Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya
Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .
Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance
Rate : M
Setting : AU (Alternate Universe)
Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.
Pair : Semua Pair Canon
Jum'at, 28 Juli 2017
Happy reading . . . . .
Sebelumnya. . . .
Alucard mengorbankan dirinya agar mengeluarkan semua kekuatan yang ia punyai. Namun sebagai imbalannya adalah kemenangan besar untuk pasukan Konoha dan sekutu-sekutunya.
Tapi pengecualian untuk ketiga orang ini, di sudut yang entah dimana. Mereka bertiga cukup kuat untuk menjaga dirinya agar tidak tenggelam dalam lautan darah Alucard.
"Hei Bellial, Jangan kabur kau!" Roygun berteriak nyaring ketika melihat lingkaran sihir teleportasi dibawah kaki lawannya mulai aktif.
"Ahahahaaaa, kalau saja Tuan Rizevim Livan Lucifer tak memanggilku kita bisa terus bermain disini."
"Sialalan!"
Tanpa bisa dicegah, Diehauser lenyap dari tempat itu.
"Nah, sekarang kita harus bagaimana?" tanya Bedeze Abaddon.
"Normalnya kita akan dimarahi, bahkan mungkin dihukum oleh petinggi karena kekalahan besar ini. Tapi..."
"Tak perlu di jelaskan, ayo kita kembali ke markas." potong Bedeze.
Tentu saja, mereka akan dimarahi. Mereka diamanahi untuk memimpin satu resimen pasukan di titik ini, tapi kekalahan besar lah yang didapat. Hanya saja itu mungkin bisa dimaklumi, mengingat pengkhianatan Diehauser Bellial serta turunnnya Alucard ke medan perang.
.
To The End of The World
Writen by Si Hitam
.
Chapter 81. Armageddon War, End of The World - Part 5.
.
-Arena Perang Underworld-
Markas Pasukan Persekutuan Penentang Imperium of Bible, suasana lega menghampiri orang-orang di sana, tepatnya di dalam tenda utama.
Para anggota Dewan Perang, meskipun belum melakukan apa-apa tapi mereka selalu siaga dari awal perang berlangsung.
Shikamaru baru saja masuk ke dalam tempat para dewan untuk melaporkan situasi. Di telinganya terpasang earphone yang tersambung dengan Ino di tenda lain. Ino bertugas sebagai pusat penerima informasi dari seluruh medan perang. Sembari mendengarkan informasi dari Ino yang tersambung dengan server, Shikamaru mengatakan laporannya.
"Medan perang di titik D sukses, kemenangan besar untuk kita."
"Seperti yang sudah di duga."
Lord Tepes menyambung ucapan Ratu Carmilla, "Alucard-sama memang hebat. Ketika dia sudah melepaskan limiter yang menyegel kekuatannya, hal mustahil pun bisa terjadi."
"Hu'um. Akan tetapi ini akan jadi bantuan terakhir Alucard-sama untuk kita." ucap Ratu Carmilla sendu. "Dia memang tidak mati, tapi keberadaannya di dunia ini makin tipis setelah melepaskan nyawa-nyawa yang tersimpan dalam dirinya."
Shikamaru mengangguk, ia mengerti. Inilah yang namanya perang. "Berkat dia, kerugian kita sangat sedikit. Pasukan kita yang tewas di titik D tidak sampai 200 orang dan yang terluka pun tidak banyak. Yang terluka parah telah di bawa ke barisan belakang untuk mendapat perawatan medis secara intensif, sedangkan yang luka ringan sedang di istirahatkan. Untuk selanjutnya, kita harus menang agar pengorbanan Alucard-dono tidak sia-sia."
"Itu benar." timpal Kakashi, "Lalu bagaimana dengan di titik B?"
"Seperti yang sudah rencanakan, di titik B kita juga menang meski kerugian kita cukup banyak. Kita berhasil menyerang musuh dari arah depan dan belakang, menjepit mereka hingga dilanda kepanikan. Akan tetapi, karena jumlah pasukan kita yang lebih sedikit dan rata-rata kekuatan individual musuh berada di atas kita, maka diperlukan usaha ekstra. Tidak mudah mengalahkan 15 ribu pasukan kelas atas terlatih yang terjepit dengan hanya 15 pasukan yang dibentuk dalam waktu singkat. Itupun, 2 ribu di antara mereka berhasil kabur bersama para petingginya."
"Tidak mengejutkan, wajar saja begitu" ucap Dewi Amaterasu santai.
"Ya. Dan sisa-sisa pasukan kita di titik B telah ditarik mundur."
Tidak seperti titik D yang berhasil dimenangkan secara telak, di titik B pasukan Konoha dan sekutunya hanya menang tipis.
Baraqiel dan Uriel mendapatkan luka yang cukup parah, tapi mereka masih hidup dan memerintahkan 2 ribu sisa pasukan mereka untuk mundur, entah apakah mundur ke markas di Kota Lilith ataukah akan mencuri kesempatan untuk istirahat sebelum bergabung dengan resimen pasukan Aliansi di titik lain. Sedangkan Dewi Lucoa kehabisan banyak tenaga. Perlu istirahat cukup lama agar dia bisa bertarung dengan kekuatan penuh lagi.
Mac Gregor Mather yang merupakan bidak Bishop Sirzech Lucifer dan Ruval Phenex salah satu Top 10 Rating Game bertarung imbang melawan Dewa Raijin dan Fuujin. Kedua iblis itu memutuskan untuk menghentikan pertarungan setelah Baraqiel memerintahkan untuk mundur. Sepasang dewa itupun juga tak mengejar karena markas mengumungkan bahwa pihak mereka sudah menang dan harus fokus untuk langkah selanjutnya.
Chouji, Yamato, Siegfried dan para prajurit elit dari kubu koalisi Konoha kini juga tengah beristirahat seperti kebanyakan prajurit lain. Mereka semua sudah berusaha keras jadi mereka punya hak untuk itu. Saat ini, mereka sudah bergerak mundur sedikit dari titik B. Bekas pertempuran disana hanya menyisakan kerusakan hebat, jadi butuh tempat yang lebih nyaman untuk mendirikan kamp istirahat.
"Bagaimana dengan tiga titik lainnya, Shikamaru?"
"Kalau di titik A, kedua kubu sepakat untuk istirahat setelah setengah hari bertempur dengan hasil imbang. Dewi Perang Bishamonten berhasil melakukan negosiasi dengan pemimpin musuh, Great Seraph Gabriel dan Maou Serafall Leviathan. Lagipula mereka sama-sama sadar bahwa lebih baik begitu, tidak menguntungkan kalau memaksa untuk melanjutkan pertempuran. Masih berada di sepanjang pantai, kedua kubu memisahkan diri dengan jarak yang lumayan jauh dan mendirikan kamp."
Untuk sekarang mereka memang beristirahat. Tetapi belum ditentukan sampai kapan batas waktunya. Kedua pihak nampaknya sepakat berkomunikasi lewat kurir. Semoga saja tidak ada yang berkhianat dan menggunakan cara licik dari kedua kubu selama tahap ini. Kalau tidak, yaa tidak tahu akan seperti apa jadinya nanti. Atau mungkin bisa juga mereka menunggu perintah dari markas pusat masing-masing untuk gerakan selanjutnya.
