Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Jum'at, 22 September 2017

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . .

Sang Juara Kaisar Bellial menyapa,

"Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan anda secara langsung, Maou Ajuka Beezebub-sama. Mumpung anda ada di sini, saya memiliki suatu hal yang ingin diselesaikan."

"Hm?"

Diehauser mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya, sebuah bidak catur yang sangat familiar.

Ajuka cukup terkejut melihat itu.

"Anda pasti tahu karena anda lah yang membuat benda ini kan? Evil Piece Bidak Raja. Sebuah bidak yang mampu meningkatkan semua aspek kekuatan iblis hingga lebih dari seratus kali lipat."

Sejauh yang diketahui semua orang, bidak Raja itu tidak ada. Seseorang yang menjadi Iblis kelas tinggi dan ingin memiliki peerage sendiri, harus mengikuti ritual khusus yang sebenarnya hanya formalitas belaka sebagai pendaftaran Evil Piece. Ritual itu dilakukan dengan menyentuh sebuah Monumen dalam istana Maou dan dengan serta merta iblis itu sah menjadi Raja. Setelah itu, akan diberikan gelar bangsawan dan satu set Evil Piece. Itulah alasan mengapa dikatakan bahwa bidak Raja tidak ada.

Kenyatannya, lihat sekarang. Evil Piece bidak Raja benar-benar ada.

Lalu kenapa sengaja dibuat menjadi tidak ada. Alasannya karena penguatan yang didapat dari bidak raja terlalu ekstrim. Seorang iblis kelas tinggi biasa bisa langsung naik level menjadi iblis kelas ultimate hanya dengan itu, bahkan tidak menutup kemungkinan bisa sampai ke level iblis kelas Maou. Maka dari itu, bidak Raja dirahasiakan dan dilarang penggunaannya secara umum.

Diehauser melanjutkan, "Tapi yang anda ingin bukan tentang Evil Piece bidak Raja. Ini menyangkut apa yang terjadi setelahnya, yaitu para orang tua yang melakukan konspirasi demi politik dan uang pada kompetisi yang tidak adil dan tidak jujur sampai akhirnya membuat adik sepupuku yang kusayangi -Cleria, dibunuh secara tragis tanpa pengampunan dan pembelaan dengan alasan menjalin cinta pada seorang pria manusia yang bekerja untuk gereja."

Ajuka membuang nafas panjang, "Kalau kau memang ingin memastikan tentang itu, baiklah. Akan aku ceritakan semuanya. Tapi setelah itu, kau juga harus menjelaskan padaku kenapa kau mengikuti Rizevim."

"Untuk apa?"

"Untuk memperjelas di pihak mana kau berada. Jika kau musuh Aliansi, maka kau harus disingkirkan."

Diehauser mengulas seringaian, "Aaaaaah. Kalau iya, berarti mungkin akan ada pertarungan mengerikan di tempat ini."

.

To The End of The World

Writen by Si Hitam

.

Chapter 84. Armageddon War, End of The World - Part 8.

.

-Pulau Langit Agreas, markas Qlippoth di Celah Dimensi-

Tempat yang sunyi, gelap, juga dingin. Sebuah lorong rahasia menuju tempat kebangkitan Trihexa di dalam ruang bawah tanah Pulau Langit Agreas. Berdiri tegak tiga sosok tubuh yang telah ada sejak beberapa saat lalu. Salah satunya merupakan perempuan, sisanya laki-laki. Tapi yang perempuan berambut biru ini tidak bisa sepenuhnya dianggap perempuan. Dia seekor naga dari kelas Dragon King, yang terkuat diantara lima Raja Naga, Chaos Karma Dragon Tiamat.

Saling hadap dalam hening, Diehauser Bellial masih terlihat santai. Terbukti dari ekspresi yang tepampang jelas di wajahnya meski hatinya mungkin sudah hendak hilang kesabaran.

"Ayooo. Tunggu apa lagi, Maou Ajuka Beelzebub-sama? Cepat ceritakan semua yang anda ketahui!"

Tiamat tidak punya urusan untuk ikut bicara. Ajuka menarik nafas dalam sebentar lalu mengembuskannya perlahan, "Huuffttt. Sebenarnya, aku sangat menyayangkan apa yang terjadi disini sekarang. Kau iblis muda paling berbakat, tak ada yang bisa menyangkalnya. Akan jadi lebih mudah bagi para iblis kalau seandainya kau melupakan masalah itu?"

"Ha!? Melupakan?" kening Diehauser mengkerut. "Ah tunggu, bukannya tadi anda sudah setuju untuk menceritakan semuanya secara jelas? Kenapa tiba-tiba anda berkata begiu?"

"Yah, kalau bisa berdamai kenapa tidak?"

Bagi Ajuka, keberadaan Diehauser tentu akan jauh lebih bermanfaat peranannya jika untuk kepentingan tujuan Aliansi, ketimbang bermusuhan begini.

"Tidak akan ada kata damai sebelum aku mendapat kepastian yang memuaskan." ucap Diehauser lancang. Tidak adalagi sapaan dan panggilan kehormatan yang seharusnya ditujukan pada Ajuka sebagai seorang Maou.

"Kalau itu maumu, oke." Lagi, Ajuka menarik nafas dalam lalu mengembuskannya. Ia pun mulai berbicara dengan tenang dan bernada lembut tapi penuh dengan keagungan sebagaimana posisi dia sebagai Maou. "Sebelum Kota Kuoh menjadi tanggung jawab keluarga Gremory yang diamanahkan kepada Rias, adik Maou Lucifer saat ini, kota itu diperintah oleh seorang anak perempuan yang merupakan keturunan dari cabang Keluarga Iblis Ekstra diluar 72 Pilar, Keluarga Iblis Bellial."

"Ya. Dia adik sepupuku, Cleria."

Ajuka melanjutkan, "Manajemen Cleria dalam mengatur Kota Kouh sebagai teritori iblis untuk dunia manusia telah berjalan seperti yang diharapkan, persis dengan kota-kota lain yang ditangani oleh para Iblis Kelas Atas. Tapi ada suatu kejadian yang tak terduga, di kota itu lah Cleria menjalin hubungan cinta dengan seorang manusia."

"Cleria tidak pernah bercerita apapun tentang itu padaku. Namun kupikir itu mungkin saja mengingat sejak diberi tanggung jawab di Kota Kuoh, dia jadi jarang pulang ke rumah kami di Underworld."

"Bagi kita para iblis, itu adalah hal biasa. Meskipun jarang tapi bukan sesuatu yang langka terjadi sejak dahulu kala. Manusia hanyalah sebuah keberadaan dengan masa hidup yang jauh lebih pendek daripada kita. Bagi Iblis yang hidupnya panjang, manusia adalah pasangan bermain yang sangat cocok guna untuk membuang waktu menjemukan untuk masa yang singkat."

"..."

Ekspresi Ajuka menjadi serius. "Kecuali, hal itu akan menjadi masalah berbeda jika manusia tersebut berasal dari pihak Gereja."

