Terima kasih atas review di chapter sebelumnya :
Sai—Kalo sulit tuk baca pair Ichixxx (selain IR), gak usah dipaksain, Sai. di skip aja bagian yg buat hati nyut2 gak enak(?)/ Ichigo emang labil. Apalagi Momo itu pacarnya, mustahil dia lupain dia begitu aja./ Tengkyu udah nyempetin review ya, Sai.
Snow—Persahabatan mereka emang akan ambil porsi cukup banyak di fic ini, selain romance-nya./ Dan sori, updet-nya telat luar biasa, Snow. moga2 masih sudi dibaca. Tengkyu udah nyempetin review.
sandrock—Saya gak ngerasa kamu nge-bashing Gin, kok. Saya juga bukan penggemar pain GinRan, cuma sekadar suka. Jadi gak masalah mau Gin ato Rangiku mau dipasangin sama siapa./ UN saya syukur berjalan lumayan lancar, hehehe. Dan maaf updetnya kelamaan, moga masih sudi dibaca. Tengkyu ya, sandrock#melukkenceng
Doreen—Saya emang suka buat karakter Toushiro kayak gitu. Tutur bicara yg tajam, dan agak ceplas-ceplos, namun perhatian#aw! Tengkyuu udah nyempetin review, ya.
Kawaii ne Akuma Shitsuji—Nih udah di-updeeeeet. Baru selese UN, kepala puyeng jadi gak bisa langsung konsen ngetik fic, hehehe. Soriiiiii udah nunggu lama yah, Shitsuji-san./ Saya jg kangen HitsuRuki, jadi bela-belaian ngetik. Tengkyuuu udah review#melukkenceng
Terima kasih pula ma yg udah login (sudah sy balas di PM-nya masing-masing): KeyKeiko | ichirukilover30 | sykisan | NatashAurel | Nyanmaru desu | Hayi Yuki | Syl The tWins | Leomi no Kitsune | ai-haibara777 | Kujo Kasuza | fufufu HIMI TSUki
Disclaimer: Bleach milik Tite Kubo
Warning: OOC (tentu); AU ; jumlah chapter yg lumayan banyak; alur lambat; romance gagal (sudah kebiasaan author)
Warning 'tuk ch ini: kalo gak pengen cepet botak gara2 banyak mikir, hindari ch ini.
Persembahan 'tuk Ai-haibara777 (yg udah setia nunggu), Kujo Kasuza (adeeeeek!), sandrock (review-nya yg luar biasa), Nyanmaru desu (ch ini bisa selesai karena review dia), KeyKeiko (selalu ngikutin cerita saya), Hayi Yuki (cinta crack), Syl The tWins (peluk!), n' tuk semuanya yg rela ngebagi waktunya tuk buka fic saya yg aneh bin ajaib. Tengkyuuuuuuu.
.
.
.
.
.
.
.
BAGIAN II: Turnamen Musim Panas
"Kau tampak lelah—Toushiro-kun." Teguran ini akan terdengar biasa kalau bukan pria itu yang menuturkan. Setiap kata yang meluncur dari bibir yang memajang senyum pengertian (palsu) sebagaimana mulut kobra yang melecutkan sejuta bisa.
Sousuke Aizen laksana raja dari para aktor.
Aizen berdiri dengan postur rendah hati (lakonnya di panggung berlabel kapten divisi ke-5), namun sirat mata yang rendah ampun tanpa belas kasih. Raganya yang berbalut shihakushou dan haori mendekam tepat di depan jendela berkisi. Ia bagai bintang utama dengan lampu sorot bulan yang menerpa punggung tegapnya. Kurang dari tujuh langkah di hadapannya adalah pemilik nama yang disinggung di dialog pertama.
Toushiro Hitsugaya laksana bidak menuju puncak tangga kekuasaan.
"Tidak juga. Biasa saja," balasnya, yang justru tanpa nada biasa.
Kepala Toushiro berpaling, tidak berhasrat membalas manik coklat yang menatapnya langsung. Bukannya takut, cuma tidak nyaman. Hawanya selalu begini kala bertegur tanpa kendat dengan pemimpin markas divisi ke-5. Sepasang mata di balik kacamata (kamuflase) itu bak menyedot habis isi benaknya tanpa sisa.
Pihak lain di ruang temaram, Aizen, masih di tempat, berposisi, postur, dan senyum yang sama. "Begitu," katanya, mengandung sejuta makna. Ia berpaling saat Kaname Tousen dan Gin Ichimaru muncul dari jalan masuk berlorong gelap. "Kau sudah mengeceknya, Kaname?"
"Iya, Aizen-sama," jawab Tousen, melirik Hitsugaya. "Sayangnya … kualitas reigai tidak memungkinkan untuk digunakan sekarang."
"Ummm, begitu," aroma kekecewaan tidak begitu kentara. "Apa boleh buat."
Gin menyela tanpa santun, "Maaf, maaf, Aizen-taichou. Karena fukutaichou-ku Anda harus repot-repot." Irama suaranya terkesan main-main, Gin yang dikenal telah kembali.
Kaname menyinggung, "Semuanya tidak akan jadi begini kalau bocah yang katanya jenius tidak bertindak ceroboh." Mata yang berlindung di balik aluminium perak beralih pada tersangka utama.
"Sudah, sudah, Kaname," Aizen meredakan. "Aku mengerti tindakan Toushiro-kun. Sangat tidak mudah menghabisi nyawa pria yang telah jadi gurunya selama tiga tahun." Lalu memberi tekanan pada konfirmasi selanjutnya, "Bukan begitu … Toushiro-kun?"
Butuh jeda untuk Toushiro menjawab, "Aa."
