Oleh Sukiraki Tatsuya, tentang ORANGE:
aku tak tau harus berkata apa,
tercengang itulah yang aku rasakan ketika membaca chap ini
membaca ketika Hinata mengingat Naruto dalam keadaanya yang seperti itu membuatku tau betapa kuatnya ikatan diantara mereka
fic ini tak hanya sekadar hiburan namun juga mencakup wawasan yang bermafaat pada kehidupan sosial maupun wawasan pendidikan, sangat jarang sekali menemukan fic seperti ini membuatku menghargainya walaupun yang kusbisa hanya mengetik review yang cuma beberapa paragraf, sesuatu yabg amat sangat jarang aku lakukan
aku berharap semoga fic ini tidak discon dan bisa the end, karena fic ini banyak membuka mataku agar lebih luas melihat dunia ini, terima kasih pada Frag-san karena telah membuat fic semenakjubkan ini
Warning: buat yang alergi romance, silakan klik back. Renungan soal berubah untuk diri sendiri, and love yourself. Airmata.
"Hinata ... bangun, Hinata!"
Yang dipanggil dan diguncang untuk terbangun, akhirnya kelopak mata pun tersingkap. Buram dan panas oleh airmata.
Ia megap-megap lebih daripada ikan terdampar di daratan, merindukan udara layaknya makhluk berinsang mendamba lautan.
Ada tangan yang menggapainya, menarik, memulangkan Hinata kembali dari mimpi buruk dan kenangan masa lalu.
Tangan yang sama, membelai lembut rambutnya. Membuat Hinata menemui tatapan dari langit musim panas yang dulu pernah menaungi, melindungi, melingkupinya. Jemari itu berpindah, ibujari menyeka airmata di pipi Hinata.
"... maafkan aku." Hinata merasa kerongkongannya panas seperti terbakar, tapi tenggorokan dingin karena tergeragap menghirup napas.
Sang wanita lama tercenung. Sulit percaya karena tatkala membuka mata, mungkin ini keajaiban. Bahkan dalam mimpinya, Naruto tak pernah ada.
Dulu ada satu nama yang Hinata tulis berkali-kali di dinding hati. Terucap dari bibir sesekali. Ketika akhirnya itu membuahkan tamparan kala Sasuke meniduri, maka ia menitipkan nama itu dalam diri.
Naruto berbeda dari wajah masa lalu dulu, ceria dan jenaka, seakan masa depan yang adalah hari-hari mengerikan itu tidak akan pernah datang menciderai jiwa Hinata.
Sekarang, ia tampak dewasa. Memandangnya begitu lega tatkala Hinata membalas tatapannya dengan mata berkaca-kaca.
Pria itu masih mengenakan pakaian yang terakhir kali Hinata lihat. Sedikit aroma masam keringat pria, bercampur pewangi mobil, dan sisa cologne lelaki menguar dari Naruto yang merangkulnya untuk bangun.
Hinata menunduk, menangkup wajah dengan tangan. Menyeka sendiri airmatanya yang telah membasahi pipi. Sesak napas, perasaan seperti tercabik-cabik mendapati Naruto memergokinya dalam kondisi paling memalukan.
Sekali lagi ia membatu. Badan pun bergetar merasakan ada yang meluruh, membanjir keluar dari selangkangan. Astaga. Hinata bisa benar-benar gila.
"Ma- ... maaf," lirih Hinata berat.
"Bukan salahmu." Naruto tersenyum kecil. "Tidak apa-apa, kok. Tenang saja, kau aman di sini bersamaku."
Tatkala tangan Naruto yang telapaknya agak kasar dan bergurat luka, membelai ubun-ubunnya, Hinata merasa seperti gadis bertahun lalu—yang hanya bisa menatap Naruto dari kejauhan.
Dari ubun-ubun, tangan Naruto bergerak ke belakang kepala. Jemari menyisiri rambutnya sesekali. Hinata kembali menyeka pipi.
"Minum dulu, ya?" Naruto bangkit sedikit, meraih segelas air. Membantu Hinata untuk meneguk air hangat itu, sampai Hinata selesai dan air hanya tersisa setengah gelas.
Hinata bergetar hebat. Perlahan dia bangkit. Firasatnya benar. Sensasi sakit perut melilit yang ia rasakan dari semalam, terbukti dengan cetak dan luruhan darah kental yang menodai seprai tempat tidur.
Airmata berlelehan pelan. Hinata tak kuasa menyeka, hingga ia malu dan pilu berkata, "Aku benar-benar minta maaf, Naruto-kun."
Sejenak tak ada kata-kata. Hinata mendengar cekatan napas, kemudian helaan perlahan. Pipinya disemuti sensasi membakar, tak bisa membuang memori tamparan Sasuke di tiap darah dan cairan mengotori ranjang mereka.
"A-aku ..." Hinata membungkukkan badan berkali-kali, airmatanya merintik keramik, "a-akan se-segera bersihkan—"
"Iya," potong Naruto.
Hati bagai dihantam palu godam. Dia mengangguk dalam-dalam, hendak bergerak untuk bergegas membersihkan, pulang ke rumah Uchiha, atau mati saja sekalian.
Namun luluh-lantak semua itu saat ada tangan menahan badannya untuk membungkuk, diikuti kekehan ringan Naruto.
Ada tangan yang menangkup wajahnya, mengusap airmata Hinata. Naruto dengan santainya malah tertawa.
"Sebentar, Hinata. Iya yang kumaksud itu: iya, memang kau mesti membersihkan diri." Naruto ringan mengelus punggung lengan Hinata. "Bawa baju ganti, tidak?"
Bibir Hinata terbuka, memandang tidak mengerti. Airmata berlelehan lebih banyak, sesetia itu pula jemari Naruto menghapuskannya. Hinata lamat dan berat menggeleng.
"Pembalut?" tanya Naruto, telunjuk menggaruki pipi.
Dari leher, cuping telinga, sampai wajah memerah seperti tomat ceri. Hinata menggeleng lemah. Dia menggigil melihat noda darah itu. "Ti-tidak bawa baju, ta-tapi pembalut ada di tasku."
"Oke, tunggu sebentar." Naruto membimbing Hinata untuk duduk kembali, kemudian berlutut di hadapannya dan menyampirkan selimut untuk menghangatkan tubuhnya.
Hinata membenamkan diri ke dalam selimut. Tak sanggup memandang Naruto, beralih mengerling ke balkon.
Mungkin ia bisa loncat, dan pusara air kolam renang dapat menenggelamkannya sekarang juga. Jadi ia bisa lari dari dunia dan bersembunyi, tidak kembali lagi.
Denotasi itu mengerikan, tetapi ada sentuhan kenyataan yang benar-benar Hinata rasakan. Meski kali ini, bukan itu lagi yang ia inginkan.
Mengusap airmata dengan selimut, Hinata mengintip Naruto bergegas masuk ke kamar mandi yang bersisian dengan pintu. Masuk ke dalam sana, tak lama ia mendengar suara shower mengucur.
Naruto keluar lagi, menggeser sebuah dinding. Menampakkan walk-in closet, masuk ke dalam sana, dan entah apa yang ia lakukan.
Jeda waktu itu membuat Hinata mengedar pandangan ke sekitar, mencoba mengidentifikasi di mana dirinya berada. Terakhir kali yang ia ingat, hasil check-up mengerikan dan tangis histeris Sakura-chan, Naruto yang memeluknya hingga ia terlelap.
Selimut menyerap linangan airmata sang wanita. Hinata menggulung badan dalam selimut. Badan merasa remuk, hati terasa retak. Pecah berkeping-keping. Hingga pandangannya tak sengaja tertumbuk pada sebingkai foto di sebuah meja dekat tumpukan jurnal.
