkan itu. Keduanya tampak berwibawa.
Lord Tepes meletakkan kedua tangannya di atas meja dan mulai bicara. "Kota Tepes sudah hancur akibat serangan Rizevim dan pasukan naga jahatnya. Untung saja penduduknya berhasil dievakuasi sebelum kejadian itu dan semuanya selamat. Mereka semua sekarang berada di dataran Siberia Timur di Negara Rusia, diantara pegunungan yang dekat dengan Samudra Arktic di Kutub Utara. Mereka pasti aman di sana."
Ratu Carmilla melanjutkan, "Penduduk vampir dari Fraksi Carmilla juga telah berada disana bergabung dengan Tepes. Sekarang kota Carmilla hampir kosong. Sisanya, prajurit-prajurit vampir terbaik sudah sejak dua minggu lalu berada di markas kita ini. So, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."
Semuanya mengangguk setelah penuturan lembut Ratu Carmilla. Dengan begini, mereka semua bisa fokus hanya untuk berperang.
"Lantas bagaimana denganmu, Yasaka-himesama?" tanya Tsunade.
"Em yah, aku juga sudah melakukan hal yang sama pada rakyatku di Kyoto. Evakuasi ke tempat aman sudah lama dilakukan."
"Kapan?"
"Sudah sekitar tiga minggu. Utusanku yang masih melakukan kerjasama dengan pihak Aliansi merasakan kalau beberapa petinggi disana mulai mencurigai kami. Mereka mulai sadar kalau kami menipu mereka."
"Begitu kah? Terus kemana memindahkan rakyatmu?"
"Ke wilayah paling selatan Jepang, Okinawa."
"Huh?" Kakashi terheran-heran. "Bukankah Okinawa jauh lebih ramai daripada di Kyoto, dan lagi sangat jarang ada kuil-kuil atau tempat mistis di kota pariwisata musim panas itu?"
"Ya, itu lah pertimbanganku. Aliansi pasti tidak akan terpikir kalau aku memindahkan rakyatku ke sana."
"Lalu bagaimana dengan Kota Kyoto itu sendiri. Bukannya kota tempat tinggalmu itu sangat berharga dan banyak menyimpan misteri-misteri dan kekuatan mistis, Yasaka himesama?"
Yasaka berkedip-kedip nakal pada Kakashi. "Nee, Kakashi-san. Kau tidak lupa kan akan rencana kita tentang itu kan? Eheheee."
Rona merah tipis terukir di pipi Kakashi, malu karena ketahuan melupakan urusan diantara mereka berdua.
"Oh, iya ya. Gomen, aku lupa." Kakashi tertawa hambar.
"No Problem."
Setelah hening sejenak, Kakashi menghela nafas panjang. "Seandainya Ratu Penguasa Laut Selatan Java bisa hadir kesini."
Tsunade mengangkat tangannya, "Aku sudah menerima khabar dari dia. Beberapa hari lalu seorang kurir menyampaikan pesannya kepadaku. Dia minta maaf karena tidak bisa ikut kesini. Sebagai Ratu, ia benar-benar tidak bisa meninggalkan singasananya terlalu lama karena bisa berakibat pada fenomena alam ekstrim yang melanda Laut Selatan. Bisa-bisa Pulau Java dilanda bencana hebat kalau dia tidak menjaga ketenangan Laut Selatan."
"Hm, begitu ya."
"Ya. Tapi tak masalah, dia yang paling banyak mengirimkan pasukan kan? Peranannya sangat besar meski ia tidak disini."
"Tapi...?"
"Tak perlu khawatir, wilayah Laut Selatan adalah wilayah paling belakang dari konflik. Sangat kecil peluang perang sampai kesana." potong Tsunade.
Setelah menerima informasi dari Kage pendahulunya, Kakashi menegakkan kembali badannya.
"Jadi, keputusanya?"
"Semua yang disini, akan maju berperang dengan niat penuh."
Mereka menjawab bersamaan. Mufakat dicapai.
Selanjutnya adalah...
Membahas masalah dimana tanah yang akan di jadikan arena perang.
Ini masalah yang sangat krusial. Mana ada perang yang tanpa tempat, iya kan? Kemenangan pun lebih berpihak kepada kubu yang menentukan dimana arena perang.
Dan Pasukan Persekutuan memiliki keuntungan itu.
Aliansi hanya tahu tentang Konoha, belum tahu siapa saja Sekutunya, apalagi markas besar persekutuan ini. Lebih dari itu, tampaknya Aliansi bahkan belum tahu bagaimana caranya pergi ke Konoha meski sudah mengetahui letak koordinatnya, yakni 50 km sebelah tenggara Kota Kuoh. Meski mulai melemah dan pudar, tapi Jikukan Kekkai Hogou Nisshouku yang diciptakan oleh Naruto masih berfungsi baik walau entah untuk berapa hari lagi lamanya.
Jadi,
"Ini usulan dariku tentang dimana arena perang. Aku sudah mendiskusikannya dengan Kapten dari setiap Divisi Tempur dan Unit-Unit pasukan pendukung."
Seseorang yang sejak tadi terlupakan akhirnya buka suara. Gaara selaku Komandan Tertinggi yang bertanggung jawab langsung kepada Dewan Perang sekalipus pelaksana putusan Dewan. Dia berdiri menghadap semua anggota Dewan.
Gaara meletakkan sebuah benda kecil seperti permata di tengah-tengah ruangan. Saat dia sentuh ujung atasnya, muncullah hologram tiga dimensi. Hologram tersebut berupa penampakan wilayah beserta bentang alamnya dengan sangat detail.
"Semua data dan informasi ini dikumpulkan dengan susah payah oleh Unit Recon dan Infiltrator bahkan dengan berkorban nyawa. Berdasarkan data-data ini, kami mengusulkan untuk menjadikan Underworld sebagai arena perang, lebih tepatnya di wilayah kekuasaan Keluarga Iblis Gremory yang termasuk dalam 72 pilar."
