Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Ahad, 31 Desember 2017

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . .

Telunjuk istriku mengarah ke bagian tengah dada Trihexa. Di sana, ada sesuatu yang membuatku menganga tak percaya dengan mata melebar kaget, sampai aku hampir lupa caranya bernafas.

Ophis Sang Ketidakbatasan...! Dia seperti sedang dicerna. Perlahan tapi pasti, setiap bagian dari tubuh kecilnya, setiap sel dan setiap energi tak terbatas yang dia miliki, terserap dan menyatu dengan keberadaan Trihexa.

Aku tidak merasakan lagi sinyal kehidupan Ophis. Yang tersisa darinya, hanyalah segumpal kekuatan yang terus menyusut seiring dengan aliran energi yang terus dihisap Trihexa.

Aku tak bisa berkata apapun lagi.

Aku mengerti dengan jelas situasinya.

Langkah kami meminjamkan Ophis pada Orang Tua itu sebagai perlindungan terhadap dirinya dari ancaman Tim DxD, Aliansi Tiga Fraksi, dan seluruh dunia yang menentangnya, malah dia gunakan untuk hal diluar perkiraan kami. Tidak satupun dari aku, Hinata, Sona, atau Sasuke sempat terlintas pemikiran bahwa Rizevim punya ide segila ini.

Dengan menyerap semua kekuatan dan entitas Dewi Naga Ophis Sang Ketidakbatasan, Binatang Pengkiamat Trihexa [666] akan bangkit dengan kekuatan tak terbayang akal, berkali-kali jauh lebih kuat dari Trihexa yang pernah hidup jaman dahulu.

Dia akan bangkit sebagai makhluk tiada tanding.

Dewa Penghancur sekelas Shiva pun mungkin akan kesulitan berdiri di depannya. Sekalipun kekuatan dari seluruh mitologi di dunia ini bersatu, Trihexa akan tetap tak terhentikan. Bahkan Dewa Naga Merah Sejati Great Red hanya akan menjadi domba di hadapan seekor singa.

Lalu dengan segenap kekuatanku? Apakah aku sanggup?

Jika situasinya sudah seperti ini, aku tidak tahu lagi akan dengan cara apa untuk menangkap Trihexa dan mengambil intisari kehidupannya sebagai Artefak Keempat Matrix.

Sssiaaaaaaaaaaalllllll!

Rizeviiimmm sialaaaaaaaaaaaannnnnnn!

.

To The End of The World

Writen by Si Hitam

.

Chapter 87. Armageddon War, End of The World - Part 11.

.

-Pulau Langit Agreas-

"Azazel sensei, kenapa berhenti disini?"

"Kalau begitu aku bertanya balik, Tobio. Untuk alasan apa kita harus bergerak secepatnya?"

Slash Dog -Tobio Ikuse, tak punya jawaban. Padahal tadi mereka bergegas meninggalkan ruang aula bawah tanah yang tiba-tiba 'ramai', tapi begitu melewati lorong yang sisi kiri dan kanannya terdapat banyak pintu, Azazel berhenti begitu saja, lalu mengisap cerutu.

Asap mengepul tipis membentuk lingkaran seperti donat, keluar bersama embusan nafas Azazel.

"Griselda dan Dulio, kau pikir siapa mereka eh?"

"Ah, ya. Aku mengerti."

Griselda Quarta adalah Ratu Hati Seraph Gabriel, bukan malaikat sembarangan sehingga ia menempati posisi itu. Sang Joker Dulio, adalah pemilik Sacred Gear Longinus terkuat kedua Zenith Tempest. Baik Euclid maupun Walburga, tentu tidak akan jadi penghalang.

"Tidak lama lagi mereka akan menyusul ke sini. Kita tunggu saja."

"Ha'i."

Tobio sadar, akan jadi hal mustahil bagi mereka -dirinya dan Azazel, secara langsung terang-terangan menuju lokasi kebangkitan Trihexa, tempat dimana Rizevim Livan Lucifer berada bersama Ophis dan tiga Naga Jahat Legendaris serta Uzumaki Naruto dan Uzumaki Hinata.

Maksudnya, dengan hanya mereka berdua saja maka sudah pasti semua orang akan menganggap gila!

Walau bersama Dulio dan Griselda pun, perubahannya tidak akan signifikan.

Hal yang dapat Tobio pikirkan saat ini, adalah...

Azazel pasti sudah merencanakan dan menyiapkan hal yang lebih gila, yang tak seorang pun menduganya.

Tiba-tiba angin berat yang membawa hawa menusuk kesadaran bertiup kencang melewati mereka. Butuh waktu beberapa saat bagi Tobio dan Azazel untuk mengkokohkan pijakan kakinya.

"Apa itu tadi?!"

"Seharusnya kau sudah bisa menebaknya, Tobio? Perasaan mengerikan seolah hendak menarikmu ke kematian itu, tak lain adalah..."

"Trihexa!"

"Benar! Tidak mungkin dicegah lagi, dalam waktu kurang dari satu jam Imperial Beast Apocalypse 666 itu akan benar-benar bangkit."

Satu hal yang Tobio makin tidak mengerti. Trihexa akan bangkit sebentar lagi tapi kenapa Azazel malah berdiam di tempat ini? Seperti dia sengaja mengulur waktu.

Tujuan Tim [DxD] adalah menghentikan Trihexa, tapi ini malah terkesan membiarkannya.

Aneh!

Sebagai bawahan, Tobio hanya bisa menyerahkan hal itu pada Azazel. Daripada pusing memikirkannya dan sambil menunggu Dulio dan Griselda, ia menanyakan hal yang sedari tadi cukup mengganggu pikirannya.

"Sensei!"

"Hm, apa?"

"Hyoudou-kun dan yang lainnya, tampak bahwa mereka sendiri lah yang sangat ingin membereskan urusan dengan para penghalang di ruang aula bawah tanah tadi. Tapi, kenapa aku menangkap kesan kalau kita malah meninggalkan mereka?"

"Wah, ternyata kau cukup peka juga ya."

Memang, tadi sangat jelas sekali kalau mereka punya urusan masing-masing yang harus diselesaikan. Baik itu Rudiger dengan Kuroka, para pengguna Pedang Suci, Rias dengan Sona, dan tentu Vali dengan Issei juga.

Tetapi bukannya memberi dukungan, Azazel malah pergi meninggalkan mereka semua dengan sebuah kalimat klise 'Aku percayakan yang disini pada kalian!'.

Sampai di titik ini, Tobio menyadari bahwa Azazel memang tidak membutuhkan anak-anak itu lagi dan menganggap mereka hanya penghalang. Atau setidaknya kalau masih ingin dianggap berguna yaa dengan menyuruh mereka menghadapi Sona dan lainnya.

"Awalnya aku mengira, yang akan menghalangi kita adalah Euclid, Walburga dan para naga jahat. Jadi mengikutsertakan kelompok Gremory pastinya akan menguntungkan. Tapi aku dibuat terkejut melihat kenyataan bahwa kita memiliki musuh dalam selimut, si adik Maou Leviathan itu. Bahkan Vali juga ada disana, dengan kekuatan baru pula. Aku sampai tak habis pikir."

"Terus?"

"Ya sudah, kubiarkan saja mereka berbuat sesukanya."

"Tapi bagaimana dengan Hyoudou-kun?" tanya Tobio.

Abaikan yang lain, Sekiryutei itu awalnya diperlukan untuk menjadi salah satu ujung tombak kekuatan pasukan tempur Aliansi Tiga Fraksi dalam perang.

"Aku sengaja memberikan artefak Nail of Helena agar dia bisa menggunakannya dalam perang untuk menghabisi musuh-musuh Aliansi. Dengan artefak itu, Sekiryutei akan mencapai kekuatan yang melebihi The God of Bible, kembali menjadi Ddraig Sang Kaisar Naga Merah dengan kekuatan prima seperti saat masih hidup sebelum disegel dalam Sacred Gear. Dengan demikian tanpa kita perlu bersusah payah, dia bisa dimanfaatkan sebagai boneka untuk mengalahkan lawan-lawan berkekuatan super sekelas dewa, yang aku yakin Uzumaki Naruto pun akan kesulitan menghadapinya."

Tobio sudah tahu itu, tapi...

"Kenapa sensei malah mengijinkan Hyoudou-kun menggunakan artefak itu di sini?"

"Kalau tidak begitu, siapa yang akan mengatasi Vali? Kau dengan kekuatan penuh pun tak bisa mengalahkan Vali yang sekarang. Aku sungguh tidak menduga hal ini, dan kenapa pula Vali bisa bersama komplotan itu!?"

Azazel saja tidak tahu, apalagi Tobio.

Kenyataan bahwa Vali bekerjasama dengan Sona, berarti juga beraliansi dengan Uzumaki Naruto dan sama artinya satu komplotan dengan Rizevim.

Satu hal yang mesti dicamkan! Vali itu memendam kebencian paling dalam sampai mati pada Rizevim, jadi bagaimana mungkin mereka satu komplotan!?

Lelucon macam apa ini!?

Dalam hati, Azazel dibuat menangis sampai tampak seperti orang tertawa.

Ah, tapi itu sudah terjadi dan itu kenyataannya. Azazel tidak bisa berbuat apa-apa untuk hal itu.

Makanya, keputusan membiarkan Issei menangani Vali menjadi keputusan terbaik saat ini.

Lalu, selanjutnya bagaimana?

"Itu mereka!" ucap Azazel.

Di ujung lorong, tampak Dulio dan Griselda berjalan cepat. Sampai akhirnya kedua malaikat itu bergabung dengan Azazel dan Tobio.

"Maafkan aku karena terlalu lama, Azazel-sama." pinta Griselda membungkuk.

"Tak perlu formal begitu. Lagipula kita tak perlu bergegas."

"Kalau begitu apa rencana kita, Azazel-dono?" tanya Dulio.

Azazel membelakangi ketiga muda-mudi itu, lalu melangkah santai. "Masih ada waktu satu jam kurang, kita hanya perlu tiba di lokasi sebelum Trihexa bangkit. Akan sangat buruk kalau kita terlambat semenit saja, tapi aku sangat yakin dengan rencana ini."

Tiga orang lainnya mengangguk.

"Ayoo!" perintah Azazel.

.

.

Pada saat yang sama, sepasang laki-laki dan perempuan setapak demi setapak menaiki tangga salah satu bangunan yang terletak jauh di pinggiran Pulau Langit Agreas.

Ketika melewati curtain wall, nampak dari balik kaca adanya percikan-percikan cahaya merah crimson dan putih perak yang saling bertumbukan di langit tengah kota, mencipta gelombang kejut setara gempa yang menggetarkan bangunan sebagai akibatnya. Tidak cukup itu saja, kadang kala dua titik cahaya berbeda warna itu juga melepas aura energi yang sangat kuat, yang membuat langit berselimut cahaya terang oleh ledakan-ledakan gila.

Keduanya berhenti sejenak, menatap ke titik dimana pertarungan itu terjadi.

"Saya pikir Vali pasti senang dengan pertempuran itu!"

Si laki-laki mengungkapkan isi pikirannya lebih dahulu.

Tapi si perempuan tampak tak terlalu peduli, meski ada hal yang ia sendiri cukup heran.

"Hyoudou Issei itu, tak habis pikirku sampai dia mau dimanfaatkan sebegitunya oleh Azazel."

"Benar sekali, Sona-sama. Padahal saya yakin dia tahu pasti apa resiko yang ia dapat dengan menggunakan artefak itu."

"Mungkin karena sudah sifat dasarnya, sehingga tak mempedulikan resiko lagi. Hyoudou Issei, kalau saja dia melangkah di jalan yang benar pasti situasinya akan lebih baik."

"Saya setuju."

Berbalik meninggalkan pemandangan itu lebih dulu, Sona lanjut menaiki tangga. "Ayo Arthur, katamu Kuroka-san dan Le Fay berada lantai atas bangunan apartemen ini kan?"

"Iya. Le Fay menghubungi saya bahwa mereka ada di kamar 12-06, masih 5 lantai lagi yang harus kita naiki."

Secara tak sengaja, setelah urusan mereka masing-masing diselesaikan dengan tanpa ada korban dari kedua pihak, Sona dan Arthur bertemu tidak jauh dari tempat mereka mencegat kelompok Tim [DxD]. Pada saat itu pula, Arthur mendapat pesan lewat sihir telekomunikasi bahwa Kuroka terluka parah.

Keduanya pun sepakat ke tempat Kuroka dahulu sebelum menuju lokasi Uzumaki Naruto berada. Kuroka dan Le Fay adalah rekan mereka, yang tak akan mereka tinggalkan.

Meski ini pertama kali Sona dan Arthur hanya berdua pada satu tempat dan waktu, tak membuat suasananya sepi hening nan suram. Selama menaiki tangga, mereka melanjutkan pembicaraan.

"Kuharap Tsubaki dan budak-budakku yang lainnya sudah sampai ke tempat Naruto-san berada. Tempat ini terlalu berbahaya bagi mereka untuk berkeliaran."

"Tak usah terlalu khawatir begitu. Bikou bersama mereka, dia pasti menjaganya. Serigala Fenrir pun juga ada disana."

"Haha, iya juga sih. Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan pada Kiba-kun, Xenovia, dan Irina? Kau tidak mungkin kalah dari mereka bertiga kan?"

"Saya tinggalkan mereka begitu saja."

"...?"

"Mereka cukup sadar diri bahwa kekuatan mereka bertiga tidak lah cukup untuk melawan saya, dan saat ini mereka sedang gamang. Saya sengaja memberikan pecahan pedang Excalibur Ruler dan informasi tentang apa yang dilakukan Surga terhadap pedang Suci di luar sana. Setidaknya itu mampu menyerang tekad mereka agar berhenti menghalangi kita, serta memikirkan kembali apa yang selama ini mereka lakukan."