Boruto dan Himawari kecil. Foto yang sama dengan ruang tamu kecil di rumah ini, di meja kerja Naruto.
"Hinata, ini mungkin kebesaran, tapi ... pakai dulu saja, ya?" Naruto kembali lagi, menyerahkan secarik kaus rumah hitam, celana training oranye dengan tali, dan hoodie putih berbahan lembut, bahkan kaus kaki. Lengkap dengan handuk putih yang bersih, kelihatan tidak pernah dipakai.
"Sebentar, kuambilkan dulu tasmu." Naruto berderap keluar kamar, mengerem langkah, balik lagi dan melongok ke dalam. "Kubikinkan teh sekalian mau, ya?"
"A-ah ..." Pikirannya kosong melompong, ia bersiap untuk amukan dan dipermalukan, dan sama sekali bukan hal-hal seperti ini.
Naruto mungkin salah paham, mengira Hinata mengiyakan. Namun ia tampak senang, mengangguk puas. Bergegas keluar kamar dan tidak lupa menutup pintu.
Hinata masih terpaku di tempat.
Tadi ia terbangun, merasakan kedinginan luar biasa. Begitu pula saat ia tersadar selalu ada di mana. Sebuah kamar megah tanpa ada siapa-siapa, atau suami yang tidur memunggungi senantiasa bau wanita.
Wangi ruangan ini seperti pegunungan, menyejukkan. Teduh menenangkan dengan sekasat harum maskulin pria. Bau kertas-kertas baru dari tumpukan jurnal, essay, dan buku murid-murid yang memenuhi meja kerja.
Ada bunyi semprot. Hinata menoleh, menemukan lampu tidur yang aneh bentuknya. Menyerbakkan wangi. Ia terkejut dengan layar hologram yang muncul tulisan ber-font Vladimir Script—seperti tulisan sambung—menuliskan nama. Exotic Flowers.
Hinata mendesah, merasa kelewatan dimanjakan dengan semua yang membuatnya tanpa sadar merasa nyaman. Keluar dari kepompong selimut, melepaskannya. Untung yang kena noda darah hanyalah seprai.
Meletakkan baju dan handuk pijaman di meja, Hinata menepikan selimut, bed-cover, bantal, dan guling. Memanjat tempat tidur, sedikit kesusahan mencabut seprai. Wajah terasa terbakar melihat noda darah mengerikan yang mulai mengering.
Dadanya dipalu-palu, ngilu karena menyadari lagi-lagi di depan Naruto ia hanya bisa membuat diri sendiri begitu malu.
"Astaga, Hinata! Apa yang kaulakukan?"
Hinata memekik, terduduk kaget di tengah tempat tidur dengan seruan Naruto.
"A-aku cuma ..." Hinata gemetar memegangi seprai, "... i-ingin ..."
"Membersihkan?" Naruto menatapnya, sedikit menyesal karena suaranya terlampau kencang dan mengejutkan Hinata. Ia menyerahkan tas tangan pada yang punya, meletakkan segelas teh hijau di sisi lain nakas.
Hinata meraih tas tangannya. Terduduk dan tertunduk saat Naruto meraih seprai dari tangannya.
"Hinata, maaf .. aku sama sekali tidak marah soal ehmm—darahmenstruasimu—mengenai tempat tidur."
Detik itu juga ia menyesal telah mengatakannya. Naruto berdesis, nyaris mengacak-acak rambut. Oh, Tuhan.
Dulu memang ia bisa santai saja mengatakannya. Bahkan dengan santainya menggendong Hinata pindah dari ranjang ke sofa. Situasi sekarang ini tidak berbeda jauh dari waktu itu, kecuali reaksi Hinata yang amat berbeda.
Naruto getir mengingat bahwa sekarang, memang mereka berdua tak terikat status apa pun.
"Itu tanda bahwa kau seorang wanita yang sehat—dan fertile. Ehm ... maksudku, kau tidak perlu malu soal hal itu," kata Naruto pelan-pelan, berhati-hati mengelusi lagi rambut Hinata. "Kau bersihkan diri dulu. Jangan khawatirkan ini."
Sehat.
Sakit rasanya mendengar hal itu, ketika selama ini suaminya sendiri bahkan selalu mengatainya tiap ia sedang menstruasi.
Naruto menyeka airmata yang jatuh lagi tanpa ada kata dari Hinata.
Mereka sama-sama tahu dan paham, airmata itu bicara lebih banyak daripada apa yang tidak bisa Hinata ungkapkan dalam kata-kata.
"Ja-jangan." Hinata disambar ingatan mengerikan, berusaha mempertahankan seprai itu dalam pelukan. "A-aku tidak tahu apa itu berbaha—"
"Sssh. Tenang, Hinata ..." Naruto mengusap-usap bahunya, berusaha tidak menampakkan ia pun gentar melihat Hinata serapuh itu. "Tidak merepotkan, serius."
"Bu-bukan itu." Hinata menggeleng kuat-kuat.
"Lalu kenapa kau menahanku?" tanya Naruto, tetap tenang tatkala membelai puncak kepala sang wanita yang menggigil di tengah tempat tidurnya.
Ia perlahan-lahan mengambil seprai itu dari tangan Hinata.
Napas seakan tersumbat di tenggorokan begitu Naruto menatapi Hinata yang mulutnya terbuka, tapi tak ada kata-kata.
Hanya airmata yang bicara.
Apa yang membuatmu sampai setakut itu?
Siapa yang membuatmu menatapku sampai sesedih ini, Hinata?
"Airnya sudah penuh di bath-up. Kau bisa membersihkan diri dulu," Naruto mengalihkan.
Naruto menarik kedua tangan Hinata, membantunya turun dari tempat tidur. Menukar seprai dengan handuk dan pakaian yang ia pinjamkan, pula tas tangan Hinata. Membimbingnya masuk ke kamar mandi.
"Pakai saja sabun yang ada, ya. Maaf kalau wanginya kau tidak suka." Naruto asal menggaruk kepala. "Kalau butuh apa-apa, panggil saja aku."
Naruto tersenyum, mendaratkan elusan terakhir di kepala Hinata sebelum menutup pintu dengan sopan.
Hinata memandangi pintu dengan pandangan kosong. Bertaruh dengan sisa-sisa nyawa ini, tidak dikunci pun Naruto takkan menerobos masuk.
Karena itulah, ia beralih menatap rupa kamar mandi. Lagi-lagi tidak mewah, seluas, maupun dengan perabot seberkilap kamar mandi yang biasa ia tempati.
Namun wanginya semerbak melengkingkan tentang Naruto Uzumaki, dari inci ke inci.
Nuansa monokrom kamar mandi ini.
Peralatan mandi yang agak berantakan di dekat wastafel.
Handuk abu-abu yang tergantung asal di gantungan.
Kaus tidur yang sepertinya lupa dikeluarkan dan dimasukkan ke keranjang cucian.
Hinata menggantung semua pakaian. Melepaskan pula pakaiannya. Menekan tombol dari sekotak pentab anti-air yang ada di bawah shower, mematikan shower heavy rain menjadi pancuran air hangat biasa.
Ia masuk ke dalam kotak shower. Memandikan diri. Berusaha mengenyahkan mimpi-mimpi, malu, pilu, bahagia yang malah membuat hatinya sangat sakit dan ngilu. Mematikan air ketika tak lagi diperlukan.
Tidak ada sabun batangan seperti yang biasa Sasuke sediakan untuknya di rumah. Hinata menekan satu botol, sabun cair dengan wangi antiseptik dan netral. Ini jauh lebih baik daripada wangi elegan yang amat memuakkan.
