Previous
"Kenapa bun? Aku lagi-…."
"KE RUMAH LUHAN SEKARANG KA!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Un-baku fanfiction by me ;D
.
.
EXTRA Two Shoot
.
2 of 2
.
.
.
.
.
.
Bittersweet
.
.
.
.
.
.
HUN-HAN!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BLAM!
.
Tepat setelah ditelfon sama bundanya, Sehun tergesa pergi kerumah Luhan, jujur pikirannya kacau karena suara ibunya terdengar cemas, dan yang bikin gak habis pikir adalah bundanya bilang hal yang gak masuk diakal seperti
Ada keributan di rumah Luhan, kamu kesana ka…SEKARANG!
"Keributan apa sih?!"
Sehun sejujurnya gak suka setiap kali dikasih kabar mendadak kaya sekarang, dia gak suka dibuat tiba-tiba sesak nafas karena berita-berita yang gak siap diterima dirinya secara mendadak.
Buru-buru dia buka pagar rumah Luhan, dari jauh semua keliatan normal, tapi semakin dia jalan mendekati pintu utama, Sehun tahu ada yang gak beres karena lampu rumah Luhan mati dan itu bukan salah satu favorit Luhan ada didalam ruangan gelap sendirian.
"Luhan.."
Satu kalimat pertama keluar untuk mengalihkan cemasnya, Sehun berharap ada jawaban atau pintu terbuka tapi nihil, wajar karena memang jaraknya ke pintu utama masih lumayan jauh, tapi Luhan yang biasanya, dia akan lari keluar bak nyambut pangerannya bahkan saat mobil Sehun belum berhenti di depan pagar rumah.
"Luhan."
Panggilan kedua dan masih belum ada jawaban, dia masih berfikir Luhan tidur, tapi saat lihat tumpukan kardus dengan barang berserakan di depan rumah ngebuat langkahnya berhenti sepersekian detik.
Keningnya berkerut, bertanya-tanya sejak kapan ada tumpukan didepan rumah yang awalnya dia kira adalah sampah, tapi semakin dilihat barang-barang yang ada di dalam kardus itu terasa familiar buat Sehun dan bener aja, langkah kakinya dipercepat saat lihat bambi si boneka yang gak pernah dicuci Luhan selama bertahun-tahun ada disana, tergeletak ditanah, kotor dan itu adalah dua hal yang gak akan pernah dibiarkan Luhan karena boneka itu punya aroma parfume mendiang ibunya.
Sehun masih berusaha tenang, dia pungut boneka Luhan, dia teliti, boneka itu jelas punya cap sepatu tanda habis diinjak lebih dari satu orang, si bambi juga kehilangan satu matanya dan itu ngebuat suara nafas Sehun menjadi berat terlebih saat lihat noda darah di bagian belakang boneka bambi.
"LUHAN!"
Refleks, tangannya ngejatuhin boneka rusa milik Luhan, dia lari ke depan pintu dan sadar pintunya digembok cukup besar, yang jelas, itu bukan Luhan, temen kecilnya gak akan melakukan hal konyol dengan gembok rumahnya sendiri.
Jadi wajar kalau saat ini Sehun gedor pintu rumah Luhan sesekali berteriak karena sama sekali gak ada jawaban, dia lari kesisi samping jendela, intip isi rumah yang gelap dan membenarkan ucapan bundanya kalau gak lama setelah dia drop Luhan di depan rumah, keributan besar yang dibilang bundanya memang terjadi.
"LUHAN BUKA PINTU! KAMU DIMANA?"
Hening menyapa, lagipula gak ada tanda-tanda orang didalam rumah, warna muka Sehun berubah merah antara marah menebak siapa yang buat keributan disini, disaat Luhan sendiri, tapi bibirnya pucat karena dia terlalu panik gak berani untuk sekedar membayangkan gimana temen kecilnya melewati semua kekacauan ini sendirian.
"LUHAN!"
Tangan Sehun merah karena menggedor pintu kuat-kuat, dia terus berteriak sampai suaranya serak dan nihil, gak ada tanda-tanda Luhan menjawab, dia lari ke sisi samping kanan rumah dan yang dilihat cuma barang-barang yang pecah dan dihancurin, di sisi samping kiri rumah juga sama, gak ada apapun selain keadaan rumah berantakan dan gelap.
Buru-buru Sehun merogoh ponsel di saku celananya, dial nomor Luhan dan nada gak aktif menyambut, hatinya udah mulai gak tenang, tangannya sedikit gemetar, kali ini nomor bundanya yang menjadi tujuan dan berharap saat nelfon bundanya ada kabar baik tentang Luhan
"Ka gimana? Kamu ketemu sama Luhan?"
Dari pertanyaan singkat ibunya sudah menggambarkan kalau Luhan gak ada di rumah mereka, Sehun jambak kencang rambutnya, gigi kuat bibirnya untuk berusaha tenang dan gak buat panik bundanya dirumah
"Belum bun, Luhan gak ada dirumah?"
"Belum, terus kamu udah di rumahnya? Ada yang datang?"
"Gak ada, tapi rumahnya berantakan."
"Ya ampun, berantakan gimana nak?"
Kali ini tujuan Sehun area belakang rumah, masih tersambung sama ibunya dia cuma sekedar kasih tau kondisi rumah Luhan sampai satu langkah terakhirnya, dia bisa lihat bayangan yang ada dibalik tiang dibelakang rumah dan Sehun tahu walau hanya dari bayangannya kalau itu Luhan.
"Nanti kakak cerita."
Pip!
Setelahnya Sehun meletakkan asal ponselnya di saku jaket yang dia pakai, langkah kakinya mendekati bayangan yang dilihat, awalnya dia ragu, tapi gak cuma bayangan kini Sehun mendengar suara, kadang terisak, kadang bicara tapi entah sama siapa
"ish! Kenapa susah—hkss—ini cuma perlu ditempel."
Entah apa yang dilakukan Luhan dibelakang rumahnya, yang jelas sesuatu pasti terjadi, Sehun bahkan kehabisan kata-kata saat langkahnya tepat berhenti didepan lelaki yang belum lama tadi have fun sama dia kini harus dibuat ketakutan entah karena apa.
"ini kenapa susah banget sih-….cuma perlu ditempel."
Sedari tadi kalimat yang Sehun dengar sama, sulit dan cuma perlu ditempel, dia bertanya-tanya itu apa, tapi saat ngeliat Luhan lagi puzzle kertas robekan yang dia tebak foto, Sehun bisa liat air matanya terus jatuh, tangannya gemetar dan yang lebih buat dia menahan marah adalah kenyataan kalau sekujur tubuh Luhan lebam dan ada darah di sekitar kerah bajunya.
"Luhan."
Satu panggilan dingin terdengar, Luhan angkat wajahnya sekilas lalu fokusnya kembali sama serpihan foto yang dirobek, tangannya gemetar karena mencari potongan-potongan foto yang disobek dan terkadang meringis karena pergelangan tangannya memar dan angin di halaman belakang ngebuat foto yang coba dia kumpulin beterbangan sia-sia.
"Ka, kamu bisa bantu aku gak?—ini terbang terus, aku gak bisa satuin fotonya."
"Bangun…"
Luhan tahu Sehun kentara menahan marah, suaranya dingin, tatapannya tajam dan tangannya terkepal, dia juga tahu Sehun paling benci lihat dia nangis karena dijahatin orang kaya gini, karena ajaran Sehun sejak kecil, lawan, bukan nangis dan terlihat menyedihkan kaya sekarang.
"mereka robek foto mama, ini satu-satunya foto yang tersisa, aku gak punya lagi, hkss-…tolong ka~!"
"Bangun."
"Ka!"
"AKU BILANG BANGUN!"
"Sehun!"
Wajar kalau Luhan teriak saat tiba-tiba Sehun narik tangannya, dia juga cuma berakhir terisak pasrah saat potongan foto ibunya berserakan ketiup angin, Luhan mungkin pasrah, tapi Sehun? Dia cuma sekilas lihat tangan Luhan sedikit memar, tapi saat mata mereka bertatapan dia baru sadar kalau gak cuma tangan, tapi wajah dan seluruh tubuh Luhan memar bahkan ada darah hampir kering di sekitar bibirnya.
"astaga…"
Buru-buru Luhan menundukkan kepala, dia tahu ini pertanda buruk karena cengkraman tangan Sehun di lengan tangannya terlalu kencang, dia cuma gak mau memperparah keadaan karena sejujurnya dia masih ketakutan dan trauma hingga saat ini.
"Aku baik."
Satu kalimat itu adalah kebohongan terbesar Luhan hari ini, bagaimana dia bisa baik kalau air matanya terus bergantian jatuh dan dihapus kasar, bagaimana dia baik-baik aja kalau tangannya gemetar terlampau dingin di genggaman Sehun, bagaimana dia baik-baik aja kalau memar di wajahnya mulai berwarna biru bahkan untuk terisak aja dia gak bisa membuka bibirnya dengan benar.
Jadi wajar kalau Sehun tiba-tiba teriak "BOHONG!" yang sontak ngebuat Luhan berjengit karena tahu Sehun akan marah tapi gak menyangka kalau kemarahannya untuk dia "ka-Ka…!"
Merasa risih Luhan berusaha lepas genggaman tangan Sehun, tapi yang ada Sehun semakin cengkram tangan dia untuk kasih tahu "Berapa kali aku bilang buat lawan-…..LAWAN KALO ADA YANG JAHATIN KAMU! KENAPA KAMU TERUS BERTINGKAH CENGENG, HAH? KAMU BUKAN ANAK KECIL YANG-….."
"JUMLAH MEREKA TERLALU BANYAK!"
Luhan balas teriakan Sehun, teman kecilnya diam beberapa saat, lalu tiba-tiba ketakutannya terjadi, kenyataan kalau gak cuma satu tapi entah berapa orang yang ngebuat teman kecilnya ini benar-benar ketakutan dan memar di seluruh tubuhnya.
"huh?"
Seolah kehabisan kata Sehun hanya bisa bergumam, sementara Luhan ngelepas kasar pegangan Sehun di tangannya untuk kembali jongkok dan ngumpulin robekan foto mendiang ibunya.
"Semua gara-gara aku inget kata kamu untuk ngelawan, jadi mereka marah dan imbasnya mereka robek foto mama aku! Coba kalau aku diem aja, aku gak lawan, pasti mereka-….sial! Aku harus apa? Semuanya berserakan! Aarghhh….."
Luhan akhirnya menyerah, dia ngebiarin robekan foto mendiang mamanya berserakan tertiup angin dan lebih memilih menyembunyikan wajahnya diantara lutut karena jujur dia lelah, hampir tiga jam dia ada di luar rumah ditemani angin kencang dari pepohonan yang ada, dia juga belum sempat istirahat tapi sudah diusir dari rumahnya sendiri.
Sementara Luhan menolak untuk bicara lebih banyak, Sehun diam-diam ikut berjongkok, ngumpulin robekan foto mendiang mama Luhan lalu dimasukkan kekantong jaket, setelah memastikan semua ada di dalam kantong jaketnya, dia merhatiin Luhan cukup lama dan ada rasa bersalah sedikit yang dirasa, harusnya dia gak datang ke kampus dan ngurusin masalah inagurasi, semua bisa di handle Chanyeol dan Luhan gak perlu mengalami hal mengerikan kaya sekarang.
Sesaat Sehun memalingkan wajahnya, dia benar-benar merasa bersalah karena gak ada disaat Luhan benar-benar butuh pertolongan, bohong kalau hatinya gak sakit karena sejujurnya dari awal dia lihat Luhan ngumpulin robekan foto ibunya, hatinya sakit dipenuhi rasa bersalah.
Jadilah dia sekuat hati menenangkan diri sebelum kembali bertanya sama teman kecilnya "Berapa banyak yang datang?" tanyanya, dia cukup tenang kali ini dan Luhan nyaman karena gak dimarahin lagi setelah dia butuh ditenangkan "Sama tante Yuri, empat orang."
"Tiga yang lain semua lelaki?"
Masih enggan lihat wajah Sehun, Luhan mengangguk singkat seraya bergumam "hmm…"
"Diantara tiga lelaki itu siapa yang pukul muka kamu? Siapa yang robek foto mama?"
Kali ini bahunya bergetar, Sehun tahu dia menanyakan hal yang salah, tapi dia harus cari tahu dan harus cari cara biar Luhan gak diam ketakutan, tapi bicara "Lu…"
"hks…"
Sehun memalingkan lagi wajahnya, antara marah dan bersalah sampai satu gerakan dia coba usap bahu Luhan, menenangkan "Kamu nangis?"
"Ngga, aku cuma marah karena biarin foto mama dirobek."
"Nanti biar aku yang bales."
"Gak perlu, aku gak mau liat muka kamu penuh memar sama darah, lupain aja."
Bahkan disaat seperti ini Luhan masih bisa mengkhawatirkan Sehun, jadi wajar kalau Sehun semakin memiliki tekad kuat buat ngebales siapapun yang udah buat Luhan ketakutan seperti sat ini.
