Oleh Strelitzi, tentang ORANGE:

Saya selalu gatal untuk ngereview fanfik yang Frag buat :""

Sebenernya pas baca summary, saya agak ragu. Saya kurang suka adegan lemon apalagi PWP. Ditambah cerita ini up di bulan puasa. Semakin ragulah saya mau baca cerita ini di awalnya. Baru pas chapter empat aku beraniin baca karena yang nulis Frag :""

Best quote yang aku hafal adalah "Kamu adalah milik Tuhan dan akan selamanya menjadi milik Tuhan," ini bener banget. Mau bagaimana pun jalan hidupnya, orang itu akan kembali ke tangan Tuhan.

Aku kesal karena ceritanya Frag selalu sukses bikin aku nangis. Aku ga kuat dan lemah sama adegan guru yang se-care itu sama muridnya.

Ga banyak guru yang mengajak anak2 mereka untuk saling menghargai dan memahami satu sama lain. Ga semua murid bisa merasakan suasana belajar yang asyik dan ga menekan murid2 mereka.

Terima kasih untuk cerita ini :". Pesan yang disampaikan juga memberi inspirasi buat pembaca. Juga bahasa yang digunakan filosofis banget. Aku juga salut sama research yang dilakuin Frag dalam setiap cerita yang Frag buat. Duh. Bener2 da best

With love :'''

Warnings: disturbing content (konten mengganggu). Kalau ada yang mudah jijik serta tidak tahan dengan sesuatu menjijikkan maupun menyeramkan, grafik deskrip bebauan tak enak, sekilas soal konstipasi dan tinja. Angst alert. Hurt no comfort.


"Angkat tangan, Naruto Uzumaki-Sensei!"

Detak ambyar sejenak dari rongga dadanya.

Ia berdiri kaku di situ, mendengarkan langkah lamat nan waspada yang datang dari kedua penghujung lorong. Naruto mengumpat dalam hati. Tangan menyelinapkan benda mungil yang ia genggam sedari tadi, barulah mengangkat kedua tangan ke udara.

"Mmm ... apa memang guru baru selalu diperlakukan seperti pencuri konbini yang terpergok?" Naruto meluncurkan tawa dan mati-matian berharap terdengar seidiot biasanya.

"Ya," suara itu sehalus sutra yang mana kerikil bisa bergulir mulus jika jatuh dari atasnya, "bila Anda memang dipergoki tengah melakukan hal mencurigakan atau memasuki Area Privasi, Uzumaki-Sensei. Berbaliklah."

Naruto terkesiap. Matanya membulat, jantungnya berdenyut hebat. Getar merambat cepat dan tajam dari pangkal tulang ekor, menjalar ke garis punggung, menyetrum tengkuk, dan menerjang ubun-ubunnya.

Sepasang mata biru bersiborok dengan hal paling menakutkan di sekolah ini. Ada bunyi suara ringsek mengerikan dari boneka berambut kusut.

Wajah boneka itu tercabik-cabik. Sebelah rongga mata kosong. Satu mata lagi bola mata mencelat bengkak dengan tidak wajar. Hidung rompel dengan satu lubang besar sebelah lengkap beserta bulu-bulu panjang. Gigi berkarang hitam bolong-bolong. Taring-taring runcing mencuat.

Boneka mainan itu pun berambut sekusut jerami terawut-awut. Tidak ada bau segar ilalang yang dipetik tertinggal, justru bau bangkai tikus menyengat penghirupnya. Baju jubah kumal yang boneka itu kenakan menguar harum apak debu, bahkan sedikit tinja binatang.

Tersambung benang serupa sulur laba-laba menjaringnya pada sang dalang, adalah boneka sialan menyerbak wangi garang arang.

Naruto berpaling ke samping, meringis ngeri, menelan ludah menghirup bebauan sedikit amis dan besi dari boneka yang persis dijorokkan ke wajahnya. Sadar benar, tidur malam ini pasti mimpi akan digentayangi rupa boneka yang dipahat dan diciptakan dari kayu gosong.

"Sasori-Senpai, kenapa tidak kita lemparkan saja dia dengan petasan festival Hanabi? Cih, aku bahkan bisa membuat yang skala bom panci terrorist!" Naruto mengenali suara si pemuda berambut pirang, yang tadi menggelegar menyuruhnya angkat tangan.

Apa sekolah ini juga mendidik seorang anak untuk jadi terrorist? Naruto cukup bijak memagari kata-kata itu di balik rapatnya gigi dan katupan mulut.

"Jangan buat keributan yang tak perlu, Deidara."

Bunyi gemertak mengilu telinga itu datang dari ketidaktepatan persendian boneka mengerikan ini dipasang. Begitu sang dalang menarik boneka mundur, Naruto melihat sepasang pemuda yang tengah menatapnya.

Keduanya mengenakan blazer jubah hitam bertabur awan merah. Simbol OSIS Hidden Schools. Ada kartu tanda pengenal tergantung di leher menjuntai ke dada mereka. Hanya ada simbol awan merah, asal Rumah Asrama, dan masing-masing kelas mereka.

"Tsk. Kau membosankan, Senpai. Sudah jelas tampangnya itu kayak maling jemuran ketahuan mencuri Bra Holder." Deidara mengibas rambut pirang panjangnya, tak sadar Naruto gatal mencari gunting untuk memangkas habis poni terlalu panjang itu.

Kreatif sekali, terima kasih. Naruto membiarkan sepoi angin mengenainya, tak meredakan darah yang mendidih. Pembuluh darah di pelipisnya berkedut keras.

"Sebaiknya Anda punya alasan spesifik yang baik kalau ingin lolos dari detensi Konoha dan Hidden Schools karena menginvasi Area Privasi, Uzumaki-Sensei."

Sasori menatap Naruto mengabaikan Deidara yang bersungut-sungut. Menyadari sang guru bergidik karena seringai tipisnya, senyumnya berangsur-angsur serupa maniak darah menangkap mangsa.

"Aku tadi habis dari kamar mandi." Naruto menurunkan tangan, mengetahui sepasang anggota OSIS itu lebih fokus padanya. Dia mengumbar ekspresi ngeri dan jemari beralih mencengkerami pipi. "Kulihat ada ular besaaar di taman saat jalan melewati lorong. Bahaya kalau orang-orang yang pulang melihatnya dan dicaplok ular itu!"

"Anda sok heroik sekali malah mengejar ular itu, ya, bukan malah cari pawang atau lapor sekuriti." Deidara memutar bola mata, terang-terangan tak percaya yang Naruto katakan—meskipun itu sesungguhnya benar-benar terjadi.

Naruto mengusap-usap punggung lengan yang meremang. "Astaga, aku lebih baik mengejar ular itu, daripada murid-murid atau kolega kerja yang dimakan. Lagi pula, kalau tidak kukejar, bagaimana bisa aku lapor sekuriti untuk mengeluarkannya kalau kehilangan jejak si Ular?"

"Berkelitmu masuk akal, Sensei." Sasori menganggukkan kepala. Jemarinya di balik jubah usang dan lusuh baju boneka, menggerakkan sang boneka untuk merangkul Naruto lalu menggiringnya. "Itu peliharaan Orochimaru-Sensei. Anda lapor pun tidak ada gunanya, dan bukankah Anda sedang ada kelas malam?"

