Warnings: hanya berisi hidden scenes, teaser, spoiler, dan hati-hati ada ena r18 gengs . serius. Sangatserius.
Hidden Scenes
.
.
Chapter 1
.
.
"Itu karena, saat senja meraja, terbukalah pintu neraka. Petang adalah waktu kala setan terbangun."
Naruto tertegun. Entah karena mendengar kata-kata Kurama, atau ekspresi yang figur kakaknya itu tunjukkan. Ada yang begitu sendu. Pelototan gagak di pucuk-pucuk tiang listrik seakan menusuk-nusuk bulu kuduk.
Tiba-tiba saja, suasana terasa mencekam.
"Aku tidak mengerti maksudmu," kata Naruto. "Ada hubungannya dengan aku diterima kerja di Hidden Schools, dan kau kayaknya tidak suka sekali aku kerja di sana?"
Kurama merogoh bungkusan di saku baju. Naruto yakin, siapa pun orang awam yang melihat pasti juga menduga Kurama akan mengambil rokok. Alih-alih mengeluarkan bungkusan dark chocolate, melahapnya dan tanpa suara menawarkan pada Naruto.
"Aku tidak suka yang pahit-pahit, sori," gumam Naruto. "Jadi?"
Kurama meremas bungkus keemasan coklat, kemudian mengantungi sampahnya lagi. "Aku ... mungkin bisa dibilang, salah satu alumni—Proyek Gagal—Hidden Schools. Sekolah itu gila."
Naruto terperanjat. Mendesis hebat, bernapas seolah respirasinya terpampat. Mengatup bibir rapat-rapat, lekas bersila menghadapi Kurama, siap-siap mendengarkan lebih banyak.
"Kalimat yang tadi kuucapkan soal petang, itu kata-kata wali kelasku dulu." Kurama menerawang senja yang memudar di cakrawala. Rahangnya mengeras. "Segala tentang guru berengsek itu selalu menghantuiku."
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Naruto, sebenarnya enggan mengorek luka lama—ditilik dari ekspresi Kurama—tapi sungguh mati ia jadi penasaran.
"Pertanyaanmu kurang tepat. Harusnya kau tanya, apa yang aku lakukan di masa-masa pas langit kelihatan oranye di jendela reyot kelasku di Hidden Schools dulu." Kurama tertawa. Sengaja melengking-lengkingkan suaranya dengan jelek, terdengar mengejek.
Pria itu membuka kancing kemeja. Menarik kemeja sekaligus singlet hitam ketat naik ke atas, duduk memunggungi Naruto dan memampangkan punggung pada sang pendengar.
Naruto tercengang melihat baret kering bergerigi dan bergaris dua, tampak dalam, melintang sepanjang garis punggung Kurama. Bekas luka yang menegakkan bulu roma.
"Aku membunuh sahabatku, Itachi Uchiha."
.
.
Chapter 3
"Memangnya, Uzumaki-Sensei melakukan apa sih sampai Hinata-Sensei susah sekali berpaling darinya?"
Hinata mengingat gerutuan seorang muridnya tadi siang. Cukup berani dan naif untuk bertanya. Pertanyaan itu ibarat jari yang membalikkan halaman-halaman hidup di buku Hinata, untuk menoleh ke halaman lebih dulu.
Alih-alih membuka cetak kelam masa lalu, Hinata memilih halaman kehidupan yang terisi langit biru, terik cahaya matahari, ricik air meneduhkan, tawa anak-anak dan derap kaki mungil berlarian.
Seakan sebuah halaman tersibak. Kala Hinata tertawa melihat Boruto kecil secepat yang ia bisa dari ruang tamu ke pintu depan. Menjerit girang mendengar suara lantang, Ayah pulang!
Begitu ia menyusul dengan Himawari dalam pelukan, Naruto yang tengah menggendong Boruto, turut merengkuhnya. Mengecup ringan pipi Hinata, memeluk erat mereka bertiga sekaligus. Tertawa keras mendengar protes Boruto, "Tou-chan bauuuu!"
Hinata termangu, sampai ia tersadar ternyata orang yang ia lamunkan tengah membalas tatapannya dari meja seberang. Tertangkap basah memperhatikan, ia tersipu.
Sayangnya, Hinata juga menyadari tiap pagi apa yang selalu Naruto lakukan padanya. Melambungkan harapan. Tatapan yang selama dua bulan terakhir, diam-diam melembut memandang Hinata.
