Oleh Livylaval, tentang ORANGE:

sorry, frag
sya baru menulis review stlah membaca 6chapter (untuk chapter ke 7, sya pilih untuk menulis review sblm membacanya)
awalnya, saya tertarik baca fanfic ini krn tulisan masturb-nya, sya pikir naruto sedang menyelidiki seorang tersangka pelecehan.
ternyata sejauh ini, sya salah.
maaf sebelumnya, chapter stu sya melalui dengan terlalu banyak skip, sya pecinta fiksi ringan dengan kata yang gampang diserap otak saya yg sejenius murid2 di kelas kyubi.
lalu sya membaca chapter 3, dimana kemudian sya smakin tertarik dan kembali membaca chapter 1 pelan2.
masih banyak misteri, jdi sya pikir alurnya masih bagus2 saja, tidak gagal logika.
ada beberapa typo, ada di chapter 3 kalau tidak salah, (pada scene hinata dan naruto di ruang guru pagi2) ada kalimat "bantal masuk", memang seharusnya "batal" atau sya yang sedang gagal paham.
jujur beberapa kata perlu di baca dengan baik2 agar bisa dimengerti (kata2nya bagus, menambah kosakata, terimakasih ya, frag)

akhir kata, sya mendambakan happy ending di setiap cerita yang saya baca, jdi semoga saja frag-san mau mempertimbangkan keinginan saya.
semangat frag, semoga fiksi ini update lancar jaya ...

.

.

.

Warning: hanya spoiler untuk chapter selanjutnya, cuplikan kilas balik penting, dan informasi.


"Sumpah, mukamu terlihat seperti sampah."

Cetusan Kurama bernada lunak, prihatin dan kasihan bahkan. Naruto menatapnya dengan pandangan kosong dan wajah sembap, kemudian melotot sebal.

"Coba katakan itu saat tadi pagi buta melihat Sasuke make-out dengan wanita lain di diskotik," sewot Naruto padanya.

"Terlihat seperti," Kurama menekankan, dia menyeringai menggoda. "Kalau Sasuke kan memang."

Naruto mendenguskan tawanya, mengambil sebuah pulpen dan papan jalan dari meja kerja di ruang tamu depan. Menjepit setumpuk kartu ucapan kosong di papan jalan.

"How do you feel right now, yoowww?!" Killer Bee mengentak pinggil kanan-kiri dan membuat wajah Naruto berkeriut ngeri.

"Bagaimana rasanya melihat ambisi pribadimu setengah terwujud, menginginkan keluargamu kembali bersamamu, tapi sebenarnya mereka masih terikat pada orang lain?" tanya Gyuuki geli.

"Bagaimana perasaanmu setelah akhirnyaaa," seru Kurama sambil mengayunkan lengan ala maestro musik kenamaan, "berhasil menjadi Sugar Daddy untuk keluargamu?"

Naruto menatap ketiganya bergantian. Bahunya menurun dengan kelegaan seiring napas terembuskan. "Kenapa aku masih berteman dengan kalian, hm?"

"Weeey ... " Kurama mengangkat sendok makan dan teh sekaligus ke udara, seperti tengah berhura-hura, "tentu saja Naruto sangat bahagia. Oh, tenang saja. Di luar hujan deras, kok, jadi kalau kau melakukan apa pun dengan mantan—calon istrimu lagi—tidak akan terdengar apa pun."

"Berengsek." Refleks Naruto tergelak. "Aku tidak seberengsek itu, tahu!"

"Mana semalam kaulihat sendiri si berengsek itu asik bercumbu dengan wanita lain," kompor Kurama, main menggerogoti macaroni schotel milik Naruto. Memutar cangkir berisi seduhan kopi. "Ayolah, bukan Uchiha saja yang bisa jadi bajingan."

"Cukup dia saja yang jadi bajingan, aku tidak mau ikut-ikutan." Naruto mendengus keras. "Jangan bawa-bawa Hinata juga, tidak pantas Hinata diperlakukan seperti itu."

"Kau ngomong begitu, tapi kau bahkan sudah menculik anak-anak dan istrinya." Kurama menggoyang-goyangkan kedua sendok sekaligus.

