Kretek... Kretek...
Suara kayu yang termakan oleh api membuat suasana sunyi di dalam hutan terasa canggung bagi dua orang yang tengah duduk bersebrangan. Sebenarnya hanya si gadislah yang merasa canggung dibandingkan orang-bukan, apakah mahluk penuh bulu dan memiliki moncong kucing bisa d sebut sebagai manusia? Gadis itu tidak tahu.
"Ano... Aku-"
Perkataan gadis penyihir itu pun terpotong saat satu tusuk ikan bakar disodorkan oleh mahluk di hadapannya. Gadis itu menatap mahluk pemberi ikan tersebut sebentar sebelum sadar dengan kelakuan tidak sopannya yang menatapnya terus. Akhirnya gadis itu menerima pemberian mahluk di hadapannya ini dengan canggung.
"Terima kasih."
Gadis itu kembali melirik ke arah mahluk tersebut yang tengah mengunyah makanannya dengan santai. Seakan merasa tatapan sang gadis begitu pekat, mahluk tersebut menatap balik mata giok di hadapannya. Merasa tidak enak jika di tatap terus menerus saat makan, mahluk itu menghela nafas dan menghentikan acara makannya sejenak.
"Jika kau mengira aku akan memakanmu seperti rumor yang beredar, maka kau salah. Aku takkan memakan manusia tanpa daging sepertimu." Ucapnya tanpa perduli guratan kekesalan gadis di hadapannya.
Gadis itu mengambil nafas cukup panjang untuk menenangkan dirinya. Setidaknya, mahluk inilah yang menolong ia tadi. "Neko." Panggil gadis itu.
"Aku bukan kucing."
"Lalu, aku harus memanggilmu apa?"
"Terserah."
Guratan kekesalan kembali tercipta saat mendengar perkataan menyebalkan mahluk itu. "Kuro?" Tanyanya.
"Tidak."
"Aku harus memanggilmu apa?!" Kata gadis itu dengan kesal.
"Sasuke."
"Heh?" Gadis itu mengedipkan matanya beberapa kali tatkala mahluk itu mengklaim sebuah nama.
"Hanya nama itu yang pernah dipakai." Kata Sasuke seraya membalikkan salah satu ikan yang tengah dibakarnya.
"A-ah ..." Gadis itu menggaruk pipinya yang tak gatal saat bingung untuk menjawab perkataan Sasuke. "Etto... Haruno Sakura, salam kenal." Sambungnya.
"Tidak tanya."
Sakura menghela nafas saat perkataannya lagi-lagi di jawab dengan dengan cara yang menyebalkan. Seperti itu sudah sifat alami mahluk itu. "Kau menyebalkan." Kata Sakura dan mulai menyantap ikan bakar pemberian Sasuke tadi.
Sasuke kembali melanjutkan aktifitasnya yang tertunda tadi dengan mengambil satu tusuk ikan bakar lagi untuk ia santap. Namun kali ini tak sepenuhnya seperti tadi. Kucing besar itu melirik Sakura beberapa kali untuk meneliti pengaruh gadis ini terhadap dia dan masyarakat nantinya. Sebagai mahluk yang selalu di buru manusia, Sasuke memang seharus hati-hati terhadap apapun, terlebih orang asing yang jatuh dari tebing dengan menghempaskan diri hingga ke tempatnya bermalam.
Setelah meneliti cukup lama, Sasuke dapat menyimpulkan bahwa gadis itu berada di kalangan orang terhormat. Bagaimana Sasuke tahu? Cukup mudah sebetulnya jika melihat bahan apa yang di pakai untuk dijadikan pakaian dan aksesoris gadis tersebut. Terlebih dia adalah seorang penyihir.
Setahu Kucing besar itu, para penyihir adalah kalangan bangsawan terhormat yang membantu kerajaan dalam berbagai bidang. Tapi kalau memang gadis ini seorang penyihir, mengapa orang-orang tadi mengejarnya dengan aura membunuh? Ada yang tidak beres dan Sasuke tahu itu.
"Ada apa?"
Sasuke mengedip beberapa kali tatkala dirinya ketahuan tengah memperhatikan Sakura. Tanpa mau menjawab, Sasuke menaruh kayu yang dipakai untuk menusuk ikan tadi lalu merebahkan diri di atas rumput. Sasuke berbalik memunggungi Sakura saat gadis itu terlihat mengembungkan pipi kesal karena tak ditanggapi.
"Kau ini benar-benar kucing menyebalkan!"
Kucing besar itu tak memperdulikan protes Sakura yang terus di layangkan pada dirinya. Memangnya siapa dia? Tanpa tahu siapa Sasuke, gadis itu memprotesnya dengan berbagai hal. Inilah yang membuat Sasuke lebih menyukai gadis pendiam dibandingkan orang di belakangnya ini.
Pendiam.
Lengan berbulu itu merogoh lengan kimono kinagashi nya mencari sesuatu di balik lipatan pakaiannya. Dari dalam sana sebuah kanzashi dengan hiasan benbentuk untaian bunga lavender dengan sedikit bercak darah terambil. Sasuke mengusap kanzashi itu perlahan seraya menerawang jauh tentang pemiliknya.
"Bodoh."
Under the Moon
Kebanyakan orang biasanya terbangun akibat kicauan burung di pagi hari atau cahaya matahari yang menerpa wajah mereka, namun hal itu tidak terjadi pada Sasuke kali ini. Pagi ini Sasuke terpaksa harus terbangun tatkala hidung kucingnya mengendus aroma gosong yang begitu menyengat dan cukup dekat hingga membuat ia tersentak bangun dari posisi tidurnya.
