Terima kasih atas review di chapter sebelumnya :
Snow—Hahaha saya emang suka tipe persahabatan 4 sekawan ato 5 sekawan dgn karakter2 yg unik. Bikin kocak/ Saya gak begitu ngikutin Bleach setelah terbongkar kalo Ichigo itu Shiba, jd saya tetep gunain marga Kurosaki, Snow/ yes, hidup Rukia berubah banget. Awalnya bebas, sekarang udah kayak burung dalam sangkar#halah/ makasih masih nyempetin review ya Snow.
Sai—Bisa kan karna biasa. Jd biasain baca IchiHina aja Sai, nanti gak kerasa aneh lg kok#yaiyalah/ Bisa jd, sih. Ichigo suka ma Rukia, Toushiro suka ma Momo. Lha, HitsuRuki nya mana? kita liat aja nanti perkembangan(?) persaingan mereka/ hahaha, tergantung ya, Sai. Tapi kalo sulit, di skip aja kok, cari HitsuRuki nya/ Nah masalah Gin & Toushiro itu ada hubungannya ma inti konflik fic ini/ Yes, saya putusin tuk ganti genrenya jd Romance/Friendship/ makasih masih nyempetin review ya, Sai.
Terima kasih pula ma yg udah login (sudah sy balas di PM-nya masing-masing): NatashAurel | Nyanmaru desu | Hayi Yuki | Kujo Kasuza | Syl The tWins | KeyKeiko | ai-haibara777 | Leomi no Kitsune | sykisan
.
.
.
Bleach © Tite Kubo
.
Warning:
OOC (parah); AU (setting adalah canon, tapi latar belakang semua karakter jauh berbeda); jumlah chapter yg lumayan banyak; alur lambat; romance gagal (sudah kebiasaan author)
.
.
.
.
.
BAGIAN I: Akademi Shin'ō
.
.
.
Rukia tersenyum lebar. Mentor pembimbingnya adalah Hitsugaya! Akhirnya, ia punya kesempatan ngobrol dekat dan akrab, sekalian mencari tahu alasan kenapa laki-laki itu menghindarinya akhir-akhir ini.
"Hitsugaya," Rukia berani menyapa karib setelah Ochi-sensei angkat kaki, "ternyata kau yang—"
"Siapa kau berani memanggilku sok akrab, hah?"
Senyum itu lenyap seketika, dibawa pergi oleh barisan kalimat kasar di atas.
"Mulai sekarang, panggil aku 'Senpai'—atau mungkin untuk hormatnya bisa 'Sensei'."
Rukia menjamin kalau Toushiro lupa tentang pesan sebulan lalu kalau dirinya boleh memanggil Hitsugaya tanpa sufiks.
"Kenapa berdiri saja? Kau mau latihan atau cuma mematung?"
Rukia memang mematung, tidak sadar kalau Toushiro telah melewati dan berteriak di belakangnya. "I-iya, Hitsu—ma-maksudku, Senpai."
Gagap dan canggung menyerbu hingga pedang kayu yang Kuchiki rapikan karena berserakan memenuhi dojo terjatuh berkali-kali. Tangannya gemetar hebat. Kenapa Hitsugaya jadi seperti itu?
Tidak aneh bila Rukia fokus pada perubahan-drastis-Toushiro daripada mendengarkan uraian pemuda itu tentang jadwal bimbingan sebelum ujian akhir semester di musim panas. Getir terasa, pahit tertelan. Ini bukan laki-laki yang Rukia kenal di Inuzuri.
"Oi!"
Entah sebab apa … pasti berhubungan dengan alasan Hitsugaya yang mengelak darinya sebulan belakangan.
"Oi, kau dengar?"
Apa ada kaitannya dengan kasak-kusuk hubungan si jenius dan Momo Hinamori?
"Akh," rintih Rukia, pipinya baru ditarik. Tidak keras, tapi cukup untuk membangunkannya dari lamunan.
"Akhirnya... Kupikir kau tidur."
Mengerjap, ia menangkap kepedulian Toushiro yang pernah muncul di Inuzuri. Tapi secepat itu datang, secepat pula ia pergi.
"Begini." Toushiro berlutut satu kaki; di depannya, Rukia bersimpuh. Intonasinya tidak sekeras sebelumnya. "Kakakmu adalah alasan kenapa aku di sini. Jika kau tidak mau aku jadi mentormu, aku akan bilang padanya."
"Tidak," spontan Rukia, benar-benar terbangun dari khayalannya. "Aku hanya melamun tadi, Hitsu—Senpai."
"Dengar," intonasinya masih sama; tekan, tegas, kaku, namun tidak terkesan dingin. "Jika kau memang benar-benar ingin dapat nilai A, aku sarankan untuk jangan berani melamun di bawah bimbinganku. Aku beri kesempatan untuk mengadu pada kakakmu untuk menggantikanku, karena aku tidak akan segan-segan hanya karena kau seorang bangsawan."
Sudah pasti Rukia—"Tidak"—menolak. "Aku tidak akan melakukannya." Jangan lupa, ia adalah mantan Ketua Geng Inuzuri, salah satu geng perampok terkenal di sepuluh distrik terakhir Rukongai Selatan. Keras dan tanpa ampun sudah jadi makanan sehari-harinya. Selain itu, ia tidak sudi membuang kesempatan satu ruangan dengan si jenius. Pertanyaan tentang perubahan sikap pemuda itu belum terjawab.
