Oleh Sikecil, tentang ORANGE:

Alurnya perlahan dan ga menggebu2. Selain itu, walaupun temanya berat, tapi jalan ceritanya ringan (aku suka banget sama novel/drama/film yg kaya gini).

Ada yang bilang penulis yang baik adalah penulis yang berhasil menyampaikan perasaannya ke pembaca lewat karyanya. And, yes you are!. Berasa banget gimana feelingnya naru ke keluarganya, dan sebaliknya.

Tapi yg paling aku suka dari semua ini adalah quotes dan teori-teori yang dipaparkan di fict ini. Jujur, pertama kali aku baca fict yg bikin wawasan nambah wkwk.

"Semoga kamu hanya milik Tuhan" itu thor bikin sendiri kah? Buat aku, itu adalah kalimat, atau doa, yg sangat sangat sederhana tapi sangat mendalam maknanya, tanpa harus mendramatisir kalimat..

Aah satu lagi niih.. Aku suka banget sama cara tiap karakter menghadapi masalah mereka. Nggak kekanakan dan bijak.. Dan realistis. Menurut aku apa yang mereka lakukan ya hal yg wajar.. Makannya aku bisa bilang fict ini realistis.
Aku bakal nungguin ending dari fict ini, entah naruhina bersatu atau nggak, karena perpisahan bukan berarti sadend/badend.

Warnings: disturbing content (konten mengganggu). Kalau ada yang mudah jijik serta tidak tahan dengan sesuatu menjijikkan maupun menyeramkan, grafik deskrip bebauan tak enak, adegan dewasa masturbasi. Mari berileksasi sejenak karena tidak ada pelajaran apa pun di chapter ini selain melodrama keluarga.

Sekali lagi, tolong tidak menyerap isi dalam fanfiksi ini mentah-mentah. Seraplah yang baik-baik dari fanfiksi ini.


"Aneh, ya. Perasaan tadi langit masih begitu cerah. Tiba-tiba saja gerimis."

Sesaat beberapa anak tingkat Jounin dari kelas Kyuubi mendongak. Mereka berlarian dari taman dekat Menara Astronomi ke teras gedung terdekat.

"Sensei," Himawari menarik lengan kemeja ayahnya yang melembap karena sentuhan lembut gerimis, "kenapa bisa mendadak hujan?"

"Sebenarnya tidak mendadak." Naruto memakai sapu tangannya untuk mengelap kepala Himawari, Sarada, lalu murid lainnya satu per satu.

"Cuaca ekstrim karena pemanasan global, ya?" Udon memajukan mulut. "Masa iya seekstrem ini?"

Sarada menggeleng ringan. "Beberapa bagian langit memang telah menggelap lebih dulu, ini karena tiupan angin yang membawa awan berisi uap air dingin, jadi bersentuhan dengan suhu udara yang lebih tinggi, nanti jadinya—"

Sebagian siswi memekik ketika guntur menyambar daerah sekitar sekolah. Sarada yang mencengkeram lengan Shikadai komat-kamit mengatakan, karena itulah terjadi petir karena pertemuan awan beruap air dingin dengan panas.

"—intinya, hujan berkelir. Astaga, bagaimana nasib kita pulang begini jadinya?" gumam Konohamaru muram.

Naruto terkekeh kecil. "Ya sudah, mumpung hujannya belum kencang, ayo kita lanjut pulang saja."

Murid-murid menyahut setuju pada kata-kata sang guru. Mereka berniat langsung pulang tanpa mampir ke mana-mana dulu.

Niatnya sih begitu, tapi langkah mereka vakum begitu melewati suatu lorong. Ini karena keheningan mematikan di depan suatu kelas terbelakang di area Konoha. Atau karena ada beberapa anak berkerumun di depan kelas itu.

"Sebaiknya kita cepat pergi." Sarada menarik tangan Himawari dan Moegi untuk menjauh dari depan muka pintu itu.

"Oi, Sarada, itu bukannya salah satu kelas Hebi?" Shikadai sedikit menengok ke atas, mendapati simbol ular terukir di sebuah papan bertuliskan Jounin. "Aku tidak percaya kalau kaubilang kau mendadak semalas aku."

"Ka-kalau memang iya, apa itu masalah buatmu, hah?" Cuping telinga Sarada memerah parah. "Pokoknya, ayo kita langsung pulang saja!"

"Inojin?" Kagura menegakkan kepala, mengenali seorang murid yang berdiri di dekat kerumunan itu.

Pemuda yang dipanggil Inojin menoleh ke belakang. Cengiran Naruto berubah miring. Tidak usah tanya dia anak siapa, senyum artifisialnya saja sudah cukup menjelaskan identitas anak ini.

"Konbawa, Kyuubi no Minasan," sapanya sopan. Inojin bertatapan dengan sang wali kelas Kyuubi, kemudian membangkukkan badan ketika anggota kelas Kyuubi balas menyapa dengan santun. "Kelas kalian tidak sampai jam tujuh malam?"

Konohamaru merangsek maju. "Bonus setengah jam sebelum pulang, Inojin. Omong-omong, kenapa kau ada di depan kelas Hebi, hm?"

Naruto memerhatikan keresahan Sarada yang makin menjadi-jadi, memelas mendongak padanya dan menarik lengan agar ia membujuk semua murid kelas Kyuubi untuk tak menghampiri kelas Hebi.

"Wali kelas kami pergi. Jadi kami tertarik untuk memerhatikan kelas ini. Siapa tahu bisa jadi bahan inspirasi." Inojin mengangkat kuas dan kanvas yang ada dalam dekapannya.

"Tidak ada gunanya kita di sini!" Sarada menarik pelan lengan Moegi dan Yakumo. "Ayo kita berkemas dan cepat pulang!"

Shikadai menghela napas lelah. "Kau, nih ... lagakmu kayak gadis bakal ketinggalan drama idolanya saja."

"Mungkin juga kayak anak yang mendadak melihat ada pintu atau lemari terbuka di film horror." Ryuuki mendengus kecil.

"Itu lebih tepat." Sarada menjentikkan jari tatkala menatapi Ryuuki.

"Well, film horror tidak akan bermula dan takkan seru, kalau si tokoh tidak menghampiri pintu atau lemari terbuka itu, bukan?" Shinki menyeringai dengan mata berkilat, sampai teman-teman sekelasnya sedikit mundur teratur karena merasa bisa melihat ekor iblis, tanduk setan, dan sayap kelelawar di sekitarnya.

"Jangan! Itu kebodohan hakiki—" Sarada gagal menjambak seragam Shinki bagian belakang, pemuda itu diekori yang lainnya telanjur melenggang, "—astaga, Shinki! Berhenti!"

Naruto meraih bahu Sarada, menepuk-nepuknya pelan. "Ada apa sebenarnya di kelas Hebi sampai-sampai kau membolos?"

Wajah Sarada memerah. Bibirnya bergetar, pupil mata berdilatasi. Bola mata berkeliar ke sana ke mari. Keringat dingin menyembul di sekitar kening.

Naruto meraih tangan Sarada yang tidak digenggam erat Himawari. Kening berkeriut dalam mendapati tangan Sarada dingin bukan main. Dia menahan decakan, sadar benar tidak sepatutnya memaksa anak yang tak mau menjawa.

"Kalau kau merasa cemas," Naruto berhati-hati memilih kata-katanya, "sebaiknya kau duluan ke kelas."

"Tidak, jangan aku sendiri!" suara Sarada seperti orang tercekik. "Sensei, kumohon, murid-murid kelasmu terlalu lugu untuk datang ke kelasku."

"Himawari, kaumau mengantarkan Sarada Nee-san, 'kan?" Naruto menatap putrinya. Dari sorot mata biru bening itu, Naruto tahu bahwa Himawari telah tahu sebab mengapa Sarada sampai seperti ini.

Himawari mengatup mulut. Dia menghindar dari pandangan ayahandanya, setengah memeluk Sarada yang berusaha menggapai anak-anak Kyuubi yang dililit rasa penasaran.

Naruto meninggalkan kedua remaja putri itu. Tanpa sadar jantungnya berdebar lebih keras. Seolah diafragma mengetat, dan ia serupa tokoh utama film horror, datang mendekat pada sumber bahaya. Jangan katakan ia akhirnya mendapatkan kebobrokan sekolah ini.

Sang guru menenggak saliva, berjalan menuju ke deretan jendela yang agak tinggi di kelas Hebi. Mengintip ke dalam atas apa yang terjadi. Alisnya bertaut menyaksikan seorang pemudi berdiri gemetaran di depan kelas.

"Oi, cepat lakukan!" seorang murid kelas Hebih berseru. "Sebentar lagi jam tujuh malam, semua ingin cepat pulang!"

Tangan Naruto menyentuh kusen jendela yang berdebu. Ia mendapati Sasuke duduk tenang di meja guru, intens mengawasi siswi yang bergetar serapuh ranting kering musim gugur tertiup angin keras.

Namun, ada yang janggal. Banyak siswi menundukkan kepala, bergetar, menahan tangis, atau sibuk kipas-kipas kegerahan. Sebagian siswa pasang mata baik-baik dan seringai aneh melengkungi mulut mereka. Sisanya, bertopang dagu bahkan menguap bosan.