"Itu dia. Tolong antarkan aku ke taman dekat Menara Astronomi Konoha." Naruto menjentik jari, berupaya menyingkirkan gumulan kengerian karena boneka berbau hangus yang merangkulnya. Mirip cengkeraman jari-jari kurus dan reyot malaikat kematian.

Deidara dengan angkuh menyakukan lagi yang Naruto lihat, (semoga saja) seperti imitasi granat. "Tersasarmu luar biasa, ya, Uzumaki-Sensei. Bahkan Manda—ular Orochimaru-Sensei—saja, biasanya tidak pernah tersasar jauh-jauh sampai sini."

"Ular itu apa tidak bahaya berkeliaran di sekolah, hah?" Badan Naruto samar bergetar saat sang dalang menempelkan pipi boneka ke pipinya. Refleks ia menjauhkan kepala, bau hangus bercampur bangkai tikus dan tinja mencambuk ruang penciumannya.

"Ular Orochimaru-Sensei, Manda, yang Anda lihat kemungkinan sudah steril," sergah Deidara dengan mulut manyun dan dengus keras.

Naruto mencegah dirinya untuk bertanya, apa berarti masih ada ular lain yang masih berbisa. Namun ia tahu, lidah Deidara lentur meluncur kata-kata pedas, dan senyum menyerempet seringai Sasori mengurungkan segala kesinisan yang hendak ia katakan.

Kesalahannya di masa lalu ialah terlalu banyak bicara dan beralasan, sehingga buta untuk tahu bahwa ia tak mampu melindungi apa pun. Naruto mengepalkan tangan terlalu sebentar untuk sepasang pemuda yang mengantar menyadari gerakannya.

Mereka menggiring sang guru keluar dari koridor, melintasi taman yang lenggang dengan pohon-pohon Yamazakura bergoyang karena digoda angin malam. Masuk ke sebuah lorong yang di atasnya ada label bergambar daun dan pusara, tulisan di atasnya tertera: Sektor Konoha.

Sasori berhenti di depan interkom. Sebuah eye fish lense keluar dari dari kotak interkom, mengidentifikasi siapa yang ada di depannya. Laser kecil seperti pointer keluar menyinari matanya, seolah menembus jauh menggapai retina.

Suara artifisial wanita khas pemrograman menebas keheningan. "Sasori dari OSIS Akatsuki berhasil diidentifikasi. Silakan masuk."

Ada bunyi gerak-gerak asing entah di mana, Naruto merasakan bunyi itu adalah vibrasi dari getaran di bawah keramik yang ia pijak. Seakan roda-roda geriti berputar dan bergeser. Gema klik kencang itu seolah kunci entah apa terlepas atau semua roda gerigi telah terpasang.

Pintu mahoni megah berdecit didorong oleh Deidara agar terbuka, menimbulkan kesan klasik dan antik karena deritnya terdengar berat. Naruto mengekorinya, tidak menoleh tatkala Deidara menutup pintu di belakang.

Naruto mengetahui ini jalur ini sebagai jalur khusus siswa-siswi Konoha. Agak terheran-heran dengan interior koridor yang kontras dari mayoritas kelas murid-murid.

Sebagian besar kelas dengan piranti hi-tech, sementara jalur yang kini mereka lewati dipenuhi mural pelbagai warna dari sapuan kuas handal dengan ukiran daun, pusara, dan kobaran api.

"Mengerikan, ya."

Cetusan samar Sasori menghentikan langkah Naruto. Guru itu mengerjapkan mata, mengerutkan kening karena ekspresi tak mudah dicerna kedua pemuda di depannya, lantas merunuti garis pandang mereka.

Tatapan terhenti pada dinding dengan latar krimson. Berjajar beberapa pigura besar dengan bingkai emas, ukiran artistik coklat keemasan bersulur merambati tepian pigura. Di bagian bawah, huruf-huruf timbul memahatkan secarik nama.

Naruto tertegun bukan karena memandangi jajaran pigura lukisan ala zaman Renaisans, Medieval era, melainkan ia seolah tengah bercermin menatapi pria yang tengah tersenyum di lukisan itu. Tengkuknya meremang.

Sepasang mata biru itu perlahan merayap turun, lamat-lamat mengeja deretan sebagian alfabet yang tertera di huruf setimbul Braille.

"Dipikir-pikir, Anda mirip juga dengannya, ya, Sensei." Deidara mengibaskan sedikit untaian rambutnya yang kelewatan panjang, kemudian mengerling Naruto. "Salah seorang pendiri sekolah ini yang tragis dan mantan kepala sekolah Konoha, Namikaze Minato."

"Tragis?" Naruto tanpa sadar mendengus. Meski mustahil, rasanya berkas lukanya bertahun-tahun lalu kini terasa berdenyut nyeri.

"Dia koruptor kucuran dana pemerintah yang dialokasi untuk sekolah ini." Boneka rongsok dibuat mendekati sosok Minato yang senyumnya abadi dan mati di lukisan ini. "Namun memang, dia juga yang berhasil membuat Hidden Schools diakui pertama kali oleh publik Nasional beberapa tahun setelah sekolah ini berdiri."

Naruto menatap sosok yang tersenyum dengan sorot mata biru begitu teduh. Matanya terpincing. "Dia tak ada tampang-tampang kriminal, tuh."

Ia menahan diri tak terkesiap ketika sudut-sudut bibir Sasori tertekuk ke atas, bersanding bunyi gerak patah-patah dari si boneka, mendinginkan suhu lorong dan remang bayang-bayang lampu yang tak terlalu terang.

"Untung noda hitam kayak dia adanya di Konoha." Deidara melengos tak berminat. "Buat apa murid-murid eksperimennya tembus ke berbagai universitas terbaik dunia kalau caranya kotor? Jadilah dia berakhir mengenaskan."

"Kedengaran seperti pahlawan," komentar Naruto, komat-kamit dalam hati berharap airmukanya tampak datar.

"Oh, yeah. Anda, kan, tidak tahu apa yang ia lakukan." Deidara terang-terangan mengangkat sudut mulut kiri ke atas, melenggang pongah.

Siapa suka atmosfer hening yang meremangkan bulu kuduk begini? Naruto tidak, karena itulah ia tertawa. "Memang tidak. Kalian menyebutnya seakan membicarakan seorang pembunuh."

Langkah keduanya berhenti.

Naruto mengerutkan kening. Matanya nyaris membola, tapi ia berhasil memiringkan kepala dan memoloskan pandangan. Seketika sengaja melakukan kesalahan ternaif, garuk-garuk pipi.

"Uhm, maaf ... tidak seharusnya aku main asal bicara saja." Naruto nyengar-nyengir tak keruan.

Sasori menatapnya dalam-dalam. Pandangannya melebar. "Bagaimana kalau itu benar?"

"Masa mirip denganku begini, orangnya jahat?!" Dentuman keras nyaris menghentikan detak jantung, yang seketika berubah jadi gemuruh. Naruto meringis, menutupi dengan kekehan, sok akrab menepuk-nepuk bingkai foto itu.

