Terima kasih atas review di chapter sebelumnya :

Sai—Beneran, nih, Sai, gak apa2 kalo romens HitsuRuki lambat. Bakal lambat jg loh ciumannya#digantung#luygbilangsendirikali/ Jujur saya gak yakin ma genrenya, Sai. Karna (sebenarnya) Toushiro dkk itu gak akan berkelana(?) kayak 320D. Kenapa saya pilih genre nya adventure (awalnya), karna akan banyak action yg mendominasi terutama saat masuk Turnamen Musim Panas dan Musim Dingin/ IchiMomo udah muncul ch ini/ Nah, masalah Shinigami. Tujuh tokoh di sini masih jadi murid, alias setengah Shinigami, belum jadi Shinigami betulan(?)/ Makasih udah nyempetin review ya, Sai. Dan ini udah updet kilat, gak?#plak

Terima kasih pula ma yg udah login (sudah sy balas di PM-nya masing-masing): Syl The tWins | NatashAurel | KeyKeiko | Hayi Yuki

.

.

.

Bleach © Tite Kubo

.

Warning:

OOC (parah); AU (setting adalah canon, tapi latar belakang semua karakter jauh berbeda); jumlah chapter yg lumayan banyak; alur lambat; romance gagal (sudah kebiasaan author)

.

.

.

.

.

BAGIAN I: Akademi Shin'ō

.

.

.

"Rukia ... Kuchiki ... dari Seireitei."

Hening lama sebelum diisi lirikan mata dan desis-desis antar murid bahwa gadis Kuchiki yang jadi tajuk utama gosip pagi tadi adalah perempuan berambut hitam legam dengan poni lucu di wajahnya.

Rukia berdeham, paling tidak berhasil mengembalikan perhatian seluruh pasang mata. "Jujur ... aku tidak begitu tahu harus jadi apa … tapi—"

"Tenang saja. Kau tidak perlu memikirkan masalah seperti itu," Riruka menyela satire. "Soalnya ujung-ujungnya para bangsawan akan mewarisi kedudukan dan kekayaan keluarga yang melimpah ruah tanpa harus bersusah-susah." Sepasang pupil merah menyala itu memandang Rukia dengan jijik, dan masih belum berubah meski Ochi-sensei memberi peringatan.

Rukia meneguk ludah gelisah, meneruskan setelah wali kelas memberi sinyal. "Tapi … bukan berarti aku tidak punya tujuan untuk ada di sini. Aku ingin membanggakan—entah itu keluarga lamaku di Inuzuri, keluargaku sekarang atau diriku sendiri."

Lalu kembali duduk tanpa lupa memandang si gadis tak ramah. Riruka pun menyempatkan diri meliriknya—cuek. Bagus. Di hari pertama akademi, Rukia sudah dapat musuh.

.

Sementara itu...

.

Atap asrama putra macam destinasi favorit jika pikiran pelik sedang menggerayangi kepala Toushiro. Posisi kegemarannya pun adalah duduk menekuk lutut memangku satu lengan sambil memandang matahari yang merangkak naik. Ia sudah di sana selama tiga jam dari pukul 05.00 hingga pukul 08.00. Mulai kala langit masih berwarna biru kelam, menjelang lembayung jingga, hingga detik-detik matahari terbit, sampai kuning merajalela memenuhi cakrawala. Tidak jemu sedikit pun.

Juga tak jemu adalah Marechiyo Oomaeda yang menanti tanggapan Toushiro setelah menyampaikan pesan yang diperintahkan padanya.

"Beritahu dia," reaksi pertama Hitsugaya setelah satu jam penungguan Oomaeda, "aku tidak akan datang hanya untuk melihat bagaimana wajahnya atau mendengar namanya. Aku akan lihat sendiri besok."

"Tapi—"

Lirikan tajam Toushiro sukses membungkam si pria tambun. "Kau mendengarku, Oomaeda. Sampaikan saja apa yang kau dengar."

Si gempal mendengus susah-payah dan ogah-ogahan angkat kaki. Pusing tujuh keliling memikirkan kosakata yang menarik hati dan elegan. Paling tidak, jaga-jaga dari tebasan Shinsou yang bisa saja melayang ke kepalanya.

"Oomaeda," panggilan Toushiro membuat badan besar Marechiyo berbalik untuk sigap menyambut bungkusan yang dilempar ke arahnya.

Gelitik penasaran, ia mengintip. "Kesemek?"

"Bukan, gotgam. Teman sekamarku yang bawa pulang itu sebagai oleh-oleh dari Echizen," jelas Toushiro, yang masih betah memandang ke depan. Wajah rupawannya memantulkan pancaran kuning mentari pagi. "Tapi, aku tidak suka. Lain cerita kalau yang dibawanya itu amanatou. Jadi, ambillah."

Oomaeda jadi serba salah. Bosnya ini pura-pura lupa atau memang lupa kalau ia juga tidak doyan kesemek dan sanak-saudaranya yang bernama gotgam a.k.a kesemek yang dikeringkan dan dijadikan manisan.

"Kalau tidak mau, berikan saja padanya." Nyengir, Toushiro menoleh. Si Aniki ternyata bercanda. Suasana hati bosnya belakangan ini memang sedang semringah. "Sogok dia. Paling tidak, itu akan menolong kepalamu."

Oomaeda menengok manisan kesemek dalam bungkusan hitam lumayan besar. "Dia menyukainya?"

