"Jadi kita akan pergi kemana?"
"Tidak tahu."
"Ekh?"
Langkah Sakura terhenti tatkala pertanyaannya dijawab sebodoh anak SD yang tidak tahu jalan, tapi masih terus melangkah hingga tersesat. Tak hanya Sakura, Sasuke pun berhenti saat gadis ceri tersebut menghentikan langkah saat mendengar jawabannya lalu berputar balik untuk menatap Sakura.
"Kau serius?"
"Apakah wajahku ini terlihat bermain-main?"
Sakura mengembungkan pipinya kesal. "Wajah kucingmu itu sama sekali tidak bisa ku tebak, bodoh." Kata Sakura.
Malas berargumen dengan gadis penyihir di belakangnya, Sasuke kembali berbalik dan berjalan tanpa arah tujuan seperti sebelumnya. Sejak awal Sasuke memang tengah mencari seorang penyihir yang dapat mengubahnya menjadi manusia, tapi bukan berarti ia tahu dimana keberadaan penyihir tersebut. Jika ia tahu, sejak awal Sasuke takkan menerima bantuan Sakura atau mungkin saja sekarang ia telah menjadi manusia seutuhnya. Entah siapa yang bodoh disini.
"Tu-tunggu!" Sakura berlari kecil mengejar Sasuke yang meninggalkannya.
Krukk
Sasuke memegang perutnya yang berbunyi karena belum makan sejak tadi pagi. Jangankan untuk makan, mengingat benda hitam yang terbakar api tadi pagi saja membuatnya kehilangan selera makan. Oh Tuhan, mengapa cobaanmu begitu berat pagi ini?
Sakura memelankan langkahnya untuk menyamai pergerakan kaki Sasuke. "Kau lapar?" Kata Sakura yang sepertinya mendengar suara perut Sasuke.
Merasa tak ada jawaban, Sakura pun menarik tas selimpang dari balik jubah Sasuke untuk mencari sesuatu di dalamnya yang membuat kucing besar itu terkejut. "Apa yang kau lakukan!?" Protes Sasuke karena Sakura yang sembarangan mengobrak-abrik barang bawaannya.
"Diam sebentar. Aku hanya mencari bekal kita yang ku taruh di dalam tasmu saat kau pergi mandi." Jawab Sakura.
"Kau membongkar barang-barangku!?"
"Tidak! Aku hanya menaruh bekal kita saja. Ah, ketemu!"
Sakura mengeluarkan sesuatu yang terbungkus daun jati dan diikat dari dalam tas Sasuke. Melihat bungkusan tersebut, entah mengapa perasaan tidak enak Sasuke tadi pagi kini kembali muncul. Sebenarnya Sasuke takut untuk menebak isi bungkusan tersebut, tapi ia tidak mau mengambil resiko untuk diam dan merasakan neraka dalam waktu singkat. Maka dari itu Sasuke memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa itu benda hitam tadi pagi?"
Lagi-lagi Sakura mengembungkan pipinya kesal. "Itu bukan benda! Itu telur burung yang kutemukan langsung dari sarangnya! Dan telur di pagi hari itu dapat menyehatkan tubuh tahu!" Kata Sakura.
Jika benda hitam itu menyehatkan lalu apa yang selama ini gadis itu makan? Sasuke tidak mau mengambil resiko untuk bertanya lebih lanjut. Biarlah Tuhan yang menjawabnya suatu hari nanti.
"Jadi apa itu?"
Hanya dalam kisaran detik, raut kesal Sakura berubah menjadi ceria kembali. "Karena tadi pagi kita belum sempat sarapan maka dari itu aku membawa telurnya sebagai makan siang." Kata Sakura seraya membuka bungkusan yang memperlihatkan benda bulat hitam di dalamnya.
"Sepertinya kita sudah hampir sampai di desa." Kata Sasuke mengalihkan perhatian untuk keselamatan nyawanya.
"Benarkah?"
Sasuke menunjuk sebuah benteng kayu yang berada sekitar satu setengah kilo meter dari jarak mereka. Dan Sasuke bersyukur dalam hati karena pengalihannya telah berhasil. Lain kali ia takkan membiarkan Sakura memasak atau memegang alat masak apapun kecuali jika Sasuke ingin membuat racun.
Sasuke akan mengingatnya.
Under the Moon
"Ada keperluan apa hingga kalian ingin masuk ke desa ini?"
Salah seorang dari penjaga yang menghalangi gerbang masuk desa pun melontarkan pertanyaan untuk memastikan keamaan di dalam desa nantinya. Dengan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya dari kepala hingga kaki, Sasuke melangkah lebih dekat pada si penjaga lalu melemparkan kantung kecil yang berisikan beberapa koin emas padanya.
"Kami hanya akan menginap untuk beberapa malam sebelum melanjutkan perjalan."
