Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Rabu, 9 Agustus 2017

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . .

Naruto yang dari tadi mengantuk berat, dengan cepat menutup mata. Tapi ia heran karena merasakan Hinata yang belum juga menunjukkan tanda-tanda akan tidur.

"Kau masih memikirkan sesuatu lagi, hime?" tanya Naruto setelah matanya terbuka lagi.

"Iya. Aku tidak bermaksud menyembunyikan ini."

"Apaan?"

"Universe ini perlahan sudah mulai runtuh akibat kerusakan Cardinal System yang semakin parah, kiamat sudah sampai di dunia ini."

"APPAAA!?" Naruto begitu terkejut, hingga dia bangun dan terduduk di kasur.

.

To The End of The World

Writen by Si Hitam

.

Chapter 82. Armageddon War, End of The World - Part 6.

-Heaven-

"Ap-..."

"Kejadian macam apa ini!?"

"Mustahil!"

"Bagaimana mungkin hal seperti ini bisa terjadi?"

Hanya kata-kata ketidakpercayaan tak berujung yang terlontar dari mulut Rias dan semua peeragenya, terlebih Issei yang sangat ingin menolak realita yang tertangkap oleh netranya.

"Surga pastinya tidak mungkin begini kan?" ucap Koneko. Ia sendiri juga tidak percaya apa yang sudah terjadi. Sejauh yang ia tahu, Surga adalah tempat yang sangat indah. Tapi sekarang apa?

Walaupun begitu, Koneko tidak seperti teman-teman seklubnya yang lain. Gadis nekosshou ini telah berpikir cukup jauh untuk mencari jawaban atas semua ini, sampai pada nama kedua senpai yang sudah tak pernah lagi dilihatnya.

Oke, catat!

Semua orang sekarang berada di Surga. Surga tempat tinggal para malaikat pelayan tuhan. Seharusnya ini adalah tempat yang tidak cukup dideskripsikan hanya dengan kata 'luar biasa indah, tentram, damai dan tenang'. Tempat ini jauh di atas semua itu.

Tapi sekarang?

Yang terlihat mata tidak lain tidak bukan hanyalah sesuatu yang juga tidak cukup dideskripsikan hanya dengan kata 'luar biasa mengerikan, hancur lebur, luluh lantak, tak tersisa apapun bahkan setitik hawa kehidupan'. Apa yang ada sungguh lebih daripada itu semua.

"Jadi apa yang dikatakan Michael-sama saat itu, memang kenyataan yang benar-benar terjadi?" ungkap Rias.

Ketika tentara malaikat dan Brave Saint yang dipimpin oleh para Seraph datang ke Kota Lilith di Underworld untuk berperang melawan Konoha dan Sekutunya, yang datang hanya setengah dari jumlah yang telah dijanjikan Surga. Archangel Michael mengatakan bahwa separuh pelayan Surga telah lenyap bersama dengan runtuhnya empat dari tujuh tingkatan lantai yang ada.

Dan semua itu...

Nyata!

Saat ini Rias dan semua peeragenya tengah berada di lantai pertama Surga, tempat terdepan yang merupakan pusat segala aktifitas yang berhubungan dengan interaksi antara Surga dengan dunia luar, khususnya Gereja di dunia manusia.

Mereka menunggu di sini beberapa lama setelah melewati gerbang raksasa. Dari sudut pandang ini, yang nampak hanyalah debu-debu yang menggumpal maupun yang membentuk kabut, hasil dari segala yang telah hancur. Tidak ada puing, reruntuhan ataupun benda-benda besar. Kenapa? Karena kehancuran di Surga tidak menyisakan apapun selain serpihan-serpihan debu.

Ada yang nampak masih berdiri tegak, namun itupun seolah hendak rubuh. Tiga buah pilar raksasa yang sangat besar dan tingginya menjulang sampai ke langit. Berkat keberadaan tiga pilar inilah, Surga masih memiliki eksistensinya hingga saat ini. Jika tidak, sungguh Surga benar-benar tidak akan ada lagi.

Ketiga pilar tersebut, menancap bak pasak jauh ke dalam dasar lantai tingkat pertama Surga, menopang dua lantai tersisa yang paling atas yakni lantai tingkat keenam dan ketujuh.

Lantai pertama tidak ada hal lain selain menyisakan lahan gersang nan tandus yang kering, yang tidak mengijinkan makhluk hidup apapun untuk tinggal. Lantai tingkat keenam, terlihat dari bawah sini juga seperti hendak runtuh. Hanya lantai tingkat ketujuh yang masih seperti keadaan awal. Itupun, jika pilar yang menahannya ambruk, sudah dapat dipastikan runtuhnya tingkatan tertinggi Surga itu.

Terakhir...,

Gelap.

Tidak ada lagi cahaya terang dari langit putih yang cerah, yang selalu menerangi Surga. Jika pada keadaan normal Surga selalu dalam keadaan terang benderang, sekarang diselimuti kegelapan. Ada sisa-sisa sedikit cahaya, itupun hanya cukup untuk membantu penglihatan para iblis disana untuk melihat apa yang telah terjadi pada Surga.

Begitulah yang dapat dijelaskan. Tapi keadaan sesungguhnya jauh lebih mengerikan daripada semua itu.

Tobio Ikuse tampaknya sudah bisa menerima keadaan ini meski mulanya ia juga sangat terkejut sampai mulutnya tak bisa berkata-kata. "Orang yang sanggup membuat kehancuran sebesar ini pada Surga, tidak bisa aku bayangkan sebesar apa kekuatannya." ucapnya.

Gadis yang satu tim dengan Tobio mengangguk, "Ya, aku sampai sekarang juga tidak habis pikir."

Nama gadis itu, Lavinia Reni. Satu dari beberapa orang anggota Tim Slash Dog yang diajak oleh Tobio ikut dalam Tim DxD.

"Dan mereka lah target buruan kita. Iya kan, sepupu-kun?" sambung Akeno.

Tobio mengangguk.

Mereka punya hubungan darah, lahir dari keluarga tradisional Jepang penjaga kuil yang sama, yakni Klan Himejima.

Rias tidak ketinggalan berucap, "Aku jadi makin tidak yakin, apa kita semua sanggup menangani mereka?"

Koneko terdiam. Dalam hatinya, hal ini berkaitan dengan kedua senpainya itu lagi, Uzumaki Naruto dan Uzumaki Hinata.

Hening cukup lama sampai akhirnya, seorang paling senior disana melontarkan kata-kata penuh tekad, Rudiger Rosenkreutz.

"Kalian ingin berhenti huh? Mana keberanian kalian semua, mana dendam kalian pada mereka? Perbuatan Rizevim, Qlippoth, dan para pendukungnya tidak akan kalian biarkan begitu saja bukan?"

Itu benar.

Mereka semua muda-mudi yang ada di sini, mendapatkan cukup banyak insiden menyakitkan akibat orang-orang itu.

"Kalau kalian memikirkan tentang kekuatan, maka jangan khawatirkan itu! Dengar, kekuatan datangnya dari dalam hati yang penuh tekad. Mungkin sekarang kekuatan kalian masih belum cukup, tapi nanti saat kita berhadapan dengan mereka sebuah keajaiban bisa saja terjadi." ucap Rudiger lagi.

Walau pesimis masih bersarang di relung pikiran, namun seolah sisi negatif itu terhapus begitu saja dengan besarnya tekad yang berkobar di dalam dada dan besarnya keinginan untuk membalas perbuatan orang yang telah menyakiti mereka dan berbuat kerusakan dimana-mana.

"Maaf menuggu lama."

Suara laki-laki yang baru datang mengalihkan perhatian semua orang.

Dulio Gesualdo. Sang Joker Brave Saint terkuat di surga, datang bersama Ratu Hati Seraph Gabriel yakni Griselda Quarta.

"Ada beberapa hal yang harus kami periksa di lantai tingkat keenam." ucap Griselda.

"Yah, kami mengerti kok." kata Rias memaklumi.

Dulio menatap kesana kemari, "Oh iya, ngomong-ngomong kemana Azazel-sensei?"

"Dia tadi ke-..."

"Aku di sini."

Panjang umur. Yang dicari-cari ternyata sudah berada di tempat.

Sekarang, lengkaplah Tim Anti-Teror DxD.

"Aku sudah selesai dengan pekerjaanku, dari titik ini kita bisa langsung berangkat ke markas musuh."

Segera setelah sampai di Surga, Azazel memisahkan diri dari yang lain. Ia membiarkan anak-anak didiknya menikmati pemandangan Surga yang telah hancur, sedangkan dirinya melacak jejak sisa kepergian para pelaku penyerangan yang telah menghancurkan Surga.

Tim pencari telah berhasil mendeteksi dimana lokasi Rizevim menyembunyikan Pulau Langit Agreas. Hanya saja, untuk pergi kesana tidaklah mudah. Pulau Langit Agreas yang dicuri Rizevim pasti dilindungi oleh barrier anti-sihir teleportasi, sehingga perlu cara khusus untuk pergi kesana. Karena itulah, Azazel menuju lokasi terakhir Rizevim menunjukkan diri di Surga ini, dimana tersisa jejak sihir teleportasi musuh sebagai jembatan penghubung lingkara sihir teleportasi buatannya agar bisa pergi ke sana.

"Kita akan berangkat sekarang, Sensei?" tanya Issei.

"Tidak. Kita harus menunggu 30 menit lagi sampai lingkaran sihir khusus yang kubuat benar-benar siap untuk mengirimkan kita semua ke tempat tujuan."

"Begitu ya?"

"Yaa." sahut Azazel singkat.

Tidak ada suara lagi sampai akhirnya Azazel membuka topik obrolan baru.

"Ini mengenai perang di Underworld, orang disana baru saja mengirimiku informasi."

"Apa kata mereka, Sensei?" Kiba tampak paling tertarik.

"Perang bagian pertama sudah usai saat senja hari di sana. Hasilnya, musuh kita unggul."

"Yang benar?" Xenovia cukup terkejut dengan berita ini.

"Ini cukup mengejutkan." sambung Rossweisse. "Aku tidak menyangka kalau orang-orang Konoha punya kekuatan sebesar itu. Apakah Uzumaki Naruto ada di sana bersama mereka?"

"Tidak, bocah pirang itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda keikutsertaannya dalam perang di Underworld. Pasti, dia dan istrinya sedang merencanakan hal lain dengan Rizevim."

"Kalau begitu, kenapa mereka bisa cukup kuat untuk menahan gempuran seluruh pasukan Aliansi?" tanya Akeno.

Putri Baraqiel ini merasa janggal. Sejauh yang ia tahu dan masih teringat di benaknya dari insiden Pertemuan Petinggi Tiga Fraksi di Akademi Kouh yang dikacaukan oleh Khaos Brigade dan munculnya orang Konoha pertama kali, saat itu Konoha hanyalah eksistensi pendatang baru yang masih kecil. Bagaimana mungkin eksistensi kecil punya kekuatan sebesar itu?

"Karena mereka punya sekutu. Dan harus diakui, sekutu mereka bukan fraksi sembarangan. Mereka dikenal cukup kuat dan eksistensinya di dunia ini cukup terkenal."

Tampak dari wajah Xenovia kalau ia sulit mempercayainya. "Mereka..., punya sekutu?"

"Iya. Masih belum diketahui bagaimana cara mereka menggaet banyak sekutu. Kalian mungkin sudah bisa mengira salah satunya, yakni Bangsa Vampire dari Rumania, karena kita pernah terlibat masalah dengan mereka."

Rias dan peerage-peeragenya mengangguk.

Azazel melanjutkan, "Kemudian mitologi Amerika yang dipercayai suku kuno disana, Aztec dan Maya. Serta Mitologi Laut Selatan Jawa."

Untuk dua ini, sangat mengherankan. Padahal dua mitologi itu kelihatan paling netral dan tidak pernah terlibat masalah dengan pihak manapun. Kemudian ucapan Azazel selanjutnya membuat mereka terperangah.

"Selain itu, seluruh Takamagahara dari Reliji Shinto juga mendukung penuh Konoha, termasuk Yasaka sang Ratu Youkai penguasa Kyoto."

Ini bohong kan? pikir Issei dan lainnya.

Reliji Shinto adalah agama paling besar yang dianut oleh penduduk Negara Jepang, tempat dimana mereka semua tinggal. Mereka pun punya hubungan baik dengan Kaum Yaoukai Kyoto setelah bantuan aksi penyelamatan Yasaka dalam kasus penculikan Golongan Pahlawan.

Namun beda lagi dengan yang ada di benak Azazel. Ia sendiri juga tak habis pikir, padahal dewa-dewa Reliji Shinto sudah ditundukkan oleh Odin ketika bertandang ke Jepang waktu itu. Tapi kenapa sekarang malah angkat senjata dan balik melawan?

Kalau terhadap Yasaka dan Kaum Youkai Kyoto, Azazel memang sudah menaruh curiga sedari awal karena menemukan beberapa keanehan. Tapi ah, bukan saatnya memikirkan itu. Yang terpenting adalah bagaimana cara memenangkan perang melawan Konoha dan sekutu-sekutunya.

