Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Sabtu, 7 April 2018

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . .

"Aku tak memiliki kata-kata terakhir lagi, sebab jika aku mati disini demi melindungi orang yang kusayangi, aku tidak lagi punya penyesalan."

"Bagus! Kalau begitu mari kita akhiri semua ini!"

"Haaaaaaaaaaaaa!" Issei berteriak kencang. Ia masih memiliki teknik yang tersimpan.

Tangan kiri Issei mengepal kuat, berubah bentuk menjadi lebih besar, kokoh, dan berotot. Kukunya memanjang dan meruncing. Kulitnya pun di tumbuhi sisik naga berwarna merah. Walau bukan yang terkuat, tapi sekarang inilah teknik terakhir yang ia miliki. Dragonifikasi, kondisi dimana ia merubah tubuh manusianya menjadi tubuh naga. Meski hanya pada lengan saja, tapi kekuatannya cukup untuk memutus leher jika dipukulkan ke kepala seseorang.

Hal yang sama juga dilakukan Vali.

"Graaaaaaaaaaa!"

Vali mengumpulkan sisa-sisa terakhir dari energi iblisnya. Benar-benar yang terakhir sehingga jika dipakai semua, maka ini akan menjadi penghujung umurnya. Aura keperakan berkumpul di tangan kirinya, yang ia kepalkan dan siap dipukulkan. Benda sekeras apapun yang dipukulnya, pasti akan remuk dengan tinju ini, apalagi kalau hanya kepala manusia.

"Matilaaaaahhhh! / Kalahlaaaaaaah!"

Issei dan Vali melayangkan tinju masing-masing. Tanpa mempedulikan pertahanan, hanya berfokus agar serangannya mengenai lawan dan membunuhnya.

Jadi, inikah akhir dari Sekiryutei dan Hakuryouku masa kini?

.

To The End of The World

Writen by Si Hitam

.

Chapter 88. Armageddon War, End of The World - Part 12.

Caution: Ah, sebentar. Karena lamaaaa banget ga update maka kali ini aku kasih banyak word deh. Hihiii, mohon pengertiannya. Jadi untuk long-chapter ini, Anda bisa gunakan nomor navigasi sebagai penanda jeda istirahat jika tak punya cukup waktu membaca semuanya sekaligus.

.

(1) -Arena Perang, Underworld. At 04.09 am-

Clang!

Tingting!

Banggg!

Berkali-kali suara denting logam beradu terdengar kencang.

Shutt. Dashh!

Braakkk..

Dhuuuaar...!

Entah bagian mana dari kawasan tebing terjal berbatu ini yang hancur untuk kesekian kali.

Praannk.!

Lagi!, kedua pedang legendaris saling curi keunggulan. Selang jeda singkat saat kedua pasang mata bersirobok, tatapan dingin Akame tidak mampu membekukan semangat tempur Vasco Strada.

Orang tua itu menggeleng, "Mmmhm. Aku akui, kau tangguh gadis muda."

"Meski menggunakan replika Durandal yang dikatakan hanya mencapai seperlima kekuatan pedang aslinya, tapi di tanganmu kata 'replika' tidak jadi pembatas."

Ya, Vasco Strada seakan bertempur menggunakan pedang asli.

Tap...

Akame melompat cukup jauh ke belakang. Tubuhnya yang ramping memudahkannya bergerak cepat. Pakaiannya sederhana, atasan tanpa lengan yang pas di badan dan rok pendek sepaha agar tidak mengganggu mobilitas serta mendukung manuver tajam. Gadis dengan rambut hitam panjang ini membuat kuda-kuda rendah, bersiap untuk menyerang lagi.

Strada melemaskan sendinya dan berdiri tegap. Tanpa pakaian atas, tubuh kekarnya tampak dengan jelas, mencetak bidang-bidang otot yang keras dan tebal. Badannya tinggi, menjadikan dirinya seperti seorang raksasa. Bahkan replika Durandal terlihat kecil bila dibandingkan denganya. Dengan inilah, pertahanannya seolah tergoyahkan oleh Akame.

"Dengarkan baik-baik gadis muda! Tidak ada alasan khusus tentang kekuatanku, hanya dari darah dan daging yang terus menerus dilatih dan pengalaman dari banyak pertempuran. Selama aku selalu menjaga kepercayaan terhadap Tuhan dan selalu merawat tubuhku, kekuatan akan tercipta dengan sendirinya dari dalam jiwaku."

"..." Akame harus mengakui itu. Dirinya masih sangat muda. Porsi latihan, jam terbang, dan pengalamannya sangat jauh di bawah Strada.

Sang Kardinal Agung mengepalkan tinjunya, "Sedangkan kau!, adakah kekuatan di dalam jiwamu?"

Untuk menjawab pertanyaan itu, Akame menggenggam Pedang Kusanagi dengan kedua tangannya. Aura kekuatan murni yang sangat banyak melimpah ruah memancar dari bilah pedang.

"Haaaaaaaaaaaa..."

Seiring tebasan vertikal, gelombang energi berdaya rusak tinggi dihempaskan menuju Strada. Parit dalam tercipta di tanah berbatu sepanjang jalur yang dilewatinya .

KA!

Strada melawannya dengan tebasan horisontal. Sabetan energi dari Kusanagi terbelah dua.

Orang tua itu mengatur nafas, "Durandal bisa memotong semuanya, apapun! Bahkan jika itu kekuatan Power of Destruction Bael, tidak ada pengecualian. Meski yang kugenggam ini hanya replika."

Fuu!

Tak mendengarkan apapun yang dikatakan Strada, Akame melesat cepat untuk serangan selanjutnya.

Sangat cepat.

Syhutt!

Clang!Clang!

Akame tak henti menyerang dengan memanfaatkan keunggulannya, yakni kecepatan. Berbekal tubuh ramping inilah, yang tersusun dari komposisi tulang yang lebih tipis dan ringan serta otot tubuh yang kokoh dan elastis namun tidak berlebihan jumlahnya, Akame mampu unggul dalam hal kecepatan dibandingkan Strada yang tubuhnya lebih seperti raksasa berotot tebal.

Tebasan demi tebasan pedang Akame lancarkan seolah tanpa henti. Serangan-serangannya amat cepat hingga tak ada mata manusia yang mampu mengikuti gerakannya. Bagi peerage bidak Knight sekalipun, yang hidup di dalam dunia kecepatan dewa, kecepatan Akame sulit untuk digapai.

Dalam hal kekuatan, Durandal dari barat dan Kusanagi dari timur dapat dianggap rival yang setara. Hanya saja kekuatan sebuah senjata selalu sinergi dengan seberapa kuat tekad penggunanya. Entah, siapa yang tahu tekad dan hati mana yang lebih kuat? Apakah anak muda dengan mimpi setinggi bintang di langit atau orang tua yang telah bertahun-tahun menyelam dalam kubangan bau amis darah pertempuran?

Akan tetapi walau unggul dalam kecepatan, Akame masih belum mampu memberikan serangan kritis ke badan Strada. Orang tua itu punya refleks yang bagus, seolah tanpa perlu melihat namun secara otomatis semua anggota geraknya aktif memblokir serangan cepat Akame dari semua sisi, bahkan dari titik buta sekalipun.

Sebaliknya, stamina Akame terus terkuras untuk melakukan serangan-serangan cepat yang berakhir sia-sia.

Pada akhirnya, terlihat jelas siapa yang unggul pada pertarungan ini.

Itulah..., Kardinal Agung Pendeta Vasco Strada.

Ada yang mengatakan bahwa Strada merupakan pengguna Durandal yang cukup langka karena bisa menandingi Roland sang pemilik asli Durandal, dan bahkan beberapa orang percaya dia telah melampaui Roland. Dia juga termasuk salah satu dari sedikit orang yang berhasil selamat dari peperangan. Dia adalah orang yang menguasai kekuatan dan kepemilikan di medan perang, dia juga seorang pemimpin. Pria luar biasa yang menjadi ksatria.

Usia 80 tahun tidak memudarkan pamornya di mata semua orang. Jika umurnya diabaikan, orang itu merupakan...

Legenda hidup!

Masih ingat dengan Kokabiel, salah satu petinggi Ras Malaikat Jatuh dengan 10 sayap? Nyatanya Kokabiel dengan mudah dapat ditaklukkan oleh Vasco Strada yang hanya seorang manusia.

"Graaaaa!"

Strada melakukan gerakan memutar setengah lingkaran, memanfaatkan momentum dari putaran itu ia percepat ayunan replika Durandal secara horisontal.

Swoossh.

Blaarrrr...

Aura kekuatan yang dilepaskan begitu hebat sehingga tanah bebatuan terhempas berhamburan. Akame terpaksa merelakan tubuhnya terpental jauh. Tak ia sangka, serangan super cepat teknik kombo 100 tusukan dan tebasan menuju bagian tubuh dan organ vital lawannya yang dia lakukan dalam waktu 3 detik dipentalkan hanya dengan satu kali ayunan pedang.

Akame masih sanggup berdiri, nampak di matanya kalau di sudut sana Strada sudah menunjukkan keseriusan untuk membunuh dirinya. Sedangkan ia sudah hampir kehabisan tenaga.

Ini buruk!

Strada membuat kuda-kuda kokoh, replika Durandal tergenggam erat di tangannya, sudah dapat di tebak kalau orang tua ini akan menyerang Akame secara frontal.

Kecepatan Akame yang unggul mungkin dapat menghindarinya, tapi melihat bahwa replika Durandal disana yang mengeluarkan aura suci yang kuat pasti sangat berbahaya untuk dirinya yang seorang Hanyou -manusia setengah youkai. Aura suci itu akan seperti racun. Terlebih dengan pengalaman segudang, Strada mungkin akan menunjukkan teknik serangan yang tak ia duga, yang bisa saja membuatnya tak mampu mengelak meski unggul dalam kecepatan.

Lalu tiba-tiba...

Deg!.

"Groooooaaaarrr!"

Kepalan tangan raksasa dari seekor monster tengkorak tepat berada di atas kepala Strada. Tinju tersebut menukik cepat ke bawah.

DHUUUAAAAARRRR!

Bukan berhasil mendaratkan serangan, malah kepalan tinju si monster hancur lebur oleh tekanan dan getaran dari tinju tangan kanan Strada yang merambat di udara.

Orang tua itu tidak lengah. Mendapati ada serangan dari atas sudah sangat dekat dengan kepalanya, ia urungkan niat menyerang Akame demi menghalau serangan itu.

Holy Punch!

Pukulannya, adalah pukulan yang sangat kuat yang berasal dari otot tubuh yang dilatih selama puluhan tahun. Bahkan pukulan tersebut mengandung aura suci yang berakibat fatal bagi seekor monster.

Pada sudut berseberangan, gadis berambut hitam pendek tiba-tiba muncul di samping Akame.

"Kenapa kau menggangu pertarunganku, Kurome?"

"Karena aku tahu Nee-san tidak mungkin bisa menang melawan kakek tua itu."

"Hmph." Akame enggan mengakui itu meski benar adanya.

"Lebih baik kita mundur. Lagipula perintah dari markas juga begitu. Akan buruk bagi kubu kita kalau sampai kehilangan dua pengguna pedang Legenda Jepang -Kusanagi dan Totsuka, di tempat ini."

Mau dipikir seperti apapun, keputusan itu memang yang terbaik.

"Hoooiii!" Strada berteriak di ujung sana. "Mana orang yang menggangguku tadi ha?" Dia geram.

"Hai hai haaaaaiiii. Di sini orangnyaaaa, Ojii-chan" sahutan Kurome terdengar melengking, seraya dia melambaikan tangan.

"Oh, ternyata kau gadis manis. Kalau kau disini bagaimana dengan Cristaldi? Apa dia sudah kalah?"

"Sebenarnya sih, tidak. Hehheee. Meski dia bisa mengimbangiku, tapi paman-paman itu ternyata sangat merepotkan." ucap Kurome santai.

Sepasang saudara ini kalau dibandingkan, Kurome si adik hanya sedikit di bawah Akame level kekuatannya jika diukur dengan semua aspek yang ada. Lalu Kurome mampu bertarung imbang melawan Cristaldi.

Kardinal Agung Deacon Edwald Cristaldi dulu pernah menjadi topik pembicaraan para petinggi. Meskipun secara nyata dia bisa menggunakan tiga pecahan Excalibur secara bersamaan, tidak sedikit orang yang mengatakan secara teori bahwa dia mungkin bisa saja menguasai keenam pedang itu sekaligus.

Kalau disandingkan Akame, Kurome, dan Cristaldi mungkin sejajar. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa..., Vasco Strada adalah monster sesungguhnya diantara keempat petarung pedang ini.

Strada menoleh ke seberang tebing. Ternyata disana Cristaldi dipaksa sibuk bertarung melawan monster-monster yang entah apa namanya, berbadan besar, dan kekuatannya tidak bisa diremehkan.

Selain pengguna pedang, Kurome juga ahli dalam sihir pemanggilan. Dalam perang ini, Kurome lebih menononjol sebagai Summonner Witch. Cristaldi mudah saja mengalahkan monster-monster itu, tapi jumlahnya yang banyak cukup membuatnya repot.

Mata Strada kembali ke sepasang kakak adik itu, "Jadi kalian berdua sekaligus akan melawanku."

"Siapa yang bilang begitu, Ojii-chan?"

"Lantas?"

"Kami harus pergi."

"Tak mungkin kubiarkan." Strada melesat setelah menolakkan kaki kanannya dengan kuat hingga mencipta lubang di tanah.

Sabetan pedang replika Durandal hampir mencapai wajah Kurome.

Dalam gerak slow motion, si gadis periang itu tersenyum sembari mengucap salam perpisahan.

"Dadah Ojii-chan. Kalau kita bertemu lagi, kami pasti sudah punya cara untuk menumbangkanmu."

Swoosshh

Ayunan replika Durandal hanya memotong udara kosong.

"Cepat sekali mereka kaburnya." Strada mendecih saat kakinya sudah menapak kembali di tanah.

Barusan adalah teknik terbalik dari sihir pemanggilan. Ringkasnya, di tempat lain salah satu monster milik Kurome mengaktifkan sihir untuk men-summon Kurome dan Akame kesana, yang secara otomatis berarti memindahkan keduanya dari posisi yang membahayakan tadi.

Sebenarnya, alasan kenapa Akame dan Kurome ditarik mundur adalah karena hanya mereka berdua saja lagi yang tersisa di kawasan ini. Yah, hampir seluruh arena di sekitar sini telah dikuasai pihak Aliansi Tiga Fraksi. Bala bantuan dari 1500 Excorcise kelas atas yang kesemuanya menggunakan replika Durandal dan Excalibur tidak membutuhkan waktu lama untuk membantai pasukan Konoha dan sekutunya.

Hal yang sama juga terjadi pada Leonardo sang pemilik Sacred Gear Longinus Annihilation Maker dan regu kecil yang bersamanya.

Mereka yang seharusnya menahan laju pergerakan pasukan Aliansi dari titik A disepanjang pantai setelah mengalahkan resimen pasukan dibawah pimpinan Dewi Perang Bishamonten, kini juga terpaksa mundur.

Untungnya regu itu berhasil selamat. Yah, dari 36 regu hanya 3 regu kecil saja yang selamat dan mundur menuju titik pertemuan gerbang teleportasi Gate of Sun di Tanjung Haparan.

Benar-benar diluar akal sehat bukan?

Tak mungkin 36 regu kecil mampu menghadang 35 ribu pasukan ditambah 2000 prajurit bantuan yang menggunakan Sacred Gear buatan replika Longinus Boosted Gear dan Divine Dividing milik Sekiryutei dan Hakuryouku yang mencapai transformasi Balance Breaker. Bahkan, meski Leonardo telah mengerahkan seluruh usahanya, segenap imajinasi yang terbayang di kepalanya untuk mewujudkan monster buatan, tetap saja tak sanggup menahan dahsyatnya gempuran musuh. Hiashi sampai mengalami cedera bahu parah demi keselamatan Leonardo.

Dan yang paling buruk, terburuk diantara yang buruk, ada lebih banyak titik lain dimana pasukan Konoha dan sekutunya menerima gempuran luar biasa, yang tak memberikan kesempatan bagi pasukan itu untuk mundur menyelamatkan diri. Mereka semua tewas dibantai. Gelombang serangan dari Aliansi Tiga Fraksi meningkat tajam setelah 17 iblis kelas ultimate pengguna Evil Piece Bidak Raja yang kekuatannya sekelas dengan Maou turut serta bertempur di medan perang.

