Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Sabtu, 15 Juli 2017

Happy reading . . . . .

.

To The End of The World

Writen by Si Hitam

.

Chapter 79. Armageddon War, End of The World - Part 3.

.

Kembali lagi ke pantai berpasir putih yang sangat indah di sebelah barat wilayah kekuasaan Keluarga Iblis Gremory, salah satu titik yang sekarang dalam kondisi yang ...

Errrr?, susah untuk dijelaskan.

Pokoknya, hancur-hancuran lah.

Dunia Es yang dibangun Serafall dengan teknik Celcius Cross Trigger, kini sudah tak tentu lagi bagaimana bentuk rupanya, saking brutalnya pertarungan antara tiga petinggi di arena ini.

"Matilah kalian berdua, Haaaaaaaaaaaaaa..."

Blaaaaaassssstttt...

JDDHUUUAARRR!

Dewi Perang Bishamon yang terbang di udara menembakkan meriam petir raksasa, kilatannya tidak hanya bergerak lurus tapi sebagiannya menyebar ke berbagai arah sehingga area serang jadi lebih luas. Sudah jelas hasilnya, arena bertarung mereka bertiga makin hancur tak karuan.

Entah menggunakan Shinki atau harta sucinya yang mana untuk menembakkan meriam petir tadi? Bishamon dikenal sebagai entitas dewa yang memiliki senjata suci terbanyak diantara pada dewa lainnya di Takamagahara, bahkan beberapa diantaranya merupakan harta suci yang diberkati, jauh lebih kuat daripada harta suci biasa.

"Tck, mana mungkin aku mati hanya dengan itu!"

Dari bawah, muncul dua telapak tangan raksasa terbuat dari es yang sangat keras. Keduanya bergerak ke atas, mengurung Bishamon di antaranya lalu.

Gonggg!

Suara tepuk tangan terkeras yang pernah ada terdengar menggelegar, menghancurkan apa yang digencetnya bersama bongkahan es keras itu.

Serafall membuat telapak tangan es begitu besar, hingga tidak memberikan ruang bagi Bishamon untuk kabur.

Tapi yang namanya Bishamon memiliki banyak harta suci, dia berhasil selamat. Salah satu harta suci miliknya yang tidak berfungsi sebagai alat ofensif, ternyata memiliki kemampuan untuk mendistraksi ruang tiga dimensi sehingga dia bisa kabur selamat tanpa luka. Simpelnya, Bishamon melakukan teleportasi instan.

Hanya saja karena jarak terbatas dari kemampuan harta suci itu, Bishamon belum benar-benar selamat.

Dari arah atas, malaikat wanita tercantik dari Surga sudah siap dengan pedang cahaya terhunus.

Slice!

Tebasan vertikal dari atas, berhasil mengenai Bishamon.

Tapi hanya ujung rambutnya saja, dewi perang itu ternyata punya refleks yang bagus sehingga berhasil menghindar dengan bergerak ke samping.

"Brengsek!"

Ting tong,

Lingkaran cahaya di atas kepala Gabriel berbunyi, berkedip-kedip padam.

"Astaga. Tolong ampuni anakmu ini, Ayah."

Sudah jadi ketetapan bahwa malaikat tidak boleh mengumpat atau berkata-kata kasar kalau tidak ingin sayapnya menghitam dan 'Jatuh'.

Serafall melayang di dekat Gabriel, sementara Bishamon telah mengambil jarak yang cukup jauh.

Sudah tiga jam lebih, tapi pertarungan antara ketiganya belum ada perubahan. Entah siapa yang akan menang, mereka memiliki peluang yang sama besar. Serangan tunggal maupun combo Gabriel dan Serafall memang sangat powerfull, namun fisik dan stamina Bishamon yang sangat luar biasa untuk seukuran wanita menjadikannya mampu bertarung imbang meski hanya sendirian.

Prinsip yang mereka pegang adalah menjatuhkan pemimpin lawan agar pasukan musuh kehilangan harapan. Nyatanya itu belum terealisasi hingga sekarang.

Mereka bertiga, sama-sama wanita tangguh.

Lihat saja! Akibat dari pertarungan mereka sendiri. Jauh dari kondisi awal mereka yang rapi.

Bishamon yang mulanya memakai baju zirah lengkap, kini hanya memakai bikini hitam. Baju zirah perang yang dia kenakan sebelumnya adalah shinki untuk pertahanan, tapi karena sudah rusak berat dan dia tidak mau kalau shinkinya itu sampai mati, dia ganti dengan shinki lain untuk pakaiannya. Tidak mungkin kan dia bertarung telanjang?

Sebagai gantinya adalah bikini hitam dengan jubah admiral tanpa kancing plus topi militer. Pakaian perang tipe ini memberikan dia mobilitas yang jauh lebih tinggi saat bertarung meski pertahanannya menurun. Tapi sekarang jubah dan topi itu sudah hancur sehingga hanya menyisakan bikini saja. Bahkan bikini yang dia kenakan hampir putus talinya akibat pertarungan brutal mereka. Semoga saja dia masih memiliki shinki untuk pakaian. Sangat banyak yang mengharapkan bikini itu terlepas, tapi akan sangat memalukan kalau sampai seorang dewi perang yang cantik dan anggun malah bertarung tanpa busana.

"Phuhahahaaa, hoooiii Dewi Bugil. Kau mempermalukan mitologimu tahu. Andai saja aku membawa kamera, sudah pasti aku akan merekam dirimu. Biar menjadi skandal besar dikalangan para dewa Takamagahara."

Serafall, sempat-sempatnya mengejek di tengah-tengah pertarungan hidup mati ini.

Ctaakkk...

Perempatan siku sebanyak tiga buah tercetak di dahi Bishamon. Dia mengepalkan tangan sambil menggemertakkan gigi.

"Sadarilah dirimu sendiri, Maou Bejat tak tahu malu! Lihat, apa yang kau pakai sekarang!"

Kalau Serafall, dia tidak memiliki shinki pakaian seperti Bishamon sehingga tidak berganti pakaian meski sudah rusak parah.

Ya, benar-benar parah. Pakaian Serafall hanya menyisakan secarik kain di kedua puncak dada dan selangkangannya. Entah bagaimana caranya secarik kain itu tetap menempel meski Serafall bergerak sangat gesit di udara.

Ajaib bukan?

Tapi yang bernama Serafall pada dasarnya tak tahu malu, ia masa bodoh.

"Hmmpph, biarin!"

Daripada itu, ini yang paling parah.

"Tidak bisakah kita tidak berbasa-basi saat bertarung seperti ini?"

Suara tegas yang barusan keluar dari mulut Gabriel. Malaikat berpangkat Seraph yang terhormat ini, yang paling cantik sealam semesta ini, benar-benar sudah tak berbusana lagi. Pakaian perangnya sudah hancur tak bersisa akibat pertarungan sengit mereka. Karena ini situasi bertarung, otaknya sampai tak terpikir menggunakan satu dari 12 sayapnya untuk menutupi sedikit tubuhnya yang telanjang.

Tapi tenang saja, masih aman kok. Ada semacam sinar dewa atau cahaya tuhan yang menutupi bagian-bagian penting dari tubuhnya agar tak terlihat oleh siapapun. Seandainya tidak begitu, sudah pasti seluruh pasukan malaikat tentara surga bergender laki-laki di titik pertempuran ini akan 'jatuh' semuanya, dan Azazel jika menyaksikan ini, pasti mati di tempat.

Tapi...

Meski begitu tak ada satupun dari mereka bertiga yang peduli.

Namanya juga perempuan. Sudah alami jika mereka melakukan sesuatu, sisi perfeksionis akan membuat mereka totalitas dengan apa yang dikerjakan tanpa memikirkan hal lain lagi di sekitarnya.

"HEYYAAAAAAA!"

Huufft, tinggalkan dulu pertarungan tiga wanita sakti tersebut. Entah kapan akan selesainya.

Di pantai, tepatnya pada salah satu sudut pertempuran yang cukup ramai, ada seorang perempuan anggun memakai gaun malam yang berdiri dengan tenang. Tampak seolah dia tak terganggu sedikitpun, merasa biasa saja, padahal dia salah kostum.

Ini perang, bukan pesta dansa.

Perawakan dan wajahnya yang cantik menunjukkan kalau dia masih berumur 25-an. Penampilannya modis, pakaiannya nampak seksi dan terbuka dengan gaun berwarna merah darah menantang yang diselingi warna hitam. Rambutnya panjang hingga melewati paha, warnanya pirang menyala.

Berumur 25?

Pffft..., aslinya dia berumur 598 tahun.

Dia adalah seorang legenda vampir.

Vampir yang sangat kuat bernama Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade. Dia sudah lama menyembunyikan diri di Jepang, membaur dengan para manusia disana menggunakan nama samaran Shinobu.

Iris matanya berbeda dengan vampir manapun, bukan merah tapi mata itu berwarna dan bersinar seperti emas yang menunjukkan bahwa dia istimewa, dia spesial.

"Mungkin agak sedikit terlambat aku ke sini. Nah, sekarang siapa yang bersedia bertarung denganku?"

Shinobu melirik kiri kanan. Tidak lama, dua ratus lebih tentara dari ras iblis, malaikat, maupun malaikaat jatuh sudah mengerubunginya.

Namun karena aura intimidasi Shinobu yang kuat, tak satupun diantara para pasukan yang berani mendekat pada jarak kurang dari 50 meter.

Meski begitu, bukan berarti mereka tidak punya cara untuk menyerang.

"Ayooo, kita serang dia bersama-samaaaaaaa!"

Salah satu dari mereka berteriak kencang dan langsung direspon dengan cepat. Masing-masing menyiapkan serangan jarak jauh, serangan demonic power oleh para iblis dan serangan tombak-tombak cahaya dari para malaikat dan malaikat jatuh.

Ciuuuuuu...

Semua serangan mengalir deras tanpa halangan.

Shinobu menghela nafas pendek beserta senyum sinis, "Serangan macam apa itu?"

Dia membuka mulutnya dan...

Haaaauuuuuuuuuuuufffff...

Tak ada satupun serangan sihir yang melukai Shinobu. Semua berbelok ketika hampir mengenainya, mengecil, lalu masuk ke mulut Shinobu, dihirup olehnya semudah menarik nafas. Seolah serangan massal tadi tidak ada beda dengan udara biasa.

Para pasukan mengulang serangan namun hasilnya tetap saja tidak berubah. Shinobu bahkan mulai tampak bosan.

Bingung memenuhi relung pikiran, para pasukan itu tidak mengerti kenapa serangan sihir mereka tidak berpengaruh.

Mungkin mereka belum tahu, apa makna di balik julukan yang tersemat pada Shinobu.

Si Pemakan Keganjilan.

Julukan tersebut tidak mengandung makna tersirat karena memang seperti itulah adanya. Bagi Shinobu, apapun yang berhubungan dengan hal supranatural, segala yang tidak bersesuaian dengan hukum alam dunia nyata maka akan dia makan sampai habis, apalagi kalau hanya serangan sihir seperti tadi.

"Heeeiiii, tidak adakah dari kalian yang bisa membuatku senang?" Shinobu menatap ke sekeliling, pada pasukan yang mengelilinginya. "Ayyoooo, maju siniiiii!"

Mereka semua gugup, tidak tahu harus dengan cara apa melawan Shinobu.

Tapi ada satu yang cukup pintar, "Kalau tidak bisa dengan sihir, serang dia secara fisik!"

Bak mendapat guyuran air dingin ketika berada di tengah gurun pasir yang panas, mereka semua mulai menunjukkan seringaian.

Beberapa iblis dan malaikat yang terlatih dengan pertarungan fisik, merengsek mendekati Shinobu. Tak perlu menunggu perintah untuk menyerang.

"Ayoooo! Dia tak akan bisa melawan kalau kita serang bersama-sama."

Salah satunya berteriak. Memang mainstream dan kedengaran tidak berguna, tapi teriakan ini mampu memupuk semangat para pasukan untuk menggempur musuh.

Namun yaaa...,

kalau menyerang tanpa tahu dan berpikir, maka beginilah jadinya.

Slaashh!

. .

. .

. .

Tidak sampai 10 meter, semua pasukan yang menyerang vampir itu sudah kehilangan anggota geraknya. Menyisakan badan tanpa tangan dan kaki.

Padahal Shinobu saja belum bergerak.

Ah, tidak!

Di tangan Shinobu terdapat pedang tradisional Jepang yang sangat panjang, pedang tipe odachi. Panjang bilah pedangnya saja sama dengan tinggi badan Shinobu, sekitar 170 cm. Itu belum termasuk dengan gagang yang umumnya sepanjang 30 cm.

Tes tes tes.

Cairan merah kental yang menetes dari ujung odachi, menandakan bahwa memang Shinobu lah yang memotong tubuh para pasukan Aliansi. Mungkin saking cepatnya atau saking hebatnya teknik seni pedang yang dia gunakan, sampai tak ada sepasang matapun yang menyadari kapan dia menyerang.

"Kupikir akan seru, tapi..."

sreeeeettt

Shinobu berjalan sembari menyeret pedangnya yang panjang di permukaan pasir.

