Oleh Keith Farron Lucifer, tentang ORANGE:

Jujur saja, ketika saya membacanya, di awal terkesan biasa & tidak menarik, tapi, jika diresapi dengan jeli, maka akan disadari kalau banyak misteri chapter awal. Dan jujur saja, saya benar benar terkejut bahkan menangis tersedu sedu membaca tiap chapter ini.

Ah, dan isi dari fic ini benar benar edukatif, cocok bagi literasi calon orang tua.

Saya hanya mau berkata, tetaplah semangat berkarya demi nusa dan bangsa, penulis seperti anda adalah salah satu yang membuat NKRI bangga & dikenal di mata dunia.

Playlist:

Sabar – Afgan

Pergi Untuk Kembali – Ello

Aku Pasti Kembali – Pasto

Salah Tingkah – Ran

Kini – Rossa

Terlalu Cinta – Rossa

Mantan Terindah – Kahitna

Soulmate – Kahitna

Cinta Sudah Lewat – Kahitna

Malaikat Juga Tahu - Dee Lestari (versi cover Glenn Fredly)

Takkan Terganti – Marcell

I Swear This Time I mean it – Mayday Parade

A Thousand Years – Christina Perri

Remembering Sunday – All Time Low

A Lonely September – Plain White T's

One Last Time – Ariana Grande

Kiss You – One Direction

Miss You – 4tunes

Everytime We Touch – Cascada

Privacy – Chris Brown

One More Time – Britney Spears

All of Me – John Legend

Finnese – Bruno Mars

Paper Hearts – Tori Kelly

Infinity – One Direction

Jar of Hearts – (rekomendasi : versi cover Rachel Glee)

Only Hope – Mandy Moore

Welcome to My Life – Simple Plan

Lonely – 2NE1

Mirotic – DBSK

Back – Infinite

Fine – Taeyeon

BGM (instrumental):

A Rainy Morning – O.S.T Kotonoha no Niwa

Pandora Heart Expanded – Yuki Kajiura (O.S.T Pandora Hearts)

Restrain – Yuki Kajiura (O.S.T Pandora Hearts)

In the Dark – Yuki Kajiura (O.S.T Pandora Hearts)

Fall – O.S.T Umineko no Naku Koro ni

Love Sorrow – Fritz Kreisler (rekomendasi cover versi O.S.T Shigatsu wa Kimi no Uso)

Watashi no Uso – O.S.T Shigatsuwa Kimi no Uso


Mungkin kenangan itu bentuknya seperti daun gugur, jatuh ke tanah dan tinggal tunggu tersapu angin. Bisa jadi, warnanya serupa dengan itu pula atau kertas yang lama dimakan usia, menguning ataupun coklat tua.

Yang membedakan segala sesuatu yang terjadi dengan kenangan, ialah itu baru disebut kenangan bila tak terlupakan.

Dalam konteks tak terlupakan untuk bilik-bilik memori Naruto Uzumaki, yang saat ini sedang tergugu di depan pintu, ialah pemandangan yang familiar dari waktu ke waktu.

Walaupun telah berganti latar dan tempat, tetap saja rasanya tidak pernah kenangan itu terendam dalam pulasan pastel. Seperti seorang wanita duduk sambil terkantuk-kantuk, yang meja kerja mereka terpisah sembilan petak keramik, ada sebatang pena di antara jemari lentiknya, secangkir teh yang mengepul asap tipis di sisinya, dan akhirnya kepalanya jatuh terantuk ke jurnal yang terbuka.

Naruto kehilangan hitungan waktu atas seberapa lama ia terpaku, sampai rasanya ada denting yang menyela hening, kesadarannya kembali melihat sang wanita terkulai hingga tertelungkup di atas meja.

Bagaimanapun, dulu sepuluh tahun lalu, ia pernah ada di posisi yang sama. Lucu sekali bagaimana semesta mempermainkannya, seolah mereka loncat ke masa depan, hanya untuk duduk berhadapan lagi berdua dan segala hal dari masa lalu tersebar di sekitar mereka.

Naruto nyalang memandang ke segala arah. Baru pukul 07.00 pagi. Mayoritas kelas memulai kegiatan belajar-mengajar bergantung pada kemauan wali kelas, dan seperti mayoritas sekolah di Jepang, kebanyakan kelas mulai di atas jam sembilan. Tidak heran lingkungan Hidden Schools saja masih berkawan dengan embun untuk siapa pun yang datang terlalu pagi.

Naruto melangkah perlahan agar tak mengusik seseorang yang jatuh tertidur. Menaruh ransel dan kardus berisi properti ajarnya di kaki meja. Mata senantiasa mengamati wanita yang lelap sekali, rambutnya terhambur di atas jurnal yang tengah ia periksa. Merambat pada plakat tembaga keemasan berukiran: Hinata Uchiha.

Ia mengendap-endap, memastikan langkahnya bertalian dengan senyap, memastikan Hinata tetap terlelap. Menuju pantry yang ada di ujung ruangan area kantor para guru Konoha, menyeduh kopi untuk dirinya sendiri, kemudian kembali ke meja kerja untuk menaruhnya dekat buku absensi.

Sejenak ia terdiam, kemudian menyandarkan bagian belakang badan ke tepi meja kerja sendiri. Tangannya menggapai secangkir kopi yang barusan ia seduh. Menghirup aroma khas mencandu, yang berbaur dengan harum lugu embun dan wangi seorang wanita yang ia tahu pasti mandi di pagi hari.

Naruto mengamati wajah yang biasanya bisa ia kecupi hanya dalam mimpi. Menguji perasaan sendiri, dan mendapati ternyata butuh sembilan tahun untuk mematikan sensasi sesak napas kala melihat Hinata tanpa memikirkan hal-hal lain.

Yang tertinggal untuk ia pikirkan, selain oh, rambut Hinata sekarang panjangnya hanya sebahu, ialah sudahkah Hinata membuatkan sarapan untuk putra-putri mereka. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, mungkin juga tidak perlu.

Mereka berdua sudah besar dan diajari agar mandiri, pula mengingat betapa sayang keduanya pada Hinata, pasti tidak akan merepotkan ibunda mereka hanya untuk sekadar memasakkan sarapan.

Ia menyesap kopi sedikit, mengkhidmati dengkur lembut yang lebih sayup dari tekukur merpati di pagi hari. Meletakkan cangkirnya lagi ke atas meja dengan bunyi seminimalis mungkin.

Langkah lamban Naruto begitu mudah melampaui sembilan petak keramik. Kali ia telinganya awas mendengarkan suara sesayup apa pun itu, terlebih jam dinding selalu bernyanyi dalam melodi detik.

Jemarinya terulur, amat perlahan merapikan helaian rambut indigo yang terurai lembut menirai wajah Hinata. Seketika sorot tatapnya melunak mendapati seraut wajah sembap yang selalu terbayang, seperti kenangan yang warnanya bukan pastel, sephia, atau serupa guguran dedaunan.

