Terima kasih atas review di chapter sebelumnya :
Snow— Yes, saya udah liat bankai Rukia. Cantik banget. Bener-bener manifestasi dari Shirayuki./ Thanks udah review ya, Snow.
salomon-chan— biasanya kalo saya buat prolog, saya kesankan adegan yg beraura misteri. Tapi bukannya terkesan misterius, ini malah terkesan bingungin ya, hahaha/ sankyu udah nyempetin baca 320D (yg chapter bikin perut melilit(?))./ thanks udah review ya, Sa-chan.
sandrock— Hahaha, gak sampe ngalir darah n air mata kok(?), cuma keringat(?) doang banyak yg netes, hehehe/ Thanks udah review ya, Sandrock.
Terima kasih pula ma yg udah login (sudah sy balas di PM-nya masing-masing): Leomi no Kitsune | ichirukilover30 | Kujo Kasuza | Detective Agatha | D-ran Ryuu9 | Nyanmaru desu | ai-haibara777 | Ai-chan99 | Hayi Yuki | doreendoraemon
Disclaimer: Bleach milik Tite Kubo
Warning: OOC (tentu); AU ; jumlah chapter yg lumayan banyak; alur lambat; romance gagal (sudah kebiasaan author)
Catatan I: Entah kenapa saya merasa kalau kadang mood harus dipaksa datang. Biarpun harus jungkir-balik (mau badan ato otak). Karna kalo saya nunggu sampe datangnya mood bagus, chapter ini gak bakal pernah datang, hehehe
Monggo~ dinikmati(?)
.
.
.
.
.
.
.
PART II: Turnamen Musim Panas
Langit di kala sore adalah salah satu pemandangan favorit Momo Hinamori. Selain karena rona jingga yang membayang begitu sentosa dan menenangkan, juga lantaran warna itu mengingatkannya pada pemuda yang disayangi, Ichigo.
Hari-hari sebelum konflik perjodohan mengusik hubungan mereka sampai renggang begini, ia dan Kurosaki sulung suka menghabiskan senggang bersama. Duduk berdua di beranda sambil Ichigo diam-diam menggenggam tangannya.
Apa boleh hendak. Hinamori mesti membiasakan hari-harinya tanpa aura sang Kurosaki. Seperti sekarang. Sendirian dalam sepi, memandang jingga melukis langit di ufuk barat.
Pintu diketuk tiga kali, ia berjengit. Menarik napas kuat, ia berpaling ke belakang. Bersama pintu terbuka, Rukia Kuchiki melongokkan setengah kepala.
Bertemu empat mata dengan perempuan yang mengganggu hidup damaimu, jauh dari kata mudah. Lusinan alasan bisa diungkapkan Hinamori untuk menguatkan hal tersebut. Hubungan percintaan yang rusak, bahkan baru-baru ini perempuan itu berani mengancamnya.
Kembali menarik napas keras-keras, ia berbalik penuh. Rukia sudah masuk, menutup pintu, dan berdiri di tengah ruangan klub pertunjukan kidou.
Masih segar dalam memori bagaimana debat kecil mereka sebelumnya. Masih Rukia ingat juga bagaimana reaksi seniornya kala itu. Marah. Biarpun demikian, aura yang membelenggu Momo di depan sana membuatnya bingung. Aura damai yang menyampaikan kalau perselisihan antar mereka tak pernah ada.
Ini membuat Rukia takut. Jujur, ia lebih suka bila seniornya memajang ekspresi keras.
"Jangan salah sangka kalau aku sudah lupa perdebatan kita yang belum tamat, Rukia-san."
Mendengar pernyataan itu, diam-diam Rukia melepas napas lega. Hinamori-senpai bisa marah juga.
Tanpa mau ambil peduli alasan kenapa Momo mendadak memanggilnya dengan sebutan "Rukia-san", bukan "Kuchiki-san". Bahwa alasannya adalah dirinya tidak pantas dipanggil Kuchiki dengan kelakuan jauh dari etika. Untuk Momo, ia akan membiasakan lidahnya memanggil Rukia dengan nama depan. Bukan untuk akrab-akraban, lebih pada menyinggung bahwa gadis di depannya bukanlah bangsawan, tapi perempuan dari Rukongai {mengingat warga Rukongai tidak diizinkan menggunakan marga).
Momo menghampiri, secarik pita merah (yang sering digunakan dalam pertunjukan) terlilit di empat jari tangan kanannya. Panjangnya menyentuh lantai, mengikuti ke mana ia melangkah. "Tapi tenang saja, aku tidak mengundangmu untuk melanjutkannya."
Rukia canggung. Sang senior bergerak mengitarinya bagai bumi mengelilingi matahari. Mata coklat itu terpaku pada satu titik, dirinya.
"Namun, untuk mengajarimu kidou."
Alih-alih senang sebab Rukia tidak perlu bermuka tebal untuk memohon pada Hinamori (sesuai permintaan Toushiro), tapi heran yang muncul secara alami. Ia baru melontarkan kata-kata kasar pada seniornya, dan sekarang Hinamori-senpai menawarkan diri jadi guru tanpa angin tanpa hujan?
Desahan terdengar, entah lelah mengelilingi Rukia atau apa, Momo menjauh. Menyimpan gulugan pita di kardus, disatukan dengan perangkat pertunjukan lain. Rukia memerhatikan punggung sang senior, kebingungan.
"Kenapa?" tanyanya.
Hinamori menghadapkan badan. Air mukanya biasa saja seolah telah menerka pertanyaan yang memang semestinya. "Karena aku ingin—" ingin mengabulkan permohonan Toushiro-kun.
Permohonan laki-laki, yang membuat Momo mengunci aman kemarahannya pada nona Kuchiki.
"Tolong bantu dia, Hinamori."
Pemuda yang dijamin tidak sudi meminta dalam keadaan apa pun, mendadak memohon demi seseorang? Toushiro Hitsugaya yang sering mengagungkan diri, tiba-tiba merendahkan diri? Tak ayal, Hinamori bertanya kenapa, kenapa, dan kenapa.
"Hanya tolong…. Apa pun yang kalian perdebatkan tempo hari, tolong dia. Demi aku … demi persahabatan kita."
Persahabatan? Hinamori mengenyit kala itu. Namun mendengar Toushiro untuk kali pertama memohon, membuat Hinamori menyanggupi—dengan syarat.
