Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Kamis, 7 Desember 2017

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . .

Akan tetapi...

Gereje dan Surga rupa-rupanya tidak berhenti sampai disitu saja.

Di belakang Strada dan Cristaldi, ada lebih dari 1500 orang exorcise kelas atas. Yang kesemuanya memiliki replika pedang-pedang suci legendaris. Tidak hanya Durandal dan Excalibur saja, tapi juga ada replika Ascalon dan Hauteclere serta pedang-pedang suci lainnya.

Memang kekuatan pedang replika itu hanya seperlima aslinya, tapi kalau jumlahnya lebih dari 1500?

Hitung saja sendiri!

Fraksi Surga, Michael, dan malaikat-malaikat lainnya benar-benar menjadi gila kekuatan pada perang ini.

Untuk malaikat menjadi makhluk yang gila kekuatan, dunia yang sekarang benar-benar sudah tidak waras.

Dan dititik lainnya ditambah lagi dengan 17 evil piece bidak raja, yang membangunkan kekuatan setara 17 orang Maou.

Akan seperti apa selanjutnya?

Tidak akan ada yang tahu bagaimana nasib Konoha dan sekutunya setelah ini.

.

To The End of The World

Writen by Si Hitam

.

Chapter 86. Armageddon War, End of The World - Part 10.

.

-Pulau Langit Agreas-

Di suatu tempat di pulau yang telah dicuri...

Cardinal Crimson FullDrive...

Issei ingin secepat mungkin menyelesaikan takdir rivalitasnya dengan Vali, sebagai pemilik kekuatan dari sepasang naga surgawi.

Mode bertarung terkuat ini, hasil promosi ke bidak Ratu dengan Cardinal Crimson Promotion.

Armor merah crimson yang begitu tebal dan besar melapisi seluruh tubuhnya. Ia sudah siap tempur.

Sayap terbuka lebar, Issei menengadah ke atas. Ia bersiap untuk terbang.

Jet!

Berkat kecepatan yang luar biasa, dalam waktu singkat ia sudah mencapai tempat dimana Vali menunggu.

Di atas langit, pada ketinggian 1 km dari permukaan Pulau Agreas. Yang berarti keseluruhan Agreas akan menjadi arena pertarungan mereka. Memang harus seperti itu, untuk pertarungan antar perwujudan kekuatan maka sudah sepantasnya lah mereka diberikan arena bertarung seluas-luasnya.

"Kupikir kau tidak akan berani kesini, Hyoudou Issei."

Begitu Issei tiba, ia disambut dengan perkataan sinis oleh rivalnya.

Jika dalam kondisi biasa, mungkin Issei akan langsung tersulut dan terprovokasi. Tapi saat ini, ialah situasi dimana ia harus tahu diri.

Issei memandang lurus pada Vali yang terbang melayang tidak jauh dari posisinya. "Aku tidak akan membuat rekanku, -Ddraig, menanggung malu sepanjang masa karena pernah memiliki pemilik yang disebut sebagai Sekiryutei pecundang."

"Hm? Kau yakin dengan itu?"

"Tentu saja."

"Kheh! Tak kusangka kau datang kepadaku untuk memenuhi takdir Sekiryutei-Hakuryouku dengan motivasi selemah itu."

"Memang kenapa?"

"Apa tidak ada yang lain lagi?"

Issei merasa kesal karena dipermainkan. "Kau maunya apa huh? Sejak aku dilahirkan, aku tidak ada urusan denganmu. Dan aku juga tidak perlu mempertaruhkan nyawa untuk tadir dua naga yang tidak ada sangkut pautnya denganku."

Issei hanya akan mempertaruhkan nyawanya dan bertarung mati-matian jika itu dia lakukan untuk melindungi apapun miliknya yang berharga. Ia memiliki keluarga, ia memiliki teman, dan ia memiliki banyak orang disisinya. Hanya untuk mereka lah, Issei akan berjuang sekuat tenaga mempertaruhkan nyawa.

Ia tidak mempunyai pikiran untuk mempertaruhkan nyawanya demi hal lain, apalagi yang ia anggap konyol seperti takdir rivalitas.

"Sungguh, melihatmu yang sekarang benar-benar membuatku muak. Dulu aku pikir aku bisa berharap padamu menjadi rivalku, tapi nyatanya kau tidak memenuhi ekspektasiku. Kau tidak lebih baik dari sampah!"

"Katakan apapun, aku tidak peduli!"

"Seharusnya sebagai Sekiryutei kau tahu bahwa ras naga adalah perlambang kekuatan. Kekuatan murni. Hanya ada kekuatan di dalam pikiran naga. Dan takdir rivalitas dua naga surgawi, tidak lain melainkan hanya untuk kebanggaan. Impian setiap naga adalah kebanggaan akan kekuatannya untuk diakui oleh eksistensi lain. Jika kau tidak mengerti itu, tidak pantas sampah sepertimu menjadi Sekiryutei."

"Diaaaaaaaaaaammm!" Issei berteriak murka, "Kau pikir dirimu itu siapa hah!? Aku akui bahwa kau jauh lebih kuat dariku. Bahkan dari dirimu yang sekarang, aku bisa merasakan kekuatan yang melampaui imajinasiku. Tapi... jangan kau pikir dengan kekuatanmu kau bisa sesuka hati merendahkanku!?"

Memang begitulah kenyatannya. Issei sudah merasakan langsung tekanan kekuatan Vali. Tekanan kekuatan yang begitu hebat, sangat dahsyat, kekuatan mengerikan yang baru pertama kali ini ia rasakan, yang membuat menggigil, gemetar, bahkan lupa cara bernafas, tak ada beda dengan anak katak di hadapan ular kobra meskipun jika Issei sendiri dalam kondisi kekuatan terbaiknya.

Azazel mengatakan bahwa itu adalah kekuatan Satan Lucifer pertama. Vali sudah mencapai kekuatan maksimumnya dengan menggabungkan kekuatan Lucifer dan Albion. Sudah tak mungkin disangkal, Vali adalah Hakuryuukou terkuat sepanjang masa dari masa lalu sampai masa depan, dan dia takkan terlampaui.

"..."

"Kau lah yang tidak mengerti, Vali Lucifer! Orang yang tidak punya sesuatu untuk dilindungi seperti dirimu, tidak pantas diberkahi oleh kekuatan!"

Rupa-rupanya, kedua orang ini masih belum satu pemikiran. Yang Putih bertarung untuk kebanggaan akan kekuatan, yang Merah bertarung untuk melindungi orang lain.

Idealisme meraka berbeda, sehingga membenturkan perasaan keduanya menjadi hal yang mustahil. Vali tidak akan mengerti Issei, pun sebaliknya Issei juga tak akan bisa mengerti Vali.

Tapi...

Ada satu titik dimana kedua hal itu bisa dibenturkan secara paksa.

Semua itu demi mengetahui alasan sebenarnya dibalik takdir pertarungan dua naga langit.

Merapal mantra singkat, serta merta kekuatan Vali meningkat tajam. Berserta dengan pertumbuhan armor putih keperakan .

Empireo Juggernaut OverDrive!

Vali tertutupi dalam armor putih-perak, memancarkan aura yang begitu dahsyat sampai seolah dia datang dari dunia yang sama sekali berbeda. Dia pantas disebut monster perwujudan kekuatan. Juggernaut Drive yang menempatkan nyawanya dalam bahaya dan memakan umurnya, kini mampu dia ubah menjadi kekuatannya sendiri hanya dengan bakatnya.

"Hyoudou Issei! Mungkin sampai kapanpun kita tidak akan pernah saling mengerti. Jadi, satu-satunya cara untuk mengetahui akhir takdir kita adalah dengan pertarungan."

"..."

"Aku tahu kalau kau membawa benda mematikan ke tempat ini. Saat ini aku melihat keragu-raguan di matamu untuk menggunakan benda yang mengerikan itu, tapi aku... Aku akan menghilangkan keragu-raguan dalam dirimu dan membuatmu bertarung melawanku dengan sungguh-sungguh, dengan seluruh keinginanmu untuk menang dan dengan segenap kekuatan yang kau miliki."

"Ha? Apa maksud ucapanmu, Vali?"

Akan tetapi, Vali tidak menjawab dengan kata-kata. Tapi dengan ini...

Ia mengarahkan tangan kanannya ke arah Issei, dan dia mencengkramkan telapak tangannya.

"Kompres!"

Compression Divider

[DivideDivideDivideDivideDivideDivideDivideDivideDivideDivideDivideDivideDivideDivide!]

Tangan kanan Issei mulai ditekan panjangnya, kemudian ditekan lebarnya. Kemudian lagi dan lagi ditekan panjang dan lebarnya, terus dan terus seperti itu. Tangan kanan Issei terus dibagi dua, terus mengecil.

"Ini? Tidak mungkin! Kekuatan apa ini?" Issei berteriak panik seolah tak mempercayai apa yang terjadi padanya.

Vali mengatakan tanpa ampun, "Lenyaplah!"

Tangan kanan Issei menjadi begitu kecil sampai tak terlihat dengan mata. Hingga akhirnya lenyap menjadi ketiadaan.

Issei telah kehilangan tangan kanannya. Ia sangat terkejut.

Seandainya serangan tadi ditujukan pada seluruh tubuhnya, sudah jelas ia akan mati.

Padahal armor Cardinal Crimson begitu keras, tapi dengan mudahnya Vali remukkan.

Perihal ini tidak hanya karena transformasi Empireo Juggernaut OverDrive Vali saja. Seharusnya kedua transformasi baik Cardinal Crimson FullDrive maupun Empireo Juggernaut OverDrive berada pada tingkatan yang sama. Tapi yang membedakannya adalah, diri Issei dan Vali sendiri. Issei awalnya hanyalah manusia biasa yang direinkarnasi menjadi iblis, sedangkan Vali adalah cicit dari Satan Lucifer Pertama dan mewarisi semua kekuatan Lucifer.

Itulah pembedanya.

Empireo Juggernaut OverDrive yang ditingkatkan oleh kekuatan Lucifer, tentu akan jauh lebih superior.

Jika begini, persis seperti yang sudah Issei perkirakan bahwa dirinya tak akan menang.

Kehabisan akal, hanya inilah cara satu-satunya.

Issei mempertunjukkan sesuatu di tangan kirinya. Benda itu berupa kotak kayu kecil dengan gambar salib yang dililit akar berduri.

"Hooo, ternyata itu kartu truff-mu?"

Provokasi Vali berhasil. Dia berhasil memaksa Issei mengeluarkan semua yang dipunyainya.

"Jika untuk melawanmu, maka aku tak akan ragu menyerahkan nyawaku."

Issei mencengkram kotak kayu itu hingga...

Pyaarrrr.

remuk berkeping-keping. Yang tersisa adalah sebilah tajam logam berkarat.

Vali memperhatikannya seksama, ia mengingat-ingat benda itu. "Paku? Kafan? Cawan? Longinus?" Apapun sebutannya, bendanya sama. "Itu! Artefak suci Surga yang telah lama hilang."

"Benar."

"Aku mencium bau keajaiban dari sana. Nail of Helena. Pasak itu pernah digunakan untuk memaku Jesus di tiang salib. Pasak yang berlumuran dengan darah Jesus."

Vali menunjukkan wajah terkejut. Artefak itu bukan benda sembarangan. Ia dulu pernah berpetualang bersama anggota-anggota timnya untuk menemukan artefak itu, tapi tanpa ada hasil. Entah bagaimana caranya, siapa pun yang memberikannya, kini Paku Helena ada di tangan Issei.

Issei mengarahkan sisi tajam paku itu ke arah dadanya.

"Issei, kau yakin ingin merubah dirimu menjadi monster? Menjadi monster tuhan? Hanya menjadi alat yang akan kau dapatkan jika menggunakan benda itu."

"..." Issei telah menunjukkan keyakinannya. Jika tidak dengan ini, mana mungkin ia bisa mengalahkan Vali.

"Kalau kau menggunakan itu, kau sungguh lebih rendah dari sampah! Hina! Kau hanya akan mengotori kebanggaan kaum naga."

Lalu terdengar suara Albion, "Ddraig, keluar kau! Kau ingin menjadi alat selamanya huh? Jika kau membiarkan anak itu menggunakannya, berarti kau telah mengotori kebanggaan ras naga, kau menodai takdir pertarungan kita berdua."

"Kheh. Lihat dirimu sendiri, Albion! Tidakkah kau sama denganku? Kau sendiri juga membiarkan kekuatan Lucifer melumuri darahmu lalu meresap dalam tulang dan dagingmu! Apa itu perbuatan yang layak bagi seekor naga?!"

Astaga, pikiran kedua naga itu ternyata telah terkontaminasi pola pikir pemiliknya.

Ini buruk.

Bukan pertarungan seperti ini yang diinginkan dari takdir Merah dan Putih.

Pertarungan ini, hanya akan membawa mereka ke tepi neraka.

