Oleh Hantu author fanfiction yang sudah pensiun, tentang ORANGE:
Jujur saja fic ini entah bagaimana menjadi salah satu fic terbaik yang pernah saya baca. Pembangunan feelnya begitu terasa sekali di hati, apa yg ingin author sampaikan dalam bentuk cerita dapat kita terima dengan baik, fic ini bs saya gambarkan sebagai sebuah lukisan. Lukisan itu bukan dinilai dari indah atau tidak sapuannya, bukan juga dari kehebatan memainkan warnanya, tapi lukisan yang benar-benar hebat itu sanggup membuat kita merasakan "sesuatu" nah ini yg saya rasakan ketika membaca fic ini. Selain itu saya liat author jg adalah org yg berwawasan luas jika menilik dari penggunaan kosa kata baik b. Indo maupun asing, serta beberapa pengetahuan akan hal-hal. dunia (terlepas dari anda searching/observasi atau memang dasarnya sudah tau sblm fic ini dibuat)
Saya kasih 5 jempol pokoknya. Fic non adv/non shinobi world pertama yang sanggup membuat saya ketagihan
Warning: konten edukasi, family scene, glosarium/trivia dan A/N yang sangat panjang.
"Wahai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, katakan Anda tidak membuat masalah di mana kami tiba-tiba diharuskan untuk berkompetisi di pertarungan hidup mati melawan kelas Hebi, Tsuyoi, apalagi Genio!"
Naruto yang baru menyelinap masuk ke kelas, menutup pintu di belakang punggung. Semburan pelan bernada panik tanpa tarikan napas dari Konohamaru, mencungkil pita suaranya untuk memvokalkan tawa.
Ia menemukan anak-anak tingkat Jounin tengah duduk melingkar di atas karpet, seperti kala pertama mereka bertemu. Pandangannya melunak. Kelima pemuda yang tadi ia minta kembali duluan ke kelas, pasti telah mengabarkan apa yang terjadi.
Naruto melepaskan sepatu, santai mengenakan sandal rumahan dan beranjak mendekat pada anak-anaknya.
"Maaf mengecewakan, kalian tidak mendapatkan twist seklise itu." Naruto duduk di sisi Wasabi, menyengir ketika mendapati beberapa murid menghela napas dan sisanya masih menatap dengan curiga. "Geniuses, kok kalian sudah datang, sih? Kan, kelas kalian mulainya sore hari ini."
"Bosan kalau di rumah saja." Udon melipat kedua kakinya, mengubah posisi duduk jadi bersila. "Nanti disuruh-suruh Mama ke konbini untuk beli gula atau minyak goreng."
"Atau disuruh kakek menyapu halaman," timpal Konohamaru, yang mana ia langsung bertos-tosan tangan dengan Kagura.
Naruto membekap mulutnya, bukan salahnya refleks mengakak mendengar ujaran penuh kejujuran muridnya. Inginnya sih bilang, anak-anak itu beruntung. Dia tidak pernah mengalami disuruh kakek apalagi ibu, maupun berdebar anak-anak yang kabur dari suruhan orang tua.
"Kalau mereka menyuruh, kalian kan bisa bilang pada mereka dengan sopan bahwa kalian tidak suka disuruh-suruh, atau meminta orang tua agar minta tolong pada kalian dengan sopan. Toh, kalau minta tolongnya baik-baik, kalian juga tidak akan malah datang cepat-cepat ke sini, 'kan?" Naruto berujar usai tawanya mereda.
"Nanti mereka marah karena diberitahu oleh orang muda." Konohamaru bersungut-sungut dengan wajah cemberut.
"Ya, beritahunya yang sopan dan lembut." Naruto meletakkan ransel ke meja guru. "Kalau mereka tidak mau diberitahu karena begitu kolotnya dan merasa lebih tinggi dari kalian, well, Sensei mengerti kenapa kalian datang terlalu cepat ke kelas."
Beberapa anak muda menghela napas lega mendengar ujaran Naruto, terlebih melihat cengiran dan sorot pengertian sang guru.
"Sssht, adik-adik pada tidur." Yakumo mengelus pelan rambut Wasabi, yang telah tidur dan menjadikan pangkuannya sebagai bantalan.
Naruto mengernyitkan kening, menggumam sayang sekali bahkan anak-anaknya yang kelas Chuunin pun malah ikut-ikutan pulas.
Ia terbiasa melihat Shikadai menumpang tidur atau bermalas-malasan di kelasnya, toh, Shikamaru juga tidak pernah marah anaknya kelayapan asalkan mereka tetap beradab, tak membuat masalah, mengerjakan tugas, dan bisa mengikuti kecepatan belajar kelas.
Ada kejutan lain.
Matanya membulat dengan cepat melihat Sarada tidur, menjadikan lengannya bantalan untuk Himawari. Lantas melembut ketika ia mendapati badan dan kaki mereka (karena rok yang mereka kenakan sedikit di atas lutut) telah ditutupi selimut.
Naruto beringsut sedikit, persis ke belakang gadis yang terlelap di pelukan Sarada. Amat pelan, mendaratkan elusan lamat-lamat di rambut indigo putri semata wayangnya. Meratakan satu rambut yang mencuat, tapi percuma saja. Ia terkekeh, mengingat dari kecil dulu, sejumput rambut ini selalu saja membandel—mencuat ke arah langit.
Memori masa lalu menyergapnya. Himawari dulu mungil sekali. Selalu ada boneka beruang kecil di pelukan, lari ke sana ke mari, tawanya berdering klinting riang furin kala angin berlari kencang melampauinya. Boneka yang kepalanya putus di hari di mana ia diterima bekerja jadi guru, di sekolah yang sama dengan sekolah tempat Hinata mengajar.
Diingat-ingat lagi, bahkan ia berhasil membuat Boruto dan ayahnya sendiri, trauma karena amukannya yang luar biasa. Itu pelajaran hidup yang amat berarti: jangan pernah menyakiti apa yang orang lain suka ataupun yang mereka cinta.
Kalau sekarang dipikir dan ditelaah lagi, mungkin boneka kecil itu adalah tanda samar bahwa Himawari mirip sekali seperti Hinata. Tidak akan takut apa pun selama berjuang untuk sesuatu atau seseorang yang ia cintai.
Himawari yang dulu selalu akan duduk di pangkuannya. Entah apa yang anak itu suka, di setiap memandangi Naruto memakan ramen dengan lahap. Dia akan nyengir berseri-seri menampakkan gigi kelinci.
Putri mungil yang dulu selalu menebar krayon dan mengamburkan kertas, sampai-sampai Naruto pernah jatuh terpeleset saat masuk rumah. Himawari malah tertawa terpingkal-pingkal, sementara jagoan kecilnya, Boruto, akan mengakak guling-guling di lantai.
Gadis kecil yang akan merayap naik ke pangkuannya, minta digendong, menggelayut di pelukan. Yang selalu membantu ibundanya untuk merapibersihkan rumah, meski hanya hal-hal sepele seperti mengambilkan lap dapur, atau membawakan sepiring kecil kue untuk Boruto.
Himawari yang dulu akan menyerahkan selembar kertas. Warna-warni krayon mewarnai kanvas putih tipis. Sketsa gambar dirinya. Bahkan ia pandai sekali mewarnai dengan yang tepat. Kuning matahari untuk rambut, coklat muda untuk kulit, bahkan biru pada mata. Jersey jingga yang menua.
Sorot tatap Naruto meredup. Sekelebat hari berhujan, pertemuan dengan Hinata di pinggir jalan, keesokan hari, gerbang menjulang saja yang bisa ia lihat. Sekuriti yang mengepung kanan-kiri. Boruto yang meraung murka penuh amarah. Lighter, pelita mungil yang menyala, Himawari yang meniup, dan kemudian isak tangis putrinya karena ditarik untuk masuk.
Boneka beruang kecil yang jatuh, kumal dan basah oleh rerintik hujan yang bermuara ke selokan.
Pintu gerbang megah ditutup.
"Uhm ... Sensei?"
Naruto berdeham mendengar panggilan cemas Moegi, mengerjap-kerjapkan matanya yang sesaat terasa panas dan memberat.
Ia membenarkan posisi selimut sampai sebatas bahu Himawari dan Sarada, menatap agak lama pada Sarada yang berkantung mata, lantas beranjak bangkit.
"Kalian tukar kelas dengan adik-adik Kebanggaan tidak apa-apa, 'kan?" Naruto mengedarkan pandangan, melihat seisi kelas yang begitu lengang.
Pemandangan anak-anak tidur bergelimpangan dalam kelas, bukan lagi jadi sesuatu yang aneh untuknya. Naruto mendudukkan diri lagi di sisi anak-anaknya, yang mulai mengumpulkan tugas essay Sosiologi yang ia berikan.
Memang di sekolah ini, kebanyakan kelas dipegang sendiri oleh wali kelasnya. Seluruh mata pelajaran yang ada bahkan sampai konseling, diurus seorang diri. Karena itu, hanya guru tertentu berkemampuan mumpuni yang dapat lolos dan mengajar di Hidden Schools.
Naruto meraih ranselnya yang ia taruh di meja, mengeluarkan folder, menarik lebaran kertas yang telah di-flip rapi. Mengamati anak-anaknya yang tampak lega, kini menanti Moegi membagikan isi kantung plastik yang ia titipkan.
Seperti biasa, akan ada snacking time dan istirahat untuk kelas Kyuubi di tiap lima belas menit sebelum pelajaran dimulai. Tulang-tulang pipi sang guru meninggi dalam senyum, mendapati muridnya asyik dengan bungkusan minuman isotonic dalam bentuk telah dikentalkan, mencecap aneka rasa buah, coklat, vanilla, yang bagus untuk menunjang gizi mereka.
Naruto menjentik pelan jari, menarik perhatian anak-anak yang asyik sendiri, agar memerhatikan penjelasannya.
"Ini formulir karir kalian. Mau lanjut bekerja atau belajar. Kalau lanjut belajar, isi bagian bidang kejuruan dan universitas yang kalian inginkan. Kalau bekerja, jelaskan alasan mengapa kau perlu bekerja, dan pekerjaan macam apa yang kalian mau lakukan."
Naruto menyerahkan folder itu pada Konohamaru. Isyarat bahwa anak-anak tingkat Jounin bisa meminta lembaran formulir karir mereka pada sang ketua kelas. Terkekeh mendengar mayoritas desah resah khas anak-anak SMA, yang mana mereka dihadapkan pada persimpangan lain kehidupan untuk menentukan pilihan.
"Sensei tidak mengerti kenapa perlu diberikan dari sekarang." Naruto mengangkat bahu. "Kalian saja simpan dulu. Nanti paling juga dikumpulkan saat ujian semester."
