Oleh Aquarius D Zhura, tentang ORANGE:
Kurasa fic ini akan menjadi salah satu fanfic Terbaik yang pernah aku temukan dan ku baca di "Dunia kecil kita ini".
Pernah mendengar pepatah 'Jangan menilai buku dari sampulnya? kurasa kau tau maksudku saat membaca sumary di fic ini.
Fic ini seperti Perpaduan dari berbagai Genre yang di jadi kan satu, Di bilang bergendre Drama (Hurt and~ aky lupa) juga enggak, bukan karena tidak ada! ia ditonjolkan tpi gk telalu kerasa namun nencerikatan kisah yang bener2 mendrama disana (bingung). Di bilang komedi iya tpi bahasa memakai bahasa yang agak ribet dan agak berat yang seharusnya kurang cocok untuk komedi. action? hm.. entah lah seperti nya sih bakal ada dilihat beberapa cluenya .
soal alur bener2 gk bisa ku tebak, aneh sekaligus hebat! hey ayolah mengambil "alur seorang guru yang begitu2 aja 'tpi cerita bisa menjadi kemana2 , bener2 pengembangan cerita yang sangat menarik sekaligus hebat.
sehat selalu dan terus berkarya.
Warning: chapter ini berisi kata-kata caci-maki tidak patut ditiru, dirty talk, sexy talk, bibit-bibit perselingkuhan.
"Ah, maaf. Aku malah membangunkanmu, ya?"
Sarada tergelagap, menyibak untaian rambutnya yang semula terjuntai berantakan ke depan. Dia refleks memegangi selimut yang Hinata kenakan padanya, sembari mengerling jam weker di meja belajarnya. Sudah jam tiga pagi.
"Tidak, kok." Sarada mengeratkan selimut yang dipakaikan padanya. "Obaa-san kenapa jam segini belum tidur?"
Hinata menepuk pelan punggungnya. "Belum bisa tidur. Sarada pindah ke tempat tidur saja, ya?"
Sarada menatapi tumpukan tugasnya dengan keki. Bisa-bisanya dia tertidur. Padahal beberapa tugas belum kelar. Namun ia sungkan menolak pada ibu angkatnya, lantaran mengetahui Hinata tidak tidur justru karena menantinya untuk terlelap.
Karena itulah ia mengangguk, beranjak untuk mendorong kursi masuk ke bawah meja belajar. Sarada membiarkan Hinata merangkulnya, perasaan bersalah memberat selaras pelupuk matanya yang diantuk kantuk.
Mungkin kalau ini ibundanya sendiri, Sakura takkan sungkan membangunkannya dan bahkan menemani Sarada sampai tertidur.
Terselip sebuah rupa tentang kamar tidur. Kasurnya tidak seberapa luas, tapi muat ditempati paling tidak untuk dua orang dewasa. Seprainya perpaduan lime dan merah muda lembut, selalu wangi seperti ranjangnya di rumah ini.
Malam ini, pasti Sakura tidur sendiri. Betapa sepi hidup wanita yang bahkan tidak pernah dinikahi.
"Uhm ..." Sarada mendongak saat telah membaringkan diri di tempat tidur.
Hinata yang tengah merapikan selimutnya, memastikan seluruh tubuh Sarada tertutup selimut. Mematut putri angkatnya itu seraya mengerjapkan mata.
Sarada merasakan cengkeraman menyakitkan melihat sorot mata ibu angkatnya meredup, tapi berusaha tersenyum. Menepuk-nepuk lembut punggung lengannya.
"Maaf, ya." Hinata membantu Sarada melepaskan ikatan rambutnya agar gadis itu tidak pusing saat nanti tidur. "Ayahmu masih ada ... urusan."
Sarada membenamkan setengah wajah ke dalam selimut, kemudian menggeleng lamat. Dia terbiasa dengan kebohongan manis seperti ini, yang anehnya baru terasa manis justru karena ia mengerti sang ibu angkat bermaksud baik.
Padahal dari seluruh orang di dunia, seharusnya pasti yang paling membenci ayahnya adalah wanita di hadapannya. Namun Hinata tetaplah menjadi istri yang menjaga martabat baik suami, sekalipun publik tahu seberapa tidak baik ia sebenarnya.
"Obaa-san, Hima-chan bagaimana?"
"Oh." Raut wajah Hinata agak melunak. "Dia sudah tidur dari tadi, ketiduran sambil menonton TV. Boruto menggendongnya ke tempat tidur, tapi malah ketiduran juga di sana."
Kali ini tawa kecil mereka menepis sedikit hening yang menggantung. Sarada merasa sedikit lebih baik, setidaknya, walaupun ia self-proclaimmed rival Boruto dan tak menyukai beberapa perangai tertentu saudara angkat lelakinya itu, ia mensyukuri punya adik perempuan yang bisa jadi teman.
Sarada menggigit bibir, membayangkan ibunya tidur sendiri. Memandangi wajah lelah Hinata yang terlihat lebih baik tiap membicarakan saudara angkatnya, Sarada mengeluarkan tangan untuk menggapai tangan Hinata yang bergegas menggenggamnya.
Hinata meremas lembut tangan putri angkatnya. "Maaf, nanti begitu ayahmu pulang, akan kubilang padanya, supaya tidak melulu dengan Boruto dan belajar denganmu juga sesekali."
"Tidak usah. Aku bisa belajar sendiri." Sarada memejamkan mata, agar panas yang berketam di sana tidak meluruh dalam bentuk apa pun yang hanya akan menambah sedih Hinata. Begitu membuka mata, senyumnya terbit. "Aku juga bisa belajar dengan Obaa-san, Hima-chan, dan Kaa-san, kok."
Hinata membalas senyumnya. Mengelus rambut hitam yang terurai di bantal. Dia menyenangi rambut gadis ini, meski tidak terlihat jatuh dengan lembut, tapi sama sekali tidak kusut.
Sarada menutup matanya rapat-rapat, suaranya tercekat. "Obaa-san, besok aku tidur dengan Mama."
"Maaf, padahal kau sudah datang ke sini." Hinata mendesah pelan. Senyumnya muncul kembali ketika menatapi lagi Sarada. "Titip salam untuk Sakura-san, ya."
"Nanti aku sampaikan." Sarada berpikiran, untuk seseorang yang telah diselingkuhi, Hinata tampak terlalu santai. Kecuali bila ada yang lain di hatinya, dan mungkin ia tahu siapa.
Hinata membuka mulutnya lalu sorot matanya pun kini menyipit dalam senyum. "Mau tidak kalau kubawakan makan malam atau roti untuk kalian? Kemarin, Sakura-san membawakan sakura mochi dititip padamu, jadi boleh tidak aku titip sesuatu balik untuknya?"
"Terima kasih, Obaa-san. Boleh, kok." Sarada menurunkan selimut, menatap Hinata dengan saksama. "Uhm ... boleh sekalian untuk Karin Obaa-san?"
Hinata mengambil kacamata yang Sarada lepaskan, meletakkan kacamata itu ke nakas di samping tempat tidur. "Kamu mau berikan sendiri pada Karin-san?"
Sarada mengangguk. "Mungkin kalau ada jam kosong di kelas, atau saat istirahat siang, aku berikan pada Karin Obaa-san."
Sarada tidak bertanya mengapa Hinata yang justru wajahnya mencerah, walau kalau dinalar lebih dalam, harusnya ia merasa terluka pada para wanita yang pernah jadi teman bercinta papanya.
Tanpa sadar ia menggigit bibir, tak mendengar suara antusias Hinata tentang bentou yang akan ia bawakan untuk Karin dan Sakura karena terasa samar. Mencoba memikirkan bagaimana bila dirinya yang ada di posisi Hinata.
Ceruk matanya berlekuk, tak tahan membayangkan ia yang mesti ada di posisi ibunda angkatnya. Mama, Karin Obaa-san, siapa pun itu yang terjebak dalam lingkaran setan. Dan lebih menyedihkan, Hinata tak lain hanyalah korban keluarga yang konservatif.
"Obaa-san."
"—pasti enak, oh ... maaf. Ya, Sarada?"
Apa aku lahir untuk dicintai, atau lahir saja tak sengaja?
Mulutnya konstan terbuka. Hinata sabar menantinya bersuara.
Sarada tercekat dengan mata berkaca-kaca. Tak sanggup berkata-kata. Ketakutan menggerogoti, memberangus keberanian untuk bertanya dari ujung pangkal, ke seluruh inci tubuh, hingga memeningkan kepala.
Sarada membenam wajah dalam selimut, memendam duka dalam kemelut. Dia terbujuk rayu kantuk karena Hinata konstan membelai punggungnya dengan lembut.
Sama seperti nyaris setiap pagi dua bulan terakhir, Naruto akan datang di pagi hari (dan kini dia menambah deretan alasan untuk datang kira-kira jam segini), menemukan Hinata tertelungkup di atas meja dan tertidur.
Naruto punya waktu untuk menyeduh teh, kopi, ataupun minum air putih hangat. Di satu sisi, ia ingin meminta Hinata untuk pulang saja dan tidur lagi. Di lain sisi, ia inigin Hinata tetap terlelap di sini.