"Apa alasannya, anak muda?"
"Dari informasi yang didapat, di wilayah Gremory lah pasukan iblis yang menjadi lawan kita berkumpul. Tidak kurang dari 90 ribu pasukan sudah siaga tempur disana, tepat di Ibukota Lilith pusat pemerintahan Maou Sirzech Lucifer."
"Tapi... Jelas-jelas itu wilayah musuh, kau mau cari mati dan membunuh pasukanmu sendiri huh?" Dewi Amaterasu memprotes keras.
"Dataran berserta perairan dan kepulauan territori Gremory yang luasnya seluas negara Jepang memiliki bentang alam yang sangat beragam. Dari padang gurun, padang rumput luas, padang salju, pegunungan, sampai hutan belantara yang sangat lebat dengan pohon-pohon yang tinggi dan besar. Selain itu wilayah perairan juga cukup kompleks, selain laut dan selat yang penuh batu karang, juga ada danau besar di tengah daratan, ada pula padang rawa. Untuk pasukan kita yang sangat beragam dari segi teknik dan kemampuan, semua itu menjadi keuntungan yang sangat bagus. Jumlah pasukan kita yang jauh lebih sedikit, membuat kita akan lebih banyak melakukan taktik gerilya."
Dewa Kinich Ahau magut-magut mengerti. Alasan yang sangat logic. Biarpun bagi iblis, terutama pasukan yang bekerja dibawah pemerintahan Maou Sirzech Lucifer menganggap wilayah itu sebagai rumah sendiri, tapi ia tetap yakin dengan keputusan yang diambil oleh sang Komandan Tertinggi. Pasalnya ia sudah melihat sendiri pilar utama pasukan persekutuan, yaitu dua puluh ribu shinobi-shinobi terbaik Konoha. Para ninja yang notabene adalah manusia dari dunia lain memiliki teknik dan kemampuan bertarung yang sangat variatif dan beragam. Sebuah unit pasukan mengerikan yang mampu bertempur dalam medan perang macam apapun.
"Aku tidak bisa bilang tidak." kata Ratu Carmilla sambil bertopang dagu. "Emm, jadi dimana kita meletakkan markas kita di wilayah Gremory sana?"
Gaara memainkan gambar hologram 3D yang ada di tengah-tengah. Ia putar dan ia zoom pada sebuah titik yang diberi tanda silang.
"Disini."
Gaara menunjuk sebuah semenanjung di wilayah paling utara Gremory. Semenanjung tersebut terhubung dengan daratan utama melewati sebuah jalur darat melengkung seperti huruf C yang lumayan lebar dan panjang. Bagian tengahnya berupa teluk dari lautan luas yang menjorok ke dalam.
"Hm?"
"Tempat itu dikenal dengan nama Tanjung Harapan, 100 km dari Ibukota Lilith."
Senyap, tampaknya mereka masih belum mengerti kenapa titik itu dipilih. Jaraknya ke ibukota musuh terbilang cukup jauh. Jika berperang, jarak menjadi pertimbangan penting sebab jarak yang terlalu jauh hanya akan membuat pasukan sendiri kelelahan sebelum mencapai titik pusat kekuatan musuh.
"Akan kujelaskan."
Mengerti keingintahuan mereka, Gaara menunjukkan detail lain yang belum terlihat dalam peta hologram.
"Semenanjung ini menurut analisa kami adalah tempat paling strategis. Wilayah dan iklimnya cukup mendukung untuk kita menetap sementara. Bagian belakang, ah maksudnya sebelah utaranya lagi adalah samudra luas dengan fenomena alam sangat ekstrim yang tidak memungkinkan adanya makhluk yang dapat hidup disana. Mirip seperti kutub dimana terdapat banyak gunung es raksasa yang mengapung di lautan dingin dan selalu ditutupi oleh badai salju hebat beserta petir-petirnya yang tak pernah berhenti sepanjang tahun. Jadi, kami pikir titik ini akan sangat aman oleh serangan dari belakang. Yah walaupun mungkin ada iblis yang mampu melewatinya, paling hanya beberapa iblis kuat saja atau beberapa tim, bukan pasukan besar. Hal ini bisa kita antisipasi.
Bagian samping kiri dan kanan tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena aksesnya sangat jauh. Jika ada pasukan musuh dari kota Lilith yang ingin menyerang dari jalur samping, mereka harus melewati jalan memutar menyisir pantai dan menyebrangi laut yang jaraknya enam kali lipat. Mereka pasti tidak akan mau membuang-buang tenaga untuk hal seperti itu. Meski begitu, tetap akan ada penjagaan pada jalur ini.
Satu-satunya jalan bagi musuh untuk menyerang kita hanyalah dari depan saja. Baik itu melewati jalur darat di sepanjang semenanjung yang melengkung ataupun melewati jalur udara melintasi teluk."
"Gaara, itu artinya pasukan kita juga hanya bisa bergerak ke depan melewati jalur yang sama juga kan?" Tsunade ikut menyuarakan pertanyaan.
"Ya. Tapi aku yakin pasukan kita lebih unggul dalam medan perang dari markas hingga ke tengah-tengah antara titik X ini dengan kota Lilith. Bentang alamnya sangat menguntungkan kita, terutama jika melakukan taktik gerilya. Jika bergerak lebih dahulu, kita bisa memasang perangkap disana-sini. Hal paling baiknya, pasukan kita tidak akan mungkin dikepung oleh mereka selama kita masih berada di jalur aman antara markas di titik X sampai ke titik tengah."
"Kalau begitu, jika pasukan kita bergerak maju ke depan untuk menyerbu Kota Lilith, kita bisa saja dikepung kan?"
"Kami memustuskan untuk tidak menyerbu kota Lilith." jawab Gaara singkat.
"Huh?" Yasaka tidak mengerti. Bagaimana caranya menang kalau markas musuh tidak diserang?
