Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Senin, 21 Mei 2018

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . .

Langkah kaki membawa Raphael menuju ujung koridor yang berhenti di sebuah balkon kecil namun tinggi. Ia berhenti disana dan menatap jauh ke bawah, pada titik-titik cahaya putih menghampar yang tak bisa dihitung jumlahnya oleh mata. Cahaya yang bersinar dari sayap-sayap putih yang mengembang dan lingkaran cincin cahaya di atas kepala.

Ia mulai bermonolog sendiri, "Saatnya bagiku menjalankan amanah darimu, Michael-niisama. Dengan 1 juta tiruan dirimu ini, tak ada lagi yang bisa menghentikan Surga."

Selanjutnya Raphael mengkomando semua malaikat kloning super dengan satu teriakan kencang dalam satu tarikan nafas. "Ayoooo. Sebelum kita berangkat, tempati posisi kalian dahulu! Kalian semua harus melakukan tugas pertama dahulu sebelum ke medan perang, untuk membuat sesuatu binasa tak lagi bersisa!"

Apapun tugas itu, jika yang melakukannya memiliki kekuatan sebesar ini maka tak mustahil satu atau dua eksistensi superior akan hilang dari sejarah dunia.

.

To The End of The World

Writen by Si Hitam

.

Chapter 89. Armageddon War, End of The World - Part 13.

.

-Arena Perang, Underworld. At 04.33 am-

"Ayo cepaaattt! Kita harus segera sampai di Tanjung Harapan kurang dari 20 menit."

Seseorang berteriak kepada semua anggota dalam satu batalion pasukan Aliansi Tiga Fraksi yang dia pimpin. Mungkin tidak semuanya bisa mendengar karena batalion ini terdiri dari lebih dari 2500 personel. Tapi setidaknya pimpinan setiap kompi yang tergabung dalam batalion ini sudah menerima instruksi itu lalu menyampaikannya kepada anggota masing-masing.

Batalion ini terbang ke arah utara dengan kecepatan cukup tinggi pada ketinggian sedang di atas luasnya padang rawa.

Satu orang lain, yang dilihat dari seragamnya pasti dari fraksi iblis, terbang mendekati si pimpinan. Ia penasaran ada apa gerangan.

"Angelica-san. Kau kelihatan terburu-buru. Apa ada hubungannya dengan ledakan dahsyat di utara yang kita saksikan 10 menit lalu?"

Rupanya pemimpin batalion ini adalah seorang wanita dari ras malaikat.

"Iya. Ledakan itu diakibatkan oleh serangan kapten divisi tempur musuh yang bernama Uchiha Sasuke."

"Yang benar saja!? Dia...!"

"Tidak salah lagi. Kalau memang dia yang melakukannya, maka bukan hal mustahil lagi informasi bahwa 100 ribu lebih pasukan Aliansi Tiga Fraksi tewas akibat serangannya."

"Hebat sekali lawan kita itu."

"Umm. Aku sependapat dengamu, Vassago-san."

Lawan bicara Angelica magut-magut sembari berdecak kagum atas kehebatan musuhnya. Dia iblis wanita dari keluarga Iblis Vassago, peringkat ketiga setelah Great King Bael dan Archduke Agares. Namanya Eneely Vassago.

"Kalau saja bukan musuh, aku ingin sekali menjadikannya suamiku." ucap Eneely tiba-tiba.

"Sebaiknya tidak usah bercanda disaat seperti ini."

"Iyaa."

"Informasi mengatakan kalau itu adalah jurus terkuatnya, Indra no Ya."

"Benarkah?" Eneely tampak sedikit tak percaya.

"Ya. Dan kupikir dia butuh waktu untuk melakukannya lagi karena skala serangan dan dampak kerusakannya amat besar. Makanya sampai sekarang belum ada lagi serangan itu darinya."

"Oh, begitu yaa." Eneely mengangguk mengerti. "Kheh, kalau dia menggunakan jurus itu sesuka hati setiap saat, bisa-bisa Aliansi kita yang kalah."

"Mungkin."

"Lalu?"

"Maou Falbium Asmodeus-sama yang berada di sana membutuhkan tambahan pasukan segera, karena itulah kita diperintahkan bergegas."

Di kubu Aliansi Tiga Fraksi, meski sudah kehilangan 100 lebih pasukan akibat satu serangan dari Uchiha Sasuke tapi mereka masih memiliki 17 iblis pengguna Evil Piece Bidak Raja yang kekuatannya selevel dengan Maou, 1500 pengguna replika pedang suci legendaris, 2000 pengguna Artificial Sacred Gear Longinus Boosted Gear dan Divine Dividing. Selain itu masih ada lagi puluhan ribu bala tentara iblis, malaikat, dan malaikat jatuh yang tersisa serta sejumlah petinggi Aliansi Tiga Fraksi yang belum terjun ke medan perang.

Falbium memperkirakan kalau kubu Konoha dan sekutunya hanya menyisakan sekitar 35 ribu pasukan. Jadi sebab itulah, dia memerintahkan semua batalion yang masih terpencar-pencar di berbagai titik medan perang untuk segera berkumpul di sana. Dengan kekuatan besar yang telah terkumpul nanti, ia berniat menggempur habis-habisan sisa-sisa kekuatan militer Konoha.

Waktu-waktu selanjutnya, Angelica dan Eneely Vassago meneruskan percakapan sampai tak terasa tahu-tahunya insting tanda bahaya dalam otak mereka terpicu.

"Angelica-san. Kau pasti juga merasakannya kan?"

Angelica mengangguk. Mereka berdua membalik badan dan terbang mundur seraya menatap ke sekeliling. Dapat Angelica lihat kalau semua personel batalionnya masih melaju terbang lurus menuju Tanjung Harapan sesuai yang ia perintahkan.

Tapi...

"Hei, kenapa ekspresi mereka semua aneh begitu?"

Angelica berpikir keras sampai akhirnya ia dapat menyimpulkan sesuatu.

"Astaga, mereka semua terkena sihir ilusi."

"Gawat! Kita harus melakukan sesuatu." Eneely tanpa sadar sampai menganga lebar.

"Semua pasukan, BERHENTIIIIIIIIII!"

Teriakan nyaring Angelica menggema sepanjang luasnya daerah rawa yang mereka lalui, tak satupun yang tak mendengar. Bagai mengandung efek magis, suara Angelica mampu menyadarkan semua prajurit di batalionnya yang terkena pengaruh sihir ilusi.

Ya, sihir ilusinya memang sangat lemah sehingga mudah dipatahkan tapi bukan sihir ilusi sembarangan karena mampu jangkauannya mencapai semua personel yang jumlahnya 2500 orang.

"Dimana pelakunya?" Angelica bertanya-tanya.

"Hei, bukankah jumlah personel batalion ini berkurang?" tanya Eneely setelah ia menyadari sesuatu.

Angelica mengamati lebih seksama.

Benar!

Kalau dikira-kira, hanya ada sekitar 1800 personel saja lagi.

Kemana 700 nya?

Ada dua kompi pasukan yang hilang.

"Tunggu!" tangan kanan Angelica terangkat seperti orang mengisyaratkan untuk diam.

Dalam keheningan, di saat para pasukan kebingungan, di saat itulah Angelica lagi-lagi berpikir keras. Eneely juga turut membantu.

"Ah!" Eneely tiba-tiba memekik.

"Pikiran kita pasti sama." sahut Angelica.

"Dua kompi pasukan yang hilang bukanlah pasukan dari Tiga Fraksi melainkan pasukan tambahan dari mitologi-mitologi minor yang telah kita taklukkan."

Kompi pasukan tambahan yang tergabung dalam batalion ini adalah pasukan makhluk ghaib dari mitologi kepercayaan salah satu suku di Kenya Afrika dan dari wilayah kepulauan Oceania Pasifik barat.

"Apa mungkin...?"

Ciuuuuuuuuuuu!

Secara mengejutkan, gelombang serangan datang bertubi-tubi seperti hujan deras yang datang tiba-tiba. Serangan berupa serbuan peluru sihir dari berbagai macam elemen. Suaranya seperti kembang api yang di lontarkan ke udara, lalu meledak menghancurkan apapun yang terkena.

"Brengsek, kita telah dikepung!" Eneely mengumpat.

"Aku tidak menyangka kalau kita sudah sedalam ini masuk perangkap musuh."

Peluru-peluru sihir itu berdatangan dari segala arah, kini kanan depan dan belakang. Dan dari atas menghujani tiada henti.

Suara teriakan bergaung kencang di padang rawa, teriakan kematian dari para prajurit Aliansi Tiga Fraksi yang tak mampu bertahan.

Meski sambil membuat sihir pertahanan berlapis itu lumayan menyusahkan tapi Angelica masih bisa berpikir dan kini telah selesai menganalisis, "Serangan hujan peluru sihir ini pasti berasal dari sistem pertahanan musuh yang diciptakan dengan Sacred Gear Longinus Annihilation Maker."

"Ya, tidak salah lagi. Sudah sejak awal perang dimulai mereka menggunakannya." Eneely tak menyukai ini. Sungguh, bisa-bisanya dirinya terjebak dalam situasi berbahaya seperti ini. "Kau punya ide, Angelica-san?"

Angelica menggeleng, "Pokoknya kita harus bertahan dulu. Berharap saja gelombang serangan musuh menurun sehingga kita punya celah untuk kabur."

"Kalau tidak?"

"Kalau sampai 75% pasukan batalion ini gugur, maka dengan terpaksa aku akan mengaktifkan sihir teleportasi darurat untuk memulangkan kita ke markas pusat di Kota Lilith."

"Tch" Eneely mendecih, "Itu bukan pilihan bagus. Meski kita selamat, aku tak ingin membayangkan hukuman seperti apa yang akan kita dapatkan dari para petinggi karena kabur dari medan perang."

"Yah, mau bagaimana lagi?"

Sungguh!

Siapa yang menduga kalau akan ada yang berkhianat di kubu Aliansi Tiga Fraksi, bahkan membelot dan ikut bergabung dengan musuh.

Begitulah, namanya juga perang.

Tidak ada teman selamanya.

.

-Arena Perang, Underworld. At 03.42 am-

Shiiiiiinggg...

SyutSyutSyutSyutSyutSyutSyut!

Clang!Clang!Clang!Clang!

Traankk! Pyaarr...!

Yatogami melesat lurus, setiap bilah pedang yang terbang kearahnya ditangkis bahkan ditebas hingga hancur menggunakan Sekki, satu-satunya harta suci yang ia miliki sebagai seorang dewa dari Reliji Shinto. Sekki, sepasang katana yang merupakan transformasi dari roh seorang anak remaja bernama Yukine.

Dashh...!

Yato berhenti sejenak pada langkah ketujuh. Di depannya, gelombang serangan dengan intensitas tinggi datang hendak melahapnya. Jumlah pedang yang berterbangan bukanlah jumlah yang bisa ia hindari dan ia tangkis sembari merengsek maju.

Traankk!

Clang!Clang!Clang!Clang!

Lagi,

Lagi!

Lagi dan lagi pedang-pedang tajam terhunus terus berterbangan ke arahnya.

Sedangkan di sudut sana berdiri tegak dengan dagu terangkat serta wajah arogan yang tak berujung -sang Raja Pahlawan Gilgamesh, "Khuh, hebat! Sasuga, dewa memang tidak ada duanya." Sangat kontras, wajah arogan seperti dirinya bisa melafalkan kata-kata pujian dan kekaguman.

Clang!

Yato masih sibuk menangkis. "Graaaaaaaaa!" Sambil berteriak ia memaksakan tubuhnya bergerak lebih cepat lagi.

Traaanggg!

Sekali tebas, sepuluh pedang ia remukkan bersamaan.

Gelombang serangan Gilgamesh berhenti sejenak, dan itu memberi Yato kesempatan untuk bernafas.

"Huuuuhh... Ada seberapa banyak harta suci yang kau miliki huh?" Yato sedikit bersungut kesal. "Mana semuanya berjenis pedang lagi!"

Yato hanya memiliki satu harta suci, ialah Sekki di genggamannya. Rekannya - Dewi Perang Bishamonten, memiliki jumlah harta suci yang sangat banyak. Tapi setelah melihat pemuda pirang yang jadi lawannya ini, maka Bishamon bukan apa-apa lagi. Jumlahnya terlampau jauh berbeda. Hebatnya lagi, Bishamon yang memiliki banyak harta suci harus menggunakan mereka sebagai senjata secara bergantian sesuai keperluan taktik sedangkan Gilgamesh menggunakan semua harta sucinya serampangan dengan cara dilempar dan dibuang-buang.

Itu lah Noble Phantasm-nya, Gate of Babylon.

"Kan tadi sudah aku katakan. Aku adalah pemilik ribuan harta suci si pengguna pedang tak terbatas."

"Ah ya yaaa. Aku tidak lupa, bodoh." Yato mengibaskan tangannya di depan wajah. "Tapi, bagaimana bisa kau mengumpulkan semuanya."

"Itu bukan hal yang harus kuceriakan bukan!" tolak Gilgamesh. "Ayolah, kita lanjutkan saja pertarungannya."

Lagi, portal-portal dimensi berwarna kuning emas dari Noble Phantasm milik Gilgamesh bermunculan di sekeliling dirinya.

Syuttt!

