Terima kasih atas review di chapter sebelumnya :

Sandrock—Ide, sih, menumpuk, Sandrock-san. Tapi mood yg naik-turun dan karna udah kelas 3 (mau UN), sulit nyari waktu buat ngetik. Maaf, updetnya telat sampe 2 bulan, ya. Makasih udah nyempetin review.

Snow—Wow, wow, wow, dugaan Snow hebat banget ttg jati diri Toushiro. seiring jalannya ch bakal terungkap, kok, dan makin jelas ceritanya. Maaf updetnya telat. Makasih udah nyempetin review ya, Snow.

Terima kasih pula ma yg udah login (sudah sy balas di PM-nya masing-masing): ichirukilover30 | Akari Hikari | ai-haibara777 | Hayi Yuki | Kujo Kasuza | Syl The tWins

.

.

.

Bleach © Tite Kubo

.

Warning:

OOC (parah); AU (setting adalah canon, tapi latar belakang semua karakter jauh berbeda); jumlah chapter yg lumayan banyak; alur lambat; romance gagal (sudah kebiasaan author)

.

.

.

Catatan: Ada beberapa deskripsi n' narasi yg saya edit di ch 1 nya. Kalo mau dibaca, boleh. Kalo enggak, juga gak apa-apa. Karena gak mempengaruhi jalan cerita. Jalan ceritanya masih tetep sama.

.

.

.

.

.

BAGIAN I: Akademi Shin'ō

.

.

.

"A-apa?" Mulut Rukia menganga sebesar dango. "I-istri?" Bersama semburat merah yang merayapi pipi kusamnya. "Ru-Rukia Hitsugaya?"

Sedang Toushiro masih saja bermuka serius. Hingga tiga detik ke depan—"Hahaha, dasar," tawa yang melunturkan mutlak wajah merona si gadis. "Kau tidak punya selera humor, ternyata."

Rukia melotot, sampai mata nyaris copot dari rongganya. "EH? Kau bercanda?"

Tawa tersebut langsung berhenti. "Jadi, kau mau aku serius?"

Si gadis Inuzuri berubah grogi dan terbata, "Ma-mana mungkin. Aku tidak pernah bermimpi jadi istri orang yang baru kukenal." Sebelum menelisik diam-diam muka Toushiro yang jauh dari wajah tukang lawak dan menggerutu di benaknya: 'Padahal punya tampang serius dan cuek, tapi bisa bercanda juga'.

Rukia jelas tidak tahu kalau Toushiro lupa kapan dirinya terakhir kali berkelakar. Puluhan tahun yang lalu, mungkin?

Si rambut hitam lalu bergerak ke tembok tanah untuk meraih meja dan balok kayu setelah hawa canggung menghilang. Toushiro mengikuti dan membantunya membawa ke tengah, tepat di bawah tingkap. Tak berdebu dan diambil dari posisi lumayan rapi; Toushiro pikir jalur ini pasti sudah biasa digunakan (oleh si Nona Pencopet, barangkali). Bersama-sama kemudian menyusun sebagai tangga buatan bagi si jabrik putih untuk tiba di pintu keluar yang tidak jauh di atas kepala

Toushiro menuturkan kata pamit sebelum mendaki susunan meja dan balok. Didorongnya tingkap hingga daun-daun kering dari permukaan gudang tua lolos jatuh, mengiringi sinar mentari sore yang merangsek masuk. Tas selempang kemudian dilemparnya ke atas sebelum memanjat keluar sambil memicingkan mata menghalau sinar senja. Senyum tulus adalah salam perpisahan Toushiro sebelum pintu ditutup, dan meninggalkan Rukia seorang diri di lorong bawah tanah berteman obor di tangan.

Tidak beranjak. Hanya berdiri, memandang tingkap yang terkatup rapat. Guyonan Toushiro tentang 'Rukia Hitsugaya' yang terngiang-ngiang, membuat Rukia bergumam, "Aku akan mempertimbangkannya—jujur. Sayangnya, mulai besok aku sudah punya margaku sendiri."

Lalu tersenyum kecut sebelum mengembalikan meja dan balok ke tempat semula.

.

Setelah itu...

.

Seperti yang Rukia katakan, hanya perlu jalan lurus dari gudang tua untuk tiba di perbatasan. Sayangnya, tanpa info tambahan kalau jaraknya lumayan jauh. Toushiro butuh tiga per empat jam untuk sampai di sana.

Dan pemandangan pertama yang menyapa adalah ramainya penduduk desa yang berkerumun di pinggir jalan. Padahal sepengetahuan, jalan perbatasan ini hampir setiap hari lengang. Gerobak-gerobak berisi barang dagangan pun ikut berserakan di sekitarnya. Dan menengok waktu yang belum terlalu sore, warga tampaknya berbondong-bondong datang ke sini untuk menunggu sesuatu yang lebih penting. Lebih penting—sebab mereka mengutamakannya daripada meraup rejeki di pasar hingga matahari terbenam.

"Aniki?"

