Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya
Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .
Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance
Rate : M
Setting : AU (Alternate Universe)
Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.
Pair : Semua Pair Canon
Sabtu, 2 Desember 2017
Happy reading . . . . .
Sebelumnya. . . .
Dan sebab itulah, satu buah gerbang teleportasi raksasa yang baru telah berdiri dengan megahnya. Berjarak sekitar 250 meter dari gerbang raksasa milik Konoha dan sekutunya. Jika diperhatikan, bentuk dan ukurannya persis sama bahkan bisa dibilang seolah keduanya adalah dua sisi cermin yang memantulkan bayangan.
Gerbang itu hampir selesai.
Ah, tidak! Baru saja selesai.
Sebagai panglima perang, Falbium dengan nyaring meneriakkan aba-aba.
"MAJUUU! SERAAAAAAANGGGGG!"
Mendekati angka 150 ribu pasukan dengan 17 iblis kelas ultimate setara Maou di pihak Aliansi, bagaimana Koalisi Konoha dan sekutunya bisa bertahan hanya dengan dewan perang dan 35 ribu prajurit yang tersisa?
Akan seperti apakah kekalahan yang akan di terima Konoha dan sekutunya karena telah berani menantang Aliansi Tiga Fraksi?
.
To The End of The World
Writen by Si Hitam
.
Chapter 85. Armageddon War, End of The World - Part 9.
.
~Pulau Langit Agreas~
"Haaaaaaaaaaa!"
Kupacu pelepasan senjustu yang telah aku kumpulkan dari dalam tubuhku. Melawan pria itu, tidak ada kesempatan untuk memikirkan rencana rumit apalagi bermain-main, lebih baik langsung tunjukkan kemampuan terbaikku.
Energi senjutsu yang aku keluarkan menciptakan aura hitam keunguan di sekeliling tubuhku, dua ekor tumbuh di belakang pantatku. Inilah wujudku yang sebenarnya sebagai Nekoshou. Aku, -Toujo Koruka, tidak akan mengalah dari pria itu.
"Kau tampak tidak sabaran, Kuroka-neesama."
Apa anak kecil ini tidak tahu siapa musuh yang akan dihadapi huh? "Dengarkan aku, Le Fay-chan. Kalau kita tidak serius, kita hanya akan pulang nama. Itupun syukur-syukur kalau ada yang mengingat nama kita."
"Yayaaa, aku tahu kok." jawabnya sambil mengangguk
"Nah itu tahu! Tapi kenapa kau tak bersiap-siap?"
Bocah penyihir ini menepuk-nepuk kepala seekor golem batu, -Senjata Dewa Kuno bernama Gogmagog, yang dia duduki bahunya, "Gogz-kun dan aku sudah siap dari tadi."
"Hahhhhhhhhhh." Aku menghela nafas berat. Dia ini mau membantuku atau malah ingin mengganggu sih?
Lawan yang harus aku hadapi, -Rudiger Rosenkreutz, telah selesai mengobservasi arena tempur ini. Dia lalu menatapku dan berkomentar "Hm, teknikmu sangat hebat. Mampu membuat dimensi ruang buatan yang terekonstruksi sangat kokoh ini dengan efektif tanpa perlu menghabiskan banyak energi. Ini bahkan lebih baik dari dimensi ruang buatan untuk Rating Game yang diciptakan Maou Ajuka Belzeebub. Teknik sihir ruangmu sungguh hebat, Nona."
"Tch. Aku tidak perlu pujianmu, Tuan Rosenkreutz."
Kutatap garang pria di depanku ini walau hatiku sedikit merasa takut. Dia salah satu iblis yang sangat hebat. Bahkan sendirian saja sebagai King independen tanpa tim, ia mampu mencapai peringkat tujuh Rating Game.
Namun ini bukan saatnya aku merasa takut. Tekadku sudah bulat. Jika tidak sekarang, tidak akan ada lagi kesempatan untuk membereskan urusanku dengannya.
Semua ini kulakukan demi Shirone, adik yang sangat kusayangi, satu-satunya keluarga yang kupunya.
Dimensi ruang kosong ini dominan berwarna keungunan tanpa ada benda lain, lebih mirip dengan kondisi di Celah Dimensi tapi mempunyai kemampuan untuk menyokong kehidupan. Arena ini adalah ciptaanku, jadi akulah tuan rumahnya.
Aku tidak akan kalah.
Aku sekarang dalam mode tempur terbaikku. Aura hitam dari tubuhku ini memiliki kutukan pencemar, pembusuk, pengotor, atau kata-kata berkonotasi buruk lainnya.
Sebutannya Shouki, atau racun rawa. Wujudnya berupa asap yang berwarna hitam keunguan, secara fisik bersifat sangat korosif dan beracun, dan secara spiritual akan menggerogoti, melahap, mengkikis secara perlahan jiwa-jiwa setiap yang hidup karena bercampur dengan senjutsu jahat.
Dengan mode ini, aku bisa bertarung sambil membuat lawan segan untuk menyerangku secara langsung.
"Errrr..., Kuroka-neesama."
Ya ampun, anak kecil ini mengganggu saja. Padahal aku sedang serius. "Ada apa lagi, Le Fay-chan?"
"Emm, bisakah kau agak menjauh dari kami sedikit? Baumu tidak enak, agak busuk-busuk gitu, hehe. Gogz-kun juga tampaknya tidak suka."
Astagaaaaaa...! bocah iniiiiiiiiiii!?
Tak kuhiraukan. Selama dia tidak menyentuhku, tidak akan ada masalah. Biar saja hidungnya menciut, hahaaa.
Baiklah. Aku harus fokus. Pria yang menjadi lawanku itu tampaknya sudah siap bertarung.
Aku mulai!
"Iniiii! Terimalaaaah!"
Aku membuat lingkaran sihir di depan tanganku. Cukup besar dan mengeluarkan serangan sihir petir biru sebagai pembukaan.
Rudiger tak bergerak secentipun. Tapi seketika muncul kubah sihir pertahanan yang melindunginya, yang memancarkan aura kuning. Seolah dia menciptakan sihir hanya dengan suara hatinya saja, tanpa perlu repot melakukan aktivasi atau membuat lingkaran sihir.
Seranganku terhempas begitu saja.
Rudiger, sebagai bidak Bishop keluarga iblis Mamon, pastinya adalah salah seorang iblis petarung sihir terbaik di Underworld.
Aku melanjutkan dengan serangan sihir lainnya. Berbagai atribut alam dari air, tanah, dan api serta banyak teknik kukeluarkan, namun tak satupun yang berguna. Sihir pertahanan Rudiger sangat kokoh.
"Kami dataaaaaanggg!"
Le Fay berteriak nyaring. Dia sudah bergerak rupanya.
Menukik dari atas, Gogmagog yang ditungganinya melayangkan pukulan keras pada kubah pertahanan Rudiger.
Dhuuaarrrr...
Kheh, serangan fisik. Seperti biasa, Le Fay memang penyihir berbakat seperti leluhurnya. Jika itu untuk serangan, maka serangan fisik secara langsung adalah serangan yang paling ampuh untuk meruntuhkan sihir tipe pertahanan.
Lihat saja, kubah sihir pertahanan Rudiger mulai retak.
"Belum cukup rupanya. Ayoo berikan lagi, Gogz-kuuuunnn!"
Mengikuti perintah Le Fay, Gogmagog berkali-kali meninju pertahanan Rudiger.
DuaggDuaggDuaggDuaggDuagg!
"Kalau hanya seperti itu, aku masih bisa menanganinya."
Rudiger menggunakan lebih banyak sihir untuk mempertebal pertahanannya. Dia juga menambahkan sihir regenerasi. Membuat pertahanannya semakin tak tertembus.
Ah, ini semakin menyusahkan.
"Le Fay, Aku punya ide." teriakku.
Bocah itu, bersama Gogmagog melompat ke dekatku.
"Turun!"
"Heh?"
"Turun kataku!"
Menuruti perintahku, Le Fay turun dari bahu Gogmagog.
"Jadi bagaimana sekarang, Kuroka-neesama?" tanyanya.
Le Fay terkejut ketika aku dalam mode ini menyentuh Gogmagog. Aura hitam dari racunku langsung membungkus seluruh tubuh golem itu.
"Heeeeiiii!" si penyihir kecil ini protes. "Gogz-kun bisa mati kalau kau menyetuhnya dengan racunmu."
"Golem ini bukan makhluk hidup, jadi tidak akan terpengaruh racunku. Jika diserang oleh Gogmagog yang diselimuti shouki, kemampuan regenerasi sihir pertahanan orang itu tidak akan berfungsi. Kau sebaiknya juga tambahkan sihirmu untuk memperkuat pukulan Gogmagog."
Le Fay cepat mengerti. Kami pun langsung melakukan rencana itu.
Dan ternyata...,
Dhuuuuuaaarrrr!
Berhasiiiillll.
Horeeeeee...
Pria itu tidak lagi dilindungi sihir pertahanan.
Dia tertawa, "Hahahaaaaa. Kerjasama kalian ternyata cukup hebat. Sangat jarang ada lawan yang mampu menembus sihir pertahananku. Tapi..."
"...?"
"Apa kalian mengira setelah ini menyerangku akan lebih mudah?"
Tch! Tidak perlu diucapkan juga kan! Aku tidak berpikir sedikit pun kearah sana. "Kita lihat saja nanti!"
Dari titik ini, pertarungan sesungguhnya antar penyihir dimulai.
Aku mengumpulkan aura hitam dari tubuhku, memadatkannya menjadi gumpalan asap hitam pekat sebesar bola voli.
"Bisakah kau menahan ini?"
Kulemparkan shouki padanya. Namun...
"Serangan semacam itu tidak akan pernah sampai padaku!"
Shouki-ku tersapu dan lenyap oleh hempasan sihir beratribut angin yang muncul dari ketiadaan.
Pria ini, aku tahu dia sangat mengerikan. Kemampuan spesial yang membuatnya terkenal dan ditakuti banyak orang adalah realisasi teknik sihir yang dia kuasai. Untuk ras iblis pada umumnya, teknik sihir bisa muncul ketika energi spritual dalam tubuh dialirkan keluar baik dengan media lingkaran sihir ataupun metode aktivasi lainnya. Tapi bagi dia, -Rudiger mampu menciptakan sihir cukup hanya dengan dia menginginkannya, cukup hanya dengan kehendak hatinya, seolah jika suara hatinya berkata 'Terjadi', maka terjadilah.
Ini menjadi sebuah teknik pelepasan sihir paling cepat. Perilisan teknik sihir yang melompati banyak langkah atau tahapan aktivasi.
Dari aspek kekuatan murni pun, dia jauh diatasku. Teknik sihir yang dia gunakan dapat dikatakan sangat kuat karena memang dia adalah iblis kelas ultimate yang memiliki jumlah energi spiritual yang melimpah dalam tubuhnya. Ditambah dengan kecepatan pelepasan sihirnya, dia menjadi monster iblis yang sangat mengerikan. Yaaa kalau dipikir-pikir, mustahil bagiku dan Le Fay untuk mengalahkan pria itu.