"Caramu keras juga ya. Hal seperti itu bisa membuat mereka kehilangan arah tahu!"

Kehilangan arah dan tujuan hidup lebih buruk dibandingkan tubuh yang terluka. Tapi...

"Itu cara terbaik untuk mereka saat ini, ya kan?"

"Hu'um." Sona mengangguk.

Lantai demi lantai telah mereka lewati lagi.

"Lalu bagaimana dengan anda sendiri? Apa yang anda lakukan pada tuan putri Gremory itu?"

"Aku...? Aku tidak melakukan apa-apa."

"Huh!? Bagaimana bisa." Arthur terperangah. Bagaimana ceritanya Sona bisa bebas dari sana tanpa melakukan apa-apa?

"Ya, bisa lah! Kau ingat dengan Koneko kan?, adiknya Kuroka-san itu."

Arthur mengangguk. "Kenapa dengannya?" tanyanya penasaran.

"Dia sendiri yang membereskannya untukku. Ah, tidak! Tapi untuk dirinya sendiri."

"...?"

"Didalam hati Koneko telah tertanam perasaan kuat pada Naruto-san. Tidak mengherankan kalau dia langsung percaya dengan cerita yang aku ungkapkan padanya. Sehingga dia memutuskan bawah dia sendirilah yang harus menghentikan Rias, [Raja]-nya."

"Wah, hebat sekali. Naruto-san mampu mempengaruhi hati orang lain sedalam itu."

"Memang begitulah dirinya." Dalam hati Sona mengakui, karena ia pun merasakan sendiri apa yang terjadi pada hatinya.

"Lalu...?"

"Aku hanya perlu duduk menonton, dan semuanya selesai. Sama sepertimu, Rias dan budak-budaknya kutinggalkan dalam kondisi tanpa arah."

Ekspresi Arthur berubah, meski hanya sedikit. Sedikit sekali. Sedikit menampakkan raut kesal.

"Anda tadi mengecam tindakan yang saya lakukan pada Kiba-kun dan temannya, tapi anda sendiri ternyata juga melakukan hal yang sama."

"Iya iyaaaa. Tak usah perdebatkan itu! Dengan begitu, kelompok Gremory tidak akan menghalangi kita lagi."

Arthur mengangguk setuju.

Suasana antara mereka masih sangat tenang, meski di luar sana sedang terjadi pertarungan mengerikan antara Sekiryutei dan Hakuryouku. Selain itu, mereka juga sempat merasakan hawa mengerikan lain yang berasal dari bawah tanah Pulau Langit Agreas, yang mereka yakini berasal dari Trihexa yang sebentar lagi akan bangkit.

Mungkin kedua orang itu berpikir hanya di waktu ini mereka masih bisa merasakan ketenangan, sebelum nanti dihadapkan pada puncak ketegangan yang panjang.

Sampai di depan pintu kamar bernomor 12-06, mereka berhenti.

Sebelum membuka pintu, ada hal yang ingin Arthur tanyakan.

"Mengenai Azazel, apa anda memikirkan sesuatu, Sona-sama?"

"Sudah sejak ia menghilang tadi aku memikirkannya, tapi tak ada satupun hal yang terpikirkan olehku."

Sona tidak lah bodoh untuk menyadari maksud terselubung perginya Azazel bersama Tobio dan meninggalkan Rias bersama dirinya. Perkataan Azazel mengenai strategi membagi Tim [DxD] lalu mempercayakan yang di aula bawah tanah pada Rias memang terdengar manis di telinga kelompok Gremory. Tapi jika Azazel memang benar punya niat baik maka dia tidak akan meninggalkan muridnya pada situasi yang tak pasti. Azazel seolah sengaja membuang kelompok Gremory.

Sona melanjutkan, "Azazel itu licik, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan saat ini adalah mewaspadainya. Aku sudah menitipkan pesan ini pada Tsubaki jika lebih dahulu bertemu Naruto-san agar mereka dapat lebih berhati-hati."

"Saya mengerti."

"Hanya tindakan itu saja yang bisa kita lakukan saat ini."

Cklekk!

Arthur membukakan pintu. Sebagai lelaki gentle, ia mempersilahkan Sona masuk lebih dahulu.

"Nii-samaaaa!"

Begitu masuk ke dalam ruang kamar, pemuda itu langsung mendapat pelukan erat di pinggangnya oleh sang adik.

Mahkota pirang indah Le Fay yang tak tertutupi topi penyihir segera mendapat elusan lembut dari tangan hangat sang kakak.

"Bagaimana keadaanmu, Le Fay-chan?"

"Aku baik-baik saja, tapi..."

Pandangan Arthur beralih pada Kuroka yang terbaring kaku di atas kasur.

Sona langsung mendekat, memeriksa kondisi Kuroka. "Lukanya sudah tidak apa-apa, dia hanya kehabisan tenaga."

Arthur bisa lebih tenang, temannya ini memang nekat. "Memilih Rudiger sebagai lawan, sungguh tidakan bodoh!"

"Memangnya kau pikir temanmu ini apa huh!?" Kuroka tiba-tiba membuka matanya dan bersuara.

"Kalau kau tidak bodoh dan nekat, kondisimu tidak akan sampai seperti ini!"

"Berisiiiik!" bentak Kuroka.

Arthur sekarang bisa tersenyum lega. Kalau Kuroka sudah bisa membentak orang lain, berarti dia sudah tidak apa-apa.

"Tidak usah ribut." Sona menengahi. Ia lalu menatap Kuroka yang terbaring tak bisa bergerak, "Aku akan mengirimmu ke tempat pribadiku di istana keluarga iblis Sitri di Underworld menggunakan sihir teleportasi. Ada pelayan yang akan merawatmu di sana."

"Tidak mau!" tolak Kuroka. "Aku ingin melanjutkan pekerjaan di sini. Sampai semuanya selesai, aku tak akan turun panggung."

"Apa yang bisa kau lakukan dengan tubuh yang tidak bisa bergerak itu huh?" ucap Arthur sinis.

"30 menit. Selama waktu itu, sel-sel tubuhku secara aktif akan menyerap touki atau energi senjutsu di sekitar sini sehingga minimal seperlima energi tubuhku akan kembali dan aku sudah bisa bertarung lagi."

"Kita tak memiliki waktu 30 menit hanya untuk menunggu saja." tukas Sona.

"Tuh kan!" Arthur nampaknya juga ingin agar Kuroka mendapat perawatan.

Le Fay bingung harus memihak siapa. Wajahnya bolak-balik ke kiri dan kanan melihat perdebatan Kuroka dengan Sona dan Arthur.

"Kita harus terus bergerak." ucap Arthur lagi.

"Kalau begitu, gendong aku sampai tubuhku bisa bergerak lagi."

Sona tahu perdebatan ini hanya akan membuang-buang waktu. Ia menatap lurus mata Arthur.

"Tck, perempuan memang merepotkan." mengembuskan nafas kesal, Arthur mengalah.

Selanjutnya tujuan mereka berempat adalah lokasi tempat kebangkitan Trihexa.

Arthur mengangkat tubuh Kuroka yang masih belum bisa begerak. Terasa cukup ringan, padahal Kuroka memiliki tubuh tinggi semampai serta dada dan pantat yang ukurannya melebihi rata-rata perempuan normal.

"Heiii!" Kuroka memekik. "Gendong aku dengan benar!"

"Ini sudah benar." sahut Arthur.

"Benar dari mana? Kau menggendongku di bahu seolah aku ini karung beras! Gendong aku seperti pangeran menggendong tuan putri!"

"..."

Arthur mengacuhkannya. Seandainya saja Bikou yang berada di sini, tentu dirinya tak akan dibuat jengkel oleh tingkah aneh Kuroka. Ya, memang hanya Bikou saja dalam timnya yang mampu mengurus kelakuan si kucing hitam ini.

Tanpa bicara lagi, keempat orang ini pun bergegas ke lokasi yang mereka tuju. Keluar kamar dan turun tangga lagi. Seandainya saja Sona sudah memiliki koordinatnya, tentu ia bisa membawa mereka berempat ke tempat itu lebih cepat dengan sihir teleportasi.

.

.

Sementara itu di tempat lain, aula ruang bawah tanah Pulau Langit Agreas yang sangat luas dengan langit-langit tinggi, sekelompok remaja berkumpul tanpa melakukan apa-apa.

Setiap orang dalam kelompok itu menunjukkan ekspresi frustasi yang sama persis, tatapan kosong layaknya orang yang tak punya arah tujuan hidup. Mereka semua gamang, bimbang akan melakukan apa setelah ini, setelah semua yang mereka alami sampai sekarang.

Remaja-remaja itu terdiri dari lima perempuan dengan pesona memikat yang berbeda-beda dan satu laki-laki berpenampilan cantik layaknya bishoujo. Si perempuan berambut merah crimson yang paling tertekan, sedangkan lima orang lainnya berharap pada perempuan itu sebab dia lah pemimpinnya, dia lah [Raja]-nya.

Koneko mungkin sudah tahu apa yang akan ia lakukan, tapi tidak dengan yang lainnya. Meski begitu, ia sendiri sebagai budak tidak akan melakukan sesuatu diluar perintah sang [Raja]. Koneko telah mengambil keputusan ini sebab sekarang mereka semua sudah berada di jalan yang sama, itu lah yang ia yakini.

Akeno yang merupakan [Ratu] sebagai wakil, bahkan Rossweisse yang paling tua sekalipun tak ada yang mampu bersuara. Mereka berlima tidak berani merecoki pikiran [Raja] mereka yang saat ini sedang kalut-kalutnya.

"Tidak bisa kah kalian tidak diam saja dan bantu aku berpikir?" pinta Rias tiba-tiba.

Semua menggeleng.

"Ini hal yang seharusnya kau putuskan sendiri, Buchou." jawab Akeno.

"Huufffttt..." Rias mengembuskan nafas berat nan panjang. Pikirannya benar-benar buntu. "Semua hal ini terlalu rumit untukku."

Katakanlah kalau Rias meyakini seyakin-yakinnya bahwa apa yang dikatakan Sona, semua yang diceritakannya, dan semua informasi itu benar adanya. Lalu sandingkan dengan posisi Rias di dalam kaum Iblis, sebagai adik dari Maou Sirzech Lucifer. Maka, sudah jelas situasi ini adalah kontradiksi yang menyakitkan.

Disatu sisi, ia dibesarkan sebagai putri bangsawan dan kakaknya adalah junjungan oleh semua kaum iblis. Ia tumbuh besar dan berkembang hingga mencapai titik ini, semua berkat dukungan orang-orang terdekatnya yang tidak satupun tidak terkait dengan iblis ataupun Aliansi Tiga Fraksi. Rias akan jadi orang tak tahu diri dan tak tahu terima kasih jika meninggalkan mereka. Tidak mungkin pula baginya menentang keluarga sendiri.

Namun di sisi lain, Aliansi Tiga Fraksi memiliki sebuah tujuan yang bertentangan dengan prinsip keadilan yang selama ini ia pegang teguh.

Apakah Rias akan tetap bersama keluarganya dengan membuang prinsip keadilan yang ia pegang, atau kah ia akan meninggalkan keluarganya sendiri demi mempertahankan prinsip keadilannya itu?

Padahal jika dipertimbangkan secara universal dan dipandang dari berbagai sudut, yang namanya 'Prinsip Keadilan' itu sifatnya relatif.

Adil bagi seseorang, akan berbeda dengan adil dalam pandangan orang lain.

Tidak perlu mengambil contoh rumit pada kehidupan manusia dan makhluk berintelegensia lainnya. Sederhana saja, cukup dengan melihat perilaku hewan.

Di padang rumput, ada kelinci yang sedang mencari makan. Ia makan demi memenuhi hidupnya dan memenuhi air susunya yang ia akan berikan pada anak-anaknya yang baru lahir. Kemudian datanglah seekor musang, memangsa kelinci tersebut hingga mati.

Sungguh tidak adil bukan? Bagi si ibu kelinci dan anak-anaknya yang masih kecil. Sudah pasti anak-anak kelinci itu juga mati.

Tapi bagaimana kalau ternyata si musang adalah seorang ibu yang juga sedang mencari makan untuk anak-anaknya? Apakah perburuan musang terhadap kelinci harus dihentikan? Kalau demikian, si ibu musang tak memiliki makanan untuk anak-anaknya yang justru akan membunuh keluarga musang tersebut.

Nah, begitu pula dengan yang Rias hadapi. Dirinya sudah mengerti bahwa Tatanan Dunia Baru Imperium of Bible memiliki dampak positif. Bayangkan saja!, jika semua manusia dibumi taat menjalankan ajaran agama yang tertuang dalam Injil secara menyeluruh, bisa dipastikan tak akan ada lagi yang namanya kejahatan. Dunia akan sangat damai dan tentram. Tapi di sebalik sisi, Imperium of Bible akan merenggut kebebasan dan hak asasi semua orang. Sisi ini lah yang Rias tak bisa menerimanya.

Semua itu belum ditambah lagi dengan polemik lain, masalah yang jauh lebih penting dan essensial. Tentang keruntuhan Cardinal System yang Sona ungkapkan, kiamat sebenarnya yang saat ini sedang mati-matian dicegah oleh Naruto dan Hinata.

Dengan memikirkan semua persoalan itu dan berada pada posisinya ini, Rias tak bisa berpikir dan tak mampu memutuskan apa-apa.

Di tengah kebimbangan itu, datang tiga orang lain yang salah satunya adalah laki-laki.

"Kiba-san!" Asia langsung dirundung khawatir begitu melihat satu temannya kembali dengan baju compang-camping, serta luka lecet di sana sini. "Xenovia-chan, Irina-chan!" begitu juga dengan dua lainnya.

Ketika Asia hendak memberikan sihir penyembuh Twillight Healling...

"Tidak perlu, Asia-chan." tolak Xenovia.

"Ya, kami baik-baik saja. Hanya lecet sedikit."