Tousen kontan ber-shunpo. Bilah pedang menyentuh urat leher di balik kulit. "Menyahutlah dengan jelas di depan Aizen-sama."
TUJUH PEDANG
.
# 6 #
Sang Raja dan Bidak Catur
Tousen dan Toushiro beradu tatap.
Hingga suara Aizen kembali menengahi. "Sudah, Kaname. Bukanlah hal bagus bila sesama rekan saling berselisih."
Pedang yang siap menjilat leher turun takluk dan tersarung aman di tempatnya. Namun Tousen tidak berpindah, mengamati bocah yang tidak tahu bagaimana bersikap sopan pada pemimpin.
"Selain itu aku yakin, Toushiro-kun akan membayar kesalahannya."
Ada maksud berbahaya di balik Aizen bertutur. Baunya menyengat sampai Toushiro bisa menciumnya. Tapi, ia tidak mengulurkan satu kata pun sebagai jawaban.
Sayangnya, itu bukan masalah bagi Aizen. Karena diam berarti ya. Sejak menginjakkan kaki di 'kapal' yang sama, pemuda berjuluk prodigy itu tidak punya banyak opsi.
Bibirnya menerbitkan senyum tipis sebelum ia beralih pada topik tak kalah penting. Ia menoleh pada Ichimaru. "Dan, Gin, kau bisa bertahan sementara tanpa fukutaichou, kan?"
"Sulit." Bahu Gin terangkat, lengan tangannya melekuk luwes. "Tapi aku akan berusaha, Aizen-taichou."
Sedetik setelahnya, Gin dikejutkan oleh tamu yang berdiri di belakangnya. Membalikkan badan, ia menyambut sosok bermandi kegelapan dengan identitas tak terterka. Tapi dari remang-remang postur sang pendatang, Ichimaru yang paling tahu pemilik siluet itu.
Di posisinya, Aizen memutar raga berhadapan dengan jeruji kayu jendela, menelusur bentangan Kota Seireitei yang tenggelam dalam pelukan malam. "Bom bunuh diri tentu solusi terbaik saat terdesak dan mengubur infromasi, namun bukan solusi cerdas untuk mengenyahkan identitas saat kau seorang fukutaichou."
Kegelapan berangsur-angsur menyusut saat si pengunjung menarik kaki ke depan, satu-dua langkah sampai perawakannya terpampang jelas. Kecuali dua kapten yang bertampang normal, Toushiro menahan napas seolah oksigen mandek di tenggorokan. Meski ini bukan kali pertama, ia benci mengakui bagaimana takjub dirinya dengan kekuatan magis Kyouka Suigetsu.
"Gunakan dia untuk bermain-main dengan Batalion 13," mandat Aizen, "untuk sementara."
. . . . .
Bila Retsu Unohana adalah tukang keluh, maka sudah sedari tadi ia mencomel layaknya ibu-ibu rumahan. Bekerja sama dengan Mayuri Kurotsuchi jelas tidak meninggikan animo sang ketua medis. Kutuklah pembunuh Gengorou Oonabara yang meledakkan diri sampai tubuh tercerai-berai dan bercampur-baur dengan sisa-sisa ledakan. Hanya di tangan si peneliti gila tentu, identitas tersangka kasus ini sanggup terbongkar.
Setelah mendengar laporan Isane tentang kondisi istri, anak, dan pelayan yang berada dalam kondisi baik-baik saja (fisik, tidak demikian untuk psikis), Unohana menghampiri Kurotsuchi yang memerintah ini-itu pada anak buahnya.
"Bagaimana?"
"Bagaimana apanya? Kau tidak bisa lihat?" Ramahnya Unohana dibalas ketus Mayuri. "Jika ini bukan perintah Soutaichou, aku tidak akan turun langsung ke tempat kejadian." Biasanya, ia hanya duduk ongkang-ongkang kaki di lab sambil menanti hasil yang diberi bawahannya. Jarang dalam sejarah Kurotsuchi turun gunung sendiri ke TKP.
Unohana menggumam saja, tidak ada niat mengeluarkan kata lebih. Ia memang tidak pernah nyaman di sekeliling sang ilmuan. Mata memicing, menghalau silau mentari yang merangkak naik. Cuaca cerah Soul Society sungguh bertolak belakang dengan cuaca hati para penghuninya.
Malapetaka dimulai dengan bom berdaya ledak istimewa. Istimewa, sebab radius jangkauan ledaknya tidak begitu besar. Pengaruh ledakan hanya pada lima-enam meter dari pemicunya, tanpa melukai bilik lain (seperti kamar tempat istri Oonabara tertidur, dapur, dan ruangan selebihnya). Pertanda bahwa sang pelaku tidak berminat mengincar nyawa lain, kecuali guru besar Akademi Shinou.
'Istimewa,' ulang Unohana di benaknya. 'Mungkinkah bom yang digunakan sejenis bom—'
"—berwujud pil."
Perhatian Unohana lekas terpaku pada Kurotsuchi yang menyeret kaki ke depan. Pria itu menerka hal yang sama.
"Sepertinya kita harus berurusan dengan Onmitsukidou, Kurotsuchi-taichou." Unohana membungkukkan badan pada Mayuri yang berjongkok, meraih sebuah benda yang terkubur di tanah hitam abu.
"Aa." Jempolnya menyapu tanah di sekeping besi yang ia temukan. "Dan juga divisi ini … aku rasa." Kilau mentari memantul di bros lencana bermotif bunga marigold.
Dan kedua kapten itu tahu ke mana mereka berakhir setelah ini.
. . . . .
Aula akademi dipenuhi rona hitam dan duka. Selain oleh penampilan pelayat dengan kimono hitam, juga dengan raut yang menggelap sendu.
