Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe.

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Rabu, 27 Juni 2018

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . .

Kini kelompok Rias sudah terjatuh ke dalam jurang di mana mereka akan saling membantai dengan teman sendiri.

Azazel sudah tak terhentikan lagi sekarang.

Kalau sudah begini, bagaimana caranya Rias dan yang lain selamat?

.

To The End of The World

Writen by Si Hitam

.

Chapter 91. Armageddon War, End of The World - Part 15.

.

-Arena Perang, Underworld. At 03.53 am-

Ada sepasang dewa dan dewi yang melayang di udara cukup tinggi.

"Hei, ini menyenangkan, padahal awalnya kupikir akan menegangkan. Katanya pasukan kita sedang dalam situasi sulit karena didesak musuh." ucap sang dewi. Dia menciptakan sebuah bola api massif yang dari jarak ratusan meter saja terasa sangat panas hawanya.

Sang dewa juga membuat bola api yang sama kuatnya seperti sang dewi, lalu di lempar bersamaaan. Ia menyahut, "Ah, benar juga."

Rupa dewa itu berwujud orang tua berhidung panjang dengan kulit berwarna kemerahan.

Sepuluh detik berikutnya, angin kencang berembus membawa hawa panas sehingga membuat pakaian keagungan dewa-dewi tersebut berkibar-kibar menyusul cahaya terang menyilaukan yang datang lebih dahulu. Selanjutnya, getaran hebat beserta suara gemuruh menjadi penutup.

Sekali lagi ledakah hebat pemusnah massal menjadi hidangan manis perang akbar ini.

"Serangan yang hebat." Si dewi tersenyum, matanya menyipit sehingga mencipta segaris kerutan di ekornya. Wanita paruh baya perwujudan Dewi Matahari dari Takamagahara merasa cukup puas dengan serangan tadi.

"Cukup efektif untuk membuat pasukan Aliansi berpikir dua kali kalau ingin mendekat ke sini." Dia lah dewa pimpinan dari mitologi kepercayaan Suku Inca, Maya, dan Aztec dari Benua Amerika. Sama seperti teman bicaranya, dia juga dipuja sebagai dewa matahari.

"Mau melakukannya bersama lagi, Dewa Kinich Ahau?"

"Anda rupanya kurang sabaran ya, Dewi Amaterasu." si dewa tertawa kecil. "Jangan lupakan intruksi yang dikatakan oleh anak muda yang mengatur semua pasukan kita ini."

"Aku tidak lupa. Hanya sa..."

"Turuti saja lah. Dia sudah susah payah memikirkannya. Kita harus menghargai usaha kerasnya."

"Iya sih." Amaterasu mengangguk.

Bukannya Dewi Amaterasu tidak bijak. Sebagai pemimpin dari seluruh dunia langit Takamagahara tempat tinggal dewa-dewi Reliji Shinto, ia adalah pemilik kebijaksanaan tertinggi. Hanya saja, karena sedang perang jadi dia sedikit lepas.

Berbeda dengan Dewa Kinich Ahau. Sedari awal dia menunjukkan keinginan dan tekad kuat untuk menang, juga loyalitas dan integritas yang tinggi terhadap persekutuan mereka.

"Anak muda bernama Shikamaru itu... Aku kagum padanya. Dia berusaha sangat keras untuk kemenangan kita." ekspresi kagum Dewa Kinich Ahau sangat jujur, selaras dengan apa yang dia katakan.

"Ya aku tahu kok. Bahkan dia kelihatan kesakitan karena beban pikiran dan mental yang ditanggung. Walau dia sembunyikan, tapi mataku tak bisa ditipu."

"Hahahaa. Manusia memang makhluk yang sangat tak terduga. Mereka melakukan lebih keras dari apa yang bisa dewa dan dewi lakukan. Tak ada makhluk yang lebih hebat dari ras mereka."

"Sampai membuat dewa dan dewi seperti kita menuruti perkataannya, aku saja heran."

"Ya. Kita menuruti perkataannya tanpa rasa terpaksa."

"Umm." Dewi Amaterasu mengangguk. Matanya menatap lagi ke depan, tiba-tiba..., "Oh lihat disana!"

Iris mata hitam kecil milik Dewa Kinich Ahau berfokus ke satu titik.

"Kita lakukan lagi?" tanya Dewi Amaterasu.

"Nanti dulu. Kurasa belum sekarang."

"Hm?"

"Lihat itu!"

Dewi Amaterasu melihat lebih jeli. Nampak di matanya kalau di sana ada sepasang prajurit yang sedang bertarung sekuat tenaga. "Beri mereka kesempatan. Kerjasama mereka sangat bagus!"

"Ya, mereka pasangan yang hebat!"

Ke bawah,

Ada sepasang prajurit yang sedang bertempur hebat, salah satu shinobi Konoha bernama Shiranui Genma dan vampir wanita dari Faksi Carmilla, Izzy.

"Kau lelah, Genma?"

"Tapi aku masih bisa bertarung...!"

Syuuttt.

Genma melempar sebilah kunai dengan kertas peledak.

Kabbooommm...!

"Sekarang, Izzy!"

"Okke!"

Shupp,

Dashh!

Di balik kepulan asap pekat, saat para prajurit Aliansi Tiga Fraksi panik setelah ledakan, Izzy menyerang brutal. Insting sebagai vampir menuntunnya menemukan dan membantai musuh, bahkan menghisap darahnya kalau perlu.

Berselang belasan detik kemudian kepulan asap memudar,

"Izzy, mundur!"

"Sluurpp."

Tak didengar, rupanya si vampir wanita itu sedang keasyikan menikmati darah segar. Apalagi darah prajurit malaikat yang rasanya manis, lebih manis dari pada darah manusia yang penuh dosa.

Wajar kan kalau Izzy kehausan karena bertempur hampir seharian penuh?

"Awaaaaasss!"

Genma berteriak! Ada tiga serdadu iblis yang menghunuskan tombak ke arah Izzy. Tapi yang diteriaki tak jua mendengar.

"Sialan!"

Suiton: Suijinheki

Genma memuntahkan banyak air dari mulutnya. Berkubik-kubik air itu membentuk gelombang yang bergerak cepat ke arah Izzy. Lalu mengelilinginya, naik membentuk dinding melingkar sampai menutupi Izzy dalam kubah berbentuk setengah bola.

Kubah pertahanan itu cukup kuat untuk menahan tusukan tombak dari para iblis.

Masih belum, Genma merapal jutsu lagi.

Suiton: Suiryouben

Clashh...

Ternyata tidak hanya dapat digunakan sebagai pertahanan, air yang dikendalikan Genma mampu membentuk semacam cambuk bermata tajam yang mencuat keluar dari kubah. Tiga iblis yang tanpa pertahanan tewas karena tusukan cambuk air yang menembus tubuh mereka.

Selang beberapa saat, kubah air runtuh berserta dengan cambuknya. Tiga tubuh iblis itu pun mendarat keras di permukaan tanah. Terlihat Izzy yang telah selesai minum melepaskan mangsanya, malaikat itu tewas akibat darahnya dihisap habis.

Mata Izzy bercahaya merah. Rambut putih yang tergerai seperti terangkat oleh tiupan angin, wajah cantik khas wanita dewasa itu kini terlihat sadis dan menyeramkan. Santapan lezat tadi tidak hanya mengeyangkan, tapi juga memberinya banya energi. Cukup untuk membuatnya kembali prima seperti sebelum bertarung.

"Seraaaaanggg!"

Seorang malaikat jatuh yang membawa tombak cahaya mengkomando 15 prajurit Aliansi yang lainnya untuk menyerang Izzy bersamaan. Mumpung vampir wanita itu sedang tidak ada pertahanan.

Tapi...

Swooossshh

Izzy hanya mengibaskan tangan sekali.

Crusshh!

"Aaarrrrkkhh!"

Semua pasukan itu berjatuhan. Ada yang luka-luka bahkan sampai tewas akibat bilah-bilah es tajam yang menghancurkan zirah perang dan menembus daging mereka. Bilah-bilah es tajam yang melesat muncul dari ketiadaan saat Izzy mengibaskan tangannya. Izzy memiliki penguasaan sihir elemental yang lumayan hebat sebagai seorang vampir.

Traanngg!

"Ha!" Genma menganga.

"Apa karena terpukau pada kekuatanku kau jadi lengah begini, Genma?"

Izzy spontan bergerak melindungi Genma dari seorang musuh yang mengayunkan pedang dari belakang.

"Rasakan ini!"

Stabb!

"Guhhaa!"

Prajurit Aliansi batuk darah hingga akhirnya kehabisan nafas. Tewas setelah dadanya ditusuk oleh Izzy dengan tombak es yang tajam.

"Terima kasih!" Genma tersenyum.

"Dengan begini kita setimpal."

Ya. Dihitung dengan yang tadi, berarti mereka impas saling melindungi satu sama lain.

Dukk!

Tiba-tiba Genma jatuh terlutut.

"Hei...!?"

"Tidak apa-apa." Genma menolak uluran tangan Izzy.

"Pasti gara-gara yang tadi kan?"

Menggunakan jutsu air level A dua kali berturut-turut tentu melelahkan bagi Genma walau dia adalah shinobi berpangkat jounin. Ia menghabiskan banyak chakra hanya untuk melakukan itu.

"Dasar kau ini!" Izzy tampak terlihat kesal. Ia menarik tubuh Genma, lalu merangkulnya dan secara mengejutkan.

Chuuu...

"Hmmpph!"

Genma sama sekali tak siap diserang dengan ciuman yang tiba-tiba ini.

Suara kecup basah sesekali terdengar manakala Izzy memperdalam ciumannya. Bagi Genma yang tak pernah memiliki kekasih sekalipun selama hidup, sebagai seorang jomblo abadi, rasanya seperti...

"Ahhh!" Izzy mendesah setelah melepaskan ciumannya.

Sedangkan Genma, seperti orang hilang kesadaran.

Pukpuk

Izzy menepuk pipi kiri Genma, "Ayoo, sadarlah!"

Genma tak juga bangun.

"Duuuh, salah yaa?" Izzy sedikit menyesal dengan tindakannya. Padahal kan...

"Uhh, terima kasih." Genma sadar sesaat kemudian, dan mengatakan hal tak terduga.

Izzy merona.

"Terima kasih untuk energi yang kau berikan tadi."

Gyuut

Kontan Izzy kesal. Dia pikir itu terima kasih untuk ciumannya tapi ternyata...

Ya, memang ciuman yang Izzy lakukan adalah proses transfer energi. Lagipula Izzy lumayan kekenyangan setelah menghisap darah malaikat, jadi wajar kalau energi itu ia bagikan kepada Genma yang kehabisan banyak chakra.

Teknik ini berlawanan energy drain yang digunakan vampir pada umumnya untuk mencuri energi musuh saat menghisap darahnya. Ini kemampuan khusus yang hanya bisa dikuasai oleh sebagian vampir saja.

Tapi tetap saja, caranya mentransfer energi lewat ciuman itu sedikit keterlaluan. Malahan sangat keterlaluan bagi Genma yang menjomblo sejak lama.

"Huuuhh, ya sudah lah."

"Emm, terima kasih sekali lagi."

"Ya." Izzy menatap ke arah lain dan menjawab singkat.

Padahal kalau seandainya Izzy menatap Genma, akan terlihat jelas rona merah di pipi sang shinobi. Karena kali ini ucapan terima kasih itu sebagas balasan atas ciuman tadi.

Mereka berdua pun melanjutkan pertempuran. Saling bekerja sama bahu membahu melawan musuh dan saling melindungi, melindungi masa depan mereka nanti.

Omong-omong, baru hari kemarin Genma mengakui kalau dia tertarik pada vampir wanita itu. Tapi siapa sangka kalau perkembangan hubungan mereka sudah sejauh ini.

Setelah perang, tak akan ada lagi Genma si bujang. Meski Izzy berasal dari ras vampir, usianya sudah ratusan tahun, bahkan sudah pernah memiliki pasangan, tapi sekarang statusnya available dan siap merajut ikatan cinta lagi. Tidak ada penghalang untuk mereka selain perang akbar yang saat ini harus mereka menangkan.

Kembali ke atas, di udara.

"Whahahaaaaa," Amaterasu tertawa lepas, melepaskan keagungan dan wibawa sebagai seorang dewa tertinggi Takamagahara. "Ada-ada saja. Saat perang, sempat-sempatnya mereka berciuman sepanas itu."

"..." Dewa Kinich Ahau tak mau menanggapi. Sejujurnya ia terkejut, tapi... ah sudahlah.

Lupakan hal tadi.

"Sebelah sana!" Dewa Kinich Ahau menunjuk ke arah jam 11. Ada sekumpulan besar pasukan Aliansi yang merengsek maju. Pasukan persekutuan yang terdesak terpaksa mundur.

"Oke!" Dewi Amaterasu lekas mengerti. Ia menyiapkan bola api sebesar sebelumnya.

Pun dengan Dewa Kinich Ahau. Namun kali ini ia tak membuat bola api sendiri, tapi menggunakan kekuatannya untuk memperbesar bola api dari Dewi Amaterasu.

Bola api itu jadi empat kali lebih besar. Jauh lebih panas dan cahayanya sangat terang, bagai sebuah matahari mini yang mampu menerangi seluruh cakrawala di tengah gelapnya malam.

Syuuuuu...!

Bola api itu telah di lempar, dan...

KABBOOOOMMMM!

Sungguh hebat, ledakannya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Kehancuran yang diakibatkannya tak main-main. Dan pastinya, sekumpulan besar pasukan Aliansi itu tewas semuanya.

"Asal kita tetap seperti ini, gerbang teleportasi Gate of Sun di belakang kita ini tak akan pernah mereka capai." ungkap Dewi Amaterasu.

"Ya, tapi tak akan selamanya."

"Aku tahu, " sang dewi tidaklah bodoh. "Tapi setidaknya bisa menahan musuh sampai pagi."

"Iya. Itu sudah lebih dari cukup, Shikamaru memang memerintahkan kita seperti itu bukan?"

Uchiha Sasuke 40 menit yang lalu menggunakan jutsu Indra no Ya, yang dengan itu seratus ribu pasukan musuh tewas seketika. Tapi Sasuke tidak bisa melakukannya sekehendak hati. Perlu waktu yang lumayan lama untuk mengembalikan tenaganya hingga pulih seperti semula. Meskipun serangan Sasuke sangat dahsyat, tapi Aliansi Tiga Fraksi tidak mengendurkan serangan. Mungkin karena menyadari bahwa Sasuke perlu waktu untuk kembali menyerang, mereka memanfaatkan selang waktu ini untuk menggemppur habis-habisan. Jelas saja, shinobi Konoha dan sekutunya yang jumlahnya lebih sedikit dibuat kewalahan dalam waktu singkat.

Oleh karena itulah, dengan terpaksa Shikamaru meminta kepada dua dewa yang termasuk dalam Dewan Perang untuk membantu. Tidak ada pilihan lain lagi.

Fungsi Dewan Perang adalah memutuskan dan menetapkan suatu hal semacam kapan perang dimulai dan kapan harus dihentikan. Meski begitu, jika memang dibutuhkan anggota Dewan Perang bisa saja turun ke medan perang secara langsung. Selain kekuatan mereka yang tak bisa diragukan, keberadaan mereka di medan perang juga pastinya bisa membangkitkan semangat tempur pasukan persekutuan. Lagipula sampai kapanpun, mereka tak akan menyerah karena sejak awal persekutuan dibentuk telah disepakati bawah tidak akan pernah ada kata menyerah yang terucap.

Sesuai perintah Shikamaru, kedua dewa ini hanya diminta membuat serangan pemusnah massal jika ada titik dimana pasukan mereka terdesak dan perlu bantuan, serta saat pasukan Aliansi sudah sangat dekat dengan gerbang teleportasi Gate of Sun. Dengan begini, mereka bisa bertahan lebih lama.