Rasa bersalah menyerbu Rukia. Ia sudah berpikir negatif duluan soal pertemuan ini.
Tapi sayang, niat mengucapkan maaf tertelan dalam-dalam saat Momo meneruskan, "Jangan meminta maaf, Rukia-san. Itu percuma. Karena aku tidak akan pernah memaafkanmu." Orang yang mengancamnya dengan mengungkit latar belakang kelam keluarganya tidak akan pernah dimaafkan oleh Momo Hinamori.
Sekujur tubuh Rukia tegang. Ketegangan yang sama saat dipaksa berlutut hormat di hadapan Nii-sama di pertemuan pertama. Tidak salah bila kakinya gatal untuk segera angkat kaki dari tempat itu.
"Latihan akan dimulai lusa saat jam istirahat pertama. Kita bertemu di kelas 1-F lantai satu."
Kepala Rukia mengangguk-angguk kaku. Tulang lehernya seakan ditanamkan pasak. Setelah yakin tidak ada pemberitahuan lain, ia beranjak bersama jantung yang berdentum keras. Menghilang di balik pintu yang ditutup pelan, Rukia tersungkur jatuh.
Sedangkan Hinamori kembali memandang langit menjelang petang. Rona jingga diganti ungu pekat. Keningnya berkerut seraya memutar ulang syarat yang ia ajukan pada Toushiro.
"Aku akan melakukannya jika kau berjanji satu hal. Apa pun yang terjadi, tolong untuk selalu ada di pihakku. Aku sudah kehilangan Ichigo-kun, aku tidak mau kehilanganmu juga, Toushiro-kun."
TUJUH PEDANG
.
# 7 #
Buah Persik dan Padang Sepi
Cuma di saat begini, perpustakaan jadi salah satu tempat yang wajib disambangi. Cuma di saat begini, perpustakaan tidak jadi tempat sepi macam kuburan. Cuma di saat begini, Ikumi Unagiya akan mengeluarkan seratus satu macam keluhan.
Ya, saat ujian mengguyur akademi.
Telah dua bulan berlalu sejak langit kelam memayungi akademi, yaitu kematian salah satu guru besar mereka. Butuh waktu lebih dari tiga minggu untuk mengembalikan jadwal mengajar seperti sedia kala.
Murid-murid berbagai macam tabiat, mau yang anti baca, pas-pasan atau kutu buku bercampur baur di dalam perpustakaan. Kemarin, perpustakan bak lapangan sepakbola—mengingat penghuninya cuma segelintir—sekarang, mirip pasar harian di pinggiran Seireitei. Berdesak-desakan.
Dan di saat begini pula, perpustakaan tidak jadi tempat favorit Riruka Dokugamine. Ia yang butuh ketenangan dan bau segar (bukan bau keringat), memilih mengheningkan cipta alias mengheningkan diri di jembatan kayu belakang gedung.
Bersama mulut yang mengunyah keripik super pedas, ia membaca buku maha tebal di pangkuan. Hidup di dunia sendiri tanpa pengusik sungguh nuansa menyenangkan bagi Dokugamine. Tidak ada mulut berisik yang cuma bisa omong besar, tidak ada mulut tukang larang ini-itu, tidak ada mulut rewel tukang gosip. Tenteram, sejahtera, sentosa.
Tangannya terulur, meraih keripik lain. Boro-boro, dinginnya papan jembatan yang ia dapati. Kepala ia angkat, ada Renji Abarai sambil bermuka merah padam mirip gunung berapi yang siap meletus. Keripik miliknya pun telah disantap tanpa izin. Hitung mundur dalam hati 3-2-1—
"Pedaaaaaaaaaaas!" Mulut Renji menganga sebesar gua, lidah ikutan terjulur. Andai bisa, semburan api layaknya naga bisa jadi gambaran hiperbolisnya. Ibarat dikejar Hollow, ia terbirit-birit ke pinggir sungai, meraup air banyak-banyak dengan tangan sebagai gayung.
Rukia dan Hanatarou yang bersamanya, cuma memandang di tempat, sementara Riruka diam-diam mengumpat 'Rasakan'. Sebelum memberi perhatian pada dua pengekor yang lain. "Apa yang kalian lakukan di sini?"
Lupakan soal Renji, Rukia kembali pada tujuannya datang ke sini, alih-alih perpustakaan. "Belajar bersamamu." Lalu duduk miring di sebelah temannya.
"Riruka-san selalu saja belajar sendiri." Hanatarou ikut duduk, bersila di sisi Dokugamine yang satunya.
Riruka membuang napas. "Tentu saja. Aku tidak bisa belajar bersama orang lain."
"Alasan!" Renji muncul dengan mengulur-gulur lidah panjang bagai anjing kelelahan. Bertanya-tanya berapa cabe yang dicampurkan di keripik tadi? Lidahnya ngilu sampai mati rasa.
Riruka memutar mata dan mengalah.
Empat buku di pangkuan mulai ditekuni empat kepala. Tapi cuma butuh hitungan lima menit, kepala Renji langsung puyeng. Sedang Hanatarou sibuk garuk-garuk kepala tidak mudeng. Sementara Rukia lebih doyan bertanya pada Riruka, yang konsentrasinya patut diacungin empat jempol. Tiga temannya terbengong-bengong, kompak berkata dalam hati: 'Ini, nih, yang namanya kutu buku.'.
Mengabaikan Dokugamine yang sibuk sendiri, Hanatarou berkomentar soal ujian semester yang bakal mereka hadapi seminggu lagi. "Kali ini ujiannya sesulit apa, ya? Mudah-mudahan tidak sesulit ujian masuk." Ia mengkeret bila mengingat isi ujian saat masuk akademi. Susahnya, ya ampun, bikin kepala botak jadi punya rambut lagi.
Kedua lengan dilipat di dada, Renji mendengus congkak. "Tenang saja, Hanatarou. Palingan tidak jauh-jauh dari soal tahun lalu. Misalnya, berapa rentang waktu yang diperlukan untuk mengatasi pemberontak di Sunpu?; berapa ekor Hollow yang dimusnahkan Shunsui Kyouraku-taichou di pertempuran '78?; atau apa 4 hukum adat paling mutlak di Klan Kuchiki?" Ia menyebutkan soal yang berulang tiga tahun berturut-turut.
"Pertanyaan terakhir, Rukia-san yang paling tahu," tanggap Yamada.