Selalu rambut sewarna malam yang masih muda, pipi putih yang dihuni rona pagi angkasa, bibir semerah muda mawar mekar, kulit yang mengingatkannya pada betapa lembut dan empuk tofu, wangi yang hanya Hinata punya.

"Hai," bisik Naruto. Tatapannya melembut. Punggung ibujari menggaris pelan tulang pipi Hinata tanpa kentara, "kamu yang selalu dimiliki Tuhan."

Tepi ibujari berhenti di kantung mata menghitam. Dahi Naruto bergurat dalam. Mau itu sepuluh tahun lalu ataupun hari ini, masih saja ada. Seperti noda yang tak pernah hilang, lebih mengganggu daripada kemerut penuaan ataupun bengkak di bibirnya.

Jejari Naruto menyelipkan untaian anak rambut itu ke belakang telinga Hinata. Kekehnya disesap keheningan, menyadari Hinata pulas seperti bayi. Pijar matanya meredup, lengkung mulut menurun, mendapati raut wajah Hinata begitu keruh.

jemarinya merayap menelusuri struktur wajah Hinata, berlabuh pada dahinya. Mengusap dalam senyap guratan dalam yang tertera di sana, menghapuskan jejak pemikiran dan kegetiran yang mungkin terlalu lama bersangkar di airmuka Hinata.

"Ngh ..."

"Ssh," Naruto bergumam pelan menenangkan Hinata yang melenguh pelan dalam tidurnya, dengan cara yang ingat, sebagaimana Hinata dulu bersenandung untuk putra-putri mereka.

Semua itu perlahan lenyap, baru ketika jari-jari Naruto menyisiri rambut Hinata, mengelus ubun-ubunnya. Roman wajah Hinata berubah, sehingga bibir Naruto meliuk menyenangkan, sampai ia tidak menyadari lesatan bayangan yang sempat membeku di muka pintu.

Langkah kaki tak jauh di luar kantor membuyarkan kenangan, yang berguguran dalam benaknya serupa reras dedaunan ke kaki pohon. Memudarkan warna pemandangan serupa yang terlupa, Hinata yang tak pernah tak berwajah lelah sejak tak lagi bersamanya.

Embusan napas berat, belaian sekali lagi di pipi Hinata, lantas Naruto beranjak untuk duduk lagi di meja kerjanya. Kursi roda bergeser pelan. Mencecap kopi yang menebarkan kepahitan; pahit yang tak terasa, manakala matanya senantiasa mengamati Hinata yang tak kunjung membuka mata.

Senyum getir Naruto tersembunyi di balik cangkir kopi.


"Cie. Itu mantan istri Sensei lewat, lo!"

"Teman-teman, MANTAN ISTRI NARUTO-SENSEI DATANG KE MARI!"

"Aduh, mantan istri Naruto-Sensei yang sekarang jadi istrinya Uchiha-Sensei!"

"NARUTO-SENSEI GAGAL MOVE ON! Ulululu~"

"Anak-anakku yang sangaaaat pintar, pakai baju dulu!"

Dua bulan kemudian, pemandangan anak-anak kelas Kyuubi yang lucu sudah akrab di mata dan jadi pergunjingan umat manusia.

Hinata yang tengah lewat dengan murid-murid tingkat Chuunin-nya, menangkup mulut dengan tumpukan dokumen yang sedang didekap olehnya. Menahan tawa melihat kericuhan yang terjadi.

Di tepi hutan dan sungai yang dibendung kanan-kiri dan dijadikan kolam renang alam, sebuah kelas Genin yang tengah berlangsung, anak-anak berlarian binal tanpa pakaian. Benar-benar telanjang bulat dikejar-kejar oleh gurunya yang ikut tertawa menangkapi mereka satu per satu.

"Mereka terlihat bodoh."

"Hah, namanya juga anak-anak kelas Idiot."

"Mereka tolol sekali, kenapa juga malah telanjang begitu? Apa mereka sudah tak lagi punya malu?"

Deham Hinata membuyarkan riuh-rendah barisan siswanya yang baru selesai jam pelajaran IPA, tingkat Chuunin. Dia membuka telapak tangannya, ke arah sang guru kelas khusus yang tengah memangku seorang anak yang bersin keras-keras.

"Coba kalian perhatikan baik-baik." Hinata menegaskan nada suaranya, memandang lembut pada sebuah kelas.

Naruto tertawa setengah memprotes, karena dipeperi ingus Ami yang mengusel wajah ke dadanya. Sang murid mendongak dengan ingus terjuntai mengayun-ayun, yang ia lap pakai tangan, kemudian Naruto mengelapkan hidungnya ke kepala anak itu.

"Eiiiish, Naruto-Sensei, jorok, tahu!" rajuk Ami, manyun dengan alis bertautan dan ceruk mata berkeriutan.

"Jorok?" Naruto menatap dengan cengiran lebar pada anak yang duduk di pangkuannya.

Bocah itu menyentrup ingusnya barulah berseru, "Sangaaaat menjijikkan!"

"Kalau sudah tahu itu menjijikkan, kenapa memepernya pada Sensei, hm?" Naruto memakai handuk di tangan untuk mengelap rambut basah sang anak. "Argh! Kok, Sensei dicubit?"

Ami mengaduh keras-keras. "Aawh! Kok malah bisa-bisanya ada Sensei mencubit balik? INI KDRT!"

Naruto mengakak keras. "KDRT itu singkatan dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Nak. Kamu itu muridku, bukan istriku."

"Oke, ini KDK, Kekerasan Dalam Kelas! Sensei bisa dituntut oleh orang tuaku, tahu!" bocah itu masih mengeyel dari Naruto yang tengah menghandukinya.

"Laporkan saja Sensei ke Komnas Anak sekalian. Tidak apa-apa, kok, Sensei dikeluarkan," sergah Naruto seraya menghanduki badan anak itu dengan kalem. "Asal kau bisa menjawab pertanyaan Sensei."

"Oke, apa?" tantang Ami. Memberi kode pada anak-anak telanjang lainnya untuk keluar dari kolam atau berhenti berlarian agar menggerumuli guru mereka.

Naruto menatap muridnya sesaat. "Dipeperi ingus, bagaimana rasanya?"

"Jijik, tahu!" si murid memberengut sebal.

Naruto mengangguk manut. "Bagaimana rasanya dicubit?"

"Ya, sakit, lah!" dengus Ami.

"Kau tidak mau dipeperi ingus," Naruto mengelap ingus anak itu dengan handuk seraya menggestur—oke, buang ingusmu ke sini, Anak Manis, "tapi kau memeperkannya pada Sensei duluan. Kau tidak mau dicubit, tapi kau mencubit Sensei lebih dulu."