"Justru karena mirip dengan Anda." Deidara dengan seringai meremehkan, walaupun mata biru Naruto tak luput melihat kilat awas di mata sang pemuda sekilas.

"Wah, jangan main menyamaratakan begitu, dong!" Naruto tampak mencak-mencak saat menyakukan tangan ke dalam saku celana, melenggang lebih dulu. "Boleh fisik sama, tapi hati orang siapa tahu, 'kan?"

"Benar juga. Boleh saja kelihatan seperti guru baik-baik dan penyayang murid, tapi siapa tahu dia aslinya bagaimana." Deidara santai mengibaskan rambut kuning lembut, jatuh menutupi matanya. Hanya garis bibir saja yang bisa Naruto lirik, melengkung miring.

"Uh-hm. Guru baik simpatisan anak cacat, keterbelakangan mental, dan idiot saja tetap punya sisi tercela ala manusia biasa." Sasori menggerakkan boneka itu agar merangkul sang guru lagi seolah mereka kawan lama. "Seperti ingin jadi perebut istri orang, misalkan."

Naruto mati-matian menahan decakan. Sialan. Dia tidak diberi informasi tentang OSIS berisi anak-anak menyebalkan. Sampai sejauh mana berita kericuhan tadi siang menyebar seseantero sekolah?

"Oi, Sensei, wanita muda yang jauh lebih cantik dan bergairah banyak, kok. Dunia ini tidak kekurangan gadis manis." Deidara melempar-tangkap buntalan imitasi granat rakitan di tangan.

Sasori mengerling. "Kenapa mesti mencari lagi mantan istri?"

"Anda gagal move on, ya?!" Deidara mengakak keras, menangkap bola mungil yang berisi bahan peledaknya. Gigi menggerit safety-pin dengan gestur main-main. "Apa Anda Masokhis Kronis atau memang sebegitu tidak laku?"

Ingin mendamprat murka, tapi Naruto mengatup mulut. Terbayang sosok seorang pertapa yang masih menyukai gadis-gadis muda, definisi pria genit sesungguhnya. Yang mengajarkan tentang katak, dunia berputar layaknya roda, filosofi ombak membeku, dan semesta dalam diri manusia.

Di situasi seperti ini, amarah berarti kompensasi untuk menutupi harga diri yang kurang, Naruto.

"Apa ada kamera entertainmentdi sini, ya?" Naruto mendaratkan telapak tangan menaungi dahi, menoleh ke sana ke mari dengan raut wajah kelewatan gembira. "Atau memang warga sekolah ini terlalu banyak dibebani pelajaran, maka pelampiasan mereka atas stress belajar itu berarti mengurusi hidup orang?"

"Tidak ada. Coba saja Anda tidak main-main dengan guru teladan dan keluarga brilliannya, maka tidak akan begini jadinya."

Suara itu datang dari ujung lorong. Naruto harusnya berakting meloncat kucing garong, tapi begitu ia melihat siluet yang merebak membentuk sosok familier, dia menyorot sang interuptor dengan pandangan kosong.

"Anda bermain-main dengan api yang Anda sendiri tidak mengerti, Naruto Uzumaki-Sensei."

Bola mata yang mana keping bening laut tertanam di sana membulat, liar tatapnya menyambar secarik nama di name-tag. Bibirnya ternganga, menggeleng sekali.

Naruto tanpa sadar menggumam, tidak mungkin.Menggeleng lebih cepat dua kali, oh-astaga-Tuhan-aku-tahu-dosaku-banyak, dan sosok itu tak juga tersaput angin malam.

"Oh, Itachi, apa kau akhirnya sudah sadar bahwa kau butuh pakai masker dan krim pemutih wajah?" Justru Deidara yang pasang suara garang dan naik seoktaf, bawaannya temperamen tiap melihat sang Uchiha.

"Kalaupun iya, takkan kubeli semua itu dari koleksi kosmetikmu." Itachi berjalan mendekat bersama seorang pemuda yang berwajah mirip muka ikan hiu—setidaknya menurut Naruto.

"Ah, wajah Anda seperti orang baru saja melihat Doppelgängger, Sensei." Sasori menggerakkan jemari ramping dengan kuku bergerigi tajam, mengelusi pipi bergaris-garis Naruto yang langsung melompat mundur.

Deidara tergelak dengan sengak. "Well, dia terlihat sepecundang orang yang baru lihat manusia bangkit dari kubur."

"Bersama kalian, mendadak aku merasakan sensasi fantastis di perutku." Naruto langsung memeluki perut dengan kedua lengan. Mendelik pada boneka usang di dekat Sasori. "Maaf kalian mesti melihat wajah konstipasiku, bagaimanapun, boneka itu terlalu bau."

Deidara berdecak jijik. "Anda benar-benar habis dari kamar mandi?!"

"Setidaknya, aku tidak terlihat seperti maling jemuran Bra Holder yang tertangkap akan merekam video mesum di kamar mandi wanita." Naruto memutar bola mata dengan hidung kembang kempis.

Tawa Itachi terbungkus dalam dengus halus. "Sebaiknya Anda banyak mengonsumsi buah dan sayur, itu dapat melancarkan sistem pencernaan dan melunakkan tinja."

Tersinggung dengan sindiran halus itu, Naruto menyipit mata dengan sengit. "Pernah dengar ungkapan, jangan ajari burung untuk terbang?"

"Oh, maaf. Anda tidak tampak seperti guru yang tahu tentang hal itu soalnya."

Naruto tidak bisa menguraikan apakah ucapan maaf Itachi tulus atau tidak, yang ia tahu, adalah serasa usus dipuntir dan isi perut melilit melihat Itachi yang kulitnya berkerut sepucat mayat.

Sasori menggerakkan bonekanya agar bertepuk tangan meriah walau gerakannya patah-patah, suara ringsek dan bunyi kayu rongsokan si boneka bergemelutukan. "Mari kita lumrahi, beliau tidak ada istri untuk menjaga asupan gizi dan nutrisi dari panganan yang mesti dikonsumsi."

"Salahnya tidak lagi cari istri, malah menggoda istri orang." Deidara menaikkan satu sudut mulutnya.

Berairmuka datar, Itachi pun berujar, "Omong-omong, kalau Anda tidak mau tersasar lagi dan lupa bawa peta sekolah ini, coba unduh aplikasi Navigator Hidden Schools dan Konoha di toko aplikasi online. Ada, tidak pakai biaya."

"Kalau benar Anda sebegitu miskin seperti yang dirumorkan sampai-sampai cerai dan tidak bisa beli susu anak, jangan cemas, cuma mesti punya kuota buat mengunduhnya," timpal Deidara seraya mengibas poninya.

Sasori melirik kedua rekan seorganisasi sekolahnya. "Kecuali Anda mau tersasar lagi dan menerima detensi, maka tidak usah lakukan apa yang mereka sarankan, Uzumaki-Sensei."