Seperti yang diharapkan, tentu saja keikutsertaan dua dewa itu mampu mengeluarkan pasukan dari situasi terdesak. Sebagai sesama dewa matahari dari mitologi masing-masing, pemimpin para dewanya, pastinya mereka sangat kuat. Kekuatan serang mereka bahkan mampu menyamai dahsyatnya kekuatan panah indra. Tapi jumlah korban yang bisa dijatuhkan pada pihak musuh tidak sebanyak yang pertama dilakukan Sasuke karena musuh sudah tahu, sudah menduga taktik ini sehingga melakukan antisipasi dan pertahanan untuk mengurangi jumlah korban dipihak mereka.

"Fiuuuhh!" Dewi Amaterasu mengembuskan nafas lelah, "Tulang-tulangku lama-lama bisa pegal kalau seperti ini terus sampai pagi."

"Aku baru tahu ada dewa yang suka mengeluh sepertimu."

"Tck!" Amaterasu mendecak dengan wajah sebal. Meski dirinya adalah dewa yang paling bijaksana di Takamagahara, namun dia juga dikenal sebagai dewa paling pemalas dari semua dewa-dewi Shinto yang ada.

"Mau bagaimana lagi? Sudahlah, lakukan saja seperti yang diperintahkan." Dewa Kinich Ahau tampak tak terpengaruh dengan situasi ini. Dia terus seperti ini sejak awal. Ia sungguh-sungguh dengan semua ini, berusaha memberikan konstribusi sebaik-baiknya demi meraih kemenangan.

"Iyaaa iya."

.

.

-Arena Perang, Underworld. At 03.58 am-

Setelah prosedur reset selesai, suasana di dalam tenda pusat Komando Strategi pasukan Konoha dan sekutunya kembali hening.

Intinya, pada perang ini tidak ada yang tidak bekerja keras. Meski Shikamaru belum pernah bertarung langsung di medan perang, tapi ia bekerja keras di ruangan ini, bekerja jauh lebih keras daripada yang orang lain kira. Ia membuktikan kepada Dewan Perang bahwa kata-katanya bukan sekadar omong kosong belaka.

Karena tidak ada yang bisa dilakukan lagi selain menunggu, mari memanfaatkan waktu sejenak untuk berpikir dari sudut pandang orang luar, yang baik oleh Shikamaru, Ino, maupun Akemi sama sekali tidak menyadarinya.

Melanjutkan yang sebelumnya.

Ada dunia paralel.

Tapi siapa yang mengetahuinya secara pasti? Premis ini tidak memiliki kesimpulan. Belum pernah ada pembuktian untuk memverifikasi dan memfalsifikasi apakah dunia paralel benar ada atau sebenarnya tiada.

Hal-hal dalam mekanika kuantum berhubungan dengan probabilitas atau kebolehjadian suatu peristiwa. Tidak ada yang pasti, yang ada hanyalah sesuatu yang kebolehjadian terjadinya paling tinggi untuk terjadi.

Satu hal yang harus diingat, mekanika kuantum adalah cabang fisika yang sifatnya teoretis. Bukan fisika praktis seperti hukum Newtoon tentang gerak yang jelas-jelas terbukti nyata di depan mata yang selanjutnya bercabang pada berbagai fisika terapan, tentang sistem penggerak mesin contohnya. Implikasinya, mekanika kuantum sendiri belum terbukti secara nyata dan diterima akal logika sepenuhnya.

Ooooo, dari hal itu munculnya kalimat mengejutkan.

Probabilitas peristiwa yang belum pasti, coba dipecahkan oleh teori mekanika kuantum yang sejatinya juga belum pasti.

Sesuatu yang tidak pasti ingin dibuktikan menggunakan alat yang tidak pasti.

Konyol!

Dari point inilah, sebuah teori filsafat ikut mengambil peran.

Determinisme atau keterpastian.

Kebalikan dari probabilitas atau kebolehjadian, filsafat ini menyatakan bahwa semua hal yang terjadi di dunia berdasarkan sebab akibat. Dengan kata lain mengikuti kaidah kausalitas.

Ringkasnya, setiap kejadian selalu memiliki sebab dan menimbulkan akibat. Kejadian masa kini disebabkan rangkaian kejadian masa lalu sekaligus mengakibatkan rangkaian kejadian baru di masa depan.

Kasus sederhana pada jam bandul. Terlihat sekilas, ayunan bantul mengakibatkan jarus jam bergerak. Tapi yang sebenarnya terjadi di dalam mesin jam adalah bandul berayun mengakibatkan gerigi di porosnya bergerak, lalu membuat gerigi tetangganya ikut bergerak juga. Demikian pula gerigi tetangga mengakibatkan gerigi lainnya bergerak hingga akhirnya orang melihat jarum jam bergerak. Dengan mekanisme itu pula, jarum detik mempengaruhi jarum menit, lalu jarum jam.

Itulah keteraturan, kepastian, dan saling mempengaruhi dalam konteks sebab-akibat di dalam determinisme.

Jika gagasan ini dikembangkan ke skala makro pada semesta alam, maka setiap peristiwa yang terjadi di dunia ini sudah diatur sedemikian rupa, sudah pasti terjadi, dan akan mempengaruhi rentetan peristiwa lainnya di kemudian hari.

Berikutnya muncullah determinisme saintifik yang mengatakan bahwa semesta adalah keteraturan yang maha besar. Semesta bersifar teratur dan mekanis dalam rangka sebab akibat. Berangkat dari landasan ini, andaikan ada seorang makhluk cerdas yang mengetahui semua gaya, posisi, dan gerak benda di alam dalam satu waktu, bermodal dengan kecerdasan tinggi maka ia dapat memperhitungkan dengan pasti semua keadaan dan peristiwa pada masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Sayangnya, tidak ada satupun makhluk berakal yang mengetahui semua itu. Mengutip dari Hamlet, 'There are more things in heaven and earth, Horatio, than are dreamt of in your philosophy'.

Sekarang saatnya menggabungkan kedua teori yang telah dibahas.

Pada keadaan superposisi, misalkan terdapat dua kemungkinan yang akan terjadi. Menurut determinisme, kemungkinan tersebut dua-duanya 'pasti' akan terwujud.

Tapi kenyataan yang ada kan hanya satu?

Disinilah, interpretasi mekanika kuantum Many World Interpretation mengambilnya. Satu kemungkinan pasti terwujud di dunia nyata, satu kemungkinan lagi juga pasti terwujud tapi di dunia paralel.

Lantas, seluruh semesta yang katanya pasti dan sangat teratur ini siapakah yang mengaturnya?

Sudah jelas jawabannya sejak dulu.

Cardinal System

adalah makhluk lima dimensi yang menjadi tujuan misi besar Naruto dan Hinata, yang mengatur seluruh alam ini sedemikian rupa hebatnya. Suatu dzat yang seharusnya dianggap oleh seluruh makhluk, baik manusia maupun makhluk supranatural sebagai ...

Tuhan.

Dia lah satu-satunya dzat yang mengetahui dengan pasti semua gaya, posisi, dan gerak benda di seluruh semesta alam dalam satu waktu sehingga dapat memperhitungkan dengan pasti semua keadaan dan peristiwa pada masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Hal-hal itu lah yang tidak diketahui oleh Shikamaru, Ino dan Akemi Homura.

Akemi tiba-tiba saja membuka mulutnya,

"Shikamaru-kun."

"Maaf, Homura-san. Tapi bisakah kau tidak mengangguku saat aku memikirkan strategi."

"Aku merasakan ada hal aneh walau aku sendiri tidak bisa menjelaskan kenapa."

Shikamaru mendengarkan, meski sambil tetap dengan pekerjaannya merancang strategi.

"Coba pikirkan, sudah 25344 kali aku melakukan reset."

Sontak Shikamaru terdiam, ia berhenti dengan tugasnya. Dia sama sekali tidak bisa mengabaikan pikiran yang tiba-tiba melintas di benaknya. Mulutnnya bahkan menganga, "Jangan-jan...?"

25344 kali melakukan reset, dengan kata lain sudah 25344 kali Shikamaru membuat strategi yang semuanya berakhir gagal total yang mengakibatkan Konoha kalah perang.

Tidak ada satu kalipun yang berhasil.

Ya, Shikamaru tidak pernah berhasil.

Konoha selalu gagal dan kalah.

Braaakkkkk!

Nyeri dan memar di kepalan tangan tak Shikamaru rasakan, otaknya kini sesak oleh penyesalan akibat satu kesalahan fatal yang baru sekarang ia sadari.

Ino berhenti dengan tugasnya, ia menatap Shikamaru dengan wajah bingung.

Melihat ekspresi wajahnya, Akemi tampak sudah mengerti. Gadis kecil itu sudah menyadari bahwa apa yang mereka lakukan sia-sia belaka.

Dari 25344 kali reset dan percobaan strategi, Konoha 0 menang dan 25344 kalah. Secara statistik, Konoha 0% menang. Seandainya diteruskan sampai 1 milyar kali mereset pun, jika 0% menang maka tidak akan pernah satu kalipun Konoha akan menang melawan Aliansi Tiga Fraksi.

Setelah melakukan reset dan kembali ke checkpoint, Shikamaru mendapatkan tambahan informasi untuk merancang strategi. Ini adalah suatu sebab. Ingat lagi kaidah determinisme, sebab selalu mendatangkan akibat.

Strategi perang baru yang Shikamaru rancang lalu dilaksanakan di lapangan. Apakah hal yang sama akan berulang dengan pondasi yang berbeda?

Tentu tidak!

Karena Konoha menggunakan strategi yang berbeda, Falbium sebagai panglima perang Aliansi secara tak sadar akan merespon dengan perubahan strategi pula. Yang pada akhirnya, Konoha kalah perang lagi. Inilah sebagai akibat atas tindakan yang Shikamaru lakukan. Sampai 25344 kali reset, hal itu terus menerus terjadi berulang kali.

Konoha pasti kalah.

Inilah yang namanya takdir. Takdir yang telah digariskan oleh Sang Maha Pengatur tidak dapat diubah oleh makhluk manapun.

"Kenapa aku baru sadar sekaraaanggg!?" Shikamaru merutuki dirinya sendiri.

"Mungkin karena kau terlalu terobsesi untuk memenangkan perang dengan strategi terbaik sehingga melupakan hal sepenting ini."

Jawaban Akemi benar adanya. Benar bahwa kesalahan Shikamaru adalah obsesi yang melampaui batas. Tapi obsesi ini tak akan pernah dicapai. Bahkan kalau melakukan reset sampai 1 milyar kali pun, bukannya kemenangan yang diraih tapi gila lah yang didapat. Kelebihan beban kerja otak, pasti akan membuat Shikamaru stress lalu menjadi orang gila. Efek yang sama juga bisa terjadi pada Akemi dan Ino.

Ino mulai mengerti sekarang, "Kalau begitu, akibat apa yang akan kita dapat setelah melakukan hal ini?"

Mereka bertiga bertindak terlalu jauh dengan melintasi dunia paralel yang seharusnya tidak boleh dilangkahi.

Mereka berani mengobrak-abrik keteraturan yang ditetapkan oleh Cardinal System atas seluruh semesta.

Apakah Cardinal System akan diam saja?

Oooo, tentu tidak! Jangan harap makhluk lima dimensi acuh tak acuh.

Pasti ada konsekuensi yang harus diterima atas perbuatan sombong mereka bertiga menantang makhluk lima dimensi yang maha mengatur, Cardinal System.

Meskipun Cardinal System sedang diambang keruntuhan tapi dia tetaplah segalanya -The One Above All. Dan inilah apa yang dia lakukan.

Ciuuuuuuu!

"Awaassssssssss!" Ino berteriak kencang, dialah yang pertama kali sadar ada seberkas serangan sihir yang datang tiba-tiba.

Pyaaarrrr.

Sebuah benda telah hancur!

"Yokatta!" Shikamaru bersyukur sempat menggunakan jutsu Kagemane sehingga Akemi berhasil terhindarkan dari serangan fatal yang bisa menyebabkan kematian.

Tapi...

"Jadi begitu rupanya..." Si pelaku penyerangan muncul dari balik dinding tenda yang koyak berlubang. Ia bertepuk tangan.

"Kau!" Tidak ada hal yang lebih mengejutkan bagi Shikamaru daripada melihat keberadaan si pelaku di tempat ini, terlebih siapa identitasnya.

"Rupanya dengan cara itu kalian bertahan? Pantas saja aku sampai kerepotan merancang strategi menyerang yang paling efektif."

"Falbium!"

"Wah! Kau mengenali wajahku rupanya, anak muda yang harus kuakui kejeniusannya."

Sang panglima perang Aliansi Tiga Fraksi tersenyum senang. Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi dirinya bertatap muka langsung dengan ahli strategi jenius di pihak musuh.

Ino memunggungi badan kecil Akemi seolah hendak melindunginya, sedangkan Shikamaru paling depan. Meskipun ia sadar kalau Falbium sang Maou Asmodeus jauh lebih kuat dibanding dirinya, harga dirinya terlalu tinggi untuk mengucap kata menyerah.

"Gadis kecil itu," Falbium menunjuk ke arah Akemi, "Sudah tak berguna lagi sekarang setelah alatnya berhasil kuhancurkan."

Meskipun nyawa Akemi berhasil diselamatkan, tapi Timejump Device sudah hancur. Alat itu hanya ada satu. Maka setelah waktu ini, tidak ada lagi yang namanya reset dan mengulang lagi peristiwa dari awal.

Falbium melanjutkan, "Bahkan sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi."

Dengan hancurnya alat itu, selain tidak bisa melakukan reset Akemi juga tidak bisa menggunakan kekuatan originalnya -Time Accelerator. Pada kondisi ini, kemampuan Akemi Homura jauh menurun levelnya. Dia yang semula dengan mudah membunuh Baraqiel dan kawannya bahkan mengalahkan Uchiha Sasuke kurang dari 1 detik, sekarang tak lebih dari orang biasa meski masih memiliki senjata sihir berkemampuan khusus, Magic Demolition, Atomic Disintegration, dan Material Burst. Apalagi saat ini ketiga kemampuan khusus itu sudah diketahui oleh Falbium berikut dengan kelemahannya.

Ino tak tahan berdiam diri saja, "Kenapa kau bisa sampai disini ha?"

"Harus kujawab?" Falbium bertanya balik.

Tidak penting!

Tidak peduli bagaimana caranya Falbium berhasil sampai ke tempat ini, yang terpenting adalah menghentikan aksi Falbium lebih jauh lagi.

Shiiiiiiiinggg!

Sebuah lingkaran sihir teleportasi berpendar di lantai, persis di samping Ino. Kemudian pemuda berbadan tambun muncul dari sana.

"Kau datang tepat waktu, Chouji!"

"Kau terdengar sangat serius, Shika. Artinya musuh yang harus kita lawan sangat kuat ya?"

"Ya, Chouji." jawab Ino. "Tapi kau tidak akan takut kan?"

Oke, sekarang formasi Trio InoShikaChou sudah lengkap.

Saatnya beraksi.

"Homura-san, sebaiknya cari tempat berlindung."

Si gadis kecil mengangguk setuju, ia mundur ke belakang.

Falbium sedikit bercerita, "Sebelum aku mengetahui kenyataan ini, aku merasakan berkali-kali Déjà Vu yang sangat aneh. Kupikir hal biasa, tapi aku tak bisa mengabaikannya sehingga aku melakukan penyelidikan yang akhirnya membawaku sampai ke tempat ini."

Ada 25344 kali pengulangan dengan reset. Akemi mampu membawa semua informasi yang ada berkat Timejump Device miliknya, tapi apakah tidak ada efek yang timbul?