"Hello, Mrs. Uchiha Hinata! Kalau sudah tidak mau dengan suamimu, buat aku saja, sini! Baru kau bisa menggoda lelaki lain—mantan suamimu yang beli susu buat anak saja tidak mampu, misalkan."
"Eeh, jangan, deh. Aku suka duda keren, kok! Hinata-Sensei bisa tetap sama suaminya."
Celetukan sekelompok kolega kerja. Nada suara mereka menyiratkan hinaan. Genit menggoda. Derai tawa guru-guru muda, modis, dan lajang itu memekakkan telinga.
Hinata menggigit bibir ketika seorang gadis meliukkan pinggulnya, menuju meja kerja Naruto. Duduk di tepi meja, memamerkan paha mulus yang terbalut stocking hitam seksi.
"Uzumaki-Sensei, mau makan siang bareng aku?" tanya asisten guru muda—karena Hidden Schools memperbolehkan tiap guru senior memiliki asisten pribadi—itu, menumpukan tangan ke meja, badan melengkung ke belakang, dadanya yang berisi penuh jadi membusung.
Naruto nyengir manis. Melihatnya, Hinata miris; sang gadis mengedipkan sebelah mata pada kawan-kawannya yang memekik: kok-Naruto-Sensei-ganteng-sih!
"Tidak, Nona." Naruto tersenyum kalem. "Hari ini, aku sudah ada janji makan siang dengan seorang gadis."
.
.
Chapter 4
Naruto tengah bersiul. Melewati lingkar bundar Italian Arbor. Menikmati percik cantik air mancur, terlihat seperti butir-butir berlian begitu ditimpa terik cahaya surya.
Sengaja ia melambat-lambatkan langkah. Keterlambatan datang adalah anugerah untuk murid-muridnya berleha-leha. Lumrahi, karena kelas Kyuubi bukan kelas rezim penjajahan seperti kelas lain.
Contohnya?
Kelas Hebi.
"... kubilang hentikan, ya hentikan."
Suara wanita, seolah pasrah, mengurungkan niat Naruto untuk melangkah. Oh, Sasuke bisa juga datang telat ke kelas, tapi ... apakah akhirnya ada wanita yang tidak mendesah di bawah penaklukan Uchiha Sasuke?
Kalau yang digabruk murid, seru juga. Bakal jadi skandal. Naruto merogoh ponsel dari saku. Terpujilah Tuhan, ia bisa menggerebek tindakan asusila Sasuke di jam efektif KBM. Siapa tahu Sasuke bakal kena detensi.
Naruto terpaku. Ponsel nyaris jatuh melihat Sasuke mengimpit Hinata ke dinding. Ngilu berat hatinya mendengar robekan, melihat tangan Sasuke kejam memaku lengan Hinata ke tembok dengan lengannya. Buas menarik kemeja dan blazer sang istri.
"Kau milikku, Hinata." Sasuke menggeser dagu Hinata hingga mereka bersitatap. "Ingat itu, 'kan?"
Hinata menggeleng letih. "Selamanya, aku milik Tuhan."
Naruto menggemertak gigi mengamati yang terjadi. Tanpa suara, meninju dinding.
Sasuke meremas dada Hinata, memutar-mutar sesukanya. Kelihatan amat menyakitkan. Namun, tak ada yang lebih menyakitkan, selain mendapati tatapan kosong Hinata dan tubuh mungil yang menggigil.
Naruto tahu benar fenomena itu. Tonic immobility. Kelumpuhan yang terjadi tatkala korban dilecehkan. Saat ketakutan, otak mengirim sinyal ke bagian otak bernama amygdala yang mengaktifkan banyak sekali hormon.
Akibatnya, tubuh kelebihan segala hormon yang berbenturan, mengakibatkan korban tak bisa berpikir rasional. Pikiran mereka kosong. Bahkan menendang selangkangan si pelaku saja sampai tak sanggup.
Tonic immobility sebenarnya bukan hanya terjadi pada situasi seperti yang kini Hinata alami, tapi bisa ke hal terkecil. Misalkan, stress karena akan mengikuti Ujian Nasional, presentasi di depan kelas, menyaksikan kejadian mengerikan, dihadapkan pada binatang buas, pembuli dalam kelas, bentakan seorang guru, atau bahkan umpatan orang tua toksik yang abusif.
