.
.
.
Bleach © Tite Kubo
.
Warning:
OOC (parah); AU (setting adalah canon, tapi latar belakang semua karakter jauh berbeda); jumlah chapter yg lumayan banyak; alur lambat; romance gagal (sudah kebiasaan author)
.
.
.
.
.
BAGIAN I: Akademi Shin'ō
.
.
.
Tak ada tanda-tanda Rukia akan mengikuti teman sekamarnya mengembara ke dunia mimpi. Ia betah duduk memeluk lutut berlapis futon. Ditatapnya kosong tumpukan tiga buku di meja kecil berkaki pendek tak jauh di depannya. Tak ayal bayangan Toushiro berlari-larian di benaknya.
"Kau beruntung sekali, ya," celetuk Riruka di kasur seberang, hening dan lamunannya buyar. Ia berbicara sepelan mungkin agar Anna yang pulas di tengah tidak terusik, "diperebutkan dua cowok yang paling terkenal di Shinoureijutsuin."
Alih-alih merespons, Rukia berpaling darinya, kembali pada susunan buku tebal. "Siapa bilang aku beruntung."
Lambat-lambat, Riruka mendorong badan ke atas, rambut marun panjang nan lurusnya terjuntai bebas. Ia tidak menduga datangnya komentar itu.
"Aku tidak lebih dari benalu." Jeda—tidak begitu panjang. "Atau paling buruknya adalah gagak di balik sangkar emas."
Karena gadis yang pantas disebut beruntung adalah Momo Hinamori. Jika apa yang dimaksud Dokugamine, dipedulikan dua laki-laki tersohor di akademi, dipanggil keberuntungan.
Kata-kata Kuchiki terdengar getir. Membuat Riruka kembali berbaring, berguling ke samping, membelakangi Rukia.
Menoleh sepintas pada punggung Dokugamine, Kuchiki tersenyum sebelum mengekori merebahkan tubuh. Ditutupnya mata yang letih sebelum akhirnya terbuka lagi. Ada yang terlupa.
Dan cuma tiga detik, jawaban ia temukan. Ia lupa pedang kayu miliknya.
.
Sementara itu…
.
Padahal sudah tanpa debu, tapi kain lap masih saja naik-turun membersihkan sebatang pedang kayu. Rukia lupa lantaran terlalu antusias mengikuti perjamuan keluarga Kurosaki setelah Hitsugaya menyetujui.
Namun jika butuh kejujuran, Toushiro tidak melakukannya untuk Kuchiki, justru Isshin Kurosaki.
Pedang kayu yang khusus Toushiro pesan dari pembuat handal di Sunpu ia rebahkan hati-hati di sampingnya. Lalu membuang pandangan malas pada Kintarou Katsumoto; teman sekamar, seangkatan, namun beda kelas, mendengkur sambil mengiler, dan bahkan mengigau.
"Onee-chan cantik~ Tunggu~"
Dan Toushiro sama sekali tidak berminat mencari tahu apa isi mimpi Kintarou. Terutama saat mendapati seekor elang mengepak ke arahnya. Si jabrik putih bangkit, membuka jendela, melepas secarik kertas terlipat dan terikat di salah satu tungkai. Sang elang terbang kembali setelah ia meraih dan membuka.
Reaksi Toushiro lumayan datar bila melihat isi pesan yang bikin orang awam berkeringat bimbang. Ia lalu memutuskan mengistirahatkan tubuh lebih cepat dari malam-malam sebelumnya. Karena besok dan besoknya lagi akan jadi malam yang panjang.
.
.
.
TUJUH PEDANG
.
# 5 #
Burung Gagak dan Sangkar Emas
.
.
.
Kalau pengalaman bertemu kertas ulangan, ujian atau tes, tampaknya tidak ada yang bisa melewati rekor Renji Abarai. Dan Renji patut bangga itu. Tapi, ia malah tidak-tidak-TIDAK bangga! Lantaran rekor tercipta gara-gara mengikuti enam kali ujian masuk Shinoureijutsuin, enam kali itu pula ia gagal total dan mesti mendedikasikan enam tahun hidupnya di akademi pinggiran Seireitei. Akademi untuk mereka-mereka yang gagal.
Untungnya di tahun ke-7 atau tahun ini, dewi keberuntungan mengasihani Abarai. Penungguannya terbayar dengan kini telah berhasil menggapai mimpinya yang tertunda lebih dari setengah dekade.
Makanya, wajah tegang seperti murid lainnya tidak akan ditemui dari Renji. Ujian? Sudah biasa. Ia pun berupaya menularkan pada Rukia yang selalu ditemani dengan buku super tebal yang bikin otaknya berlarian 777 keliling.
Tapi sudah dari sananya tidak ada talenta memotivasi, Renji justru bilang, "Kau tidak mual baca buku tebal sebanyak ini?"
Kepala yang terlentang di meja, terangkat, dan menengadah lesu pada Abarai. Rukia bergumam seadanya, maklum tidak tidur nyenyak semalaman.
Hanatarou nimbrung gara-gara simpati bercampur kasihan. "Lebih baik kau minta bantuan Riruka-san, Rukia-san. Dia, kan, paling pintar di kelas?"