Pandangan Naruto meliar mencari benda, segera ia menyambar bantal dan menimpuk Kurama. "Aku tidak menculik, tapi—"

"—lemah hati untuk bersama mereka?" cengiran Kurama setingkat lebih setan lagi begitu berhasil menghindari lemparan bantal. "Katanya mau tunggu sampai mereka cerai. Kaubuat bercerai, tepatnya."

"Jangan buat aku kedengaran antagonis begitu." Kesal karena Kurama main membeberkan rencana terselubung ambisi pribadinya, Naruto menuding pada pria itu. "Tsk. Sebentar, aku perlu cari karbol untuk membobol kerongkonganmu. Dasar pencuri macaroni!"

"Bahkan kalau kaubawa golok untuk menggorok tenggorokanku, kaupikir aku bakal takut dan kencing di celana?" seloroh Kurama.

"My bro, he's so fierce and doesn't like peace," Killer Bee berputar dan memasang pose andalannya, "kebal dibacok dan tak takut encok~!"

"Bagaimana bisa takut dibacok kalau dianya yang tukang bacok?" Naruto mengambil fotocopy print-out. Tertulis Denah Hidden High Schools di bagian judul, kemudian ia bagikan pada ketiga kawan lainnya.

"Hati-hati, kau mesti lebih bersabar, Naruto. Pasti seluruh keluarga kedua belah pihak tahu kelakuan Sasuke Uchiha. Kau pernah cerita, dari dulu kelakuan Sasuke sudah begitu, tidak mungkin keluarganya tidak sadar, 'kan?" Killer Bee berujar lagi.

"Aneh. Kenapa mereka membiarkan pewaris mereka tetap berkelakuan seperti itu?" sahut Gyuuki. "Bukannya itu memalukan keluarga?"

"Karena Tuhan itu adil, supaya si bungsu Uchiha itu tidak jadi sempurna." Kurama menyendok makanan yang ia jarah dari kulkas Naruto.

Killer Bee menyundut letak kacamata kembali ke pangkal hidung. "Bukannya justru karena mereka tidak bisa menghentikan kelakuan Sasuke, makanya mereka menikahkan Sasuke dengan Hinata?"

"Ah, benar juga." Gyuuki mengangguk. "Lagi pula keluarga mereka—Uchiha dan Hyuuga—setara."

"Berarti yang kedua keluarga butuhkan itu bukan pernikahan mereka, tapi status untuk mengamankan Uchiha?" Naruto berdecak. Mendudukkan diri di kursi roda, berputar menghadapi teman-temannya.

"Kurasa tidak sesederhana itu." Killer Bee menepuk-nepuk gunduk perutnya, tanda ikut berpikir. "Kau pernah cerita, Naruto, katamu Hiashi Hyuuga bilang untuk bersama Hinata, pria itu harus punya segalanya? Pangkat, martabat, harta, prestasi, sampai tampang, well ... Uchiha Sasuke memang punya semua itu."

Gyuuki memangku siku dengan kedua lututnya. "Tapi Uchiha juga melakukan hal yang sama, bukan? Kalau begitu, harusnya Sakura Haruno masih kriteria calon pendamping pewaris mereka. Sakura memang dari keluarga biasa saja, tapi dia luar biasa cerdas dan kuat. Fisik menarik.

"Deretan prestasinya luar biasa. Sakura seorang dokter yang bahkan juga guru—lulus double degree pendidikan guru dan kedokteran bersamaan mana cum laude pula. Dia jenius yang juga seorang pekerja keras."

"Profilnya tidak ada cacat cela, kecuali di bagian dia mau-maunya diperdaya Sasuke." Kurama berdecak sebal. "Tsk, perempuan ... coba saja kita tidak di-stereotype bahwa lelaki lebih menjunjung logika, sementara perempuan lebih berperasaan, mungkin tidak akan begini jadinya."

"Jadilah kebanyakan lelaki tidak berperasaan, sementara perempuan mudah terbawa perasan. Padahal harusnya, terlepas dari soal gender, manusia memang mesti ada keseimbangan antara logika dan hati. Sasuke dan Sakura adalah contoh paling tepat mengenai hal ini," sambung Gyuuki simpatik.