"Kami mengutamakan untuk memancing pasukan musuh ke arena yang menguntungkan kita untuk dihabisi di sana. Arogansi dan sifat haus pertarungan akan mudah membuat mereka termakan umpan?"
"Kalau mereka tidak mematuk umpan?" Dewi Amaterasu berpikir untuk kemungkinan lain.
"Akan ada rencana cadangan. Tenang saja, Amaterasu-sama."
"Baiklah, kupercayakan itu padamu."
"Penjelasanku sudah selesai. Kalau begitu, apa Dewan menyetujui usulan ini? Usul untuk menjadikan wilayah Gremory sebagai arena perang."
"Aku setuju." tukas Tsunade pertama kali.
"Aku juga." sambung Yasaka. "Kupikir itu memang pilihan terbaik yang kita miliki."
Sisa anggota lainnya ikut memberikan anggukan. Kecuali...
"Kazekage-sama!" Kakashi berseru. "Bagaimana dengan iblis-iblis non petarung penduduk sipil Underworld di wilayah Gremory."
"Oh astaga, kau terlalu lembek pada musuh, Rokudaime." ucap Dewi Amaterasu sinis. Rupa-rupanya dia cukup kesal dengan Aliansi sampai tidak mempedulikan orang biasa yang tak ada hubungannya dengan perang.
"Ya mau bagaimana lagi, itu sudah jadi aturan umum dalam perang kan? Tidak boleh menyakiti warga sipil, terutama wanita dan anak-anak."
"Huufft, serahmu lah!" Dewi Amaterasu mengibas-ngibaskan telapak tangannya, ia nampak tak peduli tentang itu.
"Tentang hal itu, tak perlu dipermasalahkan. Informasi yang dikumpulkan tim pengintai menyebutkan bahwa tidak ada warga sipil di sepanjang wilayah yang akan kita jadikan arena perang. Setelah mereka menelusuri, ternyata semua penduduk sipil telah dievakuasi ke dalam kota untuk diamankan dan mendapat penjagaan ketat."
"Hm, itu berita bagus malah." Kakashi menepukkan kedua telapak tangannya. "Baiklah, kalau begitu. Telah disetujui untuk perang akbar ini, territori Gremory adalah arenanya."
Gaara mengutak-atik gambar hologram di depannya untuk menampilkan data lainnya. Kali ini bukan peta tapi seperti sebuah struktur atau bagan.
"Kurasa ini penting untuk kusampaikan, komposisi pasukan musuh yang berasal dari Fraksi Iblis. Di Ibukota Lilith, seluruh pasukan iblis telah berkumpul. 90 ribu lebih, termasuk di dalamnya puluhan Iblis Ultimate Class, beratus-ratus Iblis Kelas Tinggi, serta 500 tim Evil Piece yang berasal dari golongan Pure Blood Devil maupun iblis reinkarnasi berkemampuan khusus. Dalam data ini juga ada nama-nama populer yang menduduki posisi penting dalam pasukan mereka. Seluruh pasukan berada dibawah komando langsung Empat Maou Underworld. Banyaknya pemimpin di kubu mereka membuat pasukan sebesar itu sanggup bergerak dinamis. Dua korps lainnya, malaikat dan malaikat jatuh ada di Surga dan di Grigori. Masih belum diketahui kapan dan dimana ketiga fraksi akan menyatukan kekuatan. Tapi..."
"Tapi kalau kita menyerang Fraksi Iblis lebih dulu, maka sudah pasti Surga dan Grigori akan mengirimkan pasukannya ke kota Lilith sebagai bantuan, iya kan?" tebak Kakashi.
"Ya. Bahkan tim pengintai kita sudah memastikan bahwa ada jembatan teleportasi massal yang menghubungkan Kota Lilith, Grigori, dan Surga untuk memudahkan mobilisasi pasukan mereka kalau perang benar-benar dimulai."
"Naaa, Gaara-kun." mata Yasaka menatap lurus ke arah Gaara. "Rencana yang kau dan anak buahmu susun sudah hampir sempurna, tapi bagaimana caranya kita memindahkan semua pasukan kita di tempat ini ke titik X di Tanjung Harapan?"
"Uchiha Sasuke dengan doujutsu Ultimate Rinne-sharingan bekerja sama dengan Pemilik Sacred Gear Longinus Dimension Lost yang akan membuat gerbang teleportasi raksasa yang menghubungkan tempat ini dengan Tanjung Harapan sebagai jalan masuk kita ke Underworld. Gerbang yang diberi nama The Gate of Sun. Untuk permulaan kita akan berperang dengan sistem rolling, separuh pasukan maju separuh lagi tinggal di dalam dimensi ruang buatan tempat markas kita ini. Setelah seharian bertempur dan kelelahan maka pasukan akan bertukar posisi. Ini untuk menjaga stamina dan kekuatan tempur pasukan kita tetap prima, sebab tidak hanya bantuan dari Grigori dan Surga yang jumlahnya sangat banyak, kita tidak bisa melupakan kalau Aliansi masih memiliki 1 juta malaikat kloning."
Segenap orang di dalam ruang itu seakan baru saja tersadar. Yah, mereka tidak bisa menganggap enteng kalimat terakhir Gaara. Satu juta malaikat kloning, itu lah kekuatan perang utama Aliansi pengusung Imperium of Bible.
Walaupun begitu, setelah sampai disini mereka semua cukup optimis dengan segala persiapan dan rencana yang telah dibuat.
"Aku mengerti, gerbang itu juga membuat markas kita ini tak tersentuh kan? Dengan gerbang teleportasi satu arah, tak satupun musuh yang bisa masuk kesini." Lord Tepes merasa masih ada yang kurang. "Tetapi siapa yang akan menjaga gerbang raksasa itu. Kalau gerbangnya hancur, kita akan putus komunikasi, pasukan yang berada di wilayah musuh pasti dalam bahaya besar, dan rolling tidak bisa dilakukan. Bantuan dari belakang juga pasti terhambat. Apalagi untuk memindahkan pasukan kita dengan cepat, pasti membutuhkan gerbang yang sangat besar kan? Tidak mustahil musuh akan melihatnya dari jarak 100 km dan menembaknya dengan serangan jarak jauh."