Mendesah lelah, nona bangsawan kembali menempelakn kepala pada meja. Sementara Renji menatap Hanatarou tanpa harapan. "Kau pikir Riruka mau? Dia itu ratunya sombong. Maunya dapat nilai tinggi sendiri."
"Tapi, kan, dia membantu kita kemarin mengerjakan tugas. Ingat?"
Iya, sih. Hanya saja yang ingin disampaikan Renji adalah Riruka tidak akan menolong Rukia, biarpun besok itu hari kiamat. Maklum, cewek rambut sehitam tinta ini adalah bangsawan.
"Aku tidak paham." Punggung Rukia jatuh lungai bertemu sandaran kursi. "Kami baru bertemu. Tidak banyak bicara. Tapi, kenapa dia membenciku sampai segitunya?"
Merasa wajib menerangkan dari sudut pandangnya, Renji membawa paha mengapit kursi depan, merengkuh sandaran kursi dengan pelukan tangan kekarnya. Ia berada tepat di depan Rukia. "Itu bukan hanya kau, Rukia, tapi semua bangsawan … aku pikir. Dia sensitif dengan mereka yang dapat keuntungan gara-gara gelar keluarga tanpa usaha dari diri sendiri. Sedangkan mereka yang dari Rukongai—kami-kami ini, juga Riruka—harus susah-susah untuk masuk, bahkan ada yang gagal lebih dari satu kali."
Renji, misalnya.
Rukia terdiam, memilih berpaling pada tangan di pangkuan. Ia akhirnya paham. Karena contoh ideal yang dimaksud Renji adalah dirinya. Saat yang lain berjuang keras melewati ujian masuk akademi, ia malah bisa melangkah dengan ongkang-ongkang kaki (karena bangsawan Kuchiki). Saat yang lain bisa dapat F karena nilai buruk dan harus dikeluarkan, ia malah dapat nilai C untuk paling tidak melanjut hingga ujian musim panas nanti (karena bangsawan Kuchiki). Saat yang lain ditindas dan dicemooh murid bangsawan, ia bisa melewatinya dengan tenang dan nyaman (karena bangsawan Kuchiki).
"Baru lebih sebulan kau menyandang nama bangsawan, kau berubah jadi tukang ngeluh, hah? Di mana Nona Pencopet yang penuh nyali yang aku kenal di Inuzuri?"
Gelar bangsawan bukan hanya mengonversi nama Rukia, tapi juga diri sendiri. Rukia hampir saja lupa dari mana ia berasal.
"Selain itu," giliran Hanatarou yang berpendapat, "Riruka-san itu tidak pernah berpura-pura. Saat dia tidak suka atau benci, dia akan menunjukkannya dengan terang-terangan. Tidak akan pura-pura baik atau ramah."
Perlukah Renji bilang kalau ia sering tidak paham dengan cara pikir Yamada? "Cara bicaramu terdengar seperti kelebihan untuknya."
"Entahlah." Hanatarou mengangkat bahu. "Hanya saja, jarang kan ada orang yang seperti itu, Renji-san. Selalu menunjukkan apa pun yang dipikirkannya tanpa ragu."
"Ya juga, sih." Punggung Renji beradu dengan tepi meja. "Sayangnya, tidak ada yang suka dengan orang yang mengkritik orang lain tanpa pikir panjang. Buktinya, dia sama sekali tidak punya teman. Kecuali, buku yang digendongnya, yang jelas-jelas tidak bisa diajak bicara."
Rukia tersenyum saja. Tidak mau memberi opini karena Hanatarou sudah menyuarakan isi benaknya. Riruka Dokugamine adalah orang yang transparan. Tidak munafik, jujur, dan tak pernah memasang topeng. Seseorang yang apa adanya tanpa ambil pusing bagaimana orang lain memandangnya.
Diskusi itu usai saat bel masuk berbunyi. Renji dan Hanatarou segera kembali ke kursi masing-masing. Rukia menutup buku untuk disurukkan ke dalam laci meja sambil memandang Riruka yang baru masuk kelas sambil (lagi-lagi) memeluk buku tebal.
Rukia tersenyum tipis dan penuh tekad untuk menjadikan perempuan itu teman baiknya.
.
.
.
.
.
Memiliki pandangan peka nan tajam, tidak sulit untuk Toushiro menemukan gairah yang lebih besar pada diri Rukia di latihan hari ini. Tiba dengan mendapati si gadis sudah latihan menebas pohon bersama pedang kayu (bukan miliknya). Keringat yang bercucuran sebagai bukti kalau nona bangsawan itu sudah ada di sini cukup lama.
"Makan malam dengan calon mertua ternyata berdampak besar, ya?"
Berjengit, Rukia berbalik menghadap Toushiro yang menghampirinya.
"Sepertinya aku harus sering-sering mengizinkanmu keluar berkencan dengan calon suamimu."
Tidak ada tanggapan. Ekspresi Rukia pun tak terbaca. Malah bilang, "Aku mencari bokutou milikku, tapi tidak ada. Senpai yang membawanya? Dan bukan karena jamuan tadi malam yang membuatku bersemangat, tapi seorang teman sekelas."
Alis Toushiro terangkat. Cara tutur Rukia terdengar tanpa beban dan lebih luwes. Lalu mengulurkan pedang kayu yang ia bersihkan dan jaga baik-baik nyaris semalam penuh. "Ini."
