Tectona Grandis (hello to you, one of my dearest), tentang fanfiksi ORANGE:

like always full of pengetahuan yang kadang kita abaikan karena persepsi umum orang2 konservatif yang cenderung menutup mata karena sudah terlanjur didoktrinisasi oleh hoax yang sebenarnya dibuat untuk kepentingan beberapa oknum yang anti terhadap sesuatu. bahkan saya lebih cenderung: WHAT FACT WILL FRAG COME UP WITH NEXT CHAP? dan sering2 lah sharing tentang hal-hal sederhana yang tapi justru menjadi basic hidup manusia.

soalnya buat saya yang agak males riset ginian ff ini memberi nilai tambah banyak sekali. juga lebih enak kayaknya kalo bahas sesuatu yang vital buat kita sambil haha hihi santai. nggak sepaneng sampe bikin kepala kita yang udah dipusingin dunyat harus mikir lagi pas baca ff kami. .
Love TG

.

Warning: ulasan sedikit tentang bullying/risak, perselingkuhan, family time, angst, hati-hati glorifikasi ketampanan, pencerahan, melodrama.

Sekali lagi, tolong tidak menyerap isi dalam fanfiksi ini mentah-mentah. Seraplah yang baik-baik dari fanfiksi ini.


"Kairo, Sensu, Omamori, Tenugui, Froxion Ball dan alat tulis," Naruto menatap takjub Hinata, "kau yakin ini oleh-oleh yang tepat untuk anak-anak, Hinata?"

Hinata menghitung kantung dan kartu cantik. Mengangguk ketika sudah genap enam belas buah. "U-uhm. Katamu murid-muridmu itu di Helshinki, di sana dingin sekali. Kairo—pemanas sekali buang—pasti cocok. Kipas lipat mungkin bisa untuk musim panas ataupun pajangan. Tenugui—sapu tangan—pasti bermanfaat. Apalagi pena dan alat tulis."

"Terima kasih sudah membantuku, Hinata." Naruto mengambil tumpukan paper-bag, tersenyum melihat sisipan kartu cantik bermotif bunga Tsubaki.

Hinata menggeleng, senyumnya menghangat. "Katakan itu pada anak-anak. Mereka semangat sekali memilihkan oleh-oleh untuk murid-muridmu."

"Astaga! Anak-anak," Naruto menepuk dahi, "oh, iya. Mereka kelaparan—"

"Aku sudah beli makanan, kok." Hinata mengangkat kantung belanja lain di tangan kanannya.

Naruto mengerjapkan mata. Memerhatikan kantung yang begitu banyak di tangan Hinata. "Belanja, maksudmu?"

Hinata mengangguk tak kentara. "U-uhm, belanja sedikit. Sekalian buat anak-anak makan besok. Nanti biaya belanja yang tadi kaubayarkan, akan kuganti."

"Tidak masalah," potong Naruto, menggeleng dengan raut wajah lunak. "Untuk anak-anak ini, kok."

Hinata mengamati Naruto yang menyatukan beberapa isi kantung jadi satu. Ingin sekali menanyai bagaimana bisa Naruto punya murid di Helshinki, tapi ia tak berani.

Bagaimana kau bisa sampai ke sana, Naruto-kun?

"Sudah jam sembilan, masih macet tidak, ya?" Naruto mengerling arloji di tangan kirinya.

"Ma-maaf, masih. Maklum, akhir minggu." Hinata menundukkan kepala. "Nanti Naruto-kun kemalaman, ya?"

"Kemalaman sih bukan masalah," Naruto menyungging senyum miring, "tapi anak-anak betah tidak kena macet di jalanan?"

"Tidak akan." Hinata mendesah. Resah memandangi taburan tetes air yang melebat dahsyat. Hujan musim panas memang datang bukan untuk berkawan.

Sesaat senyap menyergap mereka berdua, tak segera menerobos hujan sekalipun ingat masih ada dua anak yang menanti dalam mobil.

Ada suara dalam benaknya, menyarankan usulan setara bisikan setan. Tanpa sadar ia berdecak, tak sadar wanita di sebelahnya pelan terlonjak.

Dan bukankah momen semacam ini yang kauinginkan?

Tentu, tanpa bermaksud melemahkan martabat manusia, memang benar bahwa godaan setan itu mengerikan. Kalau tidak, lantas mengapa bisa bahkan manusia diusir dari surga karena menyantap buah terlarang?

Kemungkinan termudah adalah menyingkirkan skenario terburuk. Seakan isi perut teraduk-aduk, usus saling berkelindan, dan pusing tujuh keliling. Naruto menelan ludah, menghirup napas dan memantapkan diri.

Ini bagian dari rencana mewujudkan ambisi.

Persetan Sasuke Uchiha dan dendam pribadi sendiri yang makan hati.

Naruto meraih sebagian kantung belanjaan dari tangan sang wanita, menatapnya lekat. "Hinata, tempatku lewat jalan yang tidak macet dan tidak jauh dari sini ... mau mampir dulu? Mumpung masih hujan."

Hinata tercenung. Balas memandang, yang Naruto mendapati raut wajah itu berkerut takut. Seperti itu pula hatinya berkedut. Astaga, bahkan yang bicara bahkan bukan malaikat maut.

"Nanti aku akan bilang pada Sasuke. Dia sih apa pun yang urusan denganku juga pasti marah, tapi ini demi kebaikan kalian bertiga." Naruto menggaruk tengkuk yang gatal karena keringat dingin mengalir perlahan. "Kalau mau, yuk tunggu dulu di rumahku. Malam atau pagi buta pun, aku antar kalian pulang. Bagaimana?"

Enam detik itu terlalu lama. Paru-parunya sesak seakan udara menolak masuk ke dalam, sehingga Naruto memaksakan tawa.

"Ehm—kasihan anak-anak sudah menunggu. A-ayo kita terobos saja!"

Hinata meremas kantung belanjanya erat-erat. "A-apa kami tidak akan merepotkanmu?"

Tawa Naruto terbawa bising hujan musim panas yang masih entah kapan akan berakhir. "Kalian tidak pernah merepotkan untukku."

Tak percaya suaranya sendiri, Hinata mengangguk. Ada sesuatu yang terasa melonjak dalam hati, tatkala mendapati senyum Naruto terbit kembali, seakan penghujung bibir menggapai binar di mata birunya.

Hinata tak sampai memayungi Naruto. Hujan musim panas mengampas segala usahanya untuk mencoba menudungi pria itu.

Naruto membuka pintu belakang, menaruh semua belanjaan termasuk milik Hinata, kemudian menutup lagi.

Entah sengaja atau refleks saja, Naruto meraih payung dari tangannya, merangkul Hinata agar tak dikuyupkan hujan, kemudian membukakan pintu mobil. Kebiasaan anehnya, ialah memastikan Hinata sudah duduk aman, barulah menutup pintu dan masuk lagi ke kursi pengemudi.

Untung saja anak-anaknya sahut-menyahut, sibuk bertanya tentang hadiah dari toko serba ada rekomendasi mereka. Berceloteh bagaimana bisa ayah mereka ke Finlandia, sehingga meredam cekatan napas Hinata.

Siapa sangka butuh satu dekade lamanya untuk merasakan semua ini, bahkan ketika dirinya dan Naruto masih saja tak saling memiliki.

Hinata menggigit bibir. Cepat-cepat menyeka matanya untuk basah yang bukan disebabkan hujan, menyadari kini memang mereka takkan lagi bisa saling memiliki.


"Hinata, maaf jadi merepotkanmu."

"Tidak, kok. Justru aku yang berterima kasih, Naruto-kun mau membantu kami."

Hinata menampilkan senyum, yang mungkin akhirnya, akan permanen selamanya.

Walau ia tahu itu mustahil. Apalagi dengan bayang-bayang hasil check-up yang makin membuat bahkan bukan hanya hati, tapi seluruh tubuh ikut terasa remuk.

"Terima kasih kembali." Naruto meletakkan gelas terakhir ke kitchen-sink. "Oh, ya, kau bisa menaruh belanjaanmu di kulkas dulu supaya tidak membusuk."

Hinata mengerling tumpukan belanjaan di kaki sofa ruang tamu."Bagaimana kalau kulkasmu kepenuhan?"

"Belanjaanmu sebanyak apa, sih?" Naruto menyengir kecil, membuka kulkas tiga pintu itu.

Hanya ada beberapa butir telur dan minuman dopping energi. Sekotak macaroni schotel tinggal dihangatkan di microwave, botol air dingin, dua kaleng soda, juga krimer untuk kopi.

"Masukkan saja, ya?" Naruto menoleh sekilas pada Hinata. "Belanjaanmu tidak banyak ini."

"Boleh. Terima kasih, Naruto-kun." Hinata menilik isi kulkas yang masih sangat bersih. Sedikit sakit hati mendapati tidak ada makanan atau pun minuman bergizi.

Hinata termangu. Sejenak air keran cucian mengalir tersia-sia. Kerongkongan terasa menyempit saat melihat Naruto memunguti kantung belanjaan.

Naruto memasukkan belanjaan Hinata ke dalam kulkas. Bungkusan sayur-mayur, apel serta jeruk dua botol susu murni, aneka bumbu, beberapa kotak ikan, tiga bungkus tofu, satu kotak telur, dan biskuit camilan anak-anak.

Naruto bahkan menata barang-barang dengan rapi dalam kulkas. "Maaf aku yang merepotkan, malah jadi kau yang cuci piring."

Hinata menggeleng. "Hanya gelas minum, piring tatakan, sendok dan sumpit, kok."

Naruto mengamati botol susu yang ia letakkan di pintu kulkas. Mencatat dalam benak, merek itu beserta beberapa camilan anak. "Anak-anak masih minum susu?"

"Kalau ada kelas sampai malam seperti hari ini, daripada meminum dopping, lebih baik diberi susu," jawab Hinata, tak sadar Naruto yang tengah menyimak perkataannya.

"Bukankah minum susu kalau pagi?" Naruto melebarkan bola matanya.

Hinata cekatan menyelesaikan cucian piringnya. "Tidak, kalau pagi mereka minum jus sayur. Kalau beruntung, jus buah. Misalkan jeruk, apel, dan gulanya kuganti dengan madu. Atau air dicampur lemon dengan madu saja. Untuk detoks."

Naruto menjeda sesaat, menatapi mantan istrinya. Tidak sadar bagaimana sorot tatapnya saat itu. "Kau mengurus anak-anak dengan baik, Hinata."

Tentu sang wanita tidak menyangka itu. Jantungnya seakan berdetak terlalu keras sampai tulang rusuk retak. Hinata cepat-cepat menangkap mangkuk nasi yang nyaris tergelincir dari jemarinya.

"Maaf kau mengurus mereka sendiri," gumam Naruto di depan kulkas, angin dingin AC mencubiti wajahnya.

"Tidak apa-apa." Hinata mengeratkan genggaman pada sponge kuning, tanpa sadar meremas keras. Busa dan buih putih, gelembung kecil pecah di dekat keran air.