"Syukurlah." Gasper bisa bernafas lega.

Rias menoleh, "Bagaimana..."

"Semuanya berakhir baik, Buchou." potong Kiba.

"Ya, begitulah. Arthur-san meninggalkan kami begitu saja." sambung Xenovia dengan nada santai.

Penasaran dengan yang terjadi, Akeno bertanya. "Apa yang sebenarnya terjadi pada pertarungan kalian? Kalau dapat kembali hidup-hidup seperti ini, artinya kalian bertiga menang kan?"

Irina dan Kiba menggeleng.

"Tidak begitu, Akeno-senpai." jawab Xenovia. "Sebenarnya kami bertiga belum mampu menandingi Arthur Pendragon, tapi berkat dia kami berhasil meraih pencapaian yang tidak terduga."

"Eh, maksudnya?" Rossweisse tidak tahan untuk tidak bertanya.

"Akan kuceritakan detailnya nanti." sahut Kiba. "Sebelum dia meninggalkan kami, dia memberitahukan informasi tentang yang sebenarnya terjadi. Bahkan dia memberikan pecahan ketujuh pedang Suci Excalibur Ruler kepada Xenovia sebagai harga bahwa ucapannya tidak bohong."

"..."

Mengamati apa yang terjadi dengan Rias dan yang lainnya di tempat ini, Irina mampu menarik kesimpulan. "Dan tidak hanya pada kami bertiga saja, kalian yang disini pasti juga mengalami akhir yang sama. Benar kan?"

Rias mengangguk. Tiga anggota kelompoknya yang baru datang ini ternyata tidak membawa sedikitpun angin segar, malah menambah beban pikirannya.

Ada satu orang lagi yang belum datang.

"Issei. Aku harap dia baik-baik saja." ungkap Rias.

Semuanya mengangguk dan mendo'akan hal yang sama. Masih tersisa Hyoudou Issei yang belum selesai urusannya dengan Hakuryouku. Itu adalah takdir yang tidak mungkin mereka ganggu. Jadi untuk persoalan itu, menunggu hasilnya keluar adalah satu-satunya hal yang dapat dilakukan.

Sekarang selain tentang arah dan tujuan kelompok ini selanjutnya, tidak ada lagi hal yang harus dipikirkan.

Raut muka Rias berubah. Meski tak satupun keputusan yang dapat ia pikirkan, tapi masih ada hal yang bisa dilakukan.

"Kita ini sudah seperti kelompok yang terbuang dan tak lagi memiliki peran dalam cerita, benar begitu bukan?" tanyanya ironis.

Pernyataan Rias dijawab anggukan oleh budak-budaknya.

"Ahahaaaa, ini menggelikan."

Mereka semua prihatin dengan tawa miris dari bibir sang [Raja].

"Kalau kita diam saja tak melakukan apa-apa lagi, maka peran kita akan benar-benar berakhir. Mau pulang tidak mungkin! Memang mau pulang kemana? Ditengah-tengah situasi yang tak jelas ini, kita sama sekali tak memiliki tempat pulang. Oleh karena itu, satu-satunya yang bisa kita lakukan saat ini adalah..."

Akeno, Asia, Gasper, Kiba, Xenovia, Koneko, Rossweisse, dan Irina, dengan jantung yang berdebar-debar menunggu perkataan selanjutnya dari mulut Rias.

"Kita akan ke lokasi dimana semua orang akan berkumpul di Pulang Langit Agreas ini, tempat kebangkitan Trihexa."

"...?"

Mereka bingung, ucapan Rias sangat diluar perkiraan. Itu terdengar tak masuk akal untuk sebuah keputusan.

Senyum di bibir Rias menunjukkan bahwa orangnya telah mendapatkan keyakinan. "Kita tidak akan mengikuti langkah Sona atau berpihak pada siapapun. Aku hanya akan mengikuti hati nuraniku dan membiarkannya membimbingku. Firasatku mengatakan kalau akan ada hal besar terjadi disana dan aku berharap kita akan menemukan jalan yang kita ambil di tempat itu. Aku yakin."

Akeno paling pertama merespon, "Kalau memang itu kehendakmu Buchou, maka kami pasti akan mengikutinya. Iya kan, semuanya?"

"Oooooo...!"

Semua pikiran telah sepakat, mereka memiliki hati yang sama.

Maka selanjutnya...

.

.

.

-Arena Perang, Underworld. At 03.27 am-

Area sepanjang pantai barat teritori kekuasaan Keluarga Iblis Gremory rupa-rupanya sampai saat ini masih begitu ramai dengan hentakan-hentakan zirah perang. Kedua kubu mungkin telah kehilangan lebih dari dua pertiga jumlah masing-masing, tapi itu tak akan menyurutkan semangat juang sampai meraih kemenangan.

Awalnya berjalan sesuai dengan negosiasi yang telah disepakati antar pimpinan kedua belah pihak. Dewi Perang Bishamon dengan Great Seraph Gabriel dan Maou Serafall Leviathan melakukan gencatan senjata pada pukul 6 sore hari. Bukan berarti peperangan berhenti, mereka hanya mengambil jeda istirahat sampai waktu yang belum ditentukan.

Kemudian Seraph Gabriel menerima pesan dari markas pada pukul 1 dini hari untuk melanjutkan perang. Sebagai ksatria yang menjunjung keadilan dan kejujuran, ia mengirimkan kurir untuk menyampaikan pesan tersebut ke kubu seberang. Merasa sudah cukup beristirahat, Dewi Perang Bishamon memutuskan untuk melanjutkan perang pada waktu itu juga, dan keputusannya disetujui oleh Shikamaru dari markas pusat.

Perang pun berkobar lagi dengan dahsyatnya, bahkan lebih mengerikan dibandingkan dengan siang hari.

Dua jam lebih bertempur hingga menjelang pukul empat pagi-pagi, pertempuran antar kedua pemimpin sebagai kelanjutan yang siang hari telah menunjukkan hasil.

Maou Serafall Leviathan dan Seraph Gabriel dibuat kehabisan tenaga dan tak bisa bertarung lagi dengan pengorbanan Dewi Perang Bishamonten yang terluka parah meregang nyawa dan nyaris mati.

Ketiadaan pemimpin dari kedua belah kubu membuat situasi perang menjadi kacau tak terkendali.

Tak lama berselang, pasukan bantuan yang dikirimkan Maou Falbium dari Kota Lilith pun tiba. Mereka dalam waktu singkat berhasil mendominasi jalannya perang.

Katakanlah kalau Falbium sebagai jenderal perang Aliansi Tiga Fraksi mampu membuat perhitungan cermat, sehingga menciptakan kondisi dimana lawannya tidak dapat memobilisasi pasukan bantuan ke titik ini dan mempertahankan dominasinya.

Jumlah pasukan bantuan yang dikirim Falbium ke titik ini sama sekali tidak bisa dibilang sedikit. Jumlahnya sama dengan jumlah awal pasukan yang dikirim ke sini, yakni 3o ribu personel. Setengahnya adalah pasukan asli dari Aliansi Tiga Fraksi, tapi setengahnya lagi yakni 15000 prajurit dengan sekali lihat saja akan langsung ketahuan kalau mereka bukan dari ras malaikat, malaikat jatuh, maupun iblis.

Para kontestan lain ini memang baru sekarang dinaikkan keatas panggung peperangan. Mereka adalah para pasukan yang diambil dari setiap mitologi minor diseluruh dunia yang telah ditaklukkan oleh Aliansi Fraksi lebih dahulu sebelum perang dimulai. Mereka semua berasal dari mitologi minor yang tidak punya kekuatan untuk membangkan terhadap perintah petinggi Aliansi. Jumlah mereka sebanyak 15 ribu tersebut merupakan total akumulasi dari 15 mitologi minor yang telah tunduk. Sebanarnya masih ada 10 ribu lagi, tapi Falbium gerakkan ke titik lain.

Pada situasi yang tidak menguntungkan itu, dalam waktu kurang dari setengah jam saja, kubu Konoha dan sekutunya sudah berada diambang kekalahan.

Bagaimana tidak?

Sisa pasukan di kubu Konoha dan sekutunya hanya berkisar pada angka 5 ribu, sedangkan sisa pasukan Aliansi Tiga Fraksi yang bertempur di titik A ini mencapai 9 ribu dan ditambah dengan 30 ribu pasukan bantuan yang kondisinya prima, maka sudah jelas bagaimana hasilnya.

Bukan hanya itu saja, bantuan di kubu Aliansi yang datang ternyata jauh lebih kuat dari pasukan awal. Ada beberapa iblis kelas ultimate pengguna Evil Piece Bidak Raja yang kekuatannya setara Maou, lalu pasukan Exorcise pengguna replika pedang-pedang suci legendaris, dan para pengguna Sacred Gear Tiruan Boosted Gear dan Divine Dividing yang diperkuat dengan Holy Nail, pecahan dari artefak suci Paku Helena.

Pada penghujung malam ini, Falbium tak ragu lagi menerjunkan segenap kekuatan militer Aliansi untuk secepatnya memenangkan perang.

Ke titik paling belakang kubu Konoha dan sekutunya, dibalik bongkahan batu besar,

"Nggghhhh!"

Sakura Haruno berusaha memeras sisa-sisa chakra yang ia miliki untuk mengobati luka di tubuh Dewi Perang Bishamon yang tak sadarkan diri, padahal Sakura sendiri kelelahan berat hingga hampir tak mampu lagi melakukan ninjutsu medis.

Bukan tanpa alasan ini terjadi, oleh sebab dia telah menghabiskan banyak chakra yang ia berikan pada Katsuyu agar bisa mengobati semua prajurit perang yang terluka.

Katsuyu yang berada di titik ini tidak lah sebesar yang pernah ia panggil pada perang dunia shinobi keempat. Hewan-hewan kuchiyose yang mengikat kontrak dengan para shinobi, umumnya hidup dan tinggal ditempat lain yang terpisah dan jauh dari Konoha. Seperti Gamabunta yang tinggal di Desa Katak.

Namun beruntung bagi Sakura ketika kiamat tiba di dunia Shinobi, ada fragmen tubuh Katsuyu yang sedang berada di Konoha. Hanya seukuran tikus tanah.

Demi persiapan perang, Sakura dan Tsunade sebagai shinobi yang mengikat kontrak dengan Katsuyu lalu melakukan penelitian dan berhasil membuat fragmen itu tumbuh besar dengan cepat. Tapi karena tenggat waktu yang tak terlalu lama, fragmen itu hanya tumbuh sampai sepersepuluh ukuran tubuh asli Katsuyu di dunia shinobi. Walau begitu, tetap saja hewan ini sangat penting peranannya.

"Gh!"

Sakura hampir kehabisan nafas, pendar hijau di tangannya hilang seketika karena sisa chakra ditubuhnya tidak lagi mencukupi. Melihat ke dahinya yang lebar, tanda segel byakugou tampak pudar yang artinya simpanan chakranya pun sudah menipis. Hanya itu yang tersisa dan ia berniat menggunakannya disaat-saat terakhir nanti.

"Sakura-san."

Seorang shinobi lain datang dan membawa seonggok tubuh yang terluka.

"Astaga, Tenten!" Sakura terkejut. "Baringkan dia disini!" perintah Sakura pada Shinobi itu.

Setelah memeriksa sebentar. Sakura bisa sedikit bernafas lega mendapati Tenten masih hidup. Namun saat ini ia tak punya cukup chakra untuk memberikan pertolongan ninjutsu medis pada tubuh Tenten yang terluka parah dan tak sadarkan diri.

Kondisi Tenten ternyata jauh lebih parah dari Bishamon. Kedua kakinya terkena luka bakar hebat, sedangkan tangan kirinya hingga bahu lenyap tak ada lagi.

"Kenapa dia bisa begini?"

"Ada iblis kuat yang menyerangnya ketika dia lengah. Iblis itu mungkin salah satu iblis kelas ultimate, lalu menyerang Tenten-san dari jarak jauh."

Dengan perangkat senjata terbaru -Microfilament Razor Wires,Tenten menjadi shinobi petarung spesialis jarak dekat. Diserang dari jarak jauh tentu adalah kelemahannya.

Sakura menggigit bibirnya, merasa tak sanggup ia melihat kondisi tragis teman dekatnya meregang nyawa dengan mata kepalanya sendiri.

"Sekarang siapa yang memimpin?" tanya Sakura.

"Belum ada yang menggantikan posisi Dewi Bishamon sejak ia terluka dan dibawa kesini. Orang-orang terbaik kita sudah banyak yang tewas. Arya Kamandanu dan Dewi Benzaiten telah gugur."

"Ini buruk sekali. Apa kita hanya akan menunggu waktu sampai kita semua dihabisi musuh?"

Sakura tak bisa memikirkan apapun. Memang dirinya adalah ketua resimen pendukung dari unit medis, tapi dia tak memiliki kualifikasi untuk memimpin pasukan perang.

"Anoo, tadi ada informasi dari markas pusat yang memerintahkan kita mundur."

"...?"

"Mereka akan mengirim Ketua Unit Recon kemari, Georg si pemilik Sacred Gear Longinus Dimension Lost. Dia akan mentransfer massal kita semua meninggalkan titik ini."

"Tapi..."

Sakura tak suka keputusan itu. Mereka mundur, artinya membiarkan kubu musuh merengsek maju ke garis belakang pertahanan. Ini juga dapat diartikan sebagai kegagalan bagi mereka di titik A menahan gempuran musuh.

Namun mau bagaimana lagi?, yang memutuskan pasti Shikamaru jadi Sakura tak akan protes.

Masih terdengar suara riuh gemuruh dari arah pantai. Pertempuran di titik ini nampaknya masih belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai.

"Siapa yang masih bertempur disana?" tanya Sakura.

"Shinobu si Vampire legendaris. Hanya dia elit pasukan kita yang masih hidup dan bertarung."