Shikamaru melanjutkan, "Sedangkan di titik C dan E masih melakukan pertempuran. Sebab titik E adalah arena pertarungan brutal antar monster, markas bisa sedikit mengabaikannya dalam hal strategi."
Disana makhluk kuat yang bertempur rata-rata tingkat intelegensianya rendah, bahkan ada yang tanpa intelegensia. Ya wajar karena kebanyakan adalah monster. Strategi rumit tingkat tinggi kurang relevan untuk diaplikasikan, cukup hanya dengan mengatur pertempurannya saja, tentang siapa melawan siapa. Amati karakter setiap monster lawan, cari kelemahannya, lalu terjunkan monster milik sendiri yang memiliki keunggulan terhadap kelemahan monster lawan. Begitu saja sudah cukup.
"Lalu untuk titik C, Kapten Cao Cao memberitahu bahwa tidak usah terlalu mengkhawatirkan mereka. Si jenius itu sedang tarik ulur pasukan di kawasan hutan dengan Zekram Bael. Meski suasananya nampak jauh lebih sunyi dibanding titik lain dengan tidak banyak kerusakan pada lingkungan, tapi kenyataannya pertempuran disana tak kalah mengerikan. Lebih kepada pertempuran psikologis, saling tekan dengan saling membunuh dan membalas, bertahan hidup dengan memburu dan diburu. Dia hanya meminta agar markas selalu siap sedia jika dia meminta bantuan. Percayakan saja padanya."
Tsunade nampak berpikir, "Hm, arah perang masih belum bisa diperkirakan meski jalannya perang sudah berubah. Ne Shikamaru, aku ingin dengar statistik hasil perang hari ini."
"Ino menginformasikan, secara keseluruhan sekitar 25 ribu pasukan kita telah gugur di medan perang sementara 60 ribu pada pasukan musuh. Kita menang karena jumlah korban pasukan kita jauh lebih sedikit, tetapi sebenarnya ini hasil yang buruk jika terus saja begini tanpa ada perubahan. Kita hanya memiliki 100 ribu pasukan tersisa, sedangkan musuh memiliki 150 ribu di medan perang dan di belakangnya ada 1 juta lagi."
"Sepertinya memenangkan perang masih terdengar mustahil bagi kita." ungkap Dewa Kinich Ahau.
"Memang." sahut Shikamaru. "Karena itulah, kita akan sangat tergantung pada strategi dan kartu As yang kita simpan."
"Yang terpenting kita sanggup menahan musuh sampai pada titik ini. Bukankah itu sudah sangat bagus?" ucap Kakashi bijak.
Semua orang mengangguk.
Dewi Amaterasu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, "Sekarang hari sudah hampir gelap, kita harus siap-siap untuk menghadapi invasi malam hari dan tetap membuka mata."
"Benar. Kita tidak tahu apa yang akan musuh rencanakan pada malam hari, tetaplah siaga." sambung Lord Tepes.
"Terus selanjutnya bagaimana? Kau sudah punya strategi untuk perang malam hari, Shikamaru?" kali ini Kakashi yang buka suara.
"Belum ada. Kupikir kami dari Unit Komando dan Strategi tidak akan membuat rencana spesifik. Kita tidak akan melakukan pertempuran secara total pada malam hari."
"Alasanmu?"
"Karena pasukan kita tidak diuntungkan pada pertempuran malam hari." jawab Shikamaru mantap atas pertanyaan Dewi Amaterasu. "Bukannya saya bermaksud sombong, tapi dalam pasukan persekutuan para shinobi Konoha adalah tonggak strategi. Meski dalam komposisinya jumlah shinobi sedikit, tidak lebih 20 ribu dari total 125 ribu pasukan, tapi kami memiliki jauh lebih banyak skill dan teknik yang variatif sehingga memberikan kita banyak sekali pilihan strategi. Namun, shinobi Konoha pada dasarnya hanyalah manusia dengan banyak keterbatasan jika dibandingkan dengan makhluk supranatural, apalagi jika malam hari. Dan yang kita hadapi, paling banyak adalah para iblis."
Aliansi Tiga Fraksi semuanya terdiri dari para makhluk supranatural, tidak seperti pasukan koalisi Konoha yang sebagiannya adalah manusia. Selain itu, para iblis merupakan makhluk malam alami dimana pada malam hari mereka memiliki tingkat kepekaan indra yang jauh lebih tinggi. Itu masih harus ditambah dengan iklim Underworld yang sangat keras untuk manusia. Ketidakuntungan ini tidak bisa diabaikan begitu saja oleh Shikamaru.
Memang, dalam pasukan persekutuan ada banyak makhluk supranatural, bahkan ada ribuan pasukan vampir yang juga makhluk malam alami. Tapi, tetap saja kan? Kekuatan mereka tidak bisa sepenuhnya keluar jika bertempur malam hari karena tidak semua komposisinya dalam kondisi terbaik.
"Begitu ya." ucap Tsunade. Semua anggota dewan nampaknya juga telah mengerti.
"Tapi hei, bukannya dalam perang hal seperti ini adalah pilihan yang buruk."
"Apa maksud anda, Amaterasu-sama?" tanya Ratu Carmilla. Dapat ia lihat dari wajah sang pemimpin Takamagahara kalau dia masih menyimpan banyak kekhawatiran di dalam hati.
"Menyerang adalah cara bertahan yang paling baik. Tapi kita tidak menyerang, artinya kita hanya akan bertahan saja. Dan siapapun tahu, mempertahankan sesuatu itu jauh lebih sulit dari meraihnya."
Maksud Dewi Amaterasu adalah, siapa yang mampu menjamin kalau pada malam hari tidak akan ada serangan. Apa yang dikatakan Shikamaru bahwa koalisi ini tidak akan melakukan pertempuran secara total pada malam hari bukan lah sebuah pilihan yang bisa dipilih begitu saja. Jikalau pasukan Aliansi Tiga Fraksi melakukan serangan besar-besaran, apa mungkin pasukan koalisi bisa bertahan kalau tidak bertempur?
Kemudia secara umum dalam sebuah perang, meski kedua pihak yang saling berhadapan memiliki kekuatan yang sama tapi tetap saja tekanan yang dialami pihak bertahan jauh lebih berat daripada pihak yang menyerang. Sebab bertahan sambil melindungi sesuatu itu lebih sulit daripada menyerang dan menghancurkan.
"Untuk itulah, kami unit informasi dan unit strategi akan bekerja keras."
"Hm?"
"Yang jelas, kalau mereka memang ingin menyerang kita maka mereka tidak akan bisa menyerang dengan mudah." Shikamaru mengatakannya dengan mantap dan raut muka penuh keyakinan yang seakan membuat orang yang melihatnya tidak akan bisa membantah apapun yang dia katakan tanpa perlu ia menjelaskan apa-apa lagi.
Menyerang dalam perang bukan hanya tentang 'maju lalu bertempur', tapi lebih dari itu ada banyak komponen-komponen lain yang secara keseluruhan harus pada kondisi sempurna agar sebuah serangan mutlak berhasil.
Entah apa yang direncanakan Shikamaru. Biarkan saja dia.
Tampaknya, Dewan Perang bisa percaya dengan apa yang dikatakan Shikamaru.