Toushiro tersentak, sebelum menoleh ke belakang. Ada Oomaeda. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Saya yang harusnya bertanya begitu. Saya datang ke sini untuk cari tahu apa mereka akan lewat jalan ini. Dan kelihatannya benar. Lihat saja penduduk yang berkumpul."

Tidak aneh. Arak-arakan bangsawan kelas atas Seireitei jadi hiburan tersendiri untuk warga yang tidak sekali pun bertatapan dengan penghuni kota.

"Sebelum pulang ke Seireitei, Anda juga harus melihatnya." Oomaeda lalu memerhatikan bosnya dari atas-bawah bawah-atas. Basah kuyup, rambut berganti warna jadi kecoklat-coklatan, baunya pun tidak sedap. "Omong-omong, kenapa penampilan Anda kusut sekali?"

Pandangan Toushiro masih terpaku pada jalan saat bilang, "Ada sedikit masalah."

Sampai belasan menit ke depan, seruan seorang warga mengumandang di tengah keramaian, "Mereka datang! Mereka datang!" Seolah jadi aba-aba, rakyat yang tidak sabar bergerak maju. Ratusan pandangan menuju satu arah: ke kanan. Menunggu. Lalu serentak menahan napas ketika rombongan bangsawan sudah tampak di tikungan depan.

Hal pertama yang dijumpai adalah pengawalan ketat dari enam pria shihakushou ber-haori putih berlambang bangsawan, lengkap dengan sebilah katana; bagian depan dan belakang iringan. Pusat perhatian tertuju pada tandu yang diusung oleh tiga orang di empat sudutnya masing-masing. Binar merah terang dan kuning emas mendominasi warna tandu.

"Katanya, mereka baru mengangkat salah satu anak dari Inuzuri," satu warga berkata pada warga di sebelahnya.

"Jadi karena itu, mereka repot-repot keluar Seireitei," warga itu menyimpulkan dengan cepat. "Pasti anak itu sangat penting. Anak laki-laki, ya?"

Ia menggeleng. "Bukan. Katanya, anak perempuan."

"Beruntung sekali."

Toushiro mencuri dengar. Ketika tandu lewat di depannya, ia memiringkan kepala, mencoba mengintip dari sela tirai sutra merah yang menutupi jendela tandu. Tapi yang didapatinya bukan orang yang ingin ia lihat, malah—

"Itu Byakuya Kuchiki, Aniki."

—sosok jemawa ketua klan.

Desahan pendek keluar dari bibirnya. Ia beranjak dari sana begitu tandu bergerak menjauh. "Ayo."

"Mengikuti?"

"Tidak. Pulang."

"Eh, tidak mengikutinya?"

"Untuk apa? Aku juga akan bertemu dengannya minggu depan."

Mengangguk-angguk paham, Oomaeda mengekori sang bos. Tak lupa ia berbagi gosip kalau anak perempuan yang diangkat jadi saudari oleh Byakuya Kuchiki sangat cantik.

.

.

.

TUJUH PEDANG

.

# 2 #

Nona Ambisius, Tuan Gegabah, dan Bocah Lamban

.

.

.

Ledakan amarah sang bibi adalah sambutan untuk Rukia ketika tiba di gubuk kecilnya.

"Apa yang terjadi padamu? Apa kau jatuh di selokan? Dasar ceroboh! Padahal, sudah kuperingatkan untuk jangan bermain-main dengan komplotan premanmu! Ah, bagaimana ini? Mereka sebentar lagi datang! Ayo cepat ganti baju!"

Tidak diberi waktu membela diri, Rukia digelandang ke bilik kecilnya. Kimono kusutnya dilepas dalam sekali sentakan oleh sang bibi yang awalnya mirip peri, sekarang jadi penyihir. Diganti dengan kimono kering dan rapi, meski yang sebelumnya lebih bagus dan elok. Wajah dekil dibersihkan dengan kain basah.

Setelah mencium bau tidak enak, si bibi ingin membawa Rukia ke kamar mandi. Tapi, urung setelah takut iring-iringan bangsawan datang ketika mereka masih bersiap-siap. Wanita itu tidak mau membuat mereka menunggu. Jadi, wangi-wangian berharga miliknya yang ia semprotkan ke sekujur tubuh keponakan untuk sekadar menutupi bau yang tidak sedap.

Suara hentakan belasan pasang kaki sontak lalu menghentikan aktivitas penghuni gubuk. Yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Dengan komando kakek penasehat klan, bibi membawa Rukia keluar dan menjumpai Byakuya Kuchiki yang telah turun dari tandu; berdiri tegak nan tegap, berkarisma, dan tanpa cacat di jalan masuk tanpa pintu.

Beramah-tamah dengan mulut manisnya, semanis pemanis buatan, bibi membawa Rukia berdiri di hadapan keluarga barunya.

Tampak tidak ingin membuang waktu banyak, arakan Klan Kuchiki bersiap beranjak setelah Byakuya naik ke tandu tanpa membalas basa-basi si bibi. Rukia menyusul setelah menatap wanita yang merawatnya sedari kecil. Meski lebih mirip penyihir daripada peri, ia berterima kasih dan bersyukur karena telah menjaganya. Ingin bergerak untuk memeluk, tapi si bibi melotot dan menyuruhnya untuk segera masuk. Lihat, Rukia membuat bangsawan terhormat itu menunggu.