Naruto mengambil tumpukan essay dan kliping koran Sosiologi yang diserahkan Konohamaru padanya. Mengecek essay satu per satu, dan kreativitas murid-muridnya menghias kliping koran tentang isu-isu sosial terhangat di masyarakat.
Sesuai dugaan, mereka mengambil topik terhangat. Tepat seperti arahan Naruto, anak-anaknya menyertakan koran dengan post-card, menandai artikel perbedaan antara mana yang opini dan mana yang fakta.
"Sensei, bicara fakta saja, deh ... kami tidak—uuuh—sepintar itu." Konohamaru menekuri formulir karir di pangkuannya. "Nilai kami jauh tertinggal dari yang lain. Nyaris tidak ada masa depan untuk kami."
"Jangan berpikiran begitu." Naruto mendongak, tangannya terulur untuk menepuk-nepuk pundak pemuda yang ia pilih menjadi ketua kelas. "Itu namanya mental-block. Kalau kau belum apa-apa sudah bilang, "Ah, aku tidak bisa, tidak mungkin." dan lain-lain yang negatif, kau menghalangi dirimu sendiri melakukan apa yang sebenarnya bisa saja kaulakukan asal kaumau mencoba."
Konohamaru tercenung. "Maaf, Sensei."
"Ya, sudah. Memang tidak mudah mengubah pola pikir, kok. Kuharap, kau nanti bisa mengerti, kau bukannya tidak bisa. Ini soal kaumau atau tidak." Naruto beralih menarik pena yang selalu tersimpan di saku kemjea. "Memang kalian tertinggal pelajaran apa saja menurut ranking sekolah, hm?"
"Matematika, Fisika, Kimia, Ekonomi, Biologi ... astaga. Terlalu banyak," ratap Udon, menjambak rambutnya dengan frustrasi.
Iwabee bahkan menyilangkan lengan di belakang kepala. "Ada anak-anak bahkan beberapa guru dari kelas lain, mereka bilang, ya, wajar saja sih kami tertinggal. Bodoh soalnya."
"Kasihan sekali kalian memang." Naruto mendengus tertawa. "Hidup di zaman di mana kalau kalian tidak pintar di bidang eksakta, dianggap bodoh oleh komunitas sosial kita yang pandangannya masih konservatif."
Mereka saling berpandangan. Bagaimanapun, menguasai bidang eksakta itu luar biasa. Apalagi kalau menengok kelas Stands Proud, Hebi, maupun Genio.
"Pernah coba datang ke kelas-kelas Seni?" Naruto mengerling anaknya satu per satu, sambil mengoreksi essay para murid. "Apa kalian sudah melihat galeri mereka? Mengamati lukisan, patung, kerajinan tangan, dan puisi-puisi berima indah yang mereka buat? Pernah tidak kalian mendengar permainan piano dari kelas sana?"
Beberapa pemuda dan pemudi mengangguk, sisanya menggelengkan kepala. Naruto tersenyum maklum, mengangguk singkat.
"Mereka jenius di bidang itu," ucap Kagura, mendesah karena baru menyadari maksud yang Naruto coba sampaikan.
"Yap! Dan mereka yang berpikir kepintaran itu cuma sebatas eksakta, sempit sekali pandangannya." Naruto menatap Kagura agak lama, tatapannya melunak. "Dimensi kecerdasan saja ada sembilan, berdasarkan penelitian ilmuwan."
"Sebanyak itu?" Iwabee membelalakkan mata, sorotnya terang-terangan menyangsikan.
"Jauh lebih banyak lagi sebenarnya." Naruto mengerling pada Shikadai. "Bukankah begitu?"
Shikadai yang telah terbangun karena percakapan mereka, mengetahui wali kelas Kyuubi telah datang, bergegas mendudukkan diri untuk menghormati kehadiran Naruto Uzumaki. Wajahnya sembap khas orang baru bangun tidur.
Salah satu anggota kelas Genio itu mengangguk. Dari cara Naruto memandangnya, Shikadai menghela napas sedikit karena mengerti maksud sang guru yang meminta tolong untuk dibantu menjelaskan.
"Dimensi Kecerdasan meliputi Visual dan Spasial, Naturalis, Musikalis, Logika Matematika, Eksistensial, Interpersonal, Kinestetik dan Jasmanik, serta Linguistik," Shikadai menyebutkan, mengusap-usap matanya yang berair karena menguap.
Naruto mengangkat sebelah alis. "Bagaimana dengan macamnya?"
Shikadai menahan diri untuk tidak bertanya, mengapa bukan Sensei saja yang menjelaskan, Sensei sebenarnya tahu, 'kan? tapi mengurungkan niat itu. "Macam Kecerdasan ada IQ, EQ, SQ, CQ, dan AQ."
"Aku tahu Intelligence Qoutient dan Emotional Qoutient, kecerdasan logika dan emosi, tapi CQ, SQ dan AQ itu apa?" Udon rusuh menggaruk sisi rambutnya, dia sampai memangku dagu dengan telapak tangan yang bertumpu ke siku.
"Creativity Qoutient, Spiritual Qoutient, Adversity Qoutient," jawab Shikadai usai menguap.
"Adversity Qoutient?" Yakumo menelengkan kepalanya lebih miring ke samping.
Shikadai mengucap pelan terima kasih karena Konohamaru menyerahkan bungkusan minuman isotonik kental vanilla untuknya. Dia mengangguk pada Naruto yang nyengir, mempersilakannya ikut makan dan minum.
"Adversity Qoutient itu kemampuan atau kecerdasan manusia untuk dapat bertahan menghadapi kesulitan-kesulitan dan mampu mengatasi tantangan hidup," urai Shikadai. "Contoh sederhananya, maaf kalau kasar, seperti orang-orang yang hidup dengan kekurangan fisik. Atlet identik dengan fisik sempurna, tapi sekarang, tak jarang kita melihat bahkan atlet dengan keterbatasan badan bahkan mampu jadi juara."
Sebagian murid tingkat Jounin kelas Kyuubi membulatkan mulut dalam huruf O, kemudian bertepuk tangan.
Shikadai memalingkan wajah, mendesah, jengah tapi berusaha menyembunyikan wajah yang sedikit memerah. Oh, ayolah, sulit untuk Shikadai mengakui bahwa kelasnya tidak berisi orang-orang seapresiatif di kelas Kyuubi.
Naruto sendiri terkekeh melihatnya. Ia pikir Shikadai hanya cerdas untuk hal-hal sebangsa Logika Matematika, Visual dan Spasial.
Siapa sangka, putra Shikamaru Nara ternyata juga cerdas secara interpersonal; pandai menempatkan diri dalam posisi orang lain untuk mengerti cara pandang mereka.
Ryuuki meremas bungkus minumannya. "Demi Jashin yang sering dilempari koin receh, Sensei, untuk apa kau memberitahukan ini pada kami? Aku tahu, aku jenius dalam hal-hal berkenaan Spiritual."
Tawa Naruto meluncur tak sempat dibendung. "Kau memang cerdas untuk hal itu, Ryuuki."
"... hubungan dengan kami yang tertinggal apa?" tanya Konohamaru lesu.
Naruto dengan sayang mengelus belakang kepala Konohamaru, menepuk pundaknya dengan gestur maskulin, seraya menatap hangat tiap pasang mata yang memerhatikannya.
"Maksud Sensei, kalian jangan berkecil hati. Tiap manusia punya keistimewaan dan kecerdasannya masing-masing, kok." Nada suara Naruto melunak, tak sadar ia meresapkan ketenangan pada murid-muridnya. "Kalian mungkin hanya belum menemukan, atau menyadarinya."
Shikadai memerhatikan Naruto memberikan wejangan pada murid-muridnya di jam-jam terakhir istirahat.
Yang ia tahu dari ayahnya dan Boruto—berhubung kelas Genio dan Hebi jaraknya paling dekat satu sama lain walau tetap saja lokasi ruangannya jauh, pria ini dulu guru terbodoh, banyak omong, melarat, biang onar, setia kawan, dibuang oleh orang tuanya sampai akhirnya dipungut, dan hobi cari mati.
Kabar terakhir yang Shikamaru tahu, sebagai kawan SMA yang mana ia menyaksikan jungkir-balik hidup orang ini, setelah menikah dengan Hinata Hyuuga, beberapa tahun kemudian mereka bercerai dan tak lama, selama satu dekade Naruto Uzumaki membubuh absensi dari ruang kehidupan mereka.
Kemanapun Naruto Uzumaki pergi, pasti saat itu ia telah belajar banyak dari kebodohan masa lalu. Mungkin memang ada masanya manusia berubah. Entah itu baik ataupun buruk. Yang jelas memang hanya satu, mereka jarang sekali bisa kembali jadi diri mereka yang dulu.
Naruto Uzumaki masuk golongan terakhir, pikir Shikadai. Sejenak menyisihkan perasaan asing yang menenangkan, melingkupi dirinya, di tiap ia singgah di kelas ini.
Salahkan Konohamaru, waktu itu malah dengan brillian mengajaknya bolos kelas, dan menyembunyikan di kelas Kyuubi. Kalau bukan karenanya, Shikadai takkan menemukan tempat persembunyian sedamai ini.
Dari cara Naruto mengajar selama ini, Shikamaru tahu bahwa Naruto tidak tercakup sebagai jenius dalam dimensi kecerdasan yang tadi ia ujarkan. Karena itulah Shikadai memandangnya, tak ubah seorang ilmuwan tengah mengamati spesimen penelitian.
"Kalau Uzumaki-Sensei, Anda jenius di bagian Dimensi Kecerdasan yang mana?"
Pertanyaan itu memecahkan fokus kelas pada Naruto. Serentak perhatian tersedot pada Shikadai yang pasang tampang acuh tak acuh saat bertanya, tapi bahkan Shikadai saja tahu, Naruto ternyata tak semudah itu untuk ditipu.
Tidak.
Sang guru memang tidak tertipu.
"Kurasa aku cukup baik di bagian Adversity Qoutient."
Tidak ada narsisme dari nada bicaranya. Senyum sang guru begitu sederhana. Seakan telah banyak cobaan hidup menimpa dan melanda.
Terbetik kesan dalam diri Shikadai. Ayahnya hanya memberitahu ibunya sambil lalu, tentang masa lalu suram guru penuh kejutan nomor satu ini.
Namun Shikamaru menduga, hilangnya Naruto selama sembilan tahun kemudian, kalau ini shounen atau anime manga, ini berarti sang protagonis bersangkutan tengah menjalani latihan khusus.
