THE MOVIE

Author: Anastasia

Disclaimer: Hidekaz Himaruya

Main Pair: Russia/Prussia

Rate: T

Chapter 2 : STUNTMAN

.

.

.

.

.

.

The Pervert House, sebuah film horor slasher tentang petualangan sejarawan Belanda, Willem Van Bosch (diperankan aktor Gilbert Beilschmidt) di Desa Rawagede, yang menjadi obyek penelitian sejarahnya bersama sang istri Suzzana Muller (diperankan aktris Natalia Arlovskaya). Mereka tinggal di sebuah rumah yang disebut Rumah Dara, lantaran sering menjadi persinggahan burung-burung dara hitam.

Selain pasangan suami istri itu, tinggal pula sebuah keluarga yang menjadi pelayan di Rumah Dara. Mereka terdiri dari seorang wanita renta yang lebih dikenal dengan sebutan Nenek Gayung dan seorang anak gadisnya, Danur yang berprofesi sebagai penari Ronggeng. Kemudian satu-satunya tetangga rumah dara, seorang petani tua yang juga lebih dikenal sebagai Kakek Cangkul.

Dengan latar rumah kuno di tengah hutan lebat Karawang yang misterius, plot cerita terbangun dengan perjalanan Willem dan Suzzana menjelajahi berbagai lokasi bersejarah yang eksotis sekaligus magis di Provinsi Jawa Barat, Indonesia tersebut.

Gilbert mendecih, meremas naskah sinopsis di tangannya dan melemparkan ke sembarang arah. Daripada mengulas film garapan sutradara Vanya Da itu, awak media lebih tertarik membahas dirinya dalam konferensi pers. Dan Gilbert memang tak menaruh harapan besar terhadap film comeback-nya di dunia hiburan ini.

Masih terngiang jelas konferensi pers beberapa waktu lalu, Francis sesumbar mengenai besarnya budget film lantaran syuting benar-benar akan dilakukan di Indonesia yang menjadi setting cerita. Tapi, hingga tiba syuting hari ke-10 yang seharusnya berlangsung di Indonesia sesuai jadwal, kenyataannya ia dan segenap kru masih berada di Hetalia City. Tepatnya sebuah rumah di balik bukit yang jauh dari keramaian kota, milik sang sutradara yang menjadi lokasi syuting sejak hari pertama.

Dan di sinilah Gilbert saat ini. Bersiap menghadiahi bogem mentah pada sang sutradara ketika mempertanyakan perihal keberangkatan ke Indonesia, di saat dia sudah membawa 3 koper besar penuh barang-barangnya. Apalagi setelah sebelumnya berpamitan pada Ludwig dengan berderai air mata. Sungguh dramatis dan melankolis!

"Aku tak pernah membohongimu, da!" ucapan yang disertai senyum lembut itu semakin menguatkan jeratan tangan Gilbert pada syal sang sutradara.

"Dan soal kopermu, kau bisa menaruhnya di kamar paling depan, da."

Gilbert menggeram, berbanding terbalik dengan sepasang iris merahnya yang berkaca-kaca. Seolah tak sanggup lagi untuk meluapkan tangisannya secara imajiner. Yeah... menangisi kebodohannya yang mau-maunya bekerjasama dengan orang-orang absurd. Tapi kalau dipikir-pikir, sutradara yang belakangan dia ketahui bernama asli Ivan Braginsky itu memang tak pernah mengatakan apapun tentang setting film. Dia bahkan tak ikut konferensi pers. Dan sepanjang karirnya di industri perfileman, dia memang tak pernah terbuka menunjukkan dirinya ke publik. Kecuali berbagai nama aliasnya di bawah rumah produksi Magic Pipe yang selalu berkibar dengan film-film aneh tapi nyata.

Tak ingin mengakui kebodohan sendiri, Gilbert memutuskan tetap memberikan perhitungan terhadap pria di hadapannya. Yah, itung-itung memberi pelajaran pada senyumnya yang menyebalkan itu. Dan jangan lupa dosa-dosanya yang menyampahi bioskop dengan film-film absurd! Jangan main-main dengan seorang Gilbert yang awesome, ya!

Tentunya sebelum sebilah pisau merusak total rencana awesome-nya.

