Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Sabtu, 22 April 2017

Happy reading . . . . .

Sebelumnya.

Goncangan berhenti hingga menyisakan kesunyian. Yang ada didepan mata adalah Power of Destruction dalam wujud human-form.

"Sampai memaksaku menggunakan teknik Human-Shaped Aura of Destruction. Uchiha Sasuke, salam pembuka darimu benar-benar membuatku jengkel."

Syuuuutttt.

Sirzech melesat cepat ke langit. Tujuannya adalah, bulan yang mulai jatuh ke Underworld. Kalau dibandingkan, meteor-meteor tadi tidak ada apa-apanya. Ini bulan. Bulan! Ukurannya bisa seribu kali lebih besar daripada meteor. Sirzech tidak mengerti bagaimana caranya Sasuke menarik bulan, tapi ia tidak bisa membiarkan bulan itu jatuh atau sepertiga tanah Underworld akan lenyap dari peta dunia. Tak seorangpun mampu menolak untuk percaya, bahwa Sirzech lebih dari sanggup untuk menyingkirkan bulan yang jatuh itu.

Jadi, apa yang ditarik Sasuke dengan kekuatan gravitasi dari teknik Banshou Ten'in adalah bulan. Underworld tidak sama dengan bumi karena langitnya memiliki 7 bulan. Beberapa diantaranya tampak jelas walaupun saat siang seperti ini. Sungguh, Sasuke benar-benar menunjukkan siapa dirinya, superioritas eksistensinya, sosoknya yang harus ditakuti oleh semua musuh yang ingin coba menantang dirinya.

Pantas Sasuke kembali ke barisan belakang. Sangat mungkin dia tidak ingin terkena efek jutsunya sendiri kalau seandainya bulan berhasil mencapai Underworld.

Falbium berdiri sejajar dengan Ajuka dan Serafall. Mereka bertiga bisa mempercayakan bulan yang jatuh kepada Sirzech.

Sebagai Panglima perang, Falbium berteriak lantang kepada seluruh pasukan.

"Dengarkan aku! Musuh telah menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya. Tapi jangan takut. Satu buah bulan atau bahkan sepuluh sekalipun, tak akan bisa menghancurkan Underworld dan Ras Iblis. Kita harus melawan. Peperangan panjang, dimulai dari saat ini."

Orrryyyaaaaaaaaaaaa...

Seketika, teriakan dari balan tentara iblis bergemuruh kencang.

.

To The End of The World

Writed by Si Hitam

.

Chapter 75. Bentrokan pertama part I.

.

Sekelompok orang tengah berlompatan dari satu dahan ke dahan pohon besar lainnya. Tanpa penerangan apapun meski cukup gelap padahal sebenarnya sedang siang hari. Hal ini disebabkan hutan yang mereka lalui cukup lebat, terutama di atas permukaan tanah yang penuh dengan semak berduri dan tanaman beracun.

Salah seorang anggota kelompok yang bergender perempuan terdengar menggerutu kecil.

"Oh ya ampuuuun, kakiku bisa bengkak jika terus melompat-lompat seperti ini. Dipikir aku monyet apa? Yang benar saja, aku ini penerbang terhebat yang melayani Bishamon-sama."

Ekspresi wajahnya tertekuk masam seraya mengembuskan nafas malas dengan bibir tercebik.

"Aku mendengarmu, Nona. Kalau kita terbang, musuh pasti akan langsung melihat kita."

Kankuro, laki-laki yang berada paling depan menyahut tegas. Dia pemimpin dari kelompok ini, berpangkat Letnan Tingkat I dengan mandat langsung dari Pusat Komando yang diketuai oleh Shikamaru Nara.

"Tch." perempuan tadi mendengus sebal. "Huuufft, andai saja aku ditempatkan di Divisi Kedua yang dipimpin Bishamon-sama pasti lebih menyenangkan."

Kankuro tak lagi menanggapi. Ia cukup sadar, walaupun perempuan tadi menggerutu sebal tapi pasti mengerti alasan untuk semua ini. Pelayan Dewi Perang Bishamonten dari Negeri Langit Takamagahara tentu bukanlah orang amatiran soal berperang. Mungkin dia hanya ingin menghilangkan kecanggungan antar anggota dalam squad kecil ini. Wajar saja suasananya canggung, karena hampir semua anggota memiliki asal usul yang berbeda dan mereka semua baru saja berkenalan ketika dua jam lalu tim ini dibentuk oleh Shikamaru. Jadi, Kankuro mensyukurinya dalam hati.

Kelompok ini adalah Squad Penyergap yang terdiri dari regu kecil berjumlah delapan orang. Tugas mereka cukup banyak, tergantung situasi. Untuk sekarang, Shikamaru memerintahkan Squad Penyergap ini untuk memblok gerakan dari pasukan terdepan musuh yang mencoba masuk ke wilayah sendiri, yaitu antara Tanjung Harapan sampai ke titik tengah dari Kota Lilith, area yang ditandai sebagai area menguntungkan untuk Pasukan Persekutuan meski notabene ini adalah wilayah Gremory.

Squad Penyergap, karena nama inilah mereka tidak menggunakan jalur udara alias terbang yang lebih cepat dengan jelajah pandang sangat luas. Sudah seharusnya mereka lah yang menemukan musuh, bukannya ditemukan. Menyerang sekelompok kecil pasukan musuh secara tiba-tiba dari arah tak terduga adalah tujuan utama dibentuknya Squad Penyergap. Lalu, untuk mengatasi keterbatasan bidang pandang saat bergerak di dalam rimbunnya hutan, dua orang pasukan yang diambil dari Satuan Pasukan Pendukung Unit Pelacak & Sensor sangat diperlukan.

Sebenarnya markas tidak hanya mengirim satu Squad Penyergap saja. Untuk arena yang cukup luas di kawasan hutan wilayah Gremory ini, markas menugaskan lima regu penyergap. Regu 1 adalah yang dipimpin oleh Letnan Kankuro, sekaligus menjadi pusat komando untuk regu lainnya.

Bunyi dari tapak-tapak kaki yang terdengar halus saling menyahut mengiring pergerakan mereka dalam kehati-hatian dan kewaspadaan.

Di antara kebisuan, salah seorang anggota regu yang lain membayangkan banyak hal dalam benaknya.

'Ya, aku tahu bagaimana perang. Tapi... ta-tapi aku sama sekali tidak menginginkannya lagi. Bagaimana kalau Squad ini diserang dan tersisa aku sendirian? Aduuuuhhh, pasti buruk. Mereka pasti tidak akan langsung membunuhku, tapi menangkapku, lalu diintrogasi dan disiksa sampai mati. Anggota tubuhku dipotong-potong, kemudian dijadikan santapan anjing. Siaaall, aku tidak mau memikirkannya. Ti-ti... tidaaak!'

"Hei, Rurik!"

"Y-ya, Letnan."

Laki-laki yang tadi melamun jadi panik akibat teriakan Kankuro yang memimpin mereka semua.

"Kau mendengarku tidak tadi huh?"

"Ah, ma-maaf Letnan."

"Sebentar lagi kita akan sampai di garis terluar dari daerah kita dan memasuki wilayah musuh. Tetap waspada!"

Laki-laki bernama Rurik terdiam, dia menyesali aktifitas melamunnya yang ketahuan oleh sang Letnan. Tapi dalam hatinya ada hal yang mengganjal dan tak bisa ditahan untuk tidak diucapkan.

"Anoo, Letnan."

"Ada apa!?"

"Kupikir kita sama-sama sudah pernah berperang sebelum ini."

"Hm. Terus?"

"Pasti... pasti ada sedikit dari hatimu tidak menginginkannya, 'kan?"