Lima menit setelah mengheningkan cipta, kata-kata perpisahan disampaikan para pengajar terhadap sosok rekan mereka, Gengorou Oonabara. Kemudian disusul dengan aksi tiap murid menaruh sebatang lili putih di hadapan foto sang guru besar di altar. Saat tiba giliran, Toushiro maju dan menaruh bunga dengan tangan kiri. Melangkah turun, ia menggenggam lengan kanan tanpa sadar. Tidak ada yang memberi perhatian dengan kejanggalan itu, kecuali mata Rukia yang senantiasa mengamati.
Setelah upacara itu usai, sebagian besar siswa beranjak keluar untuk kembali ke asrama. Aktivitas belajar-mengajar diliburkan selama tiga hari, termasuk hari ini. Aula kini diisi guru yang memberi hiburan satu sama lain dan segelintir murid, termasuk Rukia. Ia mendekat pada Toushiro yang berdiri di hadapan altar. Tiba di sisinya, ia memandang foto sang guru sebelum beralih pada senior yang menatap pada arah yang sama, namun lebih lekat.
"Senpai … dekat dengannya?" singgung Rukia hati-hati, mengingat Oonabara-sensei adalah salah seorang pengajar di kelas murid tahun keempat. Kelas Hitsugaya.
Toushiro melirik acuh tak acuh. Ia paham maksud Rukia, jangan-jangan dirinya merasa kehilangan. Tapi salah besar, karena bukan Oonabara yang membuatnya berwajah bersimbah dosa, tapi….
Rukia mendekap sepuluh jari gelisah di belakang tubuh. Gelisah, namun kaki enggan untuk menyerah. "Lengan Senpai … terluka?"
Toushiro berubah tegang. Tangan (yang tanpa sadar) memeluk lengan satunya diturunkan. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia melenggang pergi. Sembunyi-sembunyi menarik napas dalam perjalanan menuju pintu keluar.
Punggung yang terbenam jarak jadi perhatian nona Kuchiki. Mengutuk mulutnya yang tidak tahu kata rem. Ia cuma ingin hubungan mereka membaik setelah perdebatan kecil siang kemarin. Tapi, tampaknya ia telah menyinggung topik terlarang.
Sementara di sisi lain, di balik jendela raksasa aula, Ichigo berdiri memandang Rukia yang berdoa di depan foto Oonabara-sensei setelah kepergian Toushiro. Kakinya lalu hengkang dengan langkah berat. Benaknya bertanya-tanya, kenapa Toushiro layaknya hantu yang suka sekali mengekorinya?
Apa perjalanan menjadikan Rukia pendamping pun harus melalui kata persaingan?
Sungguh, Toushiro Hitsugaya tidak pernah membiarkannya leluasa sendirian.
. . . . .
Mayuri mengumbar sumpah serapah sepanjang perjalanan. Rautnya yang berkisut-kisut jengkel tidak lenyap meski kaki telah menapaki lantai yang jadi tujuan mereka.
Divisi ke-3.
Ia bukan penyelidik kriminal, ia ilmuwan. Tugas ini lebik cocok untuk Onmitsukidou. Namun, Unohana menyarankan—dengan suara lembutnya yang bikin kepala Mayuri mendidih—kalau Onmitsukidou tidak harus dilibatkan (untuk saat ini). Keping lencana di tangan mereka belum jadi bukti terbaik untuk menjadikan salah satu anggota divisi ke-3 sebagai tersangka.
Tapi, Mayuri jamin kalau tinggal tunggu waktu tuduhan berubah jadi kebenaran. Bawahannya yang berkompeten bertugas sesuai ekspektasi, menemukan bagian kecil tubuh yang belum menjelma dalam reishi. Dan menemukan identitas pembunuh setelahnya bukan hal sulit. Tinggal menyerahkan pada kinerja lab yang dipenuhi teknologi mutakhir.
Bagian paling rumit dalam kasus ini adalah tubuh yang tercerai-berai dalam ukuran sekecil pasir. Pun memungkinkan kecepatan perubahan dalam bentuk reishi (atom roh) berkali-kali dari biasanya. Dan tugas Mayuri lah untuk menemukan jejak sekecil apa pun sebelum fenomena itu terjadi (berlangsung hanya beberapa jam saat kematian raga).
"Oh, Kurotsuchi-taichou, Unohana-taichou." Gin menampakkan batang hidung, menyambut rekan kapten dengan teguran biasa layaknya hari-hari sebelumnya. "Ada angin apa kalian kompak mengunjungiku? Kupikir kalian berdua sedang—"
"Jangan basa-basi sok akrab, Ichimaru. Kami tidak punya banyak waktu." Kurotsuchi gerah mendengar lantunan belagak karib dari bibir rubah itu.
"Juga termasuk minum teh?"
Kurotsuchi siap menyalak galak andai Unohana tidak cepat-cepat ambil bagian. "Maafkan atas ketidaksopanan kami dengan berkunjung tiba-tiba, Ichimaru-taichou. Tapi, aku yakin kau tahu kalau kami ditugaskan menyelidiki pembunuhan Gengoroo Oonabara. Dan demi kelancaran penyelidikan, kami perlu data kehadiran seluruh anggota divisimu, baik perwira maupun nonperwira. Kalau bisa, sekarang juga."
Selama penjelasan panjang di atas, Kurotsuchi melirik ke kanan-kiri. Bukan mencari seseorang, namun mencari keganjilan bahwa figur yang biasanya menyambut tamu di markas bukanlah seorang kapten, justru—
"Omong-omong, di mana fukutaichou-mu?"
