Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe.

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Sabtu, 14 Juli 2018

Happy reading ^_^

Sebelumnya...

Naruto amat senang kala semua orang sudah satu kepala. Serasa bernostalgia dengan suasana Perang Dunia Shinobi Keempat, dia menghimpun semua kekuatan untuk mencapai tujuannya. Dialah ninja paling hebat yang mampu menarik hati dan kekuatan semua orang.

Saatnya...

Penghabisan!

.

To The End of The World

Writen by Si Hitam

.

Chapter 92. Armageddon War, End of The World - Part 16.

.

-Arena Perang, Underworld. At 04.07 am-

"Chouji, jangan menyerang musuh secara langsung menggunakan anggota badanmu." Shikamaru memperingatkan.

"Kalau begitu, aku gunakan ini!"

Chouji mengambil gulungan perkamen, dibuka lalu dan dilepas segelnya.

Boofft!

Sebilah tongkat besi berukuran besar sudah berada di genggamannya. Chouji nampak seperti ayahnya.

Mumpung Falbium masih diam, Chouji berinisiatif menyerang duluan.

"Gaaaaaa!"

Syutt

Tusukan langsung dari depan. Serangan kasar yang mematikan jika sampai kena.

"Ya ampun!" tapi Falbium bahkan tidak menganggap itu sebagai serangan. Dia menutup mata lalu melambaikan tangan kanan.

Pssshh.

Tongkat besi dihapuskan begitu mengenai tangan Falbium.

Sudah pasti akan begitu. Teknik sihir Particle Decomposer aktif pada tangannya yang bercahaya itu. Sihir yang akan menguraikan material apapun menjadi partikel terkecil yaitu atom.

Belum selesai, kali ini sebuah palu gada besar menukik dari atas.

Chouji memukulkannya menggunakan lengan yang diperbesar dengan Baika no Jutsu.

Mudah bagi Falbium untuk menyadari serangan kedua. Ia lambaikan tangan ke atas, palu gada itu pun raib tak bersisa.

Serangan ketiga. Tiga buah suriken meluncur cepat. Kali ini Shikamaru turut menyerang.

Syut Syut

Dua suriken pertama berhasil dihindari Falbium hanya dengan menggeser kepala sedikit. Sedangkan yang ketiga,

Tinggg!

dia tepis dengan tangan kanan. Seperti sebelumnya, suriken itu lenyap tanpa bekas.

Falbium membuka mata, dia menunjukkan wajah bosan. Padahal belum semenit.

"Aku membayangkan akan sehebat apa setelah bertemu kalian, tapi ternyata..." Falbium menggeleng, ia merasa sangat kecewa.

"Kau saja yang terlalu berharap, Maou Asmodeus. Kami ini manusia." sahut Shikamaru.

"Benar juga. Selain kejeniusanmu mengatur pasukan perang, tidak ada lagi yang istimewa."

"Aku anggap itu pujian."

"Jika petinggi Aliansi Tiga Fraksi yang lain tahu aku bertarung melawan kalian bertiga, bisa-bisa aku ditertawakan."

"Maaf. Kami memang tidak sepantasnya bertarung melawanmu."

"Lucu! Ada orang meminta maaf pada musuh."

Shikamaru menyeringai, "Aku juga minta maaf, karena kau sudah masuk perangkapku. Kagemane no Jutsu, sukses!"

"Hah!"

Falbium sedikit terkejut karena badannya tidak bisa digerakkan. Saat dia melihat ke bawah, ada bayangan hitam yang terhubung ke Shikamaru.

Ruangan tenda yang agak remang serta warna lantai yang gelap menjadi keuntungan bagi Shikamaru, jutsu bayangannya berkamuflase dengan baik sehingga Falbium tidak menyadarinya. Serangan fisik di awal tadi, jelas hanya sebatas pengalih perhatian.

"Teknik sihir yang aneh!"

Shikamaru tidak mau menanggapi. "Chouji, serang dia sekarang!"

"Aye!"

Chouji memakai kapak bersar bermata dua, ia langsung mengayunkannya ke arah kepala Falbium.

Udara terbelah, terdengar suara hembusan angin. Kalau Chouji menebaskan kapaknya sekuat itu, kepala siapapun pasti hancur.

Falbium menutup mata lagi. Orang akan menyangka bahwa dia sudah siap dengan kematiannya tapi nyatanya...

Fuuu!

Kapak Chouji pun juga terhapuskan.

"Tck! Sudah kuduga." Shikamaru merutuk.

Falbium ternyata tidak hanya mampu mengaktifkan sihir Particle Decomposer di tangan, tapi juga di bagian tubuhnya yang lain.

"Tidak hanya di kepala, aku bisa mengaktifkan sihir ini di seluruh tubuhku." ungkap Falbium.

Artinya, tidak ada serangan fisik yang mampu mencapai Falbium. Senjata apa saja yang menyentuh tubuhnya, pasti akan dihapus begitu saja.

Sorot mata Falbium berubah, "Tidak bagus bagiku berlama-lama meladeni kalian. Aku akan sedikit serius mulai sekarang."

Deg!

Seketika hawa udara berubah mencekam. Rasanya sesak, gravitasi seperti meningkat berkali-kali lipat.

Sedikit serius apanya?

Falbium baru menunjukkkan sedikit kekuatannya sebagai Maou, dan ini sudah menekan kesadaran Shikamaru, Ino, dan Chouji sampai hendak pingsan.

Akemi Homura yang menonton jauh di sisi tenda, menunjukkan ekspresi cemas yang kentara. Dia tampaknya sangat menyesal, pada saat seperti ini dirinya malah tidak berguna.

Memancarkan energi iblis yang sangat kuat, Falbium lepas dari kekang Kagemane no Jutsu hanya dengan sekali kaki melangkah.

Ino memegang kuat pundak Shikamaru dari belakang. Wanita yang hamil muda itu ketakutan, bahkan Chouji melangkah mundur.

"Kemana nyali kalian yang tadi huh?" tanya Falbium sarkas. Tampangnya sangat arogan, mencirikan kalau dia benar-benar seorang iblis sejati.

"Nyali kami tidak kemana-mana. Jika kami bertiga bisa mengalahkan Panglima Perang Aliansi Tiga Fraksi di sini, maka pasukan Konoha dan sekutu-sekutunya pasti bisa membalikkan situasi perang di luar sana." Shikamaru berusaha menguatkan tekadnya, juga dua teman setimnya.

Ucapan Shikamaru terdengar seperti omong kosong, mengalahkan Maou Falbium bagi timnya adalah kemustahilan. Jika dia memiliki kekuatan sebesar Naruto, mungkin lain cerita. Tapi dia hanya ninja dengan kekuatan dan kapasitas chakra rata-rata. Meski begitu, ucapan tersebut benar adanya. Jika seandainya Falbium berhasil mereka kalahkan.

"Lantas, kenapa wajahmu seperti anak kecil ingin menangis?"

"Itu matamu saja yang salah melihat." Shikamaru membantah.

Falbium tertawa congak.

Shikamaru mengkomando, "Serang dia bersamaan!"

Trio InoShikaChou melemparkan shuriken dan kunai sebanyak yang mereka bisa. Ini bukan cara bertarung tim 10, tapi pasti ada yang Shikamaru rencanakan.

"Apa-apaan kalian!" Falbium tidak mengerti. Apakah lawan bertarungnya ini bodoh, menggunakan cara yang sama untuk menyerangnya padahal serangan selemah itu mustahil bisa mencapainya.

Lihat!

Falbium cukup diam berdiri saja, maka semua shuriken dan kunai dihapuskan begitu mencapai tubuhnya. Ibarat tetesan air hujan yang jatuh di atas batu. Sihir Particle Decomposer yang aktif di setiap inci tubuhnya membuat serangan fisik dari arah manapun dihapuskan tanpa sempat menggoreskan luka.

Dalam gerak slowmotion, tampak iris mata Falbium membola saat melihat ada beberapa kunai yang gagangnya terbungkus oleh kertas beraksara aneh. Falbium mengetahuinya! Dia melihat itu dipakai oleh Shinobi Konoha yang bertempur dengan pasukannya di luar sana. Itu kertas peledak! Tidak hanya satu, tapi jumlahnya lebih dari sepuluh

Tanpa sempat menghindar...

KABOOOMMM

Falbium terpaksa merelakan tubuhnya ditelan ledakan besar. Bahkan ledakan ini sampai mengancurkan tenda besar milik divisi perang yang diketuai oleh Shikamaru.

"Apakah itu akan berhasil?" tanya Ino.

Kuantitas shuriken dan kunai yang banyak mereka lemparkan ke arah Falbium hanya sebagai kamuflase, agar Maou itu tidak menyadari serangan yang asli.

"Kupikir tidak." jawab Shikamaru. "Mana mungkin serangan ledakan seperti itu bisa membunuhnya."

Shikamaru, juga Ino dan Chouji sudah berada di luar tenda sebelum ledakan. Mereka juga mengamankan Akemi.

Benar saja!

Kepulan asap tebal langsung tersingkir saat Falbium mengibaskan tangan. Dia masih berdiri tegak tanpa luka di tempatnya, hanya sedikit ujung pakaiannya yang kotor.

"Haaaah... Aku sampai dipermainkan begini oleh kalian." Falbium menepuk-nepuk pakaiannya yang sedikit terkena debu. Kemudian ia menatap lurus ke arah Shikamaru, "Sudah cukup kita main-mainnya! Aku akan benar-benar membunuh kalian mulai saat ini."

Glek!

Shikamaru meneguk ludah kasar. Akan sangat sulit mulai sekarang baginya.

Bukannya turun, aura kekuatan yang dipancarkan Falbium malah meningkat tajam.

"Sebenarnya adalah hal memalukan bagiku mengeluarkan banyak kekuatan demonic hanya untuk melawan tikus seperti kalian."

Aura iblis yang besar ia fokuskan ke tangan kanan. Cahaya sihir Particle Decomposer semakin pekat, semakin padat hingga membentuk bilah pedang yang tersambung dengan tangannya. Tidak hanya terbelah, benda apapun pasti akan diuraikan sampai habis kalau ditebas dengan itu.

Ini situasi yang sangat berbahaya.

Chouji bertransformasi ke bentuk terkuatnya. Nampak sayap kupu-kupu berwarna biru dari materialisasi chakra mengepak-ngepak di punggungnya. Meski ini masih jauh di bawah level Falbium, tapi masih lebih baik daripada tidak sama sekali.

Falbium menunjuk Shikamaru, "Kau kepala nanas, yang akan kubunuh pertama kali!"

Syuutt!

Cepat!

Sangat cepat!

Dari tempatnya berdiri, Falbium meluncur dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata.

Swoosshh!

Chouji mengepakkan sayap, berharap hembusan anginnya mampu menahan laju Falbium.

Tapi itu sia-sia. Falbium terlalu kuat untuk mereka lawan.

Sekejap saja, Falbium sudah memangkas jarak dengan Shikamaru.

Tidak ingin menyerah, Shikamaru menggunakan bayangan Kageshibari untuk melempar kunai ke kepala Falbium dari arah samping.

Trank!

Kunai itu terpantul, bahkan setelah mengenai kepala Falbium. Nyatanya kulit iblis kelas Maou terlalu keras untuk dilukai dengan kunai.

Tanpa bisa dihentikan, Falbium terus melaju. Jaraknya sudah sangat dekat dengan Shikamaru.

Pada moment kritis itulah, Shikamaru tiba-tiba menyeringai. "Kena kau!"

Set!

Shikamaru menginjak ujung batang kayu panjang di bawah kakinya. Akibanya, ujung yang satu lagi terangkat.

Falbium yang terus melaju, tanpa sadar kakinya menabrak ujung kayu yang terangkat. "Wa-...!" Dia tersandung, sesaat hilangan keseimbangan.

"Ino, sekarang!"

Shintensin no Jutsu

Berhasil! Ino mendapatkan kendali tubuh Falbium.

Slice!

Tubuh Falbium langsung terbelah dua. Bilah pedang cahaya Particle Decomposer di tangan kanan Falbium yang seharusnya untuk menebas Shikamaru, malah berakhir menebas tubuhnya sendiri.

Ino menghentikan jutsunya.

Dua bagian tubuh Falbium yang terpisah pun perlahan jatuh. Seperti debu yang ditiup angin, kedua bagian tubuh itu terurai menjadi partikel-partikel tak kasat mata. Saat hanya tersisa bagian kepala, Falbium mengucapkan kata-kata terakhirnya.

"Memalukan!"

Untaian kata yang sebenarnya Falbium tujukan untuk dirinya sendiri.

Akhirnya, tubuh sang raja iblis lenyap bahkan sebelum jatuh mencapai tanah.

Ino duduk terlutut, "Itu tadi, nyaris saja!" Ia nampak tersengal-sengal.

"Hampir saja kau mati, Shika." sambung Chouji.

"Tapi nyatanya aku masih hidup kan?"

"Iya memang. Namun tetap saja, baru pertama kali ini kau menggunakan cara gila seperti tadi. Kalau aku terlambat sepersekian detik saja, kita yang akan dihabisi tahu!" Ino tampaknya marah sungguhan.

"Hanya itu saja kesempatan yang kita punya. Melawan seorang maou, iblis yang duduk di posisi puncak, tidak ada satupun jutsu kita yang mampu melukainya. Dia benar-benar jauh di atas kita. Satu-satunya kesempatan memang hanyalah dengan membuat dia membunuh dirinya sendiri."

"Dengan menempatkan diri kita sendiri di ambang kematian! Aku tahu kau jenius, Shikamaru. Tapi tak pernah aku menemui kau segila ini mengambil resiko!" cecar Ino. Ia sendiri masih tidak percaya kalau mereka melakukan taktik yang sangat beresiko itu.

Sungguh, cara yang amat sangat ekstrim.

Sedari awal, melihat Falbium yang tiba-tiba datang ke markasnya, Shikamaru tahu bahwa peluang mengalahkan orang itu dengan kekuatan sendiri adalah nol persen. Tidak ada satupun jutsu dari timnya yang mampu melukai Falbium. Terang saja! Antara Iblis kelas Maou dengan Tim 10 yang hanya ninja bertubuh manusia perbedaannya terlampau jauh, ibarat langit dan bumi. Hingga akhirnya dia terpikirkan taktik ini.

Serangan-serangan yang Shikamaru dan Chouji lakukan hanyalah untuk memancing agar Falbium mengeluarkan kekuatan yang lebih besar. Sampai Shikamaru yakin bahwa Falbium menunjukkan serangan terhebat yang oleh Falbium pun tak mungkin bertahan jika tubuhnya sendiri yang terkena, barulah dia menjalankan taktiknya. Taktik yang hanya bisa sekali dilakukan dan tidak boleh gagal, sebab jika tidak begitu maka Falbium lah yang akan membunuh mereka bertiga.

Menggunakan Shintenshin no Jutsu secara langsung pada Falbium tidak akan bekerja. Sekali lagi, Falbium itu iblis kelas Maou yang kekuatannya sangat besar. Ino tidak akan bisa mengambil alih tubuh Falbium yang sedang dalam keadaan sadar walau hanya sekejap mata. Kesadaran Ino pasti langsung di tendang saat coba memasuki otak Falbium.

Oleh karena itu lah, Shikamaru menunggu momen di mana Falbium hanya fokus untuk menyerang. Moment yang dengan beruntungnya berhasil dia jungkir balikkan, dengan cara membuat Falbium tersandung sehingga otomatis kehilangan keseimbangan tubuh.