Issei mengangkat Paku Helena tinggi-tinggi, sambil berteriak...

"Diabolos Dragon, Actived! Haaaaaaaaaaaaaa!"

Jleb.

Paku itu menembus dada Issei, menusuk hingga kedalam jantungnya.

Suara angin berembus di atas ketinggian menjadi suara satu-satunya yang mengisi udara disana.

Lalu perlahan, mulai bermunculan akar berduri dari Paku Helena. Sekejap kemudian, akar-akar itu menjalar disetiap bagian tubuh Issei. Lengan kanan yang tadinya hilang, kini beregenerasi oleh adanya akar berduri tadi dan membentuk lengan baru. Sampai akhirnya, seluruh permukaan tubuh tertutupi oleh akar berduri dari paku Helena. Selanjutnya, seolah sudah sinkron kekuatan Ddraig pun ikut menyelaraskan. Armor merah crimson terrekonstruksi ulang membentuk armor baru. Ekor dan sayap naga tumbuh dari tempat yang semestinya.

Dan setelah selesai...

Wujud Issei telah berubah total. Armor Crimsonnya menyatu dengan warna hitam pekat beserta hiasan yang membentuk sulur seperti akar berduri. Bagian sarung tangan, pelindung kaki, pelindung dada, sayapku memiliki warna crimson dan hitam menyatu bersama, dan bentuk mereka juga berubah. Issei nampal terasa lebih organik daripada crimson armor. Seluruh tubuhnya, armor crimson dan hitam. Sekarang ada empat sayap, dan dilengkapi dengan meriam pada bagian bahu dan punggung.

Apa yang terasa dari Issei adalah kekuatan yang seolah tanpa batas. Kekuatan yang terus menggandakan diri berkali-kali lipat hingga jumlahnya tak mampu lagi diukur.

Benda yang disebut Nail of Helena, adalah benda yang memiliki kekuatan hebat untuk mempengaruhi Sacred Gear, khususnya tipe Longinus. Benda itu sendiri pun tidak bisa disebut sacred gear karena wujudnya asli dan tidak berubah dari sejak awal benda itu ada.

Setelah diteliti oleh Azazel, dia memberikan benda itu pada Issei dan memberi tahu bagaimana cara menggunakannya. Paku Helena memiliki fungsi sebagai Longinus Drive, Suppressor Sacred Gear yang bekerja untuk melakukan loncatan transformasi balance breaker (hyperdrive). Transformasi ini jauh lebih tinggi tingkatannya dibandingkan Juggernaut Drive. Bahkan hasil transformasi mampu mencapai kekuatan asli Ddraig sebelum disegel oleh tuhan ke dalam Boosted Gear, juga membuka kunci pelepasan teknik asli dari naga itu sendiri, Blaze Inferno of Fiery Flame.

Mode ini disebut...

Dragon Divinity Hyperdrive!

Sang Sekiryutei telah selesai dengan transformasinya, dia telah melewati proses Deification atau pendewaan. Esensi keilahian telah mencapai seluruh jiwa Issei. Jika dinilai, kekuatan dia yang sekarang telah melampaui kekuatan The God of Bible, tuhan yang disembah oleh seluruh pengikut Nasrani.

Sungguh, Nail of Helena adalah artefak yang sangat sangat sangat sangat berbahaya.

Vali menatap itu sinis berikut senyum menjijikkan untuk lawannya. Namun dia mulai menyeringai senang. Artinya ia akan mendapatkan pertarungan terhebat yang ia inginkan.

"Jadi itu keputusanmu, Hyoudou Issei. Baiklah, maka aku akan menunjukkan padamu seseuatu yang tak pernah kutunjukkan pada siapapun sebelumnya."

Semua permata di armornya mengeluarkan kehangatan lembut dan cahaya terang yang tak pernah terwujud sebelumnya.

"Aku tidak akan menjadi diriku yang dulu lagi."

Armor perak dari Empireo Juggernau Overdrive secara bertahap mulai membentuk pola hitam legam.

"Aku akan mengambil lagi namaku yang dulu sempat kubuang."

Sayap cahaya di punggung pun juga diresapi dengan pola hitam. Sesudah itu, sepasang sayap baru keluar.

"Lucifer!"

Dua belas sayap hitam legam tumbuh dari belakang Vali, semua tepi armornya menajam, dan menjadi sesuatu dengan bentuk organik. Aura kekuatan Lucifer muncul pada semua permata dari armornya, dan melepaskan kecemerlangan menyilaukan. Armor ini pun terasa sangat organik dibanding armor sebelumnya yang cenderung seperti metal.

"Berlutut lah di hadapan keberadaan cerah dan mulia kami! Diabolos Dragon, Actived!"

Suara yang menggema dari semua permata seperti rusak. Dan kemudian, suara kuat dan agung terdengar!

Dragon Lucifer Drive!

Vali menyebarkan sayap dua belas hitam legamnya sembari armornya merilis kilau putih keperakan dan dia berteriak,

"—Namaku adalah Lucifer. Pewaris darah Maou sejati, Vali Lucifer!"

Sama halnya dengan Issei, Vali pun telah mencapai titik maksimum kekuatannya. Ia telah selesai bertranformasi dan melewati proses Maoufication, dengan kata lain Vali telah menjadi Satan atau Maou sesungguhnya melampaui Empat Maou yang ada sekarang. Jika dinilai dari apsek kekuatan murni, dia yang sekarang jauh melewati kekuatan Satan Lucifer Pertama, pendiri sekaligus cikal bakal Ras Iblis di Underworld.

Ya, inilah kekuatan penuh dari Ddraig dan Albion. Dua Naga Surgawi yang memporak-porandakan Great War ribuan tahun silam kini kembali bangkit seutuhnya. Dua Naga yang dapat dengan mudah menghabisi dan membunuh The God of Bible ataupun Satan Lucifer. Mereka lah sepasang Naga yang sanggup berdiri sejajar dengan Top 10 pemilik kekuatan paling hebat di seluruh dunia.

Babak sesungguhnya takdir pertempuran dua Naga Surgawi, akan dimulai dari titik ini.

Tidak lama lagi, akan terjawab apa alasan dibalik takdir pertarungan Sekiryutei dan Hakuryouku. Kenapa Ddraig dan Albion menjadi sepasang rival.

.

-Arena Perang, Underworld. At 03.27 am-

Titik ini merupakan titik yang sangat penting untuk dipertahankan oleh kubu pasukan Konoha dan sekutu-sekutunya. Jaraknya sekitar 18 km dari Tanjung Harapan dimana Gerbang Teleportasi raksasa Gate of Sun berada. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan oleh Unit pengintai (Recon) dan infiltrator yang diketuai oleh Georg, titik ini akan dilalui oleh pasukan Aliansi Tiga Fraksi yang telah berhasil menembus barikade resimen pasukan pimpinan Dewi Perang Bishamonten di titik A.

Memang masih ada yang selamat dari pasukan-pasukan yang berada di sana, tapi karena tidak mungkin lagi melakukan perlawanan sebab Dewi Bishamonten sendiri sedang sekarat dan beberapa tokoh penting telah tewas maka dengan terpaksa mereka bergerak ke titik aman dan membiarkan barikade di lalui musuh. Sakura Haruno yang merupakan ketua unit tim medis, terpaksa mengambil alih pimpinan dan membawa sisa-sisa pasukan menjauh dari sana.

Oleh karena itulah, titik ini sangat penting untuk dipertahankan demi mencegah hal yang jauh lebih buruk terjadi.

Hanya saja, hanya ada beberapa orang saja yang menjaga titik ini. Bukannya satu batalion pasukan yang harusnya berjaga, tapi hanya satu regu kecil yang dikirim markas pusat.

Regu kecil yang terdiri dari enam orang.

Anko Mitarashi, Shibi Aburame, Chouza Akimichi, dan Hyuga Hiashi.

Anehnya, kenapa pula harus veteran dua kali perang dunia shinobi seperti mereka yang diterjunkan?

Ah, ada juga Elmenhilde Karnstein, -seorang vampir muda dari Fraksi Tepes yang ikut disini. Dia adalah ketua unit distribusi logistik perang dan persenjataan.

Mungkin sangat tidak biasa, pasukan Aliansi Tiga Fraksi yang mesti dihadang jumlahnya mencapai angka lebih dari 35 ribu. Seharusnya jumlah mereka kurang daripada itu sebab resimen yang dipimpin Dewi Bishamonten tidak sedikit menewaskan musuh, lebih dari 12 ribu. Tapi jumlah mereka bertambah lagi dengan pasukan bantuan yang dikirim Maou Falbium dari Kota Lilith.

Menghadang 35 ribu lebih pasukan hanya dengan sejumlah orang? Oooohhh, sangat tidak mungkin.

Ah ternyata masih ada satu yang belum disebutkan. Ada satu nama lagi.

Leonardo.

Dia adalah anggota Hero Faction, pemilik Sacred Gear Longinus peringkat atas, Annihilation Maker.

Dia lah juru kemenangannya.

Dengan kemampuan yang sudah dilatih, Leonardo telah mencapai level dimana dia mampu menyamai pengguna Annihilation Maker sebelumnya.

Ssssssssss...

Lagi dan lagi, terus menerus tanpa ada istirahat Leonardo menciptakan monster-monster hitam yang muncul dari bayangan di kakinya. Setiap monster yang muncul langsung dikirimkan ke barikade terdepan untuk melakukan konfrontasi langsung dengan pasukan musuh. Selain monster, juga ada sistem pertahanan berupa senjata yang mampu bergerak dan berpindah tempat sendiri. Ini mirip dengan Air Defense System yang pertama kali ditunjukkan pada awal perang, tapi kini lebih bervariasi tergantung medan dan kegunaannya.

Jadi ya begitulah situasinya. Leonardo ditugaskan untuk menciptakan monster sementara keempat Shinobi veteran Konoha itu bertugas untuk mengawal. Elmenhilde sendiri, sebagai ketua unit distribusi logistik perang dan persenjataan mengambil tugas di tempat ini untuk mengatur pergerakan monster-monster hitam ciptaan Leonardo, serta mengatur posisi semua senjata itu.

Berkat usaha Leonardo dan kelima orang ini, sudah lebih dari 15 menit pasukan Aliansi yang berjumlah 35 ribu lebih mampu ditahan pergerakannya. Bahkan tidak hanya itu saja, jumlah pasukan musuh yang tewas juga meningkat secara aritmatik. Kini mencapai 3000 lebih.

Enam orang ini hanya perlu menjaga jarak aman dari tempat terjadinya konfrontasi langsung, sembari terus menerus mengirimkan monster-monster hitam dan menembakkan amunisi senjata ke arah kumpulan musuh. Itulah tugas yang dibebankan markas pusat kepada mereka.

Saat merasa keadaan sudah terkendali, Anko coba mengajak seseorang untuk bicara. Mengajak Chouza dan Shibi tak coba dia lakukan sebab dua orang itu terlalu fokus dengan tugas mereka berjaga demi melindungi Leonardo. Mengajak bicara Elmen, dia merasa tidak cocok sebab vampir itu masih anak-anak remaja. Salah-salah dia yang digigit lalu dihisap darahnya.

Jadi, sebab itulah dia mendekati Hiashi lalu mengajak bicara.

"A-anoooo, Hiashi-san." sapa Anko gagap.

Sejak kapan si wanita tipe sadistic macam Anko ini bisa gagap? Sungguh aneh.

"Hm."

"Kira-kira kita bisa menang tidak ya?" tanyanya basa-basi.

"Hm."

Hiasi hanya merespon seadanya. Pertanyaan Anko tadi, bukan pertanyaan yang bagus untuk ditanyakan. Anko mengatakan itu, seakan dia menunjukkan kalau dirinya pesimis dan sudah pasrah kalau seandainya mereka kalah.

Dan juga hei! Tugas Hiashi sangat penting di sini. Pria paruh baya ini tidak datang kemari untuk bersantai, tugasnya bahkan lebih penting dari rekan shinobi lainnya dan pastinya jauh lebih penting dari keberadaan Anko sendiri.

Hiashi dengan byakugannya, sangat diperlukan untuk mengamati pergerakan musuh di depan sana. Dimana informasi yang dia kumpulkan akan sangat berarti bagi Elmen dalam mengatur pergerakan monster ciptaan Leonardo, demi mereka bisa mempertahankan tempat ini.

Lalu...

"Ah, seandainya saja Naruto di sini. Pasti kita dengan mudah bisa memenangkan perang." Ucap Anko berandai-andai. Matanya berbinar-binar penuh harapan. "Anda pasti ingat berita berberapa minggu lalu, saat si bocah pirang itu sendirian menantang semua Maou dengan teknik Rasengan terkuatnya yang sanggup meratakan seluruh Underworld. Whahahahaaaa, jika saja bom resengan itu dipakai disini, kita sudah pasti menang sejak lama tanpa perlu susah payah berperang."