Entah keberuntungan, 'kebetulan', atau apa saja, mekanisme yang sama juga terjadi pada Falbium. Falbium mengalami reset, tapi dimanifestasikan dalam bentuk Déjà Vu, sebuah rasa keterulangan tak terjelaskan dengan informasi yang sangat sedikit. Berbanding terbalik dengan Akemi merasakan keterulangan dengan jelas dan pasti berkat alat miliknya serta mampu membawa semua informasi.

Pertanyaannya...,

Kenapa kebetulan?

Katanya tidak ada kebetulan atau probabilitas di semesta ini yang mengikuti kaidah determinisme.

Kenapa pula mesti Falbium?

Bingung?

Bagaimana kalau dibuat pengandaian bahwa ini adalah ganjaran yang diberikan oleh Cardinal System atas perbuatan lancang Shikamaru.

Jawaban yang cukup masuk akal.

Tapi kalau begini, artinya makhluk lima dimensi itu bersifat memihak.

Tidak! Cardinal System itu netral.

Ketika Shikamaru melakukan 'aksi' lancang yang berpotensi merusak keteraturan maha besar yang sudah ditetapkan, maka Cardinal System akan memberikan 'reaksi' sedemikian rupa yang setimpal sehingga kondisi menjadi seimbang kembali. Sesuai dengan prinsip aksi-reaksi hukum III Newtoon.

Cukup!, pembahasan mekanika kuantum berakhir di sini. Lagipula Timejump Device yang menembus batasan alam kuantum sudah hancur.

Falbium melanjutkan, "Saat aku sudah disini dan mengerti semua yang terjadi, maka kuputuskan membunuh Akemi Homura lebih dulu. Tapi sayang hanya alatnya saja yang hancur, aku gagal membunuh orangnya. Meski begitu, ini adalah pencapaian besar. Hahahahaaaaa..."

Trio InoShikaChou sudah siap dengan formasi khas andalan mereka. Chouji di depan, Shikamaru di tengah, sedangkan Ino paling belakang.

Falbium pun tidak diam saja. Dia bereaksi dengan memperlihatkan kekuatannya pada tangan kanan yang terulur ke depan, telapak tangan itu terbuka. Kekuatan iblis yang sunyi namun mengerikan terkumpul disana hingga membuatnya bercahaya.

"Aku tidak menggunakan sihir seperti iblis pada umumnya, yang melepaskan banyak kekuatan dengan sia-sia. Yang aku lakukan adalah mengumpulkan kekuatanku pada satu titik lalu mengkompresi semua demonic power itu menjadi bentuk anti-matter yang akan memecah ikatan antar molekul dan aliran energi lalu menguraikannya menjadi debu partikel. Apapun yang kusentuh dengan telapak tanganku, maka pasti akan lenyap. Aku menamainyaParticle Decomposer."

Teknik sihir original milik Fabium yaitu pemecah partikel dibangun dari formula sihir tingkat tinggi dengan rumus yang sangat kompleks. Itu mengijinkan penggunanya memanipulasi suatu materi sampai tingkat molekuler. Kemampuannya adalah melepas ikatan antar molekul sehingga suatu materi secara fisik dalam penglihatan mata akan tampak terurai menjadi debu partikel. Hanya dengan inilah, Falbium tidak perlu menunjukkan aura kekuatannya dalam jumlah banyak, tetapi superioritas teknik miliknya akan membuat lawan sekuat apapun jadi tak berdaya.

Lalu, apakah yang akan terjadi jika Falbium menunjukkan semua kekuatannya secara penuh. Sebagai Maou, tentu ia memiliki demonic power dalam jumlah fantastis. Musuh manapaun, tak akan mau membayangkan betapa mengerikannya hal itu.

Itulah arti kekuatan dari seorang iblis berperingkat Satan Class. Kepercayaan diri Shikamaru, Ino, dan Chouji perlahan tapi pasti mulai runtuh.

"Siapapun kau! Kami bertiga pasti akan melawan." Shikamaru coba membangun kembali keyakinan di dalam hatinya.

"Oooh, aku beri apresiasi untuk kalian. Namun kuberitahu satu hal, saat menuju kesini aku sempat bentrok kecil dengan beberapa orang. Lord Tepes dan Ratu Carmila sudah mati. Lalu Kakashi pemimpin kalian, aku juga mengalahkannya meski tidak yakin dia masih hidup atau sudah mati."

Oh ini buruk. Bahkan Dewan Perang sampai kehilangan setengah anggotanya hanya karena jenderal musuh berhasil menyusup kedalam markas seorang diri.

Yasaka dan Tsunade sedang tugas di luar. Dewa Kinich Ahau dan Dewi Amaterasu pergi ke medan perang secara langsung untuk mempertahankan Tanjung Harapan sehingga tidak sempat bentrok dengan Falbium.

Sedangkan Kakashi...

Shikamaru hanya bisa berharap Sang Hokage Keenam berhasil menyelamatkan diri dengan teknik Jikukan Ninjutsu Kamui-nya.

Gretakkk!

Suara gemertak tulang terdengar halus dari tangan Shikamaru yang terkepal kuat.

Ini situasi yang sungguh sangat gawat.

Jika sampai kapten pusat komando dan strategi mati, maka sudah jelas apa yang akan terjadi selanjutnya di lapangan medan perang.

Kini, pertarungan antara Maou Falbium Asmodeus melawan formasi InoShikaChou sebagai penentu takdir, akan segera dimulai.

.

.

-Pulau Langit Agreas-

Di bawah tanah Pulau Langit Agreas ini sudah tidak terhitung lagi berapa kali terjadi kejadian buruk, situasi mengerikan, dan tarik ulur nyawa. Dimulai dari Tim Anti-Teror [D×D] yang datang ke tempat ini, bertemu dengan kawan yang berlawanan jalan sehingga timbul bentrokan, kebangkitan Trihexa, sampai kematian Naruto, lalu Hinata yang sekarat karena efek buruk kekuatannya yang melampau batas untuk membunuh Maou Ajuka Beelzebub.

Sekarang mereka sedang kacau-kacaunya. Sulit dimengerti bagaimana sederet kejadian buruk yang terus menerus berdatangan malah berujung sangat kacau seperti ini.

Hanya saja, ada satu nama yang sangat pantas dipersalahkan. Menggunakan topeng untuk bermain-main. Dia yang mengendalikan keadaan, berbohong mempermainkan hati banyak orang, lalu dengan liciknya mengambil hal yang dengan susah payah orang lain perjuangkan.

Azazel.

Malaikat licik yang membangkang terhadap The God Of Bible, sehingga sayapnya menghitam dan diusir dari Surga. Dialah yang menghimpun seluruh individu malaikat jatuh yang telah diusir dari Surga, mengorganisir semuanya sehingga membentuk komunitas yang sangat besar, bahkan menyaingi Fraksi Malaikat dan Fraksi Iblis yang telah dahulu ada. Dia yang mula secara sepihak mengklaim tanah Grigori di sudut Underworld sebagai tempat tinggal Fraksi Malaikat Jatuh sehingga memicu perang besar, Great War, antara ketiga fraksi yang ditutup dengan kematian The God of Bible sebagai akhirnya.

Sekarang lihat! Apa yang malaikat jatuh licik itu perbuat.

Clangg!

Kiba mensummon pedang di kedua tangannya, dengan itu dia berhasil memblokir serangan Ex-Durandal dari Xenovia.

"Kiba, Aku... Tolong hentikan aku!" pinta Xenovia.

Berlawanan dengan perkataannya, Xenovia memegang Ex-Durandal di depan badannya, lalu membelahnya menjadi dua pedang. Dari Ex-Durandal, dipisahkan menjadi pedang Excalibur dan Durandal.

Trank!Trank!Trank!Trank!

Serangan bertubi-tubi harus Kiba terima.

Crassshh...

Pedang Kiba hancur. Mau bagaimana pun, pedang yang ia wujudkan itu hanyalah pedang buatan menggunakan kekuatan Sacred Gear Sword Birth, tidak mungkin bisa menyaingi pedang suci legendaris. Satu Durandal dan satunya lagi adalah The Fused Excalibur, gabungan dari 6 pecahan Excalibur

Shuttt.

Langkah mundur Kiba ambil, menjaga jarak aman. Xenovia sangat berbahaya saat ini.

"Xenovia! Kendalikan dirimu." Rias berteriak. Dia tidak tega melihat dua budaknya saling membenturkan pedang.

"Buchou, aku... Aku tidak bisa!" Xenovia menggeleng, akalnya masih ada dan kesadarannya tidak terganggu, tapi tubuhnya bergerak menentang kehendaknya sendiri. Absolute Order tidak memberikan kesempatan bagi targetnya untuk menolak kehendak yang dikatakan oleh Azazel.

"Berusahalah! Kau pasti bisa." seru Kiba. Ia sendiri tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Hal terpenting baginya saat ini adalah melindungi Rias Gremory.

"Tidak bisa!" antara tubuh dan kehendak otak, sudah tidak ada lagi koneksi. Xenovia sudah tidak tahan lagi, "Buchou, tolong gunakan itu!"

"Apa!"

"Gunakan saja!"

"Tidak!"

"Buchou." sekali lagi Xenovia meminta.

"Aku tidak mau!" tolak Rias. "Menggunakan itu sama saja membunuhmu!"

"Tapi kalau tidak, aku tidak akan pernah berhenti menyerangmu. Tolonglah, Buchou." Wajah Xenovia tampak seperti orang memelas. Namun gestur tubuhnya serius ingin menyerang.

"Aku tidak akan pernah mengorbankan bawahanku. Satu kalipun tidak akan pernah." Rias memegang kuat prinsipnya. Mau seperti apapun keadaannya, ia tak akan goyah.

Evil Piece yang ditanamkan ke orang yang dijadikan peerage memiliki program penghancuran diri, Self Destruction. Sebagai penciptanya, Maou Ajuka menambahkan fitur ini untuk mencegah pemberontakan para budak yang berpotensi membunuh [Raja]-nya. Fitur ini dibuat sejak insiden pembunuhan anak kepala keluarga Iblis Mamon oleh peeragenya sendiri, yaitu Toujo Kuroka.

Xenovia melesat maju. Seperti yang Azazel perintahkan, tujuannya adalah memotong tangan kanan Rias.

Shuupp!

Claangg!

Secepat kilat Kiba melangkah, ia mensummon lagi pedangnya untuk memblokir serangan Xenovia. Kiba jauh unggul dalam hal kecepatan, tapi kekuatan serang Xenovia sebagai petarung pedang tidak akan mudah dihentikan. Jelas saja, Kiba yang hanya bisa mensummon pedang biasa, walau memiliki kemampuan khusus, tetap saja tak akan sebanding dengan dua pedang suci legendaris.

"Gawat!" Kiba panik.

Dalam sekejap, kedua pedang suci Xenovia mulai memancarkan aura suci yang luar biasa. Auranya terus meningkat, dan sepertinya tidak akan berhenti. Aura yang dilepaskan sangatlah suci dan kuat, membuat orang disekitarnya bergetar.

Tidak dapat dipercaya, bukan hanya tubuh Xenovia saja tapi Absolute Order sampai ikut mempengaruhi pedangnya juga. Ini sangat buruk.

Kedua pedang di tangan Xenovia saling beresonansi. Alasan kenapa Excalibur dan Durandal disatukan menjadi Ex-Durandal adalah untuk menekan aura offensif Durandal yang sangat liar sehingga Xenovia bisa menggunakannya dengan aman.

Tapi sekarang Xenovia sudah kuat, ia tak memerlukan cara itu lagi. Xenovia yang sekarang mampu menggunakan dengan baik kedua pedang itu bersamaan. Excalibur tidak lagi menekan kekuatan Durandal, sehingga pedang warisan Rolland itu mampu mengeluarkan kekuatan penuh. Begitupun dengan Excalibur, kekuatannya meningkat berkali-kali lipat akibat beresonansi dengan Durandal. Kedua pedang ini akan saling menguatkan saat dipakai bersamaan.

"Buchou!" Lagi-lagi Xenovia meminta, dengan berteriak. "Pakai itu! Ak-aku tidak ingin melukaimu." Merelakan dirinya sendiri mati asal tidak melukai Rias, sebesar itulah pengorbanan Xenovia untuk [Raja]-nya. Setelah insiden yang diakibatkan Kokabiel dahulu, sebagai exorcise Xenovia pupus harapan begitu mengetahui fakta bahwa tuhan telah mati. Akan tetapi dengan tangan terbuka, Rias mau menerimanya sebagai anggota keluarga.

Pyaarrrr!

Lagi-lagi pedang milik Kiba hancur.

"Aku terpaksa menggunakan ini!"

Bersama suara senyap seperti desisan ular, Kiba merekonstruksi sebilah pedang dari ketiadaan. Untuk kali ini pedangnya sama sekali berbeda, aura gelap yang menyelimutinya begitu pekat.

"Kiba!" Rias memekik, "Aku tidak mengijinkanmu menggunakannya."

"Kalau tidak dengan replika Pedang Kaisar Iblis Gram ini, aku tak punya pedang lain lagi yang bisa menahan Xenovia." Pedang itu hanyalah sebuah replika yang diciptakan oleh Kiba dengan kekuatan Sacred Gearnya, tapi kekuatannya hampir menyamai pedang asli.

"Tapi..."

"Tolong dengarkan aku, Buchou! Aku juga ingin melindungimu, aku ingin jadi bidak kuda terbaik sedunia, yang mengantarkanmu ke puncak Rating Game. Hanya itu impianku."

"Kalau pedang itu digunakan untuk melukai Xenovia, artinya kau membuang impianmu."

"Itu lebih baik daripada melihatmu terluka, Buchou."

Sama seperti Xenovia, Kiba pun juga memiliki perasaan yang besar terhadap Rias. Ia akan mengorbankan apapun, termasuk impian asalkan Rias baik-baik saja.

Apalagi hendak dipotong dengan pedang suci legendaris, Rias mungkin tidak hanya kehilangan tangan, tapi bisa juga bisa kehilangan nyawa karena kekuatan suci dari kedua pedang itu sangat beracun bagi iblis.

"Hooii!" Azazel menyela.

Pandangan ketiga muda-mudi tertuju pada sang malaikat jatuh. Orang tua licik itu, apa lagi yang ingin dia lakukan sekarang?

"Xenovia, coba kau gunakan barang baru yang kau dapat!"

Tap.

Si gadis twintail merapat ke sisi Kiba.

"Irina?"

"Kau tidak mungkin bisa bertahan sendirian kalau Xenovia menggunakannya."

"A-... Kalau begitu kuterima bantuanmu."

"Yosh!"

Di sudut seberang, Xenovia membuka inventori sihir. Mengambil sebilah pedang dari dalam sana.

Excalibur Ruler. Excalibur terkuat dari 6 pecahan lainnya.

"Ternyata benar. Baru kali ini aku melihat pedang itu." kata Rias yang berada di balik punggung Kiba dan Irina. Sebelum ke sini, Kiba sempat mengatakan bahwa mereka mendapatkan pedang Excalibur Ruler secara gratis namun tidak ada waktu untuk menunjukkannya.

"Arthur-san memberikannya cuma-cuma setelah kami bertarung." ujar Irina

Rias mendelik ke arah Arthur yang ada di belakang kelompoknya. Pemuda itu masih belum bisa menggerakkan tubuhnya walau hanya untuk menolehkan kepala. Tubuh Arthur dikunci oleh perintah 'diam' yang Azazel ucapkan dengan Absolute Order.

Tapi, bisa apa? Untuk sekarang tak ada gunanya mempermasalahkan itu.

Arthur memberikan pecahan ketujuh Excalibur dengan niat baik. Dia pun tidak menyangka kejadiannya akan begini.

Belum cukup sampai disitu, Xenovia menggabungkan pecahan terakhir excalibur. Seolah memang ditakdirkan untuk bersatu, tanpa kesulitan Xenovia berhasil menggabungkannya.