Tatapan Diehauser berubah tajam, "Itu... Hal itu aku ketahui bersamaan dengan datangnya berita adik sepupuku dieksekusi mati."

"Ya, benar. Aku mengerti perasaanmu. Seandainya berita itu kau ketahui sebelum eksekusi, sudah pasti akhir ceritanya akan berbeda. Sang Juara Kaisar Bellial tentu akan melakukan apapun untuk mencegah adik sepupu yang disayangi dari kematian, bahkan jika harus melawan seluruh dunia iblis sekalipun. Benar kan?"

"..."

Diehauser tidak menjawab dengan sepatah katapun, sebab sudah pasti jawabannya adalah iya.

"Kalau saja cerita itu terjadi pada saat ini, saat Aliansi Tiga Fraksi telah terbentuk dan Underworld telah berdamai dengan Surga, ceritanya juga pasti akan berbeda. Tapi saat itu, hanya untuk mengadakan sebuah pertemuan dan duduk bersama antara iblis dan orang yang berasal dari gereja saja sudah merupakan hal yang sangat tidak mungkin, apalagi dengan percintaan antara keduanya yang untuk didengar pun bagai sebuah mimpi. Yah, bagi kita para iblis tidak akan masalah jika membuat mereka yang berasal dari gereja terjerumus dalam lumuran dosa dan menggunakan mereka sebagai alat seks. Akan tetapi berbeda dengan Cleria, dia menjalin hubungan percintaan yang sesungguhnya dengan orang gereja, dan itu tak dapat disangkal sebagai hal yang sangat tabu bagi kita kedua belah fraksi."

"Jadi, Cleria dan pemuda dari gereja itu memang benar telah ..."

"Ya, seperti yang kau pikirkan, Kaisar Bellial. Kami tidak mungkin mengijinkan hal semacam itu selagi Fraksi Iblis bermusuhan dengan Fraksi Malaikat. Cleria dan pemuda dari Surga yang bernama Yaegaki, mereka berdua mencoba meyakinkan kami dengan pemahaman bahwa mereka percaya dengan cinta. Cleria tidak melakukannya demi kepuasan, justru dia membuat dirinya sendiri benar-benar menjadikan hubungan itu sebagai hal yang sangat serius. Dan itu mutlak adalah hal yang salah di mata hukum yang berlaku ketika itu. Mengijinkannya, berarti memberinya sebuah pengecualian. Jadi kami memutuskan untuk memisahkan mereka berdua dengan menggunakan paksaan. Demikian pula dari pihak gereja, mereka memaksa Yaegaki dengan cara yang sama. Ironis, hanya disaat itu kita para iblis bersatu dengan gereja meskipun dipikir-pikir kita merupakan musuh dengan tujuan untuk melindungi aturan masing-masing. Sungguh, tidakkah kau menyadari kalau kedua belah pihak merupakan makhluk yang bergelimang dosa?"

Tatapan mata Diehauser sama sekali tidak berubah, malah lebih tajam dari sebelumnya.

Ajuka melanjutkan ceritanya, "Karena pasangan itu tidak mau mengubah pendirian, dengan terpaksa petinggi baik dari pihak iblis maupun gereja, sepakat untuk melakukan eksekusi agar tidak membuat insiden semakin buruk. Saat insiden itu terjadi, kau sedang dalam perjalanan ke luar Underworld. Para petinggi iblis tua berpikir harus mengambil tindakan cepat, sebab jika kau pulang dan eksekusi belum dilakukan maka segalanya pasti akan jauh lebih rumit."

Tentu saja akan jadi rumit jikalau sang juara Kaisar Bellial yang kekuatannya setara Maou mengamuk karena adik sepupu kesayangannya hendak dieksekusi mati.

"Kau...! Kau yang membunuh mereka?" Diehauser menggeram sambil menunjuk muka Ajuka, emosinya meluap-luap membawa serta hawa membunuh yang sangat pekat. "Kau kan yang telah membunuh adik sepupuku!?"

Tiamat menaikkan kewaspadaannya, meskipun Ajuka masih nampak tenang.

"Aku tidak bisa menjawab iya, meski memang bagian akhir ceritanya seperti itu. Kau seharusnya tahu, bukan aku saja yang membuat keputusan itu. Atau bahkan kalau kau mau percaya, ide untuk mengeksekusi Cleria sedikitpun tidak muncul dariku dan dari Maou lainnya, tapi dari para petinggi iblis tua. Cleria dan Yaegaki tetap keras kepala padahal kami dan pihak gereja sudah meyakinkan sampai batas paling akhir. Mungkin pihak gereja yang pertama kali tidak tahan dan habis kesabaran dengan situasi ini sehingga melakukan eksekusi pada Yaegaki, atau mungkin saja Cleria yang lebih dulu dieksekusi oleh para iblis tua. Yah, yang manapun sama saja."

Jawaban yang terlontar dari mulut Ajuka, sama sekali tidak memberi kepuasan bagi Diehauser. Bagi kebanyakan orang, pasti akan jujur mengatakan kalau itu adalah cerita tragis dan keji yang akan memunculkan amarah dan emosi negatif lainnya. Jalinan cinta antara iblis dan manusia, meski manusia itu berasal dari gereja sekalipun, seharusnya dapat diijinkan. Segala hal tentang cinta tak bisa dikekang oleh aturan, karena sejatinya cinta merupakan emosi yang melampaui batas-batas logika dan aturan alam semesta.

Tak dapat disangkal memang, jika bagi bangsawan iblis yang menganggap betapa pentingnya sebuah kebanggaan dan para petinggi gereja yang sangat menjunjung kesucian, jalinan cinta antara Cleria dan Yaegaki merupakan sesuatu yang harus dilenyapkan sampai tiada berbekas.

"..."

Diehauser yang sedang emosi tidak mengatakan apapun. Dia malah mengangkat evil piece bidak raja yang tergenggam di tangannya, seolah itu sebuah isyarat.

Nampak kalau masih ada hal lainnya yang belum Ajuka katakan sepenuhnya.

Setelah mengembuskan nafas perlahan dengan bahu bergerak turun, Ajuka melanjutkan lagi. "Mengingat kau bersekutu dengan Rizevim dan adanya Bidak Raja di tanganmu, aku menduga kau telah mengetahui kebenaran tentang hal yang selanjutnya akan kuceritakan."

Sebagai bos dari organisasi teroris, Rizevim pasti memiliki jaringan informasi yang sangat luas yang mampu mencuri data-data rahasia.

"Bidak Raja yang sedang kau genggam itu, merupakan titik pusat Rating Game profesional yang dikelilingi oleh kegelapan."

"Kegelapan Rating Game?"