Rukia menggapai sebelum menatap Toushiro lurus-lurus. "Senpai," jeda, "terima kasih."
Tidak lekas merespons. Ada sesuatu yang terjadi kemarin atau hari ini pada si gadis Inuzuri; dan Toushiro penasaran. "Terlalu cepat. Kau bisa berterima kasih saat lolos turnamen musim panas nanti."
"Kau yakin … aku mampu?" Rukia masih belum percaya diri, padahal berkelahi sudah jadi pengalaman sehari-harinya di Inuzuri. Tapi, duel beda jauh dengan perkelahian jalanan.
"Kau sendiri … kau yakin dirimu mampu?" Toushiro melemparkan pertanyaan sama.
"Baru lebih sebulan kau menyandang nama bangsawan, kau berubah jadi tukang ngeluh, hah? Di mana Nona Pencopet yang penuh nyali yang aku kenal di Inuzuri?"
"Iya." Pancaran mata Nona Pencopet kembali. Toushiro bisa lihat itu.
"Kalau begitu, iya juga." Ia pun tersenyum tulus—baru kali ini.
.
.
.
.
.
Jauh dari kata 'ramah', jauh dari kata 'sopan', jauh dari kata 'bermulut manis'; siapa yang mau dekat-dekat dengan orang berkarakter demikian. Riruka sudah tahu betul dan sangat berpengalaman. Namun baginya, hari tanpa teman jauh lebih baik daripada harus mengenakan topeng belagak malaikat.
Cara seperti itulah ia hidup.
Ditutupnya buku tebal yang pasti bikin Renji benaran muntah, meletakkan di bawah meja berkaki pendek. Riruka meniup lilin, otomatis menjadikan kamar yang kini dihuni dua orang (Anna sedang menjalankan tugas lapangan ke Dunia Manusia), kian temaram dengan hanya satu lilin di meja seberang. Kemudian di tengah kamar, dua futon telah tergelar.
Riruka menoleh saat pintu terbuka, menampakkan Rukia ber-yukata putih, rambut tersanggul, dan keranjang pakaian yang digendong di pinggul. Teman sekamarnya itu baru habis berendam di pemandian air panas di lantai dasar asrama.
Riruka mencoba cuek-cuek saja sambil menarik selimut sebatas leher. Sedang Rukia menghela napas sebelum meletakkan keranjang pakaian kotor di pojok kamar. Bergerak ke kasur miliknya, bukan untuk berbaring, justru duduk bersimpuh. Ia menghela napas lagi, sekarang lebih panjang, untuk mengantar tangan mengguncang tubuh Riruka pelan. Membangunkannya.
Ditepis. Tapi, bekas sang pencopet tak menyerah; diguncang lagi. Ditepis lagi. Diguncang lagi, lebih keras. Ditepis, dengan Riruka bangkit setelahnya sambil melotot marah.
"Apa maumu!"
Sentakan suara macam bentakan itu sama sekali tidak meruntuhkan mental kuat Rukia. "Bisa bantu aku belajar?"
Kedutan tegang di wajah Riruka berkurang. Ia melunak. "Bukankah kau punya mentor? Kenapa tidak minta bantuannya saja?"
"Dia memberiku catatan judul buku untuk aku pelajari sendiri. Dia ingin aku juga belajar mandiri."
"Kalau begitu, ikuti perintahnya." Setengah tak acuh, Riruka berbaring sambil membelakangi. Namun, telinganya menajam saat Rukia bilang—
"Tapi, buku ini pakai bahasa asing. Bahasa Inggris, kalau tidak salah. Aku tidak mengerti."
"Jadi?" Riruka memancing di balik punggung.
"Jadi … aku minta bantuanmu karena kau paling cerdas di kelas."
Dari tempatnya duduk, Rukia bisa melihat punggung itu bergetar. Namun tentu, ia tidak melihat satu bulir air tertahan di kantung mata Riruka yang buru-buru ia hapus sebelum jatuh. Salahkan pujian tulus yang tidak pernah ia dengar dari siapa pun. Secerdas-cerdasnya Dokugamine, tidak ada yang pernah menyanjungnya hanya karena asal-muasal dari Rukongai. Kalau bangsawan, pasti sudah dipuji setinggi langit hingga bikin mabuk.
Lambat-lambat, Riruka terduduk. Membawa badan menghadap Rukia dengan masih menampilkan sisa-sisa raut angkuh. "Ya, kau benar. Aku adalah murid paling cerdas di kelas. Baru sadar sekarang?"
Bukannya muak dengan kata-kata bengah itu, nona bangsawan mengangguk mengamini. "Tentu. Kau bahkan murid paling cerdas di akademi."
Senyum tertahan, gengsi besar kalau Riruka harus tersenyum lebar. Kuchiki punya kemampuan buat orang melayang, ternyata. "Itu berlebihan, Bodoh. Gelar itu masih milik mentormu, Hitsugaya-senpai. Kecuali, aku bisa memecahkan rekornya, baru kau boleh puji aku murid paling cerdas."
Rukia terkekeh pelan. "Baik, baik."
"Mana?" Riruka mengulurkan tangan yang sukses menarik alis Kuchiki. "Bukunya!"