—fukutaichou.
Gin jadi puyeng. Belum sempat menanggapi permintaan Unohana, sekarang ia dijejali pertanyaan lain. Lebih-lebih saat seorang bawahan menginterupsi jawaban yang siap ia berikan.
Bawahan itu berbisik di telinga Mayuri, menyodorkan selembar kertas kiriman Akon. Dengan senyum lebarnya, ia membuka antusias tidak sabaran. Unohana jadi yakin kalau dugaan awal mereka sekarang terbukti. Lihat saja bibir hitam Mayuri yang tertarik tajam, membentuk seringai menang.
"Tampaknya kita tidak butuh lagi. Hubungi Onmitsukidou. Kita sudah dapat pelakunya. Dia adalah—"
"Apa Anda mencari saya, Taichou?"
Secarik suara menyela keributan di pagi menjelang siang. Satu sosok muncul di belakang Ichimaru dengan perawakan tanpa cacat.
"Oh, Teru." Gin berbalik semangat layaknya seorang kapten yang menemukan letnan yang dibutuhkan sejak tadi. "Iya. Tepatnya Kurotsuchi-taichou yang mencarimu."
Di depan mereka adalah Kurotsuchi yang mematung total tidak percaya. Kertas terlepas dan jatuh bertemu lantai kayu. Unohana memungut, dan ia bereaksi kurang lebih sama.
Hasil tes forensik berdasar nama: Teru Yagami.
Namun sayang, pemuda berlabel nama serupa tepat berdiri lima langkah dari mereka: Teru Yagami yang bertampang bingung.
. . . . .
Rukia terheran-heran.
Maksud ia datang ke dojo di hari libur adalah berlatih 'menebang' pohon sendirian. Paham bahwa sang mentor pasti butuh waktu menjernihkan isi benak yang terguncang sepeninggal gurunya. Hingga telinga yang disambangi suara tebasan meruntuhkan opini itu macam bendungan jebol.
Toushiro Hitsugaya sedang mengayun bokutou di hamparan udara.
Pertanyaan yang mesti jadi miliknya dilayangkan laki-laki itu saat menjumpai figurnya yang masuk dojo. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Rukia menjawab sepatutnya kalau ia tidak mau kehilangan satu hari pun untuk berlatih. Orang yang berkemampuan pas-pasan wajib menguras fisik lebih keras dari orang lain.
Selagi Toushiro termangu-mangu, Rukia keluar dan berhadapan dengan pohon mangga. Bokutou berbenturan dengan batang tebal mesti tidak ada teori yang menyatakan pohon bisa tumbang dengan katana kayu. Sudah tiga minggu pohon ini jadi santapannya, namun alih-alih mau tumbang, tergores pun tidak tampak.
Tepat ayunan ke-200, Rukia berhenti. Membuang deru napas letih , ia melangkah ke dalam untuk meraih botol minum. Ketika itulah, ia memergoki Toushiro yang menontonnya di balik jendela. Sebelum laki-laki itu berkelit dan pura-pura menyibukkan diri dengan pedang.
Tersenyum geli, Rukia melenggang masuk sambil bersenandung. Setelah puas memanjakan dahaga dengan sebotol air, ia menghadap Toushiro yang duduk santai bersandar tembok. "Ayo berlatih, Senpai!"
Semangat berapi-api seperti ledakan gunung berapi tengah menjangkiti si gadis Inuzuri. Pun Toushiro menarik alisnya bengong macam orang bodoh sebelum Rukia memaksanya berdiri dan memulai latihan seperti biasa.
Layaknya hari sebelumnya, langit siang (menjelang sore) yang sama, dojo tua yang sama, pedang kayu yang sama, pun orang yang sama, tapi dengan hasil yang berbeda. Serangan Rukia meningkat siginifikan. Ia telah lebih dari sekali memojokkan Toushiro bertemu dinding. Atau penyebabnya adalah sang mentor menggenggam katana kayu di tangan kiri.
Kaki Rukia lambat-laun berhenti. Ia protes, "Apa maksud, Senpai? Senpai ingin membuatku senang biar aku beranggapan kalau aku mengalami kemajuan?"
Toushiro ikut-ikutan berhenti. "Apa?"
"Kenapa memegang bokutou pakai tangan kiri?"
"Itu urusanku, mau tangan kiri atau kanan. Tugasmu hanyalah membuat bokutou-ku terjatuh dan kau menang."
Rukia melirik ke lengan kanan Toushiro. "Kau berharap aku bangga menang menghadapi lawan yang sedang terluka?"
Hitsugaya butuh jeda untuk menjawab, "Aku tidak terluka."
Kuchiki membuang napas. Butuh lusinan kata dan kesabaran untuk membuat seorang prodigy takluk berlutut.
"Selain itu," Toushiro lanjut; Rukia memandangnya letih, pasti laki-laki ini ingin berdalih, "ini bagus untuk latihanmu. Kau tidak berpikir kalau hanya pengguna tangan kanan yang akan jadi lawanmu di turnamen, kan?"
Muridnya mengerjap. "Maksud Senpai … akan ada pengguna tangan kiri?"
"Aa. Kidal. Bahkan bisa kedua-duanya, dan jauh lebih bagus dariku. Jadi daripada kau terus mengeluh sampai sore, kita lanjutkan saja."
Rukia merengut. "Aku tidak mengeluh. Aku hanya … cemas."
"Aku tidah butuh rasa cemasmu. Yang kubutuhkan adalah kau jadi kuat."
Rukia menatapnya penuh.
"Mengerti?"
Rukia masih menatapnya.
"Oi, kau mengerti tidak?"
"Iya, iya." Rukia sudah tidak menatapnya. "Tidak perlu berteriak."