Toushiro kembali pada pemandangan semula. Di balik embusan angin namun hangat pagi hari, ia tersenyum. "Iya. Kesemek adalah kesukaan Ichimaru."

.

.

.

TUJUH PEDANG

.

# 3 #

Pangeran Rupawan dan Putri Jelita

.

.

.

502

Anna Murazaki
Riruka Dokugamine
Rukia Kuchiki

Kamar paling pojok sebelah kiri lantai tiga adalah kamar Rukia untuk setahun ke depan. Bersama cewek yang tanpa segan menunjukkan kebencian di pertemuan pertama, Riruka, dan senior tahun kedua, Anna, yang menyanjungnya setinggi langit seolah dirinya adalah dewi yang baru turun dari kayangan.

Kamar itu berlengkap dua oshiire. Satu lemari penyimpanan barang-barang pribadi tiga penghuni kamar, dan lemari lainnya untuk futon dan zabuton. Lalu ada tiga buah meja kecil berkaki pendek yang tersusun rapi di pojok.

Kamarnya luas, jika Rukia membandingkannya dengan gubuk super kecilnya di Inuzuri. Lain cerita kalau menyinggung kamarnya di Kuchiki Mansion. Luas dua kali dari kamarnya ini.

Ia kemudian membuka satu jendela kayu dari tiga jendela (dua berjejer di sisi kiri, dan satu di sisi kanan). Dijumpainya deretan jendela gedung asrama putra tak jauh dari sana. Sepasang asrama memang cuma dipisahkan oleh lapangan luas multifungsi atau dihubungkan oleh jembatan raksasa di ujung ke dua gedung. Mirip gedung kembar persis sama.

Waktu seharian itu kemudian dihabiskan dengan merapikan barang bawaan, meletakkan di tempat semestinya atau mengobrol basa-basi dengan senior, Anna (meski hanya Rukia; Riruka lebih asyik membaca buku sambil mencuri dengar).

Dua belas jam lalu melintas cepat.

Pagi pertama musim semi di Akademi Shinou menjemput. Tiga orang bersiap-siap dengan kosode putih dan hakama merah rapi untuk menghadiri upacara penyambutan murid tahun pertama di aula. Juga untuk bertatapan muka dengan para senior dan guru-guru.

Menarik napas, Rukia menyandang tas selempang merah, dan beranjak setelah Anna memanggilnya dari ambang pintu.

Hari baru Rukia sang Putri Bangsawan Kuchiki dimulai..

.

.

.

.

Karin Kurosaki begitu sering mengernyit heran melihat kakaknya belakangan ini. Apalagi pagi-pagi begini. Namun seringnya pula, ia hanya terdiam dan Yuzu Kurosaki yang kerap menyuarakan pikirannya.

"Onii-chan berubah rajin, ya. Akhir-akhir ini sering tidak bangun telat dan pergi ke akademi lebih cepat."

Nasi di sumpit terhenti sebelum akhirnya tiba di mulut si sulung, Ichigo Kurosaki. Dikunyahnya cepat dengan sayuran kubis dan lauk daging lembu goreng menyusul berikutnya. Segelas air penutup seadanya sebelum ia meraih gesit tas selempang biru yang tergeletak di bawah meja, dan menyandangnya.

"Aku pergi!" teriaknya, dan melambai secukupnya pada Masaki yang keluar dari dapur dan berseru kalau Ichigo lupa minum susu.

Andai saja Isshin tidak pergi pagi-pagi sekali karena rapat mendadak, kepala dan bokong Ichigo sudah jadi sasaran empuk tendangan sang ayah. Bahwa tidak ada tolerir meninggalkan meja makan dengan gaya tidak sopan begitu.

Tapi, Ichigo yang sedang dalam misi darurat untuk menyelamatkan masa depan cintanya juga tidak bisa menolerir apa pun. Langkah yang semula tergesa ibarat dikejar banteng sekonyong-konyong berhenti saat yang ditakutkannya jadi kenyataan. Gigi bergerigi geram sembari ambil ancang-ancang untuk berlari secepat kijang, menyingkirkan Toushiro Hitsugaya yang sedang melakukan rutinitas paginya—

—merayu pacarnya, Momo Hinamori.

Paling tidak, itu asumsi Ichigo sendiri.

Darah sudah tiba di ujung batok kepala saat tawa merdu, yang mestinya hanya untuk dirinya seorang, malah dilayangkan pada laki-laki lain.

"Ohayou, Momo." Bayangkan lucunya wajah si jingga yang menyapa sambil membendung murka. Mirip gunung berapi yang menahan muntahan lahar.

Momo berjengit di sela mengobrol akrab dengan Toushiro. "Ohayou, Ichigo-kun. Hari ini kau—Ekh!"

Jeritnya kala Ichigo mendadak menariknya menjauh dari bakteri a.k.a Toushiro dengan alasan, "Ayo. Ada kejutan untukmu di kelas." Tanpa lupa melempar tatapan ancaman setajam jarum pada Hitsugaya yang tertinggal di belakang.

Alih-alih terpancing, Toushiro malah mendesah hambar. "Kekanak-kanakan."

.

.

.

.

.

Enam kelompok berdasar tingkatan kelas berbaris rapi memenuhi aula raksasa Akademi Shinou. Kecuali, untuk murid tahun pertama yang ditempatkan menyendiri di samping tribune guru dan berhadapan dengan barisan senior. Satu jam dilewati dengan mendengarkan pidato membosankan sang kepala akademi, Chojirou Tadaoki Sasakibe, yang juga adalah letnan divisi pertama. Selesai pidato Tuan Sasakibe, berlanjut pada pidato wakil kepala, guru tiap tingkatan kelas, guru kehormatan, dan blablablablabla.

