Oleh Yolanda, tentang ORANGE:

Chapter ini is so amazing and beautiful. Membuatku terharu dan terpesona bacanya. Hubungan naruhina sungguh luar biasa, walaupun mereka disini sdh berpisah, tetapi sikap saling memahami, menghargai dan menyayangi satu sama lainnya begitu terasa. Menurutku ini salah satu fict naruhina Indonesia yg sangat luar biasa yg pernah kubaca. Bagaimana cara Naruto dan Hinata dlm membangun pemikiran dan mengajarkan empati kpd murid2nya jg bikinku terpana. Anda sungguh penulis yg luar biasa, thor. Senang ternyata ada penulis naruhina yg seperti anda. Dan jg seperti mewakili pemikiran dan perasaan Hinata canon mengenai Naruto. Dan itu pula yg bikin aku cinta dgn pairing naruhina. It's truly amazing story, at least for me.


"... pesan terakhir dari saya adalah, saya, adik-adik kelas, guru-guru, semua staff sekolah, ini tidaklah berbeda dalam mencari sesuatu yang terbaik demi sekolah ini. Kita sama-sama mencari cara untuk menjadi yang terbaik, meski dengan cara kita masing-masing."

Pemuda yang berdiri di atas mimbar, menjeda dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling aula. Jubah hitam bercorak awan merah menutupi seragam asramanya. Selempang jabatan, ketua OSIS melintang dari bahu kanan ke sisi kiri badan.

"Mari kita bekerja sama dan bahu-membahu memajukan visi dan misi penerus bangsa, lebih baik dengan menjadi yang terbaik lagi, menciptakan generasi emas di tiap eranya."

Naruto menahan kuapan, suara datar Nagato semonoton bunyi tetes air di ruang setengah mengantuk dan terheran-heran, mengapa malah ketua OSIS yang memberikan sambutan dan bukannya rektor sekolah.

Mungkin memang upacara pembukaan semembosankan itu, makanya rektor dan para kepala sekolah lima Rumah Asrama tidak datang.

Dia linglung menyebar perhatian pada sekitar.

Aula sekolah ini semegah Opera Sydney House. Deretan kursi sofa merah beludru berundak meninggi, paling dekat ke panggung dan mimbar pidato. Di bawah panggung, ada jajaran kursi untuk kelas-kelas yang terbaik di semester kemarin tiap angkatan.

Para guru dan murid dipersalakan duduk di tempat masing-masing, sementara pintu megah Aula Utama terbuka. Orkestra di pojokan ruangan, gagah na megah memainkan simfoni yang di telinga Naruto terdengar seperti requiem, menyambut jajaran siswa-siswi berprestasi, kelas, dan guru teladan.

Selebihnya, acara penyerahan piala dari ketua OSIS berwajah muram itu, mirip bapak-bapak yang berpikiran besok anak-istri makan apa karena beras tinggal segelas. Dilanjutkan dengan ucapan para guru dan perwakilan murid teladan, dan ditutup dengan pidato dari ketua OSIS.

Alun-alun dirintiki alunan musik dari orkestra, mendayu-dayu seperti tiupan angin di padang tulip kuning. Konduktor, seorang siswa entah dari kelas mana, dengan bangga mengumumkan akan memainkan lagunya Antonio Vivaldi, The Four Seasons, "Le Quattro Stagioni".

"Concerto no.1 in E major, OP.8, RV 269, "La primavera"! Demi musim semi terkini dan generasi berprestasi!"

Iya, lagu itu terdengar seperti nama sarapan ala Eropa, membayangkannya sudah membuat perut Naruto mengerut. Tidak terlambat bangun, berhubung Killer Bee pagi-pagi sudah mendendangkan rap-enka dengan sialan, sambil joget swag patah-patah.

Namun menyiapkan kebutuhan kelasnya makan waktu, mana Kurama dan Gyuuki bukannya membantu, malah duduk-duduk seraya berkasak-kusuk. Jadilah Naruto datang terlambat, dan berlari ke sana ke mari sebelum sampai ke sini.

Kantuk menyurut tatkala tatapan tertumbuk pada jajaran raja dan ratu siswa yang diterima masuk oleh Hidden Schools. Prefek tiap Rumah Asrama. Naruto menyipitkan mata, mendapati seorang gadis memakai sepasang selempang, dan satu pemuda di sisinya.

Sarada dan Boruto. Oh, well, tidak mengherankan. Dari lencana ular yang mereka kenakan, tidak, mereka bukan di Slytherin. Pasti dari kelas Hebi. Sarada sepertinya tersadar ditatapi dari deretan bangku teratas, sejenak terkejut, kemudian mengangguk dengan kaku.

Naruto tersenyum dan balas mengangguk. Keningnya sedikit berkerut menyadari Boruto mengajak Sarada bicara, berbisik entah apa, Sarada mengerling ke arahnya, dan raut wajah Boruto berubah kusut lalu mendengus keras. Senyum Naruto menyusut.

"... dan saya mewakili Hidden Schools, serta kelima Rumah Asrama, mengucapkan selamat datang pada murid-murid dan para guru baru. Selamat bergabung dengan kami dan memajukan edukasi demi generasi gemilang berikutnya!"

Gemuruh tepuk tangan menggema di aula, mengiringi sang ketua, Nagato, mengangguk dan membungkuk hormat dari atas mimbar pada semua yang menghadiri upacara pembukaan. Gesturnya diikuti oleh kesepuluh anggota Dewan OSIS lainnya.

"Kami persilakan guru-guru untuk keluar lebih dulu dan menunggu di kantor," ucap Nagato seraya memandangi berbanjar-banjar kursi sofa tempat para edukator terbaik se-Jepang duduk. "Para Kakak pembimbing akan mengantarkan murid-murid ke kelas kalian. Lima belas menit lagi, kalian diperkenankan masuk ke kelas."

Naruto melonggarkan kerah seragam merahnya. Dari sekian banyak seragam yang bisa dipilihkan, kenapa mesti royal uniform yang jadi seragam guru Jepang, hah? Kelihatan seperti pangeran-pangeran maupun para putri di anime-manga saja, kalau bukan tidak mengusung kebudayaan sendiri.

Dipikir-pikir lagi, Naruto dengan geli melirik cermin besar yang dipakai untuk efek memperluas ruangan—koridor tepatnya. Saat Technical Meeting dua minggu lalu, guru dipersilakan memilih model seragam yang akan mereka kenakan.

"Oww! Pelan-pelan, dong!" gerutu Naruto ketika terdorong dari belakang.

"Minggir makanya!" desis seorang wanita dengan maxi sexy dress. Berjalan tergesa ke depan pada guru yang mengenakan selempang guru teladan. "Sasuke-sama!"

Mau sepuluh tahu lalu atau sekarang, tetap saja ada yang tidak berubah. Naruto menggembungkan pipi, menahan ledakan tawanya melihat teman lamanya itu dikerubuti guru-guru lain. Yeah, cuma usia saja yang lebih tua, hati para wanita itu tertinggal di masa kanak-kanak.

