Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Selasa, 30 Mei 2017

Happy reading . . . . .

Sebelumnya.

Inilah...

Peperangan panjang terbesar sepanjang jaman, bersamaan dengan kehancuran Gunung Olympus dan Svargaloka di Negeri Kahyangan, yang akan menjadi Hari akhir untuk seluruh dunia.

Armageddon

End of The World

.

To The End of The World

Writen by Si Hitam

Chapter 77. Armageddon War, End of The World - Part 1.

.

-Beberapa saat sebelumnya. Markas Pusat Pasukan Persekutuan, Ruang Kendali-

Ada sebuah meja lengkung yang menghadap pada satu titik tengah. Titik tengah berupa lantai berbentuk lingkaran dengan aksen-aksen unik pada tepiannya. Hologram 3D yang menampilkan visualisasi miniatur berbagai tempat dan keadaan tampak melayang di atas lantai tersebut.

Disana, cukup banyak orang berkumpul. Sebagian duduk di balik meja, sebagian lagi bediri di sekitarnya dengan tugas masing-masing. Keberadaan mereka disini, bukan terjung langsung ke arena perang, tentu dengan suatu sebab seperti... mereka lah yang mengatur formasi dan strategi berdasarkan informasi terfaktual dan situasi yang sedang terjadi di tengah peperangan.

"Bagian pertama, sukses besar."

Ino menghela nafas lega. Dia kemudian melepaskan helm berdesain futuristik yang ia kenakan, lalu mencabut beberapa kabel yang tersambung pada bagian belakang lehernya serta peralatan sensorik pendeteksi kondisi vital tubuh yang menempel pada punggung tangan. Wanita berponi sebelah itu pun bangkit dari kursi khusus yang dia duduki dan melakukan sedikit peregangan tubuh.

Perangkat tersebut adalah peralatan canggih ciptaan peneliti Amerika yang mampu mensinkronkan pikiran manusia dengan dunia digital. Yang terdapat didalam markas ini adalah servernya, sementara di luar sana ada beribu-ribu komunikator portable yang terhubung ke server.

Ino adalah orang yang terpilih menggunakan alat tersebut berkat kelihaiannya dalam menggunakan teknik pikiran dan menjalankan arus pertukaran informasi. Dengan alat ini, dia menjadi penghubung setiap kepala pasukan perang, ia bisa mengirim maupun menerima informasi dalam jumlah besar dengan kecepatan tinggi lalu mengolahnya dengan bantuan program AI (kecerdasan buatan) yang tertanam dalam alat tersebut sehingga diperoleh data penting dalam urutan prioritas. Jika dahulu Inoichi, ayahnya ino, sampai mimisan untuk menyampaikan pesan pada ribuan pasukan Aliansi Shinobi, maka sekarang Ino mampu mengirimkan pesan yang sama pada ratusan ribu orang tanpa perlu merasakan sakit.

"Bagus. Terima kasih atas kerja kerasmu, Ino."

"Iya, Shikamaru."

Shikamaru juga merilekskan badan karena beberapa saat yang lalu ia juga tegang. Mereka baru saja melewati bagian pertama dari peperangan dengan dirinya lah pusat pengatur formasi dan strategi atas ratusan ribu pasukan.

Bagian pertama yang mana mereka sukses besar mengatasi serbuan batalion pemburu dan operasi pengeboman musuh, tidak lain adalah karena peran besar yang dipikul Shikamarudan Ino dari ruang kendali markas pusat ini. Menanggapi usulan Letnan Kankuro, dengan tanggap dia mengatur squad khusus untuk memasang perangkap. Selain itu, mereka juga lah yang mengatur formasi peletakan monster-monster hitam yang diciptakan dengan kemampuan Sacred Gear Longinus Annihilation Maker oleh Leonardo sebagai Air Defense System. Berkat sistem pertahanan inilah, keunggulan musuh dalam pertempuran udara bisa dimatikan.

Shikamaru mendudukkan pantatnya di kursi, "Berapa jumlah korban yang tewas?"

"Kita masih sedikit, hanya 4 squad penyergap saja."

"Biar sedikit tapi satu nyawa itu sangat berharga."

"Aku tahu, mereka diringkus oleh regu pemburu musuh tanpa sempat berbuat apa-apa. Beruntung squad yang dipimpin Kankuro berhasil kembali ke formasi dengan selamat. Berkat dia juga, musuh telah kehilangan hampir 7 ribu pasukan sebagai pembalasan. Bukankah itu pencapaian yang luar biasa?"

"Yaaah, tetap saja kan? Hhhhhhhh, ini merepotkan." Shikamaru lagi-lagi mendengus kesal. Tewasnya korban sudah jadi resiko perang, ia tahu itu. "Bagaimana status pasukan saat ini?"

"Tadi unit pelacak mengirimiku laporan hasil pemindaian sistem radar markas pusat. Tentara musuh sudah mulai bergerak, tinggal menunggu waktu saja hingga mereka bertemu dengan setiap resimen tempur pasukan kita."

"Souka! Perintahkan unit pelacak agar tetap mengawasi radar, lakukan pemindaian secara kontinyu. Kalau bisa pemindaiannya lebih spesifik beradasarkan level kekuatan untuk menemukan orang-orang kuat diantara mereka. Ini penting bagi kita agar bisa menentukan komposisi pasukan yang tepat."

"Dimengerti."

"Teruskan tugasmu di sini, Ino. Laporkan terus semua kejadian penting setiap lima menit. Aku akan mendiskusikan dahulu semua informasi ini dengan anggota timku, membuat strategi terbaik lalu meminta ketetapan pada Dewan Perang."

"Yaps, selamat bekerja."

Shikamaru berdiri lalu beranjak pergi. Sedangkan Ino, kembali berkutat dengan perangkat yang mengatur arus informasi untuk seluruh pasukan.

.

-Sekarang, Arena Perang-

Pantai berpasir putih yang indah ini merupakan tempat yang sangat cocok untuk piknik, seharusnya. Nyatanya sekarang kawasan ini tidak ditujukan untuk hal tersebut. Alih-alih sekedar mencari hiburan, tempat malah dipadati oleh puluhan ribu prajurit dari dua kubu yang berseteru.

Sebelah utara adalah kubu shinobi Konoha dan sekutu-sekutunya yang berada di bawah pimpinan Dewi Perang Bishamonten. Dengan baju zirah lengkap dia duduk menunggangi seekor singa ganas, membelakangi sekitar 12 ribu prajurit. Lalu pada sisi yang berseberangan berdiri sejajar sepasang rival ajang kecantikan dunia supranatural, yakni Gabriel dan Serafall yang juga dengan pakaian tempur lengkap. Mereka adalah dua perempuan yang menduduki tampuk tertinggi kepemimpinan fraksi masing-masing. Kini mereka bekerja sama memimpin 30 ribu tentara malaikat dan iblis demi memenangkan perang untuk mewujudkan Imperium of Bible.

Belum ada suara gemuruh genderang perang yang terdengar, bahkan belum ada gerakan dari kedua kubu sebab perintah menyerang belum keluar dari pemimpin masing-masing.

Ada aturan dan kebiasaan tidak tertulis dalam sebuah peperangan. Meski tidak ada hukum yang mengikat, tapi untuk kebanggaan dan harga diri maka aturan ini tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Gabriel dan Serafall melangkahkan kaki ke tengah-tengah arena setelah meninggalkan aba-aba kepada pasukan di belakangnya untuk diam dan menunggu aba-aba selanjutnya. Bishamon pun melakukan hal yang sama. Singa yang dia tunggangi berjalan perlahan ke tengah menyambut sepasang Malaikat dan Iblis betina yang telah lebih dulu kesana.

"Yahhooo, aku Maou Serafall Leviathan. Salam kenal."

Perempuan berbadan agak cebol namun seksi ini memperkenalkan diri dengan santai, berusaha agar tensi tidak meledak. Meski sebenarnya cara dia berkenalan sangat tidak tepat jika digunakan saat hendak memulai perang

"Hm!"

Namun yang Serafall dapat hanyalah tatapan tajam yang amat menusuk.

Gabriel membungkuk untuk mengenalkan diri ala budaya Jepang, "Aku adalah salah satu dari empat Seraph Surga, namaku Gabriel. Ini pertama kalinya kita berjumpa, 'kan?"

"Khuh, kau punya nyali juga padahal Dewa-mu sudah tiada!" Bishamon membalas sarkastik.

"Ayah selalu bersama kami."

"Hah! Omong kosong! Kalau The God of Bible masih ada, aku yakin peperangan ini tidak akan pernah terjadi. Kalian lah yang merusak namanya."

Serafall tidak menjawab, lagipula sebagai iblis dirinya tidak tunduk kepada tuhan dalam Injil tersebut. Namun bagi Gabriel, "Kami melakukan ini adalah demi menyiarkan ajaran Ayah pada seluruh umat manusia. Untuk mewujdukan sistem teokrasi ummat manusia dimana semua sendiri kehidupan harus didasarkan ajaran Injil."

"Dengan merenggut hak asasi dan kebebasan beragama huh? Apa hal itu tertuang dalam Kitab Suci kalian?"

Gabriel terpaksa bungkam. Kalau boleh jujur, dirinya sendiri pun masih belum mengerti sepenuhnya untuk apa semua ini? Ia hanya mengikuti apa yang telah diputuskan oleh kakaknya, Michael. Berbeda dengan Serafall yang jelas sekali terlihat acuh. Ia berada disini hanya karena adiknya. Kalau bukan karena itu, tentu dia akan mengikuti keputusannya sendiri.

"Aahhh! Lupakan tentang ideologi kalian." bentak Bishamon. "Itu tidak penting! Kalau kalian menginginkan semua itu, maka kalian harus melangkahi mayat kami dahulu. Kami adalah orang-orang yang menjunjung tinggi kebebasan serta hak untuk hidup merdeka lepas dari paksaan siapapun. Pada akhirnya, semua ini memang harus diselesaikan dalam perang karena kalian sendiri lah yang menginginkannya."

Gabriel dan Serafall mengangkat wajahnya, menatap lurus pada Sang Dewi Perang Bishamonten. Sudah jelas bagi mereka, tak ada istilah takut sebab kekuatan mereka bertiga berada pada level yang sama.

"Sepertinya memang tidak ada pilihan lain." ucap Serafall.

"Aku punya usul."

"Hm?" Bishamon mengernyit penasaran.

Gabriel menjelaskan, "Seperti pada perang yang sering terjadi pada umat manusia di bumi, bagaimana kalau sebelum benar-benar memulainya, kita melakukan adu tanding prajurit terbaik. Dua dari kalian melawan dua dari kami."

"Hooo00, usul yang bagus."

Bishamon menunjukkan wajah tertarik. Dia adalah Dewi Perang, tentu ia setuju sebab inilah yang namanya seni dalam berperang. Kalau hanya ada kebrutalan, itu bukan perang namanya. Kebrutalan sejatinya adalah sifat makhluk rendahan, contohnya binatang. Sebagai makhluk supranatural yang diberkahi akal lebih tinggi daripada manusia tentu mereka tidak akan melakukan hal rendahan macam itu.

Serafall berkata dengan nada yang kini lebih serius, "Sudah diputuskan. 10 menit dari sekarang prajurit terbaik kita akan beradu di titik ini."

Perbincangan mereka pun bubar. Negosiasi untuk gencatan senjata memang tidak dicari sedari awal, perang pastinya akan tetap terjadi.

Adu tanding bukanlah sebatas pertarungan biasa antar prajurit. Hasil seperti apapun pastinya akan berdampak pada mental seluruh pasukan kedua kubu.

Bishamon kembali pada pasukannya lalu mengumumkan sebuah penawaran, ia tidak ingin menunjuk seseorang sekehendak hatinya.

"Biarkan aku yang maju!"

Mendengar respon cepat itu, yang langsung saja ia dengar bergitu selesai menyampaikan pengumuman, membuat hati Dewi Bishamon senang dengan keberanian pasukannya. Tapi...

"Siapa kau?"

Bishamon langsung mengenali bahwa yang menawarkan diri adalah manusia, seorang gadis pula. Gadis berbadan ramping dengan surai unik berwarna merah muda bak kelopak bunga Sakura.

Hei, ini serius?

Bishamon bertanya-tanya, kemampuan apa yang dimiliki gadis itu hingga tak takut melawan makhluk supranatural?

"Namaku Sakura Haruno."

Oh, namanya sesuai dengan warna rambutnya.

"Kau shinobi dari Konoha?"

"Benar. Aku juga adalah murid dari dua orang guru, Rokudaime Hokage Hatake Kakashi dan mantan Godaime Hokage Tsunade Senju."

"Baiklah, kau boleh maju!" putus Bishamon cepat.

Meski belum lama kenal, tapi Bishamon sudah tahu cukup banyak bagaimana prestasi Hatake Kakashi. Bahkan kalau ia tidak salah ingat, gadis muda bernama Sakura ini setara dengan Tsunade Senju dalam hal kekuatan walau ia sendiri belum pernah merasakan pukulannya. Jadi, Bishamon cukup yakin dengan keputusan ini.

"Siapa lagi yang satunya?" tanya Bishamon. Aturan adu tanding adalah dua lawan dua, jadi ia perlu satu orang lagi.

"Aku."

Kali ini seorang laki-laki dengan pakaian khas bangsawan yang melangkah maju dan menawarkan diri.

"Sebagai laki-laki, aku tidak ingin harga diriku tercoreng karena berlindung di belakang perempuan."

Pendirian yang sangat kuat dan tegas, Bishamon tidak punya argumen untuk membantah. Meski resimen tempur pasukan persekutuan di titik ini didominasi oleh perempuan-perempuan berkemampuan super, tapi tidak serta merta menenggelamkan kodrat laki-laki sebagai prajurit sejati.

"Kau, Arya Kamandanu kan?"

"Ya. Aku adalah pendekat pedang terhebat dari Tanah Jawa."

Sudah diputuskan. Dua prajurit terpilih pun kini telah berada di arena tanding, tepat di tengah-tengah kedua kubu. Pada kubu lawan, yang maju juga sepasang laki-laki dan perempuan.

Yang satu adalah Souji Okita, peerage Maou Sirzech Lucifer yang mengkonsumsi bidak Knight. Dia adalah pemimpin Shinsengumi, juga menyandang predikat sebagai samurai terhebat di Jepang pada masanya.

Sedangkan yang satunya lagi, langsung diketahui kalau dia berasal dari Fraksi Malaikat Jatuh. Terlihat jelas dari sayapnya yang berwarna hitam seperti sayap gagak. Ada delapan sayap, jumlah yang menandakan bahwa dia tergolong Malaikat Jatuh peringkat atas.

.

Arena perang beralih ke titik lainnya, hutan lebat yang di dominasi oleh pohon-pohon raksasa setinggi lebih dari 100 meter. Puluhan ribu pasukan telah memadati seisi hutan.