"Lu…"
Sehun sengaja usap lembut tengkuk Luhan, nada suaranya berubah rendah dan berhasil menarik perhatian Luhan yang kini mengangkat wajah dan menatap teman kecilnya "hmh?"
"Maaf ya."
"Untuk apa?"
Bukannya menjawab, sekarang Sehun membalikan tubuhnya, nawarin punggung lebar yang sukses membuat Luhan tergoda cuma buat naik kesana dan nyerahin semua rasa sulitnya ke Sehun "Cepat naik, keretanya mau pergi."
"Mau kemana? Aku gak punya rumah lagi kan?"
"Kemana aku pergi sekarang itu jadi rumah kamu, cepet Lu."
Buru-buru Luhan tanpa beban naik ke punggung Sehun, tangannya kuat cengkram ngelingkar di leher Sehun dan sejujurnya Sehun sedikit sesak seolah Luhan gak mau dilepas lagi, well, dia juga gak berniat untuk melepas lagi dan mulai hari ini dia akan bawa Luhan ketempat dimana dia pergi dan tinggal.
"Nah, kita pulang."
Setelah memungut robekan foto mendiang mama Luhan beserta barang Luhan seadanya, Sehun kemudian berdiri, piggyback Luhan dan berjalan menuju pagar rumah, meninggalkan rumah yang udah cukup lama membesarkan Luhan untuk pergi sejauhnya, karena rumah ini hanya menyisakan luka tanpa kenangan lagi.
"Jadi dari mereka bertiga siapa yang mukulin kamu?"
Sengaja menyembunyikan wajah di tengkuk Sehun, Luhan menjawab terdengar memelas ketakutan "Mereka bertiga." Dibalas kepalan tangan Sehun yang gak dilihat Luhan untuk balas dengan santai
"oh…"
.
.
.
.
.
.
.
BLAM!
.
"Bunda, kakak pulang."
Sontak teriakan Sehun disambut suara lari dari dapur khas milik ibunya, kali ini benar-benar tergesa bahkan ibunya bawa spatula dari dapur tanda masakan gak penting karena sedari yang tadi ditunggu memang putra kedua sama teman kecil yang gak lain adalah putra dari mendiang sahabatnya.
"Kak!—astaga Lulu bunda."
"sst….Bun."
Sehun buat instruksi biar gak teriak karena Luhan lagi tidur digendongannya saat ini, hal itu justru membuat bundanya semakin cemas ditambah lihat keadaan Luhan yang pucat dan lemas gak berdaya di punggung anaknya.
"Kenapa sampe memar lebam gitu kak?"
"Nanti kakak jelasin, sekarang biarin Luhan tidur dulu, dia kecapean bun."
"Tapi lukanya?"
Sehun beralih kasih barang Luhan ke bundanya untuk disortir yang layak pakai dan engga, perlahan dia benerin posisi Luhan di punggungnya seraya jawab "Biar kakak yang bersihiin, minta tolong buatin bubur buat besok pagi aja ya bun."
"Besok pagi? Nggak, bunda buatin malam ini juga, Luhan harus makan." Katanya kasih tau Sehun yang lagi naik tangga bawa Luhan ke kamarnya "Iya baiknya menurut bunda gimana aja."
Setelahnya Sehun buka pintu kamarnya, dia membaringkan Luhan di tempat tidur sebelum merhatiin cukup lama sosok yang nyaris gak pernah nangis lagi setelah kematian ibunya beberapa tahun lalu.
Luhan seolah menutup diri buat nunjukin rasa kesepiannya tanpa sosok ibu, lalu gak lama ayahnya memperkenalkan Luhan sama ibu baru dan pindah kerumah baru pula, keuntungan buat Sehun jarak rumah mereka jadi lebih dekat, tapi cuma satu keuntungan karena selebihnya di rumah itu, cuma ada tangisan dan teriakan tertahan Luhan buat ibu tirinya.
"Sekarang aku yang jagain kamu Lu."
Gak tahan lebih lama lagi merhatiin wajah kelelahan Luhan, Sehun sedikit membungkuk, dia cium kening teman kecilnya buat sekali lagi mengagumi dan mengakui bahwa Luhannya akan tetap mempesona dalam keadaan apapun, sekalipun memar memenuhi wajahnya.
"Istirahat selagi aku bersihin luka kamu."
Seperti dikasih obat tidur, Luhan sama sekali gak merespon ucapan Sehun, sebaliknya, dia benar-benar terlihat nyaman dan tenang di tidurnya dan sukses buat Sehun harus super hati-hati bersihin luka di wajah serta mengganti pakaian Luhan yang hampir gak berbentuk.
"Kamu tenang aja, aku bakal bales sialan yang udah berani buat kamu lebam kaya gini."
.
.
.
.
Beberapa jam kemudian…
.
.
"GAK ADA YANG PERGI DARI RUMAH INI!"
"Sehun…"
"GAK ADA YANG BERHAK BAWA LUHAN PERGI!"
"rrhh…"
Wajar kalau suara teriakan itu bisa membangunkan orang sakit sekalipun, ya karena memang suaranya diatas normal dan penuh penekanan di setiap katanya, jadi rasanya gak heran kalau itu bisa mengganggu seisi rumah termasuk Luhan yang baru sadar setelah hampir delapan jam tidur tak terusik sedikit pun.
"Dengerin dulu nak, gak usah teriak-teriak nanti Luhan bangun."
"BIAR LUHAN BANGUN SEKALIAN! DIA JUGA GAK AKAN SETUJU DIBAWA PERGI!"
Oke, hal terakhir yang Luhan ingat dia ada di gendongan Sehun, setelahnya dia tertidur karena memang kecapean dan selalu merasa aman kalau Sehun udah ada di dekat dia, jadi Luhan benar-benar clueless sama teriakan Sehun dibawah sana.
"kenapa?—argh~"
Dan benar aja kata Sehun, kalau kena pukul atau berantem memang gak sakit diawal, tapi baru berasa dua-tiga jam setelahnya, terutama saat kita bangun tidur dan terimakasih buat jongos ibu tirinya, sekarang bukan hanya bibir yang susah dibuka, tapi seluruh badannya nyaris gak bisa digerakkan karena terlalu nyeri.
"YA GAK BISA GITU!"
Dan Luhan gak pernah dengar Sehun semarah ini sama keluarganya, walaupun sering berantem sama Jaehyun dan Yunho, Sehun cenderung ngalah karena pasti bundanya marah kalau mereka saling teriak dan berantem entah karena apa.
Jadilah dia ingin segera cari tahu, susah payah pakai sendal tidur Sehun sampai gak sengaja matanya melihat satu lembar foto yang sore tadi dia coba satuin tapi gagal karena robekannya gak lengkap.
"Ma…."
Tapi lihat sekarang, foto mamanya udah kembali utuh walau ada banyak solasi bening memenuhi sekitar foto, gak perlu ditanya siapa yang nempelin robekan foto mamanya karena pasti Sehun jawabannya, anak itu, dia gak pernah bosen buat Luhan ketergantungan sama dia, dari dulu dan gak berhenti sampai sekarang.
"Ka, kamu tuh, luar biasa."
Sempat menitikkan air matanya, Luhan bergegas ngusap kasar wajahnya saat pintu kamar terbuka, dia pikir itu Sehun, ya, dia berharap itu Sehun walau ternyata bunda yang masuk kedalam kamar, wajahnya kentara cemas dan cukup terkejut waktu lihat Luhan udah dalam posisi duduk.
"Luhan!"
"Bun….kenapa?"
"Oh astaga nak, kamu gak apa-apa kan? Luka kamu gimana?"
Luhan cuma bisa tersenyum lirih menanggapi pertanyaan ibu kandung dari teman kecilnya, dan seolah gak mau bahas lebih lanjut lagi tentang memar yang ada di wajahnya, Luhan justru balik bertanya kenapa sedari tadi Sehun teriak dibawah sana.
"Kakak berantem sama siapa bun? Sama mas apa sama adek?"
"hmh?"
"Atau sama ayah?"
Terlihat salah tingkah, satu-satunya wanita di keluarga ini cuma bisa menggeleng pasrah tanda bukan salah satu dari tiga orang yang ditebak Luhan, Sehun bertengkar dibawah sana "Bukan semuanya Lu."
"Terus siapa? Bunda disini." Katanya sangsi sampai gelagat ibu Sehun benar-benar mencurigakan dan refleks, Luhan menebak "Jangan-jangan tante Yuri-….."
"Bukan Lu, bukan sayang, penyihir itu mana berani datang kesini, dia takut sama kakak."
"Terus siapa?"
"Papa kamu."
Luhan yang sedari tadi masih fokus sama foto mendiang ibunya tiba-tiba kaget, dia menoleh ke arah bunda buat mastiin "Siapa bun?"
"Dibawah sana, ayah sama Sehun lagi bicara sama papa kamu."
"papa!"
Gak peduli betapa sakit dan nyeri seluruh tubuhnya, Luhan langsung berlari saat tahu papahnya datang, bohong kalau dia gak kangen sama ayahnya, bohong juga kalau dia gak cemas karena sejak awal kedatangan ibu tirinya ke rumah beberapa waktu lalu, Luhan coba hubungin papahnya tapi selalu gagal.
Jadi wajar kalau dia tergesa nurunin tangga, berniat buat liat keadaan papahnya walau suara teriakan Sehun lebih dulu menyambut dibarengin sama suara papahnya yang terdengar kewalahan adu argumen sama teman kecilnya.
"Tapi Om harus bawa Luhan pergi, dia gak bisa ditinggal sendirian disini!"
"Siapa yang bilang Luhan disini sendiri? Ada aku, ada aku dan ada aku, selama ada aku, dia gak pernah sendiri om!"
"Kamu gak ngerti apa-apa!"
"Om yang gak ngerti apa-apa! Lagipula om dimana saat Luhan butuh? Cari uang? Mana uangnya om? Om tahu gak Luhan sampe harus kerja part time buat uang semesternya!"
"Kamu-….!"
Luhan bisa lihat papahnya yang biasa tenang mulai terpancing emosi karena jawaban asal Sehun yang gak kalah tegasnya, jadi gak ayahnya, gak Sehun, warna muka keduanya udah merah antara nahan kesal dan putus asa karena Luhan dan terus berlanjut adu argumen seraya mengelak "Jangan sembarangan kamu ngomong Ka!"
"Sehun kamu keterlaluan." Ayahnya menyela, tapi diabaikan Sehun yang masih fokus sama ayah temen kecilnya "Aku gak pernah sembarangan ngomong om, gak pernah sekalipun! Om tau hari ini Luhan dipukuli sama orang-orang suruhan istri om? Tau gak aku nemuin Luhan dimana? Dia lagi jongkok ketakutan sambil nge-puzzle foto mendiang mama yang dirobek sama istri om! Dia nangis tapi dia tahan karena dia sakit hati! Bayangin aja gak ada gak ada ujan dia dipukulin, diusir pula dari rumahnya sendiri! Ini udah keterlaluan om, ini udah masuk tindakan pidana-….."
"SEHUN CUKUP!"
Selagi papa Luhan selangkah lebih dekat ke arah Sehun, ayah Sehun udah ada di tengah-tengah mereka, Luhan tahu papahnya bakal tampar wajah Sehun, tapi terlambat karena ayah Sehun lebih dulu ngebentak dan ngasih jarak buat mereka.
"Kamu jangan ikut campur keluarga Luhan dulu, nak, masuk kamar biar ayah yang bicara."
"Kakak mau dengar apa yang ayah bicarain sama om."
"Kak!"
"Gimana kalau ayah tiba-tiba setuju Luhan dibawa pergi? Gimana kalau-…."
"Sekalipun om bawa Luhan pergi itu wajar, Luhan anak om!"
"Tapi om gak berhak bawa Luhan pergi setelah semua hal mengerikan yang om kasih buat Luhan!"
"Berhenti bertingkah seolah kamu bisa jagain Luhan lebih baik dari om!"
"oh ya, aku bisa dan aku seribu kali lebih baik jagain Luhan dari Om!"
"Jangan kurang ajar kamu-….."
"Pa…"
Sedari tadi mereka bertengkar, mereka hanya memikirkan diri mereka masing-masing tanpa memperhitungkan kemungkinan Luhan dengar teriakan mereka, mereka sama keras, gak ada yang mau ngalah, jadi wajar kalau tiba-tiba Luhan ada di belakang mereka tanpa disadari karena memang Sehun dan papahnya terlalu sibuk adu argument tentang siapa yang berhak dan gak berhak atas dirinya sendiri.
"Sayang."
Dan sama seperti Luhan, papahnya juga rindu, terlalu rindu, hal yang membuat Luhan refleks lari untuk memeluk satu-satunya keluarga yang related sama darahnya, "Papa…huwaaa…Papa kenapa baru pulang, haaah~"
Dan saat Luhan melepas rindu sama ayahnya itu seperti ancaman terbesar buat Sehun, si remaja dengan tinggi hampir mencpai 185cm itu melenguh marah dan memalingkan kesal wajah takut kalau posisinya akan jadi yang ditinggalin.
"Kamu pergi kekamar dulu kak."
"Gak."
"Arsaka!"