Namun menganalisis kondisi Hinata tiap pagi. Kemungkinan besar dia pagi-pagi sudah ada di sini, karena menghindari entah apa di rumahnya. Atau ia tidak bisa tidur di rumah, bisa juga karena ada sesuatu yang menyebabkan ia ingin mengusir pemikiran negatif, lantas datang pagi-pagi agar bekerja.
Karena terlalu banyak bekerja adalah cara orang dewasa untuk lari dari realita. Itu cara yang dewasa, karena ada banyak cara seperti bermabuk-mabukan, mengamburkan uang, bahkan mainan pasangan lain di luaran.
Persetan dengan semua itu, karena yang penting adalah Hinata dapat beristirahat, dan Naruto bisa menemaninya meski hanya sebentar saja.
Ada kalanya seperti kali ini, Naruto memungut jaket Hinata yang terjatuh di kaki meja. Pelan-pelan menyampirkannya ke pundak Hinata. Pinggul bersandar di tepi meja, jemarinya mengelusi rambut wanita itu yang terurai di atas buku.
"Hai, kamu yang selalu dimiliki Tuhan," bisik Naruto, "Kamu mimpi buruk, ya?"
Hidup dalam mimpi buruk. Ibujari Naruto membelai dahi Hinata, menguraikan guratan dan roman wajah keruh wanita itu.
Ingin sekali ia bilang, jangan bermimpi. Nanti tidur Hinata malah tak nyenyak. Coba saja ada kasur di kantor ini, Naruto bisa menggendongnya untuk tidur saja di sana.
Jemari lamat-lamat menyusuri relief wajah beraut lembut. Mengusap amat pelan semiran hitam di kantung mata Hinata. Berhenti di bawah garis bibir.
Naruto menarik tangannya kembali, itulah tanda untuknya membenarkan posisi entah mantel, cardigan, ataupun jaket Hinata, agar tak menutupi wajah sang wanita—supaya ia lebih leluasa bernapas.
Ada momen yang hening dan indah, seperti cahaya yang merasuk dari luar jendela yang telah dibuka. Tak ubahnya lampu sorot, menyimbah debu-debu yang bertebangan, menyala bercahaya dengan estetik dan memukau untuk dipandangi.
Naruto akan menarik tangan, kembali ke meja kerja untuk duduk dan menekuni materi ajarnya hari itu, manakala mendengar suara tapak langkah di luar sana.
Tidak apa. Di balik buku, cangkir kopi, bahkan jaket baseball kelas Kyuubi ia sesekali tiduri, sampai sebelum ada yang datang ke kantor, akan selalu ada waktu untuknya menekuri wajah tidur Hinata.
Kalau ada bagian paling hening, ialah ketika membuka mata perlahan-lahan.
Hinata berasal dari klan Hyuuga, keluarga dengan anomali mata. Berbeda, istimewa dibandingkan manusia biasa. Warnanya mengingatkan Naruto pada pantulan bulan di atas permukaan air bening yang tak beriak.
Naruto tidak melihat perbedaan antara Hinata membuka mata, rekah pertama bunga di pagi hari, maupun bayi yang mengerjap-kerjapkan mata karena masih begitu mengantuk.
Hinata paling membuka mata sebentar saja, mengganti posisi kepala, dalam diam mengerling pada pria yang duduk di seberang meja kerjanya.
Terkadang, sesekali dalam dua bulan belakangan, tatapan mereka bertemu.
Hinata melipat kedua lengan, merebahkan lagi kepalanya dengan mata lambat-laun terpejam. Seolah telah tahu, Naruto juga takkan macam-macam padanya—atau karena pria itu tidak bicara apa pun tiap mereka ada berdua saja.
Hanya untuk menatap mata biru itu, yang seterang dan sehangat langit musim panas, Hinata selalu datang di pagi hari.
Dan Naruto-kun, tak perlu tahu itu.
"Astaga!"
Moegi yang duduk di kursi sebelah, panik menghampiri Sarada yang limbung ke samping. Tak lagi hirau pada kertas-kertas makalahnya yang berhamburan, karena walaupun mengomel, ada Yakumo yang akan memungutinya.
"Oh, maaf." Sarada berpegangan pada tangan Moegi, melepaskan kacamatanya. Pelipis dan dahinya berdenyut-denyut keras. Pandangannya berkunang-kunang.
"Minum dulu. Ini punyaku, belum diminum, kok." Yakumo menyambar botol air mineral miliknya dari meja sebelah, membukakan tutup untuk diminum Sarada. "Mau aku antar ke UKS, Uchiha-san?"
"Sarada saja." Sarada menggeleng lamat. "Tidak, kok. Cuma pusing sedikit. Sebentar lagi juga baikan."
"Sarada Nee-san kenapa?"
Mereka menoleh pada Himawari yang bergegas datang menghampiri, menjinjing kotak bekalnya sendiri. Bingung memandangi Sarada yang tengah menenggak air, Yakumo mengipasinya, sementara Moegi menepuk-nepuk bahu gadis itu.
"Sedikit vertigo, mungkin karena mataku." Sarada menoleh pada Yakumo dan Moegi bergantian, tersenyum mengucapkan, "terima kasih."
"Aaah. Jangan beralasan." Himawari menggembungkan pipi. "Kata Kaa-chan, Nee-san masih belajar sampai jam tiga pagi. Pasti capek menggarap ujian dan tugas-tugas lagi, 'kan?"
Yakumo dan Moegi menatapi bertumpuk-tumpuk dokumen, jurnal, makalah, buku, dan diktat di hadapan Sarada. Memucat tatkala memikirkan bagaimana nasib mereka kalau yang ada di posisinya.
Keributan kecil itu menuai perhatian dari para siswa yang tengah beristirahat di kantin. Sarada menjambak kecil rambutnya, merutuk pelan, membenamkan wajah di balik timbunan kertas, seakan ingin mengisutkan diri dan tenggelam ke dalam bumi.
Yakumo mengecek arlojinya. "Sarada-san, jam berapa kau masuk ke kelas?"
"Uuh ..." Sarada memijat tengkuknya yang pegal dan menahan mual. "Jam satu siang."
"Masih sejam lagi, kok." Moegi bertukar kerlingan dengan Yakumo lalu mengangguk, tersenyum lebar. "Mau istirahat, tidak? Kalau kau tidak mau ke UKS, yuk, ke kelas kami saja."
"Oh, boleh! Tolong jauhkan Sarada Nee-san dari semua kegilaan itu," Himawari menyengir, manis menyingkirkan dokumen yang kemudian dirapikan oleh Yakumo
"Hei, Hima-chan!" Sarada menegurnya, dia menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali. "Tidak usah. Tugasku masih belum selesai, dan ini akan dikumpulkan besok—"
"Sudah dikerjakan sampai jam tiga pagi bahkan sekarang, tapi masih belum selesai?" pekik Moegi ngeri.
"Uh, wajar saja, 'kan?" Sarada menatap pada tumpukan kertas yang selalu ia cicil mengerjakannya. "Tiap hari selalu ada tugas, dan pelajaran bukan hanya dua atau tiga, jadi tugas bertumpuk-tumpuk."
"Dan semua guru selalu saja bilang, kita kebanyakan bermain, butuh lebih banyak tugas dan belajar," keluh Himawari.
Sarada menyentil lembut pipi adik angkatnya. "Kau juga. Harusnya mencicil tugas, jangan dibiarkan menempuk sampai sebelum garis mati."
Himawari mengelak dari sentuhan kakaknya. "Setelah melihat Nee-san nyaris pingsan, aku yakin, keputusanku untuk mengerjakannya pelan-pelan adalah yang terbaik."
Sepasang kakak-adik itu mengikik geli. Tidak sadar dengan Moegi dan Yakumo berpandangan, mengerjap-kerjapkan mata, berhubung mereka tidak mengalami seperti yang kedua gadis dari kelas elit alami, jadi wajar saja mereka tidak mengerti perasaan Himawari dan Sarada.
Dari awal mereka belajar, Naruto-Sensei mereka dengan enteng mengumumkan, bahkan ujian hanya akan ada di akhir semester. Itu pun ujian akbar tiap kelas untuk kelima Rumah Asrama.
Ujian ini semacam olimpiade yang akan jadi pertaruhan tiap kelas dan Rumah Asrama, untuk merebut titel jawara.
Lucunya, guru mereka malah tak tertarik dengan hal itu.
"Ayo, Nee-san!" Himawari menggandeng lengan Sarada dengan riang. "Nee-san butuh istirahat, bisa kacau nanti kelas kalau Nee-san benar-benar pingsan."
"Hei, jangan beralasan. Kamu pikir aku tidak tahu kenapa kamu senang sekali mau ke kelas Kyuubi?" Sarada mendengus geli. Dia menoleh ketika Moegi dan Yakumo dengan santai membantunya membawakan buku. "Eh, tidak usah!"
"Santai saja." Moegi mengibaskan tangan, menyungging senyum ringan. "Yuk, ke kelas kami."