Ami dan yang lainnya mulai terdiam, lantaran guru mereka yang biasa urakan dan cowboy-style itu wajahnya mulai berubah serius. Guru mereka membenarkan posisi memangku Ami sambil menyisiri rambut pendek sebahunya.

"Pertanyaan Sensei, kenapa kau melakukan semua itu, kalau kau tidak mau menerima hal yang sama dilakukan padamu?" tanya Naruto pelan-pelan, agar anak-anak kecil yang mendengarkan juga dapat menyimaknya.

Sejenak Ami membuka mulut, beberapa lama bibir terbuka tapi tak ada suara, terkatup lagi lebih lama karena memiringkan kepala untuk berpikir keras menjawab pertanyaan sederhana itu.

"Naruto-Sensei ... marah padaku, ya?" akhirnya Ami bertanya dengan mata berkaca-kaca. "Aku kan cuma bercanda."

Naruto menatap Ami dalam-dalam, mengelus-elus punggung mungil sang anak sambil mendengus geli. "Sensei juga cuma bercanda."

"Bercanda apanya, itu juga banyak ingus jijik dan cubitan Sensei tuh sakit sekali! Lihat, tanganku merah jadinya, nih!" protes sang bocah sambil menunjukkan punggung tangannya.

"Coba lihat baju dan lengan Sensei." Naruto mengangkat kaus basah yang ia kenakan, ada cap noda lendir hijau kenyal di sana dan menunjukkan pada anak-anaknya, kemudian memapar kulit lengan tan yang memerah. "Apa kau yakin kalau kau cuma bercanda dengan Sensei, hm?"

Naruto meraih sebuah tumpukan baju, kemudian mulai memakaikan baju pada sang anak. Sedikit menerawang tatkala bahunya dipegang dan jadi tumpuan sang anak, sementara ia tak pernah benar-benar melakukan ini pada anak sendiri.

Bukan karena tak mau, tentunya.

"Dipeperi ingus itu kaurasa menjijikkan, dicubit itu rasanya menyakitkan, kamu bilang bahwa kau cuma bercanda, ketika dilakukan hal yang sama padamu, kau tidak merasa senang juga." Naruto mengangkat jari dan menghitungnya satu demi satu. "Nah, kamu pikir bercandamu lucu dan menyenangkan?"

"Tuh, kan ... Sensei marah padaku." Ingus mengalir lebih banyak, kali ini berikut buliran bening dari matanya, kemudian sedu-sedan pelan.

Naruto menyeka semua itu dan melihat anak-anaknya bergeming, diam karena bingung masih mencerna situasi yang terjadi "Apa justru kamu yang marah pada Sensei, karena kau tidak mengerti yang sebenarnya barusan kaulakukan?"

Ami mengerjap-kerjapkan mata. Dia membiarkan Naruto memakaikan kausnya lagi, kemudian menyandarkan kepala ke bahu sang guru dan tersedu.

"Kalau kau sudah bisa menjawab pertanyaan Sensei, baru laporkan Sensei ke Komnas Anak dan kepala sekolah supaya Sensei dikeluarkan, ya."

Naruto mengecup pipi tembam anak itu yang masih tersedu-sedu, menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan. Dia tersentak ketika beberapa anak malah ikut tersedu.

"J-j-ja-jang-jangan-aannh ..." Faz bersikeras berkata, menarik-narik lengan Naruto yang langsung terbuka untuk merangkulnya pula.

"Kamu, sih, nakal!" hardik Azami yang tersengguk-sengguk memeluk Naruto." Jangan minta Sensei dikeluarkan! Nanti kita tidak bisa main dengan Naruto-Sensei lagi. Ukh."

"Anak Manis, temanmu tidak nakal," Naruto memakai tangan yang setengah memeluk Ami yang protes dipeperi ingus, untuk mengelus kepala Azami yang dikepang dua dan manis, "dia belum mengerti dengan yang ia sendiri lakukan. Sensei senang bermain dan belajar dengan kalia, kok. Apa kau juga mau dibilang anak nakal oleh temanmu, hm?"

"... tidak, Sensei. Aku bukan anak nakal." Gadis kecil itu menggelengkan kepala lamat-lamat, matanya juga mulai berkaca-kaca.

Naruto melepaskan si bocah jagoan, kemudian ganti menghanduki Azami seraya belai lembut puncak kepalanya. "Minta maaflah pada temanmu, karena belum tentu dia benar-benar nakal seperti yang kaukatakan padanya."

"Tapi dia buang ingus, mencubit, bahkan mau membuat Naruto-Sensei meninggalkan kami," isak Azami.

"Well, Sensei tidak marah, dan Sensei baru akan pergi kalau temanmu ini sudah bisa jawab pertanyaan Sensei, kok," tanggap Naruto riang. Mengambil tumpukan pakaian sang anak perempuan, dan bantu memakaikan, menahan getir dalam diri mempertanyakan apa kabar putri kecilnya dulu.

"Kau tidak mau dianggap dan dibilang orang lain Anak Nakal?" tanya Naruto seraya merendahkan kepala, agar pandangannya sejajar dengan anak perempuan yang tersedan.

"I-iya, Sensei."

"Terus kenapa kamu mengatakan hal itu pada orang lain, tanpa mencoba merasakan perasaannya?" Naruto mengucapkannya lagi-lagi dengan lamat-lamat, menginginkan anak-anak yang menyimak untuk ikut berpikir. "Apa kamu sendiri yakin kamu anak yang baik jadi bisa begitu saja bilang orang lain itu Anak Nakal?"

Anak perempuan itu juga berakhir tidak bisa menjawab. Dia hanya merintihkan, aku bukan anak nakal berulang kali.

"Sensei! Aku mau tanya!"

Naruto melepaskan sang anak perempuan untuk duduk di sisi kanannya, menatap pada sang penanya. "Silakan, Inari."

"Kalau aku siap menerima dipeperi ingus, dicubit, diejek sebagai anak nakal, apa berarti aku boleh memeperkan ingus, mencubit, dan juga mengejek orang lain anak nakal?" tanya Inari, raut wajahnya sepolos bayi baru lahir, tapi ada rasa ingin tahu di matanya yang memuaskan Naruto.

"Coba pikirkan. Kau memeper ingus, mencubit, mengatakan orang lain nakal, dan kau siap menerimanya. Sebaliknya, memang orang yang dipeperi ingus, dicubit, dan dibilang anak nakal, bakal terima diperlakukan hal yang sama?"

"Ngh ... bisa jadi?" gumam Inari ragu. "Kan dia tinggal melakukan hal yang sama balik, toh, aku juga siap menerimanya."

"Oke, terus kalau kau dipeperi ingus, dicubit, dan dibilang anak nakal balik olehnya, apa yang akan kaulakukan?" tanya Naruto seraya meraih sang anak untuk dihanduki pula olehnya.

"Tentu saja balas melakukan hal yang sama!" seru Inari dengan sorot mata berapi-api.