Para pasukan yang tergeletak tanpa kaki dan tangan nyatanya masih bernafas, masih hidup. Namun, wajah mereka mencetak ketakutan yang sangat dalam saat menatap Shinobu yang menyeringai keji pada mereka.

Dengan gerakan lambat dalam visualiasi Night Vision atau penglihatan malam yang hanya ada warna abu-abu dan hitam, jelas terlihat Shinobu yang berjalan pelan sembari mengayunkan odachi berkali-kali. Bersamaan dengan itu, bulatan-bulatan hitam berterbangan terlempar kemana-mana.

Tak perlu berpikir keras, itu hanya kepala-kepala yang lehernya baru saja terpenggal. Sudah dapat dipastikan, semua pemilik kepala itu kini tak bernyawa lagi.

Kembali ke penglihatan normal, Shinobu berhenti melangkah tepat di depan satu-satunya tubuh yang masih berkepala. Dia membungkuk sedikit, mencekik leher malaikat itu untuk diangkat di udara.

Darah tak berhenti menyebur dari pangkal paha dan bahu sang malaikat yang tak memiliki kaki dan tangan lagi. Tak ada suara yang terdengar, mungkin malaikat itu sudah mati syaraf saking putus asanya.

Shinobu tersenyum manis, "Aku ingin berbaik hati padamu sebelum kau mati, wahai malaikat yang mengabdi pada tuhan. Kuijinkan kau melihat wajahku di akhir hidupmu dari jarak sedekat ini."

Si malaikat coba menggeleng, namun gelengan itu tak pernah terjadi.

"Kupikir itu hadiah yang pantas untukmu. Kau senang kan?"

Hanya beberapa detik berlalu sampai malaikat itu menghilang dari alam dunia. Mulai dari kulit kepala yang dikoyak oleh taring Shinobu, tengkorak yang dengan begitu mudahnya diremukkan sampai seluruh daging dan isi perutnya.

"Nyam nyam nyaammm, Yummyyy!"

Malaikat itu benar-benar dimakan dalam artian yang sebenarnya.

Menyaksikan betapa ngerinya saat Shinobu membunuh, barisan pasukan Aliansi sontak mundur tanpa ada perintah. Jelas karena mereka sangat ketakutan.

Sejatinya, aksi memakan daging itu hanya bentuk simbolis saja. Yang dia makan adalah energi inti kehidupan. Jadi cukup dengan menyentuh saja, maka makhluk supranatural bisa lenyap seperti lenyapnya tumbukan debu yang tertiup angin.

Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade merupakan satu-satunya vampire langka yang memiliki kemampuan untuk memakan fenomena supranatural. Selain mampu memakan sihir, dia juga mampu menghisap energi inti spiritual dari makhluk jenis apapun yang dia sentuh selama itu makhluk supranarutal, baik itu iblis, malaikat, monster, naga, bahkan dewa sekalipun. Tergantung seberapa kuat lawannya, semakin lama juga waktu untuk dia menyerap energi inti itu.

The God of Bible pun, tidak mustahil dia makan juga asal diberikan banyak waktu.

Shinobu mendongak dengan mulut menganga lebar yang penuh darah, perlahan gagang pedang keluar dari sana, terus keluar sampai memperlihatkan bilah pedangnya. Cukup memakan waktu karena begitu panjangnya pedang yang dia keluarkan dari dalam tenggorokan.

Ternyata sebilah odachi lagi. Pedang tipe odachi yang sama dengan yang ada di tangannya.

Kini Shinobu memegang dua pedang kembar.

Dia, benar-benar sudah siap tempur.

Ini sungguh situasi terburuk. Mereka yang ada di sini hampir semuanya adalah pasukan kelas bawah, sebagian dari pasukan kelas menengah dan atas. Tidak ada orang yang bisa diharapkan mampu mengimbangi Sang Legenda Vampir ini.

Kalau sudah seperti itu, maka sudah jelas akhirnya bukan?

Hanya ada sisa waktu sedikit, sebelum seluruh nyawa pasukan tersebut terlepas dari raganya.

Beralih lagi ke sudut lain namun masih di arena yang sama, yakni di pantai ini.

Pertarungan brutal antar petarung kuat memang kelihatan seru, tapi bagi orang lemah itu tampak seperti imaji yang tak mungkin menjadi nyata. Kemudian pertarungan satu orang kuat melawan sekumpulan pasukan lemah sangat tidak menarik, itu jelas tidak adil bukan?

Maka dari itu, pertarungan di sisi ini mungkin bisa lebih menghibur bagi kalangan bawah. Bukan pertarungan lagi, ini peperangan nyata antara dua kubu pasukan.

Arena peperangan adalah sebuah pantai pasir putih yang sisi timurnya dibatasi oleh tebing terjal tinggi yang keras, curam, dan berbahaya hingga tak mungkin bisa di apa-apakan. Sedangkan sisi baratnya adalah lautan luas yang kini beku akibat kekuatan Serafall. Jadi, kedua kubu pasukan yang berperang terjepit dalam celah sempit di pantai pasir putih.

Menaiki tebing tidak mungkin karena tidak membawa peralatannya. Selain itu, memasuki lautan es beku sama saja cari mati karena sedang terjadi hujan serangan nyasar disana dari pertarungan brutal tiga wanita sakti.

Sebenarnya bibir pantai cukup lebar, sekitar 1500 mter. Tapi kalau pasukan yang berperang jumlahnya puluhan ribu, jelas itu terasa sangat sempit bukan?

Kebanyakan dari mereka adalah makhluk supranatural yang bisa terbang, tapi lupakan pilihan pertempuran udara untuk para pasukan kelas bawah ini.

Bagi pasukan Persekutuan Penentang Imperium of Bible, jalur udara hanya akan menjadikan mereka sebagai sasaran empuk sebab di hadapan mereka ada sangat banyak tentara Aliansi yang siap melepaskan serangan massal ke atas kapanpun jika mengancam.

Namun tentara Aliansi pun tak bisa seenaknya terbang ke udara untuk menyerang dari atas. Mereka tentu tidak lupa dengan apa yang terjadi pada 500 squadron yang terdiri dari 6500 personel pasukan pengebom udara yang di utus oleh Zekram Bael saat permulaan perang. Mereka tidak tahu pasti, apakah di belakang pasukan Konoha dan sekutunya ada Air Defense yang semacam itu atau tidak.

Jadi karena sebab itulah, kedua kubu pasukan dipaksa untuk melakukan peperangan di daratan.

Dalam perang, tentu saja ada strategi yang digunakan. Menyesuaikan situasi di arena serta kondisi pasukan.

Setelah pembukaan perang secara brutal di awal, lambat laun perang telah menemukan tempo dan iramanya. Tentara Aliansi Tiga Fraksi membangun formasi lebih dahulu. Pada jalur sempit di sepanjang bibir pantai, tidak kurang dari 30 ribu tentara iblis dan malaikat membentuk formasi benteng persegi.

Itu adalah sebuah formasi yang solid dimana barisan pasukan dibentuk menjadi persegi mendatar pada permukaan pasir pantai. Pasukan Aliansi berbaris rapat dari sisi tebing sampai ke bibir pantai sehingga tidak ada lagi celah dan jalan untuk ditembus, selebihnya ke belakang juga tersusun atas berbaris-baris pasukan dengan komposisi berbeda sesuai kualifikasi tugas prajuritnya.

Barisan terdepan adalah para pasukan dengan armor berat. Pertahanan yang kuat menjadikan mereka sebagai tanker untuk serangan musuh. Di belakangnya mengekor para penyerang jarak menengah tipe kecepatan yang dicampuri dengan sedikit tipe healing yang bertugas menyembuhkan prajurit yang luka. Barisan paling belakang tentu saja penyerang jarak jauh yang menghujani formasi musuh dengan serangan sihir.

Formasi itu yang sangat besar, sebagai pengorbanannya ialah mobilitas gerakan harus dibuang agar formasi tidak rusak. Mereka bergerak maju secara perlahan dengan menjaga bentuk formasi. Namun, meski gerakannya perlahan tapi kalau maju terus tanpa tertembus maka kemenangan sudah pasti dalam genggaman. Kemampuan individu juga ditinggalkan, lebih ke kerjasama dengan pembagian tugas yang sudah dirancang sedemikian rupa demi meningkatkan peluang keberhasilan dan meminimalisir jatuhnya korban tewas.

Dengan kata lain, Falbium di sini hanya menggunakan taktik sederhana yakni menggerus barisan pertahanan musuh pada jalur sempit memanfaatkan keunggulan jumlah yang jauh lebih banyak.

Ya, keunggulan kuantitas sebab pasukan Konoha dan sekutunya hanya tersisa tidak lebih dari 10 ribu, sepertiga dari jumlah pasukan Aliansi.

Di sisi lain, pasukan koalisi Konoha dan sekutunya tidak melawan maju tanpa formasi. Shikamaru juga telah menganalisis semua informasi yang diberikan Ino dari jaringan Unit Tim Informasi dan Komunikasi. Diapun merancang strategi formasi terbaik dengan peluang keberhasilan tertinggi. Strategi yang dinamakan rolling cell dalam formasi barisan pasukan yang juga berbentuk persegi.

Bedanya dengan formasi benteng persegi pasukan Aliansi ialah, kalau pasukan Aliansi membedakan kualifikasi tugas tiap pasukannya perbaris dari depan ke belakang, maka pasukan koalisi Konoha membaginya dalam bentuk kotak-kotak atau cell. Satu cell terdiri dari sebuah tim penyerang dengan komposisi terbaik dari penyerang jarak dekat, menengah, dan support.

Berjejer ke samping dari sisi tebing sampai bibir pantai dalam satu barisan, Shikamaru membagi pasukannya menjadi 10 cell. Kesepuluh tim di posisi ini akan menyerang secara bersamaan pada satu titik fokus masing-masing. Tujuannya adalah agar mereka tidak tergerus formasi solid pasukan Aliansi dan juga untuk sedikit merusak formasi musuh.

Pasukan Aliansi sangat padat, jika diserang serantak dengan intensitas sama sepanjang barisan tentu kerugian besar bagi pasukan Koalisi Konoha. Tapi jika menyerang pada 10 titik fokus yang antar titik terdapat jarak yang cukup jauh, sekitar 150 meter, maka setiap tim penyerang dari unit cell akan berhadapan dengan lawan yang kepadatan pasukannya sama besar.

Pasukan Aliansi tidak akan begitu saja merubah formasi untuk menitik beratkan ke setiap titik yang diserang oleh unit cell tim penyerang pasukan Koalisi. Jika dilakukan, tentu formasi benteng persegi mereka akan rusak sebab tercipta celah-celah yang bisa dengan mudahnya diterobos oleh unit cell pasukan Koalisi Konoha dibelakangnya. Mereka juga tidak akan mungkin maju ke depan mengingat titik yang diserang unit cell harus tertahan. Kalau nekat maju, formasi benteng persegi pasti kacau.

Begitulah, ada 10 cell dalam satu baris. Lalu ada cukup banyak barisan di belakangnya yang juga terbagi dalam 10 cell dan siap kapan pun untuk maju jika ada kesempatan.

Kelemahan formasi yang dibentuk Falbium kelihatan cukup jelas sebab itu hanya strategi sederhana. Yakni jika pasukan koalisi mampu menembus barisan terdepan Aliansi yang terdiri dari para tanker berarmor berat, maka melumpuhkan pasukan di belakangnya jadi lebih mudah sebab mereka tidak difokuskan untuk bertahan tapi menyerang dan support.

Tapi karena pasukan Aliansi terdiri dari para iblis, malaikat, dan malaikat jatuh yang terlatih dalam perang, tentu saja mereka sadar akan betapa pentingnya keutuhan formasi barisan pasukan.

Sebagai akibat dari mempertahankan formasi, ada cukup banyak barisan terdepan pasukan Aliansi yang tidak melakukan apapun selain tetap pada posisinya. Ya, ruang antar setiap titik fokus serangan pasukan koalisi Konoha yang berjarak 150 meter, sunyi tanpa ada pertempuran.

Shiranui Genma, salah satu shinobi senior dari Konoha yang merupakan prajurit perang kelas menengah terlihat sibuk berbicara dengan teman barunya, Izzy. Prajurit vampir wanita dari Rumania, berambut putih dengan wajah khas wanita dewasa yang dapat dikatakan lumayan cantik. Mereka berdua berada pada cell baris ketiga dari depan, makanya memiliki waktu untuk mengobrol tanpa melakukan apa-apa.

"Genma, aku masih merasa ragu menghadapi pasukan musuh secara langsung. Dilihat dari manapun, strategi kita ini sangat beresiko mengingat jumlah mereka sangat banyak."

Dalam satu cell, terdiri dari sekitar 50 prajurit dengan berbagai tipe petarung dan support. Satu baris secara bersamaan akan maju menyerang ke dalam formasi pasukan Aliansi. Maksudnya, satu tim dalam unit cell akan melompat ke barisan terdepan pasukan Aliansi atau para tanker lalu membunuh mereka sebanyak yang sanggup dilakukan. Setiap tim ini juga harus bekerja sama untuk sedapat mungkin menghindari serangan prajurit Aliansi dari barisan belakang yang memang dikhususkan menyerang.

