Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Ahad, 23 Juli 2017

Happy reading . . . . .

Sebelumnya.

.

.

To The End of The World

Writen by Si Hitam

.

Chapter 80. Armageddon War, End of The World - Part 4.

.

Kawasan hutan belantara dengan pepohonan tinggi besar yang ditandai dengan titik C terletak persis di tengah-tengah arena perang antara pasukan Konoha dan sekutunya melawan tentara Aliansi Tiga Fraksi.

Magdaran Bael dan Raguel sudah mati. Akibat tewasnya dua orang penting tersebut dan beberapa orang lagi yang menduduki posisi cukup tinggi, resimen tempur yang dipimpin oleh Zekram Bael mendapat pukulan keras.

Khusus untuk Zekram dan Sairaorg, ini jelas bukan sesuatu yang akan diakhiri dengan mudah. Akan ada rasa setimpal yang ingin mereka berdua kirimkan pada kubu lawan.

Meski begitu mereka bukan tipe orang gegabah. Zekram di tempat ini memimpin satu resimen pasukan atas nama Aliansi Tiga Fraksi. Ia cukup menyadari bahwa Cao Cao ingin bermain api yang lebih besar melalui hal ini. Oleh karena itu, membalas perbuatan Cao Cao akan menjadi dendam pribadi bagi ia dan Sairaorg, tapi memenangkan perang tetap untuk kepentingan Aliansi.

Atas dasar itulah, Zekram Bael tidak ragu lagi mengirimkan satu batalion pasukan terjun ke arena perang. Dia ingin cepat-cepat menyelesaikan urusan perang, lalu memenggal kepala Cao Cao.

Kemudian Kapten Cao Cao sebagai pemimpin pasukan Koalisi, nampaknya juga telah melakukan gerakan besar-besaran.

Jadi, babak penentu sebagai sesi terakhir pertempuran antara mereka dimulai dari sekarang, dengan mengerahkan segenap apa yang mereka miliki.

Jangan membayangkan ini sebagai perang terbuka yang sangat heboh dan ramai penuh teriakan. Ini adalah perang sunyi yang sangat mendebarkan dan tak kalah mengerikan.

Bagaimana tidak mendebarkan? Jika saat menarik nafas sambil mengamati pergerakan musuh dari balik tempat persembunyiaan, tahu-tahunya pada tarikan nafas selanjutnya udara tidak sampai ke paru-paru sebab leher sudah terpenggal.

Cara mengalahkan musuh di arena perang ini tidak dengan...

Hadapi! - Tebas! - Bunuh!

Lalu menang.

Caranya tidak sefrontal itu. Lebih halus namun mematikan. Berada di arena perang ini, maka harus siap-siap kehilangan nyawa sebelum sempat mencium bau kematian.

Seperti ini contohnya.

Satu orang kunouichi, satu vampir laki-laki, dan dua orang lainnya sedang mengintip dari balik lipatan akar pohon besar mengandalkan semua indra yang mereka punya. Mereka sangat awas dengan keadaan sekitar.

"Eric, ada sesuatu yang bisa kau lihat di depan sana?" tanya si kunouichi.

Eric menggeleng, "Aku tidak melihat apapun, Hanami-san."

Dia adalah vampir, penglihatannya dalam lingkungan minim cahaya di bawah rimbunnya hutan belantara menjadi hal penting dalam tim kecil ini.

"Bagaimana, apa kita harus bergerak maju lagi?" tanya orang lainnya.

"Aku tidak yakin sebenarnya, ini terlalu sunyi untuk sebuah perang."

"Benar." Hanani menyetujui perkataan teman setimnya yang lain.

"Hei hei heiii...!" Eric berseru, kepalanya bergerak-gerak menunjuk ke suatu arah. "Ada cahaya disana."

"Dimana?" yang lain coba mengintip, masih dari balik pohon.

"Itu... Apa mungkin itu cahaya dari sayap tentara malaikat?" tanya Hanami.

Eric menatap ketiga rekannya, "Kemungkinan besar iya. Menurut informasi yang kuingat, tidak ada dari hewan di hutan ini yang mampu mengeluarkan cahaya selain kunang-kunang, sedang cahaya itu kurasa terlalu terang untuk seekor kunang-kunang."

"Benar juga." Hanami mengangguk setuju.

"Kalau begitu, ayooo kita dekati." usul seorang yang lain.

Mereka semua mengangguk sepakat.

Perlahan mereka mendekat, berjalan dengan hati-hati agar tidak ketahuan.

Namun nasib sial,

Kretaakkk.

salah satu dari mereka berempat menginjak ranting pohon hingga menciptakan bunyi patahan halus.

Tidak terlalu nyaring.

Tapi...

Akibatnya fatal.

Ciuuuuuuuu...

"Menunduuuuukkkk!" Eric berseru kencang.

Splasssshh.

Naas, hanya dia dan Hanami yang sempat melakukannya.

Dua rekan lainnya, tewas setelah kepala mereka berlubang akibat panah cahaya padat.

Benar kan pernyataan tadi? Begitu saja mati tiba-tiba tanpa sempat berbuat apa-apa. Inilah yang namanya perang dalam sunyi. Sunyi yang sangat mematikan.

Bahkan arah datangnya serangan cahaya tadi bukan dari arah tempat target yang mereka tuju melainkan dari arah lain, seolah lokasi tim kecil itu sudah diketahui musuh dan terkepung hanya akibat kecerobohan menginjak ranting.

Itu tadi hanya contoh. Contoh yang memang benar-benar terjadi. Lalu ini kelanjutannya.

Melihat ke depan, cahaya tadi sudah tidak ada. Rupa-rupanya itu hanya pancingan musuh. Keberadaan Eric, Hanami, dan tim kecil itu sudah dirasakan, hanya saja lokasinya tidak diketahui pasti. Jadi mereka sengaja dipancing agar secara tidak sadar memberi tahu lokasi sendiri.

Meninggalkan dua rekan lain yang sudah jadi mayat, Eric berlari menggendong Hanami di punggungnya seperti karung beras.

"Hei bodoh! Kau mau apa? Berlari melompat-lompat seperti ini hanya akan membuat mereka tahu lokasi kita lebih jelas." Hanami berkali-kali melayangkan protes.

Kecepatan lari Eric sebagai vampir tidak bisa dibilang lambat, sangat cepat malahan untuk seorang shinobi. "Kalau kita diam saja, kita juga akan terbunuh."

"Tapi, situasi di sini tidak bisa dibaca. Bergerak seperti ini hanya akan memancing lebih banyak musuh." protes Hanami.

Di dalam hutan ini memang sunyi, namun sebenarnya ada cukup banyak pasukan berkeliaran dari kedua kubu yang berperang.

Blaassstt.

Sebuah laser demonic power melaju lurus dari arah kanan.

Blarrrrr...

Satu pohon roboh seketika setelah batangnya berlubang akibat dihantam laser demonic power tadi.

Untung sempat menghindar, jika tidak Eric dan Hanami pasti sudah mati. Namun betis kiri Eric nampaknya sedikit terserempet serangan tadi, sehingga ia sekarang berlari pincang.

"Eric, cukup!"

"Tidak!"

"Kalau begitu turunkan aku! Menggendongku hanya akan memperlambatmu."

"Biarkan seperti ini sebentar lagi."

"Heh? Kenapa?"

Eric tidak lagi menjawab pertanyaan Hanami. Pasrah, akhirnya kunouichi tersebut diam saja dipanggul Eric seperti karung beras.

Mereka berdua sungguh beruntung. Apalagi namanya kalau bukan beruntung setelah lima kali disasar oleh serangan sihir mematikan yang tidak bisa ditebak kapan dan darimana datangnya, namun mereka berdua masih hidup.

Tapi ini adalah akhir situasi mereka.

3

2

1

Konoha Senpu

Dhuuuaarrrr!

Eric berhenti berlari. Ia menurunkan Hanami lalu menengok ke arah sumber suara tadi.

"Itu serangan balasan."

Lalu tiba-tiba dari arah lain terdengar sebuah suara samar.

Bleessshh!

Sluurrp.

Meski sangat lemah, itu pasti suara orang yang dihisap darahnya oleh vampir.

Dari arah yang lain...

Garoga

Lalu dari arah lainnya lagi.

Slice!

Ini yang paling mengerikan. Puluhan pohon dalam jalur lurus terpotong begitu saja saat satu aura energi kuat yang sangat tajam berlalu cepat. Selain itu, juga memotong banyak sekali tubuh dalam lintasannya.

Setelahnya, ada berkali-kali serangan lanjutan yang datang seolah tanpa henti.

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Mereka yang membunuh dua rekan kita tadi sudah mendapatkan balasan yang setimpal, Hanami."

Perlu waktu lima detik untuk Hanami memikirkannya sehingga ia paham.

"Baiklah, kalau begitu ayooo kita bergabung dengan yang lain."

Setelah mengucapkan itu, Hanami melompat ke dahan pohon lalu menjauh dari sana.

"Dasar wanita menyebalkan! Sudah kutolong malah meninggalkanku sendirian." Setelah menggerutu sebal, Eric melompat untuk menyusul Hanami.

"Lebih baik kau ke barisan belakang, Eric. Disana ada unit medis yang akan merawat lukamu."

Ternyata Hanami masih ingat kalau rekannya ini terluka.

"Tidak perlu, vampir punya kemampuan regenerasi yang baik. Sekarang saja lukaku sudah hampir tertutup sempurna."

"Oh. Baiklah."

"235 meter arah jam 11, kita bergabung dengan rekan kita yang ada disana."

Mereka berdua pun berbelok arah.

Konfrontasi selesai, untuk titik ini saja karena masih ada ratusan titik lain di dalam hutan.

Sekali lagi, arena ini adalah pertempuran yang sunyi dengan taktik berburu. Point utamanya adalah mencari lokasi musuh, diburu, lalu dibunuh dengan satu serangan mematikan dari arah yang tak terduga.

Entah bagaimana ini bisa terjadi, nyatanya kedua kubu melakukan taktik bertempur yang sama.

Ringkasnya begini.

Kedua kubu, baik itu kubu Konoha dan Sekutu maupun kubu Aliansi Tiga Fraksi, telah menerjunkan semua pasukan yang tersisa ke arena perang di dalam hutan belantara.