Sakura sebenarnya ingin sekali bertempur digaris depan. Tapi ia tidak bisa meninggalkan posnya sebagai ketua unit medis.

Tak lama berselang, terdengar suara keras lainnya lagi.

Shinobi yang mengantarkan Tenten menunjukkan senyuman tipis. "Itu pasti bantuan untuk kita. Georg telah tiba untuk mentransfer kita semua."

Sakura mengangguk, "Aku akan memerintahkan semua unit medis untuk mengumpulkan prajurit-prajurit yang sedang dirawat agar memudahkan Georg mentransfer kita semua. Kau, pastikan semua anggota pasukan kita tidak ada yang tertinggal di tempat ini."

"Baik. Laksanakan!"

Ke tengah-tengah arena perang, tampak Georg yang baru datang langsung melibatkan dirinya dalam pertarungan. Dia pasti ingin mengalihkan perhatian semua pasukan musuh kepada dirinya agar memberikan kesempatan bagi pasukan yang akan ia transfer untuk berkumpul pada satu titik.

Pemuda berkacamata itu datang dengan pakian bersih dan rapi, tanda bahwa ini adalah pertama kali ia terjun langsung ke medan perang. Pakaiannya nampak seperti seragam sekolah dengan jas hitam dan jubah ala penyihir barat.

Sebelum ini, tugasnya sebagai ketua Unit Recon dan Infiltrasi adalah menyusup ke wilayah musuh, menjadi mata-mata dan mengumpulkan informasi lalu disampaikan ke markas. Dia terspesialiasi untuk misi berkat Longinus Dimension Lost dan kemampuan sihir tingkat tinggi yang dia kuasai.

"Baiklah, setidaknya dengan ini aku bisa memberikan waktu yang cukup untuk mereka."

Georg membuat lingkata sihir di atas telapak tangannya yang menengadah. Dari sana muncul sebuah buku tebal. Pasti itu buku sihir.

"Karena aku adalah keturunan pahlawan sekaligus penyihir legendaris Johann Georg Faust yang terkenal, pustakawan di Perpustakaan Seribu Mil Kunst Wunderkammer yang terletak di Dataran Tinggi Terakhir di Penghujung Semesta mau berbaik hati meminjamkan Grimoire ini. Grimoire terbaik yang berisi seribu mantra sihir terlarang tingkat tinggi."

Sebenarnya bukan karena hubungan itu Georg mampu mendapatkan buku tersebut. Sang Pustakawan adalah orang netral yang akan meminjamkan bukunya pada siapapun tanpa pandang bulu. Hanya saja syaratnya ialah datang langsung ke perpustakaan itu.

Jangan dikira mudah untuk datang kesana, bahkan bagi seorang dewa pun akan sangat sulit. Letaknya berada di penghujung semesta dan koordinatnya pun tak terpetakan dalam peta dunia.

Tapi tidak dengan Georg. Dia mempunyai Sacred Gear Longinus Dimension Lost yang membuat dirinya bisa menjelajah seluruh dimensi ruang sesuka hati.

"Ayo kita coba buku ini."

Georg membuka halaman tengah dari Grimoire, memilih secara acak ia pun merapal salah satu mantra.

Banyak pendaran cahaya berbagai warna yang muncul disekitar dirinya.

"Hm, apakah ini yang namanya Absolute Steal Magic? Teknik sihir yang memungkinkanku mencuri benda mati dari tempat manapun yang kubayangkan."

Seketika, semua perhatian pasukan Aliansi tertuju pada Georg. Mereka melihat ada banyak benda-benda metalik berdesain futuristik yang bermunculan menggantikan kilauan cahaya yang lenyap.

Semuanya adalah perangkat Defense Weapon System yang biasa terdapat di pangkalan-pangkalan militer di bumi. Ada Coilgun dan Railgun, mortar, peluncur roket, misil balistik, armamen-armamen tank, bahkan perangkat CIWS penangkal rudal yang umum terdapat di atas dek kapal perang. Selain itu masih banyak persenjataan lainnya lagi seperti machinegun kaliber besar. Bahkan ada persenjataan baru yang di dunia manusia sendiri belum dipublikasikan yakni Laser Beam Canon dan Plasma Canon.

Pasti tadi Georg membayangkan pangkalan militer milik USA saat membaca mantra lalu mengambil semua senjata disana dan membawanya kemari.

Meski yang dicuri hanya persenjataannya saja tanpa sekalian dengan pusat kontrolnya, Georg mampu mengoperasikan semuanya sendirian dengan teknik sihir.

Tidak salah kalau Georg disebut-sebut sebagai penyihir peringkat top.

Bahkan sebelum memiliki Grimoire itu saja, Georg sudah mahir menggunakan berbagai jenis sihir yang ada di seluruh dunia. Norse Magic, Demonic Spell, Fallen Angel Spell, Black Magic & White Magic, Fairy Magic, All Atribute-Nature Elemental Spell, bahkan teknik sihir pemanggilan seperti Dragon Gate Magic Circle pun ia kuasai dengan baik.

Sekarang saatnya.

"Fire!"

Suara muntahan peluru bergemuruh seketika dari berbagai senjata yang ditembakkan bersamaan.

Hanya perlu waktu beberapa detik saja, ribuan pasukan Aliansi tewas seketika. Sebagian yang lain selamat berkat beberapa iblis dan malaikat kelas tinggi yang membuat sihir pertahanan yang kokoh.

Serangan berhenti ketika amunisi habis. Ini waktunya bagi pasukan Aliansi untuk membalas.

Namun Georg tak memberikan kesempatan pada mereka.

Dia membalik-balik halaman Grimoire itu lagi dan melafalkan mantra untuk mengaktifkan sihir terlarang lainnya.

The Melody of Serpent Genesis

Kali ini, air laut di dekat pantai beriak bersamaan dengan suara dengungan merdu. Makin lama makin besar dan semakin tinggi. Sampai akhirnya 12 monster berwujud ular laut raksasa sepanjang 150 meter yang tubuhnya tersusun atas air laut tercipta, bergerak dan juga hidup.

"Ayo kalian, musnahkan semua musuh-musuhku.!"

Sekali Georg mengatakan perintah, 12 monster Sea Serpent itupun mulai membabat habis formasi pasukan Aliansi.

Lima menit yang sangat sulit akhirnya terpecahkan berkat bantuan yang datang. Perlahan-lahan keduabelas monster air itu mulai kehilangan massa tubuhnya, mengecil, dan kembali lagi menjadi air biasa.

Hal itu berkat kerjasama ratusan penyihir yang menembakkan sihir-sihir elemen api dan lava. Mereka semua berasal dari perkumpulan asosiasi penyihir.

Namun Georg tak berhenti disitu saja. Ia melafalkan mantra teknik sihir lainnya lagi.

Tree of Ressurection

Bagai datang dari ilusi, tiba-tiba tumbuh pohon raksasa yang dahannya mampu melingkupi seluruh bibir pantai. Beberapa tetesan air berguguran dari daunnya yang nampak basah oleh embun.

Ketika tetesan air itu mencapai air laut bekas lunturnya monster laut tadi, 12 Sea Serpent yang sama persis pun bangkit seperti sedia kala.

Sebuah sihir kebangkitan yang amat praktis. Teknik sihir tingkat tinggi yang sangat langka.

Dihadapkan pada situasi seperti ini, berapa ribu pun jumlah pasukan tidak akan mungkin merengsek maju kalau yang menghalangi adalah monster kuat yang selalu bangkit lagi jika mati.

Hampir saja Georg membalikkan keadaan, tapi Aliansi Tiga Fraksi masih punya orang yang kehebatannya susah dinalar akal.

Lord of Vermilion: Fiery Meteor Crush

Ciiiiiiiuuuuuu...

Kaboommmm...

Secara serentak, puluhan batu meteor berselimut api merah terang berjatuhan dari langit. Menghantam semua monster Sea Serpent beserta dengan pohon reinkarnasi Tree of Ressurection sampai tak bersisa.

Baru saja teknik sihir tingkat tinggi lainnya diperlihatkan. Sihir yang dapat menciptakan menciptakan batu-batu besar dilangit untuk kemudian dibiarkan jatuh sendirinya sehingga mampu memberikan kehancuran hebat pada area yang sangat luas.

Ini lah pemimpin dari para perkumpulan penyihir iblis. Namanya...

Mephisto Pheles.

Pria tua itu berdiri sejajar berhadap-hadapan dengan Georg.

"Ternyata bakatmu di luar dugaanku, anak muda." puji Mephisto.

"Aaah. Kalau anda sudah berada disini, itu artinya aku harus mundur." ucap Georg merendah.

Mephisto adalah iblis yang telah lama hidup sejak cikal bakal iblis Underworld berdiri dari jaman Lucifer Pertama. Usianya berada pada angka yang sama dengan Sang Raja Agung Bael, Zekram. Dia pemimpin asosiasi penyihir Mephistopheles yang membawahi banyak sekali penyihir-penyihir hebat diseluruh dunia. Dia juga lah iblis yang mengikat kontrak dengan Johann Georg Faust, leluhur Georg saat ini.

"Huh, kenapa denganmu?"

Georg tak menjawab, dia mengaktifkan sihir teleportasi skala besar. Kabut putih yang merupakan kemampuan asli dari Sacred Gear Longinus Dimension Lost kini mengepul dan menyelimuti semua pasukan tersisa dari kubu Konoha dan sekutunya.

"Sampai jumpa lain waktu."

Georg tidak perlu berpikir dua kali untuk menghindari orang tua itu. Kekuatannya yang sekarang masih belum cukup untuk melawan Mephisto Pheles. Lagipula markas tidak mungkin mengijinkannya bertarung dengan ceroboh sebab kemampuan khusus yang ia miliki sangat diperlukan untuk strategi perang sampai perang ini berakhir.

Pemuda itu pun lenyap dari sisi pantai, bersama dengan seluruh pasukan sekutu.

"Dasar bocah tak tahu sopan santun!" rutuk Mephisto. Jauh-jauh dirinya datang kemari, malah ditinggalkan oleh laki-laki yang ia anggap bocah itu.

Georg mungkin merasa telah mentransfer semua pasukan yang ada di tempat ini. Tapi nyatanya masih ada yang tertinggal.

Ah, lebih tepatnya orang ini sengaja membuatnya tertinggal sendirian untuk meneruskan pertarungan. Dia berada pada jarak yang cukup jauh dari tempat Georg dan pasukan lainnya ditransfer.

"Nah. Sekarang karena semua orang di pihakku sudah pergi, aku bebas melakukan apapun sendirian disini."

Dia adalah wanita berusia matang yang sangat cantik dan anggun. Berbeda dengan pasukan lain yang memakai zirah atau jenis pakaian tempur lainnya, wanita ini malah memakai gaun seksi dan terbuka berwarna merah darah menantang yang diselingi warna hitam. Rambutnya panjang hingga melewati paha, warnanya pirang menyala. Iris matanya berwarna kuning emas, kelihatan berkilau di antara gelapnya malam.

Nama wanita itu...

Kiss-shot Acerola-orion Heart-under-blade.

...atau lebih singkat dipanggil dengan nama Shinobu. Vampir legendaris yang telah bertarung sejak tadi sampai saat ini tanpa sedikitpun terlihat kelelahan.

"Ayooo, mendekatlah kalian semua kemariiiiii!"

Namun langkah mundur lah yang ia dapat. Siapa juga yang mau mendekati vampir ganas pembunuh ini?

Para pasukan Aliansi waspada penuh. Beberapa saat mengamati, tak terlihat lagi gerakan dari Shinobu.

Mereka bertanya-tanya apakah vampir itu sudah bosan bertarung?

Dan jawaban untuk pertanyaan itu segera datang.

Tubuh Shinobu berubah bentuk, membengkak, dan terus membesar hingga 10 kali lipat semula. Tampak seperti balon udara yang hendak meletus.

Lalu...

KAAABBBOOOOOMMMMM!

Jawaban untuk pertanyaan mereka tadi adalah kematian.

Hingga radius 1500 meter, tak satupun dari ribuan pasukan Aliansi Tiga Fraksi pada jarak itu yang selamat.

Shinobu menggunakan saat-saat terakhirnya untuk meledakkan diri sendiri menggunakan energi yang ia makan dari setiap musuh yang ia bunuh.

Pengorbanan yang luar biasa, meski tidak sebanyak pamannya -Alucard di titik D. Tapi jumlah musuh yang mati tidaklah sedikit.

Dengan demikian...

Selesai!

Perang di sepanjang pantai barat wilayah Gremory akhirnya selesai dengan kemenangan pada kubu Aliansi Tiga Fraksi. Meski memang kubu mereka mendapat kerugian yang tidak sedikit, tapi dengan tidak adanya lagi lawan di titik ini, artinya daerah ini telah mereka kuasi dan mereka bisa merengsek maju menuju Gerbang Teleportasi Gate of Sun di Tanjung Harapan.

Lord Forneus yang kini mendapat mandat untuk memimpin pasukan, diperintahkan oleh Jendral Falbium untuk langsung menuju Tanjung Harapan tanpa diberikan waktu istirahat. Dia adalah kepala keluarga salah satu dari 72 Pilar Underworld, Keluarga Iblis Forneus. Rupa-rupanya Falbium terus memantau jalannya perang lewat saluran komunikasi dari markasnya di Kota Lilith.

Akan tetapi...

Apa benar peperangan disini sudah benar-benar selesai?

"Hoooooiii,, mau kemana kalian huh?"

Teriakan nyaring suara perempuan terdengar membahana.

Lord Forneus terkejut melihat pada sudut pandang yang jauh, tepat di pusat ledakan dahsyat tadi, Kiss-shot Acerola-orion Heart-under-blade tampak terbang melayang dengan sayap kelelawar khas vampir. Dan dia utuh seperti semula.

Wanita itu menunjukkan seringaian keji dan sadis.