Akan tetapi, menilik dari tabiatnya selama sebulan terakhir ini, Shikadai mengambil kesimpulan, bahwa Naruto bukan sengaja belajar atau menjalani latihan khusus. Memang ia telah menghadapi neraka kecil kehidupan silih berganti sampai ke titik ini.
Begitu Naruto menyengir, sinar matahari yang merangsek dari luar melalui jendela terpecah di belakangnya, Shikadai akhirnya mengerti.
Naruto Uzumaki adalah tipe orang yang belajar bagaimana caranya berdansa dan tertawa di tengah kecamuk guntur bercampur tornado.
"Hai, Shikadai? Kau tidak masuk kelas?"
Shikadai memfokuskan lagi perhatiannya. Kini mendapati Yakumo yang melambaikan tangan di hadapannya. Dia mengerang panjang, membuahkan tawa tertahan sebagian besar anak-anak sekelas. Ia meraih tangan Yakumo, kemudian menepikan dari wajahnya.
"Kalau kau benar-benar mengerti resiko serta kerugian tidak masuk ke kelas dan absensi lagi, ya, silakan saja tetap di sini." Naruto mengembalikan essay pada para penulisnya, melirik geli pada Shikadai yang menyisiri rambutnya dengan satu tangan.
"Sensei kayak tidak tahu saja, kelas saya hanya masuk paling penting seminggu tiga kali." Shikadai enggan bertemu dengan ayah maupun ibunya, di rumah sudah cukup. Kenapa mesti pula di sekolah juga?
"Semoga kau tidak bosan di sini." Naruto mengerlingnya, walaupun ia tetap mengeluarkan smartphone untuk mengontak Shikamaru: /Oi, anakmu jadi imigran lagi di kelasku./
/Daripada dia kelayapan tak tahu kemana/ tumben sekali balasan datang dengan cepat. Kening Naruto berkerut dalam saat membaca chat lain: /Titip dia, ya./
/Memangnya aku tempat penitipan anak ... oke, murid?/
/Aku tahu kautahu maksudku. Pasti ada sesuatu di kelasmu, sampai-sampai muridku hobi sekali migrasi ke kelas Kyuubi./
/Ada camilan, haha!/
/-_-/
/Tapi serius, kasihan dia kalau terus-menerus ikut kelasku. Rugi tidak bisa mendapatkan pelajaran yang kauajarkan. Kautahu sendiri, materi kelas Kyuubi dengan kelas Genio itu ibarat jauhnya kutub Utara ke kutub Selatan./
/Nah, itu dia. Aku agak tidak percaya dia suka di kelasmu cuma karena camilan. Ada apa di kelas Kyuubi?/
/... Sensei tampan sejagat. B-D/
/Memangnya kau tampan?/
/Ofensif! Tampan itu relatif, tahu! =_=/
/Bukannya lebih masuk akal kalau dia datang ke kelas karena Sensei yang cantik?/
/Shika, maybe he's swinging on that way. What will you do if it's true?!/
/and even if he is, I do mind to have you as my child's lover. -_-/
/why?! I'm not a player!/
/like certain Uchiha? Lol and please elaborate as why you can speak English fluently now, or I can suspect that you are a pedophile./
/FYI, I'm not pedophile and at this point, I know you're already know that I'm not, for if I am a pedophile, why did I bother to provoked Sasuke?/
/For damn almost a decade. Where the hell are you all this time?/
/lol. I'm not obligated to answer your question./
Naruto menyakukan lagi telponnya. Cukup tanda centang saja yang terakhir kali ia lihat. Ia menoleh tatkala merasakan jawilan di lengan.
"Sensei, bagaimana dengan Sarada dan Himawari?" tanya Moegi cemas. "Kata Sarada, dia mesti masuk kelas jam satu siang. Himawari mungkin juga."
Naruto mengerling sebentar.
Berhubung kelas Kyuubi tidak begitu luas dari segi jarak, maka Naruto bisa melihat betapa pulas Sarada dan Himawari yang tidur berangkulan, terlebih Sarada yang terlelap dengan wajah seakan ada celah di hatinya yang retak.
"Biarkan saja. Kalian tidak usah bilang apa-apa." Naruto menepuk-nepuk pelan kaki Himawari yang meringkuk dipeluk Sarada. "Biar Sensei yang nanti bilang pada orang tua dan guru mereka."
"Anda adalah ayahnya Himawari."
Naruto menoleh. Tertegun mendapati cetusan penuh pengertian. Konohamaru tersenyum, diikuti beberapa anak lainnya sementara yang lain menatapnya seakan itu adalah hal paling jelas di dunia.
Moegi mengerling Himawari. Pipi sang remaja terlihat bulat dan menggemaskan karena tertekan tasnya yang dijadikan bantalan tidur. "Himawari tidak pernah lupa Anda adalah ayahnya, Sensei."
Perlahan-lahan, dengan perasaan tak karuan, Naruto mengerjapkan mata agar tidak memburam. Senyum menemukan jalan untuk terbentang di wajahnya. "Maksud Sensei, Sensei ingin memberitahu Hinata-Sensei dan Sakura-Sensei juga. Nanti Sensei akan minta izin mereka butuh beristirahat."
Sang guru beranjak.
Dia membereskan barang-barang, menjejalkan ke dalam ransel, kemudian menghampiri meja guru. Gagal menahan cengiran saat melihat pulpen biru tua di tempat pensil di meja kerjanya dalam kelas, batangan kayu penyangga bunga artifisial, lampu di sudut-sudut ruangan, tak berkutik.
Oh, anak-anak bertambah pintar. Hatinya menggelembung oleh perasaan bangga.
Tinggal tunggu waktu sampai anak-anak itu tahu, Naruto pikir butuh waktu untuk mereka tahu, tapi sepertinya murid-murid mungkin tidak terpikirkan bahwa ia memasang kamera tersembunyi bahkan bukan semata untuk mereka.
Ia membuka laci, berpura-pura mencari sesuatu di sana. Tujuannya adalah tangan yang dilingkari arloji di pergelangan kiri, tetap tersembunyi. Naruto menekan tombol kecil di bagian atas arloji, seolah tengah menyetel atau membenarkan jam.
Di bawah meja, layar smartwatch berpendar. Naruto membuka, hologram kecil menyala, terang di kegelapan bawah meja. Mengutak-atik sejenak, barulah mengecek kamera berkode B-1, sudut ruangan kelas Genin. Layar non-eksisten menampakkan anak-anak kecil bergelimpangan.
Usai mengecek tiap kamera yang ia sebar dengan cepat, Naruto mengunduh semua rekaman yang ada dalam tiap kamera. Membiarkan smartwatch bekerja, dan ia mengambil buku absensi tingkat Jounin, memasukkannya ke dalam ransel. Merapikan isi laci, lalu mengunci dan bangkit berdiri lagi.
"Geniuses, kita belajar di luar saja." Naruto melambaikan tangan kanannya. "Oh, Shikadai, kau ikut saja kalau mau. Atau boleh, terserah apa yang kauingin lakukan dalam kelas, asal tak membangunkan Kebanggaan dan Kesayangan Sensei, oke?"
Meskipun di bawah napasnya Shikadai menggumamkan bangun keluar, terpapar sinar, adalah hal terakhir yang ia inginkan, keluhannya melahirkan tawa tertahan beberapa anak lain, toh ia tetap beranjak bangun.
Tanpa kata, meminimalisir keberisikan mereka berkemas-kemas membawa peralatan tulis, modul, dan segala hal yang mereka inginkan untuk dibawa belajar keluar, pemuda-pemudi tingkat Jounin beriringan keluar ruangan.
"Saya ikut kelas Anda saja, boleh?" Shikadai mengerling sekilas. Lanjut mengganjal kepala Inari dengan buntalan blazer kelasnya sendiri. Di luar terlalu panas untuk pakai itu, begitu kilahnya pada Konohamaru yang masih sempat-sempat menggodanya yang mendadak jadi lebih baik hati.
Naruto nyengir lebar. "Sensei tidak bertanggung jawab untuk kebosananmu karena betapa tertinggal pelajaran kelas ini, oke?"
Shikadai ikut berdiri, ditatapnya sang guru dengan saksama, walau untuk orang awam, kelihatan orang awam biasa saja. "Pelajaran kelas ini memang tertinggal, atau memang Anda sengaja membuat pace belajar kelas ini tidak diikutkan dalam ranah kompetisi merebutkan prestasi?"
Naruto lurus membalas tatapan putra Shikamaru itu. Dalam hati bersiul kecil, mungkin bahkan kalau ada anak yang bisa menemukan beberapa properti dan sisipan piranti hi-tech kecil yang tersebar dalam kelas, datangnya pasti dari anak ini.
Naruto asal mengangkat bahu. "Tiap guru diterima masuk ke sekolah ini, dan dianjurkan agar bereksperimentasi.
"Untuk ukuran guru yang diekspektasi agar bereksperimentasi supaya mendulang prestasi tertinggi, Anda tidak tampak seperti orang yang sedang coba-coba, Uzumaki-Sensei."
Shikadai membenamkan tangan ke dalam saku celananya. Berusaha mengelupas apa yang ada di balik cengiran kekanakan pria yang tampaknya sudah begitu banyak makan asam-garam kehidupan.
"Oh, begitu menurutmu?" Naruto mengambil botol air mineral dari rak stock yang selalu ia isi tiap dua atau tiga hari sekali. Memikirkan mungkin ia akan melengkapi kelas ini dengan dispenser saja lain kali, agar lebih praktis.
Shikadai menguap sesaat. "Anda tahu apa yang Anda lakukan, mengerti apa yang sebaiknya Anda lakukan, katakan, dan ajarkan pada anak-anak agar mendapatkan hasil tertentu."
"Maksudmu?" Oh, crap. Naruto berusaha merilekskan diri dengan memijit tombol kecil, hologram lenyap begitu unduhan video CCTV 12 jam terakhir telah selesai, sehingga begitu tangannya keluar dari balik meja, yang tampak hanyalah arloji biasa.
"Anda banyak mengatakan hal positif pada mereka, karena ingin mereka punya kepribadian positif. Anda bukan memanjakan mereka dengan makanan, jalan-jalan sebentar keluar kelas, atau bahkan waktu luang lima belas menit untuk mengobrol santai dengan murid-murid itu bukan karena Anda bodoh, tapi ingin mereka dalam kondisi terbaik saat belajar, juga memberi jeda waktu agar mereka bisa beristirahat setelah belajar.
"Dan berjalan keluar kelas, itu agar mereka tidak bosan karena merasa terjebak dalam kelas—Anda tak terjebak stereotype bahwa belajar hanya harus dalam kelas. Anda tahu, bahwa sekolah ini memperbolehkan guru melakukan apa pun pada muridnya."