Manggut-manggut canggung, Rukia bergerak pada meja miliknya untuk memberi buku tebal ke tangan Riruka.
"Sekarang?"
"Apanya?"
"Otakmu lambat. Belajarnya!"
"I-iya."
Dan malam kelam di pertengahan Mei itu diisi Riruka yang menjitak kepalanya jika Rukia sedang lambat kerja. Tapi Kuchiki mengikuti tanpa mengeluh, membuat hati keras Dokugamine perlahan luluh. Tidak salah jika air mata kembali, yang kali ini sukses menuruni pipi putihnya. Haru bahwa ada yang menghargai kerja kerasnya, mengakui kemampuannya, terlepas dari kenyataan kalau ia hanya tikus jalanan busuk dan tidak bernilai dari Kusajishi.
.
.
.
.
.
Satu yang paling Momo Hinamori hindari kemarin, hari ini, dan besok adalah tidak bertatapan muka dengan Yamamoto-soutaichou. Momo tidak berselera melayangkan tatapan benci jika berhadapan dengan tersangka utama yang membuat Klan Yamamoto dihapus dari list Empat Keluarga Besar.
Gara-gara kakek buyut nan sepuh yang masih kelewat sehat dengan umur lebih dari dua ribu tahun itu pula, ia akhirnya harus menghindari satu orang lagi mulai sekarang. Rukia Kuchiki.
Ia tidak tertarik berhadapan untuk kedua kalinya. Cukup saat kebetulan bertemu kemarin. Momo tidak mau melayangkan tatapan tidak suka pada biang masalah yang membuat hubungannya dan Ichigo di ambang jurang.
Namun, berstatus Ketua Klub Pertunjukan Kidou jelas menghilangkan kesempatan itu. Lihatlah sepasang junior tahun pertama yang baru melewati pintu untuk ikut bergabung. Rukia, salah satunya.
"Aku tidak suka klub ini," bisik Riruka sambil menyisir ruangan yang hanya diisi cekikikan murid bangsawan. Jelas, ia tidak nyaman.
"Hitsugaya-senpai bilang," bisik Rukia pula, "jika mau mengetahui banyak tentang kidou, lebih baik masuk klub ini."
"Kita baru akan mempelajari kidou di pertengahan semester dua—dan oh, orang yang paling aku tidak suka menuju ke arah kita."
Adalah Momo Hinamori bersama empat pengekor bergaya angkuh layaknya aristokrat (Riruka masih kalah) menghampiri mereka.
"Ada yang bisa aku bantu?" tutur Hinamori ramah.
Rukia lalu menyampaikan maksud dengan tak kalah ramah. Tapi bukannya ditimpali oleh sang ketua, Momo, empat pengekornya yang buka suara.
"Jadi, kau Kuchiki yang merebut pacar Momo-chan, ya?"
"Kau sama sekali tidak merasa bersalah? Dia itu pacar seniormu."
"Kuchiki yang beruntung menikahi Kurosaki-san."
"Tapi maaf saja, hati Ichigo-san hanya milik Momo."
Topik awal jadi melenceng jauh.
"Teman-teman, hentikan," Momo menengahi, "itu bukan salah Kuchiki-san. Aku yakin dia juga tidak mau dipaksa seperti itu."
Kedewasaan, pengertian, dan kebaikan hati Hinamori menumbuhkan senyum lega di wajah Rukia.
"Momo-chan memang berhati malaikat."
"Tidak salah Ichigo-san tergila-gila padamu."
Kecuali selebihnya menggangguk menyetujui, Riruka menunjukkan wajah mual dan mau muntah. Sampai dipergoki salah satu kawan Hinamori.
"Hei, apa kelakuanmu itu? Tidak sopan!"
"Tidak sopan? Lalu kalian yang mengejek orang begitu saja disebut apa?" Riruka bertegak pinggang maju, tanpa takut. "Selain itu, jangan merasa aneh kalau aku tidak sopan. Di Kusajishi, kami tidak belajar kesopanan, kecuali," dibumbui mata melotot, tangan dibawanya ber-gestur menggorok leher, "membunuh." Dilengkapi dengan suara yang dibuat-buat horor.
Otomatis, empat kawan Momo bergerak mundur. Sedangkan Rukia yang menahan geli, segera ditarik cepat oleh Hinamori, memberi jarak dari yang lainnya.
"Kuchiki-san … dia temanmu?" Momo melirik jeri Riruka.
"Ah, iya. Dia teman sekelasku. Riruka Dokugamine."
"Ma-maksudmu … Dokugamine yang berkelahi di ujian masuk akademi?"
"Kalau bagian itu … aku tidak tahu, Senpai."
"Aku sarankan sebagai sesama bangsawan dan juga menghormatimu sebagai Kuchiki, hindari dia."
Rukia tidak membalas.
"Dia hanya akan membawa pengaruh buruk untukmu. Dan ujung-ujungnya akan mencoreng nama Kuchiki."