Hinata menarik napas dalam, menyadari Naruto juga tergugu di depan pintu lemari pendingin. Tersenyum semampunya kala melirih, "Kita tidak diberikan pilihan."

Naruto memincingkan mata, menatap hampa sang wanita. Di dunia ini, tidak ada lagi yang pernah menderita karenanya lebih daripada Hinata.

"Manusia memang lebih kejam. Tuhan saja masih memberikan kita pilihan." Hinata melembutkan tatapan dan suaranya. "Kita tidak apa-apa, asal anak-anak baik-baik saja."

Kata-kata pelan Hinata anehnya menelusup dalam, terukir di dinding-dinding memori dan meredakan sensasi kelojotan aneh di organ internalnya. Naruto membalas senyum Hinata sebisanya dan mengangguk.

Usai merapikan barang ke dalam kulkas, melipat kantung plastik dan menaruh di atas meja dapur, Naruto turut bersandar di konter.

Bersama Hinata, keduanya memerhatikan sepasang anak mereka, tengah heboh dengan bingkisan di ruang tamu bergaya modern minimalis dengan tanaman hias di sudut-sudut ruangan. Keduanya saling berdebat, keributan khas saudara.

Sayang mereka melengking dan berteriak, sama sekali tidak mendengar percakapan pelan orang tua mereka. Tidak juga menyadari ada dua pasang mata berkaca-kaca, bahagia dengan senyum pahit melihat keduanya baik-baik saja.

"Kaa-chan kan akan bantu Tou-chan menuliskan kartu, Himawari memasukkan dan menata barang, aku bagaimana?!" protes Boruto keras.

"Cek sudah lengkap semua atau belum!" Himawari menggembungkan pipi.

"Membosankan!" Boruto berguling di atas karpet tebal berbulu lembut, menyambar bantal sofa, memakainya untuk ganjalan lengan. "Oke, Himawari, kamu urus sapu tangan dan kipas, Nii-chan akan memasukkan jimat dan kantung pemanas. Kaa-chan tulis kartu. Nanti kita cek lagi semuanya, bagaimana?"

Himawari tersenyum berseri-ser. "Itu baru Boruto Onii-chan!"

Boruto tertawa bangga saat saling menepukkan tangan dengan Himawari.

Keduanya sibuk memasukkan barang ke dalam paperbag. Potongan buah apel serta lemon, direndam dalam madu dan dua gelas susu, menemani di atas meja ruang tamu.

Berbagi kisah entah apa, yang bahkan kedua orang tua mereka hanya bisa saling pandang dan tertawa pelan.

"Naruto-kun mau kubuatkan teh atau kopi?" tawar Hinata, melirik ketel air panas yang telah melengking.

Ia memutar keran air agar tertutup, memakai lap baru—yang tampaknya tak pernah dipakai oleh pemilik rumah—untuk mengeringkan tangan.

"Oh, kopi boleh." Naruto mematikan kompor. Dia menunjuk deretan kabinet di atas kompor. "Teh hijau ada di atas sini, dan lemari gelas di sebelahnya."

Lemari itu tidak terlalu tinggi, sehingga mudah menggapainya. Hinata menarik pintu almari terbuka, tapi ada tangan menyelinap ke dahinya.

"Hei, Hinata, hati-hati." Naruto berdiri persis di belakangnya, melindungi dahi Hinata dengan tangan, kemudian membukakan pintu lemari ke samping. Menarik toples berisi serbuk teh hijau, pelan mengelusi dahi Hinata. "Kau tidak kena, 'kan, ya?"

Hinata refleks menggeleng cepat-cepat. Pipi memanas hebat. Kilat mengelak ke samping dan mengambil toples dari tangan Naruto.

"U-uhm, kamar mandi di mana?" tanya Hinata, menghindari pandangan heran Naruto.

Sang pemilik rumah menunjuk sebuah lorong. "Lurus saja ke arah sana, nanti ada ruang santai dan teras belakang, lewati terus belok kiri."

Naruto menunjuk ke arah sebaliknya dari lorong tadi. "Kalau kau butuh kamar mandi basah, kamar mandinya ada di ujung lorong sana, ya. Ada ruang cuci dan walk in-closet, lewati saja terus belok kanan."

"A-aku mengerti." Hinata mengusap wajahnya dengan tangan yang setengah basah.

"Omong-omong, maaf kutinggal sebentar, ya. Ada pekerjaan yang mesti kulakukan." Naruto nyengir separuh hati.

Hinata buru-buru mengangguk. Menghela napas perlahan-lahan melihat Naruto beranjak ke dekat perapian artifisial, berkomentar sesekali ketika kedua anak mereka saling berseru tentang isi kantung sambil mengambil remote.

Ia tahu itu perapian gas. Menyala biru kemerahan di balik selapis kaca tahan panas mirip kaca oven, berbingkai dinding hitam anti panas. Tatapan Hinata menanar, hampir tak tahan menyaksikan Naruto meminta anak-anak angkat pantat, bergeser ke dekat perapian agar badan mereka lebih hangat.

Sesudah memastikan putra-putrinya dalam posisi nyaman, Naruto menyalakan televisi agar rumah tidak hanya bising oleh amukan hujan. Tak keberatan dengan mereka yang memberantaki ruang tamunya, Naruto melenggang.

Melempar senyum pada Hinata sekilas, Naruto baru berlalu ke bagian kiri rumah.

Tatkala sosoknya tak lagi terlihat, Hinata mengambil satu toples, dan menjerang teh hijau dalam ketel kecil itu. Meracik kopi dengan krimer. Sedikit mengernyit alis, karena seingatnya Naruto tidak suka kopi.

Mungkin memang, setelah sekian waktu berselang, akan ada satu-dua hal yang berubah dan signifikan. Itu pun tak masalah.

Setelah menyalakan api di kompor lagi dalam proporsi terkecil, Hinata berdiri di tengah konter dapur. Senyum muram bermuara ke wajahnya manakala menontoni antusiasme putra-putrinya heboh dengan bingkisan, yang nanti dimasukkan dalam kardus untuk dikirim ke Helshinki.

Ia memerhatikan interior rumah ini. Modern dengan konsep open kitchen, didominasi warna putih, krem muda, dan cokelat menjurus oranye yang menghangatkan. Terlihat rapi dan jarang ditinggali.

Namun saat mereka tiba di rumah hampir dua jam lalu, Naruto nyengir lebar pada anak-anak dan mengatakan ini rumahnya. Hinata membuang napas panjang.

Rumah ini layak huni untuk sebuah keluarga, dan jelas kalah jauh luas serta mewahnya ketimbang rumah Uchiha.

Mungkin ini cuma perasaan saja. Hinata menghirup napas dalam-dalam. Ada yang hangat, harum bunga entah dari mana, dan sesuatu berharum semenenangkan keberadaan Naruto.

Namun, itu juga tak ubahnya polutan. Memolusi ruang penciuman. Mengorupsi pikirannya bukan ia dan anak-anak yang dapat menempati rumah ini. Oh, astaga, Hinata hanya manusia biasa, masih menginginkan sebuah kesempatan.

Tentang kebebasan.

Lepas dari penderitaan.

Hinata mematikan kompor, bertanya dalam diri bisakah harapan manusia dipadamkan oleh dirinya sendiri semudah memadamkan nyala pi di atas tungku.

Membiarkan beberapa saat sampai serbuk daun teh hijau mengendap, lantas Hinata menghampiri kedua anaknya yang sudah selesai dengan bingkisan mereka.

"Otsukaresama deshita." Hinata mengelusi rambut putra-putrinya yang nyengir bangga. Mirip sekali dengan ayah biologis mereka.

"Tinggal Kaa-chan nanti menuliskan pesannya, coba tanya Tou-chan, tuh. Entah apa maunya." Boruto menjajarkan kantung-kantung hadiah, menatanya satu per satu dalam sebuah kardus besar.

"Tulisan tangan Kaa-chan sangat bagus. Tidak akan memalukan untuk dibaca murid-murid Tou-chan." Himawari mengangguk-angguk. Kalau bisa bola matanya melebar, pasti itu telah terjadi saat ia menepuk gemas paha sang kakak. "Nii-chan, lihat-lihat rumah Tou-chan, yuk!"

"Tsk. Rumahnya begini saja, tidak lebih dari rumah kita." Boruto mendengkus, tapi membiarkan dirinya ditarik oleh Himawari untuk bangun.

"Jangan memberantakkan rumah ini, ya. Kasihan Tou-chan nanti merapikannya." Hinata memungut garpu yang terjatuh ke karpet. Memakai tisu yang ia beli untuk mengelapnya, barulah dipakai menusuk sepotong apel yang ia lahap sendiri.

Hinata hanya bisa tertawa, pelipur lara hatinya hanya anak-anak. Sekalipun kadang ada waktu di mana mereka tak mendengarkan, tapi kalau tawa mereka telah merebakkan kehangatan, tak peduli di mana mereka berada, itu mengikis gulana dan kelelahan yang selalu dirasakannya.

Menghindari Sasuke tiap malam dan pagi saja tidak cukup. Hinata memeluk sendiri perutnya. Untung mendadak tiba-tiba terdengar guntur menyambar dan pekikan kaget Himawari, meredam ringisan yang ia tahan.

"Masa begitu saja takut?" Boruto mengelusi kepala pundak sang adik yang bersembunyi di punggungnya.

"Maaf, suaranya kencang sekali. Bikin kaget saja." Himawari berjengit tatkala ada gelegar petir lanjutan.

Boruto nyengir lebar. Mengacak-acak rambut Himawari dan menggenggam tangan adiknya. "Kita dalam rumah, kok. Lagi pula, kau tidak sendirian, oke?"

Himawari masih tampak ragu, tapi toh ia mengangguk. Kebiasaan anak-anak apabila tak ingin merepotkan orang lain untuk mengkhawatirkannya.

"Ayo kita lihat-lihat saja!" Boruto menarik tangan Himawari mendekat ke pintu geser kaca.

Hinata sudah menghancurkan butiran yang menyesaki pelupuk matanya, sejak Boruto menyatakan mereka ada di dalam rumah. Lucu bagaimana Boruto baru sebentar di sini, langsung bilang tempat ini rumah—meski sang ibunda mengerti maksudnya bukan begitu.

Boruto bahkan bilang bahwa rumah megah Uchiha adalah istana.

Andai saja Hinata berani bilang pada putra sendiri, bahwa ia bukan ingin bersama dengan seorang raja. Tidak perlu jadi ratu, tidak butuh anak-anak menjadi tuan putra maupun putri.

Siapa pula menghendaki tinggal di istana, jika rasanya lebih seperti penjara?

"Uwoooh! Kolam renang dan taman!"

Hinata menoleh mendengar seruan antusias Himawari.

Rumah di Jepang, jarang ada yang luas maupun berfasilitas. Maklumi keterbatasan lahan.

Namun Hinata melihat cahaya kebiruan dari lampu kolam renang, berpadu sinar lampu taman, menciptakan nuansa remang yang cantik di balik pintu geser kaca berlapis tirai yang terurai.