Dilihat secara keseluruhan, 500an prajurit Koalisi Konoha akan berjibaku dalam pertarungan hidup mati melawan 30000 pasukan musuh sekaligus dalam formasi solid.

"Dengan jumlah pasukan kita yang jauh lebih sedikit, hanya strategi ini yang paling efektif untuk digunakan, Izzy. Makanya ada sistem pergantian unit cell."

Dari cara saling menyebut nama, nampaknya hubungan mereka berdua sudah cukup akrab.

Jika hanya ada satu baris cell, sudah jelas pasukan Koalisi Konoha akan langsung kalah. Maka dari itulah, setelah rentang waktu tertentu atau saat tim unit cell kehabisan stamina, barisan cell paling depan akan langsung mundur ke bagian paling belakang formasi. Sebagai gantinya, unit-unit cell di barisan kedua akan maju menyerang. Seperti sebelumnya, jika sudah tiba waktu pergantian barisan kedua juga akan mundur ke paling belakang untuk langsung digantikan unit cell di barisan ketiga. Ketika semua barisan sudah habis, maka unit cell barisan pertama akan maju lagi untuk bertempur.

Karena pergantian yang bisa dianggap tiada habis itu lah, stategi ini dinamakan Rolling Cell.

"Iya, aku tahu Genma. Tapi sepertinya strategi ini akan memakan banyak korban."

Tentu saja, setiap terjadi rolling di mana satu unit cell mundur ke belakang tidak mungkin semuanya dengan badan mulus. Paling tidak luka lecet, bisa jadi luka parah atau bahkan korban tewas. Karena itulah dalam satu unit cell pasukan, harus memiliki kepedulian tinggi untuk membantu membawa teman yang terluka ke barisan paling belakang tempat tenda medik berada agar bisa di obati sembari menunggu maju menyerang lagi ketika tubuh mereka kembali fit meski tidak seprima kondisi awal.

Jika dipikir, strategi rolling cell ini pun juga sederhana. Hanya saja meski dibilang sederhana, tapi jika yang melakukannya adalah prajurit tanpa pengalaman dan tingkat kerjasama rendah, maka strategi dan formasi yang dibuat Shikamaru menjadi tak berarti.

Point kunci dari taktik ini adalah pergantian unit cell yang tepat dan akurat.

"Musuh kita juga pasti akan kehilangan banyak korban. Paling tidak mereka yang berada di barisan terdepan."

Shikamaru menginstruksikan untuk fokus menyerang para tanker musuh saja. Meski butuh waktu lama, namun jika para tanker di paling depan ini bisa dihabisi semuanya, maka prajurit penyerang di belakangnya yang pertahanannya rapuh bisa dengan mudah dihabisi.

"..."

"Asalkan kita bisa mengulur banyak waktu, kita akan memang."

"Hahhhh ..."

"Jangan mendesah begitu, aku jadi merinding. Desahanmu terdengar sangat sensual, Izzy."

"Pfftt, huwaaaaaaaa." Izzy berteriak kegirangan. "Akhirnya kau mengakui juga kalau kau tertarik padaku, Genma."

"Hn!" tidak ada raut muka penyangkalan di wajah Genma.

"Aku sudah dengar kok, dari teman-temanmu sesama shinobi kalau kau itu jomblo abadi."

"Sialan mereka!"

"Bagaimana, kau mau denganku? Saat ini statusku available loh."

"Tch! Baiklah, kita urus itu nanti. Menangkan perang ini dulu."

"Tentu saja."

Mereka berdua jadi hening. Siapa yang tahu isi hati mereka? Yang jelas, mereka sedikit diantara banyak peserta perang yang sudah memikirkan masa depan jika perang usai. Ini adalah hal bagus sebagai motivasi prajurit untuk menang.

Ah, ternyata mencari jodoh itu tak sulit. Bahkan dalam situasi peperangan pun bisa.

Izzy mulai bicara lagi, "Kau gugup?"

"Tentu saja."

"Aku juga sama."

Jelas saja, karena mereka berdua akan mempertaruhkan nyawa.

"Tapi bukan berarti aku tidak bisa berpikir apa-apa. Aku sudah pernah ikut perang besar sebelum ini."

"Kurang lebih sama saja denganku kalau begitu. Meski belum pernah ikut berperang tapi sudah tidak terhitung berapa kali aku bertempur sebagai prajurit pilihan Yang Mulia Ratu Carmilla."

"Yeah."

"..."

"Ganti barisaaaaaaaaaaaaaannnnn!"

Suara salah satu prajurit yang tengah bertempur di depan menggaung sampai ke telinga Genma dan Izzy.

Rupanya unit cell barisan kedua telah selesai. Kalau unit cell barisan pertama sudah dari tadi mendapat perawatan medis di belakang, cukup banyak yang terluka dan beberapa diantaranya sudah kehilangan nyawa.

"Ayoo maju, Izzy."

"Ok, dan kita harus pulang dengan selamat."

"Itu pasti."

Unit cell barisan ketiga sudah maju, tim dimana Shiranui Genma dan Izzy berada bergerak cepat ke jantung barisan depan para tanker pasukan Aliansi.

Mereka berdua berkerja sama, menyerang dengan gesit tapi tetap tenang. Namun tidak dapat disangkal, jantung mereka berdegub kencang.

Serangan mereka berdua fokus pada prrajurit Aliansi yang berarmor tebal dengan senjata berat, yakni yang disebut sebagai tanker. Gerakan mereka yang sangat lincah menjadikan tanker yang mereka serang kesulitan untuk membalas, namun Genma dan Izzy tidak bisa lega begitu saja. Mereka sempat terkena serangan yang cukup mematikan dari pasukan penyerang Aliansi di belakang para tanker.

Sampai 10 menit terlewat, perbedaan antara mereka sudah kelihatan nyata. Yep, semua unit cell yang sedang menyerang sudah kewalahan.

"Aarrrkkhh!"

Izzy berteriak karena kesakitan.

Suiton: Teppou

Bagai seorang pahlawan, Genma berhasil menyelamatkan Izzy. Izzy terkena tebasan pedang di paha kiri oleh satu penyerang lawan tipe kecepatan, tapi orang itu sudah berhasil di atasi Genma. Dia mundur setelah bahu kanannya berlubang akibat tembakan peluru air Genma.

"Kau masih bisa berdiri?"

Izzy menggeleng, "Kurasa tidak."

"Aku akan menggendongmu. Kita sudah hampir selesai, saatnya berganti dengan cell baris keempat."

Izzy mengangguk lalu naik ke punggung Genma.

Genma pun berlari keluar dari barisan pasukan musuh sambil menghindari serangan yang berkali-kali mengejarnya.

Alhasil, secara keseluruhan jalannya peperangan berlangsung imbang tanpa ada kemajuan.

Formasi benteng persegi pasukan Aliansi tidak bisa bergerak maju, sedangkan taktik Rolling Cell pasukan koalisi Konoha juga tidak sanggup memukul mundur lawannya.

Jika diasumsikan peperangan dengan dua strategi yang saling adu ini berlangsung lama hingga berjam-jam, maka penentu kemenangan adalah ketahanan fisik dan stamina masing-masing pasukan.

Dengan formasi benteng persegi, setiap pasukan Aliansi tidak harus menyerang terlalu sering untuk menciptakan serangan berintensitas tinggi karena jumlah prajurit mereka sangat banyak, dengan begitu penurunan stamina berlangsung lambat.

Lalu untuk pasukan Koalisi Konoha, mereka menyerang secara total pada setiap baris cell tapi setelah selesai menyerang dan sedikit mengurangi kekuatan musuh, mereka akan dipindah ke belakang untuk istirahat dan mendapat perawatan medis lalu kembali ke depan dengan kondisi yang telah pulih walau tidak seprima seperti semula.

Meski berbeda, nyatanya kedua taktik itu sama hebatnya dalam mengakomodir pergerakan pasukan dan mempertahankan tingkat stamina individu prajurit pada kondisi terbaik.

Siapa dulu orang di belakangnya? Dua jenius dari dua dunia berbeda, Maou Falbium Asmodeus dan Shikamaru.

Selama perang, tidak mungkin bukan kalau jalannya stuck begitu-begitu saja? Berkali-kali terjadi improvisasi taktik oleh kedua kubu.

Setelah satu tim unit cell fokus menyerang sebuah titik pada barisan depan formasi pasukan Aliansi, maka serangan dari unit cell yang menggantikannya akan fokus pada titik itu lagi. Jika titik yang sama ini diserang terus menerus, pastinya akan tercipta lubang pada formasi benteng persegi pasukan Aliansi.

Untuk mencegah hal itu, pasukan Aliansi melakukan pertukaran. Bukan pertukaran ke bekalang karena setiap baris berbeda kriteria prajuritnya, tapi bertukar ke samping.

Tadi disebutkan kalau ada barisan depan pasukan Aliansi yang menganggur bukan? Yakni pada titik yang tidak diserang oleh tim unit cell pasukan Koalisi Konoha.

Jadi, sehabis mereka diserang oleh satu unit cell, maka akan ditukarkan dengan prajurit yang belum bertempur dari titik di sampingnya. Dengan begini, secara keseluruhan formasi benteng persegi milik Falbium tidak berubah.

Hanya saja pasukan koalisi Konoha tidak buta, mereka masih memiliki mata yang penglihatannya baik.

Arena perang adalah pasir pantai yang rata. Jika titik yang baru diserang itu di geser ke samping, maka unit cell hanya perlu menyerang ke arah mana titik itu bergeser.

Menyadari itu, pasukan Aliansi pun langsung merespon dengan pembaruan strategi lagi. Yang selanjutnya saat pasukan Koalisi Konoha melakukan rolling, mereka melakukan 'pertukaran setengah' ke samping. Maksudnya, setengah jumlah pasukan di titik yang baru saja di serang, ditukarkan dengan setengah jumlah pasukan pada titik yang belum di serang persis di sampingnya. Dengan begini, formasi pasukan Aliansi terjaga tetap homogen.

Shikamaru melakukan beberapa kali improvisasi lagi guna coba menghancurkan formasi pasukan Aliansi Tiga Fraksi. Diantaranya membuat serangan kejutan dengan perangkap ledakan pada jeda pergantian pasukan.

Menunjukkan sedikit hasil, namun ternyata Falbium dari markasnya cepat membaca situasi lalu membuat langkah terbaik. Dengan intruksi cepat, formasi pasukan mampu ia jaga tetap utuh.

Pada akhirnya, perang dengan dua strategi ini benar-benar berpegang pada point kunci ketahanan fisik dan stamina pasukan.

Jalannya perang masih imbang meski pasukan Aliansi jumlahnya tiga kali lebih banyak. Hal ini bisa dilihat dari jumlah korban tewas kedua kubu. Naiknya angka tersebut berjalan selaras. Sampai dua jam berlalu, 3000an pasukan Koalisi Konoha sudah tewas, pun dengan pasukan Aliansi Tiga Fraksi.

Tewasnya pasukan Koalisi Konoha berasal dari unit cell yang komposisinya heterogen, artinya meski berkurang tapi secara keseluruhan komposisi pasukan tetap stabil sehingga strategi yang sama masih tetap bisa diteruskan. Akan tetapi banyaknya jumlah korban yang jatuh, mengakibatkan jumlah barisan cell dari depan ke belakang terpangkas cukup banyak. Hal ini membuat proses rolling berlangsung lebih cepat, akibat jangka panjangnya adalah penurunan stamina yang sangat signifikan karena pasukan di tiap unit cell akan maju lagi sebelum sempat memulihkan staminanya. Ini tentu hal buruk.

Begitupula dengan pasukan Aliansi Tiga Fraksi. Tujuan strategi Shikamaru sudah menampakkan hasil yang pasti. Lihat saja komposisi pasukan dari formasi benteng persegi mereka. Bagian depan yakni pasukan berarmor berat para tanker adalah jumlah terbanyak dari 3000an pasukan Aliansi yang tewas, lebih dari 80% mungkin. Jika sudah begini, pertahanan mereka jadi keropos. Hanya tinggal menunggu waktu sampai pasukan Koalisi Konoha melakukan serangan penuh serentak.

Kedua kubu telah memperlihatkan kelemahan masing-masing.

Namun bagi yang jeli, keunggulan ternyata dimiliki oleh pasukan Aliansi. Cukup melihatnya melalui perhitungan sederhana. 3 ribu dari 10 ribu, artinya pasukan Koalisi Konoha sudah kehilangan 30% pasukannya. Sedangkan pasukan Aliansi hanya kehilangan 10%, yakni 3 ribu dari 30 ribu. Singkatnya untuk sekarang ini, 7 ribu Vs 27 ribu atau hampir satu banding empat.

Saat berhadapan pada serangan terakhir, kemenangan hampir pasti milik Aliansi karena ketimpangan jumlah pasukan yang semakin lebar.