Naruto nyaris kejang dan menerjang, saat Sasuke mencengkeram lengan Hinata keras-keras. Istri sendiri bisa-bisanya diperlakukan demikian. Naruto menggerit gigi mendapati Hinata meringis kesakitan.
"Kenapa diam saja?" lirih Sasuke dingin. Pandangan mematikan membelai setiap inci wajah Hinata. "Mendesahlah seperti gadis-gadis muda yang haus belaian. Yah, walaupun kau tidak lagi muda."
Hinata mengatup mulut kuat-kuat. Meski kakinya melemah, tapi ia mengusahakan menggelengkan kepala. Menolak kecupan Sasuke, yang Naruto kategorikan sebagai vacuum-cleaner kiss.
"Jangan berani-berani menentang suamimu, Hinata!" Sasuke meremas dadanya lebih keras.
Hinata menyentak tangan suami sahnya saat ini. Airmata tersambit angin, ia terbirit-birit ke arah hutan artifisial. Menoleh berkali-kali ke belakang. Tangan gemetar merapikan baju. Ia tersandung dan nyaris jatuh, memacu langkah berlari ke hutan bambu karena Sasuke memutuskan mengejar.
Tepat saat Hinata lewat, Naruto nekat menyambar tangan Hinata.
.
.
Chapter 5
"... uhm, perasaanku saja, atau memang kau kayaknya tambah lebih pucat dan—maaf—kurus, Sakura-san?"
Sakura yang tengah memangku Sarada, mendongak pada Hinata. Ditatapnya perempuan yang ia kira telah ia sakiti, tapi ternyata tidak. Namun mengingat bagaimana Hinata dan Naruto saling mencuri pandang tadi, Sakura getir menertawakan kemungkinan itu.
Usai mengamati fisik Hinata. Tetap cantik di usia yang telah matang, sayang ada perubahan signifikan di sana-sini yang kentara.
"Kau juga. Apa kita terlalu kecapekan karena jam kerja yang memakan life-span?" canda Sakura. Tangannya meraih kacamata merah, membelai rambut Sarada ketika putrinya melindur. Meletakkan kacamata Sarada di dekat tas kerja.
"Mungkin." Hinata menampilkan senyuman, sederhana dan baik hati, menyakitkan untuk Sakura lihat. "Sakura-san tidak ada kelas untuk diajar sekarang?"
"Tidak. Adanya jadwal dengan kelas Jounin. Sebentar saja. Aku ..." Sakura melamun menatapi wajah putrinya. Pandangannya melembut dan berkaca-kaca. "Kurasa kondisiku kurang sehat akhir-akhir ini. Mungkin kurang istirahat."
"Sakura-san," Hinata menatapnya ragu, tangannya mengerat memeluk Himawari, "apa kau juga merasa lemas, mual, hilang nafsu makan, diare akut, berat badan turun signifikan, muncul luka di mulut, demam kronis, dan ..."
.
.
Chapter 7
"Maaf, aku terlambat, Hinata—ouch!" Sakura gagal mengerem langkah begitu ia berbelok di lobi depan Hidden Schools, menuruk dada bidang seseorang. Ia mendongak. "Oh—astaga. Maafkan aku, Neji-san."
"Kau tidak terlambat, kok." Hinata meraih tangan Sakura. Senyumnya melebar hingga mata menyipit tatkala Sakura balas meremas tangannya.
"Eh, nanti anak-anak pulang bagaimana?" tanya Sakura cemas.
Hinata menepuk lembut punggung lengan Sakura. "Mereka akan pulang dengan Juugo-san, supir Sasuke-kun."
"Ya sudah, Sarada menginap lagi saja di Mansion Uchiha. Kau tidak apa-apa, nih?" Sakura menautkan erat-erat genggaman tangan mereka, seolah tengah mencari kekuatan.
"Aku malah senang." Tawa pelan lolos dari bibir Hinata. "Soalnya nanti Mansion ramai—"
"—karena dia selalu ribut dengan Boruto," sambung Sakura.
Neji tersenyum geli melihat kedua wanita itu, entah bagaimana caranya, bisa berangkulan bahkan tertawa dengan hangat membicarakan putra-putri mereka. "Senang aku melihat sisfection kalian."
"Aku senang melihat bromance-mu dengan Lee-san, Neji-san," goda Sakura balik.
