Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Kamis, 14 Juni 2018

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . .

Ekspresi Hinata menunjukkan kalau ia tak bisa menerima kenyataan ini. Ia seakan baru saja melihat sesuatu yang sangat mustahil baginya, sesuatu yang tak bisa diterima oleh akalnya.

Ajuka tertawa bersama seulas senyum seringaian, "Bagaimana Ojou-san? Kau sangat terkejut eh?"

Tanpa ditanyakan pun, raut muka Hinata sudah menjawabnya.

"Penelitianku membuahkan hasil, hipotesisku benar. Kini aku sudah menemukan cara bergerak dalam dunia dimensi keempat milikmu."

Bagaimana mungkin?!

Semua orang bertanya-tanya dalam hati. Teknik Time Extra yang hanya bisa dilakukan oleh makhluk empat dimensi, sekarang telah ditemukan kelemahannya oleh Ajuka.

Maou Ajuka Beelzebub! Tidak salah kalau orang-orang menyebutnya sebagai jenius luar biasa.

Sekarang, akan seperti apakah tindakan Hinata?

Setelah kemampuan terbaiknya dikalahkan, dengan apa lagi ia akan mengakhiri semua ini?

Sedangkan suaminya telah tiada, Naruto sudah tewas, dia lah yang membunuhnya dengan tangannya sendiri.

Dan menurut perhitungan yang Hinata lakukan menggunakan Cube, batas waktu sampai Cardinal System benar-benar runtuh dan kiamat usai tersisa hanya 6 jam lagi.

6 jam bagi Hinata untuk menyelesaikan misi besarnya tanpa bantuan Naruto.

.

To The End of The World

Writen by Si Hitam

.

Chapter 90. Armageddon War, End of The World - Part 14.

.

-Arena Perang, Underworld. At 04.39 am-

Tempat ini merupakan pinggiran areal rawa yang berbatasan dengan hutan semak di kaki gunung. Letaknya di arah barat laut Kota Lilith yang merupakan pusat pemerintahan Teritori Iblis Gremory. Jaraknya sekitar 82 km dari kota itu, dimana markas Aliansi Tiga Fraksi berada.

Yasaka, sang Ratu Youkai yang memerintah seluruh Kyoto sedang berada di sini.

Sebagai salah satu anggota Dewa Perang, tidak seharusnya dia terjun langsung ke medan perang seperti ini. Bahkan itu melanggar kesepakatan persekutuan Konoha-Kyoto karena membahayakan nyawa sang Ratu sehingga rentan menimbulkan perpecahan antara kedua pihak.

Tapi...

Ini pengecualian.

Bermula dari permintaan khusus Yasaka sendiri kepada semua anggota Dewan Perang. Permintaan itu enggan dituruti, tapi dia berhasil meyakinkan semuanya sehingga bisa mengantongi ijin. Oleh karena berbahaya bagi Yasaka ke tempat ini sendirian, sehingga seseorang yang cukup berkompeten ditugaskan untuk menemaninya. ialah Tsunade Senju.

Entah bagaimana hal itu diputuskan? Seharusnya kan tugas pengawalan diberikan kepada prajurit terbaik, tapi ini malah melepaskan dua anggota Dewan Perang sekaligus ke arena perang.

Aneh!

Pikiran wanita macam mereka memang sulit ditebak, terlebih kedua wanita berambut pirang ini sama-sama licik. Yang satu rubah betina penghasut yang satunya lagi nenek-nenek pemalsu tubuh. Satu lagi kesamaan mereka, yaitu sama-sama memiliki dada berukuran bombastis.

Cukup sampai di sini saja, tak perlu membahas lebih jauh sebab musabab dua wanita tersebut berada di tempat ini. Fokus pada 'untuk apa mereka di sini?'.

Kemudian entah dari mana dua sosok makhluk ghaib berpenampilan aneh dan tak biasa menyambangi kedua wanita itu.

Laki-laki yang tubuhnya kerdil berkulit hitam legam tanpa pakaian memberikan salam hormat lalu bicara, "Yang Mulia Ratu, saya kembali dan melapor bahwa tugas telah sukses dilaksanakan."

Yasaka melihat-lihat penampilan laki-laki itu dari atas sampai bawah berulang-ulang kali. Meski sudah pernah melihat orang ini sebelumnya, tapi ia seakan tak bosan-bosan. Lucu di matanya, lucu sangat. Laki-laki kerdil itu memiliki perut buncit dan hanya memakai cula badak jantan muda yang dihias ukiran sebagai penutup batang kelaminnya sehingga kantong zakarnya jelas terlihat. Seandainya tanpa penutup itu, dapat dikatakan orang ini sedang telanjang bulat. Ah, jangan lupakan juga aksesoris berupa kalung maupun tindikan di hidung dan daun telinga yang terbuat dari tulang dan taring hewan.

Tsunade sampai mendesah mual akibat tingkah memalukan Yasaka. Ratu macam apa dia itu?

"Ummm, bagus." Yasaka menyadari kalau kelakuannya sama sekali tidak sopan. Segera ia perbaiki sikapnya, "Berkat kerjasama kalian, peluang untuk mengalahkan Aliansi Tiga Fraksi semakin meningkat. Meski peningkatannya sedikit, tapi tetaplah memiliki arti." Yasaka menjawab dengan penuh wibawa. "Kami berterima kasih karena kalian mau mengerti."

Makhluk yang satunya lagi menyambungi, "Ah, tidak. Ratu tidak perlu berterima kasih pada kami. Sudah semestinya inilah yang kami lakukan. Kami memiliki harga diri, tak sudi harga diri kami diinjak-injak oleh para makhluk sombong serakah itu."

Rupa badan makhluk yang satu ini juga tidak mirip manusia. Tidak ada ciri tubuh humanoid selain kepala dan tangan, itupun kemiripannya sangat rendah karena terdapat insang dan sirip serta gigi-gigi kecil runcing yang sangat banyak. Bagaimana ya menyebutnya? Dia itu manusia ikan atau ikan yang mulai bertransformasi menjadi manusia. Hebatnya, meski tanpa kaki ia bisa berjalan di daratan.

Kedua laki-laki itu adalah pemimpin dari golongan masing-masing. Merekalah kapten pasukan makhluk ghaib dari mitologi minor yang sudah ditaklukkan oleh Aliansi Tiga Fraksi sebelum perang dimulai. Si kerdil hitam dari mitologi kepercayaan salah satu suku di Kenya, Afrika. Sedangkan si manusia ikan berasal dari mitologi kepercayaan penduduk kepulauan Oceania di Samudra Pasifik bagian barat.

Mereka adalah pimpinan dua kompi pasukan ekstra dari mitologi minor yang dipaksa oleh petinggi Aliansi Tiga Fraksi untuk ikut berperang. Mereka lah yang mengkhianati batalion pasukan Aliansi yang dipimpin oleh Angelica dan Eneely Vassago lalu membuatnya masuk dalam perangkap.

Tsunade menujukkan sikap yang lebih baik dan santun, "Untuk alasan yang sama dengan kalianlah, kami mengangkat senjata dan melawan mereka. Sebagai anggota Dewan Perang, aku tahu banyak situasi sekarang dan aku sadar kalau kemenangan masih terlampau sulit diraih."

Si kerdil hitam legam tersenyum tipis, memperlihatkan kilat cahaya dari giginya yang putih bersih. "Ya, kami mengerti. Karena itulah, kami akan terus berusaha sekuat tenaga."

Ekspresi wajahnya menunjukkan kalau meskipun kalah bahkan sampai terbunuh asal masih bisa mempertahankan harga diri, itu lebih baik daripada menjadi budak Aliansi Tiga Fraksi.

"Bukan bermaksud pesimis. Untuk sekarang kami tidak bisa menjanjikan kemenangan."

"Tak apa." si manusia ikan memaklumi. "Dengan begini saja, kami sudah bisa menjadi diri sendiri lagi."

Yasaka bertepuk tangan sekali, "Sudah-sudah. Kita cukupkan pembahasan ini, ayooo kita berjuang lagi! Masih banyak batalion bantuan pasukan musuh yang harus kita habisi!"

"Baik!"

"Laksanakan!"

Kabooooommmmm!

Keempatnya sontak menoleh, melihat ke arah sumber ledakan besar yang terjadi tak terlalu jauh dari posisi mereka.

Tsunade tersenyum senang setelah mendengar informasinya dari markas pusat lewat saluran komunikasi Ino Yamanaka. "Satu lagi batalion pasukan musuh yang berhasil dihabisi. Jumlah mencapai 4000 personel."

Yasaka memberi intruksi, "Ayoo, kita berangkat ke titik lain!"

Setelahnya, keempat orang itu pun pergi. Masih ada banyak pekerjaan yang harus mereka tuntaskan.

Ringkas kata begini lah yang terjadi.

Yasaka yang telah mengetahui komposisi pasukan Aliansi, yang mana terdapat prajurit yang berasal dari mitologi minor, tiba-tiba mendapatkan ide untuk mengacak-acak formasi dan kekuatan pasukan musuh. Dirinya, sebagai pemimpin salah satu mitologi di dunia ini paham betul bagaimana rasanya dipaksa tunduk kepada negri lain. Setiap pemimpin atas wilayah dan penduduk yang berdaulat, pastinya tidak akan sudi harga dirinya diinjak-injak dan dijadikan boneka oleh siapapun.

Karena itulah, Yasaka mengajukan usul kepada Dewan Perang untuk menarik para boneka Aliansi itu ke pihak mereka. Timbul perdebatan yang cukup panjang karena taktik ini peluang keberhasilannya rendah apalagi dilakukan dalam waktu singkat pada saat perang sedang berkecamuk dengan hebatnya, terlebih Yasaka sendiri lah yang akan terjun langsung. Namun akhirnya disetujui dengan catatan Tsunade juga ikut serta.

Ternyata hasilnya diluar dugaan. Yasaka secara alamiah sebagai rubah yang ahli mengendap-ngendap berhasil masuk kedalam barisan pasukan musuh, dengan cara menyamar atau cara apapun, ia lalu mencari target pimpinan dari mitologi minor, mengajaknya bicara, memprovokasinya, sampai akhirnya berhasil menarik orang itu berpihak kepadanya. Kelihaian Yasaka dalam menghasut orang lain memang tiada dua.

Yang pertama memang agak sulit. Tapi setelah berhasil dengan satu orang, seperti reaksi berantai, satu membelot akhirnya satu persatu pimpinan lainnya dari pasukan mitologi minor itu berganti pihak, hingga semuanya malah sepakat satu suara bulat untuk melawan balik Aliansi Tiga Fraksi.

Selanjutnya, bersama Tsunade ia memikirkan taktik dan merancang perangkap untuk melumat tiap batalion-batalion pasukan Aliansi yang terpencar-pecar di seluas daratan medan perang di wilayah teritori keluarga Iblis Gremory ini. Tentunya dengan bantuan komando dari markas pusat untuk menggerakkan 3500 personel pasukan yang tergabung dalam pergerakan batalion penghasut ini, dengan Yasaka sendiri lah sebagai pemimpinnya.

Hasilnya cukup memuaskan, tidak sedikit batalion pasukan Aliansi Tiga Fraksi yang berhasil ditumpas. Meski secara keseluruhan tidak signifikan pengaruhnya pada daya gempur pasukan Aliansi di Tanjung Harapan, tapi setidaknya dengan cara ini akan mengurangi bahkan meniadakan pasukan bantuan yang Falbium butuhkan untuk terus menggempur pasukan Konoha dan sekutu-sekutunya secara kontinyu di Tanjung Harapan.

.

.

-Arena Perang, Underworld. At 04.48 am-

Maou Falbium Asmodeus adalah panglima perang tertinggi pasukan Aliansi, sehingga sudah sewajarnya dia mengamati peperangan dari belakang, yang mana ia bertugas mengatur pergerakan semua pasukan Aliansi melalui komandonya.

Kini, berdiri berdampingan dengan Zekram Bael, sang Maou menatap lurus ke arah titik pusat pertempuran. Gerbang Teleportasi Gate of Sun di Tanjung Harapan yang merupakan pintu masuk ke markas Konoha dan sekutu-sekutunya. Gelapnya malam sama sekali tak menghalangi penglihatannya, bahkan sinar sang fajar seperti sudah tampak akibat ada banyak titik-titik api dan cahaya ledakan yang berhamburan di sana-sini akibat baku hantam teknik sihir.

Setelah Uchiha Sasuke keluar lalu menggunakan jutsu terbaiknya -panah petir Indra no Ya- yang berhasil menewaskan 100 ribu lebih pasukan Aliansi, Falbium tak lantas gentar dan menyerah. Ia malah semakin semangat bertempur. Kini sisa-sisa pasukan Aliansi yang terpencar-pencar di seluas daratan medan perang telah berhasil mencapai tempat ini dalam waktu singkat bagai semut mengerubingi setumpuk gula sebagai bala bantuan dan pengganti 100 ribu pasukan yang telah tewas.

Selain itu, masih ada 17 iblis pengguna Evil Piece Bidak Raja yang kekuatannya selevel dengan Maou, 1500 pengguna replika pedang suci legendaris, serta 2000 pengguna Sacred Gear Longinus buatan Boosted Gear dan Divine Dividing. Pasukan tempur khusus inilah yang membuat Konoha hampir kehabisan akal untuk bertahan.

Sekarang gempuran makin hebat, Falbium menyakini kalau Uchiha Sasuke tidak akan bisa lagi menggunakan jutsu pemusnah yang sama karena jutsu itu memerlukan suplai tenaga yang sangat banyak. Ya, setidaknya untuk beberapa waktu kedepan yang mana akan ia manfaatkan sebaik-baiknya untuk mengalahkan Konoha secepat mungkin.

"Falbium, kau tidak keberatan bukan kalau aku ikut bertempur sekarang?"

Yang ditanya menoleh, "Zekram-dono, anda boleh melakukan apa saja sekehendak hati anda. Saya percaya, apapun yang akan anda lakukan adalah yang terbaik demi kemenangan Aliansi."

"Hahahaaa, kau terlalu melebih-lebihkan."

Bukan melebih-lebihkan, tapi itulah kenyataannya. Bagi Falbium yang merupakan iblis generasi muda, Sang Raja Agung Zekram Bael adalah sosok yang paling dihormati. Apalagi sudah jelas kalau Zekram memiliki kualifikasi dan kemampuan untuk mewujudkannya.

Sejurus kemudian Zekram pun pergi, kembali lagi Falbium mengamati peperangan di depan matanya.

Cukup jauh di depan sana, ada 30 prajurit pengguna Sacred Gear Longinus buatan Boosted Gear dan Divine Dividing dalam mode Balance Breaker Scale Mail dan 20 exorcise pengguna replika pedang suci legendaris yang sedang bertarung keroyokan melawan seorang shinobi Konoha penunggang anjing besar. Dia memiliki sepasang tato segitiga berwarna merah di kedua pipinya.

Falbium sedikit tertarik dengan gaya bertarung pemuda itu, yang bertarung dengan menunggang anjing raksasa bak monster setinggi 4 meter dilengkapi zirah perang yang berfungsi tidak hanya sebagai baju baja pelindung tapi sekaligus sebagai senjata kelas berat.

Heavy Weapon Suite yang anjing itu kenakan berdesain futuristik, bagian helm membungkus kepala si anjing hingga hanya menyisakan lubang untuk rongga mata, helm ini memberikan taring tajam tambahan pada rahangnya. Cakar-cakarnya jauh lebih panjang dan tajam karena berlapis logam keras. Pada beberapa bagian terdapat Jetbooster untuk akselerasi tinggi dan manuver tajam, ada pula laras gatling yang menembakkan amunisi kaliber besar, bahkan misile launcher dan laser canon.