"Dengan dukungan sekutu sebanyak itu, tidak mustahil lagi bagi Konoha mengimbangi kekuatan Aliansi Tiga Fraksi."

"Kau benar Rossweisse." sahut Azazel. "Kekuatan kubu musuh dan kubu kita mungkin imbang, tapi mereka ternyata punya pemimpin yang sangat cerdas sehingga mampu membuat strategi perang terbaik untuk mampu memojokkan pasukan kita, di wilayah kita sendiri."

"Begitu ya." Rias sama sekali tak menyangka akan begitu, tapi yang namanya perang memang tidak pernah terduga bukan?

"Pokoknya tenang saja. Kita yang disini harus fokus mengurus Rizevim, serahkan urusan perang pada orang-orang dewasa. Mereka pasti bisa mengalahkan musuh. Lagipula, panglima perang kita -Maou Falbium, belum mengerahkan semua kekuatan yang kita punya."

"Baik!"

Walau sempat khawatir tapi berkat kata-kata Azazel, Rias dan lainnya bisa lebih fokus pada tujuan mereka sekarang.

Lalu pandangan Azazel beralih kepada Dulio, "Masih ada waktu sebelum kita berangkat. Alangkah baiknya kau menceritakan detail kejadian yang menimpa Surga. Kau ada di tempat saat kejadian kan?"

Tidak hanya Azazel saja yang ingin tahu, tapi semua anggota Tim DxD juga. Rasa solidaritas yang tinggi dari mereka sebagai sekutu Surga tidak akan membiarkan ini semua berakhir begitu saja.

Diminta seperti itu, Dulio tidak bisa menolak. Dia sudah membuka mulut ingin berbicara namun...

"Hei! Maaf, aku baru datang."

Teriakan feminim dari seorang gadis berambut coklat model twintail yang berlari dari kejauhan menarik fokus mereka semua.

"Irina!?"

Issei terkejut. Teman masa kecilnya ini, bukannya sedang bertugas di medan perang?

"Kenapa kau berada di sini, Irina?" tanya Azazel. Irina Shidou juga anggota Tim DxD, tapi saat ini seharusnya Irina tidak bersama mereka.

Irina mengambil nafas berkali-kali dengan tangan bertumpu pada lutut, tampak jelas kalau ia datang kesini dengan terburu-buru. Ia bangkit lalu menatap semua orang, "Maaf kalau mendadak. Aku telah ditarik mundur oleh atasan dari medan perang. Katanya aku tidak diperlukan lagi disana. Maou Falbium-sama mengutusku ikut kedalam tim ini sebab kemampuanku punya kecocokan yang tinggi jika bertarung bersama Xenovia."

"Oh, begitu." Azazel cepat mengerti maksud dari Falbium.

"Kalau begitu..."

"Tunggu!" Irina menyela ucapan Dulio. Padahal sang Joker sudah ingin bercerita. "Aku membawa berita buruk."

Glukk...

Mereka meneguk ludah. Berita buruk apa?

"Khususnya untukmu, Issei-kun."

Semua mata tertuju pada Issei.

Issei sendiri, tampak masih belum siap mendengarnya. Ia tidak dapat menerka berita seperti apa yang akan ia dengar.

"Katakan saja, Irina." pinta Azazel. Melihat Irina ragu dan diam sana, ia jadi tidak sabar ingin mendengarnya.

"Raja Naga Tannin sudah tewas."

Irina mengatakannya dengan suara lirih yang pelan. Tapi ucapan itu dapat didengar dengan jelas oleh Issei, ucapan yang seketika menjungkirbalikkan emosi Sang Sekiryutei.

Issei mengepalkan tangannya kuat-kuat, gigi-giginya bergemelatuk dari rahang tang terkatup kuat. Meski tanpa ada suara, semuanya bisa merasakan seberapa besar kemarahan Issei.

"Tannin-ossan..."

Tannin adalah guru yang melatihnya sedari ia masih lemah sebagai Sekiryutei. Tannin lah yang membuat Issei mampu menguasai Balance Breaker untuk pertama kalinya. Di mata Issei, Tannin adalah Naga yang paling berwibawa diantara semua naga yang pernah ia temui. Raja Naga Agung Tannin memiliki prinsip mulia yang selalu digenggamnya. Dialah satu-satunya naga yang Issei ketahui memiliki impian besar untuk mempertahankan eksistensi naga dari kepunahan di jaman sekarang ini. Tannin sangat berkebalikan dengan para naga jahat brutal yang tidak memiliki keinginan lain selain bertarung dan berbuat kerusakan.

Tannin adalah sosok yang sangat berarti.

Dan sekarang sosok itu telah tiada, tiada yang tersisa selain dendam dalam hatinya.

"Setelah urusan dengan Rizevim selesai, aku pastikan Konoha selanjutnya."

Issei mengatakannya tanpa ada sedikitpun cela keraguan. Ibarat impian yang sama tingginya dengan keinginannya untuk menjadi Raja Harem. Tujuan yang pasti akan ia kejar bagaimanapun caranya.

"Kami semua bersamamu, Issei-kun." ucap Rias menenangkan. Mereka ada pekerjaan sulit, emosi yang tak terkontrol hanya akan mengacaukan rencana.

"Ya, setelah ini kita akan buat perhitungan dengan mereka." sambung Akeno.

Issei menarik nafas dalam, berusaha menyimpan amarahnya untuk nanti.

Sesaat kemudian, Dulio angkat suara. "Kurasa sudah saatnya aku bercerita. Mendengarnya mungkin hanya akan memperburuk emosi kita semua, tapi lebih baik tetap kuceritakan agar kita semua mengerti bagaimana kekuatan musuh kita yang sebenarnya."

"Ceritakan saja." Azaze yakin kalau ini adalah hal terbaik.

Mereka pun memasang telinga baik-baik dan mendengarkan.

-Flasback On, 16 hours ago-

Seluruh bala tentara surga para pasukan ras malaikat yang suci dan Brave Saint yang pemberani sudah berbaris rapi di halaman utama Lantai Tingkat Pertama, tempat yang menjadi pertahanan garda terdepan dari Surga.

Ada gerbang raksasa tinggi menjulang, pintu keluar masuknya para malaikat yang beraktifitas dan melakukan pekerjaan di luar Surga. Dari sana menuju ke tengah, tergerai jalanan panjang dan lebar yang terbuat dari batu paving putih. Sisi-sisinya berdiri berjejer bangunan-bangunan yang terbuat dari batu marmer berbagai macam warna. Ada pula bangunan yangmelayang di langit. Tempat ini sungguh terang.

Lalu tiba-tiba...

Surga berguncang dengan keras

Sebuah gempa bumi!? Itulah apa yang awalnya terpikir, tapi tidak mungkin sebab di Surga tidak ada yang namanya bencana alam.

Dibalik goncangan yang terjadi ini, pasti ada sesuatu yang bahkan para Malaikat tidak pernah mengantisipasinya.

Lalu banyak simbol Malaikat muncul berkelap-kelip di seluruh langit sebagai tanda sesuatu yang buruk sedang terjadi!

"Apa-apaan ini!?"

Para tentara malaikat dilanda kepanikan hebat dengan ketidaktahuannya.

Salah seorang berteriak, "Naga Jahat. Qlippoth telah menyerang kitaaaa…..!"

Semua orang langsung gemetar.

Dalam waktu singkat para Brave Saint terkemuka yaitu Dulio Gesualdo, Griselda Quarta, Mirana Shatarova, Nero Raimondi, Deethelm Waldseemuller dan beberapa lainnya telah berkumpul di ruang kontrol Lantai Satu Surga.

Mereka yang hadir berdiri mengelilingi meja bundar. Di tengah meja, ada hologram visualisasi siaran langsung yang menunjukkan situasi di setiap tingkatan Surga. Jelas terlihat para Naga Jahat produksi massal yang sedang mengamuk di lantai tingkat kedua dan ketiga. Disana tidak ada pasukan malaikat yang bertarung selain pasukan penjaga yang jumlahnya hanya sedikit, mereka adalah malaikat-malaikat yang memang tak diikutkan berangkat ke arena perang di Underworld. Tentu sudah jelas hasilnya tak seimbang.

Dulio memulai pembicaraan, "Michael-sama dan Great Seraph lainnya masih berada di tingkat Keenam. Mereka akan berusaha mengatasi masalah dari sana. Kita harus berfokus dari titik ini."

"Mengerti." sahut Griselda.

"Tampaknya musuh telah membuka jalan masuk dari tingkat Tiga Surga yang mana merupakan tempat peristirahatanpara Jiwa!"

Brave Saint bernama Deethelm Waldseemuller memberikan laporannya. Dari hologram, sebuah kota langit yang sangatbesar muncul di Surga Tingkat Ketiga. Tak main-main, musuh ternyata menyelinap masuk sambil membawa pulau melayang dari Underworld.

Pulau Langit Agreas.

Ribuan Naga Jahat produksi massal bermunculan dari Agreas. Tempat itu benar-benar berubah menjadi sarang mereka. Apa yang juga muncul dari sana adalah eksistensi-eksistensi legendaris yang sangat kuat.

"Mereka kan...?"

"Ya. Naga Jahat Ladon, Niðhöggr, Aži Dahāka, Crom Cruach, Apophis, dan sembilan monster lagi. Monster yang belum pernah ada di dunia ini, tapi mereka kelihatan mirip dengan Sembilan Monster Youkai berekor dari Jepang."

Semua eksistensi-eksistensi yang disebutkan itu, membuat kehancuran di Surga sesuka mereka.

Nero bertanya pada yang lain, "Bagaimana cara Qlippoth datang ke Surga ini? Mereka tidak bisa memaksa masuk kesini begitu saja kan?"

Tidak seperti ke Underworld yang memiliki banyak jalan, untuk masuk ke Surga hanya ada sedikit jalan yang sangat terbatas.

"Besar kemungkinan melalui alam orang mati." jawab Dulio.

Alam orang mati, dinamakan Limbo atau Purgatory. Itu adalah tempat dimana para pengikut Gereja pergi setelah kematian, tempat berdiam sementara sebelum diputuskan apakah akan ke Surga atau Neraka. Hal ini diperkuat oleh keberadaan Naga Jahat Apophis di dalam Qlippoth. Apophis adalah naga jahat yang menguasai alam kematian. Dengan kekuatannya lah, Qlippoth bebas melalui Purgatory dan sampai ke Surga.

Dulio melanjutkan, " Pintu masuk ke Surga di gerbang depan telah tertutup. Kita di sini tidak bisa meminta bantuan dari luar."

Griselda menyambungi, "Para Seraph di lantai atas sedang berusaha menemukan penyebabnya, tapi mereka lebih berkonsentrasi untuk meredakan pengaruh invasi Qlippoth pada Lantai Ketujuh. Apa yang mereka lakukan, menyebabkan seluruh elevator mengalami malfungsi. Sebab itu, kita tidak bisa langsung naik ke lantai dua dan tiga untuk melawan balik agresi para Naga Jahat."

Kemudian pertanyaan umum keluar dari mulut Mirana. Pertanyaan umum namun jawabannya adalah dasar dari segala yang terjadi.

"Apa tujuan mereka?"

"Apa mungkin mereka menginginkan'sistem' peninggalan tuhan yang berada di tingkat tertinggi?" tebak Deethelm.

"Mereka tidak dapat kesana begitu mudah. Hanya para Seraph saja yang bisa. Jika orang lain memasukinya, maka akan langsung dipindahkan ke sebuahlokasi yang sangat jauh. Tempat itu memiliki sistem teleportasi yang akan langsung mendepak sesuatu yang bukan haknya untuk masuk kesana." jawab Dulio.

"Lalu apa tujuan Qlippoth adalahLantai Keenam yang merupakan markas utama Surga berada?"

Griselda meragukan itu, "Untuk apa pergi kesana? Di lantai keenam hanya ada para Seraph, tidak ada hal lain. Mebinasakan para Seraph? Aku pikir, Qlippoth tidak akan datang hanya untuk alasan seperti itu?"

"Bagaimana dengan lantai kelima?" tanya Mirana.

"Jika kau berpikir mereka ingin mengambil kartu Brave Saint, itu juga tak masuk akal. Qlippoth memiliki pasukannya sendiri yakni Naga Jahat produksi massal, untuk apa mereinkarnasi Brave Saint?"

Lantai tingkat kelima adalah pusat institusi penelitian para ilmuan Surga. Dulunya, kebanyakan yang tinggal di sana adalah para malaikat yang sekarang menjadi Fallen Angel dan pindah ke institut Grigori. Produk paling berkesan yang dihasilkan dari sana adalah kartu 'Brave Saint' sebagai meterial untuk mereinkarnasi seseorang menjadi malaikat. Kartu itu sama dengan Evil Piece yang dimiliki ras iblis karena memang dibuat dengan teknologi yang sama.

Griselda kemudian berbicara sendiri, "Surga Tingkat Ketiga dan Keempat juga meragukan. Benda paling berharga disana adalah pohon kehidupan dan pohon kebijaksanaan. Tapi kedua pohon itu sudah sejak dahulu kala tidak berbuah lagi semenjak tuhan meninggal."