"Kebetulan, aku lebih senang lagi bisa menemani dua wanita cantik malam ini." Neji tertawa kecil begitu Sakura meninju main-main punggung lengannya.
Hinata meraih tangan Sakura dan menggenggamnya. "Neji Nii-san sudah mau mengantarkan kita. Sakura-san tidak apa-apa kalau kita tidak naik bus, 'kan?"
"Selama kalian tidak pasang tarif mahal, aku oke saja. Terima kasih sudah mau mengantar kami, Neji-san!" Sakura mengedipkan sebelah mata, balas menggenggam tangan Hinata erat-erat dan menyingkir dari Neji.
"Jangan khawatir, aku malah mau sekalian ajak kalian berdua makan malam sekalian habis ini," sela Neji.
"Harem Neji-san ini jadinya." Sakura terkikik. "Nanti kalau aku minta yang mahal, bagaimana?"
"Neji Nii-san tidak bakal bangkrut mentraktir kita. Dan omong-omong, boleh dia masuk bahan pertimbanganmu, tidak, Sakura-san?" Hinata menatap Sakura yang malah tercengang ditanya begitu.
"Terbalik, dong. Harusnya aku yang tidak lolos seleksi calon, Hinata. Kakakmu itu masuk daftar Suami Idaman dari semua staff dan karyawan di Hidden Schools." Sakura geleng-geleng kepala.
"Bagaimana, ya ..." Neji menatap Sakura lekat. "Aku tidak ada tanggungan, dan tidak ada yang mesti dimanja juga selain Hanabi dan Himawari."
Sakura mengerjapkan mata. Membeliak horror begitu menyadari sepasang saudara Hyuuga itu saling bertukar senyum, sebelum akhirnya ikut tertawa bersama mereka.
"Astaga, kalian berdua! Kok rasanya aku dikode keras begini?!"
Chapter 8
"Aduh, aku jadi merasa tidak ... enak? Sudah kau mengajak kami makan malam, mengantar pulang, ambil hasil check-up ke rumah sakit, mengantarkannya ke sini lagi."
Neji tersenyum begitu Sakura mempersilakannya masuk ke apartemen. Tatapannya melunak tatkala Sakura menyerahkan handuk, lalu menutup lagi pintu. "Sarada mana?"
"Sudah tidur." Sakura mengambil map berlogo rumah sakit tempat ia dan Hinata check-up yang Neji serahkan.
"Sebaiknya kau duduk." Neji meraih tangan Sakura, menuntunnya untuk duduk. Kalau tidak, pasti Sakura akan tetap di tempat dan mematung memandangi map.
Memandangi Sakura yang jari-jemarinya bergetar merobek tepian map, Neji berhenti menghanduki kepala dan badan. Berhati-hati menepuk lengan Sakura, kemudian mengusapi punggung tangannya perlahan.
"Berpikirlah positif, oke? Kalian baik-baik saja." Neji menautkan tatapannya dengan Sakura.
"Kami akan baik-baik saja." Sakura tersenyum kaku.
Ia mengeluarkan masing-masing lembaran print-out hasil check up, dari dua map berbeda. Atas nama Sakura Haruno dan Hinata Uchiha. Namun ia tertegun, tak ingin membaca deretan hasil pemeriksaan.
Airmatanya jatuh menitik deretan kata yang ada. Hitam di atas putih. Tintanya tak memudar, begitu pula hasil yang terpapar. Sakura meletakkan kertas ke meja, mendongakkan kepala dan mengerjap-kerjapkan mata yang sudah basah.
Sakura terkesiap. Sesuatu entah apa mengentak kuat hati tatkala ada jemari meraih sisi kepalanya. Dua detik kemudian, ada dua lengan lelaki melingkari badannya, hingga tubuh Sakura rubuh bersandar pada seorang pria yang tak pernah ia duga.
Neji berucap lembut sambil mengelusi rambut merah mudanya, "Mau aku saja yang membacakan hasilnya?"
.
.
Chapter 10
"Edaaaan, Kurama! Kenapa kau mengajak bertemu di tempat seperti ini, sih?" Naruto menelusup di antara guncangan badan orang-orang yang tengah binal menggesekkan badan di dance-floor.