Arena ini adalah titik pertempuran milik Zekram Bael bersama cicit-cicitnya. Pada kubu lawan, pemuda dengan bermata sipit dengan wajah khas mandarin menjadi pemimpinnya, Cao Cao si pemegang Tombak Suci pembantai tuhan, The True Longinus.

Berbeda dengan titik yang didominasi para perempuan super, di hutan ini jalannya peperangan berlangsung dengan cara yang sangat berbeda.

Masing-masing kubu mengambil posisi terpisah yang terpaut jarak sejauh kurang lebih 10 kilometer untuk mendirikan kamp. Mereka mengirimkan kurir masing-masing untuk menyampaikan pesan, hingga pada akhirnya diperoleh lah sebuah keputusan.

Zekram dan Cao Cao sepakat membagi perang kedalam tiga sesi. Pada setiap sesi, masing-masing kubu mengirimkan sejumlah pasukan untuk diadu pada titik tengah, terserah berapapun jumlahnya dan apapun strateginya. Cara berperang seperti ini lumrah dipakai di seluruh dunia. Tujuannya untuk mempelajari karakteristik pasukan tempur lawan sehingga mampu membuat strategi terbaik. Jadi kemenangan tidak ditentukan pada jumlah sesi yang berhasil dimenangkan, tapi tergantung pada sesi terakhir. Sesi pertama untuk mempelajari lawan, sesi kedua untuk merevisi apa yang kurang atau salah, dan sesi terakhir adalah penentu karena dapat dipastikan kedua kubu akan mengerahkan seluruh kekuatannya.

Kenapa jalannya perang bisa sangat berbeda seperti ini?, yaa karena tergantung siapa yang memimpin masing-masing resimen. Di seberang sana ada Zekram, sedangkan di sebelah sini ada Cao Cao. Dua karakter yang poluler karena kejeniusannya, yang satu sudah tua dan memiliki banyak pengalaman sedangkan satunya lagi pemuda yang belum lama memulai debut namun dengan pengetahuan-pengetahuan baru yang faktual.

Di dalam tenda barak resimen tempur pasukan persekutuan, Cao Cao masih bisa bersantai meminum teh.

"Jadi Kapten, bagaimana keputusanmu?"

Cao Cao menatap sebentar ke arah pemuda berpakaian serba hijau dengan rambut model mangkok yang baru saja bertanya kepadanya. Acuh tak acuh, ia lanjut menyesap teh hangat. Beberapa saat kemudia dia meletakkan cangkir teh di atas meja.

"Resimen kita ini memiliki 13 ribu prajurit. Kupikir 900 orang saja cukup untuk sesi pertama."

"Serius?"

"Iya."

"Yakin?"

"Tentu saja."

"Apa itu tidak terlalu sedikit?"

"Hhhhhh..." Cao Cao sedikit menggerutu sebal dalam hati. Kenapa ia sampai diberikan wakil kapten yang IQ-nya rendah? Harusnya kan sebagai orang jenius, ia didampingi oleh orang jenius pula.

Terpaksa dengan sabar Cao Cao menjelaskan.

"Itu sudah banyak tahu!"

"Kok bisa? Menurut informasi yang kudengar, resimen musuh jumlahnya sampai 30 ribu. Kalau mereka mengirim 5000 ribu saja, bisa habis pasukan kita yang hanya 900 orang itu."

"Begini Lee, sesi pertama ini tidak bertujuan untuk mencari kemenangan. Malah jika mengirim terlalu banyak pasukan, semakin banyak pula karakteristik pasukan tempur kita yang dapat dipelajari oleh musuh. Lagipula, aku yakin musuh tidak akan mengirim pasukan sampai 5000. Kau paham?"

"Tidak."

"Gh!" Cao Cao langsung gusar.

Pukkk.

Seseorang pria paruh baya datang dan menepuk pelan pundak Lee, ia nampak duduk santai di kursi rodanya.

"Guy-sensei?" ucap Lee dengan mata berkaca-kaca.

"Bayangkan lah Lee! Di dalam sebuah kotak tertutup terdapat 100 mainan bebek-bebekan dari bermacam-macam warna. Kau ingin tahu bebek mainan berwarna apa yang paling banyak didalam kotak itu. Agar bisa menebak, kau boleh mengambil sampel beberapa bebek dari dalam kotak. Menurutmu, lebih baik mengambil 1 bebek atau 1o bebek agar tebakanmu akurat?"

"10."

"Nah, sekarang paham?"

"Ooooooooowwwhh!, begitu rupanya. Terima kasih, sekarang aku sudah paham, Guy-sensei."

Cao Cao menepuk jidatnya. Orang berkebutuhan khusus ternyata hanya bisa diajari oleh guru yang khusus pula.

"Hei hei heeiii, bisakan kalian berdua diam? Aku sudah menentukan susunan pasukan yang maju pertama kali, dan pemimpinnya adalah kau, Rock Lee."

"Hah? Aku?" Lee terkejut, ia masih tidak percaya dirinya diberi tanggung jawab sebesar ini.

"Iya, kau!"

"Aku?"

"Ya!"

"Serius?"

Cao Cao mengangguk.

"Aku tidak salah dengar kan?"

Sungguh, ingin sekali Cao Cao menusukkan tombaknya ke jantung makhluk hijau di depannya ini.

"Lee." Guy lagi-lagi menepuk pundak muridnya.

"Iya, sensei?"

"Aku senang, kau sudah dewasa."

"Benarkah?"

"Ya, kalau kau berhasil memimpin 900 pasukan, maka kau sudah membuktikan kalau dirimu sudah dewasa dan dirimu sudah boleh menikah."

"Whoooooaaa. Baiklah Sensei, dengan semangat masa muda membara aku pasti akan menunjukkan pada semua orang bahwa aku sudah dewasa dan akan segera menikah."

"Bagus, itu baru muridku." ucap Guy sembari memberi jempol ke atas untuk muridnya.

"Sensei."

"Lee."

"Sensei."

"Lee."

"Sensei."

"Lee..."

Dan pasangan guru murid itu saling mengucapkan nama dengan perasan penuh haru suka cita dan mata berkaca-kaca.

Cao Cao?

Dia sedang menjeduk-jedukkan kepalanya di meja. Ia biasanya selalu dikelilingi orang pintar, tapi baru kali ini ditemani orang idiot.

Untuk perang ini, sebenarnya Cao Cao tidak terlalu peduli. Hanya saja, karena sekarang ia dan organisasi New Hero Faction bernaung di Konoha, jadi terpaksa ia ikut. Tidak terpaksa juga karena ia sendiri suka bertarung dan menjajal batas tertinggi kemampuannya. Bisa dianggap pula ini sebagai bagian dari balas jasanya untuk Sasuke yang memperlihatkan padanya impian baru, yaitu ingin melihat akhir dari perseteruan ini, akhir yang akan membawa semua makhluk hidup ke penghujung jaman.

Kalau tentang pengangkatannya sebagai Kapten Divisi 1, itu hanya penunjukan sepihak oleh atasan, Cao Cao hanya mengiyakan saja.

Meskipun tanpa ada niat, Cao Cao tetap tidak ingin kalah dalam perang akbar ini. Ia pasti akan menggunakan segenap kejeniusan dan kemampuannya. Mau dikemanakan harga dirinya kalau pemenang Sacred Gear Longinus peringkat satu sampai kalah?

Kembali ke situasi serius,

Cao Cao berdiri dari kursinya, "Lee, sekarang sudah saatnya. Kau dan pasukanmu, berangkatlah sekarang."

"Ayeee, Kapten!" ucap Lee dengan posisi hormat.

Sepeninggal Lee dan Guy, ruangan tenda pun jadi hening.

Tak lama kemudian terdengar suara grasak-grusuk dari sofa di pojokan.

"Hoooooaaaaaahhmm!" seseorang baru saja bangun tidur. Badannya menggeliat sebentar, dengan mata tertutup ia berucap. "Hei, bangunkan aku hanya kalau aku dibutuhkan, mengerti. Aku masih ingin tidur."

Orang itupun terlelap kembali.

"Sesuai keinginanmu, Yatogami sang Dewa Bencana."

.

-Markas Persekutuan Penentang Imperium of Bible, Ruang Rapat-

"Hei Kakashi-san, apa tidak masalah kalau kita tetap berada di sini?"

"Bukannya sudah diputuskan, Yasaka-himesama? Kita harus tetap berada disini."

"Tapi kan, musuh yang kita hadapi sangat kuat. Aku tidak meragukan pemimpin dari setiap regu, tapi jumlah pasukan kita pada semua titik kurang dari setengah jumlah pasukan musuh."

Ada lima titik pertemuan, sebutlah titik A, B, C, D, dan E. Setiap resimen pada titik-titik itu kini telah bertemu dengan pasukan musuh. Tokoh-tokoh yang memimpin mereka mungkin sudah tak diragukan kepiawaiannya. Tapi pada setiap titik tersebut, resimen pasukan sekutu hanya berkisar angka 12-15 ribu personel sedangkan pasukan musuh terbagi rata masing-masing 30 ribu tentara yang terdiri dari iblis, malaikat, dan malaikat jatuh.

"Tidak ada pilihan lain bagi kita selain maju kesana." tambah Yasaka lagi.

"Maaf menyela, Yasaka-himesama." Shikamaru yang juga berada di ruang rapat markas pusat terpaksa ikut bicara. Ia tidak ingin kekhawatiran di hati salah satu anggota Dewan Perang mengakibatkan munculnya tindakan gegabah dan terjadi hal buruk nantinya.

"Hm?"

"Yasaka-himesama, anda dan petinggi-petinggi yang berada disini adalah orang terpilih sebagai Dewan Perang Persekutuan Penentang Imperium of Bible. Kalian harus tetap di tempat yang aman untuk memutuskan segala sesuatu sampai perang selesai. Cukup Komandan Gaara dan para Kapten saja yang beraksi di medan perang. Percayalah pada mereka."

Ada Tsunade juga di sana, Dewi Amaterasu, Dewa Kinich Ahau, serta Lord Tepes dan Ratu Carmilla. Memang jika semuanya terjun ke arena perang pasti akan menambah kekuatan tempur pasukan, tapi ini bukan lah tugas Dewan Perang.

Dewi Amaterasu masih menunjukkan raut wajah kurang yakin, "Seandainya seluruh pasukan kita bergerak maju, pasti kedua kubu akan seimbang."

Shikamaru langsung menyahut, "Itu benar tapi hanya seandainya. Kita tidak bisa mengubah sistem rolling yang sudah ditetapkan. 65 ribu pasukan sudah bertemu dengan tentara musuh, lalu 60 ribu sisanya tetap di dimensi buatan ini menunggu waktu pertukaran. Kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan terbesar bahwa jalannya perang akan berlangsung lama, sehingga perlu pembagian tugas yang tepat agar kondisi pasukan tetap prima selama perang. Ini lebih baik daripada mengerahkan semua prajurit namun kehabisan stamina pada sesi akhir perang, itu tentu sangat berbahaya."

"Iya yaaa, aku tahu." celetuk Amaterasu. Dewi yang berpenampilan seperti wanita paruh baya tanpa keriput satupun ini nampak sedikit kesal. Ia mengerti hal itu, jadi tidak perlu dijelaskan panjang lebar juga kan?

"Sudah lah, kurasa kita tak perlu meributkan ini." pinta Kakashi. "Kita semua yang ada disini nanti juga akan ikut bertempur."

Semua orang mendelik pada Kakashi, terutama Shikamaru dengan kening berkerut seakan menuntut kejelasan.

"Ya, jika situasinya jadi sangat buruk dan memang benar-benar membutuhkan kekuatan kita. Karena apa?... Karena kita tidak akan pernah mengambil keputusan menyerah. " tukas Kakashi.

Pernyataan Kakashi tak bisa di debat. Mereka semua yang disini, berjuang dan bertempur dengan niat mati. Hanya ada dua pilihan, merdeka atau mati, menang atau mempertahankan harga diri meski jasad bekalang tanah.

Lupakan hal sentimentil tadi, masih ada hal lain yang lebih penting untuk dibahas.

Shikamaru menghela nafas panjang lalu mengambil posisi di tengah-tengah ruangan.

"Gelombang perang tak ubahnya seperti awan di langit. Terus menerus berubah setiap detik. Mengawasi perubahan itu serta memprediksikan berbagai kemungkinan, adalah tugasku dan Ino."

Dia meletakkan sebuah benda kecil seperti permata di lantai. Saat dia sentuh ujung atasnya, muncullah hologram tiga dimensi. Hologram tersebut berupa penampakan wilayah beserta bentang alamnya dengan sangat detail.

"Lihat peta medan perang ini."

Semua orang di sana memperhatikan hologram yang ditunjuk Shikamaru.

"Pertama, kita verifikasi dahulu status setiap resimen tempur. Pada garis terdepan, regu penyergap yang dipimpin Letnan Kankuro telah berhasil menjalankan taktik jebakan untuk menghabisi satu batalion pemburu pasukan musuh. Regu itu pun mundur kembali ke belakang karena seperti rencana awal yang dikatakan oleh Komandan Gaara, kita tidak akan menyerbu sampai ke Kota Lilith. Alasannya sudah jelas, karena kota itu tidak menguntungkan bagi kita sebagai arena perang. Akan lebih baik musuh yang masuk ke wilayah kita yang lebih menguntungkan sehingga mudah dihabisi."

Shikamaru melanjutkan, "Korps tempur utama yang turun ke medan perang pada sesi awal ini sengaja dibagi menjadi lima resimen yang bergerak pada lima jalur berbeda. Timku telah memperkirakan bahwa musuh akan bergerak lewat jalur darat, mereka tidak akan gegabah menggunakan jalur udara lagi setelah gertakan Air Defense System kita yang menewaskan 6500 pasukan mereka. Kelima jalur tersebut dipilih berdasarkan rute yang paling mungkin diambil musuh dengan memperhitungkan kondisi bentang alam dari Kota Lilith hingga Tanjung Harapan tempat gerbang teleportasi kita berada. Akhirnya sesuai perkiraan, sekarang setiap resimen tempur kita telah berada pada titik-titik itu dan sudah bertemu dengan tentara musuh. Titik A dan C memulai peperangan lebih dahulu daripada titik lain."

"Hmm..." Lord Tepes mengacungkan tangan, "Dari posisiku duduk ini, kulihat hologram yang kau buat menunjukkan kelima titik itu dalam posisi segaris."

Petinggi-petinggi lainnya pun coba melihat lebih teliti, dan mereka melihat hal yang sama dengan apa yang dilihat oleh Lord Tepes.

"Aaah, anda menyadarinya Yang Mulia Lord Tepes?" tanya Shikamaru memastikan dan langsung dijawab dengan anggukan. "Sebenarnya ini bukan kebetulan. Aku meyakini, musuh ingin perlahan membuat seluruh pasukan kita berkumpul agar terkepung. Formasi pasukan seperti ini sebenarnya jarang digunakan dalam perang yang pernah aku tahu karena memerlukan sumber daya besar, logistik yang terjamin, ketahan fisik pasukan yang tinggi serta jumlah personelnya yang banyak. Tapi Aliansi Tiga Fraksi memiliki pasukan dengan semua kriteria itu, sehingga mereka yakin menggunakan formasi ini. Untuk pasukan kita sendiri, akan jadi masalah besar karena sangat sulit menembusnya."

