Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya
Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .
Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance
Rate : M
Setting : AU (Alternate Universe)
Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.
Pair : Semua Pair Canon
Rabu, 23 Agustus 2017
Happy reading . . . . .
Sebelumnya. . . .
"Ini membuatku muaakk!" tubuh Issei dikuasai emosi. "Balance Break!"
Dragon Shot
beeeaaaaammmm...
Dhuuaaarrr!.
Hancurnya dinding bagian atas pintu aula, mau tak mau membuat dua puluh sosok itu berhenti.
Walburga menatap semuanya, wajahnya cerah seakan dia baru saja menerima berita baik.
"Hei hei heiii, aku baru dapat pesan dari Kakek Rizevim. Kata beliau, tolong urus keributan di luar. Dia sedang tak ingin diganggu. Katanya juga, Naruto-sama dan Hinata-sama saat ini masih beristirahat. Pastinya suami istri itu juga tak ingin diusik ketenangannya."
"Lalu?" Eulid tidak suka yang berbelit-belit.
"Ayo kita urus para pengganggu itu." kata Walburga bersemangat.
Sona mendesah sembari memijit hidungnya, tampak sekali dia tidak menginginkan hal ini. Tapi mau bagaimana lagi?
Kalau Vali? Kelihatannya dia hanya menunjukkan ketertarikan pada Sekiryutei saja.
Akankan takdir pertarungan hidup mati Sekiryutei Vs Hakuryuukou akan terjadi sebentar lagi?
Akhir dari bagian cerita ini, belum apa-apa sudah akan terjadi bentrokan hebat.
.
To The End of The World
Writen by Si Hitam
.
Chapter 83. Armageddon War, End of The World - Part 7.
.
Vali Lucifer dengan wajah arogan menatap lurus ke kedua bola mata Hyoudou Issei di ujung sana, seolah tatapannya mampu menembus helm armor Balance Breaker sang Naga Merah.
"Sekiryutei Hyoudou Issei, kita adalah dua Naga Langit yang menggenggam takdir pertarungan hidup dan mati. Karenanya aku tanya padamu, apa kau menginginkan pertarungan kita sekarang? Sudah pantas kah dirimu untuk bertarung melawanku?"
"..."
"Jika jawabanmu tidak, maka kesempatan untuk takdir itu akan hilang selamanya."
Issei seharusnya senang jika tidak ada pertarungan. Dia tidak perlu mempertaruhkan nyawanya untuk takdir dua ekor naga yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan dirinya. Tapi...
"Aku..."
"Hm, apa? Apa jawabanmu?"
"..." Issei nampaknya masih ragu.
"Aku tidak mau lagi menunggu waktu sampai kita sejajar karena aku memiliki banyak takdir lain yang ingin kuraih. Mengalahkan Naga Merah Sejati Sekiryushintei Great Red adalah salah satunya, juga menghabisi kakek tua menjijikkan itu. Jadi...?"
"..."
Masih tak ada suara yang keluar dari mulut Issei.
"Baiklah. Aku tunggu di atas dalam 5 menit. Jika tidak, aku pergi. Dan kau, akan jadi naga langit merah pecundang seumur hidupmu."
Wuuuushhhh...
Vali telah terbang, melesat melewati lubang di langit-langit aula ruang bawah tanah yang tembus ke permukaan, sama seperti cara ia datang tadi.
Jika benar terjadi, pertempuran Dua Naga Langit pastinya menjadi pertarungan sengit yang sangat merusak lingkungan dalam skala luas, ruang bertarung yang sangat besar dibutuhkan agar mereka bisa bertarung dengan kekuatan penuh. Maka dari itulah, seluruh kota di permukaan Pulau Langit Agreas akan menjadi arenanya.
Kembali pada Issei, ia adalah orang yang berani dan selalu maju tanpa berpikir dua kali dengan optimisme tinggi walau sekuat apapun musuhnya. Yang dia pikirkan hanyalah bagaimana melindungi orang-orang berharga baginya meski harus mengorbankan nyawa sekalipun.
Tapi sekarang...
"Issei-san." Asia mendekati pemuda ini, pemuda yang sejak pertama bertemu sudah ia anggap pelita hidupnya.
"..."
Tak ada respon,
"Issei-kun!"
Kali ini Yuuto Kiba yang memanggil, sekaligus menepuk bahu sahabat terbaiknya ini.
"Maaf. A-ak akuuu..."
Suara Issei terdengar putus-putus.
"Kenapa? Apa yang membuatmu jadi pesimis begitu?" tanya Azazel tegas.
"Sensei, apa... Apa kau merasakannya?"
"Tentu saja. Aku sangat mengetahuinya tadi. Tapi, apakah itu akan membuatmu berhenti di titik ini. Mana Hyoudou Issei yang biasanya hah?"
Kebanyakan orang tidak mengerti, tapi beberapa jelas mengetahuinya. Terutama Issei yang merasakannya secara langsung, karena sesuatu itu memang sengaja diarahkan pada dirinya.
Pasangan Hakuryuukou dan Sekiryutei masa kini sangat berbeda dengan pedahulu-pendahulu mereka. Vali berkembang dengan sangat cepat di usianya yang masih muda, begitu juga Issei yang selalu menunjukkan hal mustahil untuk diduga. Namun Vali yang terlahir bersama bakat iblis yang sangat hebat, selalu unggul di depan.
Vali lebih dulu memiliki Balance Breaker, lalu Issei mampu mengejarnya dengan Balance Breakernya. Vali memperlihatkan kalau ia sanggup menahan kekuatan Juggernaut Drive, tapi karena itu sangat berbahaya bagi Issei maka ia mengambil jalan lain dengan Cardinal Crimson Fulldrive. Anggap mereka setara, tapi nyatanya Vali mampu memaksakan dirinya lebih jauh dengan kekuatan yang dahsyat, Empireo Juggernaut Overdrive, seperti yang Issei lihat ketika berurusan di wilayah Vampire Tepes. Meski sulit, Issei masih mampu melangkah menyusul kekuatan Vali berkat kekuatan yang dulu pernah ia ambil dari permata armor Hakuryuukou yaitu Divide, Reflect dan Wyvern. Ia juga mampu menunjukkan kemampuan khusus Ddraig yang ketiga, Penetrate.
Katakanlah kalau posisi mereka sejajar lagi.
Akan tetapi pertemuan yang barusan sangat-sangat tak disangka, khusus bagi Issei. Meski tak menunjukkan apapun, namun dari dalam tubuh Sang Hakuryuukou dapat Issei rasakan tekanan kekuatan yang begitu hebat, sangat dahsyat, kekuatan mengerikan yang baru pertama kali ini ia rasakan, yang membuat menggigil, gemetar, bahkan lupa cara bernafas, tak ada beda dengan anak katak di hadapan ular kobra meskipun jika Issei sendiri dalam kondisi kekuatan terbaiknya.
Azazel tiba-tiba bersuara, "Aku pernah merasakannya dulu -lama sekali, saat aku masih muda. Rasanya persis sama dengan kekuatan sejati dari Satan Lucifer pertama."
"Ha?" Rias ternganga. Dia menduga-duga, apa mungkin...?
"Tidak salah lagi, anak laki-laki itu sudah mencapai kekuatan maksimumnya. Kemungkinan besar, dia yang sekarang telah mampu menggabungkan kekuatan penuh Kaisar Naga Putih Vanishing Dragon Albion dengan kekuatan sejati Satan Lucifer yang mengalir dalam darahnya. Dia pastinya menjadi Hakuryuukou terkuat sepanjang masa dari masa lalu sampai masa depan yang takkan terlampaui."
Perasaan itu lah yang membuat Issei tak berkutik saat tadi Vali menatapnya. Dengan dirinya yang sekarang, apa yang bisa ia lakukan?
"Sebenarnya kupikir itu mustahil terjadi, pasti ada seseorang di balik punggung yang membuat Vali mampu mencapai titik ini. Sekarang tergantung keputusanmu, Issei." ucap Azazel lagi.
Issei ingin bertarung untuk takdir itu. Tapi dengan dirinya yang sekarang? Pasti ia akan kalah telak, dan dia hanya akan jadi pecundang. Namun jika tidak melawan, itu malah lebih buruk lagi sebab dimanapun dan kapanpun bertemu, Hakuryuukou dan Sekiryutei pasti akan menggengam takdir untuk saling bertarung. Issei akan menjadi Sekiryutei pecundang paling memalukan sepanjang masa kalau tak menyabut ajakan Vali.
"Aku mengijinkanmu menggunakan itu, Issei."
Semua orang menatap terkejut pada Azazel.
"Sensei!" Rias menyuarakan penolakan dengan keras.
"Baiklah."
Kini mereka berbalik menatap Issei tak percaya.
"Akan aku coba melawannya, dan kalau memang diperlukan aku akan menggunakan itu."
"Tidak! Issei, jangan!"
Issei menggeleng, "Maaf, Bochou. Tapi ini harus kulakukan."
Sesuatu yang dimaksudkan Azazel, seharusnya Issei gunakan untuk melindungi bukan untuk mengalahkan orang lain. Melindungi segala yang berharga bagi Issei, yakni teman-temannya, keluarganya, dan semua orang yang ia sayangi, terutama Rias. Pernah Issei sempat memperlihatkan sesuatu itu, yakni ketika dia gagal membawakan Valerie untuk Gasper, tapi saat itu Azazel tegas tidak memperbolehkannya.
Tanpa menunggu ijin dari Raja-nya, Issei pergi begitu saja menyusul Vali. Untuk memenuhi takdir rivalitas Sekiryutei dan Hakuryuukou.
Rias sudah tak bisa melarang.
Ada alasan kenapa Rias enggan menerima hal ini. Memakai sesuatu yang dimaksudkan itu, tentu akan ada harga yang harus dibayar. Dan bayarannya, teramat sangat mahal.
Ke sudut lainnya, gadis muda berambut pirang dengan pakaian ala penyihir berdekhem sedikit untuk menarik atensi semua orang. Dia, Lavinia Reni si pemegang Sacred Gear Longinus Absolute Demise.
"Ekhemmm. Kalian semua mungkin mengganggap diriku yang paling aneh di sini, jadi akan aku tegaskan. Aku sama sekali tidak berpindah kubu, maka dari itu tolong jangan anggap aku pengkhianat."