Sasuke tampak mengatakan sesuatu. Apa pun itu, tetapa saja bagaimana sang siswi yang berjengit ketakutan tak lolos dari pandangan Naruto. Ia bisa melihat Boruto memandang keluar jendela, tampak tertarik dengan apa yang tengah terjadi.

Darah terasa meninggalkan wajah, bahu menurun, tercekat hebat. Tidak pernah dalam segala imaji terliar Naruto, menyaksikan seorang siswi gemetaran membuka kancing baju satu per satu, menarik fabrik kemeja keluar dari rok.

Sang siswi menjepit kedua kakinya. Jemari gemetaran menangkup dada sendiri, gemetar meremas segunduk empuk aset tercantik perempuan—dan disaksikan semua orang yang ada di sana.

Tangan lain meremas habis tepian rok, mengangkatnya perlahan. Jemari meraba garis paha sendiri. Menyusup masuk ke bagian dalam paha. Terhenti di sana. Gadis itu menggigit bibir dengan badan bergetar.

"Kau tidak pernah memuaskan dirimu sendiri?" sambar seorang murid perempuan lain kelas Hebi. "Dasar membosankan. Kau hidup di zaman apa sampai tidak mengerti manfaat dari semua ini?"

Siswi itu menundukkan kepala dalam-dalam. Tangan bergerak meremas dadanya sendiri, remas yang semakin keras. Banyak murid lelaki tampak menahan diri bersorak, saat ia menyusupkan tangan ke balik bra-holder putih.

"Ya Tuhan!" Naruto menyeruak dari anak-anak yang mematung di depan pintu kelas Hebi, mengintipi dari celah pintu. Dia membuka pintu tanpa salam apa pun, dan lebih gila, tak seorang pun mereka yang dalam kelas Hebi menoleh padanya.

"Kau begitu saja sudah menangis," cemooh seorang anak lain lagi. "Sensei, dia curang! Masa kau membiarkannya tidak memenuhi standar penilaian?"

Si siswi itu mengangkat kepala. Airmuka tak berdaya, perlahan menoleh pada wali kelas. "Sa-saya ... su-sudah. Sudah c-cukup. Saya moh-mohon, Sensei."

Sasuke menatap tajam pada anak perempuan itu yang mengemis, tubuh menggigil untuk minta berhenti melakukan semua ini. "Kau minta berhenti padahal lulus standar penilaian kelas ini saja tidak? Mau jadi sampah atau ditendang keluar dari kelas ini?"

"Na-nanti saya lak-lakukan," gadis itu tersedak isaknya sendiri, "i-ni saya sedang uh, dalam periode ... me-menstruasi. Tidak mungkin me-melakukannya."

Riuh-rendah merambah seisi kelas Hebi. Dasar, anak sialan itu pasti mau enak sendiri! Dia berbohong sedang menstruasi supaya bisa lari.

Sasuke bergeming di tempatnya. "Lakukan. Justru perempuan dalam masa PMS dan periode tengah berlangsung, gairahnya amat besar. Jangan termakan ketakutanmu sendiri."

Siswi itu meremas fabrik seragam hitam hebi-nya erat-erat. "To-tolong ... a-ampun, Sensei. Saya—grh—akan mengerjakan hukuman apa pun—"

"—kau minta dihukum melakukan hal lain?" Sasuke mendesis tajam. "Coba buka pikiranmu! Apa itu adil untuk teman-temanmu di kelas ini yang berani mengekspresikan diri?"

Anak perempuan itu menundukkan kepala dalam-dalam. Linangan airmatanya masif, hingga merintik keramik kelas. Sedu-sedannya memilukan, bersanding sunyi yang agung bertakhta di kelas bersimbol ular.

"Tayuya, beri dia contoh bagaimana cara mengenali diri sendiri!" instruksi Sasuke, nadanya sedingin, ekspresi wajah tetap sedatar papan seluncur.

"Baik, Sensei!" Sang gadis yang dipanggil melonjak girang, keluar dari bangku. Melangkah, tubuh mulusnya melenggak-lenggok seolah kelas panggungnya adalah arena catwalk. Pinggul dan bokong meliuk binal. Dia memberi hormat pada sang guru, lalu melucuti pakaiannya sendiri.

Tayuya mendaratkan jemari di antara kedua belahan dada, tangan merambat ke lipatan bagian bawah. Tangan menyelinap ke balik bra holder, menarik ke atas. Tersenyum dingin ketika beberapa pasang mata lelaki intens menjelajahi badannya.

Tak memedulikan semua itu, Tayuya membebaskan buah dada remajanya. Dia mengulum bibir bawah saat tangan meremas keras, memutar payudara kanan searah jarum jam.

"Hmmh ..." Tayuya memejamkan mata, terlebih ketika jari-jari mengelus-elus puting coklat kemerahan. Melesak maju seolah ia siap bila siapa pun ingin menyusu. Memilin-milin seru, badannya melengkung saat ia mencoba meraup puting payudaranya sendiri.

Tayuya menghentikan sebentar aksinya. Berpindah ke depan meja guru, menemui tatapan tajam sang wali kelas yang bagai elang mengawasi ular mungil untuk dimangsa.

Tangan kiri cepat-cepat berlari menyibak rok, menurunkan celana dalam, naik ke atas meja guru untuk sanggaan. Memperlihatkan lembah lembap kewanitaan yang telah basah pada sang guru. Melonggarkan kedua kaki, jemari menyusuri rambut-rambut halus yang melindungi lorong hangat salah satu kenikmatan hakiki lelaki.

Jari tengah menarik dinding terluar, memampang koridor kewanitaan. Tayuya mencelupkan jari telunjuk ke dalam, perlahan, inci demi inci tertelan dinding-dinding yang berdenyut hangat seakan menelan kejantanan sungguhan.

"Sasuke-Sensei ... ah," Tayuya terengah-engah. Peluh mengucur, membuat kemeja transparan, dan mengetat di tubuh. Antariksa kehangatan wanita, menjepit, melonggar, mengapit erat jari yang keluar masuk mencari titik nikmat tertinggi.

Sasuke membiarkan Tayuya bermain sendiri. Tidak mengindahkan siapa pun yang menonton dari keluar kelas. Tatapannya menghunjam siswi yang menggigil ketakutan.

"A-a-ampun, Sensei!" pekik gadis itu, buru-buru menurunkan celana dalam miliknya.

Sasuke berisyarat agar siswinya mengangkang, diiringi sorak-sorai beberapa siswa kelas Hebi. Menahan tatapan pada paha yang lembap, mengamati sang gadis menyelipkan kedua jari sekaligus dalam kewanitaaan.

"Keparat, itu pelecehan seksual!" hardik Naruto ketika melihat gadis itu terisak keras menahan kesakitan. "Pemaksaan jelas termasuk—"

"—diam, Bodoh. Bisamu hanya menganggu saja. Tidak cukup menganggu istriku, sekarang kau mengganggu kelasku," tukas Sasuke, sorot pandangnya monoton mengawasi muridnya.

Jemari sang siswi menelusup lebih dalam dan keras. Bunyi gemercik darah dan licin organ vital perempuan melebur dengan sedu sedan sang siswi, serta desah semurah film biru Tayuya.

Semua yang menyaksikan hampir nyaris muntah di tempat melihat dua jemari terjepit antara sepasang paha. Darah berlelehan sepanjang tungkai. Beberapa berbisik jijik. Tidak ada noda putih tanda kenikmatan.

Padahal bukan ia yang melakukan, tapi Naruto merasakan matanya memanas. Nanar memandang siswi itu yang jatuh luluh ke lantai, terisak tak berdaya di sana.

Sasuke mendengus merasa jijik, beralih melirik pada temannya sejak kecil dulu yang terpaku di pintu. "Kau tidak pantas menginterupsi kelas, pula telah melanggar etika serta tata tertib Hidden Schools dua kali hari ini: butir ketiga ayat kedua, dilarang ikut campur urusan kelas, siswa, dan guru lain."

Naruto nyaris gelap mata, langkahnya lebar dan berderap kasar di atas keramik untuk menyarangkan tinju ke wajah Sasuke. Ada suara menggelegar Ino tadi siang menyambar benaknya.

Ada yang tidak beres di sekolah ini!

"Aku bisa melaporkan ini pada pihak berwajib, ataupun Komisi Anak, bahkan Kementerian Kesehatan!" Naruto mengepalkan tangan keras-keras.

"Sasuke-Sensei, sa-saya mohon hentikan ..." Gadis itu tersedu-sedu merentangkan lengan, telapak tangannya terbuka ke arah Naruto dan menggapai-gapai sekuat tenaga, lalu tertunduk. Begitu malu pada dirinya sendiri. "Maafkan saya. Tolong jangan laporkan pada orang tua saya."

"Ini bagian dari pembelajaran." Sasuke terang-terangan mengabaikan siswinya. "Laporkan saja. Kau tidak akan mendapatkan tindakan yang kaumau."

"Ini penyiksaan!" Naruto mengumpat, giginya bergemertak hebat. "Kelas sialan macam apa ini, hah? Pantas Sarada tidak mau masuk kelas!"

"Mana anak itu, hn?" Gerakan Sasuke melambat, sedu-sedan tak keruan sang gadis menguat.

"Kau ... mau menodai anakmu sendiri?" Naruto terbelalak ngeri.