Toushiro menatap Rukia lurus-lurus. "Baiklah, jika kau keras kepala." Berdiri, ia menundukkan kepala. "Kita baru akan memulai latihannya besok di jam yang sama. Apa menu latihannya? Aku yang mengatur."
"Bagaimana kalau aku terlambat?" Rukia ikut bangkit.
"Lima menit berlari keliling lapangan utama akademi; sepuluh menit, dua kali; lima belas menit, tiga kali."
"Kalau begitu," nona bangsawan tersenyum iseng, "besok kau harus keliling lapangan enam kali."
"Apa?" Si jabrik putih kontan berbalik.
"Kau terlambat 30 menit tadi," senyum jahil itu tidak jua hilang.
Kelabakan, Toushiro mencoba mencari dalih yang pas. "Aturannya … baru diberlakukan besok."
Rukia langsung memberengut. Padahal, ia sudah dapat alternatif untuk memulai pertemanan baru di antara mereka. Kalau tidak bisa jadi kawan atau rekan seperti di Inuzuri, hubungan mentor-murid juga tidak masalah.
Menjemput petang, aktivitas hanya diisi membersihkan dojo agar siap dipakai besok. Mengepel lantai, mengelap jendela, merapikan belasan pedang kayu atau diselingi curi pandang Rukia ke Toushiro dan sebaliknya.
Keluar; mereka bergerak berlawanan setelah saling undur diri dengan basa-basi kata seadanya.
Tapi, batin Rukia sedikit lega. Kuncup-kuncup keakraban perlahan mekar, dan ini hanya masalah waktu untuk memulai obrolan karib layaknya teman.
Berbelok menuju arah asrama putri, dirinya menyempatkan untuk menoleh pada punggung sang senior yang mengecil ditelan jarak.
.
.
.
TUJUH PEDANG
.
# 4 #
Singa Putih dan Jeruji Kebenaran
.
.
.
Sejak mengenal si gadis Inuzuri, hidup Toushiro Hitsugaya dipenuhi kontradiksi.
Kebenaran menyambar Toushiro ibarat petir bahwa Kuchiki adalah salah satu alasan utama ia ada di sini dan dalam keadaan seperti ini. Penuh haus dendam, keringnya kebahagiaan, dan tanpa jati diri. Sudah mestinya kebencian, amarah, dan emosi negatif lainnya ia tujukan pada gadis itu. Namun, kebenaran (lain) bahwa Kuchiki adalah Rukia; gadis yang ia kagumi secara tulus dan puji tanpa pikir panjang. Harus membuat kebencian bersanding dengan rasa nyaman dan tenteram ketika memandangnya—dekat maupun jauh.
Mengirim sahutan 'Ya' tanpa pikir dua kali saat diberi titah untuk jadi mentor pembimbing sebagai buktinya, walau itu memang tanggung jawab. Tapi, Hitsugaya tidak menyangkal bahwa ia ingin memanfaatkan kesempatan untuk mengorek lebih dalam tentang Rukia (saja), bukan Rukia Kuchiki. Entah kenapa, terasa tersembunyi harta karun bernilai yang tertanam pada si gadis Inuzuri.
Kalau tidak begitu, alasan apa lagi yang masuk akal untuk membuat si bocah jenius memberi jaminan memuaskan. Asalkan, ia menangani Rukia seorang diri, tanpa boleh ada campur tangan pihak lain.
Gin Ichimaru menangkap ketertarikan itu dengan jelas.
"Aku suka buah kesemek, bukan manisan kesemek, Toushiro-chan."
Toushiro setengah menoleh. Di belakangnya, Ichimaru bersandar santai di langkan jembatan raksasa penghubung asrama putra-putri. "Sama saja. Itu sama-sama kesemek."
Seringai yang bak kekal di wajah Gin, kian lebar saja. Menghampiri tanpa melepas sepasang tangan yang menyusup di mulut shihakusou, berdiri di samping Toushiro yang menyandarkan tangan santai di permukaan langkan. "Tapi karena aku pria berhati mulia, pintar, rajin sikat gigit, tidak membantah orangtua, aku akan memberi hadiah balasan untukmu."
Alih-alih berpaling, Toushiro menutup mata. Namun, telinga menegak saat Gin bilang, "Dia dijodohkan dengan Ichigo Kurosaki."
Sepasang mata itu terbuka, napas segar malam hari di pertengahan Mei ditariknya lama dibuang pelan. "Pergerakan bangsawan memang mudah ditebak. Demi memperkuat klan, mereka menyatukan dua pewaris dalam ikatan pernikahan." Gin tahu kalau pengetahuan Toushiro dengan isu tersebut tidak ada yang menandingi. "Tapi, tindakan mereka malah meringankan pekerjaanku." Menegakkan tubuh, ia membawa kaki menjauh dari Gin yang mematung tanpa seringai rubah.
Tapi, sebelum sosoknya tertelan penuh, Toushiro berhenti. "Nah, Ichimaru, ada urusan apa lagi kau di sini?" Badan setengah berbalik. "Bukankan tugas guru tamu terhormat sudah selesai sebulan lalu? Kalau kau terlalu lama, dia akan merindukanmu."
Secepat seringai Gin lenyap, secepat pula itu kembali. "Hanya main-main. Di Batalion 13, aku cuma ketemu muka-muka tua dan keriput, tapi di sini banyak perempuan muda, cantik lagi." Jeda. "Apalagi Aizen-taichou tidak merindukanku."
Toushiro melepas cengiran hambar. "Jangan pura-pura bodoh. Kau tahu siapa yang kumaksud."