Akan tetapi, masih jelas di ucapkan oleh Genma tadi kalau mereka hanya harus menunggu dengan mengulur waktu untuk menang. Begitu bukan?

Artinya, Shikamaru sudah mempersiapkan sesuatu sebagai bala bantuan.

Dan...

Inilah dia.

Satu titik pada ketinggian 100 meter di udara, terjadi fenomena distorsi ruang. Sebuah portal yang menjadi jalan penghubung instan sesosok pemuda.

Genma yang kini berada di barisan ketujuh menyadarinya, "Bantuan untuk kita telah datang."

Izzy di dekatnya menoleh ke atas, arah yang di tunjuk Genma. "Hanya satu orang?"

"Memang, tapi itu sudah cukup."

"Itu kan...?" mata Izzy memicing agar melihat lebih jelas. "Dia!"

"Yeah, Kapten Divisi Keempat pasukan kita, Uchiha Sasuke."

Swosssshhhh...

Sekejap mata berkedip, yang nampak di udara bukan lagi tubuh manusia, tapi sosok astral raksasa berwarna ungu, dengan perawakan seperti Raja Tengu berhidung panjang lengkap dengan armor perang, senjata, dan sayap.

The Great Full Armored Susano'o.

Slassshh!Slassshh!Slassshh!Slassshh!

Empat kali tebasan katana rasasa secara vertikal dari empat tangan berbeda, menciptakan embusan energi berbentuk bulan sabit yang sangat tajam.

Formasi benteng persegi pasukan Aliansi yang solid tak mampu bertahan hingga terbelah menjadi lima bagian memanjang ke belakang.

Selesai dengan satu serangan, sosok Susano'o itu pun menghilang bersama pemiliknya.

Sasuke adalah Kapten Divisi Empat Unit Pertempuran Jarak Jauh. Bukan tempatnya dia berada di sini dan belum saatnya dia total turun ke arena perang. Untuk permulaan, Sasuke di tempatkan pada sebuah strategi yang hanya dikhususkan untuk dirinya.

Hit and Run, nama taktiknya. Sasuke datang tanpa terduga, melepaskan serangan pemusnah skala besar untuk merusak formasi musuh, lalu pergi setelah musuhnya kocar kacir ketar ketir akibat kejutan ini.

Celah lebar sudah terbuka.

Keunggulan singkat yang diciptakan Sasuke untuk pasukan di titik A ini tak boleh disia-siakan.

Saatnya menyerang.

"Serbuuuuuuuuuuuuuu!"

"Orrrrra orra orra orrraaaaaaaaaaaaaaaaa...!"

Meninggalkan taktik cell, semua prajurit koalisi Konoha baik yang masih bugar maupun yang baru saja berada di barisan belakang, maju serentak untuk serangan penuh.

Spesialis bertahan dari para tanker pasukan Aliansi sudah hampir habis, pertahanan mereka lemah. Dan lagi formasi benteng persegi sudah terbelah, mencipta jalur kosong dari depan hingga ke paling belakang di mana pasukan Koalisi Konoha dapat maju tanpa aral rintang.

Akankah, 7 ribu pasukan koalisi Konoha mampu memukul mundur 27 ribu pasukan Aliansi Tiga Fraksi, atau malah yang 7 ribu itu yang dihabisi tanpa sisa oleh yang 27 ribu?

Entah, siap yang tahu.

Bahkan hingga saat ini pun, arah peperangan belum terdefinisi dan pintu kemenangan sama sekali belum terlihat.

.

Kawasan rawa di pesisir timur wilayah Gremory, menjadi gelanggang pertarungan antara dua sosok legenda.

Ah bukan, tapi titisan atau inkarnasi dari pendahulu masing-masing yang merupakan legenda di tanah tempat mereka berasal.

Keturunan Beowulf sang pahlawan pembantai Naga Jahat Grendel yang entah generasi ke berapa, yang kini terkenal sebagai bidak pion terkuat nomor lima di Underworld dengan Sirzech Lucifer sebagai King-nya. Sedangkan lawannya adalah titisan Gusti Prabu Angling Dharma sang Raja paling terkenal dari Kerajaan Malwapati di Tanah Jawa, Raden Mas Bagus Sudjiwodhiningrat. Yang satu seperti laki-laki berusia 25-an sedangkan satunya lagi lebih dewasa, mungkin sekitar umur 32 tahun.

Singkat saja, kedua laki-laki ini sudah bertarung cukup lama di tengah-tengah lubang kawah kering akibat dampak serangan Raja Naga Tannin pada Naga Jahat Grendel. Dikatakan imbang tampaknya tidak bisa, meskipun pertarungan mereka berdua belum menunjukkan tanda-tanda siapa yang lebih unggul. Kedua petarung ini memiliki kualifikasi yang sangat jauh berbeda.

Pakpakpakpakpakpak...

Buuaagg!

"Haaaaaaaaaa!"

Daasshhh!

Beowulf terpaksa mundur setelah mendapat pukulan telak di bahu kanannya, rasanya pasti sakit karena dia terlihat meringis.

Lagi-lagi titisan Angling Dharma itu, atau yang lebih akrab disebut dengan nama Djiwo mampu menyarangkan pukulan tapak tangan terbuka di badan lawannya.

"Guh! Hahh hahh haaaahhhh..."

Nafas Beowulf terdengar agak patah-patah. Namun sebentar saja, dia kembali mampu berdiri dengan normal.

Mereka berdua sama-sama manusia, namun Beowulf jelas lebih unggul karena telah direinkarnasi menjadi iblis budak Sirzech Gremory. Bahkan sekarang, dengan posisinya sebagai bidak pion, dia telah berpromosi ke bidak Ratu sehingga statistik pertarungannya meningkat tajam, baik fisik, kekuatan, pertahanan, maupun kecepatannya. Hanya saja karena Djiwo jauh lebih baik dalam penguasaan seni beladiri, mereka bisa bertarung sampai sejauh ini. Djiwo adalah master pencak silat, seni bela diri khas dari tempat dia berasal.

"Hahahaaa, kasihan kau. Ayo sini kau! Maju lagi lawan aku."

Djiwo ini, meski cenderung humoris tapi dia sedikit sombong.

Namun provokasi itu sebenarnya adalah langkah cerdas dalam pertarungan. Ia sadar betul kalau statistik pertarungannya kalah banyak sehingga harus menekankan pada keahlian seni beladirinya. Pencak silat, yang mana memanfaatkan teknik beladiri tingkat tinggi yang disertai dengan perasaan sehingga menghasilkan penguasaan gerak yang efektif dan terkendali. Sangat tepat digunakan untuk melawan Beowulf yang lebih menekankan pada aspek tinju kasar tanpa seni dari barat.

Rupa-rupanya, Beowulf dirundung emosi karena merasa diremehkan.

"Kaaaaa!"

Beowulf melesat maju. Dalam satu lompatan dia telah berada tepat di depan Djiwo dengan kuda-kuda yang sangat kokoh. Tangan kanan di tekuk dalam, satu tinju sang sangat kuat pun dilesakkan.

Meski pada situasi kritis, Djiwo masih tetap tenang. Ini adalah sikap seorang pendekar pencak silat. Tapi kewaspadaannya selalu dalam level tertinggi.

"Hap!"

Grep.

Djiwo memiringkan kepalanya ke kanan, hingga serangan lawannya luput dengan margin yang sangat tipis. Ia tangkap pergelangan tangan lawan dengan tanang kanan seraya memutar badan ke kiri. Berkat gerakan tangkapan yang erat lalu disambung dengan kelitan yang gesit, Beowulf menempel persis di punggungnya. 180 derajat putaran selanjutnya...

Dassshh

telinga kiri Beuwolf tak luput dari sikutan Djiwo.

"Aaarrghhh!"

Beowulf menggeleng-gelengkan kepala setelah dilepaskan oleh Djiwo. Bisa saja dia kehilangan kesadaran akibat kepala sebelah kirinya dihantam dengan kuat. Namun karena ketahanan tubuhnya yang luar biasa, serangan itu tidak memberinya kerusakan fatal.

Sang Pion Lucifer bangkit lagi, kali ini melakukan gerakan yang sama namun dengan kekuatan dan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Ia ingin tahu, sampai mana batas kemampuan seni beladiri lawannya. Apakah seni itu bisa dilampaui dengan kekuatan dan kecepatan super yang dia miliki atau tidak?

"Hiiiaat!"

Grep!

"Bodoh! Kau pikir gerakan yang sama bisa mengalahkanku hah? Meskipun lebih brutal dari seranganmu sebelumnya, tapi itu tak merubah keadaan."

Djiwo tidak balik menyerang dengan gerakan seperti tadi, pukulannya di kepala musuh tak memberikan luka fatal jadi ia mencoba menyerang titik lain. Tinju Beowulf yang ia tangkap dengan tangan kiri, ia putar menggunakan tangan kanan lalu dikembalikan lagi ke tangan kiri dan dikunci ke atas. Saat musuh kehilangan kesempatan bergerak, Djiwo melakukan sapuan dengan kaki kanan pada belakang lutut hingga lawannya hampir jatuh dan tanpa jeda dilanjut dengan pukulan menyayat pada rusuk kanan.

Duuagghhh...

Lagi-lagi Beowulf terdorong dan kesakitan. Ia tidak diberikan kesempatan untuk mendaratkan satu pun pukulan, sementara dirinya telah diserang berkali-kali. Melawan orang yang memiliki penguasaan teknik beladiri khusus, tentu sangat menyulitkan untuknya.

Beowulf bangkit lagi, meski rasa nyeri ditubuhnya belum hilang namun ia abaikan. Ia harus menggunakan sedikit otaknya karena seperti pukulan yang ia layangkan, selalu berhasil di tangkis bahkan diserang balik dari posisi yang tak terduga.

Di sudut seberang, nampak Djiwo sesekali melemaskan tulang dan ototnya. Bisa jadi dia kurang pemanasan sebelum bertarung. Ia memang dalam posisi tidak unggul dari segi kekuatan fisik, tapi dengan memanfaatkan gerak lincah serta kelenturan badan ia selalu berhasil membalik serangan pada timing sangat sangat tepat. Namanya juga seni pencak silat, yang memang lebih dikonsentrasikan pada point-point itu.

Dua teknik gerakan yang telah ditunjukkan Djiwo tadi, merupakan variasi dari Jurus Kelid yang diajarkan dalam Padepokan Pencak Silat Aliran Cimande dari daerah Sunda. Sebuah aliran pencak silat yang paling besar dan terkenal di pulau Jawa.

Dalam menyerang dan bertahan, pencak silat lebih banyak memanfaatkan serangan dan tenaga lawan secara maksimal untuk keuntungan diri sendiri. Dengan begitu, tenaga sendiri bisa dihemat sampai batas minimal. Hal ini terbukti dari tarikan nafas Djiwo yang masih stabil dan teratur.

"Kali ini, aku pasti bisa melukaimu." Melihat ekspresi di wajah Beowulf, mungkin budak pion ini telah menemukan trik untuk mengalahkan lawannya.

"Beuh, buktikan sini!"

Ketiga kali, masih dengan gerakan yang sama Beowulf melancarkan pukulan bertenaga lurus ke depan menggunakan tangan kanan. Sasarannya adalah dada lawan.

Djiwo terkekeh sinis. Apa musuhnya ini benar-benar bodoh?, tanya Djiwo dalam benaknya.

Mudah bagi Djiwo untuk menangkap tinju itu lagi. Kemudian dengan variasi teknik lain menggunakan kaki kiri, Djiwo menendang dan menginjak belakang lutut kanan Beowulf hingga terjatuh ke tanah.

Beowulf yang jatuh tertunduk dengan tangan terkunci erat, memberi kesempatan bagi Djiwo untuk menyerang. Lutut kanan ia hantamkan kuat-kuat pada wajah Beowulf, berkali-kali hingga hidung budak pion itu berdarah. Belum cukup sampai disana, Djiwo menarik bahu kiri lawannya lalu diputar kedalam dalam posisi tangan kanan masih terkunci. Dari posisi ini, ia jelas melihat sasaran empuk untuk diserang, rusuk kanan.

Sejak awal, Djiwo hanya mengincar titik-titik paling vital pada tubuh lawannya agar meninggalkan nyeri sangat hebat atau luka dalam yang bisa mempengaruhi kesadaran. Dengan begitu, meski musuhnya memiliki fisik jauh lebih kuat tapi jika diserang terus menerus seperti itu pada akhirnya musuh tak mungkin sanggup bertahan.

Dua... Tiga... Empat kali Beowulf merelakan rusuk kanannya kembali terkena pukulan menyayat. Tapi ia sudah memperkirakan akan begini. Dengan menahan rasa sakit, ia coba menggerakkan tangan kirinya yang tak terkunci.

Dapat!

Lingkaran sihir kecil selesai diaktifkan, sebilah pedang bermata dua dia ambil dari invertori sihir dalam sekejap.

Beowulf memaksakan diri dengan menahan sakit, biar pun tangan kanan itu patah karena menolak kuncian. Ia bangkit sekuat tenaga sambil menebaskan bilah pedang tajam.

Sliceee...