Tidak aneh bila ratusan murid terlihat menguap dengan mata berair.

Seusai tetek-bengek formil yang seperti tanpa tamat, kini bergulir menuju sesi dedikasi murid berprestasi tahun lalu. Secepat guntur, hawa menjemukan berubah jadi kasak-kusuk keriuhan. Tampang yang awalnya kuyu langsung bercahaya kerlap-kerlip. Betapa tidak bila inilah saat yang tepat menatap langsung idola kaum hawa sejagat, terutama kala si pusat perhatian dipanggil naik ke atas podium.

Figur itu keluar dari barisan siswa tahun keempat dan berjalan penuh karisma dengan kaki panjang nan rampingnya. Apa hendak dikata, penggemar di belakang sana tidak punya opsi, selain meneguk ludah sambil ngiler kepingin.

Ichigo Kurosaki.

Jika saja cewek-cewek itu lupa diri kalau sedang di aula, bukan panggung konser, mereka pasti kompak memekik riang.

Sementara di panggung, Ichigo menerima piagam penghargaan dari Tuan Sasakibe. Lalu memutar badan—yang di mata fans-nya, ia berbalik dengan mode slo-mo, mana semilir angin menerbangkan lembut mahkota jingganya. Alhasil, ada yang harus ke divisi ke-4 gara-gara keseringan nose bleed.

Tapi sayang, tampang si pangeran jauh dari kata gembira jika menengok tulisan di sampul piagam.

Pemilik nilai terbaik kedua dan runner-up turnamen tahun lalu.

Yang kedua? Karena yang pertama adalah seseorang yang dipanggil berikutnya. Keserupaan mereka hanyalah warna rambut yang sama-sama eksentrik. Perbedaan—kelewat banyak sampai jumlahnya bisa setinggi Gunung Fuji. Salah satunya adalah nirteriakan perempuan kali ini, artinya ia tidak punya basis penggemar.

Tampang memang tidak jauh beda dengan Kurosaki, namun tren cewek akademi masa kini lebih mengejar kesempurnaan. Ganteng kayak aktor teater, kantung dalam a.k.a banyak fulus, keluarga terpandang alias bangsawan, postur tubuh sempurna mirip binaragawan, otak encer seencer susu, murah senyum, perhatian sampai tanya: 'Sudah tidur belum, Honey?', dan terakhir dan yang terpenting adalah pelindung cewek macam Superman, Batman, Spiderman, Orangeman.

Dan malangnya, laki-laki yang juga keluar dari barisan murid tahun keempat, cuma memenuhi dua syarat: ganteng dan otak encer. Perempuan mana yang pilih laki-laki jabrik putih yang tingginya standar, cuek bebek sama cewek biarpun cewek itu kepeleset di lantai, tidak tahu senyum, dari Rukongai lagi?

Tapi sayang seribu sayang, Toushiro Hitsugaya sama sekali tidak ambil pening.

Ia melangkah kalem menuju podium untuk menerima piagam penghargaan atas prestasinya mempertahankan posisi pertama dan juara turnamen tiga tahun berturut-turut.

Rukia yang berdiri tiga baris dari belakang harus bersusah payah berjinjit untuk melihat wajah pemilik nama Hitsugaya yang disebutkan tadi. Berharap bahwa Hitsugaya yang dimaksud adalah Hitsugaya yang ingin dilihatnya. Tapi, tinggi di bawah 150 sungguh tidak membantu banyak.

"Ekh! Apa yang kau lakukan?" jeritnya shock saat sepasang lengan kekar melingkari pinggangnya.

"Mengangkatmu? Kau tidak bisa lihat, kan?" kata Renji polos setelah tanpa tedeng aling-aling mengangkat Rukia seolah gadis itu hanya bantal guling. Ia berada tepat di belakang Kuchiki, dan mengulurkan bantuan setelah Hanatarou menyenggolnya.

Berwajah merah malu, si nona bangsawan tidak menepis. Apalagi setelah pemandangan yang diinginkannya memberi jawaban seiring rona muka yang berubah. Malu berganti semringah.

"Hitsugaya..." Laki-laki yang dikaguminya di Inuzuri tepat di depannya, satu ruangan dengannya.

Saking senangnya, ia lupa kapan Renji menurunkannya untuk kembali berpijak di lantai.

Rukia menetapkan dalam benak kalau ia akan menyapa pemuda itu setelah upacara ini selesai. Pasti. Sayangnya, itu sekadar usul ketika dirinya dipanggil ketua kelas untuk kembali ke ruangan bersama yang lain saat menunggu depan pintu aula, menanti Toushiro yang sedang berbincang dengan seorang guru.

.

.

.

.

.

Tahun ajaran baru, berarti murid baru, kelas baru, semester baru, kursi baru, tapi perseteruan Hitsugaya-Kurosaki itu sudah basi.

Bagi yang sekelas dengan mereka mulai tahun pertama hingga sekarang, tahu betul kalau Toushiro-Ichigo adalah contoh nyata dari istilah api-air, langit-bumi, hitam-putih, anjing-kucing atau sekalian "Tom and Jerry". Tidak pernah akur.