"Kalau saja kalian bukan OSIS, aku sudah potong poin Rumah Asrama dan individu kalian," desis Naruto sebal, intens memelototi ketiga pemuda itu satu demi satu. "Terima kasih atas kebaikan dan sindiran kalian, semoga kalian punya hal lebih baik daripada menyimak gosip hidup orang yang mengada-ada."

Deidara menjulurkan lidah ke arah salah satu pigura, yang Naruto cukup tahu bahwa itu berarti sang pemuda tengah merayakan kenyataan bahwa mereka tak terjamah hukum karena strata.

Naruto memastikan langkahnya tidak terlalu tergesa untuk mereka tahu, betapa ia tidak mau untuk tetap ada di situ.

Namun tentu saja Naruto tahu bahwa ketiga anggota Akatsuki juga tahu, Naruto jelas tak mau membeku apalagi membiarkan dirinya tetap ada di situ.


"... uhm, Sensei, ada sesuatu terjadi? Kok, dari tadi diam saja sejak kembali dari kamar mandi?"

Naruto yang sedari tadi duduk termangu, mengerling pada Moegi. Memang sejak kembali dari toilet, ada getar yang bercokol di dada, dan memusat penat di dahi begitu ia tak sengaja memergoki yang terjadi.

Hampir mencapai kelas Astronomi, dia mendapati Boruto tengah diam-diam menyaksikan perdebatan antara Hinata dan Sasuke. Konfrontasi tanpa suara dengannya. Pandangan membenci dan menyalahkan.

Naruto menahan mual mengingat gerbang besar. Hari berhujan. Lighter yang terbuang, terhanyut genangan air ke selokan. Wajah berurai airmata Himawari kecil. Raungan marah Boruto. Dunia menggelap.

Ia menahan hasrat ingih muntah karena mengingat Sasuke nyaris mencium lagi Hinata. Tentu, itu hak Sasuke sebagai suami, tapi bukan berarti perasaan itu tak meninggalkan bara di hati pria lain yang melihatnya.

Lebih menyesakkan, karena tidak seperti Hinata dan mayoritas orang-orang, mungkin di sekolah ini, hanya dirinya yang mengerti mengapa Sasuke melakukan semua hal demikian. Namun belum saatnya untuk mengonfrontasi Sasuke soal hal ini.

Andai saja ia bisa mengusap airmata Hinata. Merah memenuhi semua sekat pandang, yang mengingatkannya pada ruang remang. Bayang-bayang orang. Sedu-sedan Hinata yang memeluk kaki seseorang.

Namun pada akhirnya, angan-angan semata memang tak berguna. Tidak juga Naruto boleh mengatakan pada Hinata, aku ada. Mereka bukan siapa-siapa. Pandangannya menggelap.

Naruto meraba selangka di balik kemeja yang terasa berdenyut-denyut. Ia melepaskan, kemudian mengelus sekilas puncak kepala gadis remaja itu. "Sensei kepikiran beras di rumah sudah hampir habis."

"Err ... Sensei segalau ini kukira karena krisis moneter dunia!" syok Yakumo.

Sang guru menghela napas dibuat-buat. "Kalian tak mengerti, bagi Sensei, ini perkara mirip hidup mati. Mending Sensei beli beras saja, atau ramen saja supaya lebih hemat?"

"Jangan kebanyakan beli ramen, kandungan MSG-nya akan membuat manusia bodoh, Sensei."

Raut prihatin Moegi ditambah cetusan polosnya, malah membuahkan tawa ringan Naruto.

"MSG tidak bikin bodoh." Naruto terkekeh, memungut ponsel Moegi yang ditaruh di meja. Memerhatikan hasil foto dari aplikasi memfoto ruang angkasa yang telah diinstalasi saat awal kelas ini dimulai.

Moegi dan beberapa murid lain tampak tidak setuju dengan pertanyaan itu. Mengerucut mulut, menghela napas pendek, tapi tak satu pun angkat bicara. Semata karena mereka tahu, kalau Sensei sudah bicara begitu, tandanya memang ada yang mereka tidak tahu.

"Sarada, kau mengerti kenapa Sensei bilang MSG itu tidak bikin manusia bodoh?"

Naruto melempar pertanyaan itu pada gadis yang tengah mengagumi hasil jepretan foto perbintangannya. Sarada mendorong kacamata ke pangkal hidungnya, tampak tak terkejut dengan hal itu.

"Karena itu cuma stigma negatif masyarakat yang terbangun, akibat ketakutan beberapa manusia yang tidak toleran terhadap glutamat, jadi bila mengonsumsi glutamat berlebihan mereka akan mengalami CRS."

"Sebentar, Sarada, tolong jelaskan pelan-pelan!" pinta Iwabee, menyeka bulir kecil keringat yang mengalir di dekat telinganya.

Sarada tertawa kecil, dia mengangguk-angguk. "Kalian tahu Monosodium Glutamat, 'kan? Garam yang molekul penyusunnya berupa sodium atau natrium, dan glutamat. Sebelumnya, kalian ingat apa itu glutamat?"

"Umami! Rasa gurih makanan yang mana lidah punya reseptor sendiri untuk mencecap rasanya," celetuk Yakumo, menetaskan tawa dari teman-teman sekelas.

Sarada ikut terkikik. "Benar, kok, Yakumo-san, tapi yang kutanya soal glutamat dengan sudut pandang Biologi."

"Asam amino non esensial, glutamat berperan penting dalam berbagai proses metabolisme." Shinki meletakkan smartphone-nya ke atas meja. "Glutamat itu building block dari protein, atau bisa dibilang bahan pembentukan protein."

"Nah, kalau protein kalian tahu?" Sarada sedikit memiringkan kepala.

Anak kelas Hebi, jangan remehkan kami. Shinki menyorot datar padanya. "Protein berfungsi sebagai bahan pembangun tubuh, membentuk sel baru, mengganti sel-sel yang rusak, dan masih banyak lagi."

Kagura menyandarkan punggung ke sandaran bangku panjang taman. "Glutamat juga secara alami ada di berbagai makanan manusia seperti ikan, daging, sayur, bahkan buah-buahan—sementara asam amino bisa diciptakan sendiri dalam tubuh manusia."

"Terus glutamat dalam MSG itu apa?" tanya Udon yang bahkan ikut menaruh ponsel ke meja.

"Ah, itu ekstrasi dari berbagai makanan yang mengandung glutamat." Konohamaru menoleh pada Shikadai. "Ya, 'kan?"

"Ya, dan zaman sekarang, MSG dihasilkan dengan cara ekstrasi dari fermentasi alami tumbuh-tumbuhan seperti lobak, tebu, dan gandum." Shikadai diam-diam tersenyum, padahal untuk ukuran diskusi kelasnya, topik sesederhana ini terlalu membosankan.

"Loh, kalau begitu berarti glutamat penting buat manusia?" Yakumo menimbrung dengan raut airmuka bingung. "Terus kenapa dipandang sangat negatif kalau asalnya saja dari makanan alami?"

Sarada menegakkan posisi duduknya. "Menurut US. Foood ad Drug Administration, FDA, MSG itu termasuk aman dikonsumsi, kok. Kalau dosisnya sesuai dengan rekomendasi mereka. Kan, dosis manusia dalam menoleransi MSG berbeda-beda."