Gaara menyeringai lalu menatap seseorang, "Untuk menjawabnya, bantuan satu orang disini sangat diperlukan."
Orang yang dimaksud Gaara langsung bereaksi dengan mata sayu kekurangan semangat, "Gh, mataku bisa perih kalau begitu caranya."
Gaara sudah menyampaikan semua yang harus dia laporkan. Semua anggota dewan merasa segalanya sudah lebih dari cukup.
"Hm." Dewi Amaterasu mengguman pelan. "Konoha... Aku benar-benar kagum. Orang-orang kalian banyak menempati posisi penting dalam pasukan perang, dan dalam waktu singkat mampu mengorganisir semuanya dengan sangat baik. Kalian seperti sangat ahli dalam berperang. Sepak terjang politik kalian juga luar biasa, meski pedatang baru tapi sudah mampu menanggapi masalah global dunia supranatural sepelik ini. Menarik dukungan dari golongan-golongan yang bisa dijadikan sekutu. Membuat orang lain dengan begitu mudahnya menaruh kepercayaan penuh. Aku... Aku sudah kehabisan kata-kata." semua pujian terlontar enteng dari mulut Sang Dewa Tertinggi dalam Reliji Shinto.
"Emh, terima kasih Amaterasu-sama. Kami menjanjikan kemenangan dan mengusahakannya, tapi yang paling pasti kami tidak akan pernah mengecewakanmu. Pegang kata-kataku!"
Tsunade mengambil alih, "Ah ya sudah. Sekarang aku ingin dengar persiapan lainnya."
Gaara melanjutkan laporannya, "Unit komando sudah dibentuk untuk mengatur strategi dan formasi. Dipilih dari jenius-jenius terbaik."
"Pastikan unit-unit medis sudah siap! Logistiknya jangan sampai kurang."
"Ha'i. Shikamaru juga telah memeriksa rangkaian jaringan komunikasi seluruh pasukan dan memastikan semuanya terhubung dengan benar."
"Bagus. Unit-unit satuan pendukung jangan sampai ada yang belum siap!"
"Siap laksanakan!"
Kakashi angkat suara lagi untuk menutup rapat.
"Baiklah. Sekarang semua sudah jelas. Kita akan memulai serangan lebih dulu, setidaknya sebelum pasukan dari Grigori dan Surga sampai ke Underworld. Sebisa mungkin kita melemahkan Fraksi Iblis sebelum mereka bergabung menjadi besar. Peluang kemenangan tertinggi bagi siapa yang menyerang lebih dulu. 150 menit dari sekarang, tepat saat batas waktu ultimatum yang dinyatakan Michael habis, kita akan memulai serangan."
.
.
-Lilith City, Gremory's Territory-
Tepat di pusat kota di atas bangunan berarsitektur indah yang bagian atapnya rata, beberapa orang berkumpul. Sirzech Lucifer bersama rekan sesama Maou dan orang-orang terdekatnya berdiri di atas sana. Dia baru saja menyelesaikan pidato penyangga mental dan pembangkit semangat seluruh bala tentara pasukan Fraksi Iblis.
Lebih dari 90 iblis dari berbagai golongan bersorak-sorai dengan gembira di alun-alun kota yang sangat luas. Mereka sangat yakin pasti menang. Sampai detik-detik terakhir ini, ultimatum Aliansi belum mendapat tanggapan oleh pihak Konoha sehingga perang pasti akan benar-benar pecah. Di bawah kepemimpinan orang-orang hebat dan legendaris, tak ada lagi yang perlu mereka takutkan.
Sirzech menanyai rekannya, Maou Ajuka Beelzebub.
"Tidak ada lagi yang tertinggal kan?"
"Ya, aku yakin."
"Bagus."
Lalu si panglima perang pasukan Fraksi Iblis datang ikut bicara, "Kudengar ada tim musuh yang berhasil menyusup kemari."
Sirzech mengangguk, "Benar, Falbium. Tapi tenang saja, orang-orang itu sudah dibereskan oleh Eneely Vassago dan peeragenya."
Falbium adalah panglima perang yang mengkomando langsung seluruh pasukan. Kepiawaiannya mengatur formasi dan menyusun strategi perang membuatnya pantas menempati posisi ini. Tak seorangpun yang meragukan kemampuannya.
"Mereka sudah mati?"
Sirzech menggeleng, "Tidak. Empat orang itu berhasil diringkus hidup-hidup. Mereka dibawa ke ruang isolasi untuk diinterogasi. Jika kita mendapatkan banyak informasi tentang musuh, pasti akan memudahkan kita meraih kemenangan."
"Memangnya bisa?"
"Entahlah, tampaknya akan sangat sulit. Kau masih ingat dengan Sona dan Tsubaki yang masih tak sadarkan diri kan, Falbium?"
"Ya."
"Persis dua anak muda itu, keempat orang yang kita tangkap sepertinya telah ditanami segel pengunci ingatan oleh pimpinan mereka sendiri. Segel yang otomatis aktif jika mereka tertangkap"
"Sialan! Musuh kita ternyata sangat hati-hati." Falbium geram dibuatnya. Dia baru tahu ada musuh semerepotkan ini.
"Ya sudah lah. Tak perlu memikirkan itu, tim interogasi akan melanjutkan membuka paksa ingatan mereka. Toh kalau mereka mati juga tak masalah."
"Uhm. Aku sependapat, Sirzech." kata Ajuka.
"Lalu, bagaimana sekarang? Batas waktu ultimatum hanya beberapa saat lagi. Mereka benar-benar serius memilih berperang dengan kita. Jadi kemana kita akan menyerang, Falbium? Bukannya kau sudah menemukan koordinat keberadaan Konoha."
"Ya, sudah lama ketemu meski aku masih belum berhasil menemukan jalan masuk ke sana. Kupikir mereka harus dipancing keluar."