Tidak ada yang tahu siapa yang mulai menyulut api persaingan. Tapi legendanya, yang duluan adalah Hitsugaya yang mencoba menyambar cewek idola kaum adam, Momo Hinamori, sekaligus kekasih Ichigo. Namun sejarah lain mengatakan kalau Ichigo lah yang merebut Momo, karena jelas-jelas yang lebih duluan akrab dengan nona Hinamori adalah Toushiro.

Meski sudah jadi isu lama dan usang, tapi semangat para pembuat berita gosip di majalah akademi sama sekali tidak luntur. Terus memanas-manasi, menggembor-gemborkan, mengompor-ngompori.

Si jingga yang memang juara dalam masalah tinggi darah alias cepat marah jadi korban sempurna pewarta infotainment versi Shinoureijutsuin. Mudah tersulut dan selalu siaga satu kalau Momo sudah didekati sang Hitsugaya. Sedangkan si putih yang memang juara masalah tidak acuh, cuek-cuek saja dengan tatapan berapi-api yang rutin dilayangkan sang Kurosaki.

Makin ditantang Ichigo, Toushiro makin menantang.

Momo yang tidak polos-polos amat, sadar itu. Namun, cewek mana yang tidak suka diperebutkan oleh dua makhluk ganteng? Jujur, si nona bangsawan Hinamori menikmati sensasi saat sepasang laki-laki itu sedang beradu mata melotot. Adrenalinnya seakan meninggi sampai hatinya bersorak girang. Sekalian juga menyelam sambil minum teh. Melihat Ichigo cemburu itu pemandangan menyenangkan. Sungguh.

Bukankah cemburu tanda cinta?

Jadi, ia senyum-senyum saja setelah tahu kalau Ichigo dusta tentang kejutan yang dimaksud tadi pagi. Hanyalah sekian usaha payah untuk menjauhkannya dari Toushiro.

"Toushiro-kun hanya menanyakan—"

"Toushiro?" Suara keras si jingga memotong cepat, namun tidak membentak. "Hah, kau sudah memanggil nama depannya, ternyata."

Momo malah tersenyum-senyum jahil. "Sungguh, Ichigo-kun sangat lucu kalau cemburu."

Kalau sudah digoda seperti itu, Ichigo langsung speechless. Apalagi disuapi sesumpit mie oleh Momo. Ichigo yang awalnya berang berapi-api, redup begitu saja bagai disiram air es. Dan ujung-ujungnya, ia menikmati suapan mie sang tambatan hati meski mukanya masih mirip kertas yang diremas-remas.

.

.

.

.

.

Hanya lima menit bokong Toushiro bertahan di kursi kantin. Memandang jijik sepasang merpati yang dikelilingi aura merah jambu di meja depan sana. Inilah yang membuatnya berpikir seribu kali mengiyakan misi tambahan yang diberikan. Tapi sebagai profesional, ia tidak boleh pilih-kasih dalam masalah tugas.

Ia berderap menuruni tangga untuk menuju lantai satu alias kelas murid tahun pertama. Penasaran telah tiba di pucuk batas untuk tahu siapa penerus Kuchiki yang diangkat dari Inuzuri.

Sampai di anak tangga terakhir, ia berbelok untuk bergerak ke kelas 1-D, salah satu kelas terbontot; dan pun tidak semestinya diisi oleh putri bangsawan.

Apa adik angkat Byakuya Kuchiki sebodoh itu?

Namun baru tiga langkah, ia berbalik untuk disambut punggung dan model rambut yang serasa familiar. Pelan-pelan mendekat sambil memastikan pemilik punggung yang masih betah memandang sakura bersemi di balik jendela kaca. Napasnya tertahan setelah yakin dan menyebut—

"Rukia..."

Pundak tersentak. Lambat-lambat memutar badan untuk disambut raut semringah yang ingin ditemui Rukia sedari tadi.

"Hitsugaya..."

Rukia pun tidak kuasa menahan raut senangnya.

"Kau ... bagaimana bisa ada di sini?" Toushiro tercengang takjub. Tak pernah terpikirkan kalau harapan bersua lagi sungguhan terjadi.

Senyum lebar si gadis Inuzuri tidak ada tanda-tanda untuk pudar. "Ceritanya panjang. Kau sendiri...? Kupikir kau Shinigami."

Toushiro berubah kaku, seolah itu topik tabu. "Aaah, aku baru seorang murid."

Mimik senang, tak percaya, kagum, dan kaget bercampur baur, sampai keduanya tidak tahu harus berkata apa lagi. Hingga Rukia menyinggung kalau Toushiro sekarang adalah seniornya, berarti nanti laki-laki itu harus dipanggil "Senpai". Tapi si pemuda meralat kalau khusus Rukia, ia bisa memanggil tanpa embel-embel. Topik bahasan berubah arah saat si nona Inuzuri menjawab pertanyaan Toushiro ia ada di kelas mana agar bisa berkunjung sewaktu-waktu.

"1-D."

"1-D?" Mata hijau itu membulat terlalu besar untuk jawaban simpel. "Berarti kau tahu murid yang bermarga—"

"Kuchiki-san!"

Seruan panggilan dari dua teman baru Rukia, memotong kalimat Toushiro di tengah jalan; pun membekukan penjuru sendi tubuhnya.

"Kuchiki-san, ayo sama-sama ke kantin. Lapar, nih."

Rukia mengangguk kikuk. "Hitsugaya, aku pergi dulu. Nanti kita bertemu lagi, ya." Sebelum perempuan itu diseret pergi, meninggalkan Toushiro yang mematung total. Tidak sempat membalas. Tidak sempat bereaksi, bahkan.