Maou Falbium di markas pun dengan cepat telah menanggapi situasi ini

Terdengar di saluran komunikasi milik Lord Forneus, "Bagi dua pasukan! Dua pertiga melanjutkan ke Tanjung Harapan, sedangkan sisanya anda pimpin untuk melawan wanita vampire itu. Aku tadi sempat lupa bahwa ia adalah vampir abadi yang tak bisa mati."

Untuk menekan baris pertahanan terakhir pasukan musuh, Falbium membutuhkan lebih banyak pasukan dalam usaha menggempur Tanjung Harapan. Dan lagipula, ia tidak sebodoh itu untuk menunda serangan demi melawan satu vampire dengan belasan ribu tentara.

"Baik, Maou-sama!" sahut Lord Forneus.

Perlu waktu dua menit baginya untuk mengatur kembali mobilisasi pasukan. Yang bergerak menuju Tanjung Harapan ia serahkan kepemimpinannya pada Seraph Sandalphon dan Metatron. Sedangkan ia sendiri yang akan mengurus si wanita vampire.

Shinobu memberikan waktu dan kesempatan kepada musuh. Ia membiarkan dirinya sendiri dikepung dari berbagai sisi. 7000 lebih tentara yang terdiri dari ras malaikat, malaikat jatuh dan iblis berbaris melingkar mengelilinginya.

1 Vs 7000

Perang macam apa ini?

Tapi kalau dilogikakan, dengan eksistensinya yang abadi berarti Shinobu tak mungkin kalah walau sebanyak apapun lawannya. Yang ada malah semakin bagus karena ia bisa memakan lebih banyak 'keganjilan'.

Namun bukan berarti Aliansi tidak punya peluang menang melawan Shinobu. Jika mereka mampu membuat Shinobu tetap berada di pantai ini sehingga tidak ikut bertarung bersama pasukan tempur Konoha dan sekutunya, maka itu sudah cukup. Apalagi kalau mereka berhasil menemukan cara menangkap atau setidaknya menghentikan Shinobu, maka akan jauh lebih baik lagi.

"Heyyaaa!"

"Aaaarrrrrhh..."

Shinobu menyerang membabi buta dengan cakar dan taringnya layaknya binatang buas.

Tak ingin di mangsa, pasukan Aliansi balas menyerang dengan tombak-tombak cahaya dan sihir demonic.

Shhuuttt...

Dhuuarrr!

Alhasil, Shinobu mendapatkan luka yang cukup parah. Ada serangan yang sampai membuat lengannnya dan kakinya putus, bahkan sampai kepalanya pun terpenggal.

Tapi...

Separah apapun serangannya, tak sedikitpun menghentikan Shinobu.

Dirinya adalah vampir yang diberkahi dengan kemampuan regenerasi tanpa henti yang sangat cepat.

Begitu lengan atau kakinya putus, badannya berlubang atau bahkan kepalanya penggal, semua bagian itu akan tumbuh lagi dalam waktu kurang dari satu detik.

Sebenarnya Shinobu tidak dapat dikatakan abadi, bisa saja ia mati.

Mana ada makhluk kekal abadi di dunia yang fana ini, bahkan seorang dewa pun pasti akan menemui ajalnya suatu saat nanti.

Tapi karena kemampuan regenerasi tanpa henti inilah, setiap kali diserang ia akan terus pulih seperti sedia kala meski dirinya dihancurkan sampai sel terkecil sekalipun.

Kemampuan itulah yang seakan menjadikan dirinya 'abadi'.

Saat Shinobu meledakkan diri sendiri tadi pun, tubuhnya ikut hancur lebur menjadi debu. Tapi hanya dengan menunggu beberapa saat, sel-selnya akan tumbul lagi lalu menjadi dirinya yang pulih seutuhnya.

Menghadapi lawan seperti ini, mau berapa ribu prajurit pun pasti tak akan menang.

Bagi Shinobu yang abadi, ini tampak seperti pertempuran abadi yang tanpa henti.

Akhirnya datang sebuah solusi.

Lord Forneus berteriak pada semua bawahannya, "Siapa disini yang memiliki teknik sihir Energy Drain?"

Logikanya sederhana, untuk menghadapi makhluk yang tak bisa dibunuh maka satu-satunya cara adalah dengan menghisap energi dari makhluk itu sampai habis hingga tak bisa bergerak lagi.

Sayangnya...

Lord Forneus tidak satupun melihat anggukan kepala dari setiap pasukannya. Ini namanya solusi tanpa realisasi. Sia-sia!

Energy Drain merupakan kemampuan alami yang berguna untuk menyerap energi dari tubuh lawan dan menjadikannya energi milik sendiri lewat sentuhan fisik.

Malah lebih buruk lagi, Energy Drain adalah kemampuan alami semua vampir. Ketika dia menghisap darah mangsa, vampir itu juga serta merta menghisap energi di tubuh mangsanya. Dan Shinobu yang notabene adalah seorang vampir pasti memiliki kemampuan dasar itu.

Lihat saja, tidak sedikit pasukan Aliansi yang berjatuhan setelah tubuhnya menyusut dan mengering karena energinya terhisap habis saat digigit oleh Shinobu.

Bosan mencabik-cabik tubuh lawan dengan cakar dan taring, Shinobu pun mengeluarkan senjatanya. Sebilah pedang jepang tipe Odachi sepanjang 2,5 meter yang dia tarik dari tenggorokannya.

Shinobu menatap haru pada pedang di tangannya, "Nama pedang ini adalah Kokorowatari. Satu-satunya kenangan yang ditinggalkan oleh pelayanku sebelum dia mati 400 tahun lalu."

Kokorowatari adalah pedang iblis yang dijuluki sebagai Oddity Killer atau Pembunuh Keganjilan. Dan kini yang memakainya adalah Kiss-shot Acerola-orion Heart-under-blade, vampire yang dijuluki Si Pemakan Keganjilan.

Maka didepan Shibobu, semua hal yang berhubungan dengan fenomena supranatural atau disebut 'Keganjilan', segala yang tidak bersesuaian dengan hukum alam dunia nyata akan ia lenyapkan sampai habis.

Sungguh kombinasi antara senjata dan pemakainya yang sangat pas.

Bagai sedang menari, setiap sabetan pedang panjang itu pun membelah semua tubuh yang ada dalam jangkauannya.

Tentara Aliansi coba melawan, namun baik senjata dan zirah mereka tak mampu menahan tebasan pedang Kokorowatari yang dikenal sangat tajam.

Apalagi di tangan Shinobu, kalau dia mau dia bisa membelah manusia menjadi dua tanpa manusia itu merasakan sakit, bahkan tak akan tewas asal manusia yang ditebasnya tidak bergerak selama 10 detik. Begitulah, saking tajamnya Kokorowatari saat digunakan untuk membelah dua tubuh manusia, maka sel tubuh dan kain yang melekat dibadan akan kembali menyatu dengan sendirinya tanpa perlu ada kemampuan khusus.

Yah, meski 1 vs 7000, tapi apa yang terjadi malah sebaliknya. Yang ada Shinobu lah yang membantai satu persatu bawahan Lord Forneus.

Beginilah jadinya kalau melawan seekor vampir legendaris, yang kekuatannya disebut-sebut setara dengan seorang dewa.

Buruknya lagi bagi pasukan Aliansi, itu masih belum cukup sebab...

"Pertama kalinya aku menggunakan pedang ini." ungkap Shinobu tatkala dia berhenti menebas musuh-musuhnya.

Di tangan yang satunya, tergenggam sebilah pedang jepang tipe kodachi. Jika Odachi adalah tipe pedang yang paling panjang, maka kodachi adalah yang terpendek. Malah pedang ini hanya seukuran pisau.

"Yumewatari, turutilah perintahku!"

Slice!

Satu tebasan pedang pendek tersebut di udara kosong, meninggalkan garis yang mencipta robekan dimensi.

Dari sana keluarlah berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus pasukan aliansi yang baru saja tadi mati dibunuh oleh Shinobu.

Sontak para musuhnya terkejut.

Yumewatari adalah pedang iblis yang mampu menarik jiwa-jiwa yang telah mati dari alam kematian ke alam nyata, lalu mengendalikannya sekehendak hati orang yang memakainya. Pedang ini merupakan pasangan dari Kokorowatari, sehingga yang dihidupkan kembali adalah jiwa orang-orang yang tewas terbunuh oleh pedang Kokorowatari. Jika Kokorowatari dijuluki Pembunuh Keganjilan, maka Yumewatari adalah Pembangkit Keganjilan.

Saaaaa...

Sekarang, kubu Aliansi Tiga Fraksi harus berperang dengan pasukannya sendiri.

.

.

Yang namanya medan perang, pasti ada saja hal atau kejadian yang tak diperhitungkan sebelumnya. Inilah bukti keterbatasan akal makhluk hidup. Mereka bukan lah tuhan sesungguhnya yang menentukan takdir.

Misalnya kejadian kecil ini, dimana perang antara dua kubu kedatangan tamu yang sewajarnya tidak di pihak manapun. Kalau saja orang itu hanya diam mengamati maka tak mengapa. Tapi ini...!

Seratus...? Ah tidak, ratusan bahkan mungkin sampai seribu lebih benda-benda tajam berjatuhan dari langit dan membabat habis nyawa para pasukan dari kedua kubu yang sedang bertempur.

Benda itu bukan benda tajam biasa, semuanya adalah pedang dengan berbagai macam jenis dan bentuk.

Bersamaan dengan itu, suara tawa congak kesenangan bak orang kesetanan menggelegar dari arah bukit batu kecil yang terletak di pinggiran hutan dimana perang besar sedang bertabuh.

"Phuahahahahaaaaa! Seharusnya aku lebih cepat kemari dan bersenang-senang. Untung saja aku berhasil kabur dari tempat si gundul Sakra itu."

Pemuda berambut pirang dengan iris mata merah itu pun mengembangkan senyum kebahagiaan di bibirnya.

Selama ini dirinya hanya mengembara tanpa tujuan yang jelas, tidak ada satupun hal menyenangkan yang ia temui sampai Sakra atau yang lebih terkenal sebagai Dewa Indra sang Raja Kahyangan dalam reliji Hindu tiba-tiba datang padanya lalu menawarkan hal yang menarik.

Tawaran untuk ikut serta mengusir kebosanan dengan menciptakan dunia yang penuh perang dan derita kematian.

Pemuda itu, tentu saja menyukainya. Ia bosan sebab dirinya sudah lama tidak bersenang-senang dan bertarung sepuas hati dengan segenap kekuatannya. Selama pengembaraannya, seringkali ia bertarung tapi tak sekalipun pernah menemui lawan yang sepadan.

Tak usah membahas terlalu jauh cerita dan juga alasan pemuda itu berada di sini. Semua itu tak penting lagi kalau sudah berdiri di medan pertempuran.

Tak lama kemudian, datang sesesok laki-laki yang merasa cukup terganggu dengan keberadaan pemuda tadi. Ia berambut hitam lurus pendek klimis dengan iris mata biru bak batu saphire berkilau. Berbeda dengan pasukan perang lainnya yang mengenakan seragam, dia malah memakai jersey olahraga.

"Hei bocah! Kalau kau tidak punya urusan di sini, lebih baik pulang sana!"

Bukannya merespon normal, si pemuda yang diejek malah menyeringai. "Hooooo, kelihatannya kau menarik."

"Cuihh! Aku tidak tertarik dengan laki-laki, dasar homo!"

Meski diejek, si pemuda tak peduli sebab yang ia pedulikan hanyalah kesenangan terbesar yang akan ia rasakan dari pertarungan melawan orang yang datang padanya ini. Ia jelas merasakan aura kekuataan laki-laki itu.

"Sebelum bertarung..."

"Siapa yang mau bertarung melawanmu huh!?" potongnya cepat.

"Yato, cepatlaaaaah!"

Suara barusan terdengar dari dahan pohon tidak jauh dari mereka. Sesosok remaja seumuran anak SMP yang berdiri diatasnya dan kelihatan tidak sabaran. Rambutnya yang berwarna pirang pucat tertutup oleh hodie dari mantel hijau yang ia kenakan.

"Kalau ingin cepat kau saja yang bertarung dibawah sini, Yukine!" protesnya.

Si pemuda pirang pembuat kekacauan menampakkan ekpresi senang yang lebih cerah. Ia pun turun dari puncak bukit batu lalu menapakkan kaki tidak jauh dari laki-laki yang di panggil Yato tadi.

"Ini semakin menarik. Tadinya aku ingin menanyakan namamu, tapi sepertinya tak perlu lagi. Iya kan, Yatogami sang Dewa Bencana -The God of Calamity?"

"Terus? Memang kenapa kalau kau mengetahui namaku heh?" tanyanya sinis.

"Sebaiknya aku memperkenalkan diri dahulu. Aku Sang Raja Pahlawan Gilgamesh, The King of Heroes pemilik ribuan harta suci, juga dikenal sebagai si pencipta dan pengguna Pedang Tak Terbatas."

Yatogami tak sedikitpun peduli dengan seberapa hebat julukan yang tersemat pada diri Gilgamesh. Sekali lihat saja, matanya sudah mampu menilai bahwa orang sombong ini hanyalah pemakai pedang berkulit kacang.

Gate of Babylon

Disekitar diri Gilgames, bermunculan portal-portal berwarna kuning emas yang mengeluarkan bilah-bilah pedang. Jumlah portal itu tak sedikit, dan tampaknya setiap portal mampu mengeluarkan pedang yang tak terhingga banyaknya.

"Kau akan mati kalau tak melawan karena aku tidak memberi pilihan. Bahkan untuk seorang dewa sepertimu, aku tak akan memberi ampun."

"Haaaaaaaaaahhhh.." Yatogami membuang nafas malas. Ia sungguh tidak ingin berurusan dengan pemuda sombong bebal macam ini. Kalau saja ada koin lima yen dari orang yang berharap padanya agar memusnahkan pemuda itu, pasti dirinya akan sangat bersemangat.