Lavinia adalah anggota resmi Tim Anti-Teror DxD, tapi ia sekarang bersama kubu Qlippoth.
"Lagipula..." Lavinia menatap Sona, Euclid, dan yang lainnya, "Aku sepertinya tidak mendapat sambutan penerimaan yang bagus oleh kelompok sini."
Maksudnya jelas, Lavinia tidak bergabung dengan kubu Qlippoth.
Jadi...
"Aku hanya terobsesi pada Va-kuuuun. So, asal aku bisa melihatnya aku akan bahagia, tak peduli bagaimanapun kondisi dunia."
Sungguh, Lavinia tidak lebih dari perempuan egois yang sangat terobsesi pada sesuatu.
"Terakhir, byebye." Lavinia melambaikan tangan. "Aku ingin menonton pertarungan di atas."
Sekejap, Lavinia menghilangkan wujud tubuhnya di ruang aula bawah tanah dengan lingkaran sihir teleportasi.
Sebenarnya, Lavinia memang tidak ingin bertarung dengan siapapun. Ia sudah sangat senang karena bisa bertemu Vali setelah sekian lama, meski Vali ikut kubu seberang. Well, sama sekali tidak terduga kalau di tempat ini dia akan bertemu pujaannya. Karena itulah, tidak ada keinginan lagi bagi Lavinia untuk bertarung melawan orang-orang Qlippoth, pun juga dia tidak memiliki masalah dengan Tim DxD. Begitu lebih baik, untuk dirinya dan semua orang, pikir Lavinia.
Beberapa menit terlewat setelah kepergian Issei, Yuuto Kiba maju dan meminta ijin pada Raja-nya.
"Ijinkan aku, Bochou. Ada sesuatu yang ingin aku tuntaskan."
"Jangan bilau kau...!"
"Ya. Ini tentang masa laluku yang belum sepenuhnya tuntas."
Tentang masa lalu Yuuto Kiba. Dia bersama anak-anak lainnya adalah kelinci percobaan para peneliti Gereja berkaitan dengan Proyek Pedang Suci di bawah pimpinan Valper Galilei. Semua anak-anak mati, kecuali Kiba. Ia yang sangat peduli dengan teman-temannya, akhirnya menyimpan kebencian dan dendam yang sangat dalam pada pedang suci, khususnya Excalibur yang menjadi tujuan proyek itu.
Excalibur yang terpecah-pecah, kini telah disatukan kembali dan digunakan sebagai sarung untuk menekan aura kekuatan agresif dari pedang Durandal, yang kini menjadi pedang Ex-Durandal di tangan Xenovia.
Karena Xenovia adalah temannya, Kiba mempermasalahkan lagi. Tapi di seberang sana...
Seorang laki-laki berusia dua puluhan tahun dengan setelan jas eksekutif, berambut panjang berwarna pirang.
Arthur Pendragon.
Pemilik Pedang Suci Raja Collbrande dan salah satu pecahan Excalibur yaitu Excalibur Ruler.
Maka atas nama dendam dan kebencian pada pedang suci, Kiba memiliki sesuatu yang harus ia tuntaskan.
"Kau! Bertarunglah denganku!" Kiba menghunuskan pedangnya, Pedang Suci Iblis yang baru saja ia summon ke tangan kanannya.
Arthur di sudut sana, menatap biasa tanpa menujukkan ketertarikan yang berarti.
"Kiba!" bentak Rias. Ia mengerti keinginan budaknya ini, tapi... "Aku tidak akan memberimu ijin."
Rias bukan tidak tahu apa-apa. Ia sudah mengantongi beberapa informasi tentang Arthur Pendragon. Laki-laki muda itu dengan Pedang Suci Raja Collbrande memanglah manusia, tapi dia seorang manusia swordman dengan skill yang luar biasa. Itu ditambah lagi dengan fakta bahwa Collbrande atau Ultimate Holy Royal King Sword of Caliburn adalah pedang suci terkuat yang ada di muka bumi.
Ada yang mengatakan kalau Arthur Pendragon saat ini, setara kekuatannya dengan Prajurit Exorcise terkuat dari Gereja pengguna Pedang Durandal sebelumnya, Vasco Strada. Dia lah prajurit manusia yang sanggup dengan mudahnya membunuh iblis kelas tinggi semudah membalik telapak tangan.
Jika Kiba harus melawan laki-laki sekuat itu?
Rias tak ingin kehilangan ksatria-nya yang sangat berharga ini.
"Kalau begitu, aku juga meminta ijin."
"Xenovia!" Rias tak menduga ksatria-nya yang satu lagi akan bertindak begini.
"Kalau satu tidak diijinkan, bagaimana jika berdua?" ucap Xenovia saat ia telah berdiri sejajar dengan Kiba.
"..."
Rias masih belum membuat keputusan.
Tanpa dijelaskan pun, Rias tahu apa keinginan Xenovia. Ksatria perempuannya ini tentu sangat ini melampaui batasan yang pernah diraih pendahulunya. Xenovia adalah pemegang Durandal saat ini, ia juga memiliki enam dari tujuh pecahan Excalibur, selain itu dia juga memegang Pedang Dragon Slayer Ascalon yang pernah diberikan Archangel Michael pada Issei.
Dengan tiga pedang suci legendaris sekaligus di tangan Xenovia, apabila ia tak sanggup melampaui pendahulunya maka itu pasti akan menjadi hal memalukan, hal yang sangat pantas untuk ditertawakan.
Saat Rias masih bingung dengan pikirannya, suara lain kembali terdengar.
"Aku juga."
"Irina!"
Tak disangka, Brave Saint Ace dari Archangel Michael ini malah juga ikut-ikutan. Kini tiga ahli pedang dari Tim DxD berdiri sejajar paling depan.
"Sebelum berangkat perang, aku diamanahi oleh Michael-sama dengan sebuah pedang legendaris, Pedang Suci Hauteclere. Jadi, sudah ditetapkan takdirku adalah bertarung bersama Xevonia."
Ada sebuah syair legenda dari daratan Eropa jaman klasik, 'The Song of Roland'. Dari syair itulah diketahui bahwa Pedang Durandal sejatinya adalah milik ksatria gagah berani bernama Roland. Ksatria itu selalu bertarung bersama sahabatnya demi mengalahkan semua musuh kerajaan. Nama sahabarnya itu adalah Oliver. Kemudian, Oliver juga memiliki pedang suci miliknya sendiri, yaitu Pedang Suci Hauteclere.
Maka sesuai dengan takdir di dalam cerita itu, sudah semestinya Xenovia dan Irina sebagai sepasang sahabat sesama swordman untuk selalu bertarung bersama-sama. Dengan dua pedang suci legendaris Durandal dan Hauteclere yang menari bersama, maka keajaiban bisa saja terjadi.
Jadi, inilah alasan sebenarnya Panglima Perang Maou Falbium menarik Irina dari medan perang dan menyuruhnya bergabung dengan Tim DxD untuk menangkap Rizevim.
Rias sangat paham akan semua takdir itu, dia menunduk sejenak. Saat menatap lurus ke depan lagi, ia menghela nafas berat sambil berucap, "Baiklah. Kalau sudah seperti ini ceritanya, aku tak punya hak untuk melarang."
Betul seperti ucapan Rias, ketiga orang itu memiliki alasan kuat sendiri-sendiri untuk bertarung. Tidak memberi ijin, sama saja dia mencela dan menyakiti hati mereka.
Setelah melihat kesungguhan ketiga petarung itu, barulah Arthur menunjukkan wajah tertarik.
Sebagai orang yang hemat bicara, ia hanya berucap. "Ayooo kita cari arena untuk bertarung." Lalu ia pun berjalan duluan.
Kesampingkan perihal lainnya, sungguh ini mungkin adalah kesempatan langka yang diberikan oleh Arthur hanya sekali seumur hidup. Sudah sifatnya sedari awal, Arthur hanya akan bertarung jika dirinya benar-benar diperlukan.
Pertarungan kedua, pertarungan antar pemilik pedang suci legendaris. Bagaimanakah selanjutnya?
Lain halnya dengan yang ini, jika sebelumnya adalah pertarungan antar pemilik pedang suci legendaris maka ini akan menjadi pertarungan antar ahli sihir.
Kuroka yang biasanya periang berisik dan selalu bermain-main sesukanya, baru pertama kali ini menunjukkan wajah serius. Bukan ekspresi serius biasa tapi ekspresi serius sebenarnya, seakan waktu ini akan menjadi waktu dimana dia menyelesaikan masalah terbesar yang ia alami sepanjang hidup. Ia menatap lurus pada laki-laki berumur duapuluhan berambut perak yang berdiri paling belakang di Tim DxD.
"Rudiger Rosenkreutz!" Kuroka lantang menyebutkan nama orang itu. "Kau bisa menebak apa yang aku pikirkan saat ini kan?"
Laki-laki itu, melangkah hingga ia berhadap-hadapan cukup dengan Kuroka.
"Tentu. Saat ini akan jadi kesempatan terbaik yang aku miliki."
Koneko, adik Kuroka sedikit mengerti kemana arah pembicaraan ini.
"Nee-sama!?"
Kuroka tersenyum lembut pada adiknya, "Adikku, Shirone. Untuk saat ini, aku tidak akan lari lagi."
"Tu-tunggu! Nee-sama, jangan-jangan kau..."
"Ya. Kau tahu dengan pasti kalau aku adalah buronan dunia iblis level SS, dan orang yang paling terobsesi memburu dan menangkapku adalah orang ini." tunjuk Kuroka.
Rudiger menyela, "Aku cukup kagum padamu, Nona. Selama ini kau selalu bisa lari dariku. Tapi untuk yang kali ini, kau yakin tidak ingin lari eh?"
"Untuk apa? Sudah tidak ada lagi keraguan dalam diriku."
"Hohooo, itu hebat. Keberanianmu patut diacungi jempol. Namun harusnya kau sadar, level kekuatan kita jauh berbeda."
Aslinya Rudiger Rosenkreutz adalah Bishop dari kepala Keluarga Iblis Mamon. Tapi dia juga merupakan Raja independen dimana dia tidak memiliki seorangpun bidak. Meski sendirian, dia mampu mencapai peringkat ke-7 Rating Game. Pencapaian yang luar biasa bukan? Itulah dia, iblis yang lebih hebat dibandingkan dengan iblis kelas tinggi. Dia berada dalam jajaran Ultimate-Class Devil.