"Itu kan menurutmu." Jejari panjang Sasuke bergerak liar mengelusi paha Tayuya yang—tengah menggelinjang di meja guru—berlumur cairan kenikmatan. Bunyi kecipak mencelup itu makin signifikan menepis kelas yang menegang karena kehadiran interuptor.

"Ini Kelas Ekspresi, terobosan yang kuciptakan. Di kelas ini, anak-anak akan belajar untuk mengekspresikan diri mereka, menghumanisasi tiap individu sampai ke hal paling krusial dan tabu: kenikmatan."

Seringai tertoreh di wajah Sasuke.

"Tidak usah munafik, ini adalah anugerah terindah Tuhan, bukankah begitu?"

Naruto menutup mulut dengan tangan ketika Sasuke menarik jari dari bibir koridor kewanitaan Tayuya. Beralih pada gadis malang di tengah kelas, pening menahan muntah tatkala melihat jemari yang berlumuran darah kotor menstruasi.

Sudah empat kali dalam malam ini, ia nyaris muntah. Melihat ular besar, Akatsuki dan boneka sialan itu, memergoki Sasuke memaksa mencium Hinata (walaupun ini sudah cukup sering), dan sekarang ini.

"Kau tidak senaif itu untuk berpikiran bahwa kenikmatan cuma didapat dari hal-hal berbau seksual, Sasuke!" Naruto meninju papan tulis kelas Hebi, mengguncang infocus di atas kelas seraya meraung, "kau tidak bisa lihat muridmu kesakitan?!"

Sasuke mendengus keras. Seperti dirinya pria berderajat tinggi terkena noda saus di acara jamuan makan sosialita, merogoh sapu tangan dari saku jubah, lalu berjalan ke wastafel. Mencuci tangan dengan wajah berkeriut jijik melihat manikkam dilumerkan air serta sabun cuci tangan.

Naruto sadar, ia bukan jijik pada darah menstruasi perempuan. Itu sudah kodrat ilahi dan anugerah Tuhan untuk pertanda menakjubkan, mereka bisa hamil. Ia merasakan demikian, lantaran Sasuke melakukan itu dengan raut wajah seolah tak bersalah telah melecehkan siswi sendiri, bahkan membiarkan siswinya menderita.

"Persetan apa katamu!" Naruto melepas jas yang ia kenakan, langsung menggapai tangan siswi malang itu. Membantu merapikan pakaiannya, kemudian membalutkan jas pada murid perempuan yang merintih kesakitan.

Sasuke berbalik ke belakang, memancang tatapan garang pada Naruto yang merangkul murid itu. "Aku bisa memotong poinmu sebagai guru, dan melaporkanmu pada Rektor Konoha serta Hidden Schools agar kena detensi. Tiada ampun untuk yang menginterupsi kebijakan kelasku."

"Potong saja!" Naruto merangkul siswi itu, mendorongnya untuk lari pada murid-murid kelas Kyuubi yang masih tercengang di pintu. "Laporkan dan biarkan aku kena detensi, silakan!"

"Akan kulaporkan pada Rektor." Sasuke menyeringai. Tangannya terjulur. "Kembalikan muridku. Kelas ini belum selesai sampai dia berhasil mengekspresikan dirinya sendiri."

Naruto tertawa jengah. "Kenapa kau melakukan semua ini? Kau lebih jenius dari hal seremeh ini untuk membuat kelas yang jauh lebih baik dan menjadikan murid-murid berkompeten sebagai akademisi!"

Sasuke membuang napas, mengibas pelan jubah saat merangkul Tayuya agar berhenti mendesah. "Omong kosong, kau tidak benar-benar berpikir aku begitu, Bodoh."

"Benar, sekarang tidak lagi." Naruto menatap awas pada Sasuke yang memandangnya bagai ular siap mematuk. "Aku tahu kenapa kau melakukan ini. Karena ... Itachi, bukan?"

Bingo.

Ganti Naruto menyungging senyum miring. "Aku ngeri melihatnya. Siapa Itachi Uchiha yang tergabung di anggota Akatsuki, OSIS Hidden Schools yang Terhormat?"

Naruto yakin, bahkan anak-anak yang tak berani angkat suara atas perdebatan mereka, menyaksikan bagaimana airmuka Sasuke menggelap mendengar seutas nama familier tercetus.

"Adikku, itu kebodohan orang tuaku. Itachi bukan Itachi Nii-san." Sasuke mengambur napas dengan gusar. Dia maju selangkah, derap tenangnya melejitkan alarm mara bahaya dalam benak Naruto.

Menyimpan siswi yang gemetaran di belakang punggungnya, Naruto mengedikkan bahu. "Bukankah Itachi seharusnya kakakmu, dan bertahun-tahun lalu, dia—"

"—tahu dari mana kau soal itu?" desis Sasuke, angkara murka bersangkar di suara dan mulai mekar memenuhi airmukanya.

"Teman Itachi. Kau tidak kenal dia." Naruto menjadikan badannya tameng untuk melindungi sang siswi. "Dari apa yang dia beritahukan, kukira sekarang aku mengerti kenapa kau membenci wanita sehingga mempermainkan mereka."

Sasuke memangkas jarak di antara mereka dengan lebih cepat. "Mereka layak menerimanya. Itachi Nii-san masih akan di sini, kalau bukan karena wanita—"

Naruto mendorong mundur sang siswi agar semakin dekat ke pintu, brutal memfrontal, "Gara-gara guru wanita itu. Bukan siswi ini, murid-muridmu, Sarada, Sakura, Ino, Karin, Shion, Himawari, apalagi Hinata!"

Sasuke menghantamkan kepalan tangan ke papan tulis, membuat murid-murid berjengit. "Tidak mengubah fakta bahwa semua wanita bisa menjadi dia. Bagaimanapun, perempuan adalah makhluk seksual. Seseorang harus menempatkan mereka pada—"

"Kau bahkan bukan bermain pahlawan, tapi memang cuma ingin menghancurkan, mencari pelampiasan karena kehilangan!" bentak Naruto, langkahnya galak menghentak lantai kelas. "Percuma saja bicara pada orang yang terbutakan dendam masa lalu!"

Sudut-sudut mulut Sasuke meruncing dalam seringai meremangkan bulu kuduk mereka yang melihatnya. "Hoo ... seolah kau tidak saja."

"Aku mencoba memaklumi kenapa kau begitu setelah tahu apa yang terjadi pada Itachi—yang kakakmu, tapi tidak kalau melibatkan anak-anak seperti ini." Naruto menyengatkan tatapan mematikan pada Sasuke yang membalas sama intensnya. "Aku pergi, siapa peduli detensi!"

Naruto berbalik, merangkul siswi yang tertatih-tatih itu untuk menyeruak kerumunan di luar kelas. Kepalang tanggung tetap ada di sana, apalagi riuh-rendah para siswa mulai membumbung ke seantero kelas.

Ia mensyukuri murid-murid kelas Kyuubi tadi telah membawa barang-barang. Tak ada yang mereka tinggalkan di kelas. Benar-benar tinggal pulang.

"Cepat pulang ke rumah, Anak-anak! Jangan ada yang kembali ke kelas!" instruksi Naruto tegas.

"Astaga, Sensei, apa yang kaulakukan?!" isak Konohamaru dengan suara seperti tercekik.

"Maaf," Shikadai horror menatapi karena melihat Sasuke berderap, menggeram hendak keluar kelas, "Uzumaki-Sensei, sebaiknya Anda—"

"Kalian kembali ke kelas kalian sendiri atau segera cari orang tua, oke?" Naruto menatapi Shikadai dan Inojin yang berdiri terpinggir dari pintu kelas Hebi, kemudian pada Sasuke yang murka dan mengejar, lantas pada murid-murid kelas Kyuubi. "Geniuses, lari seolah Sensei akan memberikan kalian PR tambahan yang keterlaluan banyaknya!"

Beberapa murid kelas lain melongo tak percaya melihat murid-murid kelas Kyuubi dengan kecepatan mengerikan, berputar seperti gangsing, kemudian berhamburan lari sepanjang koridor.

Derap langkah kaki mereka meneriakkan kebebasan—persetan peraturan tidak boleh lari-lari begini, kami masih nyawa dan ingin menyaksikan matahari terbit esok hari!

"Sensei, kenapa kau tidak sayang nyawa, hah?!" teriak Iwabee miris.

Udon berlari dengan ingus yang rasanya berterbangan terempas angin. "Sensei bisa tidak, kau tidak gila sehariiiii saja?"

"Kita akan mati! Aku masih belum dapat pacar, jangaaaan!" pekik Yakumo pedih.

Kagura berdecak keras. "Kenapa cari ribut dengan Guru Teladan? Sensei, kami tahu dan paham pengakuanmu bahwa kau tidak jenius, tapi coba, pakai otakmu sedikit saja!"

"Jashin akan melindungi, janganlah kita lari seperti pengecut! Sensei, jangan ajari kami jadi pecundang, kita hajar sajaaaa—aargh!"

"Diam, Ryuuki!" Moegi menjewernya dan menariknya untuk ikut lari. "Harusnya kita mendengarkan perkataan Sarada-san!"

"K-kan aku sudah bilang!" Sarada menggamit tangan Himawari sambil berlari.