Sepuluh detik berselang, ia menjumpai diri tidak bergerak sejengkal pun dari tempat semula. Membawa tatapan pada arah kepergian si nona pencopet yang ia kagumi (awalnya), si nona pencopet tanpa marga (awalnya), si nona pencopet bagai seekor burung yang terbang penuh kebebasan (awalnya). Kini bukan nona pencopet lagi—nona nangsawan, tepatnya. Semua yang ia segani dari Rukia hancur berkeping-keping oleh marga di belakang namanya.

"Pencopet juga bisa pensiun?"
"Tentu saja, ketika kami berpikir ada kehidupan yang lebih baik di luar sana."

"Jadi, ini kehidupan yang lebih baik itu?" katanya, sinis.

"...Mulai besok, aku akan menjalani kehidupan yang sangat berbeda, dan aku tidak bisa berpetualang seperti ini lagi."

"Berbeda, hah?" katanya, miris.

Toushiro lalu melepas napas panjang nan berat sebelum benak kosong mengiringi langkahnya. Ia tahu—bukan sekadar tahu—tahu pasti setelah ini, ia tidak akan pernah lagi melayangkan senyum tulus pada Rukia.

Momen-momen singkat namun penuh arti di Inuzuri akan dibakarnya tanpa sisa. Di memori—juga hatinya.

.

.

.

.

.

Tundukan kepala sopan dan bisik-bisik menemani lambaian haori putih dan langkahnya menyusuri koridor panjang akademi dan tangga kayu. Mengajar memang bukan keahliannya, tapi lumayan menyenangkan. Meski penghuni kelas lebih doyan menatap meja seakan itu jauh lebih menarik daripada wajahnya. Namun demi merasakan pengalaman jadi guru, ia memenuhi undangan sebagai guru tamu. Sayang, cuma satu hari. Padahal, ia betah.

Seringai mirip rubah yang permanen kian melebar saat menemukan Toushiro Hitsugaya bergerak ke arahnya. Tepat berpapasan di bordes tangga, ia berbisik tanpa menyetop kaki, "Kau sudah melihatnya?"

Toushiro pun terus berjalan. Tanpa menoleh untuk menyahut, "Aa."

Kini sang kapten berhenti dan menengadah. "Dia cantik, kan, Toushiro-chan."

Tidak ada sahutan hingga tubuh kecil Hitsugaya menghilang di balik tikungan tangga, bahkan lupa mendelik untuk mengultimatum jangan pernah memanggilnya 'Toushiro-chan'.

Melihat Hitsugaya begitu, ia yakin pemberitahuan sang letnan benar adanya. Menjalankan tugas rangkap selain menyampaikan pesan pada Toushiro, fukutaichou-nya juga memata-matai si jabrik putih sepanjang waktu di Inuzuri. Dengan hasil kalau pemuda itu telah bertemu langsung dengan Kuchiki tanpa tahu identitas masing-masing.

Mendadak saja, ia mencium hal menarik setelah ini.

Dan Gin Ichimaru tidak pernah keliru dalam firasatnya.

.

.

.

.

.

Sebulan telah berlalu, namun tidak ada perubahan yang berarti. Nilai C masih terpajang di kertas tugas hariannya. Bagi Rukia, ia sudah bersyukur, mengingat ini pertama kalinya ia menjamah sekolah dan mengenyam pendidikan formal. Bekalnya hanya membaca dan berhitung standar yang ia pelajari secara otodidak, tanpa guru. Lebih mending daripada hari pertama, mana nilai awalnya adalah E.

Tapi bagi klan sebesar Kuchiki, C sama saja gagal. Tidak ada tolerir, mesti dapat A.

Rukia sudah berusaha semampunya dengan belajar keras sebulan penuh sambil dibantu Anna, tapi itu tidak cukup. Atau Riruka, yang terang-terangan menolak dengan alasan kalau ia tidak mau mengajari orang yang tidak ia suka. Renji dan Hanatarou? Sayangnya, mereka bukan guru yang baik.

Masalah lain adalah Hitsugaya, yang merupakan murid paling jenius dan kebetulan saling kenal, mendadak tidak bisa Rukia temui. Ketika menghampiri ke kelasnya, laki-laki itu tidak ada. Saat bertemu di kantin, pemuda itu malah pergi. Hitsugaya seolah menghindarinya.

Maka, huruf C yang masih senantiasa tertulis anggun di kertas tugas telah mengirim Rukia ke Kuchiki Mansion di hari sabtu untuk berlutut maaf pada Nii-sama.

"Hari senin—"

Rukia mengangkat wajah yang bertemu lantai, memandang punggung kaku, lurus, dan sempurna sang kakak.

"—akan ada mentor khusus yang membimbingmu."

Tertunduk malu, Rukia berintonasi maaf. "Iya, Nii-sama." Untuk ajaran kebangsawanan, ia pantas dapat B. Ia yang awalnya suka bertanya 'kenapa', telah belajar dan menerapkan dengan baik untuk tidak pernah mempertanyakan alasan jika sang kakak telah memutuskan.

Ia berniat beranjak sebelum Byakuya setengah menoleh dan menyampaikan, "Menginaplah di sini. Besok pagi, ada yang ingin bertemu denganmu."

"Si—" Rukia menelan mentah-mentah pertanyaan 'Siapa?'. Tidak boleh bertanya.