Melihat Kuroka yang tak gentar dengan gertakannya, Rudiger bersuara lagi. "Pilihanmu hanya dua, lari atau mati."
"..." Kuroka diam.
"Nee-sama, hentikan!" Koneko berontak. Dia memang anggota tim DxD, kubu yang berlawanan dengan posisi kakaknya. Tapi sebagai adik, ia tidak menginginkan ini. Inilah perasaan jujurnya terhadap sang kakak. Hal baiknya, Rias dan yang lain cukup mengerti point itu meski mereka adalah musuh.
Mengetahui sang adik yang mengkhawatirkan dirinya, Kuroka diliputi rasa senang.
Dahulu sebelum Koneko membenci Kuroka, mereka adalah kakak adik yang begitu akur, hidup dalam luapan kebahagiaan. Mereka selalu bersama saat bermain, makan, bahkan tidur. Suatu ketika orang tua mereka meninggal dunia. Mereka masih kecil saat kejadian itu.
Semenjak itulah, sepasang kakak adik ini hidup dalam kesulitan tanpa ada rumah tempat kembali, tak ada orang yang dapat diandalkan. Sebagai yatim piatu, mereka berjuang keras menyambung hidup hari demi hari dengan saling bergantung satu sama lain.
Kemudian suatu hari, keduanya dipungut oleh seorang iblis bangsawan. Si kakak direinkarnasi menjadi iblis sebagai peerage bishop dari kelompok iblis itu dengan kompensasi si adik juga ikut hidup bersama mereka. Akhirnya mereka mendapatkan kehidupan yang layak.
Lalu hal mengerikan terjadi. Sang kakak membangunkan kekuatan hebat dalam dirinya setelah direinkarnasi, bahkan melampaui majikannya sendiri. Dia lepas kendali hingga berakhir membunuh sang majikan, iblis yang mengambilnya. Ia pun menjadi 'iblis buangan', buronan yang paling berbahaya diantara para iblis buangan.
Si adik, Koneko, tetap pada tempatnya bersama para iblis. Namun akibat kejadian mengerikan itu, dia mengalami kehidupan yang sulit. Koneko hidup di bawah tekanan para iblis yang takut padanya dengan anggapan bahwa ia juga menyimpan bakat mengerikan seperti si kakak. Selain itu, dia juga sering mendapat ancaman pembunuhan. Itulah hari-hari yang Koneko lewati setelah kepergian kakaknya.
Koneko dikhianati oleh kakaknya sendiri yang sangat dipercayai, ia pun selalu disiksa oleh para iblis yang membenci dirinya. Semua itu membuat mental dan semangat hidup Koneko benar-benar jatuh ke tempat paling bawah, sampai pada akhirnya Rias mengambilnya kedalam kelompok Gremory, lalu menjadi Koneko yang sekarang.
Tapi nyatanya, semua kejadian itu tidak melunturkan perasaan sayang Koneko. Sang nekomata putih ini jujur dengan perasaannya, menunjukkan bahwa seberat apapun penderitaan yang ia lewati tidak sedikitpun mengurangi cintanya untuk sang kakak.
"Neee, Shirone. Mungkin ini saat yang tepat bagiku untuk mengatakan hal yang sebenarnya padamu. Cerita yang kau dengar mengatakan bahwa aku lepas kendali dan membunuh majikanku. Tapi apa kau tahu apa penyebab aku lepas kendali?"
Koneko hanya diberitahu kalau kakaknya lepas kendali karena kekuatan terpendamnya yang bangkit tiba-tiba sehingga menelan kesadaran dan pikirannya.
"Penyebab sebenarnya ialah, majikanku itu sungguh orang yang berhati busuk. Dia maniak birahi yang sangat terobsesi untuk memuaskan hasrat seksualnya pada gadis kecil. Pedofil bejat!. Begitu aku mengetahui kalau dia mengincarmu, aku menghalanginya. Bahkan saat itu aku rela menawarkan tubuhku untuk memuaskan nafsunya, asal dia berhenti mengincarmu. Tapi dia malah menolak, melukaiku, dan mengatakan dengan wajah jijik bahwa dia akan sangat senang kalau bisa menikmati tubuhmu. Itu membuatku sangat marah, hingga aku lepas kendali dan membunuhnya."
Mendengar fakta yang baru ia ketahui ini, Koneko tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
Jadi...
Jadi selama ini dia telah salah?
Selama ini kakaknya tidak meninggalkannya, tidak mengkhianatinya.
Kakak yang ia sayangi ini, ternyata menyayangi dirinya lebih dari yang ia tahu. Selalu melindunginya tanpa ia ketahui, mengorbankan diri sendiri demi dirinya, bahkan rela menjadi buronan yang setiap saat selalu diliputi perasaan takut akan diburu dan dibunuh.
Apa yang dilakukan Kuroka meski harus menjadi pesakitan, tidak lain hanyalah untuk keselamatan Koneko. Dia seorang kakak yang menjelma bagai ibu yang kasihnya sepanjang hayat.
Koneko sangat menyesali dirinya yang sempat membenci kakaknya ini.
Saat hati Koneko masih dipenuhi perasaan tak menentu, Kuroka melanjutkan ceritanya. "Mungkin akibat tekanan berat yang kau alami sejak kejadian itu, kau melupakan beberapa hal. Majikan busuk yang mengambil kita dari jalanan, sebenarnya adalah putra dari Kepala Keluarga Iblis Mamon dengan selirnya. Mungkin orang tua itu sangat marah karena anaknya kubunuh. Dan orang ini, Rudiger Rosenkreutz, adalah Bishop dari kepala Keluarga Iblis Mamon yang ditugaskan untuk memburuku."
Rudiger tertawa kecil, "Ya benar. Aku memang sengaja ditugaskan untuk memburumu, Nona. Tapi itu dulu pada awalnya. Saat ini, aku tidak memburumu untuk alasan itu lagi. Lagipula aku tidak tertarik dengan dendam orang tua itu. Kenapa aku masih memburumu? Karena kau membuatku tertarik. Kau selalu lolos, selalu berhasil kabur dariku sekeras apapun aku berusaha memburumu. Akhirnya itu membuat aku terobsesi padamu, aku sangat ini sekali menangkapmu. Jika berhasil, barulah aku akan puas."
Para anggota Tim DxD tidak tahu menahu urusan ini. Apalagi bagi Rias pribadi, dia kurang menyukai alasan Rudiger, ini sudah melebar dari tujuan Tim DxD. Lagipula sebagai Raja, ia memikirkan bagaimana perasaan bidak bentengnya, Koneko.
Kuroka mengulas senyum meyakinkan pada sang adik, "Sudah mengerti kan, Shirone? Jadi, biarkan kakakmu ini membereskan urusan yang sejak lama belum kuselesaikan."
Koneko mengerti tapi dia tidak menginginkan ini.
Baammmm!
Tiba-tiba sesosok raksasa batu setinggi empat meter mendarat dengan hentakan keras di sisi Kuroka sehingga menciptakan getaran hebat di ruangan bawah tanan ini. Debu-debu dan tanah dari langit-langit sampai berjatuhan.
"Dalam situasi ini aku tidak bisa membiarkanmu sendirian, Kuroka-sama. Aku dan Gogz-kun akan membantumu."
Terdengar suar riang nan feminim. Bukan berasal dari si raksasa batu, tapi dari gadis kecil berambut pirang yang duduk di bahu raksasa batu itu.
Dia, Le Fay Pendragon. Lalu Gogmagog si raksasa Gargoyle yang merupakan senjata dari dewa-dewa Kuno.
"Pastikan kau tidak menyesal, anak kecil. Aku tidak mau mendengar tangisan cemprengmu. Tidak ada jaminan kita bisa pulang hidup-hidup."
"Tak masalah. Sebagai sebuah kelompok, kita ini sama-sama buronan dunia bawah. Hahahaaa."
"Baiklah."
Begini menjadi sedikit lebih seimbang. Rudiger si iblis penyihir Ultimate-Class melawan Youkai Nekoshou ahli sihir dan gadis keturunan dari penyihir terkenal Morgiana, serta seekor golem batu.
Kuroka mengangkat tangan kanannya, lalu jarinya ditautkan dan...
Ctek.
setelah terdengar suara jentikan jari, Rudiger, Kuroka, Le Fay, dan Gogmagog lenyap seketika tanpa mata sempat berkedip. Tak ada lingkaran sihir atau pendaran cahaya. Mereka menghilang begitu saja.
Selanjutnya...
Sebelum sempat semua orang mengembuskan nafas panjang,
"Balance Break!"
Welsh Dragon Balance Braker: Boosted Gear Scale Mail
Seseorang telah memakai armor naga langit merah.
Sekiryutei?
Bukan.
Itu bukan Issei!
Issei sedang bertarung dengan Vali di luar.
Ituuu...
"Euclid Lucifuge." Dulio Gesualdo menunjuk orang yang dia sebut namanya, "Aku telah mendengar tentang replika Boosted Gear yang diproduksi massal oleh Qlippoth. Untuk kau yang seorang iblis kelas tinggi menggunakannya, maka aku akan menjadi lawanmu."
Pemimpin Tim DxD mengambil jatah dengan keputusan cepat. Tak ada yang membantah.
Lalu, dua orang itu pun segera menyingkir untuk mencari tempat bertarung yang pas.
Kemudian...
Ciuuuuuu!
... anggota Qlippoth yang lain tanpa aba-aba, dia begitu saja membuat serangan. Serangan mematikan pula
Flare!
"Ah, kupikir dengan menyerang tiba-tiba, aku bisa memurnikan kalian semua dengan api ungu penyucianku."
Walburga. Wanita ini memang punya tabiat buruk dan licik.
Untung saja salah satu dari anggota DxD dengan sigap menghentikan serangan berbahaya tadi.
"Melihat orang-orang sudah bertarung, aku tidak bisa berdiam diri lagi."
Griselda Quarta, Brave Saint Ratu Hati Seraph Gabriel menurunkan busur cahaya yang baru saja ia gunakan untuk memblokir serangan api Walburga. Ini adalah senjata khas miliknya sebagai malaikat reinkarnasi.
Seperti yang lain, kedua orang itu pergi ke ruangan lain untuk berduel.
Azazel berkata pada anak didiknya yang tersisa.