Selanjutnya, seperti pertarungan antar penyihir kebanyakan.
Aku dan Rudiger saling melempar serangan sihir. Berkali-kali aku menggunakan shouki, serta teknik sihir lainnya. Tapi orang itu mementalkannya dengan mudah. Sedangkan aku sendiri kerepotan menghindari atau menangkis serangan sihir yang dia tembakkan kearahku.
Memandang posisinya berdiri yang tak bergerak dari tempatnya sejak awal, maka akulah yang terdesak di sini.
Meski Le Fay berusaha sekuat tenaga membantuku, tapi itu tidak memberikan perbedaan yang berarti. Seperti seranganku, serangan sihir yang Le Fay tembakkan juga tak ada yang mampu menyentuh pria itu.
Gogmagog?
Batu besar itu sedang melakukan bentrok langsung, saling hantam, saling tinju, dengan seekor makhluk aneh yang tidak jelas bentuknya.
Makhluk aneh itu berwarna hijau, seperti gundukan tanah raksasa tapi memiliki lengan untuk menyerang, kekuatan pukulannya pun sangat dahsyat bahkan menyamai kekuatan Gogmagog.
Sungguh, teknik sihir pria itu sangat mengejutkanku. Dia bahkan mampu menciptakan benda organik hidup dari ketiadaan dengan sihirnya, yang mana teknik ini mustahil dilakukan oleh orang biasa. Menciptakan benda mati dengan sihir mungkin mudah, tapi kalau menciptakan makhluk hidup?
Makhluk hidup tidak hanya tersusun atas materi saja tapi materi itu juga harus melakukan perubahan terus-menerus secara independen didalam dirinya, terspesialisasi dengan peran-peran tertentu yang berbeda-beda sesuai bagiannya, membutuhkan suplai energi untuk bergerak, memiliki kemampuan berpikir atau pemprosesan data, dan sebuah 'nyawa' yang membuat makhluk itu dikatakan hidup.
Penyihir dan iblis-iblis lain hanya bisa menggunakan teknik pemanggilan jika ingin menggunakan makhluk hidup untuk membantu bertarung, itupun jika sanggup mengendalikannya.
Tapi, bagi Rudiger?
Aku tidak habis pikir.
Apa teknik sihirnya itu ingin menyamai tuhan sang pencipta huh?
Lalu pada akhirnya, seperti yang sudah diperkirakan.
Tidak jauh dariku, tergeletak Le Fay yang terluka parah. Syukur dia masih hidup dan bisa sedikit bergerak.
Gogmagog kehabisan tenaga, lalu statusnya nonaktif sehingga tidak bergerak lagi. Dia sekarang tidak lebih dari seonggok patung batu.
Sedangkan aku?
Aku sudah tak berdaya. Kehabisan tenaga, kembali ke mode normal dimana tidak ada shouki yang menyelimutiku, tubuh penuh luka, dan kesadaran yang sudah hampir terlepas.
Katakan lah kalau aku sekarat.
Rasanya, benar-benar menyakitkan.
Belum pernah aku bertarung sampai kondisiku seperti orang mau mati begini.
Tidak lebih dari 15 menit aku dan pria itu saling menyerang dengan berbagai teknik sihir, sampai akhirnya aku tumbang dan menjadi begini.
Sungguh sial nasibku.
Aku sudah berusaha sekuat tenaga, tapi dia hanya dengan berdiri di tempat saja mampu membuatku sekarat.
Ini kah jurang lebar yang menjadi pembeda kekuatanku dan kekuatannya?
"Guhhaaa."
Darah segar kumuntahkan dari mulutku.
"Ohhokk! M-mau ap-pppa lagi, kau?"
Suaraku serak. Sangat sulit mengeluarkannya.
Pria ini sengaja mencekik leherku dan mengangkat badanku cukup tinggi. Sebegitu inginnya kah dia membuatku menderita sampai ajal?
"Nona, kupikir pertarungan kita akan seru tapi ternyata membosankan."
Rudiger menunjukkan raut muka masam beserta sedikit penyesalan.
"M-mmaaf."
"Hah? Kau meminta maaf padaku? Kau meminta maaf pada orang yang sebentar lagi akan mengantarkan jiwamu ke neraka?"
Aku tidak masalah meskipun dia bertanya dengan nada mengejekku. Sebab...
"M-maaf."
"Dasar jalang aneh!"
"Maaf, Tuan."
"..."
"Kau kalah."
... sebab sekarang aku sudah bisa tersenyum.
Pertarungan ini, aku lah pemenangnya.
Aku menaaaaaaannnggg!
Whahahahaaaa...
Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!
Memang, pertarunganku ini bukan pertarungan yang seru apalagi menegangkan. Hanyalah sebatas pertarungan sihir yang tampak membosankan. Tapi...
Tapi...
Mau bagaimanapun menang tetaplah memang.
Kuucapkan kata-kata terakhir padanya, "Selamat tinggal, Tuan Rudiger Rosenkreutz."
Flasssssshhhhh!
Tubuh Kuroka, Le Fay, dan juga Gogmagog hilang seketika dalam cahaya terang benderang.
Yang tersisa saat ini adalah...
Rudiger seorang diri di dimensi ruang buatan ini.
"Apa mereka kabur? Tapi tidak mungkin, bukannya wanita itu ingin menyelesaikannya saat ini juga?"
Pria itu bermonolog sendiri.
Dia hendak mengaktifkan lingkaran sihir teleportasi, namun terjadi keanehan.
Tidak ada koordinat yang terhubung.
"Kenapa ini? T-teleportasinya." tanyanya terheran-heran.
Tidak ada dua titik koordinat yang terhubung, menjadikan sihir teleportasi mustahil dilakukan.
Berbagai macam cara Rudiger coba, tapi tak ada hasil. Ia bingung. Padahal ini hanyalah dimensi ruang buatan biasa, tapi kenapa sihir teleportasi tidak bisa diaktifkan?
Dan keanehan tidak berhenti sampai disitu saja.
Pemandangan visual dimensi ruang berubah, yang mulanya serba ungu kini warnanya menjadi serba putih. Konstruksinya juga ditata ulang bersamaan dengan terdengarnya suara-suara mekanik bak mesin uap jaman dulu. Awalnya yang berupa lapangan luas, kini menjadi bangun ruang berbentuk kubus dengan panjang sisi 10 meter.
Dimensi ruang buatan ini sekarang lebih pantas dikatakan sebagai sebuah kamar kosong tanpa satupun perabotan.
"T-tidak mungkin!"
Rudiger mulai panik. Dia berjalan kedepan, menyentuh dinding ruangan yang mengurungnya. Tapi ternyata dinding berwarna putih itu bukan materi karena tidak bisa disentuh. Benda fisik yang mengenainya, hanya akan dilewatkan tanpa halangan.
Itu bukan dinding biasa, mirip semacam portal.
Rudiger meyakinkan dirinya untuk melompat menembus dinding itu.
Hap!
Dan hasilnya...
Rudiger melihat pemandangan ruang kamar yang sama seperti yang tadi.
"Apa maksud semua ini? Apakah ini teknik sihir? Atau ilusi?"
Dia melompati lagi dinding di hadapannya. Dan sama seperti sebelumnya, ia tiba diruangan yang sama persis.
Rudiger menggeleng, lalu menjawab pertanyaannya sendiri. "Ini bukan sihir, bukan pula ilusi. Tapi... Bagaimana mungkin?"
Rudiger mencoba ke arah lain, ke dinding yang di samping. Namun hasilnya sama saja. Dia muncul di ruangan yang sama lagi. Bahkan ketika dia melompat tinggi keatas dan menembus langit-langit ruangan, dia malah muncul dari lantai. Lalu ketika dia menghentakkan kaki dan menembus lantai, dirinya jatuh dari langit-langit.
Pria ini mulai kehilangan ketenangannya. Ia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi padanya.
Masih belum menyerah, Rudiger kali ini menggunakan sihir. Dia menembakkan aura sihir yang sangat besar ke arah dinding. Bukan menghancurkan tapi aura itu hanya menembusnya. Sama seperti benda fisik, ternyata dinding ruangan juga akan membiarkan energi sihir menembusnya tanpa halangan.
Rudiger mencobanya sekali lagi, sembari ia berkonstrasi untuk merasakan kemana serangan yang ia lepaskan itu pergi.
Apa yang terasa oleh Rudiger?
"Aku sama sekali tidak mengerti!?"
Rudiger merasakan kalau sihir yang ia lepaskan melaju lurus, berkali-kali menembus dinding, berkali-kali melewati ruang kamar berbentuk kubus yang sama persis, dan semakin jauh.
Artinya...
"Apakah aku terkurung dalam perangkap!? Wanita ituu, kurang ajaaarr!"
Tinggalkan Rudiger, pada saat yang bersamaan di suatu kamar apartemen di Pulau Langit Agreas.
Aku, -Kuroka, kini tengah terbaring lemas dan tak bisa bergerak.
Le Fay yang kondisinya sedikit lebih baik dariku menunjukkan kasih sayangnya dengan merawatku.
"Tidak perlu, Le Fay-chan. Urus dirimu dulu! Kau juga terluka cukup parah."
Hanya kesadaranku yang masih ada, dan pita suara yang masih bergetar sehingga aku bisa bicara.
"Tak apa, Kuroka-neesama. Setidaknya aku masih bisa bergerak dan melakukan sesuatu."
"Yaaaa terserahlah, lakukan saja sesukamu." ucapku ketus.
Diriku berbaring di kasur, sedangkan Le Fay mengobati luka-lukaku yang sangat banyak. Setelah dia merasa cukup mengobatiku, dia lalu mengobati luka-lukanya sendiri sambil duduk di kursi yang menghadap ke kasur tempatku berbaring.
Dia mengajakku bicara, "Sebenarnya apa yang terjadi, Kuroka-neesama? Kupikir kita tidak akan kabur dari laki-laki itu."
"Siapa bilang kita kabur? Dia sudah kalah dariku dan terperangkap selamanya dalam anomali dimensi ruang ciptaanku."
"Eeeeeeehh, kenapa bisa begitu?"
"Karena aku masih bisa bicara dengan lancar, akan aku jelaskan agar kau tidak penasaran, Le Fay-chan."
"Nah, begitu dong." Le Fay memasang ekspresi penuh tanda tanya. Anak kecil ini nampak sangat imut kalau sudah dalam mode ini.
"Coba kau bayangkan, kau memiliki kotak yang sangat banyak. Lalu kotak-kotak itu kau susun kedepan, kesamping, dan keatas dengan sangat rapi sehingga membentuk tumpukan kotak raksasa. Dalam tumpukan itu, setiap kotak akan berhimpit sisinya dengan enam kotak lain disekitarnya yaitu didepan dan belakang, sebelah kiri dan kanan, serta diatas dan dibawahnya. Nah, lalu bayangkan si Rudiger berada di dalam salah satu kotak itu, kotak yang berada di tengah-tengah tumpukan."