Naruto sedikit beringsut meraih setelan pakaian Inari agar ia bisa memakaikannya pada anak itu. "Nah, kalau orang yang kaupeperi ingus, kaucubit, kaubilang dia anak nakal, tidak terima perlakuanmu. Menurutmu, apa yang akan dia lakukan?"

"... ngh, membalasku?"

"Lalu kau?"

"Balas dia balik!"

"Nah, kalau kalian saling membalas balik, kapan selesainya?"

"Begitu aku membalas dengan lebih keras dan dia tidak kuat lagi membalas," ujar Inari lagi.

"Coba kaupikirkan, kalau kau yang di posisi kena balasan begitu keras sampai tidak kuat untuk membalas, apa yang kaurasakan dan akan lakukan?" Naruto meraih minyak penghangat wangi, membalurkannya ke punggung dan perut sang anak.

"Antara aku akan merasa sedih ... atau kesal sekali. Dan merencanakan pembalasan berikutnya!" timpal Inari.

Naruto manggut-manggut. "Nah itu dia. Terus kapan selesainya, Nak?"

"Begitu dia mengaku kalah dariku!" kata Inari, memejamkan mata saat Naruto menghangatkan wajahnya dengan baby facial-lotion.

"Kalau dia tidak melakukannya dan malah melakukan hal yang sama denganmu?" Naruto dengan sabar mengulang lagi pertanyaannya.

Inari termenung sebentar, barulah berujar, "Sampai ada dari kami yang akhirnya menyerah."

"Menurutmu, kenapa bisa dia akan menyerah?"

"Eung ... karena mungkin, sudah capek, sedih, dan kesal dipeperi ingus, dicubit, dan dikatai anak nakal, soalnya."

"Oke, terus kalau misalkan kau yang sudah merasa capek dengan semua itu, suatu hari kau dihadapkan lagi oleh anak yang pernah terus-menerus memeperimu ingus, mencubitmu, dan berkali-kali bilang kau itu anak nakal, bagaimana kira-kira perasaanmu dan sikapmu saat menghadapinya?"

"... membayangkan akan melihatnya saja sudah membuatku ingin melakukan semua itu lagi padanya."

"Kau akan melakukannya dan membalas anak itu lagi?"

"Mungkin saja!"

"Nah, sekali lagi, terus kapan akan selesai? Mau bilang sampai dia menyerah padamu, membalasmu lagi, atau akhirnya membiarkanmu saja?"

"... ungh ..." anak itu termangu, matanya terpincing, alis bertautan, dahi berkerut dalam. "Ta-tapi itu ... uh, salahnya karena membalasku."

"Kau yang pertama lebih dulu memeperinya ingus, mencubitnya, dan bilang dia anak nakal. Coba saja kau tidak melakukan apa-apa padanya, apa semua saling membalas itu akan terjadi?"

Anak itu menggeleng. "Bisa saja tidak, kalau dia tidak menanggapi apa-apa."

"Nah, kalau dia tidak menanggapimu, apa yang akan kaulakukan?" Naruto meraih anak lain untuk dihanduki dan dipakaikan lagi baju olehnya.

Mengetahui Inari sudah tak bisa menjawab, Naruto dengan perlahan bertanya, "Kaubilang sudah siap menerima dipeperi ingus, dicubit, dan dibilang anak nakal. Memang apa yang orang itu lakukan padamu, sampai kau malah memeperi ingus, mencubit, dan bilang dia adalah anak nakal, terus kau bilang bahwa itu cuma bercanda tapi membalas berulang-kali jika anak itu membalasmu juga?"

Tidak ada satu pun yang bersuara, sekalipun guru mereka bertanya dengan nada biasa saja. Mereka termenung, berusaha memikirkan jawabannya dengan alasan yang tepat.

Naruto meraih satu per satu anak kecil, melakukan hal yang sama pada semua anak satu per satu. Mengabaikan siapa saja yang menyaksikan kelasnya yang barusan seru bermain air di kelas renang.

"Nanti kalau kalian sudah bisa menjawab, bilang pada Sensei, ya." Naruto mengelus kepala muridnya satu per satu, memegangi seorang anak yang agak bongkok karena kurang gizi. Dia menatap anak yang fisiknya tak sempurna. "Kamu senang berenang dengan teman-teman?"

Dia yang kelihatan seperti kurcaci kerdil itu mengangguk, kepalanya sedikit terantuk karena terlalu antusias mengangguk, jatuh ke pelukan sang guru. "Tapi aku tidak bisa mengambang seperti yang lain, Naruto-Sensei."

"Kan tadi Sensei pakaikan pelampung." Naruto membantunya berdiri lagi dengan tegak. "Kamu berenang, lalu meluncur seperti roket, kencaaaang sekali!"

"A-ak-aku ... j-ju-juga-aa!"

"Kau keren, Faz! Sensei saja tidak bisa mengapung selama kau." Naruto meraih tangan Faz yang terbata-bata dan tersenyum lebar.

"Sensei!" Chiyo berlari, menyerobot tangan anak-anak lain yang hendak menggandeng tangannya. "Kapan kita berenang lagi?"

"Hmm ... Chiyo-chan suka berenang?" Naruto melebarkan senyuman, meraih tangan mungil putri kecil itu untuk digenggam.

Chiyo mengangguk riang, mengayunkan gandengan tangan mereka, terkikik saat dipakaikan baseball cap dengan hati-hati oleh Naruto.

"Sensei juga senang, nanti kita berenang lagi, ya." Naruto tertawa mendengarkan rayuan anak-anak yang meminta untuk berenang lagi besok, mungkin tanpa sadar sudah mengerti bahwa Naruto sering kali menuruti kemauan mereka. "Oke. Besok bawa baju untuk berenang lagi, ya. Sekarang, yuk, kita pulang ke kelas!"

Inari lekas berdiri tegak. Menghormat pada sang guru, berbalik ke depan lalu berseru dengan cengkok lucu, "Majuuu, jalan!"

Bocah-bocah lucu itu berlomba untuk meraih tangan temannya satu sama lain lalu menggandeng erat-erat. "Dattebayooo!"

Tidak lama, barisan anak-anak yang memanjang itu, berjalan setertib bebek mengantri di satu jalur lurus. Menggandeng dan menggenggam manis tangan teman satu sama lain, berhenti ketika ada teman ABK mereka yang nyaris tersandung jatuh, barulah jalan lagi begitu barisan mereka utuh. Menyanyikan lagu kanak-kanak yang bermelodi ceria.

Hari cerah

Mendung

Hujan

Tidak apa-apa

Aku senang

Melihatmu tersenyum

Tertawa

Bergembira bersamaku

Kita sama-sama

Poop Factory!

Kenapa mesti berbangga diri?

Ayooo~! Let's go go go!