Rukia baru sekarang menjawab, "Senpai," tajam; suara dan tatapan. Ia tidak pernah seperti ini selain di Inuzuri, "dia temanku. Kau tidak mengenalnya. Kau tidak tahu apa pun tentangnya. Meski aku juga tidak begitu tahu tentangnya. Tapi yang aku paham pasti, dia jauh lebih baik dari empat temanmu, yang bisa aku jamin akan menghindari Senpai jika tahu identitas aslimu adalah Klan Yamamoto yang terbuang."
Melotot dan menahan napas, Hinamori tidak percaya. "Ka-kau…"
Rukia pun tidak percaya bahwa dirinya bisa berkata sekasar itu. "Maaf…" Hingga menunduk sopan alakadarnya, menarik Riruka yang masih beradu melotot dengan empat kawan Hinamori, "Ayo." Dan menghilang di balik pintu yang ditutup keras.
Raut Momo menegang sambil menggeleng-geleng kaget. Kini, ia bukan tidak suka lagi pada Rukia Kuchiki. Ia benci. Sungguh benci. Gadis itu tidak tahu diri.
.
.
.
.
.
Rasa-rasanya Renji perlu membasuh muka tujuh kali dengan air kembang. Atau sekalian mengucek mata 888 kali sampai yakin kalau pemandangan depannya hanya efek fata … fata … fata…
"Fatamorgana." Hanatarou bisa membaca pikirannya. "Yang di depan kita itu benaran fatamorgana ya, Renji-san?" Yamada pun tidak percaya pada matanya.
"Pasti. Kau pikir itu nyata melihat Rukia dan Riruka berjalan bersama sambil mengobrol? Aku yakin matahari sebentar terbenam di timur."
Dengan polosnya, Hanatarou melongok ke atas langit dari balik jendela. Ia merinding ngeri mengingat isi buku kalau matahari terbenam di timur itu tanda-tanda kehancuran dunia. "Kau membuatku takut."
Renji sendiri tidak habis pikir, "Baru kemarin mereka kayak bensin dan minyak tanah, sekarang malah menyamai susu dan teh."
Hanatarou tidak sempat mengoreksi keanehan kalau yang biasa ia dengar istilah minyak dan air saat dirinya lebih tertarik menghampiri Riruka dan Rukia yang masuk kelas. Kuchiki duduk di kursi miliknya dengan Dokugamine menarik kursi kosong di sampingnya untuk melanjutkan pelajaran yang tertunda semalam.
"Etto…"
Renji yang masih memerhatikan dari kursi, terperanjat saat si hitam dan marun menoleh bersamaan. Kompak banget!
"Ya?"
Nyahutnya pun serentak!
"Ka-kalian … sudah berteman, ya?" Hanatarou gugup.
Riruka merespons santai, "Aku rasa bohong kalau aku bilang kami berteman," seraya memaku perhatian pada si buku tebal, "tapi hari ini bisa dibilang hubungan kami lebih baik dari kemarin." Lalu Rukia menyela untuk bertanya tentang terjemahan yang tidak ia mengerti untuk dibalas penjelasan lebih dari Dokugamine. Mereka kelewat sibuk untuk sempat melihat Hanatarou yang hampir menangis (bukan karena terharu), namun—
"Kiamat."
"Apa?"
"Ya, kiamat," Renji menceletuk, berdiri di sebelah Hanatarou yang mengusap air mata dengan kosode putihnya. "Sekarang kalian mirip sepasang anak kucing yang akrab, padahal kemarin sudah seperti serigala dan kucing."
"Anjing dan kucing," ralat Riruka.
"Terserah. Serigala masih anggota keluarga anjing."
Diskusi konyol itu baru berakhir saat Ochi-sensei masuk kelas. Riruka, Renji, Hanatarou buru-buru kembali ke kursi masing-masing.
Rukia tersenyum-senyum dengan keakraban yang mulai terbentuk bersama teman sekelas. Sebelum amblas saat mengingat kata-kata kasar dirinya pada Hinamori-senpai. Ia mendesah panjang dengan kepastian bahwa hubungan mereka tidak akan sebaik sebelumnya.
.
.
.
.
.
Toushiro baru saja mau mengetuk saat seorang siswi membuka pintu dari dalam dan melangkah keluar melintasinya. Ia masuk setelah siswi ber-kosode tanpa lambang akademi itu melenggang menjauh.
Meja kayu jati berplakat nama Gengorou Oonabara yang menyambut Toushiro di kaki pertama. Si empunya nama duduk di balik meja sambil menulis berlengkap kuas.
"Oh, Hitsugaya," suara gemuruh Oonabara menegur sambil mengangkat wajah.
Toushiro bergerak sambil lupa membalas, hingga berakhir setengah langkah dari meja guru. Diliriknya bungkusan kain coklat bermotif snowflakes di sudut meja. Sekadar menghirup baunya, harum krisantemum. Serbuk teh krisan?
"Oh, itu pemberian siswiku tadi," Oonabara-sensei menjawab penasaran Toushiro. "Ambil saja setengah jika kau mau."
"Tidak." Tentu, tidak. Hitsugaya tidak gemar menerima pemberian guru atau orang yang tak akrab dengannya. Selain itu...
"Jadi, ada apa?" Kuas dicelupkan di wadah tinta.
"Tidak ada. Hanya ingin bertanya pada Sensei sesuatu yang penting."
"Apa itu?" Lalu kembali menggores kertas yang baru terisi setengahnya.