"Maksudnya?" Kali ini bahkan Konohamaru mengerutkan kening.

"Pernah dengar istilah lactose intolerant—orang yang akan mual sampai diare kalau minum susu murni?" begitu mendapati banyak anak mengangguk, Sarada melanjutkan, "Glutamat juga seperti itu, makanya tadi kusebutkan CRS—Chinese Restaurant Syndrome.

"Istilah CRS lahir sekitar tahun 1968, Dr. Robert Ho Man Kwok menyebut kumpulan gejala mual, pusing, lemas, yang sering terjadi sekitar setengah jam setelah makan di restoran Cina."

"Ah, ini karena restoran Cina banyak memakai MSG agar umami—rasa gurih—dalam makanan mereka kuat," sahut Himawari yang ikut duduk bergabung dalam forum diskusi.

Sarada mengangguk lagi. "Efek pusing dan mual habis makan MSG, mengalami CRS, bukan diakibatkan oleh MSG, tapi lebih karena glutamatnya. Mesti kita ingat, MSG adalah garam penyedap rasa gurih, sementara glutamat dalam MSG itu asam amino non esensial yang ada di mana-mana dan tidak hanya ada dalam MSG saja.

"Yang membuat seseorang pusing dan mual habis makan MSG sampai mengalami CRS, ini karena memang orangnya saja yang tidak toleran terhadap glutamat berlebihan—glutamate intolerant."

"Sebentar," sela Kagura, "pada tahun 1960, peneliti Washington University menemukan bahwa MSG dengan dosis sekitar 4 gram per kilogram berat badan memiliki efek merusak jaringan otak tikus baru lahir sekitar usia satu minggu."

"Ah, MSG dosis sebesar itu sama dengan lima mangkuk ramen sepertinya," tanggap Naruto, sudut-sudut mulut berkedut dalam senyuman. Guru mana tak senang mengamati murid-muridnya berdiskusi?

"Hah." Kagura langsung menyipit sengit karena Ryuuki yang membuang napas congkak. "Demi Jashin, itu terbantahkan dengan penelitian pada tahun 1970."

"Tepat. Bazzano, D'Elia, dan Olson melakukan penelitian pada 11 relawan dewasa. Relawan bahkan dijejali 100 gram glutamat per hari selama 42 hari, dan mereka mengobservasi segala yang terjadi—mengamati apakah akan ada efek pada sistem saraf manusia.

"Sampai hari terakhir, tidak ditemukan bukti bahwa MSG dapat mengubah struktur maupun fungsi sistem otak maupun badan para relawan. Berarti, tidak terbukti bahwa MSG bisa menghancurkan entah bagian mana dalam otak yang katanya, bikin manusia bodoh."

Sarada mendengus sejenak, yang meluluh jadi senyum geli karena Himawari mengipasinya dengan kedua tangan. Mulut mengucap penuh canda, "Sabar, Anee-sama."

"Sebelum Sarada menjelaskan ke bagian lebih sainstifik," Shikadai menyela karena tampaknya Sarada bisa saja menjelaskan dari A sampai Z soal glutamat, asam amino non esensial, metabolisme, dan lain-lain, "biarkan kita bertanya, jadi, bagaimana bisa anggapan MSG membuat manusia bodoh itu lahir dan jadi miskonsepsi turun-temurun di masyarakat?"

"Ini bodoh sebenarnya." Sarada berdecak. "Miskonsepsi ini sepertinya lahir dari ketakutan dan kekhawatiran berlebihan manusia yang glutamat intolerant, juga dari orang-orang yang ngeri menyaksikan para glutamat intolerant yang pusing—dan efek samping lainnya—setelah mengongsumsi MSG.

"Sekali lagi, MSG tidak bikin bodoh, kok. Yang bodoh adalah tidak mau mencari tahu benar atau tidaknya anggapan bodoh itu sendiri. Nah, yang paling bodoh adalah tidak mau menerima kebenaran sebagaimana adanya."

"Apa maksudnya itu?" Udon garuk-garuk kepala tatkala menatapi Sarada.

Sang gadis menerawang pada penghujung petang tak berbintang. "Itu ditujukan pada manusia yang hanya mau menerima kebenaran yang mereka inginkan."

Naruto refleks jadi yang pertama dan bertepuk tangan, sudah terbiasa dengan murid-muridnya yang—dengan ekspresi masing-masing—mengikuti pergerakannya.

"Terima kasih sudah meluruskan kesalahpahaman ini, Sarada."

Tangan sang guru terulur untuk menepuk lembut kepala Sarada. Gadis muda itu tersipu malu, menggerutu pelan bahwa itu bukan apa-apa, dan masih banyak hal untuk dijelaskan mengenal hal ini.

"Karena inilah aku senang punya kakak seperti Sarada Nee-san!"

Naruto mengerling pada Himawari yang berbisik keras-keras padanya, tergelak karena Sarada mengelak dari senyum Himawara yang berseri-seri.

"I-itu, sepertinya Bintang Venus sudah terlihat!" Sarada bergegas bangkit, menyambar ponselnya dari atas meja, menuju ke tengah lapang taman dan menunjuk ke arah langit gelap. "Oh, mungkin ada dua atau tiga orion di sana."

"Konon katanya itu kendaraan Jashin untuk datang ke bumi ini." Ryuuki mendongak, menangkupkan tautan kedua tangannya di depan dada dengan khidmat.

"Kasihan sekali dewamu itu tidak modal, perlu tunggu komet untuk bisa datang ke bumi," komentar Shinki brutal.

"Padahal ini sudah zaman di mana manusia saja pakai roket," imbuh Kagura yang duduk di sisi Shinki.

"Manusia melihat bintang saja butuh aplikasi dan teropong bintang, dewaku mengendarainya." Rahang Ryuuki mengeras, memelotot ganas pada dua pemuda yang duduk di hadapannya.

Shinki menyeringai. "Aku agaknya mengerti pepatah: hamba bodoh belum tentu Tuhannya, tapi dewa bodoh pasti bodoh pula hamba-Nya."

"Bodoh itu anggapanmu sendiri! Jashin-sama akan mengutukmu jadi batu karena telah berani-berani menghinanya begitu ia datang dengan bintang jatuh!" Ryuuki membelalakkan mata, seakan bola matanya bisa meloncat untuk menubruk Shinki—walau yang ia bisa hanya tatapan menusuk.

"Bintang jatuh itu kan meteorid—pecahan benda-benda ruang angkasa. Ternyata selain gagap teknologi dan ketinggalan zaman, dewa yang kausembah bodoh juga." Kagura menghela napas panjang. "Pantas hidupmu susah. Dewamu jarang datang ke bumi. Ini karena orbit meteorid saja tidak beraturan dan tidak mengorbit matahari.

"Meteorid mendekat ke bumi apabila ada dalam jalur orbit bumi yang berevolusi ke matahari—dan tertarik gaya gravitasinya, benda langit apa pun itu yang akan mencapai ke bumi, pasti sudah terbakar di atmosfer lebih dulu."

"Ah, dewamu kasihan juga. Dia tidak bisa ke bumi, pasti karena takut terbakar lapisan atmosfer." Shinki memaniskan seringainya, setingkat lebih maniak sekarang.