Temani yang berkecil hati

Kita sama saja di mata Tuhan

Ouwouwouwooo, kita sama-sama punya arti

Kenapa kita dilahirkan ke dunia seperti pelangi

Berbeda-beda tapi ya memang begini

Lalalala, senangnya aku hari ini!

Aku bisa sendiri

Menjadi diriku sendiri

Begini cara Tuhan menyayangiku

Maukah kau kutemani?

OH YEAAAAH! Ayo sini, aku punya hati yang luaaaas

Untuk menyayangimu, uwuwuwuwuuuu~

La la la,

Dan alangkah senangnya hatiku

Kalau kamu sayang sama akuuu uuwoooh~!

Hinata menatapnya dengan perasaan menghangat, menyaksikan bocah-bocah itu berjalan bebek, bernyanyi riang dengan berani tanpa takut terdengar sumbang.

Dia mengerling anak-anaknya yang terdiam, dengan ekspresi tidak mengerti juga sedikit rona arogansi.

"Berhentiiii, graaak!"

Anak-anak itu serentak mengerem langkah. Saling membentur teman sekelas di depan, dan nyaris terjengkang. Temannya nyaris ikut terseret jatuh, tapi anak yang masih tegak berdiri, membantu temannya berdiri lagi ataupun menahan tangan sang anak agar tak terjungkal.

Naruto sendiri berada di paling belakang mereka semua, mengawasi anak-anak dan menyengir bangga karena setidaknya, kini mereka mau saling bantu satu sama lain untuk berdiri tegak.

Ini karena tidak semua dari mereka bisa berdiri tegak dan normal seperti manusia biasa pada umumnya. Naruto pernah mengajari mereka, temanmu sama saja denganmu. Istimewa dengan caranya sendiri.

Hinata sedikit membungkuk untuk menghadapi bocah-bocah kecil yang menurunkan baseball cap mereka, membungkuk santun. Tersenyum lembut ketika mereka berseru, "Selamat siang, Hyuuga-Sensei, Senpai-tachi! Semoga hari ini menyenangkan untuk Sensei dan Kakak-kakak, kami doakan kalian selalu sehat dan berbahagia!"

Murid-muridnya tampak kikuk. Ini pertama kali mereka bersua dengan anak-anak yang dijuluki dari kelas Idiot.

Siapa sangka, anak-anak yang dibilang bebal dan bodoh, bahkan bisa begitu sopan dan manis dengan sapaan khas mereka.

"Selamat siang juga, Kesayangan-nya Uzumaki-Sensei."

Naruto, yang menjadi buntut untuk anak-anaknya, terkekeh mendengar sapaan lembut Hinata pada kelas genin-nya. Ini berarti Hinata juga tahu, seperti kebanyakan guru baru (walau dia guru senior), bahwa Naruto menetapkan panggilan sayang pada murid-murid terkecilnya adalah: "Kesayangan".

Dipuji oleh guru kakak-kakak tingkat membuat sepuluh bocah-bocah mungil tersipu malu. Hinata menatap muridnya sendiri. "Beri salam pada adik-adik tingkat dari kelas Kyuubi dan Uzumaki-Sensei."

Para remaja tanggung itu dengan canggung membungkukkan badan. "Selamat siang, Uzumaki-Sensei, Kyuubi no Minasan. Semoga kalian selalu diberkahi Tuhan."

"Selamat siang juga dan terima kasih," ucap Naruto seraya melebarkan senyuman. Dia menepuk lagi puncak kepala murid-murid mungilnya. "Yuk, kita lanjutkan perjalanan pulang ke~?"

"KELAAAS!" sorak anak-anak.

"Yosh, lagu berikutnyaaa!" seru Naruto.

Usai berpamitan dengan sopan, mereka memakai lagi baseball cap dengan gambar chibi rubah ekor sembilan. Langkah bebek menggemaskan mereka berlanjut. Lagunya berganti pula seiring tapak mungil mereka menjejak lantai. Koor suara mereka ditingkahi oleh gemersak reras sakura dan reruntuhan dedaunan.

Aku bakal

Sayang sama kamu uuuuw~!

Karena kan kusayang

Ayah

Bunda

Kakak

Adik

Kakek

Nenek

Paman

Bibi

Guru

Teman

Petto~!

Baru deh kamu iyeiyeiyee~

Tapi itu juga

Bila aku telah benar-benar sayang

Diriku sendiri dan Tuhanku!

Cengkok cadel dan suara renyah anak-anak itu menggemersik kikik dari Hinata. Dia berpapasan dengan Naruto yang juga tersenyum padanya, melemparkan ingatan Hinata pada satu dekade lalu, di bawah tempayah hujan yang berkelibat lebat.

"Sengaja ambil kelas siang untuk Genin, ya?" Hinata mendekap jurnalnya lebih erat.

Naruto mengangguk singkat. "Kutukar dengan kelas Chuunin, biar yang kelas Genin tidak terlalu merasa dingin setelah kelas renang. Kau sedang mengajar apa di kelas Chuunin?"

"IPA. Kami baru mau ke sungai untuk pengamatan." Hinata mengerling anak-anak yang berbaris dalam satu barisan panjang, sesekali meloncat riang, dan memegangi teman-temannya. "Mereka berada di tangan yang tepat."

Naruto menatap anak-anak kelas Chuunin Hinata. Berdasarkan selentingan informasi yang ia dapatkan, Hinata adalah guru yang tersertifikasi untuk mengajarkan anak-anak berwatak dan berhati keras, biangnya siswa-siswi paling sering mencibiri guru. Mungkin karena Hinata sendiri bersifat seperti air, mengikis kekokohan bodoh mereka.

"Mereka juga." Naruto sepintas melirik remaja-remaja tanggung yang memandangnya dengan hina. Menyengir sekilas. "Duluan, ya. Semoga kausukses dengan mereka."

"Semoga kau juga." Hinata membalas anggukan sopan Naruto dengan bungkukkan badan yang setara santunnya.

Hinata menoleh mendapati anak kecil yang tadi menggenggam tangan Naruto. Anak perempuan manis berkepang dua, menyerahkan bunga yang asal ia petik dari taman padanya.

"Terima kasih." Hinata menerima bunga mungil dan liar itu, membelai lembut kepala Chiyo yang tersenyum berseri-seri.

"Hei, Sensei kan sudah bilang, tidak boleh petik bunga sembarangan," tegur Naruto.

Chiyo berjengit sedikit. Berlindung di balik punggung Hinata. "Ta-tapi bunganya cantik kayak Hinata-Sensei."

Naruto berlutut di hadapan Chiyo. "Tapi kalau kaupetik bunganya, nanti bunganya malah layu dan mati. Temannya, iya, si bunga oranye itu, nanti tidak punya teman lagi. Tidak boleh, ya. Biarkan bunganya tetap cantik di atas akarnya, oke?"

"Iya, iya, soalnya buat Naruto-Sensei, cantiknya Hinata-Sensei tuh tidak bakal layu, ya?" celetuk Ami dengan seringai anak kecil dan mata berkilat-kilat nakal.