Kini telah terwujud, pedang suci legendaris kedua milik Raja Arthur Pendragon selain Holy Royal King Sword of Collbrande. Inilah, Holy Sword of True Excalibur.

Untuk melawan Xenovia yang saat ini, Durandall + True Excalibur...,

Kiba berkomentar, "Aku tidak bisa mengira siapa yang masih bisa hidup setelah ini." Dia pun menggunakan dua pedang juga.

Pedang Kaisar Iblis Gram + Holy Demon Sword

Pun sama dengan Irina, dia juga menggunakan dua pedang. Setelah bertarung melawan Arthur, pedang yang dipinjamkan oleh Xenovia belum sempat ia kembalikan.

Pedang Suci Hauteclere + Dragons Slayer Ascalon

"Menghadapi situasi seperti ini, aku tak pernah menyangka sama sekali." Dalam hati Irina meratap, jika bisa ia tidak ingin bertarung melawan sahabatnya sendiri. Tapi dia tidak punya pilihan lain.

Rias menggeleng, ia bahkan hendak menangis. Siapa yang tega melihat anggota keluarganya sendiri saling menghunuskan pedang dengan niat membunuh seperti itu?

Di sisi lain, Arthur juga meratap. Dia tidak ingin melihat pedang-pedang legendaris digunakan dengan cara seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, ia dipaksa melihat. Absolute Order masih mempengaruhi dirinya, karena diperintahkan untuk diam jadi ia tidak bisa melakukan apapun, walau hanya untuk menutup kelopak mata.

Di sini lain, hal yang sama tragisnya juga terjadi. Koneko tampak kepayahan menghadapi Gasper yang mengamuk. Ya, setelah dia dipaksa berubah ke wujud monster hitam oleh Azazel, Gasper tak bisa mengendalikan diri lagi. Padahal seharusnya Gasper bisa menahan kesadarannya selagi menggunakan Sacred Gear. Tapi sekarang...? Seolah kesadaran Dewa Jahat Balor lah yang keluar, lalu mengamuk hendak menelan apapun dihadapannya. Penggabungan kekuatan Sacred Gear Forbidden Balor View dengan kekuatan Dewa Jahat Balor, Forbidden Invade Balor The Beast.

"Hiaaaatt!"

Dashh.

Koneko meninju salah satu monster hitam berwujud banteng yang dipanggil oleh Gasper. Berkat kekuatan senjutsu api putih pemurnian, monster hitam itupun terurai. Saat ini mode bertarung terkuatnya sudah aktif, The Truth Shirone Mode.

Tapi masalahnya, ada banyak sekali monster yang Gasper panggil, sehingga ruang aula bawah tanah ini serasa penuh sesak.

Di belakang Koneko, ada Akeno yang menggunakan kekuatan Halilintar Suci Holy Lightning untuk menahan para monster hitam. Adanya unsur cahaya dalam kekuatannya, cukup efektif digunakan untuk menahan amukan kegelapan Gasper.

Rosseweisse sendiri, cukup kerepotan mempertahankan sihir defensif yang melindungi dirinya dan Asia.

Keadaan mereka berlima yang tak kalah menyedihkannya dibanding Xenovia, Kiba, dan Irina, semakin menambah tangis ratap Rias.

Sebagai Raja, Rias merasa dirinya tak berguna. Ia tidak dapat melakukan apa-apa.

Koneko tampaknya telah memutuskan sesuatu, ia berucap "Akeno-senpai, bisakah kau lindungi punggungku sebentar?"

Mereka tengah dikepung para monster hitam yang siap menelan hidup-hidup.

Akeno berpindah posisi, ia menjaga belakang serta samping kiri dan kanan Koneko. Sambaran Halilintar Suci berkali-kali memercik dalam area yang cukup luas untuk menakut-nakuti para monster hitam. Dia tampaknya percaya penuh dengan apa yang hendak dilakukan oleh Koneko.

Gadis kucing dewasa itu tampak diam seperti sedang bertapa.

Ya, Koneko saat ini tampak seperti perempuan dewasa. Tinggi semampai, langsing namun dengan lekukan-lekukan yang sangat memukau, dan tentu saja dengan dada besar yang sangat menggoda. Telinga kucing dan dua buah ekor menjadi ciri khasnya sebagai youkai nekomata. Aura putih kental dari touki yang luar biasa banyak menyelimuti tubuhnya. Teknik senjutsu ini mengijinkan Koneko mengalami pertumbuhan tubuh sementara secara paksa untuk menaikkan batas maksimal kekuatannya dan memberinya sebuah kemampuan khusus. Auranya terasa jauh lebih tenang dan sejuk serta tampak bercahaya dan berkilauan.

"Kau sudah selesai?" tanya Akeno. Sudah setengah menit terlewat ia melindungi gadis kucing itu dari para monster hitam yang mendekat.

"Sudah." Koneko menjawab seraya membuat kuda-kuda rendah. Tangan kanannya ia tekuk ke dalam, dia berniat melancarkan pukulan dengan telapak tangan terbuka. Mirip dengan seni bela diri Hyuga yang seringkali Hinata tunjukkan.

Kini, aura toki putih yang mirip api itu berkumpul pada satu titik, pada telapak tangan Koneko.

Akeno meneguk ludah, "Koneko-chan, kau serius dengan itu?" Gadis muda ini tahu sebesar apa kekuatan penyucian yang Koneko siapkan. Ini mungkin akan jadi serangan terkuat Koneko yang pernah ia lihat.

"Tidak ada pilihan lain lagi." Koneko sudah mengambil keputusan bulat, "Kalau begini terus, tidak akan ada habisnya. Gasper-kun juga tampaknya tersiksa di dalam sana karena kekuatan jahat Balor."

"Ya, tapi kalau seperti itu kau bisa membahayakan nyawanya."

"Iya memang!" Perdebatan ini tampaknya Koneko yang menang, sebab... "Tapi aku yakin Gasper-kun pasti bisa bertahan. Dia laki-laki kuat."

"..."

Akeno kehabisan kata-kata. Kenapa pada saat seperti ini, dirinya terkungkung oleh keraguan? Seharusnya ia bisa yakin, seperti kuatnya keyakinan Koneko dengan keputusan yang telah dia ambil, padahal Koneko juga sedang kalut-kalutnya. Keteguhan hati Koneko benar-benar dibuktikan saat ini.

Tidak jauh dari mereka berdua, Rossweisse menunduk dalam. Dia tak bisa memenuhi tanggung jawab sebagai guru. Kenapa dirinya tidak bisa berbuat apa-apa saat ini?

Dan lagi, Asia menangis keras.

"Aku lakukan sekarang."

Aura toki putih semakin besar, seakan melahap tubuh Koneko seutuhnya.

"Gasper-kun, sadarlaaaaaaaah! Haaaaaaaa...!"

Yasogami Kugeki

Pukulan Koneko dilepas ke udara kosong, dengan serta merta memuntahkan aura toki putih api pemurnian yang sangat besar. Api itu tampak sangat padat karena tekanannya yang begitu kuat, berbentuk lepengan tebal seperti alat musik gong. Bergerak merengsek dengan cepat, melindas semua monster hitam tanpa ampun hingga lenyap, lalu mengenai Gasper yang berwujud raksasa hitam.

Tampaknya Gasper berniat menahan pukulan Koneko, tapi api putih itu terlalu kuat. Gasper terdorong mundur karena kekuatan pemurnian yang sangat besar. Kegelapan yang menyelimutinya terkelupas. Material hitam tebal yang membungkus Gasper dikikis sampai habis, bahkan kulit Gasper terlihat melepuh sampai berdarah.

Tidak ada yang menyangka kalau Koneko mempunyai kekutan sebesar itu. Kegelapan Gasper sebenarnya sangatlah kuat, dan tidak bisa terkelupas hanya dengan aura suci biasa. Dan juga dia merupakan reinkarnasi dari Dewa Jahat Balor. Hanya dengan sekali pukulan Koneko bisa mengikis habis kegelapan Gasper, menunjukan bahwa kekuatan Koneko sekarang ini abnormal.

Gasper tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Untung saja dia masih bernafas.

Itu adalah teknik pukulan senjutsu yang Naruto ajarkan pada Koneko. Cara melakukannya bahkan namanya sama persis dengan jutsu yang pernah Naruto rasakan keberingasannya, yang dahulu dilakukan oleh Kaguya Ootsutsuki untuk menyerang dirinya. Karena melihat Koneko memiliki potensi, jadi Naruto memperlihatkan caranya yang kemudian Koneko mempelajarinya sendiri, menjadikannya sebagai teknik baru yang sama sekali berbeda dari yang Kaguya gunakan.

Yang tadi itu, adalah teknik luar biasa. Sebagai akibatnya...

"Ghh!"

Koneko hampir kehabisan nafas, ia jatuh terlutut di lantai. Semua tenaganya seperti tersedot habis hanya karena sekali menggunakan Yasogami Kugeki. Kini wujudnya kembali seperti semua, sebagai gadis kecil tanpa adanya telinga dan ekor kucing yang melekat di badannya.

Hasilnya berakhir buruk, sangat buruk hingga membuat Gasper tak sadarkan diri dan Koneko kehabisan tenaga. Tapi setidaknya masalah di sini bisa dihentikan. Berbeda dengan sebelah sana dimana Kiba dan Irina kerepotan menghadapi kekuatan brutal Xenovia.

Di sini sudah selesai.

Tapi apakah benar-benar selesai?

Azazel tidak ingin membiarkannya selesai begitu saja, jadi...

"Absolute Order aktif! Akeno Himejima, panggang Rossweisse dan Asia dengan halilintar sucimu."

Deg!

Akeno diam berdiri kaku. Perlahan dengan gerakan patah-patah, kepalanya menoleh ke tempat di mana Rossweisse dan Asia berada, di dalam kubah pelindung.

"O ti- Tidak! Kumohon jangan!"

Mau bagaimanapun kerasnya hati Akeno menolak, hasilnya akan tetap sama seperti yang lain.

RumbleRumbleRumbleRumbleRumble

Kilatan kuning saling sambar di antara kedua tangan Akeno.

"Hentikaaaaan!"

Tidak akan mungkin terhenti.

Flassshhh

Jduuuaaarrr!

Kubah pelindung Rossweisse dihantam oleh lima petir berbentuk naga, Holy Lightning Dragon. Sebagai pengguna bidak benteng, Rossweisse mampu bertahan. Asia yang tidak bisa melakukan apa-apa hanya bisa menutup mata, menangis tertunduk. Rossweisse mendekap Asia erat-erat, melingdunginya seperti ibu yang melindungi anak, sambil tetap berusaha mempertahankan kepadatan kubah pelindungnya.

Tapi, Akeno memakai bidak Ratu. Kekuatan serangnya setara bahkan lebih baik dari bidak benteng.

Jduaarrr!

Sekali lagi, Rossweisse dihantam naga petir. Yang kedua ini intensitasnya lebih kuat. Untuk menahannya, Rossweisse membuat berlapis-lapis kubah sihir pertahanan.

Tapi tampaknya sia-sia.

Akeno berkali-kali melepaskan halilintar suci yang sangat kuat. Karena tidak hentinya disambar petir, berlapis-lapis pelindung Rossweisse hancur.

"Sensei, hentikaaaaaaaaaaaaaannnn!" Rias berteriak sekencang-kencangnya.

"Haaah?" Sang Malaikat Jatuh mengangkat dagu.

"Kumohon, hentikan!" Rias meminta sambil menangis. "Apapun yang kau inginkan dari kami, ambil saja semuanya. Tapi kumohon, hentikan."

Sungguh, Rias tak sanggup lagi melihat semua ini. Bawahannya saling bunuh hanya karena dirinya, rasanya lebih baik dirinya saja yang mati.

"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"

"Aku akan terus memohon."

"Huufft, sudah tidak menarik lagi." Azazel mulai menunjukkan bosan. "Berhentiii!"

Sekali lagi perintah Absolute Order diucapkan, semua budak Rias terdiam. Xenovia, Kiba, dan Irina berhenti bertarung. Akeno juga berhenti menyerang Rossweisse.

Kemudian Azazel mengulas seringaian yang tak seorangpun ingin melihatnya, "Agar lebih menarik, bagaimana kalau begini saja. Akeno, Rossweisse, Kiba, Irina, Koneko, dan Xenovia, arahkan serangan terkuat kalian pada Rias!"

Deg!

Kehendak Absolute Order itu tidak dapat ditolak. Bahkan untuk Koneko yang kehabisan tenaga kini berdiri kembali, ia mengumpulkan sisa-sisa tenaganya yang terakhir. Gasper masih tak sadarkan diri, sedangkan Asia sebagai penyembuh di dalam kelompok tidak memiliki kekuatan untuk menyerang. Hanya perlu waktu sepuluh detik bagi keenam orang itu untuk menyiapkan serangan terkuatnya, yang targetnya adalah [Raja] mereka sendiri, Rias.

Jika diserang bersamaan begini, Rias pasti mati.

Tanpa ada suara, hanya ada tangisan dan derai air mata dari keenamnya.

Tapi berbeda dengan Rias, dia mengulas senyum. Bagi dirinya, ini akan segera berakhir walau harus dibayar dengan kematian. Jika benar terjadi, pasti semua budaknya menangis menyesali hal ini tapi setidaknya hatinya tidak akan tertekan dan menderita lagi kalau sudah mati. Egois memang.

Kelompok Vali, OSIS, bahkan Diehauser hanya bisa diam. Bukan mereka tidak ingin membantu. Jika mereka ikut campur, mungkin saja Azazel akan membuatnya semakin kacau. Azazel akan menggunakan Absolute Order kepada mereka, lalu memerintahkan semua orang bertarung sampai hanya tersisa satu orang yang bertahan hidup, yang kemudian Azazel memerintahkan lagi untuk membunuh diri sendiri. Semuanya bisa diakhiri dengan begitu mudah oleh Azazel dengan kehendaknya, Absolute Order.

Sebelum berkumpul ke titik ini, Sona sudah mengatakan kepada Arthur bahwa Azazel itu licik. Ketika Azazel meninggalkan Rias dan yang lainnya di tempat pertemuan mereka yang pertama tadi, Sona sudah menaruh curiga. Namun sebanyak apapun Sona berpikir, tak juga dia mengerti jalan pikiran Azazel. Saat itu, Sona hanya cukup sampai menekankan dirinya agar selalu waspada pada Azazel. Tapi sungguh tak dapat diduga, Sona kehabisan kata-kata dengan apa yang telah Azazel perbuat dari sejak tibanya dia disini sampai sekarang.

Jadilah..., para penonton itu hanya bisa melakukan satu hal yaitu tetap diam menonton.

Mereka semua menyadari itu, Rias pun juga sadar akan hal itu makanya dia tidak sedikitpun berniat meminta bantuan. Lagipula, ini adalah masalahnya dengan Azazel yang harus diselesaikan sendiri.

"Azazel sensei," Rias tetap menyematkan panggilan guru kepada Azazel, seburuk apapun perbuatan Azazel, tetap lah guru mereka, guru yang membimbing Klub Penelitian Ilmu Ghaib sehingga mereka dapat menjadi seperti sekarang ini.

"Ada apa lagi Rias?" Azazel sedikit kesal, "Kalau mau sesuatu, katakan saja. Mumpung kau masih bernafas."

Rias seperti ingin mengucapkan pesan-pesan terakhir.

"Setelah semua yang kau perbuat pada kami, setelah semua kebohongan yang kau berikan dibalik topengmu, semuanya. Kau tetap guru yang kubanggakan."

"Aaah~?" Alis Azazel tertekuk heran.

Rias sudah yakin bahwa semua rahasia yang diceritakan Sona adalah kebenaran, termasuk tentang Imperium of Bible dan semua rencana buruk para petinggi Aliansi Tiga Fraksi. Dia memang seorang iblis, tapi dia masih punya hati nurani. Jujur ia menentang kebijakan itu, apalagi memperolehnya dengan cara berperang, membunuh semua orang yang menentang, serta memaksakan ideologi kepada orang lain.