Anko mengkhayal tidak tahu tempat, mulutnya terus saja mengoceh hal tak penting. Memang sih, khayalannya itu ada benarnya, tapi...

Si wanita sadistic ini salah memilih pendengar.

Hiashi jadi teringat dengan putrinya, yang sampai saat ini tak pernah ia ketahui bagaimana khabarnya.

Yah, tentu saja kalau ingat dengan si menantu bodoh yang selalu lekat dengan masalah, maka ia akan lebih mengingat lagi tentang putri kesayangannya.

Tak mendapat tanggapan dari Hiasi, Anko jadi tidak enak sendiri. Ia paham kalau...

"Errr..."

-dan ia pun tak tahu harus bicara apa lagi. Ia memilih diam daripada memperburuk keadaan.

Hinata.

Hinata.

Hinata.

Hinata.

Hiashi berkali-kali menyebut nama putri kesayangannya dalam hati. Sejak mereka pergi meninggalkan Konoha sampai saat ini, tak sekalipun ia pernah melihat lagi rupa wajah putrinya. Hanya ada beberapa berita yang ia dengar dari informan yang ditugaskan Hokage untuk mencari informasi diluar.

Memang tidak ada berita yang menonjol maupun hal mengejutkan tentang Hinata yang ia dengar selama ini. Yang pasti, setiap ada kemunculan Uzumaki Naruto yang membuat seluruh dunia baru menjadi heboh, pasti ada disebutkan nama Hinata minimal sekali sebagai istrinya.

Sebagai ayah, ia tidak mempermasalahkan apapun yang dilakukan putri dan menantunya itu. Ia percaya, ia yakin apapun yang keduanya perbuat pasti demi kebaikan semua orang.

Hanya saja,

sebagai ayah...

Hiashi tak sanggup membendung kerinduannya terlalu lama.

Lalu...

Tiba-tiba.

"Gawat!" Hiashi berteriak panik.

"Ada apa, Hiashi-san?" tanya Shibi.

Chouza dan Anko memasang raut muka khawatir.

Tidak jauh dari mereka, Leonardo dan Elmen juga merasakan hal yang sama.

Ssshhhaaapppp!

Kabooommmm!

Laser hijau melaju tidak jauh dari posisi mereka berada, lalu jatuh dan menciptakan ledakan yang cukup mematikan di belakang sana.

Untung saja tidak satupun dari mereka berempat yang kena.

"Kenapa ini bisa terjadi?" tanya Elmen. Ia tidak habis pikir, seharusnya dengan pengaturan pasukan dan logistik senjata yang tepat, tidak mungkin akan ada serangan tiba-tiba yang mencapai titik dimana mereka berada sekarang ini.

Hiashi mengambil nafas panjang, lalu menjelaskan, "30an ribu pasukan musuh berhenti bergerak. Akan tetapi ada 2000 personel prajurit bantuan yang mampu merengsek maju dengan kecepatan tinggi sembari terus memukul mundur monster-monster hitam kita di depan sana. Mereka juga mampu bertahan dari senjata-senjata pertahanan bahkan menghancurkannya."

Situasi yang tak terduga. Leonardo segera mengambil keputusan cepat. Disini tidak ada kata mundur, sebab kalau mundur maka musuh akan mencapai Tanjung Harapan dan situasinya akan jadi jauh lebih buruk lagi. Oleh karena itulah, ia akan menggunakan semua yang ia punya.

"Haaaaaaaaaaaaa!"

Leonardo berteriak kencang, lalu beberapa monster kolosal dengan tinggi lebih dari 200 meter tercipta dari bayangannya.

Annihilation Maker adalah Sacred Gear Longinus peringkat atas, yang disebut-sebut sebagai 'bug' dalam sistem Sacred Gear ciptaan The God of Biible. Sacred Gear ini dikatakan mampu menghancurkan seluruh dunia jika berada di tangan yang salah.

Cara kerja Sacred Gear ini sederhana, yakni mewujudkan imajinasi penggunanya. Jika penggunanya mampu membuat seekor monster dengan kekuatan tak terbatas dalam imajinasinya, maka Annihilation Maker akan membuat imajinasi itu menjadi nyata dan monster yang diingini penggunanya dengan serta merta tercipta. Sebab itulah, jika penggunanya telah mencapai level tertinggi maka menghancurkan dunia menjadi perkara mudah.

Akan tetapi, Leonardo belum mencapai level itu. Dia masih terlalu muda. Hanya inilah batas maksimum yang mampu dia capai.

Menciptakan 12 monster hitam berwujud titan. Ya, Titan yang kekuatannya sama dengan yang pernah dilawan oleh para dewa-dewi Olympus pada Perang Titanomachy. Titan-titan hitam ini, lebih kuat daripada monster bernama Bandersnatch dan Jabberwocky yang ia ciptakan sebelumnya.

Beralih ke titik yang bersebrangan dengan regu yang dikirim Konoha,

Seperti yang dikatakan Hiashi, ada 2000 pasukan khusus yang bertarung melawan monster-monster hitam Leonardo. Mereka berani maju karena tidak memiliki kelemahan yang menjadi target serang monster-monster hitam itu.

Yaaaa, alasan kenapa 35 ribu pasukan Aliansi mampu ditahan oleh monster-monster hitam adalah karena para monster itu terbagi dalam dua tipe berbeda. Pasukan Aliansi terdiri dari ras iblis, malaikat, dan malaikat jatuh. Jika pasukan iblis yang bertempur, maka monster hitam yang bisa mengeluarkan elemen cahaya yang menghadangnya, tapi jika pasukan malaikat atau malaikat jatuh yang bertarung, maka monster yang mengeluarkan kekuatan demonic yang akan maju. Penampilannya yang berwarna hitam semua membuat kedua tipe tidak bisa dibedakan hanya dengan melihatnya saja, dan lebih dari itu setiap monster diatur pergerakannya sedemikian rupa oleh seorang jenius strategi dan perhitungan.

Tapi itu tidak terjadi pada 2000 prajurit ini yang tidak memiliki kelemahan terhadap monster hitam itu. Sekarang pasukan tersebut dengan mudah mampu membalik keadaan.

Ratusan aura energi di tembakkan secara bersamaan oleh para monster, yang terdiri dari tembakan kekuatan demonic dan kekuatan cahaya.

Setengah dari pasukan terbang ke udara untuk menahan tembakan tersebut.

Ketika mencapai mereka, ratusan suara mekanik menggema bersamaan.

[DivideDivideDivideDivideDivideDivideDivideDivideDivideDivide]

Kekuatan pembagi dua, setiap tembakan monster hitam mereka sentuh dan kekuatan serangnya dibagi menjadi dua hingga habis.

Lalu sebagai balasannya...

Suara-suara mekanik lain menggema lagi bersamaan.

[BoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostExplosion]

Dragon Shot

Ciiuuuuu!

Seribu laser hijau ditembakkan sekaligus.

Kabooommmm...

Kekuatan penghancur yang telah digandakan berkali-kali ternyata sanggup melenyapkan semua monster hitam yang diciptakan dengan Sacred Gear Annihilation Maker.

Mereka adalah...

Para pengguna Artificial Sacred Gear. Sacred Gear buatan yang diproduksi secara massal oleh Grigori, dan yang diproduksi itu merupakan replika dari Sacred Gear Longinus yakni Boosted Gear dan Divine Dividing milik Sekiryutei dan Hakuryouku.

Melalui cara yang sama dengan yang digunakan Euclid Lucifuge, Azazel seorang ilmuan jenius mampu memproduksi benda itu dalam jumlah banyak untuk kebutuhan perang.

Ada 1000 pengguna replika Divine Dividing. Mereka semua melayang di udara dengan sayap biru persis seperti pengguna sacred gear aslinya. Sedangkan 1000 lagi adalah pengguna replika Boosted Gear, yang kesemuanya memakai gauntlet berwarna merah dengan permata hijau di tangan kiri.

Sekarang, kubu Aliansi berada di atas angin.

Gdrgdrgdgrgdgrgdr...

Sebelum mereka sempat bergerak maju, tanah berguncang keras. 12 monster hitam kolosal yang tingginya mencapai 200 meter datang menghadang mereka.

Dan inilah bagian terbaiknya, dari para pengguna sacred gear buatan itu.

Setiap pasukan menyuntikkan cairan ungu di urat leher. Sekejap, gelombang kekuatan melimpah ruah memancar dari tubuh mereka.

Itu benda yang mirip dengan yang pernah digunakan oleh Hero Faction, Chaos Drive. Suatu zat yang mampu memaksa Sacred Gear mengeluarkan lebih banyak kekuatan. Tapi buatan Grigori ini lebih baik karena intisarinya diambil dari Longinus Drive.

Sebagai hasilnya, suara-suara mekanik kembali bergemuruh.

Mass Balance Break!

Vanishing Dragon Scale Mail

Welsh Dragon Scale Mail

Astagaaaa, 2000 orang mengaktifkan Balance Breaker secara bersamaan. Sungguh luar biasa pencapaian ilmuan Grigori.

Dengan seluruh kekuatan ini, melenyapkan 12 Titan hitam mungkin tidak akan sulit.

Mereka semua, armor yang mereka semua kenakan persis sama dengan armor Balance Breaker Issei maupun Vali. Dan tentu saja, mereka lebih kuat karena mendapatkan penguatan dari remah-remah karat pada pasak yang pernah memaku Jesus pada tiang salib dan berlumuran dengan darahnya, Nail of Helena.

Yah, hanya sampai tingkat ini saja transformasi mereka. Tidak mungkin mencapai Juggernaut Drive apalagi yang lebih tinggi sebab dalam Sacred Gear buatan itu tidak terdapat roh Ddraig dan Albion. Tapi, jika mampu mencapai Balance Breaker sekuat ini?, dan kuantitasnya yang mencapai angka 2000?, ini sangat tak masuk di akal!

Sungguh mengerikan. Ternyata selain memiliki balatentara yang mencapai angka hampir 300 ribu pada awalnya, dari ras Malaikat, Malaikat Jatuh, dan Iblis, Aliansi Tiga Fraksi juga memiliki pasukan elit terbaru yang terdiri atas 17 pengguna Evil Piece bidak Raja yang kekuatannya setara Maou, 1500 exorcise kelas atas pengguna replika pedang suci legendaris, serta 2000 pengguna replika sacred gear tipe longinus. Beserta dengan kekuatan asli para petarung murni ketiga fraksi yang menjabat sebagai petinggi dari tingkat Komandan hingga Maou dan Seraph. Dan jangan pernah lupakan, aset terbesar mereka yakni 1 juta malaikat kloning super yang sampai saat ini belum muncul-muncul juga.

Begitulah.

Itulah kekuatan nyata!

Kekuatan penuh yang dimiliki oleh militer Aliansi Tiga Fraksi.

Dengan kekuatan sebesar itu, sama sekali bukan hal mustail bagi Aliansi Tiga Fraksi untuk mewujudkan impian mereka mewujudkan tatanan dunia baru, -New World Order, Imperium of Bible.

.

-Pulau Langit Agreas-

Masih di aula bawah tanah Pulau Langit Agreas, Sona melipat tangan di bawah dada setelah ia membenarkan posisi kacamatanya.

Dia, -Gadis keturunan Bangsawan Sitri ini sedang menunggu bagaimana akhir dari konflik internal di dalam kelompok sahabatnya, Rias Gremory. Bersandar pada pintu besar aula, ia berdiri santai. Sendirian tanpa siapapun dari anggota OSIS bawahannya yang menemani.

Maju sedikit, Koneko telah mengubah sebagian besar penampilannya.

Tubuh perempuan dewasa yang tinggi semampai, langsing namun dengan lekukan-lekukan yang sangat memukau, dan tentu saja dengan dada besar yang sangat menggoda. Telinga kucing dan dua buah ekor menjadi ciri khasnya sebagai youkai nekomata.

Koneko telah selesai melakukan sinkroninasi energi Ki miliknya dengan senjutsu atau touki yang dari alam sekitar. Aura putih kental dari touki yang luar biasa banyak menyelimuti tubuhnya adalah bukti hal itu. Teknik senjutsu ini mengijinkan Koneko mengalami pertumbuhan tubuh sementara secara paksa untuk menaikkan batas maksimal kekuatannya dan memberinya sebuah kemampuan khusus. Auranya terasa jauh lebih tenang dan sejuk dibanding dengan pertama kali ia menggunakan teknik ini, serta tampak bercahaya dan berkilauan.

The Truth Shirone Mode

Koneko sedang dalam mode bertarung,

Bertarung untuk sebuah pembuktian.

"Buchou, Akeno-senpai, Rossweisse-sensei, Gasper-kun, Asia-senpai." Koneko menatap semuanya bergiliran, "Apa yang kalian tunggu? Aku sudah siap sekarang." imbuhnya.

Akeno melirik Rias. Dia tidak punya hak untuk memutuskan.

Si gadis berambut merah tampak kebingungan.

Tidak!