Untuk kedua kalinya seringai itu hilang. Yah, sudah nyaris dua bulan memang Gin tidak bertatapan muka dengan Rangiku Matsumoto.
.
.
.
.
.
Ichigo jujur, meski terdengar memalukan, ia tidak sekali pun pernah bertegur wajah dengan cewek bernama Rukia Kuchiki. Upacara penyambutan antara anggota klan saat perempuan itu resmi diangkat jadi bangsawan, tidak ia hadiri dengan memilih kencan dengan Momo. Atau di akademi gara-gara ia tidak mau dekat-dekat dengan namanya murid baru. Sudah pengalaman Ichigo mendengar teriakan yang bikin merinding, "Kyaaaaa!" ketika ia datang. Apalagi kalau saling sapa, cewek-cewek itu sudah pingsan duluan.
Beginilah resikonya punya tampang jauh di atas rata-rata dan menyandang gelar gentlemen tiga tahun berturut-turut.
Maka jangan salahkan tatapan menilainya pada si gadis mungil, semungil Momo, dan manis (tapi kekasihnya jauh lebih manis) pada pertemuan pertama. Sepasang manik coklat madunya bergerak atas-bawah bawah-atas atas-bawah, mirip cahaya pemindai bom. Hingga Rukia jadi malu setengah hidup seolah ditelanjangi.
"Jadi, kau Rukia Kuchiki?"
Rukia mengangguk.
"Aku Ichigo Kurosaki."
Rukia mengangguk lagi.
"Apa kau cuma bisa mengangguk? Kau bisu, ya?"
Rukia mendelik.
Tapi, Ichigo cuek bebek dengan berjalan menuju kantin lantai empat alias kantin khusus aristokrat. Murid Rukongai? Out! Sekaligus ini kantin favorit si jingga karena aman tanpa penggosip yang mulut ember kayak kantin lantai dua (kantin umum). Statistik kalau rakyat biasa tidak bisa menjaga mulut itu memang terbukti adanya.
Lalu Rukia yang mengekori, menahan diri susah-payah untuk tidak menendang bokong si sok Kurosaki andai lupa kalau cowok ini adalah idola penghuni akademi. Bisa-bisa sebelum kakinya nemplok di pantat si kepala labu, ia sudah dikeroyok massa.
Makan siang lalu dilewati dengan suasana yang jauh dari kata kalem dengan kebanyakan adu mulut. Sesama punya ego tinggi, debat masalah sepele selalu ada. Selesai satu, lainnya menyusul. Habis satu, tumbuh seribu.
Setelah usai—tanpa sikap gentleman dengan mengantar Rukia ke kelasnya, malah Ichigo lebih terkesan mengusir—mereka berpisah dengan si hitam yang tidak tertarik bertemu lagi dan si jingga yang (justru) antusias berjumpa lagi.
Jujur, tidak bisa Ichigo sangkal kalau ia dongkol dengan Rukia Kuchiki yang tidak punya nyali menolak perjodohan. Gara-gara perempuan ini, dirinya dan Momo jadi renggang. Tapi setelah makan siang barusan, tidak bisa juga ia sangkal kalau Kuchiki menyenangkan, tidak bikin kesal seperti yang dibayangkan. Perjodohan ini mungkin tidak salah-salah alamat—maksudnya, tidak salah-salah amat.
Namun, kesimpulan itu coba Ichigo buang jauh-jauh. Halo, ia masih punya pacar. Di Klan Kurosaki tidak ada silsilah Tukang Mendua. Sebelum akhirnya ia memergoki Momo dan Toushiro makan siang bersama penuh romantis (menurutnya) yang ia lihat dari jendela kaca kantin. Oh, rambut putih bikin jengkel setengah matang itu sangat kontras di antara hamparan rumput hijau.
Ichigo menghela napas lesu. Auranya berubah jadi kecewa. Momo ternyata sudah menyerah dengan hubungan yang telah dibina dua tahun.
.
.
.
.
.
Antusias menjalani hari latihan pertama mengubur kejengkelan Rukia pada Ichigo Kurosaki. Tapi kesan yang didapatnya dari si jingga lumayan positif, mana Ichigo adalah bangsawan yang sangat berbeda dengan yang ia kenal (Nii-sama, maksudnya). Tidak kaku, sembrono, gegabah, dan enak diajak ngobrol; jika debat kata bisa dikategorikan menyenangkan.
Namun, hawa tidak nyaman gara-gara dijodohkan dengan pacar orang makin Rukia rasakan. Terutama saat kebetulan berpapasan dengan kawan karib Hinamori-senpai. Sungguh, ia tidak akan lupa dilempari tatapan membunuh, yang membuatnya menggerutu seharian ini. Kenapa ia harus terlibat dalam arus cinta orang lain? Ini jadi menempatkannya sebagai tokoh ketiga, jahat, antagonis atau sebutan lainnya.
Dirinya menghela napas, pendek saja, saat—
"Satu helaan napas sama saja kehilangan satu kebahagiaan." Nasehat mendadak sang mentor, Toushiro Hitsugaya, masuk sambil membawa dua pedang kayu.
"Kau terlambat, Senpai."
Toushiro kontan menatapnya. Satu hari ternyata cukup untuk Rukia menghilangkan gugup memanggil kata 'Senpai'. Dan ia tak pernah tahu kalau si gadis bangsawan melafalkannya ribuan kali sebelum tidur.
"Kau yang terlalu cepat." Tas selempang ditaruh di pinggir dojo sebelum membuka kertas bungkusan yang melapisi sepasang pedang. "Jadwal latihan yang disepakati pukul 14.00." Salah satunya dilempar pada Rukia tanpa peringatan. Untung Kuchiki sigap menangkapnya. "Dan sekarang, baru 13.59.20. Masih tersisa 40 detik."