"Sensei, kenapa kita tidak punya kelas seperti kelas Hebi juga?" Shinki pun menjadi dirinya yang gagal peka dan kompetitif seperti biasa. "Bagaimana caranya menundukkan mereka agar tidak sengak dan menginjak-injak kelas kita? Kita butuh kelas mastur—"

"Jangan!" Sarada memelotot pada Shinki yang menyeringai menyebalkan. "Aku tidak bisa membantah argumen Uchiha Sasuke-Sensei, tapi entah kenapa aku yakin kelas sialan itu tidak benar!"

"Nyawa kita, hoi!" sentak Konohamaru pilu. "Naruto-Sensei, sih, gara-garanya! Kenapa kita mesti punya wali kelas yang juga ABK?!"

"Kalian bawel sekali, sih. Siapa mengajari kalian jadi sebawel ini, hah?!" tukas Naruto senewen, dia membopong—menculik—siswi Sasuke yang separuh tak sadarkan diri. Tangan lain menggamit jemari Himawari yang terkikik girang kala berlari, sementara putrinya itu balas menggandeng Sarada yang merepet ketakutan.

Inojin tersenyum lebar. "Wow. Kelas kalian seru juga."

"Ah, memang kelas Tou-chan-ku sangat seru," tanggap Himawari, nyengir bangga pada Inojin.

"Syuuuh!" Alarm mara bahaya sama sekali lain, berdering keras dalam diri Naruto melihat Himawari tersenyum semanis itu pada Inojin. Demi pantat kodok peliharaan Jiraiya-Herra, aku belum siap! "Pulang sana ke pelukan ibumu, Nak!"

"Tentu saja iya. Oh, salam kenal, Uzumaki-Sensei. Nama saya Inojin—"

"—tidak ada waktu untuk itu!" Shikadai menyambit lengan Inojin, ikut terkejut karena melihat siapa yang berlari bersama mereka. "Metal Lee? Apa yang kaulakukan?!"

"Itu juga ya-yang aku ingin tahu, ma-maksudku, hal yang terjadi tadi di kelas Hebi—" Metal Lee berlari di sisi mereka dengan pandangan berkunang-kunang dan wajah memerah.

"Jangan diingat!" salak Sarada galak.

"Himawari, Sarada! Jangan ikuti kegilaan dia!" seruan dan umpatan Boruto yang ternyata menyalip Sasuke berkumandang.

Sang siswa teladan berlari dengan dua tas tersandang di pundak dan menjinjing satu tas lagi, mengejar gerombolan kelas Kyuubi yang berusaha keluar daripada koridor jadi medan pertempuran.

Naruto tak mengindahkan Boruto yang lari dari belakang, dia bisa mendengar desisan berbisa Sasuke pula. Nyengir kecil pada anak-anaknya saat berseru, "Jangan berhenti, terus tancap gaaaas, Kyuubi's Geniuses!"

"We are what we are!"

Anak-anak bersorak kompak, suara mereka menggelegar, menggetar pilar-pilar hingga sepenjuru area yang mereka lalui.

Serombongan personil kelas Kyuubi tidak mengurangi kecepatan lari mereka sampai ke taman dan pelataran parkir.

Naruto tak henti bersyukur dalam hati, mengingat tingkat Jounin hanya terisi anak-anak yang lambat daya serap pelajarannya dan bebal tak keruan. Tak ada ABK. Kalau ada, Naruto pasti sudah pontang-panting harus menggotong para murid ABK.

Keributan mereka mencuri perhatian para siswa yang masih berketam di sekolah meski malam telah mengelam. Guru-guru melongokkan kepala keluar dari ruang guru.

Sekuriti sampai panik, dan tak sempat menghentikan beberapa murid yang masuk ke ruang guru. Tidak juga mereka diindahkan tatkala berseru, memanggil anak-anak agar berteduh dulu karena gerimis mulai menderas.

Kebetulan, tepat ada bus di terminal kecil tak jauh dari gerbang sekolah. Mereka berebut masuk ke dalam bus. Berhubung seketika semua kursi terisi, bahkan beberapa siswa mesti berdiri, bus segera beranjak dari terminal. Sebagian murid kelas Kyuubi melambai dari kaca jendela belakang bus pada wali kelas.

Usai melambai, Naruto mencegat taksi yang tak sengaja lewat. Membuka pintu, memapah siswi yang setengah linglung itu untuk masuk.

Siswi itu menyambar kemeja putih di lengan Naruto, mencengkeram erat-erat. "Se-Sensei, nanti saya kena hukuman dari Sasuke-Sensei, la-lagi pula tas saya—"

"Jangan pikirkan itu. Kamu pulang saja sekarang, istirahat di rumah. Besok, Sensei yang akan mengurus, oke?" Naruto menepuk sekilas bahu sang siswi, memastikan anak perempuan itu telah terbalut rapat oleh jasnya.

Suara Boruto menyalak, "Woy, Tou-chan!"

Sarada terkesiap. "Jangan, Boruto!"

Himawari berkata, "Nii-chan tidak lihat tadi apa yang Sasuke Oji-san lakukan pada teman sekelas Nii-chan—"

Suara riuh Sarada dan Himawari mencegat Boruto, Naruto tak menghiraukan ketiganya. Dia menarik keluar dompet, mengeluarkan beberapa lembar uang yang agaknya terlalu berlebihan untuk ongkos taksi bahkan uang tips. Menyerahkan pada supir taksi.

"Tolong antarkan murid ini sampai ke rumah, pulang pada keluarganya, ya." Naruto menjejalkan gumpalan uang itu cepat-cepat pada si supir taksi yang gelagapan. Menoleh lagi pada sang siswi dan menyerahkan selembar kartu. "Hubungi Sensei kalau ada apa-apa."

"Ta-tapi tas dan barang saya masih di kelas—"

"—astaga. Aku mesti adu tinju dulu dengan Sasuke?!" Naruto mengacak rambut.

"Dasar Tou-chan Bodoh, makanya kubilang minggir! Ini tas Akane-chan!"

Naruto merasakan ada tangan yang menyentaknya ke samping. Terkesiap karena gestur kasar itu, dan juga sosok Boruto yang menutupi pintu taksi, menyerahkan tas pada siswi yang refleks ia bawa lari.

"Hati-hati di jalan." Boruto mengangguk mantap. "Tenang saja, nanti aku akan bicara pada Sasuke Chichi-ue untuk tidak menghukummu."

Memeluk tas yang Boruto berikan, gadis itu mengangguk penuh haru. "Te-terima kasih."

Boruto menyengir pada sang supir. "Paman, tolong antarkan temanku sampai ke rumahnya, ya!"

"Siap!" Supir itu memberi hormat.

Naruto, berdiri di sisi Himawari dan Sarada, menyaksikan Boruto berpamitan pada sang supir yang tampak girang usai menghitung jumlah uang di tangannya, kemudian menutup pintu taksi yang seketika itu langsung melaju.

"Kau gila atau bagaimana, hah?!" damprat Boruto pada sang ayahanda yang bergegas pergi.

"Kau sebenarnya paham Tou-chan tidak gila, Boruto. Kalau memang benar kau berpikir begitu, kenapa kau membawakan tas Akane?" Naruto menyimpan kembali dompet ke saku celana, kini ganti merogoh saku kemeja untuk mengeluarkan kunci mobil.

"Hei, itu tasku!" Sarada menunjuk pada tas merah beraksen hitam yang tersandang di pundak Boruto.

"Siapa suruh kau kabur dari siang, hah? Bodoh! Nih, tasmu!" Boruto hendak menjitak Sarada, tapi gadis itu mengelak lebih dulu, dan merebut tasnya dari Boruto yang memutar bola mata. "Kukira kau benar-benar izin sakit karena tadi sore Sakura-Sensei bilang begitu, ternyata malah main-main di kelas sampah."

"Te-terima kasih." Sarada memeluk tasnya erat-erat. Wajahnya memberengut. "Lebih sampah kelas kita karena ada kelas semesum itu, dan apa pun sanggahanmu, takkan mempan buatku, Boruto."

"Kau tidak mencoba melihatnya dari sudut pandang positif, sih." Boruto mendengkus sambil bersidekap.

Sarada memutar bola mata. "Mana yang positif dari kelas sialan itu, ha?"

Mereka bertiga berhenti di pelataran parkir mendapati Naruto menghampiri sebuah mobil mini bus. Saling bertatapan.

Boruto mendengus lebih keras dan membuang muka. Sarada menghela napas panjang, was-was melihat ke area sekolah, kemudian mengarahkan pandangan pada Himawari yang mulai murung mengamati interaksi sang ayah dan kakak.

Seakan ada garis batas yang jelas memisahkan mereka sebagai keluarga.

Sarada menelan ludah dengan pahit. Mungkin ini takkan terjadi kalau bukan karena papanya.

"Kalian bertiga pulang bagaimana?" Naruto menoleh kembali dari kegiatannya, cekatan memanaskan mesin mobil.

"Ada supir keluarga Uchiha, kok." Boruto mengumpat, tidak usah sok peduli—yang makin membuatnya gemas karena Naruto tak menanggapi caci-makinya.

"Aku tidak tahu." Sarada mendesah. Gugup menyelipkan rambut ke balik telinga, enggan mengatakan bahwa ia takut pulang bersama papanya. Siapa tidak setelah ia membolos kelas dari siang?

"Kau ikut denganku dan Himawari saja." Boruto ringan menepuk punggung lengan Sarada. "Toh, kita mesti ke rumah sakit."