Gak sengaja dengar Sehun dibentak lagi sama ayahnya, ngebuat Luhan melepas pelukan rindu papahnya buat buru-buru nengahin pertengkaran lain di ruang keluarga saat ini "Kak, kamu kenapa sih?" Luhan sengaja setengah meluk Sehun, sedikit dorong tubuh yang lebih besar dari dia biar setidaknya mereka punya jarak untuk ngobrol sendiri.
"Kamu gak tau aja rencana gila papa kamu."
"Rencana apa?"
"Dia mau bawa kamu pindah rumah."
"Aku emang udah gak punya rumah lagi, kan?"
"Bukan cuma pindah rumah, papa berniat bawa kamu pindah negara Lu!"
"huh?"
"Papa kamu memutuskan pindah ke Jepang, bawa kamu, misahin kita."
Sekagetnya orang yang rasanya akan dipisahin dari teman-teman serta orang yang disayang, begitu penampakan wajah Luhan saat ini, pucat, kaget gak tau harus ngomong apa, persis kaya Sehun beberapa saat lalu, yang membedakan Luhan masih sedikit dewasa untuk urusan kabar mengejutkan karena dia udah sering mengalami hal kaya gini sebelumnya.
Kematian ibunya, pernikahan kedua ayahnya.
Dua hal besar yang merubah hidupnya keseluruhan, dan kalau denger dari nada suara Sehun yang marah dan putus asa, Luhan rasanya bisa memutuskan kalau papahnya benar egois untuk semua hal berkaitan tentang hidupnya sendiri.
"Kamu gak akan ikut kan Lu?"
Jujur Luhan gak tau harus jawab apa saat ini, yang jelas dia terlihat bingung, marah, kecewa dan gak nyangka kepulangan papahnya bukan memberi kabar baik tapi justru sebaliknya, mereka kaya melarikan diri dan Luhan paling gak suka dengan sikap plin plan papahnya yang kaya gini.
"Aku gak tau, biar aku ngobrol dulu sama papa."
"Aku ikut."
"Jangan-….Aku gak fokus kalo ada kamu."
"Tapi kamu bakalan pergi kalo aku gak ngawasin."
"Seenggaknya biar aku memutuskan pilihan karena keinginan aku sendiri."
"huh?"
Gak tega liat wajah putus asa Sehun, Luhan lebih milih untuk meluk temen kecilnya seraya bilang setulus hatinya "Kalau aku ikut papah, biar aku memutuskan karena aku ingin, bukan karena papa maksa aku pindah, sebaliknya, kalaupun aku tinggal biar itu jadi keputusan aku sendiri, bukan karena kamu ada disana, ya?"
"Tapi Han-…."
Panggilan lain Sehun kalau udah sangat dan teramat putus asa, ketakutan disertai marah, dia gak akan manggil Lu, atau den, seolah mau kasih tau Luhan kalau salah ambil keputusan itu akan berujung sama nasib dan hubungan mereka.
"Percaya aku."
Bahkan sekalipun Luhan meluk dia erat, Sehun belum bisa percaya sepenuhnya sama Luhan yang suka bingung dengan keputusannya sendiri, tapi dia tahu maksa Luhan untuk tetap tinggal selagi dia bilang yakin bisa memutuskan sendiri, cuma akan buat mereka berdua berantem dan Sehun lagi gak mood berantem sama temen kecilnya.
Jadi dia cuma bisa narik dalam nafasnya, sekilas nempelin dagu di kepala Luhan untuk ngebisikin "Aku masih punya hutang jawaban sama kamu, jangan sampe keputusan kamu ngebuat aku gak bisa ngelunasin hutang aku, hmh?"
Luhan mengangguk mengerti, Sehun dengan berat hati lepas pelukan mereka dan naik tangga menuju kamarnya, awalnya keliatan tenang, tapi semua orang dibawah tau Sehun benar-benar kesal, terbukti dari suara pintu kamar yang dibanting kencang sebelum akhirnya Luhan narik nafas buat nanar melihat ke arah ayah kandungnya.
"Aku juga mau bicara sama papa."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Keputusannya tetap nggak, aku nggak bisa ikut papa."
"LU!"
Percakapan alot ini terjadi udah sekitar setengah jam setelah Sehun masuk kedalam kamar, berbagai alasan diungkapkan, berbagai kenyataan dibeberkan papahnya tapi gak ngebuat satu-satunya lelaki cantik yang ada di ruangan ini merasa papahnya butuh dia, sebaliknya, dari semua penjelasan papahnya, itu cuma seperti menunjukkan kalau papahnya benar-benar tertekan karena ada dia di hidupnya, tanpa pendamping, pasti sulit untuk ngebesarin lelaki beranjak dewasa kaya dirinya saat ini.
"Mulai sekarang papa gak perlu khawatirin Luhan, papa bisa memulai semua bisnis papa di Jepang tanpa gangguan aku."
"Kamu salah mengerti ucapan papa."
"Mengenai apa?"
"Papa memang bakal sibuk disana, tapi gak kaya disini, papa bakal terus temenin kamu, gak bakalan ninggalin kamu."
"Yakin?"
"hmh?"
"Papa yakin gak bakal mengabaikan aku disana?"
"Yakin."
"Kalau papa yakin tatap mata Luhan selagi bicara, kenapa papa terus memalingkan wajah dan gak fokus tatap mata aku, hah?"
Luhan yang biasanya sabar untuk berbagai hal kini menunjukkan sisi lainnya dengan membentak sang papa, satu hal yang coba dia denied selama ini terbukti benar adanya, kenyataan bahwa papanya gak pernah bisa menatap matanya lagi adalah kenyataan yang paling menyakitkan buat Luhan.
Hal itu terjadi bukan tanpa alasan, dan gak perlu mencari alasan karena hari ini, saat terbangun dan dia melihat robekan foto mendiang mamanya yang disusun rapih oleh Sehun, Luhan menyadari satu hal kalau dia memiliki mata mamanya, sama persis, dan itu menjelaskan kenapa sejak kematian sang mama, papanya gak pernah bisa bicara sambil menatap matanya lagi karena itu semua cuma menyiksa lelaki yang udah memiliki banyak rambut putih diantara rambut hitamnya.
Luhan tahu dan dia lega, setidaknya itu membuktikan kalau hingga saat ini papanya masih belum dan gak akan pernah melupakan mendiang ibunya, rasanya Luhan juga paham rasa sakit dan ketidaksanggupan papahnya harus berhadapan dengan replika mendiang istri yang begitu dicintai, jadi keputusan untuk tetap tinggal disini adalah hal paling benar untuk dirinya, untuk papahnya, dan untuk semua yang keberatan dengan keputusan sepihak sang ayah, Sehun terutama.
"Pa.."
"hmh?"
Buru-buru Luhan ambil satu tangan papahnya, digenggamnya erat, diusap penuh sayang tanpa memutus kontak mata yang setelah hampir delapan tahun berlalu kini untuk kali pertama mereka lakukan lagi sebagai ayah dan anak.
"Luhan tau gak pernah mudah untuk papa setiap kita bicara setelah kematian mama, Luhan paham betapa tersiksanya papa karena setiap kali kita melakukan kontak mata papa akan semakin rindu akan sosok mama."
"nak…"
"Jadi gak ada kebencian dari keputusan ini, Luhan cuma mau papa bahagia, dan jika setelah delapan tahun berlalu papa masih belum bisa bicara normal ke Luhan, gak apa, kita akan terbiasa dengan keadaan ini, papa akan baik-baik aja begitupula Luhan, kita akan bahagia walau gak tinggal bersama." Tuturnya pilu, diiringi rasa bersalah sang ayah karena berhasil membuat satu-satunya putra yang dia miliki merasa terabaikan tepat setelah kematian ibunya.
"Maaf, nak…."
Berusaha sekuat tenaga untuk gak menangis dan menghancurkan lebih banyak hati papanya, Luhan lebih memilih tersenyum seraya menciumi tangan yang udah bersusah payah membesarkannya seorang diri selama ini "Luhan juga minta maaf untuk semuanya pa, kita berdua akan baik-baik aja pa, hmh…"
Gak sanggup berkata apapun papa Luhan hanya mengangguk seolah berterimakasih, tatapannya kentara sekali dia bahagia walau rasa cemas masih menyertai "Tapi kamu bakal sendirian disini nak."
"hey, jangan bicara seolah Sehun hanya teman biasa Luhan, anak saya itu gak bakalin biarin anakmu terlantar walau saya paksa, dia bener-bener-…apa istilahnya Lu? mmh…."
"Bucin pa…"
"Nah itu dia-…."
Bukan Luhan yang jawab, tapi Jaehyun yang tiba-tiba masuk keruang kerja ayahnya sambil bawa tiga orange juice beserta camilan, si remaja berlesung pipi itu juga gak canggung untuk mencairkan suasana tegang yang lagi memenuhi di ruang kerja ayahnya dengan membagikan orange juice ke masing-masing peserta rapat hari ini, kkk~
"Kata bunda bicaranya sambil minum, jangan marahin Lulu juga."
"Panggil kakak dek…"
"gak ah, orang mungil gak boleh dipanggil kakak, ya kan Lu."
"sshh…"
Luhan mendesis kesal sementara ayah sama papanya cuma bisa ketawa miris membenarkan Luhan bahkan tertalu kecil dibanding Jaehyun, jadi wajar kalau Jaehyun bersikeras gak mau manggil Luhan kakak karena dari tampang dia jauh lebih tua dari temen kecil kakaknya.
"haha…Udah sana kamu keluar dek, Luhan udah kesel tuh."
"iya…iya…" katanya nurutin ucapan sang papa, sebelum beralih liat ayah Luhan "Tapi om, anak om emang dari lahir hobinya kesel ya? Semua orang pasti pernah dikeselin sama dia, gak usah orang, anjing kecil kita aja dimarahin terus sama Lulu."
"Jaehyun!"
"kkkk~ Iya, iya…. Pamit dulu ya, Lulu."
Sementara Jaehyun dengan suksesnya membuat suasana tegang di ruang kerja ayahnya hilang, dia pergi begitu aja sambil ketawa bahagia, ninggalin Luhan yang masih cemberut dan terpaksa sedikit tegang terlebih saat papanya bertanya
"Tapi nak, kamu tinggal dimana kalau gak ikut papa?"
Tap!
Jaehyun tiba-tiba berhenti jalan, mencuri dengar percakapan dewasa dibelakangnya sampai Luhan tergagap jawab sedikit ragu "ya, dimana aja, temen-temen Luhan banyak dan-….."
"Om!"
"Kenapa Jaehyun?"
Si bungsu menyela lagi, kali ini khas dengan cengiran yang menampilkan lesung pipinya untuk mewakili Luhan jawab pertanyaan papanya "Dimana Kakak tinggal disitu Lulu tinggal, tenang aja kalau masalah rumah, khawatirin masa depan Luhan yang ngotot tetep mau nikah sama kakak di masa depan."
"Astaga!"
"dah om…..Lagi kalo gak sama kakak, Luhan bisa tinggal sama aku sampe tua, kkk~"
"JAEHYUN!"
BLAM!
Pintu ruang kerja ayahnya ditutup setengah dibanting, Luhan beneran kesel sama Jaehyun dan lagi-lagi papanya cuma bisa ketawa miris sementara ayah Sehun ketawa bahagia sambil membenarkan ucapan Jaehyun dengan bangga.
"haha, omongan Jaehyun bener juga, ya gak Lu?"
"Ayah!"
"hahaha, oke gini, intinya Luhan gak akan jadi tunawisma sekalipun kau tinggal mas, dia aman sama saya, sama Sehun sih utamanya, jadi gak usah khawatir dimana anak-anak tinggal, itu tanggung jawab saya."
Menatap terimakasih sama sahabat mendiang istrinya, papa Luhan cuma bisa tersenyum merasa sangat tidak berguna untuk sekali mencoba menatap Luhan walau berujung gak bisa menatap matanya langsung "Kamu yakin nak?"
"yakin pa, Nanti kalau Luhan udah mapan, Luhan janji papa akan jadi orang pertama yang Luhan cari." Katanya menenangkan papanya dibalas senyum lirih sang papa yang akhirnya mengangguk pasrah akan keputusan satu-satunya putra yang dia miliki.
"Kamu baik-baik disini ya nak?"
Berdiri untuk memeluk papanya, Luhan bergumam singkat seraya mengangguk "hmmh….Papa juga harus sehat-sehat disana, Luhan sayang papa."
.
.
.
.
.
Klik….!
Dan sesuai dugaan Luhan, kondisi kamar Sehun pasti gelap, hening dan mungkin temen kecilnya udah tidur, atau belum, entahlah, biasanya kalau kondisi kamar Sehun kaya begini tandanya dia marah, kesel dan teman-temannya.
Jadi itu memastikan, buru-buru Luhan menutup pintu kamar, berniat mencari tahu dan sesuai dugaannya pula, kali ini Sehun ambil bagian pojok tempat tidur, posisinya ngasih punggung ke Luhan, dan sejujurnya pojokan tempat tidur itu area dia karena Sehun gak pernah ngebiarin Luhan tidur di pinggir tempat tidur dengan alesan konyol, nanti kamu keluyuran, atau, kamu harus dipojok biar gak bisa pergi kemana-mana.