"Etto … emang ada empat, tapi tiapnya terdiri dari 150 pasal, kalau mau detilnya." Rukia ingat UU klan yang termaktub dalam buku tebal, yang sungguh membuat perutnya mulas.
"Bodoh, masalahnya bukan pada ujian tulisan. Kalau itu, sih, semudah menjentikkan jari." Lagak sombong Riruka kontan membuat perut Renji melilit. "Yang jadi masalah adalah setelahnya. Ujian praktek lapangan. Tahu, kan, tiap tahun itu berbeda."
Ujian praktek tidak mengalami perubahan aturan signifikan selama ratusan tahun. Namun, pastinya tema turnamen berbeda di tiap pelaksanaan. Yang terdekat adalah turnamen musim panas. Tidak semua murid yang mengikuti ujian tertulis berhak lolos. Hasil ujian berkesinambungan dari satu ke yang lainnya. Hasil ujian sebelumnya menentukan keikutsertaan pada ujian berikutnya.
"Kalau itu, sih, masalah gampang. Tinggal hajar saja. Jangan pikir panjang."
Pernyataan Renji membuka mata Riruka lebar-lebar. Bahwa Abarai bukan hanya makhluk gegabah, tapi juga berotak kosong.
"Eh, Rukia-san, bagaimana perkembangan latihan kidou-mu dengan Hinamori-senpai?" Hanatarou mengubah topik.
Bergiliran, Rukia memerhatikan tiga wajah penasaran. Lalu menghela napas besar-besar.
"Kupikir tidak sebaik yang diduga," simpul Renji.
. . . . .
"Oh penguasa, topeng dari daging dan darah, segala ciptaan di semesta, sayap-sayap yang mengepak, engkau yang menyandang nama seorang manusia! Api yang menghanguskan dan kekacauan, kembangkan perubahan dinding selatan lautan." Rukia menjulurkan tangan. "Hadou no san jyuu ichi, Shakkahou!"
Meriam api merah melesak pada papan target bergerak, berjarak sepuluh langkah. Sayang, Shakkahou cuma numpang lewat di sela tiga papan bundar yang bergilir, menghantam pohon di belakangnya.
Muka Rukia tertekuk kecewa. Ini sudah percobaan ketujuh, dan hasilnya belum sesuai ekspektasi.
"Lumayan meningkat, satu target hampir kena." Momo menghampiri, hakama merah saling bergesekan saat melangkah. Rukia melirik tidak puas, meski yang dikatakan 'guru'nya benar adanya. Enam percobaan sebelumnya, bola api meluncur jauh dari target.
Latihan mereka telah dimulai hampir delapan minggu. Penerapan kidou dilaksanakan di berbagai tempat. Awalnya di ruang tertutup, ruang kelas tak terpakai di kelas satu. Namun, hanya untuk kidou level awal seperti Sai, Sho atau Hainawa. Mereka memutuskan berpindah tempat setelah Byakurai Rukia menembus jendela dan membakar pohon apel tepat di halaman belakang.
Jangan tanya. Senior tahun ketiga marah besar, dan meminta mereka berlatih di lokasi lain.
Maka, ruang terbuka jadi lokasi pilihan yang paling aman. Terletak tidak jauh dari dojo, tempat Rukia biasa berlatih zanjutsu.
Bagi Hinamori, perkembangan 'murid'nya lumayan. Sekadar berbagi info bahwa menciptakan energi roh dalam bentuk nyata lebih berdasar pada tingkat fokus ketimbang ukuran daya rohmu. Level kemampuan kidou adalah wujud nyata tingkat konsentrasi. Prinsip dua elemen itu berbanding lurus. Semakin rendah taraf fokusmu, maka rendah pula ketangguhan kidou-mu.
Untuk sekarang, konsentrasi Rukia tidak buruk, tapi tidak juga luar biasa. Tapi dalam pandangan Momo, gadis itu memiliki ruang luas untuk berkembang pesat dan menguasai kidou dalam berbagai level. Hanya perlu diasah.
Kini, mereka telah tiba di kidou tingkatan 30. Bagian hadou adalah Shakkahou. Di latihan awal, Rukia lulus dengan mudah. Menghancurkan papan target dalam sekali luncur. Kala itu, Momo mengingat dirinya sendiri saat masih di tahun pertama. Ia pun lulus di percobaan pertama. Namun, itu berlaku pada papan target yang berdiam.
Bagaimana bila mereka dihadapkan dengan target yang bergerak? Dan hari inilah tes itu dimulai.
Tapi percobaan telah tiba di angka 15, belum ada satu pun dari tiga target yang kena.
Hinamori memerhatikan pundak yang naik turun-letih. Kidou memang setara dengan hakuda, menguras lebih banyak tenaga ketimbang cabang ilmu lain, seperti zanjutsu dan hohou. Ia lalu mendekat, menarik kaki bergerak ke depan muridnya.
Sambil menata napas, Rukia mundur satu-dua langkah. Memberi Hinamori-senpai ruang lebih banyak untuk mengulurkan contoh.
"Aku beritahu, Rukia-san. Hal paling utama dalam kidou bukanlah kuda-kuda macam zanjutsu, tapi fokus." Hinamori menjeda, merentangkan tangan. "Tapi, fokus di sini bukan saja memusatkan energi roh di telapak tangan, tapi pula musuhmu." Manik coklatnya mengamati gerak papan target bundar yang dijalankan mesin rol. "Matamu harus mengikuti tiap pergerakan lawanmu. Lalu tunggu dengan sabar saat detik kau bisa menjatuhkannya." Target bergerak bergiliran dari depan ke belakang, belakang ke depan. Putaran itu berulang selama lima kali. Sampai pada satu sekon dua target berdiri dalam satu pandangan.
Sekarang saatnya!
Tanpa pemanggilan nama, Shakkahou meluncur tajam, menghantam sepasang papan dalam tembakan akurat. Papan berakhir dalam kepingan-kepingan kayu , berserakan di penjuru hamparan rumput. "Sampai kau bisa menghabisinya dalam sekali serangan." Lengan Hinamori yang terulur, terkulai jatuh.
Rukia tercengang takjub. Julukan ahli kidou di angkatan, yang dikenal sebagai angkatan terbaik dalam 80 tahun sungguh bukan main-main. Tentu saja, Hitsugaya-senpai yang dikenal jenius saja mengakui kemampuan Hinamori-senpai.
Hebat…!