"Dewaku tentu kebal dari semua itu, dasar kalian manusia-manusia tidak percaya Tuhan." Ryuuki menggemerencing gelang-gelang aneh yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Kebal atmosfer sih oke, tapi perlu naik meteorid dulu sampai bumi." Kagura menyengir kecil. "Kenapa tidak dia jatuh bebas saja dari ruang angkasa ke sini?"

"Kenapa juga dia tidak teleportasi sekalian?" Shinki meletakkan lengan di atas sandaran bangku.

Bahu Konohamaru menurun dengan lesu, mengabaikan tepukan oh-harap-maklum-Kaichou dari Iwabee dan Udon. "Tuh, kan ... pasti mereka mulai lagi."

Naruto nyengir lebar. "Kalau mereka tidak begitu, kelas kita sepi jadinya. Toh, ini bukan pertama kali."

"Tidaaak, Sensei, tolong Anda hentikan mereka!" pinta Konohamaru dengan nada merana. "Di kelas Astronomi minggu lalu, mereka mendebatkan soal bumi itu bulat atau datar."

"Bumi itu sebenarnya agak oval." Iwabee turut menyangga dahi dengan tangan, memijat-mijat ringan.

"Oke, kemarin kenapa kata Ryuuki bahwa bumi itu datar?" Naruto menghapus butir tipis keringat yang menyembul di keningnya.

Udon menggeleng-gelengkan kepala. "Kata Ryuuki, wajar bumi datar, karena hujan tidak tumpah ke ruang angkasa. Kan, kalau bulat, harusnya hujan tumpah ke ruang angkasa."

"Oke, lalu Shinki atau Kagura berargumen apa?" Naruto lebih geli lagi dengan perdebatan ketiga muridnya itu.

Iwabee mengubah posisi bertopang dagu jadi dengan telapak tangan. "Karena hujannya saja ada dalam bumi, tergantung kepadatan awan dari lapisan troposfer apa sampai atmosfer atau tidak—kalau sepadat itu ya jadinya badai. Jusru karena ada lapisan-lapisan bumi, maka hujan tidak tumpah ke ruang angkasa."

"Diskusi mereka itu ibaratnya menabrakkan agama dengan sainstifik," keluh Konohamaru lagi. "Ini tingkat diskusi yang mencerminkan keidiotan kelas Kyuubi."

Naruto tetap seperti biasa, kalau sudah begini, dia akan menepuk-nepuk pundak sang ketua kelas. Tatapan bergulir pada setiap murid, memastikan anak-anak menautkan pandangan padanya.

"Sebaiknya kalian memandang ini sebagai proses belajar, dari yang tidak tahu ya menjadi tahu. Dari tidak mengerti, menjadi mencoba untuk mengerti."

"Iya, Sensei!"

Naruto menyungging cengiran, menyorongkan tangan agar bisa menepukkan tangan—ber-highfive—dengan murid-murid yang menghadiri kelas bonus setelah kelas Aritmatika, kelas Astronomi.

"Sensei, itu ada Bintang Senja!"

Naruto menoleh, memandang sayang Himawari seorang yang berdiri di tengah lapang. Dia beranjak untuk mendekat. Berdiri di sisi Himawari, mengelus rambut putrinya seraya menengadah.

Langit di atas mereka terbentang luas. Melihat langit lebih dekat dulu bukanlah sesuatu yang mampu Naruto lakukan, sekalipun ia menikmati, karena bintang kecil saja begitu jauh. Berkedip rapuh. Ia hanya satu dari manusia di bumi ini yang mengalami jatuh luluh.

Naruto terkekeh saat merapikan sejumput rambut Himawari yang mencuat satu. "Kautahu, Bintang Senja dan Bintang Kejora, tuh, sebenarnya sama saja?"

"Palsu juga menyebut itu bintang." Himawari terkikik, Naruto berpikir untuk apa lagi meraih bintang, kalau kedipnya saja tertanam dalam sepasang mata putrinya. "Kan itu Venus. Aku jadi ingat! Kaa-chan pernah cerita, dulu kalian suka melihat bintang senja pas—uh, matahari terbit atau terbenam?"

"Matahari terbenam." Sesuatu agaknya merosot, terjerembap dalam diri Naruto, membetik memori akan wajah sembap Kurama saat langit jingga berkalang petang.

Himawari berceloteh mengenai romansa senja dalam berbagai cerita, tentang petang yang terdengar usang di telinganya, seperti secarik memori; sejingga kertas yang telah lama dilapuki usia.

Yang ia tidak tahu, menurut sang guru, seperti cintanya di masa lalu.

Semua orang selalu menganggap Hinata Hyuuga seindah rembulan. Secantik bintang kejora yang dapat terlihat dengan mata telanjang ketika fajar menyingsing, ataupun seindah bintang senja kala petang meradang.

Namun lebih dari anggapan yang semua orang sematkan padanya, bagi Naruto, Hinata tidak seperti bintang senja atau dewi cinta yang ada di kala waktu berganti; masa transisi.

Bagi Naruto, Hinata bukanlah seseorang yang seterang benderang matahari, bukan pula bulan yang hanya bisa memantulkan cahaya dan konstan mengorbit bumi.

Untuk Naruto, Hinata Hyuuga seperti Venus. Namun bukan dalam artian dia indah dilihat dengan mata telanjang, melainkan karena punya cahayanya sendiri tanpa perlu menjadi bulan yang perlu memantulkan cahaya matahari hanya untuk kasatmata di langit—baik ketika ada ataupun tidak ada matahari.

"—tapi melihat langit seperti ini dengan langit berbintang, jadi merasa kecil, ya. Kita hanya manusia biasa, bukan apa-apa dibandingkan semesta."

Lamunannya memudar. Terbayang wajah Hinata yang basah, dan ekspresi di tiap pagi yang selalu didekap mimpi buruk. Sorot mata berkaca-kaca yang tak pernah berubah sejak dulu, tolong aku.

Rahang Naruto mengeras, menahan gemelutukan gigi. Lebih baik ia mengalihkan diri.

"Kalian merasa kecil?" Naruto menoleh pada Sarada yang ternyata, bersama Himawari dan murid-muridnya, telah berada di tengah lapangan. Berdiri seraya menengadah pada langit malam tak berbulan.

Shikadai mengerutkan kening. "Kesannya sombong kalau tidak pernah merasakannya."

"Sensei juga pernah merasakannya." Naruto tertawa, hambar terasa. "Kadang kita tidak bisa menolong diri kita sendiri terintimidasi dengan arus perkembangan zaman yang makin cepat dan masif, sementara kita tahu, rotasi bumi dan revolusinya mengitari matahari selalu sama saja tiap waktu. Kita beradu dengan sesuatu yang—bahkan kita sendiri—kadang tidak tahu apa itu.

"Di masa sekarang ini, tidak perlu dijatuhkan untuk hancur. Kau seperti mati suri ketika diam saja tanpa beradaptasi."

Tatapan menyangsikan, bahkan dari putrinya sendiri, berlabuh di sisi wajah Naruto yang menaikkan kerah kemeja yang terasa mencekik.