Hampir tidak ada yang selamat dari gempuran pasukan sekuat itu.

Kali ini, Aliansi Tiga Fraksi yang memenangkan pertempuran. Arah kemenangan berpihak pada mereka.

.

.

(2) -Pulau Langit Agreas-

Di dalam ruang bawah tanah dimana Trihexa akan bangkit suasananya tidak berubah, masih dengan ketegangan tingkat tinggi. Ruangan ini sangat besar, sebuah Dome raksasa bawah tanah yang bekali-kali lebih besar dibanding gedung concert hall berkapasitas 50 ribu orang. Langit-langitnya saja setinggi 350 meter. Lantai berbentuk bundar dengan luas hampir sembilan kali lapangan sepak bola. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah lubang yang lebar, dimana tubuh kolosal Trihexa muat di dalamnya.

Naruto dan Hinata masih diam mengamati dari balik kubah chakra kyubi yang berbentuk kepala rubah. Bersama mereka, ada anggota OSIS kelompok Sitri serta Bikou dan Fenrir. Mereka berkumpul di pinggir Dome.

"Anata! Kau merasakannya kan?"

"Ya, Hinata." Naruto mengangguk. "Apa yang sebenarnya Pak Tua itu rencanakan?" matanya memicing ke arah Rizevim yang berdiri santai tak jauh darinya. Orang tua itu juga sedang mengamati proses pelepasan segel Trihexa.

"Ini aneh. Kenapa pertumbuhan tubuh Trihexa melambat padahal aku yakin sedikit lagi kesadarannya akan muncul?"

"Peningkatan level kekuatan binatang itu pun juga melambat. Kalau kubandingkan, dia yang sekarang telah menyerap Ophis memiliki kekuatan murni melebihi Juubi yang pernah kita hadapi dulu. Dan mungkin saja, level kekuatannya masih bisa bertambah lagi lebih dari ini."

"Kalau itu terjadi, kita pasti akan menemui situasi sulit sebentar lagi."

"Dan aku sama sekali tak mengharapkan itu. Tcih, dasar Pak Tua brengsek! Awas saja, aku akan membuat perhitungan dengannya setelah ini." Naruto mendengus sebal.

"Tenanglah sedikit, Anata. Kita tidak boleh gegabah."

"..."

Tsubaki sebenarnya tak tahan diam saja, tapi...

"Anoo, maaf kalau kami tak bisa membantu apa-apa dan keberadaan kami di sini malah memberatkan kalian berdua."

"Tidak! Kalian tidak perlu meminta maaf." sahut Naruto.

"Naruto-kun benar, Tsubaki-san. Kalian kami libatkan disini karena ada peran yang harus kalian ambil. Kami membutuhkan kalian."

Tsubaki bisa melihat sorot mata Hinata yang menunjukkan ketegasan sekaligus pengharapan, dirinya senang karena dibutuhkan. Pun dengan budak-budak Sona yang lainnya. Tomoe, Momo, Reya, Tsubasa, Bennia, Rugal, Ruruko dan Saji, bahkan Bikou pun merasakannya. Mereka semua adalah teman, dan teman yang tidak bisa membantu temannya hanya akan menjadi sampah. Tidak satupun dari mereka yang mau menjadi seperti itu.

Tiba-tiba Bikou merasakan bulu kuduknya menegang, ada hal menakutkan yang lain yang datang kemari. Serigala Fenrir yang di dekat mereka pun menggeram.

"Ada kekuatan mengerikan lain yang datang kemari. Jumlahnya ada tiga dan kekuatan mereka sangat besar. Waspadalah!" ucap Bikou memperingatkan.

"Mereka kan ...!" mulut Tomoe menganga. Rupanya ia pernah merasakan tekanan ini. Anggota kelompok Sitri yang lain nampaknya juga sama.

"Trio Evil Dragon." ungkap Naruto.

Jawaban itu, mencipta ekspresi terkejut di wajah mereka yang mendengarnya. Trihexa yang diluar perkiraan saja sudah sangat buruk. Dan ini ditambah lagi kemunculan tiga ekor Naga Jahat legendaris. Crom Cruach, Aži Dahāka, dan Apophis.

Naruto melanjutkan, "Sebelumnya aku tak tahu kemana mereka pergi, ketiganya bertindak sendiri-sendiri walaupun berkerjasama dengan Rizevim. Kedatangan mereka kemari pasti karena tertarik oleh aura jahat yang terpancar dari tubuh Trihexa yang hendak bangkit."

Naruto mengamati ketiga naga itu. Aži Dahāka dalam wujud asli berupa naga hitam-ungu berkepala tiga dengan tubuh hampir 50 meter panjangnya, mengaitkan cakarnya di langit-langit Dome untuk berdiri terbalik seperti kelelawar. Sedangkan Crom Cruah dan Apophis menggunakan wujud humanoid, keduanya melihat kebangkitan Trihexa dari jarak yang agak jauh.

Entah apa yang sebenarnya mereka bertiga inginkan, tak seorang pun yang mampu menebak. Hanya saja untuk sekarang ini, mereka bertiga adalah anggota komplotan Rizevim. Jadi mereka harus diwaspadai.

Ah, mengenai orang tua itu...

Rizevim Livan Lucifer.

Dari ekspresi wajahnya, dia tampak sangat gembira. Sedikit lagi tujuannya tercapai.

"Oi, Pak Tua!" Naruto berteriak.

"Tidak perlu berteriak padaku, bocah! Aku tidak tuli. Pokoknya jangan mengganggu kesenangan orang tua chuunibyo yang sudah mau udzur ini." balas Rizevim, dengan teriakan juga.

"Ck! Aku tak peduli. Harusnya kau tahu apa yang ingin aku ketahui."

"Iyaiyaaaa. Tidak ada yang aneh dengan kebangkitan Trihexa yang sekarang melambat. Aku memang sudah mengaturnya seperti itu."

"Jelaskan!"

"Oke oke, sabarlah sedikit bocah! Kekuatan makhluk itu sudah lebih 90% dari kekuatan maksimal perkiraanku setelah bersatu dengan Ophis. Memang seperti itu lah prosesnya, tahap awal fokus pada pertumbuhan tubuh dan peningkatan level kekuatan, kemudian tahap akhirnya setelah mencapai kekuatan 90% maka akan fokus pada kesadarannya. Trihexa akan bangkit setelah semua segel pengekangnya hancur dan mencapai kekuatan 100% bersamaan dengan kesadarannya yang lepas sepenuhnya."

Naruto cepat paham. Tapi ia masih tidak mengerti, ketika merasakan progres kebangkitan Trihexa tiba-tiba sekarang berhenti total tepat sebelum makhluk itu bangkit.

Hinata, pun dengan yang lainnya cepat menyadari hal itu. Hawa kekuatan Trihexa memang masih terlampau mengerikan, tapi tidak seperti sebelumnya yang terus meningkat. Malah sekarang berhenti pada titik stagnan.

"Hei, kalian semua bingung eh?" Ejek Rizevim.

"Tidak denganku!"

Suara lain yang terdengar datar bernada mezzo-sopran tapi tegas tiba-tiba menyeruak memenuhi rongga telinga. Cukup untuk membuat semua yang ada disana terkejut. Kedatangannya tidak disadari karena indera perasa mereka menjadi tumpul akibat ganasnya hawa jahat Trihexa.

"Kaichou!" Suara teriakan terdengar melengking bersamaan. Sejak berpisah di aula, para peerage ini pasti sangat mengkhawatirkan Raja mereka yang ditinggalkan sendirian.

"Kalian tenanglah, aku tidak kenapa-kenapa." ucap Sona. Bersamanya ada Arthur dan Le Fay, serta Kuroka yang sudah bisa berjalan lagi.

Naruto membuat lengan chakra kuning kyubi, memanjang dan mengurung keempat orang yang baru datang tersebut. Melindungi mereka dari intimidasi hawa kekuatan jahat Trihexa yang mengerikan. Dapat ia sadari, meski kelihatan lebih kuat dan tenang tapi keempat orang tersebut pun juga kepayahan. Terlalu lama terpapar energi jahat Trihexa, bisa membuat siapapun menjadi gila. Jadi, Naruto membuat kubah chakra kuning berbentuk kepala kyubi yang lebih besar sehingga dapat menampung semua orang.

"Nah, Tuan Putri Sitri. Ceritakan lah padaku apa yang kau pikirkan di kepalamu." Rizevim menantang, "Aku penarasan, seberapa pintar kau itu? Seberapa banyak yang kau ketahui tentang apa yang aku lakukan?"

Sona tetap kelihatan tenang sekalipun legenda iblis yang menantangnya. "Jika binatang itu benar-benar bangkit secara utuh, mustahil ada yang sanggup mengendalikan dia. Dugaanku, kau pasti memanipulasi kepingan terakhir kesadaran Trihexa yang memberikanmu otoritas terhadap eksistensinya. Tidak mungkin kau membangkitkan sesuatu yang tak dapat kau kendalikan, benar bukan?"

Prokprokprokprok...

Riuh terdengar suara tepuk tangan Rizevim. "Aku kagum pada analisamu, Tuan Putri."

"Ya, tapi aku tak berniat untuk mengucapkan terima kasih atas pujianmu."

"Tak apa. Kalau sudah begitu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya hm?" Rizevim menyeringai.

"..."

Lalu suara tawa meremehkan terlontar, "Kheh! Ternyata strategimu tak sebaik daya analisamu."

Gigi Sona bergemertak, ia tak dapat membalas hinaan Rizevim.

"Yah, pastinya kau tidak mungkin tahu tentang bagaimana cara aku mengendalikan Trihexa, apalagi punya rencana untuk mengambil kendali atas makhluk itu dariku."

"Memangnya siapa yang ingin mengambil makhluk itu darimu huh!?"

Atensi semua orang teralihkan ketika Naruto kembali bersuara lantang. Semua tatapan tertuju padanya.

Rizevim sampai dibuat penasaran, bahkan hampir semua orang.

"Kami butuh binatang itu dalam keadaan mati! Aku serta istriku sudah menyiapkan rencana untuk bertarung mengalahkannya." kata Naruto tegas.

Yah, meski sebenarnya Naruto belum memiliki rencana cadangan setelah terbentur fakta bahwa Trihexa bangkit dengan kekuatan berlipat-lipat dari aslinya setelah bersatu dengan Ophis.

Akan tetapi, ekspresi Naruto penuh dengan keyakinan. Hal tersebut tentu membuat pendirian Rizevim sedikit bergoncang. Meski belum lama kenal, Rizevim tahu bahwa pemuda bernama Naruto tidak pernah berdusta akan kata-kata yang diucapkannya.

Sona sudah tahu keseluruhan rencana timnya, tim 7 orang untuk menghentikan keruntuhan Cardinal System, sebab dirinya lah bersama Hinata yang menyusunnya. Walau Trihexa akan bangkit dengan kekuatan tiada banding setelah menyerap eksistensi Ophis Sang Ketidakbatasan tapi ucapan penuh keyakinan Naruto mampu menghapus semua keraguan dan kekhawatirannya.

Suasana antar orang-orang di sana mendadak senyap, seperti telah kehabisan topik. Hasil obrolan tadi, mereka semua sepakat akan menunggu Trihexa sepenuhnya bangkit. Kemudian setelah itu, dua pihak antara sisi Naruto dan sisi Rizevim akan melakukan konfrontasi langsung demi tujuan masing-masing.

Memang sejak awal tujuan mereka berbeda. Kerjasama yang mereka lakukan hanyalah demi memastikan Trihexa bangkit kembali, lalu setelahnya mereka adalah musuh.

"Kau tidak punya alasan menolak kesepakatan yang akan kita buat ini, Tuan Rizevim."

"Baiklah, kita sepakat. Sejak saat ini sampai Trihexa bangkit nanti, kita adalah sekutu. Lalu setelahnya, kita mengurus urusan kita masing-masing. Kalian cukup dengan itu?"

"Hu'um, sepakat. Lihat saja akhirnya nanti, siapa diantara kita yang akan mencapai tujuannya."

adalah penggalan-penggalam kalimat yang pernah kedua pihak ucapkan ketika dahulu mereka mengikat kerjasama. Katakanlah bahwa saat ini adalah penghujung waktu dimana mereka masih melakukan hal bersama-sama.

Tentang tiga naga jahat legendaris yang juga berada disana, -Crom Cruach, Aži Dahāka, dan Apophis- belum diketahui apa arti keberadaan mereka. Mengingat bahwa meski mereka dihidupkan lagi oleh Rizevim menggunakan pusaka suci Holy Grail, tapi mereka hidup lagi dengan kesadaran penuh tanpa dikendalikan yang artinya mereka memiliki kehendak sendiri.

Siapapun tahu bagaimana tingginya kebanggaan seekor naga. Untuk mereka sebagai naga jahat brutal yang level kekuatannya setara dengan peringkat naga surgawi, tak mungkin mereka tunduk begitu saja pada Rizevim yang bagi mereka tidak lebih dari seekor cicak di dinding. Apakah untuk balas budi karena telah dihidupkan kembali? Lebih tidak mungkin lagi sebab kebanggan naga tak akan terima dirinya dihidupkan lagi hanya untuk dijadikan budak, bagi mereka lebih baik tetap berada di alam kematian. Begitulah ras naga mempertahankan harga dirinya.

Pasti, ada sebuah misteri yang terahasiakan dalam diri ketiga naga jahat itu hingga kini, yang bahkan Rizevim pun mungkin tidak menduganya.

Lihat saja mereka bertiga sekarang! Masing-masing sibuk sendiri tanpa mempedulikan apa yang Rizevim lakukan.

Ada kemungkinan setelah ini kelompok Qlippoth ini akan terbagi menjadi tiga kubu yakni Naruto dan temannya, Rizevim dan Trihexa, serta Tiga Naga Jahat Legendaris.

Kesampingkan semua itu sebentar!

Saat ini mereka semua dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang tidak disangka-sangka.

Ditengah-tengah pekatnya kegelapan Trihexa yang terus menerus menyembur, kekuatan dia tampak bersinar bagai titik cahaya. Tidak seperti kelompok Sitri maupun anggota Tim Vali yang keberadaanya hilang ditelan hawa kekuatan jahat Trihexa, dia masih sanggup berdiri tegak menantang intimidasi binatang pengkiamat yang tiada banding. Hal ini lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa dia tidak sekedar kuat saja, dia adalah Raja yang sebenarnya.

"Halloo, Sang Raja Bellial! Lama tak jumpa." sapa Rizevim ramah, ramah tamah yang saking ramahnya hingga terasa memuakkan.

Orang yang baru datang itu...

Sang Juara Rating Game, The Emperor Dieuhauser Bellial.

"Aku kesini tidak untuk mendengar sapaanmu, Tuan Rizevim."

"Hm?"

"Tak usah berpura lupa! Tepatilah janjimu padaku karena sekarang lah waktunya."

"Ah, kupikir kau sudah melupakannya."

Naruto mungkin tak terlalu peduli, sebab ia tak mengenal bahkan tak tahu bagaimana pribadi Diehauser yang sebenarnya. Tapi Sona sebagai bangsawan iblis yang cukup tahu sepak terjang Diehauser di kalangan rasnya tidak habis pikir bagaimana mungkin Diehauser bisa berkhianat bagi kaum iblis dan ikut komplotan Rizevim.

Saat itu, setelah menyelesaikan pertandingan Turnamen Rating Game melawan kelompok Rias dan memenangkannya, Sona pergi menemui Rizevim untuk memperoleh kejelasan tentang rencana pencurian Pulau Langit Agreas. Di saat itu lah dia bertemu dengan Diehauser Bellial. Sona sangat terkejut, tak ia sangka kalau Sang Juara Diehauser mengkhianati rasnya sendiri dan bergabung dengan Rizevim yang merupakan musuh bubuyutan.

Pada momen itu, Dieuhaser berkata pada Sona 'Ah, sebagai sesama pengkhianat tidak sepantasnya kita saling ejek, Sona Sitri-sama. Tapi aku tidak suka disebut pengkhianat, aku hanya ingin melayani 'Lucifer' yang sebenarnya. Bagi iblis sejati, nama Lucifer adalah mutlak.'

Sona yakin perkataan itu bohong. Ada sesuatu yang Diehauser inginkan dari Rizevim. Sorot mata Diehauser pun jelas berkata demikian. Pengkhianatannya pada ras iblis terasa tak sepenuhnya, namun disaat bersamaan juga mengatakan bahwa dia amat sangat membenci ras iblis.