Sasuke mengenakan seragam royal uniform bangsawan Inggris. Lencana berderet di bahunya. Pangkat di bahu berhiaskan tiga bintang dan tiga garis, apa dia pikir dia panglima perang?

Naruto terdiam melihat para wanita dengan mudah menggandeng lengannya, tatkala ia berpaling ke samping, ada seseorang yang memandang Sasuke dengan patah dan retak. Ia memincingkan mata ketika wanita itu berpaling, membelalak tatkala bertatapan dengan sepasang mata hijau bening.

"Oiiii, Naruto!"

"Kiba!"

Naruto menepuk-nepuk pundak kawannya, tatkala Kiba merangkul dari belakang. Keduanya berjalan beriringan, berduyun-duyun tertib dengan para guru lainnya menuju ke kantor guru.

"Hai, Sakura-chan!" Naruto menyengir pada wanita dengan seragam formal, blazer dan sheath skirt hitam, serta kemeja putih, yang mengembangkan senyum saat melihatnya.

"Lama tidak berjumpa, ya. Terakhir saat mengajar di Kanagawa." Sakura memiringkan sedikit kepalanya. "Kau kemana saja, sih, setelah dipecat?"

"Astaga." Naruto pasang tampang akulah-hamba-paling-merana-sedunia. "Baru juga bertemu, kau sudah buka-buka luka lama."

Sakura memutar bola mata. "Yah ... habis kau itu kayak kucing yang ditaruh dalam kardus, dibuang entah kemana, kardusnya masih ada, tapi makhluknya sudah tak ada."

Naruto tertawa hampa. Perumpamaan Sakura meskipun kejam, benar-benar tepat. Menyengat sehingga kalau ia masih saja manusia yang dulu, pasti akan sesak napas hebat.

Naruto tidak serta-merta menjawab. Pandangannya merambat ke tangan di sisi badan Sakura, persis ke jari manis. Sorotnya meredup mendapati jari manis itu bersih dari lingkaran logam apa pun.

Bagaimanapun, mereka berteman karena hal yang sangat suram, sebagai sesama orang yang mesti dicampakkan hanya karena strata sosial. Mau dibilang dengan alasan apa pun juga, Sakura jauh lebih kuat menghadapi semua itu dibandingkan dengan dirinya.

"Ya, bedanya si kucing sudah besar dan tak lagi pulang ke kardus."

Pernyataan itu membuat baik Sakura maupun Kiba memusatkan perhatian pada Naruto.

"Kucing terbuang itu sudah dipungut, dirawat, dididik dengan baik, disayang oleh pemungutnya." Naruto terkekeh, di benaknya berkelibatan wajah beringasan Kurama, logat lawak Killer Bee yang tiada duanya, dan raut kalem Gyuuki, benar-benar menyalahi trope pemuda badboy tampan pemungut kucing di hari berhujan.

"Oh ..." sepasang mata hijau itu membola dengan pemahaman, "kucing itu sekarang punya rumah?"

"Begitulah." Naruto asal mengangkat bahu.

"Adakah yang menunggunya pulang?" Kiba menyeringai, taring tajamnya menyembul.

"Ada, kok." Naruto tergelak, menjitak Kiba yang dibalas dengan tempelengan di pelipis. "Cuma ya tidak seperti yang orang-orang pikirkan."

"Oh, syukurlah ..." Sakura menghela napas lega. Dia bergumam sesuatu tentang Hinata yang malang, hingga Naruto terpaksa mengalihkan pandangan, melambaikan tangan pada Lee yang dari kejauhan bersusah-payah memanggilnya, "... kuharap kau tidak melakukan hal bodoh lagi, mengerti?

Naruto memandangi Sakura yang tengah memiringkan kepala menatapnya. Matanya tak berkedip sesaat. "Sakura-chan, kok ... terasa beda dari yang dulu, ya."

"Aku tidak mau dengar itu, terutama darimu, tahu!" seru Sakura. Meninju punggung lengan Naruto, sampai yang bersangkutan mengaduh kesakitan dan mengelus-elusi lengannya.

Ingin rasanya ia membalas, dan mengapa mengatakan bahwa ia menginginkan sesuatu bisa disebut bodoh? Hanya keluarga, apa salahnya?

Seluruh guru digiring menyusuri koridor yang berbatasan dengan taman asri dan hutan artifisial. Naruto tak sempat memerhatikan, karena mereka telah sampai ke aula persimpangan. Usut punya usut, ia mendengar gumaman guru tentang Simpang Bundar Tersembunyi.

Ini dikarenakan tiap lorong dan koridor menuju ke area lain, titik sentral Hidden School adalah arbor cantik. Tampak seperti gazebo elit yang biasa dipakai bangsawan Barat pesta minum teh. Letaknya persis di tengah sekolah, dengan lorong menuju lima Rumah Asrama terletak di sana pula.

Seorang anggota osis, yang Naruto lihat mengenakan tag-name bertuliskan Konan, membimbing para guru menelusuri lorong lain, masuk ke area para guru berada. Konan mengantarkan mereka sampai ke sana, kemudian memberitahu sektor area guru bergantung pada Rumah Asrama.

Hidden Schools memiliki, Lima rumah Asrama—sub-sekolah. Konoha, Suna, Kumo, Iwa, dan Kiri. Guru dan murid diseleksi menuju lima rumah asrama mana berdasarkan kemampuan mereka beradaptasi dengan medan sekolah yang berbeda-beda.

Naruto sendiri tidak mengerti mengapa sekolah ini dibangun demikian. Yang jelas ia menyukai hutan dan perbukitan, area alam yang asri dan menyenangkan. Dia melangkah menuju mejanya, menyorot horror tumpukan berkas dan dokumen di meja para guru senior.

"Oh, Naruto. Kok, kau bisa masuk ke sini?"

"Sopan sekali pertanyaanmu, Shikamaru." Sebelah tulang pipi meninggi dengan aneh. Garis-garis seperti cakaran di pipinya terlihat menajam karena terpercik cahaya dari jendela kantor guru yang terbuka.

"Naruto lebih pantas jadi murid daripada guru di Hidden Schools," cetus Ino, berblazer dan rok span putih ketat melingkupi tubuhnya.

Cetusan Ino membuahkan tawa dari para guru senior, apalagi mereka yang pernah bekerja dengannya dulu kala, di sebuah sekolah swasta. Naruto tidak heran mengapa mereka bisa berakhir lagi di tempat yang sama.

Hidden Schools adalah proyek pemerintah sejak dua puluh tahun lalu. Dulu sekolah ini bukanlah apa-apa, sampai akhirnya diumumkan resmi lima tahun kemudian, bahwa ini adalah sekolah negeri yang digunakan untuk bereksperimentasi.

Soal eksperimentasi macam apa, dibebaskan pada para guru. Eksperimentasi di sini maksudnya adalah metode ajar yang berbeda-beda dari guru, untuk mendulang hasil paling maksimal dari murid-murid.

Guru-guru yang diterima adalah semua guru terbaik dari seluruh penjuru negeri, ataupun yang direkomendasikan oleh pihak sekolah.