Rukia terperangah. Bagaimana laki-laki ini tahu waktu sedetil itu? Ia belum sempat bertanya saat Toushiro berkomando, "Serang aku sekarang."
Rukia belum ngeh. "Eh?"
"Aku bilang serang aku—sekarang. Aku ingin lihat kemampuanmu dalam zanjutsu." Perempuan itu masih bergeming. "Jangan buang waktu atau—" tanpa ragu, Toushiro bergerak maju. Menerjang Rukia yang masih belum siap, mengantar bokong gadis itu bertemu lantai pada serangan pertama, "—sama saja membuang nyawamu dengan suka rela."
Napas Rukia memburu, pundak naik-turun, dada kembang-kempis. Ia sungguh kaget dengan serangan mendadak barusan. Ia masih setengah berbaring kala Toushiro mengejek, "Ternyata kau lebih buruk dari yang kuduga."
Ia menengadah lambat-lambat. "A-aku hanya tidak siap. Kau menyerangku tiba-tiba."
"Tiba-tiba? Bodoh, aku memberimu peluang untuk pertama menyerangku."
"Tapi—"
Tatapan tajam Toushiro membuat Kuchiki bungkam. Setengah berlutut di depannya yang masih berposisi sama. "Baru lebih sebulan kau menyandang nama bangsawan, kau berubah jadi tukang ngeluh, hah? Di mana Nona Pencopet yang penuh nyali yang aku kenal di Inuzuri?"
Sepasang pupil ungu Rukia tersentak, pun nama—"Hitsugaya," tercetus begitu saja sebelum meralat, "ma-maaf, Senpai."
Toushiro bangkit. Terdiam sambil mengubur dalam-dalam kepedulian yang sempat muncul. "Bangun. Kita akan mulai lagi." Memalingkan muka yang dibuat-buat tak acuh.
Suara tepukan sepasang pedang kayu yang bersua memenuhi dojo kecil dan tak terpakai di belakang gedung utama akademi selama tiga jam tanpa jeda. Tidak seimbang. Satu pihak lebih mendominasi penyerangan, pihak lainnya (apa boleh buat) bertahan dengan kemampuan seadanya. Punggung Rukia yang berbentur dinding sudah tidak bisa dihitung lagi. Peluh keringat membanjiri penjuru tubuh bersanding dengan merahnya wajah letih. Tangan super kebas, sampai tebasan Toushiro mengirim pedang Kuchiki bertemu lantai.
Otomatis, pedang kayu mendarat di leher Rukia.
"Kalau ini pedang sungguhan, bisa kupastikan kepalamu sudah jatuh di kakiku."
Jantung bertalu-talu menyelaraskan sengalan napas. Rukia sungguh lelah. Bukti kalau stamina hebat yang ia punyai sewaktu di Inuzuri hilang setelah nyaris sebulan yang dilakukannya di Seireitei hanyalah duduk, tidur atau berdiri.
Agak prihatin, Toushiro menarik diri. Langit kemerahan dipandangnya dari jendela kaca. Sore telah menjemput, waktunya berkemas dan pulang.
Pegal yang mengerumuni sekujur tubuh tidak menolong Rukia bergerak cepat membereskan barang. Tidak jarang, ia memijat pundak kanan yang diyakininya telah memar.
"Ini." Rukia mendongak. Di depannya, berdiri Hitsugaya yang menyodorkan cawan bertutup. "Obat untuk memarmu. Efeknya sama bagusnya dengan kidou penyembuh level menengah. Besok pasti kau sudah baik-baik saja."
Rukia masih belum meraih. Ia terheran-heran.
"Tidak mau? Ya, sudah."
"Eh, siapa yang bilang tidak mau?" Rukia lantas menyambarnya. "Kalau sudah berniat memberi, jangan diambil lagi."
"Memangnya kenapa?"
"Bisa kualat."
Tertegun. Intonasi suara penuh tantangan dan nyali. Si Nona Pencopet telah kembali. Toushiro menarik bibir, tipis saja. Ia tersenyum senang di balik semburat jingga matahari terbenam yang menembus jendela.
Rukia terkesima. Bias merah di pipi berbaur dengan rona sore hari yang berkemendang. Hitsugaya di Inuzuri telah pulang. Meski sebentar saja saat si pemuda berpaling, meraih tas selempang dan bergerak ke pintu.
Tapi sebelum keluar—"Ah, hampir lupa." Berbalik sambil merogoh kimono depan untuk meraih secarik kertas terlipat rapi sambil lalu mengulurkan pada Rukia.
Setelah mencangklong tas, Kuchiki menerima dan membukanya. Kertas selebar jari telunjuk, tapi panjangnya—ya, ampun sampai mau tepuk jidat—mencapai mata kakinya.
"Nama-nama buku yang mesti kau baca. Kau harus sadar kalau pengetahuan kekuatan rohmu kalah jauh dari teman sekelasmu. Untung Ochi-sensei masih kasihan dan memberimu nilai C. Kalau aku sudah jelas memberimu nilai E."
Rukia masih melongo. "Apa harus sebanyak ini? Senpai bercanda?"
"Apa aku terlihat bercanda?"
Tidak.
Toushiro undur diri, mengingatkan untuk bertemu lagi besok di jam yang sama. Suara debaman pintu menyusul sebelum Rukia bergumam, "Waktu itu kau juga tidak terlihat bercanda—"
"Kalau begitu sebagai bayaran terima kasih, kau bisa menggunakan margaku."