Sejauh yang Sona tahu, Diehauser adalah iblis yang loyal dan punya integritas kuat terhadap bangsa dimana ia dilahirkan. Akan tetapi sejak saat pertemuan itu hingga sekarang, Sona mengenyampingkannya. Tak ada alasan baginya untuk memikirkan apa tujuan Diehauser sementara ia sendiri memiliki banyak hal rumit yang harus dipikirkan. Dan sekarang Sona pikir sebentar lagi ia akan mengetahui alasan dibalik perbuatan Diehauser tanpa perlu mengusahakannya. Memang bukan urusannya, hanya saja dirinya dibuat penasaran.

"Aku tak ingin berbasa-basi, Rizevim!"

Diehauser mengatakannya dengan hawa membunuh yang kuat. Tidak dapat dipercaya, mereka yang mulanya bekerjasama dan bersapa dengan penuh hormat, sekarang malah seperti musuh yang sangat saling benci.

"Wuuuu, aku takuuuutt~~~."

Rizevim lagi-lagi bertingkah memuakkan.

"..."

Diehauser meningkatkan ancamannya, dan itu mau tak mau membuat Rizevim...

"Ah, baiklah." Pak Tua itu mengalah. "Dasar anak muda tak sabaran!" Rizevim tak ingin membuat keributan di tempat ini, setidaknya sampai ia berhasil membangkitkan kembali Trihexa secara utuh dalam kendalinya. Apalagi kalau Diehauser yang bikin ribut, bisa jadi proses kebangkitan Trihexa akan tertunda.

Ctek.

Rizevim menjentikkan jari, serta merta sebuah lingkaran sihir terlukis di lantai.

Sesosok tubuh keluar dari sana dan mengambang di atasnya. Seorang perempuan yang sangat cantik, berambut putih keperakan yang tergerai panjang. Sepasang mata wanita itu tertutup rapat, tak terasa hawa kehidupan darinya, seolah dia hanyalah jasad yang telah lama mati. Gaun malam berwarna hitam yang membungkus tubuhnya semakin menguatkan kesan tersebut.

Sudut bibir Diehauser sedikit terangkat meski tak sesiapapun yang menyadarinya. Ada gejolak perasaan di dalam hatinya yang tengah membuncah.

"Hei hei heii! Aku tahu kau sedang senang, Sang Juara. Tapi ekspresi itu sama sekali tak cocok dengamu tahu!"

"..."

Tatapan mata Diehauser pada Rizevim sangat menuntut. Masih ada yang kurang.

Sebuah benda muncul dari ketiadaan, melayang di udara tepat diatas telapak tangan Rizevim. Benda itu bersinar terang keemasan. Sacred Gear Longinus Sephiroth Graal yang berbentuk cawan suci. Itu Holy Grail.

Karena kekuatan Sacred Gear Canceller yang Rizevim miliki, orang tua itu tak bisa menyentuh Holy Grail secara langsung kalau tak ingin Holy Grail yang nyatanya adalah sebuah artefak Sacred Gear terhapus menjadi debu.

"Holy Grail?" Sona tidak mengerti, apa maksud dari kejadian di depan matanya ini... "Jangan-jangan...!?"

"Yah, seperti dugaanmu Tuan Putri Sitri. Anak nakal yang baru datang ini ingin menghidupkan adiknya yang tidur di alam kematian." ungkap Rizevim, menjawab kebingungan Sona.

Awalnya Sona ragu apakah wanita itu masih hidup atau sudah mati, tapi cukup dengan memahami situasi ini ia langsung sadar kalau ternyata itu adalah tubuh yang didatangkan dari alam kematian.

Naruto, Hinata, semua peerage Sona dan anggota Tim Vali tak tahu nama dari pemilik wajah perempuan cantik itu. Tapi mengetahui kalau Diehauser menginginkan wanita itu kembali dalam keadaan hidup, sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan bahwa wanita itu adalah harta berharga bagi Sang Juara.

Berbeda dengan Sona, dia seperti pernah ingat wajah wanita itu. Bertahun-tahun lalu ketika ia masih kecil.

"Namanya Cleria, adik sepupuku." kata Diehauser lembut. Nada bicara yang sampai sekarang baru sekali terdengar dari mulutnya.

Cleria Belllial, adalah nama iblis kelas atas yang Sona ketahui memegang tanggung jawab atas teritori iblis di dunia manusia, yakni Kota Kouh, sebelum digantikan oleh dirinya dan Rias. Sona tidak tahu bagaimana wanita itu berakhir. Ada rumor yang mengatakan bahwa wanita itu dieksekusi mati karena tertangkap basah menjalin cinta dengan seorang pemuda dari Gereja. Kasus itu sangat dirahasiakan, sehingga Sona meyakini kalau masalahnya tidak sesederhana hubungan cinta antara wanita iblis dan pemuda dari gereja saja, yang dahulu sebelum Aliansi Tiga Fraksi terbentuk adalah hal yang sangat terlarang. Pasti ada peristiwa rumit dan kelam di dalamnya.

Kini Sona dapat menebak, ia menyimpulkan bahwa motif dari perbuatan makar Diehauser adalah balas dendam.

Motif Diehauser adalah balas dendam, dan keinginannya adalah menghidupkan kembali adik sepupu yang berharga.

Kala semua orang memikirkan hal itu, Rizevim telah menyelesaikan ritualnya menggunakan Holy Grail. Sinar terang keemasan yang tadi sangat terang, telah kembali redup menjadi kilauan-kilauan kecil pada setiap sudut benda itu.

Cleria membuka mata, ia mengerjap berkali-kali untuk mengadaptasikan matanya terhadap cahaya. Diehauser dengan sigap menangkap tubuh Cleria yang terjatuh dari udara, tak lagi mengambang setelah ritual selesai.

Mendapati wajah kakak sepupu tersayang yang pertama kali tertangkap matanya saat ia kembali ke dunia, Cleria tak mampu menahan rasa senang. Wajahnya berseri, matanya menyipit bersama sebulir air di sudutnya, dan bibir yang mengembangkan senyum indah.

Diehauser sampai tak mampu berkata-kata, mendapati adik yang ia sayangi kini telah kembali padanya.

Usapan lembut telapak tangan Cleria mendarat di pipi Diehauser.

"Nii-sama. Aku tahu, aku bisa merasakan seberapa berat beban yang kau tanggung sampai saat ini. Maafkan aku. Maaf karena dulu aku pergi tanpa pamit darimu. Maaf karena telah membuatmu menderita. Sampai kau mau melakukan semua ini demi diriku, tak dapat kubayangkan sebesar apa rasa sayangmu pada adik kecil yang bodoh dan egois ini. Aku bahagia, sangat bahagia karena disayangi sebesar itu olehmu."

Tiba-tiba tubuh Cleria bersinar, makin lama makin terang hingga terasa menyilaukan.

"Cleria!" Diehauser tak mengerti apa yang terjadi, tapi firasatnya mengatakan kalau ia akan kehilangan sekali lagi.

"Kupikir tak ada lagi penyesalan dalam hatiku, Nii-sama. Kini aku dapat mengatakannya, sesuatu yang dulu tak sempat kukatakan padamu."

"Cle-... Jangan, jangan lagi Cleria! Cleriaaaaaa!"

Kepadatan tubuh Cleria memudar,

"Terima kasih karena mau menerima gadis bodoh, cerewet, dan egois ini sebagai adikmu. Dan ijinkan aku mengatakan ini... Selamat tinggal Nii-sama."

"Hikkss..."

Diehauser tak dapat lagi membendung air matanya. Dia adalah laki-laki tangguh yang tak pernah menangis sekalipun seumur hidupnya.

Tapi sekarang...

Untuk satu-satunya orang yang ia anggap keluarga.

Massa tubuh Cleria tidak lagi terasa.

"Oh yaa, ini adalah pesan terakhir dari adik kecil yang sangat mengagumi dan menyayangimu. Nii-sama jangan terlalu cepat menyusulku yaa. Sekali lagi, selamat tinggal."

Begitu kata terakhir terucap, tubuh Cleria melebur dengan udara, eksistensinya lenyap dari alam dunia, menyisakan rengkuhan kosong pada kedua tangan Diehauser.

Sebelum benar-benar berakhir, muncul fenomena penampakan seperti hologram atau sebut saja hantu yang melayang kian tinggi ke udara. Dia..., Cleria memberikan senyuman terakhirnya untuk Diehauser. Cleria tidak sendiri, tangannya digandeng oleh seorang pemuda. Pemuda yang oleh sedikit orang diketahui bernama Yaegaki Masaomi, Exorcise muda dari gereja yang menjalin cinta dengan Cleria. Kedua sosok hantu itu melayang semakin tinggi, sampai pada akhirnya menghilang lenyap dari pandangan mata.

Naruto sama sekali tidak mengetahui cerita atas semua kejadian yang baru ia lihat. Meski begitu, ada sederet kata-kata yang spontan tak sadar meluncur mulus dari lidahnya.

"Seperti Edo Tensei, begitupula lah dengan Holy Grail. Tidak ada satupun cara untuk menahan roh orang yang telah mati di alam dunia ketika roh itu tak memiliki setitikpun penyesalan."

Meski tak ada yang mengerti maksud perkataan Naruto, tapi semuanya sepakat bahwa kematian yang tenang tanpa penyelasan adalah akhir sejati dari sebuah kehidupan.

"Kalian semua..." Diehauser mengatakannya pada semua orang, khususnya pada para anak muda. "Menurut kalian, bagaimana ekpresinya yang terakhir tadi? Bagaimana senyumannya?" tanyanya, tentang sosok roh Cleria yang melayang meninggalkannya.

"Ekpresinya sangat lembut dan senyumnya pun amat tulus." jawab Hinata. Ia pandai membaca ekspresi orang walau tanpa byakugan sekalipun, dan bagi dia yang tak tahu menahu cerita di balik kejadian, jawaban yang terlontar dari mulutnya akan sangat jujur dan netral.

"Aku sependapat dengan istriku." ungkap Naruto. Secara alamiah, ia pun merasakan hal yang sama.

Semua orang mengangguk, Sona dan yang lainnya. Bahkan juga dengan Rias. Sang Tuan Putri Gremory pun tidak bisa berbohong atas apa yang baru saja ia lihat.

Rias!

Rias!?

Ya, dia dan kelompoknya tanpa Issei sudah sejak tadi berhasil menyusul ke tempat ini, mungkin sejak ritual menghidupkan lagi Cleria. Tapi mereka semua diam menyaksikan. Alasan kenapa mereka berada disini, adalah karena mereka meyakini satu hal, bahwa di tempat inilah mereka akan menemukan jalan yang benar untuk ditempuh.

Kecuali satu! Satu orang ini menunjukkan respon yang berbeda.

"Oi pirang!" panggil Rizevim.

"Apa?" Naruto tak bisa mengira-ngira apalagi mau Rizevim.

"Ini, ambillah!"

Rizevim melemparkan benda suci yang tadi ia gunakan untuk menghidupkan Cleria.

Hap.

Naruto menangkap Holy Grail itu. "Kupikir kau melupakan janjimu yang ini."

"Untuk apa? Aku sudah tak membutuhkan benda itu lagi." sangkal Rizevim.

Ketika masih awal-awal Rizevim dan Naruto membuat kesepakatan, salah satunya ialah tentang Holy Grail. Itu terjadi ketika insiden di Rumania, kota para Vampir. Kesepakatannya adalah untuk berbagi artefak itu, yang ternyata baru diketahui bahwa wujudnya ada tiga dalam satu. Jadi, satu diambil Rizevim yang dipakai untuk membangkitkan Trihexa, satu dipintakan Naruto agar bisa dibawa Gaara pulang demi meningkatkan kekuatan militer Konoha sebelum perang, satunya lagi tetap berada di dalam tubuh Valerie Tepes agar gadis setengah vampir itu tetap hidup. Lalu setelah Trihexa bangkit dan Rizevim tidak membutuhkan Holy Grail lagi, maka akan diserahkan kepada Naruto.

Itulah kesepakatannya, dan Rizevim menepati janjinya.

Nanti, Holy Grail itu akan diserahkan pada Sasuke untuk dikirimkan ke Konoha. Di sana ada Valerie yang masih belum siuman dan dua keping Holy Grail. Dengan Holy Grail yang ketiga ini, maka Valerie bisa hidup lagi seperti sedia kala. Itulah kesepakatan antara Kakashi dan Lord Tepes sebagai pondasi persekutuan militer mereka dalam melawan imperialisme Aliansi Tiga Fraksi.

Kelompok Rias selama di Rumania pernah terkait langsung dalam perebutan Holy Grail. Tapi dari sikap yang mereka tunjukkan saat ini, mereka pasti berpikir kalau masalah itu bisa diurus nanti. Terlebih sekarang mereka gamang terhadap Naruto, Hinata Sona, dan semua rekan mereka. Sepercik perasaan mencuat di hati bahwa Holy Grail itu pasti akan dikembalikan pada Valerie. Khususnya Gasper Vladi yang merupakan sahabat dekat Valerie, ia ingin percaya pada Naruto.

Kemudian Rizevim melontarkan komentar yang sangat tidak mengenakkan.

"Huwaaaa, sungguh drama yang menyentuh sampai terasa membosankan. Tapi hihh!, susah payah dihidupkan tapi yang untuk mendengar ucapan selamat tinggal. Sia-sia saja!, buang waktu!"

"Kau mau kubunuh, Rizevim!" Diehauser seketika marah karena olokan Rizevim.

"Et, tidak boleh!" tolak Rizevim dengan menyilangkan kedua tangan didepan dada. "Kesepakatan kerjasama memang kita sudah berakhir, tapi hei untuk apa membunuh orang tua udzur yang tak ada sangkut pautnya ini? Kalau kau masih punya setitik dendam, balaskan pada para iblis tua yang berkeliaran di luar sana!"

Diehauser marah makin menjadi. Tapi Rizevim benar. Putra Sang Lucifer itu tak ada kaitannya dengan kasus eksekusi mati Cleria, bahkan seharusnya Diehauser berterima kasih pada Rizevim, setidaknya karena dialah sebuah pertemuan singkat yang mengharukan hari ini bisa terjadi.

Jadi sebab itulah, Diehauser mengurungkan niatnya. Dia pun mengumumkan kepada semua orang.

"Aku mengerti. Baiklah, Aku mengaku kalah." ucapnya disertai rasa putus asa.

Tak siapapun menyangka, kata-kata yang seharusnya mustahil keluar dari mulut Diehauser terucap di hari ini. Bagi semua orang yang berada disana, pernyataan bahwa Diehauser mengaku kalah bukan berarti kemenangan bagi mereka karena mereka tidak memiliki konflik apapun dengan Diehauser. Pria itu, tidak lebih dari menunjukkan bahwa dirinya telah menyerah atas apa yang ia perjuangkan selama ini.

Dendam di hati Diehauser telah lenyap setelah pertemuan terakhirnya dengan Cleria. Tidak ada alasan baginya untum membalas dendam manakala roh Cleria tak menyisakan penyesalan apapun lagi di alam sana. Sehingga yang tersisa hanyalah kekosongan. Kehilangan orang yang berharga dan kehilangan tujuan hidup, mengakibatkan tidak adanya harapan di dalam hati Diehauser.

Ia hidup, tapi seperti tak hidup.

Katakanlah, ini adalah akhir bagi Sang Juara.

Mungkin setelah ini yang Diauhauser lakukan hanyalah memandang langit biru sampai penghujung hidupnya, karena Cleria telah berpesan kepadanya agar tidak terlalu cepat menyusul ke alam sana.

.

.

(3) -Arena Perang, Underworld. 03.42 am-

Yamanaka Ino nampaknya tak perlu bersusah payah kali ini. Malah senyumnya mengembang, seakan ia adalah orang yang baru saja mendengar berita baik paling membahagiakan sedunia.

Abaikan situasi perang di sekitarnya, ia berucap lantang.

"Sai-kun. Berhenti dan lihat aku!"

Sosok malaikat bersayap enam yang melayang di udara pun menoleh ke sumber suara, seakan malaikat itu benar bernama Sai. Ia menghentikan serangannya.

"Siapa kau." tanya si malaikat.

"Sai!"

"Sai?"

"Yamanaka Sai."

"Nama siapa itu?"

"Namamu. Kau lupa, sayang?"

"Gh!"