Setelah prestasi mencengangkan karena menjadi sekolah dengan siswa-siswi dan staff pengajar terbaik selama sepuluh tahun berturut-turut, maka semua orang yang berhasil masuk, mau itu bekerja ataupun menimba ilmu, akan menaikkan strata sosial mereka di mata publik nasional.

Naruto melengkungkan mulut. Memerhatikan kantor guru yang berantakan dengan segala dokumen, bekas, gawai, dan tumpukan rapor. Penampilan mentereng seragam formal para guru yang ala bangsawan, tumpukan seragam dan atribut kelas masing-masing (tiap semester berganti, maka berganti pula seragam tiap kelas).

Begitu mendongak, ada papan bertanda khas tiap lima Rumah Asrama.

Konoha School memiliki simbol daun yang terlihat unik, kalau tidak terlalu kejam dibilang aneh. Para guru senior menempati meja kerja di sisi kiri ruangan, sementara guru-guru baru di sisi kanan ruangan; keduanya saling berhadapan.

Sepasang mata biru mencerah tatkala mendapati namanya terukir di plakat tembaga. Naruto Uzumaki. Dia bergegas masuk ke sana, mengecek barang-barang yang tadi diantarkan portir—iya, sekolah ini punya staff sampai sebegitunya—dan ternyata benar telah ditaruh di kaki meja.

"Naruto, semesta pasti mempermainkanmu. Coba lihat itu!"

Naruto mendongak ketika mendengar suara cemas Sakura, menatap lurus ke arah yang ditunjuk sang wanita. Bibirnya terbuka. Mata membulat tak percaya. Napasnya terempas entah kemana, airmukaya keruh membaca nama yang tertera di plakat di atas meja guru di seberang meja kerjanya.

Sayup-sayup pekikan, riuh-rendah orang-orang saling berbisik. Naruto melongok ke bawah meja. Ah, ada sembilan petak keramik. Memisahkannya dari seorang wanita paling cantik.

Well, setidaknya sekarang ruang dan waktu, takkan lagi memisahkan mereka.

"Kami serahkan piala Rumah Asrama, Kelas Terbaik, Siswa-Siswi teladan, pada Guru Teladan, Uchiha Sasuke-Sensei."

Suara itu asing sekaligus tidak, diiringi gemuruh tepuk tangan orang-orang. Naruto mengerling, melihat replika tak terlalu mirip dirinya lagi tengah menyerahkan senampan piala. Bersamaan dengan helaan berat, ia duduk di meja, membungkuk untuk menghitung jumlah seragam yang telah ia persiapkan untuk kelasnya.

Oke, lengkap sudah untuk sepuluh anak-anak lucu, sepuluh untuk remaja tanggung, dan sepuluh untuk remaja dewasa. Naruto mengecek kelengkapan atribut lainnya yang akan dipakai oleh murid-murid, menyayangkan telinganya tajam mendengarkan gemerincing lencana penghargaan sekolah di seragam sang siswa teladan.

"Terima kasih telah mengajarkan kami," vokal feminin Sarada terdengar tegas dan apresiatif.

Boruto berseru lebih lantang, "Kami sangat berterima kasih telah diajarkan oleh Anda. Bila bukan karena Anda, maka kami tidak akan lulus dari kelas Chuunin hingga masuk ke kelas Jounin. Jika bukan karena Anda, entah kami akan jadi manusia macam apa, Sasuke-Sensei."

"Hn."

Naruto mengambil pisau lipat dari dalam saku seragam gurunya, kemudian mengiris lakban yang merekatkan tutup kardus. Cengiran meriakkan airmukanya. Dia menjejalkan lipatan seragam baru para murid ke dalam kardus, lalu menutupnya lagi.

Naruto membuka ranselnya, mengeluarkan map Hidden Schools dan peta Rumah Asrama. Konoha. Dia mesti menuju ke kelasnya sendiri, dan kalau bisa, sebelum anak-anaknya sampai ke kelas.

Harusnya ia bisa saja minta tolong portir atau kurir untuk membawakan barangnya, tapi Naruto lebih memilih mengangkat semua barang itu sendiri. Ingin bertegur sapa dengan kawan lama, tapi kalau mengingat lagi, bukan itu tujuannya untuk bisa masuk ke mari.

"Iya, sih. Ayahmu saja hebat. Ibumu juga. Tampan dan cantik, pintar, karir keduanya amat gemilang. Pantas saja Boruto-kun jadi Raja tahun ini yang naik tingkat dari Chuunin ke Jounin."

"Selamat, Boruto-kun. Kau memang anak yang jenius!"

"Hinata-san, kau mumpuni sekali jadi ibu yang baik."

"Sasuke-kun, bagi tips mengajarmu, dong! Bagaimana caranya supaya semua anak yang kuajar juga menjadi jenius?"

Naruto sejenak menghentikan langkah. Dia tertegun mendapati Sarada mengepalkan tangan, kemudian terurai perlahan begitu saja. Berpamitan dengan suara pelan, berbalik dengan kepala tertunduk. Tatanan rambut yang rapi oleh jepit, kini bahkan untaian poni menutupi mata di balik lensa.

Sarada melangkah meninggalkan mereka yang ada di balik punggungnya.

Satu dua orang mulai menatapnya. Berkasak-kusuk. Terucap nama Hinata dan Boruto, hingga Naruto menambatkan tatapan pada Sakura yang mencegat Sarada lalu merengkuhnya. Dia geleng-geleng kepala.

Dasar Sakura-chan. Kalau dia pasang senyum sesakit gigi itu, mana bisa Sarada merasa lebih bahagia dengan prestasi yang diraihnya?

Naruto terdiam. Memerhatikan Sakura menepuk-nepuk punggung lengan Sarada. Mengerling ke belakang, ia mendapati Hinata tengah merangkul Boruto dan mengecup kedua belah pipi putranya.

Apa semua ibu seperti itu?

Entahlah, bukan Naruto yang diberi karunia untuk tahu hal itu.

"Tou-chan?"

Rasanya seperti desir angin musim semi. Naruto menoleh, dan mungkin memang benar adanya, kala ia bertatapan dengan seorang anak perempuan yang telah berubah menjadi gadis.

Seketika wajah Naruto mencerah. Anak gadis semata wayang yang selalu terbayang, di setiap ia mengajari para siswi. Ia merasakan kedutan yang memanaskan pelupuk mata, dan serangan flu yang tiba-tiba, memampat napasnya. Mempertahankan kejernihan pandangan untuk membalas tatapan tak percaya siswi di hadapannya.

Naruto menggelengkan kepala sedikit. Sesuatu entah apa mencengkeram diafragmanya yang mengerat, melihat gadis kecil (selamanya, tetap anak tersayangnya) itu malah berlari ke arahnya dengan lengan terentang.

"Tou-chan!"