Sore menyambut saat latihan terakhir di hari itu usai. Mereka duduk berdampingan sambil melepas letih di bibir serambi dojo. Semakin lengkap dengan camilan yang dibuka Rukia di kotak makanan marun bercorak mawar putih.
Toushiro mengernyit di sela meneguk air di gelas kayu. Rukia membuka bekal makanan berisi amanattou. Si jenius bisa saja ngiler kepingin andai nona Inuzuri tidak segera menyodorkan penuh-penuh padanya.
"Terima kasih." Oh, Toushiro tidak akan menolaknya, tapi tunggu—"Kau tidak berpikir untuk menyogokku, kan?"
Rukia langsung mendelik. "Bisa tidak terima pemberian orang lain tanpa curiga?"
Toushiro nyengir sebelum melempar tiga-empat butir ke mulut bagai bola yang dilesakkan ke ring. Ummm … amanattou ini jauh lebih lezat dari yang biasa ia makan di warung. Sementara Rukia tersenyum girang melihat keberingasan sang senior.
Kebetulan kemarin saat singgah sebentar di kediaman Kuchiki, ia menemukan satu toples besar amanattou di kamarnya. Kata sang kakak, itu adalah kiriman hadiah kapten divisi ke-4, Retsu Unohana, untuknya. Karena hanya satu sosok yang ia ingat kala melihat camilan itu, ia berencana hari ini mengunjungi Toushiro di asrama putra setelah berlatih di dojo. Tapi, rencananya ternyata terealisasi lebih cepat.
Langit lumayan berawan, tidak mendung namun tidak pula cerah. Sinar surya yang bersembunyi di balik gumpalan kapas abu-abu, samar-samar tertampak. Terengah-engah untuk menerobos, tapi awan cukup kuat untuk semudah itu ditaklukkan. Mirip Toushiro Hitsugaya. Benteng yang memagari hatinya terkadang terbuka, tapi masih cukup tangguh untuk tidak ditembus oleh sorot keingintahuan Rukia padanya.
Kuchiki mengunyah amanattou dengan lidah pahit. Ketertarikan untuk membuka topik tertelan bulat-bulat. Toushiro melirik dengan manik hijau di ekor mata. Mulutnya dipadati lima buncis manis mirip bocah yang kelaparan parah. Ditelannya pelan-pelan sebelum menelisik diam-diam air muka menggelap si gadis Inuzuri. Kotak memorinya langsung terketuk, terbuka, dan menghamburkan ingatan tentang perselisihan Rukia dan Hinamori.
"Apa kau," suaranya mematahkan hening, Rukia menoleh, "dan Hinamori sudah baikan?"
Adik Byakuya tidak pernah mengharapkan konfirmasi itu. "Belum."
Sudah dikira. "Zanjutsu-mu telah lumayan meningkat, tapi itu tidak akan jadi satu-satunya senjatamu dalam turnamen. Kau butuh senjata lain."
Rukia tahu betul yang dimaksud. "Kidou."
"Ya, salah satunya itu. Dan murid yang paling menguasai kidou di semua kelas," Rukia yakin nama yang disebut tidak menyenangkan di telinganya, "adalah Hinamori. Aku tidak mengenal murid lain yang lebih baik darinya, termasuk diriku sendiri."
Rukia lebih memilih menekurkan wajah di pangkuan daripada memberi respons.
Hitsugaya menghela napas panjang. "Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kalian, tapi singkirkan egomu dan berbaikanlah dengannya."
Paras manis itu menoleh dengan otot muka mengeras. "Itu kalau Hinamori-senpai yang minta maaf lebih dulu."
"Jadi kalau tidak, kau tidak mau?" Diam adalah pilihan Rukia. "Berapa umurmu, hah?" Ia jengkel.
"Aku tidak bisa setelah dia menghina temanku." Masih jauh jalan untuk ia melunak. "Kalau dia menghinaku, itu tidak masalah. Tapi jika itu temanku," jeda, "maaf."
"Apapun itu, aku yakin Hinamori tidak bermaksud. Aku sudah mengenalnya lama."
Kerut wajahnya tambah keras. "Bukan berarti kau mengenalnya, kau mengerti semua tentangnya. Senpai hanya melihat apa yang kau ingin lihat."
"Apa?" suaranya berubah intonasi. Tersinggung.
Rukia sudah terseret arus. Ia tidak akan mundur. "Senpai … menyukainya, tergila-gila padanya, jadi kau berada di pihaknya."
Toushiro jadi paham sekarang. "Ini bukan soal aku menyukai Hinamori. Ini soal kau. Berhentilah bersikap kekanak-kanakan."
Rukia tidak suka disebut kekanak-kanakan. Tapi alih-alih marah, mulutnya bungkam bagai direkatkan lem. Jantungnya serasa diremas oleh jari bertulang kekar.
"Bahkan, jika aku menyukai Hinamori, itu bukan urusanmu."
Dan jari itu mencopot jantungnya tepat di tempat. Rukia berdiri dengan satu gerakan tanpa fokus. Matanya berkunang.
"Permisi, kalau begitu." Ia melenggang masuk dojo.
. . . . .
Rapat mendadak. Dua baris kapten berhadapan berjarak lima langkah di tengah aula divisi pertama. Masing-masing sisi berjumlah enam, berisi kapten yang mewakili divisi berangka genap dan ganjil.
Sejak kaki pertama menapaki lantai lapang di aula, suara kasak-kusuk telah membombardir. Kematian Gengorou Oonabara, salah seorang guru besar di Shinou, mengundang banyak simpati, terutama pada Soutaichou. Pria berbadan besar itu adalah bekas orang kepercayaan Yamamoto sebelum mengundurkan diri demi mendedikasikan hidup sebagai pendidik di akademi tanpa campur tangan urusan lain.