"Nah, Sakura-chan sehebat itu, semoga dia dapat the most eligible bachelor yang setara dengannya." Naruto menjetik keras jemari dan mengepalkan tinjunya. "Kalian ada kenalan?"

"Logika saja, the most eligible bachelor mana mau dengan wanita beranak satu tapi tidak pernah menikah, sekalipun yang seluar biasa Sakura?" Kurama mengambur napas, helaannya kasar. "Cacat cela Sakura bahkan bukan salahnya sendiri."

"Sakura-chan itu wanita sangat kuat. Butuhnya lelaki yang bisa mendampingi dan menerimanya apa adanya," Naruto nyengir lebar, "bagaimana kalau salah satu dari kalian mencoba?"

"Sinting! Seleranya cuma selevel Sasuke Uchiha, edan sekali kau menyodorkanku padanya!" Kurama menempeleng pelipis Naruto dengan sendok bekas suapan macaroni.

Naruto terkapar di kursi mengakak, diikuti gelak tawa Killer Bee dan Gyuuki. Kakinya brutal menendang kaki Kurama. "Heh, sadar diri! Kau dibandingkan Sasuke, masih lebih putih dia!"

"Hah. Gosong begini kulitku, yang penting bukan tukang selingkuh dan mempermainkan wanita!" Kurama mendengus, mengibas jaket kulitnya ke belakang. "Kulitku sealami lelaki pekerja normal lainnya di usia segini. Ngeri juga kalau kulitku putih, mulus, kenyal, dan boeeeeng kayak tahu susu!"

"Sebentar, Kurama. Memangnya kalau kau membela diri seperti itu, bakal ada wanita mau bersamamu?" Gyuuki menyorotkan keheranan pada Kurama.

"It will be miracle, yeaaah!" Killer Bee mengacungkan tangan dengan gerakan rock and roll.

"Bagus, 'kan? Aku tidak butuh juga bersama wanita yang rasis sekali pilih suami. Mesti putih, tinggi, tampan, kaya dan lain-lainnya—padahal semua itu relatif." Kurama mendengkus. "Memangnya kalau mereka cari seperti itu, sudah memantaskan diri belum untuk bersama lelaki yang setara dengannya?"

"Pantas saja wanita membencimu, Kurama. Wajar saja mereka ingin dengan pasangan kaya dan mapan, itu jaminan sosial namanya, tahu." Naruto menendang ringan ujung kaki Kurama, berkelit dari tendangan balik.

"Jadi ternyata banyak wanita malas kerja, ya. Tinggal mengurus dan membesarkan anak, seolah ayah cukup mencari nafkah dan tidak berperan dalam mengurus anak," cibir Kurama. "Tugas mulia mendidik dan membesarkan anak itu adalah untuk berdua."

"Astaga, aku tidak yakin ingin mengenalkanmu pada Sakura-chan." Naruto memijat jidat rusuh melihat Kurama.

Pria berambut merah itu mengibaskan tangan. "Tidak usah. Aku mencari istri perkasa—"

"—preman—" sela ketiga kawannya takzim.

"—yang tidak akan menerima aku apa adanya." Kurama turut mengangguk ala abdi kekaisaran.

"Heeh?! Kau gila atau bagaimana?" Naruto membelalak.

"Maksudku, aku tidak ingin dia menerima aku apa adanya, tapi menerima terbaik dariku. Koreksi bila aku salah, bantu perbaiki. Jangan mewajari bila aku membuat kesalahan, tapi bantu aku menyelesaikan. Karena aku juga akan melakukan hal yang sama," celoteh Kurama dengan senyum tipis. Sesungguhnya, ia terlihat lumayan tampan kalau saja gigi taring runcingnya tidak dihitung nilai minus.

Naruto membentuk huruf L antara telunjuk dan jempol, menyatukan kedua L dari jari tangan kanan dan kiri sehingga membentuk persegi panjang. Menyenteri ketiga temannya itu melalui si persegi.