"Jangan begitu kagum, Rukia-san." Momo berpaling padanya. "Aku sanggup melakukannya bukan karena bakat. Aku bukan prodigy seperti mentormu, Toushiro-kun. Aku sanggup karena aku berlatih lebih keras dari orang lain."
Rukia malu dipergoki. Tapi menurutnya, itu memang luar biasa. Hinamori-senpai memang luar biasa. Sudah cantik, sopan, anggun gemulai, bangsawan, cerdas, kuat lagi. Sama sekali bukan hal aneh kenapa Ichigo dan Hitsugaya-senpai tergila-gila padanya. Itu sudah sewajarnya.
"Kau kan sanggup melakukannya," Hinamori menyela. Lamunan ketidakpercayaan diri Rukia buyar. "Tapi untuk hari ini, kita akhiri saja."
"Eh? Tapi, Senpai—"
"Jangan buru-buru. Hasilnya bisa kurang maksimal. Dalam latihan pun kita butuh kesabaran."
Atas keputusan itu, mereka berakhir dengan duduk bersantai di padang rumput. Berjarak lumayan jauh, Hinamori bersimpuh rapi layaknya nona bangsawan sambil meneguk air di gelas kayu. Sedangkan Rukia duduk selonjoran seraya menenggak sebotol air agak beringas.
"Kalau boleh tahu," Momo membuka suara, menurunkan gelas ke pangkuan, "seberapa pentingnya Dokugamine untukmu?" Sudah lama sekali ia menahan lidah untuk menanyakan ini.
Menghapus sisa air di sudur bibir, Rukia bertanya-tanya. Sebelum akhirnya ia paham kalau senpai-nya menyinggung soal perdebatan kecil mereka. "Dia temanku, Senpai."
Alis rapi Momo naik tinggi-tinggi. "Teman? Hanya teman?"
"Ya, kami teman sekelas."
"Kau baru mengenalnya di sini? Atau sudah lama mengenalnya?"
Kepala Rukia mendadak pening. Tidak mengerti ke mana perbincangan ini akan dibawa. "Di sini."
"Di sini?" Hinamori tidak sadar kalau intonasinya berubah sengit. "Dan kau membelanya seakan dia adalah orang yang sangat penting untukmu?"
"Apa yang sebenarnya yang kau maksud, Senpai?" Rukia meladeni tak kalah sengit.
"Yang kumaksud adalah kau baru mengenalnya, Rukia-san. Tapi, kenapa kau begitu berani mengancamku tentang identitas keluargaku hanya karena aku menyatakan kebenaran tentangnya?"
"Senpai—"
"Berani-beraninya kau mengucapkan kalimat tabu itu tepat di wajahku. Kau pikir dirimu hebat, Rukia-san?"
"Senpai—"
"Kau tidak tahu apa pun. Aib itu bagai neraka, siksaan, kesengsaraan. Apa kau tahu bagaimana rasanya jadi orang terbuang?"
"Senpai—"
"Kau tidak tahu apa pun. Kau yang disebut Cinderella tidak akan tahu bagaimana—"
"KAU PUN TIDAK TAHU APA PUN, SENPAI!" Sentakan keras, Rukia berdiri tegas. Botol di genggaman lima jarinya remuk tak berbentuk.
Di depannya, Hinamori masih terduduk. Berair muka tidak percaya, tidak percaya bahwa perempuan ini berani membentaknya.
"Kau pun tidak tahu apa pun." Tidak ada hardikan, namun tidak mengurangi ketegasan. "Aku memang baru mengenal Riruka di sini. Tapi, aku sangat tahu bagaimana kehidupan di distrik terbelakang Rukongai."
Saat bertatapan muka dengan Riruka, Rukia serasa telah mengenalnya lama. Mungkin seperti itulah rasa saat kau bertemu dengan orang yang punya nasib tidak jauh darimu. Datang dari kedalaman gelap Rukongai untuk mencari sekeping jejak peruntungan di Seireitei.
"Aku tidak tahu bagaimana rasanya terbuang, tapi…." Menjumpai ekspresi Hinamori tadi, ia mencoba memahami bahwa itu menyakitkan. "Aku minta maaf jika sudah menyinggung lukamu, hanya saja…"
Waktu kebersamaan selama berlatih menjernihkan mata dan kepala Rukia tentang maksud baik Hinamori waktu itu. Meski maksud baik itu bukan untuknya, namun untuk nama megah nan spektakuler Kuchiki. Sayangnya, maksud baik harus disertai larangan berteman dengan Riruka seolah si gadis Kusajishi adalah virus berbahaya yang harus dijauhi. Mendengarnya langsung, mata Rukia menggelap. Seakan-akan pemandangan bangsawan menindas orang Rukongai tepat terjadi di depan matanya.
"…hanya saja, jangan pernah berani mencemooh temanku. Kau sama sekali tidak tahu sebesar apa luka yang terpendam di hatinya. Meski aku tidak tahu apa luka itu sepadan dengan luka di hatimu."
Maka perbandingan adalah jalan keluar terbaik untuk sedikit banyak paham bagaimana sakit orang lain—walaupun tidak begitu bijak.
"Aku mau tanya." Pandangan Rukia berkunang-kunang. Satu tetes air lolos menuruni pipi. "Apa luka hati, Senpai, rasanya seperti sebilah pedang panas yang menusuk perutmu?"
"Apa?"
"Atau rasanya seperti perutmu berbunyi berisik setelah tidak diisi selama seminggu?"
"Apa maksudmu … Rukia-san?"
"Atau seperti rasa sakit dipukul lima pria pagi, siang, malam?"
"…Rukia-san?"
"Atau seperti rasa sakit melihat lima temanmu dibunuh tepat di depan matamu?"
"Rukia-san!"
"Tidak, ya? Jadi rasa sakit terbuang dari kekuasaan empat klan tidak sebesar itu?" Tawa Rukia mengambang hambar, pahit, dan kecut. Bersama pipi yang bersimbah tangis. "Kau benar, aku tidak mengerti bagaimana rasanya terbuang. Tapi kurasa, perihnya masih lebih kurang dariku. Aku bisa menjamin, apa yang dialami Riruka jauh lebih sakit dari yang kusebutkan tadi."
Momo bungkam penuh dengan bibir mengatup rapat dan kata yang tertelan bulat-bulat.