Semua prajurit disebarkan ke segala penjuru hutan. Mereka bergerak dangan sangat hati-hati, tidak boleh mencolok apalagi memancing perhatian. Selama bergerak selain setiap prajurit harus mencari target sendiri untuk dibunuh, mereka juga harus mewaspadai keberadaan musuh yang mungkin memburu mereka. Harus menemukan tapi tidak boleh ditemukan.

Tujuannya hanya satu, menjadi yang memburu dan membunuh tapi jangan sampai jadi yang diburu dan dibunuh.

Situasi perang ini lebih mirip dikatakan sebagai Survival Game. Permainan bertahan hidup yang dalam perang ini sifatnya non-individual karena pesertanya terbagi jadi dua kubu.

Yang paling ditonjolkan adalah kemampuan bertarung individu, cepat memahami situasi, fast response, serta harus mampu, cepat, dan tepat membedakan mana musuh dan mana teman.

Ini memang cara pertempuran yang sangat cocok di tengah hutan belantara, yang antara siang maupun malam hampir tak ada beda sebab di bawah rimbunnya hutan yang ada hanyalah kegelapan. Indera yang paling penting bukan penglihatan melainkan pendengaran dan penciuman. Terkhusus untuk yang melatih indera keenamnya, menjadi sangat beguna di tempat ini. Bagi makhluk supranatural yang matanya sangat peka, indera pengilatannya tetap sangat diandalkan.

Entah apa yang dipikirkan oleh Zekram maupun Cao Cao. Dalam perang maka siapapun pesertanya harus siap mati dibunuh. Itu resiko, setiap pasukan sudah mengetahuinya dengan jelas tapi tetap yakin menanggungnya. Akan tetapi dari taktik ini, kedua pemimpin itu seolah tanpa bertanggung jawab mengatakan 'Terjun sana ke medan perang! Kalau kalian tidak ingin mati dibunuh, maka bunuh musuh lebih dulu bagaimanapun caranya'. Perkataan ini mengindikasikan bahwa keduanya tidak peduli dengan nasib prajurit asal bisa menang.

Namun yah, yang namanya prajurit bisa apa selain menuruti apa kata pimpinan. Entah kenapa mereka mau saja, tapi yang jelas setiap peserta perang memiliki motivasi masing-masing untuk meraih kemenangan.

Pada perang ini, ada yang bergerak seorang diri ada pula yang bergerak dalam tim kecil. Yang jelas mereka tidak akan bergerak dalam jumlah besar karena hanya akan membuat mobilitas menjadi rendah serta keberadaan akan mudah terlacak musuh.

Untuk melacak lokasi keberadaan musuh tidak hanya dengan mencari saja tapi bisa dilakukan dengan taktik lain. Taktik umpan misalnya.

Seperti kejadian barusan. Sebuah tim kecil dari pasukan koalisi Konoha bergerak hati-hati dan sangat waspada sekitar. Namun ternyata mereka malah terpancing oleh musuh dan salah satunya membuat kecerobohan sehingga musuh mengetahui lokasi mereka secara pasti.

Sebagai akibatnya, mereka diberondong serangan mematikan dari bermacam-macam arah.

Pasukan musuh memang bergerak individual tapi mereka tetap bekerja sama karena ini masih sebuah perang. Satu memancing, ketika target didapatkan, maka yang lainnya akan ikut memburu.

Serangan pertama yang tak terduga arah datangnya berujung pada tewasnya dua anggota tim. Lalu dua yang masih hidup langsung lari menyelamatkan diri meninggalkan jasad teman yang telah tewas. Bukan mereka berdua tidak merasakan apa-apa, mereka sedih tapi keadaanlah yang memaksa.

Orang yang sudah mati bukan apa-apa selain sampah. Yah memang begitu bukan? Mayat-mayat sengaja dikubur karena mereka sampah yang tak ingin dilihat dan dicium baunya. Tidak ada alasan untuk berduka pada sampah semacam itu.

Pernyataan itu memang benar, benar dalam penerapan meski bertolak belakang dengan nurani. Apalagi dalam situasi perang, hal itu mutlak sebab kalau tidak begitu maka meraih kemenangan jadi lebih sulit dan pengorbanan teman yang tewas jadi sia-sia.

Dengan mengandalkan logika itulah, Eric berlarian membawa Hanami sembari menghindari serangan-serangan mematikan dari arah tak terduga yang menyasar padanya. Dia berlari bukan tanpa tujuan. Dari perbuatan itu, teman-teman Eric dan Hanami yang lainnya yakni pasukan Koalisi Konoha yang berada di sekitar sana berhasil memastikan lokasi musuh lalu balas memburu dan membunuh, membalaskan kematian dua teman mereka.

Begitulah jalannya perang di tengah hutan belantara sana. Setiap prajurit dari kedua kubu saling membunuh demi bertahan hidup, sesuai dengan perintah atasan. Pergerakan mereka ya mereka tentukan sendiri, namun secara keseluruhan gerakan mereka diatur sesuai dengan strategi sang pemimpin.

Pencarian rute, pengepungan, memburu, membantai, dan apapun itu ada di sana, semuanya ditujukan untuk memenangkan perang.

Dan..., harus diketahui bahwa semua ini masih permulaan. Yah, permulaan sesi terakhir dari perang di titik C. Entah seterusnya akan bagaimana.

Ke salah satu sudut tergelap hutan, seorang pria dewasa berambut hitam yang memakai pakaian olahraga melemparkan pedangnya ke arah rerumputan di belakang punggung. Aura kekuatan pria itu serta pedang apa yang dia gunakan, bisa menjadi bukti kuat kalau dia lah pelaku serangan hebat yang memenanggal banyak sekali batang tubuh pasukan Aliansi dan banyak batang pohon.

Pedang tersebut bercahaya sebelum menyentuh tanah lalu berubah menjadi sesosok remaja laki-laki seumuran anak SMP berambut pirang dengan mantel selutut .

Remaja itu mengernyit tatkala ia ditinggal berlalu begitu saja oleh tuannya.

"Hei, Yato!" panggilnya pada pria itu.

"Hm?"

"Kau salah arah."

Pria itu sontak berbalik, "Enggak ah."

"Apanya yang tidak huh? Medan perang dan musuh-musuh kita ke arah sana tahu!" si remaja menunjuk ke arah sebaliknya.

"Ngapain kesana?"

"Pake nanya lagi!? Ya jelas lah untuk mengalahkan musuh."

"Mpret, ogah."

"Loh, kok gitu? Kita ini bagian dari pasukan perang, jangan bergerak seenaknya."

"Ah... Kalau begitu kau saja yang kesana, Yukine. Aku enggak mau!"

"Tck!" remaja bernama Yukine mendecak sebal. "Kau itu sebenarnya ada di pihak siapa sih?"

Yukine bukannya tidak tahu, tapi dia ingin pernyataan langsung. Meskipun mereka berdua bukan penduduk Takamagahara, tapi kedua sosok ini merupakan utusan resmi Reliji Shinto di dalam koalisi untuk memenangkan perang ini. Yukine hanya heran dengan tingkah tuannya ini.

"Tentu saja..."

"Ha?" mulut Yukine menganga menunggu kelanjutan ucapan tuannya.

"Pada orang yang membayarku 5 yen. Mwahahahaaaaaa..."

"Ck, dasar dewa miskin!" rutuknya dalam hati. Apakah karena ini situasi perang, sampai-sampai Yukine hampir melupakan tabiat tuannya ini.

"Nah, Yukine. Kita kembali ke markas dulu, meminta uang pada Cao Cao atau atasan yang manapun. Kalau mereka tidak mau bayar 5 yen, kita pulang."

"Pergi saja sana sendiri!" Habis sudah kesabaran Yukine. Begini-begini, ia masih peduli dengan nasib negara dan wilayahnya, mana mau dia menjadi jajahan imperialisme Aliansi Tiga Fraksi.

'Dasar bangke! Konoyaro! Bakayaro! Aho! Boge!' sambungnya menggerutu dalam hati.

Ahhh, sang Dewa Bencana The God of Calamity ini ada-ada saja tingkahnya.

.

Baraqiel dan para petinggi tentara Aliansi sontak bersiaga setelah melihat Sang Dewa Langit Quetzalcoatl, salah satu dewa utama dari Mitologi yang dipercayai suku Maya dan Aztec di benua Amerika, menampakkan kalau dia akan segera menyerang. Dia yang ternyata bergender perempuan dengan nama kecil Dewi Lucoa menarik nafas yang sangat dalam dan tidak wajar. Perutnya mengecil tapi dadanya yang sudah besar menggembung jadi sangat besar.

Sesaat kemudian...

[RRROOOOOOOOOOOOOOOOOOAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRR!]

Suara auman yang diteriakkan Lucoa membawa gelombang kejut yang menyapu daratan. Suara yang saking nyaringnya sehingga tidak lagi dapat terdengar. Pohon-pohon tercabut dan berterbangan, bongkahan tanah terangkat lalu pecah menjadi debu, hutan tersapu bersih dan sungai mengering sehingga hanya menyisakan tanah lapang sejauh mata memandang. Makhluk hidup pun banyak yang mati.

Frekuensi getaran udara yang melewati barisan pasukan aliansi saking tingginya mampu merontokkan pakaian tempur bahkan membuat kulit terkelupas dan berdarah. Darah segar mengalir lebih banyak lagi melalui telinga, hidung, dan mata hingga akhirnya satu persatu jatuh tumbang meregang nyawa.

Suara pembunuh yang sangat menyakitkan itu terus menerus menggema tanpa henti hingga lebih dari dua menit.

Setelah Lucoa selesai, setengah prajurit Aliansi Tiga Fraksi kelas bawah yang tak mampu menahan auman Lucoa tak lagi menyimpan nyawa di dalam raga. Setengahnya lagi sekitar 15 ribu yang sanggup bertahan cukup banyak mendapat luka-luka. Hanya para pimpinan kubu Aliansi dan prajurit-prajurit terbaik saja yang tak banyak terkena pengaruh.

Jurus auman naga atau Dragon Roar yang digaungkan Dewa Langit Quetzalcoalt sungguh luar biasa.