Samar Falbium dengar di telinganya yang peka pemuda itu menyebutkan namanya sendiri -Inuzuka Kiba serta nama anjingnya yaitu Akamaru. Panglima Perang Aliansi itu bergumam, "Hm, biar kutebak. Untuk perlengkapan perang semacam itu pasti pertama kali dia akan menggunakan meriam lasernya."

Sepertinya tebakan Falbium benar.

Tiga prajurit pengguna Boosted Gear buatan menembakkan Dragon Shot yang telah digandakan kekuatannya secara bersamaan. Untuk mengimbanginya, Kiba menembakkan meriam laser di pinggang Akamaru dengan output kekuatan yang setara.

Alhasil, dampak ledakan akibat pertemuan kedua serangan itu mampu menggetarkan daratan hingga kepulan asap dan debu membumbung tinggi.

"Lalu saat bidang pandang menjadi samar, dia akan membuat anjingnya mengamuk dan membantai pasukanku." Falbium menebak lagi.

Persis seperti yang Falbium katakan, memanfaatkan moment dimana 50 pasukan Aliansi kehilangan jarak pandang Akamaru menyerang secara brutal setiap prajurit Aliansi. Keuntungan dia miliki berkat penciuman yang tajam. Anjing itu mencakar bahkan menggigit setiap batang tubuh prajurit Aliansi yang dapat dijangkau. Para Exorcise kelas atas satu persatu tumbang, sekali terkena cakar Akamaru saja perut mereka sampai terkoyak. Bahkan yang menggunakan armor keras dari Balance Breaker Scale Mail Longinus Divine Dividing buatan sampai remuk karena gigitannya. Tidak cukup itu saja, sasaran yang tak terjangkau oleh cakar dan taring menjadi sasaran tembak amunisi kaliber besar dari laras gatling. Daya penetrasinya yang sangat kuat mampu menembus armor Scale Mail.

Mendapati situasi seperti itu, pasukan Aliansi yang tersisa mundur ke jarak aman untuk mendapatkan bidang pandang yang jelas, kebanyakan diantara mereka terbang di udara. Sedangkan Kiba dan Akamaru masih berada di dalam kepulan asap dan debu.

Falbium melanjutkan perkiraannya lagi dari posisinya sebagai penonton, "Pasti misil."

Tepat 100 %.

Belasan misil meluncur dari dalam gumpalan asap. Exorcise kelas atas dan pengguna Longinus buatan yang sedang mengudara langsung dibuat panik. Beberapa yang berada paling dekat tak mampu mengelak sehingga harus membiarkan tubuhnya terluka. Yang agak jauh melakukan manuver terbang lincah dan cepat, tapi itu tak membantu karena misilnya dilengkapi sensor pencari target. Kemanapun pergi, misil pasti akan mengejar. Tak pelak, hanya lima atau enam prajurit saja yang selamat tanpa luka karena sempat bermanuver tajam lalu balik memblokir serangan misil.

"Kemudian terakhir, dia mengeluarkan jurus pamungkasnya."

Saat kepulan asap telah bersih tersapu angin, tampak Kiba berdiri di atas punggung Akamaru. Ia membuat segel tangan yang familiar.

Kage Bunshin

Poofft.

Sebuah klon tubuh bayangan persis Kiba tercipta. Lalu...

Konbi Henge

Boooofffttttttt

Grooooooaaaaaaaarrrrrrr!

Yang nampak sekarang adalah serigala raksasa berkepala tiga lengkap dengan armor baja Heavy Weapon Suite.

Saatnya menyeraaaaaanggggg.

Oiga Gatenga

Ngiiiiiiiiiiiinnngggggg!

Sosok serigala raksasa berkepala tiga itu berputar dengan kecepatan tinggi. Ditambah lagi ada transformasi armor sehingga pada tepi putaran mengeluarkan bilah gerigi yang sangat tajam yang mampu memotong apapun. Itu semua ditingkatkan lagi daya rusaknya dengan Jetbooster agar menghasilkan daya dorong yang sangat kuat sehingga kecepatan putaran meningkat sampai 10 kali lipat. Lebih mengerikan lagi, efek api juga dihasilkan dari mekanisme itu.

Blaaaasstt!

Setiap batang tubuh terpotong-potong, terkoyak, dan hangus terbakar. Tak satupun dari pasukan elite khusus Aliansi yang mampu selamat. Mereka tidak sanggup menghindar dan lari sebab selain kecepatan putaran yang sangat tinggi, roda api mematikan itu juga mampu melesat lurus dengan kecepatan yang tak masuk akal. Yang nekat menahannya secara langsung, hanya badan remuk sampai tulang sebagai akibatnya.

Berkat pertumbuhan tubuh Akamaru yang sekarang mencapai lima kali lebih besar dari saat Perang Dunia Shinobi Keempat, serta dengan ditunjang fullset Heavy Weapon Suit, Kiba dan Akamaru mampu menciptakan serangan yang lebih powerfull dan berdamage besar dengan teknik-teknik ninja yang mereka miliki.

Tidak cukup menghabisi prajurit elit yang mengepungnya saja, jutsu kombinasi terkuat Kiba dan Akamaru juga menyasar dan melindas barisan pasukan Aliansi yang lainnya pada area yang lebih luas.

Beratus-ratus prajurit Aliansi mati dalam waktu kurang dari 60 detik dengan tubuh terkoyak-koyak dan hangus terbakar. Kiba dan Akamaru tampanya belum akan berhenti.

Kembali ke Falbium, ia mendesah bosan. "Tuh benar kan?"

Sang Panglima ini tampak tidak terlalu senang walau prediksinya benar. Dia mengakui bahwa apa yang dipertunjukkan Kiba dan Akamaru cukup mengejutkan, bahkan tergolong luar biasa karena dengan mudahnya membabat habis ratusan prajurit terbaik Aliansi.

Akan tapi bagi dia sendiri yang seorang Maou, itu tidak seberapa dibandingkan dengan kekuatan penuhnya. Ada hasrat dalam hatinya untuk memberaskan Kiba saat ini juga, tapi tidak semestinya bagi Panglima Perang untuk turun langsung mengatasi masalah seperti itu.

Jadi...

"Roygun Belphegor! Bedeze Abaddon!" Falbium memanggil lewat saluran komunikasi.

"Ya, panglima." jawaban dari keduanya terdengar bersamaan.

"Serahkan tugas kalian pada yang lain dahulu. Sekarang atasi ninja Konoha penunggang anjing yang sedang membantai pasukan kita!"

"Laksanakan!"

Jadi tugas membereskan Kiba mau tidak mau diserahkan kepada yang lain. Falbium sendiri yakin dengan kekuatan kedua orang itu. Mereka berdua adalah pemegang posisi kelas atas turnamen Rating Game, peringkat kedua dan ketiga, apalagi keduanya adalah pengguna Evil Piece Bidak Raja yang membuat statistik kekuatan mereka meningkat sampai seratus kali semula. Dengan itu saja pasti sudah cukup untuk membereskan Kiba.

Tapi...

"Oh ya!" Falbium bicara lagi sebelum memutus saluran komunikasi. Ia tampak seperti baru teringat sesuatu. "Sekalian ajak juga Tuan Vasco Strada. Biarkan dia menjaga belakang kalian karena penunggang anjing itu memiliki rekan yang tidak kalah berbahaya."

"Baik!"

Setelah menutup saluran Komunikasi, Falbium berbicara seorang diri. "Ya, aku memang tidak mengingat siapa namanya, tapi ninja pengguna serangga itu pastinya tidak bisa dianggap remeh. Orang itulah yang katanya berhasil membunuh salah satu dari sepuluh Seraphim Surga, Raguel."

Cukup dengan Kiba dan anjingnya, Falbium menilik ke titik-titik lainnya. Dia melihat ada seorang dewa yang ia ketahui namanya, Yatogami sang Dewa Bencana, juga sedang melakukan aksi pembantaian terhadap pasukan Aliansi Tiga Fraksi.

Sang panglima menyeringai sinis, dia tidak terkejut lagi kalau Mitologi Shinto yang katanya telah Dewa Ketua Odin taklukkan kini berkhianat dan balik melawan. Nanti, setelah memenangkan perang di titik ini melawan Konoha dan koalisinya, ia akan langsung memberangkatkan pasukan untuk membumi hanguskan seluruh Takamagahara, dunia langit tempat dimana para dewa Shinto tinggal.

Melihat situasinya, Falbium berpikir "Lebih baik biarkan saja. Lagipula dewa itu tak tampak bertarung dengan niat sunggug-sungguh." Dia tahu kalau kekuatan penuh The God of Calamity itu jauh lebih brutal dari ini. Mungkin sedang menyimpan kekuatan untuk pertarungan yang serius nanti. "Meskipun tidak sedikit pasukan Aliansi yang terbunuh olehnya, tapi tak apa. Masih banyak prajurit pengganti."

Sebenarnya, bukan itu alasan Falbium membiarkan Yatogami menyerang pasukannya tapi ia sendiri sedang kekurangan prajurit kuat yang kira-kira mampu mengatasinya. Zekram Bael yang baru saja pergi masih bertarung melawan Cao Cao dan Uchiha Sasuke. Yang lainnya pun sedang sibuk dengan musuh masing-masing.

Hanya menjadi penonton peperangan, membuat Falbium mengantuk. Matanya berkedip sekali.

Lalu...

"Hahahaaa, kau terlalu melebih-lebihkan." Zekram Bael tertawa renyah lalu pergi, turun langsung bertarung di garis depan.

Falbium terpaksa menonton seorang diri.

Ia melihat shinobi Konoha penunggang anjing sedang bertarung melawan 30 prajurit pengguna Sacred Gear Longinus buatan Boosted Gear dan Divine Dividing dan 20 exorcise pengguna replika pedang suci legendaris.

Hanya perlu sedikit berpikir analitis, ia cepat menduga kalau pasukannya akan kalah dan dibantai sampai habis oleh si penunggang anjing.

Terpaksa dirinya...

"Roygun Belphegor! Bedeze Abaddon!" Falbium memanggil lewat saluran komunikasi.

"Ya, panglima." jawaban dari keduanya terdengar bersamaan.

"Serahkan tugas kalian pada yang lain dahulu. Sekarang atasi ninja Konoha penunggang anjing yang sedang membantai pasukan kita!"

"Laksanakan!"

"Oh ya!" Falbium bicara lagi sebelum memutus saluran komunikasi. Ia tampak baru teringat sesuatu. "Sekalian ajak juga Tuan Vasco Strada. Biarkan dia menjaga punggung kalian karena penunggang anjing itu memiliki rekan yang sangat tidak kalah berbahaya."

"Baik!"

Lalu matanya menatap ke arah Yatogami. Namun ia tak mau pusing, biarlah pasukannya mati satu persatu oleh dewa bencana itu. Lagipula jumlah yang tewas tidak mencapai angka yang perlu dikhawatirkan.

Di titik lain, dapat ia lihat seorang pria paruh baya yang tampak seumuran dengan dirinya juga sedang bertarung. Pria beralis tebal dengan pakaian hijau ketat itu mampu menahan serangan puluhan pasukan Aliansi seorang diri meski hanya bertarung dari atas kursi roda.

Falbium merasa mengantuk, ia mengucek matanya.

Dan ia melihat sekelom0ok pasukan elite khusus sedang mengepung shinobi Konoha penunggang anjing.

"Hm, biar kutebak. Untuk perlengkapan perang semacam itu pasti pertama kali dia akan menggunakan meriam lasernya."

"Lalu saat bidang pandang menjadi samar, dia akan membuat anjingnya mengamuk dan membantai pasukanku."

"Selanjutnya pasti misile."

"Kemudian terakhir, dia mengeluarkan jurus pamungkasnya."

Saat kepulan asap telah bersih tersapu angin, tampak Kiba berdiri di atas punggung Akamaru. Ia membuat segel tangan yang familiar.

Kage Bunshin

Poofft.

Sebuah klon tubuh bayangan persis Kiba tercipta. Lalu...

Konbi Henge

Boooofffttttttt

Grooooooaaaaaaaarrrrrrr!

Yang nampak sekarang adalah serigala raksasa berkepala tiga lengkap dengan armor baja Heavy Weapon Suite.

Saatnya menyeraaaaaanggggg.

Oiga Gatenga

Ngiiiiiiiiiiiinnngggggg!

Sosok serigala raksasa berkepala tiga itu berputar dengan kecepatan tinggi. Ditambah lagi ada transformasi armor sehingga pada tepi putaran mengeluarkan bilah gerigi yang sangat tajam yang mampu memotong apapun.

Blaaaass!

Dhuuuuaaarrrr.

Tidak ada yang tersisa dari pasukan elite khusus Aliansi Tiga Fraksi.

Tebakan Falbium 100% akurat, tapi dia merasa ada yang aneh,

ia mulai menyadari sesuatu.

"Kenapa aku bisa menebak teknik si penunggang anjing itu dengan akurat 100% tanpa aku kesulitan berpikir?" Falbium bertanya kepada dirinya sendiri. "Tidak! Tidak! Tidak!. Malah aku merasa tidak perlu berpikir, ucapanku tadi terasa seperti meluncur begitu saja."

Falbium mengamati lagi ke sekeliling. Sekeras apapun ia berpikir, tak ada jawaban atas keanehan yang ia rasakan.

Lelah dengan itu, Falbium mulai mengantuk dan memejamkan mata cukup lama.

Ia mengembuskan nafas lelah yang panjang, lalu lanjut dengan tugasnya sebagai Panglima Perang.

Falbium menyadari kalau Zekram yang sejak tadi berada di sampingnya baru saja pergi untuk bertarung di garis depan. Ia juga melihat di sana ada shinobi penunggang anjing, Yatogami sang dewa bencana, pria paruh baya beralis tebal yang bertarung dari atas kursi roda.

Dan banyak lagi hal-hal lain, titik lain, kejadian lain yang ia lihat.

Ada suatu perasaan khusus saat melihat semua hal itu. Falbium tidak terkejut melihat apa yang sedang terjadi, ia merasa pernah melihatnya, pernah mengalaminya.

Falbium memijit pelipisnya karena rasa pusing yang mendera kepala.

Matanya memejam sebentar untuk mencari ketenangan.

"Falbium!"

"Ah, Zekram-dono." Sang Panglima sedikit tersentak karena panggilan Sang Raja Agung yang berdiri disampingnya.

"Kau sakit?"

Falbium menggeleng.

"Baiklah. Kalau begitu aku pergi duluan. Sebagai panglima perang, kau cukup disini dan kemenangan pasti akan kami antarkan."

Falbium mengangguk dan membiarkan Zekram pergi.

Sang Panglima perang mengamati benar-benar ke arah peperangan yang tengah berkecamuk.

Entah kenapa, ia merasa pernah melihat setiap pertarungan yang terjadi. Pertarungan apapun itu, siapa melawan siapa, atau monster sekalipun.

Seakan ia melihat apa yang akan terjadi di masa depan, atau ia pernah ke masa depan lalu kembali kemasa ini, atau ...

Ahhh,

Falbium pusing memikirkannya.

"Rasanya seperti Déjà Vu?"

Déjà Vu.

"Tidak! Tidak mungkin ada Déjà Vu yang seperti ini." Falbium menyangkal sendiri pernyataan yang ia buat.

Déjà Vu adalah fenomena jiwa untuk merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang terjadi sudah pernah terjadi di masa lalu. Pendekatan ilmiah menolak bahwa Déjà Vu adalah prekognisi atau ramalan kejadian masa depan, tapi merupakan anomali ingatan yang membuat kesan bahwa suatu kejadian pernah dialami sebelumnya.