"Dengar!" sambil tetap melaju melompati dahan-dahan pohon, Kankuro berseru pada semua anggota tim. "Apa yang terjadi selanjutnya dalam perang ini tergantung pada kita sebagai Squad Penyergap karena kita adalah langkah pertama. Teman-teman kita di belakang yang mati, banyak atau sedikit, tergantung pada kita yang berada disini. Bahkan keluarga dan orang-orang lainnya yang berharga dikampung halaman juga bergantung pada kita. Jadi, cukup pikirkan tentang suksesnya saja. Kalian semua mengerti!?"

Setelahnya, tidak ada lagi yang berani bicara. Tapi setidaknya kecanggungan telah hilang digantikan oleh perasaan yang sama, yakni perasaan kuat untuk melindungi orang-orang penting dalam hidup masing-masing.

Persis di belakang garis terluar, 100 meter menghadap area musuh pada arah jam 12, Squad Penyergap berhenti bergerak. Mereka turun ke permukaan tanah.

Sebenarnya wilayah ini adalah wilayah musuh karena jelas-jelas termasuk dalam territori kekuasaan keluarga Iblis Gremory. Tetapi atasan, dalam hal ini Gaara selaku Komanda Tertinggi dan para Kapten telah sepakat untuk secara imajiner mengklaim ini sebagai wilayah sendiri. Bukan mengklaim secara harfiah sampai merasa memilikinya, bukan seperti itu! Hanya sebatas dalam strategi perang saja yang mana ini adalah area yang dinilai cukup menguntungkan bagi pasukan persekutuan.

Di titik ini, bagian permukaan tanahnya cukup lapang dan berumput tipis, seluas beberapa puluh meter persegi. Sekelilingnya terlindungi oleh semak belukar, bahkan atasnya tertutup sempurna oleh rimbunnya dedaunan pohon besar sehingga tak tampak dari langit. Tempat yang sempurna untuk...

"Kita akan berkemah disini! Jalan keluarnya pada arah jam 4 dan jam 8."

Yah, tempat untuk beristirahat dan mendirikan kemah. Semua anggota berkumpul mendengarkan instruksi selanjutnya dari sang Letnan yang memimpin Squad Penyergap.

"Mulai sekarang, kita akan melakukan banyak pekerjaan dari titik ini. Meringkus mata-mata musuh yang coba mendekat, membuat serangan kejutan, memasang perangkap, melaporkan situasi daerah terluar kepada markas pusat, dan lain-lain."

Kankuro menatap tegas satu-persatu anggotanya,

"Kau Rurik, berubah menjadi kelelawar!, lalu menyebar ke semua arah sampai radius 15 km! Lakukan pengawasan untuk menemukan gerakan sembunyi-sembunyi atau mata-mata musuh yang mencoba masuk ke wilayah kita!"

Yang disebut namanya langsung mendongak. Rurik adalah seorang vampir. Dia laki-laki yang sudah cukup lama mengabdi di Kastil Ratu Carmilla.

"Iroha-san, pastikan saluran komunikasi dengan markas tetap terhubung."

"Ha'i." Si pelayan Dewi Bishamon mengecek kembali piranti sihir komunikasi miliknya.

"Ringgo! Mongkut! Kalian berdua pasang jebakan di sekitar titik kemah kita. Semua arah kecuali arah jalan keluar sampai radius 50 meter."

"Siap, Letnan!" jawab kedua laki-laki berbadan tegap bersamaan.

"Savierro, buat barikade yang mengelilingi area kemah kita! Gunakan teknik sihirmu untuk membuat tanaman didekat sini menjadi hidup untuk pertahanan!"

"Oke." laki-laki ini melakukan pose hormat dengan tangan di pelipis.

"Hotaka!"

"Ya." sahut laki-laki yang juga seorang Shinobi seperti Kankuro.

"Gunakan Byakuganmu! Kau membantu pekerjaan Rurik dari titik ini. Dua lapis Unit Sensor, pasti tidak akan ada musuh yang bisa lewat tanpa kita ketahui."

Lalu Kankuro menatap seorang perempuan cantik berambut coklat kemerahan, satu-satunya perempuan selain Iroha dalam squad ini.

"Assieh, kau dan aku bergiliran meninjau kembali pekerjaan Squad kita setiap 15 menit."

"Aye aye, Letnan."

Selesai dengan pembagian tugas, setiap anggota bergegas melaksanakannya.

Sampai 75 menit berlalu, semua sudah siap sesuai dengan yang diperintahkan Kankuro.

Hotaka Hyuga secara berkala setiap 5 menit melakukan pemindaian dengan byakugannya, khususnya ke arah depan tempat musuh berasal.

Tiba-tiba laki-laki itu bereaksi, tubuhnya menegang.

"Pasukan musuh terlihat."

"Seperti yang diperkirakan." sahut Kankuro tenang.

Yah, memang inilah tujuan Squad Penyergap, menunggu musuh mendekat lalu dihabisi dengan serangan tiba-tiba dari arah tak terduga di dalam kesunyian.

"7 kilometer di depan kita."

"Jumlahnya?" tanya Mongkut.

"Aku tidak tahu pasti. Mungkin satu resimen."

"Apa!"

Pria bernama Saviero begitu terkejut mendengarnya. Ini sungguh di luar dugaan. Markas memprediksi pasti akan ada aksi pertama dari pasukan musuh dalam jumlah kecil untuk mengumpulkan informasi tentang pasukan Persekutuan, tapi nyatanya? Penyerangan besar-besaran oleh musuh dimulai sejak awal.

"Kita harus mundur kalau begini caranya. Mana mungkin Squad sekecil ini bisa berhadapan dengan satu resimen pasukan!" ucap Ringgo menyarankan.

Satu resimen, artinya sebuah unit pasukan yang personelnya antara 10 ribu sampai 20 ribu. 8 orang melawan 10000 lebih? Hell yeah, amat sangat mustahil! Iya kan?

Strategi yang tidak biasa untuk permulaan perang. Belum apa-apa, Panglima perang Maou Falbium Asmodeus sudah mengirim pasukan sebanyak itu, satu Resimen Tempur.

Tentu saja ini membuat Squad Pemburu dari Pasukan Persekutuan menjadi panik, bahkan Kankuro harus berpikir keras untuk membuat tindakan.

Di tengah-tengah kepanikan, Hotaka bersuara lagi.

"Pergerakan mereka melambat."

"Huh?" Ringgo mengernyit bingung.

"Hm, mereka pasti akan berhenti." tebak Kankuro yang sudah lebih tenang dibanding tadi.

"Ya, itu benar."

Ratusan kelelawar kecil berkumpul lalu berubah menjadi sesosok tubuh. Rupanya Rurik lah yang menyahut ucapan sang Letnan, persis saat dia datang kembali ke kemah.

"Sebagian dari diriku," maksud Rurik adalah kelelawarnya, pecahan dari tubuhnya sendiri. "Berhasil mengambil jarak cukup dekat dengan Resimen musuh. Ku dengar mereka akan membangun kamp atau barak di sana sebagai markas sementara. Lalu dibagi menjadi beberapa peleton yang terdiri dari 700 sampai 1300 personel dan bergerak secara terpisah untuk menyerang jika markas sementara mereka sudah selesai dibangun."

"Astaga, ini buruk." Kankuro menggeram kesal. Tak disangka musuh akan bergerak sefrontal itu. Setelah menarik nafas untuk menenangkan diri, ia memanggil salah satu anggotanya.

"Iroha-san, bisa kau hubungkan aku ke markas. Kita harus segera melaporkan situasi gawat ini dan menunggu perintah selanjutnya dari atasan."

"Tak masalah." raut wajah Iroha tak nampak seperti sedang panik, malah ia yang paling tenang.

Berkat bantuan piranti sihir milik Iroha, Kankuro dapat melakukan komunikasi telepati dengan salah seorang dari Satuan Unit Komando di markas. Dua menit kemudian, Kankuro menyudahi laporannya.

"Bagaimana keputusannya, Lentan?" tanya Assieh si gadis berambut coklat kemerahan dengan raut penasaran.