"Besok kau akan tahu," jawab Byakuya, sebelum mendengar kata undur diri dan gesekan shouji yang ditutup dari luar. Ruang yang awalnya dipenuhi rona jingga sore hari berganti gelap. Kertas-kertas nilai tugas harian Rukia disimpan Byakuya di balik buku sebelum dirinya menyesap teh hijau sencha. Lalu mendesah—pendek.

Tengah malam menjelang. Rukia berbaring di futon dalam kamar yang kelewat luas untuk hanya diisi satu orang. Matanya terbuka lebar, ia tidak bisa tidur. Baru sebulan lebih di sini, tapi masalah seolah mengantri mengkerubutinya. Menutup mata, ia memikirkan masalah yang paling mengambil alih.

Mengapa Hitsugaya mendadak menghindarinya?

Delapan jam berlalu. Pagi cerah menyapa.

Pria berjanggut, kocak, dan ramah, beserta wanita cantik berambut ombak karamel, Isshin dan Masaki Kurosaki, adalah mereka yang dimaksud Nii-sama ingin bertemu. Empat orang sarapan bersama, termasuk Rukia dan Byakuya, dengan lebih dipenuhi canda tawa Isshin. Rukia sesekali membalas dengan tawa garing sambil bertanya-tanya di benak, apa ini rutinitas para bangsawan? Sarapan bersama bangsawan lain dan berbagi obrolan? Meski Byakuya lebih mirip pendengar dengan balasan kata yang irit, pelit, dan hemat.

"Ichigo pasti akan senang bertemu denganmu," tutur Masaki lembut di koridor menuju gerbang keluar.

"Kau sudah bertemu dengan putraku yang bodoh itu?" tambah Isshin santai.

"Belum sempat, Kurosaki-sama." Tapi, Rukia tahu wajah Ichigo Kurosaki. Ayolah, laki-laki itu adalah murid paling tersohor di akademi.

"Putraku itu memang bodoh, tapi kau akan menyukainya."

Rukia tersenyum sopan sebelum suami-istri Kurosaki menyampaikan kata undur diri dan melenggang menjauh.

Rukia masuk ke dalam dan duduk di zabuton untuk berhadapan dengan Nii-sama. Tapi jauh sebelum berkata sesuatu, Byakuya telah mengumbar, "Ichigo Kurosaki adalah calon suamimu."

Napas tertahan. Masalah apa lagi sekarang?.

.

.

.

.

Bila Ichigo butuh satu alasan untuk mengeluh karena menyandang gelar bangsawan, adalah tidak boleh mementingkan diri sendiri atas nama keluarga. Contoh nyatanya adalah perjodohan sepihak tanpa memberitahunya terlebih dulu. Demi alasan (yang menurutnya) konyol: menguatkan status kebangsawanan Kurosaki sebagai salah satu Empat Bangsawan Besar hingga tidak bernasib sama seperti klan lainnya yang didepak dan ujung-ujungnya keluar Seireitei; satu kiatnya, yaitu menyatukan dua bangsawan terkuat, Kurosaki-Kuchiki.

Dalih terbaik sang ayah selain itu, guna meredam kegusaran Ichigo, adalah pengalamannya sendiri. Kabar utama adalah Masaki merupakan Kuchiki alias kakak sepupu Byakuya; menikahi Isshin puluhan tahun lalu dengan tujuan sama. Beruntungnya Isshin ketika itu, adalah Masaki memang kekasihnya. Ia tentu tidak pikir dua kali menikahi orang yang dicintai, apalagi direstui keluarga dengan senang hati dan tangan terbuka. Ini mirip ketiban durian runtuh.

Nah, Ichigo, lain ceritanya. Ia sudah punya pacar yang amat ia sayangi dan diharuskan menikah dengan perempuan yang tidak ia kenal, Rukia Kuchiki. Momo mau di kemanakan?

"Banyak contoh pasangan yang jatuh cinta setelah menikah. Jangan cemas, Ichigo." Isshin memberi saran terbaiknya.

Namun, tidak ampuh melenyapkan guratan kesal di wajah si sulung.

"Ichigo, Sayang," Masaki turun tangan, beringsut mendekat dan membelai punggung sang putra. "Kaa-san sudah bertemu dengan Rukia-chan. Dia cantik, baik. Dia sangat cocok untukmu."

Masalahnya bukan itu. Dirinya sudah punya tambatan hati. Kata-kata itu berteriak nyaring di kepala Ichigo. Apalagi, bagaimana ibunya tahu kalau Kuchiki itu baik dan pantas untuknya? Mereka, kan, baru ketemu? Oh, ia lupa kalau ibunya itu Ratu Optimis. Segala hal selalu dianggap baik.

Menghela napas, mulut Ichigo terbuka untuk angkat bicara. Tapi, Karin mendahului di balik pintu kamar yang agak terbuka. "Masalah Ichi-nii bukan itu, Kaa-saan. Ichi-nii sudah punya Momo-chan. Tapi, Oyaji dan Kaa-san pura-pura lupa sampai menjodohkan Ichi-nii dengan cewek yang tidak dikenalnya."

Terima kasih untuk Karin. Ichigo berjanji akan membelikannya nanti bola baru.

Isshin dan Masaki terdiam, lebih memilih bertukar tatap waswas. Sejurus Ichigo menyadari kalau lagi-lagi ini tidak jauh dari permasalahan klan.

Bangkit. Tanpa minat membahas perjodohan lagi, si jingga undur diri, "Aku pergi dulu."