"Ya. Begitulah kau bisa menyebutnya, Kaisar Bellial." Ajuka menunjuk Bidak Raja yang berada di tangan Diehauser. "Evil Piece Bidak Raja itu, aku lah yang membuatnya. Karakteristik bidak itu sederhana, hanya tambahan kekuatan. Tapi, penguatannya tidak selemah hanya dua atau tiga kali saja. Kau sudah mengatakannya tadi kan? Selama seseorang memilikinya, dia bisa memperkuat dirinya sampai sepuluh kali atau bahkan penguatan lebih dari seratus kali. Yang secara harfiah berarti, kekuatan dapat ditingkatkan jauh lebih dari biasanya, peningkatan yang sangat ekstrim. Itu sebabnya Bidak Raja dilarang penggunaanya dalam game dan tidak diberitahukan kepada publik. Para petinggi serta empat Maou khawatir bahwa seandainya ada orang-orang yang telah memperoleh kekuatan semacam ini kemungkinan bisa memiliki niat jahat terhadap pemerintah, dan bisa membahayakan pemerintahan Underworld. Kekuatan yang terlalu berlebihan hanya akan membutakan mata orang."

Kalau dianalogikan bidak raja itu pada dasarnya sama seperti ular-ular ciptaan Ophis, sesuatu yang mampu memberikan penguatan murni pada semua aspek kekuatan iblis.

Ajuka Beelzebub lalu menciptakan lingkaran sihir kecil di sebelah tangannya. Setelah mengalirkan sejumlah kecil energi pada lingkaran sihir itu, sebuah holorgram dua dimensi muncul dan menyajikan data-data beberapa orang secara terperinci. Wajah-wajah di foto yang ditampilkan tampak tak asing karena seringkali muncul dalam siara TV Underworld dan majalah terkenal. Dua diantaranya adalah Roygun Belphegor dan Bedeze Abaddon.

Diehauser jelas mengenali dua orang itu. Dua iblis kelas ultimate yang baru saja dia lawan di arena perang sebelum ia pergi kesini, dua iblis yang menempati peringkat top Rating Game persis dibawah peringkatnya.

"Mereka adalah kontestan Rating Game peringkat top sama sepertimu, Kaisar Bellial. Kesamaan mereka adalah bahwa semuanya berdiri untuk kepentingan keluarga masing-masing yang berasal dari 72 pilar, kecuali Roygun Belphegor dan Bedeze Abadon yang berasal dari keluarga iblis ekstra. Dua orang itu telah meninggalkan keluarganya masing-masing agar bisa menjadi kontestan Rating Game dengan ikut bernaung pada keluarga iblis dari 72 pilar. Mereka semua sama-sama iblis berdarah murni, dan mereka semua adalah pengguna Evil Piece Bidak Raja. Ini adalah ide dari para iblis tua petinggi Dunia Bawah. Akibatnya, para pengguna bidak ini dikenal sebagai Iblis kelas ultimate, dan tidak akan berlebihan untuk mengatakan bahwa kekuatan mereka mungkin sekelas dengan Maou."

Diehauser tidak tampak terkejut, "Kupikir itu hanya rumor belaka, tak tahunya itu benar bahwa sainganku memang ada yang menggunakan Evil Piece Bidak Raja. Ketika aku pertama kali mendengar tentang hal itu, aku menertawakannya. Aku berpikir bahwa rumor itu menyebar akibat rasa iri terhadap mereka yang telah memperoleh hasil dengan bakat. Tapi setelah kupikir lagi, kebanyakan dari mereka bukanlah iblis yang luar biasa ketika masih muda, mereka hanya iblis kelas tinggi biasa saja dengan bakat yang biasa pula, tapi cukup membuatku heran ketika mereka sanggup meraih peringkat top Rating Game."

"Begitulah. Mayoritas kontestan peringkat top menggunakan kekuatan yang tidak bisa dinyatakan sebagai 'kekuatan mereka sendiri' untuk terus mendaki ke puncak. Sebagian besar eksekutif manajemen Rating Game juga orang-orang yang berada di pihak mereka. Dengan tetap mempertahankan bidak Raja, menggunakan suap untuk mendapatkan hak komersial, bersama dengan ide-ide para petinggi, mereka berkonspirasi untuk memanipulasi game. Mereka terus-menerus terlibat dalam kompetisi yang tidak adil dan tidak jujur. Tapi tidak semuanya, karena ada orang yang menggunakan kekuatan mereka sendiri untuk menjadi pemain peringkat top. Contohnya mantan Dragon King Tannin, iblis reinkarnasi dari Raja Naga yang memiliki harga diri tinggi. Kasus tadi adalah sebagian besar jalan yang terlihat pada Iblis reinkarnasi."

Ajuka Beelzebub terkekeh pelan seolah akan mengatakan suatu hal yang sedikit lucu. Ia berkata lagi, "Yah, itu sama saja dengan kompetisi di dunia manusia. Misalnya liga sepak bola dengan pengaturan skor pertandingan ataupun penggunaan doping, juga seperti sabotase oleh wasit dan negara tuan rumah penyelenggara event. Rating Game di Dunia Bawah pun memiliki cacat yang sama. Untuk Rating Game, aku hanyalah inisiator yang menciptakannya tapi pengelolaannya diambil alih oleh manajemen yang sepenuhnya dikuasai oleh para iblis tua."

Sungguh, kegelapan Rating Game yang baru diketahui ternyata adalah ketidakadilan yang seperti itu. Pantas saja, kontestan-kontestan lain yang kemampuannya setengah matang tak mampu mengatasi atasan yang menciptakan sistem itu. Itu pulalah yang menjadi alasan mengapa urutan kontestan peringkat top tidak banyak mengalami perubahan selama beberapa puluh tahun terakhir ini.

Diehauser menyela, "Jadi para iblis tua itu, diam-diam mengendalikan semua hal untuk menuai keuntungan pribadi. Membuat Rating Game menjadi sebuah kompetisi yang hanya untuk pemain peringkat top demi para Iblis tua sehingga mereka dapat menghasilkan banyak uang. Selama mereka mampu mengendalikan kompetisi, keuntungan yang mereka terima pasti akan meningkat. Tidak peduli seberapa mencoloknya seorang Iblis reinkarnasi itu, selama mereka menggunakan bidak Raja, penantang untuk pemain peringkat top yang dikendalikan oleh para Iblis tua akan menghadapi tantangan yang tidak adil."

"Aku tidak akan menyangkal kesimpulan yang kau tarik itu, Kaisar Bellial. Untuk kau yang mencapai peringkat paling puncak dengan bakat dan kekuatan asli milikmu sendiri, pastinya hal seperti ini membuatmu muak. Atau setidaknya merasa sedikit jengah."

"Sekarang, aku tidak peduli lagi tentang itu!"

"Yayayaaaa, mari kita lupakan itu. Semua informasi yang baru saja aku ungkapkan adalah kebenaran tersembunyi. Jika orang-orang tahu, secara dramatis pasti akan mengguncang martabat Dunia Bawah."

"Dan karena informasi tersembunyi itulah, kalian membunuh adik sepupuku!"

"A a a aaaaaa-... Aku tidak bisa menyangkalnya. Cleria..."

Diehauser langsung memotong dengan ucapan bernada sedih, "Dulu sekali, ketika masih hidup Cleria mengatakan kepadaku bahwa dia telah memperoleh beberapa informasi menarik terkait dengan Rating Game. Dia bertanya padaku, 'Apa kamu tahu tentang bidak Raja?', Aku hanya menjawab 'Ah, itu tidak lebih dari sebuah legenda urban'. Tapi dia berkeras. 'Di wilayah Jepang dimana aku telah ditunjuk sebagai penanggung jawab wilayah, ternyata berdekatan dengan fasilitas rahasia milik Maou Ajuka Beelzebub. Aku menemukan informasi mengenai itu dari sana' katanya."