Ya kan, gimana Luhan bisa move on kalau Sehun sendiri bener-bener protektif dan ngejagain dia ngelebihin siapapun didunia ini masalah kesehatan dan keselamatan dia, jadi saat cuma punggung dingin Sehun yang menyapa, diam-diam Luhan tersenyum kecil seolah berterimakasih karena lelaki itu, yang lagi berbaring tidur di tempat tidurnya selalu ada kapanpun untuk dia.
"Ka…" lirihnya manggil, gak ada jawaban seperti dugaan dan itu membuat Luhan mau gak mau nahan ketawa antara kesal dan maklum "Kamu udah tidur?"
Masih gak ada jawaban, jadi keputusannya Luhan tarik selimut dan gak lama berbaring juga, posisinya dia ngeliatin punggung Sehun buat sedikit colek-colek berharap Sehun menoleh namun nggak ada respon sama sekali.
"Kamu gak mau denger keputusannya?"
Diluar dugaan, Sehun mindahin bantal buat nutupin mukanya, nutupin telinganya juga pake bantal seolah gak mau dengar apapun alasan yang dikasi Luhan saat ini "dih, Mulai deh childish-nya kumat."
"Kalau mau pamit gak usah, aku gak rela, biarin aku cari cara buat nahan kamu tinggal disini, sama aku!"
Dan bohong kalo Luhan gak tersentuh sama cara Sehun mempertahankan dia buat tinggal, hal kecil yang membuat dia sangat terharu sampai rasanya dia benar-benar gak bisa marah dibuatnya.
"Mulai sekarang kamu harus tanggung jawab atas hidup aku, papa jauh, aku gak punya rumah dan aku tinggal karena aku nunggu jawaban kamu, jadi-….ya ampun!"
Gimana Luhan gak kaget kalau tiba-tiba Sehun berbalik arah, jarak mereka cuma tiga centimeter kayanya, terlalu dekat bahkan Luhan bisa ngerasain hembusan nafas Sehun, begitupula sebaliknya.
"Kak!"
Disaat dia mau kasih jarak, tangan Sehun justru ngerayap dibalik pinggangnya, setengah meluk alhasil jarak mereka tetap kaya sekarang, yang membedakan Luhan bisa liat rona merah diwajah Sehun, entah dia bahagia, atau jantung Sehun berdebar kaya dia, yang jelas lelaki didepannya cuma senyum-senyum dengan mata yang gak berkedip ngunci matanya.
"kamu-…ngedip sih!"
Karena gak bisa ngejauhin jarak mereka, Luhan akhirnya lebih milih sedikit meringsut kebawah dan meluk dada Sehun, disana dia setidaknya bisa bernafas walau sekarang Sehun lebih leluasa meluk dia sambil ngusap lembut punggungnya.
"Aku gak nyangka kamu buat keputusan untuk tetap tinggal."
Merasa gak yakin sama keputusannya, Luhan kini ngelingkarin tangannya di sekitar pinggang Sehun, beberapa kali dia mengambil berat nafasnya sampai Sehun ngerasa dadanya panas dan ternyata Luhan lagi menangis disana "Luhan."
"Aku juga gak yakin sama keputusan aku, aku cemas papa disana sendirian, tapi aku gak bisa pergi darisini, aku gak tau apa yang ngebuat hati aku resah-…."
"sshh….." Sehun ngusap perlahan punggung Luhan, menenangkan dengan sepenuh hati untuk berbisik "Papa kamu akan baik-baik aja di Jepang, kamu juga akan baik-baik aja disini, gak ada yang salah sama keputusan kamu."
Luhan mengangguk pasrah di pelukan Sehun, menangis seadanya tanpa melupakan tuntutan utamanya sama Sehun "Aku tanggungan kamu mulai hari ini, inget loh!" katanya nyubit pinggang Sehun dibarengin tawa Sehun yang benar-benar lega karena Luhan memutuskan untuk tinggal "iya…aku inget, kamu tanggungan aku selamanya."
"yauda….Kasih jawaban dua hari lagi."
Sehun cuma tersenyum jahil sambil nanya "Dua hari lagi ada apa ya?"
"ish!"
"HAHAHA…iya..iya aku inget."
Sehun sekali bisa bernafas lega karena mulai malam ini Luhan akan bergantung hidup sama dia, selamanya, sementara Luhan dia juga ngerasa yakin lengan yang lagi meluk erat dia saat ini akan jadi sandaran hidup yang sangat bisa diandalkan, selamanya.
Jadilah mata mereka terpejam tanda gak ada beban tersisa, sampai tiba-tiba Luhan dongak dan manggil nama lelaki yang lagi meluk erat tubuhnya "Ka."
"hmh?"
"Makasih ya…"
Awalnya Sehun berniat jawab dengan mata terpejam, tapi makasih Luhan buat dia penasaran hingga terpaksa matanya terbuka dan bertanya "Buat apa?"
"Udah nempelin foto mama."
"oh itu….Bunda juga bantu, jadi gak terlalu susah."
"Pokoknya makasih."
Luhan meringsut lagi dipelukan Sehun sementara Sehun, matanya selalu berkobar marah setiap kali liat memar di leher Luhan, dia pun sengaja meluk Luhan erat buat bergumam nyaris tidak terdengar "Makasihnya nanti aja, nanti-…..setelah aku bales mereka semua."
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan pagi….
.
.
"Cey, lo liat Luhan gak pagi ini?"
Yang ditanya lagi pake iket kepala dengan tulisan "jangan ganggu, anjing galak." Yang artinya dia gak mau diganggu saking sibuknya, dia bahkan bisa gigit kalo ada yang ganggu karena sesungguhnya ini bukan tugas dia, tapi tugas si cadel yang tiba-tiba lepas tangan dan ngasih tugas segini banyak dan penting ke dia, sendirian pula, syetaaan…
Dan memang dari kemarin setiap kali ada yang ngajak ngobrol bakal dia diemin sampe orang itu kesel, semua, termasuk Baekhyun, pujaan hatinya, yang lagi ngambek karena gak dicium dua hari, bukannya gak mau cium tapi dia udah gak pulang kerumah dua hari, yakali nyium bokin bau ketek….helah, kalo putus bisa jadi aib, yekan, kk~
Jadi wajar kalo dia gak berniat jawab apapun sampe sohib itemnya tiba-tiba buka pintu dan tiba-tiba ngomongin mantan idolanya di semester satu, Luhan, siapa lagi, jadi dia sukses dibuat bersuara untuk nanya "Luhan kenapa?"
"Sekitar matanya lebam, kaya abis dipukulin gitu."
Chanyeol yang lagi data seluruh mahasiswa yang bakal tampil di inagurasi tiba-tiba berhenti nulis, dia ngeliat ke arah Jongin setengah melotot buat mastiin "Dipukul? Siapa? Luhan?"
"Iyak! Lagi diinterograsi sama bokin kita."
"Bukan si cadel kan yang mukulin?"
"Mana gue tau, keliatan juga belum tuh manusia kampret."
"Kalo sampe dia yang mukulin mantan idola gue, bakal gue keluarin usus dari perutnya, gue kasih makan ke Toben dan-…."
BRAK!
Pintu dibuka kasar dong, terus siapa lagi yang punya keberanian sedikit ngegebrak ruang BEM kecuali ketuanya sendiri, si kampret yang bikin Chanyeol emosi dua hari ini.
Jadi waktu mereka tatapan, hening, satu gerakan lain Chanyeol lepas iket kepalanya buat sarkas tepuk tangan sambil teriak "YEAH…PLEASE WELCOME TO THE MOST SONGONG BIN SYETAN KETUA BEM EVER! ARSAKAAAA!"
Gak perlu ditanya sindiran itu dari siapa, ya gampang aja, mereka cuma bertiga di ruang ketua BEM, dan dari mereka bertiga yang mata pandanya paling parah ada di ketua bayangan, Chanyeol, jadi wajar kalau dia tergoda banget buat mukul si ketua asli karena udah dua hari mangkir dari jabatan dan tinggal dua hari sebelum Inagurasi dimulai terpaksa dia yang handle semuanya ke semua fakultas di kampus ini.
"Berani banget lo dateng, anj*ng!"
"Cey, selow. Muka dia gak kalah ngenesin dari lo!"
Dan sementara Jongin, sohib mereka berdua jadi penengah yang sumpah gak cocok banget sama mukanya, Chanyeol sedikit lebih tenang sementara Sehun fokus sama Jongin
"Kalian berdua mau nolongin gue?"
"ogah." Chanyeol jawab ketus, Kai nanya "Ngapain?"
"Gue mau bunuh orang."
"hah?"
"Serius…..! Jong, gue butuh anak buah bokap lo, bisa minta tolong gak?"
Jadi bokap Jongin itu kerja di perusahaan real estate melingkup peminjaman internasional, dan kenapa Sehun bilang butuh anak buah bokap Jongin, karena sesungguhnya Jongin itu selalu dikawal setidaknya dua bodyguard setiap kemanapun dia pergi.
"Ya bisa aja, tapi serius mau bunuh orang?"
Wajahnya tiba-tiba keras, dan cuma ada senyum dingin terpampang nyata di wajah super mengerikan Sehun saat ini "Gue gak pernah bercanda kalau itu menyangkut Luhan."
Dan sebagai mantan number one fans of Luhan, Chanyeol langsung bereaksi untuk nanya "Nah ini dia yang lagi kita bahas, Luhan kenapa?"
"Nyokap tirinya kemarin datang dan bawa jongos yang mukulin Luhan sampe wajahnya memar, lebam, sendirian!"
"HAH!"
Tampaknya emosi Chanyeol akan tersalurkan hari ini, mengingat dia gak sama sekali bisa mukul si ketua BEM, setidaknya dia bisa mukul jongos sialan yang udah berani buat wajah mulus Luhan memar, lebam sendirian pula.
"sial!"
Sementara Chanyeol dan Sehun kentara banget tahan marah mereka, buru-buru Jongin hubungin seseorang dan kasih perintah "Panggil yang lain, kesini sekarang."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BLAM!
.
Kabar terakhir yang Sehun dengar dari ayah Luhan, ibu tiri sialan itu ada dirumah tempat mereka "ngelempar" Luhan beberapa waktu lalu, jadi gak susah buat cari dimana si nenek sihir beserta jongos yang masih related status keluarga sama Luhan.
"Lo yakin dia disini?"
"Let's see."
Sehun sengaja buka kasar pagar rumah tempat Luhan tinggal selama beberapa tahun, diikuti Kai, Chanyeol dibelakangnya mereka semua udah gak mikir banyak hal kecuali kasih pelajaran sama semua orang yang lagi ketawa bahagia didalam sana.
BRAK!
Sehun yang buka kasar pintu rumah Luhan, disambut diam oleh semua penghuni sampai satu lelaki yang badannya jauh lebih besar dari mereka semua, yang botak dan yang punya tato ular di lengan kirinya tiba-tiba berdiri seolah marah karena mereka semua masuk tanpa izin.
"SIAPA KALIAN!"
Santai, Sehun yang kini make kaos hitam lengan pendek, cuma fokus liat mama tiri Luhan untuk nyapa "Hai tante."
"Kamu kenal dia sayang?"
Si botak bertanya dan Yuri, si ibu tiri bales gak kalah santai untuk bilang "oh, dia temen anak itu, temen atau pacar, entahlah, mereka berdua terlalu intim."
"Luhan maksud kamu? Si pecundang itu?"
"ya."
"HAHA!"
Tiba-tiba Chanyeol yang gerah Luhan dikatain pecundang, dibilang, dia mantan fanboy Luhan sebelum dikenalin Luhan sama Baekhyun, dan karena rasa terimakasihnya untuk Luhan yang udah punya temen secantik pacarnya saat ini, dia bener gak sabar buat mukul bacot tiga orang laki-laki badan keker yang keliatan kaya banci dimatanya saat ini.
"Apa yang lucu, HAH?"
"Lo semua yang lucu, anj*ng!"
"Bajingan."
Chanyeol udah kepancing emosinya, tapi Sehun tiba-tiba berdiri di depannya untuk nahan sebentar, bukan untuk menghalangi Chanyeol ngasih pelajaran ketiga babi didepan mereka.
"Gini aja tan, aku masih tanya baik-baik, dari tiga babi itu siapa yang mukulin Luhan?"
"SIAPA YANG LO PANGGIL BABI SIALAN!"
Perhatian Sehun gak teralihkan, dia terus mendesak tantenya dan semakin nantang "Kalo gak jawab apalagi sampe lupa siapa yang mukulin Luhan, keadaan makin parah buat kalian."
"Kalo tante bilang mereka semua mukulin Luhan, gimana?"
Tangan Sehun terkepal terlebih saat mereka semua ketawa menjijikan dan itu ngebuat dia semakin marah walau cuma seringai yang terlihat di wajahnya "oh." Jawaban singkat Sehun berhasil membuat Yuri cemas untuk menantang balik remaja didepannya "Kamu mau apa? Mau bales tante, hah?"