"Tentu saja bisa kalau kau menjadi saudara atau istriku."
"—tapi kau malah bercanda."
Satu tarikan napas berat sebelum meraih pedang kayu yang teronggok di lantai. Memerhatikan pedang kuat yang tampak tak akan patah meski serangan bertubi-tubi dilayangkan barusan.
Menarik napas lagi, Rukia mencoba membuang jauh-jauh harapan kosong dan konyol yang masih tertanam di benaknya.
"Rukia Hitsugaya, ummm ... terdengar bagus juga."
.
.
.
.
.
Walau tampangnya jauh dari perawakan kutu buku kebanyakan yang berpenampilan dengan kacamata tebal berbingkai hitam persegi, gelagapan intonasi suara, ketar-ketir takut jikalau berhadapan dengan jagoan sekolah, nyali kecil atau hobi memandang lantai; tidak ada yang menyangsikan kalau Riruka Dokugamine yang judes, bermulut sepedas cabe paling pedas sejagat, dan angkuhnya yang bikin orang jauh-jauh adalah kutu buku sejati.
Datang ke perpustakaan tiap hari dan tak penat sedetik pun adalah salah satu buktinya. Hingga wajah Riruka sudah dihapal dalam-dan-luar-kepala Ikumi Unagiya, wanita tomboi dan sang pustakawati. Tapi, baru sekali ini ada seseorang yang pantas menandingi Dokugamine.
Lima buku dengan tebalnya bikin murid-yang-anti-baca mau muntah tersusun rapi di meja. Rukia khusyuk membaca halaman demi halaman dengan tulisan yang buat murid-rabun-jauh harus tempelin wajah saking kecilnya tuh tulisan. Begitu fokus sampai tidak sadar mata Riruka sudah memerhatikan dengan mulut ternganga, yang langsung ditutup sebelum menelan lalat yang baru lewat. Saking aneh bin nyatanya, Riruka lupa baca lanjutan buku favoritnya. Hingga bel tanda berakhirnya waktu istirahat pun menamparnya.
Buru-buru bak dikejar anjing, Rukia membereskan dan menyimpan dua buku di rak semula. Lalu membawa tiga buku sisanya pada meja pustakawati.
"Hanya boleh pinjam dua, Kuchiki-san," wanita itu mengingatkan aturan perpus.
"Tapi, aku perlu ketiganya. Untuk kali ini saja, Unagiya-san."
Riruka menyusul, mengulurkan satu buku. Lalu Ikumi mengusulkan, "Bagaimana kalau kau menitip satu buku pada Dokugamine?"
Rukia melirik ragu, sementara Riruka membuang muka malas. Mustahil cewek yang kesal bin benci padanya itu mau menolong. Jadi, setelah menghela napas, Kuchiki pasrah saja dengan aturan perpus.
"Terserah," namun urung saat terdengar sahutan maha cuek Riruka. Meraih buku pinjaman yang diulurkan Ikumi, ia pergi dari sana dengan sama cueknya.
Rukia terperangah.
"Jadi?" Ikumi-san mengkonfirmasi.
"Apa boleh?" tanya Rukia dengan binar mata penuh harap.
"Meski ini tidak seharusnya, tapi selama kau tidak memberitahu siapa-siapa dan mengembalikannya tepat waktu, aku mengizinkan."
Rukia mengangguk semangat, menerima sodoran tiga buku dan beranjak sambil memeluk buku super-duper tebal itu. Dikejarnya Riruka yang jauh depan sana dengan langkah gesit, posisi disejajarkan.
"Terima kasih," katanya, tulus.
Alih-alih membalas, Riruka melirik judul buku Kuchiki yang paling atas, "Zanjutsu Master, Book 2". Keningnya berkerut terheran-heran bahwa bab itu baru akan dipelajari di semester dua.
Lalu berjalan mendahulu, berupaya masa bodoh saat satu buku Rukia jatuh, yang tampaknya ketimpa kaki. Buktinya, erangan sakit terdengar tak lama setelahnya.
.
.
.
.
.
Kata-kata 'tak segan' Toushiro tempo hari bukan isapan jempol belaka. Baru menaruh tas selempang, laki-laki itu membawa Rukia keluar dojo untuk berhadapan dengan pohon mangga. Bukan disuruh memanjat hingga pucuk atau meraih mangga yang buahnya hanya satu-dua, tapi merobohkan—eits, eits, jangan terkecoh, bukan dengan pedang sungguhan, tapi dengan pedang kayu.
Kali ini, Rukia sungguh berharap kalau Toushiro sedang berkelakar.
"Aku tidak bergurau."
Ia menelan ludah. Seniornya punya kemampuan membaca pikiran.
"Aku tidak punya kemampuan seperti itu."
Tuh, kan?
"Semuanya terbaca jelas di wajahmu. Sepertinya kau tidak punya kemampuan menyembunyikan emosi khas Kuchiki seperti kakakmu."
Emosi Rukia kontan tersulut. "Jangan mengejeknya." Biarpun Byakuya bukanlah sosok kakak idaman, tapi pria itu keluarganya. Dan ia tidak suka keluarganya dihina.
"Aku tidak mengejek," Toushiro memang tidak mengejek. "Itu pujian. Jarang, kan, seseorang punya topeng emosi setebal itu."
"Kau sendiri bagaimana?" cibirnya. Rukia berani melawan.
Sukses saja membuat lidah Toushiro kelu seketika.