"Apa kita disuruh mundur?" sambung Mongkut.

"Tidak!" jawab Kankuro tegas.

"Hah!?"

"Kita tetap di posisi ini dan diperintahkan untuk menahan mereka selama mungkin."

"Apa?" Ringgo begitu terkejut mendengarnya. "I-itu... itu sangat mustahil."

Kankuro memegang bahu Ringgo dan mulai menjelaskan, "Di belakang kita, ada banyak Regu pasukan yang masih belum menyelesaikan tugasnya. Bahkan pasukan lain malah belum sampai di posisi yang ditentukan. Kalau musuh di depan kita dibiarkan lewat, rencana yang dibuat markas akan berantakan dan hancur total. Kalian tahu apa akibatnya jika ini terjadi kan?"

Semua anggota Squad mengangguk. Intinya jika gagal, peluang kekalahan kubu mereka pasti meningkat tajam.

"Kita harus sebisa mungkin menahan mereka disini agar tidak mengacaukan ribuan pasukan di belakang kita yang belum menempati posisi masing-masing, mengerti!?"

"..."

Tampaknya anggota yang terkejut masih belum percaya apa yang baru saja mereka dengar.

Sekali lagi Kankuro menegaskan, "Ketua Shikamaru sendiri yang memutuskannya. Keputusan ini juga mendapat dukungan penuh oleh Cao Cao Kapten Divisi I bahkan Komanda Perang kita, Gaara."

Mau tak mau, mereka harus menerimanya.

"Lalu, bagaimana caranya? Apa markas memberitahu apa yang harus kita lakukan dengan situasi ini." tanya Iroha.

"Tidak ada. Atasan hanya mengatakan dengan singkat, 'Tahan mereka agar tidak bergerak lebih jauh ke wilayah kita', lalu saluran komunikasi diputus begitu saja secara sepihak."

Apa Squad ini dibuang? Tidak, Atasan tidak seburuk itu. Bisa saja ada situasi lain yang lebih genting dibanding situasi yang dihadapi Kankuro saat ini sehingga mereke tidak diprioritaskan.

Walau hal sama sekali tidak biasa, tapi tampaknya para Atasan pun tidak luput menduga akan hal ini. Yah wajar memang, Panglima Perang Maou Falbium Asmodeus pasti berpikir akan menguntungkan jika bergerak secepat yang dia bisa, dengan begitu pasukan Persekutuan yang baru saja menancapkan gerbang teleportasi di Tanjung Harapan tidak memiliki banyak waktu untuk membentuk formasi di wilayah Gremory yang bahkan pertama kali mereka injak.

Namun jika dipikirkan betul-betul, terdapat makna tersirat bawah Atasan menaruh kepercayaan besar bahwa squad penyergap ini yang pasti mampu melaksanakan tugasnya. Dan itu semua dimengerti oleh setiap anggota. Jadi, mereka semua tersenyum dengan optimisme tinggi.

Hanya saja, berita buruk belum berhenti sampai di situ saja.

"Masalahnya adalah..."

"...?"

"Pemimpin resimen musuh."

"Siapa?"

"Kepala keluarga dari rangking tertinggi dalam 72 pilar Iblis, Great King Bael. Zekram Bael."

"Ha?" Kankuro menganga.

"Dan tambahan buruknya lagi, Sairaorg Bael juga ada disana."

"Sialan!" Kankuro mendengus. Ini akan jadi sangat sulit.

Sebagai salah satu orang yang menempati posisi penting dalam pasukan, Kankuro membekali dirinya dengan mempelajari banyak informasi tentang kekuatan musuh. Ia hapal diluar kepala tentang 72 keluarga pilar Iblis Underworld, dan siapa saja nama-nama pentingnya.

Zekram Bael, iblis berdarah murni kelas Ultimate yang sangat kuat. Dia lah leluhur dari kekuatan Power of Destruction. Pendiri sekaligus kepala keluarga pertama Bangsawan Iblis Great King Bael yang menempati urutan pertama dalam 72 pilar iblis. Kedudukan seorang kepala keluarga Bael sangat tinggi, persis satu tingkat di bawah Maou.

Belum lagi ada cicitnya, Sairaorg Bael yang sudah diakui oleh penduduk Underworld sebagai kandidat Maou masa depan di usianya yang sangat muda walau dia lahir tanpa bakat Power of Destruction.

Tapi bagi mereka, sudah kepalang tanggung. Musuh seberat apapun harus di hadapi.

"Apa nanti akan ada pasukan bantuan?"

"Aku tidak bisa menjanjikan itu, Assieh-san." jawab Kankuro. "Bagaimana akan mengirimkan bantuan disaat hampir semua pasukan di belakang kita belum selesai melakukan persiapan."

"Berapa lama mereka akan siap?" tanya Savierro.

"Jangan terlalu mengharapkan bantuan. Kita harus berusaha sendiri sekuat tenaga kita. Jadi, mendekat kemari!, kita susun rencana."

.

Sudut lain hutan kelihatan lebih tenang, tanpa semak dengan pohon-pohon yang jarak antaranya lumayan renggang, sehingga meski dedaunannya rimbun tapi terangnya sinar sang raja siang mampu mencapai permukaan tanah.

Di sana lah, sekumpulan iblis terbang dengan sayap membentang pada ketinggian rendah, bahkan lebih rendah dibandingkan puncak pohon. Kepakan sayap hitam mereka begitu pelan sehingga hampir tidak terdengar suaranya.

Laki-laki paruh baya yang pakaian dan lagaknya seperti pemimpin terus menerus memandang area sekitar dengan waspada hingga terdengar suara tanya dari anak buahnya.

"Tuan, kenapa anda waspada begitu? Ini kan wilayah kita, bahkan kita sering ditugaskan di daerah ini."

"Jangan meremehkan musuh! Apa kau melupakan salam pembuka dari salah seorang mereka dua jam lalu huh? Seandainya saja tidak ada Lucifer-sama, mungkin kita sudah mati."

Si anak buah tertunduk cukup dalam namun tak menghentikan batang tenggorokannya untuk mengeluarkan suara.

"Ta-tapi... Apa kita harus sampai seperti ini? Mereka lah yang dengan bodohnya membuat jalan di daerah kita sendiri, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan kan?"

"Dengar, jangan anggap bodoh musuhmu. Awalnya aku juga berpikir seperti itu tahu, tapi saat aku memikirkannya lebih jauh, musuh kita ini pasti sudah mengetahui banyak informasi tentang daerah kita ini sehingga berani menjadikannya sebagai arena perang."

Ya, munculnya gerbang teleportasi raksasa satu arah dari Konoha, jelas sudah menandakan bahwa territori ini mutlak menjadi medan peperangan. Semua pasukan iblis paham akan hal itu, hanya saja keberanian atau mungkin kebodohan Konoha mengadakan laga tandang patut diacungi jempol.

Sadar akan perkataan tuannya, si anak buah kali ini benar-benar diam. Dia makin waspada akan daerah sekitar yang mereka lalui.

Tidak hanya satu saja anak buah dalam kelompok itu. Ada sepuluh laki-laki lain dalam kelompok ini. Ya, total ada 12 iblis laki-laki dalam satu kelompok. Melihat kesamaan lambang di pakaian mereka yang kesemuanya seperti seragam tempur kerajaan, jelas mereka adalah sebuah Squad yang terbentuk dengan sengaja sejak lama. Mereka semua bergender laki-laki, sesuai untuk sekelompok pasukan resmi.

Iblis lain yang membawa senjata berupa cemeti yang terikat di pinggang membuat aba-aba dengan tangan.

"Stop!"

"Ada musuh!?" tanya si pemimpin dengan serius. Mereka pun berhenti terbang lalu mendarat di permukaan tanah.

"Dimana?" kali ini yang bertanya adalah wakil ketua dari sekelompok iblis ini.