"Apa yang Sensei lakukan di tanggal 31 Desember?"
"Apa?" Terhenti. Kepala Oonabara terangkat.
"Aku yakin tanggal itu mengingatkanmu pada sesuatu."
Jeda terlalu lama untuk pertanyaan sederhana. "Apa yang kau katakan?"
"Atau di tanggal 31 Desember 1920. Aku yakin saat sore turunnya salju, kau tidak sedang di rumah."
Kuas di kertas tergenjet dan bergetar saat memori kuat itu melintas di benak sang guru. "Apa yang coba kau katakan, Hitsugaya?"
"Akui dosamu."
Kini kuas itu telah tumbang, berakhir membentur lantai. Hanya Oonabara sendiri yang tahu kalau tungkai kakinya gemetar bukan kepalang. "Siapa kau?"
"Aku memberimu waktu hingga pukul 22.00 malam. Datanglah ke Central 46 dan akui dosamu. Lakukan untuk istri dan anakmu."
Badan besar itu terhentak berdiri hingga punggung kursi bertemu rak di belakangnya. "Siapa kau!"
"Jangan berteriak. Kecuali ingin istri dan anakmu mati."
"Kau menyandera mereka?" Intonasinya suaranya menurun drastis, jeri dan takut.
"Aku tunggu keputusanmu. Jika tidak, bisa dipastikan mayat mereka yang akan kau temui saat pulang."
Kalimat itu adalah penutup kunjungan ultimatum Toushiro sebelum berjalan keluar dengan gerut muka dingin nan kaku tanpa ampun. Paling tidak, beri kesempatan pada targetmu sebelum memenggal leher jadi solusi terakhir.
.
.
.
.
.
Harus Rukia akui bahwa hari ini banyak kejutan yang mengerumuninya. Salah satunya adalah sosok Toushiro yang menunggunya depan kelas setelah pelajaran terakhir usai. Yang imbasnya, ia mesti mengerjap lebih dari sekali untuk menyakinkan diri atau mendengarkan bisik-bisik aneh teman sekelas. Tidak terkecuali Renji, Riruka, Hanatarou yang senyum-senyum ganjil jikalau mengingat drama nyata yang ditonton mereka tempo hari.
"Hari ini latihan ditiadakan. Aku ada urusan."
Alasan kunjungan Toushiro, yang membuat Rukia kecewa. Pikirnya, apa.
"Lalu … apa yang terjadi antara kau dan Hinamori?"
Kebetulan Momo curhat pada Toushiro. Mustahil gadis itu mengumbar kecewa hati pada Ichigo untuk masalah begini. Takut malah dikira cemburu.
"Kenapa? Kau tidak suka aku membuat marah calon pacarmu?"
Menariknya, Rukia membalas ketus. Sebelum minta maaf dan meralat kalau mereka hanya berdebat. Lalu melenggang pergi, meninggalkan Toushiro yang bergeming.
"Oi," Hitsugaya memanggil, Kuchiki berbalik. "Mau menemaniku ke suatu tempat?"
Adalah warung kecil yang dituju. Beratap daun kelapa kering yang ditumpuk, berdinding daun lontar yang dianyam. Warung itu terletak jauh dari pusat distrik Junrinan. Juga sebagai destinasi favorit Toushiro (selain atap asrama) bila sedang suntuk dan butuh waktu bersantai.
Duduk berdampingan di bangku yang lumayan kecil, sepasang lengan dari dua tubuh bersentuhan tanpa jarak. Dipesannya sepiring amanattou sebelum satu butir berakhir di mulut Toushiro. Langit kuning siang menjelang sore memayungi mereka. Rukia duduk kaku nan risi, mencoba tidak bergerak sesenti pun agar bangku lapuk dan berderit itu tidak ambruk seketika.
"Ini." Toushiro mengulurkan piring, dan Rukia meraih tiga butir.
"Kalau aku akan melakukan 'pekerjaan rumah' yang lumayan sulit," tanpa diminta, Hitsugaya terbuka begitu saja, "aku biasa makan empat-lima butir amanattou. Setelahnya, aku sedikit lebih tenang."
Senyum merekah. Tidak dikiranya Toushiro bisa mengumbar hal sepele seperti ini padanya mengingat cuma bentakan yang diberikan laki-laki itu sejak kemarin. Walau merasa aneh juga, pekerjaan rumah apa yang didapatnya hari ini sampai Tuan Jenius menganggapnya sulit. 'Kalau Hitsugaya saja kepayahan, bagaimana dirinya?', pikir Rukia.
"Aku juga sering begitu," Rukia terpancing untuk menimpali. "Saat akan merampok rumah saudagar, aku pasti makan confeito sampai lima butir." Gula-gula warna-warni mirip bintang kecil itu peredam gelisah kalau ingin merampok orang kaya dengan bodyguard dan anjing penjaga di mana-mana.
Toushiro tertawa kecil sebelum kembali melabuhkan satu buncis manis ke dalam mulut.
Siang yang awalnya menyengat berubah sejuk seiring arakan awan yang mengambil alih langit cerah. Mendung. Rukia mengeratkan lengan, menghalau dingin yang berembus. Sadar cuaca yang mulai memburuk, Hitsugaya mengembalikan piring pada ibu warung dan mengulurkan bayaran.