Sambil menarik napas kuat-kuat, Rukia menghapus tangis yang menganak. "Terima kasih untuk hari ini, Senpai. Di hari ke depannya kuharap kita tidak perlu menyinggung ini lagi."
Meraih tas selempang, Rukia membungkuk hormat dan berlari sejauh-jauhnya. Ia meninggalkan Momo Hinamori yang mematung total.
. . . . .
Seekor jigokuchou terbang rendah ke sela-sela daun sebelum tiba di setangkai jari. Berdiri di dahan pohon dan bersandar di batang besarnya, Toushiro Hitsugaya mendengar untaian kata si kupu-kupu. Matanya tertutup santai, kemudian berkerut tidak nyaman, dan terbuka tegang. Punggung ia tarik, melepas sang kupu-kupu terbang menjauh.
Tugas menyampaikan rekaman suara Rukia dan Hinamori telah usai.
Rautnya berpendar pucat. Suara itu terngiang jelas di telinganya.
"Kau benar, aku tidak mengerti bagaimana rasanya terbuang. Tapi kurasa, perihnya masih lebih kurang dariku. Aku bisa menjamin, apa yang dialami Riruka jauh lebih sakit dari yang kusebutkan tadi."
Mata tertutup kencang bersama kerutan nyeri.
"Bukankah tidak sopan menguping, Toushiro-chan?"
Otot wajah Toushiro langsung berkedut. Ia tidak perlu melihat untuk tahu siapa pemilik suara berlogat khas dan memanggilnya dengan sebutan menjijikkan. Gin Ichimaru. Ia melirik figur tersebut. Ichimaru duduk nyaman di dahan pohon sampingnya sambil mengayun-ayun kaki. Sampai kapan Gin Ichimaru akan belagak bak seorang pengawal?
"Urusai."
Ia lalu menjauhkan jarak, kakinya meloncat dari satu dahan ke dahan lain, dari satu pohon ke pohon berikutnya.
"Uuuh~ Toushiro-chan malu~" Sayang sekali, Gin mengejar dengan gerak lebih cepat. Wajah Toushiro menekuk dongkol. Shunpo si kapten perak melampauinya, bahkan dengan langkah mundur. "Akui saja."
"Bukan urusanmu, Ichimaru."
"Jadi, kau tidak menyangkal?"
"Jangan mengalihkan topik."
"Kau yang mengalihkan topik."
"Aku hanya ingin melihat perkembangannya. Bagaimanapun aku mentornya."
"Ara~ sekarang kau buat alasan."
Toushiro menyerah, mendadak berhenti. Menghadapi Ichimaru selalu saja membuatnya serba salah. "Turnamennya sebentar lagi."
"Kau mengkhawatirkannya." Gin ikutan berhenti, berdiri tepat di sisinya.
Tidak ada balasan. Toushiro cuma memandang stadion yang akan dijadikan tempat perhelatan turnamen musim dingin. Tapi, jangan berharap berlaga di sana bila turnamen musim panas saja tidak sanggup dilewati.
"Kurasa dia akan baik-baik saja." Ichimaru menekur muka ke arah yang sama. "Jika penilaianku ini bisa membuatmu lega, aku akan bilang kalau perkembangannya lumayan. Dia cukup kuat untuk melewati turnamen minggu depan."
"Cih."
Toushiro kembali menjauh, tapi kali ini Gin tidak mengejar. Tersenyum panjang, memandang punggung kecil yang tertelan jarak. Setelah ini, ia akan bertemu Sousuke Aizen, melaporkan kalau si prodigy tidak punya gerak-gerik mencurigakan. Hah, kepercayaan Aizen-taichou pada bocah itu tidak seperti dulu lagi. Salahkan keputusan Toushiro memberi peringatan pada Oonabara sebelum menghabisinya.
Gin melipat lengan di tengkuk, mengangkat wajah yang tertimpa sinar matahari yang menembus sela rimbunan pohon. Ia memikirkan sesuatu yang menarik.
"Aku mau minta libur pada Aizen-tachou, aah~. Aku tidak ingin ketinggalan nonton turnamen nanti," katanya.
. . . . .
Riruka capai bukan main. Otot-otot tubuhnya serasa baru diinjak kaki gajah. Tiba di kamar, ia membentangkan kasur asal-asalan. Merebahkan badan yang mau rontok, ia tidak mau repot mengganti seragam akademi. Salahnya sendiri memforsir diri menghabiskan waktu belajar dari pagi hingga sore, 12 jam non-stop. Kedua matanya sampai kepanasan.
Sepasang manik merah darahnya tertutup rapat. Satu, dua, lima, tujuh, sepuluh, lima belas menit; dengkuran menyertai. Riruka telah dihampiri alam mimpi bersama gerombolan domba. Ceritanya, ia jadi gadis penggembala domba. Kemudian terdengar ringkikan kuda, rambut merah marun panjangnya berayun gemulai saat ia menoleh. Pandangannya menyambut pangeran impian yang akan menjemput. Pangeran berkuda—salah, berkeledai; keledai ditunggangi laki-laki bermuka … katak.
Tidak butuh ABC untuk Riruka membuka mata bulat-bulat. Ia bangun cepat-cepat, mengusap-ngusap muka pucat dengan kasar. Mimpi buruk…
Pintu kemudian diketuk (digedor, tepatnya). Riruka yang sudah tidak berselera tidur, bangkit berdiri. Mimpi tersebut tiba-tiba menghantuinya. Takut kalau yang di balik pintu adalah pangeran katak berkeledai. Kepala digeleng kuat-kuat, ia sudah gila. Ia menarik kunci, pintu terbuka, ada Rukia Kuchiki yang sedang bermuka kacau.
Diam-diam, ia menghela napas lega.
"Riruka…"
Suara lemas Kuchiki mengurangi efek mimpi sepersekian banyaknya. "Ada apa dengan—Oi, oi, Kuchiki!"
Biarpun Dokugamine baru mengenal Rukia beberapa bulan ini, ia lumayan tahu kalau perempuan ini punya mental tangguh. Berwajah putus asa sambil terduduk lemas di mulut pintu sekarang bukanlah tingkah, yang menurut Riruka menunjukkan kekuatan mentalnya.
"Ada apa … Kuchiki?" Ia setengah bersimpuh di hadapan si gadis Inuzuri.
Lamat-lamat, Rukia mengangkat wajah. "Kurasa aku akan gagal di turnamen."