"Et, jangan coba-coba menyerangku!"

Si malaikat yang dipanggil Sai pun membatalkan niatnya hanya karena suara sentakan Ino.

"Apa maumu hah? Kalian musuh-musuh Surga harus segera dilenyapkan."

"Oh ya ampuuun." Ino mendesah. "Baiklah, kita selesaikan ini dengan cepat." Ia geleng-geleng kepala sembari memijit pelipis.

Saat ini Ino sedang bahagia. Terakhir kali berita yang ia dengar bahwa ayah dari jabang bayi yang sedang ia kandung terbunuh oleh musuh saat menyelinap ke sana untuk menyelamatkan setengah vampire betina bernama Valerie Tepes. Itu adalah harga yang harus dibayar Konoha demi menyelamatkan sang putri.

Sekarang, tanpa terduga sama sekali suaminya yang telah mati tiba-tiba menampakkan wujud di depan matanya.

Apakah ada yang bisa membuat Ino Yamanaka lebih bahagia dari ini?

Hanya saja, Ino tidak ingin mengurangi kebahagiaan yang dia rasa dengan serangkaian insiden yang melow-dramatik dan penuh linangan air mata haru. Tidak ada waktu untuk itu di tengah perang seperti ini, apalagi Shikamaru tidak mengijinkannya pergi terlalu lama meninggalkan pusat komando pasukan. Tangis haru bahagia bisa ia simpan untuk nanti setelah memenangkan perang.

Baiklah, langsung saja!

Ino mengunci target dan merapal jutsu.

Shintensin no Jutsu.

"Aku hanya perlu waktu 5 detik mengendalikan pikiran dan jiwamu, setelahnya kupastikan kau akan kembali padaku, Sai-kun."

Tap,

Dua batang tubuh jatuh tergeletak bersamaan di permukaan tanah. Berharap saja, di arena perang yang ramai ini tidak ada musuh yang berbuat buruk pada kedua orang itu saat mereka tak sadarkan diri untuk beberapa saat.

Di dunia yang serba putih, jauh jauuuuh di dalam dasar kesadaran otak manusia, Ino melayang terbang. Tanpa perlu tergesa ia mencari dimana jiwa suaminya. Di dalam alam pikiran ini, alam mimpi yang letaknya jauh dibawah kesadaran otak, dunia berjalan lebih lambat. 10 tahun di tempat ini hanya menghabiskan waktu 1 jam di dunia nyata.

Lelah melayang dan mencari, Ino berteriak "Sai-kun, dimana kaaauuu?"

Tak ada sahutan.

"Saaaai, jawab aku!"

Nihil.

"Rupanya aku harus berusaha lebih keras."

Ino menyemangati dirinya sendiri. Konsentrasinya meningkat tajam, chakra yang lebih banyak ia habiskan hanya untuk menggali lebih dalam di dalam alam pikiran Sai.

Latar berubah, berlatar langit malam ungu penuh dengan hamparan salju. Kulitpun ikut merasakan hawa dingin yang menusuk.

"Yokatta, akhirnya ketemu!"

Ino senang, di depannya terdapat sebuah bongkahan es setinggi 50 meter.

Ya, bongkahan es padat dan keras yang mana Sai terpenjara beku di tengahnya. Tak bergerak, tampak seperti waktu berhenti untuknya.

Ino sampai ke tepian bongkahan es, disentuhnya. Sontak telapak tangannya menciut karena dingin.

Ino coba menganalisa apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya ini.

Sebelum perang, ia mendapat berita buruk bahwa firasatnya tempo hari kalau Sai tewas benar adanya. Orang-orang yang terlibat dalam misi berani memastikan kalau Sai tertangkap musuh dan tewas dibunuh. Ino sanggup menerima kenyataan itu, meski dirundung sedih sedalam palung lautan ia tetap tegar berdiri.

Kemudia baru beberapa saat lalu ia mengetahui dari jaringan informasi pasukan perang mengenai keberadaan sosok yang persis dengan Sai. Akhirnya Ino sendiri yang memastikan dan itu benar adanya.

Kemungkinan besar, yang terjadi setelah Sai dibunuh adalah musuh mereinkarnasinya sebagai malaikat, dicuci otak dengan entah teknik sihir macam apa sehingga tampak menjadi individu yang baru lahir dengan kepribadian baru pula dari hasil memori atau ingatan buatan yang ditulis ulang. Sai seakan menjadi malaikat yang seutuhnya sejak lahir. Sehingga wajar Sai tidak mengenalinya tadi.

Entah apa tujuan kubu malaikat melakukan ini, mungkin salah satunya untuk mencuri informasi tentang pasukan Konoha dan sekutunya, tapi Ino memastikan bahwa musuh melakukan langkah yang salah. Informasi tak akan bocor sebab sebelum berangkat misi, Rokudaime Hokage Hatake Kakashi sudah membuat langkah antisipasi pada isi kepala Sai dan anggota tim yang lain dengan fuinjutsu penyegel ingatan yang otomatis aktif jika target kehilangan kesadaran baik itu tertidur, dibuat pingsan, apalagi terbunuh. Hanya Kakashi yang dapat membuka kembali ingatan itu atau menghapus fuinjutsunya setelah semua anggota tim pulang dengan selamat.

Lalu, kenapa pihak malaikat harus repot-repot mereinkarnasi Sai menjadi salah satu bala tentara malaikat? Padahal setelah direinkarnasi, wujud malaikat dari Sai hanya memiliki tiga pasang sayap yang artinya hanya masuk kategori malaikat kelas menengah. Bukankah kalau dipikir lagi kubu malaikat tak memerlukan tambahan satu prajurit lagi dengan kekuatan biasa, jika mereka memiliki 1 juta malaikat kloning super?

Alasannya mungkin sama dengan jutsu Edo Tensei seperti yang pernah digunakan pada Perang Dunia Shinobi IV. Yakni untuk menyerang mental dan jiwa lawan. Siapa prajurit yang sanggup bertarung dengan hati tenang dan penuh tekad melawan orang terkasih?

Akan tetapi untuk semua itu, Ino tak perlu menguatkan hati melalui cobaan ini. Dulu ia pernah mengalaminya dengan guru Asuma saat perang, jadi saat ini bukan hal mengejutkan lagi.

Wanita berambut pirang panjang itu mendesah pelan, sekarang saatnya melakukan sesuatu untuk orang terkasihnya ini, suami yang sangat ia cinta, serta ayah dari jabang bayi yang dikandungnya. Begitulah apa yang terpikir manakala tanpa sadar ia mengelus perutnya yang masih rata.

"Aku tidak tahu teknik sihir seperti apa yang para malaikat gunakan untuk memenjarakan jiwa Sai. Tapi..."

Ino menyunggingkan senyuman.

"... tak ada yang bisa mengalahkan Klan Yamanaka dalam urusan dunia alam bawah sadar."

Lagi, Ino menyentuh permukaan bongkahan es raksasa. Dinginnya es tak mampu membekukannya. Yang ada, es itu mencair mencipta lubang. Terus mendorong tangannya, Ino membuat jalan serupa terowongan.

Ketika tangan Ino mencapai Sai, bongkahan es pun hancur berkeping-keping.

"Ino."

... adalah nama yang pertama kali terucap dari mulit Sai. Dia terdorong ke belakang manakala Ino mendekapnya erat.

"Ayo kita kembali bersama-sama, Sai-kun. Semua orang sudah menunggumu."

Sai ingat kalimat itu, persis sama dengan yang pernah ia alami dulu ketika ia juga terperangkap dengan cara yang sama akibat teknik genjutsu dari orang bernama Gengo. Ia sampai tak menyadari adanya likuid bening yang menganak sungai di pipinya.

"Tadaima, Ino."

"Okaeri."

Salam hangat Ino ucap. Ia menyakini sebuah hukum alam yang tak terbantahkan bahwa tak ada tubuh hidup yang bergerak tanpa nyawa. Roh Sai masih belum meninggalkan jasad meski tubuhnya direinkarnasi dan memori lain ditulis ulang di otaknya. Itu adalah ketetapan Yang Maha Pencipta bagi segala ciptaannya yang hidup.

.

Ada laki-laki muda yang sedang terngah-engah, embusan nafasnya mencipta kabut tipis dalam dingin udara malam, wajah rupawannya basah bercucur peluh. Dia melayang pada ketinggian sedang di atas belantara hutan rimba, arena perang titik C.

"Huhhhhh." nafasnya terdengar berat. "Walau sudah menggunakan teknik tertinggi milikku, tetap saja orang tua itu masih bergeming. Bahkan nafasnya saja masih teratur."

Cao Cao..., nama laki-laki itu, sudah hampir kehabisan akal. Ia tak tahu lagi bagaimana caranya mengalahkan Sang Raja Agung Great King Bael, Zekram. Orang tua yang mendirikan klan nomor satu di Underworld sekaligus peletak pondasi dan cikal bakal ras iblis. Padahal semua orang tahu, Cao Cao terkenal sebagai petarung tipe taktik-teknik tertinggi yang sangat jenius.

Sekarang, kemanakah kejeniusan yang dia banggakan itu?

Zekram tak banyak bicara, pikirannya berfokus pada bagaimana mengalahkan si pemegang tombak suci True Longinus, tombak yang dijuluki Spear of The Destiny. Entah seberapa jauh orang tua ini serius bertarung atau hanya sekedar main-main saja, tapi nyatanya ia mampu membuat Cao Cao kelabakan tanpa perlu susah payah. Pengetahuan dan pengalamnanya sebagai iblis yang sudah sangat lama hidup tak mungkin bisa dicapai oleh kejeniusan Cao Cao.

Cao Cao bergerak lagi. Bersama dengan langkahnya di udara, puluhan bola cahaya seukuran bola bowling bergerak mengikutinya.

"Ayolaah, berpikir." Cao Cao memotivasi dirinya sendiri. "Kalau begini terus, sebentar lagi aku pasti akan dihabisi. Apakah kemampuan terbaikku ini tak ada guna untuk melawannya huh?"

Shhuuu!

Lima bola cahaya melesat cepat menuju Zekram. Kelima bola itu berpendar makin terang seperti hendak meledak. Itu pasti Balinayaka Ratana, bola cahaya yang mampu menciptakan getaran udara berdaya dekstruktif tinggi. Jika kelima bola ini meledak bersamaan, kekuatannya setara dengan goncangan dari gempa sedang yang melanda satu kota.

Zekram dikelilingi lima bom pada jarak dekat tapi tak membuatnya panik.

Crusshh!

Seperti yang sudah Cao Cao duga, "Serangan sesedarhana barusan tak akan mampu mencapai orang tua itu."

Orang tua itu hanya menggerakkan pupil matanya saja, dan serta merta titik kecil noktah hitam padat ber-outline merah yang merupakan kompresi tingkat tinggi dari kekuatan Power of Destruction bergerak dengan kecepatan kilat menembus bola cahaya Cao Cao, membuat Balinayaka Ratana tak ubahnya balon yang meletus.

Cao Cao sudah mengatakan, kemampuan tertingginya sudah ia gunakan. Bentuk akhir dari sub-spesies Sacred Gear nomor satu Holy Spear The True Longinus, Ultimate Balance Breaker: Third Shift of Polar Night Longinus Chakra Valdine.

Pertama kali Cao Cao menunjukkan Balance Breaker: Polar Night Longinus Chakra Valdine adalah ketika di dimensi buatan replika Kota Venesia, saat dia melawan Vali. Saat itu kekuatannya belum sempurna, tapi sudah lebih dari cukup untuk membuat Vali tak berdaya meski pada beberapa saat setelahnya kemampuannya itu berhasil dipatahkan oleh Naruto dengan Sennin Mode.

Lalu bentuk sempurnanya, Perfect Balance Breaker: Second Shift of Polar Night Longinus Chakra Valdine, Cao Cao gunakan saat menghadapi Sang Dewa Bulan, Chandra yang merupakan salah satu dari delapan Wasu dibawah Sri Maharaja Dewa Indra atau yang lebih dikenal dengan nama Sakra. Ia sukses memang telak waktu itu.

Kemudian bentuk akhir dari Balance Breaker yang khusus Cao Cao siapkan untuk perang. Upgrade yang diberikan pada ultimate balance breaker ini adalah dari segi kuantitas dan efektifitasnya.

Jumlah bola cahayanya yang asli mencapai angka 1000, sehingga namanya berubah lagi menjadi One Thousand Treasures. Dan jumlahnya itu masih bisa meningkat lagi dengan kemampuan pengganda dari bola Chaaya Ratana sehingga seakan Cao Cao mampu menciptakan bola itu tanpa batas, menggantinya lagi dengan bola cahaya yang baru jika dihancurkan musuh tanpa pernah habis.

Efektifitasnya pun meningkat jauh berkat pengaturan baru yang Cao Cao tambahkan. Yakni setiap bola cahaya mampu menggunakan sembilan jenis kemampuan yang berbeda-beda. Akan terdengar terlalu overpower jika seperti itu, tapi masih ada batasannya. Setiap bola tidak mampu menggunakan sembilan kemampuan sekaligus, tapi mampu mengganti jenis kemampuannya dalam selang waktu singkat. Misal, sebuah bola cahaya Hatsutei Ratana yang digunakan untuk terbang dapat mengganti kemampuannya untuk menghancurkan senjata seperti pada Chatsuka Ratana. Hal ini bertujuan untuk menutupi kelemahannya dari Seven Treasures itu sendiri, yakni jika kemampuan setiap bola dan posisinya diketahui maka strateginya pasti akan terbaca.

Ada harga yang harus dibayar untuk peningkatan itu, yakni efek kelelahan otak yang berujung pada hilangnya kesadaran akibat mengendalikan kemampuan dari 1000 bola cahaya sekaligus. Cao Cao bisa memaksa otaknya bekerja sekeras itu karena pada dasarnya dia memang jenius, tapi tetap saja kelelahan otak harus ia tanggung sebagai efek sampingnya walau sudah menggunakan doping. Bertarung sedikit lebih lama lagi, Cao Cao pasti pingsan.

Abaikan efek buruk tersebut, berkat upgrade teknik segila itu Cao Cao mampu membuat ribuan kombinasi serangan dan teknik serta strategi mutlak yang tak bisa dipatahkan.

Itulah yang seharusnya terjadi.

Se-ha-rus-nya!

Akan tetapi ketika lawannya adalah Zekram Bael, semua kemampuan Cao Cao tidak ada yang berarti bahkan dengan bentuk akhir dari Balance Breaker-nya ini.

"Baiklah, sekali lagi." Cao Cao masih belum putus asa.

Kali ini, Cao Cao menggunakan serangan kombinasi berlapis. 237 bola cahaya bergerak bersamaan. Jumlah yang sangat banyak untuk dikendalikan oleh satu kepala. Semua bola tersebut, yang memiliki 9 jenis kemampuan berbeda, mengeluarkan kemampuannya secara acak tanpa diketahui oleh bola yang mana.

Serangan utama oleh bola Balinayaka Ratana untuk menciptakan daya desktruktif yang diteleport posisinya menggunakan Atsusa Ratana sekaligus dibelokkan arahnya dengan Mala Ratana agar menjadi sulit diprediksi. Hal yang sama juga terjadi pada serangan tambahan dari Chatsuka Ratana yang bertransformasi menjadi berbagai jenis senjata, yang juga diperlakukan dengan kemampuan khusus Atsusa Ratana dan Mala Ratana agar serangannya semakin sulit dihindari. Kecepatan serangnya pun juga ditingkatkan menggunakan Hatsutei Ratana. Sebagai tambahan, ada Itsutei Ratana yang sebenarnya tak berguna karena hanya berefek pada perempuan tapi masih bisa digunakan sebagai pengecoh. Kahabatei Ratana tidak ketinggalan diaktifkan, untuk menciptakan belasan batalion pasukan tiruan diri Cao Cao yang setidaknya bisa menjadi pengganggu konsentrasi Zekram. Chaaya Ratana pun, bola kedelapan, juga diaktifkan untuk menggandakan semua jenis serangan. Sebagian bola yang lain, Parivaata Ratana yang merupakan jenis kesembilan, aktif secara sembunyi-sembunyi dan merubah dirinya menjadi bentuk lain seperti benda mati, yang Cao Cao tujukan untuk kamuflase pada serangan dari arah belakang.

Akan tetapi...

"Percuma!"

Satu kata terucap dari mulut Zekram, dan tak ada satupun serangan Cao Cao yang mampu mendekati Zekram lebih dekat dari jarak 25 meter.