Di sisi kolam renang, ada gazebo dan taman kecil. Dinding kawat yang dipenuhi tanaman rambat, dan bergantung pot-pot tanaman herbal. Di sebidang tanah lainnya, ada pohon sakura yang menghijau, dan teduh oleh rimbunnya semak bunga Ajisai.

Ada Hydrangea putih, biru, dan ungu. Semarak padu-padan warna yang lembut. Belum semua mekar, sehingga Hinata bangkit untuk mendekat pada kedua anaknya. Mengajak mereka menunduk.

Hinata merangkul kedua anaknya. "Kalian tahu, kepercayaan orang tua kita, bahwa kalau Ajisai masih dalam masa nanahenge dan sedang hujan, kita mesti berdoa?"

"Apa itu nanahenge?" Himawari menelengkan kepala.

Boruto melebarkan senyuman. "Nickname bunga Hydrangea, artinya tujuh transformasi. Bunga Hydrangea makin bagus kalau banyak terkena hujan. Ya, 'kan, Kaa-chan?"

Hinata mengangguk, menepuk pundak kedua anaknya seperti dulu ia menepuk-nepuk lembut mereka saat masih bayi. "Iya, karena itulah kita mesti berdoa. Begini bunyinya: hujan jangan berhenti, sampai Hhydrangea mekar sempurna."

Kedua anaknya itu mengikuti doa yang ia ajarkan dengan khusyuk. Yang situasi khidmat itu terpecah ketika tiba-tiba Boruto mengangkat kepala. Ia menepukkan tangan.

"Samurai di periode Edo, mengabaikan kemampuan beradaptasi Hydrangea yang berubah-ubah sesuai musim, sempat percaya bahwa bunga ini immortal." Boruto mengetuk-ngetuk pintu kaca. "Dari sekitar tahun 1618 sampai 1868.

"Hydrangea juga pernah ada di puisi dari periode Nara, tahun 710-794. Kalau dari selama itu sampai sekarang Hydrangea masih saja bermakna, memang berarti Hydrangea bisa dibilang immortal. "

"Ini dia kakakku yang murid teladan." Himawa terkikik seraya merangkul kakaknya yang tertawa bangga.

Hinata membuka mata. Penghujung jemari menemui pintu kaca yang di sisi lain ditempeli butir-butir lembut hujan, meluruh ke kaki pintu, terempas cambukan angin yang garang menggemertak sekujur daerah setempat.

Ia menyimak percakapan kedua anaknya, seraya mendengarkan alunan hujan.

Musim transisi yang dan hujan selama beberapa waktu yang hanya sebentar, tersisip di antara siklus agung keempat musim lainnya.

"Setahuku, sekelompok Hydrangea yang bersemi, itu merupakan simbolisasi dari persahabatan selamanya, ikatan kekeluargaan, dan cinta yang masih saja dipertahankan," ujar Himawari.

Hinata terusik karena cetusan putrinya, terlebih melihat putranya malah mengangguk sekaligus mengedik bahu.

"Menurutku, perubahan bunga Hydrangea bisa sampai tujuh kali, malah seperti inkonsistensi, perlambang kesedihan yang tidak akan permanen, perubahan pola pikir, dan lain-lain." Boruto menatapi Hydrangea Ungu yang nyaris rontok ditebas sambitan keras angin. "Tetapi, kalau soal cinta, yang kutahu Hydrangea berarti hopeless love."

Memori hari itu berkelibatan di benak Hinata.

Apa yang ada di balik gerbang mewah rumah Uchiha.

Petir yang berontak pada langit di kejauhan.

Himawari dengan boneka dalam pelukan, Naruto berlutut di depannya dengan lighter di tangan.

Suara keras makian Boruto dulu kala.

Isak tangis Himawari yang menyayat hati.

Pagi buta.

Sasuke berdiam diri ketika ada tangan-tangan yang menangkap tubuhnya.

Gelap.

Begitu mata terbuka, ruang remang.

Orang-orang. Ada terlalu banyak.

Bunyi pukulan bertubi-tubi.

Gelap.

Tetes-tetes darah.

"Semua ini salahmu, membawa putri klan kami kawin lari!"

Hinata terhenyak, dan bukan karena menyimak percakapan Boruto dan Himawari ala perdebatan akademisi. Sudut-sudut mata berkedut. Dia berdeham pelan.

"Yuk, masuk." Hinata merangkul kedua putra-putrinya yang mau saja dibimbing kembali ke sofa, merapikan tirai pintu kaca seperti sedia kala. "Di sini dingin sekali. Kaa-chan khawatir kalian akan kena flu, apalagi tadi hujan-hujanan."

"Kita nonton televisi saja, Himawari." Boruto menggamit tangan sang adik, menggiringnya kembali merebahkan diri ke sofa. "Itu pun kalau Tou-chan tidak pakai antenna yang butuh digeser-geser, atau TV yang mesti digebuk dulu."

"Boruto Onii-chan tidak usah mendrama begitu, Nii-chan masa tidak bisa lihat ini TV bagus, dan ada decoder TV kabelnya?" Himawari memungut remote televisi. Mengecek channel yang ada, berbinar-binar kala menggonta-ganti siaran, membiarkan Boruto memonopoli bagian sofa yang bisa meluruskan kaki.

"Lihat? Channel-nya sangat banyak, sampai siaran stasiun luar negeri juga ada!" Himawari nyengir dengan riang hati.

Hinata mengamati mereka berdua. Terlalu cepat menyamankan diri di rumah yang tak pernah mereka tempati, barulah menyelinap ke konter dapur. Menuangkan teh yang tak lagi mendidih ke dalam gelas.

Boruto lurus menyelonjorkan kaki di bagian panjang sofa, tengah memilih acara yang menarik. Himawari berbaring dengan paha sang kakak, bantal jadi alas kepalanya sembari mengecek ponsel. Tangan lain Boruto asal mengelusi rambut Himawari yang mengikal.

Ia tertawa kecil melihat sepasang remaja memenuhi sofa. Mereka terlalu nyaman untuk ukuran pendatang.

Kalau sudah akur begini, Hinata berusaha menahan diri untuk tidak menggoda mereka. Untung keduanya sibuk sendiri. Ada waktu di mana mereka takkan mencari sang ibunda.

Hinata menyingkir dari kualitas waktu yang tengah kedua anaknya dapatkan.


Membawa sepasang gelas berisi teh dan kopi, Hinata berjalan menuju arah yang tadi Naruto tuju. Ruang bersantai yang menghadap ke bagian depan rumah.

Tidak seperti bagian lain rumah yang terkesan hangat, bagian ruang bersantai ini terlihat lengang karena jarang ada perabot.

Modern minimalis dengan sentuhan monokrom hitam, putih, dan abu-abu. Rak berisi buku-buku dan beberapa pajangan. Meja kerja yang menghadap pintu kaca. Penerangan dengan lampu putih terang-benderang.

Ada ruang bersantai lain yang lebih kecil. Minimalis dan spasius daripada dapur serta ruang tamu—atau keluarga, mungkin. Hinata mememelankan langkah kaki, meletakkan dua gelas minuman di atas meja.

Naruto sedang men-charger laptop, duduk persis di depannya dengan telepon persis di telinga. Belum berganti baju dari tadi, bahkan masih pakai jas setengah basah. Tidak pula sadar ada Hinata persis di belakangnya.

Hinata menajamkan pandangan. Ia melihat ada tiga pigura foto di meja kerja Naruto.

Foto pertama adalah Naruto di depan kedai, memeluk papan bertuliskan Ichiraku Ramen dengan beberapa orang.

Seseorang pria paruh baya, nona muda, pria kekar dengan kulit coklat kemerahan, pria lain berkulit gelap dan rambut putih kusam serta berkacamata, dan pemuda dengan rambut dicat oranye kemerahan—nyengir bangga sehingga taring runcingnya terlihat.

Foto lain ialah potret Naruto lengkap dengan mantel dan atribut tebal menghalau dingin cuaca, seorang pria berambut putih panjang dengan celengan katak di tangan, dan pemuda-pemudi perpaduan ras mongoloid dengan kaukasoid.

Latar foto mereka adalah sebuah ruang kelas, dengan pintu kaca bening menampakkan lapangan berselimut salju. Ada mading bertuliskan yang tampaknya adalah nama sekolah: TYK, Töölön Yhteiskoulo.

Menaksir bilangan usia para remaja, mungkin itu ada satu kelas di sebuah SMA di Helshinki.

Foto terakhir mencekat napas Hinata. Satu foto lusuh Boruto dan Himawari waktu masih belia.

"... aku juga tidak tahu siapa yang mengobrak-abrik ruang kelasku semalem. Heh," Naruto mendengus, nada suaranya terdengar berbeda, airmuka tampak begitu serius, "mana mereka pasti tambah curiga karena aku terpergok Akatsuki mencari tahu ruang kelasmu dulu itu di Area Terlarang."

Bukankah dilarang memasuki Area Terlarang karena itu wilayah staff? Hinata mengatup mulut, memilih mendudukkan diri di sofa.

"Nah, kan, apa kubilang. Ini map yang dilampirkan saat technical meeting waktu itu, menghilangkan beberapa area yang semestinya ada. Mana mencurigakan sekali nama rektor Hidden Schools dan Rumah Asrama, sama-sama disembunyikan."

Itu memang benar, Hinata diam-diam menyetujui. Gurat kebingungan muncul di keningnya, berusaha menebak jalan percakapan Naruto yang entah dengan siapa.

Naruto memindahkan ponsel ke tangan kiri, kemudian tangan kanan mendarat di atas tetikus dan mengklik beberapa kali. "Woi, Kurama, yang kaukatakan terakhir kali benar. Sekolah ini sinting. Bukan hanya para guru saling memaki siang tadi, masa ada kelas masturbasi?!

"Ah, mana si Sasuke—iya, adik Itachi yang temanmu itu—yang mengajar, dia bilang itu terobosan!"

Ada suara tawa membahana dari seberang sambungan. Respons seseorang di seberang sana pasti menyebalkan, sampai-sampai kemudian Naruto mendengus keras.

"Entah, mungkin pikiran dia mendadak menyempit berpikiran kebebasan berekspresi mesti melalui masturbasi. Kayak tak ada cara lain saja mengajari anak-anak untuk berekspresi." Naruto berdecak, jemari mengetuk-ketuk wireless earphone bluetooth di telinganya. "Sebentar, suaraku tidak terdengar? Di-jamming atau cuma karena hujan, ya?"

Orang di seberangan sambungan menyahut lagi. Hinata tidak bisa menangkap apa yang ia katakan, terlebih dengan kegaduhan hujan di luar ruangan.

"Aku tidak bakal pakai metode kayak begitu—oh, Kurama!" Naruto mengelus-elus dada, nada suaranya merana. "Tadi saat bocah-bocah OSIS memergokiku, ada pemuda yang mirip sekali dengan Itachi. Namanya juga Itachi!"