Orang yang tersandung, fokus otaknya akan blank sesaat. Itu karena otak memindahkan kesadaran ke mode refleks yang akan menggerakkan tangan dan kaki untuk menemukan pijakan sehingga mendapatkan kembali keseimbangan tubuh.

Pada moment singkat itu lah, Shintensin no Jutsu mampu bekerja maksimal pada orang sekuat Falbium. Waktu satu detik ketika Falbium terjatuh dan hilang keseimbangan, Ino manfaatkan sebaik-baiknya. Tubuh Falbium yang telah dia ambil alih, yang mana di tangan kanannya terdapat serangan sihir yang sangat kuat, digunakan untuk menebas tubuh Falbium sendiri.

Dengan demikian, berakhir sudah.

Secara mengejutkan, Tim 10 berhasil mengalahkan seorang raja iblis Maou Falbium Asmodeus yang kekuatannya jauh di atas mereka, jurang antara mereka terlalu lebar.

Namun siapa menyangka kejadiannya akan berakhir begini?

Kalau dilihat dari pandangan orang lain, maka benarlah apa kata Falbium diakhir hidupnya bahwa dirinya sangat memalukan, harga diri dan arogansinya hancur.

Seorang Maou kalah bertarung karena tersandung.

Akemi Homura ikut bergabung dengan ketiga ninja Konoha itu. Sebenarnya ia sempat ragu... -bukan ragu lagi tapi memang sudah pasrah. Di benaknya, mustahil Shikamaru, Ino, dan Chouji mampu mengalahkan seorang raja iblis. Tapi ternyata takdir berkata lain.

"Aku tidak punya kata-kata apapun lagi untuk memuji keberhasilan kalian." ucap Akemi saking takjubnya.

Shikamaru menggaruk-garuk belakang kepalanya, "Kau tahu Homura-san, taktik tadi berhasil tidak sepenuhnya karena usaha kami. Lebih dari setengahnya adalah sebuah perjudian apakah raja iblis bisa tersandung atau tidak?"

Mungkin orang akan mengatakan bahwa mustahil raja iblis bisa tersandung, tapi kebenaran dibuktikan hari ini.

Ternyata mau manusia biasa, raja iblis, atau bahkan dewa sekalipun semuanya bisa tersandung.

Shikamaru beruntung karena ia memenangkan perjudian. Jika saja ia tidak beruntung, pasti nafasnya sudah berhenti sejak tadi.

"Ya. Kau memang beruntung, Shika-kun. Hanya saja kita rugi banyak di sini. Lihat! Tenda markas hancur, aku pun kehilangan Timejump Device. Kita tidak bisa melakukan reset lagi dan membuat ulang strategi-strategi lainnya."

"Tidak masalah. Kita memang tidak memerlukan reset lagi."

"Eh?"

"Aku sudah menyadarinya. Setiap reset yang kita lakukan untuk mengulang-ulang peperangan dengan strategi yang berbeda-beda, semuanya berakhir kegagalan walau dilakukan sampai 25344 kali. Tapi yang kali ini berbeda."

"Kenapa?"

"Karena hanya pada alur ini Falbium dikalahkan. 25344 kali mereset aku hanya berputar-putar pada perang antar pasukan di luar sana, tidak sekalipun ada bentrokan dengan panglima perang musuh. Kejadian di tempat ini adalah pembeda. Tewasnya panglima perang musuh di tangan kita, pasti berdampak luas pada keseluruhan perang."

"Oh, aku mengerti. Berharap saja semoga angin kemenangan berhembus ke arah kita." ucap Akemi.

Trio InoShikaChou mengangguk.

Lebih jauh lagi, yang mana tidak seseorangpun menyadari hal ini. Falbium merupakan 'orang terpilih' yang terpengaruh oleh efek reset. Dia merasakan Déjà Vu aneh yang sebenarnya adalah reaksi oleh Cardinal System terhadap aksi Shikamaru yang berpotensi merusak keteraturan mahabesar dalam takdir yang telah ditetapkan.

Mulai dari titik ini, masa depan akan bergerak maju sesuai dengan takdirnya. Takdir yang tidak seorangpun tahu kepada siapa dia akan memihak.

.

.

-Pulau Langit Agreas-

Swosshhh...

Naruto mengaktifkan mode bertarung terkuatnya, Senjutsu Rikudou Mode. Tubuhnya bersinar terang dengan aura chakra berwarna keemasan, sembilan buah bola hitam godoudama mengambang di belakang punggungnya. Tidak ada lagi acara buang-buang waktu. Trihexa sudah di depan mata menunggu untuk di ekstrak.

"Sesuai rencana awal yang sudah lama kususun, kita berbagi tugas." tukas Sona.

Semua orang menatap pewaris tahta Keluarga Iblis Sitri.

Dia melanjutkan, "Keterlambatan Uchiha Sasuke akan di-cover oleh duet Sekiryutei dan Hakuryuukou. Kita tidak bisa menunggu karena Trihexa yang tanpa kendali bisa saja kabur dari tempat ini. Sakura Haruno sebagai medis sementara kuserahkan pada Asia Argento." Yang disebut namanya mengangguk setuju. "Kita berbagi tugas dalam dua tim. Tim pertama membuat sihir pengekang untuk meredam kekuatan dan gerakan Trihexa, meski hanya sedikit menahan binatang pengkiamat itu tapi ini penting agar tim kedua bisa fokus dengan tugasnya. Tim yang akan menghajar binatang itu habis-habisan."

"Anoo..." Le Fay mengangkat tangan. "Bagaimana pembagian orang-orangnya?"

"Mudah saja. Petarung utama dengan kekuatan serang tinggi yang akan menghajar Trihexa. Sisanya berarti sebagai support."

Mereka saling padang, tidak perlu diberitahu pun sudah jelas peran masing-masing.

Yang akan membantu Naruto menghajar binatang itu adalah Issei dan Vali, Arthur, Kiba, Xenovia, Irina, Saji, Rias, Bikou, Fenrir, Gogmagog, Tiamat, dan Diehauser Bellial. Berarti sisanya akan bekerjasama bahu membahu membuat sihir pengekang sekuat yang mereka bisa.

"Jika Trihexa mulai melemah dan perlawanannya turun drastis, Naruto akan melakukan proses ekstraksi. Pada saat itu Naruto tidak akan bisa bergerak, jadi penyerang utama harus tetap bersiaga. Terakhir, Hinata yang akan mengambil komponen keempat Matrix dari dalam inti tubuh Trihexa." Sona menjelaskannya dengan singkat. "Mengerti!?"

"Aye Sir!" sahut Bikou.

"Oh ya," Naruto menyela. "Agar bagian support bekerja lebih maksimal, kupikir kalian perlu ini."

Naruto membuat lengan chakra, bercabang-cabang hingga menyentuh 16 orang bagian support. Ia membagikan chakra Kurama kepada mereka. Sama seperti pada perang dunia shinobi keempat, keenambelas tubuh orang itu pun dibungkus aura chakra berwarna merah yang membentuk satu ekor dan telinga rubah.

"I-ini!?" Momo Hanakai sampai keheranan.

"Kekuatan yang sangat melimpah." Ucap Tomoe.

"Iya." Akeno menyahut. "Bahkan lebih kaya akan kekuatan dibandingkan dengan yang biasa Issei transfer dalam kelompok kami."

"Hangat." Koneko tersenyum, aura chakranya terasa nyaman dan memberi perasaan aman.

Untuk tim yang menyerang, tidak perlu tambahan kekuatan dari Naruto. Masing-masing sudah kuat sejak awal.

Sona merasa semuanya sudah siap. "Tsubaki, Momo, Reya, Rugal, Tsubasa, Ruruko, Tomoe, Akeno, Rossweisse-sensei, Koneko-chan, Kuroka, dan Le Fay-chan, kalian bertiga belas ikuti aku! bentuk formasi 13 penjuru mengelilingi Trihexa! Kita akan memulai ritual pengekangnya. Asia-chan bersiap jika ada yang terluka, Gasper lindungi Asia kalau ada serangan nyasar, sedangkan Bennia-chan harus selalu tanggap memindahkan teman yang terluka dari tempat yang berbahaya."

Tidak ada yang perlu diprotes dari perintah Sona.

Maka Naruto, "Yang tidak takut mati, temani aku. Kuharap tidak ada yang menangis nantinya. Hahahaaa."

"Tch, sombong!" Vali mengumpat.

Naruto melangkah paling depan, di sisinya ada Hinata yang setia selalu. Mereka hendak duet. Bagaimana jika Naruto dalam wujud monster Ashura bergabung dengan Hinata? Kekuatan Naruto yang amat besar digabungkan dengan kekuatan The True Tenseigan menjadi makhluk empat dimensi dengan sosok raksasa dan powerfull.

"Diabolos Dragon, Actived!"

"Diabolos Dragon, Actived!"

Issei dan Vali berubah ke wujud terkuatnya.

Dragon Infinity Drive !

Dragon Lucifer Drive !

Sekiryute dan hakuryuukou nampak sangat besar dengan armornya, aura merah dan putih yang sangat kuat merembes dari sela-selanya. Semoga kali ini bisa bertahan lebih lama dalam mode ini. Menghajar Trihexa perlu waktu yang tidak sedikit.

"Aku juga punya, The Truts Seeking Armor." Naruto ingin ikut-ikutan.

Godoudama bertransformasi bentuknya menjadi lempengan-lempengan hitam yang mulai menempel permukaan tubuh Naruto. Hingga akhirnya membungkus badan Naruto secara utuh dalam armor tempur.

Selain tim Vali yang sudah melihat ini ketika pertarungan di replika Kota Venesia, semuanya dipaksa terperangah. Armor yang Naruto gunakan sangat mirip desainnya dengan armor Infinity Drive Sekiryutei, hanya saja warnanya hitam pekat metalik.

"Aku menamakan ini, Dragon Infinity ∞ Drive Black Version. Hahahahaaa."

Vali mencibir, "Sebelumnya kau juga memakai armor Empireo Juggernaut Overdrive-ku. Dasar peniru."

"Tidak kreatif." Issei menambahkan. Ia awalnya terkagum-kagum, tapi pada akhirnya ia sendiri kurang menyukai cara Naruto. Apa tidak ada bentuk armor lain huh?

"Berisik!" Naruto mana peduli omongan orang.

Hanya sedikit guyonan untuk menurunkan tensi pertarungan. Mereka sungguh akan bertarung sekuat tenaga, memaksa diri walau harus sampai dekat dengan kematian.

Namun meski mereka semua bahu membahu bekerja sama dan menggabungkan kekuatan, tetap saja hal ini tidak akan mudah.

Trihexa adalah Trihexa, binatang pembawa bencana apokaliptik (kiamat). Kekuatan aslinya saja sudah sulit dijangkau, bahkan oleh Naruto dengan kekuatan penuhnya. Untuk mengalahkannya, hanya Ophis dengan bentuk sejatinya dan Great Red dengan kekuatan penuh yang mungkin sanggup. Yang lainnya bearti hampir tidak mungkin.

Dan sekarang hal paling buruknya ialah, Trihexa kali ini bangkit dengan kekuatan tiada banding setelah dia menyerap eksistensi Ophis.

Jika begitu, pekerjaan ini akan benar-benar sulit. Meski dengan rencana yang benar-benar matang bahkan dikerjakan bersama oleh 31 orang pun, tetap saja peluang keberhasilan dibawah 10%. Semoga saja Uchiha Sasuke bisa secepatnya datang kesini, kekuatan Ultimate Rinne-sharingan dan Susano'o-nya sangat dibutuhkan. Setidaknya kerjasama Uchiha terakhir itu bisa meningkatkan peluang keberhasilan mencapai 12%.

Semuanya sudah siap, bahkan setiap orang sudah berada pada posisi masing-masing.

Namun...

Gdgdrgdrgdr.

Seluruh ruang dome bawah tanah bergetar hebat. Bagian langit-langitnya nampak retak.

"Ada apa ini!?" Sona bertanya-tanya, kejadian ini di luar perkiraannya.

Sampai akhirnya langit-langit itu pun benar-benar runtuh. Bongkahan batu dan tanah berjatuhan dari atas.

"Semuanya berlindung!" perintah Naruto.

Mereka melompat ke sisi dinding ruangan, menjauh dari jatuhnya reruntuhan. Semuanya selamat. Hanya Trihexa yang tertimbun reruntuhan karena berada di tengah-tengah ruangan.

Namun...

"Zuooooooooohhh!"

Sedikit auman dari salah satu kepalanya, reruntuhan batu dan tanah berhamburan ke segala arah. Siapapun yang mendengarnya, gendang telinga serasa hendak pecah.

Naruto dan semua rekannya terpaksa berkumpul lagi, mereka sadar bahwa masalah sekali lagi datang menghampiri.

"Tunjukkan diri kaliaaan!" teriak Naruto.

Saat goncangan menghilang dan pandangan mata didapatkan kembali, nampak bahwa ruangan bawah tanah ini telah di penuhi oleh banyak sekali makhluk yang berterbangan. Lubang besar menganga hingga tembus ke permukaan kota Agreas. Padahal ruang bawah tanah ini kedalamannya hampir 1 km. Tidak hanya di dalam ruang bawah tanah, tapi di sepanjang lubang hingga ke atas di Kota Langit Agreas, penuh sesak dengan makhluk-makhluk hitam berbentuk naga. Para naga jahat produksi massal, jumlahnya belasan ribu yang dibangkitkan oleh Rizevim menggunakan Holy Grail.

Dari langit-langit yang runtuh, cahaya dari langit dicurahkan sehingga mampu menerangi tubuh kolosal Trihexa. Makhluk itu bermandikan cahaya, membuatnya tampak anggun namun sangat mengerikan.

Satu naga paling besar, berwarna ungu hitam dengan tiga kepala melayang-layang mengitari Trihexa.

"Kelihatannya kami sukses membuat kalian terkejut."

Itu adalah wujud asli Aži Dahāka. Sang Naga Jahat legendaris yang dijuluki Naga Seribu Kultus Iblis (Diabolism Thousand Dragon), seekor naga yang sangat mahir dalam penguasaan sihir tingkat tinggi.

Naga itu tidak sendiri, dia memiliki teman yang setara dengannya.

Dalam wujud humanoid, dua naga jahat legendaris lain mendarat di atas kepala Trihexa.

"Aku sangat menyesal karena mengganggu acara kalian. Tapi tolong sediakan waktu sebentar untuk mendengarkan pengumuman dari kami. "

Suara yang terdengar menakutkan, dari sang Apohis Sang Naga Gerhana (Eclipse Dragon).

Kemudian yang terakhir, Naga Jahat Legendaris terkuat yang level kekuatannya mampu menyamai Naga Surgawi. Sang Naga Lingkaran Sabit (Crescent Circle Dragon) Crom Cruah pastilah pemimpin mereka.

"Kami akan mengambil Trihexa dan seluruh tentara naga jahat produksi massal."

"Kami akan membawa mereka pergi." sambung Aži Dahāka.

"Kami akan menggunakannya untuk keinginan kami sendiri."

"Kami akan menciptakan dunia yang hanya dimiliki oleh Naga Jahat."

Hakikatnya, kelompok naga jahat mendeklarasikan perang kepada semua orang.