Seharusnya para pendatang yang akan memasuki desa akan diberi beberapa pertanya juga seleksi agar tidak ada para pemberontak atau penjahat termasuk manusia setengah hewan seperti Sasuke. Tapi dengan jalur gelap seperti ini semua hal akan dimudahkan meski dengan biaya yang cukup mahal. Sasuke sebenarnya tahu bahwa biaya yang harus ia berikan dengan tinggal selama beberapa hari disana cukup mengocek harga yang terlalu tinggi, tapi ini sebanding dengan nyawanya yang terancam karena benda bulat hitam dalam bungkusan di tangan Sakura.
"Kalian boleh masuk." Pintu gerbang pun dibuka oleh para penjaga.
"Terima kasih." Kata Sasuke seraya melangkah masuk ke dalam gerbang yang diikuti Sakura.
Awalnya mereka masuk dengan tenang tanpa mengatakan sepatah katapun termasuk Sakura. Namun saat Sakura melihat desa di dalamnya yang begitu asri dan indah, gadis ceri itu langsung bergumam seakan tidak pernah melihat pemandangan seperti ini. Entah tempat apa yang ditinggali Sakura sebelum bertemu Sasuke dulu.
Sasuke melangkahkan kakinya mendahului Sakura yang masih terpesona dengan desa tersebut hingga gadis itu sadar dan kembali berlari kecil mengikutinya. "Kau itu senang sekali meninggalkan seseorang, ya." Kata Sakura sedikit kesal.
Dan kembali Sakura mengembungkan pipinya kesal, namun kembali ceria tatkala matanya menangkap sebuah toko pakaian yang tak jauh dari tempat mereka melangkah. "Sasuke, lihat! Apa ada jubah panjang sepertimu disana, ya?" Kata Sakura.
Mengerti maksud Sakura yang ingin berbelanja, Sasuke pun menegaskan sesuatu. "Uangku hanya dipakai untuk tempat menginap kita." Ucapnya.
"Siapa yang bilang, aku minta dibelikan olehmu? Aku bisa membelinya sendiri."
"Kalau begitu pergilah. Aku akan menunggu di penginapan di ujung sana."
"Ekh?" Sakura menengok ke arah Sasuke. "Kau tidak menemaniku berbelanja?"
"Perlu ku tegaskan satu hal, nona. Aku bukan pelayanmu!"
Under the Moon
"Jadi apa rencanamu selanjutnya?"
"Kita akan menginap disini selama tiga hari dan melanjutkan perjalanan."
"Tapi jika kita tidak punya petunjuk, maka percuma saja kita mencari."
Kamar penginapan dengan dua singel bed yang Sasuke sewa itu menjadi markas sementara mereka berdua selama bermalam di desa ini. Kali ini mereka tengah membicarakan rencana selanjutnya untuk menemukan penyihir yang Sasuke cari. Meskipun mereka merencanakan perjalanan selanjutnya, tetap saja rasanya tidak berguna jika mengingat tak ada satupun petunjuk tentang keberadaan sang penyihir. Sejujurnya benar atau tidaknya kabar tersebut pun belum dipastikan kebenarannya karena hingga sekarang belum ada berhasil menemui sang penyihir. Mungkin.
"Ah! Aku baru ingat sesuatu."
"Hn?"
"Aku mempunyai teman yang sepertimu, tapi dia berada di desa yang cukup jauh."
"Hn?"
"Bagaimana kita ke desa tersebut?"
"Hn."
"Ck! Kau sejak tadi hanya hn, hn, hn saja. Kau ini kucing dari planet mana sih?" Sepertinya Sakura sudah cukup kesal dengan jawaban Sasuke yang tidak dapat ia mengerti.
"Aku manusia."
"Aku tidak perduli kau ini apa! Yang kutanyakan sekarang adalah apa kau mau ke desa itu atau tidak!?" Baru satu hari bersama kucing besar ini, Sakura sudah mulai kesal terus dengan ucapannya. "Dengar, ya! Temanku itu memiliki informasi yang cukup banyak. Mungkin saja jika kita pergi menemuinya, kita bisa mendapatkan petunjuk tentang keberadaan penyihir tersebut." Sambung Sakura.
"Terserah. Aku mau tidur."
Tepat setelah perkataan Sasuke tadi, kucing besar itu pun merebahkan tubuhnya di tempat tidur lalu memunggungi Sakura yang terlihat memerah karena kesal.
"Kau menyebalkan! Kuharap kau dikutuk menjadi batu asahan!"
Sakura membanting tubuhnya ke atas tempat tidurnya dengan kesal seraya menggurutu. Ia sama sekali tidak mengerti karena sejak pagi hingga datang ke desa, Sasuke tidak seperti ini. Tapi setelah ia berbelanja dan menemui Sasuke di penginapan, tingkah lakunya berubah drastis.
"Ah! Jangan-jangan kau tengah PMS, ya?"
"Jika kau tidak bisa diam, akan ku sumpah mulutmu!"
To be Continue