Hinata meraih satu gelas teh untuk ia sesap sendiri. Terbayang sosok adik iparnya yang pendiam. Wajahnya menua oleh ekspektasi yang terlalu masif, sang kakak yang tak pernah mengakui keberadaan dirinya, tapi seketika melembut dan tampak muda kala bermain dengan ponakan.

Meskipun Boruto dan Himawari tak bertalian darah dengannya, tapi Itachi-kun tak pernah membedakan antara mereka berdua dengan Sarada.

Tidak juga ia membocorkan pertemuannya dengan ketiga ponakan. Pintar agar tak terjangkau radar keluarga Uchiha yang tak pernah menghendaki adanya Sarada.

"Serius, mirip sekali dengan Itachi Uchiha yang di foto kelasmu dulu itu." Naruto mengusap-usap punggung lengannya. Menengoki layar telepon berulang kali, berdecak keras dan menggerutu, "Sialan, naik atap cari sinyal, sana!"

Hinata mengintip dari celah bahu dan lengan Naruto. Ada sebuah file dengan deretan coding dan sandi yang ia tidak mengerti.

"... halo? Suaranya kok tidak ada. Jangan-jangan benar ini kena jamming?" Naruto menelengkan kepala. Menoleh pada Iphone-nya, tercengang memandang layar. "Sinyalnya hilang!"

Naruto meletakkan ponsel, mendengus gusar. Menjambak rambut sekilas sambil memandangi layar. Menggerutu tak tentu. Membuang napas panjang, tersadar tindakan barusan tak ada gunanya.

Hinata senyap menyesap teh. Bibir berhenti di tepi cangkir begitu Naruto bangkit. Sangat lelaki saat melepas jas kulit oranye menjurus merah setengah basah yang ia kenakan. Mengempas jas pada sofa single tak jauh darinya.

Ia nyaris menggigit tepi gelas, melihat bagaimana lekat kemeja hitam itu melekati badan muskular Naruto, serasi dengan celana hitam yang pria itu kenakan. Tak henti mengawasi Naruto melenggang ke lemari untuk menaruh dompet dan kunci mobil.

Ada kalung berbandul kristal, tergantung di leher dan kemeja hitam Naruto. Seperti bintang yang menyeruak di petak langit malam. Bersanding dengan dasi yang sama hitamnya.

Pandangannya meredup. Dulu, selalu Hinata yang memasangkan dasi itu pada Naruto. Di masa lalu, waktu mereka masih bersama, Naruto akan selalu meminta tolong padanya untuk dipakaikan dasi.

Hinata antara tersenyum dan tertawa, karena keluhan Naruto yang tidak bisa juga pakai dasi sendiri, atau memang ada binar iseng di mata biru itu. Alasan saja agar bisa memeluk sang istri, menunduk untuk menekuni tiap inci relief cantik wajah Hinata, sampai wajah sang wanita memerah.

Ada juga hari di mana Naruto akan mencuri kecupan, kemudian pamit berangkat kerja. Meninggalkan Hinata dengan Boruto—dan kemudian Himawari juga—dalam pelukan.

Aneh, bagaimana bisa ia merasa kehilangan hanya karena sekarang melihat dasi Naruto selalu terpasang rapi.

Ada masa di mana Hinata tak bisa mencegah dirinya bertanya-tanya, mungkinkah ada perempuan lain yang menyimpulkan dasi di pangkal kemeja Naruto.

Namun sejauh ini, tak pernah ada tanda-tanda wanita di sisi Naruto. Seharusnya ia tak merasa lega, lantaran mengingat statusnya yang terikat oleh lelaki lain.

Hinata nyaris menangis memikirkan hasil check-up yang ada di tangan Neji dan Sakura. Perasaan mengerikan ingin lari atau mati membludak. Ia cepat-cepat meletakkan gelas. Mungkin ini pilihan yang tepat.

Maka yang andil dalam menyeka semua pemikiran mengerikan itu, ialah memerhatikan pria yang tengah membuka kancing kerah kemejanya. Tidak ada manis-manisnya, sama sekali tidak elegan pula.

Namun, sanggup mengenyahkan napas Hinata manakala melihat jemari itu melonggarkan kerah kemeja. Cepat menarik dasi ke samping, lalu Naruto melepas pin dasi dari kerah kemeja, entah mengapa tampak seksi saat lamat-lamat menurunkan simpul dasi.

Naruto membiarkan simpul dasi tak terurai, setengah menggantung di dada bidang berlapis kemeja hitam. Tangan menyeka dari hidung turun terus ke dagu. Bibir atas menyesap bibir bawah, lalu terbuka dan meloloskan helaan napas. Mata biru berpendar fokus. Airmuka serius, mematut hujan yang tak juga mereda.

Ujung ibu jari sebelah kiri tertekuk ke dalam saku celana. Kedua kaki berdiri tegak, tanpa acara tekuk satu kaki ala bocah. Ekspresi sebal menghilang dari wajah Naruto, digantikan senyuman samar.

Hinata kikuk di tempat duduk. Menelan ludah menekuni profil samping sosok Naruto. Alih-alih menorehkan kesan tua, maka yang benak patri ialah: dewasa. Menganulir kekecewaan dalam dirinya dengan pikiran Naruto bisa memasang dan melepas dasi sendiri.

Sungguh, Hinata tak keberatan berapa kali pun mesti memasangkannya, bila nanti Naruto akan menurunkan dasinya lagi seseksi itu.

Hamburan napas berikutnya, barulah Naruto beranjak dari depan lemari. Mengerjapkan mata beberapa kali. Guntur menyambar tepat saat ia melihat Hinata, dan anehnya, ia bahkan tidak berteriak. Seolah sudah lupa diri yang dulu, takut oleh hantu.

Sepasang mata biru itu cuma melebar sebentar.

Hinata mencoba tak melakukan kesalahan amatir nan fatal, tengok kanan-kiri bagai gadis remaja terpergok mengamati pemuda yang dipuja.

Berusaha tenang, ia menyelipkan rambut ke belakang telinga. Salahkan Naruto yang bukannya menjerit ketakutan, malah tersenyum dan memandangnya lunak.

"I-ini kopimu." Hinata menggeser tatakan dengan cangkir berisi kopi.

"Terima kasih. Maaf menyusahkanmu lagi," kata Naruto.

Hinata menggeleng, menutupi kegugupan dengan senyuman. "Hanya membuatkan kopi, kok."

Tatkala Naruto mendekat, Hinata tidak bisa melepas tatapannya dari garis leher Naruto. Sedikit mencelos melihat luka yang membekas, dan tahu persis hulu luka itu ada di punggung sang pria.

Naruto mengambil cangkir kopinya. Mematikan laptop, kemudian mengoperasikan Iphone-nya lagi. Dari aplikasi yang terpapar di layar, Hinata menyimpulkan Naruto tengah mengabari entah apa pada Kurama.

Hinata jadi punya waktu memandangi punggung Naruto. Tak tahu harus lega atau bagaimana, mendapati punggung itu kini begitu tegap. Terlihat kokoh dan sanggup menopang beban dunia.

"Anak-anak mana?" tanya Naruto, seusai meletakkan Iphone kembali ke meja.

Hinata meraih lagi cangkir tehnya. "Sedang menonton televisi."

Hinata merapatkan kedua kaki ketika duduk, pula kardigan putih yang ia kenakan. Merasa seperti gadis kecil bertahun lalu tiap bertemu pujaan hati.

Jika saja sofa ini adalah air, maka Hinata akan memilih tenggelam ke dalamnya daripada menyelam tatapan sepasang mata biru sedalam samudera.

Sedikit banyak, Hinata lebih memilih Naruto dalam kemeja putih seperti dulu kala. Serasi dengan kulit cokelat terbakar matahari. Alih-alih dalam nuansa hitam-hitam, seperti berduka atau kuda hitam yang hendak menantang dunia.

Tanpa sadar bibirnya menekuk ke bawah. Dalam hati ia memikirkan, ada berapa banyak wanita yang akan jatuh ke pelukan Naruto—kalau Naruto mau berpenampilan seperti ini tiap hari. Barulah senyumnya kembali lagi.

Oh, ya, biarkanlah para kolega kerja garis miring banteng wanita itu menyeruduk Sasuke saja. Asal bukan Naruto yang mereka tunggangi, Hinata sadar dirinya baik-baik saja selama itu tidak terjadi.

Senyum terpupus. Pipi Hinata memanas saat mendengar tawa sekilas Naruto, juga bagaimana sorot mata biru itu menghangat kala memandangnya. Senyuman menawan yang disembunyikan di balik cangkir kopi.

Hinata familier dengan tatapan itu, yang selalu menjadi alasannya untuk datang pagi buta ke sekolah. Pelipur lara agar ia tak lagi merana. Yang mengenyahkan mimpi buruk.

Bagi Hinata, mimpi buruk itu ada dua. Memejam ataupun membuka mata sampai tak ada bedanya, nirwana alam bawah sadar tiada apalagi realita. Setidaknya, hingga Naruto kembali ada.

Ia tak lagi bermimpi, karena tatkala membuka mata, ada tatapan Naruto yang menemaninya ketika tak ada siapa-siapa di sekitar mereka.

"Apa kau keberatan kalau aku bertanya soal anak-anak?" Naruto berpindah posisi untuk duduk di sofa di hadapan Hinata.

"Tidak." Tanpa sadar sudut-sudut bibirnya terangkat begitu mudah. "Kau berhak untuk tahu."

"Aku tahu ini akan membosankan, tapi ..." Naruto meletakkan cangkir kopi, tersenyum antusias, "... bagaimana perkembangan anak-anak?"

"Oh, kukira Naruto-kun ingin tanya anak-anak sudah pintar apa saja." Hinata tersenyum dengan helaan napas disisip tawa. "Dulu kau suka bertanya begitu."

"Aku sedikit memvariasi pertanyaan." Naruto terkekeh. "Intinya sama saja."

Hinata memeluk mug teh hijau, denyut dalam dadanya melembut merasakan nuansa nostalgik mengembang hangat di antara mereka. Bertutur panjang-lebar tentang pertumbuh-kembangan kedua anak mereka yang Naruto lewatkan. Menjawab pertanyaan di sesekali Naruto menyela untuk bertanya.

Ia sengaja tak bercerita tentang hal-hal yang berkaitan mengenai Uchiha, bukan karena kasihan pada Naruto, melainkan memang itu bukan hal menyenangkan untuk diceritakan.

Mulai dari insiden waktu kecil. Boruto jatuh dari sepeda. Kenakalan khas anak lelaki, bertengkar—bedanya putra mereka tak ragu untuk menolong anak orang yang dibuli.

Hinata menghela napas panjang. "Kurasa yang melegakan dan membanggakan adalah di bagian, Boruto mengerti, bahwa yang salah bukan korban. Dia berani membela mereka yang ditindas."

"Untung Boruto kita tidak begitu. Boruto tidak membenarkan mereka yang melakukan hal keliru." Naruto menepuk pahanya agak keras, kelewat antusias.

Hinata mendesah saat menyandarkan punggungnya ke bantal sofa. "Sayang, tidak semua anak bisa berpikiran seperti itu."