Semua serangan Cao Cao, dilibas habis oleh gempuran Power of Destruction berbentuk noktah-noktah kecil seukuran bulir air hujan yang jumlahnya amat banyak persis seperti titik air hujan itu sendiri.

"Sialan!" Cao Cao berteriak gusar. "Aku baru tahu ada orang Bael yang bisa menggunakan Power of Destruction segila itu."

Tahu bagaimana cara Zekram mementalkan semua serangan Cao Cao?

Sederhana saja caranya. Zekram hanya harus memastikan bahwa tidak ada satupun objek yang mendekati tubuhnya. Objek apapun itu walau hanya seekor lalat apalagi bola cahaya dari True Longinus, tak akan dia biarkan berada pada jarak yang cukup dekat untuk menghantarkan damage serangan.

Orang biasa mungkin tak akan bisa melakukan hal tersebut, yang mana Cao Cao bisa mengirim berbagai macam teknik serangan dengan seribu taktik, tapi berbeda dengan Zekram yang memiliki penguasaan luar biasa terhadap sihir Power of Destruction, sihir yang mampu meniadakan apapun yang dikenainya.

"Serangan seperti apa lagi yang harus kulakukan? Aku tidak punya ide lagi. Power of Destruction yang mempunyai akalnya sendiri, aku kira itu hal mustahil tapi tidak lagi sampai aku melihatnya di depan mataku sekarang ini."

Iblis Bael biasa, meski memiliki kemampuan Power of Destruction yang hebat sekalipun setidaknya pasti ada celah yang bisa Cao Cao manfaatkan. Contohnya Magdaran Bael yang sudah Cao Cao bunuh siang hari sebelumnya.

Hanya saja, Zekram itu tidak biasa. Kata 'luar biasa' pun mungkin belum cukup untuk mendeskripsikannya. Apa yang dipunyai Zekram, yang membedakannya dengan Bael lain, adalah keunikan Power of Destruction miliknya.

Keturunan Bael lainnya kebanyakan menguasai Power of Destruction sebatas kekuatan 'penghancuran' saja. Rias Gremory bisa menambahkah kekuatan gravitasi pada teknik pengembangan Power of Destruction miliknya, yakni Bintang Pemusnah atau Extinguish Star. Magdaran Bael mampu membuat berbagai macam transformasi bentuk kekuatan itu seperti piringan cakram berputar dan lainnya. Lebih hebat lagi, Sirzech Lucifer dengan jumlah energi spiritual yang sangat banyak mampu membuat Power of Destruction yang terkompresi sangat padat dan juga menjadikan dirinya sendiri sebagai Human Shaped Aura of Destruction.

Sedangkan apa yang Zekram punyai adalah Power of Destruction yang memiliki intelegensia. Dikatakan kalau tekniknya memiliki akal sendiri tidak sepenuhnya benar, tapi benda itu mampu bereaksi dan bergerak sendiri untuk bertahan maupun menyerang bahkan bertransformasi menjadi bentuk lain sesuai dengan keperluan tanpa perlu bagi Zekram mengendalikannya. Lebih buruk lagi, intelegensia itu dimiliki secara individual oleh setiap noktah Power of Destruction yang mampu bergerak bebas di udara seperti percikan air. Dan, semuanya noktah memiliki jaringan konensi sendiri sehingga dapat berindak selaras dalam jumlah massal.

Buktinya saja sekarang ini Zekram melayang di udara tanpa bergerak sedikitpun, tapi setiap serangan Cao Cao tak ada satupun yang mampu mencapainya.

Setiap ada serangan, akan ada noktah hitam Power of Destruction yang akan meniadakan serangan Cao Cao secara otomatis jika mencapai jarak jangkauannya.

"Mengelak dari kekuatan Truth Idea tombak ini pun dia bisa." Ekspresi Cao Cao tampak seperti orang frustasi. Tidak pernah sekalipun ia sampai dibuat seperti ini dalam pertarungan.

Tadi Cao Cao sudah menggunakan Truth Idea, tapi Zekram sanggup bertahan. Padahal cahaya suci dari True Longinus mampu membuat iblis sekuat apapun terluka parah, bahkan Satan Lucifer Pertama sekalipun pasti mati jika terkena teknik itu secara langsung.

Setelah menyerap ambisi pemiliknya, Truth Idea akan menciptakan keajaiban melalui cahaya terang yang ditimbulkan. Cahaya ini memiliki kekuatan mutlak untuk menghancurkan musuh, sehingga dikenal sebagai Brightness of Supremacy. Azazel menamakannya dengan The Dying Will of The God of Bible.

Zekram lebih dari sekedar pintar untuk menganalisis kemampuan Truth Idea lalu menemukan kelemahannya. Truth Idea butuh mantra yang dilafal untuk pengaktifan. Dalam jeda waktu itu Zekram bisa melakukan persiapan. Dirinya akan menjauh mundur untuk menjaga jarak aman sembari kekuatan Power of Destruction membuat barrier yang akan menyerap cahaya Truth Idea sehingga intensitasnya akan berkurang jauh sampai pada batas aman yang sanggup ditahan oleh tubuh Zekram.

Jadi...

Itulah apa yang telah terjadi selama pertarungan antara Zekram dengan Cao Cao.

Si Pemilik True Longinus berharap Zekram akan menumpahkan emosi pada dirinya setelah ia membunuh Magdaran Bael, cicit Zekram sekaligus Putra Mahkota Klan Bael. Biasanya orang yang emosi cenderung lengah sehingga lebih mudah dikalahkan. Tapi nyatanya, Zekram tidak tersulut provokasi dan mampu bertarung dengan tenang. Jadi, rencana Cao Cao siang hari tadi menuai kegagalan.

Fokus pada apa yang terjadi sekarang!

Yang mana Cao Cao sudah terpojok.

"Falbium sudah berada di Tanjung Harapan untuk kemenangan, aku tidak ingin membuatnya menungguku terlalu lama."

"..."

Cao Cao sadar. Selain dirinya yang terpojok, situasi perang sudah mendekati akhir dimana kubu tempatnya berpihak sudah sampai di ambang kekalahan. Hanya titik C di belantara hutan ini saja lagi, tempat pasukannya mampu bertahan. Sedangkan empat titik lainnya sudah di tekan sampai ke Tanjung Harapan, tepat dimana Gerbang Teleportasi Gate of Sun berdiri.

"Jadi... Cao Cao! Ayo kita segera akhiri permainan ini."

Seribu noktah Power of Destruction bersatu membentuk sebilah pedang hitam. Zekram menggenggamnya seakan itu pedang biasa, padahal material apapun selain dirinya pasti akan musnah seketika begitu bersentuhan langsung.

Fuu!

Cepat!

Sangat cepat.

Reflek Cao Cao terlambat menyadari kalau Zekram sudah di depan wajahnya. Ia tak menduga kalau iblis tua itu memiliki kecepatan segila ini, yang reflek otaknya pun tak mampu mencapainya.

Slice!

Satu tebasan vertikal!

Tubuh Cao Cao pasti akan tebelah dua kalau saja...

Zssshtt

Baammpp!

"Apa!"

Zekram melotot.

"Aku terpaksa mencampuri pertarungan kalian!"

Bagaimana tidak melotot? Yang Zekram tebas bukanlah Cao Cao, melainkan sosok lain. Orang itu menahan tebasan pedang Power of Destruction menggunakan rangka pergelangan tangan berwarna ungu transparan yang tercipta dari materialisasi chakra.

Hanya saja, keterkejutan Zekram tidak lebih dari sepersekian detik. Pada selang waktu berikutnya, Zekram menekan pedangnya hingga.

Kretakk.

Cruushhh...

Pelindung berwarna ungu hancur dengan mudah oleh Power of Destruction. Sudah hakikatnya bahwa apapun akan hancur oleh kekuatan Bael.

Sepersekian detik berikutnya, ayunan pedang hitam menyasar wajah si pemuda.

Sedikit lagi!

Jika tak gerakan, tubuh pemuda itu pasti akan terbelah dua.

Zekram sedikit menyeringai.

Namun...

Plopp..!

Oh tidak, barusan yang terdengar seperti suara balon meletus.

Laki-laki yang baru saja ikut campur itu berhasil selamat.

Zekram menurunkan tensinya, ia tadi sedikit tegang karena hampir saja membunuh salah satu musuh terkuat Aliansi yang sangat ingin dia kalahkan. Yang dengan jelas dia ingat bahwa pemuda ini pernah mempencudangi cucunya -Sairaog Bael, tempo hari yang sudah cukup lama. Nama orang itu adalah...

"Uchiha Sasuke, benar kan?" tanyanya pada si pemuda yang melayang di udara tak terlalu jauh darinya. Melayang dengan kaki berpijak pada rangka ungu transparan bersayap.

"Hn."

"Pembukaaan yang hebat. Cukup membuatku terkejut dan sedikit merinding." Zekram mengakui kekagumannya. "Pasti ada alasan kenapa kau turun ke medan perang secepat ini, ya kan?"

"Begitulah. Untuk mencegah kekalahan telak pasukanku kau harus dikalahkan, Zekram Bael."

"Ah, itu benar sekali. Keberadaan diriku memang menjadi penghalang kemenangan kalian. Tapi itu pun kalau kau bisa mengalahkanku disini."

"Aku hanya harus berusaha sedikit lebih keras." ucap Sasuke tegas.

"Oh hebat. Aku akui kepercayaan dirimu." Zekram memuji. "Baiklah. Andaikata kau memang bisa mengalahkanku, pasti ada dasar pemikiran kenapa kau harus mengalahkanku di tempat ini dan saat ini juga. Apakah itu... strategi kalian? atau ada suatu taktik yang mengharuskan kau melakukannya?"

Iris mata Sasuke melebar, diluar dugaan kalau Zekram mampu menganalisa dirinya sejauh itu.

Sasuke datang kesini membantu Cao Cao untuk mengalahkan Zekram karena instruksi dari markas pusat. Dan orang-orang di sana mengeluarkan instruksi itu pasti lah sebagai langkah terbaik berdasarkan semua data yang dikumpulkan, data yang Sasuke sangat tahu dari mana sumbernya.

"Apa kalian memiliki sesuatu yang...?" Zekram menduga-duga.

Sasuke tidak boleh membiarkan orang tua itu hidup lebih lama. Kalau sampai dugaan Zekram mencapai kebenaran, akan sangat berbahaya bagi pasukan Konoha. Sumber data itu, harus Sasuke lindungi bagaimanapun caranya.

"Hei hei heii! Setidaknya cobalah untuk tidak melupakanku."

Suara Cao Cao menyeruak. Dia melayang di sebelah kiri Sasuke, terbang dengan bantuan bola cahaya Hatsutei Ratana.

"Wow. Jika aku bisa mengalahkan kalian berdua sekaligus, aku bisa menjanjikan kemenangan bagi Aliansi Tiga Fraksi." ungkap Zekram.

Orang tua itu sengaja mengalihkan topik. Sasuke tahu kalau Zekram ingin menyimpan dahulu pikirannya.

Kalau memang begitu...

Sasuke tidak mau lagi mendengar suara Zekram. Dia mengumpulkan banyak chakra di matanya, Mangekyou Sharingan diaktifkan. Lalu keduanya saling beradu tatap.

Tsukuyomi

Zekram terpaku, tak bisa melawan.

Sasuke menempatkan seluruh konsentrasi pada genjutsunya. Tsukuyomi adalah jenis genjutsu tingkat tinggi dimana Sasuke mempunyai kendali total terhadap ruang waktu fiktif dalam dunia ilusi yang dialami oleh target. Di dunia shinobi dahulu, jutsu ini adalah genjutsu terkuat yang pernah ada. Ini adalah kekuatan yang Sasuke dapatkan setelah dia menggabungkan mata kakaknya -Itachi, ke dalam rongga matanya.

Setiap waktu yang dihabiskan di dunia nyata adalah seperseribu dari seperseribu dan dari seperseribu-nya lagi waktu yang dihabiskan di dalam dunia Tsukuyomi. Dengan kata lain, waktu yang berjalan di dalam dunia ilusi itu berjalan lebih lambat 1 milyar kali. 1 detik di duia nyata sama dengan 1 milyar detik di dalam dunia ilusi itu, atau sekitar 31 tahun.

Karena dalam kendalinya, Sasuke membuat dunia tersebut sesuai kehendaknya. Untuk seorang musuh, ia buatkan dunia penuh siksaan seperti alam neraka.

Memakai sepatu dari baja yang membara sehingga darah mendidih sampai ke otak.

Leher digeret dengan gergaji tumpul merah membara.

Lidahnya dituangi cairan lahar gunung berapi.

Rahang bawah ditarik dengan rantai hingga mulut robek.

Kulitnya dilepas hidup-hidup seperti menguliti binatang ternak.

Perutnya menggelembung karena dijadikan sarang oleh ratusan kalajengking, lalu meletus.

Tangan dan kakinya digiling dengan alat penggiling gangum yang diputar oleh 10 keledai.

Meminum air sungai yang sumbernya berasal dari kemaluan para pelacur yang baunya busuk dan sangat menjijikkan.

Kemaluannya dipotong dengan kapak panas.

Lalu,

Kemudian...

ada beribu-ribu macam metode penyiksaan lainnya yang terus diulang-ulang hingga waktu yang sangat lama.

Dihitung setelah Zekram terperangkap dalam dunia genjutsu Tsukuyomi, 310 tahun telah berlalu.

Artinya Sasuke mengendalikan genjutsu Tsukuyomi selama 10 detik di dunia nyata. Itu adalah waktu terlama yang pernah dilakukannya, Itachi saja paling lama hanya sanggup sampai 3 detik.

Mangekyou Sharingan menguras banyak chakra. Untung saja dalam rongga mata Sasuke adalah Eternal Mangekyou Sharingan sehingga tidak lagi mengalami efek cedera. Meski begitu tetap saja, kelelahan yang dialami Sasuke setelah 10 detik menggunakannya seperti 10 menit menahan nafas menyelam di dalam air. Nafasnya terngah-engah seperti baru saja keluar dari dasar laut.

Kehilangan cukup banyak chakra membuat tubuh Sasuke sedikit oleng. Yah walau tidak terlihat adanya daya destruktif hebat seperti ketika menggunakan ninjutsu yang menguras chakra, namun Tsukuyomi tidak kalah borosnya karena harus menyuplai energi chara untuk satu buah dunia ilusi yang berlangsung sampai ratusan tahun.

Dengan genjutsu itu, seharusnya Zekram dapat dikalahkan.

Seharusnya!

Tapi yang tampak adalah sebaliknya.

"Huuu, ghahahahaaaa..." Zekram tertawa terbahak-bahak. "Aku terkesan dengan teknikmu anak muda. Pantas saja, Sairaorg-kun mengalami trauma mental hebat setelah melawanmu karena teknik ini."

"Tidak mungkin!" Sasuke tak percaya kalau ada orang yang sanggup bertahan dalam dunia Tsukuyomi penuh siksaan mengerikan selama 310 tahun tanpa mengalami trauma mental sedikitpun.

Bagaimana mungkin Zekram mempunyai cara menangkalnya?

Sasuke menggunakan genjutsu yang merupakan sebuah teknik serangan langsung pada otak lawan, cara alternatif serangan sebab adu fisik dan ninjutsu terhadap Zekram yang menguasai Power of Destruction sedemikian hebatnya akan sangat sulit.

"Kau terkejut? Dengar ya, aku tidak melakukan apa-apa tadi. Aku menerima seranganmu tanpa melawan."

"Mustahil!"

"Tidak mustahil."

"Sasuke!" suara Cao Cao terdengar menyentak. "Teknikmu barusan memang sangat hebat, tapi sama sekali tidak berguna pada orang tua itu."

"Hn, kenapa?"

"310 tahun disiksa seperti di neraka tidak berarti apa-apa baginya. Zekram Bael telah hidup selama beribu-ribu tahun lamanya sejak cikal bakal iblis, dan selama waktu itu pula dia melewati banyak sekali pertarungan dan peperangan yang mengerikan. Dia iblis, dan dalam otaknya ada berbagai macam metode penyiksaan yang kau sekalipun tak terpikirkan."

Astaga!

Sasuke tak menyangka, luput dari pemikirannya.