Rias bukannya bingung. Ia mampu mencerna cerita Sona dengan baik, hanya saja sulit baginya untuk percaya. Pun dengan Koneko yang tak disangka-sangka malah melakukan tindakan mengejutkan.

"Buchou..." panggil Akeno. "Rias!" panggillnya lagi karena tak diindahkan.

"A..."

Rias masih belum tahu harus bagaimana.

Situasi ini tidak sesimpel bertarung saja. Ya kalau bertarung melawan musuh, apalagi musuhnya sangat ia benci, maka Rias tak akan segan mengerahkan semua kemampuan dan kekuatan yang ia miliki.

Tap-tapi ini...

Berhadapan dengan budaknya sendiri. Budak yang sudah sejak lama bersamanya, yang selalu patuh apa katanya, dan tentu saja sangat ia sayangi.

"Koneko-chan." sebut Rias lembut, "Kumohon pikirkanlah lagi. Pikirkan keputusanmu."

Gelengan pelan lah jawaban yang Rias peroleh.

Apakah memang harus dengan bertarung.

Tidak!

Itu jalan keluar terburuk untuk mereka saat ini.

Rias masih mencari cara lain, tapi...

Tak ada satupun solusi yang terpikirkan oleh otaknya.

Apakah Rias takut bertarung?

Bukan. Rias adalah tipikal iblis yang tak takut memberikan segalanya dalam pertarungan sekuat apapun musuh yang ia hadapi.

Hanya melawan bidak bentengnya yang seorang diri, sedangkan ia adalah putri Gremory yang mewarisi Power of Destruction. Ditambah lagi di sisinya ada Akeno Si Halilitar Suci, Rossweisse mantan Valkyrie tangguh dari Norse, Gasper yang menyimpan kekuatan Dewa Jahat Balor, serta Asia dengan Sacred Gear Twillight Heallingnya.

Jika bertarung, sudah pasti jelas ketahuan pemenangnya.

Hanya saja, bukan itu masalahnya.

Rias tidak ingin ada siapapun dari mereka yang harus dikorbankan.

"Koneko-chan." kali ini Asia si mantan biarawati yang coba membujuk, ekspresi wajahnya terlihat sangat lembut dan penuh kasih. "K..."

"Tidak, Asia-senpai!" Potong Koneko sebelum sempat Asia mengatakan apapun. "Jika ada yang harus berpikir ulang disini, maka itu bukan aku tapi kalian berlima."

Gasper maupun Rossweisse tak mampu berpikir untuk melakukan sesuatu yang dapat menyelesaikan masalah. Mereka hanya bisa diam, sebab menemukan kenyataan ini yang meruntuhkan kekompakan kelompok saja, sudah membuat shok.

Hanya Akeno yang terlihat berbeda. Ia sudah tidak bisa berdiam diri lagi, "Koneko, kalau memang itu maumu. Baiklah. Aku yang akan meladenimu."

Entah kenapa, Rias diam saja dan membiarkan Akeno melewati dirinya. Tidak dapat ditampik kalau dirinya sendiri belum bisa memutuskan sesuatu. Akeno pun melakukan hal ini, karena ia tidak ingin keadaan terus berlarut-larut seperti ini. Ada sesuatu yang harus diputuskan segera, ada hal yang secepatnya harus dituntaskan. Itu karena di depan sana, ada hal yang membuat mereka tidak bisa menunggu.

Akeno menengadahkan kedua tangannya sehingga terkumpul sejumlah percikan listrik kuning. Itu bukan jenis sihir biasa, itu adalah Halilintar Suci atau Holy Lightning.

"Koneko, kau pasti mengerti akan seperti apa jadinya jika iblis terkena kekuatan ini kan?"

Tentu saja Koneko tahu. Halilintar Suci, kekuatan yang dibangkitkan oleh Himejima Akeno sebagai keturunan Malaikat Jatuh, putri Baraqiel yang dijuluki Lightning of God. Itu adalah kekuatan suci yang akan berefek fatal bagi iblis, tak terkecuali Koneko.

"Kuharap kau tidak menahan kekuatanmu, Akeno-senpai." ucap Koneko, seperti hendak menantang.

Jadinya, Akeno malah terprovokasi. Dia mengalirkan lebih banyak energi sihir ketangannya sehingga Halilintar Suci semakin besar.

"Aku tidak akan bertanggung jawab, aku tidak akan minta maaf kalau sampai terjadi hal buruk padamu. Sebab ini adalah salahmu sendiri. Ini kan yang kau mau, Koneko!?"

Akeno sudah tidak ragu-ragu lagi.

Rumblerumblerumblerumblerumblerumble

"Henti-..."

Jdduuuaarrrr.

Suara Rias terlambat.

Halilintar suci yang menyerupai bentuk naga panjang telah ditembakkan. Kecepatannya yang begitu tinggi tidak memberi kesempatan bagi Koneko untuk menghindar.

Ah, bukan. Nampaknya memang Koneko sendirilah yang sengaja ingin menerima serangan itu.

Rias menunggu harap-harap cemas. Mau seperti apapun tindakan yang dilakukan Koneko, bahkan jika membangkang padanya sekalipun, rasa sayangnya masih tetap sama seperti sejak dahulu.

Cahaya kuning menyilaukan yang dihasilkan oleh sambaran Halilintar Suci menerangi seluruh ruang aula bawah tanah tempat mereka berada. Hingga ketika cahaya itu redup kembali, tampaklah Koneko yang tidak terjadi apa-apa. Sedikit luka pun tidak.

"K-ke-kenapa?"

Akeno tidak bisa mempercayai ini.

Serangan suci adalah serangan yang berakibat fatal bagi iblis.

Tapi Koneko?

"Akeno-senpai. Bukan kah sudah kukatakan tadi kalau kekuatan api putih pemurnianku ini akan memberi batasan nyata antara yang benar dan yang salah."

"Tapi... Se-seharusnya...?"

"Ya, seharusnya seranganmu akan melukaiku. Tapi lihat!, Halilintar Sucimu lebih dulu dimurnikan oleh api putih yang melindungi tubuhku. Itu berarti Halilintar Suci milikmu tidak benar-benar suci. Kekuatanmu telah tercemar sehingga apiku secara otomatis akan memurnikannya."

"Tidak mungkin!"

"Mungkin!, jikalau kau sebagai pemilik kekuatan itu telah tercemar dari dalam."

Akeno menggeleng. Ia tidak bisa menerima kenyataan ini. Ia merasa dirinya tidak salah. Akeno meyakini kalau dia melakukan tindakan yang benar.

Apakah karena dia adalah iblis sehingga kekuatan Halilintar Suci itu tidak lagi suci.

Bukaaaan! Bukan itu jawabannya. Iblis sekalipun mampu memeliki kekuatan suci, kalau memiliki bakat dan ditunjang oleh hati yang benar-benar bersih.

Apakah itu artinya hati Akeno...?

Setelahnya, Gasper Vladi yang tak lagi mampu menahan diri. Bagi dia, Koneko adalah teman bermain yang paling dekat denganya. Sosok Koneko lah yang paling mengerti dirinya dan ...

Gasper sendiri tak bisa lagi menjabarkan, sedalam apa ikatan antara dirinya dengan Koneko.

Gasper dan Koneko, persis seperti sepasang saudara.

Tapi sama seperti yang lainnya, dirinya tidak bisa menerima kenyataan ini.

Ia melangkah maju, namun...

Greppp.

Rias menggenggam lengan Gasper, menghentikan langkahnya.

"Buchou?" Apa Rias memihak Koneko, pikir Gasper.

Tidak! Bukan karena itu, tapi...

"Gasper. Kau adalah perwujudan kekuatan Dewa Jahat Balor. Menyentuh Koneko saja, maka kau akan dimurnikan sampai mati. Mengerti?"

Benar. Gasper sama sekali tidak cocok dengan Koneko, dalam hal kekuatan. Jikapun Gasper benar dengan hatinya, tetap saja dia akan dimurnikan oleh api putih Koneko sebab eksistensinya murni kekuatan jahat.

Api Putih pemurnian itu, tidak menilai benar tidaknya suatu hal hanya pada satu sisi atau aspek. Jika ada sedikit saja hal buruk atau kejahatan dalam diri seseorang, baik itu pada tubuhnya, kekuatannya, sifatnya, apalagi hatinya maka Api Putih Koneko akan langsung bekerja.

Melihat situasi ini, Rossweisse pun tahu kalau dirinya juga tidak mungkin menyerang Koneko. Dia adalah Valkirie yang telah direinkarnasi oleh Rias menjadi iblis dengan evil piece bidak benteng. Jadi tubuhnya pasti dianggap sebagai eksistensi jahat. Bahkan lebih dari itu, Rossweisse sendiri tidak tahu seputih atau sehitam apa hatinya. Setitik saja noda hitam, maka Api Putih Koneko akan memurnikannya.

Asia?

Tidak mungkin. Ia bukan spesialis bertarung, tapi dia adalah support tipe Healling dalam kelompok. Tapi lebih dari itu, hati penuh kasih Asia tidak akan membuatnya tega menyerang sahabat sendiri.

Tersisa lah Rias.

Memang hanya Rias lah yang berhak memutuskannya, bukan para budak-budaknya.

Jika ada budak yang membangkang, maka sang Raja berhak memberi hukuman. Jika Koneko memberontak, maka Rias yang akan menjatuhkan hukuman. Seperti apapun bentuk hukuman itu.

Dan hukuman dari Rias...

adalah ini!

Extinguish Star

Tidak main-main, Rias memberikan hukuman yang paling mematikan.

Rias mengangkat kedua tangannya dan disaat bersamaan, kekuatan kehancuran mulai berkumpul di atas kepalanya. Terus tumbuh dari kecil lalu membesar. Bola tersebut berotasi sembari menunjukan aura hitam dan crimson yang berputar didalamnya.

Teknik Bintang Pemusnah milik Rias itu, pada dasarnya adalah Power of Destruction yang dikompresi menjadi sangat padat. Itu adalah kehancuran massal yang melenyapkan semua dan tidak memiliki atribut apapun atau kelemahan.

Hanya inilah satu-satunya cara untuk melangkahi kekuatan Api Putih Pemurnian Koneko.

Ya, hanya ini satu-satunya.

Bola hitam yang tidak memiliki kelemahan. Bahkan Api Putih sekalipun, akan dihapuskan sebelum sempat memurnikannya.

"Koneko, kemari lah! Meminta maaf dan berlututlah padaku. Jika kau mau melakukannya, maka kita bisa melupakan kejadian hari ini."

Rias memberikan kesempatan terakhir untuk Koneko.

Sekali lagi Koneko menjawab,

"Tidak! Sampai kapanpun, aku tidak akan merubah pendirianku, Buchou."

"K-kenapa?"

"Karena keyakinanku bahwa aku berada dijalan yang seharusnya. Di tempat yang benar."

"Apa kau tidak cukup dengan berada di sisiku?"

"Tidak. Setidaknya sampai kita berada dijalan yang sama."

"Baiklah. Jika itu keputusanmu, maka ini akan jadi akhir hidupmu."

Koneko menyiapkan diri. Lebih banyak aura putih yang mengelilingi dirinya. Mode bertarung yang juga disebut dengan nama Nekoshou Sennin Mode atau Mode Pertapa Youkai Nekomata berkembang lebih tinggi lagi dalam hal kuantitas kekuatan. Koneko berniat menahan serangan Rias dengan tubuhnya sendiri.

Sungguh, cara yang tidak imbang. Siapapun di ruangan ini akan langsung tahu, siapa yang akan mati.

Tepat sekali, Koneko lah yang akan mati.

Extinguish Star merupakan bola penghancur yang begitu padat akan energi sihir. Jumlah masif yang sangat besar dari energinya, pasti mampu menelan semua senjutsu dan api putih, termasuk tubuh Koneko kedalamnya.

"Selamat tinggal, Koneko." ucap Rias.

Sang pewaris keluarga Gremory pun melepaskan teknik sihirnya. Bola itu bergerak perlahan ke arah Koneko. Menarik sang Nekoshou dengan sangat kuat kedalamnya.

Akeno, Rossweisse, Gasper, juga Asia. Mereka berempat menutup mata. Bagaimanapun, Koneko adalah bagian dari mereka. Mana mungkin mereka mampu melihat kematian teman mereka sendiri dengan mata kepala.

Rias memalingkan wajah, matanya pun ia tutup.

Seandainya saja ada cara lain... sungguh, ia sangat tidak ingin menghabisi nyawa budak kesayangannya dengan tangannya sendiri.

Koneko...

Ia tersenyum, ia siap menerima apapun takdirnya. Selama ia berada dijalan yang ia yakini, teguh memegang prinsip yang sudah dia genggam, maka mati sekalipun ia akan tetap bahagia.

"..."

"..."

"..."

Swwwoohhhsss.

Duk.

Rias jatuh bertumpu dengan lututnya.

Dia... ia...!