Biasanya Dokugamine akan membentak orang yang punya sifat minder. Apalagi sifat itu tengah diderita temannya. Tapi kali ini, ia diam saja, merasa bahwa masih banyak yang ingin dikatakan si bungsu Kuchiki.
"Aku sudah membuat marah, Hinamori-senpai. Dia pasti tidak mau mengajariku lagi."
Sebenarnya Riruka penasaran bagaimana ekspresi senior yang anggun seperti Hinamori-senpai berwajah galak. Tapi, ia tidak akan bertanya—paling tidak untuk saat ini. "Kenapa kau membuatnya marah…?"
"Kau…"
Riruka tidak bergerak. Tubuh, juga lidahnya. "Apa ini masih soal dia memintamu menghindariku agar aku tidak memberimu pengaruh buruk?" Lalu melanjut sambil bernada jenaka. "Atau soal kalian memperebutkan Kurosaki-senpai sampai adu jotos?"
Dalam suasana biasa, Rukia akan menjitak kepala si perempuan berotak encer karena menggodanya. Namun, kini ia hanya tersenyum. "Aku kan bilang itu soal kau. Jadi yang pertama."
"Kenapa kau suka mempersulit dirimu sendiri dengan mengurusi orang lain? Yang disinggung itu aku, bukan kau."
Wajah Rukia merunduk. Raut mukanya tersembunyi di balik tirai rambut.
"Tapi, terima kasih atas kepedulianmu—"
Kepalanya lantas terangkat, menjumpai wajah tulus terima kasih Riruka Dokugamine—untuk pertama kalinya. Ia akan mengabadikan baik-baik ekpresi murni itu dalam kotak memorinya.
"—Rukia."
Juga untuk panggilan nama depannya.
"Riruka!" Kontan saja Kuchiki menghambur ke pelukannya seolah sudah seabad tidak ketemu.
"Baiklah, Rukia. Jika tidak begitu mendesak, pelukannya bisa dilanjut nanti." Kuchiki menarik diri dengan wajah bermandikan air mata, bahkan hidung dilelehin ingus.
Mestinya si nona judes tidak tertawa dalam suasana bikin haru macam begini, tapi muka Rukia yang menyeruput ingusnya yang meleleh panjang nyaris ke dagu sungguh lawakan yang tak bisa terlewatkan.
Ya, ampun. Perempuan yang dikenalnya setegar karang, ternyata bisa menangis sesenggukan layaknya bocah lima tahun.
"Kita bisa lanjutkan obrolan tadi setelah kau mandi."
Si rambut hitam langsung mengendus, membawa hidung membaui bawah ketiak. Aw! Bau! Bau keringat!
"Pergi mandi, bersih-bersih sana! Aku yakin Kurosaki-senpai tidak mau punya calon istri yang bau." Dokugamine membantu kawannya bangkit berdiri, masuk kamar, dan mengunci pintu.
"Berhenti menyebut namanya."
Si gadis cerdas menatapnya. "Dia calon suamimu, kan?" Lalu berjalan ke tengah ruang, duduk di kasur. "Kenapa kau tidak suka orang-orang menyangkutpautkanmu dengannya?"
"Bukan begitu. Hanya saja…"
Riruka menghela napas. "Sudahlah. Kita bisa lanjutkan nanti." Ia merebahkan badan letih. Banyak sekali hal mengejutkan terjadi hari ini.
"Kau akan tidur?" Rukia meletakkan tas dan meraih yukata putih yang terlipat rapi di laci. Bergerak ke kamar mandi, yang satu ruang dengan kamar tidur. Ia menggelamkan diri ke balik shouji tanpa perlu mendengar jawaban teman sekamarnya.
Bagi Riruka sendiri, ia merasa pertanyaan Kuchiki adalah pertanyaan terbodoh yang didengarnya hari ini. Mana mungkin ia akan tidur setelah mengami mimpi terburuk sepanjang hidupnya.
Pangeran katak berkeledai.
Ia melepas napas panjang-panjang.
. . . . .
Mentari pagi masih malu-malu menyingsing di garis horizon saat aula diisi keriuhan murid tahun pertama untuk tugas lapangan ketiga. Untuk kerja praktek terakhir di semester ini, mereka akan diawasi oleh kombinasi senior tahun ketiga dan keempat. Menjaga adik-adik kelasnya dari marabahaya yang siap menghadang.
Toushiro berdiri di altar bersama lima pengawas yang mewakili kelasnya. Mata terpaku pada satu sosok berambut segelap mawar-putih-dicelup-tinta di antara keramaian 75 murid tahun pertama.
"Mana muridmu, Toushiro?" Suara Kintarou Katsumoto, teman sekamar, yang juga dipercaya sebagai pengawas bertanya penuh ingin tahu. Membawa tangan ke dahi, meliuk-liukkan perhatian ke seisi aula.
"Memangnya ada apa?" Tanpa sadar Toushiro mengumbar suara sengit tanpa kompromi.
Kintarou langsung cengo. "Kenapa dengan nada sewotmu itu? Aku hanya ingin kenalan!"
Tanpa banyak cakap, Toushiro bergerak ke pinggir kumpulan para junior. Menjawab keingintahuan temannya itu dengan memanggil seorang murid. Nyengir jenaka, Kintarou berubah penasaran ke mana hati Hitsugaya akan berlabuh penuh. Pada Momo Hinamori atau muridnya itu?
Di area kosong pinggir kerumunan, Toushiro memberi isyarat lewat jempol pada Rukia, mengikutinya keluar aula. Cewek itu mengangguk, mengekori tanpa banyak omong pada Riruka, Renji, dan Hanatarou yang bertanya mau ke mana.
"Apa persiapanmu sudah lengkap?" tanya Toushiro tanpa basa-basi. Juniornya berdiri di depannya, berhadapan di luar aula.
Bingung, Rukia mengangguk. "Iya, jika yang Senpai maksud adalah obat-obatan, tali, dan persiapan yang wajib ada."
Toushiro manggut-manggut. "Boleh aku periksa katana-mu?"
"Kenapa?" Kuchiki mencabut pedang bersarung dari pinggang. "Kurasa—" Hitsugaya meraih cepat, menarik katana lolos dari sarungnya, mengamati bilah pedang yang tajam.
"Lumayan." Ia menyarungkannya kembali. Ingatkan ia untuk memesan pedang khusus untuk Rukia. Kata lumayan tidaklah cukup untuk pertarungan di turnamen nanti.