Le Fay mengangguk-angguk. Anak kecil yang pintar ini pasti bisa mengimajinasikan penjelasanku dalam otaknya. Sebab jika tidak bisa membayangkan hal semudah itu, maka orang itu pastilah orang bodoh. Apalagi jika sudah berumur..., bodoh sekali.
Aku melanjutkan, "Nah Le Fay-chan, apa yang akan terjadi jika Rudiger menembus salah satu sisi kotak?"
"Dia akan berpindah ke kotak di sebelahnya."
"Tepat sekali. Lalu kalau dia melakukan itu lagi."
"Maka dia akan ke kotak yang di sebelahnya lagi."
"Jadi...?"
"Rudiger-san tidak akan bisa keluar dari tumpukan kotak-kotak itu sampai kapanpun."
"Hampir betul. Tapi jika Rudiger telah sampai pada kotak yang paling terluar atau disisi luar susunan kotak-kotak itu, maka dia akan bisa keluar."
Le Fay mengangguk paham.
"Kau membuat perangkap dengan prinsip itu untuk mengurung Rudiger-san, betulkan Kuroka-neesama?"
"Hu'um" anggukku padanya. "Jika aku membuat susunan 10 ruang bertumpuk seperti susunan kotak-kotak tadi, maka tidak sampai semenit Rudiger akan keluar. Jika ada 100, pasti membutuhkan lebih lama. Tapi kalau kubuat 1000 atau 10000 atau 1000000 atau 1 milyar, atau bahkan 1 trilyun ruang yang tersusun seperti kotak-kotak itu, Rudiger perlu waktu bertahun-tahun bahkan ratusan tahun agar bisa keluar."
"Ooooh, jadi seperti itu toh? Tapi bagaimana bisa kau membuat dimensi ruang buatan sebanyak itu. Tidak mungkin kan? Membuat satu dimensi ruang buatan saja perlu banyak energi sihir."
"Hahaaaa, siapa bilang aku membuatnya sebanyak itu. Aku hanya menciptakan satu kamar dimensi ruang buatan saja."
"Eeeeeehhhh. Terus bagaimana caranya satu ruangan bisa mengurung orang dengan prinsip seperti itu?"
"Sederhana saja, Le Fay-chan. Aku membuat setiap sisi dinding menjadi saling terhubung. Jika kau melewati dinding di depanmu, maka kau akan muncul dari dinding dibelakangmu. Jika menembus dinding di sisi kiri, kau akan datang dari arah kanan. Lalu jika kau naik keatas, kau muncul dari bawah. Yah, pokoknya kemanapun kau bergerak, kau hanya akan bergerak di dalam satu ruangan itu saja tanpa bisa keluar. Begitu lah caranya aku mengurung Rudiger."
"Aaaah, ini sepertiiiiii... seperti...?"
"Paradoks."
"Yaaa, ituuuu!" Le Fay berteriak girang sambil bertepuk tangan. Apa dia lupa rasa sakit dari tubuhnya yang terluka?
Paradoks adalah peristiwa pertentangan antara dua pernyataan atau dua kejadian yang seharusnya tidak mungkin tapi mungkin terjadi, atau bisa juga sebaliknya. Ada banyak peristiwa yang disebut paradoks di dunia ini, namun hampir semuanya hanya sebatas teori.
Salah satu contoh dari bidang fisika. Misal ada sebuah drum berisi penuh dengan air. Dibagian bawahnya terdapat kran. Jika kran itu dibuka, pasti air akan mengalir sangat deras. Lalu dibuat sebuah modifikasi dengan menghubungkan kran tadi menggunakan selang air. Ujung selang airnya diarahkan ke bagian atas drum.
Bayangkan! Seharusnya jika kran dibuka maka air akan mengalir dengan deras akibat tekanan air dari dalam drum oleh adanya gravitasi. Jumlah air yang banyak di dalam drum pastinya akan menciptakan tekanan hidrostatik yang sangat besar sehingga membuat air mengalir deras di dalam selang lalu air mengalir naik sampai ke ujung, dan keluar lagi untuk mengisi bagian dalam drum dari atas.
Secara logika, itu seharusnya bisa terjadi. Tapi nyatanya setelah dipraktikkan, hal itu sama sekali tidak terjadi.
Contoh paradoks lainnya, dari bidang teologi atau ketuhanan. Seorang dewa yang disembah oleh penganutnya pasti memiliki sifat ketuhanan, salah satunya sifat maha kuasa. Kemudian datanglah suatu pertanyaan, 'apakah dewa sanggup membuat batu yang sangat berat sehingga saking beratnya dewa itu tidak bisa mengangkat batu yang diciptakannya?'.
Ketika dewa itu sanggup menciptakan batu, maka ia maha kuasa. Namun batu yang diciptakannya tidak bisa ia angkat sehingga sifat maha kuasanya menjadi batal. Dewa yang kuasa seharusnya pasti bisa mengangkat batu itu. Namun jika si dewa bisa mengangkat batu itu, maka dia tidak bisa menciptakan batu sesuai permintaan yang artinya si dewa tidak kuasa menciptakan batu berat yang tidak bisa ia angkat.
Nah, pertentangan seperti itulah yang dinamakan paradoks.
Sebenarnya, kasus semacam itu sering diangkat oleh penganut Atheis untuk menyerang umat beragama yang percaya kepada tuhan. Bagi umat beragama yang berilmu, kasus ini tidak akan bisa meruntuhkan kepercayaannya pada tuhan. Atheis bertanya seperti itu dengan dasar akal, maka akalnya orang berilmu pasti bisa memberikan jawabannya. Namun sebagai umat beragama, hatinya tetap berpegang pada imannya.
Kembali pada perangkap yang kugunakan untuk mengurung Rudiger.
"Jadi seperti itulah prinsipnya, Le Fay-chan. Dengan paradoks ini, maka Rudiger akan terkurung di dalam ruangan itu selamanya tanpa bisa keluar. Ruangan perangkap itu khusus kurekonstruksi untuk mengalahkan orang itu. Dinding ruang bahkan kontruksi dimensi ruang buatannya tidak akan hancur oleh serangan fisik maupun sihir karena serangan keduanya tidak mampu menyentuhnya. Aku membuat dinding ruangan dan isi ruangannya terpisah secara dimensi sehingga tidak saling bersinggungan. Dimensi ruang itu juga mampu menahan getaran aura kekuatan spiritual sampai pada tingkat Maou. Yang artinya, butuh kekuatan lebih dari seorang Maou untuk membuat dimensi ruang itu retak oleh tekanan kekuatan. Dan aku tahu kalau Rudiger tidak memiliki kekuatan sebesar itu."
"Whoooaaaaa, kau sungguh hebat Kuroka-neesama. Mungkin bisa aku katakan, kau adalah pengguna teknik sihir ruang terbaik di seluruh dunia." Le Fay memandangku takjub dengan mata berbinar-binar.
"Hahaa, tentu saja." Aku sedikit tertawa sombong. "Namun membuat perangkap itu tidak gampang. Perlu banyak sekali energi untuk merekonstruksinya serta perlu waktu yang cukup lama, sekitar 15 menit. Aku harus membawa target kedalam ruangan itu dulu. Agar Rudiger tidak menyadarinya aku harus membuat pengalihan, bahkan walau harus melakukan pertarungan. Yah, pertarungan kita melawannya tadi hanyalah untuk mengulur waktu sampai perangkap itu siap. Aku membuat kita dikeluarkan secara otomatis dari dalam sana setelah perangkap aktif. Seandainya saja Rudiger membuat aku terbunuh dalam waktu kurang dari 15 menit, maka perangkap itu tidak akan pernah aktif. Dan kau mungkin akan dia bunuh juga, Le Fay-chan."
"Ummm, aku berterima kasih karena kau menolongku."
"Tidak perlu. Kita ini kan satu tim?"
Le Fay mengangguk setuju, "Oh iya, Kuroka-neesama. Kau beri nama apa untuk teknik sihir itu?"
"Paradox Space Jail."
.
Pemuda yang memegang Pedang Suci Legendaris terkuat yakni pedang berjuluk Ultimate Holy Royal King Sword & The Sword in The Stone of Caliburn atau lebih dikenal dengan nama Collbrande, -Arthur berdiri dengan gagahnya, membelakangi sebuah kantor pemerintahan Pulau Langit Agreas dimana ia berdiri di tengah-tengah lapangan yang cukup luas. Setelan jas kerja yang ia kenakan membuatnya tampak sangat maskulin, dan dengan kacamata yang begitu pas dia terlihat semakin tampan.
Sebuah senyum terulas di bibir Arthur. "Tiga anak muda yang memiliki pedang-pedang legendaris."
"..."
"..."
"..."
Baik Kiba, Xenovia, maupun Irina, menunggu pujian seperti apa yang akan dikatakan oleh manusia yang dikenal sebagai Swordman terkuat ini.
"Aku takjub dengan kalian bertiga, juga pada Gremory-ojousama yang berhasil mengumpulkan orang berbakat seperti kalian dan semua pedang-pedang legendaris."
Namun...
"Apakah benar kalian bertiga adalah orang yang layak? Apakah benar kalian bertiga kuat hingga merasa diri kalian pantas untuk menantangku?"
Ucapan barusan begitun menohok kalbu mereka.
Kalimat pertanyaan itu mengandung keragu-raguan yang sangat dalam, bahkan mungkin menyiratkan sebuah ejekan.
Bukan pertama kali mereka mendengar perkataan bernada demikian. Kiba dan Xenovia masih ingat, seseorang yang pernah mengingatkan hal itu secara langung pada mereka.
~Flashback Chapter 72~
Swiiiffft!
Kiba dan Xenovia meluncur dengan kecepatan tinggi. Kiba di sebelah kiri sedangkan Xenovia di sebelah kanan. Menyerang dari depan dengan tebasan pedang horisontal ke arah perut Naruto.
Naruto tampak berdiam diri, tak menghindar atau melakukan manuver apapun meski ia diserang oleh dua bidak knight terbaik sekaligus. Salah satunya bahkan bergerak dengan kecepatan dewa. Naruto menyeringai tipis manakala moment singkat sesaat sebelum tebasan pedang mengenainya.
Buummpp!
"Ha!?"
Xenovia shock. Ex-Durandal yang ia tebaskan seraya melepaskan aura suci dalam jumlah besar ditahan hanya dengan jari telunjuk oleh Narut0.
Bagaimana mungkin?
Di sebelah kiri, Pedang Suci Iblis juga ditahan dengan satu jari.
Naruto yang tak mundur dari posisinya, tersenyum arogan memandang remeh ke bawah pada kedua budak Rias yang memasang kuda-kuda lebih rendah dari tubuhnya.
"Kalian berdua penuh dengan kekurangan! Terlalu bergantung pada pedang saja, tak akan pernah bisa menggoresku. Hanya karena di tangan kalian ada pedang hebat dan legendaris, tak serta merta membuat kalian kuat. Kekuatan sebuah senjata, hanya akan muncul secara nyata saat penggunanya benar-benar kuat baik tekad, keinginan, maupun fisiknya."