Hinata menekan lagi tombol on. Heavy shower. Deras lagi menghujani. Airnya amat hangat, membasuh airmata, darah, mungkin sisa-sisa keringat dan hujan semalam dari tubuhnya.
Seusai mandi, ia memakai sedikit odol rasa menthol untuk membilas giginya. Meski tanpa sikat gigi. Berkumul dengan pembilas mulut.
Barulah ia masuk ke dalam bath-up. Berendam di dalam sana. Baru sadar ada aroma garam khusus untuk mandi, dan sabun entah apa yang mungkin dituangkan Naruto ke dalam bath-up, menyemarakkan wangi merileksasi.
Isi kamar mandi ini dihinggapi wangi menenangkan. Hinata menatap refleksi diri dari wastafel yang agak jauh dari posisinya di bath-up. Merasakan air teramat hangat mengendurkan otot-ototnya yang selalu tegang karena bekerja.
Sekali ini, meski merasa ia tengah bermimpi, Hinata menangis dalam hati dan bersyukur berkali-kali. Memohon ampun pada Tuhan, meminta maaf, dan berterima kasih tanpa henti.
Tiba-tiba saja sekelibat ingatan mencekiknya.
"Ambil ke sini anak-anakmu dengan bocah ini, Hinata. Biar sekalian mati saja anak-anak haram itu dengan ayahnya."
Seolah tercambuk keras, Hinata terlonjak keras.
Air dalam bak berkecipak dahsyat. Ia nyaris terpeleset saat buru-buru keluar dari bath-up, membuka sumbat air, sebisa mungkin mengelap tetes-tetes air dari tubuhnya yang membasahi lantai kamar mandi.
Kalau saja bisa, ia juga ingin letupan ingat itu terseka dari memorinya.
Hinata membuka ritsleting tas tangan, mengeluarkan tas kecil dengan perlengkapan serba ada. Bersyukur dalam hati karena membekali diri dengan penghangat, produk kebersihan, make-up seadanya, juga pembalut.
Ia memakai itu lebih dulu lengkap dengan pakaian dalaman cadangan yang ditaruh jauh di dasar tas. Berpakaian dengan baju yang Naruto pinjamkan. Mengeringkan rambut lembap sebisanya.
Membasuh kotor celana dan pakaian dari darah, nanar menatapi darah itu yang lagi-lagi menumpah air mata.
Tiba-tiba saja, tangisan Sakura kemarin lewat telpon terngiang-ngiang di telinganya.
Astaga, bagaimana kalau Sarada tahu?
Hinata meremas-remas pakaian, membilasnya sebisa mungkin. Melampiaskan ketidakberdayaan selama ini, emosi yang tidak pernah bisa ia alamatkan pada sang biang keladi.
Sasuke Uchiha.
Hinata tahu, pernikahannya dengan Naruto berujung perceraian bukan salah Sasuke, tapi penderitaan selama pernikahan dan kemungkinan mengerikan (Sasuke dalang di balik semuanya) itu membayangi, mencekik Hinata sampai ia terisak.
"Sakura-chan, Sarada ... Ya Tuhan," rintih Hinata. Tuhan, Sakura-chan sebenarnya wanita yang sangat baik, apalagi Sarada. Mengapa mesti begini?
Memakai kantung plastik untuk pakaian basah, Hinata membasuhkan air wastafel pada wajahnya. Sedingin es yang orang-orang senang nikmati kala musim panas meraja. Menjernihkan pikiran, memikirkan apa yang setelah ini harus ia lakukan.
Sepasang mata itu redup, sedikit melembut saat akhirnya ia bisa membereskan peralatan botol sabun dan lain-lain milik Naruto. Buru-buru mencuci muka dari airmata.
Hinata merileksasi diri dengan mengatur sistem pernapasan. Menjejalkan kantung plastik berisi pakaian sudah bersih dibilas ke dalam tas, begitu pula pakaian kerjanya yang ia pakai dari semalam.
Ia mengecek ponsel sebentar. Tak ada kabar.
Sebegitu marahnya Sasuke mengejar Naruto dan anak-anak kelas Kyuubi, betapa benci meski selama ini Naruto tidak pernah melakukan apa pun padanya, tetap saja ia tidak akan menanyakan istrinya sudah pulang atau belum.
Bahkan menanyakan di mana anak-anak pun tidak.
Bibir Hinata tertekuk kaku. Memasukkan smartphone kembali ke saku dalam tas, ia kikuk memakai jaket dan merapatkan ke badan. Mengencangkan tali celana jersey agar tak terlalu kedodoran.
Hinata berjalan keluar kamar mandi. Takut-takut seperti kelinci keluar mengintip dari lubang.
Alangkah terkejutnya ia mendapati seprai tempat tidur telah berganti warna, abu-abu polos. Bedcover telah tersingkap. Selimut terlipat rapi. Bantal-bantal dan guling tampak menggembung.
Tirai telah diikat rapi ke samping, menampilkan balkon dengan kursi santai. Dinding tinggi rumah dijalari bougenvil ungu.
Atap-atap rumah tetangga yang mencuat dari balik dinding, serta mendung dari langit yang masih setengah gelap menggantung, tak mengungi romantika pagi berhujan yang begitu bising.
Pot-pot bunga tergelantung di tepi genting, bergoyang karena senandung angin dan hujan pagi hari yang begitu lebat.
Cahaya lampu taman membiaskan riak air kilau dari kolam renang, terpantul di langit-langit balkon.
Cahaya di perapian dari balik kaca anti panas menghangatkan. Ada musik piano instrumental lembut dari pengeras suara, yang entah dari mana asalnya.
Pandangan Hinata berlabuh pada punggung tegap sang pemilik kamar. Masih dengan pakaian yang seharian kemarin Naruto pakai.
Pria itu tengah membereskan kekacauan di meja kerja. Menumpuk jurnal dan buku lebih rapi, merapikan peralatan tulis.
Begitu selesai, Naruto berbalik untuk mendaratkan tiga remote di atas meja kerjanya. Ia mendongak, tersenyum menyambut Hinata yang terpaku. "Maaf, kamar mandiku berantakan, ya?"
"Bu-bukan masalah." Hinata mengerjapkan mata ketika Naruto melambai padanya, isyarat agar ia mendekat.
Naruto bersabar menanti Hinata yang canggung menghampiri. Dia meraih tas Hinata, meletakkan tas itu di atas meja. Menyerahkan segelas teh hangat pada wanita yang tampak tenggelam dalam pakaian pinjamannya.
"Kau mau sarapan, tidak?" Naruto mengambil handuk kecil yang ternyata telah ia sediakan di atas meja. Menaruhnya di atas kepala Hinata, mengusap-usap perlahan untuk mengeringkan tetes-tetes air dari ujung rambut indigo.
"Eh ... aku hanya bisa membuatkanmu roti lapis selai, sih." Naruto tertawa kering, mengingat keahlian masaknya hanya berkembang sampai situ saja. "Oh! Ada macaroni schotel, mau?"
Hinata menggeleng lamat. Membiarkan Naruto menghanduki kepalanya, tak menolak saat Naruto memintanya untuk duduk kembali.
"Perutmu sakit?" tanya Naruto khawatir. "Maaf, aku tidak ada obat untuk sakit perut ... um, yah, wanita. Pasti ada potek 24 jam masih buka, apa nama obatnya? Mau kubelikan?"
Hinata menggeleng lagi. "Tidak usah. Nanti juga sakitnya hilang sendiri."
"Ya sudah. Satu lagi, ini ..." Naruto menyerahkan buli-buli—kantung air panas—pada Hinata, "pakai saja, untuk perutmu. Dulu guruku, yang sekarang masih di Helshinki, suka pakai itu untuk meredakan nyeri sakit punggungnya. Tidak bisa menyembuhkan memang, tapi kuharap ... ehm, bisa membantu?"