"Tidak perlu."
Maou Serafall Leviathan masuk begitu saja ke dalam obrolan tiga laki-laki tadi, lagipula jabatan mereka semua sederajat.
"Hah?"
"Kenapa, Serafall?"
"Arah jam 12, 100 km."
Sontak ketiga Maou menfokuskan matanya ke arah yang dimaksud Serafall, ke arah utara. Dari atas atap, mereka bisa melihat jelas apa yang ada di sana.
Mulanya mereka bertiga terkejut, tapi seringaian tipis menyusul kemudian.
"Khukhukhuuu. Tak perlu repot-repot lagi, mereka sendirilah yang membukakan jalan untuk kita."
Menanggapi tawa Ajuka, Falbium melakukan analisis kecil di otaknya.
"Dari penampakannya, aku yakin itu adalah gerbang teleportasi. Ukurannya sangat besar, bahkan dari jarak 100 km bisa dengan mudah kita lihat. Mereka bodoh atau apa? membuka pintu rumah lebar-lebar."
Seperti yang Falbium katakan, dari jarak yang cukup jauh ini, penglihatan iblis yang lebih tajam dari manusia biasa mampu menangkap keseluruhan wujud fisik gerbang teleportasi. Lebarnya selebar sebuah jurang dengan tinggi seperti gunung. Aksara-aksara sihir yang terlukis bercampur dengan adanya distraksi dimensi ruang berbentuk pusaran pada bagian tengah menunjukkan dengan pasti bahwa gerbang itu milik orang Konoha.
Sirzech melangkah ke tepi atap bangunan, ia berseru kepada seluruh bala tentara iblis yang memenuhi alun-alun kota.
"Dengarlah wahai semua prajurit tangguh pelindung ras iblis, batas waktu ultimatum kita telah habis. Kita akan berperang. Musuh sudah menunjukkan diri. Lihatlah ke utara, di Tanjung Harapan. Mereka lah musuh kita. Demi mengembalikan harga diri ras iblis yang telah mereka injak-injak, kita akan memusnahkan mereka sampai tak bersisa."
Kata-kata itu saja lebih dari cukup untuk membuat seluruh bala tentara terbakar api semangat. Mereka mungkin tak tahu banyak, tapi mereka sangat tahu bahwa Uzumaki Naruto dari Konoha pernah hampir menghancurkan seluruh Underworld dan ras Iblis saat insiden serangan teror di Kota Auros. Kebencian dan dendam di hati mereka semua terus dipupuk sejak saat itu. Dan pada moment inilah, saatnya mereka membalas Konoha.
Tiba-tiba ide kecil terlintas di orak Sirzech.
"Lihatlah! Akan kutunjukkan pada kalian apa yang akan kuperbuat sebagai Maou kepada siapapun yang mengusik kedamaian Underworld."
Sirzech mengangkat tangannya keatas. Sebuah lingkaran sihir dengan simbol keluarga Gremory yang cukup besar tercipta di udara, arahnya persis menuju lokasi munculnya gerbang teleportasi, Tanjung Harapan.
"Gerbang teleportasi mereka sudah aktif, bagaimana jika aku menembakkan Power of Destruction melintasi gerbang teleportasi lalu menghancurkan tempat asal mereka di seberang sana."
Kian lama, lingkaran sihir berwarna crimson menyala makin terang. Gumpalan padat energi sihir berwarna hitam dengan outline merah crimson yang mengerikan tercipta di depannya dan tumbuh semakin besar.
"Fire!"
BLAAAAAAAASSSSSTTTTT!
Bak laser hitam raksasa, serangan pemusnah diluncurkan tanpa ampun. Serangan tersebut meluncur lurus dengan kecepatan tinggi di udara. Tidak sampai tiga detik, energi Power of Destruction telah sampai di gerbang teleportasi Konoha.
Shuuuu...
Flaaaaaaaaaasssshhhhh!
Mula-mula langit menggelap, namun langsung berubah tatkala cahaya terang yang sangat menyilaukan tercipta di ufuk utara tempat jatuhnya laser hitam Power of Destruction. Cahaya yang awalnya kecil tumbuh sangat besar membentuk kubah setengah bola yang melahap apapun yang dilaluinya. Saat cahaya memudar, tersisa awan jamur raksasa yang tingginya menembus awan, bagian atasnya saja mencapai lebar 15 km. Beberapa belas detik kemudian, barulah...
KAAABBBOOOOOOOOOMMMM!
... suara ledakan yang menguncang daratan bak sedang gempa datang menyusul. Kecepatan rambat suara dan gelombang kejut ledakan yang lebih lambat dari kecepatan cahaya, membuat efek goncangan ini terlambat sampai ke kota Lilith. Namun saat sampai, tak seorangpun yang tak merasakan kengeriannya.
Sungguh ledakan yang sangat dahsyat. Lebih dahsyat dari ledakan bom atom sekalipun. Tak dapat ditampik, itu lah kekuatan penghancur dari Maou Sirzech Lucifer.
Akan tetapi, raut wajah Serafall tidak menunjukkan kegembiraan. Dia malah terkejut.
"Sirzech, seranganmu meleset."
"Huh? Tidak mungkin!"
Ajuka menepuk bahu Sirzech, ia setuju dengan Serafall. "Itu benar, ledakannya tidak terjadi di Tanjung Harapan, tapi jauh di utara. Menghancurkan gunung es raksasa yang ada jauh dibelakangnya."
Benar apa kata Ajuka. Saat udara sudah bersih dari efek ledakan, tampak jelas di mata kalau Gerbang Teleportasi yang ada di semenanjung masih berdiri tegak.
"Ah aku mengerti sekarang. Seranganmu sebenarnya tidak meleset Sirzech."
"Hh? katakan Serafall!"
"Seranganmu melewatinya. Kau tidak lupa dengan Hatake Kakashi yang datang ke Kuoh tanpa diundang waktu itu kan? Semua serangan adik-adik kita melewati dia tanpa memberikan efek apa-apa."