"Menyingkir dari tubuh Ivan, atau pisau ini benar-benar akan membunuhmu beserta imajinasi liarmu terhadap kakak!"

Menoleh cepat pada perempuan cantik yang menodongkan pisau tepat di lehernya, Gilbert segera beranjak dari posisi tubuhnya yang... menduduki perut sang sutradara, dengan kedua tangan menarik syal putih untuk menghadapkan intimidasinya pada wajah childish di hadapannya...

Yeah... memang cukup intim. Dan siapapun yang melihatnya tentu akan... imajinasi liar?

"Hei apa-apaan ucapanmu itu! Aku sangat marah pada sutradara pembohong itu. Ingin rasanya kugampar wajahnya yang penuh dosa itu," sembur Gilbert pada perempuan cantik di hadapannya yang ia ketahui sebagai rekan sesama profesi, Natalia Arlovskaya, "Benar-benar tidak awesome bekerja sama dengannya. Itu jika kau ingin tau imajinasi liarku pada... pada Ivan sialan itu!" mengesampingkan status Natalia dan Ivan yang sebenarnya cukup mengejutkan Gilbert.

"Jangan sebut Ivan! Aku tidak ingin mendengarnya dari mulut sialanmu itu!" Melipat kedua tangan di dada, Natalia menghardik kesal, "Dan awas saja jika kau berbohong soal perasaanmu! Wajahmu seperti mengatakan sebaliknya!"

"Apa? Memangnya kenapa wajahku? Apa aku terlihat bernafsu pada sutradara bodoh yang tidak awesome itu? Ck demi dinosaurus yang berkembang biak, itu hal paling tidak awesome dalam hidupku!" decak Gilbert, benar-benar tak suka dituduh macam-macam oleh aktris berambut pirang platina di hadapannya.

Natalia menyeringai dengan aura intimidasi yang—err ugal-ugalan, "Siapapun tahu siapa dirimu, Gilbert Beilschmidt, artis porno terhebat seantero Hetalia!" tanpa ampun memojokkan Gilbert yang sudah mengubah air mukanya 180 derajat.

"K-kau!"

"Apa? Kaulah yang harus dengarkan aku, Gilbert! Jangan pernah menyebut Ivan, apalagi mencoba dekat—"

"Hei~~ Ini waktunya totally make up! Kalian harus bergegas like!" teriakan pria berambut pirang sebahu dengan pakaian nyentrik itu menghentikan Natalia dari sumpah serapahnya.

Gilbert menoleh pada Feliks Łukasiewicz, sang make up artist dan segera menghampirinya. Meninggalkan Natalia dengan satu catatan di memorinya. Jangan main-main dengan seorang brother-complex!

Gilbert menggeleng pelan, sesungguhnya ia cukup terkejut mendapati fakta Natalia memiliki hubungan kekeluargaan dengan sang sutradara absurd.

"Kau pasti totally shock mengetahui Natalia bersaudara dengan Vanya like?" Feliks memulai obrolan yang sepertinya membantu mengatasi penasaran Gilbert, "Aku dulu juga begitu like. Natalia totally berbakat, cantik, lincah, cerdas, profesional. Sangat berbeda dengan si cengeng Katyusha dan si bodoh Vanya itu," Feliks tertawa lirih, sembari memoleskan pembersih ke wajah Gilbert.

"Jangan bicara seperti itu kepada orang yang sudah meninggal!" timpal Gilbert mengakhiri cekikikan Feliks.

"My God! Maafkan mulutku yang totally khilaf!" pria dengan selera fashion feminim itu menepuk jidat, "Katyusha, semoga kau tenang disisi-NYA, amin!"

Gilbert menghela nafas panjang. Iris merahnya memandang jauh keluar jendela.

"Kakak, setidaknya makanlah roti ini. Aku yakin kau tidak makan sebelum bekerja."

"Aku tidak makan burger, da!"

"Tapi brat, kau tak bisa meneruskan kebiasaan telat makanmu itu terus menerus! Kau bisa sakit!"

"Natalia melupakan sesuatu, da. Burger makanan kesukaan orang Amerika, dan kau tahu sekarang berhadapan dengan siapa."