Barikade pasukan Aliansi menutup total semua celah dan jalan bagi pasukan Konoha dan sekutunya untuk bergerak maju. Selain pada lima jalur darat yang dilewati oleh resimen tempur utama musuh, antara satu jalur dengan jalur lainnya juga disebar regu-regu kecil sehingga membentuk pagar berjalan untuk memastikan tidak ada satupun pasukan Konoha yang berhasil lewat. Dengan begini, pasukan Aliansi Injil dapat berfokus bertempur menghadapi musuh yang ada di depan saja, sebab dengan pagar itu tidak mungkin ada serangan dari arah belakang.

Shikamaru melanjutkan penjelasannya, "Formasi pasukan musuh, mengakibatkan setiap resimen tempur kita hanya mampu bertahan dalam posisi masing-masing. Kemungkinan terburuk, jika pasukan kita kewalahan maka kita terpaksa mundur. Hal ini bisa dimanfaatkan musuh untuk bergerak maju, dan pada akhirnya kita akan benar-benar terkepung. Apabila itu terjadi, kita akan tamat."

Dewa Kinich Ahau yang sejak tadi diam akhirnya buka suara, "Kau sudah punya taktik untuk mengatasi strategi musuh kan, wahai anak muda?"

"Tentu saja. Setelah melakukan analisis dan menyederhanakan pergerakan musuh, inti dari formasi itu adalah kecepatan gerakan yang sama dan simultan antar setiap resimen. Perkiraanku, jika pasukan Aliansi yang berada di titik A berhasil menekan pasukan kita dan maju 1 kilometer mendekati Tanjung Harapan, maka titik B, C, D, dan E juga akan maju sejauh 1 kilometer, bergitupula dengan pagar barikade regu-regu kecil yang mengubungkan setiap titik. Tujuannya agar formasi mereka tidak putus sehingga pengepungan terhadap pasukan kita akan benar-benar tercapai. Tadi sudah kusebutkan, kalau musuh terus bergerak maju, tentu kita akan terkepung."

"Hm, lalu?" guman Ratu Carmilla.

"Sekali lagi kukatakan kalau inti formasi lawan terletak pada kesamaaan kecepatan pergerakannya, tapi sebenarnya di situ pula lah kelemahannya."

"Katakan lebih terperinci, Shikamaru!" perintah Tsunade.

"Lihat titik-titik pertempuran ini." Shikamaru menunjuk titik-titik yang bertanda bulat merah pada Hologram dan diberi penomoran huruf. "Ada Titik A yang berada di pinggir pantai di arena perang sebelah barat, menuju ke timur titik B, terus C, D, dan E di wilayah rawa. Seperti yang sudah kukatakan, titik A dan C sudah memulai pertempuran lebih dulu. Titik lainnya mungkin masih dalam status siaga, menunggu resimen musuh membuat aba-aba perintah menyerang baru pasukan kita akan melakukan perlawanan. Kemu-..."

Tiba-tiba Shikamaru berhenti bicara, dia menekan alat komunikasi yang terpasang di telinganya. Diam sebentar dengan raut muka serius. "Hm, terima kasih Ino." ucapnya beberapa saat kemudian pada seseorang di seberang sambungan.

Ia pun melanjutkan perkataannya, "Maaf, kuralat untuk yang tadi. Tampaknya di titik E pertempuran juga telah pecah. Mantan Raja Naga Tanin sedang mengamuk dan membantai monster-monster dari pasukan kita."

"Appaaaa! Bukankah itu gawat?" seru Yasaka.

"Tidak perlu terlalu khawatir, Yasaka-himesama. Kejadian ini sudah diprediksi dan kita telah mempersiapkan rencana khusus untuk menangani Raja Naga itu. Komandan Gaara telah mengirimkan bantuannya ke sana."

"Baiklah, kembali ke topik. Bagaimana strategimu untuk menghadapi formasi musuh, Shikamaru-kun?" tanya Yasaka setelah dirinya tenang kembali.

"Hm, aaaaa..." Shikamaru nampak kebingungan, "Maaf, sampai mana tadi?" lalu mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri.

"Hhhhhh..." semua orang mendesah berjamaah. Orangnya pintar tapi pelupa.

"Aaaah iya," nampaknya Shikamaru sudah ingat. "Satu-satunya cara agar kita tidak sampai terkepung adalah dengan merusak formasi musuh."

"Caranya? Bukankan tadi kau mengatakan kalau formasi barikade musuh sangat solid?" ungkap Dewi Amaterasu.

"Memang, dan melakukannya mungkin benar-benar sulit."

"Tak perlu bertele-tele."

"Maafkan saya," Shikamaru membungkuk sebentar lalu bangkit lagi. "Lihat ke peta lagi! Kelima titik ini, A, B, C, D, dan E membagi pasukan kita dan pasukan musuh secara merata. Yah, meski pada awalnya pasukan yang kita bagi kedalam lima resimen itu masih timpang karena hanya pembagian sementara, tapi dengan cepat kekosongan itu diisi oleh pasukan dari Divisi Ketiga Unit Pertempuran Jarak Menengah Lanjutan dan Divisi Kelima Unit Pertempuran Khusus yang dipimpin oleh Kapten Seras Victoria dan Kapten Sudjiwodhiningrat. Kedua kapten itupun juga mengambil alih pimpinan resimen, Kapten Seras di titik D dan kapten Sudjiwodhiningrat di titik E."

"Mendengar penjelasanmu, nampaknya kita telah membagi pasukan secara merata." ucap Yasaka.

Shikamaru memejamkan matanya sebentar sembari merilekskan lehernya. Semuanya cukup paham, Shikamaru menyandang beban yang cukup berat saat ini.

"Berbahaya jika kita berpikir seperti itu."

"Kenapa?"

"Kita tidak akan tahu perubahan seperti apa yang mengiring jalannya peperangan."

"Hm, oke!"

"Sekarang, dimulai dari sini. Perhatikan kelima titik ini. Titik A, C, dan E sudah memulai peperangan lebih dahulu. Fokus dahulu pada titik A dan B yang berada di sebelah barat. Aku berencana memindahkan separuh jumlah pasukan dari resimen tempur di titik B ke titik A."

"Shikamaru, apa kau bermaksud mengurus titik A lebih dahulu sama seperti strategi Ayahmu saat perang dunia shinobi dua setengah tahun lalu."

"Tidak. Strategi ini cukup berbeda, Tsunade-sama."

"...?"

"Ini bukan tentang mendahulukan mengurus mana yang lebih dahulu karena taktik ini dibuat untuk keseluruhan. Pada point ini, aku ingin membengkokkan formasi sabuk barikade pagar berjalan pada bagian ujung."

"Lanjutkan!" perintah Kakashi karena sempat hening sejenak akibat para anggota Dewan Perang masih kurang percaya dengan ucapan Shikamaru.

"Jika kita melawan formasi musuh ini dengan kekuatan merata pada setiap titik, hanya akan membuat barikade sejajar musuh lebih mudah bergerak maju dengan kecepatan yang sama, hal yang paling tidak kita inginkan pun akan terjadi. Tapi bagaimaka jika mengkonsentrasikan kekuatan tempur kita pada titik yang paling ujung?"

"..."

"..."

Shikamaru melanjutkan, "Cukup dengan menahan titik A saja, maka barikade musuh disepanjang titik B, C, D, dan E tidak akan bergerak maju ke arah kita."

Itu sudah jelas, Pasukan Aliansi Injil ingin bergerak maju dengan kecepatan yang sama menuju Tanjung Harapan. Namun jika satu titik tertahan, maka titik lainnya tidak akan maju dan pasti akan menunggu.

"Namun strategi ini hanyalah kamuflase."

"Huh? Apa sebenarnya maksudmu, Shikamaru?" tanya Kakashi menuntut kejelasan.

"Asumsikan kalau musuh telah membaca strategi yang kukatakan tadi, sebab itu hanya sebatas strategi tandingan biasa. Tak perlu kejeniusan untuk memikirkan itu. Jadi kita harus melakukan hal yang tidak biasa agar bisa menang."

"Katakan, apa rencanamu sebenarnya?"

"Perpindahan setengah resimen pasukan dari B ke A tidak akan benar-benar dilakukan. Begini, pasukan dititik B tetap di bagi dua. Setengahnya bergerak menuju titik A sedangkan setengahnya lagi bergerak mundur seolah menyerah. Titik A tetap dengan komposisi resimen yang dibawa oleh Kapten Dewi Bishamonten, tapi mereka akan bertarung lebih frontal dan beringas seolah mereka mendapat tambahan kekuatan dari titik B. Mereka juga akan berusaha memukul mundur musuh sekuat tenaga. Jika berhasil, maka barikade pasukan Aliansi antara titik A dan B tidak akan sejajar lagi bahkan menjadi miring. Dan akan lebih bagus lagi seandainya resimen musuh di titik B malah bergerak maju karena terpancing gerakan mundur pasukan kita sehingga rasion gradien kemiringan jadi lebih tinggi.

Pada moment yang sangat tepat ini, setengah pasukan dari titik B yang tidak jadi ke titik A akan melakukan gerakan silang melewati barikade miring antara A dan B lalu muncul persis di belakang resimen musuh titik B. Taktik pengalihan sangat dibutuhkan di sini. Caranya, bisa dengan Genjutsu tipe area dari Ultimate Rinne-sharingan Uchiha Sasuke ataupun dengan teknik lorong dimensi ruang dari Kapten Georg pengguna Sacred Gear Longinus Dimension Lost. Saat strategi ini berhasil, maka resimen musuh di titik B akan kita kepung, sehingga lebih mudah dihabisi karena kita menyerang mereka bersamaan dari depan dan belakang. Apalagi resimen di titik B dipimpin oleh Dewa Langit Quetzalcoal dari Mitologi Amerika yang dikenal sangat kuat bersama dewa-dewa lainnya dari Takamagahara sehingga meningkatkan persentase keberhasilan."

Mendengar penjelasan panjang lebar itu, sekarang semuanya paham dengan rencana Shikamaru.

Tapi...

Tsunade mengekerutkan kening, "Kau bilang tadi kalau strategi ini untuk keseluruhan kan? Bukannya kalau seperti ini saja, fokus kita untuk pertempuran di titik B."

"Betul, ini memang untuk keseluruhan sebab taktik yang persis sama akan dilaksanakan pula pada titk D dan E. Tarik garis vertikal melalui C dan anggap sebagai garis cermin, maka titik D sebenarnya adalah titik B dan titik E adalah titik A. Strategi ini harus dilakukan pada waktu yang beramaan antara bagian barat dan timur agar taktik ini sejatinya adalah satu. Jika berhasil, maka dua titik pertempuran sudah pasti berada di tangan kita."

Tiba-tiba Yasaka berdiri mengajukan protes. "Titik D tidak sama dengan titik B. Di titik B ada banyak dewa sedangkan titik D?"

Kalau diingat-ingat, titik D dipimpin oleh Seras Victoria, Raja Tenguu yang aslinya bawahan Yasaka sendiri dan Binbougami si Dewi Kesialan Kofuku yang sebenarnya harus semua orang ketahui bahwa dia tidak bisa bertarung. Jadi hal wajar kan kalau Yasaka meragukannya. Berbeda dengan titik B, titik D malah semakin menurun persentase keberhasilannya.

Sekali lagi terpaksa Shikamaru menenangkan si Ratu Rubah, menunjukkan bahwa rencana yang dia susun sudah benar-benar matang.

"Aku sudah mendapat konfirmasi dari Kapten Seras Victoria. Tuannya, Alucard Sang Vampire pertama yang legendaris akan ikut terjun ke medan perang titik D. Masih belum diketahui bagaimana aksi yang akan ditunjukkan Alucard-sama, tapi kita bisa percaya padanya"

"Oh." Yasaka pun merespon singkat, tidak ada lagi yang bisa ia katakan.

Sedangkan Kakashi medesahkan nafas, "Dasar, para Vampire bertindak seenaknya."

"Heeeeiiii...!"

"Ah, maaf." Kakashi langsung kicep karena delikan dari Ratu Carmilla dan Lord Tepes.

"Hmmm..." Dewi Amaterasu bertopang dagu, "Kita sudah membahas empat titik, jadi bagaimana dengan titik C yang paling tengah? Kalau aku perhatikan, dari titik C ke titik B ataupun D cukup dekat dan rutenya pun terlihat mudah. Andai musuh menyadari strategi ini, bukan tidak mungkin kan mereka membagi pasukan untuk dikirim ke titik B atau D sebagai bantuan?"

"Kalau urusan itu, kita serahkan sepenuhnya pada Kapten Cao Cao, dia yang akan memikirkannya sendiri. Aku tidak bisa memperkirakan sampai batas mana kekuatannya sebagai pengguna Tombak Suci pembantai Tuhan, The True Longinus, terlebih dia masih muda dan masih terus berkembang, tapi dia manusia jenius dan pasti bisa melakukan tugasnya. Disana juga ada Rock Lee serta Dewa Bencana Yatogami yang akan sangat membantu."

"Hm, aku mengerti. Lagipula Si Yatogami itu, meski bukan dewa tekenal di Takamagahara bahkan hanya punya tanah seluas satu meter persegi dengan kuil miniatur, tapi aku masih ingat kalau dia pernah mencatat rekor mengagumkan selama masa hidupnya."

"Nah, kurasa cukup sampai disini. Bagaimana, para Dewan?"

"Sudah pasti kan?" Kakashi sebagai Ketua Dewan menatap anggota dewan lainnya.

"Ayo kita lakukan" ucap mereka bersamaaan.

.

-Arena Perang-

Sakura menatap datar ke arah lawannya. Seorang malaikat yang ia akui sangat cantik, tapi karena sayapnya yang hitam setelah 'jatuh', ia pun terlihat menyeramkan. Malaikat itu terbang rendah di udara pada jarak 30an meter darinya.

"Apa-apaan ini? Aku melawan manusia?" Malaikat Jatuh itu berbicara arogan.

Dari situ saja sudah ketahuan, apa sebab ia 'jatuh' dari Surga. Jika kebanyakan Malaikat 'Jatuh' dikarenakan tidak sanggup menahan godaan hawa nafsu birahi, maka dia 'jatuh' karena hatinya dipenuhi oleh kesombongan.

"Kenapa memangnya dengan manusia huh?"

"Sudah sangat jelas kan? Manusia adalah makhluk kotor dan rendah yang hanya bisa merusak bumi, tidak seperti kami para malaikat yang suci. Seharusnya tuhan tidak menciptakan kalian."

"Arrrh, berisik!" cibir Sakura. "Dengar ya!, aku memang manusia tapi tidak ada hubungannya dengan tuhan yang kau maksud itu. Aku manusia dari dimensi yang berbeda kau tahu."

"Tch, sama saja? Semua manusia sama."