Dua pasang kaki melintasi lengangnya jalanan berkerikil. Angin merebak, mengantar debu beterbangan. Rukia menutup mata, menghalau debu. Tapi jauh sebelum itu, Toushiro menjadikan lengan pakaian sebagai pelindung.
Rukia tak sempat berkata-kata, Toushiro menariknya berlari menuju gerbang barat. Gerbang itu tertutup otomatis (tanpa Seireimon) jikalau badai sedang menimpa Rukongai. Setelah kaki menginjak ubin Seireitei, Rukia membersihkan sisa-sisa debu. Lalu berujar pelan, "Terima kasih."
Toushiro menoleh seadanya. "Bukan apa-apa," juga jawaban seadanya.
Rukia jadi bingung bukan kepalang. Baru saja laki-laki itu bersikap ramah, kini balik ke tingkah lamanya. Cuek, sok tak kenal, sok tak akrab.
"Apa aku sudah berbuat salah?" Sudah menemui jalan buntu, Rukia mencari tahu alasan dari kelakuan dingin Toushiro.
Hitsugaya memutar badan, tanpa ekspresi.
"Aku tahu kita baru pertama kali bertemu di Inuzuri, dan itu tidak cukup membuatmu menganggapku teman. Namun paling tidak, kita bisa bercengkerama akrab layaknya orang lain. Tapi justru … kau melihatku benci seolah aku ini musuhmu. Jadi, beri aku satu alasan kenapa kau tiba-tiba berubah sikap seperti ini?"
"Alasan … kurasa pertanyaan itu lebih pantas kau tujukan pada dirimu sendiri."
Rukia makin dibuat tidak mengerti.
"Berubah … kurasa aku bukan satu-satunya yang berubah."
"Kau mau bilang aku yang berubah?"
"Jangan tanya aku."
Toushiro mengambil langkah menjauh. Tapi, berbalik saat kaki baru berayun lima kali. "Aku sarankan, kau harus pulang sekarang. Aku tidak mau kau absen latihan besok gara-gara sakit."
Rukia menengok langit, awan kelabu Rukongai bergulung menuju Seireitei. Lalu kembali pada Toushiro, tapi si pemuda sudah tidak ada. Secepat itu?
.
.
.
.
.
Memberi kelonggaran pada Gengorou Oonabara dan berharap apa yang dikatakannya dituruti mirip menegakkan benang basah. Sia-sia belaka. Toushiro merasa bodoh sendiri setelah peluang itu dibuang percuma saat tak ada tanda-tanda sosok sang guru mendekati markas Central 46. Tidak ada lagi kesempatan kedua. Tabungan belas kasih telah habis. Kesabaran tiba pada batasnya.
Alasan yang mengantar dirinya berakhir di atap rumah berubin mahal bersama Teru Yagami, pria sok hebat yang memperingatkannya di Inuzuri.
Tidak tunggu waktu, ia dan Teru menyusup lewat jendela udara berkayu tepok, menyusuri ruang langit-langit berhias sarang laba-laba, dan berakhir di papan palfon kayu tepat di atas ruang kerja sang guru.
Telinga Toushiro didaratkan pada papan, memeriksa suasana kamar di bawah sana. Senyap. Kelewat sunyi bila ruang memang berpenghuni, artinya calon korban sedang tak ada.
Teru yang tak sabaran menebas papan langit-langit dan memasuki kamar kosong, tanpa siapa pun. Toushiro mengikuti dengan decakan kesal. Kakinya yang hanya berlapis kain hitam berlabuh di lantai kayu berharga jutaan kan. Jumlah yang cukup untuk menghidupi ratusan rakyat miskin di Rukongai.
Pandangan menyisir seisi ruang kerja.
Kelewat rapi untuk seorang Tukang Lembur macam Oonabara-sensei. Tumpukan kertas tersusun padat dan kursi yang terdorong masuk ke kolong meja. Kondisi yang menyiratkan bahwa ruang ini tak pernah dijamah sejak awal. Hanya satu yang mengusik adalah bebauan ganjil sejak Toushiro membawa langkah pertama. Bagi pecinta teh, tidak sulit baginya untuk mengenali.
"Krisan?"
Kaki tanpa sandal lalu menginjak keanehan di samping kursi. Basah dan lengket. Ia menyentuh dan mencium. Lalu mendapati selembar kertas di bawah meja.
Mereka bukan yang pertama ada di sini.
Bisa jadi…
Suara derak dalam lemari tinggi samping rak buku menyela sepi. Teru yang berada paling dekat, bergerak untuk membuka, meski Toushiro memberinya sinyal untuk segera angkat kaki. Hei, ia yang tertua dan ia tidak suka disuruh-suruh oleh seorang bocah. Ditariknya gagang lambat-lambat—tidak terkunci; keanehan berikutnya, yang membuat otak tak berkompeten Teru terus membuka pintu. Namun … apa pun (entah benda apa) dalam lemari telah mendorong maju, membuat pintu otomatis terbuka lebar. Kaki Teru bergerak mundur, tapi sayang tidak menolongnya mengelak dari tubuh tumbang Gengorou Oonabara tanpa kepala—kepalanya menyusul, menggelinding ke badan Teru yang terbaring hingga berakhir di ujung jari tangannya.