Rias tidak akan sanggup melakukannya.

Bola hitam kehancuran, lenyap seakan tidak pernah ada sebelum sempat melukai siapapun.

Koneko membuka matanya kembali, dan kini ia tersenyum lebih lebar.

Akeno, Asia, Rossweisse, dan Gasper, tak tahu harus mengatakan apa, tak tahu harus bersikap bagaimana. Namun tak dapat disangkal, dari lubuk hati terdalam mereka meluap-luap rasa senang dan lega.

Pukkk...

Sona menepuk pundak kiri Rias. Tampak kalau ia cukup senang dengan akhir yang seperti ini.

"Hei Rias. Kupikir tadi antara kalian akan menjadi kejadian yang menegangkan sekaligus memilukan. Contohnya seperi kalian berlima menyerang Koneko-chan habis-habisan tapi Koneko-chan tidak melawan sedikitpun. Dia sampai terluka parah, lalu mati karena kau berhasil membunuhnya dan kemudian kalian menyesali hal itu."

"Candaanmu tidak lucu, Sona!" bentak Rias. Wajahnya masih menunduk dalam, ia masih tidak tahu, apakah keputusannya ini benar atau tidak.

Cukup sampai disini.

Sejak awal, Rias sudah kalah. Mungkin saja sejak awal dia sudah menyadarinya, sejak Koneko menyadarkan pikirannya. Rias mengerti kalau Koneko sampai mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya untuk membuatnya sadar, hanya saja akalnya masih menolak keras untuk percaya.

Seandainya saja tadi itu menjadi pertarungan serius. Jika Rias benar-benar serius untuk mengalahkan Koneko, pastilah sang Nekoshou akan mati. Atau bisa saja jika Koneko yang serius ingin memurnikan Rias dan yang lain, maka Rias, Akeno, Asia, Rossweisse, dan Gasper sudah tidak ada lagi.

Tapi ternyata, Koneko tidak ada niat untuk itu. Koneko ingin Rias, -Rajanya, menyadari sendiri kebenarannya. Sedangkan Rias pun, tidak benar-benar serius ingin membunuh Koneko karena ia sendiri meragukan keberadaannya. Ia mulai ragu apakah dia benar atau salah.

Pembuktian barusan telah menghasilkan sesuatu, dan hasilnya...

Sona menatap tepat pada kedua bola mata Rias, "Semua yang aku ceritakan tadi adalah kebenarannya. Tapi itu adalah urusanku. Aku sama sekali tidak ingin kau mengikutiku. Kau, Rias! Cukup dengarkan kata hati dan nuranimu, lalu biarkan ia membimbing jalanmu."

"..."

Tanpa ada jawaban dari mulut sang pewaris tahta Iblis Gremory, Sona pergi meninggalkan semuanya.

Sona, memiliki banyak hal yang harus ia urus.

.

-Arena Perang, Underworld. At 04.13 am-

Bagaimana mungkin situasi di tempat ini bisa dideskripsikan, sedang hampir sudah tak ada apapun lagi yang tersisa.

Tempat yang mulanya padang berbatu luas dengan langit cerah siang hari serta suara deru lembut dari embusan angin yang menerbangkan butiran-butiran debu, semua itu sudah tak ada dan lenyap dari dunia. Luas area yang lenyap tidak kecil, bahkan jika dikalkulasikan mungkin hasilnya lebih dari 10 kali luas seluruh kota Tokyo.

Apa yang nampak hanyalah lubang kawah raksasa yang dasarnya gelap gulita tak terlihat mata seakan tanpa dasar.

Sungguh gila!

Langitnya?

Beruntung masih terlihat, berwarna jingga khas subuh hari saat matahari hendak terbit.

Namun jangan salah!

Warna jingga itu berasal dari kobaran api dan cahaya menyilaukan dari ledakan-ledakan dahsyat yang terus terjadi tanpa ada tanda-tanda kunjung berhenti.

Apa sebabnya?

Itu karena ada dua kubu kecil yang terpisah jarak berkilo-kilo meter sedang jual beli serangan. Saling serang dengan serangan jarak jauh terkuat yang masing-masing kubu miliki, sekaligus bertahan dengan pertahanan terbaik yang mereka punya.

Tapi kenapa dua kubu kecil bisa mengakibatkan kehancuran yang luar biasa gila seperti itu? Padahal puluhan ribu tentara pun hampir mustahil melakukannya.

Karena mereka yang saling serang disini adalah...

Si Merah Crimson Sirzech Gremory, iblis terkuat dari Underworld sekaligus orang terdepan dalam Four Great Satan dengan menyandang gelar Lucifer. Beserta Ratunya, Grayfia Lucifuge si Silver-Haired of Queen Annihilation, ratu terkuat di Underworld. Dan terakhir Malaikat teragung dari Surga, The Archangel yang menjadi tangan kanan tuhan, Michael.

Melawan,

Komandan tertinggi pasukan koalisi penentang Imperium of Bible, -Sabaku no Gaara, beserta tunggangannya Naga Langit perwujudan salah satu roh Ancient Egyptian Gods terkuat, Slifer The Sky Dragon - Osiris. Naga dari Mitologi Mesir Kuno yang merupakan generasi pertama dari naga yang mampu mencapai level Heavenly Dragon atau kelas Naga Surgawi sebelum dia hilang dan digantikan posisinya oleh Ddraig dan Albion dari Mitologi Welsh.

Nah, siapapun pasti bisa membayangkan kehancuran seperti apa yang akan terjadi jika yang bertarung adalah makhluk-makhluk sekuat mereka.

Kesisi sebelah utara...

"Fyuuuhhh..."

Gaara meniupkan nafas panjang dari mulutnya. Tangan kirinya terangkat untuk menyapu peluh yang membasahi kening.

Bertarung, menyerang sambil bertahan sedari 30 menit yang lalu tentu membuatnya merasa lelah. Sudah lumayan banyak energi dan staminanya yang tekuras.

"Sampai kapan aku harus seperti ini?" tanya Gaara pada dirinya sendiri.

Pertanyaan tersebut Gaara ucapkan bukan karena bosan, melainkan karena ia sendiri tidak tahu akan jadi bagaimana akhirnya nanti kalau situasi terus menerus tak bisa diperkirakan seperti ini.

Si Komandan merah itu menggerakkan kakinya, mengusapkan telapak kaki pada puncak kepala dari hewan yang ia tunggangi.

"Naaaa Osiris, sanggup kah kau bertahan? Tugas kita disini masih jauh dari kata selesai."

Ada sedikit getaran yang Gaara rasakan dari kepala sang naga yang ia pijak. Mungkin itu sebuah jawaban. Ia menyunggingkan senyum tipis.

"Aku berharap banyak padamu, wahai Naga Langit terlupakan yang telah bangkit kembali."

Gerakan lain muncul. Seakan itu isyarat bahwa Osiris menyukai sebutan yang Gaara sematkan pada dirinya.

Naga adalah makhluk dengan kebanggaan paling tinggi akan kekuatan dan dominasi. Bukan berarti saat ini Osiris tunduk pada Gaara. Tidak! Bukan begitu. Osiris senang dia bangkit lagi, dan kebangkitannya beserta dengan pengakuan oleh Gaara terhadap dirinya. Sebut ini sebagai balas budi. Oleh karena itulah, Osiris bertarung bersama Gaara. Jelas bukan sebagai alat, tetapi sebagai partner.

Menatap lurus ke depan, Gaara bertekad untuk mempertahankan apa yang tersisa dari dunia tempat ia terlahir serta mempertahankan hak kemerdekaannya sebagai makhluk yang bebas dari penjajahan ideologi. Tekadnya takkan pernah surut meski sekuat apapun lawan yang harus ia perangi.

Maou terkuat sekalipun, Archangel sang tangan kanan tuhan sekalipun, akan ia lawan tanpa secuil rasa takut. Niatnya tak akan mundur dan semangatnya tak akan padam. Ia memang manusia, tapi apa yang sekarang dalam genggamannya lah yang membuatnya sangat yakin untuk meraih kemenangan.

Kenapa Gaara sampai berjuang keras melakukannya?

Sebab ini adalah amanah yang diberikan padanya. Uzumaki Naruto pergi dengan menitipkan perlindungan Konoha padanya, dan dia tidak akan mengkhianati kepercayaan itu.

Greeppp!

Sekali lagi Gaara mengepalkan tangan kanannya.

Bersamaan dengan itu, jauh di depan sana sebuah tangan raksasa yang terbuat dari pasir berhasil menangkap tombak cahaya seukuran truk kontainer.

Kabooommm...

Tombak tersebut meledak beserta dengan tangan pasir yang menangkapnya.

Sementara di arah lain, bola kecil berwarna hitam dengan outline merah bertubrukan dengan bongkahan pasir berbentuk bola seukuran gedung 7 lantai.

Namun meski sekecil bola pingpon, ternyata bola hitam itu mampu mengikis habis semua pasir yang menghalanginya. Jelas saja, bola itu adalah teknik lanjutan dari kekuatan Power of Destruction, yakni Ruin The Extinc, kekuatan penghancur absolut yang akan menghapuskan apapun yang mengenainya.

Sepuluh gumpalan pasir lain yang jauh lebih besar dari sebelumnya pun, bergiliran lenyap tergerus bola hitam itu sampai habis.

Hingga akhirnya, bola itupun kelebihan beban dan lenyap seolah tak pernah ada.

Namun, dibelakangnya lagi. Ada lima belas tombak cahaya dan lima belas bola hitam yang sama.

Gaara menggeram kesal, "Kalau begini terus tidak akan ada habisnya. Aku harus sedikit lebih agresif."

Dengan menguras lebih banyak chakra, Gaara mengumpulkan gelombang pasir yang luar biasa banyak.

Sebelum pertarungan dimulai, tempat ini adalah padang berbatu. Tapi seiring kehancuran luar biasa yang menjadi dampaknya, bebatuan-bebatuan pun hancur menjadi partikel kecil yang pada bisa dikatakan sebagai pasir. Ya, pasir asli.

Keuntungan untuk Gaara.

Sehingga...

Bergulung-gulung ombak pasir raksasa di udara, sanggup menelan semua serangan cahaya dan bola hitam yang mengarah padanya.

Pasir Pertahanan Mutlak. Itulah spesialis Gaara sebagai petarung.

Sementara itu...

"Sekarang, Osiriiiisss!"

Sang Naga Langit Merah membuka mulutnya lebar-lebar, bersamaan dengan itu aura merah berkumpul membentuk bola padat yang sangat kaya akan energi.

"Tembaaaakkk!"

Ciuuuuuuu...

Laser merah melaju dengan jalur lurus, menembus gulungan ombak pasir, menuju tepat ke sasaran.

KABOOOMMMMMMMM!

Ledakan mahadahsyat mengguncangkan langit. Dari inti ledakan, membentuk cahaya kuning jingga seperti bola yang membesar dan terus berekspansi ukurannya hingga mencapai lebar hampir 1 kilometer, menelan apapun kedalamnya. Lalu disusul getaran suara yang kerasnya berkali-kali lipat suara dari guntur di dekat telinga.

Gaara bisa tersenyum sedikit.

Yah, paling tidak serangan ini cukup mematikan. Cukup mematikan kalau targetnya tidak serius.

Memang sejak tadi jual beli serangan hingga seluruh arena hancur, masihlah hanya sebatas bermain-main dan uji coba untuk menakar batas kekuatan musuh.

Tapi...

Tapi di ujung sana.

Setelah efek ledakan selesai...

"Ghhh!"

Tampak Si Ratu Rambut Perak, -Grayfia Lucifuge, menghela nafas berat berkali-kali.

Hampir saja.

"Kerja bagus, Grayfia."

"Tidak!" sanggahnya. "Kalau tidak karena anda, Sirzech-sama dan juga Michael-sama memperkuat sihir pertahananku, maka kita bertiga pasti sudah luka parah."

Grayfia dijuluki sebagai 'Ratu' terkuat di Underworld yang level kekuatan murninya bahkan menyamai Satan Class Devil. Selagi Sirzech dan Michael melemparkan berbagai macam serangan, ia yang bertugas membuat kubah pertahanan demi memementalkan semua serangan pasir yang di lepaskan komandan pasukan musuh.

Tapi, kalau yang menyerangnya adalah Naga Langit Osiris, Naga kelas Surgawi yang kekuatannya setara dengan Ddraig atau Albion pada saat masih hidup sebelum disegel tuhan, tentu Grayfia tidak lebih dari sebutir debu.

Untung saja, Sirzech dan Michael sempat melepaskan serangan tandingan, -setidaknya untuk mengurangi intensitas kekuatan serangan Osiris, sekaligus mempertebal sihir pertahanan sekuat-kuatnya yang mereka bisa. Berkat itu, ketiganya tidak mengalami luka apapun.

"Bagaimana keadaamu?" tanya Sirzech dengan raut muka khawatir. Wajar karena walaupun di luar mereka adalah atasan dan bawahan, tapi di rumah mereka adalah suami istri.