Shikamaru kembali menjelaskan, "Untuk sekarang, kita akan melakukan pergerakan sesuai rencana awal, yakni melakukan rolling pasukan antara gelombang pertama dengan gelombang kedua. Selama satu jam saat senja, kita akan menarik mundur pasukan yang kelelahan dan terluka akibat bertempur sepanjang siang hari, kembali ke dimensi buatan ini melalui Gerbang Teleportasi di Tanjung Harapan untuk digantikan dengan pasukan yang prima dan siap tempur. Pergerakan ini sudah diatur sedemikian rupa dan dilakukan dengan cepat agar musuh tidak menyadari berapa total jumlah pasukan kita yang sebenarnya. Titik B dan D yang telah kita menangkan akan dikosongkan, sehingga jumlah pasukan di titik A, C, dan E bisa kita maksimalkan."
"Apa itu tidak masalah?"
Jelas saja hal itu dipertanyakan. Jika untuk menjaga suatu wilayah perlu lima pos tapi tiba-tiba dua pos dikosongkan, maka itu artinya sama saja membukakan pintu rumah untuk maling.
"Kupikir tidak sesederhana itu. Musuh kita pasti akan lebih berhati-hati pada dua titik tersebut. Mereka pasti beranggapan bahwa titik yang telah kita kuasai rawan akan perangkap, sehingga akan berpikir dua kali jika masih ingin melewati titik itu. Lagipula Formasi Sabuk Berjalan pasukan Aliansi tidak akan bergerak maju kalau kita sanggup menahan tiga titik yang tersisa, meski titik B dan D telah kosong."
Um, benar juga. Mana mungkin kan ada maling yang berani masuk jika dia dibukakan pintu? Kalau ada, itu maling bodoh.
Ratu Carmilla mengembuskan nafas ke telapak tangan lalu ia usapkan keduanya, mungkin kedinginan. Sedikit aneh bagi ratu vampir. Sementara yang lain juga melakukan peregangan masing-masing. Sampai detik ini, belum ada yang berada di luar perhitungan mereka. Belum ada juga kejadian gawat yang sampai membuat panik.
Shikamaru buka suara memecah keheningan, laporannya sudah selesai dan ia masih memiliki banyak pekerjaan di ruang komando. "Kurasa sudah cukup sampai di sini laporanku. Aku hanya ingin memberitahu, kita masih belum memiliki kesempatan untuk istirahat. Bisa saja ada kejutan dari pasukan Aliansi yang membuat kita panik dan terpaksa ada diantara para dewan yang harus turun ke medan perang. Hal itu tidak bisa diprediksi."
Semua anggota dewan mengerti, itu juga bagian dari tugas mereka.
"Kalau begitu, aku ijin keluar." ucapnya lalu berbalik badan dan berjalan keluar.
"Tunggu, Shikamaru!"
Panggilan Kakashi membuat Shikamaru berbalik lagi.
"Ada apa, Hokage-sama?"
"Bagaimana dengan Kazekage-sama?"
Hampir terlupakan, Sabaku no Gaara saat ini sedang berada di medan perang memimpin satu batalion pasukan. Dan musuh yang sedang dia hadang bukan sesuatu yang bisa dihadapi sambil memikirkan hal lain. Sedikit saja lengah, sedikit saja konsentrasi teralihkan, maka bukan tidak mungkin Gaara dan pasukannya yang ada di sana hanya tinggal nama.
"Dia..."
"Hm?"
.
Jingga menguasai langit di padang berbatu. Seekor naga merah raksasa terbang semakin rendah lalu mendarat di tanah. Naga Langit Osiris, generasi pertama kelas heavenly dragon. Kepalanya menunduk sehingga pemuda yang tadi berdiri di atas kepalanya dapat turun ke tanah dengan mudah.
"Lihat! Itu Komandan Gaara"
"Kenapa Komandan Gaara turun ya?"
"Pasti terjadi sesuatu." timpal pria lainnya.
Ketiga pria tersebut tidak lain adalah shinobi Konoha generasi lama, Aoba, Izumo, dan Kotetsu.
Gaara menghampiri mereka, "Musuh yang kita hadang tidak melakukan gerakan apapun. Tapi tiga orang itu tampaknya juga tidak membiarkan kita pergi dari sini."
Ke sudut sana yang jaraknya sampai 5 kilometer.
"Silahkan duduk, Lucifer-sama, Michael-sama."
Grayfia menunjukkan sofa empuk yang baru saja dia datangkan ke tempat ini.
"Ayo duduk, Michael-dono. Secangkir teh dan kue kering pasti sangat nikmat saat sore seperti ini." ajak Sirzech.
"Benar sekali."
Grayfia pun menyajikan hidangan yang entah dia ambil dari mana. Namanya juga sihir. Setelah itu, dia pun mendatangkan benda-benda lainnya seperti tenda lengkap dengan pemanas ruangan di tengahnya serta perabot lainnya. Dekorasinya bisa dibilang cukup mewah.
Bisa dipastikan, kalau ketiga orang ini akan bermalam di tempat ini.
Setelah menyesap satu teguk cairan teh, Michael memulai pembicaraan. "Apakah ada laporan dari markas kita di Kota Lilith?" tanyanya to the point.
Sirzech menoleh pada lawan bicaranya, "Ada, dan laporannya cukup mengejutkan. Falbium memberitahu bahwa pasukan musuh ternyata mampu membuat perlawanan sengit, menahan pergerakan pasukan kita bahkan mengalahkan dua resimen tempur di dua titik berbeda."
"Wah, tidak kusangka mereka sekuat itu." Michael sampai bertepuk tangan. "Nah, selanjutnya bagaimana?"
"Untuk malam ini, katanya Falbium masih ingin bermain-main. Kita biarkan saja dia."
"Boleh. Lagipula, 1 juta malaikat kloning baru akan siap besok pagi."
"Yeah. Dan besok, kita akan mengakhiri mereka demi memulai dunia baru yang kita impikan."
Ucapan Sirzech diakhiri dengan sebuah tawa mengerikan.
.
.
.
-Hokkaido, Jepang-
Semilir angin sepoi mengembus lembut permukaan kulit diiring merdunya burung-burung kecil yang melantunkan nada-nada penenang, menjadikan seorang anak remaja laki-laki terbuai kantuk luar biasa saat punggungnya menyender di batang pohon. Apalagi rindangnya dedaunan, membawa sejuk diantara terik panasnya matahari siang.
Mungkin dia lelah.
Dunia manusia terasa damai, tentram dan sangat tenang, apalagi di sini adalah pedesaan yang terletak di tengah-tengah Hokkaido. Yang pasti, sangat jauh dari huru hara perang, seakan ini adalah surga yang sesungguhnya.
Seandainya lebih lama, pasti dia akan tertidur pulas. Hanya seandainya, sebab aura menakutkan sedang diarahkan padanya. Dari seorang remaja perempuan yang mengepalkan tangan tak lupa hiasan perempatan siku di dahinya.
"Ko-no-ha-ma-ru-! Bangun atau kepala benjol?"
"Emmhh. Aku bahkan belum tidur, Okaa-chan. Tunggu aku selesai tidur ya."
Si laki-laki menjawab sekenanya saja dari pose menutup mata dengan pergelangan tangan.
"Tunggu, katamu?"
"Yah, um ya."
"Grrrr!"