Kuchiki lalu melemaskan postur badan yang menegang. Kemudian berdeham, mensterilkan aura kaku yang ia ciptakan. Dirinya barusan sudah keluar jalur.
"Kau memang pintar bicara," balas Toushiro, mengingatkan pujian yang dituturkan di lorong tambang batu bara Inuzuri. Namun, sekarang lebih mirip sindiran. "Sayangnya, aku lebih suka tindakan daripada omong besar. Jadi, sekarang lakukan seperti yang aku suruh."
Apa Rukia lupa bilang kalau Toushiro bukan hanya Tukang Lupa dan Tukang Seenaknya, tapi juga sangat nge-bos?
"Berapa lama?" tanya Rukia ketus, memunggungi. Seumur hidupnya di Inuzuri, ia lah pemegang perintah dan kata, Ketua Geng Inuzuri. Masih sulit menerima bahwa dirinya dicemooh dan disuruh ini-itu tanpa tahu alasannya.
Toushiro berbalik, kening bertautan dalam kaki yang baru menjauh tiga langkah.
"Maksudku berapa lama tenggat waktu yang kau berikan?" Kuchiki memutar setengah badan.
Toushiro tidak lekas menjawab. Intonasi Rukia seolah meyakinkan bahwa ia bisa menumbangkan pohon meski diberi waktu teramat singkat. Besok, misalnya. "Tidak ada. Tenggat waktunya tidak ada. Robohkan semampumu. Terserah kapan." Waktu memang bukan masalah di sini, tapi—"Dengan syarat, lakukan tebasan lima ratus kali tiap hari."
Rukia menatap seniornya lama. Bukan menunggu laki-laki itu mengoreksi dan berkata kalau ia sedang melawak. Hanya ingin tenggelam pada sepasang manik hijau Toushiro yang bagai hutan bambu. Menelusuri untuk mencari mana jati diri Hitsugaya yang sebenarnya. Sayangnya, si jabrik putih berpaling, melenggang masuk dojo sebelum Rukia bisa membaca jalur benak dan hatinya.
Setibanya di dalam, ia berdiri di balik jendela, memandang Rukia yang mulai menebas pohon dengan emosi. Hingga Toushiro yakin andai pedang kayu yang dipegangnya bukan kualitas terbaik, pasti sudah patah di pukulan pertama. Lalu beralih pada tiga buku super tebal yang menindih tas juniornya.
Senyum mengembang tanpa bisa Toushiro halau.
.
.
.
.
.
Susunan tiga kepala berwarna merah-marun-biru gelap, melongok dari balik sisi gedung samping kiri paling belakang. Asal-muasal mereka adalah penasaran akut yang jebol karena ingin tahu siapa yang begitu rajinnya berlatih di dojo tua hampir seminggu penuh.
Setelah tahu jawabannya, mereka bereaksi biasa saja. Tiga orang ini sudah mengira dari awal kalau pelakunya adalah—'cewek ningrat yang tomboi dan punya bakat mencuri,' sebutan dari Renji; 'cewek bangsawan yang banyak hoki dan bikin hati panas,' julukan dari Riruka; 'cewek baik hati, kalem, dan manis,' oh, tentu ini dari Hanatarou. Tapi, yang bikin mata mereka terbelalak sampai mau copot dari lubangnya adalah senior yang galak, pemarah, dan sikap dingin dan kakunya mirip puncak gunung es di Antartika sana merupakan mentornya. Toushiro Hitsugaya.
"Rukia dalam musibah," simpati Renji.
"Kasihan sekali dia," acuh tak acuh Riruka.
"Rukia-san..." cemas Hanatarou.
Dan kedatangan cowok yang bisa bikin Dokugamine yang jutek jadi kaku macam patung adalah alasan utama yang buat tiga orang itu makin betah di sana. Betapa tidak jikalau sebentar lagi mereka akan jadi saksi non-bisu dari drama cinta bersambung. Diawali dari rambut eksentrik jingga yang muncul di sisi berlawanan dari tim pengintai ini.
"Ini bakal seru," semangat Renji menggebu-gebu.
"Gawat," Hanatarou merinding takut.
"Kurosaki-senpai..." Riruka terpana. Untung ia terlalu muda untuk mengidap alzheimer sampai lupa kalau ia tidak sendiri di sana. Ia nyaris pingsan terkapar.
Sekadar info, perjodohan Kuchiki-Kurosaki sudah menyamai berita nasional yang tersebar di sepenjuru akademi, bahkan Seireitei.
Ummm … konflik drama dimulai.
.
.
.
.
.
"Rukia?"
Si empunya nama berbalik untuk disambut kerutan kening tebal Ichigo Kurosaki. Mereka punya rencana makan malam bersama keluarganya, jadi si jingga menunggu di aula. Tapi, satu jam batas kesabaran Ichigo mengantarnya ke sini setelah mendengar kasak-kusuk kalau calon pendamping masa depannya sedang di dojo tua belakang akademi.
"Apa yang…." Ichigo serasa tidak sanggup melanjut setelah melihat dengan kepala-mata-badan-kaki apa yang gadis itu lakukan bersama sebatang pedang kayu dan pohon mangga. Apa ini pelajaran tambahan yang disinggung Byakuya Kuchiki untuk meningkatkan nilai kelas Rukia?
"Aku sedang berlatih," ceplos Kuchiki ringan.
"Kau sebut ini berlatih?" Yang membangkitkan darah tinggi Ichigo. "Konyol!" Merenggut pedang kayu dari genggamannya dan menghempaskannya kasar ke tanah berdebu. "Siapa orang gila yang melatihmu seperti ini?"