"Benar juga. Satu kelihatan kayak paman pembuat takoyaki, papa hip-hop lengser dari kejayaan chart musik, dan tampang-tampang preman suka memalak receh dari ibu-ibu di pasar," Naruto mengeluh, berkelit dari sambit sendok kopi yang Kurama lemparkan, persis ia tangkap dengan jemari. "Fix, kalian tidak bakal laku."

"Aku yakin kau juga bakal sejago itu kalau jadi penulis dan memalsukan latar belakang karakter, Naruto." Kurama lebih kejam lagi menekan betisnya pada tulang kering kaki pemuda itu.

"Sudahlah, Naruto, kau tidak akan menang dari Kurama," kekeh Gyuuki.

Naruto menjerit sakit dan menyepak kaki Kurama. Keduanya saling tendang-tendangan seperti bocah rebutan layangan. "Begini-begini, otot badanku tidak kalah berbentuk dari Kurama, tahu."

"Tuh, lihat dia!" Kurama terkekeh-kekeh, menekan-nekan brutal otot lengan dan perut Naruto sampai yang bersangkutan gelinjangan tertawa kegelian. "Naruto, Si Pembual berkepala besar yang cocok jadi penulis; dia jago mengarang bebas!"

Tidak ada yang bisa melihat sorot mata Killer Bee melunak memandangi Kurama dan Naruto saling bergulat, maka ia menutui keduanya dengan pasang pose penyanyi papan atas. "What a beatiful brothership ... Brother goals! Don't you want to join them?!"

"No, thank you." Gyuuki datar menatapi ketiganya. "Omong-omong, kami tidak ditawari bertemu keluargamu, Naruto?"

"Ehm ... tunggu anak-anakku bangun dulu, oke." Naruto tersenyum salah tingkah seraya menggaruk belakang kepala.

"Ahem, ini calon tikungan bagaimanaa—aaargh, AKU BERSUMPAH AKAN MENJADIKANMU TAKOYAKI, GYUUKI!" Kurama menekan kepalanya yang berdenyut kena sambitan tangan Gyuuki.

"Hinata tadi sudah tanya, boleh tidak bertemu kalian." Naruto gagal menyembunyikan senyumnya yang melebar, pandangan yang berbinar. "Nanti sekalian dengan anak-anak, ya?"

"Demi Rubah buduk, dari mukamu saja kami bisa tahu, kau tidak melakukan apa-apa dengan Hinata dari pas pulang tadi, Naruto." Kurama mendesah.

"Melakukan apa?" Killer Bee memiringkan kepala.

Kurama memutar bola mata. Menusuk perut buncit Killer Bee memakai telunjuk dengan gemas. "Anak kecil belum boleh tahu."

"Sebegitu anak kecil," Gyuuki tertawa ringan, "bagaimana besarnya? Oh iya, Naruto, sebaiknya kau beritahu Hinata tentang kami agar dia tidak syok saat bertemu kami."

"Oke, tapi nanti kalian jangan mengganggu Hinata, oke? Tolong jangan cerita yang aneh-aneh padanya." Naruto memelototi semuanya satu per satu.

"Soal kau pernah jatuh cinta pada Kurama?" Gyuuki menahan tawa.

"FITNAH!" Naruto melempar bantal ke arah Gyuuki. "Aku hanya cinta pada—astaga, jangan buat aku mengatakannya!"

"Soal kau makan ramen kuah susu?" tanya Kurama dengan cengiran jenaka.

"Apa salahnya, hah?!" Naruto menendang lagi kaki Kurama.

"Bahwa kau tidak ganti celana dalam sehari tiga kali?!" Killer Bee gesit menangkap lemparan garpu dari Naruto.

"Setidaknya bukan tiga kali sehari!" Naruto mengacak-acak rambut. "Dasar kalian semua ... kumohon, Hinata sudah sangat sedih, belum lagi anak-anakku. Aku memutuskan kembali lagi, bukan untuk menambah penderitaan mereka."

"Kau tahu dari mana Hinata sedih?" Kurama mengangkat sebelah alis. "Berhubungan dengan kenapa kau pamit mandi, tapi tidak balik-balik lagi, dan kami curiga kau melakukan ini-itu dengan Hinata padahal tidak?"