/"Hah, apaaa? Tidak kedengaran, Bantet!"/ teriak Kurama dari seberang sambungan. /"Cepat ke tempat, aku sudah share-loc, tahu!"/
"Iya, iya, kau bosnya!" Naruto mempercepat, menggumam maaf ketika menubruk orang-orang yang telah mabuk.
"Nah, akhirnya kau datang juga!" seru Kurama, mengalahkan kebisingan dentum musik DJ. "Aku muak melihat vacuum-cleaner kisser, hoeek mereka bertuka saliva sekarang."
Naruto terdiam melihat siapa yang tengah bercumbu di sofa. Seorang pria yang sangat ia kenal, tengah merayapkan tangan memasuki balik rok seorang gadis muda. Tangannya terkepal keras.
"Mana kiriman dari Jiraiya-Sen—" Kurama menyadari Naruto yang tak berkutik, melambaikan tangan. Mendesah menyadari ke arah mana Naruto memandang. "Astaga, jangan bilang kau juga terangsang."
Naruto mendorong Kyuubi untuk menyingkir. Dia menghampiri sepasang sejoli itu, kemudian bertopang dagu di sofa. Menonton sang gadis mendesah murah dicumbu penuh nafsu. Seringai tipisnya terkembang tatkala pria itu tersadar.
Sepasang mata merah penuh amarah, bersinggungan dengan sepasang mata biru yang berpendar menghina.
"Hah, kau merasa jago bercinta padahal bisamu cuma bikin basah gadis yang masih mentah, Sasuke?"
Pieces of the Past
.
One Day
Naruto terpaku. Ceruk-ceruk matanya berlekuk ngeri. "Maaf ... apa yang tadi Anda katakan, Otou-san?"
Hiashi berdeham. Menatapnya dalam-dalam. "Sekarang juga, tolong ceraikan Hinata."
.
.
Later days
Hinata menghitung petak keramik yang memisahkan meja kerjanya dari meja kerja Naruto. Meja kerja yang tak lagi berpenghuni.
Sembilan petak memisahkan mereka.
Ditambah sehelai surat cerai dan kata-kata yang tak terlupa.
Aku ... beli susu untuk anak kita saja tidak mampu, Hinata.
.
.
That Day
Hinata membuka mata. Kepala pening tujuh keliling. Bau apak debu menyerbu indera penciuman. Pengelihatan berbayang, sampai akhirnya ia tahu ini sebuah gudang baru.
Yang terakhir ia kenang: sebelum pintu megah Uchiha Mansion tertutup di bawah rinai hujan yang membadai, sesosok orang berbaju hitam, menendang Naruto sampai terperosok ke got.
Yang ada ketika ia membuka mata: Naruto terikat di kursi. Sekelompok orang berbadan kekar dengan pecahan botol bir di tangan. Ayahnya duduk meringkuk di kursi lain. Seseorang yang tersenyum kebangsawanan dengan mengerikan.
"Kenapa kau tidak bisa belajar, bahwa selingkuh itu tidak baik, Hinata?"
"A-aku ..." Hinata kelimpungan menggeleng, berusaha mengenali siapa pria yang tengah tertawa keji, "tidak ..."
"Kau bertemu dengannya kemarin, mengejarnya malah. Padahal Sasuke sudah susah-payah mengajakmu makan malam romantis."
Hinata ternganga. Ngeri memandangi antara ayahnya dan sang kekasih hati yang setengah tak sadarkan diri.
"Kalau memang, bajingan kecil ini yang mengganggumu," Hinata menjerit memohon tatkala pria itu dengan jahanam menikam dada Naruto memakai moncong pistol, "bagaimana kalau dia ditiadakan saja?"
Steamy Fragments
.
.
Bittersweet
Tangannya gemetar hebat. Namun ia menguatkan hati, terpaksa melepas ciuman mereka. Hinata mendorong pelan dada telanjang Naruto, berat menggeleng dengan napas terengah.
"Kau tahu, kita tidak bisa, Naruto-kun—hhhn."
Hinata meretih tatkala jemari nakal Naruto membelai lini samping tubuhnya, beranjak hingga ke bawah dada. Bola matanya berputar hingga kelopak mata tertutup, tatkala Naruto mendorongnya dari bawah ke atas. Berputar searah rotasi jam, jemari sengaja menggores tajam puting yang menegang, tapi tidak menyentuh.
Naruto kemudian mendudukkan diri. Hinata menggigit bibir, jari-jemari meremas bed-cover abu-abu yang ia tindih.