Perkataan itu menyebabkan Naruto terjerembap dalam lamunan dan wajah Kyuubi yang sembap di suatu sore, dua bulan lalu. Toh, Shikadai cukup observan untuk tahu Naruto tak melakukan kesalahan pemula: menghindari tatapannya.
Naruto menatap, senyap, dan tetap bergerak merapikan tumpukan essay dan peralatan tulis di meja guru. Dia mengangguk untuk mempersilakan Shikadai melanjutkan, tahu bahwa Shikadai belum selesai bicara.
"Ditambah, jalan-jalan ringan sama seperti berolahraga. Bila manusia banyak bergerak, itu memicu hormon dopamine dan serotonin terproduksi lebih aktif, Itulah mengapa orang yang berolahraga, lebih berbahagia daripada manusia yang malas bergerak.
"Namun Anda tidak melakukannya berlebihan, bahkan dalam kelas olahraga anak-anak Kyuubi, yang saya yakin Anda juga mengerti, berolahraga terlalu banyak bisa menjadi stressor manusia dan meningkatkan kadar hormon Norepinephrine secara berlebihan—salah satu hormon yang merangsang manusia agar jauh lebih fokus, waspada, tak bisa tidur, sampai stress selagi mengalami tekanan yang ia rasakan."
"Sensei ingin bilang, "Oh, ternyata kaudengar penjalasan Sensei di kelas Biologi dua hari lalu, ya." Tapi kau pasti sudah lama tahu pelajaran itu." Naruto manggut-manggut. Dia mengerling pada refleksinya yang tertuang di kaca jendela. "Sensei mengajak jalan-jalan juga untuk kebaikan sendiri, kok. Kautahu BDNF, 'kan?"
"Bahan kimia aktif dalam badan yang menjadi faktor neurotropik pada otak yang berguna untuk pertumbuhan sel-sel otak. Aktivitas ini berlangsung di hipocampus—wilayah otak yang memiliki tanggung jawab dalam memori otak." Shikadai mengangguk singkat. Dia menghela napas cepat.
Naruto mengangguk puas. "Ya, supplai BDNF itu rangsangan dari otak yang menyebar di badan, seperti ketika melakukan jalan ataupun jogging ringan, hormon itu jadi aktif bekerja sehingga mengurangi kemungkinan gejala kepikunan dini."
Shikadai terdiam, menajamkan pandangan. "Ada yang Anda tidak ingin lupakan di usia yang tak lagi muda?"
Naruto terkekeh. "Tentu saja ada. Pernah dengar ungkapan lama, celakalah manusia bila melupa?"
"Baru pertama kali." Shikadai sedikit mendengus. "Tapi, ya, saya bisa mengerti maksud nasehat itu. Dan juga maksud Anda ... bahwa, sebenarnya, melupa tak selalu berarti buruk, jika itu berarti dapat melupakan hal-hal buruk yang terjadi atau dilakukan padamu."
"Jenius," gumam Naruto, merasa bangga walaupun Shikadai bukan anak ataupun muridnya. Dia menyandarkan punggung ke dinding, mengerling ke samping pada Shikadai. "Sayangnya, manusia cenderung tidak mudah melupakan hal-hal yang memorable—momentum yang terkenang—di hidup mereka."
"Dan hal-hal memorable yang Anda ingin lupakan itu ..." Shikadai melirik pada Himawari, "sebegitu buruknya?"
Demi resep rahasia krabby patty, double crap. Anak ini dikasih makan apa, sih? Naruto berpura menatapnya dengan jenaka, walau Shikadai jauh lebih jeli untuk tahu bahwa ada kilat getir lain yang senantiasa bersemayam di sorot matanya.
"Kalau Sensei bilang begitu, berarti mengingkari karunia Tuhan—karena Tuhan telah memberi begitu banyak anugerah. Tapi tidak munafik, ada masa di mana, Sensei ingin melupakan—melepaskan—segalanya."
Shikadai mematung di tempat. Merinding, berbagai kemungkinan melejit tebersit di benaknya. Airmukanya berubah tak percaya, karena bagaimanapun, tampak luar saja, guru satu ini terlihat begitu percaya diri.
... bunuh diri?
Shikadai mengusap tengkuknya yang meremang hebat.
"Kalau begitu, kenapa membatalkan ingin melupakan dan melepaskan?" tanya Shikadai, melirik simpatik sekali lagi pada Himawari.
"Karena ada yang patut diperjuangkan."
Sayang, Himawari tak membuka mata untuk tahu, seberapa sayang ayahnya tatkala memandangnya.
Jauh lebih disayangkan lagi, Boruto malah tak pernah mau tahu itu.
Shikadai memandang sang guru, setengah termangu saat digiring keluar ruang kelas. "Jadi memang benar, Anda sudah tahu apa yang ingin Anda lakukan di sini dan memang tidak murni bereksperimentasi."
Naruto merangkul ringan, menepuk pundaknya dengan bersahabat. "Wah, jangan loncat ke kesimpulan begitu. Sensei tidak suka dengan kata eksperimentasi, kesannya Sensei ini mad-scientist, dan murid-murid itu cuma objek eksperimentasi."
"Tapi mayoritas di sekolah ini, memang begitu kenyataannya." Shikadai memutar bola mata. Dia terheran-heran dengan dirinya sendiri, tak mendapati niatan ingin menepis lengan sang guru yang merangkulnya dengan maskulin.
Shikadai menggendik bahu acuh tak acuh. "Setidaknya saya tahu, sekarang Anda telah punya cukup banyak pengalaman mengajar, atau paling tidak, berdedikasi dalam hal ini."
Shikadai merendahkan suaranya agar hanya Naruto yang mendengar, dan lagi, dia tidak ingin anak-anak kelas lain tahu. Hanya yang cukup observan seperti Shinki dan Kagura, melirik sekali dua kali ke dalam kelas.
"Well, terima kasih pujiannya! Sensei masih perlu banyak belajar, kok, agar bisa mengajari murid-murid kelas ini jadi lebih baik." Naruto piawai menampakkan cengiran dan gestur salah tingkah terklise sedunia, garuk-garuk pipi. Uwah, anak ini benar-benar mengerikan. Kenapa pula ia perlu mewarisi otak ayahnya, hah?
Ah, anak itu tak tertipu. Naruto mengetahuinya tatkala melihat kilat semangat di mata Shikadai, persis anak kucing yang tidak sengaja menemukan tali ditarik pelan ke bawah meja.
Omong-omong, curiosity kills the cat. Hal terakhir yang Naruto inginkan, melibatkan murid-murid dalam ambisi dan misi pribadinya.
"Kalau Anda tidak tengah bereksperimentasi agar anak-anak bisa berkompetisi supaya bisa memenangkan prestasi ..."
Shikadai menghentikan langkahnya tepat di depan pintu.
Naruto yang memastikan anak-anak yang tengah tertidur tetap lelap, menoleh kembali padanya.
"... apa yang Anda lakukan di sekolah ini, Uzumaki-Sensei?"
Shikadai pantas dapat satu set piring dan gelas cantik, triple crap. Naruto mendengus dengan cetusan pertama yang mencuat di benaknya. Smartwatch yang melingkari pergelangan tangan kirinya terasa memberat karena pertanyaan itu, seakan bisa memuntir pergelangan tangan kirinya hingga terputus.
Naruto menepuk-nepuk bahu Shikadai. "Memotivasi anak-anak agar belajar dengan benar—agar tidak seperti Sensei dulu."
"Belajar dengan benar?" Shikadai memincingkan mata.
Naruto mengangguk ringan. "Mencoba menyenangi tiap pelajaran untuk kesenangan diri sendiri."
"Bukannya tujuan belajar adalah mendapat ilmu dan sekolah setinggi-tingginya?" Shikadai melangkah keluar kelas lebih dulu.
"Kalau yang pertama, iya. Kalau yang kedua, mungkin iya dan bisa juga tidak." Naruto meraih remote AC di atas lemari, menaikkan suhu agar ruangan sedikit lebih hangat.
"Anda suka sekali bicara ambigu." Shikadai berdecak.
"Sensei belajar dari ahlinya." Naruto terbahak sejenak, teringat wajah-wajah sangar mereka yang telah memungut, membantu, menopangnya, bersama dengannya selama ini.
"Oh, baiklah. Maksud Anda yang tidak menyetujui sekolah setinggi-tingginya?"
"Bukan tidak setuju, hanya saja, Sensei berpikiran ... bahwa mendapatkan ilmu itu, sebenarnya tidak mesti sampai merasa terpenjara tembok sekolah." Naruto menyelipkan kaki ke dalam sepatu kanvasnya. "Pernah dengar, bahwa agen-agen intel rahasia dan para ilmuwan terbaik di dunia, itu biasanya malah tidak bersekolah setinggi-tingginya?"
Shikadai hanya mengerjapkan mata. "Masa?"
"Coba saja cari di internet." Naruto terkekeh geli. Tatapannya melembut melihat murid-murid tak jauh di depan, berceloteh riang tentang kelas malam. "Maksud Sensei, jangan berpikiran sempit, bahwa belajar itu melulu tentang apa yang diajarkan di sekolah.
"Kita bisa belajar dari segala hal yang Tuhan taruh di dunia ini, asal mau mencoba memahaminya. Bahkan kita bisa saja belajar dari katak yang lewat di tepi jalan setapak taman."
"Katak?" Dahi Shikadai mengerut makin dalam.
Ada keheningan ganjil yang meruap ke ruang lengang.
"Katak tak pernah loncat ke belakang, Nak."
Ada denting yang bening mengisi hening, sampai Shikadai sekali lagi merinding.
Naruto menerawang fatamorgana gedung Rumah Asrama lain di kejauhan yang meremang karena bayang-bayang terik cahaya matahari siang.
Shikadai mengembuskan napas panjang. Berapa banyak penyesalan yang pria ini miliki, huh?
Ia berujar untuk mengurai kesunyian menyesakkan, "Oh, karena itulah mesin waktu takkan ada. Kalau ada, manusia takkan berjalan maju ke depan begitu membuat satu saja kesalahan, atau saat ada sesuatu yang amat mereka inginkan."
"Jenius!" kekeh Naruto. Menepuk-nepuk keras pundak putra Shikamaru yang meringis. "Sensei ingat, dulu pernah belajar dari Himawari kecil—waktu masih batita."
Senyum kecil terbit di bibir Shikadai. "Belajar bahwa dunia masihlah begitu tanpa dosa?"