Naruto mengempaskan diri lagi ke sisi Kurama, membiarkan pria itu mengusap ringan ubun-ubunnya lalu memijat puncak kepala yang terasa penat. "Tadi ... aku masuk kamar, pas dia menangis dan merintih-rintih."

"Merintih nikmat namamu?" Kurama mengangguk simpatik.

"Akan kubuat kau jadi Kebab Rubah, Kurama!" Naruto mencekik figur kakaknya itu. Pandangannya berubah hampa. Ia menelan ludah. Seketika matanya berkaca-kaca. "Hinata ... minta dibunuh oleh Sasuke. Aku tidak tega menanyakan kenapa Hinata bisa mengigau begitu, tangisnya terlalu menyakitkan. Yang kuyakin, pasti ada alasan kenapa Hinata bisa sampai sesedih itu."

Ada tarikan napas tajam di antara ketiga pendengarnya.

Kurama merangkul Naruto seolah tengah merangkul adik lelakinya sendiri. Meninjukan kepalan tangannya dengan Naruto. "Sekarang kau tahu, Uchiha Sasuke yang pantas dijadikan bebek peking."

Seketika keempat sekawan itu terpingkal-pingkal.

"Okay, Ganks! Let's go back to the topic!" Naruto meredakan tawanya, menatap mereka semua satu per satu. Mata sebiru dasar lautnya berkilat oleh ketenangan mematikan. "Tentang kenapa Hyuuga dan Uchiha merestui pernikahan Sasuke-Hinata."


.

.

.

.

.


Bising kendaraan. Desauan angin yang menelisik pakaian dan rambutnya. Helikopter jauh di tepi awan. Riuh-rendah perkotaan. Tetes-tetes darah. Kasak-kusuk orang di sekitar dan kendaraan direm tajam. Bunyi yang memekakkan telinga itu, tidak akan pernah bisa mengeringkan isak-tangis memilukan Hinata yang memohon-mohon.

Yang memenuhi ruang pandangnya: merah yang meradang di ruang pandang, petang yang berbayang, mobil dan motor berderu tanpa henti, satu-dua pejalan kaki dengan bayang yang memanjang.

Tinggal selangkah saja.

Cukup satu loncatan.

"Tunggu apa lagi, Bocah?!"

Naruto tertawa histeris. Menjambak rambut. Orang-orang tertawa-tawa gila. Sebagian gadis memekik sambil mengacungkan kamera ponsel untuk merekam momen mengerikan. Satu-dua lelaki memaki ia tak punya nyali.

Tak satu pun ada orang yang bisa mengerti apa yang terjadi. Mengapa semua seperti ini. Mengapa harus ia yang mengalami semua ini. Keodohan memilih bersama dan mencinta Hinata serta anak-anaknya. Astaga, menghidupi Hinata dan anak-anaknya yang tersayang saja tidak bisa.

Tidak berguna.

Payah.

Eksistensi Naruto Uzumaki tidak lagi punya arti.

Mungkin tidak di dunia ini.

Pecundang.

Sampah masyarakat.

Memalukan.

Apalah lagi lebih baik daripada mati?

"Kau terluka, Nak!" seorang ibu berseru ketakutan. "Sebaiknya kau pergi ke rumah sakit—hii, jangan berdiri di pinggir jembatan! Ja-jangan bunuh diri, itu dosa. Kau cuma jauh saja dari Tuhan dan kurang beriman pada-Nya."

"Bunuh diri?" Naruto tertawa. Hatinya remuk berkeping-keping. "Kenapa bunuh diri, padahal sudah dari dulu setiap hari, aku ... merasa mati?"

"Itu hanya cobaan hidup, Nak. Semuanya pasti akan ada jalan. Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya!" jerit sang ibu.

Naruto mendongak menatapi langit berselendang jingga. Darah dari kepalanya meleleh bersama airmata. "... aku berdoa, berusaha seperti hidup-mati setiap hari ... tapi semuanya malah jadi begini. Aku tidak lagi mengerti mau Tuhan. Kenapa harus aku?"

"Dasar hiperbola kau, Bocah! Yang jauh lebih susah darimu banyak, mereka hidup, tuh. Belajar dong dari mereka!" pemuda sialan itu meludah, diikuti tawa teman-temannya yang keji membahana.