"Aku melihat ada beberapa kelebat bayangan yang bergerak diantara pepohonan 580 meter di depan."

Iblis yang mengatakannya bukan iblis sensor dengan indera keenam yang tajam, tapi dia adalah iblis dari keluarga yang mahir dalam mengendali burung elang. Sama seperti hewan itu, dia memiliki penglihatan 15 kali peka untuk objek jauh dibanding iblis pada umumnya.

"Hm, itu pasti target kita!" ucap si ketua. Rupa-rupanya kelompok ini punya tugas khusus. "Bersiaplah kalian semua!"

"Aye, Sir!" jawab semuanya serentak.

Mereka pun mengambil posisi masing-masing. Berlindung dibalik batang pohon atau naik ke atas dahan, sang ketua dan beberapa sisanya berdiri tegak dengan posisi siaga sedang menunggu mangsa datang mendekat dengan sendirinya.

"Hei kau, terus amati target kita! Laporkan keadaannya padaku!" perintah si ketua pada anggotanya yang mampu melihat posisi musuh pada jarak jauh.

"Target kita ada delapan orang. Mereka terus mendekat kemari!"

"Apa?" si ketua heran. "Mereka bergerak kemari!?"

"Iya. Melihat pola gerakannya yang sangat hati-hati, target kita bukannya tidak tahu akan keberadaan kita tapi memang sengaja ingin meringkus kita di sini."

"Begitu ya, Jadi kedua regu ini sengaja ingin di adu? Baiklah, kalian semua bersiap untuk pertarungan!"

Masih dengan posisi yang sama, sang ketua nampak masih berdiri di posisi semula, berlagak menunggu musuh yang datang sengaja untuk menantangnya.

Tidak sampai satu menit, sebuah senjata berupa bilah jarum tajam berukuran lumayan besar meluncur cepat.

Clang!

Jarum tersebut di tepis dengan begitu mudahnya oleh salah seorang anggota kelompok iblis, dia yang mulanya berdiri disamping kiri sang ketua maju untuk mementalkannya tanpa menunggu perintah.

"Kalian, keluarlah! Lebih baik tunjukkan diri kalian dan kita mulai pertarungannya."

Seperti perintah si ketua kelompok pasukan iblis, beberapa sosok keluar dengan berlari cepat menuju ke arah mereka berada.

"Apa itu?" iblis lain keheranan.

Bagaimana tidak heran, pasalnya sosok yang mendekat jelas-jelas bukan makhluk hidup. Bentuknya aneh, humanoid tapi tidak jelas, dan terbuat dari material kayu.

Krak krak krakkk!

"Puppet?" si ketua langsung mengenalinya. Boneka-boneka yang dikendalikan dari jarak jauh. Ia berkata pada iblis yang memiliki penglihatan tajam, "Cari dimana pengendali boneka-boneka itu! Kalian berdua, cepat hentikan bonekanya!" perintahnya pada dua iblis lain bersenjatakan tombak yang berada didekatnya.

Trank trank trangg!

Baku hantam pertama dari perang akbar pun benar-benar dimulai. Para iblis melawan pasukan manusia berkemampuan khusus dari Konoha.

Membiarkan dua bawahannya bertarung melawan empat boneka sekaligus, si ketua memperhatikan dengan seksama apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak mengerti bagaimana mekanisme boneka-boneka yang dikendalikan dari jarak jauh, matanya pun tidak melihat apa-apa.

Bakk buuaaggh.

Duuuaaar!

Satu boneka kayu hancur, bagian dadanya berlubang akibat tendangan dari iblis yang menggunakan tombaknya sebagai tolakan.

Masih tersisa tiga lagi.

Di sisi sang ketua, ia cukup pintar dan berinisiatif menfokuskan indera keenamnya sambil menutup kedua mata. Perlu waktu 10 detik untuknya sampai ia menyadari adanya benang-benang energi yang terhubung dari boneka sampai cukup jauh ke belakang.

Saat matanya terbuka, ia pun berteriak pada dua anak buahnya yang bertarung di depan.

"Lapisi bilah senjata kalian dengan demonic power! Tebas ruang kosong di belakang boneka-boneka itu!"

Slice!

Patsss.

Terdengar suara senar putus yang sangat lemah.

Sontak, ketiga boneka kayu yang tersisa berhenti bergerak dan jatuh ke tanah.

Merasa telah memang, kedua iblis menancapkan pangkal tombak mereka ke tanah.

"Fyuuuhh!" salah satu membuang nafas lega sembari menyeka keringat di pelipis.

Satunya lagi berkomentar, "Jadi begitu, sekarang kita mengerti kalau boneka-boneka ini dikendalikan dari jarak jauh menggunakan benang-benang energi yang tak kasat mata. Ketua kita memang hebat, mampu mendeteksinya sampai sejauh ini."

Tapi nyatanya, sang ketua malah berteriak panik. "Awas! Menjauh dari sana! Berbahaya!"

Flaaaaaasssshhh...

Tiba-tiba rongsokan tiga boneka kayu yang tak lagi bergerak bercayaha sangat terang hingga...

KABOOOMMMM

meledak!

Tiga ledakan sekaligus yang cukup besar pada saat bersamaan. Buktinya, suara menggelegar yang dihasilkannya cukup keras dan gelombang kejut yang tercipta cukup untuk menghamburkan tanah hingga radius 25 meter. Saat sisa-sisa ledakan pudar, ada tiga kawah kecil di permukaan tanah, persis di titik ledakan tadi.

"Gh,, sialan!"

"Untung hanya bahuku saja yang terkilir." sambung iblis lainnya.

Rupa-rupanya dua iblis yang paling dekat dengan sumber ledakan berhasil menyelamatkan diri. Mereka sempat membuat lingkaran sihir pertahanan untuk melindungi tubuh, walau tak sepenuhnya berhasil karena tidak sedikit kulit mereka yang terbakar.

Sekelompok iblis yang berjumlah 12 orang berkumpul kembali pada jarak yang cukup aman.

"Aku akui kalau trik mereka sangat cerdik, tapiii...," ucap sang Ketua pada anggotanya, lalu ia berbalik badan dan menatap lurus ke depan. "Tapi itu tak cukup untuk menghentikan squad elit seperti kami, tahu!."

"Tch, hanya karena kalian selamat dari jebakanku tadi bukan berarti kalian lebih hebat."

Otak dari boneka-bobeka tadi kini telah menampakkan dirinya. Laki-laki berpakaian serba hitam dengan tudung kepala dan wajah yang sengaja dicoret menggunakan tinta ungu. Ketua dari Squad Penyergap pasukan persekutuan, Kankuro.

Dia tidak sendiri, tapi lengkap bersama tujuh anggota regunya.

Apa sebenarnya tujuan strategi Kankuro? Sebagai Squad Penyergap, memang tugasnya untuk melakukan penyergapan lalu menghancurkan setiap kelompok kecil yang dikirim musuh ke wilayah sendiri. Tapi kalau penyergapan dilakukan cukup dekat dengan satu resimen musuh yang jumlah belasan ribu dan dipimpin jendral hebat, pastinya itu ide buruk bukan?

Kesampingkan itu. Fokus dengan situasi saat ini.

"Baiklah. Karena Squad kita masing-masing sudah berhadapan, jadi apa yang ingin kau lakukan huh?" tanya ketua dari Squad iblis.

"Kau seorang ketua regu, sama sepertiku. Jadi aku kulawan kau dengan segenap kemampuanku." tukas Kankuro.

"Kuharap itu tidak mengecewakan."

"Aku juga berharap begitu. Tidak biasanya dua Squad penyergap saling bertempur seperti ini."

Memang tidak biasa. Seharusnya regu penyergap meringkus kelompok biasa atau infiltrator dari kubu musuh. bukan saling meringkus sesama regu penyergap.