Tak dapat dipungkiri, itulah arti dibalik gelar 'Dewa'.

Sekarang yang tersisa adalah setengah pasukan persekutuan versus setengah pasukan Aliansi, sudah adil bukan?

Baraqiel tak bisa berkata apa-apa, setengah pasukannya lenyap dalam sekejap mata.

Tapi...

Tak ada waktu untuk meratapi itu.

"SERAAAAAAANGGGGGGG!"

"AYO SERBUUUU!"

"Oooooorrrrryaaaaaaaaaa!"

Suara tabuhan genderang perang pun benar-benar bergemuruh.

Dewi Lucoa meski hanya sendirian bahkan sebagai seorang perempuan, tak menunjukkan rasa gentarnya ketika dua laki-laki berpangkat tinggi datang menantangnya bertarung dalam pertempuran udara. Baraqiel sang Wakil Gubernur II Fraksi Malaikat Jatuh dan Uriel salah satu dari Four Seraph Surga.

Mungkin akan sama saja dengan pertarungan para petinggi perempuan di pesisir pantai, pertarungan ini pasti juga akan menjadi pertarungan yang spektakuler.

Seraph Uriel adalah malaikat dengan julukan Flame of God, Baraqiel pun dahulu sebelum jatuh juga memiliki julukan yakni Lightning of God. Boleh dikata kalau dahulu saat mereka berdua sama-sama masih menjadi pelayan tuhan, mereka adalah partner

Uriel dengan kekuatan Holy Flame atau api suci dan Baraqiel dengan kekuatan Holy Lightning atau halilintar suci. Kemampuan ini, mampu membunuh High Class maupun Ultimate Class Devil hanya dengan satu serangan biasa.

"Yang tadi itu hanya gertakanmu saja kan?"

Baraqiel menambahkan, "Meski gertakanmu membuat pasukan kami ketakutan, tapi itu tidak berlaku pada kami berdua."

"Hooooooooo..." Lucoa menanggapi dengan pandangan remeh. "Apa iya begitu? Kulihat kalian tadi sempat terkejut."

"Hanya terkejut karena pasukan kami hilang setengah, bukan terkejut karena takut akan kekuatanmu." bantah Baraqiel.

"Hm yaah. Terserah kalian berdua saja" Si perempuan berdada jumbo ini mengibas-ngibaskan tangannya tanda tak peduli. "Kemarilah, buktikan bahwa kalian yang hanya pelayan itu mampu melawan dewa yang sesungguhnya."

Provokasi Lucoa memang tak berhasil, meski ucapan itu adalah ejekan yang cukup keras sebab biar bagaimanapun malaikat dan mantan malaikat sejatinya hanyalah pelayan tuhan, The God of Bible. Yang mana tuhan dalam Injil itu setara kedudukannya dengan dewa-dewi dari berbagai mitologi yang dipercaya oleh penganutnya.

Api suci berwarna kuning emas menyala-nyala disekujur tubuh Uriel, semakin kuat berkibar. Baraqiel pun juga sama, dia melapisi tubuhnya dengan halilintar suci berwarna kuning emas yang berkilat-kilat.

Hanya dengan melihat saja, jelas dua laki-laki itu mengajak pertarungan fisik.

"Hei heiii, tidakkah kalian malu melakukan kekerasan fisik pada perempuan sepertiku hm?"

"Pertanyaan itu sudah terlambat, Dewi Langit Lucoa." ucap Uriel.

"Ya. Dan kami tidak peduli apa alasanmu. Yang pasti, karena kau bergabung dengan musuh Aliansi maka kau harus kami eksekusi."

"Masa bodoh, memang kalian berdua sanggup mengeksekusiku huh?"

Kini giliran Lucoa yang menunjukkan siapa dirinya. Kulit di sekujur tubuh Lucoa mulai berubah, yang asalnya putih mulus kini ditumbuhi sisik-sisik kecil yang tampak sangat keras. Rambutnya pun tampak berkibar dan pupil mata berubah. Dia masih seperti pengidap heterochromia yang mana iris mata kiri dan kanan berbeda warna namun pupil hitamnya menjadi garis hitam vertikal yang mirip seperti mata hewan buas.

Tanpa menunggu waktu lagi, mereka pun mulai bertarung.

Tapiiii...,

Tak perlu bahas pertarungan mereka.

Mari lihat ke bawah.

Mac Gregor Mather, bidak bishop Sirzech Gremory berdiri memimpin pasukan garis belakang yang tersisa. Mereka menyerang sebagai support. Kemudian pasukan yang maju menyerang paling depan dipimpin oleh Ruval Phenex dan Nero Raimondi yang merupakan Brave Saint Ace dari Seraph Uriel.

Pasukan Aliansi menyerang serentak. Mereka adalah prajurit-prajurit terbaik yang sangat terlatih, yang meski lumayan terluka tapi sanggup bertahan dari kekuatan Auman Naga yang digaungkan Lucoa tadi.

Meski hanya terisa setengah, tapi jumlah mereka masih jauh lebih banyak dari pasukan Koalisi Konoha yang telah memindahkan setengah pasukannya ke titik A di bibir pantai sebagai bantuan.

Berfokus pada satu titik di barisan pasukan Aliansi. Seorang prajurit dari ras malaikat bernama Emanuel berkata pada rekannya, "Hei lihat, Kazfiel. Mereka itu takut ya pada kita?" tanyanya sambil menunjuk ke depan.

Malaikat jatuh bernama Kazfiel memperhatikan ke arah yang di tunjuk. "Mungkin. Apa coba maksud mereka mundur begitu?"

Lalu prajurit berjenis perempuan dari ras iblis menyahut, "Entah. Kupikir mereka hanya mencari tempat yang lebih menguntungkan bagi mereka."

Iblis perempuan bernama Jazebeth itu melihat jelas bagaimana para pasukan Koalisi Konoha mundur ke dalam hutan di depan sana.

Hutan yang terjepit di antara dua lembah ini memang sudah hancur rata dengan tanah akibat jurus Auman Naga Dewi Lucoa. Tapi itu hanya separuh di daerah pasukan Aliansi saja, sedangkan separuh di wilayah pasukan Koalisi Konoha hutannya masih lebat.

"Lebih baik kita kejar mereka, Jazebeth. Kita kan memang sudah diperintahkan untuk menyerang."

Atas usulan malaikat bernama Gilbert, mereka berempat pun menerobos ke dalam rimbunnya hutan.

Mereka semua sadar, 15 ribu pasukan tersisa adalah yang kuat dan terlatih sehingga mampu bertahan dari serangan awal Dewi Lucoa. Mereka juga tahu, kisaran jumlah pasukan musuh hanya sekitar angka 8 ribu, hampir setengahnya saja.

Dengan keunggulan telak ini, apalagi yang menghalangi mereka untuk maju menyerang?

Splasshh

Dhuuaarrr..

Hampir saja, barusan serangan kejutan dari pasukan musuh. Gilbert yang menjadi sasaran berhasil menghindar sehingga tidak terluka sedikitpun.

"235 meter arah jam 11."

Atas petunjuk dari Jazebeth, keempat orang itu bergerak makin cepat.

Namun apa hasilnya? Mereka tak menemukan apapun.

Yang ada malah...

Ciiuuuu.

Blaaarrrr...

Satu serangan lagi.

Kali ini datang dari arah kanan. Untung saja, Kazfiel berhasil menangkisnya.

Malaikat jatuh itu mulai merasa kesal, "Apa mereka sedang bermain-main dengan kita?"

Tidak ada yang menjawab.

"Bedebah! Aku tidak akan diam saja."

"Tahan emosimu, Kazfiel." ungkap Gilbert.

"Iya, ini pasti strategi mereka." sambung Jazebeth.

"Kita harus lebih hati-hati." kata Emmanuel.

Kazfiel sudah lebih tenang. Selanjutnya mereka makin waspada akan keadaan sekitar.

Beberapa kali serangan jarak jauh tak terduga menyambangi mereka, namun berkat kewaspadaan yang tinggi mereka tidak tersentuh luka. Selain itu serangan yang menyasar mereka tidak lah terlalu kuat. Untuk mereka yang merupakan prajurit kelas menenah, serangan tadi sebenarnya lemah. Sampai lima menit lebih pun mereka masih berada di tempat itu.

"Aku mulai merasa kesal lagi."

"Sabarlah, Kazfiel."

"Bagaimana aku bisa diam begini saja, Gilbert? Kita ini seperti dipermainkan oleh anak kecil." Kazfiel rupanya benar-benar emosi hingga berteriak, "Heiii kalian makhluk hina, ayoooo keluar, hadapi aku. Jangan jadi pengecuuuuuttt!"

Namun teriakan Kazfiel tak ditanggapi.

Ah, bukan tidak ada yang menanggapi. Sebenarnya ada.

Dia...,

Makhluk dengan enam lengan yang kesemuanya memegang satu pedang ibllis legendaris.

Siegfried, mantan Exorcise gereja yang dikenal sebagai ahli pedang. Namanya juga membawa nama pendahulunya yang merupakan seorang tokoh legendaris. Chaos Edge Ashura Ravage, sub-species balance breaker miliknya telah aktif sehingga dia mendapat empat lengan tambahan.

Empat pasukan tadi cukup tahu banyak tentang Siegfried. Situasi makin buruk karena tanpa sadar mereka berempat berada di dalam hutan cukup jauh dari barisan utama pasukan Aliansi.

"Kalian berempat harus mati di sini. Haaaa, Nothung!, Tyrfing!"

ZUOOOON...

Mengayunkan Pedang Iblis secara vertikal, tebasan besar tercipta di udara dan melesat cepat menuju keempat orang tadi.

Tubuh Kazfiel terbelah. Dia tewas seketika. Sedangkan tiga lainnya sempat melompat menghindar. Namun saat hendak berpijak ke tanah,

Dhuuuaaarrrr.

Giliran tubuh Emmanuel yang remuk bersamaan dengan terciptanya kawah besar di bekas pijakannya.

Nothung, pedang Iblis yang terspesialisasi dalam ketajaman. Dan Tyrfing, pedang Iblis yang terspesialisasi dalam kekuatan penghancur.