"Hentikan omong kosongmu!"
"Kau orang tidak tahu diri!"
Kiba dan Xenovia yang meledak karena amarah, mengeluarkan umpatannya.
"Kalian yang tidak tahu diri!"
Naruto menjepit bilah pedang yang tertahan di jari telunjuk menggunakan ibu jarinya. Dan...
Krakk kraakk.
Pyyaaarrrr.
Kedua pedang itu patah di saat bersamaan.
Kiba dan Xenovia menganga saking terkejutnya.
~Flashback End~
Akan tetapi saat ini...
"Tentu saja kami kuat, kami layak sebagai pemilik pedang-pedang legendaris ini, dan kami pantas mendapatkan kesempatan bertarung melawanmu, Arthur Pendragon."
Kiba mengatakannya dengan lantang. Ia sudah belajar banyak. Benar apa kata Uzumaki Naruto, meskipun orang itu adalah musuh yang sangat ingin dia lenyapkan tetapi sebuah pelajaran berharga tidak memandang dari lidah siapa kata-kata itu keluar.
Begitupula bagi Xenovia, serta Irina yang sudah mengetahui detail kejadian itu.
Kiba melanjutkan, "Ini bukanlah lagi tentang balas dendam, tapi sebuah tantangan!"
Jika dahulu ketika melihat atau mendengar sedikit saja tentang Excalibur, Kiba akan diselimuti amarah dan dendam. Tapi sekarang, ekspresi yang terpancar di wajah Kiba bukan dendam ataupun kebencian, tapi suatu perasaan yang rumit. Keberadaan Arthur Pendragon malah menyalakan semangatnya.
Arthur meletakan tangannya di dadanya dan berkata, "Itu baru benar, kata-kata ini yang ingin kudengar sejak tadi. Seandainya kau tidak mengatakannya, mungkin aku akan membatalkan pertarungan antara kita. Pengabdian seorang swordsman hanya bisa dipahami oleh seorang swordsman lainya. Benarkan itu, Kiba Yuuto-kun?"
Kiba terdiam. Mata mereka berdua saling bertemu dan terasa ada sesuatu yang hanya bisa dipahami oleh sesama swordsman. Sesuatu yang juga dirasakan oleh Xenovia dan Irina.
Mungkin saja penglihatan Arthur lebih tajam ketika mendapat tantangan dari Kiba di aula bawah tanah tadi, yang bahkan Rias pun luput melihatnya padahal ia lah yang paling mengerti Kiba. Itulah pandangan yang hanya bisa dipahami oleh seorang swordman sejati.
Arthur melepas jas kerja berwarna hitam dari tubuhnya sehingga hanya menyisakan kemeja berwarna putih yang bagian lengannya ia gulung sampai siku, lalu melakukan sedikit peregangan. Kini ia telah mengeratkan genggaman tangannya pada Pedang Suci Raja Collbrande.
Sang keturunan sejati dari Raja Arthur dan istrinya penyihir Morgan Le Fay tidak berniat main-main.
Arthur melangkah maju. Hawa dingin menusuk jelas dapat di rasakan oleh Kiba, Xenovia, dan Irina. Mendapat tekanan seberat ini diawal pertarungan, membuat mereka mengucurkan bulir-bulir keringat dingin di punggung.
"-Nah, sekarang waktunya. Tunggu apa lagi? Ayyooo!"
Pertama kali maju, adalah Kiba dan Irina. Meski tertekan oleh betapa kuatnya hawa kekuatan Arthur, mereka sanggup melesat dengan kepercayaan diri tinggi.
Arthur tidak bergerak, dia bahkan tidak menggerakan pedangnya. Dia tidak terlihat membuat celah atau menganggap ini mudah.
Lalu, pedang suci kutukan Kiba mengarah padanya dengan kecepatan tinggi.
Namun, hanya dengan menggunakan satu tangan, Arthur menahan pedang suci kutukan. Melihat pedangnya dihentikan hanya dengan menggunakan tangan, Kiba memunculkan perasaan rumit sambil melihat pedangnya dan wajah Arthur.
Kiba ingin menarik pedangnya, tapi pedang itu tidak mau bergerak. Pedang suci kutukan telah ditahan dengan kekuatan luar biasa
Arthur itu menggelengkan kepalanya sambil bergumam. "Hmhmhmmm. Jurus pedangmu tidaklah buruk. Sangat akurat, dan kau sudah tidak diragukan lagi. Tapi..."
Suara berdentang terdengar di seluruh arah. Pedang suci kutukan Kiba telah dihancurkan hanya dengan tangan kosong.
"...Masih terlalu tumpul. Kau masih belum cukup terlatih. Aku yang lebih tua darimu hanya beberapa tahun saja, melihat perbedaan kita yang terlampau jauh."
Setelah Arthur mengatakan itu, dia mengayunkan lutut ke arah perut Kiba hingga terlempar cukup jauh ke udara.
"Jangan berbicara seolah kau yang paling kuat."
Setelah berbicara, Irina menebasnya dengan Hauteclere.
Namun sama saja, Hautclere pun dihentikan hanya dengan jari.
Irina dan Hautclere terlempar setelah mendapat tinju yang cukup kasar dari Arthur.
"Ini belum selesai!"
Orang yang selanjutnya maju adalah pengguna Durandal saat ini, Xenovia. Dia memegang Ex-Durandal, menggunakan kombinasi kekuatan penghancur Durandal dan Excalibur Destruction untuk menghasilkan kekuatan yang jauh lebih dahsyat.
Kali ini, Arthur telah menggunakan pedangnya. Hanya dengan sedikit ayunan kecil, serangan Xenovia dapat ditahan.
Arthur mulai menunjukkan semangatnya, sedikit lebih dari sebelumnya.
"Selain Collbrande ini, aku juga mengetahui banyak tentang pedang-pedang legendaris lainnya. Dengar!, kekuatan Durandal itu sangat murni. Jika kau telah dipilih untuk menggunakannya, maka kau tidak seharusnya menolak. Terima lah semua kekuatan Durandal."
Berulang-ulang kali Xenovia menebaskan Ex-Durandal, yang berkali-kali pula Arthur menahannya tanpa cela.
"Bentuk pedang itu, apa itu bentuk penampilan yang ingin kau tunjukan?"
"Hmm?"
Mendengar pertanyaan itu, Xenovia membuat ekspresi seperti dia menyadari sesuatu. Xenovia langsung melompat ke belakang, lalu dia dengan serius menatap Ex-Durandal.
Mungkin ada sesuatu yang hanya diketahui oleh para pengguna pedang suci legendaris.
Berbeda dengan sebelumnya, tiba-tiba Arthur menampakkan eksrepsi serius yang sebelumnya tidak pernah dia tampakkan. Dia berdiri menghadap ketiga swordman muda.
"Aku yakin kalian sudah tahu hakikat pedang suci. Tapi anehnya, seolah kalian bukan pengguna pedang suci."
Pedang suci hakikatnya adalah pedang yang menyimpan kekuatan cahaya yang suci, yang pada permulaannya berasal dari kekuatan The God of Bible.
Tuhan dalam Alkitab itu mempunyai kuasa suci, sebuah kekuatan cahaya yang melambangkan segala jenis kebajikan serta menentang segala macam bentuk keburukan, kejahatan, dan dosa.
Kemudian, ia menciptakan malaikat sebagai pelayannya. Semua malaikat memiliki kekuatan cahaya suci karena memang tuhanlah yang memberkati mereka dengan kekuatan itu. Tuhan memberikan malaikat akses untuk menggunakan kekuatannya. Selain itu, ia juga memberikan berkah dan kekuatannya pada manusia-manusia terpilih sebagai pengguna kekuatan cahaya dan pemilik kekuatan suci.
Dalam hal ini -Arthur, Kiba, Irina, dan Xenovia, adalah beberapa diantara sekian manusia yang diberkahi dengan kekuatan itu. Arthur memanglah manusia biasa, lalu Irina seorang malaikat reinkarnasi. Tapi Kiba dan Xenovia yang kini adalah iblis dan seharusnya bertentangan dengan kekuatan suci, masih memiliki kekuatan suci itu karena pada mulanya mereka adalah manusia biasa sebelum direinkarnasi.
Ada dua tipe pedang suci. Yang pertama ialah pedang yang diproduksi secara massal sebagai senjata biasa, yang kemudian disuntikkan kekuatan cahaya murni sehingga menjadi pedang suci. Dan yang kedua, adalah pedang suci sejati yang dimiliki orang-orang yang diberkahi tuhan dengan kekuatan suci dan mampu menggunakan kekuatan itu bersama pedangnya.
Pedang Suci Legendaris seperti Collbrande, Excalibur, Ascalon, Durandal, dan Hauteclere, adalah pedang suci yang sangat kuat dan menjadi legenda karena pemilik aslinya yang terkenal hebat dan mempunyai kekuatan suci yang sangat dahsyat.
Collbrande dan Excalibur merupakan dua pedang milik seorang raja legendaris dari tanah Britania Raya, Raja Arthur dari Camelot. Seorang saint prajurit gereja pembunuh naga terkenal, -Saint George adalah pemilik asli Pedang Suci Pembantai Naga Ascalon. Prajurit kelas Paladin dari Holy Roman Emperor Charlamagne bernama Rolland merupakan pemilik asli Durandal, serta sahabatnya yang selalu bertarung bersamanya, -Olivier adalah pemilik asli Hauteclere.
Pedang-pedang suci legendaris itu tercipta karena antara pemiliknya dan pedangnya ada begitu banyak kekuatan suci yang sangat hebat. Jiwa antara pemilik dan pedangnya seakan terhubung, mereka beresonansi, lalu tumbuh menjadi jauh lebih kuat sehingga muncul lah suatu keajaiban, yang oleh orang saat ini disebut sebagai sebuah 'Legenda'.
Tapi dari Kiba, Xenovia, dan Irina, kekuatan sejati dari pedang-pedang hebat itu sama sekali tak tampak. Persis seperti yang pernah dikatakan oleh Uzumaki Naruto.
Bukan karena pedang-pedang itu yang tidak hebat, malahan sangat hebat, tapi karena pemiliknya lah yang saat ini belum layak.
Ketiganya sudah menyadari itu sejak kata-kata Naruto menghujam jantung mereka. Namun ada periode kosong, dimana sejak saat itu sampai sekarang ketiga swordman ini berada pada titik stagnan. Mereka seperti jalan ditempat karena masih ada sesuatu yang kurang yang belum mereka temukan.
Lalu, berkat bertarung langsung dengan swordman sejati, berkat saling membenturkan perasaan, tekad, dan pendirian dengan petarung pedang terhebat, ketiganya berhasil menemukan apa yang kurang itu.
"Arthur Pendragon, kurasa kami harus mengucapkan terima kasih padamu."
"Ya, itu benar." Sambung Xenovia.
Irina mengangguk, "Aku setuju."