Hinata bingung begitu Naruto membimbingnya untuk kembali berbaring ke ranjang. Keningnya berkerut, mata menyipit takut.
Naruto melapisi buli-buli itu dengan handuk kecil, meletakkannya di atas perut Hinata. Memastikan Hinata bergelung lagi dalam selimut dan bed-cover.
"Masih sangat pagi. Tidur lagi saja, Hinata." Naruto mengerling jam dinding di seberang tempat tidur, begitu pula Hinata. Jarum jam berhenti tepat di angka lima.
"Maaf ... a-aku merepotkanmu." Hinata membenamkan setengah wajah ke balik selimut.
Naruto menepuk lembut punggung lengan Hinata dari balik selimut. Memandangnya dengan hangat, yang telah lama Hinata ingat dalam hari-hari dan malam di mana ia merasa ingin (kontrak hidupnya di) dunia berakhir saja.
Selalu senyum itu lagi yang menyelamatkannya.
"Menurutku, anak-anak dan kau ..." Naruto menolehkan pandangannya pada kisruh air berlomba-lomba menyapa bumi melalui pintu kaca, "tidak pernah merepotkan."
Hinata mengeratkan cengkeraman pada pinggiran selimut, melirih terima kasih. Turut memandang hujan yang terlihat dan ada di seberang pintu kaca.
Keduanya terlarut dalam keheningan pagi dan situasi di mana ada begitu banyak yang mesti dikatakan, tapi tidak ingin mengatakan.
Hinata menilik jam dinding. Jarum menit menyentil angka tiga. Jarum jam berhenti di angka lima. Memori tentang letupan emosi Sasuke, mengetahui ia tidak jadi pulang, benar-benar meremang bulu kuduknya.
Pula meletupkan perasaan muak, juga sebuah cara. Ia dan anak-anak tidak lagi bisa ada di rumah Uchiha, harus keluar dari sana bagaimanapun caranya.
Hinata memejamkan mata. Hatinya berdenyut keras, merasakan kemenangan memedihkan karena akhirnya, ia punya alasan kuat untuk berpisah dari Sasuke Uchiha.
Dipikir-pikir lagi, nanti ia akan mencari waktu untuk menghubungi Sakura. Bagaimanapun, mereka perlu mengumpulkan para perempuan yang jadi korban Sasuke.
Ah, omong-omong soal Uchiha itu ...
Hinata memandang pria yang melempar lipatan rapi handuk lembap ke meja kerjanya. "Ke-kenapa aku tidak dibangunkan semalam untuk pulang?"
Airmuka Naruto menjelma seolah ada hal mengganjal, meski senyumnya tetap sama. "Ah, ya ... Boruto yang minta."
Sepasang mata tanpa pupil membulat. "Bagaimana bisa?"
"Dia mendengarkan percakapan kita, dari mulai kau bertanya apa yang terjadi di malam setelah kau, aku, dan ayahmu diculik." Naruto mendesah.
"Kaubilang semuanya pada Boruto?" Hinata berusaha duduk, tapi berhenti ketika Naruto mendiamkannya.
"Aku tidak menjawab detail kejadian hari itu. Kujawab apa adanya, bahwa kita pun tidak mengerti." Naruto melanjutkan tepukan pada lengan Hinata. "Tapi pasti cerita, kalau kita juga sudah mengerti apa yang sebenarnya terjadi."
Mereka sama-sama menghela napas panjang.
Hinata menunduk, resah memandangi hujan di luar kamar. "Aku tahu mereka berhak tahu, tapi tidak sekarang."
Naruto mengangguk. Bangkit sedikit dan membenarkan letak selimut, pas sebatas bahu Hinata. "Dan sekarang, sebaiknya kau istirahat lagi. Panggil saja aku kalau butuh apa-apa, ya."
"U-uhm." Naruto telah mengatakan itu untuk kedua kali, tapi ia sedikit panik melihatnya beranjak pergi, maka tanpa sadar tangan Hinata keluar dari selimut dan meraih tangan pria itu.
Naruto menolehkan tatapan bertanya padanya, membagi pandangan antara Hinata dan tangan yang menahan tangannya.
Seakan proses berpikir otaknya macet seketika itu juga, Hinata tidak bisa membawa dirinya untuk berkata.
Bisakah kau tetap di sini?
Hinata melepaskan tangan Naruto. Terbata bertanya, "Di ma-mana anak-anak?"
Senyum Naruto merekah, menyakitkan untuk Hinata lihat—terlebih ketika Naruto menepuk punggung tangannya dengan lembut, "Tadi sempat kucek, mereka masih tidur."
Hinata menyelinapkan tangan lagi ke dalam selimut. Tak sadar pandangannya melembut. "Te-terima kasih sudah menjaga mereka."
"Aku yang harusnya berterima kasih padamu. Kau selalu menjaga mereka dengan baik." Naruto menggeleng-geleng, melebarkan senyuman. Tidak tahu itu menghangatkan hati sang wanita.
"Boleh aku melihat mereka?" pinta Hinata.
"Kalau kondisimu memungkinkan," Naruto membantu menyingkapkan selimut, memandang ke arah pintu kamar, "ada dua kamar di dekat kamar ini. Cari saja mereka, pintunya tidak dikunci."
Setelah itu, Naruto tidak berkata apa-apa lagi. Ia menepuk lembut Hinata untuk terakhir kali dan melenggang pergi.
Hinata mengamati sejenak. Naruto menyelinap masuk ke walk-in closet. Mengambil setumpuk pakaian baru untuk ia kenakan sendiri, kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.
Wanita itu mengencangkan tali celana yang ia kenakan, tidak nyaman karena kebesaran sampai merosot ke pinggul. Menyeruak dari selimut, mengecek pintu kamar mandi yang tertutup. Mendengarkan lantunan hujan dalam kamar mandi, bersinkronisasi dengan hujan di luar yang tak berhenti dari semalam hingga pagi ini.
Telapak kakinya disapa oleh lantai yang dingin. Ia bisa menahan semua itu, karena ruangan ini cukup hangat. Hinata mengedar pandangan ke sekitar. Menyerap semua yang ada di sana, baru ia beranjak ke pintu dan memakai sandal rumah yang terparkir di dekat karpet kecil.
Hinata keluar kamar. Mengetahui dari penampakan tangga, bahwa ternyata ia ada di lantai dua.
Sesuai keterangan yang Naruto berikan, Hinata melewati ruang keluarga di antara spasi dua kamar. Sedikit mengernyit, ia rasanya mendengar suara-suara percakapan dari bawah.
Hinata mendekat ke balkon, mendapati ruang tamu dan dapur telah rapi. Barang-barang kedua anaknya yang semula berserakan, kantung-kantung hadiah untuk para murid Naruto di Helshinki, tertata rapi di atas meja dan sofa.
Kendati langit masih bising menyerpih butir-butir air, Hinata yakin dirinya tak salah dengar ada suara-suara dari lantai bawah.
Apa Naruto kedatangan tamu?
Walau ingin tahu, Hinata sadar diri untuk tidak mengganggu. Bagaimanapun, statusnya adalah istri orang.
Akan buruk reputasi Naruto kalau sampai ada orang tahu, bahwa mantan istri dan putra-putrinya ada di sini.
Hinata mengendap-ngendap ke pintu kamar terdekat dari kamar tempat ia terbangun. Begitu pintu terbuka, Hinata terkesiap. Buncah oleh haru-biru, tatapannya tak henti menyusuri penampakan kamar anak perempuan yang sangat manis dan lembut.
Serasi sekali dengan Himawari.