Bagi bibi, bayaran jutaan kan dari Kuchiki sudah sangat lebih dari cukup daripada pelukan sayang si keponakan.

Tandu diangkat dan berdiri tangguh setelah si kakek penasehat mengikuti masuk Rukia yang beraut muram.

"Ketuaaaaa!"

Rombongan baru menjauh puluhan langkah ketika teriakan lebih dari satu bocah menggema di belakang. Rukia lantas mengeluarkan kepala dari jendela bertirai mewah, menengok kawan-kawannya yang mengejar.

"Ketua, jangan lupakan kami!"

"Sering-seringlah datang ke sini, Ketua!"

"Kami akan selalu merindukanmu, Ketua!"

"Jaga dirimu, Rukia!"

Beruntun Rikichi, Yukio, Rin, dan Ggio menyerukan pesan terakhir mereka sebagai Geng Inuzuri pada sang ketua. Sepasang mata Rukia memanas haru dengan wajah merah yang menahan gejolak emosi yang bergolak di dadanya. Ingin rasanya ia melompat turun dan menghambur ke pelukan mereka satu per satu sambil berkata bahwa ia bangga pada mereka, ia sangat menyayangi mereka, dan menuturkan terima kasih yang begitu tulus.

Tapi, tidak. Tidak boleh. Mereka akan bertemu lagi. Ini hanya perpisahan sementara. Ini bukan yang terakhir. Pasti. Ya, pasti. Mereka akan berkumpul lagi, mereka akan menangkap ikan bersama lagi, mereka akan bertualang lagi.…

"Semangat Petualang!"

Jargon khas Geng Inuzuri diserukan penuh semangat dengan gaya mengacungkan satu kepalan tangan tinggi-tinggi ke langit dan kepalan tangan lainnya bertumpu pada dada. Yukio yang selalu menjuluki gaya itu kekanak-kanakan dan norak adalah yang tampak paling antusias di antara mereka.

Bagi kelima anak muda ini, jargon itu punya arti khusus: Kami adalah langit. Batas tidak ada dalam benak kami. Mengarungi dunia dengan bermodal satu keyakinan: percaya pada rekanmu. Genggam tangan mereka, dan berlari bersama. Kau akan tahu bahwa petualangan tidak pernah ada akhir.

Kini, Rukia tidak bisa membendungnya lagi. Buliran akhirnya menuruni pipi putihnya. Dalam tangis tanpa isakan, ia berseru sekencang mungkin:

"Semangat Petualang! Jangan pernah lupakan itu!"

Keteguhan jiwanya bersatu-padu dengan teriakan yang menggebu-gebu. Kawan-kawannya berhenti mengejar. Rikichi mengusap wajah yang bermandikan air mata, Rin melambaikan tangan, Yukio hanya terpaku dengan satu tangan terkulai memegang buku kecil pemberian sang ketua, dan Ggio bersila lengan sambil senyum tegar seraya menyampaikan—

'Kami akan menunggumu pulang, Rukia.'

.

.

.

.

.

Rukia seperti lupa di mana dirinya ketika melepas emosi yang meluap-luap. Maka setelah menghapus bekas air mata dari sapu tangan yang diulurkan kakek penasehat, ia diam sambil menundukkan kepala dalam-dalam. Ia sungguh malu. Sementara Byakuya hanya memandang tanpa jemu suasana dari balik jendela tanpa suara apa pun.

"Ma-maaf..." entah bagaimana Rukia menemukan fungsi lidahnya lagi.

Byakuya melirik dari satu sudut matanya. Tidak butuh jaminan lagi bahwa ia bukan orang yang mengerti kata sahabat jika tahu aktivitas sepanjang hidupnya tidak jauh dari duduk bersimpuh mendengar wejangan tetua klan dan latihan mengayunkan shinai di halaman mansion.

Namun, melihat langsung dengan sepasang manik kelabunya akan ikatan Rukia dengan kawan-kawannya (yang tidak pernah ia miliki), serasa wajib untuk berkata, "Kau bisa bertemu mereka saat libur di Shinoureijutsuin."

Rukia terlonjak kaget. Hampir saja ia berdiri kalau respons tubuhnya tidak mengingatkan kalau mereka sedang dalam tandu. "Benarkah?" tanyanya spontan. Intonasinya lalu ia pelankan begitu sadar kalau ia bereaksi berlebihan. "Te-terima kasih."

Lalu sepi mengambil alih. Tidak ada yang bicara. Tidak ada topik menarik untuk dibahas. Biarpun ada, etiket bangsawan tidak menolerir mereka untuk bercengkerama layaknya orang biasa.

Sesekali Rukia menengok dari jendela bertirai untuk menghilangkan jenuh, memerhatikan keadaaan di luar sana. Kini mereka tiba di perbatasan Inuzuri-Satsuma, yang situasinya sama saja. Dipenuhi kerumunan warga yang antusias menonton arakan seolah menyaksikan teater kabuki.