Benar seperti kata Cao Cao. Jika seseorang sudah pernah mengalami pahitnya hidup dan derita dalam waktu yang sangat lama, ia akan kebal jika disiksa. Otaknya pun tak lagi merasakan sakit. Yang jika dianalogikan kepada manusia biasa, apa yang dialami Zekra dalam dunia genjutsu tidak lebih dari dipukuli oleh sipir penjara selama 1 jam.

Sasuke lupa targetnya siapa, Zekram adalah iblis sejati. Sumber dari siksaan itu sendiri.

Baru kali ini, Tsukuyomi yang merupakan salah satu genjutsu terhebat dan tak terkalahkan di dunia shinobi menjadi teknik yang tak berguna, yang bahkan targetnya tak perlu melakukan apa-apa selain menerima.

Padahal Sasuke sudah menghabiskan banyak chakra. Sekarang apa yang harus dia lakukan?

Masih dengan posisi melayang di udara, Zekram mencebikkan bibir dan dengan arogan merendahkan lawan. "Aku masih ingat dengan teknik teleportasi yang kau gunakan saat datang kesini. Entah apa namanya, yang jelas teknik itu hanya terbatas sampai jarak tertentu dan membutuhkan sebuah benda lain sebagai alat untuk bertukar posisi."

Luar biasa! Otak Zekram sangat cemarlang. Hanya dengan dua kali melihat, ia sudah tahu bagaimana prinsip teknik perpindahan milik Sasuke. Pertama saat Cao Cao dalam posisi kritis bertukar dengan Sasuke yang menggunakan posisi bertahan untuk menangkis tebasan pedang Power of Destruction. Lalu saat Sasuke menghindar dan menggantikan posisinya dengan salah satu bola cahaya milik Cao Cao.

Untuk yang kali ini, Sasuke tidak lagi terkejut. Jutsu teleportasi Amenotejikara yang ia dapat setelah memiliki Rinnegan warisan Rikudou Sennin, dianalisa prinsipnya dengan begitu mudah oleh Zekram.

Setelah mengetahui hal itu, Zekram membuat semua noktah Power of Destruction menjauhi dirinya. Ini untuk mengantisipasi seandainya Sasuke bertukar dengan noktah miliknya yang berada di dekatnya lalu melancarkan serangan.

Si iblis tua sudah memprediksikan taktik musuh sampai sejauh itu. Hebat!

Dengan demikian, di tempat ini sudah ketahuan siapa yang lebih unggul bahkan sebelum pertarungan dimulai.

"Sasuke!" lagi, Cao Cao berbicara. "Tampaknya kita tidak akan menang kalau tidak bekerja sama."

Sasuke mengangguk.

"Aku tidak punya ide. Kalau kau?"

Kali ini Sasuke menggeleng.

Sasuke sempat berpikir untuk menggunakan berbagai macam ninjutsu tipe destruktif yang ia kuasai, bahkan dengan api Aamaterasu maupun Susanoo. Tapi kemudian ia berpikir kembali, bahwa semua ninjutsu itu tak akan ada artinya jika ada Power of Destruction yang mampu membabat habis ninjutsu-ninjutsunya.

Menggunakan Taijutsu juga sangat sulit karena Zekram tampak juga ahli dalam bidang itu. Hanya genjutsu yang bisa digunakan, tapi ia tidak akan lupa dengan yang barusan terjadi. Genjutsu Tsukuyomi yang paling hebat pun tak ada arti di mata Zekram.

"Huuuh," bibir Cao Cao mengkerucut. "Entah apakah kita masih bisa hidup setelah ini."

"Semoga saja."

Haaaaaaa!

Tak mau menunggu, Zekram langsung menyerang. Kali ini orang tua itu lebih agresif dari sebelumnya.

Baik Sasuke maupun Cao Cao, tidak memiliki kesempatan menyerang balik. Butiran noktah Power of Destuction yang ribuan jumlahnya sangat menyulitkan ruang gerak mereka berdua. Lebih dari itu, Zekram dengan tubuhnya sendiri juga aktif melancarkan serangan-serangan kritikal yang berbahaya.

Seringkali didesak oleh serangan Zekram memaksa kedua pemuda menggunakan teknik teleportasi untuk menghindar, Sasuke dengan Amenotejikara dan Cao Cao dengan Atsusa Ratana. Ya harus begitu, kalau tidak menghindar maka sudah jelas akibatnya tubuh mereka akan penuh dengan lubang akibat tumbukan noktah Power of Destruction.

Semakin lama, dua pemuda itu semakin terdesak. Zekram terus menerus mempersempit ruang gerak Sasuke dan Cao Cao menggunakan ribuan noktah Power of Destruction yang bergerak irreguler dalam ruang berbentuk bola sejauh radius 300 meter dari pusat pertarungan. Akibatnya Sasuke dan Cao Cao semakin terdesak. Lingkupnya semakin kecil namun kerapatannya terus meningkat. Itu Zekram lakukan sembari terus menyerang.

"Cao Cao, aktifkan jurus terkuatmu sekarang!"

"Apa?"

Kedua pemuda itu terus aktif berpindah tempat dengan teknik teleportasi masing-masing ke titik lain yang aman dari serbuan noktah Power of Destruction. Menghindar tanpa sekalipun melayangkan serangan adalah satu-satunya hal yang masih bisa mereka lakukan.

"Lakukan saja!" perintah Sasuke.

Cao Cao memutar tombak True Longinus dan melafal mantra Truth Idea. Meski tadi gagal untuk menyerang Zekram, tapi kali ini ia percayakan pada Sasuke.

"O Spear!, Holy Spear sejati yang menembus Tuhan! Seraplah ambisi King of Domination yang tidur di dalam diriku, menembus celah berkat dan kehancuran! Engkau, mengumumkan kehendak, dan berubah menjadi cahaya!"

Cincin cahaya di belakang Cao Cao bersinar lebih terang, dan aura yang menyelimuti tombak True Longinus juga meningkat sampai batas tertingginya. Cao Cao meneriakkan bagian terakhir!

Truth Idea

Seakan tombak sedang diberkati, itu mengeluarkan cahaya menyilaukan, dan gelombang suci terpancar desar. Gelombang suci yang dikeluarkan oleh tombak tersebar di seluruh langit. Kegelapan malam berganti menjadi terangnya siang hari.

PIIIIIIIIIIINNNN!

Zekram nampak lebih berhati-hati dalam bergerak. Cahaya itu berbahaya untuk iblis seperti dirinya. Walau dihalangi dengan barrier Power of Destruction dan jaraknya cukup jauh, tetap saja Zekram merasakan kulitnya seperti terbakar akibat cahaya suci itu. Tapi Zekram tak berniat mengendurkan serangan.

Yang jelas, dilihat dari segi manapun Sasuke dan Cao Cao sudah terdesak. Dari banyak aspek, Zekram jauh lebih unggul dalam pertarungan ini.

Tapi...

KAAAAA!

Seolah tanpa gerakan apa-apa, Zekram menerima serangan kritis. Ia terkejut, otaknya tak mau menerima kenyataan ini.

"Tidak mungkin!"

Ujung tombak suci True Longinus sudah menancap dalam di perut Zekram, sinarnya teramat terang hingga menelan habis tubuh Zekram.

Diserang langsung seperti ini menggunakan True Longinus yang mengaktifkan Truth Idea yang di dalamnya terdapat otoritas atas kehendak tuhan dalam Bible, maka setangguh dan sekuat apapun iblis tak mungkin selamat.

Kata-kata terakhir orang tua itu terucap bersama satu senyuman.

"Baiklah. Aku mengaku kalah!"

Zekram mungkin sudah menyadari dimana letak kesalahannya. Hanya sebuah kekhilafan kecil, tapi berujung pada kematian.

Bersama dengan sinar yang menerangi seluruh cakrawala langit, Zekram pergi meninggalkan alam makhluk hidup.

Cao Cao menepukkan tombaknya ke bahu, mendarat di tanah persis di sebelah kanan Sasuke. Kedua orang ini kelelahan, melawan Zekram sungguh sangat merepotkan.

Si pemilik tombak berceletuk, "Tak kusangka trik kotor sesederhana itu bisa berhasil."

"Hn! Temanku yang mengajari. Dia selalu melakukan hal tak terduga saat terdesak." Dalam bayang Sasuke, ada wajah konyol Naruto.

"Iya, aku setuju denganmu dan aku tahu siapa teman yang kau maksud itu." dalam bayang Cao Cao juga ada wajah Naruto.

"Ya sudahlah. Ayo kita kembali ke markas dan istirahat dulu. Setelah ini masih ada 17 iblis kelas ultimate lagi yang harus kita bereskan. Aku tak tahu apakah kita sanggup melakukannya."

"Iya iyaaa, aku akan berusaha."

Kedua pemuda berambut hitam itupun melangkah pergi membawa kemenangan.

Mungkin semua orang akan kebingungan, bagaimana bisa posisi berbalik seketika 180 derajat sampai Zekram seketika tumbang?

Sasuke tadi sudah mengatakannya kan?

Hanya dengan sebuah trik kotor sederhana, maka pertarungan melawan orang kuat sekalipun tidak mustahil untuk dimenangkan. Itu adalah motto yang selalu Naruto junjung.

Bola kesembilan dari teknik Nine Treasure Cao Cao, yakni Parivaata Ratana memiliki kemampuan untuk mengubah diri meniru benda lain. Dalam hal ini, bola itu berubah bentuk menjadi satu buah noktah Power of Destruction. Kemudian digerakkan oleh Cao Cao melayang dan membaur bersama ribuan noktah Power of Destruction asli untuk mendekati tubuh Zekram.

Kemudian Sasuke menggunakan genjutsu paling sederhana, ilusi sugestif tanpa disadari target untuk membuat Zekram tetap meyakini bahwa noktah-noktah Power of Destruction jumlahnya tidak bertambah satu. Sasuke pernah melakukannya dahulu pada Danzou sehingga orang tua itu salah mengingat jumlah sisa Sharinggan curian di tangannya untuk mengaktifkan jutsu Izanagi.

Berkat kombinasi trik kotor itulah, noktah Power of Destruction palsu sukses menjangkau posisi terdekat dengan Zekram. Pada moment itu, Sasuke memegang bahu Cao Cao yang sudah selesai mengaktifkan Truth Idea, lalu menggunakan teknik teleportasi Amenotejikara untuk menukarkan posisi noktah palsu dengan tombak True Longinus yang memuntahkan massa cahaya suci luar biasa. Amenotejikara adalah teknik teleportasi instan yang sangat cepat, sehingga Zekram tak sempat mengelak ketika tombak suci itu sudah ditusukkan ke perutnya.

Terkena Tombak Suci True Longinus yang menancap langsung ke dalam perut, tak mungkin tubuh iblis Zekram sanggup bertahan.

Dengan begitu, akhir hidup Zekram sang Raja Agung Great King Bael pun diputuskan.

.

.

(4) -Pulau Langit Agreas-

Prev part (2):

Dendam di hati Diehauser telah lenyap setelah pertemuan terakhirnya dengan Cleria. Tidak ada alasan baginya untum membalas dendam manakala roh Cleria tak menyisakan penyesalan apapun lagi di alam sana. Sehingga yang tersisa hanyalah kekosongan. Kehilangan orang yang berharga dan kehilangan tujuan hidup, mengakibatkan tidak adanya harapan di dalam hati Diehauser.

Ia hidup, tapi seperti tak hidup.

Katakanlah, ini adalah akhir bagi Sang Juara.

Mungkin setelah ini yang Diauhauser lakukan hanyalah memandang langit biru sampai penghujung hidupnya, karena Cleria telah berpesan kepadanya agar tidak terlalu cepat menyusul ke alam sana.

"Oke, sekarang sudah saatnya aku beraksi. Aku sudah cukup lama menunggu!"

Suara orang lain datang tiba-tiba mmemenuhi rongga telinga semua orang.

"Sensei!" Rias dan para peeragenya memekik bersamaan begitu melihat batang tubuh si pemilik suara keluar dari bayang gelap.

"Azazel!" Naruto tampak tak terkejut. "Akhirnya kau muncul juga." Ia sudah menunggu orang tua licik ini.

"Yahhoooo, Paman Azazeeeel~~~" sapaan Rizevim terdengar sangat Riang

Sekarang semua pemain sudah naik ke atas panggung. Semua kontenstan yang beraksi di Pulau Langit Agreas telah berkumpul di satu titik. Dari moment ini, laju cerita meningkat dengan cepat.

"Aku akan mengambil alih semuanya."

"Haaah? Jangan bercanda!" sergah Rizevim. Seserius apapun ekspresi Azazel saat mengatakan bahwa dia akan mengambil alih semuanya, tapi itu hanya akan membuat orang lain tertawa.

Bagaimana tidak?

Di ruangan ini ada kelompok Naruto, Tiga Naga Jahat Legendaris, dan Rizevim yang memegang kendali atas Trihexa. Kesampingkan Diehauser yang sudah tak memiliki keinginan apapun dan kelompok Rias yang dapat dikatakan masih netral. Untuk menghadapi semua orang itu, Azazel yang meski dibacking oleh tiga prajurit Aliansi terbaik yakni Dulio Gesualdo, Tobio Ikuse, dan Griselda Quarta tidak punya peluang dan kekuatan untuk mengambil alih semuanya.

"Paman Azazel, dari semua kelompok aktif yang ada disini, kelompokmu yang paling lemah. Apa-apaan dengan perkataanmu itu huh? Kau mau terjun ke medan perang dengan bertelanjang bulat tanpa memegang senjata tapi bermimpi memenangkannya?"

Ejekan Rizevim sama sekali tak berpengaruh pada Azazel. Malaikat jatuh licik ini mungkin akan membawakan kejutan yang paling tak di sangka.

"Aku tak memiliki banyak waktu."

Rizivim langsung menyahut perkataan Azazel, "Meski kau punya waktu 1000 tahun sekalipun, tidak ada yang bisa kau perbuat di sini! Ghahahahahaha, mimpi saja kau!"

"Uzumaki Hinata, bunuh suamimu!"

Apa!

Apa tadi katanya?

Azazel sedang melawak?

Naruto terperangah, tak menyangka Azazel bisa mengatakan hal se-absurd itu. "Azazel, kau mabuk atau sedang tidur huh!?"

Sungguh tidak ada satupun yang mengerti, untuk alasan apa Azazel berkata seperti itu.

Orang sedang serius-seriusnya dengan semua yang di depan mata, terlebih Trihexa yang sebentar lagi akan bangkit, Si Gubernur Malaikat Jatuh malah mengatakan hal-hal yang tak masuk akal.

Hei, siapapun tahu bagaimana Hinata.

Naruto berteriak mengejek, "Sungguh tak masuk akal! Hinata itu istriku, tak mungkin dia menuruti perkataanmu. Dan harus kau tahu yaa, kami saling mencintai. Sungguh kemustahilan yang nyata kalau kami membunuh satu sama lain. Berhentilah bermim..."

Jleb!

"...pi."

Olokkan Naruto kepada Azazel berhenti seketika. Ia merasakan rasa nyeri yang amat sakit menyerang ulu hatinya, seakan isi perutnya tengah di koyak. Sebilah kunai telah menancap dalam di perutnya ketika kepalanya bergerak patah-patah ke arah sumber sakit.

"Guhhaa!" darah segar tersembur deras dari mulut Naruto. Ia tatap pemilik tangan yang menusukkan Kunai padanya, dan terkejut begitu tahu tangan itu adalah tangan istrinya sendiri. "H-Hinata? Apa yang k-kau... Kenapa denganmu!?"

Naruto sungguh tak mempercayai ini. Bagaimana mungkin!?

Hinata sendiri pun ekspresinya menunjukkan kebingungan, ketidaktahuan, dan ia tak percaya kalau tangannya bergerak dengan niat membunuh pada suaminya sendiri, pada Uzumaki Naruto yang ia cintai sejak ia mengenal cinta.

"Anata, ak... Aku... M-maaf." Hinata menggeleng kencang. "Aku, aku tidak tahu kenapa bisa begini." Ia masih terkejut dengan apa yang terjadi pada dirinya. Semua yang terlontar dari mulutnya tiada lain melainkan penyesalan.

Selain Naruto dan Hinata, semua orang pun sama terkejutnya.

Sona menolak keras apa yang dilihat oleh matanya. Begitupula dengan semua anggota kelompoknya.

Rias dan para peeragenya yang paling lama bersama Azazel, juga tak tahu kenapa ini bisa terjadi. Kenapa Azazel bisa melakukan hal seperti ini? Ini bukan Azazel yang mereka kenal!

Belum cukup sampai di sana, Azazel kembali melakukan hal yang tak terduga.