Duuaakk...
"WADDAAAAWWWW! Siapa monyet sialan yang berani mengganggu tidurku hah?"
Konohamaru berteriak murka menatap kiri kanan mencari pelaku yang berbuat keji padanya. Tidak terlalu keji sih, hanya ditimpuk dengan batu.
Lalu saat dia menatap ke depan, langsung ketakutan. Meneguk ludah saja rasanya seperti menelan biji salak.
"Ah, anooo. Ettoh, Hanabi-chan. Kau makin cantik saja."
"Heh? Coba ulangi!"
"A- u... k-kau..." Konohamaru gagap karena saking gugupnya.
"Aku apa?"
"K-kau cantik."
Duuaaakk.
Ditimpuk sekali lagi. Konohamaru merayu pada waktu yang salah.
Inginnya Konohamaru kabur daripada dikasari lagi, apalagi kalau kena Jyuken pasti mematikan. Hanya saja niat itu dibatalkan karena gadis yang membangunkannya malah mendudukkan pantat persis di sampingnya, ikut bersandar di batang pohon.
Mungkin Hanabi Hyuga juga lelah.
"Sudah selesai ya pekerjaan kita."
"Sudah selesai dari sejam lalu kalau kau tidak tidur disini tahu!"
"Maaf ya, hehee."
"Hm."
"Apa setelah ini kita bisa istirahat penuh?"
"Iya. Tugas kita sudah benar-benar selesai. Semua warga sipil Konoha sudah di pindahkan dari desa kita ke dunia manusia ini. Yang kita pindahkan ke pedesaan di Hokkaido ini adalah kloter terakhir."
"Yeii, syukurlah."
Sejak pertama kali menghirup udara dari dunia ini kedalam paru-parunya, Rokudaime Hokage Hatake Kakashi sadar betul kalau tak ada ceritanya akan pulang ke dunia Shinobi tempat mereka berasal.
Bagaimana mau pulang kalau dunia itu sudah kiamat?
Bertahan di Pulau Melayang Konoha mungkin bisa kalau hanya untuk satu atau dua tahun. Tapi untuk seterusnya bukan lah ide bagus sebab penduduk Konoha yang cukup banyak akan terus tumbuh hingga melebihi daya tampung desa yang hanya menyisakan tanah sempit diluar dinding pembatas desa. Itu belum lagi dengan ancaman yang datang kemudian oleh adanya serangan makhluk supranatural, bahkan kini Konoha berperang dengan mereka.
Sebab itulah, Kakashi sejak awal sudah mencanangkan program jangka panjang untuk memindahkan penduduk sipil Konoha ke bumi. Dipusatkan di Jepang karena memiliki kebudayaan yang paling mirip. Warga sipil Konoha yang lumayan banyak di kirim ke beberapa tempat di Jepang setelah mereka mendapat pelatihan untuk membaur dengan manusia bumi, tentu juga setelah mendapat identitas kependudukan dari kantor sipil pemerintah Jepang walau didapat dengan jalur illegal.
Nah, yang terakhir di desa pedalaman Hokkaido ini. Ada yang membaur hidup di kota besar, namun akibat cukup sulit karena adanya perbedaan teknologi yang terlampau jauh jadinya kebanyakan pindah ke pedesaan. Baik itu masuk ke desa-desa yang sudah ada dan membaur dengan penduduk asli, atau membangun desa baru sendiri.
Di sinilah tugas Konohamaru dan Hanabi, ninja muda yang ditugaskan untuk mengamankan jalur perpindahan penduduk Konoha.
Mereka terlalu muda kalau diikutkan dalam perang, jadi tugas inilah yang paling cocok.
Konohamaru merasa heran dengan Hanabi yang duduk diam saja setelah ucapannya yang terakhir tadi.
"Ada apa, Hanabi-chan? Kau memikirkan sesuatu?"
"Aku merindukan Nee-sama." ucapnya datar.
Konohamaru sontak menyendu, "Aku juga merindukan Naruto-niichan."
"..."
"..."
Niatnya Konohamaru hendak menghibur dengan mengatakan bahwa dirinya juga sama seperti Hanabi. Objek kerinduan mereka dapat di samakan, tapi itu tidak bisa menghilangkan kegundahan di hati gadis itu.
Gadis ini teramat menyayangi kakaknya. Rasa khawatir seringkali menghinggapi relung hatinya walau ia percaya penuh bahwa Uzumaki Naruto pasti akan selalu melindungi kakaknya itu.
Hinata dan Naruto meninggalkan Konoha tidak lama setelah kiamatnya dunia Shinobi dan Konoha dipindahkan ke dunia baru. Hampir setengah tahun sudah berlalu semenjak saat itu.
Siapa yang tidak rindu coba, pada orang tersayang yang pergi tanpa pernah mengirimkan khabar.
Terakhir Hanabi dengar, kakaknya sedang menjalankan misi penting bersama sang suami. Misi yang tidak Hanabi ketahui apa. Yang terpikir adalah, itu misi penting, berat, dan berbahaya, bahkan ada kemungkinan kalau misi itu memerlukan pengorbanan besar.
Hanabi tidak ingin membayangkan kalau kemungkinan itu menjadi nyata. Ia sendiri cukup banyak tahu dengan situasi dunia supranatural saat ini, tentang perang yang lagi-lagi harus terjadi.
"Tak perlu sampai sesedih itu." Konohamaru coba menenangkan. "Kita semua bisa percaya pada Naruto-niichan. Mereka berdua pasti berhasil, lalu pulang pada kita dengan selamat. Konoha juga, Kakashi-sensei dan yang lainnya pasti akan memenangkan perang kali ini."
"Ya. Aku tahu."
Hanabi tahu, Hanabi percaya itu. Tapi tetap saja...
.
.
.
-Dimensional Gap-
Bukan celah dimensi, lebih tepatnya ini adalah dimensi ruang buatan yang melayang di celah dimensi dan dilindungi kekkai khusus agar tidak terlihat. Sengaja diciptakan untuk menyembunyikan barang hasil curian yaitu Pulau Langit Agreas.
Dari segi koordinat, entah dimana letak persisnya. Bisa saja dekat dunia manusia, Underwolrd, Surga, atau mungkin dekat dengan tempat mitologis tertentu.
Untuk sekarang, tempat ini adalah markas sebuah kelompok perusuh, Qlippoth dari Khaos Brigade.
Ada Trihexa [666] di sana, yang sebentar lagi akan bangkit, hanya dalam hitungan jam.
Sekelompok orang dan monster datang melalui lingkaran sihir teleportasi.
"Phuuaaahh, leganyaaaaa." Rizevim meluruskan badannya. "Lelah juga ih, pekerjaan tadi ternyata lumayan banyak menguras tenagaku."
"Makanya. Hussh! Sana istirahat kau, Pak Tua!"
"Kurang ajar kau, Bocah Pirang. Kau anggap aku apa mengusirku pakai husss husss hussh begitu eh?"
"Pikir saja sendiri!, kau kan jenius."
"Memang. Unchahyahyahyaaaa..."
"Tch, dasar orang tua gila!"
"Sudah, Anata. Kita sebaiknya juga istirahat, kau pasti kelelahan bukan?"
Cukup dengan bujukan singkat yang lembut dari sang istri, Naruto langsung tenang.