Sakura yang dasarnya bersikap tempramental, kini terpaksa harus bersabar. Kalau tidak, mungkin akan ada kejadian buruk nanti. Jengkel sebenarnya dengan malaikat jatuh sok suci di depannya ini.

Sok suci? Kheh...

"Ah ya, kau tadi mengatakan kalau malaikat itu suci kan? Lalu kenapa sayapmu hitam heh?"

"Sehitam-hitamnya sayap malaikat, masih jauh lebih indah daripada hati manusia yang paling putih."

Keringat sebesar biji jagung meluncur di jidat lebar Sakura. Prinsip macam apa itu? Itu bukan kebenaran, tapi pembenaran.

"Amarel, ingatlah nama itu! Nama terakhir yang akan kau dengar di penghujung hidupmu untuk dibawa ke alam akhirat." ucap sang malaikat jatuh, ia lalu membentangkan sayapnya lebar-lebar, delapan sayap hitam. Jumlah sayapnya menunjukkan ketinggian derajatnya sebagai Malaikat Jatuh. Kalau dibuat perbandingan, dia setingkat dengan Iblis Kelas Tinggi dan hanya satu level di bawah Kokabiel yang memiliki 10 sayap.

Sakura mengangkat tangannya dengan telapak terbuka ke atas, ia menggerakkan jemari untuk mengajak lawannya bertarung. "Amarel kah? Ayoo sini, lawan aku!"

Tanpa disuruh pun Amarel pasti akan menyerang, dia menciptakan sebilah tombak cahaya masing-masing pada kedua tangannya.

Syuuuttt.

Kedua tombak cahaya dia lempar bersamaan.

Sakura bergeming, ia tidak berniat untuk menghindari serangan lawannya.

Dalam gerakan slow motion, momen ketika tombak cahaya hampir mencapai tubuh Sakura, perlahan tombak cahaya itu terkikis dan mengecil. Lalu tepat 1 centi didepan wajah Sakura, serangan itupun lenyap seperti debu tertiup angin.

Fiuuuhhhh...

Sakura meniup-niup udara, namun bunyi siulan urung keluar.

"Hei, apa segitu saja kekuatan malaikat jatuh peringkat atas huh?"

Amarel belum lepas dari keterkejutan. Dia tidak mengerti kenapa hal tadi bisa terjadi.

"Magic Jammer."

Sakura menunjukkan batu permata yang menempel di sarung tangannya yang sebelah kiri. Berwarna hijau emerald.

"Terlihat seperti permata biasa, namun ini sebenarnya adalah perangkat aktif untuk menciptakan medan ruang yang mampu meniadakan massa energi sihir dari berbagai atribut alam apapun tanpa terkecuali. Kalau hanya serangan setengah-setengah seperti tadi, tidak akan mampu mencapaiku."

Sakura mendapatkan alat itu dari hasil penelitian ilmuan Hero Faction.

Amarel berusaha tenang dan berpikir jernih. "Kalau memang alat itu meniadakan sihir, maka seharusnya kau juga tidak bisa menggunakan serangan sihir kan?"

"Aku bukan pengguna sihir, jadi bukan masalah."

Aslinya tidak hanya sihir saja yang ditiadakan, tapi semua jenis kekuatan spiritual. Chakra juga terkena dampaknya, jika chakra tersebut dikeluarkan dari tubuh sebagai pelepasan Ninjutsu. Kalau aliran chakra didalam tubuh, tidak akan terkena pengaruhnya.

"Kalau begitu, bagaimana dengan iniiiiii?" Amarel mengibaskan kedelapan sayapnya, ratusan bulu-bulu gagak berjatuhan. Semuanya berubah menjadi padat dan tajam lalu bersinar terang seperti cahaya. "Rasakan!"

Kali ini pun Sakura tak berniat menghindar. Ia yakin menerima semua serangan.

Beratus-ratus bilah cahaya menghujani tempat Sakura berdiri. Sama seperti sebelumnya, cahaya itu memudar lalu lenyap sebelum mengenai Sakura. Karena serangan yang dilakukan secara massal tersebut, terlihatlah area dimana efek Magic Jammer bekerja. Berbentuk kubah setengah bola dengan Sakura sebagai intinya, melindungi gadis itu dari setiap serangan sihir cahaya.

Serangan masih belum berhenti, beberapa bilah cahaya yang mengecil namun belum lenyap sempat mengenai badan Sakura dan mengakibatkan luka iris kecil. Tapi luka sekecil itu bukan masalah bagi shinobi elit seperti dirinya.

Amarel menghentikan serangannya, ia telah menyadari sesuatu. "Aku sudah tahu kelemahan alat itu. Magic Jammer yang kau gunakan bekerja dengan menguraikan ikatan struktural massa sihir dengan debit terbatas. Jika tombak cahaya yang kulempar kecil, mungkin akan langsung terkikis habis dengan cepat. Tapi kalau aku membuatnya sangat besar?"

Area yang dilingkupi Magic Jammer perlu waktu untuk mengikis serangan sihir. Jika serangan sihirnya sangat besar, jelas sekali kalau serangan itu tidak akan terkikis habis sebelum mengenai sasarannya.

Prinsip yang sangat sederhana.

"Haaaaaaaaaaa...!"

Masih melayang diudara, Amarel mengangkat kedua tangannya ke atas. Tombak cahaya pun tercipta di kedua genggaman tangannya. Mulanya kecil, namun seketika berkedut membesar, terus membesar hingga seukuran gerbong kereta.

Jika seukuran itu, mustahil perangkat Magic Jammer sanggup meniadakannya.

"Kali ini kau pasti mati, Heeyyaaaaaa!"

Amarela melesat maju, ia tidak melemparkan tombak cahaya namun menyerang Sakura secara langsung.

Bahkan untuk yang ini pun, Sakura tanpa rasa takut masih tetap di posisinya. Ia masih bersikeras menghadapi lawannya dari arah depan.

Ujung tombak cahaya sebesar gerbong kereta meluncur cepat. Saat melewati area kubah Magic Jammer, memang sedikit terkikis tapi itu sama sekali tak ada artinya dibanding ukurannya yang kelewat besar.

Grebb...

Sakura menangkap tombak cahaya raksasa, badannya terdorong ke belakang sehingga tercipta garis di tanah bekas kakinya yang terseret. Setelah beberapa meter, ia berhasil menahan serangan Amarel.

"Mustahil...!"

Sekali lagi, sang malaikat Jatuh dibuat terkejut.

"Tidak ada yang mustahil bagi manusia. Makhluk yang tercipta dengan potensi tak terbatas."

Meski Sakura menggenggam tombak cahaya, namun tangannya tidak terluka. Sarung tangan miliknya terlihat berbeda dari yang biasa ia pakai. Berbahan serat karbon yang lentur dan sangat kuat, serta punya sifat anti-sihir karena ditempa dengan ritual khusus, sama seperti bahan yang digunakan untuk membuat Kugutsu tipe baru milik Kankuro.

Sakura memasang raut muka serius, "Kurasa sudah cukup bermain-mainnnya."

Byakugou no In, release

Amarel menatap dalam diam perubahan tubuh Sakura. Garis-garis hitam muncul dari tanda belah ketupat di dahi lalu bergerak keseluruh tubuh seperti sulur. Dia merasakan ketakutan, ketakutan yang sangat dalam selama ia hidup. Nafasnya seolah terhenti.

Di tempatnya, Sakura mengepalkan tangan, menekuknya sedikit kebelakang, lalu...

Slug!

Bruukkk.

Selesai.

Tubuh Amarel tanpa nyawa jatuh terbaring di tanah, dengan lubang menganga lebar di dada kiri. Jantung Malaikat Jatuh itu telah berpindah dari tempat yang semestinya, terlempar dan jatuh di laut yang cukup jauh dari bibir pantai. Tombak cahaya sebesar gerbong kereta pun hilang begitu saja setelah pemiliknya tewas.

One Punch to Kill!

Cukup hanya dengan satu pukulan saja, lawan yang kuat pun pasti tumbang. Amarel malaikat jatuh bersayap delapan saja, tidak ada apa-apanya bagi Sakura.

Inilah hasil dari latihan pemusatan gelombang pukulan. Sakura memiliki pukulan yang sangat destruktif pada lingkungan, bongkahan batu besar saja bahkan daratan bisa ia hancurkan dengan mudah. Nah, bayangkan jika kekuatan pukulan yang sangat besar itu dibuat konvergen sehingga terpusat pada satu titik!, maka yang terjadi adalah seperti tadi. Melubangi tubuh lawan jadi perkara mudah, bahkan walau dilakukan dari jarak yang cukup jauh tanpa kontak langsung sekalipun.

Naruto dan Sasuke terus tumbuh lebih kuat seiring waktu, maka Sakura pun sebagai anggota Tim 7 tidak ingin tertinggal. Segala cara ia lakukan agar dapat terus sejajar dengan kedua rekannya.

Sakura membuang nafas panjang lalu melemaskan jari-jari tangannya. Ia sangat yakin, meski melawan makhluk supranatural yang sangat kuat sekalipun, manusia seperti dirinya tak akan kalah.

Sesungguhnya Sakura bisa saja lebih kalem kalau hanya untuk mengalahkan Amarel. Tapi ia mengerti posisinya saat ini, ia adalah wakil adu tanding. Jika ia mememangkan pertarungan secara telak, meluluh-lantakkan arogansi musuh dalam sekejap serta membuat lawan tak berkutik, maka dampak yang timbul pasti akan besar.

Adu tanding sejatinya adalah perang psikologis sebelum membuka perang yang sesungguhnya. Jika menang secara telak, maka semangat tempur pasukan pasti meningkat tajam sedangkan pasukan musuh mungkin akan dilanda ketakutan. Semangat tempur yang membara tentunya akan meningkatkan persentasi kemenangan.

Beralih dari Sakura, di sisi sebelahnya sejak tadi berlangsung pertarungan sengit.

Clangg!Clangg!Clangg!Clangg!

Suara dentingan logam terdengar keras memekakakkan gendang telinga.

Traannnnkkk!

Dua petarung pedang sedang unjuk kekuatan masing-masing, membuktikan diri sebagai yang terhebat. Mereka pun melompat mundur untuk mengambil jarak aman.

Souji Okita tak berniat untuk istirahat,

Hira-seigan

Slice!

Dia menebaskan pedangnya di udara kosong. Aura demonic power tajam berbentuk seperti bulan sabit merambat sangat cepat di tanah.

Cruusshh...

Arya Kamandanu menebas sabetan energi sihir itu hingga hancur berkeping-keping. Pedang Naga Puspa di tangannya tak nampak lecet sedikitpun, padahal barusan adalah salah satu teknik terbaik milik Souji Okita.

"Haaaaaaa...!"

Arya Kamandanu melesat maju. Dengan Aji Saepi Angin, sebuah ilmu kanuragan untuk meringankan tubuh, ia mampu berlari secepat angin hingga hampir tak terlihat.

Souji Okita pun, sebagai Knight dari Sirzech Lucifer juga sanggup bergerak dengan kecepatan dewa.

Clangg!Clangg!Clangg!Clangg!

Berkali-kali kedua pendekar itu saling menebaskan pedang. Areal sekitar tempat mereka bertarung bahkan bergetar akibat terkena gelombang-gelombang kejut yang tercipta dari bilah pedang yang saling baku hantam.

Souji Okita adalah seorang master samurai yang hidup pada era pemerintahan Keshogunan Tokugawa di Jepang. Ia adalah pemimpin Shinsengumi yang bertugas melindungi Kyoto sebagai ibukota pemerintah. Serinkali samurai-samurai yang tergabung dalam organisasi ini melakukan operai terminasi, mereka akan membunuh pihak-pihak oposisi pemerintah tanpa ampun.

Tennen Rishin-ryu, adalah teknik aliran berpedang yang digunakan oleh anggota inti Shinsengumi. Souji Okita telah menguasai semua jurus dalam aliran ini pada usia 18 tahun sehingga mendapatkan status Menkyou Kaiden.

Sebelum mati, Shouji Okita direinkarnasi oleh Sirzech sebagai bidak Knight. Dan sekarang sebagai iblis, ia yang aslinya berumur lebih dari 150 tahun tapi nampak masih seperti pemuda berumur 20an.

Sama halnya seperti Souji Okita, Arya Kamandanu pun juga memiliki legenda sendiri di tanah kelahirannya. Ia melewati banyak masa sulit selama hidup. Belajar ilmu kanuragan pada beberapa guru dan diberi pusaka sakti Pedang Naga Puspa. Lika-liku hidupnya sangat panjang, termasuk cerita percintaannya dengan beberapa wanita. Suatu ketika ia bertemu Raden Wijaya dan menjadi pengikutnya, seseorang yang menjadi raja pertama Kerajaan Majapahit.

Selama hidup, Arya Kamandanu dikenal sebagai pendekar pedang paling sakti di tanah Jawa pada jamannya. Masa tua Arya kamandanu tidak diketahui dengan jelas, beberapa cerita menyebutkan bahwa dia mengundurkan diri dari Kerajaan Majapahit setelah mangkatnya Raja Raden Wijaya. Ia pun pergi menyepi di Lereng Gunung Arjuna hingga akhir hayat.

Alasan kenapa Arya Kamandanu masih ada hingga sekarang bahkan tampak masih muda dan tampan, mungkin karena ia Moksa setelah pertapaannya, menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan sehingga naik derajat menjadi makhluk supranatural yang abadi. Setelah Moksa, ia dapat berjumpa dengan Ratu Penguasa Laut Selatan. Dan ia berada disini ikut serta dalam perang, sebagai utusan dari Sang Ratu.

Bermenit-menit telah berlalu, kedua petarung pedang tersebut masih saling beradu teknik seolah tak kenal lelah. Banyak sudah bekas pertarungan mereka yang berantakan karena tak sanggup menahan kuatnya teknik pedang mereka.

Sreeettt.

Sekali lagi, Souji Okita dan Arya Kamandanu mengambil jarak. Tampaknya mereka ingin mengadu jurus terkuat sekali lagi.

Katana milik Souji Okita mengeluarkan aura biru, sedangkan Pedang Naga Puspa pusaka Arya Kamandanu mengeluarkan aura merah.

Arya Kamandanu merapalkan mantra, "Petit Nogo Kinura Papat, Pusoko Ranonggo Madyo!"

Sedangkan Souji Okita mencuri langkah pertama, "Belah semua sampai tak terlihat, Satsuki Ryou-ken!"

"Haaaaaaaaaaa/Haaaaaaaaaaaaaa!"

DHUUUAARRRRR...

Asap tebal mengepul membumbung tinggi ke langit tepat dimana kedua pendekar saling jajal kekuatan.

Semua orang, seluruh pasukan dari kedua kubu menunggu dengan harap-harap cemas. Siapakah yang memenangkan pertarungan di sisi ini? Terutama bagi kubu Aliansi Tiga Fraksi. Salah satu jawaranya sudah kalah secara telak, jadi mereka menaruh harapan besar pada Souji Okita, seorang iblis yang menyandang predikat Knight terkuat.