"Oh, tidak senaif itu, kok." Naruto refleks tertawa. "Belajar bahwa meskipun patah, krayon tetap saja bisa memberi warna yang sama."
Tepat ketika pintu digeser menutup dan langkah-langkah perlahan menjauh, Sarada membuka mata.
Sore hari, kantor guru selengang di kala pagi.
Mungkin karena masih ada jam kelas, atau mayoritas siswa sudah pulang. Apalagi yang tingkat Genin dan Chuunin. Mayoritas telah bubar, mengambur seperti butir-butir bintang meteor yang menyerbu bumi untuk melangkah kembali ke rumah.
Jadi, amat asing untuk Naruto yang baru kembali dari kelas mengajar sore, masuk ke ruangan kantor guru dan hanya mendapati beberapa orang. Hinata, Sakura, Sarada, dan Himawari.
Inginnya sih putar balik, tapi kesannya pengecut sekali. Jadi Naruto tanpa berkata apa-apa, menyelinap ke meja kerjanya dan berpura-pura tak mengawasi apa yang tengah terjadi.
Tadi saat mengajar di siang hari, Naruto berpapasan dengan Sakura dan telah mengabari soal Sarada. Nyaris saja Sakura menyerbu masuk kelasnya dan membujuk Sarada untuk masuk ke ruangan, tapi Naruto menghentikannya dan berkata bahwa gadis muda itu butuh istirahat.
Terlebih tadi saat kelas tingkat Chuunin yang digeser sedikit ke sore—sementara tingkat Jounin Kyuubi beristirahat untuk kelas malam—Naruto mencegat Hinata yang keluar kelas Chuunin-nya pula.
Dia menahan cengiran, mendapati pipi Hinata semerah bara kala disapa olehnya—pasti masih ingat kejadian di jam makan siang—barulah mengabarkan soal Himawari.
Naruto menemani dua ibu itu ke kelas Kyuubi, dan kedua wanita yang mengikutinya, terkejut mendapati kedua putri mereka tidur pulas di tengah kelas bersama murid-murid tingkat Jounin kelas Kyuubi. Walaupun sebagian muridnya yang tengah berleha, gelagapan karena ini pertama kali kelas mereka didatangi guru lain.
Begitu mendapati keduanya masih pulas, Naruto tahu ekspresi kedua wanita yang jarang saling bicara itu berubah.
Yang ada di sana, bukanlah airmuka guru hendak menegur murid yang bolos kelas, melainkan wajah gundah seorang ibunda.
Keduanya luluh terlalu mudah.
Hinata bahkan meminta maaf karena gagal menghentikan Sarada yang nyaris tidak tidur beberapa hari belakangan, begadang menggarap tugas dan belajar keras.
Sakura menggeleng keras, mendesah, mengomentari betapa keras kepala putrinya itu. Menyentil lembut kening putrinya, yang seolah mengetahui kehadiran sang ibu, sehingga melindur lalu berguling untuk memeluknya.
Hinata merengkuh Himawari yang mendengkur lembut, membenarkan selimut, terkikik pelan melihat betapa imut pipinya tertekan bantalan tas yang sebenarnya terlihat tak nyaman.
Naruto memalingkan pandangan, sukar menahan senyuman, gelembung hangat yang meletup dan pecah menyakitkan seolah menumpah nanah di hatinya, apalagi ketika Hinata membelai lamat-lamat rambut Himawari yang juga berguling untuk memeluk ibunya dengan senyum kecil di wajahnya.
Dia bisa mati meleleh di tempat. Karena itulah, dengan serabutan dan pura-pura tergesa, toh memang ia benar-benar telah ditunggu anak-anak kelas Chuunin di taman, Naruto berpamitan pada kedua wanita itu untuk mengajar.
"Aku sudah berpesan padamu untuk tidak melakukan hal bodoh!" desis Sakura, gemas memukul kecil lengan Naruto. "Kenapa masih saja diulangi lagi, sih?! Kasihan Hinata, tahu! Kau juga, aku tahu sesuatu dulu pasti terjadi padamu, tapi kenapa kau malah nekat memprovokasi Sasuke-kun, hah?!"
"Aku tidak mau dengar itu dari orang yang seru sekali cakar-cakaran ala kucing rebutan ikan—argh, Sakura-chan!" Naruto meringis karena punggung lengannya dicubit keras. Mengerling Hinata sepintas, karena ia menjaga pandangannya di tiap ada orang selain mereka berdua. "Maafkan aku, Hinata."
Wanita itu pun menghindari tatapannya. "Ja-jangan minta maaf untuk sesuatu yang ... uhm, bukan salahmu."
Naruto didera sensasi nostalgia yang kian menggila, karena itulah ia juga turut berpaling dari Hinata.
Sakura membagi pandangan antara mereka berdua. Dia mengamburkan napas berat melihat keduanya. Oh, astaga, apa benar-benar tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mereka yang pantas sekali bersama?
... padahal, dengan lahirnya Sarada—
Sakura meringis, miris menatapi putrinya. Tak tercegah kelebatan memori tentang berlak-lak uang yang dilemparkan ke wajahnya, dari orang-orang bermata merah anomali. Sentilan lembut di kening dulu kala, yang selalu membuatnya terbuai.
Refleks ia mengeratkan genggaman di tangan Sarada yang masih dilingkupi mimpi.
"Kau ada kelas sore dengan anak-anak tingkat Chuunin, 'kan?" Sakura berwajah ramah, meninju ringan punggung lengan Naruto yang ia selalu tahu, mati gaya di depan Hinata. "Sana! Jangan biarkan mereka menunggu!"
Naruto terpaksa angkat kaki dari kelasnya sendiri. Lagi pula, siapa juga ingin terjebak di antara dua wanita dengan ketegangan dan kekakuan yang memuncak.
Ia masih sempat memerhatikan dari jendela luar kelas. Nihil kemungkinan Sakura akan mencakar Hinata, apalagi terjadi sebaliknya.
Bagaimanapun, meski sudah bertahun-tahun berlalu, Naruto tahu mereka berdua adalah wanita dengan hati yang dewasa dan mampu menyikapi masalah tanpa melibatkan kekerasan.
Semoga saja.
Naruto beranjak pergi begitu melihat keduanya bercakap, saling berterima kasih tentang pemberian makanan satu sama lain. Tidak lama, mereka bicara soal film terbaru di bioskop, lalu melenceng cepat ke topik teori kosmos.
Nah, melihat mereka berempat lagi, apalagi dengan wajah sembap baru bangun tidur Sarada dan Himawari, Naruto tak berminat menyela atmosfer menyenangkan antara mereka.
Ia mengangguk singkat ketika tak sengaja bersitatap dengan Hinata—satu-satunya yang menyadari kehadirannya dalam ruangan.
Detik berikutnya, keduanya sama-sama berpaling.
Naruto membiarkan keempatnya bercakap-cakap. Dia duduk di kursi roda, mengeluarkan jurnal dan modul. Memberantakkan di atas meja, membuka tiap halaman yang telah ditandai post-it warna-warni.
Mengerling sekilas, ia tahu keempatnya masih sibuk bicara. Tentang Himawari yang tetap mesti masuk kelas, kata Sakura yang memaklumi Himawari sekali saja. Himawari meminta maaf, dan Hinata tertawa pelan (melodis, di telinga Naruto) melihatnya.
Mereka teralih, terjadi perdebatan karena Sarada enggan masuk kelas berikutnya. Mereka tengah berusaha bertanya kenapa Sarada tak mau masuk kelas, saat Naruto membuka brangkas di kolong meja kerja.
Naruto mengambil wireless bluetooth earphone, menyalakannya, lampu mungil biru safir berkedap-kedip tanda telah menyala, kemudian menyematkan earphone itu ke telinga kanannya. Sekali pandang, orang juga pasti tahu itu terhubung entah dengan piranti yang memutar alat musik, atau juga telepon.
Smartwatch di lengan kirinya bergetar. Naruto mengoneksikan earphone dengan smartwatch. Senyumnya seketika merekah. Ia menekan layar sentuh dari hologram transparan berikon gambar gagang.
"Hei, hyvää päivää, Jiraiya Herra!" (Halo, selamat siang, Jiraiya-Sensei!)
"Miten sinä, Naruto?" (Apa kabar, Naruto?)
"Voin hyvin, kiitos. Herra?" (Kabarku baik, terima kasih. Herra?) Naruto terkekeh.
"Olen myös kunnossa. Ah, sinulla on hyviä uutisia sinulle." (Kabarku juga baik. Ah, ada kabar gembira untukmu!")
"En puhu hyvin suomea, anteeksi." (Aku tidak begitu fasih bicara Finnish, maaf.)
"Ei se mitään." (tidak apa-apa) Jiraiya tertawa keras dari seberang sambungan. "How about in English?"
"If you'are asking me, is it possible for you to speak in our mother language?"
Naruto bersandar nyaman di kursi roda, memutarnya ke belakang. Bangun lagi, meraih buku dan menuju kursi pijatnya. Mengaktifkan, kemudian duduk nyaman untuk melenturkan otot-otot bahu yang terasa kaku.
"Aku yang malah sudah agak lupa, tahu." Jiraiya mendengus keras.
"It's okay. Jadi, ada kabar gembira apa buatku?" Naruto menundukkan kepala, berpura sambil membaca buku, dan mendengarkan musik—menikmati sesi pijat gratisnya. "Akhirnya aku jadi guru teladan yang diliput di New York Times dengan kemenangan berturut-turut sebelas kali?"
"Itu guru atau pesepak bola?" Jiraiya terbahak. Terlalu lama ada di luar negeri, logat Jepangnya sekarang terdengar sedikit aneh. "Omong-omong, aku dengar dari Kurama, kau berhasil diterima di Hidden Schools. Selamat, walaupun aku tahu, kau pasti bisa."
Naruto melemaskan jari-jemarinya, bergemulutuk saat ia menarik satu per satu. "Kalau bukan karena koneksi Anda, mungkin tidak akan."
"Kau memang mesti berterima kasih padaku!" orang tua itu tergelak makin kencang, terlebih begitu mendengar muridnya mendengus dan berpura-pura menggerutukan terima kasih. "Aku sudah dapat konfirmasi soal link aliran dana Hidden Schools."
Naruto nyaris menegakkan duduknya dan bersorak, kalau bukan karena ia ada di tempat yang Kyuubi antipati hidup-mati. Pula, bisa jatuh harkat-martabatnya bersorak kanak-kanak di depan empat perempuan yang masih bercakap-cakap.
"Pukul sepuluh malam ini, buka tautan situs deep web yang kukirimkan. Unduh file yang aku unggah. Langsung print-out, berikan pada Kurama dan yang lainnya."