"Oh bukan, tiga babi tante dulu, mungkin selesai dari mereka baru ke tante, hehe, gak masalah kan?"
"Tenang sayang, tiga tikus kecil gak bakal menang lawan tiga babi, cuma butuh sepuluh detik, hmh?"
"HAHA!"
Kali ini suara tawa Kai yang buat empat orang dewasa di depan mereka menggeram marah, begitupula Kai, selesai dia tertawa marah, remaja berkulit sedikit cokelat itu tanpa ragu menjetikan satu jari disambut kerumunan bodyguard nya memenuhi halaman rumah Luhan.
"astaga…"
Gak cuma satu, tapi hampir lima belas orang dipinjem si tuan muda cuma buat bales dedengkot tua yang udah berani main hakim sama Luhan, jadi singkat kata jumlah mereka lebih dari cukup dan wajar jika mereka bertiga menyeringai tanda kemenangan udah didepan mata.
"Lima menit."
PRAAANG!
Satu perintah singkat Jongin disambut pecahan kaca samping jendela rumah Luhan, semua cukup kaget bahkan si pemberi perintah gak nyangka kalau anak buahnya bakalan langsung mecahin kaca kaya gini.
"del, gak apa-apa rumah Luhan diancurin gini?" tanyanya minta izin, dibalas seringai khas Sehun yang matanya kini mengunci si tante girang dan selingkuhan babinya "Ancurin aja Jong, ini bukan rumah Luhan lagi."
"oh, Oke."
Dan jangan ditanya bagaimana keadaan saat ini, Chanyeol udah gabung sama beberapa bodyguard Jongin buat nargetin yang badannya paling gempal, keliatan banget dia menikmati pukulan demi pukulan walau sesekali dia harus kedorong karena tenaga babi satu cukup besar, beruntung ada anak buah Jongin jadi gak sulit buat si babi satu tersungkur sementara dia terus mukulin wajah sambil teriak
"INI BUAT MANTAN IDOLA GUE ANJ*NG"
AAARGHH!
Disusul suara teriakan Kai yang ngambil vas bunga dan sengaja mecahin di kepala babi dua, gak lama kedua bodyguard nya megang sisi lengan si bajingan dan Jongin ambil kesempatan buat gulung lengan kemejanya dan mukulin pake tenaga full lelaki berwajah kodok di depannya.
"Lain kali cari orang yang sepadan sama lo, denger gue kan?"
Peringatan Jongin dibalas kekehan singkat Sehun, dan gak berbeda dari dua temannya yang lain, Sehun juga menggebu-gebu buat ngebales nenek sihir dan selingkuhannya itu, jadilah dia berjalan mendekat, tapi beda dengan Kai dan Chanyeol, Sehun menginstrusikan tiga bodyguard Jongin yang ngawal dia untuk berhenti, karena dia benar-benar mau kasih pelajaran awal pake kedua tangannya sendiri.
"cih, berani banget kamu dateng kerumah tante cuma untuk buat keributan?"
Yuri udah keliatan cemas saat Sehun mendekat, hal itu membuat Sehun semakin bersemangat untuk menggertak terlebih saat penyihir itu bersembunyi di balik badan selingkuhan sialan yang terkadang melecehkan Luhan dengan mulut menjijikannya.
"Minggir, gue gak berhadapan sama sampah!"
"Sampah, haha…..Jadi rindu wajah si sampah Luhan waktu kita tendang keluar rumah, ya sayang?"
Sementara bajingan didepannya mengenang moment sialan waktu mereka ngusir Luhan, diam-diam tangan Sehun udah terkepal erat, targetnya kini berubah dari penyihir menjadi si botak dan dengan santai dia manggil
"oi, om…."
Sontak hal itu membuat selingkuhan ibu tiri Luhan sewaktu masih menikah sama ayah Luhan menoleh, awalnya ingin mengejek Sehun karena manggil cukup sopan, tapi siapa sangka
BUGH!
Bukan sapaan sopan yang dia terima, melainkan pukulan telak yang lucunya berhasil bikin dia terhuyung walau badannya dua kali lebih besar dari badan Sehun yang kini menyeringai berhasil ngebales setidaknya pukulan pertama buat si botak dan ngebuat mama tiri Luhan shock bercampur marah saat ini.
"SEHUN!"
"hmh?"
"SIALAAAN!"
Jadi gak heran kalau om botak itu ngebales pukulan Sehun, ya, meskipun Sehun udah bersiap buat nahan pukulan tetap aja dari segi besar tubuh dia kalah jauh, jadi gak heran kalau dia juga terhuyung dalam sekejap ditambah rasanya wajahnya kram dan benar aja, dia bisa rasain anyir di sudut bibir karena pukulan gak selow dari si botak.
DEG!
Dan untuk alasan tertentu, saat Sehun liat darah di sudut bibirnya sendiri dia keinget Luhan, bertanya-tanya pukulan yang dia terima sekencang ini atau lebih, hal itu ngebuat jantungnya berdebar parah dan seketika matanya menatap tajam selingkuhan mama tiri Luhan yang lagi teriak
"SAMPAH!"
"haha…."
Susah payah Sehun berdiri di atas kedua kakinya sendiri, dia juga masih mengisyaratkan jangan ikut campur sama bodyguard Jongin buat ngapus sudut bibirnya sambil mendesis bertanya "Lo mukul Luhan sekenceng ini juga?" tanyanya setengah ketawa dibalas jawaban tak terduga si botak yang tiba-tiba bilang "Luhan? Ah, anak itu-….Dia lebih parah dari ini, dan gak cuma gue…."
Sehun keringat dingin, berdoa kuat-kuat agar yang ditakutkan gak diberitahu kebenarannya karena sampai detik ini Luhan menolak untuk cerita gimana dia dipukulin sama selingkuhan ibu tirinya.
"tapi mereka juga…..kita bertiga, hahahahaha….."
Lemes rasanya denger Luhan diserang tiga babi sendirian, satu pukulan yang dirasa sendiri aja nyerinya gak ilang-ilang, gimana perpaduan tiga orang yang gak mungkin diterima badan sekecil Luhan saat itu.
Dan tawa bajingan didepannya, bajingan itu, tawanya cuma bangunin setan di dalam tubuh Sehun, haha, pandangan Sehun sepenuhnya gelap, disamping kanan kirinya, Kai dan Chanyeol lagi menikmati ngebuat babak belur dua yang lain, jadi dia juga berniat untuk menikmati ngabisin bajingan yang sepertinya menikmati kenangan mukulin Luhan beberapa waktu lalu.
"Bertiga dan Luhan cuma mengalami memar? Cih! Malu-maluin!"
"huh?"
"Paling nggak Luhan harusnya ngalamin patah tulang, paling parah rumah sakit, tapi yakin kalian bertiga mukulin Luhan? Haha. Ini Luhan yang kuat apa kalian bertiga terlalu lemah? Atau-…"
Diam-diam tangan Sehun ngambil vas bunga tersisa di meja seraya mengatakan "Kalian bertiga….BANCI!"
"SIALAAAAAAN!"
Dan gak kaya pukulan pertama, kali ini Sehun udah siap buat berhadapan langsung sama selingkuhan ibu tiri Luhan, karena saat dia berlari mendekat, Sehun juga berlari ke arah yang sama, yang membedakannya Sehun sedikit lompat saat jarak mereka dekat dan
PRANG!
Vas bunga itu berhasil pecah dikepala si bajingan, refleks darah mengalir dari kepalanya dan ini kali pertama Sehun nyerang seseorang sampai kepalanya bocor dan langsung tergeletak gak berdaya di lantai.
Awalnya dia ragu, tapi ngeliat rasa sakit Luhan terbalaskan rasanya begitu lega, terlalu lega dan kini fokusnya ada pada mantan ibu tiri Luhan "Kalau tante-….KALAU TANTE NYERANG LUHAN LAGI, GAK CUMA KEPALA BOCOR TAPI NYAWA TANTE TARUHANNYA!"
PRAAANG!
"AARRGHHHH!"
Jelas Yuri berteriak histeris, Sehun gak cuma banting semua isi rumah persis kaya yang dia lakukan sama Luhan, tapi remaja didepannya itu juga ngancurin sekotak berlian yang ada di meja dan Yuri benar-benar ketakutan sekarang.
Sehun benar-benar ngebanting semua barang-barang dirumah, diinjeknya berkeping sampai dia gak sadar kalau selingkuhan ibu tiri Luhan udah bawa pecahan vas bunga, mungkin tujuannya nyerang Sehun tapi beruntung ketiga bodyguard Jongin siaga sampai akhirnya lelaki itu berakhir tragis karena dipukulin bergantian.
"Tante gak mau berakhir kaya selingkuhan tante kan?"
Sehun bisa liat Yuri gemetar dari ujung kepala ke ujung kaki tapi tetap mempertahankan gengsinya untuk bilang "Tante bakal laporin kamu ke polisi!"
"Oh silahkan….tapi jangan nyesel kalau tante yang harus mendekam di penjara."
"SEHUN!"
Selebihnya Sehun mengisyaratkan temen-temennya berhenti, Chanyeol marah karena belum puas sampai Kai narik sohibnya buat ngingetin "Tujuan kita ngirim mereka ke IGD, bukan kamar mayat, udah cukup."
"HARGHH~ Awas sampe gue liat muka kalian lagi!"
Mereka bertiga diikuti lima belas bodyguard Jongin pergi gitu aja setelah ngancurin rumah beserta orang-orang didalamnya, jelas terlihat mereka puas berbanding terbalik sama suara teriakan Yuri
"AARRRGGHHHH"
Dari dalam rumah tanda dia ketakutan, putus asa, tapi gak bisa melakukan apapun buat bales ketiga remaja yang kini berjabatan tangan pamitan "Gue utang sama lo Jong."
"Elah, Luhan temen gue juga, sahabat deket Kyungsoo, mak comblang gue ama Kyungsoo, santai aja."
"hmh…Lo juga cey, gue gak tau lo masih segini ngefansnya sama Luhan."
"yoi, cinta pertama mah sulit dilupakan."
"ish!"
"Makanya buru-buru resmiin, banyak yang masih nargetin si cantik."
"gampang….Gue cabut dulu." Sehun udah mau masuk mobilnya sampai Jongin teriak manggil asal namanya "Del!"
"Apaan?"
"Baju lo tuh ada darah, jangan lupa diganti, bisa-bisa kita dilaporin polisi beneran sama orang rumah, kkk~"
"Beres, lagian udah malem orang rumah udah pada tidur kayanya."
"Jaga-jaga."
"Iya gue ngerti."
BLAM!
Orang pertama yang ninggalin rumah Luhan, Sehun, disusul Chanyeol, terakhir Jongin sama kelima belas bodyguardnya buat bilang "Jangan bilang papa kalian ikut gue hari ini."
Kompak, lima belas bodyguard Jongin jawab "Siap bos!"
.
.
.
.
.
.
.
Dan wajar kalau sepulangnya Sehun dari rumah Luhan bak preman yang serem doang dimuka tapi nyatanya takut ketemu sama nyonya rumah, ya gimana ngga takut kalo didalam rumahnya sendiri ada dua orang super protektif sama dia, bunda dan Luhan, jadi bayangin reaksi wajah kedua orang tercintanya tersebut kalau sampai lihat wajahnya sedikit lebam dan baju yang super berantakan karena baru selesai mukulin tiga orang kingkong walau berujung dibantu sama bodyguard Jongin yang udah standby dan sangat membantu.
Klik…
"ASTAGA!"
Bukan cuma suara yang teriak, tapi Sehun ikutan kaget saat denger suara pekikan, awalnya dia kira Luhan tapi pas diliat si bibi, dia sedikit lega karena bukan bunda, bukan juga Luhan, tapi wanita paruh baya yang udah kerja sama bunda puluhan tahun itu yang ada di depan pintu belakang rumah.
"sstt…."
Usaha dia buat masuk mengendap ke rumah bisa sia-sia karena si bibi ngotot teriak dengan nada suara yang gak bisa dibilang kecil "Ya ampun kakak! Itu bajunya kenapa compang-camping gitu? Kaya gembel!"
"Iya…ini abis dari kampus bi, udah bibi jangan teriak-teriak, ambilin baju aku di jemuran."
"Kampus apa yang bikin mahasiswanya compang-camping gini?"
"ish! Ini Namanya kampus milenial bi."
"Alesan! Bilang aja kakak berantem, sebentar, bibi ambilin baju."
Ngomel si tetep ngomel, tapi bibinya tetep yang paling numero uno kalo soal ngelindungin Sehun, ya maklum, anak kesayangan sejuta umat mah gak bakal tega diomelin lama-lama, kkk~
"Ini Ka…."
Buru-buru Sehun lepas kemejanya yang udah gak berbentuk, dia sedikit meringis karena tulang selangka dadanya sempet kena pukul si botak, tapi karena sifatnya urgent dia gak peduli dan cepet-cepet ganti kaos putih yang udah diambilin bibi di jemuran belakang.
"Tuh kesakitan! Pasti berantem kan?" tebak si bibi, sementara Sehun ngasih kemejanya yang kotor buat asal jawab "Jatoh doang bi, Luhan mana? Yang lain mana?"