Dulio sedikit menggebrak meja, "Memikirkan tujuan mereka benar-benar tak ada habisnya. Baru saja aku mendapatkan perintah dari Michael-sama, kita dibolehkan untuk menggunakan kekuatan tentara surga yang akan diberangkatkan perang untuk meredakan kekacauan ini."

"Itu bagus." sahut Nero. "Di saat kekuatan tentara surga dalam kondisi siap tempur, kita pasti bisa dengan cepat mengusir para Naga Jahat itu."

"Kalau begitu, ayoo kita bahas strateginya!" seru Dulio.

Merekapun berembug sejanak lagi.

Beralih keluar, ternyata serangan para naga jahat telah sampai ke lantai tingkat pertama.

Langsung saja, mereka berhadapan dengan bala tentara surga yang memang sejak awal dalam kondisi siap tempur. Tidak sampai dua puluh menit, semuanya berhasil dipukul mundur.

Karena elevator tidak dapat digunakan, maka terpaksa pasukan malaikat bergerak maju dengan melewati gerbang demi gerbang agar sampai ke lantai tingkat atas.

Setelah melewati gerbang Surga Tingkat Kedua, para Brave saint langsung membentuk sebuah formasi untuk memukul gerobolan Naga Jahat yang berkerumun di dekat gerbang.

"Ayo lakukan! Formasi Brave Saint!"

Full House

"Siap!" jawab mereka serentak.

Sejumlah Brave Saint pemilik kartu mengambil posisi tertentu. Di langit, muncul angka-angka yang menandakan perintah tersebut. Dalam sekejap, aura kekuatan cahaya yang sangat besar menyelimuti mereka. Para Brave Saint tersebut berubah menjadi seperti permainan kartu yang melompat kedalam gerombolan Naga Jahat danmenyapu bersih mereka dalam satu kali pukulan. Lusinan naga jahat langsung lenyap seketika.

Itulah sifat dari Brave Saint. Kemampuan mereka meningkat dengan drastis jika diberikan sebuahposisi yang didasarkan pada permainan kartu poker dan kartu trump.Seorang Brave Saint di udara berteriak kepada rekan-rekannya.

"Bergerak membentuk barisan yang sama! Kita akan memperkuat permainan kartu ini untuk langsung melenyapkanmereka semua sekaligus"

Straight flush

Kombinasi kartu lain yang kuat menusuk gerombolan Naga Jahat dan menjatuhkan mereka!

Surter Griselda berkata pada Dulio, "Kau lanjutkan naik ke atas. Aku akan tinggal di sini dan mengatur perintah."

Wanita cantik itu menyemangati para Brave Saint dengan berteriak, ""Berhati-hatilah dalam menggunakan kartu yang kuat secara berturut-turut! Stamina kalian dan kekuatan cahayaakan cepat terserap habis!"

Dulio terbang maju sendirian, sedangkan Mirana, Deethelm, dan Nero melaju ke arah lain. Mereka mengambil tugas sama seperti Griselda untuk memimpin kelompok-kelompok pasukan Brave Saint yang bertempur melawan Naga Jahat.

Masih di lantai yang sama. Lantai Tingkat Kedua Surga adalah sebuah dunia yang dipenuhi oleh kegelapan. Tujuan tempat ini utamanya untukmengamati bintang-bintang, selain itu juga sebagai tempat bagi para Malaikat yangberbuat dosa dikurung. Tampak seperti dunia dengan kegelapan tanpa akhir yang membuat siapapun berpikir kalau ini bukanlah Surga. Kecuali, tempat initidaklah begitu gelap seperti sebuah planetarium yang terdapat sinar-sinar bintang layaknya langit malam hari yang cerah.

Sebuah bayangan yangmengeluarkan keberadaan jahat muncul daridalam kegelapan. Satu peleton pasukan malaikat beserta para Brave Saint dibuat bergidik ngeri karenanya.

"Yahhooooo, ada yang mengenalku?"

Seekor makhluk menakutkan yang memiliki bentuk seperti ranting pohon yang saling tumpang tindih. Sebuah pohonyang memiliki bentuk seekor Naga-...

Tidak, itu naga berbentuk mirip pohon,

Naga Jahat Ladon.

Disekelilingnya adalah sepasukan Naga Jahat. Para Naga Jahat itu benar-benar memenuhi sepanjang jalan menuju pintu gerbang ke lantai tingkat lebih tinggi.

"Ah, aku ingin kalian bermain denganku untuk sementara waktu. Bagaimana, mau kan?"

Ladon mengatakannya dengan tanpatata krama namun tak dapat disangkal kalau dia serius. Aura hitam danpekat disekeliling tubuhnya meningkat. Mata merahnya bersinar didalam lekuk rongga kepalanya. Dalam sekejap, muncul gelembung sabun yang menyelimuti setiap pasukan secara individual.

Itu lapisan pelindungnya. Keahlian khusus yang dimiliki Naga Jahat Ladon. Penghalang berupa zat menyebalkan yang akan terus muncul kembali dan beregenerasi tak peduli berapa kalipun dihancurkan.

"Heyyaaaaaaa!"

Bhhoowww...

Salah satu malaikat yang terkurung dalam gelembung pelindung Ladon mencoba merusaknya dari dalam. Namun nihil, malaikat itu terluka akibat serangannya sendiri. Bahkan gelembung itu tak rusak sedikitpun meski ditusuk dengan tombak cahaya.

"Hei, kalian dengar aku?" ucap salah satu malaikat. Mungkin dia yang memimpin peleton ini. "Jangan melakukan apapun sampai bantuan tiba!" perintahnya.

"Tapi kalau kita diam saja, musuh akan berbuat kerusakan semaunya."

Jelas terlihat, sepasukan naga jahat yang menghadang mereka sudah berhamburan di seluruh penjuru Lantai Tingkat Kedua Surga ini, mereka semua berbuat kerusakan dimana-mana, menghancurkan apapun yang mereka lihat di depan mata. Hanya menyisakan Ladon seorang diri yang diam duduk sambil menatap remeh pada mereka yang sedang terkurung.

"Bahkan, naga jahat itu bukan tidak mungkin akan menghabisi nyawa kita juga."

"Heiii!" pemimpin itu berseru lagi, "Kita semua malaikat, jangan sampai ada emosi negatif yang terluap, mengerti!?"

Itu benar, malaikat harus dalam kondisi selalu baik suasana hatinya.

Lalu datang tiba-tiba,

stab stab stab stab stab

stab stab stab stab stab

Setiap gelembung penghalang yang mengurung para pasukan malaikat dan Brave Saint berlubang setelah peluru-peluru cahaya yang meluncur cepat mengenainya, seperti lempeng logam yang meluruh akibat terkena tetesan asam yang sangat korosif.

"Cepat keluar dari gelembung itu!"

Mengikuti instruksi itu, sekejap tidak ada lagi yang terkurung. Lubang itu cukup besar untuk dilewati sebuah tubuh.

Gelembung itu kembali menutup lubangnya tapi karena tidak ada lagi yang terkurung, gelembung penghalang itu dihilangkan sendiri oleh pemiliknya.

"Hei heiiii, siapa tadi yang mengganggu?"

Ladon melirik kiri kanan, mencari siapa pelaku yang membebaskan tawanannya.

Ahh ketemu! Jauh di depan sana, sosok itu berjalan menghampiri pasukan malaikat.

"Aku merasa belum pernah bertemu denganmu, wahai malaikat."

"Ya memang. Perkenalkan, aku Raziel, salah satu dari 10 Seraphim Surga."

"Hooo, menarik. Salah seorang yang berada di puncak ternyata. Boleh boleeeh, ayooo kemari kau! Lawan aku!"

Menanggapi provokasi itu, Raziel menoleh pada pasukan malaikat dan Brave Saint yang baru saja ia selamatkan.

"Sepuluh dari kalian tetap bersamaku, kita hadapi naga jahat brutal itu bersama. Sisanya, berpencar! Amankan lantai ini dengan menghabisi para naga jahat produksi massal sebanyak yang kalian bisa!"

"Baik!"

Sesaat kemudian, hanya tersisa Ladon sendirian yang berhadapan dengan sebelas malaikat.

"Errr, tidakkah ini adil?"

Ya, dari segi jumlah ini sangat timpang.

"Mana ada keadilan jika berurusan dengan naga jahat brutal sepertimu!" tunjuk Raziel ke arah wajah Ladon.

"Tch!"

Raziel mengucapkan perintah pada pasukannya, "Kalian tunggu dan diamlah di sini, aku punya rencana. Ketika aku memberikan instruksi, serang naga jahat itu dengan serangan terkuat kalian! Meski penghalangnya bertahan, terus serang tanpa henti walau harus menghabiskan stamina kalian!"

"Paham!"

Raziel bergerak seperti menari untuk menghindari rentetan serangan semburan api Ladon. Naga ini memang memiliki kemampuan khusus dengan penghalangnya, tapi setiap naga selalu memiliki serangan umum yakni semburan api. Sesekali Raziel berusaha membalas, meski serangan yang ia lakukan selalu gagal ketika mengenai penghalang Ladon. Ya, lapisan penghalang terkuat dari kemampuan naga jahat itu, dia gunakan untuk melindungi dirinya sendiri.

Selanjutnya terlihat dari jauh, kejadian itu tak ubahnya permainan bergilir antara anak kecil dan seekor Naga Jahat.

"…..Sialan!"

Ladon merasa tidak senang. Bukan karena ia terluka oleh serangan lawan, tapi karena serangannya tak juga melukai lawannya. Wajar kan? Petarung mana coba yang tidak kesal saat tidak bisa menyarangkan satupun serangan ketubuh lawan setelah berkali-kali menyerang?

"Ada apa, Ladon? Untuk seekor naga jahat, kau tampak lemah dan tidak bisa apa-apa?"

Ladon menjentikkan lidahnya menanggapi provokasi Raziel. Dia yang sebelumnya santai, sekarang tidak terlihat lagi.

Raziel mencoba sebuah serangan berintensitas tinggi, serangan cahaya yang mana iblis kelas atas pun pasti mati walau hanya terkena seujung kuku.

Akan tetapi, lapisan pelindung masih melindungi sang Naga Jahat. Meskipun lapisan pelindung tersebut mampu menahan serangan cahaya, untuk beberapa saat pelindung tersebut menghilang sebelum terbentuk kembali dengan cepat.

"Hehehe, memalukan. Meskipun seranganmu sangat kuat, tapi tidak dapat menyentuhku."

Ekspresi Raziel tidak berubah. Dia menyerang dari semua arah. Wajahnya terlihat menunjukkan sedikit senyuman sinis.

Cukup lama sampai akhirnya pertarungan itu menemui titik buntu.

Lalu...

"Ini celahnya, terbanglah!"

Tubuh Ladon yang begitu besar, tiba-tiba terangkat keudara. Tidak, dia sama sekali tidak terbang maupun diterbangkah. Tujuh buah pilar cahaya muncul dari dalam tanah, bersusun membentuk lingkaran persis di sekeliling Ladon. Pilar itu terangkat naik, namun itu tak melukai Ladon karena penghalang yang melindunginya begitu kuat. Akan tetapi karena kuatnya gaya angkat pilar itu, mampu memaksa tubuh Ladon terangkat hingga 100 meter di udara.

Pilar itu juga menahan Ladon tak bisa bergerak di dalam penghalangnya yang berbentuk bola. Ya, pilar-pilar itu tampak seperti keranjang yang menahan bola sehingga tak bisa bergerak kemana-mana.

"Aku mengincar ini sejak tadi tahu." ucap Raziel.

Dapat diperkirakan kalau Raziel telah menanamkan bibit pilar cahaya di tanah, lalu menggiring Ladon agar menginjak tanah yang dia jadikan perangkap itu hingga keadannya jadi seperti sekarang ini.

Akan tetapi, Ladon masih dengan ekspresi santai di wajahnya meski dalam situasi terjepit seperti itu.

"Sekarang, seraaaang!"

Mengikuti perintah Raziel, sepuluh malaikat yang sedari tadi hanya menonton kini melemparkan serangan jarak jauh terbaik mereka.

Tapi Ladon memiliki lapisan pelindung pertahanannya, yang membuat semua serangan para malaikat terhenti. Meski begitu ada jeda sepersekian detik ketika lapisan pelindung itu menghilang.

Naga jahat itu masih saja tidak tersentuh. Ladon mengeluarkan tawa terbahak-bahak yang keras. "HAHAHAHAHAHA... Serangan bertubi-tubi yang lumayan! Tapi meskipun lapisan pelindungku melemah aku masih saja tidak tergores, tak peduli berapa kalipun kalian mencobanya!"

Raziel mematri senyuman licik kecil di bibirnya.

"Tidak! cukup sudah. Kau Ladon, matilah!"

Ladon terheran-heran. Dia tidak mengerti maksud ucapan Raziel, ia sendiri bahkan masih aman di dalam lapisan pelindung.

Namun, semua itu berubah seketika.

Ladon bahkan tidak sempat merubah ekspresinya menjadi terkejut tak percaya apalagi untuk mengucapkan sepatah dua patah kata terakhir, sebelum akhirnya dia lenyap ditelan ledakan yang sangat hebat.