Siapa wanita tidak lemah iman begitu mendapat live-show, pria melepaskan kemejanya dengan sangat perlahan-lahan—menampilkan badan arjuna mereka—dan semua itu dilakukan sambil menatap mereka dengan cara mendewikan para wanita?
Hinata seperti terhipnotis tatkala Naruto memungut tangannya, mengecup punggung tangannya (bibir tepat di jari manis tangan kanan Hinata) dalam-dalam tanpa melepaskan tautan tatapan mereka. Merintih ketika Naruto menindih, berbisik berat penuh hasrat, "Hanya sampai kau bebas, Hinata."
.
.
Playfully sweet
"Kenapa malah menghentikanku, hah?!" jerit Sakura. Ia menuding lelaki yang menghentikannya dari menampar Sasuke. "Kalau tidak dihentikan, kasihan para wanita lain, dan Sasuke-kun—"
Sakura tergugu begitu pria itu dengan manis menyisiri belakang rambutnya. Terkekeh dengan suara maskulin lelaki yang menggelitik. Lembut mencubit pipinya.
"Kayak kau kuat iman saja menggampar dia," cetusnya sambil memutar bola mata. "Omong-omong, bukan begitu caranya kalau mau bikin cowok seperti Sasuke marah."
"Aku nyaris menggamparnya kalau kau tidak mengintervensi!"
Sakura berniat marah dan mendamprat lagi, tapi segalanya asat tak bersisa begitu pria di depannya nyengir boyish, kemudian mengecup matanya dan bergumam sinis, "Nah, Mister Uchiha Sasuke datang, tuh."
"Astaga, Kurama—!" Sakura mendesis tertahan, mencengkeram lengan berotot sekal yang santai menyelinap melingkari pinggangnya. Menarik Sakura untuk duduk di pangkuan pria itu.
Sakura berusaha memberontak. Ia bolak-balik menoleh ke arah koridor yang melingkari Simpang Bundar. Komat-kamit berdoa Sasuke tidak akan datang untuk membunuhnya, tidak melihat ke arah French Gazebo di dekat hutan bambu.
Sayang, Sasuke yang datang bersama segerombolan wanitanya malah bersipandang dengan Sakura. Hati wanita itu bertambah panas dan bergemuruh, seolah ia bisa meninju pohon Ginkgo kemudian langsung runtuh sekarang juga.
Kurama menyeringai tipis melihat ekspresi Sakura. "Kau jangan tambah marah."
"Bagaimana tidak—" Sakura mencengkeram bahu Kurama, syok tatkala pria yang kelihatannya preman sejagat itu memiringkan kepala, menatap lunak. "... u-uhm, Kurama?"
"Hm?" Jangan menggumam begitu, Sakura mengerang dalam hati. Wajahnya entah mengapa memanas. Itu terlalu manis untuk ukuran Kurama, oke.
"Ka-kau mau apa?" Sakura memundurkan kepala.
Kurama tertawa lepas, gemas mencubit dagu Sakura, kemudian mengecup pelan bibirnya.
Sakura berdebar dipapar tatapan Kurama. Seperti menikmati reaksi panik dilematisnya: antara penasaran, menginginkan, juga perlu melepaskan—ini tidak rasional dan Sasuke-kun akan melihat kita!—tapi, di satu sisi, ada sorot lembut tak terjelaskan yang membuat Sakura tak ingin memberontak.
Mungkin ia jadi kelewatan memerhatikan. Hngh. Preman teman Naruto ini lulus sensor. Oke, dia tidak seputih dan hidungnya kalah mancung dariSasuke-kun, tapi potongan rambutnya pendek natural dan agak ikal—rapi hingga under-cut. Tidak ada jambang atau bulu dada.
Mata sewarna senja yang menyala akan kehidupan. Kulitnya cokelat seksi terbakar matahari. Tangannya kasar, tipikal pekerja—preman pasar. Dan, yang paling berbahaya dari seorang Kurama: wanginya. Kompleksitas kombinasi sabun after-shave lelaki, tembakau, lavender, dan tanah basah saat tetes hujan pertama di musim panas.
Sakura bergetar karena sentuhan sebilah tangan lelaki. Gugup menggigit bibir ketika jemari maskulin mengelus dari tengkuk, menelusuri garis punggung, berhenti di kaitan bra holder-nya hingga ia hampir melotot.