Naruto berdecak. "Aku heran dengan stigma orang-orang kalau ada anak dibuli, maka yang salah ada korban buli itu sendiri. Mereka keroyokan mengejek dan merisak anak yang tak melakukan apa-apa, cuma karena hal sesepele kadang pakai tas talinya kepanjangan, gaya pakaian, artis kesukaan, orang yang tak disenangi, tak sesuai selera mereka."

"Nanti anak itu akan dibilang lemah mental, pengecut, bodoh, cengeng, dan menyebalkan. Kalau sang anak mengadu pada orang dewasa, guru, ataupun orang tua, dibilang tukang adu."

Hinata mengangguk. "Padahal kalau dipikir-pikir, para pembuli yang memulai masalah sendiri, aku tidak mengerti kenapa banyak orang malah menyalahkan si anak yang dibuli. Logika mereka di mana sebenarnya?"

"Ini cuma dugaanku, sih, tapi kurasa orang-orang suka sesuatu yang heroik." Naruto mengedik bahu. "Siapa tidak suka drama seseorang yang bangkit saat dibuat terpuruk sampai terjatuh, balas menyerang dan tidak mau tunduk pada penindasan?

"Lebih seru lagi, kalau para korban from zero to hero ini nantinya berperan bagai pahlawan: menyelamatkan dan memotivasi banyak orang karena perjuangannya."

"Benar, tapi terdengar fiksional. Itu dalam skala kecil, mereka hanya melihat pada satu orang saja." Hinata menggeleng, memandang serius pada Naruto yang tengah bertopang dagu.

Naruto mengembang-kepiskan hidungnya. "Iya, kebanyakan orang hanya fokus pada korban saja. Logikanya dibuat terbalik."

Hinata sedikit menelengkan kepala. "Kalau dalam skala lebih besar, dampak mewajarkan perilaku risak dan buli semacam itu, adalah masyarakat membina para generasi bangsa yang tak beradab, tak bertika, tak tahu sopan-santun, tak tahu bagaimana caranya menghargai dan menoleransi. Tidak mengerti caranya memanusiawikan manusia.

"Sementara yang bisa bangkit sendiri terhitung jari. Kejujuran dan kebenaran saja bisa dihancurkan dengan kejahatan bersekutu, apa lagi seseorang yang tak berdaya saat dirempuk banyak orang."

Naruto menatap takjub Hinata, sedikit pupus tatkala mengangguk menyetujui. "Ironisnya, mereka masih bertanya bahkan menyalahkan, kenapa anak-anak zaman millenial menjadi sangat tidak sopan."

"Menurutmu kenapa banyak orang tua seperti itu, Naruto-kun?" Hinata menatapnya dengan saksama.

"Well, aku berkaca pada diri sendiri saja." Naruto menampakkan senyuman menyesakkan. "Dampak masih bocah punya anak, mentalnya belum cukup siap untuk bersabar membesarkan, menumbuh-kembangkan anak sendiri. Itu kesalahanku, tak heran kenapa Boruto bersikap begitu padaku."

Pandangan Hinata melunak pada Naruto. "Bukan kau saja, aku juga. Mungkin selama kita mengajari anak-anak selama ini, terdapat kesalahan. Namun, yang sekarang bisa kita lakukan, adalah belajar dari pengalaman."

Naruto merinding dengan kalimat terakhir yang Hinata ucapkan, mungkin pula tatapan yang menyorotkan pengertian. Ia menunduk karena matanya terasa panas.

Padahal Hinata tahu asal-muasal keluarga dan orang tuanya tak pernah jelas. Bahwa ia jadi seperti di masa muda dulu, karena tak pernah mendapatkan bimbingan orang dewasa. Kecuali dari Iruka-Sensei dan Hiruzen Sarutobi di kemudian hari, yang sekarang ia baru bertemu kembali.

Hinata tak pernah menyalahkannya tumbuh sebagai pemuda urakan, hanya karena tak ada orang tua. Seakan mengerti dengan hati, memang bukan mau Naruto sendiri tidak punya orang tua.

Pula dari senyum yang menyebabkan hati Naruto berdarah-darah tak kasatmata—karena rindu ini tak pernah bisa ia tampik, Naruto mengerti Hinata yang juga mengerti. Ia telah belajar banyak dari kebodohan dan kelemahan masa lalu.

Terbatuk kecil, Naruto mengangguk. Jemarinya mengeratkan genggaman di cangkir kopi. "Menurutmu apa aku bisa?"

"Kau bisa," senyum Hinata agak menyurut, "tapi hasilnya bagaimana, itu yang aku tidak tahu."

Andai Hinata melemparkan jawaban "Kau pasti bisa, Naruto-kun.", Naruto mungkin malah akan bertambah pesimis. Dengan bayangan, kalau ia gagal, maka yang pertama kecewa pasti Hinata. Belum lagi anak-anak mereka.

Namun jawaban itu cukup untuk menerangkan, bahwa Hinata tidak membebaninya dengan harapan. Ada hal yang Hinata tak katakan, tapi Naruto mengerti.

Bahwa ada begitu banyak faktor yang bisa menggagalkan upaya Naruto berbaikan dengan kedua anak mereka, dan mereka sama-sama mengerti betapa terjal nan mengerikan hadangan yang mesti Naruto hadapi.

Tatkala Naruto menangkap pandangan Hinata berubah berkaca-kaca, jarinya gemetar memeluk erat mug teh, ia dijerat perasaan bersalah.

Hinata tidak tahu apa yang sedang ia coba upayakan. Ketakutan merajam dan memenjara Hinata sejak hari mengerikan itu.

"Terima kasih, Hinata." Naruto memulas senyum tipis. "Aku tidak akan memaksakan kalau tidak bisa."

Kebohongan manis. Mulus sekali. Dasar munafik. Naruto menepis dengungan suara menyebalkan dan gahar Kurama. Manusia itu hobi mengejeknya dari bertahun-tahun lalu.

Biarlah begini saja, setidaknya Hinata tampak lebih lega dan mengangguk. Walau kilat matanya meredup. "Apa yang bisa seseorang lakukan, manakala ada banyak orang menyalahkan ..."

Naruto tahu kata-kata itu terdengar tidak tepat, maka ia mengoreksi dengan hati-hati, "Bersekutu menghancurkanku, maksudmu?"

Hinata membeku mendengar hal itu, sehingga Naruto bergegas memasang senyum bahwa ia tak lagi terpaku pada masa lalu.

Ketiadaan tanggapan membuahkan keheningan. Sejenak tak satu pun dari mereka berkeinginan memetik buah sunyi yang menggelantung, mekar di seantero ruangan, jika tidak menghitung gemersik langit yang menggelontorkan hujan.

Naruto sengaja memandang pekatnya hitam kopi, bertanya-tanya mengapa hari ini pahitnya tak terasa.

Pandangan Naruto kemudian, melembut pada Hinata. "Tidak semua orang bisa jadi pahlawan untuk orang lain. Bahkan terkadang, tidak untuk diri mereka sendiri."

Hinata memilih meneguk tehnya lagi. Di balik cangkir minuman, ia mengerti bahwa Naruto juga mengerti, mereka berdua sama-sama paham apa yang hendak mereka sembunyikan.

Bahwa mereka sama saja.

Sampai detik ini pun, tak mampu jadi pahlawan untuk diri mereka sendiri.

Selama ini, tidak juga keduanya tahu harus bagaimana dan melakukan apa selain bertahan.

"Omong-omong, Hinata," Naruto nyaris terkekeh mendapati Hinata menghela napas tatkala topik dialihkan, "Itachi Uchiha yang anak OSIS itu ... benar adiknya si Sasuke?"

Naruto mendapati aliran dingin keringat. Seakan menyaksikan mendadak garis-garis latar kesuraman yang komikal melatari Hinata. Astaga, ia memaklumi Hinata sama sekali tak menyenangi sang suami, tapi sampai seperti ini?

Ke mana Hinata yang bersahaja dan baik hati?

Apa yang Sasuke lakukan sampai-sampai menjadikan Hinata sebegini antipati padanya?

"Ehm."

Naruto menelan ludah mendengar gumam pendek Hinata. "Err ... aku pernah dengar bahwa Itachi Uchiha itu kakaknya."

"Maaf, aku tadi mendengar percakapanmu dengan temanmu yang kaupanggil Kurama-san, Naruto-kun," ucap Hinata seraya menunduk penuh sesal.

"Kaudengar mulai dari mana?" tanya Naruto cepat.

Hinata sedikit mengernyit alis.

Ia tidak mungkin keliru mendengar nada urgensi dari pertanyaan Naruto, walau pria itu malah menyandarkan diri ke sandaran sofa seolah tengah membuat dirinya tampak rileks.

Menegapkan sedikit duduknya, lalu Hinata menjawab, "Dari kaubilang ruang kelasmu diobrak-abrik. Benarkah?"

Naruto diam beberapa lama, menyesapi kopi sedikit dan menikmati pahit yang tak dapat disembunyikan gula.

"Ehm." Naruto mengangguk, menggeser kelas kopi dari depan bibir.

Hinata menimang sejenak. Mengeratkan dekapan pada gelas tehnya. "Kenapa Naruto-kun mencoba mencari Area Terlarang?"

"Penasaran saja." Naruto mengangkat bahu. "Hinata, kau tahu apa itu Area Terlarang?"

"Setahuku, itu tempat staff Hidden Schools." Hinata menekan rasa mulas melilit yang terasa lagi di perutnya. "Dugaanku, itu tempatnya para Rektor dari kepala sekolah para asrama, ketua dewan sekolah, dan ketua dewan siswa berkumpul."

"Waktu aku menerima surat penerimaan ke sekolah ini, ada lampiran map peta Rumah Asrama dan publik Hidden Schools. Namun baik dalam peta maupun map, ada area yang dihitamkan, dikategorikan Area Terlarang." Naruto memetik jari. "Aku baru ingat, area kelas masturbasi Sasuke dekat area itu pula."

Hinata tersedak teh yang tengah ia sesap. Kelas Sasuke yang satu itu memang melegenda dan selalu jadi kontroversi tiap tahunnya.

Ia menggigit bibir ketika tatapan Naruto menajam padanya.

"Tadi, saat selesai mengajar kelas Astronomi dekat taman, aku dan anak-anak kelas Kyuubi berlari. Tidak sengaja lewat satu dari tiga kelas Hebi yang dekat Area Terlarang, ternyata sedang berlangsung kelas masturbasi."

Hinata tercengang mendengar penuturan Naruto. Tak sengaja menginterupsi sesi belajar kelas Hebi, memulangkan paksa seorang siswi, murid kelas Kyuubi berlari-lari, sampai akhirnya ketiga anak tersayang bisa ikut bersamanya dalam mobil.

"Pantas saja Sarada tidak mau masuk kelas, ya," Naruto menutup uraian itu, tersenyum geli karena mendapati Hinata mati kutu di tempat duduknya. "Untung Himawari tidak di kelas Hebi."