Naruto kali ini membiarkan mesin mobil sendiri. Seakan ada decitan menyakitkan dalam dirinya mendengar cetusan cuek Boruto. "Siapa yang sakit?"

Boruto menatapnya tajam. "Bukan urusanmu."

"Ini memang waktunya Kaa-chan check-up bulanan untuk kesehatan, kok. Cuma baru kali ini saja, ditemani Sakura-Sensei," Himawari menengahi. Dia meraih ujung kemeja ayahnya, menatap sarap harap. "Uhm ... Tou-chan, tolong antarkan kami ke rumah sakit."

"Oh, benar! Nanti dari rumah sakit, aku bisa pulang dengan Mama." Perlahan senyuman terbit di wajah Sarada. "Boleh, ya, Uzumaki-Sensei?"

Boruto berkacak pinggang dan menjulurkan lidah. "Ceh, itu ada jemputan supir, kenapa mesti—"

"Kenapa tidak?" Naruto mengusap puncak kepala Himawari, lalu menepuk pundak Sarada. Menyenangi reaksi gadis itu yang langsung berseri-seri, ibu jarinya menunjuk ke arah belakang. "Ayo masuk saja!"

Boruto ternganga tak percaya melihat kedua gadis itu membuka pintu mobil, masuk ke dalamnya. "Bagaimana nanti supir—"

"Makan gaji buta, atau paling juga nanti dia mengantar Papa." Sarada memegangi pintu mobil, menatap Boruto baik-baik. "Kau ikut atau tidak?"

"Tidak sudi!" Boruto meludah ke bawah ban mobil.

"Oke." Sarada menyundut kacamata ke pangkal hidung. "Kau dengan supir keluarga Uchiha saja ke rumah sakit, ya."

"Hei, hei! Aw!" Boruto memekik kesakitan saat ia menjadikan badannya penghalang sebelum pintu mobil ditutup Sarada. "Kalian kenapa mesti menebeng dia, sih?!"

"Dengar, Boruto," Sarada menghela napas jengkel, "kalau kau tidak mau, ya, sana! Tidak ada yang memaksamu untuk ikut naik mobil ini. Toh, tujuan kita sama, bukan?"

Boruto berdecak keras-keras. Kali ini ia membuka pintu, memaksa masuk ke kursi penumpang di samping kursi pengemudi. Membanting pintu dan menekuk mulut. Dia mendelik ala malaikat maut.

Naruto memanaskan mesin mobil. Diam-diam menahan senyuman. Memastikan panas mobil sudah cukup, lantas ia mulai menggeser persneling. Mulai membuat mobilnya hengkang dari parkiran, selagi mendengarkan perdebatan Sarada dan Boruto.

"Aku tidak akan membiarkan kalian diperdaya pedofil tua bangka ini!" geram Boruto keras.

"Jaga bicara dan sopan-santunmu, bagaimanapun Uzumaki-Sensei itu ayahmu!" Sarada merangsek maju dari kursi belakang, meninju punggung lengan Boruto yang cemberut.

"Siapa sudi punya ayah seperti dia!"

"Kalaupun kau tidak sudi, tetap saja kau harus menghormatinya!"

"Kita memang harus menghormati semua orang, mau tua atau muda, terlepas dari siapa dia sebenarnya, Sarada! Akan tetapi, ada juga orang-orang yang tidak pantas, apalagi—"

"—apalagi orang tua kita sendiri, Boruto! Kalau ayahmu kriminal, psikopat, pemabuk, gila, suka main perempuan," Sarada tiba-tiba saja tercekat hebat di tiga kata terakhir, "aku bisa mengerti kenapa kau membenci—"

"Aku tidak minta juga untukmu mengerti," Boruto bersikeras, "bahkan seseorang yang main perempuan, kriminal sekalipun, pasti ada hal baik yang ia lakukan dan itu patut dihormati."

Bahu Sarada menurun dengan lesu. "Jadi perilaku itu wajar menurutmu?"

"Tidak, tapi kita bisa memaafkan mereka, dan memandang sisi positif dari apa yang ada pada mereka. Daripada ayah yang meninggalkan anaknya saat masih kecil, lari, tidak bertanggung jawab—"

"Tidak tepat."

Baik Naruto, Sarada, bahkan Boruto, berjengit mendengar suara pelan dan tenang mematikan milik Himawari.

"Kita memang sebaiknya memaafkan kesalahan seseorang, tapi bukan berarti mewajarinya. Yang kalau diwajari, orang itu hanya akan mengulangi lagi."

"Kau bicara soal Tou-chan, 'kan, Himawari?" Boruto menoleh pada adiknya, dan ia langsung berpaling menatap jalanan yang terpapar dari balik jendela.

"Hima-chan bicara soal papaku juga," lirih Sarada, mengangguk paham dan tersenyum pahit.

"Sebaiknya kita tidak main menyalahkan siapa-siapa. Bisa saja, ada sesuatu dari Tou-chan dan Sasuke Chichi-ue yang sebenarnya terjadi, dan kita tidak tahu," ujar Himawari dengan suara yang menenangkan, identik milik Hinata. "Yang kita bisa lakukan, adalah mencoba mengerti, dengan tidak bersikap sok tahu atas apa yang terjadi."

Baik Sarada maupun Boruto menoleh pada adik mereka. Saling berpandangan, mengerjap-kerjapkan mata. Mengangguk tanpa suara, sepakat untuk tak lagi bicara.

Siapa yang kakak sebenarnya? Naruto membiarkan pertanyaan itu tak tersuarakan, fokus mengendarai mobil melindas kubangan jalan yang besok pagi jadi genangan air.

Pandangannya melunak. Sadar benar bahwa Boruto telah belajar dari pengalaman dua bulan belakangan. Tidak lebih banyak memakinya lagi di depan Himawari, apalagi kini adik kecilnya telah beranjak dewasa dan memahami apa yang sang kakak hujat pada ayah mereka.

Atau mungkin itu cuma maunya saja. Senyum menggantung tipis di bibir Naruto.

Mobil itu melaju meninggalkan pelataran parkir menuju rumah sakit. Hening dihuni deru mesin mobil, kobat-kabit wiper, desis AC, dan juga rinai hujan yang bicara bahwa ia masih akan lama menemani malam menemui pagi.


"Naruto?!"

Pekik syok Sakura dan Neji melahirkan cengiran di wajah Naruto.

"Halo, Sakura-chan, Neji," senyum Naruto sedikit menyurut saat melihat Hinata yang sama terkejutnya, "Hinata."

Kedua wanita itu telah berdiri di depan lobi rumah sakit. Tampak tengah berangkulan dan menanti, bersama Neji. Raut wajah mereka kontras dari nuansa putih yang mendominasi eksterior lobi.

"Anak-anak di dalam mobilku." Naruto mengibaskan blazer-nya yang lembap karena hujan, berhubung ia yang mengalah daripada ketiga anak bertengkar lagi.

Walaupun pertengkaran mereka kali ini cukup rasional. Siapa yang akan menjemput kedua ibu mereka? Naruto memilih turun dari mobil daripada ada anak yang kehujanan, membawa payung yang lama teronggok dan mungkin milik Killer Bee.

"Supirnya Sasuke-kun, Juugo-san, ke mana? Kok, tidak mengantar anak-anak ke sini?" tanya Sakura heran.

"Tadi Boruto sempat telepon pas di mobil, katanya Juugo-san disuruh menunggu Sasuke saja." Naruto asal mengedikkan bahu, kemudian menggeser pandangan. "Kenapa Neji di sini?"

Neji tersenyum ringan. "Tadi mereka berdua minta diantar olehku."

"Oh, terus bagaimana hasil check-up-nya?" Bagaimana Naruto manggut-manggut. Agak tak suka dengan seliweran perawat, dokter, dan pasien berpakaian serba putih, yang mana mengingatkan Naruto pada banyak hal yang ia tidak lagi ingin mengingatnya.

Kening Naruto berkerut dalam. Matanya tak luput melihat bagaimana raut wajah ketiga orang di hadapannya berubah keruh. Namun, mereka pandai menghilangkan airmuka tak menyenangkan itu, yang selintas terkesan rapuh.

"Ya, hasilnya cukup bagus, kok, tapi ada tes lain yang butuh waktu untuk tahu hasilnya." Sakura menyungging senyum ceria yang menandakan tidak ingin Naruto bertanya-tanya lebih jauh.

Neji dengan andal mengalihkan, "Naruto, katamu anak-anak ada dalam mobilmu?"

Naruto mendengus sebal. "Aneh aku punya mobil, ya?"

"Pantas mendadak malam ini hujan deras," komentar Neji dan Sakura, airmuka tanpa dosa, tapi begitu sadar komentar mereka sama, keduanya bertukar tawa.

Neji membisikkan sesuatu pada Sakura, yang mana wanita itu balik berbisik, kemudian menelengkan kepala. Neji menggeleng dengan senyum ringan, sehingga Sakura mengangguk dengan mata berbinar-binar.

"Oi, ada kami di sini, tahu," cibir Naruto sembari bersidekap.

Neji membuka payung yang ia bawa, menggesernya pada Sakura yang segera berpindah ke sisinya. Seketika Naruto merasakan firasat buruk, terlebih ketika petir memekik histeris menerangi langit.