Sakura mencakar punggung kekar Kurama yang malah tertawa nakal, menggigit bibir tatkala tangan lain sang pria menangkup membelai pipinya dengan kelembutan yang tak pernah Sakura dapatkan dari lelaki mana pun.
Seakan ada roda klik dan gerigi saling bersambungan di kamar nalarnya. Tatapan Sakura meredup, wajah ayu melesu kuyu. "Sasuke-kun tidak mungkin cemburu. Rencanamu bodoh dan aku ingin memukulmu."
"Hei, jangan begitu, dong," bisik Kurama, pelan memagut lembut bibir ceri Sakura hingga wanita itu mendesah karena merasakan pergerakan bibir Kurama di bibirnya, "nanti kau tambah cantik, Mahadewi. Pusing aku jadinya."
ORANGE
.
Special Chapter: Hidden Scenes
.
(will you collect the fragments that scattered all around today's sunset?)
Selamat tahun baru, semuanya! Semoga kita lebih baik di tahun ini daripada di tahun sebelumnya dalam segala hal, ya.
Hai, Sayang-sayangnya Fragransia! Maafkan penjelasan saya kemarin, mungkin terlalu belibet. Jadi:
kasih untuk teman-teman pembaca yang menominasikan dan menge-vote untuk Fanfiksi ORANGE di INDONESIAN FANFICTION AWARDS 2018, karena ORANGE memenangkan Best Mature MC. Terima kasih juga yang menominasikan dan nge-vote Psithurism, menang Best OneShot Sci-Fi (meski jujur aja, saya mohon maaf agak malu untuk ini karena ... yah, menurut saya pribadi kurang representatif untuk genre tsb.)
Terima kasih juga untuk kalian yang telah menominasikan, menge-vote fanfiksi-fanfiksi saya, di acc Fragransia ataupun tidak, baik yang menang atau pun tidak di IFA 2018. Terima kasih atas apresiasi kalian untuk karya saya.
Kemenangan ini saya persembahkan untuk teman-teman pembaca fanfiksi-fanfiksi saya tersebut. Semuanya dari, berkat, dan karena kalian. Luv u all!
2. Saya bakal setop dulu di acc Fragransia, karena masalah IRL, dan juga mesti fokus memprioritaskan banyak hal lain.
3. Akan ada 2 fic lagi sebelum Fragransia hiatus lama. Satu, fic erotis-romantis Naruto-Hinata. Satu lagi, sekuel fic Heavenly (featuring Boruto-Himawari, ofc). Dua fic ini, BELUM di-publish. Kapan publish? Begitu udah kelar ketik dan ERR.
4. Nama pena saya di wattpad: Latifathaya. Kalau kalian sudah cari tapi tidak ketemu, coba buka profile ffn Fragransia, dan klik tautan/link menuju ke akun wattpad Latifathaya.
5. Fanfiksi Orange BELUM di-post di wattpad, karena saya mesti fokus pada irl.
6. Apa sih kelebihannya ngikutin Fic ORANGE di WATTPAD?
- Fanfiksi versi revisi. Saya akan berusaha bikin agar pembaca enggak pusing berusaha memahami makna tiap kalimat, dan bisa mudah memahami apa yang terjadi.
- Akan ada moodboards, message card, playlist card, ilustrasi tempat (rumah Naruto, kelas Kyuubi, Hidden Schools, dll) untukmu agar lebih mudah berimajinasi dan relate sama ORANGE yang telah saya siapkan.
- Saya enggak tahu kalian notis apa enggak, tapi banyak missing scenes di fanfik ORANGE yang sengaja saya hilangkan. Yang di atas, itu baru separuh dari yang ada (aha). Akan ditampilkan semua di versi wattpad.
- Timeline fanfiksi akan berurut dengan alur maju-mundur maju, dengan tidak ada lagi hidden scenes. (kecuali flashback penting; main-plots)
- Chapter yang tak terlalu panjang, tapi update secara berkala.