Sejauh yang bisa dilihat, hanya ada cahaya menyilaukan yang mampu menerangi langit Surga Tingkat Kedua ini, beserta suara keras yang teredam sesaat kemudian.

Ladon, dilumat oleh ledakan kuat yang terjadi di dalam penghalangnya sendiri.

Sebelum orang-orang sempat bertanya, Raziel lebih dulu menjelaskan.

"Menahan gelombang serangan kuat yang datang bertubi-tubi akan membuat lapisan pelindung Ladon mengilang beberapa saat. Karena kemampuan regenerasi, maka penghalangnya akan kembali lagi seperti sedia kala. Aku telah melakukan beberapa kali percobaan serangan pada di awal melawannya, dan aku mendapat kesimpulan kalau jeda waktu tercepat untuk regenerasi adalah 0,1 detik. Dalam waktu yang singkat itu selama seranganku yang bertubi-tubi serta serangan kalian semua, aku bisa dengan mudah mengirimkan partikel-partikel cahaya masuk ke dalam pelindungnya. Yang aku masukkan bukan partikel cahaya biasa, tapi itu adalah bibit peledak sebagaimana bibit pilar cahaya yang kutanam di tanah. Itu tidak akan terlihat sampai terkumpul cukup banyak dan kuaktifkan. Sampai pada masanya dimana itu cukup, aku meledakkannya. Ladon sendiri tidak memiliki sisik sekuat naga lainnya, bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sisik Grendel, tapi dia bisa terkenal berkat kemampuan pelindung miliknya. Dan tadi, aku meledakkan naga jahat itu didalam pelindungnya sendiri, yang membuat efek ledakan semakin dahsyat."

Tak satupun dari pasukan di sana yang tak terpukau. Raziel ternyata jenius, mampu mengalahkan naga jahat yang kuat tanpa perlu bertarung dengan seluruh kekuatan, hanya dengan memanfaatkan kelebihan naga jahat itu yang dalam kondisi tertentu malah berbalik menjadi kelemahannya.

"Ayoo, kita terus maju. Masih ada banyak naga jahat yang harus kita kalahkan."

"Ayoooooo...!"

Pada waktu yang hanya berselang beberapa saat di titik lainnya, seekor naga bersisik hitam juga mengamuk tak kalah brutal, melakukan tindak kekerasan kejam pada sepasukan malaikat.

Bhoowwww...

Sekali dia meniupkan kabut hitam tebal, seketika tubuh malaikat-malaikat yang terperangkap di dalamnya meleleh. Seperti lilin yang berbedakatan dengan panasnya api.

Itulah kemampuan spesial sang naga, menciptakan miasma yang sangat korosif sehingga tak ada makhluk hidup apapun yang mampu bertahan didalamnya.

Kali yang lain dia melemparkan berbagai macam serangan sihir, pun juga tidak jarang dia menyemburkan api. Membuat tidak satupun ada tentara Surga yang mampu mendekat padanya.

Dia -Abbys Rage Dragon, julukan pada naga yang bernama Niðhöggr.

Naga Jahat yang wujudnya mirip seekor ular ramping. Tubuh besarnya sepanjang dua puluh meter. Walau penampilannya mirip ular, dia memiliki empat kaki dan juga empat sayap. Lebih menjijikkan daripada anjing sebab mulutnya selalu meneteskan air liur yang banyak. Sangat mungkin air liur itu beracun. Ciri-ciri ini menandakan bahwa Niðhöggr adalah naga yang penuh keserakahan. Senyumnya yang kaku, memberi pemandangan jelek yang mengerikan.

Sepasang malaikat berjenis laki-laki dan perempuan berhenti tidak jauh dari tempat Niðhöggr membantai para tentara Surga. Sayap mereka berjumlah sepuluh, menandakan bahwa kedudukan mereka di Surga ada pada tingkatan yang tinggi.

Si malaikat perempuan bertanya pada rekannya, "Na Metatron, sebanyak apa yang kau tahu tentang naga itu?"

"Abyss Rage Dragon Níðhöggr adalah Naga Jahat legendaris yang telah tinggal di Eropa Utara. Bahkan setelah dihukum, dia adalah Naga Jahat bermasalah yang akhirnya hidup kembali. Karena balas dendam yang begitu mendalam bahkan ketika Ragnarok datang pada akhir dunia Norse, dia akan bertahan dan tetap hidup. Menurut catatan, terakhir kali dia dikalahkan adalah beberapa ratus tahun yang lalu."

Níðhöggr memiliki legendanya sendiri. Wilayah es Niflheim di dunia Norse merupakan tempat Níðhöggr tinggal. Dia adalah naga yang penuh keserakahan. Karena sering merasa lapar, dia akan menelan semua yang tertangkap mata.

Selain miasma, inilah yang menjadi kehebatan paling utama Níðhöggr, Self-Resurrection. Dia mampu bangkit kembali dari alam kematian secara alami setelah waktu tertentu. Bisa singkat ataupun lama, tergantung keinginannya.

Metaron berkata lagi, "Tidak dapat ditebak apakah ia bangkit dengan sendirinya atau dibangkitkat dengan Holy Grail oleh Rizevim."

"..."

"Tapi yang manapun, naga jahat itu tetap harus kita hentikan. Benarkan, Sandalphon?"

Tanpa banyak bicara lagi, dua dari sepuluh Seraphim Surga itu pun melesat maju.

Sasarannya jelas, Sang Abyss Rage Dragon Níðhöggr.

Pertempuran dua Seraph Surga melawan seekor naga jahat berlangsung cukup seru. Namun baru saja melewati menit kelima, sudah sangat jelas kelihatan pihak mana yang unggul.

Níðhöggr memang naga jahat legendaris, tapi dari segi kekuatan levelnya hanya di tengah-tengah. Jauh sekali berbeda jika dibandingkan dengan Crom Cruach, Apophis, maupun Aži Dahāka.

Beaaammmmm...

Serangan laser cahaya gabungan Metatron dan Sandalphon mengenai telak dada Níðhöggr. Naga jahat itu terlempar beratus-ratus meter ke belakang dan baru berhenti saat...

Dhuuaarrrr!

Badannya menabrak dinding bangunan gelanggang yang cukup besar.

"OOOWWWWWWWWW! ITU SAKIIIIIIIIIITTT!"

Si bajingan Níðhöggr berteriak meringis kencang.

Tapi...

Stab stab stab.

Belasan tombak cahaya menghujam badan Níðhöggr hingga tembus. Metatron dan Sandalphon tak memberi kesempatan. Mereka serius, siapapun pengacau Surga harus dilenyapkan tanpa perlu pengampunan.

Tubuh Níðhöggr penuh dengan lumuran darahnya sendiri. Tak lama kemudian kesadarannya mulai menghilang.

Tapi...

Seluruh tubuhnya Níðhöggr yang tak bergerak mulai diselimuti dalam cahaya ungu samar. Setelah itu, seolah-olah tidak ada yang terjadi padanya. Dia berdiri lagi dengan badan sehat bugar.

"Gwehheheheeee... Aku hidup lagiii...!"

Ini sudah yang ketujuh kalinya Níðhöggr berhasil dibunuh oleh sepasang malaikat itu, lalu hidup lagi. Benar-benar mengesalkan.

Saat dia mati, maka dia akan langsung hidup lagi berkat kemampuan Self-Resurrection. Lalu badannya yang luka-luka akan langsung pulih seperti sedia kala sebab dia memiliki banyak botol kecil berisi Air Mata Phoenix.

Ya, Qlippoth dari Khaos Brigade punya cara untuk memproduksi air mata itu secara massal. Meskipun tidak original, tapi efek yang dihasilkannya 95% mendekati Air Mata Phoenix asli.

Sandalphon berseru lantang, "Hei naga jahat serakah, tidak kah kau menyadari keadaan dirimu sendiri?"

"Hah!? Selama aku bisa hidup kembali setiap kali aku mati dan memulihkan badanku seperti semula dengan air mata ini, maka kalian tidak akan pernah bisa mengalahkanku."

"Ternyata kau belum paham ya." ucap Metatron sambil tersenyum remeh.

"Naga jahat ini rupanya benar-benar bodoh."

"Aku setuju denganmu, Sandalphon."

"Heiii! Jangan menganggap aku seolah tak ada!"

"Baiklah. Akan aku jelaskan." Sandalphon memberikan tatapan menusuk pada Níðhöggr. "Sejak kita berjumpa disini, perbedaan kekuatan antara kami berdua denganmu terlampau besar. Dan kau tahu wahai naga jahat, sebanyak apapun kau bisa hidup lagi maka sebanyak itu juga lah kami bisa membunuhmu. Kami akan menghancurkanmu sampai tidak ada setitikpun dari kesadaranmu yang tersisa."

Maksud perkataan Sandalphon jelas. Ini sama saja dengan di neraka, saat seorang pendosa diberikan keabadian yang tujuannya hanya untuk disiksa, disiksa lebih keji, lebih kejam, dan lebih sadis. Pendosa di neraka disiksa sampai mati, tapi dia hidup kembali hanya untuk disiksa lebih banyak lagi.

Setelahnya, Sandalphon dan Metratron mengeluarkan lebih banyak kekuatan. Tubuh mereka dikelilingi aura kuning yang bersinar sangat terang. Saking terangnya, mereka seperti lentera malam yang menerangi gelapnya Surga Tingkat Kedua.

Sejak awal pertarungan ini dimulai, sejak itu pula lah pertarungan berakhir.

Cukup dengar pertarungan barusan, ternyata ada banyak malaikat yang telah berhasil naik sampai ke Lantai Tingkat Ketiga Surga. Tapi kerusakan di sini sudah sangat parah, bahkan akal pun seakan tak sanggup menerima apa yang terlihat mata.

Lantai tingkat Ketiga Surga, inilah surga yang umum diketahui oleh para manusia, khususnya oleh pengikut gereja yang menganut ajaran Injil. Inilah tanah peristirahatan jiwa-jiwa manusia yang hidup tenang sebagai balasan amal kebaikannya selama di dunia. Luas lantai ketiga ini sangat luas hingga dapat dikatakan ujungnya tak dapat di temukan. Mungkin saja lebih besar dari keseluruhan tanah Underworld yang dihuni oleh ras Iblis.

Anggapannya, keseluruhan Surga itu ada di Tingkat Tiga Surga. Lalu semua tingkatan surga itu sendiri, sama besarnya dengan jumlah semua mitologi yang ada di dunia. The God of Bible, dewa paling mengagumkan diantara semua dewa yang pernah ada benar-benar membangun surga sedemikian rupa hebatnya. Dia lah tuhan dalam Al-Kitab.

Namun, yang terlihat sekarang jauh lebih mengerikan keadaannya dari apa yang terlihat di siaran video live tadi. Siaran saat tiba-tiba saja Surga Tingkat Ketiga diterobos oleh Qlippoth yang memporak-porandakan segala sesuatu di sana.

Para jiwa yang beristirahat hanya diam tanpa melakukan apa-apa sampai akhirnya sisa-sisa esensi keberadaan mereka lenyap sepenuhnya bersamaan dengan hujan ledakan tanpa henti yang terjadi.

Bijuudama

Kabooom kabooom

KAAABBBOOOOMMM

Terlihat di kejauhan, sebuah ledakan yang mencipta awan gelap merah seperti jamur yang luar biasa besarnya. Dihasilkan dari satu biji bom bijuu berukuran sedang yang dimuntahkan dari mulut Gyuki sang Bijuu berekor delapan.

"Nah, hayo hayooo. Siapa yang bisa membuat bijuudama lebih hebat dari aku tadi? Oh Yeaaahh...!"

Gyuki berbicara sambil nge-rap, persis gaya jinchurikinya yang terakhir.

"Aku... Aku saja!"

Son sang ekor empat maju sedikit. Dia tampak sangat antusias.

Ngiiiinnnngggg

Dia membuat bijuudama di depan mulutnya, dan...

Swoooossss.

Melesat ke tempat jauh, lalu.

KABBOOOOMMMM...

Whoooaaah, ledakannya tidak kalah hebat dari bom bijuu milik Gyuki.

"Hallah, begitu saja sombong!"

Shukaku bersungut tidak terima. Ia juga membuat bijuudama untuk meledakkan titik lain dari Surga Tingkat Ketiga.

Hasilnya...

"Kau memang yang paling lemah diantara kita semua, rakun jelek!"

"Bacotmu!"

Mana mau Shukaku terima diejek oleh Kurama. Meski memang sudah kenyataannya, tapi tak akan pernah ia memandang jumlah ekor sebagai penentu kekuatan.

Kesisi lainnya...

"Ayooo kita buat bijuudama bersama-sama!"

"Ayooo!"

"Okee!"

Saiken si ekor lima dan Chomei si ekor tujuh yang sedang melayang di udara menanggapi ajakan Matatabi. Tiga bijuu ini memang yang paling dewasa sikap dan pertawataknnya dibanding yang lain.

Kerjasama tiga bijuu itu, mampu membuat bijuudama yang kekuatannya melebihi yang dilepas Gyuki berkali-kali lipat. Bahkan, dampak ledakannya mampu membuat lubang di Surga Tingkat Ketiga hingga terlihat dari lantai di bawahnya.