Azazel adalah penjahatnya di sini. Sebagai petinggi, dia terlibat sangat jauh dalam proyek Imperium of Bible yang menjadikan perang sebagai cara mewujudkannya. Di tempat inipun, Azazel adalah orang tua licik yang mengambil keuntungan dari orang lain hanya untuk dirinya sendiri. Yang paling buruk, Azazel mengkhianati kepercayaan Rias, mempermainkan perasaan para anak muda itu. Termasuk saat di mana Azazel mengisi otak mereka semua dengan dendam dan kebencian yang sangat dalam terhadap Naruto dan Hinata.

Kedua ninja itu melakukan hal besar untuk dunia, sampai berkorban begitu banyak. Ya meski tidak berterus terang kepada Rias dan lainnya, menganggap mereka hanya anak kecil yang tak perlu ikut campur, tapi kala kelompok Rias termakan hasutan dan permainan para petinggi yang menjadikan mereka semua membenci Naruto dan Hinata, Rias sungguh amat sangat menyesal. Jika Naruto masih hidup, ia akan minta maaf kalau perlu dengan bersujud.

Dan kini, Azazel membuat kelompok Rias saling bertarung sama lain dengan kesadaran utuh. Bahkan Akeno, Kiba, Irina, Xenovia, Koneko, dan Rossweisse dengan sadar sesadar-sadarnya sekuat hati menolak gerak tubuh, tapi mereka dipaksa oleh kehendak Absolute Order untuk membunuh [Raja] mereka dengan tangan sendiri. Padahal Rias adalah orang yang paling mereka junjung, paling mereka hormati, paling dicintai, dan mereka akan mengorbankan apapun asal Rias bahagia dan semua impiannya terwujud.

Ada yang lebih menyakitkan daripada itu?

Kalau Rias membenci Azazel atas semua perbuatan itu, adalah hal yang sangat wajar. Namun...

"Aku tidak pernah membencimu, Sensei."

Itulah ungkapan jujur dari lubuk hati Rias.

"Kami pun sama." Akeno dan yang lainnya juga mengatakan hal serupa. Mereka berenam masih sadar, mulut masih bisa bicara sesuai isi hati meski tubuh dipasung kehendak Absolute Order.

Kejahatan Azazel pada Rias dan semua peeragenya sangat banyak. Tapi, Azazel tetaplah guru yang membawa kelompok Rias menjadi yang seperti sekarang.

Azazel adalah guru mereka.

Guru adalah sosok yang jasanya tak akan pernah mampu dibalas oleh murid sampai kapanpun. Begitu halnya bagi semua orang di Klub Penelitian Ilmu Ghaib.

Azazel mengajari Rias menjadi pribadi yang handal memimpin bawahannya.

Azazel memberi nasehat kepada Akeno agar bisa menjadi tangan kanan paling berguna bagi Rias.

Azazel lah yang terus memotivasi Kiba, Xenovia, bahkan Irina agar lebih kuat demi melindungi Rias, membantu Rias mewujudkan mimpi-mimpinya.

Azazel juga yang mengajari Rossweisse cara membaur dengan sekelompok anak muda sehingga dapat menyatu dengan kelompok itu sebagai sebuah keluarga.

Meski Koneko lebih banyak berlatih dengan Naruto, tapi Azazel tetap tidak kehilangan peran sebagai guru pembimbing.

Azazel menunaikan semua tanggung jawab sebagai guru mereka tanpa tertinggal satupun.

Dan hal yang sangat jelas faktanya bahwa mereka berkembang sampai sekuat sekarang ini adalah berkat bantuan Azazel.

Setelah semua hal itu, apakah ada celah di hati Rias dan yang lainnya untuk membenci Azazel?

Jelas saja tidak!

Mendengar jawaban seperti itu, Azazel malah jadi geram. Saat ini, entah dorongan apa dia menikmati perbuatannya menyiksa mental dan hati anak-anak didiknya.

"Oh iya, kalian semua pasti sudah menyadarinya kan?"

"..." tak satupun mengerti kemana arah pertanyaan Azazel.

"Ruangan ini memang membuat nafas terasa berat karena hebatnya tekanan kekuatan jahat Trihexa. Meski begitu, indra kita tetap masih bisa merasakan pancaran kekuatan yang luar biasa besarnya dari permukaan Pulau Langit Agreas ini."

"Issei!?" gumam Rias.

Le Fay pun ikut menyadarinya, "Vali-sama!?"

Ya, mereka tak lupa dengan pertarungan besar yang terjadi diatas langit Kota Agreas.

"Aku yakin, kedua pemuda bodoh itu bertarung dengan segenap kekuatan mereka sampai mati. Tadi saja, jelas terasa beratnya tekanan kekuatan mereka dari sini. Tidak salah lagi kalau mereka telah mencapai puncak kekuatan sejati dua naga surgawi, Ddraig dan Albion, yang dikatakan melebihi kekuatan The God of Bible maupun Satan Lucifer Pertama."

Itu benar, Issei melewati proses deifikasi oleh artefak Nail of Helena sehingga mencapai transformasi terkuat Dragon Divinity Hyperdrive. Pun dengan Vali, mencapai bentuk Dragon Lucifer Drive setelah berhasil melewati proses maoufikasi.

Azazel melanjutkan, "Tadi kekuatan kedua pemuda itu dan dampak pertarungan mereka di atas lagi bahkan sampai terasa di bawah tanah ini. Tapi sekarang...?"

Banyak hal bersarang di benak mereka kenapa aura kekuatan Vali dan Issei tidak terasa lagi. Tapi tak satupun yang ingin pikiran-pikiran itu menjadi nyata.

"Pasti pertarungan mereka sudah selesai. Kalian tahu apa artinya itu kan?"

Mereka diam bukan karena tidak tahu tapi mereka tidak ingin mengatakannya. Apalagi bagi Koneko, dia yang dalam mode senjutsu ini bisa merasakan hawa kehidupan orang lain dari jarak yang sangat jauh dan saat ini pancaran energi kehidupan Issei dan Vali lenyap tak berbekas.

"Seperti yang sudah ditakdirkan, pertarungan Hakuryuukou dan Sekiryutei hanya akan selesai kalau ada salah satu yang mati. Tapi untuk jaman ini berbeda, karena keduanya sama-sama mati."

"Tidak mungkin! Kau bohong sensei!" bantah Rias.

Bukan Rias tidak mengetahui kebenarannya, tapi hati Rias lah yang menolak untuk percaya. Setelah semua yang terjadi ini, Rias sudah tidak punya ruang lagi untuk menampung kesedihan yang lain. Peeragenya juga sama, bahkan...

"Hiikkss, Vali-samaaaaaaaaaaa... Huwaaaaaaaaaaa!" Le Fay mengangis paling kencang.

Semua orang terpukul. Ada tiga kelompok disini, yang ketiga-tiganya kehilangan sosok yang jadi panutan dan pelindung mereka. Kelompok Sona lebih dulu kehilangan Naruto. Hinata pun saat ini sedang sekarat dan matanya buta karena pertarungannya dengan Maou Ajuka Beelzebub. Anggota tim Vali kehilangan pemimpin mereka, orang yang mengumpulkan mereka sebagai sesama buronan paling dicari sedunia, melindungi mereka dan tidak pernah meninggalkan mereka seperti apapun keadannya. Terakhir, Rias juga kehilangan orang paling penting dalam kelompok, sosok yang menjadi ujung tombak kekuatan juga penyangga semangat dan mental tim.

Sebagai tambahan, Diuhauser Bellial juga masih belum bisa memulihkan perasaannya setelah pertemuan dengan adik sepupunya, Cleria yang tidak lebih dari beberapa menit.

Semua orang bersedih, meratap pilu.

Ooooo, Azazel sangat menyukai pemandangan seperti ini.

Dulio, Tobio, dan Griselda, serta sang Raja Naga terkuat -Tiamat? Cukup diam dan membiarkan semua hal berjalan sesuai keinginan Azazel.

"Hoooo, kalian semua sadar tidak. Dengan tiadanya orang terpenting, kalian semua langsung jatuh dalam keterpurukan. Haaaaa, sungguh miris sekali melihat semua usaha kalian jadi sia-sia." mulut sarkas Azazel tak hentinya meruntuhkan mental mereka. "Apalagi kelompokmu, Rias! Kalian tidak ada apa-apanya tanpa Sekiryutei. Melihat kalian hidup saja, membuatku ingin muntah."

Sudah terjatuh sangat dalam di dalam keterputukan, sekarang Azazel memberikan pukulan telak yang sangat kuat pada jantung mereka.

"Kupikir hanya rumor belaka, tapi tak kusangka kau sebiadab itu, Azazel." Tiba-tiba laki-laki bersurai perak itu angkat bicara.

"Aaaaah. Kau juga mau kubuat meratap lebih dalam juga, Sang Juara Bellial?"

"Tidak ada yang bisa kau perbuat padaku. Aku sudah tidak punya apa-apa sekarang."

"Ah, benar juga. Mungkin di penghujung nanti, akan jadi penutup yang epik kalau kuperintahkan kau bunuh diri dengan Absolute Order-ku."

"Lakukan saja semaumu." Diehauser tak punya pilihan. Dia adalah petarung paling kuat di sini, tapi tetap saja sama sekali tak memiliki kemungkinan menang melawan Absolute Order. "Menyaksikan dirimu yang selicik ini, aku mulai percaya dengan cerita itu."

"Apa yang kau maksudkan itu tentang pengusiran Adam dan Eve dari Surga?"

"Keh!"

"Hahahaaaa. Seharusnya sejarah itu sudah dihapuskan dengan sempurna, tapi tetap saja ada segelintir orang di jaman ini yang mengetahuinya."

Azazel itu mesum, semua orang tahu. Sayapnya menghitam lalu dia diusir oleh tuhan dari surga karena perbuatannya mengintip Gabriel sang malaikat tercantik yang sedang mandi.

Itulah cerita kenapa Azazel menjadi malaikat jatuh.

Simpel bukan?

Namun dapatkah cerita itu dipercayai?

Hahaaaa.

Konyol!

Hanya orang bodoh yang mau percaya.

Azazel dulunya adalah malaikat yang diagungkan, dia paling taat diantara malaikat yang lain terhadap perintah tuhan. Bagimana mungkin dia jatuh hanya karena nafsu syahwat semata?

"Baiklah, akan kuceritakan sejujurnya." Sikap Azazel nampak santai. "Tuhan menciptakan surga, mengisinya dengan berbagai macam keindahan tak berujung lalu menciptakan malaikat sebagai pelayan-pelayannya. Sampai kemudian dia menciptakan sepasang manusia. Tidak ada yang mengerti kenapa tuhan sangat membanggakan ciptaannya yang satu ini, padahal banyak ciptaannya yang lain yang jauh lebih indah. Anehnya lagi, malaikat diperintahkan tunduk kepada manusia.

Lalu, ada seorang malaikat yang merasa iri dengan manusia, dia sombong dan tak mau mengakui ciptaan tuhan itu. Tapi dia tak berani menyuarakan isi hatinya pada malaikat lain, apalagi kepada tuhan. Dengan akal liciknya, dia menghasut malaikat bernama Samael, menyebarkan kebencian dan iri dengki ke dalam diri Samael terhadap manusia. Dia katakan kepada Samael, bahwa Samael adalah malaikat yang sangat indah dan dianugerahi akal tapi kenapa mau-maunya tunduk pada makhluk jelek berkubang nafsu bernama manusia? Akhirnya Samael terbujuk, malaikat itu juga yang memberikan ide kepada Samael bagaimana caranya membuat tuhan membenci Adam dan Eve sehingga mengusir keduanya dari surga.

Samael mengubah dirinya menjadi ular lalu datang kepada Adam dan Eve. Dia menipu kedua manusia itu dengan cerita bohong mengenai keabadian yang akan didapat setelah memakan buah pohon kehidupan yang tumbuh di lantai keempat surga. Awalnya Adam dan Eve tidak mau karena tuhan melarangnya, tapi karena terus dihasut, akhirnya dimakan jua.

Adam dan Hawa di usir dari Surga, namun tindakan Samael akhirnya diketahui oleh tuhan. Tindakan itu memicu kemarahan The God of Bible. Sejak saat itu, tuhan mulai membenci ular dan naga secara ekstrim. Itulah alasan kenapa naga dianggap sebagai makhluk jahat dalam banyak teks dan kitab dari Gereja.

Sebagai hukumannya, Samael dikutuk menjadi makhluk hitam paling menjijikan yang pernah ada, lalu disegel di kedalaman Cocytus yang merupakan tempat paling dasar dari jurang neraka. Makhluk yang dijuluki sebagai Dragon Eater."

Azazel mengakhiri ceritanya dengan tawa kecil, "Yaaah, walau saat ini Samael sudah mati karena dibunuh oleh Uzumaki Naruto."

Semua orang dari tim Vali melihat langsung bagaimana akhir hidup Samael setelah dipecundangi oleh salah satu monster dari dalam tubuh Naruto.

"Namun meski begitu, siapakah orang licik yang menghasut Samael dan terbebas dari hukuman tuhan?" tanya Azazel.

"Itu adalah..."

"Tepat sekali yang ada di pikiranmu itu, Bellial. Itu adalah aku. Ya, aku! Aku orangnya. Aku orang yang paling pertama berbuat jahat dan menyebabkan keributan besar di Surga."

Mengintip Gabriel adalah muslihat Azazel untuk menyamarkan perubahan warna sayapnya. Sebenarnya, Azazel sudah lebih dulu 'jatuh' oleh dikarenakan perbuatannya menghasut Samael tapi disaat bersamaan dia sengaja mengintip Gabriel dengan tujuan agar kesalahannya yang tampak oleh malaikat lain adalah semata karena nafsu.

Azazel membohongi semua orang. Bahkan tuhan pun dia bohongi.

Sungguh menjijikkan, Azazel adalah makhluk paling jahat yang pernah ada. Perbuatan Azazel menjadi awal dari mata rantai segala kejahatan yang ada di dunia, yang dilanjutkan oleh para manusia yang hidup di bumi.

Azazel mengamati apa yang budak-budak Rias perbuat, "Wah, semuanya sudah berbaris dan siap dengan serangan masing-masing ternyata."

Tadi dia memerintahkan mereka untuk mengarahkan serangan terkuat ke arah Rias kan? Jadi belum diserang betulan, masih sebatas diarahkan kepada Rias.

Azazel melanjutkan, "Okeee, sekaraaaaang..."

Akeno, Kiba, Xenovia, Koneko, Rossweisse, dan Irina hampir melepaskan serangan terkuat masing-masing.

Rias menutup mata, inilah akhir hidupnya.

"Tidak jadi!"

"Ha!?" Rias menganga.

Apa maunya Azazel?

Sang Gubernur malaikat jatuh itu berceletuk, "Aku pasti akan kerepotan kalau Sirzech marah karena adiknya mati." Benar juga, mereka kan sekomplotan dan Sirzech yang siscon itu tak akan suka jika ada orang yang berani mengusik keselamatan adiknya. Apalagi kalau dibunuh, Sirzech bisa mengamuk. "Serafall juga bisa marah besar nanti. Jadi..., mungkin hanya Sona dan Rias saja yang akan tetap hidup setelah dari sini. Sedangkan yang lainnya..."

Sudah jelas, pasti Azazel akan membantai semuanya. Karena tidak ada guna lagi mereka hidup.

"Tapi ah," nampaknya Azazel masih belum mau berhenti mempermainkan perasaan orang lain. "Rias, gunakan jurus terkuatmu, bintang pemusnah Extinguish Star untuk membunuh semua budakmu yang tak berguna lagi."

Gila!