"Saya baik-baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkan saya."

"Syukurlah." Sirzech kembali menatap lurus kedepan. Disampingnya Michael juga menatap dengan cara yang sama. "Ayooo, Michael-dono. Kita balas mereka dengan serangan terkuat kita."

Menanggapi ajakan Sirzech, Michael menengadahkan telapak tangannya ke atas. Keduabelas sayapnya membentang lebar dan bercayaha emas. Di langit, dalam waktu singkat tercipta sebuah pilar cahaya rakasasa. Diamater pilarnya bahkan melebihi angka 200 meter. Panjangnya, siapa yang tahu karena sangat tinggi menjulang ke langit hingga tak terlihat mata.

Sedangkan Sirzech sendiri, ia sudah menyiapkan bola penghancur Power of Destruction, -Ruin The Extinc, yang jauh lebih besar, terbesar yang pernah ia gunakan. Jika sebelumnya hanya sebesar bola pingpon, kini ukurannya melebihi 5 kali ukuran tubuhnya sendiri. Bola hitam yang menyimpan kekuatan penghancur luar biasa, yang keberadaannya saja mampu melenyapkan benda apapun jika mendekat pada jarak kurang dari 50 meter.

"Kau siap?"

Michael mengangguk. Ini adalah serangan balasan dari mereka untuk yang tadi. "Ayoooo!"

Kedua serangan dilepas sekaligus.

Satu dari atas langit yang mana pilar cahaya berukuran kolosal dijatuhkan sedangkan dari depan ada bola hitam penghancur.

Jika untuk dua serangan sebesar ini yang dilepas bersamaan, maka tidak mungkin Gaara bisa bertahan. Pasir pertahanan mutlak hanya berlaku di dunia shinobi, tidak untuk di dunia baru ini. Di dunia yang penuh dengan keberadaan makhluk supranatural yang kekuatannya tak terbayang akal, Gaara menjadi kecil.

Tapi masih ada cara.

Masih ada cara untuk bertahan.

Osiris, tidak hanya dikenal sebagai Naga Kelas Surgawi karena kekuatan serangnya yang sangat gila, tapi juga pertahanannya yang luar biasa.

Naga merah itu menggulungkan ekor dan badannya, kemudian kedua sayapnya yang sangat besar membungkus dirinya dan Gaara yang berdiri di atas kepalanya. Membentuk bola dengan bagian terluar seolah seperti cangkang telur.

Dan...

Begitu serangan kombinasi dari dua orang terkuat di Underworld dan Surga mencapai targetnya, sudah tak tergambarkan lagi bagaimana rupa kehancuran yang terjadi.

Kehancuran yang menghancurkan semua yang ada disekitarnya, karena...

Swwooossss...

Asap tebal sisa ledakan dihempaskan begitu saja oleh sayap lebar Osiris yang kini telah terbuka lebar.

Gaara selamat tanpa ada luka sedikitpun di tubuhnya, meski ia harus membiarkan cukup banyak luka luar yang menggores sayap Naga Langit Osiris.

Untuk selanjutnya, entah akan seperti apa. Satu hal yang pasti, dampak yang jauh lebih mengerikan daripada ini akan menjadi akibatnya.

Ke tempat yang lain di arena perang, Cakrawala di ufuk timur yang tampak dari sebuah semenanjung kini mulai perlahan mulai menanggalkan pekatnya gulita malam. Namun tepat diatas semenanjung itu sendiri, langitnya berpendar merah memantulkan api yang menyala-nyala dibawahnya, awannya pun bercampur dengan pekatnya asam hitam yang membumbung tinggi.

Pada titik ini, pasukan Koalisi Konoha dan semua sekutunya sedang terdesak. Mungkin telah menginjak penghujung kekalahan. Seluruh pasukan dari Titik B dan D yang telah dimenangkan, kini mereka yang tersisa dipaksa bertahan mati-matian di Tanjung Harapan untuk menjaga Gerbang Teleportasi Raksasa, -The Gate of Sun, yang merupakan pintu masuk ke markas besar.

Jika...

Jika sampai pertahanan di semenanjung ini berhasil ditembus musuh, maka kekalahan pasti akan menjadi nyata.

Didalam markas hanya menyisakan sedikit kekuatan pasukan Koalisi dari mereka para petinggi yang tersisa dan sekumpulan pasukan yang belum selesai istirahat setelah peperangan siang hari kemarin. Dengan jumlah kekuatan yang hanya segitu, maka mustahil mereka akan menang.

Siapapun dari mereka tak akan mengira bahwa situasi akan berubah tak terduga seperti ini, jauh kalkulasi dari realita. Digempur oleh pasukan Aliansi Tiga Fraksi secara besar-besaran dengan jumlah pasukan yang lebih banyak berkali-kali lipat juga petarung elit yang tak terkalahkan, sungguh ini perang yang tidak adil.

Namun kini tiupan angin kecil berhembus melawan arus badai. Secercah harapan menyinari sanubari setiap pasukan koalisi yang bertahan.

Sosok astral raksasa berwarna ungu dengan tinggi mencapai 100 meter, dengan rupa wajah bertopeng dan tubuh berbentuk humanoid, sepasang sayap dengan baju zirah beserta empat bilah katana. Sosok itu berdiri tegak di belakang mereka setelah melangkah melewati Gerbang Teleportasi Raksasa.

The Great Full Armored Susano'o

"Itu lihat! Kapten Uchiha Sasuke!"

Salah seorang prajurit yang tengah bertempur sempat melihat keatas, ia yang sangat kenal karena merupakan shinobi Konoha segera memberitahu temannya yang lain.

"Baiklahhh. Bantuan sudah tiba, ayooo semangat. Kita semua tidak boleh kalaahhh!"

Dan beragam teriakan lainnya, yang intinya memperlihatkan naiknya semangat juang mereka untuk bertempur.

Uchiha Sasuke, adalah kapten Divisi Keempat unit pertempuran jarak jauh sekaligus divisi tempur utama. Selain sebagai kekuatan utama, unit pasukan keempat adalah pasukan bantuan lapis kedua setelah Divisi ketiga untuk membantu garis depan, juga menjadi tameng pelindung saat terjadi ada serangan massal dan frontal oleh musuh.

Meski Sasuke hanya datang sendirian, tapi hanya keberadaannya saja pasti akan sangat membantu. Dan ia pun berada disini tidak dengan tujuan untuk melihat saja.

Telah tiba saatnya, Uchiha Sasuke menunjukkan kepada semua pasukan yang ia pimpin bahwa ia adalah pemimpin yang akan melindungi semua bawahannya dengan sungguh-sungguh dan dengan segenap kekuatan yang ia punya. Juga ia akan menunjukkan kepada semua pasukan musuh bahwa ia tak takut dengan sebesar apapun kekuatan mereka, ia akan menunjukkan bahwa mereka semua lah yang seharusnya takut kepada dirinya.

Sasuke tipikal orang yang tidak banyak bicara, dia akan langsung melakukan aksinya begitu dia telah selesai berpikir dan memutuskannya.

Namun tak akan salah kalau di saat seperti ini, dia bermonolog sendiri.

"Dahulu aku pernah tersesat dalam gelapnya neraka dan kebencian. Tapi seseorang menarikku dari sana, orang pertama yang aku anggap sebagai teman. Padahal dia sendiripun sendirian dan kesepian, ia menderita, dia juga berada dalam kegelapan. Aku mampu merasakan penderitaannya karena kami sama.

Berbeda denganku yang makin menggelamkan diri dalam kegelapan dan memutus ikatan dengan semua orang, dia malah menjalin tali ikatan dengan orang lain hingga akhirnya dia bisa keluar dari siksaan itu. Bahkan dia pun juga menarikku dari sana. Sejak awal, dia tak pernah mengabaikanku, dia selalu memikirkanku. Dia datang kepadaku tanpa ada secuilpun rasa kebencian meski aku melakukan beribu hal buruk kepadanya. Dia selalu menganggapku sebagai temannya walau aku terus berusaha mengkhianati perasaan itu.

Kali ini, aku berjanji, bersumpah dengan mempertaruhkan seluruh hidupku. Aku akan membalas semua kebaikannya padaku, aku akan menjaga desa Konoha yang sangat dia lindungi, desa yang juga sangat dilindungi oleh kakak yang kusayangi, Itachi.

Aku bersumpah!"

Bersamaan dengan suara gemuruh yang mirip ketika sedang terjadi angin badai, sosok astral Susano'o berubah bentuk lagi, levelnya di tingkatkan lebih tinggi lagi. Ukurannya tetap sama, namun tampil dalam wujud yang sangat berbeda. Tidak ada lagi hidung panjang khas Raja Tenguu, tidak ada pula baju zirah dan senjata.

Wujud Susano'o yang sekarang berbentuk manusia berambut panjang yang mengenakan berlapis-lapis kain indah seperti pakaian para dewa. Dibelakang punggungnya, tercipta sebuah cincin raksasa yang memiliki bilah-bilah tajam di setiap sisi. Cincin itu berwarna hitam dan bergerak dinamis seperti kobaran api. Dilihat dari jauh, itu melambangkan simbol matahari, perwujudan dari Dewi Amaterasu.

Itulah bentuk terakhir dari Susano'o yang dibangkitkan dengan doujutsu Eternal Mangekyou Sharingan dan Ultimate Rinne-sharingan.

Susano'o God Form.

Dia lah sosok yang oleh Cao Cao si pemilik tombak suci pembantai tuhan, -The True Longinus, diakui sebagai sosok yang melebihi entitas seorang dewa. Manusia yang terlahir dan menjalani takdir sebagai sang penakluk.

Kemudia tiba-tiba, Uchiha Sasuke memasang wajah arogan, angkuh, serta kesombongan yang tiada tara.

"Wahai kalian para makhluk hina, budak kekuatan, hamba kesombongan, pengikut nafsu birahi-amarah-keserakahan, dan pemimpi rendahan yang berkhayal menjadi dominator. Ingatlah! Aku, -Uchiha Sasuke, manusia yang mampu melangkah jauh di atas kalian di dunia yang penuh dengan entitas-entitas perlambang kekuatan, yang akan membangunkan kalian dari mimpi-mimpi tak berujung itu."

Roda cincin hitam di belakang punggung Susano'o berputar makin cepat lalu setiap bilah terlepas dan memisahkan diri. Kemudia bergerak ke depan lalu membentuk rupa sebuah senjata berupa panah.

Sosok atral Susano'o menggenggam panah itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menarik bilah anak panah yang tersusun atas energi petir biru. Petir yang hanya dengan melihatnya saja, siapapun akan langsung merasakan betapa dekatnya kematian.

Panah itupun dia arahkan pada replika Gerbang Teleportasi yang dibuat oleh musuh dengan teknik Copy Spell, beserta puluhan ribu pasukan tempur Aliansi Tiga Fraksi di belakangnya.

"Akan kutambahkan lagi!"

Jdduuuaarrrr!

Dari langit yang menjadi tempat berkumpulnya gumpalan awan hitam tebal, turunlah bermilyar-milyar Volt petir alami. Itu keberuntungan yang didapat Sasuke secara cuma-cuma, karena akibat kegaduhan perang di sekitar area ini yang menghasilkan banyak kobaran api, ledakan, dan panas, sehingga membentuk gumpalan awan besar berwarna hitam yang sangat banyak di udara.

Semuanya diserap oleh Susano'o untuk ditambahkan pada amunisi anak panah hingga menjadi begitu besar. Saking besarnya, tak tampak lagi seperti anak panah tetapi lebih seperti tombak petir. Tombak petir terbesar yang mampu bersanding dengan tombak petir Dewa Zeus dari mitologi Yunani maupun tombak petir sang penguasa badai Dewa Indra dari Reliji Hindu.

"Sekarang, rasakan ini!"

Serangan telah Sasuke lepaskan.

Tak terdengar suara apapun, itu karena saking nyaringnya saking tingginya frekuensi getaran suara yang menyertai jutsu Sasuke hingga telinga makhluk manapun tak sanggup mendengarnya.

Replika Gerbang Teleportasi Raksasa buatan musuh berlubang begitu saja ketika dilewati anak panah, bahkan tanpa ada hambatan sedikitpun. Terus melaju, menuju titik dimana seluruh pasukan Aliansi Tiga Fraksi terkumpul.

"Indra no Ya, jutsu terkuatku. Dengan itu, matilah kalian semuaaaaa!"

Hasilnya...

Sungguh kehancuran yang mustahil bisa digambarkan oleh akal. Kehancuran yang melebihi jatuhnya meteor kolosal.

Tanjung Harapan di ujung utara Teritori kekuasaan Iblis Gremory lenyap dari peta Underworld.

100 ribu lebih pasukan Aliansi Tiga Fraksi secara pasti dinyatakan telah kehilangan nyawa.