"Aku tidak terlalu suka hal seperti ini, terlalu banyak musuh mengalangi jalan walau para anggota tim DxD sudah mulai dengan pertarungan masing-masing. Nah Rias, bisakah aku mempercayakan yang tersisa di sini padamu? Aku akan mencari jalan lain untuk menemukan Rizevim."
"Tapi Sensei! Kalau kau sendirian...?"
"Tenang saja, kau bisa percaya padaku. Kalau dibiarkan begini kita bisa terlambat. Kita harus bergerak cepat dan membagi anggota Tim DxD."
Menerima perintah Azazel, Rias mengangguk. "Baiklah."
Azazel berkata lagi, "Tobio, kau ikut bersamaku. Kau adalah pengawal terkuat Aliansi, jadi tugas ini paling cocok untukmu."
"Ha'i."
Mundur melewati lorong tangga yang tadi, Azazel dan Slash Dog Tobio Ikuse pergi untuk mencari jalan lain.
Sona yang melihat itu, menduga kalau Azazel sedang merencanakan sesuatu. Bisa saja buruk sebab ia sudah tahu kalau Azazel itu licik, tapi Sona tidak punya pilihan untuk menghalangi Azazel. Orang-orang di sisinya yang tersisa, tidak punya kualifikasi memadai untuk bertarung melawan Gubernur Malaikat Jatuh dan pengawal terkuat pemilik Sacred Gear Longinus Canis Lykaon.
Maka dari itulah, Sona membiarkan Azazel pergi. Lagipula, jika nanti bertemu dengan Rizevim, para Naga Jahat Legendaris, atau bahkan Naruto dan Hinata, Sang Gubernur Malaikat Jatuh itu pasti tidak akan bisa melakukan rencananya dengan mudah.
Sona hanya bisa berharap dan percaya pada itu.
Masih tersisa banyak orang yang berada di dalam aula ruang bawah tanah.
Sona mengerling ke belakang sedikit, "Tsubaki."
"Ya, Kaichou."
"Lebih baik kau bawa yang lainnya masuk ke dalam. Langsung ke tempat Naruto-san dan Hinata-san."
"..."
"..."
"..."
Semua anggota tim Sitri terperangah akan ucapan Raja-nya. Maksudnya?
Apa Sona ingin bertarung sendirian? Melawan Rias dan budak-budaknya.
"Aku tak menerima protes." ucap Sona tegas.
Mau tak mau, mereka semua menurut.
"Baiklah, Kaichou." jawab Tsubaki. Lalu wanita ini berbalik dan menatap semua anggota OSIS. "Ikuti aku!" katanya lalu beranjak pergi.
"Kalau begitu, aku ikut ya. Please." Bikou bersuara. Sang pendekar monyet keturunan generasi keempat Sun Wukong ini tidak kebagian acara bertarung, jadi daripada menonton ia lebih memilih pergi.
Tsubaki tidak mengangguk. Tapi diamnya dia bisa dianggap sebagai tanda setuju.
"Ayoooo, anjing ileran. Kita ikut mereka." Bikou menarik tali kalung yang mengikat leher Fenrir berwujud mini. Dan karena Bikou tak memiliki sopan santun apalagi pada binatang, ia mendapat pelototan tajam serta geraman dari mulut Serigala yang taring dan cakarnya mampu membunuh tuhan.
Meski begitu, si monyet dan si anjing ini kompak berjalan di belakang kelompok Sitri.
Tsubaki membawa mereka melewati pintu yang telah di rusak oleh tembakan Dragon Shot Issei. Berjalan dengan tenang melewati koridor yang cukup lebar namun sedikit gelap.
Seharusnya mereka semua setelah disambut oleh Euclid dan Walburga langsung di antarkan ke tempat utama, bukan malah berjalan sendiri seperti ini. Yah, kedua anggota Qlippoth itu sedang berhadapan dengan prajurit Surga. Tapi tampaknya Tsubaki tidak sulit untuk menemukan jalan.
Mereka semua berjalan dalam diam, sampai Tsubaki buka suara. "Jangan terlalu mengkhawatirkan Kaichou."
Sona sendirian. Jika harus bertarung melawan kelompok Gremory walau tak semuanya, pasti akan berat. Selain Rias, masih ada Akeno, Asia, Gasper, Rossweisse, dan Koneko. Satu lawan enam jelas tak seimbang meski Sona jenius strategi dan teknik.
Tsubaki melanjutkan ucapannya, "Kaichou pasti sudah punya rencana."
Mengerti itu, tak satupun anggota OSIS yang mempermasalahkannya lagi.
Sampai akhirnya, sesuatu yang sedari lama mengganjal akhirnya dimuntahkan juga.
Tomoe bertanya dengan nada serius, "Anooo, Fukokaichou. Kurasa sekarang lah waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya."
Tsubaki membuang nafas panjang yang terlihat jelas dari bahunya yang bergerak turun. "Baiklah, akan aku ungkapkan semuanya." meski Tsubaki sendiri bingung harus bercerita mulai dari mana.
Bikou yang berjalan paling belakang hanya ikut saja. Lagipula hal ini sama sekali bukan urusannya. Pun juga dengan Serigala Fenrir yang dengan tenang berjalan di sisi kiri Bikou.
Saji dan yang lainnya sudah tak sabar menunggu.
Tsubaki memulai dengan bertanya, "Tidak adakah dari kalian yang ingin tahu bagaimana aku dan Kaichou bisa ada di sini padahal sebelumnya kami koma di ruang perawatan?"
"..."
"..."
"..."
Mereka juga ingin tahu tentang hal ini.
"Kaichou, Naruto-san, dan Hinata-san sudah lama membuat kesepakatan, sebuah kesepakatan baru."
Waktu itu sebelum acara pertemuan petinggi Tiga Fraksi di Akademi Kuoh, saat para anggota OSIS baru saja berkenalan dengan Naruto dan Hinata. Sona sebagai ketua OSIS membuat kesepakatan dengan pasangan suami istri itu untuk menjadi peerage palsu dengan tugas-tugas tertentu.
Dimulai dari sana, sampai kemudian Naruto dan Hinata didaftarkan sebagai siswa tingkat akhir Akademi Kouh. Dari situlah, semua anggota OSIS semakin dekat dengan kedua orang itu. Belajar, bertukar pikiran dan pengetahuan, berlatih bersama, berteman, bersenda gurau dan lain-lainnya, yang pada akhirnya membuat Naruto dan Hinata seolah telah menjadi bagian asli dari kelompok Sitri, bukan lagi peerage palsu.
Begitu seterusnya, sampai para anggota OSIS dikejutkan dengan kejadian tak terduga pada insiden pencurian Pulau Langit Agreas oleh Rizevim. Mereka begitu terkejut ketika Naruto dan Hinata ternyata adalah musuh dibalik selimut, bahkan dengan tega melukai perasaan mereka dan menyiksa Sona serta Tsubaki sampai tak sadarkan diri.
Hal itu sangat sulit dipercaya meski kenyataannya terpampang jelas di depan mata. Membuat semua anggota OSIS terpukul, stress berat, bahkan dianggap gila.
Sampai pada akhirnya, Reya Kusaka yang di tempatkan di dalam sel karantina khusus tiba-tiba di datangi oleh Tsubaki secara sembunyi-sembunyi dan dibebaskan. Selanjutnya, Reya membebaskan anggota OSIS lain dari sel masing-masing hingga mereka semua bergegas kesini.
Dengan semua rentetan peristiwa itu, tentu mereka semua bingung. Ada banyak sekali lubang alur peristiwa disana. Mereka butuh penjelasan.
Tsubaki melanjutkan, "Kesepakatan baru itu ada untuk sebuah tujuan besar. Hanya aku yang dilibatkan langsung oleh Kaichou di dalamnya. Salah satu langkah yang harus kami tempuh untuk mencapai tujuan itu ialah membuat kerjasama dengan Rizevim."
Baru segini, sudah sangat mengejutkan. Merupakan kenyataan yang sulit diterima akal kalau Sona bekerjasama dengan musuh terbesar ras iblis.
"Kerjasama kami dimulai dari Rumania untuk mendapatkan Holy Grail sampai pencurian Pulau Langit Agreas. Tapi pada saat-saat terakhir, Issei menunjukkan kemampuan diluar perkiraan yang membuat Rizevim terpojok dan mau tak mau harus diselamatkan oleh Naruto-san dan Hinata-san. Kaichou sangat terkejut, begitupula denganku. Akibatnya kami terpaksa sedikit bersandiwara demi mempertahankan posisi Kaichou di kalangan petinggi Fraksi Iblis walau harus membiarkan identitas Naruto-san dan Hinata-san terekspos ke publik. Seperti yang kalian tahu, dari titik itu Naruto-san dan Hinata-san diumumkan sebagai penjahat internasional yang bekerja sama dengan Teroris Khaos Brigade, sedangkan aku dan Kaichou sengaja dibuat tak sadarkan diri oleh Hinata-san dengan ingatan tersegel."
Saji ternganga. Dengan putus-putus ia merespon, "Ja-jadi jadi... ituu-?"
Saji dan anggota OSIS lainnya sekarang tahu kenapa Hinata harus mengaktifkan segel menyakitkan di otak Sona dan Tsubaki. Yaitu demi menjaga kerahasiaan informasi agar tidak diketahui oleh petinggi Aliansi Tiga Fraksi.
"Ya." Tsubaki tersenyum tipis. "Hanya drama kecil."
Tak mereka sangka, ternyata Raja dan Ratu mereka yang mukanya sedatar papan cucian, bisa bersandiwara juga.
"Berselang tiga hari kalau aku tidak salah ingat, Hinata-san datang ke kamar perawatan untuk membangunkan Kaichou dan aku. Lalu kami bertiga pergi setelah meletakkan tubuh palsu tiruan di ranjang. Kaichou dan aku bersembunyi di tempat rahasia, tidak ikut serta dalam agresi menghancurkan Surga. Dan baru sekarang, kami muncul lagi setelah Naruto-san memanggil lewat telepon."
Tomoe dan Ruruko magut-magut tanda mengerti. Sedangkan yang lainnya menghembuskan nafas lega. Mereka sekarang tahu cerita apa yang selama ini mereka lewatkan.
Kemudian Tomoe bertanya tentang suatu hal, hal yang menjadi pokok dari masalah semua ini.
"Apa sebenarnya tujuan besar dari kesepakatan baru antara Kaichou dengan Naruto-senpai dan Hinata-senpai, yang kami tidak tahu? Jelaskan sejelas-jelasnya pada kami semua, Fukokaichou."