Apa Azazel masih belum puas hah?

Absolute Order tak akan bisa Rias tolak. Dia mengaktifkan lingkaran sihir di bawah kakinya dan mulai mengumpulkan kekuatan demonic. Di saat bersamaan, kekuatan kehancuran mulai berkumpul di atas kepalanya. Terus tumbuh dari kecil lalu membesar hingga menjadi sebuah bola kehancuran raksasa. Bola itu berwarna hitam dengan aura crimson yang berputar didalamnya. Itulah teknik original Rias dengan prinsip dasar Power of Destruction keluarga Bael yang dia warisi dari ibunya.

Rias melemparkan bola pemusnah itu. Efeknya, tubuh enam budak Rias tertarik menuju inti bola. Mereka tidak bisa apa-apa, hanya bisa diam karena masih dalam pengaruh kekuatan kehendak Azazel. Bola itu memiliki gravitasi sendiri, yang sangat kuat untuk menarik objek-objek apapun di sekitarnya. Jika tertarik, maka objek itu akan dilumat sampai habis oleh kekuatan penghancuran murni tanpa atribut yang tak memiliki kelemahan. Semua yang ditelannya pasti akan lenyap.

Dan siapa sangka...

Fang Blast Booster

Swoossshhh!

Bintang pemusnah Rias tersapu dan lenyap begitu saja oleh hempasan energi yang sangat kuat. Sapuannya menghantam dinding aula ruang bawah tanah, membuatnya berlubang, terus melaju tanpa henti hingga tidak diketahui sampai mata ujungnya.

"Jurus itu..." Rias tergugu.

"Issei!"

"Issei-kun."

Semuanya berteriak bagai orang kegirangan.

Siapa yang tidak girang kala tahu bahwa teman berharga yang disangka sudah mati, ternyata masih hidup.

Itu, Issei. Hyoudou Issei lengkap dengan armor Cardinal Crimson Full Drive.

"Kauu!" Azazel menganga, "Bagaimana bisa kau masih hidup!?"

Belum tuntas ketidakpercayaan Azazel, seseorang yang lain muncul dari belakang Issei.

"Aku juga masih hidup."

Kuroka menganga, sedangkan Le Fay "Vali-samaaaaaaaaa... Huweeeeeeee." menangis tersedu-sedu sampai keluar ingus.

Tidak seorangpun menyangka apa yang mereka lihat, mustahil kan?

Seharusnya Issei dan Vali sudah mati.

Tapi...

"Itulah akibatnya jika kalian melupakan aku."

Seorang gadis muda yang cantik dengan rambut pirang lurus tergerai berdiri diantara dua pemilik kekuatan Naga Surgawi.

Lavinia Reni, seorang penyihir yang dijuluki Putri Es. Pemilik Sacred Gear kelas Longinus, Absolute Demise.

"..."

Tak ada yang menyahut, karena semua orang kehabisan kata-kata.

Melihat kebingungan semua orang, Lavinia langsung berterus terang, "Umm, begini ceritanya..."

~Flashback Chapter 87~

"Bagus! Kalau begitu mari kita benar-benar akhiri semua ini!"

"Haaaaaaaaaaaaa!" Issei berteriak kencang. Ia masih memiliki teknik yang tersimpan.

Tangan kiri Issei mengepal kuat, sembari berubah bentuk menjadi lebih besar, kokoh, dan berotot. Kukunya memanjang dan meruncing. Kulitnya pun di tumbuhi sisik naga berwarna merah. Walau bukan yang terkuat, tapi sekarang inilah teknik terakhir yang ia miliki. Dragonifikasi, kondisi dimana ia merubah tubuh manusianya menjadi tubuh naga. Meski hanya pada lengan saja, tapi kekuatannya cukup untuk memutus leher jika dipukulkan ke kepala seseorang.

Hal yang sama juga dilakukan Vali.

"Graaaaaaaaaaa!"

Vali mengumpulkan sisa-sisa terakhir dari energi iblisnya. Benar-benar yang terakhir sehingga jika dipakai semua, maka ini akan menjadi penghujung umurnya. Aura keperakan berkumpul di tangan kirinya, yang ia kepalkan dan siap dipukulkan. Benda sekeras apapun yang dipukulnya, pasti akan remuk dengan tinju ini, apalagi kalau hanya kepala manusia.

"Matilaaaaahhhh! / Kalahlaaaaaaah!"

Issei dan Vali melayangkan tinju masing-masing. Tanpa mempedulikan pertahanan, hanya berfokus agar serangannya mengenai lawan dan membunuhnya.

"Stop sampai disana!"

Freeeezzee...!

Sekejap mata tanpa bisa dicegah, tahu-tahunya Issei dan Vali yang hampir saling menyarangkan tinju kini membeku terkungkung dalam bongkahan es seukuran rumah.

"Nah begitu lebih baik."

Si pelaku tersenyum dengan hasil kerjanya. Meski dirinya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuatan penuh kedua pemuda itu, tapi kalau dua-duanya sudah kehabisan tenaga maka ceritanya lain lagi.

"Okee, kita pulang dulu sebentar, memulihkan badan, baru boleh kembali lagi ke sini."

Dalam kilau sinar biru, ketiganya pun lenyap dari pandangan mata.

~Flashback Off~

"... Yah, karena aku tidak ingin Va-kun mati, terus aku juga kasihan dengan Sekiryutei. Jadi aku melakukan ini. Hahaa."

Lavinia tertawa lepas. Sebelum dia ke sini, Vali dan Issei dia obati dulu hingga pulih di tempat lain yang jauh. Makanya dikira mati, padahal dibawa Lavinia pergi.

Awalnya tindakan Lavinia yang berpindah kubu ke sisi Vali hanya karena obsesi cinta buta bisa dianggap sebagai pengkhiatan. Tapi setelah tahu kenyatannya begini, gadis itu ternyata hanya bertindak sesuka hatinya, tidak lebih dan tidak memihak siapapun.

"Sensei." sapa Issei pada sang guru, "Mulutku tidak tahu harus mengatakan apa, tapi tinjuku pasti akan menyampaikan semua yang ada didalam hatiku padamu."

Azazel sudah mendapatkan kembali ketenangannya, ia kini mengerti dengan benar situasi dan posisinya. Kemudian ia tertawa, "Apa kau tidak merasa sombong pada gurumu ini, Issei?"

Issei menjawab dengan tindakan. Ia mulai melafal mantra yang terdengar bagai nyanyian.

"Crimson Red Dragon yang tinggal di dalam diriku, terbangun dari dominasimu"

Cahaya crimson dipancarkan dari permata pada tangan kanan Issei.

"Naga Langit Crimson yang kumiliki dalam diriku, bangkit untuk menjadi Raja"

Permata di gauntlet kiri melepaskan aura hitam pekat.

Azazel merasakan perubahan Issei, sungguh di luar perkiraannya. Tapi Azazel tahu kemana arah perubahan itu, menuju bentuk sempurna Sekiryutei. Hanya artefak Nail of Helena sebagai Longinus Drive yang dapat memacu perubahan itu secara paksa, tapi yang sekarang perubahannya sangat alami, Dragon Deification.

Vali menuturkan, "Dia sudah membersihkan telinganya dan mendengarkan dengan hatinya."

"Hah?" Azazel membeo.

"Bisa jadi karena sanggup bertahan dari efek mematikan Nail of Helena, atau mungkin karena pertarungan kami tadi membuatnya menemukan sesuatu di dalam dirinya."

Lafal mantra Issei ucapkan lagi

"God of Infinity hitam pekat."

Sebuah aura crimson menyelimuti seluruh tubuh Issei.

"Red God of Dream yang agung."

Sebuah aura hitam pekat membungkus lagi.

"Menyaksikan keberadaan terlarang kita yang akan melampaui batas-batas kemahakuasaan."

Armor Crimson Issei menyatu dengan warna hitam pekat, dan transformasi terus terjadi. Sarung tangan, pelindung kaki, pelindung dada, sayapnya memiliki warna crimson dan hitam menyatu bersama, dan bentuk mereka juga berubah. Sekarang ada empat sayap, dan dilengkapi dengan meriam pada bagian bahu dan punggung.

Kemudian sampailah pada ayat terakhir.

"Kami akan menari seperti cahaya dalam neraka!"

D∞D ! D∞D D∞D ! D∞D D∞D D∞D ! D∞D D∞D D∞D D∞D D∞D D∞D !

Semua permata bergema dengan suara yang meresap sampai ke jiwa. Sebuah simbol ∞ (infinity) muncul pada semua permata Sekiryutei.

"Diabolos Dragon, Actived!"

Dragon Drive !

Apa yang terasa dari Issei adalah kekuatan yang seolah tanpa batas. Kekuatan yang terus menggandakan diri berkali-kali lipat hingga jumlahnya tak mampu lagi diukur.

Azazel terpana melihatnya, ia tidak bisa memungkiri kekagumannya pada keajaiban Sacred Gear. Namun, di sisi lain setitik ketakutan mulai muncul di dalam hati.

"Mau apa kau dengan itu ha?"

"Meninju wajahmu!"

"Tck!" jauh berbeda dengan sebelumnya, Azazel kini tidak lagi merasa senang. Dia marah. "Absolute Order aktif! Issei, daripada meninju wajahku lebih bagus kalau wajah teman-temanmu saja yang kau tinju."

"..."

"Ayoo, sana! Lakukan perintahku!"

"..."

"Lakukan kataku!"

"..."

"Lak-" ucapan Azazel terhenti saat ia menyadari bahwa Issei tidak menuruti perintahnya.

Absolute Order ditolak.

"Mustahil!"

Adalah makhluk dalam diri Issei yang berbicara, "Ddraig disini."

"Kau!?"

Suara mekanik dari permata Issei kembali berderu, "Issei sudah mempercayakan tubuhnya padaku."

"Ya, aku dan Ddraig adalah satu. Kami berbagi tubuh yang sama."

"Saat ini, bukan Issei tapi kehendakku lah menggerakkan tubuhnya."

"Lantas?" kening Azazel mengkerut. Ada pertanyaan besar dalam benaknya.

"Walau terkena pengaruh Absolute Order, Issei tidak bisa mengeksekusi perintah itu dengan tubuhnya."

Seperti yang Azazel katakan, perintah tadi ditujukan kepada Issei. Karena Issei sedang tidak mengendalikan tubuhnya, maka meski terkena pengaruh kemampuan itu tapi eksekusinya tidak akan terealisasi.

Azazel paham, "Kalau begitu kau, Ddraig! Bunuh semua teman Issei!"

"..."

"Lakukaaaaan!"

"..."

"Kenapa kau tidak juga bergerak haaaa, dasar naga bodoh!" Azazel mulai frustasi.

"Ini sangat sederhana, Azazel. Kekuatan Absolute Order kau warisi dari God of Bible, kau mampu memaksakan kehendakmu pada makhluk lain berkatnya. Tapi tahukah kau bahwa God of Bible sebenarnya takut padaku. Dia takut pada eksistensi Dua Naga Surgawi."

Komentar Ddraig membuat Azazel tertegun.

Meski sangat luar biasa dan dikagumi oleh banyak dewa superior dari mitologi lain, tapi tuhan dalam Ak-Kitab itu tetap memiliki rasa takut pada kedua naga langit. Alasannya sederhana, dari segi kekuatan murni dua naga langit itu lebih superior daripada tuhan. Keduanya mampu sejajar dengan daftar Top 10 makhluk terkuat di dunia, yang mana The God of Bible tidak termasuk didalam daftarnya. Semua orang mengetahuinya. Dua naga langit itu sanggup membuat dunia porak-poranda saat Great War antar Tiga Fraksi berlangsung. Untuk menghentikannya tuhan terpaksa menyegel dua naga itu kedalam Sacred Gear yang mengakibatkan dia mati karena melakukan itu.

Logikanya sederhana, bisakah seseorang memaksakan kehendak kepada orang lain yang ditakutinya, yang lebih kuat darinya, yang tidak takut pada apapun?

No!

Orang berakal jelas tahu jawaban dari pertanyaan semudah itu.

Kini Azazel mengulas senyum dan tawa jahat yang menggenaskan. Semua orang miris melihat dia.

"Hahaaa, tapi aku yakin kau tidak akan bertahan lama dari transformasi itu."

"1 menit saja cukup untuk menyelesaikannya."

Kemarahan tercetak jelas dalam raut muka Azazel.

Situasi berbalik, kini orang-orang tidak lagi takut pada Azazel namun malah ingin menertawakannya.

"Rias, Akeno, Asia, Rossweisse, Koneko, Kiba, Xenovia, Irina! Berdiri di depanku! Lindungi aku!"

Delapan anak muda itu bergerak mengikuti perintah mutlak Azazel. Dia menggunakan tameng hidup untuk menghentikan Issei. Menggunakan teman yang sangat berharga bagi Issei.

Nyata tertangkap mata, Azazel tidak bisa lagi menyembunyikan kegelisahan hatinya.

Issei tidak mempedulikannya. Dia mengalirkan banyak kekuatan naga ke lengan kanannya. Aura merah crimson dan hitam bercampur aduk disana. Tangan dikepalkan.

Cukup melihat saja membuat orang-orang ketakutan. Bagaimana kalau tinju itu dipukulkan, pasti apapun akan hancur karenanya.

"Hoi hoii, Issei. Kau tidak mempedulikan teman-temanmu hah?"

"..."

Issei tidak mau mendengarkan. Dan ini membuat Azazel panik. Azazel memiliki 1000 cara menggunakan para tameng hidup itu untuk menghentikan Issei, tapi melihat Issei yang tak mau berhenti membuat Azazel makin panik.

Issei hanya mengambil langkah sedikit maju. Tiba-tiba, dia telah memperpendek jarak, langsung berada di depan Rias yang memunggungi Azazel.

[Penetrate!]

Kekuatan yang mampu menembus semua jenis pertahanan. Issei melewati Rias tanpa terjadi apa-apa. Kalau Rias dalam kondisi biasa pasti kena pukulan itu, tapi karena saat ini Rias dikondisikan sebagai tameng hidup pertahanan Azazel, maka Penetrate pun berfungsi dengan baik untuk melewatinya. Azazel bahkan tidak bereaksi. Gerakan Issei sekarang benar-benar di luar pemahamannya. Issei mengepalkan tinju dan meninju langsung ke wajah. Pada saat ini, suara terdengar.

D∞D D∞D D∞D D∞D D∞D D∞D D∞D D∞D D∞D D∞D D∞D D∞D !

"Ini adalah bayaran atas perbuatanmu pada kami!"

Solid InfinityBooster

Menggunakan momentum tinjunya, Issei memukul langsung wajah Azazel.

Disambar pukulan yang sangat kuat, Sang Gubernur Fraksi Malaikat Jatuh itu terlempar. Tubuhnya terpental berkali-kali di lantai hingga menabrak tembok tebal di sisi ruang aula bawah tanah.

Karena tak kuasa menahan beban tubuh Azazel, tembok itu hancur, rubuh. Barulah pada tembok ketiga setelahnya, yang sangat tebal, tubuh Azazel terhenti, mencipta cekungan kawah di tembok sebesar rumah.

Azazel tidak bisa berdiri lagi, wajahnya hancur, hidung patah, gigi-gigi lepas dari rahang, darah mengalir deras dari mana-mana. Dia hampir kehilangan kesadaran.

"K-kau mengalahkaku... gh! D-dengan satu pukulan."

Azazel menolak percaya dengan apa yang telah terjadi padanya.

Menyaksikan apa yang terjadi pada Azazel, tidak satupun yang berbicara. Itu adalah harga yang pantas atas perbuatannya.

"Oh, apa sekarang aku akan dibunuh olehmu, Issei?" Azazel bertanya sarkas.

Issel melepaskan armornya, kembali ke wujud manusia. Dia menggeleng.