Naruto kesal! Orang yang menghalangi jalannya selalu datang silih berganti tak habis-habis. Ia tidak menyangka hal ini, salahnya sendiri melupakan para naga jahat itu setelah Rizevim mati bunuh diri karena Absolute Order.

"Kalian! Apa kalian sengaja menggunakan Rizevim dan kami semua sejak awal?"

Apophis menjawab, "Tidak! Tidak sejak awal. Kami memutuskan hal ini karena kalian terlalu menyedihkan, membangkitkan Trihexa untuk tujuan yang tidak semestinya."

Trihexa bangkit untuk membawa kehancuran di mana-mana, kalau bukan untuk itu maka membangkitkan Trihexa adalah kesalahan.

"Kami para naga adalah individu yang jujur dan berpikir sederhana."

"Kebanggaan, kekuatan murni, dan pertarungan. Semua yang ada dalam diri naga, hanya untuk tiga hal itu."

Crom Cruach mengkomando, "Kita pergi sekarang!"

Trihexa perlahan terbang ke arah langit-langit yang telah dihancurkan. Kemudian ribuan naga jahat produksi massal terbang, mengikutinya!

Itu adalah adegan yang luar biasa. Bersama dengan makhluk dicatat dalam Wahyu adalah lautan naga hitam, semua bergerak bersama-sama.

Kemanapun mereka singgah, pasti tempat itu akan menjadi ladang becana apokaliptik.

Trihexa mencapai permukaan Kota Langit Agreas.

Dia telah lepas.

Makhluk itu serupa dengan macan tutul, kakinya seperti beruang, dan mulutnya seperti singa. Dia memiliki tujuh kepala dengan masing sepuluh tanduk, ada sepuluh mahkota pada tiap-tiap tanduknya. Pada setiap kepala tertulis nama-nama menghujat Tuhan yang tercatat dalam Al-Kitab.

Dengan angka [666] pada tujuh kepalanya, itu adalah makhluk yang terlalu kuat. Sangat kuat melampaui batas-batas penalaran akal, apalagi setelah dia menyerap keseluruhan eksistensi Ophis.

Siapa yang bisa menghentikan makhluk itu sekarang?

Great Red pun kini sudah bukan tandingannya lagi.

Tapi bukan itu masalah utamanya. Membiarkan Trihexa berkeliaran bebas di luar sana, maka menangkapnya akan lebih sulit. Kalkulasi Sona mengasilkan angka 12% peluang keberhasilan mengalahkan Trihexa dengan kerjasama mereka semua, tapi itu ketika dia mengamuk tak terkendali sebelum diambil alih oleh para naga jahat. Maka sekarang menangkap binatang itu akan jauh lebih sulit lagi karena Trihexa tidak sendiri tapi didukung oleh sekumpulan naga jahat berintelegensia tinggi.

Pamandangan Trihexa yang makin jauh nampak semakin kecil. Sebuah robekan dimensi tercipta di ketinggian langit Agreas. Robekan itu sangat lebar, sehingga Trihexa dengan mudah melintasinya, beserta pula dengan beribu-ribu gerombolan naga jahat produksi massal.

"…Sial!"

Dalam ruang yang sudah runtuh, Naruto terus membanting tinju ke dinding dengan pahit. Ia kesal, padahal sedikit lagi misi besarnya, misi yang sejak hampir setengah tahun lalu ia kerjakan, akan segera selesai.

Sebenarnya tadi kalau Naruto ingin nekat, bisa saja dia bertarung melawan Trihexa dan para naga jahat sekaligus. Tapi itu terlalu beresiko terhadap orang-orang di sekitarnya. Apalagi tidak ada rencana untuk situasi tersebut.

"Cobalah untuk tenang, Naruto-san." bujuk Sona. Gadis itu tampaknya sudah bisa mengendalikan diri. Padahal ia sendiri sulit menerima kejadian ini.

"Benar, Anata. Kita masih punya sedikit waktu."

Runtuhnya Cardinal System masih 4 jam 40 menit lagi.

Kemudian suara dari Naga Jahat legendaris menggema melalui sihir yang mereka tinggalkan. Sebuah pengumuman final dikumandangkan.

"Datanglah jika kalian masih menginginkan Trihexa. 2 jam dari sekarang kami akan tiba di tempat paling ramai, wilayah Gremory di Underworld divmana perang pesar sedang berkecamuk. Kami para naga jahat dan kalian semua, akan bertaruh pada pertempuran terakhir nanti. Jangan khawatir, kami tidak akan memainkan trik kecil licik seperti Rizevim maupun Azazel. Mata kami buta oleh kekuatan murni, semua yang menghalangi akan kami berantas bersama Trihexa."

Crom Cruach menyelesaikan deklarasinya.

Selanjutnya adalah suara yang menyimpan nada ketertarikan.

Oleh Aži Dahāka, "Ayo cepat Vali Lucifer,Mari kita bertempur! Kita bisa saling membenturkan kekuatan sambil mengagumi kehancuran yang akan Trihexa datangkan. Apakah kau merasa bersemangat? Ini adalah perjuangan untuk hidupmu, naga yang tidak bertarung bukanlah naga asli!"

Selanjutnya giliran Apophis, "Naga Langit Surgawi melawan Naga Jahat Brutal. Aku juga menunggumu di sana, Sekiryutei!"

Vali yang mendengarnya menunjukkan senyuman tak kenal takut. "Tentu saja Aži Dahāka. Itu memang sangat menarik. Pikiran kita para naga memang sederhana dan mudah dimengerti."

"Aibo, aku tidak ingin mendengar kata takut dari mulutmu?" Permata hijau di gauntlet armor crimson berkelap-kelip, Ddraig pasti sangat bersemangat.

Issei mengepalkan tangannya, "Apophis ya? Aku tidak mengetahui sedikitpun tentangnya, tapi entah mengapa jiwaku bergetar hebat begitu mendengar tantangannya."

Jika dipikir-pikir lagi dengan seksama, dalam keadaan ini ketiga naga jahat brutal itu lebih merepotkan. Mereka berbeda dengan Rizevim maupun Azazel yang arogan, sombong, dan licik. Mereka hanya terdiri dari kumpulan kekuatan murni.

Naruto mengerti sekarang. Semua naga yang memiliki kekuatan adalah murni. Untuk mimpi, kebanggaan, pertarungan, dan bertahan hidup. Demi semua itulah mereka menghabiskan umur. Mereka mengalahkan setiap rintangan yang ada hanya dengan kekuatan, mereka menang, menang lagi, terus menang sampai saatnya mereka kalah, jatuh dan lenyap. Begitulah cara hidup ras naga.

Ah, pantas saja. Tidak ada kata menang untuk Rizevim maupun Azazel. Cara hidup dua orang itu sangat jauh dari yang disebut sebagai kehormatan. Tidak pantas disandingkan dengan naga. Mereka makhluk terburuk yang pernah hidup. Pada akhirnya mereka tersandung dan semua yang mereka usahakan berakhir sia-sia.

Naga memiliki kekuatan yang sangat besar dan hidup bebas sesuai kehendak mereka sendiri. Mereka yakin bahwa ras mereka adalah yang terkuat, terlahir untuk mendominasi, jalan pikiran sederhana yakni membenturkan kekuatan murni sampai hanya kematian yang menghentikan.

Issei dan Vali melepaskan armor masing-masing, kembali ke wujud asal. Naruto pun juga kembali ke wujud normal.

Mendadak, suasana menjadi lengang. Sangat tenang. Menarik nafas pun terasa sangat ringan.

"Huuaaaaahhh..." Tomoe merentangkan tangan lebar-lebar. "Serasa baru keluar dari peti mati yang dikubur hidup-hidup bertahun-tahun lamanya."

Semuanya pun menunjukkan ekspresi lega yang sama, mereka menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu mengembuskannya perlahan. Rongga dada kini tak lagi sesak.

Trihexa yang memancarkan hawa negatif pengintimidasi yang sanggup membuat orang menjadi gila sekarang sudah pergi. Jadi wajar saja kalau mereka semua seperti lepas dari belenggu.

"Nee... Sona,"

"Hm, apa Rias?"

"Rizevim mengendalikan Trihexa sesuka dia karena dialah yang membangkitkan makhluk itu sembari menempatkan dirinya sebagai kehendak Trihexa. Azazel sensei pun sempat mengambil alih kendali Trihexa dengan mencuri otoritas Rizevim. Tapi bagaimana dengan para naga jahat itu?"

Sona menggendikkan bahu, "Entah lah. Aku tidak tahu. Mungkin mereka menyabotase pekerjaan Rizevim selama bekerja sama dalam golongan Qlippoth, atau bisa saja semua makhluk itu memiliki naluri yang sejalan dan bertindak bersama-sama untuk membawa bencana dan kehancuran."

Naruto menimpali, "Bagaimanapun caranya mereka sampai bisa begitu, sekarang tidak penting lagi. Kita tetap akan mengejar Trihexa dan mengalahkannya."

Sona tahu itu. Tidak ada pilihan lain lagi. Misi mencegah runtuhnya Cardinal System tidak akan selesai sebelum Trihexa berhasil diekstrak intinya.

"Emmm, maaf." Kuroka masuk dalam diskusi. "Aku boleh mengutarakan usulan tidak?"

Hinata menyambut dengan senyuman kecil, "Katakan saja, Kuroka-san."

"Apa tidak sebaiknya kita istirahat sebentar?"

"..."

"..."

"..."

Semua orang diam seketika.

Perkataan Kuroka sangat benar, banyak yang sangat kelelahan. Mereka butuh istirahat. Kuroka sendiri belum pulih dari luka parah akibat pertarungannya melawan Rudiger Rosenkreutz.

Sampai akhirnya Naruto terkekeh pelan, "Pikirmu aku akan membuat kalian memaksa diri eh?"

Naruto mengerti kalau semua orang yang berada di sini sangat kelelahan. Hampir semuanya terlibat pertarungan sengit, selain itu tekanan yang berat dan amat menyesakkan dari Trihexa yang baru bangkit tentu berdampak buruk bagi fisik dan mental orang yang level kekuatannya di bawah standar seperti Asia.

Ah, akhirnya bisa tenang sejenak.

Namun tiba-tiba...

DEG!

Udara bergetar hebat. Lagi-lagi mereka semua disesakkan oleh tekanan kekuatan yang sangat dahsyat. Memang tidak lebih berat dari yang dipancarkan Trihexa, tapi masih cukup untuk membuat orang yang merasakannya bisa sampai gila, apalagi yang bermental lemah. Aura kekuatan yang dipancarkan seolah bersumber tempat yang tanpa batas.

Apa mereka tidak diijinkan bernafas dengan tenang sebentar saja?

Tapi berbeda dengan pemuda ini, bibirnya mengerucut sebal. Dia kenal baik siapa yang datang, "Ophis-chan, bisakah kau tidak menakut-nakuti orang?"

Sesosok gadis kecil turun perlahan dari udara, tidak ada yang menyadari bagaimana caranya ia tiba di sini.

"Oh, padahal aku hanya ingin bercanda." Ia berambut hitam panjang, mengenakan gaun dominan hitam khas loli gothic.

"Bercandamu tidak lucu tahu! Kasihan mereka." Naruto menunjuk ke arah Sona dan yang lainnya, yang tertunduk lemas kepayahan. Ini membuat mereka perlu tambahan waktu istirahat.

Aneh sekali. Ophis benar-benar berbeda dengan dahulu yang minim ekspresi dan motivasi. Sekarang bisa-bisanya dia berkelakar seperti itu?

Ophis mengabaikan Naruto, ia menatap ke arah sepasang pemuda pemilik kekuatan naga. "Kalian berdua sudah berkembang jauh, bahkan melampaui ekspektasiku." Sebagai Dewi Naga, ia tidak bisa menahan ketertarikan dengan naga-naga lain.

Issei bingung ingin berkata apa, baru pertama kali ini dia bertatap muka langsung dengan Ophis. Bahkan ia bingung di depannya ini benar Ophis atau bukan, karena berbeda sekali dengan Ophis yang ia lihat bersama Rizevim di wilayah Vampire Tepes dulu.

Vali membungkuk hormat, "Senang bisa bertemu denganmu sekali lagi, Ophis-sama."

"Kau tidak seperti biasanya, Vali. Albion tidak akan senang kau membungkukkan badan pada naga lain."

Ophis dan Vali sudah lama saling kenal. Sejak berada dalam satu tempat yaitu Khaos Brigade, yang mana kursi kepemimpinan saat itu masih diduduki Ophis.

Sona tidak habis pikir, "Seharusnya kau baru akan muncul saat Great Red mengganggu, tapi kenapa kau malah ke sini?" Itu adalah rencana awalnya.

"Habisnya tidak ada seorangpun yang menemaniku?"

Secara naluriah, sang Dewi Naga ini juga memiliki rasa kesepian. Dalam Tim Naruto yang terdiri dari tujuh orang, semuanya memiliki tugas masing-masing.

Diehauser menepukkan tangan, dia meminta perhatian. "Haloo. Apa hanya aku disini yang paling tidak tahu apa-apa?"

Oh, benar. Diehauser adalah satu-satunya orang yang belum tahu masalah tentang runtuhnya Cardinal System. Sebenarnya Naruto, Sona, dan Hinata sudah beberapa kali duduk bersama dengan Diehauser Bellial, sejak mereka bergabung dengan Rizevim dalam rencana membangkitkan Trihexa. Tapi berbicara tentang topik itu sama sekali tak pernah.

"Akan kuceritakan dengan singkat tujuan kami yang sebenarnya." ucap Sona. Rias dan peeragenya sudah tahu ceritanya, semua anggota OSIS pun mendengar dari Tsubaki, tapi sepertinya Tim Vali belum tahu sepenuhnya. "Untuk mencegah runtuhnya Cardinal System yang berdampak pada lenyapnya seluruh semesta multiverse, Naruto-san dan Hinata-san melakukan sebuah misi besar. Aku dan Tsubaki bergabung setelah tahu kebenarannya, bahkan Dewi Naga Ophis juga ikut. Selain itu ada sahabat Naruto-san dari Konoha, yaitu Uchiha Sasuke dan Sakura Haruno. Sehingga terbentuk tim tujuh orang. Rencanannya adalah ..."

Sona bercerita dengan jujur, berterus terang tentang semua yang terjadi sembari mereka duduk beristirahat. Merekrut Tim Vali sebagai partner setelah pertarungan di Venesia merupakan ide Naruto, memanfaatkan Rizevim adalah usulan Sona sendiri, hingga kejadiannya sampai sekarang ini.

Rias menginterupsi, "Aku masih bingung dengan Ophis, dia itu ada dua atau bagaimana?"

Ophis terus bersama Rizevim sampai pada akhirnya dia dijadikan sebagai santapan Trihexa. Eksistensi sang ketidakbatasan diserap sepenuhnya. Lalu kenapa ada Ophis yang segar bugar di depan mata mereka?

Tsubaki menjawab, "Ophis yang asli selalu bersama kami. Namun sejak berurusan dengan Rizevim, dia harus menyembunyikan dirinya. Sedangkan Ophis 'rusak' yang kami serahkan kepada Rizevim adalah tiruan."

"Tiruan? Orang jenius mana yang mampu membuat tiruan Ophis, bahkan lengkap dengan kekuatannya yang tidak terbatas." Rossweisse sulit mempercayainya.

Apa semudah Naruto membuat bunshin?