Ia melepaskan satu lengan dari memegangi kardus untuk merengkuh putrinya. Mendekapnya dengan erat. Menggigit bibir keras, berusaha menerbitkan senyuman, dan memejam mata rapat-rapat. Merasa pilek tiba-tiba bukan karena sakit, saat sang putri melepaskan pelukan untuk menatapnya lekat-lekat dengan mata berkaca-kaca.

"Himawari tambah cantik, ya." Naruto mengelus rambut putrinya yang sekarang telah sepanjang bahu. Berusaha mengenyahkan ingatan—hitungan, akan seberapa banyak momen seorang anak bertumbuh-kembang apa saja yang terpaksa ia lewatkan.

"Tou-chan tambah tua, ya?" Himawari punya senyuman matahari yang menghangatkan, paling tidak, hati sang ayah.

"Wah, kamu, nih ... baru bertemu lagi sudah bilang begitu." Naruto mengacak gemas rambut Himawari yang telah teruntai sepundak. Berpura-pura tampak terluka dan tabah. "Untung Tou-chan sayang padamu, ya."

"Bohong, kok." Himawari nyengir, mungkin sepolos thumbelina yang menyembul dari kuncup mawar dalam buku cerita.

Naruto mengangguk-angguk bangga. "Nah, kan. Tidak heran kalau Tou-chan bertambah tampan."

Himawari dengan geli mengedipkan sebelah mata. "Bagian bohongnya, pas aku bilang "bohong"."

Sepasang ayah-putri itu bertukar kikikan pelan. Naruto membalas pelukan erat Himawari yang tersenyum berseri-seri. Pelukan baru ia lepaskan begitu merasakan tatapan orang-orang mulai menempel pada mereka.

"Aku ingin masuk kelas Tou-chan," gumam Himawari, menyadari perubahan ekspresi ayahnya.

"Tou-chan yang sedih nanti kalau kamu masuk kelas Kyuubi." Naruto terkekeh mendapati putrinya menggembungkan pipi, menepuk-nepuk pipi Himawari dengan lembut. "Memang kamu di kelas mana?"

Himawari mengalungkan kedua lengan ke lengan ayahnya, seakan bila ia tidak merantainya sekarang juga, suatu saat ayahnya pasti akan pergi lagi. "Kelasnya Sakura-Sensei."

"Oh, justru bagus, dong." Naruto memunggungi sang wanita yang tadi berdiri di sisi Sasuke, dan di hadapan Boruto. Agaknya tak jauh dari mereka.

Pergunjingan menguar seberdengung lebah pekerja menyesap madu di muka bunga. Ada langkah di belakangnya. Naruto memejamkan mata ketika mendengar suara tak suka persis dari balik punggungnya.

"Himawari, ke sini! Apa yang kaulakukan sih di jam sekolah, di hari pembuka pula?"

Himawari berjengit sedikit. Melonggarkan gandengan lengannya dari lengan sang ayah, lalu mengintip. Menyipit sengit pada sepasang mata membeliak tajam milik kakaknya.

"Tou-chan duluan masuk kelas, ya." Naruto melepaskan pelukannya, menepuk pelan kepala dengan helaian rambut Himawari—yang mengingatkannya pada rambut lain seorang wanita. Cantik sekali berbaring di sisinya tiap malam.

Sayang, wanita itu bukan siapa-siapanya lagi.

"Janji akan bertemu denganku lagi?" Himawari sempat-sempatnya menjulurkan lidah pada sang kakak yang membelalak makin galak, barulah menoleh lagi pada ayahnya seperti putri kecil minta dibelikan mainan. "Tou-chan, nanti kita bicara lagi, ya?"

Naruto membuka mulut, ia hendak menolak. Menerima hanya akan memperburuk suasana. Namun Himawari meremas tangannya lebih keras dengan mata meredup.

"Ya, Tou-chan?"

"Himawari, cepat ke sini!" desis Boruto di belakang mulai mengheningkan kantor guru.

Himawari menggumam Boruto Nii-chan control freak yang sedikit membuat Naruto berjengit, dia menyergah, "Kalau orang ada perlu sama orang lain, justru orang yang butuh itu menghampiri. Logikanya jangan terbalik, malah orang yang butuh menyuruh-nyuruh orang yang dibutuhkannya untuk datang."

Naruto menoleh, takjub memandangi putri kecil yang telah bertransformasi jadi seberani ini. Dia tak menyesal kehilangan anak perempuan menggemaskan dulu, jika rupa kupu-kupu remajanya adalah calon wanita setanguh ibunya.

Derap langkah terdengar dari belakang. Naruto kaget tatkala ada tangan menyambar lengan Himawari, menarik si remaja muda untuk jauh-jauh darinya.

"Apa-apaan sih kau, Boruto?!" justru Sarada yang berseru tak percaya. "Bagaimanapun, Uzumaki-Sensei itu ayahmu. Apa salahnya Himawari-chan rindu padanya?!"

Naruto menoleh tepat ketika ia melihat Himawari dengan tegas menyentak lengannya dari tarikan Boruto. Wajah datar tembok Sasuke yang melegenda dari zaman batu kerikil sampai zaman batu akik, raut terperangah setengah marah Boruto, wajah memerah menahan amarah Himawari, dan roman sendu Hinata yang menatapi mereka semua.

"Ayahku cuma satu," tandas Boruto, lengannya ganas menebas udara kosong. "Camkan itu baik-baik! Ayah yang tidak pernah pergi dan tidak sibuk sendiri; ayahmu juga. Seorang guru teladan se-Jepang, dan dia lebih pantas dapat pelukan Himawari. Lebih baik kaupikirkan ujian peringkat kelas kita habis ini, Sarada!"

"Boruto Nii-chan dan aku tidak akan ada kalau Tou-chan tidak bersama dengan Kaa-chan. Camkan itu baik-baik!"

Bukan hanya Naruto, semua orang mungkin juga tercengang dengan betapa lancang Himawari memutar balik kata-kata kakaknya. Bahkan kalau melihat ekspresi syok sang kakak, Boruto juga terguncang karena telah tiba hari di mana Himawari mencuri titel anak penuh kejutan nomor satu.

"Hoi ..." Seorang guru senior bermasker yang mungkin sehidup-semati, menurunkan buku bersensor mencurigakan dari wajahnya. "Aku senang menonton tayangan keluarga cemara, bukan drama rumah tangga. Ini sekolah, bukan tempat shooting drama."

Tidak ada yang berani bergerak, berhubung satu dari jajaran para guru elit telah angkat bicara.

Naruto melirik pada Sakura yang ada tak jauh dari sana. Wanita itu mengedikkan kepala ke arah pintu keluar, ia mengangguk kecil. Menoleh pada guru yang tadi berbicara dan mengangguk kikuk padanya.

"Maaf, Kakashi-Sensei."

"Kenapa meminta maaf padahal ini bukan salahmu, ha?" Kakashi mengangkat satu alisnya yang terlihat tinggi-tinggi.

Naruto tidak menanggapinya lagi. ia menolehkan senyuman pada putri kecilnya. "Sampai nanti, Himawari."