Djiwo tak sempat berkutik, tak dia sangka musuhnya begitu licik menggunakan senjata. Dari jarak sedekat ini dalam kondisi tangan kosong, mana mungkin dia bisa mengelak.

Jrasssshh.

Badan atas dan bawah Djiwo terpisah. Wajahnya menunjukkan ekpresi terkejut luar biasa dengan mata melotot dan mulut menganga.

Bruukkk.

Kedua bagian badan itupun jatuh kembali ke tanah, terpisah dengan jarak yang cukup berjauhan.

Beowulf berdiri menegakkan badannya. Ia menyeka darah yang keluar di hidung dan bibirnya. "Mampus kau!"

Meskipun harus merelakan tangan kanan, tapi Beowulf berhasil menang.

Kemenangan telak.

Rencana yang tadi ia pikirkan tidak rumit. Seni beladiri yang dikuasai lawannya adalah untuk pertarungan jarak dekat, maka ia hanya harus merelakan tubuhnya untuk berada sedekat mungkin didalam area serang lawan. Membayar mahal dengan membiarkan dirinya merasakan sakit, Beowulf sampai pada titik di mana dia sangat dekat dengan lawan untuk membuat serangan yang tak mungkin dihindari dan ditangkis.

Memang tidak fair dimana dia mengalahkan lawan menggunakan senjata sedangkan lawannya hanya bertarung dengan tangan kosong. Tapi ini perang, perang untuk seluruh rasnya dimana kemenangan individu mutlak harus dicapai walau dengan cara apapun.

Namun... Apakah benar Beowulf telah menang?

"Niyat ingsun amatek ajiku aji pancasona, ana wiyat jroning bumi, surya murub ing bantala, bumi sap pitu, anelahi sabuwana, rahina tan kena wengi, urip tan kenaning pati, ingsung pangawak jagad, mati ora mati, tlinceng geni, mustika lananging jaya, hem, aku si pancasona, ratune nyawa sakaler."

Sayup-sayup terdengar suara orang merapal mantra. Begitu selesai mantra terucap, sebuah tawa menggantikannya.

"Ufufufuuu, Bwahahahaaaaaaa!"

Beowulf sangat terkejut mendengar suara tawa yang sangat keras barusan. Ia tidak tuli dan jelas tahu dari mulut siapa suara tawa itu keluar.

Bagian bawah tubuh Djiwo yang tergeletak di tanah bergerak sendirinya menuju bagian tubuh atas. Lalu tersambung dengan posisi yang sangat pas dan bersatu kembali. Seolah itu adalah dua buah batang magnet yang berbeda kutub.

Beowulf menganga, melihat lawannya telah berdiri lagi seolah tak terjadi apa-apa.

Djiwo menepuk-nepuk pantat dan bagian badan yang lain untuk membersihkan debu yang menempel dipakaiannya.

"Kenapa kau eh?" tanya Djiwo remeh.

"Apa maksudnya ini? Tidak mungkin!"

"Ahahaaaa, ini hanya salah satu Aji Kesaktian yang kukuasai. Namanya Aji Pancasona. Dengan ajian ini, aku tidak bisa mati dibunuh. Setiap tubuhku terluka karena diserang sampai nafasku terhenti bahkan jika tubuhku dimutilasi pun, aku akan bangkit dan hidup lagi setelah jasadku menyentuh tanah. Kalau versi aliran hitamnya, persis seperti Ilmu Rawarontek."

Beowulf kesal-kesalnya. Susah payah dia menahan sakit bahkan mengorbankan tangan kanan, tapi itu tak berarti apa-apa.

Untuk kali ini, ia akan serius bertarung. Beowulf mengambil sebuah botol kecil, diminum isinya. Seketika luka ditubuh Beowulf lenyep. Pasti itu Air Mata Phoenix.

"Persetan dengan itu!"

"Hoooii, kau yang setan. Setan sama dengan iblis, dan kau nyata-nyata seekor iblis."

"Tch!"

"Nah, agar adil bagaimana jika aku memakai ini." Djiwo mencabut sebilah senjata dari sarungnya, yang ia selipkan dipinggang.

Sebilah keris.

"Senjata apa itu? Bentuknya seperti ular."

"Hei, jangan sembarang bicara!" sahut Djiwo tak terima. "Senjata ini adalah Sacred Gear Keris Nogososro yang di dalamnya bersemayam roh seekor Ular Naga sakti bernama sama. Ular Naga yang jika dia mengamuk maka sanggup meluluhlantakkan Negeri Kahyangan. Keris ini dibuat dari lidahnya."

Cukup terkenal cerita tersebut di kalangan masyarakat Jawa.

Alkisah pada jaman dahulu kala, ada seorang sakti mandraguna bernama Manggir yang datang dari negeri antah berantah. Ia sampai di Pulau Jawa dimana terdapat banyak sekali gunung api aktif. Kedatangan Manggir di pulau Jawa bersamaan dengan turunnya patung Al-Atha dari India. Dan bersamaan pula dengan itu, terjadi peristiwa alam yaitu gerhana matahari total.

Lama hidup di pulau Jawa, akhirnya Manggir menikah dengan seorang wanita cantik jelita bernama Ratu Perangin Angin. Kehidupannya tak begitu tenang, Manggir dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa di tempat yang baru ini terdapat banyak sekali gunung berapi, yang kapan saja bisa meletus dan membinasakan penduduknya. Karena itulah Manggir bermaksud untuk melakukan Tapa Brata, de ngan tujuan mendinginkan gunung berapi yang ada di pulau ini.

Setelah meminta ijin istrinya, ia bertapa disalah satu gunung api tersebut. Tapi tidak diketahui gunung api yang mana sebab ada banyak gunung api yang meletus silih berganti di Pulau Jawa.

Selama masa pertapaan, sesekali Roh Manggir keluar dari jasadnya, pulang untuk menggauli sang istri. Hingga suatu ketika Ratu Perangin-angin mengandung. Anak itu kemudian lahir, akan tetapi tidak dengan fisik sebagaimana bayi manusia umumnya. Wujud bayi itu berbentuk seekor Ular Naga. Tak hanya itu, perkembangan tubuh si anak juga begitu cepat, sehingga dalam waktu yang relatif singkat telah menjelma menjadi seekor naga raksasa yang besar dan sangat ganas.

Se suai dengan keadaannya, si anak diberi nama Nogososro.

Sampailah pada suatu hari Nogososro bertanya kepada ibunya, "Wahai lbundaku, tunjukkan di mana gerangan ayahku berada? Mengapa aku tidak seperti manusia biasa, sehingga tak seorangpun makhluk yang mau bergaul denganku? Aku akan mencari ayah dan meminta padanya agar tubuhku dirubah seperti manusia biasa."

Ratu Perangin Angin tak dapat menjawab, karena dia sendiri merasa bahwa hal itu di luar kehendak dirinya. Dia sendiri tak dapat menjelaskan di mana keberadaan ayah dari anaknya, sebab dia tak tahu di gunung mana suaminya bertapa.

Akhirnya No gososro dengan membawa perasaan yang sangat pilu, pergi sendirian mencari sang ayah. Setelah sekian lama mencari, akhirnya dia menemukan ayah yang dicarinya di sebuah gu nung berapi di tepi pantai.

Melihat sosok yang mengaku anaknya, Manggir terkejut bukan kepalang. Namun bersamaan de ngan itu, tiba-tiba terbuka pikirannya tentang siapa Ratu Perangin-angin sebenarnya.

Wanita berparas jelita itu ternyata jelmaan dari Patung Al-Atha. Manggir baru menyadari bahwa telah mengambil langkah keliru, mencampurkan yang gaib dan yang kasar, yang putih dengan yang hitam.

Dan yang ada kini adalah suatu ancaman baru bagi seluruh penduduk pulau Jawa di masa mendatang. Ya, Nogososro adalah sumber dari ancaman itu.

Karena merasa sangat malu, Manggir enggan mengakui Nogososro sebagai anaknya. Namun dia tidak secara terang-terangan menyatakan hal itu, melainkan dengan sebuah taktik. Disuruhnya Nogo sosro melilitkan tubuhnya ke sekeliling gu nung tempatnya bertapa. Dengan pesan, apabila ekornya bisa menyentuh kepalanya, maka dia akan diakui sebagai anak.

Kenyataannya, kepala dan ekor Nogo sosro tidak bisa saling menyentuh, meskipun sebahagian tubuhnya telah masuk ke dalam gunung karena kuatnya dia melilit. Sambil menitikkan air mata, Nogosoro lalu menjulurkan lidahnya agar dapat mencapai ekor. Usahanya ini berhasil. Tetapi Manggir tidak bisa menerima kenyataan itu. Dia menganggap bahwa Nogososro te lah berbuat curang. Manggir mencabut kerisnya, kemudian membabat lidah Nogososro.

Apa yang terjadi?

Sungguh luar biasa! Lidah Nogososro yang terputus mengeluarkan api seperti petir yang sangat dahsyat. Seketika Pulau Ja wa bergoncang dengan hebatnya. Akibatnya, bagian timur pulau Jawa terputus-putus menjadi pulau-pulau kecil diantaranya Pulau Madura dan Bali. Dan pulau Ja wa yang tadinya berbentuk mirip seekor ular naga, kini berubah menjadi seperti harimau.

Seiring dengan itu, Nogososro yang sa ngat terkejut dengan tindakan ayahnya yang telah memutuskan lidahnya, serta merta mencengkeram lereng gunung sekuat-kuatnya sambil menahan amarah dan rasa sakit. Akibatnya, gunung tempat Manggir melakukan Tapa Brata meletus de ngan teramat dahsyat.

Begitu dahsyatnya letusan tersebut se hingga seluruh puncak gunung serta dasarnya terlempar ke Laut Selatan, dan lubang bekasnya kemudian terisi air laut, membentuk sebuah teluk dengan kedalaman lebih dari 5 km. Teluk itu yang kemudian dikenal dengan nama Teluk Pelabuhan Ratu.

Sementara itu Manggir dan Nogososro, keduanya sempat terpental ke angkasa. Na mun karena tingginya kesaktian mereka, tak ada yang mengalami cidera walaupun sedikit. Namun raga mereka lebur bersama lahar dan batu, sehingga tubuh ayah dan anak itu berubah wujud secara total.

Manggir menjel ma menjadi patung batu, yang terkadang berpindah tempat dari satu gunung ke gunung yang lain. Sedangkan Nogososro yang tubuh nya sangat besar dan panjang, menjadi deretan pegunung yang terbentang memanjang di pulau Jawa.

Dengan adanya perubahan wujud terse but, bahaya dari Nogososro memang telah berlalu. Tetapi bahaya dari li dahnya yang terputus, masih mempengaruhi manusia sampai saat ini. Konon, lidah yang putus tersebut turun bersama petir Liwe Muser, tempat pertemuan lima buah sungai. Aki batnya di tempat itu menjelma jadi lubuk yang dalamnya mencapai lima batang bambu le bih. Sementara tanah disekitar sungai rekah-rekah, membentuk lima buah goa.

Di tempat itulah lidah Nogososro yang terjatuh ber ubah menjadi sebilah keris berbentuk lidah naga, terbuat dari logam yang tidak dikenal oleh siapapun.

Cerita Manggir dan anaknya Nogososro pun berakhir sampai di sana. Tetapi The God of Bible menyadari kalau lidah Nogososro masih bisa membawa kekacauan bagi umat manusia di Pulau Jawa. Sehingga dia menyegel roh sang Ular Naga ke dalam kerisnya sendiri lalu dibentuk menjadi sebuah Sacred Gear. Harapannya, dimasa depan akan ada manusia yang sanggup menanggung kutukan kehancuran Sang Ular Naga sebagai pemilik Sacred Gear Nogososro.

Kemudian pada generasi ini, Raden Mas Bagus Sudjiwodhiningrat lah manusia yang terpilih itu.

"Tampaknya pertarungan kita berdua masih lama selesainya." ungkap Beowulf.

"Mungkin, kalau kau bisa menahan kesaktian dari keris ini."

Cukup sampai di situ dulu.

Masih ada titik-titik lain lagi di arena perang yang harus diceritakan.

Seekor harimau putih raksasa jelmaan Raden Mas Radjasawardhana yang merupakan keturunan Mahapatih Batik Madrim telah menyelesaikan pertarunganya. Illuyankas, Naga hijau raksasa berkepala banyak yang merupakan naga terakhir dari mitologi Persia yang masih hidup, kini telah tergeletak tak berdaya di tanah, meskipun mendapat banyak luka tapi tampaknya dia masih hidup.

Mungkin, Radjasawardhana masih berbaik hati pada naga itu. Sang naga tidak punya kepentingan apapun dalam perang ini, dia hanya dikendalikan oleh Surga.

Tapi sebenarnya, Radjasawardhana dalam wujud harimau putih ini pun tidak dalam kondisi baik. Ada beberapa luka cakaran di kaki depan dan disekitar mata, luka gigitan di punggung serta bulu-bulu di beberapa bagiannya telah terbakar hangus. Rupa-rupanya, pertempuran antara kedua monster itu berlangsung sengit dan brutal.