Tapi karena tidak ada pilihan lain lagi...

"Kemarilah, Sekki!"

Si remaja bernama Yukine bertransformasi menjadi dua bila pedang. Dia merupakan Shinki atau Harta Suci milik Dewa Yatogami.

SyuuttSyuutt...

Clang!Clang!

Dua bilah pedang yang terbang dari portal Gate of Babylon dapat ditangkis oleh Yato.

Selanjutnya, menyusul ribuan pedang lain yang tak henti berterbangan.

.

.

Lokasi dimana orang-orang ini berada adalah di dalam tenda militer yang menjadi pusat arus informasi dan komunikasi Pasukan Koalisi Penentang Imperium of Bible. Dalam situasi menegangkan ini, ada cukup banyak orang yang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Salah satunya yaa kedua orang ini.

Ino Yamanaka melepaskan helm berdesain futuristik yang ia kenakan, lalu mencabut beberapa kabel yang tersambung pada bagian belakang lehernya serta peralatan sensorik pendeteksi kondisi vital tubuh yang menempel pada punggung tangan. Perangkat elektronik yang menghubungkan semua arus komunikasi ke seluruh medan perang itu tidak menunjukkan ada masalah.

Wanita berponi panjang hingga menutup salah satu matanya itu pun bangkit dari kursi khusus yang dia duduki dan melakukan sedikit peregangan tubuh.

"Ada apa Ino? Masih terlalu dini untuk beristirahat."

"Aku tahu, Shika! Tapi untuk kali ini saja, bisa kah kau meloloskan keinginanku?"

"Haah!?" Shikamaru tiba-tiba menjadi orang bodoh. "Apa yang terjadi denganmu? Posisimu disini penting dan tak tergantikan oleh orang lain, aku tidak bisa seenaknya membiarkanmu berbuat sesuatu yang bisa mengakibatkan kekalahan bagi kita dalam perang ini!"

"Ck, aku paham posisimu. Tapi, untuk kali ini saja. Kumohon, Shika."

Sebenarnya bukan Shikamaru tidak ingin mengabulkan keinginan Ino, ia percaya pada sahabatnya itu, tapi posisinya sebagai pengatur strategi perang tidak bisa membiarkan ada satupun pergerakan yang bisa berakibat buruk bagi semua pasukannya.

"Shikamaru, tolong!" pinta Ino serius.

Shikamaru mengerti, kalau permintaan Ino pasti bukan hal main-main. Sahabatnya ini pasti sudah memikirkan matang-matang tindakannya, dan dia pun pasti tidak ingin membawa akibat buruk bagi seluruh pasukan.

Karena itulah, dengan terpaksa Shikamaru melunak. "Baiklah, lakukan keinginanmu. Tapi aku hanya memberimu waktu tidak lebih dari 15 menit, mengerti?"

Ino mengulas senyum lebar, "Arigatou, Shika."

Begitu mendapatkan ijin, Ino langsung memanggil salah satu prajurit yang berdiri di pojok ruangan. Prajurit itu memiliki alasan khusus kenapa dia ditugaskan di tempat ini.

"Kau, kemarilah!"

"Ada perintah untuk saya?"

"Bisakah kau mentransferku ke koordinat ini dengan sihir teleportasimu?"

"Laksanakan!" jawabnya lantang.

"Hoooii, Ino. Mau kemana kau?" Shikamaru tidak mengerti, dia pikir akan melakukan apa? Ternyata Ino ingin terjun ke medan perang. Di benaknya timbul tanda tanya besar, ada kejadian apa di medan perang yang dilihat oleh Ino dari perangkat itu sampai dia bersikukuh ingin terjun ke sana?

Ino tidak menjawab, tapi dia mengelus-elus lembut perutnya yang tampak rata.

"Lingkaran sihir teleportasinya sudah siap." ucap si prajurit.

Ino menapak ke lantai dimana lingkara sihir tergambar. "Aku berangkat, Shika."

Tanpa sempat Shikamaru mencegah, Ino lenyap dari pandangan mata.

Untuk saat ini, Shikamaru sangat berharap kalau apa yang terpikirkan di otaknya tidak benar-benar nyata.

Bertempat di padang rumput savana, pertempuran yang cukup sengit sedang berlangsung.

Ke tempat inilah Ino berteleportasi. Begitu dia membuka mata, yang ia dapati adalah formasi kubu Konoha sedang kacau balau, semua pasukan sedang panik.

Bagaimana tidak?

Ada banyak sekali hewan, monster, dan makhluk-makhluk buas yang tak ada habis-habisnya terus menyerang. Sekali makhluk itu di habisi, akan datang yang lainnya. Keadaan inilah yang membuat pasukan koalisi kewalahan menahannya. Lebih buruk lagi, semakin lama makhluk yang datang semakin besar, beberapa diantaranya berukuran raksasa, dan tentu saja semakin kuat sehingga sangat sulit dikalahkan.

Makhluk-makhluk itu dengan sekali lihat saja langsung diketahui kalau mereka bukan makhluk hidup. Semuanya kelihatan seperti proyeksi tiga dimensi dari gambar dua dimensi di atas kanvas. Berwarna putih dan dilukis dengan tinta emas.

Ino memberikan sedikit bantuan. Ia berteriak, "Kelemahan monster-monster itu adalah air. Jadi gunakan jutsu atau teknik sihir elemen air!"

Mendengar informasi dari Ino, para pasukan menggangi pola serangan. Dengan begini, mereka bisa meraih situasi yang lebih baik.

Kini Ino bisa mengacuhkan situasi perang, ia pun melangkahkan kakinya. Ia berjalan lurus ke depan, membuat dirinya sama sekali tak terganggu dengan situasi buruk macam apapun disekitarnya.

Begitu Ino tiba di tempat asal muasal makhluk tersebut bermunculan, ia mendapati ada sesosok malaikat berjenis laki-laki yang sedang mengudara. Pakaiannya hanya terdiri dari sehelai kain putih yang dililit untuk menutupi bagian-bagian penting saja. Rambutnya hitam dengan iris mata sehitam jelaga, namun dengan kulit yang putih bersih. Terdapat tiga pasang sayap merpati putih yang mengembang lebar di belakang punggungnya. Total enam sayap menandakan bahwa dia adalah malaikat kelas menengah.

Malaikat itu lah yang menggambar makhluk-makhluk tadi dan menyerang pasukan tempur Konoha dan sekutunya.

Meski yang dilihat Ino adalah sesosok malaikat, tapi ia sangat mengenali siapan sosok itu.

"Sai-kun. Berhenti dan lihat aku!"

.

.

.

-Pulau Langit Agreas-

Ketegangan nyata terberat yang Naruto alami selama ia hidup tidak sedikitpun turun sejak ia berada disini. Di sampingnya, Hinata tampak sedang berpikir keras untuk situasi tak terduga yang tengah mereka hadapi ini.

"Hyahyahyahyaahahaaaaa. Kenapa diam saja, bocah pirang!" Rizevim tertawa mengejek. Dirinya sungguh sangat senang saat ini.

"..."

"Kenapa tidak kau hentikan saja apa yang di depan matamu itu? Kupikir kalau sekarang, dengan kekuatanmu kau masih bisa melakukannya."

Naruto tidak mungkin menghentikan proses kebangkitan Trihexa yang akan selesai tak lama lagi. Mengingat bahwa keruntuhan Cardinal System sudah sangat besar dan mencapai dunia ini, tak ada lagi waktu untuk perubahan rencana misi. Dan ia membutuhkan Trihexa , menghentikan kebangkitan Trihexa bukan opsi yang dapat ia ambil.

Hinata sendiri sudah pasti mengerti itu.

"Aaaaahhhh~~~, kalau kalian berdua tidak melakukan sesuatu, pada akhirnya kalian tak akan mendapatkan apa-apa tahu!"

Bukan hanya karena muak saja, tapi Naruto memang tidak punya kata-kata sehingga tidak membalas ucapan Rizevim.

Kalau mau, Naruto bisa saja membunuh Rizevim detik ini juga. Tapi setelahnya apa?

Jika Trihexa lepas kendali, siapa yang akan mengurusnya? Hanya Rizevim yang benar-benar paham tentang Trihexa sebab orang tua itulah yang membangkitkannya.

Sungguh, tindakan antisipasi yang dibuat Rizevim benar-benar menyulitkan.

Sang Putra Bintang Fajar itu meneruskan perkataannya meski tak sedikitpun ditanggapi, "Jadi... Apa kalian mau menyerah saja eh?"

"..."

"Yaaaa, kalau begitu kalian duduk saja disana! Urusan disini biar aku yang melanjutkan. Bahkan kalau kalian berdua mau pergi pun, terserah! Aku tak peduli. Ghahahahaaaa...!"

Situasi pun terus berlanjut, dan jadi jauh lebih mengerikan. Nampak jelas di depan sana, Trihexa yang telah menyerap eksistensi Sang Dewi Naga Ophis mulai membuka matanya. Rantai-rantai yang membelenggu tubuhnya satu persatu putus saat dia bergerak.

Trihexa memiliki 7 kepala yang masing-masing mempunyai ciri makhluk yang berbada. Ada yang seperti singa, macan tutul, beruang, bahkan naga, dan ada pula yang bentuknya tidak jelas. Tubuhnya pun tampak mencirikan campuran berbagai macam makhluk, bersisik keras seperti buaya tegak berdiri layaknya beruang.

Setiap kepala mempunyai 10 tanduk dan masing-masing memiliki mahkota. Pada dahinya, terlukis satu simbol yang mewakili satu dosa besar dari Seven Deadly Sins. Semua kepala yang mulanya tidur kini mulai sadar beserta dengan mata yang telah terbuka. Aura jahat yang mengalir keluar dari makhluk itu pasti akan membuat orang biasa menjadi gila hanya dengan merasakannya.

Beberapa menit terlewat, hingga akhirnya ada orang lain yang tiba di ruangan ini, sekelompok orang lebih tepatnya. Mereka berhenti tepat setelah masuk melewati pintu.

Dan setiap orang dari kelompok itu, tak ada yang bisa berkata-kata akibat kesulitan bernafas setelah melihat langsung dan merasakan aura mengerikan dari sang Binatang Pengkiamat.

Naruto yang menyadari hal ini, langsung memperingatkan mereka.

"Kalian semua menjauh lah!. Tempat ini terlalu berbahaya untuk kalian."

Sekelompok orang itu sangat familiar di mata Naruto. Tentu saja, karena mereka semua adalah rekan-rekannya dalam misi ini.

Yang tampak masih bisa berdiri hanya para laki-laki saja -Saji, Rugal dan Bikou, itupun dengan tangan bertumpu ke dinding serta peluh mengucur deras. Sedangkan yang lainnya para gadis terkecuali Tsubaki dipaksa jatuh terlutut karena intimidasi yang begitu kuat dari Trihexa, tubuh dan mental mereka terlalu rapuh jika berhadapan dengan makhluk superior seperti ini. Berbeda lagi dengan Serigala Fenrir, namun meski tubuhnya mampu bertahan tapi nyalinya ciut juga. Ia terlihat seperti anak anjing yang bertemu beruang kutub.

Merasa bukan waktunya untuk berdebat, Naruto menghampiri mereka yang diikuti pula oleh istrinya, Hinata.

"Dasar kalian ini, seharusnya pikir-pikir dahulu kalau mau langsung ke sini!" gerutu Naruto kesal. Serta merta ia membuat kubah kuning berbentuk kepala Kyubi untuk melindungi mereka semua dari tekanan intimidasi Trihexa.

Tomoe menyapu keringat yang mengucur deras di pelipisnya, ia terengah-engah berusaha keras hanya untuk berdiri saja. Hanya sebentar merasakan aura Trihexa, tubuh iblisnya sudah terasa remuk jadi begini. Wajar saja karena yang dia lihat dari jarak dekat bukan Trihexa yang biasa, tapi yang telah menyerap semua kekuatan Ophis.

"Maaf, Senpai. Karena kami merasakan ada aura kuat berasal dari lokasi ini, jadi tanpa pikir panjang kami langsung kesini karena yakin kau pasti juga berada disini."

"..." Naruto menatap datar pada Tomoe yang mengutarakan alasannya.

"Yeah, walau kami harus bersusah payah hanya untuk kemari." sambung Ruruko.

"Dasar kalian bodoh!" umpat Naruto. Ia tidak habis pikir, sedangkal apa pikiran mereka hingga mau-maunya masuk ke kandang Trihexa tanpa persiapan.

"Ya sudah lah." kata Naruto pasrah.

Di dalam kubah chakra kyubi ini, semua orang aman dari intimidasi hawa kuat Trihexa.

Selain Sona sang [Raja], kelompok Sitri lengkap berada disini. Tsubaki Shinra, Momo Hanakai, Reya Kusaka, Tomoe Meguri, Bennia, Rugal, Tsubasa Yura, Ruruko Nimura dan Genshirou Saji. Juga ada Bikou dan Serigala Fenrir dari kelompok Vali.

Setelah bisa bernafas dengan normal, Tsubaki penasaran ingin bertanya. Pertanyaan mainstream,

"Selanjutnya bagaimana?"

"Tidak ada perubahan rencana." jawab Hinata. "Kita akan diam menunggu di sini sampai Binatang Pengkiamat itu bangkit."

"Yeah, meski aku sendiri tak tahu harus berbuat apa setelah dia benar-benar bangkit." sambung Naruto. Ini semua karena karena orang tua bernama Rizevim yang bertindak diluar perkiraannya.

.

.

Tidak diketahui berapa lama waktu yang telah terlewat di tempat ini. Sejatinya tidak dapat dikatakan sebagai tempat karena disini hanyalah ruang kosong yang berada jauh tinggi di atas langit Kota Agreas.