Sayang belum reda kabar duka itu, kabar lainnya tidak kalah ambil bagian. Adalah tersangka pembunuhan, yang diyakini 100% oleh Kurotsuchi, adalah letnan divisi ke-3 atau bawahan Gin Ichimaru, Teru Yagami.
Namun, bukan bagian itu yang membuat semua kepala jadi geleng-geleng kebingungan. Tersangka yang diduga tubuhnya telah hancur berkeping-keping bersama bom, masih hidup dengan segar-bugar.
Lelucon apa ini?
"Diam!"
Suara berat nan tegas Soutaichou mengumandang bersama dengan ketukan keras tongkat besar di genggamannya. Tidak perlu lebih dari satu detik untuk kebisuan membungkam sekujur aula. Semua perhatian tertuju pada sang komandan dalam seketika.
"Ulangi lagi laporanmu, Kurotsuchi-taichou," perintahnya.
"Kembali saya katakan." Matanya terpancang pada Gin di ujung sana yang masih tersenyum rubah (seperti biasa). "Ini bukan kesalahan teknologi di institutku atau kecerobohan staf profesionalku. Dengan jelas bahwa bukti yang berhasil kami selamatkan menjelaskan bahwa Teru Yagami adalah tersangka pengeboman bunuh diri dan pembunuhan Gengorou Oonabara."
Bergulir ke pihak lain. "Bagaimana denganmu, Unohana-taichou?"
Unohana maju selangkah dengan gerak anggunnya. "Dengan segala hormat, Soutaichou-dono, apa yang saya dapat serupa dengan yang diyakini Kurotsuchi-taichou."
"Tapi, bagaimana bisa orang yang telah mati masih hidup saat ini?" Isshin menyuarakan kebingungannya, pun kebingungan sembilan kapten yang lain.
"Kau mau meragukanku, Kurosaki?"
"Oh, oh, jangan cepat tersinggung begitu, Kurotsuchi. Aku hanya tidak mengerti."
Si kakek tidak mau ambil pusing dengan mereka, melepas pertanyaan pada kapten terdepan di barisan genap. "Bagaimana Yagami-fukutaichou saat ini, Soifon-taichou?"
"Di penjara di markas divisi ke-2 untuk sementara. Akan dipindahkan ke Onmitsukidou saat perintah kurungan resmi diturunkan."
Untuk kasus ini, Soutaichou tidak mau ambil risiko dengan mengajukannya pada Central 46. Bukti yang tidak kuat sebagai alasannya, selain bahwa bila berurusan dengan para hakim, masalah semakin runyam.
Selain itu… Mata setajam elang Soutaichou menoleh pada Aizen.
Pria itu…
Menarik napas menguburkan berang yang mendidih, ia bergulir ke sisi kanan. "Apa pembelaanmu, Ichimaru-taichou?"
"Singkat saja, Soutaichou," katanya di antara selipan bibir yang menyunggingkan senyum kelewat lebar. "Maksud saya adalah fukutaichou-ku masih hidup. Bahkan semua penghuni divisi berani bersaksi kalau semalam dia berada di markas sepanjang waktu. Dengan kata lain, bukti dari Kurotsuchi-taichou tidak beralasan."
"Apa!"
"Bukankah sains tidak pernah memiliki angka yang pasti? Kau sendiri yang bilang begitu, Kurotsuchi," Kaname Tousen mendukung pondasi kuat Ichimaru. "Dan jangan lupa dengan peristiwa sepuluh tahun lalu. Kau telah membuat tiga orang tidak bersalah dihukum mati."
"CUKUP!"
Teriakan dari suara parau Soutaichou menyerbu bagai tusukan ribuan tombak. Menikam setiap leher kapten hingga sunyi mencekam mendekap penjuru jengkal aula.
Topik terlarang baru saja ditarik ke permukaan. Salah satu topik tabu dari rekam jejak kelam Mayuri Kurotsuchi, terutama untuk kepemimpinan Soutaichou yang sarat kediktatoran selama dua ribu tahun. Merupakan satu dari sekian kasus pemicu meningginya organisasi tersembunyi untuk melengserkan posisi si kakek. Salah satunya adalah kapten yang berpostur kalem dan tidak membuka suara sejak tadi.
Napas di hidung keriputnya mendengus tajam, merah padam merongrong rautnya sampai ke daun telinga. Kulit jarinya yang dimakan umur, mencengkeram kepala tongkat dengan ganas. Mencari-cari kesabaran dan ketenangan di luasnya lautan api kemarahan.
"Untuk saat ini, rapat dihentikan. Sekarang, bubar!"
Tidak ada seorang pun yang berani berkomentar. Hawa panas Ryuujin Jakka yang pekat mendorong kaki untuk segera keluar. Termasuk Ukitake dan Kyouraku, yang tahu benar kalau tali kendali gurunya nyaris putus.
'Aizen … bocah keparat!'
. . . . .
Tidak adanya bukti kuat mendorong pembebasan letnan divisi ke-3, Teru Yagami. Meski masih adanya kontroversi, terutama dari kapten divisi ke-12 sekaligus pemimpin Institut Penelitian dan Pengembangan, Mayuri Kurotsuchi, dengan keyakinan tanpa cela bahwa pelaku pembunuhan Gengorou Oonabara adalah bawahan Gin Ichimaru. Namun, kenyataan dengan masih hidupnya sang tersangka menumbangkan kebenaran bahwa pria itu telah tewas bersama Oonabara.