Bodoh! Mana mungkin!

Bunshin Naruto tidak sekuat yang asli, bahkan perlu jatah pembagian chakra sehingga membuat Naruto cepat kelelahan. Nah sekarang, bagaimana menciptakan Ophis tiruan dengan kekuatan tidak terbatas itu? Tuhan dalam Al-Kitab saja tidak bisa, bahkan takut dengan Ophis.

Jika ada orang yang sanggup menciptakan satu saja Ophis tiruan maka dengan mudah ia bisa menjadi penguasa semesta dan menjadikan para dewa sebagai pelayannya.

"Sosok yang diserap oleh Trihexa hanyalah Ophis Artifisial. Great Red, Trihexa dan Ophis adalah produk yang diciptakan langsung oleh Cardinal System sebagai pilar penyangga tegaknya semesta yang kita tinggali ini. Mereka bukan makhluk hidup seperti kita. Tanpa ketiganya, semesta kita ini sangat rapuh. Hinata-san meminta Yui yang merupakan purwarupa komponen ketiga Matrix untuk mengakses inti Cardinal System menggunakan Cube. Dengan akses itu, salinan data eksistensi Ophis diunduh sehingga Ophis Artifisial bisa diwujudkan sebagai makhluk hidup. Kami sengaja membuatnya seperti 'rusak' dan mematuhi Rizevim sebagai bodyguard, melindungi dia dari buruan seluruh dunia yang memusuhinya. Tapi tidak ada yang menduga kalau orang tua itu malah membuat Trihexa menyerapnya."

Pantas saja!

Seperti itu rupanya.

Tujuan awalnya adalah untuk bayaran kerjasama kepada Rizevim, tapi ternyata ujung-ujungnya malah berakhir buruk. Trihexa dibangkitkan jauh lebih kuat dari aslinya, sebagai makhluk tiada banding.

Koneko dan Le Fay terlihat duduk menekuk lutut, sebagian yang lain menduduki bongkahan batu reruntuhan, bahkan ada yang membaringkan tubuh di lantai yang berdebu. Semuanya mencari posisi yang paling enak untuk istirahat. Jelas sekali kalau mereka masih sangat kelelahan.

Sona dan Rias mendekati Naruto dan Hinata bersantai untuk duduk bersama. Sebagai pemimpin kelompok, ada yang terasa mengganjal di dalam hati.

"Ada yang membuat kalian ragu?" tanya Hinata.

Melihat perubahan raut muka Sona dan Rias, pertanyaan Hinata tepat mengenai sasaran.

Gadis Sitri itu membenarkan letak kacamata yang terasa mengganggu, dia berpikir sejenak. "Karena Trihexa berkeliaran diluar sana, sebaiknya kita mendiskusikan strategi untuk menangkapnya."

"Tidak perlu. Strateginya masih sama dengan yang kau katakan tadi."

"Itu kan untuk menangkap Trihexa di tempat ini. Kalau di luar..."

"Apa bedanya?" sanggah Hinata.

Naruto menyambungi, "Crom Cruach mengumumkan kalau mereka akan ke Underwolrd. Di sana banyak teman-temanku, berarti pasti akan lebih banyak bantuan. Meski aku tidak berniat meminta bantuan, tapi teman-temanku itu orang yang tidak bisa diam kalau melihat aku berjuang demi mereka."

"Itu masalahnya." ungkap Rias. "Di sana sedang ada perang besar. Antara ras kami dengan bangsa kalian."

Ya, ini masalah besar. Setelah sampai di sana, bukan tidak mungkin mereka malah memperburuk suasana karena datang dengan ketiadaan prinsip. Akan lebih baik kalau hal ini diputuskan sekarang, sehingga nanti di sana bisa fokus hanya pada Trihexa.

"Apa perlu aku menceramahi mereka semua agar berdamai?" usul Naruto.

Itu keahliannya, tapi...

"Mustahil." bantah Sona. Perang sudah sejauh ini, dan nampaknya ambisi petinggi Aliansi Tiga Fraksi akan Imperium of Bible tidak bisa ditawar.

Hinata menimpali, "S0na-san benar, Anata. Kau tidak bisa membuat mereka berhenti berperang hanya dengan kata-kata. Bukankan kita sudah pernah bernegosiasi dengan petinggi Aliansi saat kita dijebak di pesta pembukaan Rating Game, namun mereka malah tetap mengibarkan bendera perang."

"Kalau begitu, kita harus bagaimana. Tidak mungkin kita ke sana tanpa terseret arus perang?" Rias menuntut kejelasan.

"Kalau begitu, maka aku akan membantu Konoha memenangkan perang." Putus Naruto cepat.

"Jangan egois begitu, Anata. Kasihan mereka."

Mudah bagi Naruto memutuskannya. Konoha adalah tanah kelahirannya, lagipula semua orang di dekat Naruto adalah orang baik berprinsip yang berjalan di jalan kebenaran. Tidak ada alasan bagi Naruto untuk tidak membantu mereka.

Masalahnya adalah, bagaimana dengan Sona dan Rias. Apakah mereka akan membantu ras iblis? Kalau ia, berarti mereka malah akan saling bertempur nantinya. Ini yang sebenarnya membuat Sona dan Rias kurang setuju kalau acara menaklukkan Trihexa dilakukan di tengah-tengah medan perang.

"Aku malah setuju kalau bergabung lagi di medah perang." tiba-tiba Diehauser ikut dalam pembicaraan, ia duduk agak jauh. "Aku ingin membuat sedikit perhitungan dengan para iblis tua tua busuk itu."

Vali menambahkan, "Aku juga ada sedikit urusan di sana."

"Aku pun sama." Arthur ikut-ikutan.

Ada sesuatu yang ingin dibereskan oleh ketiga orang itu.

"Bagaimana keputusan kalian berdua. Sona-san, Rias?" tanya Naruto. Tidak ada pilihan lain selain menunggu Trihexa di sana, para naga jahat sudah memutuskannya.

Nampak dari ekspresi mereka, Sona maupun Rias pasti sangat memikirkannya. Sona memiliki impian, ingin membangun sekolah Rating Game bagi semua kalangan iblis. Rias juga, ia ingin berkontes di kejuaraan Rating Game profesional dan memenangkannya. Impian mereka tidak ada kaitannya dengan Imperium of Bible, terganggu pun tidak. Namun mereka berdua masih punya hati. Mereka punya prinsip keadilan sendiri. Dan Imperium of Bible yang memaksakan ideologi kepada orang lain, adalah hal yang bertentangan dengan prinsip keadilan mereka.

Jadi...

"Aku akan tetap ikut." jawab Sona.

"Aku pun sama."

Naruto tersenyum, jawaban itu sudah dia tunggu dari tadi. "Pastikan jangan sampai menyesal ya."

"Karena tidak ada pilihan lain, maka aku juga akan ikut ke sana dan bertempur."

"Hah!?"

Hampir tidak ada yang mempercayai saat Ophis memutuskannya. Kalau Dewi Naga Ophis Sang Ketidakbatasan ikut-ikutan berperang, mau jadi apa nanti di sana? Bukannya akan ada yang menang, malah semuanya hancur lebur.

Gadis kecil perwujudan ketidakbatasan itu berjalan pelan ke arah Naruto. "Sebelum ke sini, aku sempat mengintip ke Celah Dimensi. Naga merah besar sudah mulai bergerak, dia tertarik oleh aroma perang di dia sampai ikut bertarung dengan kekuatan penuh, tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Dia tidak memihak siapapun, semuanya akan ia hancurkan. Kau mau semua teman-temanmu mati karena Great Red ha?"

Seluruh kekuatan Konoha dan sekutunya, apalagi setelah berkurang jauh akibat perang satu hari satu malam, tidak ada apa-apanya di mata Great Red. Hanya Ophis dalam wujud sejatinya saja yang mampu mengimbangi Naga Merah Sejati itu, yang namanya tercapat dalam Al-Kitab.

Tampaknya semua orang sudah sepakat.

Maka...

.

.

-Svargaloka, Nirvana-

Di langit yang bersih, segumpal dzat yang tak diketahui apa terdengar berdetak, materi yang tidak diketahui esensinya itu nampak berdenyut. Denyutannya mengirimkan rasa sesak yang mampu menggerus jiwa sampai kering kerontang. Warnanya hitam, berbentuk gumpalan bulat tak beraturan dengan banyak tonjolan pada tepiannya.

Yang paling mengerikan dari dzat itu adalah, ada banyak sekali wajah pada setiap tonjolan. Wajah dari setiap dewa dan dewi yang dipercaya oleh semua penganut agama Hindu dan Buddha.

Dia adalah dzat yang paling akhir mewujud.

Dari manakah dzat tersebut berasal?

Hindu-Buddha adalah reliji terbesar di dunia, yang menganut paham Politheisme dengan banyak sekali dewa dan dewi yang dipuja-puja. Akan tetapi penganutnya tidak menganggap dewa dan dewi tersebut sebagai tuhan. Filsafat Hindu menyatakan bahwa para dewa tunduk pada sesuatu yang maha esa, maha kuasa, yang menciptakan seluruh alam. Orang-orang Buddha menganggap bahwa para dewa meskipun diagung-agungkan dan dipuja-puja tapi tetap bukanlah makhluk sempurna. Semua dewa tunduk pada hukum mistik yang mengikat diri mereka dalam Karma dan Samsara.

Aliran Hindu Dharma meyakini bahwa ada dzat yang melebihi para dewa karena sesungguhnya eksistensi dewa dan dewi hanyalah manifestasi dari wujud tuhan yang tunggal. Ada dewa matahari yang mengurus matahari, dewa bulan yang mengurus peredaran bulan, dewa hujan dan badai yang mengatur pembagian air untuk makhluk bumi, dan dewa-dewi lainnya dengan tugas masing-masing. Mereka semua hanyalah perantara tuhan untuk memberikan berkah kepada umatnya. Dengan kata lain, dewa-dewi adalah bagian dari eksistensi tuhan orang Hindu-Buddha.

Dan sekarang, dzat tunggal yang dipercayai itu telah mewujud.

Tapi bagaimana caranya?

Dewa Vishnu memang bukan yang terkuat tapi dia spesial. Dia adalah satu-satunya dewa yang memiliki kuasa Yang Tunggal dalam filsafat Hindu-Buddha untuk mengembalikan semua kembali ke asalnya. Ya, semua dewa dan dewi berasal dari satu dzat yang sama dan kini semuanya telah kembali bergabung menjadi dzat yang satu.

Dan inilah hasil dari apa yang telah diputuskan oleh Dewa Vishnu. Dia menyerap semua eksistensi kedewaan yang ada di Svargaloka. Shiva, Sakra, Agni, Bayu, Ganesha, Durgha, dan semua dewa-dewi yang dipercaya oleh penganut Hindu-Budha telah menyatu kedalam raga dan sukma Dewa Vhisnu. Wujud dari penyatuan itu ialah yang tampak saat ini, sebongkah gumpalan hitam yang amat besar melayang di Langit Nirvana.

Detakannya semakin kencang, denyutnya semakin intens. Perlahan namun pasti gumpalan hitam tersebut membentuk suatu wujud, seolah dia hidup.

Ya, dia memang hidup.

Sampai pada fase akhir, dzat itu membentuk suatu rupa tubuh. Kembali ke wujud tubuh Dewa Vishnu, hanya saja pakaian keagungannya yang berbeda. Jauh lebih gemerlap dan berkilau. Yang membedakan ialah, adanya wajah dari semua dewa dan dewi yang bersusun di sisi kiri dan kanan kepala Dewa Vhisnu.

Dialah...

Sang Hyang Widhi - Acintya yang Maha Tunggal.

Suatu dzat yang tak terpikirkan, dzat yang tak dapat dipahami, dzat yang tak terbayangkan akal. Kekuatannya, kemahakuasaannya, dan apapun yang berkaitan dengannya tak dapat diukur, tidak bisa dinilai. Kehendaknya pasti terwujud.

Wujudnya yang sekarang, yang menyerupai Dewa Vhisnu tidak lebih dari penggambaran yang muncul di benak orang yang menyaksikannya karena wujud sejati Sang Hyang Widhi tak pernah tergambarkan. Hanya orang yang memahami Dharma saja yang mengetahuinya.

Di atas semua itu, ada salah wajah terlihat sangat berbeda dari yang lainnya. Jika yang lain mewujudkan wajah tanpa ekspresi tapi yang satu ini mewujudkan ekspresi senang tak terhingga, bahagia tak terukur seperti orang yang sudah mewujudkan tujuan besar hidupnya setelah ribuan tahun berjuang keras.

ialah wajah Sakra, Sri Maharaja Dewa Indra yang memerintah Svargaloka.

Satu-satunya suara terdengar.

"Persiapanku sudah sempurna."

Hanyalah dari mulut Sakra saja deretan kata terucap.

"Sekarang saatnya, fase terakhir."

Semenjak kejadian aneh berbulan-bulan lalu, berbarengan dengan munculnya eksistensi baru -Konoha yang dirumorkan berasal dari dimensi lain yang jauh di sana dan tak diketahui di mana, Sakra mendapatkan sebuah firasat. Hanya sebuah firasat memang, tapi biasanya firasat seorang dewa seperti dirinya hampir selalu berakhir pada kebenaran yang nyata.

Firasat itu sendiri sukar dijelaskan, sukar pula dipercaya. Bahkan untuk manusia pun, jarang mau bertindak sesuai dengan firasatnya karena hati meragukan itu. Sakra sebenarnya juga punya kecenderungan yang sama, cenderung bertindak lebih sesuai dengan logika rasional ketimbang fisarat abstrak yang tak jelas darimana datangnya.

Inginnya Sakra tidak mempercayai firasat itu, namun fakta berbicara lain. Meski hanya firasat, tapi dia tidak bisa mengabaikannya. Dia mengamati, terus mengamati setiap perubahan pada seluruh dunia dan alam semesta, sekecil apapun hal itu. Yang paling mencolok adalah perubahan stabilitas dunia yang bergerak ke arah kehancuran. Dapat dilihat secara nyata dari adanya gejolak politik dan kekuatan militer yang mengarah pada perang habis-habisan. Satu hal yang paling membuatnya tidak bisa mengelak dari firasat itu, adalah mengetahui bahwa mata ketiga Shiva yang bisa membaca masa depan telah kehilangan kemampuannya.

~Flashback Chapter 79~

Sakra mengayunkan palu gada lalu dia sanggakan di bahu kanan. Dia menghela nafas sekali sebelum akhirnya bicara.

"Aku mendapatkan sebuah firasat."

"Langsung saja! Aku tak suka basa-basi."

"Begini saja, bukannya kau memiliki kemampuan untuk membaca pikiran orang lain?"

"..."

Shiva terdiam.

Sakra bicara lagi, ia menunjuk dahi Shiva. "Mata ketigamu itu, mata yang bisa melihat masa depan bukan? Coba gunakan itu, maka kau pasti akan menemukan jawabannya."

"..."

Mampu memprediksikan kejadian masa depan dengan tingkat akurasi 99% adalah kemampuan khusus yang hanya dimiliki oleh Shiva berkat mata ketiga miliknya ini.

Tapi...

"Mata itu tidak bisa digunakan ya, Shiva?"

"Cukup dengan omong kosongmu, Sakra!"