Putrinya pulas di ranjang, sambil memeluk boneka beruang. Hinata menghampiri, menyelimuti lagi karena selimutnya terjatuh ke kaki tempat tidur. Mendaratkan kecupan manis di dahi Himawari, kemudian keluar kamar lagi.
Hinata menutup pintu, perlahan menyeret langkah ke arah pintu lain. Mengerjapkan mata karena ternyata kamar mandi, lantas menuju satu pintu lagi yang ada di lantai dua.
Hinata memungut selimut yang jatuh ke tepi ranjang. Menyelimuti Boruto yang tidur tengkurap, seperti bayi kecil bertahun lalu yang ia timang dengan sayang.
Dua kamar. Untuk sepasang anak. Desain interior khusus putra dan putri yang beranjak dewasa. Seluruh komponen dan properti dalam kedua kamar, benar-benar menampakkan lebih banyak dari apa yang Naruto tidak pernah katakan.
Orang lain, bahkan Boruto sendiri, boleh saja mengutuki; mempertanyakan mengapa mesti sekarang Naruto kembali lagi. Untuk apa kembali, jika selama ini Uchiha Sasuke telah merawat, memfasilitasi mereka tanpa pernah mencicipi krisis finansial?
Memang tidak mewah, tapi bahkan meski dengan bentangan waktu di masa kala ayah dan kedua anaknya dipisahkan, Naruto tetap tahu detil-detil kecil tentang putra-putri mereka. Menempatkan itu dalam kedua kamar, yang sengaja dirancang untuk keduanya.
Ketika Hinata menangkap putranya berganti posisi, telentang, mendengus puas, melindur dengan raut tidur begitu damai, Hinata mendesah lega begitu tahu dugaannya keliru.
Sang ibunda tertawa kecil karena putranya merentangkan lengan kanan ke atas kepala, sementara lengan kiri dan kaki kiri tergeletak di atas guling. Mendengkur keras.
Seutas cengir kecil muncul di bibir Boruto, seakan tahu Hinata dengan sayang membelai rambutnya, kemudian mengecup pipinya.
Mungkin benar pernyataan, bahwa anak itu adalah keajaiban—dengan segala baik-buruk yang menyertai mereka. Buah hati selalu bisa menjadi opsi sebagai obat hati.
Bahkan ketika hati seorang ibu seberduka sekarang, anehnya, melihat wajah tidur anak-anak yang sepolos itu memulihkan hatinya.
Hanya untuk anak-anaknya, Hinata akan bertahan. Meski entah sampai kapan.
Hinata kembali ke kamar tempat pertama ia terbangun. Wajahnya perlahan memerah, akhirnya menyadari kemungkinan benar ini kamar utama; kamar Naruto juga.
Wanita itu lebih tidak siap lagi, dihadapkan dengan penampakan Naruto berdiri di depan meja kerjanya. Celana american drill hitam panjang, ikat pinggang berwarna sama.
Ia menundukkan kepala tatkala melihat punggung Naruto terpapar, terlihat segar dan hangat khas pria baru selesai mandi. Memakai kemeja putih dengan lengan sesiku, asal memasukkan kemeja bagian depan, tapi bagian belakangnya jatuh dengan natural.
Hinata benar-benar merasa bakal kena serangan jantung begitu Naruto berbalik. Pria yang sedang memakai arloji juga kaget melihat Hinata sudah kembali ke kamar.
Bahkan dari jarak dari pintu ke meja kerja, Hinata tetap bisa melihat garis buah adam, lini selangka dan dada bidangnya, rahang pria dewasa yang bersih, pula deret garis di pipi Naruto.
"Anak-anak masih tidur, 'kan?" tebak Naruto, cepat-cepat memasang arlojinya.
Hinata bergerak ke dekat tempat tidur. Samar-samar menyesap harum sabun pria, sama seperti yang tadi ia kenakan dari kamar mandi. Entah kenapa rasanya beda saja ketika ia menghirup, dan harum menenangkan itu terkuar dari Naruto.
"Umm." Hinata lamat-lamat mendudukkan diri lagi di tempat tidur. Entah mengapa, merasa agak lemah melihat Naruto begitu maskulin, bersih, dan wangi. "Di bawah ... ada tamu, ya?"
"Bukan tamu, sih ..." Naruto membenarkan lipatan kerah kemejanya, "mereka yang kubilang, teman-temanku yang memungutku di jalanan setelah kejadian waktu itu."
Hinata ragu-ragu menatap Naruto. "Apa mereka tahu ..."
"Kejadian waktu itu, hubungan kita dulu, atau kalian bertiga ada di sini?" sambung Naruto, nyengir geli karena melihat wajah Hinata memerah menggemaskan.
Hinata memilin-milin tali celana training yang ia kenakan. Sadar diri penampilannya tak layak untuk bertemu dengan para penyelamat Naruto, meskipun ia sangat ingin.
Kalau perlu, cium-tangan mereka dengan khidmat; sembah sujud di kaki mereka, karena kalau bukan karena mereka, tidak akan ada Naruto di sini untuknya dan anak-anak.
"Mereka tahu semua, kok," jawab Naruto.
Kenapa mereka ada di sini? Akan tetapi, ia sadar diri untuk tak menanyakan hal ini. Hinata mengangguk semampunya, kembali bergumul dengan selimut.
"Naruto-kun ... belum tidur dari semalam?" tanya Hinata khawatir, alisnya bertautan melihat hologram muncul dari arloji yang Naruto kenakan.
Hinta tak luput melihat Naruto agak tersentak. Kikuk melenyapkan hologram itu. Tampak berpikir keras, hingga akhirnya ia mendesah.
"Ada yang mesti kuurus." Naruto berdeham.
Hinata mendapati Naruto masih memunggunginya dengan kepala setengah tertunduk. Kebiasaan dari dulu bahwa ada sesuatu memberati Naruto. Mungkin urusan dengan para penyelamatnya?
Tentu saja.
Hinata baru mau menggumam maklum ketika ia tersentak sadar. Tentu saja bukan.
"Oh, astaga, ma-maafkan aku." Hinata cepat-cepat mendudukkan diri, penuh sesal menatapi tempat tidur. "Gara-gara aku, kau jadi tidak bisa tidur."
Well, Naruto Uzumaki bukan tipikal pria suka cari kesempatan dalam kesempatan. Ya, untuk memanfaatkan.
Terlepas dari ada tidaknya wanita di sisinya.
Naruto yang dulu pasti sudah geleng-geleng, ribut mencerocos bahwa tentu itu bukan salah Hinata. Namun dia yang sekarang, tersenyum miring.
Tentu saja, memang bukan kekeliruan Hinata, tapi munafik kalau ia bilang tidak bakal kelewatan senang jika benar-benar bisa tidur bersama Hinata.
Tidur. Iya, tidur biasa saja dan memeluknya sepanjang malam. Membelai rambutnya. Memandangi wajah tidur Hinata dan menciumi berulang kali.
Peristiwa semalam, ketika ia menemui Kurama dan yang lainnya untuk menyerahkan data kiriman Jiraiya, mereka bertemu di bar itu.
Siapa sangka, Sasuke masih mengepak sayap memangsa wanita-wanita muda, sudah jadi bukti hakiki memang pernikahan Sasuke dan Hinata bertahan lama bukan karena keduanya saling mempertahankan.
Dasar Kurama, coba saja ia tidak telpon semalam, Naruto takkan keberatan menemani Hinata dan hanya memandangi wajah tidurnya—
Sabar sebentar, astaga! Selama Hinata masih bermarga Uchiha, yang ada kau benar-benar cuma jadi selingkuhannya saja.