"duh duh….yang ditanyain langsung istrinya sekarang."
"hehe…."
"Den Luhan udah dikamar, ibu sama bapak pergi makan malam, adek pacaran, kalo mas ada dikamar sama Jeje."
"Waduh lagi buat anak tuh bi."
"Situ juga sama kalo kelamaan sama den Luhan dikamar."
"Lha emang kenapa?"
"Sini kak….bibi bisikin."
Terus entah karena alesan apa, tapi yang jelas bibinya minta Sehun sedikit nunduk buat ngasih tau sedikit bisik-bisik "Tadi bibi gak sengaja liat den Luhan mandi, astaganaga….mulus bener kak! Bener-bener mulus udah gitu wangi, ya ampun, bibi kebayang-bayang "adek" nya, imut bangeet…mana tahan kan?"
Glup~
Gara-gara omongan vulgar bibinya, Sehun jadi mikir yang aneh-aneh sekarang, kalau dipikir-pikir udah lama juga mereka gak mandi bareng, jadi pas bibinya cerita body Luhan mulus banget yang Sehun kebayang yang iya-iya, rasanya jadi panas dan dia gak sabar buat nyusul Luhan dikamar.
"Iya bi mana tahan."
"Lho kak mau kemana?"
"Mau kelonan sama Luhan, hehe…"
"astaga…Majikan punya anak tiga, tiga-tiganya gak ada yang beres kalo udah deket cowo semokk, hrrhh~"
"Ya wajarlah bi, haha…."
Setelah jawab ngalor ngidul, diem-diem Sehun naik kekamarnya, sejujurnya dia ngerasa nyeri di lengan sama pinggang, tapi bayangin meluk Luhan malam ini gak tau kenapa berhasil ngebuat dia on fire lagi dan dia jadi semangat.
Klik….!
Buru-buru Sehun buka pintu kamar, nutup lagi gak lupa dikunci, setelahnya dia jalan ke tempat tidur disambut punggung mungil Luhan yang menyapa, temen kecilnya bener-bener punya proporsi tubuh yang kecil, semacem minta dipeluk karena bentuknya pas di pelukannya.
Belum lagi kebiasaannya tidur pake piyama terusan, polos gak memakai apapun, jadi semenjak Luhan official tinggal dirumahnya, Sehun selalu was-was kalau Jaehyun, si adek mesum, tiba-tiba masuk kekamarnya dan posisi Luhan lagi tidur, piyamanya keangkat dan paha mulusnya terekspos, kaya sekarang.
Kalau Sehun yang protektif pasti dia marahin Luhan karena tidur sembarangan, tapi Sehun yang lagi liat paha Luhan terekspos bebas saat ini adalah Sehun yang lagi kangen body mulus temen kecilnya.
Jadi dia gak akan repot-repot marahin Luhan, setidaknya nggak malem ini, karena dia gak sabar cuma buat nempeling dan sedikit gerepein si mungil yang mulus dan meluk dia sepanjang malam.
"ah ya…"
Gak lupa dia matiin lampu, dia gak mau memar di mukanya bikin mood Luhan hilang dan berujung berantem karena Luhan sama sekali gak tahu tentang pembalasan hari ini "Selesai!"
Setelahna dia naik keatas kasur, dibarengin respon Luhan yang bergerak karena tahu Sehun udah pulang "Ka…" baru aja mau balik badannya tapi Sehun udah keburu meluk dia dari belakang sambil nahan biar Luhan gak balik kearahnya "Begini aja, aku kangen meluk dari belakang."
Setengah terbuka matanya, Luhan cuma bisa liat gelap dan ngerasain tangan Sehun mulai jalan-jalan di sekitar perut sama pahanya, males buat ngelarang yang berujung berantem, Luhan pasrah dan kembali memejamkan mata sementara Sehun masih sibuk gerayangin badannya sambil bilang "Ka, tangannya."
"Sebentar doang, omong-omong udah berapa lama kita gak mandi bareng?"
"Gak inget, terakhir semester lalu kayanya di gelanggang renang."
"Oh pantes."
"Kenapa…"
"Kangen sama little Lu."
"ssh….Kangen apaan, tangannya udah pegang-pegang gitu, gak sopan."
Sejujurnya Luhan risih, tapi salahnya juga tidur gak pakai boxer atau celana dalam, jadi wajar kalau tidur sama buaya darat kaya Sehun berujung grepe setiap malem "Gak usah sopan-sopan sama calon istri, nanti juga diacak-acak."
"hmh?"
"Udah kamu tidur aja, besok kuliah."
"omong-omong kuliah, tadi kamu kemana?"
Sebenernya Luhan berusaha gak terpengaruh sama pegangan tangan Sehun di daerah private-nya, dia gak bisa disalahin, tangan kasar Sehun yang harusnya disalahin karena udah buat dia kewalahan setiap kali "dikerjain."
Belum lagi jawaban samar Sehun yang bilang "rahasia." Makin berhasil buat Luhan gak fokus dan berakhir mendengus marah karena Sehun selalu berhasil mengalihkan pembicaraan "Terserah kamu deh, inget waktunya tinggal besok."
Dan ngeselinnya Sehun cuma bales "hmmh…" sebelum berakhir mendengkur dengan posisi yang buat Luhan super gak nyaman karena tidur ditempelin badan sebesar Sehun yang gak ngasih jarak sedikitpun "Sehun-…"
Percuma jauhin Sehun karena semakin didorong, badan gedenya makin nempel dan Luhan makin kewalahan ngerasain sensasinya, terlalu kewalahan sampai dibuat selalu berdebar setiap kali Sehun naik ke tempat tidur yang sama dengannya.
"haaah~ Terserah kamu ka."
.
.
.
.
Keesokan pagi
.
"YA AMPUN KAKAK! ITU MUKA KENAPA MUKA COMPANG CAMPING GITU, HAH? KAMU BERANTEM SAMA SIAPA?"
Posisinya Luhan lagi dikamar Jaehyun, kenapa? Karena udah dua hari ini dia ditugasin untuk bangunin si bungsu sampai suara teriakan bunda kedengeran sampai ke lantai dua, awalnya Luhan bertanya-tanya sampai Jaehyun nyeletuk
"Emang kakak berantem Lu? Sama siapa?"
"huh? Ngga ah, perasaan baik-baik aja semalem." Jawabnya clueless sambil nyiapin persiapan sekolah Jaehyun berasa nyiapin anak TK pergi ke sekolah "Buku tugas mana dek?"
Mengabaikan pertanyaan Luhan, Jaehyun lebih fokus buat nebak dengan siapa kakaknya berantem sambil pasang asal dasi sekolahnya "Jangan-jangan dia godain janda lagi."
"DEK!"
"kaget-….Apa si Lu?"
"Mana buku tugasnya? Ayo cepet turun!"
"Yauda turun duluan aja kalo penasaran, buku tugasnya ilang setiap hari H, kkkk~"
"haha..Lucu!"
Males berdebat sama si bungsu lebih lama, Luhan buru-buru resleting tas Jaehyun, setelahnya dia keluar kamar buat nurunin tangga dan sedikit tergelak ngeliat Sehun lagi dipakein antiseptik diwajah sama bunda.
"Berantem dimana si kamu? Kaya anak kecil aja!"
"Gak berantem bun, jatoh dari motor—argh."
Dia meringis karena memar di sekitar hidungnya sengaja ditekan ibunya, dan untuk Sehun itu jauh lebih menderita daripada harus ngebiarin memarnya "Udah kan bun?"
Bundanya ngedelik marah, sebelum ngadu sama lelaki cantik yang entah sejak kapan berdiri di dekat anak tangga "Lu, bantu bunda bersiin luka kakak coba."
"mampus deh gue."
Setelah bundanya pergi siapin sarapan, diam-diam Sehun nengok kebelakang, dia gak mau bayangin wajah Luhan kaya apa sekarang yang jelas pasti dia marah dan bener aja, tangannya udah dilipat diatas dada sambil mengerutkan dahi, menyelidik
"Jadi alesan gak boleh nyalain lampu tuh ini, muka kamu lebam gitu?"
"hehe…Gak Lu, semalem pengen gelap-gelapan aja."
"sssh…..Kamu tuh ya."
Luhan udah masang muka garangnya, pertanda buruk karena luka memarnya bakal jadi korban tak berperasaan Luhan setelah bundanya, sontak hal itu ngebuat Sehun panik sampe gak sengaja liat adeknya turun dari tangga.
"DEK?"
Jaehyun yang lagi mainin hp nya ditangga kaget karena diteriakin, matanya kesel ngeliat si kakak buat jawab "Apaan sih?"
"Kunci motor mana?"
Gak pake nanya, si bungsu langsung ngerogoh saku celana buat ngelempar asal kuncinya ke Sehun "Nih." Katanya ngelempar dan ditangkep sempurna sama Sehun "Nah, kunci mobil dimeja, lo anterin Luhan dulu baru sekolah."
Males, tapi Jaehyun tetap nanggapin "iya…iya…"
Sebelum akhirnya Sehun lari ngacir keluar rumah, dibuntutin Luhan yang kaget karena kecolongan ditinggal Sehun "KA!" teriaknya ke garasi kendaraan, buat ngeliat Sehun lagi make helm dan nyalain motornya.
"Kamu jalan sama Jaehyun ya."
"Kenapa kita gak bareng?"
"Aku harus dateng pagi, hari ini kan Inagurasi."
"hah?"
Oke, Luhan gak tau sama sekali kalo Inagurasi MABA hari ini, awalnya dia pikir mereka bakalan pulang cepat karena hari ini bertepatan dengan hari ketujuh Sehun harus kasih jawabannya, nah karena tau Sehun bakal sibuk seharian, Luhan uring-uringan sendiri dan nekat diri didepan motor sebelum Sehun pergi.
"Kamu gak lupa kan ini hari apa?" katanya ngerantangin tangan, halangin jalan Sehun dibales gerakan Sehun buka kaca helm untuk nanya "Hari sabtu kan?"
"ish!"
"hehe, iya inget dong, nanti abis Inagurasi kita ngobrol ya?"
"Bener gak lupa?"
"Rugi kalo aku lupa, aku jalan dulu, dah cantik."
Dan mau gak mau Luhan minggir, dia merhatiin Sehun seksama untuk sedikit geleng kepala, heran, nutup helm aja dia bisa ganteng banget, belum lagi pas dia geber motor ninja Jaehyun seraya angkat ibu jemarinya, keren banget sampe ngebuat Luhan ketawa miris karena sampai kapanpun dia gak akan pernah bisa sekeren Sehun diatas motor.
BRRRMM!
"Ketemu dikampus Lu."
Luhan cuma bisa ngangguk karena masih terpesona sama Sehun, padahal mereka udah satu kamar dua hari ini, ketemu dikampus juga intens banget, tapi gak tau kenapa tetep kangen dan untuk alasan jawaban Sehun hari ini, Luhan tiba-tiba cemas dan gak sabar buat ada di penghujung hari ini.
"hih serem…."
"Luhan ayo sarapan sayang…"
Ngusap sedikit tengkuknya, Luhan teriak "IYA BUN." Buat sejenak ngelupain rasa gugupnya dan isi tenanga, jaga-jaga kalo Sehun tetep nyebelin dan mereka tetap jadi temen kaya sekarang, haah~
.
.
.
.
.
Malam hari
.
"DENGAN DITUTUPNYA ACARA MALAM INI, INAGURASI LAST PARTY SIAP DIMULAI!"
"YEEEY!"
Semua mahasiswa baru bertepuk riang, panitia yang udah pontang panting sama acara malam ini juga dibuat nafas karena tugas mereka selsesai, intinya semua happy, kecuali satu mahasiswa, yang merangkap panitia sekaligus kakak kelas, yang cemberut aja dipojok ruangan ketua BEM dan gak ikut acara penutupan resmi Inagurasi.
"heh, ngapain disini? Ayo gabung disana."
Dan si kakak senior, lelaki cantik yang sedari tadi pagi bete luar biasa itu kesel waktu bahunya dipukul kenceng dan yang mukul masang wajah sok innocent, siapa lagi kalau bukan si centil bin reseh, Baekhyun.
"ogah."
"ish! Kenapa si lo? Marah-marah mulu perasaan."
"Ya jauh-jauh makanya, mau gue semprot?"
"dih, marahnya sama Sehun yang kena satu kampus."
"Bodo."
"Kan bener marah sama Sehun, haha, si labil ketebak amat."
"BERISIK BAEK!"
"duh, udah malem kenapa teriak-teriak coba?"
Jeng….Jeng…si penyebab marahnya kanjeng ratu nongol dong, Baekhyun mah dasaran mahluk anti baper kalo diteriakin jadi cuma nyengir kuda, beda sama Luhan yang langsung buang muka dan ngedumel marah sampai Baekhyun si mulut sember segala bilang.
"Lo apain nih anak perawan? Ngambek mulu dari pagi."
"oh itu…Dia bete kayanya, biar gue rayu dulu Baek."