Dari dalam portal, lagi-lagi di lemparkan pedang-pedang berbagai macam bentuk.

Clang!Clang!

Sama seperti sebelumnya, Yato sanggup menangkis tanpa kesulitan berarti. Ia punya kecepatan dan dengan itu ia tak akan dikalahkan dengan mudah oleh Gilgamesh.

Melaju lurus sambil terus menangkis, akhirnya Yato mencapai posisi Gilgamesh. Kini lawan sudah dalam jangkauan serangnya.

"Haaaaaaaaappp!"

Traangg!

Gilgamesh mampu memblokir, menangkis serangan Yato dengan salah satu pedangnya. Ia menyeringai keji,

Dari bawah, ada satu portal muncul. Sebilah pedang besar bermata dua mencuat dari dalamnya.

Fuuu!

Yato mundur, berhasil menghindarinya. Tapi...

Seringaian Gilgamesh belum pudar, "Mati kau!"

Tepas saat Yato masih melayang di udara, sekumpulan portal lagi-lagi muncul. Kali ini jumlahnya cukup banyak, bahkan bersusun membentuk kubah bola dengan Yato berada di tengah-tengahnya.

Oww, serangan dari segala arah!

Pedang-pedang tajam terhunus mencuat dari dalam portal.

Lalu...

Dhuuuarrrr!

Sekejap saja, Yato dilahap serangan mematikan tersebut.

Berselang waktu sesaat, ketika asap dan puing bekas serangan memudar, nampaklah Yato yang terengah-engah berdiri di tanah dengan bertumpu lutut.

Gilgamesh hanya memperhatikan saja. Memperhatikan bagaimana lawannya tersudutkan. "Setelah diserang bertubi-tubi begitu, fisikmu tidak nampak melemah. Bahkan aku merasakan kalau kekuatanmu malah meningkat."

Yato tertawa kecil, "Kalau begitu, apa kau masih bisa sesumbar di depanku huh?" ia berdiri lagi dengan tegak.

"Kheh, tapi itu semua percuma!"

Haaaaaaaaaaaa...

Syuttt!Syuttt!Syuttt!Syuttt!

Clang!

Traannkk!

Tidak berbeda dari sebelumnya. Lagi-lagi Yato harus menghadapi gelombang serangan dari pedang-pedang tajam yang berterbangan menyasar tubuhnya. Akan tetapi kali ini intensitasnya semakin tinggi. Itu terlihat dari jumlah portal yang Gilgamesh munculkan serta kecepatan keluarnya bilah pedang dari setiap portal.

Namun Yato tidak berniat untuk kalah. Aura kekuatan dari dalam tubuhnya melonjak signifikan. Setiap aspek kemampuan bertarungnya meningkat tajam, baik itu fisik, kekuatan, kecepatan, refleks, stamina, pertahanan, bakan skill magic-nya.

Jadi...,

Dengan kemampuannya itulah Yato sanggup mengenyahkan setiap pedang yang Gilgames arahkan padanya. Bahkan kini ia hanya berjarak satu langkah dari pemuda itu.

"Apa!"

Gilgamesh saja sampai terkejut.

"Kau saja yang terlalu lambat!"

Haaaaa

Slice!

Sabetan pedang secara diagonal dari kiri bawah, akhirnya Yato dapat menyerang Gilgamesh untuk pertama kali.

Berhasilkah?

Ternyata tidak!

Serangan Yato seolah hanya melewati udara.

"Jangan meremehkanku, meski kau seorang dewa!"

Tiba-tiba Yato mendapati posisi tubuhnya berada di udara dan jatuh bebas ke tanah.

"Kenapa ini?" tanyanya. Namun segera ia sadar kalau Gilgamesh tidak hanya memakai portal itu untuk mendatangkan pedang saja, tapi bisa juga digunakan untuk memindahkan posisi objek lain termasuk lawannya jika digunakan pada timing yang tepat.

Gilgamesh menengadahkan tangannya, "Waktu bermain sudah selesai. Datanglah!"

Dari atas, muncul dua buah portal yang sama seperti portal lain tapi dengan diameter puluhan kali lebih besar.

"Ig-Alima. Sul-Sagana"

Dua buah pedang raksasa keluar dari sana. Satu berwarna hitam dan bermata dua, satunya lagi hanya memiliki satu sisi tajam namun berwarna merah dari logam panas yang membara.

Kedua pedang jatuh ke bawah hendak menimpa Yatogami.

Menghadapi itu, Yato tidak menunjukkan rasa takut.

"Sekki, belahlah semuanya!"

Syiaat!Syiaat!

Dua kali tebasan di udara, Yato melepaskan aura energi yang sangat kuat.

Crussshhh!

Kedua pedang besar tersebut hancur berkeping-keping.

Yato jatuh mendarat kembali di permukaan tanah, sedangkan puing dan logam-logam sisa hancurnya dua pedang besar tersebuh jatuh berhamburan.

Setelah momentum tersebut, Yato sedikit meregangkan tubuh. Lalu...

"Katamu barusan waktu bermain sudah selesai bukan?" sorot matanya tajam penuh dengan keseriusan.

Dihadapkan seperti itu, ada rasa takut mencuat di hati Gilgamesh. Ia cukup terintimidasi.

Apa sekarang Yato akan serius?

Tapi, kesombongan Gilgamesh mengalahkan segalanya. Ia dengan angkuh menaikkan dagu, "Kau belum melihat semua harta suci milikku!"

Terhadap dewa saja dia sombongnya begitu, bagaimana dengan manusia biasa?

Mau lawannya sombong atau seperti apapun, Yato tak pedulu lagi. "Hei! Kau tahu kenapa sedari tadi kita bertarung tampak seimbang huh?"

"Hm?"

"Karena aku sejak tadi meladenimu bertarung jarak jauh. Yah, kau dengan semua pedang terbangmu itu hanyalah cara bertarung jarak jauh. Kau tak berani mendekat, karena kau takut padaku bukan?"

"Tch. Tak perlu bagiku mendekat hanya untuk mengalahkanmu."

"Baiklah. Kalau begitu, berarti cukup aku yang akan mendekat padamu."

Mendadak suasana jadi sunyi senyap.

Iris mata merah milik Gilgamesh mencerminkan bayangan Yato yang mulai membuat kuda-kuda menyerang.

Secara mengejutkan...

Don!

"Ha!" Iris mata Gilgamesh melebar. Yato tepat berada di depan wajahnya dengan pedang terhunus.

Dashhh...

Gilgamesh terpaksa merelakan tubuhnya terseret di tanah.

Sekarang giliran Yato yang menyombongkan diri. "Untung yang tadi perutmu hanya kusodok dengan gagang pedangku, kalau ku tebas pasti tubuhmu sudah terbelah dua."

Tak apa bukan kalau dewa menunjukkan sedikit sifat sombongnya?

"Barusan itu apa?" Gilgamesh tak menduga sama sekali. Ia menggumam, "Aku tak mengerti. Padahal sejak tadi aku belum berkedip untuk memastikan aku pada jarak aman darinya. Tapi... Tapi kenapa dia bisa tiba-tiba ada di depanku?"

"Ada apa? Kau melamun huh?"

Lagi, Gilgamesh berpikir dalam benaknya. "Seharusnya aku diluar jangkauan serangnya, dia tidak mungkin menyerang. Tapi kenapa dia bisa? Apapun itu, yang tadi itu buruk. Aku tidak boleh sampai terkena lagi, kalau tidak aku bisa ka..."

Don!

"...-lah."

Sekali lagi, Yato muncul di depan wajah.

"Hah!?"

Slice!

Kali ini tebasan pedang sungguhan. Untung saja Gilgamesh lebih siaga dari sebelumnya sehingga berhasil menghindar.

"Apa yang kau lakukan padaku ha, dewa sampah?"

"Apa perlu ku jelaskan?" Yato bertanya balik.

Gilgamesh kian bersungguh-sungguh.

Portal-portal emas ia munculkan berhadap-hadapan di atas dan di bawah. Ada puluhan portal yang ia susun demikian di sisi kiri dan kanannya.

"Oh, rupanya kau menghubungkan dimensi ruangmu dalam posisi atas dan bawah."

Yato bisa melihatnya. Di sisi kiri Gilgamesh portal-portal yang di atas mengeluarkan banyak bilah pedang tajam seperti saat ia menyerang, lalu masuk ke portal yang berbaris di bawahnya. Sedangkan pada sisi kanan, pedang-pedang itu muncul dari portal di bawah menuju portal sebelah atas. Jika diamati seksama, setiap pedang yang keluar masuk portal akan semakin cepat gerakannya.

Perpindahan antar dimensi melewati portal-portal tersebut membuat kecepatan pedang-pedang itu meningkat. Sekali melewati portal meningkatkan kecepatan pedang Gilgamesh dua kali lipat. Jika pedangnya keluar masuk portal berkali-kali, kecepatannya akan meningkat secara eksponensial. Dua kali melewati portal berarti kecepatan meningkat empat kali. Tiga kali maka kecepatan meningkat delapan kali lipat. Empat kali, maka enambelas kali lipat semula. Begitu seterusnya.

"Bisakah dewa sepertimu menghentikan Noble Phantasm-ku yang sangat cepat ini hah?"

Gilgamesh menunjuk Yato, lalu...

Shuuu!

Sebilah pedang telah melewati pinggang Yato. Ada luka iris menganga di sana. Dari jersey olahraga yang terkoyak, darah merah segar merembes. Ia bersukur dapat menghindar walau marginnya tipis. Seandainya terlambat beberapa milidetik saja, mungkin perutnya yang berlubang. Yato tidak akan diam saja karena ia masih ingin hidup.

"Oh, kalau begitu bagaimana dengan ini?" Yato balas menyerang.

Don!

Sekali lagi, tanpa Gilgamesh sadari Yato telah berada di dekatnya.

Clang!

Berkat kecepatan Noble Phantasm yang meningkat berkali-kali lipat, Gilgamesh mampu menangkis serangan Yato.

Don!

Slice!

Tranggg!

Lagi, Yato menyerang tiba-tiba namun masih dapat ditangkis Gilgamesh.

Sambil saling serang, Yato mengungkapkan rahasia tekniknya.

"Apa kau sadar, bahwasanya kecepatanku tidak meningkat tapi responmu lah yang melambat seperti orang melamun."

"Hah?" sejak serius tadi, Gilgamesh yakin kalau kecepatan bertarung mereka semakin tinggi. Tapi kenapa Yato berkata sebaliknya?

Menggunakan sudut pandang lain, dari sisi pengamat yang menonton dari pinggir arena, maka benarlah apa yang dikatakan Yato.

Benar. Yato melesat dengan kecepatan biasa untuk memotong jarak sementara Gilgamesh sejenak tidak sadar dan kelihatan seperti tengah melamun. Kemudian, Gilgamesh pasti akan terkejut karena lambat menyadari kalau Yato sudah berada tepat di depannya.

"Kau bingung?"

"..."

"Nukiashi, namanya. Sebuah teknik bernafas yang digabungkan dengan gerakan beladiri yang mampu menajamkan insting menyerangku."

Tidak ada petarung yang mampu terus stabil untuk melihat dan memperhatikan semua yang dikerjakannya sekaligus mengamati bagaimana pergerakan lawannya lalu membuat respon balik. Kalaupun mampu, dalam waktu singkat saja otak akan mengalami gejala overheat atau kelebihan panas yang sering dijumpai pada mesin.

Sambil terus menyerang Yato melanjutkan, "Nukiashi menyembunyikan kebedaraan fisikku dari kesadaran otakmu. Caranya dengan menemukan sudut pandang buta dalam lingkup penglihatan matamu. Bola mata secara anatomi memiliki lubang pada bagian retina yang tidak memiliki reseptor cahaya sehingga disebut bintik buta, yang tidak memungkinkannya untuk menangkap bayangan benda setelah melewati kornea dan lensa mata untuk diubah menjadi rangsangan visual. Sebagai hasilnya, jika aku bergerak dalam area buta tersebut maka otakmu tak akan menyadarinya walaupun aku bergerak lambat. Bahkan jikapun kau sempat melihatnya, maka kau tak akan bisa mendetesinya. Otakmu hanya akan memproyeksikan gerakanku sebagai sesuatu yang diam dan membuatnya serasa seperti hilang sehingga tidak akan mucul respon apapun dari tubuhmu. Di saat seperti itulah, kau akan tampak melamun dan sangat mudah diserang."

Apa iya begitu?

Apakah seorang dewa sampai harus belajar ilmu biologi untuk mengembangkan teknik bertarung?

Disebut aneh, tapi nyatanya itu mengejutkan.

Yato menjeda sejenak serangannya. Ia mencuri atensi Gilgamesh, "Akan aku lakukan lagi. Begini caranya." Ia melangkah kesamping dan...

Mata Gilgamesh tidak menemukan keberadaan Yato, lalu...

Don!

Yato sudah berada sangat dekat.

Slicee!

Tak sempat menangkis, Gilgamesh pun terluka. Ada irisan melintang di bagian perut. Dan itu mengeluarkan banyak darah.

Sekarang Gilgamesh sadar. Secepat apapun ia bertarung, kalau terkena teknik itu maka ia tak akan memang. Yato pasti akan membuatnya kehilangan kesadaran dan melamun sejenak, lalu menyerangnya tiba-tiba dari jarak hampir nol. Itu keuntungan besar bagi petarung jarak dekat seperti Yato.