"Rizevim, bunuhlah dirimu sendiri dan serahkan otoritas Trihexa padaku!"

Lagi, seakan-akan itu sebuah perintah mutlak yang tidak bisa dibantah, Rizevim melakukan apa yang dikatakan Azazel padanya.

Jrassh!

Rizevim menusukkan tangannya sendiri pada tenggorokannya. Semua jarinya dan kuku runcing itu menembus batang leher.

Dalam sekian detik saja, Rizevim telah kehabisan nafas dan jatuh tersungkur. Ia tergeletak begitu saja di lantai Dome. Di saat-saat terakhir hidupnya, ia sempat mengucapkan sumpah serapah.

"Gh, gila! S-sialan! Bedebah! Setelah semua usaha keras yang kulakukan, aku berakhir begini." sorot matanya yang masih diselimuti rasa sombong meski sedang sekarat, ia tujukan pada Azazel. "K-kau brengsek, Azazel! Ta-tapi kau tak akan menang! Ingat itu!"

Kubah chakra Kyubi berwarna jingga yang melindungi semua orang tiba-tiba lenyap. Hal itu menandakan bahwa pemiliknya, bahwa Naruto sedang dalam kondisi terburuk. Ia kembali ke mode normal, lagipula dalam situasi tak terjelaskan seperti saat ini tak mungkin Naruto melawan balik istrinya.

Naruto melihat Rizevim yang telah tewas, dan sekarang dirinya harus melakukan sesuatu. Kalau tidak, maka semua yang ia perjuangkan di dunia ini akan berakhir dengan kegagalan. Ia mengerling ke arah Diehauser yang berdiri menunduk tak bergerak sejak tadi. Bolehkah Naruto berharap pada orang itu?

"Hei k-kau! Ohhok!" Naruto kembali memuntahkan darah. "Bisakah... bisakah kau jaga teman-temanku di sini? Tolong!"

Meski mendapati situasi sulit dan jalannya menemui kebuntuan, Naruto tidak bisa berhenti memikirkan nasib teman-temannya. Apalagi di tempat berbahaya seperti ini.

Diehauser tak menjawab.

"Kau tidak lupa dengan pesan terakhir adikmu kan? Ia mengatakan agar kau tidak cepat menyusulnya, itu artinya dia berharap agar kau mencari dan menemukan kebahagiaanmu sendiri di dunia ini sehingga kau bisa menyusulkan ke alam sana dengan perasaan yang sama seperti dirinya."

"..."

"Kau sebenarnya sudah menyadari itu sejak awal, iya kan? Harusnya kau melakukannya, bukannya malah meratap seperti itu!"

"..."

Naruto berhenti berbicara. Entah ucapannya mencapai hati pria itu atau tidak, tapi saat ini ia tak punya waktu lagi. Ia menahan tangan Hinata yang menusukkan Kunai makin dalam ke perutnya.

"Hinata!"

"Anata, hentikan aku! Tolong!"

Keadaan makin memburuk manakala doujutsu The True Tenseigan di kedua rongga mata Hinata telah aktif secara sempurna. Salah langkah, Naruto bisa saja benar-benar mati oleh kekuatan doujutsu yang sangat berbahaya ini.

"Hinata. Kalau salah satu diantara kita harus mati, maka yang mati haruslah aku."

"Tidak!"

"Kalau bukan kau, tidak akan ada yang bisa menggunakan Cube untuk mencapai tujuan akhir kita. Kau harus tetap hidup! Kau mengerti kan!?"

"..."

"Meskipun aku harus mati, setidaknya aku harus membuatmu sadar, menjadi dirimu seperti sedia kala."

"Jangan! Naruto-kun!"

Grep!

Naruto memeluk tubuh Hinata, membiarkan istrinya itu menusuk perutnya lebih dalam.

Zzsshtt!

Menghilang dengan Hiraishin, Naruto berniat menyelesaikan urusan ini di tempat lain!

Rias, pun dengan budak-budaknya sungguh tak menyangka. Apa yang dilakukan Azazel, sungguh mengerikan, diluar perkiraan.

Jadi, inikah sosok asli Azazel? Yang baru sekarang mereka ketahui?

Kemudian waktu telah sampai fase akhir dari semua kejadian ini, semua kejadian di Pulau Langit Agreas. Setelah kematian Rizevim, kebangkitan Trihexa yang tadi sempat berhenti kini berlanjut ke tahap terakhir.

Akhir dari proses kebangkitan Trihexa, adalah awal dari kehancuran dunia.

"M-Makhluk itu!?" Mulut Sona membuka lebar, matanya bahkan melotot hendak keluar.

Bukan hanya Sona saja, tapi semua rekan dan temannya juga sama terkejutnya. Mereka semua hanya bisa berdiri di sana didekap keterkejutan luar biasa.

Sang Binatang Pengkiamat telah mencapai bentuk sempurnanya dengan tujuh kepala dan sepuluh tanduk. Tubuh raksasa itu tingginya lebih dari tiga ratus meter, itu bahkan lebih besar dari Great Red. Masing-masing kepala memiliki ciri makhluk yang berbeda, ada yang seperti singa, macan tutul, beruang, naga, bahkan ada yang bentuknya belum pernah dikenal di muka bumi.

Rantai-rantai yang mengekangnya putus satu persatu. Aura jahat yang terpancar darinya semakin kuat menekan kesadaran. Bahkan untuk iblis berdarah murni kelas atas seperti Rias dan Sona, lebih dari 100 detik terpapar hawa kekuatan jahat semengerikan ini bisa membuat keduanya gila.

Apalagi ini adalah Trihexa yang telah menyerap eksistensi Ophis Sang Ketidakbatasan dan semua kekuatannya.

Siapa yang sanggup berdiri menatap makhluk tiada tanding itu?

Di tengah situasi mengerikan ini, Azazel memberitahu semua orang.

"Untungnya aku mengenal Rizevim Livan Lucifer dengan baik. Dia adalah tipe iblis pendengki yang tak akan sudi membiarkan siapapun senang bahkan jika telah mati. Dengan itu aku membuat asumsi bahwa kepingan terakhir kebangkitan Trihexa adalah kematian Rizevim. Nyawanya adalah sumber energi final kesadaran binatang itu."

Maksudnya jika karena suatu hal Rizevim tidak berhasil mencapai tujuannya dan mati, maka dunia juga harus ikut hancur dengan amukan Trihexa yang tak terkendali. Azazel sudah menduga ini, sehingga dia tahu kapan saatnya harus beraksi.

"Jadi..." Sona tidak berharap tebakannya benar.

Azazel melanjutkan, "Jadi aku bunuh saja orang tua itu untuk membuktikannya. Gampang kan?"

Gila.

"Aku pun membuat Naruto dan Hinata saling bunuh karena mereka adalah penghalang terbesarku. Setelah mereka mati, jalanku terbuka lebar."

Bedebah.

Adakah yang lebih licik dari Azazel di panggung cerita ini?

Azazel adalah ilmuan jenius. Dia mampu memikirkan sejauh ini dan mengambil keuntungan sebesar itu hampir tanpa perlu memeras setetespun keringat. Trihexa ada dalam kendalinya, cukup dengan mengambilnya lewat satu kalimat perintah.

Hanya dengan satu kalimat saja, Azazel mendapatkan semuanya.

Kegilaan macam apa ini!?

Tidak mungkin ini terjadi kan?

Sungguh, siapapun sama sekali tidak ingin percaya atas apa yang terjadi.

Setiap kepala Trihexa mulai membuka mata. Pada saat yang sama, segel dan rantai yang mengekangnya makin banyak yang hancur. Moment ketika salah satu kepala yang telah benar-benar membuka mata, dan kemudian meraung.

GOOOOOOOOOOOOOOOOOOONNN!

Nadanya terdengar seperti suara gemuruh biasa, tapi rasanya seolah-olah jiwamu sedang dicengkram erat, nafasmu tercekik, badanmu hendak remuk. Lolongan bergema tidak hanya ruangan ini, tetapi juga seluruh Pulau Langit Agreas.

Ya, seluruh Pulau Langit Agreas dan kota dipermukaannya bergoncang bak terjadi gempa besar.

Kemudian kepala kedua juga mulai membuka mata.

"Ini buruk!" Diehauser yang sudah sadar akan keadaan pun panik.

Sebelum raungan kepala kedua menggema, ia membuat kubah sihir pertahanan berlapis-lapis untuk melindungi Sona, Rias, dan orang-orang yang lainnya. Sihir pertahanan yang sangat kuat hingga menghabiskan banyak kekuatannya. Ia melakukannya mengingat seberapa kuat dan mengerikannya aura jahat Trihexa. Pelindung ini mungkin sama baiknya dengan kubah chakra kyubi yang Naruto gunakan sebelumnya.

Entah kenapa tubuhnya bergerak dengan sendirinya tanpa ia inginkan. Mungkinkah Diehauser Bellial sudah terpengaruh oleh kata-kata Uzumaki Naruto tadi?

Setelah mampu menenangkan diri dan mencerna situasi, Sona menghampiri Sang Juara. "Aku tidak tahu harus mengucapkan apa kepadamu."

"Untuk saat ini, aku masih belum pantas menerima ucapan terima kasih."

"Baiklah. Tapi..." Sona tersenyum, "Aku ucapkan selamat datang di kelompok kami."

Diehauser menyeringai tipis. "Tak ada waktu untuk itu. Kita harus melakukan sesuatu pada Trihexa. Kalau tidak semuanya akan berakhir begitu saja."

Di luar kubah, kepala ketiga dan keempat Trihexa telah membuka mata mereka. Lalu Trio Evil Dragon -Crom Cruach, Aži Dahāka, dan Apophis, menjauhkan diri dari Trihexa.

Tampak dari tindakan itu bahwa hal yang terjadi sebenarnya diluar rencana atau perkiraan mereka bertiga.

Kesampingkan ketiga naga jahat legendaris itu. Kini Azazel menatap kagum akan kebangkitan Trihexa yang sudah membuka mata di kepalanya yang kelima.

"Inilah akibat dari kesalahanmu sendiri, Rizevim! Sejak awal kau telah dimanfaatkan tanpa kau sadari karena kesombongan dan sikap arogan yang melekat dalam hatimu. Kau, kematianmu, dan akhir hidupmu sangat menyedihkan. Itu sebabnya tidak mungkin bagimu untuk menang. Pada akhirnya kau tersandung dan semuanya diambil darimu."

Selanjutnya, sepasang mata di kepala Trihexa yang keenam juga membuka mata.

"Dengan Trihexa yang menyerap Ophis dan 1 juta malaikat kloning super, Aliansi Tiga Fraksi telah memastikan impiannya mewujudkan tatanan dunia baru Imperium of Bible."

Saat Azazel mengatakan itu, kepala Trihexa yang ketujuh membuka matanya.

Trihexa sebagai makhluk tiada tanding telah bangkit sepenuhnya.

GYOOOOOOOOOUUHH! ZUUOOOOHHHHH! GROAAAAAAAARRRR!

Ketujuh kepala melolong sendiri-sendiri. Volume suara besar mereka menciptakan retakan dimensi berbentuk pola mozaik. Tempat yang digunakan untuk menyembunyikan Pulau Langit Agreas ini tak sanggup menahan luapan kekuatan Trihexa.

Meski berlindung di dalam kubah pertahanan buatan Dieuhaser yang berlapis-lapis, tak satupun dari para anak muda yang tak merasakan sakit di telinga.

Makhluk raksasa mengguncangkan tubuhnya yang sangat besar sehingga menghancurkan semua sisa rantai yang mengekangnya. Pada saat yang sama, ruangan ini mulai runtuh. Tidak, itu bukan hanya ruangan ini. Bahkan bagian dari kota Agreas juga runtuh.

Makhluk itu memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk, dengan sepuluh mahkota pada tanduk-tanduknya. Dan pada setiap kepala terdapat tulisan nama-nama menghujat Tuhan, perlambang dari Tujuh Dosa Besar dalam Bible. Dengan angka 666 pada tujuh kepalanya, itu adalah makhluk yang teramat kuat.

Satu pertanyaan besar bersarang di benak, siapa yang bisa menandingi makhluk itu?

Great Red kah? Jika Great Red bertarung melawannya, tidak hanya Dunia Bawah dan Dunia Manusia tetapi dunia dari seluruh mitologi lain juga mungkin tidak selamat.

Tapi...

Tapi heeeii!

Dia adalah Trihexa yang telah menyerap eksistensi Ophis.

Great Red yang dikatakan sebagai naga merah sejati terkuat, kali ini tidak lebih dari seekor capung.

Kemudian sama seperti sebelumnya, lagi dengan hanya satu penggalan kalimat Azazel mengendalikan semuanya.

"Dengan otoritas Rizevim. Kau Trihexa, tunduklah padaku!"

Seketika suasana hening, binatang pengkiamat itu sontak diam menurut tak ubahnya binatang piaraan jinak.

Sungguh, ini lebih tidak masuk akal dari sebuah kegilaan.

Azazel!

Ada satu pertanyaan besar yang bersarang di benak semua orang yang tertuju pada sang Gubernur Malaikat Jatuh itu.

"Apa yang sebenarnya kau rencanakan sejak awal?"

.

.

-Arena Perang, Underworld. 03.51 am-

Bertempat di arena perang yang telah ditinggalkan, dimana tumpukan mayat lebih tebal daripada hamparan rumput, dimana darah mengalir lebih deras dari pada sungai jeram, dimana menyengatnya bau amis dan pekatnya asap hitam menggantikan semua oksigen, terjadi fenomena yang tidak biasa.

Di tempat yang suram, sunyi, dan mencekam itulah, di tengah gelapnya malam, sejumlah sosok datang seakan tanpa henti. Muncul terus menerus hingga tanpa sadar jumlahnya tidak lagi dapat dikatakan sejumlah yang masih bisa dihitung jari, tetapi belasan ribu, 18 ribu lebih tepatnya.

Situasinya sudah mencekam sedari awal, ditambah lagi mereka yang datang ini semuanya mengeluarkan hawa mencekam. Berseragam jubah hitam dengan tudung kepala lancip berbentuk kerucut, serta sabit hitam di genggaman. Tak lain tak bukan, mereka adalah makhluk yang disebut-sebut oleh manusia sebagai malaikat pencabut nyawa atau dewa kematian.

Grim Reaper.

18 ribu Grim Reaper datang dari Neraka dan tiba di arena perang ini, tanpa diundang tanpa pemberitahuan dan tak tahu untuk urusan apa.

"Yang Mulia Hades, tampaknya kita terlambat tiba. Lihat tumpukan mayat yang bergelimpangan itu, sudah tidak ada lagi yang bisa kita perbuat untuk mereka walau hanya sekedar untuk membantu roh keluar dari jasad."

Sang pemimpin di antara semua Grim Reaper, yang posisinya paling depan diantara semuanya, tidak terusik dengan basa-basi itu. Kali ini pikirannya dia jalankan secara sederhana

"Yaaaa kalau begitu kita jalan saja, Jupiter." jawabnya, kepada Grim Reaper kelas ultimate terkuat yang merupakan tangan kanannya di Neraka. "Barangkali di depan sana ada hiburan menarik. Bagaimana menurutmu, Saturnus?"

"Saya ikut saja, Yang Mulia." jawabnya.

Venus menyambungi, "Asal kita tetap bersenang-senang bersama, apapun rencananya saya pasti setuju."

Merkurius menambahkan, "Untuk dunia yang sebentar lagi akan berakhir, kenapa tidak bersenang-senang, iya kan?"

"Ya."

"Benar."

"Setuju."

Mars, Neptunus, dan Uranus saling sambung. Mereka semua satu kepala.

Hades mengangguk. Meski sebenarnya dalam hati, Sang Raja Neraka ini sedikit heran dengan para bawahan utamanya yang kali ini tumben tampak sangat akur.

Tersisa tujuh Grim Reaper kelas ultimate yang berada di sisi Hades. Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Sedangkan yang paling lemah, yakni Pluto sudah tewas dikalahkan Vali saat invasi di Kota Venesia.

Kemudian dibawah mereka bertujuh ada puluhan Grim Reaper kelas atas, lalu seribu lebih kelas menengah, dan sisanya sampai 18 ribu adalah Grim Reaper kelas bawah.

Mereka lah para makhluk yang mendiami Neraka, yang menjaga tempat itu sejak awal ada hingga sekarang dengan tugas menyiksa memberi azab bagi roh-roh manusia jahat sebagai balasan atas perbuatannya selama hidup di dunia.