Ketika situasi telah lebih tenang, Sasuke sendiri dan semua pasukan Koalisi beserta dengan Gerbang Teleportasi Gate of The Sun, masih aman bahkan bisa bersorak sorai untuk kerugian yang didapatkan kubu musuh. Mereka aman sebab terhindar dari dampak kerusakan jutsu Indra no Ya berkat teknik Kamui dari Rokudaime Hokage yang melingkup area ini, meski Tanjung Harapan tempat mereka berdiri sebelumnya telah tidak ada lagi.

Apakah dengan begini Konoha dan sekutunya telah menang?

Tidak!

Sekali lagi, Tidak!

Perang masih belum selesai.

Meski kehilangan lebih dari 100 ribu prajuritnya, Aliansi masih memiliki 17 iblis pengguna Evil Piece Bidak Raja yang kekuatannya selevel dengan Maou, 1500 pengguna replika pedang suci legendaris, 2000 pengguna Sacred Gear Longinus buatan Boosted Gear dan Divine Dividing. Selain itu masih ada puluhan ribu bala tentara iblis, malaikat, dan malaikat jatuh yang tersisa serta sejumlah petinggi Aliansi Tiga Fraksi yang belum terjun ke medan perang. Jangan lupakan, 1 juta malaikat kloning super yang sampai ini satupun belum nampak batang hidungnya.

Konoha dan sekutunya pun, masih bisa bertahan dengan 35 ribu pasukan yang tersisa, berikut para petinggi dan dewa-dewa dari berbagai mitologi yang tergabung didalamnya, termasuk diantaranya Uchiha Sasuke, Hatake Kakashi, Yasaka, Dewi Amaterasu dan yang lainnya.

Akan seperti apakah jalannya perang setelah ini?

Tidak ada satupun yang bisa mengira-ngira.

.

-Pulau Langit Agreas-

"-ta!?"

"..."

"Anata!"

"Enggghh..."

Kukerjapkan mataku beberapa kali sambil kuusap. Bangun dari kasur dengan badan kutumpukan pada tangan kiri, sedang tangan kananku memijit pelipis. Kepalaku terasa sedikit pening.

"Bangun, Anataaa~"

"Hoooaaamm... Iya, ini aku sudah bangun, Himeee." Ucapku manja, kuuedarkan netraku, di pojok kamar dadakan ini kulihat istriku tersayang sedang mencuci wajah di wastafel.

Aaah... Aku ingat sekarang, setelah menghabiskan banyak tenaga untuk memporak-porandakan Surga, badanku sangat kelelahan sehingga aku butuh banyak istirahat. "Hime, berapa lama kita tidur?"

"Mmmm... Mungkin hampir 6 jam kau tertidur, Anata."

"Hah!?, Yang benar!"

"Iyyaaa. Aku bahkan sudah mandi dan menyiapkan semua bekal dan peralatan yang kita butuhkan untuk akhir misi kita ini."

"Aduuuuh ya ampuuun. Kenapa kau tidak membangunkanku lebih cepat, ttebayou?"

"Habisnya kau tidur nyenyak sekali sih. Hihiii."

Istriku iniii!... Bisa-bisanya dia tertawa setenang itu? Aku masih ingat kalau aku sudah memberitahu dia dengan jelas kalau hanya tersisa waktu tiga jam untuk tidur sebelum melanjutkan misi. Tapi ini...

"Himeee!" Geramku.

Di sana, istriku yang imut malah mengeluarkan suara kekehan kecil. Apaan-apaan reaksinya itu?

"Huuuffftt." Kuhembuskan nafas setelah aku menenangkan diri. "Jadi, seberapa banyak yang sudah kulewatkan selama tidur?"

"Tidak ada." jawabnya singkat.

"Begitu ya? Baguslah."

"Hu'um."

Aku segera bangkit dari kasur. Dan benar seperti katanya, istriku ini sudah menyiapkan semua perbekalan ninja untuk penghujung misi ini, lengkap dengan pakaianku juga.

"Anata." panggilnya sembari mengeringkan wajah dengan handuk.

"Hm?"

"Kau mandilah dulu agar badanmu segar."

"Okke."

Tanpa basa-basi, aku beranjak ke kamar mandi setelah mengambil handuk dari tangannya. Ehhmm, handuknya agak basah bekas dia mengeringkan muka. Tapi tak apalah, toh kami suami istri, hahaa.

Kupersingkat mandiku agar tidak menghabiskan waktu lama. Tiba-tiba...

Gdrgdrgdgrgdgrgdr!

Kamar mandi bergetar hebat seperti kapal sedang terguncang.

Kenapa ini? Gempa?

Tapi... Mana mungkin terjadi di Pulau Langit Agreas ini kan?

Karena panik, aku langsung keluar dari kamar mandi. Prioritasku tentu saja untuk menyelamatkan Hinata. Aku tidak ingin istriku sampai kenapa-kenapa.

Anehnya, istriku ini malah duduk dengan tenang di kasur.

"Hime, kau tahu sesuatu?" tebakku.

"Tidak perlu khawatir. Sejak kau masih tidur, beberapa kali aku sudah mengaktifkan Byakugan untuk mengamati keadaan diluar." jawabnya dengan tenang dan lembut.

Dengan jarak jangkau Byakugannya yang sangat jauh mencapai 20 km, meski hanya berada disini tapi Hinata bisa mengamati apapun yang terjadi pada seluruh isi Pulau Agreas ini.

"Memang apa yang terjadi?"

"Rekan-rekan kita sudah berada di sini. Tim Sona-san dan Tim Vali-san."

"Terus, kenapa Agreas sampai berguncang begini? Apa mereka bertengkar."

"Bukan. Hanya saja para pengganggu, -Tim DxD yang dibawa Azazel, juga sudah sampai disini. Sona dan lainnya yang menghadang, makanya terjadi ribut-ribut di luar akibat pertarungan mereka."

"Oh." Aku langsung paham bagaimana situasinya. "Apa kita perlu membantu mereka, Hime?"

"Kupikir untuk sekarang tidak usah. Sona dan yang lain pasti bisa membereskannya."

"Yayaaaa."

"Hanya saja..."

"Kenapa lagi?" Tanyaku penasaran karena Hinata menggantung ucapannya.

"Azazel bersama Tobio-san pergi menghindari konfrontasi dengan mencari rute lain. Dia mungkin punya rencana khusus. Lalu Euclid-san dan Walburga-san juga telah tewas setelah dikalahkan Dulio-san dan Griselda-san. Kedua malaikat itu kini tengah menyusul Azazel."

"Aku akan memberitahu Rizevim soal ini, agar dia menyuruh naga jahat legendaris komplotannya untuk menghadang empat orang itu."

"Yah, ide bagus. Tapi selain itu, Maou Ajuka Beelzebub dan pelayannya Dragon-King Tiamat juga ada disini."

"Tch, Maou pemarah dan pendendam itu ya? Kalau untuk dia, kita sendiri harus melakukan sesuatu, Hime."

"Tidak usah, Anata. Diehauser-san yang baru sampai sudah bicara dengannya. Aku tidak bisa memperkirakan apa yang mereka bicarakan. Tapi mereka berpisah tanpa terlibat bentrokan. Jadi, Maou Ajuka tidak akan melakukan sesuatu secara langsung. Kemungkinan dia hanya akan jadi pengamat dari balik layar di tempat ini."

"Itu semua yang terjadi? Tidak ada yang lain lagi?"

"Hu'um." Istriku mengangguk sekali. "Itu saja, semua yang sekarang terjadi diluar."

"Kerja bagus, Hime. Kau memang luar biasa."

"Ya. Arigatou, Anata. Kau tidak perlu mengkawatirkan apa-apa untuk saat ini."

Istriku tiba-tiba tersenyum jahil dengan rona merah di pipi. Kenapa dia? Aneh.

"Gih sana. Cepat lanjutkan mandimu!" Perintahnya padaku, sambil tertawa kecil.

Dan...

Baru sekarang aku merasa kalau seluruh kulitku kedinginan, terutama bagian bawah. Lalu kulihat kesana...

Seketika kututup selangkanganku dengan kedua tangan.

"Kenapa kau tak memberitahuku kalau aku sedang telanjang, HAAAAH!?

Kutatap istriku tajam yang dibalasnya dengan seringaian jahil.

Gara-gara panik akibat goncangan tadi, aku jadi lupa melilitkan handuk dan langsung keluar dari kamar mandi.

"Tidak usah malu begitu, Anata. Kita ini sudah setengah tahun jadi suami istri. Ufufufufuuu."

Tidak malu bagaimana? Dia membiarkan aku bicara dengannya selama bermenit-menit dengan tubuh telanjang bulat sedangkan dia berpakaian lengkap. Istri mesum macam apaaaaaaa itu?

BLAAAMMM...

Kuhentakkan pintu kamar mandi kuat-kuat untuk menunjukkan kalau aku kesal padanya.

Tapi apaaaa? Dia malah tertawa cekikikan. Hadeeehhh.

Ada-ada saja, disaat genting begini masih sempat-sempatnya bercanda.

Karena teringat kembali dengan situasi gawat di luar sana, aku cepat-cepat menyelesaikan mandi dan berganti pakaian.

Saat aku keluar kamar mandi, istri yang mengerjaiku tadi kini tampak sangat serius. Terlihat jelas dari roman wajahnya yang kini seperti sedang melamun.

"Kenapa, Hime? Kau melihat sesuatu lagi."

Hinata sedikit tersentak, lalu menatapku. Seketika dia menarik lenganku dan berlari keluar.

"Ada apa? Kalau terjadi sesuatu yang gawat, katakan padaku."

"Anata! Rizevim..."

"Kenapa dengan Pak Tua itu? Asam uratnya kumat eh?"

"Ck, bisakah kau serius!?" Hinata mendecak sebal. Hihiii, lucu di mataku.

"Iyyaaa, terus ada apa?" tanyaku lembut. Kakiku melangkah cepat mengikuti langkahnya.

"Rizevim melakukan tindakan yang tidak kuduga."

"Ha!?"

"Cepatlah, kita harus sampai di ruang kebangkitan Trihexa sebelum terlambat."

Aku tak bicara apapun lagi. Melihat istriku panik begini, pasti yang dilakukan Pak Tua itu benar-benar akan mengganggu misi kami.

Sesampainya disana...

Astagaaaaaaaa...

Aku geleng-geleng kepala setelah melihat semua ini. Orang tua itu..., kenapa dia bisa melakukan semuanya secepat ini saat aku hanya tidur dan tidak mengawasi dia selama 6 jam?

Terakhir kali, di ruangan ini masih ada bongkahan kristal raksasa berwarna ungu sebagai pembangkit energi untuk seluruh pulau Agreas. Aku tidak mengerti detailnya, tapi sejauh yang aku tahu untuk membuat sebuah pulau raksasa menantang gravitasi dan mampu melayang di langit pasti membutuhkan sumber daya energi tertentu yang sangat besar. Hal ini pada prinsipnya mirip dengan apa yang kulakukan untuk membuat Konoha mampu melayang di permukaan bumi, yang mana aku membuatkan segel deposit chakra alam luar biasa banyak sebagai sumber dayanya yang bahkan jika diakumulasikan melebihi chakra penuh milik seekor bijuu.

Selain itu, aku pernah mendengar Euclid menyebutkan kalau kristal itu merupakan material berkualitas tinggi yang digunakan sebagai intisari reinkarnasi. Kristal itu adalah bahan utama untuk membuat Evil Piece, benda yang digunakan oleh ras iblis untuk memperbanyak populasi mereka dengan mereinkarnasi makhluk hidup lain.

Dan selama pulau Agreas ada ditempat ini, kristalnya digunakan sebagai sumber energi oleh Rizevim untuk menghapus lebih dari seribu segel yang diciptakan The God of Bible demi mengekang hidup Trihexa di masa lampau.

Tapi sekarang...?

Aku tidak habis pikir, kristal itu kini hanya sebesar tandon air. Mungkin hanya tersisa 4% dari yang kulihat 6 jam lalu.

Lebih bagus bagi misiku dan Hinata jika binatang pengkiamat itu cepat bangkit, tapi cepatnya progres kebangkitan Trihexa dalam waktu singkat ini pastinya bukan hal yang bisa kuanggap wajar.

Pasti ada sesuatu yang buruk.

"Anata, disana!"

Istriku menunjuk ke sebelah kanan, tempat dimana pak tua itu berdiri dengan senyum menjijikkan.

Kami berdua bergegas mendekati Rizevim.

"Heiii Pak Tua! Apa-apaan maksud perbuatanmu ini huh?" teriakku emosi.

Rizevim malah membalasku dengan tawa mengejek, "Unchahyohyohyohooo. Bukankah kau juga ingin binatang ini cepat bangkit?"

"..."

Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Biar bagaimanapun, orang tua ini tahu betul apa yang aku incar dengan kompensasi memberi bantuan dan bekerja sama dengannya.