"Kami akan menjemput Sarada, lalu nanti aku mengantar Sarada dan Sakura pulang," Neji memutuskan seraya melambai ringan pada adik sepupunya, "Naruto, tolong jaga Hinata dan anak-anakmu, ya."

"HOI—" petir sialan meredam jeritan Naruto, tapi tidak dengan kikikan Sakura serta Neji yang berpamitan pergi duluan, "NEJI, SAKURA-CHAN!"

Naruto nanar. Tangannya terangkat sia-sia, dikucuri hujan yang berlinang dari tepi genting teras lobi. Dia mengerling Hinata yang sama tak berdayanya menyaksikan Neji memayungi Sakura, keduanya berlalu begitu saja.

Naruto mencak-mencak seorang diri, luput melihat senyum tipis Hinata memerhatikan sepasang orang yang berlalu. Sakura tengah protes, menarik kemeja putih agar Neji lebih mendekat padanya, menunjuk sisi bahu lain Neji yang dibasahi hujan. Neji menggeleng, tersenyum pada Sakura dan menunjuk ke mobilnya sendiri.

Hinata baru sadar ada tatapan yang menggelayuti sisi wajahnya, manakala ia mengerling lagi pada Naruto. Ketidakberdayaan mereka sama. Seolah waktu diputar lagi kembali ke hari itu, yang sudah jadi kenangan berdebu tersaput arus waktu dan benalu pilu.

Naruto menyorongkan payung ke arah Hinata. Mengusap-usap pahanya dengan canggung, entah untuk apa. "Yuk, Hinata. Anak-anak sudah menunggu."

Hinata mengambil payung, sedikit bingung karena Naruto justru melepaskannya. Dia mengamati Naruto membuka blazer sendiri, lalu memakai blazer itu untuk menutupi kepala dan menembus arus lebat titik-titik hujan.

"Naruto-kun, kau nanti bisa kena flu!" seru Hinata yang mendekap erat tas kerjanya, berusaha mengejar langkah terbirit-birit Naruto. "Kenapa tidak kita—"

Tetiba saja pemahaman menghampiri Hinata. Punggung Naruto sesungguhnya tak begitu jauh untuk ia raih, tapi pria ini sengaja tak bicara. Memberitahukan bahwa memang, tidak ada apa-apa di antara mereka.

Melakukan hal sesederhana itu, mungkin hanya akan meningkatkan harapan dalam dirinya. Yang siang tadi Naruto katakan untuk membelanya dari Sasuke, bisa jadi hanya kata-kata belaka.

Harapannya sedikit bersemi, menghibur diri dengan kemungkinan lain. Mungkin saja Naruto melakukan hal ini untuk menjaga hatinya sendiri, dari yang Hinata juga yakini, masih ada sesuatu tak kasatmata yang menautkan hati mereka sampai saat ini.

Hinata memindahkan perhatian pada mobil kakak sepupunya. Sakura sudah masuk ke dalam. Neji kini menghampiri Naruto yang telah berhenti berlari-lari, keduanya bercakap singkat dengan siapa yang ada di balik jendela dalam mobil.

Naruto membuka pintu, membantu Sarada untuk turun. Tersenyum lebar ketika Neji memayungi Sarada dan merangkul putri Sakura, keduanya berlalu dengan cepat untuk masuk ke mobil Neji.

"Naruto-kun, kau basah kuyup." Hinata membiarkan Naruto mengambil payung dari tangannya, merangkul agak longgar, kemudian Naruto membukakan pintu mobil.

"Basah sedikit saja tidak masalah." Naruto tersenyum sekilas. "Ayo cepat masuk, Hinata!"

Usai memastikan Hinata masuk dengan aman dan posisi duduknya telah nyaman, Naruto menutup pintu. Langsung masuk ke kursi pengemudi, melipat payung, menyimpan asal payung basah itu ke bawah joknya sendiri.

"Okaeri, Kaa-chan!"

"Tadaima, Himawari, Boruto." Naruto yang tengah memasang sabuk pengaman, bungkam mengamati Hinata tertawa pelan. Wanita itu memeluk Himawari kemudian mengelus lembut kepala Boruto. "Bagaimana keseharian kalian hari ini?"

"Cukup seru," Boruto terdengar defensif, sampai-sampai Naruto mengernyitkan alis. Tak mengerti mengapa putranya itu mendelik padanya.

"Seruuu! Aku, Sarada Nee-chan, dan kakak-kakak Jounin di kelas Kyuubi, ada kelas Astronomi," terang Himawari berseri-seri.

"Ceh. Apa serunya melihat bintang yang begitu-begitu saja?" Boruto mendengus-dengus.

Himawari mengulum senyum. "Apa serunya melihat perempuan disiksa suruh telanjang, hah? Oh ... atau Nii-chan senang, ya?"

"A-aku tidak senang—ttebasa! Siapa juga yang girang?!" Boruto melentingkan pelototan via kaca spion pada sang adik yang terkikik menggodanya. "Su-sudahlah. Kaa-chan bagaimana hasil check-up?"

Hinata menghela napas panjang. "Uhm ... gula darah, tensi, asam urat, dan lain-lainnya normal."

"Syukurlah." Himawari merangkul ibundanya. "Kaa-chan jangan sampai sakit, ya."

"Kaa-chan harus menyaksikanku dapat piala dan piagam Siswa Teladan lagi." Boruto meninjukan kepalan tangan kanan ke telapak tangan kiri. "Kali ini, aku juga akan memenangkan Gallant War supaya Konoha jadi Rumah Asrama Terbaik, dan Hebi jadi kelas Terbaik se-Hidden Schools."

Hinata tertawa pelan. "Akan Kaa-chan tunggu. Selamat berjuang, Boruto."

"Huh, kau pasti ingin mengalahkan kelas Hebi dan Sasuke Chichi-ue, 'kan?" Boruto bersidekap, mendengak dagu pada ayah kandungnya yang baru selesai memasang sabung pengaman. "Tidak akan bisa mengalahkan kemenangan kami dua tahun berturut-turut!"

"Semoga kau dan kelasmu menang, Boruto," tanggap Naruto enteng, menendang payung basah yang bikin kakinya tidak nyaman ke kolong bangku.

"Ka-kau meremehkanku dan kelas Hebi, ya?!" Gigi-gigi Boruto sampai bergemertak, entah karena marah ataupun kedinginan. "Jangan kira kelas Kyuubi bisa menang, ya!"

"Boruto, bicara yang sopan pada ayahmu," tegur Hinata.

Boruto kilat menengok ke belakang pada ibunya. "Untuk apa sopan pada seseorang yang sudah bikin kita—"

"—Boruto." Hinata menggelengkan kepala.

Ada nada suara yang semuanya mengerti, juga sorot tatap mata meminta yang tidak bisa dibantah apalagi ditolak oleh siapa pun. Boruto memberengut, merajuk dan merutuk dalam gumaman.

"Aku mendoakan kemenanganmu, Boruto." Naruto membuang napas panjang. "Apa pun peperangan itu yang kausebut barusan."

"Pembohong." Boruto mendengus kasar. "Diam-diam saja kau bilang begitu, tapi sekarang saja kelasmu mulai menunjukkan kemajuan dalam proses pembelajaran. Dasar munafik."

Hinata menarik napas tajam. "Boruto!"

Remaja lelaki dalam masa pubertas bersikeras, berkeras kepala atas apa yang ia ucapkan. Membuang pandangan keluar jendela, mengabaikan nada peringatan sang ibunda yang berletupan siratan kekecewaan.

Naruto menelengkan kepala sesaat, memangku sisi wajah dengan telapak tangan. "Terima kasih, Tou-chan anggap itu pujian. Omong-omong, apa kau benar-benar yakin kelas ABK berisi anak-anak bebal dan keterbelakangan mental, mampu membalap siswa-siswi berprestasi kelas Hebi?"

"Heh. Tentu saja tidak, tapi ... berjaga-jaga tidak pernah salah. Apalagi kau orang baru di Hidden Schools." Boruto melirik ganas, walau Naruto cukup paham lirikan mematikan itu amat awas—seolah takkan lengah. "Penilaian akhir, kan, bergantung indeks prestasi seluruh siswa dalam kelas masing-masing."

"Kau salah sasaran." Naruto geleng-geleng kepala. "Mending pikirkan cara menumbangkan kelasnya Shikadai, Metal Lee, atau Inojin, oke?"

Sebelum Boruto sempat mendamprat, Himawari menjawil kakaknya kemudian berbisik keras, "Kata kakak-kakak kelas Kyuubi, Tou-chan memang sinting tidak mau ikutan memenangkan Gallant War."

Mata Boruto membola. Dia menoleh pada ayahnya yang tengah menyeka sisa-sisa hujan di wajah dan lengan. "Kenapa tidak?"

Naruto melipat blazer-nya yang kuyup sedikit. "Kenapa harus?"

"Jangan retoris begitu! Jawab saja apa susahnya!" sergah Boruto gemas. "Kau direkrut sebagai guru Hidden Schools untuk menguji coba segala metode pelajaran, supaya murid-muridmu memberikan prestasi terbaik mereka!"