Ajuka mendengar dalam diam, bertindak seperti menjadikan dirinya pelampiasan cerita dari orang yang tengah bersedih.

"Aku menegur adik sepupuku itu, 'Jangan merepotkan sang Maou. Apapun itu, jangan sembarangan mendekati tempat itu, paham?'. Tapi ia enggan mendengarkanku. Malah menggali informasi tentang bidak raja lebih jauh. Dia berkata padaku dengan nada riang, 'Aku yakin bidak itu ada. Jika aku berhasil memperolehnya, aku akan memberikannya padamu sebagai hadiah ulang tahunmu yang ke-135. Yah, meskipun orang seperti dirimu tidak membutuhkan bidak itu, tapi anggap saja itu cindera mata berharga dariku'. Namun apa yang terjadi? Bertepatan dengan hari ulang tahunku ketika aku baru saja pulang, yang kudapat bukanlah hadiah, tapi berita buruk tentang kematiannya." Ekspresi Diehauser penuh dengan kesedihan. "Cleria. Dia tahu semuanya tentangku, dan dia tahu bahwa kekuatanku adalah asli. Bagiku, dia adalah anggota keluarga yang lebih penting dari apa pun. Dia selalu kuanggap sebagai adikku sendiri."

Setelah itu, eksrepsi Diehauser berubah drastis. Tenang tapi tegas.

"Fakta ini baru saja aku pastikan kebenarannya, sudah jelas bahwa Cleria dihapus. Adik sepupuku dilenyapkan, dia disingkirkan oleh pemerintah Dunia Bawah, bukan dengan alasan menjalin cinta dengan pemuda dari geraja tapi karena kalian takut informasi tentang bidak raja terbongkar ke publik. Karena fakta ini tertutupi, aku tidak tahu tentang kebenarannya. Aku hanya diberitahu bahwa sepupuku Cleria telah meninggal. Untuk mengatasi kecurigaan, aku mengandalkan jaringan informasi Rizevim dan akhirnya mengetahui kebenarannya."

Semua cerita sudah menjadi jelas, maka sekarang saatnya untuk memperjelas apa yang tersisa.

"Aku tidak akan menyangkal kebenaran yang kau katakan itu, memang begitulah yang sebenarnya terjadi." Ajuka berdiri dengan tegaknya setelah maju selangkah. Aura iblis meningkat drastis untuk mengintimidasi lawannya. "Sekarang, kembali ke pembicaraan awal antara kita, untuk tujuan apa kau mengikuti Rizevim?"

Bukannya takut, Diehauser malah merasa tertantang. "Bukankah sudah jelas? Aku mengikuti Rizevim karena dia memberiku kebenaran, kebenaran yang kalian semua tutup-tutupi."

"Dan sekarang kau sudah tahu kebenarannya, apa langkahmu selanjutnya? Apakah kau akan melakukan balas dendam."

"Itu bukan hal yang seharusnya anda tanyakan. Bukankah jawabannya sudah pasti? Aku pasti akan membalas perbuatan para iblis tua terhadap adik sepupuku."

"Apakah aku juga termasuk musuh bagimu?"

"Tergantung, Maou Ajuka Beelzebub-sama. Jika anda menghalangiku, anda akan aku anggap sebagai musuh."

"Kheh." Ajuka mendecih. "Kalau begitu aku saja yang putuskan. Kita adalah musuh, mengerti?. Kau berbahaya bagi tujuan aliansi, dan oleh sebab itu kau harus disingkirkan."

Diehauser dan Ajuka, sebenarnya tidak memiliki permasalahan yang harus diselesaikan. Memang benar Ajuka lah yang membuat evil piece bidak raja, tapi setelahnya diserahkan kepada pihak manajemen penyelenggara Rating Game. Ajuka hanya inisiator saja. Kemudian kegelapan rating game yang mengakibatkan kematian Cleria, murni tanggung jawab oleh para iblis tua yang mencari keuntungan dari Rating Game. Kasus itu sendiri sebenarnya diluar wewenang Empat Maou Underworld.

Akan tetapi, karena sekarang dalam situasi perang dimana Fraksi Iblis sebagai bagian dari Aliansi harus menghadapi musuh dari seluruh dunia untuk mewujudkan Imperium of Bible, maka masalah balas dendam yang bisa menimbulkan kekacauan di internal Fraksi Iblis dan meruntuhkan martabat Underworld harus sebisa mungkin dicegah. Untuk itulah, Ajuka Beelzebub tidak bisa membiarkan Diehauser berbuat sesukanya.

Dinding lorong bergetar dan mulai retak hingga suara gemuruh terdengar cukup kencang karena tak sanggup menahan luapan aura kekuatan Ajuka maupun Dieuhaser.

Hampir saja akan terjadi pertarungan, kalau saja Diehauser tidak menurunkan tensinya.

"Ada apa, Kaisar Bellial?" tanya Ajuka heran. "Kau ingin menyerahksn diri begitu saja?"

"Tidak. Tapi bisakah pertarungan ini kita tunda dahulu? Aku memiliki urusan dengan Rizevim yang harus segera dituntaskan."

"Huh?"

"Tenang saja, aku tidak berminat dengan tujuan akhir Rizevim maupun kebangkitan Trihexa. Aku juga tidak akan kabur darimu dan seluruh Fraksi Iblis karena kalian adalah target balas dendamku."

Akhirnya Ajuka juga menurunkan kekuatannya. "Ohhh, baiklah."

Tanpa sepatah katapun, Diehauser berbalik badan lalu melangkah pergi dengan tenangnya.

Sebelum Diehauser lenyap di balik kegelapan lorong, Ajuka sempat bersuara. "Holy Grail masih ada pada Rizevim bukan? Apa kau akan meminta orang tua itu untuk menghidupkan kembali adik sepupumu?"

Namun Ajuka tak kunjung mendapat jawaban. Rupa-rupanya Diehauser telah pergi, atau mungkin saja sang juara itu sama sekali tak tertarik untuk menjawab pertanyaan Ajuka.

Sepeninggal Diehauser, tersisalah dua orang.

Sang Ratu Naga Sisik Biru, Tiamat, berjalan hingga tepat di samping kiri Ajuka.

Ajuka bersuara lebih dulu, "Apa kau ingat dengan insiden pencurian Pulau Langit Agreas dari Underworld? Tempat yang sekarang kita pijak ini."

Tiamat mengangguk.

"Rizevim Livan Lucifer berhasil melakukan aksi pencuriannya karena saat itu Kaisar Bellian membantunya sebagai musuh dalam selimut. Diehauser mau melakukan itu, karena dia menginginkan kebenaran yang Rizevim tawarkan."