Gilbert mendecih, mengabaikan perdebatan dua orang di luar sana yang sayup-sayup terdengar di telinganya, "Tapi soal si bodoh Vanya itu, sepertinya aku setuju!" tukasnya menghentikan Feliks yang mulai membubuhkan foundation tipis ke wajah sang albino. Pria berperawakan manis manja itu mengikuti arah pandangnya.

"Yeah! Begitulah mereka berdua like. Natalia selalu menerima tawaran film dari Magic Pipe, hanya agar dekat dengan kakaknya. Padahal... kau tahu sendiri bagaimana film garapan kakaknya itu... " Feliks tertawa cekikikan dan Gilbert mengangguk setuju.

"Tapi aku masih heran bagaimana publik sama sekali tidak mengetahui hubungan Natalia dan sutradara konyol itu. Lalu orang-orang di tim—"

"Sebenarnya siapapun yang pernah bekerja sama dengan Magic Pipe totally tahu, like. Francis bahkan memanfaatkan itu untuk mendapatkan banyak kontrak Natalia," Feliks menunduk untuk memberikan sentuhan blush on pada wajah Gilbert yang berkulit putih pucat, "Selebihnya yah... apa pentingnya menghubungkan langit dan bumi? Natalia itu totally bintang yang bersinar terang. Sedangkan Vanya tak lebih seonggok sampah di tanah yang memuakkan," gelagat kebencian yang sangat kentara dalam ucapan Feliks membuat Gilbert menaikkan sebelah alis.

"Kau terlihat membenci pimpinan tim-mu sendiri. Kenapa tidak keluar saja dari sini?"

"Totally good!" Feliks menepuk kedua tangannya, puas telah menyelesaikan karyanya pada wajah Gilbert dengan cepat dan tepat, "Jika sudah tiba waktunya, aku pasti keluar dari sini, like. Kau sendiri, bagaimana bisa menerima tawaran film ini? Mendekam 2 tahun di penjara tidak membuatmu melupakan track record Magic Pipe kan?"

Menghela nafas panjang, Gilbert beranjak dari tempat duduknya, "Yeah... mungkin karena aku pun telah menjadi seonggok sampah. Semua orang di tim ini sampah kan?" meninggalkan Feliks yang hanya tersenyum sembari menggaruk kepalanya ringan.

Menghirup udara segar di luar ruang make up, pandangan Gilbert masih mendapati dua bersaudara tak jauh darinya. Kemudian teriakan manja Feliks kepada Natalia, mau tak mau memaksa aktris cantik itu berhenti dari aksinya memaksa sang kakak menelan sepotong hamburger jumbo. Sepasang netra biru keunguan sempat memerangkap Gilbert dalam satu tatapan tajam, sebelum sang empunya menghilang di balik ruang make up.

Gilbert mendengus, masih tak habis pikir bagaimana perempuan sedingin es itu menjadi istrinya dan harus beradegan panas dengannya sebagai bagian dari tuntutan peran di film—ah lebih tepatnya fanservice yang terlampau di paksakan. Toh sebenarnya adegan ranjang itu hanyalah tempelan, tidak mempengaruhi plot cerita sama sekali.

Tipikal film-film produksi Magic Pipe dengan pemimpinnya Vanya Da, yang selalu membuat penonton mimisan daripada menikmati jalan cerita. Dan dipilihnya Gilbert sebagai pemeran utama, jelas memberikan asupan bergizi kepada para fans yang selama 2 tahun ini sudah lapar pada tubuh sang albino yang—err seksi. Yahh... mau bagaimana lagi, image aktor panas sudah terlanjur melekat pada Gilbert sejak mencuatnya Film 33.

Ditambah lagi kehadiran Natalia Arlovskaya, aktris cantik berwajah barbie. Bagaimana pun, Gilbert bersyukur atas profesionalisme Natalia selama syuting. Sebelum dua tahun lalu, Gilbert mengetahui aktris bertubuh indah itu sebagai figuran dalam serial televisi, sedikit demi sedikit menjadi pemeran utama, lalu merambah layar lebar dan kalau tidak salah film pertamanya produksi Magic Pipe. Ah, mungkin ini yang membuat Natalia tak bisa melupakan Magic Pipe begitu saja, selain hubungan dekatnya dengan sang pemilik rumah produksi yang ternyata kakaknya sendiri itu. Meskipun kenyataannya, menjadi heroine dalam film-film Amerika jauh lebih sukses mengangkat namanya ke jajaran aktris papan atas, dibanding film abal-abal garapan sang kakak yang hanya mendatangkan review buruk.