Sarada memandang dengan cemas. "Memangnya boleh?"
Himawari melambaikan tangan. "Boleeeh, kok."
Sarada geleng-geleng kepala. "Kenapa pula Hima-chan yang menjawab?"
Gadis-gadis dari tingkat Jounin itu beriringan keluar kantin, berjalan menelusuri kafetaria para staff sekolah, melewati Simpang Bundar Tersembunyi yang ramai oleh anak-anak kelas elit duduk-duduk di taman, berjalan menyusuri lorong panjang dan melewati banyak kelas.
Kelas Kyuubi terletak paling ujung. Teduh karena dekat hutan bambu Jepang, dan air terjun kecil artifisial. Tiga kelas yang jadi satu, terpisahkan sekat pintu geser.
"Ssst! Jangan berisik, ya." Moegi menempelkan telunjuk di depan bibir. "Adik-adik kami sedang tidur."
Adik? Himawari dan Sarada saling berpandangan, kemudian memerhatikan dari luar ke dalam kelas Genin.
Di dalam ruangan kelas yang tertutup dan gelap, karena gorden menutupi jendela yang berhadapan dengan hutan bambu—jadi sumber penerangan cahaya dari luar.
AC menyala. Embusan dingin merembes dari celah di bawah pintu kelas. Terlihat siluet-siluet mungil dalam balutan selimut, entah memeluk guling atau bantal, bergelimpang di atas futon maupun karpet.
Pintu sekat rupanya sedang dilipat, sehingga kelas genin sedang bercampur dengan kelas Chuunin. Beberapa anak terlihat asyik bermain. Ada yang main laptop, PC, gawai, puzzle, rubrik, monopoli, komat-kamit di depan rangka tulang, corat-coret di papan tulis.
Kelas Jounin, kebanyakan dari mereka tengah menyantap makan siang, memetik gitar, menggelepar nyaman di atas karpet, maupun tengah melingkar di sebuah meja dengan koran di tangan—tampaknya tengah mengerjakan makalah atau kliping.
Moegi menggeser pintu menuju kelas Joounin, pelan mengucapkan, "Tadaima." yang disambut oleh warga dalam kelas dengan "Okaeri." sama pelannya, maupun anggukan atau lambaian singkat saja.
Mereka menoleh sebentar kedatangan dua orang yang asing, tapi tidak ambil pusing. Kembali sibuk masing-masing.
Kedua gadis tamu itu meletakkan sepatu menghadap ke arah pintu, tidak melewatkan rak-rak sepatu yang penuh terisi deretan sepatu milik penghuni kelas Jounin.
Moegi ber-highfive dengan Konohamaru dan Udon yang sibuk berkutat dengan koran, menoleh pada mereka. "Mau jus jeruk atau melon? Maaf, adanya hanya itu. Eh, tapi kalau mau teh atau kopi juga ada, kok."
"Jus jeruk!" Himawari berseri-seri menatapi interior kelas. "Terima kasih, ya."
Moegi mengajak mereka untuk duduk di spasi karpet berbahan lembut yang masih kosong. Berlalu untuk mengambilkan jus buah dari kulkas di kelas Jounin, menuangkannya ke dalam dua gelas plastik, lalu kembali lagi, menyerahkan pada Himawari dan Sarada. Dia pergi sejenak untuk menyerahkan botol jus pada para pemuda.
"Yuk, kita makan." Yakumo telah kembali dari loker, mengacungkan obentou miliknya sendiri dan menggelarkan serbet di atas karpet.
Himawari bersuka cita membuka kotak bekalnya sendiri. "Nee-san makan denganku saja."
Sarada mengangguk singkat. Asing menatapi kelas yang jauh lebih sempit dibanding kelasnya. Selagi makan bersama dengan yang lain, ia memandang seisi kelas yang terasa terlalu kekanak-kanakan.
Kelasnya khusus kelas Jounin. Adik kelas yang ia punya hanya kelas Chuunin. Semua berseragam dan beratribut lengkap, licin dan rapi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ada pantry sendiri, dekat pula dengan kafetaria para guru kalau ingin sesuatu.
Di sini, tidak banyak yang memakai seragam rapi. Bahkan anak perempuan boleh pakai celana. Kebanyakan hanya memakai kaus, paling rapi juga hanya kaus berkerah, celana jeans, celana pendek tiga perempat, bahkan tidak berkaus kaki.
Sampai ia mendapati sesosok asing yang bukan warga kelas Kyuubi. Dengan nyaman terlelap berbantalkan perut maju Faz, dan perutnya sendiri jadi bantalan untuk Inari yang tidur melintang.
"Astaga, Shikadai!" Sarada mendesis, dia menendang kecil kaki pemuda itu. "Apa yang kaulakukan di sini?"
"Aish." Shikadai membuka sebelah mata. Sama seperti beberapa pemuda lainnya, dia menaruh telunjuk depan ibujari. "Kau tidak lihat adik-adik di kelas Kyuubi pada tidur, hah? Jangan bilang begitu, kalau kau saja ada di sini, Elitis Hebi."
Sarada keki ditatapi dengan tajam oleh para pemuda dari kelas Jounin Kyuubi. Dasar lelaki. Walaupun ia merasa janggal. Kenapa bisa para pemuda yang harusnya berego luar biasa, mesti peduli dengan anak-anak kecil?
Ia heran. Tentu saja, kelas Hebi tidak memiliki adik tingkat Genin. Hanya ada kelas Chuunin dan Jounin, tapi tiap kelas berisi empat puluh orang.
"Jawab saja pertanyaanku apa susahnya, sih." Sarada menyundut lagi telapak kaki Shikadai dengan ujung sumpit.
"Kelas ini nyaman," kata Shikadai, seolah itu telah menjawab pertanyaan Sarada. Tenang memejamkan mata, menepuk-nepuk punggung lengan Inari yang tidur melintang di atasnya.
"Untuk pemalas sepertimu sih, tentu saja iya." Sarada memutar bola mata. "Untuk apa anak kelas Genio ada di sini?"
Kelas Genio adalah kelas yang diperuntukkan untuk anak-anak jenius. Isinya anak-anak eksentrik, begitu kebanyakan kelas dari Konoha, bahkan kelima Rumah Asrama menyebutnya.
Wali kelas mereka, tentu saja, Nara Shikamaru. Membiarkan anaknya berkeliaran belajar sendiri, lebih sering meninggalkan mereka dengan misteri alih-alih materi.
Sarada yang notabene kelasnya bertetangga dengan kelas Genio, tentu saja tahu betapa gilanya isi kelas itu.
Ada banyak anak menjadi hacker yang ditakuti dunia, tapi sayang justru tentang anak yang mampu membuat sistem keamanan jaringan jarang disiarkan. Jenius dalam coding dan ahli kriptografi tidak hanya ada cuma di anime-manga.
Apa kau bisa membayangkan seorang bocah menghafal 3,600 rute penerbangan di Amerika Latin ke seluruh penjuru Amerika lainnya?
Apa kau pernah bertemu anak yang menghitung kuadrat hingga pangkat tiga, ataupun berbagai teorema serta hitungan rumit kalkulus, hanya bengong sekitar lima detik lalu tahu-tahu mengucap jawabannya tanpa butuh kalkulator?
Terbayangkah bagaimana kau dapat memproyeksi bangun ruang dimensional solid ataupun tidak?
Pernah bertemu dengan bocah yang mampu berbicara fasih serta lihai menulis di atas lima bahasa?
Tahankah kau berhadapan dengan anak yang akan mengoceh tentang spesies, genus, famili, sistem kingdom di Biologi tiap kau berhadapan dengan pohon atau hewan tertentu?
Mampukah kau mengingat Sejarah dari berbagai belahan dunia, mulai dari mitos, legenda, sampai fakta dan data peristiwa yang otentik?
Bisakah kau mengeja kata INVICIBLE terbalik dengan cepat, E-L-B-I-C-I-V-N-I? Atau kausanggup mengucapkan Supercalifragilisticexpialidocious tanpa keseleo lidah?
Sanggupkah matamu tetap baik-baik saja melihat corat-coret hitungan kuantum mekanika, maupun analisis sistem propulsi roket?
Iya, kelas Genio tidak berisi anak-anak normal. Shikadai hanya salah satunya. Sayang, anak-anak kelas ini lebih individual dan dicap tak normal, hanya karena mereka punya kemampuan yang lebih daripada mayoritas murid lainnya.
Shikadai melirik malas Sarada yang menyantap bekal makan siang dengan Himawari. "Kau tidak tahu? Anak-anak kelas ini jenius, tahu."
Sarada mendengus. "Jangan menghina mereka."
Shikadai menyeringai tipis. "Oh, kau tidak tahu berarti."
"Bicara jangan ambigu, bisa-bisa aku salah paham padamu kalau kau terus bicara seperti itu," argumen Sarada tajam.
Sarada tercenung ketika mendengar kikikan pelan dari Moegi dan Yakumo. Dia dan Himawari saling berpandangan, selebihnya mungkin ia merengut karena merasa dipermainkan.