"Kalau begitu, Diehauser Bellial sudah terbukti berpartisipasi dalam serangan teroris. Bukankah itu sudah lebih dari cukup sebagai alasan untuk menyingkirkan dan mengeksekusi dia, tapi kenapa tadi kau membiarkannya pergi?"

"Jujur, aku masih berharap kalau dia mau berada disisi Aliansi, paling tidak sampai perang selesai."

"Sepertinya itu mustahil. Dia membelot justru karena ia menemukan kebenaran."

"Entahlah, lihat saja nanti. Sesungguhnya, bukan untuk alasan itu aku membiarkan dia pergi dari sini. Jika sampai terjadi pertarungan serius antara aku dengannya di tempat ini, aku tidak bisa memperhitungkan sampai sejauh mana dampak yang akan timbul. Bukan masalah kerusakan ataupun kehancuran lingkungan, tapi karena Tim DxD juga berada disini. Azazel sedang menjalankan suatu rencana, dan itu lebih penting ketimbang menyingkirkan Diehauser."

"Terus, kita disini untuk apa?"

"Kita berdua berada disini sebagai pengamat di belakang panggung untuk memastikan tujuan Azazel dengan Tim DxD berhasil. Aku bisa yakin kalau Azazel dan timnya mampu mengatasi Rizevim beserta para naga jahat legendaris, tapi dipihak seberang masih ada dua orang pendukung Rizevim yang paling merepotkan, Uzumaki Naruto dan Uzumaki Hinata, mungkin akan jadi masalah serius kalau kita tidak ikut turun tangan."

"Kau masih dendam pada gadis berambut indigo itu rupanya, Ajuka?"

"Gh!, rasa haus pertarungan dan dahaga penasaranku tak akan pernah hilang selamanya sebelum aku bisa membalas kekalahanku pada perempuan itu."

"Begitu ya? Baiklah."

Ajuka tersenyum tipis, temannya yang satu ini bukan tipe perempuan cerewet kebanyakan protes yang membuat telinga terasa pedas.

Tiba-tiba Tiamat mengangkat topik lain, "Oh ya, omong-omong tentang Evil Piece Bidak Raja. Katakan padaku, berapa bidak Raja yang ada saat ini?"

"Produksinya sudah berhenti selama tahap pengembangan awal karena aku berpikir hanya akan jadi masalah kalau bidak itu terlalu banyak dibuat, seperti pemberontakan terhadap pemerintahan misalnya. Akan sangat sulit kalau ada pemberontak menggunakan bidak itu. Tapi tidak ada yang tahu metode untuk produksinya, kecuali aku. Yang telah aku ciptakan sebanyak 18 buah. Selain satu buah yang dibawa oleh Diehauser, 8 diantaranya ada pada iblis-iblis penting yang menggunakannya untuk Rating Game."

"Kalau boleh tahu, diapakan evil piece bidak raja sebanyak itu?"

"Untuk saat ini, kedelapan iblis penting itu sedang berada di arena perang. 9 bidak sisanya, aku simpan sendiri. Tapi sebelum kesini, semua bidak itu aku serahkan pada panglima perang Aliansi, Maou Falbium Asmodeus. Tidak menutup kemungkinan, dia telah membagikan bidak-bidak itu pada prajurit iblis terbaik. Sebenarnya untuk tujuan Aliansi, Imperium of Bible, aku ingin memproduksi bidak raja itu lagi dalam jumlah lebih banyak. Tapi karena proses pembuatannya membutuhkan waktu lama, jadi aku batalkan saja. 17 buah Bidak Raja kupikir sudah lebih dari cukup."

"Hoooooo, kalau benar begitu, kalau ada 17 iblis pemegang bidak raja di arena perang yang kekuatannya sekelas dengan Maou, aku tidak bisa membayangkan kehancuran seperti apa yang akan dialami oleh lawan berperang Aliansi. Konoha dan sekutunya sebentar lagi pasti akan musnah"

"Ahahahaaaaa."

Ajuka tertawa dengan senangnya.

.

.

.

-Arena Perang, Underworld. At 04.47 am-

Langit di ufuk timur yang tampak dari padang berbatu kini mulai menampakkan rona-rona tipis merah jingga, tanda bahwa malam hampir berakhir. Matahari tak lama lagi akan terbit. Perkiraan sekarang mungkin pukul 5 menjelang subuh.

Siapa yang akan mengira bahwa situasi akan berubah tak terduga seperti ini, jauh kalkulasi dari realita.

Gaara..., yang sekarang sedang berdiri di atas kepala salah satu Heavenly Dragon Generasi Pertama, Naga Langit Osiris yang bangkit dari alam kematian, tak pernah dirundung panik dan tekanan seberat ini selama hampir dua dekade dia bernafas.

Godaime Kazekage dari Sunagakure itu baru saja mendengarkan siaran terakhir melalui jaringan komunikasi pasukan Koalisi Konoha dan sekutu-sekutunya, yang mungkin akan menjadi siaran terakhir kalinya sebelum perang berakhir, siaran yang mengumumkan bahwa markas utama mereka dalam hitungan kurang dari lima belas menit lagi akan diserang oleh pasukan Aliansi Tiga Fraksi secara besar-besaran.

Akan sangat panjang kalau harus mendeskripsikan dan menarasikan semua yang telah terjadi tapi jika diringkas dalam beberapa kata, maka dapat dikatakan bahwa Konoha dan sekutu-sekutunya kini berada di ambang kekalahan.

Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Padahal pada perang hari pertama sepanjang siang hari mereka menang dengan hasil yang luar biasa.

Pemuda bersurai merah itu tidak habis pikir. Dan ini mungkin apa yang bisa ia pikirkan untuk saat ini dan untuk terakhir kali sebagai seolah Komandan Tertinggi pasukan Koalisi Penentang Imperium of Bible.

Gaara mengangkat tangan kanannya keatas dengan telapak tangan terbuka, sebagai isyarat bahwa dia hendak mengumumkan sesuatu kepada sekitar 5000 prajurit yang berbaris rapi di belakangnya.

"Kalian semua, tanpa menyisakan satu orang prajurit pun, pergilah dari sini! Kembali ke Tanjung Harapan dan bantu pasukan kita yang tersisa disana untuk mempertahankan Gerbang Teleportasi! Ulur waktu seberapapun kalian sanggup agar markas bisa bertahan lebih lama dan membuat strategi baru!"

"..."

"..."

"..."

Terdengar bisik-bisik tidak jelas diantara para pasukan. Perintah ini!? Tidak mungkin kan?

"Kenapa diam!? Ayoooo!"

"T-tapi... Kazekage-sama?" Aoba, si shinobi berkacamata hitam yang telah aktif sejak jaman Sandaime Hokage, mewakili yang lainnya mengungkapkan ketidaksetujuan.

Heiii! Dia dan 5000 prajurit lainnya yang berada disini adalah prajurit dengan loyalitas sangat tinggi terhadap pemimpinnya. Tidak akan semudah itu mereka mau meninggalkan Gaara seorang diri, sementara di depan sana ada tiga orang musuh yang untuk melawannya hanya dapat terjadi dalam imajinasi, hampir mustahil menjadikannya sebuah kejadian nyata.