"Nah, itu kau mengerti." Naruto mengerling putranya yang kalau saja tidak ada Himawari dan Hinata, pasti sudah mencoba meninjunya sekarang juga. "Aku tahu, kejam mengatakan ini sebagai guru, tapi aku tidak mau murid-muridku diposisikan kayak ayam sabung. Diberi gizi banyak, hanya untuk dipakai berkelahi dan memenangkan taruhan pemiliknya."

"Oooh, jadi kau menghinaku ayam sabung?!" Boruto menggulung lengan baju.

"Kau merasa terhina?" Naruto menggaruk rambutnya. Oh, astaga. Sungguh, bagaimana cara menghadapi putra yang beranjak remaja? "Maksudku adalah, aku ingin wawasan dan kepribadian muridku membaik tanpa meninggikan watak persaingan, atau malah membangun sifat kompetitif yang destruktif. Itu saja."

"Omong-omong, Boruto, Kaa-chan juga berpikiran hal yang sama," Hinata menyela perlahan, seperti air yang menyiram api yang mulai berkobar, "kau tahu itu, 'kan?"

Boruto hendak menyergah, tapi teralih ketika Himawari mencetus dengan salah tingkah. "Maaf ... a-apa hanya Himawari saja yang tidak mengerti?"

Ketiga orang yang paling menyayanginya itu memusatkan perhatian pada Himawari. Mendapati gadis kecil mereka merona, kikuk membenamkan setengah wajah ke tas sekolah.

"Omong-omong, Himawari juga senang kita ... akhirnya, kita semua bisa berkumpul lagi," gumamnya tulus.

Perkataan itu seperti denting yang menghadirkan hening, menjernihkan titik-titik bening yang lembut meleleh di kaca jendela mobil. Ada kepolosan anak perempuan dan kasih sayang yang melunakkan situasi, tanpa Himawari sendiri mengerti.

Naruto mengiyakan dalam hati, mematirasakan sensasi menyakitkan yang bangkit ketika ia bertanya, "Omong-omong juga, apa rumah kalian masih di rumah Uchiha yang waktu itu, terakhir kali Tou-chan datang saat ulang tahun Himawari?"

Boruto menghirup napas, mengangguk-angguk dengan gestur bangga. Mendengus, lalu memerintah, "Iya. Antar kami pulang ke rumah!"

Naruto menepis decakan dalam dirinya. "Oke. Kuantar kalian pulang, ya."

"Jangan dulu. Himawari lapar," sela si bungsu yang melunglaikan kepala pada ibundanya. "Nii-chan juga, 'kan?"

Boruto tanpa sadar tertawa. "Kamu yang lapar, Himawari."

"Hujan, Sayang. Makan di rumah saja, ya?" pinta Hinata, mengelus-elus rambut putrinya yang mulai memanjang.

Himawari memajukan mulut. "Jalanan macet. Kapan makannya?"

"Kalau kau minta dijajani, bilang saja," goda Boruto geli.

"Nah, itu Nii-chan mengerti!" Himawari menjulurkan kedua lengan ke depan, memeluk leher kakaknya yang terkekeh. "Sesekali tidak apa-apa, ya, 'kan, Kaa-chan? Toh, besok hari libur ini."

"Hei, kamu sedang cari alasan supaya bisa lama-lama dengan Tou-chan, ya?" tuduh Boruto, menahan lengan adiknya dan menggelitiki kulit di sana.

Himawari memekik, terkikik geli dan balas meniupi telinga Boruto yang langsung mengumpat-umpat. "Tidaaak, kok! Nii-chan tidak mau makan malam di luar? Ayolah, yakisoba, cola, DOUBLE CHEESE BURGER!"

"Oke!" Boruto bertos-tosan dengan adiknya. "Ayo kita makan dulu!"

Naruto refleks menggelengkan kepala dengan senyum melebar. "Tou-chan maunya makan ramen."

"Kata siapa Kaa-chan mengizinkan kalian makan junk-food?" sela Hinata lugas.

Sepasang anak berseru tak setuju. Naruto mengerem mulut yang nyaris menyahut, mengapa hati anak-anaknya ikut murah pada makanan mudah diolah yang tergolong sampah. Namun ketiganya tak bisa membantah, apalagi kalau Hinata sudah dalam mode sebelas-dua belas dengan ahli gizi.

Mobil masih di parkiran rumah sakit. Hujan melebat dahsyat di luar sana. Para penumpang berdebat menentukan akan makan di mana.

Siapa pernah menyangka, butuh satu dekade untuk Naruto bisa merasakan bagaimana hangatnya punya keluarga.

Naruto menelan ludah perlahan. Terlalu lama merana, sampai lupa rasanya berbahagia. Orang-orang yang selalu ada bersama keluarga mereka, takkan pernah mengerti, betapa berarti untuk seseorang seperti Naruto bisa bercakap-cakap dengan orang-orang tersayang yang terikat dengannya.

Oh, semestinya.

Senyumnya memudar.

Getaran ponsel merambat di kemeja. Naruto merogoh saku, mengeluarkan ponsel. Ada pesan dari nomor luar negeri yang ia kenali. Finlandia. Chat singkat dari Jiraiya Herra.

Jangan lupa hadiah untuk murid-muridmu di Helshinki sini, sekalian kirimkan sake Jepang buatku juga!

P.S: jam 10 malam, jangan lupa kiriman untuk Kyuubi atg.

Naruto mengangkat pergelangan tangan kiri. Smartwatch yang menampilkan jam digital menunjukkan pukul delapan malam lewat lima belas menit.

Kalau menghitung waktu makan malam, mengantar keluarganya ke rumah Uchiha beserta jalanan yang macet—Naruto getir berpikir ia mesti memulangkan anak-anak dan Hinata pada Uchiha—lalu langsung pulang ke rumah dan mengunduh file, mungkin takkan sempat.

"Ah, maaf," Naruto menyela perdebatan, memindahkan posisi untuk menghadapi mereka yang berhenti berdebat, "kira-kira ... apa kalian ada ide, oleh-oleh yang unik khas Jepang untuk anak-anak setara tingkatan Chuunin?"

"Untuk siapa?" tanya Hinata, mengeratkan mantel yang ia kenakan.

"Untuk murid-muridku di lain tempat," jawab Naruto singkat.

"Terdengar mencurigakan." Boruto mengernyitkan sebelah alis tinggi-tinggi, mendelik sebal pada ayahnya yang persis di sebelahnya. "Memang kau mengajar di mana lagi?"

Naruto menyibukkan diri dengan memasang sabuk pengaman. "Beberapa waktu yang lalu, Tou-chan sempat mengajar di sekolah lain."

"Di mana?" kejar Himawari seraya menggelayuti bagian belakang kursi pengemudi. "Tou-chan masih mengajar di sana juga?"

Tentu ketiga penumpang lain yang kini nama mereka disematkan marga Uchiha, berpandangan tak mengerti, memusatkan perhatian pada sang pengemudi yang menerawang aliran air yang diseka oleh wiper.

"Ada, lah." Naruto mengibaskan tangan. Sengaja melebarkan senyuman. "Tou-chan sudah tidak mengajar di sana lagi."

"Di sana mana maksudnya, sih?" Boruto bersidekap. Pandangannya tajam memburu perhatian ayahnya. "Sudahlah, jangan berputar-putar!"

"Tidak apa-apa kalau kau tidak bisa cerita," Hinata tersenyum sederhana menyadari Naruto meliriknya sepersekian milidetik melalui spion, "mereka bersekolah di tempat yang seperti apa? Siapa tahu dari situ, kami bisa membantumu mencari tahu apa yang cocok untuk jadi cindera murid-muridmu."

Naruto nyaris meninju dashboard dan bersorak penuh kemenangan, sayangnya ia ingat sudah bukan usianya untuk melakukan hal sekekanakan itu.

Namun setelah mempertimbangkan beberapa lama, apalagi menyadari bahkan Boruto emosinya bersumbu pendek bahkan tampak sabar menanti jawabannya, Naruto mengacak sekilas rambut dan mengembuskan napas berat.

Naruto menatap jalanan yang dari balik jendela yang dikaburkan hujan. "Aku pernah mengajar di Helshinki, Finlandia. Guruku menyarankan untuk mengirimkan cindera mata pada mereka, karena murid-murid menanyakanku."

Ia tak terkejut dengan suara tercekat, tercengang bukan kepalang, sampai-sampai rahang mungkin hampir nyaris jatuh ke bawah.

Jeda begitu lama, hingga dengan rahang mengeras Boruto bertanya, "Jadi selama ini Tou-chan sembunyi ke sana, hah?"

"Tou-chan tidak langsung mengajar ke sana, bagaimana bisa?" Naruto mendesah. Memijat-mijat pelipisnya, walau tak menghilangkan penat yang berkutat di sana.

Hinata memajukan duduknya, melingkarkan lengan dari belakang pada Boruto—yang ia cemaskan akan menerjang Naruto. "Berapa lama kau di ... Finlandia?"

"Mungkin sekitar lima-enam tahun." Naruto mengerling, merasakan aliran keringat dingin di tengkuknya karena ada tatapan dari tiga pasang mata yang senantiasa melekatinya.

"A-apa keterlaluan kalau aku bertanya, bagaimana bisa kau ke sana?" lirih Hinata. Tentu bagaimana bisa ia lupa pagi buta setelah ulang tahun ketiga Himawari, entah bagaimana nasib Naruto hari itu.