Menghela nafas panjang, Gilbert melangkahkan kaki gontai. Nama besarnya sebagai aktor ter-awesome dan kolaborasi dengan aktris papan atas, memang masih memicu antusiasme di kalangan penggemar maupun media, terbukti dari ramainya kehadiran mereka di konferensi pers. Tapi apa yang bisa diharapkan dari sutradara yang bahkan melakukan kebohongan publik mengenai lokasi syuting?

Kalaupun hanya ocehan halu dari seorang produser mesum macam Francis, tapi mustahil Vanya tidak tahu apa-apa kan? Malah bisa jadi dialah yang merestui segalanya, mengingat dialah pemimpin produksi film ini. Bagaimanapun Francis selaku produser yang membiayai film melakukan tekanan terhadap proses produksi, jika sutradara tidak memberi lampu hijau, tentu tidak akan terjadi apapun kan? Ah, pokoknya semua salah Vanya!

"Pelan-pelan membawa koperku!" seru Gilbert menyamankan bokong di meja tempat persiapan properti syuting, "Isinya barang-barang awesome yang tak akan bisa kau temui di sembarang mall, kecuali mall-nya awesome sepertiku," ujar Gilbert pada salah satu anggota tim yang sedang menjinjing kopernya untuk dibawa masuk ke dalam rumah.

"E-eh... tentu Gilbert. A-aku akan berhati-hati membawanya!" jawaban pemuda bertubuh kecil itu menyeruakkan tawa Gilbert.

"Kesesese... Dank Raivis. Dan kau tak perlu gugup begitu. Kau tidak sedang berhadapan dengan setan sekarang!" balas Gilbert sembari mengacak rambut Raivis. Iris merahnya sengaja melirik Ivan yang duduk di kursi bawahnya. Raivis Gelante menggaruk kepala canggung, namun segera beringsut menjauh saat bertemu pandang dengan Ivan yang hanya tersenyum seperti biasa.

Kebiasaan orang-orang di tim memang selalu gemetar ketakutan saat bertemu pandang dengan Ivan, yang entah bagaimana memiliki aura intimidasi kuat, bahkan saat tersenyum sekalipun. Tentunya itu tidak berlaku bagi Gilbert. Justru belakangan ini ia punya kebiasaan baru mem-bully sutradara itu dengan sindiran-sindiran sadis di hadapannya langsung, tanpa tedeng aling-aling.

"Ne, Vanya! Menurutmu apa Feliks tidak terlalu manis untuk jadi setan Ronggeng? Kurasa kau lebih cocok dengan peran itu. Wajahmu sangat mendukung! Siapapun akan ketakutan melihat wajah setanmu, tanpa harus mengorbankan banyak make up. Kau tipe ekonomis kan?"

Ivan hanya tersenyum memandang sosok yang sama sekali tidak sopan duduk di atas mejanya, "Hantu Ronggeng memang cantik dan anggun, da. Itu bisa didapatkan dari Feliks dengan keajaiban make up-nya," menumpukan dagu pada sebelah tangannya, Ivan menambahkan, "Tapi aku setuju dengan nilai ekonomis. Semakin hemat lagi jika memberimu peran ganda sebagai pocong, da. Penampilanmu sangat mendukung. Bahkan tanpa make up, tanpa kostum juga. Kapan lagi berkesempatan menunjukkan sisi eksibisionis kan?"

"Kesesese... dasar sutradara setan yang maniak setan!" Gilbert akan menyemburkan kembali kekesalannya saat Salman menginterupsi dengan tepukan di bahunya.

"Saling tertawa, kelihatan akrab sekali. Im so jealous!" Salman datang dengan mengerucutkan bibirnya. Gilbert balas menepuk bahunya.

"Kesese... kau nampak awesome dengan penampilanmu!" turun dari meja dan mensejajarkan diri dengan si pria India, "Aku tahu semua orang mengagumi kehebatanku. Tapi bukan berarti harus mengikuti penampilanku sama persis. Yeah, walaupun Gilbert yang awesome ini memang seorang trendsetter!"