"Tenang saja, Bocah. Ketika binatang ini telah bangkit, kau juga orang yang akan merasa paling senang."

"Tch!"

Kualihkan pandanganku pada Trihexa. Binatang itu sudah memiliki anggota tubuh lengkap tanpa kurang satupun.

Makhluk itu memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk pada setiap kepala, 'makhluk' yang sangat kuat, melebihi seluruh kekuatan yang aku dan semua bijuuku miliki. Tinggi raksasa itu ratusan meter, bahkan lebih besar dari Great Red yang pernah membuatku dan Hinata tak sadarkan diri ketika tersesat di Celah Dimensi. Bisa saja setelah Ophis Sang Ketidakbatasan dan Great Red Si Perwujudan Kekuatan dari Mimpi yang dahulu pernah membuatku sekarat, sebagai tiga entiti terkuat di dunia ini, Trihexa juga akan membuatku meregang nyawa.

Dia hidup, aku dapat mendengar dengan jelas detak jantung dan denyut nadinya.

Dia hidup. Dia bernafas.

Dan yang paling menjadi masalah adalah aura sangat gelap yang kurasakan ini. Makhluk itu benar-benar mampu melepaskan aura sedemikian rupa. Cukup berdiri di sini saja, membuat orang menjadi gila hanya dengan merasakan aura jahat yang mengalir deras keluar darinya.

Sebentar lagi, dia akan benar-benar bangkit.

Alasan mengapa Rizevim mencuri Agreas adalah karena ia ingin menggunakannya sebagai tempat untuk menyimpan makhluk ini, juga sebagai tempat untuk mempercepat kebangkitannya. Sebelum dipindahkan kesini, segel yang mengekang Trihexa sudah coba dilepas olehnya selagi dia masih berada dibalik layar Khaos Brigade dengan nama Ophis sebagai pemimpinnya. Dia menggunakan dua relic suci, Sacred Gear Holy Spear True Longinus milik Cao Cao dan Holy Cross Incinerate Anthem milik Walburga. Tapi pelepasan segelnya sangat lambat, sehingga dia mencuri Holy Grail atau Sephirooth Graal dari Rumania dan kristal energi di Agreas ini yang merupakan peninggalan ayahnya -Lucifer Pertama, dan dipaksakan pula menggunakan Boosted Gear buatan Euclid untuk mempercepatnya. Dia juga menambahkan dua buah terlarang yang kami rebut dari Surga, Buah Pohon Kehidupan dan Buah Pohon Kebijaksanaan untuk lebih mempercepat lagi proses kebangkitannya.

Pak Tua Rizevim ini, dia benar-benar menggunakan semua yang dia tahu dan dia miliki untuk membangkitkan Trihexa. Harus aku akui, di balik tingkah laku menjijikkannya, dia ternyata orang yang sangat bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan.

Dia jenius. Tapi melihat kecepatan pelepasan yang terlalu abnormal ini, aku jadi ingin tahu apa lagi yang dia tambahkan?

"Li-lilith..."

Kudengar suara Hinata yang putus-putus.

"Mana?"

Telunjuk istriku mengarah ke bagian tengah dada Trihexa. Di sana, ada sesuatu yang membuatku menganga tak percaya dengan mata melebar kaget, sampai aku hampir lupa caranya bernafas.

Ophis Sang Ketidakbatasan...! Dia seperti sedang dicerna. Perlahan tapi pasti, setiap bagian dari tubuh kecilnya, setiap sel dan setiap energi tak terbatas yang dia miliki, terserap dan menyatu dengan keberadaan Trihexa.

Aku tidak merasakan lagi sinyal kehidupan Ophis. Yang tersisa darinya, hanyalah segumpal kekuatan yang terus menyusut seiring dengan aliran energi yang terus dihisap Trihexa.

Braakkkk!

"Ohhookk!" Rizevim terbatuk setelah kuhempaskan badannya ke tembok. "Ghh," Kucengkram lehernya kuat-kuat hingga ia sulit bernafas.

"Kurang ajar kau Rizeviiiiimmm!" Aku dikuasai amarah.

"Guhhaaa. Ghahahaaaaaa."

"Orang tua bedebah! Katakan sesuatu!"

"Le-lepas dulu."

Aku menahan emosiku. Kubiarkan dia merapikan pakaiannya setelah dia bisa berdiri dengan normal. Senyum lebar di bibirnya seolah mengejek dan mengataiku orang paling bodoh sedunia. Itu membuatku muak.

"Nee Bocah pirang. Harusnya kau sadar, terlalu cepat bagimu untuk mengakali orang tua ini yang sudah hidup lebih dari seribu tahun."

"Tck!"

"Coba kau ingat lagi dengan perjanjian yang pernah kita buat."

~Flashback Chapter 55~

"Jangan pernah meragukan kami, Tuan. Jika kami sudah berada di depanmu, berarti kami benar-benar serius."

Sona yang menjawab. Dalam situasi ini, hanya Sona lah yang akan berbicara. Naruto maupun Hinata cukup melihat saja.

"Oke. Tapi sebelum itu, aku tak bisa memperkirakan apa motif kalian sebenarnya. Menginginkan kebangkitan kembali Ayat Pengkiamat, The Apocalypse Beast Trihexa [666], apa kalian sadar dengan yang kalian inginkan?"

"Tentu saja. Tapi aku tak bisa memberitahumu alasan kami, maaf saja."

"Che, lalu apa kau sudah tahu tujuanku membangkitkan Trihexa?"

"Aku tidak tahu, tidak mau tahu, dan sama sekali tidak peduli."

"Apa maksudmu ha?"

Sona membenarkan letak kacamataya, kebiasaannya yang sering ia lakukan setiap beberapa saat. Gerak geriknya nampak anggun dan manis, tapi itu bukan sesuatu yang perlu diperhatikan dalam situasi ini. Sona tersenyum tipis, "Lupakan tentang tujuan-tujuan itu. Kita sama-sama menginginkan Trihexa, daripada berebut akan lebih baik kalau kita bekerja sama agar dia cepat bangkit, simpel kan?"

"Aaaaah~, aku mengerti. Kalian hanya ingin enaknya saja, 'kan? Aku yakin tidak satupun di antara kalian yang tahu prosedur panjang untuk membangkitkan Trihexa. Bantah pernyataanku kalau salah!"

"Aku tidak bisa menyangkal hal itu, tapi aku yakin kalau kau juga tak bisa menolak tawaran kami. Kau sudah membaca detail semua isi pesan yang kukirimkan padamu, 'kan?"

"Hooo, jadi kau mengakui kalau kegagalan operasi Cao Cao di Venesia itu akibat skenario kalian?"

"Benar. Itu rencana awal kami yang sudah berjalan, dan tentu saja masih ada lanjutannya."

"Kheh, sialan! bedebah! Akibat perbuatan kalian, rencanaku terhambat. Apa kalian sengaja melakukannya hanya untuk hari ini?"

"Mungkin saja iya."

"Tck.!"

"Kau tidak punya alasan menolak kesepakatan yang akan kita buat ini, Tuan Rizevim."

"Baiklah, kita sepakat. Sejak saat ini sampai Trihexa bangkit nanti, kita adalah sekutu. Lalu setelahnya, kita mengurus urusan kita masing-masing. Kalian cukup dengan itu?"

"Hu'um, sepakat. Lihat saja akhirnya nanti, siapa diantara kita yang akan mencapai tujuannya."

~Flashback End~

"..."

Si Tua ini menepuk-nepuk bagian lain pakaiannya yang mungkin berdebu akibat aku menghantamkan tubuhnya ke tembok.

"Hei Bocah. Jangan kau kira aku akan diam saja. Aku memang tidak tahu apapun tentang rencana dan tujuan kalian, tapi... Tapi aku tidak akan membiarkannya jadi mudah. Aku sudah menyaksikan seberapa hebat dirimu dan kekuatanmu. Kau jauh lebih kuat daripada aku, bahkan mungkin tidak mustahil bagimu mengalahkan binatang pengkiamat itu dan mengambilnya dariku. Tapi Trihexa yang susah payah kubangkitkan tidak akan kuserahkan pada siapapun, mengerti!?"

Aku tak bisa berkata apapun lagi.

Hinata memegang tanganku, tapi itu tak jua membuatku sedikit lebih tenang. Kulihat raut mukanya, yang tak memberikan ekspresi kalau dia memiliki solusi untuk hal ini.

Aku mengerti dengan jelas situasinya.

Langkah kami meminjamkan Ophis pada Orang Tua itu sebagai perlindungan terhadap dirinya dari ancaman Tim DxD, Aliansi Tiga Fraksi, dan seluruh dunia yang menentangnya, malah dia gunakan untuk hal diluar perkiraan kami. Tidak satupun dari aku, Hinata, Sona, atau Sasuke sempat terlintas pemikiran bahwa Rizevim punya ide segila ini.

Dengan menyerap semua kekuatan dan entitas Dewi Naga Ophis Sang Ketidakbatasan, Binatang Pengkiamat Trihexa [666] akan bangkit dengan kekuatan tak terbayang akal, berkali-kali jauh lebih kuat dari Trihexa yang pernah hidup jaman dahulu.

Dia akan bangkit sebagai makhluk tiada tanding.

Dewa Penghancur sekelas Shiva pun mungkin akan kesulitan berdiri di depannya. Sekalipun kekuatan dari seluruh mitologi di dunia ini bersatu, Trihexa akan tetap tak terhentikan. Bahkan Dewa Naga Merah Sejati Great Red hanya akan menjadi domba di hadapan seekor singa.

Lalu dengan segenap kekuatanku? Apakah aku sanggup?

Jika situasinya sudah seperti ini, aku tidak tahu lagi akan dengan cara apa untuk menangkap Trihexa dan mengambil intisari kehidupannya sebagai Artefak Keempat Matrix.

Sssiaaaaaaaaaaalllllll!

Rizeviiimmm sialaaaaaaaaaaaannnnnnn!

.

To be Continued...

.

Note : Okeh-okeh, update lagi nih. Sesuai janji ya, hari kamis.. Eheheheeee.

Pertama dulu. Buat kawan-kawan reviewer yang setia ninggalin jejak, lebih khusus untuk yang sejak awal-awal FF ini publish dan sering balas-balasan PM dengaku, Hihihiii. Jadi gini, udah lama banget kan aku hampir ga pernah lagi balas review kalian di PM. Yaaa, ga ada alasan khusus sih. Lebih karena alasan yang sama dengan FF ini yang makin lama updatenya. Jadi, mohon dimaafkan yaa.

Kemudian gimana yah chapter ini, banyak nanggungnya yah mungkin. Hihiii.

Pertarungan Sekiryutei dan Hakuryouku yang saat ini mereka lebih kuat dari The God of Bible dan Satan Lucifer. Lalu sudah aku beberkan pula seperti apa kekuatan penuh militer Aliansi Tiga Fraksi.

Mengenai nasib Rias dkk, kalian jangan terlalu berharap banyak mereka akan berbalik kubu. Aku tidak menjanjikan itu.

Dan hwahwahwahwa, Gaara serta Sasuke. Mantap ta? hihihiiii... :)

Lalu terakhir, bagian terburuknya adalah Trihexa [666] yang akan segera bangkit sebagai makhluk tiada tanding. Naruto sendiripun tidak tahu dengan cara apa harus mengatasinya.

Ulasan Review:

Phuhahahahaaaaa. Aku banyak dimarahin karena kelamaan update yang kemarin itu. Tapi yaa, udah lah. Yang penting FF ini masih jalan terus.

Tambahin lagi nih petunjuk mengenai tentang perang malam hari, biar kalian lebih gampang menebak apa yang sebenarnya terjadi. Jadi begini, tidak ada flashback untuk peristiwa di dalam Perang Armageddon itu sendiri. Cerita perang hanya menggunakan alur maju. Dan kalaupun ada flashback, maka itu untuk peristiwa yang telah terjadi jauh di masa lampau.

Evil Piece Bidak Raja punya kelemahan? Hmhmhmmm, oke laaaah.

Ada yang bahas hitung-hitungan berapa biji jumlah bulan nih? Jadi sebenarnya di Underworld untukk FF ini punya 7 biji bulan (Chapter 74). Ada bulan yang nongol di malam hari, ada juga yang pas masih siang. Satu biji bulan udah ditarik Sasu pas di chapter 74, jadi masih sisa 6. Begitu.

Memang ada tiga karakter dari Fate Series yang sejak lama aku rencanakan bakal ikut perang. Jadi tunggu saja sebentar lagi. Hanya saja jangan berharap banyak yaa, mereka cuma pelengkap untuk plot sampingan saja.

Yup, untuk pedang Ex-Durandal Xenovia yang rusak karena dipatahin Naru pakai jari, itu udah diperbaiki kok. Hanya aku saja yang kelupaan menyebutkannya di chapter kemarin.

Oh iya, yang kemarin ngedo'ain, makasih banget yaa. :)

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita.

Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

.

.

.