"Khu, kalau itu tak perlu dipertanyakan bukan? Yang menang di sini akan mendapatkan kesempatan pertama untuk melancarkan serangan kejutan di wilayah belakang lawan. Kita memulai pertarungan disini, lalu pihak yang menang akan mengendalikan jalannya perang. Hal seperti itu sudah jelas kan?"

"Yah, lalu kami lah yang akan menang." ucap kankuto tegas.

"Apa benar begitu?" ketua dari Squad Penyergap pasukan iblis mendengus sombong. "Kau harus tahu kalau kami tak akan kalah. Itu karena..., kami tak terkalahkan.

"Buktikan!"

Perempuan dari regu Kankuro melangkah ke depan, "Cukup basa-basinya!" ia menghunuskan Katana miliknya kepada para iblis. "Kuhabisi kalian semua di sini!"

"Kau terlalu sombong, Nona. Tapi kau benar, lebih baik langsung kita mulai! Ini adalah perang, tak ada ruang untuk tata krama."

Syuutt.

Dua iblis bersenjatakan pedang besar Broadsword melesat ke depan.

Tak tinggal diam, Iroha melompat tinggi ke udara.

Di belakangnya, Hotaka sebagai petarung jarak dekat dari Hyuga melaju dengan tangan kosong.

Trannkk!

Dua bilah pedang saling beradu.

Sementara itu,

Swooosshh!

Hotaka berhasil menghindari sabetan pedang besar yang menargetkan lehernya sembari melancarkan pukulan Jyuken.

Bummp!

Si iblis menahan pukulan Hotaka menggunakan pergelangan tangan lain yang terlindung oleh baju baja tebal.

"Ringgo! Mongkut! Siapkan serangan terbaik kalian!" perintah Kankuro pada dua anggota lain yang terspesialisasi untuk serangan jarak jauh.

"Selanjutnya Savierro. Hidupkan pohon-pohon di sekitar sini untuk menambah serangan!"

Bereaksi cepat, Savierro langsung merapal mantra sihir. Aura hijau keluar dari telapak tangannya dan menyebar ke sekitar menuju pohon-pohon besar yang berdiri kokoh.

"Rurik. Berubah jadi kelelawar dan halangi musuh yang hendak menyerang!"

"Terakhir kau, Assieh. Tetap waspada."

Wanita berambut Coklat kemerahan mengangguk mantap sembari mengeratkan pegangan tangannya pada tongkat sihir yang ia bawa.

Pertempuran kecil antara dua squad pun benar-benar di mulai.

Squad dari pasukan iblis hanya mengerahkan separuh anggotanya, enam orang. Sementara itu, Kankuro terpaksa mengerahkan semua anggotanya karena tidak seimbangnya jumlah personel kedua Regu.

Yang paling berbahaya adalah yang paling depan, Iroha dan Hotaka. Apalagi Iroha yang tugasnya merangkap, petarung pedang jarak dekat sekaligus komunikator dengan markas, sangat penting keberadaannya. Kankuro cukup menyesalkan perbuatan Iroha yang maju tanpa menunggu perintah darinya.

Pohon-pohon hidup yang diciptakan Savierro, yang jumlahnya belasan, berhasil menahan serangan empat iblis. Sebenarnya pohon-pohon hidup itu tidak lah kuat, tapi gangguan yang diberikan Rurik mampu mengurangi fokus dan gerakan keempat iblis. Belum lagi bola-bola sihir api dan petir yang dilemparkan oleh Ringgo dan Monkut dari belakang membuat keempatnya kerepotan.

Ke sisi lain, Iroha dan Hotaka terdesak dengan punggung saling menempel. Mereka berdua terdesak oleh dua iblis yang mengepung mereka. Kalah stamina dan power adalah penyebabnya. Iblis yang menggunakan pedang besar bermata dua ternyata memiliki ayunan pedang yang sangat kuat.

Selama pertarungan sesaat yang lalu, Iroha kesulitan memblok sabetan pedang lawannya. Sedangkan Hotaka dipaksa fokus menghindar kalau tidak ingin mati dalam sekali tebas.

"Apa kau punya rencana, Hotaka?"

"Tid-" ucapan Hotaka terhenti begitu saja disusul dengan seringaian tipis di bibirnya. "Kurasa ada satu hal yang patut dicoba."

"Apapun itu, aku ikut rencanamu" sahut Iroha pasrah. Lagipula ia tidak punya ide untuk sekarang.

Syuuttt.

Kedua iblis pengguna pedang merengsek dari dua arah. Kecepatan mereka cukup tinggi sehingga dalam sekejap, pedang besar nan tajam sudah terhunus dan siap memenggal tubuh Hotaka dan Iroha dalam sekali tebas.

"Menunduk!"

Iroha menundukkan badannya sementara Hotaka memasang kuda-kuda taijutsu khusus.

Jyukenho Hakke: Sanjuuni Sho

Dalam mode slow motion, kedua iblis pengguna pedang yang hendak menyabetkan pedangnya vertikal ke bawah, dibuat tak berkutik dengan pukulan super cepat beruntun dari Hotaka Hyuga.

Slow motion berhenti begitu Hotaka menyelesaikan semua pukulannya. 32 pukulan suci, cukup untuk membuat tubuh mereka kehilangan kendali gerakan untuk sementara waktu.

Giliran Hotaka yang menunduk, "Switch! Sekarang, Iroha!"

Memanfaatkan moment ketika dua iblis tak mampu melakukan gerakan pada jarak serangan, Iroha membuat gerakan memutar 360 derajat seraya membuat dua kali gerakan menusuk dengan pedangnya.

Takama-Ryu: Tsukishirou

Shiiinnggg

Bleessshhh!

Bruukk.

Kedua iblis itu pun terjatuh bersimbah darah, memancar deras dari luka tusukan yang cukup dalam di bawah dagu.

Trik yang tidak rumit. Hotaka berperan menghentikan gerakan kedua iblis akibatnya, target lebih mudah dibidik. Sehingga Iroha punya peluang besar untuk menusuk pedangnya secara akurat tepat dibawah dagu musuh, titik terlemah yang tidak terlindung oleh helm dari baju baja.

Melihat sudah ada yang mati, kedua kubu mundur ke posisi masing-masing.

Kankuro nampak senang. 'Regu ini buru-buru dibentuk, tapi kami dapat menahan musuh bahkan dua telah tewas. Kerjasama yang sangat bagus.' ucapnya dalam hati.

Satu sisi kemenangan bagi tim Kankuro, tapi nyatanya disisi lain mereka juga mendapat kerugian. Di titik pertarungan lainnya, empat iblis yang mereka lawan sekaligus ternyata lumayan kuat, membuat Savierro dan yang lain kesusahan.

Rurik nampaknya kehabisan banyak tenaga akibat berarung dalam mode ribuan kelelawar, Savierro dan Mongkut bahkan terluka. Mereka bertiga kini diurus oleh Assieh, spesialis sihir penyembuh (healling spell). Sudah sewarjarnya kan setiap regu memiliki tenaga medis? Ringgo yang tidak terluka mundur ke belakang untuk menjaga keempat temannya.

Jadi sekarang, Squad Penyergap dari Pasukan Persekutuan hanya memiliki tiga orang yang tersisa untuk bertarung.

Merasa di atas awan, Squad Penyergap Pasukan Iblis berkumpul dengan anggota lengkap. Meski dua tewas tapi masih tersisa 10 iblis lagi. Kini mereka berkumpul, nampak kalau mereka berencana bertarung sebagai kelompok, tidak lagi pertarungan personal seperti sebelumnya.

Dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan, Kankuro sama sekali tidak panik. Dia memberi instruksi pada kedua anggota timnya yang masih bisa bertarung, "Iroha-san, Hotaka! Tolong jaga sisi kiri dan kananku, biar aku yang melawan mereka semua."

"Ha?" raut terkejut tercetak jelas di wajah Iroha.