Masuk akal. Inuzuri maupun Satsuma bukanlah distrik pilihan wisata bagi bangsawan Seireitei. Rasanya butuh bintang keajaiban melihat iring-iringan mereka di distrik ini. Maka warga yang merasa ini adalah kesempatan seumur hidup, tidak menyia-nyiakan dengan berlomba bertatap muka lebih dekat.

Bola mata ungu Rukia menyipit ketika membesut pemandangan dari jendela sebelah Byakuya Kuchiki. Rambut berwarna putih, yang tentu warna yang jarang dimiliki seorang pemuda (lain lagi, kalau kakek-nenek), ia dapati di antara desakan penduduk.

Ia lekas tersenyum lebar begitu yakin kalau pemuda itu adalah—"Hitsugaya."

Byakuya berpaling padanya. "Ada apa?"

"Ah, tidak. Hanya ada seseorang yang saya kenal."

"Temanmu?"

"Bukan," Rukia menggeleng selambat mungkin. Ia sudah lumayan ahli untuk tidak bicara terburu-buru. "Kami baru bertemu tadi, Tuan."

Kernyita tak nyaman muncul di mimik Byakuya. Tampak sangat-sangat terganggu dengan panggilan "tuan".

"Rukia-sama," kakek penasehat yang hapal gerak-gerik tuannya, menyadari, "mulai saat ini Byakuya-sama adalah kakak Anda. Jadi, Anda harus membiasakan diri untuk memanggilnya 'Nii-sama'."

Gestur tubuh Rukia mendadak menegang. Cara bicaranya jadi gugup dan gentar, "Ma-maaf, kalau begitu," ia menunduk sampai kepala hampir bertemu pangkuan. "Ma-maaf, Nii-sama."

Tidak ada komentar. Namun, ekspresi tenang nan kaku khas Kuchiki kembali terlihat di raut ketua klan. Itu berarti tidak ada masalah lagi.

Sayangnya, tidak cukup menghilangkan gemetar di ruas-ruas jemari si nona Inuzuri. Baru hari pertama dan Rukia sudah buat satu kesalahan.

.

.

.

.

.

Riruka Dokugamine berwajah semasam asam memandang kertas pengumuman penentuan kelas siswa tahun pertama. Dari tatapan tajam di balik bulu mata tebalnya, ingin rasanya ia mencabut, meremas jadi bola kertas tak berguna, dan menelannya mentah-mentah.

"Menyebalkan..."

Biarpun Riruka sudah mengira bahwa kelakuannya ketika ujian masuk akan sulit membuat para guru memperhitungkannya menduduki kelas A. Tapi tetap saja melihat dugaannya jadi kenyataan, membuatnya geram setengah mati.

Ia lalu beranjak dari aula menuju lantai atas sambil menghentak-hentak kaki jengkel—

—berpapasan dengan Hanatarou Yamada yang tampak ingin bertanya tentang pengumuman kelas. Namun melihat mimik muka yang menyamai neneknya kalau sedang berang, bocah lamban itu mengurungkan niat. Bisa-bisa, ia kena jitakan sapu seratus kali.

—berpapasan pula dengan tubuh jangkung Renji Abarai yang berlari memanggil, "Hanatarou!" Pria itu kemudian berhenti, memerhatikan Riruka sambil berpikir apa yang dipakai si gadis berkuncir sampai membuat bulu matanya setebal itu. "Mungkin ijuk," tebaknya ngaco.

Dihampirinya Hanatarou yang sudah berdiri di depan papan sambil memegang pundak bocah yang sedada saja darinya itu.

"Renji-san! Renji-san! Kita satu kelas!"

Renji manggut-manggut sambil menelusurkan jari di kertas pengumuman murid yang sekelas dengannya dan berhenti pada nama bermarga.… Mulut Abarai sekonyong-konyong megap mirip ikan yang dilempar keluar air. Menahan napas sekian detik sambil terbata, "Ku-Kuchiki ... se-sekelas dengan ki-kita.…"

Hanatarou berjinjit (maklum saja, ia pendek) sambil mendongak sebelum sedetik kemudian matanya ikut melotot.

KELAS D

Riruka Dokugamine

Hanatarou Yamada

...
Rukia KUCHIKI
...

Renji Abarai

Bangsawan kelas atas Kuchiki berada di kelas D? Ini baru berita menggemparkan.

.

.

.

.

.

Tarik napas. Lepaskan. Tarik napas. Lepaskan. Tarik napas. Lepaskan.

Rukia menyentuh dada, jantungnya masih berdentum labil. Ia nyaris tidak tidur barang sedetik gara-gara hari ini. Tak pernah sebelumnya ia kira bahwa sepasang kakinya akan menginjak tempat bernama sekolah. Bagaimanapun, mengecap bangku sekolah layaknya barang yang terlalu mahal bagi rakyat rendahan Inuzuri. Terlebih hari ini ia harus berbaur dengan anak-anak dari kalangan bangsawan. Ini tidak mudah untuknya yang berasal dari kalangan bawah.

"Kau adalah Kuchiki. Rukia Kuchiki."