"Aku berpikir kalau yang selanjutnya akan jadi yang terakhir." Gilgamesh mundur mengambil jarak aman. Ia tak mau lagi terlalu dekat atau akan diserang lagi seperti tadi.

"Tentu saja."

Sebilah pedang tumpul yang lebih mirip tombak drill, Gilgamesh ambil melalui portalnya. Pedangnya unik, berwarna emas dengan bilah drill yang berwarna merah pekat berhias garis pola ornamen merah menyala.

Yato melihatnya, dan ia tahu kalau itu bukan sembarang pedang. "Pedang itu, pedang terkuat dari semua pedang yang pernah ada. Tidak ada pedang lain yang mampu menandinginya."

"Rupanya kau tahu tentang Ea."

Ea, pedang dari dunia imajinasi. Tidak seperti Ex-Calibur maupun pedang legenda lain yang merupakan benda fisik di dunia ini, Ea datang dari dunia lain dengan kekuatan tak terhingga. Dia hanya memiliki satu pemilik sehingga tak ada orang lain yang bisa menggunakannya. Dan Gilgamesh adalah orang terpilih itu.

Gilgamesh mengancungkan pedangnya ke atas. Aura merah muda memancar deras, memancarkan kekuatan yang tidak terukur.

Pantas saja, karena memiliki pedang inilah menjadikan Gilgamesh tak terkalahkan sampai sekarang meski ia hanya makhluk setengah dewa. Ternyata diantara ribuan pedang harta suci dari Noble Phantasm-nya -Gate of Babylon, salah satunya adalah Ea.

Yato bersiap dengan kuda-kuda rendah. Ada percikah-percikan listrik biru di sekitar tubuhnya. Sejak awal pertarungan, baru pertama kali ini ia menggunakan pedangnya bersamaan dengan sihir.

Aura kekuatan Ea semakin dahsyat memancar, bahkan spontan udara disekitarnya ikut berputar membentuk angin tornado.

Yato telah siap dengan serangannya. Dilihat dari sisi manapun, serangan Yato mungkin hanya akan jadi serangan skala kecil yang tentu tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan Ea.

Iris mata Yato bersinar, ia akan memberikan apa yang ia punya. "Aku hanya akan melakukan satu serangan dan akan kukerahkan segalanya dalam serangan ini."

Selain sebagai dewa becana, Yatogami juga dikenal sebagai dewa seni berpedang. Secara alami dia bertarung pada jarak dekat dengan kemampuan luar biasa. Sedangkan Gilgamesh juga petarung pedang tapi dia berbeda. Dengan Noble Phantasm Gate of Babylon, menjadikan dirinya petarung pedang jarak jauh yang tak pernah terkalahkan.

"Aku membuka kunci harta karunku. Sekarang waktunya hari pembalasan. Kau, kembalilah kepada permulaan!" maksud Gilgamesh, kembali pada permulaan segalanya dimana tiada sesuatupun yang ada.

Enuma Elish

Aura merah yang berputar seperti tornado dihempatkan kearah Yato. Itu adalah serangan dengan output maksimum. Bahkan dewa sekalipun, tak mungkin sanggup menahannya.

Tapi...

Tidak bagi Yato.

Jika ia tak sanggup menahannya, maka ia hanya harus menghindarinya.

Don!

Sekali lagi dan untuk yang terakhir dengan teknik Nukiashi, Yato secara mengejutkan berada tepat di belakang Gilgamesh. Pemuda pirang itu tak mungkin mengelak saat dirinya tengah melepaskan kekuatan terbesar Ea.

Sebagai petarung jarak dekat, Yato adalah ahlinya dalam serangan super cepat.

FlashhRumbleRumbleRumble

Percikan listrik memenuhi kedua bila pedang Yato.

"Hei kau yang hendak menodai tanah ini, akan kugunakan Sekki untuk menghukummu dan menghentikan tindakan kotormu. Lenyaplah!"

Raigeki

Slash!

Tebasan pertama.

Slice!

Tebasan kedua.

JDHUUUAAAAAAARRR!

Suara guntur menyusul setelahnya.

Di serang dari belakang, Gilgamesh tak sempat melakukan perlawanan. Ia ditelan ledakan hebat yang suaranya mampu membuat udara bergemuruh.

Dalam sekejap, Gilgamesh beserta pedangnya -Ea, lenyap tanpa sisa.

Raigeki adalah serangan super cepat yang dikatakan melebihi kecepatan sambaran petir. Yato memang hanya dua kali menebaskan pedangnya, tapi sihir petir yang menyertainya secara fisik membentuk bilah-bilah pedang tajam yang akan memotong tanpa henti. Ya, semuanya dipotong. Semua bagian tubuh Gilgamesh sampai sel terkecil sekalipun, bahkan ikatan antarmolekul yang membentuk wujud fisiknya, dipotong oleh petir Raigeki sampai habis sehingga hanya menyisakan substansi terkecil yang tak dapat terlihat mata.

Raigeki, suatu teknik berpedang yang memungkinkan penggunanya memotong apapun sampai substansi terkecilnya. Oleh karena itulah, Gilgamesh yang terkena serangan ini tewas tanpa meninggalkan jasad.

Memang benar bahwa Gilgamesh lebih unggul, kekuatan lebih besar, memiliki harta suci yang jauh lebih banyak, bahkan mempunyai pedang terkuat. Tapi apa mau dikata? Dia sejatinya adalah raja, demigod keturuan para Raja Persia. Gilgamesh bukan petarung. Sehingga ketika dia bertarung dengan petarung yang sesungguhnya, maka sudah jelas akan bagaimana hasilnya.

.

-Arena Perang, Underworld. At 04.24 am-

Menjelang pagi hari, puluhan tenda dan kamp pasukan Aliansi Tiga Fraksi telah selesai didirikan di areal tanah lapang yang terletak di dataran tinggi. Tempatnya yang berada di atas gunung besar menjadikannya sebagai lokasi paling strategis dalam peperangan.

Tidak jauh berbeda dengan sebuah markas, meski hanya dadakan tapi mampu menampung sejumlah prajurit yang sama sekali tidak dapat dikatakan sedikit, tidak kurang dari 30 ribu.

Seperti sebuah benteng namun tanpa sistem pertahanan karena hanya dibangun kurang dari satu malam. Ya, ini hanya tempat berkumpul dan beristirahat sementara serta tempat untuk merawat mereka yang terluka akibat perang, juga tempat untuk membagikan logistik perang pada prajurit atau regu yang membutuhkan.

Diamati lebih dekat, ternyata kebanyakan dari mereka sedang bersukacita, sebagiannya lagi bahkan sepeti sedang berpesta. Mereka, para pasukan Aliansi Tiga Fraksi yang sudah bertahan sampai sejauh ini, sudah mendengarkan pengumuman bahwa kemenangan hampir berada dalam genggaman.

Pasukan baris terdepan masih bertempur, bahkan Maou Falbium Asmodeus dan Zekram Bael yang sedang berada di sana berhasil menembus gerbang teleportasi musuh -Gate of Sun. Jika tidak ada perlawanan berarti, maka mereka yakin markas Konoha yang berada di baliknya dapat diratakan dalam waktu kurang dari 1 jam. Mengetahui sudah banyak petarung elite musuh dan petingginya yang telah tumbang, mereka sangat yakin akan kemenangan.

Yakin sekali.

Yakin pasti menang.

Bahkan beberapa petinggi Aliansi Tiga Fraksi yang kelelahan sehabis bertempur siang hari sebelumnya, bisa beristirahat dan bersantai dengan tenang di tempat ini.

Ada banyak dari mereka. Baraqiel sang komandan pasukan resimen kedua yang bertempur di lembah hutan cemara beserta dengan Uriel, salah satu Great Seraph Surga sebagai wakilnya. Dua orang ini terluka cukup parah setelah bertarung melawan salah satu dewa utama dari Mitologi yang dipercayai suku Maya dan Aztec di Benua Amerika yaitu Dewa Langit Quetzalcoatl atau yang aslinya adalah seorang dewi bernama Lucoa. Meski terluka parah tapi hasilnya sepadan, Dewi Lucoa kehabisan tenaga sehingga tak bisa bertarung lagi.

Sekarang keduanya sudah tidak apa-apa lagi, sihir medis bekerja dengan baik sehingga mereka hampir pulih sepenuhnya dan akan benar-benar pulih setelah beristirahat satu atau dua jam lagi.

Selain itu ada juga Ruval Phenex sebagai utusan utama dari Keluarga Iblis Phenex dan McGregor Mather yang merupakan peerage bidak bishop Maou Sirzech Lucifer. Selain dari resimen kedua, juga ada petinggi dari resimen ketiga yang bergabung yaitu Ramiel dan Raziel. Dua dari sepuluh seraphim surga itu juga diperintahkan beristirahat oleh pemimpin resimen ketiga -Zekram Bael. Aslinya, ada tiga orang malaikat seraphim surga dari resimen itu, tapi Raguel telah tewas dibunuh oleh salah satu shinobi Konoha bernama Aburame Shino menggunakan cara sadis dengan memasukkan ratu serangga petelur ke dalam otak lewat lubang telinga.

Yah, dari gambaran itu jelas sekali bahwa semua orang yang berada di tempat ini bisa beristirahat dengan tenang. Lagipula karena barisan terdepan pasukan Aliansi sudah sangat jauh merengsek maju ke depan, maka titik ini sangat aman dan jauh dari jangkauan serang musuh. Terlebih lagi dari musuh yang hampir kalah.

Ah, bahkan selain dari pasukan resmi Aliansi Tiga Fraksi juga ada orang luar di tempat itu.

"Kemarilah! Apa tidak lelah berdiri terus sejak tadi?" sapa Ruval ramah. Ia bersama dengan tiga petinggi lainnya di dalam tenda besar ini. Sedang minum-minum.

Yang disapa menggeleng.

"Kenapa? Tak usah sungkan." sambung Mather.

Dua petinggi lainnya tidak menunjukkan tanda-tanda keberatan.

"Tidak menyenangkan kalau kami minum-mimun sambil melihatmu diam saja."

"Tidak perlu. Lagipula aku sejauh ini belum melakukan apa-apa."

Ruval semakin giat membujuk, "Ayolaaah."

Lagi, pemuda itu menggeleng. Untaian rambut biru panjangnya yang terikat di belakang bergerak kesana kemari.

Baraqiel teringat sesuatu, "Omong-omong kudengar dari Dewa Ketua Norse Odin, kau senang mencari kepuasan dengan membunuh dan berperang."

"Itu dulu" jawabnya singkat.

"Hm?"

"Ya karena sekarang hanya menonton orang berperang saja aku sudah merasa puas."

Uriel menyambungi, "Oh, pantas saja saat berperang bersama resimen kami kau tak terlalu antusias bertarung."

"Hahaaaa." Pemuda itu tertawa ringan. Ia angkat tombak merah di tangan kanannya lalu ditepukkan di pundak.

"Cu Chulainn. Awalnya kupikir kau orang yang menarik saat mendengar tentangmu dari Dewa Ketua Odin, tapi melihatmu begitu seperti melihat anak-anak kurang motivasi."

Baraqiel memberikan komentarnya, yang ditanggapi acuh oleh orangnya.

Cu Chulainn, nama pemuda itu. Seorang demigod atau manusia setengah dewa. Keturunan Dewa Cu Chulainn dari Mitologi Irish yang berwilayah di kawasan Irlandia dan Britania Raya. Dalam dirinya bersemayam Heroic Spirit kelas Lancer bersenjatakan tomba sakti Gae Bolg. Tombak berwarna merah yang jika telah melukai lawan, maka luka yang dihasilkannya tak akan pernah bisa disembuhkan seperti sedia kala.

Alasan kenapa Cu Chulainn berada di sini, adalah karena Odin mengatakan bahwa dia mungkin lebih berguna jika ikut bersama Aliansi ketimbang berada diantara pasukan Asgard.

Mereka yang di dalam tenda sudah hendak melanjutkan kesenangan andai saja tak ada yang mengganggu.

"Tuan Baraqiel!" seorang prajurit dari ras malaikat jatuh bersayap 4 masuk tanpa permisi. Wajahnya menunjukkan ekspresi panik yang bercampur ketakutan.

"Kalau kau mengganggu untuk urusan sepele, kau akan kuhukum."

"Tidak tuan!"

"Ada apa ha?"

"Di... di-luar!" prajurit itu menunjuk ke arah luar tenda.

"Tarik nafasmu dulu. Lalu coba katakan dengan jelas!" perintah Uriel lembut.

"Huuuufft! Di luar ada ... di- ada musuh."

"Hah?"

Empat petinggi sampai terkejut.

Mustahil ada musuh yang mampu menyusup dan menyerang sampai kemari.

Yah, memang kamp ini tidak mempunyai sistem pertahanan tapi letaknya yang jauh dari barisan depan membuat kemungkinan datangnya serangan menjadi sangat kecil. Terlebih lagi, indra mereka masih pada level siaga perang, yang artinya mereka menetapkan batas bahaya pada titik paling sensitif yang dapat dirasa. Ancaman bahaya yang tertuju ke arah mereka dari lokasi bermil-mil jauhnya sekalipun setidaknya pasti akan mengaktifkan insting bahaya. Tapi ini! Sama sekali tidak terasa.