"Aku tidak menerima protes!" Gaara berseru tegas.

"..."

"..."

Masih terdengar bisik-bisik yang tak jelas, namun gampang diketahui kalau semua suara-suara itu bernada enggan menuruti perintah sang komandan.

"Aku katakan untuk terakhir kali, pergi! Kembali ke barisan belakang!"

Akhirnya tak dapat dan tak mungkin dibantah, satu persatu dengan gerakan perlahan 5000 prajurit yang ada berbalik badan memunggungi sang komandan dengan berat hati. Langkah kaki pertama terangkat sangat pelan, barulah pada langkah ke sepuluh mereka bisa berlari pergi. Tidak terbersit sedikitpun niat dalam hati mereka keinginan untuk meninggalkan sang komandan, pun tak ada rasa senang karena mereka telah meninggalkan titik paling riskan dan berbahaya dalam perang ini.

Mereka semua diperintahkan mundur sebab walaupun sama berbahayanya dengan menjaga gerbang teleportasi di Tanjung Harapan tapi ancaman kematian di titik ini hampir pasti. Berada di ambang kekalahan, maka siap-siap saja dengan kematian yang sebentar lagi akan datang menjemput, tapi berkat perintah Gaara paling tidak mereka semua bisa menambah masa hidup beberapa menit atau beberapa jam ketimbang mereka masih bertahan di tempat ini.

Sekarang..., tersisa lah Gaara seorang diri.

Ah tidak! Masih ada Naga Langit Osiris yang menjadi tunggangannya.

Kedepan sana, keberadaan tiga orang sosok terkuat dari Aliansi Tiga Fraksi semakin dekat. Hanya tinggal 1 km dari posisi awal mereka yang jaraknya 5 km.

Si Merah Crimson Sirzech Gremory, iblis terkuat dari Underworld sekaligus orang terdepan dalam Four Great Satan dengan menyandang gelar Lucifer. Beserta Ratunya, Grayfia Lucifuge si Silver-Haired of Queen Annihilation, ratu terkuat di Underworld. Dan terakhir Malaikat teragung dari Surga, The Archangel yang menjadi tangan kanan tuhan, Michael.

Tugas Gaara sebagai komandan tertinggi pasukan koalisi di titik ini, adalah menahan pergerakan musuh yang paling berbahaya. Gerakan tiga orang itu berhasil dihentikan berkat gertakan dari entitas Naga Langit Osiris, mereka berhenti lalu mendirikan tenda istirahat. Mereka tidak mundur atau pulang karena menilai bahwa Osiris bisa jadi bahaya besar bagi lebih dari 100 ribu pasukan Aliansi di seberang sana, tapi mereka tidak maju menyerang bukan berarti tidak sanggup melawan. Sirzech dan Michael tidak mungkin berbuat gegabah dan sembarang menyerang. Mereka hanya mengambil waktu istirahat dan bersantai sambil menunggu kejelasan akan kemana arah peperangan berpihak serta menunggu strategi dari markas di Kota Lilith.

Sekitar dua jam sebelumnya, Gaara bisa merasakan pada jarak 4 km di samping kanan adanya pergerakan pasukan dalam jumlah sangat besar.

Pasukan Aliansi diberitakan telah berhasil menembus pertahanan pasukan koalisi di titik C. Zekram Bael beserta pasukan dalam jumlah yang sangat banyak terus merengsek maju dengan rute lurus menuju Tanjung Harapan. Gaara tidak bisa mencegah pergerakan itu karena ia memiliki musuh yang harus dia hadang sendiri, musuh yang tidak bisa dihadapi sembari memikirkan hal lain.

Dan sekarang arah peperangan sudah jelas sehingga ketiga orang itu pun bergerak maju.

Gaara mendesah, "Bagaimana aku akan melawan mereka bertiga sekaligus?"

Kazekage itu tahu, kemenangan baginya tidak lebih dari sebuah khayalan, menjadikannya sebagai realita terdengar hampir mustahil.

Yah, dia memang memiliki Naga kelas surgawi di sisinya. Tapi kalau tiga orang itu mengeluarkan kekuatan penuh dan menggabungkannya, ditambah pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki, pasti akan sulit bagi Osiris untuk bertahan meski hanya satu jam.

"Apa aku harus mengeluarkan dua entitas lainnya?" tanya Gaara pada dirinya sendiri dan langsung ia jawab seketika itu pula, "Tidak. Tidak!" katannya sambil menggeleng. "Mereka masih punya 1 juta malaikat kloning super. Dengan apa aku menghadapi itu kalau semua kartu As dikeluarkan sekarang?"

Tinggalkan saja Gaara, entah akan bagaimana nasibnya di tangan tiga makhluk super yang sebentar lagi akan dia lawan. Besar kemungkinan ia akan mati.

Beralih ke markas pasukan koalisi penentang Imperium of Bible. Tak jauh berbeda dari situasi yang tengah di alami Gaara, disini juga sama paniknya.

"Shikamaru, laporan!"

Hanya ada Rokudaime Hokage Hatake Kakashi, satu-satunya anggota dewan perang yang masih berada di dalam tenda ini. Lainnya sudah berangkat keluar dan terjun ke medan perang.

"Titik A di sepanjang pantai sudah tidak bisa bertahan lagi. Maou Serafall Leviathan dan Seraph Gabriel berhasil dibuat kehabisan tenaga dan tak bisa bertarung lagi dengan pengorbanan Dewi Perang Bishamonten yang terluka parah meregang nyawa dan nyaris mati. Sakura yang kelelahan berat sedang berusaha keras mengobatinya. Kebanyakan prajurit elit lainnya di titik itu telah tewas. Dewi Benzaiten berhasil menyudutkan Seraph Sandalphon dan Metatron serta Lord Forneus, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa setelah datang bantuan tiga iblis kelas ultimate dipihak musuh hingga mengakibatkan dia tewas karena tak sanggup melawan enam orang sekaligus. Vampir legendaris Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade alias Shinobu juga telah tewas. Tapi disaat-saat terakhir dia sempat meledakkan dirinya sendiri, membuat ledakan dahsyat dengan kekuatan yang ia makan dari musuh-musuhnya sehingga membuat ribuan prajurit Aliansi berjatuhan. Arya Kamandanu yang telah diobati sanggup bertarung lagi tapi langsung dikalahkan oleh lawannta sebelumnya, Shouji Okita, bidak Knight Sirzech Lucifer. Lalu..."

"Apa?"

Shikamaru agak berat mengatakannya, "Tenten juga tewas."

Kakashi menunduk setelah mengusap mukanya. Kematian setiap pasukan pasti akan membuat mentalnya terpukul, tapi kalau itu adalah muridnya sendiri maka pukulannya terasa jauh lebih berat.

Masih banyak yang harus Shikamaru sampaikan, "Pasukan Aliansi yang telah menembus titik A, paling lama tiga puluh menit lagi akan sampai di Tanjung Harapan yang menjadi titik pertahanan kita yang paling akhir."

"..." Kakashi tidak tahu harus menanggapi seperti apa.