Setelah kembali memasang pedang di pinggang, Kuchiki bungsu mendengar pesan Hitsugaya layaknya seorang mentor.
"Ingat semua yang kuajarkan padamu, dan juga yang diajarkan Hinamori. Jangan gegabah."
Si rambut hitam mengangguk saja, tidak antusias. Ia belum bilang kalau ia berdebat dengan Hinamori-senpai dan sempat absen latihan selama dua hari. Bukan belum, tapi ia tidak akan pernah bilang.
"Kau bawa bom asap?"
Rukia mengernyit. "Untuk apa?"
"Kau tidak bawa? Cih." Toushiro meraih tas selempang di bahu, merogoh isinya, dan menguluskan tiga bola bersulut. "Ini."
Rukia masih tidak meraih. "Untuk apa?"
"Jika kau sedang sial. Terpisah dari rombonganmu, misalnya." Jaga-jaga kalau kena apes tidak ada salahnya, kan? Apalagi, Toushiro bukanlah pengawas di tim Rukia, tapi Ichigo Kurosaki. Mengetahuinya saja bikin hatinya panas.
Biarpun tidak paham, Kuchiki meraih bom dan dijejalkan bersama persiapan lain di tas.
"Belati, bagaimana?"
Kening Rukia makin berkerut saja. Apa Hitsugaya-senpai ingin ia membawa semua peralatan tempur? "Senpai—jangan cemas. Semuanya akan baik-baik saja."
Terenyak, Toushiro serasa dibangunkan dari mimpi. Baru sadar, ia sudah bertindak di luar lingkaran sewajarnya. "Maaf. Aku hanya…"
Tawa renyah menyela, Kuchiki melambungkan senyum lebar. "Tenang saja Aku akan menyelesaikan praktek lapangan ini dengan baik. Aku janji."
Toushiro menatapnya penuh-penuh. "Berhati-hatilah."
"Siap, Sensei!" Rukia menghormat ala militer dengan menempatkan tangan di pelipis.
Apa mau dikata, Toushiro tersenyum geli—sambil membuang muka, tentu saja.
. . . . .
Sudah pernah Ichigo Kurosaki bilang kalau ia itu anti dengan namanya murid baru. Selain karena suka berkelakuan lebay dan labil, mereka juga sangat suka mengumbar keluh tanpa tahu tempat.
Dengar saja sekarang.
"Apa-apaan ini?"
"Kupikir kita akan menghabisi beberapa Hollow."
"Tidak menyenangkan. Masa' praktek lapangan terakhir cuma begini."
Baru tiba di distrik ke-3 Rukongai Barat, Hokutan, mereka sudah bikin kepalanya mendidih dengan keluhan tanpa rem. Keluhan mereka bukannya tak berdasar, sih. Sebab boro-boro mengaplikasikan apa yang namanya kerja Shinigami (menghabisi Hollow), mereka di sini malah ditugaskan menangkap pemberontak yang meresahkan warga.
Ichigo merengut. Apa junior ini lupa membaca buku kompetensi kalau siswa semester satu tahun pertama belum diizinkan mendekati makhluk yang namanya Hollow? Semuanya baru dimulai di semester dua.
Ini memang bukan pengalaman pertama Ichigo sebagai pengawas, tapi pengalaman pertama menjaga junior tahun pertama yang masih bau kencur. Biarpun ia tidak akan mau mengaku kalau dulu ia pun memamerkan keluhan yang kurang lebih sama. Bahkan, lebih parah.
Terdengar tapak kaki menghampiri, lamunan Ichigo pecah. Ia mengayunkan dua jari pada lima junior di belakangnya. Pun untuk lima lainnya di seberang (Rukia, salah satunya), dipisahkan oleh lorong gelap asal suara.
Derap-derap santai berdebam jelas. Berbekal pengalaman dua tahun, Ichigo cuma butuh sekali mengayunkan jari sebagai isyarat memulai penggerebekan. Sembilan bocah lantas bergerak maju, dan suara kekacauan mulai menyeruak. Terdengar teriakan kepergok para pemberontak, dentingan besi pedang, dan pukulan telak di badan. Setengah jam kemudian, lima pemberontak berhasil dibekuk dengan tangan terikat dan bersimpuh tidak berkutik di hadapan mereka.
Juniornya berhasil hanya dalam setengah jam? Ichigo terkesan. Angkatan sekarang lebih tangguh dari angkatannya. Angkatannya perlu waktu satu jam di tugas praktek yang sama. Kebanyakan waktu habis untuk main kejar-kejaran di jalanan distrik sebelum pemberontak berhasil diringkus.
Pujian pun mesti ia berikan pada Rukia—perempuan yang sedang bertosan ria dengan rekannya—yang menangkap dua pelaku. Pengalaman hidup di jalanan sungguh memberi perbedaan.
"Apa yang akan kita lakukan pada mereka, Senpai?" Rukia bertanya, ia tahu kalau di saat begini ia tidak boleh memamerkan keakraban calon suami-istri di depan teman-temannya dengan memanggil nama 'Ichigo'.
Mesti Kurosaki terlihat tidak nyaman dengan kata 'senpai', ia menanggapi. Menoleh ke samping, menjulurkan telunjuk cenderung ke atas. "Kalian lihat tebing di sana?" Sembilan bocah mengangguk kompak, ia lanjut, "Kalian akan bawa mereka ke atas tebing."
Tanda tanya besar menggantung. "Bagaimana caranya, Senpai? Kami kan belum belajar shunpo." Junior berbadan kerempeng terheran-heran, yang kalau Ichigo ingat namanya itu terkesan feminim. Diawali kata Hana, kalau tidak salah.
"Aku tahu. Makanya, bawa mereka dengan cara manual."
Serentak saja, mereka berbagi pandang dengan wajah bak bulan kesiangan.
Mendaki tebing sambil menggendong orang dewasa? Praktek lapangan yang melelahkan.
Ya, memang melelahkan. Sangat melelahkan. Sampai-sampai belum setengah jalan, Hanatarou sudah semaput duluan. Dan riwayatnya akan habis andai salah seorang senior tidak serta merta menarik tali yang mengikat tubuh sekecil bambu, membawanya ke atas tebing.
Rukia yang ada di urutan ketiga dari bawah berwajah cemas. Ia berharap temannya itu tidak apa-apa.