Tapi Déjà Vu itu hanya sebatas perasaan, tidak mendetail seperti yang Falbium rasakan ini. Anomali ingatan akibat Déjà Vu tidak akan mampu memperlihatkan apa, kapan, dimana, siapa, dan bagaimana suatu peristiwa terjadi secara jelas. Hanya sebuah ingatan samar akan rasa yang mengatakan bahwa kejadian itu pernah dialami sebelumnya. Itu saja, tidak lebih.

Kalau begitu...

"Apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku?" bahkan sekarang Falbium menanyakan keanehan pada dirinya sendiri.

Sekali lagi setelah mengedipkan mata, Falbium melihat jelas apa yang terjadi sesuai dengan yang pernah ia alami sebelumnya, bahkan setiap kejadian berlangsung sama persis.

"Mungkin aku harus pergi sejenak dari tempat ini agar bisa berpikir jernih. Ada kemungkinan kalau orang Konoha memiliki sesuatu yang diluar akal sehat."

Beberapa detik kemudian, Falbium meninggalkan posnya.

Entah.

Siapa yang tahu ke mana ia akan pergi dan untuk melakukan apa?.

.

.

-Mt. Olympus-

Satu kalimat pendek untuk menunjukkan apa sudah terjadi pada tanah mitologis tempat tinggal para dewa-dewa Yunani.

Olympus kalah.

Gedebukkk!

Dewa Thor menendang tubuh terakhir yang telah ia penggal lehernya, yakni tubuh Dewa Ares. Dewa Perang itulah yang paling akhir berdiri dari semua Dewa-Dewa Olympian yang ada. Ketika perlawanan Ares berhenti, maka saat itu pula lah Olympus tumbang.

"Kerja bagus, My Son!"

Odin datang menghampiri.

"Ayah, sebaiknya kau istirahat saja." Thor melihat jelas seberapa parah luka-luka yang diderita tubuh ayahnya. Meski hanya satu dewa saja yang jadi lawan tarung Odin tapi yang dilawannya adalah Poseidon, salah satu Top 10 makhluk terkuat di dunia.

"Bukannya kau sama saja."

Meski kondisinya lebih baik, tapi Thor tidak dapat dikatakan baik-baik saja. Dia lah dewa terkuat dari Norse, tapi kalau menghabisi banyak dewa Olympian tentu cukup memberatkan untuknya. Perlawanan Dewi Athena yang paling gigih, apalagi Ares yang keras kepala tak mau menyerah.

Odin melihat-lihat ke sekeliling, sejauh matanya memandang tidak terlihat lagi adanya pertarungan. Jumlah pasukan Asgardian yang tersisa sangat sedikit. Heimdall, Dewa Thyr, dan beberapa dewa lain sudah tewas. Meski begitu, tetap saja ini adalah kemenangan besar untuk Norse.

Perang satu hari satu malam di Gunung Olympus sudah selesai dengan pihak penantang dari Norse sebagai pemenangnya. Bukannya Olympus lemah, tapi Norse tidak tanggung-tanggung dalam menyerang, mereka membawa habis semua kekuatan tempur Asgard ke tempat ini. Apalagi dengan tidak adanya Zeus di tahtanya sebagai Dewa Pemimpin para Olympian juga minus Hades dan pasukan Grim Reaper.

Merasa sudah cukup beristirahat, Odin beranjak menuju dasar Gunung Olympus dimana ada sesuatu yang menjadi tujuannya,

Time Gem.

Sebuah permata yang mampu mengirimkan informasi melawan arus waktu.

"Kau ikut, my Son?"

"Tentu."

.

.

-Svargaloka, Nirvana-

Sama halnya dengan yang terjadi di Olympus, perang saudara di Svargaloka juga sudah akan berakhir. Belum benar-benar berakhir karena masih ada tiga entitas yang masih hidup dan saling bertarung.

Penguasa Svargaloka, Sang Svargapati Sri Maharaja Dewa Indra atau yang lebih dikenal dengan nama Sakra.

Dewa Pelebur, Sang Hyang Batara Guru Sri Mahadewa Jagatpati Prameswara atau yang lebih sering dikenal dengan nama Shiva.

Dan, Dewa Pemelihara Sang Hyang Batara Narayana Sri Mahadewa Vhisnu.

Padahal ada banyak sekali dewa-dewi dalam Reliji Hindu-Buddha, lantas kemana yang lainnya?

Sebagian tewas karena saling berperang, sisanya mati akibat tak sanggup bertahan dari dampak kerusakan pertarungan dua dewa Trimurti, Shiva dan Vhisnu, yang jauh diluar nalar.

Sebagai dampak pertarungan mereka berdua, Dunia Langit Svargaloka yang mulanya sangat indah oleh banyak sekali pulau melayang kini sampai tak menyisakan apapun lagi walau sekadar puingnya. Tempat ini hanya tinggal langit bersih tanpa awan apalagi tempat berpijak. Pada beberapa sisi, terdapat robekan-robekan lebar dinding dimensi ruang yang terhubung langsung ke Celah Dimensi.

Hanya Sakra yang sanggup bertahan hidup diantara pertarungan kedua dewa Trimurti itu. Dia adalah sang Raja, dewa terkuat penguasa Svargaloka.

Vhisnu mengambang di udara pada posisi yang lebih tinggi dari yang lainnya, ia tampak seperti orang yang sudah mengambil keputusan bulat.

"Kupikir tidak ada lagi jalan lain. Wahai Ananda, Adinda."

Shiva mengerutkan kening, ia tidak mengerti apa maksudnya. Bukannya pertarungan mereka belum selesai?

Sedangkan Sakra menyunggingkan senyum misterius. Inilah yang dia tunggu-tunggu. Hal yang dia ingin capai walau dengan mengorbankan segala yang dia punya bahkan sampai menyulut sendiri perang saudara ini.

Vhisnu membuat posisi seperti orang bertapa. Kedua telapak tangannya ia rapatkan, cahaya putih yang terasa tidak biasa bersinar dari sana.

Sebenarnya, apa yang hendak diperbuat Dewa Vhisnu?

.

.

-Arena Perang, Underworld. At 04.09 am-

Seras Victoria si Super Vampire sedang memimpin satu batalion pasukan berjumlah 2250 personel bertempur di sebelah Timur Tanjung Harapan. Lawannya terdiri dari 5000 prajurit Aliansi Tiga Fraksi yang 250 diantaranya adalah pasukan elite khusus pengguna Longinus buatan Boosted Gear dan Divine Dividing serta Exorcise kelas atas pemegang replika pedang suci legendaris.

Titik bentrokan ini merupakan titik terjauh dari Tajung Harapan, sekitar 4 km dari gerbang teleportasi Gate of Sun. Sebagaimana terjadi di titik-titik lainnya di dekat Tanjung Harapan yang mana pasukan Konoha berusaha keras mati-matian menahan gempuran hebat pasukan Aliansi Tiga Fraksi yang ngotot merengsek maju ke gerbang teleportasi.

Bersama Seras ada nama-nama penting seperti Raden Mas Bagus Sudjiwodiningrat, youkai gagak Sang Raja Tengu, dan Sakura Haruno.

Tap!

Seras Victoria turun menukik dari langit lalu mendarat diantara ketiga rekannya.

"Sudah lelah bertempur sendirian eh, Seras Victoria?"

Sakura bertanya karena heran. Tadi Seras sangat bersemangat mengamuk sendirian di kumpulan pasukan musuh, tapi kenapa sekarang bergabung dengan mereka bertiga untuk bertarung bersama?

"Shannaroooo...!"

Syut!

Dassshh.

Sebongkah tanah besar Sakura lemparkan kuat-kuat ke arah sekumpulan musuh, semoga aja ada yang mati.

"Kamu sendiri kenapa masih ngotot bertarung, Sakura? Harusnya orang medis duduk di belakang saja menunggu ada yang terluka."

Ratatatatatatatatatata...

Seras masih seperti awal ia bertarung, akurasinya menembak sama sekali tak menurun. Tidak ada yang tidak jatuh setelah kepala prajurit Aliansi menjadi sarang peluru dari sepasang senapan tipe assault dengan kode nama Hallconen II.

"Aku ini ninja medis khusus yang punya ijin bertarung di garis depan." Sakura ingat jelas prinsip seperti apa yang Tsunade katakan padanya.

"Kenapa yaa, perempuan-perempuan muda suka mendebatkan hal yang tak penting?" yang paling tua di sana menggerutu, si Raja Tengu.

Ratusan helai bulu gagak tajam menghujani pasukan Aliansi. Si Raja Tengu meski sudah tua tapi tetap kuat.

"Kakek tak usah ikut campur." sahut Seras.

Sakura menyambungi, "Benar tuh!"

"Hiiiaaattt!"

Duuaagg.

Salah satu prajurit Aliansi tewas seketika akibat perutnya menjadi sarang pukulan mematikan dari salah satu jurus pencak silat Sudjiwo.

"Ghahahahaaaa," titisan Gusti Prabu Angling Dharma ini rupanya tidak pernah kehabisan semangat bertarung. Berbeda dengan ketiga orang lainnya, hanya dia yang bertarung jarak dekat dengan menunggu musuhnya berada dalam jangkauan serang teknik silat lalu memukulnya hingga tewas.

Keempat orang ini bertarung menghadap ke empat arah penjuru dengan saling melindungi punggung teman.

Tiba-tiba seseorang dengan kekuatan tak biasa datang kepada mereka berempat.

Keempatnya seketika mengalihkan fokus ke arah satu orang itu. Tampaknya pemimpin batalion pasukan musuh.

Serdadu-serdadu Aliansi pun berhenti menyerang, seolah memberikan ruang kepada pemimpin mereka untuk bertarung.

"Hati-hati!" Raja Tengu memperingatkan. "Dia mungkin salah satu dari 17 iblis kelas tinggi yang menggunakan Evil Piece Bidak Raja. Melawan orang sekuat Maou, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita berempat."

"Tidak usah khawatir!" tukas Seras.

"Hah?" Sakura mengernyit bingung.

"Yamanaka baru memberitahuku lewat saluran komunikasi. Kita semua disuruh mundur oleh Shikamaru."

"Massa?" Sudjiwo penasaran kenapa markas mengeluarkan perintah itu.

"Lihat di sana!"

Seras menunjuk ke arah selatan, jauh di belakang si iblis pengguna Evil Piece Bidak Raja yang baru datang.

Ada bayang-bayang hitam yang bergerak cepat. Itu seperti sekumpulan orang.

"Mereka...?"

"Katanya itu adalah pasukan Grim Reaper berjumlah 18000 personel yang dipimpin oleh salah satu Dewa Trinitas dari Olympus, Hades. Biarkan dewa itu yang mengatasi tempat ini. Kita pergi! Kapten Georg sudah hampir selesai mempersiapkan kabut teleportasi untuk memindahkan kita semua dari tempat ini dengan Sacred Gear Longinus Dimension Lost."

Sakura masih belum mengerti, "Memangnya mereka sekutu kita?"

"Bukan. Menurut informasi, mereka hanya sekumpulan arwah berjalan yang gila peperangan, bertarung dengan siapapun yang mereka lihat di depan mata."

"Ooo, begitu ternyata."

Seras menginstruksikan, "Bersiap-siaplah! Dalam hitungan ke lima, kita berempat dan seluruh pasukan disini akan ditransfer secara massal."

5

4

3

2

1

Pssshhh!

Kabut tebal muncul tiba-tiba dari tanah, melingkupi setiap pasukan perang Konoha dan sekutunya.

Sekejap saja, tidak ada lagi orang Konoha yang terisa.

Terdengar teriakan keras dari Grim Reaper legendaris terkuat, Jupiter!

"SEERRBUUUUUUU! BANTAI SEMUANYA SAMPAI TAK BERSISA."

Orraorraoraaaaaaaaaaaa.

Haaaaaaaaaaa!

.

.

-Arena Perang, Underworld. At 04.48 am-

Kembali ke tenda khusus pusat komando pengatur strategi dan formasi pasukan perang Konoha dan koalisinya. Ada tiga orang yang sedang berada di sini.

Ino Yamanaka melepaskan helm berdesain futuristik yang ia kenakan, lalu mencabut beberapa kabel yang tersambung pada bagian belakang lehernya serta peralatan sensorik pendeteksi kondisi vital tubuh yang menempel pada punggung tangan. Perangkat elektronik yang menghubungkan semua arus komunikasi ke seluruh medan perang itu tidak menunjukkan ada masalah.

Wanita berponi panjang hingga menutup salah satu matanya itu pun bangkit dari kursi khusus yang dia duduki dan melakukan sedikit peregangan tubuh.

Tugasnya di tempat ini yang hanya bisa dikerjakan olehnya seorang diri bisa dikatakan sangat berat. Melalui alat yang barusan ia pakai, Ino memantau dan mengamati seluruh kejadian, situasi, serta kondisi mental setiap pasukan di medan perang. Ia bertanggung jawab sebagai pusat komunikasi juga bertugas untuk mengatur jalannya arus informasi. Dan semua itu, harus Ino lakukan sepanjang hari sejak perang di mulai sampai sekarang hampir tanpa istirahat. Untuk ibu hamil muda seperti Ino, ini namanya kerja paksa.

"Setelah tadi semua informasi dari medan perang kutransfer kepadamu." maksud Ino ialah transfer data otak-otak manusia menggunakan jutsu khas klan Yamanaka, "Keputusan apa yang akan kau ambil, Shikamaru?"

Siapa yang bisa menyangkal kejeniusan Shikamaru? Meskipun informasi yang ia terima dan olah dalam waktu singkat jumlahnya sangatlah banyak, Shikamaru selalu sanggup melakukannya. Untuk itulah, tugas sebagai Kapten Divisi Khusus Pusat Komando Pengatur Strategi dan Formasi dipercayakan kepadanya sepenuhnya.

"Kita sudah sampai pada fase yang mana memenangkan perang adalah hal mustahil."

"100% mustahil?"

Bibir Shikamaru mencebik, "Tidak juga. Perhitunganku mendapat hasil kalau ada 0,18% peluang kita menang. Itupun dengan pengorbanan yang teramat besar. Hanya sebagian kecil dari kita yang akan tetap hidup kalau nekat mengambil peluang sekecil itu.

"Begitu yaa." Ino mendesah pasrah, "Lantas bagaimana?"

Shikamaru menghadapkan badannya ke arah orang ketiga yang juga berada di sana.

"Homura-san."

"Hm?"

"Sekali lagi. Ke checkpoint nomor 8A23X pada pukul 03.58, tolong!" Kemudian Shikamaru kembali pada rekan setimnya, "Ino, transfer semuanya."

"Baiklah baiklaaaaaahh." Dengan nada ogah-ogahan Ino menyahut, tapi tak ada sedikitpun rasa untuk menolak perintah itu.

Sekarang Ino melakukan transfer informasi otak ke otak dari kepala Shikamaru ke kepala Akemi Homura.

Selain data kondisi di medan perang, data hasil perhitungan strategi yang telah Shikamaru lakukan barusan juga di transfer. Hampir semua isi otak Shikamaru disalin ke otak Akemi Homura dalam waktu kurang dari 10 detik. Padahal, jika semua informasi itu dikomunikasikan secara verbal, 6 bulan mungkin belum cukup.

"Ouch.!"

Shikamaru sudah hendak menangkap tubuh Akemi yang limbung, tapi gadis kecil itu menolak sebab ia yakin masih bisa berdiri.

"Maaf merepotkanmu." Ucap Shikamaru menyesal. "Informasi yang otakmu terima terlampau banyak sehingga wajar kepalamu terasa nyeri."