"Itu semua tentang kiamat yang sebenarnya, keruntuhan Cardinal System, End of The World."
"HAHHH?"
Mereka menganga lebar berjamaah.
Sembari berjalan menuju tempat Naruto dan Hinata, Tsubaki melanjutkan ceritanya. Semua cerita yang ia ketahui, tentang tujuan misi besar kelompok itu, termasuk Uchiha Sasuke yang juga anggotanya, Tim Vali sebagai partner, bahkan Ophis yang juga ikut serta. Sang Ketidakbatasan yang namanya juga ada di dalam kelompok rahasia itu, menunjukkan bahwa tujuan besar yang ingin diraih sama sekali tak main-main beratnya.
Semua anggota OSIS dengan mudah mempercayai apa yang diceritakan wakil ketua mereka. Semuanya sudah mengerti, tugas berat apa yang diemban di pudak mereka saat ini.
.
Sebuah tempat di atap Departement Store yang lumayan luas dan tak terlalu tinggi, di salah satu distrik Kota Langit Agreas. Ada malaikat reinkarnasi bersayap sepuluh sedang berhadapan dengan orang yang mengenakan armor Boosted Gear Scale Mail tiruan.
Euclid menggerakkan bahunya, melemaskan diri untuk pemanasan.
"Sebelum kita mulai bertarung, aku akan mengatakan sesuatu."
"Cepatlah! Aku tidak punya banyak waktu." sahut Dulio.
"Kita berdua sama-sama tahu, Hyoudou Issei telah tumbuh kuat sebagai Sekiryutei. Tapi, aku bisa jauh lebih dari dia. Dengan kekuatanku, aku bisa menjadi perwujudan Heavenly Dragon Ddraig terkuat tanpa kekuatan palsu yang dinamakan Armor Crimson, bahkan melebihi Juggernaut Drive sekalipun."
Dulio menekuk wajah kesal. Ia paling tidak suka melawan musuh yang bertabiat sombong, meski yang dikatakan Euclid barusan itu memang fakta.
"Sederhana saja, aku jauh lebih kuat daripada Hyoudou Issei yang hanya manusia sampah."
Dalam perihal kekuatan dasar, Euclid jauh diatas Issei meskipun dia hanya menggunakan Boosted Gear tiruan tanpa memiliki roh Ddraig di dalamnya. Euclid mampu mengeluarkan kekuatan Sekiryuutei lebih baik daripada Issei.
Dulio cukup mengerti tentang itu. Tapi dirinya bukan orang yang akan kalah dengan mudah oleh sebuah tiruan.
Euclid meningkatkan gelombang kekuatan demonicnya. Auranya meningkat dengan cepat sekali ke jumlah dimana dia bisa menghancurkan seluruh distrik ini. Atap departement store di bawah kakinya bergetar hingga muncul retakan.
Kekuatan demonic yang luar biasa. Malaikat kelas ataspun bisa mati seketika kalau terkena langsung.
"Kalau begitu, Aku mulai!"
Euclid merentangkan tangannya ke depan lalu meletakkan kekuatan demonicnya.
[BoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoost! Explosion!]
Suara mekanik yang begitu signifikan meningkatkan kekuatan demonicnya bergema dari dalam Boosted Gear tiruan.
Kekuatan iblis yang dikeluarkan Euclid ditembakkan secara langsung ke arah Dulio.
Kabooommm!
Pusaran ledakan menggaung begitu nyaring.
Dulio berhasil menghindar dengan terbang ke samping kanan.
Menyadari itu, Euclid ikut terbang sembari terus menembakkan kekuatan demonic yang sama berkali-kali.
Tak satupun yang mengenai Dulio. Akibatnya, ledakan hebat terjadi di mana-mana. Beberapa bangunan di distrik itu sudah runtuh.
Dulio membalas dengan melemparkan tombak cahaya.
Ada sepuluh sekaligus.
Pyaarrr...!
Euclid menepisnya dengan mudah, tombak cahaya itu tidak besar. Dua yang mengenai tubuhnya bahkan tidak memberi luka karena armor Boosted Gear yang sangat keras.
Jual beli serangan terus terjadi sampai mereka terbang saling mendekat.
[BoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoost!]
Euclid mengalirkan aura demonic ke tangan kanan. Setelah digandakan, kekuatannya meledak begitu hebat.
"Makan ini!"
Duuuaaaggg!
Pukulan brutal Euclid mendarat di pergelangan tangan Dulio yang menyilang membentuk posisi bertahan.
Tapi karena begitu kuatnya pukulan tadi, tubuh Dulio harus terlembar dan menabrak dinding bangunan. Puing-puing beton runtuh dan mengubur Dulio hidup-hidup.
Euclid menyeringai, "Kheh, baru segitu dan kau sudah bebak belur. Kupikir Joker Surga lebih kuat dari ini."
Dhuuarrr...
Melesat terbang lurus ke langit dari dalam reruntuhan, ternyata Dulio belum terluka sedikitpun.
Di langit, dengan kekuatan Sacred Gear Longinus Zenith Tempest yang mampu mengendalikan cuaca, Dulio menciptakan awan hitam pekat. Gumpalan awan yang sangat banyak saling bertukar kilatan cahaya biru. Lalu dari bagian tengah, cahaya biru yang paling terang menyambar ke bawah.
Jduuuarrrr...
Tembakan petir yang kecepatannya luar biasa tak mungkin untuk dihindari. Petirnya begitu besar, yang seakan-akan jika bisa disimpan maka dapat memenuhi kebutuhan listrik sebuah kota besar selama satu tahun.
Euclid terkena, dan armornya langsung hancur lebur.
Setelah mendarat di tanah, Euclid yang tubuhnya terbakar berdiri kembali. Ia membuat ekpresi terkejut luar biasa.
"Mustahil, bagaimana bisa ini terjadi?"
Baru sekali diserang saja, ia sudah begini.
"Tidak ada yang mustahil." sahut Dulio yang terbang merendah.
Euclid mendongak ke atas dengan tatapan kesal. Dia masih belum menyerah. Armor Boosted Gear Scale Mail dengan cepat ia rekontruski kembali hingga seperti semula.
"Aku pasti akan mengalahkanmu! Camkan itu!"
Euclid berteriak, lalu dia mengaktifkan booster pendorong di bagian punggung.
Jet!
Namun, dirinya tak jua terbang.
Graakkk!.
Yang ada, kakinya semakin terperosok dalam ke tanah.
"Selain mengendalikan cuaca, Sacred Gearku juga mampu mengendalikan semua atribut elemental dari alam. Tanah, api, air dan lainnya."
Kebingungan Euclid terjawab oleh perkataan Dulio.
"Kurang ajarr!" Si pria berambut perak ini bersusah payah berusaha untuk kabur. Tapi...
"Euclid, aku akan mengakhiri ini dengan cepat."
Dulio mencengkramkan telapak tangannya.
Sekejap, seluruh tubuh Euclid sepenuhnya telah terkubur di dalam tanah. Terkubur sangat dalam, tekanan yang sangat kuat pasti bisa meremukkan tubuh.
Belum berhenti sampai disana, tanah bergetar hebat seperti terjadi gempa. Beberapa bagian retak dan memperlihatkan lava cair yang menyebur ke permukaan.
Selain tekanan yang sangat kuat, panasnya lava yang luar bisa sudah pasti akan membinasakan Euclid.
Sebelum pergi, Dulio sempat mengatakan sesuatu. "Euclid! Meski hanya sekiryutei tiruan, kau mungkin lebih kuat dari Sekiryutei yang asli dengan sebuah alasan sederhana. Yaitu pada dasarnya sebagai iblis berbakat kau jauh lebih kuat dari Issei yang hanya manusia biasa. Maka sama dengan hal itu, kekalahanmu dariku juga didasari oleh suatu alasan sederhana. Sacred Gear-ku Zenith Tempest adalah Longinus kelas atas terkuat kedua, yang sejatinya jauh lebih superior dari Boosted Gear yang hanya Longinus kelas menengah urutan kelima. Harusnya kau mengerti hal itu sebelum benar-benar melawanku."
Pertarungan selesai tanpa perlu waktu lama dan jalan rumit, superioritas kekuatan mutlak berlaku disini.
.
Ke tempat lainnya, sebuah lapangan sepak bola anak-anak di tepi sungai yang mengalir di sisi selatan kota Agreas. Tempat ini menjadi arena pertarungan yang lumayan brutal.
Hampir semua yang ada disini sudah ludes dilalap api ungu.
Beberapa pilar api berdiri tegak menjulang tinggi.
"Wahhahahahaaaaa... Hei heiii, tidakkah ini terasa menyenangkan?"
Walburga, sembari duduk di salah satu pilar, terus menerus menembakkan bola-bola api ungu.
Sekalipun itu bukan iblis melainkan malaikat sekelas Griselda, tetap saja akan terkena dampak mematikan kalau terkena api penyucian dari relic Holy Cross ini. Malaikat yang sudah suci tidak mungkin akan dimurnikan, tapi panasnya api tetap saja akan membakar kulit.
Flare
Flare.
Blaarrrrr...
Sesekali ia memembakkan juluran lidah api yang sangat panjang, mengejar Griselda kemanapun malaikat itu bermanuver terbang di udara.
Sang penyihir api ungu pemilik Sacred Gear Longinus Incinerate Anthem masih saja tertawa tanpa henti.
Griselda berhenti berlari dari kejaran api ungu. Ia balas dengan menembakkan anak panah cahaya dari busurnya.
Swwoossss.
Api itu terhapuskan. Anak panah cahaya yang kali ini tidak hanya seperti amunisi senjata biasa, tapi bisa meledak dan menghasilkan gelombang kejut yang dapat melibas kobaran api.
Melihat Griselda yang sedang diam, Walburga menekuk wajahnya kesal. "Huuufftt, ini mulai terasa tak menyenangkan."
Penyihir itu merentangkan tangannya. Sebuah raungan terdengar di belakangnya bersamaan dengan berkobarnya api ungu yang sangat besar membentuk sebuah salib raksasa.
"Supaya seru, aku akan membiarkanmu merasakan Balance Breaker-ku."