"Teknik ruang-waktu..., Kamui kah?"
"Ya, pasti gerbang itu dilindungi penghalang Kamui yang membuatnya tidak bisa diserang secara fisik."
"Aku kira akan mudah, tapi ternyata mereka cukup hebat." bahu Sirzech turun seiring embusan nafasnya yang cukup panjang.
"Hei kalian bertiga!" Falbium berseru tegas. "Lihat baik-baik ke gerbang itu, ada sesuatu yang datang."
Fokus pada gerbang teleportasi The Gate of Sun. Sesosok makhluk astral melangkah keluar. Pertama adalah kaki kanannya, kemudian disusul kepala, tangan dan badan, lalu yang terakhir kaki kiri. Berdiri persis didepan gerbang raksasa. Makhluk astral berwarna ungu yang tingginya mencapai 100 meter berdiri tegak perkasa dengan pose menantang.
Sosok berhidung panjang yang muncul, bersayap seperti elang, serta memakai baju zirah perang lengkap dengan senjata berupa empat bilah katana yang tersarung di pinggang, bukanlah makhluk hidup melainkan materialiasi energi chakra menjadi bentuk fisik.
Itulah, bentuk The Great Full Armored Susanoo yang dibangkitkan oleh Uchiha Sasuke.
Penampakan itulah yang terlihat oleh keempat Maou dari atap. Mereka cukup tahu siapa manusia pemilik nama Uchiha Sasuke. Dua kali muncul di hadapan mereka, yaitu saat pertemuan pembentukan Aliansi di Kota Kouh dan di pinggiran wilayah vampir Rumania saat dia sendirian menghadang ribuan bala tentara iblis, malaikat, dan malaikat jatuh.
"Tch, orang itu lagi." Ajuka lagi-lagi bersungut kesal.
"Mau apa dia? Aku yakin dia adalah ujung tombak kekuatan musuh kita, tapi kenapa muncul duluan?" tanya Serafall. Dijawab atau tidak bukan masalah, ia hanya bingung dengan strategi Konoha.
"Eh, apa yang dia lakukan?"
Falbium makin tidak mengerti saat melihat Sasuke yang berada di dalam sosok astral Susanoo membuat tiga segel tangan beruntun yang gerakannya diikuti secara bersamaan oleh tubuh Susanoo.
Sesaat kemudian, kebingungan Falbium langsung terjawab.
"Di langit!"
Koneko yang berada di sana, pertama kali menyadarinya.
Sebagai bagian dari Fraksi Iblis, Rias dan seluruh peeragenya berada di tempat ini. Mereka berada di atap karena hubungannya dengan Maou Sirzech Lucifer. Mereka semua cukup sadar diri untuk diam seperti anak penurut di belakang punggung Sirzech.
Menengok ke atas, ke langit yang tertutup awan. Perlahan muncul bayangan gelap yang mula-mula tipis dan semakin menggelap seiring waktu. Seperti hendak terjadi gerhana.
Fenomena menggelapnya langit tentu membuat seluruh bala tentara iblis kebingungan.
Namun seketika itu pula berubah menjadi ketakutan tatkala gumpalan awan memuntahkan benda yang menghalangi cahaya matahari di langit.
Sebuah meteor raksasa.
Meteor kolosal, meteor yang ukurannya sepersepuluh lebar kota Lilith.
Jangan ditanya bagaimana akibatnya, jika meteornya benar-benar jatuh ke tanah, kota Lilith pasti berubah menjadi kawah raksasa.
Hanya petinggi saja yang tetap tenang.
Sirzech memanggil budak terbaik adiknya.
"Issei-kun!"
"I-iya, Sirzech-sama." Ekspresi di wajah pemuda usia sekolah ini tampak seperti orang ketakutan, walaupun tipis.
"Kau adalah Sekiryutei. Aku yakin pada dirimu. Kau bisa menghancurkan benda yang dijatuh musuh dari langit. Tunjukkan pada Konoha, kemampuan terbaikmu dan buat mereka ketakutan. Kau paham?!"
Glek.
Mendapat dorongan kata-kata dari seorang Maou, ternyata mampu membalikkan isi pikiran Issei 180 derajat. Ia yakin bisa, dia bersumpah tidak akan mempermalukan namanya sebagai Sekiryutei terbaik sepanjang jaman.
"Akan kulakukan!"
Issei melangkah maju dengan penuh semangat. Ia pun mulai merapal mantra seiring tubuhnya yang terselimuti aura crimson yang bersinar terang.
"Aku, orang yang bangkit sebagai Sekiryuutei yang memegang kebenaran Raja yang agung. Memiliki harapan tanpa batas, mimpi yang tidak dapat hancur, dan berjalan dijalan kebenaran. Aku akan menjadi Kaisar Naga Crimson. Dan aku akan memimpinmu ke jalan surga yang bersinar dalam cahaya Crimson!"
Cardinal Crimson Full Drive!
Aura berwarna merah krimson yang menyelubungi tubuh Issei memadat dan berubah bentuk menjadi armor yang tebal dan futuristik dengan warna merah krimson metalik.
Crimson Blaster
Pada bagian punggung di dekat pangkal sayap, tumbuh sepasang canon. Moncong canon mengatur diri di bahu lalu mengunci targetnya, meteor di langit.
BoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoost
Issei mengumpulkan kekuatan naga, menggandakannya berkali-kali hingga terkumpul sangat banyak. Semua kekuatan iblis dan naga dialirkan ke dalam canon di punggungnya. Tergetnya adalah meteor kolosal yang jatuh menuju kota Lilith.
Fang Blast Booster
Blassssttt
Laser merah yang membawa kekuatan penghancur dahsyat ditembakkan ke langit.
BAAAAAAAAANGGGG!