Inari bertepuk tangan dengan kekanakan. "Pernah dengar tidak, bahwa bunga milik tetangga itu selalu lebih indah?"

"Hinata-Sensei, pokoknya Kesayangan Naruto-Sensei tuh kami, ya!" Azami bersidekap lengan dan mengerucut mulut.

Naruto mengedipkan mata berulang kali, terperangah, lalu berubah salah tingkah ketika mendengar Hinata tertawa kecil. Dia cepat-cepat menggamit tangan Chiyo, kemudian berdiri lagi.

"Maafkan aku yang membuat mereka jadi sepintar ini, Hinata." Naruto menyengir setengah hati.

"Aku senang melihatnya." Hinata menggeleng, sorot matanya geli mendapati ternyata anak-anak kecil itu masih saja di situ, menanti agar Naruto kembali mengekori mereka dari belakang.

"Maaf, aku pamit ke kelas, ya."

Mungkin kalau mau definisi aku senang melihatnya dispesifikasi lebih mendetil lagi untuk Hinata, maka ini berarti melihat anak-anak menyeret Naruto agar kembali bersama mereka, bernyanyi riang pulang ke kelas dengan tangan bergandengan.

Begitu lucu, mereka pernah bersama yang rasanya selamanya terangkum dalam kebersamaan mereka, hanya untuk berubah menjadi dua orang asing yang bahkan tidak tahu bagaimana caranya berkontak mata.

"Hinata-Sensei, itu mantan suamimu, 'kan?" celetuk seorang gadis dengan bibir bergincu merah tebal. "Lebih tampan Uchiha-Sensei. Dia pasti seksi sekali di ranjang."

Hinata menggigit bibir, seketika sesak napas menahan getir. Kedua belah pipinya berdenyut mendengar cetusan sok tahu siswinya, berjengit seakan mendengar gelegar suara sebising sambaran petir.

Kau milikku!

HANYA MILIKKU, HINATA UCHIHA!

Seketika pandangan Hinata mulai memblur, menatap sesiluet punggung yang kian menjauh.

"Uchiha-Sensei romantis sekali, tahu! Baru tadi pagi aku lihat dia menghampiri Hinata-Sensei dan menggigit telinganya, lalu bilang, "Kau milikku!" sambil memeluknya erat-erat."

"Wahaha! Posesif sekali, sukaaaa!"

Yeah, pelukan ular piton. Anak-anak ini bodoh atau bagaimana, tidak bisa membedakan mana yang romantis dan mana yang posesif?

Media massa yang mengglorifikasi dan meromantisasi keposesifan memang mengerikan, membutakan generasi muda untuk memahami bahwa dua hal itu dipisahkan dua jurang berbeda.

Hinata bergidik ngeri, bahu refleks terangkat mengusap-usap telinganya. Mengapa pula muridnya datang berkonsultasi di pagi hari, jika hanya untuk melihat pemandangan horror yang ditanggapi reaksi jijik oleh staff guru lainnya?

Sang wanita merasakan denyutan yang membuatnya nyaris megap, saat mengingat sepasang mata sehijau teduh berkaca-kaca, lalu dengan cepat bantal masuk kantor guru dan mengambur entah ke mana.

Mungkin bodoh, merasa iba pada wanita yang pernah jadi teman bercinta suaminya. Namun Hinata tahu, untuk wanita itu, suaminya adalah segalanya.

Hinata ingin sekali bisa bicara berdua dengannya, mengatakan bahwa Sakura berhak mencintai seseorang yang lebih baik.

Ia pun memaafkan dan berdamai, pada hati yang masih saja tak bisa lupa seseorang lain meski telah bertahun lamanya.

"Omong-omong, kok, mantan suamimu bodoh sekali, Hinata-Sensei? Apa susahnya sih tinggal kasih tahu anak-anaknya bahwa memeperi ingusnya tuh salah?" seorang remaja lelaki berseru. "Kebanyakan bicara dan berputar-putar, dasar."

"Memusingkan saja, sih. Kalau bisa langsung ke poinnya, kenapa mesti menyuruh bocah-bocah yang tidak mengerti apa-apa malah disuruh berpikir? Kalau bukan bodoh karena tidak memberitahu langsung, itu apa namanya?" tandas seorang murid lagi dengan pedas.

"Dia bahkan membiarkan murid-muridnya berenang di sungai pakai baju bebas! Mengajarkan muridnya pakai lagu konyol dan lirik tidak sopan."

"Heran, deh, kami denganmu, Hinata-Sensei. Kenapa punya suami kece sekali, masih saja menengok pada yang lain."

"Masa sih kau tidak meleleh ditatapi dengan tatapan setajam itu oleh Sasuke-Sensei? Mukyaa! Hnngh sekali itu pandangannya."

Cemoohan itu menghujan pada sang guru. Dia membiarkan celotehan mereka semakin simpang-siur, tentang perceraian mereka itu karena Naruto akhirnya mandul, Naruto melakukan KDRT, menciderai jiwa-raga anak-anak mereka, sampai tuduhan bahwa Hinata dipaksa kawin lari dengannya dan meninggalkan Sasuke yang harusnya jadi cinta sejatinya.

Hinata mengulum mulut, meredakan gemuruh dalam dadanya dengan mengembuskan napas pelan-pelan. Dia berdeham pelan, kemudian dengan berjalan lamban untuk duduk di tepi dinding lorong.

Jubah guru bermodel bangsawan Inggris, seragam guru khas Hidden Schools, dengan pangkat lencana singa tertera di atas dadanya, dikibaskan sapan angin. Hinata meminta siswa-siswinya untuk duduk di kursi yang tersedia di koridor, yang dikelilingi oleh taman dan hutan artifisial khas sektor Konoha.

"Saya memotong nilai siswa-siswi yang merendahkan martabat guru lain, meskipun itu bukan guru kalian, dan yang membicarakan privasi kehidupan kalian sendiri."

Pernyataan lugas Hinata membuahkan protes keras.

"Hinata-Sensei tidak profesional, terbawa perasaan, nih!"

"Wah, parah!"

"Halah, punya suami kaya-raya dan seksi gila sekarang, yang lama masih saja ditengok!"

"Hinata-Sensei sadar diri, dong! Ingat sekarang Sensei sudah jadi milik siapa!"

"Bagaimanapun Hinata-Sensei itu sudah jadi istrinya Sasuke-Sensei!"

Hinata memandangi mereka yang berceloteh tanpa henti. Menatap non-ekspresi, menghunuskan tatapan menyesakkan hati anak-anak yang cemoohannya mulai gentar. Tanpa menanggapi, di depan murid-muridnya, ia membuka buku dan mencatatkan poin minus untuk semua siswa yang berbicara buruk.

Dia terdiam. Metode macam apa yang cocok untuk mengajari anak-anak bermulut buruk dan susah sekali menghormati orang lain?