"Itu doa, kok." Moegi menyungging senyum, menatap kedua tamu kelas itu dengan pengertian. "Shikadai-kun biasa ada di sini. Dia pasti sering dengar Naruto-Sensei menegur kami kalau memanggil teman sekelas dengan buruk."
"Maksudnya?" Sarada mengerutkan kening.
"Di sini tidak boleh memanggil teman dengan sebutan bodoh, idiot, atau semacamnya. Karena kepercayaan orang tua, kalau ada malaikat lewat, nanti dikabulkan, malah bahaya untuk anaknya," terang Moegi.
Yakumo mengangguk singkat. "Naruto-Sensei menetapkan peraturan, tidak boleh mencaci-maki teman sekalipun hanya bercandaan. Panggil temanmu dengan namanya, atau kalau memang gemas sekali, sebut saja dia: Jenius. Supaya jadi doa yang baik untuk anak-anak."
"Adik-adik kami di Genin, dipanggil Kesayangan. Di Chuunin, adik-adik dipanggil Kebanggaan. Nah, kami yang tingkat Jounin, dipanggilnya Jenius." Moegi tertawa geli. "Entah apa maksud Naruto-Sensei memanggil kami seperti itu."
Shikadai mengangkat tangan yang tidak memegangi Inari. Menunjuk pada meja bundar yang berisi beberapa pemuda yang khusyuk dalam diskusi seru.
"Capek aku bicara dengan Patrick-Spongebob." Pemuda tertinggi di kelas, berkulit tan, dengan sorban melilit baseball cap Kyuubi-nya, menghela napas keras-keras memandangi Konohamaru dan Udon.
"Hei, dilarang bicara begitu, Iwabweeeek!" Konohamaru memelet lidah.
Iwabee dengan cepat melepas tali hitam yang melilit syal merah di topinya, mencekik Konohamaru dengan tali itu. "Yang cucu Perdana Menteri memang tidak bisa mengeja I-Wa-Bee!"
"Mau cucu perdana menteri, mau cicit juragan dorayaki, siapa pun butuh pertolongan tetap saja mesti ditolong!" Udon menendang bokong Iwabee yang jatuh berguling ke atas karpet dengan Konohamaru, tanpa suara kedua pemuda itu berguling-guling di lantai dan karpet saling memiting.
"Kenapa aku ditempatkan di kelas ini lagi?" Shinki berdecak.
Udon tersenyum maklum. "Susah sih, ya, kalau Shinki-Tom di sini, Metal-Lee-Jerry malah di kelas Tsuyoi."
Udon sigap meloncat, jatuh ke karpet tanpa suara, begitu Shinki dengan ketenangan mematikan menyambitkan penggaris mistar nyaris mengiris lengannya. Dia merayap di bawah meja tak ubahnya serdadu di medan perang.
"Metal Lee pantas ada di sana, kok." Iwabee bergidik ngeri mengingat kelas Tsuyoi, berisi anak-anak dengan fisik terkuat dan masokhis tiada tara. "Kalaupun tercemplung ke kelas ini juga tidak heran."
Konohamaru mengeluarkan suara tikus sekarat. "Me-me-menjadi gila a-a-aakh-adalah tugas Shinki, Ace-sama kelas Kyuubi—hhh."
"Shinki, kau bisa kena detensi dari Naruto-Sensei kalau menyakiti orang lain lagi," cicit Udon dari bawah meja. Dia berjengit ngeri karena Shinki malah menekan telapak kakinya keras-keras pada Iwabee dan Konohamaru yang menggaruk-garuk kakinya.
"Lakukan saja! Pecahkan saja gelasnya lagi, Shinki! Lebih baik daripada kaupecahkan gelas ibu atau nenek di rumah, aku mengerti, kok—grrh." Iwabee menahan kaki sang bocah penguasa yang makin kejam menginjaknya.
Konohamaru ganti taktik, menggelitik tulang kering Shinki sambil terkekeh geli. "Terus lakukan ini, dan aku bocorkan bahwa kau membolongi jubah bulu-bulu mahalmu pada Gaara-Sensei!"
"Sekalian dengan kau coba-coba pakai tattoo, karena kau penasaran dengan tattoo di muka!" Iwabee memukul-mukul lutut Shinki agar melonggarkan injakan dari kakinya sendiri.
Shinki menggeser kursinya, non-ekspresi menginjak Iwabee dan Konohamaru yang gagal berkelit darinya. Merogoh saku kaus, mengeluarkan Iphone. Men-dial sebuah nama, kakinya lincah menahan Konohamaru dan Iwabee agar tetap tunduk terpaku di lantai.
"Kalian berdua cari mati, coba-coba mengkhianati Shinki!" desis Udon ngeri, memekik ketika tangan Shinki dengan cepat menyambar kerah kausnya.
"Halo, Araya." Shinki mengerling pada dua pemuda tingkat Jounin dengan datar. "Butuh pengkhianat lokal berkualitas untuk didepak ke kelasmu?"
"Romantis!" seru Konohamaru, memeragakan gerakan memenggal leher. "Kita sudah naik level, Gengs!"
"Berkualitas." Iwabee memutar bola mata. "Kenapa telingaku malah panas mendengarnya?"
"Ah, ya. Siapa tahu kelasmu juga butuh manusia udik bernama unik." Shinki berbicara pada Araya via telepon, mencengkeram kaus Udon agar tak kabur jauh-jauh darinya.
"Demi Keagungan Jashin," rutuk Ryuuki yang membanting pensil ke atas koran, melotot pada Shinki dengan congkak, "sekalian bilang pada karibmu itu, dijual Tuan Muda Maniak dengan kearifan lokal."
Shinki menoleh padanya dan menyeringai tak kalah angkuh. "Manusia Hina."
Ryuuki mencurengkan dahinya. Menyeringai yang mengiritasi mata. "Sampah."
"Good job, Soldier." Iwabee dengan takzim memberi hormat, bersama Udon dan Konohamaru, bagai dihadapkan pada tiang bendera. Walau aslinya, mereka salut pada Ryuuki yang tsundere maksimum menyelamatkan mereka dari cengkeraman diktator, alias Shinki.
Konohamaru mengangguk khidmat melihat Shinki ganti sasaran, gontok-gontokan dengan Ryuuki. "Atas nama Jashin, kamilah manusia yang telah disakiti Shinki, bersumpah akan mengenang jasamu sepanjang masa, Ryuuki."
"Berikan penghormatan terakhir pada pejuang kita, Hamba Jashin paling sinting, Ryuuki. Namamu akan terukir di prasasti memori, sebagai manusia cari mati yang berani-berani melawan Shinki-Aruji."
Udon bangkit untuk mengambil potongan kardus, lalu menuliskan kanji nama Ryuuki di atasnya, membenamkan kardus di pot tanaman hias dalam kelas—seolah tengah menanamkan batu nisan di atas gundukan makam.
Seisi kelas Kyuubi yang tidak tidur, tertawa tertahan atau bahkan mengakak keras sampai terjatuh tanpa suara, begitu Konohamaru dan Iwabee berduet mencoret papan tulis dengan huruf kanji yang apik.
Turut bersuka cita atas tiadanya saudara kita, Jashinista!
"Di saat seperti ini, aku mengerti kenapa mereka masuk kelas Kyuubi," komentar seorang gadis dari kelas chuunin, berambut coklat pendek dengan mata hijau kecoklatan, memakai kaus putih bercoret kanji funky "Wasabi Mastah".
Sebelum sempat membuka mulut, seorang pemuda bermata sewarna permen ungu dan rambut pirang kecoklatan, bertepuk tangan pelan. Kaus putihnya coreng-moreng dengan tulisan Gagu-Kagu dan Fake-Idiot.
"Oke," sang pemuda membuka buku absensi kelas Jounin Kyuubi, "detensi plus point minus untuk Konohamaru, Iwabee, Udon, Ryuuki, dan Shinki."
Ryuuki menyilangkan jari tengah dan telunjuk lalu mengacungkan ke muka Kagura. "Fu—
"Language!" tegur Kagura tegas.
"English, Paaak!"
Tentu hanya mereka yang dari kelas Kyuubi, tahu bahwa "paak" itu pelesetan dari kata dengan ejaan huruf f, diikuti u, c, dan k. Kalau sudah Ryuuki mendesis "paaak", anak-anak refleks mengakak.
Sarada membelalak. Agaknya tak menyangka, cucu dari kepala sekolah Mizu, Yagura Karatachi, bisa ada di kelas Kyuubi yang harusnya untuk anak-anak bodoh, bebal, dan idiot.
"Bagaimana bisa Shinki Sabaku dan Kagura Karatachi terpeleset masuk kelas ini?"
Sarada menoleh ketika Shikadai angkat bicara lagi. Dia menggembungkan pipi, tapi memang Shikadai berhasil menebak yang tercetus di pikirannya.
"Tahu, kok." Sarada mendengus. "Kebebalan mereka. Shinki mungkin mengganggu yang lain dengan perangainya. Kagura kan tidak mau jadi ketua kelas atau anak berprestasi dari Rumah Asrama kakeknya. Menghindari dia soalnya."