~Flashback Off~

Tidak sulit bagi Sakra yang licik untuk mempermainkan Shiva yang naif sehingga dia menyadari hal itu. Mata ketiga Shiva mampu memprediksi masa depan. Hilangnya kemampuan itu, bisa saja disebabkan oleh kesalahan pada mata Shiva tersebut. Namun Sakra meragukannya, oleh karena pernyataan bahwa... 'siapa yang sanggup mengganggu Shiva yang merupakan dewa penghancur terkuat se-alam semesta?'

Jawaban yang mungkin adalah bahwa masa depan akan dilanda kekacauan yang hebat yang bahkan sekumpulan dewa-dewi pun tak mampu berbuat apa-apa. Paling parah, mungkin saja masa depan itu tidak ada. Dengan kata lain, kiamat yang sesungguhnya sudah sangat dekat. Ini menjelaskan kenapa mata ketiga Shiva tidak mampu lagi memprediksi masa depan.

Semenjak itu pula, Sakra menyusun rencana dan memulai segala persiapannya. Peluang terbesar untuk survive di dunia yang fana ini hanyalah dengan mencapai sesuatu yang paling tinggi, yakni Sang Hyang Widhi, Acintya Yang Maha Tunggal, The Only One.

Sekarang Sakra sudah mencapainya. Wajahnya menunjukkan perubahan ekspresi.

"Dengan wujud dzat ini, tidak ada satupun lagi yang mampu menghalani aku. Sebaiknya aku coba saja dulu, berkunjung ke Underworld di mana perang sedang berkecamuk. Jika Dzat ini tidak bisa survive di sana, maka mustahil akan sanggup bertahan dari akhir dunia. Jadi tidak ada salahnya kan sedikit berbuat onar?" ternyata meski esensinya telah hilang diserap Vhisnu lalu bergabung menjadi dzat yang maha tunggal, tetap saja Sakra tidak kehilangan sifar maniaknya.

Sekarang ambil sudut pandang universal. Jika dipikirkan sungguh-sungguh, tindakan sakra ini menunjukkan besarnya kepedulian yang dia miliki terhadap Svargaloka pada khususnya dan Reliji Hindu-Buddha pada umumnya. Seandainya Sakra tidak melakukan ini, mungkin reliji terbesar sedunia ini sudah berakhir hancur sama seperti Olympus dan Norse.

Di saat semua dewa Hindu-Buddha tidak ada yang tahu, hanya dialah yang menyadarinya. Saat semuanya hanya berpikir tentang hakikat keilahian mereka sebagai dewa, Sakra satu-satunya yang berusaha keras agar mereka dapat bertahan dari peristiwa besar dalam firasatnya.

Sakra melakukan ini, demi semua orang yang ada dan percaya dengan ajaran Dharma Hindu dan Buddha.

Sakra... adalah dewa yang baik.

Ya, meskipun dzat yang telah mewujud ini dicapai Sakra dengan cara munafik dan keji.

Tentang Sang Hyang Widhi Acintya Yang Maha Tunggal, yang merupakan gabungan dari semua kekuatan supranatural dalam Reliji Hindu-Buddha setelah Vishnu menyerap semua esensi kedewaan yang ada, maka kekuatan dan kemahakuasaan yang dimilikinya pasti tak terukur dan tak terbayangkan oleh akal. Jika dzat ini dihadapkan dengan makhluk tiada banding, The Apocalypse Beast Trihexa [666] yang telah menyerap kekuatan Sang Ketidakbatasan Dewi Naga Ophis, maka hal apakah yang akan terjadi?

Asumsikan bahwa kedua eksistensi itu setara.

.

-At Unknown Place-

Raphael, salah satu dari Four Great Seraph yang menjadi pilar utama kekuatan Surga tampak puas dengan apa yang kini tengah ia kerjakan. Malaikat berparas rupawan dengan tubuh tinggi besar ini memang belum turun ke medan perang di Underworld, tapi di sini dia memiliki tugas penting.

Di tempat berupa hamparan kosong yang amat sangat luas inilah, dia akan menyelesaikan tugasnya. Sebuah tugas yang sudah diketahui oleh orang banyak sejak dahulu. Tentang sebuah kejadian yang berkali-kali dilukiskan di dalam Al-Kitab, The Bible. Nama sang Seraph ini tak terdapat di dalam Al-Kitab, namun salah satu kitab Deuterokanonika yaitu Kitab Tobit yang diakui oleh Gereja Katolik Roma, Anglikan, Ortodoks, dan dirahasiakan oleh kebanyakan Gereja Kristen lainnya, menyebutkan tentang tugas Raphael sebenarnya sebagai malaikat ciptaan tuhan. The God of Bible menciptakan Raphael dari cahayanya dengan hanya diberi satu tugas, satu saja, yaitu ...

Raphael menggumam, "Hm, tampaknya semua malaikat kloning sudah menempati posisi yang tepat."

Jika melihat dari atas ketinggian beberapa kilometer di udara, nampak jelas kalau satu juta malaikat kloning telah menempati posisi masing-masing. Mereka berbaris membentuk pola khusus.

Secara merata satu juta malaikat terbagi menjadi tujuh kelompok sama besar. Yang mana setiap kelompok bersusun dalam sebuah bidang datar berbentuk lingkaran dengan diameter lebih dari 3 km. Barisan mereka tidak rata, tetapi menempati posisi tertentu. Terlihat dari atas langit, kerlap-kerlip cahaya dari sayap mereka yang sangat banyak akan terlihat membentuk sebuah aksara khusus sehingga secara keseluruhan menjadi sebuah pola lingkaran sihir raksasa di permukaan tanah.

Benar. Itu bukanlah lingkaran sihir biasa yang ditulis, tapi lingkaran sihir yang dibentuk oleh esensi keilahian yang terdapat dalam tubuh para malaikat kloning.

Totalnya ada tujuh buah lingkaran sihir raksasa yang bersusun rapi, satu di tengah dan enam yang lain mengelilinginya secara simetris.

"Baiklah. Sekarang saatnya!" Sorot mata Raphael memperlihatkan cahaya keyakinan yang membara, tak tercela oleh setitikpun keraguan.

The Seven Trumpets

"Aktifkaaaaaaaaannnn!"

Suara gemuruh datang menggoncangkan daratan, bersamaan dengan awan hitam yang mulai berkumpul menggumpal di langit. Embusan angin kian kencang sampai akhirnya membentuk putaran puting beliung yang amat dahsyat.

Bersamaan dengan semua fenomena itu, semua lingkaran sihir raksasa bersinar kian terang. Ya, setiap sayap malaikat kloning berpendar dengan silaunya. Bagaikan api, setiap pendaran cahaya membumbung menuju angkasa. Kemudian di atas setiap lingkaran sihir, partikel-partikel cahaya berkumpul membentuk suatu wujud yang sama. Cahaya-cahaya itu memadat hingga akhirnya terbentuklah tujuh buah terompet berbentuk seperti tanduk yang ukurannya luar biasa, tingginya melebihi awan dan lebarnya melebihi gunung.

Itu adalah...

Terompet Sangkakala.

Raphael mengepalkan tangan kanannya, meninju ke udara.

"Sebagai peringatan bahwa dunia akan segera binasa. Sangkakala Pertama, tiiuuuuupp!"

NNGIIIIIIIIIIIIIIIINNGG...

Sukar diuntai dengan kata-kata, suara yang amat sangat nyaring. Makhluk fana apapun yang berada ditempat ini pasti sudah meringkih kesakitan karena pecahnya gendang telinga, getaran suaranya bahkan serasa mampu menembus daging lalu meremukkan tulang.

"Bunyikan Sangkakala keduaaaaa.!"

Belum selesai suara mengerikan dari terompet yang pertama, kini terompet kedua menyusul berbunyi dengan suara yang lebih nyaring lagi.

Tentu saja, keadaan dirasa makin menyeramkan. Tidak akan ada satu pun makhluk yang mau ke sana, walau hanya mendekat dari jarak 1000 mil.

"Sangkakala ketiga!"

Dengungan suara makin kencang. Getarannya sampai membuat tanah retak, ambruk, hingga mencipta jurang dalam yang tak kelihatan dasarnya.

Pada titik ini, makhluk hidup apapun yang berada di sana pasti mati. Tapi tidak dengan mereka, Raphael dan 1 juta malaikat kloning itulah yang menghantarkan Terompet Sangkakala dan meniupnya. Tubuh mereka pasti memiliki ketahan terhadap efek mengerikan dari apa yang mereka perbuat.

"Yang keempat!"

Entahlah? Sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menggambarkan situasinya dengan kata-kata.

Ketika Sangkakala sudah ditiup, maka saat itulah jaman sudah sampai ujung. Semua kejadian itu sudah diceritakan dalam Al-Kitab. Tiada dusta di sana sebab janji tuhan The God of Bible dalam Al-Kitab itu pasti.

Namun harus ingat, Michael sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas nama The God of Bible di Surga sama sekali tidak menginginkan dunia kiamat saat ini, apalagi dia dan Aliansinya bersama dengan ras malaikat jatuh dan iblis sedang mengusahakan sesuatu. Sebuah tatanah dunia baru, New World Order dalam kuasa Imperium of Bible.

Kalau begitu, lantas untuk apa meniup Terompet Sangkakala sekarang?

Pasti ada tujuannya.

Bagaimana kalau Terompet Sangkakala ditiup dengan tujuan membinasakan suatu eksistensi di dunia?

Ya, itu lebih logis. Ada dunia yang ingin Surga lenyapkan menggunakan Terompet Sangkakala.

Jadi ...

Ke arah manakah terompet itu ditiup?

Dunia mana yang hendak dibinasakan?

Jawabannya, di sini!

Dewa Ketua Mitologi Nordik dan putranya, Odin dan Thor sedang berjalan di sebuah lorong bawah tanah sampai mereka dikejutkan oleh hal yang tak pernah mereka sangka.

"Ayah, ada apa ini?"

Jelas terasa bahwa tempat yang mereka berpijak sedang bergoncang hebat.

"Tidak tahu. Tidak mungkin ada perlawanan dari Olympus lagi. Semua dewa dan penduduk gunung ini sudah kita habisi tanpa bersisa satu nyawapun."

"Iya, aku tahu. Tapi sebaiknya kita lihat dulu keluar."

"Haaaah! Untuk apa? Time Stone di dasar gunung ini tidak akan mau menunggu kita."

"Itu hanya sebuah benda, Ayah. Tidak akan pergi ke mana-mana. Lagipula kita baru tiga kali turun tangga. Pasti masih jauh untuk sampai ke dasar gunung ini."

"..."

Sebenarnya Dewa Odin tidak bisa berhenti berpikir dari tadi, sama sekali tidak ia mengerti kenapa Gunung Olympus yang sangat kokoh tinggi menjulang, yang besarnya sama dengan Asgard, bisa sampai bergoncang hebat begini?

"Sebaiknya kita kembali keluar dulu sebentar. Siapa tahu ada masalah."

"Ya sudah, baiklah."

Sambil menghindari bongkahan batu yang sesekali jatuh dari langit-langit lorong, mereka bergegas menelusuri jalan keluar.

Odin setuju dengan usul putranya. Sebab jika masalah ini tidak di atasi dan tetap memaksa turun ke dasar Gunung Olympus, bisa-bisa dirinya nanti terkubur hidup-hidup.

Sesampainya di luar, kedua dewa terhebat dari Asgard itupun dibuat terkejut. Saking terkejutnya, seperti mereka baru saja melihat air di lautan samudra mengering dalam sekejap.

"Apa-apaan ini?"

Thor tak mengira Gunung Olympus akan begini.

Semua yang tersisa dari pasukan Argard, para prajurit Valkirie, serta petarung lain dari ras berbeda yang berasal dari sembilan dunia yang disangga oleh Pohon Yggdrasil, semuanya dilanda kepanikan yang hebat.

Gunung Olympus yang mereka pijak, yang sudah hancur lebur luluh lantak akibat perang, kini disinggahi oleh fenomena alam yang luar biasa mengerikan. Suara gemuruh badai tidak hentinya memekakkan telinga, hujan es dan api bercampur darah tumpah ruang dari langit, volumenya amat banyak hingga Gunung Olympus yang sangat besar tak sanggup menampungnya.

Apa hal yang menyebabkan fenomena ini?

"Ini bukan fenomena alam biasa." Odin yakin dengan ucapannya.

Seolah bersambut, Gunung Olympus mulai retak. Retakannya melebar, meluas sehingga mencapai semua wilayah. Dari setiap retakan, lahar merah yang panas keluar bagai darah yang menyembur dari kulit yang ditebas pedang.

Tiba-tiba...

Sepertiga bagian dari Gunung Olympus terlempar ke udara, seakan ada dapur magma yang menyimpan milyaran ton cairan vulkanik panas yang meledek dengan begitu hebatnya. Dalam sekejap saja, bekas ledakan membentuk kaldera yang sangat besar. Dan material yang terlempat ke udara tadi, jatuh kembali jauh di tengah lautan yang mengelilingi kaki Gunung Olympus. Tsunami besar yang tingginya beratus-ratus meter menghantam bibir pantai sehingga memusnahkan apapun yang coba menghalanginya.

Tak lama kemudian, air laut mengering dan digantikan lahar merah panas sehingga tampaklah lautan darah yang sangat menyeramkan.

"A-apakah ini...?" Odin menduga-duga.

Fenomena mengerikan lainnya datang menyusul.

Sebuah meteor, meteor raksasa..., ah bukan tapi sebuah komet yang ukurannya sama besar dengan Gunung Olympus tahu-tahunya turun mendekat dari angkasa raya. Komet itu menutupi matahari, namun cahaya yang merah menyala-nyala serta ekornya yang amat panjang membuat langit lebih terang dibandingkan teriknya matahari.

"Komet itu..."

"Benar putraku, itu Komet Apsintus."

"Jadi..."

"Seperti yang kau pikirkan, kita sudah habis. Para budak Tuhan Injil itu bertindak lebih dahulu dari kita."

"Sialan!"

Komet itu makin dekat.

Raut muka Odin tampak pasrah. "Biarlah. Aku terima takdir ini. Lagipula Pohon Yggdrasil sebentar lagi akan mati dengan sendirinya dan kita pasti akan tamat juga. Tapi berakhir dengan cara yang seperti ini, sungguh tidak ada yang lebih buruk."

Odin sudah mengerti semuanya, ia tahu apa yang sedang terjadi ini. Dia pernah membaca Al-Kitab. Dan semua fenomena alam ini persis dengan yang ada diceritakan di sana. Fenomena alam yang muncul mengiringi di tiupnya Terompet Sangkakala pertama, kedua, dan ketiga.

"Kalau begitu Ayah, kita harus cepat-cepat menemukan Time Gem demi mencapai tujuan kita." Thor masih tidak terima akan berakhir seperti ini.

"Lihat ke langit, putraku."

Komet Apsintus kini hampir menyentuh puncak Olympus.

"..." Thor kehabisan kata-kata. Tidak ada waktu untuk melakukan apapun, kabur pun tak mungkin sempat.

Akhirnya suara dengungan terdengar untuk yang keempat kalinya. Bearti Sangkakala keempat telah ditiup.

Sebagai akibat tiupan itu, seluruh benda langit yang tampak dari Gunung Olympus, hancur lebur tanpa ada yang bersisa. Mataharinya, bulannya, dan semua bintangnya. Olympus sendiripun hancur karena tak kuat menahan jatuhnya Komet Apsintus.