Rizevim telah melenggang jauh pergi, dia menuju sofa empuk miliknya yang terletak persis di depan ruang kebangkitan Trihexa.
Para Naga Jahat legendaris yakni Laddon, Aži Dahāka, Niđhöggr dan Aphopis pun sudah menyamankan diri di sarang masing-masing. Kecuali Crom Cruah, dia yang saat ini dalam wujud humanoid atau bentuk manusia lebih senang bersandar sambil memperhatikan Ophis, yang mana sang ketidakbatasan itu duduk tenang di sofa dekat Rizevim.
Tidak dipedulikan seperti itu, Naruto tak ambil pusing. Dia juga ingin segera beristirahat. Tujuannya adalah sebuah ruang kamar dengan kasur empuk yang cukup lebar tanpa perabotan lain. Aslinya ini bukan kamar tidur, mungkin ruang perawatan, siapa yang tahu kan? Pulau Langit Agreas ini di ciptakan oleh Satan Lucifer Pertama ribuan tahun lalu.
Hei hei heiii! Jangan langsung berpikir yang tidak-tidak, Ok! Pasangan suami istri ini sudah tidak lagi memiliki waktu untuk bercumbu mesra karena misi penting mereka sudah hampir sampai pada penghujungnya.
Naruto sudah akan merebahkan diri kalau saja tak mendapat tawaran dari istrinya.
"Kau tidak mau makan dulu, Anata?
"Ah ya boleh, Hime. Kebetulan aku memang kelaparan."
Hinata mengambil sebuah gulungan kecil dari ransel kecil miliknya. Dibuka...
Boofffttt.
Taraaaa...!
Hidangan enak telah siap.
Fuin penyimpanan pada gulungan ninja memang membuat apapun serba praktis. Termasuk menyimpan makanan siap santap di dalam sana. Bahkan masih hangat pula, terbukti dari adanya asap yang mengepul ketika kotak makanannya di buka. Mungkin fuin-nya memang di desain khusus untuk menjaga suhu penyimpanan makanan agar tetap hangat.
Satu piring berisi makanan komplit berupa nasi, daging, dan sayur disambut Naruto dari tangan Hinata, "Ittadakimasu!"
"Ittadakimasu."
Mereka makan dalam tenang tanpa bicara. Bukan sifat asli Naruto sebenarnya, dia begitu mungkin karena tertular adab makan keluarga Hyuga yang selalu diamalkan Hinata.
"Tambah daging?"
Naruto mengangguk.
Hinata mengambilkan makanan dari kotak lauk.
"Arigatou."
Naruto melanjutkan acara makannya. Kali ini tidak secepat tadi, seperti ada hal yang tiba-tiba saja dia pikirkan.
"Naa, Hime. Umm, entah kenapa aku baru kepikiran sekarang."
"Memikirkan apa?" tanyanya menoleh pada sang suami, makanannya terhenti di depan mulut sebelum disuap.
"Misi akhir kita ini."
"Maksudnya?"
"Maksudku kenapa harus kita?"
Itu sebuah pertanyaan yang semestinya ditanyakan sebelum mereka berdua memutuskan untuk mengambil misi ini. Bukan malah ditanyakan sekarang, saat semuanya sudah mendekati penghujung. Ada buntut dari pertanyaan semacam itu.
Bisa dianggap baik dengan berpikir positif, misalnya melakukan misi itu untuk keberlanjutan hidup dan kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang tersayang, keluarga, maupun teman. Naruto maupun Hinata, keduanya bukan tipe orang yang memasrahkan sesuatu pada orang lain. Maksudnya ialah, jika menginginkan nasib baik maka harus diusahakan sendiri, bukan dengan melimpahkan masalah pada orang lain dan menunggu.
Bisa juga pertanyaan itu malah berdampak menjatuhkan. Pertanyaan tersebut nadanya begitu kental akan kesan pesimis. Membuat hati dipenuhi keraguan apakah akan berhasil melakukannya atau malah menuai kegagalan total. Selain itu juga memunculkan kesan egois. Misi ini untuk semua orang, tapi hanya mereka berdua saja yang berupaya keras. Akibatnya pertanyaan seperti itu bisa dijadikan alasan untuk meninggalkan misi berat ini.
"Aku juga tidak tahu. Mungkin ini takdir yang sudah digariskan pada kita, Anata."
"Ya, bisa jadi sih." Naruto menggendikkan bahu."Omong-omong tentang Cube yang kau pegang itu, apa kau tidak merasa aneh?"
Lupakan tentang pertanyaan tadi, ini tujuan sebenarnya Naruto memulai perbincangan.
"Aneh?" Hinata jadi bingung, bingung dengan pikiran suaminya yang tiba-tiba rumit jadi begini. Padahal jalan pikiran Naruto sebagai orang idealis sangat sederhana dan mudah dimengerti.
"Iya. Coba kau pikir, kenapa kau punya kecocokan tinggi menggunakan Cube di saat tidak ada satu pun orang lain yang bisa menggunakannya?"
"Bukannya sudah aku jelaskan dahulu, Cube merupakan benda peninggalan Klan Ootsutsuki, jadi wajar aku yang mewarisi chakra Hamura Ootsutsuki mampu menggunakannya."
"Sebelum penjelasan yang itu."
"Yaaa, memang pada awalnya Cube adalah item yang sengaja diciptakan langsung oleh Cardinal System sebagai antisipasi untuk melawan munculnya bug. Tapi semenjak berada di tangan leluhur bangsa yang mendiami planet tempat Kaguya berasal, benda itu telah diRe-encoding dan dimodifikasi programnya sehingga Cube menjadi pusaka yang hanya bisa digunakan oleh keturunan berdarah murni dari Klan Ootsutsuki. Aku sebagai Byakugan no Hime memiliki semua persyaratan untuk menggunakannya."
"Bukan itu yang aku maksud, Sayang. Hal yang kau sebutkan itu seperti memang sudah dirancang untuk terjadi. Aku memikirkan tentang kenapa kau bisa menemukan benda itu secara kebetulan dengan sendirinya? Maksudku, kenapa benda itu bisa ditemukan olehmu dan kenapa kau yang menemukan, bukan orang lain?"
"Sudah aku katakan bukan, saat kita masih di dunia Shinobi menjelang kiamat."
-Flashback Chapter 2-
Sebuah pohon yang sangat rindang, tumbuh tepat diatas tebing yang mengukir wajah para Hokage. Sudah 20 menit sepasang pengantin baru ini menikmati sisa waktu mereka, Naruto merangkul Hinata sedangkan Hinata sendiri dengan senangnya menyadarkan kepalanya di dada Naruto. Di tempat ini lah biasanya sepasang kekasih ini menghabiskan sisa waktu kencan mereka sebelum menikah.
"Sebenarnya kau mau membicarakan apa Hinata?" tanya Naruto memecah kesunyian.
"Coba lihat ini!"
Hinata menengadahkan telapak tangannya didepan sambil tetap bersandar di dada suaminya itu. Dari telapak tangan Hinata keluarlah sebuah benda berbentuk kubus berwarna darksteel atau hitam metalik yang bergerak berputar-putar diatas telapak tangan Hinata. Benda itu lebih tepatnya menyerupai sebuah rubik dengan 7x7 petak piece disetiap sisinya dan memiliki ukiran aneh disetiap petak. Rubik yang ukurannya pas ditelapak tangan itu belum terselesaikan puzlenya.