Pro kontra terus bergulir hingga—
Isshin merenggut koran begitu saja, melipatnya asal-asalan. "Tidak seharusnya kau membaca berita seperti ini, Ichigo."
Si jingga menghela napas. "Lalu apa yang seharusnya aku baca?"
"Buku pria yang kau puja-puja bernama … eh, eh, Sakesproom?"
"Shakespeare, Sayang." Masaki menghampiri sambil membawa satu buah gelas besar di nampan. Tahu benar kebiasaan sang suami sepulang rapat untuk menenggak secangkir susu coklat sebelum kembali ke markas. Penambah energi, katanya selalu.
Ichigo melirik malas-malasan sang ayah. Padahal pria itu yang rutin membelikannya buku Shakespeare kalau punya misi ke Dunia Manusia. Tapi, kenapa ia suka lupa namanya. "Aku sudah membaca tiap seri, bahkan sampai tiga kali. Apalagi aku bukan anak kemarin sore yang tidak tahu apa-apa. Dia guruku, Oyaji."
"Sebatas itu saja yang boleh kau tahu." Dengan punggung tangan, Isshin menyapu sisa susu di bibir yang ditandasnya sekali tenggak. "Selebihnya, jangan dipikir terlalu dalam. Untuk saat ini tugasmu cuma satu, menaklukkan hati Rukia-chan."
Ichigo melepas napas susah sebelum berbaring santai di tatami. Menyelonjorkan kaki di bawah meja berkaki rendah, kepala berbantal lengan. Masaki duduk, membelai sayang surai jingga sang putra. Ichigo berpaling padanya, dan melunak. Jika butuh alasan kenapa ia takluk untuk menuruti segala tetek-bengek perjodohan, wanita cantik inilah alasannya. Lidah Ichigo berubah jadi bertulang dan kelu bila menjumpai raut sedih sang ibu.
Belaian bikin betah itu berhenti saat Masaki ingat menu makan malam yang tengah dimasaknya di dapur. Ia pun berdiri, bergegas pergi, dan menenggelamkan diri di balik shouji. Ichigo merengut kecewa layaknya balita yang masih butuh sentuhan sang bunda. Tidak sanggup ia bayangkan ada hari tanpa Masaki.
"Aku tahu kau melakukannya untuk ibumu, Ichigo." Cuma Masaki yang sanggup melumerkan tangguhnya prinsip si sulung. "Tapi aku yakin, kau akan berterima kasih pada kami."
Si jingga memaksa untuk duduk. Kaki bersila dan pundak menekuk payah. "Ini tidak mudah, Oyaji. Rukia menyukai orang lain."
Cubitan minat, Isshin ikutan duduk bersila. Koran yang dibaca si jingga ditaruh di bawah pantat. "Tidak ada siapa pun yang bilang kalau menaklukkan hati seorang gadis itu mudah." Tanda Ichigo tertarik pada Rukia muncul, meski butuh waktu lama untuk hati tertambat penuh. "Selain itu, mana ada anggota Klan Kurosaki berdarah pengecut sebelum berperang. Serang terus, bahkan kalau ribuan benteng jadi penghalangnya."
Punggung Ichigo menegak sempurna. Mata coklat madunya menatap sang ayah lurus-lurus.
"Apa?" sampai Isshin tidak nyaman dibuatnya.
"Tidak." Ichigo mengacak rambutnya, bangkit berdiri, menunduk pada ayahnya yang menengadah. "Hanya saja, tidak perlu heran kalau aku tidak melepas Momo semudah yang Oyaji bayangkan. Serang terus, bahkan kalau ribuan benteng jadi penghalangnya. Iya, kan?"
Isshin menelan ludah samar. Kata-katanya telah jadi bumerang untuknya.
. . . . .
Toushiro bergeming seorang diri, meletakkan lengan di langkan jembatan. Pelukan malam muram mendekapnya.
"Jadi, dia yang membunuhnya?"
"Kau jenius. Kau tahu jawabannya."
Iya, pelakunya memang bukan bosnya, Sousuke Aizen. Toushiro tahu bahwa pembunuhan layaknya barbar bukanlah cara kapten divisi ke-5 mengenyahkan nyawa. Pria itu lebih suka cara yang elit, dan terhormat. Menghabisi dengan tikaman di jantung dalam sekali tusukan.
Apa tanda-tanda yang ia temukan di tempat kejadian?
Wangi teh krisan…
Suasana tempat kerja yang terlalu rapi…
Jelas sekali ini dilakukan oleh pembunuh profesional.
Papan berderit, pertanda seseorang tengah menapakinya membuyarkan tanya-jawab yang berdansa di benaknya. Toushiro menoleh, Momo Hinamori menghampiri dengan langkah anggun yang menawan. Geraknya konstan, tidak terburu-buru pun tidak lambat, layaknya seorang nona bangsawan sejati.
Berbasa-basi alakadarnya soal keheranan kalau tumben-tumbennya Hinamori menginap di asrama ketimbang mansion, mereka berdiri bersisian di jembatan raksasa penghubung asrama putri-putra. Tanpa mau tunggu banyak waktu, Toushiro segera ke tujuan. "Bisa bantu aku, Hinamori?"
Momo menoleh, kening berkerut bingung. Sadar bahwa bila Toushiro Hitsugaya bercakap penuh basa-basi berarti hal yang dipintanya begitu penting.
"Apa…?" tanyanya.
. . . . .
"Apa?"
"Semua anggota divisi ke-3 bersaksi kalau melihat Yagami-fukutaichou sepanjang malam saat pembunuhan itu berlangsung."
"Berarti dia bukan pelakunya, dan hasil forensik itu salah."