Luar biasa.

Lainnya lagi, si ekor tiga dan si ekor enam menembakkan bijuudama dengan cara lain.

"Ayooo kita berlomba banyak-banyakan memuntahkan bijuudama, Kokou."

"Eeeeeeh!, sungguhan kau mau menantangku huh? Sudah pasti hasilnya aku tak akan kalah darimu, Isobu."

Langsung saja...,

Renzoku Bijuudama

Chiu chiu chiu chiu chiu chiuuuu...

Kubabababababbaannnnn!

KABOOOOOOMMMMM!

Isubo dan Kokou memuntahkan banyak sekali bijuudama kecil dari mulutnya. Ah, mereka seperti anak kecil yang berlomba memakan semangka lalu menembakkan biji-bijinya.

Hasilnya, ugh. Surga Tingkat Ketiga makin tak karuan bentuknya.

Padahal surga ini begitu luas, sangat luas, saking luasnya tidak diketahui mana ujungnya. Tapi kerusakan yang terjadi sudah hampir setengahnya.

Bukan hanya karena parade lomba menembakkan bijuudama saja, tapi juga karena ada ribuan naga jahat produksi massal yang ikut menambah kekaucauan dan huru-hara.

Masih ada yang belum. Ya, Kurama belum dapat giliran.

"Sekarang kalian lihat baik-baik! Setelahnya, tidak akan ada satupun dari kalian bisa menolak kedigjayaanku lagi sebagai bijuu terkuat."

Kurama menganga, di depan mulutnya yang terbuka lebar terbentuk bola hitam pekat yang sangat besar. Ukurannya melebihi sepuluh kali lipat ukuran tubuhnya sendiri. Kemudian, bola yang sangat besar itu mengecil dan memadat hingga massa jenisnya begitu tinggi. Semakin kecil hingga ukurannya hanya sebesar bola basket, tapi siapapun jelas merasakan kekuatan penghancur tak terbatas darinya.

Kurama menelan bola hitam itu. Mulutnya membengkak lalu...

Zooouuuuuuuummmm!

Kurama menembakkan bijuudama sebagai laser yang terus menerus dikeluarkan secara kontinyu. Sesaat kemudian arah tembakannya dia geser ke kanan sehingga meledakkan areal yang jauh lebih luar.

Akibatnya, setengah ufuk barat dan utara dari Surga seketika lenyap dari pandangan mata.

Uwaaahhhh, ini benar-benar kekuatan penghancur biju paling kuat yang pernah ada. Meskipun Kurama tidak dalam kekuatan penuh, dia masih mampu melakukannya. Lihat saja, ekornya tidak sembilan tetapi hanya delapan.

"Bhwahahahaaaa..." suara tawa terdengar nyaring dari mulut Kurama yang berasap ssetelah menembakkan laser bijuudama tadi. "Bagaimana-bagaimana? Apa ada yang bisa lebih hebat dari itu? Pasti tidak ada, ghahahahaaaa..." Kurama tertawa jumawa.

Dari Shukaku yang berekor satu sampai Gyuki yang berekor delapan, kompak memasang raut muka masam. Saudara mereka ini, sudah sombong narsis pula.

Yeah, begitulah. Mereka adalah keluarga, mereka bersembilan bersaudara sedari mereka diciptakan oleh Rikudou Sennin. Untuk bernostalgia dengan masa kanak-kanak itulah, mereka bermain-main seperti ini. Lumayan untuk melepas penat dan stress, meski permainan mereka telah memporak-porandakan Surganya orang Nasrani.

Melihat para monster berekor bermain gila-gilaan seperti itu, siapa yang tidak terkagum-kagum? Bahkan untuk Naga Jahat level atas sekalipun.

Apophis dan Aži Dahāka, tampaknya sangat tertarik untuk ikut bermain. Sedari tadi mereka hanya bertarung tak karuan melawan sebagian tentara malaikat yang sampai ke lantai ini, tak ubahnya menepuk nyamuk yang sangat mengganggu.

Oleh karenanya...

"Hoi hoi hoiiii, aku tidak bisa membuat bola hitam penghancur seperti kalian. Tapi aku bisa membuat hal lain yang tak kalah mengagumkan daya rusaknya."

"Aku juga." ucap Apophis menimpali.

Apophis sang Naga Gerhana (Eclipse Dragon) dalam wujud asli berbentuk naga khas eropa berwarna hitam yang luar biasa besar. Ukurannya lebih dari 100 meter, dia naga terbesar kedua setelah Midgardsormr. Kurama dan yang lain, hanya setinggi pinggang naga ini.

Aži Dahāka Sang Naga Seribu Kultus Iblis (Diabolism Thousand Dragon) pun juga dalam bentuk asli, naga berkepala tiga dengan mata ungu serta enam sayap yang sangat lebar.

Kurama menyeringai senang, dia mendapatkan rival yang lebih menyenangkan daripada saudara-saurada bijuunya, "Ayoooo, buktikan kalau kalian berdua bisa melakukannya."

Seterusnya, Surga Tingkat Ketiga pun semakin hancur.

Sebelas monster yang berada disana, benar-benar membuat kerusakan yang tak bisa diterima akal.

Dan itu, sungguh membuat Dulio yang memandangnya dari depan gerbang Lantai Tingkat Ketiga Surga, jadi sangat murka. Dialah sang Joker, Brave Saint terkuat pemegang kartu mutasi dan pemilik Sacred Gear Longinus peringkat dua, Zenith Tempest yang mampu mengendalikan langit.

Di sisi kiri dan kanannya, pada jarak yang lumayan jauh terdapat awan hitam yang berkali-kali menembakkan halilintar dahsyat serta badai tornado besar yang menyedot apapun kedalamnya. Juga ada hujan tombak es dan badai pasir panas di sisi lainnya.

Tidak sedikit jumlah naga jahat produksi massal yang mati oleh serangan skala besar dari Dulio Gesualdo.

Mata Dulio menatap nyalang ke kejauhan, tempat dimana para monster brutal berbuat kerusakan. "Awas kalian! Aku tidak peduli berapa jumlah dan seberapa besar kekuatan kalian. Aku tak takut. Yang pasti, perbuatan kalian pada surga tak akan termaafkan!"

Dulio sudah akan melesat terbang dengan kesepuluh sayap putihnya, tapi terhenti begitu saja ketika seseorang menghalanginya. Seorang laki-laki yang mengenakan mantel hitam.

"Meski aku malas, tapi karena aku kalah adu suit dengan mereka yang disana terpaksa sebagai hukumannya aku harus menghalangi siapapun yang ingin mengganggu waktu bermain mereka."

Tidak salah lagi, dia lah Crom Cruach dalam wujud humanoid. Dia mengatakan hal barusan dengan nada malas. Kalau ini bukan bagian dari pekerjaan, tentu dia tak akan mau melakukannya.

Dulio menggeram. Dalam keseriusannya, ia tak akan ragu mengeluarkan semua kekuatan yang ia punya padahal sebuah aturan khusus telah dibuat yang isinya melarang Dulio menggunakan kekuatan penuh di Surga.

Tapi karena situasi sudah begini, larangan itu tak berlaku lagi. Crom Cruach adalah Naga Jahat terkuat dari semua naga jahat kelas atas, kekuatannya setara dengan kekuatan naga kelas Surgawi Ddraig dan Albion pada kondisi prima.

"Balace Break!"

Flagello di Colori del Arcobaleno, Speranza di Briscola.

Dulio mengaktifkan Balance Breaker, sebuah sub-spesies dengan nama yang sangat panjang. Sayap putih Dulio yang mulanya berjumlah sepuluh, kini bertambah menjadi dua belas sayap dan warnanya menjadi emas, persis seperti sayap Archangel Michael. Lingkaran halo di atas kepalanya pun berjumlah empat bertingkat.

Akan tetapi, Crom Cruach tak menunjukkan tanda-tanda gentar.

Apakah Sang Naga Lingkaran Sabit (Crescent Circel Dragon) Crom Cruah akan menunjukkan wujud aslinya? Jawabnya tergantung pada Dulio, apakan sang Joker mampu memberikan perlawanan yang sepadan.

Ke tempat yang lebih atas, Lantai Tingkat Keempat Surga yang juga dikenal sebagai Taman Eden, sebuah tempat dimana terjadi kisah antara Adam dan Hawa.

Taman Eden adalah taman yang sangat luas dan luar biasa indah. Penuh dengan kilauan warna-warni yang cerah, penuh dengan bunga-bunga berbau harum dan pohon-pohon hijau yang lebat rindang daunnya. Kebanyakan pohon sedang berbuah dengan buah lezat yang ranum, ada beberapa pohon yang batang dan rantingnya terbuat dari perak sedang daunnya dari emas.

Rerumputannya bersih tanpa ada satupun sampah, lembut bak hamparan permadani sutera. Tanahnya dari misik putih bersih, kerikil-kerikilnya dari mutiara dan permata. Ada dua sungai yang airnya mengalir, sungai pertama berwarna putih yang mengalirkan air susu dan sungai kedua mengalirkan madu yang sangat manis.

Ada banyak macam hewan-hewan yang elok dan hidup bebas, ada kuda berbulu merah dan bersayap serta burung-burung dengan bulu yang sangat cantik. Bersamaan dengan suara sepoi angin, hewan-hewan itu mengeluarkan suara masing-masing sehingga tercipta senandung nyanyian yang sangat merdu.

Udaranya bersih menyejukkan. Siapapun yang berada di tempat ini, akan merasa begitu damai dan tenang

Taman Eden Surga Lantai Keempat, merupakan pemandangan indah tiada tara. Hanya saja...

Ya, kalau yang satu ini tidak dihitung maka tempat ini adalah tempat yang paling menentramkan hati.

Yaitu...

Di udara ada sesosok tubuh mengenakan armor hitam yang sedang bertarung melawan dua malaikat bersayap dua belas.

Pertarungan antar mereka tidak merusak lingkungan, tidak brutal, dan setiap serangan efektif tertuju hanya pada lawan. Jelas sekali kalau mereka bertarung serius dengan niat membunuh. Khususnya dari pihak kedua malaikat itu.

Tentu saja bagi Raphael dan Uriel, Surga ini adalah wilayah mereka sedangkan sosok berarmor hitam itu adalah musuh yang harus dienyahkan. Mereka berdua termasuk dalam Four Great Seraph yang merupakan pilar kekuatan utama Surga.

"Apa hanya akan terus begini saja, ttebayou? Kalian tidak menyenangkan."

Sosok yang mengenakan armor hitam bersuara dengan nada malas. Pertarungan mereka tidak mengalami kemajuan sedari awal, hanya begitu-begitu saja. Tidak menegangkan, tidak menarik, dan membosankan.

"Memang kau inginnya seperti apa?" tanya Uriel.

"Uzumaki Naruto, kami berdua sudah tahu kalau keberadaanmu kesini tidak untuk mencari sesuatu, tapi karena menemani Rizevim Livan Lucifer. Karena itulah kau tidak niat untuk bertarung, benar kan?" sambung Raphael.

"Iya juga sih."

"Kalau begitu, katakan dimana dia!"

"Tidak perlu, nanti dia juga akan datang sendiri kesini. Jadi tunggu saja, ttebayou!"

Sampai detik inipun, nampaknya Uzumaki Naruto masih bermain-main.

Dia tidak sedang dalam kekuatan penuh. Karena permintaan Rizevim, Naruto melepaskan semua bijuu di dalam tubuhnya agar mengamuk di Surga Tingkat Ketiga. Ia sendiri, hanya menyisakan sepersembilan eksistensi Kurama didalam tubuhnya. Kalau tidak begitu, kalau semua bijuu dikeluarkan, yang ada ia sebagai Jinchuriki akan mati. Makanya di luar sana, Kurama yang mengamuk ekornya hanya delapan.

Walau begitu, berbekal kekuatan senjutsu pertapa enam jalan, Naruto masihlah sangat kuat. Apalagi di Taman Eden yang penuh dengan makhluk hidup, ternyata memiliki energi alam atau senjutsu yang sangat melimpah. Naruto juga memakai sembilan godoudama yang dia ubah menjadi bentuk armor hitam, The Truth Seeking Armor agar memudahkanya menyerang sekaligus bertahan.

Biarkan Naruto melanjutkan pertarungannya melawan Raphael dan Uriel.

Kebawah,

Gabriel, malaikat wanita terkuat yang merupakan salah satu Four Great Seraph juga telah ada disana.

Hanya para Great Seraph yang sampai ke tingkat empat ini. Mereka bertiga berada di Tingkat Keenam Surga saat insiden penyerangan oleh teroris dimulai.

Jika lantai pertama adalah markas depan, maka lantai tingkat keenam Surga merupakan markas utama, tempat tinggal para Seraph. Hanya Four Great Seraph yang masih berada di sana menjelang keberangkatan tentara Surga ke arena perang di Underworld.

Lantai Keenam sebagai markas utama Surga memiliki bangunan berbentuk seperti tempat ibadah nasrani yang sangat megah dan memancarkan kilau emas. Kilauan cahayanya menampakkan kebesaran dan kesakralannya.