Mata si putri kecil berkaca-kaca ketika mulut ayahnya membentuk tanpa suara Tou-chan-sa-yaaaang-se-kali-pa-da-mu dengan cengiran dan sorot mata begitu hangat. Himawari tergugu mendapati Naruto tidak berkata apa-apa lagi dan beranjak pergi.

Naruto melenggang duluan, mengucapkan maaf dan mengangguk berulang kali. Bilang permisi karena ia membawa barang yang banyak, ingin langsung masuk ke kelas. Kiba dengan brutal berseru apakah dirinya baik-baik saja, yang mana ia nyengir seraya mengacungkan ibu jari.

Dia tak menoleh lagi, dan beruntunglah tak melakukannya.

Coba saja iya, niscaya Naruto akan dicambuk mimpi buruk tatkala melihat Sasuke menyambar lengan Hinata di depan semua orang, lalu melumat bibirnya dengan posesif.


"Selamat datang di kelas KYUU-BIIII!"

Konohamaru dan dua puluh sembilan siswa lainnya tergugu di depan pintu. Mereka sudah resah sepanjang perjalanan menuju kelas. Dengar-dengar mereka dapat guru yang paling bodoh dan mantan suami Hyuuga Hinata-Sensei, notabene sekarang istrinya guru nomor satu, Uchiha Sasuke-Sensei.

Mereka gelisah dengan sistem mayoritas elitis sekolah ini. Dari tadi melintasi kelas, tapi tak satu pun kelas elit dengan berbagai perlengkapan piranti teknologi, ada label nama kelas mereka.

Semua siswa yang masuk Hidden Schools, dikenakan pungutan biaya yang luar biasa, apabila keluarganya termasuk golongan dengan kondisi finansial yang mampu untuk membayar. Hidden Schools menetapkan sistem subsidi sulang untuk membantu murid yang tak mampu.

Mana kelas mereka letaknya agak terpelosok. Di sudut taman dekat hutan bambu dan gemercik air terjun artifisial, kelas mereka dipisahkan oleh tiga sekat pintu geser berbeda, serta tiga setting berbeda yang mencerminkan tingkatan kelas.

Berdasarkan desas-desus, calon guru mereka adalah salah satu guru terbodoh zaman dulu. Tentu, tidak seperti kelas lainnya, takkan ada penyambutan dengan kelas mewah dan segala fasilitasnya.

Berhubung murid kelas yang dijadikan objek eksperimen adalah golongan bodoh, cacat fisik, dan keterbelakangan mental, seketika terbayang betapa mengerikan kelas mereka nantinya.

Alih-alih banner bergambar rubah lucu ekor sembilan, gambar dedaunan, tulisan "selamat datang" dalam pelbagai bahasa, kue serta lilinnya, bahkan topi ulang tahun yang norak, tergantung menutupi kedua papan tulis.

"Ayo, kalian masuk!" seru Naruto, mengibas-kibaskan banner-nya kelewat bersemangat.

Anak-anak itu dengan canggung dan kikuk melangkah masuk. Terheran-heran memandangi interior kelas. Satu kelas telah dikosongkan, semua bangku kanak-kanak dirapatkan ke dinding, hanya ada karpet bulu lembut dan berbagai panganan serta minuman.

Naruto menghentikan mereka. Tanpa kata-kata, meminta tiap anak yang akan melewati pintu, menaruh sepatu mereka dengan rapi di rak sepatu yang telah disiapkan.

Guru mereka itu telah melepaskan seragam royal Perancis-nya, tersampir di kursi guru. Hanya mengenakan kemeja dengan lengan panjang digulung sesiku, kancing terbuka dua, bahkan kemeja keluar dari celana.

Anak-anak diminta untuk duduk melingkar di atas karpet. Naruto memastikan mereka sudah duduk rapi dan nyaman, barulah ia sendiri duduk di atas keset.

"Jangan pikirkan." Naruto mengibas-ibaskan tangan. Dia memandang mereka dengan senyum lebar terkembang. "Aku tidak tahu kalian sukanya apa, tapi ... ayo dimakan!"

Para murid kelas Kyuubi itu, terutama yang normal, saling pandang tak percaya. Bukannya dijejali dengan ujian, mereka dihadapkan pada makanan dan minuman. Berbagai camilan kanak-kanak. Kue-kue yang cantik. Nasi kepal. Teh hijau, jus-jus buah segar. Semangkuk permen dan coklat. Sepiring chicken nugget dengan mayonaise dan sausnya.

Mendapati muridnya tidak ada yang berani bergerak, Naruto lebih dulu mengambil bungkusan potato chip. Membukanya, lalu mengambil botol jus melon dan menuangkan ke cangkir plastik.

"Kalau kalian mau es krim, nanti siang saat pulang, Sensei akan belikan, ya." Naruto dengan enteng menyuap makanannya. "Apalagi kalau kalian mau ramen! Oh, Sensei suka sekali ramen miso soalnya."

"Sensei ... aku mau itu."

"Ageha-chan, ya?" Naruto membaca name-tag yang tersemat di dada kiri gadis berambut coklat berantakan, dan mata biru besar.

Iamenarik mendekat sepiring chicken nugget pada Ageha, mengelus pelan kepala anak itu yang kurang paham sopan santun—dan jalan nalarnya tersendat-sendat pula—membantu sang anak untuk makan.

Melihat gelagat itu, satu per satu anak mulai mengambil makanan dan menuangkan minuman untuk mereka sendiri. Butuh waktu hingga mereka menanggalkan urat malu dan menikmati hidangan.

Naruto dengan sigap menggendong searang anak ABK yang tampak tanda-tanda akan mengompol, gerak cepat berlari-lari ke kamar mandi di depan ruang kelas mereka, sambil berseru histeris, sementara si bocah mengikik mendengarnya.

Ditinggalkan sementara waktu, para murid yang tersisa memandangi seantero kelas. Kelas untuk Genin, Chuunin, dan Jounin. Ruang kelas mereka tak terbilang luas. Ada satu cermin. Lemari-lemari buku. Meja dan bangku. Peralatan tulis. Globe. Meja guru.

Namun yang unik, adalah di kelas Genin. Ada satu pojokan berisi lemari dengan laci-laci warna bubbles—soft pink, light blue, yellowish green. Beberapa murid normal sampai melotot, takut mata mereka salah melihat ada minyak penghangat dan bedak bayi di sana.

Tak lama, guru mereka kembali. Dengan ringan meminta si anak pegangan ke bahunya, lalu ia memakaikan celana. Bercanda jenaka dengan bocah kecil, yang kalau nyengir terlihat deretan mungil gigi kelincinya.

Naruto mendudukkan lagi anak itu persis di sisinya, sementara ia sendiri duduk lagi di keset. Memastikan ia bersitatap dengan tiga puluh pasang mata lainnya, barulah mengambil papan tulis kecil dan menunjukkan namanya.

Ada beberapa tulisan berbeda. Dalam tulisan kanji, hiragana, katakana, dan romaji. Semuanya memuat satu nama: Naruto Uzumaki, wali kelas Kyuubi.