Hinata mengangguk kuat-kuat. Gigi-giginya bergemelutuk, terbersit ngilu dalam dirinya membayangkan Himawari mesti menelanjangi diri. Dipaksa mendapatkan kenikmatan depan orang lain.

Ia sesak napas hebat memikirkan bagaimana Boruto tadi pagi menyergah dengan senyum cerah, tidak apa-apa, Kaa-chan! Aku akan baik-baik saja. Toh, Sasuke Chichi-ue tidak akan tega padaku.

Untungnya tidak, Nak. Dia cukup tega padaku saja, kalian jangan. Hinata membiarkan jeritan itu terbekap batinnya saja.

Hinata sungguh tak rela, putranya juga diobjektifikasi secara seksual. Ia telah bicara pada Sasuke sebelumnya, tapi percuma saja.

"Mmm ... apa memang kelasnya guru baru selalu diacak-acak di Hidden Schools, atau cuma aku saja?" Naruto menegapkan duduknya.

Hinata menggeleng lamat-lamat. "Maaf, aku tidak tahu."

Naruto mengangguk-angguk mafhum. "Apa ada kelas rahasia yang tidak dipublikasi?"

"Sepertinya ada. Karena setahuku, Sasuke-kun mengajar seratus murid tingkat chuunin dan jounin, tapi kelas Hebi hanya berisi 40 orang. Aku tidak tahu ke mana sisanya." Lagi-lagi Hinata menggeleng.

Hinata tak melewatkan bagaimana Naruto memincingkan mata, raut wajah berubah dicemari kekhawatiran.

Naruto menegakkan duduknya. "Hinata, selain kelas masturbasi, apa kau tahu kelas eksperimentasi apa lagi yang berbeda?"

Sejenak sang wanita termenung. Memejamkan mata dan berusaha mengingat-ingat. "Aku tidak tahu, tapi saat nanti Gallant War, akan ada beberapa kelas yang tiba-tiba saja muncul. Murid-muridnya turut berpartisipasi."

"Ada yang aneh dari para murid itu?" kejar Naruto lagi.

Hinata langsung mengangguk. "Mereka terlihat muram, tapi sangat bertekad untuk memenangkan Gallant War."

"Ah, kompetisi yang Boruto bilang itu." Naruto manggut-manggut. "Kompetisi dalam edukasi?"

"Iya, ada beberapa kompetisi edukasi yang dikontestasi." Hinata menaruh gelas teh ke meja. "Gallant War itu semacam laga terbuka di Hidden Schools, untuk setiap Rumah Asrama dan kelas saling bertarung.

"Pertarungan itu ada antar-guru, murid, kelas, juga Rumah Asrama, untuk dinobatkan siapa-siapa saja yang terbaik. Nanti akan digelar pas musim panas."

"Kontes kecerdasan, semacam cerdas cermat atau debat?" sela Naruto.

Hinata meraih bantal untuk ia peluk, tersenyum pada lawan bicaranya. "Tidak sesederhana itu. Gallant War diselanggarakan selama dua minggu dengan dua cabang utama lomba.

"Seminggu untuk lomba Atletik, berikutnya lomba Akademik. Ada banyak cabang yang dilombakan. Semua dipersilakan berpartisipasi, minimal lima lomba di tiap cabang utama.

"Misalkan, lomba Akademik, kelasmu mengirimkan perwakilan untuk mengikuti lomba. Jenjang kelas dengan rentang usia, seperti Genin, Chuunin, dan Jounin, tidak berpengaruh di Gallant War—karena Hidden Schools punya kepercayaan bahwa usia tidak membatasi kecerdasan seorang anak."

Naruto turut meletakkan cangkir kopi ke meja. "Jadi kalau misalkan aku punya siswi tingkat chuunin dengan peminatan di bidang sosial, tapi ilmu eksaktanya mumpuni, dia jadi perwakilan kelas Kyuubi melawan peserta lain yang jounin di lomba Eksakta, maka itu diperbolehkan?"

"Iya. Bahkan kalau kau mengikutkan siswi itu untuk lomba lainnya juga boleh, tak ada batasan. Setiap siswa, guru, dan kelas, boleh ikut berapa pun banyak lomba, asal jadwalnya tak berbentrokan," papar Hinata.

Naruto bertopang dagu. "Guru juga? Apa yang dilombakan?"

"Ada satu perlombaan khusus guru dan murid, namanya Sky Battle." Hinata menjeda, mengusapi wajahnya dengan kedua tangan sejenak. "Tidak semua bisa berpartisipasi. Guru-guru dan murid dari kelasnya di Hidden Schools yang lolos seleksi OSIS, kepala sekolah Rumah Asrama, dan Rektor, dengan kriteria yang dirahasiakan, dipilih untuk ikut Sky Battle."

"Lomba paralayang sepasang guru-murid begitu, atau bagaimana?" tanya Naruto, cermat mengamati perubahan ekspresi teman berbincangnya.

Hinata menggeleng lagi. Begitu kedua tangan diturunkan, yang terlihat ialah kecemasan. "Itu ada dua lomba di mana guru dan murid yang berpartisipasi."

"Muridnya harus ketua kelas?"

"Tidak mesti, tapi boleh ketua kelas. Mufakat warga sekelas, tapi seringnya, murid terbaik pilihan para wali kelas."

"Lomba Akademik dan Atletik juga?" Naruto memiringkan kepala.

Hinata mengangguk dengan senyum kecil terukir di bibir. "Uhm. Lomba pertama yaitu Sky Battle: Dawn. Dalam lomba di pagi hari ini, guru serta murid yang ia inginkan, diminta mempresentasikan kehebatan dan kemajuan kelas maupun para siswa kelas mereka, di depan seluruh hadirin.

"Nanti juga ada sesi tanya-jawab para guru serta siswa dalam arena debat, umumnya mengkritisi metode eksperimentasi apa yang mereka pakai dalam mengajar murid, sehingga bisa meningkatkan prestasi mereka dan kelas secara keseluruhan.

Hinata menarik napas sebentar, berkomentar dengan suara lebih simpatik, "Sering kali—tapi ini pendapatku pribadi—itu jadi ajang mencacat cela kelas lain untuk meninggikan kelas mereka sendiri."

"Terdengar memuakkan," cibir Naruto frontal. "Kenapa namanya Sky Battle?"

"Menyedihkan," lirih Hinata menyetujui. Tangan menyusup ke dalam bantal, menekan perut yang lagi-lagi terasa nyeri. "Karena Hidden Schools mendefinisi guru-guru itu bagai langit yang menaungi para murid."

"Bagus juga kiasannya," komentar Naruto tulus, tak luput menyadari ekspresi menahan nyeri Hinata. "Oke, terus Sky Battle yang satu lagi?"

"Sky Battle: Twilight, itu perlombaan Atletik yang dimulai saat senja. Yang ikut, adalah para guru dan murid yang presentasi tentang kelasnya dianggap terbaik oleh para hadirin untuk Sky Battle: Dawn.

"Ada sekitar sepuluh sampai lima belas guru akan berpartisipasi dalam lomba lari rintang-alam di lokasi yang telah ditentukan, tapi ..." Hinata mendekap lebih erat bantal dalam pelukannya.

Naruto bersabar mendengar Hinata berbicara lagi. Raut takut di wajah Hinata menularkan sensasi aneh pada dirinya.

"Terkadang, ada beberapa guru juga murid mendadak absen saat Sky Battle. Terutama para guru dari kelas baru yang merupakan kuda hitam dalam Gallant War. Dugaan sabotase sering terdengar, cuma tidak pernah terbukti.

"Lebih sering lagi, para guru dan siswa cidera dalam Sky Battle: Twilight, bahkan di akhir banyak yang mengundurkan diri dari profesi mereka sebagai guru di Hidden Schools. Ini rahasia, tapi ... beberapa murid representator kelas mengalami trauma setelah mengikuti lomba ini."

"Yang aneh menurutku ... di bagian, setiap lomba Sky Battle: Twilight, tidak satu pun guru boleh bicara tentang beberapa tempat tertutup yang mereka lalui, atau apa yang sebenarnya terjadi. Banyak yang terluka dan cidera parah, tapi anehnya, tidak pernah jadi bahan santapan media massa."

Keheningan mencekam mereka berdua. Guntur meraung memburai isi perut langit, menjuntai rinai hujan yang jatuh berderai-derai.

Imajinasinya berderap-derap liar, Naruto menggeleng-gelengkan kepala. Mengusir pikiran negatif yang bertandang.

Karena kalau pikiran negatif itu ia beri makan perasaan ketakutan, maka siapa pun akan ditaklukkan oleh bayang-bayang mengerikan belum tentu terbukti.

Tidak ada yang lebih menakutkan daripada ketakutan, yang manusia itu sendiri memberikan kepadanya kehidupan.

Naruto menghirup napas dalam. "Kau pernah ikut Sky Battle, Hinata?"

"Kelasku dan aku, tidak pernah terpilih untuk Sky Battle. Setidaknya selama tiga tahun terakhir aku mengajar di Hidden Schools." Hinata mendaratkan dagu di atas bantal sofa dalam dekapannya. "Syukurlah."

"Kenapa bisa tidak ada yang melaporkan apa pun segala kejanggalan yang terjadi, masa tidak ada yang heran dan curiga?" Naruto sampai memajukan duduknya.

"Itu juga yang jadi pertanyaanku." Hinata memiringkan kepala, menyamankan pipi pada bantal.

"Tadi kau bilang kontestasi ... maksudnya apa?" Naruto mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi. "

Hinata menyadari kini Naruto menjadi sangat jeli, tanpa sadar kilat pandangnya melunak. "Beberapa pertandingan, akan dapat siaran dari televisi nasional dan ditayangkan saat prime time.

"Misalkan lomba lari tiap kelas mengitari lokasi Hidden Schools, bernama Will of Fire. Ajang adu bakat, seperti bernyanyi, menari, atraksi; solo, duo, ataupun grup. Terakhir, lomba utama para murid: Carthago delenda est."

Kartago harus dihancurkan.

Naruto tidak berkomentar soal ia mengetahui frasa latin itu. Semasa ia dikuliahkan lagi oleh Jiraiya di Finlandia sambil membantu gurunya mengajar, Jiraiya pernah bicara tentang Kartago.

"Lomba menyolidkan kekuasaan sebagai yang terhebat, ya?" tanya Naruto, terkekeh tatkala menyadari Hinata tidak tertipu dengan cengiran sok bodohnya itu. "Benar-benar kayak lomba membuat ayam sabung saling bertarung?"

"Meskipun analogimu agak kasar, tapi tepat." Hinata tersenyum maklum. "Dalam lomba ini, tiap kelas diminta mengirimkan perwakilan satu tim. Terdiri atas siswa-siswi terbaik. Mereka akan diminta berkompetisi dengan kelas lain.

"Tiap tahunnya berganti-ganti. Ada lomba cerdas cermat, debat dengan isu nasional atau internasional, adu bakat terunik yang hanya ia memiliki—misalkan menirukan suara beragam hewan ataupun kendaraan, ada juga lomba fisik berpadu akademik. Tahun lalu estafet."