Dan sekarang, kondisi Radjasawardhana makin memburuk lagi.

"Kuharap ada yang datang membantuku." ucapnya setelah menyadari bagaimana situasi sekelilingnya.

Bukannya dia takut, ini resiko perang. Hanya saja dia juga berpikir akan mustahil baginya untuk hidup ketika situasi sudah begini. Situasi saat dia sedang dikepung oleh monster-monster yang tak terhitung jumlahnya. Ada bermacam-macam pula jenisnya.

Memang, arena pertarungan titik E di kawasan rawa ini adalah ajang pertarungan antar monster.

Lima belas ekor Winter Wyvern atau naga es terbang berputar-putar di langit. Lalu ada ratusan monster dari jenis Earthshaker yakni para werebeast dengan tubuh seperti manusia dewasa yang berotot tebal namun berkepala singa. Ada pula pasukan Slardar, iblis laut dengan kepala mirip ikan Anglerfish atau ikan bergigi tajam yang hidup di kedalaman samudra. Hampir persis sama karena kepala mereka juga dilengkapi lampu yang menggantung seperti pada ikan itu. Mereka bersenjatakan tombak trisula. Lalu ada juga lima puluh Barathum, monster tikus tanah yang berjalan dengan dua kaki dan berbadan kekar. Tiga jenis makhluk ini memang asli makhluk Underworld. Artinya mereka juga bagian dari ras iblis.

Itu belum ditambah dengan sekumpulan pasukan yang bergerak dari selatan ke arah Radjasawardhana. Ratusan Stone Giant, raksasa golem batu yang mirip dengan Gogmagog dari Tim Vali. Pasukan Stone Giant tersebut dipimpin oleh monster bernama Vrogros, dia lah raksasa batu yang paling besar serta memakai baju perang yang terbuat dari besi. Ia pun menggunakan kapak besar sebagai senjatanya. Nampaknya pasukan tersebut telah berhasil melenyapkan pasukan Buto Ijo dan monster-monster kecil ciptaan Leonardo menggunakan kekuatan Sacred Gear Annihilation Maker.

Sedangkan dari arah barat, terlihat sekumpulan tentara Aliansi yang terdiri dari para iblis, malaikat dan malaikat jatuh. Jumlahnya pun tidak bisa dikatakan sedikit. Sama seperti di titik lainnya, tidak kurang dari angka 30 ribu.

Dalam situasi ini, apa yang bisa dilakukan Radjasawarnadhana sendirian?

Dan syukur seperti yang diharapkan oleh Radjasawardhana, ada bantuan yang datang.

"GRROOOOOOAAAAAARRRRRRRRR...!"

Auman menggema nyaring menggelegar, tanah rawa bergetar hebat. Dari arah belakang, berlari seekor monster setinggi 80 meter. Badannya kekar dan bersisik kehijauan. Dikepalanya ada sepasang tanduk yang sangat mirip dengan kepala hiu martil, dagunya memiliki tentakel seperti gurita dengan barisan gigi tajam menghiasi mulutnya. Di punggung dan tangannya terdapat sirip serta wajahnya tanpa hidung namun digantikan barisan lubang insang di pipi. Tanda-tanda itu jelas menunjukkan kalau dia adalah makhluk laut.

Ah tidak, dia tidak berlari karena bagian bawah tubuhnya adalah ikan. Namun dia mampu bergerak lincah dan cepat di daratan.

Sunggung monster mengerikan.

Cresht The Mermidon, itulah nama yang dikenal oleh orang barat untuk makhluk penjaga kastil bawah laut milik Ratu Penguasa Laut Selatan.

Di belakang makhluk itu, menyusul para Gondorowo, Kabasaran, dan Tuyul dalam jumlah lebih dari 6 ribu. Mereka berasal dari tempat mitologis yang sama yakni Tanah Jawa. Sebenarnya Kabasaran berasal dari daerah Minahasa, tapi mereka punya hubungan dekat dengan makhluk-makhluk supranarutal di Jawa sehingga bisa ikut dalam perang ini. Tiga jenis makhluk ini bukan raksasa, tubuhnya seukuran manusia biasa saja tapi kemampuan mereka sebagai support maupun pengganggu mampu memberi kesulitan hebat bagi pasukan lawan. Ditunjang oleh jumlah yang sangat banyak, tentu sangat menguntungkan pasukan Koalisi Konoha.

Tuyul misalnya, punya kemampuan invisible mode sehingga tak bisa dilihat serta punya kemampuan mencuri energi lawannya. Tentu tidak mudah menghadapi pasukan ini bukan?

Dan ada tambahan pasukan lagi, yakni para Treant Protector. Mereka adalah makluk supranatural yang tercipta dari tumbuhan. Singkatnya mereka adalah raksasa pohon hidup. Berasal dari berbagai tempat mitologis seluruh dunia, mereka angkat senjata dan bersekutu dengan Konoha untuk melawan Aliansi Tiga Fraksi sebagai kaum supranatural yang paling banyak merusak alam.

Oh, belum. Masih ada lagi.

Dari arah langit, terjun bebas lima ekor makhluk raksasa berbentuk humanoid yang dikelilingi aura pekat berwarna hitam legam. Mendarat tidak jauh dari Radjasawardhana hingga tanah berguncang akibat saking beratnya mereka. Tinggi mereka saja sampai 100 meter. Begitu mendarat, setiap monster mencabik dagingnya sendiri. Luka mereka seketika tertutup kembali namun daging-daging yang tercabik berubah menjadi makhluk sama dengan ukuran manusia normal namun jumlahnya sangat banyak.

Mereka adalah produk yang diciptakan dengan kekuatan Sacred Gear Longinus peringkat atas Annihilation Maker. Produk ini khusus diciptakan sebagai hewan anti-monster untuk memenangkan perang di area ini. Meski masih anak-anak, tapi Leonardo sudah menguasai sacred gearnya ini dengan cukup baik. Makhluk-makhluk itu disebut dengan nama Bandersnatch.

Dan ini yang terakhir.

Uchiha Sasuke muncul di atas tanah tanpa dirasa kedatangannya, datang ke sini dengan melewati portal dimensi menggunakan doujutsu Rinne-sharingan.

"Aku kesini untuk memastikan bawah peperangan di titik ini akan seimbang."

Kuchiyose no Jutsu

BoooffttBoooffttBoooffttBooofftt

Tujuh ekor monster kolosal berbeda jenis telah dipanggil. Lalu seekor lagi datang bergabung, dia tadi bersembunyi karena tidak sesuai jika harus bertarung hand to hand melawan Raja Naga Tannin.

Sekarang sudah terkumpul, delapan Youkai terkuat dari Negeri Matahari Terbit.

Shukaku, Nekomata, Isonade, Sokou, Hokou, Raijuu, Kaku, dan Yamata no Orochi.

Sasuke bergumam sendiri, "Andai saja Yasaka-himesama berada disini, maka lengkaplah mereka semua. Aku ingin membantu tapi pusat komando menyuruhku harus kembali ke markas."

Uchiha Sasuke pun melenggang pergi setelah muncul hanya untuk mendatangkan bantuan-bantuan tadi. Dirinya masih belum boleh terjun ke pertempuran.

Lalu, seketika tanah berguncang hebat bak gempa besar melanda, tanda bahwa perang habis-habisan antar ribuan monster di arena perang ini telah dimulai.

.

.

.

-Mt. Olympus-

Sebuah gunung yang tinggi menjulang dengan puncaknya yang menembus awan, di bawah gelapnya langit senja. Kegelapan yang nyata bukan karena tenggelamnya matahari, tetapi akibat ditutupi gumpalan asap hitam dari api yang membakar kota di puncak gunung tersebut.

Tidak ada lagi pemandangan yang mulanya indah, yang ada hanyalah pemandangan yang amat sangat mengerikan. Tidak ada lagi kedamaian di hati setiap penduduknya, yang ada hanyalah ketakutan akan kematian.

Di tengah kota itu, bangunan istana dimana singasana dewa utama berada telah tenggelam di dalam air laut.

Puncak gunung bisa tenggelam dalam air laut?

Jangan heran, sebab itu mudah bagi dua dewa penguasa lautan yang sedang bertarung di sana, yaitu Odin dan Poseidon.

Pertarungan mereka sangat sengit, tapi tampaknya Poseidon unggul dalam hal kekuatan. Jelas saja, Poseidon yang termasuk ke dalam Top 10 Strongest Being in The World peringkatnya lebih tinggi daripada Odin. Meski kewalahan, tapi Odin masih sanggup bertahan sampai detik ini karena dia memiliki pengetahuan dan teknik yang jauh lebih luas dibanding Poseidon

Ini adalah perang...,

antara Norse dan Olympus.

Ke sudut-sudut pertempuran yang lainnya, tempat pertarungan berbagai monster bahkan para dewa. Banyak yang sudah mati. Sisa sedikit yang masih bertahan tidak tahu akan bertempur sampai kapan. Yang pasti, perang antara dua mitologi ini hanya akan selesai jika salah satu kubu benar-benar tamat tanpa menyisakan satupun yang hidup.

Ada dewa perang Norse, Thyr yang terluka parah namun tetap memaksakan diri untuk bertempur. Sedangkan Heimdall tampak lebih baik dari Thyr akan tetapi ia tidak mampu berbuat banyak karena disudutkan oleh Hermes dan Apollo. Di sudut lainnya, Artemis dan Hestia bersama pasukannya sudah kelelahan dan kehilangan banyak stamina untuk menghadang gempuran para Frost Giant dan Surt, raksasa es dari Nilfheim dan raksasa lava dari Muspellheim.

Beberapa titik lainnya juga tak kalah mengerikan akibat pertarungan antar monster. Jormundgan, Midgardsormr, dan Kraken, masing-masing tengah beradu kebrutalan dan keganasan melawan Basilisk, Hydra, dan Scylla. Sedangkan sekumpulan pasukan Troll, Jotun, dan Ogre tak henti-hentinya bertempur dengan pasukan Cyclops, Minotaur, dan Centaur.

Selain mereka, masih ada ratusan ribu lagi pasukan yang bertempur tanpa istirahat. Pasukan Valkirie, peri putih, peri hitam, dan pasukan-pasukan lainnya.

Tidak ada pengaturan strategi secara khusus. Masing-masing dari mereka semua, hanya memikirkan tentang bertarung melawan siapapun yang ada di depan mata.

Hadapi!

Tebas!

Bunuh!

Menang.

Begitulah perang antara Norse dan Olympus.

Beri sedikit perhatian berlebih pada bagian ini.

Ada sedikit keanehan, khususnya bagi kalangan penghuni puncak gunung Olympus.

Ares dan Athena.

Dua dewa perang Olympus ini sekarang berdiri berdampingan, meski pakaian perang khas ala dewa Olympian yang mereka kenakan sudah tak karuan rupa akibat bertempur. Tidak peduli itu sebab sekarang sedang berperang.

Kenapa aneh, sebab meski keduanya disebut sebagai dewa perang Olympus tapi mereka sangat berbeda sehingga hampir tidak pernah akur. Ares adalah dewa perang brutal dan keji yang suka membantai musuh-musuhnya sedangkan Athena adalah dewi perang ahli strategi dan bijaksana yang pengampun.

Lalu apa yang menyebabkan mereka bisa bersatu seperti ini?

Tidak lain tidak bukan ialah sosok laki-laki gagah yang berjalan menyamping di depan mereka sambil memutar-mutar martil di tangan kanannya.

Dewa Petir Thor, Putra Odin sang dewa perang Norse.

Kalau tidak bekerja sama, tidak akan ada dewa Olympian yang sanggup melawan Thor yang termasuk ke dalam Top 10 Strongest Being in The World. Bahkan meski bekerjasama pun, tampaknya Ares dan Athena masih belum sanggup mengimbangi Thor.

Thor menatap remeh pada kedua lawannya, "Pastinya akan lebih bijak kalau kalian menyerah saja."

Dugg!

Suara logam menghantam tanah cukup keras.

"Kheh! Menyerah katamu? Tidak ada kata menyerah dalam kamusku tahu!" sahut Ares arogan. Dia menumpukan pangkal tombaknya di tanah sembari mengeratkan pegangan tangan kirinya pada perisai. Dia selalu siaga tempur.

Ah, lupakah Ares akan kejadian tempo hari? Dimana dia dipaksa menyerah dan pulang oleh seorang manusia serba hijau yang bodoh dan nyentrik, Maito Gai.

Tapi Ares menyangkal kejadian tersebut dalam insiden penyerahan diri.

Yang jelas, Ares sedang senang sekarang. Ternyata tanpa perlu dia susah payah, dunia penuh peperangan yang dia inginkan datang sendiri padanya hari ini. Sungguh, kebosanannya selama ribuan tahun sirna sekejap oleh perang yang sangat ramai dan penuh ketegangan. Ia juga mendengar khabar dari teman sepermainannya, Si Gundul Sakra yang juga sedang berperang di wilayahnya sendiri. Sebagai sesama dewa perang, mereka sedang diliputi kegembiraan karena tidak lagi berkutat dengan hal-hal membosankan. Kalau tentang Hades? Entah, Ares tidak terlalu tahu pasti dengan rekannya yang satu itu.