"Tapi apa maksud kalian dengan jenius?" Himawari menautkan alis memandangi baik Shikadai, Yakumo, maupun Moegi.
Ketiganya hanya menatap Kagura, seakan jawaban akan datang dari pemuda yang mereka pandang. Yang bersangkutan, kenyataannya tengah menampilkan senyuman mematikan dan meremangkan bulu kuduk.
Paling tidak, untuk mereka yang masih waras dan bukan kalangan bebal ataupun bodoh.
"Konohamaru, you ARE our leader. Act like one!" Kagura menyambar penggaris mistar, menjauhkannya dari Shinki sebelum coba-coba dipakai jadi alat penyiksaan atau bahkan pembunuhan sekalian—seperti yang sudah-sudah.
Ryuuki mendengus, tangan saling cengkeram dan jambak dengan Shinki. "You are his subordinate, Kagura. Act like one!"
"I will, if he acts like one." Kagura melerai Ryuki dan Shinki, berani menjadikan badannya sendiri tameng agar keduanya tak saling cakar.
"Thank you for being a nagging mommy, Kagura." Konohomaru menyengit tak berdosa, dia menyelami pandangan temannya satu per satu. Dengan sigap mengelak dari lemparan botol minum yang Kagura lemparkan padanya.
Baru Konohamaru mau membuka mulut lagi dan mengucapkan sesuatu, suara getaran ponsel yang teredam saku baju menguar ke seantero ruangan. Konohamaru menyakukan tangan, menarik keluar Iphone. Wajahnya berubah rikuh melihat nama siapa yang tertera.
"Naruto-Sensei." Konohamaru memapar layar ponselnya ke hadapan yang lain.
Sarada dan Himawari tentu tidak melewatkan bagaimana para anggota kelas Kyuubi bertampang oh, crap.
"Sensei kita itu stalker, aku bersumpah." Iwabee bergidik, mengusap-usap punggung lengannya, menunjukkan pada Udon. "Lihat, ini bulu tanganku sampai berdiri."
Udon menggaruk pangkal dahinya, mengeret ngeri. "Tolong, Sensei satu itu sentimen sekali sih dengan bercandaan biasa saja."
"Ssht, jangan bilang begitu." Konohamaru mondar-mandir memandangi layar ponsel. "Sensei kan sudah bilang, bercandaan menjadi keterlaluan kalau kitanya tidak bisa menempatkan perbedaan mana candaan dan yang mana hinaan."
"Dia pasti pasang penyadap atau CCTV di suatu tempat, demi nama mulia Jashin." Ryuuki berdecak, mengacak rambutnya ke belakang dengan tangan.
Shinki duduk lagi dengan kalem di kursinya. "Kita harus membongkar kelas ini dan mendapatkannya."
"Astaga, ini tidak akan terjadi kalau kalian mematuhi Naruto-Sensei." Kagura mengusap wajahnya yang mulai berkeringat dingin.
"Jashin akan mengampunimu kalau kau reject telponnya, Konohamaru!" seru Ryuki dengan kepalan tangan menimpa atas koran keras-keras.
Konohamaru bergeming, lamat-lamat dia menoleh. Wajahnya memucat. "Katakan, siapa bisa menjamin keselamatan jiwa-ragaku kalau telpon ini aku abaikan?"
Sunyi meringkus riuh-rendah ruangan, hanya bunyi getar ponsel dan dengkur anak-anak kecil yang menandakan kehidupan dalam kelas Kyubi.
Mereka menghela napas lega begitu melihat ponsel Konohamaru berhenti bergetar. Para pemuda yang ribut bahkan bertos-tosan, dengan wajah datar kembali duduk di meja bundar. Seolah tidak terjadi apa-apa, merampungkan tugas yang tengah mereka kerjakan.
Bunyi chat masuk di ponsel Konohamaru, meruntuhkan ketenangan yang baru saja kembali di antara para pemuda. Beberapa bahkan menelan ludah, mengangguk pada Konohamaru yang pias untuk membuka chat itu. Mereka mengerubungi ponsel Konohamaru dan membaca chat dari Naruto.
"Kita diminta menghadap Naruto-Sensei ke kantor guru, Jenius." Konohamaru mendesah keras.
"Good luck, Geniuses!" kikik Moegi, berbanding terbalik dari para pemuda yang ekspresinya berganti ngeri.
"Apa ayahku itu guru yang kejam?" tanya Himawari khawatir.
Tak ada yang menjawab pertanyaannya. Ini dikarenakan anak-anak kelas Kyuubi lainnya malah melambaikan tangan, tawa mereka tertahan, bak tengah mengantarkan prajurit yang akan berlaga di medan perang.
"Tidak, kok," buru-buru Moegi menyergah. "Justru itu bagian dari caranya mengajari kami."
Himawari masih tampak cemas. Yakumo menyikut Moegi, karena penjelasan gadis itu tidak memudarkan raut menyangsikan putri dari guru mereka.
"Kamu boleh kok datang ke sini lagi nanti," ucap Yakumo seraya menepuk punggung tangan Himawari. "Liha sendiri bagaimana Naruto-Sensei menyayangi kami."
Moegi mengangguk, dia beranjak, setengah memeluk Himawari. "Kau punya ayah yang luaaaar biasa!"
Perlahan-lahan, senyum menyembul di wajah Himawari, yang lalu menyengir manis berseri-seri.
Berbanding terbalik dengan airmuka Sarada yang memuram, hilang sekerjap mata untuk orang-orang tahu bahwa ekspresi itu sempat ada.
Konohamaru dan keempat pemuda lainnya, tidak kaget melihat guru mereka dipandang hina di kantor para guru.
Bagaimana tidak, ketika jam makan siang pun guru lain pontang-panting mengurusi kelas, membalas email atau chat sehubungan murid-murid, mengonseling siswa bermasalah, atau bahkan bertemu orang tua untuk membahas soal siswa, guru mereka malah duduk santai saja.
Meja para guru senior dihadapkan dengan juniornya. Ada spasi lengang di belakang meja para pengajar, biasanya dijadikan area pribadi mereka sendiri. Ada yang pasang meja rias ala selebriti, membuat perpustakaan kecil, menaruh sofa untuk bermalasan, dan Naruto pasang kursi pijat.
Guru mereka dengan santai tengah membaca buku, sambil duduk di kursi pijat. Iya, kursi pijat. Kursi ini baru ada sebulan setelah situasi dan kondisi KBM di kelas mereka mulai stabil.
Mereka mencoba beradaptasi dengan kenyataan, guru mereka sendiri tak luput dari hinaan. Kalau dilihat baik-baik, mereka cuma mampu tersenyum maklum. Lumrahi saja, guru lain rusuh mulai dari datang sampai pulang, hanya guru mereka yang santai bukan kepalang.
Dengan kata lain, ada yang iri karena Naruto Uzumaki bisa begitu santai. Mencemooh karena mereka menilai sang guru begitu bodoh. Sisanya bahkan tak punya waktu untuk ambil peduli.
"Selamat siang, Naruto-Sensei."
Naruto mendongak dari buku yang tengah ia baca. Cengirannya merekah melihat wajah para muridnya, yang berjajar rapi di sisi kursi pijatnya. Lekas ia menutup buku. "Hai, Jenius-jeniusku."
Naruto menyandarkan punggung dengan nyaman di kursi pijat. "Kalian tahu dan mengerti kenapa kalian kupanggil?"
"Karena ... uh, foul language." Kagura menundukkan kepala. "Kami memanggil teman dengan panggilan yang merendahkan."
Konohamaru berdeham. "Karena ... mm, bergulat."
Naruto mengangguk. Memandangi murid-muridnya. Dulu waktu dalam kondisi dan situasi begini, biasanya mereka akan menunduk kalau merasa bersalah. Namun seiring waktu berjalan, Naruto berhasil meminta mereka untuk menatapnya, bukan karena ingin menantang, melainkan menyelami tatapan mereka.
Anak-anak itu tidak tahu, bahwa Naruto mencari tahu apa mereka akan jujur atau coba-coba berbohong padanya.
"Ada alasan kenapa kalian melakukan demikian?" tanya Naruto, menegakkan sedikit duduknya.
"... karena kami sedang mengerjakan tugas, tapi tidak bisa menemukan persamaan pandangan," jawab Konohamaru pelan.
"Dan itu membuat saya tidak sabar, jadi kami saling ledek—bercanda sebenarnya." Meskipun ia sudah berusaha tidak menundukkan kepala, tapi tatapan Iwabee turun ke bawah. Sulit mengubah kebiasaan yang ia pelajari diajarkan dari sekolah dasar dulu.
"Dan tidak mendoakan satu sama lain "Jenius" atau semacamnya," gumam Udon.
"Jashin saja tahu mereka menyebalkan."
Kejujuran brutal Ryuuki membuat teman-temannya menoleh lalu melotot, sementara Naruto tersedak dalam upaya menahan tawa.
"Apa Sensei bilang soal menyebalkan, hm?" Naruto terkekeh, geli menatapi anak-anak yang sedang berusaha menahan diri untuk tidak saling injak.