Dua orang lainnya mungkin akan mengalami nasib serupa di tangan Siegfried.

Ke titik lainnya yang tersebar luas di sepanjang lembah, hal serupa juga sedang terjadi.

Seorang perempuan berdiri arogan di atas seekor naga yang terbuat dari seribu pedang.

Stake Victim Dragon

Balance Breaker dari seorang keturuan pahlahwa bernama Jeanne, dari cerita Jeanne d'Arc.

Tiga belas pasukan Aliansi telah tewas ditangannya. Masih ada tujuh lagi.

Kelompok ini rupanya bergerak dalam jumlah sedang

"Luke, apa kau punya ide?" tanya prajurit iblis kepada orang di sampingnya. Saat ini mereka sedang dalam situasi sulit.

"Kupikir ada sesuatu yang bisa kita coba, Timaues."

"Ayo segera kita lakukan!" ucap prajurit lainnya.

Ketujuh prajurit itu sudah hendak bersiap namun...

Jleb! Jleb!

Semuanya tewas seketika karena puluhan pedang yang meluncur cepat memebus dada kiri mereka.

"Kheh, aku bukan tokoh antagonisi di banyak cerita yang memberikan musuhnya kesempatan menyerang."

Kali ini, rupanya Jeanne bisa berpikir rasional. Hal itu memang benar, tak ada untungnya basa-basi apalagi kalau unjuk kekuatan saat bertarung. Serang begitu kesempatan menang terlihat jelas, maka selesai.

Kemudian pada spot lainnya lagi.

"Sialan, kemana mereka?" salah satu pasukan Aliansi dari fraksi Iblis mengumpat kesal. Ia sudah kehilangan kesabaran karena sejak lima belas menit lalu dipermainkan musuh.

"Jackal, kalau kau tidak sabaran begitu, kau bisa mati duluan."

"Lebih baik kau diam, Joseph. Aku tidak minta pendapatmu."

Karena bentakan rekannya, malaikat bernama Joseph itu tidak mau bicara lagi. Sudah untung dia perhatian dan mau memberi nasehat, ini malah diabaikan.

"Haaaaaaaaaa!"

Keduanya terkejut, dari arah atas.

Buaaaggghh!

Crruussshhh!

Kepala Jackal pecah seketika akibat dihantam tinju yang sangat kuat.

Joseph melompat mundur mumpung ada kesempatan.

Nah, benar kan? Yang tidak sabaran matinya duluan.

Tersisa satu malaikat. Joseph nampak ketakutan melihat siapa lawannya.

Heracles, anggota Hero Faction yang diberkahi kekuatan fisik super.

Tapi ketakutan Joseph hanya sebentar karena tidak lama berselang, bantuan tiba. Ada tiga puluhan prajurit yang datang.

"Kau datang tepat waktu, Maxwell."

"Hm. Jadi siapa lawan kita?" tanya malaikat jatuh bernama Maxwell itu.

Joseph menunjuk ke depan. "Ayooo, kita kalahkan dia bersama-sama."

Heracles mengusap wajahnya, seolah dia merasa menyesal. "Aku sebenarnya tidak ingin membunuh kalian, tapi karena ini sudah kewajibanku untuk memerangi yang jahat, terpaksa aku harus melakukannya."

Seluruh tubuh Heracles memancarkan cahaya. Cahaya perlahan membentuk objek tebal di lengan, kaki, dan punggung. Usai cahaya memudar, seluruh tubuh Heracles ditutupi oleh sejumlah tonjolan, tonjolan itu adalah... misil.

"Inilah Balance Breakerku, Mighty Comet Detonation"

Heracles mengunci target.

Kabooommmm...

Melihat secara keseluruhan, pertempuran terus berlanjut hingga waktu cukup panjang tak terasa sudah berlalu. Mungkin tiga jam, atau bisa jadi sudah empat jam. Medan perang di tempat ini tidak semengerikan tempat lainnya. Hutannya masih utuh tapi sebagiannya terbakar sehingga ada banyak asap hitam yang membumbung tinggi. Tapi tidak ada bekas serangan brutal yang sangat dekstruktif, selain serangan pembuka dari Dewi Langit Lucoa.

Peperangan tampak biasa saja.

Dalam situasi itu, seharusnya yang terjadi ialah..., Pasukan Aliansi sudah menang, atau paling tidak mereka sudah menggenggam keunggulan. Tentu karena unggul jumlah dan kualitas kekuatan individual pasukan.

Tapi kenyataannya, sampai sekarang jalannya perang masing begitu-begitu saja.

"Apa kau menyadari sesuatu?" salah satu malaikat jatuh yang pangkatnya cukup tinggi mulai melihat adanya keanehan.

"Menyadari apa, Matius?" tanya rekannya dari ras malaikat.

Dua orang ini adalah ahli strategi lapangan titik B yang berada langsung dibawah komando Maou Falbium dari markas di Kota Lilith. Posisi mereka berada di barisan paling belakang dengan tugas mengamati jalannya perang, mengumpulkan informasi, lalu memutuskan hal-hal yang diperlukan cepat dan informasi penting akan dikirimkan ke markas.

"Sepertinya kita memang terlalu meremehkan musuh kita, Evan. Dengan membuat pengecualian pada Dewi Langit Lucoa yang kini masih bertempur melawan Baraqiel-sama dan Uriel-sama, secara keseluruhan musuh kita yang hanya separuh itu seharusnya tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Tapi kenapa kita sampai sekarang kita belum berhasil menang? Ini sudah sangat lama tahu."

"Hm?" Evan nampak kebingungan.

"Ayo, kita harus analisa ini pelan-pelan. Pertama dahulu, apa ada orang kuat atau superior di kalangan musuh?"

"Tidak ada yang mencolok, selain tiga anggota Hero Faction. Dan tiga orang itu, seharusnya bukan masalah besar. Kita memiliki Ruval Phenex di depan sana, juga Mac Gregor Mather -Bishop Sirzech Lufifer-sama, yang terus memberikan support serangan jarak jauh ke jantung wilayah musuh."

"Bagaimana hasilnya?"

"Lumayan. Ada cukup banyak musuh yang bisa dikalahkan. Tapi..."

"Tapi apa?"

"Emm, kupikir kalau orang itu Ruval Phenex atau Mac Gregor, seharusnya jumlah musuh yang tewas bisa lebih banyak lagi. Kedua orang itu terkenal sangat kuat di Underwolrd."

"Dua petinggi kita itu menang kuat." ucap Matius. Dia menerawang ke langit. "Apa sebenarnya tujuan dari taktik mereka?"

"Pasti untuk mengalahkan kita kan?"

"Hei, Evan. Kau pikir taktik perang di dunia sesedarhana itu huh?"

Pasukan Konoha dan sekutunya mundur ke dalam hutan yang masih utuh. Jelas disana mereka mencari keuntungan dengan bertempur secara gerilya karena ketidak untungan dalam segi jumlah dan kualitas. Bisa dianggap, mereka cukup hebat karena sangat menguasai medan padahal jelas-jelas ini adalah teritori kekuasaan keluarga Gremory.

"Coba kita sederhanakan dahulu, bagaimana mereka bergerak didalam hutan." usul Evan.

"Dari informasi yang kita miliki, musuh kita menyebar rata di dalam hutan tanpa formasi yang pasti."

"Benar. Dan pasukan kita juga menyebar di dalam sana."

"Itu memang taktik yang sesuai untuk melawan mereka. Kalau kita tidak menyebar dan membagi pasukan, akan sangat susah menemukan mereka."

"Aku barusan mendapatkan informasi kalau ada sebagian yang menggunakan taktik umpan."

"Ceritakan!"

"Kau tahu, kebanyakan rekan kita yang tewas adalah mereka yang terpancing emosinya, lalu tertarik terlalu jauh ke dalam wilayah musuh sehingga tanpa sadar terpisah dari resimen utama. Dalam situasi seperti itu, rekan kita bisa jadi sasaran musuh yang cukup kuat secara individual ataupun dengan beramai-ramai mengeroyok bahkan ada juga yang dipancing ke sarang jebakan, yang pada akhirnya membuat rekan-rekan kita mati sia-sia."

"Jumlahnya?"

"Tidak banyak. Emm, memang cukup banyak pada awalnya, tapi karena telah menyadari cara musuh pasukan kita hampir tidak ada lagi yang terpancing emosi dan masuk ke perangkap semacam itu."

"Lalu sekarang?" tanya Matius sambil mengusap-ngusap janggut di dagu.

"Masih sama. Mereka bertempur secara gerilya di dalam hutan. Menyerang tiba-tiba lalu pergi begitu saja setelah membunuh 5 sampai 10 rekan kita. Sebagian masih ada yang coba memancing pasukan kita, tapi tidak akan ada lagi yang jatuh ke perangkan sama berkali-kali."

"Apa mereka memang sebegitu lemahnya ya, sehingga hanya bisa berperang dengan cara itu?"

"Mungkin." sahut Evan.

"Tapi ini aneh. Seharusnya dengan taktik seperti itu, mereka sadar kalau mereka tak akan punya kesempatan menang."

Memang taktik itu bagus dalam perang gerilya di hutan. Tapi membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membuahkan hasil kemenangan. Dalam waktu yang lama itu, situsi perang bisa berubah kearah sebaliknya. Pada akhirnya, taktik ini bisa saja merugikan bagi yang memakainya.

"Oh iya, Ruval Phenex berencana akan membakar keseluruhan hutan dalam waktu lima belas menit agar mereka tak bisa lagi bermain petak umpet dengan kita."

"Itu ide bagus. Tapi tunggu..."

"Kenapa?" Evan bingung, memangnya si Matius ini memikirkan apa?

"Aku berasumsi, kalau mereka pasti telah memperkirakan bahwa hutan yang menjadi tempat mereka melakukan taktik gerilya akan dibumihanguskan."

"Hm, lalu?"

"Artinya musuh kita masih menyembunyikan tujuan akhir mereka."

"..."

"Hei, bisa kau katakan berapa jumlah korban yang telah tewas."

"Sebentar, aku menghubungi rekan kita di depan untuk informasi yang paling baru."