"Salam kenal, Anak-anakku." Naruto melebarkan senyuman, jemari mengetuki huruf kanji namanya di papan tulis mungil. "Panggil aku Naruto-Sensei. Usiaku tiga puluh lima nanti pas tanggal sepuluh Oktober. Suka sekali miso ramen apalagi dengan topping fillet daging! Hal yang paling tidak kusuka, lima menit menunggu ramen dalam cup matang. Aku juga suka menyiram tanaman, apalagi bunga-bunga.

"Setahun ke depan, kita akan bersama-sama. Aku tidak bisa menjanjikan hasil belajar yang instan untuk kalian, tapi aku harap, kalian jadi orang yang lebih baik dan tidak menyakiti orang lain."

Meski ia tidak meminta, mata Naruto menyipit dalam senyuman melihat murid-muridnya refleks bertepuk tangan. Padahal tidak diapresiasi juga tidak masalah. Naruto menarik kardus yang kini hanya tersisa tumpukan seragam.

"Aku mendapatkan data kalian dari staff saat Technical Meeting. Nah, kalau kupanggil namamu, datang pada Sensei, ya."

Naruto terkekeh mendengarkan riuh-rendah gumaman, antusias dengan seragam macam apa yang akan mereka terima. Dia menarik sebuah seragam di tumpukan teratas dan membaca namanya.

"Konohamaru Sarutobi?"

Seorang pemuda dari kelas jounin mengacungkan tangan. "Saya, Sensei!"

Naruto menyerahkan setumpuk seragam padanya, sedikit menelengkan kepala. "Kamu ... apa bagian dari keluarganya Kakek Hiruzen Sarutobi?"

Konohamaru menggaruk tengkuknya. Perlahan-lahan cuping telinganya memerah. "Beliau memang kakek saya."

"Oooh. Apa kabar beliau?" Mata Naruto membulat. Konohamaru memincingkan mata, tak mengerti mengapa mata sang guru tampak berkaca-kaca. "Titip salam untuknya, ya. Tolong bilang, Naruto Uzumaki sudah pulang ke Jepang dan sangat berterima kasih padanya."

Konohamaru mengangguk, ia agak waswas, sedikit banyak akhirnya menyadari kenapa ia ditempatkan di kelas guru baru ini. "Sensei kenal kakek saya?"

"Uhm! Seperti kakekku sendiri, walau kalau sudah pakai tongkat untuk memukulku, bikin aku merasa penuaan itu hanya mitos kalau sudah melihatnya." Naruto nyengir mendengar Konohamaru berseru menyetujuinya dan mulai menggerutu tentang sang kakek, lantas ia mengangkat setumpuk seragam lain. "Udon?"

Naruto menyerahkan seragam pada anak-anak satu per satu. Seorang bocah berseru bolehkah ia buka dan coba sekarang juga, yang mana Naruto membolehkannya. Sang guru menegur siswa yang mengowar-kewer rok temannya, mengibar-ibarkannya untuk ia yang pakai.

"Itu ada satu setel seragam untuk acara formal, iya yang itu." Naruto menunjuk sebuah blazer setengah jubah hitam berkerah tegak, dengan vest sama, dasi lurus belang merah magenta dan hitam untuk anak lelaki, pita merah rubi untuk anak perempuan.

Naruto menunjukkan seragam simple model hitam-putih dengan lengan pendek dan berbahan nyaman untuk musim panas.

Musim gugur bermodel lengan panjang, dilengkapi vest merah magenta.

Musim dingin seragam lengan panjang, rok agak panjang sebawah lutut, kemeja lengan panjang, kaus kaki wol, sarung tangan, syal, topi wol, dan mantel berkerah tinggi.

Kaus kelas adalah nama sekolah, simbol Rumah Asrama (untuk Konoha, gambar daun dengan pusara di tengahnya), dan logo kelas (Kyuubi; rubah ekor sembilan). Warnanya hitam dengan tulisan merah mencolok. Dilengkapi dengan baseball cap warna beraksen serupa, dan baseball jersey putih-merah, lengkap dengan nomor absen serta nama tiap anak.

Semua atribut mreka tertera logo chibi rubah ekor sembilan.

"Nah, untuk pin," Naruto mengangkat sebuah pin Kyuubi mungil, menyematkannya di atas kantung kemeja, ataupun di sisi tag-name, "itu harus selalu dipakai tiap hari, ya."

"Sensei, kenapa mesti rubah ekor sembilan?" Ami merengut, menunjuk gambar chibi si rubah yang menyeringai menggemaskan di sisi kiri baseball cap mereka.

Naruto tersedak tawanya sendiri. Sudah memprediksi ini akan terjadi. Tidak mungkin dia bilang bahwa ia kalah taruhan dari Kurama dan jadi disuruh memakai Kyuubi sebagai logo, 'kan?

Ia berpikir sejenak. Paling tidak, ia telah berusaha untuk tidak membuat warna khas seragam kelasnya itu jadi terkesan semacam gangster. Bahkan ia berusaha membuat Kyuubi tampak lucu untuk anak-anak yang masih kecil.

"Umm ..." Naruto memutar otak, mengingat balik sejarah yang telah ia pelajari dan akhirnya nyengir kecil, "kalian tahu tidak, bahwa di zaman Jepang kuno, rubah dan manusia saling hidup berdekatan sehingga banyak cerita legenda persahabatan antara manusia dengan Kitsune di Jepang?"

Satu per satu muridnya mulai menggeleng, beberapa bahkan hanya melongo, atau pasang tampang bingung.

"Dalam kepercayaan Shinto, Kitsune disebut Inari. Penyampai wahyu dari Tuhan. Semakin banyak ekor yang dimiliki rubah, maka semakin tua, bijak, dan kuat pula Kitsune itu.

"Kenapa simbol kelas kita Kyuubi?" tatapan Naruto meneduh menatapi anak-anaknya. "Karena rubah itu dulunya hewan bersahabat dengan manusia, yang bahkan beda spesies darinya. Aku berharap dan akan membantu kalian belajar, untuk berteman tanpa membeda-bedakan dengan cara yang merendahkan."

Udon mengerutkan kening dalam-dalam. "Apa maksud Sensei dengan berteman dengan cara yang merendahkan?"

"Misalkan, kalian hanya mau berteman dengan anak yang kaya-raya, anak pejabat, yang tampan seperti pangeran ataupun primadona. Secara otomatis, kalian tidak mau bertemu dengan anak miskin, bodoh, yatim-piatu, memiliki kekurangan fisik maupun mental, ataupun anak narapidana. Tidak baik membeda-bedakan pertemanan ataupun memandang orang, hanya dengan cara serendah itu."

Naruto menghela napas sedikit berat.

"Hiii ... tapi kan anak narapidana berbahaya!" desis Ami, seorang bocah dengan rambut ungu pendek dan wajah sengak.

Naruto seketika menoleh pada anak itu. "Ami-chan, yang barusan kaulakukan itu namanya labelling."

"La-labelling?" Ami menautkan alisnya tinggi-tinggi.