Tak pelak, "Aaarrrrrggghhh!" teriakan membangunkan seisi rumah, menggelegar.
.
.
.
.
.
Toushiro menutup mata. Ia berdiri di ketinggian atap berjarak jauh dari kediaman Gengorou Oonabara yang dilalap si jago merah. Jubah hitam ketatnya agak bolong, memajang kulit lengannya yang melepuh. Kronologi kejadian barusan berbunyi sebising serene darurat yang memenuhi setengah Seireitei.
Teriakan Teru membawa bencana dengan mengantar seisi rumah memergoki mereka. Tapi detik-detik sebelum itu, ia menyuruh Toushiro menyelamatkan diri. Dengan tubuh telah bermandi darah Oonabara, Yagami sudah tidak bisa lepas dari cengkeraman hukuman, dan ia berkorban.
Namun, yang tidak bisa Toushiro terima adalah cara Teru 'menghilang'. Pria itu menelan bom berwujud pil hitam untuk membuat tubuhnya berhamburan seribu keping. Semuanya demi tujuan tidak tertangkap dan diinterogasi pihak musuh. Nyawa tidak bernilai apa pun saat dihadapkan pada informasi komplotan mereka.
Toushiro membuka mata. "Kau yang memberikan pil terlarang itu padanya?"
Ichimaru yang baru tiba, duduk di sampingnya, memangku lengan di lutut yang dilipat. Tanpa seringai. "Teru yang menginginkannya sendiri."
Dengan intonasi datar Ichimaru, Toushiro tahu laki-laki itu berduka. "Maaf untuk fukutaichou-mu."
"Yah, maaf darinya untuk fukutaichou-mu, Ichimaru."
Suara balasan dari pihak kedua yang menyusul.
"Tousen-san?" Ichimaru mendongak ke belakang tanpa mau repot berdiri. Suaranya dibuat-buat santai seolah kesenduan kehilangan letnan telah hilang.
Kaname Tousen mengabaikan, langsung bergerak ke depan Toushiro. "Apa yang coba kau lakukan?" Hitsugaya cuma berwajah tanpa ekspresi. "Apa kejeniusanmu lenyap? Memperingatkan Oonabara terlebih dulu, menyuruh dia melapor ke Central 46. Tindakanmu itu sangat cerdas, Hitsugaya."
Jelas itu sindiran. Memperingatkan Oonabara sama saja membongkar identitas Toushiro dengan sendirinya. Untung saja, Kaname bergerak cepat dengan menghapus ingatan lewat kikanshinki bertipe kuat saat Oonabara minta bertemu setelah peringatan itu datang.
"Jadi, dia yang membunuhnya?"
Toushiro menyimpulkan cepat. Sang guru sudah tak bernyawa dan dibunuh dengan cara sadis beberapa saat sebelum dirinya tiba. Kepala berpisah dengan tubuh…?
"Kau jenius. Kau tahu jawabannya."
Kali ini Toushiro yakin kalau kata jenius bukanlah sindiran. Pembunuhan layaknya barbar memang bukan cara dia melenyapkan nyawa. Lalu siapa…?
Toushiro menatap Tousen sebelum bilang, "Aku pergi." Ia melompat turun, mendengar penyampaian Kaname di belakang sana.
"Dia ingin kau menghadap. Berikan pertanggungjawabanmu padanya."
.
.
.
.
.
Di balik jendela kayu kamar, api dan asap tebal sangat terlihat.
"Api yang besar," gumam Anna.
"Itu kediaman para guru, kan?" tanya Riruka.
"Iya," jawab Rukia. "Apa yang terjadi di sana?"
Rukia tidak paham, tapi sudut-sudut hatinya terasa nyeri. Membuatnya tidak kerasan berlama-lama memerhatikan kebakaran yang berlangsung kediaman para guru. Angkat kaki dari jendela dan hanya menjawab secukupnya saat Anna bertanya. Ia berakhir di futon untuk bergelut di bawah selimut tebal, memeluk diri erat. Sekujur tubuhnya bergidik dingin. Ia menutup mata, dan sosok Toushiro membayangi benaknya.
Dan tentu Rukia tidak tahu kalau puluhan kilometer jauhnya dari sana, sosoknya pun menggerayangi benak Toushiro. Ia berderap dengan langkah huyung di tengah jalan gelap sembari bermain seruling sepintas lalu. Singa kesepian ini berharap bahwa gagak lolos dari sangkar emas dan sedang mengepak sayap menghampirinya. Membawanya mengarungi langit, meski gelap, namun setidaknya ia bebas dari penjara sunyi ini.
Setidaknya, ia tidak seorang diri.
.
.
.
.
.
To Be Continued ...
.
.
.
.
.
[1] OC: Bibi Rukia di InuzuriAnna Murazaki (senior sekaligus teman sekamar Rukia-Riruka) | Kintarou Katsumoto (teman sekamar Toushiro) | Teru Yagami (yg muncul di ch pertama/scene pertama memperingatkan Toushiro, juga letnan Gin).
[2] Gengoroo Oonabara bukanlah OC. Ia salah satu pengajar di Shinoureijutsuin.
Ray Kousen7
02 Februari 2014