Evan mengaktifkan lingkaran sihir telekomunikasi. Dia nampak berbicara dengan beberapa orang berbeda di seberang sana. Setelah selesai, dia menoleh pada Matius.

"Kira-kira sekitar 350an di pihak kita."

Ekspresi Matius menandakan kalau ia sangat terkejut. "Hah? Yang benar?"

"Itu yang dikatakan oleh mereka di lapangan."

"Bagaimana mungkin!?"

"Loh, bukannya semakin sedikit jumlah korban makin bagus?"

"Itu terlalu sedikit tahu!"

Yah, untuk perang selama hampir empat jam dari dua kubu 7 ribu vs 15 ribu, jumlah korban 350an terlampau sedikit.

Evan mengerti, "Memang benar, kalau diingat-ingat perang di titik adalah paling lambat dibandingkan dengan empat titik lainnya."

"Nah itu!" Matius menunjuk wajah Evan, seolah akalnya baru saja memecahkan sebuah misteri rumit.

"Apa?"

"Lambat."

"Lambat?"

"Yah, arus perang di titik ini terlampau lambat. Hal aneh ini yang kurasakan sejak tadi."

"..."

"Kau tahu Evan, apa tujuan musuh menggunakan taktik perang yang lambat?"

Evan menggeleng.

"Mereka mencoba mengulur waktu."

"Untuk apa memangnya? Bantuan?"

"Entahlah. Yang aku pikirkan, mereka pasti menunggu timing yang tepat."

"Yang benar?"

"Yah, dan ini buruk untuk kita. Aku akan memberitahu pasukan dibarisan depan untuk lebih waspada."

"..."

"..."

"..."

"Hei, Evan. Kenapa kau diam saja?"

"..."

"Heeiii!"

"Sepertinya sudah terlambat."

"Apanya?"

"Terlambat! Dibelakang kita ada ribuan pasukan musuh yang bergerak cepat kearah kita. Aku baru saja mendengar informasinya dari saluran telekomunikasi."

"Apa!?"

Di belakang sana,

"Seraaaaanggggg!"

"Oryaaaaaaaaa!"

Chou Baika no Jutsu

Beberapa manusia raksasa muncul di barisan ini, salah satunya memiliki sayap biru seperti kupu-kupu. Mereka pasti para shinobi Konoha dari klan Akimichi.

Dan di belakangnya lagi, masih ada ribuan pasukan dengan senjata terhunus serta teknik-teknik sihir yang siap dilesakkan.

Dua dewa dari Takamagahara, Raijin dan Fuujin, menyerang sembari membawa badai angin dan petir bersama mereka.

Lalu, inilah yang paling besar.

"Teknik ini pasti akan membuatku pingsan karena kehabisan chakra, tapi apa boleh buat. Untuk memenangkan perang."

"Kau yakin, Kapten Yamato?"

"Ya. Kapten Georg sudah mengantarkan batalion kita ke titik ini dengan Sacred Gear Dimension Lost milknya. Jadi kita tidak boleh menyia-nyiakan itu."

Mokuton: Shinshusenju

Boooffftttt...

Patung kayu Budha raksasa seribu tangan. Persis seperti yang dimiliki oleh Hokage Pertama Hashirama Senju.

"Ayoooo, kita habisi pasukan Aliansi."

"Yeaaaaaaaaaahhhhh!"

Semua pasukan Konoha dan Sekutu berteriak penuh semangat.

Ke dalam hutan, tempat dimana para tentara Aliansi bertempur dengan gerilyawan konoha dan sekutu-sekutunya..

"Kita diserang dari arah belakang!"

Tentara Aliansi langsung menyadari adanya serangan besar dari belakang.

"Tak usah panik. Itu saja tidak akan cukup untuk mengalahkan kita. Ayooo lawan mereka semua."

Lalu ada seorang prajurit yang datang, dia terengah-engah.

"Bicaralah." ucap temannya.

"Haaahh, dari arah depan." orang itu masih tersengal. "Musuh kita tidak lagi menggunakan taktik gerilya, mereka menyerang dengan kekuatan penuh."

"Sialan! Kita terkepung."

Mendapat serangan dari arah depan dan belakang sekaligus, sementara itu disisi kiri kanan lembah ada gunung terjal yang mengapit, membuat pasukan Aliansi Tiga Fraksi tak memiliki jalan kabur.

"Bagaimana sekarang?"

"Masih bertanya kau? Ya kita lawan mereka!"

Ringkas kata, arah pertempuran pun berubah total dari titik ini.

Ruval Phenex dan Mac Gregor Mathew, orang terbaik dari pasukan Aliansi tidak bisa berbuat banyak. Mereka memang sangat kuat, tapi kini mereka harus melawan musuh yang sepadan. Dua dewa Takamagahara, Dewa Petir Raijin dan Dewa Angin Fuujin. Akibatnya, mereka tidak punya waktu untuk memikirkan pasukannya lagi.

Sedangkan di dalam hutan jalannya perang jauh lebih cepat. Pertarungan sengit dimana-mana. Kerusakan hutan tak terhindarkan. Serta jatuhnya korban terus bertambah dalam jumlah signifikan.

Dalam waktu 10 menitan saja, lebih dari seribu pasukan dari kedua kubu telah tewas.

Dalam situasi ini, pasukan Aliansi meskipun jumlahnya dua kali lebih banyak tapi karena terkepung mereka dibuat kewalahan.

Lebih buruk lagi.

Blaaarrrr...

Kabbooommm

Terjadi berkali-kali ledakan di tengah hutan. Itu bukan hasil serangan, tapi perangkap-perangkap yang baru aktif sekarang. Sebenarnya jauh sebelumnya, hutan ini telah ditanami perangkap. Dan sesuai perhitungan, akan aktif pada saat sekarang ini.

Ada sejumlah pasukan Aliansi yang coba kabur dari kepungan pasukan sekutu dengan melewati jalur udara, akan tetapi...

Blaaasssttt

Kaboommm...

Dari arah puncak gunung yang mengapit lembah, peluru sihir dengan elemen cahaya dan kegelapan ditembakkan secara beruntun. Itu Air Defense System berupa monster pasif yang diciptakan dengan Sacred Gear Annihilation Maker oleh Leonardo.

Akibatnya, yang masih ingin hidup terpaksa kembali ke daratan.

Sekejap saja, pasukan Konoha dan Sekutunya sudah berhasil mendominasi medan perang di area ini.

Berdasarkan hasil statistik, sebenarnya kekuatan dan kuantitas pasukan Konoha dan sekutu masih kalah dari pasukan Aliansi Tiga Fraksi. Tapi ada point penting yang mana membuat pasukan koalisi Konoha unggul telak. Point itu adalah ketenangan.

Ya, sikap tenang selama perang adalah hal wajib.

Tanpa sikap itu, biar bagaimanapun hebatnya formasi dan strategi maka kemenangan mustahil diraih.

Inilah yang diincar oleh Shikamaru pada medan perang di titik B. Sengaja membagi dua pasukan, untuk membuat musuh lengah dengan cara membuat musuh menganggap remeh mereka.

Saat berperang, membuat musuh percaya bahwa kita lemah adalah bagian dasar dari yang paling dasar dalam strategi untuk mengalahkan musuh. Shikamaru membuat kondisi dimana pasukan Aliansi maju menyerang dengan asumsi kalau pasukannya tidak akan sanggup melawan, dan hasilnya tanpa rencana rumitpun musuh akan dengan sendirinya membuat celah yang bisa dieksploitasi nantinya.

Celah yang dimaksud adalah ini.

Panik.

Pasukan besar yang kuat dan tangguh, tidak akan jadi apa-apa kalau mereka semua dalam kondisi panik.

Pasukan Aliansi sengaja diarahkan masuk ke dalam hutan dimana mereka akan dikepung dari depan dan belakang, terjepit gunung di kanan dan kiri serta tanpa akses udara akibat tekanan Air Defense System. Kemudian hutan itu penuh dengan perangkap ledakan.

Dalam kondisi itu, bagaimana mungkin pasukan Aliansi tidak panik?

Ketika panik, otak pun susah jalan.

Kemudian kalau sudah seperti itu, sebesar apapun kekuatannya bisa dikikis sampai habis.

Perlu waktu hampir satu jam sampai medan perang di arena ini sedikit mereda. Jumlah korban jatuh di kedua belah pihak tidaklah sedikit. Pertempuran masih terus berlangsung, entah sampai berapa jam lagi. Namun yang pasti, Konoha dan sekutunya menguasai jalannya perang.

Pada satu titik, sekumpulan pasukan Aliansi rupanya sudah mulai mendapatkan kembali ketenangannya. Mereka membuat formasi yang sangat padat lalu bergerak perlahan pada sisi kanan lembah.

Akhirnya setelah melewati pertempuran sengit melawan pasukan koalisi Konoha, mereka berhasil menembus barikade kepungan.

"Kita mundur dulu. Tapi nanti, kita akan balas mereka!"

"Ooooo"

Ada 600 lebih jumlah mereka. Di padang luas yang hutannya telah gundul akibat teknik Dewi Langit Lucoa, mereka berlarian cepat ke arah Kota Lilith

Tapi...

"Memangnya kalian bisa pergi begitu saja huh?"

Suara itu berasal dari atas langit, yang sedari tadi bersembunyi di balik awan, kini telah menunjukkan sosoknya.

Sosok raksasa berwujud raja Tengu, tapi dia bukan Raja Tengu melainkan Uchiha Sasuke dengan susano'o-nya.

Enton: Susano'o Kagutsuchi

Tiga anak panah api hitam ditembakkan ke bawah.

Mereka semua pun tamat dalam panasnya api hitam abadi.

.

Medan perang di sekitar danau dan padang berbatu merupakan arena perang yang di tandai sebagai titik D. Perang di titik ini sudah dimulai sejak beberapa jam lalu, dan sekarang adalah puncak-puncaknya. Prajurit dari kedua kubu tak henti-henti saling jual beli serangan.

Permukaan tanah di sana sudah tak karuan bentuk, lubang dan gundukan bongkahan batu berhamburan akibat ganasnya perang, danau yang tadinya tenang pun kini seperti di tengah laut yang sedang terjadi badai akibat area pertempuran yang meluas sampai ke atas permukaan air danau, tak lupa api yang membakar dimana-mana.