"Bukannya kau sendiri lebih parah dariku." Akemi menatap tajam. "Otakmu memang memiliki kecepatan pemprosesan luar biasa, tapi kapasitas penyimpanan memori otakku jauh lebih unggul darimu. Rasa sakitmu..."

"..." Shikamaru tak menyahut perkataan Akemi yang terpotong. Ia tidak memiliki alasan untuk menyangkal.

"Shikamaru?" Ino bertutur lembuh menunjukkan raut muka khawatirnya.

"Fiiuuuhh, mendokousei." Mungkin bagi Shikamaru menggeleng-geleng seraya memijit pelipis cukup efektif untuk mengurangi rasa sakit di kepala.

"Jangan terlalu memaksakan diri!" Ino memberi nasihat.

"Kalau tak begitu, sudah sejak 8 jam lalu kita lenyap dihabisi musuh. Kau sendiri juga sama kan, Ino?"

"A-..."

Yah, intinya tiga orang sama-sama sedang bekerja keras. Bekerja keras mememeras darah dalam otak sampai kesakitan demi hal yang mereka perjuangkan.

~Flashback Chapter 81~

Shikamaru mengungkapkan kalau pada perang fase malam hari, mereka tidak akan melakukan penyerangan sama sekali meski hasil perang siang hari menunjukkan hasil yang sangat baik.

"Menyerang adalah cara bertahan yang paling baik. Tapi kita tidak menyerang, artinya kita hanya akan bertahan saja. Dan siapapun tahu, mempertahankan sesuatu itu jauh lebih sulit dari meraihnya."

Maksud Dewi Amaterasu adalah, siapa yang menjamin kalau pada malam hari tidak akan ada serangan. Apa yang dikatakan Shikamaru bahwa koalisi ini tidak akan melakukan pertempuran secara total pada malam hari bukan lah sebuah pilihan. Jikalau pasukan Aliansi melakukan serangan besar-besaran, apa mungkin pasukan koalisi bisa bertahan kalau tidak bertempur?

"Untuk itulah, kami unit informasi dan unit strategi akan bekerja keras."

"Hm?"

"Yang jelas, kalau mereka memang ingin menyerang kita maka mereka tidak akan bisa menyerang dengan mudah." Shikamaru mengatakannya dengan mantap dan raut muka penuh keyakinan yang seakan membuat orang yang melihatnya tidak akan bisa membantah apapun yang dia katakan tanpa perlu menjelaskan apa-apa lagi.

Entah apa yang direncanakan Shikamaru. Biarkan saja dia.

~Flashback Off~

Saat inilah Shikamaru menunjukkan bahwa unitnya sedang bekerja keras, terutama dirinya sendiri sebagai kapten.

"Kalau begitu, akan kulakukan!" ucap Akemi. Gadis itu merasa dirinya sudah tidak apa-apa lagi.

Shikamaru memotong sebentar, "Sampaikan pada diriku yang di sana, pastikan bahwa kalian harus menang!"

"Baik." Akemi memejamkan matanya. Terdengar deru halus suara mekanik dari gigi-gigi roda kecil yang berputar di dalam tameng kecil di pergelangan tangan kiri Akemi.

Sebenarnya tameng itu bukan lah tameng, tapi alat sihir khusus yang dinamakan Timejump Device.

"Aku pergi. Reset!"

...

-Arena Perang, Underworld. At 03.58 am-

Kembali ke ruang khusus pusat komando pengatur strategi dan formasi pasukan perang Konoha dan koalisinya. Ada tiga orang yang sedang berada di sini.

Shikamaru terlihat pusing dengan posisi tangan kanan menahan kepala dan siku bertumpu pada meja. Bagaimana tidak pusing? Semua strategi yang ia rancang di meja kerjanya mendapatkan jalan buntu. Sedangkan Ino sedang menyeruput secangkir kopi espresso yang baru saja diantarkan salah seorang bawahannya.

Menyadari orang ketiga berperilaku aneh, Shikamaru sedikit tersentak. "Homura-san?"

"Maaf, ada ingatan yang baru saja masuk. Kepalaku sedikit pusing."

Shikamaru cepat mengerti situasinya. "Reset lagi?"

Akemi mengangguk sekali.

Shikamaru bernafas lega, "Pas sekali kalau begitu. Sekarang aku sudah tidak bisa memikirkan apa-apa lagi."

Ino mendekat, "Akan kutransfer sekarang."

Ino membutuhkan waktu beberapa detik untuk melakukannnya. Jutsu klan Yamanaka tidak sepraktis kelihatannya yang hanya sekedar menyalin ingatan. Perlu serangkaian segel dan fuin rumit untuk melakukannya.

Omong-omong, sebenarnya apa sih yang dilakukan ketiga orang ini?

Ada yang bisa mengerti?

Tidak?

Oke, mari mulai dengan sedikit memahami Konsep Mekanika Kuantum.

Merupakan salah satu cabang fisika modern yang lahir pada awal abad ke-20. Sejauh yang diketahui, setiap fenomena alam di dunia ini tidak lepas dari kaidah-kaidah matematika dan fisika. Akan tetapi hal itu berada pada skala makro yang semua tergolong dalam ranah fisika klasik/Newtoonian. Sedangkan mekanika kuantum sendiri berhubungan dengan fisika yang mempelajari fenomena-fenomena pada skala mikro, yakni skala atomik dan subatomik.

Sulit menjelaskan bagaimana relasi antara mekanika kuantum dengan fisika klasik, keduanya seolah bertentangan tapi sejalan. Yang jelas orang-orang tahu bahwa semua benda yang kita lihat dengan mata dan yang mengikuti kaidah-kaida fisika klasik, sejatinya tersusun atas unit terkecil yakni atom dan partikel subatomik lainnya. Dengan kata lain suatu yang makro tersusun atas kumpulan yang mikro, yang mana pada skala mikro ini hukum fisika klasik tak lagi berlaku. Pada titik inilah mekanika kuantum mengambil peran.

Jika dipadatkan, mekanika kuantum hanya memiliki satu pembahasan yakni probabilitas atau kebolehjadian. Hanya membahas tentang sesuatu yang tidak ketahui secara pasti oleh makhluk manapun alias belum diverivikasi maupun difalsifikasi.

Salah satu gejala paling terkenal dalam bidang mekanika kuantum adalah superposisi. Yaitu suatu keadaan dimana setiap dua atau lebih kejadian yang mungkin ada saling bertumpuk dalam satu waktu yang sama.

Sederhananya pada kasus ini. Seekor kucing dimasukkan kedalam kotak hitam kedap suara, getaran, dan cahaya bersama dengan balon kencang berisi gas beracun yang kemungkinan meletusnya 50%. Kemudian diamkan saja!

Nah! Sekarang siapa yang tahu bagaimana kondisi kucing itu, masih hidup ataukah sudah mati?

Tidak tidak yang bisa mengetahuinnya bukan?

Kecuali kotaknya dibuka.

Pada kondisi itu, ada dua peluang kejadian yang bertumpuk yakni kucingnya masih hidup atau sudah mati, dan kedua kejadian itu terjadi pada satu waktu yang sama, juga memiliki peluang yang sama kebenarannya. Tidak mungkin kan kucing dikatakan setengah hidup sekaligus setengah mati?

Kecuali peluangnya tidak persis 50%, melainkan lebih atau kurang sehingga jawaban yang peluangnya lebih besar akan lebih bisa diterima akal.

Setelah kotak dibuka, barulah jawaban diketahui entah si kucing masih hidup atau sudah mati. Dan hanya ada satu pilihan jawaban saja dari dua kemungkinan itu yang benar dan nyata terjadi. Kondisi superposisi itupun seketika runtuh begitu keadaan dipastikan.

Andaikan kucingnya masih hidup, berarti salah satu kemungkinan menjadi kenyataan atau terwujudkan sedangkan kemungkinan lainnya yakni kucing mati menjadi tidak bermakna hilang dihempas realitas. Pada intinya, kenyataan hanya berjumlah satu terlepas dari seberapa banyak pun kemungkinan yang ada.

Akan tetapi, mekanika kuantum tidak menerima hal itu begitu saja. Muncul pertanyaan kritis tentang apa yang terjadi dengan probabilitas atau kemungkinan yang kehilangan makna dan batal terwujud itu?

Sebuah hipotesis mencoba menjawabnya. Hipotesis ini akan menginterpretasikan apa yang terjadi setelah superposisi runtuh, yang dikenal dengan Many Worlds Interpretation. Menurut hipotesis ini, kemungkinan yang gagal mewujud itu sebenarnya tetap ada tapi pada fasa yang tak dapat diamati. Ya, situasi yang mana kucingnya mati bisa menjadi kenyataan tapi tidak diketahui karena tidak dapat diamati.

Karena apa?

Karena kenyataan bahwa si kucing mati berada di dunia lain yang paralel dengan dunia ini.

Hei! Ini tidak sedang membicarakan tentang tempat hidup makhluk supernatural dan para dewa yang dimensi ruangnya berbeda dengan dunia manusia, seperti tanah Underwolrd ini dengan bumi. Ini hal yang sama sekali berbeda. Dunia paralel adalah dunia-dunia yang komposisinya sama persis baik orang dan makhluk hidupnya, kuantitas energi, bahkan jumlah atomnya tapi mengalami peristiwa yang berbeda.

Dunia paralel tercipta saat terjadi superposisi. Pada saat Superposisi, terdapat n buah kemungkinan masa depan. Pada titik inilah semesta akan bercabang sebanyak n buah yang akan menampung semua kemungkinan yang ada dalam setiap dunia paralel baru.

Pada awal percobaan dengan kucing itu, terdapat satu dunia saja. Tapi setelah kotak dibuka, muncul satu dunia dimana kucingnya hidup dan satu dunia lagi dimana ada peristiwa kucingnya mati.

Atas semua teori itu, apa kaitannya dengan yang dilakukan oleh Shikamaru, Ino, dan Akemi?

Adalah hal yang luar biasa mengejutkan, bahwasanya ketiga orang tersebut tenyata memanfaatkan teori ini sebagai suatu cara ampuh untuk memenangkan perang.

Timejump Device milik Akami Homura adalah satu-satunya alat yang mampu menyeberang antar dunia paralel.

Lalu bagaimana mereka memanfaatkan hal itu?

Caranya...

Pada satu waktu Akemi menandai waktu itu sebagai checkpoint. Titik ini akan menjadi titik koordinat tujuan lompatan penyeberangan antar dunia paralel menggunakan Timejump Device. Katakanlah di titik ini terjadi percabangan menuju banyak sekali kemungkinan peristiwa masa depan. Dengan kata lain, pada titik ini terjadi superposisi kuantum. Di alam ini, tidak perlu kucing dalam kotak untuk membuat superposisi karena sesungguhnya gejala ini terjadi setiap saat.

Waktu bergulir sementara perang terus berlangsung. Ino mengumpulkan segala informasi yang ada dari medan perang untuk diberikan kepada Shikamaru. Si jenius ini yang akan mengolah datanya, memikirkan dan membuat strategi terbaik.

Tetapi, pastikah Shikamaru akan berhasil dengan strateginya sehingga Konoha mampu memenangkan perang?

Sayangnya itu sulit terjadi, apalagi dengan situasi yang mana kualitas dan kuantitas kekuatan tempur pasukan Aliansi Tiga Fraksi jauh diatas militer Konoha dan sekutunya.

Misalkan Shikamaru menemui jalan buntu, strategi apapun tidak memungkinkan lagi dilaksanakan dan Konoha pasti kalah, maka semua informasi yang ada berikut dengan strategi gagal dan saran strategi baru akan dia kirimkan ke otak Akemi Homura.

Pada tahap akhir, Akemi akan melakukan reset menggunakan Timejump Device menuju checkpoint pada saat superposisi masih terjadi. Lompatan dunia paralel ini tidak mungkin membawa tubuh Akemi, tapi Timejump Device sebelum melakukan reset akan memindai isi memori otak Akemi yang hasilnya dikirim ke Timejump Device yang sudah ditandai saat checkpoint.

Jadi apa yang dibawa?

Informasi.

Ya, informasi.

Bagi siapapun, informasi adalah segala-galanya. Jauh lebih mahal daripada uang. Bagi shinobi, informasi ini lebih bernilai dari nyawa sekalipun.

Memori otak Akemi di titik checkpoint di dunia ini ditimpa oleh memori Akemi lain dari dunia paralel. Kemudian dia akan menyalinkan datanya kepada Shikamaru dengan bantuan jutsu khas Klan Yamanaka yang Ino lakukan agar prosesnya jauh lebih cepat.

Berbekal data-data informasi yang mana Konoha kalah perang pada dunia paralel lain, Shikamaru di dunia ini akan membuat strategi baru yang peluang menangnya lebih tinggi. Perubahan strategi berarti perubahan takdir. Proses inilah yang menciptakan 'cabang' sehingga terbentuk dunia paralel lainnya lagi.

Secara prosedural, itulah yang mereka bertiga lakukan. Sesuai dengan semua teori mekanika kuantum yang ada.

Proses transfer memori oleh Ino dari otak Akemi ke otak Shikamaru selesai.

"Oucch, itteeii!" Shikamaru mengaduh cukup kencang.

"Jangan egois, Shikamaru!" Dahi Ino berkedut kesal. "Jangan kira hanya kau yang kesakitan, kami juga merasakan sakitnya tahu!"

Padahal di dunia paralel sebelumnya, Shikamaru memendam sakit dan sikap Ino lebih perhatian. Tapi di dunia setelah reset ini, yang terjadi malah sebaliknya.

Begitulah!

Setiap cabang dunia paralel setelah terjadi superposisi, selalu menghasilkan peristiwa berbeda walau komposisi orang-orangnya sama persis.

"Iyaaaa, maaf" ungkap Shikamaru. Ia menatap Akemi yang kelihatan lebih menderita daripada dirinya, "Hei, ini sudah yang berapa kali kau melakukan reset?"

"Seharusnya kau sudah mengetahuinya kan, Shikamaru-kun?"

"Maaf, meski sudah menyalin semua informasi tapi aku perlu waktu sedikit lebih lama untuk membacanya."

"25344 kali."

"Oh my God" Ino menganga.

"Terima kasih atas kerja kerasmu." Shikamaru tidak tahu lagi harus mengatakan apa selain itu.

Misalkan sekali reset akan memundurkan waktu 5 jam sebelumnya, lalu kalikan dengan angka itu. Hasilnya sekitar 14,5 tahun.

Artinya...

14,5 tahun lamanya Akemi Homura harus mengulang-ulang malam yang sama sepanjang perang ini. 14,5 tahun Akemi duduk dalam perang ini. Bahkan dipaksa mengingat semuanya. Bayangkan! Bagaimana sakitnya melewati satu malam yang lamanya sama dengan 14,5 tahun?

Dan informasi setara 14,5 tahun juga lah yang dikumpulkan oleh Ino lalu diolah oleh Shikamaru. Yang semuanya harus diproses dalam waktu singkat.

Ada orang yang sanggup melakukan hal itu?

Mereka bertiga sanggup, dan itu menunjukkan betapa luar biasanya mereka.

Ketika merasakan otaknya kembali membaik, Shikamaru langsung kembali bekerja tanpa ada niat untuk sejenak beristirahat. Dia mengambil pensil dan selembar kertas besar serta peta wilayah Gremory tempat perang berkecamuk. Ketika Shikamaru sudah mulai bekerja, lebih baik abaikan saja karena tak seorangpun sanggup berada dalam dunianya itu.

Berbekal segudang informasi, jika strategi dibuat dengan benar maka kemenangan mutlak pasti dapat diraih. Peperangan di jaman manapun selalu sama, pihak mana yang memiliki informasi maka pasti akan memenangkan perang.

Ino juga, kembali menjalankan tugas sebagai pusat arus informasi dan komunikasi untuk menjaga mobilisasi dan formasi pasukan Konoha agar tetap padu.