Shikamaru berusahan tetap tenang meski ia sangat tertekan akibat situasi yang sangat pelik ini. "Aku lanjutkan. Arena perang titik E, medan pertempuran para monster telah sampai pada titik penghabisan. Radjasawardhana dan semua monster kita telah dihabisi musuh. Hanya Kapten Sudjiwo seorang diri yang selamat dan kembali ke Tanjung Harapan setelah dia mengeluarkan ultimate skill dari Sacred Gear Keris Sakti Nogososro untuk melenyapkan 350 monster musuh yang tersisa. Akibat tidak mampu menahan luapan kekuatan yang begitu dahsyat yang konsepnya mirip seperti Juggernau Drive, sacred gear itupun rusak dan hancur. Kemudian ini yang paling buruk. Pasukan Aliansi di titik C yang dipimpin oleh Zekram Bael, sekarang sudah tiba di Tanjung Harapan setelah mereka berhasil melenyapkan semua pasukan kita yang bergerilya menghadangnya di tengah hutan. Kapten Cao Cao, Dewa Yatogami, Lee, Gai-sensei, Kiba, Shino, dan yang lainnya tewas tanpa satupun tersisa."

Kiba, Shino, Lee, dan bahkan Maito Gai, orang terdekat Kakashi sudah tiada, meninggalkan dia hidup-hidup dan tidak bisa berbuat banyak selain duduk di tempat ini. Tidak mungkin ada orang yang mampu mengerti bagaimana kegundahan yang dirasakan Kakashi saat ini.

Menghela nafas berat, Kakashi sebisa mungkin fokus pada yang masih tersisa disisinya. Ia menyandang beban yang sangat berat untuk akhir perang ini. Peluang menang nyaris nol, tapi itu tak akan membuatnya mendekat satu centi pun dengan kata menyerah. Baginya, jauh lebih baik kalah dan mati berkalang tanah daripada menjual harga diri demi memohon perpanjangan usia. Ia kemudian bertanya, "Apa strategimu sekarang, Shikamaru?"

Sang ahli strategi memejamkan mata, "Maafkan aku Rokudaime-sama, aku tidak bisa memikirkan banyak hal lagi. Hanya taktik ini yang bisa aku pikirkan sekarang. Kita yang tersisa akan bersiaga dengan semua kekuatan yang kita punya di dimensi buatan tempat markas kita ini berada. Semua prajurit yang sudah beristirahat setelah bertempur sepanjang siang hari, yang berjumlah sekitar 35 ribu prajurit, akan segera disiapkan untuk pertempuran penghujung perang. Sasuke, Dewi Amaterasu, Yasaka-himesama dan anggota dewan perang lainnya pasti sudah siap tempur di luar tenda ini."

"Baiklah. Kalau begitu, aku juga akan turun." putus Kakashi cepat.

Shikamaru mengangguk, dia pastinya juga akan terjun ke medan tempur meski tugasnya sebagai ketua pusat komando pengatur strategi dan formasi tidak memiliki kewajiban sampai kesitu.

Tidak ada lagi yang dapat dilakukan selain bertempur habis-habisan.

Hampir dapat dipastikan, sebentar lagi perang akbar penghujung dunia akan selesai dan mungkin sudah bisa ditebak siapa pemenangnya.

Di Tanjung Harapan, persis di dekat Gerbang Teleportasi raksasa yang merupakan jalan keluar masuk pasuka Konoha dan sekutu, tengah terjadi pertempuran hebat.

Siapa yang menyangka, Maou Falbium Asmodeus sang Panglima Perang Pasukan Aliansi Tiga Fraksi ternyata juga ada disini.

Dia sedang bersama dengan Zekram Bael, menonton peperangan dari posisi belakang.

"Seperti yang sudah saya duga, Zekram-dono. Anda sebagai iblis paling puncak dari keluarga Great King, pendiri sekaligus kepala keluarga pertama dari Klan Iblis Bael, pasti bisa melenyapkan musuh tanpa perlu pasukan bantuan."

Kapten Cao Cao dan semua pasukannya di titik C dihabisi tanpa tersisa satupun oleh Zekram Bael dan pasukannya tanpa perlu menunggu tambahan pasukan dari markas. Berbeda dengan di titik A, yang mana Falbium mengirimkan 35 ribu pasukan tambahan agar pasukan Aliansi disana bisa merengsek maju.

Begitulah Zekram Bael, sosok yang dikatakan kekuatannya mampu bersaing dengan iblis super macam Sirzech dan Ajuka, seseorang yang pengaruh politiknya bahkan lebih kuat daripada Yondai Maou sekalipun. Ia adalah orang yang telah mengawasi seluruh Underworld sejak cikal bakal adanya para Iblis. Usia dimana ia telah hidup jauh berbeda dengan semua iblis yang ada saat ini. Jika Empat Maou yakni Sirzechs dan yang lainnya adalah cahaya bagi para Iblis maka laki-laki yang dipanggil Zekram Bael adalah bayangan bagi para Iblis.

"Tidak usah terlalu memuji begitu, Falbium. Berkat kau juga, musuh kita jadi tak berdaya. Kau lihat saja di sana."

"Ahahaaaa. Aku hanya memanfaatkan potensi penuh semua kekuatan pasukan yang kita miliki, juga Evil Piece Bidak Raja yang Ajuka titipkan padaku."

Bagaimana situasinya bisa berbalik 180 derajat begini? Membuat Konoha dan sekutunya diambang kekalahan.

Semua itu dimulai pada pukul 1 dini hari. Setelah berjam-jam perang berlangsung, berkat semua informasi yang telah terkumpul Falbium mampu memprediksikan secara akurat bagaimana komposisi kekuatan yang sebenarnya dari musuh yang dia lawan. Bahkan dia mampu membuat perkiraan terbaik tentang bagaimana pola serangan dan taktik perang Konoha dan sekutunya. Dari itulah, dia pun akhirnya bisa menyusun formasi pasukan yang paling tepat untuk memegang kendali jalannya perang. Yang pada ujungnya yaitu pada saat ini, musuh berhasil dipojokkan di Tanjung Harapan. Dia pun sudah memperhitungkan bagaimana sisa kekuatan musuh yang berada dibalik gerbang teleportasi raksasa itu.

Itu semua tidak hanya dicapai dengan strategi Falbium saja. Selain strategi, dibutuhkan eksekutor yang mampu melaksanakannya. Evil Piece Bidak Raja ciptaan Maou Ajuka, benda inilah yang berkontribusi paling besar bagi kekuatan pihak Aliansi. Bayangkan jika ada 17 iblis setara Maou yang bertempur dengan kekuatan penuh, musuh mana yang sanggup bertahan?

Di Tanjung Harapan ini, mulanya memang mendapat perlawanan cukup sengit. Tapi tidak butuh waktu lama, pertempuran dititik ini pun hampir selesai dengan kemenangan bagi pihak Aliansi dengan datang dan bergabungnya resimen pasukan Aliansi yang melalui jalur A setelah menembus barikade pertahanan pasukan Dewi Perang Bishamon.