Musuh macam apa yang datang?!

"Ada berapa?" tanya Mather.

"Satu orang gadis kecil."

Keempat petinggi hampir menganga saking tidak percayanya. Cu Chulainn pun menunjukkan perubahan ekspresi yang kentara.

Uriel berkonsentrasi sejenak. Kala membuka mata, dia melotot tak percaya.

"Jumlah prajurit di kamp ini terus berkurang."

Uriel dapat melihat titik-titik cahaya setelah menutup mata saat berkonsentrasi pada mode sensor. Titik yang merupakan nyawa-nyawa makhluk hidup.

"Ada banyak nyawa yang hilang setiap detiknya." ucap Uriel.

"Ini tak bisa dibiarkan!" seru Ruval.

"Ya, ayoo kita keluar!"

Mengikuti intruksi Baraqiel, semua orang keluar dari tenda.

Setelah berada di tengah lokasi kejadian, tampak jelas ada seorang gadis kecil berumur 14 tahunan di dekat api unggun. Semua prajurit tidak ada yang berani mendekat, menjaga jarak dengan membentuk barikade melingkar mengelilingi gadis itu.

Sang gadis berambut hitam panjang itu memegang senjata api di setiap tangannya. Dual Baretta yang berbeda warna. Hitam metalik di kiri dan putih perak di tangan kanan.

Si gadis menodongkan Baretta warna putih perak ke arah target, menarik pelatuk, dan tanpa ada suara letusan maupun amunisi yang melesat, tiba-tiba saja tubuh prajurit Aliansi yang ditargetkan terurai menjadi kabut dan lenyap tanpa sisa walau sebutir debu sekalipun.

Tak ada yang mengerti apa yang terjadi.

Prajurit lain yang ditodong Baretta putih perak oleh si gadis kecil, melakukan upaya penyelamatan diri dengan membuat lingkaran sihir pertahanan. Namun itu sia-sia saat si gadis menodongkan pula pistol Baretta hitam metalik dan menarik pelatuknya. Lingkaran sihir pertahanan lenyap begitu saja, dan saat pelatuk Baretta putih perak di tarik, prajurit itupun lenyap seketika.

"KALIAN SEMUA MUNDUUUUUUURR!"

Baraqiel berteriak kencang, ia tidak bisa membiarkan pasukan yang dipimpinnya lenyap satu persatu.

Semua prajurit menyingkir, menyisakan empat petinggi yang mengepung sang gadis kecil.

"Siapa kau?" Ruval coba mengorek informasi.

"Aaaaaahhh~~~" si gadis bersenandung. "Sia-sia saja tahu namaku kalau sebentar lagi kalian semua akan mati."

Empat petinggi Aliansi itu meningkatkan kesiagaannya sampai batas maksimal. Meski tidak terpancar aura kekuatan yang membuat sesak nafas tapi nada intimidasinya begitu nyata, seolah setiap kata-katanya adalah kenyataan mutlak.

Merasa tak ada lagi yang perlu ditunggu, Baraqiel langsung memberi intruksi. "Serang bersamaan!"

Menggunakan serangan jarak menengah, keempatnya melemparkan teknik sihir masing-masing. Hanya serangan skala kecil demi mencegah kerusakan berat pada kamp, tapi setiap serangan mereka adalah sihir tingkat tinggi dengan kemampuan membunuh luar biasa.

Ruval dengan api phoenix yang panas membara, Baraqiel sang Lightning of God dengan halilintar suci, Uriel sang Flame of God dengan api suci, dan McGregor Mather dengan sihir kegelapan.

Mendapati serangan dari empat penjuru, si gadis menggunakan pistol Baretta hitam dan menembak setiap serangan sihir.

Yang terjadi...?

Semua sihir tingkat tinggi itu dihapuskan begitu mudahnya.

"Apa!"

"Tidak mungkin!"

Gumaman terlontar begitu saja.

Mather si ahli sihir pun sukar mengerti, "Mustahil sihir tingkat tinggi bisa diuraikan semudah itu!"

Yang namanya serangan sihir, baik itu sihir iblis atau malaikat yang dibentuk melalui kekuatan hati dan imajinasi maupun sihir jenis lain seperti sihir Norse yang dikomposisikan dengan rumus-rumus atau formula sihir, semua jenis sihir tersebut bisa diuraikan. Caranya ialah dengan menetralisirnya menggunakan formula anti-magic yang mampu meruntuhkan struktur sihir. Akan tetapi itu hanya dimungkinkan pada sihir tingkat rendah atau menengah yang formulanya tidak terlalu rumit. Melakukannya pun harus melalui kontak langsung dengan anggota tubuh orang yang menguraikan sihir. Itupun jika yang melakukannya bisa membaca formula dari sihir penyerang lalu merumuskan satu formula anti-magic spesifik dengan cepat antara jeda waktu singkat setelah serangan sihir diaktifkan sampai sebelum mengenai target.

Satu formula anti-magic hanya bisa menetralkan satu macam serangan sihir saja. Jadi, bagaimana bisa satu orang membuat empat formula anti-magic sekaligus dalam satu waktu yang singkat untuk memblokir serangan sihir tingkat tinggi yang berbeda jenis dari empat arah?

Itu...

Itu mustahil!

Itu jelas diluar jangkauan seorang ahli sihir.

Uriel menyimpulkan sesuatu, "Itu artinya dia tidak bisa diserang dengan teknik sihir. Dia harus diserang langsung."

Meski serangannya sia-sia dan bisa diblokir dengan cara tak terduga, perintah Baraqiel tadi tidak serta merta tak membawa hasil. Setidaknya serangan secara serantak tadi terbayar dengan secuil informasi berharga mengenai kemampuan lawan.

Si gadis tersenyum sinis, "Itu tak mengubah keadaan."

"..."

Dianggap remeh seperti itu, membuat keempat petinggi semakin berhati-hati.

"Kalian tahu?, kedua benda ini hanyalah properti belaka yang meniru bentuk pistol buatan manusia. Hanya alat untuk melakukan aktivasi sihir. Sihirnya sendiri berasal dari kemampuanku yang mampu memanipulasi aether."

"Ha! Jangan membual!" sergah Mather tak percaya.

Tahu apa aether itu?

Agar mudah membayangkan, ruang angkasa dapat digunakan sebagai acuan. Berbeda dengan atmosfer bumi yang terisi penuh oleh partikel udara, di ruang angkasa sama sekali tidak ada apa-apa. Ruang angkasa seperti dimensi ruang kosong, namun ilmuan meyakini bahwa ada sesuatu yang mengisinya, sesuatu yang menjadi media rambat gelombang cahaya dan energi kosmik lainnya. Sesuatu itu lah yang disebut aether.

Atau kalau masih kurang, bayangkan lah sebuah atom. Atom merupakan unit terkecil dari materi. Atom sendiri tersusun atas inti atau nukleon yang terbentuk dari sekumpulan proton dan neutron, dan dikelilingi oleh elektron. Jarak antara inti dengan orbit elektron sangat jauh jika dibandingkan dengan ukuran proton, neutron, dan elekronnya. Ruang kosong antara inti dengan orbit elektron inilah yang diyakini berisi dengan aether, yang mengatur agar elektron tetap pada orbitnya mengelilingi inti padahal seharusnya inti yang bermuatan positif pasti menarik elektron yang bermuatan negatif.

Aether bukan materi bukan pula energi, tapi memiliki kemampuan untuk merusak struktur terkecil dari materi dan energi jika kestabilannya dalam ruang interpartikel terganggu.

Sejauh ini tidak ada satupun teknologi sihir apalagi teknologi manusia yang mampu memanfaatkan aether. Oleh karena itulah, Mather tak bisa mempercayainya.

Si gadis mengacungkan pistol di tangan kiri, "Pistol Baretta hitam ini alat untuk aktivasi Magic Demolition. Dengan memanipulasi aether yang merupakan media rambat gelombang energi, teknik ini bisa meniadakan segala jenis serangan energi sihir, baik sihir murni maupun sihir api, sihir petir, dan sihir elemental lainnya."

Itu berarti, tidak ada satupun sihir yang tidak bisa diuraikan.

Gadis kecil ini memiliki kemampuan yang sangat berbayaha!

Syuuttt!

Ruval tiba-tiba menyerang secara langsung. Tinju berlapis api phoenix.

Karena serangan yang datang tanpa aba-aba, diserang dengan kecepatan tinggi, orang-orang hanya sadar saat tinju Ruval sudah tepat di depan wajah gadis kecil itu. Si gadis kecil pasti mati jika...

Jika saja ...

Fiiuuuhhh.

Jika saja tangan Ruval tidak terurai seperti debu yang tertiup angin.

Ruval kehilangan tangan kanannya karena ditembak dengan Baretta putih perak.

Tap.

Ruval kembali ke posisinya semula.

Si gadis mendecih, "Untung hanya kena tangan, kalau kena kepala kau sudah pasti mati karena menyerang sembarangan seperti tadi. Baretta putih ini untuk aktivasi Atomic Disintegration, teknik manipulasi aether pada ruang interpartikel yang mengakibatkan rusaknya struktur materi sampai pada tingkat atom. Dengan kata lain, daging dan tulang tanganmu tadi terurai menjadi atom dan menyebar di udara."

Karena kejadian mengejutkan barusan, keempat petinggi itu seakan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Doorrr!

Suara tiruan tembakan itu keluar dari mulut si gadis, bukan suara muntahan peluru asli. Ya karena memang Dual Baretta milik si gadis tidak menggunakan amunisi proyektil.

Apa yang dia tembak?

"Sialan!" Ruval menyumpah serapah. Tangan kanannya yang hilang tidak bisa ia kembalikan dengan kemampuan regenerasi iblis Phoenix. Magic Demolition dari Baretta hitam lebih dulu membatalkan teknik sihir regenerasinya.

Sungguh menggelikan, orang-orang hebat dari Aliansi Tiga Fraksi dibuat tidak berdaya seperti ini hanya oleh seorang gadis kecil.

Uriel masih ingin bicara, "Untuk apa kau berbuat onar di sini, gadis kecil?"

Dijawab, "Karena kalian musuhku."

"Mengapa?"

"Yaaa, secara teknis aku bagian dari pasukan perang Konoha. Jadi otomatis kalian jadi musuhku."

Awalnya memang mereka berempat mengira yang menyerang adalah musuh dari Konoha, tapi setelah melihatnya langsung muncul lah keraguan. Si gadis kecil ini pasti bukan orang Konoha mengingat eksistensinya terasa berbeda jauh dengan manusia-manusia Konoha maupun para makhluk supranatural sekutunya. Aura yang terpancar dari tubuh kecil itu tak pernah ditemukan di tempat manapun di dunia ini.

"Bahkan aku adalah wakil kapten divisi keempat resimen perang Konoha."

Apa!?

Bagaimana bisa?

"Ya, aku akui aku bukan orang Konoha. Aku berasal dari dunia yang sama dengan kalian, entitas independen yang tidak terikat dengan mitologi manapun."

"Lalu kenapa? Kenapa kau bersama mereka."

"Kenapa yaa? Aku sendiri sulit mengungkapkan. Hanya saja, aku merasa tertarik untuk bersekutu dengan mereka."

Hanya karena sebuah ketertarikan tak berdasar, gadis kecil gila ini sampai ikut terjun ke medan perang.

Tak bisa diterima akal.

Selama obrolan singkat itulah, Mather menyadari sesuatu. Sebagai ahli sihir dan peerage bidak Bishop yang tidak ingin mempermalukan nama Sirzech Lucifer, ia tidak sudi membiarkan dirinya dikalahkan begitu saja oleh seorang gadis belia.

Ia terus berpikir sejak tadi, lalu hasilnya.

"Tuan Baraqiel, Yang Mulia Uriel, Ruval-dono. Aku sudah memahaminya."

"Apa?"

"Magic Demolition dan Atomic Disintegration, dua teknik miliknya tidak bisa kita lawan dengan cara apapun. Pengetahuan dan teknologi yang dia kuasai jauh diatas kita. Tapi..."

Mather menggantung ucapannya.

Si gadis memiringkan kepala beserta ekspresi penasaran yang kentara di wajah. Terlihat sangat manis, imut luar biasa.

"Tapi aku sudah menemukan kekurangannya."

"Waaah, hebat!" puji si gadis kecil dan bertepuk tangan.

"Meski tidak terlihat, tapi efek manipulasi aether yang keluar dari kedua pistol itu sebenarnya tidak terlalu cepat. Kecepatannya lebih lambat dibanding proyektil peluru yang ditembakkan dari pistol Baretta asli. Jeda waktu setelah pelatuk ditarik sampai efek pada target dicapai cukup lama sehingga mataku sendiri bisa melihat perbedaannya."

Baraqiel menyimpulkan, "Maka kita harus begerak lebih cepat saat dia menarik pelatuk, ya kan?"

Benar sekali. Sesuatu yang di tembakkan pasti jalur tembaknya lurus. Oleh karena itu, target hanya perlu berpindah tempat setelah pelatuk ditarik sebelum peluru mengenainya. Untuk peluru yang bergerak lambat, tidak sulit bagi malaikat dan iblis kelas tinggi seperti mereka untuk menghindarinya.