"Kau sudah bangun?"
Mendengar suara yang menyapanya pertama kali di pagi ini membuat Sasuke menengok cepat pada orang tersebut. Di sebrang api unggun yang menyala membakar sesuatu, Sasuke dapat melihat gadis penyihir yang di tolongnya semalam dan entah mengapa firasatnya mengatakan hal berbahaya akan terjadi.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Apa yang ku lakukan? Bukankah sudah jelas? Aku memasak makanan untuk sarapan pagi kita." Jawab Sakura seraya tersenyum.
Tunggu, sarapan katanya?
Sasuke melirik ke arah api unggun, lebih tepatnya pada sebuah tungku batu yang dibuat asal-asalan. Tapi, bukan itu sasaran lirikan Sasuke melainkan dua benda hitam yang masih terpanggang pada batu datar di atas tungku. Sasuke tidak tahu benda apa itu, tapi yang pasti benda itu bukanlah makanan manusia apa lagi hewan.
"Ada apa?"
"Apa itu sarapan yang kau maksud?" Tanya Sasuke seraya menunjuk ke arah tungku.
Sakura tersenyum menanggapi pertanyaan Sasuke. "Telur di pagi hari itu sehat untuk tubuh." Jawabnya.
Telur? Sejujurnya, Sasuke malah ragu bahwa benda yang di sebut telur itu benar-benar bisa menyehatkan tubuh.
Tidak, Tidak! Sekarang bukan itu permasalahannya. Abaikan dahulu benda gosong itu dan kembali pada topik awal.
"Kenapa kau masih berada disini?"
"Bukankah sudah jelas? Sekarang kita adalah teman, dan teman akan saling membantu."
Teman? Sejak kapan mereka berteman? Sungguh, Sasuke tidak mengerti jalan pikiran gadis penyihir ini. "Dengar! lebih baik kau pergi ke istana dan jadilah penyihir kerajaan!" Kata Sasuke.
"Aku tidak bisa."
"Hn?"
"Begini saja. Bagaimana jika aku ikut bersamamu? Aku bisa melakukan banyak hal seperti bantu-bantu, mencuci dan memasak. Lagipula aku ini seorang penyihir, jadi aku bisa membantu banyak hal dengan sihirku seperti membuat api unggun." Tawar Sakura.
Sasuke mengendus remeh saat mendengar beberapa keahlian yang di katakan Sakura tadi. Memasak? Apa benda hitam yang masih terus dibiarkan terpanggang itu salah satu cara memasak? Sasuke meragukan segala perkataan Sakura. Lagipula, ia tidak butuh siapapun.
"Tidak perlu."
"Ekh?! Kenapa?"
"Lagipula, tidakah kau pernah mendengar bahwa monster sepertiku dapat memakan manusia?"
"Menurutku tidak seperti itu. Kebanyakan kabar burung yang terdengar hanyalah rumor semata."
Sasuke menghela nafas malas mendengar jawaban Sakura. "Dengar! Kau akan menghambat perjalananku, jadi lebih baik kau pergi dan cari tempat nyamanmu sendiri." Kata Sasuke.
"Perjalanan? Kau mau pergi kemana?"
"Entah." Kucing besar itu menunduk, dirinya sama sekali tak ingin menjawab.
"Jangan-jangan kau mau seorang penyihir yang kabarnya bisa membuat dirimu menjadi manusia seutuhnya, ya?"
Mendengar jawaban perkataan Sakura membuat Sasuke menaikan kepalanya menatap gadis itu. "Bagaimana-"
"Bagaimana aku tahu? Bukankah sudah jelas? Dengan rasa benci yang kuat dari masyarakat karena tubuh hewanmu, kau pasti berpikir ingin menjadi manusia." Potong Sakura. "Maka dari itu, kau harus membawaku dalan perjalanan." Sambungnya
Memang benar pernyataan yang dikatakan Sakura. Ia memang sudah muak dengan tubuh hewan yang dibawanya sejak lahir, tapi membawa seorang gadis ke dalam perjalanannya? Rasanya tidak mungkin. Mengingat gadis itu adalah seorang penyihir yang pastinya masih ada hubungan dengan istana, entah mengapa Sasuke selalu merasakan sebuah pengkhianatan jika berhububgan dengan istana.
"Aku ini bisa berguna dalam perjalanan, lagipula hanya seorang penyihir yang dapat membedakan antara manusia dan penyihir."
Sekali lagi perkataan gadis itu tepat, tapi masih ada sesuatu yang mengganjal di hati Sasuke. "Jika kau memang bisa melakukan banyak hal, mengapa semalam ada gerombolan orang yang menyerangmu?" tanya Sasuke.
"Kemarin? Ah! Itu karena ini ..." Sakura mengeluarkan sebuah kanzashi berhiaskan bunga ume di atasnya. "Sepertinya kanzashi ini tersangkut pada pakaianku dan tak lama mereka mengejarku." Sambung Sakura.
Dan untuk sekian kalinya Sasuke menghela nafas melihat tingkah bodoh gadis penyihir itu. Namun... "Baiklah, kau boleh ikut, tapi hanya sampai penyihir tersebut dapat kutemukan, mengerti." Ia pun perlu bantuan seseorang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Ha'i"
To Be Continue