"Tapi hasil divisi ke-12 telah diperkuat divisi ke-4, dan menjamin kebenarannya."
"Jadi kau mau bilang ada dua orang dengan nama, sidik jari, dan sel yang sama, begitu?"
"Selain itu, mana mungkin ada satu orang bisa berada di dua tempat di waktu bersamaan."
Riruka menghela napas lelah sepanjang-panjangnya. Perdebatan yang sama (lagi dan lagi) seharian ini. Tentang spekulasi pelaku Oonabara-sensei. Padahal sudah seminggu berlalu, namun topik panas tidak mendingin sedikit pun. Ia duduk di bangku, menaruh nampan berisi menu miliknya dan Rukia (yang termenung di hadapannya). Renji dan Hanatarou menyusul sambil mencuri dengar diskusi yang memadati kantin.
Dokugamine menaruh menu milik Rukia di piring tersendiri, dan mendorong padanya. "Sekarang aku sedang baik hati, jadi jangan bertanya," saat sang bangsawan bermimik kaget.
Kuchiki tersenyum berterima kasih, membawa sumpit mengapit nasi putih berlengkap telur dan sayuran warna-warni (meski sedang tidak berselera).
"Eh, apa menurut kalian—"
"Tidak, Renji." Riruka memberi gestur melarang. "Jangan singgung. Mengerti?"
"Haaah, kau tidak menyenangkan. Apa kau tidak tertarik mencari tahu misteri pelaku pembunuhan—"
"Aku tidak tertarik mengungkit orang yang sudah mati." Tiga wajah rekannya langsung berair muka hening. "Orang yang sudah tidak ada sebaiknya tidak diungkit lagi. Kita mesti terbebas dari bayang-bayang mereka, dan berjalan maju tanpa harus menoleh ke belakang."
Sunyi-senyap. Tiga mulut mengap-mengap mirip ikan koi yang perlu asupan air. Sebelum tenggelam oleh tawa Renji yang meledak bagai bom nuklir. "Hahaha~, apa itu? Kalimat bijak yang kau kutip dari buku?"
Mulut masih mengunyah, Riruka menoleh. Matanya memicing segaris, berkata 'itu bukan lelucon'. Tawa Abarai pun tertelan bulat-bulat. Perempuan Kusajishi ini memang mengerikan.
"Tapi, ini sangat aneh." Sayang, Hanatarou tidak sanggup menahan lidahnya. "Yagami-fukutaichou masih hidup sekarang, segar-bugar. Jadi orang yang mati bersama Oonabara-sensei, itu siapa?"
Rukia tidak memberi suara, hanya mengunyah nasi asal-asalan; Renji menggaruk kepalanya ruwet, misteri memang buat kepala pening tujuh keliling; Riruka memasang wajah gemes (berhasrat mengoyak Hanatarou), akhirnya melempar opini yang berlarian pertama di kepala.
"Kenapa kebingungan semua orang itu-itu saja? Kenapa tidak ada yang berpikir Yagami-fukutaichou sudah mati bersama Oonabara-sensei, jadi orang yang masih hidup sekarang itu siapa?"
(Untuk kedua kalinya) tiga orang itu bermuka hening. Sebelum hilang oleh tawa terpingkal-pingkal Renji (lebih keras dari sebelumnya; mata penghuni kantin langsung tertuju pada meja mereka). "Itu lebih mustahil lagi. Kau mau bilang kalau Yagami-fukutaichou sekarang adalah hantu?"
"Makanya kubilang hentikan diskusi konyol ini, dan beralih pada Kuchiki yang kurang bergairah."
Rukia tersentak, jarinya menuding di dadanya. "Eh, aku?"
"Kau pucat, Rukia-san." Hanatarou peka.
Renji ikut peka. "Ya. Kau dari tadi berwajah pucat bagai mayat hidup macam dombie."
"Zombie."
"Iya, zombie."
"Biar aku tebak," Riruka melancarkan ilmu belagak tahunya, "hubunganmu dengan Kurosaki-senpai sedang genting-gentingnya. Iya, kan?"
Rukia tersenyum saja, berpaling pada meja depan paling ujung sebelah kiri. Hinamori-senpai (dengan keempat temannya) yang tumben-tumbennya makan siang di kantin lantai satu, bukannya kantin lantai 4 khusus para aristokrat. Tak ayal debatnya dan Toushiro soal berbaikan dengan Hinamori, membayang.
Ia mendesah. Sumpit mengaduk-aduk nasi tanpa minat. Ia akui, dirinya memang keras kepala.
Setelah menghabiskan menu makan siang, mereka berempat hengkang pergi dan tepat berpapasan dengan kawan-kawan Hinamori-senpai di pintu keluar. Junior tersenyum sopan pada senior (kalau tidak mau dipermalukan di depan umum), sebelum berhenti oleh panggilan, "Rukia-san." Hinamori meninggalkan temannya, menghampiri Rukia yang ikut mendekat (berjauhan dari Riruka dan yang lain).
Dari posisinya, Dokugamine mengamati perbincangan singkat mereka. Hinamori menjauh dengan senyum lembut (yang mengesalkan bagi Riruka) menuju teman-temannya yang menunggu dan menjawab alakadarnya saat mereka bertanya.
Rukia masih berdiri di tempat yang sama saat tiga kawannya menghampiri. Si nona judes bertanya, "Ada apa?"
Rukia terlihat linglung kala menjawab, "Hinamori-senpai ingin bertemu nanti sore—berdua saja."
Setelah percekcokan kecil mereka minggu lalu, Rukia maupun Riruka tidak tahu ini kabar baik—atau buruk.
To be continued...
.
.
.
.
.
.
.
Ray Kousen7
12 Mei 2014