Kembali ke padang yang luas, Seraph Raphael sekali lagi menyerukan perintahnya.

"Sangkakala kelima, tiuuuuup!"

Kali ini suaranya lebih lembut dari suara tiupan empat sangkakala sebelumnya yang hanya berupa tiupan peringatan, tapi huru hara kehancuran yang datang jauh lebih mengerikan. Sehinga dalam Al-Kitab disebut sebagai tiupan celaka-celaka.

Target tiupan Sangkakala sangat lah luas, cakupannya tidak hanya satu dunia saja. Setelah mencapai Olympus, huru-hara terus berlanjut sampai ke Yggdrasil.

Dunia tempat para dewa Norse tinggal -Asgard, nampak lengang karena banyak laki-laki dan prajurit yang pergi berperang. Terisa lah penduduk-penduduk sipil biasa, kebanyakan wanita dan anak-anak.

Mulanya damai, namun seketika berubah menjadi ketakutan yang amat sangat dalam di sanubari orang-orang yang menyaksikannya. Menyaksikan jatuhnya sebuah meteor di pusat kota. Kerusakannya tidak besar, tapi meteor itu sendirilah awal dari semua derita dan ketakutan yang ada. Ibarat sebuah pintu yang dibukakan kuncinya, dari meteor itu keluarlah asap hitam pekat yang membumbung menutupi sinar matahari bersamaan dengan datangnya makhluk-makhluk melata yang sangat menjijikkan, berbau busuk, beracun, dan membawa berbagai macam penyakit. Menyentuhnya saja membuat kulit langsung melepuh.

Hal yang sama juga terjadi pada Vaneheim, Alfheim, dan dunia-dunia lainnya yang bertopang pada Pohon Yggdrasil.

Seperti sembilan planet dalam Tata Surya yang mengitari matahari, begitupula dengan sembilan dunia juga mengitari Yggdrasil sebagai pusatnya. Setiap 5000 tahun sekali, kesembilan dunia itu sejajar sempurna, fenomena yang disebut sebagai Convergence. Pada saat itu, posisi kesembilan dunia berada dalam satu garis lurus.

"Celakalah kitaa!" Saling bersahutan, suara-suara ketakutan penuh sesal diteriakkan dari setiap batang tenggorokan yang hidup.

Tidak lama berselang, suara dengungan terompet kembali bergemuruh. Semua binatang melata berhenti menyerang, lalu menyembunyikan diri dibawah tanah. Banyak penduduk Asgard yang merasa lega, bagai harapan datang menyambut.

Tapi...

Itu berarti Sangkakala keenam telah ditiup. Raphael dari tempatnya di sana belum selesai dengan aksinya.

Dari arah barat yang gelap, suara gemelatuk langkah yang berat terdengar kencang, berserta getaran kuat pada tanah yang dipijak.

Kini, ketakutan yang jauh lebih dalam dan mengerikan datang mendera.

Jutaan makhluk mengerikan serupa monster yang keji, bengis, dan sadis datang bergerombol bak serbuan tentara semut. Mereka memakai baju zirah dan bersenjata lengkap, menunggang kuda yang kepalanya seperti kepala singa. Dari mulut mereka semua keluar api, asap dan belerang.

Tak seorang pun mampu melawannya. Makhluk-makhluk itu sangat rakus, memakan apapun yang tertangkap oleh matanya. Orang-orang, hewan, tumbuhan semuanya habis dimakan. Air pun diminum hingga tidak menyisakan setetespun dari sungai besar yang mengalir.

Kembali lagi pada Raphael.

"Ah, ini yang terakhir. Dengan begini tugasku selesai." kepala tangan sang Seraph yang tadi diarahkan ke langit, kini turun kembali. "Terompet Sangkakala ketujuh, dendangkanlah nyanyian pembinasaanmu!"

Cahaya yang amat menyilaukan menyelimuti segala tempat. Hamburan cahaya yang paling tinggi intensitasnya mengarah keatas, membentuk suatu pilar yang tinggi menjulang ke langit. Menembut batas-batas Celah Dimensi, cahaya itu melaju dengan kecepatannya yang tak tertandingi dalam satu garis lurus. Menembus batas dimensi yang mencakup seluruh Olympus, melewatinya, lalu terus melaju lagi sehingga melangkahi satu persatu dari Sembilan Dunia lalu terakhir Pohon Yggdrasil yang sekarang mengalami fenomena Convergence setiap 5000 tahun sekali.

Lima menit kemudian saat cahaya itu redup dan padam, tak ada lagi tersisa sesuatu apapun juwa.

Dengan begitu, dengan hancurnya Gunung Olympus dan Pohon Yggdrasil beserta semua penduduk dan dewa-dewinya, dua mitologi besar Yunani dan Norse lenyap dari sejarah dan peradaban.

Sang Seraph kembali bersuara, "Karena tidak ada yang perlu ditunggu, ayoo semuanya kita berangkat. Konoha akan jadi target pembinasaan selanjutnya."

Sihir teleportasi massal mulai aktif, 1 juta malaikat kloning siap ditransfer ke Underworld untuk mengakhiri perang melawan Konoha.

Tapi, ada yang aneh.

"Itu... Itu kannn...?"

Satu persatu malaikat kloning berjatuhan. Tergeletak tak berdaya di tanah, kemudian kehilangan cahaya pada sayap-sayapnya sampai tak menyisakan lagi tanda-tanda kehidupan pada mereka.

Apakah setelah menggunakan Sangkakala mereka akan mati?

Setelah menyadari sesuatu, Raphael menunjukkan ekspresi seolah tak ada masalah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Itu pasti malaikat yang terinfeksi virus yang ditanamkan oleh orang Konoha bernama Sai. Hanya 25%, biar saja. Tidak akan mempengaruhi Surga untuk mewujudkan Imperium of Bible."

Ya, persis seperti yang Raphael katakan, 25% atau 250 ribu malaikat kloning mati dengan sendirinya. Virus yang Sai tanamkan, meski hanya mencapai 25% dari semua malaikat kloning tapi semua virus itu berfungsi dengan baik. Memang, malaikat itu sempat hidup sebentar untuk mengaktifkan The Sevent Trumpets, tapi setelah itu langsung mati.

Hanya saja...

Coba pikir!

Masih ada 750 ribu malaikat kloning super yang tersisa.

Jumlah itu tetap terlalu banyak, terlalu fantastis. Dan dengan jumlah itu, Terompet Sangkakala masih bisa dipakai, meski skala kehancurannya lebih kecil, lebih kecil dari yang mulanya sangggup membinasakan dua tempat mitologi terbesar sekaligus.

Kalau hanya untuk membinasakan Konoha saja? hahaaa, sudah jelas jawabannya.

Kekuatan Aliansi Tiga Fraksi, masih tak tergoyahkan.

.

.

-Arena Perang, Underworld. At 05.57 am-

Fajar saat mentari pagi mulai menyingsing, perang belum juga menunjukkan tanda-tanda hendak surut. Gemuruh suara perang masih bertabuh dengan kencangnya. Kerusakan dimana-mana, api yang melalap, dan dentuman ledakkan datang silih berganti. Teriak ratap kematian menggema di sepanjang arena perang.

Perang masih berlangsung dengan hebatnya di Tanjung Harapan sebagai pusatnya, sebelah utara Teritori Gremory. Sebuah semenanjung yang didominasi oleh padang rumput savana luas, cukup untuk menampung puluhan ribu bahkan ratusan ribu individu yang ingin bertempur. Pada bagian sisinya diapit oleh lautan, di sebelah kanan dibatasi oleh tebing terjal dengan hempasan ombak besar dari laut lepas sedangkan sebelah kiri oleh pantai landai dengan laut yang agak tenang.

Gerbang teleportasi Gate of Sun berdiri kokoh di ujung semenanjung, sebagai pintu penghubung satu-satunya antara arena perang dengan markas pusat pasukan Konoha dan sekutunya yang berada di dimensi lain.

Kesampingkan itu, marilah tengok sejenak ke barisan belakang pasukan Aliansi Tiga Fraksi. Di sebelah selatan Tanjung Harapan, cukup jauh dari pusat pertempuran sehingga tempat ini agak lengang, para petinggi Aliansi yang tersisa berkumpul. Berbicara tentang rencana dan strategi selanjutnya untuk memenangkan perang.

Grayfia menyampaikan laporannya, "Markas pusat yang berada di ibukota Lilith secara teknis sudah dipindahkan sepenuhnya ke titik ini." Hal ini terjelaskan oleh kondisi tempat dititik ini yang telah dibangun beberapa tenda dan barak serta keperluan lainnya. Artinya, setiap komando yang menggerakkan pasukan Aliansi Tiga Fraksi, berasal dari tempat ini.

"Di luar perkiraanku, tidak disangka perang akan berlansung sampai selama ini." Belum apa-apa, Michael sang Archangel pemimpin seluruh malaikat sudah berkomentar. Perkiraan awal, perang yang dimulai pagi hari bisa diselesaikan saat petang, tapi ternyata setelah melewati semalaman penuh perang tak jua menunjukkan tanda-tanda akan selesai.

Sirzech menyambungi, "Yah. Orang Konoha itu, hebat sekali sampai bisa bertahan dari gempuran kita hingga saat ini." Dia duduk di balik meja, persis berhadapan dengan Michael.

Padahal jumlah pasukan Aliansi hampir tiga kali lebih banyak, sebagai makhluk supranatural kekuatannya juga lebih tinggi, pemanfaatan teknologi yang lebih baik, dan masih banyak keunggulan lain harusnya mereka bisa menang. Petarung-petarung berkekuatan superior juga tidak sedikit, seperti Zekram Bael, Mephistopheles, dan petinggi-petinggi Aliansi yang lainnya. Bahkan ketika perang sampai masuk ke periode malam hari, Aliansi mengirimkan pasukan elitenya yang terdiri dari 17 pengguna Evil Piece bidak Raja yang kekuatannya setara Maou, 1500 exorcise kelas atas pengguna replika pedang suci legendaris, serta 2000 pengguna replika sacred gear tipe longinus Boosted Gear dan Divide Dividing yang mencapai Balance Breaker.

Kurang apalagi coba?

Grayfia melanjutkan laporannya, "Atas hal itu, ada banyak peristiwa yang sampai mengejutkan. Kita bertiga sudah berhadapan langsung dengan Osiris dan Obelisk perwujudan roh Dewa Mesir Kuno yang dibawa oleh komandan mereka, Sabaku no Gaara. Pemimpin mereka yang lain -Uchiha Sasuke, ternyata memiliki kekuatan luar biasa. Selain itu, ternyata ada banyak dewa-dewa hebat dari berbagai mitologi yang bergabung. Bishamon, Amaterasu, Yatogami, Kinich Ahau, Quetzalcoatl, dan masih banyak lagi. Otak strategi di pihak mereka bahkan cukup jenius sampai membuat Maou Falbium Asmodeus kerepotan memikirkan taktik."

"Awalnya kita hanya akan melawan Konoha saja. Lantas seperti apa kondisi pasukan kita sekarang?" tanya Sirzech.

Grayfia berdiri di sisi Sirzech, mengakses data yang terhubung ke jaringan informasi militer Aliansi Tiga Fraksi. "Kubu kita kehilangan banyak pasukan. Pasukan yang awalnya berjumlah hampir 300 ribu kini tersisa 80 ribu saja lagi. Tidak diketahui seberapa banyak sisa pasukan musuh, tapi 94 ribu dari mereka sudah tewas."

"Banyak sekali kita kehilangan pasukan, sampai lebih dari 2/3."

"Menurut perkiraan, sisa pasukan musuh sekitar 30 ribu. Kita masih menang jumlah." sahut Grayfia.

"Bagaimana dengan orang terbaik kita?" tanya Michael.

"Cukup banyak yang sudah tewas. Tiga dari Ten Seraph pilar Surga yaitu Ramiel, Raziel dan Raguel sudah tewas. Sisanya Seraph Sandalphon dan Metatron masih melanjutkan pertempuran di Tanjung Harapan. Seraph Sariel juga membantu di sana. Salah satu Four Great Seraph Uriel, juga Baraqiel, Ruval Phenex sangat disayangkan juga tewas."

Berita yang cukup mengejutkan terutama bagi Michael. Uriel sampai kalah, siapa yang sanggup mengalahkannya?

"Empat peerage Lucifer-sama juga dikalahkan. McGregor Mather, Beowulf, Enku, dan Surtr Second."

Sirzech tidak nampak terkejut setelah mendengar itu dari mulut Grayfia. Ia sudah tahu karena dirinyalah [King] dari para peerage itu. Di Underworld, tim evil piece ini adalah yang paling kuat. Tidak ada yang bisa menandingi mereka sehingga karena saking kuatnya tidak diijinkan lagi ikut dalam kompetisi Kejuaraan Rating Game. Siapapun yang melawan mereka, pasti kalah. Mungkin sebab mereka bertarung sendiri-sendiri secara terpisah pada resimen-resimen tempur pasukan Aliansi yang berbeda, sehingga hal itu bisa terjadi.

"Selain itu, masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu."

"Siapa lagi yang tersisa?"

"Seraph Gabriel dan Maou Serafall Leviathan, tapi keduanya masih belum bisa bertempur untuk saat ini. Mereka sedang dirawat. Dewi Bishamon cukup tangguh untuk bisa dikalahkan oleh mereka berdua. Tuan Zekram, Tuan Mephistopheles, Shouji Okita, dan petarung terbaik lainnya sampai saat ini masih berusaha menggempur musuh di Tanjung Harapan."

"Hmm..." Sirzech bertopang dagu, ia menatap rekannya. "Bagaimana menurumu Michael-dono, apakah kira-kira kita akan memang?"

"Tentu saja. Apa yang membuat-mu ragu. Sampai saat ini kita masih unggul, ya kan?"

Grayfia mengangguk, "Benar sekali, Michael-sama. Di depan sana, prajurit elit kita belum terkalahkan. Tuan Vasco Strada dan Edwald Cristaldi memimpin 1500 exorcise kelas atas pengguna replika pedang suci bertempur dengan sangat baik. 2000 pengguna Artifisial Sacred Gear kelas Longinus, Boosted Gear dan Divide Dividing dengan armor Balance Breaker Scale Mail selalu sanggup menembus barisa pertahanan musuh. Sedangkan 17 iblis pengguna Evil Piece bidak [Raja] tidak terhentikan amukannya."

Bahkan beberapa Brave Saint hebat yang masih hidup juga besar perannya. Ada Jessica Legerkvist -Queen Club/keriting dari Seraph Sandalphone, Kiyotora Shinra - Jack Club Seraph Metatron, Ryuu Heikan - Ten Diamond/wajik Seraph Raziel. Bahkan seorang guru dari Gereja Protestan, Caesar Villiers Jack Diamond bawahan Great Seraph Uriel. Jangan lupa tidak sedikit para kepala keluarga dari 72 pilar Iblis Underworld yang tentu saja kekuatan mereka tidak main-main. Mereka adalah iblis kelas tinggi yang masing-masing memiliki tim Evil Piece yang berasal dari golongan Pure Blood Devil maupun iblis reinkarnasi berkemampuan khusus.

Tiba-tiba...

"Kenapa denganmu, Grayfia?" Sirzech heran dengan perubahan air muka [Ratu]-nya.