7. btw, fanfiksi Heavenly juga akan repost di akun wattpad Latifathaya.Tentunyaaa, lengkap dengan Hidden Scenes yang dulu terpaksa saya cut demi kesesuaian genre dan rating untuk NaruHina Fluffy Day. Akan ada message card, moodboard, dll juga, plus bonus scenes NH Family dan ... yah, lain-lainnya (nahloapacoba XD) di Heavenly versi Wattpad. BELUM PUBLISH YAAA
Kalau kalian mau tahu, silakan follow akun wattpad "LATIFATHAYA" (ehm bukan maksud trik politik buat nambah followers ini) untuk dapat update informasi. Kapan post, update, dll. Kalau enggak juga, yasudah gapapa.
8. Apa itu AO3? Buat teman-teman yang belum tahu, AO3 adalah Archive of Our Own. Nanti kalau ngecek arsip FNI dengan tag pairing NaruHina di ao3, ngeliat ada fic repost ORANGE, Heavenly, dll ... iya, itu akun ao3 saya pasti.
Apa versi fic Ao3 sama dengan di Wattpad? IYA, sama. Sampai ke cover, message card, moodboard, dll. Lebih asoy ao3 malah, kan AO3 boleh nyisipin link video atau tautan tertentu, jadi saya bisa nyisipin referensi riset dan kalian bisa ikutan baca kalau mau.
9. Apa nanti ORANGE isinya kayak teaser di atas yang belum ditampilkan di versi FFN (misal, coughkayaksteamyscenes)? Iya, tapi tolong diingat, teaser di atas itu cuma secuil aja dari ORANGE.
10. Semisalkan kepikiran: "Kak Frag, kayaknya seru nih dari teaser-nya!" yo-i, teaser memang begitu, gengs. Tapi aslinya makan hati. Saya pasang warning dari sekarang: triggering, membangkitkan hasrat pengen ngeremukin orang, menjijikkan, dan jujur aja, karena akhirnya saya udah menyelesaikan plots fic ORANGE (finally!), maka dengan berat hati saya umumkan: buat yang enggak suka fic dengan ending multi-tafsir (membuka ruang terhadap interpretasi pembaca), maaf mungkin ORANGE bakal mengecewakanmu. :''')
11. Klarifikasi lagi. Jadi saya nulis fanfiksi tuh bukan karena terbutakan kebencian pada tokoh tertentu, pembiasan sama chara makanya mary-sue/gary-stu, karena OTP-nya NaruHina jadi saya musuhin NOTP terus seperti dirumorkan, ya. Asli ini bikin sweatdrop.
Karakterisasi para chara Naruto di sini, itu memang saya padukan dari serial Naruto, Naruto Shippuden, dan Boruto: the next generation. Untuk keperluan cerita, tentu saya ambil sisi yang dibutuhkan (misalkan, karena Sasuke sejauh ini di fic ORANGE jadi antagonis, maka karakterisasinya adalah interpretasi dari hasil studi karakter saya selama Sasuke Uchiha jadi antagonis berdasarkan Naruto Shippuden. Nanti akan ada sisi Sasuke Uchiha papa yasashi ala Boruto the next generation, kok). Itu juga berlaku untuk karakter lainnya yang muncul di ORANGE.
Tolong dicatat, saya sendiri mengimbau pada pembaca, bahwa interaksi pair dan karakter di ORANGE itu fiktif; se-IC apa pun yang bisa saya usahakan dari ngegabutin anime-manga Naruto yang bejibun minta ampun, tetep aja murni interpretasi pribadi a.k.a fiktif di atas fiktif. Saya juga enggak bermaksud mengampanyekan pairing atau karakter lain jelek, sungguh. Karena memang ceritanya baru sampai sini, jadi development karakter dll belum kelihatan. Saya mohon maaf untuk yang merasa tersinggung dan dibuat bersedih karena hal ini, tapi saya pribadi, dalam hati benar-benar enggak membenci. Sama sekali.
12. FAQ: Frag, kenapa judulnya ORANGE?
Untuk teman-teman yang belum "get it", ini karena oranye itu biasanya warna senja. Setting situasi peristiwa awal dan akhir petaka. Sementara filosofi dalam fic ini, senja adalah transisi; awal dari sebuah akhir. Mewakili "peralihan" atas banyak hal dari cerita dalam fanfiksi ini.
Kalau masih ada yang mau ditanyakan lagi (misalkan masih kurang jelas), boleh langsung japri aja di acc Fragransia atau WA.
13. Jadi pair-nya yang bakal "seru" tuh SasuSaku, NejiSaku, atau KuraSaku? Please figure it out by yourself later 'kay xD
Thank youuu, gengs. Luv u all!