Meteor raksasa berhasil Issei hancurkan hingga bongkahan terkecil dalam sekali tembak. Warna langit cerah siang hari pun berubah menjadi crimson selama beberapa saat akibat saking kuatnya ledakan yang tercipta.
Sekarang, seluruh pasukan Fraksi Iblis merasa lega. Ancaman yang bisa saja menghilangkan nyawa mereka berhasil ditiadakan oleh Sang Sekiryutei.
Namun di dalam tubuh Susanoo yang berdiri gagah di Tanjung Harapan, Sasuke menyeringai keji.
"Jangan kalian pikir Jutsu Tengai Shinsei ku sudah selesai. Satu berhasil kalian hancurkan, tapi bagaimana dengan 49 sisanya."
Oooooo, rupanya Sasuke tidak main-main membalas sapaan Sirzech. Sejak awal, dia berniat menjatuhkan 50 meteor secara beruntun ke kota Lilith dan seluruh wilayah kekuasaan Iblis Gremory.
Tak perlu banyak kata, jika semua meteor itu benar-benar jatuh, seluruh wilayah Gremory akan penuh dengan lubang-lubang raksasa. Sekarang, langit Gremory hampir tak tertembus cahaya karena terhalang banyaknya meteor kolosal.
"Kurang ajar! Dia benar-benar menantangku!"
Di atas atap, Sirzech mengumpat marah.
Kepanikan yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya, kini bersarang di hati semua iblis. Issei bahkan tanpa sadar melangkah mundur. Besar rasa takut dalam hati, tapi pikirannya masih jalan. Menghancurkan satu meteor saja ia harus bersusah payah, bagaimana dengan 49?
Terpaksa, kali ini Sirzech sendiri lah yang turun tangan. Ia merasa harus menjawab tantangan pemuda bernama Uchiha Sasuke. Sang Maou berambut merah merentangkan ke samping. Dia menciptakan 49 bola-bola kecil seukuran bola pingpon yang melayang di udara, persis di sekeliling tubuhnya.
Tanpa diberitahupun orang-orang akan langsung tahu. Bola-bola itu adalah Power of Destruction yang dikompres menjadi sangat padat dan memiliki daya ledak yang sangat tinggi. Satu saja pasti cukup untuk menghancurkan satu meteor.
Shuuuuttt.
Kesemua bola hitam diluncurkan ke langit. Suasana sunyi senyap sampai akhirnya...
Shooooommm!
49 meteor kolosal dimakan sampai habis oleh bola-bola Power of Destruction dalam waktu singkat. Kemampuannya adalah Ruin The Extinc, kekuatan penghancur absolut yang akan melenyapkan apapun yang mengenainya. Semua meteor dihapus sampai tak menyisakan debu sedikitpun, tanpa meninggalkan efek ledakan.
Di kejauhan, Sasuke terkekeh kecil, "Hn, yah serangan tadi memang tidak berarti apa-apa kalau Maou Lucifer sendiri yang turun tangan. Tapi, aku masih punya satu."
Sosok Susanoo mengangkat kedua tangannya ke atas, telapak tangan terbuka menghadap ke langit.
Banshou Ten'in
Gdgdgdgdgdgdgrrrrrr...
Susanoo milik Sasuke bergetar hebat selama beberapa saat sampai akhirnya tenang kembali lalu menurunkan tangannya.
Sasuke membuang nafas berat, "Gh, ternyata jutsu yang terakhir tadi menghabiskan separuh chakraku. Aku harus segera kembali ke barisan belakang."
Sasuke dan Susanoo miliknya masuk ke dalam gerbang teleportasi The Gate of Sun dan kembali ke posisinya dalam formasi pasukan. Gerbang itu sendiri masih berdiri tegak di Tanjung Harapan. Yang Sasuke lakukan tadi hanyalah salam pembuka.
Kembali ke Sirzech dan kota Lilith.
Untuk ketiga kalinya, semua orang disana dibuat terkejut dan sangat panik. Saat ini adalah saat-saat dimana mereka mengalami ketakutan yang paling dalam selama mereka bernafas.
Sirzech mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia menggeram marah. Sang Maou Lucifer meningkatkan output kekuatan iblisnya secara signifikan hingga maksimum. Gelombang Power of Destruction memancar kuat, dan tubuhnya mulai dikelilingi aura merah. Selama proses itu, atap banguan yang ia pijak bergetar hebat bahkan guncangannya mencapai alun-alun kota. Retakan-retakan kecil mulai timbul di tempat dia berdiri, semakin besar lalu terangkat. Setiap bongkahannya yang terbang dalam radius beberapa meter dari Sirzech musnah tanpa menyisakan debu secuilpun. Aura berwarna crimson yang menyelimuti Sirzech semakin pekat.
Goncangan berhenti hingga menyisakan kesunyian. Yang ada didepan mata adalah Power of Destruction dalam wujud human-form.
"Sampai memaksaku menggunakan teknik Human-Shaped Aura of Destruction. Uchiha Sasuke, salam pembuka darimu benar-benar membuatku jengkel."
Syuuuutttt.
Sirzech melesat cepat ke langit. Tujuannya adalah, bulan yang mulai jatuh ke Underworld. Kalau dibandingkan, meteor-meteor tadi tidak ada apa-apanya. Ini bulan. Bulan! Ukurannya bisa seribu kali lebih besar daripada meteor. Sirzech tidak mengerti bagaimana caranya Sasuke menarik bulan, tapi ia tidak bisa membiarkan bulan itu jatuh atau sepertiga tanah Underworld akan lenyap dari peta dunia. Tak seorangpun mampu menolak untuk percaya, bahwa Sirzech lebih dari sanggup untuk menyingkirkan bulan yang jatuh itu.
Jadi, apa yang ditarik Sasuke dengan kekuatan gravitasi dari teknik Banshou Ten'in adalah bulan. Underworld tidak sama dengan bumi karena langitnya memiliki 7 bulan. Beberapa diantaranya tampak jelas walaupun saat siang seperti ini. Sungguh, Sasuke benar-benar menunjukkan siapa dirinya, superioritas eksistensinya, sosoknya yang harus ditakuti oleh semua musuh yang ingin coba menantang dirinya.