Akemi?

Dia diam menunggu apa pekerjaan selanjutnya.

Intinya, pada perang ini tidak ada yang tidak bekerja keras. Meski Shikamaru belum pernah bertarung langsung di medan perang, tapi ia bekerja keras di ruangan ini, bekerja jauh lebih keras daripada yang orang lain kira. Ia membuktikan kepada Dewan Perang bahwa kata-katanya bukan sekadar omong kosong belaka.

.

.

.

-Pulau Langit Agreas-

Hinata belum pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya, di saat ia sedang sendirian dan harus dihadapkan pada situasi penentu yang menentukan hidup matinya serta menentukan apakah tujuannya akan terwujud ataukah berakhir gagal total. Hal buruknya lagi, situasi ini datang saat emosinya sedang memuncak, sulit meredam api amarah dan dendam atas perbuatan orang-orang yang menyebabkan kematian Naruto.

Hinata menggeram dalam hati.

"Ayooo Oujo-san, kita tentukan sekarang atau tidak sama sekali."

Sejujurnya Hinata sedang tidak ingin bicara apapun.

"Kalau kau memilih tidak, berarti kau harus secepatnya menyingkir dari sini."

Hinata masih enggan menanggapi.

"Tapi aku tidak akan membiarkanmu menyingkir hidup-hidup setelah menjatuhkan harga diriku sebagai Maou."

Maou Ajuka Beelzebub rupanya sama sekali belum bisa merelakan kekalahannya dari Hinata saat dijebak di pesta pembukaan Rating Game.

Hinata mengembuskan nafas, ia sebisa mungkin mengontrol emosinya. "Kalau itu maumu Tuan Beelzebub, ayo kita selesaikan tanpa banyak bicara."

Saat ini Hinata sadar kalau tidak mudah baginya untuk mengalahkan Ajuka atau bahkan hampir tak mungkin setelah teknik terbaiknya kemampuan ketiga doujutsu The True Tenseigan Time Extra berhasil dipatahkan oleh Maou itu.

Tapi..., tidak mungkin bagi Hinata diam saja tanpa melakukan sesuatu kan?

Disisi lain, para penonton harap-harap cemas terlebih bagi Sona dan kawan-kawannya. Hanya Azazel yang tampak menikmati perseteruan ini.

"Kita akan bertarung sampai salah satu diantara kita mati." Hinata sudah memutuskan.

Hinata masih sangat marah, dendam masih menggerogoti hatinya, namun kalau seperti ini terus pasti pada akhirnya tidak akan ada hasil baik. Dia masih tidak rela, masih belum sanggup menerima apa yang telah terjadi, tapi ia adalah wanita dewasa. Hinata bukan bocah yang akan merengek, menangis apalagi meratap jika suatu hal tidak sesuai kehendaknya.

Tapi diatas semua itu, Hinata masih ingat dengan jelas apa yang selama ini ia dan suaminya perjuangkan. Meski sang suami telah tiada, bukan berarti perjuangannya berhenti. Ini dia lakukan demi Naruto, tidak lain daripada selain itu.

Hinata tidak berniat berhenti setelah sampai ke titik ini.

Tidak akan pernah berhenti.

Tidak akan pernah!

"Apa ruang aula bawah tanah ini cukup?" Ajuka bertanya. Bermaksud menantang dengan memberikan Hinata kelonggaran untuk memilih.

Dasar iblis, tabiat sombongnya tak pernah hilang.

"Lebih dari cukup sebagai kuburanmu!"

"Ohohooooo, mentalmu tidak tergoyahkan rupanya meski suami tercintamu sudah mati." Ajuka mengakui, sorot mata tajam Hinata penuh dengan keyakinan yang menjanjikan kematian. Dan itu membuatnya sedikit bergidik.

Hinata mengepalkan tangan. Doujutsunya The True Tenseigan aktif secara sempurna, doujutsu yang merupakan evolusi dari Byakugan setelah beresonansi dengan Chakra Hamura dan harta pusaka Klan Ootsutsuki Phillosopher Seed. Iris mata Sang Byakugan no Hime berputar tanda bahwa ia hendak menggunakan Time Extra.

Sebagai permulaan, Hinata membuat kuda-kuda kokoh sembari mengalirkan chakra ke kedua tangannya sampai membentuk sosok astral sepasang kepala singa kembar berwarna biru.

Juho Shoshiken

"Haaap!"

Dhuuaarr!

Tahu-tahu saja lantai tempat Ajuka berdiri sudah berlubang cukup dalam.

"Huaaaahh, nyaris saja." Nyatanya Ajuka sudah berpindah posisi tiga langkah ke belakang dan masih hidup. Dia sedikit tersengal, detak jantungnya meningkat karena serangan yang hampir saja mencabut nyawanya.

Terpikirkah bahwa serangan Hinata tadi itu hanya jutsu Hyuga biasa?

Ya, itu menang jutsu Juho Shoshiken yang sama seperti dulu ketika Hinata gunakan untuk melawa Pein demi menyelamatkan Naruto. Tapi kali ini dilakukan dengan cara yang sangat gila.

Lihat saja, Sona dan semua orang di sekitarnya bahkan Diehauser Bellial Sang Juara nomor 1 Rating Game dibuat menganga saking terkejutnya. Hal yang sama juga terjadi pada kubu sebelah. Dulio, Tobio, dan Griselda tak tahu harus berkomentar seperti apa. Hanya Azazel yang nampak lebih tenang karena ia fokus mengamati dan berpikir analitis.

"Hampir saja otakku meledak." Ajuka mengungkapkannya secara harfiah.

Hinata tidak mau menanggapi. Padahal serangan tadi sudah dilakukan seserius mungkin, tapi nyatanya gagal membunuh Ajuka.

Pukulah Juho Shosiken tadi ditopang dengan dua kemampuan True Tenseigan sekaligus, Time Extra dan manipulasi posisi pemotong jarak.

Hinata mengaktifkan Time Extra dahulu agar dia bisa bergerak bebas di luar jerat waktu universal. Selama masa di mana semua orang sedang tidak bergerak karena tak memiliki waktu itulah, Hinata melancarkan pukulan Juho Shosiken secara langsung ke atas kepala Ajuka, tepat di ubun-ubun yang jaraknya telah dipotong dengan kemampuan manipulasi posisi.

Pukulan ini sangat mematikan, kenapa?

Karena targetnya adalah kepala secara langsung. Juho Shosiken bukan pukulan kasar yang akan membuat kepala memar, tapi pukulan tenaga dalam yang akan menghancurkan organ. Dalam hal ini, otak di dalam tengkorak kepala pasti hancur seperti jelly yang dilemparkan kuat ke tembok. Ditambah dengan Time Extra, maka mustahil bagi makhluk tiga dimensi yang tidak memiliki waktu bisa menghindar.

Pada pandangan mata para penonton, yang terlihat adalah Hinata tidak tampak melakukan apa-apa tapi tahu-tahu saja sebuah pukulan mematikan sudah selesai dilancarkan.

Apa ada serangan dengan target individual yang lebih sadis daripada itu?

"Aku bisa langsung mati kalau diserang seperti itu." Diehauser akhirnya bisa buka suara.

Sona, Arthur, Kiba, Rias dan semuanya sepakat menyetujui.

Mereka semua yang ada disini, sudah tahu tentang kemampuan bertarung apa saja yang Hinata miliki. Seni bela diri tinju halus Taijutsu Hyuga, penglihatan mata Byakugan, manipulasi vektor, manipulasi posisi, dan Time Extra. Semua hal itu sudah Serafall beberkan dengan detail seusai insiden pencurian Pulau Langit Agreas yang mana waktu itu Naruto dan Hinata ketahuan bekerjasama dengan Rizevim. Ajuka yang juga pernah kalah dari Hinata ikut menambahkan penjelasan lainnya. Cara kerja semua kemampuan Hinata itu sudah diketahui oleh mereka, termasuk bagaimana cara mengatasi kemampuan manipulasi vektor serta jangkauan kemampuan manipulasi posisi walaupun masih belum menemukan solusi untuk Time Extra.

Tapi meskipun semua kemampuan Hinata sudah mereka ketahui dengan detail, tetap saja mereka harus dibuat terkejut oleh bagaimana jeniusnya Hinata menggunakan semua potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Dua, tiga atau lebih jutsu dia gunakan sekaligus. Point inilah yang membuat Hinata tak terkalahkan.

Sungguh, baru saat inilah mereka menyadari betapa mengerikannya kekuatan seorang wanita bernama Hinata. Padahal hanya melihat serangan pertamanya saja, bagaimana dengan serangan-serangan yang berikutnya?

Namun kini, Ajuka sukses mematahkan kemampuan tertinggi Time Extra. Kalau sudah begini, mengalahkan Hinata menjadi hal yang sangat mungkin.

"Apa yang tadi kau perbuat, Maou Ajuka?"

Azazel bertanya karena ia penasaran bagaimana rekannya itu berhasil menghindari pukulan Hinata yang dilakukan saat Time Extra aktif. Jelas-jelas Azazel melihat kalau serangan Hinata akurasinya 100%, tapi kenapa tahu-tahunya Ajuka berpindah posisi tanpa ada gerakan maupun teleportasi? Seolah Ajuka juga bisa melakukan hal yang sama seperti Hinata, yaitu tidak tampak melakukan apa-apa tapi tahu-tahu ia sudah selesai melakukannya.

"Aku juga memakai Time Extra." jawab Ajuka.

"Apa!?"

Bagaimana orang-orang tidak terkejut?

Sejak kapan Ajuka mampu melakukan teknik yang hanya bisa dilakukan oleh makhluk empat dimensi?

"Nanti kalian akan tahu sendiri." Kalau ingin tahu yaa terus saja lihat! itulah isi maksud AJuka.

Sungguh, mereka semua tidak habis pikir!

"Aku tidak menyangka ada cara seperti itu untuk mematahkan teknik Time Extra milikku." Hinata sadar kalau Ajuka dapat selamat dari serangannya karena teknik terbaiknya sudah tidak berguna lagi.

Time Extra memiliki kemiripan dengan teknik original Akemi Homura Time Accelerator. Kedua teknik itu sama-sama menargetkan diri sendiri untuk memberikan efek dilatasi waktu. Akemi akan mendapatkan waktu 14000 kali lebih cepat daripada waktu normal, sedangkan Hinata jauh lebih hebat lagi karena milyaran, trilyunan, bahkan tak terhingga lagi berapa kali lebih cepat sampai bisa dikatakan dia lepas dari jerat waktu universal. Menjadikan Hinata seakan melihat waktu benar-benar berhenti.

Saat Hinata mengaktifkan Time Extra sejenak untuk menyerang, dia akan mendapatkan waktu tambahan terlepas dari jerat waktu universal. Dan hal yang sama ternyata juga terjadi pada Ajuka. Maou itu juga lepas dari jerat waktu universal. Dengan kata lain Ajuka juga terkena efek Time Extra. Seakan dia naik level menjadi makhluk empat dimensi sama seperti Hinata. Pada saat itu lah, Ajuka menjauh dari posisi pukulan maut Hinata dengan mundur tiga langkah ke belakang.

Dalam sudut pandang makhluk tiga dimensi, Ajuka menghindari serangan itu tanpa bergerak. Dia tidak tampak berusaha menghindar, tapi tahu-tahunya terhindar dari serangan Hinata. Makanya pukulan Juho Shosiken yang seharusnya mendarat di ubun-ubun Ajuka malah berakhir jatuh di lantai hingga lantainya berlubang. Hal itu karena makhluk tiga dimensi tidak dapat merasakan waktu tambahan dari teknik Time Extra.

Dengan cara itulah, Ajuka selamat.

"Hahaaaa, sekarang teknik itu tidak berguna lagi dipakai melawanku."

Sekarang yang membingungkan, bagaimana Ajuka bisa mendapatkan efek dari Time Extra bersamaan dengan Hinata?

Lanjutkan saja pertarungan ini, nanti akan ketahuan dengan sendirinya.

Baik Hinata maupun Ajuka melangkah ke samping. Mereka melakukan gerakan memutar dengan kewaspadaan pada tingkat maksimal sembari mencari celah untuk menyerang musuh.

"Aku akan mengambil giliran." Ajuka menyiapkan satu blok sihir iblis yang langsung ditembakkan ke arah Hinata. Sekali lihat saja langsung ketahuan kalau kualitas dan kuantitas sihir itu tidak main-main.

Istri sang Uzumaki bergeming, tetap berdiri dari posisinya dengan muka datar. Momen ketika blok energi sihir itu hampir menyentuh kulit, seketika berbelok ke arah lain.

"Pertahanan manipulasi vektor, sudah kuduga." ungkap Ajuka.

Semua orang juga sudah menduganya, bahkan Le Fay yang paling kecil dari kelompok Vali pun tahu. Serangan sesederhana itu tak akan pernah mencapai Hinata. Sejauh yang diketahui, hanya serangan suhu -273 derajat celcius dari Maou Serafall Leviathan dan peluru sihir dengan arah gerak irreguler yang kuantitas dan intensitasnya tinggi saja yang mampu menembus pertahanan manipulasi vektor.

Selanjutnya Ajuka menggunakan kemampuan khusus miliknya, Kankara Formula. Dengan teknik ini, Ajuka mampu memecahkan semua fenomena sihir dan merumuskannya ke dalam persamaan matematika lalu mengendalikannya. Sembari tetap berjalan menyamping, Ajuka menciptakan lingkaran sihir di depan tangannya. Kecil namun sangat rumit yang aksaranya selalu bergerak dengan kecepatan tinggi. Dia mengendalikannya dengan ujung jari telunjuk.

Blok sihir yang berbelok tadi, dikembalikan lagi ke arah Hinata. Kali ini dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi, daya rusak yang semakin kuat, di pecah sehingga jumlahnya menjadi sangat banyak, serta satu hal khusus yakni membuat semua peluru sihir meluncur dengan lurus namun secara molekuler materialnya bergerak dengan arah irreguler atau tak beraturan.

Dengan cara itulah, Ajuka pernah menghancurkan dinding besar pertahanan mutlak manipulasi vektor. Caranya bukan dengan melampaui batas ketahanan, tetapi dengan melampaui kemampuan otak penggunanya, otak Hinata, dalam membuat perhitungan untuk mengubah vektor.

Namun tidak semudah itu.

Ajuka harus dibuat terkejut.

Tidak satupun peluru blok sihir bersarang di badan Hinata dan memberikan luka serius. Semuanya dipentalkan ke segala arah tanpa kecuali.

"Tidak mungkin!"

"Kau bodoh kalau berpikir aku masih sama dengan saat kita pertama kali bertarung dulu, Beezebub. Aku belajar dari kegagalanku waktu itu, dan inilah hasilnya."

Waktu itu Hinata gagal membalikkan vektor semua peluru sihir yang bergerak dengan arah irreguler karena kemampuan otaknya tidak sanggup melakukan perhitungan rumit untuk menyelesaikan persamaan vektor dari semua blok sihir yang bergerak irreguler sekaligus.

Tapi sekarang tidak lagi. Kemampuan otak Hinata sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya. Katakan lah kalau kemampuan otak Hinata saat ini sejajar dengan sang Maou Beelzebub.

Namun Ajuka tidak berhenti begitu saja, menggunakan Kankara Formula semua serangan yang bergerak irreguler tadi ia kembalikan kepada Hinata, bahkan dengan intensitas dan kecepatan yang lebih gila.

Tapi...

Tetap saja tidak ada satupun yang berhasil.