"Tapi..." Ketiganya mengatakannya bersamaan, "Ada hal yang harus kami selesaikan. Sekalipun orang sepertimu mengalangi jalan, kami tidak akan pernah mundur, meski mati menjadi akhirnya."
"Aku akui tekad kalian. Tapi... kalian salah. Pertarungan kita ini bukan pertarungan yang mengharuskan kita untuk mengorbankan nyawa. Aku bukan lawan yang harus kalian kalahkan, sebab musuh yang harus kalian lawan dengan taruhan nyawa ada diluar sana."
"Itu sudah pasti." sahut Kiba. "Namun jika kami tidak bisa melewatimu, maka tidak akan ada kesempatan untuk mengalahkan musuh sebenarnya yang ada diluar sana."
Arthur tersenyum kecil, tampaknya makna tersirat yang tadi tercurah bersama perkataannya tak ditangkap dengan baik oleh Kiba, Xenovia, maupun Irina.
Biarlah. Bagi pemuda dewasa seperti Arthur, ketiga remaja ini masih polos. Biarkan saja mereka menemukan jati dirinya sendiri.
"Baiklah." Tatapan mata Arthur menjadi tajam, "Jika memang itu keinginan kalian, akan aku ladeni."
Pedang Collbrande di tangannya tiba-tiba diselimuti aura suci yang sangat tebal dan padat.
Tanpa ada keraguan, Kiba mensummon Pedang Kaisar Iblis Gram di tangan kirinya, pedang yang dijuluki The Sword of The Sun. Ini memang replika, Gram yang asli ada di tangan Sriegfried dari kelompok Hero Faction yang sekarang keberadaannya tidak diketahui.
Kemampuan Kiba untuk mereplika Pedang Iblis Gram tidak didapatkan secara instan ataupun tidak sengaja. Berkat bantuan Azazel, dengan mengggunakan data-data rahasia yang tersimpan rapi di arsip pusat pemerintahan Ras Iblis, dimana terdapat data dan formula penciptaan Pedang Gram dimasa lampau oleh Kaisar Iblis Gram dan para ahli Alkimia, maka Kiba bisa menciptakan replika pedang itu dengan kemampuan Sword Birth-nya.
Sword Birth adalah kemampuan asli dan pertama yang Yuuto Kiba kuasai sejak ia direinkarnasi menjadi iblis. Setelah mengembangkan kemampuan ini berkat penelitian dan pelatihan dari Azazel di Grigori, Kiba mampu menguasainya dengan sempurna. Sehingga dia pun sanggup menciptakan pedang iblis legendaris sebaik aslinya. Selain Gram, Kiba bahkan juga mampu mereplika pedang iblis legendaris lainnya seperti Balmung, Nothung, Tyrfing, dan Dainself karena data semua pedang itu ternyata disimpan dengan rapi oleh pusat arsip rahasia pemerintahan Underworld.
Pedang Kaisar Iblis Gram ini adalah pedang iblis dengan aura offensif terkuat, begitu besarnya hingga mampu memotong apa saja. Bisa dikatakan kalau Gram adalah versi pedang iblis dari Durandal. Ia pun juga merupakan pedang pembunuh naga. Gram yang asli telah berhasil membunuh salah satu dari lima Dragon-King, -Fafnir, sehingga ia juga merupakan versi pedang iblis dari Ascalon. Dengan kata lain, Gram setara dengan gabungan Durandal dan Ascalon.
Sesungguhnya, ia tak akan mau menggunakan pedang ini. Untuk dia yang sekarang, mustahil menggunakan Gram dengan aman. Pedang itu menyimpan kutukan yang sangat kuat, yang akan melahap penggunanya jika si pengguna tidak mampu menggunakannya dengan benar dan mengendalikannya. Makanya, saat bertarung melawan Grendel ketika berada diwilayah Vampir Tepes Rumania, ia hanya bisa menggunakan pedang ini dalam waktu singkat dengan kekuatan terbatas.
Inilah kelemahannya. Karena replika Gram di rekonstruksi menggunakan data yang persis sama, maka semua hal yang dimiliki Pedang Iblis Gram asli juga ada pada replikanya ini. Termasuk kutukannya.
Kutukan Gram akan menghisap energi dari pemakainya dengan sangat cepat, bahkan sampai habis. Jika sampai habis terhisap, maka dapat dipastikan pemakainnya akan tewas.
Begitulah bertapa berbahayanya Gram.
Arthur sempat mengeluarkan komentar, "Kau yakin menggunakan pedang itu huh?"
Bukannya menggunakan Pedang Iblis Legendaris lainnya yang lebih aman, Kiba malah memilih menggunakan Gram. Meski ini pedang Iblis paling kuat, tapi resikonya juga terlalu besar.
Tapi...
Sepertinya Kiba memiliki solusinya. Dia sudah melewati titik stagnan yang membuatnya terhenti. Di tangan kanannya, tergenggam kuat Pedang Suci Iblis yang ia ciptakan sendiri dengan kekuatannya.
"Kita lihat saja, saat pedangmu dan pedangku beradu."
Kiba perlahan mendekati Arthur, dan sebaliknya Arthur juga melangkah ke depan. Mereka terus berjalan sampai mencapai jarak sehingga pedang mereka saling berhadapan.
Tiba-tiba...
Clang!Clang!Clang!
Tingg!
Claaaangg!
Keduanya menghilang dari titik itu bersamaan dengan dentuman logam yang terdengar dari kedua pedang yang saling bertubrukan. Suaranya bergema dari seluruh arah. Xenovia dan Irina terpaksa melihat ke udara. Itu karena mereka merasa ada sesuatu yang luar biasa sedang terjadi diatas.
Tentu saja...
Dua orang itu sedang ada di udara, dan pedang mereka dengan cepat saling menusuk dan bertubrukan. Dari saat mereka melompat sampai kembali menyentuh tanah, itu jeda waktu yang berlangsung sangat cepat. Namun, di waktu yang singkat itu mereka saling melakukan serangan, rasanya seperti pertempuran yang sangat sengit.
Berbagai teknik ditunjukan oleh masing-masing, dan kedua orang itu dengan penuh semangat saling menyerang. Menebas dari atas ke bawah, menyayat dari bawah ke atas, dan terkadang menusuk, atau menahan serangan, keduanya dengan gagah saling mengayun dan menebas pedangnya, dan juga ada beberapa kali gerakan memotong. Kedua orang itu melakukan pertempuran dengan kecepatan tinggi di udara. Aura yang sangat besar menyelimuti kedua pedang mereka, dan efek dari aura itu, semua bangunan di sekitarnya mulai bergetar dan runtuh.
"...Hebat."
"Ah, luar biasa."
Pujian tadi keluar dari mulut Xenovia dan Irina yang masih menonton. Untuk melakukan pertarungan kecepatan seperti itu, hanya Kiba dengan kecepatan dewanya yang mempunyai kapabilitias di kelompok mereka.
Ada hal yang sangat luar biasa dari diri Kiba, dimana ia mampu bertarung bahkan mengimbangi kekuatan Collbrande dan Arthur padahal tadi pada awal pertarungan Kiba sama sekali tak ada apa-apanya dihadapan Arthur.
Ini peningkatan abnormal yang sangat cepat dan luar biasa.
"Hoooooo, aku mengerti sekarang."
Di sela pertarungan kilat keduanya, Arthur berhasil melakukan pengamatan dan menarik kesimpulan penting dalam waktu singkat.
"Kiba-kun, ternyata kau sudah menunjukkan kekuatan aslimu. Mengkombinasikan Pedang Suci Iblis dengan Gram untuk menghilangkan kutukannya. Aku akui kau jenius."
"Kheh, terima kasih. Tapi aku masih bisa lebih kuat lagi daripada iniiii!"
Clang!Clang!Clang!
Lagi lagi percikan-percikan cahaya meledak-ledak diudara sembari meneriakkan suara dentuman logam yang sangat nyaring.
Kiba telah menemukan sesuatu yang sangat luar biasa. Sebuah trik jenius yang hanya ia sendiri mampu memikirkan dan melakukannya.
Saat ditekan oleh perkataan Arthur, Pemuda Cassanova itu mulai berpikir kebelakang, tentang dirinya dan kemampuannya. Ia pun menyadari bahwa Pedang Suci Iblis ciptaannya, hasil dari Irreguler Balance Break Sacred Gear miliknya yang sanggup menggabungkan kekuatan suci dan kekuatan iblis padahal sejatinya kedua kekuatan itu sangat berlawanan.
Pedang Suci Iblis Kiba memiliki dua jenis kekuatan, yaitu aura suci dan kutukan. Aura suci pedang ini mampu menyerap aura gelap kutukan. Dalam kondisi pertarungannya ini, kutukan Gram lah yang diserap. Dengan begitu, Kiba mampu mengeluarkan potensi penuh Gram dengan aman. Lalu kutukan yang diserap akan muncul kembali sebagai penguatan untuk kutukan dari Pedang Suci Iblis itu sendiri.
Singkatnya, kekuatan Gram bisa digunakan secara penuh dan kekuatan Pedang Suci Iblis meningkat berkali-kali lipat.
Traanggg!
Pertarungan masih berlanjut, dan suatu hal aneh lain masih terjadi.
"Kauuu!" Arthur menampakkan wajah terkejut.
"Aura Suci dari Pedang Suci Iblis ini punya kemampuan untuk menyerap kutukan dan mengubahnya menjadi tambahan kekuatan kutukan pedang itu sendiri. Maka hal yang sama juga berlaku sebaliknya. Kekuatan kutukan pedang ini juga mampu menyerap aura suci dan mengubahnya menjadi tambahan kekuatan sucinya."
Saat Pedang Collbrande saling hantam dengan Pedang Suci Iblis, aura suci dari pedang Collbrande diserap lalu dijadikan kekuatan oleh Pedang Kiba.
"Aku mengerti. Jadi karena itu kau terus semakin kuat padahal kita semakin lama bertarung."
Itu lah yang terjadi. Saat Gram di tangan kiri Kiba mengeluarkan kekuatan penuhnya, semakin banyak kutukan yang keluar. Dan semua kutukan itu diserap oleh pedang satunya di tangan kanan dan menjadi lebih kuat. Pada saat bersamaan dalam pertarungan, Pedang Suci Iblis ini juga mendapat kekuatan dari Colbrande. Pada akhirnya, bukannya kehabisan tenaga, -Kiba dengan menggunakan kombinasi dua pedang ini, malah semakin kuat ketika ia semakin lama bertraung melawan Arthur
Sungguh. Pada kondisi sekarang ini, ia adalah Yuuto Kiba yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Namun, Arthur tak akan kalah.
"Tapi apa kau pernah membayangkan, sampai mana batas kekuatan asli Collbrande ini huh?"
Benar. Collbrande merupakan pedang suci legendaris terkuat dan itu bukan sekedar omong kosong. Meski aura sucinya banyak diserap oleh pedang Kiba, tapi tak tampak ia melemah.
Mungkin inilah apa yang dinamakan, kekuatan 'Pedang Suci Legendaris terkuat ditangan orang terpilih'.