Walburga menaikkan semangatnya dalam satu tarikan nafas, dan api ungu itu merespon dengan melebar secara cepat. Perlahan berubah bentuk, terus tumbuh, dan terkadang membentuk sebuah pola. Itu adalah salib yang sanga besar. Dan yang terpaku di sana adalah naga raksasa berkepala tiga.
Naga itu sangat besar. Panjang tubuh raksasanya sekitar tujuh puluh meter.
Griselda mengguman, "I-itu kan? Hydra!"
Hydra adalah seekor naga jahat yang berasal dari Mitologi Yunani.
"Benar sekali, malaikat-chan! Ada beberapa ekor Hydra yang masih hidup di ini. Aku menyegel salah satu dari mereka dengan api unguku. Dengan begitu, aku dapat menggunakannya untuk pertarungan dengan mengendalikannya dari salib apiku. Semua kemampuan Hydra dan kekuatan penuhnya bisa aku gunakan sesukaku. Aku bahkan menambakan kemampuan api unguku untuk membuatnya lebih kuat. Wahhahahahahaaa. Inilah Balance Breaker subspecies Incinerate Antiphona Calvario"
"Tch. Ini akan sulit." Griselda sedikit menggerutu. Dia malaikat, jadi tidak mungkin dia menyumpah.
Griselda mengangkat tinggi-tinggi busurnya dan diarahkan pada kepala Hydra. Busur itu bercahaya terang dan berubah bentuk menjadi panah otomatis yang mampu memuntahkan anak panah secara beruntun, dikenal dengan nama Crossbow atau X-bow yang ukurannya cukup besar, melebihi besarnya tubuh Griselda sendiri.
"Seharusnya ini cukup!"
Setelah mengatakan itu, Griselda menghujani musuhnya dengan anak panah. Di tembakkan dari X-bow, anak panah yang melesat berukuran lima kali lebih besar daripada anak panah biasa, lebih mirip tombak.
Sliceee...
Satu kepala Hydra terlempar setelah lehernya putus.
"Gwahahahaaaaa. Kau hanya membuat dirimu sendiri semakin kesusahan, malaikat-chan."
Seperti yang umum diketahui, Hydra memiliki kemampuan unik. Jika satu kepalanya dipenggal, maka akan akan tumbuh dua kepala baru.
Setiap kepala Hydra membuka mulutnya lalu menyeburkan api ungu yang sangat luas sehingga Sang Ratu Hati itu terpaksa mengudara. Kini ada sembilan kepala Hydra, jumlah maksimalnya. Griselda nampak tidak mempedulikan pertumbuhan kepala Hydra dan terus menembak.
Lalu hal yang tak terduga pun terjadi.
Jlebbb!
"Ohhookk! Gh,,, Guhhaa!" Walburga memuntahkan banyak darah. Hendak mengatakan keterkejutannya namun suaranya tak kunjung keluar.
Tidak ingin membiarkan lawannya mati penasaran, Griselda berbaik hati menjelaskan apa yang terjadi.
"Sedari awal aku membiarkan diriku terdesak agar kau lengah, Walburga. Anak panah yang menembus batang tenggorokanmu adalah satu anak panah dari ratusan yang kutembakkan, yang kumodifikasi pendaran cahayanya sehingga menjadi bening seperti berlian dan tak terlihat mata. Diamond Arrow, itulah nama khusus yang kuberikan."
Tanpa perlu menunggu waktu lama, Walburga pun jatuh tersungkur tak bernyawa. Dalam hitungan detik, kobaran api ungu disekitar sungai pun hilang seketika tersapu angin.
.
Sementara itu, hening melanda cukup lama pada orang-orang yang tersisa di ruang aula bawah tanah.
Sona untuk kesekian kalinya menghela nafas. Matanya menangkap satu persatu tubuh dari kelompok sahabatnya yang sedari tadi berdiri siaga siap tempur.
"Rias."
"Apa, Sona?" sahut sang sahabat yang berjuluk Crimson-Haired Ruin Princess.
"Kupikir di antara kita sudah tidak ada masalah lagi, iya kan?"
Memang, antara Sona dan Rias tidak memiliki konflik apapun. Mereka bersahabat sejak masih balita, selalu saling membantu dalam urusan apapun, hingga saat ini selalu bersama. Ada satu dua kejadian yang membuat hubungan mereka merenggang, berkaitan dengan keberadaan Naruto dan Hinata di antara mereka, tapi pada akhirnya mereka kembali akur.
"Tidak ada masalah katamu?" ucap Rias tak terima. "Kau! Sebenarnya apa yang terjadi denganmu hah? Ak- aku sama sekali tak mengerti. Seolah sekarang kau bukan Sona yang kukenal."
"Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan agar kau mau menerima Sona yang sekarang selayaknya Sona yang kau kenal sejak balita?"
Sona mengatakannya dengan datar tanpa emosi. Hal ini malah menekan keadaan Rias.
Sona mengangkat dagunya sedikit, menatap arogan pada Rias. "Kuberi kau pilihan, Rias. Mau bertarung?" pilihan ini sama saja dengan yang dilakukan oleh yang lainnya. "Atau..."
Rias menunggu Sona yang menggantung ucapannya. Dari lubuk terdalam hatinya, ia sama sekali tidak ingin bertarung melawan sahabatnya sendiri dalam situasi begini. Kalau saja di arena Rating Game dengan niat bersih dan tekad ingin menjadi juara, pasti lain lagi ceritanya dan sudah barang tentu akan ia lakukan sungguh-sungguh.
"... Atau kau mau bicara denganku?"
Inilah yang sangat diinginkan oleh Rias. Sejak kedatangan Sona ditempat ini yang membuatnya begitu terkejut, Rias sangat menginginkan kejelasan.
"Itu pun aku ragu, apakah kau akan percaya pada kata-kataku atau tidak?" ucap Sona lagi.
"Aku menunggumu bicara, Sona." kata Rias tegas. Urusan percaya atau tidak, itu belakang. Ia menginginkan Sona menjalaskan kepada dirinya tentang semua yang dilakukan oleh sahabatnya itu.
Bagi Sona sendiri, kalau bisa bernegosiasi kenapa tidak? Begini jauh lebih baik daripada bertarung sia-sia. Anggap saja dirinya tertular prinsip bertarung Naruto, dimana merubuhkan pendirian dan pemikiran lawan dengan kata-kata lebih efektif daripada menghajar lawan sampai bebak belur dengan kekuatan.
"Aku mulai cerita ini dari perjumpaan pertamaku dengan Naruto-san dan Hinata-san."
"Ceritakan semuanya dengan detail, tidak ada yang tertinggal, tak ada manipulasi, dan jangan bohong!"
"Jangan menyela, Rias. Tunjukkan sopan santunmu pada sahabatmu sendiri, terlebih kau seorang putri bangsawan."
"Maaf" sesal Rias. Sona adalah sahabat terbaiknya, Sona pasti jujur, jadi bagaimana mungkin ia berburuk sangka seperti tadi?
"Insiden penyerangan Kokabiel di akademi Kouh, pada saat itulah aku pertama kali bertemu dengan mereka berdua. Awalnya mereka berbohong dengan mengatakan bahwa mereka adalah pengembara yang baru saja tiba di Kouh. Lalu . . . . . . . ."
Sona pun menceritakan semuanya secara panjang lebar, tak ada satu hal pun yang ia lewatkan.
Cerita tentang bagaimana kelompok Sitri mulai membuat kesepakatan dengan Naruto dan Hinata sebagai peerage palsu setelah ternyata bidak pion extra gagal ditanamkan pada tubuh kedua manusia itu yang ditemukan sekarat. Lalu tentang pertemuan Tiga Fraksi, mengalahkan Dewa Jahat Loki, dan sampai pada insiden penculikan Yasaka-himesama di Kyoto. Pada kejadian terakhir ini menjadi titik balik segala yang ada, setelah Naruto dan Hinata menceritakan sejelas-jelasnya tentang misi berat yang mereka lakukan, berkaitan dengan kiamat sesungguhnya akibat keruntuhan Cardinal System. Juga keberadaan Uchiha Sasuke disana, bahkan yang sama sekali tak terduga yakni kemunculan Ophis Sang Ketidakbatasan.
Dari titik balik itu, dibentuklah sebuah tim dengan rencana besar yang sangat terstruktur. Tim untuk mengambil Trihexa [666] dengan memanfaatkan Rizevim Livan Lucifer sebagai boneka. Kemudian cerita insiden yang sedikit diketahui orang tentang matinya Samael di Venesia, lalu perjalanan ke dunia Game VRMMORPG Gun Gale Online, kasus Holy Grail di kalangan Vampire Tepes, sabotase Rating Game yang berujung pencurian Pulau Langit Agreas, selanjutnya kecerobohan Rizevim yang mengharuskannya melakukan sandiwara kecil, kehancuran Surga, dan terakhir apa yang terjadi sekarang.
Pengecualian, Sona tidak mau membeberkan apa rencana mereka selanjutnya, rencana bagian akhir untuk menyelamatkan seluruh Universe dari kiamat. Ini masih rahasia, mana mungkin diungkapkan bukan?
Tapi apa yang Sona dapatkan setelah ia bercerita?
Semua orang menganga lebar, seolah mereka baru saja melihat ada api yang menyala di dalam air.
"Sona! Kau sedang mendongeng!?" seru Rias tak percaya.
Hei, cerita Sona sangat sulit diterima akal bahkan oleh Rossweisse yang memiliki pengetahuan paling luas di kelompok Gremory. Bagian tentang rencana mengambil Trihexa dengan memanfaatkan Rizevim saja sudah keterlaluan untuk mereka. Bagaimana susah payahnya mereka sebagai Tim DxD untuk menghadapi perbuatan Rizevim, tapi eeeeeh ternyata Sona berada di balik semua itu dan ingin mengambil Trihexa untuk kepentingan kelompok bentukan Naruto. Yang paling tak masuk akal ialah, cerita tentang keruntuhan Cardinal System serta kiamat yang sebenarnya. Bagian ini terdengar seperti dongeng sungguhan.
"Hhhhhh..." Sona mendesah. "Makanya tadi aku kukatakan, bercerita ataupun tidak pada kalian, hasilnya sama saja. Toh kalian ragu-ragu padaku bahkan mungkin sama sekali tak mempercayaiku."
Rias dan kelima budaknya masih diam. Pikiran mereka berputar-putar untuk mencerna semua kalimat yang dilontarkan Sona tadi.