Sebagai tambahan penting, berkecamuknya hati dan perasaan yang campur aduk, antara semangat, tekad, ingin melindungi, sedih, marah, dendam dan berbagai jenis emosi lainnya, menjadi pelengkap apa yang sekarang sedang terjadi.

Pukul,

tusuk,

tembak,

luka,

darah,

sakit,

bunuh,

kematian,

dan ...

Semua itu terlalu sukar untuk dideskripsikan, apalagi hanya dengan kata-kata walaupun ditulis dengan seribu halaman. Perlu untuk ikut terjun langsung ke sana agar dapat merasakan bagaimana situasi sebenarnya.

Pada salah satu titik, puluhah bahkan ratusan tentara Aliansi melepaskan serangan sihir jarak jauh yang terdiri dari berbagai macam atribut secara bersamaan, sebagian lainnya menembakkan berbagai macam amunisi senjata. Sasarannya adalah seorang wanita muda yang sekarang membawa bendera kepemimpinan. Jika wanita itu jatuh, maka mental pasukan Koalisi Konoha pasti akan terjun bebas.

"Hoi hoi hooiii, tidak adakah serangan yang lebih baik dari itu huh!?"

Si wanita sekali lagi membuka lebar-lebar kipas besi miliknya.

Daikamaitachi no Jutsu

Swooossshhh!

Cukup dengan sekali kibasan, semua serangan yang menargetkan dirinya dia kembalikan lagi. Bahkan beberapa pasukan musuh yang berada cukup dekat mendapatkan luka fisik yang lumayan parah, sedangkan yang terbang di udara sudah jauh tersapu sampai ke belakang sana.

Traanggg!

Temari -nama wanita itu, melipat kipasnya kembali, lalu ujungnya dia hentakkan ke tanah berbatu. Kipas itu sangat berat sebenarnya.

"Tuh kan? Apa kubilang."

Jutsu yang digunakannya adalah jutsu fleksibel yang bisa berfungsi untuk bertahan maupun menyerang, bahkan bisa keduanya sekaligus.

Setelah serangan tadi, ternyata masih banyak pasukan Aliansi yang sanggup berdiri. Kelihatan kalau mereka semua belumlah kapok. Mereka menjaga jarak yang cukup jauh, tampaknya mereka semua ingin beramai-ramai menyerang lagi dengan serangan jarak jauh yang lebih kuat dan lebih intens.

Temari geleng-geleng, rupa-rupanya pasukan kelas bawah di hadapannya ini cukup keras kepala.

"Dengar yaa kalian semua, aku memang manusia. Tapi jangan pernah beranggapan aku sama dengan manusia yang ada dipikiran kalian. Bahkan hanya untuk memojokkanku, kalian takkan pernah bisa. Apalagi mengalahkanku."

Temari menggigit ibu jari, darahnya dia lukiskan pada kipas besi yang sudah ia buka.

"Satu lagi, jangan salah menilai kekuatanku! Kalau kalian berpikir dari jarak ini kalian aman, maka kalian semua terlalu naif"

Kuchiyose: Kirikiri Mai

Temari mengibaskan kipasnya untuk kesekian kali. Yang kali ini berserta dengan seekor hewan berwujud musang dengan satu mata tertutup dan membawa sabit besar. Hewan itu berlari menuju pasukan Aliansi sambil membawa seluruh sayatan-sayatan tajam dari angin.

Jrasshhh! Jrasshhh! Jrasshhh!

Jrasshhh! Jrasshhh! Jrasshhh!

Entah berapa orang prajurit yang harus merelakan badannya terpotong-potong. Sayatan angin itu begitu tajam sehingga baju zirah besi pun mampu terbelah. Area yang terkena dampak serangan itu pun sangat luas, mencapai radius lebih dari 500 meter.

Jutsu itu, masih sama dengan jutsu yang pernah digunakan Temari untuk menolong Shikamaru yang bertarung melawan Tayuya, jutsu yang sanggup meratakan hutan dan memotong semua batang pohonnya.

Itu dulu, saat wanita itu masih gadis yang belum genap berumur 15 tahun. Kalau sekarang? Jangan ditanya! Untuk umurnya yang sudah sangat matang, tentu jutsu-jutsu yang ia punyai jauh lebih powerfull. Sehingga bukanlah hal sulit untuknya membabat barisan pasukan Aliansi Tiga Fraksi dari kelas bawah.

Sebagai tambahan, Kipas Lipat Raksasa milik Temari juga mendapatkan upgrade seperti kemampuan teman-teman Shinobi lainnya. Ukurannya memang masih sama, tapi material logamnya telah diramu oleh Ahli Alkimia dengan mencampurkan energi sihir murni ke dalamnya. Ketika digunakan oleh Temari dan dia aliri chakra, terjadi fenomena interferensi konstruktif antara chakra dan energi sihir yang saling menguatkan. Akibatnya output energi yang dilepas meningkat berkali-kali lipat, yang secara nyata dapat terlihat dari efek serangan Temari yang jauh lebih powerfull dan sangat ganas.

Karena proses peramuan itulah, Temari tampak sedikit kesulitan untuk mengayunkan kipasnya yang menjadi sangat berat. Bahkan warnanya pun sedikit ubah, warna yang asalnya hitam mengkilat berubah menjadi darkmetalic dengan gradasi warna ungu ketika terkena cahaya matahari.

Temari menatap ke kiri dan kanan, area yang tidak tersentuh oleh serangannya. Ada banyak pasukan Koalisi Konoha yang mati-matian bertempur melawan pasukan Aliansi Tiga Fraksi.

"Munduuuuuurr!"

Eh, apa maksud perintah Temari ini?

Dia memang yang memimpin, tapi...

Karena dia pemimpin, mau tidak mau semua pasukannya menurut apa yang dia perintahkan.

Disisi lain, Raja Tengu yang merupakan bawahan terdekat Yasaka masih berjibaku dalam pertarungan sengit melawan Armaros, salah satu petinggi Fraksi Malaikat Jatuh. Namun perlahan dia mulai menarik dari dari pertarungan.

Sang Binbougami alias dewi kesialan Kofuku juga telah mundur. Dia kembali ke barisan belakang, dengan badan dan pakaian yang tidak berubah sedikipun dibanding saat perang belum di mulai. Kondisinya sehat wal afiat.

Kemudian pada satu titik yang dinilai sebagai pusat kekacauan, pertarungan antara tiga orang masih belum berhenti sejak setengah jam yang lalu. Diehauser Bellial tidak tampak kesusahan meskipun dia sudah tersudut oleh kerjasama epik Roygun Belphegor dan Bedeze Abaddon.

Tidak tahu kapan, Top 3 Rating Game Underworld itu akan berhenti membuat kekacauan. Yang pasti akibat perbuatan mereka -tepatnya akibat ulah Diehauser, pasukan Aliansi yang unggul dalam jumlah dan kekuatan tidak menunjukkan tanda-tanda kalau mereka sudah menguasai jalannya perang.

Dan di saat-saat seperti itu lah,

"Siapa nama kalian tadi? Aku lupa eh."

Sang Kapten Divisi III bertanya dengan nada santai pada lawan bertarungnya, tapi wajahnya tidak menampakkan hal itu. Malahan dia menyeringai lebar dan menampakkan barisan gigi taring tajam dibalik bibirnya.

Tubuhnya yang semula penuh luka, bahkan pergelangan tangan kanan yang patah dan serta jari-jari tangan kiri yang terpotong, telah kembali utuh seperti semula. Namanya juga vampir, mereka memiliki regenerasi yang hebat. Terlebih untuk Seras yang kecepatan regenerasinya lebih cepat dibandingkan Iblis Keluarga Phenex.

Karena kemampuan regenerasi itulah, dia cenderung bertarung jarak dekat dengan bentrokan fisik langsung sembari mengabaikan serangan dan luka yang diterima tubuhnya.

"Aku Mirana Shatarova. Brave Saint, Ace dari Great Seraph Gabriel"

"Aku Deethelm Waldsemuller. Ace dari Four Great Seraph Raphael."

"Yah, mungkin saja kalian belum tahu tentangku. Perkenalkan, Aku Seras Victoria, Super-Vampire yang melayani Alucard-sama. Mulai dari sini, aku akan serius." ucapnnya serius.

Ha!?

Mirana dan Deethelm sontak menganga.

Apa tadi, akan serius?

Bohong kan?

Dua Brave Saint hebat ini sudah betarung mati-matian, sudah mengeluarkan serangan terbaik, bahkan sampai luka-luka parah begini. Tapi mulai dari sini baru akan serius?

"Super-Vampire Seras Victoria, prajurit biasa mustahil bisa mengalahkanmu. Kau datang kesini sebagai perwujudan akan ketakutanmu."

"Yah, kau benar Deethelm. Aku sudah tidak memiliki rasa takut pada apapun lagi."

"Matamu memperlihatkan lubang kekalahan pada orang yang melihatnya meskipun wajahmu memperlihatkan dalih kemanusiaanmu." ucap Mirana.

"Kalau sudah tahu begitu, kenapa kalian berdua masih berdiri di hadapanku hah?"

"Itu karena kami bukan prajurit biasa. Kami adalah Brave Saint terpilih yang mengabdikan diri pada Four Great Seraph Surga."

"Kheh, gelar apapun yang kalian sandang takkan merubah keadaan."

Jujur di dalam hati, Mirana dan Deethelm sebenarnya panik. Mereka mulanya adalah manusia yang direinkarnasi menjadi malaikat sebagai Brave Saint. Oleh karenanya, mereka masih menyimpan sifat kemanusiaan di dalam hati. Bukan malaikat sejati yang tak kenal sifat negatif seperti rasa takut.

Meski cukup panik, tapi mereka tidak boleh hilang kendali. Kewaspadaan meningkat tajam dan mereka sudah siap tempur. Kalau tidak begini, mereka bisa mati kapan saja.

"Sudah saatnya aku menggunakan senjata ini."

Seras membuat portal dari darahnya yang dibentuk menjadi lingkaran. Dia menarik sebuah senjata berat berupa dua senapan laras panjang dengan dua boks ransel besar terisi penuh amunisi.