Jantungnya berdentam-dentam. Akhirnya, setelah sekian lama ... Naruto menghirup napas dalam. Nyengir berseri-seri. "Okeee!"
"Omong-omong, benar katamu." Terdengar napas yang terempas berat. "Sepertinya, dilihat dari siapa terduga para distributor dana, memang dari para penguasa. Namun aku ragu, ada kaitannya dengan Penguasa Dunia."
Naruto menghela napas panjang. "Bagus kalau tidak ada kaitannya. Aku bukan siapa-siapa yang punya apa-apa, tidak juga aku bisa melawan mereka."
"Bukan cuma kau," kekeh Jiraiya ala pria paruh baya, "ini bukan perkara bisa atau tidak, ini perkara mau atau tidak. Walau, ya, memang ... bisa apa kita di hadapan penguasa yang menggenggam dunia di tangannya dan jadi alasan terjadi perang serta tragedi di dunia ini?"
"... ukh, Sensei," Naruto mengacak rambutnya dengan penat, "kita pernah membicarakan ini, dan kautahu jawabanku."
"Aku tahu ini sangat berbahaya, tapi kalau bukan kau, siapa?"
"Siapa pun yang bersedia."
"Kau tidak mau?"
"Tidak. Sensei tahu tujuanku, 'kan?"
"Ah, ya ... kau ingin jadi pria yang kali ini lebih mementingkan keluarga daripada umat manusia," tanggap Jiraiya, nada sinis terlapis di setiap katanya.
"Aku tidak mau mereka kenapa-napa." Naruto mengerling Himawari dan Hinata yang berdiri berdampingan, tak jauh darinya. "Itu saja."
Jiraiya berdecak. "Kata-katamu berbeda dari seseorang yang kutahu."
"Oh, seseorang bermain pahlawan?" Naruto terkekeh.
"Ya, dulu kala," suara Jiraiya menjuru pada sendu. "Dia berakhir kehilangan segalanya karena mencoba menyelamatkan semua orang."
"Hmm ..." Naruto memejamkan mata. "Apa perjuangannya menyelamatkan banyak orang?"
Lengking katak di kejauhan menggema, mungkin gurunya ini tengah berada di alam terbuka atau entah di mana. "Iya, tapi dia kehilangan keluarga dan segalanya."
Naruto mengangguk-angguk pada diri sendiri. "Apa ada tempat yang berhasil dilindungi kedamaiannya olehnya?"
"Ada banyak tempat."
"Berarti, seseorang yang Sensei tahu itu, perjuangannya tidak sia-sia," ucap Naruto, terdengar seperti tengah mengucap salut pada seorang pahlawan.
Jiraiya tertawa, dengan nada yang Naruto tidak pahami, tapi menusuk-nusuk gendang telinga hingga terasa menyesakkan. "Walaupun setelah itu dia meninggalkan anaknya sendirian?"
Senyum Naruto seutuhnya menghilang. Dia menangkupkan tangan ke wajah, mengusap-usapnya lamat-lamat. Tetap tidak menghilangkan penat yang berpusat di dahi, apalagi karat di hati.
Naruto menanggap, pelan seolah tengah meminta maaf, "Yah, siapa pun orang yang Sensei tahu itu ... aku bukan dirinya, dan tidak mau jadi dirinya."
"Aku mengerti, dan siapa juga mau ada lagi muridku yang berakhir seperti dia, sih?" tawa sang pria tua mengudara, sedikit terbatuk-batuk di akhirnya.
"Suhu di sana berapa?" tanya Naruto cemas. "Sensei baik-baik saja?"
"Oh, sudah mulai normal, kok. Sudah masuk belasan derajat celcius." Keriyap angin menyelinap dari seberang sambungan di sela suara parau Jiraiya.
"Aku akan selalu rindu melihat ombak yang membeku di sana." Naruto tertawa geli, nada suaranya melunak. "Sensei masih di Helshinki?"
Jiraiya bersin sekali sebelum menjawab, "Sekarang masih, tapi minggu depan aku akan ke Frankfurt. Ada seminar yang mesti kudatangi, dan bonus kabar gembira, aku akan pulang ke Jepang dan menetap setelah itu."
"Naaah, itu baru kabar gembira!" seru Naruto, terkekeh sedikit karena memahami bahwa seminar hanyalah kamuflase belaka dari yang akan Jiraiya lakukan sebenarnya. "Kau harus mampir ke Ichiraku Ramen dan Kyuubi Sushi! Kabari aku jam landing pesawatmu, nanti aku jemput di bandara, Sensei. Sepuluh jam penerbangan, pasti jet-lag-nya luar biasa."
"Enam-tujuh jam saja, kok. Penerbangan keduaku dari Frankfurt ke Tokyo. Baiklah, Bocah, mau kubawakan Karjalanpiiraka dan Rye Bread?"
"Nanti oleh-oleh darimu basi."
"Kan yang kubawa semua dalam tas beku, di hotelku di Frankfurt ya aku masukkan kulkas dulu. Nanti tinggal kauhangatkan saja begitu aku berikan."
"Sensei, karena kau mampir ke Frankfurt, sekalian bawakan Bockwurst yang ikan dan ayam!"
"Tsk. Banyak maunya kau." Jiraiya mendengus.
"Aaaah, bawakan!" Sayang ia tidak di tempat tidur kamar sendiri, kalau iya, Naruto pasti sudah guling-guling seperti dulu kala ketika Jiraiya mengajarinya secara pribadi. "Yang banyak dan enak."
Jiraiya memanjang-manjangkan desahnya. "Oke, aku bawakan yang banyak. Awas kau kalau tidak menjemputku di Bandara."
"Siaaap, Bos!" Naruto meninjukan kepalan tangan ke udara.
"Oh, sudah bertemu keluargamu?"
Naruto mendongak sejenak, kemudian ia berpaling dan membendung cengiran yang nyaris kasatmata. "Sudah."
"Bagaimana kelas barumu? Kaudapat salam dari murid-muridmu di sini."
"... well, penuh tantangan. Detailnya kuceritakan lengkap kalau kita sudah bertemu." Naruto terkenang wajah-wajah putih kemerahan, rata-rata bermata hijau ataupun biru, dengan rambut pirang-coklat keemasan. Logat khas mereka yang menggemaskan. "Tolong bilang, Fishcake Herra juga kangen sekali sama mereka."
"Coba kirim sesuatu dari Tokyo sana ke Helshinki untuk murid-muridmu, Naruto." Jiraiya terbatuk-batuk lagi.
"Oke. Sensei tunggu di sana dulu." Naruto mengecek smartwatch-nya tanpa memutuskan sambungan telepon. "Aku kirim malam ini juga, mudah-mudahan tiga-empat hari lagi sudah sampai."
"Alamatku di sini masih ingat, 'kan?" Jiraiya mencibir penuh canda. "Celaka kalau kaulupa."
"Aku lupa tak masalah, masih kusimpan, kok," kekeh Naruto. Ia meregangkan kaki dan lengan, merasa lebih rileks. "Sebaiknya Sensei cepat masuk rumah. Jangan kelamaan di luar. Tidak akan ada yang kauteriaki suruh memijiatmu kalau sakit punggungmu kambuh."
"Nanti saja pulangnya. Aku masih akan pergi kencan!" Jiraiya terbahak
"Astaga." Naruto menepuk dahi. "Kenapa aku selalu dibuat susah dengan lelaki mata keranjang?"
"Aku harap kau akhirnya berani mengonfrontasi temanmu itu."
"Sudah, kok! Kunantikan kepulangan Sensei, semuanya nanti kuceritakan."
"Vihdoin, kuusi palaa! (akhirnya! Kau penuh semangat api!) Sampai bertemu di Jepang, Pejuang," Jiraiya berseru dengan nada yang mungkin, paling tidak untuk Naruto yang tak pernah tahu bagaimana rasanya punya ayah, mendekati cara bicara seorang ayah yang bangga pada putranya.
"Uhm!" Naruto mengangguk, meskipun ia tahu Jiraiya tak mungkin tahu apalagi bisa melihatnya.
Sunyi sesaat, hingga Jiraya dengan volume vokal merendah berkata, "Naruto, aja hiljaa sillalla."
Hati-hatilah berkendara saat melewati jembatan, arti frasa yang Jiraiya sebutkan. Kiasan pesan yang Jiraya sampaikan membuat Naruto menghirup napas dalam, mengembuskannya dengan pelan. Matanya berkilat sesaat, melirik angka digital yang terpapar di layar.
"Joo (ya), Jiraiya Herra." Naruto mengepalkan tangan. Sesaat sorot matanya berkilat oleh sesuatu penuh tekad, sebelum kembali seperti semula.
Bunyi sambungan telepon diputus terdengar seputus asa koak gagak menjelang petang. Naruto menyentuh layar smartwatch-nya, mengembalikan tampilan jam analog seperti biasa. Ternyata sudah saatnya untuk masuk kelas terakhir, anak-anak jeniusnya pasti telah menanti.
Ia mematikan mesin kursi pijat, lalu kembali ke meja untuk memasukkan buku yang batal dibaca, dan menyandangkan ransel ke pundak. Mengerjapkan mata karena mendapati empat pasang mata memandangnya, entah telah berapa lama mereka melakukan hal itu.
"Apa aku baru saja mendengar kaubicara dengan bahasa asing, Naruto?" Sakura menyarangkan tatapan curiga padanya.
Naruto melambaikan tangan. "Apa bicara bahasa Jepang kita sendiri itu termasuk asing untukmu, Sakura-chan? Permisi, aku duluan mau masuk kelas—"
"—tunggu, Uzumaki-Sensei!"
Seisi ruang lengang terkejut mendapati Sarada meraih ujung kemeja Naruto.
"Apa saya bo-boleh ... i-ikut kelas Anda?" Sarada menatap penuh harap pada wali kelas Kyuubi itu. "Ha-hanya satu jam pelajaran, hari ini saja."
Naruto menilik gestur Sarada baik-baik. Ujung-ujung jemari menjumput kuat-kuat tepi kemejanya. Mana memegangnya itu bagian ujung bawah yang tidak dimasukkan ke dalam celana, sedikit gemetar, benar-benar refleks seseorang yang sedang panik.
Dia mengerling kanan-kiri. Keningnya berkerut menyadari tak ada seorang pun yang kelihatan akan menegur Sarada. Seolah memang, ikut kelas Kyuubi itu adalah jalan keluar atas sesuatu.
"Seingatku, kau sudah tertinggal kelas dari habis makan siang, bahkan kau juga tetap ada di kelas Kyuubi sesorean," Naruto melunakkan caranya berbicara, "aku tidak masalah, tapi apa absensimu di kelas Hebi nanti tidak jadi masalah?"