Sesaat kemudian, angin laut berembus kencang sehingga menyapu semua kepulan asap.

Melihat hasilnya, Serafall, Gabriel, dan semua pasukan Aliansi bisa tersenyum senang.

Souji Okita masih berdiri tegak meski baju hakama dan haori yang ia kenakan telah robek di sana sini. Banyak goresan yang melukis luka di badannya. Sementara itu, Arya Kamandanu terbaring di permukaan pasir pantai. Dia masih hidup namun mulutnya menyemburkan banyak darah. Sebuah luka melintang menganga lebar di perutnya.

Dengan hasil ini, berarti adu tanding berakhir seri. Akan kah ada adu tanding sesi kedua?

Ah belum selesai. Harus ada pengakhiran.

Souji Okita menghunuskan katananya tinggi-tinggi. Dalam adu tanding sebelum perang tidak ada hasil luka, yang ada hanyalah hilang nyawa.

Namun...

Stabbb!

Sebuah pedang besar bermata dua, pedang tipe broadsword setinggi dan selebar tubuh orang dewasa jatuh dari atas dan menancap di antara Souji Okita dan Arya Kamandanu. Mantan pemimpin Shinsengumi itupun terpaksa membatalkan serangannya. Dia menengadah untuk mencari siapa orang yang telah berani mengganggu pertarungannya.

"Sudah cukup!"

Ternyata suara itu berasal dari mulut Sang Dewi Perang Bishamonten. Ia duduk diatas singa tunggangannya yang melayang di udara.

"Kau mau curang eh? Harus adil, jadi tidak boleh dihalang-halangi." Serafall mendekat dan melancarkan protes. Pun Gabriel mengikuti di sampingnya.

"Lihat lah, wahai pendekar pedang! Lawanmu sudah tergeletak lemah tak berdaya. Masih ingin membunuh lawan yang tak berdaya seperti itu? Apakah kau masih memiliki jiwa ksatria dalam dirimu?"

Benar, ini tentang prinsip dan harga diri. Amarah dan nafsu membunuh hanya akan menodai kesucian dan kebanggaan akan sebuah kemenangan.

Souji Okita melangkah mundur tanpa mengucapkan apa-apa. Sedangkan Sakura yang berada di dekat sana, langsung memapah tubuh tak berdaya Arya Kamandanu ke barisan belakang untuk diberi perawatan medis.

Gabriel dan Serafall mengudara, terbang sejajar dengan Bishamon.

"Kupikir tidak perlu lagi basa-basi."

"Ya, kau benar!" sahut Serafall menanggapi ucapan sinis Bishamon.

Shinggg!

Gabriel mencabut pedang dari sarung di pinggangnya. Ia hunuskan ke langit.

"Demi terwujudnya tatanan dunia yang sejalan dengan kehendak Bible, SERBUUUUUUUU!"

Bishamon pun tak mau kalah, dia mengangkat senjatanya. "Ayooooo, demi mempertahankan hak untuk hidup merdeka, SERAAAAAAAAAAANGGGGG!"

"Oooooorrrrryaaaaaaaaaa!"

Suara tabuhan perang pun benar-benar bergemuruh di sepanjang pantai barat wilayah Gremory.

.

Masih di arena perang, namun pada titik yang berbeda yakni di tengah keheningan hutan belantara.

Dua kubu sudah saling serang sejak 15 menit lalu. Tidak nampak seperti perang sungguhan, karena ini adalah perang sesi pertama di titik C. Mereka masih mengamati kemampuan dan strategi lawan masing-masing. Pertarungan tanpa niat membunuh, tanpa niat untuk menang, tetapi untuk mempelajari dan menemukan cara bertarung yang paling tepat yang akan digunakan saat perang terbuka benar-benar terjadi.

Seperti itulah yang terjadi pada hampir semua petarung. Ya, hampir semua. Karena ada dua pemuda ini, yang berpikir tidak dengan otak tapi otot.

Jduuuaaarrrr!.

"Rasakan pukulankuuuu!" Salah satu pemuda menampakkan aura putih tebal di sekeliling tubuhnya, itu adalah touki senjutsu yang sangat padat.

Sedangkan yang satunya lagi dipenuhi aura hijau yang menyala-nyala.

"Hachimon Tonkou no Jin. Gerbang kelima Tomon, Buka!"

"Heyyaaaaa...!/Heyyaaaaa...!'

Duuaaggg

Dasshhh.

DHHUUAAARRRRR...

Dhuuuaarrrr.

Syaatttt... Tap!

Kedua pemuda tersebut mendarat dipermukaan tanah setelah cukup lelah beradu tinju dalam satu tarikan nafas.

"Kau lumayan juga, manusia. Huuuuffttt!"

"Haaahhhhhh, kau juga hebat, iblis."

Keduanya saling puji dengan nafas tersengal. Mereka adalah satu pemuda berbadan kekar dengan pakaian gym yang trendi dan satu lagi pemuda ramping namun berotot yang memakai pakaian spandex hijau ketat.

"Siapa namanu?"

"Rock Lee. Kau?"

"Sairaorg Bael."

"Yeah, salam kenal."

"Hei! Ngomong-ngomong, apa kau mengenal Uchiha Sasuke?"

"Tentu saja, Sasuke-kun adalah temanku."

"Bagus! Bisakah kau mempertemukan aku dengannya? Aku punya satu dendam yang belum terbalaskan kepadanya."

Cerita tersebut belum terlalu lama terjadi. Beberapa bulan lalu, Sairaorg pernah diberi misi pengintaian oleh Sirzech untuk mengawasi aktifitas aneh di pinggiran Kota Kuoh. Ternyata itu adalah perbuatan orang dari Konoha. Di sana lah Sairaorg berjumpa dengan Uchiha Sasuke. Mereka berdua bertarung singkat yang diakhiri dengan kekalahan telak untuk Sairaorg.

Waktu itu Sairaorg belum menggunakan kekuatan penuh, jadi dia menyesal. Dan jika bertemu lagi, dia ingin pertarungan ulang. Sairaorg ingin membalas kekalahannya yang memalukan saat itu.

"Tidak tidak tidak!"

"Heh! Kenapa?" tunjuk Sairoarg kesal atas penolakan Lee.

"Sasuke-kun adalah atasanku dalam perang ini. Kalau kau ingin melawannya, maka kau harus melangkahi mayatku dulu."

"Oooohhhh, kau berani menantangku rupanya." Sairaorg menaikkan dagu.

Lee menyeringai senang, "Tentu saja, siapa takut."

Raut muka Sairaorg nampak cukup senang walau hanya dengan ini. Belum lama ini dia mendengar cerita dari Issei. Si Sekiryutei saat melaksanakan misi penyelamatan Valerie di wilayah vampir Tepes, sempat melihat bagaimana aksi dari orang bernama Rock Lee ini. Menurut cerita itu, Lee dikatakan sebagai manusia satu-satunya yang sanggup menjalani latihan fisik super ekstrim. Azazel menyetujui cerita itu. Dan sekarang, Sairaorg pun telah membuktikannya pada pertarungan singkat ini. Ia merasa sangat tertarik dengan manusia bernama Rock Lee ini.

Shuuppp!

Seorang shinobi muncul tiba-tiba disamping Lee. "Lee-san, sudah cukup. Kita sudah selesai dengan sesi pertama ini, Kapten Cao Cao memerintahkan kita semua kembali ke kamp."

Di sudut sana, nampak seorang iblis muncul di samping Sairaorg. Dapat dipastikan dia juga memberitahukan hal yang sama.

Sebelum berpisah, Lee sempat melambaikan tangan. "Pertarungan kita masih ada lanjutannya kan?"

Sairaorg membalas, "Yeah, pasti. Dan saat itu, aku akan melangkahi mayatmu untuk membalas kekalahanku pada Uchiha Sasuke"

"Aku tunggu itu."

.

Berbeda lagi dengan titik ini. Yaa, ini juga arena perang dengan bentang alam di dominasi oleh hutan rawa yang permukaannya dibanjiri air payau karena cukup dekat dengan laut sebelah timur, apalagi sekarang sedang pasang.

Seekor naga raksasa terbang meliuk-liuk di udara sembari mengembuskan nafas api yang sangat besar dan panas ke bawah. Dia adalah Raja Naga Tannin.

Sedangkan di bawah, puluhan monster hitam yang diciptakan Leonardo dengan kemampuan Sacred Gearnya, Annihilation Maker, membalas dengan menembakkan laser-laser cahaya. Dua ekor makhluk mistis Buto Ijo juga melancarkan serangan balasan dengan melemparkan batang-batang kayu gelondongan atau pohon utuh ke atas.

Namun sudah bisa ditebak hasilnya, Tannin adalah seekor Dragon King, jadi para monster buatan dan Buto Ijo itu tidak ada apa-apanya. Semua ia bakar sampai hangus.

Namun ada satu yang sulit bagi naga itu untuk diatasi.

Syuutttt...

Semburan peluru air yang sangat kuat meluncur deras dari bawah. Beruntung Tannin berhasil melakukan manuver untuk menghindarinya, jika tidak sayapnya bisa saja terluka atau bahkan robek. Ia pun membalas dengan semburan api dari udara.

Buuuurrrsstt!

"Dasar, youkai pengecut!" Tannin menggerutu jengkel.

Makhluk yang sebenarnya menyusahkan Tannin adalah seekor monster youkai dari Jepang, Isonade si kura-kura berekor tiga. Seharusnya makhluk itu sudah mati, tapi pasti telah dihidupkan kembali oleh seseorang dengan menggunakan Holy Grail.

Kenapa Tannin bisa kesusahan? Sebab Isonade adalah monster air. Ia bisa berenang bebas dan bersembunyi di dasar rawa. Embusan api Tannin tidak akan mencapai ke bawah air. Yah, meski sudah jelas kalau Isonade lebih lemah dari segi kekuatan murni jika dibandingkan dengan Raja Naga Tannin, tapi di medan ini, Isonade mendapat keuntungan karena habitatnya yang sesuai.

Tapi hei, mengatai Isonade pengecut. Tidak sadar kah akan diri sendiri, Tannin? Isonade tidak bisa terbang, sedangkan Tannin yang notabene seekor naga menyerang dari udara. Itu juga tindakan pengecut kan?

Ah, lupakan. Kedua makhluk itu hanya memanfaatkan kelebihan masing-masing secara maksimal.

Tannin masih belum berhenti melepaskan semburan nafas api naga dari mulutnya. Hutan rawa pun terbakar dengan hebat.

Akhirnya Sang Raja Naga berhenti sendiri karena lelah membuang-buang tenaga dengan serangan sia-sia sebab Isonade tidak lagi membalas.

Tiga menit menunggu tapi Tannin tak kunjung merasakan tanda-tanda keberadaan musuh.

"Kemana makhluk air itu?"

Tannin masih menunggu. Lama menunggu sampai ia bosan dan ingin pulang lalu melaporkan bahwa medang perang di titik ini telah berhasil ia kuasai.

Akan tetapi...

Degggg!

Tannin merasakan aura niat jahat yang sangat pekat datang tiba-tiba.

Swoosssshh...

Kobaran api di tengah rawa seketika lenyap seolah baru saja dihempas badai. Namun hanya di tengah saja, berbentuk lingkaran selebar 50 meter.

Dari ketiadaan, tepat di titik itu muncul sebuah bangunan berbentuk piramid yang terbuat dari pasir dengan akrasa-aksara segel rumit pada setiap sisinya. Muncul langsung dari dimensi lain tanpa ada perantara apa-apa, seperti hantu.

Selang beberapa saat, piramida pasir itu mulai runtuh dan menunjukkan apa isi di dalamnya. Yakni seekor naga gemuk berukuran raksasa dengan sisik hitam dan iris mata perak.

"Ouuuuhhhh, dimana aku sekarang? ini bukan kastil Vampir Tepes kan? Dan bukannya aku terluka akibat serangan adik si rambut crimson itu?" Naga itu coba menggerak-gerakkan tubuhnya, dia merasa agak nyaman. "Woooww, badanku kembali utuh seperti semula, apa ini perbuatan Rizevim? Ah, pasti bukan." Dia menengok ke atas, matanya menangkap seekor naga lain yang sedang terbang dengan mulut menganga lebar. Dia mengenali naga itu, "Ahh, persetan dengan Tepes dan Sekiryutei. Hei kau yang terbang disana, kau Tannin-chan kan? Ghahahahaaaaaa, Ayoooo kita bertarung sampai matiiii!"

Sedangkan Tannin mendapati kepalanya diserang nyeri hebat, seolah banyak sekali ingatan yang masuk bersamaan ke dalam otaknya. Ia seperti orang amnesia yang tiba-tiba saja sembuh.

Setelah rasa nyeri itu hilang, Tannin menengok ke bawah. Ia sangat mengenali nama sosok naga yang tiba-tiba muncul itu,

"Grendel!"

.

"Mereka datang!"

Aba-aba singkat tersebut meluncur bebas dari bibir pemuda yang berdiri dengan gagah di atas tunggangannya.

Padang berbatu tanpa ada satupun tumbuhan yang hidup. Sunyi senyap. Tak ada suara selain embusan angin panas yang menerbangkan butiran-butiran pasir. Mencekam, meski terangnya siang tak memberikan tempat sedikitpun pada kegelapan. Mengerikan, walau tak terlihat ada bahaya apapun di sana.

Tak ada apa-apa selain hawa keberadaan yang menyesakkan nafas dan meremas jantung.

Sungguh, ini adalah titik paling berbahaya dibanding lokasi-lokasi lain dalam perang akbar ini.

Berjarak 5 kilometer dari tempat tadi, tiga sosok tubuh telah menampakkan wujudnya. Berkat kemampuan stealth mode tingkat tinggi, ketiganya berhasil melangkah hingga ke tempat ini, persis di belakang garis pertahanan pasukan Konoha dan sekutu-sekutunya tanpa di ketahui.

Tak tanggung-tanggung, mereka yang datang tidak dengan niat setengah-setengah.

Si Merah Crimson, iblis terkuat dari Underworld sekaligus orang terdepan dalam Four Great Satan dengan menyandang gelar Lucifer. Dia membawa Ratunya, si Silver-Haired of Queen Annihilation, ratu terkuat di Underworld.

Dan terakhir, Malaikat teragung dari Surga, The Archangel yang menjadi tangan kanan tuhan, Michael.

"Yaaah cukup bagus kita bisa sampai sejauh ini."

"Kau menyindir ya?" Sirzech menyahut telak ucapan Michael.

"Menurutmu bagaimana?"

Ya, memang bagus bisa melewati garis pertahanan musuh tanpa terjadi apa-apa. Hanya saja apa yang ada temui sangat tak terduga.

"Tck, tak usah lagi kau bicara!" ucap Sirzech kesal.

"Aaanoo... Lucifer-sama, Michael-sama, kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk bertengkar."