Pengingat kakek penasehat berdengung di benaknya. Menarik Rukia pada kenyataan bahwa seseorang yang berdiri di depan gerbang raksasa Akademi Shinou bukan Rukia si Ketua Geng Inuzuri, tapi Rukia sang Putri Bangsawan Kuchiki.

"Rukia—Kuchiki."

Lidahnya melafalkan dengan kelu seolah baru mengucapkan kata yang benar-benar asing. Padahal, sudah lewat seminggu ia menyandang nama itu.

"Kau adalah Kuchiki. Rukia Kuchiki."

Rukia menggeleng kuat-kuat. Ia harus membiasakan diri. Harus. Mesti. Wajib.

"Rukia Kuchiki. Kuchiki. Kuchiki. Kuchiki. Kuchiki. Kuchiki."

Rukia mengangguk yakin dan pasti.

"Iya. Aku adalah Rukia Kuchiki."

Kini, nama itu tertanam di benaknya.

Ia berjalan dalam ketetapan hati melewati gerbang kayu raksasa berlambang Shinoureijutsuin; sepasang bumerang menyilang. Langkahnya berderap pada ubin putih, melintasi halaman luas nan lapang yang membuatnya berdecak kagum.

Rumput hijau yang membentang luas dibelah oleh lantai ubin yang memanjang dari gerbang ke pintu masuk gedung. Lima buah kolam berhias teratai apung berada di sisi kanan dan kiri halaman. Lengkap dengan puluhan pohon sakura yang bersemi, memungkinkan teduhnya hijau rumput dan feminimnya rona merah jambu jadi sandingan yang sempurna.

Sepasang kaki berhenti.

Kini, ia berhadapan dengan gedung megah, angkuh, dan menjulang Akademi Shinou. Rukia menahan napas penuh takjub. Kepalanya didongakkan untuk melihat ujung bangunan berlantai empat dengan atap bersusun tiga bercat cokelat terang; akan berkilau bagai emas saat diterpa mentari pagi cerah seperti sekarang. Akademi Shinigami paling terkemuka di Soul Society, akademi yang hanya pernah ia lihat dari buku, dan tinggal sepersekian detik mimpi bukan lagi sekadar mimpi.

Menggigit bibir dan melemaskan tangan yang kaku, Rukia mulai melangkah masuk dengan teguh.

.

.

.

.

.

Gosip itu mirip wabah yang menjangkiti pendengarnya dengan laju maha cepat. Topik-topik panas menular dari satu telinga ke telinga lain, yang bikin mulut berceloteh tanpa kenal waktu. Pengumuman kelas baru dipajang 06.30 pagi tadi, tapi selusur koridor, kelas, kantin sudah membicarakan tajuk yang sama dalam kurun waktu satu jam.

(Tentu) tidak lain tidak bukan—

"Kuchiki?" gadis kedua memastikan.

"Iya," jawaban mantap gadis pertama. "Katanya cewek yang baru diangkat jadi anggota keluarga mereka akan bergabung di kelas kita."

"Serius?" gadis kedua melotot sebesar pingpong. "Bukan A?"

"Aneh," gadis ketiga ikut nimbrung. "Bangsawan harusnya ditempatkan di kelas A atau rendahnya paling B."

"Untuk satu pengecualian," gadis pertama kian menunjukkan suara penggosip ulung, "dia tidak cukup cerdas sampai harus—"

"Kalau mau bergosip jangan di kursi orang lain," suara tajam, menusuk, dan kasar memotong rutinitas gosip pagi mereka. Tiga kepala mendongak, mendapati Riruka bertegak pinggang dengan sombongnya. "Pagi-pagi sebaiknya kalian membaca buku, bukannya membicarakan orang lain. Tidak mengherankan kenapa otak kalian isinya sampah semua."

Gadis pertama langsung berdiri. "Kau..." Matanya melotot garang, satu tangan terkepal kencang di sisi tubuhnya. "Jangan seenaknya menghina orang lain, kau pikir—"

"Sudahlah." Untung, gadis kedua dan ketiga menengahi dan menarik paksa temannya dari sana. Kalau tidak, mereka harus siap dibawa ke meja guru karena kasus penonjokan. "Dia itu Dokugamine si mulut kasar yang diceritakan banyak orang," bisiknya setelah menjauh.

Riruka Dokugamine? Siapa yang tidak mengenal gadis bermata merah menyala ini. Lima hari menjalani ujian ketat menjadi murid Akademi Shinou, lima hari itu pula ia mendadak jadi terkenal macam bintang film. Diomongin sana-sini tanpa mengenal waktu dan tempat. Sayangnya, yang jadi topik kasak-kusuk adalah perilakunya yang terkesan buruk dan amat pongah.

Diawali dari insiden adu mulut dengan gadis ningrat karena masalah sepele; memperebutkan kursi ujian yang sudah jadi milik Riruka, tapi diinginkan pula oleh si bangsawan. Tidak ada yang ingin mengalah sampai nyaris saja ruang kelas banting fungsi jadi ring tinju—andai teman-temannya tidak menengahi. Hasilnya? Riruka yang menanggung hukuman, mengepel lima WC yang bau pesingnya bukan main, plus mengikuti ujian seorang diri. Berlanjut memergoki tindak guru pengawas yang memberi contekan pada seorang murid. Tanpa ragu, Riruka mengadukan pada guru selaku ketua ujian, yang tanpa disangka adalah saudara dari si guru pemberi contek. Hasilnya? Bisa saja ia dikeluarkan bila tanpa pertimbangan bahwa dirinya adalah perempuan yang pintar. Gantinya, nilai A yang harusnya ia raih, menurun jadi nilai C.