"Sebenarnya saya tadi berniat ikut kelas siang," gumam Sarada, meremat lebih erat ujung kemeja Naruto, seakan akan kalau tidak dipegang, pasti Naruto akan melepaskan.
Naruto menjentik jarinya. "Ah, kau berniat menghindari kelas malam ternyata."
Ia abai dengan suara-suara terperangah keempat perempuan di hadapannya. Naruto melirik kanan-kiri, tampaknya mereka menyerahkan keputusan pada Sarada.
"Tidak," Sarada cepat-cepat menggelengkan kepala, "itu akan jadi urusan saya. Dan saya pastikan, tidak akan memengaruhi martabat kelas Kyuubi maupun Anda, Uzumaki-Sensei."
Naruto paham dari kelas-kelas dahulu yang membuatnya penat, salah satu mata kuliah psikologi anak, bahwa kalau reaksi mereka sudah seperti ini, berarti ada sesuatu yang mereka takuti atau tidak siap untuk menghadapi.
Perbedaannya, Sarada ini punya aura yang mengingatkannya pada Sasuke waktu muda dulu. Naruto melirik Sakura, nyengir sekilas. Namun Sarada jauh lebih menyenangkan untuk dilihat, entah mengapa. Bukan karena dia anak perempuan, melainkan ia meyakini ini warisan dari Sakura.
Bisa-bisa kelasnya (atau bahkan seseantero Rumah Asrama Konoha) geger sekali lagi, tahu ada Ratu lulusan Chuunin dan siswi baru tingkat Jounin, sampe datang ke kelas paling bobrok.
Sarada sedikit tersiap karena pria di hadapannya malah berlutut, meraih tangannya dengan lembut untuk ditepuk pelan nan sopan. Posisi ini harusnya mirip seperti pangeran yang berlutut dan memegang tuan putri, seolah meminta sang putri untuk mengajak berdansa.
Namun ia tidak mendapati kesan itu sama sekali. Sarada sedikit menunduk, merasa lebih lega mendapat tatap bersahabat dari Naruto. Lebih mirip ayah yang tengah dalam mode amat bersabar, menanyakan kenapa putrinya mogok sekolah.
Ironis sekali dengan Naruto Uzumaki yang seidentik matahari dan padang bunga ilalang bercahaya keemasan di sore hari.
"Sarada, kau bisa saja ikut kelas Sakura-chan atau Hinata." Naruto agak mendongak untuk memandang lurus pada anak perepuan ini. "Kau anak yang pintar. Ikut kelasku tidak akan membuatmu bertambah ilmu akademik. Kenapa mesti kelasku?"
Sarada terdiam sebentar. Terngiang lagi percakapan Shikadai dan Naruto, gegap-gempita dan sesaput lembut tak bernama yang terbenam dalam atmosfer kelas Kyuubi.
Anak-anak kelas Genin yang bernyanyi riang, mendoakannya dengan manis. Anak-anak kelas Chuunin yang mengerubuti dan bertanya. Kelas Jounin yang bahkan tak hirau ia anak kelas Hebi, dan ia kena lempar botol minum dalam pertengkaran kelas untuk kesekian kali.
Terbayang kelasnya. Sebagai kelas teladan, mereka diberikan tiga ruang kelas berbeda dan bisa berpindah-pindah untuk ganti suasana. Malam ini, adalah salah satu kelas yang paling ingin ia hindari.
Sarada meneliti balik pria yang tengah memandangnya. Dahinya sedikit berkerut melihat ada bekas luka aneh yang menyembul dari garis entah pundak atau tengkuk, ekor garisnya membuntut di selangka. Luka lama.
Tangan dengan kulit tan yang memegangnya juga jelek, berbanding terbalik dari papanya.
Kasar oleh kerut-merut usia, berbaret luka, dengan urat-urat khas lelaki menonjol. Tangan seorang pekerja keras, tapi dari hari ini saja, Sarada tahu jari-jari panjang dan kuat ini bisa begitu ramah bercengkerama dengan pemuda-pemudi maupun mengelus kepala anak-anak.
Tangan yang hangat.
"Ilmu akademik," ulang Sarada, dia membenarkan letak kacamata di pangkal hidungnya. "Di tempat mana pun, kita pasti bisa memelajari hal baru—kalau kita mau memaknainya. Dan saya berkeyakinan, pasti ada yang bisa saya pelajari di kelas Kyuubi—walaupun mungkin bukan materi akademik. Jika Anda tidak keberatan, anggap saja ini seperti pertukaran pelajar kecil-kecilan."
Keheningan yang berkuasa di ruangan, membuat napas Sarada tertahan. Wajahnya memerah begitu ia mendengar kikik mama, ibunda angkat, dan adik perempuannya yang teramat geli.
Mata Sarada terpincing, sedikit merasa risih, dan bibirnya maju ketika mendapati Naruto tampak mati-matian menahan tawa.
"Himawari," Naruto menoleh pada putrinya dengan cengiran lebar, "kamu pasti senang punya kakak sepintar Sarada, ya?"
"Uhm!" Himawari seketika melompat untuk memeluk Sarada dari belakang. Dengan inosen, dia menengok pada wali kelasnya. "Saya ikut kelas Uzumaki-Sensei juga boleh, ya?"
"Himawari ... jangan katakan kau mau menghindari kelas Aljabar," Sakura mendesah, dibarengi decakan pelan. "Kau sudah sesorean di kelas Kyuubi, 'kan?"
"Eeeh ..." Himawari menundukkan kepala dengan kecewa.
Sakura mendongakkan kepala dan mendesah keras ketika Sarada ikut menatapnya dengan memelas. "Astaga, Anak-anak. Tidak bisa begini. Ini demi kebaikan Himawari sendiri, oke?"
Hinata dan Naruto berpandangan, kali ini keduanya sama-sama tertawa karena kedua anak perempuan itu memandang Sakura bagai kucing terbuang memohon untuk dipungut.
Sakura akhirnya menyerah, dia sedikit membungkuk untuk menatap keduanya. "Oke. Kau boleh ikut kelas Naruto, tapi aku akan menggandakan tugas dan materi yang mesti kaukuasai. Bagaimana, Himawari?"
"Ya Tuhan, Himawari ..." Naruto merangkul putrinya dan pasang tampang prihatin, "kau pasti banyak menderita di kelas Sakura—aaaw! Sakura-chan!"
"Kita mesti masuk kelas." Sakura berkacak pinggang, puas memerhatikan Naruto meringis-ringis kena jitak olehnya. Dia menatap lagi Himawari. "Malam ini, aku kirimkan tugasmu via email."
"Terima kasih, Sakura-Sensei!" Himawari mengangguk santun, senyum berseri-serinya menularkan senyum pula pada sang guru.
"Aku akan membantumu belajar." Sarada tersenyum ketika Himawari memekik girang dan memeluknya.
Hinata menoleh pada Naruto, tatapan mereka lagi-lagi bertemu—dan ia berusaha menekan ingatan akan insiden jam makan siang tadi. "Apa tidak menganggumu ada dua murid tambahan?"
"Tenang saja," Naruto nyengir dan menyorongkan tangan untuk bertos-tosan dengan Himawari dan Sarada, "mereka gangguan termanis yang pernah kudapatkan."
Sakura menghela napas. Kalau boleh jujur, dia iri dengan bagaimana cara Naruto menatapi Hinata. Dipandang sesayang itu, siapa juga perempuan yang tidak mau? Namun dia lebih gemas lagi melihat Hinata, selalu dari dulu sejak mereka kerja di tempat yang sama, tersipu malu di bawah tatapan Naruto.
Ironisnya, ia tidak menemukan rasa cemburu membabi-buta. Malahan, kelegaan menyebar, yang juga dinodai oleh kecemasan.
Ia yakin, bukan hanya dirinya mengalami kenahasan dulu kala. Sudah cukup insiden tadi siang. Entah pertengkaran macam apa lagi akan dikobarkan Sasuke dan Naruto, kalau keduanya berseteru lagi.
Terpaksa Sakura berpura-pura penuh canda menyodok pinggang Naruto dengan tangannya. "Cepat masuk kelas, sana!"
"Aish, Sakura-chan!" desis Naruto sebal. Walaupun dari gelengan kecil Sakura, ia mengatup mulut.
Sementara itu, Hinata mengelus puncak kepala kedua remaja putri kesayangan mereka bertiga dengan lembut. "Belajar yang benar dengan Naruto-Sensei, oke?"
"Iya!" sepasang pemudi itu mengangguk, lalu membungkuk sopan pada Naruto. "Mohon bantuannya, Sensei."
"Mohon kerja samanya juga." Naruto balas mengangguk, kemudian dia menyandangkan ransel ke pundaknya.
Naruto meraih kedua tangan remaja putri itu untuk ia gandeng, seperti biasa ia menggenggam tangan murid-muridnya. Sarada tampak kikuk diperlakukan demikian, mungkin tak terbiasa.
Namun perasaan Naruto baru tak karuan, mengharu-biru, ketika akhirnya bisa menggenggam tangan mungil putrinya erat-erat. Mungkin memang ada juga kehangatan yang seperti ini, yang melahirkan sesak tak tertahankan, hingga tangan sendiri sampai bergetar.
Ia menggenggam tangan Himawari erat-erat. Seakan takkan melepaskan, karena memang itulah yang akan Naruto lakukan.
"Ayo kita pulang ke kelas!" Naruto berhasil mengatasi serak ganjil yang seperti kerikil, mengganjal kerongkongannya.
Tertinggallah Hinata dan Sakura, menyaksikan seorang pria menggandeng dua remaja putri di kanan-kiri. Salah-salah, orang-orang bisa berpikiran dia seorang pedofil. Namun kalau mengamati ekspresi ketiganya baik-baik, maka mereka akan menemukan senyum di wajah ketiganya yang menghangatkan untuk dipandang.
Sakura pelan mengusap punggung lengan Hinata yang menyeka sudut-sudut matanya. "Sedih, ya ... melihat Naruto sesenang itu bisa menggandeng Himawari?"
"Aku senang," gumam Hinata parau, dia menyeka sebab mengapa matanya memanas dan lembap, "sangat senang, sampai sakit ... sangat sakit rasanya."
Sakura mengangguk, pandangannya menerawang pada pintu. Di mana ketiga sosok tadi menghilang di baliknya. "Aku juga pernah merasa seperti itu, ketika Sasuke-kun pertama kali mengajak Sarada jalan-jalan."
Keduanya saling berpandangan, kemudian tertawa. Nada pilu bertalu-talu seakan membeku waktu.