Lalu Hades bertanya kepada seseorang yang sebenarnya bukan bagian dari pasukannya. Laki-laki bertubuh besar dan berotot tebal, dengan rambut dan jambang berwarna merah bata, yang sedang menunggang kuda.

"Kau sendiri bagaimana, wahai Raja Agung dari Macedonia?"

Dia adalah raja terkenal yang oleh orang barat dijuluki sebagai Alexander The Great, King of Conquerors. Di dunia supranatural ini, dia dikenal sebagai Si Penunggang Hewan legendaris. Sebenarnya dia bukanlah manusia asli yang ada dalam sejarah epos kepahlawanan yang berlatar pada jaman peradaban Yunani Kuno. Tapi karena epos itu selalu diceritakan turun temurun hingga beratus generasi, akibatnya dia menjadi makhluk supranatural berwujud Heroic Spirit. Roh pahlawan yang eksistensinya ada secara nyata.

Dia dikenal sangat kuat sebagai seorang petarung, dengan kemampuan Noble Phantasm-nya yaitu Gordius Wheel, dia dapat memanggil roh para prajuritnya dari jaman lampau ke dunia nyata, yang kesemuanya menunggangi hewan lalu maju menyerang dengan menginjak-injak lawan hingga tewas.

Sang Raja dari Macedonia tampak antusias. "Aku ikut juga. Toh, Dewa Ares yang pertama kali mengajakku mengatakan padaku untuk berbuatlah sesukaku. Karena dia meninggalkanku dalam perang Olympus melawan invasi para Dewa Norse, jadi aku ikut kemari saja."

"Ya, baiklah. Sama dengan si Ares mesum itu, pesanku adalah berbuat saja sesukamu selama disini."

"Mm Ya, terima kasih atas kemurahan hati anda, wahai Sang Raja Neraka."

Oke, sekarang waktunya bagi mereka untuk bersenang-senang.

.

Meski ruang buatan yang Sasuke ciptakan menggunakan jutsu Amenominaka ini berada pada dimensi yang terpisah dengan arena perang, tapi praktisnya tempat ini juga termasuk dalam arena perang Armageddon. Tempat ini terhubung dengan wilayah Gremory dimana sedang terjadi pertempuran besar lewat gerbang teleportasi Gate of Sun di Tanjung Harapan. Di ruang buatan ini, di tenda pusat komando pasukan Konoha dan sekutu, Shikamaru kedatangan tamu yang sudah sejak setengah jam lalu ia harapkan kedatangannya.

"Aku khawatir kau kenapa-kenapa sehingga terlambat kemari, Homura-san."

Lebih tepatnya bukan tamu tapi salah satu orang penting dalam Korps Utama pasukan perang, menjabat sebagai Wakil Kapten Divisi Keempat unit pertempuran jarak jauh sekaligus divisi kekuatan tempur utama.

"Huft, entah sudah berapa kali kau basa-basi seperti itu padaku sampai aku hafal diluar kepala."

"Maaf, semoga lain kali basa-basiku lebih variatif."

"Emh, andai saja. Tapi sayang aku tak bisa berharap untuk itu."

Akemi Homura, nama si Wakil Kapten. Gadis kecil nan manis ini minim sekali ekspresi. Bahkan kepada Shikamaru pun ia selalu memberi tatapan dingin dengan raut muka yang amat datar. Dia bak copy'an Sasuke versi gadis loli.

Shikamaru hanya bisa bersabar. Dan lebih harus menahan kesabarannya sebab ia hanya sendirian di sini, maksudnya sendirian saja yang Shinobi sebab Ino yang selalu bersamanya di dalam markas malah terjun ke medan perang. Alasan Shikamaru begitu karena berbicara dengan Akemi Homura itu 'merepotkan'.

Masih membekas dalam benak Shikamaru saat pertama kali berjumpa dengan Akemi Homura. Sasuke lah yang membawa gadis itu kepadanya. Penampilannya sangat suram untuk ukuran gadis belia berumur 14 tahunan. Bando lucu menghias surai hitamnya yang sepanjang punggung. Gaun lolita gothic yang dikenakannya terkesan gelap karena didominasi warna hitam dengan aksen ungu. Kesan yang Shikamaru tangkap saat itu ialah seorang gadis kecil dengan silent beauty yang kuat namun misterius, mengarah pada kepribadian dark devil.

Shikamaru terkejut, bahkan enggan menerima saat Sasuke mengungkapkan bahwa ia ingin agar Akemi Homura diangkat menjadi wakil kapten di divisi tempurnya. Ia sudah hendak protes keras namun kenyataan yang sukar dipercaya memaksanya menerima permintaan itu, kenyataan bahwa Sasuke tanpa ragu mengakui kekalahannya dari Akemi Homura kurang dari satu detik. Shikamaru tidak mengetahui kekuatan macam apa yang dimiliki Akemi Homura.

Barulah sekarang, saat perang sudah setengah jalan, Shikamaru harus mengakui bahwa kekuatan Akemi Homura sangatlah istimewa. Berkat dia lah pasukan Konoha dan sekutunya mampu bertahan sampai detik ini. Mau tak mau, rasa kagum luar biasa Shikamaru tujukan untuk gadis penyihir itu. Mahou Shoujo yang tingkatannya setara Dewi, seorang Dewi yang menyebut dirinya sendiri sebagai Iblis.

Akan tetapi ada hal yang masih membuat Shikamaru heran. Apa gerangan yang terjadi sebenarnya sehingga Akemi Homura bisa bersama Sasuke, bahkan selalu menempel dan enggan berpisah?

Sibuk dengan lamunannya, Shikamaru sampai tak menyadari Akemi sudah memanggilnya sejak tadi.

"I-iya. Ada apa, Homura-san?" Shikamaru nampak segan dengan Akemi, padahal penampilannya persis seperti gadis muda biasa, yang jika di Konoha hanya seperti genin yang baru lulus dari akademi ninja.

Akemi menghela nafas, "Sasuke-kun sudah menyelesaikan tugasnya. Tak lama lagi ia akan datang kemari."

Sufiks -kun yang Akemi sematkan di belakang nama Sasuke menjadi salah satu dugaan bagi Shikamaru kalau gadis ini sebenarnya lebih tua dari Sasuke dan dirinya.

"Ya, aku juga sudah mengetahuinya dari jaringan informasi."

"Sebenarnya masih ada. Sebentar lagi gerombolan yang datang untuk mengusik perang akan meramaikan suasana."

"Hah? Musuh baru?"

"Bukan. Mereka hanya ingin mengacau."

Shikamaru sedikit lega, otaknya langsung berpikir "Seandainya bisa, mereka kita manfaatkan saja."

"Bisa kok. Pikirkan saja strateginya, nanti aku akan memberitahu timing-nya."

"Kalau begitu katamu, maka akan kuusahakan dari sini."

"Oke." Homura berpaling dan beranjak pergi.

"Mau kemana? Tidak ingin lebih lama di sini."

"Ada hal lain yang harus kulakukan."

"Kalau begitu, baiklah."

"Oh iya, aku hampir lupa." Akemi berhenti namun tak menoleh ke belakang.

"Lupa apa?"

"Aliansi musuh sudah mulai menggerakkan pasukan utama mereka. 90 menit lagi ketika fajar menyingsing, 1 juta malaikat kloning akan sampai ke arena perang ini."

Jantung Shikamaru berdegup kencang, iris matanya membulat. "Oh, tidak!"

Artinya tahap akhir perang yang menjadi penentu sudah di depan mata.

Kala tanda keberadaan Akemi telah tak ada lagi, samar Shikamaru mendengar suara halus, "Save!"

.

.

-Unknown Place-

Ada yang tahu, siapa petinggi Fraksi Malaikat yang batang hidungnya belum tampak sama sekali di medang perang?

Masih ingat?

Ayo, jawablah.

Ya. dia adalah salah satu dari Four Great Seraph,

Raphael.

Dan, tahukah di mana dia sekarang?

Di sini!

Di tempat ini. Tempat yang... tak usah lah di deskripsikan. Hanya cukup perlu diketahui bahwa tempat ini amat sangat luas hingga mampu menampung jumlah orang yang tak bisa dikatakan sedikit.

Langkah kaki membawa Raphael menuju ujung koridor yang berhenti di sebuah balkon kecil namun tinggi. Ia berhenti disana dan menatap jauh ke bawah, pada titik-titik cahaya putih menghampar yang tak bisa dihitung jumlahnya oleh mata. Cahaya yang bersinar dari sayap-sayap putih yang mengembang dan lingkaran cincin cahaya di atas kepala.

Ia mulai bermonolog sendiri, "Saatnya bagiku menjalankan amanah darimu, Michael-niisama. Dengan 1 juta tiruan dirimu ini, tak ada lagi yang bisa menghentikan Surga."

Selanjutnya Raphael mengkomando semua malaikat kloning super dengan satu teriakan kencang dalam satu tarikan nafas. "Ayoooo. Sebelum kita berangkat, tempati posisi kalian dahulu! Kalian semua harus melakukan tugas pertama dahulu sebelum ke medan perang, untuk membuat sesuatu binasa tak lagi bersisa!"

Apapun tugas itu, jika yang melakukannya memiliki kekuatan sebesar ini maka tak mustahil satu atau dua eksistensi superior akan hilang dari sejarah dunia.

.

.

.

To be Continued...

.

Note : Emmmh, mau ngomong apa yah?

Whahahahaaa. Daku ketawa aja lah.

3 bulan lebih yaa aku hiatus. Hihiii. Tapi tolong jangan ditanya apa alasannya.

Jujur eh, aku jadi ngerasa ga enak sendiri karena sekarang jadi lama update. Bahkan sejak agustus 2017 sampai saat hari ini sudah terhitung 7 bulan hanya bisa update 5 chapter saja. Emm, gimana yah. Daripada terlalu berharap dan menunggu aku update, mendingan baca-baca fanfiksi author lain aja. Ga sedikit kok yang karyanya lebih bagus dariku. Ada karya Vin'DieseL D'.Newgates, Icha-chan Ren, The World Arcana, Blaze-II, Esya. , Lenovo Axioo, Clairent, The Ereaser, Phantom no Emperor, dan author-author lainnya yang sampai kini masih aktif mempublikasikan karya-karya hebatnya. Walau yah, aku belum bisa baca semua karya mereka karena selain waktu untuk menulis, waktu untuk membaca juga seadanya. Tapi kujamin cerita mereka memuaskan. Bahkan kalau masih kurang juga, baca ulang aja karya-karya author legend yang udah pada pensiun. Rifuki, Galerians, Bad Sector, dan Kristoper21. Sedikit banyaknya, aku bisa menulis karena membaca karya mereka.

Oh iya. Aku ada pesan yang udah dari lama mau aku sampaikan. Aku bikin FF Lemon loh. Uffft whahahaaa. Bercanda ding, eh beneran kok, tapi ya Lime aja sih. Cek aja di list fav stories akun Si Hitam ini, judulnya Unbreakble Promise Side Story - Mei Chapter. Publisnya di akun FFN temen cewe, pennamenya ForgetMeNot09. Pake Pair NaruMei yang direkomendasikan bagi anda para MilfLovers. Hahaaa. Klo ingin dapat yang panas-panas, monggo mampir kesana. Kuy.

Naaah TTEOTW udah bisa lanjut lagi. Semoga ga ada yang lupa jalan cerita sebelumnya karena FF ini kelamaan ditinggal.

Oke, untuk long-chapter ini kita buat ringkasannya dikit ya. Part 1 tentang kemenangan pihak Aliansi Tiga Fraksi. Wajar aja, mereka punya 1500 exorcise pengguna replika Durandal dan Excalibur dan 2000 prajurit yang mampu menggunakan Sacred Gear buatan meniru Boosted Gear dan Divine Dividing milik Sekiryutei dan Hakuryuukou sampai pada bentuk transformasi Balance Breaker. Udah gitu, yang paling mengerikan adalah 17 iblis kelas ultimate pengguna Evil Piece Bidak Raja yang kekuatannya setawa Maou. Melawan pakai apaa dong Konoha, kalau lawannya sekuat itu.

Hanya saja ada keuntungan bagi Konoha. Ino sudah mendapatkan Sai kembali. Dan bagusnya, Zekram yang digadang-gadang sebagai lawan paling merepotkan udah tumbang. Heheee. Kupikir Combo Sasu-Cao disini udah luar biasa.

Ke Agreas, Diehauser sudah menyelesaikan urusannya dan hal baiknya dia kini gabung ke Tim Naruto. Namun buruknya, yang terburuk ialah... Naruto bakal dibunuh oleh Hinata. Kenapa bisa begini? dan apakah Naru benar-benar akan tewas di tangan istrinya sendiri? Nantikan chapter depan :v. Dan lagi, Trihexa sempurna sudah dalam genggaman Azazel. Duh malaikat jatuh satu ini liciknya kelewat gila.

Kemudian, si pengacau Hades udah terjun ke arena. Lalu Akemi Homura yang paling misterius, sebagai Wakil Kapten Divisi Empat, wakilnya Sasuke, sudah mulai memperlihatkan aksinya. Dan terakhir, yang menandakan bahwa FF ini sedikit lagi akan tamat, 1 juta malaikat kloning super yang sudah di singgung sejak awal cerita kini telah memulai pergerakannya.

Ulasan Review:

Soal Great Red, nanti muncul kok.

Vali menang, atau Issei yang menang? Whahaaa, entahlah. Kan udh lihat kemarin akhir mereka. Dan ga ada ceritanya bakal sama kek ending Naruto dimana satu tangan Naru dan Sasu ilang. Trus yang katanya gagal paham kenapa stamina Isse dan Vali sama padahal Vali itu iblis super, jawabnya karena Issei curang menggunakan artefak tuhan Nail of Helena. Meski benda ini juga merugikan bagi Issei sendiri.

Yang nyariin Sasu, tuh orangnya muncul. Dapat banyak dia di chap ini.

Yang katanya ngerasa kalau Azazel itu jahat, yaa emang dia jahat kan? Tuh diatas buktinya.

Anjer, yang minta lemon. Tengok Fic yang kutulis di akun temenku gih, tuh atas ada aneh tulis judulnya.

Ophisnya dua atau satu? Hayooo. Jawab sendiri. Semua ada penjelasannya kok.

Sampai chap 87, jumlah wornya sampai 666 k (trihexa). Wuiih bagus tuh ada yang nyadar. Akunya sih ga tahu, ga sengaja juga.

Kenapa banyak yang ga merespon baik yah tentang Vali dan Issei yang diceritakan kekuatannya mampu melampau The God of Bible? Menurutku sah-sah aja kok, di LN DxD sendiri juga menyebutkan begitu. Begini aja deh, biar lebih gampang diterima, Vali dan Issei dalam mode akhir itu melampau tuhan The God of Bible dari segi power/kekuatan murni. Kalau aspek teknik dan pengetahuan, mungkin saja tuhan disana itu lebih baik. Begitu. Setuju kan?

Shinobu ini udah mati atau belum, mati ga? Wkwkwkwk, pikirin aja dulu sendiri. nanti lah kujelaskan kalau udh mendekati penghujung perang.

Naruto pakai elemen tanah bukan dri bijuu yak. Kan Naruto udh jadi rikudou, dan dengan kekuatan rikudou secara otomatis menguasai lima chakra elemen dasar (api angin petir tanah air)

Oh iya, kemampuan manipulasi vektor Hinata di FF ini bukan dari Elfen Lied ya, tapi konsepnya sama dengan karakter Accelerator dari anime Majutsu Index.

Kemudian, utk reviewer yang dikatain 'koplak' oleh reviewe lain. Gw tambahin, lu kurang kerjaan :v. Dan kayaknya gw kenal nih siapa orangnya. Hm?

Itu yang nungguin FF ini sampai 4 tahun. Boong ah, mana ada!? FF ini aja belum sampai tiga tahun jalan.

Oh iya, gw masih hidup. Ga ada yang nabrak gw. Mau gw kepret nih orangnya, hahahaaaa

Aku beri perhatian khusus utuk reviewer dengan akun Arogel. hahaaa. Applause dulu, aku akui jujur kalau tebakanmu utk ending udh mendekati benar. Tapi yaa hanya untuk konsepnya saja. Konsep. Sedang ending cerita yang akan kutulis nanti, pastinya akan berbeda. Hihiii. Salut lah untukmu, elu pinter.

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita.

Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

.

.

.