Enak saja. Naruto tidak akan membiarkan Hinata jadi seperti Sasuke. Serong kanan-kiri dan dirinya hanya jadi selingkuhan saja, disayang diam-diam dalam gelap, sembunyi-sembunyi dari intaian publik yang hobi menghakimi.
"Woy, Naruto, memangnya mantan istrimu itu masih mau denganmu?"
Naruto teringat pertanyaan itu. Di suatu senja, selepas Kurama selesai bercerita tentang masa remajanya. Kini dia mengamati ekspresi Hinata. Well, dia bisa menguji.
"Bukan gara-gara kau juga, sih. Memang akunya ada hal yang mesti diurus." Naruto memutuskan untuk duduk di tepi tempat tidur, di samping Hinata yang sedang berbaring.
"Kau tidak capek?" Hinata menyorotkan penyesalan teramat sangat, sampai Naruto memecah hening berisi bising hujan dengan tawanya.
"Capekku hilang begitu melihatmu tidur lelap dan tenang." Naruto menyengir lebar, melempar umpan pertama.
Hinata memucat. "Ta-tapi tadi aku ... ehm, mimpi buruk—dan kau melihatku terbangun—"
"Apa gara-gara aku datang, ya?" Mata biru Naruto membola, mulut ternganga dan dengan bodoh menunjuk dirinya sendiri.
Hinata terdiam agak lama, hingga akhirnya kekhawatirannya melumer jadi tawa. Pelan dan (sangat) menyenangkan untuk Naruto dengar.
"Naruto-kun baru datang? Memang semalam kau tidak di rumah?" Senyum kecil merambat di bibir Hinata.
"Ehm ... tidak. Aku kan ketemu Kurama dan yang lainnya, ada urusan—kan aku sudah bilang. Memang baru pulang."
"Oh iya, teman-temanmu masih ada. Apa tidak apa-apa mereka tinggal begitu lama?"
"Tidak masalah, kok. Mereka berteduh menunggu hujan reda saja. Harusnya sih tidak lama."
"Ada barang anak-anak di bawah, bagaimana?"
"Oh, sudah kubereskan. Mereka di ruang tamu depan. Memang sih tampang mereka preman, tapi bukan berarti tidak mengerti sopan dan main berkeliaran di rumah orang sembarangan."
"Ta-tapi ada aku juga ..."
"Ya terus memang kenapa kalau ada kau?" Naruto memiringkan kepala.
Hinata merasakan panas sama sekali lain mengemuti pipinya ditatapi seperti itu. "Ka-karena mereka sudah tahu masalah kita?"
"Begitulah. Ah, tapi mereka calon-calon pendengki, bisa geger kalau sampai tahu ada wanita secantik kau tidur di sini." Naruto geleng-geleng kepala seperti guru yang capek lihat muridnya lambat mengerti materi yang diterangkan.
"... a-aku sudah tidak lagi—uhm—muda." Hinata bertahan, jangan sampai matanya berkunang-kunang saking ia tidak bisa menjaga debar dadanya sendiri.
Naruto mengangkat sebelah alis. "Memangnya sejak kapan yang pantas dibilang cantik cuma anak gadis saja?"
Hinata menggeser tatapan pada lampu aneh di atas nakas, lembut melihat itu saat mengingat putri mereka. "Tapi coba kaulihat Himawari."
"Kan cantiknya juga dari ibunya." Naruto santai mengangkat bahu.
Hinata melirik Naruto, menyesal karena tatapan Naruto memang masih punya efek seperti dulu untuknya. Membuat napas tercekat. "I-itu ... dari Tuhan."
Naruto menepuk punggung lengan sang wanita, mengangguk-angguk khidmat sok jenaka—kendati sebenarnya ia tak sadar sorot matanya melembut pada Hinata. "Karena itulah aku sering banyak-banyak bersyukur pada Tuhan."
Tolonglah, Tuhan. Masalahnya begini, Naruto punya sorot tatap seperti semangat api, tetapi ada kalanya sorot itu begitu penuh kejujuran sebening air dari mata air murni.
Nah, Naruto tengah menatapnya dengan jenis tatapan yang terakhir.
Tidak kuat dengan situasi ini tapi niat hati untuk tidak lagi memiliki, memaksakan memori untuk mengingat apa yang telah terjadi, Hinata menahan diri untuk tak terlena.
"E-ehm, Naruto-kun kenapa masih di sini? Kurama-san dan teman-temanmu yang lain bagaimana?"
Tolonglah, Tuhan. Naruto meratapi diri. Hinata kan tidak akan pernah mengerti perasaan gemas dan rindu tiap melihat wanita itu seperti dulu, memainkan jari begitu merasa gugup.
"Santai saja, mereka tidak akan macam-macam." Naruto nyaris cemberut melihat Hinata menghindari pandangannya. "Aku di sini menemanimu sampai kau tidur lagi."
Hinata menggeleng. "A-aku sudah tidak apa-apa, kok, jadi—"
"—jadi kau mau aku pergi?"
"Bu-bukan begitu maksudku." Hinata merasa hatinya diremas-remas karena Naruto tak menampakkan kekecewaan, marah, atau tersinggung. Justru penuh dengan pengertian. Tak sanggup berkata, tentu saja tidak.
"Tapi aku mau tetap di sini menemanimu." Naruto menggeser rambut Hinata agar tidak menutupi wajahnya. "Bukan untukmu, tapi untuk kebaikanku sendiri. Supaya kau tidak usah bermimpi, karena mimpi cuma membuatmu tambah capek begitu bangun."
Serangkaian kenangan di tiap pagi menyibak memori Hinata. Ada sepasang mata biru yang selalu diam-diam memerhatikannya tiap terlelap di pagi hari, terpisah sembilan petak keramik dan dua meja guru.
"Kalau kau mau cerita, aku siap mendengarkanmu. Kalau itu terlalu berat untuk diceritakan, biarkan—daripada malah memberatkanmu." Naruto membelai perlahan sisi kepalanya.
"Kalaupun bukan padaku, kapan-kapan ceritakan saja yang memberatkanmu pada yang bisa kaupercaya, Hinata. Aku tahu itu tidak menyelesaikan masalah, tapi coba kosongkan bagasi perasaanmu itu—daripada jadi sampah batin dan pikiran, menumpuk terus, malah berakhir menyakitimu sendiri.
"Susah kalau kau jadi ikut berpikiran negatif karena masalahmu. Semua penyakit, mau jiwa atau raga, datangnya dari beban pikiran dan hatimu."
Perlahan mata Hinata berkaca-kaca, menengadah pada Naruto yang senantiasa memandanginya.
"Kalau ... itu terlalu berat ... dan memalukan untuk kuceritakan?" tanya Hinata takut, tanpa sadar membiarkan tangan Naruto mengelusinya.
Naruto memandangnya. Dalam dan lama. Hingga pelan bertanya, "Bahkan pada Tuhan?"
Merasa tercubit entah di mana dalam dirinya, Hinata menganggukkan kepala dengan berat.
Seakan Naruto juga punya hal yang sama untuk disembunyikan, bahkan dari Tuhan. Bahwa ia malu pada Sang Pencipta karena telah melakukan suatu dosa besar, lalu memutuskan berpaling dari-Nya. Merasa tidak pantas berada di dekat yang Maha Memahami dan Mahatahu.
Senyum Naruto berubah getir.
"Katakan pada dirimu sendiri." Naruto menghirup napas dalam.
Hinata membiarkan Naruto menyeka airmata yang lagi-lagi meleleh di wajahnya.
"Kau mesti berdamai dengan dirimu sendiri, akuilah bahwa ya, kau memang pernah melakukan kesalahan, berdosa, dan bahkan sampai merasa begitu malu pada Tuhan.