Shinki menatap Naruto tanpa berkedip. "Coba introspeksi dulu. Bisa saja orang jadi menyebalkan, karena kita duluan yang mulai jadi orang menyebalkan."
"Nah, itu kalian jenius," tanggap Naruto, menatap mereka dengan apresiatif. Dia bangkit, beranjak menuju ke mejanya. "Okay, Geniuses, aku sudah bilang, dilarang bicara foul-language."
"Duh, Naruto, munafik sekali sih kau! Kayak tidak pernah bicara foul-language saja!" cetus Karin dari dua meja di sebelah Naruto.
"Bodohnya dia kok tidak sembuh-sembuh, ya." Ino menggeleng-gelengkan kepala.
Sang guru tak hirau pada cetusan maupun dengungan penggosip di sekitar. Dengan kalem menaruh buku ke atas meja, berputar balik menghadapi anak-anaknya.
"Kalian tidak berbahasa seburuk preman jalanan, kok. Aku tahu yang jauh lebih parah." Naruto mengekeh lagi, berkelibat dalam benaknya tampang para pemungutnya yang preman kelas atas. "Aku memanggil kalian ke sini, hanya untuk meminta kalian mengapresiasi teman sendiri. Coba kalian pikirkan baik-baik di sini, kemudian ungkapkan keburukan lalu kebaikan teman kalian. Itu saja, kok."
Naruto mempersilakan siswanya satu per satu mencela satu sama lain. Dia malah sibuk terpingkal-pingkal geli karena mereka saling menyalahkan, dan itu wajar terjadi pada umumnya. Ia menyesap teh hijaunya, dengan kehati-hatian mengerling ke belakang.
Hinata baru selesai merekap absensi bulan ini. Tangan lain memegangi gagang cangkir. Oh, dia minum teh hijau juga. Dia beralih untuk mengoreksi essay Sosiologi murid-muridnya.
Naruto berhenti menatapi ketika pandangannya bergulir ke samping. Keningnya berkerut dalam, melihat Sasuke masuk ruangan dengan lengan digandeng oleh dua wanita lain yang menggelayut manja padanya.
Ia kembali mengutuhkan fokus pada anak-anaknya, tatkala Sasuke berhenti persis di belakangnya. Tidak perlu menoleh untuk ia tahu, ada tatapan tajam hendak melubangi kepala. Jemari mengerat di tepi meja.
"Ah, Sasuke-kun, kau tidak lihat aku sedang—!"
"Oi, Sasuke!" seru Kiba dari meja di sebelah Naruto. "Capek aku melihatmu mainan dengan wanita lain, lalu main paksa mencium istrimu begitu saja!"
"Hinata itu istriku. Jangan ikut campur." Suara dingin Sasuke berbaur dengan gumam penolakan Hinata yang merintih kesakitan.
"Jangan kasar begitu," Shino bahkan ikut menegur dari meja persis di samping Hinata, "aku rasa kau tidak buta untuk bisa melihat kau membuat istrimu kesakitan tiap kau main tarik tangannya dan menciumnya."
"Dan ini sekolah, bukan tempat umum yang bisa seenaknya kau mengumbar kemesraan," bahkan Tenten saja ikut angkat bicara. "Kenapa kau jadi begini, sih? Kenapa tidak cuek saja pada Hinata seperti kau di tahun-tahun sebelumnya, hah?"
Naruto mengerling ke meja di samping Shino, melihat Shikamaru menyeringai pada Sasuke. "Merasa terancam, hm?"
"Urus saja urusan kalian sendiri. Tidak pantas kalian bicara, kalau kalian bahkan tidak ada di posisi orang yang pantas untuk kudengarkan."
Naruto menggigit bibir, menahan kekehan yang nyaris termuntahkan melihat kolega kerja di sekitarnya berkeriut raut mereka. Sebagai guru, tentu mereka tidak sebodoh itu untuk tahu hinaan terselubung dalam tatanan kata-kata bernada tajam.
Denotasi yang Sasuke maksudkan ialah, tidak ada yang berhak bicara balik padanya, karena ia adalah guru teladan. Titel itu adalah segalanya di sini, terlebih ranking kelas-nya tiap bulan tak pernah turun dari peringkat lima teratas.
"Oh, Shikamaru. Kelas Kage-mu berpotensi sekali mengalahkan kelas Hebi Sasuke, kok," gumam Chouji yang tengah sibuk dengan makan siang porsi jumbonya.
Naruto mengerutkan kening, anak-anaknya berdiri canggung dan kaku di situ, pelan menggumamkan kebaikan teman mereka. Namun yang menculik perhatiannya ialah reaksi orang-orang di sekelilingnya.
Walaupun telah terjadi berkali-kali, tetap saja adegan di mana Hinata menarik tangannya kuat-kuat dari Sasuke, selalu membuat mereka terperangah.
Naruto menghela napas dalam, dia berlutut untuk membuka lemari di meja kerjanya. Mengeluarkan sebuah kantung plastik konbini. Mengecek isi untuk memastikan jumlahnya telah pas, selagi ia diam-diam mengintipi yang terjadi.
Cengirannya sepintas muncul melihat Hinata menyentakkan lengan dari tangan Sasuke lalu mundur teratur, sebelum lenyap di balik kerusuhan mengeluarkan bungkusan untuk anak-anak.
Naruto menaruh buku ke dalam lemari, kemudian menguncinya. Ia menaruh tutup ke atas gelas teh. Pandangannya menggelap sebentar mendapati Sasuke menyambar lengan Hinata, tangan terkepal sebentar, barulah terurai saat ia menyibukkan diri mengunci lemari.
"Oh, sudahlah, Sasuke-kun! Biarkan saja dia, ayo kita pergi!" rengek seorang wanita. "Istrimu sudah tua begitu dan kelihatan membosankan. Penampilannya saja sebentar lagi tidak akan jauh beda dari nenek-nenek. Kau juga tahu itu, kok."
"Sakuraaaa-saaaan!" Lee dan Neji meloncat dengan cepat saat Sakura nyaris gelap mata dan melayangkan tinju pada wanita itu.
"Shannaro!" Sakura meraung keras, berusaha lepas dari kedua pria yang jadi tetangga meja kerjanya. "Kalian katarak atau bagaimana, hah?! KALAU AKU PRIA WARAS, AKU PASTI PILIH BERSAMA HINATA SEHIDUP-SEMATIIII!"
"DASAR JALANG LESBI!" bentak sang wanita pada Sakura, dan kalau bukan karena ada Temari yang menahannya, pasti ia sudah mencakar dan menjambak Sakura kera-s-keras.
Ino membantingkan tangan ke telapak meja, loncat dari balik meja, mengabaikan kepala Chouji yang kena tendang sepatu haknya secara tidak sengaja. "BICARA APA KAU PADA TEMANKU, HAH? KAU GURU ATAU BUKAN, MULUTMU SAMPAH BEGITU!"
"Ino, astaga, jangan ikut-ikutaaaan!" Shikamaru dan Chouji juga melompat, mati-matian menahan Ino yang nyaris melayangkan tangan untuk menggampar perempuan itu.
"Babi, jangan munafik! Halah, dasar, sampah bicara soal sampah!" sang wanita meludah ke arah Ino. "Kau bahkan pernah ditiduri oleh Sasuke-kun juga, memang dikira suamimu tidak tahu, hah?!"
"LEPAS!" Ino berontak sekuat tenaga. "Kalian tidak lihat?! Ada yang salah dari sekolah ini, mereka tidak pantas jadi guru! SAMA SEKALI TIDAK PANTAS!"
"Itu kan dulu." Sai bangkit dari mejanya, cepat-cepat menggantikan Shikamaru dan Chouji, menahan paksa Ino untuk tidak main pukul dengan memeluknya erat-erat. "Cepat tahan istri kalian, sebelum mereka sempat melakukan pembunuhan."
Situasi mulai tak terkendali. Naruto menjejalkan kantung plastik pada murid-muridnya. "Buat adik-adik Kesayangan dan Kebanggaan, Geniuses. Tolong segera kembali ke kelas, nanti Sensei menyusul, oke?"
"Ngh ..." Konohamaru berjengit, sedikit menggigit bibir, ketakutan mendengarkan caci-maki yang membumbung ke langit-langit tinggi kantor guru. "Sensei ... jangan macam-macam, ya."
Shinki menyeringai. "Bantai saja mereka, Sensei."
Naruto tertawa. "Sudah, kalian pulang saja ke kelas, gih."
"Jangan!" Kagura menahan lengan sang guru. "Nanti Sensei macam-macam, lebih baik ikut kami saja kembali ke kelas!"
"Aku minta tolong kalian segera kembali ke kelas."
Kelima pemuda itu berpandangan, Kagura bahkan melepaskan tangan Naruto ketika Konohamaru menggeleng padanya. Mereka berpamitan keluar ruangan dengan tolehan sekali lagi, memastikan guru mereka tidak akan berulah macam-macam.
Bahkan bukan hanya mereka yang dari kelas Kyuubi, anak-anak yang berseliweran pun dikeluarkan dari kantor guru, disuruh menjauh.