Rambut silver, sepasang mata merah, celana jeans biru dengan Tshirt putih yang dipadu jaket biru. Gilbert memang tak pernah mengagumi eksistensi lain selain dirinya sendiri.

"Aku akan menjadi bayanganmu, Gil!"

Sebuah tepukan di kedua bahu yang di iringi seulas senyum lembut, entah mengapa Gilbert tak menyukainya. "Apa maksudmu?" tanyanya melepaskan kedua tangan di bahunya.

Salman tertawa, "Memasuki dunia perfileman selama 10 tahun lebih, tak seharusnya kau memusingkan hal itu Gil," ejeknya mengikuti Ivan yang semakin sibuk berpindah sana sini mempersiapkan syuting.

"Ah tidak tidak! Aku tidak bisa menerima jika yang kau maksud adalah stuntman!" Gilbert menatap tajam Salman setelah sebelumnya menarik paksa pemuda India itu untuk menghadap pandang padanya, "Aku tidak menemukan adegan di skenario yang mengharuskanku diganti stuntman. Kalaupun ada, aku sendiri yang akan melakukannya! Terjun dari lantai 13? Terjebak api? Berkendara ekstrim? Tidak ada stuntman dalam kamus aktor Gilbert Beilschmidt yang hebat! Kau seharusnya tahu itu!"

Mengalungkan kedua tangannya ke leher Gilbert, Salman berujar lirih, "Aku tahu Gil. Tapi sayangnya, tak seorang pun tahu apa yang dipikirkan sutradara kami!" ujarnya cekikikan menunjuk Ivan dengan dagunya.

Yang ditunjuk tak jauh darinya hanya memutar kedua bola mata, "Merepotkan, da!"

"Tapi jujur saja, kau suka kan direpotkan olehnya!" tertawa, Salman menepuk bahu Ivan, sebelum akhirnya meninggalkan sang sahabat dengan berbagai kerepotan. Benar saja, tak menunggu lama sebuah cengkraman kuat pada syal sutradara muda itu, telah merepotkannya dari segala aktivitas pra-syuting.

"Katakan, hal absurd apa yang kau rencanakan, heh?" sepasang iris merah di hadapannya jelas menyalakan amarah, tak main-main.

"Aku sutradara, aku pemimpin di sini. Aku punya hak untuk mengatakan yang ingin kukatakan atau tidak, da!" Ivan tersenyum, mengucapkan kata-kata penuh penekanan itu.

"Baiklah. Kalau begitu, aku tak ingin syuting. Aku, The Awesome Gilbert Beilschmidt, punya hak melakukan apapun yang ingin kulakukan atau tidak!" bukan Gilbert namanya jika kalah begitu saja. Seringai tajam dalam gerakan walk out itu jelas merupakan sinyal kemenangan yang sepertinya tak bisa dipatahkan Ivan, kecuali dengan—

BUGHHH

"Ukhhh!" Gilbert mengerang sakit di punggungnya yang baru saja terjungkal ke tanah, "Beraninya kau—" desisnya menatap tajam sepasang violet di atasnya—oh tidak!

"A-apa yang kau lakukan?" Gilbert mengerjapkan mata intens saat tubuh besar itu memerangkapnya di bawah, dengan mendudukkan diri di area yang benar-benar mengunci pergerakan.

Ivan menyeringai senang mendapati berbagai ekspresi dari sebingkai wajah putih yang telah berubah warna serupa dengan matanya, "Kau yakin tidak membutuhkan stuntman da?" menggoreskan pipa pada sebidang dada yang naik turun, "Adegan ini..." perlahan tapi pasti menarik Tshirt putih membentuk V-neck, hingga membuat sang empunya berjengit, "Berbahaya, menakutkan, menyakitkan!"

Tiga kata yang dibisikkan ke telinganya, sudah cukup bagi Gilbert untuk membuat keputusan.

.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

.

A/N : Hello readers yang budiman! Anastasia is back! Maaf lama banget update-nya. Hampir 3 tahun, lolz. Tapi saya "pasti" akan membuat cerita ini sampai tamat, terlepas kapanpun apdetnya. Saya mengupayakan yang terbaik. Terimakasih untuk yang sudah read and review. Mind to give me more? ^^

See you...