"Namun, katakan juga terima kasih pada dirimu yang di masa lalu. Berterimakasihlah, karena kau memutuskan untuk bertahan sampai sekarang. Ini tidak akan mudah, tapi berusahalah untuk berubah. Coba terima dirimu apa adanya."
"Aku tidak mengerti dengan konsepsi menerima diri sendiri apa adanya ... yang seburuk ini," rintih Hinata.
"Opiniku pribadi, menerima diri sendiri apa adanya, adalah sadar bahwa kita berbeda. Tidak ada orang yang sama, dan tidak sepatutnya disama-samakan, dibeda-bedakan, atau bahkan dibanding-bandingkan.
"Kalau memang banyak hal yang buruk darimu, maka ubahlah jadi lebih baik. Kalau sudah baik, pertahankanlah—bukan demi memenuhi ekspektasi siapa pun, tapi demi kebaikan dirimu sendiri.
"Serius, prosesnya itu sangat susah, tapi meski pelan-pelan dan lama sekali rasanya, ingatkan ... kau melakukan ini untuk kau yang di masa depan. Untuk dirimu sendiri.
"Maksudku, kau yang sekarang, perlu memaafkan dirimu yang di masa lalu. Yang begitu lemah, bodoh, pengecut, tidak berdaya, dan segala kelemahan lainnya yang membuatmu malu.
"Apresiasi dirimu sendiri di masa ini. Ingat hal-hal apa saja yang telah kaulakukan dan membuatmu senang dengan dirimu sendiri. Mungkin melakukan hal sesederhana hobi?
"Berterimakasihlah karena kamu membuat dirimu sendiri bahagia, meski menurut orang, hal yang kaulakukan cuma kegiatan sampah atau bahkan tak ada manfaatnya. Setidaknya itu lebih baik, daripada merugikan sesuatu maupun menyakiti orang lain.
"Terakhir, mencoba berpikir positif tentang dirimu sendiri. Bahwa, oke, kau memang salah di masa lalu, tapi kau ada di masa kini dan ingin memperbaiki. Niat itu saja sudah baik, dan akan lebih baik lagi kalau kau berkomitmen untuk berubah. Demi kebaikan dirimu sendiri."
"Bagaimana bisa ..." Hinata mengenggam erat tepi bantal, "kalau aku merasa ..."
"Sakit dengan semua ini?" Naruto melanjutkan, ia mengangguk singkat. "Kadang rasa sakit datang dari pikiran negatif atas diri kita sendiri, tapi bisa juga datang dari luar. Nah, dari luar itulah yang kadang, tidak bisa kita tahan.
"Cuma memang, kalau sakitnya datang dari diri sendiri, ada yang perlu kita mengerti lebih dahulu."
"Maksudmu?"
"Sebenarnya kita tidak akan merasa tersakiti kalau kita tidak merasakan sakitnya. Manusia punya akal, mereka sebenarnya bisa saja mampu mengontrol perasaan mereka sendiri untuk tidak membiarkan diri mereka dijajah rasa sakit itu.
"Pernah dengar, bahwa revolusioner perang dunia yang ingin menghentikan peperangan, dipenjara dan disiksa berkali-kali tapi mereka tidak merasa menderita?"
"U-umm. Kenapa bisa, Naruto-kun?"
"Karena mereka tidak merasakannya," Naruto kemudian menekankan, "penderitaan. Mereka yang memilih untuk tidak merasa sakit dan menderita, sekalipun mereka ada dalam situasi dan kondisi berduka."
"... a-aku tidak sekuat itu." Hinata menunduk, malu pada dirinya sendiri.
"Kau tidak mesti kuat, cuma kau perlu melatih perasaanmu sendiri. Jangan sampai kau mau-mau saja membiarkan orang lain menyakiti perasaanmu sampai jadi begini," ujar Naruto berhati-hati. "Coba jaga hatimu sendiri supaya tidak tersakiti, sekalipun ada orang yang tega untuk menyakiti.
"Itu susah, Hinata ... bawaannya kecewa, sedih, marah, dan kita merasa ini tidak adil. Kita tidak melakukan apa pun pada mereka, kenapa kita mesti disakiti?" Naruto mengembuskan napas panjang.
Hinata kuat-kuat dan lamat mengangguk.
"Kau bisa memilih memaafkan saja mereka. Mendendam, membalas, cuma bikin rantai dendam berkepanjangan. Tidak akan ada masalah yang selesai. Anggap saja mereka tidak ada, tinggalkan. Hindari kalau perlu. Fokuslah untuk menyembuhkan dirimu sendiri.
"Tidak usah terburu-buru. Kebahagiaan kita itu tanggung jawab kita sendiri, bukan orang lain." Naruto menerawang hujan yang malah menggarang di luar rumah, tersenyum mengingat ocehan Kurama dan nasihat Jiraiya ketika dia masih begitu naif.
"Hinata, Tuhan tidak pernah kemana-mana, menanti kita kembali pada-Nya. Dia paling menyayangi kita, manusia, dengan cara-Nya sendiri—yang nalar kita terlalu dangkal untuk memahami seberapa besar kasih sayang-Nya."
Dia menatap lembut Hinata, yang tengah memandangnya sepilu dan selugu itu. "Try to be gentle and kind to yourself through the journey, 'kay?"
Naruto dulu selalu jadi bulan-bulanan Ino, karena bahasa asingnya yang jelek. Namun bahkan dengan pelafalan fasih itu, makna yang ia sampahkan meluruhkan karat yang membebat hati Hinata.
Mendadak Hinata ingin terisak.
Seperti anak kecil.
Naruto menghancurkan butiran yang menggenangi pelupuk matanya dengan punggung lengan, mengelusi Hinata yang tertelungkup di tempatnya tidurnya. Sedannya tak lagi tertahan.
Dalam diam, keduanya berdoa.
Semoga saja hanya Tuhan yang tahu, bahwa mereka sama-sama mengharapkan, seseorang di hadapan diri mereka tidak pernah mencoba mengenyahkan anugerah Tuhan.
Nyawa.
Ada jeda begitu lama, sehingga keheningan dapat bertamu dalam ruangan.
Begitu Hinata sudah jauh lebih tenang, Naruto membantunya untuk bangun, menyerahkan sisa setengah gelas air teh yang telah mendingin. Bersabar menanti hingga Hinata selesai menenggak sampai habis.
"Apa Naruto-kun pernah ... merasa begitu capek, tapi tidak bisa tidur?" tanya Hinata, usai mengembalikan gelas kosong ke atas tatakan.
"Biasanya, itu karena kebanyakan pikiran." Naruto menghela napas panjang, merentangkan kedua kakinya. "Kadang ada orang yang saking sedihnya, ia tidak bisa melakukan apa-apa. Itu juga wajar, tidak apa-apa."
Hinata menatapinya begitu beberapa lama terlewati dan mereka telah menenangkan diri. Kali ini memandang Naruto tanpa ditutup-tutupi lagi. "Kau sudah melewati banyak hal."
"Umm. Kau juga." Naruto membalas pandangannya dengan senyuman ringan. "Terima kasih sudah sekuat ini bertahan, untuk anak-anak, dan demi dirimu sendiri."
Hinata kini mampu menyeka airmata di pipinya sendiri, perlahan telah berganti makna. Suaranya parau kala berkata tulus, "Terima kasih juga sudah ... berjuang, dulu untuk kami, sampai hari ini dan nanti, dan demi dirimu sendiri."
Naruto tersenyum, mengangguk seraya menepuk punggung lengannya.
"Terima kasih sudah berjuang untuk kembali," Hinata dengan santun menganggukkan kepala, "dan menjadi lebih baik lagi."