"Benda apa itu Hinata?" tanya Naruto, dia merasa aneh dengan benda yang belum perah dilihatnya itu. Walau begitu naruto cukup tau kalau benda itu adalah sebuah rubik, permainan puzle yang hanya menguras otak dan Naruto sangat tidak menyukai benda seperti itu.
"Ini namanya Cube, benda ini ku temukan tidak sengaja ketika di bulan saat aku mencari letak senjata pemusnah Tenseigan"
-Flashback Off-
"Nah itu, Hime. Kau saat itu mengatakan bahwa kau menemukannya secara tidak sengaja di Bulan. Aku sering mengatakan kalau takdir seseorang bisa di ubah asal mau berusaha keras, itulah idealismeku. Tapi saat aku memahami tentang konsep kejadian alam semesta dan Cardinal System, aku jadi mengerti kalau setiap makhluk menerima takdirnya masing-masing. Jika hal itu benar, seharusnya tidak ada yang namanya kebetulan, tidak ada yang namanya ketidaksengajaan murni. Apalagi untuk Cube yang pada dasarnya adalah produk asli dari Cardinal System."
Tidak ada ketidaksengajaan murni atau Coincidence, maksudnya ialah bahwa setiap peristiwa apapun yang terjadi dari sejak mula dunia ini diciptakan sampai nanti akhir jaman pasti memiliki alasan dibaliknya. Semua peristiwa termasuk dalam rangkaian sebab-akibat. Sesuatu terjadi karena adanya sebab dan pada saat bersamaan juga membawa akibat pada sesuatu yang lain. Pada hakikatnya, segala kejadian apapun yang pernah ada semuanya telah ditetapkan dan diatur sedemikian rupa oleh Sang Penentu Takdir.
Alkisah ada seorang ahli filsafat atau filsuf yang mengatakan bahwa dunia ini terbentuk sendirinya oleh sebuah 'kebetulan'. Suatu ketika dia membuat janji bertemu dengan sahabatnya, seorang ahli hikmah yang arif bijaksana. Si filsuf kesal-sekesalnya karena orang yang janji bertemu dengannya terlambat dan membuatnya menunggu berjam-jam lamanya.
Akhirnya datanglah orang arif bijaksana itu dengan berjalan kaki. Ditanya oleh si filsuf, 'Kenapa engkau terlambat wahai saudaraku?'.
Kemudian di jawab, 'Maafkan aku, wahai saudaraku. Tadi saat hendak berangkat menemuimu, kebetulan terompahku tidak ada. Karena tidak baik berjalan tanpa terompah, jadi aku mencarinya terlebih dahalu. Ternyata kebetulan ada anak tetanggaku yang memakainya tanpa ijin dariku. Setelah itu, aku berangkat. Di tengah jalan, kebetulan aku tersandung. Aku perlu duduk sebentar untuk mengobati lututku yang terluka. Setelah sakitnya mereda, aku melanjutkan perjalanan untuk menemuimu. Kebetulan, tiba-tiba hujan. Mau tidak mau aku berteduh. Kulanjutkan lagi perjalanan setelah hujan reda, dan sampailah aku di tepi sungai. Kebetulan jembatannya rusak. Mungkin terseret arus luapan air akibat hujan. Aku bingung bagaimana caranya menyeberang. Kebetulan, tidak ada nelayan pemilik perahu yang sedang bekerja mencari ikan hari ini. Aku kesana kemari mencari jalan keluar, tidak ketemu tapi akhirnya jalan keluar itu datang sendiri padaku. Kebetulan ada pohon besar di tepi sungai yang tumbang, dan batang pohonnya sampai keseberang sungai. Aku menyeberang melewatinya. Perjalananku berlanjut. Di tengah jalan yang sepi kebetulan aku melihat seorang nenek kelaparan. Aku tidak tega kepadanya, sehingga aku menawarkan untuk menggendongnya hingga sampai di desa selanjutnya. Kecepatanku berjalan melambat karena menggendong nenek itu. Kebetulan di desa itu ada panti orang tua, jadi aku tinggalkan nenek saja itu disana. Terus berjalan hingga akhirnya aku berjumpa denganmu saat ini di tempat ini.'
Si filsuf marah. Tentu saja marah, cerita panjang mustahil macam apa itu? Bukannya cerita, itu malah terkesan seperti alasan bohong yang dibuat-buat. Emosinya meletup-letup, tapi masih dengan sopan dia menyahut cerita orang arif bijaksana tadi. 'Saudaraku, bagaimana mungkin ada kebetulan beruntun yang terus menerus terjadi seperti itu? Mustahil.'
Kemudian dibalas oleh orang arif bijaksana, 'Kenapa kau katakan itu mustahil, wahai Saudaraku? Padahal ceritaku itu sangat singkat dan sangat sederhana dibandingkan dengan cerita awal mula terciptanya dunia hingga menjadi seperti sekarang ini, yang kau sebut sebagai kebetulan belaka.'
Si filsuf terdiam. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Sebenarnya itu adalah kisah antara orang atheis dengan orang percaya tuhan.
Dalam masalah Naruto dan Hinata ini, semua peristiwa dari awal mula dunia tercipta hingga sekarang telah tercatat dan ditetapkan oleh Cardinal System sebagai takdir. Termasuk tentang Hinata yang menemukan Cube dan bisa menggunakannya, pasti ada alasan, sebab, dan akibat yang menyertai takdirnya itu.
"Emm...?" Sungguh, pemikiran semacam itu membuat Hinata yang pintar jadi sangat kebingungan untuk mencari jawaban.
"Kau tahu kan kalau aku tidak pandai menjelaskan sesuatu. Inti dari hal yang sejak tadi aku maksudkan adalah, pasti ada alasan kenapa kau menemukan Cube. Memiliki dan mampu menggunakannya."
"Aku tidak tahu, Anata. Aku tidak pernah memikirkan sampai sejauh itu."
Hinata menunduk, meletakkan kembali sumpit, dan berhenti sejenak dari acara makan. Ia berpikir jauh tentang dirinya namun tak menemukan petunjuk apapun. Alasan kenapa dirinya yang terpilih, hingga berakhir dia dan suaminya yang menjalankan misi menghentikan kehancuran Cardinal System agar dunia tidak kiamat.
Apakah memang semua kejadian ini hanya kebetulan? Ataukah sudah dirancang sesempurna mungkin oleh seseorang?
Dengan teori di atas, maka pernyataan pertama harus dihapuskan. Jadi hanya tersisa pernyataan kedua. Tapi pernyataan kedua menyimpan begitu banyak misteri.
Siapa orang itu?
Apa maksud tujuannya?
Dan banyak sekali pertanyaan yang dimulai dengan kata 'kenapa'.
Baik Hinata maupun Naruto menyadari bahwa pasti ada sesuatu di balik segala yang ada dan terjadi sekarang.
"Hime."
"Hm?" Hinata mendongak, menatap lurus mata saphire suaminya.
"Coba kau ceritakan bagaimana kau menemukan Cube itu, barangkali ada sebuah petunjuk."
"Baiklah."