"Heiii! Jangan lupakan aku!"
Xenovia menebaskan Ex-Durandal sehingga memaksa Arthur dan Kiba melompat berlawanan arah. Ia di tengah-tengah.
"Bukan hanya Kiba saja, aku juga sudah lebih kuat dari tadi."
Xenovia menghadapkan badannya ke arah Arthur. Dia memegang Ex-Durandal di depan badannya, lalu membelahnya menjadi dua pedang. Dari Ex-Durandal, dipisahkan menjadi pedang Excalibur dan Durandal.
Sesuatu yang tidak wajar Xenovia lakukan pada saat ini.
Sebelumnya, enam pecahan Excalibur yang telah dimiliki Surga telah berhasil direbut dari Freed Zelzen ketika berkonfrontasi dengan Kokabiel di Kuoh, yaitu Excalibur Destruction, Excalibur Mimic, Excalibur Rapidly, Excalibur Nightmare, Excalibur Transparency, dan Excalibur Blessing. Keenamnya digabungkan menjadi satu, menjadi Pedang Fused Excalibur dengan kombinasi enam kemampuan sekaligus. Lalu pedang ini digunakan untuk menekan aura offensif yang sangat agresif dari Durandal dengan menggabungkannya menjadi Ex-Durandal (Excalibur-Durandal).
Dengan cara demikian, Durandal bisa Xenovia gunakan dengan aman. Semua kekuatan dari pecahan-pecahan Excalibur pun dapat digunakan bahkan menjadi lebih kuat karena beresonansi dengan Durandal.
Tapi...
Yang sekarang Xenovia lakukan?
"Beginilah seharusnya. Aku telah menyadarinya sekarang, setelah tadi kau bertanya padaku apa ini pedangku yang seharusnya. Pedang Ex-Durandal adalah kombinasi yang patut dipertanyakan. Durandal adalah produk yang sempurna, begitu juga dengan Excalibur. Kalau seperti itu, kenapa harus dikombinasikan. Surga mengkombinasikan itu sebagai solusi untukku yang belum bisa mengendalikan aura agresif Durandal dan payah dalam menggunakan semua kemampuan khusus Excalibur sebagai tambahannya. Intinya, karena aku merasa masih lemah dan bukan petarung tipe teknik. Tapi sekarang aku tidak akan menyangkal itu lagi. Aku meyakini kalau aku sangat berbakat menggunakan dua pedang. Aku percaya dengan kekuatanku dan inilah hasilnya."
Itu benar, Xenovia telah kembali ke gaya lamanya. Excalibur Destruction + Durandal, atau Durandal + Ascalon. Sejak awal, Xenovia adalah petarung dua pedang.
Dalam sekejap, kedua pedang suci itu mulai memancarkan aura suci yang luar biasa. Auranya terus meningkat, dan sepertinya tidak akan berhenti. Aura yang dilepaskan sangatlah suci dan kuat, membuat orang disekitarnya bergetar. Ini adalah sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dirasakan dari Xenovia.
Xenovia mengatakannya dengan lantang, "Esensi dari Durandal hanyalah kehancuran."
Xenovia menyilangkan kedua pedangnya ke langit. Aura suci dari Durandal dan Excalibur dilepaskan. Cahaya silau yang dipancarkan dari kedua pedang itu menutupi seluruh area sekitar hingga mencapai ke langit. Berbentuk silang yang mirip dengan salib putih raksasa. Kedua pedang suci sedang menghasilkan aura suci yang luar biasa. Semburan aura suci itupun bergerak menuju Arthur. Apapun yang dilaluinya pasti akan terbelah.
"Cross Crisis, itulah nama jurus terkuatku."
"Bagus," Arthur tersenyum senang. Sebagai sesama pengguna Pedang Suci Legendaris, ia sangat ingin melihat pedang suci yang sepadan dengan pedangnya.
Muncul aura kuning emas yang berkilau mengelilingi tubuh Arthur. Aura yang sama juga menyelimuti Pedang Suci Raja Collbrande yang dipegangnya, bahkan lebih pekat dan menyilaukan.
"Karena kau memaksaku, maka akan kuperlihatkan Nobel Phantasm Collbrande. Jurus terkuatku."
Noble Phantasm adalah serangan terkuat yang dimiliki oleh pengguna item legendaris, apalagi ini adalah pedang terhebat yang pernah ada, Holy Royal King Sword Collbrande atau Caliburn. Sebuah serangan yang benar-benar mengerikan.
Arthur mengangkat pedangnya ke atas, dia arahkan ke langit. Aura emas yang menyelimuti bilah pedang itu semakin menyilaukan. Tidak berselang lama, pilar cahaya berwarna kuning emas tercipta dari pedang itu, menjulang tinggi ke langit.
XXXXXXXXX~~~Calibuuuuuuuurn...!
Setelah meneriakkan nama Noble Phantasmnya, Arthur mengayunkan pedang miliknya ke bawah. Pilar cahaya itu ia jatuhkan pada aura raksasa serangan Xenovia.
Keduanya berakhir imbang dan tertahan di tengah.
Getaran dari kekuatan penghancur kedua aura itu membuat seluruh area kota yang menjadi medan pertempuran berguncang. Bangunan-bangunan mulai runtuh satu persatu, dan goresan lebar juga muncul di permukaan tanah. Pada beberapa titik diudara muncul robekan, dan pola kaleidoskop bisa terlihat dari sana. Itu menembus ke celah dimensi dimana Pulau Agreas ini disembunyikan.
Apapun yang mau dikata, yang tampak hanyalah kehancuran dan kerusakan. Terlalu banyak kekuatan yang bertubrukan sehinggan menimbulkan efek guncangan. Sungguh menakutkan, jika ini dunia dimana mereka berdua dibesarkan, hanya mereka yang bisa mengerti apa itu kekuasaan dan kekuatan. Pertarungan ini tidak bisa ditiru oleh orang yang tidak mengetahui arti sebenarnya dari kekuatan.
Xenovia bangga karena berhasil mengeluarkan kekuatan sedahsyat tadi. Namun kebanggaannya runtuh seketika saat matanya menangkap pemandangan kondisi tubuh Arthur yang jauh lebih baik darinya.
Pakaian Xenovia robek dibeberapa tempat karena tumbukan kekuatan barusan, bahkan tidak sedikit luka goresan dikulitnya. Tapi diseberang sana, yang berbeda dari Arthur hanyakah kemeja putihnya yang kini lumayan basah karena keringat. Selain itu tidak ada, masih sama seperti sebelumnya.
Namun, tentu saja...
"Masih ada lagi eh?" tanya Arthur dengan nada senang.
... tentu saja belum selesai.
"Aku juga akan maju!" Ucap Irina yang tiba-tiba saja sudah berdiri disamping Xenovia. "Aku memang tidak memiliki kekuatan penghancur sedahsyat Xenovia, tapi aku adalah pemilik pedang Hauteclere. Pedang dengan kekuatan pemurnian tanpa batas. Dan seperti Syair kuno dari Britania, aku tidak bertarung sendirian tapi aku ada untuk bertarung mendampingi pemilik Durandal, yaitu Xenovia, -sahabatku."
"Kau benar." Xenovia menatap kesamping kirinya, "Kau memang sahabatku, Irina."
Irina mengangguk.
Lalu Xenovia mengeluarkan sesuatu dari inventori sihirnya. "Mungkin ini tidak terlalu membantu, dan juga kurang sesuai dengan teknikmu. Tapi pakailah."
Xenovia menyerahkan sesuatu... Itu Pedang Dragon Slayer Ascalon! Tanpa ragu, Irina menyambutnya.
"Jangan lupakan aku, karena aku juga belum selesai"
Kiba pun maju dan berdiri disamping kanan Xenovia.
Kini mereka akan bertarung lagi, kali ini dengan keseriusan yang sesungguhnya.
Collbrande Vs Durandal+Excalibur+Gram+Holy Demon Sword+Hauteclere+Ascalon.
Meski jumlah pedang tak seimbang, tapi pemenang akan ditentukan dari kualitas.
Swiifftt!
Seketika, semua orang mengilang dari pandangan mata.
Arthur sendirian melawan Kiba, Xenovia, dan Irina sekaligus. Saat mereka akan menyentuh tanah dan ketika mereka benar-benar menyentuh tanah, tanpa ada waktu untuk bernafas, mereka langsung lari ke depan dan pedang mereka berbenturan lagi. Melesat ke samping sambil saling menyerang.
Akibat saling serang itu, kawah yang besar tercipta di tanah, dan tanahnya juga hancur lebur. Banyak bagian dari tubuh mereka berempat yang sudah berubah, terdapat goresan di kulit dan robekan pada pakaian meskipun masih belum ada yang terkena serangan langsung.
Saat jeda sejenak untuk menarik nafas, Collbrande memunculkan aura tenang dan Arthur tiba-tiba menusuk asal ke udara kosong. Lalu, sebuah lubang tercipta di udara, dan pedangnya masuk kedalam lubang itu.
Xenovia, Kiba, dan Irina terheran-heran dibuatnya. Sampai akhirnya...
"Awass!"
Kiba pertama kali menyadarinya, dan secepat kilat dia menangkis bilah pedang yang muncul dari ketiadaan dan menyasar punggung Irina.
Itu sebuah teknik khusus, yang mana Arthur membuat lubang di udara seperti sebuah portal pemangkas jarak-posisi dan langsung mengirimkan serangannya ke musuh. Sebuah teknik sihir ruang-waktu.
"Xenovia, Irina! Konsentrasikan kerjasama bertarung kita untuk saling melindungi!"
Kiba mengkomando, formasi bertarung mereka seketika berganti. Mustahil bagi mereka untuk mendeteksi serangan cepat dan tak terduga dari teknik milik Arthur, tapi dengan saling melindungi mereka bisa bertahan.
Ada banyak sekali teknik, serangan mendadak, dan diatas semua itu, kekuatan dari pedang Collbrande sungguh mengerikan. Walaupun jumlah mereka bertiga, tapi melawan Arthur yang hanya seorang diri dengan satu pedang saja sangat merepotkan.
Pertarungan terus berlanjut, dan untuk kesekian kali mereka mengambil jeda untuk mengisi paru-paru dengan suplai oksigen sebanyak-banyaknya. Mungkin mereka bertarung dalam kondisi seperti orang yang sedang menyelam, menahan nafas beberapa saat untuk berfokus pada gerakan-gerakan dan serangan kilat.
Tapi...
Tiba-tiba semuanya berakhir.
Arthur melompat lebih jauh kebelakang dan serta merta menurunkan pedangnya.
Kiba, Xenovia, dan Irina jadi penasaran.
Arthur mengatur kacamatanya, dan tersenyum sambil berkata, "Luar biasa, sungguh. Tapi, mari berhenti. Jika terus dilanjutkan, aku tidak bisa merasakan getarannya."
Arthur mengatakan sesuatu yang aneh, tapi tampaknya ketiga anggota tim DxD itu mengerti, dan ikut menurunkan menurunkan pedangnya pula.