Naruto terdiam. Ketika sadar tatapannya berubah nanar, Naruto menggulirkan tatapan pada foto putra-putri mereka di meja.
Hinata turut memandang pada foto yang sama. "Saat kau mandi, tadi aku melihat kamar yang kausiapkan untuk anak-anak. Bagus sekali. Aku sampai terkejut sendiri karena kau masih ingat selera anak-anak.
"Jadi terpikirkan, bagaimana perasaanmu saat menyiapkan semua itu untuk mereka dan melihat mereka sekarang tidur pulas di—ah?"
Hinata terperangah begitu perlahan-lahan sepasang lengan Naruto merengkuhnya ke dalam pelukan.
Hinata merasakan ada yang basah menimpa kaus dan jaket yang ia kenakan di bagian pundak, juga satu tangan yang merambat ke belakang kepalanya.
Tanpa sadar, pria yang memeluknya bergetar. Hinata menggigit bibir, menahan isakan. Tangannya bergetar mengelusi punggung yang selama ini selalu terlihat begitu tegar.
"Aku senang," Naruto mengaku dengan suara parau, "sangat senang, sampai sakit ... sangat sakit rasanya."
Kata-kata itu menyimilir aroma nostalgia. Hinata tercenung.
Karena reaksi Naruto sampai sebegininya, ia tak bisa mencegah membayangkan ekspresi Naruto ketika menata kamar dan rumah yang layak huni untuk anak-anak beranjak remaja.
Mungkin ada senyuman lebar di wajahnya seperti orang sakit gigi, matanya berkaca-kaca, sesak oleh buncahan haru karena dahulu tak pernah terbayangkan bisa memberikan semua ini pada mereka.
Hinata jadi terpikirkan bagaimana reaksi putra-putri mereka. Bagaimana kalau anak-anak tidak suka, sementara tanpa perlu diberitahu, Hinata tahu pasti butuh darah, keringat, dan airmata untuk Naruto menyiapkan semuanya hanya untuk mereka?
Menarik napas dalam-dalam, kemudian ganti tangannya membelai rambut Naruto yang sekemuning ilalang kala jingga berkalang petang.
"Aku tidak tahu apa saja yang kaulalui untuk bisa mendapatkan semua ini, tapi terima kasih sudah berjuang menyiapkan semuanya untuk mereka, Naruto-kun," ucap Hinata lembut.
Ia merasakan Naruto mengeratkan pelukan. Hinata menengadah pada lelangit ruangan, pola liukan air tercetak di eternit. Bergelombang meriah seperti riak emosi.
Seakan mengetahui apa yang tidak akan sanggup Naruto tanyakan, maka Hinata lebih dulu memberikan jawaban, "Percaya padaku, Himawari dan—bahkan—Boruto juga, pasti menyukainya."
Anggukan pelan. Hinata menepuk-nepuk lembut punggung Naruto. Ia hendak melepaskan rengkuhan mereka, tapi Naruto lagi-lagi malah mengeratkan pelukan.
"Sebentar," bisik Naruto, membenamkan wajah ke bahu Hinata. "Tolong ... sebentar saja."
Selamanya juga aku tidak apa-apa. Itu terdengar sangat salah, hingga memori tangis Sakura dan suara parau Neji bertandang lagi, maka Hinata tak kuasa mengatakannya.
Ia hanya memeluk Naruto lebih erat, seakan tak ingin kehilangan, seolah menebus hari-hari di mana ia menginginkan semua ini bisa terjadi. Meski dalam hati, kini Hinata berjanji, dirinya yang akan pergi.
"You said I have to try to be gentle and kind to myself through the journey," Hinata melirih di telinga Naruto yang memendam wajah di pundaknya, "bagaimana kau bisa bilang begitu, padahal selama ini kau sendiri tidak melakukannya?"
Hari ini, langit biru tengah bersembunyi di balik kelabu yang tak kenal malu. Membisikkan tentang rahasia lahirnya musim panas. Bahwa sebenarnya, antara musim semi dan musim panas, ada curah hujan deras tak terbatas.
Hinata bukan seorang wanita yang akan bilang, bahwa setelah penghujan meraja, maka ia dilengserkan pelangi yang naik takhta. Karena yang ada, adalah basah seluruh penjuru, kubangan genangan air, rerontokan dedaunan, dan langit yang pucat pasi.
Prosesi cuaca dan musim konstan mengalami transisi. Komponen-komponen kecil di dunia acapkali berganti, tapi memang pada kenyataannya, yang biasa ada di langit setelah hujan bukanlah pelangi.
ORANGE
.
Chapter 10: Even If it Hurts so Much
.
(Sometimes that's true; it's easier to love someone rather than love yourself.)
A/N:
Shoot out sama cowok-cowok yang mandang darah menstruasi itu sesuatu menjijikkan. Jangan ya, mas-mas. Itu datang dari Tuhan sebagai kodrat untuk perempuan (kecuali ada yang atheist, tapi kalaupun iya, you better not), normal, sehat, fertile, dan mesti dihormati.
Pengin saya say thanks sama Mas tertentu (ahem) yang bener-bener ngebuka mata saya gimana cara ngehormatin perempuan yang "kebocoran", padahal dulu saya sebagai perempuan aja rada gimana gitu sama darah menstruasi perempuan—meski sesama perempuan.
Dia nih ... padahal saya udah jutek rese' nyebelin setengah mati dan nangis ga jelas tiap menstruasi, si Masku ini sabar. Hahaha serius sabar bener sumpah. Begitu dia tanya kenapa dan sewotbanget pula saya jawabnya ("Lagi dapet! Puas?!"), dia terus dateng bawain kue cokelat dan main gitar.
Di lain waktu, rok SMA saya dulu kena noda mens, dia malah makein jaketnya supaya engga keliatan (dianya pula nyadar duluan. Yalord saya malu-maluin memang), saya tolak tapi dia ga mau, malah ngurusin ijin supaya saya bisa pulang terus nganterin ke rumah. Saya tanya pas kami naik angkot otw pulang, apa dianya ga jijik dan malu, jawaban dia sambil senyum tuh: "Enggak, berarti kan kamu sehat." itu ... sesuatu. Bikin merenung. Thank you for your love and kindness at that time. Thank you for being an inspiration for me.
Saya termasuk yang memandang cinta enggak cukup pake bahasa kalbu doang, saling pandang terus segalanya indah; tapi juga enggak dengan cinta modal ngomong doang.
Itu butuh saling memaafkan satu sama lain, menghormati, menghargai, dan mengapresiasi. Butuh keseimbangan antara tindakan dan perkataan. Just 3L (lust, like, love) isn't enough.
Saya akan hiatus lama, ada yang perlu diprioritaskan di RL. Fanfiksi ini belum mengudara di wattpad. Nanti saya beri informasi lagi.
To cantik: chapter 9 adegan Boruto sama Naruto, itu dengerin lagu Afgan – Bukan Cinta Biasa. Adegan raep Sasuke-Hinata, dengerin jangkrik malem (i am deadly serious), terus bagian Hinata keinget Naruto itu denger Call Your Name – Sawano Hiroyuki (meski sisipan adegan smutty NaruHina fluffy, tapi saya nangis ngetiknya). Dari situ sampe akhir chapter itu dengerin lagu Afgan – 'Ku dengannya Kau dengan Dia. ; ' )
Terima kasih atas apresiasi kalian yang luar biasa: Abu Naum, fhrer, cantik, rachman . fatur . 161, HyuukiA-chan28, Atago, Kazumine, jefferson2512, UCHIHA SHINOKO, vii san, BluKira, gord sensei, David504, muhammaddandi52, Alwi Syahab, Sukiraki Tatsuya, Shiranui Shuichi, Uzunami1