Tingkah polah lainnya? Kelewat panjang, sebab jumlahnya mencapai sepuluh lembar kertas.

Riruka menghempaskan bokong ber-hakama merah di kursi setelah ia bersihkan dengan sapu tangan. Dagu dipangkunya dengan satu tangan di meja, bergumam, "Kuchiki..."

Lalu di tempat lain...

Tepatnya di halaman belakang gedung akademi, Renji dan Hanatarou sibuk berkutat dengan pohon apel yang berbuah banyak.

"Kalau ketangkap, kita bisa dikeluarkan, Renji-san." Nyali Hanatarou yang sependek jarinya langsung ciut begitu tahu tujuan Renji mengajaknya ke sini.

"Makanya, aku menyuruhmu berjaga-jaga." Si rambut nanas mulai melepas waraji dan tabi-nya.

"Tapi, Renji-san—"

"Diamlah. Nanti kita ketahuan."

Percuma saja.

Hanatarou lalu berjalan ke sisi gedung sambil membawa tubuh ringkihnya yang ketar-ketir takut. Sementara si tukang perintah mulai memanjat pohon berbuah hijau bulat yang menggiurkan. Cuma karena perutnya bersenandung berisik gara-gara tidak makan malam dan sarapan, Renji berani meraup buah apel milik akademi. Yah, biarpun milik akademi, tapi yang punya kuasa adalah senior tahun ketiga yang sok nge-bos buat peraturan. Yaitu, murid tahun pertama wajib menjauh sejauh-jauhnya dari kebun apel. Tidak ada kompromi untuk mereka mencicipi dengan cara apa pun. Apalagi dengan cara—

"Kau mencuri apel."

—mencuri.

Prasangka terang-terangan itu langsung ditanggapi oleh Renji, "Siapa yang kau sebut mencuri, Bodoh?" tanpa menoleh ke bawah. Lebih sibuk mengulurkan tangan panjangnya meraih apel yang menggantung di pinggir dahan. "Aku hanya mengambil tanpa izin. Aku tidak mencuri. Setelah aku kenyang, baru aku minta izin." Ia masih mencoba; lalu mendadak mematung, baru sadar. "Tunggu—" Kepalanya melongok ke bawah, dan tiba-tiba saja dahan pijakannya patah seketika.

Hasilnya? Renji Abarai jatuh dengan pantat mendarat lebih dulu.

"Renji-san!" Hanatarou serta merta menghampiri, membantunya bangkit.

"Ka-kau datang dari mana?" Namun, Renji menyempatkan menodong jari telunjuk pada cewek yang jangan-jangan jatuh dari langit.

"Dari sana," katanya polos sambil menunjuk sisi gedung berlawanan dari yang dijaga Hanatarou.

"Hanatarou," Abarai membersihkan bokong yang kotor setelah berdiri, "aku menyuruhmu jaga-jaga, kan?"

Dengan simpelnya, Hanatarou menjawab, "Gedung, kan, punya dua sisi, Renji-san, sedangkan aku hanya punya satu tubuh. Bagaimana cara menjaga keduanya?"

Pintar!

"Aa, betul juga." Renji baru mudeng.

"Berjagalah. Aku akan mengambilkannya untuk kalian," tawar si cewek—

—yang langsung membuat Renji dan Hanatarou beradu tatap bingung. Mereka belum mengiyakan, tubuh kecil dan ringan perempuan itu sudah menjelajahi sekujur pohon tanpa melepas waraji dan tabi. Bobot yang tidak sampai empat puluh kilo, memudahkannya menggapai apel dari satu tangkai ke tangkai bagai kera yang begitu lincah.

Tidak sampai lima menit, tujuh buah apel sudah tiba di pelukan Renji.

"Wah!" decak si nanas takjub. "Kau sungguh berbakat mencuri!"

Itu pujian atau ejekan?

Cewek itu nyengir. "Bukan mencuri namanya, tapi hanya mengambil tanpa izin," katanya, mengutip kalimat Renji.

Pria jangkung itu cengengesan.

Keberatan jika dibawa sendiri, tiga buah dimasukkan ke tas Hanatarou dan selebihnya dibawa Renji. Lalu berbalik menghadap si cewek untuk berkata, "Terima kasih, ya, nanti aku—"

Tidak ada. Perempuan itu sudah pergi.

.

.

.

.

.

Kepala Rukia setengah melongok di ambang pintu sebelum melangkah masuk. Sambil memegang tali tas selempang di dada, ia berjalan ke barisan pertama sebelah kanan untuk tiba di kursi ketiga dari depan. Tidak ada siapa pun yang peduli. Tidak ada siapa pun yang memerhatikan. Bagus, ini yang ia harapkan. Jangan perhatikan dirinya.