"Uhm." Naruto menganggukkan kepala. "Padahal yang narapidana adalah orang tuanya, tapi anaknya ikut dilabeli demikian. Sama saja kayak begini, orang tuanya adalah pemerkosa, padahal anak itu orang yang baik-baik, tapi orang langsung menganggapnya: "Oh, pantas saja dia kayak begitu. Lah, orang tuanya saja pemerkosa." ... ini sama sekali tidak baik, dan mempersempit pandanganmu terhadap kebaikan seseorang."

Ami bersungut-sungut, wajahnya semakin cemberut.

"Tapi dari kata-kata Sensei juga, berarti bisa saja kita tidak salah dalam membedakan pertemanan, 'kan?" Moegi memiringkan kepala.

Mengetahui kebingungan anak-anak yang lain, bahkan beberapa mulai menguap tidak peduli, Naruto membiarkan mereka. Dia menatapi Moegi. "Benar. Pertemanan juga ada batasnya untuk dibedakan. Sebaiknya, kalian tidak berteman dengan orang-orang yang membenarkan sesuatu yang salah."

"Orang-orang yang membenarkan sesuatu yang salah? Maksudnya bagaimana, sih?" seorang gadis ber-tag-name Yakumo memangku dagu di kedua lutut yang ia peluk.

"Orang-orang yang berpikir bahwa menghina orang, rasis, memerkosa, membuli, bercanda keterlaluan, bahkan membunuh itu, sah-sah saja. Sebaiknya, jangan berteman dan menjadi orang yang seperti itu." Naruto mengelus puncak kepala Ageha yang cuek-cuek saja mengunyah nasih kepal.

"Kenapa tidak? Kata Sensei jangan labelling, berarti kalau teman kita begitu, belum tentu kita juga bakal begitu, 'kan?" ucap Ami dengan nada meledek seraya memeletkan lidah.

Naruto memincingkan matanya. "Itu benar, tapi bukan berarti kalau terus-terusan berteman, maka takkan terpengaruh pikiran mereka. Kalau kita bisa memberikan pengaruh baik dan mengubah pandangan mereka, justru bagus. Kalau tidak, malah kita yang terjerumus."

Mereka teralihkan saat seorang anak mengangkat tangan. Naruto membaca ukiran kanji dan romaji Shinki Sabaku, seketika senyumnya terbit.

"Iya, Shinki?"

Putra angkat dari Gaara itu menumpuk dengan rapi seragam pemberian gurunya. "Seragam olahraganya mana, Sensei?"

"Oh! Aku lupa bilang, seragam olahraga kalian bebas." Naruto tertawa ringan. "Kalian boleh pakai kaus kelas, celananya bebas—aku sarankan berwarna hitam saja dan celana training.

"Omong-omong, seragam kalian juga dipakai hanya saat hari Senin—apel pagi, hari-hari upacara dan perayaan, serta boleh saat berangkat ataupun pulang sekolah. Selebihnya, kalau kalian mau ganti baju dan pakai pakaian nyaman di kelas, silakan saja."

Beberapa anak bersorak bergembira. Memang kebanyakan kelas elit, mengharuskan siswanya pakai seragam dengan atribut lengkap demi keseragaman. Namun, bukan hal aneh di Hidden Schools mendapati guru membebaskan seragam siswa, bahkan mendukung murid untuk lebih fashionable.

Naruto merasakan tarikan di lengan. Seorang anak perempuan berambut coklat cappuccino, dengan model dan tatanan serupa Ino, menarik ujung bajunya.

"Iya, Azami-chan?"

"Baju renang kita kok tidak ada, Sensei?"

"Oh, ya ..." Naruto sedikit menengadah, menghindari beberapa pasang mata yang menyorot penasaran padanya, "kalian bebas pakai baju berenang apa pun yang kalian mau."

"Sensei ... kalau aku pakai seragam tiap hari saja boleh?" seorang remaja lelaki dengan rambut pendek dan mata sipit, menundukkan kepala ketika bertanya.

Naruto menatapinya agak lama. Dia memerhatikan anak bernama Daichi itu dengan saksama. "Kau takut kalau pakaianmu akan jadi ledekan kelas lain, kalau tidak bagus atau tidak bergaya, ya?"

Sesaat hening merayapi kelas. Daichi lamat-lamat mengangguk dengan bibir tertekuk kuyu ke bawah. Tak ada antusiasme sama sekali dari raut wajahnya. Seolah dia telah berpasrah, dan untuk hidup saja telah menyerah.

"Tapi benar juga." Yakumo menggigit kuku, berwajah resah. "Kalau pakai baju terlalu tertutup, dibilang mau jadi biarawati. Kalau pakai baju terbuka dan terlalu berani, dibilang jalang—bahkan dibilang mengundang orang untuk memerkosanya."

Naruto beringsut sedikit, mengulurkan tangan untuk mengelus puncak kepala Daichi, seraya menatapi Yakumo. "Sayang, ya ... kita hidup di zaman, di mana orang menilai orang lain sebatas pakaian yang ia kenakan."

Beberapa anak tersentak mendengar hal itu. Puluhan pasang bola mata membelalak mendengarnya. Naruto meraih tangan Yakumo, menariknya turun agar berhenti menggigiti kuku.

"Yakumo-chan, kalau soal itu, studi membuktikan, mau si perempuan pakai baju jubah juga, kalau memang dari sananya lelaki yang tidak bisa tahan nafsu, tetap saja akan memperkosa."

Yakumo merengut sebal. "Tapi, Sensei, kan tetap saja, pakaian perempuan yang fashionable dan berani itu dibilang memprovokasi!"

"Karena kamu mendengarkan orang yang beralasan merasa terprovokasi, padahal aslinya saja mereka tidak bisa menahan diri," sergah Naruto tenang. "Tidak cukup guru-guru serta orang tua mengajari anak perempuan untuk menjaga diri mereka, yang tidak hanya sebatas pakaian.

"Kini saatnya kami mengajari anak-anak lelaki untuk menjaga diri dari nafsu, dan tidak menyalahkan nafsu, libido, faktor hormonal, atau apa pun itu yang bisa bikin mereka gelap mata."

Yakumo menatapnya tak percaya. Bahkan menyangsikan kemampuan Naruto untuk merealisasikan perkataannya. Naruto meraih bahu Daichi agar remaja itu mendongak padanya.

"Makanya, Sensei bilang, seragam dipakai saat berangkat atau pulang sekolah saja di hari biasa."

Naruto menepuk-nepuk pundak Daichi, menatap dalam pada sang anak yang terperangah. Berikutnya dia menoleh Yakumo, roman wajahnya begitu serius, hingga membuat beberapa anak menelan ludah.

"Di dalam kelas ini, Sensei tidak akan membiarkan siapa pun memandang orang, apalagi temannya sendiri, cuma serendah berdasarkan pakaian yang dia pakai. Oke?"

Meski terlihat belum sepenuhnya mengerti maksud Naruto, perlahan-lahan Daichi meringis dan terbit cengiran. Anggukan lamban, dan Naruto mengacak rambutnya dengan ringan.