"Baru saja informasi masuk. Maou Falbium Asmodeus tewas dikalahkan. Kebenarannya sudah dikonfirmasi." Grayfia mengatakannya dengan ekspresi campur aduk.

"Apa!" Berita itu terlalu mengejutkan bagi Sirzech. "Kenapa bisa!? Dia itu kan panglima perang?"

Seharusnya panglima perang itu cukup memimpin dari belakang. Mustahil bisa sampai dikalahkan musuh tanpa ada keributan besar.

"Katanya, dia menyusup sendirian ke markas musuh. Berhasil membunuh dua orang penting disana, yaitu Lord Tepes dan Ratu Carmilla, tapi dikalahkan oleh sekelompok anak muda."

"Bodoh!" Sirzech mengumpat. Dia tidak habis pikir Falbium bertindak gegabah seperti itu. Ada apa dengannya?

Di tengah suasana yang kurang menyenangkan itu, seseorang datang.

"Maafkan atas keterlambatan saya."

"Oh, Tuan Shemhazai." sapa Michael.

Shemhazai, wakil gubernur Fraksi Fallen Angel. Dialah penanggung jawab sementara dari Fraksinya karena Azazel pemimpin mereka sedang mengerjakan hal lain bersama Tim Anti-Teror [D×D].

Grayfia mendekat lalu menyerahkan data laporan situasi perang.

"Oh, pantas saja suasananya suram begini." ungkap Shemhazai setelah mengetahui semua informasinya. Mengabaikan hal itu, dia sudah hendak membahas mengenai kelanjutan perang, tapi...

"Kami kembali."

... Shemhazai tidak jadi bicara karena kedatangan tiga anak muda itu.

"Kalian..." ucapan Shemhazai tidak tuntas karena sesuatu yang membuatnya keheranan. Dulio sebagai pemimpin Tim Anti-Teror [D×D] kembali dengan membawa sedikit sekali anggotanya.

Hanya tiga orang. Dulio Gesualdo, Griselda Quarta, dan Tobio Ikuse.

"Dimana Azazel?" tanya Michael. Ia cukup terkejut dengan kembalinya Tim Anti-Teror [D×D] tanpa ada orang yang mendirikannya.

"Bagaimana hasilnya?" Sirzech bertanya langsung ke intinya.

"Maaf, kami gagal." ungkap Dulio. Sebagai pemimpin tim, kegagalan ini tentu membuatnya malu. Lebih memalukan lagi karena ia gagal tanpa berusaha melakukan apa-apa. Mengalahkan Euclid Lucifuge itu tidak dihitung karena iblis itu hanya dianggap nyamuk pengganggu.

Bagi Michael dan Sirzech, hal ini sangat sangat di sayangkan. Mereka berdua tahu dengan rencana Azazel yang ingin merebut Trihexa dari Rizevim, setelah tahu rencana hebat yang telah disusun, mereka berdua sepakat mempercayakan urusan ini kepada Azazel. Jika berhasil memasukkan Trihexa ke dalam kekuatan Aliansi, maka dapat dipastikan tidak akan ada lagi yang sanggup menghentikan mereka. Bahkan Maou Ajuka Beelzebub juga dikirim kesana sebagai bantuan jika diperlukan. Seharusnya rencana ini pasti berhasil. Namun nyatanya tidak.

Tapi karena gagal, mau berkata apa lagi? Berarti Aliansi harus memenangkan perang ini tanpa tambahan kekuatan. Bukan masalah karena Konoha makin lemah. Dan kalau Trihexa menyebabkan masalah nantinya bagi Aliansi, mereka punya cara untuk menyegel makhluk pengkiamat itu. Toh yang menyegel binatang itu sebelumnya adalah The God of Bible, Michael sudah mengetahui datanya dari arsip rahasia tuhan yang tersimpan di Surga Tingkatan Ketujuh.

Griselda Quarta maju, dia memberanikan diri untuk menyampaikan semuanya. Hal yang pertama ia ungkapkan adalah ...

"Azazel-sama tewas."

Semuanya terkejut.

"Maou Ajuka Beelzebub-sama juga tewas."

Hal ini lebih mengejutkan lagi.

"Uzumaki Naruto yang membunuh Azazel-sama, sedangkan Maou Ajuka Beelzebub-sama mati ditangan Uzumaki Hinata."

Sungguh mengejutkan. Dua orang itu...!

Sirzech dan Michael menyesal membuat kesepakatan palsu dengan dua ninja Konoha itu saat insiden kekacauan pesta Pembukaan Rating Game. Seharusnya, Uzumaki Naruto dan Uzumaki Hinata dibunuh pada waktu itu juga bagaimanapun caranya, agar tidak terjadi hal seperti sekarang ini.

Bayangkan! Ditambah dengan Maou Falbium Asmodeus dan Great Seraph Uriel, berarti Aliansi Tiga Fraksi sudah kehilangan empat orang pemimpinnya.

"Ceritakan semuanya dengan jelas, Griselda!" perintah Sirzech. Sampai seperti ini kejadiannya, ia tidak bisa berdiam diri saja lagi.

"Baik. Selain mereka berdua, Rizevim Livan Lucifer juga sudah mati."

Hal ini malah sangat diharapkan.

Selanjutnya, Griselda mengatakan semua hal yang terjadi. Mulai tadi keberadaan Kelompok Sona Sitri dan Tim Vali disana, perbuatan Lavinia Reni, hilangnya Rudiger Rosenkreutz, munculnya Diuhauser Bellial, Raja Naga Sisik Biru Tiamat, bahkan keputusan Rias Gremory. Tentang Trihexa yang menyerap Dewi Naga Ophis sehingga bangkit menjadi makhluk tiada banding, dan kejadian lainnya tidak satupun yang dilewatkan.

"Aku tidak berharap Hakuryuukou dan Sekiryutei yang telah mencapai kekuatan terbaiknya sampai bergabung dengan pihak Konoha." ungkap Michael.

Vali dan Issei memutuskan untuk mengikuti Naruto. Apapun alasannya, itu tidak baik bagi Aliansi Tiga Fraksi. Kan Naruto dari Konoha? Sekiryutei dan Hakuryouukou yang kekuatannya telah melebihi The God of Bible maupun Satan Lucifer Pertama, pastinya jadi momok mengerikan. Bagi Michael maupun Sirzech, menghadapi keduanya tak akan mudah. Meski ini belum tentu akan terjadi, sebab Michael tahu bahwa tujuan Naruto bukan untuk memenangkan perang tapi ingin kembali ke dunia asalnya bersama seluruh orang Konoha.

Sirzech menampakkan ekspresi gusar, ia sama sekali tidak menyukai hal ini. "Grayfia!"

"Ya, Lucifer-sama."

"Kau siapkan rencana. Aku ingin membawah pulang Rias ke rumah untuk dididik dari awal lagi."

Hanya Rias yang akan dipulangkan, berarti sisanya harus dilenyapkan.

"Baik."

Sirzech menyayangi adik perempuannya. Jikalau sampai adiknya itu membuat keputusan yang bertentangan dengan dirinya, maka dia harus dibawa pulang untuk diajari bagaimana menjadi iblis yang seharusnya.

Setelah mendengar semua penuturan Griselda, tampak jelas kalau kekalahan Tim Anti-Teror [D×D] dengan hasil yang sangat mengecewakan membuat para petinggi yang berada disini marah. Membuat mereka sedikit tidak sabaran untuk memenangkan perang, membalas perbuatan orang Konoha yang telah menyebabkan kerugian besar bagi mereka.

Namun berbeda dengan Michael, dia satu-satunya yang menunjukkan wajah cerah penuh optimisme.

"Ya sudah, kesampingkan dulu semua itu. Tidak ada guna menyesalinya."

Shemhazai mengangguk, dengan tewasnya Azazel maka secara otomatis dialah yang akan memegang tanggung jawab sebagai pimpinan Fraksi Fallen Angel. "Baiklah. Kalau begitu, mari kita susun strategi..."

"Tidak perlu." potong Michael.

"...?"

Michael mengulas senyum, "Great Seraph Raphael baru saja mengirimikan berita. Satu juta malaikat kloning super sudah melakukan tugas pertamanya, melenyapkan Olympus dan Asgard dengan Terompet Sangkakala. Meski kini hanya tersisa 750 ribu karena ada sedikit kesalahan teknis, tapi itu lebih dari cukup. 90 menit lagi mereka akan tiba di sini. Tanpa perlu strategi, kerahkan saja semua kekuatan yang ada maju ke medan perang. Kita habisi Konoha dan sekutunya dengan satu gebrakan."

Tak ada sahutan kata-kata.

Apa yang diucapkan Michael, adalah keputusan mutlak. Mereka sepakat.

Saatnya menggapai kemenangan.

Imperium of Bible, pasti akan segera terwujud.

.

Sang Rokudaime Hokage, Hatake Kakashi nampak kepayahan. Dia duduk bersandar sendirian pada batang pohon. Pandangannya lurus ke langit biru yang bercampur sedikit warna jingga segar penanda bahwa matahari belum lama terbit.

"Aku beruntung masih dapat melihat langit."

Meski ini langit dimensi ruang buatan, tapi keindahannya tetap sama.

Pikirannya penuh sesak. Meski ia bersyukur masih bisa hidup tapi dengan perang diluar sana yang tak kunjung berhenti, ia belum bisa bernafas dengan tenang. Lebih-lebih lagi posisi pasukannya sedang tidak diuntungkan. Hanya mampu bertahan, mempertahankan gerbang teleportasi agar markas di dimensi ruang ini tidak diserbu musuh.

Merasakan ada siluet tiga sosok tubuh mendekat, Kakashi menyipitkan matanya.

"Ah, kalian bertiga."

"Hokage-sama, anda berniat membiarkan kami mati ha?" tanya si perempuan yang berwajah galak.

"Bukan seperti itu, Ino. Lebih tepatnya, aku percaya pada tim kalian."

"Mendokusei." Shikamaru menghela nafas. "Untung kami masih hidup."

"Oh ya, bagaimana dengan Raja Iblis itu?" tanya Kakashi.

Krauukkk

Terdengar suara kremes makanan ringan yang dikunyah. "Itu tidak perlu ditanyakan, Sensei. Kalau kami di sini, berarti dia di alam sana."

Ino heran, "Hei, Chouji. Darimana kau dapat makanan saat perang begini?"

"Aku kan selalu membawa simpanan."

"Huuufft!" Ino terpaksa memaklumi. Temannya ini memang selalu bawa makanan ke manapun, tapi kan tidak disaat-saat seperti sekarang ini?

"Kau sendiri. Bagaimana kondisimu, Sensei?"

"Seperti yang kau lihat, Shikamaru. Tubuhku tidak sedang baik-baik saja."

Shikamaru memang tidak melihat adanya luka berbahaya di tubuh Sang Hokage, tapi melihat matanya ia yakin kalau laki-laki di hadapannya ini sangat beruntung bisa lolos dari kematian.

"Tadi aku bersama dengan Lord Tepes dan Ratu Carmilla. Tidak tahu bagaimana caranya, dia berhasil menerobos ke sini. Aku tidak bisa bebas bertarung untuk melawannya karena harus berfokus pada Kamui Jikukan Ninjutstu yang melindungi gerbang teleportasi Gate of Sun. Raja dan ratu bangsa vampir itu tewas karena berusaha melindungiku."

Sungguh sangat disayangkan, tewasnya dua pemimpin itu pasti akan menurunkan semangat tempur pasukan vampire. Informasi ini harus disimpan dahulu.

"Aku terpaksa kabur ke dimensi kamui. Jadi, maaf karena membuat kalian dalam bahaya."

Shikamaru membenarkan tindakan Rokudaime Hokage. Jika sampai Kakashi terbunuh juga, maka perlindungan kamui bagi gerbang teleportasi akan hilang. Ini sangat berbahaya.

"Meski lolos dari hal buruk, tapi kerugian di pihak kita cukup besar."

"Oh, Homura-san. Kau juga kemari?"

Gadis kecil itu cemberut.

Mungkin karena badannya kecil sehingga siluet tubuhnya tertutup oleh tubuh gempal chouji, makanya Kakashi baru sadar kalau sebenarnya yang mendatanginya berjumlah empat orang.

Akibat ulah Falbium, tidak hanya kehilangan dua orang pemimpin, tapi Akemi Homura juga kehilangan alatnya, Timejump Device, yang tidak hanya berguna untuk mereset tapi juga memberikan Akemi kemampuan hebat Time Accelerator yang membuat ia bisa mengalahkan seorang dewa dengan mudah.

Masih dengan wajah cemberut dan bibir mencebik, "Kalau seperti ini, kupikir aku tidak berguna lagi untuk kalian."

Sekarang level Akemi setara dengan prajurit biasa.

Ino coba membujuk, "Tidak apa-apa, Homura-san. Kau kan masih memiliki senapan yang sanggup membuat ledakan nuklir, itu sangat berguna sebagai wakil kapten Divisi Keempat Unit Pertempuran Jarak Jauh."

Akemi masih memiliki senjata hebat itu, senapan laras panjang yang diberi nama Brionac. Senjata yang mampu meledakkan sebuah gunung hanya dengan sekali tembak.

"Tapi cooldown senjata itu sangat lama. Hanya bisa menembak satu kali setiap 30 menit." ungkap Akemi.

Ternyata di balik kehebatannya, senjata itu punya kekurangan yang cukup fatal.

"Oke-oke, tidak perlu membahas itu lagi." bagi Kakashi itu sudah berlalu, tidak perlu terlalu dipikirkan lagi. "Homura-san, yang kami butuhkan bukanlah Timejump Device tapi kami membutuhkan dirimu. Aku akan sangat berterima kasih kalau kau masih mau bertarung bersama kami."

Akemi diam.

Diam pertanda setuju.

Sudah sampai sini, mana ada jalan mundur. Lagipula sejak awal Akemi sudah tahu konsekuensi jika dirinya terlibat dalam perang besar.

Kakashi beralih memandang Shikamaru. "Tuan pengatur strategi..."

"Aku tahu apa yang hendak kau katakan, Hokage-sama. Tapi saat ini, tenda divisi unit informasi komunikasi dan pengatur strategi sudah hancur karena pertarungan melawan Falbium."

Akibat hancurnya tenda tersebut beserta dengan seluruh peralatannya, maka mengatur pergerakan pasukan dari belakang sudah mustahil dilakukan. Sistem jaringan komunikasi pasukan Konoha dan sekutunya lumpuh total. Mengumpulkan informasi saja tidak bisa, apalagi memberikan instruksi kepada para pasukan.

"Jadi..."

Satu-satunya cara adalah...

"Kita semua akan terjung langsung ke arena perang."

"Ya." Dengan ringannya Kakashi menyetujui. "Karena kita tak memiliki pilihan lain lagi."

Dengan terjun ke medan perang, Shikamaru berniat melihat sendiri secara langsung bagaimana kondisi di sana tanpa mengandalkan sistem komunikasi yang Ino jalankan. Jika begitu, ia dapat menyusun rencana yang benar-benar sesuai untuk menghadapi realita di lapangan.

Ino menyambungi, "Kalau begitu, aku akan mengumumkannya segera."

Tanpa peralatannya, Ino tidak bisa menyampaikan informasi ke semua orang. Hidungnya bisa berdarah kalau nekat memaksa. Tapi kalau menyampaikan kepada kapten setiap divisi dan beberapa pemimpin lainnya, ia masih sanggup.