"Merasa, itulah kuncinya. Memang benar kita ada di dalam semesta yang Mahaluas ini." Naruto menemui tatapan para muridnya, sorotnya melunak. "Tahu Uraian Cosmos?"

Gelengan adalah jawaban dari anak-anak. Pandangan Naruto kembali menyiangi langit bumi yang mencerminkan semesta yang Mahamegah.

"Nitrogen di DNA kita, oksigen yang kita hirup, kalsium di gigi manusia, zat besi di darah dalam badan, bahkan hal sesepele karbon dalam pie apel yang kita makan, itu sama dengan semua zat, partikel, atom, molekul, segala yang terdapat dalam bintang jatuh dan seisi semesta."

Naruto mengerling pandangan-pandangan tanpa dosa yang mesti ia bina agar menjadi dewasa.

"Jadi mengapa harus merasa kecil ketika semesta sebenarnya juga ada dalam diri kita?"

Dering bel sekolah melengking, menjadi pengiring untuk sebuah meteorid mungil—bintang jatuh—yang melesat di langit, pula dari bingkai sepasang mata biru, pada mereka yang terpaku menatapnya.

Naruto tersenyum hangat, mengelus pelan dan sayang puncak kepala anak-anak satu per satu. "Ayo kita pulang!"

Anak-anak bukannya bersorak, malah melenguh dan merutuki bunyi bel itu. Mereka dengan garing bersahut-sahutan, "Yes, pulaaaang!" untuk bahan melucu.

Naruto mati-matian mencoba mengingat bagaimana dulu wajah cerah seorang bocah, putranya yang akan berlari, menerjang dengan pelukan begitu ia berucap: Ayah pulang.


Naruto meringis miris.

Oh, Tuhan, apa salah dan dosaku—iya, seklise itu ratapannya saat melihat kepala berambut kemuning, seorang siswa berseragam kelas Hebi, tengah berdiri di tepi koridor depan kantor guru.

Kenapa susah sekali untuknya kembali ke taman dekat menara astronomi?

Kali ini dia benar-benar merasa sembelit. Pangkal perutnya berkelojotan melihat seseorang yang pasti mewarisi DNA-nya.

Pelbagai macam perasaan tak terkatakan berkelibatan. Suara itu dulu begitu cempreng, melengking seperti belati runcing menghujat sang ayah. Sekarang ataupun sepuluh tahun lalu, kata-kata anak itu masih saja melengking bising membercaki dinding-dinding memorinya.

Lebih baik tidak punya ayah sekalian daripada punya ayah sepertimu!

Lambat-laun sepasang mata biru meredup, menyorot ke bawah pada lantai keramik grayscale. Corak serupa pulasan semen yang mentah dan belum dibubuh cat, seperti mencerminkan kegagalan menjadi seorang ayah yang semestinya memberikan panutan pada anak-anaknya.

Naruto hendak balik kanan, kalau bukan karena suara parau Hinata membilah kelenggangan lorong kantor.

"Aku tidak pernah minta apa pun, tapi tolong, pulang dan temuilah, Sarada! Kau punya banyak waktu untuk bersama semua wanita itu bahkan Boruto, kenapa tidak dengan dia?"

Naruto mendongak, mendapati Boruto ternyata telah menyembunyikan diri di tikungan koridor. Dia tidak bisa melihat ekspresi Boruto, kecuali jemari yang rapat mencengkeram lekukan tembok.

Suara dingin Sasuke menerkam keheningan ruangan. "Itu bukan urusanmu. Aku tidak pernah mencampuri urusanmu atau apa pun, maka lakukanlah hal yang sama. Sudah tugas seorang istri untuk menurut pada suami."

Naruto mengepalkan tangan, mungkin lebih baik dia balik kanan. Dia tidak tahan melihat Boruto menundukkan kepala, maupun tarik-hela napas Hinata yang memburu dan airmuka menyiratkan ia terluka—bahkan walaupun bukan karena dirinya.

"Susah untukmu tahu dan mencoba mengerti, anak gadismu, berusaha belajar keras dan jadi yang terbaik supaya kau memerhatikannya?"

Alih-alih menanggapi Hinata, Sasuke malah menyergah dengan jengah, "Ah, hari ini dia bolos kelas. Keterlaluan anak itu."

Airmata jatuh dari pipi, meluncur langsung, merintik keramik dan sunyi yang hidup oleh semayup cakap-cakap murid-murid kelas malam.

"Kau bicara soal keterlaluan?" Tawa meretakkan hati luruh dari bibir Hinata. "Kau bahkan tidak tahu dia sampai nyaris pingsan karena belajar tiap malam dan menantimu pulang."

Hinata memejamkan mata, terperah lebih banyak rerintik dari matanya. Dia tidak pernah menangis sekejam dan sebengis apa pun Sasuke membantingnya ke ranjang, tapi tidak dengan seorang gadis yang hanya beberapa dari mereka tahu, tak pernah diharapkan kehadirannya oleh ayah sendiri.

"Kau tidak mau tahu dia harus memilih antara kau atau ibunya. Wajar apabila Sarada merasa tidak cukup kau memperbolehkannya untuk ada di rumahmu. Dia tersia-sia menunggumu pulang."

Naruto terpaku melihat wajah Hinata sembap bukan main. Dia selalu tahu momen-momen di sekolah, saat Sasuke akan mengempasnya ke dinding dan meraup Hinata dengan segala ego, wanita itu tak pernah marah—atau mungkin sudah terlampau lelah.

"Kau tidak mau tahu, menunggumu pulang itu berarti Sarada harus meninggalkan Sakura-san sendirian di rumahnya. Kabari saja aku kalau kau tidak pulang, aku bisa memberitahu Sarada supaya dia tidak usah menunggu di rumah. Jadi dia bisa bersama Sakura-san."

"Jangan buat ini susah dan malah memperbesar masalah," Sasuke berdecak, "beritahu saja Sarada begitu. Apa susahnya?"

Mulut Hinata terbuka, ternganga. Menatap hampa pada seseorang yang berstatus suaminya. Suaranya bergetar tatkala berujar, "Tidak ada hal yang lebih kejam yang bisa orang tua lakukan, selain membuat seorang anak harus memilih antara ayah atau ibunya."

Hinata cepat-cepat meyeka airmata, yang mana begitu diseka, justru lebih melimpah ruah yang melintasi garis wajahnya. Bersikeras untuk tak terisak, tapi nada-nada suaranya terjerumus serak.

"Sarada tidak bodoh, karena itulah harusnya dia bisa memahami bahwa seorang ayah tidak bisa setiap waktu selalu bersama dengannya." Sasuke mendengus sekilas. "Kau tentu tahu, dalam parenting, akan lebih baik jika anak perempuan dekat dengan ibunya, sementara anak lelaki harus lebih kuat dan diajari lebih banyak oleh ayahnya—"

Suara tegar Hinata pecah ketika menandas, "Boruto bukan anakmu, tapi Sarada itu darah dagingmu sendiri!"

Sasuke mengembuskan napas pendek. Raut wajahnya sebosan orang mendengarkan siaran berita cuaca harian. "Jangan beritahu sesuatu yang sudah kutahu, Hinata."