"Tidak! Kau adalah guruku. Tidak mungkin seorang murid membunuh guru yang telah mengajari banyak hal padanya."

Perasaan Issei, sama persis dengan apa yang Rias dan lainnya rasakan. Issei mampu meraih pencapaian setinggi ini, karena lebih dari setengahnya adalah berkat bimbingan Azazel.

Namun bagi Azazel, ini adalah penghinaan terbesar. Dia merasa sangat direndahkan oleh anak muridnya sendiri.

"Kalau kau tidak melakukan sesuatu padaku, aku bisa saja memerintahkan semua teman-temanmu bunuh diri dengan Absolute Order."

Issei diam mendengarkan.

"Selama aku masih hidup, kemampuan itu tak akan terhapuskan. Kau tahu itu kan!?" Azazel menyerah, ia seperti memohon kematian daripada dipermalukan begini.

Blizt.

Secara mengejutkan seseorang datang diantara mereka, berdiri tepat di hadapan Azazel yang terkapar tak berdaya

"Kalau begitu aku saja yang melakukannya, ttbeayou." Pemuda berambut pirang itu tersenyum lebar, "Aku bukan muridmu. Dengan alasan kau sudah menyakiti istriku maka aku bisa membunuhmu tanpa ada rasa penyesalan."

"Kauuu...!" Tidak ada yang lebih mengejutkan daripada Azazel selain melihat orang ini. "Uzumaki Naruto, kau masih hidup."

"Siapa yang mengatakan aku sudah mati hm?"

"Brengsek! Kau licik keparat!"

"Hahaa, maki saja aku semaumu." Naruto mengambil kunai cabang tiga dari sakunya, dia aliri chakra angin sehingga bilahnya memanjang dan sangat tajam. Raut mukanya berbalik serius, "Aku tidak ingin murid-muridmu melihat hal menyedihkan ini jadi aku akan melakukannya dengan cepat."

Sudah berakhir, Azazel pasrah. "Lakukan!" Dia menutup mata. Mengangkat dagu agar lehernya lebih mudah dipenggal.

Jraashhhh!

Beberapa saat telah berlalu tanpa ada yang ingin mengetahui peristiwa apa yang baru saja terjadi. Naruto berjalan kembali pada teman-temannya yang sedang berkumpul. Sejenak ia menoleh ke belakang,

"Kalian berempat, inginnya bagaimana?"

Dulio, Tobio, dan Griselda terhenyak. Dengan kematian Azazel, apa lagi yang bisa mereka perbuat di sini? Tidak ada!

Jadi,

"Kalian pergilah kalau ingin selamat."

Tanpa banyak kata, ketiganya pergi kabur dengan sihir teleportasi. Beruntung bagi Dulio, Tobio, dan Griselda tidak melakukan hal buruk di tempat ini, mereka hanya mengikuti perintah Azazel. Kalau tidak, pasti tidak ada ampunan untuk mereka.

"Kenapa kau tidak pergi?" tanya Naruto.

Dia adalah perempuan berambut dan bersisik biru, perwujudan Raja Naga Terkuat -Tiamat.

"Aku melayani Ajuka, tapi karena dia sudah tewas dibunuh maka aku akan melayani orang yang telah membunuhnya."

"Oh."

Naruto berlalu pergi, membiarkan Raja Naga itu berjalan mengekor di belakangnya. Singkatnya Tiamat akan melayani Hinata yang secara otomatis bergabung dengan mereka. Dasar naga itu! naga yang tak punya pegangan hidup sendiri.

Berlutut di hadapan Sona, Naruto mengusapkan telapak tangan kanannya pada kedua mata Hinata yang tertutup rapat, berbaring di pangkuan Sona. Chakra jingga berpendar lemah. Sesaat kemudian Naruto menjauhkan tangannya. Belum tampak terjadi apapun.

Ada banyak hal yang ingin ditanyakan. Kebingungan, rasa tidak percaya bercampur senang bahagia, dan harapan bahwa hal ini nyata bertumpuk-tumpuk dalam hati. Namun tidak ada seorangpun yang mampu menyuarakannya.

Sampai akhirnya...

"Na-naruto-san, kau! Yang kulihat ini benar kau kan!?"

"Aaahhh~, penyakit rabunmu makin parah ya? Perlu kubelikan kacamata baru, Sona-san?"

"Heii! Aku serius."

"Ahahaaaa." Naruto tertawa bersama dengan senyum riang secerah mentari.

Senyuman itu, bukti nyata bahwa Naruto masih hidup.

"Gh! Kau membuatku khawatir tahu." ungkap Sona.

"Bahkan tadi Kaichou sampai hendak menangis loh, Senpai." sambung Ruruko Nimura, peerage bidak Pion Sona.

"Heeee, benarkah!" Naruto seperti tak percaya.

"Ya iya lah."

Naruto menatap Sona intens, "Sampai mengkhawatirkan diriku sejauh itu, terima kasih ya."

"a uuuu..." Sona tergagap, dia malu di depan banyak orang.

"Bukan hanya Kaichou saja tapi semua juga mengkhawatirkanmu, Naruto-senpai. Tidak ada yang tidak sedih saat kau katanya sudah meninggal. Huhuuuu." Tomoe berterus terang panjang lebar.

Pokoknya bagi semua anggota OSIS, Naruto itu sangat berharga.

Ke sudut lainnya yang juga tampak ramai, Le Fay dan yang lain juga sedang bersuka ria mendapati Vali yang baik-baik saja. Bedanya, Sang Hakuryuukou itu sedang malu-malu dengan pipi bersemu merah karena digoda oleh anggotanya. Lihat saja, Lavinia tak mau sejenakpun melepas rangkulannya pada Vali.

Arthur yang tidak bisa bergerak karena diperintahkan diam oleh Azazel dan kelompok Rias yang saling bertarung, kini sudah dapat bergerak sesuai kehendak mereka sendiri. Terlepas dari kehendak Absolute Order.

Issei sedang dikerubungi semua orang dari Klub Penelitian Ilmu Ghaib. Mereka bersuka cita, tidak ada sesuatu apapun yang kurang walau sebagiannya ada yang terluka dan tampak kelelahan karena dipaksa saling bertarung. Gasper sudah bangun, dan dia menangis sambil memeluk Issei. Walau begitu, sedih tidak memisah dari dalam hati sebab keadaan memaksa mereka untuk merelakan kematian sang guru yang sangat mereka hormati. Azazel telah tiada, namun jasanya tetap terkenang sepanjang hayat.

Dieuhauser berdiri berdampingan dengan Tiamat. Mencukupkan diri hanya dengan menonton, dan itu sudah menjadi kebahagiaan kecil tersendiri bagi seorang Diehauser Bellial.

Merasa sudah cukup bersenang-senangnya, mereka semua berkumpul ke satu titik. Mengelilingi Naruto yang duduk bersimpuh menghadap ke Hinata yang sedang berbaring di pangkuan Sona.

"Kemarikan, biar aku saja." tawar Naruto.

"Tidak perlu, Naruto-san." tolak Sona.

"Ayolah."

"Tidak mau! Sampai saat ini aku belum melakukan apa-apa, berkeringat pun tidak. Aku tidak kebagian jatah bertarung sejak datang ke sini."

"Tapi kan dia istriku." Naruto mulai ngeyel.

"Dia teman yang berharga bagiku." Sona bersikeras.

Karena Sona itu perempuan...

"Tch, ya sudah lah." Naruto mengalah.

"Ya, begitulah seharusnya laki-laki. Harus mengalah pada perempuan. Aku suka laki-laki seperti dirimu."

"Memang, kau sudah menyukaiku sejak dulu." ucap Naruto enteng.

Blusshh.

"Mmppph." Habis kali ini Sona di permalukan.

"Pffftt, ahahahaaa." Rias sudah tak bisa lagi menahan tawa.

Budak-budak yang lainnya juga ingin tertawa, tapi karena Sona itu ketua OSIS sekaligus putri keluarga bangsawan mana ada yang berani.

Setelah tawa sedikit mereda, Diehauser yang tak mampu lagi menahan rasa penasaran mengajukan sebuah pertanyaan, "Hei, apa kau punya trik mengatasi Absolute Order Azazel, sehingga kau selamat dan tampak tak terluka sedikitpun. Hanya menyisakan robekan kecil dibajumu bekas tusukan kunai."

"Oh, lukaku cepat hilang karena kemampuan regenerasi tubuhku cukup bagus." jawab Naruto.

"Terus?"

"Kalau tentang mengatasi Absolute Order, maka caranya sangat mudah."

"Sungguh?"

"Kau tidak berbohong kan, Uzumaki-kun?" Akeno memperjelas ketidakpercayaan Rias.

Mereka satu kelompok hampir mati semua karena kemampuan Azazel itu, untung ada Kaisar Naga Merah Ddraig di dalam tubuh Issei sehingga kehendak Absolute Order tertolak. Tapi Naruto berkata bahwa trik untuk mengatasinya sangat mudah. Siapa yang mau percaya?

"Untuk apa aku bohong tentang orang yang sudah mati." tukas Naruto. "Kalian semua tahu kan kalau aku bukan orang yang pintar menjelaskan?"

Para siswa Kouh Gakuen mengangguk berjamaah.

"Intinya begini, Absolute Order itu menipu fungsi gerak tubuh untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dikehendaki hati. Nah, bagaimana kalau kemampuan itu ditipu. Emmm, seperti di matematika. Negatif dikali dengan negatif, maka hasilnya positif."

"Haaaahh~~?"

"Istriku ini karena doujutsunya belum aktif saat Azazel menyerangnya dengan Absolute Order, jadinya dia terkena pengaruh itu. Tubuh Hinata melakukan sesuatu yang bukan kehendaknya."

"Lalu?"

"Aku pura-pura mati, seakan Hinata sudah selesai membunuhku. Dengan tercapainya kehendak itu dan Hinata sendiri yakin sudah membunuhku maka secara otomatis pengaruh Absolute Order hilang dengan sendirinya."

Iya, logika itu tepat sekali. Perintah Azazel dengan kemampuan itu hanya berisi satu instruksi saja, berarti kalau intruksinya selesai dikerjakan maka pengaruhnya hilang begitu saja. Dan Naruto menipu kehendak Absolute Order agar percaya kalau instruksinya sudah selesai dilaksanakan.

Maka hasilnya...

Tidak perlu ada kejadian apa-apa.

Sebagai contoh, ada satu penduduk dari daerah dekat kutub yang mendapat khabar bahwa buah paling enak itu adalah buah rambutan dari daerah tropis. Saking inginnya maka buah rambutan, dia pergi melintasi samudra. Sesampainya di sana, dia berkata pada penduduk setempat bahwa dia ingin makan buah terenak sedunia, buah rambutan. Tapi orang ini tidak tahu bentuk dan warna buah rambutan karena belum pernah melihatnya. Jadi karena malas, penduduk setempat memberinya buah salak. Dimakan lah buah salak itu dan ternyata benar buah itu rasanya sangat enak. Merasa puas, dia pun pulang ke daerah kutub dan dengan bangga bercerita kepada teman-temannya bahwa dia sudah pernah memakan buah rambutan yang paling enak sedunia. Padahal dia tidak sadar kalau sudah kena tipu. Begitulah analoginya.

Sona kehabisan kata-kata, ia yang jenius saja tidak mampu berpikir sampai kesana.

Kalau yang lain? Vali, Arthur, Tsubaki, Tomoe, dan teman-temannya... ah sudahlah, tak perlu diperjelas bagaimana ekspresi mereka masing-masing. Sama saja, seperti orang bodoh.

Diehauser terpaksa harus mengakui kejeniusan Naruto.

Sungguh, Naruto itu ninja paling tidak bisa diprediksi nomor satu di dunia.

Adaaaaaaaaaaaaaa saja akal liciknya.

Licik! Licik! Licik! Licik! Licik!

Naruto itu liciknya kelewatan.

Kalau seperti ini, Azazel kalah licik dibanding Naruto. Sehingga dengan begitu, kematian Azazel jadi sangat sangat sangat menyedihkan. Ya, Azazel licik sudah dari dahulu kala dan dia berusaha keras dengan semua kelicikannya itu, tapi ujung-ujungnya dia mati karena tipuan kecil Naruto yang tak terduga itu.

Seandainya Azazel masih hidup, pasti dia kejang-kejang menangis di lantai.

"Bedebaaaahhh!"

Siapa tadi yang mengumpat?

"Hei! Kau marah padaku, Rias-ojousama?" Naruto kebingungan.

Sedikit menakutkan melihat wajah rias yang merah seperti berapi-api.

"Naruto-san, kau tahu! Seandainya saja kau memberitahuku cara itu lebih awal, kelompokku tidak akan menderita seperti tadi."

"Ah, kalau untuk itu aku minta maaf." dengan entengnya Naruto mengucapkan kata itu.

"Ah sudah lah." Kemarahan Rias berhenti seketika. Bukan apa-apa, tidak ada gunanya marah dan menyesali hal tadi.

Tsubaki menyadari sesuatu, "Naruto-san. Kau baru muncul sekarang, apa karena..."

"Ya, seperti pikiranmu." Naruto bertingkah sok pintar dengan menebak isi pikiran orang lain, "Kalau dengan cara tipuan seperti itu, efek hilangnya kehendak Absolute Order mungkin hanya sementara. "

Hinata berhenti membunuh Naruto karena percaya Narutonya sudah mati, tapi kalau seandainya kemudian dia tahu Naruto masih hidup, secara logika maka Hinata akan kembali berusaha membunuh suaminya. Seperti orang kutub tadi, kalau dia sadar sudah kena tipu maka keinginannya pasti muncul lagi, dan akan pergi lagi mencari buah rambutan sampai dapat.

Naruto melanjutkan, "Oleh karena itulah, aku mencari moment supaya aku bisa membunuh Azazel tanpa Hinata sempat membunuhku."

Sona menyambungi, "Dengan matinya Azazel, maka efek Absolute Order akan hilang secara permanen. Buktinya Arhur dan kelompok Rias kini sudah bebas dari pengaruh itu."

"Begitu lah. Makanya, tadi aku terpaksa membunuh Azazel meski aku kasihan padanya."

Oke, sekarang semua hal mengganjal sudah hilang. Masalah yang berkaitan dengan Absolute Order sudah selesai. Jadi...

Sona terpikir hal lain, "Naruto-san, sebagai suami kau tega sekali pada istrimu." Dia mengatakannya karena sebenarnya tak tahan menyimpan dalam hati.

"Hah?"

"Kau membuatnya hampir mati tahu!"

"Ah, kalau itu. Itu diluar prediksiku." Naruto berkilah.

"Apa maksudmu?"

Kini Naruto dan Sona seperti pasangan yang sedang bertengkar. Emmh, yang lain lebih baik diam.

"Rencanaku, setelah Hinata tertipu dengan kematianku dia akan langsung mendatangi Azazel dengan doujutsu yang sudah aktif. Dalam situasi itu, sangat mudah baginya membunuh Azazel sebagai pembalasan dendam. Apalagi Absolute Order tidak bisa menargetkan makhluk empat dimensi." Bagian terakhir ini Naruto hanya mengira-ngira, berdasarkan kenyataan bahwa serangan jenis apapun tidak akan pernah sampai pada makhluk empat dimensi. "Nah, kalau Azazel sudah mati dan efek Absolute Order sudah hilang dari kepala Hinata, baru aku muncul."

Rencana Naruto sangat sederhana karena dia bukan pemikir rumit.

"Tapi Hinata-san hampir mati akibat bertarung dengan Maou Ajuka-sama!"

"Ya, kan aku bilang tidak tahu!"

Perdebatan makin sengit.

Sejujurnya Naruto sudah tahu kalau Ajuka bersembunyi, menunggu moment yang tepat untuk muncul. Sensor mode kyubi dan Byakugan Hinata tidak bisa ditipu. Sudah diprediksi oleh keduanya kalau Maou Ajuka pasti akan datang membantu Azazel. Tapi...