Grayfia tentu masih ingat kalau dua laki-laki yang bersamanya ini bukan anak kecil. Pertengkaran mereka mungkin saja hanya untuk melepas tekanan akibat strategi yang lagi-lagi dipaksa tersendat. Tapi tetap saja kan? sebagai penengah ia tidak bisa membiarkannya begitu saja.

"Hhhhhh..."

Sirzech mendesahkan nafas panjang. Michael pun ikut-ikutan.

Situasi perang memang semakin panas dan menegangkan. Tapi selama masih bisa, mereka berdua ingin tetap bersantai dengan tenang.

"Lalu, selanjutnya bagaimana?" tanya Grayfia.

"Tidak ada!" jawab Sirzech cepat.

"Yah, kalau kondisinya seperti ini mungkin memang lebih baik kita tidak melakukan apa-apa." sambung Michael.

"Eeeeehh? Tapi, tapi..."

"Kita juga tidak bisa mundur ke posisi belakang, bisa-bisa terjadi hal yang buruk."

"Betul. Sudah terlanjur di sini, terlanjur ketahuan pula. Mau bagaimana lagi?"

Grayfia menyerah dengan kemauan dua laki-laki di depannya ini. Kembali ia merenung ke belakang lalu menganalisis situasi dan memikirkan kembali tindakan terbaik, demi memahami jalan pikiran kedua laki-laki itu.

Saat masih di dalam markas, di pusat Kota Lilith, Maou Falbium Asmodeus sebagai panglima perang mengatakan bahwa kemungkinan besar peperangan akan berlangsung cukup lama. Hal tersebut sudah diperhitungkan oleh tim pembuat strategi yang berada di bawah komandonya. Setelah perkiraaan peta kekuatan musuh rampung dikerjakan berkat informasi yang dikumpulkan Zekram, strategi terbaik yang keluar adalah menggunakan formasi sabuk sebagai pagar berjalan.

Dalam stretegi itu, semua pasukan Aliansi bergerak dalam barikade lurus dengan kecepatan yang sama di sepanjang arena perang. Jalur utama ada lima, melewati rute-rute yang mudah dan cukup menguntungkan untuk dilalui dengan jalur darat.

Jalur darat terpaksa Falbium gunakan karena musuh memiliki Air Defense System yang cukup tangguh dan sulit diatasi. Lapis pertamanya adalah persenjataan pasif yang diciptakan dari Sacred Gear Longinus peringkat atas Annihilation Maker. Persenjataan itu sangat berbahaya karena mampu mengeluarkan serangan cahaya yang sejatinya adalah kelemahan ras Iblis. Tidak menutup kemungkinan, Air Defense System tersebut juga memiliki serangan tipe kegelapan yang membahayakan bagi Ras Malaikat dan Malaikat Jatuh sebab Annihilation Maker mampu menciptakan makhluk dan senjata seperti apapun sesuai kehendak pemiliknya. Belum lagi, sistem pertahanan udara itu tersusun dari perangkat dengan kemampuan ganda, yaitu mode pasif sebagai senjata pertahanan dan mode aktif yang bisa bergerak sehingga membuatnya sulit dihancurkan karena lokasinya yang bisa berpindah-pindah.

Semua hal di atas memang belum terjadi secara nyata, entah Konoha bisa melakukannya atau tidak, tapi mengingat data kemampuan Sacred Gear Longinus Annihilation Maker, maka menurut tim pembuat strategi hal itu tidak mustahil terjadi.

Formasi sabuk sebagai pagar berjalan, cara untuk menyerang sekaligus bertahan yang mana tidak memungkinkan pasukan lawan menembus ke belakang sampai ke Kota Lilith. Tujuan akhirnya adalah Tanjung Harapan, titik Gerbang Teleportasi Konoha dan sekutunya berada. Mengepung pasukan Konoha dan sekutunya tanpa ada akses jalan untuk kabur. Berusaha mengambil posisi sedekat mungkin dengan gerbang teleportasi musuh agar bisa diamati dan dianalisis sehingga bisa menemukan cara menyeberanginya karena sampai sekarang, gerbang tersebut hanya memberikan akses satu arah dari lokasi markas Konoha ke Underworld akibat teknik Kamui Rokudaime Hokage Hatake Kakashi.

Boleh jadi itu adalah strategi terbaik yang berhasil dipikirkan oleh Falbium dan timnya, akan tetapi Grayfia sekarang menyadari bahwa strategi tersebut juga memiliki kekurangan. Sudah semestinya, segala sesuatu yang memiliki kelebihan juga pasti memiliki kekurangan. Namun pilihan yang terbaik adalah yang rasio resiko:keuntungan-nya paling kecil. Termasuk formasi ini yang mana mampu menutup semua jalan serangan Konoha ke kota Lilith, tapi berakibat pasukan Aliansi tidak bisa bergerak cepat ke depan. Terang saja kan? jika sangat banyak pasukan dibagi menjadi barisan yang sangat panjang, tentu akan sangat sulit membuatnya bergerak dengan kecepatan tinggi yang sama. Kecepatan harus diturunkan agar formasi tidak mudah rusak.

Dengan semua hal tersebut, tentu peperangan akan berlangsung sangat lama. Kemenangan tidak lagi hanya bergantung pada kekuatan tempur dan strategi saja, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh ketahanan fisik dan mental serta stamina setiap kubu pasukan untuk perang jangka panjang. Falbium pun sebenarnya ingin mengambil keuntungan dari strategi ini karena mereka iblis dan malaikat yang mempunyai fisik jauh di atas rata-rata manusia dari Konoha.

Atas dasar itulah, Michael dan Sirzech menawarkan diri untuk gerakan ini. Sebuah gerakan menyerang langsung titik inti lokasi pasukan Konoha. Jika berhasil membunuh Hatake Kakashi, Gaara, Sasuke, dan orang-orang penting lainnya yang bersembunyi di belakang gerbang teleportasi raksasa, tentu kemenangan dapat dipastikan ada dalam genggaman Aliansi.

Karena misi ini sangat berbahaya, hanya orang terbaik lah yang mampu melakukannya. Ada Sirzech dan Michael. Azazel sebagai perwakilan dari Ras Malaikat jatuh seharusnya juga ikut, tapi dia punya tugas sendiri yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Sirzech ingin mengajak Maou Ajuka Beelzebub, tapi Falbium tegas menolak. Maou paling jenius dalam urusan strategi perang itu berkeras tidak ingin melupakan kemungkinan terburuk walau sangat kecil. 'Bagaimana jika gerakan ini menemui masalah?' Untuk itu lah, Ajuka sebagai Super-Devil satu-satunya selain Sirzech tetap dibutuhkan berada di belakang untuk berjaga-jaga.

Ajuka sendiripun sebenarnya enggan menerima. Dia sedang menyimpan kekuatan untuk pertarungannya nanti yang didasarkan pada sebuah pengandaian. Seandainya bertemu lagi dengan wanita itu, Ajuka ingin bertarung sungguh-sungguh dengan niat membunuhnya.

Lalu, karena dua orang terasa kurang, maka diajaklah Grayfia. Sirzech sebenarnya memiliki peerage lengkap. Tapi selain Grayfia, ia bagi rata ke semua resimen untuk menambah kekuatan tempur pasukan Aliansi.

Sekarang wanita itu sudah sangat mengerti, untuk alasan apa dirinya disini.

Tapi yaa begitu lah, lupakan formasi dan strategi perang Falbium! Nyatanya teori dan praktik sangat berbeda, kondisi di lokasi ini sangat tak terduga sama sekali dan rencana mereka pun menjadi tidak relevan dengan kenyataan di lapangan. Adaaaaaa saja hal yang tidak terprediksikan.

Dari posisi ini, mereka bisa merasakan dengan jelas, sekitar 5 kilometer di depan ada satu Bataliyon pasukan yang menunggu, yang jumlahnya sekitar angka 5000. Musuh Aliansi nampaknya memiliki cukup banyak pengalaman dalam berperang. Langkah mereka bertiga sudah terbaca. Batalion yang menghadang mereka, dipimpin oleh seorang pemuda. Mereka cukup ingat wajah itu sejak insiden kehebohan yang mengacaukan pertemuan tiga Fraksi di Akademi Kuoh, Sabaku no Gaara.

Bagi tiga orang itu, sebenarnya tidak akan jadi masalah kalau hanya Gaara di tambah 5000 pasukannya saja tanpa kehadiran Uchiha Sasuke. Ya, mereka tidak menemukan Uchiha Sasuke di depan sana. Tapi apa yang ditunggang Gaara lah alasan yang memaksa mereka tidak melakukan apa-apa, atau paling tidak bertindak setelah memutuskan segala sesuatu dengan pemikiran matang. Dari titik ini, meski jaraknya mencapai 5 kilometer, tapi mata iblis cukup peka untuk melihatnya walau tanpa alat bantu teleskop.

Beralih ke posisi pasukan Konoha dan sekutunya berada.

"Hei heiii, lihat! Gaara-sama membuat aba-aba."

Orang lain yang di ajak bicara seketika menengok ke atas. Benar, Gaara mengangkat tangan kanannya. Tanda aba-aba siaga. Mereka memang tidak melihat keberadaan musuh karena berkumpul di tempat yang lebih rendah. Hanya Gaara saja yang menampakkan dirinya terang-terangan. Jelas ada kesengajaan kenapa dia tidak memilih untuk bersembunyi.

"Musuh pasti sudah dekat."

"Tapi tidak ada pesan dari markas pusat. Apa musuh tidak terdeteksi sistem radar?"

"Artinya musuh yang datang pasti sangat kuat, ya kan Kotetsu?"

"Entah. Tapi heiii, kau terlihat panik, Izumo?"

"Kheh, panik gundulmu! Ini bukan pertama kali kita ikut perang, Kotetsu."

"Terus itu? Kenapa tubuhmu gemetaran?"

"Seperti kau tidak saja! Ini bukan karena panik, tapi karena iklim tempat kita berperang ini sebenarnya yang kurang cocok untuk kita."

Bagi Shinobi Konoha yang habitat aslinya di dunia manusia, tentu akan menjadi permasalahan jika berada di Underworld yang kondisinya ekstrim dan udara minim. Lihat saja ke belakang, hampir semua anggota pasukan yang berasal dari Konoha terkena dampaknya. Untuk mereka shinobi yang terlatih, fisiknya mampu bertahan tanpa penurunan kekuatan yang signifikan. Berbeda dengan anggota pasukan dari sekutu, yang sejatinya adalah makhluk supranatural sehingga tidak menjadi masalah meski berada di Underworld.

"Iya sih, tapi bukan itu kan hal utamanya."

"Ya, memang."

"Ini karena Gaara-sama membawa makhluk yang penuh dengan niat jahat itu." Aoba si Shinobi berkacamata hitam ikut dalam obrolan. Ia menunjuk makhluk yang ditunggangi Gaara.

Kotetsu mengangguk.

"Tidak hanya kita saja, pasukan dari sekutu kita pun mendapat tekanan yang sama." tambah Izumo.

"Aku sungguh masih belum percaya, darimana Gaara-sama bisa menemukan makhluk itu, bahkan sekarang dia mampu menjinakkannya."

Semua anggota pasukan di titik ini, sebenarnya masih sulit untuk percaya dengan makhluk yang ikut bersama mereka sekarang. Beberapa di antara mereka pernah mendengar kalau Komandan Gaara menemukan sesuatu di Gurun Pasir Sahara yang bisa digunakan untuk meningkatkan daya tempur pasukan, tapi tak seorangpun menyangka dengan apa yang mereka lihat ini.

Tinggalkan obrolan tiga shinobi Konoha generasi lama itu, shinobi yang sudah aktif semenjak pemerintahan Sandaime Hokage. Sekarang fokus pada Gaara, dia sendirian sebagai pemimpin tanpa didampingi rekan yang selevel dengan dirinya.

Gaara hanya memimpin 5000an personel pasukan di garis belakang ini. Satu batalion pasukan yang terspesialisasi dalam pertempuran jarak jauh. Pasukan yang ia pimpin ini hampir seluruhnya diambil dari Divisi 4 yang berada dibawah tanggung jawab Kapten Uchiha Sasuke.

Tatapan Gaara lurus ke depan, tekadnya untuk mempertahankan apa yang tersisa dari dunia tempat ia terlahir serta mempertahankan hak kemerdekaannya sebagai makhluk yang bebas dari penjajahan ideologi, takkan pernah surut meski sekuat apapun lawan yang harus ia hadapi.

Maou terkuat sekalipun, Archangel sang tangan kanan tuhan sekalipun, akan ia lawan tanpa secuil rasa takut. Niatnya tak akan mundur, semangatnya tak akan padam, dan optimismenya begitu tinggi. Ia memang manusia, tapi apa yang sekarang dalam genggamannya lah yang membuatnya sangat yakin untuk meraih kemenangan.

Dahulu, seseorang yang sudah tua pernah mengatakan bahwa yang namanya dalam perang apapun bisa terjadi. Markas pusat sudah mengeluarkan strategi yang sangat brilian. Strategi itu mungkin akan menjadi kenyataan namun juga bisa kebalikannya. Harus ada langkah antisipasi berlapis-lapis untuk mencegah kemungkinan terburuk. Seperti yang sekarang ini terjadi dihadapannya. Tiga orang yang menempati peringkat teratas dari Aliansi Injil telah melewati barisan pertahanan tanpa dapat terlacak.

Sebagai komandan tertinggi Pasukan Sekutu serta penjaga garis belakang, ia tidak akan membiarkan satupun musuh lewat. Seperti yang sudah-sudah, Gaara pernah mengalami situasi seperti ini saat Perang Dunia Shinobi Keempat. Namun kali ini ia ingin menunjukkan diri dengan cara yang berbeda, dia ingin menunjukkan pada musuh-musuhnya bahwa dirinya benar-benar 'ada'.

Gaara menyeringai, "Ayoooo, sampai mana kalian bertiga berani melangkah? Aku menunggu di sini."

Berjam-jam telah terlewat, mataharipun mulai merendah di ufuk barat. Suhu udara mulai mendingin dan teriknya tengah hari tak lagi menyengat.

Seorang wanita dengan pakaian tempur lengkap menekuk wajahnya lantaran lelah. "Lucifer-sama, Michael-sama, kalian berdua tidak lelah berdiri terus sejak tadi?" tanyanya pada punggung dua laki-laki berbeda warna rambut itu.

Yah, sudah berjam-jam berlalu tanpa melakukan apa-apa. Benar-benar tak melakukan apa-apa, bahkan Sirzech dan Michael tak melangkahkan kaki secentipun sejak sampai di titik ini.

"Hhhh..." Michael mendesah bersamaan dengan bahunya yang turun.

Sirzech menoleh kebelakang, pada kepala pelayan keluarganya, [Ratu]-nya, sekaligus istrinya. "Kalau mau, kau pulang saja duluan."

"I-itu... Itu tidak mungkin kan?"

"Ya sudah, sesukamu saja lah." Sirzech mengalihkan pandangan ke sisi kanan. "Menurutmu sekarang kita harus bagaimana, Michael?"