Wshuwshuwhsuuu!

Athena memainkan pedang di tangannya, ia juga memakai perisai yang mirip dengan yang digunakan oleh Ares.

"Aku akan mempertahankan tanah kelahiranku, meski nyawaku bayarannya."

Athena memang dewi yang loyal dan berintegritas tinggi pada tanah airnya sendiri. Jangan heran kalau dia terlihat sungguh-sungguh dalam pertarungan ini.

"Pertahankanlah selagi kau masih bernafas, Nona. Hahahahaaaa." Thor tertawa senang, sampai akhirnya dia berhenti sendiri karena tawanya tidak ditanggapi. "Hei hei heiii, apa kalian tidak terketuk untuk bertanya padaku tentang apa tujuan dari perang ini? Seperti yang biasa terjadi pada cerita-cerita pertarungan antara orang jahat dan orang baik."

"Tidak perlu!" sanggah Ares. Dia yang penting senang.

"Aku juga." sambung Athena. "Apapun itu, niat mitologi kalian pasti buruk. Jadi bagaimanapun, harus dihentikan."

"Oke, kalau begitu rasakan iniiiiiii!"

Thor melempar martilnya.

Martil Mjölnir terbang lurus sangat cepat menuju Ares.

Bangg!

Ares bertahan dengan perisainya, namun tubuhnya terdorong kuat kebelakang hingga menghantam tembok bangunan.

Dhuuaarr!

Dhuuaarr! Dhuuaarr! Dhuuaarr!

Berlapis-lapis tembok bangunan hancur di tabrak punggung Ares. Hingga setelah empat kali, barulah terhenti.

Saat Ares membuka mata lebar-lebar, ternyata Thor sudah ada didepannya dengan Mjölnir terangkat ke atas dan disertai kilatan petir. Jika sampai Ares terkena hantaman langsung, ia bisa luka parah.

Zzssshhhtt

Slice!

Tebasan pedang secara horisontal dari belakang leher Thor hanya menyayat angin. Dewa Petir bergerak secepat kilat dan terbang ke udara. Athena gagal melukai lawannya.

Ares terkekeh, "Aku tidak akan berterima kasih padamu, cantik."

"Siapa juga yang butuh terima kasihmu, dewa bejat."

Oh, ternyata meski tubuh, pikiran, dan hati bekerja sama tapi mulut dua dewa perang Olympian ini sama sekali tidak bisa kompromi.

Athena mencari-cari lawannya ke langit.

"Hiaaaaaaaaa!"

Sekejap mata berkedip, Athena berhasil menyusul Thor.

Traaankkk!

Jduuuaaarrrrrrr!

Thor menahan serangan Athena dengan martilnya.

Beradunya dua senjata dewa tersebut, mampu menciptakan kilatan cahaya menyilaukan dan suara menggelegar.

Ares tak tinggal diam. Dia menyusul ke udara.

Sampai detik ini, masih belum diketahui akan seperti apa akhir dari perseteruan antar dewa-dewa Norse dan Olympus.

.

.

.

-Svargaloka-

Svargaloka seharusnya adalah tempat yang sangat indah. Tempat mitoligis kediaman para dewa-dewi Hindu-Buddha yang terdiri dari banyak pulau melayang di atas awan, yang hampir setiap pulaunya mempunyai istana yang indah dan artistik dengan gaya khas arsitektur China kuno Era Dinasti Tang. Atap-atap bangunannya berwarna emas yang tersusun bertingkat-tingkat seperti Pagoda.

Namun apa yang terjadi sekarang?

Yang ada hanyalah sisa puing-puing bangunan beserta bongkahan-bongkahan batu dari pulau-pulau yang telah hancur.

Ajaibnya, semua sisa reruntuhan itu terbang melayang diatas awan seolah gravitasi tak berlaku. Yaaa inilah namanya tempat mitologis, dimana hukum fisika dunia manusia tak bisa diterapkan.

Apa penyebab semua kehancuran tersebut?

Perang.

Civil War atau perang saudara dikalangan dewa-dewi Reliji Hindu-Buddha. Terjadi antara dua golongan, yakni dewa asli penghuni kayangan para Adetya yang wujudnya indah dan lebih mirip manusia, melawan para dewa berwujud sangar bertubuh raksasa mantan para Detya.

Peperangan ini hanya mengulang sejarah yang terjadi dimasa lampau, sebagaimana telah disebutkan dalam Kitab Mahabrata bagian pertama.

Dahulu peperangan berlangsung sengit, karena kedua kubu dipimpin oleh sosok yang sama-sama kuat. Kubu Adetya dipimpin oleh Dewa Indra atau yang juga dikenal dengan nama Sakra, sedangkan kubu Detya dipimpin oleh Ashura.

Akan tetapi sekarang berbeda. Dahulu Ashura berhasil dikalahkan dan dibunuh oleh Indra, akibatnya saat ini tidak ada pemimpin yang superior dikalangan kubu Detya. Hasilnya, sudah bisa dilihat lebih unggul kubu mana. Kekuatan kedua kubu timpang sejak awal.

Saat ini, kubu Detya sudah terdesak hingga tersisa kurang dari setengah pasukan, berikut juga dengan monster-monster yang mereka bawa. Akan tetapi, meski kubu Adetya sedang di atas angin tapi mereka tidak bisa tenang. Sebagai pengikut yang loyal kepada sang penguasa Svargaloka, Sang Svargapati Sri Maharaja Dewa Indra, mereka juga harus berhadapan dengan salah satu dari tiga dewa Trimurti, The God of Destruction Sang Hyang Batara Guru Sri Mahadewa Jagatpati Prameswara atau yang lebih sering dikenal dengan nama Shiva

Dan inilah yang membuat kehancuran Svargaloka benar-benar tak terkira oleh akal sehat. Pertarungan luar tak ternalar akal antara Shiva dan Sakra.

Sakra merupakan seorang dewa yang termasuk kedalam Top 10 Being Strongest in The World. Meski begitu, tidak membuat dia bisa dengan mudah bertarung melawan Shiva. Jelas karena sejak awal peringkat mereka berbeda meski sama-sama termasuk dalam Top 10.

Beberapa dewa Svargaloka telah coba membantu, namun sekarang mereka hanya tinggal seonggok tubuh tak bernyawa. Tak ada apa-apanya, bahkan seujung kuku Shiva pun tak sebanding. Mereka adalah para Wasu penguasa delapan aspek alam semesta yang paling taat pada Sakra. Dewa Agni, Bayu, dan Dhruwa telah tiada, sementara lainnya masih sibuk dengan pertempuran melawan sisa-sisa kubu Detya dipimpin oleh Sun Wukong, pelayan terdekat Sakra.

Terbang lebih rendah sesosok makhluk berwajah garang dengan kulit berwarna merah dan memiliki empat lengan, adalah Sakra berpakaian compang-camping, tubuh luka-luka, dan nafas tersengal karena kelelahan. Meski begitu, tampaknya dia masih menyimpan banyak kekuatan untuk bertarung. Senjata palu gada masih tergennggam erat di salah satu tangannya.

Sementara pada posisi yang lebih tinggi, Shiva menatap remeh lawannya. Meski sebagian pakaiannya telah rusak, namun tidak ada luka yang fatal bahkan goresan dikulit pun belum berdarah. Tubuhnya yang kekar dan gagah dengan kulit berwarna biru terang memberi kesan mengerikan pada siapapun yang melihatnya, apalagi saat merasakan aura kekuatan gila-gilaan yang terpancar dari tubuh itu. Ia mengayunkan senjata Trishula sakti miliknya lalu bicara,

"Masih mau melawanku eh?"

"Jawabanku sudah kau ketahui pasti bukan?" Sakra menjawab dengan balas bertanya. Pertanyaan yang sudah diketahui dengan jelas apa jawabannya.

"Aku ingin singkat saja sebelum kuakhiri ini dengan membunuhmu, Sakra. Sebenarnya apa tujuan dari semua ini?"

"Hm?"

"Aku tidak bodoh, dan bukan tidak tahu apa-apa. Ada sebuah tujuan besar yang ingin kau capai bukan?"

"Memang benar."

"Katakan!"

"Apakah harus?"

"Aku anggap itu sebagai penolakan darimu."

Shiva sudah menghunuskan tombak Trishula, hendak menyerang namun urung dilakukan karena Sakra membuat aba-aba stop seperti yang biasa dilakukan polisi lalu lintas.

"Apa hah?" Shiva nampak sudah tak sabar lagi. Rupanya dia sungguh ingin cepat-cepat menghabisi Sakra.

"Aku tidak berkata kalau aku menolak untuk menjawab."

"Kalau begitu ayo katakan!"

Sakra mengayunkan palu gada lalu dia sanggakan di bahu kanan. Dia menghela nafas sekali sebelum akhirnya bicara.

"Aku mendapatkan sebuah firasat."

"Langsung saja! Aku tak suka basa-basi."

"Begini saja, bukannya kau memiliki kemampuan untuk membaca pikiran orang lain?"

"..."

Shiva terdiam. Dia adalah satu dari sedikit eksistensi langka yang memiliki pengusaan akan teknik itu. Dia mampu membaca apa isi pikiran orang lain, tak peduli siapapun itu. Hanya saja ketika itu dia terapkan pada Sakra yang sekarang untuk mencari jawaban jelas atas semua ini, dia sama sekali tak menemukannya.

Seperti apa yang disebutkan oleh Sakra, ini hanya berdasar pada sebuah firasat. Firasat hanyalah hal abstrak bahkan dalam alam pikiran sekalipun, tak terdefinisi namun bisa dirasakan oleh hati. Oleh sebab itulah, Shiva tidak bisa membacanya. Meski Shiva tahu tentang firasat yang dirasakan Sakra, tapi ia sama sekali tidak bisa mengartikannya. Lagipula, hatinya berbeda dengan hati Sakra dalam merasakan dan mengartikan sebuah firasat. Boleh jadi firasat buruk yang dirasakan Sakra adalah firasat baik bagi Shiva, atau bisa sebaliknya.

Maka dari itu, Shiva menuntut sebuah kejelasan.

Tak ada suara yang keluar dari mulut Shiva, menunjukkan bahwa dewa penghancur ini belum bisa mengerti apa yang direncanakan Sakra.

Sakra bicara lagi, ia menunjuk dahi Shiva. "Mata ketigamu itu, mata yang bisa melihat masa depan bukan? Coba gunakan itu, maka kau pasti akan menemukan jawabannya."

"..."

Mampu memprediksikan kejadian masa depan dengan tingkat akurasi 99% adalah kemampuan khusus yang hanya dimiliki oleh Shiva berkat mata ketiga miliknya ini.

Tapi...

"Mata itu tidak bisa digunakan ya, Shiva?"

Pernyataan Sakra tidak sepenuhnya benar. Shiva bukan tidak bisa menggunakan matanya, akan tetapi masa depan yang ia lihat kali ini tidak seperti yang sudah-sudah. Ia melihat ada banyak sekali bayangan abstrak tak terdefinisi yang ia sendiri hanya sanggup mengartikan sejauh bahwa masa depan dari waktu ini tidak diketahui secara pasti sebab kemungkinan takdir masa depan yang ia lihat ada banyak dan itupun tidak terlihat jelas.

Mungkin saja ini adalah 1% ketidak-akurasian prediksi masa depan dari mata ketiga Shiva.

"Cukup dengan omong kosongmu, Sakra!"

"Okee, santai dulu. Jangan cepat naik darah." sahut Sakra enteng. "Seperti yang tadi kukatakan, perbuatanku yang menimbulkan kekacauan di Svargaloka dan seluruh dewa-dewi Hindu-Buddha didasari oleh sebuah firasat, yang mana firasatku selalu berujung pada kebenaran. Tapi akupun tidak bisa mendeskripsikan bagaimana firasat yang kudapat itu."

"Sudah! Terlalu lama bicara denganmu membuatku muak. Membunuhmu dengan segera tampaknya adalah keputusan terbaik.!"

Shiva sudah hendak menyerang Sakra lagi, namun kali ini dia lagi-lagi terpaksa berhenti. Kalau bukan karena sososk yang baru ia rasakan keberadaannya ini, pasti Sakra sudah mati.

"Aku yakin, kita masih bisa membicarakan hal ini sampai semuanya menjadi jelas."

Itu adalah suara orang lain, orang ketiga yang baru saja datang. Sosok laki-laki berkulit kebiruan dan berlengan empat yang masing-masing memegang benda pusaka yaitu Gada, Teratai, Sangkala, dan Chakra. Dialah sosok yang digambarkan dalam Kitab-Kitab Purana oleh para penganut Hindu sebagai Sang Hyang Batara Narayana Sri Mahadewa Vhisnu. Ekspresi wajahnya yang tenang dan lembut sedikitnya mampu mencairkan suasana antara Shiva dan Indra.

"Kakanda Sri Mahadewa Vhisnu, lama tak jumpa."

Sakra menyapa duluan, layaknya seorang saudara yang sangat dekat. Memang dari dahulu, Vhisnu telah mengangkat Sakra sebagai saudara angkatnya.