"Nak, kalau kau punya keluarga ... tolong, hiduplah demi mereka. Ya?" si ibu memelas memohon padanya.

"Keluargaku justru baik-baik saja, kalau aku tidak ada." Naruto mengerling ibu itu. Sebagian kecil kerumunan mendesis ngeri melihat sosoknya yang babak-belur. "Untuk apa Tuhan memberiku hidup, kalau aku mesti hidup untuk orang lain ... kalau hidupku hanya menyusahkan bahkan menyakiti orang-orang yang kusayang sendiri?!"

"Banyak bicara sekali sih kau. Jadi bunuh diri atau tidak?" Seorang lain lagi memutar bola mata.

Naruto merasakan darahnya mendidih. Dia benci dunia ini. Gila. Biarlah Tuhan tak memaafkannya, karena toh bukan ia yang meminta untuk hidup seperti ini.

Boruto.

Himawari.

Anak-anakku sayang.

Hinata ...

Cintaku.

Maafkan aku. Berbahagialah.

Naruto tidak sempat meloncat. Matanya terbelalak begitu ada yang mendorong punggungnya, tawa kejam menusuk-nusuk gendang telinga, hingga ia merasa melayang.

Ah, beginikah rasanya terbang?

Seseorang meloncat, menggapai tangannya.

Naruto menubruk dinding jembatan. Meraung pada manusia mana pun yang di detik terakhir, meraih tangannya sebelum ia terempas ke jalanan di bawah, "LEPASKAN AKU!"

Rambut merah darah. Mata jingga menyala yang seolah bisa merasakan dukanya. Dua tangan yang memegang tangan Naruto erat-erat.

"Keparat!" Pemuda yang mendorong punggung Naruto mendelik. "Orang gila mati satu juga dunia ini bakal tetap baik-baik saja!"

"Si Bajingan gila ... kau kebanyakan nonton pornografi sampai buta dan malah jadi pembunuh, heh?" Pria itu menendang seseorang yang tadi asal mendorong Naruto, kemudian ia menatap pemuda yang melayang-layang dengan pandangan kosong. "Petang memang waktu kala setan terbangun."

Ada dua orang lain lagi menyeruak. Seseorang memegang badan pemuda bertampang preman mengerikan itu, satu lagi turut meraih lengan Naruto.

Justru malah dari preman itu, terkembang senyuman seringan sapuan awan di langit keemasan.

"Daripada mati, bagaimana kalau kau lahir kembali?"

Naruto tak bisa menolak ketika ketiga pria itu menariknya ke atas. Pria itu dengan tenang memeluknya, menepuk-nepuk kepalanya hingga Naruto tak bisa berkata-kata.

"Kau sudah terlalu kuat begitu lama," gumam lelaki berambut merah itu, seperti seorang kakak—meski Naruto tidak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki seorang saudara. "Tidak apa, menangis saja. Marah. Teriak. Bersedih."

"Pembohong," desis Naruto lemah. "Aku tidak ada artinya, jadi buat apa—"

Orang-orang mundur teratur, ketakutan karena tatapan mematikan yang sepasang mata jingga layangkan.

"Ah ... dari pakaianmu, kau ini Bapak Guru, ya?" tanyanya dengan tenang. "Bukankah kalau murid sedang ujian, guru juga hanya diam ... tapi bukankah guru tetap memerhatikan? Pernah terpikirkan, bahwa Tuhan menguji manusia juga seperti itu?"

Ia merasakan satu tangan mengusap punggungnya. Tangan pria lain, mengelusi punggung lengannya. Naruto asing dengan semua kehangatan, yang jelas-jelas dari dari orang asing.

"Maaf," bisik pria yang nanti ia ketahui bernama Kurama, "maaf kau harus melalui semua itu seorang diri, semua yang kaulakukan dan mungkin tidak mampu kau pertanggungjawabkan."

Naruto tergugu, kemudian tersedu-sedu di pelukan ketiga pria bertampang penjahat di suatu petang.


ORANGE

.

Chapter 11: Hello, Babies! We are his family too

.