"Kita mungkin akan terus seperti ini sampai besok, atau paling tidak sampai arah peperangan menjadi lebih jelas." jawab sang Archangel.

"Hm, mungkin memang lebih baik begitu."

"Ya. Ini karena kejutan yang diberikan pemuda berambut merah itu pada kita, pemuda yang pernah melukai adikmu saat kemunculannya pertama kali di Kouh dulu. Aku saja sampai sekarang masih belum percaya sepenuhnya dia mampu mendatangkan sesuatu dari masa lalu, dari jaman Dewa-Dewa Kuno yang telah punah."

"Pasti dia sudah merencanakan ini sejak insiden di kota Tepes tempo hari. Jadi, untuk ini kah dia menginginkan Sacred Gear Longinus Sephirooth Graal itu?"

"Apa lagi memangnya? Makhluk yang seharusnya sudah tidak ada, bisa ada di masa ini pasti karena Holy Grail."

"Kalau bukan kerena makhluk itu, kita tidak akan tertahan di tempat ini."

"Benar, Sirzech-dono." Michael mengangguk setuju. "Slifer The Sky Dragon, Naga Langit yang merupakan perwujudan roh salah satu Ancient Egyptian Gods terkuat, Osiris."

Michael mengatakannya dengan mata tak lepas dari makhluk pemilik nama tersebut. Seekor naga langsing panjang seperti ular yang hampir seluruhnya sisiknya berwarna merah, kecuali bagian bawah perut yang berwarna hitam. Memiliki sepasang cakar yang sangat kuat serta sepasang sayap yang sangat lebar dan berwarna merah jua. Kepalanya seperti naga kebanyakan, namun memiliki dua pasang rahang seolah memiliki dua mulut dalam satu kepala sehingga nampak lah dua baris deretan gigi tajam. Ekornya yang panjang bergerak meliuk-likuk. Dari kepala sampai ekor, panjangnya mungkin hampir 150 meter. Michael bisa melihat jelas meski dari kejauhan, Gaara yang berdiri tegak di atas permata biru raksasa yang melekat di dahi naga itu.

"Naga merah itu bisa menjadi masalah besar kalau kita bertindak gegabah. Naga Langit Osiris dari Mitologi Mesir Kuno adalah generasi pertama dari naga yang mampu mencapai level Heavenly Dragon atau kelas Naga Surgawi sebelum dia hilang dan digantikan posisinya oleh Ddraig dan Albion dari Mitologi Welsh. Kekuatannya pasti setingkat, jika naga itu mengamuk bukan tidak mungkin seluruh tempat ini akan porak porandak sebagaimana pertempuran Ddraig dan Albion di masa lalu yang memporak-porandakan Great War sehingga ketiga fraksi kehilangan hampir setengah tentaranya."

Hanya sedikit sekali orang yang tahu, dan mungkin hanya diketahui oleh orang yang sudah sangat lama hidup saja, bahwasanya Ddraig dan Albion bukanlah sepasang naga yang pertama kali berhasil menyandang titel Naga Surgawi. Jauh sebelumnya, sebelum Dewa-Dewa Mesir Kuno punah, pada jaman itu telah ada naga yang mencapai kelas Surgawi, yakni Naga Langit Osiris.

"Bukan hanya itu Sirzech-dono. Setelah melihat ini, aku juga berpikiran kalau dia masih menyimpan yang lainnya. Naga Langit Osiris hanyalah satu dari tiga di dalam satu paket. Asumsikan pemuda berambut merah memiliki lengkap, maka masih ada dua lagi yang lainnya."

"Kupikir juga begitu. Konoha ternyata menyimpan kartu As untuk perang ini. Sepertinya kita harus lebih bersabar untuk mewujudkan Imperium of Bible."

Michael terkekeh kecil. Luput dari perkiraannya, bahwa Konoha ternyata menyimpan kekuatan sebesar itu. Sama seperti Aliansi yang masih menyimpan kekuatan dari saju juta malaikat kloning super, yang mana satu malaikat kloning membawa seperseribu kekuatannya, yang dapat diartikan pula bahwa total kekuatan satu juta malaikat itu sebanding dengan 1000 orang Michael.

Grayfia akhirnya cukup mengerti setelah mencuri dengar percakapan Raja-nya dengan Michael. Peperangan yang baru beberapa jam dimulai ini belum ada apa-apanya, sungguh ia tak mampu membayang bagaimana jika seluruh kekuatan dari kedua kubu yang berperang dikeluarkan semua, entah kehancuran seperti apa yang akan datang pada dunia ini.

Wanita itu pun buka suara, "Baiklah kalau Lucifer-sama dan Michael-sama masih ingin bertahan di tempat ini. Aku akan kembali sebentar untuk melaporkan situasi di titik ini pada Falbium Asmodeus-sama dan mengambil sesuatu."

Lebih tepatnya, Sirzech dan Michael tidak bisa meninggalkan tempat ini. Bagaimana jika Gaara dan Naga Langit Osiris maju ke barisan depan?, maka itu akan menjadi bahaya untuk pasukan Aliansi yang sedang berperang. Bukan hanya akan merusak formasi sabuk, tapi mungkin saja mereka berdua akan kehilangan puluhan ribu tentaranya.

Grayfia membuat lingkaran sihir teleportasi, ia ingin kembali ke markas di Kota Lilith sebentar. Baru kemudian kembali lagi ke sini dengan cara yang sama. Tidak seperti saat datang ke lokasi ini pertama kali, ia telah menandai titik ini sehingga bisa pulang pergi kapan saja dengan sihir teleportasi.

Tak perlu waku 5 detik, Sirzech dan Michael pun tertinggal berdua.

Sekali lagi, titik ini adalah titik paling riskan dan berbahaya. Pergerakan di titik inilah yang akan menentukan arah peperangan nantinya.

.

-Kota Lilith-

"Apa kalian tahu untuk apa kalian semua kukumpulkan di sini?"

Azazel melemparkan pertanyaan basa-basi pada semua orang yang ada di dalam ruangan ini, salah satu ruangan yang masih berada satu bangunan dengan markas utama Pasukan Aliansi Tiga Fraksi di pusat Kota Lilith. Rias terdiam, sedangkan Issei malah melirik kiri kanan pada siapapun yang mungkin tahu jawabannya.

Rias sebenarnya tidak terlalu mengerti untuk alasan apa dia dan seluruh peeragenya di kumpulkan di sini pada saat ini.

Selain Rias, masih ada beberapa orang lain lagi. Exorcise terkuat dari Surga, Sang Joker Dulio Gesualdo, dan Brave Saint Ratu Hati milik Seraph Gabriel, Griselda Quarta.

"Melihat orang-orang di sini, kupikir kita dikumpulkan sebagai Tim Anti-Teroris [DxD]." ucap Dulio.

"Eeehh?" Issei teperangah. Kalau memang untuk tujuan itu, artinya ia tidak akan ikut terjun ke medan perang melawan Konoha dan sekutunya kan? Padahal ia sangat menantikan hal itu, membalaskan dendamnya pada orang Konoha yang telah berkali-kali menyakiti dirinya dan teman-temannya bahkan untuk yang berkhianat.

"Ya, tapi tunggulah sebentar lagi. Saat semua sudah berkumpul lengkap, baru aku akan menjelaskan situasinya."

Sepeninggal ucapan Azazel, tidak ada yang bersuara. Nanti juga akan dijelaskan sendiri oleh Si Gubernur Malaikat Jatuh, dan ingin bertanya sekarang pun sepertinya kurang tepat sebab kelihatan jelas dari ekspresinya kalau suasana hati Azazel sedang tidak baik.

Lima menit kemudian akhirnya orang yang dinanti pun tiba. Tobio Ikuse yang memimpin tim Slash Dog dari Grigori, si pemilik Sacred Gear Longinus Canis Lykaon. Dia datang bersama anggotanya, Lavinia Reni. Mereka berdua membawa orang lain.

"Kami sudah menjemputnya sesuai yang anda minta, Azazel-sensei." Tobio mempersilahkan seseorang yang dia bawa mengambil posisi yang telah disediakan.

"Terima kasih." ucap Azazel. Di depannya kini berdiri laki-laki dewasa dengan rambut berwarna perak dan wajah tampan khas orang dari Eropa Utara.

Azazel mengulurkan tangan berniat menyalami orang tersebut, "Selamat bergabung, Tuan Rudiger Rosenkreutz."

Orang tersebut menyambut jabat tangan Azazel, "Yah, aku juga senang bergabung dengan tim ini."

Selesai berjabat tangan, Azazel menatap semua anak didiknya bergantian. "Baiklah, sekarang semuanya sudah lengkap. Aku akan mulai dari sini."

"Lengkap?" Rias tiba-tiba menyela, "Tunggu Sensei. Tim [DxD] ada banyak anggota kan? Sona memang tidak mungkin ikut kesini karena masih koma, tapi..."

"Saat ini sedang situasi perang, jadi wajar kalau berubah."

"Iya, benar juga." timpal Kiba.

"Tapi kalau hanya ini saja orang-orangnya, apa kita bisa melaksanakan tugas Tim [DxD]?"

"Tumben kau jadi pesimis, Issei-kun?" Akeno mencolek pinggang Issei dengan genit.

"Bukan itu, tapi... Rasanya ada yang kurang kalau tidak ada yang lainnya."

"Aku mengerti." sahut Rossweisse. "Bagi kau yang seringkali berjuang bersama yang lain, pasti akan terasa kurang saat tidak bersama. Terlebih Sairaorg-kun dan Saji-kun yang sangat dekat denganmu."

Issei mengangguk.

Keberadaan Sairaorg dan timnya sangat dibutuhkan dan tidak tergantikan untuk garis terdepan dalam medan perang. Apalagi itu permintaan Zekram sendiri untuk mengikutkan cicitnya dalam resimen yang ia pimpin.

Lalu, Tim Riser Phenex dan Tim Seekvaira Agares walau masih tergolong pemula tapi tetap di terjunkan ke medan perang. Mereka di tempatkan di belakang sebagai pasukan bantuan.

Tim Sona dalam status nonaktif. Sona dan Tsubaki masih terbaring pingsan di ruang perawatan, sedangkan Saji dan anggota OSIS lainnya sedang di karantina di fasilitas khusus. Meski tampaknya tidak ada apa-apa yang bisa didapat dari Saji, Tomoe, dan yang lainnya berkaitan dengan aksi penyusupan Naruto dan Hinata, namun petinggi meyakini kalau hubungan mereka sudah terlampau dekat sehingga bisa saja akan terjadi hal yang tidak di inginkan kalau para anggota OSIS dibiarkan berkeliaran bebas. Dan lagi, menurut psikiater yang mengurus mereka, kondisi emosi dan mental Saji serta yang lainnya masih belum stabil sejak kejadian di Kota Auros.

Terakhir, yang juga anggota Tim [DxD] yakni malaikat reinkarnasi [Ace] Michael, Irina Shidou, dan Iblis Reinkarnasi Mantan Raja Naga Tannin ditugaskan di garis depan wilayah timur medan perang.

Saat ini yang terkumpul adalah Dulio, Azazel, Rias dan kedelapan budaknya, Griselda, Tobio Ikuse dan Lavinia Reni dari Tim Slash Dog, serta anggota baru Rudiger Rosenkreuzt. Yang pasti juga tambahan kekuatan dari Kaisar Naga Merah Ddraig dalam diri Issei dan Raja Naga Gigantis Dragon Fafnir yang mengikat kontrak dengan Asia Argento.

Nama-nama tersebut sudah tidak diragukan lagi, tapi Issei masih merasa kurang yakin.

"Kau pasti belum kenal orang ini kan, Issei?" Azazel menunjuk anggota baru tim [DxD] yang berdiri disampingnya.

"Eh?"

Issei sedikit terkejut, menandakan bahwa tebakan Azazel tepat sasaran.

"Mungkin beberapa sudah tahu tapi kuperkenalkan sekali lagi, Rudiger Rosenkreutz, Iblis Reinkarnasi yang mendirikan asosiasi penyihir 'Rosenkreutzer'. Bishop berperingkat Ultimate-Class Devil yang melayani Kepala Keluarga Mammon, Keluarga Iblis Extra diluar 72 pilar. Tapi secara independent, dia juga sebagai King yang berada para peringkat ke-7 teratas Rating Game Dunia Bawah."

Rudiger sendiri tersenyum kecil diperkenalkan seperti itu.

Mendengar perkenalan oleh Azazel tadi, anggota tim lainnya lebih khusus Issei nampak lebih optimis. Jadi orang inilah, yang dikatakan Michael pada Konferensi Luar Biasa beberapa hari lalu sebagai tambahan kekuatan Tim [DxD] untuk menjalankan tugas menumpas organisasi teroris Khaor Brigade.

Dengan begini, ketidakikutsertaan Tim Sairaorg, Tim Seekvaira, dan Tim Riser, serta Irina dan Raja Naga Tannin bisa tertutupi.

Dan...

"Ada keuntungan pula dengan pergantian ini." sambung Azazel. "Operasi pengejaran akan sulit dilakukan jika membawa banyak orang, maka dari itulah komposisi tim [DxD] dibuat menjadi lebih ramping."

"Namun tetap saja kan?"

"Ya, benar." sela Azazel menebak isi pikiran Xenovia yang nampak paling pesimis. "Musuh kita, Rizevim, dilindungi oleh makhluk-makhluk yang sangat kuat yaitu Naga Jahat Legendaris Aži Dahāka, Laddon, dan Crom Cruach. Bahkan menurut informasi terbaru, Rizevim juga telah menghidupkan Sang Abyss Rage Dragon Niđhöggr dari mitologi Norse dan Eclipse Dragon atau Naga Gerhana Aphopis. Disana juga ada Walbura pemilik Sacred Gear Longinus Incinerate Anthem dan Euclid yang menggunakan Boosted Gear buatan. Itu belum termasuk dengan Ophis sang Ketidakbatasan yang telah rusak dan sangat patuh pada Rizevim, serta Uzumaki Naruto dan Uzumaki Hinata yang telah menunjukkan kekuatan aslinya. Aku sadar, terdengar sangat mustahil bagi kita mengalahkan mereka semua."

Semua orang disana mengangguk. Perbedaan kekuatan tim anti-teroris [DxD] dengan Qlippoth dari Khaos Brigade terlampau jauh.

"Tapi..."

Azazel menggantung ucapannya hingga membuat orang-orang di sana penasaran.

"Masih ada peluang."

"Hm?"

"Kalian mungkin belum tahu, tapi aku sudah menyadarinya sejak lama. Organisasi mereka berdiri dengan didasari oleh kepentingan masing-masing. Kerjasama mereka sebenarnya lemah sehingga walau mereka kuat tapi masih bisa kita dihancurkan. Aku sudah menyusun rencana untuk itu. Tujuan Tim [DxD] ini hanyalah Rizevim seorang. Jika berhasil membunuh atau menangkap orang tua maka tugas kita selesai. Para Naga Jahat tidak memiliki urusan dengan Rizevim, mereka hanya makhluk buas yang gemar bertarung. Walburga dan Euclid tidak terlalu menjadi masalah. Sedangkan Naruto dan Hinata, kuyakin keduanya memiliki tujuan lain dan mungkin hanya memanfaatkan Rizevim untuk tujuannya itu."