"Siapa yang menyangka Maou berambut hijau itu ternyata punya cara mengatasi teknik terkuat istriku. Padahal pada pertarungan sebelumnya, Hinata dengan mudah memenangkan pertarungan dari Ajuka."

"Siapa peduli dengan itu. Lihat hasilnya sekarang! Istrimu sekarat karena perbuatanmu."

"Tenang saja, dia tidak apa-apa. Istriku itu kuat, keteguhan hatinya mungkin lebih kuat dariku. Sebentar lagi dia pasti siuman." Naruto mengatakannya dengan jelas, sejelas keyakinan hatinya terhadap Hinata.

"Ya kan..." Sona masih belum terima.

"Apa lagi ha?"

"Kau itu jadi laki kenapa tidak peka sih?"

"...?"

"Tidakkah kau mengerti bagaimana sedihnya hati seorang wanita yang terpaksa membunuh suami tercinta dengan tangannya sendiri!?"

"..."

"Mengerti tidak ha!?" Sona berteriak seperti ingin berkelahi.

"..."

"Aku ingin menangis mendengar berita kalau kau sudah mati. Tapi tidak jadi karena saat datang kemari dan mengatakan bahwa kau sudah mati, istrimu memperlihatkan padaku sorot mata yang memendam kesedihan paling dalam yang pernah aku lihat selama aku hidup. Dia meratap, menangis meraung-raung dalam hati. Dan itu semua, kau penyebabnya!"

"..."

"Sebagai suami, kau tak berperasaan!"

"..."

Bukannya Naruto tidak peka. Ia sadar dengan tindakannya. Bahkan saat dia berpura-pura mati, ia hampir menggagalkan rencana itu karena tidak tahan melihat Hinata menangisi tubuhnya. Makanya, Naruto yang suka menceramahi orang, kini malah diam tergugu karena diceramahi Sona.

Pemandangan yang tidak bisa diurai dengan kata-kata ini, mungkin hanya akan terjadi sekali sepanjang jaman.

Sona makin jengkel dengan sikap Naruto saat ini, setidaknya bisakah untuk menyangkal atau lebih baik kalau meminta maaf dari pada diam begitu. "Sungguh, aku ingin sekali menampar wajahmu!"

PLAAAKKKK!

Ooo my...

Naruto mendapat tamparan keras di pipi kanannya.

Semua orang melotot, mata hampir hendak keluar dari rongganya.

Jika Sona Sitri yang menampar, terlalu berlebihan karena Sona bukan siapa-siapa diantara Naruto dan Hinata.

Tapi, tamparan keras tadi berasal dari tangan Hinata. Dan itu menjadi harga yang pantas sebagai balasan perbuatan bodoh Naruto.

Hinata sudah siuman dan kini duduk di lantai, dibantu oleh Sona yang menyangga tubuhnya.

Ada likuid bening yang menggenang di sudut mata Hinata. Ingin mengatakan sesuatu, menumpahkan semua isi hatinya, namun Sona sudah mengutaranya lebih dahulu.

Melihat kondisi menyedihkan sang istri, Naruto menunduk dan mengucapkan satu kata...

"Maaf."

... dengan setulus hati.

Setelah saling diam sejenak, Hinata menghamburkan diri dalam pelukan Naruto. Biar bagaimanapun, Naruto masih hidup adalah kebahagiaan terbesarnya.

Naruto mendekapnya erat, menyalurkan rasa bersalah dan penyesalan atas cara kotor yang ia mainkan untuk menghadapi kekuatan Azazel.

Hinata mengerti, jadi ia melampiaskan semua tangisannya dalam pelukan hangat suaminya.

Ya, ini momen mengharukan. Semua orang yang ada di sana berpikiran sama.

Namun pikiran jelek berkomentar, dasar pasangan suka pamer suka bikin orang iri. Dalam hati Sona harus bergulat dengan cemburu. Pun gadis-gadis lain yang juga menyimpan ketertarikan pada Naruto. Paling miris lagi Rossweisse, perawan yang sudah hampir lewat umur tapi belum juga mendapat pasangan.

Ada-ada saja ya. Saat dunia sudah sampai di penghujung masa, sepasang suami istri ini sempat-sempatnya melakoni sejumput drama picisan.

"Anooo..." Koneko tampak malu-malu ingin bertanya. "Hinata-senpai kok bisa melihat lagi? Tadi kan..."

"Kau tahu Koneko-chan?" Naruto langsung memotong, "Energi senjutsu bisa digunakan untuk penyembuhan loh."

"Ah." Koneko mencatat, nanti ia ingin bisa menggunakan senjutsu seperti yang Naruto lakukan.

"Tapi hanya senjutsu khusus. Aku mewarisi chakra senjutsu rikudou yang penuh dengan energi kehidupan. Sisa sel-sel mati yang masih menempel di jaringan tubuh bisa hidup kembali seperti semula ketika terpapar chakra itu, lalu beregenerasi membentuk organ utuh menggantikan organ lama yang telah hancur."

Hal pertama yang Naruto lakukan pada Hinata tadi adalah mengalirkan chakra khusus itu. Mata Hinata yang sudah rusak kini kembali seperti utuh semula, juga dengan semua teknik doujutsunya. Kematian jutaan sel-sel otak akibat kelebihan beban pun, kini telah tumbuh lagi. Demensia otak dan kehilangan banyak memori bisa dicegah berkat penanganannya yang cepat setelah kerusakan terjadi.

"Anooo..." Sekarang giliran Rias yang maju dengan wajah malu-malu.

"Mau mengatakan sesuatu, Rias-Ojousama?" tanya Naruto tanpa mengendurkan pelukannya pada sang istri yang hingga kini masih menangis.

"A-... Aku mewakili semuanya ingin minta maaf."

"Untuk?"

"Karena sudah membencimu, menyusahkanmu. Seandainya saja..."

Seandainya kelompok Rias tidak di cuci otaknya oleh para petinggi Aliansi, khususnya Azazel, maka hal ini tidak akan terjadi. Semua peerage Rias juga menunjukkan ekspresi penuh penyesalan yang sama.

"Lupakan saja. Aku dan Hinata tidak mempermasalahkannya kok." Naruto mencium pucuk kepala istrinya, "Iya kan, sayang?"

Hinata mengangguk tanpa suara dalam pelukan sang suami.

Duh manisnyaaaaa.

Rias senang sudah dimaafkan, tapi ia garuk-garuk kepala. Kalau mau mesra-mesraan, yaa tahu tempat dong. Kasihan yang lain. Yang jomblo maksudnya.

Ah... Lupakan!

Kembali serius, kalau mereka melupakan satu hal.

DEG!

Lagi-lagi mereka harus diingatkan dengan hawa jahat menusuk yang menyesakkan dada, bahwa masih ada satu masalah lagi yang menuntut segera diselesaikan.

"Tck! Tidak bisakah membiarkanku sejenak beristirahat?" Naruto menggerutu.

Ada banyak orang yang terkena pengaruh Absolute Order. Dan pengaruh itu lenyap permanen setelah Azazel mati.

Salah satu yang juga terkena kemampuan itu adalah...

Sang Binatang Pengkiamat Trihexa, [666].

Lihat sekarang!

Binatang itu mulai mengamuk lagi. Ingin segera menebar kerusakan di seluruh muka bumi.

Karena lebih kuat dari Ddraig, seharusnya Trihexa tidak mungkin terpengaruh oleh Absolute Order. Apalagi kenyataan bahwa dibandingkan Ddraig, God of Bible lebih takut dengan makhluk yang satu ini, sehingga dia menyegelnya di ujung semesta.

Tapi, Azazel menjinakkan Trihexa menggunakan otoritas Rizevim Livan Lucifer. Dalam proses membangkitkan Trihexa, pastilah Rizevim menanamkan sistem kendali yang memberikannya otoritas terhadap semua tindakan Trihexa. Nah, bagian itulah yang Azazel ambil.

Jadi..., karena sekarang Rizevim dan Azazel sudah tewas, maka tindakan satu-satunya yang Trihexa perbuat adalah mengamuk, sebab tidak adalagi yang mengendalikannya.

Aaahh, melihat situasi mengerikan ini membuat siapapun lebih memilih mati.

Naruto melepas rangkulannya, menggenggam tangan sang istri, lalu keduanya berdiri tegap menghadap Trihexa yang balik menatapnya dengan buas.

"Kau!" Naruto menunjuk binatang itu tanpa rasa takut. "Mati hari ini!"

Semua anggota OSIS mengambil posisi di dekat Naruto. Sona tertawa kecil, inilah saatnya, saat terakhir yang sudah ia tunggu-tunggu sejak lama. "Bagian akhir dari rencana besar menghentikan keruntuhan Cardinal System telah datang."

Vali ikut mendekat, ia tak mau ketinggalan. "Aku dan timku juga bagian dari rencana ini kan?"

Ya, tim Vali adalah partner tim Naruto.

Tsubaki selesai dengan kegiatan kecilnya, "Uchiha Sasuke dan Sakura Haruno sudah kuhubungi. Meski sedikit terlambat karena perang di sana, mereka pasti akan datang kesini."

"Yossh!" Semangat Naruto memuncak. "Kita lakukan aksi penghabisan, ttebayou! Kita kalahkan Trihexa, lalu ekstrak intisari kehidupannya."

Dengan didapatkannya artefak keempat, maka Matrix menjadi sempurna. Lalu Hinata menggunakan benda itu beserta Cube untuk mencapai suatu tempat yang disebut Awal Mula Penciptaan, The Beginning of Creation, tempat dimana inti Cardinal System berada, memperbaiki semua kerusakan yang ada, menghentikan kiamat total yang 5 jam lagi akan terjadi.

"Ekhkhem!" Rias minta atensi. "Aku tahu ini terlambat, tapi kelompok kami tidak akan diam menonton saja."

Sudah diduga akan begini jadinya. Kelompok Rias mana pernah mau diam saja, apalagi Issei.

~Flashback Chapter 87~

"Kita akan ke lokasi dimana semua orang akan berkumpul di Pulang Langit Agreas ini, tempat kebangkitan Trihexa."

"...?"

Mereka bingung, ucapan Rias sangat diluar perkiraan. Itu terdengar tak masuk akal untuk sebuah keputusan.

Senyum di bibir Rias menunjukkan bahwa orangnya telah mendapatkan keyakinan. "Kita tidak akan mengikuti langkah Sona atau berpihak pada siapapun. Aku hanya akan mengikuti hati nuraniku dan membiarkannya membimbingku. Firasatku mengatakan kalau akan ada hal besar terjadi disana dan aku berharap kita akan menemukan jalan yang kita ambil di tempat itu. Aku yakin."

Akeno paling pertama merespon, "Kalau memang itu kehendakmu Buchou, maka kami pasti akan mengikutinya. Iya kan, semuanya?"

"Oooooo...!"

Semua pikiran telah sepakat, mereka memiliki hati yang sama.

~Flashback Off~

Jadi terbukti benar firasat Rias. Bukan suatu kesalahan mereka menuju ke tempat ini. Meskipun jalan berliku dan sempat dibuat menderita, tapi pada akhirnya mereka menemukan titik balik. Titik dimana mereka mampu melihat jalan yang sudah semestinya diambil.

Tak ketinggalan.

"Aku lebih suka beraksi daripada menonton."

Itu suara Diehauser. Sudah jelas posisi apa yang ia pilih saat ini.

Dan terakhir.

"Sekarang aku melayani Nyonya Hinata."

Terkuat dari Five Dragon-King, Tiamat juga tahu kemana ia harus berpihak.

Naruto amat senang kala semua orang sudah satu kepala. Serasa bernostalgia dengan suasana Perang Dunia Shinobi Keempat, dia menghimpun semua kekuatan untuk mencapai tujuannya. Dialah ninja paling hebat yang mampu menarik hati dan kekuatan semua orang.

Saatnya...

Penghabisan!

.

.

.

To be Continued...

.

Note : Chapter ini ditulis lebih santai dari chapter sebelumnya, ga ada yang terlalu menegangkan, bahkan lebih banyak bercandanya. Hahaaa.

Semuanya aman. Para protagonis sudah lebih dekat dengan akhir yang baik. Hanya saja Trio InoShikaChou dapat masalah nih, mereka didatengin Mbah Falbi-tan.

Terus tentang Azazel. Ga perlu banyak cincong lah, udah jelas di atas kok. Kasihan yaa dia, licik tapi diliciki orang.

Oh iya, aku pernah nyinggung tentang siapa karakter yang terlupakan dalam scene di Pulau Langit Agreas. Ya, dia memang dilupakan dan hampir ga ada yang menyinggung tentangnya. Tapi kali ini dia dah muncul, dialah Lavinia Reni, sang penyihir es yang memiliki Sacred Gear Longinus Absolute Demise.

Ulasan Review:

Emm, wahahaha. Naruto enggak mati, malah dia sehat wal afiat tuh. Yang percaya Naruto mati apalagi sampai ke-triggered, ka-si-haaannn. :v.

Naruto masih hidup, Hinata sehat wal afiat. Dan semua kelompok udah bersatu padu. Jadi apa alasanmu bilang misi besar ini udah ga ada harapan eh? :v

Nanyain Great Red mulu, sabar dikit dong. Dia kusimpan untuk nanti. Tapi yaa jangan berharap banyak karena dia bukan karakter penting.

Aliansi Tiga Fraksi terlalu kuat? Massa. Lihat chapter depan deh, silahkan nilai sendiri.

Mengenai Déjà Vu-nya Falbium dan kemampuan reset-nya Akemi Homura, tuh udah kejawab. Memang saling berkaitan, bahkan tersambung dengan Cardinal System.

Untuk yang mengharapkan peran besar para OSIS, tolong sabar. Aku juga memikirkan peran untuk mereka. Yaaa, sesuai dengan keperluan cerita tapi kuusahakan tidak mengecewakan.

Iya iya iyaa, yang otaknya terkuras gegara aksi Shikamaru maaf ya. Gegara aku kamu kesusahan. Dan maaf lagi kalau di chapter ini tentang Mekanika Kuantum masih ada.

Woii, siapa yang bila aku terujinya di ITP dan IPB. Aku ujiannya di Amrik tahu!

Katanya beberapa chapter ke belakang plotnya bikin baper, tapi chapter sekarang ini udah bikin senang kan? Hahahaa

Nah, yang bilang-bilang tentang chakra senjutsu rikudou. Tuh aku angkat di atas, sesuai dengan yang pernah terjadi pada Guru Guy dan Kakashi.

Oh, yang ngaitin teori di chapter kemarin dengan anime Stein Gate. Sory pak, jujur ane belum nonton. Padahal udah ngoleksi semua serinya dari Chaos Head, Stein Gate, Robotic Note, Chaos Child, dan Stein Gate season lanjutan yang sekarang masin On Going. Pengen banget nonton apalagi anime genre sci-fi emang inceranku. Tapi yaa itu, belum ada waktu untuk maraton nontonnya. Kalau ada kemiripan itu murni karena ketidak sengajaan. Dan tentang konsep teori yang berhubungan, memang karena landasan berpikir yang digunakan sama.

Biarin aja Yasaka kek gitu, emang sudah dari LN-nya karakter dia begitu.

Ga perlu diperjelas, pokoknya NaruHina & Sasu mewarisi kekuatan Rikudou, titik.

Kenapa yah mau kiamat eeh malah perang. Coba aja saling bantu gitu? Heii, namanya juga banyak kepala. Jadi meskipun mau kiamat, tetap aja kelahi.

Mau ketawa ah. Katanya dengan teori mekanika kuantum, ada dua kemungkinan. (1) Naruto mati, (2) Naruto masih hidup. Hahaha, bisa aja sih. Tapi karena udah update, jadi superposisinya runtuh. Kenyataannya Naru masih hidup.

Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

.

.

.