"Oh, yang Boruto bilang ia dan kelas Hebi memenangkannya?" Naruto tertawa geli mengingat dampratan Boruto ketika mereka di mobil.

Sepasang mata Hinata menyipit karena senyumnya turut melebar. "Uhm. Namun dalam lomba individual akademik, kelas Hebi kalah total dibandingkan kelas Genio-nya Shikamaru-kun dan kelas Stands Proud-nya Sakura-chan."

"Jadi sebenarnya kelas Hebi juga hobi main otot daripada otak." Naruto tertawa keras sampai terbatuk-batuk.

Hinata meredam tawa kecilnya pada bantal. Jadilah mereka berdua saling berkekeh dan terkikik tanpa henti.

Tawa mereka diasatkan kesunyian. Nyaman yang mereka rasakan bukan datang dari sunyi, tapi kesepahaman yang tak dikatakan.

Dari balik pintu geser kaca dan tirai yang tak tertutup begitu rapat, mereka sama-sama menoleh ke sana. Menontoni bagaimana jemari hujan menjengkali tiap inci kebun kecil, dengan beragam bunga Hydrangea yang belum merekah sepenuhnya.

Hinata berpangku dagu. Diingat-ingat lagi, Naruto punya hobi sama dengannya di sekolah tempat mereka dulu sama-sama magang dan bekerja. Mengurus petak-petak bunga dan tanaman.

Naruto menata kebun rumahnya yang sekarang dengan apik, mengingatkan Hinata pada balkoni apartemen kecil mereka dulu.

Sama seperti dulu; tidak ada warna-warna kromatis ataupun satu warna saja yang jadi penguasa, berbeda-beda, dan itulah yang indah apa adanya.

Merasa lebih rileks dan suasana di antara mereka lebih ringan, Hinata yang telah mengumpulkan segenap keberanian, meremas jari dalam pangkuan. Menggigit bibir sekilas, dan mengunci tatapan Naruto padanya.

"Uhm ... apa aku boleh tanya," Hinata meremas bantal yang ia peluk, "setelah waktu itu ... kau-tahu-kapan dan apa, 'kan?"

Naruto tampaknya telah mengerti Hinata menanti-nanti momen ini, senyumnya berubah melunak. Dia menatap Hinata sejenak. "Uhm. Tanya saja, Hinata."

"Apa yang terjadi padamu? Ke mana mereka membawamu pergi?" Hinata merasakan bahunya turun, dan sekitar matanya mulai berkedut. "Kau lama tidak masuk kerja, tahu-tahu saja kau masuk, tapi tak lama ... kau diberhentikan kerja."

Naruto menghirup napas dalam-dalam. Menyandarkan tengkuk ke sandaran sofa dan bantal sejenak. Kedua tangan mengusap-usap mukanya.

Dengan sedikit keberanian dalam dirinya, ia menautkan pandangannya pada tatapan cemas Hinata lagi.

"Mereka membuangku ke jalanan," jawab Naruto, ikut mencelos karena menyaksikan Hinata tergugu dengan raut pilu. "Kau tadi dengar ada yang namanya Kurama, bukan? Dia satu dari tiga orang yang menolongku dulu."

Kebohongan lagi. Naruto memohon maaf pada Tuhan dalam hati, tak sanggup mengutarakan bahwa bukan di jalanan ia bertemu grup jalanan Kyuubi, melainkan di suatu jembatan layang tatkala penuh luka ia mencoba loncat dari sana.

Naruto terdiam, memikirkan sampai sejauh mana baiknya ia bercerita pada Hinata. Mungkin Hinata berpikir ia menjeda karena ini terlalu menyakitkan untuk diceritakan, dan separuh dari sesungguhnya, memang benar.

Amat berat.

Naruto memainkan bandul kristal dari kalung yang tergantung di lehernya. "Mereka merawatku, dan memperbolehkanku tinggal bersama mereka. Ada pula Ayame-san dan Paman Teuchi, dulu mereka berjualan ramen di kios kecil, selalu membantuku dulu.

"Aku sempat mencoba melamar kerja ke lain sekolah, karena aku tahu pasti aku akan dipecat. Namun, tetap saja nihil."

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Hinata. Airmuka dinodai ketidakpercayaan, empati, dan sisanya menyalahkan diri.

Naruto menggaruk tengkuknya. "Singkatnya, Kurama dan yang lain membantuku untuk tahu ... bahwa waktu itu gajiku tidak turun dari sekolah, karena memang ada yang menyabotase. Begitu pula aku yang mencari kerja setelah kita bercerai, bahkan sampai lewat ulang tahun ketiga Himawari."

"Itu aku tahu, sampai kita tidak mampu beli susu." Hinata menunduk menatap lututnya yang saling bertaut. "Memang ada upaya yang menjepit dari segi ekonomi, mengimpit situasi dan kondisi kita, agar tidak bisa menghidupi anak-anak sama sekali."

Naruto sesak napas karena Hinata kemudian mendongak, menyarangkan tatapan menyedihkan dan bertanya parau, "Tapi, kalau memang tujuannya hanya karena kau tidak pantas denganku dan tidak bisa menafkahi keluarga—yang jelas sama sekali tidak benar, karena kita berdua bekerja jadi guru dan punya penghasilan ...

"Kenapa setelah kita bercerai, mereka masih saja menghalangi karirmu—bahkan menutup akses kau mencari pekerjaan, Naruto-kun? Toh, kita tidak berhubungan lagi setelah itu.

"Kenapa perlu mereka sampai sebegitunya ... jahat padamu?"

Naruto ternganga. Seperti ada percik bunga api dalam dadanya memikirkan hal itu.

Astaga, mengapa ia tak terpikir sampai ke sana?

Naruto tak sadar suaranya bergetar saat balas bertanya, "Apa ... karena mereka tahu, hari itu kita bertemu lagi—saat Sasuke meninggalkanmu dinner dengan yang lain, merayakan hari jadi kalian selama setahun?"

Hinata tersenyum getir. "Aku tidak pernah cerita pada siapa pun hari itu, kita pernah bertemu."

Naruto memaksakan tawa. "Karena aku lelaki antah-berantah yang tidak punya apa-apa, dan malah menikah denganmu. Putri pewaris klan—"

"—tapi pewaris sudah bukan aku, Naruto-kun. Sejak Boruto lahir, mereka memindahkan takhta pada Hanabi, adikku," potong Hinata letih, "dan apa kau tidak ingat? Pagi buta setelah ulang tahun Himawari, ada Chichi-ue di sana. Dia juga tidak berdaya melihat kita disiksa. Aku percaya, semua yang dia katakan padamu, pasti ada yang mengaturnya."

Naruto terbungkam, enggan mengutarakan perihal ini, ia agak tidak percaya Hinata. Lantaran waktu itu Hiashi Hyuuga sendiri yang datang dan mengatakan semua itu padanya.

Dia tidak layak.

Syarat untuk bersama Hinata Hyuuga adalah memiliki segalanya.

Seakan mengetahui keraguan Naruto, Hinata mendalih, "Kalau memang ayahku menentang kita, kenapa tidak dari sebelum kita menikah saja?"

Naruto membuka mulut, tapi tak ada jawaban yang bisa ia pikirkan. Menutup kembali. Tercengang mendengar hal itu.

"Malam itu, yang diculik bukan hanya kau, tapi aku dan Chichi-ue juga. Dan pagi buta itu Sasuke-kun tahu ada yang menculikku, tapi dia diam saja," tambah Hinata dengan engah napas sedikit payah.

Naruto mengumpat pelan. Seolah mendadak otaknya berputar-putar seperti gangsing, pusing tujuh keliling merasio yang terjadi.

Pikiran mereka sama-sama berdesing dengan pelbagai kemungkinan. Tak satu pun memberi jawaban, buntu pula menelurkan solusi.

"Kau benar, Hinata, kenapa baru setelah kita punya dua anak, itu bahkan setelah ulang tahun ketiga Himawari ... ayahmu baru benar-benar keras menentang kita?" Naruto menjambak keras rambutnya. "Dia bahkan sangat menyayangi Boruto dan Himawari."

Hinata mengangguk dalam dan menatap Naruto dengan nanar. "Tolong maafkan perlakuan Chichi-ue, Naruto-kun, tapi dia tidak pernah ... benar-benar membencimu."

"Ya Tuhan," Naruto mencengkeram kepalanya sendiri, menunduk dalam-dalam dan menandas para, "maafkan aku, Hinata. Tidak berpikir sejauh itu, malah berpikir jelek soal ayahmu."

Hinata menggeleng lamat-lamat.

"Maafkan aku juga berpikiran," Naruto tersedak perkataannya sendiri, hingga membuat Hinata turut merasa sesak karena ia terbata, "kau tidak tahan bersamaku dalam kondisi sesusah itu, karena itulah kau meminta cerai dan memilih bersama Sasuke.

"Aku mencoba untuk tidak percaya, tapi baru kutahu setelah setahun kemudian kau menikah dengan Sasuke dan kita sekali lagi bertemu."

Hinata tidak kuasa menyeka lelehan panas yang akhirnya menjernihkan Naruto dalam pelupuk pandangnya. "Kau benar, jangan percaya hal itu, karena itu tidak benar.

"Naruto-kun, aku memang hidup dalam keluarga yang lebih dari berkecukupan dalam kondisi finansial. Namun, orang tuaku tidak pernah mengajarkanku untuk bermewah-mewah saja. Mereka pejuang, itu pula yang mereka ajarkan padaku."

"Tapi benar kata ayah dan keluargamu—terlepas dari soal apa benar itu darinya sendiri atau tidak, anak orang memang tidak akan bisa kenyang cuma dikasih makan cinta," sanggah Naruto serak.

"Kita sama-sama bekerja saat itu, dan aku tidak apa-apa. Kau bahkan bekerja sendiri saat aku hamil tua dan masa menyusui anak-anak, kita baik-baik saja. Terlepas dari gosip orang-orang, mereka tidak tahu perjuanganmu menghidupi kami bertiga."

Naruto termangu melihat Hinata akhirnya menggigil, dan lagi-lagi, selalu dirinya yang menjadikan hujan nyata di wajah Hinata.

"Aku tidak semata mencari kenyamanan materi—bergantung hidup pada suami, yang mana kau banting tulang tiap hari menghidup kami, tapi aku mengalami sendiri.

"Kebanyakan orang tidak akan mengerti, bagaimana rasanya diselamatkan dan dicintai oleh seseorang yang menginspirasi. Aku sangat beruntung bisa merasakan itu dulu, setiap hari.

"Tidak juga aku mengerti, kenapa ada orang-orang yang tega memisahkan kita, sampai ke tahap mereka begitu ingin membunuhmu."

Keduanya lama terdiam mendengarkan elegi hujan yang tak juga berhenti. Mungkin hujan yang lama mereka bekukan dalam mata, perlahan berluruhan.

Semata karena kenangan akhirnya menyeruak ke permukaan, dan kini pikiran mereka lebih jernih untuk memetakan banyak kejadian.