Namun berbeda dengan Hotaka, dia malah tersenyum. "Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Iroha. Ketua kita punya teknik rahasia kogutsu hitam yang telah dikembangkan secara khusus untuk melawan makhluk supranatural."

Kankuro memberengut sebal. "Hei, teknikku tidak akan dianggap spesial kalau orang lain yang mengungkapkannya!" katanya memprotes.

Tangan kanan Kankuro bergerak ke belakang untuk mengambil sebuah gulungan.

Gulungan itupun ia buka di depan musuh-musuhnya. Ada fuin penyimpanan yang tertulis aksara aneh.

Booofffttt

Setelah asap putih yang mengepul menghilang, tersisa lah Kankuro yang dikelilingi oleh sepuluh buah boneka berbentuk humanoid lengkap dengan berbagai tipe senjata.

"Inilah teknik baru milikku, teknik rahasia hitam yang membuatku sanggup menghancurkan satu benteng musuh sendirian. Nama teknik ini adalah..."

Kurohigi: Jikki Tetsu no Kishi

Kankuro melanjutkan, "Boneka-boneka ini telah aku upgrade dari wujud sebelumnya dengan menggunakan material khusus untuk melawan makhluk supranatural Seperti kalian."

"Apa bedanya dengan yang tadi huh?" sergah si ketua regu para iblis. "Pengguna boneka harusnya menyembunyikan dirinya ketika pertarungan, tapi kau sudah terlanjur menunjukkan dirimu. Itu kesalahan pertamamu. Kedua, aku sudah tahu kalau boneka-boneka milikmu dikendalikan dengan benang energi khusus, jadi aku cukup memotong benangnya, maka selesai!"

"Haaah?" Kankuro berteriak menantang, "Dengar ya, aku tidak menggunakan cara kuno lagi. Aku tidak perlu menggunakan benang chakra dari jari-jariku untuk mengendalikan boneka, karena aku memiliki ini."

Kankuro menunjukkan sebuah benda kecil di tangannya. Benda berbentuk kacamata yang langsung ia kenakan. Itu bukan kacamata biasa, selain handle kaca yang lumayan besar, kacanya pun mengeluarkan cahaya seakan itu adalah sebuah layar yang menampilkan gambar khusus.

"Neuro-Linker. Dengan alat ini, aku mampu mengendalikan boneka-bonekaku lebih halus dan lebih cepat dengan ribuan variasi gerakan yang berbeda hanya menggunakan gelombang otak. Jauh lebih tinggi levelnya daripada pengendalian boneka menggunakan benang chakra dari ujung jari tangan."

Ngiiiinnngggg!

Semua boneka milik Kankuro mengeluarkan suara bising. Suara yang berasal dari lubang di telapak kaki serta di bagian punggungnya. Itu mesin jet yang merupakan tenaga pendorong untuk boneka-boneka agar bisa terbang.

"Seraaaaanngg!" pemimpin dari regu iblis mengkomando sehingga semua anak buahnya melesat ke depan.

Syuuuttt.

Boneka-boneka milik Kankuro pun telah melaju mencari target untuk dihabisi.

Salah satu iblis menembakkan serangan sihir. Demonic power yang cukup untuk melubangi dinding beton dengan mudah.

Namun...

Fuuu!

demonic power pecah berhamburan tanpa memberi kerusakan pada boneka milik Kankuro.

"Aku tadi sudah mengatakan kalau bonekaku dibuat dengan material khusus untuk melawan makhluk supranatural kan? Jadi percuma kalian menyerang dengan sihir."

Melihat dari efeknya, bagian terluar dari boneka buatan Kankuro berlapis material baja anti-sihir. Baja yang ditempa dengan ritual khusus untuk memberikan efek anti-sihir sampai tingkat yang cukup tinggi. Artinya, tembakan sihir biasa akan dipentalkan tanpa memberikan sekadar lecet. Kecuali serangan sihir terspesialisasi tingkat tinggi dari iblis kelas ultimate.

"Serang langsung. Hancurkan dengan serangan fisik!" ucap salah satu iblis.

Ya, tidak perlu menjadi pintar untuk menganalisis hal ini. Kalau serangan sihir tidak mempan, maka serangan fisik pasti mampu.

Duaaaggg!

Yang pertama kali, Iblis berbadan besar saling menghantamkan tinju dengan salah satu boneka Kankuro.

10 vs 10. Artinya setiap boneka Kankuro bertarung melawan satu iblis. Adil bukan? Tak ada lagi kerugian kalah jumlah.

Di sudut lainnya, ada boneka yang bertarung dengan pedang melawan iblis pengguna pedang. Ada pula yang melakukan pertarungan jarak jauh. Ternyata sebagian boneka dilengkapi dengan bermacam-macam tipe senjata api. Machine-gun, Minigun laras gatling, bahkan mini-rudal dengan hulu ledak yang cukup besar.

Kabboooommmm!

Benar saja, sebuah misil kecil yang ditembakkan boneka Kankuro untuk mengejar salah satu iblis yang tidak berhasil mengenai target malah menyasar ke permukaan tanah lalu meledak disana.

Ke bawah, nampak cukup tenang. Kankuro dengan mudahnya mengendalikan kesepuluh boneka miliknya menggunakan alat Neuro-Linker yang terpasang seperti kacamata biasa di kepalanya. Alat ini berguna untuk mengkonversi gelombang otak manusia menjadi gelombang micro yang akan ditranmisikan secara nirkabel ke setiap boneka untuk mengirimkan intruksi gerakan dan serangan.

Keuntungan besar bagi Kankuro adalah sudut pandang orang ketiga dari posisinya sehingga melihat semua titik pertarungan. Kacamata dari Neuro-Linker juga menampilkan gambar visual yang tertangkap oleh kamera yang terpasang dibagian mata boneka berbentuk humanoid itu.

Cara ini, sungguh lebih mengesankan daripada mengendalikan boneka menggunakan benang chakra dari ujung jari.

Boneka-boneka yang diciptakan memiliki konsep sama dengan Kogutsu biasa. Yang membedakan adalah material terluar body boneka sebagai upgrade khusus untuk melawan pengguna sihir, mekanisme pengendalian yang tidak lagi menggunakan benang chakra, serta sumber energi dari boneka itu sendiri.

Shizune yang diutus bersama Maito Gai dan Tenzou Yamato ke Amerika untuk membuat kontrak kerjasama dengan Lembaga Riset Fenomena Supranatural disana saat kehebohan di Rumania tengah berlangsung, ternyata membawa angin segar untuk teknik Kogutsu. Berkat kerjasama itu, Konoha terhubung dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Senjata Militer Amerika Serikat. Kankuro yang kini dibawah naungan Konoha mengadaptasi teknologi robot perang untuk teknik hitam Kogutsu miliknya, yakni sistem pengendalian boneka berbasis komputer menggunakan Neuro-Linker. Tubuh kogutsu tetap buatannya, dengan tambahan lapisan material baja anti-sihir yang dia dapat dengan bantuan kaum Youkai Kyoto yang memiliki penempa baja supranatural ternama.

Untuk menggerakkan kogutsu-kogutsu tipe baru itu, tentu diperlukan sumber energi. Kogutsu tipe lama mendapat suplai energi lewat benang chakra dari penggunannya. Sedangkan kogutsu tipe baru ini menggunakan sumber energi sendiri berupa deposit chakra yang berada di dalam inti atau core dan tersimpan didalam dada setiap boneka. Fungsinya sama persis seperti baterai. Berkat sistem ini, penggunanya hanya perlu menggunakan chakranya sendiri.

Hasil dari semua itu? Ya yang sekarang inilah. Kankuro memiliki pasukan robot miliknya sendiri.

Dengan senjata baru inilah, Kankuro mendominasi pertempuran. Kelompok iblis tampak sangat kesusahan. Tidak hanya karena tahan sihir, kogutsu-kogutsu itu juga sangat kuat dan memiliki sumber energi yang sangat banyak, gerakannya pun gesit dan lincah. Tak ada tanda-tanda kogustu kehabisan energi meski sudah bertarung 15 menit lebih. Parahnya lagi, Kankuro adalah shinobi pengguna kogutsu terbaik saat ini, tentu saja membuat boneka-boneka itu semakin tak terkalahkan.