"Satu lagi!" sambung Mather. "Efek kedua teknik itu hanya terjadi pada skala kecil. Buktinya efek Atomic Disintegration dari Baretta putih hanya bisa menguraikan tangan Ruval, tidak dengan bagian tubuh lain. Ditambah lagi, efek Magic Demolition hanya mampu menguraikan serangan sihir skala kecil yang kita lakukan pertama kali, dan terjadi hanya pada waktu singkat. Lihat saja tangan Ruval, meski tadi dibatalkan sekali tapi kini sudah kembali utuh."

Tadi tangan Ruval tidak bisa kembali sebab sihir regenerasi dibatalkan oleh Magic Demolition. Namun berselang beberapa saat, Ruval sudah bisa menggunakan regenerasi lagi dan mengembalikan tangannya seperti sedia kala.

Giliran Uriel menarik kesimpulan. "Kalau begitu, untuk menyerang dia maka harus dengan serangan sihir skala besar secara kontinyu."

Ibaratnya percikan air bisa memadamkan api kecil, tapi kalau apinya besar? Apalagi semburan api yang terus menerus? Air tidak akan bekerja.

Sasuga, para petinggi memang hebat. Gelar legenda yang mereka sandang tidak sekedar gelar belaka.

"Ahh, ahahaaa. Fufufuuu."

Mengherankan!

Walau kelemahan tekniknya sudah diketahui, tapi sang gadis malah tertawa seolah dia habis melihat hal lucu.

Ruval sudah hendak menyerang, api besar yang membara siap dia embuskan. "Tertawa lah selagi kau masih bisa tertawa. Memang sadis kalau ada gadis kecil yang dibunuh oleh empat orang dewasa, tapi untuk orang sepertimu maka itu adalah hal yang seharusnya terjadi."

"Kheh!" Si gadis kecil mengetukkan baretta putih ke tameng kecil berwarna coklat muda yang menempel di tangan kirinya terikat seperti gelang. "Kalian tahu ini apa hm?"

Mereka berempat mengira itu hanya aksesoris, tapi saat dilihat seksama pada celah sempit yang terbuka, memperlihatkan adanya roda-roda gear yang umum ditemui di dalam mesin jam klasik.

Tik tik tik tik.

Bunyi roda gear yang berputar terdengar pelan dan kaku seperti suara dentingan jam.

"Sebelum kalian berempat menyerangku, kalian sudah mati terlebih dahulu!"

Splassshhhhh...

Semuanya terjadi dalam sekejap.

Sekejap mata berkedip.

Empat kepala terurai menjadi debu lalu lenyap tertiup angin.

Brukkk...

Dan empat badan yang terisa jatuh ambruk bersamaan ke tanah.

Baraqiel, Uriel, dan Mather dipastikan telah tewas.

Sedangkan Ruval, dari potongan batang leher muncul gumpalan daging yang hendak tumbuh menjadi kepala baru. Kekuatan sihir regenerasi. Tapi...

Klak klak klak

Setelah tiga kali menarik pelatuk Baretta putih perak, semua bagian tubuh Ruval terurai tanpa sisa, tak bersisa barang sebutir dzarrah pun yang hendak beregenerasi.

Pelakunya.

Sudah pasti si gadis kecil tersebut.

Atomic Disintegration, teknik yang mampu menguraikan materi apapun termasuk organisme hidup menjadi bentuk molekul paling dasar seperti atom, ion, bahkan partikel subatomik.

Jadi, begitu lah akhir hidup empat petinggi Aliansi Tiga Fraksi.

Begitu mudah, begitu sederhana.

Tapi...?

"B-bagaimana bi-bisa!?"

Suara seperti orang tercekak itu dilontarkan oleh pemuda yang mengamati sejak awal. Cu Chulainn, dia yang tadi berkata sudah puas hanya dengan mengamati, memang mengamati sejak awal dan tidak berniat membantu apapun.

"Aaaaaahh~~~, masih ada yang hidup rupanya."

Cu Chulainn sontak mundur selangkah. Tombak merah Gae Bolg ia acungkan dengan kuda-kuda siaga tempur.

"Emm, kau masih ingin hidup atau mau ikut mati seperti mereka juga?" tanya si gadis, memberi kesempatan.

Tubuh Cu Chulainn bergetar, menandakan bahwa ia ketakutan. Takut menghadapi kematian.

"Baiklah. Kalau begitu silakan pergi dari tempat ini."

"..."

Saking takutnya, Cu Chulainn tak bisa menggerakkan kakinya yang bergetar hebat untuk lari.

"Time Accelerator, itu lah kemampuan asliku." Si gadis berbaik hati untuk berterus terang. Dual Baretta dengan dua teknik berbeda itu hanyalah kemampuan pelengkap semata. "Teknik yang ditujukan pada diriku sendiri untuk membuat efek percepatan waktu 14000 kali dari waktu normal."

Pantas saja. Jika gadis itu memiliki dimensi waktu sendiri yang bergerak 14000 kali lebih cepat, maka tidak seorangpun bisa mencegah apapun yang dia lakukan. Seperti pada keempat petinggi tadi, saat waktunya berjalan 14000 kali lebih cepat baginya, dia hanya perlu berjalan kaki dengan santainya ke arah target yang sangat lambat hingga nampak seperti diam, lalu menodongkan pistolnya tepat di kepala dan menembak pada jarak 0 cm. Kemudian berjalan lagi menuju target yang kedua. Begitu terus sampai empat. Pada waktu normal, kepala keempat orang itu sudah terurai menjadi atom dan tewas semuanya.

Sederhana bukan cara kerjanya?

Sederhana, tapi mematikan.

"S-siapa kau sebenarnya?"

"Namaku Akemi Homura. Seorang dewi yang menyebut dirinya sendiri sebagai iblis."

Setelah perkenalan nama sang gadis kecil, si pemuda berambut biru itu pun hilang. Dia kabur. Dia lari selagi masih bisa demi bertahan hidup.

Dengan kemampuan mematikan seperti itu, pantas saja Uchiha Sasuke bisa kalah dari Akemi Homura dalam waktu kurang dari satu detik.

Itu bukan sekedar rumor belaka, informasi itu benar adanya.

Time Accelerator. Sebuah teknik manipulasi waktu tingkat tinggi yang tak bisa dihentikan. Berbeda dengan sihir Time Freeze dari keluarga iblis Agares maupun kemampuan Forbidden Balor View milik Gasper Vladi yang mampu menghentikan waktu. Efek dua teknik itu ditujukan pada target dan lingkungan, memperlambatnya atau menghentikan waktunya tanpa diri sendiri terkena efek tersebut. Si pengguna teknik tetap menjalani kecepatan waktu normal sedangkan target dan lingkungannya diperlambat atau dihentikan waktunya. Cara ini memberikan kesempatan pada target yang sangat kuat atau jenius untuk membatalkan efek perlambatan atau penghentian waktu yang mengenai dirinya.

Sedangkan Time Accelerator adalah teknik sihir milik Akemi yang menargetkan tubuhnya sendiri agar dia dapat bergerak pada waktu yang jauh lebih cepat. Orang lain dan lingkungan bergerak pada waktu normal tapi dirinya bergerak dalam dimensi waktu yang jauh lebih cepat. Dengan begitu, orang lain tak dapat merasakan efeknya sehingga tidak memiliki kesempatan untuk membatalkan efek percepatan waktu ini.

Akemi bergumam, "Yah, aku tahu kemampuanku ini terlampau mengerikan tapi kenyataannya ada teknik manipulasi waktu yang lebih superior lagi."

Semenjak tersiar informasi rahasia mengenai Hinata yang bisa berubah menjadi makhluk empat dimensi dengan kemampuan Time Extra, Akemi merasa dirinya tidak lagi yang paling unggul.

Ada peribahasa, di atas langit masih ada langit.

Akemi menyimpan Dual Baretta miliknya kedalam inventori sihir. "Baiklah, saatnya beres-beres. Sasuke-kun pasti senang."

Selanjutnya gadis itu melayang ke udara, sembari mengeluarkan senjata lain dari inventori sihir. Sebuah senjata laras panjang berdesain futuristik. Bisa dipastikan, kalau senjata ini memiliki kemampuan yang tidak jauh berbeda prinsipnya dengan Dual Baretta tadi. Kemudian dia berhenti pada ketinggian 800 meter.

"Brionac." Akemi melafalkan nama senjatanya lalu membidikkan scope senapan itu pada salah seorang prajurit yang terlihat kebingungan di tengah kerumunan pasukan setelah kematian empat petinggi mereka.

"Memuat ulang kode aktivasi sihir."

Lingkaran sihir dengan aksara berupa kode-kode angka muncul pada pangkal laras senapannya. Berputar dengan titik tengah tepat di laras senapan.

"Konstruksi aktivasi emisi aether, selesai!"

Lingkaran sihir lapis kedua muncul di depan lingkaran pertama, tersusun atas aksara yang nampak identik.

"Konstruksi aktivasi re-komposisi nukleon, selesai!"

Lagi, muncul lingkaran sihir lapis ketiga.

"Konstruksi aktivasi reaksi fisi berantai, selesai!"

Senapan Brionac memuntahkan radiasi cahaya terang pada moncongnya.

Material Burst

"Fire!"

Amunisi telah di tembakkan dan mengenai target. Setelah selesai dengan itu, Akemi menyimpan kembali senapannya.

"Karena tidak mungkin aku berada disini lagi, jadi... Selamat tinggal. Checkpoint, save!"

Dalam sekejap, Akemi lenyap dari posisinya. Dia telah menteleport dirinya ke markas.

Sesaat kemudian, efek tembakan mulai terjadi.

Nggiiiiiiiiiiiiinnnngg!

Bersama suara dengungan yang memekik, bagian kepala target tembakan Brionac mulai bersinar terang. Terus bercahaya dengan intensitas yang semakin kuat. Sampai akhirnya...

Cahaya silau yang membutakan mata,

Gelombang kejut udara yang meremukkan tulang,

Hempasan energi panas yang membakar kulit dan daging,

lalu dentuman suara menggelegar yang mengguncang daratan.

KAABBBOOOOOOOOOMMM!

Singkat kata, terjadilah sebuah ledakan nuklir yang menelan gunung besar beserta semua orang yang berada disana dalam sekejap dan hanya menyisakan awan jamur sisa setinggi 7 kilometer.

Material Burst, adalah teknik sihir tingkat tertinggi dengan prinsip penguraian materi. Itu sama dengan membuat sebuah ledakan nuklir melalui konversi massa yang hilang oleh penguraian menjadi energi terkompresi yang meningkat sangat cepat sehingga terealisasi dalam sebuah ledakan mahadahsyat, sebuah ledakan hasil dari reaksi fisi nuklir berantai. Energi yang dilepas merupakan konversi massa yang hilang berdasarkan persamaan Einstein E=mc^2. Ledakan ini sama sekali tidak memerlukan bahan bakar material radioaktif, cukup dengan materi atau bagian tubuh makhluk hidup.

Teknik ini sendiri memerlukan tiga langkah aktivasi sebelum di tembakkan pada target. Pertama ialah dengan mengemisikan aether sebagai pemicu terjadinya ketidakstabilan di dalam nukleon atau inti atom non-radioaktif material target. Inti atom yang tidak stabil lalu disusun ulang pada aktivasi kedua untuk membentuk inti isotop yang bersifat radioaktif. Ketiga ialah mengatur jalannnya reaksi fisi nuklir atau pembelahan inti atom sehingga tercapai reaksi berantai sampai semua inti bahan bakar ledakan habis.

Setelah tiga langkah rangkaian aktivasi itu, pada akhirnya ialah ledakan nuklir. Tidak berbeda dengan bom atom yang pernah dijatuhkan di Jepang pada Perang Dunia II.

Jadi, itulah maksud kata 'beres-beres' yang diucapkan Akemi tadi.

Dengan begitu, hanya menyisakan barisan depan pasukan Aliansi Tiga Fraksi saja lagi. Jadi jika seandainya Konoha mampu membalik keadaan, setidaknya Aliansi tidak punya pasukan bantuan dari belakang.

Sungguh sangat beruntung bagi Konoha, Akemi Homura berpihak kepadanya.

.

-Arena Perang, Underworld. At 04.35 am-

Sungguh, arena perang titik ini tak tergambarkan lagi bagaimana rupa kehancurannya. Siapapun, seniman sastra terhebat sekalipun pasti bingung bagaimana menceritakannya.

Siapa kah yang bertempur sampai akibatnya semengerikan itu?

Tidak akan ada yang percaya kalau pelakunya adalah orang biasa, tapi mereka ini ...

Grayfia Lucifuge tak kunjung berhenti menghela nafas berat. Staminanya sudah tentu terkuras habis untuk bertahan dari serangan brutal Naga Langit Osiris. Tidak berbeda dengan Sirzech Lucifer dan Michael, yang walau masih bisa berdiri tegak melayang di udara, tapi pakaian yang basah oleh cucuran peluh tidak bisa berbohong.

Di seberang sana, Gaara juga pada kondisi yang hampir sama. Chakranya yang tersisa tidak lebih dari 10% kondisi prima. Jika terus bertempur, bukan tidak mungkin dia akan pingsan. Sedangkan Osiris, meski sisiknya tidak tertembus tapi ada banyak luka luar yang menggores sayapnya, bahkan ada lubang akibat terkena langsung serangan cahaya suci ataupun Power of Destruction.