-Flashback Naruto The Last Movie, Hinata PoV-
Aku tidak suka berlama-lama di tempat ini. Hidangan mewah di meja panjang acara makan siang ini sama sekali tidak membuatku bernafsu untuk makan, terlebih sejak tadi Toneri tidak berhenti berbicara hal yang mulai membuatku muak. Berbicara omong kosong tentang menghancurkan dunia shinobi yang didirikan oleh Rikudou Sennin Ootsutsuki Hagoromo, karena telah rusak akibat menggunakan chakra sebagai senjata juga peperangan yang selalu terjadi.
Aku mengkhawatirkan adikku -Hanabi, yang sekarang kondisinya makin memburuk karena matanya diambil oleh dia. Juga Naruto-kun yang dia lukai. Semoga Naruto-kun masih hidup.
Dia, laki-laki didepanku ini, adalah orang paling tidak ingin aku lihat dari milyaran orang yang ada di dunia.
Keberadaanku disini hanyalah untuk menemukan senjata pemusnah Tenseigan lalu menghancurkannya, seperti yang dikatakan oleh Ootsutsuki Hamura dalam pesannya saat kami berlima di area pemakaman.
Di jendela besar ruang makan, sebuah pulau melayang pada jarak yang cukup dekat.
"Pulau itu?"
Toneri meletakkan sendok makannya, "Jadi sudah muncul ya. Pulau itu adalah Kuil Hamura. Setahun sekali, saat festival Rinne pulau itu akan mendekat ke kastil ini.
Setelah selesai acara makan, aku mencari kesempatan untuk mendekati kuil Hamura dari atap kastil. Aku yakin senjata pemusnah Tenseigan disembunyikan di sana.
Nyatanya setelah Toneri membawaku mengunjungi kuil itu, hanya ada senjata pemusnahnya saja, yang dahulu kala digunakan oleh keluarga cabang untuk memusnahkan keluarga utama Klan Ootsutsuki. Masih ada yang jauh lebih mengerikan yakni sumber chakra Tenseigan itu sendiri.
Saat berada di luar, aku mengaktifkan Byakugan dan menemukan area yang tidak tertembus oleh penglihatanku, sebuah pulau melayang terbesar yang berada di tengah-tengah matahari buatan. Dari sana aku mengerti, bahwa itu lah tempat inti chakra Tenseigan disembunyikan.
Saat mendapat kesempatan lagi, aku pergi ke sana. Ternyata memang benar, ada bola chakra raksasa berwarna kuning di dalam pulau ini. Aku melihatnya dengan jelas dari ujung lorong yang kulewati.
Aku harus segera menghancurkannya, demi menyelamatkan bumi dan semua orang.
Deg.
Saat aku hendak melompat mendekati sumber chakra Tenseigan, aku merasakan ada seseorang yang melewatiku.
Tidak mungkin!?
Aku sudah memastikan kalau aku hanya sendirian di sini. Saat kutengok ke belakang, memang tidak ada siapapun.
Tidak ingin memikirkan itu sebab aku harus secepatnya menghancurkan Tenseigan. Namun...
Grepp...
lagi-lagi ada yang menggangguku. Kali ini seolah ada yang menarik pergelangan tanganku.
Tapi, sungguh aku tidak melihat seorangpun.
Embusan angin membuat rambutku sedikit berkibar.
Angin dari mana?, ini kan di dalam ruangan.
Ada orang yang meniup kah?
Tidak sengaja mataku melirik ke dinding lorong. Meski gelap, saat kulihat lebih jeli tepat di dinding di depan mataku ini, ada gambar sebuah relief yang tak kumengerti.
Entah kenapa, seperti ada dorongan kepadaku untuk menyentuh relief itu.
Kusentuh, dan hampir saja membuatku jantungan saat sebuah pintu ruangan rahasia terbuka lebar di samping gambar relief.
Aku tidak mengerti, ini diluar tujuanku menghancurkan Tenseigan. Dari pintu, aku melihat benda dari bahan logam berbentuk kubus dengan ukiran unik yang terbagi dalam petak 7x7 disetiap sisi, mirip seperti rubik. Diletakkan di atas sebuah tugu batu prasasti yang bergambar relief identik dengan yang kusentuh tadi.
Ah, Tenseigan sudah di depan mata. Aku harus segera menghancurkanya demi menyelamatkan bumi, untuk apa aku memikirkan benda tidak jelas itu.
Namun sekali lagi, saat hendak meninggalkan ruangan itu aku seolah mendapat bisikan untuk membawa benda di dalam sana bersamaku.
Aku tidak punya waktu untuk berpikir, jadi kuambil saja benda itu. Ukurannya kecil, jadi kumasukkan ke kantong senjata di pahaku. Nanti kalau berhasil menghentikan Toneri dan pulang dengan selamat ke bumi, aku bisa memikirkannya lagi dan bahkan memperlajarinya.
Tenseigan harus dihancurkan, aku tidak akan membiarkan bulan jatuh ke bumi.
-Flashback Off-
"Setelah bagian itu kau tahu sendiri kelanjutan ceritanya kan, Anata? Baru setelah pulang ke Konoha, aku punya waktu mempelajari tentang Cube yang kutemukan itu."
"NAH!" Wajah Naruto seperti orang yang baru mendapat pencerahan, "Coba pikirkan bagian dimana kau menemukan benda bernama Cube itu, Hime. Kau mendapat banyak firasat agar mengambil Cube, seperti mimpi yang terjadi berulang-ulang kali. Apa menurutmu itu murni suatu kebetulan, Hinata?"
Hinata menggeleng. Dipikir seperti apapun, mana ada logika yang membenarkan semua kebetulan itu. Bukan hanya tentang dirinya yang mendapat firasat untuk membawa pulang Cube saja, tapi tentang semua yang terjadi selama hidupnya. Hinata tidak tahu harus menjawab apa.
"Kuharap misteri ini ada penjelasannya nanti, Hime."
"Aku pun juga berharap begitu, Anata."
Akhirnya, mereka menyerah dan pasrah dengan persoalan yang tak ditemukan jawabannya bahkan tak ada petunjuknya secuipun. Pasangan suami istri itu sudah selesai makan, Hinata membersihkan bekas peralatan makan mereka.
Keduanya berbaring di kasur, berdampingan dengan tangan saling tertaut.
Naruto mengeratkan genggaman tangannya, "Ayoo tidur, kita punya waktu tiga jam sebelum bekerja lagi melanjutkan misi."
"Iya."
Naruto yang dari tadi mengantuk berat, dengan cepat menutup mata. Tapi ia heran karena merasakan Hinata yang belum juga menunjukkan tanda-tanda akan tidur.
"Ada apa, kau masih memikirkan sesuatu lagi?" tanya Naruto setelah matanya terbuka lagi.
"Iya. Aku tidak bermaksud menyembunyikan ini."
"Apaan?"
"Universe ini perlahan sudah mulai runtuh akibat kerusakan Cardinal System yang semakin parah, kiamat sudah sampai di dunia ini."
"APPAAA!?" Naruto begitu terkejut, hingga dia bangun dan terduduk di kasur. "Kenapa kau baru mengatakan hal ini padaku sekarang, Hime?" tanyanya dengan tatapan menuntut.
"Aku juga baru menyadarinya."
"Berapa lama lagi?"