Naruto menggeleng, tersenyum maklum. "Aku bertemu teman-teman baru. Guru mereka jadi guruku juga, dan mengajakku—memaksaku—ikut ke Helshinki."

"Kenapa Tou-chan mau ikut ke sana?" meskipun mengumbar amarah, tapi ada berlapis-lapis kekecewaan tersirat dari pertanyaan Boruto. Ia menggebrak dashboard. "Kenapa mesti ke sana? Kau tidak tahu Himawari terus mencarimu, Orang Tua?!"

"Boruto Nii-chan, sudahlah, aku tidak a-apa-apa." Himawari buru-buru menepuk-nepuk dan menahan lengan kakaknya yang nyaris meninju sang ayahanda.

Boruto habis sabar. Dia menarik kerah kemeja ayah biologisnya dan memelotot, kemarahan yang terpendam dan tertahan bertahun-tahun meluap-luap, tertuang dari sorot matanya.

"Jawab aku!" hardik Boruto, menggerit gigi karena ayahnya bergeming dan menghindari tatapannya.

"Jangan, Onii-chan!" Himawari berusaha melepaskan cengkeraman kakaknya dari ayah mereka. "Kalau kau begini terus, Tou-chan bisa-bisa pergi lagi. Tou-chan sudah kembali, itu lebih dari cukup!"

"Coba kau diam, Himawari! Jangan membelanya terus-menerus, bukan dia yang merasa sedih dan tidak berdaya tiap melihatmu menanyakannya!" Boruto memakai lengan lain untuk mendorong mundur adiknya.

Naruto berusaha untuk tak menunduk, menatap sepasang anaknya bergantian dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan Tou-chan."

"Aku tidak butuh maafmu!" Boruto meninju lagi dashboard mobil. "Kenapa kau mesti kembali lagi?!"

Himawari memeluk kakaknya erat-erat. "Boruto Nii-chan, kalau kau berani mengusir Tou-chan pergi lagi, sekarang aku akan ikut pergi!"

Kali ini baik Boruto maupun Naruto terperangah. Sampai-sampai keduanya kompak berseru, "Jangan!"

"Kurasa kalian lapar."

Cetusan di luar konteks percakapan menegangkan itu benar-benar membuat buyar ayah dan sepasang anaknya.

Sampai ke tahap mereka menoleh pada sumber suara letih, luput melihat bagaimana wanita itu cepat-cepat menyeka matanya yang basah—dan bukan karena hujan. Hanya mendapati sang ibunda tersenyum tipis pada mereka semua.

"Ayo kita cari makan saja," ajak Hinata, agak memaksa terdengar gembira. "Sepertinya makan junkfood sesekali enak juga. Omong-omong, Naruto-kun, sepertinya anak-anak tahu toko serba ada yang masih buka sampai nanti tengah malam. Beli oleh-oleh di sana saja, bagaimana?"

"Boruto Nii-chan dan aku memang tahu, tapi bukan itu—" Himawari menatap ibunya dengan tak percaya.

Naruto yang memahami maksud sebenarnya Hinata, lekas menyelaraskan dengan keriangan yang setara kepura-puraannya. "Di Helshinki sangat dingin. Kalau bisa, sesuatu menghangatkan seperti cindera mata berbentuk barang saja, agar bisa mereka simpan."

"Baiklah. Boruto, Himawari, beritahu tempatnya di mana pada Tou-chan, ya." Hinata membelai rambut putrinya yang tergugu.

"Kaa-chan," desah Boruto putus asa. Ia tak pernah benar-benar bisa marah pada sang ibunda. "Jangan dialihkan!"

Hinata beringsut maju. Dengan lembut, meraih tangan Boruto agar melepaskan cengkeraman dari Naruto. Mengusap-usap dengan sayang kepala putranya memakai tangan yang satu lagi.

Untung saja minim penerangan dalam mobil. Cahaya lampu kendaraan lain maupun penerangan tepi jalan, tak sampai menggapai lara yang lama bersemayam di sepasang mata khas keluarga Hyuuga, seperti telah selamanya ada di sana.

Naruto terdiam ketika akhirnya Hinata berhasil memadamkan amarah Boruto. Lamat dan berat hatinya tatkala jemari lentik Hinata dengan cekatan, dan cantik bukan main—entah kenapa—yang terasa mencekik, membenarkan kerah bajunya. Merapikan kemejanya yang kusut dicengkeram Boruto, menutupi bekas luka lama yang sempat tersingkap.

Hinata jelas melihat torehan jelek itu, Naruto tahu ketika tatapan mereka bertautan bukan hanya matanya saja yang berkaca-kaca. Punggungnya mendadak terasa kebas, seakan ada organisme mengurai lagi kebusukan di kulitnya yang telah lama tak terurai.

Naruto nelangsa. Sedekat ini tapi tetap saja ia tak bisa meraih tangan Hinata dalam genggaman.

"Kaa-chan, Tou-chan," lirih Himawari pelan, ada ketidakberdayaan dalam nadanya yang menyesakkan mereka semua, "apa yang kalian sembunyikan dariku dan Boruto Nii-chan?"

Hinata dan Naruto bertukar kerlingan sekilas di spion. Sekadar ketetapan untuk tak bicara, dan kepahaman untuk tetap dalam hubungan seperti ini demi putra-putri mereka.

"Ini tidak normal." Boruto mengepalkan kedua tangannya erat-erat. "Kaa-chan, Tou-chan yang meninggalkan kita cuma untuk ambisi pribadinya sendiri jadi guru terbaik tingkat nasional. Kenapa kau masih saja membelanya?!"

Sepasang remaja itu tercengang dengan reaksi ayah mereka. Mengempas tawa, pasrah dan kehilangan asa.

Sepintas Naruto menolehkan senyuman yang menyesakkan untuk mereka lihat. "Omong-omong, kata-kata Boruto tadi ... kedengaran seperti seseorang, ya."

"Memang dia." Hinata meliukkan bibir, walau sorot matanya mengkhianati semua itu.

Naruto meragu sejenak, melirik Hinata sepintas dan berujar, "Tapi saat itu benar-benar bukan salahnya, Hinata."

Kali ini tak ada yang bicara lagi ketika Hinata dengan nada terluka menandas, "Jangan pernah membelanya di depanku, Naruto-kun."


ORANGE

.

Chapter 7: Even After 10 Years

.

(Sometimes people tend to forget to appreciate those little moments with their precious ones.)


A/N:

Kelas Masturbasi di Jepang beneran ada. Saya tahu dari seorang teman saya yang masuk sekolah seiyuu di sana, dan dia memberitahu apa saja yang dipelajari. Intinya itu kelas ekspresi, tapi bermasturbasi depan kelas bagian dari materi.

Bukan, ini bukan kelas yang menyenangkan. Teman saya itu sisa pelajaran ke depannya milih bolos kelas. :')

*atg: akronim dari and the gank.

Trivia panggilan:

Boruto memanggil: Hinata – Kaa-chan, Naruto - Tou-chan, Sakura – Baa-chan, Sasuke Chichi-ue.

Sarada memanggil: Sakura – Mama, Sasuke – Papa, Hinata – Baa-san, Naruto – Sensei.

Himawari memanggil: Hinata – Kaa-chan, Naruto – Tou-chan, Sakura – Sensei (di sekolah) / Baa-chan, Sasuke Oji-san.

Saya perhatiin, untuk keluarga Jepang yang (di realitanya) langka sekali kasus seperti keluarga ini, bahkan di Indonesia juga ... anak memanggil orang tua yang tak dekat dan panggilan biasa. Namun, saya sengaja membuat seperti ini karena mungkin, akan lebih memudahkan pembaca paham siapa paling tidak dekat dengan siapa.

FYI, saya juga mempertimbangkan untuk memublikasi fanfiksi ini agar dilanjutkan di wattpad saja.

Selamat hari raya Idul Adha 1439 Hijriah untuk teman-teman yang merayakannya! Maaf saya akan membalas reviews nanti.

Pada _Uchiwakaza997_ maaf kalau saya salah tangkap pertanyaan Anda sebelumnya. Hints kenapa di Enouement Naruto sudah berniat melepaskan Hinata dan keluarga, sementara di fic Orange justru dia berniat sebaliknya (berambisi memiliki mereka kembali), itu petunjuknya telah banyak bertaburan. Silakan dibaca ulang bila berminat, atau tunggu sampai terungkap. ;')

Pada _ A6452372_ jujur saya belum kepikiran lagu yang dinyanyiin anak-anak kelas Kyuubi apaan. Bukan "Cuma", Reader-san. Saya mikir keras ngarang lagu anak-anak agar selaras dengan usia mereka serta apa yang hendak Naruto tanamkan dalam diri mereka (sebagaimana yang sudah diulas Hinata).

Terima kasih atas apresiasi kalian yang luar biasa untuk Orange: katarays, BlankCode, 666-Avanger, Ren Azure Lucifer D Kanedy, , Indra223, rachman fatur 161, renarthur, muhammaddandi52, kira, Jefferson2512, kymc, Namikaze U Menma, Keith Farron Lucifer, urarakasakura371, Guest (1), Azriel Kun, Nastiti Randany, Aquarius D Zhura, yashan, UCHIHA SHINOKO, Nhlgandaria-chan, Thanatos, Uchiwakaza997, dwika29, ShiranuiShuichi, A6452372, Azumamaro, Tectona Grandis, Cicie Yon.