Kedua kubu saling melotot tanpa bicara. Lagipula jarak antara keduanya lumayan jauh sehingga suara tak mungkin sampai terdengar.

Tiba-tiba...,

Shiiinggg!

jauh dari arah selatan, dari punggung ketiga petinggi Aliansi Tiga Fraksi, tampak langitnya bersinar sangat terang.

Swwoooossshhhh

Disusul hembusan angin yang lumayan kuat dan tak lama kemudian datanglah suara goncangan yang mampu menggetarkan daratan.

"Apa itu!?"

Sirzech terkejut. Jelas sekali bahwa apa yang mereka rasakan dari jarak sejauh itu dapat diyakini hasil dari sebuah ledakan mahadahsyat.

Sekarang langit dari arah itu kembali gelap namun dapat terlihat samar satu awan jamur sisa ledakan yang tingginya berkilo-kilometer.

"Kalau tidak salah, kejadian barusan berasal dari arah kamp istirahat pasukan kita dibarisan belakang."

"Kau tidak sedang bercanda kan?" tanya Michael memastikan.

"Saya yakin sekali, Michael-dono." jawab Grayfia. "Selama kalian berdua sibuk saling serang dengan naga langit merah di sana, saya masih membagi konsentrasi untu menerima khabar situasi perang di titik lainnya. Maou Falbium Asmodeus telah menginstruksikan kepada Baraqiel-sama untuk membangun kamp istirahat di atas sebuah gunung di belakang kita."

"Dan sekarang, gunung itu telah lenyap!" tukas Sirzech. Ya, lenyap beserta dengan semua pasukan yang berada di sana.

Gilaaa! Tidak habis pikir oleh mereka bertiga, adaaaa saja yang menyerang barisan paling belakang mereka. Padahal titik itu bukanlah titik strategis. Hanya kamp istirahat dan perawatan bagi yang terluka. Logistik dan persenjataan, bahkan aset-aset penting untuk perang tak satu pun ada disana.

Jadi untuk tujuan apa musuh meratakan tempat itu?

Apalagi sampai pada situasi ini kemenangan jauh lebih condong keberpihakannya kepada Aliansi Tiga Fraksi. Meratakan barisan belakang dan pasukan tambahan sama sekali bukan prioritas. Akan lebih masuk akal bagi Konoha dan sekutunya untuk bertahan lebih keras pada pertempuran utama di titik paling depan.

Sedangkan di kubu seberang, Gaara langsung menyadari kalau ledakan tadi diakibatkan oleh salah seorang petinggi dari sekutu Konoa, entah siapa ia sendiri pun kurang tahu. Gaara tak ingin meminta konfirmasi pada Shikamaru di markas pusat karena pengatur strategi itu pasti sedang sibuk memikirkan strategi bertahan mati-matian. Gempuran barisan depan pasukan Aliansi sudah mencapai Tajung Harapan dimana gerbang teleportasi raksasa Gate of Sun berada. Akan sangat gawat jika sampai markas mereka di serang.

Gaara pun menyadari kalau Osiris tidak bisa bertarung lebih lama lagi. Naga langit itu terluka cukup banyak dan tenaganya pun sudah berkurang. Memang masih sanggup kalau untuk bertarung habis-habisan, tapi Gaara memikirkan langkah ke depannya. Aliansi Tiga Fraksi memiliki 1 juta malaikat kloning super yang sampai sekarang belum muncul, dengan apa melawan pasukan itu kalau ia kehilangan Osiris di tempat ini?

Jadi ...

"Baiklah, kupikir ini satu-satunya pilihan yang bisa kuambil" Mata Gaara menunjukkan keyakinan akan keputusannya. "Osiris, terima kasih atas kerja kerasmu. Saat dibutuhkan, kita akan bertarung bersama lagi."

Pooft!

Menjadi kepulan asap yang sangat besar, eksistensi Naga Langit Osiris menghilang dari jagad perang.

Sirzech, serta Michael dan Grayfia seketika berbalik.

"Dia menyerah?!" Si Ratu terkuat Underworld dibuat keheranan. Di ujung sana, mata iblisnya dapat melihat jelas Gaara yang berdiri di atas gumpalan pasir terbang. Tidak ada lagi sisa-sisa keberadaan Osiris setelah gumpalan asap lenyap tersapu angin.

Bukan kah jika begitu, membunuh Gaara hanya akan seperti menjentikkan jari bagi mereka bertiga?

"Kurasa tidak." sahut Sirzech. Michael pun mengangguk karena instingnya mengatakan hal yang serupa.

Gaara mengggigit ibu jari tangan kanannya hingga berdarah, membuat segel tangan lalu merapal jutsu.

Kuchiyose no Jutsu

Boooffttt!

Lagi-lagi gumpalan asap.

Dan sungguh di luar dugaan! Apa yang terlihat kini sangat keterlaluan bagi ketiga petinggi Aliansi Tiga Fraksi itu.

"Obelisk The Tormentor." Michael rupanya mengetahui identitas makhluk yang lagi-lagi Gaara datangkan

"Orang itu benar-benar tak mau mengalah." Sirzech menggeleng tak habis pikir. "Kukira akan dia simpan untuk nanti, tapi malah dikeluarkan sekarang."

"Sirzech-dono, aku pikir dia melakukan itu karena dia merasa dirinya sudah terdesak."

"Ya, hanya itu satu-satunya kemungkinan. Tapi..."

"Aku paham apa yang dipikiranmu." potong Michael.

Grayfia penasaran apa tindakan mereka bertiga selanjutnya, "Lucifer-sama, Michael-sama?"

"Kita mundur!"

"Aku sependapat." sambung Michael.

"Kita akan rugi jika masih bersikukuh bertarung dengan pemuda itu."

"Tentu saja. Monster iblis berwujud titan kolosal dari Mitologi Mesir Kuno merupakan perwujudan roh salah satu Ancient Egyptian Gods, Obelisk. Di Mesir banyak di temukan prasastinya, berupa tugu batu segiempat yang menjulang tinggi."

Michael mengatakannya dengan mata tak lepas dari makhluk pemilik nama tersebut. Seekor titan kolosal setinggi 80 meter berwarna biru pada hampir setiap bagian tubuh dan kulitnya. Sepasang tangan dan kakinya nampak besar dan kokoh, cakarnya besar dan tajam. Memiliki banyak tanduk dan separang sayap lebar di punggung. Rupa wajahnya benar-benar mirip dengan monster iblis yang seringkali digambarkan dalam naskah manuskrip kuno.

Sirzech bisa melihat jelas meski dari kejauhan, Gaara yang berdiri tegak di atas bahu makhluk raksasa. "Titan raksasa biru itu tidak dapat kita lawan dengan kondisi kita saat ini. Dikatakan kalau ketahanan fisik Osiris dalam pertarungan lebih unggul, tapi Obelisk setara dengannya dari segi kekuatan murni. Kita mungkin tidak akan pulang dengan badan bersih kalau nekat melawan."

"Makanya, lebih baik bagi kita mundur." ungkap Michael.

"Lagipula, mundur tidak berarti kalah bukan?"

Michael mengangguk setuju, "Pemuda bernama Gaara itu pasti hanya menggertak. Dia pun tidak ingin bertarung lebih lama. Sedangkan dibelakangnya sana, pasukan yang dia pimpin sudah hampir kalah oleh pasukan Aliansi yang dipimpin langsung oleh Maou Falbium. Langkah selanjutnya, kuperkirakan dia mungkin akan mundur dan mempertahankan gerbang teleportasi mereka di Tanjung Harapan."

"Kalau memang begitu, kita biarkan saja. Biarlah pertempuran di sini berakhir sekarang."

Grayfia sudah mengerti sepenuhnya. "Baiklah. Kalau seperti itu keputusannya, saya akan mempersiapkan jalur teleportasi untuk pulang ke markas."

"Terima kasih, Grayfia."

"Iya, Lucifer-sama."

"Oh, omong-omong Seraph Raphael baru saja menghubungiku. Dia mengatakan bahwa 1 juta tentara malaikat kloning super sudah bergerak. Tepat ketika matahari terbit di timur, mereka akan sampai di sini." ucap Michael.

"Ya. Azazel juga, memberitakan kalau ia berhasil merebut Trihexa dari iblis tua itu dan mengendalikannya. Aku sampai takjub dengan keberhasilan rencananya. Sebagai bonusnya, ternyata Trihexa bangkit dengan kekuatan tiada banding setelah menyerap eksistensi Dewi Naga Ophis. Dia orang tua yang luar biasa."

"Bagus. Hebat! Dengan 1 juta tentara malaikat super dan Trihexa yang tiada banding, Aliansi Tiga Fraksi tak akan terhentikan. Biarpun memiliki Osiris dan Obelisk mereka tak akan berkutik, bahkan jika dia mendatangkan monster terakhir dari trio mitologi mesir, itu tak akan mengubah keadaan." Michael mengepalkan tangan kanannya lalu ia angkat ke langit, "Dengan begini, Tatanan Dunia Baru Imperium of Bible akan segera terwujud."

.

.

-Pulau Langit Agreas-

Kemudian sama seperti sebelumnya. Lagi, dengan hanya satu penggalan kalimat Azazel mengendalikan semuanya.

"Dengan otoritas Rizevim. Kau Trihexa, tunduklah padaku!"

Seketika suasana hening, binatang pengkiamat itu sontak diam menurut tak ubahnya binatang piaraan jinak, tidak lagi mengeluarkan hawa jahat yang menyesakkan nafas.

Sungguh, ini lebih tidak masuk akal dari sebuah kegilaan.

Azazel!

Ada satu pertanyaan besar yang bersarang di benak semua orang yang tertuju pada sang Gubernur Malaikat Jatuh itu.

Apa yang sebenarnya dia rencanakan sejak awal?

Secara tiba-tiba alur cerita berubah total saat Azazel datang. Seakan ini sebuah plottwist.

Dimananya bisa dianggap masuk akal dari..., ketika dia hanya mengucapkan beberapa penggal kalimat lalu semua hal sudah dalam kuasanya?

Azazel memerintahkan Hinata membunuh suaminya, membunuh Naruto, dan tanpa aling tanding Hinata menurutinya begitu saja. Rizevim pun sama, diperintahkan untuk membunuh dirinya sendiri serta menyerahkan otoritas atas kendali kesadaran Trihexa kepada Azazel.

Tak masuk akal bukan?!

Sangat tak masuk akal.

Kala situasi sedikit lebih tenang, semua orang dapat berdiri dan kembali bernafas dengan normal.

Sona adalah orang pertama yang menuntut penjelasan atas apa yang baru saja terjadi.

"Azazel?!" tatapnya dengan wajah penuh tanda tanya. Ia memanggil nama, tak lagi Sensei.

Rias, Tsubaki, Kuroka, dan semua orang di sana pun sama. Semua atensi tertuju pada Azazel yang memegang kunci atas apa yang tengah terjadi.

"Apa kalian mempelajari Al-Kitab dengan sungguh-sungguh huh?" Azazel balik bertanya.

"...?"

"Al-Kitab adalah naskah sumber kepercayaan orang-orang nasrani pengikut gereja. Acuan hidup mereka. Kepercayaan manusia yang membuat kita ras malaikat, malaikat jatuh, dan iblis menjadi nyata entitasnya. Paling banyak isinya, Al-Kitab mengajarkan kepada ummat manusia keyakinan tentang tuhan, The God of Bible."

Tak ada yang mengerti kemana arah omongan Azazel. Mungkinkah dia sedang ceramah agama?

"Dasar kalian! Ya, karena masih anak muda yang tak pernah mengecap kebijaksaan hidup jadi aku bisa memaklumi ketidaktahuan kalian."

Memang benar, di sini Azazel lah yang paling tua. Dia hidup sejak The God of Bible masih ada, sejak surga dan seluruh malaikat diciptakan oleh-nya. Sedangkan semua yang lainnya, hanyalah anak-anak yang lahir kemudian.

"Karena kalian masih muda, kalian belum mengetahui tentang ilmu mengenal tuhan. Bahkan aku yakin kalian tak sekalipun pernah berpikir kesana."

Lagi-lagi Azazel mengatakan sesuatu yang tak dapat di mengerti siapapun.

Si gubernur malaikat jatuh melanjutkan, "Untuk mengenal tuhan, maka harus tahu apa saja yang sudah tuhan perbuat terhadap dunia ini. Harus tahu pula sifat-sifatnya, sifat tuhan yang diatas segalanya. Al-Kitab seringkali mengungkapkan tentang sifat-sifat tuhan pada ayat-ayat yang harus dimaknai secara mendalam, walau tidak jarang juga terdapat pada ayat-ayat bermakna lugas namun harus diikuti dengan keyakinan kuat."

Azazel sunggguh-sungguh sedang ceramah rupanya.

"Sensei!?" Rias sudah tak mampu menahan emosinya akibat kelakuan tak terduga dari guru yang sangat ia hormati. Ia ingin penjelasan, bukan diceramahi.

Azazel kembali mendongak, mengamati Trihexa yang telah diam tunduk kepadanya. "Karena urusanku disini selesai lebih cepat dari yang kukira, jadi aku masih punya sedikit waktu sebelum saatnya mengirim Trihexa ke arena perang." Lalu ia kembali menatap anak-anak didiknya. "Dari sekian banyak sifat tuhan, pasti kalian pernah mendengar sifat maha berkehendak dan maha memaksa."