"24 jam lagi dunia ini akan bener-benar lenyap. Sekarang Benua Antartika di Kutub Selatan sudah tidak ada, jika dilihat dari angkasa bumi tak ubahnya apel yang telah digigit. Svartalheim, salah satu dari sembilan dunia mitologi Norse juga lenyap. Selain itu, masih ada banyak tempat lagi yang juga telah hilang."
"Sebesar itukah kerusakannya!?" Naruto sama sekali tidak menyangka. "Harusnya kalau sudah sebesar itu, semua orang pasti heboh."
"Karena tidak seorang pun yang menyadarinya. Anata, kita sama-sama tahu kalau dimensi ruang di dunia ini jauh lebih kompleks dari dunia shinobi, terdiri dari banyak dunia paralel dan berbagai dimensi ruang. Karena itulah, cara keruntuhannya berbeda. Kalau dunia shinobi lenyap karena dihantam meteor raksasa, maka kiamat di dunia ini terjadi akibat terciptanya void berbentuk bola raksasa. Void adalah fenomena alam rumit yang terjadi melalui peristiwa kehampaan. Tidak bisa dibayangkan seperti apa wujud Void itu, mungkin mirip dengan lubang hitam atau Black Hole di ruang angkasa. Sifat void yaitu menfana'kan atau membinasakan segala sesuatu yang ada. Sifat ini tidak sesederhana kata menghancurkan. Sesuatu baik yang hidup ataupun yang mati jika ditelan oleh Void, akan hilang wujudnya sampai pada tingkat esensi realitas. Kau bisa menganggap, apapun yang ditelan void sebagai suatu yang tak pernah ada ibarat dilupakannya mimpi setelah terjaga dari tidur."
Mimpi hanyalah khayal belaka, tidak nyata dan tidak ada. Lalu bagaimana jika yang 'tidak ada' itu hilang atau hancur atau dilupakan? Itu hanya akan menjadi sesuatu yang tak 'memberi bekas', tak memberi manfaat pun juga tak memberi mudharat.
"Ini benar-benar parah. Tapi bagaimana kau bisa menyadarinya?"
"Sesuatu yang telah ditelan void memang hilang sepenuhnya, tapi di dalam Cube aku bisa mengetahuinya sebab dari sana aku mampu mengakses data-data yang masih tersisa pada Cardinal System."
"Begitu ya. Baiklah, sedikitnya aku mengerti. Kalau sudah begini, kita harus bertindak cepat. Aku akan menghubungi Kuroka. Kita butuh bantuan Vali dan timnya. Daripada mereka mengacau di medan perang, lebih baik disuruh membantu kita."
Naruto mengambil alat kecil dari tas ranselnya. Sebuah ponsel, bukan ponsel biasa tapi peralatan sihir komunikasi. Benda itu adanya sepasang, dibuat khusus oleh Kuroka agar Tim Naruto dan Tim Vali bisa saling berkomunikasi.
Selesai bicara, Naruto menatap serius pada istrinya, "Ayo kita tidur dulu, sebelum tidak ada lagi tidur untuk kita."
.
To be Continued...
.
Note : Nah, ini cepet updatenya. Hihiiii.
"Sepertinya memenangkan perang masih terdengar mustahil bagi kita." perkataan Dewa Kinich Ahau pada Kakashi dan yang lain. Mereka semua sadar, meski berhasil unggul sampai pada titik ini, tapi menang hingga akhir peluangnya masih sangat kecil. Lagipula, Sirzech mengatakan kalau Falbium masih bermain-main dan Aliansi punya banyak kekuatan lagi. Dan itu juga termasuk Shikamaru yang menyebutkan kalau pertempuran malam hari sangat tidak menguntungkan bagi mereka.
Nah kalau seperti itu, biarpun Konoha dan sekutu banyak menangnya pada pertempuran yang sudah-sudah, tapi untuk mencapai akhir?
Oke, Armageddon hari pertama selesai. Dalam beberapa chapter saja. Padahal kalau dibandingkan PDS4, hari pertamanya saja sampai hampir 20 episode. Yaa itu, udah kuringkas ceritanya. Nah, itu belum dengan PDS4 hari selanjutnya yang sampai 200 episode lebih (kalau ditambah dengan filler). Entah bagaimana aku menjalankan kelanjutan FF ini, aku usahakan lebih padat dan cepat lagi tanpa ada alur yang terlewat, kuusahakan. Dan fokus cerita selanjutnya hanya akan tertuju pada karakter penting, tidak seperti 9 chapter kebelakang yang banyak diisi karakter minor dan karakter luar.
Itu juga, ada kuceritakan tentang Konohamaru dan Hanabi. Dari lama banyak yang menanyakan mereka, tapi baru sekarang bisa kukeluarkan. Aku ga bisa ngasih mereka scene pertempuran, sebab dia yang masih terlalu mudah kasihan kalau ikut perang akbar. Mungkin hanya sekali ini. Yang jelas, udah pada tahu kan bagaimana nasib muda-muda Konoha lainnya.
Kemudian, tentang sebuah misteri yang terpikir oleh Naruto. Apa sebenarnya itu?
Lebih penting lagi, waktu yang tersisa sangat sedikit. Kurang dari 24 jam dunia akan benar-benar kiamat.
Jangan terkejut ya, kok kenapa tiba-tiba kiamat tinggal sebentar lagi. Di chapter 40 Arc Kyoto ada aku singgung yaitu tersisa 4 bulan, kemudian pada chapter 53 setelah Arc GGO aku katakan tinggal 12 minggu. Selanjutnya Arc Vampir Rumania dan Arc Turnamen Rating Game hingga sekarang Arc Armageddon. Makanya tak terasa waktu hampir habis, sisa 1 hari lagi.
Setelah ini, seperti kata Naruto, dia dan istrinya tidak akan ada kesempatan lagi untuk tidur.
Ulasan Review:
Ada duet NaruSasu? Ada dong.
'Lupa sama chapter-chapter sebelumnya yang membahas ttg Akhir dunia.' Umm, semoga yang kubahas diatas sedikit banyaknya bisa menyegarkan ingatan kembali. Lagian, aku ga berencana NaruHina begitu muncul langsung libas & End.
Senapan semi otomatis Hallconen II. Mungkin deskripsiku aja nih yang bikin salah paham. Sebenarnya ga ada yang salah kok. Jadi gini, senjata itu digunakan untuk menembak jarak jauh, Seras menargetkan kepala prajurit musuh kelas atas dari seluruh arena. Bidik, tarik pelatuk, dorr, lalu kena. Secepat kilat bidik yang lain lagi lalu tarik pelatuknya lagi tanpa perlu kokang karena senapannya tipe semi-otomatis, begitu seterusnya sehingga kelihatan seperti tembakan beruntun. Manusia mustahil bisa melakukannya, tapi ini Seras yang notabene Super-Vampire, jadi kukira masih logic.
Dan, Waaaaaaaaaaa! Thanks untuk koreksinya. Aku pas nulis bagian Temari lupa tentang tidak adanya lagi hewan Kuchiyose. Aduh, salah fatal nih. Tapi ah, tolong maafkan.
Akemi Homura bakal nongol kok. Peran dia mungkin ga banyak, seperti Bishamon ataupun Seras, tapi dia perannya penting kok.
Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita, sebagian lainnya kubalas lewat PM.
Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.
Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.
.
.
.