Kecuali, cewek berkuncir dua yang memandangnya penuh selidik. Mata tajam yang sewarna rambutnya, maroon, bergerak dari atas-bawah seolah sedang menilai. Rukia lekas tersenyum kikuk, setidaknya harus bersikap ramah.

Namun, sayang sejuta sayang. Perempuan berambut gaya tanduk itu menatapnya jengkel dan membuang muka.

Rukia menghela napas pendek. Ia duduk di kursi miliknya, merontokkan remah-remah pohon apel di hakama merah. Lalu memerhatikan punggung si cewek-tidak-ramah yang duduk di barisan kedua dan kursi kedua pula dari depan.

Riuhnya murid tahun pertama oleh animo tinggi memenuhi ruangan kelas. Dan baru tenggelam dalam sepi saat waraji beradu keras dengan lantai di langkah pertama memasuki ruang. Misato Ochi berdiri kaku dan terkesan galak di balik raut seriua kacamata berkaca tebal. Namun bangunan persepsi itu ambruk saat ia berbicara dengan intonasi santai dan kocak saat berkenalan sebagai wali kelas 1-D.

Akhir perkenalan formal Ochi-sensei kemudian jadi awal giliran tiap murid berdiri sambil menyebut nama lengkap dan asal. Kalau bisa ditambahkan dengan impian mereka setelah lulus dari sini.

Waktu berjalan. Setelah tiga murid dari barisan pertama sebelah kiri usai, kursi di belakang menyusul.

Saat bangkit, kian jelas terlihat kalau pria itu tingginya melebihi teman sekelasnya, dan tampang yang sedikit tua dari yang lain. Sambil merapikan seragam akademi yang sebenarnya tidak kusut, ia berdeham canggung. "Ehm ... ehm..." Ia sudah mirip orang yang lagi nge-tes mikrofon. "Ehm ... ehm..." Nah, ini sudah kayak orang tua lagi sakit tenggorokan. "Ehm ... ehm..." Dan andai Ochi-sensei tidak memicingkan mata tajam, entah kapan ia akan bilang, "Namaku Renji Abarai. Asal..." Renji diam. Jangan bilang ia lupa asalnya sendiri. "Sabitsura, Rukongai Timur." Bukannya lupa, ia hanya bingung letaknya di mana. Soalnya kalau mau pulkam, ia sudah hapal jalan pulang tanpa mau peduli Sabitsura itu ada di timur atau selatan.

"Impian..." Renji diam lagi. Bukannya tidak punya cita-cita, tapi ia sedang mempersiapkan intonasi paling tepat dan sempurna untuk menyuarakan pada dunia tentang—"Aku ingin jadi Shinigami terbaik saat lulus nanti! Menduduki jabatan perwira saat bergabung dengan prajurit Batalion 13! Melindungi penduduk Soul Society dari serangan Hollow dengan jiwa-raga! Maju tak gentar sebagai barisan terdepan dalam perang! Tidak mengalir getar kanker di tubuh saat terpojok oleh serangan musuh! Tidak pernah meninggalkan kawan dalam keadaan apa pun! Terus serang, bahkan saat pedang harus digantikan dengan bambu runcing! Itulah tekad sejatiku untuk menjadi seorang Shinigami yang teladan!"

Selesai.

Renji membungkuk hormat sebelum duduk damai, tenteram, dan sentosa. Tanpa dosa.

Maka, jangan salahkan penghuni kelas kalau, "HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!" mereka tertawa terpingkal-pingkal sampai Ochi-sensei harus membalikkan badan. Ketawa sembunyi-sembunyi supaya imej gurunya tidak hancur.

Renji menggaruk-garuk kepala maha polos sebelum Hanatarou mencolek pundak dan menyuruhnya menoleh ke belakang. Diperlihatkannya buku panduan akademi karena apa yang dikatakan sobat merahnya ini adalah Sumpah Shinigami yang biasa dilantunkan saat upacara kelulusan murid tahun terakhir dan peresmian pengangkatan prajurit ke Batalion 13. Renji begitu mengagumi kata-kata dan semangat yang terkandung di dalamnya sampai rela menghapalnya. Tapi sudah dari sananya Abarai tidak jago mengingat kalimat panjang, ia pun 'kepeleset' di dua kata. Kasihannya, kepelesetnya kelewat jauh.

"Bukan 'kanker', Renji-san," dengan hati malaikatnya sambil menahan geli, Hanatarou memberitahu, "tapi 'angker'. Lalu yang terakhir itu 'pedang bambu', bukan 'bambu runcing'."

Renji manggut-manggut paham sok cool sebelum berbalik ke depan. Tanpa pikir dua kali, ia menyembunyikan wajah semerah rambutnya di bawah buku.

Kelas yang berisik gara-gara ulah Abarai baru kembali kalem ketika Ochi-sensei yang sudah menguasai diri berseru tenang. Lalu sesi dilanjutkan ke kursi di belakang Renji. Milik Hanatarou.