"kkk~ Silakan paduka raja, pastiin Luhan dateng di pembacaan nominasi award dari Mahasiswa baru, gue gak sabar ngalahin doi seberapa banyak."
"Sip."
Baekhyun semakin pecicilan dan sengaja nyenggol kasar pundak Luhan "Sampe ketemu saingan."
"Berisik!"
Dan sedetik setelah Baekhyun pergi, Sehun, si ketua BEM sekaligus tersangka utama atas mood Luhan hari ini tanpa berdosa dan rasa bersalah deketin temen kecilnya, dia diri disamping Luhan, no respon, dan akhirnya sengaja nyenggol bahu kecil si lelaki cantik.
"Apaan sih! Urusin sana MABA-nya."
"Udah selesai, sekarang mau ngurusin kamu aja!"
"Gak perlu woy, bentar lagi jam 12 malem, udah telat waktu kamu tuh."
"Waktu apa ya?"
"BODO!"
Sekeselnya orang, Luhan masih sempet ngehentak kaki, dia berniat pergi sebelum Sehun halangin jalannya sambil ketawa kaya gak ada dosa "hehe…Aku inget Lu, bercanda doang ih."
"INGET APAAN?"
"Inget perjanjian tujuh hari lah, apalagi."
Luhan diem, sejujurnya dia malu karena harus ngambek cuma gegara masalah beginian, tapi sumpah ini hari yang dia tunggu , tapi dia gak memperhitungkan kalau hari dimana Sehun harus jawab tentang hubungan mereka bakalan berbarengan dengan hari Inagurasi kaya sekarang.
Betelah
Marahlah
Mana dari pagi Sehun nyuekin dia, bahkan sampai malem dia tetep dicuekin dan baru ingat nyaris tengah malem saat acara hampir selesai dan hari ketujuhnya juga hampir lewat.
"Kalo inget terus kenapa baru kasih omongan?"
"Kamu kan tau aku sibuk."
"Ya tetep aja, janji ya janji."
"Terus kalo aku ngurusin kamu, MABA terlantar, aku diskorsing gimana? Nanti kamu yang rugi kalo aku telat lulus, jelek."
"Ih…"
"Yauda gabung dulu, acara terakhir api unggun sambil baca nominasi kan."
"Gak tertarik, aku ngantuk."
"Iya abis ini pulang."
"Tuh kan!"
Sehun cuma bisa ketawa pasrah sambil nyindir alus si lelaki cantik "Tuh kan aku salah lagi…"
"Ya kamu!"
"Iya aku!"
"auk ah, Terserah deh."
Dan ter-IMOET
KAK UCOO
Wuhuuu….
Sebenernya Luhan kepo sama nominasi dari Mahasiswa baru, diem-diem dia curi pandang tapi gengsi karena ada Sehun, jadinya dia pura-pura ngambek walau berakhir ditarik Sehun ke tengah-tengah penutupan Inagurasi yang ngebuat dia harus ngalah sekali lagi.
"Sehun!"
"Abis acara aku kasih tau jawabannya."
"huh?"
Jantung Luhan mau copot saat Sehun jawab dengan nada serius, keliatan banget dia udah capek ngurusin dia seminggu terakhir, terus tiba-tiba didesak ngasih jawaban buat janji yang mereka buat tujuh hari lalu.
Untuk alasan tertentu Luhan ngerasa bersalah, berfikir Sehun marah tapi gak terbukti terlebih saat Sehun lepas jas almameter-nya buat dipakein ke Luhan yang cuma bermodal kaos hitam karena almameternya hilang waktu diusir paksa beberapa hari lalu.
"Makasih."
Sehun cuma ngusap kepalanya asal sebelum bergabung sama Baekhyun buat bacain nominasi selanjutnya.
"Nah yang ditunggu dateng juga, Paketu baca nominasi lagi dong!"
"kkk~ Maaf ada yang lebih penting, masa depan soalnya." Katanya ngerling Luhan sekilas sebelum heboh sendiri buat teriak "NAH APALAGI SELANJUTNYA." Katanya gak sabar buka gulungan buat dapetin kalimat
Ter-GAKJELAS
CHANYEOL!
"yeuu…Ganteng gini dibilang gak jelas, gue klepak palalu pada!"
Baekhyun ketawa paling kenceng sebelum dilototin pacarnya sendiri "Tapi aku cinta kok ay."
"YA HARUSLAH!"
"halah…CUT! RATE 18 PLUS PLUS! Masih banyak bocah, lanjut…"
Ter-SEKSI
"Ini sih gak usah ditanya, JONGIN!"
Yang diteriakin namanya langsung ngajak dansa pacarnya dan ngebuat selingkaran mahasiswa dibuat iri karena Kyungsoo yang dikenal paling diem bisa ketawa bebas kalo udah dibawa sama pacarnya.
"OKE LANJUT—." Sehun motong adegan dance lebay Jongin, buat milih kategori lagi dan teriak "Yang ditunggu-tunggu—TERCANTIK." Katanya teriak, diiringi suara jeng-jeng sampai dia kerutin dahinya dan tertawa untuk bilang "IRENE!"
"yaelaaa…."
Baekhyun gak terima, berbanding terbalik sama Luhan yang tepuk tangan paling heboh sebelum berenti karena diliatin Sehun "Makasih loh yang udah milih gue, makasih." Irene jejingkrakan heboh, tapi dipotong Sehun yang mulai bete karena Luhan terus ngeliatin Irene dengan sengaja teriak.
"ter-MODIS, ini juga gak usah ditanya sih ya, BAEKHYUN!"
Anak dari designer terkenal Singapore itu mulai berjalan bak model sungguhan, dia dadah-dadah ke Mahasiswa baru sambil tebar pesona dan sukses ngebuat Chanyeol ngeces gak tahan liat betapa seksi pacarnya "PACAR GUE TUH! GAK NGEDIP GUE COLOK MATA LO PADA! NGEDIP SEKARANG!"
Mau gak mau semua ngedip karena Chanyeol bilang ngedip, ngebuat Sehun geleng-geleng kepala dan bacain nominasinya lagi "Yang ditunggu part dua—TERGANTENG!"
Ekhem…
Chanyeol diri, benerin almameter.
EKHEM EKHEM….
Diikutin Jongin yang mulai dance kepiting.
EKHEEEMM….
Gak lama Geng Myungsoo, Hanbin, Bobby ikutan show off
Dan gak mau kalah Sehun juga EKHEM….Gue—uhuk—EKHEM!
Sambil buka gulungan dan tiba-tiba teriak "PAIT-PAIT!" waktu baca nominasi yang ada di gulungan "BATAL! BATAL! YANG MILIH MATANYA KATARAK GUE RASA!"
"YAAAH KAKAK….JANGAN KAK!"
Sehun berniat ngerobek itu gulungan tapi diambil paksa Baekhyun yang mendesis "Yang Fair dong!" katanya marah, baca nama di dalam gulungan buat sama kagetnya persis kaya Sehun "Anjay…Ini gak salah?"
"Kan gue bilang, katarak yang milih."
"BACAIN…BACAIN!"
Chanyeol mancing keributan, semua MABA ikut-ikutan maksa "BACAIN….BACAIN!" alhasil Baekhyun nahan ketawa sebelum nyerah dan bilang "Oke…oke, gue bacain tapi jangan kaget pas gue sebutin, DEAL?"
"DEAAALLL!"
Sehun gak kuat dengernya, jadi dia nutup satu telinga sementara Baekhyun teriak "LUHAN!"
"APAAN?"
Chanyeol teriak gak terima, disusul pekikan Jongin "WANJAY…"
"WAGELASEH….KOK BISA?" timpal Kyungsoo sementara Myungsoo yang diri didepan Luhan cuma ketawa antara gak percaya dan sangat tidak percaya kalau semua lelaki ganteng dikampus ini dikalahin telak sama Luhan.
"kkk~" dia cuma nyengir seperlunya, Luhan jadi salah tingkah karena semua gak percaya dan cuma satu suara yang heboh membenarkan "NAH KAN! ADEK-ADEK PINTER BANGET SIH! GUE TERCANTIK, GEBETAN GUE TERGANTENG! INI NAMANYA JODOH HAMPIR DIREBUT MANTAN SENDIRI GAK AKAN LARI KEMANA. WUHUU…"
Dan Irene berulah, dia sengaja lari kesamping Luhan, ngerangkul manja lengan si lelaki cantik yang UDAH JELAS CANTIK BUKAN GANTENG, buat manas-manasin Sehun yang mukanya udah merah ngeliat Luhan dirangkul dan lengannya diapit hampir kena dada Irene buat teriak lagi
"OKE TERAKHIR-….!" Katanya mengakhiri kehebohan buat ngambil satu gulungan lagi dan bacain couple ter-FAVORIT
Perasaannya gak enak tentang ini, dan benar aja waktu dia buka gulungan nama HAN-RENE yang gak lain Luhan-Irene terpampang nyata disana "Cancel—ganti!"
"couple ter-FAVORIT…"Baekhyun lagi-lagi ngerebut gulungan kertas dari tangan Sehun buat teriak "HAN-RENE, LUHAN-IRENE CONGRATZZZ…"
"YEEEEY….."
Irene yang paling heboh, dia makin jadi meluk Luhan sementara Luhan kebingungan sendiri karena semua mahasiswa baru tepuk tangan buat dia sama Irene seolah mereka baru resmi jadian.
Oh ya, semua keliatan clueless dan happy, diem-diem Irene juga bisikin Luhan tentang satu hal "Gak sia-sia aku sebar foto kencan kita di dufan kemarin kak."
"hah?"
"Captionnya, My beloved Lu, aku share ke grup MABA kedokteran dan sampe keseluruh MABA satu universitas, kkk~,"
"Astaga Rin…."
"hehe…sorry but I'm not sorry."
Luhan bener kehabisan kata buat marahin mantan pacar Sehun disampingnya, dia cuma bisa hela nafasnya pasrah, coba mengabaikan rumor dia sama Irene setelah malam ini, dan jalanin hari-hari seperti biasa.
Itu Luhan, beda sama Sehun, ketua BEM sekaligus lelaki yang paling berhak atas Luhan itu jelas gak terima, jadilah dia tiba-tiba diri di tengah lingkaran mahasiswa untuk teriak
"PENGUMUMAN!"
Pake nada khas dia saat marah dan sukses ngebuat seluruh mahasiswa yang lagi godain Luhan dan Irene diam seribu bahasa, mereka pikir penderitaan mereka udah usai setelah api unggun dinyalakan, tapi sepertinya masih berlanjut terlebih karena muka Sehun bener terlihat marah dan gak santai kaya beberapa saat lalu.
"Sorry nyela kebahagiaan kalian, tapi gue rasa kalian salah paham."
Ada satu MABA yang gak sengaja nyeletuk "Tentang apa kak?" dibalas senyum kecut Sehun yang nunjuk ke arah Luhan dan Irene tanpa ragu sedikit pun "Tentang mereka, couple favorit kalian , si ter-CANtik dan ter-GANTENG! Yang kalian kira single!"
"oh jadi bener, kak Sehun sama kak Irene CLBK."
Sehun bisa denger dua mahasiswi yang duduk didepan bisik seenak mulut mereka, hal itu ngebuat Sehun semakin yakin buat mempertegas satu hal, sebut aja ini acara colongan, karena harusnya disudahi setelah pembacaan nominasi terakhir tapi berlanjut karena Sehun mau semua mahasiswa baru di kampus ini tau sesuatu tentang Luhan.
Jadilah dia berjalan lurus ke arah Luhan-Irene, dan sesuai dugaan dia Irene bakal melukin Luhan erat walau percuma karena satu tarikan kencang Sehun ditangan Luhan, berhasil ngebuat Irene sedikit ngejauh.
"ish! Reseh banget kamu!"
Irene ngedumel seperti biasa, dan seperti biasa pula dicuekin Sehun yang lagi gandeng tangan Luhan dan ngebawa dia ketengah lingkaran api unggun dengan seluruh mata mahasiswa baru merhatiin mereka dengan seksama.
"Sehun kamu ngapain?"
Luhan udah panik, tapi Sehun malah semakin intim genggam jemari tangannya buat angkat tangan mereka yang terikat ke udara
"Bukan Irene, tapi Luhan-…..Kenalin, dia pacar gue."
"Sehun…!"
Hening, semua kaya gak nyangka ketua BEM mereka yang super perfect dan kaku ini bakal nge-confess di depan banyak orang, ada kali lima detik no response, sampai akhirnya dia negesin satu hal "Gue gak suka kalo pacar gue di couple-in sama orang lain, itu aja, jadi jangan salah paham lebih banyak lagi setelah ini."
"anjir…"
Chanyeol sampe bekap bibirnya kuat, gak nyangka Sehun bakal se-frontal ini buat negesin hubungannya sama Luhan, dan sebagai kapten sekaligus ketua shipper dari pasangan baru dikampusnya, Chanyeol tanpa ragu berdiri dan jadi orang pertama yang kasi tepukan selamat beserta sorakan khas suara husky nya.
"WOHOOO…..GAK SIA-SIA LO BERILMU AMA GUE DEL! GILAK-….GILAAAK! SELAMAT WOYYY…!"