Ada tulisan di senapan yang Seras keluarkan,

Hallconen II.

"Mau apa kau dengan itu?"

"Senjata itu tak cocok digunakan untuk perang seperti ini."

Mirana dan Deethelm benar.

Jikalau senapan berat laras panjang untuk serangan jarak jauh digunakan pada permulaan perang ketika dua kubu masih terpisah jarak yang jauh dan belum terjadi bentrok fisik langsung, itu mungkin tepat. Tapi sekarang perang sudah mencapai puncak, pertarungan jarak dekat dan bentrokan fisik jadi sajian utama.

"Kau tidak akan tahu kalau belum merasakan sendiri." Seras berusaha mengangkat laras senjata. Tampak lambat, jelas karena kedua senapan itu serta ransel amunisi di punggungnya memiliki bobot total 345 kg.

"Ayooo, Mirana!"

"Yeah."

Syyaatttt.

Mereka berdua hanya terpisah jarak 20 meter dari Seras, dengan kecepatan segini kurang dari 1 detik saja mereka sudah memotong jarak. Pedang cahaya Mirana sudah hampir mengenai leher Seras, sedangkan tombak cahaya Deethelm menyasar area jantung, kelemahan vampir yang jika terkena maka vampir akan langsung tewas tanpa bisa beregenerasi lagi.

Sedikit lagi.

Hampir!

Nyaris saja!

Tapi...

Slaapp.

Seras jauh lebih cepat. Masing-masing laras senjatanya sudah menempel di dahi Mirana dan Deethelm.

"Kalian tamat!"

Dor Dor

Dua kepala pecah berhamburan tanpa sisa. Lalu...

Bruukk

Brrukk

dua tubuh malaikat tanpa kepala, tergeletak di tanah.

"Hahahaaaa. Rasakan!"

Jrasss!

Seras tertawa setelah menginjak hancur batang tubuh Mirana.

"Nah, sekarang siapa lagi?"

Seras melihat ke seluruh penjuru arena perang, penglihatannya yang tajam telah memberikan dia arahan.

"Target terkunci."

Slap slapp!

Kedua laras senapan diangkat horisontal, lalu.

"Fire!"

Ratatatatatatatatatata

Tembakan beruntun yang seolah tanpa henti menyebar ke berbagai penjuru.

Di ujung sana...,

ciiuuuu.

Crruussshhh.

Satu kepala hancur.

Crruussh...

Satu kepala lagi.

Cruushh!

Satu lagi.

lagi

lagi

dan lagi!

Tidak ada yang mau menghitung sudah berapa kepala yang hancur.

Sasaran Seras bukan pasukan Aliansi secara umum, namun yang dia targetkan adalah pasukan kelas menengah ke atas agar kekuatan musuh semakin lemah, atau yang sedang menyudutkan pasukan koalisinya sebagai pertolongan.

Sebelum menjadi vampir, Seras adalah penembak jitu yang hebat. Lalu setelah menjadi vampir semua statistik tubuhnya seperti kekuatan fisik, kecepatan, pertahanan, stamina, serta akurasi yang semuanya meningkat tajam maka juga berimbas pada kemampuan dia menembak.

Hallconen II, senapan yang dia gunakan adalah senapan kelas berat laras panjang berkaliber 30 mm dengan tipe semi-automatic canon. Jarak tembak akurat mencapai 4000 meter, yang artinya mencakup seluruh arena perang di titik D ini. Senjata itu saja sudah gila, di tambah Seras yang menggunakannya, maka semakin gila pula lah hasilnya.

Tampaknya amunisi 30 mm di ransel sudah habis.

"Ini yang terakhir."

Dari bagian atas ransel, mencuat keluar dua buah silinder logam yang cukup besar.

Itu bukan silinder biasa tapi sebuah granat. Granat destruktif area luas yang diberi kode nama, Vladimir. Seras memasangnya di moncong laras senapan seperti menggunakan pelontar granat.

"Matilah kalian. Haaaaaaaaaaaaaa!"

Gun!

Kedua granat ditembakkan bersamaan.

Setelah mencapai jarak yang cukup jauh, lalu jatuh di area musuh.

KAAABBOOOOOOOOMMMMM!

Angin kencang hasil ledakan berhembus sangat kuat, meski ledakannya terjadi jauh di ujung sana.

Seratus, dua ratus, atau bahkan mungkin lima ratus pasukan Aliansi mati di telan ledakan granat Vladimir itu.

"Yooo, kerja bagus Seras!"

"Eh." Seras melotot. Dia tidak lagi memperhatikan kondisi perang, tapi fokus pada orang yang tiba-tiba saja ada di depannya. Tak tahu darimana datangnya.

Begitu mengenali identitas orang itu, Seras tersenyun lebar.

"Masteeeeeeeerrr!"

Seras membuang senapannya, bergerak hendak memeluk sang majikan layaknya anak kucing kelaparan yang meminta makan pada tuannya.

"Diam disana!"

Seras berhenti, mana berani dia kalau tuannya sudah serius seperti itu.

Kini Sang Vampir Legendaris telah turun ke arena perang.

Alucard.

Dengan begitu situasi perang jadi lebih tenang karena hampir semua fokus tertuju padanya.

Kedua kubu juga telah memisahkan diri. Atas perintah Temari tadi, semua pasukan Konoha dan sekutunya telah mundur ke belakang Alucard dan Seras. Temari, Kofuku, serta Raja Tengu merapat ke posisi depan di dekat Seras.

"Jadi inikah bantuan yang diinformasikan markas pusat padaku?" tanya Temari.

"Ya." jawab Alucard singkat.

Semua orang disana sudah cukup banyak tahu tentang Alucard.

"Master, apa kau benar-benar yakin."

"Kenapa kau bertanya begitu, Seras?"

"Ah, i-ituu..."

"Tenang saja, ini tidak akan membuatku menghilang selamanya. Sewaktu-waktu aku masih bisa muncul di depanmu."

Seras menunduk lesu, dia masih belum setuju sepenuhnya dengan rencana ini. Ia tahu apa yang akan dilakukan tuannya, juga apa akibat yang menyertainya.

"Baiklah, sekarang saatnya aku menunjukkan siapa diriku yang sesungguhnya pada semua orang."

Alucard menatap bengis pada sekumpulan pasukan Aliansi di depan sana, masih ada sekitar 25 ribu yang hidup dari 30 ribu jumlah awal. Mengalahkan 5 ribu pasukan Aliansi yang terlatih, sudah prestasi yang hebat untuk pasukan koalisi di titik ini, dengan jumlah korban yang sedikit di pihaknya.

"Lepaskan sistem pembatas kekuatan ke level 0." Seras mengucapkannya dengan berat hati. Sebenarnya tugas Seras sebagai pelayan adalah memegang kunci untuk membuka kekuatan Alucard yang sesungguhnya.

Aura kekuatan kelam dari jurang tanpa dasar menguap di sekujur tubuh Alucard, "Namaku adalah Burung dari Hermes, aku melahap sayapku sendiri, mengaliri sungai darah kematian, dan mengalunkan nyanyian-nyanyian neraka."

Semua orang mulai merasakan ketakutan dari Alucard. Dia adalah monster yang belum pernah terkalahkan, selama dia belum kalah maka dia akan terus menakuti semua orang.

Tubuh Alucard berubah. Ia kehilangan bentuk humanoid, hanya gumpalan darah merah dengan bentuk tak beraturan.

Gumpalan darah itu membesar, meluas, dan mulai membanjiri padang batu di arena perang ini. Pada permukaan genangan dan gumpalan darah itu, muncul banyak sekali mata beriris merah. Satu, dua, sepuluh, seratus, seribu, bahkan mungkin lebih dari seratus ribu.

Bak ombak di lautan, darah itu menghempaskan barisan terdepan pasukan Aliansi, menenggelamkan mereka semua ke dalam palung kematian.

Lalu, dari dalam lautan darah bermunculan banyak sekali tubuh. Seribu, seratus ribu, atau bahkan mungkin jauh lebih banyak dari itu. Kini arena perang tidak lagi didominasi oleh pasukan perang dari dua kubu, tapi oleh mayat-mayat hidup yang datang dari kekuatan sejati Alucard.

Pasukan Aliansi mulai mundur perlahan tanpa sadar melihat banyaknya makhluk mengerikan yang memandang mereka dengan tatapan lapar.

"Ti-tidak.."

"Tidak mungkin!"

"Mustahil"

Berbagai macam suara ketidakpercayaan diteriakkan oleh pasukan Aliansi.

Seras menjelaskan pada semua pasukannya, "Itulah yang dilakukan Master. Darah adalah uang dari jiwa, mata uang yang digunakan dalam taruhan kehidupan. Meminum darah orang lain untuk diambil nyawanya bagi dirinya sendiri."

Beberapa orang di dekat Seras mengenali apa-apa saja yang dikeluarkan Alucard dari dalam lautan darah. Selain mayat-mayat hidup, ada pula sekelompok pasukan elit infanteri bersenjatakan tombak dan tameng besar bergambar palang merah.

"Crusaders, para tentara perang salib. Ternyata Alucard-sama lah yang melahap mereka. Tak heran dia tak bisa mati."

Seras membenarkan, "Ya. Itu sebabnya dahulu Surga tidak pernah berhasil membunuh Master. Ada banyak sekali kehidupan yang ada dalam dirinya dari nyawa-nyawa yang telah dia makan."

Kemudian ada juga muncul pasukan kavaleri berkuda dari dalam lautan darah. Mereka berbaris seperti prajurit yang hendak berangkat untuk berperang.

"Itu?"

"Wallachia, mereka adalah para paladin dari tentara Kerajaan Inggris. Bagaimana bisa?"

"Ada berapa sebenarnya nyawa yang digenggam Alucard-sama?"

Pertanyaan-pertanyaan terus saja datang menusuk gendang telinga Seras. "Ada satu juta nyawa dan kehidupan yang Master punyai. Dan sekarang, satu juta itu telah berada nyata disaksikan dengan mata kepala kita."

Dan...

Selesai.

Telah selesai.