Naruto mengepalkan tangan. Matanya membola melihat Sasuke menangkup dagu Hinata dengan kuat, memaksa hendak menciumnya—yang mana Hinata mengelak sekuat yang ia bisa.

"Terserah kaumau pergi ke mana." Hinata menepis habis lengan Sasuke, mengusap-usap wajahnya yang sembap dengan tangan pelan-pelan. "Himawari, Sarada, dan Boruto, biar diantar pulang oleh supir saja. Aku ada urusan."

"Urusan dengan si Bodoh Naruto?"

Mungkin jika nada bisa berupa pisau, maka mata pisau dari kata-kata Sasuke dimaksudkan untuk tidak hanya menggores, tapi juga menusuk dan mengoyak sang wanita.

Hinata dengan mata berkaca-kaca agak mendongak, melirik dengan cara yang mengingatkan pelihatnya akan stalaktit di Antartika. Bening, tajam berkilat, dan jika sampai jatuh maka akan pecah menusuk.

"Urusanku berbeda dari urusanmu, kalau itu yang kaucemaskan."

Sepasang mata Sasuke bergelola oleh bara yang asing sekaligus familier kala Hinata menatapnya. Tentu saja, suami mana percaya begitu saja? "Kau milikku, Hinata. Tidak akan ada yang bisa mengubah fakta itu."

"Siapa pun mengatakan apa pun, tidak akan mengubah kebenaran aku selamanya milik Tuhan."

"Itu delusimu, Hinata. Kau hanya suka bermimpi buruk."

"Mauku pun begitu—bahwa semua ini hanya mimpi buruk, tapi bagaimana aku bisa terbangun dari mimpi buruk—yang tidak kusuka—jika mimpi buruk itu yang selalu menafsuiku?"

Hinata pergi memunggungi semua lelaki yang ada di sana. Tidak menoleh ataupun berbalik lagi. Punggungnya bergetar keras. Tangan menangkup mulut rapat-rapat, kelopak mata terperjam erat, sehingga tak sadar langkahnya sedikit limbung sampai nyaris tersandung.

Namun Hinata bangkit sekali lagi, langkahnya menderak keramik—seakan menegaskan bahwa untuk tetap ada di sana saja ia tak sudi.

Naruto nyaris berbalik dan pergi dari sana, tapi terpaku mendapati sepasang mata biru lain membulat—menangkap basah dirinya.

Ini semua salahmu.

Kilatan di mata Boruto itu yang membuat sorot mata Naruto kosong saat membalas tatapannya.

Sebelum Boruto menyemburkan kenyataan akan betapa hina ayah yang hanya sebatas mewarisi darah dan rupa padanya, Naruto beranjak pergi.

"Berhenti menggoda Kaa-chan."

Langkah Naruto terhenti mendengar desis Boruto, terdengar seperti anak singa yang marah dan terluka parah.

"Seseorang yang sudah lebih dulu meninggalkan, tidak pantas bersama dia di saat terbaiknya."

Tangannya terkepal. Naruto menghirup napas dalam, lanjut berjalan tanpa menanggapi ataupun menoleh lagi.

Sekeping hatinya lagi-lagi tersisih dan mati.


ORANGE

.

Chapter 6: Shattered Hearts

.

(No one, in their right minds, want to hurt the ones that they love the most.)


Glosarium/Trivia:

Festival Hanabi: festival kembang api di Jepang yang biasa diselenggarakan saat musim panas.

Doppelgängger : kembaran diri sendiri yang diduga adalah tanda-tanda seseorang akan meninggal.

Konstipasi (a): sembelit, perasaan mulas dan sakit perut karena sulit BAB.

Keramik Grayscale: keramaik bermotif abu-abu seperti semen atau permukaan beton bergaya industrial.

Ruang angkasa: dalam KBBI V, yang benar ruang angkasa, bukan luar angkasa. Antariksa, merujuk pada bagian yang relatif kosong dari jagad raya, dan di luar atmosfer dari benda-benda langit; sederhananya, semua ruang spasi di luar bumi.

Venus: planet kedua terdekat ke matahari, sering disebut bintang senja karena bisa terlihat dari bumi antara waktu fajar atau senja; istilah lainnya adalah bintang kejora.

"The nitrogen in our DNA, the calcium in our teeth, the iron in our blood, the carbon in our apple pies were made in the interiors of collapsing stars. We are made of starstuff." –Carl Sagan, Cosmos

"Many people feel small because they feel small, but I feel big, because this universe is in me." –Niel Tyson (ini karena molekul dan zat pembentuk di ruang angkasa sebenarnya sama saja dengan yang ada dalam diri manusia)

"People only want to hear what they want to hear. Only want the truth that they can accept it." –Paulo Coelho

A/N:

Saya ucapkan terima kasih untuk para pembaca yang senantiasa menanyakan kapan Orange update, baik via reviews, PM, maupun Chat.

Saya minta maaf juga pada pembaca. Setelah saya baca ulang reviews kalian, baru saya ngeh ternyata fanfiksi saya melebihi ekspektasi kalian, dan enggak nyangka juga banyak yang mau lanjut baca. Banyak pula yang mikir ini fic lemon esek-esek murahan. Saya ternyata sama aja: berpikiran pembaca datengnya pasti karena mencari fic lemon erotis stensilan. ": )

Ada hal menarik sering diulas Reviewers.

Memeable: "Naruto beli susu anak saja enggak mampu." (bahan angsa kok ngoplak begini jadinya begitu saya baca bolak-balik. XD)

The sweetest: "Kamu hanya milik Tuhan, dan selamanya hanya akan milik Tuhan. (Untuk pembaca yang tanya ini dapat dari mana, itu murni buatan saya.)

Dari semua peringatan yang sudah saya tulis, saya juga sudah mencantumkan rating M. Saya anggap semua yang membaca sudah di atas usia 16 tahun untuk membaca fanfiksi ini. Kalaupun belum, saya harap adik-adik sekalian bisa menelaah sisi baik fic ini, dan yang jeleknya, dijadikan pembelajaran untuk dapat manfaat baik. Utamanya, semoga fanfiksi ini menghibur kalian. ^^

Adegan masturbasi yang (beberapa dari) Pembaca nantikan, saya pending ke chapter depan. Sekalian peringatan, mungkin Pembaca sekalian bisa berjaga-jaga menyiapkan kantong muntah dan tisu.

Terima kasih atas apresiasi kalian yang luar biasa untuk Orange: muhammaddandi52, mashiroyuki221200, yashan, bluemond, Deandra, urarakasakura371, Nhlgandaria-chan, rachman fatur 161, dadaberontak, Ren Azure Lucifer D Kanedy, Strelitzi, Thanatos, Apocalypse of Yami, BlankCode, hantu author fanfiction yg sudah pensiun, Sikecil, Kakek Legend, kyoigneel, Aquarius D Zhura, Atago, Guest (1), nadya ulfa, Guest (2), reanarthur, Keith Farron Lucifer, Katarays, Uchiwakaza997, Si Kutil, UCHIHA SATSUKI-CHAN.