Seperti yang Falbium perkirakan, pasukan yang bertahan di Tanjung Harapan ini adalah pasukan koalisi yang bergerak mundur setelah memenangkan perang di titik B dan D. Dengan sejumlah data yang ia miliki, mudah baginya menyusun strategi untuk membalas kekalahannya pada sore hari. 5000 pasukan bantuan yang dikirimkan Gaara pun seolah tak berarti apa-apa.

Lalu...,

Inilah sentuhan akhirnya.

Gerbang Teleportasi yang merupakan jalan menuju markas pasukan Konoha dan sekutu, dilindungi oleh Jikukan Ninjutsu: Kamui sehingga tak bisa dilewati kalau Kakashi yang merupakan pemiliknya tidak memberikan akses.

Tapi, bukan berarti tidak ada cara untuk pergi kesana. Ada seorang ahli sihir atau Spellcaster dari kubu Aliansi yang tergabung dalam tim penyusun strategi bentukan Falbium yang berhasil menemukan solusinya.

Copy Spell.

Sebuah teknik sihir yang mampu meniru teknik sihir lainnya. Sihir ini terbatas penggunaannya, tidak digunakan dalam pertarungan dan konfrontasi langsung karena prosesnya lama. Teknik ini sangat efektif untuk meniru sihir lawan, terutama teknik yang memerlukan lingkaran sihir sebagai langkah aktivasi. Cara kerjanya ialah dengan memindai materialisasi sihir lawan selama sihir itu terlihat mata atau dapat dirasakan pancaran energinya, menguraikan formulanya, kemudian menemukan rumusnya sehingga sihir itu bisa ditiru persis sama. Jika teknik ini dilakukan pada lingkaran sihir teleportasi, maka lingkaran sihir teleportasi tiruan bisa dibuat dengan titik koordinat tujuan yang saling berhimpitan.

Dan sebab itulah, satu buah gerbang teleportasi raksasa yang baru telah berdiri dengan megahnya. Berjarak sekitar 250 meter dari gerbang raksasa milik Konoha dan sekutunya. Jika diperharikan, bentuk dan ukurannya persis sama bahkan bisa dibilang seolah keduanya adalah dua sisi cermin yang memantulkan bayangan.

Gerbang itu hampir selesai.

Ah, tidak! Baru saja selesai.

Sebagai panglima perang, Falbium dengan nyaring meneriakkan aba-aba.

"MAJUUU! SERAAAAAAANGGGGG!"

Mendekati angka 150 ribu pasukan dengan 17 iblis kelas ultimate setara Maou dipihak Aliansi, bagaimana Koalisi Konoha dan sekutunya bisa bertahan hanya dengan dewan perang dan 35 ribu prajurit yang tersisa?

Akan seperti apakah kekalahan yang akan di terima Konoha dan sekutunya karena berani menantang Aliansi Tiga Fraksi?

.

To be Continued...

.

Note : Lama yah? Ufufuuu. Maklumin aja yah, ini bulan-bulan sibuk bagiku. Dan oh ya, untuk update chapter selanjutnya aku tidak bisa menjanjikan kapan waktunya.

Errr, jumlah word untuk chapter ini jauh lebih sedikit dari biasanya kah? Hahahaaaa.

Sebenarnya pun, chapter 84 lebih panjang lagi. Yang telah aku tulis tidak sampai setengah dari draft yang aku rancang untuk chapter ini. Rencanaku pada awalnya, akan lebih banyak adegan fight untuk kelanjutan sesi-sesi konflik kemarin. Kuroka, Vali dengan Issei, Koneko dengan kelompoknya, juga para pemilik pedang suci legendaris. Tapi karena ga cukup waktu, dan kalau kupaksakan menulis bagian itu pastinya update akan jauh lebih lama dari ini. Jadi yaa, aku tulis saja dan update lebih dulu bagian cerita Diehauser Bellial serta mengulas lagi perang Armageddon.

Cerita Diehauser memang tidak terlalu terkait dengan pokok cerita utama, tapi peran dia cukup diperlukan untuk jalan cerita selanjutnya. Lumayan penting lah kalau aku boleh katakan.

Kemudian..., hihihiiiii. Konoha dan sekutunya sedikit lagi bakal kalah dan musnah tuh. 17 Maou, woooooowww. Ayoooo, harus bagaimana yaa kira-kira untuk kelanjutannya?

Ulasan Review:

Apa tim Rias bakal gabung ke tim Naruto dan Sona? Ehm, bisa jadi iya bisa juga tidak.

Rencana Azazel kah? Emm, dia pastinya punya kartu As buat membalikkan keadaan. Mana mungkin ia pergi begitu saja ke sarang musuh tanpa persiapan. Hahaaa. Tapi apakah itu?

Ga ada ih. Azazel ga nguping kok. Dia kan pergi lebih dulu dibanding Tsubaki dan yang lain.

Ada beberapa kok chara DxD yang bisa nandingin Naruto secara personal. Ngelawan Sirzech imbang, ngelawan Brahma dan Zeus hampir kalah. Dia bisa menghancurkan Surga, itu karena dibantu Ophis. Jadi kalau Naruto disebut yang paling kuat di FF ini, kurang tepat sih. Ada banyak aspek yang mesti diperbandingkan.

Karakter dari Jawa muncul lagi tuh, walau cuma namanya doang. Hihihiiii.

Naruto bagi-bagi chakra ke pasukan Konoha dan sekutu? Mungkin enggak deh, cari cara lain aja biar beda dengan ceritanya Mbah MK. Hahahaaa

Ajuka Vs Hinata ya? Memang akan mengarah kesana ceritanya, makanya Ajuka tiba-tiba aku buat meninggalkan medan perang dan mendatangi tempat markas Qlippoth.

Ngomong-ngomong tentang Bidak Raja, tuh aku bahas di atas. Bukan untuk Naruto dan kawan-kawannya, tapi itu kekuatan dari Fraksi Iblis. Makanya Konoha diambang kekalahan, yaa gegara ada 17 iblis kelas ultimate yang kekuatannya setara Maou.

Walburga dan Euclid gampang banget yah kalahnya menurutmu? Iyya siiih. Tapi ahh menurutku ga penting juga kalau dibikin panjang-panjang. Mereka kan hanya karakter minor yang perannya cuma sebagai pelengkap/figuran.

Tentang Sai yang menginfeksi 1 juta malaikat kloning dengan virus di chapter lama kemarin, itu bakal muncul ke permukaan lagi kok. Nyante aja.

Karakter Diarmuid, Servant Rider, serta Gilgamesh yang dulu aku munculkan namanya, pastinya akan aku munculkan juga sebagai peramai perang. Bukan mau nambah-nambahin doang sih, hanya saja aku minjam karakter itu karena aku kekurangan karakter mitologik untuk dimasukkan kedalam cerita.

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita, sebagian lainnya kubalas lewat PM.

Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.

Kemudian, meski telat satu hari tapi tak apa lah. Aku mengucapkan...

SELAMAT TAHUN BARU ISLAM

1 MUHARAM 1439 H

.

.

.