Setiap peluru sihir yang mengenai tubuh Hinata langsung dibelokkan begitu saja. Saat Ajuka mengembalikannya lagi dengan Kankara Formula untuk serangan lanjutan, lagi-lagi semuanya dipentalkan begitu mudah.

Pernah melihat orang memotong lempengan besi menggunakan gerinda? Saat besi dipotong, akan muncul percikan bunga api yang indah tapi tidak berbahaya asalkan tidak terlalu dekat apalagi kena mata. Jika percikan bunga api itu ditahan dengan telapak tangan maka tidak akan merasakan panas.

Nah, itulah yang nampak terjadi pada Hinata saat ini.

Tubuh Hinata ditabrak ratusan berkas-berkas cahaya yang mana itu adalah serangan peluru sihir mematikan. Namun semuanya dipantulkan tanpa Hinata perlu membuat gerakan, dia cukup berdiam saja seakan mengabaikan. Momen itu terus terjadi berulang-ulang tapi sedikitpun tak mampu membuat luka di badan Hinata. Padahal jika targetnya adalah orang biasa, sudah pasti seluruh tubuhnya akan penuh dengan lubang bak papan triplek yang ditembak dengan machinegun.

Azazel nampak sangat kagum melihatnya, "Hei Dulio!"

"Iya, tuan Azazel."

"Apa kau bisa membayangkan dirimu mampu menang bertarung melawan wanita itu?"

"Tidak sama sekali." jawab Dulio tegas. "Wanita itu tidak dapat diserang dengan semua teknik yang kumiliki, tapi dia bisa dengan mudah mengirimkan serangan paling mematikan ke tubuhku dengan tak memberiku kesempatan sama sekali untuk mengelak. Aku pasti mati sebelum sempat mata berkedip."

Dalam hati Tobio dan Griselda menyetujui pernyataan Dulio.

"Nah, itulah perbedaan antara kita dengan dirinya. Jurang lebar yang memisahkan strata makhluk tiga dimensi dengan makhluk empat dimensi." rupa-rupanya Azazel juga mengakui kehebatan Hinata. "Kita beruntung, Maou Ajuka Beelzebub memiliki cara mematahkan kemampuan tertinggi wanita itu. Jika tidak, kita berempat mungkin sudah mati sedari tadi."

Setelah kemampuan terhebat Azazel Absolute Order tidak lagi berguna pada Hinata, maka tidak ada kesempatan bagi kelompok Azazel untuk selamat dari amukan seorang istri yang kehilangan suaminya.

Ajuka berhenti karena merasa usahanya sia-sia.

Berjalan menyamping satu putaran penuh sudah selesai. Baik Hinata maupun Ajuka kembali ke posisi awal mereka berdiri.

Mereka yang menonton kini sadar, apa yang mereka tonton bukan lah pertarungan biasa seperti pertarungan brutal yang banyak sekali membuang-buang kekuatan serta lebih mengandalkan otot dan emosi dibandingkan otak. Pertarungan antara Hinata melawan Ajuka, adalah pertarungan yang berada pada level yang jauh berbeda. Bukan pertarungan all out yang membuat sekitarnya hancur berantakan, tapi pertarungan sunyi yang membuat jantung tak hentinya berdebar kencang.

Setiap serangan yang dilontarkan, adalah serangan paling mematikan yang pernah mereka lihat untuk target individual. Serangannya saja sudah sangat kuat, lalu dilakukan dengan akurasi yang hampir sempurna pada celah sempit dimana pertahanan paling tipis, kontinuitas dan intensitas tinggi namun sangat konsisten, dan menargetkan bagian paling vital dari bagian tubuh lawan.

"Ayo bertarung lebih serius." ajak Ajuka.

"Hm, ayo!"

Hinata mengambil nafas panjang, ia harus tetap tenang. Sejatinya di sini dirinyalah yang terdesak meski yang tampak oleh mata orang lain serangan dan pertahanannya lebih unggul.

Kenapa begitu?

Singkatnya, karena saat ini Hinata adalah makluk empat dimensi sedangkan Ajuka masih tetap makhluk tiga dimensi. Situasi dimana makhluk empat dimensi belum bisa memenangkan pertarungan melawan makhluk tiga dimensi sampai sejumlah waktu terlewat menandakan Hinata sedang terdesak.

Analoginya begini. Ada singa jantan dewasa dan anak kucing yang berduel serius, tapi setelah 10 menit sang singa belum juga menang. Artinya apa? Artinya si kucing lebih hebat dari sang singa.

Tampak tubuh Hinata melayang di udara, cukup tinggi sehingga sampai pada tengah-tengah ruang aula bawah tanah yang ketinggian langit-langitnya lebih dari 100 meter. Apa Hinata terbang? tidak memiliki kemampuan anti-gravitasi dan tak memiliki sayap. Tapi karena dirinya makhluk empat dimensi yang bisa sesuka hati memanipulasi posisi dalam dimensi ruang, mudah bagi Hinata membuat tubuhnya seperti melayang.

Ajuka pun menyusul, menyamakan ketinggian.

Terpaksa para penonton di bawah harus mendongak.

Di atas ketinggian, Hinata lagi-lagi mengaktifkan kemampuan tertingginya Time Extra.

~Dunia Dimensi Keempat; On~

Seluruh semesta berubah seketika. Apa yang dipandang mata masih sama, tapi tak satupun ada sesuatu yang bergerak. Semua berhenti seolah mati, makhluk hidup tak ubahnya seperti patung.

Kenapa begitu? Karena dimensi keempat yaitu waktu tidak bergerak maju sedetikpun di dunia ini.

Hanya makhluk empat dimensi saja, yang memiliki masa Extra Time, yang dapat bergerak dalam dimensi ini dan melakukan apapun ketika orang lain tidak melakukan apa-apa. Dia dapat melihat waktu dunia ini berhenti secara universal.

Dibawah sana, para penonton tidak tahu sama sekali apa yang terjadi, sebab mereka tidak memiliki waktu dalam dunia dimensi keempat ini. Tak memiliki waktu, bearti tak memiliki apa-apa walau secuil kesadaran.

Hanya ada dua sosok yang hidup dalam Dunia Dimensi Keempat ini, Hinata dan Ajuka.

"Ojou-san, tumben kau mengaktifkan kemampuan Time Extra selama ini?"

Pertanyaan Ajuka wajar. Hinata selalu mengaktfikan Time Extra hanya dalam waktu singkat ketika ia melayangkan sebuah serangan, dengan tujuan agar serangannya mencapai target tanpa sempat targetnya menyadari dan menghindar. Tapi saat ini, mereka berdua malah saling tatap-tatapan buang-buang waktu.

Bukankah bagi Hinata itu tidak efektif?

Hinata enggan menjawab. Dia meraba-raba tengkuknya. Di sana terasa ada sesuatu yang beda.

Ajuka bertanya lagi, "Apa kau tidak rugi melakukan hal ini?"

"Tentu saja aku rugi. Ada harga setimpal yang harus dibayar setiap kali menggunakan Time Extra. Kau pikir darimana waktu tambahan itu berasal huh?"

"Umurmu kan?"

Hinata mengiyakan tebakan Ajuka.

Tampaknya sebelum benar-benar serius bertarung sampai ada yang mati, keduanya sepakat dalam hati untuk menurunkan tensi dengan sedikit bicara. Baik Hinata maupun Ajuka, sama-sama bukan tipe orang yang terobsesi pada kemenangan tapi lebih mementingkan hasil yang sempurna.

Ajuka menunggu sejenak sampai Hinata berbicara lagi.

"Umur adalah takdir yang sudah ditetapkan, yang tak mungkin ditambah atau dikurangi. Saat Time Extra aktif, waktu yang ditambahkan kepadaku sebagai makhluk empat dimensi diambil dari jatah umurku. Semakin lama maka semakin banyak. Dengan begini, lama umurku secara keseluruhan tidak berubah tapi pada waktu universal dimana orang-orang hidup, umurku akan dipotong."

Misalkan jatah umur hidup Hinata adalah 65 tahun. Selama hidup dan bertarung, dia menggukana Time Extra yang diakumulasikan sampai 5 tahun, maka di dunia biasa dalam waktu universal umur Hinata hanya sampai 60 tahun saja.

Tapi mengingat keruntuhan Cardinal System hanya menunggu waktu 6 jam lagi, otomatis umur Hinata yang ditetapkan hanya tersisa paling lama 6 jam. Kalau Hinata masih menggunakan Time Extra lebih lama lagi, maka kematian Hinata akan datang lebih cepat. Bisa jadi Hinata akan mati sebelum sempat menyelesaikan misinya. Dan akhirnya apa yang dia perjuangkan bersama Naruto mejadi sia-sia.

"Kapan kau memasang benda ini di tubuhku?" giliran Hinata yang bertanya.

Keduanya masih melayang di tengah-tengah ketinggian. Saling berhadapan tanpa ada keinginan untuk menyerang lagi.

"Oh, sulur itu? Sudah kupasang sebelum Azazel muncul dihadapan kalian."

Artinya Ajuka datang lebih dahulu daripada Azazel, hanya saja dia bersembunyi dan melakukannya dari belakang tanpa diketahui.

"Bisa lepaskan ini?"

"Kecuali kau membunuhku, Ojou-san."

Ajuka tidak akan pernah melepaskannya, dan tidak berniat untuk itu.

"Brengsek!" Hinata yang lembut dan sopan tutur katanya bahkan sampai mengeluarkan umpatan buruk karena hal ini.

Sulur itu tak terlihat mata biasa bahkan dengan Byakugan normal pada rentang panjang gelombang sinar X, tapi saat Hinata mengatur reseptop retina matanya ke panjang gelombang sinar Inframerah, barulah sulur tersebut terlihat karena menghasilkan panas yang setingkat dengan suhu tubuh.

Sulur itu tersambung dari tengkuk Hinata ke tengkuk Ajuka. Panjang sulur pun selaru berubah menyesuaikan jarak keduanya.

"Kalau tidak dengan sulur itu, aku tak akan bisa bergerak di dunia dimensi keempat milikmu ini. Sejak kekalahanku darimu waktu itu, aku terus berfikir. Bahkan dengan tambahan informasi yang diberikan Serafall yang juga kau kalahkan dengan Time Extra, aku masih belum menemukan solusi bagaimana cara mematahkan teknikmu itu. Sampai akhirnya aku mencapai kesimpulan bahwa teknik itu tak akan bisa dipatahkan." Di sini Ajuka mengakui kalau sebenarnya ia tidak mematahkan kemampuan Time Extra. "Makhluk empat dimensi berada jauh diluar jangkauan makhluk tiga dimensi. Aku hampir menyerah, sampai akhirnya datang inspirasi."

Hinata menunggu-nunggu apa itu?

"Aku harus merubah cara berpikirku. Kalau mematahkan teknik itu tidak bisa, bagaimana kalau aku memiliki teknik itu juga agar bisa bertarung setara denganmu? Tapi aku sadar kalau itu tidak mungkin. Tidak ada pengetahuan di dunia ini yang mampu mencapai eksistensi makhluk empat dimensi. Mungkin karena kau bukan makhluk yang berasal dari dunia ini dan pengetahuan di duniamu lebih maju, maka kau bisa memiliki kemampuan itu." Ajuka masih ingat bahwa Hinata yang ia lawan dan seluruh orang Konoha yang sedang berperang melawan Aliansi Tiga Fraksi adalah eksistensi yang datang dari dunia lain, dari semesta lain yang jauh di sana. "Aku berpikir lebih dalam lagi. Kalau aku tidak bisa memilikinya, bagaimana kalau aku membonceng dirimu untuk masuk ke dalam dunia dimensi keempat?"

"Kesimpulannya kau membuat sulur ini untuk menghubungkan tubuhku denganmu, sehingga dirimu ikut menjadi mahluk empat dimensi?"

"Benar sekali. Saat ini tubuh kita saling terhubung, seolah menyatu. Saat Time Extra aktif, otomatis aku juga akan mendapatkan waktu tambahan itu." Sudah jelas kalau Time Extra itu efeknya menargetkan tubuh penggunanya. Kalau Ajuka menghubungkan tubuhnya dengan tubuh Hinata, maka Ajuka pasti juga akan terkena efek kemampuan itu. "Hanya saja waktu tambahan tetap dipotong dari umurmu, sedangkan umurku tidak berkurang."

"Tcih! Menjijikkan!" Sungguh! Tidak ada hal yang lebih memuakkan dan membuat perut Hinata mual selain ini.

Bayangkan! Ajuka mengatakan bahwa tubuhnya dan Maou brengsek itu menyatu. Hinata tidak akan pernah sudi mengakuinya. Ia benci dirinya disentuh lelaki selain suaminya.

Hal ini, menambah daftar amarah dan dendam dalam hati Hinata atas perbuatan para petinggi Aliansi Tiga Fraksi.

"Oh iya."

"Ha?" Hinata penasaran apa lagi yang mau dikatakan Ajuka dengan ekspresi sesantai itu.

"Ekspresi wajahmu tidak menyiratkan kalau kau tidak bersedih atas kematian suamimu. Kau tidak terlalu menyesal sudah membunuhnya dengan tanganmu sendiri."

"Apa urusanmu hah!"

"Kupikir kau sangat mencintainya."

"Tch!"

"Oh ayolah, Ojou-san. Sebentar lagi salah satu diantara kita akan mati, dan tak satupun orang dibawah sana yang akan mengetahui apa yang kita omongkan." Para makhluk tiga dimensi yang menonton di bawah kan arus waktunya berhenti, jadi gelombang suara tak akan pernah sampai ke telinga mereka.

Dan itu...

Err.

Entah ada angin dari mana sampai Ajuka jadi cerewet begini.

"..."

"Waaaah, begini ya sifaat aslimu. Padahal dari penampilanmu, semua orang akan menilai kau sebagai wanita baik yang penuh kasih, sopan dan lembut, serta halus tutur kata. Tapi ternyata..."

"Bisakah kau diam, Beelzebub!"

Tiba-tiba Hinata menyendu. Dia sendiri sadar kalau dirinya sudah berubah banyak. Dirinya yang dulu persis seperti apa yang dikatakan Ajuka. Sampai sekarang pun dirinya masih wanita lembut dan pemalu walau hanya di depan Naruto. Tapi setelah kematian Naruto hari ini, ia tidak peduli lagi mau seperti apapun sifatnya. Bahkan jika ada kepribadian lain dari dalam dirinya, seperti sisi kejam tak berperikemanusiaan yang terpendam, maka Hinata dengan senang hati memilih menjadi pribadi yang seperti itu.

"Yaa, kalau tidak mau juga tidak apa-apa." Ajuka merasa dirinya sedikit keterlaluan.

"Apa Maou Leviathan itu tidak bercerita hal lain selain tentang kemampuan mataku?" tampaknya Hinata jadi lebih terbuka pada Ajuka.

"Ada. Tentang kau yang ingin menjadi makhluk lima dimensi."

Hinata pernah menceritakan hal itu kepada Serafall saat di Kyoto dulu setelah ia menang telak melawannya. Kemudian setelah kerjasama Naruto dan Hinata dengan Rizevim terbongkar, barulah Serafall membeberkan informasi itu kepada semua orang.

"Tentang pernyataanmu yang tadi, istri mana yang tidak berduka saat suaminya mati? bagaimana mungkin aku tidak meratap setelah tanganku sendiri yang membunuhnya?"

Ajuka coba mendengarkan sepenuh hati. Di sela-sela pertarungan, saling mengerti isi hati adalah hal menyenangkan. Dirinya bukan lah iblis yang tak punya hati.

"Tapi sejenak kemudian aku bisa berpikir realistis. Aku tidak perlu bersedih berlebihan atas kematiannya. Naruto-kun pasti tidak akan senang kalau aku terpuruk seperti itu." Sudah berapa kali dikatakan bahwa Hinata adalah wanita dewasa yang pikirannya sudah sangat matang. "Ada misi yang masih belum kami selesaikan. Meski sendirian, aku akan tetap berjuang meraihnya."