"Uchiha ... –kah?" geram Naruto, putus asa, kakinya keras mengentak lantai.

Hinata membiarkan sebagian anak rambut terurai menutupi wajahnya yang basah. "Hyuuga juga. Yang kutahu tidak, hanya ayahku, adikku, dan Neji Nii-san."

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Naruto terpekur menelusuri petak-petak lantai.

Hinata nanar menyaksikan Naruto tertunduk dalam, antara geram putus asa dan marah tak berdaya, Tuhan, apa salahku, ketika yang kuinginkan saat itu cuma bersamamu. Bagaimana ada titik-titik air, yang bukan bocoran dari atap, jatuh menitik keramik. Punggung tegar yang akhirnya bergetar.

"Maaf, Hinata." Naruto beranjak bangkit. "Aku permisi sebentar."

Hinata meredam sedu-sedannya pada bantal, mengetahui Naruto pergi ke dekat pintu geser kaca. Dari tangan kecokelatan yang mencengkeram tirai, cukup untuknya tahu bahwa yang dibelenggu benalu pilu bukan hanya dirinya.

Entah karena Naruto sendiri bersedih mengilas balik semua memoar yang menguar, atau tak kuat menyaksikannya lagi-lagi luluh-lantak.

Beberapa lama tak ada yang bicara di antara mereka. Hingga nyaris bertepatan, ponsel mereka berdering bersamaan.

Naruto berdeham, bergegas mengangkat telepon. "Oh, Kurama. Ah, ya? Sudah jam sebelas? Sebentar, kucoba kirim lagi—huh? Tidak, aku tidak apa-apa."

Hinata mencelos. Memejam mata rapat-rapat sesaat, mengapa mesti di saat seperti ini Neji meneleponnya. Ia meraih gelas teh, menelan satu tegukan besar, barulah mengangkat telepon.

"Ya, Neji Nii-san?" gumam Hinata pelan. Jantungnya berdebar keras mendengar isakan keras di seberang sambungan. "Kau sudah membuka hasilnya dengan Sakura-chan?"

Suara parau Neji, terbata berkata, dan kala itu Hinata tahu, musnah sudah kesempatan berikutnya untuk ada waktu di mana dirinya serta Naruto bisa bersama.

Ponselnya merosot jatuh dari tangan.

Terjatuh ke sofa.

Hinata tergugu. Tidak lama, tubuhnya tergucang keras dan ia tidak lagi bisa menahan sedan.

Naruto yang mendengar isakan itu, tercengang kala menoleh ke belakang. Dia berdecak, berbicara cepat di telepon.

"Kurama, sebentar. Tenang, file-nya aman denganku. Tsk, aku ada urusan. Ya, nanti kuhubungi lagi."

Tidak menanti jawaban temannya, Naruto bergegas mematikan sambungan telepon. Membiarkan segala gawai terbengkalai, memacu langkah menghampiri wanita yang menggigil tak keruan dengan air mata berlinangan.

Naruto berhati-hati mendudukkan diri di samping wanita itu. Terkejut tatkala Hinata melingkarkan lengan ke pinggangnya, melabuhkan wajah yang amat basah ke dadanya.

Ternyata ada pula kesedihan seperti ini.

Kau bisa kehilangan kesedihanmu seiring dengan berjalannya waktu dan penyembuhanmu, tapi tidak dengan kesedihan orang paling tercintamu.

Mungkin ini tepatnya yang Naruto rasakan. Tanpa ragu lagi, mendekap Hinata erat-erat. Merasakan Hinata mencengkeram erat kemejanya, airmata membasahi baju, tapi apalah arti semua itu—tidak sebanding dengan gemertak entah di mana dalam diri Naruto mendengar isak yang begitu membuat sesak.

"Hinata," pinta Naruto pelan, setegar yang ia bisa, "maafkan aku. Kau tidak akan begini kalau tidak bersamaku."

Hinata menggeleng kuat-kuat. Di sela sedan tak lagi tertahan, ganti ia meminta, "To-tolong. Tolong aku."

"Katakan," Naruto mendekapnya erat-erat, tangannya bergetar menyisiri rambut Hinata, "bagaimana caranya aku bisa menolongmu?"

"Aku tidak mau jadi milik Sasuke Uchiha lagi," suara Hinata lagi-lagi pecah, dan akhirnya Naruto mengerti bahwa tangis Hinata selalu sepilu itu kalau sudah berkenaan dengan benci, "tidak lagi."

Naruto balas menggeleng kuat-kuat. "Kau bukan milik dia, terlepas dari omongannya, bukan pula siapa pun itu yang mengklaimmu bahwa kau miliknya."

Naruto meregangkan pelukan mereka. Dengan berhati-hati seperti tengah menyentuh Mahakarya para maestro seniman terkemuka, yang mana memang wanita di depannya adalah Mahakarya Tuhan.

Pria itu dengan hati retak dan akhirnya patah, merapikan rambut yang terurai menutupi wajah Hinata. Membelai pipinya dengan ibu jari selembut yang ia bisa.

"Kau milik Tuhan, Hinata," bisik Naruto, dan tak sadar bahwa kali ini, tidak ada hujan yang menyembunyikan apa yang membasahi pipinya sendiri. "Itu tidak akan pernah berubah."

Hinata tergugu menatapi, tidak sanggup menatap Naruto saat menanggap, "... kalau begitu, apa aku seorang pendosa, karena malah tidak ingin Tuhan cepat-cepat memiliku kembali?"

Kini kata-kata beranjak setelah cetusan Hinata memberantak benak. Sekali lagi, banyak hal dalam dirinya koyak-moyak. Serupa dengan berhari-hari selama dua bulan terakhir, ada bayang hitam yang biasanya melesat pergi di tiap pagi.

Ini bukan kantor guru di mana ada orang luar bisa memergoki. Sekarang bayang seseorang itu tetap berdiri, menanti. Lagi-lagi, dia diam mengamati.

Naruto memeluk Hinata, untuk pertama kali setelah ribuan hari terlewati, dengan hati yang terasa seperti mati.


ORANGE

.

Chapter 8: Our Longing to Understanding (That Ends in Nothing)

.

((So we learnt how to dance in the rainstorm, just to know that the thunder striking us)


Glosarium/Trivia:

Kairo: pemanas portable yang bisa ditempatkan dimanapun, biasa ditempel pada pakaian terutama saat musim bersalju. Begitu bungkus dibuka, ada zat kimiawi yang bereaksi dan memanaskan air di dalamnya sehingga kairo akan panas selama 14 jam.

Sensu: kipas lipat tradisional khas Jepang dengan beragam motif.

Omamori: jimat kantung berisi kertas nama dewa yang telah didoakan khas Jepang, untuk perlindungan, percintaan, keberuntungan dan banyak hal lainnya.

Tenugui: handuk katun dengan aneka ragam motif, bisa digunakan sebagai sapu tangan maupun ikat kepala.

Hydrangea: salah satu bunga khas Jepang yang hanya mekar di musim penghujan.

Ras alpin kaukasoid: sekelompok manusia dengan ciri fisik yang identik, rambut berwarna pirang merah atau chestnut.

Ras mongoloid: ras manusia dengan fenotipe yang cenderung sama, ciri khasnya ialah rambut hitam lurus, kelopak mata sipit, kulit kekuningan—sawo matang—maupun kemerahan, iris mata cokelat.

Ras kaukasoid: ras manusia dengan fenotipe yang berciri khas rambut coklat kemerahan, pirang, mata yang lebar, warna mata biru atau abu-abu, dan kulit putih kemerahan.

Sengaja dideskripsikan demikian, karena masih jadi perdebatan ilmuwan dari dulu apakah Finlandia termasuk orang Eropa. Letak geografis Finlandia persis berada di antara Barat dan Timur, sehingga tinggi kemungkinan antar ras pun berbaur/bercampur.

Jamming: istilah ketika terjadi gangguan saat penerimaan/pengiriman data dalam komputer, karena interferensi/gangguan dari sinyal berfrekuensi sama. Jamming dilakukan untuk mengacaukan sinyal dan jaringan di suatu tempat.

Selain bunga Sakura, Hydrangea atau dalam bahasa Jepang disebut Ajisai, merupakan salah satu simbol bunga negara.

Interpretasi di fanfiksi ini, yap, bahasan simbol itu memang simbolisasi untuk hubungan cinta NaruHina.

Carthago delenda est: "Kartago harus dihancurkan." Kalimat yang diucapkan oleh Senator Marcus Cato ini menegaskan, bila Republik Romawi ingin mengukuhkan kekuasaan di Laut Tengah, maka Kartago—ibu kota Funisiha—harus dihancurkan.

Dalam fanfiksi ini, interpretasi frasa latin ini ialah bahwa satu kelas akan mengukuhkan kekuasaan mereka sebagai kelas eksperimentasi terbaik atas kelas lainnya—termasuk pula Rumah Asrama.

Genin: setara SD

Chuunin: setingkat SMP

Jounin: setara SMA

Kenapa tidak disamakan saja dalam kelas dalam tingkatan (misalkan kelas 1, 2, atau 3—makanya pembaca terheran-heran dari awal), akhirnya sudah dijelaskan di atas, ya. Hidden Schools percaya usia dan tingkatan tidak dapat membatasi kecerdasan tiap anak.

A/N:

Ini udah dikasih petunjuk dari sejak Enouement, ya. Dari kalimat penutup: "Sayang, semua yang telah terjadi tidak sesederhana itu."

UCHIHA SHINOKO: ABK itu singkatan dari Anak Berkebutuhan Khusus, anak yang berbeda dari anak pada umumnya, tapi tidak selalu menunjukkan ketidakmampuan mental, emosi, atau fisik. Yang termasuk ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tuna—dst, gangguan perilaku, anak berbakat, anak gangguan kesehatan, anak luar biasa, maupun (maaf) anak cacat fisik maupun mental.

Selamat bernapas, Pembaca. Akhirnya konflik rumah tangga NaruHina ada titik yang bener-bener terang juga. Shoot out pada Uchiwakaza997, Strelitzi dan Sena Ayuki yang menanyakan pula menganalisis perihal "kenapa bisa NaruHina bercerai", terjawab, ya: bukan semata karena alasan ekonomi. :')

Soal bayang-bayang orang itu, kan suka adalah langkah tapak kaki dan nanti, Naruto berhenti mengamati Hinata yang selalu tidur di meja kantor guru tiap pagi. Nah, udah ada dari chapter-chapter awal itu.

Perihal hijrah lapak ke wattpad, akan saya ulas di chapter depan.

Terima kasih atas apresiasi kalian yang luar biasa: davit504, Aquarius D Zhura, katarays, Azriel-kun, dwika29, UCHIHA SHINOKO, urarakasakura371, Adhi Arisqian, Cicie Yon, kymc, kawaii, ninja hatori, Guest, Avtre, Alwi Syahab, ShiranuiShuichi, Thanatos, Xiao Yu3, Reiburo, Nhlgandaria-chan.