Kalau pun ingin di deskripsikan bagaimana keadaannya..., langit malam yang seharusnya gelap tak ada lagi dan digantikan warna-warna terang yang bercampur antara merah dan putih. Langit malamnya berkedip terang persis seperti ketika ada kilatan-kilatan petir yang saling menyambar. Berkali-kali kilatan cahaya itu menerangi seluruh penjuru cakrawala langit. Dan setiap kali kilatan terang itu nampak, beberapa detik berikutnya menyusul suara nyaring bak guntur yang menggelegar.

Dan penyebab semua itu adalah ini!

Duuuaaakkkk...!

Cruusssh.

Bagian bahu armor crimson Issei retak setelah tinju super Vali bersarang di sana.

Namun meski kesakitan, Issei tak mempedulikannya. Toh armor itu akan berrekontruksi sendirinya seperti semula.

Buuggg!

Pyaarr.

Balasan Issei ialah hantaman tinju yang menyasar perut vali.

Armor di bagian sana berlubang, namun sekejap kembali utuh seperti semula.

Padahal mereka berdua memakai armor yang sangat keras, jauh melebihi kerasnya sisik Naga Jahat Grendel yang terkenal sangat tebal dan solid. Itu berarti, kekuatan tinju mereka luar biasa.

Mereka berdua, sepasang rival abadi Sekiryutei dan Hakuryouku telah sejak tadi bertarung dengan tangan kosong di atas langit. Kecepatan terbang mereka sungguh gila, hingga mata siapapun tak mampu melihatnya. Penampakkan yang bisa dilihat hanyalah jejak-jejak cahaya merah dan putih akibat dari aura naga yang mereka lepaskan.

Dampak pertarungan kedua orang itu menyebabkan goncangan hebat di langit hingga mencapai permukaan Kota Agreas tak lain. Agreas yang kini berada di Celah Dimensi ukurannya sangat besar. Permukaannya saja mungkin mencapai dua atau tiga kali luas kota besar semacam Tokyo. Bangunan-bangunan megah dan tinggi di kota ini paling banyak menerima dampak fatal pertarungan Sekiryutei dan Hakuryouku di atas langit. Semua kacanya pecah akibat getaran kuat yang datang tanpa henti, beberapa bangunan tua yang lebih rapuh bahkan mulai roboh.

Gerombolan naga jahat produksi massal yang diciptakan oleh Qlippoth menggunakan Holy Grail, yang mulanya sedang bersantai dengan tenang di kota itu, kini sudah tak ada lagi. Mereka semua yang saat ini tidak dalam komando, bebas melakukan tindakan sendiri sesuka hati. Dan karena mereka mengerti bahwa mendekat apalagi mencampuri pertarungan Dua Naga Surgawi di atas langit sana sama dengan mencari mati, maka mereka kompak bersembunyi. Di lantai parkir bawah tanah sebuah banguan atau entah dimanapun, yang penting terhindar dari dampak pertarungan itu.

Sekali lagi harus diakui, inilah yang akan terjadi jika sebuah kota menjadi arena pertempuran dahsyat antara Dua Naga Surgawi. Baik Sekiryutei maupun Hakuryouku telah mencapai puncak kekuatan masing-masing dengan mengaktifkan mode Diabolos Dragon.

Vali mencapai mode itu berkat mensinkronkan bakat sejati dan kekuatan iblis Lucifer dalam dirinya dengan kekuatan Albion, mengalami Maoufikasi Dragon Lucifer Drive. Karena ini adalah kekuatannya sendiri, maka dapat dianggap perubahannya sempurna tanpa cacat.

Berbeda dengan Issei yang mencapainya dengan menggunakan bantuan dari artefak suci Surga. Nail of Helena, pasak suci yang digunakan untuk memaku Jesus ditiang salib hingga berlumuran dengan darahnya. Dengan artefak yang berfungsi sebagai Longinus Drive itu, Issei mampu mendapatkan loncatan tranformasi Balance Breaker (Hyperdrive) dan melewati proses Deifikasi atau pendewaan. Esensi ilahiah yang menyatu dalam jiwanya membuat tubuhnya mampu menampung semua kekuatan penuh Ddraig, kondisi ini disebut sebagai Dragon Divinity Hyperdrive. Namun karena perubahan ini hasil pemaksaan tubuh menggunakan alat, maka ada resiko yang harus Issei terima. Kesakitan luar biasa yang bisa saja merusak mental menjadi akibat kalau menggunakan artefak ini terlalu lama. Dan tidak bisa digunakan lebih dari sekali sebab pada penggunaan kedua hanya akan membunuhnya.

Ringkas kata, kedua perwujudan Naga Surgawi itu telah mencapai kekuatan penuh Ddraig dan Albion sebelum disegel oleh tuhan ke dalam Sacred Gear, yang tuhan sendiripun takut pada kedua naga itu.

Maka, tak bisa dibantah lagi kalau kedua orang ini telah melampaui The God of Bible dan Satan Lucifer Pertama. Seandainya kedua entitas itu masih hidup, pada kondisi ini Issei bisa dengan mudah mengalahkan tuhan dan Vali pun tak sulit menundukkan Satan Lucifer sang Bintang Fajar, buyutnya sendiri.

Mengamati dari dekat, Vali berhenti pada jarak yang lumayan aman dari jangkauan serang Issei.

"Aku... Aku sangat senang, saking senangnya sampai aku tak mampu mengungkapkannya lagi dengan kata-kata."

"Bajingan! Kau pikir kita bertarung untuk apa hah!?" balas Issei kesal.

"Yah, untuk apa lagi? Memang inilah takdir yang harus kita jalani sebagai Hakuryouku dan Sekiryutei."

"..."

"Mau seperti apapun, takdir ini tak bisa dihindari. Jadi aku berpikir sederhana saja, kenapa tak menikmatinya? Aku suka bertarung, katakanlah aku maniak, jadi bukankah ini kesempatan yang sangat bagus?"

"Takdir! Takdir! Takdir! Takdir! Takdir! Aku muaaaaak!" teriak Issei.

Issei menyerang dengan tinju dan tendangan membabi buta.

Tapi Vali dengan baik mampu menghindarinya dengan terbang akrobatik di udara. Dalam hal ketangkasan bertarung dan seni bela diri, Vali unggul atas Issei.

"Berhenti mengatakan tentang takdir! Seandainya tidak dalam situasi sekarang ini, mungkin aku akan berpikir dengan cara yang sama denganmu. Tapi, apa kau mengerti tentang keberadaan orang berharga di sisimu yang harus kau lindungi? Kau mengerti tidak!?"

[BoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoost]

Issei mengumpulkan banyak energi yang dialirkan ke moncong meriam di sayapnya.

Divinity Blaster!

Menghadapi tembakan aura energi yang sangat mengerikan tersebut, Vali tidak mungkin menahannya secara langsung. Ia mencengkramkan tangannya kearah datangnya serangan.

Satan Compression Driver!

[DivideDivideDivideDivideDivideDivideDivideDivide]

Apa yang Vali keluarkan adalah ledakan cahaya iblis ultimate. Aliran putih keperakan dan hitam legam cahaya yang terjalin satu sama lain. Aura itu membuat serangan Issei langsung dikompresi lagi dan lagi, dan akhirnya tersingkir.

Serangai Issei tak mampu mencapai Vali. Serangan itu memang sangat dahsyat, sampai-sampai ketika jaraknya hampir menyentuh hidung Vali barulah bisa dikompres sampai habis.

Untuk saat ini, pikiran Issei tidak memprioritaskan takdir rivalitas Sekiryutei dan Hakuryouku. Sebenarnya ia sendiri menginginkan itu, tapi dalam sebuah pertarungan dengan hati yang lapang, yang mana tak ada masalah berat lainnya yang membebani.

Nyawanya, lebih ia pertaruhkan untuk melindungi orang yang disayanginya ketimbang memenuhi takdir itu. Issei bahkan heran dengan Vali, apa yang sebenarnya keturunan Lucifer itu pikirkan?

Lalu sebersit pikiran melintas di otak Issei, "Hei Vali. Aku ragu kau memiliki orang berharga disisimu?"

"..." Vali belum paham maksud Issei.

"Orang berharga yang akan kau lindungi bahkan jika harus dengan mempertaruhkan nyawa."

"..." Vali tak bisa menjawab.

Jika yang dimaksudkan Issei adalah teman-teman setimnya, Arthur, Kuroka, Bikou, dan Le Fay. Maka Vali tidak bisa menganggap itu sebagai jawaban. Sekalipun dirinya tidak pernah merasakan itu, walaupun ia pernah melindungi anggota timnya tapi hanya sebatas pemimpin kelompok pada anggotanya. Kalau keluarga, kakeknya yang masih hidup si Rizevim itu, malah Vali sangat ingin membunuhnya.

Kini giliran Issei yang merasa di atas angin, "Jika dirimu yang gila bertarung hanya bertarung untuk kepuasan tanpa pernah memiliki perasaan untuk melindungi, maka kau benar-benar orang gila yang pantas dikasihani."

"Tcih!"

Kata-kata Issei ternyata cukup untuk membuat Vali marah.

Kali ini, Vali yang menjadi agresif menyerang. Ia menyalurkan kekuatannya ke sayap hitam Lucifer yang membentang lebar. Suara rusak terdengar meraung dari permata di armornya. Lalu, dua belas sayapnya dibagi setengah, dan lepas dari punggung Vali. Dua belas sayap yang telah dikeluarkan mulai berubah penampilan dan bentuknya.

Dividing Wyvern Fairies

Ini adalah materialiasi kekuatan Hakuryouku. Naga berukuran kecil -Wyvern berwarna putih perak, sebanyak 12 ekor berputar-putar di sekitar Vali.

Issei menatap lekat, "Yang seperti itu aku juga bisa!"

Dividing Wyvern Fairies

Pada jumlah yang sama, Issei juga mengeluarkan para Wyvernnya yang berwarna merah. Semuanya keluar dari permata-permata hijau di armornya.

"Maju!"

"Maju!"

Divinity Blaster

Sekali lagi Issei menembakkan aura massif penghancur dari meriap di sayapnya.

[DivideDivideDivideDivideDivideDivideDivideDivide]

Wyvern putih Vali berbaris lurus untuk menghalangi tembakan energi dari Issei. Ketika melewati delapan Wyvern, kekuatan pengancurnya turun sampai batas dimana Vali bisa menyingkirkannya hanya dengan sentikan jari.

Tapi, Issei tak kehabisan akal.

Seekor wyvern merah miliknya berubah warna menjadi putih dan terbang ke sekitar Vali sehingga menerima tembakan tadi, lalu...

[Reflect]

Tembakannya dipantulkan, dan oleh Wyvern merah lainnya yang menyusun diri.

[BoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoost]

Kekuatan penghancurnya kembali seperti semula. Dan oleh Wyvern lainnya...

[Reflect]

Tembakan itu kembali dibalikkan arahnya pada Vali.

Wyvern milik Vali melakukan cara yang sama untuk membagi dua tembakan itu, tapi...

[Penetrate]

Kemampuan asli ketiga Ddraig selain Boost dan Transfer. Tembakan tadi menembus para Wyvern Hakuryouku seolah melewati angin.

Dikejutkan seperti ini, Vali mengindar kesamping. Terkena tembakan naga itu pasti akan membuatnya terluka cukup parah.

Serangan Issei belum selesai,

Ada satu Wyvern merah yang berubah menjadi putih dan menerima serangan itu. Issei berniat memantulkan serangannya lagi.

[Refl...

[HalfDimension!]

Wyvern Vali menggunakan Halving Field untuk mengurung Wyvern Issei yang satu itu, lalu...

[Compress!]

Vali mampu memprediksi taktik itu, ia menggunakan wyvern miliknya untuk membagi dua wyvern Issei sampai lenyap sehingga serangan yang tadi itu melaju lurus ke arah utara cakrawala.

KAABOOOOMMMM!

Untuk kesekian kalinya langit disinari cahaya merah menyilaukan. Ledakan mengerikan dari tembaan itu ternyata mampu merobek penghalang yang melindungi Pulau Langit Agreas. Dapat terlihat dengan jelas dari sana, adanya kegelapan Celah Dimensi yang mampu menyerap semua materi.

"Padahal hampir saja!" ucap Issei geram.

"Kheh, peniru tak akan bisa mengalahkan yang asli!" balas Vali sinis.

Kemampuan menciptakan wyvern kecil, Dividing Wyvern Fairies, adalah kemampuan asli Hakuryouku. Para Wyvern pun dibekali kemampuan sesuai pemiliknya, yakni [Boost], [Transfer], dan [Penetrate] pada Sekiryutei dan [Divide], [Compress], dan [Reflect] pada Wyvern Hakuryouku.

Issei bisa menggunakannya karena saat pertempuran di Kuoh dahulu, ia mengambil permata biru Albion lalu menyerapnya. Beberapa kemampuan Albion pun juga ikut terambil bersamanya seperti Divide dan Reflect.

Dan tiba-tiba...

Sang Sekiryutei meluncur turun ke bawah.

Itu bukan di sengaja. Ambang kesadaran Issei makin tipis. Inilah akibat dari menggunakan Nail of Helena. Terlihat jelas saat perubahan tadi, adanya sulur-sulur tumbuhan berduri yang menyertai transformasi armor Sekiryutei. Meski wujudnya tidak ada lagi, tapi masih ada sensasinya. Ya, sensasi dimana tubuh manusia Issei dibelit oleh sulur berduri itu hingga rasanya amat sangat menyakitkan. Tidak terluka secara fisik, tapi rasa sakit luar biasa terasa sangat nyata.

Issei mampu meraih kesadarannya kembali, mencegahnya dari terjun bebas. Dari posisinya melayang di bawah Vali, ia mendongak ke atas. Ia melanjutkan kalimat-kalimat ideologisnya yang tadi.