Itulah yang disebut dengan Zebel, inti dari Surga.

Sekarang Lantai keenam telah kosong. Gabriel, Raphael, dan Uriel turun kebawah untuk mencari musuh hingga mereka terhenti di lantai keempat ini, di Taman Eden. Sedangkan Michael naik ke atas, ke Lantai Tingkat Tujuh Surga untuk memeriksa apakan sistem yang ditinggalkan tuhan -The God of Bible masih bekerja dengan baik dan membetulkan semua gangguan yang ditimbulkan oleh para teroris.

Aslinya, Surga Tingkat Ketujuh adalah tempat dimana eksistensi The God of Bible berada ketika masih hidup.

Saat ini, Gabriel sedang dalam posisi tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada yang lain yang ia lakukan selain hanya menonton pertarungan Raphael dan Uriel melawan Uzumaki Naruto.

Bukan karena dia tidak ingin, dia ingin segera menyingkirkan orang yang mengacau tapi ia benar-benar tidak bisa apa-apa. Sebab...

Di samping kiri Gabriel, ada sesosok wanita cantik berambut gelap panjang tergerai yang juga menonton pertarungan di udara.

"Terima kasih atas pengertiannya dan mau berdiam diri di sini, Gabriel-san." ucap wanita itu.

"Tidak perlu, Hinata-san. Aku hanya menyadari bagaimana posisiku."

"Ah ya, benar juga."

Hinata berdiri dengan tenang. Iris matanya tidak seperti biasa, yaitu hitam dengan kilauan bintik-bintik berbinar yang mirip dengan gambaran galaksi bimasakti di angkasa. Doujutsu yang sedang aktif, The True Tenseigan.

Gabriel tentu masih ingat, manakala dirinya dibuat tak berdaya di ruang VIP saat mengawasi Hinata pada acara pesta pembukaan Rating Game. Ia merasakan nyeri hebat yang menyerang dadanya seakan jantung dan paru-parunya hancur hingga membuatnya pingsan. Gabriel sangat tahu dan sudah merasakan sendiri kalau perempuan berambut indigo itu mempunyai kemampuan berbahaya yang sanggup membunuh orang lain dalam sekejap tanpa dapat disadari dan dicegah, bahkan tak bisa dilawan.

"Apa kita hanya akan saling diam saja tanpa membicarakan sesuatu?"

"Kupikir iya. Tidak ada topik yang bisa kubicarakan dengan musuh." jawab Gabriel sambil tersenyum tipis, aslinya dia tersenyum miris menertawakan dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa.

Tidak ada lagi suara diantara mereka sampai tiba-tiba Gabriel mengatakan sesuatu yang tak terduga.

Tidak seperti sebelumnya, kini Gabriel terlihat tampak sangat tenang. Ibarat dia sudah selesai dengan pemikiran yang rumit hingga mendapatkan hasil.

"Nee Hinata-san. Saat melihat sorot matamu, yang terlihat tiada lain hanyalah perasaan mengerikan tak berdasar. Tapi..."

"Tapi apa?"

"Tapi entah mengapa, aku tidak merasakan adanya niat jahat dari dalam hatimu. Sebagai malaikat yang suci, aku sangat sensitif dengan hawa jahat bahkan yang tersembunyi di dasar lubuk hati sekalipun. Namun darimu, aku tidak merasakan itu sama sekali."

"Aneh sekali. Kita yang seharusnya bermusuhan malah membicarakan topik sentimentil seperti ini." Hinata tersenyum, badannya menjadi lebih rileks.

"Bahkan kalau boleh jujur, aku malah merasakan adanya keinginan baik yang sangat tulus dari dalam hatimu, sebuah pengorbanan mulia atas dasar cinta yang hakiki."

"Hei, bisakah kau hentikan itu?" Hinata tidak suka membahas hal ini.

"Nee nee, kalau boleh aku bertanya untuk siapa itu?"

"..."

"Apa untuk suamimu yang sedang bertarung di atas sana?" Gabriel tampak sangat antusias dan ingin tahu.

"Cukup!"

"..."

Gabriel terdiam setelah suara tegas dari mulut Hinata.

Sampai akhirnya Hinata mengembuskan nafas pelan lalu tersenyum simpul, "Gabriel-san. Seandainya saja pertemuan pertama kita baik dan situasinya tidak begini, kita mungkin akan jadi teman yang saling mengerti."

"Hu'um. Aku setuju. Kuharap, ada kehidupan selanjutnya di dunia yang lain, dimana kita adalah teman."

Hinata mengangguk sekali.

Tiba-tiba saja, Hinata berada di sebelah kanan Gabriel dengan posisi menghadap ke belakang tanpa sang malaikat sadari dan ketahui.

Begitulah. Realita eksistensi Hinata yang seperti ini yang membuat malaikat sekuat Gabriel tak punya kesempatan menang bertarung melawannya.

Hinata berjalan pelan dan berhenti di dekat seorang laki-laki paruh baya. Laki-laki itu memegang tangan seorang gadis kecil yang ia perlakukan seperti anaknya.

"Sudah selesai, Rizevim-san?"

"Uhyohyohyohyooo... Terima kasih telah membuatkan waktu untukku."

"Sama-sama."

Gabriel berbalik, seketika ia terkejut. Orang ini yang dia cari-cari sejak tadi.

Syuuutttt...

Naruto mendarat di dekat Hinata. Pun dengan Raphael dan Uriel mengambil posisi di samping Gabriel.

"Kau lama, Pak Tua!" sungut Naruto.

"Bocah, bisa tidak sehari saja kau tidak menggerutu padaku!?"

"Berisik, ttebayou!"

"Nii-sama!?" ucap Gabriel begitu menyadari Archaengel Michael sudah berada di dekatnya.

"Aku datang terlambat. Masalah dengan segel di Surga sekarang sudah terselesaikan. Semua elevator dan gerbang sudah berfungsi seperti sedia kala. Mereka pasti telah memanipulasiberbagai gerbang Surga menggunakan teknik sihir terlarang Aži Dahāka. Tanpa mempengaruhi'sistem' di Lantai Ketujuh, aku mencoba untuk menyelesaikan masalahnya"

Michael lalu beralih menatap Rizevim, juga Hinata, Naruto, dan Ophis rusak yang ada di sana.

"Selanjutnya, kau Rizevim! Lama tidak bertemu. Terakhir kita bertemu sewaktu perang akbar dahulu. Melihat kalian berempat menginjakkan kaki di Surga, akankah kalian mau bekerja sama dan pergi dari sini?"

Ekspresi Michael menjadi dingin.

"Tapi, aku tidak akan menunjukkan belas kasihan."

Michael mengangkat tangannya ke atas. Di udara, muncul sebuah tombak cahaya yang sangat besar, lebih mirip pilar yang menjulang tinggi sampai ke langit. Jika seseorang terkena oleh tombak cahaya sebesar itu, nyawa Iblis seperti apapun pasti akan berada dalam di ambang kematian.

Michael tanpa belas kasihan menurunkan tangannya. Pilar cahaya turun ke arah Rizevim. Sekejap, cahaya dalam jumlah besar dilepaskan bersamaan dengan sebuah ledakan.

Seluruh Taman Eden berguncang dan bergemuruh. Michael nampaknya tidak memperdulikan kerusakan yang terjadi, yang penting ia ingin memberi pelajaran pada pengacau Surga. Ia sendiri langsung mendirikan sebuah lapisan pelindung, untuk melindungi dirinya dan tiga Seraph lainnya dari dampak ledakan.

Taman yang mulanya indah, kini hampir tak menyisakan apapun selain lubang kawah raksasa.

Tapi, tampaknya itu bukan masalah bagi Rizevim.Dia menerima secara langsung serangan dari tombak cahaya raksasa tersebut dengan tubuhnya.

"Gyahahahahahahahahahaha! Hahahhaahahahahahaha!"

Dari tengah-tengah ledakancahaya, muncul dua belas pilar hitam. Semuanya melebar dan kemudian menekuk membentuk sayap. Rizevim berdiri di pusat ledakkandengan dua belas sayap hitam merentang keluar.

Sayap itulah yang melindunginya.

Rizevim meletakkan tangannya didagu, "Kurasa sampai disini saja. Sudah cukup!"

Di samping Rizevim, bola hitam mulai terurai. Dari dalam sana, keluarlah Naruto dalam mode Senjutsu Rikudou, Hinata, dan Ophis rusak yang tak terluka sedikitpun. Pelindung godoudama sangat kokoh.

"Beneran sudah selesai kan?" tanya Naruto.

"Apa wajahku terlihat seperti pembohong?" balas tanya Rizevim.

Rizevim beralih menatap para Seraph. "Kali ini kami akan pergi. Aku telah mendapatkan apa yang aku perlukan."dia mengeluarkan sebuah benda

"Itu adalah...!?"

Michael menunjukkan ekspresi keterkejutan yang amat sangat. Rizevim sedang memegang dua macam buah.

"Ini adalah buah kebijaksanaan dan buah kehidupan."

Para Seraph dibuat tak mengerti, kedua pohon itu tidak pernah berbuah lagi sejak dahulu kala, bagaimana mungkin Rizevim bisa memilikinya?

"Bagaimana kau bisa memiliki buah-buah itu!?" Uriel tak mampu menahan rasa keingintahuannya.

Rizevim mengelus buah yang ada ditangannya, "Hmm, dua pohon itu memang telah lama tidak berbuah tapi, jika duabuah ini telah 'diawetkan', maka itu adalah masalahyang berbeda." Dia tersenyum, ""Ibuku Lilith, adalah Lilith yang terekam didalam Kitab Suci. Dimasa lampau, ketika ibuku masih merupakanmanusia, dia hidup di Taman Eden. Dia juga dikenal sebagai istri pertama Adam."

Menurut cerita, dia adalah mantan istri Adam. Istri pertama sampai Adam beristri lagi dengan Hawa. Dia Lilith asli, pemilik nama dari nama Lilith yang diberikan Rizevim pada Ophis rusak di sampingnya.

Rizevim melanjutkan ceritanya, "Ketika aku masih kecil, aku sering mendengar ibuku mengatakan 'Aku membawa Tuhan, Aku telahmenyembunyikan buah kebijaksanaan dan buah kehidupan disuatu tempat', dia tidak mau memberi tahu. Ternyata itu adalah sebuah kebenaran, buktinya aku menemukan kedua buah ini. Tapi karena telah lama sekali, buah ini menjadi layu dan energi di dalamnya telah hilang."

Michael menunjuk Rizevim, "Kau pasti akan menggunakan Holy Grail untuk memulihkan kedua buah itu kan?"

"Tepat sekali."

"Tapi, dimana buah-buah itu disembunyikan di Surga? Aku tidak pernah mengetahuinya selama ini."

"Di Purgatory,jauh didalam Purgatory. Tersembunyi dijalan rahasia ketempat Hades."

Sebagai alam orang mati, Purgatory memiliki jalan penghubung antar berbagai tempat mitologis di seluruh dunia. Sebenarnya tanpa perlu mampir ke Surga pun, Rizevim bisa mengambil dua macam buah itu.

Yang berarti tidak ada alasan untuk...

Seolah menebak pikiran Michael, Rizevim berkata, "Yaaaaah, karena dari Purgatory ada sebuah jalan menuju Surga, jadi setelah mengambil buahnya aku juga datang untuk melihat-lihat. Unchahyahyahyahyahyaaaaaa...!"

Sebuah jalan! Hanya karena ada sebuah jalan menuju Surga, Rizevim datang ke sini dan menyerang, berbuat onar serta kerusakan. Orang ini!

"Kauuuu!" Michael menggeram. Rizevim sungguh perwujudan kejahatan.

"Hoi hoi hooooiiii! Michael, jangan terlalu marah padaku. Aku beritahu yaa, hanya 30% keinginanku ke sini. Sisanya adalah kehendak orang di sebelahku ini." Rizevim menunjuk Naruto yang berada di belakangnya dengan ibu jari.

Yang ditunjuk langsung gelagapan, seakan dia maling yang ketahuan mencuri.

"Uhhuukk, ekhhem..." Naruto berdekhem lalu mulai berbicara dengan wibawa. "Yaaaa, aku tahu cukup banyak tentang situasi dunia ini. Kalian pasti tahu kalau aku berasal dari Konoha. Negri kelahiranku sedang berperang dengan kalian Aliansi Tiga Fraksi, jadi tidak ada salahnya bagiku memberikan bantuan kepada mereka dengan melemahkan salah satu fraksi, yaitu dengan menghancurkan Surga ini."

Michael berdecih pelan, "Uzumaki Naruto, kau benar-benar membuatku marah."

Naruto balas menatap nyalang, "Bukannya itu terbalik Michael-sama? Seharusnya akulah yang marah padamu, pada kalian semua!"

Sebuah lingkaransihir mulai bersinar dibawah pihak Rizevim. Mereka berempat akan segera pergi.