Bocah itu begitu ringkih dan ceking sampai rasanya angin sepoi pun tidak tega menghempasnya. Saat berdiri, ia tampak bungkuk dan membuatnya lebih pendek dari yang semestinya. Ia ini paling doyan menatap meja (seperti saat ini) atau lantai (saat berjalan) daripada ke depan. Jadi, jangan heran kalau jidat anak ini suka sekali bertabrakan dengan dinding.

"Hanatarou Yamada," ia menyebutkan namanya yang lumayan biasa. "Asal dari Hokutan, Rukongai Barat," cara memperkenalkan diri pun sangat biasa. "Impian," impiannya pun tidak kalah sederhana dan standar, se-standar wajahnya, "aku tidak begitu tahu, tapi kakekku berpesan aku harus menjadi Shinigami yang baik. Jadi impianku adalah jadi Shinigami yang baik dan hidup damai. Hehehe~"

Kan?

Setelah cengengesan, Hanatarou kembali duduk.

Beda dengan sesi Renji, kali ini tidak ada tawa. Malah sepi banget, mirip di pemakaman. Sampai sang guru membuka suara dan memberi tanda untuk murid berikutnya. Setelah beberapa anak, tiba pada barisan ketiga di kursi kedua dari depan.

Satu sentakan tegas, ia bangkit berdiri. Kaki kursinya sampai terangkat setengah jengkal, rambut maroon panjangnya berayun. Dagunya ia angkat ke atas, punggungnya begitu tegak, kedua bola matanya tanpa kagok menatap lurus ke depan. Amat percaya diri.

"Riruka Dokugamine," intonasinya pun begitu jelas. "Asal Kusajishi, Rukongai Utara," ia mengumbar alamat aslinya tanpa ada niat bohong. "Impian," mata menyisir penjuru kelas sebelum menyampaikan cita-cita yang begitu besar dan ... ambisius.

"Menjadi Soutaichou!"

Dan dua kata itu telah cukup membuat puluhan pasang mata melebar tidak percaya. Suara bisikan menyusul tidak lama dan menyeruak seketika. Ochi-sensei pun tidak kalah kagetnya.

"Aku tahu kalau sepanjang sejarah Soul Society belum pernah ada wanita yang jadi ketua kapten. Karenanya, aku yang akan meruntuhkan aturan bodoh itu dan jadi yang pertama. Terima kasih." Setelah itu, Riruka membungkuk hormat dan duduk dengan kepercayaan diri yang tidak luntur secuil pun.

Kasak-kusuk para murid mulai di luar kontrol. Menyebut gadis itu gila, ambisius, kurang waras, hanya mencari sensasi atau istilah apa pun yang merujuk pada ketidakmungkinan. Ochi-sensei butuh menarik napas lebih dari sekali, mengembalikan akalnya menjadi normal. Jika hal ini sampai terdengar ke Batalion 13, bisa gawat. Perempuan itu tidak akan punya masa depan lagi. Bukan hanya Dokugamine, tapi juga para guru. Tidak. Gadis itu hanya gadis kecil yang bermimpi terlalu tinggi. Hanya mengada-ada.

Wanita menjadi Soutaichou? Jangan gila.

Sambil memukul meja keras hingga memekakkan telinga, membuat pribadi kocak dan santai rasanya tidak cocok lagi, Ochi-sensei meminta untuk meneruskan ke siswa berikutnya. Sesi perkenalan yang sempat tertunda kemudian berlanjut dalam hawa kaku. Lima murid mengakhiri gilirannya sebelum tiba pada kursi gadis berambut legam dengan potongan poni unik.

Menjumpainya, Hanatarou langsung menarik kerah Renji yang masih menguburkan wajah malu di balik buku demi melihat cewek itu.

"Re-Renji-san, i-itu, li-lihat…."

Renji mengangkat kepala malas-malasan. "Apa, Hanatarou?" Tapi seketika itu juga, mata yang awalnya sayu jadi membeliak. "Si-si cewek pencuri apel?"

Yang disinggung berdiri dengan pelan, ragu mengangkat wajah. "Rukia..." pun segan menyebut namanya. Ia menelan ludah; yakin setelah ini seluruh pasang mata akan tertuju padanya. Bisik-bisik yang semula hilang akan kian meramaikan penjuru kelas. Topik panas akan kembali memenuhi kelas D murid tahun pertama.

Satu tarikan napas sebelum ia mengulangi, "Rukia ... Kuchiki ... dari Seireitei."

.

.

.

.

.

To Be Continued ...

.

.

.

.

.

A/N : Sya butuh tokoh yang ambisius. Dan satu2nya yg paling cocok (dari muka), itu Riruka. Lihat aja, mukanya judes banget#digetokpanci

Lalu juga saya butuh tokoh penyeimbang kayak Seizo di 320 DISTRICTS. Dan saya pilih Hanatarou. Selain merasa cocok, saya juga suka dia. Dia lemah (mungkin), tapi dia sebanarnya kuat dgn caranya yg unik(?)#maksudnya? Gak taulah, tapi saya suka dia. Gitu aja#plak saya yakin, gak ada yg nyangka 2 tokoh ini yg muncul, heheh

Ray Kousen7

28 Januari 2014