"Hei Vali! Aku punya banyak orang yang kusayangi di sisiku, dan apapun yang terjadi aku pasti akan melindungi mereka walau dengan taruhan nyawa. Ayah dan ibuku, Rias-buchou, Asia, dan semuanya. Tapi bagaimana dengan dirimu?"

"Berisiiiikkk! Hentikan ocehanmu!" bentak Vali.

Itu membuat Issei terdiam.

Sekarang giliran Vali yang bicara, "Apa yang membuatmu berpikir aku tak punya seseorang untuk kulindungi hah?"

Issei terkejut. Jadi maniak seperti Vali juga mempunyai seseorang yang ingin dia lindungi.

Mungkin hal ini sebenarnya belum pernah Vali beritahukan pada siapapun. Ini adalah masa lalunya.

Alasan kenapa ia sangat membenci kakeknya -Rizevim, karena saat kecil orang tua itu serta ayahnya selalu menyiksa dirinya. Ayahnya yang termakan hasutan Rizevim, menyiksa Vali kecil dengan alasan bahwa ia takut pada anaknya sendiri. Ayah Vali takut pada Vali karena tahu bahwa anaknya ini memiliki bakat luar biasa, yang suatu saat pasti akan membunuhnya.

Setiap hari mendapat siksaan, mampu Vali kecil tahan seorang diri. Tapi ia tidak tahan ketika seseorang yang merawat dirinya ikut disiksa juga sebab melindungi dirinya dari siksaan sang ayah. Dia adalah seorang wanita manusia biasa, ibunya Vali. Meski Vali sendiri tak menganggapnya seperti seorang ibu yang seharusnya.

Vali jarang bicara pada orang lain, tapi wanita itu selalu mengasihinya. Mengantarkannya makanan ketika ia dikurung dan kelaparan setelah disiksa. Dan saat tidak ada ayahnya, wanita itu mengajaknya ke dapur lalu memasakkan kari dan makan bersama, walau Vali tak sedikit pun membantu bahkan bicara.

Sampai suatu ketika, ada pelayan yang membocorkan tentang hal ini keluar. Ayah Vali dibunuh oleh Rizevim namun Vali berhasil selamat lalu ditemukan kemudian dirawat oleh Azazel hingga jadi seperti sekarang ini.

Ada sesuatu yang putus dari cerita itu, yakni tentang keberadaan wanita yang merawat Vali, ibunya.

Saat sendirian lepas dari pengawasan Azazel, Vali mencari kebedaraan wanita itu. Bertahun-tahun hingga akhirnya dia menemukannya. Di sebuah desa yang terletak di kawasan pegunungan Eropa Utara, Skandinavia.

Setelah diusut, ternyata wanita itu dibebaskan oleh ayah Vali dan dicuci ingatannya sebelum ayah Vali dibunuh oleh Rizevim. Mungkin hanya ini satu-satunya hal baik yang pernah dilakukan oleh ayah Vali.

Sekarang wanita itu memiliki dua anak kecil, yang laki-laki berumur 11 tahun dan yang perempuan berumur 8 tahun. Mungkin ibu Vali menjalani kehidupan biasa sebagai manusia normal kemudian menikah lagi dan memiliki anak.

Jadi, Vali masih memiliki keluarga. Ibu dan kedua adik tirinya.

Ketiganya hidup damai di sana tanpa berurusan dengan makhluk supranatural. Oleh karena itu lah saat menemukan mereka, Vali hanya melihat dari jauh, tak mau mendekat dan menyapa. Ia tidak ingin mengganggu kebahagiaan keluarganya dengan melibatkan mereka pada kehidupannya yang selalu diiringi pertarungan.

Jika dunia kacau, penuh perang, dan bahkah kiamat, maka dengan sendirinya akan sampai ke tempat mereka bertiga. Vali tak akan pernah membiarkan itu terjadi. Untuk mereka bertiga lah, Vali berdiri disini dan bertarung.

Tapi...

Itu adalah rahasia Vali, yang tak akan pernah ia beritahukan pada siapapun.

Vali membulatkad tekad, bibirnya menyunggingkan senyum tipis dari balik armornya.

"Naaa Issei! Ideologimu tentang melindungi semua orang yang kau sayangi, aku tak bisa menggugatnya. Hanya saja kau itu sangat naif."

"Hm?"

"Kau terlalu naif. Keinginanmu yang sangat kuat untuk melindungi orang lain membuatmu tenggelam dalam kenaifan hingga membuatmu tak mampu melihat kebenaran yang sesungguhnya."

Untuk melawan ideologi Issei, Vali mulai menyerang dengan realita.

"Aku tidak memintamu untuk percaya, dan aku tak punya waktu untuk memberitahukan semuanya padamu, tapi toh kau pasti akan mengetahui kebenarannya sebentar lagi. Seperti teman-temanmu yang sudah menyadarinya lebih dulu."

"Hah?" Issei tak paham maksud perkataan Vali.

"Lupakan! Mari kita segera akhiri ini dan menentukan pemenangnya"

Vali merasa sudah cukup, lebih lama dari ini tubuhnya pun akan kelebihan beban dalam mode diabolos dragon. Ia meningkatkan kekuatannya sendiri, dan mendedikasi itu semua untuk satu serangan terakhir. Dia menyebarkan sayap hitam Lucifer. Armor di dada dan perutnya bergeser dan terbuka. Yang muncul adalah moncong meriam yang siap ditembakkan. Suara pengisian tenaga terdengar dan energi Lucifer yang sangat dahsyat berkumpul disana. Vali terus memfokuskan kekuatan pada meriam.

[[[LLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLucifer!]]]

Suara keras menggelegar.

Sedangkan Issei, melihat hal itu ia pun melakukan tindakan yang sama. "Kalau memang itu maumu, pasti akan kuhadapi!"

Issei mengarahkan meriam yang tertanam pada keempat sayapnya kedepan. Ada dua di atas bahu, dan dua di bawah ketiak. Laras meriam melebar. Kekuatan tak terhingga mengalir ke dalam meriam.

[D∞D D∞D D∞D D∞D D∞D D∞D D∞D D∞D D∞D D∞D D∞D D∞D !]

Simbol [∞] muncul pada setiap permata hijau Sekiryurei, dan berganti-ganti dengan kilatan cahaya merah dan hitam.

DOOOOO!

meriamnya mengisi.

Pada waktu bersamaan, keduanya di tembakkan.

"Inilah Akhirnya!"

"Kalahlah!"

Satan Lucifer Smasher!

Longinus Smasher!

Pemboman besar-besaran dari meriam tunggal Hakuryouku mengeluarkan aura putih keperakan bercampur hitam legam. Sedangkan empat meriam Sekiryutei dengan intens menembakkan aura merah crimson dan hitam pekat.

Kedua serangan pun bertubrukan.

Kemudian— ...

Sebuah ledakan besar menyelimuti seluruh langit di atas Agreas.

Nyaring!, suara ledakan, angin kencang, dan segala macam fenomena alam lainnya terjadi dan meluluh lantakkan permukaan Kota Agreas. Semua kaca hancur, bakhan tak ada satu bangunan pun yang tersisa. Padahal mereka bertarung jauh berkilo-kilometer diatas langit tapi dampaknya sampai ke permukaan.

Perlu waktu tiga menit lebih hingga ledakan akibat tumbukan kedua serangan itu hilang.

Langit pun berubah menjadi medan warna merah, putih, dan hitam yang terjalin bersama-sama. Kedua serangan yang sangat besar dan saling membentur kuat, dan kemudian saling memusnahkan.

Asap pekat menggumpal di langit, melebihi besarnya awan comulunimbus. Berputar seperti tornado sembari memancarkan petir yang berkilat-kilat dan guntur yang menggelegar.

Dari gumpalan asap itu, jatuh dua sosok tubuh. Meluncur terjun bebas hingga terhempas di permukaan tanah kota Agreas yang kini menyisakan kawah besar. Keduanya mendarat keras di tengah kawah.

Tak ada lagi armor keras yang kuat dan kokoh. Yang ada tersisa hanyalah tubuh penuh dengan luka-luka.

Vali telah kehabisan semua stamina dan energi iblisnya. Tak tersisa lagi aliran energi Lucifer dalam darahnya. Serangan terakhir tersebut ternyata memang ia niatkan sebagai serangan terakhir. Ia berusaha berdiri meski tertatih.

Pun sama dengan Issei, ia masih sadar. Tubuhnya penuh dengan luka yang tak kalah parah dengan Vali, lebih buruk lagi ialah rasa sakit yang dirasakannya amat sangat menyiksa akibat penggunaan artefak Nail of Helena. Artefak itu sendiri sudah hancur bersamaan dengan hancurnya armor merah-crimson dan hitam.

"Kau belum kalah juga rupanya!" seru Vali.

"Demi melindungi semua orang yang kusayangi, mana mungkin aku kalah dari orang gila sepertimu." balas Issei.

"Tcuiihh!"

Vali meludahkan darah yang memenuhi rongga mulutnya. Sedangkan Issei...

"Guhhaaa!"

Beneran muntah darah.

Serusak apapun diri mereka, bahkan jika tubuh sudah hampir hancur, pertarungan antara Sekiryutei dan Hakuryouku tak akan berhenti kalau belum ada yang mati.

"Apa kau punya kata-kata terakhir huh?" tanya Vali percaya diri. Ia berjalan ke arah Issei.

Pun dengan Issei, ia maju ke arah Vali. "Aku tak memiliki kata-kata terakhir lagi, sebab jika aku mati disini demi melindungi orang yang kusayangi, aku tidak lagi punya penyesalan."

"Bagus! Kalau begitu mari kita benar-benar akhiri semua ini!"

"Haaaaaaaaaaaaa!" Issei berteriak kencang. Ia masih memiliki teknik yang tersimpan.

Tangan kiri Issei mengepal kuat, sembari berubah bentuk menjadi lebih besar, kokoh, dan berotot. Kukunya memanjang dan meruncing. Kulitnya pun di tumbuhi sisik naga berwarna merah. Walau bukan yang terkuat, tapi sekarang inilah teknik terakhir yang ia miliki. Dragonifikasi, kondisi dimana ia merubah tubuh manusianya menjadi tubuh naga. Meski hanya pada lengan saja, tapi kekuatannya cukup untuk memutus leher jika dipukulkan ke kepala seseorang.

Hal yang sama juga dilakukan Vali.

"Graaaaaaaaaaa!"

Vali mengumpulkan sisa-sisa terakhir dari energi iblisnya. Benar-benar yang terakhir sehingga jika dipakai semua, maka ini akan menjadi penghujung umurnya. Aura keperakan berkumpul di tangan kirinya, yang ia kepalkan dan siap dipukulkan. Benda sekeras apapun yang dipukulnya, pasti akan remuk dengan tinju ini, apalagi kalau hanya kepala manusia.

"Matilaaaaahhhh! / Kalahlaaaaaaah!"

Issei dan Vali melayangkan tinju masing-masing. Tanpa mempedulikan pertahanan, hanya berfokus agar serangannya mengenai lawan dan membunuhnya.

Jadi, inikah akhir dari Sekiryutei dan Hakuryouku masa kini?

.

.

To be Continued...

.

Note : Hm, lama lagi yah nunggunya? Hihiii, ga lama-lama amat kok.

Mau ngomong apa yah? Keknya ga ada deh, selamat membaca aja lah.

Eh tapi, ada ga yang menyadari siapa karakter terlupakan di bagian cerita yang bersetting Pulau Agreas?

Dan huuuu..., yang nanyai Sai mulu dari kemarin-kemarin. Tuh dia nongol, sebagai malaikat reinkarnasi dan jadi musuh. Gimana gimana? Keren kan kejutannya? Anggap aja ceritanya setelah Sai ditangkap oleh Michael di tempat itu, dia dibunuh lalu dihidupin lagi dengan bereinkarnasi jadi malaikat Brave Saint menggunakan kartu 8 Spade (Sekop). Trus otaknya dicuci dan lupa ingatan. Udah, gitu aja, wkwkwkwkwk.

Ulasan Review:

Tentang kebangkitan Trihexa yang diluar dugaan Naru..., hihiiiii. Bagus dong, Tidak mungkin aku bikin cerita dimana rencana Naru jalannya terlalu mulus semulus paha Hinata, wkwkwkwk. Beri kejutan dikit biar greget. :v

Ophis kan patuh ama kata-kata Rizevim, dia 'rusak'. Makanya dia diem aja dirinya diserap Trihexa. Untuk Great Red, dia masih merasa adem ayem tuh berenang di celah dimensi yang entah dekat mana.

Dan aku ngakak eh gegara ada reviewer yang bilang kesel sama Naru dan bininya karena ngelupain Konoha yang sedang perang, tapi seneng kena tipu Rizevim. Whahahaaaa.

Tentang jalannya perang yang katanya aneh. Uuuuuu, coba pikirin baik-baik deh. Ada misterinya disana. Kalau masalah keseimbangan peta kekuatan dua kubu, kupikir aku masih bisa menjaganya tetap logis.

Untuk Kakashi, Yasaka, dan lainnya. Tolong sabar, giliran dong munculnya. Termasuk pasangannya Sasu yang dulu nongol bentar, si Akemi Homura.

Oh tentang Artefak yang dikumpulin NaruHina, untuk saat ini udah menjadi esensi khusus yang berhubungan dengan Cardinal System yang bentuknya berbeda ketika diambil di Universe-nya. Maka dari itu, benda ini tidak bisa digunakan untuk bertarung atau nambah kekuatan.

Aku tegaskan, Koneko tidak tewas. Tuh diatas dia masih hidup.

Yang nyinggung perang di tempat lain, Olympus vs Norse serta di Svargaloka, tunggu aja kejutannya.

Ada pertanyaan, musuh Konoha kok kuat dan banyak amat? Apa Konoha bisa memang?... Tenang, bisa kok kalau aku mau. Hihiiii.

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita.

Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

.

.

.