"Menjadi makhluk lima dimensi. Lantas setelah itu?"

"Makhluk lima dimensi itu memiliki kekuasaan mutlak diatas segalanya. Jika aku berhasil menjadi makhluk lima dimensi, aku bisa melakukan apapun. Menghidupkan kembali suamiku seperti semula atau bahkan menciptakan alam semesta yang hanya milik kami berdua jadi perkara mudah. Apapun kehendakku akan jadi kenyataan, karena makhluk lima dimensi adalah satu-satunya dzat maha tunggal pemilik kehendak atas segala sesuatu."

"Wooowww." Ajuka menunjukkan ekspresi takjub. "Bagaimana ya kalau aku yang jadi seperti itu."

"Tidak akan mungkin. Hanya aku saja dari sekian banyak makhluk di seluruh semesta yang punya koneksi ke Cardinal System sehingga dapat melakukannya."

"Cardinal System? Apa itu?"

"Ahh, lupakan!"

Hinata enggan bicara lebih lebar. Untuk apa pula? Apalagi kepada Ajuka yang membuatnya muak.

"Em, oke. Lagipula tadi aku hanya bercanda."

Ajuka sama sekali tidak tertarik menjadi makhluk lima dimensi. Sebagai seorang pribadi, dia hanya tertarik pada ilmu pengetahuan. Kalau menjadi makhluk lima dimensi, maka otomatis akan tahu segalanya. Itu akan membosankan bagi ilmuan yang selalu mencari pengetahuan.

Hinata tidak lagi menyahut. Ekspresi wajahnya tampak sudah sangat muak dengan semua hal yang ada di depan matanya.

"Mungkin sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Jadi..."

"Hm?"

Ajuka mematri senyum sadis, "Ojou-san, ayo segera tentukan siapa yang berhak hidup setelah ini."

Sebuah blok sihir berwarna hijau yang sangat besar sudah selesai Ajuka ciptakan. Kekuatan serangnya pasti luar biasa.

Bang!

Blok silih meluncur cepat.

Hinata menatapnya bosan. Jengah.

Dan hal aneh terjadi,

Kecepatan blok sihir serangan Ajuka menurun drastis. Lalu berhenti di udara setelah menempuh jarak tidak lebih 3 meter.

"Kenapa ini?" Ajuka tidak mengerti. Ia menembakkan serangan sihir lagi, tapi hasilnya sama saja. Sudah belasan serangan sihir yang dia tembakkan tapi tak satupun yang bergerak, semuanya berhenti setelah menempuh jarak yang sangat pendek.

"Percuma!" tukas Hinata. "Dalam dunia dimensi keempat ini, hanya tubuhku dan dirimu yang terhubung denganku saja yang bisa bergerak. Selainnya nol. Serangan sihirmu itu seketika menjadi bagian dari dunia dimensi ketiga yang waktunya berhenti begitu terpisahkan tubuhmu."

Ajuka paham, sejenak ia melihat belasan blok sihir besar yang tampak melayang di udara. "Kalau misalnya Time Extra selesai, pasti blok sihir ini bergerak melesat lagi karena sudah memiliki waktu."

Dalam Dunia Dimensi Keempat, blok-blok sihir itu memang tidak bergerak tapi dalam dunia normal dimana waktu universal berjalan pasti serangan tadi akan melaju. Ini sama seperti yang Hinata lakukan. Hinata melayangkan serangan dalam masa Time Extra, tapi dampak serangan hanya akan muncul setelah kemampuan itu dimatikan dan waktu kembali berjalan normal.

"Kalau begitu aku akan membunuhmu dengan tinju, Ojou-san."

"Hah! Kau bodoh ya? Tinjumu hanya akan dipantulkan oleh pertahanan manipulasi vektor. Lagipula taijutsuku jauh lebih baik darimu." sungut Hinata.

Itu benar. Satu-satunya cara yang memungkinkan Ajuka menyerang Hinata adalah dengan menembakkan peluru sihir dalam jumlah banyak dan intensitas tinggi.

Tiba-tiba ekspresi wajah Ajuka menjadi seperti orang yang baru mendapatkan ide hebat.

"Kalau aku buat begini, bagaimana?"

Ajuka mengaktifkan Kankara Formula. Menggunakan lingkaran sihir kecil itu, dia mengendalikan semua blok sihir berwarna hijau yang berhenti di udara.

Mula-mula satu blok sihir tebelah menjadi dua sama besar. Kemudian membelah lagi. Sampai bentuknya kecil-kecil seperti peluru. Blok sihir lainnya juga sama. Sukar dihitung namun diperkirakan ada lebih dari 3000 peluru sihir yang tercipta.

Ada sedikit gerakan, sedikit pepindahan posisi peluru sihir saat Ajuka mengendalikannya secara langsung menggunakan Kankara Formula dalam dunia dimensi keempat ini. Hanya saja gerakannya lamban, sehingga Ajuka tidak mungkin menggunakannya untuk menyerang Hinata secara langsung.

Sang Byakugan no Hime membiarkan Ajuka berbuat sesukanya, ia memperhatikan dahulu. Kalau ada celah menyerang, pasti akan langsung ia lakukan.

Sekejap saja, ribuan peluru sihir sudah memenuhi hampir seisi ruangan aula bawah tanah. Tubuh kolosal Trihexa yang diam tak bergerak dalam ruangan itu hampir tak kelihatan lagi karena ditutupi titik-titik cahaya hijau dari peluru sihir.

Detik selanjutnya, Ajuka membuat semua peluru sihirnya memiliki arah gerak irreguler agar Hinata sulit membelokkannya dengan teknik manipulasi vektor. Jumlahnya yang amat banyak ini pun bertujuan agar otak Hinata kelebihan beban sehinggaa tak sanggup mementalkan semuanya.

"Beelzebub kurang ajar!" Hinata menyumpah. Ia mengerti apa yang ingin Ajuka lakukan. Dan ternyata tidak hanya menargetkan dirinya saja, tapi juga dengan Sona dan yang lainnya yang sedang di bawah. Ada ribuan peluru sihir yang siap menghantam tubuh mereka.

Kalau begini...

Ajuka menyeringai, "Kau tidak mungkin selamanya bisa mengaktifkan Time Extra. Aku menyadarinya dari aliran energi ke matamu. Selama mengantifkan kemampuan itu, matamu harus terus menerus mendapat suplai energi agar tetap aktif. Saat kau kehabisan tenaga, otomatis Time Extra berhenti dan waktu akan kembali berjalan normal."

Saat waktu berjalan normal lagi, beribu-ribu peluru sihir Ajuka akan membuat seisi ruangan ini hancur luluh lantak.

Untuk mempersempit ruang gerak Hinata menggunakan kemampuan manipulasi posisi sekaligus meningkatkan konsentrasi serangannya, Ajuka tidak boleh bertarung di ruang terbuka. Oleh karena itulah, sedari awal dia menantang Hinata bertarung di dalam ruang aula bawah tanah ini. Dengan begitu, jangkauan manipulasi posisi yang seharusnya mencapai 10 km, kini hanya bisa bekerja di dalam ruangan yang lingkupnya jauh lebih kecil dari kemampuan Hinata. Ini jelas keuntungan untuk Ajuka.

Sekarang, suasananya berubah drastis menjadi benar-benar serius, seolah obrolan ringan atara mereka tadi tak pernah ada.

Mau tidak mau Hinata dibuat panik.

Dirinya tidak bisa mempertahankan Time Extra lebih lama dari ini. Dia sendiri juga tidak bisa memindahkan tubuhnya ke posisi lain yang aman sebab seisi ruangan aula bawah tanah penuh dengan peluru sihir. Buruknya lagi, Sona dan iblis muda lain dibawah sana yang menumpukan harapan pada dirinya juga dalam bahaya yang sama besarnya. Semua orang disana juga menjadi target sasaran tembak peluru sihir Ajuka. Sebagai teman, Hinata tidak bisa mengabaikan mereka begitu saja. Pasti Ajuka melakukan ini untuk membuat ketenangannya runtuh.

Kalau sudah seperti ini...

"Hahahahaaaa!" Ajuka tertawa congak.

Terpaksa...

~Dunia Dimensi Keempat; Off~

Hinata menghentikan kemampuan Time Extra.

Sona, Rias, Diuhaser dan semua orang hampir tak sempat melakukan apa-apa walau hanya sekadar untuk terkejut. Kematian sudah menghadang di depan mata. Yang sempat terpikir adalah bahwa semua peluru sihir yang hendak menembus batang tubuh mereka itu pasti akibat pertarungan yang terjadi pada saat Time Extra aktif di dalam Dunia Dimensi Keempat.

KABBOOOOOOMM!

Suara ledakan hebat menggema. Seluruh Pulau Langit Agreas sampai bergetar dibuatnya.

"Fiuuuuhh!" Sona merasakan dirinya masih bernafas.

Ketika dia dan teman-temannya membuka mata, mau tak mau iris mata mereka membola mendapati kenyataan bahwa pada sisi kanan ruang aula bawah tanah dindinngnya berlubang, lubang yang menganga lebar akibat dihantam oleh serangan sihir yang tak main-main hebatnya. Buktinya lubang besar itu tembus sampai keluar, sampai ke sisi lain Pulau Langit Agreas, sehingga membentuk lorong terowongan yang panjangnya mungkin lebih dari 2 km.

Tapi itu lebih baik kan dibanding mereka yang mati?

"Gila!" Bikou geleng-geleng kepala, berharap situasi hampir mati yang tadi hanyalah mimpi.

Glupp.

Kuroka meneguk ludah. "Itu tadi tidak nyata kan!?" Dia menggoyang-goyangkan badan mungil Le Fay. "Yang tadi tidak nyata kan?" tanyanya lagi

Le Fay menggeleng, menjawab tidak. Maksudnya, tidak tahu.

Yang lainnya juga sama, apalagi anggota kelompok Rias. Rias sendiri tak menduga bahwa Maou Ajuka tak segan-segan membunuh dirinya. Padahal dia adik kesayangan Maou Sirzech Lucifer.

Untung saja.

Tap!

Kaki Hinata memijak lagi di lantai aula. Nafasnya terngah-engah, matanya pun terpejam.

Hinata berhasil menyelamatkan mereka semua.

Prok prok prookkk!

Ajuka juga turun ke bawah sembari bertepuk tangan, "Sungguh! Aku tidak mengira kau akan memindahkan semua peluru sihir yang kubuat dan mengubah arahnya dengan dua teknikmu sekaligus!"

Dalam jeda waktu singkat setelah Time Extra dinonaktifkan, Hinata memindahkan semua peluru sihir yang Ajuka ciptakan ke satu titik lalu mengubah arahnya sehingga menuju ke luar ruang aula. Dan hasilnya dinding ruang aula bawah tanah tembus berlubang hingga mencipta terowongan lurus yang panjangnya mencapai 2 km.

Jika saja itu mengenai tubuh Hinata, juga Sona dan yang lainnya, mana mungkin mereka bisa selamat.

Hinata duduk terlutut, nafasnya terdengar putus-putus, staminanya juga turun dengan drastis.

Ajuka menyadari sesuatu, "Aku tahu sekarang, semakin berat beban otakmu dalam mengendalikan tiga macam kemampuan matamu itu dan juga semakin lama kau menggunakannya, maka tubuhmu akan kelebihan beban, otakmu mengalami overheat, sehingga akhirnya kau jadi seperti itu. Biar ku tebak! Tadi itu sudah melampau batas kemampuan otakmu kan?"

Tanpa perlu ada yang menjawab pun, jawabannya sudah jelas.

Harus diakui, penggunaan The True Tenseigan tidak jauh berbeda dengan Byakugan, Sharingan ataupun Rinnegan. Semua doujutsu memerlukan pasokan chakra yang banyak pada mata. Inilah kelemahan Hinata, mata hebat miliknya tidak ditopang oleh volume chakra yang besar serta fisik dan stamina yang kuat.

Ajuka menyeringai sadis, "Baiklah, Ojou-san! Kalau begitu ini akan jadi yang terakhir. Kau pasti akan mati!"

Level demonic power di tubuh Ajuka meningkat tajam. Kuantitasnya sungguh luar biasa, selevel dengan Sirzech. Dengan jumlah kekuatan yang sangat gila ini, Ajuka menciptakan blok sihir yang sangat besar di udara. Bukan hanya besar, tapi kepadatan energinya juga tak bisa dibayangkan. Misalkan itu meledak, bukan tidak mungkin seluruh Pulau Langit Agreas tempat mereka berada ini akan hancur berkeping-keping.

Tidak berhenti sampai disitu, "Kutambahkan dengan ini!"

10 lingkaran sihir kecil dengan aksara rumit muncul satu di setiap ujung jari tangan Ajuka. Semua itu adalah Kankara Formula yang dikendalikan sekaligus dengan sepuluh jari. Ya, kekuatan penuh Ajuka dalam menggunakan teknik Kankara Formula.

Dan kesemuanya itu, Ajuka gunakan untuk mengendalikan semua fenomena sihir yang ia buat.

Singkat kata, Ajuka membuat hal yang sama seperti tadi. Tapi dengan kuantitas dan kualitas yang sangat jauh berbeda levelnya.

Akan seperti apa jadinya?

Ajuka memperingatkan rekannya, "Azazel, buat sihir pertahanan sekuat yang kau bisa dalam ruang sempit bersama tiga bawahanmu itu kalau kalian ingin selamat."

Azazel lantas melakukannnya bersama Dulio dan yang lain. Mereka membuat kubah pertahanan yang sangat kuat dan hanya muat untuk mereka berempat demi mencegah Hinata menyusup berlindung ke dalam sini.

Kalau Raja Naga Tiamat, pasti bisa melindungi diri sendiri. Sedangkan Trihexa dibiarkan saja. Toh sekuat-kuatnya serangan Ajuka, mustahil bisa memberikan luka serius pada makhluk tiada tanding itu. Namun pada musuh-musuhnya, sudah pasti dampaknya akan mengerikan.

Sekarang hampir seisi ruangan aula sudah penuh dengan peluru sihir. Diehauser saja sangat kerepotan untuk melindungi dirinya sendiri, dia mungkin tidak akan hidup dengan badan mulus setelah Ajuka juga menargetkan dirinya. Apalagi kalau harus melindungi semua orang, mustahil. Ia merasa harus minta maaf karena tidak bisa memenuhi permintaan arwah Naruto untuk melindungi mereka.

Hinata!

Wanita itu adalah sasaran utama serangan ini.

Ia tidak bisa menggunakan kemampuan Time Extra lagi. Bukannya tidak bisa, tapi menggunakannya hanya akan sia-sia sebab tubuhnya dan Ajuka masih terhubung. Ajuka bisa ikut dirinya ke dalam Dunia Dimensi Keempat. Bukan tidak mungkin Maou Beelzebub itu melakukan hal yang lebih mengerikan lagi dari pada ini di dalam dunia itu.

Karena itu lah, Hinata terpaksa harus bertaruh pada kartu As-nya.

Shuuuuuuuu...

Suara desisan halus terdengar bersamaan dengan pelepasan chakra di sekujur badan Hinata. Aura ungu pekat melingkupi tubuh sang Byakugan no Hime, chakra rikudou murni yang dia warisi dari Hamura Ootsutsuki.

Seperti mendiang suaminya dan Uchiha Sasuke yang telah mencapai tingkatan Rikudou, Hinata juga sudah lama mencapai tingkatan itu sejak insiden di bulan dulu. Jika Naruto dan Sasuke mewarisi chakra dan Rinnegan Rikudou Sennin Hagoromo Ootsutsuki, maka Hinata adalah pewaris satu-satunya kekuatan Enam Jalan Rikudou Hamura Ootsutsuki.