"Aku," jawaban dari arah pintu. Kurosaki sulung tidak butuh berbalik untuk tahu pemilik suara tersebut. Dan hanya melirik dongkol saat pedang kayu yang dibuang, diraih Toushiro dan dibersihkan. "Untuk apa kau ke sini, Kurosaki?"
"Yang pastinya bukan untukmu." Bahkan, tidak sudi bertegur tatap dengan tersangka yang membuat hubungan dirinya dan Momo memburuk. "Ayo, Rukia. Oyaji dan Kaa-san sudah menunggumu."
Kedutan tak suka tampak di wajah Toushiro. 'Rukia?'
"Tapi, Ichigo—"
Kerutan kesal itu memburuk. 'Ichigo?' Hah, mereka sudah saling menyebut nama depan, ternyata.
"Apa? Kau lebih memilih latihan bodoh ini?"
"Tunggu sebentar saja. Aku ingin menyelesaikan latihan hingga petang."
"Itu bisa menunggu besok, Rukia. Tapi, makan malam ini tidak selalu terjadi. Oyaji jarang punya waktu senggang."
"Maaf, mengganggu kemesraan kalian, Tuan dan Nona Bangsawan." Dua kepala menoleh pada pemilik kata-kata satire barusan. "Tapi, detik terus berjalan dan aku tidak punya waktu santai sebanyak kalian. Dan kau," singgungnya pada Rukia, "jika kau ingin pergi, pergilah sekarang. Hanya saja, jangan berpikir kalau besok aku akan jadi mentormu lagi."
"Kau mengancamnya?" Malah Ichigo yang naik pitam.
"Bukan mengancam, tapi memperingatkan." Toushiro kalem-kalem saja. "Aneh. Kenapa sastramu bernilai A? Kosakatamu saja buruk."
Dan jika Rukia tidak menarik Ichigo sesegera mungkin, satu tonjokan sudah mendarat di wajah Toushiro.
"Tidak apa-apa, Rukia." Si jingga mulai menguasai emosinya. "Aku bisa jadi mentor untukmu." Untuk kalimat ini sukses menarik cengiran berbau sindiran Toushiro. "Kenapa!"
"Kau jadi mentor diri sendiri saja sangat payah, bagaimana jadi mentor orang lain?"
Dengan daya maha besar, Ichigo cuek. "Kalau kau tidak ingin aku, masih banyak orang lain yang bisa mengajarimu lebih baik."
Tapi, terdiam adalah respons Rukia. Jujur, ia sendiri menganggap bahwa gaya latihan Toushiro ganjil dan tidak umum. Namun, ia paling benci jikalau tidak mengakhiri apa yang telah ia mulai. Bukan watak dirinya bila berhenti di tengah jalan. Ia ingin tahu ke mana jalan panjang, rumit, dan berliku ini berakhir. Rukia ingin tahu ke mana Toushiro akan membawanya.
Maka—"Maaf, Ichigo."
Kurosaki sulung membuang napas panjang. Amat kesal. Bukan karena penolakan Rukia, namun kemenangan Toushiro yang berhasil membawa Kuchiki ke pihaknya. Pertama Momo, sekarang Rukia. Apa yang dimiliki laki-laki pendek dan bermulut kasar sampai membuat dua perempuan itu takluk ke sisinya?
Ia menoleh ogah-ogahan demi melihat seringai Toushiro yang biasa muncul kala membuat Momo lebih mendukung daripada dirinya. Tapi alih-alih, justru raut datar tak terbaca sebelum si jabrik putih masuk dojo tanpa berkata apa pun, selain—"Aku ingin, besok dan besoknya lagi aku tidak melihat penampakanmu di sini, Kurosaki."
Berdecak murka. Ichigo beranjak setelah berpesan kalau Rukia tidak apa-apa datang terlambat. Dirinya, Oyaji, dan Kaa-san akan menunggunya.
Kaki jangkung itu melenggang pergi dalam langkah yang menghentak jengkel. (Tidak secara langsung) ia telah dipermalukan oleh Toushiro.
.
Dan di balik dinding akademi, Riruka, Renji, dan Hanatarou mengembuskan napas lega setelah drama nyata itu berakhir. Harus mereka akui, itu drama paling menegangkan yang pernah mereka tonton sampai bikin jantung nyaris meledak.
.
.
.
.
.
Hangat, dipenuhi senda-gurau, dibumbui sedikit debat, dan jauh dari kata kaku khas ningrat adalah jamuan makan malam di keluarga Kurosaki. Sungguh contoh nyata sempurna dari bayangan keluarga idaman dan harmonis semua orang. Rukia, tidak terkecuali. Namun bukan senyum lepas tanpa beban yang harusnya ada di wajah, justru senyum tertahan atau tawa garing demi kesopanan pada keluarga Ichigo.
Betapa tidak jika sel-sel otaknya sedang mengembara keliling buana yang ujung-ujung berhenti pada satu sosok. Sang mentor. Karena baru berselang lima menit Ichigo angkat kaki, si jabrik putih bilang—
"Pergilah. Jangan khawatir. Peringatan itu hanya main-main."
Lalu mengulurkan barang-barang (tas dan buku tebal) padanya yang mematung tak paham.
"Pergi sekarang sebelum aku berubah pikiran."
Carut-marut itu mengambil alih alam sadarnya. Hingga baru tahu kalau kakinya sekarang membawanya pulang ke kediaman Kuchiki, ditemani Ichigo yang mengantarnya setelah dirinya memberi penolakan.