25 ribu pasukan Aliansi yang tadinya masih hidup, kini telah tidak ada lagi. Mereka semua telah mati tenggelam dalam lautan darah yang memenuhi padang berbatu serta danau besar di sampingnya. Mereka tewas diserang oleh tentara Alucard dan menjadi makanan bagi ratusan ribu mayat hidup.

Ada malaikat, malaikat jatuh, maupun iblis yang berusaha melawan. Tapi semua itu sia-sia, mereka berakhir sebagai santapan para mayat hidup. Ada yang berusaha kabur, namun tertangkap, sedangkan prajurit kelas atas juga berakhir dengan kematian karena tak sanggup melawan para petarung bengis dan kejam di masa lalu, yang dikira telah mati tapi ternyata malah dimakan oleh Alucard. Yah, mereka datang lagi ke dunia ini untuk menebar kekacauan.

Hingga akhirnya, tak satupun tersisa dari pasukan Aliansi di titik ini. Semuanya...

Musnah.

Kemudian, saat batas pelepasan limiter sudah habis. Maka, semuanya lenyap dari pandangan mata.

Tak ada lagi lautan darah, tak ada lagi para mayat hidup, tak ada lagi pasukan Aliansi, dan tak ada lagi vampir bernama Alucard.

Alasan kenapa Alucard bisa menjadi makhluk empat dimensi yang mana entitasnya sebagai makhluk hidup adalah anomali sehingga keberadaannya bisa ada dimana saja dan tidak ada dimana saja pada saat bersamaan, tidak lain karena adanya satu juta nyawa roh hidup yang dia tanggung di dalam dirinya. Alucard, sederhananya adalah perwujudan tunggal dari satu juta orang. Namun karena satu juta itu diperoleh dari memakan nyawa atau hanya roh saja yang dia serap, maka keberadaannyapun menjadi cacat. Dia tidak bisa melakukan sesuatu yang mampu menyentuh takdir dunia nyata.

Azazel pernah mengatakan tentang itu, dan Serafall pun menyebutkan kalau Alucard hanya makhluk empat dimensi yang cacat.

Oleh sebab itulah, dia perlu melepaskan satu juta nyawa itu agar dia bisa melakukan sesuatu. Seperti sekarang ini. Pada saat-saat seperti ini, barulah Alucard bisa dikalahkan dengan pertarungan sebab dia yang saat ini hanyalah entitas vampir bernyawa tunggal seperti umumnya.

Akan tetapi, untuk melenyapkan 25 ribu tentara Aliansi sendirian dia harus mengerahkan semua kekuatannya. Sebagai hasilnya, esensi kehidupannya melemah dan sosoknya pun menghilang lenyap dari pandangan mata, dan menghilang pula keberadaanya.

"Masteer... Hikkss" Seras menunduk sedih, ia masih memanggil-manggil tuannya sambil menangis. Dalam hati ia berharap kalau tuannya itu masih bisa ia rasakan keberadannya

Alucard mengorbankan dirinya agar mengeluarkan semua kekuatan yang ia punyai. Namun sebagai imbalannya adalah kemenangan besar untuk pasukan Konoha dan sekutu-sekutunya.

Tapi pengecualian untuk ketiga orang ini, di sudut yang entah dimana.

"Hei Bellial, Jangan kabur kau!" Roygun berteriak nyaring ketika melihat lingkaran sihir teleportasi dibawah kaki lawannya mulai aktif.

"Ahahahaaaa, kalau saja Tuan Rizevim Livan Lucifer tak memanggilku kita bisa terus bermain disini."

"Sialalan!"

Tanpa bisa dicegah, Diehauser lenyap dari tempat itu.

"Nah, sekarang kita harus bagaimana?" tanya Bedeze Abaddon.

"Normalnya kita akan dimarahi, bahkan mungkin dihukum oleh petinggi karena kekalahan besar ini. Tapi..."

"Tak perlu di jelaskan, ayo kita kembali ke markas." potong Bedeze.

Tentu saja, mereka akan dimarahi. Mereka diamanahi untuk memimpin satu resimen pasukan di titik ini, tapi kekalahan besar lah yang didapat. Hanya saja itu mungkin bisa dimaklumi, mengingat pengkhianatan Diehauser Bellial serta turunnnya Alucard ke medan perang.

.

To be Continued...

.

Note : Ummm, apa yah? Tentang jadwal update lagi nih, sorry kalau topik ngebosenin dan dianggap ga penting. Jadi begini, harusnya chapter ini bisa selesai cepat. Jum'at kemarin harusnya udah update, tapi eeeh mendadak Jum'at - Sabtu ada tugas keluar kota. Makanya baru bisa up hari ini.

Lalu harusnya sesuai janji kemarin sih, NaruHina sudah muncul di chapter ini. Naskahnya udah aku tulis sampai situ, tapi editingnya cuma sampai sini saja. Karena udah kemaleman dan aku udah terlanjur janji pada beberapa orang kalau update hari ini, jadi aku update aja deh. Kalau ga update hari ini, kan namanya ingkar janji? Ga boleh itu. Hahahaaa. Lalu karena aku editingnya dalam kondisi mata ngantuk, mungkin masih banyak kesalahan redaksi kalimat. Tolong maklumi.

Chapter selanjutnya fix bakal sampai ke scene NaruHina. Kalau ga sibuk maka dua atau tiga hari udah selesai diedit. Jadi misalnya kelamaan, tagih aja. hahahahaaa

Untuk chapter ini sendiri, masih kurang lebih sama beberapa chapter lalu. Aku masih mengeksplor Chara minor. Untuk beberapa orang, apalagi yang menunggu aksi karakter utama, cerita ini bisa jadi membosankan. Cuma Sasuke aja sebagai chara utama yang muncul sedikit.

Yamato PowerUp, juga dengan Temari. Siapa lagi shinobi yang belum nih? Chouji muncul tapi belum aku berikan scene.

Akhirnya, jajaaaanggg. Konoha dan sekutu-sekutunya udah menang, meski satu tokoh pentingnya hilang dari cerita. Byebye Alucard. Lalu, bagaimanakah kelanjutannya?

Ulasan Review:

Tentang kenapa chapter kemarin lebih banyak deskripsi dan penjelasannya. Aku kasih tahu aja deh. Begini, sebenarnya itu merupakan bentuk dari aku meringkas drama perang ini seperti yang sudah aku tetapkan. Misal yang dipermasalahkan itu adalah bagian strategi perang di pantai. Nah itu sebenarnya kalau bisa aja diulas menjadi satu sampai tiga chapter full dengan cerita perang yang lebih kental, berat, dan dramatis. Namun karena aku meringkas bagian itu tanpa memotong alur, itulah hasilnya. Dan mungkin saja, bagi orang lain bagian itu bisa dibikin lebih ringkas lagi. Tapi skillku udah mentok disitu, daripada nanti banyak info yang hilang. jadi ya udahlah.

Dan kalau tentang paragraf deskripsi dan penjelasan yang panjang, ga bisa aku atur sesukanya. Tapi kupikir bukan masalah besar karena bagian itu cukup variatif. Ada yang panjang dengan deskripsi (chapter 79 bagian perang dipantai dan banyak chapter lainnya), ada yang panjang dengan narasi (contohnya chapter 79 bagian cerita Nogososro), ada pula yang panjang karena diskusi (chapter 40 salah satunya), juga panjang karena didramatisir, bahkan juga panjang karena adegan mesum. Harusnya yang seperti ini bukan untuk dipermasalahkan.

Jadi yaa sudahlah. Mau bagaimanapun yaa jadinya tetap gitu-gitu aja. Mungkin seperti kata beberapa orang, itu udah jadi ciri khasku. Kalaupun bagian deksripsi teoristisnya sulit, jangan aku dong yang diminta nurunin level kesulitan tapi yang baca harus mikir lebih banyak. Anggap itu tantangan. Begitu lebih baik bukan? Heheheheeee.

Lalu, jika fight Naru atau Sasu atau Hinata. Mana mungkin aku skip, aku bakal tuliskan detail pastinya karena mereka adalah tokoh utama FF ini.

Death chara? Ada, tuh atas udah banyak.

Yang nyari Yatogami, tuh atas muncul sikit. Nanti yang lebih banyaknya.

Tentang banyaknya kesalahan ketik dan typo, sorry. Aku kemarin ngerjainnya ngebut. Yang chapter ini juga ngebut. jadi maklumi aja kalau banyak salah lagi.

Tentang perhitungan di pantai 7 ribu Vs 27 ribu. Terima kasih udah ngoreksikan. Aku kurang teliti disana, anggap tebasan pedang Sasu ngebunuh seribu orang, jadinya hanya 7 ribu Vs 26 ribu. Okeh, bisa diterima?

Wuihh, pemain DOTA ada yang baca FF ini nih. Tahu aja kalau ada beberapa Hero DOTA yang aku pinjem buat jadi monster di FF ini, hahaaaa.

Shinobu udah maksimal. Energi kehidupan yang dia makan, hanya untuk memperpanjang umur bukan untuk nambah power.

Slash Dog udah dapat pembagian peran kok, tapi nanti munculnya.

Kenapa Sasuke hanya muncul sekilas-sekilas, itu ada alasan kuat. Coba pikirkan, kartu yang kuat kok ga dikeluarkan diawal sih? Jawabannya mudah itu. Hahahaaa.

Kata-kata tentang Wibu kemarin, mungkin aku yang salah persepsi ttg pengertiannya yah? Biar deh. Hahaaa. Yang jelas pesannya itu... Suka jepang boleh, tapi jangan sampai ga suka sama budaya sendiri.

Tentang saran untukku bikin novel dan masukin ke penerbit. Emm, makasih. Aku mikir-mikir dulu ya. hahahahaaaa. Tapi kemungkinan besar enggak deh.

Penting untuk ditanamkan nih, aku sedikit banyak memakai materi ttg Reliji Injil dan Hindu-Buddha, tapi tolong jangan pakai ini dalam kehidupan. Sebab aku mengambil literasi dari sana lalu aku ubah-ubah sesuai keperluan cerita. Pokoknya, jangan jadikan materi reliji di FF ini sebagai acuan. Tolong diingat!

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita, sebagian lainnya kubalas lewat PM.

Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.

.

.

.