(There's always a reason for every meeting)


Balas reviews (yang penting menurut saya)

With Love: salam kenal, With Love-san! Senang sekali saya dapat review dari Anda. Terima kasih sudah mengingatkan saya tentang banyak hal. Penyesalan saya hanya satu, versi edit berdasarkan konkrit Anda baru bisa saya tampilkan di Orange versi wattpad. Kalau soal ulasan review di depan, mungkin terkesan sombong, ya ... yah, saya sendiri sejujurnya enggak bangga dengan fanfiksi Orange (karena ya saya biasanya nulis ff receh haha), tapi dengan ekspektasi sebanyak ini saya jadi ingin berbagi be like ... pasti ada alasan, kenapa reviewers saya pada nge-review kayak begitu. Kenapa mesti fic saya dapet review seperti itu. yang kayak, ticklish, senang, tapi juga berat rasanya tiap bacain review mereka. Itu aja sebenarnya. Mungkin, bukan saya mau sombong, bahwa sebenarnya ternyata ... pembaca FFN toh bisa juga kok suka fanfiksi edukatif kayak begini, mereka juga mau belajar, bukan cuma pembaca rendahan yang mau baca ena atau gebuk-gebukan magic-magic-an doang—saya bahkan jadi belajar bersama mereka sepanjang nulis fanfiksi ini. Mereka juga bisa usaha mengapresiasi (kan biasanya banyak keluhan malas nge-review; keluhan review yang Cuma sepotong dua potong kata atau kalimat), asal penulis fanfiknya juga mau usaha bikin fanfiksi yang bisa menggerakkan mereka untuk memberi review. Terima kasih lagi ya.

Always: mpit, gue cinta lo beeb tapi pembelaan lo kok malah bikin gue ngakak gede. Temenin gue ngebucinin babang jaki lagi. Tapi maaciiiw. uwu Lets pray for my beloved cat ... and parents, now. Haha

Tomingse: eto ... mas/mbak, enggak mesti ngegas :') With Love-san ngasih tahunya soal penempatan penulisan, bener kok—bukan cara penulisan. Yang kamu bilang sisanya bener, saya setuju ... di bagian, iya, saya pengennya pembaca ngerti apa yang saya coba sampaikan. Terima kasih ya sudah membela saya.

Flamer: mas/mbak, sana tumpengan. Saya udah pergi nih ya, thank you loh

.

Gengs cinta-cintanya fragransiaaa, makasih udah ngikutin fic ini sampai sini. Terima kasih juga buat kawan-kawan yang udah menominasikan fanfiksi-fanfiksi saya untuk INDONESIAN FANFICTION AWARDS 2018! Kenyataan ada yang ngenominasiin aja udah bikin saya bahagia, ada yang perhatian dan ingin mengapresiasi fanfiksi saya—auuh kalian so sweet uwu

Fanfiksi ini belum mengudara ya di wattpad, karena ada masalah yang menimpa keluarga. Ini tidak terduga. Saya akan memprioritaskan urusan keluarga dan kerja dulu. Tapi, kalian bisa lihat spoiler di profile ffn Fragransia, atau sneak peak akun wattpad bernama pena: Latifathaya. Kalau mau mudah, follow aja akun saya—karena ORANGE nanti akan di-post di sana.

Nah ... begitu fanfiksi ORANGE di wattpad selesai, saya akan pindahkan ke AO3. Kenapa tidak dilanjutkan di FFN? Soalnya ke depannya, rating fic-nya bakal naik jadi ... Explicit. Iya, untuk adegan ranjang dan kekerasan yang grafik.

Ehm saya masih ada dua fanfiksi lagi di acc Fragransia. Fanfiksi erotis-romantis dan sekuel Heavenly (silakan baca ya yang belum baca, apalagi buat mantemans yang doyan baca fluffy uwu, bayi-bayi unyu yaaay Boruto-Himawari, atau tema kemiliteran atau bromance humor sableng ahahay)

Terima kasih atas apresiasi kalian semua selama ini untuk teman-teman pembaca dan pengapresiasi setia. *hormat* Mari berjumpa lagi di fic ORANGE di wattpad! Luv u all!