Ketika Kurosaki berceloteh tentang ayahnya yang tidak punya malu meski ada tamu, Rukia bungkam saja. Lurus memandang jalan panjang terbentang berlantai ubin yang bercahaya lentera. Hingga tikungan depan menampakkan sepasang sosok yang berjalan menuju arah mereka. Rukia dan Ichigo serentak berhenti, butuh waktu mengetahui sang figur di balik suasana remang. Sampai kemudian si jingga yang duluan mengenali—
"Momo…"
Momo Hinamori menyetop kaki, sebelum kebiasaan untuk bergerak gesit lalu menautkan jari pada Ichigo, ditahan betul-betul saat tahu sang kekasih tidak sendiri.
"Kuchiki-san…" sapa Momo sopan.
Rukia menundukkan kepala formal. Grogi menginvasi bahwa ini kali pertama ia berhadapan langsung dengan pacar Ichigo atau lebih tepatnya calon mantan Ichigo, mengingat gosip yang memenuhi halaman depan majalah akademi.
"Kenapa berkeliaran di malam dingin begini?" Ichigo terang-terangan bersuara cemas.
Momo mengunjukkan sekantung belanjaan berisi rempah-rempah masakan sebagai jawaban. "Kau sendiri dan Kuchiki-san, kenapa berkeliaran malam-malam begini?"
"Aku mengantarnya pulang."
Momo mengangguk sekiranya, merasa bodoh bertanya setelah ingat bahwa malam ini pertemuan calon mertua dan menantu.
Ichigo menatap kekasihnya lekat. "Biar kutemani kau pulang," ajaknya seakan lupa Rukia sedang bersamanya.
Murni tidak enak, Momo menyergah, "Ichigo-kun bodoh, Kuchiki-san bagaimana?"
"Kita bersama mengantarnya pulang, lalu setelahnya aku menemanimu pulang."
Cukup pintar.
Rukia menarik napas berat, berupaya tidak terdengar. Begini, ya, rasanya jadi pihak ketiga. Lebih banyak tidak enak dan tidak nyamannya. Kini, ia mengalami langsung peran tokoh cerpen yang pernah ia baca di Inuzuri berjudul "Si Benalu".
"…Baiklah," segan, tapi Momo mengiyakan. Diam-diam ia juga rindu ngobrol dengan Ichigo setelah belakangan ini sang pacar lebih sibuk dengan acara-acara bersama calon istrinya. Menyodorkan bungkusan pada Chikane-san, Hinamori berpesan untuk pulang duluan saja dan menjamin dirinya aman dengan Ichigo bersamanya.
Seperginya sang pelayan, mereka angkat kaki. Dan baru di tiga langkah, Rukia telah menjelma jadi 'patung taman'. Tidak dipedulikan.
.
.
.
.
.
"Toushiro itu benar-benar gila. Dia bukan mengajarinya, tapi menyiksanya."
Percaya tidak percaya. Dari puluhan kalimat yang Ichigo obrolkan dengan Momo, baru satu kalimat ini yang menyinggung Rukia. Itu pun karena Hinamori yang tak sengaja memergoki Kuchiki melemaskan pundak yang pegalnya bukan kepalang.
"Toushiro-kun tidak begitu, Ichigo-kun."
"Ya, ya, ya, kau selalu membelanya."
Momo kemudian beralih pada Rukia yang berjalan di sisi Ichigo yang satunya.
"Jangan salah paham tentang Toushiro-kun, ya, Kuchiki-san. Dia melakukan seperti itu pasti karena punya alasan kuat."
Rukia melempar senyum sebisanya..
"Berhenti memanggilnya Toushiro-kun. Hitsugaya saja. Atau si pendek sombong sekalian. Itu pantas untuknya."
Sepasang pipi Hinamori menggembung kayak ikan kembung. "Jangan seperti itu. Mencoba akrablah dengannya. Demi aku!" Lalu mengatupkan tangan memohon.
Tiba-tiba Rukia berharap ada bintang jatuh. Jadi, ia pun bisa memohon untuk dilenyapkan sekarang juga. Siapa yang suka menonton sepasang kekasih bermesraan? Tapi, ide itu buyar berantakan saat Ichigo menyinggung saudarinya.
"Kau selalu berada di pihaknya. Karin pun sama saja. Apa dia tidak bisa menyukai laki-laki lain?"
Kalimat terakhir sukses membuat telinga Rukia menegak.
"Memang apa salahnya? Toushiro-kun baik."
Mencuri memang perbuatan salah. Tapi kalau mencuri dengar, tidak apa-apa, kan?
"Baik darimananya? Aku bersumpah tidak akan membiarkan dia mendekati Karin."
Sudah jelas siapa 'dia' yang dimaksud. Namun, hati kecil Rukia berbisik, berharap bahwa itu tidak seperti yang ditakutkan.
"Bukankah Karin-chan yang selalu pedekate dengannya, bukan Toushiro-kun?"
"Akh, terserah. Tapi bagaimanapun, Karin yang menyukai Toushiro, tidak bisa aku terima."
Rukia berhenti seketika. Tubrukan ombak tajam membentur sebongkah karang hatinya. Satu tarikan napas berat mengisi paru-paru. Sebelum kembali melangkah di bawah kubah hitam malam yang sunyi.
.
.
.
.
.
To Be Continued...
.
.
.
.
.
A/N : Saya akhirnya putusin 'tuk ganti genre Adv/Rom, jadi Romens/Friendship.
Ray Kousen7
02 Februari 2014