"Akh!" Lengah, ia menempatkan lima jari pada batuan tebing yang ditumbuhi bunga putri malu. Durinya yang kecil menusuk jemari rampingnya. Sejenak merontokkan, kembali ia mendaki, mencengkeram bebatuan kuat-kuat. Menarik napas keras, mendukung semangat menggebu untuk tiba di atas.
Kemudian mendadak berhenti. Bukan, bukan oleh teriknya matahari yang memang menyengat kulit, tapi oleh sebilah belati yang menjilat leher.
"Berteriak atau nyawamu melayang," bisik wanita pemberontak, yang ia gendong di punggung, terbangun dari kidou penidur yang diberikan Ichigo. Satu keringat menetes, menuruni raut Kuchiki yang berwajah pasi.
Di atas tebing, Kurosaki mengernyit menjumpai Rukia berhenti di tengah perjalanan. Ia lantas berteriak, tanpa tahu kalau tingkahnya telah membahayakan adik Byakuya di bawah sana, "Rukia, ada apa!"
Ichigo…
"Cih." Wanita itu berdecak. Tidak perlu menghitung satu-dua-tiga untuk belati dipindahkan dari leher pada bentangan tali. Satu tarikan tajam, tali terputus, mengirim Rukia terjun bebas ke bawah sana.
"RUKIAAAA!"
Teriakan Ichigo mengecil perlahan sayup seiring jarak yang menjauh. Terjatuh melewati rekan-rekan yang mematung tercengang. Rambut hitamnya berkibar melawan gravitasi, melewati tembok tebing yang melaju berlawanan arah.
. . . . .
Saat di Inuzuri, ada begitu banyak momen mana Rukia berpikir ia sudah di ambang maut. Tapi kala pikiran itu datang, ia akan berpikir bahwa ini belum saatnya untuk mati. Ada Ggio, Rikichi, Yukio, dan Rin yang mesti ia jaga. Apa yang akan terjadi pada mereka kalau dirinya tidak ada?
Dan untuk sekarang, momen kala gerbang maut di depan mata, pikiran seperti itu muncul lagi. Ini belum saatnya untuk mati.
Refleks mendatangi. Ia menarik bilah pedang di pinggang. Menjulurkan ke atas, menikam keras tembok tebing. Gesekan sengit besi dan bebatuan berdenging nyalang. Api benturan mengiringi, mirip percikan api saat pandai besi menempa besinya jadi pedang. Didukung dengan sepasang kaki yang berpijak mantap tebing, laju mereka pelan-pelan melambat. Pedang yang menancap kuat membuat gerak terhenti penuh. Jemari Rukia memerah, mencengkeram kencang gagang katana.
"Apa yang kau lakukan, Shinigami?"
"Menyelamatkan kita."
Mereka berhenti penuh di seperempat jarak dari daratan. Paling tidak, kalau mereka jatuh, efeknya tidak akan seburuk daripada jatuh di tengah tebing.
Dan Rukia menyesal berpikir demikian begitu bilah katana meluncur turun. Kesialan tak ada habis saat pedang bertemu bongkahan batu yang tak bisa dibelah pedang karatan. Mereka terhenti lagi, namun cuma untuk sejenak sebab beban kelewat berat mengantar dua orang kembali mematuhi gravitasi.
Dahan-dahan pohon menyambut. Tangan Rukia terentang berpegangan pada satu dahan sebelum akhirnya patah. Dan kembali terjun untuk menghempas keras tanah bumi, berguling-guling kencang layaknya bola, sebelum sebatang pohon menghentikan laju mereka.
. . . . .
"Bebaskan aku, Ojou-san!" teriak tawanannya.
Panggilan Shinigami berubah jadi ojou-san setelah Rukia meralat kalau ia belum jadi Shinigami, ia masih seorang murid akademi. Harusnya itu mudah diketahui dengan melihat seragam yang ia kenakan. Tapi baginya, yang pernah jadi warga Rukongai mengerti kalau siapa pun yang hidup di Seireitei baik Shinigami asli atau masih murid, mereka tetap menyebutnya Shinigami.
Menyusuri hutan dengan pakaian compang-camping dan tubuh merah-merah , Rukia berjalan linglung tanpa tahu arah.
Kelelahan bukan main, ia menyandarkan tangan pada batang pohon, melepas napas yang ngos-ngosan. Oh, iya. Lupa. Hitsugaya-senpai, kan, memberi bom asap kalau kena apes dengan terpisah dari rombongan? Ia menarik tas ke depan untuk merogoh isi sewaktu bersamaan hidung mencium bau asap.
Mereka tidak jauh dari pemukiman.
Haus yang menggerogoti, membuat Kuchiki mengutamakan leher yang kering kerontang. Ia terus melaju dengan langkah terseok, tidak membalas keluhan tawanannya yang minta dilepaskan sejak tadi.
Waktu tidak selama yang Rukia pikir saat menemukan sumber asap. Sebuah pondok di tengah hutan. Leher yang makin mencekik mengharuskan si rambut hitam untuk serta merta ke sana sebelum ingatan sepuluh tahun lalu menghampiri.
Perawakan pondok yang familiar. Ya, pondok yang sama saat ia bertemu dengan kakek bernama Ginrei Kuchiki. Kenapa pondok tersebut ada di sini?
Jawaban tidak mendatangi Rukia sesegera mungkin saat (untuk kedua kalinya) benda tajam mencium leher. Kali ini bukan belati (karena tawanannya sendiri sedang tercekat kaget dengan kondisi kurang lebih sama), namun sebilah pedang.
"Bergerak atau lehermu kutebas!" Suara cempreng menyamai bebek mengudara.
Rukia berniat melirik sebelum urung saat suara tegas seorang wanita menyusul kemudian.
"Kau dapat pelakunya, Oomaeda?" Perempuan mungil berponi rata bertanya dengan jarak tak jauh di depannya.
To be continued...
.
.
.
.
.
.
.
Catatan ke-2: saya nulis chapter ini sambil dengerin FLAME punya DISH atau Haru Uta punya Ikimonogakari, hehehe~ Saya bayangin FLAME sbg opening fic ini n' Haru Uta sebagai endingnya ato bisa jg sebaliknya.
Ya saya tahu kalo lagu itu udah jadi soundtrack anime lain, tapi karna belum nonton, saya bisa byangin dgn cukup jelas gimana para anggota Tujuh Pedang beraksi dgn berlatar lagu ini, hahaha~
Ray Kousen7
12 November 2014