Chakra Hinata sudah kritis, jadi inilah satu-satunya pilihan. Menggunakan Chakra Hamura.

Aura ungu tampak makin pekat dan padat, pakaian Hinata bekibar-kibar, rambutnya pun terangkat ke atas. Matanya..., bersinar sangat terang.

Hari ini untuk pertama kalinya, Uzumaki Hinata menunjukkan semua kekuatannya untuk menandingi Maou Ajuka Beelzebub, Sang Super Devil yang juga telah mengeluarkan kekuatan penuh.

Ajuka sudah selesai dengan persiapan serangannya, "Naaah Ojou-saannnnn, tidak mungkin kau mengatasi seratus ribu peluru sihir ini! Kau pasti matiii...!"

Serentak, seratus ribu peluru sihir melesat cepat dengan gerakan irreguler. Sebagian besar menuju Hinata, sebagiannya lagi menyasar Sona dan yang lain karena menurut Ajuka mereka adalah pengganggu yang layak dieksekusi mati, sedangkan sisanya bergerak acak di seisi ruang aula bawah tanah untuk menutup habis semua ruang gerak agar Hinata tidak punya tempat menghindar.

Hinata mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada,

"Kau yang mati, Beelzebuuuubbbb! HAAAAAAA...!"

Aura chakra disekitar tubuh Hinata bergejolak seperti hendak meledak, matanya bersinar makin terang sambil mengeluarkan darah segar yang mengalir turun pipi.

Tinngggg!

Semua peluru sihir Ajuka tiba-tiba menghilang.

Ajuka terkejut, mustahil Hinata bisa memindahkan seratus ribu peluru sihir sekaligus.

Tapi kalau benar iya, kemana?

Gluk!

Tubuh Ajuka sontak menggelembung.

"Jangan-jangan!"

Ajuka tidak berharap apa yang ia pikirkan adalah kenyataan.

Terus menggembung bahkan ditelan cahaya menyilaukan hingga tubuh Ajuka tidak terlihat lagi.

KAABBBOOOOOMMMM!

Mau tak mau, semua orang menutup mata karena silaunya cahaya yang berkilat di titik pusat ledakan. Suaranya menggelegar memekakkan telinga. Rias dan lainnya terpaksa tiarap, Saji dan Rugal bahkan terpaksa harus merelakan tubuh mereka terpental kebelakang. Hanya Dieuhauser yang tampak berdiri tegak.

Di sini lain, Azazel dalam kubah perlindungan bersamaan dengan bawahannya tampak tak terlalu terpengaruh oleh efek ledakan. Tapi dia sama sekali tak menyangka bahwa...

Ledakan besar tadi berumber dari dalam tubuh Ajuka Beelzebub.

Hasil pertarungan sudah pasti, Maou Ajuka Beelzebub tewas.

Beberapa saat ketika situasi sudah tenang, nampak di lantai ruangan tubuh Hinata terbaring tak berdaya. Dia kehabisan tenaga. Kelelahan otak yang hebat juga ikut menambah deritanya.

Sebagai orang yang paling peduli, Sona langsung berlari ke arah Hinata. Memangku kepala wanita itu berbaring di pangkuannya.

"Hinata-san!"

"S-son..." Suara Hinata begitu lirih.

Asia adalah iblis paling pengasih diantara yang lainnya. Tubuhnya bergerak begitu saja menyusul Sona.

Heall!

Dia kirimkan aura hijau sihir penyembuh untuk menolong Hinata.

Perlahan tubuh Hinata membaik, tapi tidak staminanya. Kesadarannya sangat tipis sehingga bicarapun tak sanggup. Hinata benar-benar kehabisan tenaga, ditambah lagi kelelahan otak yang dia derita sama sekali tak bisa ditolong. Hinata harus mendapatkan istirahat yang cukup setelah ini.

Dan yang paling buruk adalah...

Kelopak mata Hinata tertutup rapat. Jejak-jejak aliran darah dari sana masih belum kering.

Hanya dengan sekilas lihat, siapapun dapat menyimpulkan bahwa mungkin Hinata akan mengalami kebutaan permanen.

Semua teman Hinata telah lengkap mendekat.

"Apa... Apa yang tadi terjadi?" Tidak hanya Tomoe saja, ada banyak orang lain yang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi

Diehauser meringkasnya dalam satu kalimat pendek, "Wanita ini memindahkan semua serangan sihir ke dalam tubuh Beelzebub-sama sekaligus."

"Dia ini!" Sona sampai geram karenanya. Ia tak bisa terima kalau Hinata melakukan hal senekat ini.

Faktanya, seratus ribu peluru sihir yang Ajuka ciptakan dengan Kankara Formula, semuanya dipindahkan oleh Hinata dengan kemampuan manipulasi posisi ke satu titik. Satu titik yang berada di dalam perut Ajuka. Yang sekejap kemudian, meledak dengan dahsyat sampai tak menyisakan satu sel pun dari tubuh Ajuka yang masih hidup.

Itu adalah cara yang amat sangat ekstrim. Bahkan jika dilakukan oleh Hinata sekalipun. Karena apa? Karena pelakunya harus memaksa tubuhnya melampaui batas jauh diatas ambang toleransi.

Penggunaan ketiga jenis kemampuan The True Tenseigan hampir seluruhnya dibebankan pada otak. Apalagi manipulasi vektor dan manipulasi posisi yang berpondasi pada perhitungan matematis. Memindahkan seratus ribu benda yang sedang bergerak cepat dengan arah irreguler sekaligus ke satu titik, adalah hal yang sangat keterlaluan sulitnya. Itu jelas-jelas melebihi kapasitas kemampuan manusia. Superkomputer tercepat di dunia pun mungkin akan lag dan mengalami overheat jika dipaksa melakukan perhitungan ini. Memaksakan diri melakukannya sama saja dengan bunuh diri karena akan membawa efek mengerikan pada otak penggunanya.

Kematian jutaan sel saraf di otak adalah efek pasti. Akan terjadi demensia atau penurunan fungsi otak sebagai akibat kematian sel saraf. Efek buruk ini akan berlanjut juga ke fungsi fisiologis dan motorik karena otak adalah pusat tubuh. Selain itu juga akan membuat kemampuan berpikir Hinata menurun signifikan, dan pastinya banyak memori atau kenangan selama hidup yang akan hilang begitu saja seperti orang yang amnesia.

Hinata sungguh mengorbankan hal yang sangat besar hanya untuk mengalahkan Ajuka. Sekarang, matanya buta permanen. The True Tenseigan tak akan pernah aktif lagi.

Di tengah-tengah kemelut itu, terdengar suara ketukan langkah kaki. "Sayang sekali ya, Ajuka kalah!"

"Azazel sensei." pekik Rias.

"Ya sudah lah. Tak perlu sedih."

Apa maksud Azazel? semua orang bertanya-tanya.

"Tidak ada lagi penghalang di jalanku. Aku bisa melangkah dengan tenang."

Naruto sudah mati, Hinata sudah tidak bisa bertarung lagi.

"Apa maumu, Azazel?" Sona menatap tajam. Rengkuhan tangannya tampak sangat protektif pada Hinata. Ia tidak berniat meninggalkan Hinata sendirian.

"Sona, kau bodoh atau apa ha?" bentak Azazel.

Sona tidak bodoh.

Pada situasi ini, Azazel lah yang berada dipuncak. Tidak ada satupun dari mereka, dan tak ada cara untuk mengalahkan Azazel yang memiliki kekuatan Absolute Order.

Hinata sebagai makhluk empat dimensi yang tak terpengaruh Absolute Order, sekarang sudah tak berdaya. Iblis seperti Sona dan yang lainnya tak punya apa-apa untuk melawan.

Tap.

Rias berdiri paling depan, merentangkan tangan seakan ia ingin melindungi semua orang.

"Rias, mau apa kau?"

"Sensei. Kau adalah guruku."

"Tidak hanya dirimu, Buchou. Azazel adalah guru kita semua."

Alis Azazel saling bertaut, "Kalian!?"

Ekspresi Rias penuh keyakinan, "Kau adalah guru kami semua dan itu tak akan berubah sampai kapanpun. Tapi..."

"Hm?"

"Tapi kami tidak akan membiarkan dirimu bertindak lebih jauh dari ini."

"Oh aku mengerti. Kalian semua ingin mati rupanya. Kuharap Sirzech tidak marah padaku kalau adiknya kenapa-kenapa." Azazel melakukan sedikit peregangan. Ada bocah-bocah yang masih perlu didikannya. "Absolute Order aktif! Xenovia, potong tangan kanan Rias.!"

Shiinnggg!

Sekejap mata, Xenovia sudah menghunuskan pedang Durandal tepat di depan Rias. Apapun pasti bisa dipotong dengan pedang itu. Tak memiliki kuasa menolak, Xenovia melaksanakan perintah Azazel begitu cepat. "Maafkan aku, Buchou!" wajah Xenovia penuh dengan raut penyesalan.

Slice!

Clanggg!

Beruntung, Kiba tanggap memblokir serangan Xenovia. "Tenangkan dirimu, Xenovia!"

"Aku tidak bisa, tubuhku bergerak begitu saja mengincar tangan kanan Kaichou!"

Duuaakk.

Terpaksa Kiba menendang perut Xenovia agar [Raja]-nya aman.

Suara Azazel terdengar lagi, "Gasper, ubah wujudmu menjadi monster hitam lalu telan semua teman-temanmu."

"Kh!" Gasper meringis kesakitan bersamaan dengan tubuhnya yang mulai berubah wujud.

Kini kelompok Rias sudah terjatuh ke dalam jurang di mana mereka akan saling membantai dengan teman sendiri.

Azazel sudah tak terhentikan lagi sekarang.

Kalau sudah begini, bagaimana caranya Rias dan yang lain selamat?

Selain itu, apa tindakan Sona sebagai satu-satunya orang yang paling mengetahui apa yang Naruto dan Hinata perjuangkan?

Apakah Sona akan meruskan misi itu?

Kalau iya, dengan apa? Kekuatan saja dia tak punya.

.

.

.

To be Continued...

.

Note : Semoga tidak ada yang bingung tentang mekanisme Reset yang dilakukan oleh Akemi Homura? Kupikir di atas udah jelas banget, bahkan sampai kutambahkan dengan landasan teorinya pula.

Olympus udah kalah, yeeii! Di Nirvana juga udah hampir usai. Namun apa kaitannya dengan perang utama di cerita ini? Nanti juga ketahuan.

Ajuka mati,, huhuuuuuu. Satu Maou udah death.

Tapi... Hinata harus sekarat. Wkwkwkwk, gimana dong?

Oh iya, tolong jangan protes dengan fight scene Hinata Vs Ajuka yang terasa panjang padahal aksi mereka tidak terlalu banyak. Susah loh mendeskripsikan cara bertarung dengan Time Extra. Mereka bertarung dengan otak, bukan otot. Aku aja pusing.

Jadi yaa sebenarnya Time Extra yang sudah ada sejak dua tahun lalu pada chapter 38 dan aku suruh kalian nebak kelemahannya, mwahahaha... nyatanya teknik itu tidak memiliki kelemahan. Bener kan, ga ada kelemahannya kan itu? Hihiiii. Sebenarnya tidak juga sih, itu relatif tergantung bagaimana menilainya. Ajuka aja perlu trik licik untuk membuatnya dirinya 'nebeng' menjadi makhluk empat dimensi sementara agar bisa mendapatkan efek Time Extra sehingga sanggup menantang Hinata. Tapi yaa tetap aja sih, teknik hebat itu punya resiko yang ga main-main. Bisa memangkas umur :v Hahaaa. Kan gitu, semakin hebat suatu jutsu, semakin mahal pula harga yang harus dibayar.

Kemudian terakhir, penting ga penting sih bagian ini, gimana mungkin Rias dan kelompoknya bisa mengatasi Azazel? Apakah mereka semua akan mati? Yaa, kita tahu kalau kelompok Rias adalah yang paling bodoh dan kurang perhitungan, tapi tekad dan prinsipnya harus diacungi jempol. Azazel adalah guru mereka, tapi karena kejadian ini, ada semacam perasaan yang harus disaling dibenturkan agar hati merasa lapang.

Ulasan Review:

Naruto matiiii! Hm hm hm, beneran ga yahh? :v Whahahaaa. Sekarang Hinata sekarat pula, mau kemana nih cerita?

Ada yang ngatain Naruto punya salah satu sifat The God of Bible, maha kuasa membolak-balikkan hati. Boleh ketawa ga? :v

Aduuuh maaf ya, biarpun bulan puasa aku tetap harus berangkat kerja. Jadi tetap ga bisa update cepet.

Yang tahu anime Madoka Magica, iya memang bener kok kemampuan Akemi di FF ini berbeda dengan di anime aslinya.

Itu yang kemarin bilang Timeskip! apanya yang mau di-skip, ngaco ah... hahaa :v

Mengenai batasan kekuatan Absolute Order-nya Azazel, chapter depan kejawab deh.

Okeh, tentang Ophis aku singgung dikit nih. Yang ngatain Ophisnya palsu, sembarangan aja. Coba pikir! Jika iya begitu maka mungkinkah membuat Ophis palsu yang level powernya tak terbatas persis Ophis asli?

Oh ya, di chapter ini terjawab sudah tentang banyaknya keanehan alur perang pada malam hari sejak chapter 84. Coba aja ingat-ingat lagi, alurnya seperti kacau bukan? Ada yang udah mati eeh hidup lagi. Itu karena secara teknis, aku menulis scene nya diambil dari berbagai waktu yang berbeda dari tiap dunia paralel yang berbeda pula. Tidak dalam satu alur waktu. Ada satu dunia paralel yang Tenten udah mati, ada dunia palalel lain yang Tentennya hanya luka sekarat. Ada juga yang Zekram udah mati, di lain scene Zekramnya segar bugar. Lebih luas lagi, kadang kala Konoha yang unggul, eeh chapter berikutnya Aliansi Tiga Fraksi tiba-tiba overpower.

Inilah yang kumaksud misteri teka-teki waktu itu, yang nyatanya ga ada satupun yang sadar. Padahal petunjuk udah tertera jelas. Pada setiap awal scene selalu kutulis "-Arena Perang, Underworld. At 04.39 am-". Ada petunjuk waktunya jam berapa disana, yang pada setiap scene waktunya dibuat acak, tidak runtut. Kadang pukul 2, 3 atau 4.

Lalu mungkin ada yang bertanya, kenapa sampai repot-repot pakai teori mekanika kuantum? Kan tinggal katakan "Reset!" doang, perkara selesai. Semua pembaca juga sudah familiar dengan reset-mereset. Kebanyakan teori seperti itu hanya akan bikin malas baca. Atau parahnya Authornya pengen kelihatan pintar kalii. Hahahaa.

Jadi begini, bukan hanya tentang mekanika kuantum saja karena sejak awal aku udah lumayan sering memasukkan landasan teori yang rumit dan bejibun. Tujuanku hanya ingin supaya karya ini punya ke-logis-an yang kuat. Selain itu juga teori satu dengan lainnya hampir selalu berkaitan dan kadang punya nilai falsafah tersendiri yang bisa direnungi dalam hidup. Khusus tentang reser-meresetnya Akemi, masih ada kelanjutannya di chapter depan. Ada keterkaitan yang lumayan erat dengan konsep Cardinal System yang merupakan pondasi cerita FF ini.

Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Dan...

Selamat Merayakan Hari Idul Fitri 1439 H.

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Salam, Si Hitam.

.

.

.