Susah sekali memang kalau anak-anak telanjur besar, dengan pembawaan sikap yang kurang ajar, akan diajar agar bisa seseorang bersikap baik serta senantiasa berhati tegar.

"Pertama, perlu kutegaskan, Sensei sebagai pribadi, baik jiwa maupun raga, selamanya hanyalah milik Tuhan."

Murid-murid itu mulai membelalak horror saat melihat nama mereka dibubuhi poin minus oleh sang wali kelas.

Hinata menarik napas dalam, berujar tanpa gentar, "Kalian boleh saja merasa senang sebagai anak penguasa, senang karena terpilih masuk di sekolah nomor satu se-Jepang ini, silakan kalian banggakan kekayaan dan tampang rupawan orang lain maupun kalian sendiri.

"Namun selama kalian tidak punya sikap yang baik dan bersopan-santun, tidak menghormati orang lain, dan kalian pikir bahwa yang urakan kurang ajar anime-manga-dorama itu pada akhirnya bisa dihargai di dunia nyata, kalian mungkin kurang berinteraksi di dunia nyata."

Suara gerutuan menyambut pernyataan Hinata. Tidak memengaruhi wanita itu sama sekali. Dia telah sampai di titik ini, yang mana bukan remaja-remaja tanggung yang dapat membuatnya limbung.

"Saya tidak mengajarkan kalian untuk menilai orang serendah hanya berdasarkan pada harta, takhta, dan rupa."

Hinata menatap satu per satu pasang mata yang mulai menghindari tatapannya.

"Sayang sekali, kalian masih seperti kebanyakan orang. Memandang segala sesuatu bahkan orang-orang, hanya berdasarkan tampak luarnya semata. Tidakkah kalian pernah mencoba berpikir, apa yang ada di balik penampakan luar orang itu?"

"Itu fana. Penilaian pertama tiap orang tetap saja selalu bermula dari mata, Hinata-Sensei," sergah muridnya.

"Kalian hanya pakai mata, soalnya." Hinata telah terbiasa disanggah seperti itu, dia tetap menatap anak-anaknya yang kebanyakan mulai bungkam. "Bukan mata hati."

Seorang gadis berambut dikuncir kuda memutar bola mata. "Oke, dari mata sampai mata hati, Hinata-Sensei, tetap saja kalau aku jadi Sensei, bakal pilih Sasuke-Sensei! Bibit, bebet, bobotnya unggulan!"

Seorang anaknya yang cerdas mengangkat tangan, begitu Hinata mempersilakannya untuk bicara dia bertanya, "Maksud kata-kata Anda itu, berkenaan dengan Uzumaki-Sensei atau Uchiha-Sensei, sebenarnya?"

Keheningan menggerus rerimbun suara hutan artifisial, gesekan daun-daun dengan dahannya.

Hinata sedikit menerawang jauh ke seberang, pada taman yang air mancurnya menjulang tinggi ke kaki langit. "Bukan hanya mereka."

"Apa maksud Anda?" kejar muridnya lagi.

"Every single person has a story that will break your heart. Pernah dengar kutipan itu?" Hinata mengerling lagi siswa-siswinya.

"Aish, Sensei, kasih tahu saja susah amat, sih!" Si siswi bergincu merah dengan sebal bersidekap lengan, membusungkan dadanya.

"Kalau kami, para guru, hanya mengajarimu untuk meniru apa yang telah kami pelajari, tandanya kami hanya copy-paste pemahaman kami padamu. Kalian hanya akan paham sesuai dengan apa yang kami pahami, bukan dengan paham kalian sendiri.

"Sama seperti Naruto-Sensei tadi. Dia bisa saja bilang, "kalau tidak mau dicubit, jangan mencubit—karena dicubit itu rasanya sakit." pada anak-anaknya, tapi itu tidak dikatakan olehnya.

"Yang Naruto-Sensei lakukan, adalah membantu pengembangan pola pikir anak-anak agar menalar dengan sendirinya. Dia memosisikan diri sebagai seseorang yang memotivasi belajar dan cara berpikir anak-anak.

"Sebenarnya, dia menempatkan diri pula karena mengajarkan anak-anaknya tanpa menggurui. Dia memakai konsep sederhana, "kalau aku jadi orang yang dicubit, bagaimana rasanya?" kemudian juga "kalau aku mencubit orang terus dapat balasan dan dia bilang itu cuma bercanda, bagaimana rasanya?", pula "benarkah melakukan semua hal seperti ini termasuk bercanda yang lucu?"

"Ini adalah tanda Naruto-Sensei mencoba merangsang kepekaan simpati dan empati dalam hati anak-anaknya. Meskipun memang, setiap orang pasti memandang berdasarkan pandangannya sendiri. Karena itulah, ia mencoba mengajari anak-anak untuk berpikir, bagaimana kalau aku yang jadi dia? Bagaimana kalau kuperlakukan sama seperti yang kaulakukan padaku?

"Ini adalah caranya membantu anak-anak untuk meluaskan pandangan mereka, agar tidak memandang segala hal dengan egois—hanya berdasarkan pandangannya saja.

"Dia mengajak anak-anaknya untuk berenang bertelanjang, karena ia ingin anak-anak yang punya keterbelakangan mental dan cacat fisik untuk lebih percaya diri. Di sisi lain, sekalian membuat anak-anak normal, mensyukuri fisik mereka yang jauh lebih sempurna.

"Dengan membaurkan mereka semua dalam kelas renang telanjang, mereka akan menghargai badan temannya satu sama lain. Memakaikan lagi baju pada mereka, untuk mengajarkan bahwa mereka perlu menghargai badan mereka sendiri dengan tidak mengumbarnya kemana-mana.

"Kalau kalian lihat, anak-anak kelas Genin Kyuubi, bergandengan tangan. Mereka bahkan mau memegangi teman mereka yang susah berjalan, setelah bersama dengan Anak-anak Berkebetuhan Khusus. Naruto-Sensei pun mengajarkan kreativitas dan ekspresif pada anak-anak itu, bernyanyi dengan suara lantang dan berani.

"Mereka bahkan dengan tertib jalan mengantri, dan menjaga temannya agar tidak ada yang tertinggal. Menyapa kita semua dengan sopan dan mendoakan, bahkan mereka menyanyikan lagu yang punya makna dalam.

"Lagu pertama, adalah lagu tentang menghargai diri sendiri, tidak sombong karena karunia Tuhan, dan menghormati orang lain. Mungkin untuk kalian, terdengar kasar dan tidak sopan. Poop Factory? Manusia kemana-mana memang membawa tinja dalam perutnya, untuk apa pula kita berbangga bila kesombongan sepatutnya adalah selendang Tuhan?