Mereka hanya wanita yang telah pasrah atas semua yang terjadi. Lelah karena mereka masih saja sama, terperangkap oleh cinta yang dulu; cinta yang masih begini saja, dan tak pernah beranjak kemana-mana.
Cinta yang terlalu sayang, maka tak jua dibuang.
"Uhm ... setelah mengajar, bagaimana?" tanya Sakura setelah ketiganya menghilang, menyelipkan rambut ke belakang telinga dengan gugup. "Kita bicara ... dan check-up."
"Terima kasih sudah mau menemaniku," bisik Hinata tulus, meraih tangan Sakura ketika mendapati wanita itu telah berhasil menahan diri untuk tak bergetar di hadapan ketiganya tadi.
"Terima kasih sudah mengajakku juga. Padahal aku sudah melakukan hal ... astaga, itu hal mengerikan yang telah aku lakukan padamu." Sakura tertunduk. Airmata jatuh setitik, menggema seruangan. Terisak rikuh, "Aku ... takut."
Hinata mengeratkan genggaman tangannya. Mendadak, semua perasaan yang baru sebentar sempat mereka bicarakan, meruap, meluap-luap ke permukaan, tak ubahnya hari yang tenang sebelum badai datang.
Tersenyum perih, Hinata melirih, "Bukan hanya Sakura-san saja yang takut."
ORANGE
.
Chapter 5: Fear
.
(Who says it's easy to accept and embrace all of your fears?)
Glosarium/Trivia:
Konservatif (a): kolot; bersikap mempertahankan keadaan, kebiasaan, pila pikir zaman dulu, maupun tradisi yang berlaku dari dulu.
Stereotype/stereotip (n): pengertian mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat.
BDNF: Brain Derived Neurotrophic Factor, adalah hormon yang bertumbuh dan bertanggung jawab pada neurogenesis untuk menciptakan neuron yang baru.
Mad Scientist: arti sebenarnya adalah "Sarjana Sinting", tapi fanfiksi ini mengambil arti yang umum diketahui publik, yaitu ilmuwan gila yang melakukan apa pun demi menyukseskan eksperimentasi/percobaan yang ia lakukan untuk mencapai tujuan tertentu.
Berlak-lak: bergepok-gepok; bertumpuk-tumpuk uang disatukan dalam satu selendang kertas dengan label jumlah uang. Kalau idr (Indonesian Rupiah), pecahan idr 100 ribu, maka satu lak itu senilai 10 juta rupiah.
Teori kosmos: teori tentang suatu sistem dalam alam semesta yang teratur dan harmonis, sebagaimana planet-planet mengorbit mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya.
Finnish: bahasa nasional Finlandia.
New York Times: adalah koran harian yang diterbitkan di New York oleh Arthur Ochs Sulzerger Jr. dan didistrubisukan secara internasional. Dianggap sebagai koran yang bisa diandalkan sebagai sumber referensi resmi untuk kejadian-kejadian terkini dalam skala dunia.
Deep web: disebut juga darknet, merupakan bagian dari World Wide Web (www) tetapi tidak termasuk ke dalam internet yang dapat dicari dengan mudah, jauh lebih besar dari sebaran informasi yang mudah didapatkan mesin pencari (search engineer semacam google), butuh menggunakan indeks mesin pencari web atau bahkan tautan spesifik. (intinya, semacam jaringan internet "kegelapan"/bawah tanah)
Penguasa Dunia: seperti yang pernah saya ulas di Heavenly, penguasa dunia itu bukan negara adidaya, tapi keluarga berdigdaya. Silakan cari di inet, nama keluarga penguasa dunia yang memainkan dunia di tangannya, yang melahirkan teori konspirasi, bahkan menciptakan perang dunia untuk keuntungan mereka pribadi. :')
Helshinki: ibukota baru Finlandia, juga merupakan pusat pendidikan Finlandia dan dunia.
Frankfurt: ibukota Jerman.
Karjaalanpiiraka: pastry yang biasa berisi kentang tumbuk, nasi, wortel atau dengan ikan, makanan khas tradisional Finlandia yang berasal dari daerah Karelia.
Rye Bread: roti yang rasanya agak asam dan berwarna agak hitam, zaman sekarang biasanya bertekstur lembut dan tidak hancur ketika direbus. Salah satu roti, makanan pokok khas Finlandia.
Bockwurst: sosis khas Jerman yang berbentuk panjang ramping, dibuat dari cacahan ayam ataupun ikan.
Fishcake: secara literatur, bila diterjemahkan, "Naruto" itu artinya "fishcake" atau kue ikan.
Aja hiljaa sillalla: salah satu frasa terindah dari Finlandia versi koran nasional negara ini, drive safely when you crossed the bridge; artinya berhati-hatilah ketika kau melakukan sesuatu yang berbahaya.
Kenapa beberapa tokoh, seperti Shikadai, Sarada, dan Himawari, membahasakan diri "Saya" pada yang lebih tua?
Ini merujuk pada bahasa halus Jepang, lelaki biasa memakai "boku" untuk mengekspresikan saya secara halus, sementara perempuan biasa berbahasa "watashi", ini adalah bentuk sopan dan formal untuk bicara pada yang lebih tua.
Padanannya dalam bahasa Indonesia, tentu aneh kalau ber-aku-kamu dengan yang lebih tua, maka "boku" dan "watashi", agar selaras pula, saya memfungsikan "saya-Anda".
Nah, untuk anak-anak kelas Kyuubi, mereka bisa berbahasa "atashi" dan "ore", dalam bentuk lebih non-formal dan untuk pandangan publik Jepang pada umumnya bahkan agak kasar, ini dikarenakan wali kelas mereka sendiri berbahasanya demikian dan tak keberatan dengan cara mereka membahasakan diri—agar lebih akrab. Ini sudut pandang saya cari tahu dan ambil berdasarkan dari realitas kehidupan kemasyarakatan Jepang, bukan anime-manga :")
Seharusnya saya taruh terjemahan bahasa Finlandia, Finnish, di A/N. Tapi, saya pikir, bakal merepotkan pembaca bolak-balik scroll atas-bawah, jadi saya taruh terjemahan persis di sisinya. Silakan koreksi bila ada yang keliru terjemahannya.
A/N:
Ada beberapa hal penting yang mesti saya sampaikan.
Pertama, saya akan menghiatuskan fanfiksi ini untuk sementara waktu. Ada pekerjaan yang perlu diprioritaskan lebih dulu. Saya mohon maaf karena tidak bisa meng-update fanfiksi ini dalam waktu dekat. Jangka waktunya berapa lama, saya belum bisa memastikan.
Kedua, saya terbuka dengan pertanyaan "kapan update" ataupun diingatkan untuk senantiasa update fanfiksi ini, sekiranya nanti saya lupa. Silakan kirim PM pada saya, tanyakan di kolom reviews, ataupun boleh kirim email, chat WA atau Line (silakan tanyakan di PM), untuk mengingatkan. Saya berterima kasih pada pembaca yang mau membantu mengingatkan dan menemani saya untuk tetap melanjutkan fanfiksi ini sampai tamat.
Ketiga, kalau ada hal yang kalian tidak mengerti setelah membaca fanfiksi ini, tolong jangan main loncat ke kesimpulan: silakan bertanya, atau bersabar cerita ini berjalan pelan. Kalau kalian me-review anonymous sebagai guest, maka saya akan buat pengecualian dan menjawab (itu pun kalau pertanyaan kalian penting dan mesti saya jawab; pertanyaan tidak menjurus pada spoiler; khawatir pembaca lain akan bosan kalau saya menjelaskan hal yang sudah jelas berulang kali).
Saya jadi inget. Ada reviewer yang tanya kapan akan adegan masturbasi ... ada, kok. Chapter depan. Omong-omong, kalau Anda berekspektasi lemon atau gore yang hot-hot di fanfiksi ini, maaf, tolong lupakan saja. :'D Silakan cari fanfiksi yang sesuai harapan dan selera Anda, karena maksud adanya adegan itu bukan menjual sensualitas atapun mengglorifikasi bagian ena masturbasi atau hubungan seksual.
Keempat, tolong—bila kalian ingin memberi reviews untuk fanfiksi saya, tolong tuliskan dengan sopan dan baik. Saya tidak minta kalian untuk selalu reviews, faves, follows, ataupun tetap mengikuti fanfiksi ini sampai tamat, dan saya terbuka dengan kritik-saran membangun, tapi tolong sampaikan hal itu mengenai fanfiksi/cerita saya, bukan pada saya pribadi.
Kelima, mungkin jadi kabar buruk untuk kalian, yang ingin spoiler ending (boleh tanya via PM kalau mau), sejujurnya bagi saya pribadi, di cerita semacam ini ... happy ending mahal harganya—tapi bukan berarti mustahil.
Keenam, berhubung fanfiksi ini resmi hiatus, boleh saya tanya, kesan dan pesan apa saja yang kalian dapatkan usai membaca fanfiksi ini? Harapan apa yang kalian punya atau inginkan untuk cerita ini dan para chara yang terlibat untuk ke depannya?
Ketujuh, untuk semua pembaca yang meluangkan waktu membaca fanfiksi ini, mengapresiasi dengan faves dan follow, terima kasih. Untuk yang bahkan bersedia menyisihkan waktu memberikan reviews, terima kasih sekali!
Terima kasih atas apresiasi kalian yang luar biasa: kymc, muhammaddandi52, kr, uzumaki121, indra223, Guest (1), bluemond, arik, awww, cracker, Nhlgandaria-chan, FAISHAL ROOKIE T, Uzunami1, Sijeki, Hitsugaya no Ookami, Maria26, Chris, Ren Azure Lucifer D Kanedy, katarays, wahyutra26, anggahernandi2, dadaberontak, Rifai271, rdiahayu, panggil aja mbak, Hater Uchiha, The Spirit of Wind, Niwa Gremory, Guest (2), kyooigneel, Thanatos, Faded Light505, urarakasakura371, Sukiraki Tatsuya, Sena Ayuki, dan .161 untuk fanfiksi ini. Maaf reviews dari pembaca login, baru akan saya balas besok.
Selamat merayakan Hari Raya, Idul Fitri 1439 Hijriah! Mohon maaf lahir dan batin untuk semua pembaca, baik yang merayakan hari penuh berkah dan kemenangan ini, maupun yang mengikuti dari berita. Semoga semua berkah berlimpah untuk pembaca-pembaca setia fanfiksi O-ren-jiii!
Sampai nanti lagi! Saya bakal kangen kalian, Pembaca Kesayangan-kesayangannya Fragransia! /insert lots of "hearts" emoji/