Ya pasti. Orang yang sedikit banyaknya mengerti tentang agama pasti mengetahui tentang itu.

"Setelah kematian The God of Bible pada Great War ribuan tahun lalu, sifat itu beralih ke dalam diriku. Aku merasakannya meski aku sendiri tidak mengerti kenapa dan bagaimana itu bisa terjadi. Yang kemudian menjadi kekuatanku sendiri dan kupendam hingga hari ini. Absolute Order sebutannya. Perintah multak yang memberikanku kuasa untuk mengendalikan kehendak orang lain. Seperti yang kalian lihat barusan, sekali aku berkehendak maka kehendak itu akan menjadi kehendak orang yang aku targetkan, memaksa mereka melakukannya meski hati menentang sekuat apapun."

Pantas saja, apa yang Azazel perintahkan lewat kata-katanya pasti akan dituruti oleh siapapun itu, bahkan jika perintah untuk membunuh diri sendiri.

"Kekuatan yang mengerikan." Diehauser berkomentar. Jujur ia sendiripun, dengan teknik sihir spesial miliknya -Worthless, tidak akan mampu membatalkan efek kekuatan Azazel.

"Kalau begitu, aku hanya harus menulikan telingaku agar tidak mendengar perintahmu, ya kan Sensei? Dengan begitu pengaruh Absolute Order tidak akan pernah sampai padaku."

"Kau terlalu naif, Xenovia!" bantah Azazel. "Apa kau bepikir kekuatan ini dilancarkan dengan kata-kata? Jika iya maka kau salah besar. Dengan kemampuan Absolute Order, sugesti kuat ditransimikan lewat gelombang sihir berfrekuensi khusus yang akan memanipulasi sinyal kelistrikan di dalam otak target. Rambatan gelombang ini tidak dapat diblokir dengan cara apapun, apalagi secara fisik dengan menutup telinga. Bahkan orang kuat sekalipun jika sudah terkena sugesti pasti akan melaksanakan perintahku sampai tuntas."

Semua orang pun diam. Tak ada satupun yang melangkah apalagi memberikan perlawanan pada Azazel. Karena mereka semua sudah tahu, sekali Azazel mengucapkan perintahnya, maka tak ada satu orangpun yang sanggup menolaknya. Uzumaki Hinata dan Rizevim Livan Lucifer adalah bukti nyata kekuatan Absolute Order. Jika yang kuat saja kalah telak, maka bagaimana dengan mereka yang lemah ini?

"Ah ya, akan aku ceritakan sedikit hal lain. Sirzech juga di berkahi hal yang sama denganku oleh tuhan setelah kematiannya. Aku harus jujur kalau berkah yang Sirzech terima dari The God of Bible lebih hebat dariku."

"Maksudnya?" tanya Rias. Ini menyangkut kakaknya.

"Sifat tuhan yang maha kekal."

"Apa?"

Kekal, kekal bagaimana?

"Power of Destruction, kekuatan alami iblis berdarah Bael. Sirzech juga memilikinya sebagai keturunan Bael dari garis ibu. Tapi Power of Destruction Sirzech berbeda dari semua orang, dia jauh lebih kuat sehingga dianggap sebagai Super Devil. Itu adalah manifestasi dari sifat tuhan yang maha kekal. Jika tuhan kekal, maka lawan dari sifat itu adalah binasa. Kekuatannya adalah untuk membinasakan segala sesuatu."

Hal tersebut mudah dimengerti semua orang.

Azezel lagi-lagi menambahkan, "Dan satu orang lain lagi yang kutahu mewarisi sifat tuhan yaitu Michael. Yah wajar karena dia adalah tangan kanan tuhan. Aku tidak tahu itu sifat apa dan kekuatannya seperti apa. Tapi kemungkinan besar, itu adalah hal yang lebih hebat daripada apa yang aku dan Sirzech miliki."

Tidak ada yang menyangka bahwa selain meninggalkan sistem Sacred Gear yang sangat populer di dunia supranatural Universe ini, ternyata The God of Bible juga mewariskan sifat-sifat dan kekuatannya kepada orang lain.

Azazel-Sirzech-Michael. Trio pemimpin tiga ras besar ini sungguh diluar batas logika. Dan katanya, Michael lah yang paling mengerikan. Entah akan seperti apa jika malaikat terkuat itu menunjukkan kekuatan aslinya.

Kehabisan kata-kata, para anak muda itu tak ada lagi yang mampu bicara.

"Oke baiklah. Kupikir saatnya aku undur diri." Azazel berbalik lalu menatap ketiga bawahanya, Dulio, Tobio dan Griselda. "Kalian siapkan lingkaran sihir teleportasi untuk memindahkan Trihexa ke arena perang!"

"Laksanakan!" sahut ketiganya.

Entah itu apakah dengan kekuatan Absolute Order atau perintah biasa, sebagai bawahan ketiga orang tersebut menurut begitu saja.

Shiinngg!

"Jangan bergerak!"

Tubuh Arthur kaku di tempat, ia hanya sempat mengeluarkan Pedang Suci Collbrande dari sarungnya tapi gagal melangkahkan kaki walau hanya satu langkah. Azazel lebih dahulu menyadari serangan yang ingin dia lancarkan lalu menggunakan kekuatan Absolute Order untuk membuatnya seperti ini.

Azazel memerintahkan Arthur untuk tidak bergerak, maka dengan cara apapun Arthur tidak akan pernah bisa menggerakkan tubuhnya. Sampai mati pun, bahkan sampai kiamat sekalipun Arthur tidak akan bisa bergerak kalau sugesti Absolute Order masih aktif.

Azazel memalingkan muka dengan raut masam. "Bisakah kalian diam? atau kalian ingin aku memerintahkan kalian semua saling membunuh?"

O SHIT!

Itu cara yang sangat sadis dan mengerikan. Jika benar-benar dilakukan lalu mereka saling membunuh, bisa dibayangkan bagaimana hancurnya perasaan dan hati mereka saat membunuh dan melihat kematian dari orang yang amat disayangi?

Hinata dan Naruto sudah mempertontonkan kejadian itu, dan mereka tak sanggup kalau harus menerima nasib yang sama.

Siapa yang sanggup walau hanya sekadar membayangkannya saja?

"Maka aku akan membunuhmu lebih dahulu, Azazel!" seseorang datang, tiba-tiba saja sudah berdiri di tengah-tengah antara kerumunan kelompok anak muda dengan Azazel. Nada suaranya dan hawa intimidasinya penuh dengan nafsu membunuh.

"Wah. Kau sudah kembali rupanya, Uzumaki Hinata!" seru Azazel lantang.

Tidak satupun yang menyadari bagaimana Hinata sudah berada diantara mereka. Menilik ke arah rongga mata yang berubah total, yang mana iris matanya menjadi hitam legam dengan pola bintik berkilau layaknya galaksi bimasakti di angkasa, menandakan bahwa doujutsu The True Tenseigan sedang aktif. Sebagai makhluk empat dimensi, Hinata dapat melakukan sesuatu yang melampaui batas-batas logika mereka. Termasuk tentang keberadaan dia di sini.

Hanya saja...

Hanya saja, Hinata datang sendirian.

"Naruto-san. Dimana dia?" Sona bertanya kaku, ragu dan takut bercampur menjadi satu.

Tak ada jawaban dari Hinata.

Saat tertangkap mata adanya percikan darah segar di tangan kanan Hinata serta cairan merah pekat yang masih menetes dari ujung kunai yang digenggamnya, itu saja sudah menjadi bukti kuat kalau...

Kalau...

"Na-... Naru..."

Sona menggelengkan kepalanya. Kenyataan ini terlalu buruk bagi. Meski tak ada tetesan air mata, berita ini adalah pukulan hebat bagi mentalya.

Pun sama dengan yang lain, semua anggota kelompok Sitri merasakan hal yang sama. Kuroka dan Le Fay juga. Rias dan peerage-peeragenya lebih banyak diam, tapi setidaknya rasa kehilangan itu pasti ada. Arthur, Bikou, bahkan Diehauser tidak tahu harus bagaimana lagi.

"Aku yang akan memimpin dari titik ini."

Sona mendongak terkejut. Suara Hinata yang barusan ia dengar terasa dingin dan menusuk, seolah keluar dari raga tanpa jiwa, raga yang menyisakan setumpuk emosi dan dendam yang tak terukur batasnya.

Amat sangat berbeda dengan pribadi Hinata yang selama ini mereka kenal. Meski mereka tidak pernah sangat dekat dengan Hinata, tapi perbedaan itu sangatlah terasa. Bahkan walau belum mengenal Hinata sama sekali, maka melihat Hinata yang sekarang ini tak ubahnya melihat iblis pembunuh yang sesungguhnya, yang dengan yakin akan membunuh siapa saja tanpa sedikitpun keraguan, tanpa perlu berpikir lagi, dan tanpa memikirkan sedikitpun apa akibatnya.

Seperti itukah? Begitukah yang akan terjadi jika telah kehilangan seseorang yang amat dicintai, seseorang yang menjadi poros hidup?

Walau terlihat mengerikan, Azazel berusaha agar tidak terintimidasi.

"Nah Uzumaki Hinata. Apa yang ingin kau lakukan sekarang?" Kedua tangan Azazel terangkat seakan ingin menyambut sesuatu. "Balas dendam? Membunuhku?"

Tanpa perlu Hinata mengatakannya pun, jawabannya sudah pasti.

Amarah Hinata meluap-luap. Sungguh, ia sangat ingin menumpahkan semua amarah itu. Dan sasaran kemarahannya hanya satu, tak ada yang lain selain Azazel, si orang tua berotak busuk.

"Oke. Akan aku hadapi!" Azazel merasa dirinya tertantang, "Absolute Order aktif! Uzumaki Hinata, bunuh semua orang di belakangmu!"

Sontak Dieuhauser bersiaga, pun dengan semuanya.

Apa-apaan perintah Azazel itu!?

Apa orang tua itu ingin Hinata membantai mereka semua di tempat ini?

Hinata memiliki kesanggupan untuk melakukannya. Tapi...

Tapi setelah beberapa detik terlewat.

"Haaaaah, tidak mempan lagi rupanya." Azazel mendesah.

Ya, tidak ada reaksi apapun dari Hinata. Tubuhnya bahkan belum bergerak.

"Aku tidak akan terkena hal yang sama dua kali."

Azazel sudah dapat menarik suatu kesimpulan. "Aku tidak terkejut. Ada teori sederhana yang setidaknya mampu menjawab keanehan ini. Kenapa Absolute Order tidak mempan padamu lagi, padahal tadi bisa. Kenapa bisa begitu?"

Tak ada yang peduli dengan pertanyaan Azazel.

Lalu dijawabnya sendiri, "Karena makhluk empat dimensi seperti dirimu tidak terikat dengan dimensi ruang fisik. Itulah sebabnya Absolute Order tidak bisa menargetkanmu, Uzumaki Hinata. Sama seperti serangan secara normal, kemampuanku juga perlu memilih target untuk memanipulasi kehendak dalam hatinya, dan tidak mungkin makhluk hidup yang tak terikat dimensi ruang fisik bisa ditargetkan selayaknya makhluk hidup biasa. Sekarang kekuatan matamu telah aktif, terbukti dari iris matamu yang berubah. Berbeda dengan tadi saat matamu belum kau aktifkan sehingga Absolute Order sukses menargetkanmu."

Hanya Hinata sebagai makhluk empat dimensi yang tidak terkalahkan diantara mereka.

Jelas sudah apa kelemahan Absolute Order. Sebagaimana tipe serangan sihir dan fisik pada umumnya, perlu bagi teknik itu menentukan target. Tapi ironisnya makhluk empat dimensi tidak bisa di targetkan.

Kekuatan terhebat Azazel dapat dipatahkan dengan begitu mudah bahkan tanpa perlu berusaha keras, meski hanya oleh Hinata seorang saja.

Tapi itu sudah lebih dari cukup. Satu orang Hinata lebih dari cukup untuk menghentikan Azazel.

Hinata maju selangkah, sontak Azazel mundur tiga langkah. Nyawa Azazel jelas sedang terancam.

Tapi...

Shuut!

Braakk!

Seseorang lagi datang dari atas, menghentakkan kakinya ke lantai hingga retak. Yang datang sesosok laki-laki bersurai hijau dengan pakaian khas petinggi kerajaan.

"Kelihatannya kau perlu bantuanku, Azazel."

"Tentu saja, Maou Ajuka Beelzebub. Kau datang di waktu yang tepat."

Ajuka tidak datang sendiri, dia bersama seorang perempuan bersurai biru. Perempuan itu bukan iblis apalagi manusia. Dari auranya saja, langsung ketahuan kalau dia adalah seekor naga. Perwujudan dari Raja Naga terkuat diantara lima Dragon-King, Tiamat.

Sona dan yang lainnya mungkin terkejut melihat Maou Ajuka tiba-tiba saja ikut serta di panggung Agreas ini, tapi tidak dengan Diehauser. Pemuda itu sudah bertemu dengan Maou Ajuka di salah satu lorong bawah tanah tepat ketika ia baru saja sampai di Pulau Langit Agreas ini. Bahkan hampir saja mereka berdua saling bentrok karena masalah Evil Piece Bidak Raja dan Cleria Bellial adik sepupunya.