Kiba membungkuk sejenak dan berkata, "Maaf."
Xenovia dan Irina pun juga melakukan hal yang sama.
Senyum Arthur makin lebar, "Mungkin jika kita bertemu lima atau sepuluh tahun lagi, pastinya ini akan jadi pertarungan yang sangat seru. Tapi kalau kita paksa melanjutkan, tentu hanya akan berakhir menyedihkan. Benar bukan?"
Itu benar. Mereka bertiga paham maksud Arthur. Jika melanjutkan, tentu mereka tidak akan bisa melakukan hal lain lagi setelah ini, padahal mereka masih memiliki tujuan yang harus dicapai dimasa depan.
Masih membekas di kepala kalimat yang pernah mereka dengar dari mulut Naruto. 'Kekuatan sebuah senjata, hanya akan muncul secara nyata saat penggunanya benar-benar kuat baik tekad, keinginan, maupun fisiknya'.
Kini, ketiganya sudah mampu memunculkan kekuatan sejati dari senjata masing-masing setelah berhasil meluruskan tekad dan mempertebal keinginan serta ditunjang oleh fisik yang layak.
Akan tetapi jika itu semua dihadapkan pada Arthur, masih lah belum cukup. Hal dasar yang membedakan mereka adalah usia, yang mana Arthur merupakan pemuda dewasa sedangkan mereka bertiga masih remaja. Ada jurang pemisah yang cukup lebar, yang meski perbedaan umur tidak terlalu jauh tapi yang pasti perbedaan pengalaman mereka sangatlah nyata.
"Kalau begitu, karena kalian sudah membuatku senang hari ini aku akan memberi kalian hadiah." Arthur membuka inventori sihir, dan sebilah pedang dia ambil dari sana. "Ini, terima lah."
Xenovia menangkap pedang yang dilemparkan Arthur padanya. Dan membuat matanya melotot seketika. Begitupula dengan Kiba.
Irina menunjuk pedang itu dengan wajah tak percaya, "I-ini kan? Ex-x-x-x-x-calibur Ruler!"
Xenovia memandang lurus ke arah Arthur, "Kau yakin memberikan ini?"
Excalibur Ruler adalah pecahan terkuat dibandingkan enam pecahan lainnya.
"Aku tidak sedang bercanda. Lagipula, jika kau memiliki lengkap tujuh pecahan Excalibur, maka kau bisa menggabungkannya dan menjadikan mereka sangat hebat, pedang asli milik Raja Arthur selain Collbrande yaitu Pedang Suci True Excalibur."
"..."
Xenovia tak bisa berkata apa-apa.
Arthur berbalik dan mulai melangkah pergi.
Tapi sebelum itu,
"Aku ingin mengatakan sesuatu, yang mungkin saja akan mengubah perasaan dan tujuan kalian saat ini."
Ketiga orang itu mematri raut muka heran.
"Di luar sana, ada pedang replika dari pedang-pedang suci legendaris di tangan kalian. Memang tidak sekuat aslinya, mungkin hanya seperlimanya saja. Tapi seandainya kalian tahu untuk tujuan apa pihak Surga menciptakan hal itu, maka..."
.
.
.
-Arena Perang, Underworld. At 03.57 am-
Dini hari di Semenanjung Harapan yang berselimutkan cahaya bulan, tidak kurang dari 4000 prajurit Konoha dan sekutunya bertarung mati-matian demi mempertahankan Gerbang Teleportasi Raksasa. Mungkin ini akan menjadi akhir tugas mereka, baik hidup ataupun mati. Markas tidak boleh ditembus bagaimanapun caranya atau perjuangan mereka akan menjadi sia-sia.
Salah satu titik yang cukup dekat dengan laut agak sepi dari huru hara perang. Di atas sebuah tebing yang bertahun-tahun dihempas ombak namun mampu bertahan dari erupsi, perempuan berambut ungu panjang dan tiga rekannya berjenis laki-laki yang tergabung dalam sebuah regu kecil sedang bertarung sengit melawan seorang prajurit gereja, Exorcise terkenal yang diakui kemampuannya meski umurnya sudah tidak lagi muda.
"Yugao-san, apa kau punya rencana?" tanya salah satu pria.
ANBU Konoha itu menggeleng, dia sudah kehabisan akal. Semua teknik ninja dan teknik pedang yang ia miliki tak bisa menggores sedikitpun badan lawannya.
Kini mereka berempat menjaga jarak aman dari musuh.
Rekan yang lain ikut bicara, "Kardinal Agung Deacon Edwald Cristaldi adalah nama orang yang kita lawan, satu dari dua monster gereja yang selalu muncul dan memenangkan pertarungan-pertarungan dengan orang gila yang sangat kuat." Sebagai vampire yang merupakan musuh alami exorcise gereja, tentu ia kenal nama-nama yang seharusnya ditakuti dan dihindari.
Yang ditakuti dari Cristaldi bukan hanya orangnya saja, tapi juga pedang yang dimilikinya. Dia adalah pengguna Excalibur generasi sebelum Xenovia, dan tentu saja dia adalah pengguna Excalibur terbaik setelah pemilik aslinya, -Raja Arthur, mewariskan pedang itu selama berpuluh-puluh generasi.
Sebagai Exocise, Cristaldi hanyalah manusia biasa. Namun dia adalah manusia yang mengasah potensinya sampai batas maksimal sehingga menjadi sangat kuat. Berhadapan dengan sepuluh iblis kelas atas sekaligus menjadi perkara mudah baginya.
"Hati-hati!"
Yugao mewaspadai pergerakan lawannya.
Cristaldi maju beberapa langkah dengan perlahan.
Sebelum ini, exorcise itu telah menunjukkan banyak teknik mematikan yang merupakan kemampuan khusus dari Excalibur.
Meskipun Excalibur di tangannya hanyalah replika dan kekuatannya hanya seperlima dari aslinya, tapi pedang itu memiliki semua kemampuan Excalibur asli. Tujuh kemampuan dari pecahan-pecahan Excalibur. Dengan dia sebagai pengguna Excalibur terbaik, maka kata 'replika' pada pedangnya menjadi tak ada maknanya.
"Kalian tetap di belakang! Aku yang akan maju." perintah Yugao. Dia melesat maju dengan tolakan kaki kanan yang sangat kuat, "Haaaa!"
Yugao menghilang dari pandangan mata. Itu bukan karena kecepatannya tapi karena jutsu transparansi yang ia pelajari dari almarhum kekasihnya, Gekkou Hayate.
Dia hanya shinobi ANBU kelas menengah yang sekarang diperintahkan untuk terjun langsung ke medan perang. Statistik kekuatannya berada pada level shinobi rata-rata. Dia bukan prajurit yang seharusnya melawan musuh sekelas Cristaldi karena perbedaan levelnya terlampau jauh.
Pada saat yang sama, tubuh Cristaldi juga menghilang dan tak lagi terlihat. Itulah kemampuan khusus dari pecahan Excalibur Transparency.
Clang!Clang!Clang!
Hanya percikan cahaya yang nampak dari kemunculannya yang tiba-tiba di titik-titik yang tak terduga.
Yugao pada dasarnya adalah shinobi tipe sensor, jadi ia tetap dapat mengetahui posisi Cristaldi meski tak terlihat. Cristaldi pun sebagai swordman, punya insting bertarung yang sangat terasah.
Mikazuki no Mai
Yugao merapal jutsu, dan dirinya yang tak terlihat membuat dua bunshin yang juga tak terlihat mata. Dua jutsu yang dikombinasikan.
Sepertinya Cristaldi mulai kerepotan diserang dari titik buta oleh tiga Yugao. Iapun menggunakan kemampuan khusus Excalibur yang lain, Nightmare. Ilusi yang diciptakannya membuat intensitas serangan Yugao menjadi kacau.
Yugao tertipu oleh ilusi, dimana ada banyak Cristaldi yang terlihat.
Akan tetapi setelah Yugao menggunakan otaknya, ia langsung mengerti. Yang terlihat itu hanyalah bayangan saja. Bayangan ini tidak seperti Bunshin no Jutsu yang dapat melakukan sesuatu, tapi hanya sebatas bayangan pengecoh mata. Jadi, Yugao menutup matanya dan berkonsentrasi pada mode sensor.
Tepat, Yugao menemukan dimana posisi Cristaldi yang asli. Tapi...
Hendak menyerang, lagi-lagi Yugao mendapat kesulitan. Kecepatan Cristaldi meningkat berkali-kali lipat karena kemampuan khusus Excalibur Rapidly. Edwald Cristaldi benar-benar terlalu tangguh untuknya, dan Excalibur itu sangat merepotkan.
Yugao melompat mundur dan kembali pada rekan-rekannya, tubuhnya kembali terlihat setelah dia melepas jutsu Tranparansi.
Di seberang sana, tubuh tegak Cristaldi juga sudah terlihat.
"Uskup Edwald Cristaldi, bisakah dipercepat?"
Suara permintaan barusan terdengar dari orang tua yang duduk menunggu di batang pohon tumbang.
"Maaf, Yang Mulia Vasco Strada. Akan aku lakukan lebih baik lagi."
Dari kata-katanya, pasti posisi orang tua tadi lebih tinggi dari Cristaldi. Ekspresinya berubah. Ia tampak lebih serius dari sebelumnya.
"Ini gawat! Kalian bertiga, pergi dari sini!" perintah Yugao.
"Tapi..." ketiganya enggan menolak.
"Cepat pergi!"
Yugao berdiri memunggungi mereka.
Ketiganya sudah ingin pergi, tapi sesuatu menggelitik hati mereka.
Perempuan melindungi laki-laki?
Yang benar saja!
"Kita hadapi bersama-sama." Ucap mereka bertiga bersamaan, dalam posisi sejajar dengan Yugao.
"..."
"..."
"Baiklah. Kalian bertiga ternyata laki-laki bodoh."
Cristaldi sudah selesai menyiapkan serangan selanjutnya. Di udara, terbentuk gelombang destruktif seperti bola berukuran besar. Partikel-partikel udaranya bergetar sangat kuat, sehingga menyimpan kekuatan penghancur yang mengerikan.
Itulah kemampuan Excalibur Destruction.
"Ayoooo, serang sekaraaaangggg!"
Yugao berteriak seraya melompat maju, diikuti oleh rekan-rekannya. Dia berniat menyerang Cristaldi sebelum orang itu menjatuhkan serangannya.
Namun...
Kaaaboooommmmmm!
Mereka berempat terlambat.
30 detik kemudian barulah getaran berhenti dan permukaan tanah berlubang oleh kawah besar. Sebuah ledakan dahsyat baru saja terjadi.
Empat prajurit tadi, tewas dengan tubuh musnah tanpa sisa. Tak ada daging, darah, bahkan tulang. Tubuh mereka lenyap terurai menjadi partikel sekecil debu.
Jumlah pasukan Konoha dan sekutunya berkurang empat angka lagi. Selamat jalan, Yugao dan tim.
Beberapa saat kemudian...