Beberapa guru senior, yang sudah biasa melihat kericuhan ini, cuma berkomentar, asal mereka bisa profesional mengajar siswa dalam kelas agar hasil belajarnya berujung prestasi tinggi, maka biarkan saja kelakuan binal mereka.
Naruto menoleh ke samping. Getir mendapati Hinata menggigil, menggigit bibir agar tak berkata apa pun, bahkan wanita itu menengadah agar airmatanya tak tumpah.
Wanita mana tidak akan menangis, mengetahui suaminya selingkuh dengan wanita lain berkali-kali bahkan sampai menggoyang ranjang. Hinata bukan wanita bodoh yang jadi budak cinta, melainkan ia tidak punya pilihan karena itulah mau keluarga dan orang tua.
Jika saja bisa ia lari, dan putranya tidak begitu menyayangi ayah angkatnya, mungkin Hinata sudah pilih lari berulang kali. Namun orang-orang yang mengenalnya tahu, ketika semua perempuan terjatuh dan terluka, tatkala semua orang meratap dan tak percaya, hanya Hinata yang berani menghadapi semua itu sendiri.
Mungkin wanita lain akan menangis kejang, begitu diteriaki oleh selingkuhan suaminya, "Payudara kendor!" atau "Suamimu saja bilang, kau membosankan di ranjang!", bisa juga "Lubangmu tidak rapat, mana enak buat dicocol!" bahkan mereka lebih ekstrim dari para pelakor yang diselingkuhi karena cinta.
Lebih lagi, bahkan malah para mantan peselingkuh Sasuke, seperti Sakura, Ino, dan Juga Karin, yang justru marah besar mengetahui caci-maki mereka. Mereka pernah jatuh cinta pada sang pria pujaan, karena itulah kemarahan mereka membludak hebat tatkala Sasuke bergeming saja.
"DASAR GILA! KALAU AKU PRIA, AKU TIDAK AKAN CARI YANG SELAIN HINATAAAA!" jerit Karin, hanya keajaiban saja yang bisa membuat Suigetsu serta Juugo tetap bertahan dan telinga baik-baik saja usai mendengar jeritan berdarahnya.
"Jangan dengarkan mereka," kata Sasuke, menarik lengan Hinata untuk jatuh ke pelukannya. Dia mengangkat dagu Hinata, menyejajarkan tatapan mereka. "Hanya kau yang kumiliki. Mereka datang dan pergi, dan hanya padamu, aku selalu kembali. Milikku," dia menggigit telinga Hinata yang menahan dadanya kuat-kuat agar tak mendekat, "hanya milikku."
Kali ini, Suigetsu dan Kiba, berduet menampakkan tampang orang muntah.
"Astaga, Hinata. Tampar saja dia!" pekik Kiba. Dia menoleh pada kakak sepupu Hinata yang membelalak, rahangnya mengeras hebat. "Neji, coba katakan sesuatu pada pamanmu!"
"Aku ... tidak didengarkaan, karena keluargaku bukan keluarga utama. Tsk, coba saja semua semudah itu." Neji meremukkan botol air mineral kosong yang ada di tangannya.
Hinata mengelakkan kepalanya, tangan memegangi telinga dan mengusap pinggulnya. "Hentikan, Sasuke-kun."
"KYAAAA!" pekikan para penggemar butanya. Beberapa bahkan menoleh dan mendesah bahagia, astaga, meleleh sekali sih dibisiki seromantis itu! Dasar Hinata, beruntung sekali punya suami seperti Sasuke Uchiha! Posesifnya membuat wanita mana saja pasti iri!
"Kau harus berpenampilan lebih menarik. Mereka akan melihat kau sebenarnya sangatlah cantik." Sasuke merambatkan tangan, berlabuh mengelus pinggul Hinata. "Kau takkan kutinggalkan, kalau kau—"
"—tak membosankan?" gumam Hinata dengan ketajaman walau suaranya pelan.
"Supaya mereka bisa tahu," Sasuke mendengus sambil menganggukkan kepala, lengannya melingkar kuat di tubuh Hinata dan membenturkan badan mereka berdua, "kau milik siapa sebenarnya."
Naruto mengabaikan dengingan yang terngiang-ngiang di telinga, suara berani seorang putri: dasar control freak. Dia tidak peduli dengan kegilaan para wanita yang saling mencaci-maki, dunianya memblur dan mengisut hanya pada Hinata yang berjuang untuk lepas dari dekapan kobra Sasuke.
"Memangnya, Hinata itu barang, jadi bisa kaupamerkan pada siapa saja, Sasuke?"
Suasana perlahan berubah hening, menoleh patah-patah, menatap kaku pada Naruto yang membuat suhu ruangan perlahan membeku.
Naruto menghirup napas perlahan-lahan. Dia membiarkan tatapan, siapa sih dia, oh si guru bodoh itu, eh dia kan mantan suami Hinata, dasar gila dia kan ranking kelasnya paling bobrok, bukannya dia dipecat dari sekolah tempat mengajarnya dulu, sampai ke gosip KDRT dia dengan Hinata makin menggila.
Naruto dengan santai duduk di atas meja. Menyengir, kaki menarik kursi roda, lalu menginjaknya untuk jadi tumpuan. Membalas tatapan mematikan ala Uchiha yang rasanya matanya bisa berubah sampai ada titik koma anomali.
"Oi, Sasuke, kalau kau tidak bisa menerima istirmu apa adanya karena sudah merasa istrimu tak lagi cantik, bukannya kau cari yang lain yang lebih cantik." Naruto pasang tampang seolah mereka adalah sahabat lama yang akan beli beras di toko kelontong.
"Astaga, Naruto akhirnya gila juga." Sakura menepuk dahinya sendiri.
Naruto menatap Sasuke dengan senyum ringan. "Pakaikan istrimu baju dan sepatu yang cantik, sesuai yang dia nyaman dan suka memakainya. Temani dia pergi ke salon untuk berdandan. Belikan perhiasan kalau dia mau. Semprotkan parfum yang wanginya dia senangi.
"Dukung istrimu melakukan kegiatan positif atau apa pun yang dia suka lakukan, asal tidak melanggar norma dan batas-batas moral sosial. Buatlah dia bahagia, sebelum kau minta kebahagiaanmu. Ya, tapi kalau kau memang cinta, sih, lihat dia bahagia saja kau juga bahagia, kok."
Hinata menggigit bibir.
Sepatah tawa pongah meluncur keluar dari bibir Sasuke. Pria itu menyeringai. "Kau cuma bisa bicara saja. Apa pria yang dulu membelikan anaknya susu saja tidak mampu pantas berkata seperti itu padaku?"
"Itu kan dulu." Naruto tersenyum maklum. Dia menjentik jari. "Kalau kauceraikan istrimu, nanti aku bisa leluasa melakukan semua yang tadi kukatakan pada istrimu."
Sontak keheningan mematikan menyerbu sekujur ruangan. Bunyi orang-orang menelan ludah, napas yang tercekat hebat, sampai decakan tak percaya melanda seluruh penjuru.
Saking syoknya semua orang, Naruto malah menumpukan kepalan tangan kanan ke atas telapak tangan kiri yang terbuka.
"Oh, aku ingat tempo hari. Di pojokan taman Simpang Bundar Tersembunyi, kau merobek seragam guru Hinata. Merayunya "kau milikku" berulang kali, basi sekali. Marah padanya ketika Hinata tidak meresponsmu."
Orang-orang tercengang.
Lebih banyak orang yang ternganga, memandang Naruto seakan dia adalah pria paling gila abad ini.
Sasuke melepaskan Hinata, membalikkan badan dan memandang Naruto. Matanya membola, akar-akar merah di bagian putih mata tampak menyeramkan, bagai berdarah-darah, padahal bisa jadi karena kurang tidur ataupun menegang luar biasa karena amarah.
"Mungkin kau saja yang tidak bisa membuat Hinata bereaksi padamu." Naruto berdecak-decak.
"Ho ..." Wajah Sasuke berubah jengah, lantas menyergah, "kaumau bilang, bahkan setelah sepuluh tahun, Hinata hanya bisa bereaksi padamu?"
"Ouch, apa aku baru saja melukai harga diri pria karnivora pemangsa wanita muda?" Naruto bersorak kanak-kanak dengan kedua lengan meninju udara, menyadari arti emosi ekspresi Sasuke.
"Kau tidak punya pengalaman—"
"—makanya tidak pantas bilang apa-apa pada seseorang yang punya banyak pengalaman dengan wanita sepertimu, ya?" potong Naruto dengan cengiran ala bocah. "Memang tidak. Aku cuma punya pengalaman mencinta satu wanita saja, sih, soalnya. Mencinta, bukan bercinta."
Kali ini Naruto menautkan tatapannya pada Hinata. Oh, coba saja ia bisa berada dekat dengannya, dia kan bisa membisikkan, kau tidak usah menggigit bibirmu, biar aku saja yang melakukannya.