Ya, Dieuhauser sadar kalau Ajuka sudah sejak awal berada di sini dan hanya menunggu momen yang tepat untuk muncul. Dan, sekaranglah saatnya.

Kekuatan kubu Azazel bertambah lagi. Saat ini, kelompoknya mungkin tidak terhentikan meski kalah jumlah. Apalagi Trihexa yang sudah bangkit dikendalikan sepenuhnya oleh Azazel.

Ajuka balik menatap Hinata, "Aku punya urusan denganmu, Ojou-san. Ada dendam yang harus kuselesaikan."

Hinata bisa mengingatnya. Ajuka pernah ia kalahkan sekali dan tentu saja itu menjadi sesuatu yang tak terlupakan bagi Maou itu. Ajuka pasti sudah menunggu-nunggu saat ini.

Hanya saja...

"Sayangnya aku tak punya waktu meladenimu" sergah Hinata. Sorot mata tajam Hinata membuat Ajuka sedikit bergidik ngeri, "Kau akan kukalahkan secepatnya, kemudian Azazel. Setelahnya, dengan cara apapun aku akan menangkap Trihexa, mendapatkan keempat komponen Matrix, lalu dengan menggunakan Cube aku akan pergi ke awal mula penciptaan, The Beginning of Creation."

Hinata mengatakannya secara gamblang, seakan ia merasa melakukan semua itu sangatlan mudah semudah membalikkan telapak tangan.

Selanjutnya, Hinata bisa menjadi Makhluk Lima Dimensi. Dengan itulah, ia akan mengendalikan semuanya di Multi-verse ini. Hidup, mati, dan takdir tidak lepas dari genggamannya. Jika pun dia ingin, menghidupkan Naruto yang telah mati akan jadi perkara mudah.

Pada akhirnya, Hinata akan mengakhiri cerita ini dengan tangannya sendiri. Tanpa bantuan suaminya lagi.

Tapi...

Tapi benarkah rencananya akan berjalan semulus itu?

Tak perlu bicara lagi, Hinata langsung menyerang. Sebilah kunai yang berlumur darah suaminya ia lemparkan tepat ke kepala Ajuka.

Pada sudut pandang khusus, pola bintik cahaya bimasakti pada iris mata Hinata mulai berputar. Ia mengaktifkan kemampuan ketiga The True Tenseigan, manipulasi waktu Time Extra.

Kembali ke sudut pandang normal, semua orang terkejut melihat keanehan yang terjadi, fenomena anomali realitas.

Hinata tadi melemparkan kunai hingga hampir sampai ke wajah Ajuka, tapi tiba-tiba saja kunai itu hampir mengenai wajah Hinata. Beruntung Hinata sempat menangkapnya sehingga ia tak terluka.

Ekspresi Hinata menunjukkan kalau ia tak bisa menerima kenyataan ini. Ia seakan baru saja melihat sesuatu yang sangat mustahil baginya, sesuatu yang tak bisa diterima oleh akalnya.

Ajuka tertawa bersama seulas senyum seringaian, "Bagaimana Ojou-san? Kau sangat terkejut eh?"

Tanpa ditanyakan pun, raut muka Hinata sudah menjawabnya.

"Penelitianku membuahkan hasil, hipotesisku benar. Kini aku sudah menemukan cara bergerak dalam dunia dimensi keempat milikmu."

Bagaimana mungkin?!

Semua orang bertanya-tanya dalam hati. Teknik Time Extra yang hanya bisa dilakukan oleh makhluk empat dimensi, sekarang telah ditemukan kelemahannya oleh Ajuka.

Maou Ajuka Beelzebub! Tidak salah kalau orang-orang menyebutnya sebagai jenius luar biasa.

Sekarang, akan seperti apakah tindakan Hinata?

Setelah kemampuan terbaiknya dikalahkan, dengan apa lagi ia akan mengakhiri semua ini?

Sedangkan suaminya telah tiada, Naruto sudah tewas, dia lah yang membunuhnya dengan tangannya sendiri.

Di saat-saat seperti ini, yang tersisa hanyalah lantunan harapan dan do'a yang mungkin akan merubah keadaan.

'Hinata, semoga takdir baik berpihak kepadamu?'

.

.

-Bumi-

Ada yang aneh dengan bumi, dunia tempat berpijaknya kaki manusia yang tidak tahu menahu tentang makhluk supranatural dan perang dahsyat diantara mereka.

Apa yang aneh?

Ialah karena bumi tidak lagi berbentuk bulat.

Jika kau berada di luar angkasa maka kau pasti akan menyadarinya.

Bumi sudah kehilangan 35% massanya, dan tak satupun manusia yang menyadari itu.

Samudera Hindia telah hilang, juga sebagian Samudera Atlantik sebelah selatan. Benua Afrika hingga semenanjung arab pun telah tidak ada lagi. Hal yang sama juga terjadi pada benua Amerika Selatan. Benua antartika di kutub selatan bahkan telah lebih dahulu hilang.

Dan atas apa yang terjadi terhadap bumi itu, tak satupun makhluk yang menyadarinya.

Void.

Fenomena kehancuran itu menjelaskan segalanya.

Kerusakan Cardinal System sudah sangat parah sehingga kiamat yang sesungguhnya sudah mencapai universe ini. Kerusakan tersebut dimanifestasikan dalam bentuk fenomena alam yang disebut Void berbentuk bola raksasa. Void adalah fenomena alam rumit yang terjadi melalui peristiwa kehampaan. Tidak bisa dibayangkan seperti apa wujud Void itu, mungkin mirip dengan lubang hitam atau Black Hole di ruang angkasa. Sifat void yaitu menfana'kan atau membinasakan segala sesuatu yang ada. Sifat ini tidak sesederhana kata menghancurkan. Sesuatu baik yang hidup ataupun yang mati jika ditelan oleh Void, akan hilang wujudnya sampai pada tingkat esensi realitas. Kau bisa menganggap, apapun yang ditelan void sebagai suatu yang tak pernah ada ibarat dilupakannya mimpi setelah terjaga dari tidur.

Mimpi hanyalah khayal belaka, tidak nyata dan tidak ada.

Lalu bagaimana jika yang 'tidak ada' itu hilang atau hancur atau dilupakan?

Itu hanya akan menjadi sesuatu yang tak 'memberi bekas'.

Tidak hanya bumi saja. Banyak tempat-tempat mitologis yang juga telah lenyap. Svartalheim, Muspellheim, Vaneheim, Olympus bagian barat, Gunung Mahameru, Takamagahara bagian timur, Kerajaan Ghaib Laut Selatan, Waikhunta tempat persemayaman Dewa Vhisnu dan puncak Gunung Kailash tempat persemayaman Dewa Shiva, sebagian wilayah Underworld diantaranya teritori keluarga iblis Balam, Forneus, Bune, Sabnock, Andrealpus, dan sebagian lagi wilayah Grigori. Selain itu masih banyak lagi tempat-tempat lainnya.

Dan menurut perhitungan yang Hinata lakukan menggunakan Cube, batas waktu sampai Cardinal System benar-benar runtuh sehingga kiamat usai tersisa hanya 6 jam lagi.

6 jam. Waktu yang tersisa untuk mengakhiri perang besar dan bagi Hinata untuk menyelesaikan misi besarnya tanpa bantuan Naruto.

.

.

.

To be Continued...

.

Note : Emm, apa yah?

Gini, kan udah aku ungkapkan kalau cerita ini bentar lagi akan tamat jadi yaa aku beritahu, chapter depan atau depannya lagi akan jadi chapter penghujung untuk perang malam hari. Setelah itu, kita lanjut ke sesi terakhir perang. Okeh?

Jujur aku katakan, kalau ditelisik lebih dalam memang nuansa perang malam dan siang hari sangat berbeda. Dari chapter 76 sampai 80 adalah bagian perang siang hari yang dominan dengan pergerakan pasukan berjumlah besar, sedangkan kelanjutannya 84 sampai chapter ini adalah bagian perang malam hari yang di dominasi pertarungan antar individu (yang pada alur ini kutulis bercampur dengan bagian NaruHina dan Trihexa di Pulau Agreas). Pertarungan antar individu pun cenderung kubuat antar karakter sampingan seperti yang sudah-sudah. Tujuanku bukan untuk memperpanjang cerita, tapi untuk membuat semua bagian cerita menjadi utuh sehingga tidak ada yang tertinggal bahkan jika itu hanya pemeran sampingan.

Sekarang aku katakan kalau peran-peran karakter sampingan sudah habis, Yato yang terakhir. Mungkin hanya menyisakan debut Akemi Homura sedikit lagi, lainnya akan fokus ke tokoh-tokoh yang lebih populer cerita ini. Ada Lee, formasi InoShikaChou, Kakashi, Tsunade, dan anggota Dewan Perang yang lain, bahkan Sasuke yang kesemuanya belum mendapat adegan di panggung utama. Oh ya, 1 juta malaikat kloning yang disebut-sebut sejak chapter 33 juga belum beraksi bukan?

Oleh karena itu, kita kelarkan dahulu urusan Trihexa yang entah dengan bagaimana Hinata mengakhirinya tanpa sang suami. Dan booom, semua konflik yang mencapai klimaks akan berkumpul di satu titik.

Eh tapi, kalau kalian ada ingat bahwa aku melupakan salah satu karakter meski karakter hanya sampingan, bilang aja di kolom review. Biar aku tuntaskan daripada dibiarkan akan menjadi plothole.

Sudah, itu aja untuk kedepannya.

Sedang untuk chapter ini, di awal aku suguhkan kenyataan yang seringkali terjadi dalam perang yakni tentang pengkhianatan. Lalu debut Akemi Homura yang nampaknya overpower juga sudah. Magic Demolition, Atomic Disintegration, dan Material Burst yang Akemi Homura gunakan sebenarnya bukan teknik yang woow, bahkan Baraqiel dkk sudah tahu kelemahan teknik itu. Lagipula Sirzech dan orang-orang lainnya apalagi Naruto bisa melakukan sesuatu lebih luar biasa dari itu. Hanya saja karena teknik pendukungnya yang merupakan kemampuan asli Akemi Time Accelerator, gadis kecil itu menjadi sangat kuat. Akhir dari pertarungan Gaara juga sudah, lalu bagian paling akhir dari chapter ini adalah...

Naru udah mati.

Hinata tersisa sendiri.

Bahka yang paling buruk, Ajuka mampu memecahkan teori dibalik kemampuan Time Extra.

Bagaimana ini?

Ulasan Review:

Pertama, terima kasih. Yah, harus jujur kuakui kalau skill menulisku masih sangat amatiran, jadi aku menggunakan otakku untuk menonjolkan Logic Thingking cerita. Hanya itu yang kupunya untuk membuat apa yang kutulis berbeda dari Author-Author lain.

Jangan kecewa ya, Azazel harus dibuat begitu. Agar dia bisa dianggap kuat dan berdiri sejajar dengan petinggi lainnya. Tapi toh ternyata setelah Hinata mengaktifkan The True Tenseigan, Absolute Order-nya Azazel jadi ga guna juga. Hahahaaa.

Azazel berfirman, paakk lu ah. Gimana sih ngasih nama? Hihihiii. Lagian untuk kekuatan Azazel aku ada teorinya sendiri, ga sembarangan niru anime lain. Tuh diatas jelaskan, teorinya bahkan aku kaitkan dengan konsep teologi.

Ajuka pun juga? Penarasan bagaimana Ajuka mampu memecahkan misteri makhluk empat dimensi eh? Chap depan lah yauw.

Akemi dikatain downgrade? Hihiii, untuk anda yang cukup tahu banyak tentang Akemi Homura mungkin sepakat dengan itu tapi aku tak bisa memakai semua kemampuan aslinya dalam FF ini, entar malah dia jadi tuhannya lagi. Hahaaa. Jadi aku ubah saja, kemampuan aslinya termasuk pula dengan persenjataanya. Kurasa sudah sangat pas porsinya, tidak berlebihan meskipun pada debutnya diatas sedikit ia terlihat overpower.

Oh ya, orang yang sebut-sebut drama di tengah peperangan itu, hahaaa. Dikasih bumbu biar lebih sedap.

Eeaaak, untuk yang nebak bahwa yang diserap oleh Trihexa adalah Ophis palsu. Ogah banget aku jawab sekarang. Tunggu aja nanti. Dan seandainya itu Ophis memang palsu, apa anda bisa membuat teorinya? Bagaimana membuat Ophis palsu yang sama persis kekuatan dan rupanya dengan Ophis asli meski kejiwaanya rusak?

Ada yang bilang, kalau ngerasa bingung karena kok ada karakter yang status hidup matinya ga jelas. Kemarin tewas eh sekarang disebut-sebut masih hidup? Hihiii, ayoo pikrikan!

Artefak komponen Matrix yang sebelumnya udah didapat ga bisa digunain untuk perang, itu bukan benda fisik tapi material asli dari Cardinal System. Oh iya satu lagi, Universe lain udah banyak yang hancur loh. Dari chapter jauh sebelumnya udah aku ungkapkan kalau keruntuhannya udah lebih dari 50%.

Happy Ending atau Sad Ending? Eeh, bagaimana kalau tidak keduanya?

Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

.

.

.