Gabriel berkata pada Michael, "Agresi Qlippoth pada Surga telah berhenti, mereka mundur. Pulau Langit Agreas yang muncul di Surga Ketiga pun telah hilang. Sedangkan sembilan monster berekor hilang dalam kepulan asap." Malaikat wanita tercantik ini pasti baru saja mendapatkan informasi dari para Brave Saint yang berjuang di bawah sana.

Di sudut berseberangan, kekuatan Naruto meningkat tajam. Siapapun akan langsung merasakan kalau kekuatannya seolah tanpa batas. Amarah dan keinginan membalaskan dendam juga begitu nyata terasa hanya dengan menatap mata Naruto.

Naruto menolehkan kepalanya sedikit kebelakang, perwujudan Sang Ketidakbatasan yang telah rusak seperti mengerti. Dia mendekat lalu menangkupkan kedua tangannya pada telapak tangan kanan Naruto yang terbuka ke atas. Bola hitam kecil padat terbentuk di tengah-tengahnya. Ophis pun mundur lagi setelah memberikan kekuatannya.

Sembari mengangkat tangan ke atas, Naruto berkata dengan nada tajam. "Belum lama ini, aku mendengar berita kalau salah satu sahabatku telah tewas dan pembunuhnya adalah seorang oknum dari Surga."

Iris mata Michael membola, ia tahu kepada siapa perkataan itu ditujukan.

"Untuk kematian Sai, kehancuran total Surga adalah harga sepadan."

Bola hitam kecil di tangan Naruto melesat terbang ke atas, tinggi hingga mencapai awan di Taman Eden.

"Selamat tinggal!" Rizevim mengatakan salam perpisahan, lalu empat orang itu pun lenyap dari Taman Eden.

Di langit, bola hitam kecil ciptaan Naruto berkedut hebat dan berdetak seperti hidup sehingga dalam sekejap mata ukurannya membengkak luar biasa besar. Bola hitam dengan outline ungu itu berputar cepat hingga menimbulkan suara bising. Petir-petir hitam serta jilatan api berwarna ungu diseluruh permukaan bola menciptakan kesan yang sangat mengerikan. Perlahan muncul tambahan beberapa buah cincin putih yang berlapis-lapis dan mengelilinginya. Cincin yang berputar cepat sehingga menciptakan suara dengungan yang menyakitkan telinga dan mengoncangkan daratan.

Sampai pada detik-detik terakhir, langit Taman Eden tempat Michael dan tiga Seraph lainnya berada menjadi gelap gulita. Cahaya langit tertutup oleh bola hitam di langit.

Naruto pernah memperlihatkan teknik itu sebelumnya, di Underworld ketika aksi pencurian Pulau Langit Agreas. Senpou: Chou Oodama Dai Rasenringu yang diperkuat oleh Dewi Naga Ophis Sang Ketidakbataasan. Sebuah teknik penghancur terkuat yang pernah sepanjang massa.

Namun saat itu Naruto tidak jadi menjatuhkannya karena negosiasi dengan Sirzech tercapai.

Tapi sekarang, Naruto benar-benar akan menjatuhkan tekniknya itu.

Michael, Gabriel, Raphael, dan Uriel, menatap tak percaya atas apa yang mereka lihat.

Di tengah situasi darurat itu, hanya Michael yang masih mampu berpikir. "Kita harus cepat-cepat melakukan sesuatu. Kalau tidak, seluruh ras Malaikat dan penghuni Surga akan lenyap."

Tak lama kemudian tanpa bisa dicegah, Surga yang dipercaya oleh penganut Nasrani harus merasakan dahsyatnya kemurkaan seorang Uzumaki Naruto.

-Flasback Off-

Dulio Gesualdo mengakhiri ceritanya dengan mengatakan, "Lantai tingkat kedua sampai kelima lenyap tak bersisa akibat serangan terakhir Uzumaki Naruto. Tiga lantai sisanya rusak parah sampai 65% dan tidak layak ditinggali lagi. Hanya Lantai Ketujuh yang tetap utuh. Aku menduga, mereka memang sengaja tidak mengganggu tempat itu, sebab kalau sampai rusak dan 'sistem' peninggalan tuhan kenapa-kenapa, mereka juga akan rugi sendiri. Dari 100 ribu tentara malaikat, hanya 50 ribu yang terselamatkan berkat usaha keras Michael-sama melindungi kami. Pihak Qlippoth juga kehilangan ribuan Naga Jahat massal, termasuk Ladon dan Níðhöggr. Sedangkan pertarunganku melawan Crom Cruach berakhir seri. Kesimpulan yang harus kita terima adalah, Surga telah runtuh dan tidak akan pernah kembali seperti sedia kala."

Atas dasar itulah, Michael datang ke Underworld dengan 50 ribu pasukannya untuk perang tanpa melakukan apa-apa meski Surga baru saja diserang. Yah, mau melakukan apa lagi? Surga sudah tidak bisa diapa-apakan lagi.

Tidak ada tanggapan apapun yang terlontar dari mulut setiap pendengar. Tidak ada apapun, tidak ada yang lain selain...

kemarahan,

kebencian,

dendam,

serta berbagai emosi negatif lainnya.

Bukannya mereka berhati jahat, tapi siapa yang tidak merasa begitu ketika orang-orang disekitar mereka diperlakukan dengan keji.

Apalagi, Rizevim bersama antek-anteknya membuat dan menebar kerusakan dimana-mana hanya untuk alasan konyol dan bersenang-senang.

Apa orang tua itu tidak memikirkan bagaimana perasaan para korban dan sahabat-sahabatnya?

Jawabannya pasti, tidak sama sekali.

Lalu daripada membuang waktu dan pikiran hanya dengan memikirkan semua itu, Azazel memutuskan untuk segera bergerak.

"Sekarang kita semua sudah tahu seberapa besar kekuatan mereka. Kehancuran luar biasa yang mereka ciptakan pada Surga adalah bukti nyata."

Kesadaran mereka semua tertarik oleh ucapan Azazel. Itu benar, tak satupun dari mereka yang mampu menyangkal.

Azazel melanjutkan, "Tapi itu tidak akan menyurutkan niat kita kan? Orang-orang penebar kerusakan itu, harus mendapatkan balasannya dari kita."

Mereka setuju, terlebih Rias dan para peeragenya. Tidak ada lagi ketakutan dari wajah mereka semua. Yang ada hanyalah keinginan kuat untuk melenyapkan musuh.

Aazel menyeringai senang. Tampak jelas sekali kalau provokasinya telah menumpuk banyak sekali kebencian di dalam hati anak-anak didiknya.

Sang Gubernur malaikat jatuh itu berbalik lalu mulai melangkah, "Lingkaran sihir teleportasi menuju markas musuh sudah siap."

"Semuanya!" Dulio mengambil alih komando, "Kita berangkat sekarang."

"Ha'i!" mereka menjawab serentak.

Mengikuti kemana Azazel melangkah, lalu berhenti tepat di tengah lingkaran sihir teleportasi yang bersinar sangat terang, sinar putih kekuningan yang menjadi ciri khas para malaikat.

Tim DxD pun, bertolak dari Surga menuju markas musuh.

.

-Pulau Langit Agreas, markas Qlippoth di Celah Dimensi-

Issei yang pertama kali membuka mata, dia tampak sudah sangat tak sabaran untuk meninju wajah musuh-musuhnya. Pemuda itu melihat kesekeliling, tempat ini seperti sebuah gang gelap dan sempit yang diapit oleh dua bangunan tinggi.

"Ini kan?"

"Ya Issei. Seperti yang kau perkirakan, kita sudah sampai. Ini adalah salah satu sudut kota yang ada di atas Pulau Langit Agreas yang dicuri oleh Rizevim." ucap Azazel menjelaskan.

Dulio memberi isyarat, "Kita tidak bisa bersantai, ayo langsung bergerak."

Mereka melangkah keluar, berjalan cepat seperti sedang berlari.

"Kita menuju kemana?" Gasper yang berada diantara Kiba dan Issei tidak tahan untuk tidak bertanya.

"Ke planetarium yang berlokasi di pusat kota. Dari sana, ada jalan rahasia menuju ruang bawah tanah. Pasti disana lah musuh-musuh kita berada. Begitu informasi yang aku ketahui dari Maou Ajuka yang telah cukup lama meneliti pulau langit ini sebelum dicuri." jawab Dulio.

Setelahnya, mereka hanya bicara singkat sesekali saja. Meski belum bertemu siapapun, tapi ketegangan yang amat kuat dan membuat jantung berdegub kencang sudah mereka rasakan sedari tiba tadi.

Saat melewati parkiran di depan gedung Hall atau gelanggang olahraga yang sering dijadikan arena Rating Game, mereka bisa melihat ada banyak naga jahat hitam produksi massal yang sedang bersantai. Para naga jahat itu hanya melakukan aktifitas selayaknya binatang-binatang yang bernaung dibawah terik matahari panas sembari menjilati badan.

Sungguh, Pulau Agreas telah menjadi sarang mereka.

Naga-naga jahat produksi massal itu bukanlah target Tim DxD. Dan lagi mereka tidak ingin membuat keributan terlalu awal. Oleh karenanya, Dulio memutuskan untuk mengganti ke rute yang lebih sunyi sembari mereka waspada dan bergerak secara sembunyi-sembunyi menuju lokasi yang dituju.

Sesampainya di dalam Planetarium, yang mereka dapati hanyalah kesunyian tanpa ada makhluk apapun disana.

"Kiba, geser podium di depan sana dan periksa lantai dibawahnya!" perintah Dulio.

Kemungkinan besar dibalik itu terdapat jalan rahasia yang disebutkan oleh Maou Ajuka, yang Rizevim sendiripun pasti tak mengetahuinya.

Issei mengikuti Kiba.

Kedua pemuda itu menggeser podium yang tampaknya cukup berat untuk ukuran seorang iblis laki-laki.

"Ada" teriak Issei.

Ternyata benar, ada lubang persegi yang cukup lebar. Didalamnya terdapat tangga menuju ke ruang bawah tanah.

Melewati jalur itu, Dulio dan semua anggota Tim DxD turun.

Sesampainya di bawah ketika berada di ujung lorong yang lumayan gelap dan agak sempit, mereka semua tiba di sudut sebuah aula besar.

Ya, aula yang bisa dibilang sangat besar untuk letaknya yang berada di bawah tanah. Aula seluas stadium sepakbola.

"Berhenti!" perintah Dulio. Ia yang berjalan paling depan mengangkat tangannya sebagai tanda pada orang-orang dibelakangnya.

Dulio mengamati dengan seksama. Matanya menatap lurus pada pintu besar yang berada di ujung paling depan aula besar itu.

Ada dua orang yang berdiri seperti sedang menunggu sesuatu, sepasang laki-laki dan perempuan.

Kiba yang berada persis di belakang Dulio sangat mengenalinya, " Itu... Mereka!?"

"Tidak salah lagi! Euclid dan Walburga. Anak buah Rizevim."

"Apa yang mereka lakukan di sana?" tanya Xenovia.

"Tidak tahu. Mereka seperti sedang menunggu seseorang yang akan datang."

Benar saja. Tidak sampai satu menit setelah Dulio mengatakannya, sebuah lingkaran sihir teleportasi berwarna biru terlukis di lantai aula tidak jauh dari Euclid dan Walburga.

Rias merasa sangat familiar dengan aksara dan simbol sihirnya. Sungguh, Rias sangat tidak ingin apa yang ada di benaknya benar-benar terjadi.

Namun takdir tak dapat ditolak,

Yang datang melewati lingkaran sihir itu ternyata adalah dua orang gadis berkacamata yang sangat dikenali oleh Rias, oleh mereka semua yang ada disana juga. Keduanya berambut hitam, yang satu berambut panjang tinggi semampai sedangkan satunya lagi lebih pendek dengan model rambut pendek.

"Ti-tidakkkk!"

Rias sangat tidak ingin mempercayai apa yang dilihatnya.

Di ujung sana, Euclid dan Walburga menyambut kedatangan dua orang itu dengan hangat.

Tidak salah lagi, dia...

"SONAAA!"

Teriakan Rias membongkar persembunyian Tim DxD.

Tidak, sesungguhnya mereka tak terpikir lagi untuk bersembunyi setelah melihat siapa gadis yang baru saja datang itu. Dua orang yang sangat mereka kenali, sangat dekat malah sebagai teman dan sahabat.

"Ohhh haii, kemari lah." Walburga melambai-lambai pada Rias, seakan dia tidak terganggu dengan kedatangan para tamu tak diundang itu. "Aku pikir kalian akan bersembunyi saja di situ, rupanya kalian keluar sendiri. Ufufufuuu..."

Mungkin saja sejak awal tiba, Tim DxD sudah ketahuan.

Sona hanya menoleh singkat pada Rias lalu memalingkan wajah kembali, seolah dia tidak peduli bahkan lupa pernah kenal dengan sahabat sepopoknya itu.

Si Ketua OSIS meminta pada Euclid, "Tunggulah sebentar lagi di sini, budak-budakku akan segera sampai. Kami berangkat dari tempat yang berbeda."

"Baiklah. Lagipula Naruto-sama mengatakan kalau ada kelompok lain yang juga dipanggil kemari selain kalian."

"Siapa?"