"Lagu kedua, mengenai cintailah dirimu dan Tuhanmu, barulah kau mencintai siapa pun yang ada di sekitarmu. Tidak serta-merta mengajarkan anak-anak yang masih kecil, langsung cinta-cintaan, karena ada masanya anak itu dewasa dan akan bosan bahkan dengan hal seperti cinta.

"Mengapa dengan media lagu? Karena anak-anak di usia muda, kapasitas otaknya masih sangat luas, dan banyak hal sangat mudah diserap oleh mereka.

"Mungkin kalian sudah dengar, kelas Uzumaki-Sensei prestasinya sangat tertinggal dibandingkan yang lain. Namun Sensei duga, Uzumaki-Sensei memang sengaja tidak berkompetisi mengejar prestasi. Hasil belajar murid-murid kelas Kyuubi tidak akan instan, dan yang mendapat manfaat adalah anak-anak didik kelas itu sendiri."

Tatapan Hinata melembut dengan pengertian.

"Metode mendidik Uzumaki Naruto-Sensei bukan menjadi seorang pengajar yang menjiplakkan pemahaman pada anaknya, melainkan mengembangkan nalar anaknya untuk mandiri berpikir sendiri tanpa perlu lagi dicekoki."

Hinata membiarkan saja beberapa anak yang menggerutu, terang-terangan cemberut dan manyun karena tak menyetujuinya. Ia hanya memastikan bertautan tatapan dengan mereka satu per satu.

"Soal kehidupan privasi Sensei dan para guru lainnya, itu adalah privasi. Sensei saja tidak protes ataupun mengomentari kehidupan kalian, kenapa kalian melakukannya pada Sensei? Apa kalian ingin Sensei juga ikut campur dengan kehidupan pribadi kalian?"

Ketika angin menyapa taman dan menggemersak pakaian mereka, Hinata berdiri lagi dan mengisyarat pada murid-murid agar mengikutinya.

"Apa kalian ingin Sensei ikut campur dan ikut-ikutan mengomentari kehidupan pribadi kalian?" ulang Hinata lagi dengan nada lebih lugas.

"... tidak, Sensei," koor anak-anak, dengan nada yang Hinata mengerti sepertinya mereka mulai sadar bahwa mereka telah bersalah.

"Cobalah kalian mau mencoba untuk mengerti, bahwa ada banyak hal dan orang di dunia ini, yang lebih daripada yang sekadar mereka tampakkan di luarnya saja.

Hinata berhenti ketika ia dinaungi langit biru dan matahari, menoleh ke belakang pada siswa-siswinya. Tidak sedikit yang menundukkan kepala. Sorot pandangnya melembut.

"Bisakah kalian menyimpan rahasia?"

Anak-anaknya menelengkan kepala, saling berpandangan, bahkan ada yang garuk-garuk tidak jelas. Sebagian kecil mengangguk ragu. Ada sesuatu dari raut wajah guru mereka yang begitu pilu, sehingga mereka membeku.

Hinata menengadah pada bentangan langit, birunya berbeda, tapi sebiru hatinya kala mengingat warna di mata seseorang itu.

"Tidak mudah melupakan seseorang yang begitu memperjuangkanmu."


ORANGE

.

Chapter 3: Dearest

.

(memories are lasting when people keep remembering it)


A/N:

Pertama, soal pair.

One True Pair dalam fanfiksi ini adalah mutlak Naruto Uzumaki X Hinata Hyuuga. Sengaja saya tidak mencantumkan pairing lain, karena memang ceritanya bersentris antara dua karakter utama ini sebagai pairing.

Meskipun saat ini Hinata statusnya istri Sasuke, tapi sengaja saya tidak cantumkan, karena saya sendiri sebagai penulis keberpihakannya hanya pada NaruHina. Menghindari pembaca butthurt karena pairing dan mungkin sudah galau dari chapter 2 Orange (atau mungkin dari fanfiksi Enouement) soal OTP.

"Kenapa tidak pasang warning Slight Pairing apa saja yang ada?"

Karena saya tidak mau memberikan harapan palsu untuk kalian atau membuat kalian tersia-sia mengharapkan pairing lain.

Pairing lain mungkin ada, kemungkinan akan berputar-putar, tapi sengaja saya tidak tampilkan maupun cantumkan tagar (iya, itu kurung siku-siku di FFN yang mengapit nama pair) pairing lain, karena fokusnya memang bukan pada pairing lain. Daripada nanti rikues "Anu jadian ama anu aja deh", saya hanya bisa bilang, tolong jangan berharap keinginan kalian terkabul.

Tapi nanti, begitu ada sexual intercouse antara pairing selain NaruHina (apalagi kalau NH), pasti saya kasih peringatan di awal chapter.

Saya tidak bisa jamin soal "akankah NaruHina jadian atau tidak", karena ... apa semua hubungan perlu berakhir dengan mereka pacaran atau menikah? Yang ingin saya sampaikan melalui cerita, adalah tautan perasaan melebihi ikatan/status. They're so much more than just getting together. (but because OTP is NaruHina here, so you can hope for it.)

(Sekali lagi) One True Pair fanfiksi ini adalah Naruto Uzumaki X Hinata Hyuuga. Tolong tidak bertanya lagi mengenai pairing atau mencoba bernegosiasi soal ini.

Kedua, tolong tidak berekspektasi/ngarep macam-macam. Misalkan, "thor, lemonnya kurang asem. Ini enggak hot, tau!" atau "thor, ini kok gak gore." atau "thor, udahlah, pengennya Hinata mati!" atau "thor, si Sasuke ama Hinata ajalah!" (padahal fokus ceritanya bukan ke arah sana) ... nah, kalau kalian merasa dan berpikiran demikian, silakan cari fanfiksi sesuai selera kalian atau tulis fanfiksi kalian sendiri. (tentu tanpa copas/jiplak ide fanfiksi saya)

Tak ada yang memaksa kalian untuk tetap lanjut membaca fanfiksi ini, siapa juga mau dipaksa membaca yang ia tidak suka?

Siapa juga yang mau memaksa kalian membaca yang sekiranya kalian tidak akan suka?

Saya juga lebih lega dan ikut senang kalau kalian bersuka cita membaca fanfiksi yang sesuai selera kalian.

Ketiga, itu playlist di atas, lirik-lirik lagu yang saya cantumkan juga sedikit banyak spoiler untuk plots fanfiksi ini, sementara BGM-nya adalah nuansa dalam fanfiksi ini.

Terakhir, bila kalian membaca fanfiksi ini merasa bingung dengan apa yang terjadi, jika mau dapat spoiler, silakan baca fanfiksi saya berjudul ENOUEMENT. Kalau tidak, selamat bersabar dan menikmati fanfiksi ini, karena ini slow-burn—ceritanya dikupas pelan-pelan.

Terima kasih pada Muhammad Dandi, Ryan Hidayat, Ren Azure Lucifer D Kanedy, Sijeki, FAISHAL ROKIE T, muhammarfauuuza, dan Polytron, karena telah RnR fanfiksi ini.