"Kau mau ke mana, Ichigo?"

"Mau ke mana lagi?" si sulung berusaha membuat suaranya tetap sama saat merespons Isshin. "Bilang pada Momo untuk putus karena keluargaku seenaknya menjodohkanku begitu saja gara-gara alasan konyol."

Isshin bungkam seketika, lalu memandang paras lembut sang istri yang dikuasai rasa bersalah.

Rahasia yang hanya diketahui ketua klan besar tentang identitas sebenarnya Momo Hinamori, yang merupakan keturunan paling buncit Klan Yamamoto. Dengan kata lain, gadis manis itu adalah cicit Soutaichou. Dan sudah jadi rahasia umum Yamamoto-Kurosaki punya sejarah perseteruan kelam di masa lalu.

Ichigo sudah diperingatkan dari awal saat ia kelewat akrab dengan Hinamori. Tapi, sikap tidak peduli sejarah dan lebih mengutamakan hati, sudah mengalir deras di darah si sulung Kurosaki. Ia tak acuh dan lihatlah akhirnya. Hubungan harmonis dirinya dan Momo selama dua tahun sampai sekarang.

Tekad itu meluluhkan Hinamori yang juga tahu benar asal-muasal klan mereka. Keteguhan Ichigo untuk memiliki hatinya membuatnya untuk cuek-cuek saja dengan perselisihan klan. Toh, itu masa lalu.

Hingga mengantar mereka ke masalah serius, kini. Ichigo dijodohkan dan bagaimana dirinya sekarang?

Helaian daun sakura mendarat di pangkuan Momo. Ia meraihnya dan mengamati di depan wajah, bersamaan menjumpai sosok jangkung Ichigo yang berderap di rouka untuk tiba di tempatnya.

Satu tarikan napas kuat, Momo mencoba bersikap tegar sebelum pemuda itu sampai dan duduk tepat di sampingnya. Tapi, sang kekasih tidak buka suara sekali pun.

"Aku sudah dengar." Momo lah yang kali pertama bertukar kata.

"Aa." Jawaban Ichigo singkat saja, tapi berat. "Keluargaku adalah para orang bodoh."

"Jangan bilang begitu, Ichigo-kun. Oba-sama dan Ji-sama melakukannya untuk dirimu. Juga Karin-chan, Yuzu-chan, dan anggota keluarga Kurosaki yang lain. Kalau aku jadi mereka, aku akan melakukan hal yang sama."

"Jadi, kau lebih membela mereka?" Secepat kata itu tercetus, secepat pula si jingga menoleh.

Kepala setengah tertunduk, Hinamori memainkan helaian sakura merah jambu. "Kau sudah bertemu dengannya?" Ia mengubah haluan topik.

Sebelah alis jingga tertarik, tak paham.

"Calon istrimu, Ichigo-kun."

Hentakan napas, tak habis pikir—"Bagaimana kau bisa berkata begitu?"—tak habis pikir Momo bisa bicara se-ringan itu. "Belum."

"Temuilah." Permintaan Momo kian membuat Ichigo tercengang. "Besok, kalau bisa. Dia di kelas 1-D. Tapi kalau kau ke Kuchiki Mansion sekarang, mungkin kau masih sempat menemuinya sebelum dia pulang ke asrama."

Ichigo lupa bertanya kenapa Hinamori sampai tahu sedetail itu kala berujar kesal, "Kenapa kau sesantai itu, Momo? Apa hubungan kita tidak berarti apa pun?"

Menelan ludah resah, memilin-milin kelopak sakura, risau. Bibir bawah digigitnya ragu. "Jadi ... aku harus bagaimana?"

"Bertahan. Kita harus bertahan," tegas Ichigo. Namun, kemunculan sosok lain di rouka depan sana membuatnya mengubah intonasi jadi dongkol. "Apa yang dia lakukan di sini?"

"Kau lupa?" Hinamori menjawab kalem, seolah tidak merasakan hawa memanas di penjuru tubuh kekasihnya. "Kelompok penelitian Hollow Rukongai seminggu lalu, aku satu kelompok dengan Toushiro-kun."

Tatapan Ichigo memicing tajam saat Toushiro menghampiri dan berhenti dengan jarak yang tidak jauh.

Bertanya, "Aku menganggu?"

"Kau bodoh? Tentu saja."

"Aku tidak bertanya padamu, Kurosaki."

"Tapi sayang sekali, aku mendengarnya."

Dan ini jadi rekaman ronde perdebatan Toushiro-Ichigo untuk ke sekian kalinya..

.

.

.

.

Sembari menggendong tiga buku setebal jari telunjuk di depan dada, Rukia mendengarkan intruksi ketua kelompok dalam tugas sejarah "Shunsin no Yoruichi" alias "Dewi Shunpo, Yoruichi". Mereka ditugaskan mengumpulkan info latar belakang wanita tertangguh di sejarah Onmitsukidou dan Batalion 13.

Empat orang ini duduk berhadapan mengapit meja panjang di perpustakaan setelah sama-sama meletakkan buku di sana. Riruka, salah seorang rekan, diserahi kerja menerjemahkan buku berbahasa Mandarin, yang adalah bahasa asal Yoruichi Shihouin.

"Kau yakin terjemahannya benar?" suara si ketua bernada skeptis.

"Kau meragukanku?" Riruka paling tidak terima diremehkan.

"Jujur, iya. Aku akan bertanya pada senior." Memercayai murid tahun pertama, biarpun teman sekelas, untuk mengerti bahasa dengan aksara tersulit di dunia memang tidak mudah.