Dan seolah menular, tepukan riuh Chanyeol banyak yang mengikuti, awalnya Baekhyun yang ada disamping pasangan baru di kampus mereka, diikutin KaiSoo yang gak kalah heboh sampai akhirnya semua MABA kasih tepukan selamat ke Sehun-Luhan yang masih berdiri di tengah mereka.
"SELAMAT KAAAK!"
Rata-rata dari mereka kasih ucapan selamat, sementara Luhan diam-diam noleh ke Sehun buat minta penjelasan "Kak, ini apa sih?"
"Ya itu jawabannya."
"Apa?"
"Aku sayang kamu, bukan sebagai temen, tapi sebagai lelaki."
"Kamu yakin?"
"Kalo gak yakin aku gak bakal senekat ini, jadi jawabannya?"
"ish!"
"Aku suka kamu, maaf udah nunggu lama, tapi mau jadi pacar aku gak?"
"TERIMA-….TERIMAA!"
Sontak semua orang teriak "TERIMA….TERIMA!" seolah ngebuat Luhan gak memiliki pilihan lain selain bilang "iya…"
"Apa? aku gak denger Lu? Mau jadi pacar aku gak?"
Mungkin cara Sehun nembak dia bakalan jadi kenangan super manis di ingatan Luhan, walau terkesan dadakan dan berantakan tapi dia tahu Sehun udah mikirin baik-baik sampe berani nembak di depan banyak orang kaya gini, jadi sekali lagi, ekpektasi dapet bunga waktu ditembak digantikan dengan dukungan junior dan teman-temannya sampe ngebuat Luhan ngangguk malu dan jawab
"iya…Aku mau, MAU BANGET JADI PACAR KAMU!"
Sehun gak tahan buat narik Luhan ke pelukannya, didepan banyak orang akhirnya dia menegaskan status dia sama Luhan, banyak suara tepuk yang mengiringi tapi favoritnya adalah suara debar jantung Luhan yang terdengar gak beraturan karena gugup.
Jadi jangan salahin kalo sifat jahil Sehun kumat, terlebih saat dia ngeledekin Luhan dengan bisikin "Ciye pacar aku, ciye….ciye jadian ciye…" dibalas pukulan kenceng Luhan di punggungnya buat ngeluh "Sumpah gak romantis banget."
"Tapi suka kan?"
Gak jawab memang, tapi Sehun tahu Luhan bahagia karena anak itu, sekarang lagi nangis sesunggukan karena malu bercampur bahagia, itu kaya nunggu pengumuman lulus dari SMA beberapa tahun lalu tapi versi parahnya, karena kalau Sehun nolak dia lagi kali ini, Luhan gak tau harus gimana ngadepin temen kecil yang udah dia suka selama sepuluh tahun.
"Suka, tapi kamu lambat, masa perlu sepuluh tahun sih?"
"haha…iya, maaf, kamu cantiknya baru-baru ini sih!"
Kali ini gak cuma dipukul, Luhan sengaja gigit lengan Sehun seraya ngedumel "Sembarangan." Diiringi tawa Sehun yang kesakitan tapi tetap umbar kemesraan yang ngebuat jomblo sekampus gigit jari merana.
"helah, keduluan lagi gue…"
Itu Irene yang ngedumel, dia niat pergi dan gak sengaja papasan sama Myungsoo, kakak kelasnya yang juga tersenyum miris ngeliat moment jadian super manis si ketua BEM sama gebetannya.
"Kak lo gpp?"
"hmh?"
"Itu Luhan udah di hak patenin sama si monster kaku."
"yaela Ren…Baru jadian belum dinikahin, masih banyak kesempatan tenang aja."
Tiba-tiba Irene jadi semangat, dia tertarik sama ide masih banyak kesempatan ala Myungsoo buat ajak jabat tangan sambil ngomong "Ayo kita buat tim Myung-Ren, si pencuri hati Luhan."
Myungsoo ketawa seadanya untuk balas jabat tangan Irene "Oke, gue ketua ya Ren."
"Siap. Tapi kalo hati Luhan berhasil dicuri, kita saingan lagi."
"hahaha…okedeh."
Setidaknya Sehun-Luhan udah resmi dikenal sebagai pasangan malam ini, setidaknya pula hati Myungsoo dan Irena gak terlalu patah karena mereka saling menguatkan dengan cara yang unik dan konyol.
Jadi intinya semua happy, dan tahun ini, bakal jadi penutup tahun paling bahagia untuk Luhan, walau dia harus pisah jauh sama sang ayah, setidaknya dia punya Sehun untuk mengalihkan rasa kesepiannya, mulai malam ini, diiringi tepuk dari banyak orang, mereka resmi jadi sepasang kekasih.
.
.
.
.
.
.
"Jadi kamu tetep gak mau ikut papa nak."
Buru-buru tangan Luhan ditarik, sekarang papanya berhadapan langsung sama pacarnya, pacar? Ya, semenjak malam tadi Sehun udah resmi jadi pacarnya, jadi saat mereka nganter kepergian papanya ke bandara, Sehun selalu pasang badan kalau pertanyaan "yakin gak mau ikut papa." Terlontar dari bibir calon mertuanya.
"Maaf om bukannya ganggu, tapi Luhan tinggal."
"Om gak ngomong sama kamu."
"hehe….tetep aja."
"Kelakuan itu om, kakak sama Lulu baru resmi pacaran malam tadi."
"HAH!?"
"ish! Bocor banget si bibirnya."
"Tau darimana kamu dek?"
"Lha itu liat aja tangannya, nyatu gak dilepas, dilem tikus anti lepas, lengket sepanjang hari."
Buru-buru Luhan mau lepas jemari tangan Sehun, tapi ditahan lelaki yang lebih tinggi dari dia seolah buktiin kalo mereka emang pacaran dan nantangin calon mertuanya dengan angkat dua jemari mereka yang bertautan untuk bilang "Restuin ya om."
Gak bunda, gak ayah Sehun apalagi papa Luhan, ketiganya cuma bisa narik dalam nafas mereka tanda kalo apapun nasihat mereka bakalan mental kalo Sehun udah punya satu tujuan, satu minat dan satu keinginan, Luhan, buat saat ini.
"haah~ Rugi kamu macarin Luhan kak."
"Papa!"
"Nggak mas, yang ada Luhan yang rugi macarin Sehun."
"Bunda!"
"hahaaha…"
Cuma bisa ketawa miris, ayah Sehun kini jadi penengah buat dua sejoli yang baru meresmikan hubungan mereka setelah bertahun-tahun, beliau maksa berdiri di tengah-tengah Sehun dan Luhan berharap tautan tangan mereka kepisah tapi gagal, Sehun gak kehabisan cara untuk genggam tangan Luhan walaupun ayahnya ngerangkul paksa dua bahu mereka.
"Nah dengerin ayah, kalau baru pacaran itu biasanya gak ada cobaan, tapi nanti, masuk tahun kelima pasti cobaan bertubi, jadi siapin mental kalian berdua, jangan mesra-mesraan terus, buat iri aja."
"duh yah, pacarannya gak sampe tahun kelima, bosen pasti."
Luhan mendelik Sehun, bunda hampir mukul kepala anaknya kalau Sehun gak buru-buru bilang "Orang mau dinikahin sebelum tahun kelima, ngapain pacaran lama-lama."
"Astaga anak ini-…."
"HAHAHAHA….Ayah suka nih kalo anak ayah udah punya rencana masa depan, bikin bangga kamu kak."
Ngeliat kakaknya dipuja puji para orang tua ngebuat Jaehyun bete dan sengaja nyibir kakaknya
"Gombal terus ampe gembel."
"Ayah ini anaknya yang lain iri loh."
Bunda ngingetin dan terimakasih buat Jaehyun, karena irinya dia bikin ayah Sehun lepas rangkulan di pundak Sehun-Luhan buat ngerangkul anak bungsunya "Nah kalo anak ayah yang ini mah gak usah dikhawtirin, muka ganteng banget, otak pinter banget, kelakuan seribu kali lebih sopan dari mas sama kakaknya, hadeh…Bangga ayah dek."
Giliran dia yang dipuja puji, justru kaya cecek nempel di dinding buat malu-malu bilang "ya dong…Jaehyun gitu."
Semuanya ketawa lepas, Sehun juga gak buang kesempatan untuk genggam jemari Luhan di tengah keluarganya, sejujurnya Luhan risih, tapi pas tangannya dibawa kedalam mantel dia cuma pasrah dan merasa begini lebih baik "Jangan jauh-jauh nanti aku kangen."
"gombal terus ampe gembel yang."
"Duh dipanggil yang, makasi ya beb…"
"Dibilang jangan beb..beb…"
"Terus apa dong?"
"Ya selain beb…"
"okedeh, Cintaku aja."
"halah!"
Mereka lagi debat tentang panggilan sayang sampai suara pemberitahuan untuk penerbangan Jepang terdengar, sontak hal itu ngebuat papa Luhan bergegas buat check-in sementara wajah Luhan jadi tegang ngeliat papanya bersiap pergi.
"Kalo gitu saya pamit dulu ya."
"Hati-hati mas."
Bunda Sehun jabat tangan suami dari mendiang sahabatnya, diikutin ayah Sehun, Jaehyun yang bertugas jadi supir kedua orang tuanya cium tangan dan terakhir kedua sejoli yang akhirnya ngelepas tautan tangan mereka untuk perpisahan.
"Jagain Luhan loh kamu, om titip Luhan."
"Siap om." Jawab Sehun singkat dan tegas, keduanya berpelukan sesaat dan pesan kembali diberikan buat Sehun "Jangan buat Luhan nangis loh ka."
"Janji om, kalaupun nangis besokannya udah happy, hehe…."
"dasar…"
Selesai cium tangan sambil pamitan, papa Luhan kini beralih ke anaknya yang matanya udah berkaca-kaca bahkan sebelum mereka berpamitan "Tuh nangis, disuruh ikut gak mau."
Buru-buru dia hapus kasar air matanya buat ngeles "Kelilipan pa."
"haha, iya percaya nak."
Luhan cium tangan, gak lama dia peluk erat papanya buat nahan diri gak nangis dan ngasi seribu pesan berulan buat papanya "Jangan telat makan, jangan telat tidur, jangan-…."
"Jangan lupa telpon, papa inget nak."
Luhan kehabisan kalimatnya lagi, dia milih diam, meluk erat sambil cium aroma parfume papanya, buat kuatin diri kalo semua akan baik-baik saja "Jaga diri ya nak."
"Papa juga."
Keduanya dengan berat hati lepas pelukan satu sama lain, Luhan cium tangan lagi, papanya cuma bisa menatap sendu sedikit cium kening putranya "Pamit ya sayang."
"hmh…"
Setelahnya papa Luhan melambaikan tangan perpisahan untuk putranya dan keluarga Sehun, beliau juga perlahan menjauh tanpa mau menoleh lagi, dia takut ragu buat pergi kalau menengok ke belakang dan liat wajah Luhan,
Jadi yang dilakukan lelaki paruh baya satu anak itu hanya berjalan lurus meninggalkan putranya di tangan lelaki yang dipilih untuk jadi kekasihnya saat ini
"Kamu gak apa-apa?"
Sehun bertanya, tangannya diam-diam masuk ke celah jemari tangan Luhan dan menggenggamnya erat, menenangkan, walau pacarnya bilang "Sedih, tapi nanti baik- baik aja."
Sehun refleks noleh kesamping, merhatiin pacarnya walau sepenuhnya tatapan Luhan ada di punggung papanya, Sehun juga bisa liat air mata Luhan jatuh membanjiri tapi dihapusnya cepat setiap kali air matanya jatuh.
Bangga, diam-diam Sehun narik Luhan kepelukannya, nyandarin kepala Luhan didadanya sambil berbisik "Jangan nangis, idungnya merah kaya badut."
"ish…."
Mungkin definisi pacar ya kaya Sehun, menghibur disaat sedih, menggoda disaat marah, konyol disaat ngambek dan masih banyak hal lain, jadi saat dirasa dia bener-bener memiliki seseorang yang bisa diajak sharing tentang mood dan perasaannya, Luhan merasa jauh lebih baik dan Sehun, dia orang pertama yang akan mendapatkan rasa terimakasih itu.
"Aku cinta kamu." Bisiknya, Luhan masih menatap ayahnya sampai perlahan menjauh dan hilang dari pandangannya untuk bilang "Akhirnya, aku denger kalimat itu juga dari kamu."
Sehun cuma bisa ketawa kecil sambil nyiumin surai kepala Luhan, mereka berdua melambaikan tangan terakhir kali sama papa Luhan sementara sang papa, diam-diam curi pandang dari balik kaca untuk lihat putranya.
Dia tenang karena Sehun beneran tulus jaga Luhan, diam-diam tersenyum sambil ngeluarin arloji berisi foto Luhan dan mendiang istrinya untuk bilang
"Mama benar, belahan jiwa anak kita, itu-…..Sehun."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Benar-benar tamat
.
.
Terimakasih gengs cintaku, maaf terlalu lama
.
.
.
.
Happy reading, love
.
.
.
.
.