"Emm, bagaimana kalau aku tambahkan lagi?" ucap Sona
"Ha?"
Masih ada lagi? pikir Rias dan lainnya.
"Ini kebenaran pahit dibalik terbentuknya Aliansi Tiga Fraksi. Tentang sebuah konspirasi jahat tingkat dunia."
"...?"
"Aku yakin tak satupun dari kalian berenam mengetahui tentang Proyek New World Order yang dicanangkan Aliansi demi membangun Imperium of Bible. Sebuah dunia teokrasi dimana seluruh sendi kehidupan semua manusia bumi harus sesuai dengan Injil. Dalam proyek ini juga termasuk tentang melenyapkan semua reliji dan mitologi lain diluar ajaran Nasrani."
Fakta macam apa lagi ini?
"Tidak mungkin! Hentikan bualan macam itu! Jangan memfitnah Aliansi untuk membenarkan tindakanmu selama ini, Sona!"
"Akan aku jelaskan lebih detail. Begini . . . . . . ."
Lagi-lagi Sona memberitahukan hal yang sangat mengejutkan. Menjelaskan semua tentang Imperium of Bible sampai keinginan para petinggi Aliansi untuk menjadikan kepercayaan Injil sebagai reliji tunggal satu-satunya yang dianut oleh manusia, juga memaksakan semua manusia bumi untuk percaya dan tunduk pada kepercayaan Injil. Tidak lupa pula tentang kekuatan terbesar Aliansi, satu juta klon malaikat super.
Tidak hanya sampai disitu, Sona juga mengatakan tentang bukti nyata yang benar-benar terjadi saat ini.
Perang.
The Armagedon War.
Perang yang sekarang terjadi dimana-mana inilah peristiwa yang akan menandai munculnya era baru. Setelah perang berakhir dan Aliansi menjadi pemenang tunggal, maka Imperium of Bible akan terwujud secara nyata.
Fokus pada Rias yang merupakan Raja dari kelompok Gremory. Dia sungguh tidak ingin mempercayai ini, dan ini memang sama sekali tidak bisa dipercaya. Kakaknya -Sirzech, tidak mungkin memiliki niat seperti itu. Ia pun juga tak percaya Azazel yang membimbing kelompoknya dari nol sampai sekarang ternyata punya tujuan jahat.
Tapi kalau memang benarbegitu, apakah selama ini dirinya, Issei, dan budak-budaknya telah dimanfaatkan oleh para petinggi sebagai boneka untuk melancarkan Imperium of Bible?
Ingin tidak percaya semua itu, tapi... tapi yang mengatakannya adalah Sona, sahabat yang sangat ia percayai.
Rias tidak tahu harus apa. Informasi baru ini membuat otaknya sesak dan tak bisa dipakai untuk berpikir.
Di tengah kegundahan yang melanda, tiba-tiba seorang gadis kecil berambut putih dari kelompok Gremory maju dan berhenti di tengah-tengah. Ia berbalik dan menatap kelompoknya sendiri.
"Koneko-chan. Mau apa kau?" Akeno bingung dengan gerakan bidak benteng kelompok mereka yang tiba-tiba.
"Aku ingin jujur. Sebenarnya aku sudah cukup lama tahu tentang identitas sebenarnya Naruto-senpai dan Hinata-senpai."
"Ap-appa!?" Akeno memekik.
Rias menutup mulutnya tak percaya. Budaknya tidak jujur kepadanya.
Memang diantara kelompok Gremory, Koneko lah yang paling dekat dengan Naruto. Mereka berdua sering berlatih senjutsu bersama. Wajar kalau Koneko tahu, tapi ketika Koneko baru mengatakannya sekarang, ini terlalu mengejutkan.
Koneko bersuara lagi, "Tidak banyak yang aku ketahui. Yang dikatakan oleh Sona-kaichou tadi pun baru aku ketahui sekarang. Yang pasti, satu hal yang aku yakini dalam hatiku. Naruto-senpai dan Hinata-senpai adalah orang baik."
"Apa alasanmu berbicara begitu, Koneko-chan?" tanya Asia.
"Ingat kejadian ketika aku menghilang dari kalian pada pesta Pembukaan Rating Game?"
Saat itu kelompok Gremory sempat kelimpungan mencari keberadaan Koneko yang menghilang tiba-tiba. Kejadian itu bersamaan dengan Issei yang dipukul Naruto sampai hampir mati.
"Saat itu kakakku, Kuroka-neesama datang untuk menjengukku."
~Flasback Chapter 63~
"Kuroka Nee-sama!" hardikan Koneko semakin kencang, ia sedang tak ingin dipermainkan.
"Baiklah, baiklaaaah. Aku akan mengatakan tujuanku kesini."
"Katakan!"
Kuroka memasang wajah serius, "Shirone, ikutlah bersamaku?"
"Hah?"
Koneko terkejut, ia benar-benar tak menduga kata itu keluar dari mulut kakaknya.
"Ikutlah bersama Onee-chanmu ini, Shirone."
Kali ini kalimat yang keluar dari mulut Kuroka terdengar tegas, lebih mirip perintah.
Koneko sontak emosi. "Tak akan! Setelah kau mengkhianatiku, membuangku, meninggalkanku dalam kesulitan, sekarang kau ingin aku kembali padamu. Bahkan sekalipun tidak pernah kau mengatakan maaf."
Tubuh kecil Koneko seperti berguncang saat mengatakannya, namun bersama segumpal keberanian. Ia tak lagi lemah seperti dulu, Koneko yakin dengan kekuatannya yang sekarang.
Kuroka terkekeh pelan, lalu ia menatap lurus mata Koneko. "Aku tahu aku terlambat. Kalaupun Onee-chan mengatakannya sekarang, kau pasti tidak akan percaya."
"Apa maksudmu huh?"
"Sebentar lagi akan ada kejadian besar, dan aku tidak ingin kau berada di tempat yang salah ketika itu terjadi. Aku ingin kau bersamaku, Onee-chan ingin bersamamu saat itu tiba, Shirone."
~Flasback Chapter Off~
"Sekarang aku mengerti ucapan Kuroka-neesama. Aku yakin pada kejadian besar yang sekarang terjadi ini, aku telah berada di tempat di tempat yang benar. Aku juga ingin bersama dengan Kuroka-nee sama yang berada di sisi Naruto-senpai."
"Kauuu!" Rias menggeram karena satu budaknya berbalik arah begitu saja.
Koneko melirik ke belakang sedikit pada Sona. "Kaichou, ijinkan aku menyelesaikan masalah di sini."
"Lakukan semaumu, Koneko-chan."
Koneko kembali menatap lurus pada Rias, lalu Akeno, Gasper, Asia, dan Rossweisse. "Kalau kata-kata Kaichou masih belum cukup untuk membuat kalian percaya, bagaimana kalau bertarung denganku untuk membuktikannya?"
Pada akhirnya, konflik di sini juga diakhiri dengan pertarungan. Meski tak terduga siapa saja yang bertarung.
Akeno berteriak, "Kau! Koneko-chan, kau ingin memberontak pada Raja-mu sendiri hah?"
Akeno tidak bermaksud membentak Koneko, apalagi marah. Ia hanya ingin hal ini selesai secara baik-baik dan mereka bisa kembali seperti sedia kala.
"Tidak! Disini aku hanya ingin meluruskan kembali jalan kita. Dengan menganggap semua perkataan Kaichou adalah benar, maka selama ini jalan kelompok kita telah didikte oleh Azazel-sensei, Sirzech-sama, Michael-sama, serta petinggi-petinggi lainnya sebagai alat permaian mereka."
"Pikirkan kembali keputusanmu baik-baik, Koneko." ucap Rias. Menyebut nama depan tanpa embel-embel, menandakan bahwa ia benar-benar serius.
"Aku tidak akan berubah pikiran, Buchou. Kalau kalian semua mengkhawatirkan masalah kekuatan, maka kalian salah. Memang mustahil bagiku sendirian dengan kekuatan sendiri melawan berhadapan dengan kalian berlima, tapi..."
~Flashback Chapter 72~
Koneko menjatuhkan diri tidak jauh di depan Naruto, lalu menolakkan kakinya untuk menyerang dari depan dengan tinju yang lebih kuat dari sebelumnya.
Grepp...
"Tinjumu sudah lebih kuat dibanding sebelumnya, tapi masih belum cukup tahu."
"Bagaimana kalau kutambahkan dengan ini?"
Koneko melepaskan touki dalam bentuk api putih. Itu api putih pemurnian, yang akan memurnikan setiap eksistensi jahat tak peduli sekuat apapun itu.
Namun...
"Kenapa? Terkejut eh?"
"Tidak mungkin!" Koneko menganga.
"Yah, aku tahu apimu ini bisa memurnikan musuhmu. Tapi dalam mode ini, aku sama sekali tidak merasakan adanya bahaya dari apimu, api yang memurnikan ini sama sekali tidak mempan padaku. Kau tahu apa artinya, Koneko-chan?"
"Apa?"
"Artinya aku bukan eksistensi jahat. Sesederhana itulah jawabannya."
Semua iblis yang mendengarnya benar-benar dibuat tak habis pikir. Musuh macam apa Naruto itu?
Pembohong, pengkhianat, melukai orang lain tanpa rasa bersalah. Dia munafik.
Tapi nyatanya, dalam diri Naruto tidak ada niat jahat sama sekali.
Apakah mungkin ada manusia yang telah mencapai tingkat spiritual tertinggi sehingga mampu mengendalikan hatinya agar selalu bersih? Yang mana hal ini sangat sulit dilakukan walaupun oleh seorang dewa.
Manusia macam apa Naruto itu?
~Flashback off
"... Belum lama ini aku menyadari bahwa kemampuan spesial yang sebenarnya dari kekuatan Api Putih Pemurnian milikku bukanlah untuk mengalahkan musuh jahat, tapi untuk membuat batasan nyata mana yang benar dan mana yang salah."
"...?" Rias belum paham maksudnya.
"Api putih pemurnianku tak mempan pada Naruto-senpai. Itu bukan karena dia yang kita anggap pembohong, pengkhianat, munafik tapi mampu mengendalikan hati agar selalu suci dan bersih. Bukan begitu, kenyatannya adalah karena Naruto-senpai berjalan di jalan kebenaran."
"Kalau begitu..."