Orang tua yang tadi duduk santai kini berdiri, lalu berjalan melewati Cristaldi. "Kau masih memiliki banyak kekuatan kan? Jadi ayoo terus maju, Uskup Cristaldi."
"Baik, Yang Mulia Strada."
Sedikit yang harus diketahui, dalam organisasi Geraja Vatikan ada beberapa tingkatan posisi Uskup Agung. Paus adalah pemimpin tertinggi, di bawahnya adalah Kardinal Agung Bishop, lalu Kardinal Agung Pendeta, dan satu tingkat dibawahnya lagi adalah Kardinal Agung Deacon. Itulah kenapa Cristaldi yang merupakan Kardinal Deacon menggunakan sebutan 'Yang Mulia' pada Vasco Strada yang menjabat Kardinal Agung Pendeta.
Tap...
Belum seberapa jauh melangkah, masih di tepi tebing yang lapang, kedua pria berumur itu berhenti.
Kali ini yang menghentikan mereka adalah dua gadis remaja berambut hitam. Yang satu berambut panjang lurus, satunya lagi dipotong sebahu. Wajah mereka sangat mirip, sehingga siapapun akan langsung tahu kalau mereka sepasang kakak beradik.
Vasco Strada merasakan hal yang tidak biasa dari kedua gadis itu.
"Kenapa Yang Mulia?" tanya Cristaldi keheranan.
"Mereka berdua membawa senjata yang berbahaya." jawab Strada sambil menunjuk kedua gadis itu.
Mendengar tebakan yang sepertinya sangat akurat, si adik yang rambutnya pendek menyeringai kecil. "Waaaaah, Pak Tua anda hebat sekali. Meski kupikir anda yang sudah berumur 80 tahun tapi memiliki penglihatan sejernih itu membuatku terkesima."
Berbeda dengan si adik, sang kakak tidak sedikitpun menunjukkan ekspresinya selain tatapan dingin yang menusuk dari wajah datarnya.
"Sebelum kalian di'suci'-kan, alangkah lebih baik kalau kalian memperkenalkan diri." pinta Strada lembut.
Si adik mengangguk. "Ya, memang tidak penting sih merahasiakan identias kami. Perkenalkan, kami berdua adalah Hanyou, makhluk campuran manusia dan youkai. Aku Kurome, dan ini kakakku Akame."
Singkatnya, mereka berdua berada berasal dari Reliji Shinto Jepang. Maka saat tempat mereka berasal sedang berperang, sudah jadi kewajiban bagi mereka untuk ikut bertempur. Dewa-dewa Shinto membutuhkan kekuatan mereka berdua.
"Aku tidak peduli tentang siapa kalian, tapi pedang yang tersarung di pinggang kalian itu! Aku ingin memastikannya."
"Oh, ini?" Si adik mencabut pedangnya, lalu dia acungkan kearah Strada.
Mata Cristaldi memicing, "Itu kan!? Senjata dari jaman kuno."
Tanpa ikut bicara, si kakak juga menunjukkan pedangnya.
"Tidak salah lagi," ucap Strada sambil menatap pedang milik Akame. "Pedang itu, Ame no Murakumo no Tsurugi atau di barat disebut sebagai Sword of Gathering Clouds of Heaven, dan lebih dikenal dengan sebagai Pedang Kusanagi. Pedang itu adalah pedang suci legendaris dari Reliji Shinto. Pedang dari Timur (Jepang) itu adalah rival tangguh pedang suci dari Barat, Durandal dan Excalibur. Sebagai rival, tentu saja kekuatannya setara." Kemudian Strada menunjuk pedang di tangan si adik, "Dan itu, varian dari pedang Kusanagi itu sendiri, yakni Totsuka no Tsurugi, Sword of Length of Ten Fists. Nama lainnya adalah Katana Sakegari atau pedang yang diperuntukkan khusus untuk penyegelan."
Orang itu tua itu mampu mengalanisisnya dengan cepat.
"Bagaimana bisa kalian memiliki pedang-pedang itu?" tanya Cristaldi. Ia sudah mampu mengendalikan keterkejutannya.
"Ini benda warisan turun temurun keluarga kami. Jika silsilah kami berdua ditarik ke atas, maka kami adalah generasi ke-277 keturunan Dewa Susanoo dan Kushi Inada Hime. Leluhur kami, Dewa Susanoo mengalahkan Yamata no Orochi lalu mendapatkan Pedang Kusanagi dari dalam tubuh youkai berekor delapan itu. Jadi, wajar saja kalau kami sebagai keturunannya memiliki pedang ini. Pedang Totsuka dibuat dari pecahan Pedang Kusanagi itu sendiri dengan formula teknik penyegelan tingkat tinggi."
Kurome menjawab dengan berterus terang. Sikapnya selama bicara tampak sangat tenang meskipun hawa kekuatan dari Vasco Strada cukup membuatnya terintimidasi.
Sebuah senyum muncul di wajah keriput Vasco Strada. "Kurasa sudah cukup bicaranya."
Strada memegang replika Durandal di tanganya. Dia mulai melepas pakaiannya. Dibalik pakaiannya adalah tubuh yang kekar dan otot besar, yang bukan milik seorang berusia 80 tahun. Tubuh yang luar biasa. Sungguh, antara tubuh dan wajah keriputnya sama sekali tidak sesuai. Badannya cukup tinggi, menjadikan dirinya seperti seorang raksasa. Bahkan replika Durandal terlihat kecil bila dibandingkan denganya.
Strada melangkah maju. Hawa dingin yang menusuk memancar dari tubuhnya. Tekanan kekuatannya akan membuat siapapun merasakan betapa mengerikan kekuatan orang tua itu.
"Aku yang akan melawannya." Si gadis berambut panjang menghunuskan pedangnya ke arah Strada.
Pertama kalinya Akame mengeluarkan sepatah kata. Sudah diputuskan...
"Maka, aku yang akan melawan pengguna Excalibur itu. Iya kan Nee-san?"
"Hm."
Pada titik ini, kemana kemenangan berpihak tidak akan bisa diprediksi. Sepasang kakak adik, Akame dan Kurome, sebagai remaja merupakan pemain baru dalam dunia penuh pertarungan dan kekuatan. Tidak ada yang tahu seberapa kuatnya mereka. Terlebih, Pedang Kusanagi dan Pedang Totsuka yang legendaris, rival yang sejajar bagi Durandal dan Excalibur.
Strada dan Cristaldi sudah membuktikan ketangguhannya dalam medan tempur, mereka sarat akan pengalaman. Tapi usia mereka sudah tua, usia dimana mereka seharusnya duduk dibalik meja sambil mendidik prajurit exorcise generasi baru.
Walaupun pengalaman Akame dan Kurome masih sangat kurang tapi mereka tampak sangat energik, punya tekad setebal baja, dan usia mereka yang masih muda tentu memiliki masa depan yang panjang. Lagipula pedang mereka asli, bukan replika yang hanya memiliki seperlima kekuatan aslinya
Namun masih ada banyak aspek dan faktor penting lainnya yang perlu diperhitungkan untuk bisa menentukan pemenang diantara mereka. Jadi, menunggu pertarungan ini selesai adalah satu-satunya cara mendapatkan jawaban itu.
Bagi Konoha dan sekutu-sekutunya yang sedang terdesak, keberadaan orang yang sanggup menghadang dua monster gereja pengguna asli pedang suci legendaris pastinya sangat dibutuhkan.
Akan tetapi...
Gereje dan Surga rupa-rupanya tidak berhenti sampai disitu saja.
Di belakang Strada dan Cristaldi, ada lebih dari 1500 orang exorcise kelas atas. Yang kesemuanya memiliki replika pedang-pedang suci legendaris. Tidak hanya Durandal dan Excalibur saja, tapi juga ada replika Ascalon dan Hauteclere serta pedang-pedang suci lainnya.
Memang kekuatan pedang replika itu hanya seperlima aslinya, tapi kalau jumlahnya lebih dari 1500?
Hitung saja sendiri!
Fraksi Surga, Michael, dan malaikat-malaikat lainnya benar-benar menjadi gila kekuatan pada perang ini.
Untuk malaikat menjadi makhluk yang gila kekuatan, dunia yang sekarang benar-benar sudah tidak waras.
Dan dititik lainnya ditambah lagi dengan 17 evil piece bidak raja, yang membangunkan kekuatan setara 17 orang Maou.
Akan seperti apa selanjutnya?
Tidak akan ada yang tahu bagaimana nasib Konoha dan sekutunya setelah ini.
.
To be Continued...
.
Note : Aaaaah, ternyata aku begitu lama hiatusnya yah? Hihiiiii, 2 bulan lebih rasanya. Sorry karena ga ngasih tahu sebelumnya. Dan sungguh, aku memang disibukkan sama kerjaan sehingga ga sempat nulis. Tapi sebagai gantinya, untuk chapter 86 aku usahain secepatnya, kalau ga rabu ya kamis ini.
Yang nyariin tokoh utama, hadeeeh sabar dikit napa. Wkwkwkwk. Sesuai draft, Naruto, Sasuke, Sona, dan Hinata, empat orang ini akan muncul di chapter depan. Pastinya, ada kejutan disana.
Untuk chapter ini, pertarungannya Kuroka dan Arthur ga terlalu penting jadi aku hanya mau bahas bagian akhir saja. Nah, untuk karakter Akame dan Kurome, aku cuma minjem orangnya doang yaaa tapi senjata Teigu-nya aku tinggal. Senjata dan latar belakang Akame dan Kurome tetap aku memakai materi yang ada di LN DxD dan cerita Reliji Shinto.
Harus kalian tahu, aku mempublish chapter ini saat sedang terjadi badai. Do'akan aku, keluargaku, dan rumahku selamat. Amiin
Ulasan Review:
Konoha kalah emangnya yaaa? Hihiiiiii.
Dan untuk situasi yang berbalik total dan karakter-karakter tewas yang kebanyakan `skip`-nya, ada misteri disitu. Siapa yang bisa menebak? Ayoooo. Petunjuknya adalah perkataan Shikamaru pada chapter 81 "Kita tidak akan melakukan pertempuran secara total pada malam hari" dan "Untuk itulah, kami unit informasi dan unit strategi akan bekerja keras". Petunjuk lainnya ialah satu karakter lain yang tak akan kalian duga.
Agak menggelitik aku sih sebenarnya. Ada yang nyaranin biar Gaara dapat power up bisa elemen magnet kek di LN Gaara Hiden. Oh ya ampuuun nih orang, itu di chapter 60 si Gaara bisa mengalahkan Issei mode Cardinal Crimson berkat dia pakai jutsu elemen magnet. Elu telat, hahahaaaaa...
Terima kasih untuk yang ngucapin selamat ulang tahun ke-2 untuk FF To The End of The World ini. Hehee
Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita, sebagian lainnya kubalas lewat PM.
Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.
Kemudian, meski telat satu hari tapi tak apa lah. Aku mengucapkan...
SELAMAT MEMPERINGATI DAN MERAYAKAN
MAULID NABI BESAR MUHAMMAD SAW
1439 H
.
.
.