"Aku ingin berbicara tegas padamu nanti, Adinda Sri Maharaja Indra. Kau yang memerintahkan Sun Wukong untuk membunuh Avataraku Sri Kresna kan?"

"Ah iya sih. Itu benar."

Akan ada urusan panjang antara Sakra dengan Vhisnu setelah urusan disini selesai. Tapi sepertinya Sakra sama sekali tidak takut.

Vhisnu menoleh ke arah orang yang satunya, "Ananda Sri Mahadewa Shiva, kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya. Tentang mangkatnya Ayahanda Sang Hyang Batara Vishvakarma Sri Mahadewa Brahma, juga tentang langkah kita selanjutnya sebagai dua Dewa Trimurti yang tersisa."

Ketiadaan Dewa Brahma membawa akibat yang sangat buruk bagi eksistensi Reliji Hindu-Buddha. Salah satunya adalah berhentinya siklus reinkarnasi manusia penganut ajaran Hindu, yang pada akhirnya akan membawa kebinasaan pada reliji itu sendiri.

Melihat wajah Sakra, dia sedikit menarik ujung bibirnya. Dia jelas tahu bagaimana nasib Mahadewa Brahma yang terakhir kali bersamanya pada pesta pembukaan Turnamen Rating Game di Underworld.

Sebenarnya Sakra terkejut, tapi apa mau dikata? Masih adanya manusia bernama Uzumaki Naruto yang hidup dan berkeliaran bebas bersama Rizevim menjadikan dirinya mampu menarik kesimpulan pasti bahwa Brahma telah dikalahkan oleh manusia pirang itu, begitupula dengan Zeus.

Akan tetapi, tampaknya Sakra tidak berniat untuk memberitahu.

"Maaf kalau aku berubah pikiran, Kanda Sri Mahadewa Vhisnu. Aku tidak bisa diam saja menunggu dan bertapa di puncak Gunung Kailash tanpa melakukan apa-apa disaat dunia sedang kacau-kacaunya. Setidaknya, aku harus melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai The God of Destruction."

Dunia memang kacau. Tidak hanya internal Reliji Hindu-Buddha di Svargaloka saja, tapi juga tempat-tempat mitologis lainnya. Hal ini tidak lepas dari insiden teror yang dilakukan Khaos Brigade. Bahkan di Gunung Olympus sedang terjadi perang besar-besaram karena serangan para dewa-dewa Norse. Underworld atas nama Aliansi Tiga Fraksi juga sedang berperang melawan Konoha dan sekutunya.

Namun tak dapat dielak, Shiva bertindak gegabah.

Sebenarnya Shiva adalah dewa yang mungkin naif dan masih mencari jati diri. Sebab itulah, untuk menutupi sosok aslinya ia sering tampak dalam wujud anak remaja sekolah menengah.

Mari sedikit membongkar bagaimana Shiva itu sebenarnya, yang dikatakan masih mencari jati diri.

Sudah diketahui umum, esensi atau hakikat dari eksistensi mahluk supranatural adalah adanya kepercayaan dari dalam hati manusia. Esensi kedewaan atau ilahiah lah yang membentuk dan melahirkan Shiva seperti para dewa lainnya. Akan tetapi khusus untuk Shiva, ada sesuatu yang berbeda. Keilahian Shiva berasal dari keinginan keji di dalam hati manusia.

Harapan dan do'a yang terlantun dari lubuk hati manusia tidaklah selalu baik. Ada do'a yang diucapkan demi memenuhi keinginan jahat. Misalnya keinginan untuk menghancurkan sesuatu atau menyingkirkan orang lain akibat adanya sifat iri dengki. Dahulu itu adalah hal biasa pada manusia yang hidup di jaman-jaman yang jauh sebelum adanya jaman ini. Pada jaman yang dipenuhi perselisihan, akan selalu ada permohonan jahat yang tak terhitung jumlahnya. Dikumpulkan dari banyak sekali hati manusia, lalu menjadi satu esensi yang hingga terciptalah Dewa Shiva.

Shiva yang diharapkan sebagai penghancur, maka diapun diberkahi kekuatan penghancur luar biasa yang sanggup melenyapkan segala sesutu. Yang pada akhirnya, Shiva mengabulkan keinginan para manusia itu akan kehancuran, dengan menghancurkan peradaban mereka sampai tak bersisa.

Siklus hidup manusia terulang lagi. Akan tetapi pada jaman ini sistem telah berubah, eksistensi makhluk supranatural menjadi sesuatu yang benar-benar nyata sampai-sampai mampu mempengaruhi kehidupan manusia secara langsung.

Shiva yang sekarang, tak mengerti lagi apa arti keberadaan dirinya sebagai seorang dewa.

Untuk menghancurkan? Tidaklah sesederhana itu.

Sebanyak apapun kehancuran yang Shiva perbuat untuk mengabulkan permohonan keji dari hati manusia, nyatanya manusia akan selalu takut, benci, dan tidak menginginkan dirinya. Dia diharapkan keberadaannya untuk mengabulkan permohonan jahat manusia, tapi disaat yang bersamaan keberadaannya juga ditolak oleh para manusia yang memohon kepadanya itu.

Memang pernah ada beberapa manusia yang sangat taat kepadanya, salah satu yang sangat terkenal adalah Rahwana dari epos pewayangan Ramayana. Sang Raja Durjana Angkara Murka ini dikenal sebagai pemuja Dewa Shiva. Dia memiliki kekuatan besar yang diperoleh dari Shiva untuk berbuat kerusakan di muka bumi. Tapi jauh di palung terdalam hati Rahwana sendiri, ia takut akan kehancuran yang pasti akan datang padanya. Begitu pula dengan kebanyakan manusia yang hidup sekarang ini.

Ada dan tiadanya Shiva di dunia ini, tidak seorangpun sanggup mengartikannya bahkan oleh Sang Dewa Kehancuran itu sendiri.

Kenyataan inilah yang menjadikan Shiva sebagai dewa yang labil. Lalu, kenapa selama ini dunia baik-baik saja dengan keberadaannya? Jawabannya karena adanya mata ketiga di dahi Shiva yang bisa melihat masa depan. Itulah yang menuntun dirinya dalam berbuat. Karena selalu mengikuti penglihatan mata itulah, dia tidak pernah melakukan sesuatu dengan didasari oleh dirinya sendiri. Padahal yang benar dalam logika rasionalitas, membaca masa depan itu jelas tidak mungkin, suatu hal yang mustahil. Ini menjadi seolah mata ketiga itulah yang menjadi acuan hidup Shiva. Akibatnya, dia tidak memiliki jati dirinya sendiri.

Pemikiran singkat ini saja, cukup untuk menjelaskan bagaimana tidak normalnya Shiva dengan takdirnya sebagai dewa kehancuran.

Dan Vhisnu sangat mengerti itu.

Vhisnu sebagai dewa pemelihara, pun dengan Brahma sebagai dewa pencipta juga dewa-dewa lainnya, tercipta dari esensi keilahian normal dimana keberadaan mereka pada hakikatnya memiliki peran penting dalam harapan dan do'a manusia. Oleh karena itu, keberadaan mereka memiliki arti yang jelas, sehingga mereka semua memiliki jati diri masing-masing.

Kemudian secara logika, jika dalam suatu sistem terjadi hal tidak diinginkan akibat satu komponen berjalan tidak normal, maka apa yang harus dilakukan?

Jawabannya mudah, yakni komponen yang tidak normal itu harus diperbaiki atau dienyahkan.

Jadi...

Vhisnu melayangkan tatapan tajam tepat ke mata Shiva, dengan ekspresi yang sama sekali belum pernah ia tunjukkan pada siapapun. "Maaf Ananda, maafkan aku. Tapi aku tak punya pilihan lain. Aku bertugas memelihara dan melindungi segala ciptaan Brahman, apapun akan kulakukan demi tugas itu."

Kalau masalah kekuatan, Shiva tetaplah yang paling puncak namun Vhisnu memiliki sesuatu yang spesial.

Sebab semua keadian itulah, tanpa seorangpun melihat Sakra mencipta seringai keji di bibirnya. Satu langkah lagi, ia akan mencapai tujuannya.

.

.

.

-Neraka-

Bertempat di dalam kastil sang penguasa alam siksaan, Hades bangkit dari duduknya di kursi Goyang. Dia mengambil sabit hitam miliknya yang berada di samping kiri kursi.

"Ares si dewa mesum itu sudah bersenang-senang dengan perang di Olympus. Kalau Sakra si gundul, emm... nampaknya tidak lama lagi akan meraih tujuannya. Jadi, sudah saatnya aku keluar untuk bersenang-senang."

Hades melangkah pelan dari ruangannya, sambil masih berbicara sendiri.

"Ribuan pasukan Grim Reaperku termasuk Pluto sudah mati di dimensi ruang buatan replika Venesia, tapi aku masih punya 18 ribu lagi. Kemana yah aku mencari hiburan mumpung dunia ini masih bisa dinikmati keseruannya. Hahaa. Apakah aku harus ke Olympus, Svargaloka, ke Surga atau ke Underworld saja?"

Hades kian tertawa tidak jelas. Bahkan suaranya masih terdengar dari dalam ruangan meski orangnya telah keluar.

.

.

To be Continued...

.

Note : Nah, selesai untuk chapter ini. Baru bisa ditulis setelah aku selesai liburan. Tepat sesai janji, update pertengahan Juli. Hahaa.

Ah iya, rencanaku kemarin kayaknya ditunda dulu. Maunya, aku ingin menyelesaikan perang siang hari pada chapter ini. Tapi eh ternyata sudah sepanjang ini hanya sampai setengah. Ya udah deh, sisanya lanjut chapter depan aja.

Untuk chapter ini sendiri, seperti sebelumnya. Kusajikan beberapa materi baru, sampai tentang strategi perang klassik pun kumasukkan pada perang di pantai. Kuharap ada yang suka, meski sebenarnya kurang cocok sih kalau diterapkan pada dunia dengan konsep supranatural. Hahaa.

Sasuke udah muncul, perlahan dulu tapi.

Habis itu, materi-materi ke-Indonesia-an banyak aku tambahkan di sini. Tentang Pencak Silat, makhluk halus sampai dengan cerita legendanya, meski harus aku akui aku tak pandai menulis bagian Martial Art sehingga adegan silatnya tampak kurang bagus.

Ah iya, kita boleh menjadi wibu atau semacamnya dan mencintai Jepang serta produk-produknya, tapi jangan sampai lupa dan kehilangan cinta terhadap budaya dan negara sendiri, Indonesia. Okeh!. hahahaa

Perang di Olympus sudah mendekati akhir dan di Svargaloka pun Sakra telah sangat dekat dengan tujuannya. Lalu Hades, mau ngapain ya dia?

Ulasan Review:

Berbeda dengan chapter kemarin yang di dominasi karakter dari Konoha, kali ini lebih banyak karakter luar. Tapi nanti para ninja Konoha yang belum dapat giliran bakal unjuk kekuatan kok, yang wah pastinya. Hahaa.

Sona yah? Emm, kenapa nyariin dia? Santai aja, memangnya mungkin kalau dia yang jelas-jelas tokoh utama di FF ini sudah berhenti sepak terjangnya? Lihat di summary, nama dia aja masih bersanding dengan nama Naruto dan Hinata.

Lucoa di chapter kemarin kah? Emm yup, untuk karakternya sendiri aku minjam karakter Lucoa dari anime Maid Doragon.

Tentang Sirzech dan Michael yang keluar duluan itu? Emmm, kenapa ditanya lagi. Bukankah di chapter itu sudah aku ceritakan jelas kenapa mereka udah turun ke medan perang?

Tulisanku makin kesini berasa kaku? Entah lah. Mungkin ini karena beban pikiran banyak tersita untuk hal lain juga.

Shiva Vs Skara jangan diskip? Maaf, itu diatas terpaksa harus kuskip. Selain kekurangan materi dan imajinasi, juga kurang waktu, kurang penting dalam alur cerita, dan kurang apa-apanya. Hihiii. Lagipula seperti kataku di chapter kemarin bahwa bagian-bagian yang menurutku kurang berkepentingan akan kupangkas detail ceritanya.

Tentang Ophis, nanti juga ketahuan.

NaruHina. Sip. chapter depan aku janji memunculkan mereka lagi. Dan mereka berdua bawa kejutan untuk pemirsa sekalian. Gahahahahaaaa.

Kemudian tentang cerita yang diringkas, hanya ceritanya aja. Alurnya tetap kok sama, tapi dengan penceritaan yang lebih singkat agar ga kelamaan tamatnya.

Tentang Ending yang sedikit aku bocorkan kemarin, itu sebenarnya tidak sesederhana seperti yang mungkin kau pikirkan. Aku udah netapin dan ga bakal kuubah. Ada hal kompleks disana agar ending cerita benar-benar menjadi logic.

Tentang FFku lainnya, seperti 'Menuju Impian'. Lihat aja nanti, masih aku usahakan kok. Tapi ga bisa sekarang.

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita, sebagian lainnya kubalas lewat PM.

Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.

.

.

.