Koneko memotong ucapan Rias, "Ya. Aku ingin bertarung melawan kalian semua untuk membuktikan kebenaran. Jika aku kalah, maka kalian benar. Tapi jika malah kalian semua yang dimurnikan, maka ubahlah jalan dan hati kalian agar selamat dari apiku."
Tanpa aba-aba, Koneko membuat posisi kuda-kuda bertarung lebih dahulu.
Wuuusssshhhh...
Sekejap, aura putih kental dari touki yang luar biasa banyak menyelimuti tubuhnya. Dari balik itu, sekarang yang muncul ialah Koneko dalam wujud perempuan dewasa. Ini adalah efek dari sinkroninasi energi Ki miliknya dengan senjutsu atau touki yang dari alam sekitar.
Namun berbeda dari mode bertarung yang pernah ia tunjukkan sebelumnya, aura yang muncul saat ini terasa jauh lebih tenang dan sejuk. Tubuh Koneko pun, dengan telinga kucing dan dua buah ekor, tampak lebih bercahaya dan berkilau. Katakan lah ini sebagai mode baru,
The Truth Shirone Mode
Melihat apa yang ada di depan mata, setitik keraguan muncul dari dalam hati Rias, Akeno, Gasper, Asia, dan Rossweisse. Keragu-raguan tentang apakah selama ini tindakan mereka benar?
.
Di sebuah tempat yang sangat sunyi di Pulau Langit Agreas, sebuah lorong rahasia menuju tempat kebangkitan Trihexa. Derap langkah kaki terdengar jelas dari seorang pemuda berambut putih perak yang berjalan pelan.
Sang Juara Emperor Bellial, Diehauser, datang langsung kemari setelah meninggalkan medan perang karena Rizevim memanggilnya. Ia menunggu saat ini, saat-saat terakhir dari kesepakatannya dengan Rizevim. Sedari awal dia memutuskan untuk membantu rencana orang tua itu, ada suatu imbalan yang dia inginkan. Diehauser ingin memastikan sesuatu.
Tiba-tiba iblis Satan-Class yang kekuatannya setara Maou ini menghentikan langkahnya.
"Siapa disana?" ucapnya setelah berbalik badan.
Bersamaan dengan cahaya biru gemerlapan, sebuah lingkaran sihir muncul 15 meter dari posisi Diehauser.
Seorang perempuan berambut biru panjang muncul dari sana, ekspresinya dingin serta tubuhnya memancarkan aura naga yang sangat kuat.
Wajah Diehauser tidak menunjukkan tanda keterkejutan, bahkan dia masih bisa tersenyum simpul.
"Ternyata kau. Sang Ratu Naga dengan sisik biru -Chaos Karma Dragon, Tiamat."
Tiamat memasang posisi bertarung, "Aku tidak menyangka mengikutimu akan membawaku ke sini. Yah, sebenarnya berhubungan dengan Rizevim dan Qlippoth diluar urusanku. Aku melakukan ini karena perjanjianku dengan Ajuka Beelzebub."
"Kheh! Dikenal sebagai Dragon King terkuat, ini memalukan."
"Diam! Ini hanya balas budiku padanya. Aku tidak melayani dan tidak mengikuti perintah siapapun."
"Mulai dari sini, aku yang mengambil alih."
Suara orang ketiga menggema di sepanjang lorong saat cahaya lingkaran sihir transportasi bersinar. Orang yang muncul adalah Maou Ajuka Beelzeebub.
Tiamat berbicara dengan nada sedikit terkejut, "Kupikir kau akan datang ke sini lebih lama."
"Ini sesuatu yang penting, jadi aku tidak bisa menundanya. Lagipula aku berpikir kalau Azazel akan butuh bantuan nanti."
Sang Juara menyapa,
"Sebuah kehormatan untuk bisa bertemu dengan anda secara langsung, Maou Ajuka Beezebub-sama. Mumpung kau ada di sini, aku memiliki suatu hal yang ingin kuselesaikan denganmu."
"Hm?"
Diehauser mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya, sebuah bidak catur yang sangat familiar.
Ajuka cukup terkejut melihat itu.
"Kau pasti tahu karena kau lah yang membuat benda ini kan? Evil Piece Bidak Raja. Sebuah bidak yang mampu meningkatkan semua aspek kekuatan iblis hingga lebih dari seratus kali lipat."
Sejauh yang diketahui semua orang, bidak Raja itu tidak ada. Seseorang yang menjadi Iblis kelas tinggi dan ingin memiliki peerage sendiri, harus mengikuti ritual khusus yang sebenarnya hanya formalitas belaka sebagai pendaftaran Evil Piece. Ritual itu dilakukan dengan menyentuh sebuah Monumen dalam istana Maou dan dengan serta merta iblis itu sah menjadi Raja. Setelah itu, akan diberikan gelar bangsawan dan satu set Evil Piece. Itulah alasan mengapa dikatakan bahwa bidak Raja tidak ada.
Kenyatannya, lihat sekarang. Evil Piece bidak Raja benar-benar ada.
Lalu kenapa sengaja dibuat menjadi tidak ada. Alasannya karena penguatan yang didapat dari bidak raja terlalu ekstrim. Seorang iblis kelas tinggi biasa bisa langsung naik level menjadi iblis kelas ultimate hanya dengan itu, bahkan tidak menutup kemungkinan bisa sampai ke level iblis kelas Maou. Maka dari itu, bidak Raja dirahasiakan dan dilarang penggunaannya secara umum.
Diehauser melanjutkan, "Tapi yang aku cari bukan tentang Evil Piece bidak Raja. Ini menyangkut apa yang terjadi setelahnya, yaitu para orang tua yang melakukan konspirasi demi politik dan uang pada kompetisi yang tidak adil dan tidak jujur sampai akhirnya membuat adik sepupuku yang kusayangi -Cleria, dibunuh secara tragis tanpa pengampunan dan pembelaan dengan alasan menjalin cinta pada seorang pria manusia yang bekerja untuk gereja."
Ajuka membuang nafas panjang, "Kalau kau memang ingin tahu tentang itu, baiklah. Akan aku ceritakan semuanya. Tapi setelah itu, kau juga harus menjelaskan padaku kenapa kau mengikuti Rizevim."
"Untuk apa?"
"Untuk memperjelas di pihak mana kau berada. Jika kau musuh Aliansi, maka kau harus disingkirkan."
Diehauser mengulas seringaian, "Aaaaaah. Kalau iya, berarti mungkin akan ada pertarungan mengerikan di tempat ini."
.
To be Continued...
.
Note : Yoiyoooo, dua karakter kita singkirkan lagi. Euclid dan Walburga is death. Mereka sudah tidak diperlukan lagi dalam cerita.
Lupakan mereka. Takdir Sekiryutei Vs Hakuryuukou telah tiba. Nah, ayoo tebak siapakah yang akan keluar jadi pemenang?
Pertarungan antar swordman pemilik pedang suci legendaris, juga antar penyihir seharusnya tak akan kalah menarik.
Lalu untuk kelompok Gremory, semuanya sudah dibuka Sona secara blak-blakan. Bagaimana akhir konflik internal untuk Koneko yang membelot, dan akan ke arah mana jalan mereka setelah ini?
Ahhh, aku tambah bagian yang tak disangka-sangka. Tentang Sang Juara Diehauser Bellial, juga keberadaan Maou Ajuka dan Tiamat di tempat ini. Pastinya kedepan nanti akan jadi semakin sengit dan rumit.
Tapi yang seharusnya mendapat perhatian paling banyak, apa sih rencana Azazel kemari? Tindak tanduknya semakin mencurigakan. Hayooo tebak. Ahahahahaaaa.
Ulasan Review:
Yang mempertanyakan apakah Azazel seidiot itu menyambangi Rizevim dan semua komplotannya hanya dengan Tim DxD saja. Hihihiii, malahan yang harusnya dipertanyakan itu sebaliknya.
Kurama yang ada ditubuh Naruto itu, Kurama yang udah bergabung kembali Yin dan Yang, seperti sebelum dipisahkan oleh Hokage Keempat. Makanya, kekuatan Kurama aku tunjukkan jauh lebih superior dari biju-bijuu lainnya.
Dunia manusia ga tahu menahu kalau di dunia supernatural sedang terjadi perang.
Maafkan aku yang khilaf tertukar nama bijuu ekor 5 dan 6. Makasih koreksinya.
Hohoooo, anda jangan salah. Malahan yang lebih overpower itu karakter-karakter dari DxD universe. Dari Konoha cuma sedikit. Naruto dengan semua bijuunya, Sasuke, juga Hinata. Tapi kalau Hinata bukan overpower sih. Dia aslinya lemah, teknik doujutsu dia aja yang kelewat mutlak. Sedangkan dari DxD, ada lebih banyak yang overpower seperti para Dewa Superior Top 10. Bahkan Kekuatan asli Ophis, Great Red, maupun Trihexa masing-masing melebihi kekuatan penuh Naruto. Kemarin itu, kenapa Naruto bisa meruntuhkan empat dari tujuh lantai Surga, karena rasengan nya diperkuat oleh Ophis.
Kalau tentang perang, aku skip bentar yaa. Jadi kita fokus ke cerita tentang ini dulu, baru nanti kita pindah ke medan perang lagi. Hahahaaa.
Untuk perang di Olympus dan Svargaloka, entar ada kejutannya. Hihihiiii. Tunggu saja.
Terkait obrolan hati ke hati antara Hinata dan Gabriel, mungkin di akhir nanti baru ada kejelasannya.
Tentang Singularity. Aku ga memakai sebutan itu. Konsepnya mungkin mirip, di chapter 40 aku sebutkan ada namanya yaitu awal mula penciptaan atau The Beginning of Creation
Mana ada ooy, sembarangan aja nih. Ga ada tuh konflik internal NaruHina karena orang ketiga, apalagi selingkuh. Ini bukan FF drama, wkakakakaka. Iya tuh, bener kata satu reviewer, pemikiran macam ini ada konyol-konyol gimanaaaa gitu. Ghahahaaaa.
Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita, sebagian lainnya kubalas lewat PM.
Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.
Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.
Ah hampir saja lupa, sebesar apapun tidak respeknya aku pada Pemerintahan Indonesia saat ini, namun untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur demi memperjuangkan hak asasi sebagai manusia dan bangsa yang merdeka, aku tetap akan mengucapkan...,
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN
NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA KE-72
DIRGAHAYU NUSANTARA
.
.
.