"Tapi ada jeda waktu lama, kurasa sekarang aku bisa melakukan lebih baik." Naruto bertopang dagu dengan siku di atas tekukan lututnya. Dia menghela napas panjang, mengerling Sasuke dengan jenaka sekilas.
"Kalau aku yang ada di posisimu, tentu aku akan senang sekali bisa membuka pakaian istriku pelan-pelan. Seperti menikmati hadiah terindah di hari ulang tahun," ucap Naruto dengan wajah sesantai orang bicara tentang cuaca yang mulai menghangat.
Jemari mengetuk-ketuk pipi yang bergaris-garis. Naruto memiringkan kepala, tatapannya melembut pada Hinata yang terpaku. "Kalau disentuh dengan perlahan dan tepat, kau tahu foreplay yang benar dan tidak main asal tusuk, aku yakin istrimu bisa jadi sangat vokal, Sasuke."
Kata istrimu, terdengar seakan mengatakan: istriku. Getar familiar yang lama tak terasa, kini menjalar dari ujung kaki dan naik menyengat ke tulang punggung dengan sensasi paling erotis.
Hinata menggigit bibir sedikit lebih keras, apalagi ketika sorot mata biru Naruto menggelap dengan cara paling intim memandanginya.
"Sasuke, aku bertaruh, pasti sudah terlalu lama kau tidak membuat istrimu begitu vokal dan responsif padamu."
Ini sudah sepuluh tahun. Jantung berdegup terlalu cepat, sampai-sampai ditatapi seintens itu saja Hinata merasa tungkainya mulai melunglai.
Naruto menghela napasnya perlahan-lahan, wajah seakan tengah membicarakan kelonjakan harga pangan. Walau kilat di matanya selaras dengan melodi seksi yang tersembunyi dalam nada suara netralnya.
"Sasuke dan teman-teman kencannya berpikiran hanya mereka yang paham nikmatnya dosa bermain api." Naruto mengedipkan sebelah mata pada Hinata, senyumnya berubah timpang dan tidak tahu itu memberatkan perasaan sang wanita.
"Naruto-kun ..." lirih Hinata.
Naruto memandangnya, mata biru itu menggulirkan perhatian dan tertambat di bibir Hinata. "Aku jadi ingat, dulu mulutmu juga selalu terbuka begitu. Bedanya, bibirmu sangat cantik saat merintihkan dan menjeritkan namaku."
Bukan mau Hinata untuk merasakan denyutan di bagian bawah, tanda vital yang seolah bisa basah. Ada sensasi aneh menyetrum hingga menyebabkan pucuk dadanya mengerat, perih menekan dalaman yang ia kenakan.
Terkenang bagaimana dulu Naruto melakukan semua itu padanya. Yang selalu ia bayangkan, di setiap kesakitan dan rintihan karena Sasuke memasukinya begitu saja, menggenjot ganas hingga terpuaskan seorang diri.
Astaga, padahal hanya kata-kata Naruto. Siapa sangka, perkataan saja bisa berefek sebegini dahsyat padanya. Hinata menelan ludah pelan-pelan, mengulum bibir bawahnya memikirkan bagaimana bila senyum di bibir Naruto yang mengulum bibirnya sendiri.
Sayang, mata biru, meski pemiliknya terpisah meja dan sembilan petak keramik, tidak mengurangi ketajamannya untuk tidak melewatkan semua reaksi Hinata itu. Sengaja pula ia mengunci perhatian Hinata agar terpusat hanya padanya.
"Apa kau memikirkan apa yang mungkin aku lakukan padamu, hm?" suara Naruto melagu, dan perempuan mana tidak meleleh ditatapi dengan tatapan tempat tidur tapi yang sesayang itu?
Seberapa pun ingin ia melihat dan menikmati reaksi Hinata, pipinya memerah, bibir yang selalu ia teguk desahan dan jeritan digigiti—dan heran juga kenapa bisa Sasuke berpaling lagi kalau reaksi Hinata semenggemaskan ini.
Namun ada sisi lain dalam diri Naruto, menginginkan semua reaksi murni Hinata ada hanya karena dan untuk dirinya seorang.
Naruto bertepuk tangan, kemudian menepuk bahu Sasuke. "Oke, jangan diambil hati. Jangan sungkan, lanjut saja bermain-main dengan perempuan lain. Istrimu kuat, kok, saking kuatnya dia bahkan bertahan begitu lama denganmu meski kau tetap saja begitu."
Naruto turun, sangat swag saat mengambil ransel dari meja dan memutar kunci di telunjuk. Bersiul riang, menyampirkan jaket baseball-nya ke atas bahu. Dia hendak keluar kantor, meninggalkan kekacauan yang rakus ditenggak keheningan.
Ia menoleh ke belakang sekali lagi. Hanya pada Hinata yang masih berdiri di sana, tersenyum mendapati Hinata senantiasa menatapinya.
"Kau milik Tuhan," ucap Naruto, memandang sayang dengan hati patah pada wanita yang pernah (masih) jadi wanita paling cantik untuknya.
"Dan kau lebih dari layak untuk dicintai oleh lelaki yang menjadikanmu satu-satunya dalam hidupnya, Hinata."
Naruto keluar dari ruangan, meninggalkan kericuhan karena aksinya dan Hinata tergugu sendirian.
ORANGE
.
Chapter 4: Declaration of War
.
(The right one is the one who makes you the only one)
A/N:
Supercalifragilisticexpialidocious adalah sebuah judul lagu dari film musical Disney di tahun 1964 berjudul Mary Poppins.
(1)Data kelas Kyuubi (sejauh ini). Total 30 orang. Tercakup genin, chuunin, dan jounin.
Genin: Ami, Inari, Chiyo, Azami, Faz.
Chuunin: Wasabi
Jounin: Konohamaru Sarutobi (ketua kelas Jounin + umum kelas Kyuubi), Yakumo, Moegi, Udon, Sabaku Shinki, Iwabee, Kagura Karatachi.
(2)kelas Kage (w.k: Shikamaru Nara): Shikadai
(3)kelas Hebi (w.k.: Sasuke Uchiha): Sarada, Boruto, Denki
(4)kelas Tsuyoi (w.k. Rock Lee): Metal Lee
(5)kelas Stands Proud (w.k.a Sakura Haruno): Himawari
(akan update lagi seiring penambahan karakter ke dalam kelas.)
Anak-anak jenius seperti di kelas Genio memang ada di dunia ini. Silakan ditonton US TV Series: Child Genius, boleh juga Genius Junior TV Show yang host-nya Neil Patrick Harris. The Brain TV Show China. Untuk anak-anak Indonesia, Little VIP di Metro TV.
Coding atau pemrograman adalah proses menulis, menguji, memperbaiki, dan memelihara kode yang membangun suatu program komputer.
Kritografi (atau kriptografi dari bahasa Yunani kryptos, "tersembunyi", "rahasia", dan graphein, "Menulis, atau logi yang berarti "ilmu) atau sandisastra merupakan keahlian dan ilmu untuk mengamankan informasi dalam berbagai aspek, seperti data rahasia, integritas data, dan autentikasi. Aplikasi dari kriptografi termasuk ATM, password komputer, E-commerce, dan sandi rahasia negara.
Control freak itu sebenarnya tidak pantas dilumrahi, bagian dari keposesifan. Dan tidak ada romantis-romantisnya, karena mengekang kebebasan—apalagi perempuan. Salah satu contoh kecil di atas, saat Sasuke menyuruh Hinata dandan yang cantik untuk (kepuasan) dirinya sendiri. Di chapter 2, saat Boruto (marah) meminta Hmawari menjauhi Naruto.
Guru model dengan contoh mengajar seperti Naruto itu sebenarnya ada di dunia, di salah satu dengan negara yang pendidikannya terbaik sedunia. Ada yang tahu? Motto mereka adalah: less is more.
cringey sekali chapter ini, saya ngerti. Saya juga pening menuliskannya, it's not my forte but I'm willing to try this out. Walaupun tiap lihat drama manusia di sekitar, saya tersadar, cerita saya enggak ada apa-apanya.
Saya peringatkan dari sekarang, makin ke sana, ini fanfiksi bakal makin banyak berisi hal menyebalkan. Kalau sudah tidak kuat, silakan mencari bacaan sesuai selera, ya. Kalau memutuskan untuk tetap membaca, tolong konten yang tidak baik dalam fanfiksi ini, tidak diserap mentah-mentah. Silakan ambil yang baik-baiknya saja, dan tolong jangan sungkan mengoreksi bila ada yang keliru (plotholes, karakterisasi, atau bahkan meski hanya typo, dsb).
Mohon maaf pada pembaca yang me-review dengan anonymous/guest, karena saya tidak bisa membalas langsung reviews kalian. Sebisa mungkin—kalau ingin, tolong login, agar saya bisa berterima kasih dan mengapresiasi kalian langsung.
Terima kasih atas apresiasi kalian yang luar biasa: edyhahodobe, Ren Azure D Lucifer Kanedy, FAISHAL ROKIE T, Sijeki, uzunami28, Fahzi Lucifer, Maria26, Yolanda, Katarays, bluemond, Tectona Grandis, kymc untuk fanfiksi ini.