"Hahaaa. Tidak mungkin kau tidak tahu, Nona manis."

"Ooooh, mereka ya?"

"Benar sekali."

Kemudian Sona sedikit berbasa-basi, "Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Naruto-san dan Hinata-san?"

"Mereka berdua sehat seperti biasa." kali ini Walburga yang menjawab.

"Begitu ya. Hm, baguslah."

Di sudut sana, Rias, Issei, Kiba serta anak-anak muda lainnya sangat tidak bisa menerima apa yang mereka lihat dengan mata.

Ini...

Ini mustahil kan?

Apa yang sebenarnya terjadi?

Kenapa..., kenapa Sona dan Tsubaki yang seharusnya terbaring tak sadarkan diri di ruang perawatan khusus akibat segel Hinata pada otak mereka berdua, tiba-tiba saja sekarang ada di tempat ini dalam keadaan sadar dan bugar?

Lebih daripada itu, kenapa Sona dan Euclid dari Qlippoth tampak memiliki hubungan kerjasama.

Dan terakhir yang paling tak masuk akal, Sona menanyakan keadaan Naruto seakan mereka teman akrab yang lama tak berjumpa, padahal pengkhianatan dan perbuatan Naruto pada Sona sama sekali tak termaafkan.

Namun mata mereka tidak berbohong, Sona dan Tsubaki jelas ada di sana. Bersama Euclid dan Walburga.

"Sonaaa!"

"Heiii Sona!"

"Ada apa dengan dirimu?"

Berkali-kali pun Rias berteriak, Sona menulikan telinganya.

Tap.

Greeepp!

Rias sudah maju selangkah demi menuntut kejelasan, tapi tangan kanan Dulio dengan kuat menahan pergelangan tangannya. Rias seperti kehilangan logika.

"Tenanglah, Gremory!" pinta Dulio. "Kita sama sekali tidak tahu apa yang mereka rencanakan, jadi jangan sampai gegabah."

Begitu dengan Rias, begitu pula dengan yang lainnya termasuk Azazel sendiri. Mereka masih tidak mampu menebak apa yang sebenarnya terjadi.

Kepalang tanggung karena sudah ketahuan, Tim DxD menampakkan diri mereka semua di dalam aula. Tapi mereka cukup hati-hati dan menjaga jarak aman dari musuh.

Berikutnya yang datang adalah, sekelompok orang yang muncul melewati lingkaran sihir dengan simbol sama seperti kedatangan Sona.

Genshirou Saji, Ruruko Nimura, Momo Hanakai, Reya Kusaka, Bennia, Tomoe Meguri, Tsubasa Yura, dan Rugal. Mereka berdelapan adalah budak-budak Sona.

Tomoe maju mendekati Sona pertama kali, "Aku begitu senang saat tahu Kaichou dan Fuko-Kaichou sudah siuman dan berada disini hingga aku cepat-cepat kemari."

"Bukan hanya kau saja, Tomoe. Tapi kita semua." Tsubasa menarik pundak Tomoe yang tak ada sopan-sopannya dengan Raja mereka.

Sona tersenyum tipis sebagai tanggapan.

Tsubaki berdehem, "Kalian semua, seriuslah! Mulai saat ini kita ada pekerjaan berat."

"Eh?"

Seakan baru tersadar, mereka berdelapan baru terpikir tentang dimana tempat mereka berada sekarang.

"Aku akan menjelaskan semuanya di dalam." ucap Tsubaki sebelum ada yang bertanya.

Jadi sekarang, tim Sitri telah lengkap.

Lalu yang terakhir...

Dhuuarrrr!

Langit-langit aula bawah tanah berlubang hingga mencapai permukaan. Melewati jalur itulah, sekelompok orang datang.

"Kau terlambat, Vali Lucifer!"

"Tck!"

Vali berdecak kesal pada ucapan Euclid. Dia tidak sendiri, namun lengkap dengan semua anggota timnya. Arthur yang tenang, Bikou yang usil, Kuroka yang tidak bisa diam, dan Le Fay yang imut. Tak ketinggalan Serigala Fenrir dan Gogmagog.

"Aku tidak ada urusan denganmu. Hanya karena Naruto memanggilku, untuk alasan itulah aku datang kesini."

"Kheh, sombong seperti biasa." seru Euclid. Ia benar-benar tak menyukai iblis muda yang satu ini. Kalau bukan karena kesepakatan antara Rizevim dengan Naruto, dia tidak akan bersikap begini. Minimal kalau bertemu, langsung bertarung.

Dulio, Azazel, dan yang lainnya benar-benar tak habis pikir. Untuk takdir apa sehingga semua orang terkumpul di tempat ini?

Kejadian tak terduga bagi Tim DxD nyatanya belum berakhir begitu saja.

"Va-kuuuuunnnnn...!"

Seorang gadis muda yang cantik dengan rambut pirang lurus tergerai mendekap erat lengan Vali, membenamkannya diantara kedua payudaranya.

Beberapa orang menganga!

Itu kan!?

Lavinia Reni. Anggota Tim Slash Dog yang tergabung dalam Tim DxD.

Beberapa orang terkejut, tapi beberapa lainnya sudah menduga akan seperti ini.

Lavinia Reni sudah sejak lama terobsesi pada Vali Lucifer, semenjak laki-laki itu diasuh oleh Azazel dan seringkali bertemu sapa dengan Tim Slash Dog yang juga di bawah bimbingan Azazel.

"To-tolong lepaskan! L-lepasss!"

Vali berusaha berontak, tapi pipinya memerah.

Dia malu.

Sang Hakuryuukou terkuat sepanjang masa tampak malu-malu, mengejutkan.

Sangat mengejutkan!

Kesampingkan adegan penuh binar-binar bunga romantika. Situasinya sekarang bukan untuk hal itu. Ini jelas sebuah pengkhianatan.

Pengkhianatan!

Dengan asumsi bahwa Vali menjalin kerjasama dengan Uzumaki Naruto, kalau Rizevim tidak mungkin sebab dia sangat membenci kakeknya itu, maka berpindah pihaknya Lavinia Reni ke kubu musuh jelas sebuah pengkhianatan.

Lavinia Reni adalah seorang penyihir hebat, dia juga pemilik Sacred Gear Longinus Absolute Demise. Tentu sosoknya bukan sosok dengan kekuatan biasa saja.

Belum apa-apa, Tim DxD sudah mendapat pukulan telak sebesar ini.

"Vali!" Sang Gubernur Malaikat Jatuh berteriak.

"Ooouh, kau Azazel. Kupikir siapa!?" Vali berhasil melepaskan diri dari jerat dekapan Lavinia untuk sementara waktu.

Sama seperti Sona, setelah menatap singkat Vali memalingkan muka dari orang tua asuhnya dahulu.

"Karena sudah lengkap, ayo masuk. Naruto-sama mungkin bosan kelamaan menunggu kalian." ajak Euclid.

Mereka semua pun melangkah di belakang Euclid yang membuka pintu aula menuju ruang lain di bawah tanah ini.

Azazel dan siapapun itu dari Tim DxD, sangat geram dibuatnya. Mereka semua tak dianggap, kedatangan mereka diabaikan.

Apa ada yang lebih menjengkelkan selain diabaikan oleh orang lain yang merupakan teman dekat sekaligus juga mungkin musuh pada saat bersamaan?

"Tunggu! Kalian semua, kubilang tungguuuuu!"

Bahkan untuk seukuran malaikat reinkarnasi seperti Dulio pun, tak mampu menahan kejengkelannya.

Euclid dan tamu-tamunya tak mempedulikan.

"Sonaaaaa!"

"Valiiiiii!"

Teriakan keras Rias dan Azazel sama sekali tak ditanggapi oleh orang yang bersangkutan.

"Ini membuatku muaakk!" tubuh Issei dikuasai emosi. "Balance Break!"

Dragon Shot

beeeaaaaammmm...

Dhuuaaarrr!.

Hancurnya dinding bagian atas pintu aula, mau tak mau membuat dua puluh sosok itu berhenti.

Walburga menatap semuanya, wajahnya cerah seakan dia baru saja menerima berita baik.

"Hei hei heiii, aku baru dapat pesan dari Kakek Rizevim. Kata beliau, tolong urus keributan di luar. Dia sedang tak ingin diganggu. Katanya juga, Naruto-sama dan Hinata-sama saat ini masih beristirahat. Pastinya suami istri itu juga tak ingin diusik ketenangannya."

"Lalu?" Eulid tidak suka yang berbelit-belit.

"Ayo kita urus para pengganggu itu." kata Walburga bersemangat.

Sona mendesah sembari memijit hidungnya, tampak sekali dia tidak menginginkan hal ini. Tapi mau bagaimana lagi?

Kalau Vali? Kelihatannya dia hanya menunjukkan ketertarikan pada Sekiryutei saja.

Akankan takdir pertarungan hidup mati Sekiryutei Vs Hakuryuukou akan terjadi sebentar lagi?

Akhir dari bagian cerita ini, belum apa-apa sudah akan terjadi bentrokan hebat.

.

.

To be Continued...

.

Note : Satu chapter lagi mendekati akhir. Bagaimana? Kuharap puas.

Chapter ini menceritakan sepenuhnya misteri dibalik hancurnya Surga yang dikatakan Michael pada chapter 76. Ceritanya sederhana, hanya bantuan kecil dari Naruto pada Konoha untuk perang, juga aksi balas dendamnya atas kematian Sai. Hohoo, sepertinya Michael salah membunuh orang dan merasakan sendiri akibatnya. Bantuan NaruHina segitu dulu deh, untuk selanjutnya tunggu nanti saja.

Kemudian..., emm sebuah pertemuan tak terduga. Sona dan Vali telah naik ke panggung drama, akan bagaimanakah selanjutnya?

Ulasan Review:

Yang nebak peran Hinata paling berakhir kek Madara, Issshh kok segitu amat sih. Ya enggak lah, cerita ini tak akan berakhir seperti itu.

Ga usah nunggu duet NaruSasu. Ntuh diatas, duet NaruOphis saja sudah cukup untuk membantai seluruh Surga.

Ini mungkin membuat bingung. Vali berteman dengan Naruto sedangkan Naruto bekerjasama dengan Rizevim tapi Vali sangat membenci Rizevim. Kok bisa gitu? Nanti saja lah diceritakan.

Iyap, FF ini kebanyakan adegannya banyak terinspirasi dari berbagai tempat. Salah satunya Film Interstellar itu.

Senjata Hallconen II dan Vladimir itu hanya senjata fiktif yang dibuat khusus untuk karakter Seras Victoria dari cerita aslinya. Cerita bagian ini berbeda dengan chapter 49-51 yang mengambil setting GGO dimana aku menggunakan senjata asli dari dunia nyata.

Oh hai kau reviewer guest, Mind Blown itu apa yah? Jelaskan padaku! Hahaaaa, aku kurang jago istilah-istilah asing.

Emmmm, yang memprediksi panjang lebar tentang jalannya perang Armageddon, bisa tepat bisa juga kurang tepat. Wahahahahaaa.

Yang kemarin nyariin para bijuu, tuh dah mereka keluar semua. Hahaaa.

Eaaak, yang nebak Naruto dan Rizevim habis pulang mengacau. Memang betul. Mereka baru pulang setelah memporak-porandakan Surga. Ghahahahahaaaa...

Bukan aku tidak ingin memunculkan ahli strategi dari pihak Aliansi Tiga Fraksi. Aku hanya berpikir, dari sisi Konoha saja sudah cukup. Mereka bikin strategi lalu dilakukan, sedang dari pihak Aliansi membuat strategi juga yang tak terduga. Hanya saja tanpa perlu ada tambahan Out Character, cukup mengandalkan nama Falbium saja sebagai ahli strategi perang dari Underworld.

Katanya nanti ada cekcok rumah tangga NaruHina? Bukannya aku udah nyebut ini dari lama, dari chapter 30an. Yang kataku akan ada konflik internal NaruHina. Aaah tuh di atas, aku singgung sedikit dalam percakapan antara Hinata dengan Gabriel.

Semua karakter turun ke medan perang pokoknya.

Tenang aja, satu hari di Fanfic bisa jadi berbulan-bulan aku nulis semua chapter tersisa. Ingat aja dengan Naruto Shippuden, sehari perang jadi ratusan episode. Wkakakakaka.

Kemana nanti Konoha kalau semuanya sudah selesai? Jawabnya nanti saja. Lalu jutsu yang melepaskan bola kecil lalu jadiin planet itu bukan Banshou Te'in, tapi Chibaku Tensei. Episode 320an, itu madara narik meteor ketika dia udah make Rinnegan kok..

Siapa yang bilang perangnya ga sampai selesai? Hooo, musti selesai dong. Meski aku tidak menjamin akan sampai jelas siapa yang menang dan yang kalah, tapi pasti akan sampai puncaknya.

Tamatnya, mungkin dalam belasan chapter lagi. Santai saja nunggu endingnya.

Bikin Grup BBM atau WA? Apa keperluannya urgent yaah, takutnya kalau aku sendiri ga keurus kan jadi sia-sia saja.

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita, sebagian lainnya kubalas lewat PM.

Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.

.

.

.