Merasa lelah dengan pertarungan tak ada hasil, ketua Squad Penyergap dari pasukan iblis berpikir untuk mengalahkan teknik milik Kankuro.

"Kalau tidak bisa menghentikan bonekanya, maka serang penggunanya."

Ya, kesalahan pertama Kankuro sebagai petarung pengguna boneka adalah menampakkan diri. Seharusnya dia bersembunyi dan menyerang dari tempat tak terlihat menggunakan kogutsunya.

Tapi...

Clanggg!

Kogutsu menghentikan gerakan iblis-iblis itu.

"Apa kalian lupa huh?" tanya Kankuro.

Para iblis hampir melupakan kalau belum satupun dari boneka itu yang kalah. Dengan situasi 10 vs 10, tentu tidak satupun dari meraka bisa menyerang penggunanya kalau tidak ada boneka yang berhasil dihancurkan. Belum lagi, Hotaka dan Iroha yang bersiaga penuh untuk menjaga Kankuro di kedua sisi. Hal ini menjadikan sistem perlindungan Kankuro semakin kuat.

Merasa sia-sia, para iblis bergerak mundur. Pun Kankuro, menghentikan serangan dengan boneka-boneka barunya.

"Kalian tidak berpikir untuk mundur kan?"

"Hm"

Kankuro menurunkan boneka-bonekanya, melayang rendah di depan dirinya. "Ini perang. Kami sebagai tim penyergap, ditugaskan menghabisi musuh yang kami lawan tanpa pernah memberi ampun. Kurasa kalian paham akan hal itu."

Bukannya takut, ketua dari Regu Penyergap pasukan iblis itu malah tertawa keras.

"Gahahahaaaaaa. Yah, aku akui kalian memang dalam pertempura ini, tapi..."

"Tapi? hm?"

"Letnan Kankuro!"

"Ada apa Iroha-san?" Kankuro merasakan firasat buruk kala melihat Iroha di samping kirinya yang menampakkan wajah terkejut.

"Aku kehilangan kontak dengan Squad Penyergap 2,3, 4, dan 5."

"Kau tidak sedang bercanda kan?"

Iroha menggeleng, menandakan kalau perempuan yang bertugas sebagai komunikator dalam squad ini tidak berbohong.

Kehilangan kontak, satu-satunya jawaban adalah keempat regu lainnya telah dilenyapkan.

Ini buruk, harapan satu-satunya yang tersisa untuk pihak Konoha mengendalikan situasi perang tergantung pada keberhasilan Squad Penyergap 1 ini.

Untung saja tim Kankuro pada situasi bagus.

Tapi...

Tapi bagaimana caranya regu lainnya dihancurkan begitu saja?

Si iblis menjawab kebingungan Kankuro, "Pemimpin Resimen Iblis garis depan, Zekram-sama, telah hidup dengan seratus peperangan." Idiom ini hanya kiasan untuk menunjukkan betapa banyak pengalaman hidup yang dilewati oleh Zekram Bael. "Beliau sudah memprediksikan adanya Squad Penyergap yang dibentuk oleh musuh. Untuk mengantisipasinya, dibentuklah Batalion Pemburu. Terdiri dari 540 personel yang dibagi mejadi 45 squad kecil beranggotakan 12 orang seperti kelompok kami ini. Tugas semua squad dari Batalion Pemburu adalah untuk memburu regu penyergap yang dibentuk oleh kalian. Tujuannya jelas, jika regu penyergap macam kalian kami habisi sebelum memberikan informasi ke markas kalian, maka kami lebih mudah membuat serangan kejutan dan mengendalikan jalannya perang."

"Sialan!" Kankuro mendengus marah. Tapi... "Squad kami masih memimpin disini. Kami akan menghabisi kalian lebih dahulu lalu mundur ke markas?"

"Apa benar begitu huh?"

"Letnan!"

"Apa, Hotaka?" tanya Kankuro pada anak buahnya disamping kanan dengan byakugan aktif.

"Ada belasan squad kecil yang bergerak cepat ke arah kita secara terpisah."

Sekejap Kankuro mengerti. Ia membuang nafas panjang, "Jadi kita terkepung ya?"

Hotaka mengangguk.

Dihadapkan pada situasi ini, semua anak buah Kankuro dilanda kepanikan. Bukan hanya karena nyawa mereka terancam, tapi juga karena ketidak becusan tugas mereka bisa mengakibatkan masalah besar bagi seluruh pasukan persekutuan.

Mereka yang seharusnya melakukan penyergapan, kini malah jadi target buruan.

Kankuro cukup sadar, kalau melawan banyak pasukan sekaligus resikonya terlalu besar. Teknik Kogutsunya tak akan cukup. 10 boneka melawan ratusan iblis . Terlebih posisi dirinya sebagai pengendali boneka sudah diketahui. Kalau ia dalam keadaan bersembunyi, mungkin akan lain cerita.

Oleh karena itu lah, Kankuro harus secepat mungkin membuat keputusan.

Dan keputusannya adalah...

Baaaaannnggggg!

Ledakan hebat yang menciptakan kepulan asap putih tebal menghalangi bidang padang akibat dari bom asap yang dihempaskan oleh Kankuro tepat di depan tubuhnya sendiri. Para iblis dalam posisi siaga penuh, waspada akan serangan dari titik buta.

Perlu waktu hampir untuk udara kembali bersih.

Yang tersisa setelahnya adalah.

Lokasi yang telah kosong.

Benar.

Kosong melongpong

Kankuro dan seluruh anggota Squad Penyergap dari Konoha, telah kabur.

Setelah tidak lagi merasakan tanda-tanda bahaya, salah seorang iblis bertanya pada ketuanya, "Apa langkah kita selanjutnya, Tuan?"

"Tentu saja mengejar mereka! Ayoooo!

Sepuluh iblis yang tersisa mulai terbang, mengejar arah lari Squad Penyergap dari Konoha.

"Semuanya!" sang ketua menarik atensi anak buahnya. "Yang melakukan pengejaran tidak hanya kita saja. 25 regu lainnya dari Batalion Pemburu juga ikut mengejar. Kita semua akan melakukan pengepungan. Bagaimanapun caranya, delapan orang itu tidak boleh dibiarkan lolos."

.

Sesesok pemuda berbadan kekar, dengan pakaian tipis ala binaragawan yang sedang ngeGym kini sedang berdiri menghadap pria paruh baya berambut hitam yang cukup mirip dengannya, hanya saja versi lebih tua, yang sedang duduk bertopang dagu dibalik meja.

Di dalam Kamp pemimpin Resimen Garis Depan pasukan Iblis, sedang terjadi obrolan singkat.

"Kau masih kesal dengan keputusanku, Sairaorg-kun?"

"..."

Dengan nada mendesah, lagi-lagi pria berpenampilan seperti manusia umur liam puluhan berusaha membujuk cicitnya yang kelewat semangat ini.

"Dengar, masih terlalu dini untukmu maju ke medan perang."

"Iya aku mengerti. Sudah lima kali aku mendengar alasanmu yang ini, Zekram-jiijii."

"Lantas?"

"Aku hanya ingin memastikan apa rencanamu yang selanjutnya?"