Menghempaskan bokong keras, Riruka menggerutu dengan dengusan napas berat. Kini, dirinya ditinggal bersama si bangsawan Kuchiki yang bikin jengkel.

"Berikan." Riruka merampas kertas terjemahan yang sedang dibaca Rukia.

"Itu sungguh hebat." Tapi, tidak membuat Kuchiki urung menyanjungnya.

"Apa?" Juga tidak membuat Dokugamine urung bersuara ketus.

"Maksudku, kau. Bagaimana kau tahu dan paham bahasa yang jarang digunakan di Soul Society. Itu hebat sekali."

Tertegun. Riruka benci mengakui kalau pujian Kuchiki terdengar tulus. "Tentu saja, hebat. Sesuatu yang mustahil dilakukan olehmu, Nona Bangsawan." Namun, tidak cukup mengantarnya bersikap ramah.

Terpaku. Lidah Rukia bertulang kaku seketika. Tak ada yang bersuara hingga Riruka beranjak ke kamar mandi karena hawa canggung. Menghela napas, si nona Kuchiki berpaling ke kanan untuk disambut tatapan Toushiro yang memerhatikannya di seberang dengan perantara satu meja. Hingga pemuda itu beralih pandang, menimpali teguran Momo sambil mengumbar senyum.

Rukia membuang muka ke balik jendela. Tahu benar bahwa rimbunan merah jambu pohon sakura jauh lebih baik ketimbang pemandangan barusan yang mengirim gemuruh hati tak nyaman.

Tanpa ia tahu bahwa Toushiro setengah menoleh padanya. Melayangkan raut sendu dan bersalah, namun juga minat dan ketertarikan besar..

.

.

.

.

Bila saat di Inuzuri kegemaran Rukia tak jauh-jauh dari menangkap ikan di sungai, berkeliaran di pasar becek, bekejar-kejaran di sawah tandus. Tapi semenjak di Seireitei, kegemaran Rukia hanyalah menerawang palfon kayu kamar, memerhatikan sosok diri di cermin untuk mengingatkan bahwa dirinya berubah begitu banyak atau memandang tanpa jemu pemandangan dari balik jendela—seperti sekarang.

Tanggung jawab tidak pernah membebani Rukia sampai seberat ini. Hingga ia nyaris mirip wanita tua yang kerjanya hanya termenung resah. Jadi, ini rasanya menyandang kata bangsawan?

Helaan napas berat dan letih untuk ketujuh kali ia lepaskan sebelum menoleh pada pintu kayu dojo yang masih tertutup. Bertanya-tanya kapan sang mentor pembimbing datang. Sudah setengah jam ia di sini setelah aktivitas sekolah formal berakhir, mana kawan-kawannya sedang beristirahat di asrama, sementara dirinya masih di kawasan akademi.

Yah, beginilah nasib orang yang punya otak pas-pasan.

Rukia baru berminat duduk setelah pegal-pegal berdiri kala pintu terbuka. Cepat-cepat, ia menegakkan tubuh sebelum Ochi-sensei menampakkan diri.

"Sensei," Rukia buru-buru menghampiri.

"Maaf, membuatmu menunggu lama, Kuchiki-san."

"Tidak apa-apa. Jadi, Sensei yang—"

"Oh, bukan. Aku hanya mengantar mentormu ke sini."

Menelengkan kepala, Rukia mencoba mencari tahu sosok yang masih belum muncul dari pintu. Hingga rambut putih jabrik yang menyembul sudah membuat level penasaran Kuchiki tiba di angka akut. Dan tatkala sosok itu berdiri utuh di depan dirinya, ia membendung napas antara terkejut dan senang.

"Aku yakin kau mengenal seniormu. Murid paling jenius di akademi, Toushiro Hitsugaya."

Iya, tentu Rukia mengenalnya.

.

.

.

.

.

To Be Continued ...

.

.

.

.

.

[1] Gotgam: manisan dari kesemek yg dikeringkan. Aslinya, ini cemilan Korea. Tapi Soul Society bukan Jepang, kan, alias gak melulu makanan Jepang ada di sana. Jd, gak apa2 ya muncul makanan dari negeri asing(?)#tabok
[2] Oshiire: lemari tempat Rukia tidur di kamar Ichigo
[3] zabuton: bantal duduk
[4] rouka:
lorong atau koridor terbuka
[5] kan (di ch 2): mata uang Soul Society

A/N : Oh~ Gin, lu nongol jugaaaa!#antusiassendiri Saya enjoy banget ngetik ttg dia. Udah nunggu lama tuk buat fic di mana dia muncul.

IchiHina jg muncul. Kemunculan mereka sama2 munculin konflik romance nya. saya yakin temen2 udah bisa nebak inti konflik yg romens begini. Ujung2nya gak jauh2 ma cinta segitiga, atau segiempat, ato segilima, segienam, segitujuh, segidelapan#dibekapkaos

Dan mau nanya ttg genre fic ini. Jujur, saya bingung, karna ceritanya gak se-adventure 320D. Toushiro dkk. gak akan mengembara(?) keliling Soul Society. Tapi bakal banyak actionnya di 2 turnamen (musim panas n' dingin). Jadi apa perlu sy ganti genre dari Adventure/Romance jadi drama/friendship ato romance/friendship? Beri sarannya, ya, temen2. Saya tunggu!

Ray Kousen7

30 Januari 2014