"Sensei, bisakah kau jelaskan semua yang kau ketahui pada kami?" pinta Rias. Tentang hal ini, sama sekali belum terpikirkan olehnya.

"Kita kesampingkan para Naga Jahat. Makhluk-makhluk itu nanti ada diurus oleh pasukan Aliansi. Kita hanya perlu mengurus Rizevim saja. Melawan satu orang itu, kita semua yang disini pasti sangggup."

"Tapi bagaimana dengan Ophis yang kau anggap rusak itu?"

"Inilah yang pasti kalian tak menduganya sama sekali. Apa kalian ingat dengan perkataan Rizevim saat kita pertama kali bertemu dengannya di dalam kastil Tepes?"

Pertanyaan Azazel ditujukan untuk Rias dan semua peeragenya.

Koneko angkat tangan, dia memiliki ingatan yang bagus. "Ada sekelompok anak muda yang datang kepadaku dan memberikan Ophis yang sudah dalam kondisi begini secara cuma-cuma. Itulah yang dikatakan Rizevim."

"Bagus, Koneko."

Si Nekoshou itu menambahkan, "Dia juga mengatakan bahwa kau pasti mengenal siapa kelompok itu, Sensei. Kelompok dengan rencana besar yang Rizevim sendiri mengakui bahwa dirinya dipermainkan."

~Flashback Chapter 56~

Azazel memijit pelipisnya.

"Aku tak tahu lagi harus mengatakan apa. Tapi Rizevim, aku ingin tanya satu hal padamu. Apa yang terjadi dengan Ophis?"

"Aku juga tidak tahu, Paman Azazel."

Jawaban yang terkesan santai dan jujur itu mau tidak mau membuat Azazel makin tidak mengerti.

Seakan tahu isi kepala Azazel, Rizevim meneruskan ucapannya, "Satu jam lalu, ada sekelompok anak muda yang datang kepadaku dan memberikan Ophis yang sudah dalam kondisi begini secara cuma-cuma."

"Hah?"

"Yah, tidak bisa dikatakan cuma-cuma juga sih. Mereka mengincar sesuatu dari hasil akhir apa yang kukerjakan, jadi mereka memberikan bantuan. Itu saja."

Azazel memasang ekspresi yang menuntut penjelasan.

"Kau tak akan menduga siapa anak-anak muda itu, pasti kau kenal, bahkan aku saja awalnya sangat terkejut dengan mereka. Mereka muncul begitu saja dan mempermainkan orang dewasa ini." Rizevim menunjuk dirinya sendiri dengan jempol. "Melakukan serah terima Ophis seakan Dewi Naga itu hanyalah sebuah permen, huhuuuuuuu. Aku merasa minder memikirkan rencana mereka."

"Rizevim!"

Azazel sadar ini masalah besar dan berujung rumit suatu saat nanti. Ada kelompok baru lagi yang muncul dan bermain-main dengan situasi dunia. Pasti akan menyebabkan masalah untuk semua oranf. Dan apa kata Rizevim tadi?, Azazel mengenal mereka. Ini buruk. Azazel berpikir ada pengkhianat dari kalangannya. Siapapun orang itu, pasti mereka kuat.

"Yeaaahh, Paman. Aku tak bisa memberitahukan identitas mereka, bisa-bisa leherku dipenggal. Dan kalau tentang tujuanku, kau akan tahu sebentar lagi."

"Tck!"

"Kalau begitu, ijinkan aku lewat. Ada sesuatu untuk didiskusikan dengan Marius-kun. Ayo berdamai disini~. Rumah ini milik Vampir~, Berkelahi tidak baik~. Sebuah negara yang tertutup dengan harga diri yang tinggi sungguhlah indah. Ugyahahahahhaaaaaaa..."

Rizevim pun berlalu pergi.

~Flashback End~

Azazel melanjutkan, "Kemudian perkataan Vali saat kita bersama dia di Basement Kastil Tepes. Dia mengaku bahwa..."

~Flashback Chapter 59~

"Saat kejadian di Venesia, aku memang ingin menyelamatkan Ophis dari incaran Cao Cao. Tapi nyatanya itu adalah sebuah skenario yang mempermainkan aku dan timku, Cao Cao dan kelompoknya, serta semua pasukan Hades. Dan seperti yang kukatakan tadi, kematian Samael juga bagian dari skenario itu."

~Flashback End~

Mata Azazel menerawang ke langit-langit ruangan, " Dari semua hal itu, aku meyakini kalau semua kejadian sampai sekarang ini, dari memainkan panggung Venesia, memberikan Ophis rusak pada Rizevim, membunuh Samael, mencuri Holy Grail, menjadi penyebab perang antara Aliansi Tiga Fraksi dengan Konoha dan mungkin banyak hal lain lagi, adalah perbuatan kelompok yang Rizevim maksud. Sekelompok anak muda yang membuat skenario, skenario yang menjadikan seluruh dunia sebagai panggung permainan."

Rias seperti terkena kejutan aliran listrik, dia menyadari satu hal yang baginya sangat mengejutkan.

"Azazel-sensei, apaaaa... Apa mungkin kelompok misterius yang kau maksud itu adalah Naruto dan Hinata?"

"Sayangnya aku tidak bisa berkata tidak untuk pertanyaanmu, Rias."

Pernyataan Azazel mengakibatkan udara berat memenuhi seisi ruangan, menyesakkan bagi siapapun yang menghirupnya.

Issei mengepalkan tangannya kuat-kuat, semua yang ia dengar ini sudah sangat keterlaluan. Ingin sekali ia meninju wajah yang selalu tersenyum hangat pada dia dan teman-temannya selama ini, karena nyatanya itu hanyalah senyum penipu.

Griselda berusaha memecah kebuntuan, "Apa anda yakin 100 persen, Azazel-sama?"

"Aku juga ingin memastikan informasi ini." timpal Dulio. Kedua orang ini nampak terlihat masih tenang.

"Kalian masih tidak percaya huh?"

"..."

Tak mendapat respon, Azazel lanjut bicara. "Baiklah, aku akan menceritakan sesuatu yang sebenarnya sangat rahasia. Kuharap informasi ini tidak bocor keluar."

"Informasi apa, Azazel?" Rudiger yang merupakan anggota baru jadi ikut penasaran.

"Ini kebenaran dibalik insiden pelecehan pada saat pesta pembukaan Turnamen Rating Game."

"Ha? I-itu!?" Issei menganga. Ia tentu masih ingat kalau dirinya lah pelakunya.

"Maaf kalau sebenarnya saat itu kau dimanfaatkan, Issei. Kejadian itu sebenarnya adalah rencana yang dibuat oleh Sirzech. Saat dia memanggilmu ke ruang VIP tempat para petinggi berkumpul, dia sengaja memberimu minuman yang telah diberi racun afrodisiaka. Dia ingin kau hilang kendali akan nafsumu dan melakukan tindakan asulisa pada Hinata. Harapannya agar Naruto muncul, mengamuk dan menunjukkan kekuatan aslinya untuk menghajarmu. Rencana itu berhasil, kedok Naruto dan Hinata sebagai penyusup telah terbongkar. Karena telah cukup bukti kami menyeret suami istri itu ke ruang VIP dimana para petinggi berkumpul untuk di interogasi. Kebetulan Dewa Zeus dan Dewa Brahma juga ada disana. Sebagai dewa ketua dari mitologi masing-masing, mereka ingin ikut menginterogasi."

"Tapi setelah kejadian itu, Naruto dan Hinata masih berkeliaran bebas di antara kita kan?" tukas Xenovia.

"Iya, apa yang sebenarnya terjadi saat itu?" sambung Kiba.

"Dua manusia itu berhasil lepas dari perangkap Sirzech bahkan membalik keadaan. Mereka telah membunuh Dewa Zeus, Dewa Brahma, dan anak buahku yang bernama Sahariel. Serafall dan Gabriel pun juga terluka parah. Makanya dua wanita itu tidak menampakkan batang hidung hingga 5 hari setelah pesta pembukaan."

"Mustahil! Tidak mungkin dua dewa superior top 10 bisa dikalahkan oleh manusia."

"Tidak ada yang mustahil. Mereka berdua sangat kuat."

"Apa karena tewasnya Dewa Zeus dan Brahma yang jadi penyebab peperangan di mitologi mereka?" ungkap Tobio. Dia cukup update dengan informasi yang sedang terjadi di seluruh dunia.

"Ya." Azazel menarik nafas sebentar, "Dan kalian juga harus tahu akhir kejadian itu. Aku, Sizrceh, Ajuka dan Michael dijebak oleh mereka berdua ke dimensi buatan hingga terjadi pertarungan. Naruto meski tampak kelelahan setelah bertarung dengan Zeus dan Brahma, ternyata masih sanggup bertarung imbang dengan Sirzech. Hinata pun bahkan hampir saja mengalahkan Ajuka."

"Keparat!" Issei mengumpat. "Sekuat apa mereka sebenarnya?"

"Entah, siapa yang tahu." sahut Azazel. "Mereka berdua sengaja meninggalkan kami hidup-hidup, dengan syarat identitas mereka tidak dibongkar. Maka dari itu lah, Naruto dan Hinata masih berteman dengan kalian hingga aksi pencurian Pulau Langit Agreas oleh Rizevim di Kota Auros."

"Jadi begitu kebenarannya?"

"Iya." jawab Azazel cepat, meski disini ia menambahkan bumbu-bumbu kebohongan. Tentu saja, tujuannya adalah yang nomor satu.

Rias dan semua peeragenya merenung, mereka membenci Naruto dan Hinata yang telah mengkhianati mereka, ingin menuntut balas, namun sadar kekuatan mereka belumlah cukup.

Mempermainkan Ophis sang ketidakbatasan, membunuh dua dewa superior, melukai Maou dan Seraph surga, bahkan membuat Sirzech dan Ajuka tidak bisa berbuat banyak. Kalau seperti itu, apa yang Rias dan lainnya punya untuk membalas perbuatan mereka?

"Sudah lah, jangan terlalu memikirkan itu." kata Azazel menenangkan. "Sampai sekarang, hanya Naruto dan Hinata yang sudah diketahui sebagai bagian dari kelompok misterius itu. Tidak menutup kemungkinan masih ada nama-nama lain disana yang bisa saja adalah orang berbahaya ataupun orang terdekat kita. Mereka yang sanggup membuat seluruh dunia bagai panggung permainan dan dalang dari semua kejadian ini, amat sangat berbahaya."

"Bagaimanapun caranya, mereka harus dihentikan!" ucap Rias geram.

"Untuk saat ini, kita sebagai Tim [DxD] harus fokus untuk menghentikan Rizevim. Pasukan Aliansi pasti akan memenangkan perang melawan Konoha. Setelahnya, baru kita semua akan bersatu untuk melawan Uzumaki Naruto dan Uzumaki Hinata."

Semuanya mengangguk sepaham.

Azazel menatap wajah semua orang bergiliran. "Tim pencari telah berhasil mendeteksi dimana lokasi Rizevim menyembunyikan Pulau Langit Agreas. Dia pasti berada di sana bersama para Naga Jahat peliharaannya. Kemungkinan besar Naruto dan Hinata juga ada disana, jadi ini pasti akan berat." Tatapan Azazel berhenti pada laki-laki berambut pirang dengan pakaian pendeta. "Dulio, kau yang memimpin kan?"

"Ok. Ayooo, kita berangkat sekarang."

.

To be Continued...

.

Note : Agak telat sih dari waktu update yang kuinginkan. Gpp kan? hahaaaa.

Tidak ada yang perlu kujelaskan panjang lebar disini, lagian jumlah word chapter ini sudah sangat banyak. Buaanyaak banget kan, kuyakin kalian bisa muntah membaca semuanya.

Skema perang kurasa sudah cukup detail dan jelas. Tanyakan saja kalau masih ada yang kurang mengerti.

Sakura sudah aku perlihatkan sekilas PowerUp-nya, masih ada yang kusimpan kok. Chara-chara minor juga semakin menunjukkan kemampuannya. Dahulu pernah aku janjikan, pada saat perang Armageddon sudut penceritaan akan lebih banyak dari sisi shinobi-shinobi Konoha. Sejak lama banyak yang minta ini tapi baru sekarang bisa dikabulkan. Pokoknya menyesuaikan alur cerita lah.

Kemudian kartu As Konoha, sesuatu yang Gaara dapatkan dari Padang Gurun Sahara yang pernah aku singgung di chapter 50an, sekarang sudah benar-benar kumunculkan. Naga Langit Osiris, kalian yang suka anime jadul jaman dulu, pasti akan langsung tahu dua makhluk lainnya yang masih belum terungkap.

Terakhir tentang Khaos Brigade dan Trihexa, tak perlu aku banyak cakap lah. Disana nanti Rizevim, NaruHina, dan Tim DxD akan kembali diulas panjang lebar.

Ulasan Review:

Michael dicurigai? Kenapa eh, alasannya?

Great Red nanti muncul kok.

Shiva Vs Sakra dan Odin Vs Poseidon yang kemarin kah? Hmmm, munculin lagi ga yaaaa? Hihihiiii.

Si Bulky Vs Ignatius mirip kek Iron Man Hulkbuster Vs Hulk. Yaa karena memang terinspirasi dari sana.

Permasalahan penting nih sebenarnya. Pada Naruto Shippuden ep 500 yang tamat bulan maret kemarin, Lima Kage datang ke acara pernikahan NaruHina. Nah sedangkan di FF ini, pernikahan NaruHina di chapter 1 tidak dihadiri oleh Lima Kage. Tolong maklumi saja, chapter 1 FF ini lebih dahulu satu setengah tahun rilisnya dibanding NS Ep500. Jadinya begitu. So, biarlah.

Sosok Roh Pahlawan dari Fate-series emang berniat kumunculkan. Beberapa namanya sudah aku munculkan di chapter 50an dahulu.

Kehancuran Surga, dalam waktu dekat ini akan diceritakan kok. Beberapa chapter di depan lah. Tunggu saja. Hahaaaa.

Rizevim berkhianat pada NaruHina? errrr, gimana yah? :v

Konohamaru ga ikut perang, dia masih sangat muda dalam setting waktu ini. Dia diberi tugas oleh Kakashi mengurus migrasi warga Konoha ke dunia Manusia biar aman.

Aku emang udah kerja, sudah selesai sekolahnya. Tapi aku berkerja di sekolah. :v

Untuk reviewer Guest yang memahami kondisiku, huwaaaaaaa, makasih banget, jadi terharu eh :v

Pensiun tapi setelah menamatkan FF ini, aku janji. Untuk FF lainnya, aku kok ngerasa kurang yakin. Tapi ah entah lah, aku usahain kok.

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita, sebagian lainnya kubalas lewat PM.

Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.

.

.

.