"Ohhh, hahaaa. Tidak muluk-mulukn sebenarnya. Regu-regu dari Batalion Pemburu telah berhasil melenyapkan empat Squad Penyergap musuh, dan aku juga ingin satu squad tersisa dikejar dan dihabisi. Tapi itu perihal sepele. Aku tahu fungsi Squad Penyergap musuh adalah membuat kita berhati-hati dalam memutuskan sesuatu sehingga mengulur waktu kita sedikit untuk bergerak maju. Alasannya pasti, karena dibelakang Squad Penyergap ada ribuan pasukan yang belum siap pada posisi masing-masing. Wajar saja kan karena mereka memilih tanah kita sebagai medan perang? Pasti perlu banyak persiapan. Waktu yang sedikit itu bisa sangat berguna bagi mereka melakukan semua persiapan yang diperlukan. Karena itulah, persiapan mereka harus digagalkan agar tidak menyulitkan kita nantinya, aku bertaruh untuk ini. 6500 tentara Iblis akan aku kirimkan sekarang juga untuk melancarkan serangan cepat dari udara, melakukan pengeboman dengan tembakan sihir menyisir area hutan sampai jarak 15 km dari Tanjung Harapan."

"Hmmm..."

Sairaorg pun magut-magut tanda mengerti. Ia memang ragu di awal akan keputusan ini, tapi buyutnya yang satu ini cukup yakin dengan pilihannya. Meski agak beresiko, tapi penyerangan cepat lebih menguntungkan untuk jangka panjang.

Pepatah mengatakan, 'Dalam perang, siapa yang lebih dulu mengambil gerakan, maka dia lah yang menang'

.

.

To be Continued...

.

Note : Rencananya mau up jum'at kemarin, eeeh ternyata gagal. Udah deh. Sorry kelamaan lagi, dan chapter ini pun lebih sedikit wordnya dari biasa. Kontrak kerjaku baru seminggu ini diperbarui, jadi aku perlu banyak penyesuaian. Selain itu, mulai sekarang waktuku makin banyak habis untuk kerjaan, sehingga sisa waktu untuk nulis makin sedikit. Itulah kondisiku sekarang.

Okeh, untuk bentrokan pertama ini, aku bagi dua dengan chapter depan. Ga sempet nulisnya, lagian udah ditagih-tagih update. Hahaaa.

Seperti perang pada umumnya, bentrokan pertama dimulai dari yang kecil dulu antara dua Regu terdepan dari masing-masing kubu.

Power up-nya Kankuro, hihiii. Kurasa mudah dipahami dan cukup logis kan? Meski teknik Kogutsu dengan benang chakra dari jari memudar akibat digerus teknologi, tapi ciri khas Kankuro tetap aku tunjukkan di chapter ini.

Kemudian, dari chapter kemarin aku memasukkan karakter OC yang ga masuk di LN DxD maupun Manga Naruto. Santai aja, mereka cuma pemanis doang kok. Chara-chara asli pasti akan selalu ada tiap chapter, dan chara utamanya untuk bagian yang penting-penting saja. Contohnya dalam chapter ini, ada nama Kankuro, Sairaorg dan Zekram yang merupakan karakter asli bukan OC.

Scene perang antara Norse-Olympus dan Civil War internal Reliji Hindu-Buddha, tidak aku munculkan detail. Hanya menceritakan garis besar saja, cerita FF ini berfokus pada perang antara Aliansi Tiga Fraksi Injil melawan Konoha dan sekutu. Asal intinya, tetap saja perang terasa mendunia karena seluruh tempat benar-benar dalam situasi perang.

Ulasan Review:

Banshou Ten'in Sasu aja udah segitu, klo Shinra Tenseinya? Ya bayangin aja sendiri.

Issei udah kuat tapi Vali kemana? Ada kok, ia pun sebentar lagi akan unjuk gigi tentu dengan power up gila-gilaan. Di chap 73 dia ada nongol bentar kan?

Kalau karakter original, yaa pasti aku munculkan lah. Termasuk Sakra, Hades, dkk.

Lord Tepes dan Ratu Carmilla menjadi wakil dari bangsa Vampir sebab mereka adalah pemimpin resmi. Alucard, entar dapat jatah kok.

Sparta? Bukannya pasukan sparta udah pernah keluar yah pas chapter 54. Itu, 300 sparta yang dihabisi Maito Gai sendirian berkat dia memakai serum super soldier dari Amerika.

Combo Fight NaruSasu entar pasti ada.

Akemi Homura bukan Ophis. Meski dia bisa ngalahin Sasu, tapi tidak masuk Top 10. Peringkat Top 10 dibuat berdasarkan urutan kekuatan murni, tidak melihat teknik. Nah, dari segi teknik inilah Akemi Homura unggul telak meski powernya hanya sedikit lebih besar dari manusia biasa.

Susanoo God Form nanti muncul lagi kok. Aku keluarkan semua jutsu terkuat Sasuke bersamanya.

Makhluk-makhluk mistis dari Laut Selatan maupun mitologi lainnya, akan muncul menyusul kemudian. Cerita perangnya perlahan yaa, ga bisa langsung semua dikeluarin.

Kakashi turun ke medan perang belakangan aja. Dia kan tidak termasuk dalam pasukan, tapi dia anggota Dewan Perang.

Underwolrd di LN DxD emang memiliki Pulau Melayang Agreas. Tapi kalau ada bulan tujuh biji, itu deskripsi sesuka aku. Ahahaaa.

Karena perangnya terjadi di dunia supranatural (Underworld, Gunung Olympus, dan Kahyangan), maka Bumi dunia manusia ga kena dampaknya. Tapi nanti bisa aja kena dampak juga kalau udah hancur-hancuran pertarungannya.

Alucard, biar hebat sampai bisa berada di dalam pikiran orang, tapi ada batasannya juga kali. Dia bukan Tuhan.

Yang kemarin cari Kankuro, ntuh di chapter ini dia mendominasi. Udah kan, jadi di depan giliran chara lain.

Michael yah? Apa dia tahu dunia akan kiamat sebagaimana Odin yang sudah tahu maupun Sakra yang mendapatkan firasat itu? Ini misteri, hihiiii.

7 pedang legendaris udah Naruto kasihkan ke Tomoe. Jadi di Konoha ga aku tampilkan hal yang sama, termasuk teknik silent killingnya. Bantuan dari Naruto, ga mungkin aku bocorkan sekarang kan? Dan terima kasih saran untuk kekuatan Keris Sakti, aku pikirkan sekali lagi yah.

Kenapa NaruHina melaksanakan misi mencegah kiamat berdua saja, tanpa melibatkan Konoha bahkan meminta bantuan dari seluruh dunia DxD? Alasan untuk ini udah dijelaskan separuh di chapter 40 dan 42, separuhnya lagi nanti pas di ending baru akan dapat dimengerti semuanya.

Sai? Hihihihiii... :v

Panah Indra? Hoooi, Sasu butuh chakra penuh bahkan tambahan chakra curian dari sembilan bijuu untuk sekali melakukannya. Mana mungkin dikeluarin di chapter kemarin yang mana dia udah kehabisan setengah chakra.

Jangan bilang penari balet dong ouy. Coba bayangin nih bener-bener dalam alam imajinasimu. Ketika ada satu sosok melangkah normal melewati pintu gelap, maka yang pertama kali terlihat adalah langkah kaki pertamanya. Kakinya yang duluan keluar. Lalu disusul kepala (wajah) baru badan kemudian kedua tangannya yang secara berurutan muncul seiring dengan gerak maju sosok tubuh tersebut. Yang terakhir keluar, yaa udah pasti langkah kaki terakhirnya (kaki yang satunya). Paham?

Saran untuk jurus Rock Lee, makasih. Udah aku pikirkan lain-lainnya juga kok.

Untuk ajian-ajian dari tanah jawa, aku dah punya banyak referensi juga. Tapi tetap, terima kasih untuk tambahannya ya.

Klo NaruHina, entar ada kok muncul. Sabar aja menantikannya. Sebelum ikutan ke medan perang, mereka berdua masih punya satu kerjaan lagi bersama Rizevim.

Dan... Gw bukan anak dukun, Njerrr! Ilmu hitam macam itu gampang kok dicari referensi bacaannya..

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita, sebagian lainnya kubalas lewat PM.

Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.

.

.

.