Perlu waktu 20 menit untuk menyelesaikannya.

Kini semua pasukan Konoha dan sekutunya sudah berada di Tanjung Harapan, siap bertempur sampai titik darah penghabisan. 12 ribu pasukan yang diistirahatkan di markas di dalam dimensi ruang buatan telah dipindahkan kesini untuk bertempur lagi tanpa menyisakan satu orang pun.

Oleh karena itulah...

Kakashi mengeluarkan perintah, "Sasuke! Georg! Gerbang teleportasi Gate of Sun sudah tidak diperlukan lagi. Kalian bisa membatalkan portalnya."

Rinnegan di mata kiri Sasuke berkedut, pusaran lubang hitam di tengah-tengah gerbang teleportasi yang mengecil. Bersamaan dengan itu, kabut putih pekat membumbung dari bawah hingga menyelimuti keseluruhan gerbang raksasa tersebut. Sacred Gear Longinus Dimension Lost bekerja secara masif.

Sesaat kemudian gerbang penghubung itupun hilang tanpa meninggalkan bekas.

Apa artinya itu?

Semua orang yang bertempur demi kebebasan dan kedaulatan sadar bahwa jalan pulang telah ditutup. Mereka akan bertempur dengan segenap kekuatan yang ada. Tidak ada pilihan untuk kalah apalagi menyerah. Pilihannya hanya ada dua yaitu...

Menang, atau mati dengan bangga.

Beberapa elit pasukan tampak berkumpul di tempat ini.

Selain Kakashi, Shikamaru, Ino, Chouji, dan Akemi Homura yang baru datang dari dimensi buatan, juga ada Gaara, Sasuke, dan Georg yang memang sudah lebih dulu bertempur. Sedangkan sisanya yang lain masih bertempur tanpa sedikitpun mengendurkan serangan.

"Hogake-sama, aku tidak memprotes keputusanmu."

"Lantas kenapa, Kazekage-sama?"

"Sebagai pemimpin tertinggi, sudah pasti anda mempertimbangkan sisa kekuatan pasukan kita yang akan bertempur habis-habisan sebentar lagi."

"Aku sadar, kekuatan kita jauh melemah."

Ino menyampaikan laporan paling teranyar yang terkumpul sebelum jaringan komunikasi lumpuh. Sisa pasukan tempur hanya berjumlah 31896 orang, terlampau jauh perbedaannya dengan musuh yang masih berjumlah 80 ribu lebih, belum dihitung dengan 1 juta malaikat kloning yang sampai sekarang belum tiba. Selain itu, tidak sedikit elit pasukan dan petarung terbaik yang telah tewas. Raden Mas Rajasawardhana titisan Maha Patih Batik Madrim kalah di awal peperangan. Dewa Langit Quetzalcoatl yang mulanya dikira kehabisan tenaga, ternyata menyimpan luka parah akibat pertarungannya melawan Seraph Uriel dan Baraqiel, yang membuatnya mati di tenda perawatan. Shinobu si Vampire Pemakan Keganjilan, lalu Dewa Raijin dan Fujin serta Dewi Benzaiten dari Takamagahara juga termasuk dalam daftar itu. Begitu pula dengan tiga anggota Hero Faction, Siegfried, Jeanne, dan Heracles. Lord Tepes dan Ratu Carmila dibunuh oleh Falbium. Mereka semua telah gugur bersama hapir 95 ribu prajurit lainnya.

Meskipun banyak yang telah gugur, tapi tidak sedikit prajurit terbaik yang masih sanggup bertempur hingga saat ini. Di antaranya ada Cao Cao, Seras Victoria, Sudjiwo, Shino, Kiba, Lee, Gai, Dewa Yatogami, Raja Tengu, Leonardo, dan nama-nama lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Ratu Youkai Yasaka, Dewi Amaterasu, dan Dewa Kinich Ahau juga. Sedangkan Tsunade dan Sakura sibuk di unit medis.

Kebanyakan dari mereka bertarung secara berpasang-pasangan, gunanya untuk saling membantu dan saling melindungi, sama halnya dengan yang dilakukan Dewa Kinich Ahau dan Dewi Amaterasu. Yatogami berpasangan dengan Kofuku, dewi kesialan itu tidak bisa dibiarkan bertarung sendirian karena kalau tidak ia bisa melukai diri sendiri dan membahayakan orang disekitarnya. Kiba dengan Shino, Lee dengan gurunya, serta banyak lagi duet tempur yang lainnya. Termasuk Sai yang kini bereinkarnasi sebagai malaikat.

Kakashi menuturkan kepada semua orang, "Untuk saat ini, peluang kita menang sangatlah kecil."

Perang masih berkecamuk hebat, dimana mereka hanya bisa bertahan. Pasukan Konoha berkumpul ke satu titik agar bisa bertempur habis-habisan dengan segenap kekuatan yang ada, tapi itu membuat mereka terkepung oleh pasukan musuh yang jumlahnya hampir tiga kali lipat lebih banyak.

"Walau sepertinya tidak mungkin, tapi aku masih berharap ada bantuan yang datang kepada kita." Kakashi tertunduk lesu.

"Tidak ada harapan yang tidak mungkin terwujud selama kau masih berharap, Sensei."

Suara itu...!

Sontak semua orang menatap ke satu titik. Di depan mereka semua...

Seorang pemuda dengan senyum lebar yang menjanjikan setumpuk harapan.

"Naruto...!"

Gaara tergugu, sedangkan Kakashi tidak bisa berkata apa-apa.

"Kau terlambat, Usuratonkachi!"

Sasuke sudah tahu kalau Naruto akan datang, Tsubaki yang mengiriminya pesan 1 jam yang lalu. Tapi ia tidak berniat menggagalkan kejutan Naruto untuk semua orang.

Mereka yang sudah lama kenal, tahu bahwa jika Naruto datang berarti arah masa depan telah berubah. Tidak perlu terkejut sampai berteriak-teriak untuk menyambut kedatangan sahabat mereka yang satu ini.

Naruto berbalik memunggungi semua elit Konoha, dia menatap lurus ke depan di mana pertempuran sedang bergelora hebat.

Shiiinngggg!

Chakra hebat berwarna jingga yang melimpah ruah membanjiri udara di sekitar tubuh Naruto. Dia membangkitkan Senjutsu Bijuu Mode. Kemudian menyilangkan kedua jari di depan wajah dan merapal jutsu.

Kagebunshin no Jutsu

BofffttBofffttBofffttBofffttBofffttBofffttBoffftt

"Yossh, minna! Menyebar ke semua titik pertempuran, bantu orang-orang mengalahkan pasukan Aliansi!"

"Orraaaaaaa!"

50 tubuh kloning Naruto dengan kekuatan biju langsung melesat pergi.

"Itulah dia!" Si pirang ponytail tidak bisa menahan rasa senangnya, "Meski bantuannya hanya satu orang, tapi kalau orang itu Naruto maka tidak bisa lagi dihitung satu orang."

"Ino, aku tidak datang sendirian kali ini. Aku membawa banyak teman baru."

"Huh? Maksudmu?"

Tak lama kemudian, yang lainnya datang menyusul. Hinata tiba-tiba saja sudah berdiri di samping kiri suaminya.

"Anata, kau selalu tidak sabaran kalau sudah berhadapan dengan pertarungan."

Naruto tertawa kecil.

Sahabat-sahabat dari Konoha dibuat terkejut oleh keberadaan Hinata. Sekali lihat saja akan langsung sadar bahwa ini adalah Hinata yang sangat berbeda dari yang mereka kenal. Sangat kuat dan tangguh, realistik, teguh pendirian, tenang tapi sangat berbahaya, bermental baja, sorot mata tajam yang memancarkan dalamnya kengerian tak berdasar, serta nampak sangat percaya diri. Dia menjadi sekharismatik sosok suaminya.

Lalu entitas yang hawa kekuatannya tak terukur dan tak terbayang akal, sesosok gadis kecil berambut hitam panjang yang melayang rendah di sisi kanan Naruto. Merasakan kekuatan gadis itu, Kakashi seperti sedang berhadapan langsung dengan Dewi Kelinci Kaguya Ootsutsuki pada perang dunia shinobi keempat.

Ophis bertanya, "Perlukah aku membagikan ular-ularku untuk memberi kekuatan pada semua pasukan ini?"

Selanjutnya, satu persatu sosok yang lainnya berdatangan.

"Aku tidak pernah mengira akan berperang melawan rasku sendiri." ucap Sona.

"Aku pun sama." sambung Rias.

Mereka berdua datang setelah melewati lingkaran sihir teleportasi bersama dengan semua peeragenya. Keputusan mereka sudah bulat, keadilan harus ditegakkan.

Vali juga datang menyusul bersama dengan semua anggota timnya. Ia menepuk pundak Issei, "Kupikir tugas pertama kita adalah menghabisi para peniru itu?"

Issei mengangguk setuju.

Ddraig dan Albion ikut bersuara

"Sekiryutei dan Hakuryuukou hanya ada sepasang"

"Tidak perlu ada Sekiryutei dan Hakuryuukou yang lainnya."

Mereka berdua masing-masing melafal mantra, kemudian ...

Empireo Juggernaut Overdrive!

Cardinal Crimson Fulldrive!

... melesat jauh ke angkasa.

Arthur memberi isyarat kepada Kiba, Xenovia, dan Irina. "Siapa yang punya urusan dengan pedang suci legendaris, ikuti aku!"

Keempat ksatria pedang itu pun langsung berangkat ke medan laga.

"Kalau begitu, aku yang akan mengurus para iblis pengguna evil piece bidak [Raja]." Diehauser Bellial menyeringai, dia memang dari dulu mempunyai urusan dengan evil piece itu, utamanya karena menjadi penyebab kematian adik sepupunya. "Aku sendirian saja cukup, tak usah dibantu."

Dengan begini, berarti pasukan elite Aliansi Tiga Fraksi yang belum tergoyahkan akan berbenturan dengan lawan yang seharusnya. Mereka semua adalah pemalsu dan peniru, wajar jika yang asli dan sejati tidak mau berdiam diri saja.

Ratu Naga Sisik Biru -Tiamat, "Aku akan selalu berada di sisi Hinata-sama."

Dia itu, apa tidak ada kata-kata lain?

Menyaksikan betapa besarnya bantuan yang Naruto datangkan, semua pikiran negatif tentang kalah dan mati sirna seketika.

Naruto menoleh sedikit ke belakang pada orang-orang yang masih tampak melongo dengan mulut menganga, Kakashi, Shikamaru, Ino, Chouji, Akemi Homura, Gaara, dan Georg, kecuali Sasuke yang selalu memasang wajah datar.

"Hei! Kalian mau terus bengong seperti orang bodoh begitu atau maju bertempur?"

"Ah" Kakashi paling pertama tersadar, "Kami tidak perlu menjawab pertanyaanmu, dasar anak kecil!"

"Kalau begitu, ayoooooo!" Naruto mengangkat tinjunya tinggi-tinggi ke udara. "Demi Konoha dan semua sekutunya, kita menangkan perang iniiii!"

.

.

.

To be Continued...

.

Note : Oke, penghujung cerita sudah benar-benar nampak. Semua pemain sudah memasuki satu panggung yang sama. Mereka berkumpul.

Ada empat fraksi yang bertahan sampai akhir. Aliansi Tiga Fraksi dengan kekuatan 750 ribu malaikat kloning yang sanggup mendatangkan kiamat dengan Tujuh Terompet Sangkakala, kemudian semua Naga Jahat Qlippoth (tanpa Rizevim) dengan Trihexa tiada banding (setelah menyerap Ophis Artifisial) sebagai ujung tombaknya, Sakra yang mengarahkan Sang Hyang Widhi dzat yang Mutlak, dan terakhir Konoha dan sekutu-sekutunya dibantu kelompok Naruto + Ophis akan bergabung dengan mereka. Tak lupa juga Great Red yang sedang bergerak ke sana.

Ahahahaaaa, kubu manakah yang akan bertahan sampai akhir?

Ayo pikir sebentar! Coba tebak, kubu mana yang paling kuat? Kalau aku sih, jujur lebih cenderung ke Aliansi Tiga Fraksi. Mereka punya Terompet Sangkakala. Kalian pasti tahu laah dari berbagai literatur di luar sana, bagaimana akibatnya kalau Sangkakala ditiup? Hihihiii

Ulasan Review:

Chapter ini belum ada kehancuran massal Aliansi Tiga Fraksi yaa. Ga bisa sekehendak hati mau begitu, mereka punya pasukan malaikat yang dapat dengan mudahnya mendatangkan kiamat hanya dengan meniup terompet. :v

Naruto ga idup lagi. Dia cuma pura-pura mati, entah bagaimanapun caranya. Hinata yang punya Byakugan aja sampai ketipu.

Tenang aja, aksi Tomoe yang punya 7 pedang hebat hadiah dari Naruto serta anggota kelompok Sitri lainnya yang belum banyak dimunculkan, akan dapat peran di chapter-chapter selanjutnya.

Ahahaaa, emang Ophis di duplikat kok. Ophis artifisial, tapi ga bisa dibuat sembarangan pakai teknik klon yaa. Dia diciptakan langsung oleh Cardinal System.

Ga seru klo Vali dan Issei mati. Kan mereka tokoh utama DxD, yang crossover ceritanya dengan Naruto.

Mengenai Ajuka yang mampu 'nebeng' pada Hinata. Itu mudah kok! Sederhana. True Tenseigan membuat tubuh Hinata menjadi makhluk empat dimensi, maka jika Ajuka membuat kontak langsung yang menghubungkan dia dengan Hinata sehingga seolah menjadi satu tubuh, otomatis Ajuka bisa ikut menjadi makhluk empat dimensi juga.

Momen NaruHinaSona manis katanya. Pffftt, padahal cuma mau nambahin sedikit bumbu doang. Wkwkwkwkwk :v

Tentang proses jatuhnya malaikat menjadi Fallen. Ya, sebenarnya tidak sesederhana hanya memiliki hati yang busuk saja. Tapi ada batas toleransi. Jika malaikat melakukan sesuatu yang jahat dan buruk melewati ambang batasnya maka dia akan jatuh, jika hanya terbersit sedikit saja belum jadi masalah. Di LN DxD sendiri ada diceritakan bahwa Irina Shidou yang udah direinkarnasi jadi malaikat saat sedang masa birahi, nafsu pada issei, hanya membuat sayap dan lingkaran di atas kepalanya kelap kelip kek lampu mau padam. Irina ga sampai jadi malaikat jatuh. Nah untuk Azazel disini, dia udah mau hitam tapi masih putih. Terus dia tambah ngintip Gabriel, jadilah hitam beneran. Jadi Fallen dia.

Mengenai Cardinal System, nanti di penghujung akan dibahas lebih dalam.

Tim Naru ga ada rencana tuh mau melepas Trihexa ke Underworld. Lah emang Trihexanya di bawa Naga Jahat ke sana. Padahal udah mau di selesain di Agreas semuanya.

Bapak Amarylis. Pertanyaanmu bikin bingung, kebanyakan sih. Haahaaa. Yang jelas Time Stone incaran Odin, Timejump Device milik Homura, dan mata ketiga Shiva yang bisa melihat masa depan, ketiganya punya sedikit kaitan dengan Cardinal System. Dan karena kau Lolicon, kau udah aku laporin ke polisi. Bentar lagi dicyduk tu.

Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

.

.

.