"Sensei sarankan, sih, sebaiknya pakai pakaian nyaman untuk belajar. Soalnya, kalian akan banyak aktivitas di luar kelas."

"Kita akan sering jalan-jalan?" seru Chiyo, yang Naruto tahu dari aksesori mahal di rambutnya saja mungkin seorang tuan putri tapi entah terlalu bebal atau dianggap bodoh, makanya dicemplungkan ke kelas ini.

"Iya! Soalnya," Naruto mengedipkan sebelah mata, "bosan kalau cuma belajar dalam kelas, 'kan?"

"Ti-ti-tidak, kok." Seorang bocah bertubuh gempal dan pipi tembam menggelengkan kepala keras-keras.

Naruto hanya menyengir, kemudian menepuk-nepuk pipi bulat si bocah gempal bertanda nama Faz itu. "Tenang saja, aktivitas di luar kelas tidak akan bikin kamu terlalu capek, kok."

Moegi memanyunkan mulut. "Kita bukannya harus lebih banyak belajar daripada main-main di luar, Sensei?"

"Ungh ... tapi yang kulihat dari papan pengumuman, kelas Kyuubi ini untuk Anak-anak Idiot dan ABK," ringis Konohamaru, mengangukkan kepala menyetujui perkataan Moegi, "kalau keseringan di luar, nanti kita malah jadi ... yeah, bahan hinaan."

Naruto mengangguk-angguk maklum, menyuapi Ageha yang memangapkan mulutnya menanti potongan chicken-nugget. "Itu kalau kamu memedulikan hinaan mereka. Yah, susah memang untuk tidak peduli kalau memang orang sudah mengerti tidak enaknya rasa bersalah dan dihina."

Yakumo memangku dagu dengan siku. "Terus mesti bagaimana, Sensei?"

Naruto mendaratkan tepukan ringan di bahu Yakumo. "Kalau murni hinaan, jangan pedulikan. Yang paling tahu kamu, ya kamu sendiri. Kecuali kalau hinaan itu benar, itu berarti kamu perlu mengoreksi diri."

"Tapi benar kata Moegi, 'kan? Kita memang perlu banyak-banyak belajar." Udon memiringkan kepala saat menyesap jus melonnya.

"Kami sudah terima kurikulum, standar kompetensi, serta jadwal belajar harian dari Sensei. Sedikit sekali pelajaran kita tiap minggu dan hari." Shinki mengacungkan lembaran kertas yang diserahkan bersama seragam. "Jujur saja, kita bakal tertinggal sangat jauh dari kelas yang lain."

Naruto sedikit memincingkan mata. Sesungguhnya heran mengapa anak seorang Gaara Sabaku, bisa-bisanya terdampar di kelas ini. "Apa salahnya?"

Shinki meletakkan lembaran kertas, rahangnya mengeras. "Anda diterima jadi guru di sekolah ini untuk mendidik kami jadi lebih baik. Ekspektasi sekolah adalah untuk Anda mendidik kami jadi siswa-siswi terbaik. Bagaimana cara Anda melakukannya kalau banyak jadwal berleha-leha?!"

Tidak sedikit murid yang mulai menelan ludah, karena Shinki menghunjamkan tatapan tajam, dan merinding ketika seringai terkembang. "Atau Anda sama seperti kebanyakan guru lainnya, memang ada di sini hanya untuk coba-coba saja?"

Naruto bersiul kecil. Nah, ini baru namanya anak sang Sabaku. Mungkin dia didepak dari kelas lain, atau bisa sampai terciduk masuk sekolah ini, lantaran dulunya dia berpendirian batu dan tidak bisa tergugah sama sekali.

"Kalau mereka saja bisa, kenapa kami tidak melakukan hal yang sama dengan mereka?" Shinki terduduk tegak, dagu terdengak memandangi sang guru. "Anda meremehkan kami sama seperti yang lain?"

Naruto terkekeh. "Setiap orang itu tidak sama, Mitsuki. DNA tiap manusia saja beda. Rambut saja warnanya beda-beda, apalagi hati dan kemampuan daya nalar orang."

"Oh, jadi maksud Sensei kami benar-benar anak-anak bodoh yang bolot memahami pelajaran, 'kan?" sambar Ami ganas.

"Nah, jangan seenaknya main loncat ke kesimpulan begitu." Naruto menepuk kepala Chiyo yang tersenyum malu, berterima kasih telah dituangkan teh oleh putri kecil itu. "Maksud Sensei, daya serap—atau sederhananya, kecepatan belajar tiap orang itu berbeda-beda. Kenapa kalian mesti aku buru-buru bisa melakukan sesuatu dan belajar sebanyak-banyaknya, kalau kalian sendiri belum mengerti kenapa kalian mesti belajar?"

"Uuuh ... jadi maksud Sensei, kami tidak perlu belajar dengan kecepatan dan banyak materi seperti anak-anak kelas elit?" Moegi mulai menjambak kunciran rambutnya, pusing memahami hal ini.

Furin di bibir atas kusen jendela berdenting manis saat dibelai angin. Bunyi klinting lembutnya menyerap riuh-rendah sekolah berubah senyap. Sehelai kelopak dari sakura yang telah mati, terjatuh di kaki pintu. Wanginya seperti sesuatu yang telah mati dan hidup kembali.

Anak-anak ditelan kesunyian yang meremangkan bulu kuduk. Guru mereka duduk membelakangi jendela, raut wajahnya menggelap, sehingga mata birunya berpijar, menatap mereka dengan sorot teduh.

"Less is more, Kids."


ORANGE

.

Chapter 2: New Teacher

.

(memories of past days gone by, for the promises of tomorrow may bring)


Rumah asrama terinspirasi dari the House System, sistem tradisional sekolah publik yang berasal dari Inggris. Sekolah dibagi dalam sub-unit berbeda dinamakan "rumah asrama", dan setiap siswa diseleksi untuk masuk ke masing-masing Rumah Asrama.

Singkatnya, seperti sistem Hogwards. Ada empat Houses berbeda, Slytherin, Ravenclaw, Gryfindoor, dan Hufflepuff. Begitu pula Hidden Schools, punya lima houses berbeda, yaitu Konoha, Kumo, Suna, Kiri, dan Iwa. Di Hidden Schools, tiap Houses, punya kelas masing-masing. (Seperti yang telah diulas di atas, di Konoha ada kelas Kyuubi dan Hebi, sebagai contohnya)

Requiem adalah relikui, simfoni/misa untuk mengiringi upacara pemakaman.

Semua karakter yang disebutkan (sebagai murid kelas Naruto), semuanya ada baik di anime, manga, maupun karakter di filler anime Naruto—ataupun Boruto the Next Generation.

Bila ada banyak hal belum dimengerti dalam fanfiksi ini, tolong bersabar, ya. Akan dikupas satu per satu seiring cerita berjalan. Silakan nikmati pelan-pelan.

Terima kasih pada Ren Azure Lucifer D Kanedy dan Arfandy yang telah RnR fanfiksi ini.