Pantas Sasuke kembali ke barisan belakang. Sangat mungkin dia tidak ingin terkena efek jutsunya sendiri kalau seandainya bulan berhasil mencapai Underworld.
Falbium berdiri sejajar dengan Ajuka dan Serafall. Mereka bertiga bisa mempercayakan bulan yang jatuh kepada Sirzech.
Sebagai Panglima perang, Falbium berteriak lantang kepada seluruh pasukan.
"Dengarkan aku! Musuh telah menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya. Tapi jangan takut. Satu buah bulan atau bahkan sepuluh sekalipun, tak akan bisa menghancurkan Underworld dan Ras Iblis. Kita harus melawan. Peperangan panjang, dimulai dari saat ini."
Orrryyyaaaaaaaaaaaa...
Teriakan yang bergaung di sepanjang alun-alun kota menandaan bahwa semangat dan mental pasukan telah kembali prima. Mereka siap maju kapanpun.
Ajuka melirik ke arah Serafall. "Kupikir hanya satu Uzumaki Naruto saja yang harus diwaspadai, rupanya Konoha masih punya satu orang lagi yang sama mengerikannya. Kita tidak bisa santai kalau ingin menang."
"Uhhm." Serafall membalas dengan anggukan.
Uchiha Sasuke, seberapa jauh kah kau mampu melangkah di dunia baru ini? Di dunia yang penuh dengan entitas-entitas perlambang kekuatan? Pada perang akbar inilah, kau bisa medapat jawabannya.
.
.
To be Continued...
.
Note :Yuhuuuu, update nih. Update secepat yang aku bisa. Hihihiiii.
Pokoknya perang dimulai dari chapter ini. Di awali dengan aksi penyusupan (meski ini sengaja ga aku bikin menegangkan, lebih ke humor sih. Wkwkwkwkw), lalu rapat strategi, sampai permulaan perang. Perang baru mulai, tapi jutsu dan teknik kelas ultimate sudah keluar duluan, njhahahaaa. Santai, itu cuma salam pembuka kok.
Seperti yang pernah aku katakan dulu, Uchiha Sasuke akan lebih mendominasi mulai dari point ini. Kutunjukkan dia mendapat power up, terbukti dari Jutsu Banshou Ten'innya yang sanggup menarik bulan. Belum lagi teknik lainnya yang semakin mengerikan. Karakter-karakter dari Konoha lainnya juga akan muncul bergiliran dan unjuk gigi. Arc perang ini adalah untuk Konoha.
Sedangkan Naruto, dia istirahat dulu. Bahkan chapter ini saja dia tidak muncul bersama istri tercintanya. Tapi tenang saja, si pirang ini bisa saja muncul dan memberi kejutan yang tak disangka-sangka sewaktu-waktu. Hahaaaaa.
Kapan perang berakhir? Tentu saja setelah mencapai puncaknya. Tapi aku belum bisa memperkirakan kapan waktunya untuk sampai kesana. Hahaaa.
Ulasan Review:
Thanos? Ahaaa, dia kemarin cuma numpang lewat doang, ga ikut main kok. Yang diperlukan hanyalah Time Gem milik dia saja. Jadi, Thor dari Norse ga akan dapat bantuan dari Iron man, Hulk dan Avenger lainnya. FF ini ga minjam chara dari MCU.
Kalau masalah pidato Gaara kemarin. Ufuu, mau ga mau aku harus ngakuin nih. Aku ga bisa bikin sendiri pidato macam itu, so aku minjam isi pidato Bung Tomo dari Surabaya untuk digubah sedikit, hihiii.
Lalu sesuai rencana dari lama, Mitologi dari Jawa tanah air kita juga masuk. Chapter kemarin sudah aku masukkan satu nama. Lalu chapter ini masuk lagi satu nama. Keren kan nama dia? Xixixixii.
Yang masih belum tahu, Akemi Homura adalah karakter gadis penyihir dari anime Mahou Shoujo Madoka Magica. Jadi dia bukan Ophis ya, bukan Ophis. Meski visualiasi karakter keduanya terbilang mirip.
Iya, keris sakti yang kemarin aku jadikan Sacred Gear. Biar ngena konsepnya dengan DxD Universe.
Dari chapter 64, meski Naruto udah fullpower, tapi karena lawannya dua sekaligus, Brahma dan Zeus yang masuk Top10, wajar lah Narunya kualahan.
Golden Army? Yang mana? Baru dengar aku eh.
Dual Kusanagi untuk Sasuke? Ah, ini ga mungkin deh. Sasuke udah punya sendiri, dan yang satunya Kusanagi dari Yamata no Orochi kan ada sama Dewa Susanoo dari Reliji Shinto.
Rias CS terperdaya dengan mudah? Ya emang, mereka masih bau belum tahu apa-apa. Sona dan Tsubaki masih pingsan, peerage lainnya dikarantina. Kalau tentang Koneko, di chap 72 dia emang di bawa bunshin Naruto, tapi ga dibawa ikut, hanya dipinggirkan saja dari arena pertarungan agar aman. Aku kelupaan menjelaskannya, jadi sorry kalau bikin salah paham. Makanya tuh di atas, Koneko nongol lagi bersama para iblis.
Usul untuk variasi teknik tertinggi dari True Tenseigan milik Hinata. Ah aku aja belum pernah menjabarkan tentang fullpowertechnique dia, jadi aku masih menyimpan kartu As-nya. Nanti ada kok, pas dapat lawan berat. Untuk Hinata, aku mungkin ga akan nambahin variasi tapi yang kutonjolkan adalah kreativitas pemakainya. Ini juga bisa jadi mengesankan loh. Lalu, aku ga memakai konsep 'kembali ke masa lalu' dalam FF ini.
Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita, sebagian lainnya kubalas lewat PM.
Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.
Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.
.
.
.
.
